Selasa, 25 November 2014

Kelamnya Kehidupan Philosophers: Heraclitus, Socrates, dan Plato

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University

Cite:
Rohman, Arif. (2013). Kelamnya Kehidupan Philosophers: Heraclitus, Socrates, dan Plato. Kompasiana, 4 September 2013.



Tahukah saudara kalau istilah filosofi itu mempunyai latar sejarah yang panjang, penuh perdebatan dan sebuah perjalanan yang kelam? Filosofi bisa diartikan sebagai ’sudut pandang atau opini tentang dunia dan bagaimana kehidupan seharusnya ditempatkan’. Ahli filsafat adalah para perintis ilmu berpikir dan pengetahuan modern sekarang ini. Namun sayangnya banyak yang masih awam tentang orang-orang yang berjasa yang membawa kita dari dunia kegelapan, dan salah satunya adalah saya. Tulisan ini saya rangkum dari tulisan-tulisan kecil pada waktu saya membaca buku-buku filsafat. Mungkin lebih tepat disebut serpihan ”notes’ kecil daripada tulisan diskusi yang ‘njlimet’.

Heraclitus (535–475 BC) adalah ahli filsafat Yunani sebelum Socrates. Dia terkenal dengan doktrinnya bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu berubah. Sebagai perumpamaan dia menunjuk pada seseorang yang berjalan menyeberangi sungai untuk kedua kalinya, maka air yang mengalir mengenainya bukanlah air yang sama ketika dia menyeberang untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, perubahan adalah pusat dari semesta. Sayang tulisan Heraclitus tidak selesai karena dia menderita melancholia (mental disorder, sering depresi, dan derajat entushiasm yang rendah). Maka dia sering disebut dengan ‘the weeping philosopher’, jago filsafat yang mudah menitikkan air mata. Ini berbeda dengan Democritus yang.........................




For Full Text Pdf Download Here









Aristoteles, Kota, dan Rumah bagi Orang Miskin

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University



Cite:
Rohman, Arif. (2013). Aristoteles, Kota, dan Rumah bagi Orang Miskin. Kompasiana, 4 September 2013.


Ladang dan pepohonan tidak menarik bagiku, tetapi tidak demikian halnya dengan manusia yang ada di kota (Aristoteles).


Kata-kata filusuf Aristoteles di masa lampau menunjukkan bahwa isu-isu perkotaan selalu menarik untuk dibahas, apalagi berkaitan dengan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. Salah satu masalah yang dianggap penting dalam kajian perkotaan adalah rumah bagi orang miskin. Tulisan ini khusus menyoroti fungsi dan makna rumah bagi orang miskin dan bagaimana kesulitan-kesulitan yang dialami orang miskin dalam mengakses rumah yang layak di perkotaan...............


For Full Text Pdf Download Here

The Strengths and Weakness of Pluralism Theory


Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University



Cite:
Rohman, Arif. (2014). The Strengths and Weakness of Pluralism Theory. Kompasiana, 25 November 2014.

Pluralism theory is well-known as a theoretical tradition used to analyse political actions in modern democratic states. This theory is mainly based upon a perspective that citizens are involved in political arenas through different interest groups, and that political power should be dispersed to secure its own legitimate interests and none of these groups will dominate the system (Miller, 1983: 735). This essay will examine both the strengths and weakness of pluralism theory.............


For Full Text Pdf Download Here

Apa dan Siapa Anak Punk Itu?


Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University



Cite:
Rohman, Arif. (2013). Apa dan Siapa Anak Punk Itu?. Kompasiana, 3 September 2013.

Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara di dunia dengan jumlah populasi anak jalanan yang lumayan besar. Data dari Kementerian Sosial RI menyebutkan bahwa pada tahun 2009 jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 135.139 anak dan tersebar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Bandung dan Yogyakarta (Kemensos RI, 2009). Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menghapuskan anak jalanan, baik melalui penangkapan maupun penahanan, dan dalam beberapa kasus ekstrim adalah penyiksaan, namun keberadaan anak jalanan tetap tidak berkurang secara signifikan. Sebaliknya, ketika pemerintah cenderung menganggap fenomena anak jalanan sebagai perilaku menyimpang yang secara potensial mengarah pada kriminalitas, media dan lembaga non pemerintah justru menganggap mereka sebagai kelompok rawan sekaligus korban kekerasan secara pasif yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak lagi memiliki kepedulian dan solidaritas sosial. Perbedaan cara pandang ini semakin rumit tatkala fenomena anak punk muncul dipermukaan, yang sekaligus meruntuhkan anggapan bahwa anak jalanan identik dengan kemiskinan dan keterpaksaan. Tulisan ini mencoba................


For Full Text Pdf Download Here

Senin, 24 November 2014

The Positive and Negative Social Capital

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University

Cite:
Rohman, Arif. (2014). The Positive and Negative Social Capital. Kompasiana, 25 November 2014.

Social capital can be defined as trust, norms and networks that facilitate cooperation for mutual benefit (Putnam, 1993: 167). However, the concept of social capital is not always positive. This article will discuss positive and negative social capital.

Social capital can be useful when cooperation for mutual benefit can be facilitated by social network and norms of reciprocity (Putnam, 2000: 21). In this context....


For Full Text Pdf Download Here

Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia: Hambatan, Tantangan dan Peluang

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University

Cite :
Rohman, Arif. (2014). Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia: Hambatan, Tantangan dan Peluang. Kompasiana, 24 November 2014.

Pendahuluan

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa tujuan pembentukan Negara Indonesia adalah untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebagai perwujudan dari cita-cita luhur tersebut maka pembangunan kesejahteraan sosial diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) dalam menyelesaikan masalahnya secara bersama-sama, agar peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat 1, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, dan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar adalah tanggung jawab negara. Negara bertanggung jawab untuk mengatur dan memastikan bahwa hak untuk hidup sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat dipenuhi, khususnya mereka yang hidup tidak layak secara kemanusiaan, seperti : (1) Kemiskinan; (2) Keterlantaran, (3)  Kecacatan, (4) Keterpencilan, (5) Ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku, (6) Korban bencana, dan (vii) Korban tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
Indonesia sebagai salah satu negara yang meratifikasi Deklarasi Millennium Development Goals (MDG’s), menjadikan MDG’s sebagai orientasi pembangunan dan mengadopsi tujuan serta target sasarannya ke dalam rencana pembangunan nasional sehingga Kementerian Sosial dalam menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesejahteraan sosial tidak hanya memiliki keberpihakan pada orang miskin (pro poor) dan keberpihakan pada keadilan (pro justice), namun juga berorientasi pada pencapaian MDG’s.
Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional  (RPJMN) 2010-2014 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010, terutama dalam mendukung dan mencapai Prioritas Pembangunan Nasional, maka upaya-upaya dalam : (1) Penanggulangan kemiskinan; (2) Pengelolaan bencana, serta (3) Daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca konflik, menjadi bagian tugas Kementerian Sosial.
Dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian Sosial RI memiliki visi ‘Terwujudnya Kesejahteraan Sosial Masyarakat’. Guna mewujudkan visi tersebut, Kementerian Sosial menetapkan tiga misi yang akan dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan yaitu : (1) Meningkatkan aksesibilitas masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan dasar melalui rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial serta pemberdayaan sosial dan penanggulangan kemiskinan; (2) Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia kesejahteraan sosial dalam penyelenggraan  kesejahteraan sosial; dan (3) Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial......
For Full Text Pdf Download Here

A Critical Review of Gaylyn Studlar’s Work: ‘Masochism and The Perverse Pleasures of The Cinema (1985)’


Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University

Cite:
Rohman, Arif. (2014). A Critical Review of Gaylyn Studlar’s Work: ‘Masochism and The Perverse Pleasures of The Cinema (1985)’. Kompasiana, 24 November 2014.



The domination of psychoanalysis in criticism of women in Hollywood traditional movies appeared when Laura Mulvey published her seminal essay ‘visual pleasure and narrative cinema’ in 1975. However, after dominating for a long time, pros and cons about her work have appeared.

