Percakapan-Percakapan yang Tak Selesai
Cerpen Marhalim Zaini
GELAP bangkit seperti kelelawar raksasa yang merentangkan sayap di atas kampung ini. Agaknya, malam di mana-mana, selalu menanggungkan kecemasan yang tak mudah diuraikan. Terasa berat, memekat, misterius, itulah hitam. Kalaupun ada gangguan kosmis yang secara tak disangka-sangka bersilang sengkarut di depan mata telanjang kita, apalagi di belakang punggung kita, tak ada yang bisa diperbuat selain diam. Membiarkan ia lewat, atau kalaupun singgah sebagai hantu jembalang, cukuplah kita berkomat-kamit melafazkan beberapa baris ayat, memberi dinding bagi tubuh kita yang rumpang. Apa sesungguhnya yang paling kita takutkan dari hidup yang tak seberapa lama ini? Kampung yang telah lama mati suri ini, hutan-hutan yang kian meninggi dan berbiak dengan rambut daunnya yang kacau, akan menyembunyikan dari mata langit tentang apa pun yang sedang bernapas di bawahnya. Orang-orang adalah makhluk yang kadang ada sebagai sebuah kenyataan yang ganjil, dan kadang tiada dalam bayang-bayang aneh tentang masa lalu, juga masa depan. Masa kini, adalah dunia yang pikun, bahkan tanpa ingatan. Jadi, seraplah kolase waktu yang bergerak kadang cepat, terlampau cepat, kadang lambat, terlampau lambat, kadang malah bagai bandul jam yang ke sana kemari dalam kebimbangan yang konstan. Atau, kita melihatnya hanya sebagai sebentuk benda mati yang bergoyang, dan tak mampu lagi mencatat suhu tubuh dalam musim apa pun.
***
Kolase 1:
TAK jauh dari kampung ini, di ujung pelabuhan internasional yang ambisius, yang tersadai di tepi pantai yang dangkal, sebuah mobil menghadap ke selat besar sedang menyembunyikan sepasang manusia yang memadu kasih di dalam tubuhnya. Mobil itu bergoyang seperti sedang berjoget mengikuti irama empasan ombak yang gusar. Angin bernapas tersengal-sengal dalam gelap malam yang menyungkup. Apakah sepasang manusia itu sedang berbahagia? Sedang tak berpikir tentang apa pun selain kenikmatan? Siapakah mereka? Apakah mereka anak seorang pejabat? Atau anak seorang guru, anak ustaz, anak bandit, anak para koruptor, anak penegak hukum, dan anak siapa pun? Tidak. Tak ada status atau identitas untuk sebuah kenikmatan, bukan? Ia serupa pakaian yang kapan pun bisa dilepaskan, dan diganti dengan pakaian yang lain, atau malah tak berpakaian sekalipun. Telanjang kadang membuat orang lebih bebas untuk membiarkan rasa malunya bergerak dalam wujudnya yang natural. Jadi untuk apa memelihara rasa malu? Bukankah, kedua insan ini memang sedang berkuasa atas tubuhnya sendiri ketika mereka memilih untuk telanjang? Atau mereka sedang saling menguasai atas yang lain?
Tapi mari kita dengarkan cuplikan percakapan mereka sehabis pergumulan:
“Kita baru saja selesai berperang.”
“Apakah kita sama kuatnya?”
“Tidak tahu. Mungkin ya.”
“Bukankah Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia PBB 1967 menyatakan: Semua manusia dilahirkan bebas dan sederajat?”
“Tapi itu kan pernyataan tentang prinsip moral? Bukan tentang fakta empiris!”
“Berarti kita berbeda?”
“Ya, jelas. Para ilmuwan banyak yang bilang, bahwa perbedaan-perbedaan biologis-genetik, hormonal, juga menentukan perbedaan gender dalam tingkah laku, pikiran, agresi, pola-pola seksual, dan semua aktivitas manusia! Dan secara lebih riil, lihat saja pakaianmu pakaianku, tata riasmu, gaya rambutmu, bentuk tubuhmu, jelas ada simbolisasi yang bertentangan.”
“Tapi gender bukan sekadar biologis kan?”
“….”
“Bisa sosial, kultural, ekonomi, historis, dan lain-lain!”
“Ya, tapi semuanya relatif.”
“Aku setuju sama Aristoteles dalam satu hal, pria dan wanita itu berlawanan, tapi bukan sebagai spesies yang berbeda. Mereka memang berbeda dalam tubuh, tapi tidak dalam substansi.”
“Tapi kau jangan lupa, ketika Aristoteles bicara dalam konteks politik, ia bahkan menyimpulkan begini, laki-laki itu pada hakikatnya lebih unggul dan wanita lemah: yang satu memerintah, yang lain diperintah….”
“Ah, itu kan ego lelakinya Aristoteles yang bilang….”
“Kau ini!”
“Kau juga!”
“Melawan ya?”
“Kita kan memang sedang perang?”
“Dasar, perempuan!”
“Dasar laki-laki!”
“Kita putus!”
“Ya, sudah, putus saja….”
***
Kolase 2:
DI kampung ini juga, pada malam ini juga, di sebuah rumah panggung yang renta, seorang lelaki tua sedang mengasah pisau sadap karet. Matanya tiba-tiba berlinangan air mata, dan air mata itu jatuh satu-satu di atas batu asah. Kenapa ia menangis. Kalau ditanya pada semua orang di seluruh dunia ini pun, tak kan tahu apa penyebabnya. Sebab dia sendiri pun tak tahu kenapa setiap kali dia mengasah pisau sadap karet ini, air matanya leleh. Apakah Tuhan tahu? Setiap orang ber-Tuhan pasti bilang, bahwa tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di mata Tuhan. Tapi siapakah yang tahu bahwa Tuhan itu tahu tentang sejarah air mata seorang lelaki tua sebatang kara? Ya, mungkin sebatang kara-lah yang membuat lelaki tua ini tak malu menangis setiap malam, setiap kali ia mengasah pisau sadap karet, karena tak kan ada yang melihat ia menangis, bukan? Dan kenapa pula sebatang kara? Karena itu pilihan hidup. Bukankah setiap orang berhak memilih pilihan hidupnya sendiri, meski kemudian harus menyesali dan menangisinya sendiri? Yang pasti lelaki tua ini memang sedang berkuasa atas kesedihannya sendiri, atas air matanya sendiri, sebab memang hanya itu yang sekarang ia miliki. Apakah menjadi miskin adalah juga pilihan?
Tapi ada baiknya kita simak percakapan lelaki tua ini dengan air matanya:
“Kenapa kau menetes lagi?”
“Biar kau tak sepi. Aku kan sahabatmu….”
“Tapi aku akan jadi orang tua yang cengeng.”
“Tidak semua menangis itu cengeng. Nyatanya kau kuat selama ini. Sekian puluh tahun ditinggal anak istri, tak punya harta benda, kau tetap bisa hidup.”
“Hidup dengan air mata?”
“Kau malu punya sahabat macam aku ya?”
“Tak hanya aku, semua orang akan malu….”
“Kenapa?”
“Tak usahlah tanya-tanya. Lebih baik kau diam saja!”
“Kau egois!”
“Diamlah!”
“Apa karena kau merasa berkuasa atas aku?”
“Diam!”
“Kalau aku pergi bagaimana?”
“Pergilah!”
“Kau tak menyesal, kalau nanti kau tak lagi punya air mata?”
“Air mata tak berguna!”
“Kalau kau tak bisa menangis lagi baru tahu!”
“Aku benci menangis!”
“Ya, sudah, aku pergi….”
“Pergiiiiiiiiiiiiiiiii!”
“Tapi ingat, jangan bunuh diri ya!”
“Pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”
***
Kolase 3:
DI kampung ini juga, pada malam ini juga, seorang perempuan muda yang bunting sedang mendodoi anaknya berumur satu tahun setengah dalam buaian. Buaian itu terbuat dari kain sarung yang diikat dengan tali yang menggantung di kayu broti tengah rumah. Tak jauh darinya, tiga orang anaknya yang lain sedang terbaring terlentang melihat cahaya bulan dari lubang-lubang atap rumbia yang bocor. Setiap musim hujan tiba, anak-anaknya itu paling girang menampung air hujan yang menetes dari atap rumbia itu dengan besen. Bunyi air yang jatuh itu seperti bunyi tut-tut piano yang tak beraturan. Kadang mereka juga bernyanyi layaknya seorang biduan yang kehilangan panggung. Apa sesungguhnya yang sedang mereka pikirkan tentang hujan yang jatuh menetes dari lubang bocor atap rumahnya itu? Mungkin mereka ingin menjadi hujan yang dengan berani turun dari langit yang jauh. Atau mereka tak sedang memikirkan apa pun selain bermain dan bermain. Mereka memang sedang berkuasa dengan permainannya sendiri, dengan imajinasinya sendiri. Karena mereka memang punya dunianya sendiri. Tapi di manakah Ayah anak-anak ini? Pedulikah mereka ke mana Ayahnya pergi. Sang istri, perempuan yang bunting itu, agaknya pun sudah tak begitu peduli ke mana suaminya pergi malam-malam begini. Sebab siapa yang bisa berkuasa atas pilihan orang lain?
Mari kita ikuti percakapan tiga anak yang terbaring itu:
“Bintangnya banyak….”
“Tiap malam langit dipenuhi bintang….”
“Langit rumah kita….”
“Ya, di luar langit tak berbintang.”
“Berarti rumah kita indah?”
“Ya, seperti surga.”
“Kau pernah ke surga?”
“Pernah.”
“Kapan?”
“Ya sekarang ini.”
“Ini kan surga icak-icak.”
“Tak ada surga lagi di luar sana.”
“Ada.”
“Dalam mimpi.”
“Aku juga pernah bermimpi masuk surga, tapi tak seindah surga di rumah kita ini.”
“Surga dalam mimpi itu cuma sekejap. Tapi surga ini ada tiap malam.”
“Tapi surga itu tempat yang enak-enak kan? Makan enak, tidur enak, mainannya banyak, semua enak-enak. Tapi di rumah ini tak ada yang enak. Cuma ada bintang saja….”
“Ya, karena ini surga orang miskin.”
“Ah, tak enak ya surga orang miskin?”
“Ya, aku juga ingin masuk surga orang kaya….”
“Di mana?”
“Di rumah Tok Penghulu. Aku pernah ke sana, diajak sama anaknya, Ahmad.”
“Enak ya?”
“Enak sekali.”
“Kita ke sana yuk sekarang….”
“Ah, mana boleh sama Emak.”
“Coba kau yang bilang.”
“Mak, kami ke surga orang kaya ya….”
“Diaaaaaaaaam! Tidur kaliaaaaaaaaan!”
***
Kolase 4:
DI kampung ini juga, pada malam ini juga, di sebuah lokasi pengeboran minyak baru, sejumlah lelaki sedang beristirahat dalam tenda-tenda setelah seharian bekerja. Laki-laki dengan badannya yang tegap-tegap dan berwajah keras itu, sebagian masih duduk-duduk di atas batang pohon kelapa yang sengaja ditebang. Tanah yang sedang mereka bor ini, adalah tanah warga yang masih belum selesai perhitungan ganti ruginya. Belum selesai proses pembebasannya. Tapi pohon kelapa, juga karet, atau apapun yang berdiri di atas “tanah basah“ itu mereka babat habis. Orang-orang kampung yang merasa tersenggol tanahnya komplain. Tapi suaranya parau, serak, bahkan lenyap. Pengeboran pun berlanjut, warga pun tetap terus bersungut-sungut. Di sini, siapa yang paling berkuasa? Sebagian laki-laki lain tampak sedang membuat api unggun. Mereka sedang memanggang sesuatu. Bau panggangan itu demikian menyengat. Bahkan dalam radius seratus meter pun masih akan tercium aromanya. Bau apakah itu? Daging anjing. Ya, sebagian mereka gemar makan daging anjing, juga daging babi, bahkan daging monyet. Siapakah mereka? Tak tahu. Mereka sengaja didatangkan dari jauh, dari berbagai daerah. Bahasa mereka campur-campur. Sulit mendeteksinya. Sejak mereka datang di kampung ini, para Tionghoa atau Orang Asli yang gemar memelihara anjing merantainya di rumah. Sebagian orang sedang merasa berkuasa atas nyawa anjingnya. Orang lain merasa berkuasa atas selera makannya.
Mari coba kita curi dengar percakapan mereka yang sedang makan panggang anjing:
“Bah, baunya sedap sekali!”
“Yoi. Mantap betul!”
“Banyak juga anjing di kampung ini ya?”
“Anjing liar itu….”
“Aku juga nampak sarang babi di hutan karet sana!”
“Bah, mantaplah itu. Besok kita cincang dia!”
“Bisa gemuk aku di sini.”
“Tidak di sini pun, kau memang sudah gemuk.”
“Ada cewek tak ya di kampung ini?”
“Cewek banyaklah. Kau cari saja di rumah-rumah….”
“Ah, mampus aku kena bacok bapaknya!”
“Maksud kau cewek nganggur?”
“Iyalah….”
“Ah, mana ada kampung kecil begini ada tempat pelacuran?”
“Iya ya… tapi banyak yang miskin orang sini!”
“Apa hubungannya?”
“Ya, cari duitlah….”
“Kalau pun mereka mau tak mungkin di kampung sendiri. Bodoh kau!”
“Ah, makanya jangan makan anjing melulu, bisa jadi anjing kau!”
“Ah, munafik kau! Kalau ada cewek kau mau juga kan?”
“Sudahlah….”
“Tapi mana kuat aku, sebulan di sini tak begituan?”
“Ah, sudahlah… dasar anjing kau!”
“Kau juga!”
“Babi kau!”
“Kau juga!”
“Monyet kau!”
“Kau juga!”
“Binatang kaaaaaaaaaaau!” (*)
Suara Merdeka, 3 Oktober 2010
Wednesday, 19 January 2011
Mbok Jah
Mbok Jah
Cerpen Umar Kayam
Sudah dua tahun, baik pada Lebaran maupun Sekaten, Mbok Jah tidak “turun gunung” keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul, untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya, keluarga Mulyono, di kota. Meski pun sudah berhenti karena usia tua dan capek menjadi pembantu rumah, Mbok Jah tetap memelihara hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga itu. Dua puluh tahun telah dilewatinya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang sederhana dan sedang-sedang saja kondisi ekonominya. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan yang baik dan penuh tepa slira dari seluruh keluarga itu telah memberinya rasa aman, tenang dan tentram.
Buat seorang janda yang sudah selalu tua itu, apalah yang dikehendaki selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagi pula anak tunggalnya yang tinggal di Surabaya dan menurut kabar hidup berkecukupan tidak mau lagi berhubungan dengannya. Tarikan dan pelukan istri dan anak-anaknya rupanya begitu erat melengket hingga mampu melupakan ibunya sama sekali. Tidak apa, hiburnya. Di rumah keluarga Mulyono ini dia merasa mendapat semuanya. Tetapi waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi beban keluarga itu. Dia merasa menjadi buruh tumpangan gratis. Dan harga dirinya memberontak terhadap keadaan itu. Diputuskannya untuk pulang saja ke desanya.
Dia masih memiliki warisan sebuah rumah desa yang meskipun sudah tua dan tidak terpelihara akan dapat dijadikannya tempat tinggal di hari tua. Dan juga tegalan barang sepetak dua petak masih ada juga. Pasti semua itu dapat diaturnya dengan anak jauhnya di desa. Pasti mereka semua dengan senang hati akan menolongnya mempersiapkan semuanya itu. Orang desa semua tulus hatisnya. Tidak seperti kebanyakan orang kota, pikirnya. Sedikit-sedikit duit, putusnya.
Maka dikemukakannya ini kepada majikannya. Majikannya beserta seluruh anggota keluarganya, yang hanya terdiri dari suami istri dan dua orang anak, protes keras dengan keputusan Mbok Jah. Mbok Jah sudah menjadi bagian yang nyata dan hidup sekali dari rumah tangga ini, kata ndoro putri. Dan siapa yang akan mendampingin si Kedono dan si Kedini yang sudah beranjak dewasa, desah ndoro kakung. Wah, sepi lho mbok kalau tidak ada kamu. Lagi, siapa yang dapat bikin sambel trasi yang begitu sedap dan mlekok selain kamu, mbok, tukas Kedini dan Kedono.
