Situasi Politik Luar dan Dalam Negeri
Tan Malaka (1946)
Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2009)
(Pidato dalam Kongres Persatuan Perjuangan tanggal 4-5 Januari 1946)
Lebih dahulu saya minta pada saudara sekalian sekejap berdiri, memperingati arwahnya rakyat dan pahlawan Indonesia, yang sudah meninggalkan kita dalam perjuangan yang maha dahsyat ini, dan memberikan warisan kepada kita supaya meneruskan pekerjaanya.
Pokok pembicaraan sekarang ialah: situasi politik luar dan dalam Indonesia. Saudara sekalian!
Jikalau kita mau menanam satu pohon, maka lebih dahulu kita cari bibit yang bagus, tanah yang cocok dan hawa yang sesuai. Bibit yang sebaik-baiknya pun kalau tidak disertai oleh tanah yang cocok dan iklim yang sesuai, tidak akan tumbuh menjadi pohon.
Demikian juga haluan kita!
Kalau haluan itu tidak cocok dengan keadaan di dalam dan di luar maka ia akan patah di tengah jalan atau gagal sama sekali. Haluan kita serta cara kita bekerja, mesti kita ukur dengan kekuatan kita, baik dari dalam ataupun dari luar. Kemudian keadaan luar dan dalam itu kita cocokkan dengan haluan kita; yaitu: kemerdekaan. Demikianlah kita membentuk persatuan yang kita butuhkan dan organisasi yang cocok dengan keadaan di dalam dan di luar negeri. Apabila organisasi kita, persatuan kita dan haluan kita sudah cocok dengan keadaan di dalam dan di luar negeri kita, maka barulah kita berharap, bahwa kelak usaha kita akan berhasil.
Dengan iman yang teguh tegap hati yang tetap tenang kita boleh melaksanakan haluan kita tadi. Tidak ada manusia yang adil akan menyesali paham dan perbuatan kita. Tak ada pula sesuatu kodrat yang akan merintangi kelangsungannya usaha kita. Anak cucu kita kelak akan mewarisi apa yang akan kita tinggalkan itu, sempurna atau sebagian jaya, dengan iman yang lebih walaupun kita sudah insyat akan segala-gala meskipun sudah bersatu padu atas satu organisasi yang berdisiplin laksana baja, tetapi baru sampai di tengah jalan kita sudah patah hati dan pecah belah, maka akan sia-sialah semua pekerjaan kita selama itu tadi. Anak cucu kita akan mengutuki kita sebagai penghianat paham dan negara kita sendiri atau sedikitnya akan menjauhi kita sebagai manusia yang lemah tak berwatak.
Semuanya ini adalah keyakinan saya sendiri. Saya pikir keyakinan ini boleh dibuktikan dengan sejarah negara manapun juga dalam waktu manapun juga.
Kembali saya sekarang kepada pokok perkara ialah menguraikan situasi politik luar dan dalam negara. Saya mulai dengan suasana politik luar negara. Bukankah negara kita ini bagian dari dunia luar? Bukankah pula dunia luar itu lebih besar dari negara kita? Bukankah akhirnya politik dunia itu bisa sama sekali menghambat atau menghalang-halangi politik negara kita sendiri?
Hari depan kita adalah bergantung kepada keadaan sekarang. Seterusnya pula, keadaan sekarang berseluk beluk dengan keadaan lampau.
Marilah kita tinjau! Marilah kita sedikit surut ke belakang sejarah! Ke tahun 1918, ialah perjanjian Versailes.
Pada waktu itu dunia sedang gemuruh. Satu negara besar dan baru dalam di segala-gala timbul, ialah Soviet Rusia. Pada zaman itu saya masih muda, masih berlajar di Eropa barat. Dalam usia “Sturm und Drangperiode” itu, dalam usia sedang bergelora itu saya di londong topan yang bertiup dari Eropa Timur itu. Dunia Barat sendiri pada masa itu seakan-akan mengikuti Soviet Rusia.
Dari dunia Eropa Timur itulah saya mendapatkan semua ilham dan petunjuk yang saya rasa perlu buat perjuangan politik, ekonomi, dan sosial kita.
Walaupun pasang revolusi yang dari Timur mengalir ke Barat Eropa itu lambat laun susut kembali sampai ke Negara Rusia saja, tetapi tiadalah padam-padamnya ilham dan petunjuk yang saya peroleh dari Rusia dimana usia bergelora tadi.
Berdasarkan petunjuk yang saya peroleh dari Soviet Rusia itulah saya sekarang melangkahi sejarah dengan kecepatan raksasa. Dari tahun 1918-1923, lebih kurang dalam 5 tahun itu, keadaan politik-ekonomi dan sosial dunia kapitalisme seakan-akan tak bisa diperbaiki lagi.
Seakan-akan kapitalisme dunia itu mau roboh.
Tetapi dari tahun 1924-1929, kurang lebih dalam 5 tahun pula, dunia kapitalis mulai bangun kembali. Mulanya perlahan-lahan. Kemudian cepat demi cepat sampai produksi itu bisa di puncak. Tiba-tiba timbullah krisis, lebih hebat dari yang sudah-sudah.
Dahulu kita musimnya krisis itu dianggap sekali 10 tahun. Tetapi rupanya karena kodrat mesin menghasilkan sudah berlipat ganda maka musim itu kembali sekali 5 tahun saja.
Sebabnya timbul krisis itu boleh saya ringkaskan:
Dalam dunia kapitalistis cuma beberapa biji manusia yang memiliki harta pencaharian, yang berupa tanah, pabrik dan tambang serta mengurus hasil buat masyarakat seluruhnya. “Makin banyak saya menghasilkan” demikianlah pikirannya si Kapitalis, “makin murah” jualan barang saya. Ini berarti makin lekas dapat saya gulingkan saingan saya, yang tak bisa menjual barangnya semurah barang saya. Tetapi kapitalis lain ialah teman seperjuangannya berpendapat sedemikian pula. Begitulah tiba-tiba saja barang membanjiri pasar, melimpah di pasar dan jatuh harganya sampai jatuh di bawah ongkos. Karena jualan tiada lagi menutupi ongkos, maka tuan pabrik seorang demi seorang terpaksa menutup pabriknya. Dengan begitu kaum pekerja terpaksa disuruh pulang. Pengangguran bersimarajalela dan krisis mengamuk kiri kanan.
Demikianlah ringkasnya gambaran dunia pada tahun 1929. Negara kapitalis mulai goncang lagi sampai ke tiang dan dasarnya.
Negara Amerika pun yang luas serta kaya-raya dalam hal bahan pabrik, tambang, mesin dan tenaga pun tiadalah luput dari genggamannya krisis yang mulai timbul pada tahun 1929 itu. Meskipun Amerika menghasilkan lebih kurang 70 % barang penting dari industri berat, seperti besi, baja, mesin minyak dan lain-lain walaupun pembeli dalam negaranya banyak dan kaya-raya, walaupun lebih dari 90 % jumlah mas di dunia tertumpuk di country of the free “Negara Mereka” itu, namun tahun krisis itu tak terbendung juga.
11 juta pekerja menganggur di Amerika bukan karena malas atau bodohnya sendiri. Melainkan karena salahnya sistem kapitalisme. Seandainya tiap-tiap pekerja cuma menanggung seorang istri dan seorang anak saja, maka di antara 140 juta warga Amerika itu adalah 33 juta yang melarat atau lebih kurang ¼ penduduk yang jatuh ke lembah kesengsaraan. Sewaktu-waktu mereka terancam oleh kelaparan dan senantiasa mereka dihitung sebagai golongan pengemis.
Bagaimana pula kedudukan negara Inggris?
Luasnya negara Inggris ini adalah kurang dari 100.000 mil persegi. Tetapi di Asia dan Afrika Inggris mempunyai jajahan yang luasnya lebih kurang 12.000.000 mil persegi, jadi kira-kira 150 kali seluas negaranya sendiri. Inggris berpenduduk kurang dari 50 juta, tetapi penduduk jajahannya adalah lebih kurang 500.000.000 atau lebih kurang 10 kali sebesar cacah jiwa negaranya sendiri.
Ditilik dari penjuru ini maka tiap-tiap 1 orang Inggris dilayani oleh 10 orang kulit berwarna. Tetapi dalam negara Inggris sendiri mereka yang memiliki perkakas menghasilkan dan mengurus produksi itu, bertitel Lord ataupun tidak, kalau kita katakan ada 1000 jumlahnya, masih melebihi taksiran. Sehingga tak jauh dari kebenaran kalu kita katakan kalau dibelakangnya seorang kapitalis Inggris berada dan bekerja ½ juta kuli hitam dan putih. Begitulah juga di Inggris di antara tahun 1929 dan 1932 krisis mengamuk dengan hebatnya. Tak berapa bedanya angka kurban krisis di Inggris itu dari pada 2 juta orang. Tanah luasnya hampir 1/6 maka bumi buat penduduk belum 1/44 jumlah penduduk dunia, yakni kalau buruh Inggris dihitung sebagai bangsa tuan, tiadalah bisa meluputkan Inggris dari marabahaya krisis.
Tahun 1929-1932! Dimasa tiga tahun itu sekalian ahli politik – ekonomi – sosial di seluruh dunia memutar-mutar otaknya untuk mendapatkan sistem ekonomi yang kiranya bisa menghindarkan krisis. Pada waktu ini di seluruh dunia hanyalah satu negara yang terhindar dari krisis ialah negaranya proletar, Soviet Rusia. Disana kaum pekerja memiliki mata pencaharian hidup dan mengatur hasil buat keperluan bersama, bukanlah buat diperjual-belikan. Banyaknya hasil tiadalah diombang-ambingkan oleh pedoman laba-rugi, melainkan ditetapkan oleh kebutuhan pasti.
Pabrik tidak ditutup karena untung kurang. Sebaliknya pabrik senantiasa kekurangan tangan karena selalu saja meluas dan mendalam disebabkan pula oleh kenaikan takaran-hidup (standard of life) setahun demi setahun.
Dengan mulut dunia kapitalisme mencela politik dan sistemnya Soviet. Tetapi dalam kalbunya mereka cemburu akan keamanan dan kemajuan Rusia.
Mereka sama tertarik oleh rencana ekonomi. Baik negara fasis ataupun demokrasi mencoba mengadakan rencana dan menjalankan rencana ekonomi. Mereka gagal lantaran pertentangan hebat di antara satu negara kapitalis dengan negara kapitalis lainnya.
Marilah sekarang kita tinjau keadaan di negeri Jerman! Kita kenal orang Jerman pukul rata, orang yang pintar, berani, kuat dan rajin. Tetapi dia kalah perang 1914 – 1918! Kalau satu negara kalah perang maka ia mesti tunduk pada undang-undang perang. Jerman diharuskan membayar hutang kepada yang menang ialah Inggris, Perancis dan Amerika. Panjangnya angka hutang itu barangkali dari Purwokerto ini sampai ke Bogor.
Tanya Jerman: “Dengan apa akan saya bayar hutang itu?” Kita tahu bahwa kereta-api dan kapal Jerman di sita oleh musuhnya. Uang kertas Jerman amatlah merosot harganya. Musuhnya tentu tak mau menerima kertas Jerman yang tak berharga di luar negaranya itu.
Apakah boleh Jerman membayar hutangnya dengan barang?
Inipun tiada mungkin dilakukan dengan tidak banyak menderita bermacam halangan. Besi buat bahan tak cukup di Jerman. Minyak tanah cuma bisa disaring dari arang saja. Timah, kapas, getah, dan lain-lain tak ada pula. Semuanya ini di pasarnya “si Haves” ada bertimbun-timbun. Tetapi bahan ini tidak bsia dibeli dengan uang kertas Jerman. Jerman bisa beli dengan jual barang pabriknya tetapi barang pabrik ini membutuhkan bahan pula. Demikianlah persoalan berputar-putar saja dari ujung ke pangkal. Si Haves sebenarnya tak sudi memberi kelonggaran kepada Jerman yang mencari barang bahan di jajahannya itu. Mereka takut akan barang Jerman. Takut akan persaingan barang Jerman yang murah dan baik itu. Bukankah kacau dunia semacam itu? Jerman disuruh membayar hutang. Dengan uang tidak bisa dibayar dan dengan barangpun tidak. Sedangkan yang berpiutang terus menagihnya.
Inilah yang membikin dunia kacau sesudahnya perang dunia ke I. Pokok kekacauan itu terdapat dalam Perjanjian Versailles. Dalam Perjanjian inilah seluruhnya Rakyat Jerman yang dengan Austria 80 juta itu diharuskan membayar hutang perang, pengganggu keamanan dunia dan oleh sebab itu diharuskan membayar hutang, dilucuti senjatanya dan ditindas gerak politiknya. Tiadalah kita mau dan bisa mendalamkan persoalan salah atau benarnya Jerman terhadap perang dunia ke I itu.
Cuma kita mau kemukakan, bahwa keadaan di Jerman itu memberi kesempatan kepada seorang pemimpin ber-kaliber Hitler dan satu partai bercorak Nazi. Nama Hitler mulai didengar semenjak tahun 1922, ketika krisis Jerman sedang memuncak. Bagaimana Hitler mengadakan organisasi dan merebut kekuasaan bulat tiadalah perlu kita uraikan disini. Cuma kita tahu bahwa Hitler dan partainya cukup mendapat kekuatan buat membentuk Jerman-Nazi yang akan melakukan politik kontra-revolusioner terhadap ke dalam Jerman dan politik imperialisme terhadap ke luar. Yang akan kita kemukakan disini ialah kekuasaan penuh dan kepercayaan penuh dari pada rakyat buat suatu pemerintah.
Kalau satu negara belum mempunyai kekuasaan penuh dan kepercayaan penuh dari pihak rakyat, maka pemerintah itu akan mudah saja diobrak-abrik dari luar ataupun dari dalam. Kita tidak memuji aturan fasisme Jerman itu. Kita hanya memajukan satu bukti betapa hebatnya kekuatan rakyat itu di bawah pimpinan yang mendapat kepercayaan penuh serta kekuasaan penuh dari rakyatnya. Marilah sebentar kita arahkan uraian kita terhadap ekonomi Jerman di bawah pimpinan partai Nazi. Yang menjadi alternatif (pilihan) dalam ekonomi Jerman di masa itu, ialah: kalau gaji buruh naik maka harga barang, hasil pabrik tidak bisa bersaingan di pasar luar negeri; kalau gaji buruh diturunkan maka jumlah gaji buruh yang sudah turun itu tak bisa menghabiskan hasil pabrik dalam negara. Padahal Jerman harus menjual barang ke luar negara untuk dapat membeli bahan mentah. Sedangkan dalam perdagangan bahan-bahan mentah ini Inggris yang berkuasa, tapi ia yang enggan menolong Jerman. Itulah artinya berkoloni, itulah pula enaknya orang mempunyai jajahan! Tetapi tidak enak bagi yang lain.
Maka sebab itu dunia terus cekcok saja!
Sekarang kalau gaji yang diturunkan, maka pasar dalam negeri yang menjadi kurus. Sebab, dalam negeri kapitalis tulen seperti Jerman adalah lebih kurang ¾ dari pada jumlah kaum buruh yang hidup dari gajinya.
Maka bagaimana mereka itu bisa membeli, kalau gajinya semakin diturunkan? Jadi: kemari salah, kesana salah!
Orang Jerman mencoba memutar-mutar roda ekonomi dan memutar-mutar otaknya. Tetapi terpaksa juga kembali kepada pokok – pangkalnya soal: haves dan haves-not. Yang dipikirkan Jerman cuma: Kita mesti punya koloni! Mendapatkan koloni dengan politik curang, dengan merebut, dengan mendesak, kita orang Indonesia tidak setuju. Dengan Jerman tak setuju, dengan Inggris dengan seiya apapun tidak! Tetapi menurut hemat kita yang membawa Jerman ke arah politik-perang itu tak lain dan tak bukan karena dunia mesti terbagi atas “haves” dan “haves-nots” itulah! Lantaran masih ada negara yang satu dua biji warganya mesti di layani oleh ½ juta budak putih dan hitam.
Alat peranglah dibikin Jerman. Kita masih ingat kapal Jerman yang hebat. Tank raksasa, kapal selam, meriam! Semua itu Jerman bikin, bikin!
Kaum buruh bekerja lagi. Mereka jalan terus, sampai tahun 1939. dalam 7 tahun Jerman hidup kembali. Kembali seperti sediakala malah lebih hebat. Mau apa sekarang dengan kapal selam dan alat perang lain-lainnya itu? Jawab: perang! Senjata ada, kemauan ada. Jangan sekarang orang menyalahkan bangsa ini, bangsa itu; keadaan ekonomi, itulah yang menjadi pangkal segala-galanya itu.
Semua itu dimulai dari tahun 1932. Dalam tahun itu Jerman mulai menjadi fasis. Ia menghendaki produksi, ia membutuhkan besi, minyak, ia berkehendak menghasilkan kain, oto, mesin; mesin yang dapat menghasilkan mesin ….. Tetapi, jika tidak ada pasarnya, bagi hasil produksi itu, tak ada gunanya. Semua hal inilah yang membawa kita ke pintu gerbangnya perang dunia ke II.
Hitler ada mempunyai sahabat karib di Selatan. Namanya Mussolini dan nama negaranya Italia.
Dalam beberapa hal Mussolini lebih pintar dari pada Hitler. Malah dia gurunya Hitler. Tetapi Italia jauh lebih miskin dari pada Jerman. Italia tak mempunyai bahan seperti arang, besi, minyak tanah, timah, kapas, karet dan lain-lain. Sistem ekonomi hampir seperti Jerman juga.
Hasil pabriknya sudah mempunyai melimpah. Tetapi pasar tak ada buat membeli bahan dan menjual barang pabrik. Dia incerkan matanya dan tujukan meriamnya ke Abessinia. Dia tahu adanya Volken bond. Tetapi dia tahu Volkenbond itu tak berkuasa. Mussolini tidak memperdulikan Volkendbond itu!
Sekarang ada juga badan yang mirib dengan Volkenbond itu, yaitu United Nations. Orang belum tahu lagi bagaimana kelak badan itu.
Uraian di atas ini bukan agitasi, hendaklah orang membaca dengan tenang uraian ini. Uraian mengenai soal: Apa obat krisis itu? Apa obat krisis Jerman? Apakah kelak United Nations, ialah penjelmaan Alamarhum Volkenbond itu kelak bisa menyelesaikan krisis dunia sekarang?
Yang ikut salah dalam semuanya itu ialah: the biggest of all, negara yang terbesar dari dalam segala itu, Amerika. Negara itu juga disebut orang: country of the free, negara merdeka! Kalau 11 juta pekerja dikeluarkan dari pabrik (karena krisis): merdeka! Kalau berkeliaran di jalan raya dan pasar perburuhan itu artinya: merdeka!
Kalau ada warga negara yang di –“Lynch” (disiksa): merdeka! Memang country of freedom, negara merdeka, dengan 11 juta kaum buruh yang menganggur tetap, merdeka mondar-mandir kesna sini menawarkan tenaganya kepada mereka yang merdeka pula menetukan apa akan dibeli apa tidak. Sedang dalam negeri itu gandum yang ditanam, dipotong, diangkut, diirik dengan tractor bertimbun-timbun banyaknya, tetapi bertimbun-timbun pula yang lapar, yang tak berbaju, berkeliaran mencari kerja dan syarat hidup.
Jadi bagaimana sekarang dikumpulkan orang-orang yang cerdik pandai, profesor-profesor. Mereka mengadakan “braintrust”, kumpulan otak dari pada orang yang pandai-pandai. Memang Roosevelt adalah orang besar dalam dunia demokrasi. Ia menyerukan New Deal, perubahan baru. Sebelumnya Roosevelt tampil ke muka maka kalau petani kebanyakan gandum semboyannya: bakar! Atau buang dalam laut! kain telah banyak: bakar saja! Mendapatkan barang baru, pun menjadi barang melimpah, tak berguna. Pendapatan yang baru itu dapat menggunakan kaum buruh yang lebih sedikit jumlahnya. Lantaran itu maka terpaksalah pula kaum buruh disusutkan. Jadi pendapatan baru itu tidak dijalankan, karena keadaan akan bertambah jelek. Akan lebih banyak lagi yang masuk partai seperti komunis, dan sebagainya; akan bertambah yang melawan undang-undang negeri! Itu durhaka! Jadi supaya jiwa orang jangan sesat, supaya lebih banyak yang masuk gereja, supaya banyak yang pergi ke tempat moralis, maka pendapatan tidak dijalankan. Rencana pendapatan baru itu dibeli oleh kapitalis yang tak suka memakainya buat dipendam atau dibakar. Begitulah nasibnya negara kapitalis yang terbesar. Satu peristiwa yang mengandung kemajuan itu dianggap sebagai musuh.
Tetapi adalah orang yang bisa mendapat cara untuk memakai hasil dengan tidak susah membuang, membakar dan sebagainya?
Roosevelt pikir dia bisa. Bank sekarang banyak yang bangkrut tak sanggup membayar hutangnya lantaran krisis. Pinjami atau kasih uang banyak kata Roosevelt. Kasih kredit banyak-banyak kepada kaum tani membayar hutang juga. Akibatnya: gandum ada lagi. Kasih kredit kepada yang punya pabrik yang sudah bankrut dan ditutup. Pabrik jalan lagi, hasil bertambah-tambah. Tetapi: ada yang penting lagi, bagaimana menjualnya? Orang 11 juta yang menganggur tak beruang buat membeli keperluannya. Karena itupun dikasih kredit juga. Bangunan “umum” disuruh bikin banyak-banyak. Ratusan ribu kaum buruh mendapat pekerjaan. Akbatnya: roda ekonomi mulai berputar perlahan-lahan. Pabrik-pabrik yang baru disuruh buka. Jalan-jalan raya baru disuruh bikin, pabrik terbuka, buruh bekerja, mendapat gaji dan bisa membeli barang. Hasil pabrik yang dikirim ke pasar mendapatkan cukup pembeli. Pabrik dan pasar bergandengan kembali.
Tetapi ada pabrik yang dibantu oleh pemerintah Roosevelt menjadi saingannya pabrik kapitalis perseorangan. Kapitalis ini atau itu menuduh Roosevelt menjalankan politik sosialistis. Buat menghindarkan persaingan dengan kapitalis perseorangan, Roosevelt terpaksa lari dari lapangan bangunan umum saja.
Seperti jalan raya, kebun, kanal, tanah lapang dan sebagainya. Tetapi akhirnya sampai juga kepada jalan buntu.
Benar jalan-jalan raya dapat disuruh bikin sampai ke Utara Amerika. Tetapi pabrik dan perekonomian seluruhnya goyang lagi. Hasil mulai baik dan terus melimpah pula. Dimana sekarang Roosevelt mendapat teman! Ini lucu: orang yang selama ini dianggap demokrat sebenarnya mendapat teman seorang fasis ialah Hitler, Begini: si fasis sadar ada alat perang dan mulai menyerang Polandia, Denmark ………. Sampai Inggris. Inggris tentu tidak dapat membikin alat-alat perang sendiri sebanyak-banyaknya karena diserang Jerman. Jadi pabrik senjata Amerika dibuka lagi. Industri perang jalan lagi. Betul dalam hakekatnya fasisme cerobohlah yang meneruskan berputarnya ekonomi Amerika. Pada fasisme Jermanlah sebenarnya kaum kapitalis Amerika berterima kasih karena lantaran perang anti-fasislah roda ekonomi Amerika bisa jalan. Tetapi sesuatu kebenaran itu tak selalu bisa diakui berterang-terangan.
Begitulah keadaan Amerika. Negara yang “the biggest of all” itu sampai pecahan perang dunia ke II.
Bagaimanakah sejarahnya satu Badan Internasional, ialah Volkenbond yang maksudnya bermula ialah menyelesaikan perselisihan antara negara dan negara di dunia dan dengan begitu menghindarkan peperangan? Sekejap akan kita tinjau! Kita ingin tahu bisa atau tidakkah badan ini mengobati krisis dunia. Nama Volkenbond tak bisa dipisahkan dengan nama Wilson, Presiden Amerika di masa Perang dunia ke I.
Nama Wilson itu tak pula boleh dipisahkan dengan semboyan “self-determination”. Semboyan ini mengakui hak sesuatu bangsa memilih pemerintahannya sendiri Wilson juga diakui sebagai bapaknya Volkenbond itu sesuatu perselisihan mesti diserahkan kepada satu majelis buat menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang salah akan dihukum (sanction) dengan pemboikotan. Belum sampai orang ke tingkat mengadakan politik dunia buat menjalankan hukuman terhadap Negara oleh Hakim Volkenbond dianggap salah itu. Tetapi memangnya sudah satu kemajuan Internasional apabila Negara salah ceroboh itu benar-benar diboikot perdagangannya.
Tetapi apa yang sebenarnya terjadi? Presiden Wilson itu, yang di Eropa di puji-puji orang, disambut orang dengan seruan “Hosanna-Hosanna” (Bahagialah!) seperti terhadap Yesus Kristus, sekembalinya di Amerika oleh senate, Amerika tidak dizinkan masuk Volkenbond. Negeri yang kuat, yang rajin, yang 5 juta mil persegi luasnya “The Biggest of All” tidak dibolehkan oleh Parlemen Amerika memasuki Volkenbond. Jadi yang masuk siapa? Inggris, Perancis, Spanyol dan negeri-negeri kecil, plonco-plonco: Rumania, Belanda, Swedia, Norwegia. Inilah yang kita maksudkan di atas tadi, kalau kita katakan, bahwa Amerika ikut salah. Amerika memancarkan diri dari kekalutan dunia disebabkan Perjanjian Versailles. Amerika tak mau tanggung jawab. Dia yang melakukan Volkenbond, tetapi sesudah anaknya itu lahir, anak itu dilemparkannya. Anak itu dirobek-robek oleh macan imperialisme Barat.
Bagaimanakah kedudukan yang sebenarnya Negara kecil-kecil di Eropa itu? Negara-negara kecil itu harus dibantu oleh Negara Besar. Mereka itu tak dapat berekonomi sendiri. Dalam politik katanya Belanda itu “vrij” (merdeka), tetapi dalam ekonomi mesti bergantung kepada Inggris. Begitu juga Portugis, Denmark dan lain-lain. Jadi: ke dalam Eropa, Inggris membuat plonco dari negeri-negeri kecil. Terhadap ke luar Eropa terhadap Asia dan Afrika, Inggris mengadakan jajahan dan daerah-daerah yang di bawah pengaruhnya! Dari jajahan itu dapat diambilnya macam-macam bahan mentah sebanyak-banyaknya seperti: besi, minyak, timah, kapas, getah juga barang-barang makanan. Di koloni itu sendiri diadakan macam-macam kebun, seperti kebun kopi, kebun gula. Barang bahan diangkut ke Eropa. Dengan bahan itu di Eropa dibuat mesin, dan mesin yang menghasilkan berjenis-jenis mesin pula. Sedangkan koloni itu cuma buat menghasilkan barang makanan, barang bahan dan jadi pasaran hasil pabriknya saja.
Demikianlah sekarang terhadap dua macam pool: pada satu pool terdapat kemewahan, bermacam-macam ahli dalam segala lapangan pengetahuan; sedangkan pada pool lainnya terdapat kemiskinan, kebodohan. Maka bangunlah sekarang seorang poet (penyair) yang kesohor, Rudyard Kipling, dengan seruannya: "West is West and East is East, and never the twain shall meet” (Barat itu Barat, dan Timur itu Timur, dan dua-duanya itu tak akan pernah mendapatkan persesuaian). Memang begitu, yang satu main golf, yang lain disuruh jadi budaknya, disuruh membawa tongkat golf.
Permainan apa golf itu? Sebenarnya permainan orang yang malas! Di Singapura kantor Inggris besar. Yang tampak ada di luar ialah opas-opas bangsa Indonesia. Sesudah melewati beberapa kamar maka barulah berjumpakan dewa pegawai Inggris yang berada jauh di dalam. Begitulah keadan di dunia! Tidak mengherankan, karena si Haves di bawah pimpinan Inggris, yang memecah-belah. Negeri yang besar-besar, seperti Perancis, Russia, atau Jerman diadunya satu sama lain. Kalau Perancis kuat di Eropa, maka Inggris dengan tangan sembunyi membantu Jerman. Kalau sebaliknya Jerman menjadi kuat, maka Inggris membantu Perancis. Sedangkan negara kecil-kecil selalu menjadi permainan diplomasi dan dikantonginya!
Asia dan Afrika selalu dikangkanginya!
Bagaimana nasib dunia seluruhnya kalau yang satu punya banyak, yang lain tak punya apa-apa? Tentu yang tak punya tersembunyi atau terbuka menentang yang punya. Untuk mengadakan imbangan dalam kekuatan, yang disebut Balance of Power, di bentuk lasykar jajahan, terdiri dari Gurkha dan sebagainya. Dengan memecah belah dan mengadu dombakan Eropa, mengadu dombakan dan mengangkangi Asia dan Afrika serta membentuk Tentara Gurkha, Inggris mencoba meneruskan “imperialisme”-nya.
Maka masa 1918 – 1939 itu adalah sebenarnya ‘gewapende – vrede” saja, damai bersenjata, selalu siap – sedia. Syahdan pada waktu 1939 itu Jerman telah kembali pula seperti sedia kala (tahun 1914). Senjata sudah ada pula berlebih-lebihan. Orang dan serdadu sudah banyak siap sedia pula.
Sedikit tentang strategi. Buat kita perkara ini penting sekali. Strategi itu ada dua macam.
Yang pertama ialah gerak-cepat. Yang kedua ialah mundur maju. Jerman punya strategi gerak-cepat, menurut sistem Napoleon. Kumpulkan tenaga sebanyak mungkin, dan sekonyong-konyong serbu, pecahkan dia punya garis yang lemah, kepung, hancurkan satu-satu pecahan itu. Inilah sistem yang dicocoki oleh Nazi.
Ahli siasat perang Jerman, seperti Von Berhardi dan Ludendorff juga bersandar atas siasat “gerak cepat” Di tangan para opsir Jerman, terutama bagian pemuda, sudah seia buku “alan sprah Zarathustra” yang memuja “Uebermensch”, filsafatnya Nietsche, filsafat imperialisme, filsafat menyerang, filsafat memuja satria perang cocok dengan semangat Jerman-Nazi. Tetapi bagaimana bisa menyerbu sekonyong-konytong, kalau peperangan modern menghendaki pengumuman (ultimatum) perang lebih dahulu? Pada permainan bola, si Referee (pemisah) mesti tanya dulu kepada kedua belah pihak apakah masing-masing sudah siap. Baru ditiup peluit sebagai tanda pertandangan sudah boleh dimulai. Tiada boleh salah satu kesebelasan menyerbu saja, sebelum peluit berbunyi. Begitu juga adat orang bermain silat di Minangkabau. Rendah sekali dianggap lawan yang mencida (mencedera), yakni menyerang dengan tak memaklumkan lebih dahulu. Begitupun dalam perang modern, lawan itu mesti diperingati lebih dahulu, bahwa kalau ini dan itu tak diperkenankan (ultimatum) maka peperangan akan dimulai pada tanggal ini atau itu!
Sebaliknya Inggris adalah pengikut muslihat mundur-maju. Semboyan Inggris ialah “siapa tahan lama” (Ausduern) itulah yang bakal menang. Pada permulaan perang, Inggris cuma mempertahankan diri saja. Sementara itu ia terus menyusun tentara, ekonomi dan bantuan dari luar negaranya dengan diplomasi yang sudah terkenal itu. Apabila dorongan (shock) itu yang pertama bisa ditahannya, maka pastilah pada akhirnya Inggris akan menang. Hal ini terjadi terhadap Napoleon dan perang dunia I dan ke II. Muslihat mundur-maju itu dengan jaya ratusan tahun lampau dijalankan oleh Roma terhadap serangan Carthago di bawah pimpinan Hannibal yang termasyhur itu. Muslihat itu membutuhkan tempo yang lama.
Ringkasnya Hitler perlu tempo sedikit. Inggris mau main lama. Makin lama ditunggu makin baik buat Inggris karena letaknya di seberang laut.
Industrinya bisa dirubah menjadi industri perang. Para diplomatnya yang ulung bisa dikerahkan buat mencari kawan.
Kawan itu lebih mudah didapat, karena kebanyakan negara sudah tergabung pada Volkenbond. Dalam Volkenbond ini Inggrislah yang memainkan biola dengan suara paling tinggi.
Buat Jerman Nazi, yang ingin mendapatkan putusan cepat di medan peperangan., perlulah ditilik kekuatan Volkenbond itu. Hitler dan Jerman Nazi sudah saksikan bagaimana lemahnya Volkenbond terhadap Jepang ceroboh mencaplok Manchuria. Lemah pula terhadap Mussolini, yang merampas Abessinia.
Jaya atau gagalnya Volkendbond itu tergantung pada bisa atau tidaknya ia menjalankan hukuman (sanction) terhadap negara ceroboh. Tetapi bagaimana si Ceroboh bisa menghukum si Ceroboh? Inggris itu si Ceroboh juga! Semua jajahannya didapatnya dengan jalan ceroboh semenjak 300 tahun yang lampau. Si Ceroboh Inggris menghukum kecerobohan Jepang, Italia atau Jerman dalam hakekatnya akan berarti menghukum kecerobohan diri sendiri. Harakiri itu bukanlah sifat imperialisme Inggris. Pertentangan dalam diri sendiri, di antara para pemimpin Volkendbond itulah yang sebenarnya menghancurkan Volkendbond itu.
Pertentangan itu tergambar pada pembagian dunia kapitalis-kapitalis: the haves and the have-nots. Berdiri atas pertentangan yang tak boleh didamaikan itu, maka Volkenbond itu adalah satu badan yang menunggu ajalnya saja. Pertentangan dalam Volkendbond itu memudahkan Jerman-Nazi menjalankan gerak-cepat. Dengan tidak perlu menghiraukan Volkenbond itu, maka Jerman bertindak sendiri: Polandia diserbu, perlawanannya patah dalam beberapa hari saja. Belanda melagakkan waterlini-nya, tetapi perlawanan Belanda itu tidak sampai 80 tahun. Belanda boleh berlagak bisa menukar perang 80 tahun yang selalu dibanggakannya itu menjadi perang 80 jam …. Perancis diserang …. Kalah dalam tiga minggu saja, inilah hasil muslihat gerak-cepat dan persiapan lama dan “gruadlich” (sempurna). Tetapi Jerman sendiri akan dinamakan oleh kekuatan persiapannya yang mesti grundlich itu. Dia tidak bisa menyesuaikan dirinya dengan cepat pada keadaan baru, yang tiba-tiba datangnya seperti Napoleon.
