Tuesday, 16 November 2010

Tembang Zaman

Tembang Zaman

Cerpen Sapardi Djoko Damono




amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
(R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873)

Aku suka terkenang akan suatu peristiwa kecil yang terjadi di rumah ketika aku masih duduk di kelas pertama SMA. Waktu itu kami baru pindah dari pusat kota yang sibuk ke pinggir kota. Kami lama-lama terbiasa dengan suasana yang sama sekali berbeda. Gerisik rumpun bambu, suara air sungai di sebelah rumah kalau malam tiba, dan lampu teplok.

Malam itu akan ada tamu, seorang laki-laki sebaya ayahku. Ayah selalu memanggil beliau Kamas Sastro. Aku sengaja menunda tidurku, ingin mendengarkan tamu itu menembang. Suaranya pernah kudengar, luar biasa! Tembang itu biasanya didiskusikan dengan asyik oleh keduanya, biasanya sampai larut malam. Maka, setelah basa-basi sekedarnya, tamu itu menyeruput kopi, terus nembang. Sebagai pemuda Jawa yang pernah belajar di sekolah khusus untuk priayi, aku kenal benar larik-larik itu. Dari Kalatidha, karya pujangga Jawa terakhir.

Beberapa ayat yang indah selesai ditembangkan, sungguh memesona. Maka ayah dan tamunya pun bergantian menyeruput kopi, cangkir kedua yang dihidangkan ibu, yang ginasthel manis, panas, dan kental. Seruputan demi seruputan luar biasa indah bunyinya.

"Lha, ya, Kamas. Karya itu diciptakan seratus tahun lalu, tapi masih sesuai untuk kita di zaman sekarang," ayah membuka diskusi. "Apa memang semua zaman sama saja atau bagaimana?"

"Begini, Dimas. Pujangga itu weruh sadurunge winarah, tahu yang belum terjadi. Beliau memang menulis untuk zaman kita ini."

"Tapi katanya karyanya itu juga menyindir zamannya."

"Benar, bahkan juga menyidir masa yang telah berlalu."

"Jadi, adakah zaman yang tidak edan?"

"Wah, pertanyaan Dimas itu aneh. Zaman itu tetap tetapi berubah, berubah tetapi tetap."

"Siapa yang menjadikan zaman berubah tetapi tetap edan, Kamas?"

Diskusi itu berlanjut entah sampai jam berapa. Aku tertidur, bermimpi menjadi Ronggowarsito.***

Rumah-rumah

Rumah-rumah

Cerpen Sapardi Djoko Damono




(Nomor 11)

Seandainya boleh memilih, saya tidak mau menjadi rumah. Orang boleh memilih rumah, tetapi rumah tak berhak memilih penghuninya. Saya berusaha sebaik-baiknya untuk selalu menyayangi keluarga yang menghuni saya, siapa pun orangnya dan apa pun wataknya. Saya tahu bahwa tetangga saya, Rumah Nomor 13, suka terganggu dengan ulah keluarga yang menghuni saya, tetapi ia hanya bisa menggerutu. Tidak kepada saya, untunglah, tetapi kepada Saudara.

Saya sudah telanjur menjadi rumah. Aneh, rumah tak boleh ikut penghuninya jika pergi meninggalkannya, tetapi penghuni berhak seenaknya saja pergi dan kalau sudah capek dan perlu istirahat, kembali pulang ke rumah.

Saudara tinggal di dalam rumah juga, bukan? Saudara pasti pernah merindukan rumah, tetapi pernahkah Saudara merasa dirindukan rumah? Bahwa ada juga orang yang tidak betah tinggal di rumah, dan lebih suka hidup menggelandang, misalnya, itu bukan urusan saya.

(NOMOR 13)

Saya sebuah rumah seluas 150 meter persegi, hampir semuanya ditanami bangunan kecuali tiga kali enam meter persegi di depan. Mungkin dimaksudkan sebagai semacam taman kecil nantinya. Entah bagaimana dulu-dulunya ada keluarga yang ingin membangun rumah, yang ingin melahirkan saya—begitu istilahnya kira-kira bagi Saudara. Proses penghamilan saya tampaknya biasa saja. Keluarga itu membeli tanah, lalu meminta tukang-tukang untuk membangun saya. Pondasi, kerangka, dinding, atap, dan sebagainya. Ribut. Suara paku besar kecil dipaksakan masuk kayu, batu bata ditumpuk, semen diaduk, dicampur pasir, dilekatkan di batu bata—sedikit ngilu dan bising. Meskipun di tengah keributan itu ada saja tukang batu yang suka nyanyi, atau bersenandung sepotong lagu klasik. Ditirunya dari tukang es krim.

Tetangga saya, kira-kira lima tahun lebih tua, adalah sebuah rumah yang bercat hijau muda di sebelah kanan saya. Rumah Nomor 11, perempuan. la dihuni oleh si empunya, keluarga yang selalu meributkan segenap perkara. Suami rapat dan pulang malam, anak ikut tawuran, gunting ketlisut, sandal ketukar, meja berantakan habis makan, masak kue sampai gosong; semua itu tentu berujung pada heboh.

Sejak saya masih dalam proses kelahiran, ribut-ribut semacam itu memang sering kali saya dengar. Dan saya, tentu saja, khawatir jangan-jangan keluarga yang memiliki saya juga sejenis. Sejak di dalam rahim, saya selalu berdoa agar keluarga Bapak (begitu semua orang memanggilnya) berbeda dengan yang punya tetangga saya itu. Tetapi sesudah dengan selamat dan lengkap dilahirkan, mulailah sakit hati saya.

Keluarga Bapak itu ternyata tidak akan tinggal di saya, tetapi memasang papan di pagar depan untuk mengontrakkan saya. Saya sudah telanjur jatuh hati kepada istrinya yang suka menengok proses kelahiran saya. Juga anak perempuannya yang rambutnya dikepang dua, yang suka bersenandung lagu Cinta Terisolasi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Yang memiliki saya itu ternyata peternak rumah. Konon miliknya yang seperti saya ini jumlahnya tidak kurang dari lima. Apa pekerjaannya tidak jelas. la selalu mengenakan setelan safari, warnanya gonta-ganti. Itu yang saya tahu.

Saya sama sekali tidak suka dikontrakkan. Soalnya, tidak jelas keluarga macam apa yang akan tinggal. Kalau yang menghuni saya nanti amat sangat brengsek dan tidak suka membaca cerita pendek dan tidak berpengetahuan dan tidak intelek dan suka masak jengkol, apa saya bisa protes dan mengusirnya?

Tetangga saya, Rumah Nomor 15 di sebelah kiri saya, baru setengah jalan dibangun ditinggal begitu saja. Padahal luasnya minta ampun, mungkin tiga kali lebih luas dari saya. Dan di huk pula. Konon yang punya bangkrut dan berniat menjualnya saja. Karena belum jadi, bentuknya agak menakutkan. Bayangkan saja bayi yang masih di dalam kandungan dan belum lengkap ujudnya. Orang lewat menyebutnya rumah hantu. Beberapa kali saya lihat orang datang menaksirnya, tetapi sampai hari ini belum juga ada yang sungguh-sungguh berminat membelinya.

Saya tidak tahu Saudara siapa, tetapi saya sangat mengharapkan agar Saudaralah yang nanti mengontrak saya. Saya suka pada Saudara karena Saudara kadang-kadang membaca cerita pendek; oleh karena itu tentunya melek huruf dan sabar dan cerdas dan berpengetahuan luas dan intelek, hanya saja tidak mampu membeli rumah.


(NOMOR 15)
Percayakah Saudara bahwa hantu itu ada? Percayakah Saudara bahwa saya, rumah yang belum jadi ini, ada hantunya? Tetangga saya, rumah yang tidak juga ada pengontraknya itu memang suka bicara. Tapi khusus yang menyangkut diri saya, yang menyakitkan adalah bahwa saya dibandingkannya dengan bayi dalam kandungan yang bentuknya bisa Saudara bayangkan. Dan tentunya ia bayangkan juga bahwa saya belum bisa—belum boleh dan belum berhak—bicara. la keliru.

Mungkin saja ujud saya buruk, dan sedikit menakutkan. Di pekarangan banyak ilalang, tidak jarang pula ada yang berbunga. Kadang-kadang ada juga, maaf, ular yang suka menunggu kelengahan katak atau tikus yang tersesat. Ada juga, tentu ini sudah Saudara bayangkan, lumut yang semakin lama semakin tebal. Tetapi itulah saya. Itu semualah penghuni saya, dan tidak boleh ada sebuah rumah pun di alam raya ini yang merasa berhak menilainya sebagai hal buruk atau apa. Segala jenis tanaman dan binatang yang saya sebut itu bukan ciptaan manusia, tetapi ciptaan-Nya, bukan? Setidaknya, begitulah kata Kitab yang tentu pernah Saudara baca. Mereka memang diciptakan dengan sempurna, sedangkan saya—dan tetangga sebelah saya itu—bisa saja tidak selesai dibangun, seperti halnya benda budaya lain, yang diciptakan manusia.

Tetapi sudahlah, saya sebenarnya lebih suka diam. Hanya saja nurani saya terganggu ketika dikatakannya bahwa rumah seperti saya ini dihuni hantu. Itu kelewatan. Anak-anak takut? Bohong. Mereka malah suka masuk pekarangan saya mencari cengkerik; bahkan ada juga yang main petak umpet. Dan jika salah seorang dari mereka itu berteriak "hantu, hantu!",mereka berhamburan ke sana ke mari—saya yakin bukan karena takut hantu yang mungkin menurut bayangan Saudara menakutkan ujudnya. Anak-anak itu bermain begitu sebab hantu merupakan bagian dari permainan mereka. Dan mereka tidak berpura-pura pernah melihat hantu.

Kembali kepada tetangga saya yang tidak kunjung laku dikontrakkan itu; saya malah merasa kasihan padanya. Kalau saya belum laku dijual, itu wajar. Harga yang dipasang tuan saya mungkin terlalu mahal untuk sebuah rumah yang belum selesai dibangun, atau lantaran uang susah didapat sekarang (itu menurut alasan orang yang pernah saya dengar). Tetapi kalau tidak laku dikontrakkan, itu memalukan. Apalagi malah membujuk Saudara agar mengontraknya. Sebagai pembaca cerpen tentu Saudara menyadari bahwa ada maksud tertentu di balik semua itu. Itu karena ia tidak kunjung laku dan putus asa sehingga sudah sampai pada taraf membujuk, dan bahkan mengejek Saudara. Saudara dianggap tidak mampu membeli rumah.

Bahwa Saudara juga tidak suka makan jengkol, itu boleh saja, tetapi apa pula salahnya orang yang doyan jengkol? Istri Saudara sendiri sering makan jengkol, meskipun itu dilakukannya diam-diam, padahal bau mulutnya Saudara kenal benar. Jadi, tetangga saya itu menghina jengkol. Jengkol itu bukan ciptaan manusia, bukan benda budaya, kecuali jika sudah dimasak. Jengkol itu ciptaan-Nya, begitu kata Kitab yang Saudara baca hampir setiap malam. Keterlaluan tetangga saya itu. Tetapi setiap kali saya mengajaknya bicara baik-baik, ia menganggap saya masih belum lengkap, seperti bayi dalam kandungan—oleh karenanya tidak pantas diladeni bicara.

Jadi, bagaimana? Percayakah Saudara bahwa hantu itu ada? Jengkol itu ciptaan-Nya, demikian juga Saudara. Sedangkan rumah adalah ciptaan manusia. Hantu ciptaan siapa, coba? Siapa pula yang mau susah-susah—maaf—menciptakan hantu kalau manfaatnya hanya untuk menakut-nakuti manusia? Cengkerik, ilalang, lumut, dan segala sesuatu yang ada di sekeliling saya itu jelas tidak pernah memikirkan hantu, apalagi merasa ditakut-takutinya. Mereka juga tidak suka saling menjelekkan, berbeda dengan rumah di sebelah kanan saya itu. la suka begitu mungkin sebab ia ciptaan manusia.

