Tuesday, 16 November 2010

Aubade

Aubade

Cerpen Agus Noor




1.
AKU terbang menikmati harum cahaya pagi yang bening keemasan bagai diluluri madu, dan terasa lembut di sayap-sayapku. Sungguh pagi penuh anugerah buat kupu-kupu macam aku. Kehangatan membuat bunga-bunga bermekaran dengan segala kejelitaannya, dan aku pun melayang-layang dengan tenang di atasnya.

Sesaat aku menyaksikan bocah-bocah manis yang berbaris memasuki taman, dengan topi dan pita cerah menghiasi kepala mereka. Aku terbang ke arah bocah-bocah itu. Begitu melihatku, mereka segera bernyanyi sembari meloncat-loncat melambai ke arahku, "Kupu-kupu yang lucuuu, ke mana engkau pergiii, hilir mudik mencariii.... "

Aku selalu gembira setiap kali bocah-bocah itu muncul. Biasanya seminggu sekali mereka datang ke taman ini, diantar ibu guru yang penuh senyuman mengawasi dan menemani bocah-bocah itu bermain dan belajar. Berada di alam terbuka membuat bocah-bocah itu menemukan kembali keriangan dan kegembiraannya. Taman penuh bunga memang terasa menyenangkan, melebihi ruang kelas yang dipenuhi bermacam mainan. Sebuah taman yang indah selalu membuat seorang bocah menemukan keluasan langit cerah. Ah, tahukah, betapa aku sering berkhayal bisa terbang mengarungi langit jernih dalam mata bocah-bocah itu? Siapa pun yang menyaksikan pastilah akan terpesona: seekor kupu-kupu bersayap jelita terbang melayang-layang dalam bening hening mata seorang bocah....

Aku pingin menjadi seperti bocah-bocah itu! Menjadi seorang bocah pastilah jauh lebih menyenangkan ketimbang terus-menerus menjadi seekor kupu-kupu. Alangkah bahagianya bila aku bisa menjadi seorang bocah lucu yang matanya penuh kupu-kupu. Terus kupandangi bocah-bocah itu. Alangkah riangnya. Alangkah gembiranya. Uupp, tapi kenapa dengan bocah yang satu itu?! Kulihat bocah itu bersandar menyembunyikan tubuhnya di sebalik pohon. Dia seperti tengah mengawasi bocah-bocah yang tengah bernyanyi bergandengan tangan membentuk lingkaran di tengah taman itu....

Seketika aku waswas dan curiga: jangan-jangan bocah itu bermaksud jahat - dia seperti anak-anak nakal yang suka datang ke taman ini merusak bunga dan memburu kupu-kupu sepertiku. Tapi tidak, mata bocah itu tak terlihat jahat. Sepasang matanya yang besar mengingatkanku pada mata belalang yang kesepian. Dia kucel dan kumuh, meringkuk di balik pohon seperti cacing yang menyembunyikan sebagian tubuhnya dalam tanah, tak ingin dipergoki. Mau apa bocah itu? Segera aku terbang mendekati....

Aku bisa lebih jelas melihat wajahnya yang muram kecokelatan, mirip kulit kayu yang kepanasan kena terik matahari. Dia melirik ke arahku yang terbang berkitaran di dekatnya. Memandangiku sebentar, kemudian kembali mengawasi bocah-bocah di tengah taman yang tengah main kejar-kejaran sebagai kucing dan tikus. Aku lihat matanya perlahan-lahan sebak air mata, seperti embun yang mengambang di ceruk kelopak bunga. Aku terbang merendah mendekati wajahnya, merasakan kesedihan yang coba disembunyikannya. Dia menatapku begitu lama, hingga aku bisa melihat bayanganku berkepakkan pelan, memantul dalam bola matanya yang berkaca-kaca.
Terus-menerus dia diam memandangiku.

2.
HERAN nih. Dari tadi kupu-kupu itu terus terbang mengitariku. Kayaknya dia ngeliatin aku. Apa dia ngerti kalau aku lagi sedih? Mestinya aku nggak perlu nangis gini. Malu. Tapi nggak papalah. Nggak ada yang ngeliat. Cuman kupu-kupu itu. Ngapain pula mesti malu ama kupu-kupu?! Dia kan nggak ngerti kalau aku lagi sedih. Aku pingin sekolah. Pingin bermain kayak bocah-bocah itu. Gimana ya rasanya kalau aku bisa kayak mereka?
Pasti seneng. Nggak perlu ngamen. Ngak perlu kepanasan. Nggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Nggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu nggak mati, dan bapak nggak terus-terusan mabuk. Pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Nggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan.

Aku senang tiduran di sini. Sembunyi-sembunyi. Nggak boleh keliatan, entar diusir petugas penjaga kebersihan taman. Orang kayak aku emang nggak boleh masuk taman ini. Bikin kotor - karena suka tiduran, kencing dan berak di bangku taman. Makanya, banyak tulisan dipasang di pagar taman: Pemulung dan Gelandangan Dilarang Masuk. Makanya aku ngumpet gini. Ngeliatin bocah-bocah itu, sekalian berteduh bentar.

Kalau ajah aku bebas main di sini. Wah, seneng banget dong! Aku bisa lari kenceng sepuasnya. Loncat-loncat ngejar kupu-kupu. Nggak, nggak! Aku nggak mau nangkepin kupu-kupu. Aku cuman mau main kejar-kejaran ama kupu-kupu. Soalnya aku paling seneng kupu-kupu. Aku sering menghayal aku jadi kupu-kupu. Pasti asyik banget. Punya sayap yang indah. Terbang ke sana ke mari. Sering aku bikin kupu-kupu mainan dari plastik sisa bungkus permen yang warna-warni. Aku gunting, terus aku pasang pakai lem. Kadang cuman aku ikat pakai benang aja bagian tengahnya. Persis sayap kupu beneran! Kalau pas ada angin kenceng, aku lemparin ke atas. Wuuss... Kupu-kupuan plastik itu terbang puter-puter kebawa angin. Kalau jumlahnya banyak, pasti tambah seru. Aku kayak ngeliat banyak banget kupu-kupu yang beterbangan....

Ih, aneh juga kupu-kupu ini! Dari tadi terus muterin aku. Apa dia ngerti ya, kalau aku suka kupu-kupu? Apa dia juga tau kalau aku sering ngebayangin jadi kupu-kupu? Apa kupu-kupu juga bisa nangis gini kayak aku? Bagus juga tuh kupu. Sayapnya hijau kekuning-kuningan. Ada garis item melengkung di tengahnya. Kalau saja aku punya sayap seindah kupu-kupu itu. Pasti aku bisa terbang nyusul ibu di surga. Ibu pasti seneng ngelus-elus sayapku....

Aku terus ngeliatin kupu-kupu itu. Apa dia ngerti yang aku pikirin ya?

3.
BERKALI-KALI kupu-kupu dan bocah itu bertemu di taman itu.

Kupu-kupu itu pun akhirnya makin tahu kebiasaan si bocah, yang suka sembunyi di sebalik pohon. Sementara bocah itu pun jadi hafal dengan kupu-kupu yang suka mendekatinya dan terus-menerus terbang berkitaran di dekatnya. Kupu-kupu itu seperti menemukan serimbun bunga perdu liar di tengah bunga-bunga yang terawat dan ditata rapi, membuatnya tergoda untuk selalu mendekati. Kadang kupu-kupu itu hinggap di kaki atau lengan bocah itu. Bahkan sesekali pernah menclok di ujung hidungnya. Hingga bocah itu tertawa, seakan bisa merasa kalau kupu-kupu itu tengah mengajaknya bercanda.

Kupu-kupu dan bocah itu sering terlihat bermain bersama, dan kerap terlihat bercakap-cakap. Dan apabila tak ada penjaga taman (biasanya selepas tengah hari saat para penjaga taman itu selesai makan siang lalu dilanjutkan tiduran santai sembari menikmati rokok) maka kupu-kupu itu pun mengajak si bocah kejar-kejaran ke tengah taman.

"Ayolah, kejar aku! Jangan loyo begitu....," teriak kupu-kupu sembari terus terbang ke arah tengah taman.

Dan si bocah pun berlarian tertawa-tawa mengejar kupu-kupu itu.

"Kamu curang! Kamu curang! Bagaimana aku bisa mengejarmu kalau kamu terus terbang?! Kamu curang! Tungguuu kupu-kupuuu? Tungguuuu...."

Kupu-kupu itu terus terbang meliuk-liuk riang. Lalu kupu-kupu itu hinggap di setangkai pohon melati. Kupu-kupu itu menunggu si bocah yang berlarian mendekatinya dengan nafas tersengal-sengal.

"Coba kalau aku juga punya sayap, pasti aku bisa mengejarmu...." bocah itu berkata sambil memandangi si kupu-kupu.

"Apakah kamu yakin, kalau kamu punya sayap kamu pasti bisa menangkapku?"
"Pasti! Pasti!"
Kupu-kupu itu tertawa - dan hanya bocah itu yang bisa mendengar tawanya.

"Benarkah kamu ingin punya sayap sepertiku?" tanya kupu-kupu.
"Iya dong! Pasti senang bisa terbang kayak kamu. Asal tau ajah, aku tuh sebener-nya sering berkhayal bisa berubah jadi kupu-kupu..." Lalu bocah itu pun bercerita soal mimpi-mimpi dan keinginannya. Kupu-kupu itu mendengarkan dengan perasaan diluapi kesyahduan, karena tiba-tiba ia juga teringat pada impian yang selama ini diam-diam dipendamnya: betapa inginnya ia suatu hari menjelma menjadi manusia....

"Benarkah kamu sering membayangkan dirimu berubah jadi kupu-kupu? Apa kamu kira enak jadi kupu-kupu seperti aku?"

"Pasti enak jadi kupu-kupu seperti kamu...."

"Padahal aku sering membayangkan sebaliknya, betapa enaknya jadi bocah seperti kamu...."
"Enakan juga jadi kamu!" tegas bocah itu
"Lebih enak jadi kamu!" jawab kupu-kupu.
"Lebih enak jadi kupu-kupu!"
"Lebih enak jadi bocah sepertimu!"
Setiap kali bertemu, setiap kali berbicara soal itu, kupu-kupu dan bocah itu pun semakin saling memahami apa yang selama ini mereka inginkan. Bocah itu ingin berubah jadi kupu-kupu. Dan kupu-kupu itu ingin menjelma jadi si bocah.
"Kenapa kita tak saling tukar saja kalau begitu?" kata kupu-kupu.
"Saling tukar gimana?"
"Aku jadi kamu, dan kamu jadi aku."
"Apa bisa? Gimana dong caranya?"
"Ya saling tukar saja gitu..."
"Kayak saling tukar gantian baju?" Bocah itu ingat kalau ia sering saling tukar baju dengan temen-temen ngamennya, biar kelihatan punya banyak baju. "Apa gitu?"
"Hmm, mungkin seperti itu..."
Keduanya saling pandang. Ah, pasti akan menyengkan kalau semua itu terjadi. Aku akan berubah jadi kupu-kupu, batin bocah itu. Aku akan bahagia sekali kalau aku memang bisa menjelma manusia, desah kupu-kupu itu dengan berdebar hingga sayap-sayapnya bergetaran.
"Bagaimana?" kupu-kupu itu bertanya.
"Bagaimana apa?"
"Jadi nggak kita saling tukar? Sebentar juga nggak apa-apa. Yang penting kamu bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi kupu-kupu. Dan aku bisa merasakan bagaimana kalau jadi bocah seperti kamu. Setelah itu kita bisa kembali lagi jadi diri kita sendiri. Aku kembali jadi kupu-kupu lagi. Dan kamu kembali lagi jadi dirimu. Gimana?"
Si bocah merasa gembira dengan usul kupu-kupu itu. Gagasan yang menakjubkan, teriaknya girang. Lalu ia pun mencopot tubuhnya, agar kupu-kupu itu bisa merasuk ke dalam tubuhnya. Dan kupu-kupu itu pun segera melepaskan diri dari tubuhnya, kemudian menyuruh bocah itu aku berdiam dalam tubuhnya. Begitulah, keduanya saling berganti tubuh. Bocah itu begitu riang mendapati dirinya telah berubah menjadi kupu-kupu. Sedangkan kupu-kupu itu merasakan dirinya telah bermetamorfosa menjadi manusia....

4.
WAH enak juga ya jadi kupu-kupu! Bener-bener luar biasa. Lihat, sinar matahari jadi keliatan berlapis-lapis warna-warni lembut tipis, persis kue lapis. Aku juga ngeliat cahaya itu jadi benang-benang keemasan, berjuntaian di sela-sela dedaunan. Aku jadi ingat benang gelasan yang direntangkan dari satu pohon ke pohon yang lain, setiap kali musim layangan. Aku lihat daun-daun jadi tambah seger. Semuanya jadi nampak lebih menyenangkan. Dengan riang aku melonjak-lonjak terbang. Terlalu girang sih aku. Jadi terbangku masih oleng dan nyaris nubruk ranting pohon.
"Hati-hati!"
Kudengar teriakan, dan kulihat kupu-kupu yang kini telah merasuk ke dalam tubuh bocahku. Dia kelihatan panik memandangi aku yang terbang jumpalitan. Aku bener-bener gembira. Tak pernah aku segembira ini. Emang nyenengin kok jadi kupu-kupu.
Aku terus terbang dengan riang....

5.
TUBUHKU perlahan-lahan berubah, dan mulai bergetaran keluar selongsong kepompong. Kemudian kudengar gema bermacam suara yang samar-samar, seakan-akan menghantarkan kepadaku cahaya pertama kehidupan yang berkilauan. Dan aku pun seketika terpesona melihat dunia untuk pertama kalinya, terpesona oleh keelokan tubuhku yang telah berubah. Itulah yang dulu aku rasakan, ketika aku berubah dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Dan kini aku merasakan keterpesonaan yang sama, ketika aku mendapati diriku sudah menjelma seorang bocah. Bahkan, saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang lebih meruah dan bergairah.
Aku pernah mengalami bagaimana rasanya bermetamorfosa, karena itu aku bisa menahan diri untuk lebih menghayati setiap denyut setiap degup yang menandai perubahan tubuhku. Aku merasakan ada suara yang begitu riang mengalir dalam aliran darahku, seperti berasal dari jiwaku yang penuh tawa kanak-kanak. Aku ingin melonjak terbang karena begitu gembira. Tapi tubuhku terasa berat, dan aku ingat: aku kini tak lagi punya sayap.

Lalu kulihat bocah itu, yang telah berubah menjadi kupu-kupu, terbang begitu riang hingga nyaris menabrak ranting pepohonan. Aku berteriak mengingatkan, tetapi bocah itu nampaknya terlalu girang dalam tubuh barunya. Dia pasti begitu bahagia, sebagaimana kini aku berbahagia.
Kusaksikan bocah itu terbang riang mengitari taman, kemudian hilang dari pandangan. Aku pun segera melenggang sembari bersiul-siul. Tapi aku langsung kaget ketika seorang penjaga taman menghardikku, "Hai!! Keluar kamu bangsat cilik!" Kulihat penjaga taman itu mengacungkan pemukul kayu ke arahku. Segera aku kabur keluar taman.

6.
KETIKA bocah yang telah berubah menjadi kupu-kupu itu terbang melintasi etalase pertokoan, ia bisa melihat bayangan tubuhnya bagai mengambang di kaca, dan ia memuji penampilannya yang penuh warna. Sayapnya hijau kekuning-kuningan dengan garis hitam melengkung di bagian tengahnya. Rasanya seperti pangeran kecil berjubah indah.

