SUNRISE
AS Sumbawi
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
“Yap. Selesai sudah.” Kucoba mengangkat tas ransel yang memuat segala kebutuhan. Lumayan berat. Dari luar kudengar Bondan memanggil. Aku keluar.
“Bagaimana? Sudah beres?” katanya.
“Sip. Beres.”
“Ayo, sudah ditunggu yang lain!” katanya memberi isyarat menunjuk ke jalan. Di sana kulihat sebuah mobil van parkir.
“Ya, sebentar.” Aku kemudian mengambil tas ransel di kamar. Sebentar kami sudah berjalan menuju mobil.
Siang ini langit cerah. Matahari nyalang bersinar. Udara terasa gerah membuat tubuhku segera berkeringat. Dari kaca mobil yang terbuka aku melihat beberapa orang berada di dalamnya.
Kemarin ketika aku berada di kostnya, Bondan mengatakan dirinya akan mendaki gunung Lawu bersama teman-temannya.
“Kebetulan kami masih berlima. Dua laki-laki dan tiga perempuan. Kalau kau ikut berarti pas tiga pasang. Bagaimana, mau tidak?” Bondan tertawa sejenak, kemudian menghisap rokoknya.
“Ya, aku ikut,” kataku. Dalam kepalaku, acara mendaki ini akan memunculkan suasana yang baru. Refreshing bagiku. Ya, beberapa hari ini pikiranku bleng. Aku tak bisa mengerjakan apa-apa yang sudah menjadi pekerjaan sehari-hari. Kuliah? malas. Menulis? pikiran buntu. Mau membaca? tiba-tiba langsung tertidur. Main game? aku tak begitu suka. Sepanjang hari aku hanya duduk dan mataku terus menerawang. Hanya kehabisan rokok yang membuat aku tersentak. Aku kemudian menyulut sebatang lagi. Dan lagi. Lantas pergi ke warung membeli lagi. Dan lagi. Sementara asbak sudah menyerah tak mampu memuat lagi putung-putungnya. Akhirnya berserakan di lantai kamar. Begitu juga dengan sepai-sepai abunya berjatuhan ke mana-mana.
Aku juga sudah mencoba pergi ke mana-mana. Ke kost teman-teman, ke bioskop, ke alun-alun kota, ke toko buku, ke mall. Namun, setiap berada di tempat-tempat tersebut, sebentar kemudian aku sudah merasa bosan. Kemudian pindah ke tempat lain. Akan tetapi, rasa bosan segera mendera lagi. Terus berulang-ulang. Begitu juga dengan ketika aku berada di kost Bondan. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, aku lantas pamit pergi.
“Jangan lupa, besok habis Dzuhur,” katanya.
“Ya,” kataku kemudian pergi.
Sepanjang perjalanan pulang ke kost, kurasakan rencana mendaki gunung Lawu menguasai pikiranku. Aku cukup senang. Ya, paling tidak aku sudah punya rencana menghabiskan waktu di hari besok. Dua hari. Sabtu dan minggu. Di samping itu, apa yang dikatakan Bondan tentang kami yang menjadi tiga pasang itu, tiga laki-laki tiga perempuan pun memberi semangat tersendiri.
Sebelumnya aku dan beberapa orang teman sudah pernah mendaki gunung Lawu. Sayang, dini hari itu, saat kami berada di pos terakhir sebelum mencapai puncak, kami terserang hujan deras disertai angin yang cukup kencang. Memang saat pagi tiba dan arloji menunjukkan sekitar pukul delapan, langit masih mendung, matahari bersinar lebih baik daripada purnama di malam hari, dan angin kencang sudah reda. Namun, hujan masih mengguyur deras sehingga kami kemudian sepakat menggagalkan perjalanan ke puncak. Kami memilih turun daripada kedinginan di tengah gunung dengan baju-baju yang basah. Saat itu aku semester 2. Sejak saat itu, aku belum pernah mendaki gunung lagi. Dan kini, aku sudah semester 6.
*
Aku masuk mobil dan berkenalan dengan mereka satupersatu. Tiga perempuan itu masing-masing bernama Shofa, Diah, dan Meyvita. Sementara yang laki-laki bernama Han. Aku berkenalan dengannya di luar mobil. Sebentar kemudian mobil mulai melaju.
*
Sepanjang perjalanan kami bercakap-cakap. Aku sering menjadi pendengar. Maklum seperti itu. Aku masih baru di lingkungan mereka. Meskipun aku dan Bondan sendiri sudah akrab sejak kelas 1 SMU. Namun, aku cukup senang karena mereka cantik-cantik. Dan dalam diam itulah aku diam-diam memperhatikan ketiga perempuan tersebut. Kemudian dengan diam-diam pula muncul dalam pandanganku bahwa Diah yang paling menarik di antara ketiganya. Kulitnya yang putih bersinar, rambut hitamnya yang panjang dan halus, bulu matanya yang melengkung, hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah dan sedikit tebal, serta dagunya yang lancip terpadu rapi menampakkan sebuah kecantikan yang pas menurut seleraku. Namun sayang, Diah duduk di samping Han yang memegang setir.
*
Setelah melewati Solo, percakapan di mobil mereda digantikan dengan percakapan dua orang-dua orang sesuai dengan tempat duduknya. Bondan dengan Meyvita. Aku dengan Shofa. Sementara Diah, tentu saja dengan Han.
Aku senang bercakap-cakap dengan Shofa. Sepertinya segala sesuatu diketahui olehnya. Di samping itu, suaranya yang merdu terasa begitu enak masuk ke telingaku. Shofa juga tak kalah cantik dengan Meyvita ataupun Diah. Dan barangkali karena kerap bertatapan mata, dia bertambah cantik di mataku. Meskipun begitu, pesona Diah tak tertandingi. Tak bisa kubendung lagi. Diam-diam aku kerap mencuri-curi pandang memperhatikan dirinya.
*
Sebentar lagi kami mencapai Tawang Mangu. Di depan mata kami, gunung Lawu menjulang dengan pesonanya yang terpadu dari keindahan dan kengerian yang terkandung di dalamnya. Dulu, ketika kami mendaki gunung Lawu untuk pertama kali dan gagal mencapai puncak, sesampai di bawah aku mendengar kabar bahwa sudah lima hari empat orang dinyatakan hilang dan dua orang ditemukan meninggal. Memang, saat itu musim penghujan dengan curah hujan yang cukup tinggi dan disertai angin kencang. Membentuk badai. Dan kini, entah, sudah berapa banyak nyawa tercabut selama gunung Lawu dibuka untuk pendakian. Namun begitu, masih banyak juga yang ingin mendakinya. Termasuk kami saat ini.
“O, indah sekali,” kata Diah.
“Dan besok pagi kita ada di atas sana,” kata Shofa tersenyum ke arahku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ketika itu kami hendak mendaki gunung Lawu untuk pertama kali. Pada saat seperti ini kudengar salah seorang teman berkata meremehkan.
“Ah, cuma segini tingginya?! Kecil,” katanya tentang gunung Lawu. Entahlah, sampai sekarang aku menganggap bahwa kegagalan kami saat itu disebabkan oleh rasa sombong yang ada pada diri kami. Meremehkan ciptaan Tuhan. Maka seketika itu juga, aku berdoa semoga kali ini kami berhasil sampai di puncak. Ya, aku tak ingin gagal lagi.
Arloji menunjukkan sekitar pukul empat sore ketika kami sampai di Tawang Mangu. Kami kemudian berhenti di depan sebuah rumah makan. Istirahat, makan, shalat, dan lain-lain. Satu jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Cemoro Sewu.
*
Malam hari setelah sholat Isya’, kami mengecek segala peralatan. Hawa begitu dingin dan terasa menusuk tulang. Kami pun memakai jaket, meskipun aku yakin bahwa sebelum mencapai pos pertama nanti kami sudah berkeringat.
Setelah melapor ke pos penjaga, kami berkumpul kembali. Berdoa bersama. Semoga selamat sampai di puncak. Dan selamat pula sampai di bawah. Kemudian kami memulai langkah memasuki gerbang. Aku berjalan di depan. Kemudian Shofa, Diah, Han, Meyvita, dan Bondan paling belakang.
*
Sepanjang perjalanan dari pintu gerbang ke pos pertama, kemudian dari post pertama ke pos kedua, lantas dari pos kedua ke pos ketiga, suasana hutan masih terasa sama—langit cerah. Suara binatang malam saling bersahut-sahutan dan kunang-kunang yang bersinar kekuningan terbang di sekitar kami—kecuali rute-nya yang tambah menanjak dan pohon-pohon yang bertambah padat. Di pos-pos itulah kami berhenti. Istirahat sejenak, kemudian meneruskan perjalanan. Dan di pos pertama, kami sudah menanggalkan jaket kami karena tubuh sudah terasa hangat. Sepanjang perjalanan itu pula, kami dilewati beberapa rombongan pendaki lain.
*
Di tengah perjalanan menuju pos keempat, terakhir sebelum puncak, tiba-tiba keadaan cuaca berubah. Langit menjadi gelap. Di sekitar tak terdengar lagi suara binatang malam. Dan tak jauh di atas kepala kami, angin bertiup terdengar bagai gemuruh. Terasa mencekam. Dalam hati ada yang terasa tidak enak. Khawatir sesuatu akan terjadi. Sebentar kemudian hujan mengguyur deras. Kemudian di bawah sebatang pohon kami berteduh sejenak. Memakai jaket dan mantel dan mulai berjalan kembali. Dengan disinari cahaya senter, kulihat arloji menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
Setengah jam berjalan, dari arah depan kemudian kulihat cahaya senter diarahkan ke arah kami disertai teriakan.
“Pos empat. Pos empat. Selamat datang.” Sebentar kami sudah sampai di sana.
Setelah bersalaman dan berbasa-basi dengan rombongan lain yang terdiri empat orang laki-laki, sebentar kemudian kami istirahat. Aku cukup bersyukur dengan hal itu. Ya, lebih baik di sini daripada kehujanan di jalan setapak yang cukup terjal dan licin. Di samping itu, tubuh kami pun terasa letih. Akan tetapi setelah beberapa menit beristirahat, aku merasakan sesuatu yang buruk. Ya, pos empat ini menghadap ke tempat yang terbuka. Dari arah depan angin bertiup cukup kencang disertai hujan menghempas tubuh kami.
Tak lama kemudian, aku melihat semua yang ada di situ rebah dengan melipat tubuhnya untuk menahan dingin. Aku bergabung bersama mereka. Barangkali karena dingin yang sangat di samping rasa letih, tanpa sengaja sebentar kemudian kami sudah berpelukan dengan berselimut mantel. Dan aku enggan untuk mencoba melihat siapa yang kupeluk erat waktu itu. Dalam hati aku tak putus-putus berdoa semoga badai ini cepat-cepat reda. Semoga kami selamat dan tidak mati kedinginan di sini. Sebenarnya aku ingin bangun dan menyalakan api membakar parafin. Akan tetapi, untuk membuka sarung tangan saja aku merasa sangat kesulitan.
Entah, sudah berapa lama? Dan selama itu, aku tak yakin bahwa kami bisa tidur. Akan tetapi, berada di antara keadaan tidur dan sadar. Tiba-tiba aku mendengar suara lirih meluncur di depanku. Sangat dekat. Terasa menempel. Suara seorang perempuan. Aku menduga ia adalah Diah. Ya, aku yakin itu.
“Ayah, ibu, kakak dan adikku. Kalau aku mati di sini, relakan aku, ya. Aku ke sini untuk melihat keindahan ciptaan-Nya. Maafkan aku tak minta izin kalian,” begitu katanya. Dalam hati aku ingin tertawa. Namun, rasa dingin tak mengizinkan hal itu.
Segera kueratkan pelukanku di tubuhnya. Aku tak ingin ia kedinginan dan mati membeku. Dia masih muda dan cantik. Hatiku tertawan olehnya.
Memang, selama ini aku pernah berpacaran dua kali. Namun, aku tak pernah mengalami keadaan yang begitu dekat seperti ini. Wajah kami saling menempel seperti ini. Kalau saja saat ini bukan karena rasa dingin dan letih yang sangat, barangkali akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di antara aku dan Diah. Namun, tidak. Sekali lagi tidak. Libidoku tetap berada di level bawah. Di samping itu, untuk kencing saja aku sudah tak punya keinginan untuk menghindar mencari tempat. Akhirnya kualirkan saja membasahi celanaku yang sudah basah. Dan terasa hangat di paha.
*
Entah, berapa lama berselang. Kudengar beberapa orang berteriak membangunkan kami. Saat terbangun aku melihat langit pucat. Matahari bersinar lebih baik daripada purnama di malam hari. Angin kencang sudah reda. Namun, hujan masih mengguyur. Kulihat arloji menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Kemudian kuperhatikan mereka satupersatu. Kusut, tentu saja. Ketika aku dan Diah bertatapan mata, kami saling melempar senyum. Ah, masih saja ia tampak menawan, pikirku. Sebentar kemudian, parafin telah terbakar dan kami duduk menjerang tangan.
Karena hujan belum juga reda, dalam kesempatan itu kami kemudian bersepakat menggagalkan perjalanan ke puncak. Untuk mengobati rasa kecewa, kami akhirnya pergi melihat Grojogan Sewu. Dan aku sangat gembira karena di Grojogan Sewu kami selalu berdekatan. Aku dan Diah.
*
Sore itu Shofa meneleponku. Dalam kesempatan itu, ia tak bosan-bosannya menceritakan pengalaman mendaki gunung Lawu kemarin. Ia sangat senang bisa mencapai puncak. Tentu saja, aku tak percaya. Bukankah kami turun setelah diserang badai? Namun, ia terus-menerus meyakinkan bahwa kami pagi itu sampai di puncak. Dan sebelum menutup telepon, tiba-tiba ia mengatakan apakah aku tak ingin pergi ke kostnya? Aku kemudian minta maaf karena masih terasa letih.
Setelah menutup telepon, aku pergi ke kost Bondan. Sepanjang perjalanan aku masih belum percaya tentang apa yang dikatakan oleh Shofa itu.
*
Aku tersentak. Bondan menunjukkan kepadaku foto-foto kami ketika berada di puncak Lawu. Aku tak bisa mengelak lagi.
“Kau begitu mesra dengannya,” kata Bondan ketika aku memperhatikan foto aku dan Shofa sedang berangkulan dengan background Grojogan Sewu.
Seperti tersadar, lemaslah tubuhku. Ternyata, beberapa hari ini pikiranku tidak hanya bleng. Tapi, sudah menciptakan halunisasi. Memang, ini bukan pertama kali kualami. Namun, aku kecewa. Kenapa hal itu terjadi saat moment penting itu muncul? O, Sunrise yang begitu indah. Lagi-lagi aku gagal menikmati keindahannya. Dan Shofa, apa yang telah terjadi dengannya? (*)
Thursday, 27 January 2011
Di Atas Bukit Di Bawah Langit
Di Atas Bukit Di Bawah Langit
M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Anak manusia, lelaki, tapi dasar dia adalah seorang Lelaki Pendosa. Dia memang lelaki, namun tubuhnya tidak sekuat jiwanya dalam menempuhi hari. Lelaki kurus yang diberati timbangan dosa. Sepertinya dia tidak pernah perduli akan itu. Dia terus mengembara, menempuhi perjalanan yang terasa semakin semakin memukau semenjak kedatangan Perempuan Pendoa di dalam langkah perjalanan sunyi. Kakinya berkelana, tangannya yang lentik bermain kata menyeret seorang perempuan yang telah memenjara jiwanya. Perjalanan Lelaki Pendosa harus ada Perempuan Pendoa di sana, sebab jiwa sang lelaki telah terlumpuhkan begitu saja. Terlumpuhkan tanpa peperangan. Menyerah tanpa pemberontakan.
Pada keheningan sore, ketika hujan rintik untuk sejenak, jalan-jalan padat kota mereka tinggalkan. Ada angin dari selatan yang menantang. Langit di atas telah berwarna jingga, dengan gumpalan-gumpalan hitam di beberapa sudut. Pada sudut-sudut jalan yang lain, sisa-sisa kelopak mawar yang mulai layu masih tertinggal. Tidak hanyut dibawa hujan. Tidak juga berhamburan ketika angin meluncur tanpa penghalang.
Lelaki Pendosa menyeret langkah bersama Perempuan Pendoa. Melaju di dalam satu irama yang hening.
“Tentang apa?” Tanya orang-orang yang memandang sinis, memandang penuh curiga akan Pendoa dan Pendosa.
“Cinta!” begitu jawab Pendoa dan Pendosa di dalam hati dalam senyuman kecil.
“Cinta apa antara doa dan dosa?” orang-orang kembali menanyakan namun Perempuan Pendoa menggelengkan kepala dalam senyuman. Ia memandangi sang Pendosa yang menatap teduh dan tenang.
“Kesatuan!” jawab Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendosa bersamaan.
“Satu antara doa dan dosa.” Sang Pendosa menegaskan dalam senyuman lebar dan menantang dunia.
Tidak ada lagi yang bertanya. Mereka berdua melaju ke selatan, menanjaki bukit karang yang terjal namun dibelai air dan hancur. Pendoa dan Pendosa berdiri, di atas bukit memandangi ke bawah. Ombak yang memutih, berbuat bercampur kecoklatan yang entah datang dari mana. Berlarian seperti anak kecil, atau lelaki kasmaran yang melihat pantai bak perempuan terkasih yang telanjang. Lalu keduanya bergumul dalam irama yang pasti. Ombak ditarik lagi, seperti hasrat yang telah terpuaskan setelah mencumbui pantai yang hangat setelah dibelai matahari. Lalu sesaat kemudian, hasrat itu pun kembali lagi, ombak datang dan membelai pantai.
Kegelapan tiba-tiba membungkus. Tidak ada yang terlihat. Bahkan Pendoa dan Pendosa tidak mampu melihat diri mereka sendiri. Kegelapan begitu pekat, hanya gemuruh ombak yang terus memacu hasrat tak tertahankan. Bergemuruh di dalam kegelapan yang pekat.
Perempuan Pendoa menggelengkan kepala, “Ini tidak benar!” ucapnya dengan penuh kepastian. “Ini bukan saatnya!” ucapnya kembali sementara Lelaki Pendosa telah tenggelam di dalam kegelapan.
Walau telah terbungkus dalam kegelapan, sang Pendosa masih bisa mendengar kata-kata kekasihnya yang membisik di telinga. Sang Pendosa menarik nafas, menarik diri dari kegelapan lalu melihat dua bola mata yang memancar indah. Dia rasa sedang melihat bintang. Lalu bibir yang tersenyum, basah seperti telaga yang dapat memberikan penawar atas racun kehidupan. Telaga yang manis, merubah penderitaan menjadi kebahagiaan dan hiasan yang penuh makna dengan rekahan panjang.
“Semua belum terlafalkan dengan baik, Sayang!” ucap sang Pendosa sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, suaminya.
Sang Pendosa memandangi mata bening yang memancar indah. Ia menganggukkan kepala dan menarik diri. Matahari tumbuh dari timur. Ia merayapi gunung yang dingin. Perlahan-lahan anak panah sinarnya melesat jauh dan jatuh berpendar di bumi. Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendosa berdiri di atas bukit. Keduanya sedang bermandikan cahaya matahari yang hangat. Keduanya bernaung di bawah langit yang terhampar pucat
Perempuan Pendoa kembali tersenyum. Telaga itu merekah semakin lebar ketika pandangannya tergantung pada garis putih yang berada di depannya.
“Langit dan Bumi seperti bersatu. Tapi selalu ada garis putih yang menjadi jarak antara keduanya.” Ucap Perempuan Pendoa dalam senyuman. “Begitu luas.”
“Yah, luas.” Sahut sang Pendosa yang terlihat tidak tertarik dengan alam yang ada di depannya.
“Volume air itu tetap, tapi daratan terdesak ke belakang.” Ucap Perempuan Pendoa.
“Daratan juga akan tetap sama. Ada yang terdesak ke belakang. Ada yang terdesak ke depan.” Ucap Lelaki Pendosa dalam senyuman.
“Ah, Sayang,” Perempuan Pendoa mencoba mengalihkan pandangan sang Pendosa yang terpaku kepadanya, “di depan ada pemandangan yang indah, Sayang. Garis putih yang lurus, cakrawala.”
“Kaki ini telah melangkah begitu jauh, memandang ke seluruh penjuru namun di sana tidak ada yang indah. Masih ada yang keindahan yang memancar dengan tulus dalam pengertian dan penerimaan atas seorang pendosa. Kalau di sampingku ada keindahan yang lebih indah, apa aku masih bisa menikmati selain menikmati keindahanmu?” ucap Lelaki Pendosa dalam senyuman.
“Jangan menggodaku, Mas!” ungkap Perempuan Pendoa dalam senyuman dan tatapan mata yang berbinar.
“Dalam pandangan manusia, ada garis putih yang lurus, batas pandangan kita.” Lelaki Pendosa mengucapkannya dengan masih memandangi dua bola mata Perempuan Pendoa sedangkan telunjuk kanannya mengarah ke tengah lautan. “Batasan pandangan, namun sebenarnya wilayah tanpa batas. Cakrawala, wilayah indah yang dipenuhi makna. Tiada terbatas. Dan saat ini, aku sedang melihat cakrawala itu. Batas pandanganku atas wilayah tanpa batas, atas makna hidupku!” ucap Lelaki Pendosa dengan masih memandangi dua bola sang kekasih yang semakin berbinar.
Perempuan Pendoa tersenyum lalu dengan tanggannya yang lembut mengusap wajah sang Pendosa. “Dalam dosa dan doa, ada yang membatasi. Garis putih yang lurus. Wilayah tanpa batas, penuh dengan semangat. Wilayah itu bernama harapan. Dan aku baru menyaksikannya. Batasan pandanganku. Harapanku.” Ucap Perempuan Pendoa pada Lelaki Pendosa yang kini menundukkan kepala sambil tersenyum malu.
Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks
Sabtu, 17 Juli 2010
M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/
Anak manusia, lelaki, tapi dasar dia adalah seorang Lelaki Pendosa. Dia memang lelaki, namun tubuhnya tidak sekuat jiwanya dalam menempuhi hari. Lelaki kurus yang diberati timbangan dosa. Sepertinya dia tidak pernah perduli akan itu. Dia terus mengembara, menempuhi perjalanan yang terasa semakin semakin memukau semenjak kedatangan Perempuan Pendoa di dalam langkah perjalanan sunyi. Kakinya berkelana, tangannya yang lentik bermain kata menyeret seorang perempuan yang telah memenjara jiwanya. Perjalanan Lelaki Pendosa harus ada Perempuan Pendoa di sana, sebab jiwa sang lelaki telah terlumpuhkan begitu saja. Terlumpuhkan tanpa peperangan. Menyerah tanpa pemberontakan.
Pada keheningan sore, ketika hujan rintik untuk sejenak, jalan-jalan padat kota mereka tinggalkan. Ada angin dari selatan yang menantang. Langit di atas telah berwarna jingga, dengan gumpalan-gumpalan hitam di beberapa sudut. Pada sudut-sudut jalan yang lain, sisa-sisa kelopak mawar yang mulai layu masih tertinggal. Tidak hanyut dibawa hujan. Tidak juga berhamburan ketika angin meluncur tanpa penghalang.
Lelaki Pendosa menyeret langkah bersama Perempuan Pendoa. Melaju di dalam satu irama yang hening.
“Tentang apa?” Tanya orang-orang yang memandang sinis, memandang penuh curiga akan Pendoa dan Pendosa.
“Cinta!” begitu jawab Pendoa dan Pendosa di dalam hati dalam senyuman kecil.
“Cinta apa antara doa dan dosa?” orang-orang kembali menanyakan namun Perempuan Pendoa menggelengkan kepala dalam senyuman. Ia memandangi sang Pendosa yang menatap teduh dan tenang.
“Kesatuan!” jawab Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendosa bersamaan.
“Satu antara doa dan dosa.” Sang Pendosa menegaskan dalam senyuman lebar dan menantang dunia.
