Wednesday, 17 November 2010

Anak Kebanggaan

Anak Kebanggaan

Cerpen AA Navis



Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayang banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki.

Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy.

Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu.

"Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit.

Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah."

Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?"

Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.

"Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat.

Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji.

"Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi.

"Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah."

"O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud."

"Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam."

Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya."

Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleh-oleh buatmu." Kemudian kalai Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha."

Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira.

Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin, dia dapat ilham baru. Dia pun merasa pula, bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. Dan pada sangkanya, tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu, sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. Tapi Ompi tak mau mengerti. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi, jika ia tahu orang-orang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Tak masuk akal, orang-orang tak menginginkan anaknya, si calon dokter itu. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara. "Awaslah nanti. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter, akan kuludahi mukamu semua. Sombong." Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. Malah sebaliknya. Dikatakannya, banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Tapi semua telah ditolak. Karena menurut keyakinannya, Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. "Pilihlah saja gadis di Jakarta, Anakku. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak," penutup suratnya.

Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya, lantas jadi membalik pikirannya. Ia jadi sungguh percaya, bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Tak teringat olehnya, bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. Jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan.

Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Tidak peduli ia, apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Dan alangkah gembiranya Ompi, andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. Disamping itu ia sadar juga, bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan.

Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu, dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya. Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. Pasai ia menunggu, dikiriminya surat. Ditunggunya beberapa hari. Tapi tak datang balasan. Dikiriminya lagi. Ditunggunya. Juga tak terbalas. Dikirim. Ditunggu. Selalu tak berbalas. Bulan datang, bulan pergi, Ompi tinggal menunggu terus.

Pada suatu hari yang tak baik, di kala Ompi sudah mulai putus asa, datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. Maka darah Ompi kencang berdebar. Gemetar karena ia bahagia. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu, karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia tak percaya bahw a surat-suratnya itu kembali. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. Dan tahulah ia, bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu. Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia sedang bermimpi. Dan berdoalah ia kepada Tuhan, agar apa yang terjadi adalah memang
mimpi.

Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Ia jatuh sakit, bahkan sampai mengigau. Dan oleh seleranya yang patah, Ompi bertambah menderita jua. Lahir dan batin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Yaitu surat. Surat dari anaknya, Indra Budimannya. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Dan ia telentang di ranjangnya, enggan bergerak. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Redup.

Akan tetapi setiap sore, diantara jam empat dan jam lima, Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Tapi saat-saat seperti itu, yang membiarkan masa bahagia dan harapan, adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya, hingga lebih meroyak. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah, reduplah lagi mata Ompi.

Namun kemalangan itu bertambah lagi. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan, sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. Dan semenjak itu, pada setiap jam empat hingga jam lima sore, matanya akan menatap ke kaca itu. Hanya di waktu itu saja. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya.

Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter, tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran, bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai. Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang, dokter hanya menggelengkan kepala saja. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. Carilah dokter lain saja. Atau bawa ia ke rumah sakit. Kalau semua tak mungkin, jangan tinggalkan dia sendirian. Bila perlu, meski dengan resiko besar, bangunkanlah kembali mahligai
angan-angannya."

Semenjak itu, berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Aku sadar, bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Di samping itu secara samar-samar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali. Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut.

Aku pun tahu, tidak ada gunanya semua. Hanya satu yang dikehendakinya. Surat dari Indra Budiman. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Tapi aku selamanya bimbang, malahan takut, kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal. Maka tak pernah aku coba menulisnya.

Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rum ah Ompi. Hari waktu itu jam sebelas siang. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya. Melainkan sepucuk telegram. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali. Tergesa-gesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. Dan jika perlu akan kuubah isinya. Agar terelakkan saat- saat yang menyeramkan.

Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. Hingga gagallah recanaku. Tak sempat aku membuka surat itu. Karena di luar segala dugaanku, Ompi yang sudah lumpuh selama ini, telah berada saj a di belakangku. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu.

"Bukalah. Bacakan segera isinya." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu.

Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal.

"Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar.

Tak tahulah aku, apa yang harus kukatakan. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. Tapi keajaiban tidak juga datang. Aku mengangguk. Sedang dalam hatiku berteriak, terjadilah apa yang akan terjadi.

Ompi terduduk di kursi. Matanya cemerlang memandang. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku merasa ngeri memberikannya. Tapi aku tak bisa berbuat lain. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Telegram itu digenggamnya erat. Lalu didekapkan ke dadanya. "Datang juga apa yang kunantikan," katanya.

Sepi begitu menekan, sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri.

"Ah, tidak. Aku takkan membaca telegram ini. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. Kaubacakan buatku. Bacakan pelan-pelan. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku," kata Ompi dengan terputus-putus. Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku. Masih terletak pada dekapan dadanya. Sedangkan bibirnya membariskan senyum, serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang.

"Tak usah dibacakan. Takkan sanggup aku mendengarnya. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. Aku mau sehat. Mau kuat dulu. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Panggilkan dokter. Panggilkan. Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku, Dokter Indra Budiman, datang. Pergilah. Panggilkan dokter," kata Ompi dengan gembira.

Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Diciumnya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya.

***

Rumah Bercerita 460 Watt

Rumah Bercerita 460 Watt

Cerpen: Afrizal Malna



Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. Hampir tak ada waktu untuk istirahat. Memperbaiki talang yang bocor, menggali lubang untuk resapan, membuat pagar bambu, mengecat kamar mandi, memperbaiki engsel pintu dan jendela, memasang kabel-kabel listrik.

Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. Tidak cukup untukku hidup. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt. Tapi aku akan mencobanya, hidup dengan 460 watt. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik, karena tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah, tidak terlalu membutuhkan listrik.

Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. Kadang aku sebel, karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Kalau listrik tiba-tiba mati, karena pemakaian yang berlebihan, aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Karena sebel, kadang aku biarkan listrik tetap mati, lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku.

Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Sebagai seorang penulis, aku menjadi sangat kerepotan. Tak ada honor untuk kontrak rumah. Beberapa teman membantuku. Ah… Han, Boi, Katon, Wianta… tengkeyu. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. He-he… tengkeyu. Tengkeyu, man.

Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir, walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang.

Rumah itu sebuah kubangan besar memang. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Terus dikeduk, sehingga terjadi sebuah kubangan besar.
Di sebelah rumah, ada bilik sederhana berdiri, tempat seorang petani biasa beristirahat. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Kadang aku ragu, apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu, hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur.

Rumah ini sudah dua tahun kosong. Tak ada orang yang mengontrak. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka, termasuk mengusir rezim kesenian. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama.

Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka, dari teras depan hingga kamar mandi; beberapa lukisan berjamur, timbunan pasir yang mengotorinya, dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini.

Seorang teman bercerita, di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk, lalu mengalami kecelakaan dan mati. Pelukis perempuan itu sudah mati, tapi lukisannya masih ada. Ada di depanku. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat.

Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. Waktu yang membuat sebuah pintu, tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Mungkin tubuh mereka seperti angin. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan.

Sepasang anjing kami, Kopi dan Kremi, langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa, kecemasanku muncul lagi. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang.

Lembab. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas, tetapi karena lembab. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu, kadang kilatan-kilatan petir. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu, aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu, atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku.

Antara aku dan genteng kaca, seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Mata memandang mata. Dan mereka tidak bisa saling mendusta.

Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang, tapi aku melihat tubuhku sedang mandi, membersihkan diri dari kotoran. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai, atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu.

Kira-kira 10 tahun yang lalu, aku pernah datang ke rumah ini. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto, seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu. Dadang menyewa tanah ini selama 15 tahun, dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Orang cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu.

Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air.

Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Betapa malangnya hidup ini, kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan.

Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur, lalu berdiri sebuah bangunan baru, entah untuk rumah atau untuk ruko. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi, diambil oleh beton-beton.

Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan, agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil.

“Dang, apakah rumah ini pernah mengalami banjir?” tanyaku kepada Dadang. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya, karena dia harus pindah ke kota lain.

“Ya, kalau hujan besar, air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang,” jawab Dadang.

Aku teringat 1.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut, di Ancol, mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok.

Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut, dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. 1.000 patung Dadang ada di dalamnya, mungkin diberi judul: “Instalasi Manusia Pengungsi”.

Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara. Manajer itu orang asing. Ketika dia meninggalkan rumah ini, dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku, aku harus kembali menimba air dari sumur.

Rumah itu memang terus bercerita. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Dan aku mulai kehabisan uang. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita. Ketika aku tak punya uang, rumah itu mirip dengan peti mati. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati. Kalau aku mati, pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup, maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati.

Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela, bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup.

Hmmm…
Hmmm…
He-he-he.

Fit, sayangku, hari ini Petrus akan datang bersama Miko. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Dia akan datang dengan sebotol Vodka, saxophon, dan sebuah harmonika. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme.

Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. Aku terus menggali.

Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Waktu terasa dingin, bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember. Perutku seperti tertekuk ke dalam, menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air.

Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Mata menatap mata. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri, dan bukan bayangan mata air. Kalau itu juga adalah bayangan mata air, maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata.

Hujan mulai berhenti. Langit mulai terang, biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur.

……
Aku melihat hidup.




Sumber: Kompas, Edisi 04/02/2006

Si Bangkak

Si Bangkak

Cerpen AA Navis



Semua orang menyalahkan Mayor Udin menyuruh Si Bangkak yang pandir membersihkan pistol
berpeluru. Karena tiba-tiba pistol itu meledak ketika lagi dibersihkan dan ketika itu pula isteri mayor yang kebetulan lewat di halaman. Dia tertembak tepat di jantungnya. Dan mati. Begitulah yang tersiar ke mana-mana di seluruh daerah komando Mayor Udin. Maka semua orang pun datang melayat dan menyampaikan rasa ikut berduka cita.

Semua orang tafakur ketika jenazah isteri yang tertembak itu dimasukkan ke liang lahat setelah tujuh pucuk senapan menyalvo. Melebihi upacara militer pada waktu penguburan beberapa orang prajurit yang mati dalam pertempuran tanpa salvo demi menghemat peluru. Si Bangkak duduk mencangkung di lereng bukit sambil nanap memandang ke kaki bukit tempat upcara berlangsung. Tak terbaca pada wajahnya apa guratan dalam jatinya, sama seperti sediakala, Seorang saja yang tidak ikut bersedih waktu itu. Yaitu Kepala Desa. Bertahun-tahun kemudian Si Dali tahu, mengapa Kepala Desa itu tidak ikut bersedih. Bertahun-tahun kemudian pula Si Dali menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi.

***
Ketika pasukan Mayor Udin menyingkir ke pedalaman karena kota telah dikuasai lawan, Si Bangkak pun ikut menyingkir

Tak jelas benar mengapa dia ikut ke pedalaman. Dia bukan tentera. Juga bukan pejabat. Mungkin karena ikut- ikutan saja demi melihat semua orang pada meninggalkan kota secara hampir serempak.

Si Bangkak berbadan kekar dengan tingginya sekitar 165 senti. Sedikit orang saja yang sama tingginya dengan Si Bangkak di masa itu. Meskipun demikian, dia bukanlah laki-laki yang menarik. Cirinya khas pada tubuhnya ialah pada kening di atas hidungnya ada daging yang membengkak sebesar kuning telur mentah yang lepas dari putihnya. Karena itulah dia dinamakan Si Bangkak. Kakinya seperti tidak berbetis, hampir sama besarnya dari bawah lutut sampai ke mata kaki. Tapi kaki itu kuatnya bukan main.

Tak pernah lelah. Setiap berjalan langkahnya cepat seperti berlari tanpa alas kaki. Dengan langkah seperti itu pula dia pergi bila saja ada orang menyuruhnya. Siapapun dapat menyuruhnya. Tapi jangan harap dia akan mau kalau disuruh membawa barang berat, meskipun dikasi makan atau uang.

Si Bangkak mempunyai kepandaian khusus, yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dia pintar memijat. Dan lembut sentuhannya. Orang akan terkantuk-kantuk bila seluruh tubuhnya dipijat Si Bangkak. Kepandaian khusus itulah yang menyebabkan Mayor Udin, yang sering masuk angin sangat membutuhkan Si Bangkak. Selama di pedalaman Mayor Udin hampir praktis kurang tidur. Ada kalanya dia tidak sempat tidur sampai dua hari dua malam. Kurang tidur bukan karena mengatur taktik dan strategi perang. Melainkan karena keasyikan main ceki, sebagai pengisi waktu yang luang dan panjang karena tidak ada musuh yang datang menyerang.

