Wednesday, 19 January 2011

Mayat

Mayat

Oleh: Putu Wijaya




Mayat itu mengeluh.

“Aku yang mati. Aku yang terdera. Aku yang menjadi korban. Aku menderita. Aku yang sudah kesakitan. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku diberitakan, diperdebatkan, dipergunjingkan, diselidiki dan dipakai sebagai contoh, sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan, analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini, sehingga mereka menjadi terkenal, terkemuka, memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apa-apa. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil!”

Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia.

“Peradaban sudah merosot. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran, tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Semua orang berdagang. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan, saling bergotong-royong, tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Kehidupan sudah rusak. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra,“ kata mayat itu.

Ia berdiri di pinggir jalan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan, kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan.

“Aku yang mati, kamu yang enak. Aku yang kejepit, kamu yang melejit. Kamu semua kelihatan saja menangis, meringis, tapi sebetulnya kamu semua tertawa, kamu terus hidup ngakak. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Air matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih, menciptakan esai-esai, elegi-elegi, balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!”

Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar, menutupi hidungnya, mengangkat bahu dan menunjuk atasannya.

“Tanya Bapak, aku kan hanya menjalankan assignment.”

Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu.

Akhirnya sekretaris redaksi, terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Sama-sama wanita, mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik.

“Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. Kalau memang ada yang salah, meskipun kami sudah sangat berhati-hati, kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana,” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya.

Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Seperti bendungan ambrol, ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. Apa saja yang sudah menyakitkan, apa saja yang sudah menyinggung, semua yang tidak adil, seluruh ketidak-benaran, kesalahkaprahan, bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari, ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Ia menguras seluruh dendam, luka, prasangka dan kesakitannya.
Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Komputer penuh dengan kata-kata kotor. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Moral, susila, tata krama, kepatutan, keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka, untuk membungkus kebiadaban.

“Semuanya busuk,” erang mayat itu. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik, untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer.

Sekretaris panik. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya, telepon berbunyi. “Biarkan saja, dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri.”

“Tapi kursinya rusak, Pak. Itu kan baru dibeli. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer.”

“Biar saja. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Ini justru bagus untuk publikasi kita!”

Sekretaris bengong. Mayat itu berdiri, karena mencabik kursi itu, juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Sekretaris menutup matanya, lalu lari keluar.

Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Di antaranya ada gambar garuda. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya, ia kembali ke kursi. Di situ ia menangis tersedu-sedu.

Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut, hati dan otaknya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Seperti balon kempes, ia menggepeng di atas kursi. Nampak begitu lelah namun damai.

Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Minuman panas, air dingin untuk penyegar. Mungkin juga makanan, semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur.

Mayat itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.

Penjaga kantor itu mengerti. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu, ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Ia berdecak-decak kagum. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat.

“Kamu mengerti?”

“Ya, saya mengerti sekali.”

“Kamu bisa merasakan.”

“Kenapa tidak? Jelas sekali.”

“Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?”

“Tidak. Itu memang benar.”

Mayat itu menjadi amat girang, menemukan untuk pertama kalinya, orang yang mampu memahami segala tuntutannya.

“Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?”

“Saya percaya.”

Mayat itu mengulurkan tangannya. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Keduanya berjabatan tangan, seperti orang yang mau bersekongkol. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Mayat itu terkejut.

“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?”

“Tidak.”

“Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?”

“Ya memang begini keadaannya?”

“Tapi kenapa?”

“Karena inilah hidup saya.”

Mayat itu terkejut. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu, ia hampir terpekik. Karena di kedua mata nampak ruang kosong.

“Astaga kamu tidak punya mata lagi?”

“Tidak.”

“Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?”

“Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.”

“Kenapa?”

“Karena itu kewajiban saya.”

Mayat itu bergidik. Bulu kuduknya meremang.

“Apa lagi kewajiban kamu?”

“Semuanya!”

Mayat itu tercengang.

“Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!”

“Ya memang.”

“Apa? Kamu budak?”

“Betul. Saya budak.”

“Budak apa? Budak siapa?”

“Budak segala-galanya. Saya budak komplit.”

Mayat itu bingung. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Tak puas hanya melihat, ia lalu menyentuh, kemudian meraba-raba, selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.

“Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Daging kamu bonyok!”

“Memang!”

“Bukan cuma itu, aku jadi curiga, jangan-jangan kamu, maaf boleh aku kobok sekali lagi?”

“Silakan.”

Mayat itu mendekat, lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.

“Ya Tuhan, kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.”

“Memang begitu.”

“Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?”

“Betul.”

“Edan!”

“Ya. Jangankan perasaan dan pikiran. Apa pun saya tidak punya. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. Maaf ya... .”

Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Mayat itu menggigil. Orang itu memang sudah dikebiri total. Seluruh kemaluannya, termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. Ia tak punya segala-galanya.

“Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. Apa kamu bukan manusia?”

“Saya manusia.”

“Apa kamu sakti?”

“Tidak!”

“Lha kenapa kamu bisa hidup?”

“Ya begitulah. Saya harus hidup, meskipun tidak punya semua itu lagi.”

“Tidak mungkin!”

“Memang tidak mungkin, tetapi apa boleh buat, wong ini harus, kok. Ini kewajiban saya.”

Mayat itu berpikir keras. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Siapa sih sebenarnya kamu?”

“Boleh panggil saya siapa saja, saya tidak pilih-pilih nama. Terserah orang, suka manggil saya apa saja, silahkan, saya manut-manut saja.”

“Itu namanya pasrah. Apa kamu orang Jawa?”

Penjaga malam itu berpikir.

“Nah sekarang kamu berpikir!”

“Bukan begitu. Saya memang telmi, telat mikir.”

“Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Gaji kamu berapa sih. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Berapa?”

“Tiga puluh.”

“Tiga puluh juta?”

“Bukan tiga puluh saja.”

“Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?”

“Ya.”

“Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?”

“Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Bukan hanya saya yang harus hidup. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.”

Mayat itu ternganga. Ia pelan-pelan duduk kembali. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Pasti penjaga malam itu korupsi.

“Kamu pasti korupsi?”

“Tidak, Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.”

“Kalau begitu kamu ngobyek!”

“Terserah, Pak.”

“Kamu korupsi!”

“Apa itu korupsi, Pak?”

“Jelas!”

“Ya sudah.”

Mayat itu termenung. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.

"Kamu luar biasa," gumam mayat itu terpesona. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini.”

“Memang saya sudah mati.”

“Ah! Apa?”

“Kata saya, saya sudah mati.”

“Kamu sudah mati.”

“Ya.”

“Jadi kamu ini mayat?”

“Betul sekali.”

“Mayat seperti gua ini?”

“Benar!”

“Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba, sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.
Tetapi sekali ini, penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.

“Ayo salaman, kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. Ayo salaman!”

Penjaga malam itu menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi, jangan takut, tidak akan dituntut.”

“Tidak bisa. Saya tidak bisa salaman. Jangan keliru.”

“Keliru bagaimana?”

“Saya bukan mayat seperti situ.”

“Lho tadi kamu bilang kamu mayat?”

“Betul.”

“Tetapi bukan?”

“Betul sekali. Saya memang mayat, tetapi bukan.”

“Kenapa bukan?”

“Karena meskipun saya mayat, tempat saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor ini.”

“O kalau begitu kamu hantu?”

“Apa saya hantu?”

“Ya kamu hantu kalau begitu!”

“Ya sudah. Boleh juga saya disebut begitu.”

Mayat itu berpikir.

“Kamu jangan main-main. Ini bukan waktunya untuk guyonan.”

“Tidak. Sumpah, saya sungguh-sungguh. Boleh saja tidak percaya. Tidak apa. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau tidak, memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh istirahat. Mati pun saya tetap harus bertugas."

Mayat itu bengong.

"Jadi kamu mayat hidup?"

"Ya itu."

"Kenapa kamu mau?"

"Kalau tidak, siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Baik, Pak. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Mayat kok banyak bicara. Selamat beristirahat, kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Saya tidak tidur, mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi, saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu.”

Penjaga malam itu pasang tabek, lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya, lalu ditangkap oleh gelap.

Mayat itu terpesona.

“Ya Tuhan, kalau begitu, kalau begitu, nasibku tidak terlalu jelek. Ada yang lebih jelek. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu,” desis mayat itu. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Remang-remang dalam kegelapan, ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.

“Kasihan...”.

Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri.
“Maaf, memanggil saya, perlu sesuatu?”

Mayat itu terkejut.

“O tidak, tidak, sudah cukup. Aku tidak perlu apa-apa lagi!”

Penjaga malam itu mengangguk, lalu kembali lagi ke tempatnya. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. Setelah melihat nasib penjaga malam itu, apa yang dirasanya sebagai kesakitan, seperti tidak ada artinya sama sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal, mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Disertai penyesalan penuh, hanya dengan satu gerakan, ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluh-kesahnya.

Tetapi apa daya, seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek, sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Ia abadi.***


Jakarta, 3 - 11 – 1997
Horison, April 2000

Nuh

Nuh

Oleh: Isworo Haris Sunardi

Horison. Maret 2000


"Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?"

tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini, tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar, di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya.

"Kaukah itu? Jawablah!"

Lelaki itu tetap diam. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana, tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati.

"Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi.

Lelah rasanya aku memanggil, tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia, bahasa yang sangat asing ditelinganya. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka.

Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

"Ya. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu," jawabnya tenang. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh.

"Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?"

"Ya," dia mengangguk. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian."

"Kalian?" aku heran. Kulihat di sekelilingku, tapi yang kutemui hanya diriku sendiri.

"Ya . Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu, seperti katamu, hanya untuk umatku. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Bukan untuk kalian. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Beda sekali dengan lautan yang aku layari," katanya menjelaskan.


"Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami, Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini, Nuh? Aku mohon?"

Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Ada guratan gelombang di keningnya. Alis putihnya mengumpul, seperti dia sedang serius berfikir. Lama aku menunggu jawabannya.

"Tidak, tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu," katanya menggeleng. Aku sangat kecewa.

"Kenapa?"

"Kronologi perjalanannya berbeda. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Bahkan tahi, bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Istriku sendiri yang mengajari. Karena lamanya aku membuat kapal, aku jadi kebal. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Jembatan waktu yang kau tuju, telah berubah arah. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna."

Aku terdiam. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Aku rindu harapan. Aku berjalan di bawah penindasan. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengat-nyengat pikiranku.

Akhirnya aku harus memilih jalan, ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang.

Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan, mereka kusikat. Kubabat tanpa sisa.

Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan, dengan tanah-tanah yang kubangun rumah, juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan.

Aku dan anak buahku, juga familiku, aku bagi kebahagiaan. Mereka bebas makan, berpakaian, kadang rumah yang berlebihan. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa, mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Mereka punjung kata dengan emas. Aku ditandu dan dielu-elu, kedua tanganku mengepak serupa sayap. Kulambaikan tangan pada orang-orang.

Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Mereka tampak menyongsong, tapi di belakang disiapkan membokong. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Aku jadi sendiri, tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi.

Berjalan menyusuri ujung penantian.

"Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggil-manggil orang yang kukagumi itu. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya.

Lama kucari-cari dan kunanti, tapi tak juga muncul dalam benakku. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku, tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Aku berlari di hutan-hutan, tapi hutan itu malah terbakar, dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Bencana-bencana beruntun melanda. Tapi yang kucari tak ketemu juga.

Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku.

Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Sambil berlari Dia kuhampiri. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Tapi layaknya sekat, betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Aku gagal menyentuhnya.

"Ketegaranmu, Nuh, akan kutempuh!" kataku.

Dia tersenyum.

"Jangan mengejek, Nuh."

Nuh yang tua itu menggeleng. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Bibirnya lembut mengurai suara.

"Tabah," katanya. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat."

Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya.

"Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu."

"Lalu, Nuh?" tanyaku tak sabar. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas.

"Tenang!" katanya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. "Ya, ke sana!" katanya menjelaskan. Dia menyuruhku memandang ke atas.

"Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan."

Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Mataku terus saja menatapnya. Tapi Nuh tiba-tiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. Aku terdiam tenang. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan.

"Terima kasih Nuh, terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap.***

Pernikahan Angin

Pernikahan Angin

Oleh: Dianing Widya Yudhistira



Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahan-lahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa.

Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku.

Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap.

Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup.

Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana.
“Selamat malam, Dianing.”

“Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.”
“Engkau sesungguhnya, Dianing.”

Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.”

Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku.

“Pergilah ke hutan Para, Dianing.”

Aku menautkan kening.

“Kau akan tahu.”

Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para.

Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah.

“Inikah hutan.”

“Ya. Hutan Para.”

Suara burung hantu.
“Apa yang aku tahu.”

“Ikuti aku.”

Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu.

Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!!

Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!!

Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara.

Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku.

“Untuk apa kau bawa aku.”

“Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.”

Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus.
Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

“Apakah aku terlambat, Dianing.”