Kemenangan atas Perancis, yang lasykarnya dianggap terkuat di dunia itu rupanya melewati perhitungan strategi Nazi. Kemenangan secepat itu membingungkan pemimpin militer Nazi. Dengan gerak-cepat menyerang Inggris yang lemah di masa itu, dan meninggalkan Perancis yang sebenarnya sudah menunggu knock-out saja boleh jadi Jerman bisa merobohkan Inggris. Mungkin kemudian dengan Armada Jerman, Perancis, Italia, Inggris, dan Jepang menyerbu ke Amerika yang belum siap itu. Tetapi gerak-cepat zonder “persiapan grundlich” bukanlah sifatnya strategi Jerman.
Tentara Jerman akhirnya tertahan oleh Inggris, karena Inggris mendapat kesempatan 2 bulan buat bersiap. Terhambat di Inggris dan takut pada Beruang Merah, maka tentara Nazi dengan sekonyong-konyong menyerang Soviet Russia. Tentara Nazi hampir sampai ke Moskow. Di saat inilah Jepang dibujuk dengan tawaran membagi dunia “kalau” menang. Jepang juga buntu di masa itu. Mesti pilih mati perlahan-lahan disebabkan oleh gerilya Tiongkok dan pemboikotan ekonomi dari pihak ABCD atau menerkam sebelum mati. Dia pilih yang terakhir. Jepang tidak menunggu referee. Belum lagi ditiup peluit …. Armada Jepang ………. Goal di Hawai.
Begitulah keadaan internasional sampai perang dunia kedua. Kita tahu siapa kalah dan siapa menang. Sekarang sudah damai, tetapi bagaimana sifat United Nations? Apakah undang-undangnya dapat dijalankan? Apakah kita mesti menggantungkan diri kita saja kepada United Nations itu?
Satu aliran di antara kita adalah bersandarkan pada kekuasaan Armada Inggris-Amerika di masa ini. Kekuasaan itu dianggap seolah-olah kekal, bulat, absolut. Saya akui kekuasaan Inggris-Amerika itu di masa ini. Tetapi sebagai satu moment dan penuh pertentangan pula. Seperti semua barang di dunia ini, kekuasaan inipun adalah relatif, bisa berubah, tidak tetap, absolut. Perhatikan sajalah perhubungan Amerika dan Inggris. Sekarang Inggris berhutang banyak. Apa Inggris mau bayar begitu saja? Sesudah perang dunia ke I Inggris ingkar membayar penuh hutangnya! Awasilah sikap Inggris terhadap hutangnya itu atau janjinya! Nyata sudah Inggris mau menjajah Indonesia langsung atau dengan perantaraan Belanda. Apakah Amerika, Tiongkok dan Rusia, apalagi Hindustan akan membiarkan Indonesia dicaplok buat memperkuat imperialisme Inggris?
Siapakah di antara mereka yang menang ingin damai bisa membiarkan berdiri terus dunia “haves and Have-nots”? Ringkasnya antara Amerika dan Inggris tiadalah “koek en ei” saja, perkoncoan tulen. Begitu juga antara Inggris dan Soviet Russia. Perhatikanlah pertentangan Inggris dan Soviet di Eropa Barat di Asia Barat dan Iran. Bisakah kekal perhubungan Rusia proletaris dengan Amerika kapitalistis?
Ringkasnya Indonesia tak perlu bertekuk lutut begitu saja pada kekuasaan Amerika-Inggris itu, karena semata-mata beralasan anggapan kebulatan dan ketetapan perserikatan Amerika-Inggris itu. Janganlah pula berpangku tangan mengharap-harapkan bantuan United Nations yang sekarang sesudah perang dunia ke II ini kembali menghadapi persoalan seperti sesudah perang dunia ke I: Pembagian dunia atas yang kalah dan yang menang masih ada. Pembagian atas “the haves” and haves nots” terus menerus. Hutang masih perlu dibayar oleh yang kalah. Pertanyaan akan timbul kembali: “Apakah yang kalah mesti bayar hutangnya dengan uang atau dengan barang?” Dimana pasar buat bahan dan barang hasil untuk the have-nots”? Cuma si have-nots bukan lagi 80 juta. Jerman termasuk Austria, tetapi bertambah dengan 40 juta bangsa Italia dan 70 juta bangsa Jepang. Jumlah 190 juta! Yang akan dihadapi oleh United Nations, ialah persoalan lama sebagai pusaka sistem lama, satu vicieuse cirkle, seperti “menghasta kain sarung saja”, tak putus-putusnya.
Sekarang kita memandang ke Indonesia. Kita tahu bagaimana caranya Belanda mengusahakan koloninya:
“God schep den Mens naar zijn evenbeeld” (Tuhan menjadikan manusia menyerupai Dirinya). Jadi sifat dan bentuknya perekonomian Belanda lebih kurang juga mempengaruhi sifat dan bentuk perekonomian Indonesia.
Bermula perlu dikemukakan disini, bahwa Negara Belanda itu berdasarkan pertanian dan perdagangan. Yang dihasilkannya ialah keju, mentega dan bloemollen. Barang ini dan hasil dari Indonesia diperdagangkannya dengan Negara luar. Bukanlah negara Belanda itu satu negara perindustrian, seperti Belgia ataupun Swedia, Swiss atau Ceko Slovakia.
Di stasiun Manggarai saya lihat satu lokomotip. Dari jauh kelihatan tulisan pada lokomotip tadi. Saya hampiri kelihatan tulisan “Amsterdam”. Saya tanya pada diri saya sendiri: masakan bisa pabrik Belanda mengeluarkan lokomotip. Memang disamping huruf Amsterdam tadi tertulis: “Made in Manchester”.
Selanjutnya pula saya baca di-construct di Amsterdam. Cocok dengan mesin kapal atau mesin lain-lainnya "Made in Chemnitz” atau Manchester tetapi di-construct alias di pasang di negeri Belanda. Jadi Belanda cuma tukang pasang bagian mesin yang dibikin di luar negaranya.
Kalau diperiksa lebih dalam maka nyatalah bahwa Belanda itu tak bisa menjadi negara Industri. Besi tak ada, minyak tak ada: Timah, Alumunium, tembaga, karet, kapas, wol, ya segala-gala tidak. Yang banyak ialah rumput dan sapi. Dengan begitu maka semangat Belanda bukanlah semangat industrialis. Semangatnya ialah semangat tani dan dagang, ialah pegadang secara pegadang tulen, pegadang kecil, bukan pula pedagang industrialis.
Sebab itulah maka kalau imperialis Belanda memandang ke Indonesia maka ia mengincarkan matanya sebagai petani dan pedagang, semangat perindustrian dan kemesinan secara modern tentu tak ada dan tak bisa ada padanya. Apalagi kalau dipikir bahwa penjajah Belanda itu merasa terpaut ole penjajah Inggris 100 tahun lampau bukanlah Indonesia yang sudah direbut oleh Inggris dari Belanda itu di masa perang Napoleon dikembalikannya kepada Belanda? Bukankah pula modal Inggris banyak ditanam di Indonesia? Jadi Belanda terpaut oleh kapitalis Inggris.
Berhubung dengan politik “opendeur” Belanda juga terpaut oleh Amerika. Belanda buka pintu Indonesia buat masuknya kapital asing.
Tetapi dengan begitu dia sendiri bersama-sama terturut oleh kapitalisme asing itu. Belanda sudah tentu tak bisa mengadakan industri yang kiranya bertentangan dengan industri Inggris dan Amerika. Belanda sudah tentu akan dapat teguran dari Inggris, Amerika atau Industrinya Belanda yang ada di Holland sendiri.
Inilah sebab kedua maka semangat perindustrian yang sudah tak ada pada Belanda itu tak pula bisa muncul kalau Belanda berada di Indonesia.
Ada pula sebab yang lain yang menekan semangat perindustrian itu. Kepintaran buat membangunkan pabrik ini atau itu tentu bisa diperoleh Belanda dari luar negaranya. Sendiri atau bersama dengan orang Indonesia dia bisa pergi ke Swiss buat “mempelajari” membikin lokomotip atau Swedia mempelajari membikin mesin Diesel, Ke Belgia atau Ceko Slovakia mempelajari membikin senjata. Memang rakyat Swiss atau Swedia jauh lebih pintar dari rakyat Belanda tentangan kemesinan. Kalau Belanda malu akan kebodohannya itu dia bisa pergi lebih dahulu sebagai murid ke Swiss atau Swedia itu. Kemudian kembali diam-diam ke Indonesia berlagak menjadi gurunya si Inlander. Tetapi keberatannya nanti ada pula. Si Inlander ini seperti berbukti pada semua tingkatan sekolah, mungkin lebih pintar dari Belanda itu. Dia mungkin lebih bisa membikin rencana perindustrian atau mesin ini dan itu.
Ketika monok Jepang sudah kelihatan penjajah Belanda terburu-buru mau mengadakan yang dia katakan, “industrialisasi”. Dalam hal begitu Ter Poorten sendiri di Australia mengakui bahwa pekerja Indonesia tak kurang dari pekerja manapun juga, dalam beberapa hal katanya, bahkan melebihi. Sebab pekerja Indonesia mempunyai sejarah ratusan tahun dan hatinya tetap tenang terikat pada kerjanya. Dengan pekerjaan otak dan tangan yang siap sedia semacam itu, dengan bahan yang ada melimpah di Indonesia ini, bukanlah bangsa Indonesia sendiri kelak bisa membangunkan dan ngurus perindustrian modern?
Tetapi bukankah pula dengan begitu penjajah Belanda menaruh sak wasangka kelak akan jatuh sendirinya? Ratusan tahun dahulu seorang ahli politik Italia, Machiavalli yang terkenal sudah mengatakan:
Barang siapa mengangkat orang lain dia sendiri merendahkan dirinya. Pepatah semacam ini memang benar kalau dipandang dengan mata miring dan hati sempit! Bagaimana juga pepatah ini cocok dengan semangat Belanda yang terkenal ialah semangat “kruindenier”, tauke kecil!
Lantaran tiga sebab tersebut di ataslah maka Indonesia sesudah 350 tahun diperintahi Belanda tetap tinggal satu jajahan berdasarkan pertanian belaka. Kita ulang lagi: pertama sebab semangatnya penjajah Belanda sendiri, bukanlah semangat industrialis, kedua takut dimarahi boss-nya ialah Inggris-Amerika dan ketiga karena momok Machiavelli tadi, ialah takut nanti disingkirkan oleh rakyat Indonesia tadi.
Dicocokkan dengan keadaan Belanda sendiri, perekonomian dan semangatnya Belanda sendiri, disesuaikan dengan bumi iklim Indonesia sendiri memangnya pertanianlah yang oleh imperialisme Belanda mesti dijadikan sendi perekonomian Indonesia. Disana sini bisa dibangunkan tambang ini atau itu asal saja kelak jangan bertentangan dengan keperluan boss-nya Belanda di London atau New York.
Tambang minyak tanah itu asal dikuasai atau diawasi oleh Amerika-Inggris tiadalah berkeberatan.
Tambang timah, emas, bauxit dan arang, asal tinggal tambang saja tak mengandung bahaya pada Inggris-Amerika. Asal saja musuhnya Inggris-Amerika itu seperti kapitalisme Jerman, Jepang bisa disingkirkan.
Perhatian Belanda dipusatkan kepada pertanian. Pertanian ini dibikin secara modern dan besar-besaran. Kebun dan pabrik teh, kopi, gula, kina, getah dan sebagainya, sudah amat dikenal di seluruh dunia. Hasilnya membanjiri dunia dan untungnyapun membanjiri kantongnya kapitalis Belanda yang tinggal lebih dari 10.000 km jaraknya itu. Untung, dividen dan bunga buat si Kapitalis, gaji ongkos perlop dan pensiun buat bujangnya kapitalis, alias “bestuur-ambtenaaren” dan pentolnya si Kapitalis berupa polisi dan serdadu masyhur besarnya di pelosok dunia ini.
Dibandingkan dengan gajinya Presiden Amerika yang terkaya itu apalagi dengan gajinya satu menteri Jepang, maka gajinya G.G. Indonesia adalah “omgekeerd evenredig” (perbandingan berbalik) dengan jasanya terhadap rakyat. F 450.000.000 se tahun mengalir kekantongnya Belanda buat diperbungakan di luar negara Belanda, seperti Amerika dan ……. Jerman Nazi.
Landbouw-industrilah puncak kesanggupan imperialisme Belanda di Indonesia ini. Mudah menyelenggarakan penghasilan semacam itu. Besar pula untungnya. Sesudah itu tiga bulan saja tebu itu sudah boleh dipotong dan digiling. Hasilnya dikirim ke semua pelosok dunia dengan perantaraan Bank, perkapalan atau asuransi Belanda. Cocok dengan semangat tani dan saudagar yang ada pada Belanda. Sisanya dimakan sendiri!
Satu perkataan yang menggelikan seorang Amerika, ialah perkataan "rijsttafel". Kata si Amerika tadi, pertanyaan yang penting buat seorang Belanda di Indonesia ialah “heb je al gerijstaafeld”? Si Amerika tadi sudah pernah diundang buat satu “rijttafel” yang mengatasi semua kemewahan.
Daftar makanan yang panjang, meja yang penuh berupa jenis makanan dan minuman, leret jongos yang panjang pula buat melayani, lebih menggelikan si Amerika tadi dari pada menggembirakan. Pada kemewahan dalam makanan inilah si Amerika tadi mendapatkan pecahan soal yang sudah lama tercantum dalam hatinya. Soal itu ialah: Dari mana timbulnya “stille kracht” di antara Belanda sendiri? Si Amerika tadi berpendapat, bahwa kalau orang makan terlampau banyak, maka kupingnya bisa ngelamun mendengarkan yang tidak-tidak. Tidrunya bermimpikan hantu atau setan.
Seperti si Imperialis Inggris “membunuh” temponya dengan main golf, maka si penjajah Belanda menghabiskan waktunya dengan ‘rijsttafel”. Sesudah melayani bermacam-macam hidangan dari sop sampai opor, maka ia berhadapan dengan berjenis-jenis buah-buahan. Apabila sedikit sudah jauh malam, maka sampailah temponya buat si Bediende menghidangkan teh, kopi, bier, sampai schiedammer-nya. Kecuali “Schiedammer” semuanya bisa dibikin di Indonesia. Pabrik schiedammer pun tak usah didirikan!
Meninjau kita ke persiapan bahan di Indonesia. Menurut pemeriksaan Ir. Abendanon, di waktu perang dunia ke I, maka Sulawesi Tengah banyak mengandung besi. Pun pulau Kalimantan sebelah Timur begitu juga. Logam campuran seperti timah, aluminium dan bauxit banyak sekali didapat. Kwaliteitnya tinggi pula. Ir. Abendanon membandingkan besi Sulawesi dan Kalimantan tadi dengan besi di Philipina dan Cuba yang kesohor itu. Kemenangan banyak terletak pada besi Indonesia itu. Buat kodrat pergerakan di Sulawesi bisa dipakai listrik air mancur yang turun dari Danau Towuti. Buat Kalimantan kodrat penggerak itu boleh ditimbulkan dari arang yang luar biasa banyaknya di dekat tanah logam besi itu. Pekerja mudah pula didatangkan dari Jawa.
Jadi menurut persiapan bahan dan tenaga yang ada di Indonesia, maka sepatutnyalah Indonesia mempunyai perindustrian berat dan enteng.
Cuma tempo yang dibutuhkan buat pelajaran dan pengalaman. Kalau Amerika bisa melebur “Majola steel” dari logam-besi yang diperolehnya di Kuba, kenapa Indonesia tak sanggup mengeluarkan “Towuti steel”? Kalau Amerika mengeluarkan “Ford motor” dan lain-lain kenapa Indonesia tak akan bisa mengeluarkan “Soetomo-Motor”, umpamanya? Cuma tempo yang dibutuhkan dan ….. kesempatan! Kesempatan tempo itulah yang tidak bisa diizinkan kepada rakyat Indonesia. Oleh penjajah Belanda tidak, karena semangatnya dan kesanggupannya tak ada. Lagi pula karena takutnya sama momok Machiavelli, dan takutnya pada boss-nya Inggris-Amerika. Inggris akan marah, karena takut besi manchester atau Baja Sheffildnya akan mendapat persaingan besar dari besi-baja Indonesia.
Amerika akan melotot matanya sebab Majola-steelnya akan mendapat persaingan hebat dari Towuti-steel tadi. Ford-motornya lambat laun akan mati kutu oleh “Soetomo-motor” yang mendapatkan bahan melimpah-ruah di Indonesia ini, seperti besi, alumunium, timah dan …. getah. Selainnya dari pada itu tenaga yang murah, cakap dan rajin tak sering mogok, kodrat penggerak yang dekat dan murah ialah bensin. Di lenakkan oleh “rijstafel” dan ditakuti oleh “boss” Inggris-Amerika tak mengherankan, kalau besi Indonesia tinggal terpendam saja. Tak pula mengherankan kita akan kebodohan bangsa asing menghasilkannya, ialah bensin karena katanya “waardeloos”, tak berharga. Bensin yang berharga sekali buat penerbangan yang terutama didapat di Palembang itu, lama sekali terpendam dan perusahaan minyak tanah di sekitar bensin itupun tak bisa diusahakan “van wege de waardeloze benzine” tadi itulah.
Camkanlah “kebodohan” imperialisme Belanda itu! Kita memang tidak ingin menghina. Perkataan itu tidak akan kita keluarkan dari mulut kita, kalau tidak mengenal hidup dan keamanan kita yang 70 juta. Belanda yang katanya merasa mempunyai ikhlas, mesti lebih dahulu mengadakan zelf-corektie.
Selainnya, dari pada keinginan hendak memajukan rakyat Indonesia itu, Belanda pemimpin Indonesia itu, haruslah lebih dahulu memeriksa kesanggupannya buat memimpin itu. Bukankah satu pemimpin itu yang pertama sekali mesti mempunyai sifat “verzienheid” ialah kesanggupan memandang ke depan. Dengan begitu bisa mengadakan payung sebelum hujan. 8 Maret 1942 memberi bukti senyata-nyatanya bahwa sifat itu sama sekali tak ada pada pemimpin Belanda.
Apakah pengalaman 350 tahun belum cukup lagi buat kita rakyat Indonesia yang 70 juta ini akan sekali lagi diserahkan kepada macan kalah, kelak akan kembali dipimpin oleh “kruidenier” dari Belanda?
Bagaimanakah keadaan perekonomian bumi-putera di Indonesia? Buat mendalamkan arti penerangan kita marilah sebentar kita menengok ke luar Indonesia ke Hindustan umpamanya.
Walaupun imperialisme Inggris sudah kita kenal rakus dan galak, tetapi namun perindustrian bumi-putera di Hindustan bisa juga timbul tumbuh. Maskapai bumi-putera yang terkenal ialah Maskapai-Tata di Hindustan, sudah cukup mendalam dan meluas, sudah cukup terpusat.
Maskapai-Tata di Hindustan, mempunyai tambang arang dan tambang besi sendiri. Dia sudah bisa membikin baja dan besi. Malah sudah bisa membikin kereta dan mesin. Maskapai Tata juga meliputi perusahaan listerik di seluruh Hindustan. Semua perusahaan sudah dipusatkan pada Bank-Tata yang kokoh kuat.
Pendeknya perindustrian bumi-putera sudah sampai ke tingkat yang tinggi sekali, sudah nasional cocok dengan aliran zaman.
Tetapi bagaimanakah keadaan perindustrian bumi putera Indonesia?
Kita di Indonesia sudah bangga dengan pabrik rokok kretek. Memang pabrik rokok kretek itu sudah mempunyai modal besar. Pekerjanya sudah sampai ribuan. Pabrik rokok itu baik buat mengepul-ngepulkan asap ke udara. Tetapi letaknya terpencar-pencar belum disatukan oleh Bank Nasional. Pabrik atau perindustrian bumi-putera yang meliputi seluruhnya Indonesia, seperti Maskapai Tata di Hindustan itu belum kelihatan tunasnya.
Semangat kapitalis bumi-putera juga bukan semangat kapitalis modern. Untung yang diperoleh itu tiadalah selalu terus-menerus, melainkan ditukarkan dengan emas atau perak.
Rupanya kapitalis kita belum berapa bedanya dengan kapitalis yang lokek-kedekut. Kita ingat akan ceritanya seorang lokek-kedekut itu, bernama harpagen, karangan kokiere yang terkenal itu. Seperti si Harpagen itu kapitalis kita mengumpul-ngumpulkan emas atau perak. Malam hari dalam waktu sunyi dideringkannya emas itu ke telinganya. Inilah rupanya kesenangannya ialah mendengarkan deringan uang emas di telinganya.
Matanya dilipurnya dengan uang perak atau tembaga yang ditempelkannya ke dinding atau rumahnya. Memajukan perindustrian itu supaya sampai ke industri berat dan nasional, belumlah termasuk ke dalam sikap dan tindakannya kapitalis bumi-putera.
Memang susah buat membangunkan perindustrian bumi-putera di abad ke 20 ini. Kerajinan setingkat manifactur, seperti berada di pintu gerbangnya zaman industri di Eropa, seperti kerajinan pertenunan, pemintalan, pembikin perkakas dan senjata, pembikin alat rumah dan sebagainya terlanjur lenyap disaingi oleh barang hasil pabrik Eropa selama penjajahan Belanda.
Perkapalan bumi-putera Indonesia itu mati terpukul oleh politik monopolinya imperialisme. Sedikit sekali sisa perekonomian yang berarti modal dan majikan yang bsia menahan tamparan. Imperialisme yang berupa monopoli, kulturstelsel dan vrijhandel itu. Sisa itu tak cukup kuat buat bangun kembali di abad ke 20 melawan kapitalisme modern. Maka kapitalisme modern ini sudah terpusat pada Badan seperti syndicaat dan ondernemersbond. Keduanya mendapat tunjangan politik yang sepenuhnya dari semua Departemen pemerintah Belanda di Jakarta dan dari sarang Birokrasi yang terkenal bersama Algemene Secretaris.
Borjuis berupa kapitalis aktif, modern, memang belum ada di Indonesia! Hal ini merugikan tetapi ada pula menguntungkan kita. Karena tak ada kelas-tengah yang kuat maka Murba Indonesia tak banyak mendapat rintangan buat mengadakan “tindakan-sosialis”. Keadaan ini tak berapa bedanya dengan keadaan di Russia sebelumnya Revolusi Bolsyewik. Kaum tengah Russia tak berdaya melawan persatuan buruh dan tani yang sangat revolusioner tersusun dan terdisiplin itu.
Lantaran tak ada perindustrian bumi-putera yang modern serta kokoh kuat itu, maka intelligensia Indonesia selalu saja diombang-ambingkan oleh haluan radikal atau moderate, revolusioner atau evolusioner, keras atau lembek, coorperasi atau non-coorperasi. Lebih dari 20 tahun lampau haluan terpelajar kita yang terombang ambing itu sudah saya peringatkan.
Saya sudah peringatkan pula dalam beberapa brosure bahwa baik politik cooperasi atau non-cooperasi di Indonesia kita ini niscaya akan gagal.
Memang di Hindustan haluan non-cooperasi bisa sedikit membawa hasil. Pemboikotan barang pabrik Inggris yang dimasukkan ke Hindustan itu bisa dilaksanakan. Karena Bombay dan Ahmedabad bisa mengadakan sebagian dari barang yang dibutuhkan oleh Rakyat Hindustan yang hampir 400 juta itu:
Kain umpamanya. Perusahaan memintal benang dan menenun kain yang dilakukan di rumah atas anjuran Kongres itu, bisa memenuhi sebagian dari yang kurang. Jadi pemboikotan barang Inggris itu memang menguntungkan perusahaan bumi-putera yang sudah tinggi derajatnya itu.
Karena itu tiadalah mengherankan kalau Kongres Hindustan mendapat sokongan uang dan politik dari Hartawan Hindustan.
Bukanlah begitu keadaan di Indonesia. Tingkat perindustrian bumi-putera dan persatuan di antara kaum-tengah Indonesia belum cukup kuat buat mengadakan pemboikotan terhadap perindustrian Barat di Indonesia yang sudah sampai ke tingkat monopoli dan trust yang modern yang bersifat Internasional pula. Kapiltaisme asing di Indonesia sudah mempunyai organisasi seperti Suikersyndicaat, BPM, Ondernemersbond dan sebagainya. Semuanya badan yang bersifat monopoli ini mempunyai pengaruh yang besar sekali atas haluan dan jalannya politik jajahan di Indonesia. Tak mungkin perindustrian tengah bumi-putera yang cerai-berai itu yang dipimpin oleh intelligensia yang serba bimbang itu bisa melawan trust dan monopoli asing yang mendapat bantuan penuh dari birokrasi jajahan pula.
Haluan non-cooperasi di Indonesia itu juga tak pernah bisa mengadakan aksi seperti pemboikotan Tiongkok atau non-cooperasi di Hindustan.
Begitu juga hasil pekerjaan cooperasi di Volksraad tak ada sama sekali. Tak ada hasil yang nyata (positif) yang direbut oleh wakil bumi-putera dalam Volksraad itu. Dalam politik, ekonomi dan sosial Indonesia sebagai jajahan belum lagi sampai ke tingkat yang paling bawah. Di antara 61 anggota itu cuma dua tiga anggota bumi-putera yang betul-betul mewakili rakyat.
Seandainya 61 anggota itu semuanya bumi-putera, mereka tak akan bisa membikin undang-undang yang merugikan kapital internasional di Indonesia.
Seandainya mereka bisa membikin undang-undang mereka tak pula akan diizinkan oleh kapital internasional menjalankan undang-undang yang merugikan kapital internasional itu. Di belakang Volksraad berada tentara Belanda. Di belakang tentara Belanda ada pula bantuan kapital internasional tadi. Tetapi Volksradd sama sekali belum sampai ke tingkat mempunyai 100% wakil rakyat Indonesia atau berhak membikin Undang-undang apalagi menjalankan undang-undang yang semata-mata menguntungkan rakyat Indonesia. Volksraad, sampai Belanda bertekuk lutut kepada Jepang cuma mempunyai hak buat memberi nasehat saja.
Nasehat itu biasanya ditaruh di bawah telapak sepatunya kapitalis Belanda. Borjuis Indonesia yang sebagian mengandung kekuatan bukanlah borjuis industri ataupun dagang, melainkan borjuis ambtenaar. Borjuis ambtnaar ini adalah borjuis “oleh” Belanda dan “untuk” Belanda. Mereka dididik dalam sekolah istimewa, yang kita kenal dengan nama MOSVIA. Untuk undang-undang yang mereka mesti pelajari dan hafalkan buat dijalankan dengan tak boleh banyak “rewel” ialah undang-undang yang melindungi kepentingan kapitalis Belanda dan saudara tuanya, Inggris, Amerika. Dididik saja tentu belum cukup buat membikin, menggodok dan memasak B.B Ambtenaar yang kita kenal.
Mereka mesti mempunyai dasar sosial yang kokoh. Dasar itu ialah keningratan. Kaum ningrat, yang di zaman Indonesia Merdeka bekerja pada raja di dalam jajahan Belanda diterima sebagai pegawai penungkat jajahan itu. Mereka yang sudah berpengalaman banyak tentangan pimpin-memimpin, dan gertak-menggertak bangsanya sendiri, ialah “orang kecil” oleh Belanda dipakai buat keperluan Belanda. Mereka dipakai sebagai tengkulak antara imperialis Belanda dengan Rakyat Indonesia.
Karena tak ada perindustrian bumi-putera yang kuat buat tempat bersandarnya kaum intelligensia kita, maka mereka ini bimbang terus-menerus di antara Rakyat Murba yang bersifat radikal itu dan yang berkuasa disini. Umpamanya mereka betul tidak senang di bawah perintahnya bangsa asing. Pergerakan nasionalisme di seluruh Asia membangunkan paham nasionalisme yang teguh di kalangan mereka. Tetapi mereka curiga saja akan kekuatan dan hasrat murba yang sebenarnya. Mereka enggan mencemplungkan diri ke dalam Murba.
Apabila tentara Jepang masuk maka dengan tak sangsi lagi sebagian mereka tampil bernaung ke bawah bendera imperialisme Jepang. Imperialisme Jepang dengan cerdik licik selangkah demi selangkah menarik kaum intelligensia ke bawah telapak pengabdian baru; berkerek ke Tokyo.
Kepulauan Jepang amat miskin dalam hal semua bahan yang penting buat industri modern. Tanah-logamnya besi diambil di Malaka dan diangkut ke Jepang. Di sana tanah logam tadi dilebur menjadi besi dan di tempa menjadi baja. Seterusnya dibikin menjadi mesin minyak tanah dibeli dari luar Negara pula. Arang, timah, getah, makanan dan lain-lain didatangkan dari dan mesti dibeli di luar Negara. Buat pembeli Jepang mesti menjual barang, ialah hasil-pabrik. Tetapi kalau sebentar saja terganggu pesawatnya jual-beli itu maka terganggulah pula seluruhnya perekonomian Jepang.
Maka demikianlah timbulnya hasrat segolongan Rakyat Jepang buat memonopoli pasar di luar Jepang terutama di Asia. Pada keadaan beginilah beruratnya imperialisme Jepang. Dengan menguasai Mancuria lebih dahulu, kelak Jepang berharap bisa menguasai Tiongkok Utara, Tengah, Selatan, Indonesia, Hindustan berturut-turut. Dengan menguasai Asia, Jepang dan Amerika berturut-turut.
Pengikut rencana “si Cebol hendak mencapai bulan ini” tidak saja berada di Jepang tetapi juga di luarnya.
Kepercayaan istimewa pada diri sendiri itu adalah berurat dalam pada masyarakat dan kepercayaan Jepang.
Rakyat Jepang kecuali beberapa orang masih percaya pada dongeng yang tingginya sederajat dengan dongeng Indonesia sebelum Islam. Katanya ada dua Dewa laki istri yang membentuk dan menguasai Jepang ialah Dewa Izatagi-O-Mikoto dan Izanagi-O-Mikoto. Seorang dari turunannya itu ialah Amaterasu-O-Mikami menguasai Matahari. Salah seorang turunannya, bernama Jimmu turun dari matahari ke kepulauan Jepang. Tiadalah dibilangkan dengan apa dia turun. Tetapi Rakyat Jepang, ialah turunan Dewa pula (kecuali beberapa orang) percaya, bahwa Maharaja Jepang yang dianggap Tuhan itu, ialah turunan Dewa Amaterasu tadi. Sebagai Tuhan, maka dia, yang oleh “umatnya” di Indonesia biasa ditulis dengan huruf besar, menguasai bumi dan langit, menguasai politik Rakyat Jepang dan strategi Tentara Jepang.
Tentara ini ialah tentara Maharaja Tuhan Jepang dan tak bisa kalah. Karena memangnya tentara itu kepunyaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang belum pernah kalah, dan belum pernah terputus kekuasannya semenjak 2600 tahun …. Katanya sebelum kalah!
Kepercayaan bulat-buta terhadap seorang manusia yang laku di Jepang, sebagai hasilnya masyarakat dan sejarah Jepang tentulah tak begitu saja bisa disuruh telan bulat-bulat kepada Rakyat Islam di Indonesia, yang sudah nasionalisme pula. Tentara Jepang yang menyerbu ke Indonesia perlu memakai “catch-words” sebagai semboyan pemancing. Berhubung dengan itu kita sering dengar perkataan “bushido” Ksatria, “Hakko Ichiu”, keluarga sedunia dan lain-lain buat kemakmuran bersama di Asia Timur Raya.
Ketika saya di Singapura tanggal 8 bulan 12, tahun 1941, belum lagi wasit membunyikan peluitnya tentara Jepang tiba-tiba menyerang Inggris di Malaya dan …. Goal! Ini artinya bushido ialah “mencido” alias berkhianat. Kalau Jepang berkenalan dengan orang lain maka dia ucapkan, "haijimete o meni nakarimasu". Artinya kira-kira "saya memperamati wajah tan hamba sambil melayang di udara". Biasanya diucapkan dengan muka tersenyum. Tetapi kakinya si Jepang tadi siap buat menyewet kaki kenalannya tadi, apalagi kalau si Kenalan tadi ialah seorang “genjumin bagero”. Benar pula kalau si Kenalan tadi sudah terlentang, karena bushidonya si Jepang, maka si Jepang memang berada tinggi di udara memperamati kekayaan si Indonesia yang sudah jatuh terlentang tadi. Berapa banyaknya pelayan yang jadi mangsanya politik sekeluarga dunia. Tentara Jepang perlu heiho Indonesia, kempei-ho Indonesia dan lain-lain. Mereka perlu buat pembantu tentara Jepang di luar Indonesia, dan kelak sehabis perang alias musuh Jepang di dalam Indonesia. Semua “ho” alias pembantu itu lebih “bagus” kalau dididik dari kecil.
Lebih “bagus” pula kalau anak didikan itu mempunyai darah “Yamato”, ialah keturunan Jepang. Entah berapa ribu banyaknya tentara Jepang memperoleh “turunan” di Indonesia selama dia berada di Indonesia.
Buat melakukan kemakmuran bersama dalam Asia Timur Raya itu dari Putera, ke Hokookai dan akhirnya ke “janji” Merdeka di kelak di kemudian hari.
Kemerdekaan itu ialah buat “kelak kemudian” hari. Kemerdekaan itu berbahaya buat Jepang, kalau Indonesia yang kaya-raya dalam hal bahan dan tenaga itu betul bahan yang ada di tanah dan lautnya, sudahlah tentu barang yang dibikin di Jepang dari bahan yang mesti didatangkan dari jauh itu akan lebih mahal dari barang dibikin di Indonesia. Kalau Pemerintah Indonesia betul pula nasionalistis bisa kehilangan Indonesia. Apa yang ditakutkan Belanda terhadap Indonesia akan ditakuti pula oleh Jepang. Karena itu Indonesia mesti dikebiri lebih dahulu. Ilmu dan teknik Indonesia mesti perpuncak dari Jepang Tenno “kecil” Indonesia mesti menyembah ke Tokio.
Perkara ilmu dan teknik mudah diselenggarakan. “Csamu Seire” sebegini-begitu bisa membentuk didikan yang dicocoki oleh tentara Jepang. Dua tiga orang Kempei-Tai bisa menjaga supaya undang-undang Jepang itu dijalankan. Tenno kecil-pun mudah dibikin. Tetapi yang tiada mudah ialah menimbulkan rasa takut-cinta terhadap Tenno Indonesia dan Tenno Jepang. Apalagi kalau dipikirkan, bahwa Islam adalah bertentangan dengan kepercayaan Jepang itu dan sudah mendalam di Indonesia ini. Semua didikan dan sistem pelajaran mesti lebih lama berlaku, umpamanya satu-turunan 20 atau 25 tahun.