Tidak ada lagi yang bertanya. Mereka berdua melaju ke selatan, menanjaki bukit karang yang terjal namun dibelai air dan hancur. Pendoa dan Pendosa berdiri, di atas bukit memandangi ke bawah. Ombak yang memutih, berbuat bercampur kecoklatan yang entah datang dari mana. Berlarian seperti anak kecil, atau lelaki kasmaran yang melihat pantai bak perempuan terkasih yang telanjang. Lalu keduanya bergumul dalam irama yang pasti. Ombak ditarik lagi, seperti hasrat yang telah terpuaskan setelah mencumbui pantai yang hangat setelah dibelai matahari. Lalu sesaat kemudian, hasrat itu pun kembali lagi, ombak datang dan membelai pantai.
Kegelapan tiba-tiba membungkus. Tidak ada yang terlihat. Bahkan Pendoa dan Pendosa tidak mampu melihat diri mereka sendiri. Kegelapan begitu pekat, hanya gemuruh ombak yang terus memacu hasrat tak tertahankan. Bergemuruh di dalam kegelapan yang pekat.
Perempuan Pendoa menggelengkan kepala, “Ini tidak benar!” ucapnya dengan penuh kepastian. “Ini bukan saatnya!” ucapnya kembali sementara Lelaki Pendosa telah tenggelam di dalam kegelapan.
Walau telah terbungkus dalam kegelapan, sang Pendosa masih bisa mendengar kata-kata kekasihnya yang membisik di telinga. Sang Pendosa menarik nafas, menarik diri dari kegelapan lalu melihat dua bola mata yang memancar indah. Dia rasa sedang melihat bintang. Lalu bibir yang tersenyum, basah seperti telaga yang dapat memberikan penawar atas racun kehidupan. Telaga yang manis, merubah penderitaan menjadi kebahagiaan dan hiasan yang penuh makna dengan rekahan panjang.
“Semua belum terlafalkan dengan baik, Sayang!” ucap sang Pendosa sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, suaminya.
Sang Pendosa memandangi mata bening yang memancar indah. Ia menganggukkan kepala dan menarik diri. Matahari tumbuh dari timur. Ia merayapi gunung yang dingin. Perlahan-lahan anak panah sinarnya melesat jauh dan jatuh berpendar di bumi. Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendosa berdiri di atas bukit. Keduanya sedang bermandikan cahaya matahari yang hangat. Keduanya bernaung di bawah langit yang terhampar pucat
Perempuan Pendoa kembali tersenyum. Telaga itu merekah semakin lebar ketika pandangannya tergantung pada garis putih yang berada di depannya.
“Langit dan Bumi seperti bersatu. Tapi selalu ada garis putih yang menjadi jarak antara keduanya.” Ucap Perempuan Pendoa dalam senyuman. “Begitu luas.”
“Yah, luas.” Sahut sang Pendosa yang terlihat tidak tertarik dengan alam yang ada di depannya.
“Volume air itu tetap, tapi daratan terdesak ke belakang.” Ucap Perempuan Pendoa.
“Daratan juga akan tetap sama. Ada yang terdesak ke belakang. Ada yang terdesak ke depan.” Ucap Lelaki Pendosa dalam senyuman.
“Ah, Sayang,” Perempuan Pendoa mencoba mengalihkan pandangan sang Pendosa yang terpaku kepadanya, “di depan ada pemandangan yang indah, Sayang. Garis putih yang lurus, cakrawala.”
“Kaki ini telah melangkah begitu jauh, memandang ke seluruh penjuru namun di sana tidak ada yang indah. Masih ada yang keindahan yang memancar dengan tulus dalam pengertian dan penerimaan atas seorang pendosa. Kalau di sampingku ada keindahan yang lebih indah, apa aku masih bisa menikmati selain menikmati keindahanmu?” ucap Lelaki Pendosa dalam senyuman.
“Jangan menggodaku, Mas!” ungkap Perempuan Pendoa dalam senyuman dan tatapan mata yang berbinar.
“Dalam pandangan manusia, ada garis putih yang lurus, batas pandangan kita.” Lelaki Pendosa mengucapkannya dengan masih memandangi dua bola mata Perempuan Pendoa sedangkan telunjuk kanannya mengarah ke tengah lautan. “Batasan pandangan, namun sebenarnya wilayah tanpa batas. Cakrawala, wilayah indah yang dipenuhi makna. Tiada terbatas. Dan saat ini, aku sedang melihat cakrawala itu. Batas pandanganku atas wilayah tanpa batas, atas makna hidupku!” ucap Lelaki Pendosa dengan masih memandangi dua bola sang kekasih yang semakin berbinar.
Perempuan Pendoa tersenyum lalu dengan tanggannya yang lembut mengusap wajah sang Pendosa. “Dalam dosa dan doa, ada yang membatasi. Garis putih yang lurus. Wilayah tanpa batas, penuh dengan semangat. Wilayah itu bernama harapan. Dan aku baru menyaksikannya. Batasan pandanganku. Harapanku.” Ucap Perempuan Pendoa pada Lelaki Pendosa yang kini menundukkan kepala sambil tersenyum malu.
Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks
Sabtu, 17 Juli 2010
Seketsa Kabut Kabut Silam
Seketsa Kabut Kabut Silam
Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/
*) Raja Malaikat Kepincut Bumi
Seperti biasanya, Arsy, istana langit tak pernah sepi. Milyatan malaikat berkumpul mengelilingi Alloh. Tak ada pemandangan lain. Sejauh hamparan mata memandang ruang tak terbatas hanya dipenuhi wajah malaikat. Suara bergemuruh, berkumandang menggema. Tak lain lagi lantunan irama tasbih. Pagi, siang tiada henti. Malaikat itu makhluk statis. Susunan tubuhnya hanya satu jenis partikel zat yang di sebut cahaya. Statis-tetep, tidak bisa berkembang atau memuai. Barangkali kalau dunia ilmuwan modern sekarang menemukan dua zat yang baru lagi yang disebut Bozon dan Firmon. Mungkin partikel sel kromosom malaikat lebih tercipta zat Firmon tersebut. Firmon bukan cahaya dalam bentuk cahaya fisik berkilauan. Tetapi menjelma wujut sang malaikat atau bidadari penolong yang benderang dalam hati, fikiran buntu, judeg, BeTe, kemudian tiba-tiba merasa lega, semangat hidup tumbuh kembali, masalah dengan mudah di atasi, itu lebih karena cahaya Firmon. Cahaya yang bukan cahaya lampu atau matahari. Cahaya fisik hanya menerangi ruang pandangan mata, tetapi cahaya Firmon menerangi hati dan fikiran yang ”notabenenya” tak meruang dan tak mewaktu.
Suatu hari Alloh mengumumkan hari libur, cuti, kepada para malaikat. “ Wahai para malaikatKu, hari ini Aku izinkan kalian semua berlibur. Bertamasyahlah ke seluruh planet yang telah Aku sebarkan. Terbanglah semampumu untuk mengetahui luasnya ruang yang telah Aku bentangkan “. Suruh Alloh sang raja Theokrasi. Ketika itu malaikat masih diwakili lima staf tertinggi. Yakni Azazil, Jibril, Mikail, Izro’il, dan yang terakhir Isro’fil. Karena kehidupan bumi belum ada, manusia belum tercipta, staf Rokib, Atid belum ada. Sebab belum ada tugas nyatat amal baik buruk manusia. Begitu juga Munkar-Nakir juga belum terbentuk. Sebab belum di tugasi mencabut nyawa kehidupan. Pun jua demikian Malik dan Ridwan. Mereka masih tercipta di alam angan untuk mengawasi sorga dan neraka.. Dari 5 malaikat tersebut diatas ada salah satu malaikat yang paling dibanggakan dan di kagumi Alloh. Dia di juluki “ Syayyidul Malaikah “, sesepuh para malaikat. Dia adalah Azazil. Alloh memberi Azazil kelebihan khusus di segala bidang dari pada 4 saudaranya. Azazil di kenal malaikat yang paling taat kepada Alloh. Sedang yang lain hanya berada dibawah stratanya Azazil.
Bersemburatlah para malaikat. Mereka keluar dari Arsy tempat Alloh bersemayam, Melesat cepat dari pintu-pintu Sidrotul Muntaha. Mereka meluncur keberbagai penjuru mata angin dan dua arah vertikal-horisontal. Karena malaikat tercipta dari cahaya dan berbentuk cahaya, maka tak heran jika kecepatan terbang malaikat bisa mencapai 10 x 1010 km/dt. Dalam beberapa jam saja para malaikat itu sudah menempuh jarak sejauh bermilyar-milyar tahun cahaya. Akan tetapi saking luasnya cakrawala yang digelar Alloh, tak sanggup juga malaikat merampungkan perjalanannya. Tak sanggup dan tak pernah sanggup. Sangking luasnya jajaran century dan sangking banyaknya gugusan ganesa.
Terhitung sekian milyart tahun cahaya, para malaikat itu berdatangan pulang kembali ke haribaan Alloh. Yakni Jibril, Mikail, Izro’il dan Isro’fil. Tetapi Azazil tak kelihatan batang hidungnya. Kemana gerangan Azazil? Karena tidak ada yang mengetahui, akhirnya Jibril disuruh pergi kembali mencari keberadaan Azazil kakak tuanya.
Jibril kini mendapat misi ke dua meluncuri jagat raya. Tetapi bertugas mencari kakak tuanya, Azazil, dan bukan seperti tugas semula, bertamasya. Jibril memasang strategi ultra modern. Hal ini karena intensitas proyek yang ditanganinya tergolong mega-sulit. Tak hanya teknologi infra-red, Bluetoot, Wi-fi saja yang diandalkan. Tetapi juga memakai teknik bias pikrometer dan blue energi yang belum dan masih akan ditemukan ilmuwan tahun 2020 mendatang. Kecanggihan mega teknologi Jibril ini tak pelak dengan cepat, Jibril mendapatkan deteksi yang akurat mengenai keberadaan Azazil. Ternyata Azazil sedang asyik bersantai di planet yang bernama bumi. Pada waktu yang bersamaan seolah hand phon Jibril dapat SMS dari Alloh, agar Jibril kalau beretemu Azazil, Jibril diberi kewenangan memaksa Azazil pulang. “ Mas Azazil! aku disuruh Alloh untuk memaksa panjenengan pulang “. Azazil berkomentar untuk tidak bersedia pulang. “ Jibril, sampaikan kepada Alloh meskipun aku di bumi, tetap saja aku bertasbih dan bersujud ke Alloh. Kita ini kan makhluk statis. Meskipun di bumi tetap saja yang kita kerjakan kebaikan. Aku gak krasan di langit, jenuh. Bril……… apa kamu gak merasa! Bumi ini planet masa depan yang mengasyikkan. Di bumi ini nanti akan ada, dan dihuni makhluk yang tingkahnya harmoni dan bersahaja. Ada panjang-ada pendek, tinggi-rendah, tua-muda, atas-bawah, sedih-suka, laki-laki dan perempuan, ada cowok-cewek yang saling berpandangan dan kemudian jatuh cinta. Woww…asyik men….! “ Jadi mas Azazil membantah disuruh Alloh pulang “! Tegas Jibril. Tak urung perkelahian terjadi. Akan tetapi karena Azazil terlalu sakti, Jibril dengan mudah dilempar begitu saja.
Akhirnya Jibril kembali melapor perihal yang terjadi pembangkangan Azazil tersebut. Rapat sidang pleno istana langit kembali digelar. “Rupanya Azazil kesengsem, tertarik dengan bumi yang Aku ciptakan. Dia rupanya jatuh cinta terhadap ciptaanku dan melupakan Aku. ”Oke!, sekarang giliranmu Mikail, turun ke bumi, ambil tanah lempung yang paling baik. Posisi tanah yang baik berada di sekitar kutub selatan dan dekat katulistiwa. Aku hendak membikin saingan cinta untuk menandingi Azazil di bumi. Ayo kita bikin manusia dengan nama Adam“.
*) Tanah Lempung Adam Terbuat Dari Tanah Jawa
Bergegaslah Mikail meluncur ke bumi. Diincarlah tanah subur se-dunia yang posisinya dekat dengan kutub selatan. Dijumpailah tanah yang bernama Jawa. Jauh sebelumnya sudah di adakan study riset di laboratorium of cakrawala. Tanah yang paling subur sedunia diakui negara manapun adalah hamparan Nusantara. Di wilayah nusantara inipun masih di mainset lagi arahnya untuk bisa disebut tanah unggul dan produktif, syaratnya harus ada banyak gunung berapi dan sungai. Maping area di kecilkan lagi dan di temukanlah Jawa Timur. Sebuah wilayah kecil dengan jumlah gunung merapi terbanyak, tanahnya subur, gembur gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo. Jenis tanaman apa saja tumbuh dengan baik. Kala pagi, sunrise mengintip di ufuk timur. Sinarnnya menerpa dahan-dahan dan dedaunan. Memancar senyum menyaput embun. Jika kilau mentari menerpa bumi pagi itu, sesungguhnya adalah sinar yang telah terpancarkan sejak berjuta-juta tahun lalu di suralaya. Kalau si muka bumi manusia mengalami apa saja hari ini, ketemu jodoh atau kekasih misalnya, sesungguhnya itu sudah di mainset langit sejak di alam ruh dahulu. Burung pagipun mencandai pagi dengan ocehnya. Sambil berloncat, bertelanting diantara dahan. Sesekali menukik bawah, incar ulat, serangga melata. Beraneka bunga mekar tebarkan semerbak harum aneka warna, penuhi pelupuk mata. Tiada negeri seindah Nusantara Jawa ini. Tidak ada sinar mentari dibelahan bumi manapun yang sinarnya sesumringah di bumi Nusantara. Sungguh sorga seakan pernah bocor, dan cipratannya menjadi Nusantara raya ini. Kemungkinan besar tanah lempung yang di bikin sebagai Adam dahulu adalah tanah Jombang. Kalau kita menggeledah, melihat kamus Bahasa Indonesia arti makna Jombang adalah “ tampak elok/cantik. Artinya bakal makhluk yang paling sempurna, paling cantik, yang di lengkapi dengan akal dan budi. Lantas Jombang bagian mana ? Desa apa namanya ? Ilmuan dan ahli kebatinan harus meriset secara ilmiyah, sebab sejauh ini hanya kabut tebal pekat menghalau daras pandangan .
Misi Mikail sebagai penerus gerakan Jibril tidak segampang itu. Sebab seluruh ion-ion atom bumi rupanya sudah didoktrin Azazil untuk memberontak. Indoktrinisasi Azazil berhasil rapi, hingga seluruh jajaran bumi sepakat kalau sebagian tubuhnya di ambil dan di jadikan bahan mentah Adam, bumi menolak.Bumi juga bentangkan sepanduk berdemonstrasi menolak perihal keberadaan manusia di bumi. Bumi meyakini manusia kelak hanya berpotensi merusak bumi dan mengalirkan pertumpahan darah.
Yang dihadapi Mikail lebih berat dari pada Jibril, sebab Azazil menerapkan politik double standtar. Di satu sisi harus menghadapi Azazil, di sisi lain menghadapi bumi itu sendiri. Kekuatan Mikail belumlah sebanding dengan kesaktian Azazil, kecerdikan Mikail dalam berpolitik praktis juga belum sepiawai Azazil. Akhirnya Mikail mengalami kekalahan yang sama dengan Jibril. Ia terpental dan terpukul mundur. Alloh pun segera kirimkan delegasi ke tiga.Yakni Izro’il. Tetapi usahanya serasa sia-sia. Nasib Izro’il tak beda jauh dengan Jibril dan Mikail. Seolah Alloh sudah putus asa. Pasukan langit tinggal satu batalion lagi. Yakni pasukan yang dipimpin Isrofil. Agar Isrofil tidak membikin malu dan membuahkan hasil, Alloh membombardir gerakan Isrofil dengan keras. Alloh juga mengklaim Isrofil, jika gagal dalam misinya. “ Wahai Isrofil…..! Kalau engkau kalah juga dalam melawan kakakmu Azazil, maka tidak Saya perkenankan kembali ke istana langit ini, ingat! camkan baik-baik! “ ancam Alloh. Isrofilpun berangkat. Belajar dari kekalahan tiga kakaknya membuat Isrofil berfikir. Serangan Isrofil berbeda haluan dengan kakak-kakaknya. Isrofil menitik beratkan dengan cara diplomasi dari pada pertumpahan darah, adu kanuragan, dan perhelatan fisik. Konsep pertarungan Isrofil; sepandai-pandai tupai melompat pernah jatuh juga. Sekuat, sesakti apapun kedigjayaan Azazil pasti ada teledornya. Dalam satu hari saja hidup, ada kalanya “ kanggonan joyo “ ada kalanya “ kanggonan apes “. Aji sirep megananda dirapal. Ramuan bedak dioplos dengan asap mesiu dan dicampur obat bius segera ditaburkan. Agaknya tidak sia-sia usahanya. Pada jam yang sudah diperhitungkan berdasarkan pasaran neptu hari, Azazil mulai menguap, matanya merah, daya tahan tubuhnya lemes lunglai. Pada saat itulah Isrofil membujuk bumi untuk mengadakan pertemuan tertutup. Siapa saja dilarang meliput, termasuk wartawan dan media masa. Dalam perjanjian tertutup itu disepakati naskah draf perjanjian, Adapun salah satu konsesi perjanjian itu; Isrofil berjanji mengambil tanah lempung dari bumi dan untuk dibikin adam. Dan apabila Adam sudah mati, jasadnya dipersembahkan lagi sebagai santapan bumi. Kesepakatan ini ditanda tangani kedua belah pihak.
Mengingat keadaan genting, takut keburu Azazil tersadar dari tidurnya, dengan cepat kilat Isrofil menyaut sebat tanah lempung. Sebelum mengepal segenggam tanah di olak-alik lebih dulu. Dilihatlah semua jenis tanah di Jombang. Mula-mula Isrofil menggali tanah di desa Mojokuripan. Namun waktu itu pohon mojonya mati, dan baru di hidupkan kembali, makanya disebut Mojokuripan. Kalau pohonnya mati berarti tanahnya tandus dan kurang bagus. Terus Isrofil bergeser ke timur. Tetapi jenis tanahnya jeblok, lemor atau terlalu becek, tentu sulit jika dibuat patung Adam nanti. Isrofil bergeser ke barat, tetapi tanahnya tambah padas dan keras, makanya disebut desa Badas, kemudian bergeser ke utara, di temui desa Balongrejo, tanah yang berbentuk balong atau jublang, atau rawa-rawa. Isrofil bergeser ke barat, malah bertemu ikan lele. Makanya disebut desa Nglele. Lele adalah jenis makhluk biotik, padahal yang dibutuhkan adalah tanah, , makhluk abiotik. Isrofil meloncat ke barat. Namun cuma bertemu tanah yang berbentuk hutan ( wono ) yang rapi ( kerto ). Dari desa Wonokerto inilah kemudian Isrofil bergeser ke timur. Di sini ada tanah yang di tumbuhi jenis pohon ploso yang kerep(rindang berjajar). Tempat ini bernama desa Plosokerep. Dimungkinkan Isrofil mengambil tanah di Plosokerep ini, ia merasa aman dari jagaan Azazil. Sambil ngumpet di antara rerimbunan pohon ploso yang kerep, Isrofil beranggapan kecil tidak mudah diketahui Azazil. Isrofil menyelinap-nyelinap di antara pohon ploso. Sampailah Isrofil di Plosokerep bagian timur.
*) Penjaga Surga, si Naga & Burung Garuda
Ditempat ini terdapat parit sungai kecil. Sungai yang meskipun kemarau ranau kering kerontang mata airnya tetap mengalir bening. Sumber air yang mengalir berasal dari cela-cela pemulu serabut akar kambium pepohonan. Menetes demi setetes mengalir gemercik. Di tempat inilah Isrofil mengais dan meraup segenggam tanah. Setelah tanah tergenggam, segera beranjak cepat melesat menuju cakrawala. Layaknya pesawat super sonik buatan Rusia, Isrofil sekejap saja sudah sampai di perbatasan atmosfer dan ruang hampa udara. Karena terlalu cepat, tanah dalam genggaman Isrofil itu ada yang semburat dari sela jari-jemarinya. Punceratan tanah itu nyaris menjadi dataran tanah kecil sebuah desa. Isrofil berpesan pada bumi, agar suatu saat nanti desa itu diberi nama ”Dowong”. Yang berasal dari bahasa jawa “kondo o lek lemah iki biyen cikal bakale dadi wong”. Wong, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan manusia.
Perjalanan pulang Isrofil tidak segampang itu. Sesampai di perbatasan atmosfer dan ruang hampa, tiba-tiba Azazil terjaga dari tidurnya. Menyadari apa yang terjadi, bahwa bumi telah di curi, Azazil tersentak jenggirat mengejar Isrofil. Di perbatasan atmosfr nilah Isrofil tertangkap. Dalam pertempuran itu Isrofil lontarkan debat argumentasi. “ Aku ke bumi mengambil tanah lempung bukan keinginanku sendiri, melainkan disuruh Alloh, jadi aku tidak ada urusan dengan siapapun kecuali dengan Alloh. Kalau engkau tidak terima, jangan marah kepadaku, protes saja sendiri kepada Alloh “. Mendengar argumen diplomasi Isrofil selihai ini, Azazil tidak bisa menjawab. Azazil berfikir ”Isrofil dapat dengan mudah aku kalahkan, tetapi dengan Alloh..!”. Cara diplomasi model Isrfoil ini paling efektif bermutu dan rasional. Apalagi jika dipakai konsep toriqot hati. Mengerjakan seseatu dalam hidup hendaknya ihlas. Bukan karena cuma ingin dipandang makhluk. Sebab makhluk menilai kita hanya sebatas usianya saja. Jika makhluk sudah meninggal, berakhir pula penghargaan citra imag buildingnya ke amaliyah kita. Akan tetapi jika kita menyandarkan amal energi kita ke Alloh, maka sampai kiamatpun tetap kita jumpai, tidak hanya sebatas usia manusia saja.
Tanah lempung sudah berhasil dibawah ke istana langit. Semua malaikat dikumpulkan. Seperti niat awal, Alloh berkehendak membikin manusia di bumi sebagai saingan cinta terhadap Azazil. Para malaikat memulai proyeknya atas intruksi intensif Alloh. Karena Alloh adalah satu-satunya desain grafik calon gambar jadinya manusia. Di dalam desain interior dan exterior Adam, ditetapkan bahwa ukuran telapak kaki Adam sepanjang 60 dhiro’. Sedang 1 dhiro’nya lebih kurang sepanjang ujung kuku sampai siku tangan manusia dewasa. Penciptaan manusia ini adalah proyek langit yang paling berat. Perdebatan kesempurnaan terus terjadi di antara insinyur para melaikat mengenai kegunaan, fungsi serta sebab akibat. Proyek pengadaan Adam ini memakan waktu enam masa. Proyek ini juga berhasil menyabet gelar piala rekor aworld sebagai makhluk terbaik yang dilengkapi dengan akal. Perdebatan malaikat yang paling tajam adalah saat membikin kemaluan Adam. Usulan bertubi-tubi dari berbagai fraksi legislatif. Interupsi yang dilancarkan dari 75% fraksi yang hadir, agar ukurannya di perkecil dari ukuran sketsa semula. Alasan interupsi adalah “alat vital satu ini, yang akan menjadi biang kerok keributan dunia. Dibikin kecil saja sudah menghebohkan dunia dengan pemerkosaan dan perselingkuhan, apalagi jika dibikin besar”. Atas dasar perhitungan dan kebijaksanaan yang proporsional akhirnya usulan di setujui Alloh. Proses pembentukan Adam memasuki tahap finishing, ditiupkannya ruh jadilah Adam. Adam memang tercipta dari tanah lempung, akan tetapi bukan karena tanah lempung itu Adam dicipta. Karena apa ? Karena kreatifitas murni ide Alloh. Teori toriqoh ini dapat dikembangkan ke berbagai lelaku kehidupan. Semisal kalau manusia bisa sekolah dan kuliah itu bukan karena orang tuanya kaya, tetapi karna Alloh mengijinkanya. Layaknya manusia tidak perlu sombong. Banyak anak orang kaya yang tidak di takdirkan sekolah dan kuliah. Alloh memang berniat membikin Adam, tetapi hanya ide. Sedang team pelaksananya adalah malaikat. Artinya copyright pihak pertama belum tentu dan sah dilakukan UU oleh pihak kedua. Perusahaan McDonald, KFC dan lain-lain adalah copyright orang Amerika. Akan tetapi perusahaan McDonald dan KFC di Indonesia tidak harus dikerjakan orang Amerika, melainkan sah di masak anak-anak paribumi, asalkan resepnya sama dengan desain resep menu yang ada di Amerika.