Jadi, kalau Saudara terbujuk juga untuk mengontraknya, silakan sajalah. Seandainya nanti Saudara, atau keluarga Saudara, ada yang berteriak-teriak karena katanya ditakut-takuti hantu yang menghuni saya, jangan panik. Itu akibat ulah rumah kontrakan Saudara sendiri. Itu ciptaan keluarga Saudara sendiri. Apakah Saudara juga malah ikut-ikut menciptakan hantu?***




Koran Tempo, 2003

Guru

Guru

Cerpen Putu Wijaya



Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.

"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!"
Taksu mengangguk.

"Betul Pak."
Kami kaget.

"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"Ya."

Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.

Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi. Saya mulai bicara blak-blakan.

"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"

"Tapi saya mau jadi guru."
"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"

"Sudah saya pikir masak-masak."
Saya terkejut.

"Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!"
Taksu menggeleng.
"Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru."

"Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!"
Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

"Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!"
Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.

Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.

Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.

"Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak," katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.

"Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya. "Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"

Taksu tidak menjawab.
"Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?"

Taksu tetap tidak menjawab.
"Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?"

Taksu mengangguk.
"Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?"
Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.

"Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!"

Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.

"Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!"

Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.

Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.

Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.

"Bagaimana Taksu," kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. "Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat Bapak."

Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
"Hadiah apa, Pak?"

Saya tersenyum.
"Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"

Taksu memandang saya.
"Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?"

Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.
"Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!"

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

"Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak."
Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

"Saya ingin jadi guru. Maaf."
Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.

"Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa."

Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!

Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.
"Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"

"Mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!!!"

"Karena saya ingin jadi guru."
"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"

"Saya mau jadi guru."
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."

Taksu menatap saya.
"Apa?"

"Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!" teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.

"Bapak tidak akan bisa membunuh saya."
"Tidak? Kenapa tidak?"

"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak."

Saya tercengang.
"O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"

"Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati."
Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.

"Bangsat!" kata saya kelepasan. "Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?"

Taksu memandang kepada saya tajam.
"Siapa Taksu?!"

Taksu menunjuk.
"Bapak sendiri, kan?"
Saya terkejut.

"Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?"

Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.

"Tidak betul cinta itu buta!" bentak saya kalap. "Kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini," lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan. "Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!"

Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.
"Ini satu milyar tahu?!"
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.

"Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!"

Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.

"Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!" teriak istri saya kalap.
Saya bingung.

"Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!"

Saya tambah bingung.
"Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!"

Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?

"Ayo cepat!" teriak sitri saya kalap.
Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:

"Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.

Tetapi itu 10 tahun yang lalu.
Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.

"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi. ***

Cinta Dalam Sepotong Kangkung

Cinta Dalam Sepotong Kangkung

Cerpen Amril Taufiq Gobel



Malam tanpa bintang. Jangkrik berderik-derik, saling bercengkerama. Angin mati dan pepohonan tegak kaku. Saya menatap dalam-dalam tumis kangkung yang tak habis saya lahap. Potongan-potongan kangkung yang ornamental, tercelup dalam kolam kuah yang eksotik berwarna hijau segar, memberi nuansa tersendiri dalam alam pikiran saya. Kangkung itu punya wibawa magis yang membuat saya seakan terlontar pada pengalaman-pengalaman masa silam. Saya membantu upaya 'pengumpulan' ingatan itu, dengan melirik istri saya, Mira, yang penuh cinta meneteki anak kami, Fatimah. Ia duduk membelakangi saya dan menikmati fitrah keibuannya, secara bersahaja. Dari mulutnya mengalun lagu ninabobo, merdu melenakan. Dengkur halus Fatimah terdengar syahdu. Saya tersenyum sembari melangkah pelan ke arah jendela. Mira tetap cantik, seperti dulu, saya membatin. Saya merasa beruntung memiliki istri seperti dia: anggun dan mempesona. Saya kemudian menyulut rokok dan menghirupnya penuh perasaan. Rimbun asapnya mengepul-ngepul. Maka kenangan pun berlari ke belakang, pada suatu sore tiga tahun yang silam.

***
Waktu itu saya masih ingat betul, Bang Heri, redaktur hiburan tabloid 'Gossip Kita' tempat saya bekerja, memanggil.

"Firman!" serunya dari pojok kanan ruang redaksi.

Saya menghentikan ketikan berita dan menyahut. "Ada apa, Bang?" tanya saya lalu berdiri, dan berjalan ke arahnya.

"Saya punya tugas untuk kamu," ujar Bang Heri seraya mengangsurkan setumpuk berkas kepada saya. Saya meraihnya, lalu menatap Bang Heri.

"Dokumen tadi adalah data pendukung tugas wawancara kamu dengan Mira Saraswati, bintang film 'Cintailah Aku Seutuhnya' yang diperkirakan oleh banyak kalangan bakal meraih piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik tahun ini. Kamu wawancarai dia, dan korek informasi serta tanggapannya tentang nominasi yang diperolehnya termasuk latar belakang keluarganya. Selengkap-lengkapnya. Lekas berangkat dan ingat, lusa sore laporan hasil wawancaramu sudah harus diterima. Jangan sampai terlambat!" tegas Bang Heri.

Saya hanya mengangguk mengiyakan. Bang Heri berlalu tanpa memberi kesempatan saya untuk bertanya lebih jauh. Apa boleh buat, sebagai wartawan muda, saya harus selalu siap mengerjakan tugas-tugas di lapangan.

Tidak berapa lama, saya telah meluncur ke rumah Mira dengan mengendarai motor butut pinjaman Joko, pegawai bagian iklan. Sepanjang jalan, wajah Mira Saraswati terbayang-bayang. Wajah itu memang cukup populer, sebab selain bintang iklan tivi dan artis, salah satu posenya menghiasi kalender yang menggantung di kamar kos saya. Ia memang begitu cantik dan menawan. Kariernya di usia yang masih cukup belia ini memang melonjak drastis. Dalam waktu singkat, ia telah meraih popularitas yang mencengangkan, sesaat setelah membintangi film Box Office-nya 'Cinta dan Dusta'. Walau terus terang, saya kurang begitu tertarik terhadap film-film buatan negeri sendiri lantaran mutu akting pemainnya yang jelek dan logika berceritanya cenderung mengada-ada, saya cukup salut pada cara Mira melakoni karakter yang diperaninya. Wajar dan begitu alami. Sewaktu menonton film pertama Mira tersebut, saya sudah menduga ia bakal menjadi bintang film terkenal. Dan tampaknya, dugaan saya itu tak terlalu melenceng jauh. Terbukti, ia masuk nominasi piala Citra, setara dengan bintang-bintang film lainnya yang lebih dulu tampil di dunia layar perak

***
Tanpa terasa, saya telah tiba di tempat tujuan. Saya mencocokkan alamat rumah Mira dengan data alamat rumah yang diberikan Bang Heri. Ternyata pas. Saya lantas memencet bel yang menempel pada pilar pagar tembok. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki muda tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Tampaknya seorang pembantu rumah atau mungkin tukang kebun. Pakaian yang dikenakannya cukup memberi kesan.

"Selamat sore. Apa betul ini rumah Mira Saraswati?" Saya bertanya.

"Benar, apa Mas mau ketemu dengan Mbak Mira?" jawab lelaki itu dari balik jeruji pagar.
"Ya, saya wartawan dari tabloid 'Gossip Kita'. Tolong sampaikan pada Mbak Mira, saya mau wawancara. Kemarin kami sudah janji," kata saya mengungkapkan maksud kedatangan. Lelaki itu manggut-manggut seraya membuka pintu lalu mempersilakan saya masuk.

Rumah Mira betul-betul mentereng. Megah dan mewah. Taman bunga yang asri terawat rapi, tampak segar dan menyejukkan. Rumah itu bertingkat dua dan bercat putih. Saya diminta duduk di serambi sementara lelaki muda tadi masuk memanggil Mira. Sekitar sepuluh menit kemudian, sosok Mira Saraswati muncul di depan saya. Ia memakai kaus oblong putih bertuliskan 'Public Enemy' dan jeans biru. Rambutnya yang sebahu terlihat basah, kelihatannya habis keramas. Saya terpukau sejenak. Mira memang sangat menawan. Belahan dagu dan dekik pipinya menambah manis penampilannya. Saya tiba-tiba merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Anda wartawan?" tanya Mira mengejutkan keterpesonaan saya. Saya gugup dan menelan ludah. Saya lalu berdiri dan mengulurkan tangan.

"Benar. Kenalkan, saya Firman, wartawan tabloid 'Gossip Kita'." Saya memperkenalkan diri. Mira menyambut uluran tangan saya dengan hangat dan mempersilakan saya duduk kembali. Saya kemudian mengutarakan maksud kedatangan saya sekaligus memohon maaf atas kelancangan saya atas kebohongan: 'Sudah janjian kemarin'.

Mira tersenyum. "Tak apa-apa, itu sudah lagu lama wartawan, saya sudah hapal itu. Nah, apa yang Anda mau tanyakan?" tanyanya seraya memperbaiki letak duduknya. Saya lantas mempersiapkan daftar pertanyaan yang telah diberikan Bang Heri pada saya.

"Anda rupanya bukan wartawan profesional," Mira mencibir.

"Kenapa?" Saya penasaran.

"Itu, Anda bawa daftar pertanyaan segala. Wartawan profesional tidak memerlukan itu bukan?" kata Mira mengajukan alasan. Ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Saya agak tersipu tapi kali ini sedikit tersinggung.

"Saya memang masih amatir, Nona Mira, tapi bukan berarti saya tidak dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang profesional, daftar pertanyaan ini sekedar menjadi panduan saya agar arah wawancara kita lebih jelas," kata saya membela diri dengan nada tajam.

Mira tertawa kecil. Saya merutuk dalam hati.

"Oke, saya minta maaf kalau Anda kurang berkenan. Saya tak punya maksud apa-apa di balik pernyataan saya tadi. Sekedar bergurau, kok. Saya cuma ingin berusaha membuat suasana lebih santai. Anda kelihatannya sangat tegang dan gugup Oh, ya, kita ber-'saya-kamu' sajalah. Panggil saja saya Mira," kata Mira enteng. Tanpa beban.

Saya menghela napas panjang. Kejengkelan masih tersisa. Belum apa-apa ia sudah meremehkan saya. Tapi dalam hati, saya mengakui kecerdikannya menguasai keadaan.

Saya kemudian tidak memperdulikan 'insiden' tadi, pertanyaan-pertanyaan saya pun mengalir lancar. Yang mengagumkan, Mira mampu menjawabnya dengan baik dan sistematis. Omongannya padat dan bernas. Hal ini menunjukkan bahwa selain cantik Mira memiliki otak yang cukup encer.

Menjelang akhir wawancara, Mira melontarkan pujian.

"Ternyata, pertanyaan-pertanyaan kamu cukup profesional juga. Bahkan lain dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah mewawancarai saya sebelumnya. Kamu lebih jeli melihat sosok Mira sebagai pribadi bukan sosok Mira sebagai artis film. Saya suka itu," katanya tulus.

"Kamu juga, Mira. Jawaban-jawaban yang kamu berikan menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Begitu cerdas dan jujur," balas saya memujinya. Kali ini Mira yang tersipu. Pipinya memerah. Lagi-lagi saya dibuat terpukau.

"Kapan-kapan kita jumpa kembali. Hasil wawancara ini akan saya berikan pada Mira. Terima kasih atas kesediaannya. Permisi." Saya beranjak pamit.