Pokoknya keluarga majikan tidak mau ditinggalkan oleh mbok Jah. Tetapi keputusan mbok Jah sudah mantap. Tidak mau menjadi beban sebagai kuda tua yang tidak berdaya. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya diputuskan suatu jalan tengah. Mbok Jah akan “turun gunung” dua kali dalam setahun yaitu pada waktu Sekaten dan waktu Idul Fitri.
Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Mbok Jah menepati janjinya. Waktu Sekaten dan Idul Fitri dia memang datang. Seluruh keluarga Mulyono senang belaka setiap kali dia datang. Bahkan Kedono dan Kedini selalu rela ikut menemaninya duduk menglesot di halaman masjid kraton untuk mendengarkan suara gamelan Sekaten yang hanya berbunyi tang-tung-tang-tung-grombyang itu. Malah lama kelamaan mereka bisa ikut larut dan menikmati suasana Sekaten di masjid itu.
“Kok suaranya aneh ya, mbok. Tidak seperti gamelan kelenangan biasanya.”
“Ya, tidak Gus, Dan Rara. Ini gending keramatnya Kanjeng Nabi Mohamad.”
“Lha, Kanjeng Nabi apa tidak mengantuk mendengarkan ini, mbok.”
“Lha, ya tidak. Kalau mau mendengarkan dengan nikmat pejamkan mata kalian.” Nanti rak kalian akan bisa masuk.”
Mereka menurut. Dan betul saja, lama-lama suara gamelan Sekaten itu enak juga didengar.
Selain Sekaten dan Idul Fitri itu peristiwa menyenangkan karena kedatangan mbok Jah, sudah tentu juga oleh-oleh mbok Jah dari desa. Terutama juadah yang halus, bersih dan gurih, dan kehebatan mbok Jah menyambal terasi yang tidak kunjung surut. Sambal itu ditaruhnya dalam satu stoples dan kalau habis, setiap hari dia masih akan juga menyambelnya. Belum lagi bila dia membantu menyiapkan hidangan lebaran yang lengkap. Orang tua renta itu masih kuat ikut menyiapkan segala masakan semalam suntuk. Dan semuanya masih dikerjakannya dengan sempurna. Opor ayam, sambel goreng ati, lodeh, srundeng, dendeng ragi, ketupat, lontong, abon, bubuk kedela, bubuk udang, semua lengkap belaka disediakan oleh mbok Jah. Dari mana enerji itu datang pada tubuh orang tua itu tidak seorang pun dapat menduganya.
Setiap dia pulang ke desanya, mbok Jah selalu kesulitan untuk melepaskan dirinya dan pelukan Kedono dan Kedini. Anak kembar laki-perempuan itu, meski sudah mahasiswa selalu saja mendudukkan diri mereka pada embok tua itu. Ndoro putri dan ndoro kakung selalu tidak lupa menyisipkan uang sangu beberapa puluh ribu rupiah dan tidak pernah lupa wanti-wanti pesan untuk selalu kembali setiap Sekaten dan Idul Fitri.
“Inggih, ndoro-ndoro saya dan gus-den rara yang baik. Saya pasti akan datang.”
Tetapi begitulah. Sudah dua Sekaten dan dua Lebaran terakhir mbok Jah tidak muncul. Keluarga Mulyono bertanya-tanya jangan-jangan mbok Jah mulai sakit-sakitan atau jangan-jangan malah….
“Ayo, sehabis Lebaran kedua kita kunjungi mbok Jah ke desanya,” putus ndoro kakung.
“Apa bapak tahu desanya?”
“Ah, kira-kira ya tahu. Wong di Gunung Kidul saja, lho. Nanti kita tanya orang.”
Dan waktu untuk bertanya kesana kemari di daerah Tepus, Gunung Kidul, itu ternyata lama sekali. Pada waktu akhirnya desa mbok Jah itu ketemu, jam sudah menunjukkan lewat jam dua siang. Perut Kedono dan Kedini sudah lapar meskipun sudah diganjal dengan roti sobek yang seharusnya sebagian untuk oleh-oleh mbok Jah.
Desa itu tidak lndah, nyaris buruk, dan ternyata juga tidak makmur dan subur. Mereka semakin terkejut lagi waktu menemukan rumah mbok Jah. Kecil, miring dan terbuat dan gedek dan kayu murahan. Tegalan yang selalu diceriterakan ditanami dengan palawija nyaris gundul tidak ada apa-apanya.
“Kula nuwun. Mbok Jah, mbok Jaah.”
Waktu akhirnya pintu dibuka mereka terkejut lagi melihat mbok Jah yang tua itu semakin tua lagi. Jalannya tergopoh tetapi juga tertatih-tatih menyambut bekas majikannya.
“Walah, walah, ndoro-ndoro saya yang baik, kok bersusah-susah mau datang ke desa saya yang buruk ini. Mangga, mangga, ndoro, silakan masuk dan duduk di dalam.”
Di dalam hanya ada satu meja, beberapa kursi yang sudah reyot dan sebuah amben yang agaknya adalah tempat tidur mbok Jah. Mereka disilakan duduk. Dan keluarga Mulyono masih ternganga-nganga melihat kenyataan rumah bekas pembantu mereka itu.
“Ndoro-ndoro, sugeng riyadi, nggih, minal aidin wal faifin. Semua dosa-dosa saya supaya diampuni, nggih, ndoro-ndoro, gus-den rara.”
“Iya, iya, mbok. Sama-sama saling memaafkan.”
“Lho, ini tadi pasti belum makan semua to? Tunggu, semua duduk yang enak, si mbok masakkan, nggih?”
“Jangan repot-repot, mbok. Kita tidak lapar, kok. Betul!”
“Aah, pasti lapar. Lagi ini sudah hampir asar. Saya masakkan nasi tiwul, nasi dicampur tepung gaplek, nggih.”
Tanpa menunggu pendapat ndoro-ndoronya mbok Jah langsung saja menyibukkan dirinya menyiapkan makanan. Kedono dan Kedini yang ingin membantu ditolak. Mereka kemudian menyaksikan bagaimana mbok Jah mereka yang di dapur mereka di kota dengan gesit menyiapkan makanan dengan kompor elpiji dengan nyala api yang mantap, di dapur desa itu, yang sesungguhnya juga di ruang dalam termpat mereka duduk, mereka menyaksikan si mbok dengan sudah payah meniup serabut-serabut kelapa yang agaknya tidak cukup kering mengeluarkan api. Akhirnya semua makanan itu siap juga dihidangkan di meja. Yang disebutkan sebagai semua makanan itu nasi tiwul, daun singkong rebus dan sambal cabe merah dengan garam saja. Air minum disediakan di kendi yang terbuat dari tanah.
“Silakan ndoro, makan seadanya. Tiwul Gunung Kidul dan sambelnya mbok Jah tidak pakai terasi karena kehabisan terasi dan temannya cuma daun singkong yang direbus.”
Mereka pun makan pelan-pelan. Mbok Jah yang di rumah mereka kadang-kadang masak spagetti atau sup makaroni di rumahnya hanya mampu masak tiwul dengan daun singkong rebus dan sambal tanpa terasi. Dan keadaan rumah itu? Ke mana saja uang tabungannya yang lumayan itu pergi? Bukankah dia dulu berani pulang ke desa karena yakin sanak saudaranya akan dapat menolong dan menampungnya dalam desa itu? Keluarga itu, seakan dibentuk oleh pertanyaan batin kolektif, membayangkan berbagai kemungkinan. Dan Mbok Jah seakan mengerti apa yang sedang dipikir dan dibayangkan oleh ndoro-ndoronya segera menjelaskan.
“Sanak saudara saya itu miskin semua kok, ndoro. Jadi uang sangu saya dan kota lama-lama ya habis buat bantu ini dan itu.”
“Lha, lebaran begini apa mereka tidak datang to, mbok?”
Mbok Jah tertawa. “Lha, yang dicari di sini itu apa lho, ndoro. Ketupat sama opor ayam?”
“Anakmu?”
Mbok Jah menggelengkan kepala tertawa kecut.
“Saya itu punya anak to, ndoro?”
Kedono dan Kedini tidak tahan lagi. Diletakkan piring mereka dan langsung memegang bahu embok mereka. “Kau ikut kami ke kota ya? Harus! Sekarang bersama kami!” Mbok Jah tersenyum tapi menggelengkan kepalanya.
“Si mbok tahu kalau anak-anakku akan menawarkan ini. Kalian anak-anakku yang baik. Tapi tidak, gus-den rara, rumah si mbok di hari tua ya di sini mi. Nanti Sekaten dan Lebaran akan datang saya pasti datang. Betul.”
Mereka pun tahu itu keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Lalu mereka pamit mau pulang. Tetapi hujan turun semakin deras dan rapat. Mbok Jah mengingatkan ndoro kakungnya kalau hujan begitu akan susah mengemudi. Jalan akan tidak kelihatan saking rapatnya air hujan turun. Di depan hanya akan kelihatan warna putih dan kelabu. Mereka pun lantas duduk berderet di amben di beranda memandang ke tegalan. Benar tegalan itu berwarna putih dan kelabu.
Sumber: Harian Republika, 23 Maret 1994.
Cerpen Umar Kayam
Sudah dua tahun, baik pada Lebaran maupun Sekaten, Mbok Jah tidak “turun gunung” keluar dari desanya di bilangan Tepus, Gunung Kidul, untuk berkunjung ke rumah bekas majikannya, keluarga Mulyono, di kota. Meski pun sudah berhenti karena usia tua dan capek menjadi pembantu rumah, Mbok Jah tetap memelihara hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga itu. Dua puluh tahun telah dilewatinya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang sederhana dan sedang-sedang saja kondisi ekonominya. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan yang baik dan penuh tepa slira dari seluruh keluarga itu telah memberinya rasa aman, tenang dan tentram.
Buat seorang janda yang sudah selalu tua itu, apalah yang dikehendaki selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagi pula anak tunggalnya yang tinggal di Surabaya dan menurut kabar hidup berkecukupan tidak mau lagi berhubungan dengannya. Tarikan dan pelukan istri dan anak-anaknya rupanya begitu erat melengket hingga mampu melupakan ibunya sama sekali. Tidak apa, hiburnya. Di rumah keluarga Mulyono ini dia merasa mendapat semuanya. Tetapi waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, Mbok Jah merasa dirinya menjadi beban keluarga itu. Dia merasa menjadi buruh tumpangan gratis. Dan harga dirinya memberontak terhadap keadaan itu. Diputuskannya untuk pulang saja ke desanya.
Dia masih memiliki warisan sebuah rumah desa yang meskipun sudah tua dan tidak terpelihara akan dapat dijadikannya tempat tinggal di hari tua. Dan juga tegalan barang sepetak dua petak masih ada juga. Pasti semua itu dapat diaturnya dengan anak jauhnya di desa. Pasti mereka semua dengan senang hati akan menolongnya mempersiapkan semuanya itu. Orang desa semua tulus hatisnya. Tidak seperti kebanyakan orang kota, pikirnya. Sedikit-sedikit duit, putusnya.
Maka dikemukakannya ini kepada majikannya. Majikannya beserta seluruh anggota keluarganya, yang hanya terdiri dari suami istri dan dua orang anak, protes keras dengan keputusan Mbok Jah. Mbok Jah sudah menjadi bagian yang nyata dan hidup sekali dari rumah tangga ini, kata ndoro putri. Dan siapa yang akan mendampingin si Kedono dan si Kedini yang sudah beranjak dewasa, desah ndoro kakung. Wah, sepi lho mbok kalau tidak ada kamu. Lagi, siapa yang dapat bikin sambel trasi yang begitu sedap dan mlekok selain kamu, mbok, tukas Kedini dan Kedono.
Pokoknya keluarga majikan tidak mau ditinggalkan oleh mbok Jah. Tetapi keputusan mbok Jah sudah mantap. Tidak mau menjadi beban sebagai kuda tua yang tidak berdaya. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya diputuskan suatu jalan tengah. Mbok Jah akan “turun gunung” dua kali dalam setahun yaitu pada waktu Sekaten dan waktu Idul Fitri.
Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Mbok Jah menepati janjinya. Waktu Sekaten dan Idul Fitri dia memang datang. Seluruh keluarga Mulyono senang belaka setiap kali dia datang. Bahkan Kedono dan Kedini selalu rela ikut menemaninya duduk menglesot di halaman masjid kraton untuk mendengarkan suara gamelan Sekaten yang hanya berbunyi tang-tung-tang-tung-grombyang itu. Malah lama kelamaan mereka bisa ikut larut dan menikmati suasana Sekaten di masjid itu.
“Kok suaranya aneh ya, mbok. Tidak seperti gamelan kelenangan biasanya.”
“Ya, tidak Gus, Dan Rara. Ini gending keramatnya Kanjeng Nabi Mohamad.”
“Lha, Kanjeng Nabi apa tidak mengantuk mendengarkan ini, mbok.”
“Lha, ya tidak. Kalau mau mendengarkan dengan nikmat pejamkan mata kalian.” Nanti rak kalian akan bisa masuk.”
Mereka menurut. Dan betul saja, lama-lama suara gamelan Sekaten itu enak juga didengar.
Selain Sekaten dan Idul Fitri itu peristiwa menyenangkan karena kedatangan mbok Jah, sudah tentu juga oleh-oleh mbok Jah dari desa. Terutama juadah yang halus, bersih dan gurih, dan kehebatan mbok Jah menyambal terasi yang tidak kunjung surut. Sambal itu ditaruhnya dalam satu stoples dan kalau habis, setiap hari dia masih akan juga menyambelnya. Belum lagi bila dia membantu menyiapkan hidangan lebaran yang lengkap. Orang tua renta itu masih kuat ikut menyiapkan segala masakan semalam suntuk. Dan semuanya masih dikerjakannya dengan sempurna. Opor ayam, sambel goreng ati, lodeh, srundeng, dendeng ragi, ketupat, lontong, abon, bubuk kedela, bubuk udang, semua lengkap belaka disediakan oleh mbok Jah. Dari mana enerji itu datang pada tubuh orang tua itu tidak seorang pun dapat menduganya.
Setiap dia pulang ke desanya, mbok Jah selalu kesulitan untuk melepaskan dirinya dan pelukan Kedono dan Kedini. Anak kembar laki-perempuan itu, meski sudah mahasiswa selalu saja mendudukkan diri mereka pada embok tua itu. Ndoro putri dan ndoro kakung selalu tidak lupa menyisipkan uang sangu beberapa puluh ribu rupiah dan tidak pernah lupa wanti-wanti pesan untuk selalu kembali setiap Sekaten dan Idul Fitri.
“Inggih, ndoro-ndoro saya dan gus-den rara yang baik. Saya pasti akan datang.”
Tetapi begitulah. Sudah dua Sekaten dan dua Lebaran terakhir mbok Jah tidak muncul. Keluarga Mulyono bertanya-tanya jangan-jangan mbok Jah mulai sakit-sakitan atau jangan-jangan malah….
“Ayo, sehabis Lebaran kedua kita kunjungi mbok Jah ke desanya,” putus ndoro kakung.
“Apa bapak tahu desanya?”
“Ah, kira-kira ya tahu. Wong di Gunung Kidul saja, lho. Nanti kita tanya orang.”
Dan waktu untuk bertanya kesana kemari di daerah Tepus, Gunung Kidul, itu ternyata lama sekali. Pada waktu akhirnya desa mbok Jah itu ketemu, jam sudah menunjukkan lewat jam dua siang. Perut Kedono dan Kedini sudah lapar meskipun sudah diganjal dengan roti sobek yang seharusnya sebagian untuk oleh-oleh mbok Jah.
Desa itu tidak lndah, nyaris buruk, dan ternyata juga tidak makmur dan subur. Mereka semakin terkejut lagi waktu menemukan rumah mbok Jah. Kecil, miring dan terbuat dan gedek dan kayu murahan. Tegalan yang selalu diceriterakan ditanami dengan palawija nyaris gundul tidak ada apa-apanya.
“Kula nuwun. Mbok Jah, mbok Jaah.”