Sementara itu Azazil makin akrab dengan bumi. Apalagi dengan pulau jawa. Di pulau jawa, untuk menyebut kata Azazil tentu sulit lidahnya. Di jawa Azazil diganti namanya menjadi Idhajil atau Dajjal. Makanya kalau ada orang yang bertingkah niru Azazil yang gampang kesemsem dengan ciptaannya Alloh, dan melupakan yang mencipta disebut gejajilan.
Kabar terciptanya Adam terdengar langsung sampai kepelosok bumi. Hal ini membuat Idhajil kebakaran jenggot, dan naik pitam. Idhajilpun naik ke langit hendak protes ke Alloh. Ia pergi ke surga tempat proyek pembuatan Adam dikerjakan. Semua media masa memuatnya, termasuk televisi gabungan BBC antariksa.
Tapi na’as bagi Idhajil. Di pintu sorga pertama dijaga oleh naga raksasa besar yang kejam dan bengis. Kesaktian Idhajil tak sangup menandinginya. Namun Idhajil cerdik, ditungunya naga itu dengan sabar. Ketika naga itu menguap, terbukalah mulutnya lebar-lebar. Idhajil kemudian menyelinap masuk melalui mulut naga. Setelah Idhajil dikeluarkan menjadi tai, barulah Idhajil berhasil masuk ke sorga pertama. Di pintu surga kedua, Idhajilpun kesulitan lagi, di pintu ini dijaga burung garuda besar yang kejam dan bengis. Idhajil harus mencari cara. Ia mengubah dirinya menjadi ulat. Di depan garuda ia berkeliat-keliat. Melihat ulat berkeloget, naluri Garuda sebagai pemangsa karnivora tergugah. Dipatoklah ulat tersebut. Setelah dikeluarkan menjadi tai, barulah Idhajil jatuh kesorga dan menemui Adam. Melihat seluruh jajaran malaikat lengkap, untuk menghargai karya besar Alloh yang berupa Adam, semua malaikat disuruh bersujud kepada Adam. Semuanya sujud menghormati Alloh, kecuali Idhajil. Idhajil malah sombong dengan pengingkaran kebodohannya. Bahwa dirinya mengira tercipta dari gen berkelas tinggi. Yakni gen cahaya yang merupakan bayangan Alloh. Alloh menyuruh malaikat bersujud pada Adam hanya untuk menghormati karya Alloh, dan bukan menyembah Adam sebagai Tuhan. Pada saatnya nanti Nusantara pasti akan menjadi central pusat dunia. Sebab ceceran negara kepulaun yang membentang dari Sabang sampai Merauke adalah akibat gempilnya retakan surga jaman alam malakut dulu. Ketika itu Azazil malakukan kesalahan pertamanya. Saat itu Alloh mengadakan kontes desain mode cahaya. Hal yang menakjubkan terjadi. Cahaya hasil desainan peserta dari para malaikat sangat memukau. Memanjang berwarna-warni, meliuk-liuk kilaunya, memancar ronanya dengan kilatan hingar bingar. Dan hasil kontes cahaya waktu itu diabadikan sampai sekarang. Dan akan dipertontonkan kemegahan cahaya surga itu bagi manusia kelak yang mampu memasukinya.
Sejak awal Idhajil memang dianugerahi kahebatan lebih oleh Alloh. Tetapi kehebatan itu sekaligus kekurangan dia. Dalam kontes cahaya inipun Idhajil meraih juara utama. Saking gembiranya, karena menjadi pemenang, Idhajilpun berpesta. Ia mabok sembari berdansa. Terlalu asyik berjoget, Idhajil tak sadar tangannya menyentuh dinding pagar tembok sorga. Pagar surga itu kemudian retak, ambrol, dan berjatuhan kebumi. Jejatuhan puing-puing pagar surga itulah yang berserakan dan menjadi jajaran pulau Nusantara raya ini.
Kapan mimpi manusia penghuni Nusantara ini menjadi kenyataan? Nusantara yang makmur bersahaja bagaikan di sorga. Untuk memasuki Sorga Nusantara baru tidaklah mudah, kecuali kita suatu saat penghuninya mampu menggabungkan dua kekuatan besar ’si Naga dan si Garuda’.
Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/
*) Raja Malaikat Kepincut Bumi
Seperti biasanya, Arsy, istana langit tak pernah sepi. Milyatan malaikat berkumpul mengelilingi Alloh. Tak ada pemandangan lain. Sejauh hamparan mata memandang ruang tak terbatas hanya dipenuhi wajah malaikat. Suara bergemuruh, berkumandang menggema. Tak lain lagi lantunan irama tasbih. Pagi, siang tiada henti. Malaikat itu makhluk statis. Susunan tubuhnya hanya satu jenis partikel zat yang di sebut cahaya. Statis-tetep, tidak bisa berkembang atau memuai. Barangkali kalau dunia ilmuwan modern sekarang menemukan dua zat yang baru lagi yang disebut Bozon dan Firmon. Mungkin partikel sel kromosom malaikat lebih tercipta zat Firmon tersebut. Firmon bukan cahaya dalam bentuk cahaya fisik berkilauan. Tetapi menjelma wujut sang malaikat atau bidadari penolong yang benderang dalam hati, fikiran buntu, judeg, BeTe, kemudian tiba-tiba merasa lega, semangat hidup tumbuh kembali, masalah dengan mudah di atasi, itu lebih karena cahaya Firmon. Cahaya yang bukan cahaya lampu atau matahari. Cahaya fisik hanya menerangi ruang pandangan mata, tetapi cahaya Firmon menerangi hati dan fikiran yang ”notabenenya” tak meruang dan tak mewaktu.
Suatu hari Alloh mengumumkan hari libur, cuti, kepada para malaikat. “ Wahai para malaikatKu, hari ini Aku izinkan kalian semua berlibur. Bertamasyahlah ke seluruh planet yang telah Aku sebarkan. Terbanglah semampumu untuk mengetahui luasnya ruang yang telah Aku bentangkan “. Suruh Alloh sang raja Theokrasi. Ketika itu malaikat masih diwakili lima staf tertinggi. Yakni Azazil, Jibril, Mikail, Izro’il, dan yang terakhir Isro’fil. Karena kehidupan bumi belum ada, manusia belum tercipta, staf Rokib, Atid belum ada. Sebab belum ada tugas nyatat amal baik buruk manusia. Begitu juga Munkar-Nakir juga belum terbentuk. Sebab belum di tugasi mencabut nyawa kehidupan. Pun jua demikian Malik dan Ridwan. Mereka masih tercipta di alam angan untuk mengawasi sorga dan neraka.. Dari 5 malaikat tersebut diatas ada salah satu malaikat yang paling dibanggakan dan di kagumi Alloh. Dia di juluki “ Syayyidul Malaikah “, sesepuh para malaikat. Dia adalah Azazil. Alloh memberi Azazil kelebihan khusus di segala bidang dari pada 4 saudaranya. Azazil di kenal malaikat yang paling taat kepada Alloh. Sedang yang lain hanya berada dibawah stratanya Azazil.
Bersemburatlah para malaikat. Mereka keluar dari Arsy tempat Alloh bersemayam, Melesat cepat dari pintu-pintu Sidrotul Muntaha. Mereka meluncur keberbagai penjuru mata angin dan dua arah vertikal-horisontal. Karena malaikat tercipta dari cahaya dan berbentuk cahaya, maka tak heran jika kecepatan terbang malaikat bisa mencapai 10 x 1010 km/dt. Dalam beberapa jam saja para malaikat itu sudah menempuh jarak sejauh bermilyar-milyar tahun cahaya. Akan tetapi saking luasnya cakrawala yang digelar Alloh, tak sanggup juga malaikat merampungkan perjalanannya. Tak sanggup dan tak pernah sanggup. Sangking luasnya jajaran century dan sangking banyaknya gugusan ganesa.
Terhitung sekian milyart tahun cahaya, para malaikat itu berdatangan pulang kembali ke haribaan Alloh. Yakni Jibril, Mikail, Izro’il dan Isro’fil. Tetapi Azazil tak kelihatan batang hidungnya. Kemana gerangan Azazil? Karena tidak ada yang mengetahui, akhirnya Jibril disuruh pergi kembali mencari keberadaan Azazil kakak tuanya.
Jibril kini mendapat misi ke dua meluncuri jagat raya. Tetapi bertugas mencari kakak tuanya, Azazil, dan bukan seperti tugas semula, bertamasya. Jibril memasang strategi ultra modern. Hal ini karena intensitas proyek yang ditanganinya tergolong mega-sulit. Tak hanya teknologi infra-red, Bluetoot, Wi-fi saja yang diandalkan. Tetapi juga memakai teknik bias pikrometer dan blue energi yang belum dan masih akan ditemukan ilmuwan tahun 2020 mendatang. Kecanggihan mega teknologi Jibril ini tak pelak dengan cepat, Jibril mendapatkan deteksi yang akurat mengenai keberadaan Azazil. Ternyata Azazil sedang asyik bersantai di planet yang bernama bumi. Pada waktu yang bersamaan seolah hand phon Jibril dapat SMS dari Alloh, agar Jibril kalau beretemu Azazil, Jibril diberi kewenangan memaksa Azazil pulang. “ Mas Azazil! aku disuruh Alloh untuk memaksa panjenengan pulang “. Azazil berkomentar untuk tidak bersedia pulang. “ Jibril, sampaikan kepada Alloh meskipun aku di bumi, tetap saja aku bertasbih dan bersujud ke Alloh. Kita ini kan makhluk statis. Meskipun di bumi tetap saja yang kita kerjakan kebaikan. Aku gak krasan di langit, jenuh. Bril……… apa kamu gak merasa! Bumi ini planet masa depan yang mengasyikkan. Di bumi ini nanti akan ada, dan dihuni makhluk yang tingkahnya harmoni dan bersahaja. Ada panjang-ada pendek, tinggi-rendah, tua-muda, atas-bawah, sedih-suka, laki-laki dan perempuan, ada cowok-cewek yang saling berpandangan dan kemudian jatuh cinta. Woww…asyik men….! “ Jadi mas Azazil membantah disuruh Alloh pulang “! Tegas Jibril. Tak urung perkelahian terjadi. Akan tetapi karena Azazil terlalu sakti, Jibril dengan mudah dilempar begitu saja.
Akhirnya Jibril kembali melapor perihal yang terjadi pembangkangan Azazil tersebut. Rapat sidang pleno istana langit kembali digelar. “Rupanya Azazil kesengsem, tertarik dengan bumi yang Aku ciptakan. Dia rupanya jatuh cinta terhadap ciptaanku dan melupakan Aku. ”Oke!, sekarang giliranmu Mikail, turun ke bumi, ambil tanah lempung yang paling baik. Posisi tanah yang baik berada di sekitar kutub selatan dan dekat katulistiwa. Aku hendak membikin saingan cinta untuk menandingi Azazil di bumi. Ayo kita bikin manusia dengan nama Adam“.
*) Tanah Lempung Adam Terbuat Dari Tanah Jawa
Bergegaslah Mikail meluncur ke bumi. Diincarlah tanah subur se-dunia yang posisinya dekat dengan kutub selatan. Dijumpailah tanah yang bernama Jawa. Jauh sebelumnya sudah di adakan study riset di laboratorium of cakrawala. Tanah yang paling subur sedunia diakui negara manapun adalah hamparan Nusantara. Di wilayah nusantara inipun masih di mainset lagi arahnya untuk bisa disebut tanah unggul dan produktif, syaratnya harus ada banyak gunung berapi dan sungai. Maping area di kecilkan lagi dan di temukanlah Jawa Timur. Sebuah wilayah kecil dengan jumlah gunung merapi terbanyak, tanahnya subur, gembur gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo. Jenis tanaman apa saja tumbuh dengan baik. Kala pagi, sunrise mengintip di ufuk timur. Sinarnnya menerpa dahan-dahan dan dedaunan. Memancar senyum menyaput embun. Jika kilau mentari menerpa bumi pagi itu, sesungguhnya adalah sinar yang telah terpancarkan sejak berjuta-juta tahun lalu di suralaya. Kalau si muka bumi manusia mengalami apa saja hari ini, ketemu jodoh atau kekasih misalnya, sesungguhnya itu sudah di mainset langit sejak di alam ruh dahulu. Burung pagipun mencandai pagi dengan ocehnya. Sambil berloncat, bertelanting diantara dahan. Sesekali menukik bawah, incar ulat, serangga melata. Beraneka bunga mekar tebarkan semerbak harum aneka warna, penuhi pelupuk mata. Tiada negeri seindah Nusantara Jawa ini. Tidak ada sinar mentari dibelahan bumi manapun yang sinarnya sesumringah di bumi Nusantara. Sungguh sorga seakan pernah bocor, dan cipratannya menjadi Nusantara raya ini. Kemungkinan besar tanah lempung yang di bikin sebagai Adam dahulu adalah tanah Jombang. Kalau kita menggeledah, melihat kamus Bahasa Indonesia arti makna Jombang adalah “ tampak elok/cantik. Artinya bakal makhluk yang paling sempurna, paling cantik, yang di lengkapi dengan akal dan budi. Lantas Jombang bagian mana ? Desa apa namanya ? Ilmuan dan ahli kebatinan harus meriset secara ilmiyah, sebab sejauh ini hanya kabut tebal pekat menghalau daras pandangan .
Misi Mikail sebagai penerus gerakan Jibril tidak segampang itu. Sebab seluruh ion-ion atom bumi rupanya sudah didoktrin Azazil untuk memberontak. Indoktrinisasi Azazil berhasil rapi, hingga seluruh jajaran bumi sepakat kalau sebagian tubuhnya di ambil dan di jadikan bahan mentah Adam, bumi menolak.Bumi juga bentangkan sepanduk berdemonstrasi menolak perihal keberadaan manusia di bumi. Bumi meyakini manusia kelak hanya berpotensi merusak bumi dan mengalirkan pertumpahan darah.
Yang dihadapi Mikail lebih berat dari pada Jibril, sebab Azazil menerapkan politik double standtar. Di satu sisi harus menghadapi Azazil, di sisi lain menghadapi bumi itu sendiri. Kekuatan Mikail belumlah sebanding dengan kesaktian Azazil, kecerdikan Mikail dalam berpolitik praktis juga belum sepiawai Azazil. Akhirnya Mikail mengalami kekalahan yang sama dengan Jibril. Ia terpental dan terpukul mundur. Alloh pun segera kirimkan delegasi ke tiga.Yakni Izro’il. Tetapi usahanya serasa sia-sia. Nasib Izro’il tak beda jauh dengan Jibril dan Mikail. Seolah Alloh sudah putus asa. Pasukan langit tinggal satu batalion lagi. Yakni pasukan yang dipimpin Isrofil. Agar Isrofil tidak membikin malu dan membuahkan hasil, Alloh membombardir gerakan Isrofil dengan keras. Alloh juga mengklaim Isrofil, jika gagal dalam misinya. “ Wahai Isrofil…..! Kalau engkau kalah juga dalam melawan kakakmu Azazil, maka tidak Saya perkenankan kembali ke istana langit ini, ingat! camkan baik-baik! “ ancam Alloh. Isrofilpun berangkat. Belajar dari kekalahan tiga kakaknya membuat Isrofil berfikir. Serangan Isrofil berbeda haluan dengan kakak-kakaknya. Isrofil menitik beratkan dengan cara diplomasi dari pada pertumpahan darah, adu kanuragan, dan perhelatan fisik. Konsep pertarungan Isrofil; sepandai-pandai tupai melompat pernah jatuh juga. Sekuat, sesakti apapun kedigjayaan Azazil pasti ada teledornya. Dalam satu hari saja hidup, ada kalanya “ kanggonan joyo “ ada kalanya “ kanggonan apes “. Aji sirep megananda dirapal. Ramuan bedak dioplos dengan asap mesiu dan dicampur obat bius segera ditaburkan. Agaknya tidak sia-sia usahanya. Pada jam yang sudah diperhitungkan berdasarkan pasaran neptu hari, Azazil mulai menguap, matanya merah, daya tahan tubuhnya lemes lunglai. Pada saat itulah Isrofil membujuk bumi untuk mengadakan pertemuan tertutup. Siapa saja dilarang meliput, termasuk wartawan dan media masa. Dalam perjanjian tertutup itu disepakati naskah draf perjanjian, Adapun salah satu konsesi perjanjian itu; Isrofil berjanji mengambil tanah lempung dari bumi dan untuk dibikin adam. Dan apabila Adam sudah mati, jasadnya dipersembahkan lagi sebagai santapan bumi. Kesepakatan ini ditanda tangani kedua belah pihak.
Mengingat keadaan genting, takut keburu Azazil tersadar dari tidurnya, dengan cepat kilat Isrofil menyaut sebat tanah lempung. Sebelum mengepal segenggam tanah di olak-alik lebih dulu. Dilihatlah semua jenis tanah di Jombang. Mula-mula Isrofil menggali tanah di desa Mojokuripan. Namun waktu itu pohon mojonya mati, dan baru di hidupkan kembali, makanya disebut Mojokuripan. Kalau pohonnya mati berarti tanahnya tandus dan kurang bagus. Terus Isrofil bergeser ke timur. Tetapi jenis tanahnya jeblok, lemor atau terlalu becek, tentu sulit jika dibuat patung Adam nanti. Isrofil bergeser ke barat, tetapi tanahnya tambah padas dan keras, makanya disebut desa Badas, kemudian bergeser ke utara, di temui desa Balongrejo, tanah yang berbentuk balong atau jublang, atau rawa-rawa. Isrofil bergeser ke barat, malah bertemu ikan lele. Makanya disebut desa Nglele. Lele adalah jenis makhluk biotik, padahal yang dibutuhkan adalah tanah, , makhluk abiotik. Isrofil meloncat ke barat. Namun cuma bertemu tanah yang berbentuk hutan ( wono ) yang rapi ( kerto ). Dari desa Wonokerto inilah kemudian Isrofil bergeser ke timur. Di sini ada tanah yang di tumbuhi jenis pohon ploso yang kerep(rindang berjajar). Tempat ini bernama desa Plosokerep. Dimungkinkan Isrofil mengambil tanah di Plosokerep ini, ia merasa aman dari jagaan Azazil. Sambil ngumpet di antara rerimbunan pohon ploso yang kerep, Isrofil beranggapan kecil tidak mudah diketahui Azazil. Isrofil menyelinap-nyelinap di antara pohon ploso. Sampailah Isrofil di Plosokerep bagian timur.
*) Penjaga Surga, si Naga & Burung Garuda
Ditempat ini terdapat parit sungai kecil. Sungai yang meskipun kemarau ranau kering kerontang mata airnya tetap mengalir bening. Sumber air yang mengalir berasal dari cela-cela pemulu serabut akar kambium pepohonan. Menetes demi setetes mengalir gemercik. Di tempat inilah Isrofil mengais dan meraup segenggam tanah. Setelah tanah tergenggam, segera beranjak cepat melesat menuju cakrawala. Layaknya pesawat super sonik buatan Rusia, Isrofil sekejap saja sudah sampai di perbatasan atmosfer dan ruang hampa udara. Karena terlalu cepat, tanah dalam genggaman Isrofil itu ada yang semburat dari sela jari-jemarinya. Punceratan tanah itu nyaris menjadi dataran tanah kecil sebuah desa. Isrofil berpesan pada bumi, agar suatu saat nanti desa itu diberi nama ”Dowong”. Yang berasal dari bahasa jawa “kondo o lek lemah iki biyen cikal bakale dadi wong”. Wong, dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan manusia.
Perjalanan pulang Isrofil tidak segampang itu. Sesampai di perbatasan atmosfer dan ruang hampa, tiba-tiba Azazil terjaga dari tidurnya. Menyadari apa yang terjadi, bahwa bumi telah di curi, Azazil tersentak jenggirat mengejar Isrofil. Di perbatasan atmosfr nilah Isrofil tertangkap. Dalam pertempuran itu Isrofil lontarkan debat argumentasi. “ Aku ke bumi mengambil tanah lempung bukan keinginanku sendiri, melainkan disuruh Alloh, jadi aku tidak ada urusan dengan siapapun kecuali dengan Alloh. Kalau engkau tidak terima, jangan marah kepadaku, protes saja sendiri kepada Alloh “. Mendengar argumen diplomasi Isrofil selihai ini, Azazil tidak bisa menjawab. Azazil berfikir ”Isrofil dapat dengan mudah aku kalahkan, tetapi dengan Alloh..!”. Cara diplomasi model Isrfoil ini paling efektif bermutu dan rasional. Apalagi jika dipakai konsep toriqot hati. Mengerjakan seseatu dalam hidup hendaknya ihlas. Bukan karena cuma ingin dipandang makhluk. Sebab makhluk menilai kita hanya sebatas usianya saja. Jika makhluk sudah meninggal, berakhir pula penghargaan citra imag buildingnya ke amaliyah kita. Akan tetapi jika kita menyandarkan amal energi kita ke Alloh, maka sampai kiamatpun tetap kita jumpai, tidak hanya sebatas usia manusia saja.
Tanah lempung sudah berhasil dibawah ke istana langit. Semua malaikat dikumpulkan. Seperti niat awal, Alloh berkehendak membikin manusia di bumi sebagai saingan cinta terhadap Azazil. Para malaikat memulai proyeknya atas intruksi intensif Alloh. Karena Alloh adalah satu-satunya desain grafik calon gambar jadinya manusia. Di dalam desain interior dan exterior Adam, ditetapkan bahwa ukuran telapak kaki Adam sepanjang 60 dhiro’. Sedang 1 dhiro’nya lebih kurang sepanjang ujung kuku sampai siku tangan manusia dewasa. Penciptaan manusia ini adalah proyek langit yang paling berat. Perdebatan kesempurnaan terus terjadi di antara insinyur para melaikat mengenai kegunaan, fungsi serta sebab akibat. Proyek pengadaan Adam ini memakan waktu enam masa. Proyek ini juga berhasil menyabet gelar piala rekor aworld sebagai makhluk terbaik yang dilengkapi dengan akal. Perdebatan malaikat yang paling tajam adalah saat membikin kemaluan Adam. Usulan bertubi-tubi dari berbagai fraksi legislatif. Interupsi yang dilancarkan dari 75% fraksi yang hadir, agar ukurannya di perkecil dari ukuran sketsa semula. Alasan interupsi adalah “alat vital satu ini, yang akan menjadi biang kerok keributan dunia. Dibikin kecil saja sudah menghebohkan dunia dengan pemerkosaan dan perselingkuhan, apalagi jika dibikin besar”. Atas dasar perhitungan dan kebijaksanaan yang proporsional akhirnya usulan di setujui Alloh. Proses pembentukan Adam memasuki tahap finishing, ditiupkannya ruh jadilah Adam. Adam memang tercipta dari tanah lempung, akan tetapi bukan karena tanah lempung itu Adam dicipta. Karena apa ? Karena kreatifitas murni ide Alloh. Teori toriqoh ini dapat dikembangkan ke berbagai lelaku kehidupan. Semisal kalau manusia bisa sekolah dan kuliah itu bukan karena orang tuanya kaya, tetapi karna Alloh mengijinkanya. Layaknya manusia tidak perlu sombong. Banyak anak orang kaya yang tidak di takdirkan sekolah dan kuliah. Alloh memang berniat membikin Adam, tetapi hanya ide. Sedang team pelaksananya adalah malaikat. Artinya copyright pihak pertama belum tentu dan sah dilakukan UU oleh pihak kedua. Perusahaan McDonald, KFC dan lain-lain adalah copyright orang Amerika. Akan tetapi perusahaan McDonald dan KFC di Indonesia tidak harus dikerjakan orang Amerika, melainkan sah di masak anak-anak paribumi, asalkan resepnya sama dengan desain resep menu yang ada di Amerika.
