Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts

Friday 12 November 2010

Menggagas Perumahan Layak bagi Keluarga Miskin Perkotaan

Menggagas Perumahan Layak bagi Keluarga Miskin Perkotaan

Rohman, Arif. (2005). 'Menggagas Perumahan Layak bagi Keluarga Miskin Perkotaan'. Menuju Indikator Keluarga Sejahtera. Jakarta: Departemen Sosial RI. pp. 31-37.



A. Pendahuluan
Kota-kota di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, telah mengalami berbagai permasalahan berkenaan dengan pertumbuhannya. Salah satu masalah yang timbul adalah adalah masalah pemukiman. Masalah tersebut tidak terlepas dari berbagai masalah lain yang ada di perkotaan, seperti masalah wilayah komersial, industri, tempat-tempat umum, monumen-monumen, jalan dan lalu lintas, rekreasi dan olah raga, sanitasi, kesehatan umum, pekuburan, dan lain sebagainya. Disamping itu, masalah jalur kereta api dan pola pertumbuhan pemukiman pita (ribbon building), yaitu pola pembangunan bangunan hunian, toko-toko dan tempat-tempat berjualan, bangunan-bangunan pemerintah, yang dilakukan di sepanjang tepi-tepi jalan dan jalur-jalur kereta api di perkotaan.

Di daerah perkotaan, pola pemukiman pita ini menyebabkan keruwetan dan ketidakteraturan yang sudah ada menjadi lebih kompleks lagi. Wertheim (1958), mengatakan bahwa untuk mengatasinya bahwa untuk mengatasinya, maka cara pertama-tama yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan perencanaan atau tata ruang kota yang terintegrasi dan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, tata ruang kota tersebut harus mencakup juga model tata ruang kota yang terbukti cukup canggih dalam mengatasi berbagai permasalahan perkotaan.

Pertumbuhan kota yang tidak terencana, tidak terkoordinasi dan terpencar disejumlah kawasan mengakibatkan beberapa bagian kota menjadi tertinggal. Pemerintah kota akhirnya tidak mampu menyediakan prasarana dan fasilitas publik sesuai dengan harapan masyarakat. Akibatnya adalah semakin meningkatnya jumlah keluarga miskin, dengan akses yang serba minim, termasuk ruang hunian atau tempat tinggal yang tidak layak, tidak memenuhi derajat kesehatan, dan terkesan apa adanya (Evers & Korff, 2002).

Sulitnya masyarakat miskin untuk mendapatkan rumah yang layak huni tentu merupakan persoalan yang mendesak untuk diatasi. Kesepakatan masyarakat global yang tertuang dalam Agenda Habitat, mengamanatkan pentingnya penyediaan hunian yang layak untuk semua lapisan masyarakat, dengan mengedepankan strategi pemberdayaan (enabling strategy ). Plan of implementation dari World Summit on Sustainable Developement di Johanesburg 2002, menargetkan bahwa pada tahun 2015, sekitar 50% penduduk miskin di dunia harus sudah terentaskan dari kemiskinannya. Kondisi ini antara lain harus ditandai oleh terpenuhinya kebutuhan mereka akan perumahan yang layak.

Secara hipotesis, permasalahan perkotaan yang dihadapi Indonesia dewasa ini disebabkan oleh kompleksitas masalah, yaitu pertambahan penduduk kota yang kurang terkendali, pertumbuhan kota yang serba cepat dan kompleks dalam hal pengembangan fungsi-fungsinya sebagai pusat-pusat kegiatan industri, komersial, jasa-jasa pelayanan ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan berbagai fungsi sosial, ekonomi dan budaya. Kesemuanya ini belum dapat tertampung secara semestinya di dalam ruang-ruang yang diperuntukkan kegiatan-kegiatan tersebut sesuai rencana tata ruang kota yang dibuat, dan juga disebabkan oleh pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi, komersial dan industri, serta hunian di perkotaan yang serba modern dan kompleks yang telah tidak memungkinkan dimantapkannya pelaksanaan penataan kegiatan-kegiatan kehidupan perkotaan secara ketat sesuai tata ruang yang berlaku. Akibat yang paling nampak dari faktor-faktor tersebut adalah pada kondisi pemukiman perkotaan yang menghasilkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kota-kota yang bersangkutan.

Tulisan ini akan mencoba membahas mengenai berbagai permasalahan yang muncul sebagai akibat dari pertumbuhan kota, terkait dengan aspek rumah bagi keluarga-keluarga miskin di perkotaan, dan mencoba untuk mengajukan alternatif-alternatif pemecahannya. Pendekatan yang akan digunakan untuk membahas permasalahan-permasalahan tersebut adalah pendekatan struktural-fungsional, yaitu memperlakukan keberadaan dan berkembangnya ruang hunian keluarga miskin sebagai fungsional dalam struktur perkotaan dari kota yang bersangkutan. Atau dengan kata lain, muncul dan berkembangnya hunian kumuh dan liar di kota sebagai permasalahan adalah karena tidak atau kurang berfungsinya paranata-pranata perkotaan yang ada di kota tersebut, dalam menyajikan pelayanan-pelayanan secara formal bagi usaha-usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup warganya; dan juga dilihat dalam perspektif kota sebagai pusat perkembangan kebudayaan dan peradaban bangsa.

B. Struktur Perkotaan dan Pranata-Pranatanya
Apakah kota itu ? Secara ringkas, kota dapat didefinisikan sebagai sebuah tempat tinggal manusia yang dihuni secara permanen, dimana warga atau penduduknya membentuk sebuah kesatuan kehidupan yang lebih besar pengelompokannya dari pada kelompok klan atau keluarga. Kota juga merupakan sebuah tempat dimana terdapat adanya kesempatan-kesempatan dan permintaan-permintaan yang mewujudkan terciptanya sistem pembagian kerja, kelas-kelas atau lapisan sosial yang mengakui adanya perbedaan-perbedaan dalam hal fungsi, hak, keistimewaan-keistimewaan, dan tanggung jawab diantara golongan-golongan sosial yang ada; dan adanya berbagai bentuk serta corak spesialisasi pembagian kerja sesuai dengan tingkat perkembangan dan macamnya kota, yang sesuai dengan peranan khusus dari kota dalam kedudukan fungsionalnya dengan daerah-daerah pedesaan atau pedalaman yang terletak di sekelilingnya dan berada dalam kekuasaannya (Mumford, 1961).

Selanjutnya, kota itu ada dan hidup karena bisa memberikan pelayanan yang penting artinya bagi mereka yang ada di dalam kota, maupun yang tinggal di wilayah sekeliling kota, atau juga mereka yang mengadakan perjalanan dan harus singgah atau berdiam sementara di kota tersebut. Pelayanan ini dapat berupa pelayanan-pelayanan keagamaan, administrasi, komersial, politik, pertahanan dan keamanan, atau dapat pula berupa pelayanan yang berkenaan dengan pengaturan suplai makanan dan air. Pelayanan tersebut harus betul-betul diperlukan oleh para warga yang bersangkutan atau para musafir yang melewati kota tersebut, sehingga pengendalian kota atas wilayah-wilayah di sekelilingnya dapat dimantapkan.

Kompleksitas kehidupan ekonomi di perkotaan jauh lebih tinggi dari pada di pedesaan. Hal ini terlihat dari sistem ekonomi kota yang terbebas dari kegiatan mengolah tanah atau mengeluarkan energi tubuh, guna memperoleh bahan mentah, telah menyebabkan tumbuh dan berkembangnya sistem produksi dan industri yang tidak terbatas, tergantung pada macam dan tingkat kebutuhan konsumen. Sedangkan macam dan tingkat kebutuhan konsumen terhadap barang hasil produksi atau industri dapat diciptakan dari hasil interaksi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang terwujud melalui teknologi komunikasi pasar (Suparlan, 1996).

Kompleksitas dalam struktur kehidupan ekonomi perkotaan ini mempengaruhi terwujudnya kompleksitas dalam struktur perkotaan. Berbagai bentuk dan macam spesialisasi ekonomi dan kerja berkembang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan; dari yang terspesialisasi hingga yang sangat umum, dari yang sangat tergantung pada keahlian dan keterampilan pemikiran serta teknologi, sampai dengan yang menggunakan tenaga otak manusia, dan dari yang digolongkan sebagai terhormat dengan penghasilan besar, sampai dengan yang tidak terhormat dengan penghasilan yang terbatas. Sistem pelapisan sosial terbentuk berdasarkan atas macam pekerjaan dan pendapatan, yang coraknya sangat kompleks, dikarenakan beraaneka ragamnya macam dan bentuk kerja yang ada di perkotaan. Tingkat kompleksitas sistem pelapisan sosial tersebut, tergantung dari tingkat perkembangan kota dan kedudukannya dalam sistem administrasi negara.

C. Makna Rumah Bagi Keluarga Miskin
1. Rumah dan Fungsinya
Rumah adalah sebuah satuan tata ruang yang paling baku dan selalu ada dalam kehidupan manusia di masyarakat manapun. Rumah berfungsi bebagai tempat untuk kegiatan-kegiatan melangsungkan kehidupan manusia, yang mencakup kegiatan reproduksi, ekonomi, pengsuhan dan pendidikan anak, perawatan terhadap orang tua atau jompo, kehidupan sosial, emosi, dan lain sebagainya (Suparlan, 1996). Karena majemuknya fungsi-fungsi yang harus dilaksanakan dalam rumah, maka rumah juga sebagai sebuah satuan tata ruang, juga dibagi-bagi dalam satuan-satuan tata ruang yang lebih kecil yang saling berkaitan antara satu sama lainnya, sebagai satu keseluruhan tata ruang rumah. Rumah merupakan medium atau perantara bagi manusia dengan lingkungan alam atau fisik, merupakan perluasan dari organ tubuh manusia, dan merupakan sebuah lingkungan budaya dimana manusia penghuninya merupakan sebuah unsurnya.

Dengan demikian, menurut Sukamto (2001) penghuni akan memperlakukan ruang huniannya sesuai dengan kriteria sebagai berikut :
a. Rumah sebagai wadah kehidupan manusia secara universal
Rumah sebagai tempat hidup manusia maka rumah juga menjadi wadah kehidupan manusia dalam melakukan kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan. Satuan ruang rumah dengan demikian menampung berbagai fungsi kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup manusia secara universal, yang meliputi :
• Kebutuhan primer, sebagai kebutuhan yang bersumber pada aspek biologis manusia yang dalam pemenuhannya memerlukan wadah tindakan-tindakan di dalam satu ruang. Dengan asumsi klarifikasi satu ruang untuk satu tindakan pemenuhan kebutuhan, maka ruang yang diperlukan adalah ruang-ruang sebagai wadah untuk kegiatan makan dan minum, buang air besar/kecil, istirahat dan tidur, pelepasan dorongan seksual, perlindungan iklim/suhu udara, dan kebutuhan kesehatan yang baik.
• Kebutuhan sekunder, sebagai hasil usaha untuk pemenuhan kebutuhan primer yang memerlukan ruang untuk berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga, melakukan kegiatan bersama dengan keluarga, menaruh untuk benda-benda material dan kekayaan dan tempat untuk mendidik anak.
• Kebutuhan integratif, berfungsi mengintegrasikan berbagai unsur kebudayaan menjadi satu sistem yang masuk akal baginya, mencakup cara-cara mengatur dan menggunakan ruang, tempat mengatur dan menjalankan fungsi keluarga, sebagai tempat melakukan kegiatan rekreasi dan hiburan, dan religius.

b. Rumah untuk menampung fungsi keluarga
Keluarga sebagai satuan sosial terkecil, fungsinya antara lain untuk berkembang biak, mensosialisasi atau mendidik anak dan menolong serta melindungi yang lemah, maka rumah juga disebut sebagai : (1) Satuan ruang sosial; (2) Ruang hunian sebagai satuan kehidupan untuk reproduksi dan pengembangbiakan; dan (3) Ruang hunian sebagai ruang sosialisasi dan pendidikan anak.

c. Rumah sebagai wujud pernyataan diri
Rumah sebagai sebuah bangunan fisik tidak hanya dilihat dan diperlakukan sebagai satuan material fisik, tetapi juga sebagai satuan simbol yang mencerminkan identitas diri penghuninya. Setiap penghuni rumah memberi isi berupa benda-benda pada ruangan dengan makna-makna yang terwujud sebagai simbol pencerminan kemampuan diri dalam memanfaatkan peluang dan sumber daya lingkungan.

2. Mitos Kemiskinan, Keluarga Miskin dan Rumah Yang Layak
a. Mitos Kemiskinan
Kemiskinan tidak lahir dengan sendirinya (given), ia tidak muncul bukan tanpa sebab. Argumen para penganut teori konservatif dan liberal telah lama dipatahkan. Orang-orang miskin muncul bukan karena mereka malas atau boros. Mereka miskin bukan pula karena nasibnya yang sedang sial sehingga menjadi miskin. Mereka menjadi orang miskin karena dibuat miskin oleh struktur ekonomi, politik dan sosial. Mereka miskin karena memang sengaja dilestarikan untuk menjadi miskin. Mereka menjadi kaum tertindas karena memang disengaja, direkayasa dan diposisikan sedemikian rupa untuk ditindas. Mereka miskin karena dieksploitasi, diperas, dijarah dan dirampok hak-haknya. Mereka miskin karena dipaksa oleh sistem ekonomi dan politik yang tidak adil. Kemiskinan penting untuk dipelihara dan dilestarikan karena besar manfaatnya, yakni menunjang kepentingan kelompok dominan, elite penguasa (the ruling elites) atau kaum kapitalis.

Hal tersebut di ataslah yang membuat kemiskinan sulit diatasi karena kaum miskin tidak memiliki daya tawar terhadap kebijakan yang selama ini tidak berpihak kepada mereka. Kaum miskin hanya menjadi alat produksi semata-mata. Pendapatan mereka hanya sekadar mencukupi kebutuhan hidup saja. Inilah yang selama ini membuat kaum miskin tak berdaya untuk memiliki daya tawar terhadap pengambilan keputusan, dan membuat yang kaya semakin berada di puncak. Kebijakan politik yang ada selama ini sering (dan sebagian besar) hanya berpihak kepada mereka yang memiliki alat produksi dan modal. Kaum miskin diperas tenaganya hanya sekadar menjadi buruh kasar dengan dalih keterampilan mereka terbatas. Tetapi pemerintah, di sisi lain, tidak mampu berbuat bagaimana seharusnya meningkatkan keterampilan mereka agar bisa berkompetisi lebih adil dengan lainnya (Suparlan, 1993).

Kaum miskin selalu dilihat sebelah mata dalam berbagai proses pembuatan kebijakan. Kebijakan yang dilahirkan penguasa tidak terlalu banyak memerhatikan poros warga negara. Warga negara yang miskin dianggap tidak memiliki kedaulatan tertinggi di dalam sebuah negara. Pelanggaran konstitusi ini terus terjadi tanpa adanya kemauan untuk memperbaikinya dengan melahirkan sebuah kebijakan yang sungguh-sungguh mengapresiasi dan melibatkan kaum miskin untuk berperan sebagai warga negara normal. Struktur kemiskinan masyarakat kita tidak terlepas dari persoalan utama, yakni adanya dosa struktur. Dosa struktur yang dimaksud adalah menyangkut bagaimana distribusi yang adil dan menjangkau semua pihak. Dengan demikian, keadilan yang sedang kita bicarakan di sini adalah menyangkut keadilan untuk semua.

b. Perumahan Keluarga Miskin
Perumahan bagi keluarga miskin seringkali tidak memberikan kepastian hukum bagi penghuninya, atas tanah dan bangunan yang mereka tempati. Bagi perempuan, kurangnya kepastian hukum ini bahkan terjadi pada barang dan aset formal lainnya. Kampung-kampung tempat kelompok masyarakat miskin tinggal dapat dengan mudah beralih fungsi menjadi kawasan bisnis atau kawasan lainnya. Sebaliknya, kawasan perkotaan sangat sulit menyediakan lahannya untuk keperluan perumahan masyarakat miskin. Hal ini menyebabkan masyarakat miskin di mana banyak terdapat perempuan di dalamnya semakin tergusur ke kawasan pinggiran yang jauh dari kota.

