Wednesday, 3 December 2014

JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA? -------------------- SEKELUMIT KISAH DI BALIK PROGRAM DESAKU MENANTI

Jika Tuhan Bersama Kita - Siapa Lagi yang Mampu Menghalangi Kita?
Sekelumit Kisah di Balik Program Desaku Menanti




Jalan Tongkang Kramat Senen



Hari ini saya gembira bukan main. Iseng-iseng buka internet tentang gelandangan di perkotaan, saya menemukan banyak berita dan artikel tentang Program Desaku Menanti. Angan saya langsung terbang ke tahun 2009, ketika Bapak Salim Segaff Al Jufrie dilantik menjadi Menteri Sosial Republik Indonesia oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang waktu itu menjabat sebagai Presiden RI. Waktu itu memang banyak orang yang terkaget-kaget karena dalam 100 hari pertama kinerjanya Pak Menteri Sosial mentargetkan Indonesia bebas gelandangan, pengemis dan anak jalanan dalam tempo 3 bulan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan adalah masalah sosial yang notabene inti kemiskinan di perkotaan dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jika memberdayakan orang miskin aja susahnya setengah mati, lalu bagaimana dengan gelandangan yang disebut kelompok termiskin dari orang miskin yang hidup di kota.

Saya mulai menekuni masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan sejak sekolah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Waktu itu, saya diajak teman saya untuk ikut seleksi jadi relawan di Yayasan Ar Rufi’ yang menangani anak jalanan di bandung. Nama teman saya itu kalau gak salah Natsir Sinambela dan Adi Apriyan. Saya waktu itu ogah-ogahan karena sebenarnya gak punya ongkos buat naik angkot ke Riung Bandung yang jaraknya lumayan jauh dari Dago. Tapi karena saya dibayarin, ya akhirnya ikutan. Uniknya, dua teman saya ini justru gak diterima, yang diterima justru saya.

Pada waktu itu yang nge-test saya adalah Kang Cahyo. Senior saya ini orangnya keren, tampan dan elegan. Tapi saya gak tahu sekarang orangnya ada dimana. Sudah putus kontak/hubungan sejak saya merantau ke Senen, Jakarta. Pas di-test saya ditanya kalau diterima saya akan melakukan apa untuk Ar Rufi’ dan anak jalanan di Bandung? Saya jawab, ya namanya mahasiswa ya belum berpengalaman, tapi secara konseptual masih seger. Jadi ya saya akan coba praktik ilmu pekerjaan sosial dari mulai engagement, intake, contract, needs assesment, intervention dan monitoring and evaluation (sampai apal banget saya waktu itu). Kang Cahyo ini langsung senyum-senyum misterius dan bikin deg-degan. Ehhh tahu-tahu saya diterima. Pas itulah saya kenal dan mulai akrab dengan Teh Herti Fendiana. Teh Herti inilah yang nanti mengajarkan saya bagaimana mengetik pakai komputer. Katanya saya harus bisa ngetik pakai computer karena penting untuk bikin skripsi atau karya ilmiah (padahal waktu itu masih banyak yang pakai mesin ketik). Teh Herti ini orangnya memang luar biasa, karena isi pembicaraannya tak jauh dari Al Qur’an, Hadits, dan bagaimana menjadi muslim yang baik (ilmunya sudah tinggi banget memang), plus bagaimana menjadi wanita yang mandiri. Oh ya, eman saya si Natsir Sinambela itu akhirnya sekarang jadi Boss di DKT dan si Adi Apriyan jadi pegawai di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Balik Papan.

Yayasan Ar Rufi’ menurut saya organisasi sosial yang keren abis, karena idealismenya yang luar biasa. Hampir semua pengurusnya adalah alumni Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ihsan STKS Bandung di Dago. Di sanalah saya ketemu sohib alias teman sejati namanya Wiluk. Mbak Wiluk ini asli Malang, penampilannya apa adanya, dan kelebihannya yaitu dia suka main gitar. Petikan gitarnya mendayu-dayu dan bisa bikin perut langsung lapar. Kehebatan yang kedua yaitu dia itu seorang pendengar yang baik. Orangnya sabar banget dan gila banget mau mendengarkan keluh kesah saya yang tidak jauh dari kiriman uang dari kampung yang minim dan itu pun sering telat. Kelebihan Wiluk yang terakhir yaitu suka ngasih saya makan. Ya maklum lah namanya juga membantu sesama mahasiswa. Tapi kalau saya makan di tempat dia memang keseringan sih. Sebenarnya malu juga, tapi bagaimana? Daripada mati kelaparan di dago udah jauh-jauh datang dari demak kan ironis banget. Belum lagi pasti bakalan dimuat harian pikiran rakyat yang legend di bandung itu. Waduhhhh… Amit-amit dehhh…

Kerja di Ar Rufi’ itu memang total, sering kita lembur karena bantu-bantu bikin laporan dan persiapan kegiatan kalau ada orang-orang atau tamu yang datang meninjau. Belum lagi kalau harus pendampingan di Pasir Kaliki, hujan badai pun dilalui. Masak anak kecil aja pada hujan-hujanan nyari uang buat bantu emaknya, kita asyik berteduh kan gak lucu. Pokoknya sering basah kuyup dan nyampai kost-kostan langsung teler. Istilahnya baju basah kering di jalan (akibatnya ya masuk angin). Lucunya (mungkin ini kritik buat pemerintah waktu itu), pas ada program makanan tambahan, anak-anak yang kita dampingi makannya enak banget seperti ayam, daging, minimal telor, sedangkan relawan pekerja sosial makan sama tempe dan sayur tahu. Ironis memang. Tapi bukankah kerja jadi pekerja sosial/social worker memang utamanya adalah keterpanggilan jiwa? Jadi ya gak masalah. Belum lagi kalau piket malam anak jalanan pada kelahi, bawa pisau, bawa apaan itu garpu yang ditekuk untuk digenggam buat nonjok pas kelahi. Belum lagi yang ngelem pakai aibon. Waduhhh… Pokoknya horror banget lah. Belum lagi mereka yang berusia diatas 21 tahun ngaku anak jalanan dan nantang kelahi karena gak dapat bantuan ini itu. Saya sampai dikerubutin mereka. Tapi akhirnya setelah saya kasih penjelasan, kita semua malah jadi teman akrab dan saya sering diajak main ke rumahnya. Gila, sekampung pada turun ke jalanan saking miskinnya. Oh ya, bantuan untuk anak jalanannya memang keren-keren; seperti kursus nyetir (saya aja gak bisa), kursus bahasa inggris - saya aja sampek ngiler lihatnya - padahal gara-gara pingin bisa bahasa inggris dibela-belain setiap sabtu minggu ke BIP (Bandung Indah Plaza) di Gramedianya buat baca-baca buku bahasa Inggrisnya, dari itu toko buku buka, sampai tutup friend…. Kaki pada pegal-pegal semua (berdiri soalnya). Untung lah kuda-kuda saya lumayan kuat jadi ya dinikmati aja (ya sekali-sekali jongkok sih ngilangin pegel).