Tapi segera ia menjadi gugup di tengah lalu lalang orang-orang yang bergegas. Bising lalu lintas membuatnya cemas. Puluhan sepeda motor dan mobil-mobil mendengung-dengung mirip serangga-serangga raksasa yang siap melahapnya. Ia gemetar, tak berani menyeberang jalan. Dari kejauhan ia melihat truk yang menderu bagai burung pelatuk yang siap mematuk. Tiba-tiba ia menyadari, betapa mengerikannya kota ini buat seekor kupu-kupu sekecil dirinya. Sungguh, kota ini dibangun bukan untuk kupu-kupu sepertiku. Ia merasakan dirinya begitu rapuh di tengah kota yang semrawut dan bergemuruh. Gedung-gedung jadi terlihat lebih besar dan begitu menjulang dalam pandangannya. Tiang-tiang dan bentangan kawat-kawat tampak seperti perangkap yang siap menjerat dirinya. Semua itu benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya. Ketika ia sampai dekat stasiun kereta, ia menyaksikan trem-trem yang berkelonengan bagaikan sekawanan ular naga dengan mahkota berlonceng terpasang di atas kepala mereka. Sekawanan ular naga yang menjadi kian mengerikan ketika malam tiba. Ia menyaksikan orang-orang yang keluar masuk perut naga itu, seperti mangsa yang dihisap dan dikeluarkan dari dalam perutnya....

Ia begitu gemetar menyaksikan itu semua, dan buru-buru ingin pergi. Ia ingin kembali ke taman itu. Ia ingin segera kembali menjadi seorang bocah.

7.
SEMENTARA itu, kupu-kupu yang telah berubah jadi bocah itu seharian berjalan-jalan keliling kota. Lari-lari kecil keluar masuk gang. Main sepak bola. Bergelantungan naik angkot. Kejar-kejaran di atas atap kereta yang melaju membelah kota. Rame-rame makan bakso. Ia begitu senang karena bisa melakukan banyak hal yang tak pernah ia lakukan ketika dirinya masih berupa seekor kupu-kupu.
Tengah malam ia pulang dengan perasaan riang, sembari membayangkan rumah yang bersih dan tenang. Hmm, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana enaknya tidur dalam sebuah rumah. Selama ini ia hanya tidur di bawah naungan daun, kedinginan didera angin malam. Rasanya ia ingin segera menghirup semua ketenangan yang dibayangkannya.
Tapi begitu ia masuk rumah, langsung ada yang membentak, ?Dari mana saja kamu!? Ia lihat seorang laki-laki yang menatap nanar ke arahnya. Ia langsung mengerut. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi suasana seperti ini.

"Brengsek! Ditanya diam saja," laki-laki itu kembali membentak, mulutnya sengak bau tuak. Inikah ayah bocah itu? Ia ingat, bocah itu pernah bercerita tentang bapaknya yang seharian terus mabuk dan suka memukulinya. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika laki-laki itu mencekik lehernya. ?Uang!? bentak laki-laki itu, "Mana uangnya?! Brengsek! Berapa kali aku bilang, kamu jangan pulang kalau nggak bawa uang!"

Ia meronta berusaha melepaskan diri, membuat laki-laki itu bertambah marah dan kalap. Ia rasakan tamparan keras berkali-kali. Ia rasakan perih di kulit kepalanya ketika rambutnya ditarik dan dijambak, lantas kepalanya dibentur-benturkan ke dinding. Ia merasakan cairan kental panas meleleh keluar dari liang telinganya. Kemudian perlahan-lahan ia merasakan ada kegelapan melilit tubuhnya, seakan-akan membungkus dirinya sebagai kepompong. Ia rasakan sakit yang bertubi-tubi menyodok ulu hati. Membuatnya muntah. Saat itulah bayangan bocah itu melintas, dan ia merasa begitu marah. Kenapa dia tak pernah cerita kalau bapaknya suka menghajar begini? Ia megap-megap gelagapan ketika kepalanya berulang-ulang dibenamkan ke bak mandi.....

8.
SUDAH hampir seharian aku nunggu. Kok dia belum muncul juga ya? Aku mulai bosen jadi kupu-kupu begini. Cuma terbang berputar-putar di taman. Habis, aku takut terbang jauh sampai ke jalan raya kayak kemarin sih! Takut ketubruk, dan sayap-sayapku remuk. Padahal sebelum jadi kupu-kupu, aku paling berani nerobos jalan. Aku juga bisa berenang, dan menyelam sampai dasar sungai ngerukin pasir. Sekarang, aku cuman terbang, terus terusan terbang. Nyenengin sih bisa terbang, tapi lama-lama bosen juga. Apalagi kalau cuman berputar-putar di taman ini.
Cukup deh aku ngrasain jadi kupu-kupu gini. Banyak susahnya. Apa karena aku nggak terbiasa jadi kupu-kupu ya? Semaleman ajah aku kedinginan. Tidur di ranting yang terus goyang-goyang kena angin, kayak ada gempa bumi ajah. Aku ngeri ngeliat kelelawar nyambar-nyambar. Ngeri, karena aku ngerasa enggak bisa membela diri. Waktu jadi bocah aku berani berkelahi kalau ada yang ngancem atau ganggu aku. Sekarang, sebagai kupu-kupu, aku jadi ngerasa gampang kalahan. Nggak bisa jadi jagoan! Karna itu aku ingin cepet-cepet berhenti jadi kupu-kupu...

Nggak bisa deh kalau hanya nunggu-nunggu begini. Gelisah tau! Kan kemarin dia janji, hanya mau tukar sebentar. Apa dia keenakan jadi aku, ya? Jangan-jangan dia lagi rame-rame ngelem ama kawan-kawannku. Atau dia lagi didamprat Ayah? Ah, moga-moga ajah tidak. Tapi ngapain sampai gini hari belum datang juga? Terus terang aku udah cemas. Aku mesti ketemu dia. Aku nggak mau terus-terusan jadi kupu-kupu gini.
Baiklah, dari pada cemas gini, mendingan aku nyusul dia. Aku mesti nyari dia!

9.
IA mendapati kemurungan di sekitar rumahnya. Bocah yang telah menjadi kupu-kupu itu bisa merasakan indera kupu-kupunya menangkap kelebat firasat, sebagaimana indera serangga bila merasakan bahaya. Ia mencium bau kematian, bagaikan bau nektar yang menguar. Dan ia bergegas terbang masuk rumah. Ia tercekat mendapati tubuh bocah itu terbujur di ruang tamu. Memar lebam membiru, mengingatkannya pada rona bunga bakung layu. Apa yang terjadi? Alangkah menyedihkan melihat jazad sendiri. Segalanya terasa mengendap pelan, namun menenggelamkan. Ia terbang berkelebat mendekati para tetangganya yang duduk-duduk bercakap-cakap pelan. Kemudian ia mencoba mengajak para tetangga itu bercakap-cakap dengan isyarat kepakkan sayapnya. Tapi tak ada yang memahami isyaratnya. Tentu saja mereka tak tahu bagaimana caranya berbicara pada seekor kupu-kupu sepertiku! Dan ia merasa kian ditangkup sunyi, terbang berputar-putar di atas jazad-nya. Ia merasakan duka itu, melepuh dalam mata yang terkatup. Sepasang kelopak mata yang membiru itu terlihat seperti sepasang sayap kupu-kupu yang melepuh rapuh. Ia terbang merendah, dan mencium kening jazad itu. Saat itulah ia mendengar percakapan beberapa pelayat,
"Lihat kupu-kupu itu...."
"Aneh, baru kali ini aku melihat kupu-kupu hinggap di kening orang mati."
"Kupu-kupu itu seperti menciumnya...."
"Mungkin kupu-kupu itu tengah bercakap-cakap dengan roh yang barusan keluar dari tubuh bocah itu."
Bocah yang telah berubah menjadi kupu-kupu itu kemudian terbang keluar ruangan, dan orang-orang yang melihatnya seperti menyaksikan roh yang tengah terbang keluar rumah. Tapi ke mana roh kupu-kupu itu? Ia tak tahu ke mana roh kupu-kupu itu pergi. Apa sudah langsung terbang membumbung ke langit sana? Apakah kalau kupu-kupu mati juga masuk surga?

Di surga, aku harap roh kupu-kupu itu bertemu ibuku. Aku ingin dia bercerita pada ibuku, bagaimana kini aku telah menjadi seekor kupu-kupu yang terus-menerus dirundung rindu. Semua kejadian berlangsung bagaikan bayang-bayang yang dengan gampang memudar namun terus-menerus membuatku gemetar.

Bunga-bunga mekar dan layu, sementara aku masih saja selalu merasa perih setiap mengingat kematian kupu-kupu yang menjelma jadi diriku itu. Kuharap bapak membusuk di penjara. Aku terbang, terus terbang, berusaha meneduhkan kerisauanku. Aku ingin terbang menyelusup ke mimpi setiap orang, agar mereka bisa mengerti kerinduan seorang bocah yang berubah menjadi kupu-kupu. Dapatkah engkau merasakan kesepian seorang bocah yang berubah menjadi kupu-kupu seperti aku?
Aku terbang mencari taman yang dapat menenteramkanku. Aku terbang mengitari taman-taman rumah yang menarik perhatianku. Aku suka bertandang ke rumah-rumah yang penuh keriangan kanak-kanak. Keriangan seperti itu selalu mengingatkan pada seluruh kisah dan mimpi-mimpiku. Aku suka melihat anak-anak itu tertawa. Aku suka terbang berkitaran di dekat jendela kamar tidur mereka.

Seperti pagi ini. Dari jendela yang hordennya separuh terbuka, aku menyaksikan bocah perempuan yang masih tertidur pulas. Kamar itu terang, dan cahaya pagi membuatnya terasa lebih tenang. Sudah sejak beberapa hari lalu aku memperhatikan bocah perempuan itu. Dari luar jendela, dia terlihat seperti peri cilik cantik yang terkurung dalam kotak kaca. Aku terbang menabrak-nabrak kaca jendelanya. Aku ingin masuk ke dalam kamar bocah perempuan itu. Betapa aku ingin menyelusup ke dalam mimpinya....

10.
HANGAT pagi mulai terasa menguap di horden jendela yang setengah terbuka, tetapi kamar berpendingin udara itu tetap terasa sejuk. Bocah perempuan itu masih meringkuk dalam selimut. Sebentar ia menggeliat, dan teringat kalau hari ini Mamanya akan mengajak jalan-jalan. Karena itu, meski masih malas, bocah perempuan itu segera bangun, dan ia terpesona menatap cahaya bening matahari di jendela. Seperti sepotong roti panggang yang masih panas diolesi mentega, cahaya matahari itu bagaikan meleleh di atas karpet kamarnya. Cuping hidung bocah itu kembang-kempis, seakan ingin menghirup aroma pagi yang harum dan hangat.
Di luar jendela, dilihatnya seekor kupu-kupu tengah terbang menabrak-nabrak kaca jendela, seperti ingin masuk ke dalam kamarnya. Segera ia mendekati jendela. Ia pandangi kupu-kupu itu. Sayapnya. hijau kekuning-kuningan, bergaris hitam melengkung di tengah-tengahnya. Seperti kupu-kupu dalam mimpiku semalam, gumam bocah perempuan itu. Lalu ia ingat mimpinya semalam: ia bertemu seorang bocah yang telah menjelma kupu-kupu. Terus ia pandangi kupu-kupu itu. Kayaknya kupu-kupu itu yang semalam muncul dalam mimpiku? Jangan-jangan itu memang kupu-kupu yang semalam meloncat keluar mimpiku? Bocah perempuan itu ingin membuka jendela. Tapi jendela itu penuh teralis besi. Lagi pula daun jendelanya dikunci mati, karena orang tuanya takut pencuri. Bocah perempuan itu hanya bisa memandangi kupu-kupu yang terus terbang menabrak-nabrak kaca jendela?
Pintu kamar terbuka, muncul Mamanya yang langsung terkejut mendapati anaknya tengah berdiri gelisah memandangi jendela. "Kenapa?" tanya Mama sambil memeluk putrinya dari belakang, berharap pelukannya akan membuat putrinya tenang.

"Kasihan kupu-kupu itu, Mama..."

"Kenapa kupu-kupu itu?"

"Aku ingin kenal kupu-kupu itu."

"Kamu ingin tahu kupu-kupu itu? Kamu suka kupu-kupu?"

Bocah perempuan itu mengangguk.

"Kalau gitu cepet mandi, ya. Biar kita bisa cepet jalan-jalan. Nanti habis Mama ke salon kita mampir ke toko buku, beli buku tentang kupu-kupu. Kamu boleh pilih sebanyak-banyaknya.... Atau kamu pingin ke McDonald dulu?"

Bocah perempuan itu menatap ibunya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ingin bercerita soal mimpinya semalam Ingin mengatakan kenapa ia suka pada kupu-kupu di luar itu. Ia ingin menceritakan apa yang dirasakannya, tapi tak tahu bagaimana cara mengatakan pada Mamanya.

Setelah lama terdiam, baru bocah itu berkata, "Gimana ya, Ma.... kalau suatu hari nanti aku menjadi kupu-kupu?"

Mamanya hanya tersenyum. Sementara kupu-kupu di luar jendela itu terus-menerus terbang menabrak-nabrak jendela, seperti bersikeras hendak masuk dan ingin menjawab pertanyaan bocah perempuan itu.

11.
PERNAHKAH suatu pagi engkau menyaksikan sekor kupu-kupu bertandang ke rumahmu? Saat itu engkau barangkali tengah sarapan pagi. Engkau tersenyum ke arah anakmu yang berwajah cerah, seakan-akan masih ada sisa mimpi indah yang membuat pipi anakmu merona merah. Engkau segera bangkit ketika mendengar anakmu berteriak renyah, " Papa, lihat ada kupu-kupu!".

Dan engkau melihat kupu-kupu bersayap hijau kekuning-kuningan dengan garis hitam melengkung di bagian tengahnya sedang terbang berputar-putar gelisah di depan pintu rumahmu. Kupu-kupu itu terlihat ragu-ragu ingin masuk ke rumahmu. Apakah yang melintas dalam benakmu ketika engkau melihat kupu-kupu itu?

Kuharap, pada saat-saat seperti itu, engkau terkenang akan aku: seorang bocah yang berubah menjadi seekor kupu-kupu....***



Media Indonesia 19 September 2004

Laila

Laila

Cerpen Putu Wijaya




Menangis tidak selamanya tanda kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur air mata Laila.

”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis seperti sinetron, kapan habisnya?”

Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.

”Laila itu bukan jenis pembantu murahan yang mata duitan. Dia orang Jawa yang tahu diri, memangnya kamu!” bentak istri saya, sambil menarik Laila bicara empat mata.

”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!”

”Terlalu!”

”Sekarang si Romeo nyuruh Laila berhenti lagi!”

”Berhenti?”

”Ya! Apa nggak gila?! Kalau Laila tidak kerja mau ngasih makan apa si Arjuna?”

”Kali Laila dapat kerjaan baru.”

”Mana ada orang mau menerima pembantu yang tiap sebentar pulang, karena anaknya nangis!”

”Jadi Laila akan berhenti?”

”Tidak! Biar Laila bawa Arjuna kemari, jadi kerjanya tenang.”

”Boleh sama si Romeo?”

”Memang itu yang dia mau!”

Saya menarik nafas. Sejak itu, Arjuna yang baru lima tahun itu jadi bagian dari rumah kami. Kalau dia nangis, sementara ibunya memasak, sedangkan istri saya sibuk, itu tanggung jawab saya.

Mula-mula berat. Tapi kemudian terjalin persahabatan indah antara saya dan Arjuna. Saya bahkan merasa tersanjung ketika Arjuna memanggil saya Pakde.

Sudah 11 tahun saya dan istri merindukan anak. Kami sudah capek menjalani nasehat dokter. Akhirnya kami ambil kesimpulan, tugas manusia memang beda-beda. Kami mungkin bukan mesin reproduksi manusia.

Kehadiran Arjuna membuat rumah berubah. Kelucuan bahkan kebandelan Arjuna menyulap tiap hari jadi beda. Sampai-sampai istri saya memanggilnya si Buah Hati.

Tapi pulang dari mudik, saya terkejut. Di dapur terdengar suara ketawa beberapa orang anak. Ternyata di situ ada lima bocah hampir seusia Arjuna sedang main petak umpet. Mereka sama sekali tidak takut oleh kehadiran saya.

”Itu anak-anak pembantu-pembantu sebelah.”

”O ya?”

”Ya, orangtuanya juga sibuk kerja, jadi anaknya tidak ada yang ngurus. Daripada mereka jadi gelandangan atau korban narkoba, aku suruh saja main di sini nemani si Buah Hati,” kata istri saya.

Mula-mula saya keberatan. Satu anak tertawa dalam rumah, memang lucu. Tapi enam orang, saya akan kehilangan privasi.

Ketika saya sedang bekerja di meja, semuanya seliwar-seliwer di depan pintu. Kalau saya menoleh mereka mencelup. Punggung saya terasa gatal ditancapi tatapan. Saya kira mereka mulai kurang-ajar.

”Kamu frustrasi!” komentar istri saya sambil tertawa,

”Persis!”

”Karena kamu kurang peka!”

Saya berpikir. Istri saya terus ketawa.

”Kamu tidak peka. Anak-anak itu tahu kamu baru kembali dari mudik. Mereka menunggu.”

”Menunggu apa?”

”Biasanya kalau pulang mudik orang bawa oleh-oleh.”

”Aku bawa untuk Arjuna, bukan untuk mereka!”

”Mereka semua anak-anak. Kamu harus berikan sesuatu kepada semuanya.”

Istri saya mengulurkan sebuah kantung plastik yang penuh coklat.

”Bagikan ini pada mereka!”

Saya takjub, tapi tak bisa menolak.

Sejak peristiwa itu, rumah saya seperti penitipan anak. Kerap ibu-ibu tetangga karena keperluan yang mendesak menitipkan anak di rumah kami. Anaknya pun senang bahkan mereka menganjurkan agar dirinya dititipkan.

Untung saya cepat membiasakan diri. Apalagi keadaan itu membuat gengsi kami naik. Istri saya menjadi popular. Saya sering dipuji sebagai lelaki sejati.

Tetapi kemudian Laila kembali menangis.

”Si Romeo bertingkah lagi!” umpat istri saya setelah mengusut Laila, ”bayangkan, masak dia minta dibelikan motor!”

”Motor? Emang mau ngojek.”

”Boro-boro ngojek, naik motor juga nabrak melulu!”

”Terus untuk apa?”

”Menurut Laila itu mau disewakan Romeo pada tukang ojek. Laila minta gajinya setengah tahun di bayar di muka.”

”Kamu tolak kan?!”

”Gimana ditolak? Laila diancam akan digebukin kalau tidak berhasil.”

Saya jadi penasaran. Lalu saya mencecer Laila.

”Laila, cinta itu tidak buta. Kalau suami kamu terus dituruti, kepala kamu bisa diinjaknya. Suami pengangguran yang mengancam dibelikan motor oleh istri itu bukan saja menginjak, tapi itu sudah explotation de l’home par l’home tahu?!”

”Ya Pak.”

”Kamu mengerti?”

”Mengerti, Pak.”

”Suami yang baik boleh dihormati, tapi yang jahat tendang!”

Laila tunduk dan mulai menangis.

”Kamu kok cinta mati sama si Romeo, kenapa? Jangan-jangan kamu sudah kena pelet!”

”Saya hanya mau berbakti kepada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi sudah bunuh diri!”

”Orangtua saya selalu berpesan, suami itu guru, Pak. Kata Ibu saya, tidak boleh membantah kata suami, nanti tidak bisa masuk surga!”

”Tapi kelakuan si Romeo kamu itu sudah melanggar HAM!”

Laila menunduk dan meneruskan menangis. Hanya motor yang bisa menyetop air matanya. Terpaksa saya mondar-mandir ke sana ke mari untuk mencari info motor bekas. Beruntunglah salah satu satpam bangkrut karena kalah berjudi. Dia jual murah motornya. Langsung saya bayar, daripada kehilangan Laila.

”Ah?! Ngapain mesti peduli semua permintaan Laila,” kata istri saya marah-marah, ”Kalau kamu manjakan dia begitu, sebentar lagi dia akan menginjak kepala kita! Pembantu itu jangan dikasih hati. Kalau dia mau berhenti, biarin. Kita cari yang lain!”

Tapi kemudian istri saya sendiri yang menyerahkan kunci motor bekas itu kepada Laila.

”Ini motornya, Laila. Cicil berapa saja tiap bulan, asal kamu jangan keluar!”

Laila mencium tangan istri saya dengan terharu. Saya juga mendapat perlakuan manis. Laila kelihatan sangat bahagia. Sambil nyuci ia menyenandungkan lagu Nike Ardila.

Tapi itu hanya berlangsung sebulan.

”Si Romeo itu memang kurang ajar!” teriak istri saya kemudian, ”Motor sudah digadaikan lagi, katanya nggak ada yang doyan nyewa motor bekas!”

Saya bengong. Dengan mata berkaca-kaca Laila minta maaf. Katanya, suaminya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi hutangnya setelah kalah taruhan bola.

Istri saya mencak-mencak. Tapi kemudian ia mendesak saya menebus motor itu dengan janji, Romeo dilarang menyentuhnya.

”Kamu saja yang boleh naik motor itu Laila! Yang lain-lain, haram!”

Sejak itu Laila masuk kerja menunggang motor. Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu datang tepat waktu. Anaknya bangga sekali duduk di boncengan. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting, Laila tetap setia di posnya.

”PRT seperti Laila memang perlu punya motor, supaya tenaganya tidak terkuras di jalanan. Motor itu bukan untuk dia, tetapi untuk kepentingan kami juga,” kata istri saya kepada ibu-ibu tetangga.

Tak terduga argumen itu patah, ketika pada suatu hari Laila muncul tanpa motor. Hari pertama saya diam saja. Pada hari ketiga saya tidak kuat melihat dia pulang menggendong Arjuna sambil menenteng tas besar.

”Motor kamu mana, Laila?”

”Dipakai saudara misan saya, si Neli, Pak.”

”Kenapa?”

”Kerjanya lebih jauh, Pak.”

”Kenapa dia tidak naik angkot saja?”

”Nggak boleh sama suami saya, Pak.”

Saya bingung. Kemudian saya baru tahu, Neli saudara misan Laila sekarang tinggal bersama Laila satu rumah.

”Itu motor kamu Laila, tidak boleh dipakai orang lain!”

”Tapi suami saya bilang begitu, Pak. Saya harus mengalah sebab di pabrik tempat Neli kerja aturannya keras. Kalau datang telat bisa dipecat.”

”Kamu juga harus tepat waktu sampai di sini, Laila!”

”Betul, Pak.”

”Ambil motor itu kembali!!!!!!”

Besoknya Laila masuk kerja tepat waktu. Tapi dia naik ojek. Saya marah.

”Maksudku kamu tidak hanya datang tepat waktu, tapi harus pakai motor kamu! Kalau kamu datang ke mari naik ojek, lebih baik jangan kerja!”

Laila bingung. Dia tidak mengerti apa maksud saya. Istri saya mencoba menjelaskan. Tapi bukan menjelaskan kepada Laila, dia justru menerangkan kepada saya.

”Laila tidak berani minta motor itu karena takut digampar si Romeo.”

Saya bingung.

”Kenapa bangsat itu malah ngurus misannya, bukan istrinya?”

”Sebab misan Laila itu perempuan !”

”Gila! Istrinya juga perempuan!”

”Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau menikahi si Neli!”

Saya megap-megap.

”Ya Tuhan! Kenapa Laila nerima saja dikadalin begitu?

Istri saya hanya mengangguk.

”Sekarang memang banyak orang gila!”

Langsung saya interogasi Laila di dapur.

”Kenapa kamu terus mengalah Laila? Suami kamu sudah kurang ajar. Jangankan mau menikahi misanmu, mengancam kamu membelikan pacarnya motor saja, sudah zolim! Kenapa?”

Laila tak menjawab.

”Kamu takut? Kalau perlu aku bantu kamu mengadu kepada LBH. Orang macam Romeo itu, maaf, bajingan. Dia harus dihajar supaya menghormati perempuan!”

Laila diam saja.

”Itu namanya kamu sudah kena pelet! Kamu yang cantik begini pantasnya sudah lama menendang Romeo. Apa kamu tidak sadar?!”

”Ya, Pak.”

”Kalau sadar kenapa tidak bertindak?”

”Saya ingin berbakti pada suami, Pak!”

”Itu bukan berbakti, tapi menghamba! Diperbudak! Dijadikan kambing congek si Romeo asu itu, tahu!?”

”Ya, Pak!”

”Ya apa?”

”Kata orangtua saya, sebagai istri saya mesti menghormati suami, saya tidak boleh membantah kata suami. Hanya orang yang baik dan sabar yang akan bisa masuk surga.”

”Kalau orangtua kamu masih hidup, dia tidak akan rela kamu disiksa begini?! Kamu ini cantik Laila!”

Mendengar dua kali menyebut kata cantik, istri saya muncul. Saya diberi isyarat supaya minggir. Lalu dia bicara dari hati ke hati dengan Laila. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian saya lihat dari jauh, Laila menghapus air matanya.

”Kita tidak bisa kehilangan Laila,” kata istri saya kemudian.

”Lho, memangnya dia minta berhenti?”

”Dia tidak bisa merebut motor itu dari si Neli.”

”Tapi itu kan haknya!”

”Kita tidak bisa memaksakan jalan pikiran kita ke otaknya. Tidak. Pokoknya tidak bisa.”

”Harus! Kita berkewajibkan mengajarkan dia berpikir logis!”

”Kalau terlalu didesak, bisa-bisa dia minta berhenti.”

”O ya, Laila bilang begitu?”

”Dia tidak bilang begitu, tapi pasti akan begitu.”

”Kenapa dia begitu ketakutan?”

”Sebab Neli sudah dikawini Romeo!”

Saya terpesona. Lama saya mencoba menghayati bagaimana perempuan yang secantik Laila bisa dikuasai Romeo tak beradab itu. Saya tak akan pernah bisa mengerti.

Sementara terus-terang, kami sangat bergantung pada Laila. Kalau dia tidak ada, rumah akan berantakan.

”Kita tidak mungkin kehilangan Laila,” kata istri saya.

”Tapi dia tidak boleh dibiarkan masuk kerja terlambat terus.”

”Karena itu dia harus punya motor!”

Saya tak menjawab. Istri saya yang harus menjawab. Jawabannya agak tidak masuk akal. Laila dibelikan motor baru. Laila tersenyum sambil meneteskan air mata haru mendengar keputusan itu. Arjuna juga tertawa.

Motor kedua Laila langsung dari dealer. Bodinya mulus, suaranya halus dan tarikannya kuat. Laila dan Arjuna selalu datang tepat waktu. Saya dan istri puas, merasa keputusan kami tepat.

Tapi tak sampai satu bulan, tiba-tiba Laila muncul kembali dengan motor bututnya yang lama. Waktu kedatangannya memang tepat. Wajahnya juga tidak berubah. Ia tetap cantik dan ceria. Hanya Arjuna yang kelihatan rewel. Dan istri saya ngamuk.

Tidak pakai pendahuluan lagi, Laila langsung digebrak.

”Laila, Ibu sudah bosan bicara! Kalau kamu masih saja datang pakai motor busuk ini, tidak usah kembali! Pulang! Ibu beli motor baru untuk kamu dan Arjuna bukan untuk lelaki hidung belang itu! Kalau motor itu dipakai oleh orang lain, kamu berhenti saja kerja sekarang! Kembalikan motor kamu!”

Laila gemetar. Saya pun tersirap. Belum pernah istri saya marah seperti itu. Tanpa berani membantah lagi. Laila menaikkan lagi Arjuna yang sudah turun dari motor, lalu segera pergi. Saya lihat mukanya pucat pasi.

Saya kira perempuan itu tidak akan pernah kembali lagi. Tapi saya keliru. Besoknya, terdengar suara motor yang halus masuk ke halaman. Saya cepat keluar dan kaget melihat Laila dengan motor barunya. Arjuna tertawa senang. Laila mengangguk dan menyapa saya dengan sopan.

”Laila kembali, tapi mungkin untuk pamit pergi,” bisik saya.

Istri saya menjawab acuh tak acuh.

”Sudah waktunya dia menghargai dirinya sendiri!”

Hari berikutnya, seminggu, sebulan dan seterusnya, Laila tetap bekerja. Ia selalu datang tepat waktu. Lewat dengan anak dan motor baru, memasuki halaman rumah kami ia kelihatan tegar. Tidak pernah menangis lagi. Rupanya terapi kejut dari istri saya sudah membuatnya menjadi orang lain.

Tapi kalau diperhatikan ada sesuatu yang hilang. Laila tidak pernah lagi menggumamkan lagu Nike Ardila. Kadang-kadang dia termenung dan kelihatan hampa.

Ketika gajinya dinaikkan, Laila tersenyum, mencium tangan istri saya, tapi tidak lagi meneteskan air mata. Saya jadi penasaran.

”Laila, kenapa kamu kelihatan tidak terlalu gembira?”

”Saya gembira gaji saya dinaikkan Ibu, terima kasih, Pak.”

”Kamu naik motor mulus yang membuat iri orang-orang lain. Anak kamu senang dan sehat. Saya dengar saudara misan kamu sudah tidak di rumah kamu lagi. Suami kamu juga sudah tidak berani lagi memukul dan berbuat semena-mena. Betul?”

”Betuk, Pak.”

”Tapi kenapa kamu kelihatan susah?”

Laila menunduk.

”Kenapa kamu sedih?”

”Ya, Pak, karena sekarang saya tidak akan bisa masuk surga.”

***




Kompas, 11 Agustus 2009

Serenade Kunang-kunang

Serenade Kunang-kunang

Cerpen Agus Noor



Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.

Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca—membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.

Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.

”Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kamu takut tidur sendirian…”

Kamu mungkin tak percaya, kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta, mana yang pantas buat dipakai makan malam, mana yang pas buat jalan-jalan, dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang.

”Dan yang ini?”

Seperti kukatakan, aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menenteramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil…

”Laki-laki yang romantis rupanya!”

Tidak. Ia tak pernah mengucapkan rayuan, yang paling gombal sekali pun, untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat, betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali menyentuh putingku yang ungu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau tahu, bercinta dengannya seperti menikmati nasi goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi—entah kenapa—aku selalu menyukainya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bersamanya aku tidak terobsesi untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan kupikir, kalau memang kepingin yang aneh-aneh begitu, aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.

”Busyet!!”

Mungkinkah, kali ini, aku sungguh-sungguh jatuh cinta?

”Gatal telingaku dengar kamu ngomong soal cinta.”

Bila aku kangen, bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya, yang membuatku menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu lihat di iklan deodoran, yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar mendapatkan perhatiannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip salesman yang baru saja ditolak masuk rumah, dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna sweater-nya yang kelabu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sedikit berkumis, tipis, tak rapi. Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.

”Bukan baju yang pantas buat ke pesta, kukira!”

Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Bukan karena kamu tak suka, tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Tapi—entahlah, aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan diam-diam.

”Anggap saja ini cinta sejatimu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha-ha-ha…”

Tidakkah kau tahu, terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meskipun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini aku sendiri masih heran, kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi, bukankah cinta memang ganjil dan penuh masalah?! Tapi…

Maaf, aku mesti pergi.

”Mau ke mana?”

Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang, aku selalu merasa dia tengah memikirkanku. Setiap melihat kunang-kunang, aku jadi ingin ketemu dia.

”Hmm.”

”Aku suka kunang-kunang...”

”Hmm.”

”Aku suka matamu...”

”Hmm”

“Seperti ada kunang-kunang dalam matamu.”

”Hmm…”

Ah, selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Padahal, pada saat-saat seperti ini aku ingin sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Itulah kenapa aku mengajaknya kemari. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana, bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.

Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Ibu selalu mengajakku kemari, setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu bercerita bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu, kata ibu. Selalu, dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah, di zaman gestapu dulu. Aku masih dalam kandungan ibu, saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah dibuang ke lembah itu, bersama ribuan tubuh lainnya. Seminggu setelah pembantaian, dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Membuat lembah itu menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dan setiap malam purnama, ketika lembah itu menjadi bisu, dan angin yang membeku membuat pepohonan tertugur kelu, ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang-layang menyusuri aliran sungai, kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu.

Kuajak ia kemari, agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Agar ia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai menyimpan kunang-kunang. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang.

”Kau lihat kunang-kunang itu?!”

”Hmm...”

Ini pertemuan ke-43. Seperti yang sudah-sudah, ia langsung tidur setelah bercinta. Dia meringkuk dalam selimut, seperti sosis dalam setangkup roti. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dari jendela apartemen lantai sebelas, kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang-kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita seperti itu—mungkin sewaktu SMA, aku lupa. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota…

”Enggak tidur?” Ia menggeliat, memandangku yang duduk telanjang di sofa.

Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit, meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Membelakangiku, dan tergesa mengenakan pakaian. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Tak ada percakapan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan.

Seperti jeritan yang teredam, handphone di atas meja bergetar tanpa suara. Ia meraih handphone itu, dan dengan gerakan pelan menjauhiku, berbicara setengah berbisik. Aku hanya memandang keluar jendela. Sampai ia mematikan handphone dan mendekatiku.

”Aku mesti pergi…” suaranya pelan dan datar. ”Anakku sakit …”

Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tapi, aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang, seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunang-kunang. Cahaya perlahan susut dan aus. Desah napas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin, seperti dalam sebuah puisi, tak tercatat pada termometer.

Barangkali, seperti kerap kau katakan, aku memang wanita paling menyedihkan yang pernah kau kenal. Karena, selalu saja, aku selalu saja gampang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri….

***


Jakarta, 2005-2008

Sumber: Kompas 18 Mei 2008

Mata Mungil yang Menyimpan Dunia

Mata Mungil yang Menyimpan Dunia

Cerpen Agus Noor



Selalu. Setiap pagi. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. Kadang berloncatan, seperti menjolok sesuatu. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar, seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock.

Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat, Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu, saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil, agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.

Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. Usianya paling 12 tahunan. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Selalu bercelana pendek kucel. Berkoreng di lutut kirinya. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari bocah itu. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya, agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu.

Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan, karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar, akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan, kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan, seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light.

Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Ia menurunkan kaca mobilnya, menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya.

Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju.

Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu.

Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Ia suka menatapnya berlama-lama. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan, yang kata Mama, sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Berminggu-minggu mengikuti terapi, ia selalu disuruh menggambar. Dan ia selalu menggambar mata. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu; mata dengan sebilah pisau yang menancap; atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska.

Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Ia ingat perkataan Oma, saat ia berusia tujuh tahun, ”Mata itu seperti jendela hati. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya….” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Tapi Papa kerap menghardik, ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.

Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka, tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama, hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. Setiap menatap mata seseorang, Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung, pecahan kaca yang menancap di kornea, kawat berduri yang terjulur panjang, padang gersang ilalang, pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung.

Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang berkilat licik. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Karena itu, Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. Rasanya, itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Begitu bening begitu jernih. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia.

Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Setiap kali terkenang mata itu, setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya.

Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal, Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah, seperti mata bocah itu. Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Membuat Gustaf berpikir, bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Dan ia makin ingin memiliki mata itu. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda….

Gustaf kini bisa mengerti, kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya, hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. Ketika berjongkok, pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Semua itu hanya mungkin, karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia.

Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu, batin Gustaf. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. Eceng gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi, bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian….

Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Bila ia bisa memiliki mata itu, ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik, menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran, dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang.

Gustaf tersenyum. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu!

Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Ia ingin ketika ia muncul kembali, semuanya sudah tampak sempurna. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata, pikirnya. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia.

Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya, ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Ia ingin membuka jendela, dan melemparkan recehan, tapi segera ia urungkan karena merasa percuma.
Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya….

Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift.

Begitu lift itu tertutup, seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas, sambil berbicara kepada temannya.

”Kamu lihat mata tadi?”

”Ya.”

”Persis mata iblis!”


Jakarta, 2006

Kompas, 12 Maret 2006

Delayed

Delayed

Ratna Indraswari Ibrahim



Sebagai seorang perempuan, sekalipun berprofesi dokter, Nana menganggap minggu-minggu ini buat dia dan keluarga besarnya sangat menyedihkan! Tiga hari yang lampau, adik bungsunya sambil menangis mengatakan, anaknya, Tantiana, positif hamil. Padahal, dia baru berusia 17 tahun, kelas dua SMA dan hamilnya dengan teman sekelasnya, Alvin. Adiknya berkata, ”Datanglah bersama Dara, kalian berdua kan dokter. Aku lebih suka menggugurkan anak Tantiana daripada menikahkannya!”

Nana mengembuskan nafasnya. Dua minggu yang lampau anak bungsunya, Aditya (25 tahun), menikah! Mendahului anak sulungnya, Dara, yang minggu kemarin merayakan ulang tahun ke-30.

Mereka bertemu di bandara ini dan seorang perempuan mengumumkan dengan suaranya yang seksi bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi delayed selama sejam. Seperti dua sahabat, Nana dan Dara keluar dari kerumunan orang yang mengamuk. Mereka mencari sebuah restoran, memesan jus jeruk dan beberapa makanan kecil.

”Ma, saya sedang berpikir untuk mengadopsi anak Tantiana setelah dia melahirkan. Setelah itu, Tantiana bisa balik sekolah dan meneruskan kehidupan remajanya.”

Nana mengatupkan bibirnya, ”Apakah kau sudah merundingkan hal itu dengan Rizal?”

”Ma, Rizal kan cuma teman. Jadi, setiap keputusan hanya ada pada saya.”

Nana terenyak. Sesungguhnya, dia menyayangi Rizal dan berharap suatu kali dia bisa berkata kepada adik almarhum suaminya, ”Dik, mudah-mudahan volume pekerjaan panjenengan bulan ini tidak padat sehingga panjenengan bisa menikahkan anak kita dengan Rizal!”

Kedua perempuan ini bersitatap.

”Ma, saya sepertinya sudah dapat firasat. Beberapa hari yang lampau, waktu ke toko buku, saya membeli buku nama-nama calon bayi.”

Nana merasa terkunci. Sebelum terjawab, adik bungsunya menelepon HP-nya, ”Mbak, sampeyan kok belum datang, jam berapa datangnya? Dari tadi, Tantiana menangis terus. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan.”

Nana melihat Dara. ”Tante dan Om-mu, sekarang ada di rumah sakit. Tantiana mencoba bunuh diri dengan menyilet pergelangan nadinya. Mungkin anak itu harus kita konsultasikan ke psikiater.”

Dara yang sedang belajar menjadi psikiater mengangguk-anggukkan kepala. Nana meneruskan omongannya, ”Kalau tahu begini, lebih baik kita naik kereta saja. Aku bosan menunggu!”

Dara tersenyum, tapi kemudian Nana berpikir, barangkali ini karunia yang tersembunyi (blessing in disguise). Kendati mereka masih tinggal serumah, jarang bisa ngobrol. Apalagi, Nana pada usianya ini tidur lebih cepat, sedangkan Dara mungkin sedang sibuk di rumah sakit atau sedang makan-makan bersama temannya. Rasanya mereka memang dua perempuan yang beda dalam menjalani kehidupan sosialnya. Sekalipun Nana merasa, berapa pun umur Dara, dia tetap mamanya! Atau apakah Dara menjadi miliknya hanya kala dia gadis kecil yang belum pandai memasang pita rambutnya dan merengek-rengek untuk meminta sesuatu. Apakah yang dihadapannya ini cuma teman seprofesi yang kebetulan serumah? Dan, sebetulnya mereka dua jagat yang berbeda dan tidak pernah bisa bertemu.

Sesungguhnya, sekarang mereka sama-sama punya waktu luang dan duduk semeja. Nana seharusnya berkata begini, ”Waktu kau beranjak remaja, aku dan ayahmu sudah sering bersitegang karena banyaknya tamu laki-laki yang datang ke rumah kita. Tapi, kemudian kami heran juga, kau tidak peduli pada mereka. Padahal, banyak temanmu yang sudah mulai pacaran. Kami tidak merisaukan hal itu, kau lagi ingin serius dan sendiri saja. Itu berlanjut sampai kau menjadi mahasiswa. Mulai sejak itu, aku diliputi perasaan gelisah. Apalagi, kau kelihatannya hanya serius dengan pelajaranmu. Teman-temanmu di Fakultas Kedokteran juga serius. Tapi, mereka sekurang-kurangnya pernah membicarakan lelaki atau jalan bareng. Kau kelihatannya cuma akrab dengan Didit (sahabat sejak SMA). Padahal, sejak lulus SMA, Didit tidak meneruskan sekolahnya. Dia menikah dan memiliki dua anak yang kau cintai.”

Dara memutuskan lamunannya, ”Ma, beri aku dukungan untuk meyakinkan Tante agar anak Tantiana bisa saya adopsi.”

”Aku berharap cucu darimu dan anak Tantiana menjadi anak sulung dari anak-anakmu.”

Dara tidak menjawab dan Nana merasa harus mengatakan hal ini.

”Setelah Aditya menikah, aku berharap di tahun baru menurut kalender Jawa kau menikah dengan siapa yang kau suka. Dokter Rizal juga lelaki yang baik. Sekalipun, dia lebih muda dua tahun darimu. Siapa pun tahu, dia menyukaimu. Aku dan ayahmu pernah membayangkan kau akan menikah pada usia 25 tahun. Yang terjadi di luar mimpi kami, adikmu yang menikah pada usia itu!”

”Maaf, saya waktu itu cuma berpura-pura tidak tahu kalau Mama dan keluarga besar kita sedih
sekali. Bisik-bisik di luar tentang saya memang buruk. Pastinya mereka menganggap saya perempuan yang berat jodoh. Padahal, di cermin saya tahu tidak jelek-jelek amat. Mereka juga menuduh saya punya kelainan psikologis.”

”Dara, aku kepingin jujur kepadamu, apa pun pendapat masyarakat, kata kuncinya cuma satu, kau menikah.”

Dara, memegang tangan mamanya.

”Ma, saya tidak bisa janjikan itu.” Mereka saling melihat. Dara tahu dia tidak bisa mengatakan ini, tetangga sebelah rumah (15 tahun) mengajaknya bersibadan ketika dia baru saja berusia 13 tahun. Dia merasa jijik! Namun, pada persekian menit, dia menikmati apa yang awalnya dipaksakan kepadanya. Tapi setelah dewasa, ketika mencoba bercinta dengan Rizal, dia merasa tidak lebih seperti boneka seks.

Sampai hari ini, dia tak berhasil, Rizal sudah membantunya dan barangkali Rizal sudah mulai jenuh. Padahal, mereka sepakat menerapi problem trauma dari Dara. Jadi, ini bukan sekadar erotis! Di antara dua kekasih. Sesungguhnya untuk melakukan hal ini, banyak hal yang dipikirkan, dibicarakan oleh mereka berdua. Karena, hubungan Rizal dan Dara bukan sekadar dokter dengan pasien, tapi dua orang yang sangat dekat. Dara tidak mau terapi ini jatuh pada erotisme saja, tapi betul-betul sebuah empirisme yang harus dia lakukan. Rizal, seperti semua dokter, harus berempati saja.

Sesungguhnya, mereka merasa menggampangkan jika mencari solusinya dengan kawin siri. Lantas, terapi ini tidak berkelanjutan.

Sehingga Rizal berkata, ”Sebagai seorang dokter, kau harusnya sudah tahu bahwa butuh kemauan keras darimu untuk sembuh.”

Dara merasa tak berdaya. Semuanya memang harus diselesaikan. Semuanya berpulang pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah ingin membicarakan ini dengan mama, sekalipun mamanya juga dokter. Pastinya, akan sulit bagi mama untuk menerima berita ini karena dia bukan hanya seorang pasien saja di mata mama. Sebagai seorang dokter, memang yang harus dilakukan oleh mamanya adalah berempati, bukan bersimpati. Itu yang sering diucapkan Rizal ketika dia merasa tidak bisa melanjutkan terapi ini.

Kali ini mama yang memotong pikirannya, ”Dara, kok dari tadi diam saja? Tanyakan ke bagian informasi.”

”Mama kan tahu, kalau sudah begini, karyawan penerbangan itu pasti tidak ada di tempat.”
Kemudian ada dering telepon lagi, adik bungsunya menangis di telepon dan mengatakan begini, ”Tantiana menangis terus dan menjerit-jerit.”

”Dik panggillah dokter, pesawatku delayed. Jadi tidak bisa ditunggu jam berapa kami sampai. Tapi, kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit.”

Dara berbicara lagi, ”Ma, saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali, tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua perempuan itu saling melihat, mata mereka seperti sebuah lorong yang gelap dan jauh sekali.

Nana memegang tangan anak perempuannya. ”Saya kira kau bisa menyimpannya untuk dirimu sendiri. Sekalipun, aku sudah siap untuk semua yang terburuk, kalau kau mau cerita.”

”Ma, saya kira saya tidak usah bercerita panjang karena tetangga sebelah rumah sudah merusaknya.” Kedua perempuan itu saling berpegangan erat dan mencoba tersenyum, untuk menguatkan satu dengan lainnya.

”Sayang, aku tak akan pernah bertanya lagi. Percayalah, aku sudah mencurigai hal itu sejak lama. Aku cuma ingin cerita itu bukan sebenar-benarnya, jadi di mataku kau tetap seorang gadis... Nduk, apakah kau sudah melakukan terapinya dan belum berhasil?”