“Sama sekali tidak.”

“Mengapa batinmu begitu luruh.”

“Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.”

Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama.

Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin.

“Selamat malam.”

Aku membalasnya dengan menguap.

“Selamat malam, Dianing.”

Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku.

“Tidurlah dengan damai.”

Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam.

Di ketinggian menara ini.

Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah.

“Oh kehidupan yang menyenangkan.”

Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini.
Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih.

“Aku akan menjemputmu, Dianing.”

“Menjemputku!?”

“Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.”

Aku tak mengerti.

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku.

“Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.”

“Ia masih terlalu muda.”

“Kehendak Tuhan.”

Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka.

Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah.

Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit.

Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benar-benar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti.

Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat.

Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit.

Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku.

Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku.

“Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.”

“Tentang apa.”

Aku menatap burung hantu.

“Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

“Maksudku melihat dunia.”

“Ya.”

“Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.”

Aku terpana.

Burung hantu mengepakkan sayapnya. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.

“Aku tunggu kedatanganmu di dunia, Dianing.”

“Bila Tuhan mengizinkan.”

“Tentu.”

Burung hantu terbang. Ia menembus awan, mega, bintang, bulan menuju ke dunia.

UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Atas izin Tuhanku. Aku lewati langit demi langit. Gemerlap bintang menyambutku, langit cerah. Bulan bulat penuh. Ia bugil di malam yang damai itu. Aku bertemu dengan mega.

“Cukup lama kami menunggu, Dianing.”

“Oh ya.”

“Cepatlah kau temui burung hantu. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.”

“Ya.”

Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Aku lihat wajahnya sepi. Seperti menunggu kedatangan.

“Gerangan siapa membuatmu sepi.”

Matanya berpendar. Indah sekali. Ia menjerit.

“Dianing.”

“Ya.”

Kami berpelukan. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.

Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. Seperti berabad-abad lalu.

“Boleh aku tahu dukamu.”

Burung hantu menatapku. Tatapan yang sulit aku urai.

“Maukah kau ke hutan Para.”

“Hutan Para!?”

“Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.”
Aku lunglai.

Tiba-tiba begitu sepi.

“Dianing,” panggil burung hantu lirih.
“Untuk apa.”

Burung hantu masih bertengger di pohon randu.

“Bila kau berkenan. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.”
Aku luruh.

“Bukankah mereka telah menikah.”

Burung hantu menggeleng.

Aku terpana.

“Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.”
“Lalu?”

“Lismatano memilih jalan buruk. Tak sekedar gelap, terjal dan mendaki.”

“Bicaralah.”

“Mereka seatap tanpa ikatan.”

“Maksudmu...”
“Ya.”

Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.

“Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.”

Aku kembali ke hutan Para. Lismatano, laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. Telah berpaling dengan perempuan lain. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Di hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Pergulatan yang dahsyat. Aku tak kuasa melihatnya. Tapi, entahlah mengapa tiba-tiba aku terpaku di depan mereka.

Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Saling menumpahkan nafsu. Deru nafas memburu. Tiba-tiba... Aku tak percaya melihatnya. Tubuh Lismatano mengeras. Ia berubah jadi batu. Ya. Lismatano telah membatu. Kini tak bisa bergerak. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Tubuhnya tumbuh lumut. Lebat dan kotor.
Aku terpana. Ngeri. Perempuan itu.

“Yuniz nama perempuan itu, Dianing.”

Aku hanya mengangguk. Ia tak membatu, tetapi tubuhnya berubah. Ia berkaki empat. Besar. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Aku yang terpaku. Mulutnya lebar ke arahku. Siap menerkamku. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.

Aku di atas pohon randu. Lismatano telah membatu dan berlumut. Sementara perempuannya berubah binatang.

“Mengapa dengan mereka.”

“Itulah yang pantas mereka terima.”

Aku menghela nafas.

“Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka.”

Aku menekuri tanah.

Aku berada di ketinggian menara. Sebentar lagi aku harus kembali. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ya. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri.***

Jakarta, Mei 1997.

“DORRR”

“DORRR”

Cerpen Yanusa Nugroho




GEMA letusan itu menyelusup ke lembah-lembah di kaki bukit Monyet yang hijau. Lubang laras itu berasap. Perlahan tetapi pasti moncong laras itu turun menatap bumi, mengikuti jatuhnya tubuh yang sial.

Tubuh itu, jatuh dan menggelepar meregang nyawa, merintih sesaat, lalu larut dalam heningnya rimba.

“Tembakan jitu.”

“Lumayan,” jawabnya puas.

Mereka kemudian menyeret bangkai monyet besar itu ke tepi sungai untuk dikuliti. Di sana telah terkumpul sejumlah bangkai lain, teronggok kaku.

“Jadi kawin bulan ini?” Tanya yang berpakaian hitam.

Yang ditanya tak segera menjawab, menebarkan senyum, lalu mencabut pisau kecil, dan mulai menguliti. “Entahlah,” ucapnya beberapa saat kemudian.

Bau amis darah yang masih menghangat di tubuh bangkai itu menebar. Tangan lelaki itu, yang tampak sangat ahli, mengguyur bangkai itu dengan air. Warna merah segera bergolak dalam kejernihan arus.

“Tunggu apa lagi? Lamarlah segera, nanti keburu dipetik orang,” goda yang berbaju hitam lagi. Kedua tangannya memegangi tubuh monyet berbulu sehitam bajunya itu.




Yang digoda hanya tersenyum dingin. Pisau kecilnya menggorok leher bangkai, mengorek isi kepala, dan mengeluarkan otak bangkai bonyet malang itu. Kemudian mencelupkan kepala kosong itu ke dalam air. Mengguncang-guncangnya. Air kembali berwarna merah.

Matahari sudah semakin condong ke barat. Suasana redup mulai melingkupi bukit monyet. Dua lelaki di tepi kali itu masih sibuk menguliti mangsanya. Tangan-tangan mereka lincah memainkan pisau. Menyayat dan merobek, mencongkel dan membenamkannya ke dalam daging. Mengeluarkan daging tanpa begitu banyak mengoyak kulit. Antara jemari dan pisau hanya beberapa detik saja sambung-menyambung bergantian, menyelesaikan satu demi satu bangkai-bangkai itu. Daging ditumpuk bersama daging. Tulang ditumpuk bersama tulang. Dan kulit dilipat bersama kulit.

Keringat mengucur deras di pelipis mereka, penggung, lengan, dan seluruh permukaan kulit mereka. Sekujur tubuh mereka basah oleh keringat. Kelelahan dan ketegangan membuat gejolak panas di tubuh mereka memuncak dan menyemburkan keringat itu ke seluruh tubuh. Sesekali mereka menghapus wajah dengan lengan baju.

Matahari tepat jatuh di garis sebelah sana bukit Monyet. Dan keremangan makin kelam. Dua laki-laki itu telanjang bulat, membersihkan diri di dalam jernihnya arus air. Dua tiga kali menyelam membasahi rambut, untuk kemudian menepi. Kesegaran tampak di wajah mereka. Tawa mereka lepas sepuas-puasnya.

“Rasanya aku ingin pulang cepat-cepat, Rus. Aku sudah rindu sekali pada Munah”.

Gemuruh dan desis jeram di hulu agak menghambat pendengaran kawannya yang berdiri di batu-batu sambil mengenakan celana dalam.

“Apaa?” teriaknya bertanya.

“Akuu inginnn segeraaa Pulaaang ……rinduuu padaaa Munaaah!”

Kawannya tergelak, kemudian melompat dari batu ke batu mendekat. “Apa kataku, cepatlah kaulamar gadis itu!” Keduanya terbahak-bahak lagi.

Tak lama kemudian keduanya telah duduk menunggui api unggun. Mereka basahi daging itu dengan alkohol, mereka garami sedikit, dan bunyi desis daging terpanggang mulai mengisi sunyi. Aromanya terbang bersama kepulan asap putih yang ditimbulkannya. Dua wajah kemerahan oleh api, tampak tersenyum puas oleh hasil buruan hari itu. Menyeringai buas ingin segara mengunyah daging baker yang merangsang.

“Tabunganku kurasa cukup untuk modal kawin,” kata yang lebih muda sambil mulai mencoba menggigit daging bakarnya.

“Alaaa, Munah ‘kan hanya tinggal dengan emaknya. Mereka tinggal berdua. Kehadiranmu tentu sangat mereka harapkan untuk menggarap ladang. Hahahaha …. Dan berarti kaujadi petani, bukan pemburu lagi, hahahaha …”

“Aku tak bisa berladang. Bagaimana mungkin aku sanggup menghidupi keluargaku? Aku dilahirkan untuk jadi pemburu, hidupku bergantung pada bidikan senapanku ….”

“Sebelum kaukenal dengan senapan ini, kauini apa, ha?” goda kawannya sambil memasukkan kerat daging kesekian ke dalam api. Kemudian menenggak alkohol dalam botol itu lagi.

“Ya, kuakui, aku membantu bapakku berladang, tetapi setelah aku mulai bisa memilih, kurasakan kecocokanku di sini. Berburu! Aku senang mengembara dan puas bila bidikanku tepat. Lagi pula uangnya lebih banyak ketimbang petani, hahahaha …… “

Mereka mengunyah daging bakar itu penuh nikmat. Mereka tenggak minuman itu berkali-kali dan bau alkohol pun menebar. Hutan di bukit Monyet itu gelisah.

“Kautahu, hik, senapan ini telah memberi, hik, kejantanan padaku, hik, hahahaha …..”
“Hahahahaha, hik, membidik, hik ……”

“Dan doorr …..hik.”

“Lalu, bug, glubug, glubug, …hahahaha, hik.”

Gelegar sendawa terdengar dari tenggorokan mereka.

“Daripada nyangkul, hik …. Cluk, cluk, cluk, hik.”

“Tiap musim hanya bergantung pada nasib, hik, tak pernah bisa menentukannya sendiri, hik …. Hahaha.”

“Tapi Munah maunya begitu, hik, …..”

“Ya, rasanya begitu, karena memang begitu itu, hik …. Hahahaha.”

“Diaammmm…”

Yang dibentak hanya tercengang sesaat, lalu tertawa dan menenggak isi botol itu lagi. Hutan sunyi. Dingin menulang. Bara api masih menyala. Daging basah masih menumpuk.

“Sin, hik, ayo kita tidur, hik. Besok perjalanan cukup melelahkan.Memipihkanlah Munah, hik, hahaha,hik...” Rustam, yang lebih tua, mulai memanjat pondok-panggung mereka yang telah dibangun beberapa hari lalu.

Yang dipanggil sinmasih mematung memandangi pijaran kayu-kayu yang merah menyala.Dua tiga kali ia masih tampak meneggak isi botolnya.

Ah,munah yang manis, gadis dusun yang sederhana, telah menambat hatinya. Dia manjakan gadisnya itu dengan baju-baju yang dibelinya dari kota, dari hasil penjualan kulit-kulit mangsanya. Dia belikan seuntai liontin, sepasang giwang, gelang, gincu, bedak, dan lain-lain kebutuhan perempuan. Juga Mak Ilah, emak Munah, lebaran kemarin dia belikan kerudung dan pakaian lengkap yang indah.

Segalanya sudah berjalan lancer, keakraban sudah lama terjalin, namun masih ada satu yang masih menghambat perkawinan mereka. Yasin harus mau mengurusi ladang milik keluarga Munah. Itu saja.

“Tapi, ‘ kan sudah kubuktikan, hasil buruanku jauh lebih baik,” ungkapnya menjelaskan keberatannya menjadi petani.

“Ya, tapi dengan begitu, artinya nanti kau sering meninggalkan rumah.”

‘Kau harus maklum, kau harus memahami pekerjaanku. Itu semua demi kita…”

“Dengan berladang, setiap saat kita bisa bertemu, ‘kan?” goda Munah manja. Darah Yasin bergejolak. Dadanya bergetar. Dibelainya rambut hitam lembut itu.

Dia tahu Munah begitu mencintainya, begitu mengharapkan dirinya menjadi suaminya, dan seterusnya, beranak-pinak dengan hasil ladang. Dengan cangkul, cangkul, cangkul, seperti kebanyakan orang sekampungnya. Ya! Seperti kebanyakan lelaki di kampungnya. Dia muak itu! Dia begitu benci menjadi bagian dari kebanyakan orang yang berada di sekitarnya. Dia begitu benci pada orang-orang yang dinilainya tak punya kekuatan ubtuk melawan. Tak punya kegagahan untuk mandiri. Selalu tunduk pada tengkulak. Selalu begitu dan begitu!

“Boleh minta api?”

Yasin menoleh. Seseorang berdiri dalam keremangan. Diamatinya beberapa saat. Menenggak, lalu menyilakan orang ituuntuk menyundut sendiri rokoknya ke bara api, yang sebagian masih menyala. Orang itu menunduk, memungut kayu yang terbakar, dan menyundut rokoknya.

Yasin sempat memperhatikan lelaki berikat kepala hitam itu dengan pikiran agak kacau.

