Saturday, 28 November 2015

Jurnal Predator!


Jurnal Predator!
Terry Mart

Belakangan ini saya sering ditanya tentang jurnal predator yang keberadaannya mulai meresahkan beberapa pihak. Mendengar kata predator, mungkin bayangan kita adalah sejenis karnivora yang mangsanya tidak lain sesama mamalia di permukaan planet ini. Bayangan ini ternyata tidak terlalu jauh meleset, hanya saja mangsanya adalah ilmuwan, terutama ilmuwan dari negara berkembang.

Jurnal predator adalah istilah yang diajukan pertama kali oleh Jeffrey Beall, seorang pustakawan yang bekerja di Universitas Colorado. Jeffrey Beall saat ini secara rutin meneliti semua jurnal-jurnal predator yang baru muncul yang bersifat open-access (OA), yaitu jurnal yang hanya tersedia secara on-line, tidak ada versi cetak. Kalaupun ada, hanyalah versi cetak lepas (reprint) yang tentu saja sangat mudah dicetak dengan printer masa kini. Ada puluhan penerbit dan ribuan jurnal yang ia kategorikan sebagai predator. Singkatnya, jurnal-jurnal predator ini diterbitkan oleh penerbit predator dengan tujuan utama bisnis, untuk menghasilkan uang bagi si pembuat jurnal. Biaya yang dikenakan untuk satu makalah yang masuk berkisar antara ratusan hingga ribuan dolar Amerika. Tidak murah!

Tidak terlalu sulit untuk memulai bisnis ini, asalkan bisa membangun situs web yang menarik dengan embel-embel foto orang-orang berjas putih memakai masker putih yang seolah-olah sedang meneliti atau berdiskusi. Lebih meyakinkan lagi jika situs tadi bisa ditempeli gambar-gambar rantai DNA agar terlihat lebih ilmiah. Ironisnya, kadang-kadang tidak peduli apakah jurnal itu untuk teknik, matematika, atau sosial, rantai DNA tetap dipajang.

Bagaimana mengendalikan jurnal semacam ini, terutama aliran makalah yang masuk, proses penjurian (review), dan lain sebagainya? Tidak masalah! Bahkan, seorang remaja yang terlatih menggunakan teknologi informasi (IT) dapat mengendalikan ratusan jurnal asal-asalan ini. Sekarang ada piranti lunak yang namanya Open Journal System(OJS) yang mudah dipasang dan bersifat gratis karena bersifat open-source. OJS memberi fasilitas pemrosesan makalah ilmiah dari sejak penerimaan, penjurian, hingga penerbitan makalah secara profesional. Jadi, seperti kata Beall, prinsip pendirian jurnal predator ini adalah: set up homepage, sending spam emails to scientists, seat back and relax, wait for customer.

Skandal Ilmiah

Mungkin problem terberat bagi jurnal predator adalah mencari penulis makalah, juri (reviewer), dan dewan editor jurnal tersebut. Meski demikian pendiri-pendiri jurnal predator tidak kehabisan akal. Mereka mulai mengirimkan email spam ke ilmuwan-ilmuwan yang dianggap potensial untuk mengisi jurnal mereka. Tampaknya, untuk negara-negara berkembang hal ini seperti gayung bersambut. Ilmuwan negara berkembang sangat membutuhkan aktualisasi diri melalui jurnal-jurnal dengan "cap internasional", karena tuntutan profesi untuk meraih hibah penelitian atau jabatan yang lebih tinggi, meski untuk masuk ke jurnal OA tersebut sang ilmuwan harus membayar antara ratusan hingga ribuan dolar per makalah. Terbangunlah "simbiosis" yang saling menguntungkan. Sebenarnya, tidak ada masalah, jika makalah yang masuk benar-benar diperiksa oleh juri yang mumpuni, benar-benar sebidang dan menggunakan standar ilmiah internasional. Namun, hampir semua jurnal ini menjamin makalah pasti diterima. Atau dengan artikulasi yang lebih baik: makalah yang masuk pasti diterima, asalkan bayaran diterima! Di sini lah skandal ilmiah itu dimulai.

Contoh yang paling jelas beberapa adalah makalah hasil copy-paste di bidang pertanian yang mengatas-namakan penyanyi Idul Daratista dan Agnes Monica sebagai penulis makalah di sebuah jurnal predator yang berpusat di Afrika tahun lalu. Jeffrey Beall sempat membahas hal ini di laman blognya tahun lalu. Tentu saja kejadian ini sangat memalukan bagi jurnal tersebut, karena jelas sekali makalah tidak diperiksa oleh seorang juri ahli sebelum diterbitkan. Saat ini makalah tersebut sudah dicabut dari jurnal oleh pemilik jurnal, namun Jeffrey Beall masih menyimpan kopi makalah tersebut di lamannya.