Kali ini, Dara yang menyandarkan diri di bahu mamanya. Tidak ada air mata, tetapi terasa ada pengertian yang lebih baik di antara kedua perempuan itu.

Di luar dugaan, Tantiana sedikit tenang, ketika Nana berkata, ”Kamu boleh ikut Budhe Nana atau Mbak Dara. Setelah anakmu lahir, kau harus sekolah lagi dan pulang ke Malang. Sedangkan anakmu, biarlah jadi anaknya Mbak Dara. Kami tidak menganggap itu dosa yang tidak bisa diperbaiki.”

Tantiana menangis.

Beberapa bulan kemudian, lahir anak Tantiana. Enam bulan setelah kelahiran anak Tantiana, dia pulang ke Malang untuk meneruskan sekolah.

Dan, ketika anak Tantiana berusia satu tahun, Dara merayakan bersama anak teman-temannya, dihadiri Rizal dan mamanya, ”Zal, aku kepingin anakku ini punya dua adik. Lantas siapa ya yang mau jadi bapaknya?”

Rizal menggandeng Dara ke ruangan lain.

”Apakah sudah siap memulai lagi dengan pernikahan?”

”Zal, saya kira ada kalimat Jawa tentang suami-istri. Yaitu garwo (sigare nyawa). Bahasa simbol itu artinya, belahan hati suami dan istri. Jadi, aku memaknainya lebih jauh, bersibadan itu artinya dua jiwa lebur jadi satu. Kalau tidak, yang ada cuma luka dan kesakitan. Aku yakin kau bisa memahami itu, jadi kita bisa membagi, kapan menjadi dokter dan pasien dan kapan menjadi suami-istri.”

Tiba-tiba ada perasaan lelah ketika Dara selesai membicarakan itu dengan Rizal.

Rizal tersenyum dan memeluknya, ”Aku akan belajar kapan aku jadi suamimu dan kapan aku jadi doktermu. Karena untuk kesembuhan ini, butuh proses yang panjang. Bantulah aku!”

Rizal dan Dara bersitatap.

Ketika memasuki ruangan ini, Nana memeluk Dara.

”Aku akan menjadi nenek dari lima cucu, tiga darimu dan dua dari Aditya.”

Lantas, senyum ada di antara Dara, Rizal, Nana, dan melebar di ruangan ini.

Teman-teman anaknya berteriak-teriak, ”Dik, cepat tiup lilinnya dan potong kuenya!”



Malang, 10 Juni 2008

Pertemuan Sunyi

Pertemuan Sunyi

Cerpen Adek Alwi



IA tahu tak ada yang abadi dan segala sesuatu tak akan persis seperti dulu lagi. Namun ia pergi juga ke masjid tua itu, ditarik kekuatan yang amat kuat. Ia lihat anak-anak berdiri bergerombol juga berlarian di halaman masjid, berselempang sarung dan berkopiah; tak ubahnya dia dan teman-temannya puluhan tahun lalu, di hari-hari bulan Ramadhan seperti ini juga. Dan ketika ceramah-pengajian diawali buya-buya tersohor, seperti Buya Haji Kasim atau Buya Nawawi Arif, mereka akan bergeduru memasuki masjid. Berebut pula kembali ke tempat wudu, usai ceramah-pengajian sekitar pukul setengah delapan. Lalu shalat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan tarawih.

Dinihari sehabis sahur pun begitu. Bedanya, pengajian pagi hari dimulai seusai Subuh dan berakhir pukul enam lewat. Ajaibnya, kantuk tidak datang-datang. Sekolah libur selama bulan puasa dan hari-hari diisi dengan bermain apa saja, mandi-mandi di batang-air, ke tempat penyewaan buku; melahap komik terbitan Medan dan cerita silat cina karangan Kho Ping Hoo ataupun OKT. Dan kantuk baru datang menjelang atau sesudah Lohor. Serangannya begitu hebat memberatkan mata, sehingga badan rasanya melayang saja dalam perjalanan pulang ke rumah.

"Eh, eh, jangan kau langsung tidur." Ibu menegur. "sembahyang dulu!"

"Sudah, di Masjid Jambatan Basi!"

"Kalau begitu cuci mukamu. Tangan, kaki. Habis itu ganti baju. Bau!"

Ia menarik napas, tersenyum mengenang. Ia teruskan langkah mendekati pintu masjid. Dari luar dilihatnya garin tengah bersiap-siap di dalam. Meletakkan pengeras suara di meja dekat tirai putih pembatas jamaah lelaki dan perempuan. Ditaruh garin pula segelas teh di meja. Tirai pun telah dia rendahkan, sehingga jamaah wanita dapat melihat buya berceramah dan si buya pun leluasa melepas pandang ke seluruh hadirin, terutama jamaah lelaki yang duduk menyebar dan sebagian bersandar ke dinding serta ke tiang masjid.

Ingatannya terus melayang ke masa-masa yang jauh itu. Seolah dia lihat Buya Kasim tua sekarang duduk di kursi pasangan meja kecil, berceramah dengan suaranya yang khas, agak serak namun jelas intonasinya. Kajinya mudah dipahami, menyentuh pula. Ah, tahun berapakah buya yang arif serta luas ilmunya itu wafat? Juga Buya Nawawi Arif, ayah temannya si Farouk? Saat dia sudah merantau? Atau masih berada di kota itu? Meskipun bersekolah di kota kelahirannya itu sampai tamat SMA tetapi di masa remaja ia tak lagi serajin masa-masa kecil pergi ke masjid mendengar pengajian dan sembahyang berjamaah, walau tak pernah absen shalat Jumat. Dengan begitu dia pun tak berperhatian benar lagi kepada kedua buya tua itu.

Tetapi bukan hanya buya-buya tua itu saja yang kini sudah tiada. Orang-orang tua lainnya pun tiada lagi, bagai juga ayahnya, yang wafat 11 tahun lalu. Kemarin sore sebelum berbuka sengaja ia berjalan-jalan ke pusat kota, ke pasar, namun tak satu pun lagi wajah-wajah tua yang dulu akrab dengan matanya ia jumpai. Bagaikan daun-daun mereka telah digantikan daun muda dan segar, yang pada gilirannya pun akan jadi tua, menguning, lalu luruh-jatuh menyatu dengan tanah. Lenyap, sirna.

Ya, jangankan orang-orangtua itu ia sendiri pun kini dalam proses menguning. Orang-orang yang bicara dengannya di pusat kota, seperti para pedagang, sopir angkot ataupun tukang cukur, semua memanggil ia "Pak"; pertanda harinya sudah menjelang senja. "Mak Hasan?" balas tukang cukur yang merapikan kumisnya kemarin.

"Nama dia saja saya tahu, Pak. Jumpa tak sempat. Saya lahir setelah beliau wafat, Pak."

Mak Hasan tukang cukur beken di kota kecil itu, langganan ayahnya. Sebelum salon-salon bermunculan dan memberikan layanan massage terutama saat creambath, tukang cukur itu sudah memberi layanan itu kepada pelanggannya. Tetapi tidak untuk anak-anak. Mak Hasan berpura tidak mendengar bila dia minta dipijat. Kalau didesak, tukang cukur itu berucap, "Eh, tak elok anak kecil dipijat. Urat-uratmu masih segar."

Ia tersenyum. Bila bersua dengannya sekarang tentu Mak Hasan mau memberi layanan pijat pada tengkuk serta bahunya, yang belakangan sering terasa pegal. Dan, matanya tentu pula akan meram-melek seperti ayahnya dulu setiap kali dipijat Mak Hasan. Tapi, tukang cukur legendaris itu pun kini telah tiada, sudah lama meninggal dunia.

* * *
DENGAN mengucap nama Tuhan, dia melangkah memasuki masjid. Terus ke arah depan agak ke pojok, lalu shalat sunat dua rakaat. Berbeda dengan masjid-masjid lain masjid itu masih mempertahankan lantainya yang lama, lantai papan dengan jenis kayu dari kualitas kelas satu; karena udara kota pegunungan itu selalu dingin dan akan semakin dingin kalau lantai dilapis ubin. Dan dia sujud di lantai papan beralas karpet itu, seperti dulu, puluhan tahun yang silam, pada masa kanak-kanaknya yang jauh.

Ia akhiri shalat sunatnya dengan mendoakan ayah dan ibunya, saudara-saudara serta guru-guru termasuk buya-buya tua yang sudah tiada itu, juga kawan-kawan yang telah pulang lebih dulu ke alam baka. Pas saat doanya berakhir seorang buya berjalan ke meja dekat tirai, duduk di kursi yang sudah disediakan, memulai pengajian. Orang-orang, bak dulu juga, memerhatikan dengan takzim. Buya itu masih tergolong muda, barangkali belum 40 atau sepantar adiknya yang bungsu, namun tak dikenalnya.

Ia toleh lambat-lambat ke kiri dan kanan, juga tidak terlihat wajah-wajah yang dikenalnya. Ai, sudah begitu tuakah dia? Sebersit rasa aneh menyelinap di hatinya; ia seolah-olah berada di tempat asing, bersama orang-orang yang juga asing, padahal di kota kelahirannya dan bahkan di masjid yang sungguh akrab dengan dirinya di waktu kecil. Tapi, tak ada yang dia kenal, tidak ada yang mengenalnya.

Namun dia memang jarang pulang. Kalaupun pulang, sesekali, bersama anak-anak, istri, atau sendiri seperti sekarang ini, kawan-kawan lama itu pun tidak banyak lagi yang dijumpainya. Seperti dia kebanyakan kawannya juga merantau dan sesekali saja pulang ke kota mereka. Kehidupan memencarkan mereka ke mana-mana.

"Si Syawal?" balas Mawardi ketika dia bertanya. "O, di Dumai dia merantau. "Lebaran lalu ada ia pulang, tapi tak lama. Maklumlah, sibuk dia. Am Unyuk menetap di Rumbai. Si Acin, di Batam. Tetapi tidak pernah pulang-pulang. Ibunya juga sudah lama pindah ke situ. Entah masih hidup atau sudah tiada beliau sekarang. Tak jelas."

"Rusdi di Padang kini." Amrul menambahkan. "Dulu ia di Lubuak Sikapiang. Eh, si Bulek dan Lin kan di Tangerang. Ada kau jumpa mereka di Jakarta?"

"Yah, tinggal kami berlima yang tak beranjak dari kota ini, Darius. Aku, Can, Amrul, Zainal, Dasril Angin Berembus," kata Mawardi.

Ia tak dapat menilai mana yang lebih baik. Apakah dia dan kawan-kawan yang pergi merantau, atau teman-temannya yang tak beranjak dari kota mereka. Atau, boleh jadi keduanya sama saja, karena sama-sama tidak mampu mengabadikan yang pernah dialami, dijalani.

Tahun-tahun sesudah itu, pada kesempatan pulang ke kota kecil itu, dia seperti terkejut-kejut mendengar tuturan teman-teman lama itu. "Ini cucuku," ujar Can ketika mereka berkumpul di rumah kawan itu. "Sudah tiga cucuku sekarang."

"Cucuku dua," sambut Zainal.

Aneh juga rasanya mendengar kawan-kawan itu punya cucu. Tetapi barangkali pula tidak. Toh tahun demi tahun terus berlalu dan bagai daun-daun warna mereka tak lagi hijau-segar. Waktu telah mengubahnya pelahan-lahan namun pasti menjadi hijau-tua, yang dari saat ke saat semakin pekat. Dan kini, ya, kini, tengah berproses menjadi kuning. Makanya, dua-tiga tahun lalu ketika terakhir pulang dia termangu-mangu saat kawan-kawan itu mengatakan, "Eh, si Johar telah mendahului kita. Sudah almarhum dia."

"Juga si Biju," sambung Amrul.

"Edy Potek malah sudah lama. Di Jambi dia meninggal."

Dan kawan-kawan masa kecil itu terus mengingat dan menyebut teman-teman yang sudah tiada, pulang ke Negeri Abadi. Ia terpana, termangu-mangu saja.

* * *
BUYA yang masih tergolong muda itu masih berceramah, tentang kesingkatan atau kefanaan hidup di dunia. Tapi meski hidup ini singkat, dia bilang, manusia masih diberi Tuhan kesempatan menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang abadi di kampung akhirat kelak. "Salah satu di antara kesempatan itu ialah pada bulan Ramadhan ini, pada bulan yang penuh berkah dan magfirah ini."

Sekalipun belum sefasih Buya Kasim, ataupun Buya Nawawi Arif, sejuk juga mendengar kaji buya muda itu. Seperti dulu, puluhan tahun lalu, ia merasa diingatkan lagi bahwa hidup hanyalah sementara dan dunia tak lebih dari tempat singgah sejenak. Sebutlah halte di dalam perjalanan. Ada tempat tujuan, tempat akhir perjalanan yang dituju, yang baka atawa abadi. Dan semua berproses ke sana. Karenanya, ibarat daun-daun tidak aneh bila warna usia yang semula hijau-muda dan segar berupa pucuk, dari waktu ke waktu berubah pekat dan gelap. Dan, pada gilirannya malah berubah kuning. Semua adalah keniscayaan, tak dapat ditolak, tak ada kekuatan yang dapat menahan.

Ia menarik napas, serasa bertemu kembali dengan semua yang pernah ia kenali dan alami. Ia rasakan kesegaran merayap dalam sunyi. Usai tarawih nanti, setelah tiba di rumah orang tuanya yang kini ditempati adiknya, tempat ia tinggal setiap pulang ke kota kecil itu, akan ia telepon istri dan juga anak-anaknya di Jakarta. Akan ia katakan bahwa saat ini ia sungguh sangat berbahagia.
"Ayah baru saja pulang tarawih di masjid tempat mengaji masa kecil. Memang tak banyak lagi orang yang kukenal di sini, seperti kalian khawatirkan. Namun justru dalam sunyi tak dikenal dan mengenal banyak orang, Ayah menemukan sesuatu yang melegakan. Bagaimana kalau Ayah tetap di sini dua-tiga hari lagi? Boleh, tidak?"

Ia tersenyum mengingat-ingat yang akan ia katakan nanti pada keluarganya.

***




Jakarta, 4 September 2008

KUCING

KUCING

Cerpen Putu Wijaya



Kami bertengkar lagi. Menurut saya, tetap tiga hari sekali. Tidak bisa diganggu-gugat. Sekali-sekali boleh empat hari sekali. Tapi jangan sampai satu minggu sekali. Meskipun ini bulan Puasa. Itu kan kebutuhan rohani.

Tapi dasar kepala batu. Satu minggu satu kali saja sudah kebanyakan. Katanya dua minggu sekali cukup. Orang lain ada yang sebulan sekali. Apalagi pada bulan suci. Kalau tidak setuju terserah.

Setuju? Bagaimana mungkin saya setuju. Mestinya dia harus bersyukur, sebab setelah puluhan tahun, saya masih tetap fit. Saya selalu hangat, segar dan bertubi-tubi seperti prajurit yang siap menyerahkan jiwa raga untuk membela negara. Tidak ada kata bosan. Semuanya seakan yang pertama kali. Itu kan karunia yang harus disyukuri.

Tapi kontrak tidak bisa hanya satu pihak. Saya jadi pusing tujuh keliling. Lalu saya ngelencer ke segala penjuru kota membunuh waktu. Menunggu saat berbuka, saya masuki toko-toko buku. Mencari-cari yang tak ada. Akhirnya saya beli juga sepuluh buku tua yang harganya jatuh. Bukan karena isinya sudah busuk, tapi karena kalah heboh oleh promosi buku-buku komoditas yang sebenarnya bermutu sampah.