“Terima kasih,” orang itu kemudian menyedot rokoknya.

“Minum?”Yasin menyodorkan botolnya.

“Terima kasih, terima kasih, mmmm, saya tak biasa minum.”

Yasin menenggak isi botolnya lagi. “Bapak juga pemburu, seperti, hik, saya? Senapan ini, senapan saya ini sudah menelan berpuluh-puluh,hik, monyet…”

Orang itu hanya tertawa kecil, sambil tetap menikmati rokoknya. “Bukan main.” gumamnya kemudian.

“Ya, aku memang bukan main-main. Senapan ini telah menberi sesuatu yang lain, hik. Dia telah memberi kekuatan buatku…”

“Boleh kulihat? Agaknya cukup mahal.”

Yasin tertawa, lalu menyerahkan senapannya tanpa curiga.

“Kau dapat dari mana?” Tanya orang itu sambil mengamatibenda berlaras itu dengan teliti.

Yasin tertawa. Minum lagi. Kemudian mendadak mengernyitkan dahi seperti memikirkan sesuatu, “Oh, maaf pak, hik, hahahaha… Bapak ingin memiliknya? Hahahaha, hik,…”

“Ya, ya, sekarang juga benda ini harus jadi milikku!”

Angin dingin tiba-tiba menyeruak dedaunan. Menghembusi tengkuk Yasin. Dia terdiam beberapa detik.

“Hahahaha,… hik,… jangan main-main Pak. Benda itu punyaku. Kembalikan!”

“Aku sungguh-sungguh! Benda ini lebih pantas menjadi milikku!”

Yasin berdiri gontai, mencoba mengatur keseimbangan tubuhnya. Menenggak tetes terakhir minumannya. Kemudian menggenggam erat leher botol itu dan mengacungkannya kea rah lelaki yang hanya beberapa langkah di hadapannya itu.

“Hee, kau berhadapan dengan , hik, Yasin! Kembalikan,atau, hik, kubunuh kau!”

“Dengan apa kau mau membunuhku? Senjatamu ada di tanganku!”

“Bangsat!” Yasin menganyunkan gada botolnya. Orang itu tak bergeming sedikit pun. Yasin tersungkur oleh ayunan tangannya sendiri, terjerembab ke tanah. Berusaha bangkit dengan kekesalan, Yasin memaki dirinya sendiri.

Orang itu tertawa melecehkan, lalu meletuskan senapan itu ke udara. Doorrr! Doorrr! Doorrr!

“Rustaaam! Bangun kau!” teriak Yasin mencoba meminta tolong pada kawannya yang berada di pondok.

“Rustaaam! Bangun kau, kerbau! Tidurmu seperti mayat! Taaam, bangun!” teriaknya parau.

Yasin tersuruk-suruk menggapai tangga pondok. Orang itu terbahak-bahak penuh kemenengan. “Rustam sssudah menjadi mayat!” ucapnya disela-sela tawa kemenanganya.

Hutan sunyi.

“Hah? Rustam? Taaam! Bangun kau !” Yasin kalap, mengguncang-guncang tangga pondok berusaha untuk naik, namun kakinya tak pernah melakukan apa-apa. Baginya, kedua kakinya bagai dibebat dengan tambang kapal.

“Rustam sudah mampus, Sin! Hahahaha…”gelak tawa itu bergema, merobek rimba raya.

“Tidak! Rustam tidak boleh mati! Taaam, bangun. Taaaam!”

“Naiklah ke pondokmu , Sin! Lihat baik-baik apa yang terjadi!”

Yasin membelalakan matanya. Remang-remang. Dicobanya untuk memusatkan pandangannya pada pondok yang samar-samar itu.

“Nih, pakai ini!” ucap orang itu sambil menyodorkan batangan obor bambo.

Tanpa sadar sepenuhnya, Yasin menerima obor itu, kemudian mengacungkannya ke atas. Mula-mula telinganya mendengar gemericit suara asing dari dalam pondok. Lama-lama ia mulai mengenali bahwa suara itu adalah suara monyet. Ya! Dan…

“Aaaaa… tidak, tidak, jangaaan!” Yasin melemparkan obornya, matanya tak kuasa melihat tubuh Rustam menjadi ajang pesta para monyet. Tubuh itu koyak–moyak, darah membasahi lantai bamboo pondok itu, menetes dari celah-celahnya.

“Monyet gila! Kubunuh kalian!” Yasin berteriak-teriak mencoba melempari monyet-monyet itu dengan kayu-kayu membara.

“Tak mungkin mereka terbunuh! Senjatamu ada ditanganku, manusia jantan! Hahahaha…”suara itu terdengar lagi menggema.

Yasin bangkit, teringat pada senapannya. Dia mencari-cari orang itu. Tak ada. Entah kemana ia pergi. Yasin tak mampu melihat kegelapan. Matanya kabur. Semuanya hanya tampak remang-remang.

“Kutembak kau!”

Doorrr! Doorrr! Doorrr!

“He, Sin! Sin! Ada apa?”

Yasin terjaga dari lamunannya. Dinginnya malam, oleh embun, menyadarkannya dari mabok. Rustam terbangun oleh bunyi letusan senapannya. Yasin menghapus keringat dinginnya. Napasnya memburu. Kepalanya masih terasa berat.

“kaumimpi lagi rupanya, Sin?” kata Rustam sambil melangkah mendekati sahabatnya. Membesarkan api yang mulai redup dengan menambah kayu-kayunya.

Yasin masih termenung. Sekali lagi dipandangnya pondok bambu di atas sana. “ aku tidak mimpi, Rus. Aku melihat semuanya. Ah, lihat… darah, darah masih membekas di sana, Rus!” ujar Yasin seraya menunjuk lantai bamboo pondok mereka yang basah kemerahan.

Rustam tanpa menoleh menjawab bahwa darah itu berasal dari kulit-kulit monyet. Yasin seperti tak yakin. Senapannya digantungkannya pada pundaknya. Kemudian dia memanjat pondok.

Rustam hanya tersenyum. “Malam-malam begini jangan teriak-teriak, Sin! Nanti tetangga kita bangun, lalu,…mereka ada yang hilang, Tuan?’ Hahahaha… Tidur lagi, Sin kauhanya kelelahan.”

Hee, Jangan ngoceh terus. Lekas ke sini! Kulit-kulit kita lenyap, Tam!”

Rustam termangu seketika. Senyumnya mendadak beku. “Apa?” teriaknya. Bergegas ia naik dan mendapatkan sudut pondok itu benar-benar telah kosong. Padahal di situ tadi teronggok dua belas lipatan kulit monyet besar. Padahal di situ telah terbayang dua ratus ribu rupiah. Kini tiba-tiba musnah begitu saja. Padahal...

Yasin dan Rustam saling berpandangan. Hening.
Siapa malingnya?”

“Kita cuma berdua di sini. Kau yang tadi tidur di dekat kulit-kulit itu!”

“Apa maksudmu?”

Ya, di sini kita cuma berdua…”

“Jangan main sandiwara, Sin! Kau yang tidak tidur. Kau yang berjaga. Lalu, suara letusan itu? Ah, mengapa semuanya harus terjadi?”

“Kurangkah bagianmu selama ini?”

“Mengapa kaujadi begitu serakah, Sin? Semua ingin kaumakan sendiri. Ayo, kembalikan hakku!”

“Tunjukkan di mana kausimpan kulit-kulit itu!”

“Bangsat! Kau mabok, Sin!”

Yasin mengokang senapannya. Sadar akan keadaan, Rustam terpaku dipintu pondok. Bau amis darah dari pondok kecil itu menyelusup ke rongga paru-paru mereka, menembus lipatan otak mereka, memualkan perut.

“Sssin, aaaku tahu kaumau kawin, mmmengapa kkkau tak terus terang saja… Aaaku bisa mengerti, kkkaubutuh tambahan bbbiaya…”

Bau amis darah membuat kepala Yasin pening. Ia teringat Munah. Kulit-kulit yang akan ditebus seseorang di kota dengan harga tinggi. Monyet-monyet yang mati ditembak. Dirinya yang menjadi petani dengan cangkul di tangan. Munah yang tersenyum. Rumah mereka yang kecil. Senapan. Cangkul. Munah. Monyet, Kulit. Seseorang berpakaian hitam. Senapan. Rustam. Uang. Kulit. Rustam. Kulit. Rustam dan kulit-kulit. Tertawa. Rustam dengan pisau kecilnya. Uang. Munah yang menangis lantaran gagal kawin. Senapan.

“Sssin, bertahun-tahun kita berdua mencari hidup dari berburu, tak ada pertengkaran. Mengapa kkkau tak terus terang saja ….”

Yasin mengarahkan moncong larasnya tepat di antara kedua mata Rustam. Darah. Darah.Darah. Pelatuk ditarik …..

“Ssssin, Sssin, ….. akkku tidak mengambilnya …… tttidak ….. oh, pppercayalah, ppper …..”

Yasin tertawa. Rustam adalah orang-orang di kampungnya, yang hidup dengan berladang, yang takut sekali melihat senapan. Itulah yang membuat Yasin merasa gagah. Itulah yang membuat jantan, besar, sedangkan Rustam …..

Clek! Clek! Clekkk!

Kosong!

Rustam merasa mendapat kesempatan. Nalurinya merasa melihat celah sempit untuk menyerbu. Melompat maju menerjang Yasin.

Mereka bergumul. Rustam berhasil menghunus pisau kecilnya. Dihujamkannya ke tubuh Yasin. Yasin berkelit sambil menendang. Dua sahabat itu bergocoh. Pondok itu roboh. Keduanya terjerembab ke tanah.

Gelap. Keduanya merasa pening. Masing-masing berusaha bangkit dan mencari senjata mereka yang terlempar.

“Siapa pemenangnya? Hahahaha …” tiba-tiba suara tawa menggema. Yasin segera mengenali suara itu. Matanya berusaha menembus keremangan di sekelilingnya.

Rustam terduduk. Matanya terbeliak memandangi makhluk-makhluk yang memegang senapan. Yang dituding terbahak-bahak.

Lima puluh pucuk moncong senapan mengarah ke tengah lingkaran. Di dalam lingkaran itu, kini ada dua manusia yang menjadi kecil oleh rasa takut yang muncul dari hati mereka sendiri.

Makhluk yang dikenali Yasin itu menunduk dan meniup onggokan bara. Api pun menyala terang.

Dua orang itu terpengarah! Yang mengepung mereka ternyata monyet-monyet!

Doorr!Doorr!Doorr!Doorr!Doorr!Doorr!

MUNAH berlari-larian ketika ada orang yang memanggil namanya.

“Ada apa, Wak? Tanyanya pada si pencari kayu yang memanggilnya itu.

“Yasin dan Rustam ….” Sahutnya singkat.

Munah terkesiap.

Tubuh itu koyak-moyak oleh benda tajam. Hanya wajahnya yang sama sekali tidak diusik, agaknya disengaja, agar masih dapat dikenali.

Munah memeluk jasad Yasin. Titik air matanya meleleh keluar dari kepedihan yang sangat dalam. Pedih, melihat segala yang dikhawatirkan kini nyata terbukti.

“Subuh tadi, polisi hutan mendapatkan mereka tengah dikeroyok ratusan monyet. Para polisi itu tidak dapat berbuat apa-apa, selain membiarkan monyet-monyet itu pergi dengan sendirinya.”

Orang-orang pada akhirnya secara diam-diam mengeramatkan bukit Monyet itu.


---- Gg. Rela 1985 -----

"SETANGKAI MAWAR MERAH UNTUK ABIMANYU”

"SETANGKAI MAWAR MERAH UNTUK ABIMANYU”

Karya : Rahajeng Titisari


JAM telah berdentang dua belas kali. Angkasa malam bagai seutas kelambu tipis yang menyelimuti semesta dengan kegelapan. Bulan sebagai ranjangnya di mana sebuah insane yang kesepian bisa bersandar padanya dan memeluknya menumpahkan semua gelisah pada rengkuhannya. Serta bintang-bintang yang mengerjap-ngerjap bagai sebuah pelita bagi hati dalam penghargaan. Seolah memberi secercah penghidupan bagi sisa-sisa cintaku ini. Dan selain kesemuanya itu malam ini, dalam ruang pandanganku, kudapati diriku sendiri dalam sebuah gaun tidur panjang broken white dengan renda-renda lembut pada tepiannya, melambai-lambai dirayu angina malam dari balkon kamarku. Aku bersimpuh pada malam, menuntaskan seluruh pengharapanku pada dirinya. Kubuka daun pintu teras kamarku dan kusibakkan tirai hijau tosca yang menggantung menutupinya. Perlahan, seperti bisikan lamat-lamat, aku berjalan setapak demi setapak menuju teras kamarku. Ujung-ujung gaunku terseret menyapu lantai mengikuti langkah-langkah kakiku. Kuhirup dalam-dalam aroma malam yang selalu kucumbui sejak bertahun-tahun yang lalu. Kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru lewat balkon rumahku seolah menyalahkan dunia atas apa yang terjadi padaku. Rumahku bagaikan puri megah bertahta patung-patung putih dan ukir-ukiran di tiap-tiap sudut langit-langitnya. Dan teras rumahku adalah kastil denganku berdiri di tepiannya, sang putri yang memendam gulana yang teramat dalam. Aku hempaskan sekali lagi edaran mataku ke arah langit yang temaram, ke arah jalanan yang sepi bagai kuburan, lalu ke arah kamarku sendiri dimana seseorang yang telah kudampingi tujuh tahun ini sedang terlelap di atas pembaringan. Kutelanjangi seluruh alam dengan mataku. Lewat balkon di lantai dua rumah besarku ini aku bisa melihat semua dengan teramat jelas. Sejelas aku mengingat tiap detail kejadian-kejadian yang kualami bersamanya. Bersama dia yang menjadi alasan-alasan dari seluruh keputusanku yang menurut beberapa orang merupakan tindakan aneh, namun bagiku, sebuah pengabdian cinta. Aku mencintainya. Sangat, bahkan terlalu mencintainya hingga menutup indera-indera hatiku untuk perasaan-perasaan lain padanya maupun pada orang lain.

