Friday, 12 November 2010

BATU

BATU

-Sutardji Calzoum Bachri-


batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai se-
dang lambai tak sampai. Kau tahu?
batu risau
batu pukau batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

HERMAN

HERMAN

-Sutardji Calzoum Bachri-


herman tak bisa pijak di bumi tak bisa malam di bulan
tak bisa hangat di matari tak bisa teduh di tubuh
tak bisa biru di lazuardi tak bisa tunggu di tanah
tak bisa sayap di angin tak bisa diam di awan
tak bisa sampai di kata tak bisa diam di diam tak bisa paut di mulut
tak bisa pegang di tangan takbisatakbisatakbisatakbisatakbisatakbisa
di mana herman? kau tahu?
tolong herman tolong tolong tolong tolongtolongtolongtolongngngngngng!

TANGAN

TANGAN

-Sutardji Calzoum Bachri-


seharusnya tangan bukan hanya tangan tapi tangan yang memang tangan tak cuma tangan tapi tangan yang tangan pasti tangan tepat tangan yang dapat lambai yang sampai salam
seharusnya tangan bukan segumpal jari menulis sia se kedar duri menulis luka mengusap mata namun gerimis tak juga reda
walau lengkap tangan buntung walau hampir tangan bun tung walau satu tangan buntung walau setengah tangan buntung yang copot tangan buntung yang lepas tangan buntung yang buntung tangan buntung
segala buntung segala tak tangan hanya jam yang lengkap tangan menunjuk entah kemana

WALAU

WALAU

-Sutardji Calzoum Bachri-


walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak
tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu
walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sebatas allah

Tuhan Sembilan Senti…

Tuhan Sembilan Senti…

-Taufiq Ismail-


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Doa

Doa

-Chairil Anwar-


Tuhan ku
Dalam termangu
Ku sebut nama Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Mu penuh seluruh

Tuhan ku
Cahaya Mu
Panas suci bagai kerdip lilin
Di kelam sunyi

Tuhan ku
Aku hilang bentuk
Kembara di negeri asing
Tuhan ku
Pintu Mu ku ketuk
Aku tak bisa berpaling




A Prayer


Dear God
In desolation
I said your name
So that this pain heals
Though it is hard
Remembering You with all my heart and soul

Dear God
Your light
(is) Warm and aglow like the flicker of a candle
On a quiet balmy night

Dear God
I lost myself
A stranger travelling in this strange land

Dear God
Here I am knocking on Your door
And I can no longer turn my face away (from You)

POTRET DI BERANDA

POTRET DI BERANDA

-Taufiq Ismail-



Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar sulaman ibuku
Dibuatnya tatkala maslh perawan

Di dapur rumah nenekku, nenekku renta
Tergolek drum tua pemasak kerupuk kulit
Di atasnya sepasang tanduk hitam berdebu
Kerbau bajak kesayangan kakekku

Kerupuk kulit telah mengirim ibuku
Sekolah ke kota, jadi guru
Padi, lobak dan kentang ditanam kakekku
Yang disulap subur dalam hidayat
Dijunjung dan dipikul ke pasar
Dalam dingin dataran tinggi
Karena ibuku yang mau jadi guru

Dan ibuku bertemu ayahku
Yang dikirim nenekku ke surau menyabit ilmu
Dengan ikan kolam, bawang dan wortel
Di ujung cangkul kakekku kukuh
Yang kembang dan berisi dalam rahmat
Terbungkuk-bungkuk dijunjung di hari pekan
Karena ayahku mau jadi guru

Maka lahirlah kami berenam
Dalam rahman
Dalam kesayangan
Dalam kesukaran

Di beranda rumah nenekku, di desa Baruh
Potretku telah tergantung 26 tahun lamanya
Bersama gambar-gambar buatan ibuku
Disulamnya tatkala masih perawan.

SURAT RICARDA HUCH (9 APRIL 1933) KEPADA PRESIDEN AKADEMI KESENIAN & ILMU PENGETAHUAN, PRUSIA

SURAT RICARDA HUCH (9 APRIL 1933) KEPADA PRESIDEN AKADEMI KESENIAN & ILMU PENGETAHUAN, PRUSIA


-Taufiq Ismail-



Tuan Presiden yang terhormat,
Terhadap pengangkatan saya sebagai anggota Akademi
Seyogyanyalah saya ucapkan terima kasih
Namun nampaknya disini perlu dijelaskan
Saya tak dapat mengabulkan kehendak Tuan

Bahwasanya seorang Jerman adalah seorang Jerman
Bahwa pakalannya, siul lagaknya
Siu] dan lagak Jerman
Adalah wajar dan layak
Tetapi, apakah makna Jerman
Dan belapa sikap Jerman
Beragam adanya pendapat dan jawaban
Apa yang diucapkan sebagai kesadaran nasional
Dewasa ini. Ialah sentralisasi, paksaan-paksaan
Cara-cara tak berkeadaban. Seribu fitnahan
Terhadap siapa yang memlliki fikiran
Lain. Dan jiwa yang habis-habisan onani!
Wahai kesombongan dan pemujian diri sendiri
Di depan bentangan peta bumi

Akademi mengatakan tak ada rintangan
Pada pendapat yang berkebebasan
Tapi semua radio, majalah dan koran
Senyap sunyi dari luasan opini
Hingar bingar oleh tunggal opini

Sikap Jerman dewasa ini, ialah
Bahana malapetaka

Jermanku. Saya mengenalmu
Terbuka, jujur dan sopan
Tapi sorak pemerintah
Sorak histeris orang-orang supernasionalis
Setiap engkau lewat di berbagai jalanan
Dalam pawai panji mengusungi slogan demi slogan
Saya bertanya ragu: betulkah engkau itu

Demikianlah. Terhadap keadaan begini
Yang meminta kesanggupan menyesuaikan diri
Maka, Tuan Presiden Akademi
Kesanggupan itu tak ada pada saya
Ini akan dimaklumi mereka yang kenal saya pribadi
Atau pembaca buku-buku saya

Bersama ini saya menyatakan diri
Keluar dari Akademi.

SURAT RICARDA HUCH (MASA PERANG 4 NOPEMBER 1941) KEPADA USKUP DARI MUNSTER, PANGERAN VON GALEN

SURAT RICARDA HUCH (MASA PERANG 4 NOPEMBER 1941) KEPADA USKUP DARI MUNSTER, PANGERAN VON GALEN


-Taufiq Ismail-



Uskup yang mulia, jika saya
Yang tidak Tuan kenal dan asing
Saya menulis surat ini, adalah
Sebagai rasa terima kasih dan hormat
Pada Tuan

Pada bangsa kita selama
Tahun-tahun terakhlr ini
Ada hal yang paling getir keadaannya
Kehilangan hak kemanusiaan
Lenyapnya rasa kemanusiaan
Dan di bawah kelabu mendung ini
Tuan Uskup telah berdiri
Menentang pengagung-agungan kezaliman
Dan tegak di pihak korban
Terang-terangan
Rupanya masih ada kesadaran bahwa
Tuntutan bersih suara hati
Lebih bernilai dari

Sejuta tepukan tangan
Wahai. Semoga Tuan akan merasa gembira
Bahwa banyak orang-orang lainnya
Terikat Tuan hati dan kalbu mereka
Walau tak terucapkan, tak bersuara
Sudilah kiranya Tuan menganggap saya
Dari orang-orang banyak itu, sebagai
Satu suara.

