Wednesday, 17 November 2010

KANG SARPIN MINTA DIKEBIRI

KANG SARPIN MINTA DIKEBIRI

cerpen Ahmad Tohari




KANG Sarpin meninggal karena kecelakaan lalu lintas pukul enam tadi pagi. Ia sedang dalam perjalanan ke pasar naik sepeda dengan beban sekuintal beras melintang pada bagasi. Para saksi mengatakan, ketika naik dan hendak mulai mengayuh, Kang Sarpin kehilangan keseimbangan. Sepedanya oleng dan sebuah mobil barang menyambarnya dari belakang. Lelaki usia lima puluhan itu terpelanting, kemudian jatuh ke badan jalan. Kepala Kang Sarpin luka parah, dan ia tewas seketika. Satu lagi penjual beras bersepeda mati menyusul beberapa teman yang lebih dulu meninggal dengan cara sama.

Beban sekarung beras pada begasi dan terkadang sekarung kecil lainnya pada batangan adalah risiko besar bagi setiap penjual beras bersepeda. Tetapi mereka tak jera. Setiap hari mereka membeli padi dari petani, kemudian mengolahnya di kilang lalu menjual berasnya ke pasar. Mereka tak peduli sekian teman telah meninggal menjadi bea jalan raya yang kian sibuk dan kian sering minta tumbal nyawa.

Berita tentang kematian itu sampai kepada saya lewat Dalban, ipar Kang Sarpan sendiri. Ketika menyampaikan kabar itu Dalban tampak biasa saja. Wajahnya tetap jernih. Kata-katanya ringan. Mulutnya malah cengar-cengir. Entahlah, kematian Kang Sarpin tampaknya tidak menjadi kabar duka.

Di rumah Kang Sarpin saya telah melihat banyak orang berkumpul. Jenazah sudah terbungkus kafan dan terbujur dalam keranda. Tetapi tak terasa suasana duka cita. Wajah para pelayat cair-cair saja. Mereka duduk santai dan bercakap sambil merokok seperti dalam kondangan atau kenduri. Ada juga yang bergurau dan tertawa. Asap mengambang di mana-mana melayang seperti kabut pagi. Ah, saya harus bilang apa. Di rumah Kang Sarpin pagi itu memang tak ada duka cita atau bela sungkawa. Kalaulah ada seorang bemata sembab karena habis menangis, dialah istri Kang Sarpin. Tampaknya istri Kang Sarpin berduka seorang diri.

Setelah menaruh uang takziyah di kotak amal saya mencari kursi yang masih kosong. Sial. Satu-satunya kursi yang tersisa berada tepat di sebelah Dalban. Ipar Kang Sarpin masih ngoceh tentang si mati. Dan saya tak mengerti mengapa omongan si Dalban seperti menyihir para pelayat. Orang-orang tampak tekun menikmati cerita tentang almarhum dari mulut nyinyir itu.
“Ya, wong gemblung itu sudah meninggal,” kata Dalban dengan enak. Wajahnya tampak tanpa beban. “Bagaimana aku tak menyebut iparku wong gemblung. Coba dengar. Suatu ketika di kilang padi, orang-orang menantang Sarpin: bila benar jantan maka dengan upah lima ribu rupiah dia harus berani membuka celana di depan orang banyak. Mau tahu tanggapan Sarpin? Tanpa piker panjang Sarpin menerima tantangan itu.

Ia menelanjangi dirinya bulat-bulat di depan para penantang. Lalu enak saja, dengan kelamin berayun-ayun, dia berjalan berkeliling sambil meminta upah yang dijanjikan.”

Cerita Dalban terputus oleh gelak tawa orang-orang. Dan Dalban makin bersemangat.

“Ya, orang-orang hanya nyengir dan mengaku kalah. Malu dan sebal. Sialnya mereka harus mengumpulkan uang lima ribu. Tetapi Yu Cablek, penjual pecel di kilang padi yang melihat kegilaan Sarpan berlari sambil berteriak, ‘Sarpin gemblung, dasar wong gemblong!’’

Orang-orang tertawa lagi. Dan jenazah Kang Sarpin terbujur diam dalam keranda hanya beberapa langkah dari mereka. Saya mengerutkan alis. Ah, sebenarnya orang sekampung, lelaki dan perempuan, sudah tahu siapa dan bagaimana Kang Sarpin. Dia memang lain. Dia tidak hanya mau menelanjangi diri di depan orang banyak. Ada lagi tabiatnya yang sering membuat orang sekampung mengerutkan alis karena tak habis pikir. Kang Sarpin sangat doyan main perempuan dan tabiat itu tidak ditutupi-tutupinya. Dia dengan mudah mengaku sudah meniduri sekian puluh perempuan. “Saya selalu tidak tahan bila hasrat birahi tiba-tiba bergolak,” kata Kang Sarpin suatu saat.

“Tetapi Kang Sarpin masih ada baiknya juga,” cerita Dalban lagi. “Meski gemblung dia berpantangan meniduri perempuan bersuami. Kalau soal janda sih, jangan ditanya; yang tua pun dia mau. Dan hebatnya lagi dia juga tak pernah melupakan jatah bagi istrinys, jatah lahir maupun batin.”
**
DALBAN terus ngoceh dan orang-orang tetap setia mendngar dan menikmati ceritanya. Saya juga ikut mengangguk-angguk. Tetapi saya juga merenung. Sebab tadi malam, kira-kira sepuluh jam sebelum kematiannya Kang Sarpin muncul di rumah saya. Di bawah lampu yang tak begitu terang wajahnya kelihatan berat. Ketika saya Tanya maksud kedatangannya, Kang Sarpin tak segera membuka mulut. Pertanyaan saya malah membuatnya gelisah. Namun lama-kelamaan mulutnya terbuka juga.

Ketika mulai berbicara ucapannya terdengar kurang jelas. “Mas, saya sering bingung. Sebaiknya saya harus bagaimana?”

“Maksud Kang Sarpin?”

“Ah, Mas kan tahu saya orang begini, orang jelek. Wong gemblung. Doyan perempuan. Saya mengerti sebenarnya semua orang tak suka kepada saya. Sudah lama saya merasa orang sekampung akan lebih senang bila saya tidak ada. Saya adalah aib di kampung ini.”

“Kang, semua orang sudah tahu siapa kamu,” kata saya sambil tertawa. “Dan ternyata tak seorang pun mengusikmu. Lalu mengapa kamu pusing?”

“Tetapi saya merasa menjadi kelilip orang sekampung. Ah, masa-iya saya akan terus begini. Saya ingin berhenti menjadi aib kampung ini. Lagi pula sebentar lagi saya punya cucu. Saya sudah malu jadi wong gemblung. Saya sudah ingin jadi wong bener, orang baik-baik. Tetapi bagaimana?”

“Yang begitu kok tanya saya? Mau jadi orang baik-baik, semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kan? Kalau mau baik, jadilah baik. Kalau mau tetap gemblung, ya terserah.”

“Tidak! Saya ingin berhenti gemblung. Sialnya, kok ternyata tidak mudah. Betul. Mengubah tabiat ternyata tidak mudah. Dan inilah persoalannya mengapa saya datang ke mari.”

Saya pandangi wajah Kang Sarpin. Matanya menyorotkan keinginan yang sangat serius. Anehnya, saya gagal menahan senyum.

“Bila Kang Sarpin bersungguh-sungguh ingin jadi wong bener, kenapa tidak bisa? Seperti saya bilang tadi, masalahnya tergantung kamu, bukan?”

“Sulit Mas,” potong Sarpin dengan mata berkilat-kilat. “Saya sungguh tak bisa!”

“Kok? Tidak bisa atau tak mau?”

“Tak bisa.” Kang Sarpin menunduk dengan menggeleng sedih.

“Lho, kenapa?”

“Ah, Mas tidak tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Burung saya lho, Mas! Burung saya; betapapun saya ingin berhenti main perempuan, dia tidak bisa diatur. Dia amat bandel. Bila sedang punya mau, burung sama sekali tak bisa dicegah. Pokoknya dia harus dituruti, tak kapan, tak di mana. Sungguh Mas, burung saya sangat keras kepala sehingga saya selalu dibuatnya jengkel. Dan bila sudah demikian saya tak bisa berbuat lain kecuali menuruti apa maunya.

“Sekarang, Mas, saya datang kemari untuk minta bantuan. Tolong. Saya suka rela diapakan saja asal saya bisa jadi wong bener. Saya benar-benar ingin berhenti jadi wong gemblung.”

Terasa pandangan Kang Sarpin menusuk mata saya. Saya tahu dia sungguh-sungguh menunggu jawaban. Sialnya, lagi-lagi saya gagal menahan senyum. Kang Sarpin tersinggung.

“Mas, mungkin saya harus dikebiri.”

Saya terkejut. Dan Kang Sarpin bicara dengan mata terus menatap saya.

“Ya. Saya rasa satu-satunya cara untuk menghentikan kegemblungan saya adalah kebiri. Ah, burung saya yang kurang ajar itu memang harus dikebiri. Sekarang Mas, tolong kasih tahu dokter mana yang kiranya mau mengebiri saya. Saya tidak main-main. Betul Mas, saya tidak main-main!”

Tatapan Kang Sarpin makin terasa menusuk-nusuk mata saya. Wajahnya keras. Dan saya hanya bisa menarik napas panjang.

“Entah di tempat lain Kang, tetapi di sini saya belum pernah ada orang dikebiri. Keinginanmu sangat ganjil, Kang.”

“Bila tak ada dokter mau mengebiri, saya akan pergi kepada orang lain. Saya tahu di kampung sebelah ada penyabung yang pandai mengebiri ayam aduannya. Saya kira, sebaiknya saya pergi ke sana. Bila penyabung itu bisa mengebiri ayam, maka dia pun harus bisa mengebiri saya. Ya. Besuk, sehabis menjual beras ke pasar ….”

“Jangan Kang,” potong saya. Tatapan Kang Sarpin kembali menusuk mata saya. “Kamu jangan pergi ke tukang sabung ayam. Dokter memang tidak mau mengebiri kamu. Tetapi saya kira dia punya cara lain untuk menolong kamu. Besuk Kang, kamu saya temani pergi ke dokter.”

Wajah Kang Sarpin perlahan mengendur. Pundaknya turun dan napasnya lepas seperti orang baru menurunkan beban berat. Setelah menyalakan rokok Kang Sarpin menyandarkan ke belakang. Tak lama kemudian, setelah minta pengukuhan janji saya untuk mengantarnya ke dokter, Kang Sarpin minta diri. Saya mengantarnya sampai ke pintu. Ketika saya berbalik tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala; apakah Kang Sarpin adalah lelaki yang disebut cucuk senthe? Di kampung ini cucuk senthe adalah sebutan bagi lelaki dengan dorongan birahi meledak-ledak dan liar sehingga yang bersangkutan pun tak bisa mengendalikan diri. Entahlah.

***

SAYA tersadar ketika semua orang bangkit dari tempat duduk masing-masing. Rupanya modin yang akan memimpin upacara pelepasan jenazah sudah datang. Bahkan keranda sudah diusung oleh empat lelaki yang berdiri di tengah halaman. Kini suasana hening. Dalban yang sejak pagi terus ngoceh, juga diam.

Modin mengawali acara dengan memintakan maaf bagi almarhum kepada semua yang hadir. Modin juga menganjurkan kepada siapa saja yang punya utang piutang dengan Kang Sarpin untuk segera menyelesaikannya dengan para ahli waris. Sebelum doa dibacakan, modin tidak melupakan tradisi kampung kami; meminta semua orang memberi kesaksian tentang jenazah yang hendak dikubur.