Itu adalah sedikit cerita kenapa saya mengenal dunia anak jalanan dan gelandangan serta pengemis di Bandung. Yayasan Ar Rufi’ sendiri entah kenapa, entah pecah atau bubar saya kurang tahu. Tapi yang pasti, ini lembaga tempat diri saya dibentuk dan ditempa di lapangan. Pas saya sudah lulus kuliah tahun 2000, saya diajak dosen saya Pak Bambang Rustanto dan Ibu Tuti Kartika ke Jakarta untuk ikut Program Ford Foundation dalam penanganan masyarakat miskin di perkotaan di 5 wilayah DKI Jakarta. Saya kebetulan dikenalkan dengan koordinator wilayah Bapak Nurjaman. Pak Nurjaman ini orangnya keren banget. Dia itu masih muda sudah jadi wakil RW di Tongkang - Kembang Sepatu dan sekitarnya. Sejak berkenalan dengan pak Nurjaman ini wawasan saya jadi terbuka. Ilmu yang saya peroleh di STKS - bangku kuliah kayaknya gak ada apa-apanya. Pak Nurjaman ini bisa berhubungan baik – merakyat, dari masyarakat dengan status sosial atas sampai status social paling bawah; dari orang tua sampai anak-anak; dari laki-laki sampai perempuan. Orangnya cool dan luwes. Selama kerja disitu saya tinggal di gudang rumahnya di gang Tongkang. Karena yah memang daerah padat ya lumrah. Gak ada bantal gak ada kasur, prihatin banget tidur pun berbantalkan buku-buku saya. Pintu kamar gak pernah saya kunci biar angin masuk (karena panas banget dan gak punya kipas angin). Di Tongkaang inilah saya sering teriak-teriak baca puisi, cuman ya pernah dimarahin Ibu Mertuanya Pak Nurjaman. Rip, eling… Eling… Nyebut… Istighfar… Waduh, beliau ini gak tahu kalau seniman terkenal jaman sekarang dulu itu lulusan planet Senen yang kleleran dan menggelandang di situ. Contohnya yaitu Oma Irama, sang satria bergitar. Tapi saya baru menyadari ternyata yang ngefans dengan puisi saya lumaayan baanyak. Mereka adalah mbak-mbak yang kost depan rumah yang kerjanya di Ramayana Senen. Mereka pada baik banget suka ngasih makanan gorengan. Puncak prihatinnya tinggal di Tongkang Senen itu pas malam-malam kaki saya digigit tikus sampai berdarah di kamar saya. Tikusnya gedhe banget. Cuman saya gak marah aja, soalnya kehidupan kami gak jauh beda. Tikus-tikus itu teman pelipur lara. Mereka juga harus survive Bukan? Ya saya maafkan aja. Hehehe… Ampun dah, pokoknya jangan pernah ngalamin apa yang saya alamin deh. Semoga keluarga, dan anak keturunan saya dan seluruh rakyat Indonesia jangan sampai mengalami yang kayak saya alamin. Meskipun saya yakin masih banyak banget yang hidupnya sejuta lebih menderita dari saya. Contohnya Pak karim teman saya di Aceh. Demi kuliah di IAIN beliau ini ngajar ngaji. Makan pun setiap hari dengan ikan asin. Ikan asinnya gak dimakan tapi dibaui aja, untuk pelengkap nasi. Ikan asin dicium pakai hidung baru nasi dimakan. Dan ikan asin itu bisa bertahan seminggu.

Yang bikin saya ingat sampai sekarang adalah bayar kost Rp 200.000,- kadang saya gak punya uang. Lha waktu itu kalau Ibu Mertua Pak Nurjaman minta uang kost-an, biasanya Pak Nurjaman langsung ke gudang atas dan nanya saya. Udah bayar kost belum Rip? Belum Pak… Gak punya duit. Nah Pak Nurjaman itu langsung ngasih duit Rp 200.000,- dari dompetnya ke saya sambil bilang, Resek lu ahh… Ini bayarin ke emak. Jangan bilang uangnya dari gw’. Ini kejadian berkali-kali. Pak Nurjaman ini lah malaikat penolong saya pas merantau ke Jakarta. Kalau saya seharian gak nongol, biasanya Pak Nurjaman langsung ke atas dan nanya ke saya, ‘Udah makan belon lu?’ Belom Pak, gak punya duit. Langsung deh Bapak kita satu ini ngasih saya uang Rp 20.000,- buat makan. Tapi kalau Pak Nurjaman juga lagi gak punya uang, biasanya saya disuruh ngutang di warteg deket pos RW dan disuruh bilang, ‘Nanti pak wakil RW yang bayar’. Begitu lah story-nya. Saya merasa Pak Nurjaman itu seperti Bapak saya sendiri. Walaupun Pak Nurjaman santai dan lembut, tapi jangan salah, kalau lagi gak mood terus ada tukang petik/jambret habis ‘operasi’ dari jalan raya stasiun Senen, terus masuk gang tongkang dan biasanya merembes di gang-gang sempit di gubuk-gubuk di rel kereta api, terus biasanya ilang hingga bikin nama gang tongkang jelek, Pak Nurjaman pernah ambil celengkreng /garu/trisula panjang langsung dilempar ke penjambret itu, tembus sampek betis kakinya. Itulah cerita heroik bapak penolong kita satu ini. Tinggal disitu dari tahun 2000 sampai tahun 2004 membuat saya banyak tahu tentang kehidupan gelandangan, apalagi sejak saya kenal sesepuh gelandangan senen Bapak Indardjo. Orang yang tinggal digubuk-gubuk itu terkadang lucu, kalau bertengkar suami isteri; sang isteri kadang ada yang lari sambil bugil dan nyobek-nyobek akte nikah (surat kawin). Dah gitu nyesel, tapi dapet lagi surat kawin dari nikah massal, begitulah seterusnya, kadang program nikah massal bisa jadi orang-orangnya dari tahun ke tahun ya itu itu juga — orang-orang pemerintah mana tahu detail kayak gini? Hehehe…

Sebagai pendamping masyarakat istilah kerennya community worker atau facilitator atau community development worker kita punya relasi yang bagus dengan tokoh masyarakat seperti RW 03 Kramat Senen ada Pak Bambang, Ibu Tanjung dan 1 lagi saya lupa beliau adalah mantan petinju dan keamanan di pasar RW 03. Demikian juga para tokoh masyarakat di RW 08. Selama tinggal disitu, saya juga banyak mendapatkan teman dari Gang 21 seperti Novi Syaidah, Fiqih Ananta Toer Syadat, dan Si Julung serta Neneng dari RW 03. Pokoknya berkesan banget deh punya temen kayak mereka. Mereka ini bener-bener teman sejati banget. Cuma ya sayangnya, aqua gallon di koperasi sering cepet habis karena saya minum soalnya kalau laper cukup minum biasanya lapernya ilang lho. Ini pengalam pribadi. Hehehe…

Di Tongkang juga saya ketemu dengan DR Lea Jellinek dari Melbourne dan dia ngajarin saya penelitian kualitatif dengan teknik wawancara air mengalir. Si Julung waktu itu jadi uji cobanya. Gila banget interviewnya. Padahal mulanya cuman iseng. Lea nanya kamu sudah pernah lihat wawancara air mengalir. Belum, kata saya. Pingin lihat? Iya. Terus dipanggil lah si Julung diwawancarai. Si Julung ngaku sebagai musician padahal dia pengangguran. Makanya saya tahu, sehebatnya teknik wawancara kalau kita tidak tahu betul seluk beluk kehidupan mereka sehari-hari aslinya, mungkin kita banyak dikibulin juga gak tahu. Apalagi Lea orang bule. Hahaha…. Saya sih diam aja lihat si julung ngarang-ngarang gak jelas gitu.

Suatu ketika, gak ada ujan gak ada angin saya pingin sekolah S2 di Universitas Indonesia (UI) waktu itu Kajian Pengembangan Perkotaan (KPP) membuka pendaftaran untuk angkatan 3. Waktu itu saya pikir, keren juga kuliah disitu bermanfaat untuk karier ke depan. Alhamdulillah ikut test diterima. Ehhh pusing disuruh bayar uang masuk Rp 7.500.000, - plus uang administrasi jadi totalnya Rp 9.000.000,- uang dari mana coba? Waktu itu jurusan kesejahteraan sosial dan kajian wanita masih 3 jutaan dan kajian amerika kalau gak salah 5 jutaan. Akhirnya pinjem sana pinjem sini. Sedihnya, sampai ada tokoh masyarakat, Ibu-ibu yang memberikan akte tanahnya untuk dipinjamkan ke Bank sambil air matanya menetes karena pingin lihat saya melanjutkan S2 di UI. Tentu saja saya tolak secara halus. Jadi dari sini saya baru tahu, keberhasilan seorang fasilitator atau pendamping masyarakat itu gak harus muluk-muluk. Bisa berhubungan baik dan diterima masyarakat itu saja sudah bagus. Selanjutnya baru mengalir…

Lha pas deadline Alhamdulillah Pak Nurjaman bantu pinjam sana-sini dan akhirnya waktu itu hari Jum’at akhir tahun 2002, batas waktu - terakhir pembayaran, akhirnya saya bisa ke gedung pasca sarjana UI Salemba buat nyetor uang di bank BNI, sekaligus daftar ulang. Pas jam 3 sore tepat bank mau tutup saya leganya bukan main. Duduk di bawah pohon beringin saya lemes banget dan sudah gak kuat ngisi form. Soalnya mental saya kena, down saya, nyaris, rasanya seperti antara hidup-mati nyari uang segitu buat sekolah S2. Terus, saya bilang ke Pak Nurjaman, pak tolong diisiin pak, saya gak mampu lagi ngisi, tangan sama badan saya gemetaran semua gak kuat nulis. Dan saya pun menangis. Saya tidak malu, karena kadang seorang super hero pun bisa menangis, dan itu bukanlah sebuah dosa. Pak Nurjaman akhirnya ngisi, padahal beliau hanya tamatan SMA. Jadi form saya kuliah pertama S2 di KPP UI yang ngisi adalah Pak Nurjaman. Pak Nurjaman benar-benar orang yang baik hatinya minta ampun. Kata Pak Nurjaman, hidup di Jakarta itu yang penting nyali. Pak Nurjaman juga selalu mengingatkan kalau besok-besok sudah kerja dan stabil secara ekonomi diusahakan beli baju yang baru. katanya penampilan itu perlu. Masyarakat kita suka melihat dan menghargai seseorang seringkali hanya dari penampilan. Kalau baju kumal ya gak bakalan dihargai orang. Whatzzzz….??? Maksudnya saya kumal begitu? Keterlaluan banget Pak Nurjaman ini. Hya dhezagggggg….!!!!