Sekali waktu Nunung, isteri Mayor Udin, diserang sakit kepala yang amat sangat. Dua aspirin yang ditelannya tidak menolong. Sedangkan Mayor Udin sedang tidak bisa diganggu. Lagi asyik main ceki dalam posisi kalah. Dia marah dipanggil isterinya dari kamar tidur. Sangka Mayor Udin, Nunung lagi masuk angin, seperti yang sering dialaminya sendiri. Yang apabila telah dipijat Si Bangkak selama setengah jam, sakit kepalanya hilang dan kemudian dia tertidur dengan pulasnya.

"Bangkak." panggil Mayor Udin. "Unimu sakit kepala. Pijat dia."

Tanpa banyak pikir Si Bangkak yang lagi duduk di ambang pintu, segera berdiri. Langsung menuju Nunung ke kamar tidur. Nunung yang tak tahan lagi menderita sakit, dan tahu Si Bangkak disuruh suaminya, lantas berkata: "Ya. Tolong pijat cepat." katanya sambil memberikan botol balsem.

Setelah kening dan tengkuknya dipijat, rasa sakit kepala Nunung memang dirasanya berkurang. Lalu Si Bangkak disuruhnya memijat punggugnya juga, seperti yang biasa dilakukan pada Mayor Udin. Sambil menelungkup dirasakannya benar betapa enaknya pijatan Si Bangkak. Dia pun mulai terkantuk.

Sekali merasa enaknya dipijat, kecanduanlah dia. Sejak itu, bila Mayor Udin asyik main ceki di ruang depan, bila sakit kepala Nunung pun datang. Si Bangkak dipanggilnya untuk memijat. Peristiwa itu memang tidak perlu dicurigai. Nunung dan Mayor Udin sepasang anak manusia yang jatuh cinta semenjak masa remaja, sama-sama cinta pertama. Keduanya dipercaya tak pernah terlibat kasih dengan fihak ketiga dalam situasi apapun. Lagi pula lebih sering ada perempuan lain di kamar itu. Namun selalu jadi bahan olok-olok oleh banyak perwira sampai ke prajurit, dengan mengatakan bahwa mereka lebih suka jadi Si Bangkak saja di masa perang itu.

Nunung lalu berkhayal, apabila Mayor Udin sampai terlelap karena betisnya dipijat, maka dia pun ingin pula mencoba. "Apa salahnya, Si Bangkak, biar laki-laki, dia cuma Si Bangkak. Lagi pula pintu kamar selalu terbuka. Dan ada perempuan lain bersamanya." katanya dalam hati.

Nunung keenakan dipijat. Mayor Udin tak terganggu lagi oleh erangan Nunung yang diserang sakit kepala, bila dia main ceki. Namun keduanya tidak tahu bagaimana perasaan hati Si Bangkak setiap memijat Nunung yang berkulit mulus itu.

***

Menurut Kepala Desa, dia melihat benar Si Bangkak menodongkan pistol ke isteri Mayor Udin. Lalu menekan pelatuknya. Tapi dia tidak mau mengatakan apa yang dilihatnya kepada siapapun. Karena tidak ada untung-ruginya menghukum Si Bangkak. Katanya: "Bagaimana pun pandirnya Si Bangkak, dia 'kan seorang laki-laki. Bukan anak kecil ingusan atau orang gaek jompo."

Maka Si Dali dapat merasakan betapa tersiksa hati Si Bangkak setiap memijat perempuan itu. Justru karena bodohnya itulah dia sampai mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki lain, jika disuruh memijat perempuan muda yang mulus kulitnya. Karena bodohnya itulah dia membunuh setan di kepalanya dengan menembak isteri seorang mayor.


1 Mei 1996


Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali"

Kisah Pilot Bejo

Kisah Pilot Bejo

Cerpen Budi Darma



Barang siapa ingin menyaksikan pilot berwajah kocak, tengoklah Pilot Bejo. Kulitnya licin, wajahnya seperti terbuat dari karet, dan apakah dia sedang gemetar ketakutan, sedih, atau gembira, selalu memancarkan suasana sejuk. Karena itu, kendati dia suka menyendiri, dia sering dicari.

Kalau dilihat dari ilmu pengetahuan, entah apa, mungkin pula sosiologi, dia masuk dalam kawasan panah naik. Hampir semua neneknya hidup dari mengangkut orang lain dari satu tempat ke tempat lain. Ada leluhurnya yang menjadi kusir, lalu keturunannya menjadi masinis, dan setelah darah nenek moyang mengalir kepada dia, dia menjadi pilot.

Karena pekerjaan mengangkut orang dapat memancing bahaya, maka, turun menurun mereka selalu diberi nama yang menyiratkan keselamatan. Dia sendiri diberi nama Bejo, yaitu “selalu beruntung,” ayahnya bernama Slamet dan karena itu selalu selamat, Untung, terus ke atas, ada nama Sugeng, Waluyo, Wilujeng, dan entah apa lagi. Benar, mereka tidak pernah kena musibah.

Namun ingat, kendati pilot lebih terhormat daripada masinis, dan masinis lebih dihargai daripada kusir, masing-masing pekerjaan juga mempunyai kelas masing-masing. Ada kusir yang mengangkut orang-orang biasa, ada pula yang dipelihara oleh bangsawan dan khusus mengangkut bangsawan. Slamet, ayah Pilot Bejo, juga mengikuti panah naik: ayahnya, yaitu nenek Pilot Bejo, hanyalah seorang masinis kereta api jarak pendek, mengangkut orang-orang desa dari satu desa ke kota-kota kecil, sementara Waluyo, ayah Pilot Bejo, tidak lain adalah masinis kereta api ekspres jarak jauh.

Dibanding dengan ayahnya, kedudukan Pilot Bejo jauh lebih baik, meskipun Pilot Bejo tidak lain hanyalah pilot sebuah maskapai penerbangan AA (Amburadul Airlines), yaitu perusahaan yang dalam banyak hal bekerja asal-asalan. Selama tiga tahun AA berdiri, tiga pesawat telah jatuh dan membunuh semua penumpangnya, dua pesawat telah meledak bannya pada waktu mendarat dan menimbulkan korban- korban luka, dan paling sedikit sudah lima kali pesawat terpaksa berputar-putar di atas untuk menghabiskan bensin sebelum berani mendarat, tidak lain karena rodanya menolak untuk keluar. Kalau masalah keterlambatan terbang, dan pembuatan jadwal terbang asal-asalan, ya, hampir setiap harilah.

Perjuangan Bejo untuk menjadi pilot sebetulnya tidak mudah. Setelah lulus SMA dia menganggur, karena dalam zaman seperti ini, dalam mencari pekerjaan lulusan SMA hanyalah diperlakukan sebagai sampah. Untunglah ayahnya mau menolong, tentu saja dengan minta tolong seorang saudara jauh yang sama sekali tidak suka bekerja sebagai kusir, masinis, pilot, atau apa pun yang berhubungan dengan pengangkutan. Orang ini, Paman Bablas, lebih memilih menjadi pedagang, dan memang dia berhasil menjadi pedagang yang tidak tanggung- tanggung.
Ketika dengan malu-malu Bejo menemuinya, dengan lagak bijak Paman Bablas berkhotbah: “Bejo? Jadi pilot? Jadilah pedagang. Kalau sudah berhasil seperti aku, heh, dapat menjadi politikus, setiap saat bisa menyogok, dan mendirikan maskapai penerbangan sendiri, kalau perlu kelas bohong-bohongan.”

Mungkin karena wajah Bejo kocak, Paman Bablas tidak sampai hati untuk menolak. Maka, semua biaya pendidikan Bejo di Akademi Pilot ditanggung oleh Paman Bablas. Kendati otak Bejo sama sekali tidak cemerlang, akhirnya lulus, dan resmi mempunyai hak untuk menjadi pilot.

Namun, resmi mempunyai hak untuk menjadi pilot, tidak selamanya dapat menjadi pilot, bahkan ada juga yang akhirnya menjadi pelayan restoran. Mirip-miriplah dengan para lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan. Mereka resmi berhak menjadi pimpinan perusahaan, tapi perusahaan siapakah yang mau mereka pimpin?

Andaikata dia minta tolong Paman Bablas lagi, kemungkinan besar dia akan diterima oleh maskapai besar. Namun dia tahu diri, apalagi dia percaya, darah nenek moyang serta namanya pasti akan terus melesatkan panah ke atas. Panah benar-benar melesat ke atas, ketika maskapai penerbangan SA (Sontholoyo Airlines) dibuka.

Setelah mengikuti ujian yang sangat mudah sekali, Bejo langsung diterima tanpa perlu latihan-latihan lagi, hanya diajak sebentar ke ruang simulasi, ke hanggar, melihat-lihat pesawat, semua bukan milik Sontholoyo Airlines, lalu diberi brosur. Ujian kesehatan memang dilakukan, oleh seorang dokter, Gemblung namanya, yang mungkin seperti dia sendiri, sudah bertahun-tahun menganggur. Dokter Gemblung bertanya apakah dia pernah operasi dan dia menjawab tidak pernah, meskipun sebenarnya dia pernah operasi usus buntu.

Pada hari pertama akan terbang, dia merasa bangga sekali. Dengan pakaian resmi sebagai pilot, dia menunggu jemputan dari kantor. Dia tahu, beberapa hari sebelum terbang dia pasti sudah diberi tahu jadwal penerbangannya, tapi hari itu dia tidak tahu akan terbang ke mana. Melalui berbagai peraturan dia juga tahu, paling lambat satu jam sebelum pesawat mulai terbang, pilot sudah harus tahu keadaan pesawat dengan jelas.

Demikianlah, sejak pagi sekali dia sudah menunggu di rumah, dan akhirnya, memang jemputan datang. Sopir ngebut lebih cepat daripada ambulans, menyalip sekian banyak kendaraan di sana dan di sini, karena, katanya, sangat tergesa-gesa. Dia baru tahu dari bos, bahwa hari itu sekonyong-konyong dia harus menjemput Pilot Bejo.

Begitu tiba di kantor Sontholoyo di bandara, Pilot Bejo dengan mendadak diberi tahu untuk terbang ke Makassar. Sebagai seorang pilot yang ingin bertanggung jawab, dia bertanya data-data terakhir mengenai pesawat. Dengan nada serampangan bos berkata: “Gitu saja kok ditanyakan. Kan sudah ada yang ngurus. Terbang ya terbang.”

Demikianlah, dengan tangan gemetar dan doa-doa pendek, Pilot Bejo mulai menerbangkan pesawatnya. Sebelum masuk pesawat dia sempat melihat sepintas semua ban pesawat sudah gundul, cat di badan pesawat sudah banyak mengelupas, dan setelah penumpang masuk, dia sempat pula mendengar seorang penumpang memaki-maki karena setiap kali bersandar, kursinya selalu rebah ke belakang.

Hari pertama disusul hari kedua, lalu disusul hari ketiga, dan demikianlah seterusnya sampai tahun ketiga tiba. Dia tidak berkeberatan lagi untuk dijemput terlambat lalu diajak ngebut ke bandara, merasa tidak perlu lagi bertanya mengenai data-data pesawat, merasa biasa mendengar penumpang memaki-maki, dan tenang-tenang saja dalam menghadapi segala macam cuaca. Darah nenek moyang dan namanya pasti akan menjamin dia, apa pun yang terjadi.

Tapi, mengapa manusia menciptakan kata “tapi”? Tentu saja, karena “tapi” mungkin saja datang setiap saat. Dan “tapi” ini datang ketika Pilot Bejo dalam keadaan payah karena terlalu sering diperintah bos untuk terbang dengan jadwal yang sangat sering berubah-ubah dengan mendadak, gaji yang dijanjikan naik tapi tidak pernah naik-naik, mesin pesawat terasa agak terganggu, dan beberapa kali mendapat teguran keras karena beberapa kali melewati jalur yang lebih jauh untuk menghindari badai, dan entah karena apa lagi.

Demikianlah, dalam keadaan lelah, dengan mendadak dia mendapat perintah untuk terbang ke Nusa Tenggara Timur. Awan hitam benar-benar pekat. Hujan selama beberapa jam menolak untuk berhenti.

Pesawat beberapa kali berguncang-guncang keras, beberapa penumpang berteriak-teriak ketakutan. Semua awak pesawat sudah lama tahan banting, tapi kali ini perasaan mereka berbeda. Dengan suara agak bergetar seorang awak pesawat mengumumkan, bahwa pesawat dikemudikan oleh pilot bernama Bejo, dan nama ini adalah jaminan keselamatan.

“Percayalah, Pilot Bejo berwajah kocak, tetap tersenyum, tidak mungkin pesawat menukik.”
Pilot Bejo sendiri merasa penerbangan ini berbeda. Hatinya terketar-ketar, demikian pula tangannya. Meskipun wajahnya kocak, hampir saja dia terkencing-kencing.

Dia tahu, bahwa seharusnya tadi dia mengambil jalan lain, yang jauh lebih panjang, namun terhindar dari cuaca jahanam. Dia tahu, bahwa dia tahu, dan dia juga tahu, kalau sampai melanggar perintah bos lagi untuk melewati jarak yang sesingkat-singkatnya, dia pasti akan kena pecat. Sepuluh pilot temannya sudah dipecat dengan tidak hormat, dengan kedudukan yang disahkan oleh Departemen Perhubungan, bunyinya, “tidak layak lagi untuk menjadi pilot selama hayat masih di kandung badan,” dengan alasan “membahayakan jiwa penumpang.”

Meskipun ketika masih belajar di Akademi Pilot dulu dia tidak pernah menunjukkan keistimewaan, dia tahu bahwa dalam keadaan ini dia harus melakukan akrobat. Kadang-kadang pesawat harus menukik dengan mendadak, kadang-kadang harus melesat ke atas dengan mendadak pula, dan harus gesit membelok ke sana kemari untuk menghindari halilintar. Tapi dia tahu, bos akan marah karena dia akan dituduh memboros-boroskan bensin. Dia juga tahu, dalam keadaan apa pun seburuk apa pun, dia tidak diperkenankan untuk melaporkan kepada tower di mana pun mengenai keadaan yang sebenarnya. Kalau ada pertanyaan dari tower mana pun, dia tahu, dia harus menjawab semuanya berjalan dengan amat baik.

Tapi, dalam keadaan telanjur terjebak semacam ini, pikirannya kabur, seolah tidak ingat apa-apa lagi, kecuali keadaan pesawat. Bisa saja dia mendadak melesat ke atas, menukik dengan kecepatan kilat ke bawah, lalu belok kanan belok kiri untuk menghindari kilat-kilat yang amat berbahaya, namun dia tahu, pesawat pasti akan rontok. Dia tahu umur pesawat sudah hampir dua puluh lima tahun dan sudah lama tidak diperiksa, beberapa suku cadangnya seharusnya sudah diganti, radarnya juga sudah beberapa kali melenceng.

Perasaannya sekonyong menjerit: “Awas!” Dengan kecepatan kilat pesawat melesat ke atas, dan halilintar jahanam berkelebat ganas di bawahnya. Lalu, dengan sangat mendadak pula pesawat menukik ke bawah, dan halilintar ganas berkelebat di atasnya.

Semua penumpang menjerit-jerit, demikian pula semua awak pesawat termasuk kopilot, kecuali dia yang tidak menjerit, tapi berteriak-teriak keras: “Bejo namaku! Bejo hidupku! Bejo penumpangku!” Pesawat berderak-derak keras, terasa benar akan pecah berantakan. ***



(dimuat di Kompas, 02/11/2007 )

TEGAK LURUS DENGAN LANGIT

TEGAK LURUS DENGAN LANGIT

Cerpen Oleh Iwan Simatupang



Tegak lurus dengan langit, ia berdiri di puncak bukit itu. Di kepalanya bulan sabit dari langit sebelum fajar. Di kakinya Tanah kemarau, tahun ini kelewat panjang. Dalam dadanya lesu dan bingung dari dendam yang terlalu lama dipendam, dan baru saja dapat dibalaskan.

Dia baru saja membunuh seseorang. Darah masih lekat di jari-jarinya. Belati masih ia genggam. Dia lari ke bukit itu, diburu tanya: Apa selanjutnya? Setelah berkali-kali belati itu ia dorong ke jantung sang korban.

Apa selanjutnya? Ia tak tahu. Ia hanya tahu, sebentar lagi fajar akan kembang di langit. Sesudah itu, seperti 2x2 = 4, matahari bakal terbit. Belati ia lempar. Tangannya ia remas-remas. Dengan berbuat begitu, ia ingin pesiang tangannya dari gumpal-gumpal darah. Juga, ia ingin panaskan tangannya dan dengan itu tubuhnya. Dingin sebelum fajar menulang sumsum.

Dari desa di kaki bukit itu, mulai dia dengar suara-suara umat manusia yang bakal bangun. Suara dengkur di tepi lena. Suara mimpi-mimpi di babak akhirnya. Suara cumbu dan kasmaran keburu sempat. Suara di ambang hidup nyata sehari-hari.

Terpesona ia mendengarkan suara-suara tanpa definisi itu. Suara dari manusia, tanpa manusia terlihat dan berkata-kata. Suara tentang manusia. Suara yang ikut mencakup ikhwal tentang ia sendiri.

Ia telah membunuh seseorang. Siapa, apa alasannya, kurang jelas. Ia hanya tahu, dengan itu ia mungkin ingin balaskan peristiwa menghilangnya ayahnya dahulu semasa perang .... Satu hari, semasa perang, ayahnya tak pulang. Lewat seminggu, sebulan, setahun. Keluarganya memutuskan: ia hilang. Titik.

Mereka tak sadar, hilang adalah keadaan lebih parah lagi dari mati. Dari tewas. Duka oleh hilang tak boleh, tak pernah, tak pernah, penuh dan resmi. Esok lusa, si hilang bisa saja muncul kembali, segar bugar, tak kurang suatu apa. Bahkan, mungkin ia pulang bawa harta atau nama.

Tetapi, mereka sekeluarga kini sudah menunggu lebih 17 tahun. Ibunya dalam pada itu sudah meninggal pula. Pesannya, "Kalau ayahmu pulang nanti, sampaikan salam saya. Sampaikan juga, saya masih cin."

Hampir muntah ia mendengar sentimen film India begitu dari mulut ibunya sendiri. Bah! Pikirnya, ibu kandungku sendiri sampai napas terakhirnya pecandu film India.

Ibunya dikubur. Sejak itulah mulai sejarah bencinya terhadap ayahnya, yang tak sempat ia kenal. Ia tiga tahun ketika ayahnya hilang. Ayahnya, yang dengan hilangnya itu telah menciptakan kekacauan metafisis di kalangan keluarganya.

Ia dan kedua abangnya—mereka bertiga sesaudara—selama ini tak dapat menyebut diri yatim. Ibunya tak dapat menyebut dirinya janda. Oleh sebab itu, plat nama ayahnya masih saja tak mereka turunkan dari depan rumah. Surat, koran, kuitansi, formulir penetapan pajak, semuanya masih saja mendukung nama ayahnya.

Lebih pahit lagi adalah perkumpulan dan partai ayahnya, masih saja terus melakukan tagihan-tagihan iuran tiap bulan. Apa yang dapat mereka lakukan, selain membayarnya saja? Menolak membayar berarti menyuruh mereka menjawab sejumlah tanya yang demi kesentosaan batin mereka sebaiknya jangan mereka jawab dahulu. Jangan sekarang ini! Nanti, bila semua sudah jadi sejarah— termasuk jasad mereka sendiri—pertanyaan itu boleh saja diajukan. Yang menjawabnya nanti toh sejarah juga.

Jadilah keluarga ini keluarga aneh. Mereka tiap hari bertarung melawan sejarah. Sebab, salah satu dari sekian kenyataan pahit dalam pergaulan antarmanusia adalah manusia yang satu pada dasarnya tak dapat membiarkan sendirian manusia lainnya. Didorong-dorong oleh apa yang lazim disebut sebagai kesadaran manusia modern, sosiologi, sosialisme, demokrasi, tata krama, dan entah apa lagi, tiap manusia menganggap sebagai hak, bahkan kewajiban mereka untuk ikut-ikutan mencampuri urusan manusia lain. Celakalah makhluk yang mencoba-coba menentang kecenderungan zaman ini.

Suatu hari, datang ke rumah mereka petugas sensus. "Telah sekian tahun kita merdeka, katanya. Demi gengsi kita, sebagai negara dan bangsa berdaulat—ayo! jawab, siapa, di mana, kepala keluarga ini?”

Mereka sekeluarga melongo. Hantu yang selama ini berhasil mereka bendung di luar pagar rumah dan tempurung kepala mereka, kini duduk di kursi di kamar tengah, balpoin di tangannya, formulir putih di hadapan-nya, suaranya lantang, wajahnya penuh prosa PGP.

Singkatnya: petugas sensus itu telah melenyapkan keseimbangan yang selama ini berhasil dipertahankan keluarga itu. Kedua abangnya membunuh petugas itu, mereka ditangkap, dihukum seumur hidup di tempat pembuangan yang sangat jauh.

Seorang kenalan baik, duda setengah baya, amat kaya, sering datang main bridge dan halma, menyangka dapat berbuat baik terhadap keluarga itu dengan melamar si ibu. Kebaikannya begitu besarnya, hingga hal-hal seperti peri kemanusiaan, kesadaran sosial dan kebutuhan kelamin cukup disimpulkannya dalam hanya satu gagasan saja. Yakni: menghendaki istri dari kawan baiknya yang telah menghilang.

Si ibu melongo. Rohani dan jasmaninya kacau. Rohani: bagaimana perkawinan kembali seperti ini dapat ia benarkan secara hukum, adat, moral dan agama? Dia bukan janda. Di lemarinya tak ada ia simpan surat cerai maupun surat kematian suaminya. Jasmani: bagaimana kesempatan legal seperti kawin kembali ini dapat ia lewatkan begitu saja, sedangkan ia sendiri—betul tak muda benar lagi—masih sehat, cantik? Ia tak mau jadi hanya hormon bertumpuk saja ....

Suatu pagi, anak bungsu, tokoh kita, perlu sisir. Ia masuk bilik ibunya yang ada di ranjang sedang dipeluk dan dikecup habis-habisan oleh kenalan baik yang suka sering datang main bridge dan halma itu. Mereka bertiga serempak berteriak, Tokoh kita: terperanjat sangat, tak percaya, sangat putus asa.

Ibunya seharian menangis, meraung-raung. Petangnya, ia meninggal, setelah dalam gaya film India meninggalkan pesan padanya, "Kalau ayahmu pulang nanti, sampaikan salam saya. Dan sampaikan juga, saya masih cin ...."

Tetapi di balik seluruh kekacauan ini, kerangka masalah tokoh kita ini setidaknya telah punya beberapa tonggak pasti. (1) Dia kini piatu: ini tak dapat disangsikan lagi. (2) Kedua abangnya tak bakal pernah dilihatnya seumur hidup lagi. (3) Tinggal hanya ia sebatang kara saja dari seluruh keluarganya di dunia ini. (4) PS: Ayahnya masih saja sewaktu-waktu bisa datang, pulang ... mengetuk pintu, masuk, lalu membaca surat kabarnya, berbuat seolah tak ada kejadian apa-apa sama sekali selama ini.

Suatu hari, tokoh kita bertemu gadis, tunggang-langgang jatuh cinta padanya, kontan dilamarnya kawin, kontan dijawab ya, oleh si gadis.

Pesta disiapkan segera. Tetapi, sehari sebelum hari perkawinan, orang tua gadis berkeras ingin kenal orang tua mempelai laki-laki.

Kematian ibunya cepat ia ceritakan. Tetapi, kerongkongan-nya tersumbat ketika ia akan mulai tentang ayahnya. Apa yang harus dan dapat ia katakan? Ia berpendirian, perkawinan tak baik dimulai dengan bohong besar. Oleh sebab itu, ia ceritakan saja kejadian sebenarnya.

Mempelai laki-laki tak tahu, apakah ia pernah punya ayah atau tidak! Begitulah kesimpulan orang tua gadis mengenai gagasan "Ayahku hilang" itu. Mungkin ia anak gamnpang. Cinta adalah satu, tapi nama, terutama asal-usul yang baik, jelas, adalah lain, demikian kata mereka, membatalkan perkawinan, memasang advertensi di koran esoknya, minta maaf sebesarnya kepada para undangan yang sempat datang.

Bekas calon istrinya sejak itu jatuh sakit. Ia mulai batuk-batuk. Makin lama, makin kurus, makin pucat. Bulan lalu ia meninggal, di sanatorium penyakit paru-paru, juga setelah dalam gaya film India tinggalkan pesan baginya melalui juru rawat, "Sampaikan salam saya padanya. Sampaikan juga saya masih cin ...."

Sampai dengan di sini, masih dapat ia mengikuti dan memahami jalan peristiwa. Ia banyak membaca, mendengar, bahkan melihat sendiri keluarga yang terus-menerus dihantam nasib jelek, akhirnya lenyap sama sekali dari muka bumi, tak tinggalkan bekas apa-apa, kecuali kenangan keluarga-keluarga lainnya tentang mereka sebagai "keluarga malang". Apa boleh buat! Dewa-dewa di kayangan rupanya telah memperhitungkan ia masuk ke dalam keluarga seperti itu. Takdir tak dapat dibendung. Ia telah siapkan dirinya bagi perannya dalam babak terakhir tragedi keluarganya itu.