“Saudara-saudara, saya meminta kalian bersaksi apakah yang hendak kita kubur ini jenazah orang baik-baik?”

Hening. Orang-orang saling berpandangan dengan sudut mata. Saya melihat Dalban menyikut lelaki di sebelah. “Bagaimana? Sarpin itu tukang main perempuan. Apa harus kita katakana dia orang baik-baik?”

Masih hening. Saya merasa semua orang menanggung beban rasa pakewuh, serba salah. Maka modin mengulang pertanyaannya, apakah yang hendak dimakamkan adalah jenazah orang baik-baik. Sepi. Anehnya tiba-tiba saya merasa mulut saya bergerak.

“Baik!”

Suara saya yang keluar serta merta bergema dalam kelengangan. Saya melihat semua orang juga modin, tertegun lalu menatap saya. Entahlah, saat itu saya bisa menyambut tatapan mereka dengan senyum.

Keranda bergerak bersama langkah empat lelaki yang memikulnya. Bersama orang banyak yang berjalan sambil bergurau, saya ikut mengantar Kang Sarpin ke kuburan. Saya tak menyesal dengan persaksian saya. Di mata saya seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita jadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.***

Tuesday, 16 November 2010

“P I S P O T”

“P I S P O T”

cerpen Hamsad Rangkuti




Kami naik ke mobil polisi itu. Aku duduk di sebelah wanita korban penjambretan. Lelaki yang tersangka melakukan penjambretan itu duduk di depan kami. Hidungnya masih meneteskan darah. Di kiri kanannya duduk petugas pasar yang menangkapnya dan seorang polisi. Mobil itu terbuka. Angin menerbangkan rambut kami.

Orang itu beberapa saat yang lalu melintas di antara keramaian pasar. Seorang wanita menjerit. Aku melihat orang itu memasukkan sesuatu ke mulutnya disaat langkahnya yang tergesa. Aku menuding lelaki itu dan petugas pasar menangkapnya. Massa pun melampiaskan amarah mereka. Orang itu melap darah pada bibirnya dalam kecepatan lari mobil. Dia tidak berani mengangkat untuk memperlihatkan darah yang masih meleleh mencoreng mukanya.

Sebenarnya tidak ada barang bukti untuk menuduhnya sebagai pelaku penjambretan itu. Namun, aku mempertahankan kesaksianku dan ia pun jatuh terjerumus ke tangan polisi.

DI kantor polisi dia mulai didesak untuk mengakui perbuatannya. Mereka mulai menjalankan cara mereka untuk membuat orang mengaku!

“Benar kamu telan kalung itu?” bentak mereka.

“Tidak,” kata laki-laki itu menyembunyikan mukanya.

“Kamu buang?”

“Tidak.”

“Kamu sembunyikan?”

“Tidak.”

“Dia tidak bisa berkata lain selain : Tidak!” Mereka mulai tidak sabar. “Siksa!”

Orang itu terlempar dari kursi. Dia mencoba hendak berdiri. Bertelekan pada sudut meja. Dia kembali duduk di kursi.

“Saya tidak melakukan penjambretan itu, Bapak Polisi.”

“Bukan itu yang kutanyakan! Ke mana kau sembunyikan kalung itu?”

“Dia telan!” kataku.

“Kamu lihat?”

“Saya lihat! Dia masukkan kalung itu dan dia telan!”

Aku menambah kata “kalung” pada kesaksianku. Padahal, aku tidak melihat benda apa yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Sekarang sudah telanjur! “Pasti?”

“Pasti!”

“Dia masukkan kalung itu ke mulutnya? Begitu?

Orang di seberang itu memindahkan kesaksianku ke atas kertas yang diketiknya.

“Ya! Dia masukkan!”

“Lalu dia telan?”

“Berapa gram? Tanyanya ke wanita korban penjambretan itu.

“Lima belas gram!” jawab wanita itu.

“Cukup! Itu sudah cukup!” Bentak kepala pemeriksa.

“Semua keterangan itu sudah cukup meyakinkan! Ambil obat pencahar! Pisang dan papaya. Suruh dia mencret seperti burung. Lalu tampung kotorannya!”

Kepala pemeriksa itu pergi meninggalkan ruang pemeriksaan. Setelah semua benda yang disebutnya tersedia di ruang pemeriksaan, orang memanggilnya dan dia datang dengan keputusannya.

“Suruh dia minum obat pencahar! Apa itu? Garam inggris?”

“Betul Pak.” Kata bawahannya

“Bagus, dan tampung!”

Mereka pun mulai memaksa lelaki itu untuk menelan obat pencahar. Tetapi, lelaki itu tidak mau meminumnya. Dia tidak mau membuka mulut. Mereka mulai keras. Gelas berisi larutan garam inggris itu mereka sodokan ke mulutnya. Dia tutup mulutnya seperti orang menggigit. Kemudia dia terlempar lagi di kursi.

“Minum! Apa kau tidak biasa minum?!”

Dia bertelekanpada sudut meja untuk bisa bangkit dari tempat dia tersungkur.

“Kupas papaya itu! Dan suruh dia makan!”

“Mana yang lebih dahulu Komandan? Obat pencahar ini atau papaya?”

“Serentak juga tidak apa-apa! Yang penting tampung begitu dia ke jamban!”

“Nanti ususnya…”

“Tidak ada urusan! Suruh dia telan obat pencahar itu! Kemudian pisang atau papaya, lalu tampung!”

Mereka pun memaksa lelaki itu membuka mulut untuk menyungkah itu semua.

Aku mulai tidak kuat melihat penyiksaan iitu. Aku minta kepada komandan pemeriksa untuk membollehkan aku membujuk lelaki itu menelan obat pencahar, pisang dan papaya. Dia menyetujui. Lalu aku dan lelaki itu dimasukkan ke dalam ruang berdinding kaca yang terang benderang. Para pemeriksaberada di balik riben dan kami tidak melihatnya. Termasuk wanita yang menjadi korban penjambretan itu mengawasi kami lewat kaca peragaan.

Aku mulai membujuk laki-laki itu. Gelap di luar memberi kesan seolah kami berada di dalam kamar dalam gelap malam.

“Sekarang Cuma kita berdua saja di ruang ini. Ada suatu hal yang ingin kukatakan kepadamu. “Aku mulai menyakinkannya . “Kalau dalam waktu dekat kau tidak keluarkan kalung itu , mereka akan mengoperasimu!” Aku bergesser dekat kepadanya. “Kau telah tahu bagaimana orang dioperasi? Kau akan dibawa ke kamar bedah. Sebelum kau dioperasi, tubuhmu akan ditembus sinar x untuk melihat di bagian mana kalung itu nyangkut di ususmmu. Kau akan puasa dalam waktu yang lama. Setelah itu baru kau dimasukkan ke kamar bedah. Kau akan dibius. Pada saat kau sudah tidak sadar oleh obat bius, pada saat itulah kulit perutmu akan disayat mereka di meja operasi. Pisau bedah itu akan masuk ke dalam perutmu seperti orang menyiang ikan. Ususmu akan disabet mereka dengan geram, karena kau menyembunyikan benda berharga di ususmu. Satu hal harus kau ketahui bahwa operasi itu bukan untuk menyelamatkan kalung yang kau telan. Coba bayangkan seandainya operasi itu memerlukan tambahan darah. Siapa yang akan mau menyumbangkan darahnya untuk orang seperti kau? Jambret! Ingat bung. Kau tidfak ada artinya bagi mereka. Mereka mengoperasimu dalam saat mereka geram karena kau menyembunyikan kalung emas di dalam ususmu. Kau tidak ada artinya bagi mereka. Tidak mungkin ada orang mau menyumbang darah secara sukarela kepadamu. Tidak mungkin ada salah seorang sanak keluargamu yang mau datang menujukkan diri untuk menyumbang darah kepadamu. Mereka malu untuk muncul. Karena kau maling! Tahu kau? Nyawamu bagi mereka tidak ada artinya. Tubuhmu yang terbaring dalam pengaruh obat bius itu tidak akan mereka hiraukan lagi begitu mereka menemukan kalung emas itu. Saking gembiranya mereka itu, aku yakin begitu, mereka akan lupa menyudahi operasimu. Kau akan mati sia-sia. Untuk apa menyelamatkan penjambret seperti kau. Mengurangi jumlah penjahat lebih bijaksana! Maka, kau akan mampus! Kau tidak ubah seperti koper tua yang dicampakkan setelah dikeluarkan isinya. Mayatmu akan terbaring tanpa ada orang yang menjenguk.”

Orang itu dari tunduk memandang kepadaku.

“Kau masih muda Bung. Masih banyak kemungkinan masa depanmu. Kau harus manfaatkan hidupmu. Masak kau mau mampus dengan jalan konyol seperti itu? Operasiitu bukan untuk menyelamatkan jiwamu, tetapi untuk menyelamatkan kalung emas yang kau telan!”

“Apa yang harus aku lakukan?” katanya.

“Keluarkan!” bentakku

“Aku tidak melakukannya!”

“Sudah tidak waktu lagi untuk berkilah-kilah! Tidak saatnya menyembunyikan kejaatan pada saat ini. Jangan tunggu mereka kalap. Jangan kau kira mereka tidak melihat kita. Semua gerak-gerik kita mereka lihat lewat kaca riben ini. Lihat kedip api rokok mereka di dalam gelap! Itu sama seperti mata mengintai kita. Ayo lakukan! Cepat telan obat pencahar itu! Apa yang kau takutkan pergi ke jamban?”

Dia raih gelas berisi larutan garam inggris dari atas meja. Dia reguk seperti orang minum kopi. Kemudian dia lahap papaya dan pisang.

“Makan lebih banyak pepaya itu, biar cepat dia mendorongnya .”

Seorang petugas membuka pintu kaca.

“Sudah ingin ke jamban?” katanya

“Dia baru menelannya. Belum. Sebentar lagi, Pak.”

“Bagus! Kalau dia tidak suka papaya dalam negeri, kita bisa sediakan papaya Bangkok!” Dia tutup intu kaca itu.

Tidak lama kemudian dia muncul pula. Dua orang masuk membawa papan penyekat dan dua pispot. Papan penyekat itu dimaksudkan sebagai dinding jamban. Orang itu kalau sudah ingin ke jamban, dia boleh pergi ke balik papan penyekat untuk membuang hajat. Untuk alasan tertentu. Orang itu diperintahkan menanggalkan pakaiannya, kecuali celana dalam. Dia disuruh merekam pergi ke balik papan penyekat sampai dia memerlukan pispot.

Aku dan para petugas keluar dari dalam ruangan berkaca. Kami menonton dari balik riben , menunggu orang itu mengeluarkan kotorannya ke dalam pispot.

Seorang petugas yang memegang alat pengeras suara masuk ke dalam ruangan berkaca dan mengambil pispot yang diulurkan dari papan penyekat. Petugas itu tampak memeriksa isi pispot dengan ranting. Terdengar dia melaporkan apa yang dia lihat di dalam pispot.

“Belum keluar! Baru biji-biji kedelai. Rupanya dia makan tempe!”

Dia keluar membawa pispot dan seseorang menyambutnya dan membersihkannya di lubang kakus.

Si penjambret meminta pispot baru. Kemudian orang yang membawa alat pengeras suara masuk kembali ke dalam ruangan berkaca dan menyambut pispot yang diulurkan dari balik papan penyekat. Lalu terdengar suara dari dalam pengeras suara:

“Belum juga! Masih sisa-sisa tempe. Ada seperti benang. Kukira ini sumbu singkong rebus!”