Gaylyn Studlar in ‘Masochism and the perverse pleasures of the cinema’ tries to encounter the ‘male gaze’ theory using Peircean semiotic and psychoanalysis. She believes that Mulvey’s concepts of ‘castration anxiety’ and ‘voyeuristic sadistic’...


For Full Text Pdf Download Here

Minggu, 23 November 2014

The Death of Steve Irwin and Its Controversy

Arif Rohman

School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University


Cite:
Rohman, Arif. (2014). The Death of Steve Irwin and Its Controversy. Kompasiana, 24 November 2014.



Steve Irwin occupied a special place in the Australian psyche which was shown by the extraordinary reaction to his death. Those who admired Irwin as a hero called him a wildlife warrior because of his skills and bravery in taking care of many animals, especially crocodiles. He also made a good impression as a celebrity and conservationist with his masculinity, enthusiasm and spirit to promote the wild animals’ conservation. Like any romantic story, Irwin died as a hero doing what ‘he loved and fought for’ (Himes, 2006). On the contrary, there are other who claimed that Steve Irwin went to far by invading the animal realm. This essay will discuss both the positive and negative responses to the Steve Irwin’s death, and try to identify the reasons behind this debate.

In her article, Greer (2006) stated that Irwin’s death was basically the revenge of the animal kingdom. She argued that animals also need space to live in their natural habitat, but Irwin broke and ignored this conservation ethic and created a new genre of animal documentary film for entertainment purposes which was ‘nature nasty’. On the subject of conservation, it is a consensus that protection of the habitat of wild creatures is an essential part of this process. Greer was more disappointed in Irwin when in 2004 he fed a crocodile with a dead chicken in one hand and his baby in the other hand. Although a disaster did not happen, Greer said that using a baby as part of the show was dangerous and was a silly thing and she called it child abuse....

For Full Text Pdf Download Here


A Critical Review of Laura Mulvey’s Work: ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975)’

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University


Cite:
Rohman, Arif. A Critical Review of Laura Mulvey’s Work: ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975)’. Kompasiana, 13 December 2013.



The second feminist wave in the 1960s has influenced feminists to increase their ideology against patriarchy in almost all areas. One of the areas which made women very vulnerable is the issue of women in cinema. This is based on the assumption that Hollywood traditional movies have a strong gender bias and position women as subordinate (Marshment, 1997: 126). Therefore studying the representation of women in narrative cinema became a big issue due to the film fascination which could affect the spectators.


Mulvey in her seminal essay ‘Visual pleasure and narrative cinema’ tries to reveal the Hollywood misogyny which has its visual manipulation in the mainstream of narrative cinema. Using Freudian and Lacanian works of psychoanalysis, she argues that Hollywood traditional cinema represented the ideas and values of patriarchy and oppressed women by ‘male gaze’. Women were led to become erotic objects by ‘fetishistic scopophilia’ and ‘voyeuristic sadism’. By this, using psychoanalysis is appropriate as a ‘political weapon’ to criticism women and film...

For Full Text Pdf Download Here

The Media and Academic Representation of Princess Diana

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University


Cite:
Rohman, Arif. The Media and Academic Representation of Princess Diana. Kompas, 23 November 2014.


The life of Princess Diana cannot be separated from the media nor can it be discussed aside from academic publications and discussions. Anywhere she went, the media would go and publish news of her as a headline. In other words, the image of Princess Diana was affected by the role of the media. This article will examine why the media always reported on Princess Diana excessively and continually, how it created the image of Princess Diana, and how this image had affected her.

It is not a secret that Princess Diana was considered an icon by the public and highlighted by the media. The media continually reported most aspects of her lifeand this could be understood based on three main reasons: (1) The needs of media to find international news; (2) Princess Diana was a person who was open to the media; and (3) The high demand from the people who wanted to know the latest news about her.

Firstly, it cannot be denied that the media....