Sementara itu Azazil makin akrab dengan bumi. Apalagi dengan pulau jawa. Di pulau jawa, untuk menyebut kata Azazil tentu sulit lidahnya. Di jawa Azazil diganti namanya menjadi Idhajil atau Dajjal. Makanya kalau ada orang yang bertingkah niru Azazil yang gampang kesemsem dengan ciptaannya Alloh, dan melupakan yang mencipta disebut gejajilan.
Kabar terciptanya Adam terdengar langsung sampai kepelosok bumi. Hal ini membuat Idhajil kebakaran jenggot, dan naik pitam. Idhajilpun naik ke langit hendak protes ke Alloh. Ia pergi ke surga tempat proyek pembuatan Adam dikerjakan. Semua media masa memuatnya, termasuk televisi gabungan BBC antariksa.
Tapi na’as bagi Idhajil. Di pintu sorga pertama dijaga oleh naga raksasa besar yang kejam dan bengis. Kesaktian Idhajil tak sangup menandinginya. Namun Idhajil cerdik, ditungunya naga itu dengan sabar. Ketika naga itu menguap, terbukalah mulutnya lebar-lebar. Idhajil kemudian menyelinap masuk melalui mulut naga. Setelah Idhajil dikeluarkan menjadi tai, barulah Idhajil berhasil masuk ke sorga pertama. Di pintu surga kedua, Idhajilpun kesulitan lagi, di pintu ini dijaga burung garuda besar yang kejam dan bengis. Idhajil harus mencari cara. Ia mengubah dirinya menjadi ulat. Di depan garuda ia berkeliat-keliat. Melihat ulat berkeloget, naluri Garuda sebagai pemangsa karnivora tergugah. Dipatoklah ulat tersebut. Setelah dikeluarkan menjadi tai, barulah Idhajil jatuh kesorga dan menemui Adam. Melihat seluruh jajaran malaikat lengkap, untuk menghargai karya besar Alloh yang berupa Adam, semua malaikat disuruh bersujud kepada Adam. Semuanya sujud menghormati Alloh, kecuali Idhajil. Idhajil malah sombong dengan pengingkaran kebodohannya. Bahwa dirinya mengira tercipta dari gen berkelas tinggi. Yakni gen cahaya yang merupakan bayangan Alloh. Alloh menyuruh malaikat bersujud pada Adam hanya untuk menghormati karya Alloh, dan bukan menyembah Adam sebagai Tuhan. Pada saatnya nanti Nusantara pasti akan menjadi central pusat dunia. Sebab ceceran negara kepulaun yang membentang dari Sabang sampai Merauke adalah akibat gempilnya retakan surga jaman alam malakut dulu. Ketika itu Azazil malakukan kesalahan pertamanya. Saat itu Alloh mengadakan kontes desain mode cahaya. Hal yang menakjubkan terjadi. Cahaya hasil desainan peserta dari para malaikat sangat memukau. Memanjang berwarna-warni, meliuk-liuk kilaunya, memancar ronanya dengan kilatan hingar bingar. Dan hasil kontes cahaya waktu itu diabadikan sampai sekarang. Dan akan dipertontonkan kemegahan cahaya surga itu bagi manusia kelak yang mampu memasukinya.
Sejak awal Idhajil memang dianugerahi kahebatan lebih oleh Alloh. Tetapi kehebatan itu sekaligus kekurangan dia. Dalam kontes cahaya inipun Idhajil meraih juara utama. Saking gembiranya, karena menjadi pemenang, Idhajilpun berpesta. Ia mabok sembari berdansa. Terlalu asyik berjoget, Idhajil tak sadar tangannya menyentuh dinding pagar tembok sorga. Pagar surga itu kemudian retak, ambrol, dan berjatuhan kebumi. Jejatuhan puing-puing pagar surga itulah yang berserakan dan menjadi jajaran pulau Nusantara raya ini.
Kapan mimpi manusia penghuni Nusantara ini menjadi kenyataan? Nusantara yang makmur bersahaja bagaikan di sorga. Untuk memasuki Sorga Nusantara baru tidaklah mudah, kecuali kita suatu saat penghuninya mampu menggabungkan dua kekuatan besar ’si Naga dan si Garuda’.
1876, Ruh Puisi Arthur Rimbaud di Salatiga
1876, Ruh Puisi Arthur Rimbaud di Salatiga
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=464
Ruh puisi sebelum dituangkan penyairnya, masih mengawang di langit-langit bathin penciptaan. Betapa menggumuli cahaya rasa itu amat payah. Laksana air direbus di atas tungku dengan nyala api keabadian.
Mematangkan zat-zat pengalaman hingga tiada bakteri tersisa. Dari sana hadir kejelasan awal, tersugesti jiwanya sendiri demi memuntahkan gejolak terkandung lama. Sekelahiran musti, sesudah rindu tak tahan terbebani.
Kepercayaan terbit memusnahkan pekabutan was-was, tenggelamkan keraguan. Sirna bayang ketakutkan selama ini menghantui percintaan. Dalam peleburan ruang-waktu yang selalu digembol bersama kesadaran.
Tercapailah kata-kata dari mulut pena, menggambar di lelembaran kertas, memahat kayu kesaksian. Takdirnya melayarkan sampan nurani demi pelita umat manusia.
Kala raga bathin sukmanya dibuncahkan kepenuhan, menjalarlah dinaya kepenyairannya melalui jari-jemari cekatan menari dan terus-menerus bergetar.
“Putra Shakespeare” julukan dari Viktor Hugo (1802-1885) kepada Arthur Rimbaud. Menatap bayang dirinya tertimpa cahaya silam. Berbinar-binar matanya diruapi ruh nenek moyang terdekat. Membimbing jiwa-jiwa tidak jerah, kian kukuh beriktiar dalam pencarian.
Sampai titian akhir dirampungkan karyanya, dipelototi berulangkali di sana-sini. Dipangkas disesuaikan lebih manusiawi atau indrawi dari keadaan sebelumnya. Disimpan dalam kotak rapi, sebelum jarak penantian mempelajari yang berkisaran antara dirinya selama ini.
Kesungguhan berlanjut setelah keraguan menghantui balik, kecemasan diangkat kewaspadaan. Diambilnya catatan lalu, dibacanya keras-keras dalam bathin dan bersuara lantang. Di sinilah penyesuaian akhir terjadi.
Penggalan tiada ampun pada diri sendiri, pilihan kata melebihi jatuhnya hukum pancung. Warna diselaraskan melodi diseiramakan. Mematangkan hembusan perubahan yang selalu dikendarai. Jika ragu disimpan lagi, kalau dirasa purna diyakini berkesaksian akhir seperti awal kelahiran.
Bernard Dorléans dalam bukunya “Les Français et I’Indonésie du XVIe au Xxe siécle” menyebutkan Arthur Rimbaud berada di Jawa tahun 1876 sebagai anggota tentara Belanda. Kini izinkan diriku menafsirkan salah satu puisinya bertitel “Chanson De La Plus Haute Tour” dari buku Sajak-Sajak Modern Prancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, 1972:
LAGU MENARA TERTINGGI
Arthur Rimbaud
Datanglah, ya datang
Saat bercinta.
Aku sudah begitu sabar
Hingga semua kulupa.
Derita dan gentar
Ke langit musnah.
Dan haus maksiat
Membuat darahku pucat.
Datanglah, ya datang,
Saat bercinta.
Bagai padang
Terbengkalai lupa,
Belukar dan kemenyan
Tumbuh dan berbunga
Dalam dengung liar
Lalar-lalar kotor
Datanglah, ya datang
Saat bercinta.
Rimbaud, membangkitkan masa-masa penuh gairah dari dasar dirinya. Dinayanya diangkat melambung memenuhi panggilan jauh. Atau pribadinya yang menyerukan sebab musabab.
Lantas wajah-wajah berdatangan, berduyun-duyun mendapati kemungkinan. Kasih sayang menggebu dilumati rindu terdalam. Bersamanya segala ucapan mencipta atmosfer besar dalam rahim semesta.
Menebali keyakinan pada semua insan, laksana takdir digariskan. Tidak goyah meski seluruh penjuru dunia hendak menggagalkan. Itu ruh bathin mematangkan suara-suaranya menuju relung terdalam, kalbu jaman.
Kesabarannya menanti melululantakkan bangunan sejarah silam di atas timbunan kenangan pedih. Bebunga karang ingatan disapu hantaman gelombang atas luka-luka menggaramkan diri.
Hingga rasa gentar jua was-was, hanyut terseret arus hasratnya tak terjamah kembali. Musnah kecuali kehendak sah dan peleburan nafsunya memucatkan wajah-wajah ayu seampas tebu.
Atau kekelopak kembang layu oleh angin sayu mendadak menuakan waktu. Buah apel keriput sebelum terjamah jemari halus. Rimbaud memanggil kedatangan bayu bukan kemanjaan, namun pesona sumringah seasmara maut.
Datang angin purba membentur-benturkan mata anak-anaknya, pada bebatuan tebing meruncing legam. Di sana lelempengan waktu bersimpan hikayat kerinduan.
Tanah longsor menimbuni suara-suara lama, kini tergerus bayu pantai meniup tulang-belulang ribuan tahun silam. Yang terpendam menjelma batuan kapur, sepucat getir hujan dini hari.
Melupakannya kesadaran akan berpindah atau telah muksa. Kematian kekasih membayangi tercinta, terus mengharumkan percumbuan lekati bibir mengatup bergetaran.
Beterbangan seawan hitam melahirkan masa-masa menggoyang rerimbun kekokohan. Menara tertinggi kehadiran kala percintaan: maut selalu dirindu para pencari jalan keabadian.
Menjalarkan api abadi ke lorong-lorong buram. Hantu-hantu dibangkitkan bukan kangen, tapi petaka menimpa lama tersia.
Ngeri derita luput ke langit merah. Di padang-padang binasa berlipat amarah, datang sewaktu bercinta penuh gairah.
Demikian tafsiranku kali ini. Untuk riwayatnya aku petik dari buku Puisi Dunia, jilid I disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952:
Jean Nicolas Arthur Rimbaud (20 Oktober 1854 - 10 November 1891) penyair Perancis lahir di Charleville, Ardennes. Seorang berpendidikan agama, mula pendiam tapi tiba-tiba berontak meninggalkan sekolah dan ibunya, muncul di Paris pada usia 15 tahun. Langsung mendapatkan Paul Verlaine bersama sekumpulan sajak yang menggemparkan penyair-penyair di Paris. Yang kelihatan sajaknya berpandangan hayali dramatis. Fantasi serta perasaan halus melamun. Sajak bebasnya lincah, kata-kata yang dipergunakan sewarna bunyi bergeraknya gambar, asosiasi di sekitar satu metafor sebagai pusat.
Dari kumpulan ini mengalir arus simbolik masuk kesusastraan Prancis. Dalam beberapa hal Rimbaud dianggap pelopor aliran surealis, menulis sajak antara usia 15 dan 19 tahun. Himpunannya yang terkenal “Poésies”, “Une Saison En Enfer” , “Illuminations.” Sajak tersohornya “Le Bateau Ivre” penuh lambang peristiwa nasib-nasiban serta lukisan daerah-daerah jauh yang aneh.
Rimbaud tidak normal ini seakan sanggup melihat dengan mata bathinnya. Paul Claudel (1868 –1955) menganggapnya penyair terbesar yang pernah hidup. Setelah hampir ditembak mati oleh Verlaine, tiba-tiba menghilang. Menempuh hidup nasib-nasiban, berbakat di lapangan yang kurang cocok dengan pembawaan sastrawan. Menjadi pedagang gading, menjual senjata kepada Negus. Rimbaud meninggal di Merseille karena jatuh dari kudanya. Kakinya terpaksa dipotong, radang darah menamatkan riwayatnya.
Petikan http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Rimbaud: tertulis, Mei 1876 mendaftar prajurit Tentara Kolonial Belanda demi berjalan bebas biaya ke Jawa (Indonesia), melakukan desertir dan kembali ke Perancis dengan kapal. Di kediaman walikota Salatiga, sebuah kota kecil 46 km selatan Semarang, Jawa Tengah, ada piagam marmer yang menyatakan Rimbaud pernah tinggal di kota.
Rimbaud dan Verlaine bertemu terakhir, Maret 1875 di Stuttgart, Jerman, setelah bebasnya Verlaine dari penjara. Saat itu Rimbaud menyerah menulis, memutuskan bekerja atau sudah muak kehidupan liarnya. Ada yang menyatakan berusaha kaya agar mampu hidup satu hari sebagai sastrawan independen. Terus bepergian secara ekstensif di Eropa, sebagian besar jalan kaki.
Di rumah sakit di Marseille, kaki kanannya diamputasi. Diagnosis pasca operasi ialah kanker. Setelah tinggal sebentar di kediaman keluarganya di Charleville, melakukan perjalanan kembali ke Afrika. Di jalan kesehatannya memburuk, dibawa ke rumah sakit yang sama. Pembedahan dilakukan dihadiri saudarinya Isabelle. Rimbaud meninggal di Marseille, dimakamkan di Charleville.
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=464
Ruh puisi sebelum dituangkan penyairnya, masih mengawang di langit-langit bathin penciptaan. Betapa menggumuli cahaya rasa itu amat payah. Laksana air direbus di atas tungku dengan nyala api keabadian.
Mematangkan zat-zat pengalaman hingga tiada bakteri tersisa. Dari sana hadir kejelasan awal, tersugesti jiwanya sendiri demi memuntahkan gejolak terkandung lama. Sekelahiran musti, sesudah rindu tak tahan terbebani.
Kepercayaan terbit memusnahkan pekabutan was-was, tenggelamkan keraguan. Sirna bayang ketakutkan selama ini menghantui percintaan. Dalam peleburan ruang-waktu yang selalu digembol bersama kesadaran.
Tercapailah kata-kata dari mulut pena, menggambar di lelembaran kertas, memahat kayu kesaksian. Takdirnya melayarkan sampan nurani demi pelita umat manusia.
Kala raga bathin sukmanya dibuncahkan kepenuhan, menjalarlah dinaya kepenyairannya melalui jari-jemari cekatan menari dan terus-menerus bergetar.
“Putra Shakespeare” julukan dari Viktor Hugo (1802-1885) kepada Arthur Rimbaud. Menatap bayang dirinya tertimpa cahaya silam. Berbinar-binar matanya diruapi ruh nenek moyang terdekat. Membimbing jiwa-jiwa tidak jerah, kian kukuh beriktiar dalam pencarian.
Sampai titian akhir dirampungkan karyanya, dipelototi berulangkali di sana-sini. Dipangkas disesuaikan lebih manusiawi atau indrawi dari keadaan sebelumnya. Disimpan dalam kotak rapi, sebelum jarak penantian mempelajari yang berkisaran antara dirinya selama ini.
Kesungguhan berlanjut setelah keraguan menghantui balik, kecemasan diangkat kewaspadaan. Diambilnya catatan lalu, dibacanya keras-keras dalam bathin dan bersuara lantang. Di sinilah penyesuaian akhir terjadi.
Penggalan tiada ampun pada diri sendiri, pilihan kata melebihi jatuhnya hukum pancung. Warna diselaraskan melodi diseiramakan. Mematangkan hembusan perubahan yang selalu dikendarai. Jika ragu disimpan lagi, kalau dirasa purna diyakini berkesaksian akhir seperti awal kelahiran.
Bernard Dorléans dalam bukunya “Les Français et I’Indonésie du XVIe au Xxe siécle” menyebutkan Arthur Rimbaud berada di Jawa tahun 1876 sebagai anggota tentara Belanda. Kini izinkan diriku menafsirkan salah satu puisinya bertitel “Chanson De La Plus Haute Tour” dari buku Sajak-Sajak Modern Prancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, 1972:
LAGU MENARA TERTINGGI
Arthur Rimbaud
Datanglah, ya datang
Saat bercinta.
Aku sudah begitu sabar
Hingga semua kulupa.
Derita dan gentar
Ke langit musnah.
Dan haus maksiat
Membuat darahku pucat.
Datanglah, ya datang,
Saat bercinta.
Bagai padang
Terbengkalai lupa,
Belukar dan kemenyan
Tumbuh dan berbunga
Dalam dengung liar
Lalar-lalar kotor
Datanglah, ya datang
Saat bercinta.
Rimbaud, membangkitkan masa-masa penuh gairah dari dasar dirinya. Dinayanya diangkat melambung memenuhi panggilan jauh. Atau pribadinya yang menyerukan sebab musabab.
Lantas wajah-wajah berdatangan, berduyun-duyun mendapati kemungkinan. Kasih sayang menggebu dilumati rindu terdalam. Bersamanya segala ucapan mencipta atmosfer besar dalam rahim semesta.
Menebali keyakinan pada semua insan, laksana takdir digariskan. Tidak goyah meski seluruh penjuru dunia hendak menggagalkan. Itu ruh bathin mematangkan suara-suaranya menuju relung terdalam, kalbu jaman.
Kesabarannya menanti melululantakkan bangunan sejarah silam di atas timbunan kenangan pedih. Bebunga karang ingatan disapu hantaman gelombang atas luka-luka menggaramkan diri.
Hingga rasa gentar jua was-was, hanyut terseret arus hasratnya tak terjamah kembali. Musnah kecuali kehendak sah dan peleburan nafsunya memucatkan wajah-wajah ayu seampas tebu.
Atau kekelopak kembang layu oleh angin sayu mendadak menuakan waktu. Buah apel keriput sebelum terjamah jemari halus. Rimbaud memanggil kedatangan bayu bukan kemanjaan, namun pesona sumringah seasmara maut.
Datang angin purba membentur-benturkan mata anak-anaknya, pada bebatuan tebing meruncing legam. Di sana lelempengan waktu bersimpan hikayat kerinduan.
Tanah longsor menimbuni suara-suara lama, kini tergerus bayu pantai meniup tulang-belulang ribuan tahun silam. Yang terpendam menjelma batuan kapur, sepucat getir hujan dini hari.
Melupakannya kesadaran akan berpindah atau telah muksa. Kematian kekasih membayangi tercinta, terus mengharumkan percumbuan lekati bibir mengatup bergetaran.
Beterbangan seawan hitam melahirkan masa-masa menggoyang rerimbun kekokohan. Menara tertinggi kehadiran kala percintaan: maut selalu dirindu para pencari jalan keabadian.
Menjalarkan api abadi ke lorong-lorong buram. Hantu-hantu dibangkitkan bukan kangen, tapi petaka menimpa lama tersia.
Ngeri derita luput ke langit merah. Di padang-padang binasa berlipat amarah, datang sewaktu bercinta penuh gairah.
Demikian tafsiranku kali ini. Untuk riwayatnya aku petik dari buku Puisi Dunia, jilid I disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952:
Jean Nicolas Arthur Rimbaud (20 Oktober 1854 - 10 November 1891) penyair Perancis lahir di Charleville, Ardennes. Seorang berpendidikan agama, mula pendiam tapi tiba-tiba berontak meninggalkan sekolah dan ibunya, muncul di Paris pada usia 15 tahun. Langsung mendapatkan Paul Verlaine bersama sekumpulan sajak yang menggemparkan penyair-penyair di Paris. Yang kelihatan sajaknya berpandangan hayali dramatis. Fantasi serta perasaan halus melamun. Sajak bebasnya lincah, kata-kata yang dipergunakan sewarna bunyi bergeraknya gambar, asosiasi di sekitar satu metafor sebagai pusat.
Dari kumpulan ini mengalir arus simbolik masuk kesusastraan Prancis. Dalam beberapa hal Rimbaud dianggap pelopor aliran surealis, menulis sajak antara usia 15 dan 19 tahun. Himpunannya yang terkenal “Poésies”, “Une Saison En Enfer” , “Illuminations.” Sajak tersohornya “Le Bateau Ivre” penuh lambang peristiwa nasib-nasiban serta lukisan daerah-daerah jauh yang aneh.
Rimbaud tidak normal ini seakan sanggup melihat dengan mata bathinnya. Paul Claudel (1868 –1955) menganggapnya penyair terbesar yang pernah hidup. Setelah hampir ditembak mati oleh Verlaine, tiba-tiba menghilang. Menempuh hidup nasib-nasiban, berbakat di lapangan yang kurang cocok dengan pembawaan sastrawan. Menjadi pedagang gading, menjual senjata kepada Negus. Rimbaud meninggal di Merseille karena jatuh dari kudanya. Kakinya terpaksa dipotong, radang darah menamatkan riwayatnya.
Petikan http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Rimbaud: tertulis, Mei 1876 mendaftar prajurit Tentara Kolonial Belanda demi berjalan bebas biaya ke Jawa (Indonesia), melakukan desertir dan kembali ke Perancis dengan kapal. Di kediaman walikota Salatiga, sebuah kota kecil 46 km selatan Semarang, Jawa Tengah, ada piagam marmer yang menyatakan Rimbaud pernah tinggal di kota.
Rimbaud dan Verlaine bertemu terakhir, Maret 1875 di Stuttgart, Jerman, setelah bebasnya Verlaine dari penjara. Saat itu Rimbaud menyerah menulis, memutuskan bekerja atau sudah muak kehidupan liarnya. Ada yang menyatakan berusaha kaya agar mampu hidup satu hari sebagai sastrawan independen. Terus bepergian secara ekstensif di Eropa, sebagian besar jalan kaki.
Di rumah sakit di Marseille, kaki kanannya diamputasi. Diagnosis pasca operasi ialah kanker. Setelah tinggal sebentar di kediaman keluarganya di Charleville, melakukan perjalanan kembali ke Afrika. Di jalan kesehatannya memburuk, dibawa ke rumah sakit yang sama. Pembedahan dilakukan dihadiri saudarinya Isabelle. Rimbaud meninggal di Marseille, dimakamkan di Charleville.
'Buku-Buku Jang Dilarang' Lampiran dalam Ajip Rosidi. Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia. Bandung: Binatjipta, 1969, halaman 236
Lampiran
BUKU-BUKU JANG DILARANG
Pada tahun 1959, Penguasa Perang Tertinggi Républik Indonesia pernah melarang buku Pramoedya Ananta Toer jang berdjudul Hoa Kiau di Indonesia. Pada tahun 1962 sebuah buku kumpulan sadjak berdjudul Matinja Seorang Petani djuga dilarang. Sebegitu djauh, pelarangan itu dikenakan semata-mata terhadap buku jang isinja dianggap dapat merongrong kewibawaan pemerintah dalam mendjaga keamanan bangsa dan negara. Tapi pada tahun 1964, setelah ‘Manifés Kebudajaan’ dilarang, kemudian semua buku dan buahtangan para pengarang penandatangan Manifés dinjatakan terlarang. Djadi jang dinjatakan terlarang bukan buku, melainkan pengarang-nja. Tak peduli apa isi buahtangannja. Bahkan buku-buku jang ditulis oleh para pengarang jang bukan penandatangan Maniféspun, karena kebetulan orangnja berada di Malaysia (seperti S. Takdir Alisjahbana Idrus dan M. Balfas), atau karena pengarangnja berfaham politik jang tidak disukai rezim jang sedang berkuasa (seperti Mochtar Lubis dan Hamka), dinjatakan terlarang djuga. Tak peduli bahwa buku-buku itu ditulis berpuluh-puluh tahun sebelum itu, dan samasekali tidak menjinggung-njinggung situasi aktuil.
Setelah terdjadi pengchianatan ‘Gerakan 30 Séptémbér’ jang dapat digagalkan, larangan terhadap buku2 buahtangan para pengarang Manifés Kebudajaan ditjabut. Tapi buku-buku karangan para pengarang anggota Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lékra), dilarang. Tak peduli apa isinja dan kapan waktu ditulisnja. Larangan itu terdapat dalam instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan Républik Indonesia no 1381/1965 tertanggal 30 Novémber 1965. Larangan itu diinstruksikan dengan pertimbangan “untuk mengadakan tindak landjut didalam usaha menumpas pengaruh2 dari gerakan apa jang dinamakan dirinja “Gerakan 30 Séptémbér” chususnja dibidang méntal idéologis” dan berlaku surut mulai tanggal 1 Novémber 1965. Instruksi jang ditudjukan kepada para pedjabat di lingkungan P.D. dan K. itu disertai dengan dua buah lampiran jaitu Daftar sementara buku2 terlarang dan Daftar sementara nama2 anggota Lékra.
Dibawah ini disertakan lampiran jang pertama, jaitu daftar sementara buku2 jang dilarang.