Dia kemudian dalam urutan waktu melakukan hal yang sama. Sementara, di balik riben kami terus menunggu sudah sampai sepuluh kotoran di dalam pispot dituang ke dalam kakus, namun kalung itu tak terkait di ujung ranting. Wanita pemilik kalung mulai bosan menunggu. Dia me-nilpun suaminya. Tidak lama kemudian suami wanita itu datang. Dia pun ikut bergabung menonton di balik riben. Orang di balik papan penyekat makin pendek jarak waktunya dia mengulurkan pispot, namun kalung emas lima belas gram itu tidak keluar bersama kotorannya. Pada saat kami menunggu seperti itu, tiba-tiba papan penyekat di dalam ruangan kaca itu terdorong dan kemudian tumbang. Orang dibaliknya jatuh terjerembab menindihnya. Dia sudah tidak dapat berdiri. Dia menjadi lunglai setelah terus –menerus mengeluarkan kotorannya.

Maka, si suami pun mengambil keputusan. Dia desak si istri mencabut tuduhannya. Si istri melakukannya. Tuduhannya dia cabut. Dia minta maaf pada polisi, karena mungkin bukan orang itu yang menjambret kalungnya. Lelaki itu dibersihkan di kamar mandi. Tuduhan terhadap dirinya dicabut! Wanita itu minta maaf kepadanya. Aku juga minta maaf kepadanya. Polisi juga memaafkannya. Dia bebas!

Karena merasa berdosa, aku menolong lelaki itu meninggalkan kantor polisi. Aku memapahnya naik ke atas taksi. Aku terus-menerus meminta maaf di sepanjang perjalanan. Aku raba uang di sakuku. Aku beri dia uang untuk menebus rasa berdosa pada diriku. Lelaki itu berlinang air matanya.

“Beli makanan. Kau perlu gizi untuk memulihkan kesehatanmu. Aku benar-benar merasa berdosa!”

Dia lipat uang di tangannya.

“Terima kasih. Ternyata bapak orang baik.”

“Jangan katakan begitu! Aku telah menjerumuskanmu. Uang itu tidak ada artinya. Aku telah melakukan kesaksian palsu. Maafkan aku, Bung.”

Kemudian kami sama diam di dalam perjalanan itu. Kemudian dia minta diturunkan di gang tempat tinggalnya. Aku menolongnya sampai keluar.Aku menyalamnya.

“Maafkan aku Bung. Rasanya aku berdosa betul. Sepuluh ribu tidak ada artinya untuk mengenyahkan rasa berdosa itu. Bisa kau berdiri? Apa tidak becak ke rumahmu? Apa perlu aku mengantarmu?”

“Tidak ush Pak. Terima kasih.”

Dia tampak tidak kuasa menahan air matanya. Aku biarkan dia berdiri goyah. Aku masuk ke dalam taksi. Pintu aksi dia tutupkan tempat dia bertumpu. Aku ulurkan tanganku pada jendela untuk menjabat tanganya. Aku belum merasa cukup untuk melenyapkan rasa bersalah itu. Maka, aku mengulang apa yang telah kukatakan:

“Maafkan saya, ya Bung. Beli makanan untuk memulihkan kesehatanmu. Aku benar-benar merasa berdosaa kepadamu.Aku tidak akan mengulang hal yang sama terhadap orang lain.”
Orang itu menghapus air matanya pada pipinya yang berdarah. Mukanya yang lebam dia tundukkan.

“Bapak adalah saksi yang benar. Bapak tidak boleh merasa berdosa.” Dia semakin menunduk seolah dia hendak menyembunyikan mukanya. “Bapak orang baik. Saya harus mengatakannya! Anakku sedang sakit keras. Kami perlu biaya. Istriku telah putus asa di rumah. Dokter meminta banyak.” Dia tiba-tiba mengangkat mukanya. “Bapak adalah saksi itu! Bapak orang baik. Saya harus mengatakannya!” Dia kembali menunduk. “Saya bukanlah menjambret. Tetapi, saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu keluar aku langsung menelannya.”Dia lepas jabat tangannya pelan-pelan. Dia memandangiku.

“Bapak orang baik. Hukumlah saya.” Dia raba uang yang telah saya beri itu di dalam saku bajunya. Dia mungkin hendak mengembalikannya.

“Kalau begitu kau masih memerlukan pispot,” kataku.

Aku biarkan dia memegang uang sepuluh ribu itu. Aku suruh taksi meninggalkannya. Aku harus segera memutuskan begitu sebelum aku berubah keputusan. Kurasa itu lebih tepat.***

Perempuan ke Seratus

Perempuan ke Seratus

Cerpen Evi Idawati




Suara Karya, Minggu, 11 Desember 2005

Nabila adalah perempuan yang aku incar untuk menggenapi sembilan puluh sembilan perempuan yang pernah aku tiduri menjadi hitungan bulat ke seratus. Tapi perempuan ini sangat susah didekati. Temperamennya yang meledak-ledak semakin memancing syahwatku untuk menaklukannya. Meski sekarang usiaku menginjak limapuluh tahun, aku masih belum sadar juga untuk memulai pertaubatanku. Bayangkan, berapa bulan sekali aku tidur dengan perempuan berbeda. Padahal aku sudah punya istri simpanan empat. Mereka muda dan cantik-cantik. Punya satu istri resmi yang tercatat di negara dan agama. Tapi aku masih belum puas juga. Barangkali insting dasar yang aku miliki sebagai lelaki sangat menunjang keahlianku. Aku bisa memperkirakan calon korbanku hanya dari melihatnya pertama kali. Aku bukan seorang maniak sex. Tetapi ketika menyangkut perempuan, aku selalu merasa lemah dan tidak berdaya. Aku gampang sekali jatuh cinta.

Itulah sebabnya, berhari-hari ini aku sengaja merayu Nabila agar mau aku tiduri. Entahlah, setiap kali melihat perempuan cantik yang tercatat di otakku hanya tidur dengan mereka. Dulu aku menganggap apa yang terjadi padaku sangat wajar, bukankah setiap lelaki juga punya perasaan seperti itu. Cuma mereka bisa mengendalikan diri. Sementara aku tidak. Sebelum benar-benar bisa tidur dengan perempuan yang aku inginkan, aku gelisah setengah mati. Aku bisa berbuat yang aneh-aneh. Menghabiskan pulsa hanya untuk bertanya hal-hal yang mungkin tidak mutu bagi sebagian perempuan. Melimpahi mereka dengan hadiah bermacam-macam, menjadi teman dan sahabat yang baik, siap mendengarkan keluh kesah dan menjadi hero untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi. Sehingga mereka menjadi tergantung padaku dan menjadikan aku sebagai satu-satunya tumpuan bagi mereka. Akhirnya mereka akan menuruti semua kata-kataku. Dan takluk padaku dengan berbagai hadiah yang telah aku limpahkan. Aku tidak percaya cinta. Aku sadar sebagian besar perempuan yang pernah aku tiduri tidak mencintaiku. Mereka hanya sungkan karena berhutang budi padaku. Aku tidak perduli. Aku benar-benar menikmati saat-saat seperti itu. Saat dimana dengan sukarela mereka menanggalkan baju untukku. Bagiku sebab dan musabab tidak penting. Yang terpenting aku berhasil tidur dengan mereka.

Hari-hari kemudian menjadi saat perburuanku pada Nabila. Aku mengenalnya dalam sebuah jamuan makan malam. Usianya separuh umurku. Tapi aku sangat menyukainya. Dia membuatku terpesona. Ketika memandang wajahnya, aku kembali menjadi lelaki seusianya. Aku mengerahkan seluruh pengalamanku. Segala cara dan trik-trik menaklukan perempuan yang aku kuasai untuk menjeratnya. Nabila seperti matahari yang bersinar terang benderang. Seperti pelangi dengan warna-warnanya yang memikat mataku agar tetap tidak beranjak dari dirinya. Nabila, aku berjanji untuk menjadikan dia wanita keseratus yang aku tiduri. Atas dasar apapun aku tidak perduli. Bahkan berapapun lamanya waktu, aku akan bersabar. Aku harus mendapatkan dia meski hanya sekali saja.

Aku bisa menghabiskan berjam-jam waktu untuk ngobrol dengannya lewat telepon. Menanyakan kabarnya, apa saja yang dia makan hari ini. Bagaimana cuaca di tempatnya. Dari tema seperti itu, percakapanku dengannya berjalan lancar dan mengasyikkan. Aku tidak mau Nabila tahu maksudku. Toh aku dikenal sebagai lelaki yang baik, punya jabatan dan terpandang. Istriku galaknya setengah mati. Jadi aku menyimpan rahasia perempuan-perempuanku dengan sangat rapi. Satu hari, aku bisa tidur dengan dua istri simpananku yang berbeda. Kadang aku tidak mengerti apa yang membuat mereka bertahan menjadi istri simpananku. Bukan karena mereka mencintaiku. Waktuku dengan merekapun terbatas. Kecuali mereka menginginkan terus menerus fasilitas dan uang yang aku berikan pada mereka. Aku juga tahu kalau mereka pura-pura orgasme untuk menyenangkan aku ketika berhubungan. Asal mereka tetap baik, melayani dan memuja aku, semua yang mereka lakukan tidak masalah.

Malam nanti, aku ingin berkencan dengan Nabila. Rasanya hasrat dan minatku padanya demikian memuncak sampai tak bisa kubendung lagi untuk menunggu lain hari. Sementara Nabila masih enggan-enggan mendekat padaku, meski sudah kuberi ratusan hadiah untuknya. Setiap kali dia menerima hadiah, dia akan meneleponku mengucapkan terimakasih. Hanya itu. Dia selalu menjaga, jangan sampai terlalu sering bertemu denganku. Kecuali bicara panjang lebar lewat telepon. Suaranya yang merdu selalu membuatku ingin daningin bercakap-cakap dengan dia. Nabila berumur duapuluh lima tahun. Bersamanya aku kembali seperti bocah yang kasmaran. Seharusnya dengan pengalamanmu pada perempuan, aku bisa menaklukkan dia dalam hitungan hari. Ternyata perlu waktu yang lebih lama. Aku sempat heran pada diriku sendiri. Mengira kemampuanku mulai merosot dengan drastis dalam hal perempuan. Tapi karena dia berkelit dan berusaha menghindariku. Aku semakin ingin benar-benar menaklukkannya. Aku menjadi penasaran. Bahkan istri-istriku yang lain aku lupakan untuk sementara khusus untuk mengejar dan menjerat Nabila, agar mau berkencan denganku.

Akhirnya malam ini, dia mau memberikan waktunya untuk makan malam dengaku. Aku berharap, inilah malam yang telah aku rindukan sekian waktu untuk menikmati apa yang aku impikan. Memang ada banyak anugerah dan kenikmatan bagi orang-orang bersabar. Dan aku merasa saat itu akan tiba, malam ini. Aku sudah berdandan rapi, siap bertemu dengannya.

Kami sedang duduk berhadapan. Nabila menuangkan gula ke cangkir kopinya. Makan malam mulai dibersihkan oleh pelayan. Aku memandangnya. Sorot mataku seperti pemangsa siap mencakar dan merobek-robek sosok yang ada di depanku. Tapi aku berusaha menyembunyikannya. Aku ingin menjadi bapak yang arif baginya. Menanyakan banyak hal. Seperti aku berbicara pada anakku. Nabila mulai membuka hatinya.

"Sebenarnya Nabila senang, bapak memberi banyak hadiah. Tetapi...," dia terdiam sebentar kemudian menghembuskan nafas. Dia memandangku agak ragu. Aku masih menunggunya.

"Tetapi Nabila takut ada maksud di balik itu semua," katanya dengan pelan.