Sudah beberapa lama berlalu sejak aku bernaung di sini. Di peraduanku, di balkon puriku. Angin malam terasa makin menusuk sembari menggoda tirai kamar yang daun pintunya telah terbuka lebar-lebar seolah mempersilakan untuk masuk kapan pun dia ingin mengunjungiku, di kamarku ataupun dalam mimpi-mimpiku . Telah kusiapkan sekuntum mawar merah segar dalam sebuah kertas kaca diikat seutas pita merah yang cantik. Persis seperti yang dulu selalu diharapkannya dariku. Tidaklah ia kini masih mengharapkannya? Karena aku pun sangat berharap untuk bisa memberikan mawar ini kepadanya. Ia yang kukasihi. Pikiranku bagai sebuah layer putih yang bisa mengungkap jelas, memutar kembali kenang-kenangan kami. Aku dan kekasihku . Ia, arjunaku, yang dulu mempercayakan seluruh cintanya pada diriku. Kisah delapan tahun yang lalu itu terputar kembali di benakku. Kisah yang bahkan kata-kata pun tak cukup untuk menggambarkan keindahannya.


Jam telah berdentang dua belas kali. Celaka, aku harus segera bangun, batinku. Aku segera bangkit dari ranjangku. Kulawan semua kantuk yang menyerang mataku tanpa ampun. Aku berdandan secantik mungkin dan memakai gaun tidurku yang terindah. Ah, aku sangat gugup, tapi juga bahagia, pikirku lagi. Sekujur tanganku dingin, dan bertambah dingin saat kubuka daun jendelaku untuk menyambut yang akan datang malam ini, seperti yang dia lakukan malam-malam sebelumnya. Aku bertengger di tepian balkon rumahku. Waktu pertama kali aku melakukannya, aku agak ngeri juga jika harus duduk di tepian pagar terasku yang letaknya cukup jauh dari permukaan bumi ini. Namun setelah beberapa kali, aku menjadi terbiasa. Seperti aku terbiasa mencintainya. Dan hanya beberapa saat setelah aku menampakkan diriku di teras kamarku, muncul sesosok pria memasuki halaman rumahku. Ia masuk lewat jalan yang sudah kami sepakati bersama, yaitu lewat pintu kecil di samping pagar utama yang jarang dikunci. Melihatnya bagaikan melihat sepercik cahaya di kegelapan tengah malam ini. Aku menyambutnya dengan senyum begitu dia mendekat dan berdiri tepat di bawah balkon. Dia memandangku tak berkedip. Ada senyum menghiasi wajahnya yang aku yakin hanya untukmu.

“Aku harap kau tidak terlalu lama menunggu,”

“Tidak, aku cukup bersabar. Dan tidak menjadi masalah jika aku menunggumu sekian lama, karena aku yakin kau pasti akan datang,”

“Tentu Utari. Aku pasti datang. Aku datang hanya untukmu. Malam ini, dan selamanya. Sekarang dengarkanlah apa yang akan kupersembahkan untukmu.”

Lalu ia membacakan sebuah sajak cinta yang sangat indah.Syair yang selalu dia bacakan tengah malam seperti ini untukku.

“…Beritahu aku oh manusia, beritahu aku! Siapa di antara kalian yang tidak akan bangun dari tidur kehidupan jika cinta telah membasuh jiwamu dengan jari-jarinya. Siapa di antara kalian yang tidak akan mengabaikan ayah, ibu, dan rumah kalian jika gadis yang kalian cintai telah memanggilmu? Siapa di antara kalian yang tak akan mengarungi lautan, melintasi gurun-gurun, mendaki gunung-gunung dan lembah-lembah untuk menggapai gadis yang jiwanya telah kau pilih?”

Dia membacakan kata demi kata dengan penuh perasaan. Sebesar perasaannya padaku.

“Begitulah Tari, sajak Gibran ini mewakili pengabdian cintaku untukmu. Aku yang akan selalu datang apa pun rintangannya jika kau memanggilku,” katanya.

“Aku tahu itu tanpa kau harus mengucapkannya ….,” jawabku.

“Ini untukmu, simpanlah sebagai kenangan akan diriku.” Aku melemparkan setangkai mawar merah dalam kertas kaca yang diikat seutas pita merah yang cantik. Kulemparkan ke arah pemuda itu, Abimanyu, yang berdiri di bawah balkon kamarku.

“Utari, tunggulah aku tepat pukul dua belas tengah malam esok. Aku akan datang lagi seperti biasa. Nantikanlah aku di teras kamarmu. Utari. Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa saying.”

Dia pergi diikuti pandangan mataku yang sebenarnya tidak rela melepaskannya pergi. Namun aku yakin, akan ada banyak kedatangannya untukku. Bukan hanya tengah malam, namun juga pagi, siang, dan sepanjang hari. Karena kami telah melewati banyak hari bersama sejak kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Sejak orang-orang di sekitar kami mengetahui bahwa kami tak terpisahkan.

Dan sejak itu pula dia selalu datang tengah malam, saat jam berdentang dua belas kali, saat semua orang tertidur dan hanya sepi yang menemani kami, Abimanyu akan datang dan berdiri di bawah teras kamarku yang pintunya telah terbuka untuk membacakan sajak-sajak cinta Kahlil Gibran kesukaannya untukku. Setelah itu aku akan memberikan setangkai mawar merah dalam kertas kaca yang diikat seutas pita merah yang cantik. Semua itu kami lakukan setiap tengah malam. Dan kami tidak pernah merasa ritual ini sebagai hal yang aneh atau berat. Hal itu bernama pengabdian cinta bagi kami berdua.


***


Jam telah berdentang dua belas kali. Aku harus segera bangun dan bersiap-siap. Aku tidak ingin saat dia datang aku tidak ada di teras sana. Kubuka daun pintu kamarku dan berusaha tidak membuat keributan apa pun agar orang rumah tidak terbangun. Aku duduk di tepian pagar teras rumah. Menunggunya. Gaun tidurku melambai-lambai ditiup angina malam yang kali ini agak terasa lain. Suasana terasa agak berbeda malam ini. Entah kenapa sebuah ketakutan yang teramat besar tersirat di hatiku tiba-tiba. Aku hanya berdiam diri di sana, di atas teras kamarku. Aku tetap menantinya. Satu menit, dua menit, satu jam sudah berlalu. Ah, ke mana dia? Kenapa dia belum datang? Apakah terjadi sesuatu? Aku ingin mencarinya.

Rasa khawatirku begitu besar sehingga sempat tersirat di kepalaku untuk meloncat ke bawah dan mendatangi rumahnya. Apakah dia lupa dengan ritual kami? Tidak mungkin dia lupa. Dialah yang dulu pertama kali mencetuskan ide untuk melakukan hal ini. Dan aku menyukainya. Aku menyukai untuk menunggunya setiap malam.Tapi tidak seperti ini, menunggu dengan kekhawatiran. Dua jam, tiga jam, aku sungguh tak tenang. Aku gelisah. Aku berdiri untuk melihat ke bawah dengan lebi jelas. Ah, seharusnya tadi aku membawa senter karena lampu taman tidak cukup terang untuk pekarangan seluas ini. Aku ingin meneleponnya tapi aku takut untuk beranjak dari tempat ini. Bagaimana jika dia datang dan aku tidak ada di sini? Perlahan, kurasakan bulir-bulir hangat membasahi pipiku. Aku begitu resah sehingga tanpa sadar air mata mengucur. Aku sudah begitu lama menunggu. Dan mendadak saja ada sebuah gurat cahaya yang sangat menyilaukan dari ufuk timur sana. Fajar telah tiba. Dadaku berdegup kencang. Keringat dinginku mengalir membasahi dahi. Kecemasan meliputi diriku. Lalu, ke mana kekasihku? Ke mana Abimanyu? Kemarin malam dia masih datang ke sini. Bahkan tadi pagi dia masih berada di sisiku dan berjanji untuk datang lagi nanti malam. Ke mana dia?

Aku mencarinya ke seluruh penjuru. Kutanyakan ke semua orang. Namun dia tidak ada dan yang kudapat hanya gelengan kepala mereka. Bahkan saat aku menanyakan pada keluarganya.

“Maaf, Nak Tari. Kemarin siang ia masih bersama kami, namun paginya, kami tidak mendapatinya di kamar. Kami juga telah mencari, mencari ke semua tempat. Kami juga tak tahu ke mana ia pergi dan apa alasannya, kami tidak tahu.” Dan aku hanya terisak mendengar jawaban ibunya. Aku sangat takut.

“Dia hanya meninggalkan ini.” Ibunya menyodorkan secarik kertas padaku. Sepertinya sebuah surat untukku.



Untuk Tari
Cinta hanya mengajarkan pada saya untuk melindungimu bahkan dari
diri saya sendiri. Adalah cinta, yang bebas dari api, yang menahanku dari
mengikutimu pergi ke tempat yang jauh. Cinta membunuh hasratku sehingga
engkau bisa hidup bebas dan benar. Cinta yang terbatas mencari kepemilikkan
dari seorang yang dicintai, namun cinta yang tak terbatas hanya mencari dirinya.
Abimanyu



Apa maksudnya ini semua? Tidakkah dia tahu aku sangat mencintainya ? Bukankah dia juga sangat mencintaiku? Apakah cintanya begitu besar sehingga justru mematikan hatinya untuk mencintaiku? Aku hanya menemukan tanda Tanya sebagai jawabannya. Dan tak pernah kusangka bahwa kelak, aku tidak akan pernah menemukan jawabannya.

Sejak Abimanyu pergi, sejak itulah hatiku telah mati. Cahayanya telah redup untuk menyapa dunia ini. Aku seperti mayat hidup yang menyedihkan. Sepertinya jiwa ini telah mati rasa. Ia tidak bisa merasakan apa pun. Tidak ada cinta, tidak bisa bahagia, namun juga tidak dapat lagi merasakan kesedihan karena begitu beratnya beban yang harus ditanggung. Air mataku sudah kering. Aku selalu menangis semalaman pada hari-hari pertama Abimanyu pergi. Namun ini sudah dua tahun sejak ia menghilang. Aku telah diwisuda setahun lalu. Semua ini membuatku teringat masa-masa kenangan kami dulu dan janji-janji kami berdua untuk cinta. Kami berjanji untuk lulus bersama, hidup bersama, dan mati bersama. Ah Abimanyu kekasihku ….. kenapa kau tega melakukan ini padaku? Senyum itu sudah hilang sejak kau pergi. Dalam setahun, aku telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sesorang tanpa jiwa. Karena jiwaku telah pergi bersamamu. Hanya suram dan suram yang kurasakan dalam hidupku. Bagiku kini, sedih dan senang sama saja. Cuma satu rasa yang ada, hampa.
Malam ini, aku duduk di tepi balkon kamarku tepat jam dua belas. Masih kupakai gaun tidur yang melambai diterpa angina malam yang telah terbiasa bersamaku tengah malam begini. Ada setangkai mawar merah dalam kertas kaca diikat seutas pita merah yang cantik dalam genggamanku. Kugenggam kuat-kuat sekuat perasaan yang masih kupendam untuk Abimanyuku. Aku duduk memandang langit dengan nanar. Mataku masih pedih karena tangisku kemarin malam, dan kemarinnya lagi, tangisku setiap malam. Air mata yang kuharap akan membawaku ke sungai Abimanyu. Aku masih di sini, saying. Batinku. Aku masih menunggu Abimanyu. Mungkin saja suatu saat dia kembali padaku. Berdiri di bawah teras kamarku dan membacakan sajak-sajak cinta Gibran untukku. Aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu. Tapi sepertinya sangat berat untuk membuat itu semua jadi kenyataan. Aku terus mengucurkan air mata untuk Abimanyu sambil menunggunya. Sepertinya penantian ini takkan pernah berakhir. Meskipun dia adalah penantian terakhir. Besok pagi, aku akan menikah dengan seorang pemuda anak kerabat ayahku. Kamar tidurku sudah penuh dengan karangan bunga dan sepotong baju pengantin terpampar di atas ranjang. Aku sudah terlalu hancur untuk meratapinya. Aku bahkan tidak bisa menolak karena aku makin cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. Dia adalah seorang pria yang baik. Aku sudah bertemu dengannya. Dia mapan, berpendirian, dan aku bisa melihat dari matanya bahwa dia tulus mencintaiku meskipun pernikahan kami atas dasar perjodohan. Dan dia menerimaku apa adanya. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu masa laluku yang getir ini. Dalam diam aku bisa mengisyaratkan padanya kesedihanku selama ini.


***


Sebuah rumah besar. Dua unit mobil mewah. Seorang anak lelaki yang lucu. Seorang suami yang penuh cinta. Kehidupan yang sempurna. Namun aku tetap merasakan sebentuk ruang kosong dalam hati. Ruang ini benar-benar tempat keramat dalam relungku. Sebuah harapan Abimanyuku akan kembali. Mungkinkah Abimanyu sedang berperang menghadapi nasibnya sendiri saat ini? Nasib yang telah ia pilih dengan kepergiannya. Tetapi kapan ia akan selesai berperang? Apakah ia kalah atau menang itu tak jadi masalah buatku. Aku hanya ingin dia pulang padaku. Aku tak perlu penjelasan apa pun. Karena cinta memaklumi setiap hal. Untuk itulah cinta hadir di dunia. Selama delapan tahun ini aku telah merasakan mahligai perkawinan yang begitu indah. Namun keindahan itu tetap tak bisa mengalahkan perasaan yang tersembunyi untuk Abimanyu. Aku mencintai anakku. Aku melahirkannya dengan perjuangan untuk cinta. Aku menyayangi suamiku. Aku menikahinya demi perjuangan cintanya padaku. Tetapi itu semua berbeda dengan cintaku pada Abimanyu. Perjuangan cinta kami tak dapat dibandingkan dengan cinta-cinta lain. Karena cinta itu memiliki hakikatnya sendiri-sendiri. Dan aku memiliki hakikat yang kuat dan tak terdefinisi untuk cintaku pada Abimanyu. Dalam kehidupanku bersama Daniel suamiku, aku tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pengabdian seorang istri pada suami dan nilai-nilai kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Dan semua itu kulaksanakan dengan baik. Aku menjalankan tugasku dengan sangat sempurna untuk suami dan anakku. Namun pada ruang kosongku untuk Abimanyu, tetap akan ada cinta yang luar biasa.***

“L I A N G”

“L I A N G”

Cerpen karya Indra Tranggono



TANGIS Wati pecah, pagi itu. Kantong air matanya jebol ditohok kalimat-kalimat runcing mengilat para tetangganya. Liang matanya terasa perih, sangat perih. Air matanya terlalu banyak mengalir, hampir sepanjang waktu, seperti aliran selokan yang membelah kampung itu.

Kompleks perumahan di pinggir sungai itu terasa tambah sesak saja dengan penghuni baru. Kompleks perumahan? Ah, tidak juga. Yang disebut “kompleks” itu sebenarnya tak lebih dari deretan atau jejalan rumah-rumah kecil ukuran 3 x 3 meter. Bahkan yang dipakai umumnya batu bata tanpa diplester dan dikerjakan secara “ekspresif”. Tonjolan dan lepotan semen mencuat seperti goresan kuas seorang maestro. Beberapa bagian dari rumah-rumah itu ditutup dengan tripleks atau papan kayu bekas peti kemas. Cat rumah-rumah itu berwarna-warni, seperti gebyar pawai, begitu riuh, seperti percakapan mereka yang berlangsung setiap waktu.

“Lha, kalau setiap tahun Wasti pulang bawa anak, tempat kita pasti sumpek,” seorang perempuan gemuk tertawai berderai. Tawa itu disambut para “nasabah” yang bergerombol merubung rentenir.

“Ya, ndak gitu to. Eh …. siapa tahu dia itu nyindir kamu yang mandul”, timpal perempuan kurus dengan tawa berderai.

Si Gemuk memotong, “Biar mandul tapikan jelas punya suami ….”

Wasti yang sedang mencuci di sumur merasa dirajam. Ia melemparkan cucian dan bergegas masuk rumah.

Ibunya, Yu Milah, menatap dengan hati terbelah. Disamping tiga anaknya yang tiduran di ranjang kayu, Wasti rebah. Tangis terdengar tertahan. Tiga anaknya mengeroyoknya, mengajak bercanda. Anak Wasti yang masih bayi menangis di gendongan Yu Milah yang mendadak matanya basah.


ADA kilatan mata bayi cucunya itu, Yu Milah seperti melihat dirinya. Menatap raut wajahnya yang tampak penuh kerut-kerut, penuh carut-marut cakaran hidup. Ia memang masih menangkap sisa-sisa garis kecantikannya sebagai mantan primadona ketoprak kelilingan yang pernah menuai decak kagum dan tepuk tangan. Namun, kenangan itu tak lebih dari sayatan silet yang melintas-lintas.

Dua puluh empat tahun lalu, sehabis ia mengejan lahirnya Wasti, ia berharap mampu menutup lembaran hidupnya yang kelam. Cita-citanya sederhana, Wasti terbebas dari nasib buruk seperti yang pernah meringkusnya : ditinggalkan laki-laki setelah perutnya menggelembung berisi gumpalan darah dan janin, sehingga Wasti lahir dan tumbuh tanpa mampu mengucap kata “ayah”. Kenangan itu seperti tinta hitam tumpah menggenang di benak, membikin dadanya sesak. “Ke manapun, laki-laki itu akan kuburu,” gumamnya. “Akan kupotong kemaluannya agar ia punya rasa malu,” giginya gemerutuk geram. Namun, gumam geram hanya berhenti sebagai ancaman yang kini telah mengabu. Seluruh pencarian panjangnya hanya menemui jalan buntu. Laki-laki Pejantan itu menjelma bayangan hitam yang terus dicabik-cabiknya.

Yu Milah ingin Wasti tumbuh sebagai perempuan yang meniti hidup tanpa kelokan, tanpa tikungan yang penuh tikaman. Tikaman laki-laki pendusta, yang baginya, tak lebih dari para penyewa liang kehangatan untuk menitipkan sperma. Begitu benih itu menetes, mereka lenyap tanpa bekas. Ia ingin Wasti menemukan laki-laki yang, meskipun sangat sederhana, mampu memberikan sarang yang hangat dan nyaman, syukur punya kedudukan yang lumayan.

Ia keberatan ketika Wasti memutuskan menjadi pemain ketoprak kelilingan setelah lulus dari sekolah menengah pertama. Ia mendorong Wasti untuk terus sekolah. Ia percaya, sekolah bisa menjadi tabungan masa depan, betapapun sangat sederhana. Ia sangat gembira memandang wajah Wasti bercahaya setiap membicarakan pelajaran di sekolah. Dari membaca, matematika, sampai sejarah. Ia sangat bahagia melihat anaknya itu sangat lahap menyantap setiap pelajaran. Ia merasa seluruh jerih payahnya tak muspra, tak sia-sia. Ia menangkap impiannya mulai menyembul di balik seragam sekolah anaknya.

Namun, setelah Wasti lulus sekolah, ia dikepung masalah. Ia Menganggap kuliah di perguruan tinggi hanya mimpi. Ia mendorong Wasti bekerja ke kota meskipun ia sesungguhnya tak pernah tahu apa sesungguhnya pekerjaan anaknya. Ia cukup merasa aman dan bahagia dengan kiriman uang setiap bulannya, yang bisa ikut menyangga kehidupannya yang doyong ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang. Kedatangan Wasti dari kota menyembulkan rasa bangga di dada Yu Milah. Matanya tersilau kilau anting-anting, gelang, kalung, dan baju-baju bagus yang melekat di tubuh Wasti. Wajah Wasti pun tampak cerah sumringrah. Kecantikannya pun makin bercahaya.

“Ini sekedar untuk memperbaiki gubuk kita Bu ….’ “ Wasti menyerahkan amplop tebal.

“ Ooooo banyak sekali. Kita pun bisa beli tipi, kasur, lalu …… kompor …… Ya kompor gas ……., almari, dan kalau masih cukup saya ingin …… apa itu ……., lemari es. Aku kan jadi bisa nyambi jualan es …..”

Wasti tertawa, melihat ibunya begitu girang seperti anak-anak yang dimanjakan.

“Kulkasnya besok saja kalau saya datang lagi, Bu. Sekarang untuk gubuk kita dulu, biar kalau hujan ibu tidak susah ……. “.

“Tapi itu penting, nduk. Biar para tetangga tahu kalau kita juga mampu. Bayangkan nduk. Mereka pasti melongo. Melihat ada mobil datang ngantar kiriman kulkas. Yaah … tapi …. Kardusnya gede ya. Kira-kira cukup nggak ya pintu kita ini.”

“Ah, Ibu. Tapi ya terserah ….”

Para tetangga mengintip dari celah pintu ketika mobil pick-up itu benar-benar datang membawa kasur, kulkas, dan teve. Mata mereka penuh selidik, membidik.

Namun, kehidupannya yang mulai merangkak tetap menyisakan pertanyaan bagi Yu Milah. Setiap Wasti pulang, ia selalu ingin tahu soal pekerjaan anaknya itu. Tapi niat yang terus menyemak-membelukar itu selalu dipangkas sendiri. Ia takut, pertemuan yang begitu hangat itu jadi terganggu.

Diam-diam Wasti pun gelisah, setiap membaca gerak mata ibunya. Ketika tatapan kedua perempuan itu bertabrakan, dua perempuan itu saling menghela napas, dengan semburat cemas. Yu Milah mencoba melontarkan pertanyaan yang melingkar-lingkar. Namun, begitu hendak sampai ke pusatnya, Wasti terus menghindar.

“Apa to pekerjaanmu, anakku?” bisik Yu Milah dalam hati

“Untuk apa ingin tahu, Ibuku?” batin Wasti mendesah, gelisah.

Percakapan isyarat dalam kesunyian itu sangat menggelisahkan mereka.

“Aku harus tahu, anakku. Harus, “mata Yu Milah menatap lembut, seperti hendak menyaput kabut di wajah Wasti.

“Untuk apa, Ibu? Untuk apa?” Wasti kembali mendesah dengan perasaan terbelah.

“Agar aku tenteram, anakku ….,” batin Yu Milah mencabik sepi.

“Bukankah semua yang kuberikan telah membikin Ibu nyaman?” pikir Wasti berkilah.

“Tapi tidak tenteram ……” Hampir saja suara itu terucap. Yu Milah dengan cepat membekap niat. Kedua perempuan itu kembali digulung gelombang kesunyian, gelombang kecemasan. Waktu terasa membeku.

“Kamu akan berangkat lagi?” ucap Yu Milah tanpa sadar.

Wasti mengangguk dengan perasaan remuk.

TUBUH Wasti kembali ditelan keremangan ruang, hentakan musik yang menimbulkan gempa di dada, lampu warna-warni yang saling berkejaran, asap tembakau yang membungkus kabut, dan kerumunan orang-orang yang membantai sapi tanpa henti, dengan hentakan-hentakan kaki.
Ketika musik mengalun lembut, puluhan pasangan saling berpelukan, bahkan ada yang saling berpagut. Wasti pun menyerah dalam erat peluk. Dalam irama musik yang menghanyut, Wasti merasa tercerabut, mengapung menyusuri berbagai sudut, terbang ke langit lepas, tangan mendayung awan gemawan serupa gumpalan kapas.

Pada ketinggian tak terbatas, tubuh Wasti menggelinjang. Ia merasakan ada tangan kukuh tapi lembut yang merengkuh tubuh, memeluknya rapat hingga ia tak mampu bergerak. Sayup-sayup, ia mendengar suara itu, desah itu, desah laki-laki yang menerbangkan tubuhnya ke ketinggian tak terbatas.

Ia merasakan serbuan pagutan liar di sekujur tubuhnya, pagutan yang semula ia tolak dengan manja, namun lama-lama ia terima, bahkan ia nikmati. Laki-laki itu, seperti menjelma kuda terbang yang berderap-derap dalam jiwanya. Kaki-kaki kukuh kuda itu menebah-nebah membuncahkan gairah. Jutaan pori-pori Wasti mengembang dipahat kristal-kristal peluh. Selebihnya, ia merasakan tubuhnya basah. Liang selangkangnya terasa nyeri.