SUARA

SUARA

-Taufiq Ismail-


Deretkan awan, pelangi, dengan rambutmu merah-ungu
Taburkan pelan, pelangi, sepanjang lengkung lenganmu
Panorama yang kemarau teramat kering
Daunan berjuta. Angin menjadi hening

Tiada terasa lagi di mana suara memanggil-manggil
Tiada suara lagi betapa cahaya makin mengecil
Pohon-pohon redup dan berbunga di bukit dan pesisir
Kemarauku siang, dinginku maJam yang menggigil

Di sanalah dia bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Ketika langit seolah menutup dan kau amat pucat
Di hutan selatan cahayamu pelan berlinangan
Melintas jua ke ambang pasar, pada bayang-bayang jambatan

Tiada terasa lagi di mana cahaya berhenti mengalir
Tiada bintik lagi ketika bintang dalam fajar
Dan pada pilar-pilar langit
Awan pun bersandar

Di sanalah kau bersimpuh, bulan yang tua dan setia
Setiap terasa lagi suara memanggil-manggil
Pada pilar-pilar langit. Di puncak-puncaknya
Suara Engkau yang merdu
Suara sepi yang biru.

SAJAK SEBOTOL BIR

SAJAK SEBOTOL BIR

-W.S. Rendra-



Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa!
Peradaban apakah yang kita pertahankan?

Mengapa kita membangun kota metropolitan?
Dan alpa terhadap peradaban di desa?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
Dan tidak kepada pengedaran?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
Akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.

Di manakah jalan lalu lintas yang dulu?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalan lalu lintas masa kini,
Mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
Adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
Pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
Bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
Tidak untuk petani,
Tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
Tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti saampai di sini?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
Yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan
Harus senantiasa menghasilkan….
Dan akhirnya memaksa negara lain
Untuk menjadi pasaran barang-barang kita?

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata?
Apakah pemikiran ekonomi kita
Hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira?
Apakah kita akan hanyut saja
Di dalam kekuatan penumpukan
Yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
Terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?

Kita telah dikuasai satu mimpi
Untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
Dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
Dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.

DENGAN KASIH SAYANG

DENGAN KASIH SAYANG

-W.S. Rendra-


Dengan kasih sayang
Kita simpan bedil dan kelewang
Punahlah gairan pada darah

Jangan!
Jangan dibunuh pada lintah dara
Ciumlah mesra anak jadah tak berayah
Dan sumbat jarimu pada mulut peletupan
Karena darah para bajak dan perompak
Akan mudah mendidih oleh pelor

Mereka bukan tapir atau budak
Hatinya pun berurusan dengan cinta kasih
Seperti jendela yang terbuka bagi angin sejuk

Kita sering kehabisan cinta untuk mereka
Cuma membenci yang nampak rompak
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka,
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak

Lahiriah yang terlalu banyak meminta
Terhadap sajak yang paling utopis
Bacalah dengan senyuman yang sabar

Jangan dibenci para pembunuh
Jangan dibiarkan anak bayi mati sendiri
Kere-kere jangan mengemis lagi
Dan terhadap penjahat yang paling laknat
Pandanglah dari jendela hati yang bersih

SAJAK MATA-MATA

SAJAK MATA-MATA

-W.S. Rendra-


Ada suara bising di bawah tanah.
Ada suara gaduh di atas tanah.
Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
Ada tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan, lho, ini di belakang saya
ada tentara marah-marah.

Apaa saja yang terjadi? Aku tak tahu.

Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.
Aku melihat isyarat-isyarat.
Semua tidak jelas maknanya.
Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
menggangu pemandanganku.

Apa saja yang terjadi? Aku tak tahu.

Pendengaran dan penglihatan
menyesakkan perasaan,
membuat keresahan -
Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi
terjadi tanpa kutahu telah terjadi.
Aku tak tahu. Kamu tak tahu.
Tak ada yang tahu.

Betapa kita akan tahu,
kalau koran-koran ditekan sensor,
dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.
Koran-koran adalah penerusan mata kita.
Kini sudah diganti mata yang resmi.
Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.
Kita hanya diberi gambara model keadaan
yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.

Mata rakyat sudah dicabut.
Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
Mata pemerintah juga diancam bencana.
Mata pemerintah memakai kacamata hitam.
Terasing di belakang meja kekuasaan.
Mata pemerintah yang sejati
sudah diganti mata-mata.

Barisan mata-mata mahal biayanya.
Banyak makannya.
Sukar diaturnya.
Sedangkan laporannya
mirp pandangan mata kuda kereta
yang dibatasi tudung mata.

Dalam pandangan yang kabur,
semua orang marah-marah.
Rakyat marah, pemerinta marah,
semua marah lantara tidak punya mata.
Semua mata sudah disabotir.
Mata yangbebas beredar hanyalah mata-mata.

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

-W.S. RENDRA-


Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.
O, jaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!

Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.
O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!

Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!

Berhentilah mencari ratu adil!
Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.

Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.
Bau anyir darah yag kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU (Untuk puteraku, Isaias Sadewa)

SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU (Untuk puteraku, Isaias Sadewa)

-W.S. Rendra-


Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,
Di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
Karena ia telah lunas
Menjalani kewjiban dan kewajarannya.

Setelah ia wafat
Apakah petani-petani akan tetap menderita,
Dan para wanita kampung
Tetap membanjiri rumah pelacuran di kota?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
Ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
Saat itu ia mendengar
Nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.

Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.
Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
Di saat badan berlumur darah,
Jiwa duduk di atas teratai.

Ketika ibu-ibu meratap
Dan mengurap rambut mereka dengan debu,
Roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala
Untuk menanam benih
Agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
Dari zaman ke zaman

ORANG-ORANG MISKIN

ORANG-ORANG MISKIN

-W.S. Rendra-


Orang-orang miskin di jalan,
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah di dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
Mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin.
Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin.
Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
Di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
Dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
Karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
Bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
Agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
Masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
Menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
Meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
Yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
Akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
Akan hinggap di gorden presidenan
Dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
Bagai udara panas yang selalu ada,
Bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
Tertuju ke dada kita,
Atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
Orang-orang miskin
Juga berasal dari kemah Ibrahim