"Menurutmu apa maksudku?" aku berusaha membaca, seberapa sebenarnya yang dia tahu. Tetapi mukanya menjadi merah. Dan dia menunduk malu. Aku heran melihatnya. Begitu poloskah Nabila. Atau jangan-jangan yang dia tampakkan padaku adalah kepura-puraan seorang perempuan yang sadar dan tahu sedang bermain dalam sebuah sandiwara tentang laki-laki dan perempuan. Nabila seperti berakting dalam salah satu episode hidupnya pada seorang laki-laki. Meski aku berharap dia sedang berpura-pura tetapi hati kecilku mengatakan, Nabila tidak sedang berpura-pura. Dia memang begitu adanya. Sehingga hatiku mendesir dan semakin menginginkannya. Kepolosan Nabila seperti menghapus deretan perempuan yang pernah terlibat denganku. Nabila menjadi istimewa.

"Tidak ada maksud lain kecuali membuatku senang dan berbahagia," aku menjawabnya dengan tegas.
"Benarkah?" matanya masih memandang malu-malu padaku.

"Iya. Aku tahu ayahmu meninggal sejak kamu masih kecil. Nabila punya pacar?" aku menanyakan langsung padanya. Dia menggeleng.

"Ah, masak. Perempuan secantik ini, belum punya pacar?" aku bertanya padanya sambil tertawa. Dia kembali menggeleng. "Mau aku carikan?" aku menggodanya tapi dia malah menunduk malu.

Ternyata saat itu belum tiba, aku benar-benar harus bersabar. Dia masih seperti remaja. Aku tidak tahu kenapa ibunya mengijinkan dia bekerja di kota sebesar ini, sendiri. Jika melihat kepolosannya seharusnya dia masih berada di rumah bersama ibu dan bapaknya. Yang mengherankan, dia sudah bekerja. Penampilannya pun elegan seperti perempuan dewasa lainnya. Tapi kenapa ketika menghadapiku dia seperti bocah saja. Jangan-jangan dia berpura-pura. Dia sengaja memberi image padaku tentang sifat dan karakter yang berlawanan dengan sifat aslinya agar aku semakin penasaran dan menginginkannya. Kalau itu benar. Dia aktris yang sangat berbakat. Aku akan menghadiahi piala untuknya.

Begitulah, hari-hari selanjutnya menjadi hari yang berbeda. Nabila sudah mulai sering bertemu denganku. Menceritakan persoalan keluarga. Juga masa lalunya. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Jika ada masalah dia mulai minta tolong padaku untuk menyelesaikannya. Aku semakin kegirangan. Berarti saat yang aku inginkan akan tiba. Di mana Nabila dengan sukarela, menyerahkan diri dan mengatakan padaku. Akulah lelaki yang diinginkannya.

Satu bulan kemudian. Kami sudah duduk berdia di kamar. Dengan tempat tidur besar di tengahnya. Pandangan dari jendela yang terbuka lurus ke lapangan golf. Anggur dan apel berada di atas meja. Aku melihat Nabila sekali lagi. Dia juga memandangku. Kali ini dia tidak tersenyum. Ada rasa khawatir yang tidak bisa dia sembunyikan. Tampak sekali di mukanya.

"Duduklah di dekatku," kataku padanya. Dengan ragu-ragu dia beranjak dari duduknya, berjalan pelan menuju ke sampingku.

"Kenapa?" tanyaku padanya. Dia kembali menggeleng.

"Katakan padaku. Ada apa?" tiba-tiba dia menangis. Isaknya pelan. Tapi airmata memenuhi pipinya. Aku jadi serba salah. Dari sembilan puluh sembilan perempuan yang pernah tidur denganku, termasuk satu istri resmi dan empat simpananku, belum pernah ada yang berlaku seperti bocah. Menangis pada saat kami berada di kamar. Tapi aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Gairah yang dari tadi terbangun dengan cepat dan berjalan menuju puncaknya. Menjadi turun dengan drastis. Aku memeluknya dengan rasa sayang. Barangkali saja, dia memang ketakutan, batinku. Dan benar. Dia mengatakan bahwa dia tidak berani melakukannya. Dia takut berdosa. Kecuali kami menjadi suami istri. Kata-katanya seperti ranting kayu yang tiba-tiba patah dan jatuh mengenai kepalaku ketika aku sedang duduk-duduk di bawahnya. Aku tertawa di dalam hati. Kenapa aku bisa terlibat hubungan dengan bocah usia duapuluh lima tahun. Umurnya belum membuat dia berani menghadapi pilihan atas kesadarannya sendiri. Atau barang-barang dan uang yang aku berikan padanya masih kurang. Mungkin juga. Dia sengaja menaikkan harga agar aku memberi lebih banyak padanya.

Lalu sepanjang malam kami hanya berciuman dan tidur berpelukan. Jika aku sedikit memaksa dia, Nabila dengan cepat menjauhkan diri dan duduk di kursi memandangku dalam diam. Aku memang pemaksa tetapi bukan pemerkosa, kayaknya Nabila tahu sekali hal itu. Sehingga dia bisa memainkan dirinya lebih bagus dalam sandiwara yang dia inginkan. Akhirnya aku mengalah. Meski hatiku mengumpat-ngumpat. Tapi aku mengalah padanya. Agar dia mau kembali berbaring di sampingku. Aku merasa menjadi anak SMU yang hanya berani berpegang tangan dan berpelukan.

Target waktu yang aku pasang untuk menaklukkan Nabila, tidak tercukupi. Dia masih bermain-main dengan cara bocahnya. Dan aku semakin gemas padanya. Selama hampir delapan bulan Nabila hanya mau menemani makan dan ngobrol lewat telepon. Peristiwa di hotel sudah bisa bisa diungkit-ungkit lagi. Jika aku mulai memancingnya, dengan segera dia mengalihkan pembicaraan. Aku hampir frustasi. Apa yang dia mau sebenarnya? Dia terlalu pintar untuk bermain-main dengan keluguannya. Tapi aku tidak perduli. Aku harus mendapatkan dia. Sudah banyak uang yang aku keluarkan untuknya. Jadi waktu harus aku potong habis. Aku mentoleransi sampai akhir minggu ini. Jika dia tetap bersikukuh, aku akan menggunakan cara lain. Tidak fair memang. Tapi aku sudah sampai pada puncak perasaanku padanya. Aku tidak ingin dia mempermainkan aku lebih lama lagi.

Akhirnya saat itu tiba. Malam yang tidak direncanakan. Aku sedang berada di rumah yang aku belikan untuknya. Tangannya memegangku dengan erat. Dia menciumku sambil mengucapkan terimakasih karena memberi sesuatu yang tidak dia sangka. Entah bagaimana ciuman kami menjadi semakin panas, sampai aku dan dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Aku menggandeng tangannya menuju kamar terdekat. Dia mengikuti. Dia kembali menciumku dengan bergairah. Tidak tampak lagi ketakutan dan rasa khawatir di mukanya. Sehingga aku yakin, malam inilah saat aku akan memilikinya. Aku melepaskan bajunya perlahan. Dia diam tidak memprotes. Aku semakin tak sabar. Ketika melihat dia telanjang di depanku, aku seperti kehabisan nafas. Dengan cepat aku menghampirinya.

Nabila. Nabila. Nabila. Beberapa kali aku memanggil namanya. Menciumnya dengan hasrat yang demikian besar. Hingga tak mampu kukendalikan diri. Dia seperti arak yang harus aku minum sekarang, agar bisa dituntaskan kemabukan. Namun malam menjadi semakin gelap, ada rasa nyeri di dadaku. Tapi suara desah Nabila seperti api yang membakar tubuhku. Aku menjadi kaku. Rasa nyeri demikian hebat, terasa di dada kiriku. Aku masih memanggilnya ketika dunia berputar dan aku lupa semuanya. Kecuali jeritan Nabila yang mengguncang malam.

Esoknya, aku berada di rumah sakit dengan beragam selang dan infus yang menempel di dadaku dan tanganku. Tak bisa kujadikan Nabila perempuan keseratus yang pernah aku tiduri. Karena sekarang, ke mana pun pergi, aku berada di kursi roda. Dalam pengawalan suster-suster galak yang selalu memaksaku minum obat. Komplikasi darah tinggi dan jantung membuatku duduk terus menerus. Mengenang petualangan dan kisah yang hendak aku catatkan.

Nabila. Nabila. Jika tahu akan begini. Tak akan kuinginkan dirimu menemani hari-hariku yang lalu.
Nabila. Nabila. Perempuan keseratus yang aku inginkan, tapi belum tersentuh olehku.
Nabila. Nabila. Hanya ada dalam kenangan.


* Jogja 2005.



Catatan Redaksi
Evi Idawati lahir di Demak 9 Desember 1973, mampir kuliah di Institute Seni Indonesia Yogyakarta, Jurusan Teater dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan. Dikenal sebagai artis sinetron dan teater. Balada Dangdut, Dongeng Dangdut, Ketulusan Kartika, Wanita Kedua, Satu Kakak Tujuh Keponakan, Keluarga Sakinah, Cermin 13 Tentang Indonesia, serta beberapa FTV, adalah sinetron yang pernah melibatkan dirinya. Beberapa naskah drama yang pernah diperankannya di antaranya Trilogi Oidipus sebagai Antigone dalam pementasan 9,5 jam. Cabik dan Sumur Tanpa Dasar.

Sebagai penulis, cerpen dan puisi, karya Evi antara lain dipublikasikan di Kompas, Republika, Nova, Suara Pembaruan, Horison, Suara Merdeka, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Bernas, Solo Pos, Suara Karya, Jurnal Puisi dll. Cerpen dan puisinya juga termuat dalam sejumlah Antologi seperti, Kopiyah dan Kunfayakun (Navila, 2003), Dokumen Jibril (Republika 2005) Bacalah Cinta (buku Laela, 2005) dan Cerita Pengantin (Galang Press, 2004).

Angin Dari Gunung

Angin Dari Gunung

Cerpen AA Navis



Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada. Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, "Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu."

"Aku sendiri sedang bertanya."

"Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja."

Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan kemudian dia berkata lagi. "Sudah lima tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya anak."

Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira dia bicara lagi.

"Kau cinta pada istrimu tentu."

"Anakku sudah dua."

"Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau tentu bahagia."

Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Angin pergi.

"Kau ingat, Har?"

"Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya.

"Sembilan tahun yang lalu."

"Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah lama lampaunya."

"Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi." Dia diam lagi. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. "Ketika itu seperti macam sekarang. Kita duduk seperti ini juga. Tapi tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat, sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau bicara. Dan aku menunggunya. Tapi kau tak berkata apa-apa."

"Masa itu, masa kanak-kanak kita," kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya.

"Ya," katanya dengan suara tak acuh. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung karena perang. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Biar kau menggenggamnya kembali. Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?"

Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak, meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. Kucoba membuang segala kesenduan, tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. Dan angin meniup lebih syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba besertanya.

"Tak ada gunanya," katanya lama kemudian. Dan aku menunggu dia bicara lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak diteruskannya. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan, disilangkan, lalu digesek-gesekannya. Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.

"Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau punya pegangan hidup, punya tujuan minimal. Tapi yang terpenting kau punya tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai laki-laki, sebagai manusia juga, seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan.

Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini."

Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan, kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika.

"Dulu aku cantik juga, bukan?" katanya pula. "Bahkan tercantik di front Barat itu. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Tapi keitika musuh datang, aku kebetulan tak ada disana, mereka habis lari kehilangan keberanian.

Kalau pemimpin yang datang di front, di waktu tak ada perempuan, aku menjadi sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Dan ketika mereka mau pergi, dicarinya aku dulu. Dijabatnya tanganku erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. ‘Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Kami sangat merasa bangga dengan adanya p atriot wanita seperti Saudari, yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita. Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini, tentu front ini sudah lama di duduki musuh.’

Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga yang merawatnya. Dan di waktu malam-malam yang damai, mereka minta hiburan. Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. Dan waktu itu, aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau boleh sebanyak jari ini.

Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma, tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat. Ya, itulah semua."

Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa, lebih menusuk. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya.

Matahari ketika itu sangat cerahnya. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama, karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Hendak kuelus hatinya, hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak kukatakan juga, bahwa aku mau memeliharanya. Memelihara dia? Tidak. Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu, aku menyesali diriku sendiri. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. Doa serasa tak berharga kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa sekadar doa, tak ada gunanya. Maka aku merasa segalanya jadi terbang.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. Dan aku katakan, bahwa aku sedang memikirkannya.

"Masa dipikirkan lagi," katanya. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?"

"Apa?" tanyaku ragu-ragu.

"Kau memikirkan aku, kan?"

"Tidak setepat itu benar. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan."

"Untuk apa?"

"Untukmu."

"Sia-sia saja."

Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama ia terdiam, dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya.

"Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan semua."

Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan aku mendesak lagi.

"Kalau perlu ...Ah, tidak, Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. Barangkali tidak lama kau di sana, kau sudah bisa pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi, seperti dulu."

Lalu ia memandang padaku. Dan tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. Aku jadi gugup.

"Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku.

"Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.

Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. Lalu aku pura- pura tak mendengarkan apa katanya. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala, yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri. Dan dia tahu itu rupanya. "Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya.

"Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat banyak nantinya."

"Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan? Seperti dulu, seolah -olah kalau tidak ada aku, semuanya seperti tidak akan sempurna, semua pekerjaan seolah takkan selesai. Semua orang memerlukan tenagaku. Semua orang jatuh cinta padaku. Semua orang haus akan segala yang ada padaku. Tapi setelah itu, setelah itu apa lagi?"

Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya
pada mukaku, karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.
"Kau kasihan padaku, bukan?"

"Kenapa tidak?"

"Ya. Tentu saja kau kasihan padaku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu. Lalu dari tempat yang itu, kau memandang kepadaku, 'Oh, alangkah kecilnya kau, Nun, katamu’."

Aku mau membantah. Tapi sebelum aku dapat memilih kata, dia berkata lagi.

"Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang menyapamu, kau takkan tahu siapa aku, bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi, kau seolah melihat pengemis yang dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya, meski pernah orang itu dicintanya."

Aku ingin memandangnya tepat, hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku menentang matanya, hendak meyakinkannya, seperti pernah kulakukan dulu kepadanya.

"Meski bagaimana, aku tahu kau baik," katanya lagi.

"Ni Nun, Uni Nuuun," tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami.

"Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak tahu dibuntung aw ak," gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Inikah lingkungan hidup Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna, manusia yang sial. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. Tapi cepat-cepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku.

"Nenek memanggil. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi.

"Tolong tegakkan aku. Aku mau ke Nenek," Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. Dan kutolong dia berdiri. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi, melebihi tadi.

"Nenek sudah tua benar. Sudah lupa segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di dekatnya, Nenek merasa kehilangan nyawa," katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya, dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. "Nenek tak bisa berpisah denganku. Antara kami berdua ada perpaduan nasib. Dan Nenek ingin hidup lebih lama, karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian."

Dia melangkah lagi. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata, "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku juga tidak memerlukan apa-apa pula."

Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu, kukatakan kepadanya, "Besok aku datang lagi ke sini, Nun."

Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.

Para Pemburu

Para Pemburu

Oleh: Agus Noor




Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami memandanginya dengan gamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri, ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beristirahat di pinggir telaga itu, hanyut oleh pikiran kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak.

Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami tetap saja melenggang bebas. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal mem?uru sesuatu. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Telah kami sibak semua palung lautan. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung.

Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kandungan. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya, untuk memburu binatang-binatang, bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan.

Sampai kemudian kami menyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-lahan
telah habis kami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, binatang-binatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi, begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamnya. Sampai kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun-ketahun, jumlah kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir, sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun, tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope, kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan, hingga pecah berantakan. Dan itulah kehormatan.

Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti kami katakan tadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh.

"Perburuan tak mungkin berhenti!"

"Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!"

"Takdir tak bisa dihentikan."

"Lantas bagaimana?"

"Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!"

"Memburu apa?"

Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Kami akan memburu manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri. Mereka kami lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru kemudian kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas, perlahan-lahan, kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang, tapi manusia. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan, "Masuklah dalam hutan, lari. Selamatkan kehidupanmu. Jangan cemas, meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baik bagi kalian, dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik bersama kalian..."

Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang sesungguhnya, yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Adakah yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh, sasaran perburuan yang menggairahkan.

Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara, banyak orang di luar suku kami, mendatangi kami, untuk ikut menikmati perburuan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa menolak, ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral, orang-orang besar di negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para bangsawan dan pengusaha besar. Para bangsawan, yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas, mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kem?bangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati, tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai, para demonstran untuk kami habisi. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Ah, begitu melimpah buruan kami.

Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta.

"Ini darah seorang penyair untukmu, jangan sedih..." Gelas kami beradu, dan kami tertawa bahagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-puji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung!

Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan gelombang, menggulung apa pun yang kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan, tetapi juga, terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat, dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di puncak menara peradaban, sendiri. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak, ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi, ketika kami menembaki anak-anak Palestina, ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia, ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja, tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami, sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami terus memburu, kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman, melintasi gelombang waktu, menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan, tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami. Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan yang membosankan. Karena kami sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan.

"Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini."

Lalu seseorang yang paling tua di antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun lebih, menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.

"Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?"

"Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan."

"Apa hubungannya dengan para kiai itu?"

"Kumpulkan mereka, dari seluruh dunia. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!"

Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami tak memburu malaikat?

"Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!"

"Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersulang, menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Panji perburuan berkibar. Kami segera menghimpun topan. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera mengumpulkan para kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan paksa dan kekerasan."

"Kami ingin Jibril," kata kami kepada mereka. "Kami tak mau tahu, bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan kepada kami, kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?"

Kami tatap wajah para kiai itu, mencari kepastian dalam mata mereka.

"Baiklah," tegas kami, "kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri..."
Mereka, para kiai itu, kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi mereka menolak, dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesungguhnya heran. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.

"Kalian jangan bercanda!" teriak kami.

"Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril."

"Baiklah..."

Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat kami begitu ternganga, ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid, tetapi masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok mengikuti gigir bukit, seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang, itu pun pasti sudah berhimpitan, bagaimana mungkin? Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana, mengalun menidurkan rerumputan, sepanjang hari sepanjang malam. Gema itu melambung, menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun yang melayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami memagarbetis masjid itu, tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kami tak mau di tipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berjaga, takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.

Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami cemas, sekaligus marah, ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami tambah cemas menunggu, kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Tetapi seperti yang pertama, orang kedua kami pun tak kembali. Kami panggil namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali, memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti yang pertama dan kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai, tak pernah muncul kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar, tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya pengertian, bukan?

Jangan salahkan kami. Dan kami segera menyerbu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar biasa, semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain, tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api di tangan, berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid itu, hingga kayu-kayu bergemeretakan, dan api melahap cepat, membumbung.
Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.

Pada saat itulah, seseorang di antara kami berteriak, membuat kami tengadah ke puncak api. Dan, ya Allah, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya menatap kami, dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta.

"Jibril!!"

"Jibril!!"

Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?

"Buru!"

Teriakan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong begitu? Maka, dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak panah, desing senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.

"Kejar!"

Kami pun melesat, mengejar Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri, membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Tombak terus beterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami rentangkan, ranjau-ranjau telah kami tanam, perangkap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril. Inilah buruan kami yang abadi. Kemanapun Jibril melesat, kami memburunya.

Sampai kami tiba di pinggir telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat, hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat menguburkannya. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau kehilangan jejak. Dan memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.

"Kesana!" seseorang dari kami berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga sana, kami melihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.

Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur, melanjutkan pemburuan abadi kami.***




Yogyakarta, 1995-1998
(Dongeng Buat Mas Danarto)

Dongeng Kancil

Dongeng Kancil

Sapardi Djoko Damono




(1)
Aku suka menyaru. Masuk keluar kampung, menyusuri jalan raya, ikut duduk-duduk di taman kota bersama para pensiunan, menikmati pemandangan sekitar desa yang terpencil, menyeberang sungai, dan masuk hutan. Pada suatu sore yang sangat cerah ada seekor kancil mendekati-Ku dan berkata, "Bung, dari mana saja kau?" Aku selalu dianggap sebagai yang menyapa-Ku. Maksud-Ku, kalau ada gajah bertemu dengan-Ku, ia akan melihat-Ku sebagai seekor gajah, kalau ada manusia melihat-Ku, ia akan memperlakukan-Ku sebagai manusia, dirinya sendiri.

Kancil itu tampak kelelahan, mungkin sesudah berjalan jauh masuk keluar hutan seharian. la berada di dekat sebuah rumpun bambu yang lebat, yang kereat-kereotnya terdengar agak keras lantaran angin sore yang berembus dari selatan. Lidahnya terjulur, ujungnya tampak terluka dan mengeluarkan sedikit darah. Bicaranya tentu saja tidak selancar seperti umumnya kancil.

"Kurang ajar benar macan itu. la tahu aku mau menipunya. Lihat ini, lidahku hancur."

Kereat-kereot batang bambu terdengar di sela-sela kerisik daun-daunnya yang seperti ampelas. Tidak tampak awan di langit, yang cumulus maupun cirrus. Berslh. Jika kemarau tiba, malam-malam tentu bedhidhing dan mereka semua akan kedinginan sebab tidak ada selembar awan pun yang menghalangi panas bumi melesat ke langit. Kancil duduk, menatapKu tajam-tajam, suaranya agak tertahan-tahan.

"Coba pikir. Aku sedang melepaskan lelah di bawah rumpun bambu ini, mendadak lewat macan yang tentunya sakit hati karena dulu pernah kutipu. Segera saja ia tersirap melihatku terkantuk-kantuk, dan seperti siap menerkam dan menyantapku. Nah, akhirnya kau kutemukan juga, Cil. Kemana saja selama ini kau? Suara macan itu terasa seperti pisau yang sedang menyembelih kambing. Sedang apa kau di situ? tanyanya gemeletuk. Kukatakan aku sedang diberi tugas Kanjeng Nabi Sulaiman menjaga Seruling Agung yang di rumpun bambu itu."

Di telinga seekor macan, kereat-kereot itu memang mirip lantunan seruling bambu. Sebelum melanjutkan kisahnya, kancil itu beringsut sedikit demi sedikit mendekati-Ku. Angin sore semakin sejuk dan daunan bambu itu terjurai bagai entah rambut apa. Di langit tampak ada awan kecil melintas, agak kemerahan kena sinar matahari sore.

"Tapi apa jawab macan itu? Cil, aku sudah tahu semua itu bohong. Kau akan menipuku lagi agar lidahku kujepitkan di sela-sela batang bambu itu. Katamu aku akan mendapat hadiah dari Kanjeng Nabi kalau meniup bambu itu. Begitu, kan? Lha itu kan siasat si Juru Dongeng agar anak-anak suka mendengar dongeng kancil. Coba, bayangkan, macan itu bicara mengenai Juru Dongeng yang telah merancang semua apa yang mesti kulakukan, dan ternyata dia sudah tahu terlebih dahulu. Apa yang bisa kulakukan supaya tidak disantapnya agar rancangan Juru Dongeng terlaksana?"