Laki-laki itu hanya mengucapkan “selamat pagi, saying” di layer hand phone Wasti. Perempuan berwajah oval dengan rambut setengah ikal itu membaca pesan dengan perasaan setengah kesal. Ia ingin berlama-lama dalam pelukan laki-laki itu. Ia bahkan tak pernah berpikir tentang selembar cek yang bertuliskan angka jutaan yang diletakkan di meja kecil dekat ranjang sebuah hotel berbintang. Ia merasa laki-laki itu terlalu “profesional” menganggapnya sekedar perempuan penghibur. Padahal, seperti impian yang pernah ditiupkan ibunya, ia mendambakan laki-laki yang rajin datang di diskotik tempat ia bekerja sebagai “teman ngobrol” itu sebagai kekasih. Bahkan, dibayangkan menjadi suami.

“Kenapa buru-buru sayang?” kecemasan Wasti tercetak di layer HP. Pesan itu kemudian dikirimkannya. Tapi tak dijawab, hingga kini. Ia berusaha mencari laki-laki itu, tapi tak ketemu, hingga kini.

Wasti limbung. Kegalauan mengepung, mengurung. Wajahnya yang ceria berubah murung. Laki-laki datang berganti-ganti, mencairkan kebekuan hati Wasti. Tapi tetap saja mereka tak lebih dari pejantan yang rakus menerkam korbannya. Terkaman itu berulang-ulang, hingga Wasti merasakan kenyerian di sukmanya yang berujung pada tangis bayi yang sesungguhnya tak terlalu diharapkan hadir.

“KAMU hamil lagi ya nduk,” Yu Milah mengucap dengan bibir tergetar; tergagap.

Wasti mengangguk. Berat. Sangat berat. “Maafkan say, Bu….”

Hati Yu Milah terbadai. Ia merasa dadanya sesak. Matanya basah. “Gusti, maafkan kami ….,” ucapnya lirih, perih.

“Ini hamilmu yang keempat, nduk. Kenapa kebobolan terus?” Yu Milah hampir tak tega mengucap, tapi kalimat itu telanjur lepas mencuat. “Mestinya kamu, kan bisa ….. “ Mulut Yu Milah mendadak tercekat.

“Ah entahlah Bu. Mungkin sudah nasib saya ….”

“Nasib?!” Yu Milah menghardik dalam hati

Ketika anak Wasti yang keempat lahir, para tetangga menyambutnya dengan mulut mencibir.

“Dia kira tempat kita ini tempat pembuangan anak-anak kucing ….” Si Gemuk sengaja bicara tambah keras. Perempuan-perempuan yang merubung rentenir itu tertawa lepas.

“Ya, maklumlah…. Ini kan musim kawin …..,” timpal yang lain.

“Musim kawin kok setiap hari!” tukas yang lain lagi.

Tangis Wasti tumpah di pagi itu. Ia langsung membuang cucian ke lantai sumur. Lari masuk rumah. Yu Milah, dengan menggendong anak Wasti yang masih bayi menyongsongnya dengan dada terbelah.

Di luar, suara-suara itu makin seru. Si Gemuk tampil sebagai bintang penggunjing.

Yu Milah membaringkan cucunya di dekat Wasti yang masih terisak. Ia berdiri di dekat jendela, memandang keluar, memandang para tetangganya yang makin bergairah melemparkan sindiran. Mata Yu Milah terpejam, tapi basah. Pelan-pelan ia beringsut mendekati pintu. Tangannya meraih selonjor besi. Sekejap ia mendadak melesat ke luar. Lonjoran besi diayun-ayunkan. Dengan kemarahan yang memuncak, lonjoran besi itu dihantamkan ke punggung si Gemuk. Tubuh tambun itu tumbang ke tanah. Orang-orang menjerit . Kerumunan bubar. Yu Milah mengejar mereka. Lonjoran besi terus diayun-ayunkan. Tapi para penggunjing itu lebih cepat masuk rumah. Yu Milah terus mengamuk. Menghantam apa saja hingga remuk.

Orang-orang datang menangkap Yu Milah yang kalap. Yang lain menolong Si Gemuk yang pingsan. Susah payah mereka menggotong tubuh gempal itu. Beberapa saat kemudian, serombongan polisi datang dengan mobil terbuka. Langsung menangkap Yu Milah. Wasti memeluk ibunya sebelum digelandang ke mobil. Erat, sangat erat, dengan isak tangis yang mengiris.
“Sana, cari laki-laki yang telah menghancurkan hidupmu!” ucap Yu Milah datar, dengan tatapan nanar, sambil memberikan lonjoran besi kepada Wasti yang gemetar.

Wasti membeku. Lonjoran besi itu dibiarkan jatuh ke tanah. Seorang polisi mengambilnya sebagai barang bukti. Beberapa kejap, debu mengepul bagai butiran tepung ditebah ban mobil polisi yang meninggalkan kerumunan.

Kompleks hunian itu kini sepi. Orang-orang mengurung diri. Hanya terdengar tangis bayi, anak Wasti. Tangis itu menerobos udara malam yang dingin, sampai ke telinga Yu Milah yang meringkuk di sel kantor polisi. Yu Milah menjerit, menggurat lengkung langit.***

“R A H IM’

“R A H IM’

Karya : Cok Sawitri




NAMA saya Nagari. Umur, tiga puluh tahun. Tanpa harus dijelaskan, saya sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambut saya masih basah, pintu kamar kontrakan saya diketuk berulang kali. Tiga orang lelaki dengan sorot mata sopan menjemput saya. Dari jip yang menanti di halaman, kemudian dari deru mesinnya yang tipis, tak kalah tipis dari udara sore itu, ditambah lagi tutur sapa mereka yang berat dan tegas, tanpa harus dijelaskan, saya paham apa yang tengah terjadi.

Mereka, tiga orang lelaki itu, membawa saya ke sebuah rumah. Sebuah rumah dengan lantai licin dan dingin. Lantai yang membentuk lorong panjang, membelah puluhan pintu-pintu kamar yang saling berhadapan. Kemudian langit-langitnya begitu tinggi dan bila melangkah atau berbisik, tembok-temboknya memantulkan kembali suara-suara bercampur desir yang aneh. Rumah itu mirip hotel tua yang sudah dipensiunkan. Udara yang bergerak di dalamnya terasa demikian uzur.

Sampailah saya pada sebuah kamar. Tiga orang lelaki itu mempersilakan saya masuk ke dalam hanya dengan isyarat tangan. Dan, ketika tubuh saya melewati batas pintu, secara naluriah saya menangkap isyarat-isyarat asing, menerka-nerka kamar macam apa yang tengah saya masuki.

Sebuah meja yang tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil, terbuat dari bahan kayu besi. Lalu dua buah kursi yang diletakkan berseberangan saling berhadapan, jam dinding yang memantulkan suara detak jam pada tiap kali geraknya membuat jantung lebih cepat berkerut. Belum lagi udara yang memasuki hidung begitu sarat mengandung debu yang seketika membikin tenggorokan tercekat perih.

Pintu di belakang tubuh saya otomatis menutup sendiri. Sisa desir anginnya, membuat saya seperti merasa didorong ke kubangan pasir, menyebabkan leher terasa demikian berat dan kaku. Sekali lagi, detak jarum jam dinding itu membuat pori-pori saya mengembang membentuk lubang dingin. Menggigilkan hati.

Saat itu, saya tidak memerlukan penjelasan apa pun, secara naluri saya mengerti, mengapa mereka, tiga orang lelaki itu, memasukkan saya ke kamar ini.

Karena sebelumnya, entah suatu kebetulan, seminggu yang lalu, seorang sahabat telah mengingatkan saya akan kemungkinan semacam ini. Tetapi peringatan sahabat saya itu, sungguh sulit saya percayai. Memang, sudah sering saya dengar kabar-kabar tentang berbagai kejadian aneh dan tidak logis yang menimpa banyak orang. Misalnya, ketika seorang teman dengan mata tertutup dibawa di tengah malam oleh sekelompok lelaki.

Teman saya itu diajak berputar-putar, tetapi entah kemana, teman saya tak pernah ingat. Dia hanya ingat diajak berkeliling! Tanpa henti dan tidak pernah berhenti. Dia juga ingat, selama perjalanan berputar-putar itu tak ada satu pun orang dari para lelaki yang membawanya itu menyapa dia dengan sepatah kata sekalipun! Teman saya hanya mendengar suara langkah sepatu dihentak-hentak silih berganti dengan letup kosong gerakan pelatuk pistol, membentuk irama dingin dan mencekam ulu hati. Entah apa namanya peristiwa itu. Teror. Intimidasi. Pengalaman gelap. Entahlah. Saya tidak paham. Sebab teman saya itu akhirnya dikembalikan seperti sedia kala ke rumahnya. Sampai kini dia tetap hidup normal. Juga tidak ada sekecil apa pun sebagai suatu tanda pernah mengalami suatu peristiwa. Yang tersisa dari peristiwa itu, sebuah sorot mata, yang bila saya ajak bertukar pandang, membuat perasaan seperti tersedot pusaran angina. Atau secara pongah saya seolah melihat di lubang matanya telah tumbuh sebatang pohon besar dengan akar ketakutan yang demikian hebat.


Ya, memang besar perbedaannya antara mendengarkan cerita dengan saat mengalami sendiri, bahwa kejadian semalam itu, yang dialami oleh teman saya itu, yang semula hanyalah cerita-cerita penghangat disaat minum kopi dapat menjelma sebagai kenyataan. Dialami oleh siapa saja. Tetapi, saya sulit percaya apabila itu kemudian terjadi terhadap diri saya.

Nyatanya, saya mengalami, tetapi saya merasa lebih beruntung dibandingkan dia. Setidaknya, saya paham, sesuatu telah direncanakan untuk saya dan saya siap mengalaminya. Karena itu saya tidak perlu penjelasan. Kamar saya ini sudah lebih cukup dari selembar kertas penuh kalimat penjelas.
***
NAMA saya Nagari. Pekerjaan ………… kadang saya menulis, kadang saya bernyanyi, kadang (kalau apa yang selama ini saya kerjakan, bisa disebut pekerjaan).

Ya itulah pekerjaan saya. Tepatnya, menghibur orang!

“Alamat?”

“Bukankah Bapak telah tahu,” saya berusaha menenangkan hati. Mencoba menatap mata lelaki di hadapan saya, yang saya kira matanya (barangkali) tidak bersaraf karena nyaris tak pernah mengedip. (Seperti mata ular. Konon ular tak pernah berkedip sepanjang hidupnya!).

“Ini prosedur biasa. Alamat saudari?!” ulangnya dengan suara kalem

“Di rumah kontrakan 2212.”

Lelaki itu mengatup bibirnya. Bajunya putih berjaket kulit dengan lengan yang ujung-ujungnya nampak kumal. Bibirnya hitam karena kebanyakan nikotin. Jemarinya tampak gemuk dan kasar. Tetapi wajahnya dalam siraman cahaya lampu yang saya perkirakan sebesar 25 waat, tampak berkilat-kilat, penuh semangat.

“Saya harapkan kerja sama Saudari. Biar kita bisa segera pulang. Saya sudah capek. Saudari juga capek. Jadi, mari kita bekerja sama …..”

Suara lelaki itu entah kenapa terdengar di telinga saya seperti lelucon-lelucon yang biasanya disisipkan oleh teman-teman bila ngobrol santai di kafe. Suara yang sengaja disopan-sopankan, suara sopan manis para birokrat bila diwawancarai reporter TV.
“Saudari mengerti maksud saya?” Tanya lelaki itu tiba-tiba.

“Tidak!” refleks saya menyahuti pertanyaannya. Dan, jawaban saya yang refleks membuat alisnya terangkat tinggi. Lalu, entah disebabkan apa, senyumnya tiba-tiba mengembang, cukup manis, begitu otomatis jemarinya merogoh saku, mengeluarkan rokok,

“Saudari merokok?”
“Kadang ….”

“Wanita modern biasanya merokok ….,” gumamnya dengan hidung kembang kempis. “Saudari tentu mengerti. Saya ini jujur saja. Saya tahu, Saudari adalah seorang wanita terpelajar. Banyak yang suka tulisan Saudari. Mendengar nyanyian Saudari ….. Saya pun termasuk salah satu orang dari jutaan orang, yang merasa seperti kehilangan bila di pagi hari tidak menemukan tulisan Saudari!” lanjutnya. Kali ini mirip suara penyair di televisi swasta.

Lalu lelaki itu menghembuskan asap rokok ke cahaya lampu, memberikan kesempatan pada asap membentuk gores-gores abstrak, kadang mirip awan, kadang mirip binatang, mungkin juga kadang membentuk sebuah simbol.

“Sebagai seorang teman… Maaf! Sebagai penggemar! Saya ingin sekali tahu, apakah tindakan operasi pembuangan rahim yang saudari lakukan tanggal 22 Desember yang lalu itu dilatarbelakangi semangat lain?”