Dalam Doaku

Dalam Doaku

-Sapardi Djoko Damono-


Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Kacapiring

Kacapiring

-Cerpen Danarto-




RUMAH sakit ini rasanya menebarkan arus kematian. Terasa pada tengkuk dan telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang mengantarkan kereta jenazah yang bergulir sendirian. Bau obat pengepel lantai yang menelan nasi bungkus pada kemasan air minum yang kempis. Barangkali di ranjang sebelah seorang pasien sedang bergulat memperebutkan nyawanya dengan Malaikat Izrail.Ketika adzan subuh terdengar, saya masih malas bangun dalam tidur duduk dengan kepala terkulai di ranjang Astri, anak saya yang berumur 12 tahun. Astri telah tiga hari pingsan, belum juga ada tanda-tanda mau siuman. Para dokter tidak tahu kenapa lama sekali Astri pingsan.Anak-anak yang sehat, energetik, dan periang, yang mewarisi watak saya yang selalu dalam keadaan senang, sebenarnya tidak mungkin begitu mudah jatuh pingsan. Dunia memang penuh penderitaan, tetapi lupakanlah itu dan rebutlah kegembiraan hidup untuk selama-lamanya. Itulah yang pokok, saya pikir, yang saya ajarkan kepada anak-anak dalam mengarungi hidup sehari-hari. Saya ajak mereka menyanyi, menari, dan berdoa, dan kelima anak saya itu - Astri (12), Ajeng (10), Antok (8), Agra (6), dan Ayu (4) - pun menari, menyanyi, dan berdoa. Anak-anak yang baik adalah jendela dengan kaca yang jernih. Kami adalah keluarga yang tidak bersedih. Jika mau bersedih, kita tidak akan sempat bersedih karena hidup kita ini adalah kesedihan.Kami bertujuh hidup dalam kebahagiaan dalam arti yang sempit maupun yang luas. Selalu bertemu setiap hari, dalam waktu yang sempit maupun waktu yang longgar. Kami berbelanja beramai-ramai ke Hero atau Carrefour. Kami makan di Sizzler atau di Lembur Kuring. Kami keluarga yang sibuk sehingga membutuhkan tiga sopir, paling tidak, satu untuk anak-anak, satu untuk istri, dan satu untuk saya, sepertinya kami masing-masing sudah bisa mandiri.Seminggu sekali kami mengitari toko buku selama tiga jam untuk memborong buku dan DVD apa saja yang mendatangkan kesenangan. Kami juga nonton di gedung bioskop dan gedung kesenian, juga di gedung-gedung kebudayaan kedutaan besar. Kami mengisi teka-teki silang dari Harian Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, maupun Republika, sambil menikmati pizza atau hamburger dan es teler. Kami juga pura-pura tahu tentang gerakan reformasi yang melanda di seluruh Tanah Air.Itulah sebabnya kami merasa digoncang gempa bumi ketika mobil kami ngebut melarikan Astri ke rumah sakit. Menderu dan melakukan zig-zag. Masih dalam keadaan pingsan, Astri saya peluk erat-erat. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan Astri yang menjerit dan jus mentimun yang mestinya ia berikan kepada Mamanya, jatuh ke lantai dengan bunyi gelas yang pecah berderai. Saya berlari ke arah jeritan Astri dan mendapatkannya terkapar. Saya berteriak memanggil sopir dan membopong Astri ke dalam mobil. Di sisinya, Ajeng dan Antok, adik-adik Astri, gemetar dan menangis memegangi kaki dan tangan kakaknya. Apakah Astri tadi terpeleset atau dia kena serangan jantung? Yang saya heran, ibunya anak-anak tidak memberikan reaksi sedikit pun dan tetap berada di dalam kamarnya. Bahkan sekadar menjenguk pun tidak."Karena kaget, siapa pun bisa pingsan," kata dokter setelah memeriksa Astri beberapa saat yang membuat kami lega."Bagaimana dengan jantungnya, Dok?" tanya saya."Sehat," jawab dokter, "Nanti kalau sudah siuman, Astri bisa dibawa pulang."Saya mengucapkan terima kasih kepada dokter yang kemudian berlalu meninggalkan Astri yang menggeletak di ranjang. Sambil memegangi tangan Astri, saya bengong menatap Ajeng dan Antok yang cemas ketika tiba-tiba hand-phone berdering."Agra dan Ayu nangis memanggil-manggil Ibu, Pak!" teriak pembantu dari rumah sambil menangis.Saya kaget lalu berteriak, "Bilang sama Agra dan Ayu jangan kolokan. Bawa keduanya ke mamanya.""Pintu kamar Ibu digedor-gedor Agra dan Ayu, tetapi enggak ada sahutan, Pak," teriak pembantu dari rumah."Dobrak pintunya.""Enggak berani, Pak.""Dobrak!""Enggak berani, Pak.""Suruh Totok mendobrak.""Totok enggak berani, Pak.""Mana Totok, saya mau bicara.""Ya, Pak," sahut Totok, sopir anak-anak, yang agaknya berada di samping pembantu."Tok! Kamu dobrak pintu kamar Ibu.""Mohon maaf, Pak. Saya tidak berani."MULA-mula Laksmi, mamanya anak-anak, memberi tahu kami bahwa dia membutuhkan kamar sendiri. Saya pikir dia mau menggunakan kamar yang sudah ada. Ternyata dia membangun kamar baru di sebelah perpustakaan. Bagi kami-saya dan anak-anak- tak menjadi soal amat. Kami semua sangat mencintainya. Bahkan anak-anak sanggup menunggunya sampai pukul 9 malam untuk bisa makan bareng dengan mamanya.Sebagai seorang ibu yang perfeksionis bagi anak-anaknya, dia mengatur seluruh kehidupan sehari-hari kami dengan seluruh segi-seginya, begitu cermat dan cekatan. Dari jus apel-tomat-wortel yang wajib kami minum setiap hari, dari hobi sampai jenis permainan, dan dari olahraga sampai piknik kami setiap empat bulan sekali, anak-anak dan saya, terima beres. Dari sini dia mendapat imbalan yang elok dari langit: anak-anak dan suaminya tumbuh sehat dan mendatangkan kebahagiaan.Dengan kamar barunya itu, Laksmi keluar-masuk kamarnya dengan kunci di tangan. Tentang sikapnya ini, saya pernah secara sambil lalu bertanya kepadanya, "Ada rahasia apa, kok pakai dikunci segala." Dia hanya menjawab dengan senyum. Meski tetap ramah dan murah senyum sambil menyanyi dan menari, tetapi kami, keluarga dekat dan teman-temannya, tak boleh menjenguk kamarnya. Pernah Ayu yang berumur empat tahun, bungsu kami, menangis sejadi-jadinya karena mau ikut, tetapi tetap tak diizinkan masuk ke kamarnya. Laksmi tak peduli Ayu menangis seharian di depan pintu kamarnya. Dari peristiwa ini saya mulai merasakan Laksmi ingin mengucilkan diri.Laksmi yang kutu buku dan mengenal dengan baik seluruh restoran di Jakarta, jauh lebih keras bekerja daripada saya meski saya sering pulang larut malam. Tidak pernah mengeluh. Selalu tersenyum lebih dulu bahkan dari para tetangganya yang jauh lebih ramah sekalipun. Kesukaannya memasak dan membagikannya kepada satu dua tetangganya meski hanya beberapa potong lumpia, dicatat sebagai sifat keramahtamahannya. Ketika membangun kamar pribadinya itu usianya tiga puluh tahun dan sedang ayu-ayunya.Di kamar Astri, sekarang berkumpul separuh keluarga. Air mata saya terus berlelehan. Ajeng dan Antok menangis sambil memeluk kaki Astri yang terkulai seperti mati. Beberapa dokter hilir-mudik memeriksa Astri lagi. Mereka berdiskusi secara bisik-bisik dan tidak memberi keterangan apa-apa kepada saya. Karena tak tahan menunggu lalu saya bertanya kepada dokter pertama yang memeriksa Astri. Tetapi, dokter itu memberi isyarat supaya saya bersabar.Seorang dokter lain menyarankan supaya saya memeriksa kamar-kamar di rumah. Lalu saya menelepon Eyang Putri Niniek, neneknya anak-anak, ibu Laksmi, yang sering meluangkan waktu bermain dengan cucu-cucunya."Sebelum ke rumah sakit, Ibu mampir dan mohon periksa seluruh kamar dan pojok rumah," desak saya."Istrimu ke mana?" tanya Nenek."Itulah...""Itulah apa?""Tak tahu ke mana."Kamu bertengkar dengannya?""Tidak.""Ayolah, kamu bertengkar.""Sungguh tidak, Bu."Akhirnya Ajeng dan Antok tertidur di tepi-tepi ranjang Astri. Saya merenung tentang hal-hal kecil yang mungkin sekali terlewatkan dalam urusan rumah tangga. Beberapa orang keluarga dan teman-teman sekelas Astri di SLTP berdatangan menjenguk. Kami mengobrol di kamar keluarga di sebelah kamar perawatan Astri. Teman-temannya menciumi kening dan pipi Astri yang pingsan pulas. Mereka menanyakan mamanya anak-anak. Saya jawab, Laksmi sedang bepergian keluar kota yang tak bisa dihubungi.Telepon genggam berciluit. Rupanya dari nenek yang lalu nerocos. "Laksmi bilang belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Dia tak mau membuka pintu kamarnya.""Cobalah Ibu minta dia menelepon saya.""Sudah saya suruh, tetapi dia tidak mau.""Dia omong apa saja?""Dia tak omong apa-apa."Ibu merahasiakan omongan dia, ya?""Buat apa?" "Jadi Ibu cuma mendengar suaranya dari dalam kamarnya?""Ya.""Aneh.""Apa?""Aneh, Laksmi tidak mau ketemu Ibu.""Apa kamu memarahinya?""Tidak pernah.""Ada apa sebenarnya?""Saya tidak tahu.""Kamu suaminya kok enggak tahu.""Benar, Bu."SEORANG dokter masuk memeriksa Astri. Tiba-tiba Astri berteriak, "Mama!" lalu dia terkulai kembali, diam, pingsan lagi.Melihat gejala itu kemudian beberapa dokter dan jururawat berdatangan. Astri lalu diperiksa oleh tiga orang dokter. Lalu para dokter itu memberitahu bahwa tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan.Akhirnya Astri siuman dalam keadaan sehat-walafiat. Seorang kiai dan beberapa orang jamaahnya yang mengaji sepanjang malam di sisi tempat tidurnya, berhasil membangunkannya. Subuh itu Astri terduduk kaget dan berteriak-teriak memanggil ibunya, "Mama! Mama!" lalu turun dari tempat tidur menghambur ke pelukan saya sambil menangis