Aku menyaksikan seekor kancil yang mulai kusut pikirannya. la mengutarakan hal yang sama sekali tidak dipahaminya, apalagi dihayatinya. Suara kereat-kereot rumpun bambu itu adalah seruling yang menjadi latar adegan ini. Tanpa menatap-Ku ia melanjutkan keluhannya.

"Bayangkan! Macan itu mendekatiku, mengangkat sebelah kakinya, menyaksikanku sama sekali terpojok dan tidak mungkin melepaskan diri lagi. Aku pikir inilah akhir dongeng yang masyhur tentang diriku. Tetapi tidak. Macan itu tiba-tiba tersenyum dan menurunkan lagi kakinya, katanya, Begini saja, Cil. Kau tak akan kuapa-apakan kali ini asal permintaanku kau turuti. Aku kaget, tentu saja semua permintaannya akan kuturuti asal aku selamat. Cil, Juru Dongeng kan menetapkan bahwa lidahku akan kau jepit di sela-sela batang bambu itu seolah-olah sedang meniup seruling, sementara kau melarikan diri. Sekarang bagaimana kalau lidahmu saja yang kujepit dan aku yang pergi agar tidak jadi memakanmu? Tidak ada yang bisa kukatakan selain setuju, demi nyawaku. Maka ia pun menjepitkan lidahku ke rumpun bambu itu, kemudian macan celaka itu dengan tenang melenggang pergi. Apa Juru Dongeng memang suka mengubah-ubah rancangannya? Apa Juru Dongeng telah membocorkan rencananya?"

Angin semakin terasa sore tetapi magrib masih beberapa waktu lagi sehingga Aku tidak usah tergesa-gesa. Lapangan rumput, tanah kering, lantai marmer—semua sama saja bagi-Ku. Dinding bambu, genting seng, tiang kayu—semua sama saja bagi-Ku. Bahasa kancil, awan, macan, sungai, rumpun bambu—semua sama saja bagi-Ku. Awan kecil sudah lewat. Langit bersih sempurna kembali.

"Apa yang kualami dengan macan itu tak jauh bedanya dengan peristiwa di bengawan ketika aku mencoba menipu sekawanan buaya agar mereka berjajar di sungai supaya bisa kujadikan jembatan untuk pergi ke seberang. Mereka tertawa ngakak ketika kusampaikan akal-akalanku itu. Kau percaya rancangan Juru Dongeng itu musti terlaksana, ya? Kau keliru, Cil. Siapa pun sudah lama tahu mengenai dongeng itu. Kami tidak lagi mau dijadikan korban demi kemasyhuranmu. Maka aku pun mereka main-mainkan di bengawan sampai gelagapan, meskipun akhirnya mereka lepaskan setelah aku setengah mati. Mereka malah menyarankan aku agar mencari Juru Dongeng, menanyakan perihal itu."

Dari jauh terdengar sayup-sayup suara adzan. Magrib sudah tiba.

"Kenapa diam saja sejak tadi?"

Dan kancil itu pun pergi.
(2)
Dan aku pun pergi. Melanjutkan perjalanan mencari Juru Dongeng yang disebut-sebut macan dan buaya itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun keluar masuk hutan, menyusuri bengawan, melintasi padang, dan akhirnya sampai di sebuah kebun mentimun milik seorang petani. Seperti biasa, setiap kali melihat mentimun aku jadi lapar sekali, tapi mau mencuri takut karena tampaknya ada orang yang menunggu meskipun hari sudah malam. Orang itu diam saja di tengah kebun seperti patung, bahkan ketika kudekati. Ternyata hanya orang-orangan yang biasa dipasang di kebun untuk menakut-nakuti binatang. Tapi aku kancil, tidak bisa kena tipu malah biasa menipu. Timbul keberanianku. Harus kutumpahkan dulu segala kejengkelanku terhadap orang-orangan tolol yang ditanam di kebun itu. Maka kusepaklah ia dengan kaki kiriku. Eh, lengket. Kaki kananku, lengket pula. Aku berusaha melepaskan diri dari orang-orangan itu tapi semua kaki dan seluruh tubuhku malah lengket ke tubuhnya yang dilumuri getah. Aku capek dan merasa bodoh dan putus asa dan menggantung di orang-orangan itu.

Paginya kulihat Pak Tani datang, "Ini dia, ada kancil kena tangkap!" Kemudian kusadari bahwa aku benar-benar berada dalam bahaya. Tidak ditangkap macan atau buaya atau manusia, tetapi oleh benda tak bernyawa yang dipasang di kebun. Aku pun dibawa Pak Tani ke rumahnya, yang ternyata sedang siap-siap menyelenggarakan perhelatan besar. Anak gadis Pak Tani mau dikawinkan besok pagi.

Pak Tani dengan bangga memamerkanku kepada keluarganya dan bilang bahwa besok aku akan dikuliti, dipotong-potong dijadikan sate sebagai santapan para tamu.

"Masukkan dulu ke kurungan bambu itu, Pak. Biar ditunggui si Anjing. Nanti lepas kalau dibiarkan sendiri," begitu kata istrinya. Memang itulah garis kisah yang harus kujalani.

Maka aku pun dimasukkan ke sebuah kurungan. Ada seekor anjing kampung yang besar meski korepan menjulur-julurkan lidahnya duduk dekat kurungan, menungguiku. Byar! Aku ingat sebuah rancangan untuk menipu anjing itu dengan mengatakan bahwa besok Pak Tani akan menjadikanku menantu. Kukatakan kepada si Korep itu bahwa ia akan mendapatkan kedudukanku sebagai menantu Pak Tani kalau mau menggantikanku menunggu dalam kurungan bambu sepanjang malam itu. Tapi apa katanya? Sudahlah, Cil, tak usah cerita macam-macam, aku sudah tahu rancangan Juru Dongeng itu. Kau mau dijadikan sate dan bukan menantu. Iya, kan? Dan karenanya tentu saja aku tidak mau menggantikanmu. Anjing itu sudah juga mengetahui rancangan Juru Dongeng! Dan aku mendapat firasat bahwa tak akan mungkin lepas kali ini sebab anjing kudisan itu tampaknya tak peduli pada nyawa binatang lain. Mungkin ia pikir besok akan mendapat bagian tulang kancil setelah dagingku dibikin sate. Aku harus tinggal di dalam kurungan itu semalaman, membayangkan macan, buaya, ular yang ternyata juga sudah tahu taktik tipuanku. Aku juga harus membayangkan diriku dijadikan sate besok pagi sebagai santapan para tamu. Dan aku belum juga berhasil menemui Juru Dongeng itu sehingga tidak tahu kelanjutan nasibku. Aku pun tertidur, letih setelah terus-menerus diajak oleh Sang Malam membicarakan kekhu&ukan subuh dan keindahan fajar yang tak ada taranya: matahari akan muncul dari sela-sela perbukitan sana dan cahayanya bersijingkat mendekati desa itu.

(3)
Aku suka menyaru. Masuk keluar kampung, menyusuri jalan raya, ikut duduk-duduk di taman kota bersama para pensiunan, menikmati pemandangan sekitar desa yang terpencil, menyeberang sungai, dan masuk hutan. Dalam penyaruan itu Aku akan selalu diperlakukan sebagai apa pun yang kebetulan bertemu dengan-Ku, mengeluh tentang Juru Dongeng itu.***





Kalam, No. 19, 2003

Bayang Bayang

Bayang Bayang

AA Navis




Si Dali bukan orang biasa. Sudah jadi tokoh. Bahkan tokoh luar biasa. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang. Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara.

Karena pelakon Julius Casar, atau King Lear, atau Macbeth hanya gemerlap sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu. Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. Kata orang, Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang, penuh cahaya.

Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. Bayang- bayang yang banyak. Ada yang pendek ada yang panjang, ada yang gemuk ada yang kurus. Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. Karena memang bayang-bayang itu bayang-bayangnya sendiri. Sebagai bayang-bayang, bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. Baik Si Dali makan atau tidur, jalan-jalan atau berzina.

Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. Dan Si Dali yakin benar, bayang-bayang itu ada karena dia.

Tanpa dia, bayang-bayang itu semua sirna. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Sangat memerlukannya. Berbeda dengan orang lain, yang tidak pernah peduli dengan bayang- bayangnya sendiri. Karena mereka suka hidup bergelap-gelap di tempat gelap. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting.

"Bayangkan", kata Si Dali pada bayang- bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet: "Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang, selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?"

Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Karena peniruan tidak merugikannya. Bagaimana pun persisnya peniruan itu, satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang, yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan, tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian. Itulah adalah aksioma."

Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana. Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya.

"Benar, Paduka." jawab perdana menteri, yang tahu benar kemana ujung ceritanya.

"Bunuh dia." perintah raja.

Setelah merenung perdana menteri berkata: "Apa Paduka tidak ingin melihat lebih dulu macam apa Si Dali itu?"

"Kalau begitu tangkap dia. Bawa kesini." kata raja. "Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan Paduka. Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap, dia akan jadi lebih besar dari kadarnya. Dia akan menjadi mitos sejarah. Dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi. Bayangkan, Paduka. Demosntrasi masa ini biadabnya bukan main."

"Maksudmu?"

"Undang dia. Rangkul dia. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali."

"Kalau begitu undang dia. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top." kata raja.

Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga kehormatan negara. Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau Menko seperti yang berlaku di Indonesia. Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang panjang dari akal. Maka dia akan menolaknya. Demikianlah ketika Si Dali sampai di istana, dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung dan berpantat tonggeng seperti penari jaipong. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap. Raja dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada, bahkan sampai ke perut buncitnya. Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Begitu megah dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali. Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang dilihatnya di televisi.

Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu, tidak memberi bayang-bayang pada raja. Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masing-masing. Itulah bayang-bayang raja, pikir Si Dali. Tiba-tiba seluruh lampu meredup. Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang. Bayang-bayang mengiringi. Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Si Dali membungkuk ketika bersalaman. Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat bayang-bayang ratu. Keduanya jatuh bergumul di lantai. Si Dali memandang berkeliling. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam, yang seperti menatap ketiga orang yang berada di tengah ruang. Ketika semua lampu menyala kembali, Si Dali tidak melihat bayang- bayangnya. Bayang-bayang ratu pun tidak. Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya. Dan ketika dia menyalakan lampu di ruang tamunya, dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk mengalai di sofa.

"Kamu bukan bayang- bayangku." kata Si Dali. "Mestinya kamu bersama raja. Mengapa kamu di sini?"

"Aku kesal. Muak. Sakit hati. Raja punya banyak bayang-bayang. Semuanya berlidah panjang. Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya, tidak diperdulikan lagi." kata bayang-bayang raja itu.

"Terus?"

"Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang- bayang ratu, sehingga kamu kehilangan bayang-bayang kamu sendiri, aku pikir kebih baik aku ikut kamu. Karena kamu toh perlu bayang-bayang. Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak punya bayang-bayang." kata bayang-bayang itu.

Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia kebanyakan. Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang raja. Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia. "Kamu ingin jadi bayang-bayang raja?" tanya bayang- bayang itu.

"Oh, tidak. Sampai mati pun aku tidak mau. Aku cuma mau menyamar jadi kamu. Selama satu hari saja. Oke?"

"Oke."

Sebagai bayang-bayang, Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis pengawalannya. Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragam-ragam disain dalam istana itu. Semua megah, bahkan spektakuler. Ada ruang seperti yang ditemui dalam film Star Trek. Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of Pompeye. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali.