Mira tersenyum manis. Ia kemudian mengantar saya sampai ke pintu gerbang depan rumahnya. Kami berjabat tangan. Sorot mata kami bicara. Di ufuk barat langit merah jingga. Perlahan berubah menjadi merah jambu.

***
Kalau kemudian saya dan Mira jadi sering bertemu. Semata-mata karena kenekatan saya. Saya betul-betul terjerat oleh panah asmara Mira. Sudah menjadi watak saya untuk meraih apa yang saya inginkan. Sengotot mungkin. Setelah mengantarkan hasil wawancaranya yang dimuat di tabloid 'Gossip Kita' dan Mira menyatakan kepuasannya, saya merasa dapat peluang emas. Dan tanpa ampun, kunjungan demi kunjungan pun saya lakukan. Saya tak mempedulikan lagi status sosial kami yang berbeda: ia artis, kaya dan public figuresementara saya hanya wartawan miskin yang kamar kost saja sering nunggak. Mira pun menampilkan sikap tidak keberatan bahkan sangat senang. Saya berusaha tampil apa adanya dan Mira menerima semua itu dengan penuh pengertian. Tanpa sungkan-sungkan, Mira memilih duduk dibonceng nonton ke bioskop atau makan di warung pinggir jalan diatas motor butut pinjaman dari Joko atau Mas Yono tetangga saya, ketimbang membawa mobil BMW pribadinya. Sebuah sikap bersahaja yang membuat saya makin kagum pada sosok Mira.

Sebagaimana biasa bila artis agak bertingkah maka tak ayal lagi ia dijadikan bulan-bulanan gossip. Hal ini juga menimpa diri Mira. Dalam beberapa kejap sejumlah 'koran kuning' mulai memuat berita hubungan kami secara vulgar dan blak-blakan. Mira tak ambil pusing, saya pun demikian. Meski belakangan ini beberapa orang rekan wartawan memandang iri pada keberuntungan yang saya peroleh. Untuk sementara saya dan Mira tak memperhitungkan masalah apapun. Semua lancar dan beres. Bahkan Bang Heri dan Pak Sofyan, pemimpin redaksi 'Gossip Kita', memberikan dukungan penuh pada gebrakan monumental saya ini.

"Maju terus, Fir. Kapan lagi kita-kita ini punya ipar artis. Siapa tahu malah oplah tabloid kita naik," demikian kata Pak Sofyan memberi semangat. Saya hanya menyambut gurauan tadi dengan senyum penuh arti.

Sampai malam itu.

Saya baru saja melangkah masuk ke rumah Mira, ketika percakapan itu terdengar.

"Wartawan itu profesi tanpa masa depan. Apa yang kamu harap dari dia?" Terdengar suara geledek Pak Sasmita membahana. Saya terpaku di tempat saya berdiri. Bulu kuduk saya meremang. Saya diselimuti perasaan kurang enak.

"Firman baik, Pak. Mandiri dan siap bertanggung jawab. Dia punya keteguhan pribadi dan kematangan sikap yang sangat saya kagumi, Pak. Firman bukan lelaki yang bisa dianggap rendah," bela Mira sengit. Di luar, saya tersenyum getir. Mira sangat membanggakan saya.
"Persetan! Pokoknya, Bapak tak mau lihat kamu bergaul lagi dengan dia, si wartawan kere itu. Titik!" tegas Ayah Mira. Terdengar langkah-langkah kakinya meninggalkan Mira yang isak tangisnya mulai terdengar

Saya menghela nafas panjang. Ini sebuah resiko, dan saya sudah memperhitungkan

kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Saya telah siap menghadapinya seperih dan sepahit apapun. Namun meskipun begitu, saya cukup terpukul atas kejadian tadi. Saya memutuskan untuk pulang, agar persoalan tersebut tidak menjadi makin runyam. Sepanjang perjalanan, saya terus memikirkan kelanjutan hubungan saya dengan Mira. Akhir yang tragis , saya membatin. Nelangsa.

***
Sejak prahara tersebut muncul, saya tak pernah lagi berusaha menemui Mira Untuk kasus ini, saya mesti melakukan langkah-langkah yang lebih realistis. Saya tahu posisi saya dan kesulitan Mira.

Hingga suatu ketika, saat saya tengah asyik melahap tumis kangkung di kamar kost, Mira datang. Matanya menyala.

"Kenapa bang Firman tidak pernah datang menemui saya?" semprotnya langsung. Saya meletakkan sendok di mangkuk, lalu berdiri dan menatap ke arahnya.

"Ayahmu, Mira. Saya dengar semua percakapan kamu dengan ayahmu mengenai saya. Saya tak ingin hanya karena saya dekat dengan kamu, hubungan keluarga kalian retak. Saya tahu

bagaimana saya harus menempatkan diri. Saya bukan apa-apa, Mira. Hanya wartawan miskin. Tak lebih. Saya sadar, terdapat banyak perbedaan antara kita yang tidak dapat dipertemukan." Saya berusaha menjelaskan dengan tenang.

Mata Mira terlihat mulai memerah. Ia menangis. Saya tak tahan menyaksikannya. Saya lantas mengalihkan perhatian pada langit-langit kamar. Ada cicak bercengkerama di sana.

"Bang Firman terlalu picik memandang masalah ini. Saya tahu, apa yang harus saya lakukan. Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Saya....." Mira tak menyelesaikan ucapannya. Tangisnya meledak. Saya menggigit bibir.

"Mira, dengar. Apa yang saya lakukan semata-mata demi kepentinganmu, kebaikanmu dan karir cemerlangmu di masa datang. Hubungan kita selama ini, boleh jadi, menyebabkan kamu tak leluasa mengembangkan apa yang telah kamu raih selama ini. Kamu artis penuh harapan Mira." Saya raih dan meremas tangannya. Saya merasa tenggorokan saya tercekat. Ada keharuan yang membuncah.

Mira menengadah. Matanya yang sembab tajam menghunjam. Saya balas memandangnya. Dengan lembut, saya lalu menyeka butir-butir airmata yang mengalir di pipinya. Dalam diam mengalir sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Ia melepas genggaman tangan saya dan berjalan ke arah meja.

"Saya lapar. Masih punya tumis kangkung?" tanya Mira memecah keinginan. Suaranya terdengar putus asa. Saya lalu menyiapkan segala sesuatunya di meja. Mira memang biasa makan di tempat saya. Ia sangat menyukai tumis kangkung buatan saya.

"Lezat dan eksotik," katanya suatu ketika. Saat itu saya cuma meringis, sebab terus terang hanya menu itu yang dapat saya buat selain menanak nasi dan telur goreng.

Saya menyaksikan Mira dengan lahap menghabiskan hidangan saya yang sangat sederhana. Nasi plus tumis kangkung. Ia terlihat sangat menderita. Wajahnya yang cantik seperti dibaluri kabut. Pekat dan suram. Saya trenyuh.

Mira mengakhiri prosesi makannya dengan meneguk segelas air putih. Saat saya beranjak untuk membenahi. Ia menyentuh lengan saya.

"Sudah, biar saya, Bang," katanya. Saya mengangguk. Dengan keanggunan yang sangat alami, ia membenahi meja. Saya terpukau menyaksikannya.

"Tumis kangkung buatanmu tadi betul-betul enak, Bang Firman," puji Mira tulus yang berdiri membelakangi saya. Ada nada getir dalam kata-katanya.

"Itu cuma soal kebiasaan dan kemampuan meramu bumbu," jawab saya enteng seraya menyalakan rokok.

Mira tiba-tiba berbalik dan menatap saya lekat-lekat. Saya terkejut.

"Jadi Bang Firman masih mempersoalkan perbedaan-perbedaan, sementara tumis kangkung yang seenak ini dibuat hanya dengan kebiasaan dan keandalan meramu? Perbedaan-perbedaan dapat dipertemukan dengan membiasakan dan meracik keberagaman," tutur Mira jernih.

Saya mengerutkan kening.

"Banyak hal yang perlu kita mengerti sebelum kita menyatakan untuk berbuat. Bang Firman perlu banyak belajar dari tumis kangkung itu," lanjut Mira sembari tersenyum. Ia lalu berbalik dan melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring.

Saya tercenung. Mira benar dan itu membuat saya merasa makin tak ingin kehilangan dia. Sikap saya keliru selama ini. Saya mematikan rokok yang belum sempat saya isap di asbak, lalu berjalan kearahnya.

"Mira," panggil saya lirih.

Ia menoleh memandang saya. Parasnya yang jelita seperti bercahaya.

"Saya cinta kamu Mira Saraswati!"

"Saya juga cinta kamu Firman Agus," sahut Mira malu-malu. Ia menunduk.

Saya lalu memegang bahunya. Mengalirkan keyakinan.

"Kamu mau bersamaku membangun kebiasaan dan meracik keberagaman?"

Mira mengangguk kencang-kencang.

"Kamu mau membuat tumis kangkung bersamaku, meramunya secara dashyat dan menikmatinya sepanjang hidup?"

Lagi-lagi Mira mengangguk kencang-kencang.

Kami lalu tertawa bersama.

Di luar, angin bersorak dn pohon akasia bertempik kegirangan.

***
Saya membuyarkan lamunan. Kini, saya dan Mira telah bersama-sama selama tiga tahun 'membangun kebiasaan dan meracik keberagaman' itu, tanpa ada perbedaan-perbedaan. Saya pun telah meninggalkan profesi sebagai wartawan, dan Mira telah menjadi istri yang setia mendampingi saya sebagai pemilik restoran 'Tumis Kangkung' paling terkemuka dan paling dashyat di negeri ini.***

Sarang Angin

Sarang Angin

Cerpen Sapardi Djoko Damono



Balam yang hinggap di sela-sela juntaian daun kelapa itu berpikir, Masuk akal juga keheranan tekukur itu. Ada-ada saja, angin kok mencari sarangnya. la kemudian terbang ke rumputan di kuburan tua dekat kebun kelapa itu, mencari makan. la suka membayangkan saudara-saudaranya yang berada dalam sangkar, mendapat jatah makan secara teratur, dimandikan hampir setiap hari, dan kadang-kadang diadu keindahan suaranya. Dan diperjual-belikan. Ia tidak pernah iri hati, dan juga tidak pernah merasa kecewa harus susah-payah mencari makan setiap hari. Tidak seperti saudara-saudaranya itu, ia bergaul bebas dengan balam-balam lain ada di antara mereka yang lebih suka menyebut dirinya tekukur, ada juga yang lebih suka disebut puter, entah karena apa.

Dan ia merasa berbahagia setiap kali bertemu angin, yang meskipun tidak pernah bisa dilihatnya tetapi jelas dirasakannya untuk tidak mengatakan dihayatinya. Dan jika kebetulan angin terbang lewat sarang sepasang balam, terasa sekali bahwa ada semacam rasa iri dalam diri angin terhadap pasangan itu. Lebih dari balam mana pun, angin pernah terbang ke semua penjuru dunia. la tidak boleh hinggap di mana pun. Kalau balam saja punya sarang, kenapa aku tidak? demikian selalu tanyanya, tidak kepada siapa pun. Tak pernah putus asa ia mencari sarangnya. Dan karenanya balam-balam itu, terutama yang sedang berada di sarang mengerami telur-telurnya, suka menyebarkan kabar burung bahwa angin semakin tidak bisa dipahami tingkah-lakunya.

Ia telah diciptakan tanpa sayap. Tanpa cakar. Bahkan tak pernah kelihatan ujudnya. Sudah lumayan dia tanpa sayap bisa terbang ke mana-mana. Harusnya berterima kasih untuk itu. Tetapi tetap saja ia menanyakan di mana sarangnya. Begitu balam-balam itu sering saling membicarakannya. Balam juga suka bertanya kepada pohon kelapa tentang hal itu, dan pohon yang daun-daunnya selalu berkibar karena digosok-gosok angin itu selalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak paham juga. la pun menggelengkan kepala setiap kali ditanya angin di mana sarangnya. Pikiran angin sebenarnya biasa saja, semuanya tertuang dalam bentuk kalimat tanya: Apa yang tidak punya sayap tidak berhak punya sarang? Apa yang tak punya cakar tidak boleh punya sarang? Apa yang tak tampak tidak boleh punya sarang?