Hasil penelitian Beall memperlihatkan bahwa hampir semua jurnal predator yang beroperasi saat ini dikendalikan dari India, Pakistan, serta negara-negara di Afrika, meski di situsnya sering ditulis alamat surat di Amerika, Kanada, atau Eropa untuk mengelabui para calon konsumen. Pada umumnya, jika kita mencoba memasuki laman jurnal tersebut, sangat sulit untuk menemukan alamat darat jurnal. Editor jurnal hanya dapat dihubungi melalui email atau situs internet. Beberapa alamat yang dipajang dapat dengan mudah diperiksa dengan memakai fasilitas Google Earth dan hasilnya menunjukkan alamat sebuah apartemen murah, apotik, atau tempat-tempat yang mustahil berbau ilmiah. Pemilik jurnal semacam ini biasanya menyewa alamat kotak surat di Amerika atau Kanada. Bahkan banyak juga jurnal predator yang judulnya dimulai dengan "American Journal of" atau "Canadian Journal of", semata-mata untuk menunjukkan bahwa jurnal ini merupakan produk Amerika atau Kanada. Saking pesatnya perkembangan jurnal predator, tampaknya baik penerbit maupun jurnal mulai kehabisan nama. Mulai tampak nama-nama penerbit atau jurnal yang mirip atau bahkan sama. Bahkan nama-nama tak lazim pun mulai bermunculan, misalnya ada jurnal yang namanya "sampah".

Masalah Menjadi Rumit

Masalah jurnal predator ini menjadi rumit karena kontribusi para ilmuwan (terutama dari negara berkembang) yang secara langsung turut membesarkan jurnal. Di lamannya, Beall mengajak para ilmuwan dan akademisi untuk menjauhi jurnal ini dengan cara tidak berkontribusi sebagai penulis makalah, juri atau reviewer, serta editor jurnal. Masalah menjadi bertambah runyam karena, akibat kontribusi para ilmuwan tadi, beberapa jurnal memiliki faktor dampak (impact factor atau IF), meski IF paling tertinggi hanya sekitar 0,5. Sejumlah jurnal predator juga sudah di-index oleh SCOPUS. Sebagai catatan, IF dipercaya banyak ilmuwan menggambarkan kualitas sebuah jurnal sementara index SCOPUS dalam skala nasional kita dianggap sebagai stempel jurnal internasional.

Bagi jurnal-jurnal ilmiah nasional yang sudah diakui keilmiahannya melalui akreditasi Direkorat Jenderal Pendidikan Tinggi, keberadaan jurnal predator jelas sangat merugikan, karena makalah-makalah ilmiah yang potensial untuk diterbitkan jurnal nasional terserap oleh jurnal predator. Hal ini jelas akibat embel-embel internasional yang dikibarkan oleh jurnal predator yang lebih merangsang ilmuwan untuk memindahkan target jurnal mereka. Padahal, harus diakui bahwa dalam banyak hal jurnal nasional kita jauh lebih baik dibandingkan dengan jurnal predator.

Ada satu kasus lagi yang terekam oleh laman Beall. Seorang ilmuwan terpaksa harus menarik kembali makalahnya dari sebuah jurnal predator karena makalah tersebut terpublikasi juga di jurnal yang jauh lebih bergengsi. Namun, jurnal predator mengharuskan si penulis makalah membayar "biaya penarikan" makalah. Sangat mencengangkan, betapa komersial jurnal tersebut. Untuk memasukkan makalah harus membayar dan untuk menarik makalah juga harus membayar, sementara biayanya pun tidak tanggung-tanggung. Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak biaya total yang dihabiskan ilmuwan negara berkembang untuk menarik kembali makalah-makalah yang mereka tulis jika sekali waktu jurnal sejenis ini dimasukkan ke dalam daftar hitam oleh pihak berwenang.

Kembali ke Jurnal Komunitas

Permasalahan jurnal predator tidak akan begitu kronis jika para ilmuwan negara berkembang kembali menyadari hakikat seberkas makalah ilmiah (Kompas, 21 Februari 2012). Seberkas makalah ilmiah tidak lebih dari sebuah laporan hasil penelitian yang ditulis dalam format tertentu untuk dibaca oleh para peneliti lain yang mengerti atau berkepentingan dengan hasil penelitian tersebut. Karena ada puluhan ribu jurnal ilmiah saat ini sang peneliti harus mencari jurnal yang sangat visible bagi para pembaca yang ditargetkan. Jurnal komunitas, dimana mayoritas komunitas penelitian tertentu memublikasikan hasil penelitian mereka, merupakan jurnal yang paling tepat untuk tujuan ini. Di bidang fisika misalnya, jurnal yang diterbitkan oleh American Physical Society atau European Physical Journal merupakan contoh jurnal-jurnal komunitas yang sangat baik. Kita sangat yakin bahwa ilmuwan yang baik tidak memerlukan jurnal predator, karena komunitas ilmiahnya sudah memiliki jurnal-jurnal standar komunitas yang visibilitasnya sangat tinggi di komunitas tersebut. Meski saya tidak menampik bahwa IF dapat menggambarkan kualitas jurnal secara kualitatif, jurnal komunitas akan jauh lebih efektif dalam hal penyampaian informasi. Saat ini jurnal predator boleh dikategorikan sebagai jurnal subhat (meragukan). Karena meragukan, sudah sebaiknya kita hindari.

(Terry Mart adalah staf pengajar Departemen Fisika FMIPA UI)

No comments: