Tuesday, 23 November 2010

Fenomena Anak Punk: Sisi Lain Mengenai Ruwetnya Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia

Fenomena Anak Punk: Sisi Lain Mengenai Ruwetnya Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia

Oleh: Arif Rohman


Dimuat di Warta Demografi, Universitas Indonesia, Tahun Ke-39, No. 3, 2009, pp. 52-55.

Cite:
Rohman, A. (2009). Fenomena Anak Punk: Sisi Lain Mengenai Ruwetnya Permasalahan Anak Jalanan di Indonesia. Warta Demografi Universitas Indonesia, 39 (3), 52-55.


A. Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara di dunia dengan jumlah populasi anak jalanan yang lumayan besar. Data dari Kementerian Sosial RI menyebutkan bahwa pada tahun 2009 jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 135.139 anak dan tersebar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Bandung dan Yogyakarta (Kemensos RI, 2009). Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menghapuskan anak jalanan, baik melalui penangkapan maupun penahanan, dan dalam beberapa kasus ekstrim adalah penyiksaan, namun keberadaan anak jalanan tetap tidak berkurang secara signifikan. Sebaliknya, ketika pemerintah cenderung menganggap fenomena anak jalanan sebagai perilaku menyimpang yang secara potensial mengarah pada kriminalitas, media dan lembaga non pemerintah justru menganggap mereka sebagai kelompok rawan sekaligus korban kekerasan secara pasif yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak lagi memiliki kepedulian dan solidaritas sosial. Perbedaan cara pandang ini semakin rumit tatkala fenomena anak punk muncul dipermukaan, yang sekaligus meruntuhkan anggapan bahwa anak jalanan identik dengan kemiskinan dan keterpaksaan. Tulisan ini mencoba membuka persoalan mengenai semakin maraknya anak punk dan eksistensi mereka di jalanan serta usulan mengenai pola pendekatan dan penanganan yang ideal yang perlu dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi kemanusiaan non pemerintah.

B. Sekilas Mengenai Anak Jalanan
Banyak definisi mengenai anak jalanan yang dipakai para akademisi maupun pemerhati anak guna menggambarkan karakteristik anak jalanan. Namun ironisnya, konsep-konsep tersebut disamping memperkaya pandangan pandangan mengenai anak jalanan, seringkali justru mangaburkan pengertian anak jalanan itu sendiri. Aptekar dan Heinonen (2003) mengungkapkan bahwa definisi umum yang sering dipakai terkait dengan istilah anak jalanan mengacu pada istilah yang digunakan oleh Unicef. Di sini, anak jalanan diklasifikasikan menjadi tiga kategori. Pertama, children on the street yaitu anak beraktifitas di jalanan namun masih memiliki kontak secara rutin dengan keluarga mereka. Kedua, children of the street, dimana anak hidup, bekerja dan tidur di jalanan. Ketiga, children on and off the street, merujuk pada anak yang memiliki kontak rutin dengan keluarga namun seringkali hidup, bekerja dan tidur di jalanan. Namun demikian, pada tahun 1990 beberapa ilmuwan sosial mulai mengalihkan istilah anak jalanan menjadi pekerja anak untuk menolak labeling anak jalanan.
Salah satu penelitian menarik terkait dengan anak jalanan di Indonesia, dilakukan oleh Harriot Beazley. Mengambil lokasi di Yogyakarta, Beazley (2003) mengatakan bahwa ada kecenderungan anak mengartikan hidup di jalanan sebagai “karir”. Mereka menyadari betapa besarnya stigma negatif yang melekat pada mereka. Oleh karena itulah sebagai kelompok marjinal, mereka berupaya menegoisasikan identitas mereka dan mengembangkan strategi adaptasi terkait dengan aktifitasnya di jalanan. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka dalam memaksimalkan hubungan potensi sistem kekerabatan di jalanan, dan menjalin hubungan yang apik dengan mantan anak jalanan, pedagang asongan, dan anak jalanan yang lebih besar. Kelompok-kelompok inilah yang menjadi ‘tali’ dan mensupport mereka untuk survive di jalanan. Pada titik inilah solidaritas sesama anak jalanan muncul dan semakin menguat. Dalam akhir tulisannya, Beazley mengisyaratkan betapa susahnya untuk melakukan rehabilitasi pada mereka yang telah lama turun dan hidup di jalanan. Mereka yang sudah kembali ke rumah biasanya turun kembali ke jalan karena tidak bisa menyesuaikan kehidupan dalam rumah karena banyaknya aturan, tindak kekerasan yang dilakukan orang tua kepada dirinya, keterbatasan ruang, dan kurangnya kebebasan untuk melakukan sesuatu yang mereka suka. Mereka juga rindu dengan teman-temannya di jalanan. Karena itulah dana untuk upaya rehabilitasi sosial pada anak jalanan, akan lebih tepat diperuntukkan bagi mereka yang masih baru di jalanan dan upaya preventif dengan melibatkan partisipasi masyarakat (berbasis komuniti).

C. Fenomena Anak Punk
Permasalahan anak jalanan di Indonesia boleh dikatakan sangat kompleks. Sejak boom pada tahun 1998 karena dipicu oleh krisis moneter, fenomena terkini yang sedang marak terkait dengan anak jalanan adalah anak-anak punk. Mereka diyakini memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan anak jalanan pada umumnya. Istilah punk sendiri memiliki arti yang beragam. O’Hara (1999) mengartikan punk sebagai berikut: (1) Suatu bentuk trend remaja dalam berpakaian dan bermusik; (2) Suatu keberanian dalam melakukan perubahan atau pemberontakan; dan (3) Suatu bentuk perlawanan yang luar biasa karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. Anak-anak punk biasa ditandai dengan gaya berpakaian yang mereka kenakan seperti sepatu boots, potongan rambut Mohawk ala suku Indian (feathercut) dengan warna yang berwarna-warni, celana jeans ketat (skinny), rantai dan paku (spike), baju yang lusuh, badan bertatto, memakai tindikan (piercing) dan sering mabuk.
Berkaitan dengan punk, Marshall (2005) membagi punk ke dalam tiga kategori yaitu hardcore punk, street punk, dan glam punk. Jenis pertama, hardcore punk ditandai dengan gaya pemikiran dan bermusik yang mengarah pada rock hardcore dengan beat-beat music yang cepat. Jiwa pemberontakan mereka sangat ekstrim sehingga seringkali terjadi keributan diantara mereka sendiri. Jenis kedua, street punk sering disebut The Oi dan anggotanya dinamakan skinheads. Mereka biasanya tidur di pinggir jalan dan mengamen untuk membeli rokok. Sebagai akibatnya, mereka banyak bergaul dengan pengamen dan pengemis karena sama-sama hidup di jalanan. Mereka adalah aliran pekerja keras. Jenis ketiga, glam punk biasanya jarang nongkrong dengan komuniti mereka di pinggir jalan dan lebih memilih tempat-tempat yang elite seperti distro atau kafe. Umumnya mereka adalah para seniman dengan berbagai macam karya seni.
Di Indonesia, komuniti punk yang jumlahnya mayoritas dan mendapat perhatian yang lebih dari publik adalah anak punk yang ada di jalanan. Pada umumnya, anak-anak punk tersebut berpendapat bahwa apa yang menjadi gaya hidup mereka adalah suatu kewajaran hidup di daerah metropolis. Keberadaan komuniti ini di kota-kota besar, yang sering menghabiskan waktu di jalanan dengan mengamen di traffic light, gaya berpakaian dan aktifitas nongkrongnya, dirasakan mengganggu kenyamanan masyarakat karena kekhawatiran akan terjadinya tindak kriminalitas yang dilakukan oleh mereka.

D. Kenapa Anak Punk Menjadi Masalah?
Penelitian anak punk yang memotret secara lugas kehidupan mereka di Jakarta dilakukan oleh Wallac. Wallac (2008) mengungkapkan bahwa musik punk yang mendunia pada era 70-an di Barat juga berpengaruh di Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1990-an. Anak-anak yang tergabung dalam komuniti punk saling berbagi kesukaan mereka terhadap music dan gaya hidup. Ikatan kekeluargaan dalam kelompok ini sangat kuat dan jaringan mereka juga sangat luas. Bagi mereka uang dan pendidikan bukan halangan untuk kumpul bersama. Mereka mempunyai slogan khas Do It Yourself (DIY). Mereka sering mengasosiasikan dirinya sebagai orang kecil yang tertindas. Menariknya, anak-anak yang tergabung dalam kelompok punk pada umumnya adalah mereka yang masih dikategorikan sebagai keluarga yang mampu, bahkan banyak pula dari mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Namun demikian, pada umumnya mereka tidak melanjutkan pendidikannya (putus sekolah). Kehidupan mereka sangat memungkinkan dan rawan untuk terjerumus dalam seks bebas. Anak punk perempuan yang suka melakukan seks bebas biasa disebut dengan pecun underground. Banyak dari mereka yang bekerja sebagai tukang parkir, pengamen, dan ‘polisi cepek’.
Sejumlah pemerhati anak yakin bahwa anak-anak punk sebenarnya adalah anak-anak yang bermasalah. Masalah yang pertama berkaitan dengan dirinya sendiri. Mereka masih mencari jati dirinya dalam tahapan menuju kedewasaan. Kurangnya kesiapan diri membuat mereka mengalami kebingungan dalam mencari identitasnya. Masalah yang kedua berkaitan dengan hubungan dengan keluarga mereka yang pada umumnya kurang harmonis. Mereka kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan keluarga. Komunikasi tidak lancar karena kesibukan orang tuanya bekerja. Sebagai konsekuensinya mereka mencari perhatian di luaran. Terakhir, anak-anak punk adalah anak-anak yang sebenarnya memiliki kreatifitas tinggi. Karena kreatifitas itu tidak terwadahi dan mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah, tentu saja mereka sangat rawan untuk terjerumus dalam tindak kejahatan seperti vandalism, ketergantungan alkohol, penyalahgunaan narkoba, eksploitasi seksual, prostitusi, HIV/AIDS, perdagangan manusia maupun rawan percobaan bunuh diri. Hal ini belum termasuk dengan aparat keamanan dan ketertiban yang sering menangkap mereka dan memperlakukan mereka dengan buruk.

E. Pembantaian Anak Jalanan Bukan Suatu Solusi
Permasalahan anak jalanan dan anak punk memang kompleks. Akan tetapi kita tidak bisa melakukan pembunuhan maupun penyiksaan terhadap anak jalanan sebagaimana telah dilakukan di Brazil, Guatemala, dan Columbia. Dunia masih ingat peristiwa mencengangkan pada bulan Juli 1993 di Gereja Candelaria di Rio de Jeneiro, dimana beberapa polisi tanpa baju dinas menembaki 50 anak jalanan dimana 6 diantaranya meninggal seketika dan 2 anak dibawa ke sebuah pantai dan dieksekusi. Menariknya ketika acara tersebut ditayangkan di stasiun radio, hampir sebagian besar penduduk di sana menyetujui tindakan tersebut. Hal ini dikarenakan budaya masyarakat di sana yang menganggap anak dalam keluarga adalah malaikat kecil, akan tetapi jika anak tersebut berkeliaran menggelandang maka mereka tak ada bedanya dengan babi (Summerfield, 2008).
Masih dalam sebuah tulisannya ‘If Children’s Lives are Precious, which Children?’, Summerfield (2008) juga menyebutkan bahwa pada tahun 1991, sekitar 1.000 anak jalanan dibunuh di Brazil dan 150.000 anak jalanan mati sebelum mencapai umur setahun karena kemiskinan, sanitasi yang buruk, minimnya layanan kesehatan, serta 2 juta anak jalanan mengalami malnutrisi. Dalam akhir tulisannya dia memberikan pertanyaan yang cukup menggelitik: ‘Apakah dibenarkan membunuh anak-anak karena mereka tidak punya masa depan?’

F. Penutup
Tulisan ini telah mengupas sedikit persoalan mengenai anak-anak punk yang ada di jalanan. Meskipun karakteristik anak-anak punk tidak jauh berbeda dengan anak-anak jalanan pada umumnya, namun alasan utama mereka turun ke jalan justru bukan alasan ekonomi. Mereka memiliki masalah dalam pencarian jati diri dan minim kasih sayang serta perhatian dari orang tua mereka. Mereka juga tidak memiliki wadah untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas mereka. Karena itulah penyebutan anak jalanan menjadi pekerja anak menjadi tidak bisa digeneralisir. Jika pemberdayaan dan penguatan ekonomi keluarga sangat penting untuk anak jalanan pada umumnya, maka pemberian konseling keluarga sangat tepat untuk anak-anak punk. Penanganan anak-anak punk secara persuasif harus segera dilakukan baik oleh pemerintah, masyarakat maupun organisasi non pemerintah. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari anggapan bahwa jalanan adalah schools of crime (sekolah kejahatan), sehingga mau tidak mau, tugas kita semua untuk memenuhi dan melindungi hak-hak anak yang sudah tercantum dalam Konvensi Hak-hak Anak (KHA) dan Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) yaitu anak harus hidup dalam asuhan keluarga secara layak dan dapat mengenyam bangku sekolah. Pembantaian dan pembunuhan terhadap anak-anak yang berada di jalanan bukanlah solusi, melainkan sebuah tindakan biadab yang harus kita kutuk bersama.
--------------------------------

DISKRIMINASI TERHADAP MINORITAS MASIH MERUPAKAN MASALAH AKTUAL DI INDONESIA SEHINGGA PERLU DITANGGULANGI SEGERA

DISKRIMINASI TERHADAP MINORITAS MASIH MERUPAKAN MASALAH AKTUAL DI INDONESIA SEHINGGA
PERLU DITANGGULANGI SEGERA

Prof. Dr. James Danandjaja MA.

Universitas Indonesia





Pendahuluan

Diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia masih merupakan masalah aktual. Hal ini seharusnya tidak terjadi lagi, karena dalam masa reformasi ini telah diadakan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, serta oleh pemerintah- pemerintah sejak masa Presiden Habibie, Gus Dur, hingga Megawati telah dikeluarkan beberapa Inpres yang menghapuskan peraturan-peraturan pemerintah sebelumnya khususnya ORDE BARU yang bersifat diskriminatif terhadap kebudayaan minoritas, dalam arti adat istiadat, agama dari beberapa suku bangsa minoritas di tanah air. Mengapa hal demikian dapat terjadi terus, seakan-akan rakyat kita sudah tak patuh lagi dengan hukum yang berlaku di negara kita. Untuk menjawab ini, tidak mudah karena penyebabnya cukup rumit, sehingga harus ditinjau dari beberapa unsur kebudayaan, seperti politik dan ekonomi. Dan juga psikologi dan folklornya.
Diskriminasi terhadap Kaum Minoritas Masih Tetap Aktual Sehingga perlu
ditanggulangi Segera secara Tuntas

Sebelum sampai pada pembicaraan kita, ada baiknya ditinjau dahulu beberapa konsep yang mendasari topik kita, yakni: diskriminasi, minoritas, dan hubungan antara kelompok [intergroup relation].

Menurut Theodorson & Theodorson, (1979: 115-116): Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Istilah tersebut biasanya akan untuk melukiskan, suatu tindakan dari pihak mayoritas yang dominan dalam hubungannya dengan minoritas yang lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku mereka itu bersifat tidak bermoral dan tidak demokrasi. Dalam arti tersebut, diskriminasi adalah bersifat. Aktif atau aspek yang dapat terlihat (overt) dari prasangka yang bersifat negatif [negative prejudice] terhadap seorang individu atau suatu kelompok. Dalam rangka ini dapat juga kita kemukakan definisi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berbunyi demikian: “Diskrimasi mencakup perilaku apa saja, yang berdasarkan perbedaan yang dibuat berdasarkan alamiah atau pengkategorian masyarakat, yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan individu atau jasanya [merit].

Perlu kiranya dicatat di sini, bahwa dalam arti tertentu diskriminasi mengandung arti perlakuan tidak seimbang terhadap sekelompok orang, yang pada hakekatnya adalah sama dengan kelompok pelaku diskriminasi. Obyek diskriminasi tersebut sebenarnya memiliki beberapa kapasitas dan jasa yang sama, adalah bersifat universal. Apakah diskriminasi dianggap illegal, tergantung dari nilai-nilai yang dianut masyarakat bersangkutan, atau kepangkatan dalam masyarakat dan pelapisan masyarakat yang

berlandaskan pada prinsip diskriminasi. Demikianlah para tamtama/prajurit [private] di dalam jajaran ketentaraan secara sah [legitimated] didiskriminasikan [diperlakukan tak seimbang], berdasarkan kedudukannya yang masih rendah, walaupun ia telah memiliki kemampuan yang sama, atau bahkan melebihi para perwira atasan mereka. Namun beberapa komunitas khayalan [utopian communities] telah mencoba untuk menghapuskan perbedaan-perbedaan semacam itu, dalam kedudukan kepangkatan, seringkali berdasarkan keyakinan bahwa semua orang beragama adalah sama di mata Tuhan; dan di Amerika Serikat penyebaran nilai-nilai politik dan agama telah membawa perubahan-perubahan dalam struktur masyarakat, telah menyebabkan terjadinya perlawanan terhadap segala macam diskriminasi yang bersifat agama, ras, bahkan kelas- kelas masyarakat. Kriteria masyarakat, untuk apa yang dianggap perlakuan diskriminasi terhadap seorang maupun kelompok, selalu bergeser, sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.
Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 258-259), kelompok minoritas [minority
groups] adalah kelompok-kelompok yang diakui berdasarkan perbedaan ras, agama, atau

sukubangsa, yang mengalami kerugian sebagai akibat prasangka [prejudice] atau diskriminasi istilah ini pada umumnya dipergunakan bukanlah sebuah istilah teknis, dan malahan, ia sering dipergunakan untuk menunjukan pada kategori perorangan, dari pada kelompok-kelompok. Dan seringkali juga kepada kelompak mayoritas daripada kelompok minoritas. Sebagai contoh, meskipun kaum wanita bukan tergolong suatu kelompok (lebih tepat kategori masyarakat), atau pun suatu minoritas, yang oleh beberapa penulis sering digolongkan sebagai kelompok minoritas, karena biasanya dalam masyarakat, yang berorientasi pada pria/male chauvinism, sejak jaman Nabi Adam telah didiskriminasikan sebaliknya, sekelompok orang, yang termasuk telah memperoleh hak-hak istimewa [privileged] atau tidak didiskriminasikan, tetapi tergolong minoritas secara kuantitatif, tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok minoritas. Oleh karenannya istilah minoritas tidak termasuk semua kelompok, yang berjumlah kecil, namun dominan dalam politik. Akibatnya istilah kelompok minoritas hanya ditujukankepada mereka, yang oleh sebagian besar penduduk masyarakat dapat di jadikan obyek prasangka atau diskriminasi.
Akhimya perlu juga dijelaskan tentang hubungan antara kelompok [lntergroup
relation] . Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 212) pada dasarnya istilah ini

berarti penelitian mengenai hubungan antar kelompok, seperti pada kelompok minoritas dan kelompok mayoritas. Selain itu juga konsisten, atau konflik di antara suku-suku bangsa, atau kelompok-kelompok ras, sehinga dapat dianggap sebagai masalah sosial [social problem].

Di dalam makalah ini saya akan memfokuskan diri pada diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas yang ada di Republik Indonesia. Kelompok minoritas tersebut dapat berupa suku bangsa (etnis), kelompok agama, dan kelompok gender [gender] seperti kaum perempuan dan kaum homo seksual (baik gay maupun lesbian). Pemfokusan ini berdasarkan kenyataan bahwa walaupun negara kita sudah merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945, serta telah mempunyai UUD 45 yang pada Bab X tentang “Warga Negara” pasal 27 ayat 1, yang menganggap semua WNI memiliki persamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tidak ada kecualian, dan ayat 2 mengatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Namun

sedihnya dalam riwayat hidupnya bangsa kita, telah diselewengkan oleh para pemimpin- pemimpin di kemudian hari, yang sudah mulai berlaku sejak jaman ORLA, dan terutama mencapai puncaknya pada jaman ORBA.

Sebagai contoh misalnya orang Tionghoa di Indonesia bersama-sama dengan orang Arab, India, pada masa Kolonial Belanda digolongkan sebagai golongan Timur Asing, kemudian pada-masa Kemerdekaan mereka semuanya apabila mau mengakui Indonesia sebagai tanah airnya, dan serta pada negara R.I. dapat dianggap sebagai Warga Negara Indonesia. (lihat UUD 45, Bab X, pasal 26, ayat 1). Namun perlakuannya terhadap mereka ada perbedaan. Bagi keturunan Arab, karena agamanya sama dengan yang dipeluk suku bangsa mayoritas Indonesia, maka mereka dianggap "Pri" [Pribumi] atau bahkan “Asli”, sedangkan keturunan Tionghoa, karena agamanya pada umumnya adalah Tri Dharma (Sam Kao), Budis, Nasrani dan lain-lain. Keturunan India yang beragama Hindu dan Belanda yang beragama Nasrani, dianggap “Non Pri”. Dengan stikma "Non Pri" tersebut kedudukan mereka yang bukan “pribumi”, terutama keturunan Tionghoa terasa sekali pendiskriminasiannya. Bahkan oleh pemerintah ORBA, telah dikeluarkan beberapa Peraturan Presiden yang menggencet mereka, bahkan dengan politik pembauran yang bersifat asimilasi. Sehingga sebagai etnis mereka tidak boleh eksis. Untuk menunjang politik yang sangat beraroma rasis itu. Oleh Pemerintah Soeharto telah dikeluarkan beberapa Keputusan Presiden seperti: Pelarangaran Sekolah dan Penerbitan berbahasa Cina; keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966 mengenai Penggantian Nama; Instruksi Presiden No. 14/1967, yang mengatur Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Keturunan Cina. Keputusan Presiden No.240/1967 mengenai Kebijakan pokok yang menyangkut WNI keturunan Asing, serta Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967 tentang kebijaksanaan pokok penyelesaian masalah Cina (Thung, 1999: 3-4). Lucunya dalam era reformati (plesetan dari istilah reformasi). Walaupun Pemerintah Presiden BJ. Habibie sudah memutuskan membatalkan semua peraturan yang bersifat diskriminatif terhadap etnis Tionghoa, seperti yang tertuang dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia No.26 tahun 1998; namun anehnya pada tahun 1999, ia malah memberi bintang kehormatan Maha Putra pada dua tokoh Asimilasi dari pihak etnis Tionghoa seperti Junus Jahja dan K. Sindhunata SA. Penghargaan ini memberi kesan bahwa Habibie masih setuju dengan politik asimilasi dari ORBA.Isi Instruksi Presiden No.26 tahun 1998, yang dikeluarkan pada tanggal 16

September 1998, dan ditujukan kepada para Menteri, para pemimpin Lembaga Pemerintah Non Departemen, para pemimpin Kesekretarian Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, dan para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, dan Bupati/Walikota Kota Madya, Kepala Daerah Tingkat II. Isinya antara lain, adalah: Pertama mengenai penghentian penggunaan istilah pribumi dan non pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijaksanaan, perencanaan program, atau pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan; Kedua memberikan perlakuan dan layanan yang sama bagi seluruh warga negara Indonesia, tanpa perlakuan berbeda atas dasar suku bangsa, agama, ras maupun asal usul. Ketiga meninjau kembali, dan menyesuaikan seluruh peraturan perundang-undangan, kebijaksanaan, program, dan kegiatan yang selama ini telah ditetapkan dan dilaksanakan, termasuk dalam pemberian layanan perizinan usaha, keuangan/perbankan, kependudukan, pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja dan penentuan gaji atau penghasilan dan hak-hak pekerjaan lain, sesuai dengan instruksi

Presiden ini; dan sebagainya. Alasan yang merupakan rasionalisasi bagi mereka yang mendukung politik pembauran asimilasi adalah bahwa jika orang Tionghoa semua sudah tukar nama, bahkan masuk agama Islam, maka tidak akan ada “masalah Cina” lagi sebagai contoh mereka tunjukan kejadian yang sudah terjadi di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Thailand dan Filipina, di kedua negara tersebut orang Tionghoa telah masuk agama Katolik (di Filipina) dan Budis (di Thailand). Sehingga logisnya orang Tionghoa di Indonesia harus masuk Islam, seperti yang telah dilakukan oleh Pak Junus Jahya (Lauw Chuan Tho) yang sejak tanggal 23 Juni 1979 secara resmi telah memeluk agama Islam. Menurut dia orang Indonesia Tionghoa harus masuk Islam, untuk mencegah terulangnya terjadi pembunuh massal [massacre] terhadap mereka di Indonesia, seperti pada permulaan Kemerdekaan R.I dan yang terakhir pada tgl. 13 -15 Mei 1998.

Salah seorang eksponen kalangan muda tentang politik asimilasi adalah Soe Hok Gie (adik kandung Dr. Arief Budiman), waktu saya tanya mengapa ia tidak tukar nama? Jawabnya adalah "Pak politik asimilasi ini sudah diselewengkan oleh para Jenderal, sehingga akan menyusahkan orang keturunan Tionghoa!".

Memang dalam kenyataan akibat dari politik asimilasi tersebut, orang keturunan Tionghoa oleh para anti Cina malah lebih didiskriminasikan, Buktinya setelah tukar nama, orang keturunan Tionghoa masih tetap dianggap "Cina". Penyebabnya adalah stereotip yang tetap melekat pada mereka, bahkan diperkuat dengan hukum, untuk didiskrirninasi, seperti diperas, jika hendak mengurus surat di kantor-kantor pemerintah. Mereka didiskriminasi jika mau masuk ke sekolah negeri. Di Universitas negeri mereka yang lulus UMPTN tidak diterima, setelah terlihat pada pas fotonya, karena raut mukanya berciri ras mongoloid Asia Timur. Demikian juga jika mereka mau masuk ke AKABRI. Setelah masa Reformasi perlakuan semacam itu masih terus berlaku sampai sekarang. Memang sifat- sifat stereotip pada orang Tionghoa, sukar sekali dihapuskan, terutama bagi pejabat- pejabat yang hendak memeras. Karena bagi mereka orang Tionghoa itu kaya, sehingga dapat dijadikan sumber keuangan mereka, yang sebagai pegawai negeri gaji bulanannya memang sangat tidak memadai, untuk dapat hidup sebagai layaknya manusia dari negara yang menjunjung tinggi HAM. Walaupun sejak pemerintahan Habibie, orang dari suku bangsa Tionghoa jika mau sekolah, berdagang, membuat paspor, KTP, masih ada yang diminta mempertunjukan Surat Bukti Kewarganegaran Indonesia (SBKI).

Sebagai contoh saya adalah orang keturunan Tionghoa yang sampai pada masa Reformasi adalah penganut politik pembauran yang asimilasi, tetapi sejak mengalami kejadian yang bersifat shock therapy, saya telah beralih ke politik pembauran yang bersifat integrasi yang sinergis.

Kejadiannya adalah pada hari Kamis 21 Januari 1999, jam 15.00, saya telah mendapat undangan dari Ibu Dirjen Kebudayaan, Depdikbud. Prof, Dr. Edi Sedyawati, untuk turut serta dalam sebuah talk show di studio TV RCTI. Temanya adalah hendak mendukung politik pembauran asimilasai dalam rangka memperingati 47 tahun pengesahan "Piagam Asimilasi", yang dicetuskan di Bandungan, Ambarawa, Jawa Tengah pada tanggal 15 Juni 1952 (Tempo, 1986: 351-353).
Kejadiannya adalah demikian, setelah didandani, dan berkumpul di ruang tunggu di
sebelah studio shooting, tiba-tiba masuk Pak Fadel Muhammad, tokoh GOLKAR, sambil

tangan kiri bertolak pinggang dan tangang kanan menunjuk-nunjuk ke langit, ia berkata dengan lantang: "Memang Cina-Cina itu rakus-rakus!!!" Mendengar itu jantung saya terkesiap, lalu saya tanya: "Cina yang mana Pak Fadel???" Jawabnya: "Yah Edy Tansil dan Liem Sioe Liong!" Rupanya Pak Fadel tidak tahu bahwa di ruang itu ada orang Cinanya (Ya saya ini). Segera Ibu Dirjen Kebudayaan mencoba menengahinya. Ujarnya: "Pak Fadel! Pak James Danandjaja adalah keturunan Cina!" katanya. Mendengar itu Pak Fadel menjadi salah tingkah. Untuk menghilangkan suasana yang tak mengenakkan itu, saya lalu bertanya pada Pak Fadel: "Pak Fadel suku bangsa apa?" Jawabannya dengan suara kurang mantap: "saya orang Arab!". Lanjut saya: “Tak mengapa Pak! Kita semua kan orang Indonesia”. Demikianlah pengalaman saya dalam hubungan antar kelompok [intergroup relation]. Bukan di antara minoritas (Tionghoa) dan mayoritas (Jawa), tetapi dengan sesama minoritas, yang kebetulan minoritas juga yakni Arab. Kejadian ini dapat menggambarkan dengan jelas bahwa Pak Fadel yang seharusnya juga tergolong minoritas, tidak merasa atau sedikitnya tidak mengakui bahwa orang Arab itu juga tergolong minoritas, karena sebagai etnis beragama Islam, ia merasa mayoritas, jadi tergolongnya "pribumi" sehingga dapat menekan orang Indonesia etnis Tionghoa yang memang kedudukan sosial politik adalah tergolong minoritas, yang "non pribumi" apa lagi menurut ia semua orang Tionghoa rakus-rakus seperti Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan Edi Tansil. Fadel Muhammad merasa kuat kedudukannya, karena etnisnya kebetulan tidak termasuk konglomerat yang bermasalah. la sebenarnya sangat terkabur, karena sebagai penggede GOLKAR, ia merasa tidak tersentuh oleh hukum. Buktinya memang demikian, karena kini walaupun ia sudah dinyatakan usahanya faillite [bangkrut] oleh Jaksa Agung, namun ia masih dapat diangkat menjadi gubernur provinsi Gorontalo. Bukan main! Aneh bin Ajaib keadaan di negara kita ini, karena ternyata hal ini masih dapat terjadi dalam jaman Reformasi ini.

Partisipasi saya dalam talk show saya di RCTI, yang tadinya berniat mendukung politik pembauran dari tipe asimilasi, akhirnya berbalik menjadi mendukung politik pembauran yang bertipe integrasi dari sinergi. Sejak talk show di RCTI tersebut, saya telah mendapat banyak telpon, salah satunya adalah dari mantan murid tari Balet saya dahulu, bernama Kamil Setyadi, yang pada waktu itu menjabat sebagai sekretaris Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) dengan maksud agar saya bersedia membantu paguyuban mereka.

Dalam rangka reformasi ini saya bersama dengan beberapa pemuka Tionghoa dari segala agama diundang oleh "Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC) yang dibawahi Bakin (Badan Koordinasi Inteligen Negara), untuk dimintai pendapat mengenai izin mempertunjukan Barongsai (Singa) dan Liong (naga) di muka umum pada tahun 1999 itu. Kami semua sangat setuju apabila izin tersebut dikeluarkan, namun karena keadaan keamanan dianggap belum mendukung, maka pelaksanaannya baru pada tahun depan saja. Namun ternyata masyarakat Indonesia, yang terdiri dari suku-suku bangsa lainnya merasa sudah tidak sabar, sehingga DR. Rahayu Supangga Direktur dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta telah mengajak para mahasiswanya untuk mengarak Lian-Iiong dan Barongsai keliling kota Solo, tanpa ada gangguan dari rakyat "Pribumi", yang diantisipasi masih ada yang anti Tionghoa. Sebaliknya usaha berani ini mendapat sambutan meriah dari segenap warga kota Solo dari segala suku bangsa.

Yang hadir dalam pertemuan itu antara lain adalah tokoh-tokoh asimilasi, seperti MayJen TNI (Pur) Soenarso dan BrigJen Pol (Pur) Sukisman, seorang Sinolog Mantan Rektor Universitas Dharma Persada, Tokoh Agama Budha Siti Hartati Murdaya, tokoh Muslim Tionghoa H. Junus Jahja, seorang pendukung politik asimilasi yang konsisten. Selain itu juga wakil-wakil dari instansi pemerintah, HANKAM dan lain-lain. Pada kesempatan itu BrigJen (Purn) Sukisman menyatakan ekskiusnya pada suku bangsa Tionghoa dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah, yang pada masa Reformasi ini dapat digolongkan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia, karena bersifat rasialis. Menurut beliau dikeluarkannya peraturan-peraturan tersebut, bukan karena anti Cina. melainkan karena merasa "eman [kasih sayang]" kepada saudara-saudara keturunan Cina, karena mereka dalam sejarah jika ada kekacauan sosial politik, selalu dijadikan kambing hitam dan dibunuh. Semoga dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan tersebut golongan keturunan Tionghoa sudah menyatu padu dengan suku-suku bangsa di mana mereka berdiam.

Mendengar pernyataan itu, komentar saya adalah: "Terima kasih banyak Pak Jenderal, namun akibat perasaan eman Bapak telah menyengsaraan orang Indonesia- Tionghoa, karena mereka sejak itu menjadi terpuruk. Mereka dalam prakteknya makin menjadi obyek pemerasan. Jikalau berusaha, harus mendapat "perlindungan" para oknum pejabat tinggi sipil maupun militer. Mereka selalu dijadikan kudatunggangan yang dapat disuruh berusaha sehingga dapat memberi sumbangan kepada para "pelindung"nya, namun jika terjadi kekacauan sosial politik mereka dapat dengan mudah dijadikan kambing hitam, untuk dihukum dicampak ke pulau Nusa Kambangan seperti nasibnya beberapa konglomerat suku bangsa Tionghoa. Dan para penunggangnya dapat terus survive dalam jaman Reformati ini.

Walaupun diskriminasi terhadap pemeluk agama tertentu, sejak masa reformasi ini telah mulai lenyap, tetapi tidak terjadi pada semua agama minoritas. Sejak masa reformasi ini agama minoritas yang telah memperoleh pengakuan sebagai salah satu agama yang diakui di Indonesia adalah agama Konghucu, sehingga salah satu hari rayanya yang dihubungkan dengan agama tersebut, yakni Imlek sejak tahun 2003, telah disahkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi Hari Raya Nasional. Namun di lain pihak ada tuntutan dari agama Minoritas orang Jawa (Kejawen) yang belum terpenuhi aspirasinya beragama.

Dalam Koran KOMPAS , Kamis 10 April 2003 , Halaman 7, ada pernyataan bahwa umat agama tersebut merasa dilecehkan dan dianggap seolah bukan warga negara Indonesia. Untuk itu Masyarakat Peduli Hak Sipil dan Budaya bersama puluhan aktivis penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), Rabu 9 April 2003 telah mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Mereka diterima Wakil ketua Komnas HAM Salahudin Wahid. Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan wakil mereka Dewi Kanti, disebutkan bahwa para penghayat bukan hanya menghadapi sejumlah piranti hukum, yang melecehkan hak sipil dan budaya, tetapi juga menghadapi pejabat negara yang menganggap para penghayat seolah bukan sebagai WNI. Sejak lahir para penghayat berhadapan dengan tindakan diskriminatif. Anak-anak pasangan penghayat tidak bisa mendapat surat kenal lahir atau akta kelahiran, dengan alasan pernikahan mereka dianggap tidak sah. Pada hal mereka telah melangsungkan pernikahan sesuai dengan adat dan kepercayaan masing-masing. Dinikahkan dengan penuh kasih, direstui

orang tua, handai taulan, keluarga dan saksi mereka. Para penghayat juga kesulitan mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP), karena tidak mau mengisi kolom agama yang resmi diakui negara. Contoh terakhir perlakuan buruk terjadi atas para penghayat Ajaran Karuhun Urang di Cigujur, Kuningan, Jawa Barat, yang merasa dihina dalam film berjudul Kafir.

Dewi menyesalkan munculnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang menganulir UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yang pada Mukadinahnya disebutkan berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia. Dalam SKB tersebut, "Dinyatakan tidak berlaku bagi masyarakat Penghayat Kepercayaan." Kelompok Penghayat mendesak Komnas HAM berjuang menghapus semua peraturan yang bersifat diskriminatif. Selain itu juga mendorong terciptanya sebuah UU Catatan Sipil yang menjamin Penghayat menjalankan perkawinan dan mendapatkan hak-hak sipil dan budaya sesuai dengan penghayatannya.

Menghadapi haI ini, Salahuddin Wahid yang saudara kandung Abdurrahman Wahid itu, mengatakan akan memperjuangkan kepentingan mereka: Mereka berhak mendapat hak sebagai WNI dengan status sama dengan yang lain. Dan lagi apa sih untungnya mendiskriminasikan mereka? Bisa dibayangkan getirnya kehidupan anak-anak mereka, yang dianggap anak di luar nikah. Selanjutnya Wahid berpendapat terminologi kafir tidak dikenal dalam hidup bernegara. Ini cuma terminologi beragama. Sentimen beragama seperti ini tidak sehat dalam hidup bernegara.

Setelah bertemu dengan beberapa anggota Komnas HAM yang lain, Wahid mengatakan, "Tampaknya sebagian besar anggota Komnas HAM, sepakat memperjuangkan nasib mereka, terutama yang langsung berkaitan dengan unsur HAM mereka. Tapi semua masih tergantung keputusan rapat pimpinan atau rapat pleno Komnas HAM. Mudah-mudahan harapan saya tidak meleset."

Tugas anggota Komnas HAM, masih banyak antara lain adalah mengungkapkan beberapa tragedi kekerasan yang dilakukan bangsa kita terhadap sesamanya. Yang terpenting dan yang masih merupakan misteri adalah Tragedi Kerusuhan 13-15 Mei 1998, di mana lebih dari 1000 orang menjadi korban penganiayaan, pembunuhan, perkosaan dan pembakaran hidup-hidup. Walaupun kelihatannya motifnya adalah rasialis karena banyak korban adalah orang Indonesia suku bangsa Tionghoa, tetapi korban kekejaman selain mereka, ada ratusan korban dari suku-suku bangsa lain, yang diprovokasi untuk menjarah di mal Yogya, yang terletak di Kali Malang Jakarta Timur, setelah mereka masuk untuk menjarah isinya, mereka ini kemudian oleh orang-orang yang bertubuh tegap dan potongan rambut cepak, bersepatu lars kemudian dikunci dari luar gedung, dan dibakarnya hidup-hidup. Kasihan orang terjebak kejahatan ini yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak kemudian dijadikan tumbal oleh entah siapa. Karena merasa malu sebagai penjarah, tidak ada keluarganya yang berani membelanya. Menurut ibu Ita F. Nadia, yang pada malam tanggal 13 Mei 1998, atas ajakan Romo Sandiawan seorang pendeta Katolik, telah mengadakan peninjauan di tempat terjadinya pembunuhan dan perkosaan tersebut. Menurut pengakuan ibu Ita pada seminar Peringatan 5 tahun Peristiswa Mei 1998 di restoran Nelayan, di Jalan Karang Bolong, Ancol Barat. Jakarta Utara, yang diadakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa. Berdasarkan pengamatan dengan mata kepalanya sendiri, ia telah melihat ada dua sosok mayat dari dua remaja perempuan Tionghoa, yang ditutupi dengan kertas plastik hitam. Waktu ia singkap tutup tersebut

terlihat dua mayat tak berbusana dilumuri darah, dengan putting-putting susu mereka dipotong dengan gunting. Jadi berlainan dengan keterangan para pejabat pemerintahan Habibie (termasuk menteri urusan wanita Tuti Alawiyah), yang mendatakan tidak ada permerkosaan, karena buktinya tidak ada wanita Tionghoa yang bersedia untuk menjadi saksi untuk ditayangkan di televisi. Sesungguhnya perkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan Indonesia etnis tionghoa. ltu benar-benar ada, jadi bukan isapan jempoI saja. Hasil penelitian di tempat itu kemudian oleh Komisi NasionaI Anti Kekerasan Terhadap Perempuan telah diserahkan yang berwajib, dalam bentuk Dokumen Laporan No.3, tetapi dihilangkan entah oIeh siapa. Bersamaan dengan itu mereka juga ke PBB di New York untuk melaporkan masalah pelanggaran HAM yang dahsyat serta menggiriskan itu. Tetapi di dalam negeri selama 5 tahun ini, masih dianggap tidak ada oleh yang berkuasa. Menurut Salahudin Wahid , yang juga hadir dalam Seminar Peringatan itu, mengatakan bahwa Komnas HAM sedang berusaha meneliti untuk mengetahui dengan pasti apakah peristiwa tragedi tersebut memang betul-betul terjadi, siapa yang bertanggungjawab, siapa saja korbannya, dan apa yang harus dilakukan agar hal itu tidak terulang Iagi di masa depan. Selanjutnya menurut Wahid, memang masalah ini adalah masalah pelik, karena terkait juga dengan pergulatan politik di Indonesia. Dan Komnas HAM, harus hati- hati agar tidak terseret ke dalam kancah politik tersebut, namun menurutnya hal itu perlu diungkapkan, karena berdasarkan fakta-fakta. Yang mutlak harus diketahui, karena jika tidak, kebenaran tentang “kesalahan” masa lalu, maka kesalahan tersebut sangat mungkin terulang kembali. Tentunya bangsa ini seperti keledai yang terperosok dalam lubang yang sama (Salahudin Wahid dalam KOMPAS, Rabu 14 Mei 2003, HIm. 4). Masalah ini akan terpecahkan apabila mendapat dukungan dari DPR. Sebagai jawaban atas pertanyaan Salahudin Wahid apakah DPR dapat memberi tanggapan yang positif, karena beberapa tahun yang lalu DPR telah menyatakan pada Peristiwa Mei 1998 tidak ada pelanggaran HAM. Sebagai tanggapan pertanyaan tersebut Alvin Lie, anggota DPR dari fraksi Reformasi, mengatakan bahwa selama anggota DPR yang sekarang masih bercokol di sana, masalah ini akan tetap dipetieskan.

Peraturan-peraturan bersifat diskriminasi yang diwariskan mengenai suku bangsa Tionghoa dari ORDE BARU masih banyak, dan sukar untuk dapat dihapuskan, karena menurut Menteri Kehakiman dan HAM, kedudukan peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah-pemerintah masa Reformasi, kedudukannya, kalah dengan yang dikeluarkan pemerintah Orde Baru. Akibatnya dapat diremehkan oleh pejabat-pejabat golongan “Hitam” untuk tetap memeras orang-orang yang memerlukan jasa dari mereka. Semua ini dapat terus berlaku, karena sebagai suku bangsa yang minoritas, orang keturunan Tionghoa, belum mempunyai kedudukan sosial, politik, dan hukum yang mantap dalam struktur sosial masyarakat Indonesia (lihat Suparlan,1999). Oleh karenanya para pemimpin mereka harus berjuang terus untuk menghapus peraturan-peraturan yang diskriminatif itu, sehingga mereka tidak dijadikan kambing hitam, apabila terjadi pergolakan sosial, politik maupun ekonomi, seperti masa-masa lalu.

Sebenarnya kepedihan ini bukan saja dirasakan oleh suku bangsa Tionghoa saja tetapi juga oleh etnis-etnis yang lain, walaupun dalam gradasi yang lebih kurang berat. Mereka itu adalah sub suku bangsa Bali, seperti orang Trunyan, yang agama “asli” yang bukan bersifat Hindu Majapahit, selalu mendapat tekanan dari suku bangsa Bali Hindu, yang mayoritas itu. Demikian juga etnis Batak, juga dilecehi, karena anak-anak mereka
waktu hendak mendaftarkan kelahiran anaknya di kantor Catatan Sipil, tidak boleh
mencantum nama marganya.
Kesimpulan

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa diskriminasi terhadap kaum minoritas, khususnya suku bangsa Tionghoa masih aktual, dalam arti masih berlangsung terus. Penyebabnya memang sebagian oleh seniman diskriminasi ras, namun yang lebih tepat lagi adalah karena "fulus", yakni uang atau dana, yang perlu diperoleh oleh oknum-oknum pejabat, baik sipil rnaupun militer, selama gaji mereka sebagai pegawai negeri masih tetap tak memadai, dan kelompok yang dapat dijadikan obyek pemerasan, sudah tentu adalah orang Indonesia Tionghoa, yang berkat peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan Pemerintah RI, dibuat menjadi tidak mantap dalarn struktur masyarakat Indonesia sehingga dapat dilecehi tanpa mampu melawan.





Daftar Kepustakaan

Suparlan, Parsudi, 1999 “Masyarakat Majemuk dan Hubungan antar Suku Bangsa,” Masalah Cina (I. Wibowo ed.). Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, bekerja sama dengan Pusat Studi Cina. Hlm, 149- 173.

Tempo, 1986 Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986. Jakarta: Percetakan
PT Temprint.

Theodorson, George A, and Achilles G. Theodorson, 1979 A Modern Dictionary of
Sociology. New York, Hagerstown, San Francisco, London: Barnes & Noble Books.

Thung Ju Lan, 1999, “Tinjauan Kepustakaan tentang Etnis Cina di Indonesia,” Retrospeksi dan Rekonteskstualisasi Masalah Cina (I. Wibowo, ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, bekerjasama dengan Pusat Studi Cina. Hlm. 3-23.

United Nations Commission on Human Rights, 1949, The Main Types and Causes of Discrimination, Lake Success, N.Y : United Nations Commission on Human Rights, Sub Commission on Prevention of Discrimination and Protection ofMinorities.
Win, 2003 “Karena Merasa Dilecehkan, Penghayat Kepercayaan Mengadu ke Komnas
Ham,” Kompas, Kamis, 10 April 2003 Halaman 7



Depok, 19 Mei 2003

SURAT

SURAT

Cerpen Sapardi Djoko Damono



Tolong sampaikan kepada Seno bahwa suratnya sudah kuterima. Lengkap dengan potongan langit yang diselipkan dengan sangat hati-hati di lipatan kertas suratnya yang berwama merah jambu. Menakjubkan. Langit itu, maksudku. Dan warna surat itu mengingatkanku pada masa remajaku ketika kami suka menghubung-hubungkan wama dengan maksud tertentu yang disembunyikan di balik surat itu. Sepotong langit, serpihan mega yang mengambang, sedikit ujung bukit yang kena gunting, dan beberapa ekor burung yang kebetulan melintas dan tidak bisa menghidarkan diri dari guntingnya itu.

Sambil terus melihat lembaran potongan langit itu, aku melongok kejendela dan kusaksikan - sungguh! - bahwa langit yang di luar sana masih tetap seperti biasa. Utuh. Lengkap dengan awan putihnya, sempuma dengan wama kebiruannya, dan sesekali dilintasi juga oleh beberapa ekor burung - entah apa namanya. Aku hampir tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan langitnya, setelah sebagian digunting untuk diselipkan dalam surat yang dikirimkannya kepadaku ini. Aku membayangkan rasa sakit yang tak ada batasnya yang telah menimpa langit itu, sementara sebagian pesonanya diambil hanya untuk menyiratkan cintanya padaku. Aku masih perawan, namun sering mendengar dari ibu betapa sakitnya ketika melahirkanku. Itulah yang kubayangkan dirasakan langitnya ketika dimanfaatkannya untuk melahirkan cintanya padaku.


Katakan padanya, apa begitu periu menggunting seserpih langit itu, kalau sekedar untuk membujuk - katakanlah, memaksa - seorang gadis seperti aku ini agar yakin bahwa cintanya seperti langit itu. Langitnya pasti menderita, tidak seperti langit di sini yang utuh dan entah sampai kapan tak habis-habisnya memandang dengan penuh kebahagiaan segala tindakan kita. Tolong tanyakan padanya, apakah langit itu merintih dan mengeluarkan darah ketika diguntingnya? Apakah langit itu kejang-kejang karena menahan sakit yang tak ada batasnya? Apakah langit itu mengeras menahan air mata? Aku tidak berani membayangkan penderitaannya.

Tolong sampaikan pada Seno bahwa aku sudah menghayati cintanya, tanpa potongan langit itu pun. Sudah. Hanya saja aku harus menghancurkan serpihan langitnya itu agar tidak memburu-buru bayanganku tentangnya. Tapi apakah itu sopan? Apakah itu tidak berarti mengkhianati cintanya padaku? Aku bingung, tapi bagaimanapun aku harus segera membakamya, bersama suratnya yang berwama merahjambu itu. Aku tidak tahan lagi membayangkan rasa sakit langit itu.

Malam ini kubawa surat dan gambar itu ke pekarangan sebelah; tak ada seorang pun saksi. Kurobek-robek surat itu. Kunyalakan korek api, tetapi kemudian aku tiba-tiba jadi ragu-ragu. Kukumpulkan kembali robekan-robekan surat dan gambar itu, kususun seperti teka-teki potongan gambar, lalu kuperhatikan - dan seketika rasa sakitku bergolak, seperti apa yang kubayangkan tentang langitnya itu. Aku harus tabah. Harus. Tak ada pilihan lain. Harus membakar surat itu agar langitnya yang indah itu kembali seperti sedia kala. Maka kunyalakan korek api itu lagi.

Nyala apinya seperti bianglala: merah, oren, kuning, biru, hijau, indigo, violet. Tidak melengkung tetapi membumbung ke atas. Tetapi tiba-tiba saja aku merasa telah menjadi pengkhianat. Telah memusnahkan cinta, keindahan, harapan, dan masa depan. Telah menjadi manusia yang seburuk-buruknya di dunia, yang sejahat-jahatnya, yang entah apa. Aku tiba-tiba berharap agar dari asap itu muncul bayangannya, bagaikan burung punik yang dengan perkasa melesat dari kobaran api. Aku satukan jari-jari tanganku, kutengadahkan kepalaku. Kutatap tajam langitku yang dulu itu juga, yang tidak pernah mengkhianati harapanku. Tetapi api itu tetap membumbung, semakin mirip bianglala. Dan aku terns menunggu.

Sampaikan kepada Seno bahwa aku akan terns menunggu kobaran itu sampai diriku menjelma asap, menyatu dengan bianglala itu, membumbung ke langit yang setia, yang tidak pemah meninggalkanku.***

Dokter

Dokter

Cerpen Putu Wijaya


Banyak yang tidak bisa diatasi oleh ilmu kedokteran. Bagaimana pembuahan di luar rahim, dalam bayi tabung, dipastikan akan menumbuhkan janin ketika dicangkok ke rahim ibu? Virus influenza, HIV, flu burung sampai sekarang masih dicari obatnya. Di luar itu masih ada musuh bayangan yang ampuh: dukun.

Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun. Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihat jarum infuslah yang membunuhnya. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima pun, manusia tetap mati.

Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu.

"Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga. Hidup-mati kami tergantung pada dia!"

"Tapi sudah terlambat."

"Terlambat bagaimana, kami sudah bawa kemari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!"

"Tapi sebelum dibawa kemari nampaknya dia sudah tidak ada!"

"Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia. Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!"

"Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal."

"Makanya keluarkan ular itu cepat. Pak Dokter jangan ngomong terus!"

"Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!"
"Jangan bikin kami tambah susah, Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!"

"Cepat bertindak!"

Saya disumpah untuk menjalankan praktik sesuai dengan etik kedokteran. Tetapi, di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit.

Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menenggak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak.

"Kalau Pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat."

"Terlambat bagaimana?!"

"Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya, bersatu dengan darah. Dibawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke puskesmas yang fasilitasnya berengsek ini. Dokter tidak bertanggung jawab!"

"Dokter harus bertindak!"

"Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya hanya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!"

"Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa kemari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati!"

"Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha!"

"Makanya, kau harus berusaha terus, Dokter!"

"Berusaha bagaimana lagi?"

"Panggil! Kejar sekarang!"

"Kejar ke mana?"

"Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasti bisa disusul!"

"Disusul?"

"Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar!"

Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.

"Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor!"

"Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!"

Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa, dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang.

Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.

Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun.

Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu.

"Bagaimana?"
"Tenang!"

"Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!"

"Saya sudah berusaha."

"Dan hasilnya?"

"Lumayan."

"Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak?"

"Berhasil."

Mereka tercengang.

"Jadi dia hidup lagi?"

"Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?"

"Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia kemari!"

"Saya sudah mencoba."

"Terus hasilnya?"

"Itu," kata saya menunjuk pada mayat.

Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.

"Ayo!"

Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.

"Jadi dia hidup lagi?"

Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa.

"Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?"

"Dan mengapa bau?"

"Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur."

"Tidur?"

"Ya. Tidur untuk selamanya."

"Apa?!!!!"

"Tapi dia meninggalkan pesan."

"Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!"

Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji.

"Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali. Puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja!"

Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya.

Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari puskesmas untuk dikuburkan.

Saya sama sekali tidak ingin mengatakan bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kacamata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami.

Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kata sayalah yang paling benar.

Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap.

Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya.

Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah telanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan.

Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut.

Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu, kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke puskesmas, minta agar saya mengobatinya.

Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orang-orang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi "orang bodoh" untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.

Pada suatu malam, datang di puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuh. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman puskesmas

"Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas," kata putra kepala suku. "Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa kemari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!"

Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar puskesmas dengan senjata-senjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan.

Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu.

Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu, akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya.

Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpura-pura jadi dukun agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.

Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajuritnya yang berang itu menatap saya.

"Berhasil, Dokter?"

Tubuh saya gemetar.

"Jangan kecewakan kami, Dokter!"

Saya tidak berani menjawab.

"Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu. Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran. Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!"

"Saya paham itu."

"Kalau begitu hidupkan lagi Bapa."

"Saya sudah berusaha."

"Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil!"

"Tapi ?"

"Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada?"

"Ya, itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!"

"Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?"

"Apa?"

"Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang, Dokter!"

"Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin."

"Tapi, kau dokter kan?!"

"Betul."

"Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa Bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo, Dokter!"

Saya tidak sanggup menjawab.

"Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?"

"Tidak."

"Kalau begitu, hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong, Dokter!"

"Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas."

Anak kepala suku itu kaget.

"Maksud Dokter, Bapaku mati?"

Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kecewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencincang apa saja yang ada di puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.

Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil.

Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapapun berengseknya. .

"Diam!!!!" teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek.

Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi. Itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf.

"Jangan tembak!!!"

Dengan gemetar saya tunjukkan itu bukan pistol. Itu hanya tiang bendera yang copot.
Anak kepala suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalu entah dari mana datangnya keberanian, saya berbisik.

"Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati!"

Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah.

Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya.

"Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!" serunya.

Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita.

Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.

Sejak itu, bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalaupun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun. Saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu. ***


Dimuat di Jawa Pos, 12/16/2007

Grhhh!

Grhhh!

oleh Seno Gumira Ajidarma


Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks.

“Bintara Sarman?”

“Siap Pak!”

“Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!”

“Siap Pak!”

Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada.



Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan.

Dalam cahaya bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan.

Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak korban yang sudah setengah mati.

Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse Sarman sama sekali.



Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh!

Gerakan sosok itu seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak. Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menembak.

Terdengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuhan di aspal.



Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya.

“Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!”

“Untuk apa?”

“Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!”

“Monster? Monster apa?”

“Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!”

“Rudal apa ini yang diminta?”

“Dasar goblok! Rudal antitank!”



Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget.

Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi.

“Palmerah! Cepat!”



Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita:

. . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat.

Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol.



Kini para dokter sedang memeriksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan.



Reserse Sarman membaca berita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Terlalu. Masak namaku secuil pun tidak disebut-sebut. Pers sekarang terlalu membesar-besarkan persoalan yang tidak penting, sambil menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di film Barat. Maknyadirodog!”



Di warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe.

“Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!”

Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat.

“Siap Pak!”

Dan segera Reserse Sarman menghilang.

“Lho, mana uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya.



Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair.

Reserse Sarman memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau?

Mungkin semasa hidupnya mereka dulu kriminal, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar kelas teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi.



Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh!

Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan mana yang merasukinya?

Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah.



“Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi.

Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana. Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat.

Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya.

“Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah.



Saat itu juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah mencair. Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita cantik yang tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas.

“Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman.

“Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr!



Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang bergantungan di kacamatanya.



Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang melawan zombi?

HT Reserse Sarman menguik.

“Bintara Sarman?”

“Siap Pak!”

“Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!”

“Siap Pak!”

Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran.

Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk.



…para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang dari Lubang Besar…



Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi!

Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya.

“Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh!

Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu.

“Komandan! Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!”

“Tembak segera dengan rudal!”



“Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!”

Zombi itu mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding.

“Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?”

“Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!”

“Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!”

Zombi menendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya.

“Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?”

“Masih! Masih! Kenapa?”

“Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!”

“Aku tahu! Lantas kenapa?”



“Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!”

Grhhh! Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok.

“Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?”

“Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Sembahyangkan mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus! Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!”



“Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!”

Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas.

“Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan.

Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh!

Di sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!”



Jakarta - Yogya,

Desember 1986

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?

Cerpen Seno Gumira Ajidarma


“Lihatlah bagaimana aku mencintaimu kekasihku. sudah begitu lama kita berpisah, tapi aku ingin mengawinimu. Telah kuraih gelar MBA dari harvard. Telah kududuki jabatan manajer perusahaan multinasional. Telah kukumpulkan harta benda berlimpah-limpah. Kawinlah denganku. Kuangkat kamu dari lembah hitam. Marilah jadi istriku. Jadi orang baik-baik, terhormat dan kaya. Ayo pergi dari sini, kita kawin sekarang juga.”

Ia tersenyum, masih seperti dulu. Ada kerutan di ujung matanya, tapi masih menatap dengan jalang. Dan setiap kali aku menatap mata itu, dadaku rasanya bagai tersirap.

”Ayolah kekasihku, cepat, kita pergi dari sini. Lihatlah Baby Benz yang menunggumu. Akan kumanjakan kamu seperti ratu. Pergilah dari tempat busuk ini. Jauhilah lagu dangdut. Jauhilah bir hitam, marilah memasuki dunia yang elit dan canggih. Kuperkenalkan kamu nanti dengan dunia Mercantile Club, dunia para pedagang dan para manajer internasional. Kuajari kamu main polo, kuajari kamu naik kuda, kuajari kamu bicara Prancis, sambil sedikit-sedikit mengutip Simone De Beauvoir. kujadikan kamu seorang wanita diantara wanita. Berparfum Poison keluaran Christian Dior, berbaju rancangan Lacroix, bercelana dalam Wacoal. Cepat kekasihku, pergi bersama aku. Waktu melesat seperti anak panah. Jangan sampai kamu jadi tua di sini. Menjadi kecoa yang tidak berguna.”

Ia tersenyum lagi. Matanya jalang sekali. Rambutnya keriting dan panjang.

”Ayo cepat kekasihku. Cepat. Jangan sampai dunia berubah. Tak ada yang kekal di dunia ini. Tak ada yang setia. Ayo cepat. Tunggu apa lagi?”

Wanita itu merebahkan tubuhnya. Bau wangi yang kampungan meruap dalam kamar yang lembab. Alangkah lembabnya. Alangkah kumuhnya. Di ranjang itu juga dulu, ia memitingku sehari semalam. Seperti baru kemarin rasanya. Dua belas tahun yang lalu.
Di luar terdengar dangdut saling menghentak dari setiap rumah. Pada sebuah tembok tertulis dengan huruf merah: Termiskin di Dunia. Entah apa maksudnya.

”Apa lagi yang kamu tunggu kekasihku? Inilah kesempatan emas bagimu. Cepat kemasi barang-barangmu. Amankan kopormu? Biar aku bantu. Tinggalkanlah rawa-rawa sipilis ini, pindah ke pondok indah. Ayo cepat. Besok pagi kamu sudah bisa terjun ke kolam renang, begitu mentas langsung membaca International Herald Tribune, sambil menelpon teman-teman di Beverly Hills. Ayolah cepat kekasihku. Jangan sampai ketinggalan kereta. Kesempatan tidak datang dua kali. Tinggalkan saja barang-barangmu di sini. Kita akan segera memborong gantinya di Shinjuku.”

Matanya mengerling tajam dan masih jalang. Apakah ia melihat lembaran Dollar Amerika? Kulihat dari belahan bajunya yang terbuka, ada tato kupu-kupu di atas buah dada. Gambar itulah sensasi masa remajaku. Aku selalu senang mengingatnya karena memberikan persaan aneh dan mendebarkan. Ia menyulut rokok sambil tetap tiduran. Bibirnya merah dan sungguh-sungguh basah. Ia menghembuskan asap rokok ke wajahku, lantas kakiknya naik ke pundakku.

”Siapakah kamu anak muda yang menggebu-gebu? Aku tidak kenal kamu. Dua belas tahun lalu ? aku sudah lupa. Terlalu banyak yang sudah tidur denganku. Aku tidak mengerti. Bagaimana kamu bisa mencintaiku?”

”Janganlah bertanya-tanya. Ikutlah aku sekarang. Penjelasannya nanti saja belakangan.”

”Jelaskan padaku anak muda, jelaskan. Jangan sampai aku berbicara dengan orang yang tak bernama. Apalagi kamu bicara tentang perkawinan.”

”Untuk apa? Bukankah kamu tidak perlu nama-nama? Toh kamu akhirnya selalu lupa. Ikutlah saja denganku. Bersenang-senang. Bermewah-mewah. Akan kubawa kamu ke dunia yang ada dalam iklan-iklan.”

Ia tertawa lepas, seperti mengejekku. Matanya menerawang ke luar jendela, ke langit, ke bintang-bintang. Masih terdengar orang-orang mendendangkan Gubug Derita. Para pelacur berjajar-jajar duduk di luar sambil menaikkan kaki. Leher mereka penuh cupang yang mengerikan.

Seseorang nampaknya baru dihajar, lewat sambil menangis meraung-raung. Bau minuman keras murahan menyesakkan udara bercampur bau keringat para pelacur yang ajojing habis-habisan sampai teler, mencoba melupakan nasib yang entah kenapa bisa begitu buruk dan begitu nestapa. Aku merasa gerah. Aku sudah terbiasa hidup dalam ruangan AC. Jakarta terlalu panas dan menyesakkan. Terlalu banyak orang-orang yang bernasib malang. Ia masih tertawa.

”kenapa kamu tertawa?”

”Aku tidak bisa ikut kamu anak muda. Maafkanlah aku.”

Hatiku rontok. Mulutku kering. Keseimbanganku goyah.

”Kenapa? Apa yang kurang dariku, aku lulusan Harvard dan aku …”

”Aku sudah punya pacar.”

”Siapa? Apanya yang lebih hebat dari aku?”

”Dia cuma tukang jual obat di pojok jalan. Tapi aku bangga sama dia.”

”Hahaha! Tukang obat? Apanya yang bisa dibanggakan?”

”O, aku sangat bangga padanya. Setidaknya dia tidak sombong seperti kamu. Dia bisa bicara tentang segala macam hal, dan dia bisa bicara tentang semua itu dengan meyakinkan. Kamu, meskipun sudah sekolah di Harvard, tdak akan pernah mengalahkan Sukab. Dia adalah segala-galanya bagiku.”

”Hahaha! Sukab seorang tukang jual obat! Obat apa? Paling-paling obat kumis! Obat kuat! Seorang penjual omong kosong! Aku tahu orang-orang semacam itu pembual! Kamu pasti sudah dibohonginya. Kamu sudah dirayu dengan segenap kegombalannya. Mungkin juga kamu sudah dipeletnya, dengan ilmu semar mesem! Atau dia punya batu akik kecubung pengasihan! Jangan mau ditipu. Coba, siapa yang bukan penipu di Jakarta ini? Jangan mau jadi korban!”

”Aku bukan korban. Aku cinta padanya. Dia membuatku bahagia. Dialah satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan hidup. Dia sangat pintar. Sama pintar dengan menteri. Dia sangat lucu. Sama lucunya dengan Asmuni.”

”Hebat. Hebat. Seperti roman picisan. Kamu mau kawin sama dia?”

Ia menggeleng. Wajahnya jadi muram. Membanting puntung rokok ke dalam kloset.

Sejumlah kecoa berterbangan.

”Kenapa?”

Ditenggaknya segelas bir sebelum menjawab, nyaris tanpa suara.

”Dia sudah kawin.”

Hatiku yang tadi sudah jatuh berkeping-keping bagaikan melayang saling melekat kembali.

”Kalau begitu, Ayo! Cepat! Kita pergi dari sini! Aku sudah tidak tahan bau apek di kamar ini!”

Ia diam saja. Membuka bajunya. Lantas terkapar. Kulihat tato kupu-kupu itu. Rasanya makin aneh dan makin mendebarkan.

”Aku akan tetap di sini. Menanti setiap orang yang datang dan pergi. Aku akan tetap setia padanya, meskipun ia tak akan pernah mengawiniku.”

Goblok! Goblok! Ia seorang wanita yang bodoh atau mulia?

”Baiklah. Kalau begitu, sebagai pelacur kubeli dirimu. Kukawini kamu. Kubayar kamu seharga 500.000 dollar Amerika ”

”No,” jawabnya tanpa menatapku, namun nadanya menegaskan ia memang sunguh-sungguh.

”Kamu memang bodoh sekali kekasihku, alangkah bodohnya kamu. Dari Dolly sampai St. Paulli belum pernah kutemui pelacur seperti kamu. Apakah kamu memang seorang pelacur kekasihku?”

Seekor kecoa terbang, dari atas lemari ke kutang, yang tergantung di jemuran.

”Mungkin aku bodoh. Tapi aku punya cinta. Pelacur profesiku. Cuma lima ribu tarifku. Tapi tak kujual diriku. Nyahlah engkau anak muda. Kembalilah ke Harvard.”

Akhirnya kuambil juga botol bir itu. Kutenggak sampai tandas. Aku ngeloyor pergi. Kutengok ke belakang sekali lagi. Ia masih di jendela itu. Melambaikan tangan seperti dua belas tahun yang lalu. Astaga. Bahkan pelacur pun menolak cintaku. Apakah aku mesti mengiris telingaku seperti Van Gogh? Sistem nilaiku guncang. Ternyata masih ada orang punya cinta. Ternyata masih ada orang bodoh. Terlalu!



Jakarta 1989.

*) Dimuat diharian Suara Pembaruan, 1989, sebagai Gombal.

Pistol Tua

Pistol Tua

Oleh Laila Sa’adah

diambil dari Jelajah Budaya



Gelap seakan tidak mau beranjak dari langit kota ini. Mendung subuh tadi hanya menyanding mentari tanpa mau bergegas meninggalkannya, untuk sekedar menunjukkan keperkasaannya pada bumi di pagi hari yang lengang, mencekam dan membuat bulu roma siapapun merinding bila di situasi seperti ini.

Seharusnya ketika mentari sudah mulai merangkul pagi bersamanya, orang-orang yang telah semalaman beristirahat, dapat memulai aktivitasnya lagi dengan lebih semangat. Namun setiap mata yang kutangkap selalu sembab. Raut muka kelelahan yang menyiratkan kesedihan, ketertundukan dan kepasrahan akan hidup seakan selalu meriasi setiap sudut bagian wajah itu. Pandangan yang tertunduk, bibir kelu menambah ketidak kuasaan wajah untuk menutupi semua yang telah terjadi. Bila memang benar wajah merupakan jendela jiwa maka seakan-akan wajah-wajah itu mengatakan

“Jangan kau lihat aku bila kamu tidak ingin ikut tenggelam dalam kesedihan.”

Dalam setiap situasi yang menyedihkan jangan khawatir kalau tidak ada sedikit celah untuk menghiburmu. Atau dalam gurun pasir yang luas, tandus, gersang, jangan takut bila tidak ada tawaran kesegaran. Seperti halnya ketika dalam kesulitan yang seakan-akan melilit seluruh tubuh, jangan pernah putus asa karena pasti ada sepotong pisau untuk memotong tali itu, walau hanya pada bagian hidungmu untuk sekedar bernafas.

Hero yang selalu ada dalam setiap kesedihan, perjuangan hidup dan peperangan yang memaksa kita untuk bertempur bukan orang lain, tapi tampaknya apa yang ada dalam hati kita. Kepercayaan diri dan kobaran semangat itulah yang menjadikan lintasan bagi setiap jalan yang tadinya pekat, pisau tajam bagi lilitan yang sebelumnya tidak pernah bisa tertembus oleh apa pun.

Sinar keperkasaan itu, hari ini dapat aku temukan dalam wajah seorang kolonel yang berdiri tegak diujung pintu penampungan ini. Dari lipatan-lipatan kulit yang ada di wajahnya, menunjukkan kalau sebenarnya dia sudah tidak muda lagi. Sebutan kakek sudah pantas dia sandang. Tetapi karena tanggung jawab, jiwa mudanya kembali bangkit. Semangat seorang mantan pejuang perang ini masih subur, belum sedikit pun padam dalam dirinya. Walaupun aku tahu sebenarnya kepedihan sempat menghampirinya dalam dua hari yang lalu. Aku mengetahui dengan jelas tragedi yang sangat mengerikan itu. Karena aku yang selama ini hanya menjadi barang simpanan dalam keluarga kolonel, hari itu kembali difungsikan.

Malam itu sebenarnya berjalan seperti biasa, banyak orang yang masih lewat di jalanan depan rumah. Terutama suara gelak tawa anak-anak yang baru pulang belajar mengaji dari surau dekat rumah masih terdengar cukup keras. Tetapi tiba-tiba lima manit kemudian suara tersebut berganti dengan teriakan ketakutan. Kolonel yang saat itu sedang bercengkerama dengan istrinya diruang tengah sambil minum kopi, terhenyak kaget dan berlari kedepan rumah.

Ternyata sudah terlihat jelas di ujung jalan segerombolan warga membawa clurit, parang, kayu, dan batu berlari kearah desa kami. Entah apa yang sebenarnya terjadi, kolonel yang sejak mendengar teriakan tadi mengambil aku dari laci, membawa masuk istrinya dan keluar lewat pintu belakang. Belum sampai jauh berlari keluar rumah, ibu sudah terjatuh, kepalanya terkena batu nyasar yang dilemparkan oleh salah satu dari gerombolan tersebut. Usia yang telah lanjut rupa-rupanya telah membatasinya untuk dapat berlari kencang.

Serbuan mendadak itu rupa-rupanya telah membuat kolonel kebingungan apalagi melihat kondisi istrinya yang sekarang sudah berlumuran darah membuatnya cukup tergoncang. Kalau di masa penjajahan dulu sudah jelas siapa yang harus dilawan, tetapi untuk sekarang siapa yang salah, dan siapa yang harus dilawan sangat kabur. Tetapi kalau tidak melawan nyawa sendiri yang menjadi taruhannnya, dengan sikap yang cukup bijak kolonel memfungsikan aku dengan mengarahkan moncongku ke udara. Pelatukku siap ditekan dan “Dor”

Bunyi tembakan terdengar keras diangkasa, sesaat gerombolan itu berhenti berlari dan mulai mundur. Melihat situasi itu kolonel membopong istrinya berlari menjauh ketempat yang lebih aman. Kolonel sebenarnya mempunyai 3 orang anak. Namun rupa-rupanya dengan kondisi daerah yang tidak mendukung bagi karier mereka, anak-anak yang telah kesemuanya berumah tangga memilih berhijrah keluar pulau. Kolonel memang sebenarnya bukan berasal dari daerah ini. Dia berasal dari pulau jawa, yang tidak pernah menyebutkan nama kotanya. Mungkin karena sempat mempunyai kenangan pahit, saat terjadinya pergolakan merebut kemerdekaan. Kolonel sendiri yang saat itu sempat menjadi tawanan perang, dibuang ke pulau ini.

Akhirnya kami sampai disemak-semak hutan yang gelap. Yang terdengar hanya erangan kesakitan dan nafas kolonel yang terus memburu.

“Rasanya aku sudah tidak kuat pak”

Sambil menyangga kepala istrinya, kolonel tersebut hanya bisa diam terpaku melihat wajahnya yang sedang diabang maut.

“Kalau memang sesuatu terjadi padaku, anggap saja kalau ini semua adalah sebuah cobaan belaka.”

Tiba-tiba ada setetes air mata keluar dari pelupuk mata kolonel.

“Sabarlah istriku, sebentar lagi pagi sudah datang dan kita bisa ke puskesmas terdekat.”

Karena darah yang mengucur dari kepala terlalu banyak, akhirnya sebelum sampai puskesmas, istri kolonel sudah meninggal dunia. Kolonel tidak sempat menghubungi anak-anaknya karena situasi saat itu masih mencekam. Selain itu mungkin takut keadaan akan bertambah parah.

Seorang diri sudah sang kolonel dipulau ini, seperti pertama kalinya dia datang kesini. Hidupnya tak lepas dari situasi peperangan, entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, tatapannya yang tidak pernah gentar, menunjukkan dialah seorang kolonel sejati dari zaman penjajahan kompeni sampai sekarang zaman pertarungan ideologi.

Aku sendiri tidak menyangka menjadi berpindah kepemilikan ke tangan kolonel ini. Aku dulu milik seorang saudagar kaya raya dari melayu. Umurku memang sudah lama sekali hampir 120 tahun yang lalu. Setiap pedagang saat itu minimal mempunyai dua atau empat pengawal yang bertubuh kekar. Yang setia mengikutinya kemanapun tuannya pergi. Karena tak jarang saudagar-saudagar tersebut melakukan perjalanan yang cukup jauh, berlayar dari pulau satu kepulau lainnya. Sehingga senjata untuk melindungi diri dan harta bendanya sangat dia perlukan. Aku dulu jarang sekali digunakan oleh empunya diriku. Karena pengawal-pengawalnya sudah cukup mampu mengatasi keadaan kalau perampokan tiba-tiba terjadi.

Sampai pada akhirnya ketemu dengan kolonel yang sedang menjalani masa pembuangan di pulau ini. Kolonel yang saat itu sedang tidak mempunyai harta benda satu pun meminta pekerjaan kepada sang saudagar melayu. Dari situlah perkenalan dengan saudagar melayu kaya raya mulai terjalin. Hubungan antara tuan dan buruh terjalin dengan baik. Karena sang kolonel memang tipe seorang spekerja keras. Hingga akhirnya ketika sang saudagar hendak kembali ke negeri asalnya, dia hanya dapat memberikan kenang-kenangan sebuah pistol yang tidak lain adalah aku sendiri, dengan hanya diberi lima peluru didalamnya. Entah apa maksud dari sang saudagar memberi kolonel kenang-kenangan sebuah pistol.

Untunglah sang kolonel memang seorang yang tepat untuk diberi sebuah pistol. Dia tidak pernah menggunakan aku, seperti sang saudagar memperlakukan aku dulu. Kolonel hanya memfungsikan aku tidak lebih hanya sebuah benda kenang-kenangan dari seorang sahabat yang harus dijaga dan dirawat. Namun sejak kejadian kemarin ternyata aku bukanlah sebuah benda yang hanya mengingatkan akan sebuah kenangan ke masa lalu. Tetapi aku telah menjadikan pemiliknya mempunyai rasa percaya diri akan ancaman musuh. Dan menjadikannya tetap tidak mundur dalam situasi konflik.

Tetapi aku sendiri ngeri jika harus membayangkan, aku melukai seseorang yang tidak bersalah. Aku akan bangga jika aku dapat membantu Negara yang sedang terjajah menuju kemerdekaannya. Aku akan sangat senang peluruku menembus perut-perut para koloni yang telah memakan hak hidup rakyat.

Bagaimana jika nanti peluruku mengucurkan darah dari perut-perut orang bumi pertiwi ini?

Bagaimana jika peluruku nanti menembus dinding-dinding kulit seorang bapak yang ditunggu istri dan anak-anaknya di rumah?

Bagaimana jika tiba-tiba peluruku mengenai kepala anak-anak yang sedang berangkat sekolah untuk mengejar impian-impiannya?

Atau seorang ibu hamil yang sedang menanti kelahiran anaknya?

Walau aku hanya sebuah pistol tua yang tidak sedasyat ledakan sebuah rudal Yakhont buatan Rusia, atau rudal Harpoon yang biasanya sering digunakan AS untuk menghalau siapapun yang mencoba menghalangi misinya. Namun kalau sampai ada peluru yang keluar dari moncongku, bisa saja seorang istri akan menjadi janda. Atau sepasang kekasih akan kehilangan orang yang sangat dicintainya. Hancurkanlah aku sebelum ada orang yang kehilangan senyum dan tawanya.

Hari ini sudah terhitung tiga hari sejak kejadian kemarin, tetapi situasi tampaknya masih terasa cukup tegang, tentara dari TNI sudah mulai berdatangan. Senapan laras panjang selalu mereka bawa kemana-mana. Seolah-olah siap meledakkan setiap kepala yang akan melawannya. Rupa-rupanya konflik ini muncul karena ada sekelompok warga yang tidak puas oleh hasil pemilihan walikota di daerah ini. Selain menghancurkan kantor panitia pemilihan rupa-rupanya warga yang tidak puas juga menyerang daerah simpatisan partai terpilih, kebetulan memang di desa kolonel ini sebagai basis utama.

Suasana kembali tegang ketika tiba-tiba ada seorang anak yang lari dengan menjerit ketakutan. Rupa-rupanya diperempatan jalan sebelum masuk desa kami sedang terjadi lagi pertikaian antar waraga. Kolonel mendengar keterangan dari anak tersebut langsung lari kearah terjadinya konflik. Rupa-rupanya suara teriakan kembali menyelimuti pertikaian tersebut. TNI yang ditugaskan untuk mengamankan hanya bisa menggunakan tembakan peringatan. Kolonel saat itu sudah mulai mengeluarkan aku dari sakunya.

Bila bisa aku mengatakan,”Tolong jangan paksakan aku untuk membunuh sesame teman, sahabat, kerabat, suku yang selama ini telah senasib dalam Negara ini. Hancurkan saja aku biar darah tidak mengucur lagi ke bumi pertiwi….biarlah aku hanya menjadi pistol tua sebagai pajangan dari sebagian koleksi dari seorang kolektor.”

Senja kembali menaungi langit sore ini. Menghantarkan sore pada malam dan menunjukkan waktu bagi burung-burung untuk kembali ke sarangnya. Waktu memang tidak kenal kompromi sesaat saja kita lengah maka jangan samapai menyesal jika dia telah merenggutmu. Tak kusangka semua berakhir setragis ini kolonel, kamu mengabulkan doaku tetapi sebaliknya kamu sendiri yang terluka. Sebilah pisau telah mengucurkan darah dari lehermu. Lemparan-lemparan benda tajam memang sesaat tidak bisa dihentikan. Dan ternyata itulah akhir dari hidupmu. Menjadi korban kesalahpahaman yang tidak akan mengharumkan namamu, seperti bila kamu gugur dimedan perang. Semuanya hanya sia-sia….

Akupun belum ditemukan oleh siapapun karena langit hitam sudah menyelimuti kota ini. Malam ternyata sudah beraksi, dan bintang hanya menunduk malu, dan aku tahu masih ada empat peluru di dalam diriku.



Malang , 12 Februari 2008

Wawancara dengan Rahwana

Wawancara dengan Rahwana

oleh: Yudistira ANM Massardi



Sesaat sebelum Anoman menyungsepkan kepalanya ke dasar bumi, Rahwana sempat menghujat: “Jasadku boleh jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hidup. Menyusup ke dalam jiwa setiap manusia. Sepanjang abad…”

Bumi yang menghimpitnya, kemudian menelan dan melumatnya. Langit menggelegar. Lalu kelam. Dari rekahan tempat tokoh tragis penguasa Alengka itu terbenam, menghambur jutaan gelembung hitam yang serentak menyebar ke seluruh jagad.

Sanjaya –wartawan perang pertama di dunia yang menjadi penyiar pandangan mata pertempuran besar Keluarga Bharata di Kurusetra dan sempat juga menyaksikan kematian bandit besar tadi –segera menguber. Ia minta tolong pada Anoman untuk dibenamkan ke dalam bumi, menuju akhirat, mengikuti arwah Rahwana.

Berikut ini petikan wawancara Sanjaya dengan biang segala kejahatan itu.



Sanjaya (S): “Setujukah anda dengan cara dan kematian yang barusan anda alami?”

Rahwana (R): “Kematian atau pun kehidupan, bukanlah hal yang perlu disetujui atau tak disetujui. Keduanya adalah hal yang amat sederhana, sehingga tak perlu dipersoalkan benar. Sedangkan ‘cara’ begitu pentingkah hal itu? Manusia memang punya bermacam-macam kebiasaan buruk. Sebagaimana halnya anda, mereka selalu bernapsu untuk mempertanyakan bagaimana cara seseorang mati dan bagaimana cara seseorang hidup. Itu adalah pertanyaan tragis yang hanya dimaksud untuk kepentingan dramatik dari lakon yang dimainkan.

Cara kematian saya yang anda tadi saksikan, memang dramatis. Bagaimana seseorang yang sangat berkuasa, sakti mandraguna dan kaya-raya, menemui ajal secara begitu nista dan tanpa daya. Itulah ketentuan yang sudah digariskan. Tapi anda harus yakin. Saya tidaklah mati dalam pengertian yang biasa. Sebab pada dasarnya saya tetap hidup. Kematian saya adalah sarana bagi kehidupan langgeng jisim saya di dunia.

Kehancuran jasad saya adalah untuk keperkasaan jisim saya. Anda bisa buktikan nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia akan dipenuhi gelembung-gelembung…anda melihatnya tadi? (Sanjaya mengangguk). Itulah bentuk kekuasaan saya yang baru. Suatu kejahatan yang tangguh.



Nah, haruskah saya memprotes cara dan kematian saya? Tidak bukan? (Sanjaya menggangguk lagi). Dan cara hidup saya selama jadi penguasa Alengka, apakah akan anda ungkapkan secara menyolok untuk kepentingan dramatik tadi? Oya, mau disiarkan di mana wawancara ini? Ah, tidak, tidak. Disiarkan atau tidak, tak penting bagi saya. Tapi cara hidup saya, cara saya mengendalikan kekuasaan, cara saya memanjakan saudara-saudara dan sanak keluarga saya, agaknya memang penting diungkapkan dalam laporan anda nanti. Tulislah apa pandangan anda tentang semua itu. Bongkarlah apa yang selama ini anda anggap sebagai skandal. Ganyanglah semuanya kalau memang cukup dramatis untuk diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya akan berada di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya akan berada dalam darah setiap orang yang ingin mengangkangi sisa kekuasaan serta harta benda saya. Tugas jisim sayalah untuk menggebrakkan semua itu.

S: “Bisakah anda gambarkan secara konkrit besarnya kekuasaan itu?”

R: “Sebesar kosmos.”

S: “Apakah anda menguasai setiap manusia?”

R: “Setiap manusia memiliki naluri kejahatan.”



S: “Apakah keuntungan anda dengan kekuasaan semacam itu?”

R: “Selalu saja begitu. Setiap orang selalu berpikir mengenai keuntungan dan kerugian. Apa sih pentingnya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya bukan pedagang. Betapa pun durjananya, kasta saya adalah kesatria. Kesatria tidak pernah berpikir seperti pedagang. Keuntungan atau kerugian tak ada artinya. Yang penting bagi saya adalah konsistensi terhadap cita-cita perjuangan. Saya harus memelihara kefatalan dan kehancuran martabat manusia. Tugas dan kewajiban sayalah membangun keangkaramurkaan di muka bumi ini.”

S: “Apakah tugas anda itu membuat anda pedih?”


R: “Aaah! Bagaimana sih, anda ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala macam bunyi perasaan semacam itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, tak ada artinya bagi saya. Kesatria tidak secengeng itu. Seorang kesatria yang menggenggam suatu kekuasaan besar, tak boleh menjadi melankolis. Ia harus tegas mengemban tugasnya. Sentimentalitas semacam itu hanya milik para budak. Para Sudra. Sebab sekali seorang kesatria membiarkan dirinya terhanyut oleh perasaan, ia akan guyah. Kekuasaan akan luput dari tangannya. Sesudah itu adalah keruntuhan. Paham? Seorang kesatria pantang kehilangan apa yang sudah menjadi miliknya. Milik itu harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Tak ada kompromi.”



S: “Juga seandainya orang yang berada di bawah kekuasaan anda sengsara?”

R: “Kesengsaraan dan penderitaan para kawula adalah bagian terpenting dari kekuasaan mutlak. Tanpa ada kesengsaraan, tidaklah ada artinya sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan orang banyak bahkan tak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.”

S: “Kalau ada kritik mengatakan bahwa anda tak mau mendengar atau memperhatikan keluhan para kawula...?”

R: “Kritik? Itu adalah bagian terindah dari kukuhnya sebuah kekuasaan. Kritik penting dari segi dramatik. Rintihan dan keluhan para kawula adalah tembang lirih bagi impian sepanjang malam.”

S: “Anda betul-betul sadis.”

R: “Seorang penguasa yang baik harus sadis. Dan kekuasaan yang ada dalam genggaman saya adalah sadisme. Karena itu dibutuhkan banyak kurban. Sebagai tumbal. Juga sebagai syarat bagi kelanggengan kekuasaan itu.”

S: “Apakah anda juga menguasai para penguasa di dunia ini?”

R: “Kenapa tidak? Setiap penguasa, setiap kekuasaan yang ada di dunia, adalah instrumen yang mengumandangkan nyanyian setiap gelembung hitam yang menghambur dari tempat jasad saya tadi nyungsep.”



S: “Apa komitmen anda dengan para penguasa itu?”

R: “He? Itu rahasia….”

S: “Baiklah. Anda nanti akan memilih surga atau neraka?”

R: “Busyet. Kenapa anda tanyakan itu? Tentu saja saya akan memilih neraka. Saya sarankan, kalau anda mati nanti, lebih baik masuk neraka saja. Di sana banyak masalah yang perlu anda dalami. Saya kira sebuah reportase dari neraka akan jauh lebih menarik. Sebab, sebagaimana tadi saya bilang, manusia kan lebih menyukai hal-hal dramatik? Surga terlalu tenang. Terlalu damai, sehingga tak ada masalah lagi. Tapi di neraka, setiap saat terjadi hiruk-pikuk dan bermacam penderitaan kumpul jadi satu di sana. Anda bisa wawancarai mereka. Segala kepedihan dan penyesalan yang mereka kemukakan tentu sangat baik untuk dijadikan peringatan bagi yang masih hidup, bukan? Untuk itu, tentu anda akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda bisa bertemu dengan semua penguasa dunia yang menghamba pada keserakahan.”

S: “Pertanyaan terakhir. Apa pendapat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang pernah anda culik itu?”

R: “O, very good! Very good!”

S: “Terima kasih.”

(Berikutnya, wawancara Semar dengan Marilyn Monroe)




Jakarta, Mei 1980.