Maksudnya? Saya berusaha konsentrasi terhadap pertanyaan lelaki itu. Ketika saya mengerti arti pertanyaannua, saya betul-betul terpana. Jadi, ini alasannya. Sialan, spontan hati saya memaki. Jujurnya, semula saya mengira saya dibawa ke mari karena tulisan saya yang terbit minggu lalu di sebuah Koran, menjadi sebab saya dapat kehormatan diundang ke kamar ini.

Ternyata, perkiraan saya jauh meleset. Entah mengapa, rasa kecewa itu muncul. Ternyata, bukan karena pikiran-pikiran saya, ide-ide saya, bukan karena kritik-kritik saya. Tetapi karena peristiwa tanggal 22 Desember itu?!

“Apa maksudnya?”

Saya bertanya dengan kecewa juga karena bingung. “Rahim? Maksud Bapak operasi rahim setahun yang lalu itu?”

“Iya. Yang Saudari lakukan pada tanggal 22 Desember, jam 11.30 Wita, di rumah sakit swasta…” Lelaki itu melepas suaranya dengan tekanan, mendorong saya sedikit merasa gelisah.

“Saya tidak mengerti, Pak…”

“Saya paham bila saudari tidak mengerti. Begini, Saudari mungkin tidak menyadari atau mula-mula Saudari mengira, apa yang Saudari lakukan adalah sesuatu yang wajar. Hak Saudari. Asasi Saudari. Kamipun mengerti hal itu. Amat mengerti…!!” Lelaki itu tiba-tiba terbatuk lama. Dahinya berkerut-kerut.

“Kami hanya ingin tahu, apa latar belakang tindakan Saudari!” lanjutnya dan batuknya otomatis terhenti. Dan, keheningan tiba-tiba saja menyergap. Saya berkesempatan kembali menatap wajah lelaki itu.

“Di bawah cahaya lampu 25 watt, kulitnya menyilaukan saya. Membuat pelipis berdenyut sakit.

“Masud Bapak ….. soal operasi rahim saya itu?” Mungkin kedengarannya bodoh, dengan menahan rasa sakit di pelipis, saya mengulang pertanyaan lelaki itu.

“Iya ….” Suaranya kini mantap, matanya membentuk bintik hitam.

Melihat kemantapannya, saya kecewa. Di lubuk hati saya, saya sering berkhayal, suatu saat nanti, saya akan mengalami peristiwa semacam ini. Lalu orang-orang ribut di Koran-koran, menjadi bahan pergunjingan. Menjadi gosip. Ramai. Sampai luluh lantak tanpa ujung pangkal. Ya, di lubuk hati saya yang terdalam, terlalu sering saya bayangkan diri dilukai berkali-kali kemudian darah menetes sebagai bukti bahwa saya telah memperjuangkan sesuatu dan membuat orang-orang terharu.

Akan tetapi, kini saya ditanyai soal rahim busuk! Rahim yang menasibkan hidup saya tidak lagi gagah mengakui diri sebagai perempuan.

“Sesungguhnya, saya heran ….,” akhirnya, saya ungkapkan kekecewaan.

“Saya tahu, Saudari akan heran ….. karena baru sekarang kami menanyakannya. Tidak setelah Saudari keluar dari rumah sakit ….” Lelaki itu menyela cepat. Matanya tajam, seolah mengerti geletar hati saya.

“Saya operasi karena rahim saya ditumbuhi daging. Itu logika medis. Aneh sekali bila hal itu menjadi daya tarik bagi Bapak?” dengan suara yang ditenang-tenangkan, saya mencoba menjelaskan sesuatu yang sebetulnya tidak memerlukan penjelasan, sesuatu yang bila makin jelas akan membuat saya kian kecewa.

Mendengar penjelasan saya, lelaki itu tersenyum lebar sekali. Kemudian di tengah-tengah senyumnya itu seekor cicak berteriak nyaring, gemanya memantulkan ke mana-mana.

“Sudahlah, seperti yang saya sampaikan dari awal. Marilah kita bekerja sama! Kita sudah sama-sama tahu. Saudari tahu, apa yang ingin kami tahu! Terus terang saja, kami sudah berpengalaman sejak tahun 1971!”

Saya berusaha tidak gemetar, tetapi lidah saya berkhianat, lidah saya bergetar. “Saya tidak mengerti. Soal operasi rahim, sejujurnya, bagi saya, itu peristiwa menyedihkan sekali.”

“Sedih? Maksudnya, Saudara melakukan hal itu dengan terpaksa?” Tanya lelaki itu dengan sorot mata yang membuat saya merasa seperti diserang flu.

“Tentu saya terpaksa. Andai boleh, tentu saya tidak akan melakukannya, Pak!” saya menyahutinya dengan pelan. Manalah ada perempuan yang suka rela rahimnya dibuang!
“Siapa yang memaksa Saudari?”

“Maksud Bapak?”

“Sudahlah, Saudari tidak usah takut. Kami ada dipihak Saudari. Kami merasa bersalah tidak bisa cepat menyelamatkan Saudari ….”

“Maksud Bapak? Pelipis saya terasa berdenyut keras.

“Siapa yang memaksa Saudari melakukan operasi itu?!”

“Tidak ada yang memaksa saya, Pak!”

“Saudari tadi katakana, Saudari terpaksa …..

Katakanlah, siapa yang memaksa Saudari!”

Lelaki itu mengerutkan dahinya. Kilat kulit wajahnya memantul kemana-mana. Saya tercekat. Isi otak saya bergerak cepat. Ada apa? Apa maunya lelaki ini! Saya buntu. Betul-betul tak paham. Tepatnya, saya mulai merasa meriang. Dan, detak jarum jam dinding di kamar itu, membuat saya tiba-tiba teringat kamar kontrakan, Ah, saya belum kunci jendela! Saya teringat nasi yang belum dihangati.

Saya mual dengan dengan gerak pikiran saya sendiri. Mengapa mereka ingin tahu soal operasi rahim saya. Mengapa?

“Indikator yang kami pelajari. Fakta yang kami kumpulkan. Telah menujukkan arah yang benar. Saudari tahu, gerakan membuang rahim ini telah menjadi pola gerakan teror baru , tujuannya mengganggu reformasi. Ini sudah menjadi bagian gerakan politik direkayasa oleh kekuatan luar! Ini sebabnya kami minta tolong pada Saudari. Agar kami tahu, siapa dibalik semua ini?” Suara lelaki itu kini berdetam di kepala saya.

Aneh! Aneh betul bila dikaitkan ke hal-hal yang menurut saya sungguh-sungguh luar biasa. Memang, kalau dipaksa agar ada kaitannya, pasti saja ada kaitannya, kaitan aneh, misalnya. Apa rahim busuk pun bisa menjadi alasan untuk dicurigai telah terkait hal-hal yang yang luar biasa itu?! Apakah tindakan penyelamatan nyawa (operasi rahim itu) yang sebetulnya wajar dan normal dapat secara ajaib dihayati sebagai bisul berbahaya mengancam kehidupan masyarakat umum semacam ledakan bom setiap minggu atau penimbunan sembako yang pernah ramai dibicarakan itu ?! Luar biasa. Sungguh luar biasa rangkaian imajinasi otak lelaki di hadapan saya ini.

Saya mulai membujuk pikiran untuk menerka-nerka. Apa sebetulnya yang telah bergerak di dalam pikiran lelaki yang duduk tegak di hadapan saya itu.

Sebuah pengabdian, penyelamatan Negara atau… suatu kebingungan akibat gajinya yang kecil(?). Atau dengan nakal pikiran saya bergerak, kekhawatiran lelaki itu benar adanya. Andai saja benar ada suatu gerakan penimbunan rahim. Para perempuan menimbunannya di suatu gudang, melakukan embargo terhadap jutaan sperma lelaki, semacam gerakan mogok hamil dan mogok melahirkan . Luar biasa!! Kalau saja hal ini benar terjadi, saya dpat mengerti kecurigaannya terhadap operasi rahim saya itu Tetapi …

“Kami telah mendeteksi, ada kelompok yang menginginkan para perempuan tidak memiliki rahim, dengan tujuan membatalkan seluruh kesempatan kelahiran generasi baru! Kami telah pelajari hal ini . Sejak lama. Bertahun-tahunkami kumpulkan informasi. Kami godok. Kami analisa… Saudari tahu, apa argument mereka?”

“Daripada melahirkan anak tetapi tidak dirawat dengan baik, tidak dilindungi oleh aturan yang baik. Lebih baik rahimkami dibuang!! Saudari tentu tahu hal itu, bukan?” Lelaki itu menyahuti pertanyaannya sendiri dengan penuh semangat, busa tipis memercik dari mulutnya yang hitam.

Astaga!

Saya benar-benar takjub. Andai saja saya punya pikiran semacam itu. Alangkah menakjubkannya. Semua perempuan membuang rahimnya! Klak ! Tidak ada kelahiran baru. Semua tua lalu mati! Klak ! Tidak perlu lagi gerutuan soal sembilan bahan pokok, tidak perlu lagi ini atau itu… karena hidup berakhir sudah. Bayangkan saja, mereka telah dijebak oleh imajinasi bahwa para perempuan akan membuang rahimnya, ada indikasi politik! Sebagai suatu ancaman. Meraka bahkan bertanya, “Siapa berdiri di balik ide kalian!”

Aneh. Merewka teus bicara politik, bicara oknum-oknum yang memiliki kemungkinan mmempengaruhi saya. Luar biasa sekali imajinasi mereka.

Akan tetapi pikiran jernih itu melintas tegas di kepala saya.Memotong lambungan pikiran saya. Saya menatap lelaki itu dan berusaha menata kata-kata, setenang dan sejelas mungkin.
“Sejujurnya, saya operasi rahim karena rhim saya dibuang lantaran ada tumor di dalamnya. Itu demi keselamatan nyawa saya , Pak. Sungguh, saya tidak mengerti yang Bapak pertanyakan kepada saya. Ini bukan persoalan aneh. Dari sudut kesehatan , ini seuatu yang lumrah , Pak!”

Lelaki itu tersenyum kecil. Menghela nafas. Matanya untuk pertama kali berkedip. Takjub saya dibuatnya. Dan, saat itulah dari jauh saya dengar detak-detak langkah mendekat. Tak lama kemudian pintu di belakang punggung saya terbuka. Angina mendesir. Tiga lelaki yang menjemput saya datang kembali. Tanpa bicara dengan isyarat tangan mengajak saya melangkah meninggalkan kamar itu. Meninggalkan rumah itu.
***
Lelaki itu tersenyum kecil. Menghela napas. Matanya untuk pertama kali berkedip. Takjub saya dibuatnya. Dan, saat itulah, dari jauh saya dengar detak-detak langkah mendekat. Tak lama kemudian pintu di belakang punggung saya terbuka. Angin mendesir. Tiga lelaki yang menjemput saya datang kembali. Tanpa bicara dengan isyarat tangan mengajak saya melangkah meninggalkan kamar itu. Meninggalkan rumah itu.
***
PAGI itu, saya memperhatikan kalender, kemudian saya perhatikan gerak jarum jam. Di luar sana terdengar suara gemuruh berisi jeritan dan tepuk tangan. Saya membuka jendela kamar, melihat keluar, di sana, terlihat spanduk-spanduk dikibarkan, bertuliskan : Selamatkan Rahim Perempuan, demi Masa Depan Dunia!

Astaga.

Tiba-tiba perut saya terasa nyeri. Ketukan pintu itu terdengar lagi. Saya enggan membukanya. Saya merasa tiga orang lelaki mendekati kamar saya.

“Kami lihat apa akibat dari tindakanmu itu. Segera umumkan pada mereka, bahwa kamu tidak pernah membuang rahimmu. Katakan pada mereka, bahwa apa yang kamu lakukan itu bukan gerakan keprihatinan yang berkaitan dengan harga makanan yang mahal!! Juga katakan, mereka tidak perlu khawatir, kelak generasi mendatang tidak akan terlahir bodoh dan kurang gizi. Katakan! Mereka tidak perlu membuang rahim mereka! Seperti yang sudah kamu lakukan!!”

Perut saya menegang. Rasa sakit itu sungguh luar biasa. Membuat segalanya gelap gulita. Sayup saya dengar suara lelaki di kamar itu tengah berpidato! Suara lelaki dengan detak jam yang menusuk-nusuk jantung.

“Tenanglah Saudara-saudara, tenanglah! Saudari Nagari sebentar lagi akan siuman. Saya harap Saudara-saudara memberikan kesempatan kepada tim kami untuk melaksanakan tugas. Demi keselamatan Saudari Nagari …”

Saya berusaha membuka mata dengan paksa. Lampu itu saya kenal. Jumlah cahayanya 25 watt. Jam dinding itu saya kenal. Cecak itu pun saya ingat. Saya pandang sebuah wajah. Wajah itu saya kenal.

Saya paham. Tidak perlu dijelaskan. Seperti biasa, seperti berbagai kejadian yang saya dengar dari teman-teman. Zaman ini tidak memerlukan penjelasan, tidak memerlukan kejelasan. Sebab penjelasan justru akan menebalkan kekaburan.