For Full Text Pdf Download Here




Rabu, 05 November 2014

Gelandangan di Perkotaan dan Kompleksitas Masalahnya


Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University


Cite:
Rohman, Arif. (2013). Gelandangan di Perkotaan dan Kompleksitas Masalahnya. Kompasiana, 2 September 2013.

Gelandangan dan pengemis memang telah menjadi masalah nasional yang dihadapi di banyak kota, tak terkecuali di negara maju (Schwab, 1992). Permasalahan gelandangan dan pengemis sebenarnya telah lama mendapatkan perhatian serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun LSM. Evers & Korf (2002) bahkan secara ekstrim mengibaratkan gelandangan sebagai penyakit kanker yang diderita kota karena keberadaannya yang mengganggu keindahan dan kenyamanan kota, namun begitu susah dan kompleks dalam penanggulangannya. Tulisan ini ingin menunjukkan kompleksitas permasalahan gelandangan melalui penyajian data dan fakta yang dianggap relevan, dan memunculkan pertanyaan tentang kapan persoalan gelandangan akan selesai kita tangani?

Anomali Istilah Gelandangan, Pengemis dan Pemulung
Istilah gelandangan berasal dari kata gelandangan, yang artinya selalu berkeliaran atau tidak pernah mempunyai tempat kediaman tetap (Suparlan, 1993). Pada umumnya para gelandangan adalah kaum urban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannya di kota, namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, keahlian pengetahuan spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang. Sebagai akibatnya, mereka bekerja serabutan dan tidak tetap, terutamanya di sektor informal, semisal pemulung, pengamen dan pengemis. Weinberg (1970) menggambarkan bagaimana gelandangan dan pengemis yang masuk dalam kategori orang miskin di perkotaan sering mengalami..........................



For Full Text Pdf Download Here


Permasalahan Orang Gila dan Kompleksitas Penanganannya di Indonesia

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University

Cite:
Rohman, Arif. (2014). Permasalahan Orang Gila dan Kompleksitas Penanganannya di Indonesia. Kompasiana, 5 November 2014.


Pendahuluan
Pada pertengahan tahun 2014, ketika saya pulang ke kampung saya di Demak – Jawa Tengah, Ibu saya bercerita tentang almarhum Lek Jupri. Lek Jupri adalah penjual ‘bakso kojek tusuk lidi’ dan ‘es pasah sirup frambos’ yang sangat terkenal dan cukup legend di kampung kami. Sampai sekarang saya belum menemukan tandingan kelezatan bakso kojek bikinannya. Kalau membayangkan bakso kojeknya, langsung terbit selera saya, pun saat saya menulis artikel ini. Pada waktu saya masih SD, saya masih ingat, walaupun mulai berdatangan para tukang siomay dari daerah lain (Bandung – Jawa Barat), yang menawarkan dagangan lebih komplit seperti ada kol, tahu, dan pare-nya, namun penggemar Lek Jupri tidak pernah surut. Mungkin karena rasanya yang yummy dan harganya yang relatif lebih murah, disamping  penyajiannya yang sederhana, yaitu bakso tepung kecil-kecil yang direbus dan diberi sambal kacang dan kecap dan sedikit saos yang dimasukkan dalam plastik kecil ukuran ½ ons.  Saya tidak bisa membayangkan berapa banyak orang yang pernah mencicipi makanannya dan saat ini sudah menjadi orang-orang sukses dalam hidupnya. Dia orang yang baik dan taat beribadah di mata masyarakat sekitar.
Namun sayangnya, kenangan tersebut seketika hilang manakala saya tahu bahwa beliau sudah meninggal. Meninggalnya pun boleh dikatakan menurut saya sangat tragis. Bermula dari kondisi fisiknya yang sudah mulai menua, dan pembeli yang semakin berkurang, serta mungkin banyak hutang pada rentenir, akhirnya dia mengalami stress ringan. Atas usul salah satu tokoh masyarakat, dia dikirim ke salah satu panti orang gila di Semarang. Bukannya kondisinya semakin baik, ternyata justru semakin buruk karena di panti itu dia dicampur dengan orang-orang gila beneran hasil razia di jalanan. Banyak orang yang menyayangkan bahwa sebenarnya pada waktu Lek Jupri masih dalam keadaan stress ringan, dia bisa saja sembuh dengan sendirinya, jika masyarakat sekitar lebih peduli pada keadaannya dan bersama-sama memberikan perhatian yang lebih pada kehidupannya, tentu saja dengan mencari akar masalah yang membuat dia merasa tertekan.
Tulisan ini berusaha untuk memotret permasalahan orang gila di Indonesia, dan perlakuan yang sering mereka terima dalam kehidupan sehari-hari. Maksud dari tulisan ini adalah untuk menunjukkan betapa...............................