***

Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang- bayang raja memasuki Ruang waktu perdana menteri sedang berkata: "Nah, Tuan-Tuan sudah tahu, macam apa tokoh yang bernama Si Dali. Dia krempeng seperti Nashar. slebor seperti Affandi. Matanya melotot seperti.....seperti.....siapa, ya?" Sejenak dia terdiam ketika ingat pada seorang presiden, yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Selanjutnya katanya lagi: "Ya, seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis. Dia jadi tokoh karena sering, sangat sering, dipublikasi oleh pers dan televisi. Pidato atau khotbah atau ucapannya sering dikutip, puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra dan musik. Apa tidak begitu?"

"Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. Makanya tidak bisa dibandingkan dengan raja. Raja tetap jadi raja, meski tidak ada publikasi." kata seorang menteri.

"Baiknya, larang saja pers dan televisi mempublikasikannya." usul menteri yang lain.

"Larang-melarang itu sudah kuno. Tidak cocok dengan semangat reformasi." kata perdana menteri pula.

"Kalau begitu, imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?" usul yang lain lagi mengusul.

"Seperti kita semua tahu, raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk dipublikasikan. Apa pantas raja sedang makan, sedang tidur dipublikasikan?"

"Sekali lagi saya peringatkan. Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja. Raja tidak makan, tapi santap. Tidak tidur, tapi beradu. Tidak sakit, tapi gering. Tidak minum, tapi dahar. Tidak berbaju, tapi.....Tapi apa, ya? kata perdana menteri dengan sedikit keras.

"Kalau begitu raja tidak akan pernah mati, ya?" bisik seorang menteri kepada rekannya di sebelah kiri.

"Memang. Tapi w afat," jawab yang ditanya.

"Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno, seperti kebiasaan orang Indonesia yang memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk menamakan bangunan baru yang disakralkan," kata menteri yang duduk di kanan
menyela.

"Jadi masalah Si Dali itu apa, sih?" tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal dengan segala asesori tanda jasanya.

"Si Dali terlalu termasyhur. Populer. Lebih dari raja." jawab perdana menteri. "Itu membahayakan kredibilitas kerajaan."

"Raja sendiri berpendapat apa?"

"Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk berpikir."

"Nah, kalau raja sendiri tidak perduli, kenapa kita ribut?"

"Apa kata dunia internasional, apabila raja sudah begitu, tapi para menteri diam saja? Dunia internasional akan mengatakan kita semua goblok," kata perdana menteri dengan nada yang agak tajam.

Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan, Si Dali melompat ke tengah ruangan. Katanya setengah berteriak: "Kabinet macam apa ini. Bicara tentang kepentingan diri sendiri. Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan.

Setiap waktu kena peras, kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum bersenjata. Keadilan dimafia aparat, sejak polisi sampai jaksa, terus ke hakim. Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah disetujui."

Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh. Mereka masih terus berbicara dengan sesamanya. Padahal menurut Si Dali, dia telah bicara setengah berteriak sambil mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu. Tiba-tiba dia sadar pada dirinya yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja. Dengan berlari kencang dia kembali ke rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja. Untuk kembali menjelma ke jati dirinya sendiri.

Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: "Bayang- bayang tetap bayang-bayang. Meski bayang-bayang raja sekalipun, tidak ada yang hirau. Para menteri raja pun tidak hirau. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang, apa peduliku. Tapi pada bayang-bayang raja ini ada aku. Mengapa mereka tidak peduli?"

Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. Kadang-kadang dia bertanya, kadang-kadang mengomel. Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah. Akhirnya dia marahi dirinya sendiri, yang mau menyamar sebagai bayang-bayang, meski bayang-bayang raja. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat. Di bawah naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung. Dalam renungannya kian menjadi jelas baginya, bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi bayang-bayang. Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Kalau raja mati, meski bayang-bayangnya tidak ikut dikubur, dia tidak lagi berfungsi. Yang berfungsi ialah bayang-bayang raja pengganti. Bayang-bayang raja lama lenyap.

"Kalau saat ini raja pemilik bayang-bayang ini mati, apa jadinya aku?"

Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya, Si Dali berteriak keras: "Aku tidak mau lenyaaap. Tidak mau lenyaaap."

***

Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga. Di dalam semuanya hitam. Tidak satupun lampu yang nyala atau cahaya yang masuk. Tapi dia tahu persis letak sesuatu benda atau ruang demi ruang. Meski berlari tidak satu benda pun tersenggol. Meski tersenggol, oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser, apalagi merusak. Maka dia langsung menghambur ke kamar tidurnya, yang ketika pergi dulu sebagai bayang-bayang raja. dirinya lagi mengalai di ranjang.

Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke seluruh ruang yang gelap itu. Betapa seluruh ruang telah diarungi, betapa lama waktu dalam menyigi, dia tidak menemui dirinya. Simpul hatinya, dirinya yang dipakai bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang nyata. Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudut-sudut yang kumuh pun dia cari. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. Entah berapa hari, entah berapa malam.

Akhirnya, ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya, dia melihat seorang laki-laki kere. Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat kota. Laki-laki itu kurus kerempeng. Lusuh dan mengenas- kan. Laki-laki itu tidak lain dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja. Sebagian hati Si Dali demikian gembira karena telah menemukan kembali jati dirinya. Tapi sebagian lain hatinya demikian risau. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain. Tak obahnya seperti lusuh baju dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri. Sampai dia ragu sejenak, apa memang itu Si Dali yang sosok paling populer di masa itu.

"Hai, Dali. Kemana saja kamu. Berhari-hari aku telah mencarimu." kata Si Dali pada dirinya yang disandang oleh bayang-bayang raja itu.

"Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia. Aku kira meski aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. Tapi tidak satu pun nikmat yang aku dapat." kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali. "Kemudian aku yakin, bahwa aku hanya bayang-bayang. Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang utuh. Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali, agar aku bisa hidup menurut kodratku sendiri. Berhari-hari aku mencari kamu. Kemana saja kamu?"

"Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi." kata Si Dali.

"Terlambat sudah."

"Terlambat?"

"Raja sudah Wafat. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. Bagaimana aku kembali jadi diriku, sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi apa aku dengan tubuhmu. Tidak akan jadi apa-apa, tahu?" kata bayang-bayang raja yang mamakai jasad Si Dali. Terasa mengenaskan suaranya.

"Ayo, kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi." kata Si Dali.

"Aku mau. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang- bayang raja karena raja sudah wafat."

"Artinya?"

"Tidak mungkin itu. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri. Bayang-bayangmu takkan kau peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana."

"Maksudmu?"

"Ya, setiap bayang-bayang berbakat demikian."

"Aku tidak perlu bayang-bayang. Aku hanya perlu diriku sendiri."

Lawan Si Dali menggelengkan kepala. "Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayang-bayang."

"Sekarang aku ini jadi apa?" tanya Si Dali yang bayang- bayang.

"Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu." kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali.

Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana entah sampai apabila dan hingga kemana.





10 November 1999

Ditunggu Dogot

Ditunggu Dogot


Cerpen Sapardi Djoko Damono





+ Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apa lagi terlalu cepat datang. Dogot sama sekali tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Harus tepat, setepat-tepatnya.
- Kita harus bergegas kalau begitu.
+ Siapa bilang begitu? Harus tepat waktu! Sudah kubilang, terlalu cepat juga tidak tepat waktu.
- Tapi kan bisa menunggu sampai Dogot muncul kalau kita terlalu cepat sampai. Jadi, kita bergegas saja.
+ Kamu tahu siapa Dogot?
- Peduli amat.
+ Benar juga. Tapi kalau tak tahu, bagaimana kita bisa tahu itu Dogot kalau nanti ketemu?
- Lho, tadi kau bilang kita ditunggu Dogot.
+ Begitu?
- Mungkin.
+ Tapi kan kita ini ditunggu. Jadi, tak peduli kita kenal atau tidak siapa yang menunggu. Yang jelas adalah kita ditunggu Dogot. Siapa itu Dogot, itu bukan urusan kita. Bahkan apa yang menunggu itu Dogot atau apa, itu juga di luar urusan kita. Tapi enaknya Dogot saja yang menunggu kita, ya kan?
- Dari mana kau tahu kita ditunggu?
+ Peduli amat.
- Kalau begitu ditunggu atau tak ditunggu ya sama saja.
+ Begini. Kalau ada yang menunggu, tentu harus ada yang ditunggu. Kita ditunggu, jadi tentu ada yang menunggu. Ya Dogot itu. Pakai akal sehat sajalah, ditunggu itu pasangannya menunggu. Kita sekarang ini ditunggu.

- Dari mana kau tahu?
+ Peduli amat.
- Kalau begitu tidak usah ditunggu sajalah, biar enak.
+ Tidak mungkin. Dunia ini tidak akan ada jika tidak ada tunggu-menunggu. Kau bisa membayangkan dunia yang tidak ada yang menunggu dan tak ada yang ditunggu? Apa yang kau
kerjakan, coba? Begitu saja kok susah.
- Kau saudaranya Dogot, ya?
+ Tai kucing!
- Jangan marah. Ditunggu kok malah marah. Yang menunggu boleh marah, begitu logikanya, kan? Dogot itu saudaramu, ya?
+ Sontoloyo, lu!
- Bapakmu?
+ Jangan begitu.
- Jangan-jangan Dogot itu saudara tirimu. Ya, nggak? Jangan kura-kura dalam perahu. Ya, nggak. Saudara tirimu, kan?
+ Tai kucing!
- Punya saudara tiri saja kok malu. Lihat itu, ada pesawat terbang lewat.
+ Apa urusannya?
- Katanya ditunggu. Pesawat terbang penting, dong. Kan ditunggu.
+ Maksudmu menunggu pakai pesawat terbang?
- Pakai akal sehat sajalah. Pesawat terbang itu urusan yang ditunggu, bukan yang menunggu.
+ Ini bukan urusan cepat-cepatan, ini urusan tepat waktu. Harus tepat.
- Kalau begitu kau saja yang ditunggu, aku tidak.
+ Tidak bisa. Kita berdua ditunggu, bukannya aku ditunggu dan kau tidak ditunggu.
- Lho, kok tidak boleh memilih?
+ Memilih apa?
- Ya memilih tidak ditunggu. Kalau pakai akal sehat kan boleh memilih. Kau memilih ditunggu, aku memilih tidak ditunggu. Masalahnya jadi beres, kan?
+ Kita ditunggu, bukan aku saja. Kau juga. Akal sehat berbunyi: jika ada yang menunggu harus ada yang ditunggu. Kau dan aku ditunggu, mau tidak mau. Itu baru akal sehat namanya.
- Ya, sudah.