Tetapi, apa yang membuat konsentrasinya tentang drama dan tragedi keluarganya tadi tunggang-langgang, adalah kedatangan seorang laki-laki tua pagi tadi ke rumahnya. Ia ini ketuk pintu, masuk, duduk di kursi besar, baca surat kabar dan berkata dengan suara datar, "... Aku ayahmu."

Tokoh kita melongo. Tak dapat, tak ingin ia berkata apa. Apa, mana bukti ia ini benar ayahnya? Bila benar ia ayahnya, mengapa baru sekarang ia kembali? Ke mana, di mana ia selama ini? Peristiwa apa sembunyi di belakang hilangnya ia 17 tahun yang lalu? Adakah ia ikut perang, ditawan musuh dan baru dilepas sekarang? Seandainya ia tak ikut perang, pikiran fantastis mana yang telah menyergapnya untuk pergi menghilang begitu saja dari rumahnya 17 tahun lamanya? Adakah ia jadi pedagang pasar gelap? Penyelundup senjata gelap? Atau garong? Atau, pergi bertapa ke puncak salah satu gunung berapi?

Seribu satu tanya dapat ia ajukan. Seribu satu jawab dapat ia beri. Oleh sebab itulah ia putuskan diam saja. Lagipula, siapa tahu laki-laki tua ini bukan ayahnya sama sekali. Mungkin ia ini seorang penipu. Atau seorang sinting biasa saja yang ingin bikin gara-gara, lelucon cempulang.

Akan tetapi curiganya mulai timbul ketika laki-laki tua itu berdiri, pergi ke kamar yang selama ini dianggapnya sebagai kamar ayahnya, membuka lemari yang selama ini dianggapnya sebagai lemari pakaian ayahnya, mengambil satu stel pakaian dari dalamnya. Kemudian ia pergi mandi, di kamar mandi menyanyikan lagu-lagu kesukaan ibunya almarhumah. Selesai bersalin pakaian, ia duduk lagi di kursi besar tadi.

Tokoh kita diam saja. Orang tua itu tersenyum saja— senyum lembut orang tua—sedang matanya tajam memperhatikan tokoh kita terus.

Pandangan mata inilah terutama yang membuat tokoh kita bingung. Seolah kedua bola matanya adalah bara, berpijar hitam, masuk menerobos ke dalam seluruh tubuhnya. Terlebih, ada sesuatu yang khas pada mata itu. Ia menyerupai matanya sendiri! Juga menyerupai mata abangnya yang telah membunuh petugas sensus itu. Curiganya makin besar. Ulu hatinya nyeri. Darahnya berkali-kali tersirap. Bulu kuduknya tegak. Mata! Mata itu!

Ia sebenarnya telah siap dengan pembulatan satu kesimpulan dalam dirinya bahwa laki-laki tua yang duduk di hadapannya itu, adalah seorang penipu biasa saja—ketika pandangan mata mereka tiba-tiba saling bertemu. Laksana pola listrik sejenis, elektron-elektron kedua pasang bola mata itu saling bertolakan. Tokoh kita tertunduk! Ia kalah! Kedua bola matanya lari terbirit-birit ke motif-motif permadani di bawah telapak kakinya. Mata! Mata itu!

Itulah tanda pengenal yang paling ia takuti. Sebab hanya kedua abangnya sajalah selama ini yang sanggup menentang pandangan matanya. Dan ini adalah, oleh karena mata kedua abangnya itu sama saja dengan matanya sendiri. Bulat, hitam pekat, putihnya bening, kedipnya penuh wibawa, sinar yang dipijarkannya penuh melankoli, sekaligus kekerasan, yang berbatasan dengan kekejaman.

Tak pernah ada orang lain yang sanggup menantang pandangan mata mereka. Bahkan, ibu mereka sendiri tak dapat. Adalah pandangan mata demikian, kata ibunya, yang justru membuat ia jatuh cinta pada ayahnya. Ya, mereka bertiga mewarisi mata ayahnya.

Dan kini, salah seorang ahli waris itu duduk berhadapan dengan sang pewaris....

"Ayah!"

Hanya itu. Untuk selanjutnya, ia merangkul orang tua itu. Ia benamkan kepalanya dalam pangkuannya. Ia menangis. Orang tua itu kaku saja. Tampak ia keras sekali berusaha memerangi perasaannya. Sudut-sudut mulutnya yang sudah mulai keriput itu, ia rentangkan. Bibirnya ia peras kuat-kuat menjadi satu garis tipis yang kelewat lurus. Tangannya ia genggamkan erat-erat pada tangan kursi. Ia takut, kalau tangannya itu pergi menjalar, mengelus rambut ikal bergelombang yang diempaskan ke pangkuannya itu ....

Masih saja mereka tak berkata-kata. Dalam pada itu, mereka sudah makan siang, tidur siang, mandi sore, bersaling pakaian, menghirup teh sore. Kini mereka kembali duduk di ruang tengah, berhadap-hadapan, tak berkata satu apa. Tokoh kita tunduk, sedang orang tua itu terus saja memandanginya.

Tiba-tiba saja tokoh kita memutuskan bagi dirinya sendiri, tak dapat ia lanjutkan hidupnya begini. Yakni: tunduk tepekur saja memperhatikan motif-motif permadani di ubin. Teror yang datang menyorot dari kedua bola mata orang tua itu, tak ingin ia tanggungkan lebih lama lagi.

Ia telah menanggungkan nasib dari ranting terakhir satu keluarga yang ditakdirkan bakal lenyap sama sekali dari muka bumi ini. Ia bahkan telah sedia menerima tingkahan terhadap kutuk itu dengan misalnya menerima orang tua itu misalnya mungkin ayahnya sendiri, mungkin pula tidak.

Ya, kesedihannya besar sekali. Sebab telah ia putuskan untuk tak mau membangun kerangka-kerangka persoalan yang pelik lagi bagi dirinya sendiri, yang toh tak akan banyak berhasil memberi penyelesaian apa-apa baginya. Ia letih main catur melawan dirinya sendiri. Untuk selan-jutnya ia telah pilih sebagai filsafat hidupnya: me-remis-kan dirinya dengan hidup, termasuk dengan dirinya sendiri.

Tetapi terkutuk untuk seumur hidupnya; tak bakal berani lagi ia menatap jauh-jauh ke kaki langit, tak berani melihat ke puncak-puncak gunung dan bintang-bintang di langit, hanya oleh karena ada seorang tua mempunyai sepasang mata yang sama dengan matanya sendiri, dan oleh sebab itu tak sanggup ia tantang—tidak! Ia tidak mau, tak sedia!

Secepat kilat ia temui pada motif-motif permadani di bawah telapak kakinya itu jawaban bagi seluruh persoalannya. Kalau benarlah orang tua itu ayahnya, maka adalah orang tua ini juga telah menciptakan seluruh tragedi keluarganya itu. Dengan menghilangnya abangnya membunuh petugas sensus itu. Ia pulalah sebenarnya yang telah membuat ibunya terdampar ke dalam pelukan laki-laki kenalan baik mereka yang suka datang main bridge dan halma itu, dan lempang mengantarnya ke kubur.

Terlebih lagi: kalau ia ini ayahnya, maka adalah ayahnya ini juga yang telah bikin lebih parah kekacauan dalam dirinya kini dengan justru pulangnya ia sekarang ini.

Dan seandainya orang tua ini bukan ayahnya, tetapi cuma seorang penipu atau sinting biasa saja, maka efek kedatangannya ini masih tetap sama saja: ia telah mengingatkan tokoh kita, anak bungsu dan ranting terakhir keluarga yang terkutuk bakal lenyap dari permukaan bumi ini, kepada nasib yang sedang menanti dirinya.

Bahwa dirinya sudah dapat ia anggap mulai sekarang sebagai satu pengertian yang sebenarnya tak apa-apa lagi, dan oleh sebab itu sewaktu-waktu dapat ditiadakan, baik oleh kekuatan dari luar, maupun oleh dirinya sendiri, sudah jelas baginya kini. Mengenai ini, ia tak ragu-ragu lagi dalam dirinya sebenarnya juga sudah lama tersedia satu gagasan itu—walaupun diakuinya, aktualitas itu membuatnya agak menggigil juga.

Yang harus segera diselesaikannya dalam benaknya kini adalah, tafsiran apa selanjutnya dapat ia beri kepada kedatangan orang tua itu sendiri dalam kerangka gagasannya itu. Kalau ia tak salah dalam penilaiannya, orang tua inilah sebenarnya penyebab dari seluruh duka ceritanya, lepas dari persoalan benar atau tak benar ia ayahnya yang sesungguhnya. Selanjutnya, kalau ia juga tak salah dalam penilaian berikutnya, kedatangan orang tua ini kini sebenarnya hanyalah mungkin mempunyai satu arti saja. Yaitu, sebagai motif yang dapat mempercepat pelaksanaan gagasannya tadi!

Setelah selesai motif-motif pada permadani di bawah telapak kakinya di ubin itu—lingkaran-lingkaran spiral merah, kuning, biru—diedari matanya semua, selesailah ia mengatasi gamang yang berkecamuk selama bertahun-tahun ini dalam dirinya, dan yang barusan saja beroleh klimaknya dalam menit-menit terakhir ini.

Kini ia dapat bertindak. Harus bertindak! Satu ketenangan kosmis menyelubungi dirinya. Tiap keping dari napasnya, tiap fragmen dari perasaannya, pikirannya, pengideraannya, mulai kini adalah bagian dari satu perhitungan yang sangat teliti.

Ia pergi ke dapur. Diambilnya sebilah belati. Dia kembali. Tenang ia tantang pandangan mata orang tua itu. Orang tua itu tersenyum. Kemudian, tenang sekali, ia tikamkan belati itu ke dalam dada orang tua itu. Berkali-kali.

Orang tua itu rebah. Darahnya menutupi lingkaran-lingkaran spiral, merah, kuning, biru di permadani. Lama tokoh kita tegak memandangi mata mayat terbelalak itu. Seluruh peralihan sinarnya, dari bening hingga redup seperti susu keruh itu, disaksikannya. Akhirnya pelupuk mata redup itu dikatup-kannya. Tertutup! Tertutup sudah danau keruh itu!

Apa selanjutnya? Ia tak tahu. Tiba-tiba ia merasa dirinya seperti srigala hutan yang bingung, sebab danau tempat ia biasa minum, baru saja tertimbun tanah longsor. Ia menjalar sedahsyatnya. Seluruh isi hutan diam menggigil ketakutan. Kemudian ia lari.

Kenapa? Tak peduli. Pokoknya: lari. Kencang!

Pelan-pelan pada selimut langit terkuak warna putih abu-abu. Ke bumi memantul bayang mainan warna di langit ini. Bulan sabit miring ke tenggara. Angin daratan bertolak ke pantai. Kelelawar-kelelawar berpulangan ke pohonnya.

Sekali lagi ia remas-remas tangannya. Gumpal darah penghabisan ia jentikkan dari kuku kelingking kirinya. Ia tarik napas panjang.

Gagasannya kini telah selesai ia laksanakan. Ia puas. Nanti, setelah matahari terbit, ia akan pulang ke rumah, mandi, bersalin pakaian, sarapan pagi. Sesudah itu ia akan pergi ke kantor polisi.

Apabila ayam pertama berkokok nanti, senyum lebar kembang di wajahnya. Senyum yang sangat membebaskan. Tegaknya ia hadapkan pada matahari bakal terbit, tegak lurus dengan langit.***

Gadis Pengigau

Gadis Pengigau

Cerpen Hamsad Rangkuti



WAKTU mengenang 100 hari wafatnya Umar Kayam; di bangku pengunjung, aku teringat guyon-guyon segarnya, si cerpenis besar itu. Satu di antara guyon itu, yang sangat kuingat, dan selalu kuusahakan untuk aku terapkan; sering menyelamatkanku dari kondisi terdesak. Misalnya, pada waktu anak sakit yang harus segera dibawa ke dokter, atau tiba-tiba harus mentraktir teman makan, atau mendadak dibutuhkan untuk urusan pemicu lahirnya sebuah karya. Guyon itu dia ucapkan pada waktu mengambil honorarium cerpennya di Balai Budaya. Menurutnya, mata uang itu ada jenis kelaminnya. Uang perempuan dan uang lelaki. Uang perempuan untuk perempuan di rumah. Uang lelaki untuk disembunyikan di dalam dompet. Honorarium itu, katanya waktu itu, adalah uang lelaki.