For Full Text Pdf Download Here

Rabu, 01 Oktober 2014

Does God Give Special Kids to Special Parents?

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University


Cite:
Rohman, A. (2013). Does God Give Special Kids to Special Parents?. Kompasiana, 15 October 2013.


Apakah Tuhan memberikan anak dengan kebutuhan khusus kepada para orang tua yang khusus pula (mereka yang beruntung dan terpilih— the chosen one)? Pertanyaan ini sering mengganggu saya. Paling tidak ketika saya mencari-cari jawabannya, otak saya langsung mumet dan ngehang (memakai istilah komputer). OK. Saya mau sedikit membahasnya melalui tulisan singkat ini.
Studi literatur menunjukkan bahwa ada beberapa model dalam memahami disability. Pertama adalah moral/religious model, kedua yaitu medical model, dan terakhir yakni social model. Pertanyaan yang diajukan sangat berkaitan dengan salah satu model yaitu moral/religious model. Moral/religious model menganggap bahwa disability pada dasarnya adalah hukuman dari tuhan atas dosa-dosa yang telah diperbuat seseorang atau anggota kerabatnya (Thomson, 1997). Meminjam istilah karma di India, maka disabilitas bisa lebih luas scoopnya karena hukuman dari Tuhan bisa jadi akibat dari dosa-dosa yang diperbuat dalam kehidupan sebelumnya –sebelum reinkarnasi– (Ghai, 2001). Pandangan-pandangan ini sebenarnya menggunakan rujukan kitab suci dan ajaran-ajaran agama untuk............


For Full Text Pdf Download Here

Fenomena Anak Punk: Sisi Lain Mengenai Ruwetnya Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia

Fenomena Anak Punk: Sisi Lain Mengenai Ruwetnya Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia

Cite:
Rohman, A. (2009). Fenomena Anak Punk: Sisi Lain Mengenai Ruwetnya Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia. Warta Demografi Universitas Indonesia, 39 (3), 52-55.


A. Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara di dunia dengan jumlah populasi anak jalanan yang lumayan besar. Data dari Kementerian Sosial RI menyebutkan bahwa pada tahun 2009 jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 135.139 anak dan tersebar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Bandung dan Yogyakarta (Kemensos RI, 2009). Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menghapuskan anak jalanan, baik melalui penangkapan maupun penahanan, dan dalam beberapa kasus ekstrim adalah penyiksaan, namun keberadaan anak jalanan tetap tidak berkurang secara signifikan. Sebaliknya, ketika pemerintah cenderung menganggap fenomena anak jalanan sebagai perilaku menyimpang yang secara potensial mengarah pada kriminalitas, media dan lembaga non pemerintah justru menganggap mereka sebagai kelompok rawan sekaligus korban kekerasan secara pasif yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak lagi memiliki kepedulian dan solidaritas sosial. Perbedaan cara pandang ini semakin rumit tatkala fenomena anak punk muncul dipermukaan, yang sekaligus meruntuhkan anggapan bahwa anak jalanan identik dengan kemiskinan dan keterpaksaan. Tulisan ini mencoba membuka persoalan mengenai semakin maraknya anak punk dan eksistensi mereka di jalanan serta usulan mengenai pola pendekatan dan penanganan yang ideal yang perlu dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi kemanusiaan non pemerintah.
B. Sekilas Mengenai Anak Jalanan
Banyak definisi mengenai anak jalanan yang dipakai para akademisi maupun pemerhati anak guna menggambarkan karakteristik anak jalanan. Namun ironisnya, konsep-konsep tersebut disamping memperkaya pandangan pandangan mengenai anak jalanan, seringkali justru mangaburkan pengertian anak jalanan itu sendiri. Aptekar dan Heinonen (2003) mengungkapkan bahwa definisi umum yang sering dipakai terkait dengan istilah anak jalanan mengacu pada istilah yang digunakan oleh Unicef. Di sini, anak jalanan diklasifikasikan menjadi tiga kategori. Pertama, children on the street yaitu anak beraktifitas di jalanan namun masih memiliki kontak secara rutin dengan keluarga mereka. Kedua, children of the street, dimana anak hidup, bekerja dan tidur di jalanan. Ketiga, children on and off the street, merujuk pada anak yang..............