sejadi-jadinya.Lalu kami meninggalkan rumah sakit beramai-ramai seperti mau menyambut pesta. Kami tidak pulang ke rumah. Kami pulang ke rumah Nenek. Kami menyelenggarakan selamatan untuk Astri. Mirip reuni keluarga, saudara-saudara dekat dan jauh berdatangan. Juga teman-teman Astri di sekolah. Selamatan berlangsung dalam doa yang dipimpin oleh kiai dari kelompok pengajian kami. Malam yang khusyuk. Malam yang berbeda. Malam yang menjadikan kami memperoleh keyakinan kembali. Sampan yang menjauh ke tengah danau, telah kembali merapat ke tepi. Angin malam yang berembus pelan, mengusir malam yang panas menyuruh dapur menghidangkan makanan yang lezat-lezat.Tak terduga, anak-anak senang tinggal di rumah neneknya. Begitu pula Eyang Niniek yang setelah ditinggal lima tahun oleh Eyang Sadewa, suaminya, merasa mendapatkan hidupnya kembali dengan kehadiran cucu-cucunya di rumah. Tentu ada yang hilang. Laksmi tidak kelihatan. Dia tidak ditemui di rumah atau di rumah teman-temannya. Saudara-saudara kami di Bandung, Yogya, Solo, dan Surabaya, juga tidak disinggahi Laksmi selama dua tiga bulan belakangan ini. Saya katakan kepada anak-anak kenapa kita belum dapat menemui mamanya karena mamanya sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang harus tepat waktu karena ditunggu pemesannya. Untung Ayu, si bungsu, tidak meronta-ronta.Pada waktu malam cerah penuh bintang ketika Astri sudah berada di dalam keadaan yang ceria, di taman belakang rumah Eyang, di tepi kolam ikan koi, diam-diam saya coba desak dia bercerita tentang peristiwa sore itu ketika dia terjatuh waktu mengantarkan jus mentimun untuk mamanya. Astri mengingat sejenak lalu bercerita."Ada kereta api lewat, kencang sekali, berderak-derak, angin menderu, Mama dari atas kereta menyambar gelas jus itu, meminumnya lalu melemparkan gelasnya. Astri terempas, terguling ke samping, lalu mendengar teriakan Mama yang semakin menjauh, 'Mama cuma beli tiket sekali jalan.'"Seperti tersadarkan, mendengar cerita Astri ini saya tersentak dari duduk, menggayut tangan Astri dan mengajaknya buru-buru menengok rumah.Ajeng, Antok, Agra, Ayu, dan Eyang Niniek saya bawa serta. Sopir saya perintahkan ngebut. Saya mendengar suara Laksmi yang menjauh, "Mama cuma beli tiket sekali jalan."Bisakah saya mengejar suara itu. Melayang sobekan kain dari empasan angin kereta api, menderu menyibak tanaman, geliat rel pada tikungan, dengan peluitnya yang panjang, kereta itu lenyap ditelan cakrawala.Sesampai di rumah, para pembantu kaget menyambut kami. Saya dobrak pintu kamar Laksmi dengan linggis. Kami beramai-ramai memasukinya. Ternyata kamar itu kosong-melompong. Tak ada sepotong pun perabotan. Hanya karpet yang memenuhi kamar dengan bau harum pewangi kegemarannya. Menyaksikan keadaan itu, tiba-tiba anak-anak berteriak-teriak sambil menangis."Mama! Mama!"Ayu berguling-guling di karpet sambil menjerit-jerit. Kakak-kakaknya menangis memanggili mamanya sambil menyusuri empat dinding kamar kosong itu. Saya tak peduli. Saya minta sopir untuk membongkar plafon, barangkali pikiran saya yang bodoh bisa menemukan persembunyian Laksmi.Akhirnya anak-anak jatuh tertidur kelelahan. Mereka melingkar di tengah-tengah kamar yang sebenarnya tidak luas itu. Saya terduduk di pojok. Ada yang terputus dalam alur perjalanan rumah tangga kami. Sebuah jalan raya yang tiba-tiba lenyap dirakus hutan. Lalu tercipta jalan setapak, menyanyi Tuhan dengan gelang Saturnus, api tiba-tiba terhunus. Konser yang belum dimainkan oleh dirigen yang menunggu pesinden. Saya menatap tubuh anak-anak yang pulas itu seperti gundukan-gundukan pasir di tempat mereka bermain di Pantai Carita, suatu hari yang cerah empat bulan yang lalu.SAYA minta sopir ngebut ke bilangan Senayan, di depan kompleks TVRI, untuk membeli bunga kacapiring kesukaan Laksmi. Saya memilih kembang-kembang itu sendiri. Pada pukul delapan sehabis makan malam, saya minta anak-anak menaruh bunga kacapiring itu di dalam vas kesukaan mamanya di tengah-tengah kamar. Lalu kami berkumpul di pojok kamar. Kami persis anak yatim piatu. Anak-anak ayam yang kehilangan induknya.Seorang pembantu masuk menaruhkan segelas jus mentimun kesukaan Laksmi di dekat vas bunga itu. Seketika saya terkesiap. Di dapur, pembantu itu saya suruh mengambil kembali jus mentimun itu dan saya membantingnya sampai gelas itu pecah berkeping-keping. Pembantu itu menangis sambil berlari masuk ke kamarnya."Apa maksudmu menaruh jus mentimun itu di dalam kamar ibu!" bentak saya."Setiap hari jus mentimun dihidangkan di kamar ibu, pak," jawab pembantu."Kamu gila!" bentak saya."Jus itu selalu habis diminum ibu, pak.""Kenapa kamu baru cerita sekarang?""Kira bapak sudah tahu.""Apa kamu pernah lihat ibu minum jus itu, he!""Ibu tidak ada tapi ada, pak."Pembantu itu menangis sambil menunduk. Para pembantu lainnya bersembunyi di kamarnya. Saya terduduk di lantai dapur. Barangkali yang gila itu saya. Air mata saya berlelehan. Laksmi tidak ada, tetapi ada. Ini sudah keterlaluan dan sangat jauh menyimpang dari pengalaman perjalanan karier saya. Iman yang begitu tinggi dari orang-orang sederhana seperti para pembantu dan para sopir memberi pelajaran betapa perjalanan hidup itu tidak lurus bahkan perjalanan hidup orang-orang saleh sekalipun. Setiap perahu menyimpan gelombang. Setiap hasrat menyimpan nafsu, dendam, dan tindakan yang tidak masuk akal.APA papa punya salah sama mama?" tanya Astri pada suatu sore ketika kami minum teh berdua di beranda."Kamu pikir, papa punya salah sama mama?""Menurut papa bagaimana?""Menurut Astri bagaimana?""Mana tahu...?""Cobalah berterus terang Astri, apa kata hatimu.""Cobalah Papa mendengar kata hati Papa, bagaimana.""Orang lain lebih tahu. Bagaimana menurut Astri.""Papa malu, ya, berterus terang.""Nah, kamu curiga. Nada bicaramu seolah Papa memang punya salah sama Mama.""Nah, Papa yang curiga.""Kamu.""Papa.""Kamu.""Papa."Apakah saya cukup waras untuk mengalami semua peristiwa yang tak terbayangkan ini? Saya yang ingin hidup secara sederhana, penuh kegembiraan, tidak begitu saja bisa mulus melaksanakannya meski syarat-syarat untuk itu semua terpenuhi. Saya merasa diperlakukan tidak adil. Saya harus mencari sebab-sebabnya.Malam-malam selanjutnya kami tidur di kamar semedi Laksmi itu. Di atas karpet, kami berbaring berderet-deret seperti pengungsi. Saya berbahagia karena anak-anak sudah mulai kerasan. Bunga kacapiring itu boleh jadi memberi oksigen kepada kami. Mungkin karena jasa Eyang Niniek yang begitu penuh kasih sayang mengasuh anak-anak. Memang, harus ada orang tua yang setia tinggal di rumah untuk mengayomi rumahtangga. Orang tua yang selalu mondar-mandir antara dapur dan ruang keluarga. Orang tua yang membersihkan udara di dalam rumah.PADA suatu malam ketika saya tiba dari kantor, terdengar dari dalam kamar Laksmi, anak-anak tertawa dan bersorak-sorai ramai sekali."Mama curang. Mama curang," teriak anak-anak tertawa penuh canda."Tentu saja Mama selalu menang, habis Mama enggak kelihatan, sih."Saya intip dari pintu, anak-anak tertawa, berteriak, berlarian memutari kamar sambil menggenggam apel dan melemparkannya ke udara.Saya terkulai di depan pintu dengan berurai airmata. Ini gila. Saya tak bisa menerima ini semua. Ini keterlaluan. Saya harus merebut kembali kebahagiaan itu. Saya harus merebut kembali Laksmi.Ketika malam telah hening, ketika anak-anak sudah berada di dunia lain, barangkali, pelan saya masuk. Setelah shalat istikharah, saya berdoa di pojok. Mencoba memusatkan pikiran. Kamar itu temaram, menunggu sesuatu yang baru dari kehidupan kami. Perjanjian baru perlu ditandatangani, dengan keyakinan penuh, dengan kedisiplinan, dengan kesetiaan."Laksmi," bisik saya. "Maafkan saya. Saya telah mengacaukan segalanya. Saya telah merusak rumah tanga kita. Ketika Astri bertanya, apakah saya punya salah padamu, saya sadar, inilah sumber dari segala yang mengerikan itu. Laksmi, saya minta maaf. Benar, saya bersalah kepadamu. Di depanmu ini, saya mengakui, saya berselingkuh. Berkali-kali. Secara sadar saya melakukannya. Itu kesalahan besar. Suatu dosa besar. Barangkali di kantor kami semua sudah gila. Kami dicengkeram oleh situasi yang sangat sulit untuk kami hindari. Kami terkepung tembok. Beban pekerjaan terlalu berat. Hiburan memang bermacam-macam bentuknya untuk memunggah semua beban itu. Saya tak mampu melakukan pilihan. Maafkan saya. Sekarang saya memohon dengan sangat kepadamu, maafkanlah saya. Kembalilah. Saya minta Laksmi kembali ke dalam keluarga. Kamu tahu, anak-anak sangat membutuhkanmu. Laksmi, mereka tidak mungkin bisa hidup tanpa kamu. Mereka sangat mungkin akan gagal dalam hidup karena tanpa kamu. Lebih-lebih saya. Dengan ini saya berjanji, juga bersumpah, saya tak akan mengulangi perbuatan itu. Kasih kesempatan kepada saya. Laksmi. Kasih kesempatan. Saya paham sekali sekarang, tak ada wanita lain yang bisa saya cintai. Laksmi, engkaulah satu-satunya yang saya cintai sampai akhir zaman. Engkau suci, Laksmi sedang saya profan."Tangerang, 11 Juni 2002