Tetapi apakah bisa tentara Jepang menunggu 20 atau 25 tahun ini?
Di salah satu tempat bersembunyi dekat Jakarta saya coba dengan bisik-bisik dan dengan kiasan pula menerangkan bahwa, kalau Jepang tak bisa hancurkan Amerika sebelum hasil industri Amerika memuncak, ialah di pertengahan tahun 1944, maka Jepang sendiri akan hancur. Pada masa itu Jepang paling banyak bisa menghasilkan 1000 pesawat terbang dalam sebulan, sedangkan Amerika saja sudah 100.000. Walaupun yang berbisik itu bukan memakai nama Tan Malaka, tetapi Sang Polisi datang juga menggeledah rumah dan barang saya. Begitulah lemahnya Jepang dalam perindustrian! Tak mengherankan ketakutan Jepang atas kebenaran tentang kekuatannya yang sebenarnya. Sang Tempo adalah musuh besarnya Jepang. Makin lama berperang makin baik buat musuhnya dan makin celaka buat dirinya sendiri. Dia tergesa-gesa dalam segala-gala. Belum lagi wasit meniupkan puputnya, dia mesti menyerbu. Akhirnya belum lagi tenno-kecilnya, sistem sosial, ekonomi dan kebudayaannya siap di Indonesia, dia sudah disuruh oleh Sekutu bersiap meniggalkan Indonesia.
Tahun yang lalu, 14 Agustus, Jepang menyerah. Indonesia masih dikangkangi Tentara Jepang. Tetapi mulutnya Tentara Jepang sudah disumbat dan tangannya dibelenggu. Sekutu yang mau menduduki Indonesia belum tiba katanya, sebagai penerima warisan perang, pada waktu ini atas dorongan Rakyat dan Pemuda Indonesia, Republik ditabalkan.
Rakyat Indonesia berhak penuh atas kemerdekaannya baik menurut teori atau prakteknya Negara sopan di seluruh dunia ini.
Rakyat Indonesia tak perlu sangai akan hak kemerdekaan itu. Hak itu ialah hak-alam, hak yang diwarisi, oleh Rakyat Indonesia dari Alam Indonesia, ialah geboorte-recht, birthright.
Kemerdekaan itu mestinya 100 %. Baru bisa kelak Indonesia merdeka mengambil semua tindakan yang bisa memperlindungi kemakmuran dirinya dari serangan asing. Baru kelak Indonesia Merdeka bisa mengadakan kemakmuran yang cocok dengan bahan dan tenaganya serta kebudayaan yang cocok dengan jiwanya. Turunan yang sekarang mendapat kesempatan buat mempertahankan kemerdekaan 100 % itu.
Janganlah hendaknya kita gagal mempertahankan kemerdekaan 100 % itu.
Marilah kita bersiap menjaga, supaya kita jangan di dorong kembali kepada status yang bukan merdeka 100 %. Dengan hasrat dan kemauan merdeka 100 % itulah hendaknya kita menghadapi maksud dan tipu muslihatnya musuh kita yang gagas dan licik ular itu. Di kiri kanan kita sekarang mendengar desas-desusnya cadangan automnomie terhadap pemerintah Republik. Usul semacam ini bisa cocok kalau kita dalam hakekatnya masih mengakui, bahwa Belanda berhak atas dunia, seperti seorang Tuan di jaman purbakala berhak atas seorang budak belian. Usul semacam itu sama sekali bertentangan dengan arti tulisan dari lisan lahir dan batin Republik Indonesia yang berdiri semenjak 17 Agustus 1945 itu. Usul semacam itu sama sekali tidak cocok lagi dengan kemauan 70 juta rakyat Indonesia.
Kalau seandainya usul autonomie itu diterima maka kita akan berada kembali dalam sebelum penjajah Belanda lari ketika melihat tentara Jepang. K.P.M Syndicat ini dan itu, serta ondernemersbond akan kembali berurat-berakar disini.
Kapital asing akan lebih merajalela disini. Mungkin semua kapital asing akan bersatu menghadapi rakyat Indonesia dan menekan serta menghisap rakyat Indonesia. Tetapi mungkin pula kapital asing akan berpisah mengadakan “Invloedsfeer”, daerah pengaruh masing-masing. Hal ini akan lebih mencelakakan Indonesia yang rakyatnya lebih miskin dari sudah-sudah itu. Indonesia yang berdiri dari ratusan pulau itu, oleh politik “Invloedsfeer” itu mungkin akan lebih berpecah-belah dari yang sudah-sudah. Keadaan di Tiongkok sebelum perang dunia ini akan seperti surga kalau dibandingkan dengan neraka ciptaan autonomie itu. Autonomie itu boleh jadi berupa Commenwealth atau gemenebest tetapi akibatnya buat rakyat Indonesia tentulah “Gemenepest”.
Janganlah Indonesia autonomie berharap akan bisa menimbulkan perindustrian yang akan sanggup mengadakan kemakmuran yang berbahagia buat rakyat jelata dan kelak bisa mengadakan perlawanan terhadap serangan dari luar, “Indonesia autonomie” itu tetap akan tinggal Indonesia miskin buat “Murba” dan “Indonesia bulan-bulanan buat imperialisme asing”.
Rakyat Indonesia mesti tolak semua cadangan yang berarti autonomie, commonwealth, Dominion, Free State itu. Rakyat Indonesia tak boleh membiarkan pemerintahannya berunding atas dasar yang kurang dari “Merdeka 100 %” itu. Tetapi ada pula mereka yang bertanya: Apakah kita bisa Merdeka 100 %? Lihatlah pesawat terbang Inggris! Lihatlah kapal perang serta tank raksasanya? Jawab kita: Lihatlah akibatnya “Bambu runcing”, berapa senapan, pelor, tommygun, meriam, tank, bahkan kapal perang dan pesawat terbang yang direbut dengan bambu runcing. Bambu runcing dan alat perang yang semulanya direbut dengan bambu runcing itulah yang menahan Inggris, Nica di kota Surabaya.
Bambu runcing mengusir Inggris, Gurkha, Nica dan Jepang dari Magelang dan mendesak ke Semarang. Bambu runcinglah pada akhirnya yang memberi kesempatan rakyat di garis belakang. Bambu runcing itulah pula yang memberi kesempatan kepada rakyat Indonesia memikirkan membikin senjata baru modern atau membelinya dari pihak manapun juga.
Kata si Lemas tulang punggung yang tak mau kalah berjuang dengan lidah itu pula. “Lihatlah rakyat kita yang terlantar atau mati karena menentang Inggris itu!”
Jawab kita: “Sebab niat “menjajah kembali” dari pihak Nica itulah kita sudah puluhan ribu rakyat dan pahlawan kita mati”.
Sebab penjajah Jepanglah maka antara tiga empat juta rakyat Indonesia melayang jiwanya sebagai romusha dan heiho. Sekarang kita mau tanya pula: Apakah kita sesudah pengorbanan lebih kurang 4 juta dalam belum lagi 4 tahun itu, kita mau kembali dijajah lagi. Kembali lagi miskin melarat, hilang lenyap dan segala kelemahan pula kelak menghadapi kemungkinan pernag dunia ketiga.
Si Lemas tulang punggung memang banyak alasannya. Dia lari lagi kepada United Nations. Katanya Inggris ini disuruh ke Indonesia oleh United Nations itu. Tanya kita pula: Apakah kita masih takluk pada putusan satu badan yang tiada mendengarkan suara kita dan menerima ataupun meminta wakil kita? Apakah kita mesti begitu saja ikut putusan yang diambil buat kita, tetapi tidak degan kita (Overens, maar zonder ons)?
Kalau perlu kita tak akan menghiraukan putusan United Nations itu, kalau ia kembali bersifat Volkenbond, ialah perserikatan kaum penjajah yang mau menetapkan penjajahan!
Si Lemas tulang punggung tak mau tahu akan hasilnya diplomasi bambu runcing yang sudah dijalankan oleh Rakyat Murba lebih kurang tiga bulan ini. Siapakah akan mengira bahwa perkara Kemerdekaan Indonesia Rakyat Amerika memaksa majelis rendah dan tingginya mengambil sikap yang pasti ? Mencela Inggris dan Belanda mengadakan paksaan terhadap Indonesia Merdeka?
Pemerintah, tentara, rakyat dan terutama buruh Australia tetangga kita yang arif-bijaksana serta mulia itu membantu kita baikpun lahir ataupun batin.
Pemerintah Ceylon terus terang mengakui Republik kita dan menunjukkan simpatinya terhadap perjuangan Kemerdekaan kita.
Para pemimpin Hindustan dan Arab, Birma dan Philipina tak pula segan-segan memperlihatkan persetujuan dengan Republik Indonesia.
Buruh Inggris dan Belanda sedang bergerak menentang politik Imperialisme yang dilakukan oleh pemerintahnya. Persoalan Indonesia adalah persoalan yang amat penting dalam politiknya pemerintah Inggris dan Belanda.
Di atas segala-gala, adalah sikap Tiongkok dan Rusia, dua Republik terbesar dan muda remaja membantu dengan terang-terangan kemerdekaan Indonesia yang muda remaja yang sedang berjuang dengan gagah-perkasa menghadapi musuh yang berpengalaman dan bersenjata modern dan lengkap itu.
Tak mengherankan kalau persoalan pengakuan atas Kemerdekaan Indonesia itu pada masa ini adalah satu persoalan yang hangat di kalangan pemerintah negara besar di dunia ini, di kalangan rakyat Murba di Asia dan Afrika serta di kalangan buruh di dunia.
Semua perhatian dunia itu ialah akibatnya diplomasi bambu runcing.
Tetapi lebih dari siapa saja kami juga insyaf akan kelemahan kita sendiri.
Kami tahu akan pertentangan malah percekcokan antara satu kumpulan rakyat dengan satu kumpulan rakyat yang lain, satu isme dan isme yang lain.
Kejadian pada masa ini di daerah pekalongan yang kabarnya sudah menjalar ke Cirebon dan ke periangan Timur amat mengerikan kami. Kami juga ngeri melihat perbedaan kemauan rakyat dan kemauan Pemerintah. Lebih mengerikan pula tindakan yang diambil oleh tentara keamanan rakyat terhadap rakyat yang sebenarnya berkorban terus membela Republik, seperti di Jawa Barat dan lain tempat.
Berhubung dengan semuanya percekcokan dan kekalutan ini pada pihak kita, dan ketetapan hati musuh menjajah kita kembali, maka kami tergopoh-gopoh mengusulkan “PERSATUAN PERJUANGAN” ini. Bukan persatuan buat merebut kursi Parlemen dan mencari pangkat, melainkan persatuan yang berdasarkan perjuangan mempertahankan Kemerdekaan 100 %. Persatuan bersendi atas “MINIMUM PROGRAM” yang kelak akan dibentangkan ………
Kita sedang memperjuangkan Kemerdekaan kita, Suara berjuang inilah yang sekarang mendengung ke luar negara!
Dahulu dunia luar mengenal kita orang Indonesia sebagai seorang bercawat dengan panah duduk di bawah pohon kelapa. Inilah gambarnya bangsa Indonesia di mata orang Eropa dan Amerika. Di mata mereka tercantum bangsa Indonesia sebagai orang biadab dan malas. Kalau yang sudah berpakaian maka orang Indonesia itu digambarkannya sebagai jongos kapal yang rajin, puntang-panting menyediakan makanan atau minuman, kalau dipanggil tuannya.
Jadi kita orang tak ber-inisiatif, lesu-malas, biadab. Tetapi bukan selamanya dan bukan seluruhnya bangsa Indonesia malas dan biadab. Kalau orang mau membaca sejarah bangsa Indonesia yang sebenarnya, kembalilah ke masa 2500 lampau saja. Menurut para ahli Barat di masa itu orang Indonesia mengarungi Samudera Hindia sampai ke Afrika. Ke Timur ia mengarungi Samudera Teduh sampai Amerika Tengah. Benar sejarahnya bangsa Indonesia di masa itu tak berteriak keras, tetapi berlaku: berjuang, berdagang, bersawah-ladang.
Tenang-hening sejarah memperamati perahu ramping menuju ke Barat!
Sayup-sayup tepuk air dipecahkan dayung Cadik namanya sebagai sayap di kiri-kanan perahu ramping menjamin keamanan penumpangnya terhadap ombak-gelombang sering setinggi bukit. cuma bintang di langit dan pengetahuan atas peredarannya musim yang dijadikan pedoman oleh nakhodanya. Tetapi semangat merantau dan hati tetap tabahlah yang menjadi jaminan sesungguhnya.
Walaupun demikian dunia tak mengenal bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang bersatu, membikin sejarah. Demikianlah sejarah Indonesia berdiam diri, ratusan malah puluh ratusan tahun sampai alam Indonesia bersuara.
Krakatau meletus menyemburkan batu dan lahar, merusakkan sekitarnya. Tetapi juga membagi bahagia kepada manusia, karena menyemburkan abu yang menambah subur dan makmurnya tanah. Tetapi sekarang bukan alam Indonesia yang meletus melainkan jiwa rakyatnya yang lama terhimpit dan tertindas itu.
Jadi rakyat Indonesia-lah yang meletus melemparkan imperialis!
Moga-moga akan bangunlah dunia yang adil, makmur dan sentosa buat semua negara, semua bangsa dan tiap-tiap manusia.
Monday, 14 February 2011
Muslihat
Muslihat
Tan Malaka (1945)
Ditulis oleh Tan Malaka di Surabaya, 2 Desember 1945
Sumber: Tulisan ini diambil dari buku Merdeka 100%, cetakan pertama, Oktober 2005, dengan ijin dari penerbit Marjin Kiri. Buku ini mengandung tiga tulisan Tan Malaka: Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Muslihat.
Transcribed to HTML by Ted Sprague.
PENGANTAR
TIGA MINGGU yang lampau Inggris-Nica dengan alasan yang dicari-cari dan berputar-putar dari tempo ke tempo, memajukan tuntutan pada kota Surabaya: supaya rakyat dan tentara dilucuti senjatanya. Maksudnya ialah supaya sesudah rakyat dan tentara dilucuti senjatanya, barulah Nica mau berunding dengan para pemimpin rakyat.
Tuntutan itu cuma satu artinya: Rakyat Indonesia lebih dahulu mesti dilucuti senjatanya. Kemudian akan dijajah kembali oleh Belanda, dengan Inggris sebagai pembantunya.
Rakyat Surabaya tak mau dilucuti senjatanya dan tak mau dijajah kembali. Tak mau pula ia berunding dengan senjata musuh di depan dadanya. Ini cocok dengan kemauan Rakyat Indonesia seluruhnya. Cocok pula dengan anjuran para pemimpin terkemuka di zaman Jepang. Cocok pula dengan semangat kemerdekaan yang sudah didengungkan selama 40 tahun. Cocok dengan hak dan kehormatan suatu Negara Merdeka.
Inggris-Nica dalam hakikatnya mau menjajah. Tuntutannya di atas tadi yang ditolak oleh rakyat Surabaya, dilaksanakannya dengan serangan gabungan dari laut, darat, dan udara.
Serangan yang sedahsyat-dahsyatnya selama ini.
Tiga minggu lamanya rakyat Surabaya sudah menahan serangan ini.
Hampir berbarengan dengan serangan Suarabaya, dengan maksud begitu juga dan alasan sejenis itu juga —yakni alasan “macan mau memakan anak kambing” menurut cerita terkenal— dengan alasan pura-pura itu sedang terjadi pertarungan hebat di Semarang, Ambarawa, Magelang, Jakarta, Bandung, dan Sumatera. Di mana-mana rakyat menang kalau cuma menjumpai perlawanan pasukan melawan pasukan. Tak ada pasukan Inggris-Nica yang bersenjata lengkap yang bisa menahan serangan pasukan Indonesia bersenjata serba kurang. Inggris bisa menang cuma dengan senjata luar biasa, yang membuat “orangnya” Inggris-Nica tak kelihatan lagi. Makin dekat ke pantai makin besar keuntungan dan kekuatan Inggris. Makin jauh dari pantai makin besar pula keuntungan dan kekuatan Indonesia. Dari Magelang Inggris-Nica sudah terusir sama sekali! Selalu saja Inggris, Belanda, Gurkha ... ataupun Jepang lari tunggang langgang kalau berhadapan pasukan melawan pasukan, orang melawan orang!
Rakyat Indonesia sudah menyambut “PERANG” yang tiada dinyatakan dengan “PERANG”. Rakyat kita sudah benar sikapnya! Rakyat sedang berjuang mati-matian membela sikapnya yang benar itu. Rakyat Indonesia sedang membikin sejarah buat Negara Indonesia dan dunia lain. Rakyat Indonesia ada di bawah pengobaran dunia. Kalah atau menangnya kelak Rakyat Indonesia tiadalah terletak pada kalah atau menangnya berjuang dalam peperangan yang tak sama persenjataan itu!
Kalah atau menangnya itu terletak pada “salah atau benarnya”. Ia mengambil “sikap” terhadap kecerobohan. Dan juga pada lemah atau kuat imannya memegang sikap yang sudah diambilnya. Seandainya pada tanggal 10-11 November itu rakyat Surabaya bertekuk lutut terhadap tuntutan yang melanggar hak dan kehormatannya sebagai bangsa merdeka, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia sekarang akan mengutuki sikap bertekuk lutut itu.
Seandainya kelak Rakyat Indonesia karena kalah sementara pada satu tempat saja sudah patah hatinya dan kemudian mengubah sikapnya, berkhianat kepada sikapnya bermula, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia tiada akan memandang Rakyat Indonesia masak buat merdeka. Tetapi jika sikap yang benar itu tiada bisa menang dalam perjuangan ini, maka di hari depan sikap itu akan diteruskan dipakai pada perjuangan yang akan datang sampai maksud itu tercapai.
Rakyat Indonesia pendeknya sedang berjuang buat kebenaran dan keadilan! Apakah muslihat yang mesti dijalankan dalam peperangan yang tidak sama persenjataan ini?
Di tengah-tengah dentuman mortir dan bom, sambil memperhatikan sikap tegak-tenang di pihak rakyat dan prajurit Surabaya, saya di masa ini lebih yakin lagi akan kebenaran MUSLIHAT yang mesti dijalankan, MUSLIHAT mana sudah lama terkandung dalam pikiran.
MUSLIHAT dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya itulah yang saya coba bentangkan di sini!
Mudah-mudahan brosur ini akan memberi faedah pada para pemimpin perjuangan Indonesia yang maha dahsyat dan paling modern ini. MERDEKA !!!
****
I. Suasana
A. IKLIM PERJUANGAN
Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945 berada dalam perjuangan yang hebat dahsyat. Percakapan yang berhubungan dengan Indonesia Merdeka diteruskan oleh MR. APAL, TOKE, DENMAS, PACUL, dan GODAM. Dalam hal merundingkan muslihat yang patut dijalankan ini pun nyata bahwa masing-masing pembicara terkungkung oleh sifat golongan sendiri-sendiri.
SI PACUL : Merdeka!
BERSAMA : Merdeka, Cul! Perubahan besar, Cul, buat engkau dari ucapan selamat pagi, apa kabar sampai merdeka! Kami kira engkau akan menyerbu dengan Kyai Kebal ke Surabaya! Sudahkah engkau terima jimat dan berkahnya Kyai Kebal. Mukamu berseri seperti baja saja, penuh kepercayaan.
SI PACUL : Betul saya percaya tetapi tidak atas kekebalan diriku sendiri. Saya percaya atas kekebalan 70 juta rakyat Indonesia. Asal saja semua syarat perjuangan dipahamkan dan MUSLIHAT dijalankan 70.000.000 manusia takkan dapat dijajah kembali.
SI TOKE : Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan kita sekarang?
SI PACUL : Saya juga bukan ahli, Kek! Saya juga mendapat pertanyaan dari surat kabar dan radio. Tetapi semalam kebetulan berjumpa beberapa teman yang baru kembali dari semua medan pertempuran kecuali dari seberang.
SI TOKE : Kabarkan, Cul, bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Bermula marilah kita sebentar mengheningkan cipta buat ribuan rakyat dan prajurit perwira Indonesia yang tewas dalam medan pertempuran. Kedua, marilah kita peringatkan pula bahwa kini tiga setengah bulan Republik Indonesia berdiri. Bandingkanlah perubahan jiwa Rakyat Indonesia, di masa 3½ abad di bawah telapak imperialisme Belanda dan 3½ tahun di bawah telapak imperialisme Jepang dengan 3½ bulan di bawah iklim kemerdekaan.
SI TOKE : Berbeda Cul, seperti siang dan malam. Jiwa berserah sekarang menjadi jiwa dinamis berontak. Semangat takluk dan percaya pada pimpinan asing, sekarang bertukar menjadi semangat melawan dan percaya pada pimpinan negara sendiri, sama diri sendiri, bahkan sama tombak bambu dan golok sendiri. Siapa sangka Cul, penjelmaan yang begitu besar bisa terjadi dalam tempo sependek itu.
MR. APAL : Baru saja saya kembali dari perjalanan dari Anyar ke Surabaya. Terlampau melebihi kalau saya katakan bahwa sepanjang jalan tiap-tiap km diperhentikan. Oleh siapa? Bukan oleh musuh polisi Belanda atau kempei Jepang. Melainkan oleh rakyat jelata Indonesia atas dorongan kalbunya sendiri. Siang malam mereka berjaga-jaga mengawasi mata-mata musuh yang memang berkeliaran mencari-cari kelemahan.
DENMAS : Di masa Diponogoro cuma rakyat Jawa Tengah saja yang berjuang, tak pula seluruhnya. Di masa Imam Bonjol cuma sebagian kecil rakyat Minangkabau yang bertempur dengan Belanda. Di masa Teuku Umar, cuma rakyat Aceh saja yang berperang. Tetapi sekarang seluruh Jawa sudah bertempur. Seluruh Sulawesi, seluruh Kalimantan, dan seluruh Sumatera sedang bangun serentak mengikuti jejaknya Jawa.
MR. APAL : Perjuangan sekarang ialah perjuangan nasional yang sebenarnya! Inilah yang diimpikan oleh kaum nasionalis semenjak 40 tahun ini.
SI TOKE : Perjuangan Indonesia sudah betul-betul menjadi perjuangan internasional. Dewan Selong menyatakan simpatinya terus terang berpihak Indonesia. Buruh Australia memergoki kapal Belanda yang mengirimkan senjatanya ke Indonesia buat memukul Republik Indonesia. Tentara Australia membantu pemberontak Indonesia di Kalimantan. Rusia dan Tiongkok mengakui Republik Indonesia. Dari Amerika pun terdengar suara simpati dari sebagian penduduk di sana. Begitu pula dari sebagian kaum buruh Inggris. Tetapi Cul, apa jawabnya pertanyaan saya yang bermula? Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Semuanya yang direntangkan di atas memang berhubungan rapat dengan keadaan kita sekarang. Tentang keadaan pertempuran lebih kurang amat menyenangkan. Kabar radio dan kabar temanku yang baru kembali dari Surabaya mengatakan bahwa Surabaya yang hampir rusak binasa itu sudah digenangi air. Inggris dan Gurkha-nya boleh terus menduduki Surabaya tetapi tank, truk, dan meriam besarnya baiklah mereka angkut saja ke tempat yang kering. Sebagian besar dari rakyat yang tak ikut bertempur sudah menyingkirkan diri. Biarlah Inggris-Nica dan seluruhnya insyaf bahwa rakyat Indonesia selain jiwa raganya juga siap sedia mengorbankan semua. Katanya buat membela kemerdekaan negaranya. Rakyat Indonesia juga insyaf bahwa di luar kota “mesinnya” tentara Inggris yang modern itu sudah kalah, mustahil berjalan terus!
SI TOKE : Bagaimana keadaan di lain tempat?
SI PACUL : Magelang, bekas benteng Belanda yang dahulu amat kuat itu sudah kita rebut kembali. Tentara Inggris sekarang terkepung dalam rawa, juga benteng Belanda, yang dahulu dianggap kuat. Di Jakarta dan sekitarnya pertempuran hebat terus menerus berlaku. Di Bandung dan sekitarnya, rakyat mendesak ke dalam kota. Di mana-mana gedung besar-besar dipertahankan oleh pemuda dengan gagah berani, di luar dugaan bermula. Di Bandung pemuda-pemuda pun tak ketinggalan. Seringkali Jepang dipakai oleh Inggris melawan Indonesia. Begitu keadaan di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Umumnya tentara Indonesia lebih ulung dan lebih berani dari tentara Inggris-Belanda. Tetapi kekuatan senjata tak berbanding. Tank Inggris bermaharajalela di jalan raya, meriam besar mereka tak ada lawannya. Kapal terbang dan kapal perang amat leluasa. Walaupun begitu tak sedikit tank yang ditangkap, kapal perang ditenggelamkan, dan kapal terbang ditembak jatuh oleh prajurit kita. Bermacam-macam senjata, seperti pistol, senapan mitraliur, meriam dll dirampas oleh rakyat jelata dengan bambu runcing, golok dan tinju saja.
SI TOKE : Jadi rupanya rakyat Indonesia dengan tombak bambu, golok dan tinju melawan Inggris-Nica-Jepang yang bersenjata modern buat tentara darat, laut dan udaranya!
SI PACUL : Tetapi ada senjata yang tak ada pada mereka dan ada di pihak kita.
SI TOKE : Apa Cul?
SI PACUL : Kebenaran! Keadilan! Akhirnya, Rakyat Murba!
B. DIPLOMASI dan DIPLOMASI
SI PACUL : Aku yakin bahwa kita dalam kebenaran dan keadilan. Aku juga percaya bahwa rasa kebenaran dan keadilan yang ada bersarang dalam hati sanubari rakyat di negara luar, akhirnya kan menyambut teriak kebenaran dan keadilan dari pihak kita. Lagipula kita sudah yakin bahwa Rakyat Murba kita tak menghitung laba rugi lagi dalam melaksanakan perasaan kebenaran dan keadilan itu. Tetapi diplomasi apa yang mesti kita jalankan supaya perjuangan rakyat sekarang ini berhasil, inilah yang saya ingin dengar dari Tuan sekalian yang hadir di sini.
SI TOKE : Memang diplomasi itu penting sekali. Denmas memang beradik berkakak dengan diplomasi. Cobalah bentangkan paham Denmas perkara diplomasi itu lebih dahulu.
DENMAS : Yang menjadi dasar diplomasi itu buat saya ialah kekuatan kita sendiri. Diplomasi itu mesti kita jalankan menurut kekuasaan kita sendiri, berbanding dengan kekuatan musuh. Kekuatan kita seperti sudah dijelaskan tadi, di udara, di laut, di darat adalah kurang sekali daripada musuh.
SI TOKE : Jadinya kita mesti bertekuk lutut lebih dahulu? Kemudian tunggu saja apa yang dihadiahkan oleh Sekutu kepada kita?
DENMAS : Oh, tidak.... tidak persis begitu!
SI PACUL : Jadi bagaimana persisnya Denmas?
DENMAS : Sebab dengan kekerasan kita agak susah mendapatkan pengakuan dari negara luar, maka diplomasi kita juga mesti disandarkan atas simpati luar negeri.
SI GODAM : Pengakuan luar negeri itu bukanlah syarat hidupnya Republik Indonesia.
SI PACUL : Diam dulu, Dam! Aku sudah maklum mau ke mana engkau pergi.
SI TOKE : Memang kita mau mendapatkan simpati dari semua negara lain di dunia. Kalau kita tidak bisa mendapatkan simpati dari semua negara lain, cukuplah sudah dari Sekutu saja. Tetapi bagaimana jalan mendapatkan simpati Sekutu itu?
DENMAS : Tuhan membentuk manusia serupa dengan bentuknya sendiri. Sekutu juga akan lebih menyetujui bentuk negaranya sendiri. Sekutu sudah berperang menghancurkan fasisme. Sekarang bentuklah negara yang tiada bercorak fasisme! Tentu akhirnya Sekutu akan akui.
MR. APAL : Memang bentuk Republik dan isi demokrasilah yang cocok dengan perasaan Sekutu. Maka dari itu marilah kita adakan tata negara yang demokratis, pemerintah yang dipilih menurut kehendak rakyat. Akhirnya perlakukanlah rakyat asing di negara kita ini menurut Undang-Undang Internasional dan akuilah kehendaknya Sekutu! Dengan begitu kita akan mendapat simpati, persetujuan, dan pengakuan dari Sekutu.
SI TOKE : Tetapi bagaimana kalau Inggris mau memakai Belanda- Nica sebagai perisai? Bagaimana kalau Inggris seperti imperialismenya di Afrika, Asia, dan Indonesia, membikin perjanjian buat diinjak-injak dan menipu saja? Di mana imperialisme Inggris pernah berlaku jujur terhadap bangsa berwarna? Apakah kita sendiri tidak akan dianggap berkhianat terhadap Negara Indonesia, jika kita sandarkan sikap kita atas kepercayaan pada kejujuran satu imperialisme yang belum pernah berlaku jujur, dalam sejarahnya yang sudah kita kenal?
SI PACUL : Inggris katanya diserahi oleh Sekutu pekerjaan buat melucuti senjata Jepang. Tetapi di mana-mana Inggris mengadu Jepang dengan Indonesia. Di Magelang dan Semarang Jepang dibohongi oleh Inggris. Katanya orang Indonesia sudah membunuh para pembesar Jepang. Di Bandung Jepang tiba-tiba menyerang rakyat atas persetujuan Inggris. Di Pesing, dekat Jakarta, serdadu Jepang diperintah oleh Inggris menembak orang Indonesia. Begitu pula di Palembang dan semua tempat lain. Berapa ribu rakyat Indonesia mati karena politik Inggris mengadudomba Jepang dengan rakyat Indonesia.
SI TOKE : Sebenarnya Republik Indonesia bisa, wajib, dan berhak melucuti senjata Jepang. Itu mulanya dilakukan oleh rakyat Indonesia di Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Bandung, dan Malang. Semuanya bisa berjalan baik, kalau di belakangnya Inggris tidak memerintahkan Jepang menggempur rakyat Indonesia.
SI PACUL : Lagipula Inggris katanya cuma mau melayani orang tawanan Eropa! Tetapi apa yang dikerjakannya? Inggris memasukkan Nica bersenjata lengkap dari luar negeri buat menghancurkan Republik Indonesia. Dia memakai organisasi damai seperti Palang Merah dan RAPWI buat mempersenjatai dan mengerahkan tawanan Belanda buat menyerang rakyat Indonesia di mana-mana.
SI TOKE : Satu kali Inggris duduk di satu tempat, di sana Nica keluar, memperkosa merampas harta dan menembaki rakyat Indonesia. Apalagi tempat itu kacau, karena rakyat Indonesia melawan, maka Inggris adakan pemerintah militer. Ini artinya membatalkan pemerintah Republik.
SI PACUL : Jadi teranglah sudah maksud Inggris yang sebenarnya ialah: Duduki satu kota Indonesia, keluarkan Nica buat mengacau dan adakan pemerintah militer. Kalau semua tempat penting sudah diduduki tentara Inggris, ketentraman tercapai, maka dari kantongnya imperialisme Inggris akan dikeluarkan bonekanya, yakni Nica. Sesudah beres maka kapitalis kebun, minyak, dan pabrik Inggris akan kembali ke Indonesia menguasai arah-arahnya hasil Indonesia dan menguasai hasil itu sendiri, lebih dari sebelum masa perang. Bersama dengan jagoannya Belanda maka rakyat Indonesia akan diperas, ditelanjangi, dan ditendangtendang buat membangunkan negeri Belanda dan Inggris yang jatuh ke lembah kemiskinan dan kemelaratan itu.
SI GODAM : Bajing itu bisa hilang bulunya, tetapi tak akan hilang nafsunya buat mencuri kelapa. Selama giginya ada, tak ada kelapa yang boleh dipercayakan kepadanya. Muslihat yang benar ialah mencabut giginya atau memotong lehernya sama sekali.
SI PACUL : Perumpamaan lagi. Pastikan saja!
SI GODAM : Selama peraturan ekonomi, politik, dan sosial Inggris masih seperti sekarang, yaitu kapitalis, selama itulah pula nafsunya buat menjajah negara lain bergelora. Imperialisme Inggris bisa pura-pura jujur kalau ada “pelor” di depan dadanya. Persis seperti kucing patuh jinak selama ada tongkat di depannya. Begitu juga Belanda.
SI PACUL : Betul sekali ususnya prajurit Inggris dan Belanda tak kuat menghadapi pelor Jepang pada peperangan di Malaka dan Indonesia. Sekarang pun ususnya kendor kalau bertemu muka dengan prajurit Indonesia. Golok atau bambu runcing saja sudah membikin serdadu Inggris atau Nica gementar seperti tikus melihat kucing. Belum pernah tentara Inggris atau Nica dalam perjuangan seorang lawan seorang. Tetapi dalam tank baja dan kapal udara yang terbang tinggi mereka amat berani.
SI GODAM : Tetapi muslihat kita tak bersandarkan senjata lahir semata-mata.
SI PACUL : Apa senjata muslihat kita?
SI GODAM : Pertama keyakinan dan konsekuensi. Syarat adanya Republik Indonesia terletak semata-mata atas kemauan rakyat Indonesia saja. Pengakuan negara lain tiadalah menjadi syarat adanya republik kita. Melainkan syarat buat berhubungan baik dengan negara lain. Berhubung dengan sahnya Republik Indonesia menurut keyakinan kita, maka diplomasi kita mesti dipusatkan pada daya-upaya lahir dan batin memberi keyakinan pada dunia lain, bahwa kita mau dan bisa berlaku sebagai satu Negara Merdeka yang mempunyai “kehormatan atas diri sendiri”.
SI PACUL : Jadi dengan berpikir, berkata, dan berlaku seperti orang merdeka, kita bisa merebut hati, simpati, persetujuan, dan pengakuan Rakyat Merdeka atau Rakyat yang mau Merdeka di dunia luar.
SI GODAM : Tepat Cul! Bukan dengan sikap masa bodoh dengan tipuan dan kecerobohan negeri asing “Kalau sudah ditipu terus percaya. Sudah ditendang terus minta terima kasih”. Sikap budak semacam itu tidak akan mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka, melainkan sebagai budak, lagipula persetan sama putusan Sekutu, yang tidak diketahui apalagi disetujui oleh rakyat Indonesia, nyata pula negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika tiada menyetujui tindakan Inggris, perfide Albion itu. Diplomasi Indonesia Merdeka bukanlah diplomasi mengemis dan menerima! Diplomasi berjuang dan merebut, itulah diplomasi kita.