+ Waktu kereta mendesis meninggalkan stasiun, dan orang- orang melambaikan tangan tanda perpisahan, tukang peluit di peron itu melambaikan tangan padaku sambil berteriak, "Ingat, kau ditunggu!" Aku lihat kiri-kanan, jangan-jangan bukan aku yang dimaksudkannya, tetapi seorang ibu tua di sampingku bilang tukang peluit itu melambaikan tangan padaku. "Masih saudara, ya?" tanya ibu tua itu. la tidak memperhatikan gelengan kepalaku. Sampai stasiun tak tampak lagi, tukang peluit itu masih melambaikan tangannya dan seperti kudengar suaranya, "Ingat, kau ditunggu!"
- Jadi, ia saudaramu ya?"
+ Waktu di bandara tempo hari, petugas tiket itu membisikkan sesuatu padaku, "Saudara ditunggu, jangan lupa." Aku tak sempat menanyakan hal itu sebab calon penumpang yang antre di belakangku tampaknya tergesa-gesa, dan aku didesaknya.
- la saudaramu, ya?
+ Waktu nyopir mobil lewat jalan macet yang sedang diperbaiki, seorang tukang gali tersenyum padaku dan berkata, "Ingat ya, Saudara ditunggu." Aku pengin berhenti menanyakan hal itu tetapi mobil-mobil yang bererot di belakangku langsung tekan klakson.
- la saudaramu, ya?
+ He, kamu pernah ditabokin orang?
- Nggak.
+ Pernah dibedil Jepang?
- Nggak, belum lahir.
+ Pernah diklocop kepalamu, ya?
- Jangan begitu, dong.
+ Pernah dikilik-kilik, ya?
- Jangan sadis, dong.
+ Habis, kenapa tanya-tanya apa mereka semua itu saudaraku?
- Malu ya, punya saudara jadi tukang tiup peluit?
+ Kuingat benar, katanya aku ditunggu.
- Malu ya, punya saudara jadi tukang tiket?
+ Aku yakin, ia bilang aku ditunggu.
- Malu ya. punya saudara jadi tukang gali jalanan?
+ la telah menyampaikan kebenaran, aku ditunggu.
- Ya, sudah sana. Cepat, nanti terlambat.
+ Tidak paham-paham juga kau. Kalau aku ditunggu, kau juga ditunggu. Harus. Tidak bisa hanya ada aku. Aku hanya ada kalau kau ada, kan? Dan kita ada karena ada yang menunggu-itu akal sehat.
- Kamu kenal Plato?
+ Tanya itu lagi!
- Kenal Konghucu?
+ Itu lagi!
- Kau kenal Gandhi?
+ Diulang-ulang lagi!
- Begini, kalau tidak kenal mereka kok bisa jadi pintar begitu?
+ Ditunggu ya ditunggu, tidak ada urusan sama pintar atau bodoh. Seandainya aku pintar dan kau bodoh, ya kita sama saja, sekarang ini ditunggu. Seandainya aku bodoh dan kau pintar-tapi itu tidak mungkin.
- Meskipun tidak mungkin kita kan ditunggu juga. Itu, kan, yang mau kau bilang?
+ Begitu, baru pintar namanya.

+ Masalahnya adalah posisi kita sekarang ini di mana. Kita harus bisa tepat waktu kalau tahu posisi Dogot juga, kan?
- Dan posisi Dogot baru bisa kita ketahui kalau kita tahu posisi kita di mana. Begitu, kan?
+ Kau memang pintar ternyata. Tapi kenapa kita ditunggu?
- Nah, sekarang kau yang mulai bodoh. Jawabannya kan jelas: karena ada yang menunggu. Titik. Masalahku lain, bukan kenapa kita ditunggu tetapi Dogot itu siapa.
+ Lho, kau jadi bodoh lagi.
- Nanti dulu. Apa kau bisa menggambarkan Dogot itu kepalanya botak atau tidak, dahinya monyong atau tidak, perutnya buncit atau tidak, kakinya pengkor atau tidak, mulutnya dower atau tidak. Kau harus bisa menggambarkannya agar nanti kalau ketemu aku bisa kasih salam, "Halo, Dogot. Apa kabar? Maaf kami tidak bisa tepat waktu. Habis, tadi bertengkar melulu. Jangan marah, ya, kita kan belum terlambat."
+ Stop, kita tidak akan bisa ketemu Dogot kalau tidak tepat waktu. Jangan ngawur, dong.
- Begitu?
+ Lha ya. Dan lagi tadi kau tanyakan dahinya macam apa mulutnya macam apa. Apa Dogot kau bayangkan sama dengan kita, punya mulut, perut, dan sebagainya?
- Kalau tidak punya mulut dan perut, bagaimana bisa makan?
+ He, tukang makan, jangan menyamakan Dogot dengan dirimu sendiri. Tidak tahu ya tidak tahu, tidak kenal ya tidak kenal. Tidak usah membayangkan yang bukan-bukan.
- Akal sehat sajalah. Kalau tidak makan ya tidak hidup.
+ Tidak ada hubungannya dengan makan atau hidup atau apa saja. Pokoknya kita harus tepat waktu. Mau makan, mau hidup terserah.
- Kan sejak tadi kita bicara tentang Dogot yang katamu menunggu kita, kenapa kau jadi begini dan begitu? Bagaimana Dogot bisa menunggu kalau tidak punya perut, mulut, dan
sebagainya?
+ Tugas kita ditunggu, tugas Dogot menunggu. Itu saja. Perut itu kan urusanmu.
- Apa urusanmu cuma otak, tak pakai perut? Apa Dogot, saudaramu itu, tak punya perut tapi punya otak? Begitu? Kau saudaranya, kan? Seperti halnya tukang tiup peluit, tukang jual tiket, dan tukang gali selokan. Dogot itu saudaramu, kan? Kalau bukan kenapa kau tutup-tutupi...
+ Sekali lagi bilang ia saudaraku, kuhabisi kau.
- Kalau aku kau habisi, ya alhamdulilah. Aku nggak usah ditunggu Dogot.
+ Sapa bilang begitu?
- Lho, malah bertanya. Lihat itu matahari sudah sepenggalah. Kita harus cepat-cepat supaya tidak ditinggal Dogot.
+ Ini bukan urusan ditinggal. Ini urusan ditunggu. Kalau bisa ditinggal, itu gampang masalahnya.
- Aku maunya ditinggal saja, nanti pergi sendiri saja. Tidak pakai ditunggu.
+ Pergi sendiri ke mana? Kita ini ditunggu, tidak bisa mau ke mana seenak perut.

+Waktu aku menuruni bukit untuk menemuimu dari lembah juga kudengar suara, "Jangan lupa, kalian ditunggu!" Itu tandanya kau juga ditunggu, tidak hanya aku.
- Tapi kenapa hanya kita berdua?
+ Kok 'hanya. Kau dan aku ini tidak sekedar 'hanya.
- Kok tidak salah satu saja yang ditunggu?
+ Kalau salah satu saja nanti tidak ada yang mengingatkan bahwa ada yang sedang menunggu. Itu merepotkan.
- Merepotkan?
+ Ya, merepotkan yang sedang menunggu. Harus ada yang merasa ditunggu agar Dogot tidak repot. Menunggu orang yang tidak merasa ditunggu itu tentu saja bikin repot. Untuk apa pula Dogot menunggu kalau kita tidak merasa ditunggu?
- Apa tidak punya kerjaan lain kecuali menunggu? Aku tak paham, kenapa repot-repot menunggu dan kenapa lebih menjadi repot lagi kalau tidak ada yang merasa ditunggu.
+ Dogot itu ada kalau menunggu, repot atau tidak repot apa pasalnya? Paham?
- Kalau tidak usah menunggu saja, bagaimana?
+ Kalau tidak menunggu ya Dogot tidak ada, padahal Dogot harus ada. Harus.
- Kenapa harus?
+ Karena kita ditunggu.
- Kenapa ditunggu?
+ Ya, karena ada yang menunggu.
- Kau ini tak pernah baca buku kok pintar.


+ Ingat, di dunia ini semua berpasangan: langit-bumi, kiri-kanan, atas-bawah, jauh-dekat, surga-neraka...
- Menunggu-ditunggu!
+ Tepat. Kau mulai paham.
- Kalau yang ditunggu ketemu yang menunggu?
+ Tidak boleh, dan tidak mungkin. Mana ada langit ketemu bumi? Kalau ketemu namanya bukan langit dan bumi lagi, tidak berpasangan lagi. Kau pikir bisa membayangkan jauh dan dekat bertemu? Bisa kau bayangkan siang dan malam bertemu? Bisa kau bayangkan laki dan perempuan bertemu?
- Kau dan aku.
+ Ya, harus berpasangan supaya ada.
- Kalau nanri kita ketemu Dogot?
+ Siapa bilang kita akan ketemu Dogot?
- Kau bilang kita ditunggu!
+ Ya, supaya ada sepasang ditunggu-menunggu.
- Sudan sajalah. Capek juga ditunggu.
+ Ditunggu kok capek. Yang nunggu saja tidak capek.
- Kok tahu?
+ Ini bukan pasal tahu atau tak tahu. Dogot menunggu dan kita ditunggu. Dan yang ditunggu tidak berhak capek, itu saja.
- Tapi apa ada yang bilang, "Aku capek ditunggu." Orang bilang, "Aku capek menunggu." Ya, kan? Akal sehat.
+ Kau pintar lagi, yang ditunggu tidak ada yang bilang capek, kan?
- Akal sehat?
+ Pasal capek atau tidak capek tidak usah dikait-kaitkan dengan sehat atau tidaknya akal. Bahkan dengan akal pun tidak ada kaitannya. Kau memang suka mengait-ngaitkan yang bukan-bukan.
- Begini, kalau ditunggu tidak berhak capek, menunggu juga tidak berhak, dong.
+ Ya terserah yang menunggu saja. Mau capek, mau kagak!
- Lho katanya tadi nggak ada yang boleh capek. Gimana sih?
+ Gimana gimana?
- Itu Iho, yang menunggu. Dia boleh capek, begitu?
+ Terserah. Hanya saja ingat, kita tidak boleh capek hanya karena ditunggu, itu wajib hukumnya.
- Kita ini boleh mikir cara apa?
+ Ditunggu kok mikir.

+ Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apa lagi terlalu cepat datang. Dan Dogot menunggu, kita wajib ditunggu.



Oktober 2002

Dalam Lift

Dalam Lift

Cerpen Sapardi Djoko Damono



Sehabis menghadiri rapat rutin yang dihadiri oleh sejumlah guru besar pensiunan di lantai 27 sebuah gedung bertingkat, aku buru-buru menuju lift. Di depan pintu kelihatan seorang perempuan muda. Untuk pertama kalinya sejak entah berapa puluh tahun terakhir ini aku merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak aneh dalam pikiranku. Alangkah elok anak perawan ini, dipandang dari jauh bagaikan anak dagang yang rawan, yang bercintakan sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Barangsiapa memandangnya, tak dapat tiada akan tertarik oleh suatu tali rahasia, yang mengikat hati. Begitu kata pengarang Sitti Nurbaya. la mungkin seorang sekretaris, mungkin seorang tamu di salah satu kantor di gedung itu, atau mungkin entah apa. Apa peduliku? Ya, tapi aku peduli. Sayang, kosa kataku ternyata tidak cukup untuk menggambarkannya, apalagi mengungkapkan ricik air, atau semilir angin, atau langkah kaki hujan yang bergerak dalam pikiranku. Semuanya terasa hambar dan klise belaka.

Padahal aku ingin sekali menggambarkan perempuan itu sebab dengan begitu setidaknya bisa merasa agak tenteram. Begini saja, biar kupinjam beberapa larik lagi dari Sitti Nurbaya, yang menggambarkan keelokan tubuh dan paras seorang gadis yang sampai hari ini tidak pernah tergoyahkan dalam angan-anganku. Pakaian anak gadis ini sebagai pakaian anak Belanda. Di tangan kanannya adalah sebuah payung sutera kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. jika ia minum, seakan-akan terbayanglah air yang diminumnya di dalam kerongkongannya

Aku sama sekali tidak berani mengajaknya bicara sebab khawatir, jika mendengar suaranya, terlalailah daripada suatu pekerjaan. Aku tidak mau lalai dalam pekerjaanku. Sampai pemberhentian di lantai satu, tidak ada orang lain yang masuk. Perempuan muda itu tetap berada dalam lift, berdua saja denganku. Pintu terbuka dan kami keluar. Seperti ketika masuk, ia kupersilakan keluar duluan. Seperti juga ketika masuk, ia tersenyum, lalu cepat-cepat keluar, berbelok ke kiri entah ke mana. Aku harus ke kanan, meninggalkan gedung. Kami pun berpisah, dan sampai sekarang ia tak pernah kujumpai lagi.***