Benar juga. Dan angin pun terus mencari sarangnya. Ia bertanya kepada debu di gurun pasir, kepada asap di hutan terbakar, kepada daun-daun kuning kecokelatan yang gugur, kepada dahan yang patah, kepada layar perahu di laut semuanya menggelengkan kepala dan malah ikut bertanya dalam hati, Ya, untuk apa angin mencari sarang? Mereka semua mengenal angin dengan baik, mereka ada karena angin, mereka ingin berterima kasih kepada angin, tetapi sayang tidak sampai hati menyampaikan kenyataan bahwa sia-sia saja baginya mencari sarang.

Dan angin pun akhirnya menyadari bahwa hanya laut yang belum pernah ditanyainya. Kalau di darat tidak ada, tentunya sarangnya berada di laut. Nun di dalam sana. Tapi laut lebih suka diam, kecuali kalau ditanya terus-menerus oleh angin mengenai hal itu. Sarangku pasti disembunyikan di dasar laut sana, pikir angin. la sama sekali tidak suka jawaban laut yang baginya terdengar tidak jujur. la pun menghajarnya, mengaduknya, meniupnya kencang-kencang—pergulatan itu luar biasa dahsyatnya. Laut bergolak, perahu terlempar, dan angin terus berputar sepanjang pantai. Di mana sarangku? Ayo, katakan!

Di pedalaman, di sebuah pohon, balam yang sedang menyaksikan anak-anaknya keluar dari telur-telurnya itu tidak pernah mendengar mengenai hal tersebut. Kalaupun ada yang nanti memberi tahu, ia tidak akan percaya. Angin akan dengan lembut dan penuh kasih sayang mengelus bulu-bulu anak-anakku ini kalau sudah besar nanti. Seandainya angin punya sayap, bulu-bulunya pasti tak terkatakan indahnya, tak ada burung yang bisa menandinginya. ***

Anggukan Sapi Betina

Anggukan Sapi Betina

Cerpen Ahmadun Yossi Herfanda




MULANYA hanyalah seekor sapi betina. Tetapi, lenguhnya yang aneh dan hanya terdengar tiap malam Jumat, membuat orang-orang desa menganggapnya bukan lagi seekor sapi biasa. Anggukan dan goyangan kepalanya pun dipercayai sebagai isyarat atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, bahkan kehendak dan tanda-tanda zaman yang tidak dapat dielakkan.

“Apakah kau mengerti kata-kataku, hai sapi?” tanya seorang lelaki gemuk berbaju safari, sambil membungkuk di depan sang sapi.

Sapi betina itu diam saja. Matanya membelalak, bulat seperti telur mata sapi. Lidahnya yang kemerahan lantas terjulur, meraup rumput hijau yang menumpuk di depannya.

“Ah, kau bohong, Pak Mandor. Dia tidak mengerti kata-kataku.” Lelaki gemuk itu protes pada pria tambun di sebelahnya.

“Bapak harus memanggilnya ‘Ibunda Sapi’ agar dia mau menjawab pertanyaan Bapak,” ujar sang tambun.

“Ibunda Sapi…,” lelaki gemuk dengan pipa cangklong di tangan itu lebih mendekati sang sapi. Suaranya dilembut-lembutkan, ‘’apakah Ibunda setuju saya mencalonkan diri menjadi kepala desa?”

Seekor lalat hijau, ketika pertanyaan lelaki gemuk itu meluncur, tiba-tiba mendengung dan hinggap di ujung telinga kanan sang sapi. Dan, demi menolak rasa geli, sapi itu menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras, mengusir lalat itu.

“Lihat, dia menggelengkan kepalanya,” teriak lelaki tambun yang dipanggil Pak Mandor itu, gembira. ”Ibunda sapi tidak setuju Bapak mencalonkan diri menjadi kepala desa.”

“Ah, saya tidak percaya. Dia menggoyangkan kepalanya karena telinganya gatal. Ada lalat hijau hinggap di situ.”

“Tidak. Ibunda Sapi memang mau menggeleng. Cuma kebetulan lalat hijau ada di situ. Kalau tidak percaya coba bapak ulang.”

“Ibunda Sapi, apakah Ibunda setuju saya mencalonkan diri menjadi kepala desa?” Tanya lelaki gemuk itu lagi, dengan suara lebih nyaring, mulai kehilangan kelembutan, serak seperti suara mikropon retak.

Seekor lalat hijau kembali mendengung dan meluncur masuk ke telinga kanan sang sapi. Dan, spontan sang sapi menggelengkan kepalanya yang tampak besar dan berat seperti kepala dinosaurus, mencoba mengusir sang lalat. Sekali, dua kali, tiga kali, sang lalat pun terloncat kepunggungnya.


“Lihat, Ibunda Sapi tidak setuju Bapak mencalonkan diri menjadi kepala desa. Bapak harus percaya. Tidak cuma sekali dia menggeleng, tapi tiga kali, dengan keras sekali.”

Lelaki gemuk yang di panggil Pak Carik, lelaki dengan wajah persegi dan rambut lurus lebat seperti rumput Jepang di taman desa itu, kali ini terdiam. Wajahnya memerah, bibirnya mengatup rapat dengan gelembung kemarahan di sekelilingnya, menahan geram. “Sapi gila!” umpatnya tiba-tiba, sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah ke pintu kandang.

Melihat kegusaran Pak Carik, lelaki tambun mandor kebun tebu yang dipercayai memelihara satu-satunya sisa sapi Banpres itu, ikut menjadi gusar. Dengan langkah ragu-ragu ia mendekati Pak Carik yang tiba-tiba menhentikan langkahnya dan berdiri mematung di pintu kandang sapi.

“Sudahlah, Pak Carik. Urungkan saja niat bapak untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Warga toh masih menginginkan Pak Sarkem tetap mejabatnya untuk periode mendatang. Mereka sudah merasakan keberhasilan Pak Sarkem memimpin desa ini. Ibunda Sapi tau benar keinginan warga.”

“Warga yang mana, Pak Mandor? Kau jangan main hantam kromo. Lihat saja, di mana- mana ada letupan. Mereka menginginkan perubahan. Mereka sudah bosan berpuluh tahun dipimpin Pak Sarkem.” Suara Pak Carik mengeras, memekakkan telinga, sekeras teriakan jurkam tanpa mikropon di tengah lapangan.

“Pak Carik, hati-hati kalau ngomong! Ingat posisi Bapak. Kalau Pak Sarkem dengar, bisa-bisa Bapak tidak dipakai lagi.”

“Pak Mandor juga harus hati-hati. Pak Mandor hanya dititipi Pak Lurah untuk memelihara sapi Banpres itu, memberinya makan, mengawinkannya agar beranak pinak. Bukan untuk dijadikan dukun!”

“Siapa yang menjadikannya dukun, Pak Carik? Sapi itu memang mumpuni. Dia dapat membaca apa yang sedang terjadi dan bakal terjadi di desa ini.”

“Omong kosong!”

“Terserah Bapak, percaya atau tidak!”

Lelaki gemuk berwajah persegi itu terdiam. Sekali ia menarik nafas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya dengan kuat, seperti menghembuskan semua kegusaran hatinya ke udara sore yang kering dan penuh aroma telethong sapi. Pipa cangklong hitamnya lantas ia isap, sambil menyandarkan punggung ke kusen pintu kandang sapi. Pak Mandor juga terdiam, dan karena tak membawa pipa cangklong, ia lantas menyalakan sebatang rokok kretek.

Tiba-tiba seperti ada ide baru yang terlintas di kepala Pak Carik. Buru-buru ia melangkah kembali mendekati sang sapi. Pak Mandor mengungtitnya dari jarak tiga langkah.


“Ibunda Sapi,” kata Pak Carik setelah sampai pada jarak satu langkah dari sapi betina itu, “apakah Ibunda setuju kalau Bapak Kepala Desa, Pak Sarkem, diganti?”

Lagi-lagi, seekor lalat hijau, dua ekor, tiga ekor, empat ekor, lima ekor, mendengung-dengung di seputar kepala sapi. Seekor hinggap di ujung telinga kanannya, seekor menerobos masuk ke telinga kirinya, tiga ekor merubung luka diatas sudut mata kirinya. Sang sapi pun menggeleng-geleng keras, mengusir lalat-lalat itu.

“Lihat! Lihat, Pak Carik! Ibunda sapi mengeleng-geleng keras! Ibunda sapi tidak setuju Pak Sarkem diganti. I bunda Sapi tahu warga masih menhendaki Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa.”

“Jadi, Ibunda Sapi setuju Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa?”

Tanpa menghiraukan ocehan Pak Mandor, lelaki gemuk berbaju safari itu bertanya lagi pada sang sapi. Dan, kali ini seekor semut merah menggigit janggut Ibunda Sapi. Maka, demi mengusir rasa gatal, sang sapi pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menggosok-gosokkan janggutnya yang gemuk ke tumpkan rumput gajah di depannya.

“Lihat! Lihat! Dia setuju!” teriak Pak Mandor.

“Jadi, Ibunda Sapi setuju masih ada kepala desa seumur hidup di desa kita ini?” Tanya Pak Carik lagi dengan penasaran.

Ibunda sapi yang masih merasakan gatal-gatal pada janggutnya, terus mengangguk-anggukkan kepalanya, bahkan disertai lenguhan panjang.

“Lihat! Lihat! Ibunda sapi tidak hanya mengangguk. Dia juga melenguh. Dia sangat setuju Pak Sarkem menjadi kepala desa seumur hidup!” teriak Pak Mandor gembira, seperti orang yang baru saja menang taruhan sepak bola.

“Edan!” umpat Pak Carik sambil ngeloyor pergi, meninggalkan kandang sapi.

***

KEESOKAN harinya – tak jelas apa yang terjadi dalam semalam, seolah system penyebaran informasi telah sedemikian canggih dan cepat – desa itu geger. Tersiar berita penting: Ibunda Sapi menghendaki agar Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa.

“Benar! Kata Pak Mandor, sapi itu mengangguk ketika Pak Carik bertanya apakah ia setuju Pak Sarkem dipilih kembali menjadi kepala desa.”

“Jika begitu, pemilihan kepala desa yang akan kita adakan bulan depan percuma saja! Toh hasilnya sudah kita ketahui, yang terpilih akhirnya Pak Sarkem juga.”

“Tetap perlu! Siapa tahu banyak warga desa yang memilih calon lain.”

“Ah, mana berani mereka melawan kehendak I bunda Sapi.”


“Saya yakin banyak yang berani. Mereka menginginkan perubahan. Lihat saja, kerusuhan meletup di mana-mana. Mereka bosan pada kemapanan seperti ini.”

“Kalau ternyata Pak Sarkem juga yang terpilih?”

“Itu tak masalah. Berarti warga masih ingin mematuhi kehendak Ibunda Sapi. Yang penting demokrasi tetap jalan.”

“Demokrasi macam apa? Demokrasi sapi betina?”

“Jangan begitu! Kamu bisa kualat sama Ibunda Sapi!”

Debat politik ala w arung tegal itu tak hanya terjadi di w arung kopi, tapi juga di serambi masjid dan gerej a, di atas andong, di pematang sawah, di kantin balai desa dan di teras rumah ibu-ibu PKK. Banyak yang mendukung kehendak Ibunda Sapi. Tapi, tak kurang yang tidak setuju dan menganggap itu sebagai syirik dan cermin kebodohan. Mereka menganggap bukan saatnya lagi percaya pada anggukan seekor sapi betina. Mereka menginginkan ada perubahan. Mereka menginginkan Pak Sarkem diganti. Dan, inilah yang meresahkan para Hansip, Wankamra, Satpam dan hamper semua perangkat desa. Mereka menganggap stabilitas politik dan keamanan desa sedang terancam.