II. Kemungkinan
SI GODAM : Laba rugi dalam suatu perjuangan itu memang mesti diakui lebih dulu sebelum perjuangan itu dilakukan.
SI PACUL : Bagaimana kemungkinan itu buat kita, Dam?
SI GODAM : Kemungkinan itu mesti dihubungkan dengan beberapa perkara yaitu: 1. perkara bumi iklim (geografi) 2. keadaan internasional 3. cacah jiwa (man power) 4. kebatinan (moral) 5. kemiliteran 6. kecerdasan 7. disiplin 8. persatuan 9. organisasi
SI TOKE : Jadi semuanya ada 9 (sembilan) perkara yang mesti kita periksa.
SI GODAM : Sebenarnya lebih! Tetapi buat sementara cukuplah yang 9 itu. Maksud kita dalam brosur ini juga bukan mengadakan penyelidikan yang sempurna. Melainkan buat memberi petunjuk sekadarnya saja. Penyelidikan yang lebih dalam dan lebih luas boleh diadakan di lain tempat dan di lain tempo.
SI PACUL : Cobalah periksa perkara itu satu persatunya.
SI GODAM : Dalam garis besarnya boleh dikatakan bahwa empat perkara yang bermula menguntungkan kita. Tetapi dalam 5 perkara di belakang kita banyak mempunyai kelemahan. Untunglah pula kelemahan itu bisa dilenyapkan sama sekali, asal saja kita mengerti dan mau.
SI TOKE : Mulailah memeriksa!
SI GODAM : Tidak perlu diperpanjang lagi bahwa bumi iklim membantu kita dalam perjuangan. Bumi iklim kita membiarkan padi, ubi, sayur tumbuh 12 bulan dalam setahun. Jadi terus-menerus. Sedangkan di hawa dingin, gandum, sayur itu dibiarkan tumbuh dalam enam bulan saja. Jadinya tak perlu mengadakan persiapan selama enam bulan bumi beristirahat. Sambil berjuang, pertanian bisa diteruskan. Pakaian boleh disusutkan kepada sarung dan celana pendek saja. Tak ada musim dingin yang akan mengirim kita ke liang kubur kalau tak berpakaian tebal dari bulu domba. Dalam hal menyesuaikan badan ke hawa kita, sudahlah tentu kita di pihak yang beruntung pula. Sebaliknya musuh yang dari iklim dingin mesti mengadakan persediaan-persediaan makanan, pakaian dll lebih dari kita. Lebih susah pula mereka menyesuaikan dirinya dengan bumi iklim kita yang umumnya panas itu.
SI TOKE : Pendeknya bumi iklim itu, apalagi jendral hujan di bulan duabelas dan satu berada di pihak kita!
SI GODAM : Keadaan Internasional! Walaupun belum begitu terang, karena kabar amat sedikit yang kita terima, tetapi keadaan internasional makin lama makin menguntungkan kita. Dalam garis besarnya dunia sekarang boleh dibelah dua. Pada satu pihak, ialah imperialisme Inggris-Amerika dengan punakawan yang diangkatnya kembali yakni Perancis dan Belanda yang sudah kapok tadi. Pada pihak lain ialah Soviet-Rusia di samping beberapa negara kecil di Eropa yang merasa tertindas dan seluruh bangsa berwarna yang dijajah di Asia dan Afrika. Tetapi imperialisme Anglo- Amerika itu bukanlah kekuatan bulat dan tetap. Dalam badannya sendiri kapitalisme Inggris-Amerika itu terbagi atas dua golongan bertentangan, yakni kaum proletar dan kaum hartawan (borjuis).
SI PACUL : Jadi salahlah pengiraan orang yang membulatkan saja kekuatan kapitalisme Inggris dan Amerika itu.
SI GODAM : Memang salah! Orang yang berpikir secara mesin memang tidak atau kurang sekali memperhatikan pertentangan. Pertentangan itu sehari demi sehari bertambah tajam. Perjuangan Republik Indonesia bukan “tiada” mempengaruhi pertentangan di dunia luar itu. Percayalah bahwa kelanjutan perjuangan Indonesia Merdeka akan memperdalam dan memperluas pertentangan itu. Pertentangan itu mungkin menguntungkan Indonesia.
SI PACUL : Perkara ketiga, cacah jiwa, bagaimana?
SI GODAM : Praktis 70 juta rakyat Indonesia bisa menggerakkan 14 juta orang. Yang paling kuat buat penyerbuan saja ada 7 juta orang. Andaikan musuh bisa memasukkan 200.000 serdadunya ke Indonesia, jadi satu musuh mesti menghadapi 35 orang Indonesia, bulatkan 36 orang. Apa artinya kelebihan bilangan itu?
SI TOKE : Ya, apa artinya man power, kekuatan orang itu?
SI GODAM : Andaikan (buat memudahkan berpikir saja) satu orang Gurkha bersenjata tommy-gun dikepung oleh 35 orang bergolok dan bambu runcing (andaikan orang Indonesia tak mempunyai granat tangan, bom pembakar mitraliur, ataupun bedil atau meriam). Yang punya 35 bambu runcing, yang mengepung satu Gurkha itu bergiliran menurut tiga rombongan. Tiap-tiap hari selama 24 jam perkelahian terus menerus. Apa akibatnya? Prajurit Indonesia bisa tidur dan beristirahat, si Gurkha mesti terus menerus berjaga- jaga. Tiap-tiap rombongan Indonesia yang terdiri dari 12 orang itu bisa bergiliran tiga kali sehari untuk menjaga satu orang Gurkha. Satu giliran 12 orang cuma selama 6 jam. Jadi tiap-tiap giliran, maka 12 orang Indonesia cuma perlu bertempur 8 jam saja dan kelak bisa 16 jam sehari mengaso atau tidur. Sedangkan satu Gurkha satu Inggris atau satu Nica mesti terus menerus 24 jam sehari menjaga 12 golok! Satu hari bisa berjalan dengan beres. Tetapi jika sampai dua atau tiga hari si Gurkha, Ingggris atau Nica terus menerus menjaga 12 tombak atau golok, maka mereka bisa mati, karena momok golok saja.
SI PACUL : Memang begitu dalam teori! Dan teori itu penting!
SI GODAM : Kalau teori itu dijalankan dengan kecerdasan mesti ada akibatnya yang baik. Perkara keempat, kebatinan tak perlu dituturkan panjang lebar. Laki perempuan, tua muda, orang Indonesia sekarang tak kalah lagi dengan rakyat yang serevolusinya di dunia ini di zaman manapun juga. Jadi empat perkara di atas yang amat penting sekali berada di pihak kita! Memang empat perkara itu lebih susah merombaknya, seandainya empat perkara itu tidak berada di pihak kita. Karena keempat perkara itu, terlebih tiga perkara pertama, adalah di luar kekuasaan kita (lebih obyektif).
SI PACUL : Apa artinya di luar kekuasaan kita?
MR. APAL : Memang tak bisa kita mengubah bumi iklim, keadaan internasional, dan cacah jiwa itu, yaitu secara lekas dan langsung.
DENMAS : Memang syukurlah semuanya itu ada di pihak kita. Perkara keempat itu, kebatinan, kalau buat seorang saja memang bisa diubah. Tetapi kalau untuk 70 juta manusia tentulah mustahil bisa diubah dalam sehari, sebulan, ataupun setahun. Kini kebatinan itu pun ada di pihak kita.
SI PACUL : Sekarang cobalah selidiki 5 perkara yang tiada di pihak kita itu!
SI GODAM : Bukan sama sekali di pihak kita. Jangan kau salah mengerti, Cul. Sebagian ada di pihak kita. Tetapi memang kurang! Jadi perkara kelima, kemiliteran: kurang menyenangkan. Pertama, opsir yang sungguh menerima ilmu kemiliteran amat kurang sekali. Tetapi nyata di mana ada, opsir itu bisa dipakai. Walaupun “dai-dancho” cap Jepang cuma mendapat latihan beberapa bulan saja, tetapi sudah terbukti bisa dipakai dengan hasil memuaskan. Opsir rendahan latihan Jepang juga amat memuaskan. Apalagi prajurit biasa! Beberapa prajurit biasa yang sudah pecah sebagai ratna! Sungguh menggembirakan dan memberi harapan besar buat tentara Republik Indonesia di hari depan.
SI TOKE : Aku pikir begitu juga. Sudah 22 hari sampai sekarang kita bisa tahan serangan serentak dari darat, laut dan udara Inggris. Dengan pompa air saja dulu Belanda bisa mengacau- balaukan rakyat berkumpul. Teruskan Dam!
SI GODAM : Latihan juga amat pendek. Tetapi juga memuaskan. Yang tidak memuaskan tentulah persenjataan. Di laut kita tak berdaya. Di udara kita tak bisa bikin apa-apa. Terhadap mortir, tank, dan kereta baja kita dengan keberanian luar biasa saja bisa mendapat satu dua kemenangan. Pabrik senjata kita tak punya. Kita belum bisa bikin tank, meriam, kapal perang, dan kapal terbang.Walaupun ada barang kita buat dijual kita tak punya hubungan dengan dunia luar buat jual beli.
DENMAS : Memang semua itu masih terlampau kurang! Tetapi senjata penting buat rakyat, yang sudah mulai kita bikin sendiri.
SI TOKE : Perkara keenam, kecerdikan, bagaimana?
SI GODAM : Bukti saja! Ketika Nica bersarang dan menyerang di Kebayoran, maka berduyun-duyun rakyat Banten datang menyerbu. Mereka datang dalam rombongan, biasanya dikepalai oleh seorang Kyai. Tetapi satu rombongan sampai di Kebayoran menyerbu menang dan usir musuh dari bentengnya. Rombongan menang tadi kembali ke desanya dan tinggalkan benteng begitu saja. Kemudian Nica itu masuk kembali. Pasukan lain dari Banten datang pula menyerbu, menang...... kembali ke desa. Nica kembali! Demikianlah seterusnya, tak ada pergabungan (koordinasi) di antara pasukan dan pasukan kita. Tak pula ada “rencana” yang mesti pasti dijalankan dengan tanggung jawab yang pasti dan serempak.
MR. APAL : Sungguh banyak contoh yang membuktikan kekurangan kita dalam hal “kecerdikan” menyusun dan mengerahkan tenaga dan senjata peperangan itu. Di sini kita bisa mengadakan perubahan besar.
SI GODAM : Disiplin! Tentulah ini jiwanya suatu organisasi dan perjuangan. Tak perlu kita panjangkan uraian ini. Disiplin itu mesti berupa hubungan bapak dan anak, kakak dan adik. Tetapi bagaimana juga sifat disiplin itu mesti ada! Perintah dari pimpinan itu mesti dijalankan dengan baik. Kalau tidak mesti timbul kekacauan. Tiap orang akan bertindak sendiri-sendiri menurut tempo, tempat, dan cara yang ditentukan masing-masing. Perkara tata tanggung jawab, perkara memberi dan menerima perintah, perkara menjatuhkan dan menerima hukuman (disiplin) masih banyak sekali yang mesti diperhatikan. Tetapi dengan kelemahan disiplin kita itu, heran juga kita melihat hasil perjuangan yang begitu mengagumkan. Apalagi pula kalau disiplin itu dipererat. Perlukah sekarang saya rundingkan perkara kedelapan, persatuan?
SI TOKE : Dalam garis besarnya perlu juga! Persatuan yang rapi antara pulau dan pulau amat terganggu. Itu tak mengherankan. Kita tak mempunyai armada yang kuat menjaga persatuan itu. Alangkah kuatnya Indonesia kalau armada buat memelihara persatuan itu ada! Sekarang persatuan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku cuma dalam batin saja. Seberang yang sana jiwa hasratnya dengan Jawa dengar dari jauh bagaimana Jawa bertindak dan ambil pula tindakan semacam itu. Rencana bersama dibikin bersama dan dijalankan bersama serentak tak bisa dilakukan sekarang! Jangankan persatuan antara seberang dan Jawa! Antara provinsi dan provinsi saja di Jawa ini, malah antar daerah dan daerah (keresidenan) masih banyak kekurangan. Yang tak kurang menyedihkan pula ialah persatuan berembuk dan bertindak antara jabatan Negara. Kurang adanya persatuan Pemerintah Pusat dan Rakyat. Kurang persatuan Pemerintah Pusat dan Provinsi atau Daerah. Kurang persatuan antara Jabatan Politik. Jabatan Pertahanan Perekonomian di pusat, di provinsi ataupun kota.
SI PACUL : Sesudah kau sebut semuanya itu menjadi kusut hatiku, Dam. Akupun bisa tambah dengan beberapa contoh. Betapa tipisnya semangat kerja sama di antara awak sama awak. Belakangan ini ada penyakit baru: curiga mencurigai, tuduh menuduh, dan tangkap menangkap, culik menculik.
SI TOKE : Memang itu kemenangan musuh sampai sekarang! Daerah yang diduduki hampir tak ada artinya selama kita bersatu. Tetapi kalau racun perpecahan itu terus bermaharajalela di dalam barisan kita, maka akan berlaku kebenaran pepatah: “Bersatu kita kokoh berpecah kita roboh.”
MR. APAL : Mata-mata musuh itu memang satu bahaya yang mesti dibasmi. Tetapi janganlah “kecurigaan semata-mata” (kecurigaan melulu) yang menjadi dasar penyelidikan. Dasar kecurigaan melulu itu dari seseorang ke orang lain, tentulah menimbulkan kecurigaan si lain itu terhadap seseorang tadi pula, begitulah tak akan ada lagi orang yang percaya pada yang lain malah pada dirinya sendiri. Dalam hal itu kecurigaan menjadi penyakit yang tak terbasmi lagi dan memudahkan pekerjaan musuh yang selalu mengintai-intai saja, buat mengadudomba awak sama awak. Akhirnya kita sama kita akan bertempur seperti di zaman lampau.
SI TOKE : Bagaimana membasmi penyakit curiga mencurigai itu?
MR. APAL : Beranikanlah hati melihat tiap-tiap warga itu sebagai teman seperjuangan. Tenangkan pikiran menghadapi “bukti” yang dituduhkan terhadap seseorang Indonesia, apalagi kalau ia seorang yang pernah atau sedang bertempur di garis depan atau seorang pemimpin. Pisahkanlah tuduhan seseorang yang maksudnya cuma menaikkan diri sendiri dengan jalan menurunkan orang lain! Periksalah semua tuduhan dengan teliti. Baru kalau sah buktinya, jatuhkan hukuman yang sepadan dengan kesalahannya. Cuma kalau seorang Indonesia dalam suatu pertarungan mengerjakan pekerjaan penghianat maka dia dilayani secara kita melayani pengkhianat dengan tangkas dan hebat. Jika masih ada tempo mesti diadakan pemeriksaan yang seksama, sekali-kali kehormatan si tertuduh tak boleh diganggu.
DENMAS : Memang kita bertarung buat kehormatan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Marilah lebih dahulu kita menghormati tiap-tiap warga negara republik, malah tiaptiap manusia!
SI PACUL : Delapan perkara sudah kau ajukan Dam! Kurasa betul bahwa empat perkara yang amat menguntungkan kita ialah: perkara bumi iklim, keadaan internasional, cacah jiwa, dan kebatinan. Benarlah pula bahwa lima perkara di belakangan, yakni perkara “kemiliteran, kecerdasan, dan organisasi” masih belum memuaskan sama sekali.
SI TOKE : Tetapi Godam, belum lagi engkau menguraikan organisasi.
SI GODAM : Sebenarnya perkara organisasi berseluk beluk juga dengan kemiliteran kita, kecerdasan, disiplin, dan persatuan. Berhubung dengan itu, maka kelemahan yang masuk dalam empat perkara tersebut masuk juga ke dalam kelemahan organisasi. Lagipula organisasi itu mengandung banyak perkara lain-lain yang amat penting artinya buat perjuangan. Sebab itu baiklah berikan pemandangan teristimewa tentang organisasi itu.
III. Organisasi
SI PACUL : Organisasi juga kita sebut susunan, bukan? Apa bentuknya organisasi kita itu dan apa isinya, Dam?
SI GODAM : Kita sekarang dalam masa perperangan yang tidak dipermaklumkan! Tetapi tetap peperangan tulen, peperangan modern. Jadi bentuk yang cocok dengan keadaan ialah “Organisasi Rakyat Berjuang”. Isi susunan kita ialah “tuntutan perjuangan” kita pertama: MERDEKA 100%. Terus sesudah merdeka 100% mendirikan masyarakat sosialistis berdasarkan industri berat nasional.
SI TOKE : Jadi dua tingkat itu mesti dipisahkan? Dalam tingkat pertama, seperti sekarang berada dalam perjuangan merebut MERDEKA 100 % begitukah?
SI GODAM : Benar, mesti dipisahkan, tetapi tak bisa diceraikan. Apa yang dimaksudkan pada tingkat kedua itu, sebagiannya sudah boleh malah mesti dijalankan pada tingkat pertama.
SI PACUL : Apakah Organisasi Rakyat Berjuang menghadapi tiga negara itu, sesudah maksud kita tercapai akan terus berdiri, atau akan ditukar dengan susunan lain?
SI GODAM : Cul, jauh benar perginya pertanyaanmu itu. Boleh kujawab bahwa dalam tingkat berjuang buat MERDEKA 100% itu “seluruh” Rakyat Pemberontak patut disusun dalam satu “KALANGAN” (platform). Dalam masa MERDEKA 100% boleh jadi tak semua anggota patut mau atau bisa dalam Organisasi Rakyat Berjuang tadi. Barangkali, bahkan mestinya ada anggota yang tak cocok sama sosialisme, atau tak cukup kuat iman buat mendirikan Industri Berat Nasional. Dalam hal itu, kalau perlu dan tak merugikan Indonesia Merdeka, biarlah sebagian itu keluar dari Organisasi Rakyat Berjuang dan mendirikan partai baru. Tetapi begitu perkara nanti. Saya pikir dalam pancaroba sekarang dan sepuluh tahun atau lebih sesudah Indonesia Merdeka 100%, maka paling baik kalau di Indonesia cuma ada satu “Partai Murba” saja. Putusan bisa lekas diambil dan kesalahan bisa lekas diperbaiki, percekcokan satu partai dengan partai lain seperti dalam negara berparlemen bisa dihindarkan. Semakin kurang percekcokan, semakin lekas mengambil keputusan dan semakin cepat menjalankan suatu putusan dan memperbaiki sesuatu kesalahan, semakin lekas sampainya Indonesia Merdeka ke zaman KEAMANAN. Seperti sudah saya bilang di tempat lain, “Keamanan” itu baru mungkin ada sesudah Indonesia Merdeka memiliki dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Terlampau panjang kau bicara ini kali, Dam. Tunggu dulu! Kuulang sekali lagi.
SI TOKE : Ya, ulang lagi, Cul. Aku juga bingung!
SI PACUL : Pertama sekali rupanya Dam, masa (periode) perjuangan kita kau bagi dalam dua tingkat besar! Pertama menuju ke arah MERDEKA 100%. Kedua menuju ke arah keamanan, ialah ber-Industri Berat Nasional.
SI GODAM : Benar, Cul itu sudah kusebut lebih dahulu! Mendirikan Industri Berat Nasioal itu masih kuhitung sama berjuang.
SI PACUL : Memang sudah kau sebut Dam. Tetapi perlu diulangi lagi buat titik melompat. Jadi Dam, kedua engkau bedakan pula arti “Kalangan” dan Partai. Rupanya “Kalangan” itu ialah medan perjuangan beberapa golongan masyarakat yang dalam arti khusus mempunyai berlain-lain hasrat, tetapi dalam arti umum mempunyai satu hasrat saja, ialah Indonesia Merdeka 100%.
SI GODAM : Seperti biasa engkau jitu Cul! Boleh juga dibilang engkau itu ahli mamah! Gampang sekali engkau mengartikan dan melaksanakan sesuatu paham.
SI PACUL : Lu, Dam! Aku bukannya lembu atau kambing Dam! Buat meneruskan golongan tadi, bukanlah Denmas masuk golongan Ningrat? Sekarang Denmas ingin Merdeka 100%, tetapi sesudah Merdeka 100% itu bukanlah Denmas mengidamkan suatu “Kerajaan”?
DENMAS : Jangan begitu Cul! Aku juga akan menyokong pemerintah proletar! Malah aku akan ikhlas memulangkan semua tanahku kepada proletar tanah.
SI PACUL : Kupegang perkataan itu Denmas! Aku tahu engkau jujur. Tetapi bagaimana golonganmu, golongan ningrat umumnya? Kuteruskan pula! Mr.Apal tentu keberatan atas konfiskasi (penyitaan) Perusahaan Bangsa Asing yang sudah memerangi kita yang membunuh perempuan dan anak-anak kita yang tak berdosa itu?
MR. APAL : Asal jangan membahayakan kedudukan kita sebagai negara merdeka, akupun tak keberatan menyita perusahaan asing yang ceroboh memerangi rakyat Indonesia!
SI PACUL : Kupegang pula perkataan itu, Mr. Apal. Kuharap semua golongan tuan akan menyetujui politik sitaan itu. Walaupun begitu, bukanlah mungkin banyak di antara kaum cerdas (intelek) dan borjuis umumnya yang ngeri menghadapi politik “sitaan” itu?
MR. APAL : M u n g k i n !
SI PACUL : Toke, sekarang buat engkau! Bukankah ada di antara golongan tengah yang tak akan cocok dengan diktator proletar? Artinya itu kalau perlu kaum proletar mesin dan tanah sementara tempo mengadakan pemerintahan berdasarkan “kediktatoran” dari kelas proletar mesin dan tanah. Saya bilang kalau perlu.
SI TOKE : Kalau buat saya Cul, apa saja pemerintahan kuterima. Asal cocok dengan keamauan golongan rakyat yang bertambah dalam negeri dan bisa membawa kita ke arah Merdeka 100% dan Indonesia Merdeka ber-Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Percaya aku akan perkataanmu, Kek! Tetapi tak semua golongan kaum tengah berpaham seperti kau. Mungkin banyak yang tak setuju dengan pahammu itu.
SI TOKE : M u n g k i n !
SI PACUL : Mungkin juga setelahnya Indonesia Merdeka 100%, engkau Kek, malah bersama Mr. Apal dan Denmas, tak mengucapkan merdeka lagi kepadaku dan kepada Godam... dan terus jalan perpisahan atau..... (Denmas, Mr. Apal, Toke serentak memprotes!).
SI GODAM : Cul, gara-garamu itu baik jangan diteruskan. Bisa mendatangkan salah paham. Kembalilah kau pada pembicaraan bermula.
SI PACUL : Aku tahu Toke, Denmas, dan Mr. Apal orang jujur. Sebab itu pula kuberani bergara-gara. Pendeknya dengan mereka seperti yang hadir sekaranglah kita membikin satu Kalangan. Jadi Kalangan itu mengikat golongan ningrat, borjuis proletar mesin dan tanah yang berhasrat Indonesia Merdeka 100%. Bukanlah begitu maksudmu, Dam? Hasrat “Kalangan” ini ialah HASRAT PERSAMAAN di antara beberapa golongan rakyat. Berbeda dengan hasratnya satu partai yang biasanya mengenai hasratnya satu golongan saja. Saya bilang biasanya, umpamanya kelas proletar saja atau kelas borjuis saja. Bukan begitu, Dam?
SI GODAM : Tepat, Cul, benar pak!
SI TOKE : Jadi kita perlu satu “Kalangan” di masa berperang ini dan “mungkin” memakai satu partai saja di zaman pembangunan Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Sekarang bagi kita yang berada dalam peperangan melawan tiga negara ini (2 Desember 1945), seandainya “sudah mempunyai satu Kalangan Rakyat Berjuang”, apalagi yang penting, Dam?
SI GODAM : Yang paling penting tentulah kontak, yakni ikatan erat di antara kalangan tadi dengan Rakyat Murba. Kalau ikatan itu tak ada atau kalau ada tetapi tidak erat, maka pada suatu perjuangan mungkin kalangan tadi berada jauh di depan rakyat. Atau jauh di belakang rakyat. Itu berbahaya sekali. Hal ini mesti disingkiri.
SI PACUL : Tentu begitu! Kalau Rakyat Murba terlampau ke muka, karena kalangan berada terlalu di belakang, atau sebaliknya kalau Rakyat Murba terlampau di belakang karena kalangan terlampau di depan, maka itu berarti Rakyat Murba tak mempunyai pimpinan yang dibutuhkan. Rakyat Murba dalam hal itu gampang terjerumus!
SI TOKE : Bagaimana mengadakan ikatan yang erat itu?
SI GODAM : Carikan besi berani yang menarik dan mengikat dirinya dengan besi lain!
SI PACUL : Perumpamaan lagi, Dam. Bilangkan yang pasti nyata saja!
SI GODAM : Carilah sesuatu tuntutan yang bisa mengikat pikiran perasaan dan kemauan, pendeknya yang mengikat juga Rakyat Murba.
SI PACUL : Di desaku, Pak Kyai memajukan perang sabil!
SI TOKE : Kaum pedagang ingin berparlemen!
MR. APAL : Memang Badan Perwakilan Rakyat itu dirasakan betul oleh Rakyat.
SI GODAM : Ada tuntutan lahir yang tarikannya kuat seperti besi berani. Buat proletar tani, apa tuntutan yang lebih menarik daripada “tanah”?
SI PACUL : Tanah buat yang tak punya tanah, tentulah nasi buat yang lapar.
SI GODAM : Kita percaya kepada idealisme. Tetapi idealisme itu mesti berdasarkan materi, yakni benda dan kenyataan. Nasi itu adalah benda yang nyata. Bisakah orang berpikir kalau perut lapar? Apakah tuntutan berupa hak lahir yang nyata?
SI PACUL : Benar pikiranmu, Dam. Tetapi apa tuntutan yang nyata buat golongan proletar mesin yang mengambil bagian besar dalam perjuangan kita ini?
SI GODAM : Di masa damai tuntutan proletar pada masyarakat kapitalistis tentulah: naik gaji, kurang lama kerja, perbaikan rumah dll, berkumpul bersidang, dan sebagainya. Tetapi sekarang semua perusahaan besar di daerah Republik sudah dimiliki oleh Republik, oleh kaum proletar sendiri. Tuntutan proletar cuma campur mengurus produksi dan distribusi. Kalau kelak Negara Republik Indoensia itu berdasarkan proletaris sudahlah tentu kaum proletar yang akan menguasai produksi dan distribusi. Negara Republik Indonesia niscaya akan berdasarkan proletaris, kalau kaum proletarlah yang menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan ini. Di Surabaya memang proletar mesinlah yang paling terkemuka dan paling tahan dalam semua perjuangan yang seru sengit.
SI PACUL : Jadi apakah tuntutan proletar di masa perang ini?
SI GODAM : Tuntutannya yang langsung tentulah terutama politik. Yaitu menuntut dicabutnya kembali tentara asing manapun juga. Baru tuntutan yang lain-lain bisa dijalankan. Baru kota dan pabrik yang sekarang di tangan musuh itu bisa dimiliki dan diselenggarakan oleh kaum proletar.
SI TOKE : Tuntutan “menyuruh mencabut kembali Tentara asing manapun juga” tentulah dirasa oleh semua golongan rakyat Indonesia. Jadi tuntutan ini boleh jadi tuntutan “kalangan”. Artinya dirasakan oleh semua golongan dalam kalangan.
SI GODAM : Ada beberapa tuntutan lain dan akan dirasa, yang bisa mengikat kemauan pikiran dan jiwa semua golongan rakyat yang memberontak.
MR. APAL : Baik susun saja nanti semua tuntutan itu sebagai Program Kalangan Rakyat Berjuang, dalam bagian teristimewa.
SI PACUL : Betul begitu. Cuma terangkanlah Dam, apa lagi yang kau rasa penting buat organisasi.
SI GODAM : Banyak lagi Cul! Cuma saya takut, kalau pembicaraan ini akan terlampau panjang dan membosankan.
SI PACUL : Kalau perlu diperpanjangkan, apa boleh buat, kita mesti cukup mengerti semua perkara yang berhubungan dengan organisasi itu.
SI GODAM : Sekarang “kalangan” sudah ada, tuntutan nyata sebagai “tali pengikat” sudah diketahui juga. Bagaimana pula sekarang mengikat rakyat Murba dan di mana ditaruh “tampuk murba”, yang memperhubungkan kalangan dan Rakyat Murba itu?
SI PACUL : Yang kau maksudkan dengan tampuk itu tentulah “sel” bukan?
SI GODAM : Betul Cul! Saya sebut tampuk buat menggambarkan bahwa Murba itu seolah-olah buah dan tampuk itu adalah sangkutan. Di situlah tali ikatan yang dibentangkan dari kalangan tadi disangkutkan.
SI PACUL : Bagus perumpamaanmu Dam, tetapi kurang nyata bagi saya.
SI GODAM : Begini Cul! Kalangan tak perlu dan tak mungkin bisa berhubungan langsung dengan rakyat Murba seluruhnya. Dia bisa cari beberapa orang jujur aktif pada tiap-tiap golongan Murba. Umpamanya di golongan pekerja beberapa orang itu bisa didapat dalam pabrik besi atau bengkel, di tambang arang atau minyak. Dua tiga orang jujur aktif itulah yang sel, yang tampuk. Dengan perantaraan dua tiga orang sebagai tampuk di kota Surabaya itu umpamanya bisa dimajukan tuntutan nyata. Dengan begitu seluruh perusahaan besi bisa bergerak, maju menyerang. Dengan dua tiga orang pada tampuk bisa perusahaan besi di Surabaya dikerahkan. Boleh jadi perusahaan besi mempelopori seluruh buruh Surabaya, pekerja minyak, listrik, kereta, dll. Baiklah pula tampuk itu dibikin di perusahaan lain di kota Surabaya itu, seperti di perusahaan minyak dan lain-lain tadi.
SI PACUL : Kalau begitu di golongan kaum tani perlu pula diadakan tampuk menurut tingkatan milik proletar tani (proletar tulen, setengah proletar, tani kecil [melarat] tani tengah dan besar).
SI TOKE : Di antara golongan kecil dan menengah majikan kecil dan tengah (besar tak ada atau tak berarti di Indonesia) mestinya ada pula tampuk!
SI GODAM : Jadi kalau sudah ada tampuk dalam golongan proletar mesin, proletar tanah, dan perusahaan kecil dan menengah maka dengan tuntutan nyata sewaktu-waktu Kalangan Rakyat Berjuang itu bisa memanggil dan mengerahkan rakyat Murba.
SI PACUL : Jadinya ikatan itu cuma dalam tempo menyerang musuh saja.
SI GODAM : Tepat pertanyaanmu, Cul! Tentulah tidak dalam waktu berjuang saja mesti ikatan itu ada. Dalam masa persiapan pun itu mesti ada.
SI PACUL : Apa ikatan itu di masa persiapan, di masa damai?
SI GODAM : Di waktu persiapan mesti ada selalu hubungan langsung antara Pusat Kalangan dengan Cabang dan tampuk di pabrik, bengkel, kebun, atau desa. Yang menghubungkan ialah “putusan” yang diambil oleh pusat yang mesti dilakukan oleh Cabang dan Tampuk. Sebaliknya pula mesti ada kritik dan usul dari pihak Tampuk dan Cabang ke Pusat. Kritik dan usul pun adalah perkara yang memperhubungkan Cabang atau Tampuk dengan Pusat. Putusan di atas mesti diambil sesudah mendengarkan kritik dan usul dari bawah dan dari para teman pengurus pusat. Apabila suatu putusan yang diambil secara demokratis, dalam hal berunding dan mengkritik, dimajukan ke Bagian Dalam Pusat ataupun ke Cabang dan Tampuk, maka wajiblah putusan itu dilakukan dengan jujur, teliti, dan rajin.Walaupun putusan yang sah demokratis itu tidak disetujui oleh suara terkecil (minority), maka wajiblah suara terkecil itu menjalankan putusan yang sendirinya tiada disetujui itu.
MR. APAL : Memang putusan dari suara terbanyak atas perundingan yang demokratis itu wajib dijalankan oleh seluruh anggotanya. Atas yang tiada menjalankan atau menyabot putusan itu mesti dijalankan disiplin. Kalau seorang dalam suatu perkumpulan cuma menjalankan suatu putusan yang dicocokinya sendiri saja maka kumpulan semacam itu tak mempunyai kekuasaan apa-apa.
SI PACUL : Mengertilah saya maksudnya disiplin dalam Kalangan Rakyat Berjuang itu. Apakah sudah habis perkara penting yang mesti dikemukakan?
SI GODAM : Mesti nyata, dirasa oleh pendengar. Dengan begitu siaran itu bisa membangunkan pikiran dan seluruh jiwa pendengar. Buat tani, kehidupan tani yang berhubungan dengan tanah, ternak, pekerjaan, dan kewajibannya terhadap negaralah siaran (propaganda) yang nyata bisa dirasa. Buat proletar mesin kehidupannya sebagai pekerja di samping mesinlah yang mengikat hati dan pekerjaannya. Begitu pula siaran di golongan kaum tengah, kehidupan yang mengikat perhatian dan pikiran sehari-harinyalah pula yang mesti dijadikan syarat-syarat siaran itu.
SI PACUL : Pendeknya terhadap Murba siaran yang nyata terasalah yang mesti kita lakukan. Tetapi apa isinya program buat Kalangan Rakyat Berjuang yang kau majukan tadi Dam?
SI GODAM : Baiklah diperundingkan program itu di waktu lain bersama-sama dengan susunan yang cocok dengan Kalangan Rakyat Berjuang itu.
IV. Program dan Susunan Kalangan Rakyat Berjuang
A. PROGRAM
SI PACUL : Bolehkah kita pastikan, bahwa program itu ialah sarinya hasrat kita?
MR. APAL : Tak salah begitu, Cul.
SI TOKE : Cobalah susun sarinya program kita itu Dam!
SI GODAM : PROGRAM KALANGAN RAKYAT BERJUANG itu lebih kurang:
Mendirikan Pemerintah Berjuang oleh rakyat berjuang
Mendirikan Laskar Rakyat
Membagikan tanah pada tani melarat
Melaksanakan hak pekerja mengatur produksi
Melaksanakan Ekonomi Berjuang
Membersihkan Indonesia dari tentara asing
Melucuti senjata Jepang.
SI PACUL : Sedikit penerangan Dam! Baik juga kau batasi Pemerintah itu. Sungguh benar kalau kau sebut Pemerintah Berjuang. Pemerintah yang tiada berjuang bersama-sama dengan rakyat yang sedang berjuang itu adalah pemerintah yang mengharapkan hadiah dari atau kompromis dengan imperialisme ceroboh! Pemerintah berjuang itu mesti dipilih oleh rakyat berjuang pula. Mereka yang menunggu-nunggu kemenangan Inggris-Nica tiada berhak memilih Pemerintah Berjuang itu.