For Full Text Pdf Download Here

Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa

Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa

Cite:
Rohman, Arif. (2010). 'Program Penanganan Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan Terpadu Melalui Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga Berorientasi Desa'. Disampaikan Pada Acara Workshop Penanganan Gelandangan di Perkotaan. Jakarta, 14 Oktober 2010. Jakarta: Kementerian Sosial RI.



A. Latar Belakang
Gelandangan dan pengemis memang telah menjadi masalah nasional yang dihadapi di banyak kota, tak terkecuali di negara maju (Schwab, 1992 : 408). Permasalahan gelandangan dan pengemis sebenarnya telah lama mendapatkan perhatian serius baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun LSM. Evers & Korf (2002 : 294) bahkan secara ekstrim mengibaratkan gelandangan sebagai penyakit kanker yang diderita kota karena keberadaannya yang mengganggu keindahan dan kenyamanan kota, namun begitu susah dan kompleks dalam penanggulangannya.
Istilah gelandangan berasal dari kata gelandangan, yang artinya selalu berkeliaran atau tidak pernah mempunyai tempat kediaman tetap (Suparlan, 1993 : 179). Pada umumnya para gelandangan adalah kaum urban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannya di kota, namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, keahlian pengetahuan spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang. Sebagai akibatnya, mereka bekerja serabutan dan tidak tetap, terutamanya di sektor informal, semisal pemulung, pengamen dan pengemis. Weinberg (1970 : 143-144) menggambarkan bagaimana gelandangan dan pengemis yang masuk dalam kategori orang miskin di perkotaan sering mengalami praktek diskriminasi dan pemberian stigma yang negatif. Dalam kaitannya dengan ini, Rubington & Weinberg (1995 : 220) menyebutkan bahwa pemberian stigma negatif justru menjauhkan orang pada kumpulan masyarakat normal.
Mereka yang tidak sukses mengadu nasib di kota, malu untuk kembali ke kampung halamannya, sementara mereka terlunta-lunta hidup di perantauan. Mereka hidup di pemukiman liar dan kumuh (slum/squatter area) yang dianggap murah atau tidak perlu bayar. Orang gelandangan pada umumnya tidak memiliki kartu identitas karena takut atau malu dikembalikan ke daerah asalnya, sementara pemerintah kota tidak mengakui dan tidak mentolerir warga kota yang tidak mempunyai kartu identitas. Sebagai akibatnya perkawinan dilakukan tanpa menggunakan aturan dari pemerintah, yang sering disebut dengan istilah kumpul kebo (living together out of wedlock). Praktek ini mengakibatkan anak-anak keturunan mereka menjadi generasi yang tidak jelas, karena tidak mempunyai akte kelahiran. Sebagai generasi yang frustasi karena putus hubungan dengan kerabatnya di desa dan tidak diakui oleh pemerintah kota, dan tanpa tersentuh dunia pendidikan formal, pada akhirnya mereka terdorong oleh sistem menjadi anak jalanan dan rentan terpengaruh untuk melakukan tindak kriminal dan asosial (Rohman, 2004 : 72-74).
B. Data dan Fakta
Dalam upaya untuk merumuskan program penanganan yang tepat untuk gelandangan, pengemis dan anak jalanan, ada baiknya disampaikan data dan fakta sebagai berikut :
1. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Sosial, tercatat pada tahun 2008, jumlah gelandangan mencapai 25.169 orang, jumlah pengemis mencapai 35.057 orang, dan anak jalanan mencapai...................................