“Kita harus melakukan gerakan politik untuk melawan ancaman-ancaman itu. Wibawa Ibunda Sapi harus ditegakkan kembali,” kata Kabag Kesra, tokoh yang ditugasi Pak Sarkem untuk memenangkan pemilihannya, dalam sebuah rapat istimewa di balai desa.

“Jika begitu, kita buat kebulatan tekad saja,” usul Pak Mandor.

“Kebulatan tekad macam apa?”

“Kebulatan tekad untuk menegakkan kembali kehendak Ibunda Sapi dan memilih kembali Pak Sarkem menjadi kepala desa.”

“Ah, itu sudah kuno, hanya akan menjadi bahan tertawaan warga.”

“Atau doa politik saja?”

“Itu juga sudah banyak dilakukan orang. Kurang orisinal.”

“Lantas apa?”

“Kita buat gerakan untuk mempopulerkan kembali Pak Sarkem. Kita pasang foto kepala desa pada tiap rumah warga dan tiap sudut kampung.”

“Lalu, bagaimana dengan Ibunda Sapi?”

“Ya, foto Ibunda Sapi juga perlu kita pasang.”

“Bagaimana kalau kita sebarkan foto Pak Sarkem sedang menunggang Ibunda Sapi?”


“Jangan. Itu bisa berbahaya, bisa dianggap menghina Ibunda Sapi. Bisa-bisa warga tidak mau memilih Pak Sarkem lagi.”

“Bagaimana kalau foto Pak Sarkem sedang mencium Ibunda Sapi?”

“Itu ide bagus. Itu simbol kemesraan hubungan antara Pak Sarkem dan Ibunda Sapi. Saya setuju!”

Maka, pada keesokan harinya, menyebarlah ribuan foto Pak Sarkem sedang mencium pipi sapi betina itu. Pada tiap dinding rumah, sudut kampung, serambi masjid dan gereja, pintu kelenteng dan pura, ruang-ruang sekolah, kantor-kantor lembaga pemerintah desa, warung Tegal, warung Padang, warung sate Madura, warung bakso, kios rokok dan koran, kaos anak-anak dan remaja, terpampang gambar kepala I bunda Sapi dicium Pak Sarkem.

“Jangan pasang foto selain foto Pak Sarkem dan Ibunda Sapi!” demikian instruksi Wakil Kepala Desa melalui pidato-pidato, radio-radio dan stasiun televisi lokal. Bahkan, iklan-iklan bikini pun harus memakai model Ibunda Sapi. Sehingga, pada hari berikutnya, di sebelah kanan pintu gerbang masuk desa, terpampang baliho raksasa: sapi betina sedang berdiri mengenakan bikini model terbaru, menggantikan baliho bergambar Tamara Blezinsky yang sedang mengiklankan pakaian dalam bikinan Prancis.

***

HARI pemilihan kepala desa akhirnya tiba juga. Tempat pencoblosan dibangun di halaman balai desa dengan latar belakang spanduk raksasa bergambar Pak Sarkem mencium pipi Ibunda Sapi. Memang ada gambar dua calon lain, Pak Mantri Suntik dan Mantri Kali, tapi dipasang kecil saja di pojok kanan dan kiri spanduk. Semua warga tahu, keduanya hanya calon pelengkap saja, agar pemilihan bisa berjalan sesuai undang-undang.

“Saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai wakil kepala desa saja. Saya mendukung Pak Sarkem terpilih kembali menjadi kepala desa. Ini sesuai dengan kehendak dan restu Ibunda Sapi,” kata Pak Mantri Suntik pada kampanye dialogisnya melalui televisi lokal, sehari sebelumnya.

“Saya sependapat dengan Pak Mantri Suntik. Melihat pengalaman dan kesuksesan Pak Sarkem memimpin desa ini, beliau paling pantas dipilih kembali menjadi kepala desa,” timpal Pak Mantri Kali pada acara yang sama.

Waktu pun terus merambat. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Semua aparat desa, sebagai panitia pemilihan, sudah berkumpul di halaman balai desa. Para Hansip, Wankamra dan Satpam, pun bergentayangan disekeliling balai desa, siap mengamankan pemilihan, dengan pentung dan senapan otomatis di tangan. Telepon genggam, walki talki, tabung gas air mata, bergelantungan pada ikat pinggang mereka. Motor-motor trail, jip militer, dan panser, disiagakan di tempat-tempat strategis.


Tetapi, sampai pukul 12 siang tak seorang warga pun datang mencoblos. Pengeras suara terus berteriak-teriak agar para w arga segera datang. “Bapak-bapak, ibu-ibu, harap segera datang ke tempat pencoblosan. Kita semua wajib menyukseskan pemilihan. Ini demi demokrasi dan masa depan desa kita!” Namun, hanya angin siang yang menerobos masuk ke bilik pencoblosan dan menghempas-hempaskan kordennya. Daun-daun kering yang dirontokkan angin ikut menyerbu halaman balai desa.

Yang terjadi selanjutnya adalah kegelisahan yang aneh. Pak Sarkem, yang bertubuh gemuk dan ubanan, gelisah di kursi busanya, sambil mengetuk-ngetukkan sol sepatunya ke lantai marmer dengan irama yang tidak teratur. Para aparat desa, dengan seragam safari abu-abunya, mondar-mandir di halaman balai desa, sambil matanya jelalatan keluar pagar, mengharap-harap ada warga yang datang ke tempat pencoblosan. Hansip, Wankamra dan Satpam, pun mondar-mandir di luar, sambil sesekali menendang-nendang batu atau kaleng minuman yang ditemuinya.

Ketika kegelisahan mereka sampai ke puncaknya, di kejauhanan, di ujung jalan masuk
ke balai desa, tampak seorang lelaki berpeci dan bertongkat tertatih-tatih mendekati tempat pencoblosan. “Lihat! Warga mulai datang!” teriak Pak Mandor gembira.

“Ya, warga mulai datang!” teriak yang lain, seolah terbebas dari himpitan kegelisahannya. “Benar, kan! Mereka memang lebih suka mencoblos pada sore hari, jalanan tidak panas.”

Lelaki bertongkat itu, yang ternyata seorang buta, pun memasuki halaman balai desa, sambil meraba-raba j alan dengan tongkatnya.

“Bapak mau mencoblos?” sambut Komandan Hansip bersemangat.

“Ya ya ya,” jawab lelaki bertongkat itu sambil mengangguk-angguk mantap. ‘’Tapi saya buta. Saya tidak tahu mana gambar yang saya sukai .”

“Bapak suka apa? Gambar petai, jengkol, atau kerupuk?”

“Wah, kalau makan saya suka lalap jengkol.”

“Nah, tusuk saja gambar jengkol.”

“Di mana nusuknya.”

“Mana kartu kuningnya, biar saya bantu.”

Selesai menusuk, lelaki buta itu pun pergi. Halaman balai desa kembali lengang dengan bilik pencoblosan dan kotak suara yang kosong melompong. Kegelisahan kembali menerkam mereka. Aparat desa mulai mondar-mandir dengan mata jelalatan keluar pagar, panitia pendaftar mulai menggebrak-gebrakkan tangannya ke meja dengan irama aneh, para Hansip dan Wankamra menendang-nendang kaleng kosong sesukanya. Suara ketukan sol sepatu Pak Sarkem dari dalam balai desa pun semakin keras saja. Semuanya, tanpa sengaja, menciptakan konser kegelisahan yang aneh di halaman balai desa.


“Hai, kalian kenapa? Kalau sudah tak ada yang mencoblos, dihitung saja suaranya! Jangan malah bengong!” teriak Pak Sarkem yang tiba-tiba muncul di pintu balai desa.

“Bagaimana akan dihitung, Pak. Hanya satu!”

“Hanya satu? Jadi, yang mendapat suara hanya satu calon? Itu bagus. Menang mutlak namanya!”

“Hanya satu orang? Orang buta?!” Mata Pak Sarkem kini terbelalak. “Pada kemana warga yang lain, ha?”

“Tidak tahu, Pak! Tidak ada yang datang!”

“Wah, ini namanya pemogokan politik. Ini melawan prinsip-prinsip demokrasi. Pasti ada aktor intelektualnya. Masa depan desa kita bisa gawat!”

‘’Lalu, bagaimana enaknya, Pak?”

“Bagaimana bagaimana! Kalian goblok semua! Paksa mereka ke sini. Kita tegakkan kembali demokrasi! Goblok!” Kemarahan Pak Sarkem tiba-tiba memuncak. Ia melangkah cepat ke arah Pak Mandor dan merebut mikropon dari tangannya. “Hai para Hansip, para Wankamra, para Satpam, paksa warga datang ke sini! Ayo, cepaaat!!! Ini perintah!”

Demi mendengar perintah Bapak Kepala Desa, para Hansip, Wankamra dan Satpam, berhamburan ke seluruh penjuru desa. Mereka menggedor tiap pintu rumah dan memaksa warga untuk datang ke balai desa. Bersamaan dengan itu, pengeras suara di halaman balai desa pun berteriak-teriak keras, “Bapak-bapak! Ibu-ibu, harap segera kumpul! Kumpul! Kumpuuul!’’ Kentongan-kentongan di masjid, di musala, di pos ronda, pun dibunyikan ramai-ramai. “Tong! Tong! Tong! Kumpul! Kumpuul! Tong! Tong! Tong! Kumpuuul!” Desa pun riuh irama musik kentongan. Burung-burung beterbangan ketakutan. Ayam-ayam berkokok-kokok berlarian. Kucing-kucing berloncatan masuk kolong. Kambing-kambing mengembik lepas dari kandang. Dan, hanya dalam waktu beberapa menit, ratusan warga desa sudah berkumpul di halaman balai desa.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, kalian semua kenapa?!” Suara Pak Sarkem menggelegar lewat pengeras suara. Tak ada yang menjawab. Ratusan warga hanya berdiri mematung. “Bukankah hari ini hari pencoblosan! Kenapa kalian tidak pada datang? Kalian semua
mogok ya?! Jangan begitu! Itu namanya merusak jalannya pemilihan! Merusak demokrasi!”

“Bukan begitu, Pak Kepala Desa,” seorang warga, yang berdiri paling depan, memberanikan diri untuk berbicara. “Kami semua hanya memenuhi kehendak Ibunda Sapi!”

“Kehendak Ibunda Sapi?! Kehendak bagaimana?!’’


“Ibunda Sapi menghendaki kami tidak datang ke tempat pencoblosan. Ibunda Sapi menganggap pencoblosan tidak penting lagi, karena yang terpilih toh pasti Pak Sarkem juga!”

“Pak Mandor, bawa Ibunda Sapi kemari. Kita lihat apa memang benar Ibunda Sapi berkehendak begitu.”

Demi mendengar perintah Pak Sarkem dan kegawatan situasi, lelaki tambun mandor kebun tebu itu langsung menerobos kerumunan warga dan berlari menuju kandang sapinya. Semuanya menunggu dengan tegang. Baliho pesan sponsor bergambar Ibunda Sapi dengan pakaian bikini buatan Prancis di belakang bilik pencoblosan bergoyang-goyang keras ditiup angin sore. Tak seberapa lama, Pak Mandor kembali menerobos kerumunan warga, sambil menuntun sapi betina, masuk ke halaman balai desa.