Waktu akhirnya pintu dibuka mereka terkejut lagi melihat mbok Jah yang tua itu semakin tua lagi. Jalannya tergopoh tetapi juga tertatih-tatih menyambut bekas majikannya.
“Walah, walah, ndoro-ndoro saya yang baik, kok bersusah-susah mau datang ke desa saya yang buruk ini. Mangga, mangga, ndoro, silakan masuk dan duduk di dalam.”
Di dalam hanya ada satu meja, beberapa kursi yang sudah reyot dan sebuah amben yang agaknya adalah tempat tidur mbok Jah. Mereka disilakan duduk. Dan keluarga Mulyono masih ternganga-nganga melihat kenyataan rumah bekas pembantu mereka itu.
“Ndoro-ndoro, sugeng riyadi, nggih, minal aidin wal faifin. Semua dosa-dosa saya supaya diampuni, nggih, ndoro-ndoro, gus-den rara.”
“Iya, iya, mbok. Sama-sama saling memaafkan.”
“Lho, ini tadi pasti belum makan semua to? Tunggu, semua duduk yang enak, si mbok masakkan, nggih?”
“Jangan repot-repot, mbok. Kita tidak lapar, kok. Betul!”
“Aah, pasti lapar. Lagi ini sudah hampir asar. Saya masakkan nasi tiwul, nasi dicampur tepung gaplek, nggih.”
Tanpa menunggu pendapat ndoro-ndoronya mbok Jah langsung saja menyibukkan dirinya menyiapkan makanan. Kedono dan Kedini yang ingin membantu ditolak. Mereka kemudian menyaksikan bagaimana mbok Jah mereka yang di dapur mereka di kota dengan gesit menyiapkan makanan dengan kompor elpiji dengan nyala api yang mantap, di dapur desa itu, yang sesungguhnya juga di ruang dalam termpat mereka duduk, mereka menyaksikan si mbok dengan sudah payah meniup serabut-serabut kelapa yang agaknya tidak cukup kering mengeluarkan api. Akhirnya semua makanan itu siap juga dihidangkan di meja. Yang disebutkan sebagai semua makanan itu nasi tiwul, daun singkong rebus dan sambal cabe merah dengan garam saja. Air minum disediakan di kendi yang terbuat dari tanah.
“Silakan ndoro, makan seadanya. Tiwul Gunung Kidul dan sambelnya mbok Jah tidak pakai terasi karena kehabisan terasi dan temannya cuma daun singkong yang direbus.”
Mereka pun makan pelan-pelan. Mbok Jah yang di rumah mereka kadang-kadang masak spagetti atau sup makaroni di rumahnya hanya mampu masak tiwul dengan daun singkong rebus dan sambal tanpa terasi. Dan keadaan rumah itu? Ke mana saja uang tabungannya yang lumayan itu pergi? Bukankah dia dulu berani pulang ke desa karena yakin sanak saudaranya akan dapat menolong dan menampungnya dalam desa itu? Keluarga itu, seakan dibentuk oleh pertanyaan batin kolektif, membayangkan berbagai kemungkinan. Dan Mbok Jah seakan mengerti apa yang sedang dipikir dan dibayangkan oleh ndoro-ndoronya segera menjelaskan.
“Sanak saudara saya itu miskin semua kok, ndoro. Jadi uang sangu saya dan kota lama-lama ya habis buat bantu ini dan itu.”
“Lha, lebaran begini apa mereka tidak datang to, mbok?”
Mbok Jah tertawa. “Lha, yang dicari di sini itu apa lho, ndoro. Ketupat sama opor ayam?”
“Anakmu?”
Mbok Jah menggelengkan kepala tertawa kecut.
“Saya itu punya anak to, ndoro?”
Kedono dan Kedini tidak tahan lagi. Diletakkan piring mereka dan langsung memegang bahu embok mereka. “Kau ikut kami ke kota ya? Harus! Sekarang bersama kami!” Mbok Jah tersenyum tapi menggelengkan kepalanya.
“Si mbok tahu kalau anak-anakku akan menawarkan ini. Kalian anak-anakku yang baik. Tapi tidak, gus-den rara, rumah si mbok di hari tua ya di sini mi. Nanti Sekaten dan Lebaran akan datang saya pasti datang. Betul.”
Mereka pun tahu itu keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Lalu mereka pamit mau pulang. Tetapi hujan turun semakin deras dan rapat. Mbok Jah mengingatkan ndoro kakungnya kalau hujan begitu akan susah mengemudi. Jalan akan tidak kelihatan saking rapatnya air hujan turun. Di depan hanya akan kelihatan warna putih dan kelabu. Mereka pun lantas duduk berderet di amben di beranda memandang ke tegalan. Benar tegalan itu berwarna putih dan kelabu.
Sumber: Harian Republika, 23 Maret 1994.
Pembisik
Pembisik
Cerpen Wisran Hadi
Keterlibatanku dalam dunia sandiwara dimulai dan berakhir sebagai pembisik. Membisiki dialog para aktor yang sedang bermain di panggung, sekiranya mereka lupa naskah agar sandiwara itu berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh sutradara. Sebab, banyak sekali aktor yang tidak setia pada naskah. Bukan karena mereka menolak dominasi sutradara, tetapi banyak di antara mereka yang lemah ingatan, tidak dapat menghafal dialog yang ada pada naskah dengan baik. Tetapi ada juga yang karena terlalu kreatif, mereka menciptakan dialog sendiri saat mereka lupa pada dialog sesungguhnya.
Sebagai pembisik aku selalu duduk di pojok, di wing pentas, di belakang layar. Dengan sebuah senter kecil aku ikuti semua dialog para pemain yang ada dalam naskah. Bila mereka lupa naskah, biasanya mereka pura-pura berjalan ke samping pentas, ke dekatku. Lalu aku membisikinya. Setelah itu mereka kembali berlakon sesuai dengan kata atau kalimat yang kubisikkan.
Menjadi pembisik memang tidak pernah terkenal. Yang selalu disanjung penonton adalah pemain yang tampak dan berakting di panggung. Tapi aku menyadari juga, memang tidak semua orang harus terkenal. Alasan begitu sebenarnya hanya untuk menentramkan hatiku sendiri, karena aku tidak mampu berakting seperti yang lain. Aku hanya mampu sebagai pembisik. Apalagi ketika aku dipuji-puji sutradara, bahwa aku adalah penyimak teks yang sangat teliti. Kenyataannya memang, kalau tidak ada pembisik para pemain atau sutradara akan selalu dikurung kecemasan. Mereka takut kalau-kalau pertunjukan tidak lancar. Betapa konyol sebuah pertunjukan, bila para pemain lupa naskah. Lalu, apa yang akan diucapkannya?
Sebelum pertunjukan, biasanya aku ditraktir sutradara minum kopi dan dipuji-puji tapi selesai pertunjukan, jangankan ditraktir menyalami aku pun mereka sering lupa. Dan segi itu memang malang menjadi seorang pembisik. Tapi dan segi lain, aku justru yang paling banyak mendapat rezeki. Aku dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pemain-pemain wanita, biasanya pemain-pemain pembantu dan cantik-cantik, yang sedang menunggu giliran muncul biasanya mereka berdiri di samping pentas sambil memperhatikan permainan yang sedang herlangsung. Mereka tidak peduli berdiri berdempet-dempet. Aku sering kebagian dempetan itu. Bahkan lebih rapat lagi. Apalagi kalau sayap panggung pertunjukan itu sempit sekali. Siapa pun tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya kalau seorang pembisik seperti aku berdiri berdempetan dengan gadis-gadis pemain begitu rapat dan begitu lama. Apalagi hari malam dan gelap gulita pula. Aku sering ganti celana bila sampai pondokan setelah pertunjukan.
Yang menjengkelkan sebagai pembisik bila membisiki pemain yang tidak setia pada naskah. Sewaktu latihan dia begitu setianya pada naskah. Tapi dalam pertunjukan dia bicara semaunya. Mereka memperlihatkan kehebatannya di luar kontrol sutradara. Sebab mereka menyadari, tidak mungkin sutradara akan menstop seorang pemain bicara dalam sebuah pertunjukan yang sedang berlangsung. Bila sudah demikian, aku tidak dapat lagi menyimak naskah dan mengikuti apa yang dikatakannya. Aku jengkel dengan pemain-pemain seperti itu. Dengan alasan kreativitas, mereka mengubah naskah semaunya. Tapi kalau sudah kehabisan kata, mereka mendekatiku minta dibisiki.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, aku sengaja mempergunakannya dengan baik melepas sakit hatiku pada mereka. Ketikan Leon berperan sebagai Nimrod, seorang penguasa dunia yang berlagak ingin menandingi Tuhan, dia bicara sesuka hatinya. Aku bingung. Namun ketika dia lupa teks dan seharusnya mengucapkan: “Hai, spada! Di manakah Tuhan?” dia mendekatiku minta dibisiki. Inilah kesempatan bagiku. Kubisiki, “Hai, Tuhan. Bukankah kau setan?” Leon tak sempat lagi berpikir karena dia sudah gugup karena lupa naskah. Kata itu diucapkannya dengan lantang. Penontot kaget dan gelisah. Bahkan ada yang berteriak memprotes, menyamakan Tuhan dengan setan. Cerita jadi berubah karena pemain lain juga bingung mendapat protes tiba-tiba dari penonton.
Ketika pertunjukan selesai, aku dimaki sutradara. Dikatakannya aku telah menjerumuskannya. Aku dituduk sebagai pemutar balik cerita dan musuh kesenian. “Dalam ketentaraan kau disebut desersi. Hukumannya hanya satu, termbak mati!” kata sutradara. “Penonton kita sekarang bukan orang bodoh lagi. Mereka tahu kata-kata yang masuk akal dan yang tidak,” lanjut sutradara itu lagi.
Sebaliknya Leon dan para pemain lainnya memuji-mujiku. “Kau hebat!” kata Leon dengan bangga. “Bisikan yang salah itu telah membuat aku menemukan permintaanku yang sesungguhnya,” lanjutnya lagi.
“Memang aku tidak berniat sama sekali menjerumuskan siapa pun,” kataku pelan. Dalam hati aku berkata sendiri; “Mampuslah kau! Kau selalu tidak mengacuhkanku. Menghinaku. Kini rasakan, aku robah kalimat-kalimatmu. Aku plesetkan dialogmu.”
Ketika akan mementaskan drama Tuanku Imam Bonjol, aku dibujuk lagi untuk jadi pembisik oleh sutradara. Celakanya, aku juga suka dibujuk seperti itu. Mulanya aku pura-pura menolak, tapi sutradara mengatakan kepadaku bahwa aku harus jadi pembisik.
“Kalau sempat posisi itu diambil orang lain, aku tidak tahu apa yang akan mereka bisikkan pada pemain-pemain kita. Mungkin pertunjukan bisa kacau.”
“Tapi aku tidak dipercaya lagi sebagai pembisik.”
“Siapa bilang? Ah kau! Kau jangan ikut-ikutan sentimentil seperti aktor-aktor yang banyak itu. Kau pembisik, kawan! Hanya kau yang akan dapat menentukan apa yang akan dikatakan seorang aktor. E, Bung! Semakin hebat scorang aktor, semakin dia tergantung pada pembisik. Ingat kawan, tidak semua orang yang mampu jadi pembisik. Secara filosofis, pembisik itu penyampai suara Tuhan! Ah, kau.”
Empat hari lamanya sutradara itu meyakinkanku betapa pentingnya seorang pembisik terutama dalam pertunjukan yang akan datang. Sebuah pertunjukan kolosal, melibatkan banyak pemain dan figuran. Pertunjukan akan berdarah-darah. Kisah tentang Perang Paderi. Perang saudara, perang antarsuku dan antaragama. Perang antara pribumi penganut Islam dengan penjajah yang beragama Kristen.
“Kau kan tahu, bagaimana kesulitan Tuanku Imam ketika dia harus memilih kata apakah perang Paderi itu sebuah perang saudara atau perang antaragama? Kau bisa bayangkan kawan, bila Leo, aktor kita yang memerankan Tuanku Imam itu tidak dibisiki. Dia terlalu kreatif. Dia suka bicara semaunya. Sementara naskah menuntut agar dia tetap setia pada teks. Kesalahan membaca teks sama dengan kesalahan mengungkapkan data. Jika dia tidak dibisiki, perang Paderi itu pasti akan berubah bentuk menjadi perang kemerdekaan. Padahal waktu itu belum ada niat sama sekali untuk merdeka secara sendiri-sendiri.”
Memang harus diakui, Leon yang akan memerankan Tuanku Imam Bonjol itu seorang pemain yang berbakat tapi suka uring-uringan. Kalau soal akting, wibawa, ya bolehlah. Tapi kebiasaanya memplesetkan teks, lupa, tidak suka dengan kalimat yang ada dalam naskah lalu digantinya dengan kalimatnya sendiri, sering membuat latihan jadi kacau. Di dalam naskah jelas-jelas tertulis; “Kita harus mencari penyelesaian terhadap perselisihan paham antara masyarakat Lubuk Sikaping dengan masyarakat Agam yang sudah hampir satu setengah tahun berjalan dan memakan korban banyak sekali,” tapi Leon mempersingkatnya dengan nada suatu yang penuh irama dan wibawa; “Urusan orang Lubuk Sikaping dan orang Agam harus diselesaikan oleh mereka sendiri.”
Gila! Sutradara mana pun pasti akan marah. Tapi sutradara yang sedang menangani persiapan pementasan itu hanya diam saja. Dia takut, kalau-kalau Leon yang uring-uringan itu menarik diri sementara jadwal pertunjukan ke Jakarta sudah semakin dekat.
“Coba bayangkan Bung. Sekiranya hal seperti itu dilakukannya sewaktu pertunjukan berlangsung,” kata sutradara menarik napas panjang setelah selesai latihan yang kacau itu padaku.
“Tapi apakah ada jaminan kalau aku akan membisiki secara jujur dan sesuai dengan teks naskah?”
“Aku percaya padamu. Itulah sebabnya kau kupercaya sebagai pembisik. Tugasmu hanya satu. Membisiki Tuanku Imam. Yang lain tak perlu dibisiki karena mereka harus mengikuti apa yang dimainkan Tuanku Imam.”
Pertunjukan pun berlangsung. Aku sudah siap menjadi pembisik. Aku tidak akan mau seperti membisiki Leon seperti dulu lagi. Aku sudah berjanji untuk jujur sebagai pembisik. Dengan senter kecil bersinar merah, aku duduk di balik layar merah yang membatasi korsi singgasana Tuanku Imam dengan benteng Bonjol yang terkenal ampuh dan tangguh itu.
Huru-hara terjadi. Tembakan-tembakan bertubi-tubi, siang dan malam. Teriakan-teriakan, gemerincing suara pedang beradu, tombak melayang-layang melintasi panggung sejarah, jerit dan rintihan bertahan para suhada yang dibantai tentara penjajah, pidato-pidato berapi-api dan berbagai tokoh, pengkhianat dan provokator. Asap mengepul membumbung tinggi. Berpuluh masjid, surau dan sekolah-sekolah agama dibakar. Ribuan jenazah tergeletak. Ketika jenazah-jenazah itu diusung ke luar untuk dimakamkan, semua orang menangis.
Leon yang memerankan Tuanku Imam benar-benar aktor sialan! Dia juga ikut terharu dengan adegan itu. Semestinya dia harus berdiri di atas benteng Bonjol menyaksikan dengan tegar dan semangat membara atas tragedi yang telah menimpa rakyatnya, memberi komando jihad dan menghancurkan musuh. Dia harus memperlihatkan sosok sebagai pahlawan Indonesia sejati. Tanpa mengenal air mata dan sentuhan hati! Tapi Leon, Leon. Dia ikut menangis ketika semua penontot tersedu menyaksikan pembantaian dan pembunuhan para pejuang oleh penjajah tanpa mengenal belas kasihan. Kemudian Leon maju ke depan prosenium dan berbisik dengan suara serak; “Jangan sedih. Yang terbunuh hanya lima orang.”
Gerr! Gedung pertunjukan meledak oleh tawa penonton yang tiba-tiba. Leon gugup kenapa tiba-tiba penonton tertawa, padahal bagian itu adalah bagian yang memilukan.
