Wednesday, 15 April 2015

The Hungaria Suicide Song "Gloomy Sunday"




Gloomy Sunday

Sunday is gloomy, my hours are slumberless
Dearest the shadows I live with are numberless
Little white flowers will never awaken you
Not where the black coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you
Would they be angry if I thought of joining you?

Gloomy Sunday

Gloomy is Sunday, with shadows I spend it all
My heart and I have decided to end it all
Soon there'll be candles and prayers that are sad I know
Let them not weep let them know that I'm glad to go
Death is no dream for in death I'm caressing you
With the last breath of my soul I'll be blessing you

Gloomy Sunday

Dreaming, I was only dreaming
I wake and I find you asleep in the deep of my heart, here
Darling, I hope that my dream never haunted you
My heart is telling you how much I wanted you

Gloomy Sunday

===========================================================================

Awal sejarahnya lagu ini diciptakan oleh seorang pianis sekaligus komposer asal Hungaria yaitu RezsQ Seress yang dia beri judul Szomorú Vasárnap yg juga berarti Gloomy Sunday pada tahun 1933. Lagu tersebut ditulis berdasarkan puisi yang di tulis oleh László Jávor yg menceritakan tentang seorang penyanyi yang depresi akibat kematian kekasihnya dan ingin bunuh diri. Dan kenyataannya, sesaat setelah lagu itu dirilis ... László Jávor mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.


Semenjak awal diciptakannya lagu itu, banyak peristiwa bunuh diri terjadi bagi mereka yang mendengarkan dan juga menyanyikan lagu itu. Dan pada puncaknya yaitu sekitar tahun 1941, seorang musisi asal Inggris yaitu Billie Holiday menyanyikan lagu itu dan menjadi hits di putar di radio2. Tapi akibat yang terjadi banyak ratusan kasus bunuh diri terjadi setelah lagu itu diputar di radio2 Inggris, Amerika maupun Hungaria. Hal ini yang menyebabkan kegelisahan stasiun radio saat itu dan mereka depresi untuk mengudara kembali pasca kejadian itu. Lalu mulai mem-banned lagu tersebut untuk di putar lagi di radio-radio. Dan statiun radio Inggris BBC pun memasukan lagu tersebut sebagai lagu terlarang untuk diputar di radio mereka. Dari Inggris lalu ke Amerika untuk mem-banned lagu tersebut serta di Hungaria sendiri sebagai tanah kelahiran dari lagu tersebut.


=====================================================================

Original Version

"Szomorú Vasárnap száz fehér virággal,
Vártalak, kedvesem, templomi imával,
Álmokat kergető vasárnap délelőtt,
Bánatom hintaja nélküled visszajött.
Azóta szomorú mindig a vasárnap,
Könny csak az italom, kenyerem a bánat...
Szomorú vasárnap.
Utolsó vasárnap, kedvesem, gyere el;
Pap is lesz, koporsó, ravatal, gyászlepel,
Akkor is virág vár, virág és - koporsó,
Virágos fák alatt utam az utolsó.
Nyitva lesz szemem, hogy még egyszer lássalak,
Ne félj a szememtől, holtan is áldalak...
Utolsó vasárnap."

==================================================================

English Version


"On a sad Sunday with a hundred white flowers,
I was waiting for you, my dear, with a church prayer,
That dream-chasing Sunday morning,
The chariot of my sadness returned without you.
Ever since then, Sundays are always sad,
tears are my drink, and sorrow is my bread...
Sad Sunday.
Last Sunday, my dear, please come along;
There will even be priest, coffin, catafalque, hearse-cloth,
Even then flowers will be awaiting you, flowers and coffin,
Under blossoming (flowering in Hungarian) trees my journey shall be the last.
My eyes will be open, so that I can see you one more time,
Do not be afraid of my eyes as I am blessing you even in my death...
Last Sunday."

=================================================================

Terjemahan Original Version

"Minggu yang suram dengan ratusan bunga warna putih,
Aku telah menunggumu, sayangku, bersama seorang pendoa gereja,
Mengejar mimpi di Minggu pagi,
Kereta kesedihanku telah kembali tanpamu.

Sejak itu, Minggu Minggu adalah kesedihan,  
minumanku adalah air mata, rotiku adalah kesedihan....
Minggu yang suram.

Minggu terakhir, sayangku, datanglah kepadaku;
Akan ada seorang pendeta, peti mati, panggung, kain dan mobil jenazah,
Bahkan akan ada bunga-bunga yang menunggumu, bunga bunga dan peti mati,
Di bawah mekar (berbunga di Hungaria) pepohonan - perjalananku akan berakhir.

Mataku akan terbuka, sehingga aku bisa melihatmu sekali lagi
Jangan takut melihat mataku karena aku memberkatimu bahkan dalam kematianku ...
Minggu yang terakhir."

=====================================================================

Bandingkan versi Billie Holiday dan versi aslinya. Menurut saya versi aslinya lebih misterius dan agak sedikit menyeramkan....


Gloomy Sunday - Billie Holiday

Gloomy Sunday - The Hungarian Suicide Song





Diambil dari berbagai sumber.

Thursday, 12 March 2015

Ibu Saya, Di Suatu Maghrib --- True Story --- Berdasarkan Kisah Nyata

Ibu Saya, Di Suatu Maghrib

Arif Rohman




Maghrib


Kami baru saja bertengkar. Seluruh pakaian basah kuyup kena air hujan. Masalahnya sebenarnya sederhana. Ibu menyuruh saya pinjam sepeda tetangga untuk beli kayu. Ibu maunya semua kayu dinaikkan ke atas sepeda. Saya mendorong dari depan dan ibu mendorong dari belakang. Kami harus membeli kayu di tempat itu yang jaraknya lumayan jauh karena lebih murah daripada di tempat lain. Harusnya kalau kami punya uang lebih, mungkin kami bisa menyuruh tukang becak untuk mengangkut kayu. Tapi uang kami terbatas. Tidak tahu kenapa hujan deras turun. Petir meraung-raung di sana-sini seperti mengejek kami. Karena sepeda tua kelebihan muatan, dan saya memegang stang sepeda sedikit goyang, akhirnya semua kayu itu jatuh. Tepat di depan sebuah kuburan. Hari memang beranjak gelap. Ibu marah, katanya saya adalah anak laki-laki yang lemah. Bagaimana mampu bertahan hidup yang keras kalau memegang sepeda seperti ini saja tidak kuat. Saya pun menangis. Saya tidak bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata saya. Terus saya pun bilang bahwa saya tadi sudah mengusulkan ke Ibu biar saya panggul saja kayunya, toh 3-4 kali pikulan saya bisa melakukannya sendiri, tanpa Ibu harus ikut dan berhujan-hujan seperti ini. Tapi Ibu justru marah besar. Sambil memunguti kayu yang jatuh Ibu berkata bahwa Ibu menyekolahkan saya bukan untuk memintari Ibu dan membantah semua perkataan Ibu. Ibu juga berkata bahwa Ibu tidak tega melihat anaknya bolak-balik memanggul kayu dan akhirnya punggung sampai lecet-lecet seperti hari kemarin. Saya terharu. Ibu hidup sendirian tanpa Bapak dan harus memberi makan 4 orang anaknya tanpa bantuan siapapun. Banyak masalah, hutang yang menumpuk, demi kami supaya bisa sekolah. Dan sekarang saya justru membantah Ibu. Anak macam apakah saya ini? Saya sungguh anak durhaka. Selama perjalanan saya merenungi peristiwa itu. Tidak tahu kenapa air mata saya justru meleleh terus. Membanjir keluar. Ibu tidak tahu. Saya menatap ke depan dengan masih diguyur hujan. O, Ibu saya yang kuat. O, Ibu saya yang berhati baja. O, Ibu saya yang ingin anak-anaknya menjadi seorang sarjana. Saya pun mengeraskan hati saya. Menggigit bibir saya dalam-dalam sampai berdarah. Darah yang jatuh dari bibir saya ke bumi sebagai saksi bahwa saya tidak akan membantah perkataan Ibu saya lagi. Cukuplah sekali itu. Cukuplah sekali. Bukankah sebagai anak yang baik, saya harus menghibur Ibu? Menghibur Ibu bahwa perjuangannya tidak akan sia-sia. Menghibur Ibu bahwa Ibu tidak sendiri berjuang. Meyakinkan Ibu bahwa kebahagiaan pasti akan datang walau harus menunggu seribu tahun lamanya. Sampai di rumah saya pun mencium kaki Ibu saya. Saya meminta maaf atas kelakuan saya yang tidak berbhakti. Ibu pun hanya menangis. Sedihnya, Ibu mengatakan kepada saya, bahwa Ibu lah yang salah. Katanya Ibu kepikiran besok harus mengirim wesel untuk anaknya yang kuliah di jurang mangu. Air mata ini pun mengalir kembali. Saya cium kaki Ibu saya berkali-kali. Saya tidak akan pernah membantah Ibu. Tidak akan pernah. O, Ibu… Yakinlah Tuhan tidak buta. Yakinlah Tuhan tidak tuli, Ibu.. Ketika saya memandangi langit yang mulai menghitam, hati saya diselimuti haru. Dan ketika maghrib datang, saya yakin malaikat-malaikat itu kembali ke langit ke tujuh sambil membawa catatan tentang cerita saya.

Maghrib


Ibu memarahi saya. Katanya saya anak yang paling bodoh sedunia. Saya disuruh membeli tepung gandum untuk campuran membuat gorengan. Sekilonya kata Ibu Rp 850. Seperti biasa saya jalan kaki ke pasar buat membelinya. Sampai di sana engkohnya bilang harganya Rp 875,- katanya kurang Rp 25,- saya pun bilang bahwa kekurangannya besok akan saya bayar. Sayapun melapor ke Ibu bahwa kata si engkoh, uangnya kurang Rp 50,- karena saya beli 2 Kg. Tidak tahu kenapa, Ibu marah besar. Saya dimarahi habis-habisan. Saya katanya sungguh anak yang goblok. Ngomong ke si engkohnya dan bilang kalau kami adalah langganan saja tidak berani. Dasar anak yang lemah! Karena tidak tahan dengan kata-kata Ibu saya, saya pun menangis. Saya bilang, baik, baik, saya akan ngomong ke si engkohnya. Dengan masih menangis, saya pun lari ke toko si engkoh depan pasar. Saya bilang, engkoh kenapa sudah tahu saya ini langganan, kenapa harganya dinaikkan? Tidak tahukah kalau saya dimarahi Ibu saya?! Mungkin karena si engkoh melihat saya mengucap sambil menangis, mata yang memerah dan berteriak, si engkohnya pun bilang terbata-bata bahwa kekurangannya tidak usah dibayar. Harganya dianggap pas. Saya pun kembali ke rumah dan saya melihat Ibu saya diam sendiri. Saya melihat guratan ketuaan yang mulai nampak. Mungkin karena beban hidup yang berat. Saya kemudian bilang ke Ibu kalau si engkoh bilang harganya sudah pas dan tidak perlu bayar lagi. Ibu saya hanya tersenyum getir, katanya hidup itu harus diperjuangkan. Kemudian Ibu saya bilang kalau Ibulah yang salah. Ibu pun bercerita bahwa besok saya ujian sementara SPP masih menunggak 5 bulan, kalau tidak bayar, saya tidak boleh ikut ujian. Ibu kepikiran dan akhirnya marah-marah. Aihh.. Hati saya yang semula menyalahkan Ibu, jadi dipenuhi banyak rasa. Saya terharu. Ahhh… saya sungguh anak yang tidak berbhakti, berani-beraninya berburuk sangka pada Ibu. Saya sungguh berdosa. O, Tuhan… Cepatkanlah siang, cepatkanlah malam… Supaya sekolah saya cepat selesai. Supaya selepas SMA saya bisa bekerja apa saja untuk membantu Ibu saya. Maghrib itu, kembali saya yakin, malaikat sudah terbang ke langit sap-7 untuk melapor pada Tuhan sambil menunjukkan catatan-catatan tentang saya dan kekurangajaran saya, yang sempat mempertanyakan Ibu macam apakah Ibu saya yang suka memarahi saya.

Maghrib


Ibu kembali memarahi saya. Nasi yang dimasak gosong. Kata Ibu saya, orang miskin harus tahu diri. Harus selalu sadar. Selalu memperhatikan sekelilingnya. Kalau sudah diberi perintah harus dilakukan. Jangan malas. Jangan sekali-sekali melupakan tugas dan kewajibannya. Mau jadi apa kalau setiap dikasih tugas terus melalaikan dan tidak bertanggungjawab? Katanya kalau mau ikut Ibu, saya harus disiplin. Kita bukan orang kaya. Kalau kamu tidak sudi ikut Ibu, sana minggat! Saya pun hanya bisa menangis sedih. Adakah seorang Ibu yang selalu memarahi anaknya sampai seperti ini? Tapi saya kemudian menjadi terharu bahwa sebenarnya Ibu kepikiran besok Ibu harus nyari uang untuk saya mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Bandung dan Ibu belum punya uang sama sekali. Nanti Ibu pinjam sama tetangga. Ibu pun kemudian mengambilkan makanan untuk saya. Ibu selalu makan cuma sama nasi putih. Ibu selalu berkata bahwa dia tidak doyan lauk, kalaupun saya paksa berbagi Ibu selalu tidak mau. Kadang air mata saya ini terharu kalau lauk sisa makan saya selalu ditambahi nasi putih oleh Ibu, baru kemudian Ibu makan. Saya terkadang malu dengan diri saya. Masih tegakah saya menjawab ketika dimarahi Ibu? Adakah Ibu yang bertangan besi namun berhati emas seperti Ibu saya. Saya pernah berkata pada Ibu saya kenapa Ibu selalu makannya begitu. Ibu pun bilang ini namanya tirakat. Ini namanya prihatin. Yang penting anaknya jadi orang dan bisa sekolah tinggi. Ibu cuma lulusan SD kelas 2 jadi Ibu tidak ingin nasib anak-anaknya seperti Ibu. Anak-anaknya harus bisa sekolah setinggi mungkin. Kata Ibu, Tuhan menciptakan manusia sama. Tidak ada yang pintar tidak ada yang bodoh. Tergantung kekuatan hati mau sungguh-sungguh belajar atau tidak. Perkataan Ibu saya mengena tepat di hati saya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba air mata ini mengalir, segera saya ambil semua buku-buku pelajaran. O, Tuhan… Saya berjanji akan menaklukkan semua mata pelajaran. Berikanlah hamba-Mu ini kemudahan dalam menyelami samudera ilmu-Mu. Dan saya yakin, malaikat telah kembali ke langit sap-7 dan mencatat sumpah saya.

Maghrib


Ibu kembali memarahi saya. Ini gara-gara saya di Armidale, NSW, Australia mengatakan malas belajar. Kata Ibu saya, apa yang susah dengan belajar? Pekerjaan yang bisa dilakukan sambil tiduran! Tidak ingatkah kamu dengan apa yang Ibu lakukan untuk membesarkanmu? Harus bangun tengah malam untuk menggoreng bakwan, pisang goreng, mendoan, dll? Beginikah semangat anak yang kubesarkan dengan air mataku? Dan Ibu pun bercerita kenapa didikannya keras selama ini. Karena di kampung saya, pergaulan sangat buruk. Anak kecil sudah mabuk-mabukan, melawan orang tuanya, mencuri, tidak mau sekolah dan main perempuan. Ibu memproteksi saya dengan sistem didikannya itu. Kata Ibu, maghrib itu pada waktu beli kayu, ibu mengajarkan kepada saya bahwa hidup itu berat. Hujan badai pun harus dijalani. Hidup ini hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang mau berjuang dan berkemauan keras. Maghrib kedua, ibu ingin mengajarkan bahwa mencari uang itu susah, maka jangan dihambur-hamburkan. Dan orang yang akan sukses adalah orang yang berani memperjuangkan nasibnya sendiri. Kata Ibu, berdoa saja tidak cukup. Kita harus bekerja keras. Maghrib ketiga, Ibu mengatakan bahwa dia yakin suatu saat anaknya akan pergi mencari ilmu kemana-mana. Keterampilan memasak adalah nomor satu. Bertahan hidup. Keahlian masak sangat penting. Kalau kamu kaya kamu bisa tinggalkan, tapi selama kamu masih berjuang, keahlian ini sangat bermanfaat. Bangunlah anakku sayang. Jika kerasnya hidup sudah engkau jalani, kenapa belajar di negeri orang saja kamu menyerah? Bangunlah anakku sayang. Tunjukkan kepada orang yang telah menyekolahkanmu, bahwa dia tidak salah memilih orang. Bangunlah anakku sayang. Tunjukkanlah bahwa kamu bisa menampilkan yang terbaik. Tidak tahu kenapa, air mata saya meleleh lagi. Saya kemudian mengambil buku-buku saya. Saya akan tunjukkan kepada Ibu bahwa saya adalah orang kuat. Bahwa saya bukan orang lemah. Bahwa kesulitan yang saya alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan kesulitan yang dialami Ibu. Ibu saya tidak ada bandingannya. Ibu saya adalah dewi tersuci dari jutaan dewi yang ada di dunia ini. Dan saya yakin maghrib ini, malaikat-malaikat itu akan terbang kembali ke langit sap-7 sambil membawa catan-catan tentang saya. O, Tuhan.. Berikan saya kemampuan menyelami samudera ilmu-Mu. Pada-Mu saya tunduk…


Depok, 7 Maret 2011


Semoga cerita ini bermanfaat bagi kita semua, dan bisa menambah rasa kasih dan sayang pada Ibu kita. Amien...




google-site-verification: google4556e648de6b1cea.html

Sunday, 4 January 2015

Nasehat seorang Indian kepada anaknya

Anakku
Tidak seorang pun akan menolongmu di dunia ini
Kau harus berbuat sesuatu
Jelajahilah puncak gunung gunung itu dan kembalilah
Itu akan membuatmu perkasa
Anakku
Kau tahu dunia ini
Tidak seorangpun yg dapat kau sebut sebagai sahabat sejati
Hampir tidak juga saudaramu bahkan kekasihmu
Hampir tidak juga ayah dan ibumu
Sahabatmu adalah kakimu
Sahabatmu adalah tanganmu
Sahabatmu adalah rambutmu
Sahabatmu adalah pandanganmu
Kau harus berbuat sesuatu
Dengan semua yg kau miliki itu
Suatu hari
Kau akan ada diantara rakyat yg sengsara
Kau telah memiliki sesuatu
Yang dapat kau berikan pada mereka
Bila kau pergi
Kau harus dapat menghancurkan musuh yg mencoba menyerangmu
Kau harus ada di mukanya dan menghancurkannya
Anakku
Berbuatlah jujur dan jantan
Ingatlah selalu pada Tuhan
Siapkanlah bekal yg harus kau bawa ke alam abadi kelak
Anakku pilihlah jalan ini, rakyatmu akan bangga atas dirimu

-howgh-

Thursday, 1 January 2015

The Comparison of Power and Authority of Women in China and Minangkabau Societies



Cite:
Rohman, Arif. (2014). The Comparison of Power and Authority of Women in China and Minangkabau Societies. Humanities & Social Studies, 2(12), 141-145.


Abstract:
The power and authority available for women are very important in measuring the cultural system in each society contains a gender bias or not. This study will examine whether the matrifocal and matrilineal society guarantees gender equality rather than the patriarchal and patrilineal society and to what extent these societies provide power and authority to women in both domestic and public spheres. To support analysis, this article will compare two Asian societies; those are China as a representative of the patriarchal and patrilineal society and Minangkabau as a representative of the matrifocal and matrilineal society. The analysis will be focused on their kinship systems, particularly in the differences in inheritance and descent which affects the role and status of women.

Keywords: Power, Authority, Culture, China, Minangkabau, Women, Gender



1. Introduction
The study of women and gender cannot be separated from the issue of power and authority of women in their families and communities. The power and authority available for women, furthermore, are very important in measuring the cultural system in each society contains a gender bias or not (Rosaldo, 1974; Merry, 2011). Therefore, to compare the power and authority from patrilineal and matrilineal societies requires understanding of respective kinship systems. This is because many people, today, assume that gender equality has adhered automatically in matrifocal and matrilineal societies, whilst the reverse can be found in the patriarchal and patrilineal societies.
This study will examine whether the matrifocal and matrilineal society guarantees gender equality rather than the patriarchal and patrilineal society and to what extent these societies provide power and authority to women in both domestic and public spheres. To support my analysis, I will compare two Asian societies; those are China as a representative of the patriarchal and patrilineal society and Minangkabau as a representative of the matrifocal and matrilineal society. The analysis will be focused on their kinship systems, particularly in the differences in inheritance and descent which affects the role and status of women.

2. Women’s Authority and Power in China
To begin with, it needs to be understood that the status of women in China has mostly been affected by Confucianism. It is mentioned in Confucianism that woman’s element (yin) and man’s element (yang) are two different things. ‘Yin’ is often associated with something that is subordinated, such as dark, passivity, moon and earth, while ‘Yang’ refers to something that is dominant, such as light, activity, sun and heaven (Guisso, 1981; Valutanu, 2012). Confucianism also contributed a stereotype of women as unclean and pollutant which could block people from communicating with the gods since they have menstruation as part of their reproduction (Ahern, 1982; Hedges, 2011). As a result the Chinese kinship system follows patrilineal descent in which descent and inheritance take place only through the male line. In this context, the social structure has successfully marginalised women’s position as second class citizens. This explains why in the Chinese society, most people show more respect to a man than a woman in which a son is more important than a daughter, in order to continue the lineage of their family. History has noted that many infanticides have occurred in the past due to this belief (Holmgren, 1981; King, 2014). Having a daughter especially in traditional rural China has been judged as ‘bad luck’ due to the assumption that a daughter only knows how to eat, dress and be married (Freedman, 1961; Li and Wu, 2011). This was different for a son who received much respect from his parents as he could help them to earn a living in the future. The social structure about women in China can be characterised as a system oppressive to women rather than giving opportunities for women in decision making and participating in society outside domestic boundaries.
The oppression of women was reflected by the marriage system in China. In traditional China, marriages were arranged by parents, where people believed that a beautiful woman should get high ‘bride price’ from the groom (Knight, 2000; Jiang and Sánchez-Barricarte, 2012). In that time, people allied beauty with small feet. As a result, to get a high bride price, many parents bound tightly their daughters’ feet when they were seven years old (Jacka, 1997; Hong, 2013). This factor also contributed to the many trafficking of girls which occurred in China. This practice was oppressive and hurt women. Furthermore, with a ‘high bride price’, a woman found it difficult to divorce to her husband since her husband had paid a high price for her. Indeed, when divorce happened women did not have opportunities to get an inheritance such as land, house or wet rice since these were claimed by men (Watson, 1984; Liaw, 2008). In such a case, a wife was made very vulnerable in proposing divorce since she was unlikely to obtain anything. This practice shows how from childhood to marriage a woman in China did not have authority and power to speak on behalf herself.
According to Cook and Dong (2011), they argue that for women withdraw from their work in the fields to undertake domestic work, it is likely that women’s power in the family is relatively weak. After marriage, a woman became a wife and she had to stay in her husband’s house as an outsider or a stranger (Croll, 1978; Croll, 2013). She could not go outside her house without the permission of her husband. She had to stay at home and do domestic work, such as feeding and caring for children, spouse and kin. The woman was expected to should wait on her husband on his return from work and this was repeated every day. In this context it seems that a woman was property of her husband (Jacka, 1997; Croll, 2013). She did not have authority in public affairs or domestic affairs. This is because all decisions were made by her husband or her mother-in-law who was often unfriendly to her. She was even more oppressed in the expectation that she would give birth to a son. Her failure to do so could lead her husband and her mother-in-law to anger and in some cases to torture. Following the communist revolution in 1949, the new marriage law of 1950 improved the lot women (Kane, 1987; Zuo, 2013). But despite this the one-child policy introduced in 1979 made women oppressed once more due to the cultural expectation that the one child would be a son (Hong, 1987; Ebenstein, 2010).
From this explanation, it can be clearly seen that women in China had no authority and power to participate in either public or domestic spheres. China seems more oppressive to women as a result of its culture and the social structure which is a ‘classic patriarchy’. Women lived in an oppressive situation and often were subjected to violence from their husband, mother-in-law or her sister-in-law (Jacka, 1997; McLaren, 2001). That is why many suicides occurred. A wife could try to use a strategy of persuasion with her mother-in-law and try to improve relationships with her son, but it still did not make her position safe since her husband could chase her easily away from his house. The 1949 revolution led to a gender equality which opened the channel for women to propose divorce (Tsai, 1996; Wang and Purnell, 2008). This resulted in a dramatic number of divorces. This marked the beginning of the fight against the oppression of the past. They fought against a culture which did not recognise a wife as a real member of family and society, who could influence decisions in domestic and public affairs.

3. Women’s Authority and Power in Minangkabau
Compared to China, Minangkabau has a matrilineal lineage system which is more respectful to women than to men. This is because adat (customary law and practice) gives more rights to women. Based on adat, a man has to respect a woman as is shown in the proverb ‘Surga ada di telapak kaki ibu’ (paradise lies at the feet of mothers) (Whalley, 1998; Sanday, 2002). The adat believes women have a higher status as noble human beings created by God. As a consequence, a man should respect a woman. This explains why Minangkabau uses matrilineal descent in its kinship system in which descent and inheritance are traced exclusively through the female line. So parents will be very happy if they have a daughter rather than a son. Women can own land, houses and wet rice which means that harto pusako (ancestral property) can be theirs (Kato, 1982; Wiryomartono, 2014). This property is transmitted from generation to generation exclusively through the female line. In this context women have a stronger authority and power than men.
In the marriage system, Minangkabau shows a unique custom. A bride decides a ‘groom price’ and the value of a groom. This depends on the status of the groom. It could result from his education or from adat. For example, a doctor could be paid $ 6,000 whilst others obtain only $ 1,000. After marriage, a husband will live in his wife’s house, called rumah gadang (large house or matrilineal communal house) (Kato, 1978; Stark, 2014). At dusk, a husband goes back to his mother’s house to work and later he will be return to his wife’s house. This system which operates in Minangkabau is referred to as a duolocal system. Moreover, the woman has a strong authority in her house and domestic affairs. The woman is the head of household.
The kinship system also protects her from her husband due to her husband’s position as a ‘guest’ in her family (Tanner and Thomas, 1985; Wiryomartono, 2014). In Minangkabau, a husband (orang sumando) will be stigmatised if he does not follow the adat, such as orang sumando lapiak buruak (a husband who is irresponsible and ignores his family), orang sumando kacang miang (a husband who is very lazy) and orang sumando lango ijo (a husband who practices polygamy and has many children in many places, like a bluebottle which has many larva). When a divorce happens a husband must go from his wife’s house without taking anything, such as lands or houses (laki-laki yang turun). Under this system, divorces are rare in Minangkabau society.
Even though all lands are managed by mamak (the eldest male in the household or mother’s brother), mamak has to obey what bundo kanduang (the eldest or senior woman) says. A Minangkabau woman also has a power in public affairs. Even in the nagari (a grouping of several villages with its own laws and government) which is lead by penghulu (lineage or kin headman), bundo kanduang influences who can became a penghulu. In this context, a woman in Minangkabau has a higher bargaining position to men and she has active roles both in domestic and public spheres. The authority and power of women in Minangkabau society in both domestic and public affairs can be shown in the tale of ‘Kaba Rantjak di Labueh’. This story tells of the powerf of bundo kanduang in Minangkabau society since she could influence who became a penghulu (Schrijvers, 1977; Sanday, 2010). By her power and authority she can influence any musyawarah (discussion) and mufakat (consensus) since she has a veto right. This reflected the lack of class distinction within the society. So it is not a surprising that there were many heroines from Minangkabau during the war against the Dutch colonial government.
4. Some Changes in the Matriarchal Society: Lessons Learned from Minangkabau
Based on my explanation, Minangkabau society has given a higher status to women than in Chinese society. However, this system did not survive intact long. Because of Islam and the Dutch colonial government, the adat system has changed significantly (Sanday, 1990; Chadwick, 1991; von Benda-Beckmann and von Benda-Beckmann, 2014). This means that the oppressor from outside (external factors) has contributed to the changing of this society. For example, the interpretation of Islam that a woman cannot be a leader of men has influenced much of the Minangkabau society. This interpretation affects the attitude of men and has challenged the adat system. Another interpretation allows men to practice polygamy. These interpretations legitimise the practice polygamy and encourage the dominance of men over women. Adat was defeated by Islam is sumned up in a proverb that says, ‘Syarak mandaki, adaik manurun’ (Islam goes uphill and custom descends the hills) (Chadwick, 199; Uker and Fanany, 2011). According to Adamson (2007), she believes that ‘Muslim doctrine and culture contributed to ideologies that threatened to oppress women.
This situation became worse with the Dutch colonial government in the nineteenth century. This government believed that a man is the head of household. From that time, men became more involved in public affairs. The offer from the government that Minangkabau men could become part in the Dutch colonial government introduced harta pencarian (earned property) in that society (Kahn, 1976; Iman and Mani, 2013). This allowed men in Minangkabau to gain authority and power in public affairs even though in domestic affairs a woman still had authority and power to make any decision. Many men (scholars) who came back from merantau (go to other places to get better lives) also challenged and contributed to the changes of kinship system in Minangkabau (Sanday, 1990; Wiryomartono, 2014). These people (orang merantau) claimed that the system was ‘not modern’ and oppressed men. This arose out of their experience of patriarchal culture when merantau in Java. As a consequence, women’s position became marginalised as was shown by the increase in the divorce rate and in the practice of polygamy in 1930’s (Tanner, 1974; Schrijvers, 1977; Kato, 1978; Rohman, 2013). These changes brought suffering to women in Minangkabau.
In their marriage system, women were also influenced by these changes. For example, in the marriage practice, men often set ‘a high groom-price’ and ‘a high dowry’ which was too expensive for women in Minangkabau. As a consequence, many women from Minangkabau today are doing merantau and marry men outside Minangkabau. The preference for a nuclear family rather than extended family structure means that the adat in this community is slowly becoming extinct (Kato, 1978; Parker and Nilan, 2013).
In Minangkabau societies nowadays, there are tigo tungku sajarangan (three parties which have same level) in decision making. These include ninik mamak, alim ulama and cadiak pandai (adat expert, Islam expert and scholar). Based on this system, all positions are only for men. Ironically, the role of bundo kanduang was marginalised and she then just became a figure or symbol without authority and power in public affairs. This shows the ambiguity of women’s role as represented by bundo kanduang today: In theory her status remains but not in reality (Sanday, 1990; Blackwood, 2001; Elvira, 2007; Nurwani, 2011). The policy of the Indonesian government under the ‘New Order Regime’ sought to impose Javanese culture universally. The change from nagari into desa (Javanese village) affected title to all lands in Indonesia including Minangkabau. Many certificates of title were issued to men, since the Indonesian government only recognised a man as a head of household. Even though the local government today supports the ‘going back to adat’ policy (mambangkik batang nan tarandam), this seems just a romantic idea of the past without any real changes for women.
5. Conclusion
This article has analysed the differences of authority and power available in both Chinese and Minangkabau societies. The differences mostly were due to the Confucianism and adat which have governed the position of women in these societies. As a result, Chinese society tends to use patrilineal descent while Minangkabau tend to use matrilineal. Based on my explanation, China could be categorised as a classical patriarchal society which oppresses women and did not give an opportunity for women to be involved in public or even in domestic spheres. However, since 1949 the women’s movement has progressed under communist rule. The oppression history of woman has clearly opened women’s eyes in China to struggle for gender equality, to obtain authority and power in their society. On the other hand, Minangkabau in the past, with its matrilineal system gave authority and power to women to make and to influence all decisions in both private and public affairs. However, the status of women has become a lower than men since the adat was influenced by from Islam, Dutch colonialism, orang merantau and Indonesian government policy under the ‘New Order Regime’. Women in Minangkabau are now marginalised in domestic sphere. In conclusion, even though today it seems no longer to exist anymore in Minangkabau, it is true that the matrilineal system a reverse image of the patrilineal one. Furthermore, the greater separation between public and domestic spheres, the lower the status of women in their societies.
6. Acknowledgment
The author wishes to express his gratitude to his mentor, Dr. Makmur Sunusi who was abundantly helpful and offered invaluable assistance, support and guidance. The author would also like to convey thanks to the Indonesian Ministry of Social Affairs for providing the financial means and facilities.




7. References
Adamson, C., 2007. Gendered anxieties: Islam, women’s rights and moral hierarchy in Java. Anthropological Q., 80: 5-37. DOI: 10.1353/anq.2007.0000
Ahern, E.M., 1982. The Power and Pollution of Chinese Women. In: Women in Chinese Society, Wolf, M. and R. Witke, (Eds.), Stanford University Press, Stanford, ISBN-10: 0804708746, pp: 193-214.
Blackwood, E., 2001. Representing women: The politics of minangkabau adat writings. J. Asian Studies, 60: 125-149. DOI: 10.2307/2659507
Chadwick, R.J., 1991. Matrilineal inheritance and migration in a minangkabau community. Indonesia, 51: 47-81.
Cook, S. and Dong, X.Y., 2011. Harsh Choices: Chinese Women's Paid Work and Unpaid Care Responsibilities Under Economic Reform. Development and Change, 42: 947-965. DOI: 10.1111/j.1467-7660.2011.01721.x
Croll, E., 1978. A Frog in a Well: Mechanisms of Subordination. In: Feminism and Socialism in China, Croll, E. (Ed.), Routledge, ISBN-10: 1136337318, pp: 12-44.
Croll, E., 2013. Feminism and Socialism in China. Routledge, London, ISBN-10: 0415519152.
Ebenstein, A., 2010. The “Missing Girls” of China and the Unintended Consequences of the One Child Policy. Journal of Human Resources, 45: 87-115.
Elfira, M., 2007. Bundo Kanduang: A Powerful Or Powerless Ruler? Literary Analysis Of Kaba Cindua Mato (Hikayat Nan Muda Tuanku Pagaruyung). Makara, Sosial Humaniora, 11: 30-36.
Freedman, M., 1961. The family in China, past and present. Pacific Affairs, 34: 323-336.
Guisso, R.W.L., 1981. Thunder over the lake: The five classics and the perception of woman in early China. Historical Reflections, 8: 47-62.
Hedges, P., 2011. Guanyin, Queer Theology, and Subversive Religiosity: An Experiment in Interreligious Theology. In: Interreligious Hermeneutics in Pluralistic Europe: Between Texts and People, Cheetham, D. and Winkler, U. (Eds.). Radopi, New York, ISBN-10: 9401200378, pp. 203-229.
Holmgren, J., 1981. Myth, fantasy or scholarship: Images of the status of women in traditional china. Aus. J. Chinese Affairs, 6: 147-170.
Hong, F., 2013. Footbinding Feminism and Freedom: The Liberation of Women's Bodies in Modern China. Routledge, New York, ISBN-10: 0714646334.
Hong, L.K., 1987. Potential effects of the one-child policy on gender equality in the people’s republic of China. Gender Society, 1: 317-326.
Iman, D.T. and Mani, A., 2013. Motivations for migration among Minangkabau women in Indonesia. Ritsumeikan Journal of Asia Pacific Studies, 23: 114-123.
Jacka, T., 1997. Families. In: Women’s Work in Rural China: Change and Continuity in an Era of Reform, Jacka, T. (Ed.), Cambridge University Press, Cambridge, ISBN-10: 0521599288, pp: 54-72.
Jiang, Q. and Sánchez-Barricarte, J.J., 2012. Bride Price in China: The Obstacle to ‘Bare Branches’ Seeking Marriage. The History of the Family, 17: 2-15. DOI: 10.1080/1081602X.2011.640544.
Kahn, J.S., 1976. “Tradition”, matriliny and change among the Minangkabau of Indonesia. Bijdragen, 132: 64-95.
Kane, P., 1987. The Chinese Family and Change. In: The Second Billion: Population and Family Planning in China, Kane, P. (Ed.), Penguin Books, Ringwood, ISBN-10: 0140086579, pp: 4-45.
Kato, T., 1978. Change and continuity in the Minangkabau matrilineal system. Indonesia, 25: 1-16.
Kato, T., 1982. Traditional Minangkabau Society. In: Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia, Kato, T. (Ed.), Cornell University Press, Ithaca, ISBN-10: 0801414113, pp: 33-71.
King, M.T., 2014. Between Birth and Death: FemaleIinfanticide in Nineteenth-Century China. Stanford University Press, Stanford, California, ISBN-13: 9780804785983.
Knight, N., 2000. Tradition and Modernity: The Family. In: Thinking about Asia: An Australian introduction to East and Southeast Asia, Knight, N. (Ed.), Crawford House Publishing Australia, Adelaide, ISBN-10: 1863331972, pp: 28-50.
Li, L. and Wu, X.. 2011. Gender of Children, Bargaining Power, and Intrahousehold Resource Allocation in China. Journal of Human Resources, 46: 295-316.
Liaw, H.R., 2008. Women’s Land Rights in Rural China: Transforming Existing Laws into a Source of Property Rights. Pacific Rim Law & Policy Journal Association. Pacific Rim Law & Policy Journal Association, 17: 237-264. http://digital.law.washington.edu/dspace-law/bitstream/handle/1773.1/572/17PacRimLPolyJ237.pdf?se..
McLaren, A.E., 2001. Marriage by abduction in twentieth century China. Modern Asian studies, 35: 953-984.  http://dx.doi.org/do1:10.1017/S0026749X01004073
Merry, S.E., 2011. Gender Violence: A Cultural Perspective. Wiley-Blackwell, Chichester, UK, ISBN-13: 9780631223597.
Nurwani Idris, N., 2011. The External and Internal Barriers to the Political Leadership for Minangkabau Women in West Sumatera, 24: 130-141.
Parker, L. and Nilan, P., 2013. Adolescents in contemporary Indonesia. Routledge, New York, ISBN-13: 9780415508551.
Rohman, A., 2013. Reinterpret Polygamy in Islam: A Case Study in Indonesia. Int J Hum & Soc Sci Inv, 2: 68-74. http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.2258284
Rosaldo, M.Z., 1974. Women, Culture and Society: A Theoretical Overview. In: Women, Culture and Society, Rosaldo, M.Z. and Lamphere,  L. (Eds.), Stanford University Press, Stanford, ISBN-10: 0804708517, pp: 17-42.
Sanday, P.R., 1990. Androcentric and Matrifocal Gender Representations in Minangkabau Ideology. In: Beyond the Second Sex, Sanday, P.R. and Goodenough, R.G. (Eds.), University of Pennsylvania Press, Philadelphia, pp: 139-168.
Sanday, P.R., 2002. Women at the Center : Life in a Modern Matriarchy. Cornell University Press, Ithaca, New York, ISBN-13: 9780801489068.
Sanday, P.R., 2010. Going Home: An Anthropological Memoir. General Anthropology, 17: 1-7. DOI: 10.1111/j.1939-3466.2010.00009.x
Schrijvers, J., 1977. Minangkabau women: Change in a matrilineal society. Archipel, 13: 79-103.
Stark, A. (2014). Sometimes the Government Must Solve the Case: The Example of a Minangkabau Land Conflict. American Journal of Humanities and Social Sciences, 2: 111-116.
Tanner, N., 1974. Matrifocality in Indonesia and Africa and Among Black Americans. In: Women, Culture and Society, Rosaldo, M.Z. and Lampere, L. (Eds.). Stanford University Press, Stanford, ISBN-10: 0804708517, pp: 129-156.
Tanner, N.M. and Thomas, L.L., 1985. Rethinking Matriliny: Decision-Making and Sex Roles in Minangkabau. In: Change and Continuity in Minangkabau: Local, Regional and Historical Perspectives on West Sumatra, Thomas, L.L. and Benda-Beckmann, F.V. (Eds.). Ohio University Center for International Studies, Athens, ISBN-10: 0896801276, pp: 45-71.
Tsai, K.S., 1996. Women and the state in post-1949 rural China. J. Int. Affairs, 49: 493-524.
Uker, D. and Fanany, R., 2011. The Traditional Decision-Making Process of Berkaul in Tanjung Emas, West Sumatra: Its Nature and Significance. Sojourn Journal of Social Issues in Southeast Asia, 26: 1-15. DOI: 10.1353/soj.2011.0002
Valutanu, L.I., 2012. Confucius and Feminism. Journal of Research in Gender Studies, 2: 132-140.
von Benda-Beckmann, F. and von Benda-Beckmann, K. (2014). Temporalities in Property Relations Under a Plural Legal Order: Minangkabau Revisited. The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 46: 18-36. DOI: 10.1080/07329113.2014.886869
Wang, Y. and Purnell, L.D., 2008. People of Chinese Heritage. In: Transcultural Health Care : A Culturally Competent Approach, Purnell, L.D. and Paulanka, B.J (Eds.). F.A. Davis, Philadelphia, ISBN-13: 9780803637054, pp. 129-144.
Watson, R.S., 1984. Women’s Work and Inheritance in Chinese Society: An Anthropologist’s View. In: Women in Asia and Asian Studies, Miller, B.D. and Hyde, J. (Eds.), Committee on Women in Asian Studies of the Association for Asian Studies, Syracuse, pp: 7-23.
Whalley, L.A. 1998. Urban Minangkabau Muslim Women: Modern Choices, Traditional Concerns. In: Women in Muslim Societies: Diversity Within Unity, H.L. Bodman and Tohidi, N.E. (Eds.), Lynne Rienner Publishers, Boulder, ISBN-10: 1555875785, pp: 229-249.
Wiryomartono, B., 2014. Ninik Mamak: Motherhood, Hegemony and Home in West Sumatra, Indonesia. In: Perspectives on Traditional Settlements and Communities, Wiryomartono, B. Springer, Singapore, ISBN-13: 978-981-4585-05-7, pp. 113-131.
Zuo, J., 2013. Women's Liberation and Gender Obligation Equality in Urban China: Work/Family Experiences of Married Individuals in the 1950s. Science & Society, 77: 98-125. DOI: 10.1521/siso.2013.77.1.98

Wednesday, 3 December 2014

JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA? ----- SEKELUMIT KISAH DI BALIK PROGRAM DESAKU MENANTI

Jika Tuhan Bersama Kita - Siapa Lagi yang Mampu Menghalangi Kita?
Sekelumit Kisah di Balik Program Desaku Menanti




Jalan Tongkang Kramat Senen



Hari ini saya gembira bukan main. Iseng-iseng buka internet tentang gelandangan di perkotaan, saya menemukan banyak berita dan artikel tentang Program Desaku Menanti. Angan saya langsung terbang ke tahun 2009, ketika Bapak Salim Segaff Al Jufrie dilantik menjadi Menteri Sosial Republik Indonesia oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang waktu itu menjabat sebagai Presiden RI. Waktu itu memang banyak orang yang terkaget-kaget karena dalam 100 hari pertama kinerjanya Pak Menteri Sosial mentargetkan Indonesia bebas gelandangan, pengemis dan anak jalanan dalam tempo 3 bulan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan adalah masalah sosial yang notabene inti kemiskinan di perkotaan dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jika memberdayakan orang miskin aja susahnya setengah mati, lalu bagaimana dengan gelandangan yang disebut kelompok termiskin dari orang miskin yang hidup di kota.

Saya mulai menekuni masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan sejak sekolah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Waktu itu, saya diajak teman saya untuk ikut seleksi jadi relawan di Yayasan Ar Rufi’ yang menangani anak jalanan di bandung. Nama teman saya itu kalau gak salah Natsir Sinambela dan Adi Apriyan. Saya waktu itu ogah-ogahan karena sebenarnya gak punya ongkos buat naik angkot ke Riung Bandung yang jaraknya lumayan jauh dari Dago. Tapi karena saya dibayarin, ya akhirnya ikutan. Uniknya, dua teman saya ini justru gak diterima, yang diterima justru saya.

Pada waktu itu yang nge-test saya adalah Kang Cahyo. Senior saya ini orangnya keren, tampan dan elegan. Tapi saya gak tahu sekarang orangnya ada dimana. Sudah putus kontak/hubungan sejak saya merantau ke Senen, Jakarta. Pas di-test saya ditanya kalau diterima saya akan melakukan apa untuk Ar Rufi’ dan anak jalanan di Bandung? Saya jawab, ya namanya mahasiswa ya belum berpengalaman, tapi secara konseptual masih seger. Jadi ya saya akan coba praktik ilmu pekerjaan sosial dari mulai engagement, intake, contract, needs assesment, intervention dan monitoring and evaluation (sampai apal banget saya waktu itu). Kang Cahyo ini langsung senyum-senyum misterius dan bikin deg-degan. Ehhh tahu-tahu saya diterima. Pas itulah saya kenal dan mulai akrab dengan Teh Herti Fendiana. Teh Herti inilah yang nanti mengajarkan saya bagaimana mengetik pakai komputer. Katanya saya harus bisa ngetik pakai computer karena penting untuk bikin skripsi atau karya ilmiah (padahal waktu itu masih banyak yang pakai mesin ketik). Teh Herti ini orangnya memang luar biasa, karena isi pembicaraannya tak jauh dari Al Qur’an, Hadits, dan bagaimana menjadi muslim yang baik (ilmunya sudah tinggi banget memang), plus bagaimana menjadi wanita yang mandiri. Oh ya, eman saya si Natsir Sinambela itu akhirnya sekarang jadi Boss di DKT dan si Adi Apriyan jadi pegawai di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Balik Papan.

Yayasan Ar Rufi’ menurut saya organisasi sosial yang keren abis, karena idealismenya yang luar biasa. Hampir semua pengurusnya adalah alumni Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ihsan STKS Bandung di Dago. Di sanalah saya ketemu sohib alias teman sejati namanya Wiluk. Mbak Wiluk ini asli Malang, penampilannya apa adanya, dan kelebihannya yaitu dia suka main gitar. Petikan gitarnya mendayu-dayu dan bisa bikin perut langsung lapar. Kehebatan yang kedua yaitu dia itu seorang pendengar yang baik. Orangnya sabar banget dan gila banget mau mendengarkan keluh kesah saya yang tidak jauh dari kiriman uang dari kampung yang minim dan itu pun sering telat. Kelebihan Wiluk yang terakhir yaitu suka ngasih saya makan. Ya maklum lah namanya juga membantu sesama mahasiswa. Tapi kalau saya makan di tempat dia memang keseringan sih. Sebenarnya malu juga, tapi bagaimana? Daripada mati kelaparan di dago udah jauh-jauh datang dari demak kan ironis banget. Belum lagi pasti bakalan dimuat harian pikiran rakyat yang legend di bandung itu. Waduhhhh… Amit-amit dehhh…

Kerja di Ar Rufi’ itu memang total, sering kita lembur karena bantu-bantu bikin laporan dan persiapan kegiatan kalau ada orang-orang atau tamu yang datang meninjau. Belum lagi kalau harus pendampingan di Pasir Kaliki, hujan badai pun dilalui. Masak anak kecil aja pada hujan-hujanan nyari uang buat bantu emaknya, kita asyik berteduh kan gak lucu. Pokoknya sering basah kuyup dan nyampai kost-kostan langsung teler. Istilahnya baju basah kering di jalan (akibatnya ya masuk angin). Lucunya (mungkin ini kritik buat pemerintah waktu itu), pas ada program makanan tambahan, anak-anak yang kita dampingi makannya enak banget seperti ayam, daging, minimal telor, sedangkan relawan pekerja sosial makan sama tempe dan sayur tahu. Ironis memang. Tapi bukankah kerja jadi pekerja sosial/social worker memang utamanya adalah keterpanggilan jiwa? Jadi ya gak masalah. Belum lagi kalau piket malam anak jalanan pada kelahi, bawa pisau, bawa apaan itu garpu yang ditekuk untuk digenggam buat nonjok pas kelahi. Belum lagi yang ngelem pakai aibon. Waduhhh… Pokoknya horror banget lah. Belum lagi mereka yang berusia diatas 21 tahun ngaku anak jalanan dan nantang kelahi karena gak dapat bantuan ini itu. Saya sampai dikerubutin mereka. Tapi akhirnya setelah saya kasih penjelasan, kita semua malah jadi teman akrab dan saya sering diajak main ke rumahnya. Gila, sekampung pada turun ke jalanan saking miskinnya. Oh ya, bantuan untuk anak jalanannya memang keren-keren; seperti kursus nyetir (saya aja gak bisa), kursus bahasa inggris - saya aja sampek ngiler lihatnya - padahal gara-gara pingin bisa bahasa inggris dibela-belain setiap sabtu minggu ke BIP (Bandung Indah Plaza) di Gramedianya buat baca-baca buku bahasa Inggrisnya, dari itu toko buku buka, sampai tutup friend…. Kaki pada pegal-pegal semua (berdiri soalnya). Untung lah kuda-kuda saya lumayan kuat jadi ya dinikmati aja (ya sekali-sekali jongkok sih ngilangin pegel).

Itu adalah sedikit cerita kenapa saya mengenal dunia anak jalanan dan gelandangan serta pengemis di Bandung. Yayasan Ar Rufi’ sendiri entah kenapa, entah pecah atau bubar saya kurang tahu. Tapi yang pasti, ini lembaga tempat diri saya dibentuk dan ditempa di lapangan. Pas saya sudah lulus kuliah tahun 2000, saya diajak dosen saya Pak Bambang Rustanto dan Ibu Tuti Kartika ke Jakarta untuk ikut Program Ford Foundation dalam penanganan masyarakat miskin di perkotaan di 5 wilayah DKI Jakarta. Saya kebetulan dikenalkan dengan koordinator wilayah Bapak Nurjaman. Pak Nurjaman ini orangnya keren banget. Dia itu masih muda sudah jadi wakil RW di Tongkang - Kembang Sepatu dan sekitarnya. Sejak berkenalan dengan pak Nurjaman ini wawasan saya jadi terbuka. Ilmu yang saya peroleh di STKS - bangku kuliah kayaknya gak ada apa-apanya. Pak Nurjaman ini bisa berhubungan baik – merakyat, dari masyarakat dengan status sosial atas sampai status social paling bawah; dari orang tua sampai anak-anak; dari laki-laki sampai perempuan. Orangnya cool dan luwes. Selama kerja disitu saya tinggal di gudang rumahnya di gang Tongkang. Karena yah memang daerah padat ya lumrah. Gak ada bantal gak ada kasur, prihatin banget tidur pun berbantalkan buku-buku saya. Pintu kamar gak pernah saya kunci biar angin masuk (karena panas banget dan gak punya kipas angin). Di Tongkaang inilah saya sering teriak-teriak baca puisi, cuman ya pernah dimarahin Ibu Mertuanya Pak Nurjaman. Rip, eling… Eling… Nyebut… Istighfar… Waduh, beliau ini gak tahu kalau seniman terkenal jaman sekarang dulu itu lulusan planet Senen yang kleleran dan menggelandang di situ. Contohnya yaitu Oma Irama, sang satria bergitar. Tapi saya baru menyadari ternyata yang ngefans dengan puisi saya lumaayan baanyak. Mereka adalah mbak-mbak yang kost depan rumah yang kerjanya di Ramayana Senen. Mereka pada baik banget suka ngasih makanan gorengan. Puncak prihatinnya tinggal di Tongkang Senen itu pas malam-malam kaki saya digigit tikus sampai berdarah di kamar saya. Tikusnya gedhe banget. Cuman saya gak marah aja, soalnya kehidupan kami gak jauh beda. Tikus-tikus itu teman pelipur lara. Mereka juga harus survive Bukan? Ya saya maafkan aja. Hehehe… Ampun dah, pokoknya jangan pernah ngalamin apa yang saya alamin deh. Semoga keluarga, dan anak keturunan saya dan seluruh rakyat Indonesia jangan sampai mengalami yang kayak saya alamin. Meskipun saya yakin masih banyak banget yang hidupnya sejuta lebih menderita dari saya. Contohnya Pak karim teman saya di Aceh. Demi kuliah di IAIN beliau ini ngajar ngaji. Makan pun setiap hari dengan ikan asin. Ikan asinnya gak dimakan tapi dibaui aja, untuk pelengkap nasi. Ikan asin dicium pakai hidung baru nasi dimakan. Dan ikan asin itu bisa bertahan seminggu.

Yang bikin saya ingat sampai sekarang adalah bayar kost Rp 200.000,- kadang saya gak punya uang. Lha waktu itu kalau Ibu Mertua Pak Nurjaman minta uang kost-an, biasanya Pak Nurjaman langsung ke gudang atas dan nanya saya. Udah bayar kost belum Rip? Belum Pak… Gak punya duit. Nah Pak Nurjaman itu langsung ngasih duit Rp 200.000,- dari dompetnya ke saya sambil bilang, Resek lu ahh… Ini bayarin ke emak. Jangan bilang uangnya dari gw’. Ini kejadian berkali-kali. Pak Nurjaman ini lah malaikat penolong saya pas merantau ke Jakarta. Kalau saya seharian gak nongol, biasanya Pak Nurjaman langsung ke atas dan nanya ke saya, ‘Udah makan belon lu?’ Belom Pak, gak punya duit. Langsung deh Bapak kita satu ini ngasih saya uang Rp 20.000,- buat makan. Tapi kalau Pak Nurjaman juga lagi gak punya uang, biasanya saya disuruh ngutang di warteg deket pos RW dan disuruh bilang, ‘Nanti pak wakil RW yang bayar’. Begitu lah story-nya. Saya merasa Pak Nurjaman itu seperti Bapak saya sendiri. Walaupun Pak Nurjaman santai dan lembut, tapi jangan salah, kalau lagi gak mood terus ada tukang petik/jambret habis ‘operasi’ dari jalan raya stasiun Senen, terus masuk gang tongkang dan biasanya merembes di gang-gang sempit di gubuk-gubuk di rel kereta api, terus biasanya ilang hingga bikin nama gang tongkang jelek, Pak Nurjaman pernah ambil celengkreng /garu/trisula panjang langsung dilempar ke penjambret itu, tembus sampek betis kakinya. Itulah cerita heroik bapak penolong kita satu ini. Tinggal disitu dari tahun 2000 sampai tahun 2004 membuat saya banyak tahu tentang kehidupan gelandangan, apalagi sejak saya kenal sesepuh gelandangan senen Bapak Indardjo. Orang yang tinggal digubuk-gubuk itu terkadang lucu, kalau bertengkar suami isteri; sang isteri kadang ada yang lari sambil bugil dan nyobek-nyobek akte nikah (surat kawin). Dah gitu nyesel, tapi dapet lagi surat kawin dari nikah massal, begitulah seterusnya, kadang program nikah massal bisa jadi orang-orangnya dari tahun ke tahun ya itu itu juga — orang-orang pemerintah mana tahu detail kayak gini? Hehehe…

Sebagai pendamping masyarakat istilah kerennya community worker atau facilitator atau community development worker kita punya relasi yang bagus dengan tokoh masyarakat seperti RW 03 Kramat Senen ada Pak Bambang, Ibu Tanjung dan 1 lagi saya lupa beliau adalah mantan petinju dan keamanan di pasar RW 03. Demikian juga para tokoh masyarakat di RW 08. Selama tinggal disitu, saya juga banyak mendapatkan teman dari Gang 21 seperti Novi Syaidah, Fiqih Ananta Toer Syadat, dan Si Julung serta Neneng dari RW 03. Pokoknya berkesan banget deh punya temen kayak mereka. Mereka ini bener-bener teman sejati banget. Cuma ya sayangnya, aqua gallon di koperasi sering cepet habis karena saya minum soalnya kalau laper cukup minum biasanya lapernya ilang lho. Ini pengalam pribadi. Hehehe…

Di Tongkang juga saya ketemu dengan DR Lea Jellinek dari Melbourne dan dia ngajarin saya penelitian kualitatif dengan teknik wawancara air mengalir. Si Julung waktu itu jadi uji cobanya. Gila banget interviewnya. Padahal mulanya cuman iseng. Lea nanya kamu sudah pernah lihat wawancara air mengalir. Belum, kata saya. Pingin lihat? Iya. Terus dipanggil lah si Julung diwawancarai. Si Julung ngaku sebagai musician padahal dia pengangguran. Makanya saya tahu, sehebatnya teknik wawancara kalau kita tidak tahu betul seluk beluk kehidupan mereka sehari-hari aslinya, mungkin kita banyak dikibulin juga gak tahu. Apalagi Lea orang bule. Hahaha…. Saya sih diam aja lihat si julung ngarang-ngarang gak jelas gitu.

Suatu ketika, gak ada ujan gak ada angin saya pingin sekolah S2 di Universitas Indonesia (UI) waktu itu Kajian Pengembangan Perkotaan (KPP) membuka pendaftaran untuk angkatan 3. Waktu itu saya pikir, keren juga kuliah disitu bermanfaat untuk karier ke depan. Alhamdulillah ikut test diterima. Ehhh pusing disuruh bayar uang masuk Rp 7.500.000, - plus uang administrasi jadi totalnya Rp 9.000.000,- uang dari mana coba? Waktu itu jurusan kesejahteraan sosial dan kajian wanita masih 3 jutaan dan kajian amerika kalau gak salah 5 jutaan. Akhirnya pinjem sana pinjem sini. Sedihnya, sampai ada tokoh masyarakat, Ibu-ibu yang memberikan akte tanahnya untuk dipinjamkan ke Bank sambil air matanya menetes karena pingin lihat saya melanjutkan S2 di UI. Tentu saja saya tolak secara halus. Jadi dari sini saya baru tahu, keberhasilan seorang fasilitator atau pendamping masyarakat itu gak harus muluk-muluk. Bisa berhubungan baik dan diterima masyarakat itu saja sudah bagus. Selanjutnya baru mengalir…

Lha pas deadline Alhamdulillah Pak Nurjaman bantu pinjam sana-sini dan akhirnya waktu itu hari Jum’at akhir tahun 2002, batas waktu - terakhir pembayaran, akhirnya saya bisa ke gedung pasca sarjana UI Salemba buat nyetor uang di bank BNI, sekaligus daftar ulang. Pas jam 3 sore tepat bank mau tutup saya leganya bukan main. Duduk di bawah pohon beringin saya lemes banget dan sudah gak kuat ngisi form. Soalnya mental saya kena, down saya, nyaris, rasanya seperti antara hidup-mati nyari uang segitu buat sekolah S2. Terus, saya bilang ke Pak Nurjaman, pak tolong diisiin pak, saya gak mampu lagi ngisi, tangan sama badan saya gemetaran semua gak kuat nulis. Dan saya pun menangis. Saya tidak malu, karena kadang seorang super hero pun bisa menangis, dan itu bukanlah sebuah dosa. Pak Nurjaman akhirnya ngisi, padahal beliau hanya tamatan SMA. Jadi form saya kuliah pertama S2 di KPP UI yang ngisi adalah Pak Nurjaman. Pak Nurjaman benar-benar orang yang baik hatinya minta ampun. Kata Pak Nurjaman, hidup di Jakarta itu yang penting nyali. Pak Nurjaman juga selalu mengingatkan kalau besok-besok sudah kerja dan stabil secara ekonomi diusahakan beli baju yang baru. katanya penampilan itu perlu. Masyarakat kita suka melihat dan menghargai seseorang seringkali hanya dari penampilan. Kalau baju kumal ya gak bakalan dihargai orang. Whatzzzz….??? Maksudnya saya kumal begitu? Keterlaluan banget Pak Nurjaman ini. Hya dhezagggggg….!!!!

Selama kuliah, saya tinggal di Majelis Taklim di Gang 21 RW 08. Saya boleh tinggal disitu - sambil ngajar bahasa inggris untuk anak-anak SD. Saya digaji semangkok Indomie dan es teh sama Fiqih - itupun kayaknya dia dapat uang dari kakaknya (Ria Kamei). Sekarang Ria menikah dengan orang Jepang dan tinggal di negeri Sakura. Selama kuliah prihatin banget. Pernah tidur di pinggir jalan depan gang Tanah Tinggi depan warung Mas Cirebon seberang stasiun Senen. Pernah makan sama-sama gelandangan walaupun sisa mereka. Gak peduli saya, yang penting saya hidup dan bisa survive. Dan ironisnya orang disana gak ada yang tahu kalau saya kuliah di S2 UI. Mereka tahunya saya kuli konveksi di pasar senen dan luntang lantung cari kerjaan di pasar poncol. Waktu kuliah bersyukur banget ada teman dari Batak, kerja di Dinas Tata Kota DKI namanya Bang Andor Siregar. Bang Andor ini hatinya seputih salju. Kalau iuran foto copy buku pelajaran bisa sampai ratusan ribu semua Bang Andor yang bayarin semuanya buat saya. Pernah hari Minggu, pernah saya gak punya uang, dia bela-belain dari rumahnya Meuruya ke kampus Salemba cuman buat ngasih saya uang buat makan. Gila betul nih hidup. Bener kata orang, Ibu kota lebih kejam daripada Ibu Tiri.

Karena hidup sudah terlanjur susah dan sudah kepalang tanggung. makanya untuk thesis saya ngambil penelitian tentang gelandangan di Senen. Gak tanggung-tanggung saya langsung minta pembimbing Professor Parsudi Suparlan, PhD dan Ibu Siti Oemijati Djajanegara, PhD. Komplit sudah pembimbingnya, yang pertama lulusan S2-S3 dari Amerika yang kedua lulusan S2-S3 dari Perancis. Kata orang sih dua-duanya ini manusia-manusia aneh yang susah ngelulusin mahasiswanya - bahkan ada yang gak sampek lulus, tapi saya gak peduli. Tanggung amat nyari dosen pembimbing. Sempat frustasi dibimbing Professor gelandangan ini saya menghadap dan bilang tidak jadi meneliti homeless people soalnya dimarahin mulu sama professornya sampe kenyang banget, di bilang sontoloyo lah, preman demak lah, mahasiswa goblok lah, etc. Tapi Prof Parsudi ini ternyata ada sisi-sisi lembutnya. Beliau bilang, sebagai seorang ilmuwan sosial itu ada dua hal yang harus dipegang. Pertam,a harus jujur. Yang kedua, pantang menyerah. Terus beliau bilang, apakah masih lanjut dengan penelitian gelandangan? Saya bilang, lanjut Prof! Ngomong-ngomong, waktu itu, saya adalah mahasiswa generasi 3 yang meneliti permasalahan orang gelandangan. Yang pertama adalah Prof parsudi Suparlan sendiri pada tahun 1960 an - generasi pertama. Yang kedua adalah Pak Haswinar Arifin, penelitian gelandangan tahun 1980 an - generasi kedua. Dan yang terakhir adalah saya, penelitian gelandangan tahun 2004 - generasi ketiga. Menariknya pas dibimbing Ibu Oemijati, siang saya dikoreksi-bimbingan, malam jam 9 saya sudah menyerahkan revisi saya. Begitu terus sampai pembantunya apal  dan bosen lihat muka saya. Ibu oemi bilang, anda ini lucu, kok begitu bersemangatnya, apakah tidak ada hari esok? Saya hanya diam tersenyum pahit, andaikan beliau tahu kondisi saya yang prihatin banget. Saksinya itu Mbak Rani Toersilaningsih dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI. Itu saksi hidupnya. Hehehe…

Kalau yang bimbingan dengan Prof Parsudi justru tidak ada masalah. Beliau selalu bilang ilmu ditemukan nanti di lapangan. Begitulah… Susahnya kuliah di UI. Tapi dikala kita lagi down, Bang Andor selalu bilang dan menyemangati saya, JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?Kata-kata Bang Andor inilah yang bikin saya semangat. Dan akhirnya, story ditutup dengan manis, saya bisa mendapatkan gelar Magister Sains Perkotaan (MSiP) dalam waktu 3 semester. Yang lucunya, pas sudah beberapa tahun, Bang Andor ketemu dan tanya ke saya, Arif kok dulu kau bisa lulus cepat begitu sedangkan Abang susah kali? Terus saya sambil nyengir kuda bilang, lho bukannya Abang yang ngasih mantera ke saya. Mantera apa? Katanya. Itu lho JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA? Yah apalagi niat kita juga baik kok, gak neko-neko untuk menuntut ilmu, bukankah Tuhan pasti bakalan kasih jalan? Bang Andor tertawa dan tak lama kemudian dia lulus dari Kajian pengembangan Perkotaan. Selamat dan sukses buat Bang Andor. Semoga Ahok mengangkat dia sebagai Kepala Dinas Sosial di Tata Kota DKI Jakarta. I highly recommend him for sureeeeeee…..