“Bawa Ibunda Sapi ke tengah!” teriak Pak Sarkem. Ratusan warga langsung menyerbu, mengelilingi Ibunda Sapi. “Yang depan jongkok agar yang belakang dapat melihat!” Pak Sarkem memelopori jongkok di belakang sapi betina itu. Pak Mandor, Pak Carik, Pak Mantri Kali, Pak Mantri Suntik, para ketua RT dan RW, megikutinya. Mereka berjongkok di sekeliling Ibunda Sapi.

“Ibunda Sapi yang mulia, apakah ibunda tidak merestui pemilihan kepala desa ini?” Pak Mandor berinisiatif memulai pertanyaan kepada sapi betina itu. Sapi itu diam saja. Tampangnya yang tua malah tampak bengong.

“Apakah Ibunda Sapi tidak menghendaki warga desa melakukan pencoblosan?” pertanyaan Pak Sarkem menyusul dari belakang pantat sapi. Sang sapi tetap diam. Hanya ekornya yang digoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri.

“Menjawablah! Jangan marah kepada kami. Warga membutuhkan anggukan atau gelengan Ibunda Sapi.” Pak Mandor mencoba merayu sambil mengelus-eluskan tangan kanannya ke jidat sang sapi.

Sapi betina itu hanya membisu. Dan, tak ada yang tahu, perut sang sapi sedang kurang beres. Suara gemerucuk berputar-putar memenuhi usus besar dan usus dua belas jarinya. Namun, tak ada yang mendengarnya. Maka, ketika orang-orang berada pada puncak ketidaksabaran menunggu anggukan sang sapi, meletuslah dubur sapi itu, melemparkan angin bercampur cairan telethong, persis menimpa wajah dan baju Pak Sarkem.

Tentu saja, Bapak Kepala Desa sangat terkejut mendapat hadiah yang di luar dugaannya itu. Dengan wajah memerah dan belepotan telethong, ia pun berdiri, dan … “Kurang ajar! Sapi Gila! Sapi gendeng!” umpatnya sambil menendang pantat sapi itu dengan sepatu hitamnya yang terbuat dari kulit sapi.

Mendapat tendangan keras bertubi-tubi, Ibunda Sapi tidak kalah terkejutnya. Dengan setengah melompat sapi itu berlari tunggang langgang, menabrak kerumunan orang-orang di depannya. Sepuluh orang terinjak dada dan kepalanya. Lima orang terpental keluar, terseruduk kepala sapi.

“Tangkap dia!!! Cincang sapi gendeng itu !!!” teriak Pak Sarkem.


Kerumunan pun bubar seketika. Para Hansip, Wankamra, Satpam, Kepala Desa, Pak Carik, Pak Mandor, Pak Mantri Suntik, Pak Mantri Kali, seluruh aparat desa pun berlari memburu sapi betina itu. “Kita sate saja!” teriak seseorang.

“Kita bikin soto,” teriak yang lain.

“Kita bikin dendeng dagingnya!”

“Kita bikin sop buntut!”

Dan, sapi itu berlari dan terus berlari, diburu ratusan warga desa….




Tangerang, Juni 1997

Testamen

Testamen

Cerpen Sapardi Djoko Damono




Anjing kampung yang baik,

Terima kasih, kau telah membantuku menyelesaikan tugasku di dunia dengan sebaik-baiknya. Aku hanya bisa mewariskan diriku sendiri bagimu. Kita dulu suka berbagi makanan jika hari sedang baik. Kau tahu, mereka menyebutku gelandangan sedangkan aku lebih suka menganggap diriku sendiri sebagai sang Kelana, orang bebas yang tak terikat oleh apa pun dan tak memiliki apa pun, yang setiap hari keluar masuk kampung. Dan pada suatu hari ketika merasa sudah begitu capek, aku mencari suatu tempat yang teduh dan tenang di pinggir kota—dan kulihat kau mengikutiku. Aku merasa bahagia sebab ternyata ada yang masih bisa setia padaku. Kau menatapku tajam ketika aku membaringkan diriku di sela-sela sunyi semak-semak; kau tampak terpesona menyaksikan aku menutup mataku; kau melolong pelan ketika kemudian aku melepaskan diri dari diriku sendiri. Lalu kau diam, mungkin memikirkan sesuatu, dan tetap menungguiku sampai aku mulai membusuk. Tatapanmu mengingatkanku pada hari-hari baik ketika dulu kita bisa berbagi makanan. Kemudian dengan cara yang tak terbayangkan indahnya kau mulai menyobek-nyobek jasadku sampai tinggal tulang dan tengkorak yang tak lagi menimbulkan seleramu. Aku senang masih bisa mewariskan sesuatu bagimu.

Terima kasih, kau telah membantu menyelesaikan tugasku di dunia dengan sebaik-baiknya.***



Prosa, No. 1, 2002

ANAK ANAK LANGIT

ANAK ANAK LANGIT

Cerpen Seno Gumira Adjidarma



Anak-anak itu tidak dilahirkan oleh seorang ibu, mereka dilahirkan oleh rahim kemiskinan. Begitu lahir mereka langsung berumur 3,5,8, atau 12 tahun. Pada saat malam gelap gulita, tanpa sepotong bulan pun dilangit, mereka muncul ke jalan raya, merayap dari dalam gorong-gorong yang berbau serba busuk dengan tubuh penuh lumpur.

Mula-mula merayap, lantas merangkak, kemudian berdiri, langsung mengulurkan tangan di perempatan jalan. Dari dalam lobang gorong-gorong itu muncul banyak sekali anak-anak kecil. Tangan mereka menguak dari dalam lobang, menyingkirkan tutup gorong-gorong dari besi, lantas melata dengan tubuh masih penuh lumpur yang menetes-netes ke aspal. Anak-anak kecilyang manis, anak-anak kecil yang matanya manis, cemerlang bak bintang kejora, tapi yang pelupuk matanya tetap saja layu. Dengan Lumpur yang mengerting dan menjadi daki yang melekat bertahun-tahun, mereka menengadahkan tangannya ke kaca-kaca jendela mobil tanpa harapan mendapatkan apapun.

Mereka mengulurkan tangan sambil mengulurkan tangan sambil mengkuyu-kuyukan wajahnya. Kadang-kadang mereka bertepuk tangan dengan mulut seolah-olah bernyanyi padahal tidak karena memang hanya mangap-mangap tanpa suara karena toh para pengemudi mobil itu tidak akan mendengar suara mereka sedangkan kalau mendengar pun juga tidak akan pernah menganggapnya indah meski hanya untuk secuil saja dari keindahan sebuah suara yang bisa disebut indah walah mata anak-anak itu tetap saja indah seindah pada saat ketika dilahirkan dimana mereka langsung jadi pengemis yang penuh dengan tipu daya akal bulus supaya dikasihani namun mata mereka tetap mata yang murni seperti mata-mata anak-anak mana pun di seluruh pelosok bumiyang selalu memikat karena anak-anak di mana pun memang selalu murni tak peduli kelak ketika sudah dewasa mereka akan jadi bajingan yang paling tengik paling norak paling kampungan paling busuk dan paling tidak tahu diri.


Orang-orang di dalam mobil yang memenuhi jalan itu esoknya tidak pernah tahu darimana anak-anak itu berasal. Mereka tiba-tiba saja berada di sana dengan tubuh penuh Lumpur, mengulurkan tangan meminta-minta dengan mata menghiba-hiba tapi yang tetap kelihatan hanya berpura-pura karena apabila lampu merah menjadi hijau dan mobil-mobil melaju kembali secepat kilat seperti ingin meninggalkan kenyataan anak-anak itu kembali saling bercanda dan bermain tali berguling-gulingan bagai berada di taman impian bagai berada di taman raja-raja bagai anak-anak pangeran padahal tak lebih dan tak kurang mereka hanya berada di sebuah petak semen yang tak juga mulus malah jebol-jebol di mana lampu hijau itu berganti merah kembali.

Orang-orang di dalam mobil sudah kehabisan rasa kasihan melihat anak-anak itu. Orang-orang di dalam mobil meluncurkan kalimat-kalimat cerdas yang membenarkan bahwa tak baik mendidik anak-anak itu menjadi pengemis sambil mengeraskan volume CD Player yang melantunkan suara seorang penyanyi opera, “Quando me’n vo soletta,” sementara

anak-anak yang memukul terban dan kecrekan bikinan sendiri dari tutup-tutup botol yang dipakukan ke kayu memandang ke balik kaca dengan lapisan film-hitam 60% melihat betapa penumpang di jok belakang itu sama selali tidak menoleh dan hanya terus menerus membaca majalah The Economist.

Pada siang hari lumpur di tubuh mereka memang mongering, rontok, tapi tetap menyisakan daki yang menghitam di kulit mereka, melumut dan menghitam bagaikan tiada pernah akan hilang seperti takdir yang telah mematok nasib mereka di jalanan itu tak bisa diubah-ubah lagi meskipun mereka bisa mandi seratus kali sehari di sungai itu, sungai yang airnya mengalir pelan-pelan saja yang airnya hitam bercampur minyak dan oli hitan legam entah dari mana, mengalir pelan-pelan dengan plastik atau mayat menggenang terseok-seok tiada yang akan peduli sampai membusuk seperti bangkai kucing yang perutnya menggembung-bung-bung entah siapa dia – entah siapa dia betapa

kesepian mati sendiri tidak terkubur tidak terupacarakan meski barangkali lebih baik mati dan terbebaskan dari kesunyian jalanan yang begitu ramai tapi tiada seorangpun dari orang-orang di dalam mobil yang mampu menghayati penderitaan meski Cuma secuil karena mereka memang berusaha menghindarinya berusaha lepas lari tak ingin tak tahu tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskina yang begitu kelam tapi begitu nyata tampil hadir di depan mereka mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba diiringi wajah lain yang menyanyi-nyanyi tak jelas sambil menepuk-nepuk tangan.

Dari balik kaca jendela dengan lapisan film-hitam 60% dan sejuk udara AC yang membuat suhu diluar semakin panas, nampak jelas anak-anak berambut merah dengan baju dekil berlubang-lubang berjalan dari satu jendela ke jendela lain tanpa terlalu banyak berharap seolah-olah mereka tidak betul-betul terlalu lapar dan hanya menjalankan peran mereka sebagai anak-anak jalanan yang getir yang akan terus menerus berada di sana karena harus selalu ada peran itu di dunia ini karena betapa ajaib jika di dunia ini tidak ada penderitaan tidak ada kegetiran atau apapun yang membuat kebahagiaan menjadi istimewa.

Tapi kenapa anak-anak itu nampak bahagia? Mata mereka cemerlang seperti bintang kejora. Wajah mereka murni dan tanpa dosa, sampai tiba saatnya mereka merambah suatu keadaan di mana anak laki-laki akan membayar pelacur yang termurah di bawah jembatan pada umur 12 tahun dan anak perempuan akan menjadi pelacur juga pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran pada umur 12 tahun. Hidup memberi pelajaran kepada anak-anak perempuan bagaimana memanfaatkan tubuhnya dari hari ke hari dari tahun ke tahun sampai tubuh itu tak bisa dimanfaatkan lagi menjadi rongsokan di bawah jembatan laying ditemukan orang sebagai mayat gelandangan yang sangat bisa berguna untuk dibedah dan di potong-potong sebagai bahan pelajaran mahasiswa Kedokteran. Tengkorak mereka diawetkan, jantung mereka di masukkan stoples, dan suatu saat para mahasiswa itu akan menjadi kaya raya karena pengetuan mereka tentang susunan urat syaraf, otot, kelenjar, dan segala macam jeroan yang contohnya diambil dari mayat perempuan tak dikenal yang barangkali saja pelacur murahan terbuang yang dulunya berasal dari dalam gorong-gorong.

Di dalam gorong-gorong yang gelap, suram dan berbau bacin, anak-anak yang menunggu untuk keluar duduk berjajar-jajar menanti giliran. Mereka akan selalu ada di sana, tidak bisa dihapuskan dan di lenyapkan, makin hari malah makin banyak bermunculan dari setiap lobang gorong-gorong di seluruh kota. Begitu muncul mereka langsung mengulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba, mereka memberi tanda betapa mereka butuh uang untuk makan hari itu saja, seolah-olah mereka, seolah-olah mereka tidak tahu bahwa mereka memang dilahirkan supaya merasa lapar, supaya menjadi pengemis, supaya menjadi bukti bahwa kemiskinan itu ada. Mereka tetap mengulurkan tangan dari satu jendela ke jendela lain sambil mencoba menengok ke dalam mobil yang berlampu diamana orang-orang membaca Koran Asian Wallstreet Journal dengan penuh keluh dan penuh kesah karena perdagangan telah menjadi sulit dan membuat utang mereka makin membengkak. Menurut kalkulasi para akuntan, mereka jauh lebih miskin dari para pengemis di luar itu, yang meski begitu busuk, hina, dan buruk rupa, sama sekali tidak punya utang. Satu sen pun tidak. Mereka menghela nafas. Hidup begitu berat, pikir mereka. Sebagai hiburan, mereka mengubah mobilnya jadi gedung opera. Dengarlah Monserrat Caballe berkumandang, “Spira sul mare esulla terra.”

* * *

Aku memikirkan semua itu sambil memandang mega-mega. Hamparan lautan kapas memutih bagaikan surga kanak-kanak yang terindah. Dari balik jendela pesawat terbang, matahari memang menjadi lain, cahayanya jatuh dengan lembut, keungu-unguan, keemas-emasan, kemerah-merahan, menyepuh bantalan mega-mega yang seolah begitu empuk dan begitu membahagiakan. Pramugari memintaku memilih minuman, dan aku memilih anggur putih dengan nama yang sulit diucapkan. Setidaknya cocok untuk menyantap ikan dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, dengan serbet di leher, gaya makan orang-orang beradab, sambil menatap awan gemawan yang berwarna selembut yoghurt, terbentang tanpa batas, sungguh suatu pemandangan impian. Di telingaku terpasang headphone, membawaku ke gedung La Scala di Milan. Kudengar Placido Domingo bernyanyi, “L’alba vindice appar.”. Menoleh lagi ke jendela, suaranya bagaikan berada di langit itu. Seolah-olah ia berada di sana, dengan penonton yang duduk meluruskan kaki di antara mega-mega.

Mengembara di antara awan memberikan perasaan betapa dunia ini begitu luas. Dikau bisa melompat berlari dari bantalan mega yang satu ke mega yang lain. Bisa juga membayangkan diri menunggang seekor kuda terbang, atau Lembu Andini, keluar masuk celah awan yang gemilang dalam perubahan warna yang tak tertahan dari saat ke saat, dari pesona ke pesona, dari dunia ke dunia. Langit tak pernah sama dengan bumi. Setiap lapis yang ditembus memberikan makna dan cerita lain.

Menjelajah langit adalah mengarungi dunia cerita yang serba membentang serba menghampar dan serba menjanjikan adanya sesuatu yang lebih menarik di balik awan. Kulihat juga dirimu mengelus kucing itu, seperti seorang dewi yang berkelebat dari mimpi ke mimpi, dari sana ke sini, terlihat sebentar lantas menghilang lagi.

”E lucevan lestele.”. Apakah kamu masih mendengarkan Puccini? Aku masih di dalam pesawat duduk diikat sabuk pengaman, menyantap makanan beradab. Langit yang ungu bersepuh merah. Kutenggak anggur putih. Lantas bersendawa. Ikan salmon yang ku telan menyublim ke udara.

Pramugari mengambil baki. Tak kulihat lagi kamu di luar jendela itu. Kemanakah kamu? Apakah kamu masih menemui aku nanti di bumi? Aku sudah terlalu biasa dengan perpisahan – semuanya selalu berakhir seperti itu. “Tutto e fenito.”. Selalu menyedihkan untuk menyadari, bahwa setiap pertemuan dalam dirinya sudah mengandung perpisahan. Awan merekah. Cahaya mengalir seperti sungai. Pesawat terbang menjadi perahu. Mega-mega bagaikan busa sabun yang mengapung. Kemudian dari balik awan mega-mega yang terbentang seperti lautan kapas menyembul anak-anak itu.

Anak-anak dengan tubuh penuh lumpur membumbung langsung dari gorong-gorong menembus mega dan mengulurkan tangannya di jendela pesawat terbang. Aku terperangah. Kulepaskan headphone. Apakah ini Cuma khayalanku? Ternyata tidak, karena para penumpang juga menjadi gempar. Di setiap jendela disisi kiri maupun kanan muncul satu, dua, sampai tiga anan yang menjulurkan tangan dengan wajah menghiba-hiba dan mata yang dikuyu-kuyukan, nampak sekali berpura-pura, sedangkan yang lain menepuk-nepukkan kerecekan dengan mulut mangap-mangap tak jelas menyanyi lagu apa, darimana pula anak-anak itu tahu sebuah lagu, kalalu tahu pun sudah pasti bukan opera, dan anak yang lain lagi seperti biasa hanya bermodal tepuk-tepukan tangan dengan mata yang tidak terlalu berharap karena sudah terlalu biasa menerima lambaian penolakan.

Para penumpang yang duduk di bagian tengah berebutan melepaskan sabuk pengaman dan berlompatan ke sisi kiri atau kanan jendela. Sebagian dengan cepat segera memotret dan merekamnya dengan kamera video. Para pramugari yang biasanya tegas mengatur tata tertib kini ikut histeris malah tanpa malu-malu melompati penumpang supaya bisa melongok ke jendela. Ajaib. Anak-anak dari kolong bumi yang hanya pantas hidup dalam kekelaman dan hanya pantas hidup dalam penderitaan kini menembus mega-mega, menembus awan gemawan yang tebal melanjutkan kepengemisannya. Anak-anak itu bertebaran sepanjang langit, beterbangan kian kemari membawa terban, kercekan, atau hanya menepuk-nepukkan tangan, mengemis kepada setiap pesawat terbang yang lalu lalang di atmosfir bumi. Mereka membubung langsung dari gorong-gorong yang bagai tiada habisnya terus menerus memuntahkan anak-anak bersimbah lumpur, membumbung langsung ke langit ke arah pesawat terbang dan mengulurkan tangan ke jendela-jendelanya. Di muka bumi anak-anak itu mengulurkan tangan dengan pandangan mata tahu bahwa akan ditolak. “Kami mengemis bukan karena butuh uang,” kata mata itu, “kami mengemis karena kami memang dilahirkan sebagai pengemis.” Maka anak-anak membumbung langsung dari gorong-gorong ke jendela setiap pesawat tanpa mengharap suatu ketika jendela itu akan dibuka dan akan menerima uang logam seratus atau dua ratus rupiah. Lagipula, mana mungkin jendela pesawat dibuka untuk memberi mereka sedekah?

Di langit yang senja, keindahan membentang bagaikan lautan syurgawi. Atap langit berkilau-kilau karena matahari yang lain. Para penumpang di dalam pesawat terbang terperangah oleh suara takbir dari langit yang menembus begitu halus ke badan pesawat. Di jendela, anak-anak yang berlumpur dengan mata yang murni itu menatap kami, dari dalam pesawat kami menatap mata anak-anak itu. Kemiskinan macam apakah kiranya yang tiada mungkin tertolong lagi dan kekayaan macam apakah kiranya yang tak pernah mungkin mengubah kemiskinan itu?

Dalam iringan takbir di langit yang menenggelamkan opera duniawi manapun, anak-anak itu membubung ke atas, melanjutkan perjalanannya. Kucoba menengok ke atas dan hanya kulihat berkas-berkas cahaya berkilauan.



Vancouver – Los Angeles, Februari 1999.

Batu di Pekarangan Rumah

Batu di Pekarangan Rumah

Cerpen Sapardi Djoko Damono



Waktu aku masih kecil ada sebuah batu agak besar tergeletak di salah satu sudut belakang pekarangan rumah kami. Batu itu bundar, bagian atasnya agak rata, hitam legam. Aku suka duduk di atasnya jika teman-teman sudah pulang ke rumah masing-masing sehabis bermain di pekarangan rumah kami itu. Aku sayang sekali pada batu itu sebab ia pendiam meskipun tampaknya tidak berkeberatan jika diajak bicara mengenai apa saja. Jika sedang sendirian malam-malam, sehabis bermain gobak sodor atau jamuran, aku suka duduk di atasnya melepaskan lelah sambil menunjukkan rasa sayangku padanya. Kutanyakan kapan ia lahir sebagai batu, kenapa ia berada di situ, siapa yang telah membawanya ke pekarangan rumah kami, dan kenapa ia lebih suka membisu. Aku tidak mengharapkannya menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu sebab toh seandainya dijawab aku tidak akan bisa memahaminya. la memiliki bahasa lain tetapi tampaknya memahami sepenuhnya makna setiap pertanyaanku. Aku sangat menyayanginya dan merasa seperti kehilangan kawan untuk berbagi perasaan ketika harus pergi meninggalkan rumah demi mata pencaharian, mengembara dari kota ke kota.

Hari ini aku pulang untuk mengiringkan dan menyampaikan salam pisah kepada ibuku yang selalu aku bayangkan sebagai seorang dewi itu. Beliau meninggal dengan sangat tenang kemarin tanpa meninggalkan pesan apa pun. Namun aku merasa bahwa ada sesuatu yang harus kulakukan sehabis pemakamannya, yakni melihat apakah batu itu masih ada di tempatnya yang dulu. Aku yakin dulu Ibu suka diam-diam menyaksikanku duduk di situ sampai larut malam. Batu yang agak besar dan hitam legam itu ternyata memang masih di situ, diam saja seperti menunggu kedatanganku. Malam itu suasana sepi setelah semua keluarga dan tamu yang menyampaikan bela sungkawa meninggalkan rumah kami. Aku dan batu itu berdua saja: aku duduk di atasnya dan sama sekali tidak berniat mengajukan pertanyaan seperti waktu masih kecil dulu itu. la tetap pendiam. Dan aku yakin bahwa sekarang ia pun sama sekali tidak berminat berbagi perasaan denganku karena tidak lagi mampu menguasai kosa kata bahasaku.***




Kalam, No. 19, th. 2003

Hujan, Senja, dan Cinta

Hujan, Senja, dan Cinta


Cerpen Seno Gumira Ajidarma




Karena ia mencintai dia, dan dia menyukai hujan, maka ia menciptakan hujan untuk dia .1


Begitulah hujan itu turun dari langit bagaikan tirai kelabu yang lembut dengan suara yang menyejukkan. Dia sudah tahu saja dari mana hujan itu datang.duduk di depan jendela, diusapnya kaca jendela yang berembun. Jari-jari-nya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu.

”Hujan, o hujan …” Dia berbisik.

Dia begitu berbahagia menyadari cinta kekasihnya yang begitu besar, sehingga menjelma hujan yang selalu dirindukannya. Dia tahu betapa ia selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Dia terharu dengan cinta yang membuat segala benda dan peristiwa menjadi bermakna. Dia memandang keluar jendela, menembus tirai kelabu, melewati desau pohon-pohon bambu yang basah dan berkilat dalam hujan dan angin, mengirimkan getaran cinta yang melesat sepanjang langit mnuju kekasihnya di balik kabut. Kilat berkeredap dan guntur menggelegar diatas gunung dalam pertemuan cinta yang panas dan membara.