Kegiatan relokasi terhadap warga korban penggusuran, atau pembangunan perumahan untuk kelompok miskin, biasanya dilakukan di daerah pinggiran. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi keluarga miskin yang bekerja, dalam bentuk peningkatan biaya transportasi, dan berkurangnya waktu untuk mengasuh anak. Kegiatan penggusuran terhadap kelompok masyarakat miskin, biasanya tidak disertai dengan pemberian tenggang waktu untuk membuat masyarakat siap untuk menempati lokasi dan rumah baru.
Pendapatan masyarakat miskin sangat rendah. Setelah dipakai untuk membayar makanan, pakaian, dan keperluan sehari-hari lainnya, mereka hanya memiliki sangat sedikit sisa penghasilan untuk mengurus keperluan rumah mereka. Akibatnya, keluarga-keluarga miskin, tidak mampu lagi untuk menyediakan rumah bagi diri mereka sendiri.

c. Perumahan Layak Huni
Aspek dominan yang mempengaruhi perumahan masa kini adalah keberlanjutannya (sustainability). Aspek ini nampak sederhana namun adalah sebuah konsep yang rumit. Rumah yang berkelanjutan harus memenuhi lima syarat dasar yang dinikmati oleh penghuni saat ini serta yang akan datang, yaitu:
• Mendukung peningkatan mutu produktivitas kehidupan penghuni baik secara sosial, ekonomi dan politik. Artinya setiap anggota penghuni terinspirasi untuk melakukan tugasnya lebih baik.
• Tidak menimbulkan gangguan lingkungan dalam bentuk apapun sejak pembangunan, pemanfaatan dan kelak bila harus dimusnahkan. Ukuran yang dipakai terhadap gangguan yang terjadi terhadap lingkungan adalah efektivitas konsumsi energi.
• Mendukung peningkatan mobilitas kesejahteraan penghuninya secara fisik dan spiritual. Berarti penghuni mengalami terus peningkatan mutu kehidupan fisik dan non-fisik.
• Menjaga keseimbangan antara perkembangan fisik rumah dengan mobilitas sosial-ekonomi penghuninya. Pada awalnya keadaan fisik rumah lebih tinggi dari keadaan non—fisik, namun ini berbalik setelah penghuni mapan di rumah tersebut.
• Membuka peran penghuni/pemilik yang besar dalam pengambilan keputusan terhadap proses pengembangan rumah (lihat diagram proses perkembangan rumah pada lampiran) dan Rukun Warga tempat ia berinteraksi dengan tetangga.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah rumah disebut layak bila ada keterpaduan yang serasi antara:
1) Perkembangan rumah dan penghuninya, artinya rumah bukan hasil akhir yang tetap tetapi proses yang berkembang.
2) Rumah dengan lingkungan (alam) sekitarnya, artinya lingkungan rumah dan lingkungan sekitarnya terjaga selalu baik.
3) Perkembangan rumah dan perkembangan kota, artinya kota yang dituntut makin global dan urbanized memberi manfaat positif bagi kemajuan warga kota di rumah masing-masing.
4) Perkembangan antar kelompok warga dengan standar layak sesuai keadaan dan tuntutan masing-masing kelompok, artinya tiap kelompok warga punya kesempatan sama untuk berkembang sesuai dengan tuntutan yang ditetapkan sendiri.

D. Pemukiman Kumuh Di Perkotaan
Kondisi kemiskinan membuat keluarga-keluarga miskin seringkali hanya mampu mengakses lingkungan kumuh atau permukiman liar di kota. Lingkungan kumuh yang dicirikan oleh minimnya sarana infrastruktur permukiman, menghadapkan kaum miskin pada buruknya kualitas kehidupan yang harus mereka tanggung di lingkungan permukiman. Dengan demikian, keterbatasan masyarakat miskin dalam mengkases perumahan diperburuk dengan kurang memadainya pelayanan penyediaan prasarana dan sarana dasar lingkungan. Rendahnya kualitas kehidupan di lingkungan permukiman kumuh ini pada gilirannya juga menghambat potensi produktivitas dan kewirausahaan para penghuninya. Pada umumnya mereka kemudian hanya mampu mengakses perekonomian informal kota, yang utamanya dicirikan oleh status hukum yang lemah dan tingkat penghasilannya yang rendah.

Pemukiman kumuh didefinisikan oleh Suparlan (1996), sebagai suatu pemukiman yang kondisi fisik hunian dan tata ruangnya mengngkapkan kondisi kurang mampu atau miskin dari para penghuninya. Penataan ruang hunian yang semrawut yang disebabkan oleh penggunaan ruang yang tinggi tingkat kepadatan volume maupun frekuensinya, dan serba kotor atau tidak terwat dengan baik. Di samping itu, pemukiman kumuh juga kurang memadai fasilitas-fasilitas umum, seperti air bersih, pembuangan air limbah dan sampah, jalan dan berbagai fasilitas untuk kegiatan sosial orang dewasa dan tempat bermain bagi anak-anak.

Warga pemukiman kumuh terdiri atas penduduk tetap dan penduduk yang tinggal sementara di pemukiman tersebut. Mereka yang hidup menetap antara lain yang menyewakan kamar atau rumah kepada para pendatang yang tinggal sementara. Seringkali juga berikut dengan pelayanan makan dan cuci pakaian. Kebanyakan dari pendatang ini adalah bujangan yang bekerja untuk proyek-proyek pembangunan gedung-gedung atau jalan-jalan di kota, atau juga yang datang untuk mencari kerja atau yang telah bekerja di sektor-sektor informal. Secara sosial dan ekonomi, sebuah komuniti pemukiman kumuh tidak homogen. Warganya mempunyai mata pencaharian yang beraneka ragam, asal usul yang berbeda, mengenal adanya pelapisan sosial dan kemampuan ekonomi yang berbeda-beda (Rohman, 2004).

Ciri-ciri keluarga miskin yang tinggal di permukiman kumuh ini kembali menampilkan keterbatasan kualitas hidup mereka, dan sekaligus juga menunjukkan betapa fenomena lingkungan kumuh juga menjadi sesuatu yang sulit untuk diatasi. Tidak heran jika keberadaan permukiman kumuh sendiri sesungguhnya merupakan ancaman serius bagi kesehatan dan kesejahteraan kota. Serius bukan hanya dalam pengertian dampak lingkungan kumuh terhadap tingkat produktivitas dan kualitas hidup warga kota. Tetapi juga serius dalam pengertian bahwa keberadaan pemukiman kumuh ini mencerminkan kegagalan pemerintah dalam membangun perumahan. Karena, idealnya disamping untuk memenuhi kebutuhan sosial, pembangunan perumahan harus dapat berperan menjadi instrumen pembangunan yang dinamis. Artinya, pembangunan perumahan dapat juga berperan untuk menggairahkan semangat membangun, mendorong kegiatan swadaya masyarakat, menghidupkan industri rakyat, dan menciptakan lapangan kerja baru. Keberadaan warga miskin kota di perkampungan-perkampungan kumuh yang hampir hanya menawarkan akses ke sektor ekonomi berupah rendah, jelas menunjukkan bahwa di samping gagal menyediakan perumahan yang layak, pemerintah juga gagal menjadikan perumahan sebagai pendorong bagi kegiatan sosial dan ekonomi yang produktif bagi warganya.


F. Penutup
Ada dua aspek penting dalam penataan perkotaan. Di satu pihak ada kebijaksanaan penataan ruang perkotaan, ada peraturan legal-formal untuk dijadikan pedoman pelaksanaannya, tetapi tidak pernah kita ketahui bagaimana penggunaan tata ruang kota dan peraturan pelaksanaannya oleh pemerintahan kota. Di samping itu, warga pemukiman perkotaan membangun sendiri ruang-ruang yang tersedia di kota sesuai kepentingan mereka, untuk memperoleh keuntungan ekonomi, sosial dan politik, sehingga terlihat kesan seolah-olah pemerintahan kota tidak mempunyai pedoman pelaksanaan pengaturan kehidupan perkotaan.

Bertolak dari kenyataan ini maka perspektif ukuran keberhasilan kinerja pembangunan perkotaan seharusnya mulai digeser dari perspektif kuantitatif ke kualitatif. Dengan melakukan perbaikan sistem pendataan permasalahan perumahan, secara lebih akurat diharapkan pemerintah juga dapat merubah strategi pemecahannya. Permasalahan permukiman penduduk perkotaan, dengan demikian harus dipecahkan dengan melibatkan penduduk setempat, pemerintahan kota, kelompok-kelompok interest, dengan mengacu pada rencana tata ruang kota yang ada dan pada kondisi fisik ruang-ruang yang tersedia serta ada dalam kota yang bersangkutan, yang secara bersama-sama bertujuan untuk membantu memecahkan permasalahan pemukiman khususnya dan permasalahan perkotaan pada umumnya, dan mengendalikan motif-motif pencapaian keuntungan maksimal secara pribadi dari keputusan-keputusan yang diambil.








Thursday 11 November 2010

Salah Kaprah Paten Budaya

Salah Kaprah Paten Budaya


Tajuk Rencana Kompas (3/10) berjudul "Batik Milik Dunia" berisi: "Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, Indonesia perlu segera mematenkannya di lembaga internasional" . Pernyataan ini sangat mengejutkan, paling tidak karena tiga perkara.

Pertama, paten adalah perlindungan hukum untuk teknologi atau proses teknologi, bukan untuk seni budaya seperti batik. Kedua, tak ada lembaga internasional yang menerima pendaftaran cipta atau paten dan menjadi polisi dunia di bidang hak kekayaan intelektual (HKI). Ketiga, media terus saja mengulangi kesalahan pemahaman HKI yang mendasar bahwa seolah-olah seni budaya dapat dipatenkan.

Dalam urusan HKI, ada sejumlah hak yang dilindungi, seperti hak cipta dan paten dengan peruntukan yang berbeda. Hak cipta adalah perlindungan untuk ciptaan di bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan, seperti lagu, tari, batik, dan program komputer. Sementara hak paten adalah perlindungan untuk penemuan (invention) di bidang teknologi atau proses teknologi. Ini prinsip hukum di tingkat nasional dan internasional. Paten tidak ada urusannya dengan seni budaya.

Jadi, pernyataan "perlu mematenkan seni budaya" adalah distorsi stadium tinggi. Penularan distorsi pemahaman oleh media ini menjalar lebih cepat daripada flu burung. Tidak kurang dari Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa produk budaya dan seni warisan leluhur idealnya dipatenkan secara internasional (Antara, 25/8/2009) atau Gubernur Banten yang akan mematenkan debus (Antara, 28/8/2009).

Distorsi ini sangat berbahaya karena memberikan pengetahuan yang salah kepada publik secara terus-menerus, akibatnya kita terlihat sebagai bangsa aneh karena di satu sisi marah-marah karena merasa seni budayanya diklaim orang lain, tetapi di sisi lain tak paham hal-hal mendasar tentang hak cipta dan paten.

Salah kaprah lain adalah keinginan gegap gempita untuk mendaftarkan warisan seni budaya untuk memperoleh hak cipta. Para gubernur, wali kota, dan bupati berlomba-lomba membuat pernyataan di media bahwa terdapat sekian ribu seni budaya yang siap didaftarkan untuk mendapat hak cipta. Tampaknya tak disadari bahwa dalam sistem perlindungan hak cipta, pendaftaran tidaklah wajib. Apabila didaftarkan, akan muncul konsekuensi berupa habisnya masa berlaku hak cipta, yakni 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jadi, seruan agar tari Pendet didaftarkan adalah berbahaya karena 50 tahun setelah pencipta tari Pendet meninggal dunia, hak ciptanya hilang dan tari Pendet dapat diklaim siapa saja.

Kita harus hati-hati menggunakan kata klaim apabila terkait urusan sebaran budaya. Adanya budaya Indonesia di negara lain tidak berarti negara itu secara langsung melakukan klaim atas budaya Indonesia. Karena apabila ini kerangka berpikir kita, kita harus siap-siap dengan tuduhan bangsa lain bahwa Indonesia juga telah mengklaim budaya orang lain; misalnya bahasa Indonesia yang 30 persen bahasa Arab, 30 persen bahasa Eropa (Inggris, Belanda, dan Portugis) serta 40 persen bahasa Melayu. Bagaimana dengan Ramayana yang oleh UNESCO diproklamasikan sebagai seni budaya tak benda India? Apakah Indonesia telah mengklaim budaya India sebagai budaya kita karena di Jawa Tengah sendratari Ramayana telah menjadi bagian budaya?

Dalam narasi proklamasi UNESCO atas wayang sebagai seni tak benda Indonesia, disebutkan "Wayang stories borrow characters from Indian epics and heroes from Persian tales". UNESCO menyatakan kita meminjam budaya orang lain dalam wayang kita. Apakah meminjam sama dengan mengklaim? Rabindranath Tagore dalam Letters from Java justru terharu dan bangga melihat budaya India dilestarikan di Jawa, bukannya menganggap ini sebagai klaim Indonesia, lalu marah dan meneriakkan perang.


Solusinya

Pertama, media sebagai kekuatan sosial politik keempat harus berani belajar untuk menyajikan substansi yang benar tanpa takut kehilangan rating. Kedua, pemerintah daerah perlu memberdayakan aparat mereka agar paham masalah-masalah HKI. Upaya mudah dan murah, kalau mau.

Ketiga, database tentang seni budaya Indonesia dikumpulkan di satu instansi tertentu, lalu disusun dengan klasifikasi kategorisasi sesuai standar Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). Keempat, database ini dilindungi instrumen hukum nasional, lalu dijadikan rujukan dalam perjanjian bilateral guna membatalkan pemberian hak cipta yang meniru seni budaya Indonesia.

Kelima, Indonesia bersama negara-negara berkembang terus melanjutkan keberhasilan perundingan di Sidang Majelis Umum WIPO pada 1 Oktober 2009 yang memutuskan bahwa WIPO akan menegosiasikan suatu instrumen hukum internasional yang akan mengatur perlindungan masalah pengetahuan tradisional, ekspresi budaya tradisional, dan sumber genetika.
Mari bekerja keras dengan nasionalisme yang cerdas.




Salah Kaprah Paten Budaya
KOMPAS, Jumat, 9 Oktober 2009 | 03:44 WIB
Oleh Arif Havas Oegroseno
Arif Havas Oegroseno Alumnus Harvard Law School

Source: alumni-bounces@adsindonesia.or.id




Hatiku selembar daun...

Wednesday 10 November 2010

DR. BOELAARS SOSOK ETNOLOG DI TANAH PAPUA

DR. BOELAARS SOSOK ETNOLOG DI TANAH PAPUA


Frumensius Obe Samkakai¡

Abstract
1. PENDAHULUAN
1.1. Riwayat Singkat Boelaars
Boelaars seorang missionaris Katolik, oleh atasannya diutus ke Pantai Selatan
Papua, tiba di Merauke 1951, oleh minat akademiknya telah menghasilkan karya
etnologinya tentang orang Yaghay di Sungai Mappi dan orang Wambon di
Boven Digul, 1951-1957 digunakan untuk mengembangkan pemahamannya
yang mendalam tentang orang Yaghay, sebuah buku berjudul Papoea’s aan de
Mappi yang diterbitkan oleh De Fontein, Utrecht (1958) terbit sebagai memory
pekerjaannya pada orang Yaghay. Kembali dari Holland ditempatkan lagi di
Sungai Mappi April 1958-Agustus 1960, sesudah Agustus 1960 hingga
Nopember 1967 tidak bertugas di Sungai Mappi, rupanya di Boven-Digul di
Tanah Merah dan Mindiptana, masa itu digunakannya untuk mendalami
kehidupan orang Wambon yang diabadikannya dalam bukunya yang berjudul
Mandobo’s tussen de Digoel en de Kao, Assen, van Gorcum, 1970, Januari
hingga Desember 1967 bertugas lagi di Sungai Mappi. Catatan-catatan jurnal
Pator Meuwese amat membantu pemahaman Boelaars tentang gambaran
kebudayaan orang Yaghay, dan Mappi Memories yang diberikan oleh
Vershueren turut mengarahkan minat Boelaars untuk penelitian lebih lanjut
bahan penyusunan buku Papoea’s aan de Mappi yang mengalami
penyempurnaan dengan judul Head-Hunters About Themselves An
Ethnographic Report from Irian Jaya, Indonesia, KITLV, The Hague-Martinus
Nijhoff, 1981. Boelaars oleh tugas pokoknya selaku seorang missionaris telah
menyajikan kehidupan orang Yaghay pada penulisan laporan etnografis yang
secara metodologis belum selesai untuk mendapatkan setting ekologis dan
sosiologis.
1.2. Pikiran-Pikiran Boelaars dalam Tradisi Antropologi di Tanah Papua
¡ Kepala Seksi Lingkungan Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Papua
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 88
Munculnya Boelaars sekali lagi dengan karya terbarunya “Manusia Irian,
Dahulu, Sekarang, Masa Depan,”, Gramedia, Jakarta, 1992, merupakan kejutan
pada saat yang bersamaan dengan proses introspeksi kebudayaan oleh generasi
baru Papua yang dilahirkan dalam proses perubahan suasana nasionalisme
pluralistik. Manusia Papua yang diistilahkannya sebagai Manusia Irian itu
ditempatkannya dalam perspektif perubahan makna kehidupan beragama, masa
lalu naturalistik, masa sekarang yang dirangsang oleh modernisasi dan
urbanisasi, dan masa depan yang perlu disiasati. Manusia Papua yang dibaginya
atas dua tipe peradaban yang meliputi suku bangsa peramu untuk Marind-Anim,
Yaghay, dan Asmat, suku bangsa petani untuk Wambon yang disebutnya
Mandobo, Ekagi yang sekarang makin dikenal sebagai orang Mee, orang Dani
yang secara umum dikenal sebagai orang Wamena, dan Ayfat menunjukkan
tafsiran deterministik ekologis. Marind-Anim, Yaghay, dan Asmat adalah tiga
suku bangsa pemakan sagu di Merauke tanpa Awyu namun teknologi yang juga
turut menentukan tingkat peradaban sagu itu. Marind-Anim mestinya dibedakan
sebagai petani sagu, bukan peramu sagu mengingat bahwa dusun-dusun sagu di
tanah Marind ditanam melaui sistem pertanian wambad dan poya yaitu
pembangunan konstruksi drainase yang rumit. Warisan pertanian sagu Marind-
Anim itu berakar dalam psikoreligius bangsa pemuja kesuburan atas tanah dan
sejumlah spesies unggulan tanaman dan tumbuhan. Boelaars untuk kasus
Marind-Anim menyajikan sebuah deskripsi yang mesti didukung oleh
pengamatan sistem pertanian wambad dan poya. Penciptaan dirayakan sebagai
keberlangsungan kehidupan bukan dikunci dalam menara gading animha.
Marind-Anim terlibat dalam penciptaan itu selaku homoludens sebagai ritus
panjang sepanjang siklus hidup manusia dari matahari terbit hingga matahari
terbenam dan terbit lagi dan seterusnya. Pemahaman Marind-Anim selaku
homoludens dapat membantu Boelaars untuk mencairkan fosilisasi etnografis
yang dilakukannya. Marind-Anim dikunci Boelaars sendiri dalam menara gading
animha berbeda dengan pelukisan J. van Baal tentang Marind-Anim dalam
bukunya: Dema, Description and Analysis of Marind-Anim Culture, South New
Guinea, The Hague Martinus-Nijhoff, 1966.
Komparasi yang bagus dapat dilakukan Boelaars bila orang Yaghay
dibandingkan dengan orang Awyu, orang Asmat dengan orang Kamoro, orang
Wambon/Mandobo dengan orang Muyu, dan orang Ekagi dengan orang Ngalum
untuk menemukan gagasan keagamaan Papua yang mestinya dapat berupa tafsir
ritual. Gagasan keagamaan Papua itu meliputi semua unsur budaya Papua dalam
pandangan dunia biokosmis. Boelaars memang bukan bermaksud memberikan
landasan epistemologis dalam deskripsi etnologisnya, namun, sebuah evaluasi
karya penginjilan dari dialog antara Agama Papua dengan Agama Katolik. Ritus
babi sakral pada orang Wambon/Mandobo rupanya sudah cukup untuk mewakili
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 89
ritus babi sakral pada orang Muyu yang sekaligus dapat menjawab ritus babi
sakral pada orang Ngalum, Baliem, Ekagi, Moni, Nduga, dan Marind-Anim.
Penghindaran unsur mesianisme oleh Boelaars menutup perspektif ruang dan
waktu baginya untuk memahami transformasi Agama Papua akibat pertemuan
dengan Agama Katolik.
1.3. Pikiran-Pikiran Boelaars Mengenai Suku-suku di Pantai Selatan
Boelaars melanjutkan pemikiran para missionaris pendahulunya yang
berpandangan etnologis, aliran linguistis untuk Drabbe dan Geurtjens, dan aliran
etnologis untuk Verschueren, Vertenten, van de Kolk, dan Viegen. Vertenten
yang mengangkat pengayauan dalam sebuah artikel dalam majalah BKI 79
(1923), dan sekitar lebih dari 139 artikel Vertenten itu 1935 diterbitkan dalam
satu jilid kecil yang mendekati deskripsi etnografis menyeluruh berjudul Vijftien
jaar bij de Koppensnellers van Nederlandsch Zuid-Nieuw-Guinea (van Baal,
1966). Boelaars lebih berpandangan empiris, menukik langsung ke arah pokok
masalah pengalaman para pelaku pemenggalan kepala manusia berbeda dengan
cara pandang Verschueren yang lebih inkulturalis. Pemenggalan kepala manusia
itu agenda utama pasifikasi perang suku di Pantai Selatan Papua dalam rangka
penegakan Pax Nederlandica dan persaudaraan spiritual Kristen. Pasifikasi itu
antara orang Yaghay dan orang Awyu dikukuhkan di Kepi 1950 yang diorganisir
oleh Verschueren, dan Boelaars yang tiba di Merauke 1951 hanya dapat
mencatat ingatan lisan dari para pelaku pemenggalan kepala manusia yang
dengan sikap baru hendak mengalami masa damai panjang setelah banyak
generasi lalu diliputi hukum saling memenggal kepala musuh. Boelaars juga
sedih menyaksikan pasifikasi yang sedang dididikkan lewat kelembagaan
pendidikan sekolah dasar modern perlahan-lahan mulai menyadarkan para
peserta didik akan gagasan kekerasan yang bukan hanya kisah tragis masa lalu
perang suku yang setiap saat mengancam ketenteraman hidup di kampung
halaman tercinta, namun, perubahan dunia dengan hukum sipil modern yang
mengerikan, belajar Bahasa Melayu, Bahasa Belanda, disiplin modern, ekonomi
uang, dunia baru itu belum sepenuhnya dipahami, perubahan begitu cepat,
tatanan adat lama berlalu masuknya gaya hidup baru, agama baru belum
mengakar, dan bayang-bayang kekerasan masih mengancam dijawab dengan
warisan sikap pragmatis.
Untuk perubahan yang sedang terjadi diperlukan tafsir ulang atas unsur-unsur
budaya sebagai landasan nilai yang merangsang pertumbuhan masyarakat
Yaghay modern. Tafsir ulang itu dapat merupakan lanjutan pekerjaan penulisan
etnologi Yaghay yang telah dirintis oleh Boelaars yang mampu menghubungkan
sejumlah unsur budaya yang sekiranya dapat ditemukan pada para suku tetangga
orang Yaghay. Sungai Mappi tepat Boelaars mendalami kehidupan orang
Yaghay itu wilayah yang dalam pengertian etnologi kawasan Pantai Selatan
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 90
Papua dikatakan wilayah Trans-Digul yang meliputi tepi barat Trans-Fly hingga
ke Mimika yang didiami oleh para suku bangsa Papua seperti Boadzi, Marind-
Anim, Yaghay, Awyu, Asmat, Kamoro, Wambon, dan Muyu yang sejauh ini
baru terlihat pada pengelompokan bahasa, misalnya, Bahasa Boadzi, Bahasa
Marind-Pantai, dan Bahasa Yaghay menunjukkan sejumlah kesamaan kata.
Sayang Boelaars belum menyajikan kesamaan kata dari tiga bahasa serumpun
itu dalam bentuk analisis komparatif walaupun usaha ke arah studi linguistik di
Pantai Selatan Papua pada wilayah Trans-Digul telah dirintis oleh Drabbe salah
seorang pendahulu Boelaars.
1.4. Pemikiran Boelaars Mengenai Penduduk di Sungai Mappi
Kisah-kisah dalam legenda penduduk di suangai Mappi yang ditulis dalam
artikel ini merupakan ungkapan makna mengenai kebudayaan orang Yaghay,
menujukan apa yang dimaksud dengan Boelaars orientasi nilai budaya yang
dianut orang Yaghay dalam berinteraksi dengan suku tetangganya dan
lingkungan alamnya.
Kontak resiprositas, dan solidaritas yang baik mengisahkan perjalanan Ajre
seorang pedagang kapak batu dari Negeri Muyu di Digul Atas menyusuri Sungai
Kao, singgah pada orang Awyu di Sungai Edera , masuk ke Negeri Yaqay:
menyinggahi kampung-kampung: Yado, Nambeoman, Mappi, Toba, Miwamon,
Dagemon, Kepi, Rayom, Masin, dan kembali ke Yado. Ajre mempersunting putri
Yaqay, dan kembali ke kampung halamannya di Digul Atas. Dikenang sebagai
pedagang kapak batu, dan ipar yang adil. Meteoqom seorang Yaqay
menyebarkan bibit sagu, aneka tumbuhan, dan aneke satwa yang dimuat dalam
kano ke seluruh Negeri Yaqay karene iba menyaksikan kaumnya yang kelaparan.
Meteoqom seorang yang adil melanjutkan perjalanannya ke Okaba di Negeri
Marind.
Orang Yaghay yang diabadikannya itu masyarakat dinamis yang menguasai jalur
utama Sungai Digul, mengidealkan dirinya bagai matahari penakluk,
mobilitasnya ibarat kepala arus (tomonringgagae/tomonqambo), dan
dimasukkannya semangat militansi oleh Ajre seorang laki-laki sakti dari Sungai
Kao di Boven-Digul. Semangat militansi itu menempatkan Sungai Mappi
sebagai salah satu titik didih perang suku di Pantai Selatan di antara dua titik
didih lain, Asmat di barat, dan Marind di timur. Ajre dilukiskan sebagai tokoh
manusia nyata, seorang pedagang kapak batu dari Sungai Kao, pahlawan budaya
yang perkenalkan pemenggalan kepala musuh, dan arah perjalalanan yang
dilalui Ajre itu dari Sungai Kao (Kawa) turun ke Sungai Edera di pada orang
Awyu Laut, Joda/Jodom, Nambeoman, masuk Sungai Mappi, berturut-turut ke
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 91
kampung-kampung orang Yaghay sepanjang Sungai Mappi, Toba, Miwamon,
Danemoqon, Kepi, Rajom, Masin, dan kembali ke Joda/Jodom.
Jarak Sungai Mappi-Sungai Kao itu adalah jalur perjalanan pemenggalan kepala
musuh yang dihubungkan orang Yaghay dengan gerakan kepala arus
(tomonringgagae/tomonqambo). Dari laut kepala arus
(tomonringgagae/tomonqambo) bergerak ke bukit Wap gali sungai, ke arah
mana saja yang dilaluinya gali sungai, dia suruh ular-ular air gali sungai-sungai
kecil, Sungai Edera digali ular air, Tomonringgagae/Tomonqambo gali Sungai
Kao, kembali dari Sungai Kao dia gali Sungai Muyu, kembali ke Muara Digul
dia gali Sungai Qodaqamoqon, dia suruh ular air gali sungai-sungai Mabur dan
Bapae, dia sendiri gali Sungai Mappi, kembali dari Sungai Mappi dia gali
Sungai Qobaamarao, anak-anak sungai digali ular-ular air, dia maju ke Sungai
Qoba, Sungai Masin dan Sungai Nigera digali ular-ular air, kembali dari Sungai
Qoba dia gali Sungai Pore, dari Sungai Pore dia naik ke darat ke arah laut
sepanjang Sungai Arare.
Ada lagi Mato mengikuti suaminya Tomonringgagae pada buih-buih kepala arus
sambil menebarkan bibit pohon sagu, Mato pergi ke Sungai Kao, dari Sungai
Kao turun ke Muara Sungai Digul masuk ke Sungai Qodaqamoqon, selanjutnya
ke Sungai Mappi, Sungai Qobaamerao, buang lidi sagu ke Sungai Pore, anaknya
jatuh sakit, dia lihat ada buah borok dia makan, lanjutkan perjalanan ke Sungai
Miwamon sambil memanggil-manggil barang siapa yang dapat memberikannya
obat (rarake) untuk sembuhkan anaknya, dia ke kampung Roqajr, ketemukan
jejak kaki suaminya di Topummuka tempat dia ratapi anaknya, obat (rarake)
diberikan oleh Menequb, bersama Menequb tiba di Opoqir, Mato menjadi salah
seorang isteri Menequb, berturut-turut melahirkan beberapa orang anak, Tepo,
Qaitop, Oreq, Aimaqatu, Eaqatu, Kakir, Toqope, Qoneqir, Bogoi, Oqomeqir,
Bai, dan Qaetemai, dan Mato sekarang tinggal dalam kolam besar.
Ada lagi Meteoqom dari kampung Massin di Sungai Obaa pergi ke arah selatan
sambil sebarkan bibit sagu dan aneka satwa seperti ular, ikan, buaya, kasuari,
babi, dll, tiba di Sungai Kunda dia pasang perangkap ikan, tangkap banyak ikan,
dimuatnya ikan-ikan tangkapannya itu dalam kanonya, beberapa ekor ikan
tangkapannya itu ada yang terjun ke dalam air, lanjutkan perjalanan ke Qomo
dekat Kepi Ibu Kota Distrik Obaa, lanjut ke Jamaq, berturut-turut ke Sungai
Ribu, Sungai Nambeoman, Sungai Mappi, Sungai Qoroya, balik ke Tamao, hari
berikutnya ke Watamangk, kehabisan ikan di Wap, menyeberang Sungai Digul
tiba di Joda/Jodom di tepi timur Muara Sungai Digul, kanonya ditambatkan di
Joda/Jodom, jalan kaki ke arah selatan, bermalam di tengah perjalanan, keesokan
harinya lanjutkan perjalanan, tiba di Okaba di Pantai Marind, menetap, dan
beranak cucu di kampung Mumu di Okaba.
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 92
1.3. Penjelajah Sungai Digul
Orang Yaghay dapat dikatakan penjelajah Digul, dari Awyu di darat tepi barat
Sungai Digul hingga ke Okaba di Pantai Marind, ke timur laut hingga ke Sungai
Kao di Muyu, ke utara hingga ke bukit Tabuaka dekat Tanah Merah, dan ke
selatan ke Muli di Pulau Kimaam. Perjalanan jauh ratusan km itu digunakan
kano pada poros koridor Sungai Mappi. Orang Yaghay yang dikelilingi orang
Awyu itu menunjukkan gerakan kepala arus (tomonringgagae/tomonqambo) dan
tombak masuk ke dalam koridor Sungai Mappi, gerakan itu amat dramatis dalam
ingatan generasi lalu yang dijadikan Boelaars sebagai bahan penulisan life
history Jaende dkk tentang pengalaman tempur masa lalu yang heroik ke timur
di Sungai Edera, Sungai Digul, Sungai Kao, ke selatan dan ke barat belum
dicatat oleh Boelaars, dan ke utara di hulu Sungai Mappi yang dibedakan atas
dua tipe perang suku, tok antar kampung, dan kuj antar suku. Akibat dari drama
panjang perang suku itu membentuk sejumlah jaringan hubungan kekerabatan
darah antara antara orang Yaghay dan para suku tetangganya, misalnya Ajre dari
Boven Digul sekitar Sungai Kao yang juga beranak cucu di Sungai Mappi, dan
pertukaran anak perdamaian. Drama perang suku itu telah didamaikan antara
orang Yaghay dan orang Awyu 1950 oleh Verschueren. Bagian III dari bukunya
Boelaars Head-Hunters About Themselves (1981) berjudul PART III Head-
Hunting Practices itu inti karya etnologis Boelaars yang dibangun dari
pencatatan life history Jaende seorang kepala perang (poqoyrade) kampung
Kepi, Jaro mertua Jaende, Jakobus Jabaimu, dan Tambim. Tambim ayah
Jabaimu, Tambim itu seorang penasehat adat (akiaqrade), Jabaqaj saudara lakilaki
ibu Jabaimu, Jabaqaj itu seorang kepala salah satu keluarga di kampung
Kepi, saudara perempuan Jabaimu kawin dengan Jaende, Jabaimu kawin dengan
anak perempuan Jaro, dan Jaro dan Jaende pemimpin salah satu keluarga besar
di kampung Kepi (Boelaars, 1981, 8). Kampung Kepi tempat Boelaars bangun
pos pengamatannya tentang etnologi Yaghay sebenarnya mewakili wilayah rawa
hulu Sungai Mappi untuk salah satu mata, salah satu mata yang lain sebenarnya
pada pos Nambeoman-Bapae, dengan sepasang mata itu dapat diperdalam
pengamatannya yang akan terlihat bayang-bayang Bagharam (Uyaghar,
Kayaghar), Asmat Safan dan Sawi, akan terlihat di timur dan selatan Awyu Laut,
Marind-Maklew, dan Marind-Bob.
3. DASAR-DASAR KEBUDAYAAN YAGHAY
Orang Yaghay mendiami tepi barat Muara Digul, tepi barat Sungai Mappi
termasuk masyarakat pemakan sagu, terdiri dari dua subkelompok utama yaitu:
Nambeoman-Bapae, dan Obaa, membagi kelompoknya atas beberapa gabungan
kampung federatif pemilik sungai, dan klen (qari), termasuk salah satu pecahan
dari federasi Marind-Anim yang sudah memisahkan diri sama sekali, dan
membentuk federasi baru dengan orang Awyu.
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 93
Ada beberapa dasar yang membentuk dasar-dasar kebudayaan Yaqay yaitu
oposisi antara Matahari dan Bulan, babae, amar, ero, waw, dan rara. Matahari
diidealkan sebagai panutan perilaku yang memancarkan rahmat, kejujuran,
ketegasan, keberanian, kemakmuran, kesucian, harga diri, kesucian, dan
maskulinitas. Matahari itu dihadapkan pada permainan Bulan sebagai trickster
yang disandangkan pada kaum perempuan, dan anak-anak. Matahari itu
menunjukkan penyertaan leluhur (babae), pengaktifan resiprositas (amar),
pembinaan solidaritas (ero), dan pemilikan kharisma (waw) pada orang Yaqay.
Matahari dan leluhur (babae) mengamanatkan kepada orang Yaqay untuk
menegakkan semangat Matahari melalui penegakan hukum resiprositas (amar),
dan hukum solidaritas (ero). Amanat dan semangat Matahari itu yang
ditegakkan oleh para penasehat adat (Akiaq-wir), para panglima perang (poqoywir)
dan para dukun (joqbera-wir) agar manusia Yaqay bijaksana, bekerja sama,
mengaktifkan resiprositas, mematuhi larangan perzinahan, mematuhi larangan
mencuri, menghindari sikap curiga, mematuhi larangan untuk tidak menyebut
nama orang secara tidak terhomat, dan menginsyafkan budaya malu. Orang
yangtidak melaksanakan amanat dan semangat Matahari itu adalah anak iblis
(aw) akan selalu diganggu oleh roh-roh jahat, diusir dari kampung halamannya,
atau dibunuh. Pelanggaran amanat dan semangat Matahari itu mengingatkan
orang Yaqay akan kehilangan hidup kekal pada jaman mitis ketika Matahari
menganugerahkan kulit kehidupan kekal kepada orang Yaqay. Kulit kehidupan
kekal itu diraih oleh seorang perempuan masuk ke dalam tanah dalam wujud
seekor cacing. Pada siang hari perempuan itu menolak kawin dengan Matahari.
Namun, pada malam hari perempuan itu kawin dengan cacing tanah. Sejak itu
Matahari mengucapkan kutuk: “anak-anak yang kau lahirkan dari cacing itu
akan mati, sedangkan anak-anak yang kau lahirkan dari saya akan hidup kekal
selamanya”. Hukum amar dan ero itu mengandung gagasan keadilan pada orang
Yaqay bahwa segala tindakan orang Yaqay harus mencerminkan resiprositas dan
solidaritas. Para peleku ketidakadilan dihubungkan dengan konflik antara
Matahari dan Bulan yang berawal dari kecurangan resiprositas yang dilakukan
oleh pihak Bulan terhadap pihak Matahari. Anak Matahari panas, dan anak
Bulan dingin. Isteri Bulan menukar anaknya yang dingin dengan anak Matahari
yang panas. Peristiwa itu terulang kembali setelah anak dari Matahari itu
dikembalikan oleh ibunya. Bulan mencuri anak panah, ikan,daging babi, dan
tembakau milik Matahari. Bulan malu, menghindar masuk hutan, salah satu
kakinya lumpuh teriris bambu. Keduanya saling berpesan, ipar kawin tukar
(mendaq) Matahari jadikan dirimu Matahari pada siang hari, kata Bulan; dan
ipar kawin tukar (mendaq) Bulan jadikan dirimu Bulan pada malam hari, kata
Matahari. Gagasan keadilan itu dapat mendatangkan akibat destruktif berupa
tuntutan ganti kepala korban pembunuhan hingga ke perang-perang suku pada
masa lalu yang baru berakhir pada abad 20 oleh pasifikasi Pemerintah Jajahan
Hindia Belanda, dan Pelayanan Missi Katolik. Dampak gagasan keadilan itu
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 94
masih terasa hingga kini yang oleh orang yang tidak mengenal watak
kebudayaan orang Yaqay ini menimbulkan kesan kasar.
3.1. Siklus Hidup
Perempuan Yaghay Yaghay memberikan sagu kepada laki-laki Yaghay,
terbentuk ikatan perkawinan, darah menstruasi perempuan ditakuti laki-laki
Yaghay, suami-isteri menjalani pantangan pada masa kehamilan isteri, dan
timbul ketakutan terhadap roh orang mati (idom). Kelahiran dianggap sebagai
akibat dari pembuahan uwa perempuan oleh cairan bot-depi terdapat pada paha
laki-laki, cairan bot-depi mengalir lewat pipa kikenor, cairan kabagae terdapat
pada paha perempuan, coitus berulang-ulang menyebabkan kehamilan,
berhentinya siklus menstruasi bulanan meunjukkan tanda kehamilan, darah
menggumpal, proses pertumbuhan mulai, jiwa (moke) anak berasal dari alam
baka, perpindahan jiwa (moke) anak dari alam baka ke dalam orok perempuan
hamil melalui perantaraan salah satu satwa, dan anak dianggap sebagai anak
angkat dari alam baka. Ibu yang sedang menyusui bayi pantang melangkah di
atas benda melintang, dapat membeku darahnya, dan perut menjadi besar. Harus
berpantang (toqomor) untuk tidak makan burung yang suaranya serupa suara
tangis bayi, tidak makan ikan bersisik, tidak makan daging kasuari, tidak makan
unggas berkaki panjang, tidak makan kuskus, tidak menatap pohon yang
ujungnya terbelah.
Jika ibu seorang bayi Yaghay kurang dapat disusui oleh isteri saudara laki-aki
suaminya. Makanan dikunyah orang tuanya dan disuapkan kepada anak sesuai
perjalanan usianya memasuki masa kanak-kanak. Oleh orang tuanya berusaha
dipanggil namanya, namanya dapat diganti bila anak itu sakit, dan anak
membiasakan diri dipanggil nama tertentu oleh teman-teman mainnya. Nama
mengingatkan akan peristiwa, nama tempat ketika untuk pertama kali ibunya
merasakan tanda-tanda kehamilan menurut nama roh tuan tanah (jaqar) yang
mendiami tempat itu, orang yang namanya hendak dikenang, dan emberian
nama juga dimintakan kepada dukun peramal (joqbera-rade). Kelahiran anak
berikut ditunda hingga anak pertama telah mampu berbahasa, dan kuat berjalan.
Selama itu suami berpantang bercinta dengan isterinya agar jalan anak tidak
dihancurkan oleh ayahnya. Bayi diisolasi, tidak dibawa keluar jauh dari
kampung, ditakutkan ular, ditakutkan hantu, tidak dibawa ke pelabuhan
ditakutkan tenggelam, anak tidak berdiri di tengah ruangan rumah, anak-anak
tidak boleh bertengkar ditakutkan terbakar, anak tidak boleh melangkah di atas
api di siang hari mengingat roh adiknya mengikuti dia dapat terbakar, anak tidak
boleh didorong oleh anak-anak lainnya ditakutkan lehernya patah, anak tidak
boleh dibiarkan merangkak ditakutkan anak lumpuh. Ibu tidur di samping api,
berikutnya anak bayi, dan anak-anak berikutnya menurut urutan usia. Kakak
sulung perempuan paling pinggir yang menutup urutan anak-anak tidur itu.
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 95
Mertua atau juga saudara perempuan janda tidur di sebelah api, dan anak-anak
perempuan yang lain tidur di situ. Pintu dikunci rapat ditakutkan roh-roh orang
yang baru meninggal dunia sedang bergentayangan. Ibu bakar sagu di pagi hari
untuk seluruh penghuni rumah, dan sagu bakar lainnya diantar kepada para
kerabat laki-laki yang tidur di rumah laki-laki. Nenek dapat membawa pergi
anak untuk jangka waktu cukup lama. Anak dilarang masuk rumah orang lain
ditakutkan mencuri barang orang lain. Pencurian ditakutkan pengawasan
matahari, dan usia pendek. Anak mulai terlibat dalam lingkungan kampung yang
lebih luas, mulai mengamati cara pembuatan kano, cara pembuatan busur-panah,
cara menganyam keranjang, cara membangun rumah, cara sembelih babi,
menggunakan berbagai sapaan antar kerabat, dan hak dan kewajiban yang
menyertai berbagai hubungan antar kerabat (Boelaars, 1981, 73-77). Anak-anak
Yaghay hidup dalam keriangan, anak-anak laki-laki belajar hidup di alam yang
mengandalkan kekuatan otot, keberanian, dan ketegasan. Anak perempuan
belajar menempatkan diri secara pantas daam masyarakat. Coitus sebelum
menstruasi pertama tiba dilarang keras.
3.2. Tipe Kepemimpinan Campuran
Akiaqwir tunggalnya akiaqrade adalah salah satu jenis kepemimpinan orang
Yaghay. Akiaqwir adalah orang-orang yang oleh pemilikan kebijaksanaan
mampu memberikan arahan perilaku kepada para warganya. Para akiaqwir
memberikan nasehat tentang etika yang diwariskan oleh para leluhur (babae)
orang Yaghay. Para akiaqwir menasehatkan akiaqtumi yaitu nilai-nilai sosial
dan pertimbangan-pertimbangan moral. Akiaqtumi yang dinasehatkan itu
meliputi amor-ero, diaqandamon, qadeken, tom-jamba, aend mareba, papa, dan
lain-lain. Amor-ero adalah fondasi kebudayaan dan kepribadian orang Yaghay
yaitu pandangan dunia tentang keseimbangan segala sesuatu. Amor-ero itu
hukum alam yang meliputi segala sesuatu, sebuah daya aktif kehidupan yang
saling melengkapi, berkesinambungan, fungsional, menguatkan, dinamis,
kreatif, dan dapat diandalkan. Orang Yaghay selalu saling memberi. Dengan
memberi itu orang Yaghay meniru alam yang selalu memberi. Dengan memberi
itu alam disyukuri sebagai dunia yamaibuaq warisan para leluhur (babae);
didiami sebagai wilayah tempat tinggal klen besar (imu/emu) dan klen kecil
(qari); dan dibela sebagai harga diri komunitas. Segala sesuatu harus dibalas.
Pembalasan mengandung gagasan keadilan. Orang Yaghay sejati selalu bekerja
bersama-sama dan bekerja sama. Orang Yaghay yang bekerja sendiri ditakutkan
dengan mudah dapat diserang idom, jagar, dan aburi. Kehidupan keras orang
Yaghay hanya dapat berhasil dalam kehidupan komunitas yang bersatu padu.
Perjanjian damai dengan kampung-kampung lain setiap saat dapat dilanggar,
namun, ikatan komunitas kampung adalah inti semangat kelompok paling kuat
yang mengikat orang Yaghay. Ikatan komunitas kampung yang kuat
menunjukkan ikatan bathin dengan kampung halaman (yamae-buaq), para
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 96
leluhur (babae) pendiri kampung, efektivitas kepemimpinan tiga serangkai
poqoyrade-joqbararade-akiaqrade, fungsi pengayauan kepala manusia untuk
kelanjutan generasi berikut, dan perjuangan untuk mencapai keabadian nama
(maqatier). Semangat kebersamaan itu potensial jika mampu dikelola untuk
tujuan-tujuan pembangunan kemasyarakatan. Dapat dipertandingkan untuk
memperebutkan pencapaian kuantitas dan kualitas pekerjaan. Orang Yaghay
harus bekerja sempurna seperti kaum laki-laki yang bekerja sempurna, bukan
seperti kaum perempuan yang bekerja sebagian. Qadeken berhubungan dengan
kualitas pekerjaan yang dinyatakan dalam perbedaan antara kayu ate yang
keropos, dan kayu nibung yang awet; matahari yang kreatif, dan bulan yang
malas; dan makna keseriusan (qadearep), dan omong kosong (jaqati). Tomjamba
mateba adalah pengendalian perilaku seks, tom berlaku bagi kaum
perempuan tidak mengambil inisiatif untuk berhubungan seksual, dan jamba
berlaku bagi kaum laki-laki tidak mengambil inisiatif untuk berhubungan
seksual. Perilaku seksual diatur melalui lembaga perkawinan. Orang Yaghay
sejati tidak berhubungan seksual pranikah, dan selingkuh ditakutkan hukuman
mati. Perempuan adalah harta yang mahal untuk orang Yaghay. Orang-orang
berkuasa dapat beristeri lebih dari satu, dan barangkali juga memiliki hak
istimewa atas hubungan seksual di luar perkawinan. Aend mareba adalah
larangan untuk mencuri. Orang Yaghay amat memandang pencurian sebagai
sebuah tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaan. Pencuri dihukum
mati seperti bulan yang dihukum mati dengan ditombak. Pencurian adalah
perbuatan terkutuk yang akan mendapat hukuman oleh matahari, para leluhur
(babae), satwa, dan qoqo. Perbuatan mencuri melanggar prinsip amar-ero yang
mempersatukan orang Yaghay dengan seluruh kehidupan. Papa adalah nilai
budaya malu amat ditakuti orang Yaghay. Orang dapat mengorbankan apa saja
untuk menebus malu, dan tidak segan membunuh. Malu merupakan tenaga
konstruktif dalam pengendalian perilaku sosial, dan tenaga destruktif sebagai
bahan hasutan untuk pembalasan dendam dalam pengayauan kepala manusia.
Tindakan jelek dapat menjadi tindakan kepahlawanan sebagai kompensasi rasa
malu. Dalam rasa malu itu orang Yaghay mengalami penghinaan yang
merendahkan harga diri yang tidak layak disandang oleh anak-anak matahari
yang abadi. Rasa malu itu dapat menjadi gangguan mental yang berbahaya bila
ditambah dengan cemoohan dan ejekan, saat itu pecah perkelahian duel
perorangan jika rasa malu itu menyangkut hubungan individual, dan pengayauan
kepala musuh jika rasa malu itu menyangkut komunitas kampung dan kelompok
kekerabatan.
Poqoywir adalah bentuk jamak dari poqoyrade, poqoywir adalah para kepala
perang, dan poqoyrade adalah satu orang kepala perang. Kekuasaan poqoywir
lahir oleh suasana pertahanan diri menghadapi ancaman serangan musuh antar
kampung dan antar suku, motivasi perebutan status laki-laki berwibawa, dan
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 97
prestise sosial. Poqoywir memberikan jaminan kelangsungan hidup
kelompoknya, tegas dan berwibawa seperti matahari, dahsyat seperti kepala
arus, tajam seperti tombak, adil dan bijaksana mengikuti hukum alam, perkasa
seperti matahari, dan keras seperti pohon kelapa sagu yang menyamakan
kematian dan kehidupan, dan memancarkan kesuburan seperti sagu di negeri
yang mengandalkan kekuatan otot. Poqoywir menggerakkan seluruh dinamika
kehidupan rakyatnya, merupakan representasi semangat kolektiv rakyatnya, dan
kekuatan nyata. Poqoywir menetapkan perang dan damai, mempersembahkan
seluruh karyanya untuk pencarian nama yang diperoleh melalui pemenggalan
kepala-kepala musuh, dan pemberian nama korban pemenggalan kepala itu
kepada generasi mudanya yang sedang tumbuh. Kepatriotan poqoywir
memberikan jaminan tentang eksistensi komunitasnya yang tidak dapat ditawar.
Nyawa, darah, dan air mata yang membesarkan poqoywir tentang makna harga
diri melebihi kekayaan apapun. Kepemimpinan poqoywir diperoleh karena
prestasi, diperoleh berdasarkan pengakuan dan pengukuhan oleh komunitas, dan
bukan diwariskan. Hukum adat amor-ero memberikan kerangka acuan yang
harus dilalui oleh poqoywir, amor-ero itu yang diamalkan oleh poqoywir, dan
loyalitas komunitas kepada kepemimpinan poqoywir itu kepada representasi
kedaulatan komunitas. Poqoywir ke dalam komunitas menegakkan kolektivitas
komunitas, dan ke luar mempertahankan ketahanan komunitas terhadap
pembinasaan. Kekuasaan poqoywir berasal dari kemampuan mobilisasi sumber
daya alam, sumber daya manusia, dan ciri-ciri kepribadian yang luar biasa.
Poqoywir diliputi oleh kekuatan magis (waw), perkenanan leluhur (babae),
atribut-atribut kebesaran, dan sejumlah kisah pertempuran yang mengundang
kagum akan makna keberanian menghadapi maut dan kehidupan dalam
kekerasan tatanan maskulinitas. Kehidupan yang dipertaruhkan pada mata panah
dan tombak, bukan garis pembatas antara kejahatan dan kebaikan, namun,
keberanian untuk menaklukkan ketakutan atas kelemahan diri sendiri. Poqoywir
lahir untuk sejumlah nama yang abadi seperti para leluhur (babae) yang
mewariskan sejumlah nama dan gelar kepada anak cucu. Poqoywir adalah
masters of power games yang berkuasa atas artikulasi kekuatan, dan dramatisasi
kultural yang melangsungkan dinamika sosial. Kepala-kepala para musuh
dipenggal, generasi berikut dilahirkan dan diinisiasikan, nama-nama diabadikan,
tanda-tanda perkabungan diakhiri, kekalahan ditebus, harga dirir dipulihkan,
tiang-tiang tengkorak didirikan, gelar-gelar kepahlawanan dikukuhkan, para
pengantin dikawinkan, maskulinitas dan feminitas dipersandingkan, semangat
persekutuan kolektivitas diperbaharui, resiprositas dilangsungkan, amanat
leluhur ditegaskan, penyertaan leluhur dihadirkan, kematian ditaklukkan,
kemegahan dipermaklumkan, hak dan kewajiban ditegakkan, kemunafikan
dipermalukan, pengkhianatan dieksekusi, komunitas dibersihkan dari bahayabahaya
supernatural, dan genderang kemenangan dibunyikan.
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 98
Pengayauan dilakukan pada musim kemarau, genderang bertalu-talu tak hentihentinya
sepanjang siang dan malam menjelang persiapan ke medan perang,
lagu-lagu perang mengiringi pesta persiapan, tomak-tombak dipersiapkan oleh
kaum laki-laki sambil bersenandung, dan memasukkan daya magis (waw) ke
dalam tombak-tombak itu dan dilumuri dengan ramuan obat (rara). Tombak
qoqom paling besar, paling panjang, bersalawaku kecil, dan berukiran terbuka
antara kepalanya yang bersanggi dan gagangnya. Qoqom ditancapkan sebagai
simbol kemenangan (marpit) terhadap para musuh, dan kebanggaan bagi isteri.
Tombak qajapo tanpa sanggi, bagian atas gagangnya bergantung bulu-bulu
burung cenderawasih, digunakan hanya oleh laki-laki yang sudah beristeri, dan
lebih banyak terlihat pada orang Awju dari pada orang Yaghay. Atribut-atribut
lain dipersiapkan berupa gelang tangan (marep-maq, marapoqajb) dan gelang
kaki (ramu-maq) dari anyaman kulit rotan, laki-laki menyisipkan pisau belati
tulang kasuari ke gelang tangan bersama daun sagu muda warna kuning, dan
perempuan mencantolkan jari tangan ke gelang tangan itu sebagai akses kencan.
Poqoywir pada kesempatan persiapan pengayauan itu terus-menerus
menyampaikan amanat yang panjang lebar, rotan perancah kano-kano orang
mati sudah lapuk, kano-kano itu hendak jatuh ke dalam tanah, dan ungkapan itu
dipahami sebagai mobilisasi kekuatan untuk pembalasan dendam. Para kerabat
kampung yang hendak diserang didekati, tikar-tikarnya hendak dibasahi dengan
air, ada juga tabung bambu pengisi air diletakkan di sisi tikar kerabat orang
sesama kampung yang kerabatnya di kampung yang akan dikayau, orang yang
kerabatnya di kampung yang akan diserang boleh memprotes dan membela
kampung kerabatnya yang akan dikayau, ada juga orang dari kampung asalnya
dapat mengundang para sahabatnya di kampung lain untuk mengayau di
kampungnya, orang itu mengusulkan untuk kampungnya dikayau, mangantar
noken berisi sagu, digantung dalam rumah laki-laki, itu sebuah undangan kepada
kerabatnya di kampung itu untuk mengayau kampungnya, undangan itu juda
dapat dilakukan oleh para pemimpin kampung, undangan pribadi disertai dengan
pembayaran panjar berupa dayung baru, tembakau, ekor kasuari, berkas anak
panah, salawaku, pisau belati tulang kasuari, dan juga anus para pemimpin dapat
disentuh sebagai desakan terhadap para pemimpin itu untuk mengerahkan
kekuatan. Perdamaian harus dilakukan dengan kampung-kampung yang
bermusuhan agar kampung-kampung yang bermusuhan itu tidak menyerang
kampung yang mengadakan pengayauan. Kampung Kepi, dan kampung Moin
misalnya. Manip salah seorang pimimpin Kepi diundang ke kampung Moin,
masuk ke rumah laki-laki, dan duduk di samping salah seorang pimimpin
Toqom. Saya mau kasih anak sama adik, tawar pemimpin Toqom itu kepada
Manip, saya amat membutuhkan anak itu kakak, berikan kepada saya, jawab
Manip, adik pulang ke Kepi, saya pulang ke Toqom, saya bermalam satu hari di
Toqom, saya tunggu adik di Toqom, adik datang, berdamai, saya serahkan anak
sama adik, pesan pemimpin kampung Moin itu kepada Manip. Pulang ke Kepi,
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 99
Manip menceriterakan hasil kunjungannya itu, besok kita pergi berdamai dengan
kampung Toqom, saya akan diserahkan seorang anak, di antara kita ini ada yang
harus pergi memberitahukan hal ini kepada kampung Toba dan kampung Emete,
beberapa orang laki-laki berkayuh ke Toba dan Emete dengan pesan agar besok
orang-orang kampung Toba dan kampung Emete harus mengikuti kami yang
hendak berdamai dengan orang-orang kampung Toqom. Keesokan harinya
orang-orang laki-laki Kepi dan para isterinya berangkat, orang-orang Kepi
berjalan di depan, menyusul berturut-turut orang-orang Toba, Dagimon, dan
Emete. Orang-orang Kepi tunggu di bukit Apoket, Kepi berdamai dengan
Toqom, orang-orang Toqom datang bernyanyi ke pelabuhan di Taqajmoqon,
orang-orang Kepi lewat rawa datang bernyanyi, para laki-laki di depan, para
perempuan di belakang, menuju ke pelabuhan, orang-orang Toqom datang
bernyanyi menuju orang-orang Kepi, dan orang-orang Kepi membentuk
lingkaran mengelilingi orang-orang Toqom. Para pemimpon duduk bersama,
rokok dihisap bersama yang dilinting bercampur bulu-bulu rambut sekitar
genital, matahari makin tinggi, sambil bertari orang-orang Kepi kembali ke
tempat berkumpulnya di Apaq, membangun bevak-bevak di situ, keesokan
harinya dimulai perundingan resmi, anak laki-laki bernama Kabigaep diserahkan
kepada Manip orang Kepi itu, dan sebaliknya Kepi menyerahkan seorang anak
kepada orang-orang Toqom. Anak diserahkan bersama kulit sagu oleh pihak
yang minta damai, yang diminta damai juga menyerahkan seorang anak bersama
seutas rotan, kedua pihak mengikat tali persahabatan, kedua kelompok diikat
bersama, tombaka-tombak dipatahkan, dan permainan itu diakhiri dengan
teriakan keras bersama, kerabat para korban meminta barang-barang bernilai
antik seperti perhiasan tusuk hidung (ngaingga), dan kulit triton (mbe). Barangbarang
antik itu untuk mengendalikan pengaruh daya magis (waw) dari para
kerabat korban pengayauan, perempuan juga dapat diserahkan, dan anak dan
perempuan yang diserahkan itu diadopsi.
Pembuatan kano-kano baru paling penting untuk pengayauan jarak jauh,
panjang kano lebih kurang 30 kaki, kano adalah urusan para pemimpin
yang diakhiri dengan pesta, kano-kano itu dikerjakan di tempat pohonpohon
untuk bahan pembuatan kano itu ditebang, dan didirikan tendatenda
di tempat pembuatan ka-kano itu untuk tempat berteduh. Sebuah
kano besar dibuat untuk pemimpin pengayauan, para undangan dari
kampung-kampung lain juga diundang, dan sagu, kelapa, ikan, daging
dikumpulkan Para undangan berdandan ornamen lengkap, berdiri dalam
kano-kano sambil menabuh tifa, kano-kano dalam formasi rapat seperti
pulau yang sedang hanyut mendekati tepi sungai, dan para tuan pesta
menanti di tepi sungai berdandan dengan warna-warni yang mencolok.
Para undangan datang menjelang senja, kilau keemasan bulu burung
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 100
cenderawasih di atas kepala para undangan yang terhormat, para penari
perempuan terbaik sambil berdiri dalam kano-kanonya, goyang pinggul
mempesona para penonton atas keseimbangan di atas kano-kano dengan
tampilan gerak tubuh feminin.
Kaum laki-laki berpantang hubungan seksual sebelum berangkat ke medan laga,
dikumpulkan di rumah laki-laki, diingatkan untuk membawa serta kulit pohon
(derumb) yang berisi bahan perangsang, dan keranjang kepala manusia (kud)
wadah isian kepala musuh terjagal, para suami pengantin baru juga diingatkan
untuk membawa serta kado sagu pesta pesta perkawinannya. Para pemimpin
tempur dan prajurit tua menasehatkan para prajurit muda agar berani dan akan
meneruskan estafet mengingat makin lanjut usia para pemimpin dan prajurit tua
itu, dan para leluhur kami telah menempuh jalan pengayauan ini. Malam hari
kano-kano tempur dimuat sebagian, pada pagi hari muatan penuh, para laki-laki
dan perempuan peserta pengayauan itu diperciki dengan air oleh joqberarade,
pemimpin perang berjalan paling depan yang disusul oleh para prajurit laki-laki,
dan arah perjalanannya tidak boleh diseberangi oleh siapapun dari mereka yang
tinggal di kampung. Mereka yang tinggal di kampung masuk hutan,
menyembunyikan diri di tempat persembunyian yang aman agar tidak terdeteksi
oleh pihak musuh dari kampung-kampung lain yang sedang bermusuhan, dan
menghindari serangan mendadak. Para perempuan yang terpilih ikut serta
pasukan pengayauan jauh ke Sungai Digul, Sungai Mappi, atau Sungai Edera ke
wilayah para musuh yang hendak dikayau.
Arsip Verschueren’s tertanggal 22 Oktober 1952 seperti yang dikutip oleh
Boelaars mengisahkan pengalaman Jaro seorang kepala perang dari
kampung Kepi bersama Jaende seorang kepala perang dari kampung
Dagimon. Demikian pengalaman tempur Jaro itu. Orang Yaghay punya
wilayah penyangga yang dihuni oleh kelompok-kelompok orang Awyu di
tepi timur Sungai Mappi. Kelompok-kelompok Awyu itu dijadikan
penunjuk jalan untuk pengayauan orang Yaghay ke sasaran pengayauan
utama pada orang Awyu di Sungai Edera. Kelompok-kelompok Awyu di
wilayah penyanggah itu setiap saat diimbali dengan bantuan, pembayaran
dilakukan melalui perayaan pesta bersama dengan banyak makanan,
setiap saat dapat minta bantuan pasukan pada orang Yaghay bila
kelompok-kelompok orang Awyu di wilayah penyangga itu diserang
musuh-musuhnya, dan sering para pemimpin kelompok-kelompok Awyu
di wilayah penyangga itu dibawa para sahabat orang Yaghay-nya
melancung ke wilayah Yaghay yang menunjukkan sebuah ikatan
hubungan yang erat atas dasar kepentingan kepala manusia. KelompokISSN:
1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 101
kelompok orang Awyu di wilayah penyangga itu diberikan tengkorak
Esagha salah seorang mantan pemimpin orang Yaghay dari kampung
Toba, tengkorak itu dirayakan luar biasa setelah diturunkan dari atas parapara,
dan tengkorak itu masih utuh dengan rahang bawahnya diberikan
kepada salah satu kelompok Awyu di wilayah penyangga. Rawat
tengkorak ini dengan penuh hormat, kalau terjadi sesuatu, hilang, atau
pecah, tamat riwayat kalian, bila mengalami kesulitan, segera panggil
kami, amanat orang Yaghay. Wilayah penyangga itu dilanggar orang
Yaghay sendiri ketika Pemerintah Jajahan Belanda mulai efektif
mengawasi pengayauan orang Yaghay ke wilayah-wilayah jauh.
3.3. Sumber-sumber Folkloristik
3.3.1. Legenda Matahari dan Bulan
Teme-moqon adalah semesta alam, teme itu langit, dan moqon itu bumi. Asalusul
langit dan bumi tidak dipersoalkan oleh orang Yaghay. Matahari, bulan, dan
meteor dikisahkan sebagai pengalaman sejarah orang Yaghay. Matahari dan
bulan dipasangkan sebagai ipar kawin tukar, dua orang sahabat, dan juga dua
orang lawan. Matahari itu tapaq dibayangkan sebagai roh besar (moke
poqojerep) simbol kebesaran kepala perang (poqoyrade). Bulan itu kamo
dibayangkan sebagai roh besar palsu (moke arepaqatoqomb). Matahari itu
sempurna, sejati, abadi, tegas, dan dapat dipercaya. Bulan cacat, palsu, keropos,
lemah, dan cenderung menipu. Mopon selalu berhasil dalam berburu binatang
buruan kala fajar dan senja, baik kalau saya buat alat penerang dari akar pohon
agar mampu panah binatang buruan di malam hari, pikirnya, pertama dicobanya
akar pohon ronomanup, malam hari dicoba dinyalakan, namun, tidak berhasil,
warnanya terlalu hitam, kedua dicobanya akar pohon jujun, malam hari dicoba
dinyalakan, tidak berhasil juga, warnanya masih hitam, dan ketiga dicobanya
akar pohon mbi, malam hari dicobanya, akar pohon mbi dibalik, sinarnya
mengenai dadanya, dan berhasil. Akar pohon mbi yangsudah dibentuk menjadi
bulan itu dibungkus dengan daun sagu hijau, dan bulan tidak kelihatan
cahayanya. Hari berikutnya Mopon pergi ke hutan, bulan digantungnya di
tengah hutan, seluruh kawasan hutan itu terang benderang, engkau jangan
banyak memancarkan cahayamu, kata Mopon kepada bulan ciptaannya itu,
dibentuknya telinga, wajah, mata, telinga, dan lidah, pulang ke rumah,
dibungkusnya rapi, mengapa kau lama pergi baru pulang, tanya isterinya, saya
ada kerja, jawab Mopon, bulan diisinya di dalam noken, kelihatannya noken itu
sedang terisi seekor babi yang telah dibunuh mati, saya tebang satu batang
pohon sagu, kau sebaiknya tangkap ikan, sambung Mopon, Mopon tebang pohon
sagu, dibuatkan gubuk intaian babi makan sagu yang telah dikupas kulitnya, babi
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 102
datang makan sagu itu, sore hari saya jaga intaian babi itu, kata Mopon,
ditemukan bekas babi makan sagu di intaian itu, dan diambilnya bulan yang
disembunyikan dalam rumahnya. Ia pulang pulang ke rumah hendak mengambil
busur-panahnya, gelap gulita malam ini, hati-hati, jangan sampai babi bunuh
kau, kata orang kampung kepada Mopon, dia pergi, satu ekor babi dipanah siang
hari, sore hari panah satu ekor babi lagi, dan menjelang malam dipanah satu ekor
lagi. Dia masuk ke dalam gubuk intaiannya, bulan diambilnya, disangkutkannya
ke puncak pohon, terang benderang sekitar dusun sagu itu, babi sedang makan
sagu, dipanahnya babi itu, bulan dipindahkannya ke pohon sagu lain,
diletakkannya di situ, satu ekor babi lagi dipanahnya, kembali ke gubuk
intaiannya, ditemukan seekor burung-burung mambruk, berkicau oleh cahaya
bulan, dipanahnya burung-burung mambruk itu, satu ekor lagi dipanahnya,
malam itu dia pulang ke rumah, bulan diambilnya, bulan dibungkus setelah
diikatnya, saya ini, katanya kepada isterinya saat dia ketuk pintu rumah, dapat
babikah, tanya isteri kepadanya, dapat, jawabnya, satu ekor burung mambruk
diberikan kepada isterinya, dan dia pergi tidur ke rumah laki-laki. Pagi harinya,
dia pergi rumah isterinya, burung mambruk dipotong-potong kecil, saudara ipar
laki-laki akan datang, seru Mopon, para saudara ipar, kau, akan datang potong
babi, sambung isterinya, mereka pergi ke tempat babi ditingalkan, babi-babi
dipotong, para saudara ipar laki-laki dari pihak suami mendapat bagian daging
babi, dan para saudara ipar laki-laki dari pihak isteri mendapat bagian daging
babi juga. Ia panah babi dalam gelap, tanya seorang saudara ipar laki-lakinya,
saya panah babi-babi itu dengan mendengar bunyi kunyahan sagu yang
dimakannya, ketika terdengar bunyi kunyahan sasu itu pada rahang, saat itu saya
lepaskan anak panah, jawb Mopon, kalau ipar hendah panah babi dalam gelap,
pakailah pendengaran, jawab Mopon kepada iparnya, pulang ke rumah, dan
daging babi dibagi-bagikan kepada para kerabat laki-laki dan perempuan di
kampung. Hari berikutnya Mopon pergi berburu lagi, babi babi dipanah, dan
juga burung-burung mambruk. Saudara ipar laki-laki kawin tukar banyak kali
saya panah burung, mata panahnya dari papo sangat lemah, dan selalu patah,
tanya saudara ipar laki-laki kawin tukar Mopon kepada Mopon. Hasil buruan
Mopon selalu dibagikan kepada saudara ipar laki-aki kawin tukarnya. Saudara
ipar laki-laki kawin tukar pakai anak panah apa untuk panah binatang buruan,
saya belum pernah memberikan daging binatang buruan kepada keluarga
saudara ipar laki-laki kawin tukar, suami saya selalu pulang tanpa hasil binatang
buruan, gagang anak panah suami saya amat lemah, kata saudara ipar perempuan
kawin tukar kepada Mopon. Amati saudara ipar laki-laki kawin tukarmu pakai
anak panah apa, seru isteri saudara ipar lali-laki kawin tukar Mopon kepada
suaminya. Mopon sembunyikan busur-panahnya dalam rongga batang sagu,
busur-panah dari batang papo yang dibawa pulang ke rumah, dan mata panahmata
panahnya dilumuri dengan darah binatang buruan. Hari berikutnya saudara
ipar laki-laki kawin tukar diajak Mopon berburu babi di gubuk intaian babi,
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 103
saudara ipar laki-laki kawin tukarnya seolah-olah mengantuk, Mopon dengan
amat hati-hati berdiri, mengambil bulan dari dalam noken, saudara ipar laki-laki
kawin tukar mengikuti Mopon dalam kegelapan malam, mendekat ke tempat
gubuk intaian babi Mopon, terang benderang, selama ini saudara ipar laki-lakilaki
kawin tukar membohongi saya, kata saudara ipar laki-laki kawin tukar
Mopon dalam hati, Mopon meletakkan bulan di atas puncak pohon, dalalam
cahaya sinar bulan melangkah, busur-panah dikeluarkannya dari dalam rongga
batang sagu, dan panah banyak babi, burung-burung mambruk, burung-burung
lain, dan kuskus-kuskus kecil, Mopon pulang ke rumah, saudara ipar laki-laki
kawin tukarnya sudah pulang lebih duluan, Mopon membawa pulang daging
binatang buruan, dan malam itu terang oleh bulan yang turut dibawa pulang ke
rumah oleh Mopon. Barangkali Mopon pakai mantera, tanya saudara ipar
perempuan kawin tukar kepada suaminya, saya pakai obor, jawab Mopon, kita
sudah coba berulang-ulang, namun, selalu gagal, babi-babi, burung-burung
mambruk, dan burung-burung lain lari ketakutan. Ambil babi, perhatikan
tandanya, saya tanah tongkat kayu, di atas tongkat kayu itu saya gantung kuskus,
ambil dan bawa pulang ke rumah, seru Mopon kepada saudara ipar laki-laki
kawin tukarnya, binatang buruan dibawa pulang ke rumah, daging diasar di atas
para-para dengan panas bara api, daging babi dan kuskus dipotong menjadi
bagian-bagian kecil oleh saudara ipar laki-laki kawin tukar Mopon sampai
tuntas. Saudara ipar laki-laki kawin tukar, saya telah mengamati saudara ipar
laki-laki kawin tukar menggunakan barang penghasil cahaya seperti obor, mata
saya silau oleh cahaya itu, cahayanya bagus sekali, komentar saudara ipar lakilaki
kawin tukar Mopon, saya gunakan obor jawab Mopon, bagaimana saudara
ipar laki-laki kawin tukar gunakan anak panah papo ini, selidik saudara ipar lakilaki
kawin tukar Mopon, Mopon marah, ambil busur-panah, panah saudara ipar
laki-laki kawin tukarnya, bukan saudara ipar laki-laki kawin tukar yang buat
anak panah itu, sambung Mopon, saudara ipar laki-laki kawin tukar Mopon balas
panah, anak panah kena kulit Mopon, Mopon menyingkir ke hutan, Mopon
keluar dari hutan, membawa pulang seberkas anak panah dari dalam hutan,
dibagi-bagikan anak panah-anak panah itu kepada kaum laki-laki di kampung,
kakak saudara ipar laki-laki kawin tukar telah membohongi kami, kata kaum
laki-laki di kampung itu, kau yang dapat saya, kata Mopon kepada saudara ipar
laki-laki kawin tukarnya, Mopon keluarkan bulan dari dalam noken,
pembungkusnya dibuang, lari dengan bulan, lempar barang itu ke mari ke pohon
sukun, panggil Joqoi kepada Mopon yang sedang membawa lari bulan,
dilemparnya bulan kepada Joqoi, bulan panjat pohon sukun, ke puncak pohon,
berdiam di sana, Joqoi di sebelah bawah pohon sukun, tiba-tiba Joqoi ditutupi
banyak bulu burung, Joqoi teriak, amanat Mopon, namaku akan disebut di manamana,
orang akan memanggil-manggilku dengan kata-kata Mopon kau telah
menciptakan bulan, tolong lemparkan bulan itu ke atas puncak pohon sukun,
Joqoi angkat awan sambil berkata, makin tinggi, makin tinggi, lagi, lebih tinggi,
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 104
ke atas, ke atas, bulan memandang ke bawah, seolah-olah memandang ke dalam
sebuah lubang dalam sambil berkata, namaku akan disebut di mana-mana dan
orang akan manceriterakan kisahku. Mopon beramanat, saya telah ciptakan
bulan agar jangan hanya matahari saja yang berada di sana sendirian, mengingat
bumi gelap, saya menciptakan bulan, akan ada gelap, akan tetapi akan mendapat
terang sinar bulan. Orang-orang memanggil di sana dia, dia indah. Kau harus
terlihat di arah barah barat dan keluar dari sana, dan bertahan saat kau terlihat di
arah timur, nampaknya kau akan mati, dan kaum perempuan akan mengalami
datang bulan.
Ikape seorang informan dari kampung Toba menceriterakan kepada Boelaars
1981 kisah bulan dan matahari. Diam-diam bulan makan daging binatang buruan
milik matahari, saat itu matahari sedang periksa sero di sungai, pulang ke rumah,
daging tidak didapatinya, habis, siapa yang makan daging binatang buruanku,
juga tembakauku hilang, tanya matahari, kemudian matahari pergi ke kebun,
noken diisi pisang, umbi-umbian, dan sayur-sayuran, akan saya iris orang itu
dengan pisau bambu, kata matahari, bambu ditajamkan, kulit bambu dikerat
dengan giginya. Bulan menyelinap ke dalam rumah matahari untuk mencuri,
diam-diam matahari datang, bulan sedang duduk makan daging babi, bunyi
tulang babi kunyahan terdengar matahari, orang ini yang makan makananku,
kata matahari, bulan kaget, lari, masuk hutan, takut matahari, bulan pincang,
salah satu kakinya putus oleh pisau bambu, wajahnya berubah, dan sembur
darah. Saudara ipar laki-laki kawin tukar, saya terangkat, saya ini bulan, kata
bulan. Saya bersinar di siang hari dan panas, amanat matahari, saya bersinar di
malam hari dan dingin, amanat bulan.
Ada lagi kisah matahari dan bulan yang diceriterakan oleh para informen di Kepi
kepada Boelaars. Kamo dan Tapaq sedang menangkap ikan, Tapaq panah ikan
satu ekor ikan mimbak, ikan mimbak itu hanyut dengan anak panah milik Tapaq
ke arah Kamo, ikan mimbak dan anak panah diambil Kamo, Tapaq pulang
duluan ke rumah, Kamo menyusul, orang ini ambil anak panah dan ikanku
dalam air, risau Tapaq, bukan seperti apa yang saudara pikirkan mengenaiku,
ujar Kamo. Tapaq diam, marah karena anak panah dan ikannya diambil Kamo.
Besok kita pergi lagi tangkap ikan, besok kau akan kutunjukkan kalau hari ini
kau temukan anak panahku, ajak Tapaq kepada Kamo. Pagi hari berikutnya
keduanya pergi tangkap ikan. Ini anak panak panah untuk panah megapode hens
(ipaqa), yang satu ini untuk panah ikan, yang satu ini untuk panah kuskus, yang
satu ini untuk panah burung mambruk, yang satu ini untuk panah grouse (oaks),
dan yang satu ini untuk panah burung merpati hutan. Ditunjukkan anak panah
untuk panah babi, untuk panah kasuari, dan untuk panah manusia. Ditunjukkan
juga jenis-jenis tombak untuk bunuh manusia, berturut-turut qoqom, tikem,
qaimon, migit, dan embokende. Pisang-pisang ini dimakan bila masak tanpa
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 105
harus dibakar, ini tebu jangan bakar di api, ini qamank dimakan bersama garam
dari abu umbut pohon sagu, ini umbi iroqo dibakar di api, semuanya telah
kutunjukkan kepadamu, datang, masuk ke dalam rumah, dan ambil busur dan
anak panah-anak panah yang sudah kubuat. Kamo masuk ke dalam rumah,
Tapaq tutup pintu, pintu dipalang, Tapaq bakar rumah, dan Kamo terjebak dalam
rumah. Saudara ipar laki-laki kawin tukar jadilah kau kura-kura (aqao) dengan
dua kaki dan dua tangan, akan saya gemukkan kau, amanat Kamo.
Bagaimanapun, jadilah kau bulan, bersinarlah terang dan dingin, amanat Tapaq.
Kau di kala siang, kau panas, bersinar terang di siang hari, lanjut amanat Kamo.
Mereka akan meletakkan kau dekat gubuk intaian babi di dusun sagu, hari ini
kau ambil anak panahku, pergi, dan berdiri di sana, lanjut amanat Tapaq.
3.3.2. Legenda Jagandi
Menurut Boelaars 1981, bahwa Jagandi meninggalkan Wown di bawah pohon
beringin, sedang memanah burung, adik laki-lakinya mengamatinya dari bawah
pohon, anak panahnya terpanah jauh, jatuh di dalam dusun sagu, Jagandi
pandang lewat robekan daun tempat anak panah tembus, melihat dua dua orang
perempuan muda sedang tokok sagu, Jagandi pergi ambil anak panah itu,
perempuan yang lebih muda maju agak jauh, terlihat ada anak panah,
disembunyikannya anak panah itu dalam daun pohon, barangkali kakak
perempuan dapat anak panah sayakah, tanya Jagandi kepada perempuan yang
lebih muda itu, ada ini, jawab perempuan itu, betulkah, tanya Jagandi, dan betul
kata perempuan itu. Perempuan muda itu menyebut keduanya Joqown-oh,
Jagandi-oh, bagaimana mungkin keduanya tahu nama kami dua, kedua laki-laki
itu bersembunyi, kedua laki-laki mendengar bunyi kulit pohon sagu, Jagandi
mengamati ujung pelepah sagu tempat kedua perempuan itu tokok sagu, dia
berdiri di salah satu ujungnya, kedua perempuan itu merangkulnya, duluan saya
kata perempuan yang lebih tua, duluan saya kata perempuan yang lebih muda,
duluan saya kata yang lebih tua, duluan saya, Jagandi mulai dengan yang lebih
tua, bersihkan diri, dan bercinta dengan dia, kemudian yang lebih muda, kedua
perempuan itu membawa pulang sagu ke rumah, daun sagu digunakan gubuk,
Jagandi ditutup dengan daun pohon, menjelang senja ketiganya pulang ke
kampung, terdengar suara gemuruh di kampung, Jagandi diletakan dalam
bungkusan daun, dibawa masuk ke dalam rumah, disandarkan ke dinding,
burung-burung hasil tangkapan Jagandi dicabuti bulunya agar tidak tercium oleh
para perempuan yang lain, malam hari Jagandi yang terbungkus dibuka, burungburung
dibakar, bau daging burung bakaran sempat tercium oleh seorang
perempuan tua, minta sedikitkah, tanya perempuan tua itu, kedua perempuan
muda itu tertawa, telah melihat Jagandi, kata perempuan tua itu seorang laki-laki
berambut panjang, menjelang fajar Jagandi keluar rumah, para perempuan lain
mempermalukannya, kedua perempuan itu nampaknya punya anak, sepanjang
malam keduanya bercinta dengan dia, kedua perempuan itu merajut ro, gelang
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 106
tangan, dan mengambil ulat sagu. Timbunan ulat sagu tinggi, dimuat dalam
keranjang, Jagandi pergi, para perempuan lain membuat jalan dari rumah ke
sungai ke sekitar Arum ke pelabuhan. Anak-anak Jagandi yang dilahirkan oleh
anjing betina menemui Jagandi ayahnya di pelabuhan, disuruhnya anak-anak itu
pulang, Jagandi meninggalkan sagu grubs dalam kano, pulang ke kampung,
pikul dayung, dan masuk ke rumah laki-laki, menjelang malam menyuruh orangorangnya
mengambilkan gelang tangan, sagu grubs, dan celana rumbai-rumbai,
sago grubs dibaginya di antara para orang laki-laki menurut kontribusi para
perempuan, gelang tangan dipamerkan, orang-orang laki-laki mencoba pakai
gelang-gelang tangan itu, saya pilih perempuan yang membuat gelang tangan ini
jika gelang tangan cocok dengan lengan laki-laki yang mencobanya, para lakilaki
yang lain hati-hati memperhatikan jangan sampai para isteri anjingnya
memperhatikan mereka, para laki-laki itu menghias diri dengan bulu-bulu
burung nuri, kerang-kerang, memegang kapak, busur-panah, dan membawanya
ke rumah laki-laki. Kano-kano dipersiapkan, kano-kano lama dipotong panggalpanggal,
mereka menyuruh anak-anak laki-laki besar ke rumah laki-laki, anakanak
gadis anjing, para laki-laki tunggu hingga para perempuan lelap tertidur,
anak-anak laki-laki naik kano, hati-hati agar kano tidak bunyi oleh kayuhan
dayung dikhawatirkan anak-anak menangis, Jagandi, apakah sudah pilih
perempuan cantik untuk saya, tanya, mereka, Jagandi berjalan di depan, anakanak
menanyakan ke mana para ayahnya pergi ketika kano-kano sudah berada di
tengah sungai, anak-anak meratap, ayah, ayah, ayah, memberitahukan para
ibunya perihal ketiadaan para ayah anak-anak itu, para isteri ke rumah laki-laki,
tidak ditemukan satu orang suami pun, pintu rumah laki-laki tertutup, mereka
mulai teriak, mencari kano, kano-kano yang sudah dihancurkan oleh para
suaminya tenggelam, para isteri anjing berusaha membendung sungai, endapan
sungai naik, hingga kini terbentuk pulau-pulau di tengah sungai, para suami tiba
di pelabuhan Arum, Jagandi menuntun jalan ke kampung Makede, para laki-laki
teriakan pekik, para perempuan berhamburan ke luar, setiap perempuan memilih
pasangannya, dan ini gelang tangan buatanku, kata setiap perempuan mengenali
gelang tangan buatannya sebagai tanda pertunanganan yang dipakai oleh para
calon suami mereka itu. Para isteri anjing tenggelam di sungai dekat Wown,
tinggal di situ untuk selamanya, dan salah satu di antara para suami itu
membawa pergi isteri anjingnya pergi ke kampung Togom di Sungai Pore. Para
isteri baru itu disuruh Jagandi untuk membersihkan genital ke sungai, kembali
ke rumah mereka melakukan coitus, babi-babi yang bersama para perempuan itu
tinggal diusir masuk hutan, babi-babi mencium bau badan laki-laki, menjerit,
hendak bercinta dengan para perempuan itu, para laki-laki muncul di pintu,
panah dilepaskan Jagandi, para laki-laki yang lain menyusul melepaskan anak
panah, ada babi yang mati kena panah, dan yang tidak dapat memanah tepat
mengejar babi-babi itu, Joqown buru babi, panggil saya di hutan sagu dengan
kata-kata ini Joqown apakah kau di depan dan saya di belakangmu, para laki-laki
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 107
itu beranak cucu di Uruwe dan berkumpul di Tamaqae, Jagandi sebarkan
manusia ke empat penjuru mata angin, tanah, tanah hutan kayu besi, arus kuat di
sana, amanatnya, dan dari Tamaqae mereka pergi berkumpul di bukit Qajno.
3.3.3. Legenda Taemenu
Menurut Boelaars 1981, bahwa Taemenu isteri seorang pemburu ulung. Siapa
yang buang barang-barang ini, tanya Taemenu menyaksikan ada jeroan babi,
kasuari, dan binatang lain hanyut di sungai di antara rumput-rumput rawa, di
mana orangnya. Hendak pergi, pohon nipah menghalanginya, Taemenu
menyusuri tepi sungai, anak perempuannya memukul-mukul nipah dengan
tongkat, keduanya berjalan sepanjang hari, malam tiba, dan keduanya tidur. Pagi
harinya lanjutkan perjalanan, dayung kano, putar tanjung, tiba di Tapari,
memandang asap api, itu barangkali mereka yang buang jeroan binatang itu, bau
daging dapat mereka cium dari sini, ujar anak perempuan, kedengaran suara
orang bicara, tengah malam suara itu berhenti, obat disisipkan ke sepotong kayu,
dan suami pergi tidur setelah merokok. Isteri kedua tidur tidur jauh di sudut
rumah, isteri pertamanya tidur dengan suami, dan punya dua anak. Taemenu
berkayuh kano menuju suami, melihat dua kano, satu kano untuk isteri pertama
dan suami, dan satu kano lagi untuk isteri kedua. Saya yang keluar duluan, ujar
Taemenu kepada anaknya, menuju ke tepi sungai, menuju ke rumah, dilihanya
banyak daging asapan di atas para-para pengasapan, obat digunakan untuk
mantera dan mengambil hati suami, masuk ke dalam rumah, sentuh kaki suami
untuk mengetahui apakah suami lelap tidur, kembali kepada anaknya,
diberitahukan bahwa laki-laki itu tidur, kepalanya dibaringkan di pintu tengah,
salah seorang anak perempuannya masukkan tangan di bawahnya, ibunya juga
begitu, diangkatnya, dan dimasukkan ke dalam kano. Daun tembakau suami
dibawa serta, juga gulungan tembakau, busur dan panahnya dimuat ke dalam
kano, dipasang api di haluan kano, berkayuh sepanjang malam, pulang, memuat
kayu bakar di Uwa, dan tidur suaminya seperti di rumah. Kita bertolak, kita
bertolak, seru ibunya, suami bergerak di Tikomqaqae, gerakan tangannya,
menyentuh bagian tengah kano, yang dikiranya menyentuh dinding rumah.
Rumah rusak, ujarnya, tangan sebelah digerakkan, buka mata, menerawang
bintang di langit, tikar diangkat, bertanya kepada Taemenu, siapa kamu, saya
Taemenu kata Taemenu, saya masukkan kamu ke dalam kano, ditatapnya
Taemenu, cantik, ditatapnya anaknya, cantik, menoleh kepada yang tua, cantik
juga, dan menebar senyum kepadanya. Kedua isteri saya dan anak-anak saya
tidak bersama kami, tanya suami, keduanya tertinggal, jawab keduanya, ia
sejenak terdiam, dan pipa rokok saya, tanya suami, ada bersama busurpanahnya,
jawab Taemenu. Laki-laki itu rindu rumah. Kedua isteri dan anak
laki-laki saya yang pertama kamu tidak bawa, tanya suami, dia tidur dengan
ibunya, jawab keduanya, lupakan kedua isterimu, jawab Taemenu, arah kano ke
Joda, bermalam, perjalanan dilanjutkan, dan jalan kaki ke kampungnya
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 108
Taemenu. Laki-laki itu bercinta dengan Taemenu, juga dengan anak-anak
perempuan, dan mereka berdiri dekat kampung Joda. Ini yang kau bilang cari
suami, ujar laki-laki itu, mereka masuk ke dalam rumah, anak perempuan yang
tua katakan pada para saudara laki-lakinya, adik-adik laki-laki, saya serahkan
keputusan pada kalian, laki-laki itu sudah bercinta dengan saya, jawab si bungsu,
jadilah suaminya, dan kita juga sudah kawin. Taemenu dan Toqomor tinggal di
Joda, sanak keluarga Taemenu membawa pulang daging, laki-laki itu pergi
berburu, membawa pulang daging binatang buruan, dan para karabat iparnya
datang, babi-babi, dan kasuari-kasuari dibunuh, pulang ke kampung membawa
pulang daging, dan daging-daging binatang buruan dibagikan kepada para
kerabat di kampung.
3.3.4. Cerita Rakyat tentang “Laki-laki Ajaib dari Boven Digul”
Menurut Boelaars 1981, bahwa Ajre seorang laki-laki ajaib dari Sungai Kao di
Negeri Muyu, berlayar sepanjang Sungai Digul, berdagang ke Negeri Yaghay,
kawin dengan gadis Yaghay, dan mengajarkan banyak keterampilan pada orang
Yaghay. Tidak enak Ajre menyaksikan ulat-ulat di atas atap rumah, jelek untuk
manusia, rumah didirikan, orang Jaghay diajar membangun rumah sehat, cara
merangkai atap dari daun sagu diajarkan kepada para perempuan, dan para
sahabatnya orang-orang Yaghay dipersilahkan masuk merasakan kenyamanan
rumah itu setelah selesai dibangun. Kampung-kampung lain sudah belajar cara
saya membangun rumah, atap kulit babi diganti dengan atap daun sagu, saya
diminta kampung-kampung lain untuk mengajari mereka cara membangun
rumah, tetapi saya sayang kamu, saya ajar kamu cara membangun rumah seperti
ini, kamu sudah serahkan satu orang perempuan isteri saya itu. Dia cari kayu
bakar, dan kulit kayu untuk alas lantai rumah. Dengan seorang temannya masuk
ke dusun temannya, pasang sero di bagian sungai yang dasarnya berpasir,
temannya pulang, dia naik ke hulu sungai yang menyempit, duduk, kulit tangan,
kaki, dan tubuhnya dibuka dengan pisau bambu, pertama kapak batu jatuh dari
anusnya ke dalam air, terguling ke dalam air, gawat, sero bisa rusak, timbul
buih-buih saat tubuhnya digoyang-goyang, kapak-kapak batu berguguran dari
tulang rusuk, punggung, kaki, dan tangannya, kapak-kapak batu hanyut
tersangkut ke sero, lainnya hanyut ke hulu sungai, juga hanyut turun mengikuti
arus ke hilir sungai, tersangkut masuk sero bersama ikan-ikan, Ajre berdiri di
tepi sungai, puas karena kapak-kapak batu sudah keluar terlepas dari dalam
tubuhnya, ada kotoran hanyut ke sero, jangan bergerak, mereka telah
menyerahkan seorang perempuan kepada saya, saya pasang sero di dusun ipar
saya, hardiknya kepada kotoran itu, kotoran itu diam, diambilkan hiasan tubuh di
tempat berlabuhnya, kerang besar dikalungkan ke pinggang, kerang lain
dipasang ke lubang hidung yang teriris, kulit burung kakak tua dipasang di
kepala, dan pinggangnya dikalungkan ikat pinggang rambut manusia. Pulang
rumah para kerabat periparannya menatapnya, ayah dari mana orang itu datang
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 109
kepada kami, tanya isteri Ajre kepada ayahnya, itu dia suamimu jawab ayah
isteri Ajre kepada anak perempuannya, Ajre masuk rumah, mengapa pakai
semua tanda-tanda kebesaran itu menantuku, tanya mertua laki-laki kepada Ajre,