Kontroversi Supersemar

Kontroversi Supersemar


Wilardjito Singgung Nama Des Alwi

Yogya, Bernas
Supersemar yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 11 Maret
1966 dinihari, sebenarnya merupakan surat mandat yang diberikan kepada
Soeharto untuk mengamankan keadaan yang saat itu sedang gawat.
Seharusnya mandat tersebut diserahkan kembali kepada Soekarno, setelah
keadaan negara aman, namun oleh anggota MPR/DPR justru dipergunakan
untuk mengangkat Soeharto menjadi Presiden RI.

Pengangkatan Soeharto menjadi Presiden tersebut merupakan rekayasa
yang dilakukan Des Alwi, yang saat itu adalah bekas anggota Dewan
Banteng pencetus PRRI yang juga dianggap sebagai gerakan separatis,
untuk mempengaruhi MPR/DPR.

Hal tersebut diungkapkan Soekardjo Wilardjito SMiss, mantan pengawal
Soekarno, dalam acara diskusi setengah hari dengan tema "Diskursus
Kudeta Militer: Sebuah Kajian Sejarah SO 1 Maret 1949 dan Supersemar
1966" yang diadakan LBH Yogyakarta bekerjasama dengan PSKP (Pusat
Studi Keamanan Dan Perdamaian) UGM Yogyakarta, Sabtu (11/3) di Gedung
PSKP, UGM.

Wilardjito pernah menghebohkan berkat pengakuannya bahwa Supersemar
diwarnai dengan penodongan pistol. Hingga kini, Wilardjito masih yakin
penodongan itu memang terjadi.

Menurut penuturan Wilardjito, semenjak terjadinya peristiwa G30S/PKI
yang berakhir dengan kekalahan Yon I Cakrabirawa oleh pasukan Kostrad,
situasi di Istana Negara menjadi panas dan saling curiga-mencurigai.

"Saat itu terjadi beberapa kali pengepungan Istana Negara, baik di
Jakarta maupun Bogor yang tidak lain merupakan unjuk kekuatan Jenderal
Soeharto yang berniat merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno,"
ujarnya.

Kemudian dia mengisahkan, saat itu ia sedang bertugas malam pertama di
Istana Bogor, karena sejak meletus G30S/PKI, Presiden Soekarno lebih
sering tinggal di sana karena situasi gawat. Tanggal 10 Maret 1966,
ternyata di Kebun Raya belakang Istana Negara, sudah dimasuki tentara
yang tidak dikenal, karena tidak memakai badge dan lokasi. Sementara
itu pimpinan DKP (Dinas Kawal Pribadi), Kolonel Polisi Sumirat, yang
selalu mengawal Presiden tidak ada di tempat setelah mengawal Presiden
masuk kamar tidur.

Dia berniat melihat bawahannya yang ada di luar gedung Istana, tapi
justru mendapat laporan dari seorang anggota jaga pos I, yang
mengatakan bahwa ada empat jenderal akan menghadap Presiden. Karena
Sumirat tidak ada, dia menemui Presiden dan berkata di depan pintu
kamarnya bahwa ada empat jenderal yang akan menghadap. Ketika dia
sedang melapor, empat jenderal tersebut, Amir Machmud, Basuki Rahmat,
M Yusuf dan M Panggabean, sudah masuk ruang kerja.

Lalu, presiden keluar kamar dengan memakai piyama dan selop menuju
ruang kerja, sedangkan dia berada tiga meter di belakangnya.

Empat jenderal tersebut memberi hormat, namun dia tidak ingat siapa
yang memberi aba-aba. Ketika Presiden bertanya mengapa malam-malam
datang, tiba-tiba M Yusuf menyodorkan sebuah map dan bilang agar
Presiden menandatanganinya.

"Setelah membaca isi map tersebut Soekarno terkejut karena yang
disodorkan ternyata diktum militer, dan bukannya diktum kepresidenan,
namun Basuki Rahmat dijawab dengan jawaban pendek, "Untuk mengubah
waktunya sempit,'" kata Wilardjito. Menurut Wilardjito, M Yusuf
mencabut pistol FN 46, yang juga diikuti oleh Panggabean.

Melihat Soekarno dalam keadaan terancam bahaya, dia juga mencabut
pistol, namun oleh Soekarno dilarang karena dia tidak suka ada
pertumpahan darah, kemudian dia memasukkan pistol itu kembali.

Presiden menandatangani diktum militer tersebut. Wilardjito mengaku
tidak tahu pulpen siapa yang dipakai untuk menandatanganinya, dan dia
juga tidak tahu surat apa yang diberikan Yusuf kepada Soekarno.

Menurutnya, sebelum Soekarno menandatangani, dia sempat berkata
terpaksa menyerahkan mandat kepada Soeharto, tapi kalau situasinya
sudah kembali pulih, mandatnya harus dikembalikan kepadanya lagi.

Setelah peristiwa penandatanganan yang menurutnya tidak lebih dari 15
menit tersebut, Soekarno bilang akan pergi dan berpesan agar dia
berhati- hati, lalu Soekarno masuk kamar tidur.

Setelah itu Wilardjito pergi kebelakang untuk mencari anggotanya, tapi
keburu ditangkap oleh satu peleton pasukan tentara berseragam doreng
dan berbaret merah, tanpa tanda pengenal. Bersama dengan 12 orang
lainnya, dia digiring ke sebuah truk, lalu dilucuti dan dibawa ke
Jakarta dan dimasukkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi
Utomo.

Setelah berada dipenjara dia mengaku tidak tahu apa yang terjadi
selanjutnya di Istana Jakarta dan Bogor. Setelah ditahan lebih dari
enam bulan, dia baru diinterogasi Teperda Jaya, oleh seorang CPM
berpangkat Mayor yang namanya tidak diingatnya lagi.

Dalam interogasi tersebut, dia didakwa sebagai komplotannya Kol Maulwi
Saelan seorang Ajpri (Ajudan Pribadi), yang dijawabnya bukan. Ditanya
apakah yang menempatkanya Aidit, dia menjawab tidak kenal Aidit.
Ditanya siapa yang menempatkannya di istana, dia menjawab Wakasad
Gatot Subroto, tapi justru dia dimarahi karena mengutik-utik orang
yang sudah mati.

Selain itu dia dituduh PKI karena berani menodong jenderal ketika
menghadap Presiden. Setelah tiga tahun dipenjara dia baru memperoleh
kabar bahwa yang membuat Supersemar adalah Ali Murtopo dan Alamsyah
yang kemudian oleh Soeharto diangkat menjadi Menteri Penerangan dan
Menteri Agama.

Bengkokkan sejarah
Sementara pengingkaran yang dilakukan Soeharto mengenai pertemuannya
dengan Sultan HB IX di keraton sebelum Serangan Umum (SU) 1 Maret,
seperti yang ditulis dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan
Saya, merupakan pembengkokan terhadap sejarah. Demikian dikatakan
saksi sejarah SU 1 Maret Brigjen (Purn) Marsoedi.

"Pada waktu itu, saya menjadi Kaseksi I bagian intel, dan bertugas
mengatur dan membina pemuda Yogyakarta dan yang mengatur pertemuan
antara Sultan dengan Soeharto. Sebelum pertemuan tanggal 15 Februari,
tersebut saya dipanggil oleh Sultan untuk menghubungi Pangbes
Sudirman, karena berdasarkan pantauan radio BBC yang dilakukan oleh
Sultan, bahwa PBB akan membicarakan Indonesia, bahwa Indonesia sudah
lemah dan TNI dianggap sebagai pemberontak. Sehingga Sultan mengambil
inisiatif untuk mengadakan penyerangan besar-besaran untuk membuktikan
bahwa Indonesia masih ada. Lalu oleh Sudirman dibalas, agar Sultan
menghubungi Soeharto yang berada di wilayah selatan. Kemudian Soeharto
dipanggil Sultan untuk ketemu di keraton, dan sayalah yang mengatur
pertemuan itu," ujarnya.

Pertemuan tersebut, kata Marsoedi, harus benar-benar rahasia. Demi
menjaga rahasia pertemuan tersebut, bahkan dia memasukkan Soeharto ke
keraton melalui pintu regol sebelah barat, padahal regol tersebut
selama beberapa tahun, tidak boleh dibuka, kecuali atas izin Sultan.

Setelah pertemuan tersebut, pada malam harinya dia bertanya kepada
Soeharto tentang pembicaraannya dengan Sultan, namun oleh Soeharto
ditolak dengan alasan sudah malam. Namun keesokan harinya dia
mendengar kabar dari Prabuningrat (kakak Sultan), bahwa inti
pembicaraannya adalah rencana penyerangan besar-besaran. Oleh
Soeharto, Marsoedi kemudian ditugaskan mengurus logistik untuk pasukan
dan mengatur masuknya pasukan ke kota.

"Jasa Soeharto dalam serangan Umum 1 Maret sangat besar, namun demi
pelurusan sejarah, pertemuan Soeharto dengan Sultan harus dikemukanan,
agar sejarah tidak dibelokkan," katanya.

Valid
Pelurusan sejarah menyangkut pemrakarsa peristiwa SU 1 Maret 1949
mendesak untuk segera dilakukan karena fakta-fakta serta saksi yang
mendukungnya secara yurudis sudah sah dan sangat meyakinkan. "Karena
itu dalam waktu dekat LBH Yogyakarta selaku kuasa hukum Marsoedi akan
berupaya merangkum bukti-bukti yang valid serta saksi yang berkompeten
untuk meluruskan buku-buku sejarah yang ada sesuai dengan kejadian
yang sebenarnya," kata pengacara LBH Yogyakarta Budi Hartono SH.

Budi menyatakan, pelurusan tersebut perlu segera dilakukan mengingat
usia para saksi kunci yang memang sudah sangat langka semakin hari
semakin udzur.

Demikian pula, katanya, bukti-bukti yang sudah ada serta momen dari
iklim politik saat ini sangat kondusif sehingga sangat tepat bila hal
itu dilakukan saat ini.

"Selain keberadaan sejumlah saksi kunci seperti Pak Marsoedi dan
kawan-kawannya yang masih punya kemampuan untuk bercerita secara
jelas, kita juga baru saja memperoleh bukti otentik rekaman suara
Sultan HB IX yang pernah diwawancarai wartawan BBC tentang masalah
itu," katanya.

Secara hukum, bukti dan saksi yang ada itu sudah bisa dianggap syah
kalau memang rekaman suara itu benar-benar merupakan suara asli Sultan
HB IX.

Menyangkut kompetensi saksi Marsoedi, sudah tak perlu diragukan lagi
karena data-data tentang riwayatnya selaku komandan intelijen
Wherkreise III yang dipimpin Soeharto, jelas merupakan pelaku sejarah
paling tepat untuk dimintai keterangan.

"Setelah fakta dan saksi cukup lengkap dan akurat tersedia, kita perlu
segera mengujinya dalam forum formal demi menyelamatkan anak cucu kita
dari versi sejarah yang sudah dibengkokkan Orba. Malah tak ada
salahnya pelurusan itu pun dilakukan melalui sebuah deklarasi yang
formal pula," ujarnya. (cr1)



Source:
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/03/12/0013.html

SUPERSEMAR DAN PENGKHIANATAN SUHARTO DAN TNI AD

SUPERSEMAR DAN PENGKHIANATAN SUHARTO DAN TNI AD

Catatan A. Umar Said


Dalam kesempatan untuk mengenang kembali Supersemar, yang selama 32 tahun Orde Baru telah dipamerkan oleh pendukung-pendukung rejim militer Orde Baru sebagai peristiwa besejarah untuk “menyelamatkan negara dan bangsa Indonesia”, berbagai orang telah mengemukakan pendapat dan perasaan mereka.

Di antara mereka itu terdapat tokoh-tokoh korban peristiwa 65 dan eks-tapol seperti Ibrahim Isa (dari Nederland), Gutav Dupe (dari Jakarta) , Utomo S (pimpinan LPR-KROB). Sejarawan Asvi Warman Adam membuat tulisan yang amat menarik sekali yang berjudul « Supersemar dan kudeta merangkak MPRS », yang mengurai berbagai persoalan dan mengajukan bahan-bahan baru untuk renungan kita bersama. Harian Kompas dan Sinar Harapan juga menyiarkan tulisan-tulisan yang menarik mengenai masalah ini.

SUPERSEMAR MENCELAKAKAN BANGSA DAN NEGARA

Dari tulisan-tulisan yang baru-baru ini dapat dibaca, jelaslah kiranya bahwa Suharto dkk (artinya : Angkatan Darat dengan dukungan berbagai golongan reaksioner dalamnegeri dan luarnegeri) telah menjadikan Surat Perintah Sebelas Maret sebagai puncak pembangkangan, pemboikotan dan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno.

Pembangkangan, pemboikotan dan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno ini didahului dengan pembunuhan besar-besaran terhadap 3 juta anggota dan simpatisan PKI, dan penahanan sewenang-wenang terhadap sekitar 2 juta orang tidak bersalah apa-apa, serta penyebaran terror di seluruh negeri. Ini semua dilakukan oleh golongan militer (terutama Angkatan Darat), tanpa persetujuan presiden Sukarno.

Sesudah peristiwa Supersemar (11 Maret 1966) pembangkangan dan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno ini dilanjutkan dengan langkah-langkah Suharto dkk lainnya, dengan « membersihkan » MPRS dan DPR-GR dari golongan pro-PKI dan pro-Bung Karno, sehingga MPRS bisa sepenuhnya dikuasai dan dimanipulasi oleh Suharto dkk. MPRS yang sudah dikebiri atau dibikin loyo oleh Angkatan Darat inilah yang kemudian bisa didesak untuk mencabut kedudukan Bung Karno sebagai presiden/panglima tertinggi ABRI/pemimpin besar revolusi/mendataris MPRS.

Seperti sudah sama-sama kita saksikan sendiri, dengan diangkatnya Suharto sebagai presiden dalam tahun 1968 oleh MPRS, maka negara dan bangsa Indonesia telah dijerumuskan oleh Angkatan Darat yang dipimpin Suharto dalam masa gelap selama puluhan tahun yang penuh dengan pelanggaran HAM, kebejatan moral, kerusakan perikemunusiaan, kehancuran kehidupan demokratis, dan hancurnya persatuan bangsa. Dari segi ini dapatlah kiranya kita katakan dengan tegas bahwa Supersemar telah mencelakakan bangsa dan negara.

ANGKATAN DARAT MENGKHIANATI BUNG KARNO DAN REVOLUSI

Berbagai tulisan yang sudah disiarkan di Indonesia dan di luarnegeri menunjukkan dengan jelas tentang pengkhianatan golongan Angkatan Darat yang dipimpin Suharto ini terhadap presiden Sukarno, terutama sekali dengan menyalahgunakan Supersemar. Kejahatan Angkatan Darat ini tidak saja karena pembantaian besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI dan simpatisan Bung Karno, melainkan karena telah meneruskan berbagai kejahatan dan pelanggaran HAM selama lebih dari 30 tahun.

Kalau dihitung jumlah orang yang jadi korban pembunuhan, dan yang ditahan sewenang-wenang, dan orang-orang dari berbagai kalangan yang menjadi korban peristiwa 65, ditambah dengan kejahatan-kejahatan lainnya selama Orde Baru, maka tidak salahlah kalau ada orang-orang yang mengatakan bahwa Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto merupakan golongan bangsa yang telah mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi rakyatnya sendiri.

Sejarah dan praktek-praktek Orde Baru menunjukkan dengan jelas bagi banyak orang bahwa dengan menyalahgunakan Supersemar, Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto bukan saja telah mengkhianati Bung Karno, tetapi juga merusak cita-cita revolusi rakyat Indonesia. Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto bukan saja telah menghancurkan PKI dan kekuatan kiri lainnya, tetapi juga merusak secara serius dan besar-besaran banyak tatanan demokratis dari kehidupan politik.

Singkatnya, di bawah pimpinan Suharto, Angkatan Darat telah merusak Republik Indonesia, yang akibat parahnya masih kita saksikan sampai sekarang di berbagai bidang kehidupan bangsa. Kerusakan yang disebabkan berbagai kejahatan ini sudah demikian banyaknya dan juga demikian besarnya sehingga sulit untuk diperbaiki dalam jangka dekat dan waktu singkat. Banyak dari masalah-masalah parah dan rumit yang kita saksikan dewasa ini adalah warisan atau akibat dari rejim militer Orde Baru, yang dibangun oleh Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto.

TNI TELAH DIRUSAK OLEH SUHARTO

Peran busuk dan khianat yang sudah dimainkan oleh Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto yang menyalahgunakan Supersemar untuk menggulingkan presiden Sukarno dan kemudian mendirikan Orde Baru telah berakhir (secara resminya !!!) dengan jatuhnya Orde Baru. Tadinya, banyak orang mengira atau berharap bahwa TNI bisa mengubah dirinya, dan tidak berjiwa dan bertindak lagi seperti selama rejim militer Orde Baru, setelah Suharto tidak lagi menjadi presiden dan panglima tertinggi.

Tetapi, kerusakan di kalangan militer (terutama Angkatan Darat) yang disebabkan pimpinan Suharto sudah sedemikian parahnya dan pembusukan sudah sedemikian jauhnya, sehingga hanya sedikit sekali (kalau ada!) perubahan dalam sikap mental atau moral mereka. Selama 32 tahun Suharto telah memanjakan golongan militer, dan menjadikan mereka sebagai “kelas istimewa” dalam kehidupan bangsa, yang berada di atas segala golongan lainnya dalam masyarakat.

Perlakuan istimewa Suharto terhadap golongan militer ini adalah untuk “membeli” kepatuhan atau kesetiaan mereka kepadanya. Oleh karena itu, walaupun terjadi banyak kesalahan atau pelanggaran yang dibuat oleh kalangan militer selama Orde Baru , Suharto tidak (atau jarang sekali !) bertindak. Asal mereka patuh kepadanya. Itu sebabnya, maka banyak pelanggaran HAM atau penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi, yang banyak dilakukan oleh pimpinan militer dari berbagai tingkatan dibiarkan saja dan tidak ditindak.

Sekarang, ketika resminya Orde Baru sudah gulung tikar, dan Suharto sudah dipaksa turun, maka adanya pimpinan militer seperti yang dipertontonkan panglima Kodam Jaya,Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo, adalah pertanda bahwa pada pokoknya TNI-AD masih belum mengadakan perubahan seperti yang dituntut oleh gerakan reformasi.

Menurut Detikcom 7 Maret yang lalu, “ia meminta masyarakat waspada bangkitnya kembali gerakan komunisme. Hal itu bisa dilihat dari kegiatan mereka yang belakangan ini makin nyata. Kegiatan seperti pameran budaya di TIM yang digelar korban stigma Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 22 Februari lalu dan bedah buku sejarah BTI dan PKI karangan Pramoedya Ananta Toer, dinilainya sebagai bentuk konsolidasi partai berlambang palu dan arit itu.