Godaan di hari tua selalu saja datang. Dia datang malam-malam, mengendap begitu saja masuk ke kehidupan yang rapuh. Aku didatangi lelaki itu usai acara itu. Ia rupanya mengundang seorang wanita muda ke tempat itu dan dia tidak bisa mengantarnya pulang. Dia tahu kalau aku searah pulang dengan kereta, lalu begitu saja dia minta kesediaanku sebagai teman perjalanan.

Di stasiun kereta, kami menunggu kereta datang. Wanita muda itu menceritakan siapa dirinya dan apa pula cita-citanya. Dia rupanya tahu siapa aku, penulis yang dia kenal. Kelihatannya dia ingin masuk lebih dalam ke dunia seni. Laki-laki yang tak bisa mengantarnya pulang itu adalah seorang penyair sementara dia ingin jadi pengarang. Maka, dia merasa beruntung; menurut dia, bisa berkenalan dengan pengarang yang sudah dia kenal namanya, malam-malam begini.

Aku adalah orang yang suka pada malam. Wanita muda yang datang begitu saja dalam malam-malam seperti ini mengundang rasa berdebar. Jantung tuaku tak pernah berhenti berdebar setiap ada dering telepon. Apalagi wanita muda seperti ini datang malam-malam dalam ujud nyata, bukan hanya sekadar suara.

Kereta api itu datang dengan penumpang yang berdesak. Para penumpang mulai berdiri di peron dalam kelompok-kelompok kecil mendekati pintu kereta. Mereka adalah para pekerja toko. Wanita muda itu tidak mau berdesak-desakan. Dia meminta supaya menunggu kereta berikutnya. Kereta itu pun berlalu meninggalkan kami. Dari sinilah awal kehidupan malamku berlangsung bagaikan fiksi. Peron tiba-tiba menjadi sunyi. Kereta itu adalah kereta terakhir. Kami terjebak dalam kesunyian peron.

"Mungkin itu tadi kereta terakhir?" katanya senyum. Agak aneh. Tak tampak kegelisahan di air mukanya. Mungkinkah wanita itu sudah telanjur keluar ditarik laki-laki itu dari dunia ruang terbatas, dengan lingkungan kecil manusia. Apakah dia telah menjadi liar, dalam batas-batas yang wajar. Malam ini dia bersandar pada tiang, memandang kesunyian dengan wajah tanpa ekspresi. Dua jalur rel dalam cahaya lampu yang lemah terentang di belakangnya, tak jauh dari tempat dia berdiri. Langit kota menyungkup jalan-jalan yang murung. Mobil melintas satu-satu. Lampu jalanan tampak seperti mata tua yang mengantuk. Angin malam yang berembun mengembus roknya. Mataku mengikuti embusan angin itu dan berhenti menatap roknya yang tersingkap; putih pahanya tampak tak begitu sempurna dalam remang cahaya yang tak menguntungkan. Dengan gugup ia buru-buru menurunkan ujung rok itu dan berkata: dingin; untuk menghilangkan kegugupan dan rasa malu. Mataku melirik mencuri wajahnya, memandang leher jenjangnya dan turun ke bawahnya, berhenti sejenak di tepi gaunnya yang berleher terbuka, menyeruak ke dalam, di antara buah dadanya. Kulitnya halus dan kencang. Kemudaan bersembunyi di bawah gaun itu.

"Aku tadi seharusnya memakai celana panjang. Tetapi, dia menginginkan aku memakai rok."

"Oh, sudah sampai begitu dia mendiktemu?"

Stasiun sudah tak berpenghuni. Lampu stasiun satu per satu dipadamkan. Inilah saat melihat pojok-pojok gelap pelataran peron. Dari sudut-sudut gelap tikus-tikus bermunculan mencari remah-remah penumpang. Rel memanjang bagaikan tangga bambu yang panjang menakutkan. Langit tampak pucat. Awan bagaikan pelupuk mata menutup mata dunia, bulan bulat penuh.

"Mungkin kereta sudah habis."

"Mungkin. Lalu bagaimana?"

"Aku tak biasa pulang malam. Apa masih ada bus? Untuk taksi mungkin terlalu mahal." Katanya gelisah. Dia telah masuk lagi ke dunianya yang sempit, dunia ruang terbatas, dengan lingkungan kecil manusia. Dia tampak gelisah dan tidak menunjukkan dia dari dunia liar. Aku mengingat-ingat jumlah uang di dalam dompet. Perjalanan pulang cukup jauh. Untuk sebuah taksi tentu terlalu mahal. Tetapi, kalau sudah terpaksa apa boleh buat. Uang lelaki ada di dalam dompet.

"Sebelum sakit, aku biasa pulang malam. Malam adalah bagian dari hidupku. Aku sudah terbiasa dengan malam. Malam adalah milik orang-orang yang terjaga. Jangan khawatir. Pukul segini masih ada bus ke Kampung Rambutan. Kita coba dulu menunggu bus. Kalau sudah sampai di sana, sudah gampang. Kau naik bus ke arah rumahmu, aku naik bus ke arah rumahku? Kalau terpaksa, bila tidak ada bus, kita naik taksi. Bagaimana?"

"Tunggu sebentar," katanya.

Dia berlari ke bilik telepon. Mungkin dia mencoba menghubungi laki-laki itu, meminta agar mengantarnya pulang dengan mobilnya. Tetapi, dia muncul dengan wajah lesu. Dia bersungut mengatakan kalau lelaki itu tidak sempat. Menurut laki-laki itu, tempat tinggal wanita itu malam-malam begini menjadi sangat jauh, untuk pulang lagi ke rumahnya. Dalam percakapan telepon saku, lelaki itu bilang kalau dia telah mempercayakan semuanya kepadaku. Dia tidak ingin menarik kepercayaan itu. Mungkin dia berdalih.

"Sudah sampai di mana hubungan kalian?" tanyaku.

"Dia mengajak tidur di hotel malam ini, tidak usah pulang."

"Mengapa ditolak?"

"Aku bukanlah wanita yang bersarang dalam pikiran kotornya."

Mungkin ini adalah bus terakhir, mungkin juga tidak. Kami naik. Hanya ada dua bangku yang kosong. Satu di depan. Satu di belakang. Aku suruh dia duduk di depan, aku duduk di belakang. Sebelum bus sampai di terminal terakhir penumpang yang duduk di sebelahnya turun. Dia bergeser ke tepi jendela. Itu kuartikan isyarat agar aku pindah duduk ke sebelahnya. Hangat tubuhnya menjalar ke tubuhku. Mungkin begitu pula sebaliknya.

"Aku tidak mau pulang. Sudah terlalu malam. Apa kata tetangga nanti. Para peronda itu selalu menyindir dengan kata-kata kasar."

"Apa perlu kuantar?"

"Tidak usah."

"Kalau tidak pulang, di mana kau mau tidur."

"Di halte. Atau di terminal"

"Sangat berbahaya untuk seorang gadis seperti kau."

"Biarin. Biar dia tahu. Dia nanti pasti menelepon ke rumah. Aku ingin tahu apa reaksi dia. Bapak pulang saja."

"Oh, tidak bisa begitu. Bapak telah merasa bertanggung jawab atas keselamatanmu. Tidak tega rasanya membiarkanmu tidur seorang diri di terminal"

"Kalau begitu temani saya. Kita bergadang di terminal sampai pagi."

"Kalau tidak pulang, nanti apa kata keluargamu?"

"Aku akan bilang menginap di rumah teman."

"Di mana rumah temanmu? Biar kuantar."

"Tak usah. Sudah terlalu malam. Tak baik mengetuk pintu orang larut malam begini."

"Jadi, bagaimana?"

"Ya, begitu. Bapak pulang. Saya menginap di terminal."

"Tidak bisa begitu. Aku sudah telanjur merasa bertanggung jawab padamu."

"Kalau begitu kita bergadang di terminal sampai pagi. Dia pasti menelepon ke rumah Bapak. Dan apa reaksi dia kalau dia tahu ternyata Bapak juga tidak pulang. Aku akan mengarang cerita padanya. Kita tidur di hotel."

"Jangan begitu. Itu fitnah."

"Kalau begitu Bapak pulang saja. Saya tidak apa-apa kok tidur di terminal. Anggap saja menunggu mobil luar kota yang berikutnya."

"Aku sebenarnya tidak pernah tidak pulang malam."

"Bapak mau kan? Kita bergadang di terminal. Minum kopi sampai pagi? Katanya seniman. Pengarang. Seniman kan akrab dengan dunia malam."

"Tetapi, Bapak tidak pernah tidak pulang. Tidak pernah tidak tidur di rumah. Setiap malam, setiap aku terjaga tengah malam, selama tiga puluh tiga tahun, yang tampak adalah wajah istri. Ingin rasanya aku ada malam yang ganjil di antara ribuan malam dalam kehidupanku. Begitu terbangun tengah malam, bukan wajah istri yang terlihat di sisiku, tetapi wajah wanita lain di tempat tidur yang berbeda."

"Cobalah malam ini. Di bangku Terminal Kampung Rambutan. Anggaplah ini malam yang ganjil di antara ribuan malam kehidupan Bapak. Begitu terbangun tengah malam, ada wanita lain yang tidur di samping Bapak. Aku orangnya. Bagaimana? Bapak setuju? Katanya seniman."

Aku mulai tertarik. Bagaimana mau jadi pengarang besar kalau tidak berani bertualang seperti Hemingway?

"Tunggu dulu. Biar kutelepon ke rumah."

"Pakai menelepon segala. Betul-betul Bapak ini golongan STI."

"Apa itu STI?"

"Suami takut istri."

"Bukan itu masalahnya. Soalnya sejak Bapak sakit berat, belum pernah keluar rumah sampai jauh malam seperti malam ini. Apalagi tidak pulang."

"Sudah, telepon sana. Bikin alasan yang tepat. Masa pengarang tidak bisa bikin karangan kepada istri. Bisanya hanya kepada pembaca. Ayo, telepon sana. Kita bergadang sampai pagi."

Aku pergi ke bilik telepon. Kubayangkan istriku dengan mata mengantuk mengangkat gagang telepon.

"Halo. Bisa bicara dengan Ibu Hajjah Nurwindasari?"

"Enggak lucu, ah! Di mana kau? Sudah pukul berapa ini? Kau kan baru sembuh dari sakit beratmu. Lupa kau satu bulan di rumah sakit? Tiga bulan di kursi roda? Tiga bulan memakai tongkat? Baru dilepas mengenang 100 hari Umar Kayam sudah macam-macam. Ayo cepat pulang. Nasi sudah dingin nih. Sudah sedingin hidung kucing. Ayo cepat pulang!"

"Tunggu dulu. Dengar dulu. Ini ada Nashar."

Aku sengaja masuk ke dunia bisnisnya. Bisnis lukisan. Bisnis lukisan yang digelutinya akhir-akhir ini sudah cukup maju. Dia bahkan sudah bermain di kalangan atas para kolektor. Dia sudah sampai ke Bali, Yogya, Surabaya, dan Bandung dalam urusan lukisan. Nashar sengaja kusinggung, sebab dia sedang mencari lukisan Nashar. Mengapa para kolektor mencari lukisan Nashar kepadanya, karena aku dulu pernah tinggal bersama pelukis itu di Balai Budaya. Banyak lukisan Nashar yang kubeli semampuku. Maka ketika karya Nashar melejit, para peminat banyak yang menelepon ke rumah. Dan sudah banyak lukisan Nashar dijual istriku dengan harga tinggi. Bahkan, sekarang pun dia sedang mencari lukisan Nashar

"Apa hubungan Nashar dengan malam-malam begini?"

"Itu dia. Yang punya lukisan Nashar itu esok pagi akan ke luar kota selama seminggu. Kalau tidak malam ini diambil, kita harus menunggu seminggu lagi."

"Esok pagi kan bisa."

"Subuh dia harus sudah ada di bandara. Jadi, tidak mungkin esok pagi. Rumahnya jauh. Di Tangerang."

"Ya, sudah. Asal hati-hati saja. Amati yang benar lukisan itu. Lukisan Nashar sudah banyak yang dipalsu."

"Ya. Aku mengerti."

"Ya, sudah. Jaga dirimu. Hati-hati. Jangan lupa makan norit. Ingat, empedumu sudah tidak ada. Ingat pesan dokter Handrawan Nadesul, hindari angin malam. Turuti itu. Kecuali kalau kau mau paru-parumu digenangi air lagi. Satu lagi pesan penting: Jangan bawa lukisan palsu ke rumah."

"Oke sayang. Selamat tidur."

Aku gandeng wanita itu.

"Malam panjang telah tiba," Kataku kepadanya.

"Ke mana kita?"

"Terserah."

"Bukankah Bapak yang tahu tentang malam."