SI GODAM : Sebetulnya begitu Cul!
SI TOKE : Jadi Laskar Rakyat itu maksudnya ialah Laskar Rakyat Berjuang yang dipimpin oleh Pemerintah Rakyat Berjuang tadi. Laskar Rakyat itu mestinya lepas sama sekali dari pimpinan atau pengaruh semangat yang ingin “kompromis” atau takluk bertekuk lutut.
SI GODAM : Begitulah, Kek.
SI PACUL : Pembagian tanah itu ada sedikit sulit, Dam. Kepada siapa terutama dibagikan tanah itu? Apakah tanahnya ningrat juga sekarang mesti dibagi-bagikan?
SI GODAM : Dasar pembagian itu dalam garis besarnya yang berpunya kelebihan dikurangkan sampai cukup buat dirinya sendiri, buat dikerjakan sendiri. Yang kekurangan ditambah sampai cukup buat dikerjakan sendiri. Di mana ada satu golongan yang mau memiliki tanah itu bersama dan menyelenggarakan bersama, kemauan golongan itu harus dibantu.
SI PACUL : Jadi yang pertama mesti dikasih tanah ialah proletar tani, ialah tani yang tak punya tanah sama sekali. Kedua yang punya setengah cukup. Ketiga yang cukup, tetapi sederhana saja. Tapi tanah siapa yang mesti dibagibagikan itu?
SI TOKE : Sekarang engkau dapat bagian, Denmas.
DENMAS : Aku? Aku tidak keberatan!!
SI GODAM : Tanah Ningrat biasanya tak luas!
SI PACUL : Seandainya ada yang luas?
SI GODAM : Kalau Ningrat yang bertanah luas itu menentang Republik dan seorang kaki tanganya Nica, baiklah tanahnya dibagi-bagi.
SI TOKE : Semuanya tanah kapitalis asing dibagi-bagi pulakah?
MR. APAL : Memang patut kebunnya Inggris-Belanda yang sudah memerangi rakyat Indonesia itu disita saja. Mereka sudah memerangi kita dan mengambil puluh ribuan jiwa rakyat kita.
SI PACUL : Jadi kalau kita mengambil harta bendanya kapitalis ceroboh itu, yang sebenarnya tanah kita sendiri dan diusahakan oleh tenaga kita sendiri, pekerjaan kita itu tidak berlawanan dengan aturan internasional. Bukankah satu negara yang memerangi negara lain hartanya disita oleh negara lain itu?
SI GODAM : Siasat pembagian tanah itu mengandung dua maksud. Pertama, sebagai siasat kemakmuran. Ialah satu siasat yang dijalankan dengan maksud menambah kemakmuran. Dalam masa berjuang inipun hasil itu tak boleh dikurangkan. Kedua sebagai siasat memberontak. Apabila tanah itu diterima dan dikerjakan oleh seorang penentang imperialisme ceroboh maka pada ketika itulah pula dia menjadi seorang prajurit perjuangan yang taat setia pada kemerdekaan. Buat dia kemerdekaan itu berarti harta benda yang diperolehnya itu, yang mesti dipertahankan mati-matian. Kehilangan Kemerdekaan Indonesia buat dia berarti kehilangan mata pencaharian, yang sudah dipegangnya dan diselenggarakannya buat dia dan anak istrinya.
SI PACUL : Ringkasnya siasat pembagian tanah itu berwujud kemakmuran dan semangat perjuangan.
MR. APAL : Pabrik, bengkel, tambang, kereta dan lain-lain perindustrian sudah dimiliki oleh Republik. Apakah lagi tindakan yang sekarang mesti diambil?
SI GODAM : Selekas mungkin mereka mesti diberi hak mengatur produksi dan distribusi. Lagipula mereka mesti ditarik ke dalam badan politik, di kota daerah dan negara. Dengan begitu mereka betul-betul menjalankan hak mereka mengatur produksi, distribusi, dan politik. Dengan begitu mereka betul-betul merasakan hak mereka lahir-batin.
SI PACUL : Cuma dalam masa perjuangan ini mesti dipelajari lebih dahulu apa industri yang mesti diteruskan atau ditambah. Perdagangan dengan luar negeri sudah putus. Sebagian besar perindustrian Indonesia sekarang terhenti dengan terhentinya perdagangan dengan luar negeri itu. Perindustrian Indonesia di bawah Belanda didasarkan barang bahan dan barang yang diperniagakan ke luar negeri.
SI TOKE : Jadi perindustrian sekarang mesti dicocokkan dengan keperluan perjuangan saja.
SI GODAM : Tepat Kek. Ini menuntut pemeriksaan yang pertama, serta perundingan dan tindakan yang cepat tepat. Ini berhubungan dengan “Rencana Ekonomi” yang akan dibrosurkan pula. Dengan begitu maka Titik 6, yakni perkara melaksanakan Rencana Ekonomi Berjuang kita tunda ke lain waktu dan lain perundingan.
SI PACUL : Perkara 6, dan 7, yakni membersihkan Indonesia dari tentara asing dan melucuti senjata Jepang adalah akibat yang terdasar pertama oleh timbulnya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan kedua, oleh perebutan “agresif ” (ceroboh) dari pihak Inggris dan bonekanya Nica sendiri.
SI GODAM : Hak membalas “perang” dengan “perang” itu adalah cocok dengan hak mutlak dan kehormatan Negara Merdeka. Manusia Merdeka dan Berkehormatan itu juga berhak dan terus balas “jotos” dengan “jotos”. Di dunia hewan cuma anjing yang merangkak kembali kepada tuannya sesudah dipukul. Dalam masyarakat manusia cuma budak yang menerima pukulan dengan tidak melawan. Republik Indonesia Merdeka akan sendirinya terlempar ke jenis “anjing atau budak”, kalau “perang” tidak dibalas dengan “perang” pula. Tak ada pengakuan yang kita, Indonesia Muda, akan rebut dari hati sanubari Negara Merdeka dan Rakyat Merdeka di luar Indonesia.
SI PACUL : Benar! Negara dan Rakyat Merdeka di dunia ini akan jijik melihat sikap kita. Dalam hatinya mereka akan berkata: “Republik” Budak di Indonesia itu sudah sepantasnya “diakui”, tetapi bukan sebagai Negara Merdeka, melainkan sebagai Dominion, Gemennebest atau corak jajahan lain-lain buat diinjak-injak oleh Inggris atau Belanda selama dunia berkembang.
MR. APAL : Memang akibatnya pengakuan kita atas kemerdekaan kita sendiri itu mengandung pengakuan dan kewajiban: “kita sendiri melucuti Jepang”.
SI PACUL : Itu sudah logis dan semestinya.
B. SUSUNAN
SI GODAM : Yang dimaksudkan di sini bukanlah susunan pemerintah, tetapi susunan “Kalangan Rakyat Berjuang”. Maksudnya terutama memang berjuang. Perkara yang lain-lain seperti pendidikan, kesehatan, dll dalam arti yang dalam dan luas sepatutnyalah kalau diserahkan kepada pemerintah saja.
SI PACUL : Tepat Dam! Maksud “kalangan” itu yang pertama dan terakhir ialah “MEMANG BERJUANG”. Pada “kalah menangnya” rakyat kita dalam perjuangan inilah tergantung “tumbang atau tumbuhnya” Republik kita dan hidup matinya Rakyat Indonesia.
SI GODAM : Buat susunan perjuangan itu, saya pikir ada tiga bagian yang penting sekali, pertama Bagian Politik, kedua Bagian Pertahanan, ketiga Bagian Ekonomi.
DENMAS : Manakah bagian yang terpenting?
MR. APAL : Dalam Negara Republik berdasarkan Kedaulatan Rakyat dan Sosialisme, sudahlah tentu Bagian Politik itu yang terpenting. Bagian Politik itulah yang menentukan arah jalannya Negara, seperti seorang nahkoda menentukan arah kapalnya berlayar. Jadi dalam hal putus memutus Bagian Politik-lah yang menjatuhkan kata terakhir.
SI PACUL : Memang kalau putusan terakhir itu jatuh di tangan Bagian Pertahanan, maka mungkin negara kita akan bersifat militeristis. Keadaan sifat begitu mesti kita singkirkan dari sekarang.
MR. APAL : Akibat pemerintahan militeristis yang terdiri dari ratusan pulau ini akan memberi jalan kepada perpecahan. Satu diktator militer di Jawa umpamanya akan mengundang adanya diktator militer di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, mungkin pula di Ambon atau Maluku. Republik kita dan kemerdekaan kita jatuh atau berdiri dengan “kata mufakat”. Kalau kepulauan Indonesia tak bisa mengadakan pemerintahan yang didirikan atas “kata mufakat” maka besarlah bahaya kita atas perpecahan.
SI GODAM : Pendeknya putusan penghabisan dalam pimpinan politik negara mesti terletak di tangan Bagian Politik. Apabila arah politik sudah ditentukan dan diputuskan oleh kalangan buat berjuang maka kepada Bagian Pertahananlah diserahkan menetukan siasat dan pimpinan perjuangan.
SI PACUL : Sudahlah tentu Bagian Politik tidak akan berdiam diri saja.
SI GODAM : Tentu tidak! Siasat berjuang dan pimpinan berjuang itu senantiasa mesti diketahui dan diawasi oleh Bagian Politik. Pun Bagian Ekonomi bukanlah satu bagian yang terpisah dan menonton saja. Pada Bagian Ekonomilah terletak kewajiban menjaga keekonomian. Makan minum, pemondokan, perawatan, pengangkutan dll dari tentara yang sedang berjuang mati-matian itu membutuhkan perhatian pikiran dan kemauan para pengurus sepenuh-penuhnya.
MR. APAL : Ringkasnya mesti ada kerja tolong-menolong antara Bagian Ekonomi, Bagian Pertahanan, dan Bagian Politik. Tetapi putusan tertinggi dan bertangngung jawab terhadap Rayat Berjuang mestinya berada di tangan Bagian Politik.
SI PACUL : Memang kekuasaan dan tanggung jawab itu mesti ditentukan lebih dahulu. Kalau tidak akan timbul kekacauan kiri-kanan seperti sekarang. Apalagi kalau tentara kita di medan perang sedikit mendapat kemunduran, maka kekacauan dalam Badan Pimpinan itu bisa memasukkan biji “devide et empera”, pecah dan kalahkan dari pihak musuh yang mengintai-intai itu.
SI GODAM : Tiap-tiap tiga bagian itu mempunyai cabang (pembagian) pula. Bagian Politik saya pikir terutama dibagi empat cabang besar pula, ialah : 1. Urusan garisan politik Kalangan 2. Usaha menyelidik semua hal yang mengenai politik 3. Urusan penerangan 4. Urusan susunan.
SI TOKE : Memang pembagian pekerjaan dan tanggung jawab itu perlu sekali. Semua cabang di atas saya anggap penting. Garis politik mesti dipegang betul supaya kita jangan menyimpang dari garis yang sudah ditetapkan oleh Sidang Kalangan. Barangsiapa yang menyimpang dari garis itu mesti dikenai disiplin, ialah sesudah diperoleh bukti yang sah. Urusan penyelidik mestilah selalu siap sedia menjaga supaya jangan masuk orang atau paham yang merugikan perjuangan kita. Sudahlah terang bahwa penerangan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan semangat rakyat bisa dipegang dan diperhebat dengan jalan penerangan dan siaran. Bahaya mata-mata musuh itu tak ada selamanya bisa didapat dengan jalan penerangan dan penyiaran. Rakyat yang serba gelap gampang dimasuki setan pemecah belah. Akhirnya susunan di pusat, cabang, dan tampuk mesti dicocokkan buat seluruh negara, pulau, provinsi, daerah, kota, dan desa. Itulah perlunya cabang urusan susunan di atas.
SI GODAM : Kupikir baiklah Bagian Pertahanan itu kita bagi pula atas empat urusan : 1. Urusan Tentara Rakyat 2. Urusan Kepolisian 3. Urusan pemuda berjuang 4. Urusan porewa (milisi)
SI PACUL : Urusan tentara itu sudah tentu berhubungan dengan latihan kemiliteran pimpinan tentara berupa opsir dan persenjataan. Begitu juga urusan kepolisian. Urusan pemuda yang berkenan dengan pertahanan itu sesungguhnya pula perlu mendapat perhatian teristimewa. Boleh dikatakan bahwa di bahu pemudalah sebagian besar terletaknya pertahanan Negara Republik. Yang mestinya tak kurang mendapat perhatian ialah urusan perang. Dalam masa Imperialisme Belanda ada satu golongan orang Indonesia yang berdarah merdeka dan bersifat pemimpin, mereka tak mau terikat oleh aturan yang ditimbulkan oleh Imperialisme Belanda, baikpun aturan yang berhubungan dengan ekonomi ataupun politik. Mereka mempunyai para pengikut, tiap-tiap pemimpin sampai 500-1.000 orang, yang ikut pemerintah pemimpinnya dengan tak menghitung laba rugi, hidup mati. Di masa imperialisme Belanda mereka dianggap musuh ketentraman masyarakat yang memang bobrok itu. Sekarang mereka sendiri tak menginginkan masyarakat jajahan itu dikembalikan. Di mana-mana mereka mengadakan tindakan sendiri menghadapi musuh yang ceroboh bersenjata lengkap. Di mana mereka menerima kepercayaan Murba dan tanggung jawab, di sana mereka mengadakan perubahan yang baik. Mereka yang dibentuk oleh masyarakat jajahan dahulu itu, kaum porewa, yang semangat berontak dan senantiasa serempak serentak berontak dan mesti ditaruh di bawah perhatian dan pimpinan yang sehat. Kalau tidak, mereka akan bertindak sendiri dan mungkin merugikan perjuangan.
SI GODAM : Memang kita mesti urus dan perhatikan semua golongan manusia yang kita warisi dari masyarakat jajahan yang busuk itu. Memang gampang melamunkan “prajurit suci” yang beridaman “suci”. Tetapi dalam dunia perjuangan ini, kita tiada mengelamun. Kita mesti praktis! Kita mesti berjuang dengan alat berupa barang, dan manusia yang ada pada kita. Akhirnya Bagian Ekonomi mesti mempunyai cabang pula buat: 1. Urusan pekerja, 2. Pertanian, 3. Perusahaan, dan 4. Pasar. Prajurit pekerja dan proletar tani tentulah mesti mendapat perhatian luar biasa. Buat proletar muda mesti diadakan latihan dan kursus, supaya mereka disiapkan buat memimpin perusahaan, pertanian, politik, dan pertahanan negara. Perhatian kita mesti memusatkan kepada ini, karena merekalah yang paling aktif dan sudi berkorban dalam perjuangan yang paling hebat dahsyat ini. Seboleh- bolehnya kaum pedagang dan perusahaan kecil dan tenaga itu disusun pula dalam satu organisasi seperti koperasi. Semangat perorangan yang mengendali perhatian dan aksi mereka mesti dibelokkan pada semangat kolektif, gotong-royong buat membantu republik yang dalam marabahaya ini. Kaum dagang di pasar pun termasuk pada golongan ini juga. Begitulah susunan “Kalangan” itu dalam garis besarnya.
SI PACUL : Memang kalau susunan semacam itu bisa dilaksanakan di pusat, di pulau, di provinsi, di daerah kota, 70 juta rakyat Indonesia ini tak akan bisa lagi digertak atau ditipu pembujuk ataupun bajak perampok dari arah manapun juga datangnya. Siaran si perampok ataupun siaran pelor-bom akan melayang tersia-sia saja!
V. SYARAT SERTA TAKTIK BERJUANG
SI PACUL : Sekarang (2 Desember 1945), “seandainya” kita sudah mempunyai Kalangan Rakyat Berjuang seperti sudah kita uraikan di atas. “Kalangan” itu seandainya pula sudah berdisiplin yang kuat kokoh. Semuanya rakyat yang berontak sudah terikat di bawah pimpinan atau pengaruhnya. Janganlah pula dilupakan beberapa perkara di bawah ini: Musuh kita Inggris-Belanda hakikatnya amat bertentangan. Dalam tentara Inggris dan Nica tak kurang adanya pertentangan. Sekutupun terbagi atas pro dan anti Indonesia Merdeka. Seluruh Asia dan Afrika yang dijajah memihak pada Republik Indonesia. Dunia proletar Internasioal tak menyukai Perang Dunia Ketiga. Akhirnya Soviet Rusia dan Tiongkok memperamati dan 100% menyetujui Republik Indonesia. Apakah syarat dan taktik strategi atau TIPU MUSLIHAT berjuang?
SI GODAM : Seperti dalam perjuangan, maka di atas segala-gala yang terpenting tentulah “keyakinan” dan kekuasaan menang.
DENMAS : Memang keyakinan dan kehendak itu adalah uap kereta dan listrik buat mesin, ialah satu kodrat pendorong. Tetapi di luar Rakyat Murba apalagi di antara kaum intelek masih banyak yang sangsi atas kemenangan. Alasan mereka tentulah sebab kekurangan senjata. Kekurangan ini, kekurangan itu!
SI PACUL : Yang sangsi itu mestinya ada di dalam semua perjuangan. Tetapi Rakyat Murba tidak main hitung semacam itu. Ada atau tak ada pimpinan, mereka terus gempur Inggris-Nica yang ceroboh dan yang mulai bertindak melucuti senjata prajurit Indonesia.
SI TOKE : Memang maksud Inggris-Belanda sekarang sudah lebih terang! Keterangan dari Perdana Menteri Inggris bahwa Pemerintah Inggris cuma mengakui Hindia-Belanda sudah cukup terang.
SI PACUL : Semua tindakan Inggris-Nica sendiri sudah lebih terang buat mereka yang “mau” mengerti. Tetapi buat mereka yang tak mau mengerti karena dalam hati sanubarinya sudah terpendam “kemauan buat kompromi”, apapun juga bukti tentang maksud Inggris-Belanda yang sebenarnya tak akan dimengerti oleh mereka. Mereka mau kompromi dengan Inggris-Belanda, bermusyawarah dengan Inggris-Belanda, sedangkan “musuh” masih dalam negara kita. Barangkali nanti debat mendebat dalam permusyawaratan, pilih memilih wakil buat Dewan ini dan itu, pendeknya rebut merebut kursi, pangkat, dan gaji. Sedangkan musuh masih “dalam” Negara!
SI GODAM : Asal kalangan berjuang selalu berdiri di tengah-tengah Rakyat Murba dan memimpin Rakyat Murba dengan keyakinan dan kemauan menang dan perhatikan semua syarat dan taktik berjuang, kita bisa dengan tenang menyerahkan hari depan Republik Indonesia kepada Sang Waktu.
SI TOKE : Apakah pula syarat itu, Dam?
SI GODAM : Banyak juga. Tetapi terutama yang mesti dilakukan: 1. Pegang ini tiap-tiap menyerang. Artinya siasat menyeranglah yang kita utamakan. 2. Cari gelang rantai pertahanan musuh yang lemah. Putuskan rantai itu. Kepunglah masing-masing putusan itu dan hancurleburkan. 3. Selalu hitung lebih dahulu: kekuatan pertahanan musuh dan kekuatan kita menyerbu. 4. Selalu bisa memilih mana yang baik: menjalankan muslihat menyerang dari depan atau dari samping atau mengepung. Gempurlah rombongan kecil-kecil! Seranglah sekonyong-konyong. 5. Selalu ada persiapan menggempur mata-mata musuh (tetapi jangan berlaku tidak adil atau kejam karena terburu nafsu). Periksalah dengan seksama.
SI TOKE : Apa yang “jangan” dilakukan? Engkau sudah bilang apa yang “mesti” dilakukan?
SI GODAM :
1. Jangan lupa bahwa kita bukan melawan tentara. Senjata kita terutama politik, ekonomi dan gerilya.
2. Jangan lupa mendengungkan ke dalam dan ke luar negeri bahwa Republik Merdeka adalah 100% hak kita dan Inggris-Belanda tak berhak mencampuri urusan rakyat Indonesia. Satu persen pun tidak!
3. Jangan lupa bahwa walaupun dunia internasional membiarkan kota Indonesia dibom atom, desa dan gunung Indonesia cukup banyak buat perlindungan kita. Bumi cukup kaya buat hidup tak dengan kota. Tetapi Inggris-Belanda dengan tentara modern tergantung sebagian besar pada kota modern di Indonesia.
4. Jangan lupa bahwa Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang selalu kalah kalau berada jauh dari armada yang membantu dengan meriam dan kapal terbangnya. Jangan lupa contoh Magelang. Jangan putus asa kalau kalah di pantai. Di gunung pasti menang, kalau mau menang. Jadi jangan hilang akal kalau sebentar terpaksa meninggalkan kota. Jangan lupa menggempur kembali ke kota, apalagi dalam gelap dan hujan. Sekarang Jendral hujan sudah memanggil.
5. Jangan lupa bahwa Inggris-Nica dan pengkhianat di sampingnya tak bisa hidup tak dengan air, makanan, sayur, daging, dan pertolongan rakyat Indonesia. Jangan lupa bahwa setiap jam setiap hari tentara Inggris- Amerika terhalang maksudnya, jutaan rupiah ongkos yang mesti dipakainya dan dipikulkannya ke bahu rakyat yang sudah miskin melarat itu.
6. Jangan lupa bahwa kesabaran rakyat Inggris, Belanda, dan rakyat dunia lain yang ingin damai, ingin barang bahan Indonesia itu, ingin karet, minyak tanah, timah, gula, kina itu ada batasnya. Rakyat dunia itu tidak bisa selamanya membiarkan Inggris dan Belanda mengacau di Indonesia, bagian bumi yang penting buat perdagangan dan lalu lintas itu.
7. Dalam menjalankan taktik greliya dan kalau perlu taktik bumi hangus dan terendam, janganlah menyerang dari depan kalau musuh terkumpul dan bersenjata lengkap. Singkirkanlah peperangan tentara menghadapi tentara. Janganlah lupa bahwa Rakyat Murba mendapat senjata baru yang cocok buat taktik gerilya, ialah GRANAT TANGAN yang sekarang ada bertimbuntimbun. Jangan lupa bahwa granat tangan dan bambu runcing berkali-kali mengacau-balaukan dan mempontang- pantingkan gabungan Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang. Jangan lupa bahwa Bukit Barisan Indonesia dari Aceh ke Lampung, dari Banten ke Banyuwangi terus ke Timor, di Malaka, Kalimantan dan Sulawesi selama ini menunggu-nunggu putera Indonesia yang pahlawan-perwira buat bersembunyi sebagai pahlawan hutan Indonesia. Sang macan.... menghancurleburkan penjahat manapun juga di abad ke 20 ini.
SI PACUL : Tepat Dam...... Bukit Barisan yang sebagai macan, dengan taktik macan menunggu-nunggu penjajah buat diterkam dirobek-robek. Naik semangatnya Dam!
SI TOKE : Aku pun begitu Dam! Tadi sesudah mendengar kabar kekalahan kita di Surabaya terharu betul hatiku. Hampir percaya kepada kaum pengeluh. Ah, kita kekurangan ini, kekurangan itu, kita akan kalah! “Kasihan sama Rakyat”. Tetapi sekarang aku yakin Bukit Barisan kitalah benteng kita yang terakhir.
MR. APAL : Ingat sama Fabius, ahli mundur! Dia adalah seorang pahlawan Romawi melawan tentara Punisia yang kuat, di bawah pimpinan Jendral Punisia yang gagah perwira yang cerdik sekali. Tetapi akhirnya dengan taktik teratur Romawi menang juga.
DENMAS : Memang mesti dicamkan juga pada rakyat, bahwa tentara yang berperang itu tidak semestinya maju saja. Ingatkan pula bahwa senjata kita bukanlah senjata api semata- mata. Senjata kita juga berada dalam ekonomi dan politik. Malah Jendral Hujanpun satu senjata kita.
SI PACUL : Ya! Sebenarnya kita sedikit salah di Surabaya terhadap rakyat kita.
SI TOKE : Apa salahnya Cul ?
SI PACUL : Sebenarnya kita mesti bagikan kain kepada rakyat ketika kita sudah sita kain bertimbun-timbun. Rakyat kita butuh kain! Kain itu adalah hasil kemenangan rakyat Surabaya yang berjuang merebut kembali hak miliknya. Pada saat itu juga mestinya rakyat yang ditelanjangi Jepang itu ditutupi badannya. Satu muslihat buat melaksanakan siasat kemakmuran dan mempertinggi semangat pemberontak!
SI TOKE : Baiklah hal itu menjadi pelajaran di hari depan. Lekas PENUHI KEBUTUHAN RAKYAT di mana saja. Jangan ditunggu-tunggu lagi! Rakyat sudah kebosanan JANJI!!
MR. APAL : Sekarang rasanya sudah cukup kita rundingkan apa siasat dan taktik yang perlunya dijalankan berjuang. Tentu masih ada ketinggalan di sana-sini. Tetapi saya pikir baiklah Godam membikin satu pidato di depan kami, satu pidato sebagai contoh buat seorang propagandis di depan umum. Kami mau pakai sendiri.
SI GODAM : Saudara sekalian tahu, bahwa sesungguhnya aku bukan ahli pidato.
SI TOKE : Tak perlu kita caranya melaksanakan pidato itu, cara itu tidak penting buat Rakyat Murba yang sedang berjuang mati-matian. Yang penting ialah “ISI” pidato itu.
SI PACUL : Silakan Godam!
DENMAS : Aku seorang ningrat, Dam. Engkau berasal dari kelas benggolan, bekas stoker, bekas masinis. Tetapi dalam semua perundingan kita engkau perlihatkan kecerdasan, keberanian, dan kejujuran. Kuangkat pecisku di depan kecakapanmu, Dam. Aku mengaku muridmu, Dam.
MR. APAL : Aku seorang bertitel meester, Dam. Dunia intelek di zaman Belanda mengakui tingginya pengetahuanku, Dam. Mr. ialah pengakuan yang tertinggi tentang pengetahuan dalam hal undang-undang. Engkau seorang keluaran sekolah rendah saja. Tetapi engkau seorang “self-made-man” yang jaya. Contoh di segenap sejarah manusia cukup banyak kau ketahui! Contoh yang membuktikan bahwa “genie” itu tak selamanya keluaran sekolah tinggi. Aku tak malu, Dam, mengakui ketangkasanmu dalam berpikir dan bersoal jawab. Aku sudah mendapat pengakuan atas pengetahuanku. Tetapi sekarang aku insaf bahwa dalam masa pancaroba ini aku tak sanggup menyelami jiwa Rakyat Murba, menyusun menggerakkan tenaga Murba, yang diserahkannya pada pimpinan perjuangan itu. Berdirilah Dam, buat kami, buat contoh, buat MURBA, yang bergelora semangatnya, sesudahnya kami sendiri bertahun-tahun sudah membangunkannya ialah semangat MERDEKA. Apabila sekarang mereka melaksanakan apa yang kami kaum intelek sendiri, bangunkan dan muliakan itu, kami kaum intelek terutama saya sendiri sebagai intelek tidak berdiri di tengah rakyat, memimpin atau membantu, maka saya sendiri rasa bahwa kaum intelek tidak jujur terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Dan kalau rakyat Murba sekarang sebagai akibatnya propaganda puluhan tahun di mana-mana tiada “dipimpin” dan dibiarkan dirobek-robek oleh pelornya Inggris- Nica-Gurkha-Jepang, maka hal itu, aku Mr. Apal, anggap sebagai satu pengkhianatan si sejarah Indonesia yang terpenting.
SI PACUL : Silakan Dam!
SI GODAM : Saudara dan saudara! Tiga minggu yang lampau Inggris menuduh kita rakyat Surabaya membunuh seorang opsirnya. Dia tidak mau mengadakan pemeriksaan atas benar tidaknya pembunuhan itu. Dia tidak mau tahu apakah matinya opsir itu disebabkan tembakan dalam pertempuran kacau balau atau oleh pelor serdadunya sendiri yang menembak rakyat Indonesia. Bahkan dia tiada mau tahu apakah opsir itu benar mati apa tidak. Pihak Indonesia tiada mendapatkan opsir itu hidup, luka, atau mati di tempat pertempuran itu dilakukan. Pihak Indonesia siap sedia mau mengadakan pemeriksaan yang seksama. Tetapi tidak sekali ini saja Inggris pintar mencari alasan. Sudah kita ketahui bahwa pada hari itu Inggris sudah mempunyai rencana yang pasti dan beres. Rencana itu ialah menduduki Surabaya bersama serdadu Nica yang sudah tiba dari luar negeri. Ada atau tidaknya kesalahan Indonesia tuduhan mesti dikemukakan. Benar tidaknya tuduhan itu tuntutan mesti dilakukan. Inggris, Saudara, menuntut supaya rakyat dan tentara Republik Indonesia dilucuti senjatanya. Rakyat dan tentara Republik Merdeka mesti bertekuk lutut menyerahkan semua senjata. Cuma rakyat satu negara yang mau melepaskan hak kemerdekaannya, yang mau dihina dan diperlakukan sebagai budak belian, yang sanggup memenuhi tuntutan Inggris itu. Inggris bukannya diserahi oleh Sekutu melucuti senjata rakyat Indonesia, melainkan melucuti tentara Jepang. Seandainya diserahi perlucutan itu, Indonesia tak perlu dan hina sekali kalau ia membenarkan tuntutan Inggris itu. Tuntutan itu berlawanan dengan kedaulatan Rakyat Merdeka. Rakyat Indonesia sejak tanggal 17 Agustus ialah suatu negara merdeka. 70 juta rakyat Indonesia menyetujui dan ternyata menyokong kemerdekaan itu dengan harta benda serta jiwa raganya. Patutkah rakyat suatu negara merdeka dilucuti senjatanya? Satu syarat pertama negara merdeka ialah kemerdekaan kemauan dan kesanggupan negara itu mempertahankan kemerdekaannya. Hilanglah kemerdekaannya kalau rakyat itu tiada bersenjata lagi. Maksud Inggris bukanlah melucuti senjata Jepang, melainkan melucuti senjata rakyat Indonesia. Rakyat yang tiada bersenjata itu akan mudah digertak, diinjak-injak, atau disembelih oleh Nica yang disiapkan oleh imperialisme Inggris sebagai penjajah Indonesia. Apabila pemerintah Nica sudah teguh tegap kembali menjajah Indonesia ini, maka Inggris berharap akan mendapat kembali kebun, tambang, pabrik, dan tokonya. Inilah maksud Inggris yang sebenarnya. Betapapun Inggris menyangkal tuduhan kita dan dunia lain bahwa bermaksud mengembalikan Indonesia ke derajat suatu jajahan, semua bukti menyaksikan hasrat Inggris itu. Lagipula semua Inggris di Asia dan Afrika menyaksikan kebohongan, kelicikan, dan kebuasan Inggris dalam hal jajah menjajah. Suara imperialisme Inggris adalah suara perempuan lacur. Perkataannya tak boleh dipercaya. Musnahlah kemerdekaan Indonesia kalau alasannya atau anjurannya didengarkan. Selama tentara Inggris berada di Indonesia janjinya mesti dianggap sebagai tipu muslihat belaka. Tetapi rakyat Surabaya tiada mendengarkan tujuan dan alasan wakil imperialisme Inggris itu. Rakyat Surabaya yang bukan juris itu mengerti sungguh akan haknya satu Rakyat Merdeka. Rakyat Surabaya pegang senjata di tangannya. Dengan senjata di tangannya dia akan pertahankan kemerdekaannya. Itulah sifat jantan! Itulah sifat yang cerdik berdasarkan keinsyafan akan hak sendiri, kewajiban sendiri, dan kehormatan akan diri sendiri. Barangsiapa yang tak menjalankan sifat itu dia tidak mau merdeka, dia tidak mempunyai kehormatan atas dirinya sendiri. Dia itu adalah orang budak, atau agen Nica yang bersembunyi. Dalam hakikatnya dia adalah seorang pengkhianat. Ada yang mengeluh, kita tiada bisa melawan tank raksasa, melawan kapal perang dan kapal terbang Inggris. Saya jawab, bukankah sudah tiga minggu kita menahan hujan pelor? Berapakah kerugian yang diperoleh musuh dalam tiga minggu itu? Apakah kemenangan yang diperolehnya dalam tiga minggu itu? Bisakah Inggris-Belanda mengurusi pabrik, toko, atau kebun di tempat yang didudukinya? Selama dia tidak bisa mencari untung dengan menghisap keringat dan darah rakyat Indonesia, selama itulah perampasan sejengkal atau dua jengkal tanah itu satu kesulitan bagi dirinya sendiri. Tanah yang dirampas itu mesti dipertahankan siang dan malam terhadap serangan rakyat dan tentara Indonesia. Ongkos mempertahankan sehari demi sehari bertimbun-timbun. Sehari demi sehari Inggris-Nica akan merasai tajamnya senjata rakyat Indonesia yang tak kurang tajam dari senjata biasa. Senjata ekonomi, di samping penyerbuan secara gerilya yang tak putus-putusnya, bukanlah senjata yang bisa diabaikan begitu saja, walaupun Inggris lengkap bersenjata. Seandainya Inggris-Nica bisa merebut semua kota-kota di pesisir ini belum berarti mereka menang! Masih jauh jalan yang mesti mereka tempuh. Selama rakyat Indonesia bersatu, berdisiplin, dan insyaf akan muslihat yang harus dijalankan serta yakin akan kebenaran sendiri serta kesalahan musuh, selamanya Inggris-Nica masih dalam tingkat permulaan. Di Magelang di mana kekuatan armada tak berlaku, di sana Inggris dikalahkan. Dikalahkan, Saudara! Apakah artinya kalau tentara yang paling modern di dunia, tentara yang sudah mendapat ujian di medan perang modern, dikalahkan, diusir, atau dimusnahkan oleh rakyat dan tentara Indonesia yang tak beropsir, tak bersenjata, dan tak berlatih cukup? Kepada prajurit Indonesia aku tak perlu insyafkan atau tanyakan kejadian Magelang yang maha penting buat sejarah Indonesia ini! Kepada pengeluh, pengesah, pengecut, kepada yang sangsi akan kekuatan rakyat Indonesia, sangsi dengan segala yang berhubungan dan berbau Indonesia, saya mau tanyakan sekali lagi artinya kemenangan Magelang itu. Saya tambah pula tidak di Magelang saja rakyat Indonesia dan tentara Indonesia menang berperang dengan tentara Inggris-Nica. Di semua tempat, di mana pasukan berhadapan dengan pasukan, di sana Indonesia yang menang. Tak ada kecualinya. Orang Inggris-Nica belum pernah menang sama orang Indonesia. Yang menang cuma senjata luar biasa seperti meriam kapal perang yang menembak dari jauh di tengah laut, atau kapal terbang yang tinggi sekali terbangnya. Apalagi kelak di benteng kita yang paling akhir, yakni di pegunungan yang membujur di semua kepulauan Indonesia, di sana Inggris-Nica akan berjumpa perjuangan yang sesungguhnya. Di sana meriam armada takkan berdaya. Di pegunungan itu bom kapal terbangnya takkan berarti. Di pegunungan tentara Indonesia akan menunggu, seperti harimau menunggu musuh di tempat dan tempat yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan mencelakakan musuhnya. Dari gunung gerilya Indonesia dengan tak putus-putusnya akan menyerbu ke kota-kota, seandainya semua kota bisa diduduki Inggris-Nica, yakni kalau Inggris- Nica bisa menduduki kota yang hangus dan dikeringkan air minum dan makanannya. Di kota hangus Inggris-Nica menderita serangan gerilya di hari malam dan kekuarangan makan di hari siang. Siapakah di antara Saudara yang percaya Inggris-Nica bisa satu tahun saja duduk di kota neraka semacam itu? Duduk siang malam dalam bahaya dan kekurangan makan, tidur, dan ke plesiran? Di telinganya terdengar pula ocehan dan sumpah dunia? Saudara-saudara! Diplomasi kita bukan diplomasi bertekuk lutut. Diplomasi yang patah hati, diplomasi setengah atau tiga perempat jalan. Diplomasi kita menghendaki kemerdekaan 100% sempurna. Kita tidak akan berhenti selama kemerdekaan sempurna itu belum tercapai. Kita bisa tahan karena sudah bisa melarat, karena bumi, iklim, memihak pula pada kita. Kita percaya kita bisa mencapai kemerdekaan sempurna itu kalau kita cukup sabar, cukup tahan! Cukup percaya akan hak dan kebenaran diri sendiri. Percaya akan kesalahan Inggris-Nica. Akhirnya percaya akan keadilan manusia di dunia ini. Dunia sedang mengamati kita! Dunia ikut menimbang siapa yang benar siapa yang salah. Dunia ikut menimbang dan memperhatikan Indonesia kacau dan dikacaukan. Suara umum di dunia besok atau lusa akan memihak kepada yang berhak dan menuduh serta menghukum mereka yang mengcaukan serta berdosa. Kita menunggu sambil berjuang sampai si penjajah itu musnah atau berangkat meninggalkan pesisir kita. Sampai suara umum di dunia menyalahkan si penjajah. Saudara jangan lupa bahwa Indonesia selain penting buat lalu-lintas, penting pula buat pembangunan ekonomi di dunia yang rusak ini. Bahan dari Indonesia dibutuhkan buat semua negara beradab di dunia. Kemauan dunia beradab buat perdamaian, kebencian proletar Indonesia, kebencian rakyat jajahan terhadap imperialisme dan persetujuannya dengan kemerdekaan, inilah semua perkara yang memihak kepada Rakyat Indonesia Berjuang. Inilah diplomasi kita! Diplomasi berjuang! Dengan begitu membangunkan rasa kebenaran dan keadilan di dunia dalam dan luar Indonesia. Dengan begitu membelah dua kaum imperialisme dengan kaum pendamai. Bukan diplomasi kompromis, diplomasi bertekuk lutut. Karena diplomasi bertekuk lutut itu membimbangkan proletar dunia dan rakyat jajahan. Diplomasi bertekuk lutut itu membencikan rakyat beradab di dunia, yang insyaf akan hak kemerdekaan suatu bangsa dan hormat kepada rakyat lain yang membela kehormatannya sendiri. Si lemah, si sangsi, si pesimis, seperti si pengkhianat memang banyak alasannya. “Oh,” katanya, “kasihan sama rakyat, yang mesti berkorban!” Bukankah Inggris-Nica yang menyebabkan korban itu? Bukankah imperialisme yang selalu siap sedia mengorbankan puluhan juta manusia buat menjalankan politiknya? Di zaman manakah, di negara manakah “kemerdekaan” itu diperoleh dan dipertahankan dengan berdiplomasi dari gedung besar, bukan dengan pengorbanan puluhan malah sering jutaan manusia? Lagipula apa artinya “senjata” Indonesia sekarang mengorbankan 2 atau 3 juta rakyatnya buat kemerdekaan 68 juta sisanya? Bukankah keamanan (!) dan ketentraman di bawah Jepang saja sudah menuntut korban 3 sampai 4 juta jiwa manusia? Jika Indonesia sekarang takut mengorbankan 1 atau 2 juta rakyatnya (“seandainya” perlu pengorbanan begitu banyak dalam perjuangan, yang tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia sendiri itu), kelak 70 juta orang Indonesia akan dikorbankan selama-lamanya buat budak dalam kebun, pabrik, dan tambang bangsa asing. Bukan Indonesia saja yang berkorban dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan sebagai hak mutlak dan hak alamnya itu, juga si pemerkosa kemerdekaan kita itu mesti berkorban! Juga mereka perlu mengorbankan harta bendanya, jiwanya, dan waktunya. Akhirnya yang tak boleh Saudara lupakan adalah bahwa Inggris-Belanda sehari demi sehari mengorbankan namanya sebagai negara beradab. Sekali dunia beradab mengutuki tindakan mereka terhadap satu bangsa yang salahnya cuma karena ia mempertahankan haknya, pada saat itulah kemenangan berada di tangan Indonesia. Indonesia akan terus berjuang sampai saat itu tiba. Sampai si ceroboh, si penjajah bertekuk lutut. Muslihat Rakyat Indonesia ialah berjuang lama, menyingkiri semua yang bersifat terburu nafsu, bersifat tergesa-gesa, bersifat fanatik, dan bersifat perjudian. Dengan hati tenang-tegap seperti baja, otak teduh berputar, dan akhirnya dengan kemauan dan keyakinan kokoh-kuat, Rakyat Indonesia menunggu sampai fajar kemerdekaan itu menyingsing! Kalau kita para prajurit kemerdekaan ini gagal dalam perjuangannya, maka ini tidak berarti kita gagal karena salah dasar atau salah muslihat. Kalau kita kelak gagal maka kegagalan itu mesti dicari pada kurang teguhnya organisasi, lemahnya disiplin, serta kurangnya kecerdasan, kecerdikan, dan kecakapan. Semua kekurangan bisa dan mesti kita singkirkan dari sekarang juga! Tetapi di atas segala-galanya yang tiada boleh kurang, yang mesti diperkokoh sekarang ini dan terus diperkokoh di hari depan ialah persatuan. Jauhilah curiga mencurigai dan tuduh menuduh dengan tak ada alasan cukup. PERSATUAN DAN DISIPLIN! DISIPLIN DAN PERSATUAN! SEKIANLAH!!