“Konsolidasi PKI itu dalam rangka menyusun kekuatan dan memulihkan nama baik sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2009. Targetnya, PKI bisa masuk dalam percaturan politik Indonesia. Karena itu, imbuhnya, semua pihak harus waspada dengan kemungkinan bangkitnya komunisme yang makin intensif melakukan kegiatan, baik terbuka maupun tertutup.

“Selain pameran budaya dan bedah buku, indikasi bangkitnya PKI bisa dilihat dari banyaknya aksi demo yang dilakukan para buruh tani dan sejumlah aktivis mahasiswa dari kelompok kiri yang intinya minta pencabutan Tap MPR 25/1966 tentang Pembubaran PKI, menghidupkan kembali organisasi komunis dan membubarkan koter. Kodam Jaya dalam hal ini intelijen tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas kelompok-kelompok yang dianggap garis kiri. » (kutipan selesai).

Gaya dan isi pidato Mayjen Agustadi itu mengingatkan kita kepada berbagai pernyataan dan pidato yang sering diucapkan tokoh-tokoh militer selama 32 tahun Orde Baru. Dengan terus-menerus menyebarkan racun anti-komunisme dan menjadikan PKI sebagai momok, rejim militer telah melakukan terror untuk memberantas perlawanan dan membungkam oposisi terhadap berbagai politik dan praktek mereka yang merugikan rakyat dan demokrasi.

PERINGATAN BUNG KARNO KEPADA SUHARTO

Pidato Mayjen Agustadi seperti tersebut di atas menunjukkan juga bahwa TNI-AD yang sekarang masih banyak dipengaruhi garis politik, jiwa atau semangat TNI di bawah pimpinan Suharto, yang melakukan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno, panglima tertinggi ABRI pada waktu itu.

Dalam kaitan ini, adalah menarik untuk menyimak kembali amanat presiden Sukarno dalam upacara pelantikan Mayor Jenderal Suharto (pada waktu itu) menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara pada tanggal 16 Oktober 1965 (jadi, 15 hari sesudah peristwa G30S).

Dokumen yang berisi amanat presiden Sukarno ini tidak banyak dipublikasikan dan bahkan sengaja “disembunyikan” oleh rejim militer Orde Baru. Teks lengkapnya, yang cukup panjang, dapat dibaca dalam buku “Revolusi Belum Selesai”, yang berisi kumpulan pidato-pidato presiden Sukarno sesudah peristiwa G30S. Berikut di bawah ini adalah sedikit cuplikan dari amanat yang panjang itu.

“Mayor Jenderal Soeharto,

Saya angkat Saudara menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Saudara bersedia mengucapkan sumpah atau janji?

Sumpah. (Jawab Mayjen Soeharto-red)

Menurut ajaran agama?

Islam. (Jawab Mayjen Soeharto-red)

Ikuti perkataan-perkataan saya.

(Sumpah diucapkan-red .)

(Sumpah selesai diucapkan –red.)

Syukur alhamdulillah, sumpah Menteri telah Saudara ucapkan.

(Kemudian presiden Sukarno bicara panjang lebar tentang revolusi Indonesia, tentang G3OS, tentang peran nekolim yang mau mengganggu jalannya revolusi rakyat Indonesia. Teks lengkapnya dapat dibaca pada halaman 21 sampai 26 buku tersebut. Dalam amanatnya itu presiden Sukarno memberi pesan kepada Mayor Jenderal Suharto sebagai berikut: )

“Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan dari pada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri diatas Trisakti, yang sama sekali berdiri diatas Nasakom, yang sama sekali berdiri diatas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK.

“Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga kita yang tertinggi sebagai haluan negara Republik Indonesa. Dan oleh karena Manipol-USDEK ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya.

“Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya. Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau!.” (kutipan selesai)

Jadi, peristiwa ini menunjukkan bahwa Mayor Jendral Suharto sudah mengucapkan sumpah di hadapan presiden Sukarno, yang berarti bahwa sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Darat ia seharusnya patuh kepada presiden Sukarno yang juga panglima tertinggi Angkatan Bersenjata, dan bahwa Suharto seharusnya menjalankan Panca Azimat revolusi, dan menjunjung tinggi Manipol-USDEK yang menjadi haluan negara.

Kita semua tahu bahwa justru sumpah inilah yang telah dilanggar secara khianat oleh Suharto, dan kemudian melanjutkan pengkhianatannya dengan menyalahgunakan Supersemar selama 32 tahun dalam melaksanakan politik busuk Orde Baru. Kita sekarang juga mengetahui bahwa perintah presiden Sukarno telah dikentuti saja oleh Suharto. Yaitu perintah presiden Sukarno kepada Suharto yang berbunyi “ buatlah Angkatan Darat ini satu angkatan dari pada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri diatas Trisakti, yang sama sekali berdiri diatas Nasakom, yang sama sekali berdiri diatas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK”.

Suharto, dengan mendapat dukungan penuh dari Angkatan Darat, Golkar, dan berbagai kalangan reaksioner dalamnegeri (dan kekuatan nekolim luarnegeri !!!), telah membuat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi sasaran kebencian rakyat. Suharto juga membikin Orde Baru mencampakkan Panca Azimat Revolusi, melecehkan Trisakti, membuang Nasakom, mengingkari prinsip Berdikari, dan memusuhi Manipol-USDEK.

BANYAK YANG HARUS DIROBAH DAN DIBETULKAN

Mengingat banyaknya berbagai kejahatan dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh golongan militer (terutama Angkatan Darat) di bawah pimpinan Suharto selama Orde Baru, maka sewajarnyalah (bahkan seharusnya !!!) bahwa teks dalam buku-buku sejarah yang dipakai untuk pelajaran di sekolah dasar, lanjutan dan perguruan tinggi yang bersangkutan dengan Suharto, Supersemar, Orde Baru dan juga Angkatan Darat perlu dirobah atau dibetulkan, menurut kebenaran sejarah.

Demikian juga segala teks dalam dokumen-dokumen negara yang masih secara tidak benar tetap memuji-muji Supersemar, dan menyanjung-nyanjung Suharto dan Orde Baru harus dibetulkan menurut kenyataan yang sudah terjadi. Begitu juga halnya dengan segala monumen atau museum atau tugu peringatan yang secara tidak benar menyajikan Suharto sebagai pemimpin Angkatan Darat yang berjasa untuk negara dan bangsa. Sebab, kenyataannya, Suharto dengan Angkatan Darat yang dipimpinnya, telah menimbulkan kerusakan-kerusakan yang parah terhadap negara dan juga menimbulkan berbagai penderitaan bagi rakyat.

Mengingat itu semua, maka perlulah kiranya kita semua sadar dan yakin bahwa, untuk selanjutnya di kemudian hari, Angkatan bersenjata Republik Indonesia harus sepenuhnya menjadi alat negara di bawah supremasi sipil, seperti kebanyakan negara demokratis lainnya di seluruh dunia. Seluruh kekuatan demokratis di Indonesia harus mencegah atau melawan bersama-sama kembalinya Dwifungsi ABRI dalam bentuknya yang bagaimanapun juga.

Kita semua (termasuk golongan-golongan yang demokratis dalam kalangan militer sendiri) harus mencegah terulangnya masa gelap Orde Baru, ketika golongan militer yang jumlahnya tidak melebihi 500.000 orang telah mengangkangi negara – secara otoriter atau despotik – dan ratusan juta rakyat (yang sekarang berjumlah lebih dari 230 juta orang), selama lebih dari 32 tahun! Pengalaman pahit bangsa ini tidak boleh berulang lagi, dalam bentuknya yang bagaimana pun juga!

Paris, 14 Maret 2006


Source:
http://merdeka7.wordpress.com/2007/05/16/supersemar-dan-pengkhianatan-suharto-dan-tni-ad/