Selama kuliah, saya tinggal di Majelis Taklim di Gang 21 RW 08. Saya boleh tinggal disitu - sambil ngajar bahasa inggris untuk anak-anak SD. Saya digaji semangkok Indomie dan es teh sama Fiqih - itupun kayaknya dia dapat uang dari kakaknya (Ria Kamei). Sekarang Ria menikah dengan orang Jepang dan tinggal di negeri Sakura. Selama kuliah prihatin banget. Pernah tidur di pinggir jalan depan gang Tanah Tinggi depan warung Mas Cirebon seberang stasiun Senen. Pernah makan sama-sama gelandangan walaupun sisa mereka. Gak peduli saya, yang penting saya hidup dan bisa survive. Dan ironisnya orang disana gak ada yang tahu kalau saya kuliah di S2 UI. Mereka tahunya saya kuli konveksi di pasar senen dan luntang lantung cari kerjaan di pasar poncol. Waktu kuliah bersyukur banget ada teman dari Batak, kerja di Dinas Tata Kota DKI namanya Bang Andor Siregar. Bang Andor ini hatinya seputih salju. Kalau iuran foto copy buku pelajaran bisa sampai ratusan ribu semua Bang Andor yang bayarin semuanya buat saya. Pernah hari Minggu, pernah saya gak punya uang, dia bela-belain dari rumahnya Meuruya ke kampus Salemba cuman buat ngasih saya uang buat makan. Gila betul nih hidup. Bener kata orang, Ibu kota lebih kejam daripada Ibu Tiri.

Karena hidup sudah terlanjur susah dan sudah kepalang tanggung. makanya untuk thesis saya ngambil penelitian tentang gelandangan di Senen. Gak tanggung-tanggung saya langsung minta pembimbing Professor Parsudi Suparlan, PhD dan Ibu Siti Oemijati Djajanegara, PhD. Komplit sudah pembimbingnya, yang pertama lulusan S2-S3 dari Amerika yang kedua lulusan S2-S3 dari Perancis. Kata orang sih dua-duanya ini manusia-manusia aneh yang susah ngelulusin mahasiswanya - bahkan ada yang gak sampek lulus, tapi saya gak peduli. Tanggung amat nyari dosen pembimbing. Sempat frustasi dibimbing Professor gelandangan ini saya menghadap dan bilang tidak jadi meneliti homeless people soalnya dimarahin mulu sama professornya sampe kenyang banget, di bilang sontoloyo lah, preman demak lah, mahasiswa goblok lah, etc. Tapi Prof Parsudi ini ternyata ada sisi-sisi lembutnya. Beliau bilang, sebagai seorang ilmuwan sosial itu ada dua hal yang harus dipegang. Pertam,a harus jujur. Yang kedua, pantang menyerah. Terus beliau bilang, apakah masih lanjut dengan penelitian gelandangan? Saya bilang, lanjut Prof! Ngomong-ngomong, waktu itu, saya adalah mahasiswa generasi 3 yang meneliti permasalahan orang gelandangan. Yang pertama adalah Prof parsudi Suparlan sendiri pada tahun 1960 an - generasi pertama. Yang kedua adalah Pak Haswinar Arifin, penelitian gelandangan tahun 1980 an - generasi kedua. Dan yang terakhir adalah saya, penelitian gelandangan tahun 2004 - generasi ketiga. Menariknya pas dibimbing Ibu Oemijati, siang saya dikoreksi-bimbingan, malam jam 9 saya sudah menyerahkan revisi saya. Begitu terus sampai pembantunya apal  dan bosen lihat muka saya. Ibu oemi bilang, anda ini lucu, kok begitu bersemangatnya, apakah tidak ada hari esok? Saya hanya diam tersenyum pahit, andaikan beliau tahu kondisi saya yang prihatin banget. Saksinya itu Mbak Rani Toersilaningsih dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI. Itu saksi hidupnya. Hehehe…

Kalau yang bimbingan dengan Prof Parsudi justru tidak ada masalah. Beliau selalu bilang ilmu ditemukan nanti di lapangan. Begitulah… Susahnya kuliah di UI. Tapi dikala kita lagi down, Bang Andor selalu bilang dan menyemangati saya, JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?Kata-kata Bang Andor inilah yang bikin saya semangat. Dan akhirnya, story ditutup dengan manis, saya bisa mendapatkan gelar Magister Sains Perkotaan (MSiP) dalam waktu 3 semester. Yang lucunya, pas sudah beberapa tahun, Bang Andor ketemu dan tanya ke saya, Arif kok dulu kau bisa lulus cepat begitu sedangkan Abang susah kali? Terus saya sambil nyengir kuda bilang, lho bukannya Abang yang ngasih mantera ke saya. Mantera apa? Katanya. Itu lho JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA? Yah apalagi niat kita juga baik kok, gak neko-neko untuk menuntut ilmu, bukankah Tuhan pasti bakalan kasih jalan? Bang Andor tertawa dan tak lama kemudian dia lulus dari Kajian pengembangan Perkotaan. Selamat dan sukses buat Bang Andor. Semoga Ahok mengangkat dia sebagai Kepala Dinas Sosial di Tata Kota DKI Jakarta. I highly recommend him for sureeeeeee…..

Singkat cerita akhirnya saya lulus. Sempet ngajar sebagai dosen tamu di S2 Arsitektur UI, S2 kajian Pengembangan Perkotaan UI, ngajar metode kualitatif di Prodip IV STKS Bandung dan Kemiskinan Perkotaan di program spesialis 1 nya STKS, terus ke Aceh ikut program Unicef dengan Departemen Sosial RI (waktu itu namanya belum Kementerian Sosial). Kaget karena diceritain gajinya sewaktu mendampingi anak korban tsunami gajinya Rp 900.000,- ternyata pas disana gajinya Rp 9.000.000,-. Yah berkah buat ngirim Ibu di Kampung, kakak-kakak dan menikah. Tuhan memang maha besar…. Jadi pingin nangis nih pas ngetik ini.

Seperti buku karangan Lea SEPERTI RODA BERPUTAR (the wheel of fortune),saya juga diterima di Departemen Sosial RI. Kemudian karena Tuhan kasihan sama saya dan dan Tuhan sudah bosan melihat kemalangan hidup saya, gak tahu gimana ceritanya tiba-tiba saya saya mendapat beasiswa ADS dan melanjutkan ke University of New England – Armidale – Australia di bidang Women’s and Gender Studies. Kemudian melanjutkan lagi ke Charles Sturt University untuk mendalami tentang Social Work. Itulah cerita singkat saya. Lucunya, pas pamitan ke Ibu-Ibu di Kramat Senen - kata-kata dari para Ibu-Ibu selalu tetap sama. Sudah deh jangan sekolah lagi. Nanti ente kelaparan lagi lho, disana jauh, gak ada kita-kita. Nanti kalau kelaparan lagi gimane? Saya hanya senyum-senyum saja pas pamitan. Satu yang saya pelajari di sini adalah  masalah seberat apapun akan terselesaikan kalau kita ngomong. Kedua, kalau niat kita tulus gak macem-macem, pasti Tuhan akan mengabulkan permintaan kita. Ketiga, seperti kata Bang Andor, JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?

Pengalam saya ketika tinggal menggelandang di Senen inilah yang menginspirasi saya menulis gagasan tentang Program Desaku Menanti. Awalnya Mas Doso dan Mbak Siti dari Sekretariat Dirjen Pelayanan dan rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI, setengah bercanda mendorong saya untuk menulis program untuk Pak Menteri sebagai wujud kontribusi. Bisa gak kamu nulis program buat ngamanin Pak Menteri? OK saya bikin. Tapi program penanganan gelandangan itu gak cukup 3 bulan, bisa bertahun-tahun karena harus komprehensif dan berkelanjutan, kalau tidak mereka bakalan kembali turun ke jalan. Akhirnya saya bikin. Dalam suatu meeting waktu itu saya diketawain orang banyak karena filosofi dan pendekatannya yang agak beda dan waktunya yang relatif panjang. Saya bilang pendekatannya haarus multi years karena menanganai orang gelandangan tidak mudah dan membutuhkan koordinasi dan kerjasama yang luar biasa dari pemerintah pusat dan daerah. Tentu saja hal ini beda dengan program-program sebelumnya yang memaksakan semua tahapan harus selesai dalam setahun – program instan - mana kadang anggaran seringkali telat turunnya dan turun di pertengahan tahun.

Walaupun banyak diketawain waktu itu, well actually I don’t care….. Program itu saya tulis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya, jadi tentu saja akan beda. Mereka yang mentertawakan itu kan sebenarnya anak-anak orang kaya yang hidupnya tidak pernah menderita. Mana tahu dia kehidupan orang susah. Seperti kata Bapak Makmur Sunusi, PhD salah satu orang terdekat saya dan saya kagumi. Banyak program yang dibuat copy paste dan pakai ilmu kira-kira. Baru bangun tidur langsung dapat ilham…. Hahaha…. +&^$£”£$£$$£_)*saya langsung ngakak pas denger Pak Makmur ngomong seperti itu. Sayang beliau sekarang sudah pensiun dari Kementerian Sosial. Beliau adalah orang hebat di bidang kesejahteraan sosial. Beliau selalu mengatakan program yang baik harus research-based. Dan inilah kelemahan di Kementeriann Sosial selama ini, antara research dan program sering gak nyambung. Itulah sejarah asal usul Program Desaku Menanti. Untuk rinci mengenai Program Desaku Menanti dapat di download di sini….. Download Here

Berikut adalah beberapa link berita dari Program Desaku Menanti :

Update tentang Pak Nurjaman, sekali waktu beliau ternyata sudah jadi Ketua RW 01 di Kramat Senen selama 2-3 periode. Keren bukan? Pas malam-malam saya datang buat nongkrong di pos RW ternyata lagi rame orang kelahi. Yah masalah muda-mudi. Mereka sama-sama dari Tegal. Di Tegal sana kampung mereka beda dan memang suka berantem. Lha suatu ketika adik ceweknya diajak malam mingguan sampai pulang pagi, kakaknya gak diterima langsung dipukulin tuh cowok, keluarganya gak terima dan ribut – sentimen kampung ikut akhirnya jadi bentrokan antar kampung Tegal di Jakarta. Mumet kan. Terus saya bilang, ada apa pak? Ini, pusing saya. Dari tadi Maghrib gak kelar-kelar urusannya soalnya pada bawa aparat. Terus Pak Nurjaman berdiri dan bilang, Saya kasih waktu ½ jam persoalan harus selesai. saya gak maau tahu. Sudah gitu dia tendang itu meja sampai mumbul – mencelat beberapa tombak. Persis kayak dalam adegan filmnya Tian Long Babu pas Xiao Feng marah dan mengeluarkan ilmu 18 Jurus Penakluk Naga. Semua orang langsung diam dan tidak berapa lama masalah selesai dan mereka berdamai. FYI Pak Nurjaman bahkan sempet kuliah kesejahteraan social di STISIP WIDURI tapi tinggal Skripsi tidak dilanjutin karena anak-anaknya sudah menginjak SMA dan masuk perguruan tinggi juga. Ya Tuhan…. Andai saya punya uang mungkin sudah saya bayari itu SPP Pak Nurjaman di STISIP WIDURI Jakarta. Menariknya hubungan baik kami terus berlanjut bahkan pas saya research di Kampung Kusta Sitanala beliau ini sempet-sempetnya nemanin saya naik busway dari Senen ke Tangerang untuk nyari kost2an buat saya. O, Lord… Lucunya Pak Nurjaman cerita kalau ada orang dari LSM atau proyek P2KP yang datang ke Gang Tongkang atau RW 01 Kramat Senen, Pak Nurjaman selalu bilang, ‘Kenal Arip gak?’ Dia dulu disini lama. Terus saya bilang, ‘Ya gak kenal lah Pak, emangnya saya siapa….’. Sekarang selalu terngiang-ngiang gaya khas omongan Pak Nurjaman. La khau la aja lah Rip… Resek lu Ahhhh…. Tuhan, berikanlah keberkahan bagi Bapak satu ini. Amien……. 

Link berita tentang pak Nurjaman dapat dilihat di sini:

Semoga cerita saya ini bermanfaat bagi kita semua. Tulisan ini hanya refleksi iseng jangan diambil serius. Tetapi jujur, sumpah saya seneng banget program ini akhirnya berani dilaunching tanpa malu-malu kucing lagi. Dulu saya masih ingat, katanya dananya gak ada, tapi akhirnya setelah menunggu 4-5 tahun Program Desaku Menanti bisa terlaksana. Yah better late than never lah… Itu kan harusnya untuk tahun 2009, yahh cuman gak laku aja waktu itu. Gak direspon maksudnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga program ini berjalan dengan lancar, dan tugas semua masyarakat lah mengawasi pelaksanaan dan keberlanjutannya. Sebagai penutup saya kutip motto kampus saya dulu di armidale. EX SAPIENTA MODUS (OUT OF WISDOM COMES MODERATION). Salam dari mahasiswa gelandangan….. JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?






Wagga Wagga, 3 December 2014


Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa - DESAKU MENANTI

DESAKU MENANTI

Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa[1]


Arif Rohman
University of New England
School of Behavioural, Cognitive and Social Sciences 


Cite:
Rohman, Arif. (2010). 'Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa'. Disampaikan Pada Acara Workshop Penanganan Gelandangan di Perkotaan. Jakarta, 14 Oktober 2010. Jakarta: Kementerian Sosial RI.

A. Latar Belakang

Gelandangan dan pengemis memang telah menjadi masalah nasional yang dihadapi di banyak kota, tak terkecuali di negara maju (Schwab, 1992 : 408). Permasalahan gelandangan dan pengemis sebenarnya telah lama mendapatkan perhatian serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun LSM. Evers & Korf (2002 : 294) bahkan secara ekstrim mengibaratkan gelandangan sebagai penyakit kanker yang diderita kota karena keberadaannya yang mengganggu keindahan dan kenyamanan kota, namun begitu susah dan kompleks dalam penanggulangannya.

Istilah gelandangan berasal dari kata gelandangan, yang artinya selalu berkeliaran atau tidak pernah mempunyai tempat kediaman tetap (Suparlan, 1993 : 179). Pada umumnya para gelandangan adalah kaum urban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannya di kota, namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, keahlian pengetahuan spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang. Sebagai akibatnya, mereka bekerja serabutan dan tidak tetap, terutamanya di sektor informal, semisal pemulung, pengamen dan pengemis. Weinberg (1970 : 143-144) menggambarkan bagaimana gelandangan dan pengemis yang masuk dalam kategori orang miskin di perkotaan sering mengalami praktek diskriminasi dan pemberian stigma yang negatif. Dalam kaitannya dengan ini, Rubington & Weinberg (1995 : 220) menyebutkan bahwa pemberian stigma negatif justru menjauhkan orang pada kumpulan masyarakat normal.

Mereka yang tidak sukses mengadu nasib di kota, malu untuk kembali ke kampung halamannya, sementara mereka terlunta-lunta hidup di perantauan. Mereka hidup di pemukiman liar dan kumuh (slum/squatter area) yang dianggap murah atau tidak perlu bayar. Orang gelandangan pada umumnya tidak memiliki kartu identitas karena takut atau malu dikembalikan ke daerah asalnya, sementara pemerintah kota tidak mengakui dan tidak mentolerir warga kota yang tidak mempunyai kartu identitas. Sebagai akibatnya perkawinan dilakukan tanpa menggunakan aturan dari pemerintah, yang sering disebut dengan istilah kumpul kebo (living together out of wedlock). Praktek ini mengakibatkan anak-anak keturunan mereka menjadi generasi yang tidak jelas, karena tidak mempunyai akte kelahiran. Sebagai generasi yang frustasi karena putus hubungan dengan kerabatnya di desa dan tidak diakui oleh pemerintah kota, dan tanpa tersentuh dunia pendidikan formal, pada akhirnya mereka terdorong oleh sistem menjadi anak jalanan dan rentan terpengaruh untuk melakukan tindak kriminal dan asosial (Rohman, 2004 : 72-74).