Tan Malaka (1945)
Ditulis oleh Tan Malaka di Surabaya, 2 Desember 1945
Sumber: Tulisan ini diambil dari buku Merdeka 100%, cetakan pertama, Oktober 2005, dengan ijin dari penerbit Marjin Kiri. Buku ini mengandung tiga tulisan Tan Malaka: Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Muslihat.
Transcribed to HTML by Ted Sprague.
PENGANTAR
TIGA MINGGU yang lampau Inggris-Nica dengan alasan yang dicari-cari dan berputar-putar dari tempo ke tempo, memajukan tuntutan pada kota Surabaya: supaya rakyat dan tentara dilucuti senjatanya. Maksudnya ialah supaya sesudah rakyat dan tentara dilucuti senjatanya, barulah Nica mau berunding dengan para pemimpin rakyat.
Tuntutan itu cuma satu artinya: Rakyat Indonesia lebih dahulu mesti dilucuti senjatanya. Kemudian akan dijajah kembali oleh Belanda, dengan Inggris sebagai pembantunya.
Rakyat Surabaya tak mau dilucuti senjatanya dan tak mau dijajah kembali. Tak mau pula ia berunding dengan senjata musuh di depan dadanya. Ini cocok dengan kemauan Rakyat Indonesia seluruhnya. Cocok pula dengan anjuran para pemimpin terkemuka di zaman Jepang. Cocok pula dengan semangat kemerdekaan yang sudah didengungkan selama 40 tahun. Cocok dengan hak dan kehormatan suatu Negara Merdeka.
Inggris-Nica dalam hakikatnya mau menjajah. Tuntutannya di atas tadi yang ditolak oleh rakyat Surabaya, dilaksanakannya dengan serangan gabungan dari laut, darat, dan udara.
Serangan yang sedahsyat-dahsyatnya selama ini.
Tiga minggu lamanya rakyat Surabaya sudah menahan serangan ini.
Hampir berbarengan dengan serangan Suarabaya, dengan maksud begitu juga dan alasan sejenis itu juga —yakni alasan “macan mau memakan anak kambing” menurut cerita terkenal— dengan alasan pura-pura itu sedang terjadi pertarungan hebat di Semarang, Ambarawa, Magelang, Jakarta, Bandung, dan Sumatera. Di mana-mana rakyat menang kalau cuma menjumpai perlawanan pasukan melawan pasukan. Tak ada pasukan Inggris-Nica yang bersenjata lengkap yang bisa menahan serangan pasukan Indonesia bersenjata serba kurang. Inggris bisa menang cuma dengan senjata luar biasa, yang membuat “orangnya” Inggris-Nica tak kelihatan lagi. Makin dekat ke pantai makin besar keuntungan dan kekuatan Inggris. Makin jauh dari pantai makin besar pula keuntungan dan kekuatan Indonesia. Dari Magelang Inggris-Nica sudah terusir sama sekali! Selalu saja Inggris, Belanda, Gurkha ... ataupun Jepang lari tunggang langgang kalau berhadapan pasukan melawan pasukan, orang melawan orang!
Rakyat Indonesia sudah menyambut “PERANG” yang tiada dinyatakan dengan “PERANG”. Rakyat kita sudah benar sikapnya! Rakyat sedang berjuang mati-matian membela sikapnya yang benar itu. Rakyat Indonesia sedang membikin sejarah buat Negara Indonesia dan dunia lain. Rakyat Indonesia ada di bawah pengobaran dunia. Kalah atau menangnya kelak Rakyat Indonesia tiadalah terletak pada kalah atau menangnya berjuang dalam peperangan yang tak sama persenjataan itu!
Kalah atau menangnya itu terletak pada “salah atau benarnya”. Ia mengambil “sikap” terhadap kecerobohan. Dan juga pada lemah atau kuat imannya memegang sikap yang sudah diambilnya. Seandainya pada tanggal 10-11 November itu rakyat Surabaya bertekuk lutut terhadap tuntutan yang melanggar hak dan kehormatannya sebagai bangsa merdeka, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia sekarang akan mengutuki sikap bertekuk lutut itu.
Seandainya kelak Rakyat Indonesia karena kalah sementara pada satu tempat saja sudah patah hatinya dan kemudian mengubah sikapnya, berkhianat kepada sikapnya bermula, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia tiada akan memandang Rakyat Indonesia masak buat merdeka. Tetapi jika sikap yang benar itu tiada bisa menang dalam perjuangan ini, maka di hari depan sikap itu akan diteruskan dipakai pada perjuangan yang akan datang sampai maksud itu tercapai.
Rakyat Indonesia pendeknya sedang berjuang buat kebenaran dan keadilan! Apakah muslihat yang mesti dijalankan dalam peperangan yang tidak sama persenjataan ini?
Di tengah-tengah dentuman mortir dan bom, sambil memperhatikan sikap tegak-tenang di pihak rakyat dan prajurit Surabaya, saya di masa ini lebih yakin lagi akan kebenaran MUSLIHAT yang mesti dijalankan, MUSLIHAT mana sudah lama terkandung dalam pikiran.
MUSLIHAT dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya itulah yang saya coba bentangkan di sini!
Mudah-mudahan brosur ini akan memberi faedah pada para pemimpin perjuangan Indonesia yang maha dahsyat dan paling modern ini. MERDEKA !!!
****
I. Suasana
A. IKLIM PERJUANGAN
Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945 berada dalam perjuangan yang hebat dahsyat. Percakapan yang berhubungan dengan Indonesia Merdeka diteruskan oleh MR. APAL, TOKE, DENMAS, PACUL, dan GODAM. Dalam hal merundingkan muslihat yang patut dijalankan ini pun nyata bahwa masing-masing pembicara terkungkung oleh sifat golongan sendiri-sendiri.
SI PACUL : Merdeka!
BERSAMA : Merdeka, Cul! Perubahan besar, Cul, buat engkau dari ucapan selamat pagi, apa kabar sampai merdeka! Kami kira engkau akan menyerbu dengan Kyai Kebal ke Surabaya! Sudahkah engkau terima jimat dan berkahnya Kyai Kebal. Mukamu berseri seperti baja saja, penuh kepercayaan.
SI PACUL : Betul saya percaya tetapi tidak atas kekebalan diriku sendiri. Saya percaya atas kekebalan 70 juta rakyat Indonesia. Asal saja semua syarat perjuangan dipahamkan dan MUSLIHAT dijalankan 70.000.000 manusia takkan dapat dijajah kembali.
SI TOKE : Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan kita sekarang?
SI PACUL : Saya juga bukan ahli, Kek! Saya juga mendapat pertanyaan dari surat kabar dan radio. Tetapi semalam kebetulan berjumpa beberapa teman yang baru kembali dari semua medan pertempuran kecuali dari seberang.
SI TOKE : Kabarkan, Cul, bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Bermula marilah kita sebentar mengheningkan cipta buat ribuan rakyat dan prajurit perwira Indonesia yang tewas dalam medan pertempuran. Kedua, marilah kita peringatkan pula bahwa kini tiga setengah bulan Republik Indonesia berdiri. Bandingkanlah perubahan jiwa Rakyat Indonesia, di masa 3½ abad di bawah telapak imperialisme Belanda dan 3½ tahun di bawah telapak imperialisme Jepang dengan 3½ bulan di bawah iklim kemerdekaan.
SI TOKE : Berbeda Cul, seperti siang dan malam. Jiwa berserah sekarang menjadi jiwa dinamis berontak. Semangat takluk dan percaya pada pimpinan asing, sekarang bertukar menjadi semangat melawan dan percaya pada pimpinan negara sendiri, sama diri sendiri, bahkan sama tombak bambu dan golok sendiri. Siapa sangka Cul, penjelmaan yang begitu besar bisa terjadi dalam tempo sependek itu.
MR. APAL : Baru saja saya kembali dari perjalanan dari Anyar ke Surabaya. Terlampau melebihi kalau saya katakan bahwa sepanjang jalan tiap-tiap km diperhentikan. Oleh siapa? Bukan oleh musuh polisi Belanda atau kempei Jepang. Melainkan oleh rakyat jelata Indonesia atas dorongan kalbunya sendiri. Siang malam mereka berjaga-jaga mengawasi mata-mata musuh yang memang berkeliaran mencari-cari kelemahan.
DENMAS : Di masa Diponogoro cuma rakyat Jawa Tengah saja yang berjuang, tak pula seluruhnya. Di masa Imam Bonjol cuma sebagian kecil rakyat Minangkabau yang bertempur dengan Belanda. Di masa Teuku Umar, cuma rakyat Aceh saja yang berperang. Tetapi sekarang seluruh Jawa sudah bertempur. Seluruh Sulawesi, seluruh Kalimantan, dan seluruh Sumatera sedang bangun serentak mengikuti jejaknya Jawa.
MR. APAL : Perjuangan sekarang ialah perjuangan nasional yang sebenarnya! Inilah yang diimpikan oleh kaum nasionalis semenjak 40 tahun ini.
SI TOKE : Perjuangan Indonesia sudah betul-betul menjadi perjuangan internasional. Dewan Selong menyatakan simpatinya terus terang berpihak Indonesia. Buruh Australia memergoki kapal Belanda yang mengirimkan senjatanya ke Indonesia buat memukul Republik Indonesia. Tentara Australia membantu pemberontak Indonesia di Kalimantan. Rusia dan Tiongkok mengakui Republik Indonesia. Dari Amerika pun terdengar suara simpati dari sebagian penduduk di sana. Begitu pula dari sebagian kaum buruh Inggris. Tetapi Cul, apa jawabnya pertanyaan saya yang bermula? Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Semuanya yang direntangkan di atas memang berhubungan rapat dengan keadaan kita sekarang. Tentang keadaan pertempuran lebih kurang amat menyenangkan. Kabar radio dan kabar temanku yang baru kembali dari Surabaya mengatakan bahwa Surabaya yang hampir rusak binasa itu sudah digenangi air. Inggris dan Gurkha-nya boleh terus menduduki Surabaya tetapi tank, truk, dan meriam besarnya baiklah mereka angkut saja ke tempat yang kering. Sebagian besar dari rakyat yang tak ikut bertempur sudah menyingkirkan diri. Biarlah Inggris-Nica dan seluruhnya insyaf bahwa rakyat Indonesia selain jiwa raganya juga siap sedia mengorbankan semua. Katanya buat membela kemerdekaan negaranya. Rakyat Indonesia juga insyaf bahwa di luar kota “mesinnya” tentara Inggris yang modern itu sudah kalah, mustahil berjalan terus!
SI TOKE : Bagaimana keadaan di lain tempat?
SI PACUL : Magelang, bekas benteng Belanda yang dahulu amat kuat itu sudah kita rebut kembali. Tentara Inggris sekarang terkepung dalam rawa, juga benteng Belanda, yang dahulu dianggap kuat. Di Jakarta dan sekitarnya pertempuran hebat terus menerus berlaku. Di Bandung dan sekitarnya, rakyat mendesak ke dalam kota. Di mana-mana gedung besar-besar dipertahankan oleh pemuda dengan gagah berani, di luar dugaan bermula. Di Bandung pemuda-pemuda pun tak ketinggalan. Seringkali Jepang dipakai oleh Inggris melawan Indonesia. Begitu keadaan di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Umumnya tentara Indonesia lebih ulung dan lebih berani dari tentara Inggris-Belanda. Tetapi kekuatan senjata tak berbanding. Tank Inggris bermaharajalela di jalan raya, meriam besar mereka tak ada lawannya. Kapal terbang dan kapal perang amat leluasa. Walaupun begitu tak sedikit tank yang ditangkap, kapal perang ditenggelamkan, dan kapal terbang ditembak jatuh oleh prajurit kita. Bermacam-macam senjata, seperti pistol, senapan mitraliur, meriam dll dirampas oleh rakyat jelata dengan bambu runcing, golok dan tinju saja.
SI TOKE : Jadi rupanya rakyat Indonesia dengan tombak bambu, golok dan tinju melawan Inggris-Nica-Jepang yang bersenjata modern buat tentara darat, laut dan udaranya!
SI PACUL : Tetapi ada senjata yang tak ada pada mereka dan ada di pihak kita.
SI TOKE : Apa Cul?
SI PACUL : Kebenaran! Keadilan! Akhirnya, Rakyat Murba!
B. DIPLOMASI dan DIPLOMASI
SI PACUL : Aku yakin bahwa kita dalam kebenaran dan keadilan. Aku juga percaya bahwa rasa kebenaran dan keadilan yang ada bersarang dalam hati sanubari rakyat di negara luar, akhirnya kan menyambut teriak kebenaran dan keadilan dari pihak kita. Lagipula kita sudah yakin bahwa Rakyat Murba kita tak menghitung laba rugi lagi dalam melaksanakan perasaan kebenaran dan keadilan itu. Tetapi diplomasi apa yang mesti kita jalankan supaya perjuangan rakyat sekarang ini berhasil, inilah yang saya ingin dengar dari Tuan sekalian yang hadir di sini.
SI TOKE : Memang diplomasi itu penting sekali. Denmas memang beradik berkakak dengan diplomasi. Cobalah bentangkan paham Denmas perkara diplomasi itu lebih dahulu.
DENMAS : Yang menjadi dasar diplomasi itu buat saya ialah kekuatan kita sendiri. Diplomasi itu mesti kita jalankan menurut kekuasaan kita sendiri, berbanding dengan kekuatan musuh. Kekuatan kita seperti sudah dijelaskan tadi, di udara, di laut, di darat adalah kurang sekali daripada musuh.
SI TOKE : Jadinya kita mesti bertekuk lutut lebih dahulu? Kemudian tunggu saja apa yang dihadiahkan oleh Sekutu kepada kita?
DENMAS : Oh, tidak.... tidak persis begitu!
SI PACUL : Jadi bagaimana persisnya Denmas?
DENMAS : Sebab dengan kekerasan kita agak susah mendapatkan pengakuan dari negara luar, maka diplomasi kita juga mesti disandarkan atas simpati luar negeri.
SI GODAM : Pengakuan luar negeri itu bukanlah syarat hidupnya Republik Indonesia.
SI PACUL : Diam dulu, Dam! Aku sudah maklum mau ke mana engkau pergi.
SI TOKE : Memang kita mau mendapatkan simpati dari semua negara lain di dunia. Kalau kita tidak bisa mendapatkan simpati dari semua negara lain, cukuplah sudah dari Sekutu saja. Tetapi bagaimana jalan mendapatkan simpati Sekutu itu?
DENMAS : Tuhan membentuk manusia serupa dengan bentuknya sendiri. Sekutu juga akan lebih menyetujui bentuk negaranya sendiri. Sekutu sudah berperang menghancurkan fasisme. Sekarang bentuklah negara yang tiada bercorak fasisme! Tentu akhirnya Sekutu akan akui.
MR. APAL : Memang bentuk Republik dan isi demokrasilah yang cocok dengan perasaan Sekutu. Maka dari itu marilah kita adakan tata negara yang demokratis, pemerintah yang dipilih menurut kehendak rakyat. Akhirnya perlakukanlah rakyat asing di negara kita ini menurut Undang-Undang Internasional dan akuilah kehendaknya Sekutu! Dengan begitu kita akan mendapat simpati, persetujuan, dan pengakuan dari Sekutu.
SI TOKE : Tetapi bagaimana kalau Inggris mau memakai Belanda- Nica sebagai perisai? Bagaimana kalau Inggris seperti imperialismenya di Afrika, Asia, dan Indonesia, membikin perjanjian buat diinjak-injak dan menipu saja? Di mana imperialisme Inggris pernah berlaku jujur terhadap bangsa berwarna? Apakah kita sendiri tidak akan dianggap berkhianat terhadap Negara Indonesia, jika kita sandarkan sikap kita atas kepercayaan pada kejujuran satu imperialisme yang belum pernah berlaku jujur, dalam sejarahnya yang sudah kita kenal?
SI PACUL : Inggris katanya diserahi oleh Sekutu pekerjaan buat melucuti senjata Jepang. Tetapi di mana-mana Inggris mengadu Jepang dengan Indonesia. Di Magelang dan Semarang Jepang dibohongi oleh Inggris. Katanya orang Indonesia sudah membunuh para pembesar Jepang. Di Bandung Jepang tiba-tiba menyerang rakyat atas persetujuan Inggris. Di Pesing, dekat Jakarta, serdadu Jepang diperintah oleh Inggris menembak orang Indonesia. Begitu pula di Palembang dan semua tempat lain. Berapa ribu rakyat Indonesia mati karena politik Inggris mengadudomba Jepang dengan rakyat Indonesia.
SI TOKE : Sebenarnya Republik Indonesia bisa, wajib, dan berhak melucuti senjata Jepang. Itu mulanya dilakukan oleh rakyat Indonesia di Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Bandung, dan Malang. Semuanya bisa berjalan baik, kalau di belakangnya Inggris tidak memerintahkan Jepang menggempur rakyat Indonesia.
SI PACUL : Lagipula Inggris katanya cuma mau melayani orang tawanan Eropa! Tetapi apa yang dikerjakannya? Inggris memasukkan Nica bersenjata lengkap dari luar negeri buat menghancurkan Republik Indonesia. Dia memakai organisasi damai seperti Palang Merah dan RAPWI buat mempersenjatai dan mengerahkan tawanan Belanda buat menyerang rakyat Indonesia di mana-mana.
SI TOKE : Satu kali Inggris duduk di satu tempat, di sana Nica keluar, memperkosa merampas harta dan menembaki rakyat Indonesia. Apalagi tempat itu kacau, karena rakyat Indonesia melawan, maka Inggris adakan pemerintah militer. Ini artinya membatalkan pemerintah Republik.
SI PACUL : Jadi teranglah sudah maksud Inggris yang sebenarnya ialah: Duduki satu kota Indonesia, keluarkan Nica buat mengacau dan adakan pemerintah militer. Kalau semua tempat penting sudah diduduki tentara Inggris, ketentraman tercapai, maka dari kantongnya imperialisme Inggris akan dikeluarkan bonekanya, yakni Nica. Sesudah beres maka kapitalis kebun, minyak, dan pabrik Inggris akan kembali ke Indonesia menguasai arah-arahnya hasil Indonesia dan menguasai hasil itu sendiri, lebih dari sebelum masa perang. Bersama dengan jagoannya Belanda maka rakyat Indonesia akan diperas, ditelanjangi, dan ditendangtendang buat membangunkan negeri Belanda dan Inggris yang jatuh ke lembah kemiskinan dan kemelaratan itu.
SI GODAM : Bajing itu bisa hilang bulunya, tetapi tak akan hilang nafsunya buat mencuri kelapa. Selama giginya ada, tak ada kelapa yang boleh dipercayakan kepadanya. Muslihat yang benar ialah mencabut giginya atau memotong lehernya sama sekali.
SI PACUL : Perumpamaan lagi. Pastikan saja!
SI GODAM : Selama peraturan ekonomi, politik, dan sosial Inggris masih seperti sekarang, yaitu kapitalis, selama itulah pula nafsunya buat menjajah negara lain bergelora. Imperialisme Inggris bisa pura-pura jujur kalau ada “pelor” di depan dadanya. Persis seperti kucing patuh jinak selama ada tongkat di depannya. Begitu juga Belanda.
SI PACUL : Betul sekali ususnya prajurit Inggris dan Belanda tak kuat menghadapi pelor Jepang pada peperangan di Malaka dan Indonesia. Sekarang pun ususnya kendor kalau bertemu muka dengan prajurit Indonesia. Golok atau bambu runcing saja sudah membikin serdadu Inggris atau Nica gementar seperti tikus melihat kucing. Belum pernah tentara Inggris atau Nica dalam perjuangan seorang lawan seorang. Tetapi dalam tank baja dan kapal udara yang terbang tinggi mereka amat berani.
SI GODAM : Tetapi muslihat kita tak bersandarkan senjata lahir semata-mata.
SI PACUL : Apa senjata muslihat kita?
SI GODAM : Pertama keyakinan dan konsekuensi. Syarat adanya Republik Indonesia terletak semata-mata atas kemauan rakyat Indonesia saja. Pengakuan negara lain tiadalah menjadi syarat adanya republik kita. Melainkan syarat buat berhubungan baik dengan negara lain. Berhubung dengan sahnya Republik Indonesia menurut keyakinan kita, maka diplomasi kita mesti dipusatkan pada daya-upaya lahir dan batin memberi keyakinan pada dunia lain, bahwa kita mau dan bisa berlaku sebagai satu Negara Merdeka yang mempunyai “kehormatan atas diri sendiri”.
SI PACUL : Jadi dengan berpikir, berkata, dan berlaku seperti orang merdeka, kita bisa merebut hati, simpati, persetujuan, dan pengakuan Rakyat Merdeka atau Rakyat yang mau Merdeka di dunia luar.
SI GODAM : Tepat Cul! Bukan dengan sikap masa bodoh dengan tipuan dan kecerobohan negeri asing “Kalau sudah ditipu terus percaya. Sudah ditendang terus minta terima kasih”. Sikap budak semacam itu tidak akan mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka, melainkan sebagai budak, lagipula persetan sama putusan Sekutu, yang tidak diketahui apalagi disetujui oleh rakyat Indonesia, nyata pula negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika tiada menyetujui tindakan Inggris, perfide Albion itu. Diplomasi Indonesia Merdeka bukanlah diplomasi mengemis dan menerima! Diplomasi berjuang dan merebut, itulah diplomasi kita.
II. Kemungkinan
SI GODAM : Laba rugi dalam suatu perjuangan itu memang mesti diakui lebih dulu sebelum perjuangan itu dilakukan.
SI PACUL : Bagaimana kemungkinan itu buat kita, Dam?
SI GODAM : Kemungkinan itu mesti dihubungkan dengan beberapa perkara yaitu: 1. perkara bumi iklim (geografi) 2. keadaan internasional 3. cacah jiwa (man power) 4. kebatinan (moral) 5. kemiliteran 6. kecerdasan 7. disiplin 8. persatuan 9. organisasi
SI TOKE : Jadi semuanya ada 9 (sembilan) perkara yang mesti kita periksa.
SI GODAM : Sebenarnya lebih! Tetapi buat sementara cukuplah yang 9 itu. Maksud kita dalam brosur ini juga bukan mengadakan penyelidikan yang sempurna. Melainkan buat memberi petunjuk sekadarnya saja. Penyelidikan yang lebih dalam dan lebih luas boleh diadakan di lain tempat dan di lain tempo.
SI PACUL : Cobalah periksa perkara itu satu persatunya.
SI GODAM : Dalam garis besarnya boleh dikatakan bahwa empat perkara yang bermula menguntungkan kita. Tetapi dalam 5 perkara di belakang kita banyak mempunyai kelemahan. Untunglah pula kelemahan itu bisa dilenyapkan sama sekali, asal saja kita mengerti dan mau.
SI TOKE : Mulailah memeriksa!
SI GODAM : Tidak perlu diperpanjang lagi bahwa bumi iklim membantu kita dalam perjuangan. Bumi iklim kita membiarkan padi, ubi, sayur tumbuh 12 bulan dalam setahun. Jadi terus-menerus. Sedangkan di hawa dingin, gandum, sayur itu dibiarkan tumbuh dalam enam bulan saja. Jadinya tak perlu mengadakan persiapan selama enam bulan bumi beristirahat. Sambil berjuang, pertanian bisa diteruskan. Pakaian boleh disusutkan kepada sarung dan celana pendek saja. Tak ada musim dingin yang akan mengirim kita ke liang kubur kalau tak berpakaian tebal dari bulu domba. Dalam hal menyesuaikan badan ke hawa kita, sudahlah tentu kita di pihak yang beruntung pula. Sebaliknya musuh yang dari iklim dingin mesti mengadakan persediaan-persediaan makanan, pakaian dll lebih dari kita. Lebih susah pula mereka menyesuaikan dirinya dengan bumi iklim kita yang umumnya panas itu.
SI TOKE : Pendeknya bumi iklim itu, apalagi jendral hujan di bulan duabelas dan satu berada di pihak kita!
SI GODAM : Keadaan Internasional! Walaupun belum begitu terang, karena kabar amat sedikit yang kita terima, tetapi keadaan internasional makin lama makin menguntungkan kita. Dalam garis besarnya dunia sekarang boleh dibelah dua. Pada satu pihak, ialah imperialisme Inggris-Amerika dengan punakawan yang diangkatnya kembali yakni Perancis dan Belanda yang sudah kapok tadi. Pada pihak lain ialah Soviet-Rusia di samping beberapa negara kecil di Eropa yang merasa tertindas dan seluruh bangsa berwarna yang dijajah di Asia dan Afrika. Tetapi imperialisme Anglo- Amerika itu bukanlah kekuatan bulat dan tetap. Dalam badannya sendiri kapitalisme Inggris-Amerika itu terbagi atas dua golongan bertentangan, yakni kaum proletar dan kaum hartawan (borjuis).
SI PACUL : Jadi salahlah pengiraan orang yang membulatkan saja kekuatan kapitalisme Inggris dan Amerika itu.
SI GODAM : Memang salah! Orang yang berpikir secara mesin memang tidak atau kurang sekali memperhatikan pertentangan. Pertentangan itu sehari demi sehari bertambah tajam. Perjuangan Republik Indonesia bukan “tiada” mempengaruhi pertentangan di dunia luar itu. Percayalah bahwa kelanjutan perjuangan Indonesia Merdeka akan memperdalam dan memperluas pertentangan itu. Pertentangan itu mungkin menguntungkan Indonesia.
SI PACUL : Perkara ketiga, cacah jiwa, bagaimana?
SI GODAM : Praktis 70 juta rakyat Indonesia bisa menggerakkan 14 juta orang. Yang paling kuat buat penyerbuan saja ada 7 juta orang. Andaikan musuh bisa memasukkan 200.000 serdadunya ke Indonesia, jadi satu musuh mesti menghadapi 35 orang Indonesia, bulatkan 36 orang. Apa artinya kelebihan bilangan itu?
SI TOKE : Ya, apa artinya man power, kekuatan orang itu?
SI GODAM : Andaikan (buat memudahkan berpikir saja) satu orang Gurkha bersenjata tommy-gun dikepung oleh 35 orang bergolok dan bambu runcing (andaikan orang Indonesia tak mempunyai granat tangan, bom pembakar mitraliur, ataupun bedil atau meriam). Yang punya 35 bambu runcing, yang mengepung satu Gurkha itu bergiliran menurut tiga rombongan. Tiap-tiap hari selama 24 jam perkelahian terus menerus. Apa akibatnya? Prajurit Indonesia bisa tidur dan beristirahat, si Gurkha mesti terus menerus berjaga- jaga. Tiap-tiap rombongan Indonesia yang terdiri dari 12 orang itu bisa bergiliran tiga kali sehari untuk menjaga satu orang Gurkha. Satu giliran 12 orang cuma selama 6 jam. Jadi tiap-tiap giliran, maka 12 orang Indonesia cuma perlu bertempur 8 jam saja dan kelak bisa 16 jam sehari mengaso atau tidur. Sedangkan satu Gurkha satu Inggris atau satu Nica mesti terus menerus 24 jam sehari menjaga 12 golok! Satu hari bisa berjalan dengan beres. Tetapi jika sampai dua atau tiga hari si Gurkha, Ingggris atau Nica terus menerus menjaga 12 tombak atau golok, maka mereka bisa mati, karena momok golok saja.
SI PACUL : Memang begitu dalam teori! Dan teori itu penting!
SI GODAM : Kalau teori itu dijalankan dengan kecerdasan mesti ada akibatnya yang baik. Perkara keempat, kebatinan tak perlu dituturkan panjang lebar. Laki perempuan, tua muda, orang Indonesia sekarang tak kalah lagi dengan rakyat yang serevolusinya di dunia ini di zaman manapun juga. Jadi empat perkara di atas yang amat penting sekali berada di pihak kita! Memang empat perkara itu lebih susah merombaknya, seandainya empat perkara itu tidak berada di pihak kita. Karena keempat perkara itu, terlebih tiga perkara pertama, adalah di luar kekuasaan kita (lebih obyektif).
SI PACUL : Apa artinya di luar kekuasaan kita?