Selesai pertunjukan aku kembali dimaki sutradara. “Kau telah menghancurkan data sejarah! Did alam naskah yang terbunuh itu tiga ribu orang! Tiga ribu! Kau bisikkan pada Leon hanya lima orang! Gila! Kau musuh sejarah, musuh kesenian,” katanya dengan suara melengking.
Aku sakit hati dengan tuduhan itu. Padahal aku tidak membisiki apa-apa padanya. Sejak Leon berperan menjadi Tuanku Imam, dia tidak peduli denganku. Dia maju ke prosenium, artinya dia tidak lupa naskah. Kalau lupa, pasti dida mendekatku, ke pinggir pentas. Aku harus membalas makian sutradara itu pada sang Tuanku Imam.
“E, Bung! Akuk kan tidak pernah membisikimu berapa orang yang terbunuh. Kenapa kau ucapkan yang terbunuh hanya lima orang. Padahal yang mati tiga ribu! Sutradara memaki aku karena kesalahanmu. Aku tidak suka memikul dosa orang lain, bung! Kau harus klarifikasikan persoalan ini dengan sutradara!”
“Yang diusung ke luar pentas waktu pertunjukan tadi benar lima orang kan?”
“lya! Tapi kenyataan yang sesungguhnya tiga ribu! Yang lima itu hanya simbol! Masa kau tidak tahu simbol?”
“Tunggu. Apa iya aku bilang lima orang?”
“Jadi, kau tidak sadar waktu mengucapkan bilangan itu?”
Tuanku diam. Ditolakkannya gagang kacamata yang melorot di pipinya ke atas dengan punggung tangannya.
“Tenang saja, Bung,” katanya setelah lama diam. “Apa bedanya bila kusebut lima, sepuluh, seratus, atau berapa saja. Toh angka-angka yang mati itu tidak akan dapat mengubah jumlah sesungguhnya,” lanjutnya.
“Lalu, menurut pemahamanmu, berapa jumlah yang sesungguhnya itu?”
“Menurut teks dalam naskah kan tiga ribu. Ya sebanyak itu.”
“Lalu, kenapa kau ucapkan lima orang!”
“Waktu itu aku lupa, Bung. Lalu aku dibisiki — Jangan sedih. Yang mati hanya lima orang! — Aku harus mengucapkan kata itu, sebab aku sedang dalam terharu berat.”
“Dibisiki? Siapa yang membisikimu? Kan aku satu-satunya yang jadi pembisik.”
“Ah masa,” jawab Tuanku ringan. “Ada pembisik lain, tapi kau tidak tahu.”
“Siapa yang mengangkat pembisik lain? Sutradara?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Aku. Aku kan juga punya banyak pembisik, Bung!”
Aku pulang tanpa menoleh lagi. Sepanjang jalan aku menyumpah-nyumpah. Ternyata pertunjukan yang berdarah-darah itu sudah tidak terkendali lagi. Sutradara menunjukku sebagai pembisik. Ternyata diam-diam Tuanku Imam telah menunjuk beberapa orang pembisik lain tanpa
sepengetahuan sutradara dan tidak memberitahukan pula kepadaku. Ada pembisik lain yang lebih dipercaya Tuanku Imam daripada aku.
Sejak malam itu aku berhenti jadi pembisik, sementara Tuanku Imam terus mengadakan pertunjukan ke mana-mana.
“Selamat jalan sandiwara,” bisikku ketika kulihat Tuanku melambaikan tangan dan balik kaca buram bus yang berangkat membawa mereka ke gedung-gedung pertunjukan lain.
“Kami keliling dunia, Bung!” seru sang Tuanku. (***)
Harian Republika, 20 Februari 2000
Cerpen Wisran Hadi
Keterlibatanku dalam dunia sandiwara dimulai dan berakhir sebagai pembisik. Membisiki dialog para aktor yang sedang bermain di panggung, sekiranya mereka lupa naskah agar sandiwara itu berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh sutradara. Sebab, banyak sekali aktor yang tidak setia pada naskah. Bukan karena mereka menolak dominasi sutradara, tetapi banyak di antara mereka yang lemah ingatan, tidak dapat menghafal dialog yang ada pada naskah dengan baik. Tetapi ada juga yang karena terlalu kreatif, mereka menciptakan dialog sendiri saat mereka lupa pada dialog sesungguhnya.
Sebagai pembisik aku selalu duduk di pojok, di wing pentas, di belakang layar. Dengan sebuah senter kecil aku ikuti semua dialog para pemain yang ada dalam naskah. Bila mereka lupa naskah, biasanya mereka pura-pura berjalan ke samping pentas, ke dekatku. Lalu aku membisikinya. Setelah itu mereka kembali berlakon sesuai dengan kata atau kalimat yang kubisikkan.
Menjadi pembisik memang tidak pernah terkenal. Yang selalu disanjung penonton adalah pemain yang tampak dan berakting di panggung. Tapi aku menyadari juga, memang tidak semua orang harus terkenal. Alasan begitu sebenarnya hanya untuk menentramkan hatiku sendiri, karena aku tidak mampu berakting seperti yang lain. Aku hanya mampu sebagai pembisik. Apalagi ketika aku dipuji-puji sutradara, bahwa aku adalah penyimak teks yang sangat teliti. Kenyataannya memang, kalau tidak ada pembisik para pemain atau sutradara akan selalu dikurung kecemasan. Mereka takut kalau-kalau pertunjukan tidak lancar. Betapa konyol sebuah pertunjukan, bila para pemain lupa naskah. Lalu, apa yang akan diucapkannya?
Sebelum pertunjukan, biasanya aku ditraktir sutradara minum kopi dan dipuji-puji tapi selesai pertunjukan, jangankan ditraktir menyalami aku pun mereka sering lupa. Dan segi itu memang malang menjadi seorang pembisik. Tapi dan segi lain, aku justru yang paling banyak mendapat rezeki. Aku dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pemain-pemain wanita, biasanya pemain-pemain pembantu dan cantik-cantik, yang sedang menunggu giliran muncul biasanya mereka berdiri di samping pentas sambil memperhatikan permainan yang sedang herlangsung. Mereka tidak peduli berdiri berdempet-dempet. Aku sering kebagian dempetan itu. Bahkan lebih rapat lagi. Apalagi kalau sayap panggung pertunjukan itu sempit sekali. Siapa pun tentu dapat membayangkan bagaimana rasanya kalau seorang pembisik seperti aku berdiri berdempetan dengan gadis-gadis pemain begitu rapat dan begitu lama. Apalagi hari malam dan gelap gulita pula. Aku sering ganti celana bila sampai pondokan setelah pertunjukan.
Yang menjengkelkan sebagai pembisik bila membisiki pemain yang tidak setia pada naskah. Sewaktu latihan dia begitu setianya pada naskah. Tapi dalam pertunjukan dia bicara semaunya. Mereka memperlihatkan kehebatannya di luar kontrol sutradara. Sebab mereka menyadari, tidak mungkin sutradara akan menstop seorang pemain bicara dalam sebuah pertunjukan yang sedang berlangsung. Bila sudah demikian, aku tidak dapat lagi menyimak naskah dan mengikuti apa yang dikatakannya. Aku jengkel dengan pemain-pemain seperti itu. Dengan alasan kreativitas, mereka mengubah naskah semaunya. Tapi kalau sudah kehabisan kata, mereka mendekatiku minta dibisiki.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, aku sengaja mempergunakannya dengan baik melepas sakit hatiku pada mereka. Ketikan Leon berperan sebagai Nimrod, seorang penguasa dunia yang berlagak ingin menandingi Tuhan, dia bicara sesuka hatinya. Aku bingung. Namun ketika dia lupa teks dan seharusnya mengucapkan: “Hai, spada! Di manakah Tuhan?” dia mendekatiku minta dibisiki. Inilah kesempatan bagiku. Kubisiki, “Hai, Tuhan. Bukankah kau setan?” Leon tak sempat lagi berpikir karena dia sudah gugup karena lupa naskah. Kata itu diucapkannya dengan lantang. Penontot kaget dan gelisah. Bahkan ada yang berteriak memprotes, menyamakan Tuhan dengan setan. Cerita jadi berubah karena pemain lain juga bingung mendapat protes tiba-tiba dari penonton.
Ketika pertunjukan selesai, aku dimaki sutradara. Dikatakannya aku telah menjerumuskannya. Aku dituduk sebagai pemutar balik cerita dan musuh kesenian. “Dalam ketentaraan kau disebut desersi. Hukumannya hanya satu, termbak mati!” kata sutradara. “Penonton kita sekarang bukan orang bodoh lagi. Mereka tahu kata-kata yang masuk akal dan yang tidak,” lanjut sutradara itu lagi.
Sebaliknya Leon dan para pemain lainnya memuji-mujiku. “Kau hebat!” kata Leon dengan bangga. “Bisikan yang salah itu telah membuat aku menemukan permintaanku yang sesungguhnya,” lanjutnya lagi.
“Memang aku tidak berniat sama sekali menjerumuskan siapa pun,” kataku pelan. Dalam hati aku berkata sendiri; “Mampuslah kau! Kau selalu tidak mengacuhkanku. Menghinaku. Kini rasakan, aku robah kalimat-kalimatmu. Aku plesetkan dialogmu.”
Ketika akan mementaskan drama Tuanku Imam Bonjol, aku dibujuk lagi untuk jadi pembisik oleh sutradara. Celakanya, aku juga suka dibujuk seperti itu. Mulanya aku pura-pura menolak, tapi sutradara mengatakan kepadaku bahwa aku harus jadi pembisik.
“Kalau sempat posisi itu diambil orang lain, aku tidak tahu apa yang akan mereka bisikkan pada pemain-pemain kita. Mungkin pertunjukan bisa kacau.”
“Tapi aku tidak dipercaya lagi sebagai pembisik.”
“Siapa bilang? Ah kau! Kau jangan ikut-ikutan sentimentil seperti aktor-aktor yang banyak itu. Kau pembisik, kawan! Hanya kau yang akan dapat menentukan apa yang akan dikatakan seorang aktor. E, Bung! Semakin hebat scorang aktor, semakin dia tergantung pada pembisik. Ingat kawan, tidak semua orang yang mampu jadi pembisik. Secara filosofis, pembisik itu penyampai suara Tuhan! Ah, kau.”
Empat hari lamanya sutradara itu meyakinkanku betapa pentingnya seorang pembisik terutama dalam pertunjukan yang akan datang. Sebuah pertunjukan kolosal, melibatkan banyak pemain dan figuran. Pertunjukan akan berdarah-darah. Kisah tentang Perang Paderi. Perang saudara, perang antarsuku dan antaragama. Perang antara pribumi penganut Islam dengan penjajah yang beragama Kristen.
“Kau kan tahu, bagaimana kesulitan Tuanku Imam ketika dia harus memilih kata apakah perang Paderi itu sebuah perang saudara atau perang antaragama? Kau bisa bayangkan kawan, bila Leo, aktor kita yang memerankan Tuanku Imam itu tidak dibisiki. Dia terlalu kreatif. Dia suka bicara semaunya. Sementara naskah menuntut agar dia tetap setia pada teks. Kesalahan membaca teks sama dengan kesalahan mengungkapkan data. Jika dia tidak dibisiki, perang Paderi itu pasti akan berubah bentuk menjadi perang kemerdekaan. Padahal waktu itu belum ada niat sama sekali untuk merdeka secara sendiri-sendiri.”
Memang harus diakui, Leon yang akan memerankan Tuanku Imam Bonjol itu seorang pemain yang berbakat tapi suka uring-uringan. Kalau soal akting, wibawa, ya bolehlah. Tapi kebiasaanya memplesetkan teks, lupa, tidak suka dengan kalimat yang ada dalam naskah lalu digantinya dengan kalimatnya sendiri, sering membuat latihan jadi kacau. Di dalam naskah jelas-jelas tertulis; “Kita harus mencari penyelesaian terhadap perselisihan paham antara masyarakat Lubuk Sikaping dengan masyarakat Agam yang sudah hampir satu setengah tahun berjalan dan memakan korban banyak sekali,” tapi Leon mempersingkatnya dengan nada suatu yang penuh irama dan wibawa; “Urusan orang Lubuk Sikaping dan orang Agam harus diselesaikan oleh mereka sendiri.”
Gila! Sutradara mana pun pasti akan marah. Tapi sutradara yang sedang menangani persiapan pementasan itu hanya diam saja. Dia takut, kalau-kalau Leon yang uring-uringan itu menarik diri sementara jadwal pertunjukan ke Jakarta sudah semakin dekat.
“Coba bayangkan Bung. Sekiranya hal seperti itu dilakukannya sewaktu pertunjukan berlangsung,” kata sutradara menarik napas panjang setelah selesai latihan yang kacau itu padaku.
“Tapi apakah ada jaminan kalau aku akan membisiki secara jujur dan sesuai dengan teks naskah?”
“Aku percaya padamu. Itulah sebabnya kau kupercaya sebagai pembisik. Tugasmu hanya satu. Membisiki Tuanku Imam. Yang lain tak perlu dibisiki karena mereka harus mengikuti apa yang dimainkan Tuanku Imam.”
Pertunjukan pun berlangsung. Aku sudah siap menjadi pembisik. Aku tidak akan mau seperti membisiki Leon seperti dulu lagi. Aku sudah berjanji untuk jujur sebagai pembisik. Dengan senter kecil bersinar merah, aku duduk di balik layar merah yang membatasi korsi singgasana Tuanku Imam dengan benteng Bonjol yang terkenal ampuh dan tangguh itu.
Huru-hara terjadi. Tembakan-tembakan bertubi-tubi, siang dan malam. Teriakan-teriakan, gemerincing suara pedang beradu, tombak melayang-layang melintasi panggung sejarah, jerit dan rintihan bertahan para suhada yang dibantai tentara penjajah, pidato-pidato berapi-api dan berbagai tokoh, pengkhianat dan provokator. Asap mengepul membumbung tinggi. Berpuluh masjid, surau dan sekolah-sekolah agama dibakar. Ribuan jenazah tergeletak. Ketika jenazah-jenazah itu diusung ke luar untuk dimakamkan, semua orang menangis.
Leon yang memerankan Tuanku Imam benar-benar aktor sialan! Dia juga ikut terharu dengan adegan itu. Semestinya dia harus berdiri di atas benteng Bonjol menyaksikan dengan tegar dan semangat membara atas tragedi yang telah menimpa rakyatnya, memberi komando jihad dan menghancurkan musuh. Dia harus memperlihatkan sosok sebagai pahlawan Indonesia sejati. Tanpa mengenal air mata dan sentuhan hati! Tapi Leon, Leon. Dia ikut menangis ketika semua penontot tersedu menyaksikan pembantaian dan pembunuhan para pejuang oleh penjajah tanpa mengenal belas kasihan. Kemudian Leon maju ke depan prosenium dan berbisik dengan suara serak; “Jangan sedih. Yang terbunuh hanya lima orang.”
Gerr! Gedung pertunjukan meledak oleh tawa penonton yang tiba-tiba. Leon gugup kenapa tiba-tiba penonton tertawa, padahal bagian itu adalah bagian yang memilukan.
Selesai pertunjukan aku kembali dimaki sutradara. “Kau telah menghancurkan data sejarah! Did alam naskah yang terbunuh itu tiga ribu orang! Tiga ribu! Kau bisikkan pada Leon hanya lima orang! Gila! Kau musuh sejarah, musuh kesenian,” katanya dengan suara melengking.
Aku sakit hati dengan tuduhan itu. Padahal aku tidak membisiki apa-apa padanya. Sejak Leon berperan menjadi Tuanku Imam, dia tidak peduli denganku. Dia maju ke prosenium, artinya dia tidak lupa naskah. Kalau lupa, pasti dida mendekatku, ke pinggir pentas. Aku harus membalas makian sutradara itu pada sang Tuanku Imam.
“E, Bung! Akuk kan tidak pernah membisikimu berapa orang yang terbunuh. Kenapa kau ucapkan yang terbunuh hanya lima orang. Padahal yang mati tiga ribu! Sutradara memaki aku karena kesalahanmu. Aku tidak suka memikul dosa orang lain, bung! Kau harus klarifikasikan persoalan ini dengan sutradara!”