B. Data dan Fakta

Dalam upaya untuk merumuskan program penanganan yang tepat untuk gelandangan, pengemis dan anak jalanan, ada baiknya disampaikan data dan fakta sebagai berikut :
1.   Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial, tercatat pada tahun 2008, jumlah gelandangan mencapai 25.169 orang, jumlah pengemis mencapai 35.057 orang, dan anak jalanan mencapai 109.454 orang. Data yang dikutip memang masih perlu ditanyakan kevaliditasannya, mengingat pendataan pada kelompok ini relatif sulit karena mobilitas mereka yang tinggi. Dapat dipastikan angka ini seperti fenomena puncak gunung es (tips of iceberg) dimana angka riilnya dimungkinkan dapat lebih tinggi. Tapi untuk pegangan sementara dalam penyusunan program, data tersebut masih dapat dipergunakan.

2.   Angka gelandangan, pengemis, dan anak jalanan diperkirakan naik, mengingat daya tarik kota yang semakin kuat bagi orang-orang desa. Yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah bahwa Jakarta akan tetap menjadi tanah impian bagi orang desa di Indonesia untuk mengadu nasib di kota, mengingat kecenderungan kota-kota di Asia Tenggara yang mengacu pada gejala ‘satu kota’ yaitu ibu kota Negara. Sebagai contohnya, kota di Indonesia adalah Jakarta, di Thailand adalah Bangkok, di Malaysia adalah Kuala Lumpur, dan di Philippine adalah Manila.

3.   Fakta membuktikan bahwa gelandangan, pengemis dan anak jalanan adalah kelompok yang masuk dalam kategori kemiskinan inti (core of poverty) di perkotaan. Menangani kelompok ini sama halnya mencoba menangani masalah kemiskinan yang tersulit. Kelompok gelandangan, pengemis dan anak jalanan merupakan kelompok khusus yang memiliki karakteristik dan pola penanganan khusus, terutama berkaitan dengan mentalitas dan tata cara hidup mereka yang sedikit banyak sudah terkontaminasi budaya jalanan. Inilah sebabnya, sebagai misal, kenapa pengistilahan Jakarta di kalangan ilmuwan sosial bukan disebut dengan kota, tapi lebih sering disebut ‘Kampung Besar’ (the big village), mengingat perilaku orang di dalamnya yang lebih mencerminkan orang kampung.

4.   Berbagai laporan menunjukkan bagaimana pemerintah kota, seperti di Jakarta telah mengeluarkan berbagai peraturan daerah yaitu Perda DKI No. 11 Tahun 1988 tentang ketertiban umum, dan Perda DKI No. 8 Tahun 2007 yang melarang orang untuk menggelandang, mengemis dan melakukan aktivitas yang mengganggu ketertiban di jalan, termasuk larangan membeli pedagang asongan dan memberi sedekah pada pengemis di jalanan di Jakarta. Pemerintah DKI juga telah mengadakan kerjasama lintas sektoral yang melibatkan berbagai instansi seperti Tramtib, Kepolisian, maupun Dinas Sosial melalui operasi yustisi dalam penanganan gelandangan, untuk selanjutnya mendapatkan pelayanan dan rehabilitasi sosial di panti-panti pemerintah. Namun demikian, masih saja masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan masih merebak di kota Jakarta dan kota-kota lainnya.

5.   Masalah gelandangan dan pengemis bukan semata-mata masalah modal, keterampilan kerja dan kesempatan berusaha, namun juga masalah mentalitas diri. Terbukti dari tingkat kegagalan layanan yang disediakan pemerintah, dimana mereka yang telah mendapatkan layanan panti ataupun layanan transmigrasi, namun kembali menggelandang di kota. Mereka berpandangan bahwa dengan menggelandang mereka bisa memperoleh uang tanpa harus bekerja keras. Menariknya lagi, mereka justru memanfaatkan layanan panti-panti maupun layanan transmigrasi sebagai suatu ‘selingan hidup’ dimana mereka bisa numpang makan minum gratis di panti dan pindah dari satu panti ke panti lainnya manakala bosan, dan hal inipun diorganisir oleh kelompok gelandangan sendiri dengan baik. Bagi yang bertransmigrasi mereka juga kembali setelah menjual tanah dan rumahnya ke tetangganya maupun ke penduduk setempat.

C. Filosofi dan Trend Penanganan Masalah Tuna Sosial

Permasalahan, gelandangan, pengemis dan anak jalanan memiliki dimensi yang sangat kompleks. Oleh karena itu sudah seyogyanya apabila program penanganan yang disusun mempertimbangkan aspek sosial filosofi dan trend penanganan yang sedang berkembang saat ini:
1.   Persoalan Hulu
Bahwa masalah gelandangan dan pengemis adalah masalah klasik dalam urbanisasi. Intinya jika urbanisasi dapat diminimalisir, maka jumlah gelandangan dan pengemis di perkotaan dapat dipastikan dapat diminimalisir pula. Karena itulah upaya penanganan yang bagus dalam mengatasi permasalahan gelandangan dan pengemis adalah melalui upaya preventif yang dilakukan terutama di daerah-daerah yang berpotensi mengirimkan penduduk yang minim keterampilan, pendidikan dan modal ke kota-kota besar. Ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan survey ataupun pendataan secara langsung ke kantong-kantong pemukiman liar, maupun dengan meminta data sekunder dari Dinas/Instansi Sosial terkait.

Bahwa jumlah kaum urban meningkat dikarenakan daya tarik kota yang sangat luar biasa, yang didukung banyaknya cerita-cerita sukses dari para perantau. Pada titik ini, diperlukan upaya penyuluhan dan diseminasi tentang resiko merantau ke kota besar, sebagai upaya preventif dalam menyajikan data dan fakta obyektif susahnya merantau di kota. Paling tidak, masyarakat di pedesaan harus disadarkan mengenai kejamnya kota. Hal ini dikarenakan modus munculnya gelandangan pada umumnya dimulai dari para perantau yang gagal mengadu nasib, yang dibawa ke kota besar baik oleh keluarganya maupun teman terdekatnya (chain-recruitment) meskipun ada pula yang dikarenakan keinginan sendiri (minggat) maupun diperdagangkan (trafficking).

2.   Persoalan Hilir
Kaum urban yang dating ke kota-kota, karena minim pengalaman, pendidikan, keterampilan kerja dan modal uang, akhirnya mereka mencari ’Bapak Pelindung’ (patron) dan berperan sebagai ’Anak’ (client). Mereka bekerja pada patron dengan upah minim yang penting bisa survive (mendapat makan dan tempat tinggal). Pada umumnya tempat yang dituju adalah pemukiman liar seperti di bawah jembatan, lahan-lahan kosong, pinggir stasiun/rel kereta api, maupun di bantaran-bantaran kali. Mereka kemudian terorganisir secara rapi dan sangat sulit digusur. Studi yang dilakukan Rohman (2004) menunjukkan bahwa pendudukan dan penyerobotan lahan dikarenakan pemerintah kota yang tidak konsisten, karena banyak oknum pemerintahan yang justru ‘melegalkan’ dengan menarik retribusi di tempat-tempat tersebut. Khusus untuk gelandangan di Stasiun Senen, petugas PJKA yang justru mengajari mereka dengan membikin rumah-rumah kardus yang kemudian menjadi semi permanen karena sering pulang kemalaman ke daerah Bekasi atau Bogor. Pada titik ini pemerintah kota diharapkan dapat secara konsisten mengawasi ruang-ruang yang rawan penyerobotan secara liar.

Persoalan kemudian muncul manakala kehidupan yang sulit memaksa mereka bekerja secara serabutan, baik sebagai pemulung, pelapak, tukang service elektronik, tukang ‘petik’ (jambret), tukang todong, pencuri, pemungut sayuran, pengamen, maupun pengemis. Permasalahan menjadi mengemuka manakala tempat tinggal mereka kumuh dan kotor, hidup secara tidak sehat, rawan terkena penyakit, menjadi pusat prostitusi, dan pusat kegiatan kriminal. anak-anak mereka juga rawan penelantaran, eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual. Kejadian tindak kekerasan juga bukan barang yang aneh di lingkungan tersebut.