karena beliau pergi ke tempat yang beliau pijak, kapak-kapak batu ada di sana,
sudah saya lahirkan, jawab Ajre, mari kita santap menantu, ujar mertua, kita mau
lihat sero, mari kita makan, minum, merokok, lanjut mertua, air teraduk ketika
mereka sampai di pelabuhan takut kerabatnya, dia ini mertuaku, yang telah
menyerahkan anak perempuannya, ujar Ajre kepada air yang teraduk itu, lihat
mertua, air teraduk, lanjut Ajre kepada mertuanya, kapak-kapak batu kamu
pindah ke hulu sungai, ipar-ipar saya datang, perintah Ajre kepada kapak-kapak
batu itu, dan kapak batu itu kembali ke tempat penyimpanannya. Mereka
berkano ke tempat kapak-kapak batu itu, kano diisi kapak-kapak batu dan ikankan,
dimasukkan ke dalam keranjang, kapak-kapak batu keranjang tersendiri,
ikan-ikan keranjang tersendiri, pulang ke rumah, ikan-ikan diasap, kapak-kapak
batu diasap untuk dikeraskan, Ajre dan isterinya pergi ke kerabat periparannya
keesokan harinya, isteri ceritakan kapak-kapak batu itu kepada para kerabatnya,
orang-orang kampung masuk ke rumah laki-laki saudara laki-laki isteri Ajre,
katanya, adik laki-laki, mari kita pergi, Ajre telah datang pada kami, saya telah
serahkan anak perempuan sulung saya kepadanya, dari mana asal laki-laki itu,
tanya, orang-orang kampung, laki-laki itu datang dari daerah sumber kapak batu
batu di Sungai Kawa (Kao), telah memberikan kepada kami kapak batu, kami
telah menyerahkan adik perempuan saya, jawab, kakak perempuan isteri Ajre,
para laki-laki dan para perempuan datang, kapak batu dicobakan tebang pohon,
menantu saya seorang yang baik, puji, kakak perempuan Ajre. Kakak perempuan
isteri Ajre datang lagi bersama para adik laki-lakinya, masuk ke dalam rumah,
Ajre orang baik itu ada, disapa kakak ipar, mereka duduk, memperhatikan atap
rumah, dia telah menerangkan kepada kami cara membuat rumah ini, kata
mereka yang tinggal bersama Ajre, juga mereka memandangi dinding dari daundaun,
ikan-ikan di asapan tungku itu milikmu, juga ikan-ikan dalam sero, saya
tangkap ikan-ikan itu untukmu, selamat makan, ujar Ajre, mereka makan sagu,
minum air, dan merokok. Kemudian mereka periksa sero ke sungai, sero
terbenam dalam air, saat di pelabuhan, kapak-kapak batu resah dalam air,
mereka ini keluarga isteri saya, mereka telah menyerahkan seorang perempuan
kepada saya, jelas Ajre kepada kapak-kapak batu yang gelisah dalam air itu.
Kapak-kapak batu dilepaskan dari sero, memuatnya ke dalam kano, dan kano
dimuati kapak-kapak batu dan ikan-ikan. Sampai di pelabuhan, ikan-ikan
dikeluarkan dari dalam kano, kapak-kapak batu dikeluarkan, dan masing-masing
diisi ke dalam keranjang, ada jat, bagaraep, dan uj adalah ketiga jenis kapak
batu yang paling bermutu. Keesokan harinya mereka pulang dengan keranjangkeranjang
penuh kapak batu. Dalam mimpi pinggir kapak batumu pecah, jangan
pakai keesokan harinya, ditakutkan kapak batumu patah, bila isterimu baru
melahirkan bayi, jangan angkat kapak batumu, akan patah, bila anda bermalam
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 110
di luar rumah, anda makan babi, bau babi dihilangkan dulu, jangan keluar
rumah, tinggal di dalam rumah, bila anda bunuh buaya, jangan keluar, dan
jangan angkat kapak batu itu, nasehat Ajre tentang pantangan penggunaan
kapak-kapak batu itu. Kano dibuat untuk keluarganya, pohon kayu besar
ditebang, dikeluarkan dari dalam hutan, ditarik melalui air, dan dinaikkan ke
daratan di pemukiman. Dibentuknya haluan kano, tengahnya digali, dan kano
rampung. Dahulu kita gunakan rakit, kemudian kita gunakan kulit pohon sagu
juga kulit pohon lain, dan sekarang dia telah mengajarkan sesuatu yang baru,
komentar, orang-orang kampung. Di manapun anda akan mengalami kematian,
letakkan orang mati dalam kano, buatkan lubang di dasar kano agar cairan dari
daging yang membusuk keluar, ada juga yang kamu kuburkan dalam tanah,
jenazah korban perkelahian dan pengayauan harus diletakkan ke dalam kano,
kamu harus gantung kepala-kepala dari perancah tempat kamu baringkan mereka
dalam kano. Mereka setuju mengayau, pertama mereka selenggarakan pesta
kano baru bersama undangan, daging, ikan, kelapa, dan lain-lain kelengkapan
dihimpun dalam rumah, kemudian mereka berkayuh kano, buah kelapa
dipecahkan, ikan-ikan dibagikan kepada anak-anak, dan mereka bertolak ke
medan perang setelah pekik perang diteriakkan di pelabuhan. Tiba di tempat
musuh yang hendak diperangi, mereka bersembunyi di rawa, berdiri dalam
kano-kano, berlutut perintah Ajre, pada hari berikutnya orang-orang yang
hendak diperangi itu pergi memeriksa sero, diserang, dibunuh, dan kepalakepala
dan tubuh-tubuh korban dimuat dalam kano. Mereka pulang ke kampung,
kedua belah bibir kano ditabuh, mengumandangkan kemenangan, teriakan pekik
perang, para perempuan menari di tepi sungai saat mendengar sorak-sorai
kemenangan itu, para perempuan mengarak para prajurit masuk kampung, namanama
korban yang dibunuh mulai disebut satu per satu, juga nama-nama para
pembunuhnya disebut, dan kepala-kepala korban pengayauan diasap. Saat kamu
serang pihak musuh selalu harus kamu gunakan muslihat dengan sembunyikan
kano-kanomu dalam rumput rawa, nasehat Ajre. Siapkan pesta, bisik Ajre, pesta
disiapkan, tepung sagu dihimpun, babi-babi dibunuh, para tamu diundangan,
gelang tangan dikenakan, pisau-pisau bambu dihiasi dengan hikmat, atribut
kehormatan didistribusikan, para panglima dikenakan sabuk rambut manusia di
pinggang, yang lain dikalungkan pisau bambu terukir di leher, yang lain
salawaku terukir, dan yang lain untaian gigi anjing. Mereka menari, kepala
anak-anak dibasahi, sejumput rambut anak-anak dipotong dengan pisau bambu,
kepada anak-anak itu diserahkan dekorasi dari anyaman daun sagu, babi-babi
dibunuh dalam kandang dan juga yang berkeliaran oleh para undangan sebagai
kehormatan, sebuah pohon ditanam Ajre, katanya, ikatkan kaki-kaki babi-babi
itu di pohon itu, banyak babi dipanah dan dibunuh, babi-babi diletakan di atas
para-para, gemuk babi digantung pada gantungan untuk para undangan
perempuan, daging babi dibagi-bagikan kepada para keluarga dan undangan, dan
gemuk babi pada mata panah diberikan kepada para undangan perempuan. Para
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 111
undangan pulang ke rumahnya masing-masing pada keesokan harinya,
membawa daging babi dan tepung sagu, menyanyikan kisah pengayauan di
negeri musuh, diserang musuh di perjalanan sebagai balas dendam, pihak musuh
selenggarakan pesta kemenangan seperti yang baru diselenggarakan oleh kaum
kerabat periparan Ajre, di hulu sungai Ajre menetap, dan dia tinggal di sana.
4. SAUDARA KEMBAR DARI EDERA (ORANG AWYU)
Orang Awyu mendiami tepi barat Muara Digul tetangga dekat Yaghay, termasuk
masyarakat pemakan sagu, tersebar luas di Tepi Barat Sungai Digul, terdiri dari
beberapa kelompok teritorial yaitu Awyu Laut di Edera, dan Awyu Darat di
Assue-Gondu, Jair di Getentiri, dan Sawi di Kronkel. Dunia Awyu adalah sebuah
perjalanan dari bawah ke atas oleh pesona panggilan Matahari yang hampir
menyerupai penyingkapan rahasia laki-laki dan perempuan, saat mata
perempuan memandangi pohon Hapgon menyaksikan Burung Wangire
menghisap sari pohon Hapgon saat itu terbuka sebuah cakrawala kehidupan
untuk meraih harapan oleh panggilan Matahari, anjing kembali ke bawah pohon
hapgon, orang Awyu mendengarkan Matahari, tampil seorang nabi, dan datang
air bah, sisa keturunan yang selamat dari air bah itu berkembang, tampil seorang
nabi lagi, tidak diacuhkan nasehatnya, dibunuh, tubuhnya menambah populasi
orang Awyu, tubuhnya yang lain membawa perpisahan dan persebaran orang
Awyu ke Digul Atas, tubuh yang lain diambil burung cenderawasih dan burung
tahaisam, tubuh yang lain masuk ke dalam awan, ketika orang Awyu sampai ke
Sungai Kao di Negeri Muyu bahasanya berubah membentuk berbagai dialek
yang diujarkannya, dan orang Sawi menetap di Sungai Sumdup.
Humasumur adalah nama sebuah keluarga Awyu, tinggal di dalam bumi,
Humasumur juga nama suami, bersama beberapa orang anak, hidup
bahagia, setiap tahun isteri melahirkan anak-anak hingga anak-anak
menjadi banyak, suatu hari datang musibah, datang seekor binatang besar
hendak sergap anak-anak Humasumur, saat itu isterinya sedang hamil tua,
Humasumur juga jadi bingung, bagaimana melawan bintang yang tidak
mungkin dilawan, anak-anak dikumpulkan bersama isterinya,
Hamusumur lari ke sana ke mari mencari jalan keluar ke bumi,
didapainya sebuah lubang lewat pohon, anak-anaknya dikeluarkan lewat
lubang itu, perut isteri terlalu besar, dicobanya berulang-ulang
mengeluarkan isterinya lewat lubang itu, Hamusumur putus asa, apa yang
harus diperbuatnya, anak-anak yang di luar sudah ribut, yang lain
menangis, yang lain minta makan, ada yang memperhatikan ayahnya
yang sedang berusaha mengeluarkan ibu anak-anak itu dari dalam lubang,
biarkan aku sendirian tinggal di dalam bumi, jaga anak-anak kita,
bimbing dan hidupi mereka, hanya satu pesanku yang harus kau ingat,
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 112
kau laksanakan sebagai bukti cintamu kepadaku Hamusumur, siapapun
yang mati duluan, jenazahnya harus dikubur, sekarang lebih baik kau
keluar, jaga dan hidupi anak-anak kita, selamat jalan sampai jumpa lagi
dalam bumi ini, amanat istrinya, dan betapa hancur hati Humasumur
meninggalkan isteri tercinta.
Jaman dahulu orang Awyu hanya makan daun-daun pohon, buah-buahan,
dan umbi-umbian, keluarga Yodobak bernasib baik, isteri cantik, ramah,
saleh, Yodobak amat menyayangi isterinya, suatu malam bulan terang,
Yodobak berburu binatang buruan, isteri juga ikut, kepergiannya selama
dua hari, seekor binatang buruanpun tidak ditangkapnya, nasib sial,
barangkali nasib sial itu cobaan roh leluhur, barangkali juga gangguan
roh-roh jahat pikir keduanya, coba lagi malam ini Yodobak, kita berburu
lagi, barangkali dapat satu ekorkah, ajak isterinya, bulan terang, Yodobak
berburu masuk hutan, isteri bersama anak-anaknya tinggal di bevak di
tepi sungai, larut malam, suami belum tiba, isteri yang terjaga tertidur
pulas, isterinya bermimpi sesuatu, terbangun isterinya teringat mimpi
hingga Yodobak pulang, sialan lagi, tanpa seekor binatang buruan, saya
tahu perasaanmu Yodobak, biar saja, jangan susah hati, sekarang saya lagi
yang cari makan, bawa anak-anak pulang ke kampung, jangan menyusul,
saya tidak akan kembali sebelum mendapat bekal yang dijanjikan para
leluhur kita, tekad isterinya, setelah itu isteri Yodobak masuk hutan tanpa
berpang sedikitpun kepada suami dan anak-anaknya, berhari-hari,
berminggu-minggu suami dan anak-anak tercinta menantinya, suatu hati
isteri tiba ke rumah dengan banyak hasil hutan, jangan sentuh barangbarang
ini, takut kita dikutuk roh leluhur, ujar isterinya sambil
meletakkan barang-barang bawaannya, Yodobak menuruti peringatan
isterinya, sejak itu meraka tak kekurangan makanan lagi, Yodobak sendiri
heran atas perubahan nasib keluarganya itu, dari mana isteri saya dapat
makanan yang rasanya seperti ubi namun halus dan kenyal, makan
limpah, ada ubi, ada buah-buah, ada daun-daun, ada daging, ada ikan,
enak lagi, saya tidak tahu apa namanya, mengapa isteri saya merahasiakan
semuanya itu terhadap saya, meraba juga tidak boleh, itu pertanyaan yang
menantang Yodobak, suatu ketika isterinya pergi ke sungai dengan pesan
kepada anak-anaknya agar jangan sekali-kali meraba atau membuka
bungkusan yang didapatnya dahulu, isterinya belum juga kembali, hari
telah tinggi, ingin tahu Yobak memuncak, pelan-pelan mendekat ke
barang larangan isterinya itu, dibukanya bungkusan itu, nampak isinya
seperti warna ubi yang telah dikupas, ada beberapa potong, dicicipinya,
manis rasanya, barang ini yang membuat saya dan anak-anak kenyang,
ISSN: 1693-2099
ANTROPOLOGI PAPUA, Vol. 2 No. 4, Agustus 2003 113
untung, dari mana isteri saya dapat barang ini, belum habis pikir
Yodobak, astaga isteri muncul, menangislah isterinya, manusia harus
bekerja keras untuk mendapat kelimpahan makanan, ini kesalahanmu
Yodobak, mulai sekarang kita harus kerja keras untuk menghidupi anakanak
kita, kesal isterinya, setelah mengakhiri ujaran kekesalan itu,
isterinya seperti kerasukan roh jahat, barang itu dipungut, dihamburkan ke
sana ke mari sambil berkata, semoga barang ini tumbuh banyak menjadi
makanan anak cucumu, amanat isterinya, isteri mati, tak sadarkan diri,
meninggal, sedih Yodobak ditinggal sang isteri untuk selamanya, setiap
hari Yodobak kerja keras untuk mendapat makanan seperti yang
diamanatkan isterinya, di kana kiri kampung itu tumbuh pohon-pohon
besar seperti pohon-pohon kelapa, berkembang biak pohon-pohon itu
hampir ke setiap rawa, dimanfaatkan juga oleh orang-orang kampung, dan
menjadi makanan pokok orang Awyu.
DAFTAR PUSTAKA
J.H.M.C. Boelaars, m s c. 1981. Head-Hunters About Themselves An
Ethnographic Report from Irian Jaya, Indonesia, KITLV, The Hague-Martinus
Nijhoff.
Jan Boelaars. 1986. Manusia Irian, Dahulu, Sekarang dan Akan Datang.
Jakarta, PT Gramedia.
Jan Boelaars. 1958. Papoea’s aan de Mappi dalam De Fontein, Utrecht.