Menggendong seabrek belanjaan yang mungkin tidak akan pernah saya baca itu, saya sebrangi Jakarta. Lalu-lintas sudah makin brengsek. Janji untuk menurunkan rasa nyaman bagi pejalan kaki, ternyata omong kosong semua. Motor berseliweran siap membunuh penjalan kaki yang meleng. Dan mobil-mobil seakan-akan begitu meremehkan harga manusia.

Tapi, saya masih bisa tepat sampai di depan rumah, ketika suara azan magrib terdengar. Cepat saya rogoh kunci dari saku dan buru-buru masuk rumah. Teh kental manis panas, pada bulan Puasa, lebih indah dari rubayat-rubayat Umar Khayyam. Puasa adalah bulan yang paling saya tunggu dalam setahun. Itulah saat saya merasakan nasi adalah nasi, pisang goreng benar-benar pisang goreng dan kehidupan, betapa pun rewelnya adalah sebuah puisi.

Celakanya, rumah kosong. Saya baru ingat, istri dan anak saya ada janji berbuka di rumah saudaranya. Tak apa. Hanya saya tidak melihat ada sesuatu di atas meja makan. Ada vas bunga dengan bunga mawar. Tapi saya tidak bisa menegak mawar. Saya memerlukan sesuatu yang hangat mengalir di tenggorokan setelah menahan nafsu selama 12 jam.

Harusnya saya tidak usah buru-buru pulang. Makan saja di warung sate kambing muda di Cirendeu. Sekarang kalau balik ke situ, tidak akan keburu. Dibayar dua kali lipat juga tukang taksi tidak akan mau jalan. Mereka juga mau menikmati buka.

Dengan kesal saya lemparkan buku-buku ke atas meja. Saya kenakan kembali sepatu. Siap untuk kabur. Biar saya makan enak sendirian di PIM. Mengganyang bebek goreng yang harganya selangit itu. Seratus ribu melayang juga tak apa asal tidak kecewa. Dan kalau perlu terus nonton bioskop.

Tapi ketika mau menutup pintu, saya dengar ada suara kuncing mengeong. Saya bukan penggemar kucing, tapi saya paham sedikit bahasa kucing. Itu bukang ngeong kucing yang sedang kasmaran. Itu kucing yang sedang keroncongan. Kucing memang selalu kelaparan. Tapi itu ngeong kucing yang ngebet makan sesuatu, tetapi tak berdaya.

Dengan hati-hati saya kembali masuk rumah. Saya temukan kucing tetangga mengeong di dapur. Dia meratap lembut di depan almari. Matanya sayu. Ketika saya muncul, dia terus saja mendayu-dayu sambil mencakar-cakar almari, seperti menunjukkan, di situ, di situ.

Saya ikuti petunjuknya, lalu membuka almari. Begitu daun almari terbuka, hidung saya diterjang bau ikan bakar reca-reca yang sedap sekali. Saya lihat juga ada termos dan gelas kosong dengan bubuk teh tarik sasetan di dalamnya. Tinggal diseduh saja.

Ngeong, kucing itu nyeletuk, seperti mengatakan. Nah ya kan?!

Bener, kata saya sambil membelai kucing itu dengan sayang. ”Kalau kamu tidak merintih-rintih kawan, aku tidak akan tahu, istriku sudah menyiapkan segala yang terbaik buat suaminya sebagaimana mestinya seorang istri yang bertanggung jawab. Terimakasih Cing. Untung ada kamu. Kalau tidak, aku tidak pernah tahu, aku sudah punya semua ini. Kau sudah menyelamatkan seratus ribu, mungkin dua ratus ribu lebih yang mau disikat kas bebek goreng penganut neo liberalisme itu!”

Kucing menggesek-gesekkan kepalanya manja ke tangan saya.

”Oke, aku tidak jadi marah, mari kita nikmati hidup ini!” kata saya sambil meletakkan kucing itu di lantai.
Saya buka sepatu. Kemudian menjerang teh tarik. Nikmatnya. Setelah marah-marah, tendangan rasa teh berlipat ganda. Apalagi istri saya tidak lupa menyediakan musuh yang serasi: singkong yang sudah dibalur bumbu sebelum digoreng.

Makanan tradisional dengan bahan baku langsung dari kebun, lebih sehat, lebih aman, lebih murah dan lebih nikmat dari makanan kalengan keluaran pabrik mana pun. Tidak memberi jedah lagi, saya siap mengganyang ikan bakar reca-reca, untuk menghargai karya istri itu.

Tapi begitu menoleh, saya terperanjat. Reca-reca itu sudah lenyap. Pintu almari yang belum sempat saya tutup, seperti kecewa. Mata saya jelalatan mencari kucing. Ternyata sambil mengeram-ngeram, durjana itu mengganyang ikan saya di bawah meja, di depan mata si pemiliknya.

Darah saya langsung mendidih.

”Bangsat!”

Kucing itu terkejut. Sambil melotot, dia caplok ikan itu untuk dibawa kabur. Tangan saya menyambar buku, lalu menembak, tepat mengenai badannya. Khewan itu terjungkal, lalu lari keluar. Ikan reca-reca saya terkapar berserakan di lantai. Tak penting lagi. Saya harus hajar maling itu. Saya sabet sapu dan memburu keluar.

Kucing itu ternyata masih duduk di depan pintu menjilat-jilat kakinya, seperti menunggu kesempatan masuk. Saya geram dan memukul. Kena. Lalu saya tendang dia ke halaman, waktu mau dihajar lagi, piaraan tetangga itu ngibrit lari menyebrang jalan menuju ke rumah tuannya. Marah saya masih meluap.
Saya masuk ke dalam rumah. Lalu reca-reca itu saya campakkan ke tong sampah. Saya tidak sudi makan bekas kucing. Tapi kemudian saya ambil lagi. Saya bungkus baik-baik. Saya buang jauh-jauh, dalam perjalanan ke restoran bebek goreng di PIM. Saya bunuh rasa kecewa dengan berfoya-foya Rp 200 ribu, memperbaiki sore hari yang rusak itu. Tetapi rasa dongkol itu tak berkurang.

Pagi-pagi ada kejutan lagi. Pak RT berkunjung ngajak ngomong serius.

”Saya kira pada bulan Ramadan ini, kita semua harus bisa menahan diri, Pak,” katanya.

”Maksud Pak Haji?”

”Saya mendapat komplin dari Pak Michael, tetangga Bapak, Bapak sudah menzalimi mereka.”

”Menzalimi bagaimana?”

”Beliau terpaksa membawa kucingnya ke dokter, karena Bapak pukul. Apa betul?”

”O, ya, kalau itu betul!”

”Maaf, Bapak mungkin tidak suka dengan kucing, tapi Pak Micahel itu lebih sayang pada kucing daripada
anak-anaknya sendiri.”

”O begitu?”

”Ya. Jadi saya kira, Bapak mengerti kenapa beliau sangat shock oleh kejadian ini. Untung tidak perlu operasi. Tapi sekarang kucingnya pincang, Pak.”

”Masih untung hanya pincang, kucing itu mestinya harus mati karena makan reca-reca saya yang disiapkan untuk buka.”

”Namanya juga kucing, Pak. Makanya jangan meletakkan makanan terbuka di meja.”

”Dia curi dari almari!”

”Apa kucing bisa membuka almari, Pak?”

”Ya kebetulan pintunya saya lupa tutup.”

”Ya kalau pintu lupa ditutup, itu bukan salah kucingnya, Pak.”

”Salah siapa? Salah saya?”

”Kucing itu binatang, Pak, tidak bisa disalahkan. Kita yang memiliki kesadaran yang bersalah.”

”Wah itu tidak adil! Kalau ada pencuri mencuri barang saya, meskipun saya lupa mengunci almari, pencuri itu harus dihukum, karena perbuatan mencuri itu melanggar hukum!”

”Memang begitu, Pak.”

”Terus Pak RT mau nyuruh saya ngapain? Minta maaf sama Pak Michael karena saya sudah memukul kucingnya? Tidak! Terima kasih. Kalau disuruh membayar perawatan kucing itu ke dokter, saya bayar, tapi kalau minta maaf, sorry, itu bukan gaya saya, bukan salah saya kan?!”

”Memang itu maksud beliau.”

”Apa?”

”Beliau menuntut Bapak mengganti ongkos berobat kucingnya.”

Pak RT merogoh saku dan mengeluarkan kuitansi. Saya terperangah. Minta ampun. Jumlah yang ada di dalam kuitansi itu membuat istri saya ikut terbakar.

”Kami bukannya tidak punya duit Pak RT,” kata istri saya yang memang cepat naik darah, ”tapi ini soal keadilan. Masa kami disuruh mengongkosi kucing ke dokter padahal binatang itu sudah mencuri reca-reca suami saya? Itu keterlaluan. Kalau perlu ke pengadilan, kita ramein di pengadilan sekarang supaya jelas! Kita ini masih negara hukum kan?!”

Pak RT termenung. Diam-diam saya mengucap syukur. Kucing bangsat itu sudah membuat saya dan istri saya kompak lagi.

”Baiklah,” kata Pak RT kemudian, ”demi menjaga ketenteraman kita bersama dan agar tidak merusakkan kekhusukan bulan Ramadan, saya carikan jalan tengahnya. Begini. Biarlah ongkos perawatan kucing itu, saya yang menanggung. Tapi izinkan saya untuk mengatakan kepada Pak Michael, semua itu dari Bapak. Jadi hubungan keluarga Pak Michael dan keluarga Bapak-Ibu di sini tetap terpelihara. Bagaimana kalau begitu?”

”Kenapa jadi begitu, Pak RT?”

”Ya sebagai RT saya merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan perdamaian di antara warga.”
Saya dan istri saya bisik-bisik.

”Kalau sampai pak RT yang bayar, rasanya kami malu juga,” bisik saya.

”Memang. Habis Pak RT terlalu baik sih. Seperti nabi saja.”

”Jadi kami bayar saja?”

”Ya sudahlah, demi Pak RT, biar tidak berkepanjangan!”

Akhirnya ongkos kucing itu ke dokter kami bayar kontan. Pak RT memuji kekompakan kami. Saya pun sekali lagi bersyukur, kucing itu sudah berjasa menjaga keutuhan rumah tangga saya. Kalau tidak ada dia, sampai sekarang saya masih cakar-cakar dengan istri soal tiga kali sekali atau dua minggu sekali.

Kami terpaksa mengeluarkan Rp 200 ribu untuk biaya kucing itu. Jumlah itu cukup besar, tapi tak pernah saya sesali. Sebab sejak saat itu, kucing itu tidak pernah lagi berani masuk ke dalam rumah saya. Apalagi mencuri. Kalau lewat, dia terus saja berjalan lempeng, tak sudi atau tak berani menoleh,

Sekali pernah saya lupa menutupkan pintu. Padahal di meja makan sedang ada ayam goreng yang bau harumnya muntah sampai keluar rumah. Kucing itu pura-pura menjilat-jilat kakinya yang masih pincang. Kemudian dia berhenti dan memandang ke dalam. Tapi hanya memandang. Sama sekali tidak berani masuk. Kakinya yang pincang itu sudah membelajarkan dia untuk menghormati hak saya, sekali pun dia hanya binatang.

”Jadi kalau ada kucing lewat dekat rumah, tidak peduli kucing siapa. usir saja!” kata saya mengindoktrinasi anak saya yang baru berusia 5 tahun.

”Kenapa?”

”Karena kalau dibiarkan, dia akan jadi maling! Paling tidak berak seenaknya. Kamu tahu sendiri kan, kotoran kucing itu bau, sulit hilang!”

”Kalau nggak mau?”

”Hajar dengan batu!”

”Semua kucing?”

”Tidak semua kucing jahat. Tapi kita tidak ada waktu untuk menyeleksi mana yang jahat mana yang bjaksana. Pukul rata saja, semuanya maling.”

”Kenapa?”

”Seperti kata George Washington, hanya senjata yang bisa dipakai untuk menjaga perdamaian .”

”Kenapa?”

”Karena hanya kekerasan yang akan bisa mencegah kekerasan. Biar pintu terbuka, almari lupa ditutup, kucing itu tidak akan berani lagi masuk, karena dia terpaksa menghormati kita. Dia pasti tidak akan mau lagi mengeluarkan Rp 200 ribu untuk mengobati kakinya yang satu lagi, karena Bapak akan mematahkan kakinya yang satu lagi.”

Lalu saya tunjukkan bagaimana saya mengajari kucing itu dengan melempar buku. Rupanya buku-buku itu memang ditakdirkan aku beli untuk menghajar maling.

”Jangan mengajari anak kamu kejam!” protes istri saya.

”Lho, hidup ini sudah kejam. kok. Kalau kita tidak ikut kejam, kita akan selalu jadi sasaran. Sebenarnya ini bukan kekejaman, tetapi ketegasan saja. Supaya tidak ada peluang orang lain untuk kejam terhadap kita, kita harus tegas. Kita tunjukkan kita bisa kejam!”

”Itu kan teori kamu!”

”Boleh dites, tapi itu berarti kita harus masak reca-reca lagi!”

Istri saya melengos tak menanggapi. Tapi dia perempuan yang baik. Dia tidak sampai hati membiarkan dendam saya pada reca-reca berkelanjutan. Sehari setelah saya sambat, ikan reca-reca itu sudah menanti di atas meja menjelang waktu waktu buka.

Dengan tak sabar saya tunggu ceramah Pak Quraish Shihab di televisi yang dipandu oleh si cantik Inneke Koesherawati. Sekali ini rasanya lama sekali. Bau reca-reca itu sudah mencabik-cabik.

”Lihat kucing itu sudah bengong di situ!” kata istri saya menunjuk keluar jendela. ”Nggak bakalan ada kapoknya. Namanya juga binatang!”

Saya ngintip. Kucing itu memang lagi termenung di pagar rumah. Tapi itu jelas akting. Dia pasti sudah mengendus bau reca-reca yang sudah sempat membuat kakinya pincang.

”Tutup jendelanya, Pak!”

”Tidak usah. Ini saatnya untuk melihat apa rumah kita ini masih dia hormati?!”

Sebaliknya dari menutup jendela, daun jendela saya kuakkan lebar-lebar. Pintu dibuka. Saya pura-pura tak menyadari kehadiran kucing itu. Ikan reca-reca itu saya pajang di atas meja di teras, tanpa ditutupi. Saya ingin membuktikan, apakah kucing itu masih memiliki nyali.

”Aneh!” kata istri saya.

Saya tidak peduli. Saya ingin membuktikan kebenaran teori presiden pertama Amerika Serikat itu.

Begitu azan magrib terdengar, kucing itu makin gelisah. Ia tak putus-putusnya melongok ke arah meja di teras. Kelihatan nafsunya bergolak. Tapi pelajaran yang sudah diterimanya tak membiarkan dia bergerak lebih jauh dari pagar. Sebaliknya, meninggalkan pagar pun dia tidak mau. Reca-reca itu memang terlalu indah untuk ditinggalkan.

”Mau makan atau mau ngurus kucing makan?!” bentak istri saya kesal.

”Stttt! Lihat, aku sudah berhasil menghajar binatang itu bagaimana menghormati teritorial kita!”

”Ntar ikannya disambar lagi, baru nyesel!”

”Nggak bakalan!”

”Namanya juga kucing!”