Pengemis sebenarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu mereka yang masuk dalam kategori cacat dan mengemis untuk hidup, dan mereka yang dalam keadaan sehat tapi malas bekerja. Di sini jelas, bentuk intervensi ataupun layanan sosial yang diberikan akan berbeda sesuai dengan karakteristik pengemis. Layanan yang diberikan kepada gelandangan dan pengemis juga terkesan setengah hati karena asumsi bahwa jika tersiar kabar akan adanya layanan khusus gelandangan dan pengemis dipastikan angka urbanisasi ke kota akan meningkat. Itulah sebabnya pemerintah kota cenderung lebih memilih tindak represif daripada rehabilitatif. Ini dibuktikan program keluarga harapan (PKH) yang dilaunching Kementerian Sosial pada tahun 2008 tidak menyentuh keluarga tanpa KTP. Layanan yang dilakukan untuk gelandangan dan pengemis perlu melibatkan para patron, pihak kepolisian, pemerintah kota, dan pemerintah daerah asal gelandangan dan pengemis.

3.   Persoalan Anak Jalanan
Kajian sosial filosofis pada anak jalanan membuktikan bahwa layanan harus berpusat atau berbasis pada keluarga. Tugas utama anak adalah sekolah dan bermain. Melalui penguatan ketahanan ekonomi keluarga diharapkan anak dapat bersekolah kembali dan memperoleh pendidikan dengan baik, layaknya anak-anak yang hidup normal lainnya.

Banyak program untuk anak jalanan yang langsung difokuskan kepada anak tetapi tingkat keberhasilannya rendah, dikarenakan bahwa usia anak adalah usia dimana seseorang belum bisa menggunakan nalarnya secara benar. Mereka masih mudah terpengaruh dengan teman sebayanya dan belum memahami arti kehidupan secara utuh. Hal ini terlihat dari banyaknya anak jalanan yang mengikuti pelatihan keterampilan (vocational training), namun mudah sekali keluar, atau mereka sudah menyelesaikan pendidikannya namun kembali ke jalan. Kajian sosial filosofis anak membuktikan bahwa seseorang di jalan baru kemungkinan sukses mengikuti program pelatihan keterampilan jika paling tidak berusia 21 tahun. Pada tahapan umur ini sesorang sudah dihadapkan pada pilihan logis yaitu ingin bekerja dan menjadi orang baik-baik, atau tetap di jalan dan menjadi preman. Intinya tetap sama yaitu intervensi yang tepat untuk anak adalah dengan kembali ke sekolah.

Semua program layanan akan lebih efektif jika melalui keluarga. Di sinilah keluarga diharapkan dapat meningkatkan kualitas asuhan dan pendidikan informal dalam keluarga demi kualitas sumber daya manusia (SDM) anak-anaknya di masa mendatang. Trend atau kecenderungan dalam pemberian pelayanan dan rehabilitasi sosial lebih mengedepankan perlindungan hak-hak anak (child rights) demi kepentingan terbaik anak (the best interest of the child).

D. Program Yang Diajukan

1.   Nama Program
Nama program yang diajukan adalah ‘Desaku Menanti’ (Program Penangananan Gelandangan dan Pengemis Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berbasis Desa).

2.   Tujuan
Adapun tujuan dari Program Desaku Menanti adalah mengembangkan model penanganan gelandangan, pengemis dan anak jalanan, agar hilang secara permanen di kota-kota besar. Program ini adalah inovasi dari program penanganan gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang selama ini dilakukan, yaitu dengan memfokuskan semua layanan di daerah asal para gelandangan dan pengemis (berbasis desa). Disamping itu, semua kegiatan akan melibatkan seluruh komponen di daerah asal, seperti pemerintah daerah, pengusaha (CSR), LSM, dan tokoh-tokoh masyarakat. Inti dari program ini adalah menciptakan keteraturan sosial melalui peningkatak kontrol sosial dari masyarakat.

3.   Sasaran
Yang menjadi sasaran dalam program Desaku Menanti adalah :
a.   Gelandangan.
b.   Pengemis.
c.   Anak Jalanan.
d.   pemerintah Daerah.
e.   Lembaga Pendidikan.
f.    Dunia Usaha (CSR).
g.   Masyarakat.

4.   Jenis Kegiatan
Program Desaku Menanti adalah program yang komprehensif dalam penghapusan gelandangan dan pengemis. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan yang ada pun, baik preventif maupun kuratif dilakukan secara bersamaan, simultan, dan berkesinambungan. Mengingat program ini adalah uji coba pengembangan model, untuk keberlanjutannya (sustainability), diharapkan pada tahap replikasi dapat mengadvokasi pemerintah daerah supaya program ini ke depan dapat dibiayai dengan menggunakan APBD.
a.    Kegiatan Preventif
Kegiatan preventif dilakukan di tempat-tempat yang potensial menjadi daerah pengirim gelandangan, pengemis, maupun anak jalanan. Kegiatan ini dipandang penting dengan asumsi mencegah lebih baik daripada mengobati. Kegiatan difokuskan pada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) atau wanita rawan sosial ekonomi.
1)  Kampanye Sosial di sepuluh titik lokasi (Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur)
Penentuan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan statistik daerah asal gelandangan dan pengemis terbanyak di Jakarta. Adapun kegiatan dalam kampanye sosial meliputi :
a)   Rapat koordinasi dengan Pemerintah Daerah di sepuluh lokasi.
b)   Penyuluhan sosial intensif langsung ke masyarakat di sepuluh lokasi. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui lain :
ü Pemutaran film dokumenter yang berhubungan dengan gelandangan dan pengemis di desa-desa.
ü Penyebaran pamflet dan leaflet tentang gelandangan dan pengemis, serta bahaya merantau ke kota tanpa bekal keterampilan, pendidikan dan modal.
ü Gelar panggung/drama yang berkisah tentang kesulitan hidup di kota besar.
ü Penyuluhan sosial dengan melibatkan tokoh agama dan tokah masyarakat yang peduli pada permasalahan gelandangan dan pengemis.
ü Temu duta anti gelandangan dan pengemis dengan masyarakat desa.

2)  Pemberian Bantuan Ekonomi Langsung di sepuluh titik lokasi (Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur)
Kegiatan ini berupa bantuan stimulan usaha ekonomi produktif (UEP) yang dilakukan melalui kelompok-kelompok usaha bersama (KUBE) yang jenis bantuannya disesuaikan dengan mata pencaharian penduduk setempat. Sasarannya adalah RTSM dan wanita rawan sosial ekonomi.

3)  Pemberian Bantuan Perumahan di sepuluh titik lokasi (Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur)
Konsep pemberian bantuan perumahan ada dua model. Pertama, melalui program transmigrasi yang berkoordinasi dengan Kemenakertrans. Kedua, bantuan perumahan sangat sederhana di kampung mereka masing-masing. Konsepnya untuk yang pertama melalui koordinasi saja. Sedangkan konsep kedua melalui advokasi ke pemerintah daerah dan Kementerian Perumahan dan Permukiman untuk penyediaan lokasi tanah dan pendirian bangunan. Melalui bantuan perumahan ini diharapkan nilai-nilai sosial dan kemasyarakatan serta arti penting rumah sebagai simbol utama keluarga dapat kembali ditumbuhkan.

4)  Pemberian Bantuan Peralatan Sekolah di sepuluh titik lokasi (Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur)
Kegiatan ini berupa bantuan stimulan berupa peralatan sekolah untuk anak-anak yang meliputi seragam, sepatu, tas, buku dan alat tulis dalam satu paket. Besarnya disesuaikan dengan alokasi yang tersedia.

b.    Kegiatan Dukungan
1)  Pemilihan ’Duta Anti Gelandangan dan Pengemis’
Pemilihan ’duta anti gelandangan dan pengemis’ dapat dipilih atau ditentukan oleh Kementerian Sosial di Jakarta. Diharapkan ’duta anti gelandangan dan pengemis’ berasal dari kalangan artis yang memiliki background keagamaan yang relatif kuat, mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat kelas bawah, dan memiliki komitmen yang kuat dalam gerakan penghapusan gelandangan dan pengemis.

2)  Pemberian Penghargaan Bagi ’Kota Bebas Gelandangan dan Pengemis’
Penghargaan/trophy akan diberikan kepada kota-kota yang memiliki komitmen yang besar dalam penghapusan gelandangan dan pengemis di daerahnya. Piagam penghargaan ’Kota Bersih Gelandangan dan Pengemis’ langsung diberikan oleh Menteri Sosial setiap setahun sekali.