“Yang diusung ke luar pentas waktu pertunjukan tadi benar lima orang kan?”
“lya! Tapi kenyataan yang sesungguhnya tiga ribu! Yang lima itu hanya simbol! Masa kau tidak tahu simbol?”
“Tunggu. Apa iya aku bilang lima orang?”
“Jadi, kau tidak sadar waktu mengucapkan bilangan itu?”
Tuanku diam. Ditolakkannya gagang kacamata yang melorot di pipinya ke atas dengan punggung tangannya.
“Tenang saja, Bung,” katanya setelah lama diam. “Apa bedanya bila kusebut lima, sepuluh, seratus, atau berapa saja. Toh angka-angka yang mati itu tidak akan dapat mengubah jumlah sesungguhnya,” lanjutnya.
“Lalu, menurut pemahamanmu, berapa jumlah yang sesungguhnya itu?”
“Menurut teks dalam naskah kan tiga ribu. Ya sebanyak itu.”
“Lalu, kenapa kau ucapkan lima orang!”
“Waktu itu aku lupa, Bung. Lalu aku dibisiki — Jangan sedih. Yang mati hanya lima orang! — Aku harus mengucapkan kata itu, sebab aku sedang dalam terharu berat.”
“Dibisiki? Siapa yang membisikimu? Kan aku satu-satunya yang jadi pembisik.”
“Ah masa,” jawab Tuanku ringan. “Ada pembisik lain, tapi kau tidak tahu.”
“Siapa yang mengangkat pembisik lain? Sutradara?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Aku. Aku kan juga punya banyak pembisik, Bung!”
Aku pulang tanpa menoleh lagi. Sepanjang jalan aku menyumpah-nyumpah. Ternyata pertunjukan yang berdarah-darah itu sudah tidak terkendali lagi. Sutradara menunjukku sebagai pembisik. Ternyata diam-diam Tuanku Imam telah menunjuk beberapa orang pembisik lain tanpa
sepengetahuan sutradara dan tidak memberitahukan pula kepadaku. Ada pembisik lain yang lebih dipercaya Tuanku Imam daripada aku.
Sejak malam itu aku berhenti jadi pembisik, sementara Tuanku Imam terus mengadakan pertunjukan ke mana-mana.
“Selamat jalan sandiwara,” bisikku ketika kulihat Tuanku melambaikan tangan dan balik kaca buram bus yang berangkat membawa mereka ke gedung-gedung pertunjukan lain.
“Kami keliling dunia, Bung!” seru sang Tuanku. (***)
Harian Republika, 20 Februari 2000
Lagu di Atas Bus
Lagu di Atas Bus
Cerpen Hamsad Rangkuti
Sebuah bus malam jarak jauh meluncur dalam kecepatan sedang-sedang saja. Para penumpang baru saja makan malam di rumah makan tempat persinggahan bus malam itu di pertengahan perjalanannya Di luar, dalam kegelapan malam, tumbuh menyungkup di sisi kiri dan kanan jalan pepohonan. Lampu kendaraan itu menyorot di sepanjang jalan, tidak ubahnya satu per satu mereka memegang senter, berlarian di antara dua deretan pohon. Dan celah kegelapan sesekali muncul percik cahaya menandakan ada kehidupan di luar. Lampu bus itu tidak ubahnya sepotong kapur yang ditorehkan di atas papan tulis.Garis putih itu setiap saat dilahap kegelapan yang bersembunyi di bawah kolong, sementara itu garis yang baru terus tercipta. Begitu terus-menerus.
Orang-orang di dalam bus itu tidak tertidur. Mereka merasa segar. Sopir menghidupkan tape recorder. Para penumpang mendengarkan lagu yang berkumandang sambil berlena-lena. Namun, tiba-tiba terdengar orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar? Saya ingin mendengarkan lagu jazz!" kata penumpang yang berteriak itu.
"Tolong Pak Sopir. Lagunya ditukar saja dengan irama jazz," kata penumpang yang lain memperkuat.
”Tetapi, saya tidak punya kaset jazz!" kata sopir.
"Aku membawa kaset lagu yang aku minta!" kata orang yang meminta lagu jazz. Sambil dia mengeluarkan kaset jazz yang dia maksud dari dalam saku bajunya. Kemudian berkumandanglah lagu jazz.
Tetapi, baru saja lagu jazz itu berkumandang, baru beberapa detik saja, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?" teriakan itu ditujukan kepada orang yang meminta lagu jazz.
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu jazz.
"Saya ingin irama disko,” kata orang yang meminta supaya lagu jazz itu diganti.
"Tolong Pak Sopir," kata orang yang meminta lagu jazz, "Bapak ini tidak suka dengan lagu kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan irama disko."
“Tetapi, saya tidak punya kaset berirama disko," kata sopir.
"Saya punya. Saya membawa kaset lagu kesenangan saya,” kata orang itu. Dia pun mengeluarkan kaset dari dalam sakunya, sekejap kemudian berkumandanglah lagu berirama disko.
Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa detik saja, sebab terdengar pula orang berteriak dari bangku yang lain.
"Bolehkah lagu itu ditukar?" isi teriakan itu, yang ditujukan kepada orang yang meminta lagu berirama disko.
“Boleh!” Kata orang yang meminta lagu berirama disko.
“Saya ingin lagu keroncong.”
“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka dengan lagu disko kesenangan saya. Dia minta lagu keroncong."
"Tetapi, saya tidak punya kaset keroncong," kata sopir.
"Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya "
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu irama keroncong.
Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa saat saja. Seseorang berteriak pula dari bangku yang lain.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
“Boleh!" kata orang yang meminta lagu keroncong.
"Saya ingin lagu dangdut."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka dengan lagu keroncong, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu dangdut”.
”Tetapi, saya tidak punya kaset dangdut," kata sopir.
"Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya "
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Ia menyerahkannya kepada sopir, dan berkumandanglah lagu dangdut.
Para penumpang mendengar lagu itu. Tetapi, beberapa saat kemudian, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!"
"Saya ingin lagu pop Indonesia."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu dangdut kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan lagu pop indonesia."
"Tetapi, saya tidak punya kaset pop Indonesia," kata sopir.
"Saya punya. Saya selalu membawa kaset lagu kesenangan saya."
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya, Kemudian mengumandang lagu pop Indonesia. Tetapi, baru saja lagu itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh”, kata orang yang meminta lagu pop Indonesia
"Saya ingin lagu gending Jawa."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar dengan gending Jawa."
"Tetapi, saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir.
"Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, kesenangan saya, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa! Katanya sambil menyerahkan kaset itu kepada sopir.
Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi, beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu gending Jawa.
"Saya ingin lagu kecapi Sunda!"
“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka gending Jawa, padahal saya paling suka gending Jawa. Dia minta kecapi Sunda!"
"Tetapi, saya tidak punya kaset kecapi Sunda," kata sopir.
"Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset kecapi Sunda, kesukaan saya. Ini kaset kesenangan saya. Saya selalu membawanya ke mana pun saya pergi!"
Orang itu mengeluarkan kaset dan saku bajunya. Dan, berkumandanglah lagu kecapi Sunda.
Para penumpang mendengar lagu itu. Tetapi, orang berteriak pula sebelum kaset kecapi Sunda berkumandang tiga puluh detik.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu kecapi Sunda.
"Saya ingin irama Minang, saluang."
"Tetapi, saya tidak punya kaset irama Minang, saluang," kata sopir
"Den punya! Aden selalu membawa lagu kampuang den, saluang"
Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Dan, berkumandanglah lagu irama Minang, saluang. Dan, seperti tadi, orang pun berteriak pula beberapa saat kemudian.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu saluang.
"Saya ingin lagu Tapanuli modern."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu saluang, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu itu ditukar dengan lagu Batak!"
"Batak katamu? Kamu menyinggung, ya?!" orang itu memegang leher baju orang yang meminta lagu saluang.
"Oh, tidak. Maksud den, Tapanuli modern."
"Untung kita sama-sama dari Sumatera. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul."
"Saya juga berpikir begitu, kita sama-sama dari Sumatera. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul. Siapa yang bisa menahan kesabaran kalau leher baju kita direntap orang.
Maaf! Tolong Pak Sopir. Bapak ini minta lagu Tapanuli modern."
"Tetapi, saya tidak punya lagu Tapanuli modern."
"Aku punya! Aku selalu membawa lagu kesenanganku. Aku suka lagu daerahku sendiri. Putar Pak Sopir!"
Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian, mengumandang lagu Tapanuli modern. Tetapi, orang berteriak pula meminta lagu itu diganti.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh saja! Mengapa? Kamu tidak suka lagu Tapanuli modern?"
"Saya minta lagu mars perjuangan!" kata orang berseragam hijau. Dia membawa pistol.
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu Tapanuli modern, padahal lagu itu lagu kesenangan saya. Bapak ini minta diputarkan lagu mars perjuangan."
"Tetapi, saya tidak punya lagu mars perjuangan," kata sopir.
"Saya punya! Saya selalu membawa ke mana pun saya pergi lagu-lagu kesenangan saya. Mars perjuangan. Ayo putar! Sampai selesai! Tidak boleh diputus sebelum selesai! Aku membawa pistol."
Tetapi, baru saja lagu mars perjuangan itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak meminta lagu itu ditukar.
"Bolehkah lagu itu ditukar?" kata orang yang berseragam hijau pula. Dia membawa dua
pistol.
Orang yang meminta lagu mars perjuangan melihat kepadanya. Dia melihat dua pistol di pinggang orang itu. Akhirnya dia berkata:
"Boleh! Mengapa tidak? Boleh! Lagu itu boleh ditukar."
"Saya ingin diputar lagu Indonesia Raya!" katanya membentak.
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu mars perjuangan. Padahal, lagu itu membangkitkan semangat perjuangan pada diri saya. Bapak ini minta diputar lagu Indonesia Raya."
"Tetapi, saya tidak punya kaset lagu Indonesia Raya."
"Kaset lagu apa saja yang kau punya?" kata orang yang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.
Sopir itu gugup. Dia membuka laci tempat penyimpan kaset. Tetapi, dia tidak menemukan yang dia cari.
"Kau harus punya kaset lagu Indonesia Raya. Cari! Dan, mesti kau dapatkan!"
Sopir terus membongkar tempat penyimpan kaset. Dia tiba-tiba tersentak. Dia seperti mengingat sesuatu.
"Saya pernah punya kaset lagu Indonesia Raya itu! Tetapi, di mana kaset Indonesia Raya itu sekarang? Oh, biarkan aku mengingat-ingatnya sejenak. Ya, sekarang aku baru ingat. Tujuh belas Agustus yang lalu, pernah serombongan Veteran Perang Kemerdekaan menyarter bus ini. Mereka merayakan Hari Kemerdekaan itu di atas bus ini. Mereka menyusuri rute perjuangan mereka. Rute Jenderal Sudirman. Mereka memutar lagu-lagu mars perjuangan. Dan, memutar lagu Indonesia Raya. Suatu saat, di tengah perjalanan menyusuri rute Jenderal Sudirman itu, mereka meminta aku menghentikan kendaraan. Mereka kulihat mengheningkan cipta. Aku terharu melihat mereka. Mereka menitikkan air mata. Kurasa mereka mengenang rekan-rekan mereka yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Mereka meminta aku memutar ulang lagu Indonesia Raya itu. Di mana, ya, sekarang kaset lagu Indonesia Raya itu. Aku ingat betul, mereka tidak meminta kaset lagu Indonesia Raya itu waktu mereka kuantar kembali ke Gedung Veteran Empat Lima sepulang dari menyusuri rute Jenderal Sudirman itu. Kuingat apa pesan mereka saat menyerahkan kaset lagu Indonesia Raya itu. 'Sekali-sekali, di tengah perjalananmu, setiap tanggal tujuh belas Agustus, tolong kau putar lagu Indonesia Raya ini untuk didengar para penumpangmu.' Ya, sekarang aku ingat. Mereka berkata begitu sambil menyerahkan kaset lagu Indonesia Raya itu. Tetapi, di mana kaset lagu Indonesia Raya itu sekarang? 0 iya... Mungkin mereka. Kenek-kenekku selalu bertukar-tukar. Mereka suka memutar lagu-lagu kegemaran mereka. Apa mungkin mereka...? Mungkin! Itu mungkin! Mereka umumnya datang dan daerah. Ya! Itu mungkin!"
Sopir itu menghentikan mobil itu. Di luar tampak lampu mobil itu diam di atas aspal. Kapur tulis itu terhenti menconteng papan hitam di depan kelas. Sopir itu beranjak dari balik lingkaran kemudi. Orang-orang memperhatikannya. Dua orang yang mengenakan uniform hijau terpaku memperhatikannya. Sopir itu mengais-ngais tong sampah. Mengangkat keranjang sampah itu dan menuang-kannya di atas lantai. Dikais-kaisnya sesaat. Mereka akhirnya melihat sopir itu mengangkat sepotong kutang, celana dalam, pembalut wanita, serenteng bekas teh celup, sobekan kain, kertas bernoda, daun pisang bekas pembungkus dan sebuah kaset.
"Aku menemukannya! Apa kataku! Mereka membuangnya!" teriak sopir itu.
"Putar! Putar segera!" kata orang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.
Sopir itu kembali duduk di belakang kemudi. Dia memasukkan kaset itu ke dalam tape recorder. Lagu Indonesia Raya itu terdengar mengumandang, dan bus malam itu kembali bergerak. Tetapi, baru beberapa detik saja lagu Indonesia Raya itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?" kata teriakan itu. Orang itu berseragam hijau. Dia membawa tiga pistol. Satu teracung di tangan kanannya, dua tergantung di pinggang sebelah kiri dan kanan.
Orang yang meminta lagu Indonesia Raya itu memandang orang dengan tiga pistol. Sejenak kemudian dia memandang orang yang membawa satu pistol. Dia kemudian beralih memandang orang dengan tiga pistol. Lalu dengan tegas dia berkata:
"Tidak! Lagu Indonesia Raya itu tidak boleh ditukar. Kita harus mendengarnya sampai selesai!"
"Tetapi, telingaku sakit mendengarnya!" kata orang yang berseragam hijau dengan tiga pistol di pinggangnya.
"Apa katamu? Sakit telingamu mendengarnya? Itu artinya kau tidak cinta pada Tanah Airmu!"
"Tetapi, tidak saatnya lagu kebangsaan itu diputar sekarang!"
"Sekarang adalah saat yang tepat! Tidak kau lihat mereka sudah mulai berkelahi. Masing-masing telah meminta lagu daerah mereka sendiri-sendiri."
"Tetapi, telingaku sakit mendengar lagu Indonesia Raya itu."
"Berarti kau dari jenis para pengkhianat! Sebaiknya kau keluar dan dalam bus ini!"
"Tetapi...," kata orang berseragam hijau dengan tiga pucuk pistol.
"Tetapi, kau sudah membayar ongkos? Itu yang mau kau katakan," kata orang yang berseragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya.
"Saya akan ganti uang sisa ongkos perjalananmu. Lagu Indonesia Raya ini harus mengumandang sampai tujuan akhir. Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari dalam bus ini! Tak ada tempat bagi yang tidak suka lagu kebangsaannya sendiri. Siapa yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri?"
"Saya suka!" kata orang yang berseragam hijau dengan sebuah pistol di pinggangnya. Dia bergeser ke dekat orang yang membawa dua pistol. Mereka berdua memiliki tiga pistol.
Orang yang memakai seragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya berdiri di atas tempat duduk. Dia diikuti orang yang berseragam dengan satu pucuk pistol di pinggangnya.
"Cepat katakan! Siapa yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri?!"
"Kami suka!" teriak para penumpang bergemuruh
"Tidak ada tempat untuk orang yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri, di sini!"
"Saya suka!" kata sopir.