DAFTAR BUKU-BUKU SEMENTARA JANG DIKARANG OLEH PENGARANG-PENGARANG LEKRA JANG HARUS DIBEKUKAN
1 Sobron Aidit, Pulang Bertempur, Djakarta, Lekra, 1959
2 Sobron Aidit, Derap Revolusi, Djakarta, 1962
3 Jubaar Ajub, Siti Djamilah, Djakarta, Lekra, 1960
4 Klara Akustia (A.S. Dharta, Jogaswara), Rangsang Detik, Djakarta, Pembaruan,1957
5 S. Anantaguna, Jang bertanahair tapi tidak bertanah, Djakarta, Lekra, 1962
6 Hr. Bandaharo (Banda Harahap), Sarinah dan Aku, Medan, Central Courant, t.t.
7 Hr. Bandaharo, Dari Bumi Merah, Djakarta, Pembaruan, 1963
8 Hr. Bandaharo, Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih, Djakarta, Pembaruan, 1958
9 Hadi, Dipersimpangan djalan, Djakarta, Purwoko, t.t.
10 Hadi, Jang djatuh dan jang Tumbuh
11 Hadi Sumodanukusumo, Tanah Tersajang, SPD Lekra Djatim, 1963
12 Rijono Pratikto Api Djakarta, BP, 1951
13 Rijono Pratikto, Si Rangka, Djakarta, Pembangunan, 1958
14 F.L. Risakotta, Penjair dan Perdamaian, Djakarta, Komite Perdamaian, 1959
15 S. Rukiah, Kedjatuhan dan Hati, Djakarta, BP, 1950
16 S. Rukiah, Tandus, Djakarta, BP, 1950
17 S. Rukiah, Kisah Perdjalanan Si Apin, Djakarta, Grafika, t.t.
18 S. Rukiah, Djaka Tingkir, Djakarta, BP, 1962
19 S. Rukiah, Teuku Hasan Djohan Pahlawan, Djakarta, Grafika, 1957
20 Rumambi dkk, Bukit 1211, Djakarta, Lekra, 1959
21 Bakri Siregar, Djedjak Langkah, Djakarta, BP, 1954
22 Bakri Siregar, Saidjah dan Adinda, Medan, Sastrawan, 1954 (disadur dari karangan Multatuli)
23 Bakri Siregar, Tjeramah Sastra, Medan, Pustaka Bali, 1952
24 Bakri Siregar, Sedjarah Kesusastraan Indonesia Modern, Djakarta, Akademi Sastra dan Bahasa Multatuli, 1964
25 Sugiarti Siswadi, Sorga Dibumi, Djakarta, Lekra, 1960
26 Sobsi, Pita Merah, Djakarta, Dewan Nasional Sobsi, 1959
27 Utuy T. Sontani, Suling, Djakarta, BP, 1948
28 Utuy T. Sontani, Bunga Rumah Makan, Djakarta, BP, 1949
29 Utuy T. Sontani, Tambera, Djakarta, BP, 1949
30 Utuy T. Sontani, Orang-orang Sial, Djakarta, BP, 1951
31 Utuy T. Sontani, Awal dan Mira, Djakarta, BP, 1952
32 Utuy T. Sontani, Si Kabajan, Djakarta, Lekra, 1959
33 Utuy T. Sontani, Sang Kuriang, Djakarta, BP, 1959 (Bahasa Indonesia)
34 Utuy T. Sontani, Manusia Kota, Djakarta, BP, 1961
35 Utuy T. Sontani, Sang Kuriang, Djakarta, …. 1959
36 Utuy T. Sontani, Selamat Djalan Anak Kufur!, Djakarta, BP, 1963
37 Utuy T. Sontani, Si Sapar, Djakarta, Sadar, 1964
38 Utuy T. Sontani, Si Kampeng, Djakarta, Sadar, 1965
39 Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, Djakarta, BP, 1950
40 Pramoedya Ananta Toer, Subuh, Djakarta, Pembangunan, 1950
41 Pramoedya Ananta Toer, Pertjikan Revolusi, Djakarta, Gapura, 1950
42 Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilja, Djakarta, Gapura, 1950
43 Pramoedya Ananta Toer, Mereka Jang Dilumpuhkan, Djakarta, Pembangunan, 1950
44 Pramoedya Ananta Toer, Ditepi Kali Bekasi ,Djakarta, BP, 1951
45 Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam, Djakarta, Gapura, 1951
46 Pramoedya Ananta Toer, Tjerita Dari Blora, Djakarta, BP, 1952
47 Pramoedya Ananta Toer, Midah si Manis Bergigi Emas, Djakarta, Nusantara, 1952
48 Pramoedya Ananta Toer, Korupsi, Bukittinggi, Nusantara, 1961
49 Pramoedya Ananta Toer, Gulat di Djakarta, Djakarta, Duta, 1952
50 Pramoedya Ananta Toer, Tjerita dari Djakarta, Djakarta, Grafika, 1957
51 Pramoedya Ananta Toer, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Djakarta, Djwt. Penempatan Tenaga, Kem. PUT, t.t.
52 Pramoedya Ananta Toer, Tjerita Tjalon Arang, Djakarta, BP, 1957
53 Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Sadja djilid I, Bukittinggi-Djakarta, Nusantara, 1962
54 Pramoedya Ananta Toer, idem djilid II, idem
55 Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia
56 Agam Wispi, Matinja Seorang Petani Djakarta, Lekra, 1962
57 Agam Wispi, Sahabat, Djakarta, Lekra, 1959
58 Nasi dan Melati
59 Jang Tak Terbungkamkan
60 Zubir A.A., Lagu Subuh, Djakarta, Pembaruan
Djakarta, 30 Nopember 1965
Pembantu Mentri P.D. dan K. Bidang
Teknis Pendidikan
t.t.d.
(Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo)
Kol. Inf. Nrp 16070
BUKU-BUKU JANG DILARANG
Pada tahun 1959, Penguasa Perang Tertinggi Républik Indonesia pernah melarang buku Pramoedya Ananta Toer jang berdjudul Hoa Kiau di Indonesia. Pada tahun 1962 sebuah buku kumpulan sadjak berdjudul Matinja Seorang Petani djuga dilarang. Sebegitu djauh, pelarangan itu dikenakan semata-mata terhadap buku jang isinja dianggap dapat merongrong kewibawaan pemerintah dalam mendjaga keamanan bangsa dan negara. Tapi pada tahun 1964, setelah ‘Manifés Kebudajaan’ dilarang, kemudian semua buku dan buahtangan para pengarang penandatangan Manifés dinjatakan terlarang. Djadi jang dinjatakan terlarang bukan buku, melainkan pengarang-nja. Tak peduli apa isi buahtangannja. Bahkan buku-buku jang ditulis oleh para pengarang jang bukan penandatangan Maniféspun, karena kebetulan orangnja berada di Malaysia (seperti S. Takdir Alisjahbana Idrus dan M. Balfas), atau karena pengarangnja berfaham politik jang tidak disukai rezim jang sedang berkuasa (seperti Mochtar Lubis dan Hamka), dinjatakan terlarang djuga. Tak peduli bahwa buku-buku itu ditulis berpuluh-puluh tahun sebelum itu, dan samasekali tidak menjinggung-njinggung situasi aktuil.
Setelah terdjadi pengchianatan ‘Gerakan 30 Séptémbér’ jang dapat digagalkan, larangan terhadap buku2 buahtangan para pengarang Manifés Kebudajaan ditjabut. Tapi buku-buku karangan para pengarang anggota Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lékra), dilarang. Tak peduli apa isinja dan kapan waktu ditulisnja. Larangan itu terdapat dalam instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan Républik Indonesia no 1381/1965 tertanggal 30 Novémber 1965. Larangan itu diinstruksikan dengan pertimbangan “untuk mengadakan tindak landjut didalam usaha menumpas pengaruh2 dari gerakan apa jang dinamakan dirinja “Gerakan 30 Séptémbér” chususnja dibidang méntal idéologis” dan berlaku surut mulai tanggal 1 Novémber 1965. Instruksi jang ditudjukan kepada para pedjabat di lingkungan P.D. dan K. itu disertai dengan dua buah lampiran jaitu Daftar sementara buku2 terlarang dan Daftar sementara nama2 anggota Lékra.
Dibawah ini disertakan lampiran jang pertama, jaitu daftar sementara buku2 jang dilarang.
DAFTAR BUKU-BUKU SEMENTARA JANG DIKARANG OLEH PENGARANG-PENGARANG LEKRA JANG HARUS DIBEKUKAN
1 Sobron Aidit, Pulang Bertempur, Djakarta, Lekra, 1959
2 Sobron Aidit, Derap Revolusi, Djakarta, 1962
3 Jubaar Ajub, Siti Djamilah, Djakarta, Lekra, 1960
4 Klara Akustia (A.S. Dharta, Jogaswara), Rangsang Detik, Djakarta, Pembaruan,1957
5 S. Anantaguna, Jang bertanahair tapi tidak bertanah, Djakarta, Lekra, 1962
6 Hr. Bandaharo (Banda Harahap), Sarinah dan Aku, Medan, Central Courant, t.t.
7 Hr. Bandaharo, Dari Bumi Merah, Djakarta, Pembaruan, 1963
8 Hr. Bandaharo, Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih, Djakarta, Pembaruan, 1958
9 Hadi, Dipersimpangan djalan, Djakarta, Purwoko, t.t.
10 Hadi, Jang djatuh dan jang Tumbuh
11 Hadi Sumodanukusumo, Tanah Tersajang, SPD Lekra Djatim, 1963
12 Rijono Pratikto Api Djakarta, BP, 1951
13 Rijono Pratikto, Si Rangka, Djakarta, Pembangunan, 1958
14 F.L. Risakotta, Penjair dan Perdamaian, Djakarta, Komite Perdamaian, 1959
15 S. Rukiah, Kedjatuhan dan Hati, Djakarta, BP, 1950
16 S. Rukiah, Tandus, Djakarta, BP, 1950
17 S. Rukiah, Kisah Perdjalanan Si Apin, Djakarta, Grafika, t.t.
18 S. Rukiah, Djaka Tingkir, Djakarta, BP, 1962
19 S. Rukiah, Teuku Hasan Djohan Pahlawan, Djakarta, Grafika, 1957
20 Rumambi dkk, Bukit 1211, Djakarta, Lekra, 1959
21 Bakri Siregar, Djedjak Langkah, Djakarta, BP, 1954
22 Bakri Siregar, Saidjah dan Adinda, Medan, Sastrawan, 1954 (disadur dari karangan Multatuli)
23 Bakri Siregar, Tjeramah Sastra, Medan, Pustaka Bali, 1952
24 Bakri Siregar, Sedjarah Kesusastraan Indonesia Modern, Djakarta, Akademi Sastra dan Bahasa Multatuli, 1964
25 Sugiarti Siswadi, Sorga Dibumi, Djakarta, Lekra, 1960
26 Sobsi, Pita Merah, Djakarta, Dewan Nasional Sobsi, 1959
27 Utuy T. Sontani, Suling, Djakarta, BP, 1948
28 Utuy T. Sontani, Bunga Rumah Makan, Djakarta, BP, 1949
29 Utuy T. Sontani, Tambera, Djakarta, BP, 1949
30 Utuy T. Sontani, Orang-orang Sial, Djakarta, BP, 1951
31 Utuy T. Sontani, Awal dan Mira, Djakarta, BP, 1952
32 Utuy T. Sontani, Si Kabajan, Djakarta, Lekra, 1959
33 Utuy T. Sontani, Sang Kuriang, Djakarta, BP, 1959 (Bahasa Indonesia)
34 Utuy T. Sontani, Manusia Kota, Djakarta, BP, 1961
35 Utuy T. Sontani, Sang Kuriang, Djakarta, …. 1959
36 Utuy T. Sontani, Selamat Djalan Anak Kufur!, Djakarta, BP, 1963
37 Utuy T. Sontani, Si Sapar, Djakarta, Sadar, 1964
38 Utuy T. Sontani, Si Kampeng, Djakarta, Sadar, 1965
39 Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, Djakarta, BP, 1950
40 Pramoedya Ananta Toer, Subuh, Djakarta, Pembangunan, 1950
41 Pramoedya Ananta Toer, Pertjikan Revolusi, Djakarta, Gapura, 1950
42 Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilja, Djakarta, Gapura, 1950
43 Pramoedya Ananta Toer, Mereka Jang Dilumpuhkan, Djakarta, Pembangunan, 1950
44 Pramoedya Ananta Toer, Ditepi Kali Bekasi ,Djakarta, BP, 1951
45 Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam, Djakarta, Gapura, 1951
46 Pramoedya Ananta Toer, Tjerita Dari Blora, Djakarta, BP, 1952
47 Pramoedya Ananta Toer, Midah si Manis Bergigi Emas, Djakarta, Nusantara, 1952
48 Pramoedya Ananta Toer, Korupsi, Bukittinggi, Nusantara, 1961
49 Pramoedya Ananta Toer, Gulat di Djakarta, Djakarta, Duta, 1952
50 Pramoedya Ananta Toer, Tjerita dari Djakarta, Djakarta, Grafika, 1957
51 Pramoedya Ananta Toer, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Djakarta, Djwt. Penempatan Tenaga, Kem. PUT, t.t.
52 Pramoedya Ananta Toer, Tjerita Tjalon Arang, Djakarta, BP, 1957
53 Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Sadja djilid I, Bukittinggi-Djakarta, Nusantara, 1962
54 Pramoedya Ananta Toer, idem djilid II, idem
55 Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia
56 Agam Wispi, Matinja Seorang Petani Djakarta, Lekra, 1962
57 Agam Wispi, Sahabat, Djakarta, Lekra, 1959
58 Nasi dan Melati
59 Jang Tak Terbungkamkan
60 Zubir A.A., Lagu Subuh, Djakarta, Pembaruan
Djakarta, 30 Nopember 1965
Pembantu Mentri P.D. dan K. Bidang
Teknis Pendidikan
t.t.d.
(Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo)
Kol. Inf. Nrp 16070
Daftar buku-buku yang dilarang di Indonesia
Sejujurnya, sebagian buku-buku dibawah ini belum saya lihat bentuk wujudnya, apalagi pernah membacanya, apalagi sempat memahaminya, apalagi sampai memilikinya. Tapi, inilah daftar buku-buku yang dilarang di Indonesia itu:
1.Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia, dilarang oleh penguasa militer pada 1959
2.Sabar Anantaguna, Yang Bertanahair tapi Tak Bertanah, dilarang oleh penguasa militer
3.Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, dilarang oleh penguasa militer pada 1960
4.Agam Wispi, Yang Tak Terbungkamkan, dilarang oleh penguasa militer pada 19 Juli 1961
5.Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (Djakarta: Bagian Penerbitan Lekra, 1961), dilarang oleh penguasa militer pada 1961
6.Soepardo S.H. dkk., Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
7.Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
8.Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
9.Pramoedya Ananta Toer, Mereka yang Dilumpuhkan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
10.Utuy Tatang Sontani, Awal dan Mira, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
11.Utuy Tatang Sontani, Tambera, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
12.Rivai Apin, Tiga Menguak Takdir, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
13.Rukiah, Kejatuhan dan Hati, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
14.Rijono Pratikto, Api dan Cerita-cerita Pendek Lainnya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
15.Panitia Penyusunan Lagu Sekolah, Jawatan Kebudayaan, Nyanyian untuk Sekolah Rakyat, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
16.Sobron Aidit, Pulang Bertempur (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
17.Sobron Aidit, Derap Revolusi (Djakarta, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
18.Joebaar Ajoeb, Siti Djamilah (Djakarta: Lekra, 1960), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
19.Klara Akustia (A.S. Dharta, Jogaswara), Rangsang Detik (Djakarta: Pembaruan, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
20.S. Anantaguna, Jang bertanahair tapi tidak bertanah (Djakarta: Lekra, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
21.Hr. Bandaharo (Banda Harahap), Sarinah dan Aku (Medan: Central Courant, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
22.Hr. Bandaharo, Dari Bumi Merah (Djakarta: Pembaruan, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
23.Hr. Bandaharo, Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih (Djakarta: Pembaruan, 1958), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
24.Hadi, Dipersimpangan djalan (Djakarta: Purwoko, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
25.Hadi, Jang djatuh dan jang Tumbuh, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
26.Hadi Sumodanukusumo, Tanah Tersajang (SPD Lekra Djatim, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
27.Rijono Pratikto, Api (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
28.Rijono Pratikto, Si Rangka (Djakarta: Pembangunan, 1958), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
29.F.L. Risakotta, Penjair dan Perdamaian (Djakarta: Komite Perdamaian, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
30.S. Rukiah, Kedjatuhan dan Hati (Djakarta: BP, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
31.S. Rukiah, Tandus (Djakarta: BP, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
32.S. Rukiah, Kisah Perdjalanan Si Apin (Djakarta: Grafika, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
33.S. Rukiah, Djaka Tingkir (Djakarta: BP, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
34.S. Rukiah, Teuku Hasan Djohan Pahlawan (Djakarta: Grafika, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
35.Rumambi dkk., Bukit 1211 (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
36.Bakri Siregar, Djedjak Langkah (Djakarta: BP, 1954), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
37.Bakri Siregar, Saidjah dan Adinda (Medan: Sastrawan, 1954) (disadur dari karangan Multatuli), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
38.Bakri Siregar, Tjeramah Sastra (Medan: Pustaka Bali, 1952), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
39.Bakri Siregar, Sedjarah Kesusastraan Indonesia Modern (Djakarta: Akademi Sastra dan Bahasa Multatuli, 1964), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
40.Sugiarti Siswadi, Sorga Dibumi (Djakarta: Lekra, 1960), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
41.Sobsi, Pita Merah (Djakarta: Dewan Nasional Sobsi, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
42.Utuy T. Sontani, Suling (Djakarta: BP, 1948), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
43.Utuy T. Sontani, Bunga Rumah Makan (Djakarta: BP, 1949), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
44.Utuy T. Sontani, Orang-orang Sial (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
45.Utuy T. Sontani, Si Kabajan (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
46.Utuy T. Sontani, Sang Kuriang (Djakarta: BP, 1959) (Bahasa Indonesia), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
47.Utuy T. Sontani, Manusia Kota (Djakarta: BP, 1961), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
48.Utuy T. Sontani, Sang Kuriang (Djakarta: …. 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
49.Utuy T. Sontani, Selamat Djalan Anak Kufur! (Djakarta: BP, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
50.Utuy T. Sontani, Si Sapar (Djakarta: Sadar, 1964), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
*)dikutip dari situs sejarahsosial.org
**) dikronik dari indonesiabuku.com
1.Pramoedya Ananta Toer, Hoakiau di Indonesia, dilarang oleh penguasa militer pada 1959
2.Sabar Anantaguna, Yang Bertanahair tapi Tak Bertanah, dilarang oleh penguasa militer
3.Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, dilarang oleh penguasa militer pada 1960
4.Agam Wispi, Yang Tak Terbungkamkan, dilarang oleh penguasa militer pada 19 Juli 1961
5.Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (Djakarta: Bagian Penerbitan Lekra, 1961), dilarang oleh penguasa militer pada 1961
6.Soepardo S.H. dkk., Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
7.Pramoedya Ananta Toer, Keluarga Gerilya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
8.Pramoedya Ananta Toer, Perburuan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
9.Pramoedya Ananta Toer, Mereka yang Dilumpuhkan, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
10.Utuy Tatang Sontani, Awal dan Mira, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
11.Utuy Tatang Sontani, Tambera, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
12.Rivai Apin, Tiga Menguak Takdir, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
13.Rukiah, Kejatuhan dan Hati, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
14.Rijono Pratikto, Api dan Cerita-cerita Pendek Lainnya, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
15.Panitia Penyusunan Lagu Sekolah, Jawatan Kebudayaan, Nyanyian untuk Sekolah Rakyat, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
16.Sobron Aidit, Pulang Bertempur (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
17.Sobron Aidit, Derap Revolusi (Djakarta, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
18.Joebaar Ajoeb, Siti Djamilah (Djakarta: Lekra, 1960), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
19.Klara Akustia (A.S. Dharta, Jogaswara), Rangsang Detik (Djakarta: Pembaruan, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
20.S. Anantaguna, Jang bertanahair tapi tidak bertanah (Djakarta: Lekra, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
21.Hr. Bandaharo (Banda Harahap), Sarinah dan Aku (Medan: Central Courant, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
22.Hr. Bandaharo, Dari Bumi Merah (Djakarta: Pembaruan, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
23.Hr. Bandaharo, Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih (Djakarta: Pembaruan, 1958), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
24.Hadi, Dipersimpangan djalan (Djakarta: Purwoko, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
25.Hadi, Jang djatuh dan jang Tumbuh, dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
26.Hadi Sumodanukusumo, Tanah Tersajang (SPD Lekra Djatim, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
27.Rijono Pratikto, Api (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
28.Rijono Pratikto, Si Rangka (Djakarta: Pembangunan, 1958), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
29.F.L. Risakotta, Penjair dan Perdamaian (Djakarta: Komite Perdamaian, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
30.S. Rukiah, Kedjatuhan dan Hati (Djakarta: BP, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
31.S. Rukiah, Tandus (Djakarta: BP, 1950), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
32.S. Rukiah, Kisah Perdjalanan Si Apin (Djakarta: Grafika, t.t.), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
33.S. Rukiah, Djaka Tingkir (Djakarta: BP, 1962), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
34.S. Rukiah, Teuku Hasan Djohan Pahlawan (Djakarta: Grafika, 1957), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
35.Rumambi dkk., Bukit 1211 (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
36.Bakri Siregar, Djedjak Langkah (Djakarta: BP, 1954), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
37.Bakri Siregar, Saidjah dan Adinda (Medan: Sastrawan, 1954) (disadur dari karangan Multatuli), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
38.Bakri Siregar, Tjeramah Sastra (Medan: Pustaka Bali, 1952), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
39.Bakri Siregar, Sedjarah Kesusastraan Indonesia Modern (Djakarta: Akademi Sastra dan Bahasa Multatuli, 1964), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
40.Sugiarti Siswadi, Sorga Dibumi (Djakarta: Lekra, 1960), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
41.Sobsi, Pita Merah (Djakarta: Dewan Nasional Sobsi, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
42.Utuy T. Sontani, Suling (Djakarta: BP, 1948), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
43.Utuy T. Sontani, Bunga Rumah Makan (Djakarta: BP, 1949), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
44.Utuy T. Sontani, Orang-orang Sial (Djakarta: BP, 1951), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
45.Utuy T. Sontani, Si Kabajan (Djakarta: Lekra, 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
46.Utuy T. Sontani, Sang Kuriang (Djakarta: BP, 1959) (Bahasa Indonesia), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
47.Utuy T. Sontani, Manusia Kota (Djakarta: BP, 1961), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
48.Utuy T. Sontani, Sang Kuriang (Djakarta: …. 1959), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
49.Utuy T. Sontani, Selamat Djalan Anak Kufur! (Djakarta: BP, 1963), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
50.Utuy T. Sontani, Si Sapar (Djakarta: Sadar, 1964), dilarang oleh Pembantu Mentri P.D. dan K Bidang Teknis Pendidikan Kol. (Inf.) Drs. M. Setiadi Kartohadikusumo pada 30 November 1965
*)dikutip dari situs sejarahsosial.org
**) dikronik dari indonesiabuku.com
Buku-Buku yang Patut Dibaca sebelum Dikuburkan
Inilah Buku-Buku yang Patut Dibaca sebelum Dikuburkan
1. Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919)
2. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920)
3. Hikayat Kadiroen karya Semaoen (1920)
4. Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1922)
5. Tanah Air karya Muhammad Yamin (1922)
6. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928)
7. Melawat Ke Barat karya Adinegoro (1930)
8. Kalau Tak Untung karya Selasih (1933)
9. Kenang-Kenangan karya Dokter Soetomo (1934)
10.Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
11. Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah (1937)
12. Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona (1938)
13. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA (1939)
14. Belenggu karya Armijn Pane (1940)
15. Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus (1948)
16. Polemik Kebudayaan karya Achdiat K. Mihardja
17. Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949)
18. Yang Terampas dan Yang Putus dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar (1950)
19. Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (1958)
20. Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (1952)
21. Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (1953)
22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I-IV) karya H.B.Jassin (1954-1967)
23. Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH (1956)
24. Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (1956)
25. Si Doel Anak Djakarta Karya Aman Dt. Madjoindo (1956)
26. Malam Jahanam karya Motinggo Busye (1958)
27. Pulang karya Toha Mohtar (1958)
28. Ramayana karya R.A. Kosasih (1960)
29. Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)
30. Matinja Seorang Petani karya Agam Wispi
31. Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (1961)
33. Angkatan 66 Prosa dan Puisi karya H.B. Jassin (1968)
34. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati karya Nasjah Djamin (1968)
35. Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono (1969)
36. Ziarah karya Iwan Simatupang (1969)
37. Heboh Sastra karya H.B. Jassin (sebagai penyunting) (1970)
38. Pariksit karya Goenawan Mohamad (1971)
39. Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat karya Asrul Sani (1972)
40. Karmila karya Marga T (1973)
41. Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini (1973)
42. Sajak-sajak 33 karya Toeti Heraty Noerhadi (1973)
43. Godlob karya Danarto (1975)
44. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo (1976)
45. Meditasi karya Abdul Hadi WM (1976)
46. Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha (1977)
47. Laut Biru Langit Biru karya Ajip Rosidi (1977)
48. Raumanen karya Marianne Katoppo (1977)
49. Upacara karya Korrie Layun Rampan (1978)
50. Dan Perang Pun Usai karya Ismail Marahimin (1979)
51. Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (1980)
52. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (1980-1980-1985-1987)
53. Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. (1981)
54. O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri (1981/1973-1977-1979)
55. Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (1981)
56. Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya (1982)
57. Sastra dan Religiositas karya Y.B Mangunwijaya (1982)
58. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (1982-1985-1986)
59. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata (1983)
60. Olenka karya Budi Darma (1983)
61. Abad yang Berlari karya Afrizal Malna (1984)
62. Hamba-hamba Kebudayaan karya Dami N. Toda (1984)
63. Dari Pojok Sejarah (Sebuah Renungan Perjalanan) karya Emha Ainun Nadjib (1985)
64. Sakerah karya Djamil Soeherman (1985)
65. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer (1987)
66. Antologi Puisi Indonesia Modern: Tonggak karya Linus Suryadi AG (penyunting) (1987)
67. Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noer (1989)
68. Wiro Sableng karya Bastian Tito (1990)
69. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (1991)
70. Para Priyayi karya Umar Kayam (1991)
71. Seri Cerpen Pilihan Kompas 1991-2007
72. Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994)
73. Dan Kematian Makin Akrab karya Soebagio Sastrowardojo (1995)
74. Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin (editor) (1995)
75. Asal Usul Karya Mahbub Djunaidi (1996)
76. Pendekar Super Sakti karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (1996)
77. Senjakala Kebudayaan karya Nirwan Dewanto (1996)
78. Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997)
79. Saman karya Ayu Utami (1998)
80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)
81. Celana karya Joko Pinurbo (1999)
82. Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor (1999)
83. Kali Mati karya Joni Ariadinata (1999)
84. Madura Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron (1999)
85. Memorabilia karya Agus Noor (1999)
86. Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno (1999)
87. Angkatan 2000 karya Korrie Layun Rampan (2000)
88. Nonsens karya Sitok Srengenge (2000)
89. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1 karya Marcus A.S. dan Pax Benedanto (penyunting) (2001)
90. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (2002)
91. Area X Hymne Angkasa Raya karya Eliza V Handayani (2003)
92. Cala Ibi karya Nukila Amal (2003)
93. Kill The Radio karya Dorothea Rosa Herliany (2000)
94. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden (2003)
95. Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan
96. Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy (2004)
97. Cintapuccino karya Icha Rahmanti (2004)
98. Puisi-puisi Mbeling karya Remy Silado (2004)
99. Sastra Cyber Polemik Sastra Cyberpunk karya Saut Situmorang (Ed.) (2004)
100.Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (2005)
* Dinukil dari buku Seratus Buku Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan (IBOEKOE, 2009: 1001 hlm)
1. Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919)
2. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920)
3. Hikayat Kadiroen karya Semaoen (1920)
4. Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1922)
5. Tanah Air karya Muhammad Yamin (1922)
6. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928)
7. Melawat Ke Barat karya Adinegoro (1930)
8. Kalau Tak Untung karya Selasih (1933)
9. Kenang-Kenangan karya Dokter Soetomo (1934)
10.Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
11. Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah (1937)
12. Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona (1938)
13. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA (1939)
14. Belenggu karya Armijn Pane (1940)
15. Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus (1948)
16. Polemik Kebudayaan karya Achdiat K. Mihardja
17. Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949)
18. Yang Terampas dan Yang Putus dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar (1950)
19. Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (1958)
20. Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (1952)
21. Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (1953)
22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I-IV) karya H.B.Jassin (1954-1967)
23. Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH (1956)
24. Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (1956)
25. Si Doel Anak Djakarta Karya Aman Dt. Madjoindo (1956)
26. Malam Jahanam karya Motinggo Busye (1958)
27. Pulang karya Toha Mohtar (1958)
28. Ramayana karya R.A. Kosasih (1960)
29. Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)
30. Matinja Seorang Petani karya Agam Wispi
31. Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (1961)
33. Angkatan 66 Prosa dan Puisi karya H.B. Jassin (1968)
34. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati karya Nasjah Djamin (1968)
35. Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono (1969)
36. Ziarah karya Iwan Simatupang (1969)
37. Heboh Sastra karya H.B. Jassin (sebagai penyunting) (1970)
38. Pariksit karya Goenawan Mohamad (1971)
39. Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat karya Asrul Sani (1972)
40. Karmila karya Marga T (1973)
41. Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini (1973)
42. Sajak-sajak 33 karya Toeti Heraty Noerhadi (1973)
43. Godlob karya Danarto (1975)
44. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo (1976)
45. Meditasi karya Abdul Hadi WM (1976)
46. Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha (1977)
47. Laut Biru Langit Biru karya Ajip Rosidi (1977)
48. Raumanen karya Marianne Katoppo (1977)
49. Upacara karya Korrie Layun Rampan (1978)
50. Dan Perang Pun Usai karya Ismail Marahimin (1979)
51. Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (1980)
52. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (1980-1980-1985-1987)
53. Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. (1981)
54. O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri (1981/1973-1977-1979)
55. Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (1981)
56. Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya (1982)
57. Sastra dan Religiositas karya Y.B Mangunwijaya (1982)
58. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (1982-1985-1986)
59. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata (1983)
60. Olenka karya Budi Darma (1983)
61. Abad yang Berlari karya Afrizal Malna (1984)
62. Hamba-hamba Kebudayaan karya Dami N. Toda (1984)
63. Dari Pojok Sejarah (Sebuah Renungan Perjalanan) karya Emha Ainun Nadjib (1985)
64. Sakerah karya Djamil Soeherman (1985)
65. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer (1987)
66. Antologi Puisi Indonesia Modern: Tonggak karya Linus Suryadi AG (penyunting) (1987)
67. Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noer (1989)
68. Wiro Sableng karya Bastian Tito (1990)
69. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (1991)
70. Para Priyayi karya Umar Kayam (1991)
71. Seri Cerpen Pilihan Kompas 1991-2007
72. Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994)
73. Dan Kematian Makin Akrab karya Soebagio Sastrowardojo (1995)
74. Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin (editor) (1995)
75. Asal Usul Karya Mahbub Djunaidi (1996)
76. Pendekar Super Sakti karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (1996)
77. Senjakala Kebudayaan karya Nirwan Dewanto (1996)
78. Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997)
79. Saman karya Ayu Utami (1998)
80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)
81. Celana karya Joko Pinurbo (1999)
82. Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor (1999)
83. Kali Mati karya Joni Ariadinata (1999)
84. Madura Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron (1999)
85. Memorabilia karya Agus Noor (1999)
86. Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno (1999)
87. Angkatan 2000 karya Korrie Layun Rampan (2000)
88. Nonsens karya Sitok Srengenge (2000)
89. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1 karya Marcus A.S. dan Pax Benedanto (penyunting) (2001)
90. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (2002)
91. Area X Hymne Angkasa Raya karya Eliza V Handayani (2003)
92. Cala Ibi karya Nukila Amal (2003)
93. Kill The Radio karya Dorothea Rosa Herliany (2000)
94. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden (2003)
95. Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan
96. Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy (2004)
97. Cintapuccino karya Icha Rahmanti (2004)
98. Puisi-puisi Mbeling karya Remy Silado (2004)
99. Sastra Cyber Polemik Sastra Cyberpunk karya Saut Situmorang (Ed.) (2004)
100.Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (2005)
* Dinukil dari buku Seratus Buku Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan (IBOEKOE, 2009: 1001 hlm)
PELARANGAN BUKU DARI JAMAN KE JAMAN
PELARANGAN BUKU DARI JAMAN KE JAMAN
ERA DEMOKRASI TERPIMPIN
Praktek pelarangan buku di Indonesia muncul pertama kali pada akhir 1950an, seiring dengan meningkatnya kekuasaan militer dalam perpolitikan Indonesia.
Penerapan status darurat untuk menghadapi berbagai pemberontakan sejumlah perwira militer yang menamakan gerakannya PRRI/Permesta dan DI/TII memberi dalih pada KSAD Mayjen AH Nasution selaku Penguasa Militer, untuk melarang peredaran barang-barang cetakan yang dianggap memuat atau mengandung ‘ketjaman-ketjaman, persangkaan (insinuaties), bahkan penghinaan’ terhadap pejabat negara, memuat atau mengandung ‘pernjataan permusuhan, kebencian atau penghinaan’ terhadap golongan-golongan masyarakat, atau menimbulkan ‘keonaran’. Batasan atas konsep-konsep itu sepenuhnya ditentukan oleh penafsiran subyektif AD.
Larangan tersebut pada awalnya lebih banyak ditujukan pada pers. Sepanjang 1957, penguasa militer melarang penerbitan tidak kurang dari 33 penerbitan dan menutup tiga kantor berita – termasuk di antaranya Kantor Berita Antara. Puluhan wartawan diinterogasi, belasan diantaranya ditahan di rumah tahanan militer. Pada 1959, Penguasa militer melarang peredaran buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Hoakiau di Indonesia dan memenjarakan penulisnya selama satu tahun. Setidaknya tiga buku kumpulan puisi juga dilarang beredar. Salah satu buku kumpulan puisi adalah karya Sabar Anantaguna yang berjudul Yang Bertanahair tapi Tak Bertanah, sementara dua lainnya karya Agam Wispi yang berjudul Yang Tak Terbungkamkan dan Matinya Seorang Petani (Lekra, 1961). Pamflet Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta juga tidak lolos dari pembrangusan.
Parade Sukarelawan-Sukarelawati untuk Pembebasan Irian Barat | foto: koleksi OHD
Pada 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang menghapuskan kontrol efektif terhadap kekuasaannya. Memasuki paruh pertama 1960an, Presiden Soekarno mencanangkan kampanye Ganyang Malaysia (Dwikora) dan Rebut Irian Barat (Trikora) dalam rangka menyelesaikan revolusi nasional. Kampanye itu meningkatkan sentimen anti-nekolim (neo-kolonialisme dan imperialisme). Soekarno kemudian menerbitkan Penetapan Presiden No. 4 Tahun 1963 yang memberi kewenangan penuh pada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran barang-barang cetakan yang dianggap dapat mengganggu ketertiban umum. Seperti pada kasus aturan pelarangan barang cetakan oleh penguasa militer, batasan atas konsep ‘ketertiban umum’ juga diserahkan pada tafsiran subyektif Kejaksaan Agung. Akan tetapi, militer yang masih memiliki pengaruh kuat dalam perpolitikan lokal dan nasional, juga ikut memanfaatkan aturan ini. Buku-buku yang secara sewenang-wenang dianggap memuat gagasan nekolim dilarang.
Di tengah situasi ini, 20 seniman dan budayawan mengeluarkan sebuah pernyataan publik yang kemudian dikenal dengan nama “Manifes Kebudayaan”. Karena pandangan berkesenian mereka dianggap mengganggu konsolidasi bangsa untuk ‘menyelesaikan jalannya revolusi, pada 8 Mei 1964, Presiden Soekarno menyatakan melarang pernyataan tersebut. Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan menanggapi pernyataan Soekarno dengan melarang penggunaan buku-buku karya para pendukung Manifes Kebudayaan sebagai bahan ajar. Sedang berbagai penerbitan, kecuali majalah Basis, tidak berani mempublikasi karya-karya mereka, atau menerima asal nama penulisnya tidak dicantumkan. Para pendukung Manifes Kebudayaan kembali bebas berkarya setelah terjadinya Peristiwa 1965.
ERA ORDE BARU
Peristiwa 1965 yang terjadi pada periode ini menjadi titik balik bagi Indonesia. Dimulai dari peristiwa G30S, yang kemudian berlanjut pada penumpasan dan penghancuran lembaga-lembaga yang dianggap berafiliasi pada PKI serta anggota-anggotanya. Lembaga terpenting yang dibentuk pada periode ini adalah Komando Pemulihan Keamanan dan ketertiban (Kopkamtib) – tepatnya dibentuk pada 10 Oktober 1965. Lembaga ini memiliki wewenang besar untuk mengambil tindakan apa saja dalam rangka ’memulihkan keamanan dan ketertiban’. Hasilnya: jutaan orang diperkirakan mengalami kekerasan, dibunuh dan ditangkap tanpa proses peradilan karena didakwa sebagai anggota atau simpatisan PKI dan ormas-ormas yang berafiliasi dengannya. Secara perlahan, kekuatan kiri dimusnahkan dari Indonesia, tidak hanya dengan cara menumpas organisasi-organisasinya, tapi juga dengan menciptakan sikap anti terhadap ideologinya.
Pembakaran Atribut PKI di Jawa Tengah | foto: W. Sutarto
Selain membentuk lembaga pengawasan keamanan dan ketertiban ini, pemerintah juga menetapkan Tap MPR XXV/ MPRS/ 1966 yang membubarkan PKI dan melarang ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme/ Komunisme. Ketetapan ini menjadi alat penting untuk mengontrol masyarakat secara luas dan menjadi dasar penyusunan berbagai peraturan yang mengekang kebebasan berekspresi dan berkumpul yang tidak terbatas pada bekas anggota PKI atau pengikut Marxisme-Leninisme/ Komunisme.
Sama seperti pada masa Orde Lama, Kejaksaan Agung sebenarnya hanya menerima pengaduan dari lembaga-lembaga lain dan menerbitkan SK pelarangan berdasarkan pengaduan tersebut. Dari konsideran surat-surat keputusan pelarangan memang terlihat bahwa lembaga-lembaga lain seperti BAKIN, Bakorstanas, Bais, ABRI, Polri, Departemen Agama, secara rutin mengirim pandangannya langsung kepada Jaksa Agung. Dalam prakteknya, memang posisi Jaksa Agung Muda bidang Intelijen (JAM Intel) yang hampir selalu ditempati oleh perwira tinggi militer, dengan mudah berhubungan dengan semua instansi penyelenggara ’ketertiban dan ketentraman umum’ dalam mengumpulkan informasi tentang buku-buku ’rawan’.
Kerjasama informal antara jaksa agung dengan lembaga-lembaga (militer) lainnya baru diformalkan pada Oktober 1989 ketika Kejaksaan Agung membentuk Clearing House yang berfungsi meneliti isi sebuah buku dan memberi rekomendasi langsung kepada Jaksa Agung. Melalui SK No. Kep-114/ JA/ 10/ 1989, clearing house secara resmi bekerja di bawah Jaksa Agung dan terdiri atas 19 anggota dari JAM Intel dan Subdirektorat bidang pengawasan media massa, Bakorstanas, Bakin, Bais, ABRI (kemudian menjadi BIA), Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta Departemen Agama.
Lembaga pemerintah lain selain kejaksaan agung yang melarang buku adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan RI no. 1381/1965 tentang Larangan Mempergunakan Buku-buku Pelajaran, Perpustakaan dan Kebudayaan yang Dikarang oleh Oknum-oknum dan Anggota-anggota Ormas/Orpol yang Dibekukan Sementara Waktu Kegiatannya, disertai dengan dua buah lampiran. Lampiran pertama berisi 11 daftar buku pelajaran yang dilarang pemakaiannya, antara lain buku-buku karangan Soepardo SH, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, Rivai apin, Rukiyah, dan Panitia Penyusun Lagu Sekolah Jawatan Kebudayaan. Sedangkan lampiran kedua berisi 52 buku-buku karangan pengarang-pengarang LEKRA yang harus dibekukan seperti Sobron Aidit, Jubar Ayub, Klara Akustian/ A.S Dharta, Hr. Bandaharo, Hadi, Hadi Sumodanukusumo, Riyono Pratikto, F.L Risakota, Rukiah, Rumambi, Bakri Siregar, Sugiati Siswadi, Sobsi, Utuy Tatang. S, Pramoedya Ananta Toer, Agam Wispi, dan Zubir A.A.
Selain Departemen P&K, Menteri Perdagangan dan Koperasi juga mengeluarkan Keputusan Menteri no. 286/ KP/ XII/ 78 yang diturunkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri No. 01/ DAGLU/ KP/ III/ 79 melarang impor, perdagangan dan pengedaran segala jenis barang cetakan dalam huruf/ aksara dan bahasa Cina. Pada masa itu, pemerintah Cina yang berideologi komunisme, dianggap berbahaya dan mengimpor barang cetakannya dapat membuka kesempatan untuk menyebarluaskan ideologi tersebut. Larangan ini membuat pengecualian untuk barang cetakan yang bersifat ilmiah, namun barang-barang tersebut harus memperoleh persetujuan dari Departemen P&K, ijin beredar dari Kejaksaan Agung dan importir pelaksana harus memiliki TAPPI(S) serta ditunjuk oleh Departemen Perdagangan dan Koperasi setelah mendengar pendapat Kejaksaan Agung. Dalam prakteknya, selain menyita buku, pemerintah juga menyita dan memusnahkan kaset dan CD berirama mandarin serta beraksara Cina. Tindakan pelarangan ini selain berkaitan dengan pemutusan hubungan dengan Cina, juga terkait dengan politik diskriminasi warga Tionghoa di dalam negeri.
ERA REFORMASI
Gerakan Reformasi berhasil merebut kembali kemerdekaan berkumpul, berserikat, dan berpendapat setelah puluhan tahun diberangus di bawah Rezim Orde Baru. Kemenangan tersebut dikukuhkan oleh MPR melalui Perubahan Kedua UUD Negara RI Tahun 1945. Pada 2004, DPR mencabut kewenangan Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran barang cetakan melalui UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI. Akan tetapi, pada 2006 Kejaksaan Agung kembali melarang peredaran buku.
Menurunkan Suharto | foto: Antara
Buku yang dilarang pertamakali, pada era ini adalah pamflet yang ditulis Ma’sud Simanungkalit yang berjudul Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al Qur’an. Karena UU Kejaksaan RI yang baru tidak lagi memberi kewenangan pada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran buku, maka Kejaksaan Agung bergayut pada UU peninggalan keadaan darurat periode Demokrasi Terpimpin, yaitu No. 4/PNPS/1963, untuk membenarkan keputusannya.
Pada 2007 Kejaksaan Agung bertindak semakin agresif dengan melarang 13 buku teks sejarah untuk SLTP dan SLA yang mengacu pada Kurikulum 2004. Kejaksaan Agung berdalih buku-buku tersebut memutar balik sejarah karena tidak mencantumkan kata ’PKI’ dibelakang ‘G-30-S’ dan tidak memasukkan Peristiwa Madiun 1948. Di tingkat lapangan, sejumlah kejaksaan negeri/tinggi memperluas pelarangan tidak hanya pada 13 judul buku, tapi juga pada buku-buku teks sejarah lain. Kejaksaan Tinggi Pangkal Pinang bahkan memperluas pelarangan hingga mencakup 54 judul buku sejarah . Tidak hanya pelarangan yang dilakukan kejaksaan, tetapi juga pemusnahan dengan cara membakar buku-buku teks yang disita.
Selanjutnya, pada akhir 2009 Kejaksaan Agung melarang lima buku, diantaranya karya John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (ISSI & Hasta Mitra, 2008) serta karya Rhoma Dwi Yulianti dan Muhiddin M Dahlan, Lekra tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965 (Yogyakarata: Merakesumba, 2008). Buku-buku itu dilarang karena dianggap ‘dapat mengganggu ketertiban umum’. Kejaksaan Agung memonopoili definisi atas ‘ketertiban umum’ dan tidak merasa perlu membuktikan bahwa peredaran buku itu memang meresahkan masyarakat. Padahal buku-buku itu telah beredar selama satu tahun atau lebih tanpa menimbulkan gejolak sama sekali.
Pelarangan buku masih dapat terus terjadi di masa mendatang selama UU No. 4/PNPS/1963 terus dipertahankan. Pada awal Januari 2010, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengumumkan akan merekomendasikan pada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran 20 judul buku.
Dua puisi dalam buku kumpulan puisi Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (Jakarta: Bagian Penerbitan Lekra, 1961), yang dilarang Penguasa Perang pada 1960an.
Latar belakang puisi pertama "Latini" adalah penggusuran tanah di Kediri, sedang puisi kedua "Matinya Seorang Petani" adalah peristiwa penggusuran petani di Tanjung Morawa.
LATINI
latini, ah latini
gugur sebagai ibu
anak ketjil dalam gendongan
latini, ah latini
gugur diberondong peluru
baji mungil dalam kandungan
tanah dirampas
suami dipendjara
tengkulak mana akan beruntung?
desa ditumpas
traktor meremuk palawidja
pembesar mana akan berkabung?
gugur latini sedang masjumi berganti baju
gugur pak tani dan dadanya diberondong peluru
gugur djenderal, mulutnya manis hatinya palsu
beri aku air, aku haus
dengan lapar tubuh lemas
aku datang pada mereka
aku pulang padamu
sedang tanah kering dikulit
kita makan samasama
kudian muram
latini, ah latini
tapi, ah, kaum tani
kita yang berkabung akan mebajarnya suatu hari
(Dari antologi:"Matinya Seorang Petani", Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan
Rakjat", Jakarta ...)
MATINJA SEORANG PETANI
(buat L. Darman Tambunan)
1.
depan kantor tuan bupati
tersungkur seorang petani
karena tanah
karena tanah
dalam kantor barisan tani
silapar marah
karena darah
karena darah
tanah dan darah
memutar sedjarah
dari sini njala api
dari sini damai abadi
2.
dia djatuh
rubuh
satu peluru
dalam kepala
ingatannya melajang
didakap siksa
tapi siksa tjuma
dapat bangkainja
ingatannja kedjaman-muda
dan anaknja jang djadi tentera
-- ah, siapa kasi makan mereka? --
isteriku, siangi padi
biar mengamuk pada tangkainja
kasihi mereka
kasihi mereka
kawan-kawan kita
suram
padam
dan hitam
seperti malam
3.
mereka berkata
jang berkuasa
tapi membunuh rakjatnja
mesti turun tahta
4.
padi bunting bertahan
dalam angin
suara loliok disajup gubuk
menghirup hidup
padi bunting
menuai dengan angin
ala, wanita berani djalan telandjang
di sitjanggang, di sitjanggang
dimana tjangkol dan padi dimusnahkan
mereka jang berumah apendjara
baji digendongan
djuga tahu arti siksa
mereka berkata
jang berkuasa
tapi merampas rakjatnja
mesti turun tahta
sebelum dipaksa
djika datang traktor
bikin gubuk hantjur
tiap pintu kita gedor
kita gedor.
-----------
Keterangan:
+ Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak
(Sumber: Antologi Bersama, "Matinya Seorang Petani").
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." _Pramoedya Ananta Toer
ERA DEMOKRASI TERPIMPIN
Praktek pelarangan buku di Indonesia muncul pertama kali pada akhir 1950an, seiring dengan meningkatnya kekuasaan militer dalam perpolitikan Indonesia.