For Full Text Pdf Download Here

Menggagas Perumahan Layak bagi Keluarga Miskin Perkotaan

Menggagas Perumahan Layak bagi Keluarga Miskin Perkotaan

Cite:
Rohman, Arif. (2005). 'Menggagas Perumahan Layak bagi Keluarga Miskin Perkotaan'. Menuju Indikator Keluarga Sejahtera. Jakarta: Departemen Sosial RI. pp. 31-37.

A. Pendahuluan
Kota-kota di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, telah mengalami berbagai permasalahan berkenaan dengan pertumbuhannya. Salah satu masalah yang timbul adalah adalah masalah pemukiman. Masalah tersebut tidak terlepas dari berbagai masalah lain yang ada di perkotaan, seperti masalah wilayah komersial, industri, tempat-tempat umum, monumen-monumen, jalan dan lalu lintas, rekreasi dan olah raga, sanitasi, kesehatan umum, pekuburan, dan lain sebagainya. Disamping itu, masalah jalur kereta api dan pola pertumbuhan pemukiman pita (ribbon building), yaitu pola pembangunan bangunan hunian, toko-toko dan tempat-tempat berjualan, bangunan-bangunan pemerintah, yang dilakukan di sepanjang tepi-tepi jalan dan jalur-jalur kereta api di perkotaan.
Di daerah perkotaan, pola pemukiman pita ini menyebabkan keruwetan dan ketidakteraturan yang sudah ada menjadi lebih kompleks lagi. Wertheim (1958), mengatakan bahwa untuk mengatasinya..............




For Full Text Pdf Download Here

Tentang Penjara Swasta: Akankah kita mengarah ke sana?

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University



Cite:
Rohman, Arif. (2013). Tentang Penjara Swasta: Akankah kita mengarah ke sana?. Kompasiana, 4 August 2013.

Beberapa waktu yang lalu publik di Indonesia sempat dikejutkan oleh kisruh di beberapa lembaga pemasyarakatan (penjara), yang disinyalir karena fasilitas lembaga pemasyarakatan yang tidak memadai serta kapasitas penjara yang terlalu penuh (overcrowded). Pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana sebenarnya pengelolaan institusi penjara di negeri kita dan tidak adakah terobosan-terobosan baru yang bisa dipakai untuk menjawab persoalan tersebut?
Sebenarnya persoalan penjara yang kapasitasnya berlebihan dan fasilitasnya yang minim, tidak hanya dialami negara kita saja. Negara maju semacam Amerika, Inggris dan Australia juga sebenarnya dipusingkan oleh masalah ini. Puncaknya adalah pada tahun 1992 di Inggris, dibangunlah private prison atau biasa disebut dengan istilah penjara swasta. Konsep penjara swasta dianggap sebagai alternatif solusi terhadap pandangan miring seputar penjara negara (public prison). Dibanding Inggris, Amerika sebenarnya lebih dulu menggagas konsep penjara ini pada tahun 1980-an dan pada tahun 1984 mulai dibangun penjara-penjara swasta yang lebih modern. Di Australia, pada awal tahun 2013 diberitakan Queensland akan memprivatisasi................



For Full Text Pdf Download Here

Belajar dari ‘Baba Amte’ dalam Memanusiakan Orang dengan Penyakit Kusta

Belajar dari ‘Baba Amte’ dalam Memanusiakan Orang dengan Penyakit Kusta



Cite:
Rohman, Arif. (2014). Belajar dari ‘Baba Amte’ dalam Memanusiakan Orang dengan Penyakit Kusta. Kompasiana, 10 August 2013.