Kapur putih di atas papan hitam terus menconteng di sepanjang jalan beraspal. Kegelapan di bawah lantai terus juga melahapnya. Begitu terus-menerus. ***
Cerpen Hamsad Rangkuti
Sebuah bus malam jarak jauh meluncur dalam kecepatan sedang-sedang saja. Para penumpang baru saja makan malam di rumah makan tempat persinggahan bus malam itu di pertengahan perjalanannya Di luar, dalam kegelapan malam, tumbuh menyungkup di sisi kiri dan kanan jalan pepohonan. Lampu kendaraan itu menyorot di sepanjang jalan, tidak ubahnya satu per satu mereka memegang senter, berlarian di antara dua deretan pohon. Dan celah kegelapan sesekali muncul percik cahaya menandakan ada kehidupan di luar. Lampu bus itu tidak ubahnya sepotong kapur yang ditorehkan di atas papan tulis.Garis putih itu setiap saat dilahap kegelapan yang bersembunyi di bawah kolong, sementara itu garis yang baru terus tercipta. Begitu terus-menerus.
Orang-orang di dalam bus itu tidak tertidur. Mereka merasa segar. Sopir menghidupkan tape recorder. Para penumpang mendengarkan lagu yang berkumandang sambil berlena-lena. Namun, tiba-tiba terdengar orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar? Saya ingin mendengarkan lagu jazz!" kata penumpang yang berteriak itu.
"Tolong Pak Sopir. Lagunya ditukar saja dengan irama jazz," kata penumpang yang lain memperkuat.
”Tetapi, saya tidak punya kaset jazz!" kata sopir.
"Aku membawa kaset lagu yang aku minta!" kata orang yang meminta lagu jazz. Sambil dia mengeluarkan kaset jazz yang dia maksud dari dalam saku bajunya. Kemudian berkumandanglah lagu jazz.
Tetapi, baru saja lagu jazz itu berkumandang, baru beberapa detik saja, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?" teriakan itu ditujukan kepada orang yang meminta lagu jazz.
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu jazz.
"Saya ingin irama disko,” kata orang yang meminta supaya lagu jazz itu diganti.
"Tolong Pak Sopir," kata orang yang meminta lagu jazz, "Bapak ini tidak suka dengan lagu kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan irama disko."
“Tetapi, saya tidak punya kaset berirama disko," kata sopir.
"Saya punya. Saya membawa kaset lagu kesenangan saya,” kata orang itu. Dia pun mengeluarkan kaset dari dalam sakunya, sekejap kemudian berkumandanglah lagu berirama disko.
Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa detik saja, sebab terdengar pula orang berteriak dari bangku yang lain.
"Bolehkah lagu itu ditukar?" isi teriakan itu, yang ditujukan kepada orang yang meminta lagu berirama disko.
“Boleh!” Kata orang yang meminta lagu berirama disko.
“Saya ingin lagu keroncong.”
“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka dengan lagu disko kesenangan saya. Dia minta lagu keroncong."
"Tetapi, saya tidak punya kaset keroncong," kata sopir.
"Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya "
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian mengumandang lagu irama keroncong.
Para penumpang mendengar lagu itu hanya beberapa saat saja. Seseorang berteriak pula dari bangku yang lain.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
“Boleh!" kata orang yang meminta lagu keroncong.
"Saya ingin lagu dangdut."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka dengan lagu keroncong, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu dangdut”.
”Tetapi, saya tidak punya kaset dangdut," kata sopir.
"Saya punya. Saya membawa kaset kesenangan saya "
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya. Ia menyerahkannya kepada sopir, dan berkumandanglah lagu dangdut.
Para penumpang mendengar lagu itu. Tetapi, beberapa saat kemudian, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!"
"Saya ingin lagu pop Indonesia."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu dangdut kesenangan saya. Dia minta ditukar dengan lagu pop indonesia."
"Tetapi, saya tidak punya kaset pop Indonesia," kata sopir.
"Saya punya. Saya selalu membawa kaset lagu kesenangan saya."
Orang itu mengambil kaset dari dalam saku bajunya, Kemudian mengumandang lagu pop Indonesia. Tetapi, baru saja lagu itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh”, kata orang yang meminta lagu pop Indonesia
"Saya ingin lagu gending Jawa."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar dengan gending Jawa."
"Tetapi, saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir.
"Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, kesenangan saya, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa! Katanya sambil menyerahkan kaset itu kepada sopir.
Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi, beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu gending Jawa.
"Saya ingin lagu kecapi Sunda!"
“Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka gending Jawa, padahal saya paling suka gending Jawa. Dia minta kecapi Sunda!"
"Tetapi, saya tidak punya kaset kecapi Sunda," kata sopir.
"Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset kecapi Sunda, kesukaan saya. Ini kaset kesenangan saya. Saya selalu membawanya ke mana pun saya pergi!"
Orang itu mengeluarkan kaset dan saku bajunya. Dan, berkumandanglah lagu kecapi Sunda.
Para penumpang mendengar lagu itu. Tetapi, orang berteriak pula sebelum kaset kecapi Sunda berkumandang tiga puluh detik.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu kecapi Sunda.
"Saya ingin irama Minang, saluang."
"Tetapi, saya tidak punya kaset irama Minang, saluang," kata sopir
"Den punya! Aden selalu membawa lagu kampuang den, saluang"
Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Dan, berkumandanglah lagu irama Minang, saluang. Dan, seperti tadi, orang pun berteriak pula beberapa saat kemudian.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh!" kata orang yang meminta lagu saluang.
"Saya ingin lagu Tapanuli modern."
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu saluang, lagu kesenangan saya. Dia minta lagu itu ditukar dengan lagu Batak!"
"Batak katamu? Kamu menyinggung, ya?!" orang itu memegang leher baju orang yang meminta lagu saluang.
"Oh, tidak. Maksud den, Tapanuli modern."
"Untung kita sama-sama dari Sumatera. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul."
"Saya juga berpikir begitu, kita sama-sama dari Sumatera. Kalau tidak, Saudara telah saya pukul. Siapa yang bisa menahan kesabaran kalau leher baju kita direntap orang.
Maaf! Tolong Pak Sopir. Bapak ini minta lagu Tapanuli modern."
"Tetapi, saya tidak punya lagu Tapanuli modern."
"Aku punya! Aku selalu membawa lagu kesenanganku. Aku suka lagu daerahku sendiri. Putar Pak Sopir!"
Orang itu menyerahkan kaset dari dalam saku bajunya. Kemudian, mengumandang lagu Tapanuli modern. Tetapi, orang berteriak pula meminta lagu itu diganti.
"Bolehkah lagu itu ditukar?"
"Boleh saja! Mengapa? Kamu tidak suka lagu Tapanuli modern?"
"Saya minta lagu mars perjuangan!" kata orang berseragam hijau. Dia membawa pistol.
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu Tapanuli modern, padahal lagu itu lagu kesenangan saya. Bapak ini minta diputarkan lagu mars perjuangan."
"Tetapi, saya tidak punya lagu mars perjuangan," kata sopir.
"Saya punya! Saya selalu membawa ke mana pun saya pergi lagu-lagu kesenangan saya. Mars perjuangan. Ayo putar! Sampai selesai! Tidak boleh diputus sebelum selesai! Aku membawa pistol."
Tetapi, baru saja lagu mars perjuangan itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak meminta lagu itu ditukar.
"Bolehkah lagu itu ditukar?" kata orang yang berseragam hijau pula. Dia membawa dua
pistol.
Orang yang meminta lagu mars perjuangan melihat kepadanya. Dia melihat dua pistol di pinggang orang itu. Akhirnya dia berkata:
"Boleh! Mengapa tidak? Boleh! Lagu itu boleh ditukar."
"Saya ingin diputar lagu Indonesia Raya!" katanya membentak.
"Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu mars perjuangan. Padahal, lagu itu membangkitkan semangat perjuangan pada diri saya. Bapak ini minta diputar lagu Indonesia Raya."
"Tetapi, saya tidak punya kaset lagu Indonesia Raya."
"Kaset lagu apa saja yang kau punya?" kata orang yang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.
Sopir itu gugup. Dia membuka laci tempat penyimpan kaset. Tetapi, dia tidak menemukan yang dia cari.
"Kau harus punya kaset lagu Indonesia Raya. Cari! Dan, mesti kau dapatkan!"
Sopir terus membongkar tempat penyimpan kaset. Dia tiba-tiba tersentak. Dia seperti mengingat sesuatu.
"Saya pernah punya kaset lagu Indonesia Raya itu! Tetapi, di mana kaset Indonesia Raya itu sekarang? Oh, biarkan aku mengingat-ingatnya sejenak. Ya, sekarang aku baru ingat. Tujuh belas Agustus yang lalu, pernah serombongan Veteran Perang Kemerdekaan menyarter bus ini. Mereka merayakan Hari Kemerdekaan itu di atas bus ini. Mereka menyusuri rute perjuangan mereka. Rute Jenderal Sudirman. Mereka memutar lagu-lagu mars perjuangan. Dan, memutar lagu Indonesia Raya. Suatu saat, di tengah perjalanan menyusuri rute Jenderal Sudirman itu, mereka meminta aku menghentikan kendaraan. Mereka kulihat mengheningkan cipta. Aku terharu melihat mereka. Mereka menitikkan air mata. Kurasa mereka mengenang rekan-rekan mereka yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Mereka meminta aku memutar ulang lagu Indonesia Raya itu. Di mana, ya, sekarang kaset lagu Indonesia Raya itu. Aku ingat betul, mereka tidak meminta kaset lagu Indonesia Raya itu waktu mereka kuantar kembali ke Gedung Veteran Empat Lima sepulang dari menyusuri rute Jenderal Sudirman itu. Kuingat apa pesan mereka saat menyerahkan kaset lagu Indonesia Raya itu. 'Sekali-sekali, di tengah perjalananmu, setiap tanggal tujuh belas Agustus, tolong kau putar lagu Indonesia Raya ini untuk didengar para penumpangmu.' Ya, sekarang aku ingat. Mereka berkata begitu sambil menyerahkan kaset lagu Indonesia Raya itu. Tetapi, di mana kaset lagu Indonesia Raya itu sekarang? 0 iya... Mungkin mereka. Kenek-kenekku selalu bertukar-tukar. Mereka suka memutar lagu-lagu kegemaran mereka. Apa mungkin mereka...? Mungkin! Itu mungkin! Mereka umumnya datang dan daerah. Ya! Itu mungkin!"
Sopir itu menghentikan mobil itu. Di luar tampak lampu mobil itu diam di atas aspal. Kapur tulis itu terhenti menconteng papan hitam di depan kelas. Sopir itu beranjak dari balik lingkaran kemudi. Orang-orang memperhatikannya. Dua orang yang mengenakan uniform hijau terpaku memperhatikannya. Sopir itu mengais-ngais tong sampah. Mengangkat keranjang sampah itu dan menuang-kannya di atas lantai. Dikais-kaisnya sesaat. Mereka akhirnya melihat sopir itu mengangkat sepotong kutang, celana dalam, pembalut wanita, serenteng bekas teh celup, sobekan kain, kertas bernoda, daun pisang bekas pembungkus dan sebuah kaset.
"Aku menemukannya! Apa kataku! Mereka membuangnya!" teriak sopir itu.
"Putar! Putar segera!" kata orang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya.
Sopir itu kembali duduk di belakang kemudi. Dia memasukkan kaset itu ke dalam tape recorder. Lagu Indonesia Raya itu terdengar mengumandang, dan bus malam itu kembali bergerak. Tetapi, baru beberapa detik saja lagu Indonesia Raya itu mengumandang, terdengar pula orang berteriak:
"Bolehkah lagu itu ditukar?" kata teriakan itu. Orang itu berseragam hijau. Dia membawa tiga pistol. Satu teracung di tangan kanannya, dua tergantung di pinggang sebelah kiri dan kanan.
Orang yang meminta lagu Indonesia Raya itu memandang orang dengan tiga pistol. Sejenak kemudian dia memandang orang yang membawa satu pistol. Dia kemudian beralih memandang orang dengan tiga pistol. Lalu dengan tegas dia berkata:
"Tidak! Lagu Indonesia Raya itu tidak boleh ditukar. Kita harus mendengarnya sampai selesai!"
"Tetapi, telingaku sakit mendengarnya!" kata orang yang berseragam hijau dengan tiga pistol di pinggangnya.
"Apa katamu? Sakit telingamu mendengarnya? Itu artinya kau tidak cinta pada Tanah Airmu!"
"Tetapi, tidak saatnya lagu kebangsaan itu diputar sekarang!"
"Sekarang adalah saat yang tepat! Tidak kau lihat mereka sudah mulai berkelahi. Masing-masing telah meminta lagu daerah mereka sendiri-sendiri."
"Tetapi, telingaku sakit mendengar lagu Indonesia Raya itu."
"Berarti kau dari jenis para pengkhianat! Sebaiknya kau keluar dan dalam bus ini!"
"Tetapi...," kata orang berseragam hijau dengan tiga pucuk pistol.
"Tetapi, kau sudah membayar ongkos? Itu yang mau kau katakan," kata orang yang berseragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya.
"Saya akan ganti uang sisa ongkos perjalananmu. Lagu Indonesia Raya ini harus mengumandang sampai tujuan akhir. Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari dalam bus ini! Tak ada tempat bagi yang tidak suka lagu kebangsaannya sendiri. Siapa yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri?"
"Saya suka!" kata orang yang berseragam hijau dengan sebuah pistol di pinggangnya. Dia bergeser ke dekat orang yang membawa dua pistol. Mereka berdua memiliki tiga pistol.
Orang yang memakai seragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya berdiri di atas tempat duduk. Dia diikuti orang yang berseragam dengan satu pucuk pistol di pinggangnya.
"Cepat katakan! Siapa yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri?!"
"Kami suka!" teriak para penumpang bergemuruh
"Tidak ada tempat untuk orang yang tidak suka dengan lagu kebangsaannya sendiri, di sini!"
"Saya suka!" kata sopir.
Kapur putih di atas papan hitam terus menconteng di sepanjang jalan beraspal. Kegelapan di bawah lantai terus juga melahapnya. Begitu terus-menerus. ***
Labels:
Cerpen Populer
Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu
Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu
Oleh: Budi Darma
Sungguh menakjubkan, bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan, perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Alis perempuan itu hitam tebal, melindungi matanya, dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan, mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri.
Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini, kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman, pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dengan tangan gemetar, perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati, dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar.
Lampu di dalam kamar sudah menyala, tapi sangat samar. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu, perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Di bawah potret ada sebuah gelas, terletak di sebuah rak buku kecil. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku, dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar.
Laki-laki itu mengangguk mengerti. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu, kemudian gelas, dan kemudian beberapa buku. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak.
Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya, perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Dan tahulah dia sekarang, bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil.
Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah, mengapa di dekat tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki, misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Tapi laki-laki itu tidak bertanya, karena perempuan itu sudah menjelaskan:
"Dia tidak mau potretnya dipasang di sini."
Belum sempat bertanya apa-apa, laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. Dan ketika perempuan itu membuka almari, terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat, beberapa pakaian laki-laki di dalam almari.
Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Meskipun demikian, laki-laki itu agak terkejut, ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu.
Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur, perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik, dan mematikan lampu bercahaya lemah itu.
"Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu.
"Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Sungguh agung dia. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Tentu saja saya mengagumi dia. Matanya sungguh menakjubkan. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah, kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Dia pasti laki-laki ramah."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Dia pasti mempunyai wibawa besar, wibawa tinggi. Saya mengaguminya."
"Hanya itu?"
Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Maka berbicaralah dia asal berbicara, tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya:
"Tentu saja tidak. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Heran. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang, untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat, martabat, dan derajat sesamanya."
"Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?"
Laki-laki itu diam. Dia ingat, pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Kalau tidak keliru, dia dipotret sekitar tiga bulan lalu, di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya, kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Akhirnya laki-laki itu tahu, bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu, pertemuan dinyatakan bubar. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya, perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya.
"Laki-laki itulah yang saya cintai," kata perempuan itu. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Dan setiap kali saya merindukannya, selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya, seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Begitu gemar dia membuka-bukanya, segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan."
Laki-laki itu diam. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya, beberapa bawahannya, dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya, tidak seorang pun tahu. Laki- laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor, laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu, kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor, laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu, laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun.
Surat itulah, yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu, yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam.
"Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal, dialah laki-laki yang saya cintai," kata perempuan itu lagi. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi, mengenai buku-buku itu lagi, dan akhirnya mengenai payudaranya.
"Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. Senang sekali dia membanding-bandingkan payudara saya dengan payudara mereka, dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka, dengan nada sangat melecehkan mereka, dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Betul yang kau katakan tadi, dia laki-laki mengagumkan, sangat mengagumkan. Bagi saya, mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Ingat, Nabi Yusuf tidak suka merayu, sementara dia suka merayu, yaitu merayu sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.'
Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya."
"Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"
"Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu."
Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya.
"Ulangilah pertanyaanmu tadi."
"Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"
"Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret."
"Mengapa?"
"Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang."
"Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"
"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung.
Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki."
Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya.
"Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya.
Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman.
Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu.
Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah.
Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuk-nyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu.
Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.
Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi.
Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku.
Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar.
Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum?
"Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia.
"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?"
Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangan-tangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor.
"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi.
Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat.
Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan.
Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata:
"Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya."
Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika laki-laki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas.
Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu.
Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat.
Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan.
Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri.
Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.
Dengan tenang, laki-laki mencurigakan menggumam:
"Ketahuilah, masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat, Memang saya sering berkelahi, tapi perkelahian-perkelahian itu, sekali lagi, bukan apa-apa bagi saya. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Saya hanya menikmati satu hal, yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Ketahuilah, sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu, saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Dan setiap kali merasa takut, pasti saya bertindak terlebih dahulu, tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang."
Dia menggumam dengan kesadaran penuh, bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Meskipun demikian, laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa kata-kata perempuan tadi:
"Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah."
Bulan tetap berputar-putar di atas sana.***
(Dimuat dalam Horison, Juli 1990)
Oleh: Budi Darma
Sungguh menakjubkan, bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan, perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Alis perempuan itu hitam tebal, melindungi matanya, dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan, mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri.
Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini, kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman, pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Dengan tangan gemetar, perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati, dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar.
Lampu di dalam kamar sudah menyala, tapi sangat samar. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu, perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Di bawah potret ada sebuah gelas, terletak di sebuah rak buku kecil. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku, dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar.
Laki-laki itu mengangguk mengerti. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu, kemudian gelas, dan kemudian beberapa buku. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak.
Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya, perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Dan tahulah dia sekarang, bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil.
Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah, mengapa di dekat tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki, misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Tapi laki-laki itu tidak bertanya, karena perempuan itu sudah menjelaskan:
"Dia tidak mau potretnya dipasang di sini."
Belum sempat bertanya apa-apa, laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. Dan ketika perempuan itu membuka almari, terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat, beberapa pakaian laki-laki di dalam almari.
Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Meskipun demikian, laki-laki itu agak terkejut, ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu.
Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur, perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik, dan mematikan lampu bercahaya lemah itu.
"Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu.
"Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Sungguh agung dia. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Tentu saja saya mengagumi dia. Matanya sungguh menakjubkan. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah, kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Dia pasti laki-laki ramah."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Dia pasti mempunyai wibawa besar, wibawa tinggi. Saya mengaguminya."
"Hanya itu?"
Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Maka berbicaralah dia asal berbicara, tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya:
"Tentu saja tidak. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Heran. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang, untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat, martabat, dan derajat sesamanya."
"Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?"
Laki-laki itu diam. Dia ingat, pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Kalau tidak keliru, dia dipotret sekitar tiga bulan lalu, di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya, kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Akhirnya laki-laki itu tahu, bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu, pertemuan dinyatakan bubar. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya, perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya.
"Laki-laki itulah yang saya cintai," kata perempuan itu. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Dan setiap kali saya merindukannya, selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya, seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Begitu gemar dia membuka-bukanya, segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan."
Laki-laki itu diam. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya, beberapa bawahannya, dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya, tidak seorang pun tahu. Laki- laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor, laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu, kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor, laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu, laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun.
Surat itulah, yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu, yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam.
"Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal, dialah laki-laki yang saya cintai," kata perempuan itu lagi. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi, mengenai buku-buku itu lagi, dan akhirnya mengenai payudaranya.
"Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. Senang sekali dia membanding-bandingkan payudara saya dengan payudara mereka, dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka, dengan nada sangat melecehkan mereka, dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Betul yang kau katakan tadi, dia laki-laki mengagumkan, sangat mengagumkan. Bagi saya, mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Ingat, Nabi Yusuf tidak suka merayu, sementara dia suka merayu, yaitu merayu sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.'
Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya."
"Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"
"Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu."
Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya.
"Ulangilah pertanyaanmu tadi."
"Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?"
"Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret."
"Mengapa?"
"Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang."
"Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"
"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung.
Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki."
Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya.
"Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya.
Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman.
Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu.
Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah.
Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuk-nyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu.
Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.
Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi.
Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku.
Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar.
Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum?
"Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia.
"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?"
Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangan-tangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor.
"Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi.
Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat.
Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan.
Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata:
"Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya."
Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika laki-laki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas.
Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu.
Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat.
Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan.
Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri.
Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.
Dengan tenang, laki-laki mencurigakan menggumam:
"Ketahuilah, masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat, Memang saya sering berkelahi, tapi perkelahian-perkelahian itu, sekali lagi, bukan apa-apa bagi saya. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Saya hanya menikmati satu hal, yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Ketahuilah, sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu, saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Dan setiap kali merasa takut, pasti saya bertindak terlebih dahulu, tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang."
Dia menggumam dengan kesadaran penuh, bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Meskipun demikian, laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa kata-kata perempuan tadi:
"Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah."
Bulan tetap berputar-putar di atas sana.***
(Dimuat dalam Horison, Juli 1990)
Pemahat Abad
Pemahat Abad
Oleh: Oka Rusmini
Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Seperti bau daun-daun kering dan kayu basah. Aneh, dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat.
“Siapa itu?”
“Titiang.1 Luh Srenggi.”
“Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Tangannya jadi lapar. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Pisau-pisau yang runcing terbayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.
"Katakan padaku, siapa kau?!”
"Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu.2 Mulai hari ini dan seterusnya.” Suara itu terdengar gugup.
“Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.
“Luh Srenggi.” Suara itu terdengar bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali, tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran, kasih sayang, dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan itu, perempuan yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Seorang perempuan, benarkah suara ini milik seorang perempuan?
Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya, Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan mereka bersentuhan. Kopag semakin gelisah. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Luar biasa. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon, atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.
Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Biasanya dia hanya dijadikan objek, sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Apa pun yang dikatakan orang-orang di sekitarnya, Kopag harus patuh. Kali ini, dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.
“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam, Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir, “bahkan untuk menilai keindahan itu, aku juga harus memakai kriteria mereka?”
“Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau!
Kopag sadar, sangat sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Tapi, apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran, perasaan, dan keindahannya sendiri. Salahkah?
Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg, pelayan tua itu, juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan?
***
Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag, agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana, kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Kata orang, laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dia tidak pernah peduli, cantikkah perempuan itu, sehatkah dia? Bagi ayah Kopag, setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Suatu hari, setelah berbulan-bulan tidak pulang, laki-laki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seluruh kekayaan ludes.
Dalam kondisi seperti itu, laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Perempuan itu menolak. Dia tahu, laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih, sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia hamil. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu.
Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan, bisa dibuat sebuah pementasan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan, di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya, hidupnya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Dia memberi Kopag poin, yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Kopag tidak saja memahat kayu, dia memahat pikirannya, otaknya, juga impian-impiannya. Untuk pertama kali, alam menyerah pada kekuasaannya, seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus.
***
Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Jujur saja, Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Dunia yang diinginkan. Sebuah kesunyian dengan pagar-pagar keindahan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping.
“Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya, kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya, atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.
Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Karena dia bukan kaum Brahmana, perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Karena perempuan Sudra, perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.
Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa, kulitnya yang sering jadi pujian, pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Aneh sekali, Kopag sering berpikir, bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.
Bagi Kopag, perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana, dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Itu yang dirasakan Kopag, ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka, dia mencium bau darah. Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil, merah, dan sangat pas. Bahkan Gubreg, parekan, pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil, selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa.
Masih kata Gubreg, Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali.
“Luar biasa kecantikan Jero Melati, Ratu.”
“Seperti apa perempuan cantik itu, Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Aku ingin tahu, aku juga ingin merasakan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.”
Laki-laki tua itu terdiam. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Tinggi, dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca.
“Anak itu buta, Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Kau bisa lihat, kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Lihat, dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Jaga dia baik-baik, Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai, sebelum berpulang.
“Gubreg, kau belum jawab pertanyaanku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin, tapi mampu memikatku. Lihat, Gubreg, aku selalu tersentuh. Gubreg, rasa apa yang sering membuatku meluap, apa ini rasa yang dimiliki laki-laki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan.
Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar, sudah menjelang dua puluh lima tahun. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis, Frans Kafkasau.
Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg, jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing, yang diterjemahkannya, tentang Michelangelo Buonorrty, yang konon, kata Frans, pematung jaman Renaisans.
Susah. Susah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya.
“Kau tidak ingin menjawabnya, Gubreg?”
“Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang, Ratu. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan.
Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru, perhatian yang lain. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kehilangan yang dalam. Bagi Gubreg, Kopag sudah bagian dari nafasnya. Sejak kecil, dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu.
Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa, termasuk rangkaian pisau-pisau pahatnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat, dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun.
“Gubreg, tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Keruncingannya, ketajamannya, begitu indah. Begitu penuh misteri. Luar biasa, Gubreg.”
Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Gubreg menyaksikan, betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin, angkuh dan selalu lapar.
Sampai menjelang tengah malam, Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi laki-laki. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.
***
Pagi-pagi sekali, Kopag sudah membuka jendela studionya.
“Aku ingin bercerita padamu,” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.
“Tentang apa lagi, Ratu?”
“Kecantikan perempuan.”
“Titiang...titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Semua orang, Ratu, memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Perempuan itu....”
Suara Gubreg terdengar patah. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia mengerti. Sangat paham. Dia juga laki-laki, dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Begitu parah, dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak, dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali.
Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih, dan mampu meledakkan otaknya. Terlebih, Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Dia gelisah, dia luka, karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sebagai laki-laki Sudra, kebanyakan, dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Perempuan junjungannya, perempuan yang sangat dihormatinya. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya, dia adalah laki-laki tak berguna, yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga, Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Hyang Widhi, Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tubuhnya jadi pucat. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian, dukun.
Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Kata Balian itu, Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Masih kata Balian tua itu, tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Berkat kekuatan Gubreg, Dayu Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg, keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai.
Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika Balian tua...memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya, Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu.
Tak seorang pun tahu, komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak sakit, tidak juga kesambet setan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya, karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil, tetapi sudah menyerupai air bah. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Demi Hyang Widhi, dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Cinta yang membuatnya jadi batu, dingin, tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Sampai sekarang, menjelang tujuh puluh lima, Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Tanpa istri, tanpa kegairahan sebagai laki-laki.
Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu, Gubreg paham. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya.
Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya.
“Gubreg, kau belum juga jawab pertanyaanku,” suara Kopag terdengar pelan. Dia menarik nafas berkali-kali, “Gubreg, kau ingat kata-kata Frans?”
“Yang mana?”
“Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso, Guemica. Pada dasarnya aku selalu penasaran, Gubreg. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi, mengajakku bicara, berdialog, dan berpikir. Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar, sampai menguliti otakku, tanganku, tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya, mem-besarkan tubuhnya, sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan, pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Kata mereka, sangat surealis. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham, yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg, aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain.”
Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag, seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya, diajar memahami kehidupan. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi.
Berkat Kopag, keluarga besar ini kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Sekarang ini keluarga ini tentram. Jero Melati tidak pernah ceriwis, perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Bahkan, kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Bulan kemarin, ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.
Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg, Kopag memerlukan perempuan.
***
“Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu,” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Mendengar komentar itu, Jero Melati tersenyum.
“Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.”
“Jero sudah punya calon?”
“Ya. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.”
“Siapa?”
“Adik perempuanku,” jawab perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Benar kata Kopag, perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya hanya berisi kehormatan.
“Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg diam. Dia tahu, adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Kata orang-orang kampung, adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang, dia tidak tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.
***
“Gubreg. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Lima menit tanpa hasil. Kopag seperti linglung, dia terus mengelilingi studionya.
“Ratu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Ratu terlihat sangat gelisah.”
“Ya. Aku ingin kawin, Gubreg.” Suara Kopag terdengar sangat serius.
“Maaf Ratu, titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.”
“Apa kata mereka.”
“Mereka setuju. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” Gubreg mengangkat wajahnya, ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.
“Aku sudah memiliki calon. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!”
“Siapa?”
“Luh Srenggi.”
“Ratu...?!” Gubreg seperti tercekik. Luh Srenggi, apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag, membersihkan studionya menyiapkan makan, dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan, dia lebih mirip makhluk yang mengerikan, kakinya pincang, punggungnya bongkok, ada daging besar tumbuh di atasnya, matanya yang kiri bolong, dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya begitu kasar. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia, tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.
“Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam, Gubreg. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Kulitnya juga kulit kayu. Kau tahu, ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya, aku tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Ketika dia telanjang, tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.”
Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.***
1. Saya
2. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali
(Dimuat dalam Horison, Maret 2000)
Oleh: Oka Rusmini
Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Seperti bau daun-daun kering dan kayu basah. Aneh, dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat.
“Siapa itu?”
“Titiang.1 Luh Srenggi.”
“Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Tangannya jadi lapar. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Pisau-pisau yang runcing terbayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.
"Katakan padaku, siapa kau?!”
"Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu.2 Mulai hari ini dan seterusnya.” Suara itu terdengar gugup.
“Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.
“Luh Srenggi.” Suara itu terdengar bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali, tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran, kasih sayang, dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan itu, perempuan yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Seorang perempuan, benarkah suara ini milik seorang perempuan?
Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya, Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan mereka bersentuhan. Kopag semakin gelisah. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Luar biasa. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon, atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.
Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Biasanya dia hanya dijadikan objek, sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Apa pun yang dikatakan orang-orang di sekitarnya, Kopag harus patuh. Kali ini, dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.
“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam, Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir, “bahkan untuk menilai keindahan itu, aku juga harus memakai kriteria mereka?”
“Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau!
Kopag sadar, sangat sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Tapi, apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran, perasaan, dan keindahannya sendiri. Salahkah?
Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg, pelayan tua itu, juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan?
***
Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag, agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana, kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Kata orang, laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dia tidak pernah peduli, cantikkah perempuan itu, sehatkah dia? Bagi ayah Kopag, setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Suatu hari, setelah berbulan-bulan tidak pulang, laki-laki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seluruh kekayaan ludes.
Dalam kondisi seperti itu, laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Perempuan itu menolak. Dia tahu, laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih, sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia hamil. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu.
Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan, bisa dibuat sebuah pementasan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan, di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya, hidupnya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Dia memberi Kopag poin, yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Kopag tidak saja memahat kayu, dia memahat pikirannya, otaknya, juga impian-impiannya. Untuk pertama kali, alam menyerah pada kekuasaannya, seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus.
***
Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Jujur saja, Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Dunia yang diinginkan. Sebuah kesunyian dengan pagar-pagar keindahan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping.
“Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya, kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya, atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.
Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Karena dia bukan kaum Brahmana, perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Karena perempuan Sudra, perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.
Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa, kulitnya yang sering jadi pujian, pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Aneh sekali, Kopag sering berpikir, bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.
Bagi Kopag, perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana, dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Itu yang dirasakan Kopag, ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka, dia mencium bau darah. Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil, merah, dan sangat pas. Bahkan Gubreg, parekan, pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil, selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa.
Masih kata Gubreg, Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali.
“Luar biasa kecantikan Jero Melati, Ratu.”
“Seperti apa perempuan cantik itu, Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Aku ingin tahu, aku juga ingin merasakan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.”
Laki-laki tua itu terdiam. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Tinggi, dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca.
“Anak itu buta, Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Kau bisa lihat, kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Lihat, dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Jaga dia baik-baik, Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai, sebelum berpulang.
“Gubreg, kau belum jawab pertanyaanku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin, tapi mampu memikatku. Lihat, Gubreg, aku selalu tersentuh. Gubreg, rasa apa yang sering membuatku meluap, apa ini rasa yang dimiliki laki-laki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan.
Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar, sudah menjelang dua puluh lima tahun. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis, Frans Kafkasau.
Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg, jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing, yang diterjemahkannya, tentang Michelangelo Buonorrty, yang konon, kata Frans, pematung jaman Renaisans.
Susah. Susah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya.
“Kau tidak ingin menjawabnya, Gubreg?”
“Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang, Ratu. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan.
Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru, perhatian yang lain. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kehilangan yang dalam. Bagi Gubreg, Kopag sudah bagian dari nafasnya. Sejak kecil, dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu.
Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa, termasuk rangkaian pisau-pisau pahatnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat, dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun.
“Gubreg, tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Keruncingannya, ketajamannya, begitu indah. Begitu penuh misteri. Luar biasa, Gubreg.”
Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Gubreg menyaksikan, betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin, angkuh dan selalu lapar.
Sampai menjelang tengah malam, Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi laki-laki. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki.
***
Pagi-pagi sekali, Kopag sudah membuka jendela studionya.
“Aku ingin bercerita padamu,” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.
“Tentang apa lagi, Ratu?”
“Kecantikan perempuan.”
“Titiang...titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Semua orang, Ratu, memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Perempuan itu....”
Suara Gubreg terdengar patah. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia mengerti. Sangat paham. Dia juga laki-laki, dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Begitu parah, dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak, dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali.
Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih, dan mampu meledakkan otaknya. Terlebih, Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Dia gelisah, dia luka, karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sebagai laki-laki Sudra, kebanyakan, dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Perempuan junjungannya, perempuan yang sangat dihormatinya. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya, dia adalah laki-laki tak berguna, yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga, Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Hyang Widhi, Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tubuhnya jadi pucat. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian, dukun.
Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Kata Balian itu, Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Masih kata Balian tua itu, tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Berkat kekuatan Gubreg, Dayu Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg, keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai.
Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika Balian tua...memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya, Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu.
Tak seorang pun tahu, komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak sakit, tidak juga kesambet setan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya, karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil, tetapi sudah menyerupai air bah. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Demi Hyang Widhi, dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Cinta yang membuatnya jadi batu, dingin, tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Sampai sekarang, menjelang tujuh puluh lima, Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Tanpa istri, tanpa kegairahan sebagai laki-laki.
Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu, Gubreg paham. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya.
Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya.
“Gubreg, kau belum juga jawab pertanyaanku,” suara Kopag terdengar pelan. Dia menarik nafas berkali-kali, “Gubreg, kau ingat kata-kata Frans?”
“Yang mana?”
“Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso, Guemica. Pada dasarnya aku selalu penasaran, Gubreg. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi, mengajakku bicara, berdialog, dan berpikir. Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar, sampai menguliti otakku, tanganku, tubuhku. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya, mem-besarkan tubuhnya, sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan, pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Kata mereka, sangat surealis. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham, yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg, aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain.”
Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag, seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya, diajar memahami kehidupan. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi.
Berkat Kopag, keluarga besar ini kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Sekarang ini keluarga ini tentram. Jero Melati tidak pernah ceriwis, perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Bahkan, kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Bulan kemarin, ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.
Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg, Kopag memerlukan perempuan.
***
“Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu,” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Mendengar komentar itu, Jero Melati tersenyum.
“Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.”
“Jero sudah punya calon?”
“Ya. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.”
“Siapa?”
“Adik perempuanku,” jawab perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Benar kata Kopag, perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya hanya berisi kehormatan.
“Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg diam. Dia tahu, adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Kata orang-orang kampung, adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang, dia tidak tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.
***
“Gubreg. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Lima menit tanpa hasil. Kopag seperti linglung, dia terus mengelilingi studionya.
“Ratu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Ratu terlihat sangat gelisah.”
“Ya. Aku ingin kawin, Gubreg.” Suara Kopag terdengar sangat serius.
“Maaf Ratu, titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.”
“Apa kata mereka.”
“Mereka setuju. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” Gubreg mengangkat wajahnya, ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.
“Aku sudah memiliki calon. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!”
“Siapa?”
“Luh Srenggi.”
“Ratu...?!” Gubreg seperti tercekik. Luh Srenggi, apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag, membersihkan studionya menyiapkan makan, dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan, dia lebih mirip makhluk yang mengerikan, kakinya pincang, punggungnya bongkok, ada daging besar tumbuh di atasnya, matanya yang kiri bolong, dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya begitu kasar. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia, tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.
“Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam, Gubreg. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Kulitnya juga kulit kayu. Kau tahu, ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya, aku tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Ketika dia telanjang, tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.”
Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.***
1. Saya
2. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali
(Dimuat dalam Horison, Maret 2000)
Lonceng
Lonceng
Oleh: Motinggo Busye
Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Istriku menjadi perempuan yang bawel. Ini karena ulah jam itu. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Bila loncengnya berbunyi, maka terdengarlah sebuah nyanyi. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri.
Walaupun akhirnya mengesalkan, tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. Jika ditaruh di ruang tamu, kelak tamuku akan cepat pulang, sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu.
“Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima, ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Sore itu, aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita.”
“Kamu tentu ingat tanggalnya, Ina,” kataku.
“Betul, Sam. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.”
“Kalau begitu tinggal 4 hari lagi.”
“Ingat enggak, siapa yang datang pada pesta kita itu?”
“Mantan pacarmu,” kataku.
“Juga mantan pacarmu,” katanya.
Kami ketawa bersama. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Mereka harus diberitahu, bahwa mantan pacar istriku adalah aku, dan mantan pacarku adalah istriku Ina.
Kuingat sekali, hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk.
Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Setelah dua tiga toko kami masuki, tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Ketika kami lewati beberapa toko, secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Aku dan istriku saling menatap.
“Kita menemukan pilihan jam antik,” ujar istriku.
“Ini benar-benar abadi,” kataku.
“Tanyakan harganya, Sam,” kata istriku. Makin larut perkawinan kami, makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu, aku tak tahu dan tak perlu tahu.
Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu.
“Merknya Junghun,” ujar sang pemilik toko. "Merk ini nomor satu. Di toko saya cuma tinggal satu ini.”
“Ya kurangilah separohnya,” ujar istriku.
Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.
“Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Cuma saya yang jual merk Junghun ini, dan ini juga satu-satunya.”
Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Lalu, ketika uang dihitung, kurang sedikit. Sebagaimana biasa, aku menggenapi kekurangan itu. Ketika setiba di rumah, istriku bilang, “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga, Sam.”
Memang begitu. Dari masa berpacaran dulu, kami menganut aliran navy-navy. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy.
Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Saat itu adalah pukul 00.00 pada hari 10 November.
Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu, aku meremas jari tangan istriku. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali, remasanku lebih kuat lagi. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung, aku dan istriku berpelukan.
Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami.
Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Ketika pada seperempat jam, dia menyanyikan satu bait saja. Ketika setengah jam, dia menyanyikan dua bait. Ketika tiba tiga perempat jam, tiga bait, dan pada waktu satu jam, empat bait komplit.
“Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya, Sam?” kata istriku.
“Ya. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita,” kataku.
“Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini,” kata istriku lagi.
“Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun, dan terutama karena adanya kamu.”
“Sudah gaek masih gombal,” kata istriku.
Pernah juga istriku bertanya, “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja, Sam?”
Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku.
“Aku tahu, ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang,” katanya.
”Si Aimah,“ sambungnya.
Peraturan kantor memang, jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja, yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.
Orang yang sama sekelas di SMA, sama pula di perguruan tinggi, dan sama pula selesainya, akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah, yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah.
“Kalau aku bicara soal si Aimah, kamu suka membisu. Padahal dia amat mencintaimu, Sam.”
Aku memilih diam. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah.
“Kalau kamu kawin sama Aimah, mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu,” ucapnya. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar.
Ketika pertengkaran itu terjadi, lonceng jam menyanyikan lagu itu. Sebelum empat bait lagu itu bergetar, aku dan Ina sudah berpelukan.
“Kita tak perlu bertengkar lagi. Yang ada di sini adalah aku, kamu dan jam dengan loncengnya itu.”
Tetapi, ajaib sekali. Biasanya kalau jam itu mati, aku bisa memperbaikinya. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu, lalu menyetel jarum panjang dan jarum pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.
“Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Bahkan ngawur. Pukul 12 bunyinya 6 kali.”
“Sudahlah. Jangan jadi nenek sihir lagi, Ina,” kataku.
“Itu logis saja, Sam. Aku kan tidak bilang kamu tolol.”
“Sudah, diam kamu. Kamu makin tua makin cerewet.”
“Kamu makin tua makin tolol.”
“Aku mau keluar.”
“Mau cari Aimah?”
“Bawel kamu.”
Aku mencari ahli jam. Menurut pemilik toko di Glodok itu, ada orang Arab di Tanah Abang, namanya Mahboub Assegaf, ahli pembetulan jam dan piano. Ketika aku tiba di rumah Arab itu, orang di rumah itu mengatakan, bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Kalau mau beli buah kurma dan kismis, ada dijual di sini.
“Aku tak bertemu dengan orang Arab itu,” kataku pada Ina.
“Oh si Aimah itu turunan Arab ya?”
“Coba tenang, Ina. Kita jual saja jam Junghun ini. Kita beli yang baru,” kataku.
Dia marah. Bahkan mencak-mencak. Dia katakan, "Jam ini penuh kenangan. Bertahun-tahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Jangan, Sam, kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya.”
Aku mengalah. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”.
Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami, aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi, dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00.00 tengah malam 10 November. Dimulai dengan cekcok mulut lagi, aku pergi ke Jatinegara. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Istriku senyum mencemoohinya.
“Tenang dulu, Ina. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf,” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina.
Istriku mendehem. Anak muda itu bekerja keras. Keringat membasahi bajunya, sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf, jam ini berbunyi 36 kali."
“Cukup, Nak. Memang dia gila,” kata istriku.
Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Ia menderita tekanan darah tinggi. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. Katanya, jam gila itu berbunyi 120 kali.
“Sabar, Ina. Kita jangan panik. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Aku akan coba perbaiki sendiri. Manusia harus mengalahkan benda mati ini,” kataku yakin.
Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Ini menambah semangatku, sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Tengah malam pukul 00.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit, lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Sayang, saat itu istriku tidak mendengarnya, dan tak 'kan pernah mendengarnya.
Ya, kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri, diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah.***
(Dimuat dalam Horison, September 1999)
Oleh: Motinggo Busye
Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Istriku menjadi perempuan yang bawel. Ini karena ulah jam itu. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Bila loncengnya berbunyi, maka terdengarlah sebuah nyanyi. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri.
Walaupun akhirnya mengesalkan, tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. Jika ditaruh di ruang tamu, kelak tamuku akan cepat pulang, sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu.
“Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima, ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Sore itu, aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita.”
“Kamu tentu ingat tanggalnya, Ina,” kataku.
“Betul, Sam. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.”
“Kalau begitu tinggal 4 hari lagi.”
“Ingat enggak, siapa yang datang pada pesta kita itu?”
“Mantan pacarmu,” kataku.
“Juga mantan pacarmu,” katanya.
Kami ketawa bersama. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Mereka harus diberitahu, bahwa mantan pacar istriku adalah aku, dan mantan pacarku adalah istriku Ina.
Kuingat sekali, hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk.
Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Setelah dua tiga toko kami masuki, tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Ketika kami lewati beberapa toko, secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Aku dan istriku saling menatap.
“Kita menemukan pilihan jam antik,” ujar istriku.
“Ini benar-benar abadi,” kataku.
“Tanyakan harganya, Sam,” kata istriku. Makin larut perkawinan kami, makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu, aku tak tahu dan tak perlu tahu.
Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu.
“Merknya Junghun,” ujar sang pemilik toko. "Merk ini nomor satu. Di toko saya cuma tinggal satu ini.”
“Ya kurangilah separohnya,” ujar istriku.
Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.
“Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Cuma saya yang jual merk Junghun ini, dan ini juga satu-satunya.”
Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Lalu, ketika uang dihitung, kurang sedikit. Sebagaimana biasa, aku menggenapi kekurangan itu. Ketika setiba di rumah, istriku bilang, “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga, Sam.”
Memang begitu. Dari masa berpacaran dulu, kami menganut aliran navy-navy. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy.
Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Saat itu adalah pukul 00.00 pada hari 10 November.
Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu, aku meremas jari tangan istriku. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali, remasanku lebih kuat lagi. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung, aku dan istriku berpelukan.
Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami.
Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Ketika pada seperempat jam, dia menyanyikan satu bait saja. Ketika setengah jam, dia menyanyikan dua bait. Ketika tiba tiga perempat jam, tiga bait, dan pada waktu satu jam, empat bait komplit.
“Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya, Sam?” kata istriku.
“Ya. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita,” kataku.
“Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini,” kata istriku lagi.
“Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun, dan terutama karena adanya kamu.”
“Sudah gaek masih gombal,” kata istriku.
Pernah juga istriku bertanya, “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja, Sam?”
Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku.
“Aku tahu, ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang,” katanya.
”Si Aimah,“ sambungnya.
Peraturan kantor memang, jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja, yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.
Orang yang sama sekelas di SMA, sama pula di perguruan tinggi, dan sama pula selesainya, akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah, yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah.
“Kalau aku bicara soal si Aimah, kamu suka membisu. Padahal dia amat mencintaimu, Sam.”
Aku memilih diam. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah.
“Kalau kamu kawin sama Aimah, mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu,” ucapnya. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar.
Ketika pertengkaran itu terjadi, lonceng jam menyanyikan lagu itu. Sebelum empat bait lagu itu bergetar, aku dan Ina sudah berpelukan.
“Kita tak perlu bertengkar lagi. Yang ada di sini adalah aku, kamu dan jam dengan loncengnya itu.”
Tetapi, ajaib sekali. Biasanya kalau jam itu mati, aku bisa memperbaikinya. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu, lalu menyetel jarum panjang dan jarum pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.
“Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Bahkan ngawur. Pukul 12 bunyinya 6 kali.”
“Sudahlah. Jangan jadi nenek sihir lagi, Ina,” kataku.
“Itu logis saja, Sam. Aku kan tidak bilang kamu tolol.”
“Sudah, diam kamu. Kamu makin tua makin cerewet.”
“Kamu makin tua makin tolol.”
“Aku mau keluar.”
“Mau cari Aimah?”
“Bawel kamu.”
Aku mencari ahli jam. Menurut pemilik toko di Glodok itu, ada orang Arab di Tanah Abang, namanya Mahboub Assegaf, ahli pembetulan jam dan piano. Ketika aku tiba di rumah Arab itu, orang di rumah itu mengatakan, bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Kalau mau beli buah kurma dan kismis, ada dijual di sini.
“Aku tak bertemu dengan orang Arab itu,” kataku pada Ina.
“Oh si Aimah itu turunan Arab ya?”
“Coba tenang, Ina. Kita jual saja jam Junghun ini. Kita beli yang baru,” kataku.
Dia marah. Bahkan mencak-mencak. Dia katakan, "Jam ini penuh kenangan. Bertahun-tahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Jangan, Sam, kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya.”
Aku mengalah. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”.
Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami, aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi, dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00.00 tengah malam 10 November. Dimulai dengan cekcok mulut lagi, aku pergi ke Jatinegara. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Istriku senyum mencemoohinya.
“Tenang dulu, Ina. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf,” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina.
Istriku mendehem. Anak muda itu bekerja keras. Keringat membasahi bajunya, sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf, jam ini berbunyi 36 kali."
“Cukup, Nak. Memang dia gila,” kata istriku.
Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Ia menderita tekanan darah tinggi. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. Katanya, jam gila itu berbunyi 120 kali.
“Sabar, Ina. Kita jangan panik. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Aku akan coba perbaiki sendiri. Manusia harus mengalahkan benda mati ini,” kataku yakin.
Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Ini menambah semangatku, sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Tengah malam pukul 00.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit, lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Sayang, saat itu istriku tidak mendengarnya, dan tak 'kan pernah mendengarnya.
Ya, kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri, diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah.***
(Dimuat dalam Horison, September 1999)
Subscribe to:
Posts (Atom)