Penerapan status darurat untuk menghadapi berbagai pemberontakan sejumlah perwira militer yang menamakan gerakannya PRRI/Permesta dan DI/TII memberi dalih pada KSAD Mayjen AH Nasution selaku Penguasa Militer, untuk melarang peredaran barang-barang cetakan yang dianggap memuat atau mengandung ‘ketjaman-ketjaman, persangkaan (insinuaties), bahkan penghinaan’ terhadap pejabat negara, memuat atau mengandung ‘pernjataan permusuhan, kebencian atau penghinaan’ terhadap golongan-golongan masyarakat, atau menimbulkan ‘keonaran’. Batasan atas konsep-konsep itu sepenuhnya ditentukan oleh penafsiran subyektif AD.
Larangan tersebut pada awalnya lebih banyak ditujukan pada pers. Sepanjang 1957, penguasa militer melarang penerbitan tidak kurang dari 33 penerbitan dan menutup tiga kantor berita – termasuk di antaranya Kantor Berita Antara. Puluhan wartawan diinterogasi, belasan diantaranya ditahan di rumah tahanan militer. Pada 1959, Penguasa militer melarang peredaran buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Hoakiau di Indonesia dan memenjarakan penulisnya selama satu tahun. Setidaknya tiga buku kumpulan puisi juga dilarang beredar. Salah satu buku kumpulan puisi adalah karya Sabar Anantaguna yang berjudul Yang Bertanahair tapi Tak Bertanah, sementara dua lainnya karya Agam Wispi yang berjudul Yang Tak Terbungkamkan dan Matinya Seorang Petani (Lekra, 1961). Pamflet Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta juga tidak lolos dari pembrangusan.
Parade Sukarelawan-Sukarelawati untuk Pembebasan Irian Barat | foto: koleksi OHD
Pada 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang menghapuskan kontrol efektif terhadap kekuasaannya. Memasuki paruh pertama 1960an, Presiden Soekarno mencanangkan kampanye Ganyang Malaysia (Dwikora) dan Rebut Irian Barat (Trikora) dalam rangka menyelesaikan revolusi nasional. Kampanye itu meningkatkan sentimen anti-nekolim (neo-kolonialisme dan imperialisme). Soekarno kemudian menerbitkan Penetapan Presiden No. 4 Tahun 1963 yang memberi kewenangan penuh pada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran barang-barang cetakan yang dianggap dapat mengganggu ketertiban umum. Seperti pada kasus aturan pelarangan barang cetakan oleh penguasa militer, batasan atas konsep ‘ketertiban umum’ juga diserahkan pada tafsiran subyektif Kejaksaan Agung. Akan tetapi, militer yang masih memiliki pengaruh kuat dalam perpolitikan lokal dan nasional, juga ikut memanfaatkan aturan ini. Buku-buku yang secara sewenang-wenang dianggap memuat gagasan nekolim dilarang.
Di tengah situasi ini, 20 seniman dan budayawan mengeluarkan sebuah pernyataan publik yang kemudian dikenal dengan nama “Manifes Kebudayaan”. Karena pandangan berkesenian mereka dianggap mengganggu konsolidasi bangsa untuk ‘menyelesaikan jalannya revolusi, pada 8 Mei 1964, Presiden Soekarno menyatakan melarang pernyataan tersebut. Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan menanggapi pernyataan Soekarno dengan melarang penggunaan buku-buku karya para pendukung Manifes Kebudayaan sebagai bahan ajar. Sedang berbagai penerbitan, kecuali majalah Basis, tidak berani mempublikasi karya-karya mereka, atau menerima asal nama penulisnya tidak dicantumkan. Para pendukung Manifes Kebudayaan kembali bebas berkarya setelah terjadinya Peristiwa 1965.
ERA ORDE BARU
Peristiwa 1965 yang terjadi pada periode ini menjadi titik balik bagi Indonesia. Dimulai dari peristiwa G30S, yang kemudian berlanjut pada penumpasan dan penghancuran lembaga-lembaga yang dianggap berafiliasi pada PKI serta anggota-anggotanya. Lembaga terpenting yang dibentuk pada periode ini adalah Komando Pemulihan Keamanan dan ketertiban (Kopkamtib) – tepatnya dibentuk pada 10 Oktober 1965. Lembaga ini memiliki wewenang besar untuk mengambil tindakan apa saja dalam rangka ’memulihkan keamanan dan ketertiban’. Hasilnya: jutaan orang diperkirakan mengalami kekerasan, dibunuh dan ditangkap tanpa proses peradilan karena didakwa sebagai anggota atau simpatisan PKI dan ormas-ormas yang berafiliasi dengannya. Secara perlahan, kekuatan kiri dimusnahkan dari Indonesia, tidak hanya dengan cara menumpas organisasi-organisasinya, tapi juga dengan menciptakan sikap anti terhadap ideologinya.
Pembakaran Atribut PKI di Jawa Tengah | foto: W. Sutarto
Selain membentuk lembaga pengawasan keamanan dan ketertiban ini, pemerintah juga menetapkan Tap MPR XXV/ MPRS/ 1966 yang membubarkan PKI dan melarang ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme/ Komunisme. Ketetapan ini menjadi alat penting untuk mengontrol masyarakat secara luas dan menjadi dasar penyusunan berbagai peraturan yang mengekang kebebasan berekspresi dan berkumpul yang tidak terbatas pada bekas anggota PKI atau pengikut Marxisme-Leninisme/ Komunisme.
Sama seperti pada masa Orde Lama, Kejaksaan Agung sebenarnya hanya menerima pengaduan dari lembaga-lembaga lain dan menerbitkan SK pelarangan berdasarkan pengaduan tersebut. Dari konsideran surat-surat keputusan pelarangan memang terlihat bahwa lembaga-lembaga lain seperti BAKIN, Bakorstanas, Bais, ABRI, Polri, Departemen Agama, secara rutin mengirim pandangannya langsung kepada Jaksa Agung. Dalam prakteknya, memang posisi Jaksa Agung Muda bidang Intelijen (JAM Intel) yang hampir selalu ditempati oleh perwira tinggi militer, dengan mudah berhubungan dengan semua instansi penyelenggara ’ketertiban dan ketentraman umum’ dalam mengumpulkan informasi tentang buku-buku ’rawan’.
Kerjasama informal antara jaksa agung dengan lembaga-lembaga (militer) lainnya baru diformalkan pada Oktober 1989 ketika Kejaksaan Agung membentuk Clearing House yang berfungsi meneliti isi sebuah buku dan memberi rekomendasi langsung kepada Jaksa Agung. Melalui SK No. Kep-114/ JA/ 10/ 1989, clearing house secara resmi bekerja di bawah Jaksa Agung dan terdiri atas 19 anggota dari JAM Intel dan Subdirektorat bidang pengawasan media massa, Bakorstanas, Bakin, Bais, ABRI (kemudian menjadi BIA), Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta Departemen Agama.
Lembaga pemerintah lain selain kejaksaan agung yang melarang buku adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan RI no. 1381/1965 tentang Larangan Mempergunakan Buku-buku Pelajaran, Perpustakaan dan Kebudayaan yang Dikarang oleh Oknum-oknum dan Anggota-anggota Ormas/Orpol yang Dibekukan Sementara Waktu Kegiatannya, disertai dengan dua buah lampiran. Lampiran pertama berisi 11 daftar buku pelajaran yang dilarang pemakaiannya, antara lain buku-buku karangan Soepardo SH, Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, Rivai apin, Rukiyah, dan Panitia Penyusun Lagu Sekolah Jawatan Kebudayaan. Sedangkan lampiran kedua berisi 52 buku-buku karangan pengarang-pengarang LEKRA yang harus dibekukan seperti Sobron Aidit, Jubar Ayub, Klara Akustian/ A.S Dharta, Hr. Bandaharo, Hadi, Hadi Sumodanukusumo, Riyono Pratikto, F.L Risakota, Rukiah, Rumambi, Bakri Siregar, Sugiati Siswadi, Sobsi, Utuy Tatang. S, Pramoedya Ananta Toer, Agam Wispi, dan Zubir A.A.
Selain Departemen P&K, Menteri Perdagangan dan Koperasi juga mengeluarkan Keputusan Menteri no. 286/ KP/ XII/ 78 yang diturunkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri No. 01/ DAGLU/ KP/ III/ 79 melarang impor, perdagangan dan pengedaran segala jenis barang cetakan dalam huruf/ aksara dan bahasa Cina. Pada masa itu, pemerintah Cina yang berideologi komunisme, dianggap berbahaya dan mengimpor barang cetakannya dapat membuka kesempatan untuk menyebarluaskan ideologi tersebut. Larangan ini membuat pengecualian untuk barang cetakan yang bersifat ilmiah, namun barang-barang tersebut harus memperoleh persetujuan dari Departemen P&K, ijin beredar dari Kejaksaan Agung dan importir pelaksana harus memiliki TAPPI(S) serta ditunjuk oleh Departemen Perdagangan dan Koperasi setelah mendengar pendapat Kejaksaan Agung. Dalam prakteknya, selain menyita buku, pemerintah juga menyita dan memusnahkan kaset dan CD berirama mandarin serta beraksara Cina. Tindakan pelarangan ini selain berkaitan dengan pemutusan hubungan dengan Cina, juga terkait dengan politik diskriminasi warga Tionghoa di dalam negeri.
ERA REFORMASI
Gerakan Reformasi berhasil merebut kembali kemerdekaan berkumpul, berserikat, dan berpendapat setelah puluhan tahun diberangus di bawah Rezim Orde Baru. Kemenangan tersebut dikukuhkan oleh MPR melalui Perubahan Kedua UUD Negara RI Tahun 1945. Pada 2004, DPR mencabut kewenangan Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran barang cetakan melalui UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI. Akan tetapi, pada 2006 Kejaksaan Agung kembali melarang peredaran buku.
Menurunkan Suharto | foto: Antara
Buku yang dilarang pertamakali, pada era ini adalah pamflet yang ditulis Ma’sud Simanungkalit yang berjudul Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al Qur’an. Karena UU Kejaksaan RI yang baru tidak lagi memberi kewenangan pada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran buku, maka Kejaksaan Agung bergayut pada UU peninggalan keadaan darurat periode Demokrasi Terpimpin, yaitu No. 4/PNPS/1963, untuk membenarkan keputusannya.
Pada 2007 Kejaksaan Agung bertindak semakin agresif dengan melarang 13 buku teks sejarah untuk SLTP dan SLA yang mengacu pada Kurikulum 2004. Kejaksaan Agung berdalih buku-buku tersebut memutar balik sejarah karena tidak mencantumkan kata ’PKI’ dibelakang ‘G-30-S’ dan tidak memasukkan Peristiwa Madiun 1948. Di tingkat lapangan, sejumlah kejaksaan negeri/tinggi memperluas pelarangan tidak hanya pada 13 judul buku, tapi juga pada buku-buku teks sejarah lain. Kejaksaan Tinggi Pangkal Pinang bahkan memperluas pelarangan hingga mencakup 54 judul buku sejarah . Tidak hanya pelarangan yang dilakukan kejaksaan, tetapi juga pemusnahan dengan cara membakar buku-buku teks yang disita.
Selanjutnya, pada akhir 2009 Kejaksaan Agung melarang lima buku, diantaranya karya John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (ISSI & Hasta Mitra, 2008) serta karya Rhoma Dwi Yulianti dan Muhiddin M Dahlan, Lekra tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965 (Yogyakarata: Merakesumba, 2008). Buku-buku itu dilarang karena dianggap ‘dapat mengganggu ketertiban umum’. Kejaksaan Agung memonopoili definisi atas ‘ketertiban umum’ dan tidak merasa perlu membuktikan bahwa peredaran buku itu memang meresahkan masyarakat. Padahal buku-buku itu telah beredar selama satu tahun atau lebih tanpa menimbulkan gejolak sama sekali.
Pelarangan buku masih dapat terus terjadi di masa mendatang selama UU No. 4/PNPS/1963 terus dipertahankan. Pada awal Januari 2010, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengumumkan akan merekomendasikan pada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran 20 judul buku.
Dua puisi dalam buku kumpulan puisi Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (Jakarta: Bagian Penerbitan Lekra, 1961), yang dilarang Penguasa Perang pada 1960an.
Latar belakang puisi pertama "Latini" adalah penggusuran tanah di Kediri, sedang puisi kedua "Matinya Seorang Petani" adalah peristiwa penggusuran petani di Tanjung Morawa.
LATINI
latini, ah latini
gugur sebagai ibu
anak ketjil dalam gendongan
latini, ah latini
gugur diberondong peluru
baji mungil dalam kandungan
tanah dirampas
suami dipendjara
tengkulak mana akan beruntung?
desa ditumpas
traktor meremuk palawidja
pembesar mana akan berkabung?
gugur latini sedang masjumi berganti baju
gugur pak tani dan dadanya diberondong peluru
gugur djenderal, mulutnya manis hatinya palsu
beri aku air, aku haus
dengan lapar tubuh lemas
aku datang pada mereka
aku pulang padamu
sedang tanah kering dikulit
kita makan samasama
kudian muram
latini, ah latini
tapi, ah, kaum tani
kita yang berkabung akan mebajarnya suatu hari
(Dari antologi:"Matinya Seorang Petani", Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan
Rakjat", Jakarta ...)
MATINJA SEORANG PETANI
(buat L. Darman Tambunan)
1.
depan kantor tuan bupati
tersungkur seorang petani
karena tanah
karena tanah
dalam kantor barisan tani
silapar marah
karena darah
karena darah
tanah dan darah
memutar sedjarah
dari sini njala api
dari sini damai abadi
2.
dia djatuh
rubuh
satu peluru
dalam kepala
ingatannya melajang
didakap siksa
tapi siksa tjuma
dapat bangkainja
ingatannja kedjaman-muda
dan anaknja jang djadi tentera
-- ah, siapa kasi makan mereka? --
isteriku, siangi padi
biar mengamuk pada tangkainja
kasihi mereka
kasihi mereka
kawan-kawan kita
suram
padam
dan hitam
seperti malam
3.
mereka berkata
jang berkuasa
tapi membunuh rakjatnja
mesti turun tahta
4.
padi bunting bertahan
dalam angin
suara loliok disajup gubuk
menghirup hidup
padi bunting
menuai dengan angin
ala, wanita berani djalan telandjang
di sitjanggang, di sitjanggang
dimana tjangkol dan padi dimusnahkan
mereka jang berumah apendjara
baji digendongan
djuga tahu arti siksa
mereka berkata
jang berkuasa
tapi merampas rakjatnja
mesti turun tahta
sebelum dipaksa
djika datang traktor
bikin gubuk hantjur
tiap pintu kita gedor
kita gedor.
-----------
Keterangan:
+ Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak
(Sumber: Antologi Bersama, "Matinya Seorang Petani").
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." _Pramoedya Ananta Toer
AGAM WISPI, SANG PENYAIR ITUPUN SAMPAI DI UJUNG PERJALANANNYA
AGAM WISPI, SANG PENYAIR ITUPUN SAMPAI DI UJUNG PERJALANANNYA
Ucapan Selamat Jalan Kepada Seorang Penyair
Oleh JJ.Kusni
Penyair dan penulis cerita pendek, Soeprijadi Tomodihardjo pada 31 Desember 2002
menyuratiku setelah hampir sepuluh tahun tak saling bertemu dan berkabar. Dalam
surat singkatnya itu Suprijadi antara lain menulis:
"Sementara itu saya kemarin mendapat berita tentang Bung Agam. Keadaannya kian
parah. Dokter bilang tinggal sedikit sekali harapan sejak kena radang paru
akhir-akhir ini. Semoga masih tersisa sejemput mikjijat agar Bung Agam kembali
sehat".
Pagi ini (01 01 2003), Suprijadi, yang pernah bersama-sama bekerja di sebuah
kantor berita, kembali mengirimku berita yang menyatakan:
"Bung Agam meninggal dunia tadi malam jam 01.00 di verplichthuis -- rumah jompo
tempat tinggalnya di Amsterdam selama ini".
Berita ini dikonfirmasikan oleh surat Mas Hersri Setiawan yang bersama-sama Bung
Sulardjo sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam pengurusan jenazah Agam
Wispi. Kak Setiawan mengatakan dalam surat pandaknya bahwa jenazah Bung Agam
akan dikremasi -- hanya tanggalnya belum bisa mereka tetapkan. Agam Wispi
meninggal "pada jam 12.00 tengah malam tadi -- justru pada saat ganti tahun",
tulis Hersri (01 Januari 2003).
Berita dari kedua kawan ini mengingatkan aku kata-kata Agam Wispi yang dalam
pergaulan sehari-hari biasa dipanggil Bung Agam, disingkat Gam atau Wispi,
disingkat Wis. Hanya yang paling sering digunakan oleh teman-temannya adalah
Agam atau Gam. Kata-kata Agam berikut ini, ia tulis dalam sebuah sanjak "Ode
Untuk Pak Tuo" alias M.Husein seorang sahabat dari Minang yang juga telah lama
meninggal juga di negeri Belanda:
"bintang-bintang pudar di langit pagi musim panas
ah, mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas"
Agam telah menepati ajakannya "mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas"
ketika tadi malam pada pergantian tahun, ia yang dalam kata-katanya sendiri:
".........................
kau menutup mata
mati
sederhana begitu saja"
("Terzina Maut In Memoriam Yubadi Tarmidi"di dalam: "Di Negeri Orang, Puisi
Indonesia Eksil", Amanah Lontar & Yayasan Sejarah Budaya Indonesia, Amsterdam,
April 2002, hlm.37).
Kemarin malam Agam telah "menutup mata/mati/sederhana begitu saja" dengan "badan
sebatang di rantau orang"(dari sanjak A.Wispi: "Keluarga"). Agam sang penyair
itupun sampai sudah di ujung perjalanannya, dan perjalanannya berakhir di
"rantau orang" jauh dari tanahair dan pepohonan hijau tanahairnya yang inipun
juga sudah berada dalam ramalan Agam beberapa tahun dahulu:
"di mana kau
pohonku hijau?
dalam puisimu, wahai perantau
dalam cintamu jauh di pulau"
(dari sanjak: "Pulang")
Agam mengakhir perjalanannya dalam keadaan:
"indonesia! hanya tinggal kenangan"
(dari, Agam Wispi, "Ode Untuk Pak Tuo")
Jenazah Agam pun diurus oleh teman-temannya seperti halnya dengan teman-teman
se"eksil" Agam seperti halnya dengan pengurusan mereka yang telah meninggal di
berbagai negeri sebelumnya.
Mati seorang diri begini sebagai keadaan yang akan ia hadapi, sudah sejak lama
Agam lukiskan sendiri dalam sanjaknya:
"dan suatu hari: kau mati
dalam sunyi
tentu! sendirian: sendiri"
(dari:"Terzina Maut, In Memoriam Yubadi Tarmidi").
Rasa sendirian ini juga diungkapkan oleh Agam dalam kumpulan sanjaknya "Sahabat"
yang ia tulis sepulang dari Republik Demokrasi Djerman, serta dalam sanjaknya
"Pulang" yang ia tulis sebagai tanda terimakasih kepada Goenawan Mohamad yang
telah mengundangnya ke Indonesia:
"puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang
puisi, hanya kaulah lagi pacarku terbang"
Kalau sekarang jenazahnya diurus oleh kawan-kawannya seeksilan, hal inipun
sudah berada dalam perhitungan kesadaran Agam ketika ia menulis tentang arti
seorang sahabat baginya:
"ketemu sahabat lama mahabagia daripada
di surga mana pun!"
(dari: "Dua Sahabat Lama").
PERANAN PENYAIR DI MATA AGAM WISPI:
Agam memang lebih dikenal sebagai penyair karena karya yang lahir dari tangannya
terutama puisi dan sebuah karya drama berjudul: Gerbong. Artikel atau esei
sangat sedikit dia tulis untuk tidak mengatakan tidak pernah ia tulis. Pikiran
dan perasaannya lebih banyak ia tuangkan melalui media puisi.
Apa arti puisi dan peranan penyair dalam kehidupan bagi Agam? Hal inipun kita
dapatkan melalui puisi-puisinya, antara lain:
"asahan, penyair adalah pendahulu semangat zaman
tak ada tokoh politik berani minta maaf
kepada mendelstam
karena serangkum sajaknya mati disiksa
di siberia buangan"
(dari: Agam Wispi, "Kepada Penyair Asahan").
Sebagai "pendahulu semangat zaman" ini, Agam sebagai penyair selalu
memperhatikan dan menaruh harapan pada generasi muda sebagai pelanjut dan
pelaksana mimpi-mimpi manusiawi yang belum tunai, tentang mana antara lain ia
berkata:
"gugur bunga dari tampuknya
di musim nanti
berkembang lagi"
(dari: Agam Wispi, "Gugur Bunga")
Sanjak ini oleh komponis Utomo (bukan nama benar dan komponis Jakarta inipun
juga telah meninggal di Jerman Barat) telah dibuatkan lagu.
Hanya, bunga yang gugur dari tampuknya itu akan bisa berkembang lagi di musim
nanti apabila manusia dari generasi yang diharapkan Agam ini mampu:
"menziarahi dirinya sendiri
membangkitkan dalam diri apa-apa yang sudah mati"
(dari: Agam Wispi, "Ziarah")
Menurut Agam hanya dengan syarat demikianlah kita bisa menjadi satu sosok atau
generasi yang selalu menyala bagaikan matahari kedinginan sekalipun di tengah
salju berkilauan.
"matahari kedinginan
di atas salju berkilauan"
(dari: Agam Wispi, "Untuk Sitor")
Memang kedinginan karena suasana di luar yang mengitarinya tapi ia tetap
matahari yang memancarkan sinar dan:
"......................
njalanya
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanya panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanya?
dan kita merebut kedua-duanja"
..............................
(dari: Agam Wispi, "Surabaja", 1965).
..................
Boleh jadi lukisan ini juga menggambarkan wajah jiwa Agam hingga akhir
perjalanannya ketika "usianya lemas" dan "menutup mata/mati/dalam sunyi?"
Menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengutip apa yang ia tulis di rembang petang
usianya melalui sanjak "Ode Untuk Pak Tuo":
"di musim semi yang akan datang
taburkan bunga cinta persahabatan"
Sebagai penyair yang digambarkannya sebagai pejalan yang melangkah mendahului
zamannya, Wispi kembali dan lagi-lagi berkata bahwa matahari itu tetap ada
sekalipun nampak kedinginan di tengah salju. Musim semi akan tiba sekalipun
sekarang kita berada di puncak musim dingin. Keyakinan ini didasarkan pada
pengamatan betapa banyaknya "bintang-bintang berjatuhan di langit malam/fajar
merekah...", betapa banyaknya "bintang-bintang pudar di langit pagi musim panas"
karena itu bersama T. S. Eliot yang dikutip oleh Agam dalam sebuah sanjaknya,
menawarkan sebuah jalan keluar sesuai peranan penyair "mari berjalan dan
berjalan sampai usia lemas". Untuk menjadi "matahari yang selalu menyala" dan
mencapai "fajar merekah" dituntut ketahanan menghadapi dan mengalahkan dingin.
Tanpa ketahanan dan kesanggupan ini kita tidak bakal mampu menempuh jalan yang
juga oleh Arief Budiman disebut sebagai "jalan sunyi".
SELINTAS PERJALANAN HIDUP AGAM WISPI:
Agam lahir pada tanggal 31 Desember 1930 di Aceh. Memulai kariernya sebagai
wartawan dan redaktur kebudayaan di "Harian Kerakyatan" dan "Pendorong"
Medan dari tahun 1952 sampai 1957. Sewaktu pindah ke Jakarta tahun 1957, Agam
menduduki kedudukan yang sama sebagai redaktur kebudayaan di "Harian Rakjat"
sampai tahun 1962 (terseling antara 1958-1959, Agam belajar jurnalistik terutama
masalah percetakan, di Berlin). Sepulang dari Jerman Timur ia menulis kusanjak
"Sahabat". Antara tahun 1962 sampai 1965, Agam Wispi tercatat sebagai perwira
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sekaligus dikenal sebagai wartawan dan
penyair dengan sanjak yang paling banyak dibacakan di mana-mana: "Demokrasi!"
yang antara lain berbunyi :
"jenderal
telah kupasang bintang-bintang di dada kalian
dari rejam tuan tanah dan lintah
kutuntut bintangmu: mana tanah!"