Bayangkan anda sebagai orang tua sebentar lagi anak anda akan menikah. Tentu saja anda akan mencari tahu siapa orang tua dari si calon menantu. Dan apabila orang tua calon menantu anda menderita penyakit kusta apa yang pertama anda lakukan? Tentu saja sebagian orang akan merasa keberatan dan tidak mau anaknya beresiko.
Bayangkan ada guru mengaji yang menderita penyakit kusta, masihkah anda akan mengirim anak anda untuk mengaji di tempat guru mengaji tersebut? Sebagian orang tentu memilih untuk melarang dan cenderung mencari guru mengaji yang dianggap tidak membahayakan anaknya.
Bayangkan anda ketika ada acara makan-makan tiba-tiba datang seorang dengan penyakit kusta disebelah anda, mengajak anda bersalaman, dan kemudian makan disamping anda. Sebagian orang memilih untuk menghindar dan segera mencuci tangannya karena takut tertular penyakit satu ini.
Beberapa contoh di atas seringkali kita jumpai dalam keseharian kita, dan kita merasa memiliki hak untuk melakukan dan membenarkan tindakan-tindakan tersebut. Tapi tanpa kita sadari, sebenarnya kita telah memberikan stigma pada orang dengan penyakit kusta sekaligus melakukan diskriminasi terhadap mereka.
Studi yang dilakukan oleh Bonney (2011) mengungkapkan bagaimana orang dengan penyakit kusta tersingkir dalam kehidupan sosial masyarakat dan dalam mengakses pekerjaan serta.................




For Full Text Pdf Download Here

A Critical Review of Laura Mulvey’s Work: ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975)’

A Critical Review of Laura Mulvey’s Work: ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975)’



Cite:
Rohman, A. (2013). A Critical Review of Laura Mulvey’s Work: ‘Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975)’. Kompasiana, 13 December 2013.


The second feminist wave in the 1960s has influenced feminists to increase their ideology against patriarchy in almost all areas. One of the areas which made women very vulnerable is the issue of women in cinema. This is based on the assumption that Hollywood traditional movies have a strong gender bias and position women as subordinate (Marshment, 1997: 126). Therefore studying the representation of women in narrative cinema became a big issue due to the film fascination which could affect the spectators.
Mulvey in her seminal essay ‘Visual pleasure and narrative cinema’ tries to reveal the Hollywood misogyny................





 For Full Text Pdf Download Here

Bisakah Kita Menjadi Captain America bagi Anak? - Memahami Fenomena Kekerasan pada Anak di Sekolah

Arif Rohman
School of Humanities and Social Sciences
Charles Sturt University


Cite:
Rohman, Arif. (2014). Bisakah Kita Menjadi Captain America bagi Anak? - Memahami Fenomena Kekerasan pada Anak di Sekolah. Kompasiana, 16 April 2014.

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School seperti memberikan tamparan yang keras bagi dunia pendidikan Indonesia. Anak laki-laki umur 6 tahun keturunan Belanda yang sekolah di Jakarta International School (JIS) Pondok Indah disodomi oleh para petugas cleaning service di sekolahnya. Pertanyaan yang banyak bermunculan adalah pertama, apakah korban satu orang atau lebih, karena bisa jadi praktik bejat ini juga pernah menimpa anak-anak yang lain. Kedua, jika ini terjadi sekolah yang standar kualitasnya internasional dan dengan pengawasan yang kuat lalu bagaimana dengan sekolah-sekolah lain? Tulisan ini akan mengupas secara singkat tentang tindak kekerasan di sekolah dengan seluruh dimensinya dalam konteks ilmu pekerjaan sosial.

Secara umum kekerasan anak anak dapat dibagi menjadi 3 kategori. Pertama, kekerasan fisik, yaitu bentuk kekerasan yang berakibat pada luka fisik pada diri anak seperti memukul, menjewer, menampar, mencubit, dan aksi lain yang serupa. Kedua, kekerasan verbal, yaitu bentuk kekerasan non fisik yang mengakibatkan ketidaknyamanan pada diri dan psikis anak, seperti membentak, mengata-ngatai secara kasar, menghina, perkataan rasis - diskriminatif, dan perkataan-perkataan lain yang serupa yang dapat menjatuhkan mental anak. Terakhir, kekerasan seksual, yaitu meliputi.............




For Full Text Pdf Download Here