3)  Pencanangan ’Hari Bebas Gelandangan dan Pengemis’
Pencanangan ’Hari Bebas Gelandangan dan Pengemis’ dapat dilakukan oleh Presiden RI, Wakil Presiden RI, maupun Menteri Sosial RI disesuaikan dengan kebutuhan dan keuangan. Pencanangan ’Hari Bebas Gelandangan dan Pengemis’ sudah dipastikan akan mengundang simpati publik, terutama kalangan media baik cetak maupun elektronik.

c.    Kegiatan Rehabilitatif
Kegiatan rehabilitasi sosial selama ini dilakukan di kota-kota besar seperti Jakarta, melalui panti-panti gelandangan pengemis milik Kementerian Sosial maupun Pemda DKI Jakarta. Akan tetapi jumlah gelandangan dan pengemis tidak pernah berkurang. Berkenaan dengan ini sudah seyogyanya apabila kegiatan rehabilitasi sosial dilakukan di daerah asal gelandangan dan pengemis, yang difokuskan pada penguatan ketahanan ekonomi keluarga dan kontrol sosial masyarakat.
1)  Penjangkauan dan Pemulangan Gelandangan dan Pengemis
Kementerian Sosial bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta (Pemda DKI Jakarta sebagai pilot project) menyediakan alokasi dana untuk pemulangan gelandangan dan pengemis ke daerah asal. Gelandangan dan pengemis yang akan dipulangkan adalah hasil dari operasi yustisi yang dilakukan oleh Kementerian Sosial, Dinas Sosial dan Tramtib DKI Jakarta. Dalam Program Desaku Menanti, uji coba pemulangan dilakukan di 3 propinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Dari sinilah 10 lokasi di 3 propinsi pada kegiatan preventif dilakukan dengan memperhitungkan daerah yang potensial mengirimkan gelandangan dan pengemis ke DKI Jakarta. Dalam pemulangannya, pendamping (pekerja sosial) dari Kementerian Sosial berkoordinasi dengan Dinas/Instansi Sosial di tingkat propinsi dan kabupaten/kota, bahkan sampai dengan tingkat kecamatan dan desa. Pemulangan dilakukan sampai di tingkat desa dengan mengundang tokoh masyarakat setempat. Proses ini dilakukan agar para gelandangan dan pengemis malu atau jera. Pemulangan ini juga sekaligus sebagai upaya diseminasi dan penyuluhan sosial yang sifatnya preventif untuk masa mendatang. Kegiatan ini sekaligus untuk menggugah kepedulian masyarakat mengenai kondisi ekonomi warganya, dan untuk menerima kembali mantan gelandangan dan pengemis dengan baik (reintegrasi sosial).

2)  Pemberian Pelatihan Keterampilan melalui ’Rumah Kerja Desaku Menanti’ (RKDM)
Para gelandangan dan pengemis yang sudah dipulangkan kemudian mendapatkan pelatihan keterampilan sesuai minat dan bakatnya di ’Rumah Kerja Desaku Menanti’ (RKDM) yang ada di Dinas Sosial Kabupaten/Kota. Biaya pelatihan ditanggung oleh Pemerintah Pusat dan pemda setempat (sharing cost). Bagi mereka yang telah lulus diminta surat kontrak untuk tidak menggelandang atau mengemis lagi. Mereka yang lulus kemudian diberikan bantuan stimulan untuk modal usaha sesuai dengan keterampilan yang dimilikinya.

3)  Pemberian Bantuan Stimulan untuk Eks Gelandangan dan Pengemis
Setelah dipulangkan, mantan gelandangan dan pengemis yang yang tidak memungkinkan mengikuti pelatihan keterampilan melalui ’Rumah Kerja Desaku Menanti’ (RKDM) yang ada di Dinas Sosial Kabupaten/Kota akan mendapatkan bantuan stimulan langsung. Bantuan ini berupa bantuan stimulan usaha ekonomi produktif (UEP) yang dilakukan melalui kelompok-kelompok usaha bersama (KUBE) yang jenis bantuannya disesuaikan dengan mata pencaharian penduduk setempat. Bagi mereka yang telah lulus diminta surat kontrak untuk tidak menggelandang atau mengemis lagi.

4)  Layanan Perumahan/Transmigrasi
Layanan ini diberikan pada mereka yang mempunyai mental kuat untuk mengubah diri, diperkirakan tidak mempunyai kerabat lagi di desa, dan membutuhkan lingkungan baru, sementara usianya masih masuk dalam kategori usia produktif. Kegiatan ini perlu bekerja sama dengan Kementerian Perumahan dan Permukiman atan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pusat maupun yang ada di Propinsi maupun Kabupaten/Kota. Bagi mereka yang masih punya keluarga di desa akan dibangunkan rumah sederhana di daerah asalnya, dan bagi yang sudah tidak punya keluarga akan ditawarkan transmigrasi atau dibangunkan perumahan sangat sederhana di desanya terdahulu. Intinya, mereka mempunyai pilihan dan tidak ada paksaan.

5)  Pengembalian Anak ke Keluarga dan Bangku Sekolah
Kegiatan ini berupa bantuan stimulan berupa peralatan sekolah untuk anak-anak yang meliputi seragam, sepatu, tas, buku dan alat tulis dalam satu paket. Besarnya disesuaikan dengan alokasi yang tersedia. Pendamping juga melakukan advokasi ke lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal untuk menerima anak kembali bersekolah. Khusus untuk anak jalanan yang perorangan (tanpa keluarga), mereka dipertemukan kembali dengan keluarga ataupun kerabat dekatnya (reunifikasi).

5.   Tahapan Kegiatan
a.    Penjangkauan
ü Untuk penjangkauan program preventif dilakukan di 10 titik lokasi (3 propinsi) dengan memperhitungkan stastistik daerah pengirim (sending).
ü Untuk penjangkauan program rehabilitatif dilakukan melalui operasi yustisi, bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta. Mereka yang terjaring akan ditampung di panti-panti gelandangan dan pengemis milik pemerintah.

b.    Registrasi dan Identifikasi
ü Untuk program preventif, di 10 titik lokasi (3 propinsi) yang telah ditentukan, didata dengan lengkap RSTM dan wanita rawan sosial ekonomi yang ada.
ü Untuk program rehabilitatif, pendataan dan identifikasi dilakukan setelah operasi yustisi dilakukan.

c.     Penentuan Layanan Sosial
ü Untuk program preventif, selanjutnya berdasarkan hasil registrasi dan identifikasi ditentukan layanan sosial yang tepat.
ü Untuk program rehabilitatif, selanjutnya berdasarkan hasil registrasi dan identifikasi ditentukan layanan sosial yang tepat.

d.    d. Pemberian Layanan Sosial
ü Untuk program preventif, selanjutnya berdasarkan hasil needs assessment, diberikan layanan yang sesuai (kampanye sosial, bantuan ekonomi langsung, bantuan perlengkapan sekolah).
ü Untuk program rehabilitatif, selanjutnya berdasarkan hasil registrasi dan identifikasi ditentukan layanan sosial yang tepat (pemulangan, pemberian pelatihan keterampilan di RKDM, bantuan perumahan, bantuan ekonomi langsung, bantuan untuk kembali ke sekolah dan reunifikasi).

e.    Tindak Lanjut
ü Untuk program preventif, selanjutnya dilakukan tindak lanjut dalam rangka penguatan ketahanan ekonomi keluarga, seperti advokasi melalui kerja sama lintas sektor dunia usaha (KLSDU).
ü Disusun buku khusus yang memuat pengalaman hidup mantan gelandangan dan pengemis dengan mengedepankan prinsip kerahasiaan (confidentiality) sebagai bahan kampanye sosial di masa mendatang.

f.     Terminasi
Keluarga mantan gelandangan dan pengemis diadvokasi kembali agar dapat menjadi keluarga binaan atau dapat mengakses program PKH. Proses rujukan ini dengan meminta bantuan dari lembaga-lembaga terkait di daerah.

g.    Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berjenjang dan intensif untuk meminimalisir resiko kegagalan program.

6.   Koordinasi dan Kerjasama
Koordinasi dilakukan secara terus menerus oleh Kementerian Sosial, Pemerintah Daerah, LSM dan masyarakat secara luas (tokah masyarakat dan tokoh agama). Kerja sama juga dilakukan dengan media nasional maupun lokal untuk mendukung Program Desaku Menanti (para gelandangan dan pengemis kembali ke desa/kampung halamannya).