MR. APAL : Memang tak bisa kita mengubah bumi iklim, keadaan internasional, dan cacah jiwa itu, yaitu secara lekas dan langsung.
DENMAS : Memang syukurlah semuanya itu ada di pihak kita. Perkara keempat itu, kebatinan, kalau buat seorang saja memang bisa diubah. Tetapi kalau untuk 70 juta manusia tentulah mustahil bisa diubah dalam sehari, sebulan, ataupun setahun. Kini kebatinan itu pun ada di pihak kita.
SI PACUL : Sekarang cobalah selidiki 5 perkara yang tiada di pihak kita itu!
SI GODAM : Bukan sama sekali di pihak kita. Jangan kau salah mengerti, Cul. Sebagian ada di pihak kita. Tetapi memang kurang! Jadi perkara kelima, kemiliteran: kurang menyenangkan. Pertama, opsir yang sungguh menerima ilmu kemiliteran amat kurang sekali. Tetapi nyata di mana ada, opsir itu bisa dipakai. Walaupun “dai-dancho” cap Jepang cuma mendapat latihan beberapa bulan saja, tetapi sudah terbukti bisa dipakai dengan hasil memuaskan. Opsir rendahan latihan Jepang juga amat memuaskan. Apalagi prajurit biasa! Beberapa prajurit biasa yang sudah pecah sebagai ratna! Sungguh menggembirakan dan memberi harapan besar buat tentara Republik Indonesia di hari depan.
SI TOKE : Aku pikir begitu juga. Sudah 22 hari sampai sekarang kita bisa tahan serangan serentak dari darat, laut dan udara Inggris. Dengan pompa air saja dulu Belanda bisa mengacau- balaukan rakyat berkumpul. Teruskan Dam!
SI GODAM : Latihan juga amat pendek. Tetapi juga memuaskan. Yang tidak memuaskan tentulah persenjataan. Di laut kita tak berdaya. Di udara kita tak bisa bikin apa-apa. Terhadap mortir, tank, dan kereta baja kita dengan keberanian luar biasa saja bisa mendapat satu dua kemenangan. Pabrik senjata kita tak punya. Kita belum bisa bikin tank, meriam, kapal perang, dan kapal terbang.Walaupun ada barang kita buat dijual kita tak punya hubungan dengan dunia luar buat jual beli.
DENMAS : Memang semua itu masih terlampau kurang! Tetapi senjata penting buat rakyat, yang sudah mulai kita bikin sendiri.
SI TOKE : Perkara keenam, kecerdikan, bagaimana?
SI GODAM : Bukti saja! Ketika Nica bersarang dan menyerang di Kebayoran, maka berduyun-duyun rakyat Banten datang menyerbu. Mereka datang dalam rombongan, biasanya dikepalai oleh seorang Kyai. Tetapi satu rombongan sampai di Kebayoran menyerbu menang dan usir musuh dari bentengnya. Rombongan menang tadi kembali ke desanya dan tinggalkan benteng begitu saja. Kemudian Nica itu masuk kembali. Pasukan lain dari Banten datang pula menyerbu, menang...... kembali ke desa. Nica kembali! Demikianlah seterusnya, tak ada pergabungan (koordinasi) di antara pasukan dan pasukan kita. Tak pula ada “rencana” yang mesti pasti dijalankan dengan tanggung jawab yang pasti dan serempak.
MR. APAL : Sungguh banyak contoh yang membuktikan kekurangan kita dalam hal “kecerdikan” menyusun dan mengerahkan tenaga dan senjata peperangan itu. Di sini kita bisa mengadakan perubahan besar.
SI GODAM : Disiplin! Tentulah ini jiwanya suatu organisasi dan perjuangan. Tak perlu kita panjangkan uraian ini. Disiplin itu mesti berupa hubungan bapak dan anak, kakak dan adik. Tetapi bagaimana juga sifat disiplin itu mesti ada! Perintah dari pimpinan itu mesti dijalankan dengan baik. Kalau tidak mesti timbul kekacauan. Tiap orang akan bertindak sendiri-sendiri menurut tempo, tempat, dan cara yang ditentukan masing-masing. Perkara tata tanggung jawab, perkara memberi dan menerima perintah, perkara menjatuhkan dan menerima hukuman (disiplin) masih banyak sekali yang mesti diperhatikan. Tetapi dengan kelemahan disiplin kita itu, heran juga kita melihat hasil perjuangan yang begitu mengagumkan. Apalagi pula kalau disiplin itu dipererat. Perlukah sekarang saya rundingkan perkara kedelapan, persatuan?
SI TOKE : Dalam garis besarnya perlu juga! Persatuan yang rapi antara pulau dan pulau amat terganggu. Itu tak mengherankan. Kita tak mempunyai armada yang kuat menjaga persatuan itu. Alangkah kuatnya Indonesia kalau armada buat memelihara persatuan itu ada! Sekarang persatuan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku cuma dalam batin saja. Seberang yang sana jiwa hasratnya dengan Jawa dengar dari jauh bagaimana Jawa bertindak dan ambil pula tindakan semacam itu. Rencana bersama dibikin bersama dan dijalankan bersama serentak tak bisa dilakukan sekarang! Jangankan persatuan antara seberang dan Jawa! Antara provinsi dan provinsi saja di Jawa ini, malah antar daerah dan daerah (keresidenan) masih banyak kekurangan. Yang tak kurang menyedihkan pula ialah persatuan berembuk dan bertindak antara jabatan Negara. Kurang adanya persatuan Pemerintah Pusat dan Rakyat. Kurang persatuan Pemerintah Pusat dan Provinsi atau Daerah. Kurang persatuan antara Jabatan Politik. Jabatan Pertahanan Perekonomian di pusat, di provinsi ataupun kota.
SI PACUL : Sesudah kau sebut semuanya itu menjadi kusut hatiku, Dam. Akupun bisa tambah dengan beberapa contoh. Betapa tipisnya semangat kerja sama di antara awak sama awak. Belakangan ini ada penyakit baru: curiga mencurigai, tuduh menuduh, dan tangkap menangkap, culik menculik.
SI TOKE : Memang itu kemenangan musuh sampai sekarang! Daerah yang diduduki hampir tak ada artinya selama kita bersatu. Tetapi kalau racun perpecahan itu terus bermaharajalela di dalam barisan kita, maka akan berlaku kebenaran pepatah: “Bersatu kita kokoh berpecah kita roboh.”
MR. APAL : Mata-mata musuh itu memang satu bahaya yang mesti dibasmi. Tetapi janganlah “kecurigaan semata-mata” (kecurigaan melulu) yang menjadi dasar penyelidikan. Dasar kecurigaan melulu itu dari seseorang ke orang lain, tentulah menimbulkan kecurigaan si lain itu terhadap seseorang tadi pula, begitulah tak akan ada lagi orang yang percaya pada yang lain malah pada dirinya sendiri. Dalam hal itu kecurigaan menjadi penyakit yang tak terbasmi lagi dan memudahkan pekerjaan musuh yang selalu mengintai-intai saja, buat mengadudomba awak sama awak. Akhirnya kita sama kita akan bertempur seperti di zaman lampau.
SI TOKE : Bagaimana membasmi penyakit curiga mencurigai itu?
MR. APAL : Beranikanlah hati melihat tiap-tiap warga itu sebagai teman seperjuangan. Tenangkan pikiran menghadapi “bukti” yang dituduhkan terhadap seseorang Indonesia, apalagi kalau ia seorang yang pernah atau sedang bertempur di garis depan atau seorang pemimpin. Pisahkanlah tuduhan seseorang yang maksudnya cuma menaikkan diri sendiri dengan jalan menurunkan orang lain! Periksalah semua tuduhan dengan teliti. Baru kalau sah buktinya, jatuhkan hukuman yang sepadan dengan kesalahannya. Cuma kalau seorang Indonesia dalam suatu pertarungan mengerjakan pekerjaan penghianat maka dia dilayani secara kita melayani pengkhianat dengan tangkas dan hebat. Jika masih ada tempo mesti diadakan pemeriksaan yang seksama, sekali-kali kehormatan si tertuduh tak boleh diganggu.
DENMAS : Memang kita bertarung buat kehormatan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Marilah lebih dahulu kita menghormati tiap-tiap warga negara republik, malah tiaptiap manusia!
SI PACUL : Delapan perkara sudah kau ajukan Dam! Kurasa betul bahwa empat perkara yang amat menguntungkan kita ialah: perkara bumi iklim, keadaan internasional, cacah jiwa, dan kebatinan. Benarlah pula bahwa lima perkara di belakangan, yakni perkara “kemiliteran, kecerdasan, dan organisasi” masih belum memuaskan sama sekali.
SI TOKE : Tetapi Godam, belum lagi engkau menguraikan organisasi.
SI GODAM : Sebenarnya perkara organisasi berseluk beluk juga dengan kemiliteran kita, kecerdasan, disiplin, dan persatuan. Berhubung dengan itu, maka kelemahan yang masuk dalam empat perkara tersebut masuk juga ke dalam kelemahan organisasi. Lagipula organisasi itu mengandung banyak perkara lain-lain yang amat penting artinya buat perjuangan. Sebab itu baiklah berikan pemandangan teristimewa tentang organisasi itu.
III. Organisasi
SI PACUL : Organisasi juga kita sebut susunan, bukan? Apa bentuknya organisasi kita itu dan apa isinya, Dam?
SI GODAM : Kita sekarang dalam masa perperangan yang tidak dipermaklumkan! Tetapi tetap peperangan tulen, peperangan modern. Jadi bentuk yang cocok dengan keadaan ialah “Organisasi Rakyat Berjuang”. Isi susunan kita ialah “tuntutan perjuangan” kita pertama: MERDEKA 100%. Terus sesudah merdeka 100% mendirikan masyarakat sosialistis berdasarkan industri berat nasional.
SI TOKE : Jadi dua tingkat itu mesti dipisahkan? Dalam tingkat pertama, seperti sekarang berada dalam perjuangan merebut MERDEKA 100 % begitukah?
SI GODAM : Benar, mesti dipisahkan, tetapi tak bisa diceraikan. Apa yang dimaksudkan pada tingkat kedua itu, sebagiannya sudah boleh malah mesti dijalankan pada tingkat pertama.
SI PACUL : Apakah Organisasi Rakyat Berjuang menghadapi tiga negara itu, sesudah maksud kita tercapai akan terus berdiri, atau akan ditukar dengan susunan lain?
SI GODAM : Cul, jauh benar perginya pertanyaanmu itu. Boleh kujawab bahwa dalam tingkat berjuang buat MERDEKA 100% itu “seluruh” Rakyat Pemberontak patut disusun dalam satu “KALANGAN” (platform). Dalam masa MERDEKA 100% boleh jadi tak semua anggota patut mau atau bisa dalam Organisasi Rakyat Berjuang tadi. Barangkali, bahkan mestinya ada anggota yang tak cocok sama sosialisme, atau tak cukup kuat iman buat mendirikan Industri Berat Nasional. Dalam hal itu, kalau perlu dan tak merugikan Indonesia Merdeka, biarlah sebagian itu keluar dari Organisasi Rakyat Berjuang dan mendirikan partai baru. Tetapi begitu perkara nanti. Saya pikir dalam pancaroba sekarang dan sepuluh tahun atau lebih sesudah Indonesia Merdeka 100%, maka paling baik kalau di Indonesia cuma ada satu “Partai Murba” saja. Putusan bisa lekas diambil dan kesalahan bisa lekas diperbaiki, percekcokan satu partai dengan partai lain seperti dalam negara berparlemen bisa dihindarkan. Semakin kurang percekcokan, semakin lekas mengambil keputusan dan semakin cepat menjalankan suatu putusan dan memperbaiki sesuatu kesalahan, semakin lekas sampainya Indonesia Merdeka ke zaman KEAMANAN. Seperti sudah saya bilang di tempat lain, “Keamanan” itu baru mungkin ada sesudah Indonesia Merdeka memiliki dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Terlampau panjang kau bicara ini kali, Dam. Tunggu dulu! Kuulang sekali lagi.
SI TOKE : Ya, ulang lagi, Cul. Aku juga bingung!
SI PACUL : Pertama sekali rupanya Dam, masa (periode) perjuangan kita kau bagi dalam dua tingkat besar! Pertama menuju ke arah MERDEKA 100%. Kedua menuju ke arah keamanan, ialah ber-Industri Berat Nasional.
SI GODAM : Benar, Cul itu sudah kusebut lebih dahulu! Mendirikan Industri Berat Nasioal itu masih kuhitung sama berjuang.
SI PACUL : Memang sudah kau sebut Dam. Tetapi perlu diulangi lagi buat titik melompat. Jadi Dam, kedua engkau bedakan pula arti “Kalangan” dan Partai. Rupanya “Kalangan” itu ialah medan perjuangan beberapa golongan masyarakat yang dalam arti khusus mempunyai berlain-lain hasrat, tetapi dalam arti umum mempunyai satu hasrat saja, ialah Indonesia Merdeka 100%.
SI GODAM : Seperti biasa engkau jitu Cul! Boleh juga dibilang engkau itu ahli mamah! Gampang sekali engkau mengartikan dan melaksanakan sesuatu paham.
SI PACUL : Lu, Dam! Aku bukannya lembu atau kambing Dam! Buat meneruskan golongan tadi, bukanlah Denmas masuk golongan Ningrat? Sekarang Denmas ingin Merdeka 100%, tetapi sesudah Merdeka 100% itu bukanlah Denmas mengidamkan suatu “Kerajaan”?
DENMAS : Jangan begitu Cul! Aku juga akan menyokong pemerintah proletar! Malah aku akan ikhlas memulangkan semua tanahku kepada proletar tanah.
SI PACUL : Kupegang perkataan itu Denmas! Aku tahu engkau jujur. Tetapi bagaimana golonganmu, golongan ningrat umumnya? Kuteruskan pula! Mr.Apal tentu keberatan atas konfiskasi (penyitaan) Perusahaan Bangsa Asing yang sudah memerangi kita yang membunuh perempuan dan anak-anak kita yang tak berdosa itu?
MR. APAL : Asal jangan membahayakan kedudukan kita sebagai negara merdeka, akupun tak keberatan menyita perusahaan asing yang ceroboh memerangi rakyat Indonesia!
SI PACUL : Kupegang pula perkataan itu, Mr. Apal. Kuharap semua golongan tuan akan menyetujui politik sitaan itu. Walaupun begitu, bukanlah mungkin banyak di antara kaum cerdas (intelek) dan borjuis umumnya yang ngeri menghadapi politik “sitaan” itu?
MR. APAL : M u n g k i n !
SI PACUL : Toke, sekarang buat engkau! Bukankah ada di antara golongan tengah yang tak akan cocok dengan diktator proletar? Artinya itu kalau perlu kaum proletar mesin dan tanah sementara tempo mengadakan pemerintahan berdasarkan “kediktatoran” dari kelas proletar mesin dan tanah. Saya bilang kalau perlu.
SI TOKE : Kalau buat saya Cul, apa saja pemerintahan kuterima. Asal cocok dengan keamauan golongan rakyat yang bertambah dalam negeri dan bisa membawa kita ke arah Merdeka 100% dan Indonesia Merdeka ber-Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Percaya aku akan perkataanmu, Kek! Tetapi tak semua golongan kaum tengah berpaham seperti kau. Mungkin banyak yang tak setuju dengan pahammu itu.
SI TOKE : M u n g k i n !
SI PACUL : Mungkin juga setelahnya Indonesia Merdeka 100%, engkau Kek, malah bersama Mr. Apal dan Denmas, tak mengucapkan merdeka lagi kepadaku dan kepada Godam... dan terus jalan perpisahan atau..... (Denmas, Mr. Apal, Toke serentak memprotes!).
SI GODAM : Cul, gara-garamu itu baik jangan diteruskan. Bisa mendatangkan salah paham. Kembalilah kau pada pembicaraan bermula.
SI PACUL : Aku tahu Toke, Denmas, dan Mr. Apal orang jujur. Sebab itu pula kuberani bergara-gara. Pendeknya dengan mereka seperti yang hadir sekaranglah kita membikin satu Kalangan. Jadi Kalangan itu mengikat golongan ningrat, borjuis proletar mesin dan tanah yang berhasrat Indonesia Merdeka 100%. Bukanlah begitu maksudmu, Dam? Hasrat “Kalangan” ini ialah HASRAT PERSAMAAN di antara beberapa golongan rakyat. Berbeda dengan hasratnya satu partai yang biasanya mengenai hasratnya satu golongan saja. Saya bilang biasanya, umpamanya kelas proletar saja atau kelas borjuis saja. Bukan begitu, Dam?
SI GODAM : Tepat, Cul, benar pak!
SI TOKE : Jadi kita perlu satu “Kalangan” di masa berperang ini dan “mungkin” memakai satu partai saja di zaman pembangunan Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Sekarang bagi kita yang berada dalam peperangan melawan tiga negara ini (2 Desember 1945), seandainya “sudah mempunyai satu Kalangan Rakyat Berjuang”, apalagi yang penting, Dam?
SI GODAM : Yang paling penting tentulah kontak, yakni ikatan erat di antara kalangan tadi dengan Rakyat Murba. Kalau ikatan itu tak ada atau kalau ada tetapi tidak erat, maka pada suatu perjuangan mungkin kalangan tadi berada jauh di depan rakyat. Atau jauh di belakang rakyat. Itu berbahaya sekali. Hal ini mesti disingkiri.
SI PACUL : Tentu begitu! Kalau Rakyat Murba terlampau ke muka, karena kalangan berada terlalu di belakang, atau sebaliknya kalau Rakyat Murba terlampau di belakang karena kalangan terlampau di depan, maka itu berarti Rakyat Murba tak mempunyai pimpinan yang dibutuhkan. Rakyat Murba dalam hal itu gampang terjerumus!
SI TOKE : Bagaimana mengadakan ikatan yang erat itu?
SI GODAM : Carikan besi berani yang menarik dan mengikat dirinya dengan besi lain!
SI PACUL : Perumpamaan lagi, Dam. Bilangkan yang pasti nyata saja!
SI GODAM : Carilah sesuatu tuntutan yang bisa mengikat pikiran perasaan dan kemauan, pendeknya yang mengikat juga Rakyat Murba.
SI PACUL : Di desaku, Pak Kyai memajukan perang sabil!
SI TOKE : Kaum pedagang ingin berparlemen!
MR. APAL : Memang Badan Perwakilan Rakyat itu dirasakan betul oleh Rakyat.
SI GODAM : Ada tuntutan lahir yang tarikannya kuat seperti besi berani. Buat proletar tani, apa tuntutan yang lebih menarik daripada “tanah”?
SI PACUL : Tanah buat yang tak punya tanah, tentulah nasi buat yang lapar.
SI GODAM : Kita percaya kepada idealisme. Tetapi idealisme itu mesti berdasarkan materi, yakni benda dan kenyataan. Nasi itu adalah benda yang nyata. Bisakah orang berpikir kalau perut lapar? Apakah tuntutan berupa hak lahir yang nyata?
SI PACUL : Benar pikiranmu, Dam. Tetapi apa tuntutan yang nyata buat golongan proletar mesin yang mengambil bagian besar dalam perjuangan kita ini?
SI GODAM : Di masa damai tuntutan proletar pada masyarakat kapitalistis tentulah: naik gaji, kurang lama kerja, perbaikan rumah dll, berkumpul bersidang, dan sebagainya. Tetapi sekarang semua perusahaan besar di daerah Republik sudah dimiliki oleh Republik, oleh kaum proletar sendiri. Tuntutan proletar cuma campur mengurus produksi dan distribusi. Kalau kelak Negara Republik Indoensia itu berdasarkan proletaris sudahlah tentu kaum proletar yang akan menguasai produksi dan distribusi. Negara Republik Indonesia niscaya akan berdasarkan proletaris, kalau kaum proletarlah yang menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan ini. Di Surabaya memang proletar mesinlah yang paling terkemuka dan paling tahan dalam semua perjuangan yang seru sengit.
SI PACUL : Jadi apakah tuntutan proletar di masa perang ini?
SI GODAM : Tuntutannya yang langsung tentulah terutama politik. Yaitu menuntut dicabutnya kembali tentara asing manapun juga. Baru tuntutan yang lain-lain bisa dijalankan. Baru kota dan pabrik yang sekarang di tangan musuh itu bisa dimiliki dan diselenggarakan oleh kaum proletar.
SI TOKE : Tuntutan “menyuruh mencabut kembali Tentara asing manapun juga” tentulah dirasa oleh semua golongan rakyat Indonesia. Jadi tuntutan ini boleh jadi tuntutan “kalangan”. Artinya dirasakan oleh semua golongan dalam kalangan.
SI GODAM : Ada beberapa tuntutan lain dan akan dirasa, yang bisa mengikat kemauan pikiran dan jiwa semua golongan rakyat yang memberontak.
MR. APAL : Baik susun saja nanti semua tuntutan itu sebagai Program Kalangan Rakyat Berjuang, dalam bagian teristimewa.
SI PACUL : Betul begitu. Cuma terangkanlah Dam, apa lagi yang kau rasa penting buat organisasi.
SI GODAM : Banyak lagi Cul! Cuma saya takut, kalau pembicaraan ini akan terlampau panjang dan membosankan.
SI PACUL : Kalau perlu diperpanjangkan, apa boleh buat, kita mesti cukup mengerti semua perkara yang berhubungan dengan organisasi itu.
SI GODAM : Sekarang “kalangan” sudah ada, tuntutan nyata sebagai “tali pengikat” sudah diketahui juga. Bagaimana pula sekarang mengikat rakyat Murba dan di mana ditaruh “tampuk murba”, yang memperhubungkan kalangan dan Rakyat Murba itu?
SI PACUL : Yang kau maksudkan dengan tampuk itu tentulah “sel” bukan?
SI GODAM : Betul Cul! Saya sebut tampuk buat menggambarkan bahwa Murba itu seolah-olah buah dan tampuk itu adalah sangkutan. Di situlah tali ikatan yang dibentangkan dari kalangan tadi disangkutkan.
SI PACUL : Bagus perumpamaanmu Dam, tetapi kurang nyata bagi saya.
SI GODAM : Begini Cul! Kalangan tak perlu dan tak mungkin bisa berhubungan langsung dengan rakyat Murba seluruhnya. Dia bisa cari beberapa orang jujur aktif pada tiap-tiap golongan Murba. Umpamanya di golongan pekerja beberapa orang itu bisa didapat dalam pabrik besi atau bengkel, di tambang arang atau minyak. Dua tiga orang jujur aktif itulah yang sel, yang tampuk. Dengan perantaraan dua tiga orang sebagai tampuk di kota Surabaya itu umpamanya bisa dimajukan tuntutan nyata. Dengan begitu seluruh perusahaan besi bisa bergerak, maju menyerang. Dengan dua tiga orang pada tampuk bisa perusahaan besi di Surabaya dikerahkan. Boleh jadi perusahaan besi mempelopori seluruh buruh Surabaya, pekerja minyak, listrik, kereta, dll. Baiklah pula tampuk itu dibikin di perusahaan lain di kota Surabaya itu, seperti di perusahaan minyak dan lain-lain tadi.
SI PACUL : Kalau begitu di golongan kaum tani perlu pula diadakan tampuk menurut tingkatan milik proletar tani (proletar tulen, setengah proletar, tani kecil [melarat] tani tengah dan besar).
SI TOKE : Di antara golongan kecil dan menengah majikan kecil dan tengah (besar tak ada atau tak berarti di Indonesia) mestinya ada pula tampuk!
SI GODAM : Jadi kalau sudah ada tampuk dalam golongan proletar mesin, proletar tanah, dan perusahaan kecil dan menengah maka dengan tuntutan nyata sewaktu-waktu Kalangan Rakyat Berjuang itu bisa memanggil dan mengerahkan rakyat Murba.
SI PACUL : Jadinya ikatan itu cuma dalam tempo menyerang musuh saja.
SI GODAM : Tepat pertanyaanmu, Cul! Tentulah tidak dalam waktu berjuang saja mesti ikatan itu ada. Dalam masa persiapan pun itu mesti ada.
SI PACUL : Apa ikatan itu di masa persiapan, di masa damai?
SI GODAM : Di waktu persiapan mesti ada selalu hubungan langsung antara Pusat Kalangan dengan Cabang dan tampuk di pabrik, bengkel, kebun, atau desa. Yang menghubungkan ialah “putusan” yang diambil oleh pusat yang mesti dilakukan oleh Cabang dan Tampuk. Sebaliknya pula mesti ada kritik dan usul dari pihak Tampuk dan Cabang ke Pusat. Kritik dan usul pun adalah perkara yang memperhubungkan Cabang atau Tampuk dengan Pusat. Putusan di atas mesti diambil sesudah mendengarkan kritik dan usul dari bawah dan dari para teman pengurus pusat. Apabila suatu putusan yang diambil secara demokratis, dalam hal berunding dan mengkritik, dimajukan ke Bagian Dalam Pusat ataupun ke Cabang dan Tampuk, maka wajiblah putusan itu dilakukan dengan jujur, teliti, dan rajin.Walaupun putusan yang sah demokratis itu tidak disetujui oleh suara terkecil (minority), maka wajiblah suara terkecil itu menjalankan putusan yang sendirinya tiada disetujui itu.
MR. APAL : Memang putusan dari suara terbanyak atas perundingan yang demokratis itu wajib dijalankan oleh seluruh anggotanya. Atas yang tiada menjalankan atau menyabot putusan itu mesti dijalankan disiplin. Kalau seorang dalam suatu perkumpulan cuma menjalankan suatu putusan yang dicocokinya sendiri saja maka kumpulan semacam itu tak mempunyai kekuasaan apa-apa.
SI PACUL : Mengertilah saya maksudnya disiplin dalam Kalangan Rakyat Berjuang itu. Apakah sudah habis perkara penting yang mesti dikemukakan?
SI GODAM : Mesti nyata, dirasa oleh pendengar. Dengan begitu siaran itu bisa membangunkan pikiran dan seluruh jiwa pendengar. Buat tani, kehidupan tani yang berhubungan dengan tanah, ternak, pekerjaan, dan kewajibannya terhadap negaralah siaran (propaganda) yang nyata bisa dirasa. Buat proletar mesin kehidupannya sebagai pekerja di samping mesinlah yang mengikat hati dan pekerjaannya. Begitu pula siaran di golongan kaum tengah, kehidupan yang mengikat perhatian dan pikiran sehari-harinyalah pula yang mesti dijadikan syarat-syarat siaran itu.
SI PACUL : Pendeknya terhadap Murba siaran yang nyata terasalah yang mesti kita lakukan. Tetapi apa isinya program buat Kalangan Rakyat Berjuang yang kau majukan tadi Dam?
SI GODAM : Baiklah diperundingkan program itu di waktu lain bersama-sama dengan susunan yang cocok dengan Kalangan Rakyat Berjuang itu.
IV. Program dan Susunan Kalangan Rakyat Berjuang
A. PROGRAM
SI PACUL : Bolehkah kita pastikan, bahwa program itu ialah sarinya hasrat kita?
MR. APAL : Tak salah begitu, Cul.
SI TOKE : Cobalah susun sarinya program kita itu Dam!
SI GODAM : PROGRAM KALANGAN RAKYAT BERJUANG itu lebih kurang:
Mendirikan Pemerintah Berjuang oleh rakyat berjuang
Mendirikan Laskar Rakyat
Membagikan tanah pada tani melarat
Melaksanakan hak pekerja mengatur produksi
Melaksanakan Ekonomi Berjuang
Membersihkan Indonesia dari tentara asing
Melucuti senjata Jepang.
SI PACUL : Sedikit penerangan Dam! Baik juga kau batasi Pemerintah itu. Sungguh benar kalau kau sebut Pemerintah Berjuang. Pemerintah yang tiada berjuang bersama-sama dengan rakyat yang sedang berjuang itu adalah pemerintah yang mengharapkan hadiah dari atau kompromis dengan imperialisme ceroboh! Pemerintah berjuang itu mesti dipilih oleh rakyat berjuang pula. Mereka yang menunggu-nunggu kemenangan Inggris-Nica tiada berhak memilih Pemerintah Berjuang itu.
SI GODAM : Sebetulnya begitu Cul!
SI TOKE : Jadi Laskar Rakyat itu maksudnya ialah Laskar Rakyat Berjuang yang dipimpin oleh Pemerintah Rakyat Berjuang tadi. Laskar Rakyat itu mestinya lepas sama sekali dari pimpinan atau pengaruh semangat yang ingin “kompromis” atau takluk bertekuk lutut.
SI GODAM : Begitulah, Kek.
SI PACUL : Pembagian tanah itu ada sedikit sulit, Dam. Kepada siapa terutama dibagikan tanah itu? Apakah tanahnya ningrat juga sekarang mesti dibagi-bagikan?
SI GODAM : Dasar pembagian itu dalam garis besarnya yang berpunya kelebihan dikurangkan sampai cukup buat dirinya sendiri, buat dikerjakan sendiri. Yang kekurangan ditambah sampai cukup buat dikerjakan sendiri. Di mana ada satu golongan yang mau memiliki tanah itu bersama dan menyelenggarakan bersama, kemauan golongan itu harus dibantu.
SI PACUL : Jadi yang pertama mesti dikasih tanah ialah proletar tani, ialah tani yang tak punya tanah sama sekali. Kedua yang punya setengah cukup. Ketiga yang cukup, tetapi sederhana saja. Tapi tanah siapa yang mesti dibagibagikan itu?
SI TOKE : Sekarang engkau dapat bagian, Denmas.
DENMAS : Aku? Aku tidak keberatan!!
SI GODAM : Tanah Ningrat biasanya tak luas!
SI PACUL : Seandainya ada yang luas?
SI GODAM : Kalau Ningrat yang bertanah luas itu menentang Republik dan seorang kaki tanganya Nica, baiklah tanahnya dibagi-bagi.
SI TOKE : Semuanya tanah kapitalis asing dibagi-bagi pulakah?
MR. APAL : Memang patut kebunnya Inggris-Belanda yang sudah memerangi rakyat Indonesia itu disita saja. Mereka sudah memerangi kita dan mengambil puluh ribuan jiwa rakyat kita.
SI PACUL : Jadi kalau kita mengambil harta bendanya kapitalis ceroboh itu, yang sebenarnya tanah kita sendiri dan diusahakan oleh tenaga kita sendiri, pekerjaan kita itu tidak berlawanan dengan aturan internasional. Bukankah satu negara yang memerangi negara lain hartanya disita oleh negara lain itu?
SI GODAM : Siasat pembagian tanah itu mengandung dua maksud. Pertama, sebagai siasat kemakmuran. Ialah satu siasat yang dijalankan dengan maksud menambah kemakmuran. Dalam masa berjuang inipun hasil itu tak boleh dikurangkan. Kedua sebagai siasat memberontak. Apabila tanah itu diterima dan dikerjakan oleh seorang penentang imperialisme ceroboh maka pada ketika itulah pula dia menjadi seorang prajurit perjuangan yang taat setia pada kemerdekaan. Buat dia kemerdekaan itu berarti harta benda yang diperolehnya itu, yang mesti dipertahankan mati-matian. Kehilangan Kemerdekaan Indonesia buat dia berarti kehilangan mata pencaharian, yang sudah dipegangnya dan diselenggarakannya buat dia dan anak istrinya.
SI PACUL : Ringkasnya siasat pembagian tanah itu berwujud kemakmuran dan semangat perjuangan.
MR. APAL : Pabrik, bengkel, tambang, kereta dan lain-lain perindustrian sudah dimiliki oleh Republik. Apakah lagi tindakan yang sekarang mesti diambil?
SI GODAM : Selekas mungkin mereka mesti diberi hak mengatur produksi dan distribusi. Lagipula mereka mesti ditarik ke dalam badan politik, di kota daerah dan negara. Dengan begitu mereka betul-betul menjalankan hak mereka mengatur produksi, distribusi, dan politik. Dengan begitu mereka betul-betul merasakan hak mereka lahir-batin.
SI PACUL : Cuma dalam masa perjuangan ini mesti dipelajari lebih dahulu apa industri yang mesti diteruskan atau ditambah. Perdagangan dengan luar negeri sudah putus. Sebagian besar perindustrian Indonesia sekarang terhenti dengan terhentinya perdagangan dengan luar negeri itu. Perindustrian Indonesia di bawah Belanda didasarkan barang bahan dan barang yang diperniagakan ke luar negeri.
SI TOKE : Jadi perindustrian sekarang mesti dicocokkan dengan keperluan perjuangan saja.
SI GODAM : Tepat Kek. Ini menuntut pemeriksaan yang pertama, serta perundingan dan tindakan yang cepat tepat. Ini berhubungan dengan “Rencana Ekonomi” yang akan dibrosurkan pula. Dengan begitu maka Titik 6, yakni perkara melaksanakan Rencana Ekonomi Berjuang kita tunda ke lain waktu dan lain perundingan.
SI PACUL : Perkara 6, dan 7, yakni membersihkan Indonesia dari tentara asing dan melucuti senjata Jepang adalah akibat yang terdasar pertama oleh timbulnya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan kedua, oleh perebutan “agresif ” (ceroboh) dari pihak Inggris dan bonekanya Nica sendiri.
SI GODAM : Hak membalas “perang” dengan “perang” itu adalah cocok dengan hak mutlak dan kehormatan Negara Merdeka. Manusia Merdeka dan Berkehormatan itu juga berhak dan terus balas “jotos” dengan “jotos”. Di dunia hewan cuma anjing yang merangkak kembali kepada tuannya sesudah dipukul. Dalam masyarakat manusia cuma budak yang menerima pukulan dengan tidak melawan. Republik Indonesia Merdeka akan sendirinya terlempar ke jenis “anjing atau budak”, kalau “perang” tidak dibalas dengan “perang” pula. Tak ada pengakuan yang kita, Indonesia Muda, akan rebut dari hati sanubari Negara Merdeka dan Rakyat Merdeka di luar Indonesia.
SI PACUL : Benar! Negara dan Rakyat Merdeka di dunia ini akan jijik melihat sikap kita. Dalam hatinya mereka akan berkata: “Republik” Budak di Indonesia itu sudah sepantasnya “diakui”, tetapi bukan sebagai Negara Merdeka, melainkan sebagai Dominion, Gemennebest atau corak jajahan lain-lain buat diinjak-injak oleh Inggris atau Belanda selama dunia berkembang.
MR. APAL : Memang akibatnya pengakuan kita atas kemerdekaan kita sendiri itu mengandung pengakuan dan kewajiban: “kita sendiri melucuti Jepang”.
SI PACUL : Itu sudah logis dan semestinya.