Pada bulan Mei 1965, Agam Wispi diundang ke Vietnam selama beberapa bulan dan
sempat bertemu dengan Ho Chi Minh dan karena terjadinya Tragedi Nasional
September 1965, sejak itu sampai Agam mengakhiri perjalanan hidupnya kemarin
malam, Agam tak bisa kembali ke Indonesia dan menjadi orang "klayaban" di luar
negeri.
Dari 1965 sampai Desember 1970, Agam bermukim di Republik Rakyat Tiongkok. Lalu
pada 1973 melalui Uni Soviet, sampai 1978 Agam bermukim di Leipzig, Jerman
Timur. Di kota ini -- kota yang tidak asing baginya, Agam menggunakan kesempatan
untuk belajar sastra di Institut für Literatur dan bekerja di perpustakaan
sebagai pustakawan di Deutsche Bucheret. Selama berada di kota ini pula , Agam
menulis kusanjaknya "Eksil" yang belum diterbitkan sampai sekarang dan
menyelesaikan terjemahan Faust karya W. Goethe serta sudah diterbitkan di
Indonesia.
Pada tahun 1988 Agam bermukim di Amsterdam sampai ia meninggal. Atas undangan
Goenawan Mohamad, Agam berkesempatan pulang (berkunjung sebentar) ke Indonesia
dan dari perjalanan ini ia menulis sanjak "PULANG" yang ia dedikasikan kepada
Goenawan Mohamad.
Sanjak Agam yang paling sering dibacakan di mana-mana sampai pada tahun 1965
sebelum Tragedi Nasional September 1965 adalah: "Demokrasi", "Matinya Seorang
Petani" dan "Latini" sama populernya dengan sanjak S.W. Koentjahyo: "Aku Anak
Tionghoa", "Tak Seorang Berniat Pulang" karya HR Bandaharo atau "Yang
Bertanahair Tapi Tak Bertanah", karya Sabarsantoso Anantaguna.
BEBERAPA KARYA-KARYA AGAM WISPI:
Seperti kukatakan di atas, Wispi terutama banyak menulis syair daripada
bentuk-bentuk sastra lainnya. Waktu di Medan, ia telah menulis sebuah drama
Gerbong yang agaknya merupakan karya drama tunggalnya karena setelah itu Agam
memusatkan perhatian pada penulisan puisi. Sanjak-sanjak ini terkumpul baik
dalam bentuk antologi bersama maupun dalam bentuk antologi tunggal alias
perorangan.
Yang dalam bentuk antologi puisi bersama antara lain: "Matinya Seorang Petani"
Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakjat, Jakarta, 1961); "Kepada Partai"
(Jajasan Pembaruan, Djakarta,1965); "Viva Cuba!",(Jajasan Pembaruan, Jakarta,
1963); "Nasi dan Melati" (tidak ingat penerbit dan tahunnya); "Di Negeri Orang,
Puisi Penyair Indonesia Eksil", (Amanah Lontar Jakarta dan Yayasan Sejarah
Budaya Indonesia, Amsterdam, April 2002); "Berdua Sejalan" (bersama Asahan Aidit
-- belum terbit).
Sedangkan antologi perorangan antara lain: "Sahabat" , "Yang Tak Terbungkamkan"
(Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakjat, Jakarta, 1965), Kronologi In
Memoriam 19853-1994, Eksil (belum terbit) dan karya-karya terpencar lainnya di
berbagai majalah dan suratkabar baik di tanahair maupun di luar negeri. Sejak
bermukim di Belanda, Agam turut serta menangani dan menyumbang majalah
kebudayaan :Arah dan Kreasi.
BEBERAPA PUISI AGAM WISPI:
Untuk lebih mengenal Agam sebagai penyair di bawah ini, aku sertakan beberapa
puisi almarhum:
LATINI
latini, ah latini
gugur sebagai ibu
anak ketjil dalam gendongan
latini, ah latini
gugur diberondong peluru
baji mungil dalam kandungan
tanah dirampas
suami dipendjara
tengkulak mana akan beruntung?
desa ditumpas
traktor meremuk palawidja
pembesar mana akan berkabung?
gugur latini sedang masjumi berganti baju
gugur pak tani dan dadanya diberondong peluru
gugur djenderal, mulutnya manis hatinya palsu
beri aku air, aku haus
dengan lapar tubuh lemas
aku datang pada mereka
aku pulang padamu
sedang tanah kering dikulit
kita makan samasama
kudian muram
latini, ah latini
tapi, ah, kaum tani
kita yang berkabung akan mebajarnya suatu hari
(Dari antologi:"Matinya Seorang Petani", Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan
Rakjat", Jakarta ...)
MATINJA SEORANG PETANI
(buat L. Darman Tambunan)
1.
depan kantor tuan bupati
tersungkur seorang petani
karena tanah
karena tanah
dalam kantor barisan tani
silapar marah
karena darah
karena darah
tanah dan darah
memutar sedjarah
dari sini njala api
dari sini damai abadi
2.
dia djatuh
rubuh
satu peluru
dalam kepala
ingatannya melajang
didakap siksa
tapi siksa tjuma
dapat bangkainja
ingatannja kedjaman-muda
dan anaknja jang djadi tentera
-- ah, siapa kasi makan mereka? --
isteriku, siangi padi
biar mengamuk pada tangkainja
kasihi mereka
kasihi mereka
kawan-kawan kita
suram
padam
dan hitam
seperti malam
3.
mereka berkata
jang berkuasa
tapi membunuh rakjatnja
mesti turun tahta
4.
padi bunting bertahan
dalam angin
suara loliok disajup gubuk
menghirup hidup
padi bunting
menuai dengan angin
ala, wanita berani djalan telandjang
di sitjanggang, di sitjanggang
dimana tjangkol dan padi dimusnahkan
mereka jang berumah apendjara
baji digendongan
djuga tahu arti siksa
mereka berkata
jang berkuasa
tapi merampas rakjatnja
mesti turun tahta
sebelum dipaksa
djika datang traktor
bikin gubuk hantjur
tiap pintu kita gedor
kita gedor.
-----------
Keterangan:
+ Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak
(Sumber: Antologi Bersama, "Matinya Seorang Petani").
Kedua puisi Agam tersebut berlatarbelakangkan sejarah perlawanan kaum tani dalam
mempertahankan tanahnya dari penggusuran. "Latini" mengambil latarbelakang kasus
konflik di Kediri sedangkan "Matinja Seorang Petani" berlatarbelakangkan konflik
di Tanjung Morawa, Sumatera Utara.
Adapun sanjak dua baris berikut adalah kesimpulan Agam terhadap kehidupan
"klayaban"nya di luar negeri.
Untuk Sitor
matahari kedinginan
di atas salju berkilauan
(Sumber: Antologi Bersama, "Di Negeri Orang. Puisi Penyair Indonesia Eksil",
Amanah Lontar Jakarta & Yayasan Sejarah Budaya Indonesia, Amsterdam, April
2002).
Selamat jalan Bung Agam. Tahun Baru 2003 diawali dengan Indonesia kehilangan
seorang penyairnya. Cinta kita kepada tanahair dan mimpi manusiawi tidak
memerlukan pengakuan resmi.Mereka adalah pilihan dan janji pada diri kita
sendiri. Cinta dan mimpi manusiawi ini telah membuat kita jadi "klayaban" dan
cinta serta mimpi manusiawi ini seperti "matahari" sekalipun "kedinginan" oleh
kilauan salju musim dingin, tetap memancarkan sinar. Kau sudah membuktikannya
sampai di ujung perjalananmu yang sepi.
Perjalanan 2003.
Ucapan Selamat Jalan Kepada Seorang Penyair
Oleh JJ.Kusni
Penyair dan penulis cerita pendek, Soeprijadi Tomodihardjo pada 31 Desember 2002
menyuratiku setelah hampir sepuluh tahun tak saling bertemu dan berkabar. Dalam
surat singkatnya itu Suprijadi antara lain menulis:
"Sementara itu saya kemarin mendapat berita tentang Bung Agam. Keadaannya kian
parah. Dokter bilang tinggal sedikit sekali harapan sejak kena radang paru
akhir-akhir ini. Semoga masih tersisa sejemput mikjijat agar Bung Agam kembali
sehat".
Pagi ini (01 01 2003), Suprijadi, yang pernah bersama-sama bekerja di sebuah
kantor berita, kembali mengirimku berita yang menyatakan:
"Bung Agam meninggal dunia tadi malam jam 01.00 di verplichthuis -- rumah jompo
tempat tinggalnya di Amsterdam selama ini".
Berita ini dikonfirmasikan oleh surat Mas Hersri Setiawan yang bersama-sama Bung
Sulardjo sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam pengurusan jenazah Agam
Wispi. Kak Setiawan mengatakan dalam surat pandaknya bahwa jenazah Bung Agam
akan dikremasi -- hanya tanggalnya belum bisa mereka tetapkan. Agam Wispi
meninggal "pada jam 12.00 tengah malam tadi -- justru pada saat ganti tahun",
tulis Hersri (01 Januari 2003).
Berita dari kedua kawan ini mengingatkan aku kata-kata Agam Wispi yang dalam
pergaulan sehari-hari biasa dipanggil Bung Agam, disingkat Gam atau Wispi,
disingkat Wis. Hanya yang paling sering digunakan oleh teman-temannya adalah
Agam atau Gam. Kata-kata Agam berikut ini, ia tulis dalam sebuah sanjak "Ode
Untuk Pak Tuo" alias M.Husein seorang sahabat dari Minang yang juga telah lama
meninggal juga di negeri Belanda:
"bintang-bintang pudar di langit pagi musim panas
ah, mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas"
Agam telah menepati ajakannya "mari berjalan dan berjalan sampai usia lemas"
ketika tadi malam pada pergantian tahun, ia yang dalam kata-katanya sendiri:
".........................
kau menutup mata
mati
sederhana begitu saja"
("Terzina Maut In Memoriam Yubadi Tarmidi"di dalam: "Di Negeri Orang, Puisi
Indonesia Eksil", Amanah Lontar & Yayasan Sejarah Budaya Indonesia, Amsterdam,
April 2002, hlm.37).
Kemarin malam Agam telah "menutup mata/mati/sederhana begitu saja" dengan "badan
sebatang di rantau orang"(dari sanjak A.Wispi: "Keluarga"). Agam sang penyair
itupun sampai sudah di ujung perjalanannya, dan perjalanannya berakhir di
"rantau orang" jauh dari tanahair dan pepohonan hijau tanahairnya yang inipun
juga sudah berada dalam ramalan Agam beberapa tahun dahulu:
"di mana kau
pohonku hijau?
dalam puisimu, wahai perantau
dalam cintamu jauh di pulau"
(dari sanjak: "Pulang")
Agam mengakhir perjalanannya dalam keadaan:
"indonesia! hanya tinggal kenangan"
(dari, Agam Wispi, "Ode Untuk Pak Tuo")
Jenazah Agam pun diurus oleh teman-temannya seperti halnya dengan teman-teman
se"eksil" Agam seperti halnya dengan pengurusan mereka yang telah meninggal di
berbagai negeri sebelumnya.
Mati seorang diri begini sebagai keadaan yang akan ia hadapi, sudah sejak lama
Agam lukiskan sendiri dalam sanjaknya:
"dan suatu hari: kau mati
dalam sunyi
tentu! sendirian: sendiri"
(dari:"Terzina Maut, In Memoriam Yubadi Tarmidi").
Rasa sendirian ini juga diungkapkan oleh Agam dalam kumpulan sanjaknya "Sahabat"
yang ia tulis sepulang dari Republik Demokrasi Djerman, serta dalam sanjaknya
"Pulang" yang ia tulis sebagai tanda terimakasih kepada Goenawan Mohamad yang
telah mengundangnya ke Indonesia:
"puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang
puisi, hanya kaulah lagi pacarku terbang"
Kalau sekarang jenazahnya diurus oleh kawan-kawannya seeksilan, hal inipun
sudah berada dalam perhitungan kesadaran Agam ketika ia menulis tentang arti
seorang sahabat baginya:
"ketemu sahabat lama mahabagia daripada
di surga mana pun!"
(dari: "Dua Sahabat Lama").
PERANAN PENYAIR DI MATA AGAM WISPI:
Agam memang lebih dikenal sebagai penyair karena karya yang lahir dari tangannya
terutama puisi dan sebuah karya drama berjudul: Gerbong. Artikel atau esei
sangat sedikit dia tulis untuk tidak mengatakan tidak pernah ia tulis. Pikiran
dan perasaannya lebih banyak ia tuangkan melalui media puisi.
Apa arti puisi dan peranan penyair dalam kehidupan bagi Agam? Hal inipun kita
dapatkan melalui puisi-puisinya, antara lain:
"asahan, penyair adalah pendahulu semangat zaman
tak ada tokoh politik berani minta maaf
kepada mendelstam
karena serangkum sajaknya mati disiksa
di siberia buangan"
(dari: Agam Wispi, "Kepada Penyair Asahan").
Sebagai "pendahulu semangat zaman" ini, Agam sebagai penyair selalu
memperhatikan dan menaruh harapan pada generasi muda sebagai pelanjut dan
pelaksana mimpi-mimpi manusiawi yang belum tunai, tentang mana antara lain ia
berkata:
"gugur bunga dari tampuknya
di musim nanti
berkembang lagi"
(dari: Agam Wispi, "Gugur Bunga")
Sanjak ini oleh komponis Utomo (bukan nama benar dan komponis Jakarta inipun
juga telah meninggal di Jerman Barat) telah dibuatkan lagu.
Hanya, bunga yang gugur dari tampuknya itu akan bisa berkembang lagi di musim
nanti apabila manusia dari generasi yang diharapkan Agam ini mampu:
"menziarahi dirinya sendiri
membangkitkan dalam diri apa-apa yang sudah mati"
(dari: Agam Wispi, "Ziarah")
Menurut Agam hanya dengan syarat demikianlah kita bisa menjadi satu sosok atau
generasi yang selalu menyala bagaikan matahari kedinginan sekalipun di tengah
salju berkilauan.
"matahari kedinginan
di atas salju berkilauan"
(dari: Agam Wispi, "Untuk Sitor")
Memang kedinginan karena suasana di luar yang mengitarinya tapi ia tetap
matahari yang memancarkan sinar dan:
"......................
njalanya
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanya panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanya?
dan kita merebut kedua-duanja"
..............................
(dari: Agam Wispi, "Surabaja", 1965).
..................
Boleh jadi lukisan ini juga menggambarkan wajah jiwa Agam hingga akhir
perjalanannya ketika "usianya lemas" dan "menutup mata/mati/dalam sunyi?"
Menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengutip apa yang ia tulis di rembang petang
usianya melalui sanjak "Ode Untuk Pak Tuo":
"di musim semi yang akan datang
taburkan bunga cinta persahabatan"
Sebagai penyair yang digambarkannya sebagai pejalan yang melangkah mendahului
zamannya, Wispi kembali dan lagi-lagi berkata bahwa matahari itu tetap ada
sekalipun nampak kedinginan di tengah salju. Musim semi akan tiba sekalipun
sekarang kita berada di puncak musim dingin. Keyakinan ini didasarkan pada
pengamatan betapa banyaknya "bintang-bintang berjatuhan di langit malam/fajar
merekah...", betapa banyaknya "bintang-bintang pudar di langit pagi musim panas"
karena itu bersama T. S. Eliot yang dikutip oleh Agam dalam sebuah sanjaknya,
menawarkan sebuah jalan keluar sesuai peranan penyair "mari berjalan dan
berjalan sampai usia lemas". Untuk menjadi "matahari yang selalu menyala" dan
mencapai "fajar merekah" dituntut ketahanan menghadapi dan mengalahkan dingin.
Tanpa ketahanan dan kesanggupan ini kita tidak bakal mampu menempuh jalan yang
juga oleh Arief Budiman disebut sebagai "jalan sunyi".
SELINTAS PERJALANAN HIDUP AGAM WISPI:
Agam lahir pada tanggal 31 Desember 1930 di Aceh. Memulai kariernya sebagai
wartawan dan redaktur kebudayaan di "Harian Kerakyatan" dan "Pendorong"
Medan dari tahun 1952 sampai 1957. Sewaktu pindah ke Jakarta tahun 1957, Agam
menduduki kedudukan yang sama sebagai redaktur kebudayaan di "Harian Rakjat"
sampai tahun 1962 (terseling antara 1958-1959, Agam belajar jurnalistik terutama
masalah percetakan, di Berlin). Sepulang dari Jerman Timur ia menulis kusanjak
"Sahabat". Antara tahun 1962 sampai 1965, Agam Wispi tercatat sebagai perwira
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sekaligus dikenal sebagai wartawan dan
penyair dengan sanjak yang paling banyak dibacakan di mana-mana: "Demokrasi!"
yang antara lain berbunyi :
"jenderal
telah kupasang bintang-bintang di dada kalian
dari rejam tuan tanah dan lintah
kutuntut bintangmu: mana tanah!"
Pada bulan Mei 1965, Agam Wispi diundang ke Vietnam selama beberapa bulan dan
sempat bertemu dengan Ho Chi Minh dan karena terjadinya Tragedi Nasional
September 1965, sejak itu sampai Agam mengakhiri perjalanan hidupnya kemarin
malam, Agam tak bisa kembali ke Indonesia dan menjadi orang "klayaban" di luar
negeri.
Dari 1965 sampai Desember 1970, Agam bermukim di Republik Rakyat Tiongkok. Lalu
pada 1973 melalui Uni Soviet, sampai 1978 Agam bermukim di Leipzig, Jerman
Timur. Di kota ini -- kota yang tidak asing baginya, Agam menggunakan kesempatan
untuk belajar sastra di Institut für Literatur dan bekerja di perpustakaan
sebagai pustakawan di Deutsche Bucheret. Selama berada di kota ini pula , Agam
menulis kusanjaknya "Eksil" yang belum diterbitkan sampai sekarang dan
menyelesaikan terjemahan Faust karya W. Goethe serta sudah diterbitkan di
Indonesia.
Pada tahun 1988 Agam bermukim di Amsterdam sampai ia meninggal. Atas undangan
Goenawan Mohamad, Agam berkesempatan pulang (berkunjung sebentar) ke Indonesia
dan dari perjalanan ini ia menulis sanjak "PULANG" yang ia dedikasikan kepada
Goenawan Mohamad.
Sanjak Agam yang paling sering dibacakan di mana-mana sampai pada tahun 1965
sebelum Tragedi Nasional September 1965 adalah: "Demokrasi", "Matinya Seorang
Petani" dan "Latini" sama populernya dengan sanjak S.W. Koentjahyo: "Aku Anak
Tionghoa", "Tak Seorang Berniat Pulang" karya HR Bandaharo atau "Yang
Bertanahair Tapi Tak Bertanah", karya Sabarsantoso Anantaguna.
BEBERAPA KARYA-KARYA AGAM WISPI:
Seperti kukatakan di atas, Wispi terutama banyak menulis syair daripada
bentuk-bentuk sastra lainnya. Waktu di Medan, ia telah menulis sebuah drama
Gerbong yang agaknya merupakan karya drama tunggalnya karena setelah itu Agam
memusatkan perhatian pada penulisan puisi. Sanjak-sanjak ini terkumpul baik
dalam bentuk antologi bersama maupun dalam bentuk antologi tunggal alias
perorangan.
Yang dalam bentuk antologi puisi bersama antara lain: "Matinya Seorang Petani"
Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakjat, Jakarta, 1961); "Kepada Partai"
(Jajasan Pembaruan, Djakarta,1965); "Viva Cuba!",(Jajasan Pembaruan, Jakarta,
1963); "Nasi dan Melati" (tidak ingat penerbit dan tahunnya); "Di Negeri Orang,
Puisi Penyair Indonesia Eksil", (Amanah Lontar Jakarta dan Yayasan Sejarah
Budaya Indonesia, Amsterdam, April 2002); "Berdua Sejalan" (bersama Asahan Aidit
-- belum terbit).
Sedangkan antologi perorangan antara lain: "Sahabat" , "Yang Tak Terbungkamkan"
(Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakjat, Jakarta, 1965), Kronologi In
Memoriam 19853-1994, Eksil (belum terbit) dan karya-karya terpencar lainnya di
berbagai majalah dan suratkabar baik di tanahair maupun di luar negeri. Sejak
bermukim di Belanda, Agam turut serta menangani dan menyumbang majalah
kebudayaan :Arah dan Kreasi.
BEBERAPA PUISI AGAM WISPI:
Untuk lebih mengenal Agam sebagai penyair di bawah ini, aku sertakan beberapa
puisi almarhum:
LATINI
latini, ah latini
gugur sebagai ibu
anak ketjil dalam gendongan
latini, ah latini
gugur diberondong peluru
baji mungil dalam kandungan
tanah dirampas
suami dipendjara
tengkulak mana akan beruntung?
desa ditumpas
traktor meremuk palawidja
pembesar mana akan berkabung?
gugur latini sedang masjumi berganti baju
gugur pak tani dan dadanya diberondong peluru
gugur djenderal, mulutnya manis hatinya palsu
beri aku air, aku haus
dengan lapar tubuh lemas
aku datang pada mereka
aku pulang padamu
sedang tanah kering dikulit
kita makan samasama
kudian muram
latini, ah latini
tapi, ah, kaum tani
kita yang berkabung akan mebajarnya suatu hari
(Dari antologi:"Matinya Seorang Petani", Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan
Rakjat", Jakarta ...)
MATINJA SEORANG PETANI
(buat L. Darman Tambunan)
1.
depan kantor tuan bupati
tersungkur seorang petani
karena tanah
karena tanah
dalam kantor barisan tani
silapar marah
karena darah
karena darah
tanah dan darah
memutar sedjarah
dari sini njala api
dari sini damai abadi
2.
dia djatuh
rubuh
satu peluru
dalam kepala
ingatannya melajang
didakap siksa
tapi siksa tjuma
dapat bangkainja
ingatannja kedjaman-muda
dan anaknja jang djadi tentera
-- ah, siapa kasi makan mereka? --
isteriku, siangi padi
biar mengamuk pada tangkainja
kasihi mereka
kasihi mereka
kawan-kawan kita
suram
padam
dan hitam
seperti malam
3.
mereka berkata
jang berkuasa
tapi membunuh rakjatnja
mesti turun tahta
4.
padi bunting bertahan
dalam angin
suara loliok disajup gubuk
menghirup hidup
padi bunting
menuai dengan angin
ala, wanita berani djalan telandjang
di sitjanggang, di sitjanggang
dimana tjangkol dan padi dimusnahkan
mereka jang berumah apendjara
baji digendongan
djuga tahu arti siksa
mereka berkata
jang berkuasa
tapi merampas rakjatnja
mesti turun tahta
sebelum dipaksa
djika datang traktor
bikin gubuk hantjur
tiap pintu kita gedor
kita gedor.
-----------
Keterangan:
+ Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak
(Sumber: Antologi Bersama, "Matinya Seorang Petani").
Kedua puisi Agam tersebut berlatarbelakangkan sejarah perlawanan kaum tani dalam
mempertahankan tanahnya dari penggusuran. "Latini" mengambil latarbelakang kasus
konflik di Kediri sedangkan "Matinja Seorang Petani" berlatarbelakangkan konflik
di Tanjung Morawa, Sumatera Utara.
Adapun sanjak dua baris berikut adalah kesimpulan Agam terhadap kehidupan
"klayaban"nya di luar negeri.
Untuk Sitor
matahari kedinginan
di atas salju berkilauan
(Sumber: Antologi Bersama, "Di Negeri Orang. Puisi Penyair Indonesia Eksil",
Amanah Lontar Jakarta & Yayasan Sejarah Budaya Indonesia, Amsterdam, April
2002).
Selamat jalan Bung Agam. Tahun Baru 2003 diawali dengan Indonesia kehilangan
seorang penyairnya. Cinta kita kepada tanahair dan mimpi manusiawi tidak
memerlukan pengakuan resmi.Mereka adalah pilihan dan janji pada diri kita
sendiri. Cinta dan mimpi manusiawi ini telah membuat kita jadi "klayaban" dan
cinta serta mimpi manusiawi ini seperti "matahari" sekalipun "kedinginan" oleh
kilauan salju musim dingin, tetap memancarkan sinar. Kau sudah membuktikannya
sampai di ujung perjalananmu yang sepi.
Perjalanan 2003.
Subscribe to:
Posts (Atom)