Lalu sayup suara aneh terdengar ….. Nama Nagari. Umur tiga puluh. Pekerjaan serabutan. Jenis kelamin wanita! Nomor kamar 2212. Catatan : korban kriminal. Rahimnya dikoyak dengan pisau belati oleh gerakan anti kelahiran generasi baru.

Saya tercengang. Rasanya, baru kemarin sore saya duduk di rumah kontrakan. Tidak pernah ada terjadi kejadian yang luar biasa. Benarkah rahim saya dikoyak dengan pisau belati? Aneh sekali! Untuk apa dikatakan seperti itu? Toh, semua teman saya tahu, rahim saya dibuang karena memang ada tumor di dalamnya.

Phuah. Kepada siapakah saya harus menanyakan, apa sebab riwayat rahim busuk itu menjadi demikian hebat kisahnya. Televisi, Koran dan radio ramai-ramai mengupasnya. Komentator baru soal politik rahim lahir beratus-ratus dalam seminggu.

Dari dalam kamar ini. Saya mendengar sorak-sorai bercampur jeritan-jeritan. Saya pejamkan mata sambil mengingat-ingat, barangkali, pernah saya melihat rahim busuk itu. Tetapi saya gagal membayangkannya. Barangkali, tidak akan pernah saya tahu seperti apa wajah rahim busuk itu. Padahal, dia ada dalam tubuh saya. Saya raba perut. Terasa kosong dan tiba-tiba saja saya merasa teramat kehilangan.

Saya hidupkan TV, isi beritanya : Antrean panjang terjadi di seluruh rumah sakit besar di kota-kota besar. Dengan hati kecut saya menanyakan: “Mengapa mereka antre di situ!” Mereka tak menjawab. Mereka nampak khususk. Seperti menanti namanya dipanggil saat menanti giliran memasuki kamar operasi!

Nagari! Usia tiga puluh tahun, ….. di TV saya lihat wajah saya! Begitu aneh. Teramat aneh.*


Januari 1998 - 2000

“B A J U”

“B A J U”

cerpen Ratna Indraswari Ibrahim


Saya kira ini kejahatan yang luar biasa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar biasa, aku bukan budak atau selir!
Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka satria unggulan, karena itu aku memilihnya!”

Aku memilihnya sebagai suamiku dan sekarang yang terlihat adalah ketika seluruh bajuku ditanggalnya oleh Dursosono, suami-suamiku Cuma diam-diam saja. Apakah harga diri perempuan yang permaisuri ini di bawah norma hukumnya? Kalau aku tanyakan peristiwa ini, mereka pasti akan menjawab: seorang kesatria harus menepati janjinya?

“Satria-satriaku, tahukah kamu waktu itu, aku lebih tidak menyukai daripada Dursosono yang memang kokoh jahat (Krisna tahu karena keperempuanku Krisna tidak membiarkan aku telanjang di muka penjahat-penjahat itu).”

Air mata yang ada di sudut mata kangmas Yudistira atau kemarahan yang ditahan-tahan oleh Bima tidak bisa menolongku pada saat itu. Arjuna lelaki yang peka (lelaki yang paling kucintai) tidak berbuat apa pun dengan anak panahnya. Si kembar Nakula dan Sadewa Cuma bisa menangis dalam hatinya, Destarata tidak juga berbuat banyak ketika kusimpuhkan diriku untuk meminta sikapnya. Juga eyang Bisma, paman Widuri yang terkenal bijak, juga tidak berbuat apa-apa. Dalam hal ini mereka menganggap semuanya harus mengikuti aturan main hukum yang berlaku!.

Aku menangis, sakit hati, bukan saja kepada Dursosono tetapi juga kepada suami-suamiku. Ini bukan cinta kalau mereka tidak berbuat apa pun kepada kekasihnya. Tiba-tiba aku merasa iri kepada Shinta yang direbut kembali oleh Rama dari Rahwana dengan segala perjuangan dan penderitaannya, sementara diriku mereka biarkan begitu saja. Kalau aku tidak ditolong oleh para Dewa, sudah dari tadi seluruh tubuhku ditonton oleh mereka, dilecehkan dengan nafsu hewaninya di muka suami-suamiku.

Seharusnya suamiku tidak perlu menepati janji akibat dari kecurangan dalam perjudian ini. Di kaputren, para dayang sudah berbisik bahwa permainan dadu itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para Pandawa pasti kalah.

Aku sebetulnya sudah melarangnya. Tapi, suami-suamiku yang perkasa tidak memedulikan naluri seorang istri. Mereka bilang, perjudian ini cuma menghormati taun rumah yang sudah mengundang kita. Kalau kalah, mereka berjanji akan berhenti sebelum sepuluh kuda dan kereta perang dipertaruhkan.

Menurut pendapat mereka, dengan permainan ini mereka berharap akan terjadi sebuah perjanjian bahwa Hastinapura akan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, mereka akan terhindar dari perang saudara.

Aku tidak percaya, tapi suami-suamiku bilang kalau perempuan selalu berbicara dengan perasaan tidak dengan otak. “Bersenang-senanglah di kaputren melihat taman yang indah yang akan menjadi milik kita kembali Dinda!”

Aku lupa siapa yang bilang begitu. Suami-suamiku memang memiliki satu pemikiran sekalipun watak mereka berbeda.

DUH Gusti ……., mereka membuka bajuku, sepertinya aku ini budak atau pelacur. Tidak pernah aku diperlakukan seperti ini. Tubuh perempuanku adalah ekspresi dari seluruh jiwa ragaku. Aku selalu menuntut mereka memperlakukan aku dengan perasaan yang saling menghormati ketika kita bercinta. Suami-suamiku kuajari menyentuh dengan keindahan dan saling menghormati. Begitulah yang kita lakukan bertahun-tahun. Tapi, sekarang mereka tidak berbuat apa pun. Sungguh menjijikkan ketika kulihat suamiku Cuma menunduk dan diam-diam saja (apakah mereka kali ini begitu bodoh, tidak melihat kecurangan itu?).

Pada saat itu aku memohon pada Dewata untuk mati saja daripada dihina seperti ini. Dimana orang-orang bersorak-sorai memberi semangat kepada Dursosono dengan menari-nari. Nampak olehku nafsu liar yang luar biasa dari mereka. Padahal mereka memiliki seorang perempuan juga, yaitu istri, ibu-ibu mereka, saudara perempuan, dan anak-anak mereka. Tapi, bagaimana aku bisa menuntut seperti angan-anganku ini. Aku sama sekali tidak mengerti ketika melihat Yudistira yang bijak cuma bisa menundukkan kepalanya. Padahal perempuan selalu menganggap suamilah yang akan melindungi dia melawan musuh-musuhnya.

Begitulah, aku sekian lama bermimpi suami-suamiku satria yang gagah perkasa akan menumbangkan darah demi melindungi istrinya. Tapi, kenyataannya mereka Cuma diam-diam saja. Aku tidak tahu apakah dalam kejadian ini aku masih hidup atau sudah mati? Yang jelas aku tidak ingin sentuhan-sentuhan yang menjijikkan itu yang akan segera menikmati apa yang ada dalam tubuhku.

SEJAK kecil ibu sering berkata, “Hormatilah tubuhmu sendiri.” Oleh karena itu, sejak kecil aku mesti memperlakukan setiap bagian tubuhku dengan rasa saying dan hormat. Dan sebagai permaisuri Hastinapura aku mengajari perempuan di sekelilingku, untuk mengekspresikan dengan hormat, dan indah, tubuhnya sendiri maupun tubuh suami mereka.

DURSOSONO masih menarik bajuku, dan atas pertolongan Krisna, baju dan kainku tidak pernah terbuka. Padahal aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjaganya pada waktu itu.

Yang ada pada waktu itu, rasa sakit yang luar biasa di seluruh urat nadiku. Kalau saja Dewata pada waktu itu berdiri di mukaku yang kumohonkan adalah kematian! Rasanya aku mempunyai firasat dan mimpiku yang berturut-turut bahkan sempat aku ceritakan pada suami-suamiku bahwa aku tidur dengan telanjang dan diperkosa oleh penjahat-penjahat Hastinapura.

Suami-suamiku dengan santun mendengarkan ceritaku, tapi mereka tidak mempercayai mimpiku. Undangan dari Hastinapura mengharu-birukan perasaan mereka dan setiap kecemasanku tidak pernah ditanggapi oleh mereka. Bahkan mereka dengan asyiknya berlatih main dadu.

Sesungguhnya, pada saat itu aku ingin sekali bumi ini terbelah dan aku masuk ke dalamnya. Namun, ketika mendengar sorak-sorai mereka dengan nafsu hewaninya dan ketidakberdayaan suami-suamiku ketika Dursosono membuka bajuku, kemarahan meledak di hatiku. Aku tiba-tiba ingin menyelesaikan masalah ini dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya, aku mencintai suami-suamiku dan inilah balasan mereka? Pernikahan kami yang bahagia berakhir dengan kepicikan mereka. Suami-suamiku seperti tidak menghargai lagi ekspresi tubuhku dan keberadaanku di tengah-tengah mereka.

Aku tidak tahu bagaimana mungkin suami-suamiku bisa terjebak dengan peristiwa ini. Dayang-dayangku saja tidak punya suami yang kelakuannya begitu hina-dina seperti ini. Bisakah kaubayangkan? Aku Drupadi dilahirkan dengan puja-pujian orangtuaku kepada Dewa Shiva selama beberapa tahun lamanya. Sekalipun kerajaan orangtuaku tidak sebesar Hastinapura, aku Drupadi yang diberi kebebasan oleh Romo untuk memilih sendiri suami-suami lewat sayembara.

Kupilih satria yang berbaju Brahmana. Aku tidak pernah tahu kalau kangmas Arjuna yang memenangkan lomba membengkokkan busur itu dalah putra Kunti, sebuah kerajaan yang paling adikuasa. Jadi jelas aku tidak memilih suami-suamiku karena dia keturunan raja-raja Hastinapura. Bersama suami-suamiku aku tinggal di hutan, (ketika mereka diasingkan kami masih pengantin baru). Apakah ini bukan sebuah cinta yang tulus? Dan pada saat ini mereka menafikan cintaku, penderitaanku, dan mimpi-mimpi indahku. Menjadi baying-bayang suram yang menaungi diriku.

Aku merasa pusing dan muntah-muntah. Sungguh aku tidak bisa menangis. Kupejamkan mataku hingga tidak kulihat kenyataan yang begitu dasyat di mana suami-suamiku Cuma pandai menundukkan kepala saja di tengah keliaran nafsu para Kurawa yang semakin kulihat sebagai iblis-iblis. Untuk berapa saat aku pingsan. Aku menyesal ketika aku terbangun dan melihat Dursosono masih mencoba menarik-narik busanaku sedangkan suamiku dan sesepuh Hastinapura sudah kehilangan akal untuk menghentikan kejadian ini.

Tiba-tiba, kemarahan membuat aku berteriak-teriak, “Destarata ambillah sikapmu, engkau tetap ayahanda dari mereka.” Aku lihat Destarata menjadi gemetar dan terduduk di kursinya. Eyang Bisma dan paman Widuri seperti blingsatan.

Kukatakan sekali lagi, “Baginda raja, tidak adakah lagi kebenaran di Istana Hastinapura ini?” Aku lihat ‘Destarata seperti dihantam dan akhirnya Widuri berkata, “Atas nama raja hentikan semua itu Baginda!”
Para Kurawa seperti mengaum.

Aku merasa bertarung sendirian di sepanjang waktu itu. Tiba-tiba air mataku jadi kering, kulihat Destarata yang tangannya terluka. Aku mencoba menahan seluruh kemarahan dan rasa benciku ketika Destarata memintaku membalut tangannya yang terluka.

AKHIRNYA Destarata berkata, “Mintalah apa saja kepadaku Drupadi, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Aku berkata, “Bebaskan Bima dan saudara-saudaranya.” Dan Destarata berkata kembali, “Kukembalikan Pandawa kepada kau sebagai suami-suami dan ini adalah anugerah dari Raja Hastinapura.”

Kemarahan semakin meledak-ledak di dalam hatiku. Kurasakan penghinaan itu sampai ke urat nadiku. Aku kira bukan anugerah dari Destarata. Kurebut mimpiku sebagai perempuan.

Apakah suami-suamiku dengan caranya masih bisa disebut sebagai satria? Sementara itu, di sisi lain, aku masih menjadi bagian dari mereka, tak secuil pun yang akan menjadi milikku?
Jadi, setelah aku berikan seluruh jiwa dan ragaku kepada Pandawa tanpa secuilpun uang jadi milikku, aku jadi bertanya-tanya, “Siapakah diriku?”
Lantas, “Aku bersumpah tidak akan menggulung rambutku sebelum keramas dengan darahnya Dursosono.”

Halilintar saling sambar-menyambar, Dewata menyaksikan sumpahku.

Para Kurawa dan suami-suamiku terpana!