B. SUSUNAN
SI GODAM : Yang dimaksudkan di sini bukanlah susunan pemerintah, tetapi susunan “Kalangan Rakyat Berjuang”. Maksudnya terutama memang berjuang. Perkara yang lain-lain seperti pendidikan, kesehatan, dll dalam arti yang dalam dan luas sepatutnyalah kalau diserahkan kepada pemerintah saja.
SI PACUL : Tepat Dam! Maksud “kalangan” itu yang pertama dan terakhir ialah “MEMANG BERJUANG”. Pada “kalah menangnya” rakyat kita dalam perjuangan inilah tergantung “tumbang atau tumbuhnya” Republik kita dan hidup matinya Rakyat Indonesia.
SI GODAM : Buat susunan perjuangan itu, saya pikir ada tiga bagian yang penting sekali, pertama Bagian Politik, kedua Bagian Pertahanan, ketiga Bagian Ekonomi.
DENMAS : Manakah bagian yang terpenting?
MR. APAL : Dalam Negara Republik berdasarkan Kedaulatan Rakyat dan Sosialisme, sudahlah tentu Bagian Politik itu yang terpenting. Bagian Politik itulah yang menentukan arah jalannya Negara, seperti seorang nahkoda menentukan arah kapalnya berlayar. Jadi dalam hal putus memutus Bagian Politik-lah yang menjatuhkan kata terakhir.
SI PACUL : Memang kalau putusan terakhir itu jatuh di tangan Bagian Pertahanan, maka mungkin negara kita akan bersifat militeristis. Keadaan sifat begitu mesti kita singkirkan dari sekarang.
MR. APAL : Akibat pemerintahan militeristis yang terdiri dari ratusan pulau ini akan memberi jalan kepada perpecahan. Satu diktator militer di Jawa umpamanya akan mengundang adanya diktator militer di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, mungkin pula di Ambon atau Maluku. Republik kita dan kemerdekaan kita jatuh atau berdiri dengan “kata mufakat”. Kalau kepulauan Indonesia tak bisa mengadakan pemerintahan yang didirikan atas “kata mufakat” maka besarlah bahaya kita atas perpecahan.
SI GODAM : Pendeknya putusan penghabisan dalam pimpinan politik negara mesti terletak di tangan Bagian Politik. Apabila arah politik sudah ditentukan dan diputuskan oleh kalangan buat berjuang maka kepada Bagian Pertahananlah diserahkan menetukan siasat dan pimpinan perjuangan.
SI PACUL : Sudahlah tentu Bagian Politik tidak akan berdiam diri saja.
SI GODAM : Tentu tidak! Siasat berjuang dan pimpinan berjuang itu senantiasa mesti diketahui dan diawasi oleh Bagian Politik. Pun Bagian Ekonomi bukanlah satu bagian yang terpisah dan menonton saja. Pada Bagian Ekonomilah terletak kewajiban menjaga keekonomian. Makan minum, pemondokan, perawatan, pengangkutan dll dari tentara yang sedang berjuang mati-matian itu membutuhkan perhatian pikiran dan kemauan para pengurus sepenuh-penuhnya.
MR. APAL : Ringkasnya mesti ada kerja tolong-menolong antara Bagian Ekonomi, Bagian Pertahanan, dan Bagian Politik. Tetapi putusan tertinggi dan bertangngung jawab terhadap Rayat Berjuang mestinya berada di tangan Bagian Politik.
SI PACUL : Memang kekuasaan dan tanggung jawab itu mesti ditentukan lebih dahulu. Kalau tidak akan timbul kekacauan kiri-kanan seperti sekarang. Apalagi kalau tentara kita di medan perang sedikit mendapat kemunduran, maka kekacauan dalam Badan Pimpinan itu bisa memasukkan biji “devide et empera”, pecah dan kalahkan dari pihak musuh yang mengintai-intai itu.
SI GODAM : Tiap-tiap tiga bagian itu mempunyai cabang (pembagian) pula. Bagian Politik saya pikir terutama dibagi empat cabang besar pula, ialah : 1. Urusan garisan politik Kalangan 2. Usaha menyelidik semua hal yang mengenai politik 3. Urusan penerangan 4. Urusan susunan.
SI TOKE : Memang pembagian pekerjaan dan tanggung jawab itu perlu sekali. Semua cabang di atas saya anggap penting. Garis politik mesti dipegang betul supaya kita jangan menyimpang dari garis yang sudah ditetapkan oleh Sidang Kalangan. Barangsiapa yang menyimpang dari garis itu mesti dikenai disiplin, ialah sesudah diperoleh bukti yang sah. Urusan penyelidik mestilah selalu siap sedia menjaga supaya jangan masuk orang atau paham yang merugikan perjuangan kita. Sudahlah terang bahwa penerangan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan semangat rakyat bisa dipegang dan diperhebat dengan jalan penerangan dan siaran. Bahaya mata-mata musuh itu tak ada selamanya bisa didapat dengan jalan penerangan dan penyiaran. Rakyat yang serba gelap gampang dimasuki setan pemecah belah. Akhirnya susunan di pusat, cabang, dan tampuk mesti dicocokkan buat seluruh negara, pulau, provinsi, daerah, kota, dan desa. Itulah perlunya cabang urusan susunan di atas.
SI GODAM : Kupikir baiklah Bagian Pertahanan itu kita bagi pula atas empat urusan : 1. Urusan Tentara Rakyat 2. Urusan Kepolisian 3. Urusan pemuda berjuang 4. Urusan porewa (milisi)
SI PACUL : Urusan tentara itu sudah tentu berhubungan dengan latihan kemiliteran pimpinan tentara berupa opsir dan persenjataan. Begitu juga urusan kepolisian. Urusan pemuda yang berkenan dengan pertahanan itu sesungguhnya pula perlu mendapat perhatian teristimewa. Boleh dikatakan bahwa di bahu pemudalah sebagian besar terletaknya pertahanan Negara Republik. Yang mestinya tak kurang mendapat perhatian ialah urusan perang. Dalam masa Imperialisme Belanda ada satu golongan orang Indonesia yang berdarah merdeka dan bersifat pemimpin, mereka tak mau terikat oleh aturan yang ditimbulkan oleh Imperialisme Belanda, baikpun aturan yang berhubungan dengan ekonomi ataupun politik. Mereka mempunyai para pengikut, tiap-tiap pemimpin sampai 500-1.000 orang, yang ikut pemerintah pemimpinnya dengan tak menghitung laba rugi, hidup mati. Di masa imperialisme Belanda mereka dianggap musuh ketentraman masyarakat yang memang bobrok itu. Sekarang mereka sendiri tak menginginkan masyarakat jajahan itu dikembalikan. Di mana-mana mereka mengadakan tindakan sendiri menghadapi musuh yang ceroboh bersenjata lengkap. Di mana mereka menerima kepercayaan Murba dan tanggung jawab, di sana mereka mengadakan perubahan yang baik. Mereka yang dibentuk oleh masyarakat jajahan dahulu itu, kaum porewa, yang semangat berontak dan senantiasa serempak serentak berontak dan mesti ditaruh di bawah perhatian dan pimpinan yang sehat. Kalau tidak, mereka akan bertindak sendiri dan mungkin merugikan perjuangan.
SI GODAM : Memang kita mesti urus dan perhatikan semua golongan manusia yang kita warisi dari masyarakat jajahan yang busuk itu. Memang gampang melamunkan “prajurit suci” yang beridaman “suci”. Tetapi dalam dunia perjuangan ini, kita tiada mengelamun. Kita mesti praktis! Kita mesti berjuang dengan alat berupa barang, dan manusia yang ada pada kita. Akhirnya Bagian Ekonomi mesti mempunyai cabang pula buat: 1. Urusan pekerja, 2. Pertanian, 3. Perusahaan, dan 4. Pasar. Prajurit pekerja dan proletar tani tentulah mesti mendapat perhatian luar biasa. Buat proletar muda mesti diadakan latihan dan kursus, supaya mereka disiapkan buat memimpin perusahaan, pertanian, politik, dan pertahanan negara. Perhatian kita mesti memusatkan kepada ini, karena merekalah yang paling aktif dan sudi berkorban dalam perjuangan yang paling hebat dahsyat ini. Seboleh- bolehnya kaum pedagang dan perusahaan kecil dan tenaga itu disusun pula dalam satu organisasi seperti koperasi. Semangat perorangan yang mengendali perhatian dan aksi mereka mesti dibelokkan pada semangat kolektif, gotong-royong buat membantu republik yang dalam marabahaya ini. Kaum dagang di pasar pun termasuk pada golongan ini juga. Begitulah susunan “Kalangan” itu dalam garis besarnya.
SI PACUL : Memang kalau susunan semacam itu bisa dilaksanakan di pusat, di pulau, di provinsi, di daerah kota, 70 juta rakyat Indonesia ini tak akan bisa lagi digertak atau ditipu pembujuk ataupun bajak perampok dari arah manapun juga datangnya. Siaran si perampok ataupun siaran pelor-bom akan melayang tersia-sia saja!
V. SYARAT SERTA TAKTIK BERJUANG
SI PACUL : Sekarang (2 Desember 1945), “seandainya” kita sudah mempunyai Kalangan Rakyat Berjuang seperti sudah kita uraikan di atas. “Kalangan” itu seandainya pula sudah berdisiplin yang kuat kokoh. Semuanya rakyat yang berontak sudah terikat di bawah pimpinan atau pengaruhnya. Janganlah pula dilupakan beberapa perkara di bawah ini: Musuh kita Inggris-Belanda hakikatnya amat bertentangan. Dalam tentara Inggris dan Nica tak kurang adanya pertentangan. Sekutupun terbagi atas pro dan anti Indonesia Merdeka. Seluruh Asia dan Afrika yang dijajah memihak pada Republik Indonesia. Dunia proletar Internasioal tak menyukai Perang Dunia Ketiga. Akhirnya Soviet Rusia dan Tiongkok memperamati dan 100% menyetujui Republik Indonesia. Apakah syarat dan taktik strategi atau TIPU MUSLIHAT berjuang?
SI GODAM : Seperti dalam perjuangan, maka di atas segala-gala yang terpenting tentulah “keyakinan” dan kekuasaan menang.
DENMAS : Memang keyakinan dan kehendak itu adalah uap kereta dan listrik buat mesin, ialah satu kodrat pendorong. Tetapi di luar Rakyat Murba apalagi di antara kaum intelek masih banyak yang sangsi atas kemenangan. Alasan mereka tentulah sebab kekurangan senjata. Kekurangan ini, kekurangan itu!
SI PACUL : Yang sangsi itu mestinya ada di dalam semua perjuangan. Tetapi Rakyat Murba tidak main hitung semacam itu. Ada atau tak ada pimpinan, mereka terus gempur Inggris-Nica yang ceroboh dan yang mulai bertindak melucuti senjata prajurit Indonesia.
SI TOKE : Memang maksud Inggris-Belanda sekarang sudah lebih terang! Keterangan dari Perdana Menteri Inggris bahwa Pemerintah Inggris cuma mengakui Hindia-Belanda sudah cukup terang.
SI PACUL : Semua tindakan Inggris-Nica sendiri sudah lebih terang buat mereka yang “mau” mengerti. Tetapi buat mereka yang tak mau mengerti karena dalam hati sanubarinya sudah terpendam “kemauan buat kompromi”, apapun juga bukti tentang maksud Inggris-Belanda yang sebenarnya tak akan dimengerti oleh mereka. Mereka mau kompromi dengan Inggris-Belanda, bermusyawarah dengan Inggris-Belanda, sedangkan “musuh” masih dalam negara kita. Barangkali nanti debat mendebat dalam permusyawaratan, pilih memilih wakil buat Dewan ini dan itu, pendeknya rebut merebut kursi, pangkat, dan gaji. Sedangkan musuh masih “dalam” Negara!
SI GODAM : Asal kalangan berjuang selalu berdiri di tengah-tengah Rakyat Murba dan memimpin Rakyat Murba dengan keyakinan dan kemauan menang dan perhatikan semua syarat dan taktik berjuang, kita bisa dengan tenang menyerahkan hari depan Republik Indonesia kepada Sang Waktu.
SI TOKE : Apakah pula syarat itu, Dam?
SI GODAM : Banyak juga. Tetapi terutama yang mesti dilakukan: 1. Pegang ini tiap-tiap menyerang. Artinya siasat menyeranglah yang kita utamakan. 2. Cari gelang rantai pertahanan musuh yang lemah. Putuskan rantai itu. Kepunglah masing-masing putusan itu dan hancurleburkan. 3. Selalu hitung lebih dahulu: kekuatan pertahanan musuh dan kekuatan kita menyerbu. 4. Selalu bisa memilih mana yang baik: menjalankan muslihat menyerang dari depan atau dari samping atau mengepung. Gempurlah rombongan kecil-kecil! Seranglah sekonyong-konyong. 5. Selalu ada persiapan menggempur mata-mata musuh (tetapi jangan berlaku tidak adil atau kejam karena terburu nafsu). Periksalah dengan seksama.
SI TOKE : Apa yang “jangan” dilakukan? Engkau sudah bilang apa yang “mesti” dilakukan?
SI GODAM :
1. Jangan lupa bahwa kita bukan melawan tentara. Senjata kita terutama politik, ekonomi dan gerilya.
2. Jangan lupa mendengungkan ke dalam dan ke luar negeri bahwa Republik Merdeka adalah 100% hak kita dan Inggris-Belanda tak berhak mencampuri urusan rakyat Indonesia. Satu persen pun tidak!
3. Jangan lupa bahwa walaupun dunia internasional membiarkan kota Indonesia dibom atom, desa dan gunung Indonesia cukup banyak buat perlindungan kita. Bumi cukup kaya buat hidup tak dengan kota. Tetapi Inggris-Belanda dengan tentara modern tergantung sebagian besar pada kota modern di Indonesia.
4. Jangan lupa bahwa Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang selalu kalah kalau berada jauh dari armada yang membantu dengan meriam dan kapal terbangnya. Jangan lupa contoh Magelang. Jangan putus asa kalau kalah di pantai. Di gunung pasti menang, kalau mau menang. Jadi jangan hilang akal kalau sebentar terpaksa meninggalkan kota. Jangan lupa menggempur kembali ke kota, apalagi dalam gelap dan hujan. Sekarang Jendral hujan sudah memanggil.
5. Jangan lupa bahwa Inggris-Nica dan pengkhianat di sampingnya tak bisa hidup tak dengan air, makanan, sayur, daging, dan pertolongan rakyat Indonesia. Jangan lupa bahwa setiap jam setiap hari tentara Inggris- Amerika terhalang maksudnya, jutaan rupiah ongkos yang mesti dipakainya dan dipikulkannya ke bahu rakyat yang sudah miskin melarat itu.
6. Jangan lupa bahwa kesabaran rakyat Inggris, Belanda, dan rakyat dunia lain yang ingin damai, ingin barang bahan Indonesia itu, ingin karet, minyak tanah, timah, gula, kina itu ada batasnya. Rakyat dunia itu tidak bisa selamanya membiarkan Inggris dan Belanda mengacau di Indonesia, bagian bumi yang penting buat perdagangan dan lalu lintas itu.
7. Dalam menjalankan taktik greliya dan kalau perlu taktik bumi hangus dan terendam, janganlah menyerang dari depan kalau musuh terkumpul dan bersenjata lengkap. Singkirkanlah peperangan tentara menghadapi tentara. Janganlah lupa bahwa Rakyat Murba mendapat senjata baru yang cocok buat taktik gerilya, ialah GRANAT TANGAN yang sekarang ada bertimbuntimbun. Jangan lupa bahwa granat tangan dan bambu runcing berkali-kali mengacau-balaukan dan mempontang- pantingkan gabungan Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang. Jangan lupa bahwa Bukit Barisan Indonesia dari Aceh ke Lampung, dari Banten ke Banyuwangi terus ke Timor, di Malaka, Kalimantan dan Sulawesi selama ini menunggu-nunggu putera Indonesia yang pahlawan-perwira buat bersembunyi sebagai pahlawan hutan Indonesia. Sang macan.... menghancurleburkan penjahat manapun juga di abad ke 20 ini.
SI PACUL : Tepat Dam...... Bukit Barisan yang sebagai macan, dengan taktik macan menunggu-nunggu penjajah buat diterkam dirobek-robek. Naik semangatnya Dam!
SI TOKE : Aku pun begitu Dam! Tadi sesudah mendengar kabar kekalahan kita di Surabaya terharu betul hatiku. Hampir percaya kepada kaum pengeluh. Ah, kita kekurangan ini, kekurangan itu, kita akan kalah! “Kasihan sama Rakyat”. Tetapi sekarang aku yakin Bukit Barisan kitalah benteng kita yang terakhir.
MR. APAL : Ingat sama Fabius, ahli mundur! Dia adalah seorang pahlawan Romawi melawan tentara Punisia yang kuat, di bawah pimpinan Jendral Punisia yang gagah perwira yang cerdik sekali. Tetapi akhirnya dengan taktik teratur Romawi menang juga.
DENMAS : Memang mesti dicamkan juga pada rakyat, bahwa tentara yang berperang itu tidak semestinya maju saja. Ingatkan pula bahwa senjata kita bukanlah senjata api semata- mata. Senjata kita juga berada dalam ekonomi dan politik. Malah Jendral Hujanpun satu senjata kita.
SI PACUL : Ya! Sebenarnya kita sedikit salah di Surabaya terhadap rakyat kita.
SI TOKE : Apa salahnya Cul ?
SI PACUL : Sebenarnya kita mesti bagikan kain kepada rakyat ketika kita sudah sita kain bertimbun-timbun. Rakyat kita butuh kain! Kain itu adalah hasil kemenangan rakyat Surabaya yang berjuang merebut kembali hak miliknya. Pada saat itu juga mestinya rakyat yang ditelanjangi Jepang itu ditutupi badannya. Satu muslihat buat melaksanakan siasat kemakmuran dan mempertinggi semangat pemberontak!
SI TOKE : Baiklah hal itu menjadi pelajaran di hari depan. Lekas PENUHI KEBUTUHAN RAKYAT di mana saja. Jangan ditunggu-tunggu lagi! Rakyat sudah kebosanan JANJI!!
MR. APAL : Sekarang rasanya sudah cukup kita rundingkan apa siasat dan taktik yang perlunya dijalankan berjuang. Tentu masih ada ketinggalan di sana-sini. Tetapi saya pikir baiklah Godam membikin satu pidato di depan kami, satu pidato sebagai contoh buat seorang propagandis di depan umum. Kami mau pakai sendiri.
SI GODAM : Saudara sekalian tahu, bahwa sesungguhnya aku bukan ahli pidato.
SI TOKE : Tak perlu kita caranya melaksanakan pidato itu, cara itu tidak penting buat Rakyat Murba yang sedang berjuang mati-matian. Yang penting ialah “ISI” pidato itu.
SI PACUL : Silakan Godam!
DENMAS : Aku seorang ningrat, Dam. Engkau berasal dari kelas benggolan, bekas stoker, bekas masinis. Tetapi dalam semua perundingan kita engkau perlihatkan kecerdasan, keberanian, dan kejujuran. Kuangkat pecisku di depan kecakapanmu, Dam. Aku mengaku muridmu, Dam.
MR. APAL : Aku seorang bertitel meester, Dam. Dunia intelek di zaman Belanda mengakui tingginya pengetahuanku, Dam. Mr. ialah pengakuan yang tertinggi tentang pengetahuan dalam hal undang-undang. Engkau seorang keluaran sekolah rendah saja. Tetapi engkau seorang “self-made-man” yang jaya. Contoh di segenap sejarah manusia cukup banyak kau ketahui! Contoh yang membuktikan bahwa “genie” itu tak selamanya keluaran sekolah tinggi. Aku tak malu, Dam, mengakui ketangkasanmu dalam berpikir dan bersoal jawab. Aku sudah mendapat pengakuan atas pengetahuanku. Tetapi sekarang aku insaf bahwa dalam masa pancaroba ini aku tak sanggup menyelami jiwa Rakyat Murba, menyusun menggerakkan tenaga Murba, yang diserahkannya pada pimpinan perjuangan itu. Berdirilah Dam, buat kami, buat contoh, buat MURBA, yang bergelora semangatnya, sesudahnya kami sendiri bertahun-tahun sudah membangunkannya ialah semangat MERDEKA. Apabila sekarang mereka melaksanakan apa yang kami kaum intelek sendiri, bangunkan dan muliakan itu, kami kaum intelek terutama saya sendiri sebagai intelek tidak berdiri di tengah rakyat, memimpin atau membantu, maka saya sendiri rasa bahwa kaum intelek tidak jujur terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Dan kalau rakyat Murba sekarang sebagai akibatnya propaganda puluhan tahun di mana-mana tiada “dipimpin” dan dibiarkan dirobek-robek oleh pelornya Inggris- Nica-Gurkha-Jepang, maka hal itu, aku Mr. Apal, anggap sebagai satu pengkhianatan si sejarah Indonesia yang terpenting.
SI PACUL : Silakan Dam!
SI GODAM : Saudara dan saudara! Tiga minggu yang lampau Inggris menuduh kita rakyat Surabaya membunuh seorang opsirnya. Dia tidak mau mengadakan pemeriksaan atas benar tidaknya pembunuhan itu. Dia tidak mau tahu apakah matinya opsir itu disebabkan tembakan dalam pertempuran kacau balau atau oleh pelor serdadunya sendiri yang menembak rakyat Indonesia. Bahkan dia tiada mau tahu apakah opsir itu benar mati apa tidak. Pihak Indonesia tiada mendapatkan opsir itu hidup, luka, atau mati di tempat pertempuran itu dilakukan. Pihak Indonesia siap sedia mau mengadakan pemeriksaan yang seksama. Tetapi tidak sekali ini saja Inggris pintar mencari alasan. Sudah kita ketahui bahwa pada hari itu Inggris sudah mempunyai rencana yang pasti dan beres. Rencana itu ialah menduduki Surabaya bersama serdadu Nica yang sudah tiba dari luar negeri. Ada atau tidaknya kesalahan Indonesia tuduhan mesti dikemukakan. Benar tidaknya tuduhan itu tuntutan mesti dilakukan. Inggris, Saudara, menuntut supaya rakyat dan tentara Republik Indonesia dilucuti senjatanya. Rakyat dan tentara Republik Merdeka mesti bertekuk lutut menyerahkan semua senjata. Cuma rakyat satu negara yang mau melepaskan hak kemerdekaannya, yang mau dihina dan diperlakukan sebagai budak belian, yang sanggup memenuhi tuntutan Inggris itu. Inggris bukannya diserahi oleh Sekutu melucuti senjata rakyat Indonesia, melainkan melucuti tentara Jepang. Seandainya diserahi perlucutan itu, Indonesia tak perlu dan hina sekali kalau ia membenarkan tuntutan Inggris itu. Tuntutan itu berlawanan dengan kedaulatan Rakyat Merdeka. Rakyat Indonesia sejak tanggal 17 Agustus ialah suatu negara merdeka. 70 juta rakyat Indonesia menyetujui dan ternyata menyokong kemerdekaan itu dengan harta benda serta jiwa raganya. Patutkah rakyat suatu negara merdeka dilucuti senjatanya? Satu syarat pertama negara merdeka ialah kemerdekaan kemauan dan kesanggupan negara itu mempertahankan kemerdekaannya. Hilanglah kemerdekaannya kalau rakyat itu tiada bersenjata lagi. Maksud Inggris bukanlah melucuti senjata Jepang, melainkan melucuti senjata rakyat Indonesia. Rakyat yang tiada bersenjata itu akan mudah digertak, diinjak-injak, atau disembelih oleh Nica yang disiapkan oleh imperialisme Inggris sebagai penjajah Indonesia. Apabila pemerintah Nica sudah teguh tegap kembali menjajah Indonesia ini, maka Inggris berharap akan mendapat kembali kebun, tambang, pabrik, dan tokonya. Inilah maksud Inggris yang sebenarnya. Betapapun Inggris menyangkal tuduhan kita dan dunia lain bahwa bermaksud mengembalikan Indonesia ke derajat suatu jajahan, semua bukti menyaksikan hasrat Inggris itu. Lagipula semua Inggris di Asia dan Afrika menyaksikan kebohongan, kelicikan, dan kebuasan Inggris dalam hal jajah menjajah. Suara imperialisme Inggris adalah suara perempuan lacur. Perkataannya tak boleh dipercaya. Musnahlah kemerdekaan Indonesia kalau alasannya atau anjurannya didengarkan. Selama tentara Inggris berada di Indonesia janjinya mesti dianggap sebagai tipu muslihat belaka. Tetapi rakyat Surabaya tiada mendengarkan tujuan dan alasan wakil imperialisme Inggris itu. Rakyat Surabaya yang bukan juris itu mengerti sungguh akan haknya satu Rakyat Merdeka. Rakyat Surabaya pegang senjata di tangannya. Dengan senjata di tangannya dia akan pertahankan kemerdekaannya. Itulah sifat jantan! Itulah sifat yang cerdik berdasarkan keinsyafan akan hak sendiri, kewajiban sendiri, dan kehormatan akan diri sendiri. Barangsiapa yang tak menjalankan sifat itu dia tidak mau merdeka, dia tidak mempunyai kehormatan atas dirinya sendiri. Dia itu adalah orang budak, atau agen Nica yang bersembunyi. Dalam hakikatnya dia adalah seorang pengkhianat. Ada yang mengeluh, kita tiada bisa melawan tank raksasa, melawan kapal perang dan kapal terbang Inggris. Saya jawab, bukankah sudah tiga minggu kita menahan hujan pelor? Berapakah kerugian yang diperoleh musuh dalam tiga minggu itu? Apakah kemenangan yang diperolehnya dalam tiga minggu itu? Bisakah Inggris-Belanda mengurusi pabrik, toko, atau kebun di tempat yang didudukinya? Selama dia tidak bisa mencari untung dengan menghisap keringat dan darah rakyat Indonesia, selama itulah perampasan sejengkal atau dua jengkal tanah itu satu kesulitan bagi dirinya sendiri. Tanah yang dirampas itu mesti dipertahankan siang dan malam terhadap serangan rakyat dan tentara Indonesia. Ongkos mempertahankan sehari demi sehari bertimbun-timbun. Sehari demi sehari Inggris-Nica akan merasai tajamnya senjata rakyat Indonesia yang tak kurang tajam dari senjata biasa. Senjata ekonomi, di samping penyerbuan secara gerilya yang tak putus-putusnya, bukanlah senjata yang bisa diabaikan begitu saja, walaupun Inggris lengkap bersenjata. Seandainya Inggris-Nica bisa merebut semua kota-kota di pesisir ini belum berarti mereka menang! Masih jauh jalan yang mesti mereka tempuh. Selama rakyat Indonesia bersatu, berdisiplin, dan insyaf akan muslihat yang harus dijalankan serta yakin akan kebenaran sendiri serta kesalahan musuh, selamanya Inggris-Nica masih dalam tingkat permulaan. Di Magelang di mana kekuatan armada tak berlaku, di sana Inggris dikalahkan. Dikalahkan, Saudara! Apakah artinya kalau tentara yang paling modern di dunia, tentara yang sudah mendapat ujian di medan perang modern, dikalahkan, diusir, atau dimusnahkan oleh rakyat dan tentara Indonesia yang tak beropsir, tak bersenjata, dan tak berlatih cukup? Kepada prajurit Indonesia aku tak perlu insyafkan atau tanyakan kejadian Magelang yang maha penting buat sejarah Indonesia ini! Kepada pengeluh, pengesah, pengecut, kepada yang sangsi akan kekuatan rakyat Indonesia, sangsi dengan segala yang berhubungan dan berbau Indonesia, saya mau tanyakan sekali lagi artinya kemenangan Magelang itu. Saya tambah pula tidak di Magelang saja rakyat Indonesia dan tentara Indonesia menang berperang dengan tentara Inggris-Nica. Di semua tempat, di mana pasukan berhadapan dengan pasukan, di sana Indonesia yang menang. Tak ada kecualinya. Orang Inggris-Nica belum pernah menang sama orang Indonesia. Yang menang cuma senjata luar biasa seperti meriam kapal perang yang menembak dari jauh di tengah laut, atau kapal terbang yang tinggi sekali terbangnya. Apalagi kelak di benteng kita yang paling akhir, yakni di pegunungan yang membujur di semua kepulauan Indonesia, di sana Inggris-Nica akan berjumpa perjuangan yang sesungguhnya. Di sana meriam armada takkan berdaya. Di pegunungan itu bom kapal terbangnya takkan berarti. Di pegunungan tentara Indonesia akan menunggu, seperti harimau menunggu musuh di tempat dan tempat yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan mencelakakan musuhnya. Dari gunung gerilya Indonesia dengan tak putus-putusnya akan menyerbu ke kota-kota, seandainya semua kota bisa diduduki Inggris-Nica, yakni kalau Inggris- Nica bisa menduduki kota yang hangus dan dikeringkan air minum dan makanannya. Di kota hangus Inggris-Nica menderita serangan gerilya di hari malam dan kekuarangan makan di hari siang. Siapakah di antara Saudara yang percaya Inggris-Nica bisa satu tahun saja duduk di kota neraka semacam itu? Duduk siang malam dalam bahaya dan kekurangan makan, tidur, dan ke plesiran? Di telinganya terdengar pula ocehan dan sumpah dunia? Saudara-saudara! Diplomasi kita bukan diplomasi bertekuk lutut. Diplomasi yang patah hati, diplomasi setengah atau tiga perempat jalan. Diplomasi kita menghendaki kemerdekaan 100% sempurna. Kita tidak akan berhenti selama kemerdekaan sempurna itu belum tercapai. Kita bisa tahan karena sudah bisa melarat, karena bumi, iklim, memihak pula pada kita. Kita percaya kita bisa mencapai kemerdekaan sempurna itu kalau kita cukup sabar, cukup tahan! Cukup percaya akan hak dan kebenaran diri sendiri. Percaya akan kesalahan Inggris-Nica. Akhirnya percaya akan keadilan manusia di dunia ini. Dunia sedang mengamati kita! Dunia ikut menimbang siapa yang benar siapa yang salah. Dunia ikut menimbang dan memperhatikan Indonesia kacau dan dikacaukan. Suara umum di dunia besok atau lusa akan memihak kepada yang berhak dan menuduh serta menghukum mereka yang mengcaukan serta berdosa. Kita menunggu sambil berjuang sampai si penjajah itu musnah atau berangkat meninggalkan pesisir kita. Sampai suara umum di dunia menyalahkan si penjajah. Saudara jangan lupa bahwa Indonesia selain penting buat lalu-lintas, penting pula buat pembangunan ekonomi di dunia yang rusak ini. Bahan dari Indonesia dibutuhkan buat semua negara beradab di dunia. Kemauan dunia beradab buat perdamaian, kebencian proletar Indonesia, kebencian rakyat jajahan terhadap imperialisme dan persetujuannya dengan kemerdekaan, inilah semua perkara yang memihak kepada Rakyat Indonesia Berjuang. Inilah diplomasi kita! Diplomasi berjuang! Dengan begitu membangunkan rasa kebenaran dan keadilan di dunia dalam dan luar Indonesia. Dengan begitu membelah dua kaum imperialisme dengan kaum pendamai. Bukan diplomasi kompromis, diplomasi bertekuk lutut. Karena diplomasi bertekuk lutut itu membimbangkan proletar dunia dan rakyat jajahan. Diplomasi bertekuk lutut itu membencikan rakyat beradab di dunia, yang insyaf akan hak kemerdekaan suatu bangsa dan hormat kepada rakyat lain yang membela kehormatannya sendiri. Si lemah, si sangsi, si pesimis, seperti si pengkhianat memang banyak alasannya. “Oh,” katanya, “kasihan sama rakyat, yang mesti berkorban!” Bukankah Inggris-Nica yang menyebabkan korban itu? Bukankah imperialisme yang selalu siap sedia mengorbankan puluhan juta manusia buat menjalankan politiknya? Di zaman manakah, di negara manakah “kemerdekaan” itu diperoleh dan dipertahankan dengan berdiplomasi dari gedung besar, bukan dengan pengorbanan puluhan malah sering jutaan manusia? Lagipula apa artinya “senjata” Indonesia sekarang mengorbankan 2 atau 3 juta rakyatnya buat kemerdekaan 68 juta sisanya? Bukankah keamanan (!) dan ketentraman di bawah Jepang saja sudah menuntut korban 3 sampai 4 juta jiwa manusia? Jika Indonesia sekarang takut mengorbankan 1 atau 2 juta rakyatnya (“seandainya” perlu pengorbanan begitu banyak dalam perjuangan, yang tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia sendiri itu), kelak 70 juta orang Indonesia akan dikorbankan selama-lamanya buat budak dalam kebun, pabrik, dan tambang bangsa asing. Bukan Indonesia saja yang berkorban dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan sebagai hak mutlak dan hak alamnya itu, juga si pemerkosa kemerdekaan kita itu mesti berkorban! Juga mereka perlu mengorbankan harta bendanya, jiwanya, dan waktunya. Akhirnya yang tak boleh Saudara lupakan adalah bahwa Inggris-Belanda sehari demi sehari mengorbankan namanya sebagai negara beradab. Sekali dunia beradab mengutuki tindakan mereka terhadap satu bangsa yang salahnya cuma karena ia mempertahankan haknya, pada saat itulah kemenangan berada di tangan Indonesia. Indonesia akan terus berjuang sampai saat itu tiba. Sampai si ceroboh, si penjajah bertekuk lutut. Muslihat Rakyat Indonesia ialah berjuang lama, menyingkiri semua yang bersifat terburu nafsu, bersifat tergesa-gesa, bersifat fanatik, dan bersifat perjudian. Dengan hati tenang-tegap seperti baja, otak teduh berputar, dan akhirnya dengan kemauan dan keyakinan kokoh-kuat, Rakyat Indonesia menunggu sampai fajar kemerdekaan itu menyingsing! Kalau kita para prajurit kemerdekaan ini gagal dalam perjuangannya, maka ini tidak berarti kita gagal karena salah dasar atau salah muslihat. Kalau kita kelak gagal maka kegagalan itu mesti dicari pada kurang teguhnya organisasi, lemahnya disiplin, serta kurangnya kecerdasan, kecerdikan, dan kecakapan. Semua kekurangan bisa dan mesti kita singkirkan dari sekarang juga! Tetapi di atas segala-galanya yang tiada boleh kurang, yang mesti diperkokoh sekarang ini dan terus diperkokoh di hari depan ialah persatuan. Jauhilah curiga mencurigai dan tuduh menuduh dengan tak ada alasan cukup. PERSATUAN DAN DISIPLIN! DISIPLIN DAN PERSATUAN! SEKIANLAH!!
Subscribe to:
Posts (Atom)