”Tidak mungkin! Kakinya yang pincang itu, sudah membuat dia ngeper sendiri!”

Tapi tiba-tiba anak saya yang kecil muncul dari samping. Dia membawa batu mau melempar binatang itu, sesuai dengan yang saya ajarkan. Kucing itu cepat berbalik. Ternyata dia tidak takut. Kakinya yang cidera seperti mendadak sembuh. Dia membungkuk menanti serangan. Anak saya tak menyadari bahaya, terus mendekat dengan batu di tangan yang siap dilemparkan.

Dan kucing itu menerjang.

”Pak!” teriak istri saya.

Saya langsung nongol di jendela. Belum sempat berteriak, kucing itu sudah kaget melihat muka saya. Dia kontan membatalkan serangannya, lalu melompat ke jalan dan kabur. Tapi sebuah mobil yang meluncur cepat menerima lompatannya. Kucing itu tergilas.

Saya terpaku. Takjub melihat pemilik mobil itu, sudah membunuh piaraan kesayangannya. Untung saya belum sempat teriak. Cepat-cepat saya beri isyarat istri saya supaya membawa Dede masuk.

Malam hari kami lebih cepat menutup pintu dan mematikan lampu. Saya tahu Pak Michael pasti sedang uring-uringan. Saya menghindari pertengkaran. Masa bulan suci harus berkelahi karena soal kucing.

Esoknya, seperti yang sudah diduga, Pak RT muncul. Saya lebih dulu menegor.

”Bulan Ramadan tidak boleh mengumbar emosi kan Pak RT?”

Pak RT tersenyum seperti kena sindir.

”Betul, Pak. Tapi kalau terpaksa apa boleh buat.”

”Lho boleh?”

”Habis kalau nyolong melulu?!”

Saya tertegun.

”Siapa Pak RT?”

”Siapa lagi! Almarhum!”

”Almahum siapa?”

”Kucing yang Bapak bunuh itu.”

Saya tertegun. Pat RT tersenyum.

”Saya tidak membunuh kucing itu! Kan yang punya sendiri yang menggilasnya!”

”Ya untungnya begitu. Tapi sebenarnya dia sudah mati sejak Bapak mematahkan kakinya.”

Saya tidak menjawab.

”Sejak kakinya patah, kucing itu tidak berani lagi sembarangan masuk ke rumah. Bukan hanya rumah Bapak, juga rumah saya dan rumah-rumah yang lain. Dan sejak itu pula, tak ada yang pernah kehilangan ayam atau makanan lain dari meja secara misterius. Rupanya selama ini kucing itu biang keroknya.
Sekarang kita aman…”

”O ya?”

Pak RT senyum lagi.

”Ya.”

”Kalau begitu bagus dong.”

”Bagus.”

”Jadi kita aman sekarang. Tidak ada aman, tidak ada tai kucing?”

”Ya. Untuk sementara.”

”Sementara?”

”Untuk sementara.”

”Kenapa?”

”Sebab Pak Michael sudah membeli tiga ekor kucing lagi untuk mengganti kesayangan istrinya itu. Habis istrinya nangis terus kehilangan kucingnya.”

Saya terhenyak.

”Berarti kita harus melakukan pembunuhan lagi?”

Pak RT tertawa.

”Tidak usah. Cukup biasakan mengunci pintu dan almari dapur.”

”Dan mematahkan kakinya pada kesempatan pertama dia mencuri?!”

”Betul!”

”Sebab kalau dibiarkan atau dimaafkan, dia pasti akan mengulang dan lama-lama jadi penyakit!”

”Betul.”

Saya tertawa.

”Kalau begitu kita cs Pak RT.”

Saya mengulurkan tangan. Lalu kami berjabatan.

”O ya, saya lupa,” kata Pak RT sambil merogoh kantungnya, lalu mengulurkan selembar kuitansi. Darah saya tersirap.

”Apa ini?”

”Menurut Pak Michael yang membunuh kucingnya itu, Bapak. Bapak diminta dengan sangat mau mengganti pembelian ketiga kucing yang baru dibelinya itu.”

Pak RT lalu begitu saja meninggalkan saya. Seakan-akan tidak ada sama sekali keanehan dalam peristiwa itu. Saya bingung. Tiba-tiba saya jadi pembunuh yang harus dihukum. Mana jiwa nabi serta kebesaran Pak RT yang dulu kelihatan begitu tebal untuk menjaga kesejahteraan warga. Kenapa saya dianggap pantas menerima pemutarbalikkan yang kacau itu.

Manusia dan binatang sama saja, teriak saya dalam hati. Lalu saya kejar Pak RT ke rumahnya. Saya ulurkan kuitansi itu ke mukanya. Supaya ia menatap dengan baik, bukan jumlah yang tertera di sana yang membuat saya mabok, tetapi maknanya. Hakikatnya. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, saya sobek kuitansi itu di depan matanya. Perlahan-lahan menjadi potongan-potongan kecil. ***


Jakarta 6 September 2009


Suara Merdeka, Minggu, 13 September 2009

Jembatan Merah

Jembatan Merah

Cerpen Danarto



Setiap tanggal 10 November kami berbondong datang dari berbagai kota untuk berziarah ke Taman Makam Pahlawan Surabaya di mana ''Bidadari November'' kami kuburkan. Kami, berikut keluarga kami, berdoa penuh khidmat di kuburan seorang perempuan, pahlawan kami, yang sesungguhnya tak kami kenal yang kedudukannya sangat misterius sampai kami beranak-pinak di berbagai kota besar dan kecil di seantero pulau Nusantara ini.

Dewi ini, siapa pun dan apa pun namanya, tanpa sengaja atau disengaja, telah menyelamatkan nyawa kami, tujuh pejuang, yang sebenarnya tak cukup berjuang, punya banyak alasan untuk menghindar dari pertempuran karena tak punya peluru cukup, yang sesungguhnya tak punya keberanian cukup.

Hati orang siapa bisa menduga, bahkan Tuhan pun tidak (nah, ada gejala murtad). Tapi Tuhan tak bisa ditanya. Kita hanya bertatap wajah dengan diam. Ruang lengang, waktu pun beku. Tak bisa kita memaksa kalender bicara karena ia sudah banyak berujar tentang hari-hari penuh berkah atau penuh pertempuran, setahun lamanya. Hanya kita yang tak bisa menebak padahal seribu bahan dugaan dalam diri perempuan yang duduk di depan kami ini. Alangkah bodohnya kami ketika seorang di antara kami memaksanya mengaku: Kamu mata-mata musuh. Perempuan itu cuma diam bagai beban di pundaknya membenamkannya.

Memang banyak musuh kami: Jepang, Belanda, para pengkhianat, mata-mata, dan para komprador. Tapi kenapa perempuan di depan kami ini cuma diam saja? Dia tak membela diri? Apa dia stres? Apa dia pemberani? Apa dia menantang kami untuk menggunakan kekerasan?

Hari itu kami terjebak di dalam gedung-gedung yang sudah hangus terbakar di sekitar Jembatan Merah. Kami bertujuh: Jubair, Manua, Roy, Topo, Fadli, Nowo, dan saya, Gowo. Dengan empat bedil, tiga pistol, sebelas peluru, dan perut kosong, kami tak bisa lari karena kami sudah terkepung hampir tiga hari.

Kenapa Belanda-Belanda itu tak mau menyerbu kami? Seandainya mereka merangsek masuk, pasti kami keok. Apa mereka mau menyiksa kami dengan mati kelaparan?

Jangan-jangan perempuan ini hantu, begitu akhirnya pikiran kami menabrak jalan buntu. Ketika kami tak bisa ke mana-mana, perempuan itu begitu saja teronggok di ruangan, duduk diam mematung. Perempuan yang elok. Perempuan yang tak pernah tersentuh debu pertempuran. Perempuan yang selalu tersimpan di dalam kamar yang wangi. Kelihatannya begitu.

Kami bertujuh duduk di lantai mengelilingi perempuan itu. Sekali-kali Roy atau Nowo menjenguk lewat jendela menyigi tentara Belanda yang bersiaga di bawah dengan persenjataan lengkap. Juga panser.

''Kalau kamu bukan mata-mata, apa kamu bidadari?" tanya Jubair yang membuat kami tertawa.

''Baiklah,'' kata Manua, ''Kamu pasti dewi yang diutus para dewa untuk menguji kami.'' Ah, omongan yang bertele-tele.

''Perempuan yang bikin lapar,'' kata Topo yang membuat kami tak bisa menahan tertawa.

Tentu saja ketawa kami cekikikan saja. Kalau ketawa kami keras pasti kedengaran Belanda-Belanda yang di bawah itu. Betul-betul biadab, mereka mau menghukum kami dengan kelaparan. Mereka sangka kami akan menyerah karena lapar, betul-betul Londo-Londo itu minta ditempeleng. Nanti dulu. Tapi perempuan ini siapa? Jangan-jangan sundelbolong. Ah, si sontoloyo Roy selalu omongannya soal hantu melulu. Sedikit-sedikit gendruwo. Sedikit-sedikit wewegombel.

Tampang Roy sih persis Londo Didong. Tubuh jangkung, hidung mancung, kulit kurang garam alias albion, cerdas, kritis, ilmiah, pemberani. Tapi, minta ampun Kanjeng Nabi, otak demitnya ngudubilah, gendruwo melulu yang berjubel uyel-uyel di benaknya.

Pernah, pada suatu malam dalam sebuah pertempuran di hutan Mojokerto, Roy lari terbirit-birit dari rerimbun semak hanya karena merasa dipeluk kuntilanak. Ia marah ketika kami semua terbahak-bahak yang mengakibatkan Belanda mengetahui posisi kami dan menghujani kami dengan rentetan tembakan beruntun. Alhamdulillah, tidak ada yang gugur dalam pertempuran itu.

Pernah pula Roy kami hukum karena dalam pertempuran malam selalu bikin ribut. Kami semua marah lalu memerintahkan Roy sendirian untuk menyerbu sebuah kubu pertahanan darurat Belanda di kawasan Sidoarjo. Sedikit pun ia tidak takut. Malah ia sombong mempertontonkan keberaniannya. Kubu pertahanan Belanda itu ia obrak-abrik yang membikin Londo-Londo itu kalang-kabut dikiranya diserbu besar-besaran. Roy kembali dengan rampasan dua pucuk bedil dan satu pistol.

Lucunya, Roy suka bertempur di malam Jumat di mana menurut pikiran klenik kami dan sudah menjadi keyakinan masyarakat Jawa, di malam itu segala macam hantu bergentayangan. Roy punya seribu alasan untuk keluar di malam Jumat meski kami malas-malasan. Ada saja alasannya. Katanya, bertempur di malam Jumat itu penuh berkah. Bahkan ia berani pergi sendirian tapi ujung-ujungnya ia kembali lari tunggang-langgang karena merasa dihadang banaspati.

Lalu kami mengambil kesimpulan, meski ketakutan tapi Roy sebenarnya kasmaran sama hantu sampai ingin bertemu dengan lelembut itu setiap saat. Ha ha, Roy sungguh menjadi hiburan kami sehingga kami semakin sayang kepadanya.

Nah, sampai dengan munculnya sang bidadari di ruang menemani kami saat ini, Roy merasa dikabulkan doanya. Ia berjalan mengelilinginya menatap dengan takjub si ayu. Tentu saja kami tak membiarkannya memonopoli Venus itu sendirian. Mungkin karena perempuan ini cantik dan menggiurkan sehingga kami tidak rela kalau cuma Roy yang mengaguminya.

Dalam keadaan ketakutan, kami memujanya. Di saat maut begitu mendekat dalam kepungan pasukan Belanda, kami rela jatuh cinta kepada Afrodit ini. Ya, apa boleh buat.

Pada malam kelima pengepungan itu, kami semua jatuh tertidur karena kelaparan. Nowo dan Jubair yang kami tugaskan berjaga, tak sanggup mengganjal pelupuk matanya. Ketika kokok jago subuh membangunkan kami, tergagap kami karena sang bidadari lenyap. Kami memarahi Nowo dan Jubair karena kelengahannya berarti maut bagi kami.

''Kamu berdua harus dijatuhi hukuman mati,'' kata Topo sambil menunjuk dada Nowo dan Jubair. ''Tapi baiklah, kami nggak mau kalah sama Lincoln, kami penuh belas kasih pada kamu berdua.''

''Bangsat!'' maki Nowo dan Jubair bersamaan.

Saya tertawa. Sadar, kami ini gerombolan anak-anak muda, sekitar 19 dan 23 tahun, yang bertempur karena tak ada jalan lain, juga rasa malu pada para orang tua yang gigih berjuang melawan penjajah.

''He, lihat,'' teriak Roy sambil melongok keluar jendela.

''Alhamdulillah,'' desah Fadli setelah ikut menjenguk ke bawah.

Lalu kami ikut melihat ke bawah. Pasukan Belanda yang mengepung kami telah pergi. Bagaimana mungkin, kami yang sudah sekarat kelaparan ini sebenarnya sangat mudah digebuk, kok malah ditinggal pergi.

Satu, dua, tiga hari kemudian, ketika menyamar ke kota, saya dan Fadli melihat kerumunan orang di Jembatan Merah. Makin lama makin banyak orang berdatangan di jembatan itu.

Beberapa orang tampak sibuk di bawah jembatan. Ingin melihat apa yang dilakukan orang-orang itu, saya dan Fadli ikut turun ke bawah jembatan.

''Masya Allah,'' teriak Fadli sambil menyibak orang-orang itu.

Saya terkesiap sesaat tak bisa bernapas ketika melihat perempuan yang tergeletak di tepi sungai itu. ''Bidadari kami'' tewas dengan dada kirinya bersimbah darah. Secepatnya saya dan Fadli membopongnya pergi. Kami harus berlari kilat membopong jenazah batari menyusuri gang demi gang, jangan sampai terlihat serdadu Belanda. Di ruang yang hangus, kami baringkan ''dewi kami''. Fadli berlari menghubungi teman-teman sedang saya terduduk menatap ''bidadari penyelamat'' yang telah jadi mayat yang dengan ikhlas mengorbankan nyawanya untuk keselamatan kami. Air mata saya deras berlelehan mencoba memahami cerita singkat yang menggores sejarah perjuangan kami, anak-anak muda yang tak tahu apa-apa.

Atas kesepakatan bersama, kami menguburkan ''Bidadari November'' kami di Taman Makam Pahlawan pada malam hari. Di sebuah pojok tanah yang sedikit tak kami harapkan terlihat, dengan cekatan kami menggali dan memasukkan jenazahnya dan menimbuninya kembali, sementara Roy meraung dengan memukuli tanah di sisi kuburnya sambil mengaduh-aduh. Sambil berdoa sekenanya kami semua menangis tersedu-sedu sampai subuh. (*)



Tangerang, 10 Oktober 2008

KULI KONTRAK

KULI KONTRAK

Cerpen Mochtar Lubis



Lampu-lampu di beranda dan kamar depan telah dipadamkan. Ayah sedang menulis di kamar kerjanya. Dan kami anak-anak berkumpul di kamar tidur ayah dan ibu, mendengarkan cerita ibu sebelum kami disuruh tidur. Ibu bercerita tentang seorang pelesit, pemakan orang, yang dapat menukar-nukar tubuhnya dari manusia menjadi macan dan kemudian jadi manusia kembali, berganti-ganti.