"Ya, aku tahu. Aku tahu bagaimana caranya menghabiskan malam. Kita ke Bandung. Kita naik bus AC. Kita anggap saja bus itu hotel mewah yang berjalan."

"Tetapi, kita tidak bisa melunjur."

"Maksudmu mau tidur di hotel?"

"Oh, tidak. Aku belum siap menguji iman."

"Melunjur atau tidak, sama saja kalau kita mengantuk. Oke? Kita ke Bandung."

Kami duduk tiga bangku di belakang sopir, di dinding sebelah kiri. Dia duduk di tepi jendela, aku di sebelahnya. Udara dingin mesin penyejuk berembus menyegarkan badan. Kami makan makanan kecil bergula. Kami betul-betul menikmati malam. Tak ada yang dipikirkan. Kecuali hangat tubuh mengalir di antara kami. Menjelang tengah malam dia tertidur. Dalam tidurnya dia mengigau.

"Untuk menghapus jejak fitnah kau datangi pemilik kios buku itu. Kau ajak serta teman-temanmu. Kau lakukan teror. Kau paksa pemilik kios buku itu membuat secarik pembenaran. Kau bilang tidak untuk disebarluaskan. Hanya untuk disimpan. Pemilik kios itu ketakutan. Takut keberadaan kios itu akan dimacam-macami".

"Kaubilang kautelah bergaul puluhan tahun denganku. Kaubanyak tahu tentang diriku. Tentu yang kaumaksud adalah aib pada diriku. Apa kaukira aku tidak tahu tentang aib pada dirimu? Mau kau aku buka corengan arang di seluruh muka kita? Biar orang tahu semuanya? Kaujangan coba-coba menepuk air di dulang, kalau kau bukanlah si dungu itu. Ada sedikit kenangan, siapa di rombongan kita yang menyebut dirinya kapten. Masa lalu adalah masa yang indah untuk dikenang, jangan dijadikan alat untuk saling menjatuhkan. Apa kaumau akulah si dungu itu, menepuk air di dulang, menumpahkan isi tempayan biar kita kuyup semuanya? Aku mau tanya. Apa pangkat kau menyebut diriku midioker. Kaukira kausiapa? Pemabuk! Lebih baik kautenggak arak kedengkianmu sampai kau mabuk luluh lantak. Berkongko-kongkolah kausesama sejenismu di kedai minum itu, dan nikmati onani kalian. Aku sudah lelah menghadapi gosip; kebohongan; fitnah; dan cara yang kalian halalkan untuk mencapai tujuan. Aku tak bisa menjadi penghuni kandang seperti kalian!"

Aku memandang wajahnya yang mengigau. Perjalanan sudah cukup jauh. Para penumpang yang lelah banyak yang tertidur. Tampak sekali kalau dia juga lelah dan mengantuk. Igauannya membuyarkan fantasi kemesraan dalam perjalanan malam di sebuah bus. Tak ada arti kesejukan ruangan. Tak ada kemanjaan. Tak ada kepala yang disandarkan di bahu. Tak ada bisik-bisik mengembuskan kehangatan napas di telinga. Ternyata, dia adalah gadis pengigau. Siapa sosok misterius yang datang mendobrak masuk ke alam tidurnya. Dan mengigau dalam perjalanan ini. Kutunggu gadis pengigau itu terbangun.

Bus berhenti di restoran persinggahan. Dia terbangun dan minta ditemani ke kamar kecil. Semua penumpang turun; untuk maksud yang sama.

"Kaumengigau," kataku. "Kautampak lelah. Siapa sosok yang masuk ke dalam tidurmu sehingga kau mengigau?"

"Aku mengigau? Ah, tidak mungkin. Aku tidak mengigau. Mungkin Bapak yang mengigau. Kok aneh, aku Bapak bilang mengigau?"

"Ya, kaumengigau. Sayang kau tidak menyebut nama. Jadi, aku tidak tahu siapa yang kau maksud?"

"Aku mengigau? Ah, tidak. Aku tidak mengigau. Aku lapar."

"Kita makan?"

"Bapak ada duit?"

"Ada. Kita makan sup buntut dan 20 tusuk satai. Aku sepuluh, kausepuluh. Setuju?" Dia mengangguk.

Di dalam perjalanan selanjutnya masih kutanya tentang igauannya. Tetapi, dia tetap tidak merasa mengigau. Dan aku pun melupakannya. Kulihat bulan di luar jendela. Sebentar-sebentar rimbun pohon menyembunyikannya. Terkadang ada daun kelapa menyayat-nyayat bundarnya. Dalam remang-remang dan tiupan angin ranting-ranting bergoyang seperti gerakan tarian iblis. Seekor burung malam hinggap di ranting tak berdaun, di belakangnya bulan bulat penuh. Dalam lari kendaraan yang patah-patah di jalan mendaki, dia terdoyong ke tubuhku. Dilihatnya sekeliling, orang-orang sudah mulai tidur kembali.

"Terlalu dingin," bisiknya ke daun telinga. Embusan napasnya yang hangat mendebarkan jantung tuaku. Harum napasnya adalah harum bunga mawar. "Bapak tidak kedinginan?"

"Tarik selimut bila ada. Bila tak ada, anggap aku selimut tebalmu."

"Beri aku kenangan untuk menghapus kenangan darinya." Dia menggeliat, memperlakukan aku seperti guling.

"Kaubilang, ini adalah kamar hotel yang berjalan. Tolong beri aku kenangan untuk melenyapkan kenangan darinya." Lanjutnya. Dekapan itu semakin erat. Dan kukira ini adalah igauannya yang lain. Karakter fiksi benar-benar terujud dalau wujud nyata.

"Kaumasih tetap saja mengigau. Kali ini berikut tindakan. Siapa yang kaupeluk dalam igauanmu? Laki-laki yang tak mau mengantarmu pulang?"

"Aku tidak mengigau. Aku sadar. Pegang dadaku. Rasakan debarannya. Aku suka perjalanan ini. Kita duduk berdempetan dalam sebuah bangku hotel yang berjalan. Terkadang aku membenarkan ucapanmu, ini adalah ranjang sebuah hotel yang berjalan. Banyak kenangan yang kudapat malam ini. Sup buntut dan dua puluh tusuk satai. Kita makan berdua di tengah tatapan mata para penumpang. Tolong lengkapkan kenangan ini. Beri aku kenangan yang lain, biar menghapus kenangan darinya."

"Apa yang kaupinta?"

"Menghapus kenangan itu." Dia diam sebentar. Lalu bisiknya: "Maukah kaumenghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu di atas bus ini?"

"Mengapa harus di atas bus ini? Tidak bisakah ditunda di tempat yang lain?"

"Biar lengkap semuanya, malam ini dan di atas bus ini."

Dekapan itu semakin erat. Wajahnya demikian dekat. Aku tinggal berpaling dan bekas itu akan terhapus.

"Aku pernah menghapus sebuah bekas, di tempat dingin di lembah Harau. Dan itu menimbulkan masalah."

"Lupakan yang itu. Inilah aku. Berpalinglah. Sebentar lagi hari pagi. Penumpang-penumpang itu akan bangun."

"Coba lihat cermin intip di kepala sopir. Semua yang terjadi di belakang dapat dia lihat di dalam cermin."

"Tolong hapus kenangan itu. Apakah aku harus menghadap ke belakang, duduk di atas pangkuanmu? Buaslah seperti dia. Tangannya masuk ke seluruh tubuh." Dia menoleh kepada cermin, lalu ke yang lainnya. "Aku tak peduli kepada cermin. Sup buntut dan dua puluh tusuk satai. Aku sepuluh, kau sepuluh."

Kurasa dia yang menghapus, bukan aku.

"Aku sudah lelah menghadapi gosip; kebohongan; fitnah; dan cara yang kalian halalkan untuk mencapai tujuan. Aku tak bisa menjadi penghuni kandang seperti kalian! Kalimat itu muncul di akhir igauanmu."

"Oh, ya? Dalam mengigau aku mengucapkan kalimat itu? Aku sudah lelah menghadapi gosip; kebohongan; fitnah; dan cara yang kalian halalkan untuk mencapai tujuan. Aku tak bisa menjadi penghuni kandang seperti kalian!"

"Ya, itu yang kauucapkan."

"Apakah aku tadi mengigau? Ah, tidak. Aku tidak mengigau."

Sopir menghidupkan tape recorder. Mengumandanglah lagu kecapi sunda. Tanah Priangan menyambut kedatangan kami. Lampu-lampu kota berkelip-kelip dalam cahaya merah ufuk timur.

"Coba kaulihat lampu-lampu itu. Inilah saat yang indah melihat Bandung di waktu malam. Kita berada di ketinggian kota. Perhatikan lampu-lampu itu. Satu di antaranya adalah lampu rumah sahabatku. Pelukis Jeihan. Dia melukis wanita-wanita cantik seperti kau. Dia menghitamkan seluruh mata wanita yang dia lukis, seperti cadar wanita muslim Timur Tengah."

"Seperti cadar wanita muslim Timur Tengah." Dia kembali duduk pada posisi semula.

"Di lukisan itu tidak ada putih mata. Terkadang aku menganggap mata hitam itu adalah lorong dalam yang berakhir di dasar hati."

"Aku jadi ingin melihat lukisan itu."

"Kita bisa ke studionya kalau kaumau."

"Bapak memiliki lukisan itu?"

"Lukisannya terlalu mahal. Tidak mungkin terbeliku."

Di Terminal Leuwie Panjang kubeli dua sikat gigi, odol ukuran kecil, sabun mandi, dan dua helai handuk kecil. Masing-masing kami masuk kamar mandi umum. Kemudian, kami pesan dua porsi bubur ayam dan dua cangkir kopi susu panas. Setelah itu kami naik bus menuju Jakarta.

Di rumah kuketuk daun pintu yang terkunci. Kudengar anak kunci berputar pada lubangnya. Istriku membuka pintu itu. Kurasakan pandangan curiganya menjelajahi seluruh tubuh. Seperti ada yang dicarinya yang tersembunyi dalam diriku. Apa tercium olehnya yang tersembunyi di balik kehadiranku; kebohongan seorang suami. Aku melangkahi bendul pintu, masuk dengan menunduk, seperti memikul beban berat.

"Tadi malam ada telepon menanyakan kau. Aku bilang kau tak pulang. Mau melihat lukisan Nashar."

"Harum napasnya harum bunga mawar"

"Apa? Harum napasnya harum bunga mawar? Napas siapa?"

"Judul lukisan itu. Harum napasnya harum bunga mawar. Tak mungkin Nashar memberi judul lukisannya seperti itu."

"Aku pernah dengar judul itu. Mereka juga pernah menyebut-nyebutnya. Lukisan itu dicari mereka. Ada meja bundar. Di atas meja ada dua mangkuk sup. Mungkin itu sup buntut dan dua puluh tusuk satai. Sepasang manusia tak memakai sehelai benang duduk di antara meja. Itu satu-satunya lukisan Nashar yang nude. Aku mau lihat lukisan itu."

"Tunggulah seminggu lagi. Tetapi, kurasa tak mungkin Nashar melukis seperti itu. Aku yakin itu palsu."

"Tetapi, aku mau lihat."

"Sudahlah. Jerang air panas. Aku mau mandi. Tak mungkin Nashar melukis semacam itu. Aku yakin itu palsu."

***


Jakarta, 16 Juni 2003

Media Indonesia, 06/22/2003

Selina Gita

Selina Gita

Cerpen Hamsad Rangkuti



"SETIAP abang berada di tengah hutan, abang selalu ingat dialog awal percakapan Rafi dengan anaknya dalam sebuah film. Abang dipercayakan memegang peran sebagai Rafi dalam film ’Promise Land’ karya Holga Martina Straubinger dan Lisa Hodsoll. Film semi dokumenter itu disutradarai Andreas Pascal. Misalnya, dalam perjalanan kita menyusuri rimba lebat ini, dialog itu datang pada abang dan abang bisa mengulang omongan itu, tapi abang lupa nama peran anak lawan ngomong abang dalam film itu."

"Anak itu lelaki atau perempuan?" tanya Yon Adlis yang menjemput kami.

"Kalau jenis kelaminnya abang selalu ingat, perempuan."

"Ya, sudah, pakai saja nama Selina Gita."

"Selina? Nama siapa itu? Dari mana kau punya ide memberi nama itu?"

"Tak abang lihat foto yang terpampang di sepanjang jalan dari Bandara Jambi Sultan Thaha hingga perjalanan kita sudah sampai di sini. Dia itu anak mantan Bupati Bungo memajang foto mempersiapkan diri jadi calon anggota DPR-RI Provinsi Jambi."

"O, foto wanita muda yang cantik yang senyum kepada kita itu? Itu yang kau maksud? Abang merasa dia senyum untuk abang."