Hujan itu tidak pernah meninggalkan dia lagi. Hujan itu selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Ke mana pun dia datang, datang pula hujan ke tempat itu. Sambil menyetir, dari dalam mobil selalu diusapnya kaca jendela. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka. Cinta membuat sepasang kekasih saling memikirkan dan saling merindukan, menciptakan getaran cinta yang merayapi partikel udara, melucur dan melaju ke tujuan yang sama dalam denyutan semesta. Dari milan, dari Kyoto, dari Jakarta…

Terkadang dibukanya jendela mobil, ditadahinya air hujan dengan tangannya, lantas direguknya. Begitulah caranya cinta meresap kedalam tubuh, menjadi bagian dari alam. Meskipun bukan musim hujan, selalu ada hujan yang turun hanya untuk dirinya. Bila dia keluar rumah, lenyap pula hujan. Hujan itu mengikuti mobilnya sepanjang jalan.

Sepanjang jalan yang dilaluinya menjadi basah karena hujan, dan hanya jalan yang dilaluinya saja menjadi basah dan sejuk sebentar karena hujan yang turun ke bumi mengikuti dia atas nama cinta.

”Heran,” kata pembantu rumah tangga di rumahnya, ”setiap kali ibu pergi, hujan berhenti, kalau Ibu datang, hujan lagi.”

”Heran,” kata kawan-kawannya, ”belakangan ini, asal kamu datang pasti hujan, kamu pergi hujan hilang. Padahal bukan musim hujan.”

Suaminya, yang selalupeka terhadap suasana hati istrinya, menadahi air hujan itu, dan membawanya ke laboratorium.

”Ah, ini hujan karena cinta,” katanya kemudian, ”siapa lagi yang jatuh cinta kali ini?”

Dia terkesiap dalam hati. Tapi wajahnya dingin saja.

”Tidak ada apa-apa. Kenapa sih?”

”Kamu kira bisa menutupi perasaanmu yang berbunga-bunga?”

Dia diam saja. Memang hatinya berbunga-bunga.

Diluar hujan masih saja menderas. Air hujan menganak sungai disela-sela rumput, dedaunan basah dan bergoyang-goyang. Tanpa diketahui suaminya dia mengusap seluruh embun disetiap kaca jendela rumah dengan kedua telapak tangannya., lantas membasuh wajahnya. Tubuhnya bergetar dan jiwanya menangis karena terharu. Hujan yang sangat disukainyatak pernah lenyap lagi dari hidupnya. Kekasihnya yang tak terlihat telah mengirimkannya dari jauh atas nama cinta, hanya untuk dirinya saja.

”Hujan, o hujan” desahnya sembari memandang keluar jendela setiap malam.

***

Kemudian tibalah saat ketika cinta diantara dia dan ia memudar. Sebarapa lama sih umur cinta? Hujan yang semula mewakili perasaan cinta yang dahsyat itu sekarang terasa sangat menganggu.

”Cinta kita sudah berakhir, kenapa hujan itu masih saja mengikuti aku ke mana-mana? Lihat semua orang jadi terganggu. Setap keluar mobil aku harus pakai payung. Jalan-jalan di halaman rumah sendiri harus pakai jas hujan. Gimana dong? Kasihan tamu-tamuku. Dimana-mana asal orang berurusan denganku menjadi kehujanan dan basah. Bisa nggak kamu tarik hujanmu ini?”

”Mana bisa? Hujan itu akan selalu ada selama aku masih mencintai kamu.”

”Kamu kira aku senang dicintai kamu? Nggak usah cinta-cintaan lagilah. Tarik hujanmu ini.”

”Sudah kubilang, selama aku mencintai kamu, tidak bisa.”

”Kalau begitu jangan mencintai aku. Bikin repot saja.”

”Bukan salahku. Siapa yang cintanya memudar? Dulu minta-minta dikasih hujan, sekarang omongannya begitu.”

”Bukan salahku aku tidak mencintai kamu lagi. Cewek seabreg begitu. Mana kutahu kamu tetap setia?”

”Aku tetap setia. Menyentuh pun aku tidak pernah.”

”Bukan itu ukuran kesetiaan”

”Apa dong?”

”Sudah kubilang cinta itu abstrak.”
”Tidak.”

”Menurut kamu?”

”Cinta itu konkret.”

”Buktinya?”

”Hujan itu.”

Ia dan dia betengkar sampai malam sambil minum bir plethok. Aneh sekali. Mereka bahagia dalam pertengkaran itu. Barangkali karena mabuk.

”Setidaknya kita masih punya perasaan,” meraka merumuskan setangah mabuk.

Namun hubungan mereka tidak tertolong. Semenjak pertemuan terakhir itu, ia dan dia tidak pernah berjumpa lagi. Meskipun begitu hujan itu tetap mengiringi dia. Perempuan itu selalu bisa melihatnya dari balik jendela loteng,

dimana dia mengalihkan cintanya melalu e-mail ke seluruh dunia.

”Masih cinta juga tuh si doi sama istri macam kamu?” suaminya menyindir.

Dia tak pernah menjawab. Tapi dia tahu jika ia masih mencintainya.

***

Sulit sekali bagi ia untuk tidak mencintai dia. Selama itu pula ia tidak mampu menarikkembali hujan cintanya yang menderas dari langit.

”Pikirkan saja istri kamu,” kata istrinya yang menangkap kegelisahan suaminya, ”jangan istri orang lain jadi beban pikiran.”

Ia tak pernah menjawab, karena tidak ada yang bisa dijelaskan. Setiap kali ia melewati jalan layang yang terlihat di mana sepetak hujan itu berada, tapi ia sudah tidak menghendaki perjumpaan macam apapun. Hatinya hancur berantakan seperti keramik jatuh ke landasan dari pesawat kargo yang sedang take off. Dengan kesal dihapusnya nomor-nomor telepon dia dari hand-phone, namun ini hanya membuat ia semakin kesal, karena toh masih hapal juga. Terlalu banyak hal dari dia telah meresap kedalam dirinya dan tak mungkin dihapus untuk selama-lamanya. Gambar-gambar, foto-foto, kata-kata. Waktu meninggalkan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaanya meresap kedalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Ia tak bisa lagi memandang segala sesuatu didunia ini seperti sebelum berjumpa dengan dia, ia tak bisa lagi berpikir di luar cara berpikir seperti dia. Mereka telah berpisah, tapi tidak terpisahkan. Begitukah caranya cinta berada? Pikirnya. Tapi setiap kali berpikir ia teringat dia. Maka ia berusaha berhenti berpikir. Ia marah sekali dengan cinta.

”Taik kucing dengan cinta,” umpatnya dalam hati.

Namun pada suatu senja yang gemilang, cinta jualah yang menyelamatkanya, ketika seorang dia yang lain muncul kembali dari balik kenangan yang sudah terhapus. Dia tidak berkata apa-apa, seperti kutipan sebuah saja: Tidak ada janji | pada pantai.2

Ia pun tahu, tak ada janji pada perjumpaan yang manapun – tapi janji-janji memang tidak diperlukannya, karena janji sebuah cinta yang paling mebara sekali pun hanyalah janji seuatu senja yang terindah. Kecuali di negeri senja, adakah senja yang tidak berakhir?

”kuberikan segalanya untukmu,” katanya kepada dia, ”kuberikan cintaku, jiwaku, hidupku, apa saja yang kau mau.”
Dia hanya tersenyum menghela napas, memandang senja yang dipantulkan kaca-kaca gedung bertingkat.

”Lihatlah senja di kaca gedung itu,” kata ia kepada dia.

”Kenapa?”

”Bila engkau melewati jalan ini, senja itu masih akan berada disana, selama-lamanya.”
”Bisa?”

”Bisa sekali, selama engkau masih mencintaiku.”

”Aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadamu.”

”Tidak perlu. Senja itu sudah mengatakannya.”

Dia melihat langit senja yang menjadi abadi di kaca-kaca gedung bertingkat itu. Dia tahu betapa sulitnya melihat matahari tenggelam di Jakarta. Tapi kini ia telah mengabadikan senja ke kaca-kaca gedung bertingkat untuk dirinya saja. Dia bahagia sekali, namun tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun tidak berkata apa-apa.

Mereka berdua menatap langit, kubah senja yang merah membara bagaikan sebuah impian yang menjanjikan bahwa Negeri Senja memang betul-betul ada. Tapi langit yang semburat kemerah-merahan itu hanyalah sebuah janji yang sebaliknya. Setiap detik terjadi perubahan warna, dari merah yang membara sampai memancar keemas-emasan ketika matahari mestinya telah terbenam. Mereka tak bisa melihat matahari di balik gedung. Senja yang keemasan-emasan itu kemudian dengan pasti menggelap, semakin gelap, dan menjadi malam. Bagi mereka yang terbiasa mengamati senja, akan selalu tahu bahwa senja belum betul-betul berakhir ketika matahari terbenam, dan senja masih juga berbisiki-bisik ketika langit jadi gelap dan permukaan air laut yang tadinya berwarna emas seolah-olah mendadak lenyap, tinggal kecipak suara lidah ombak. Pada saat seperti itu, sebuah renungan telah mencapai kesimpulannya.

Namun mereak tidak berada di pantai. Mereka di tengah kemacetan jakarta yang tidak membri peluang untuk kalimat yang – seperti kutipan sebuah sajak–-bisa berlarat-larat .3

”Mengapa kita tidak mencari bir plethok,” ujar perempuan itu.

Ia mengangguk. Ia berkesimpulan, banyak perempuan Jakarta suka bir plethok.4

***

Dia memandang keluar jendela lagi pagi itu. Sudah beberapa minggu ini diperhatikannya hujan itu berubah, dulunya lumayan deras, sekarang kederasannya lumayan berkurang, meski belum jadi gerimis.

”Apakah cintanya mulai berkurang?” pikirnya.

Kali ini dia sendiri yang menadahi air hujan itu dengan sebuah gelas, dan membawanya ke laboratorium.

Cinta mulai berkurang. Begitu tertulis dalam kertas laporan, dan dia merasa kecewa. Aneh, dia sendiri yang dahulu menolak hujan itu, dan sekarang ketika hujan itu menujukkan tanda-tanda mereda, dia merasa penasaran.

”Kenapa cintanya bisa berkurang? Cinta itu mestinya abadi dong!”

Dengan setengah panik dia memencet-mencet handphone, tapi tiada jawaban. Dia kirimkan sebuah lagu kelompok Queen melewati voice mail. Sebuah lagu yang menjerit:I Stil Love Youuuu! 5

Tapi semuanya sudah terlambat. Pada senja hari itu juga hujan yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi berubah menjadi gerimis dan akhirnya berhenti sama sekali.

”Hujan, o hujan, kemana kamu hujan,” desahnya

Pada senja hari itu dia menatap keluar dari jendela lotengnya, dilihatnya langit yang kemerah-merahan. Langit begitu cerah. Hujan sduah berhenti. Dia tahu betapa ia menyukai langit senja yang kemerah-merahan seperti itu. Dia ingin mengirimkan senja itu kepadanya, sebagai tanda bahwa dia masih mencintainya – mungkin cintanya memang masih ada sedikit, mungkin agak banyak, mungkin pula hatinya tak pernah berubah sebetulnya, tak jelaslah. Saat itu, detik itu, dia ingin sekali.

Dia menatap langit senja di kejauhan sana, dan tahu itu bukan miliknya. Dia menghela napas dan berusaha mengatasi perasaanya.

”Mungkin aku terlalu sentimentil,” pikirnya.6

***




Pondok Aren, Minggu 30 Juli 2000.


Catatan:

1. Dalam cerita ini, ia adalah kataganti orang ketiga lelaki, dan dia adalah kata ganti orang ketiga perempuan.
2. Dari sajak Goenawan Mohamad, pada sebuah pantai: interlude(1973)
3. Ibidem
4. Cocktail dengan unsure bird an tequila
5. Dari lagu Love of My Love dalam album Live Killers (Juli 1979) vocal oleh Freddy Merkuri (1946-1991)
6. Sajak Pada sebuah Pantai: Interlude(1973) dimulai dengan: semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak sentimentil