Untuk mengenal pelesit itu orang harus melihat bandar bibirnya yang licin di bawah hid
ung, dan kalau ia berjalan maka tumitnya yang ke depan. Sungguh amat menakutkan dan mengasyikkan cerita ibu itu, dan kami duduk sekelilingnya berlindung dalam selimut; agak ketakutan, amat menyenangkan benar.

Sedang kami begitulah tiba-tiba terdengar ribut di luar rumah dan kemudian terdengar opas penjaga rumah kami berteriak-teriak memanggil ayah dari luar:

- Inyik! Inyik!

Kami semua terkejut. Ibu berhenti bercerita. Ayah terdengar bergegas membuka pintu kamar kantornya dan terus ke beranda.

- Aduh, ada lagi kampung yang perang, barangkali, seru ibu. Dan kami pun mengikutinya ke beranda.

Di masa itu ayah bekerja sebagai demang di Kerinci dan dalam tahun dua puluhan dan tiga puluhan itu keadaan daerah itu seperti di masa abad pertengahan saja. Karena soal pembagian air sawah, soal kerbau dan sebagainya, satu kampung lalu menyatakan perang kepada kampung yang lain. Senjata yang populer dipakai dalam perang ini ialah batu sebesar telur ayam diayunkan ke arah musuh dengan tali-tali istimewa untuk pengayunkannya. Baru semingguan yang lalu ayah pergi ke Sungai Deras menghentikan perang semacam ini dan dia kena peluru batu kesasar yang merenggutkan topi helmnya dari kepalanya. Untunglah tidak tepat, kenanya. Hanya pening juga kepala ayah beberapa lama dibuatnya.

Baru setelah perkelahian dapat dihentikan oleh polisi dengan menembakkan senapan berkali-kali ke udara dan kedua kepala kampung dari desa yang berperang itu dipertemukan, dan mereka mendengar ayah nyaris kena lemparan batu mereka yang berperang, maka kepala-kepala kampung itu meminta-minta maaf dan ampun, dan berkata bahwa mereka tidak bermaksud memerangi ayah sama sekali. Akhirnya karena menyesalnya mereka dengan batu yang menyasar itu, maka dengan mudah mereka menerima usul perdamaian ayah dan membagi air untuk sawah-sawah mereka dengan berdamai.

Ketika opas penjaga rumah berteriak-teriak memanggili ayah, hari hampir jam sembilan malam. Di bawah, beberapa orang polisi dengan komandannya berdiri, dan tidak terdengar olehku mula-mula apa katanya pada ayah. Kami segera juga disuruh masuk, oleh ayah, kembali.

Ayah masuk sebentar dan dengan cepat berpakaian. Dia mengenakan sepatu kulitnya yang panjang, mengenakan pistolnya di pinggangnya, topi helmnya, dan kemudian segera ke luar.

Tiada lama kemudian ibu masuk, dan berkata:
— Nah, kini anak-anak semua, tidurlah. Ayah mesti pergi. Ada kuli kontrak lari. Kelihatan ibu merasa cemas di hatinya.

Esok pagi kami dengar dari Abdullah, opas penjaga rumah bahwa ada lima kuli kontrak yang melarikan diri dari onderneming Kayu Aro, setelah menikam opzichter Belanda.

***

Ketika kami pulang sekolah jam 12 siang, ayah belum kembali juga. Ketika dekat magrib, ayah belum juga pulang. Ibu mulai cemas dan sebentar-sebentar dia ke depan melihat ke jalan. Beberapa kali aku dengar ibu bercakap-cakap dengan opas Abdullah, yang berkata supaya ibu jangan khawatir.

Ayah tiba ketika hari telah malam dan kami semua telah disuruh tidur. Aku dengar ayah bercakap-cakap dengan ibu sampai jauh malam dan kemudian rumah pun sunyilah.

Esoknya kami dengar bahwa kuli-kuli kontrak itu telah tertangkap semuanya dan telah dibawa ke penjara. Penjara terletak di bawah bukit kecil di belakang rumah kami. Dari kebun buah-buahan dan sayur di belakang rumah, jika kami naik pohon jeruk yang besar, dapatlah dilihat lapangan belakang penjara, tempat orang hukuman dibariskan tiap hari atau diberi hukuman.

Dari kebun itulah terdengar suara orang gila yang ditahan dalam penjara, menyanyi-nyanyi atau memaki-maki. Mengapa di masa itu orang gila dimasukkan penjara dan tidak ke rumah sakit tidak jadi pertanyaan bagiku, waktu itu. Kadang-kadang asyik juga aku mendengarkan nyanyiannya yang beriba-iba, kemudian lantang mengeras, dan lebih hebat lagi jika telah mulai memaki-maki, amat sangat kotornya kata-katanya. Sungguh sedap selagi kecil itu dapat mendengar perkataan-perkataan yang terlarang demikian.

Kemudian ibu bercerita bahwa ayah dan polisi dapat menangkap tiga orang kuli kontrak yang melawan opzichter Belanda itu. Hanya tiga orang, tidak lima orang seperti diceritakannya semula. Mereka tertangkap dalam hutan tidak jauh dari onderneming, separuh kelaparan dan kedinginan dan penuh ketakutan. Mereka tiada melawan sama sekali. Dan ketika melihat ayah maka mereka segera datang menyerah dan berkata: - Pada kanjeng kami menyerahkan nasib dan memohon keadilan.

Menurut ibu, yang didengarnya dari ayah, sebabnya terjadi penikaman terhadap opzichter Belanda itu karena opzichter itu selalu mengganggu istri mereka. Dan rupa-rupanya kuli-kuli kontrak itu sudah mata gelap dan tak dapat lagi menahan hati melihat opzichter itu mengganggu istri-istri mereka. Itulah maka mereka memutuskan ramai-ramai menyerang si opzichter.

- Tidak salah, mereka itu, kata ibu yang rupanya merasa gusar sekali melihat kuli-kuli kontrak yang ditangkap itu. Mestinya opzichter jahat itulah yang ditangkap, tambah ibu.

- Mengapa tidak ditangkap, dia? tanya kami anak-anak.

Ibu memandangi kami, dan berkata dengan suara yang lunak,

- Karena yang berkuasa Belanda! Belanda tidak pernah salah.

- Tetapi dia yang jahat, kata kami mendesak ibu.

- Ibu tidak mengerti, sahut ibu; tapi jangan kamu tanya-tanya pada ayah tentang ini. Dia sudah marah-marah saja, sejak pulang dari onderneming.

Ketika ayah pulang kantor dan setelah dia makan, maka kami semua dipanggil ke kamar kerjanya. Kelihatan muka ayah agak suram. Sesuatu yang berat menekan pikirannya. Setelah kami berkumpul, maka ayah berkata:
- Tidak seorang yang boleh ke sana. Ayah larang anak-anak pergi ke kebun belakang. Ayah akan marah sekali pada siapa saja yang melanggar larangan ini.

- Mengapa, ayah? tanya kami.

- Turut saja perintah ayah! sahut ayah dengan pendek.

Kami pun mengerti. Jika ayah telah bersikap demikian tak ada gunanya membantah-bantah. Tapi hati kami penuh macam-macam pertanyaan: Mengapa dilarang? Ada apa?

Segera juga ibu kami serbu, hingga akhimya untuk mendiamkan kami ibu pun berkata bahwa esok hari ketiga kuli kontrak itu akan diberi hukuman. Sebelum perkaranya dibawa ke depan hakim maka mereka akan dilecuti, karena telah menyerang opzichter Belanda.

Kecut hatiku mendengar cerita ibu. Rasanya badanku dingin menggigil. Dan setelah masuk kamar tidur, amat lama baru aku bisa tidur. Pikiranku terganggu mendengar kuli-kuli kontrak yang akan dilecuti esok pagi di penjara. Ketakutan berganti-ganti dengan nafsu hendak melihat betapa manusia melecut manusia dengan cemeti.

Pagi-pagi saudara-saudaraku yang harus ke sekolah telah berangkat. Dan kami yang belum bersekolah diberi tahu lagi oleh ayah dan ibu supaya jangan pergi ke kebun di belakang rumah kami.

Dari opas Abdullah kudengar mereka akan dilecut mulai jam sembilan pagi. Semakin dekat jam sembilan semakin resah dan gelisah rasa hatiku. Hasrat hatiku melihat mereka dilecut bertambah besar saja.

Ketika hari telah hampir lima menit menjelang jam sembilan hatiku tak dapat lagi kutahan, dan sambil berteriak pada ibu bahwa aku pergi bermain ke rumah sebelah maka aku lari ke luar pekarangan di depan rumah, ke jalan besar, berlari terus memutar jalan ke jalan besar di belakang rumah, masuk pekarangan rumah sakit, terus berlari ke belakang rumah sakit yang berbatasan dengan kebun di belakang rumah kami, memanjat pagar kawat, meloncat ke dalam kebun, dan dengan napas terengah-engah memanjat pohon jeruk, hingga sampai ke dahan di atasnya tempat aku biasa duduk dan melihat-lihat ke bawah , ke pekarangan belakang rumah penjara.

Pekarangan itu ditutupi batu kerikil. Di tengah-tengahnya telah terpasang tiga buah bangku kayu. Sepasukan kecil polisi bersenjata senapan berdiri berbaris di sisi sebelah kiri. Kemudian kulihat ayah keluar dari gang menuju pekarangan di belakang penjara, di sebelahnya kontrolir orang Belanda, asisten wedana, polisi, dokter rumah sakit. Dan kemudian dari gang lain keluarlah tiga orang yang akan dilecuti itu. Mereka hanya memakai celana pendek dan tangan mereka diikat ke belakang, diiringi oleh kepala rumah penjara dan dua orang polisi.

Hatiku berdebar-debar, dan takut kembali meremasi perutku. Akan tetapi aku tak hendak meninggalkan tempat persembunyianku. Aku hendak melihat juga apa yang akan terjadi.

Ketika kuli kontrak itu dibariskan dekat bangku-bangku kayu yang telah tersedia, mereka disuruh jongkok. Kepala rumah penjara kemudian membacakan sehelai surat. Dan aku lihat kontrolir mengangguk-angguk. Ayah berdiri tegang tidak bergerak-gerak. Kemudian ketiga kuli kontrak itu dibuka ikatan tangan mereka di belakang, ditidurkan telungkup di atas perut mereka di bangku, dan kaki dan tangan mereka diikatkan ke bangku.

Tiga orang mandor penjara kemudian maju ke depan, kira-kira 2 meter dari setiap bangku, di tangan mereka sehelai cemeti panjang yang hitam warnanya. Kemudian kepala penjara berseru:
- Satu!

Suaranya keras dan lantang. Tiga orang mandor penjara mulai mengayunkan tangan mereka ke belakang. Cemeti panjang berhelak ke udara seperti ular hitam yang hendak menyambar, mengerikan. Dan terdengarlah bunyi membelah udara, mendengung tajam; lalu bunyi cemeti melanggar daging manusia, yang segera disusuli jeritan kuli kontrak yang di tengah melonjakkan kepalanya ke belakang. Dari mulutnya yang ternganga itu keluarlah suara jeritan yang belum pernah aku dengar dijeritkan manusia: melengking tajam membelah udara, menusuk seluruh hatiku, dan membuat tubuhku seketika lemah-lunglai.

Suatu ketakutan yang amat besar dan amat gelapnya, menerkam aku. Dan aku berpegang kuat-kuat ke dahan pohon jeruk, amat ketakutan.

— Dua! teriak kepala penjara lagi.

Bunyi cemeti mendesing membelah udara beradu dengan punggung. Dan pada cambukan yang kedua mereka bertiga sama-sama menjerit, melengking-lengking kesakitan.

Aku tak berani melihat lagi. Kututup mataku kuat-kuat, tapi tak kuasa aku menahan bunyi desing cemeti di udara, bunyi cemeti menerkam daging dengan gigi-giginya yang tajam, ratusan ribu banyaknya, dan jerit mereka yang kesakitan membelah langit melolong minta ampun. Entah berapa lama aku hidup dan mati demikian, bersama dengan mereka di atas bangku, tidaklah kuingat lagi. Ketika kubuka kembali mataku, kulihat dokter memeriksa ketiga kuli kontrak itu. Dan kemudian dia mengangguk pada kontrolir, dan kontrolir mengangguk kepada kepala rumah penjara, dan kepala rumah penjara pun berteriaklah lagi:
— Dua puluh satu!

Dan kembali cemeti berdesing membelah udara. Dan menerkam melingkari punggung yang telah hancur memerah darah. Hanya kini mereka tidak lagi menjerit. Ketiganya telah pingsan.

Sehabis cambukan yang kedua puluh lima, kontrolir memberi isyarat. Kepala rumah penjara mundur selangkah dan memerintah. Ketiga orang mandor penjara tukang cambuk itu pun mundur, menggulung cambuk mereka yang telah merah penuh darah dan keping-kepingan daging manusia; mundur dan masuk ke dalam rumah penjara.

Dokter kembali memeriksa kuli-kuli kontrak. Dan tali-tali pengikat mereka kemudian dilepaskan. Kontrolir kulihat menoleh pada ayah sambil mengatakan sesuatu. Pada saat itulah aku membuat kesalahan ...

Karena amat sangat terpengaruh dengan apa yang kulihat, maka ketika hendak turun dan pohon aku salah meletakkan kakiku ke bawah dan menjerit terkejut, jatuh ke bawah amat sakitnya. Beberapa saat aku terhentak diam di tanah, dan kemudian aku menangis kesakitan. Opas Abdullah yang sedang berada di dapur datang ke belakang, melihat aku terbaring lalu cepat menggendongku ke rumah.

Sikuku amat sakitnya. Ibu memeriksanya dan berkata:
- Sikumu terkilir. Dan lalu ditambahnya: - Ayah akan marah sekali, engkau melanggar perintahnya. Mengapa kau di kebun?

Aku hanya menangis. Aku segera dibawa ke rumah sakit dan setelah manteri rumah sakit menarik tanganku, yang rasanya menambah sakit sikuku saja, dan kemudian tanganku diperban, aku disuruhnya tidur dan tidak boleh bermain-main.

Petangnya ayah pulang dari kantor. Aku ketakutan saja menunggunya. Setelah dia makan kudengar ibu bercakap-cakap dengan ayah. Tentu mengadukan aku, pikirku dengan takut.

Tak lama kemudian ayah datang melihat aku. Dia duduk di pinggir tempat tidur. Ditatapnya mukaku diam-diam, hingga aku pun terpaksa menundukkan mata.

- Engkau melihat semuanya? tanya ayah.

- Ya. Aku salah. Ayah, kataku dengan suara gemetar ketakutan.
Ayah pegang tanganku dan kemudian berkata dengan suara yang halus sekali, akan tetapi yang amat sungguh-sungguhnya,

- Jika engkau besar, jangan sekali-kali kau jadi pegawai negeri.Jadi pamong praja! Mengerti?

- Ya,Ayah! jawabku.

- Kau masih terlalu kecil untuk mengerti, kata ayahku. Sebab sebagai pegawai negeri orang harus banyak menjalankan pekerjaan yang sama sekali tak disetujuinya. Bahkan yang bertentangan dengan jiwanya. Untuk kepentingan orang yang berkuasa, maka sering pula yang haram menjadi halal, dan sebaliknya.

Kelihatannya ayah hendak meneruskan pembicaraannya. Tetapi dia lalu berhenti dan cuma berkata:

- Ah, tidurlah engkau!



Siasat Baru, No. 650, Th. XIII, 25 November 1959