"Sukaryo coba kau posisikan mobil kita di bawah foto Selina Gita" kata Yon kepada sopir kami. Mobil dibelokkan dan masuk ke bahu jalan ke arah foto yang dimaksud Yon. Yuli memberi kami masing-masing segelas air. Kami minum. Tampak Selina Gita senyum kepada kami. Dia memakai tudung gadis Melayu. Aku suka memandang foto wanita mengenakan kerudung seperti itu. Kepalanya terbuka memperlihatkan rambut hitamnya tergerai seperti yang sering dipakai ibu. Kerudung itu berwarna kuning tipis menutup sanggulnya hingga kedua telinga sampai ke bahu. Kedua biji matanya yang hitam berada di tengah kedua biji matanya memandang kamera waktu gambar diambil. Bibirnya terkatub mengisyaratkan gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara menunjukkan rasa senang. Dia gembira senang dan suka memandang kami.

"Satu-satunya yang punya akar di dunia ini adalah pohon. Itu sebabnya pohon tidak bisa beli tiket pesawat dan pergi." kataku mengulang dialog yang kuucapkan dalam film itu.

"Apa itu enggak bikin pohon-pohon sedih?" Kata Selina

"Oh iya. Pohon-pohon sangat sedih. Pohon-pohon sedih karena saat manusia datang dengan kapak dan gergaji mereka, saat manusia menebang dahan dan batang mereka, pohon-pohon tidak bisa berbuat apa-apa.

"Bagaimana kalau pohon-pohon ga punya akar Ayah?" tanya Selina.

"Pohon-pohon akan tumbang."

"Kenapa mereka tidak terbang pergi saja Yah?" katanya lagi.

"Andai saja mereka bisa begitu, Sayang. Masalahnya, mereka tidak bisa mengubah sifat alami mereka. Mereka telah tertanam kuat-kuat di tempat mereka tumbuh dan dibesarkan."

"Oke cuma itu saja yang abang ingat."

"Ayo mantan bodigat penyanyi dangdut, lanjutkan perjalanan," kata Yon kepada sopir.

**

MOBIL bergerak meninggalkan Selina. Di belakangnya hutan yang lebat seakan miliknya lewat tanda foto yang dipajang itu. Fredi merokok.

"Jangan merokok, Bang," kata Acep, melarang.

"Lihat Bang, foto Selina ketemu lagi terpajang. Dia masih tersenyum."

Hujan turun dengan lebat. Kami masuk daerah sepi. Di depan kami tampak banyak orang berdiri di tepi jalan. Mobil-mobil sebelum kami tampak berderet menghentikan perjalanan.

"Kita berhenti saja dulu," kata Yon. "Coba tanya apa yang terjadi."

Karyono turun berpayung. Kulihat dia mendekati orang-orang yang berkerumun di tepi jalan.Tidak lama kemudian Karyono kembali ke mobil.

"Ada apa?"

"Ada harimau dalam jebakan penduduk, kata mereka," kata Karyono naik ke mobil.

"Tunggu. Abang mau lihat," kataku meminta payung.

"Bahaya Pak. Harimau itu bahaya. Sudah sepuluh orang terbunuh. Diterkam raja hutan itu."

"Kata kau dalam lubang jebakan."

"Iya Pak, tapi jauh ke dalam. Bukan di pinggir jalan."

"Ya sudah. Yang berani ayo ikut bersamaku.Yang tidak berani di dalam mobil saja. Aku mau lihat harimau sumatra yang telah menerkam sepuluh warga itu."

"Kata mereka harimau itu masuk ke dalam lubang jebakan," kata bodigat penyanyi dangdut kota Pati itu. Payung kuminta dari tangannya. Yon sebagai tuan rumah tak tega membiarkan aku sendiri. Kulihat dia mengiringiku dengan payung sendiri.

"Hati-hati Bang. Jalan licin," kata Yon memegang tanganku.

Kami sampai ke banyak orang yang berdiri di pinggir jalan.

"Di mana harimau itu terjebak?" tanyaku.

"Jauh Pak. Di dalam rimba."

"Berapa jauh?"

"Ya, jauh dan becek. Kita harus menyibak belukar dan nyamuk menemukan makanannya di tangan kita."

"Ada yang pergi ke sana?"

"Ada. Beberapa orang. Tetapi belum ada yang balik."

"Kok tahu keadaan jalan ke sana."

"Begitu yang kita temukan kalau kita masuk ke dalam hutan."

"Aku mau lihat. Ayo Yon. Kau takut juga seperti sopir mantan bodigat penyanyi dangdut itu?" Aku menginjak kayu bulat melintasi parit jalan. Yon memegang tanganku melintasi jembatan.

"Hati-hati Bang."

Terdengar kayu berderak menahan tubuh Yon. Dia melompat. Kami telah di seberang jalan. Kami terus berjalan. Hujan menyiram kami. Air mengetuk payung. Kami mengikuti jalan yang sudah dilalui pengunjung sebelum kami. Katak melompat melintasi kami. Cerita yang kudengar induk dan anak harimau itu ditangkap penebang liar yang datang dari luar Jambi. Anak harimau itu dagingnya mereka sate. Kulitnya mereka isi kapas dijadikan boneka anak Harimau. Induknya mereka jual. Harimau jantan itu marah dan menuntut balas. Mereka telah merusak habitat, tempat hidup yang alami. Binatang buas itu tak menemukan makanan mereka lagi.

"Berhenti dulu Bang." Yon memegang tanganku. Biarkan ular itu naik memburu kodok yang melompat tadi." seekor ular naik dari tempat kodok tadi melompat. Ular air menguber kodok makanannya. Setelah ular itu menjalar melintas jalan setapak itu, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan licin becek yang disiram hujan. Kami sampai di daerah tandus yang dipenuhi tunggul kayu. Rumput tak tampak menutupinya. Air hujan melintas membawa erosi mengaliri jalan kami.

"Masih kuat Bang? Jalan masih jauh."

"Ayo terus. Abang tiap pagi jalan pagi. Tidak masalah. Ayo. Sekarang baru Abang merasakan hasil jalan pagi itu. Abang yakin kau yang tak kuat. Tampaknya tempat galian lubang jebakan itu masih jauh."

Kami membelok ke kiri mengikuti tanda bekas dilalui orang sebelum kami.

"Lihat ke sana Bang! " Yon menunjuk ke atas. Kulihat ada burung pemakan bangkai berputar-putar beberapa ekor.

"Mungkin di bawah itu."

"Mungkin." Kami meneruskan langkah.

"Sudah jam satu."

"O ya, sebentar lagi gelap."

"Ah tidak. Masih lama gelap. Waktu Jakarta dan Jambi sama.

"Hati-hati Bang, kita menurun."

"Ya kita menurun." Kami berjalan menuruni jalan yang licin. Hujan masih juga turun.

**

KAMI telah melihat banyak orang di bawah sana. Mereka melihat kami. Ada di antara mereka mengangkat tangan. Aku makin semangat melihat banyak orang yang mengalami perjalanan yang sama menuruni jalan setapak ini menuju tempat yang sama. Beberapa langkah yang sama kami sampai ke tempat itu. Mereka menyibak diri memberi jalan. Aku melihat lubang 3 X 4 meter dengan dalam yang tak tampak. Beberapa orang dari sebelah kiri lobang memegang kayu bulian dan tembesi yang kuat seperti kayu ulin di Kalimantan. Kayu itu sudah musnah dicuri para pemilik dana untuk dikumpul berton-ton untuk dibawa keluar pulau sehingga hutan jadi gundul.

Kulihat di dalam air yang keruh harimau yang terjebak ke dalam lubang galian itu telah mati tenggelam, tak bisa diselamatkan mereka dengan menopangnya dengan batang kayu-kayu menahan tubuh binatang buas itu.

"Kami tak bisa menyelamatkannya," kata mereka.

"Kapan kira-kira harimau ini masuk ke dalam lubang perangkap?" tanyaku.

"Mungkin sore kemarin."

"Mengapa tidak segera diselamatkan"

"Kami menemukannya dalam sekarat pagi harinya. Kami langsung menghubungi pihak-pihak yang ditunjuk menanganinya kalau binatang buas itu tertangkap."

Kulihat bagian tanah bekas cakarnya untuk dia naik ketika dia masih mengapung. Hujan turun membasahi hutan yang gundul. Curah hujan mengikis tanah dan terjadi erosi, kikisan permukaan bumi oleh pengangkatan benda-benda memadatkan permukaan tanah, air begitu cepat mengalir masuk ke dalam lubang jebakan. Perlahan air naik membasahi kaki, perlahan hingga sampai lutut dan perut. Air telah mengangkatnya dan dia saat mengapung merangkul permukaan tanah yang lunak. Begitu dia lakukan mencakar permukaan tanah sampai dia lelah dan kehabisan tenaga dan mati terkulai. Tak ada yang menolongnya.

"Kami datang pagi harinya, dia telah terbenam, mati."

"Tak ada di antara kalian yang datang menopang tubuhnya agar tidak terbenam?"

"Kami telah melakukannnya. Kami masukkan beberapa batang kayu bersilangan untuk menahan berat tubuhnya agar tidak tenggelam."

"Malah kami telah mengangkat kepalanya untuk dia bernapas. Tapi kami terlambat. Air begitu deras masuk ke dalam lubang. Kami telah melakukan hal yang sia-sia."

Kulihat binatang buas itu telah terbenam dan burung-burung yang berputar-putar di atas telah mencium kematian itu.

Kami pergi dari situ. Yon mengetuk pintu mobil. Mereka terbangun.

"Sudah pulang?"

"Ayo jalan. Nanti kita kemalaman. Jalanan kita masih jauh." Mobil kami bergerak. Tempat itu telah sepi. Kedua arah tempat mobil diparkir telah kosong.

"Selina, Bang!" kata Yon menunjuk foto yang dipajang di pinggir jalan.

Hujan masih terus menderas membasahi foto yang dipajang di pinggir hutan itu. Kulihat curah hujan jatuh menimpa mata Selina. Air hujan itu mengalir dari sudut ujung matanya membasahi celah pipi dan hidungnya terus mengalir melintasi bibir dan jatuh ke dagu.***




Pikiran Rakyat 07/12/2009

PUJANGGA MELAYU

PUJANGGA MELAYU

Cerpen Matu Mona


Telegram yang saya terima, dikawatkan oleh seorang sahabat dari Kuala Lumpur, berbunyi: "Encik Rahman Rahim sekarang di Jakarta stop Adakan interview stop Siarkan dalam majalah supaya para pembaca Indonesia mengenal pujangga Melayu yang terkemuka stop Yunus."

Dari pesisir ke pesisir Penanjung Tanah Melayu nama A. Rahman-Rahim dikenal penduduk, sebagaimana kita di Indonesia mengenal nama Ranggawarsita. Sebab itu salah dan berdosalah rasanyajika saya tidak lekas-lekas memperkenalkan A. Rahman-Rahim pada para pembaca.

Sekalipun saya katakan demikian, tapi mencari tempat menginap Rahman-Rahim (R.R.) di kota Jakarta yang luas ini bukanlah suatu pekerjaan sambil-lalu. Ibarat mencari mutiara di perut tiram, layaknya. Berpuluh-puluh hotel saya datangi, tanyai pegawainya adakah R.R. menginap di situ, bila dijawabnya tidak ada saya pun belumlah merasa puas. Maka saya bacai buku-tamu, dengan teliti saya periksai satu per satu nama tamu-tamu, semua sia-sia belaka.

Hampir saya putus asa, kalau tidak dengan secara kebetulan saya singgah di satu rumah-minum di Glodok. Dahaga yang sangat memaksa saya masuk ke situ membasahi tenggorokan dengan seseloki champagne.

Setelah saya teguk minuman yang mengandung ilham itu, tiba-tiba Chong Hie menegur saya, "Apa Tuan belum kenal Tuan Rahman-Rahim?"

Hampir-hampir saya terpekik mendengar nama itu dia ucapkan.

"Tuan Chong, beliaulah yang saya cari, lima hari sudah, lamanya! Kasihanilah saya dan para pembaca yang berpuluh, ya, beratus ribu Jumlahnya.Jumpakanlah saya dengan beliau karena saya.bermaksud melakukan interview riwayat hidupnya."

"Mengapa tidak dari kemarin, Tuan singgah di bar saya ini? Rahman-Rahim sahabat baik saya, sejak dari dulu, ketika saya masih di Ipoh!"

"Ingatan manusia itu ada batasnya, Chong. Ada urusan lain urusan lama terlupa; ada sahabat barn. sahahat lama tak terkenang. Maklum. Kabarkanlah pada saya, di mana beliau sekarang?"