Singkat cerita akhirnya saya lulus. Sempet ngajar sebagai dosen tamu di S2 Arsitektur UI, S2 kajian Pengembangan Perkotaan UI, ngajar metode kualitatif di Prodip IV STKS Bandung dan Kemiskinan Perkotaan di program spesialis 1 nya STKS, terus ke Aceh ikut program Unicef dengan Departemen Sosial RI (waktu itu namanya belum Kementerian Sosial). Kaget karena diceritain gajinya sewaktu mendampingi anak korban tsunami gajinya Rp 900.000,- ternyata pas disana gajinya Rp 9.000.000,-. Yah berkah buat ngirim Ibu di Kampung, kakak-kakak dan menikah. Tuhan memang maha besar…. Jadi pingin nangis nih pas ngetik ini.

Seperti buku karangan Lea SEPERTI RODA BERPUTAR (the wheel of fortune),saya juga diterima di Departemen Sosial RI. Kemudian karena Tuhan kasihan sama saya dan dan Tuhan sudah bosan melihat kemalangan hidup saya, gak tahu gimana ceritanya tiba-tiba saya saya mendapat beasiswa ADS dan melanjutkan ke University of New England – Armidale – Australia di bidang Women’s and Gender Studies. Kemudian melanjutkan lagi ke Charles Sturt University untuk mendalami tentang Social Work. Itulah cerita singkat saya. Lucunya, pas pamitan ke Ibu-Ibu di Kramat Senen - kata-kata dari para Ibu-Ibu selalu tetap sama. Sudah deh jangan sekolah lagi. Nanti ente kelaparan lagi lho, disana jauh, gak ada kita-kita. Nanti kalau kelaparan lagi gimane? Saya hanya senyum-senyum saja pas pamitan. Satu yang saya pelajari di sini adalah  masalah seberat apapun akan terselesaikan kalau kita ngomong. Kedua, kalau niat kita tulus gak macem-macem, pasti Tuhan akan mengabulkan permintaan kita. Ketiga, seperti kata Bang Andor, JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?

Pengalam saya ketika tinggal menggelandang di Senen inilah yang menginspirasi saya menulis gagasan tentang Program Desaku Menanti. Awalnya Mas Doso dan Mbak Siti dari Sekretariat Dirjen Pelayanan dan rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI, setengah bercanda mendorong saya untuk menulis program untuk Pak Menteri sebagai wujud kontribusi. Bisa gak kamu nulis program buat ngamanin Pak Menteri? OK saya bikin. Tapi program penanganan gelandangan itu gak cukup 3 bulan, bisa bertahun-tahun karena harus komprehensif dan berkelanjutan, kalau tidak mereka bakalan kembali turun ke jalan. Akhirnya saya bikin. Dalam suatu meeting waktu itu saya diketawain orang banyak karena filosofi dan pendekatannya yang agak beda dan waktunya yang relatif panjang. Saya bilang pendekatannya haarus multi years karena menanganai orang gelandangan tidak mudah dan membutuhkan koordinasi dan kerjasama yang luar biasa dari pemerintah pusat dan daerah. Tentu saja hal ini beda dengan program-program sebelumnya yang memaksakan semua tahapan harus selesai dalam setahun – program instan - mana kadang anggaran seringkali telat turunnya dan turun di pertengahan tahun.

Walaupun banyak diketawain waktu itu, well actually I don’t care….. Program itu saya tulis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya, jadi tentu saja akan beda. Mereka yang mentertawakan itu kan sebenarnya anak-anak orang kaya yang hidupnya tidak pernah menderita. Mana tahu dia kehidupan orang susah. Seperti kata Bapak Makmur Sunusi, PhD salah satu orang terdekat saya dan saya kagumi. Banyak program yang dibuat copy paste dan pakai ilmu kira-kira. Baru bangun tidur langsung dapat ilham…. Hahaha…. +&^$£”£$£$$£_)*saya langsung ngakak pas denger Pak Makmur ngomong seperti itu. Sayang beliau sekarang sudah pensiun dari Kementerian Sosial. Beliau adalah orang hebat di bidang kesejahteraan sosial. Beliau selalu mengatakan program yang baik harus research-based. Dan inilah kelemahan di Kementeriann Sosial selama ini, antara research dan program sering gak nyambung. Itulah sejarah asal usul Program Desaku Menanti. Untuk rinci mengenai Program Desaku Menanti dapat di download di sini….. Download Here

Berikut adalah beberapa link berita dari Program Desaku Menanti :

Update tentang Pak Nurjaman, sekali waktu beliau ternyata sudah jadi Ketua RW 01 di Kramat Senen selama 2-3 periode. Keren bukan? Pas malam-malam saya datang buat nongkrong di pos RW ternyata lagi rame orang kelahi. Yah masalah muda-mudi. Mereka sama-sama dari Tegal. Di Tegal sana kampung mereka beda dan memang suka berantem. Lha suatu ketika adik ceweknya diajak malam mingguan sampai pulang pagi, kakaknya gak diterima langsung dipukulin tuh cowok, keluarganya gak terima dan ribut – sentimen kampung ikut akhirnya jadi bentrokan antar kampung Tegal di Jakarta. Mumet kan. Terus saya bilang, ada apa pak? Ini, pusing saya. Dari tadi Maghrib gak kelar-kelar urusannya soalnya pada bawa aparat. Terus Pak Nurjaman berdiri dan bilang, Saya kasih waktu ½ jam persoalan harus selesai. saya gak maau tahu. Sudah gitu dia tendang itu meja sampai mumbul – mencelat beberapa tombak. Persis kayak dalam adegan filmnya Tian Long Babu pas Xiao Feng marah dan mengeluarkan ilmu 18 Jurus Penakluk Naga. Semua orang langsung diam dan tidak berapa lama masalah selesai dan mereka berdamai. FYI Pak Nurjaman bahkan sempet kuliah kesejahteraan social di STISIP WIDURI tapi tinggal Skripsi tidak dilanjutin karena anak-anaknya sudah menginjak SMA dan masuk perguruan tinggi juga. Ya Tuhan…. Andai saya punya uang mungkin sudah saya bayari itu SPP Pak Nurjaman di STISIP WIDURI Jakarta. Menariknya hubungan baik kami terus berlanjut bahkan pas saya research di Kampung Kusta Sitanala beliau ini sempet-sempetnya nemanin saya naik busway dari Senen ke Tangerang untuk nyari kost2an buat saya. O, Lord… Lucunya Pak Nurjaman cerita kalau ada orang dari LSM atau proyek P2KP yang datang ke Gang Tongkang atau RW 01 Kramat Senen, Pak Nurjaman selalu bilang, ‘Kenal Arip gak?’ Dia dulu disini lama. Terus saya bilang, ‘Ya gak kenal lah Pak, emangnya saya siapa….’. Sekarang selalu terngiang-ngiang gaya khas omongan Pak Nurjaman. La khau la aja lah Rip… Resek lu Ahhhh…. Tuhan, berikanlah keberkahan bagi Bapak satu ini. Amien……. 

Link berita tentang pak Nurjaman dapat dilihat di sini:

Semoga cerita saya ini bermanfaat bagi kita semua. Tulisan ini hanya refleksi iseng jangan diambil serius. Tetapi jujur, sumpah saya seneng banget program ini akhirnya berani dilaunching tanpa malu-malu kucing lagi. Dulu saya masih ingat, katanya dananya gak ada, tapi akhirnya setelah menunggu 4-5 tahun Program Desaku Menanti bisa terlaksana. Yah better late than never lah… Itu kan harusnya untuk tahun 2009, yahh cuman gak laku aja waktu itu. Gak direspon maksudnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga program ini berjalan dengan lancar, dan tugas semua masyarakat lah mengawasi pelaksanaan dan keberlanjutannya. Sebagai penutup saya kutip motto kampus saya dulu di armidale. EX SAPIENTA MODUS (OUT OF WISDOM COMES MODERATION). Salam dari mahasiswa gelandangan….. JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?






Wagga Wagga, 3 December 2014