7.   Indikator Keberhasilan
Adapun indikator keberhasilan dari Program Desaku Menanti adalah sebagai berikut :
a.   Mantan gelandangan dan pengemis ataupun mereka yang rawan menjadi gelandangan dan pengemis dapat menyelesaikan proses layanan sampai tuntas.
b.   Ketahanan ekonomi keluarga meningkat dan mereka dapat hidup kembali normal di desa.
c.   Pemerintah daerah semakin peduli dan berkontribusi pada Program Desaku Menanti dengan mengalokasikan dana untuk pengembangan dan keberlanjutan program dimasa mendatang.
d.   Masyarakat mendukung penuh pelaksanaan Program Desaku Menanti dan berpartisipasi aktif baik dalam sosialisasi maupun pengawasan.
e.   Kesadaran orang tua meningkat dan ikut berperan aktif dalam mendorong anaknya untuk kembali ke dunia pendidikan dan terus memotivasi anak untuk melanjutkan sekolahnya (untuk anak jalanan).
f.    Intitusi/lembaga penyelenggara pendidikan dapat lebih memahami permasalahan yang menghambat proses belajar anak sehingga dapat memberikan perlakukan yang tepat sesuai dengan karakteristik anak (untuk anak jalanan).

E. Analisis Program

1.   Kekuatan
ü  Program Desaku Menanti tidak hanya berfokus kepada kegiatan rehabilitatif namun juga mencakup kegiatan preventif.
ü  Kegiatan-kegiatan dalam Program Desaku Menanti berbasis desa atau dilakukan di daerah asal sehingga kemungkinan menggelandang kembali sehabis menerima layanan relatif kecil.
ü  Program Desaku Menanti dipastikan akan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat, daerah, LSM maupun masyarakat luas, mengingat permasalahan gelandangan dan pengemis adalah masalah kemiskinan yang sudah menjadi isu nasional.

2.   Kelemahan
ü  Program Desaku Menanti membutuhkan pendamping yang cakap, profesional dan penuh dedikasi serta memiliki pengalaman dalam menangani gelandangan dan pengemis.
ü  Program Desaku Menanti ini hanya menjangkau di sepuluh titik lokasi di 3 propinsi (Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur). Artinya untuk daerah luar Jawa dapat dikatakan belum tersentuh.
ü  Program Desaku Menanti membutuhkan dana yang tidak sedikit dan meminta keseriusan dari berbagai pihak dalam pelaksanaannya.

3.   Peluang
ü  Program Desaku Menanti searah dengan kebijakan Millenium Development Goals (MDGs) sehingga besar kemungkinan akan disupport oleh lembaga-lembaga internasional yang bergerak di bidang kemiskinan.
ü  Program Desaku Menanti berbasis desa sehingga pelaksanaannya pun dilakukan di daerah asal, sehingga tidak menambah rumit pemerintah kota.
ü  Program Desaku Menanti dilakukan di desa asal sehingga pembinaan mental pun dapat dilakukan dengan menggunakan kearifan-kearifan lokal.

4.   Ancaman
ü  Resistensi atau penolakan dari patron (pelindung) para gelandangan dan pengemis yang ironisnya justru mendapatkan dukungan dari oknum pemerintah.
ü  Adanya stereotype negatif pada keluarga mantan gelandangan dan pengemis baik oleh masyarakat maupun lembaga pendidikan tempat anak akan bersekolah.
ü  Jika Pemerintah Daerah tidak konsisten atau memiliki komitmen yang besar, program ini terncam gagal.

F. Pembiayaan

Pembiayaan adalah sharing budget antara Kementerian Sosial dan Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota.

G. Penutup

Demikianlah garis besar mengenai Program Desaku Menanti (Program Penanganan Gelandangan, Pengemis dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berbasis Desa). Selain berupaya menghapus gelandangan dan pengemis di perkotaan, program ini juga dapat menumbuhkan kepedulian sosial dan kontrol sosial dari pemerintah daerah dan masyarakat. Disamping itu, Program Desaku Menanti membuka peluang bagi para sarjana yang ingin kembali dan mengabdi ke desa dapat bergabung dalam program ini. Program ini juga bisa bersinergi dengan program pemerintah lainnya seperti PKH, PKSA maupun Pusdaka (Pusat Pemberdayaan Keluarga).



Bibliografi:

Evers, Hans Dieter & Korff, Rudiger. (2012). Urbanisme di Asia Tenggara. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Rohman, Arif. (2004). Kehidupan Ekonomi Orang Gelandangan di Senen: Suatu Kajian Tentang Strategi Pengorganisasian Ekonomi Informal dalam Mempertahankan Kelangsungan Usahanya. Tesis tidak diterbitkan. Jakarta : Kajian Pengembangan Perkotaan (KPP), Universitas Indonesia.

Rubington, Earl & Weinberg, Martin S. (1970). The Study of Social Problems. Oxford : Oxford University Press.

Schwab, William A. (1992). The Sociology of Cities. New Jersey : Prentice Hall.

Suparlan, Parsudi. (1993). ‘Orang gendangan di Jakarta : Politik pada golongan termiskin’, dalam Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Weinberg, S. Kirson. (1971). Social Problems in Modern Urban Society. New Jersey : Prentice Hall.







*Kredit diberikan kepada Mas Doso dan Mbak Siti dari Sekretariat Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI,  yang memberikan dorongan dalam penulisan program ini sebagai kontribusi terhadap pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia. Semoga program ini bisa bermanfaat dan menempatkan gelandangan dan pengemis secara lebih manusiawi.

**Sebagai insan akademisi yang baik, jika anda menggunakan tulisan ini sebagai sumber referensi, harap mencantumkan sumbernya. Hal ini dikarenakan banyak bagian dari tulisan ini yang dicopas (copy & paste) sebagai bahan untuk menulis makalah, tugas lapangan, skripsi bahkan buku-buku panduan atau pedoman tanpa mencantumkan nama pengarang aslinya. Perbuatan ini sungguh memalukan dan tercela sekali. Terima kasih. Mari kita menjadi bagian dari upaya memerangi praktek plagiarism di Indonesia.



Bagian yang sering dicopas dari tulisan ini adalah :

Gelandangan dan pengemis memang telah menjadi masalah nasional yang dihadapi di banyak kota, tak terkecuali di negara maju (Schwab, 1992 : 408). Permasalahan gelandangan dan pengemis sebenarnya telah lama mendapatkan perhatian serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun LSM. Evers & Korf (2002 : 294) bahkan secara ekstrim mengibaratkan gelandangan sebagai penyakit kanker yang diderita kota karena keberadaannya yang mengganggu keindahan dan kenyamanan kota, namun begitu susah dan kompleks dalam penanggulangannya.

Istilah gelandangan berasal dari kata gelandangan, yang artinya selalu berkeliaran atau tidak pernah mempunyai tempat kediaman tetap (Suparlan, 1993 : 179). Pada umumnya para gelandangan adalah kaum urban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannya di kota, namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, keahlian pengetahuan spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang. Sebagai akibatnya, mereka bekerja serabutan dan tidak tetap, terutamanya di sektor informal, semisal pemulung, pengamen dan pengemis. Weinberg (1970 : 143-144) menggambarkan bagaimana gelandangan dan pengemis yang masuk dalam kategori orang miskin di perkotaan sering mengalami praktek diskriminasi dan pemberian stigma yang negatif. Dalam kaitannya dengan ini, Rubington & Weinberg (1995 : 220) menyebutkan bahwa pemberian stigma negatif justru menjauhkan orang pada kumpulan masyarakat normal.


Mereka yang tidak sukses mengadu nasib di kota, malu untuk kembali ke kampung halamannya, sementara mereka terlunta-lunta hidup di perantauan. Mereka hidup di pemukiman liar dan kumuh (slum/squatter area) yang dianggap murah atau tidak perlu bayar. Orang gelandangan pada umumnya tidak memiliki kartu identitas karena takut atau malu dikembalikan ke daerah asalnya, sementara pemerintah kota tidak mengakui dan tidak mentolerir warga kota yang tidak mempunyai kartu identitas. Sebagai akibatnya perkawinan dilakukan tanpa menggunakan aturan dari pemerintah, yang sering disebut dengan istilah kumpul kebo (living together out of wedlock). Praktek ini mengakibatkan anak-anak keturunan mereka menjadi generasi yang tidak jelas, karena tidak mempunyai akte kelahiran. Sebagai generasi yang frustasi karena putus hubungan dengan kerabatnya di desa dan tidak diakui oleh pemerintah kota, dan tanpa tersentuh dunia pendidikan formal, pada akhirnya mereka terdorong oleh sistem menjadi anak jalanan dan rentan terpengaruh untuk melakukan tindak kriminal dan asosial (Rohman, 2004 : 72-74).



[1] Diajukan untuk mensukseskan program 100 hari Menteri Sosial RI dalam penghapusan gelandangan, pengemis dan anak jalanan di perkotaan tahun 2009.


LAMPIRAN






For Full Text Pdf Download Here