"Kemarin berangkat ke Bandung. Di hotel mana beliau menginap di Bandung, saya tak tahu. Tapi mungkin di dekat-dekat stasiun!"

Mendapat keterangan yang maha berharga itu sebagai elang yang telah menyambar anak ayam saya pun melayang ke perhentian taksi. Berangkat ke Bandung di kala itu juga. Pukul 8 malam tiba di kota istimewa tersebut, langsung sampai pagi putar-putar ke semua lekuk-likunya mencari Rahman-Rahim saja. Sebagaimana diJakarta, demikian pula di Bandung sia-sialah usaha saya mencari beliau, Pujangga Melayu itu!

Tentu beliau tidak menginap di hotel, melainkan di rumah kenalannya. Dan kebanyakan kenalannya tentulah bangsa Cina atau India. Wahai ... sayang benar, kunci pengetahuan itu terlambat menyelinap di ingatan saya, yakni mencari R.R. di rumah orang India. Manakala saya tanyai satu per satu rumah kediaman bangsa India yang terkemuka di Bandung, baru di rumah kesebelaslah saya dapati keterangan bahwa R.R. memang menginap di ,itu. Tapi tadi pagi telah berangkat ke Jakarta untuk segera berlayar kembali ke Singapura.

Saya menuju ke lapangan terbang, dengan menunjukkan kartu kuning, segera saya diizinkan turut menumpang Dakota. Turun di Kemayoran segera saya naik taksi pula ke Priok. Kapal yang akan bertolak ke Singapura ialah Majesty. Secepat rusa saya berlari menuju ke kapal tersebut. Berdiri sambil bersandar di terali tampak seorang laki-laki setengah tua, berpakaian telok belanga berpeci Seremban dan berkain sarong Trengganu.

Saya perkenalkan diri. Rahman-Rahim tersenyfem-simpul.

"Sengaja saya sudah lama menunggu kedataftgan Encik," ujar beliau. "Oleh sebab Encik Yunus telah mengawatkan juga pada saya."

"Maaf, Encik Rahim, kapal akan bertolak dalam tempo setengah jam lagi. Dapatkah Encik memberikan kesempatan saya untuk melakukan interview kilat?"

"Silakan! Man kita duduk di sana."

Kami duduk di satu sudut yang lengang. R.R. memesan tiga botol jenever. Sesudah dituang ke gelas ia teguk sebagai connoisseur. Air mukanya berseri. Riwayat hidupnya (tanpa menunggu saya memajukan pertanyaan) diuraikannya sebagai berikut:

Tiga puluh tahun yang lampau saya bekerja sebagai tambi, suruhan, di suatu kedai orang India di Penang. Ramaswami seorang tabib yang masyhur. Perempuan yang tidak beranak bila didukuni olehnya, setahun kemudian menetas. Laki-laki yang tua bangka, bila ditabibi olehnya niscarajadi pemuda semula.

Saya seorang yang bebal. Usia 14 tahun saya lari dari rumah orang tua di Teluk Anson disebabkan tidak menghafalkan Qur'an, padahal handai taulan saya rata-rata hafal Qur'an. Sudah lima tahun saya bekerja pada Ramaswami dan selama itu saya amat patuh padanya. la sayang pada saya apalagi dia sendiri tidak mempunyai anak. Dan saya menganggap dia sebagai seorang keramat. Teringat oleh saya petuah orang-orang tua: Bilamana kita taat-khidmat pada seorang berilmu, akhir kelaknya tak dapat tiada niscaya sedikit dari ilmunya itu diturunkannya juga. Dan keyakinan saya itu dibenarkan oleh bukti.

Suatu hari Ramaswami memanggil saya, lalu dikabarkannya bahwa ia sekarang sedang mencampur obat-obatan yang luar biasa. Semacam anggur dengan campuran darah ikan dengan darah margasatwa, yang diberinya nama "Amerta Wine". Tiga bulan lagi anggur itu akan dicoba adakah berhikmat atau tiada. Dan sayalah yang akan meminum anggur itu sebagai percobaan. Khasiat Amerta Wine itu ialah, barang siapa meminuninya niscaya akan mendapat ilham.Jika ia seorang pelukis akan melukiskan sesuatu yang luar biasa.Jika ia seorang pengaran niscaya ia dapat menciptakan karangan yang tergolong master work. Demikian setemsnya! Gembira megah hati saya, bukan kepalang. Saya ciumlah tangannya, sedangkan Ramaswami tersenyum mengusap-usap kepala saya.

Mulai hari itu saya cobalah mengarang agar supaya bilamanna kelak saya dapat mengecap Amerta Wine tiga bulan lagi itu, dapatlah saya ilham menggubah cerita master-work. Dalam seminggu satu karangan telah saya siapkan. Apa saja yang saya karang ... meskipun saya akui kebanyakan adalah saya curi karangan orang lain dan mengubahnya sedikit di awal, sedikit di tengah dan sedikit di penghabisannya sehingga meskipun dengan menipu din sendiri namun akhimya dapatlah saya banggakan sebagai ciptaan saya yang tulen. Demikian bulan berganti bulan akhimya genaplah tiga bulan yang dijanjikan oleh Ramaswami. Pukul 3 dinihari saya dibangunkannya. Ia berpakaian sorban hijau, jubah kuning, dan di tangannya ada seuntai manik. Saya dibawanya ke kamar persemadiannya Asap pedupaan menyerbak. Di tengah-tengah persemadian itu ada hambal, di atasnya satu buyung. Ramaswami membacakan mantranya. Kemudian ia menari sambil berputar-putar keliling buyung itu. Setengahjam kemudian selesailah upacara memantrai Amerta Wine tersebut. la menengadah, menelungkup, gemetar, Pukul 5 pagi berbunyi. Ramaswami membuka sorban dan jubahnya. Saya diisyaratkannya supaya duduk di dekatnya

"Amerta Wine sudah terlaksana. RahmaB, aku beri kau peluang untuk meminumnya seteguk. Sebelum engkau meminum tanamlah niatan di hatimu, hendakjadi pencipta apakah engkau gerangah?"

Saya sudah menanam niat itu tiga bulan sebelumnya, sebab itu sekarang tinggal meneguhkan semangat itu semata. Saya minum seteguk. Tak pandai saya melukiskan betapa rasanya: pahit, pedar, panas, sejuk, payau, silih berganti. Sesaat kemudian saya tergolek di lantai tak sadarkan din. Rupanya saya dibiarkan saja oleh Ramaswami dalam keadaan pingsan sehingga esok harinya telah senjakala barulah saya siuman. Demi Tun Sari Lanang, datanglah ilham sebagai perawan-juita merasuk pada sukma saya. Seolah-olah adajin di samping saya membisikkan apa yang mesti saya tuliskan.

Tiga hari tiga malam saya mengarang terus, menciptakan "Madah Tak Sudah". Karangan saya itu kemudian dicetak. Cetakan pertama sajak itu 6 ribu, habis dalam tempo hanya sebulan. Cetakan kedua 10 ribu, lindas dalam tempo dua minggu. Cetakan yang ketiga 17.500. Nama saya mulailah dipuja oleh bangsa Melayu, bukan semata-mata yang di Semenanjung bahkan sampai-sampai ke Madagaskar. Sesudah itu tidak pemah ilham menjelma di sukma saya lagi.

Saya insaf bahwa Amerta Wine itulah yang menyebabkan saya dapat mencipta. Saya sembah Ramaswami, supaya saya diizinkannya meneguk setitik lagi. Tapi ia berkeras tak mengabulkan. Malahan katanya, "Kerusakan budi pengarang-pengarang zaman sekarang ialah, tidak dapat menahan nafsu! Memburu nama bagaimana supaya dipuja-puji khalayak dengan mengarang karangan, kalau dapat sepuluh buah dalam sebulan. Mengejar nama! Itulah ketakaburan, anakku! Kalau kau masih ingat apa yang dinamakan takabur itu!"

Pedih hati saya sungguh tak terpemanai.

Ia hanya mengizinkan saya meneguk Amerta Wine itu kecuali setahun sekali. Amboi! Hanya sekali dalam setahun! Bagaimana mungkin, saya hanya puas dengan mencipta setahun sekali. Alangkah sedap mewah perasaan jadi perhatian khalayak, ke mana saja saya pergi. "Lihat, itulah Encik Rahman-Rahim, pencipfti karangan Madah Tak Sudah!" ... diundangi oleh orang-orang ternama, berpangkat, dilirik gadis-gadis rupawan. Saya tunggu dengan mahasabar tiga bulan lamanya, saya ulangi lagi memohon supaya boleh meneguk Amerta Wine itu. Tapi permohonan saya tetap ditolaknya. Saya hanya boleh meneguknya sekali setahun. Hingga pikiran jahat timbullah dalam sanubari saya.

Pada suatu malam sedang Ramaswami tidur nyenyak, saya masuki tempat penyimpanan Amerta Wine itu, saya curi, dan malam itu juga saya melarikan diri ke Kuala Lumpur. Anggur

saya teguk. Ciptaan kedua menerawang. Sebagaimana karya pertama, dapat sambutan luar biasa istimewanya dari para pembaca. Sebulan kemudian saya meneguknya lagi, maka ciptaan ketiga menjelma. Lebih sublim daripada yang telah sudah. Karangan pertama tak hilang di dunia, sehingga surat-surat kabar Inggris menjuluki saya Walter Scott of Malaya.

Bila Amerta Wine itu tinggal beberapa teguk lagi, saya sudah kaya raya. Royalty yang saya terima setiap bulan lebih kurang 50 ribu dolar. Saya nikah dengan putri Datuk, tunlnan bangsawan. Tiga bulan lamanya saya tidak mengarang oleh karena saya sibuk menghadiri perayaan di seluruh Semenanjung buat menghormati diri saya. Lampau tiga bulan itu saya pun berhasrat mengarang lagi. Saya pergi ke Kuala Lumpur untuk mengarang roman perjalanan di sekitar kota tersebut. Suatu malam saya mengunci din dalam kamar, meneguk Amerta Wine. Biasanya, apabila sudah saya teguk seakan-akan saya ini diselapi jembalang. Tapi sekali ini berbeda sekali. Bukan saya diselapi, melainkan dahaga yang bukan buatan terasai oleh saya. Dahaga minum alkohol. Bau alkohol tercium di lubang hidung saya.Jauh malam saya paksa penjual whisky, jenever, brandy mengantarkan alkohol itu ke kamar saya. Sampai pagi saya terus-menerus minum, sehingga mabuk tak sadar diri.

Tengah hari saya bangun dan minum lagi sampai malam, Tiga hari tiga malam saya minum dan mabuk terus. Akhimya jatuh sakit dan dirawat di hospital. Enam bulan baru sembuh Keluar dari rumah sakit saya balik semulajadi pemabuk. Bukan hanya demikian, saya bahkanjadi penjudi. Royalty yang tetap saya terima berpuluh ribu sebulannya itu, tidak cukup. Lindang-landai di mejajudi: baccarat, roulette, dan lainnya.

Saya mengutang kian kemari. Orang masih percaya penuh pada saya. Akhimya utang pinjaman saya berjumlah tiga ratus ribu dolar. Tak ada lagi yang percaya, baik bangsa apa pun juga. Saya minum, judi, berzina. Pada suatu hari saya mabuk lalu memukul orang sehingga mati. Saya ditangkap, dihukum 3 tahun penjara kerja berat.

Tidak ada surat kabar yang mewartakan kutukan yang saya derita itu. Bahkan sebaliknya para pembaca ingin dan mendesak para penerbit supaya karangan barn saya diterbitkan Pengarang muda tampil ke depan memakai nama saya, menciptakan karangan ban. Saya dengar hal itu, tapi saya diam saja. Lampenjara keinsafan datang pada saya bahwa saya ini hanyalah pujangga saduran. Karena itu mengapa pula lain orang tidak boleh jadi pengarang saduran, meski memakai nama saya? Fairplay, bukan?

Setelah menjalani hukuman tiga tahun saya dikeluarkan Tak usah saya ceritakan bahwa saya tidak sanggung lagi mencipta karangan. Saya hanya jadi pemabuk. Bila dalam sejam saya tidak meneguk minuman, kerongkongan saya rasanya bagai disayat-sayat. Gant.berganti para pengarang muda tampil memakai nama Rahman-Rahim mencari nama dan uang. Saya intai saja dari belakang layar, tersenyum-simpul. Siapa saja boleh mengarang. Siapa saja bebas memakai nama saya untuk mencari nama wangi dan tumpukan uang!

Demikian dikisahkan oleh Rahman-Rahim biografinya pada saya, untuk kepentingan para pembaca. What is in a name?


Indonesia No.ll/12,Th.I,Desember 1949