Friday, 12 November 2010

MA'AF: Atas Nama Pengalaman

MA'AF: Atas Nama Pengalaman

Pramoedya Ananta Toer

REPRODUCED FROM MAJALAH PROGRES, No. 2, 1992. Sudah terbit.


Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia,
sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia
waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari
etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang
Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal
Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang
dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan,
panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan
dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari
cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan
sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta,
pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan
mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa
setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu "jutaan" manusia
sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka
resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat
pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah "mandi
darah saudara-saudara sendiri". Memang pada jamannya sendiri
bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya
'kampung' demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya,
jadilah bangsa yang merajai dunia.
Pada awal abad 17 masyarakat Belanda menghimpun dana untuk
membiayai pelayaran-pelayaran mencari rempah-rempah, melintasi
sejumlah samudra dan menghampiri sejumlah benua. Di negeriku,
beberapa belas tahun kemudian, tepatnya pada 1614, raja Jawa
yang paling kuat dan berkuasa, raja pedalaman, generasi kedua
dan raja ketiga Mataram, Sultan Agung, justru menghancurkan
negara bandar dagang Suarabaya, hanya karena membutuhkan
pengakuan atas kekuasaannya. Ironi histori Jawa termaktub di
sini: pada waktu Belanda mengelilingi dunia mencari
rempah-rempah, Surabaya suatu bandar transit rempah-rempah yang
sama untuk konsumsi internasional dihancurkan oleh seorang raja
pedalaman Jawa, Sultan Agung.
Mataram sendiri adalah kerajaan kuat kedua di Jawa yang
menyingkiri laut karena tidak ingin menghadapi kedahsyatan
Portugis di laut. Sultan Agung ini juga yang gagal total
menghalau koloni kecil Belanda di Batavia pada 1629. Kekalahan
itu membuat Mataram kehilangan Laut Jawa, laut pelayaran
internasional pada masanya. Untuk menghilangkan malu yang
diderita, untuk memperthankan kewibawaan Mataram, para pujangga
etnik Jawa berceloteh, bahwa pendiri Mataram, ayah Sultan Agung,
mempersunting puteri Laut Selatan (pulau Jawa), Nyi Roro Kidul.
Untuk menyatakan, kata Prof. H. Resink, bahwa Mataram masih
punya keterlibatan dengan laut.
Dalam kronik etnik Jawa, Sultan yang satu ini diagungkan begitu
tinggi dengan membuang segala faktor yang memalukan. Juga dalam
pengajaran sejarah dalam Republik Indonesia sekarang. Orang akan
membelak bila mengikuti materi tertulis orang Barat tentang dia.
Sedang pendiri Mataram, Sutawijaya, dengan dalih ingkar janji
sebagai didendangkan oleh para pujangga etnik Jawa, marak jadi
raja setelah membunuh ayah angkat yang membesarkannya, yang
memberinya fasilitas sebagai seorang pangeran. Kronik yang
diwariskan pada kami tidak pernah ada yang menyinggung tentang
nurani, yang nampaknya memang tak terdapat dalam pembendaharaan
bahasa Jawa.
Diawali dengan kekalahan Sultan Agung, hilangnya kekuasaan atas
jalur dagang di L. Jawa, beroperasinya kapal-kapal meriam Barat,
golongan menengah Jawa, yang senyawa dengan pemilikan kapal dan
pedagang antar-pulau serta internasional terhalau dari
bandar-bandar dan tergiring ke pedalaman, menjadi mundur, dan
terjatuh dalam kekuasaan satria pedalaman dan ikut mundur.
Namun para pujangga pengabdi sistim kekuasaan, menyingkirkan
kenyataan yang menggejala ini. Setelah Sultan Agung marak,
Mataram ke 4 justru bersahabat dengan Belanda. Para pujangga
tetap tidak mengambil peduli. Nyai Roro Kidul, justru dibakukan
sebagai kekasih setiap raja Mataram, generasi demi generasi,
dikembangkan kekuasaannya sedemikain rupa sehinggga menjadi
polisi. aneh tapi nyata bahwa semua ini terjadi sewaktu Jawa
praktis mulai memeluk Islam. Penyebaran agama baru ini tidak
disertai peradabannya sebagaimana halnya dengan hindusisme,
karena praktis sebgai akibat sekunder dari terhalaunya para
pedagang Islam dari jalur laut oleh kekuatan Barat yang Nasrani,
kelanjutan dari penghalauan atas kekuasaan Arab di Semenanjung
Iberia. Dapat dikatakan penyebaran Islam di Jawa adalah akibat
sekunder dari gerakan Pan-Islamisme internasional pada jamannya.
Lebih mengherankan lagi bahwa pada waktu tulisan ini dibuat,
Nyai Roro Kidul telah dianggap menjadi kenyataan. Sebuah hotel
di pantai selatan Jawa Barat menyediakan kamar khusus untuk Dewi
Laut Selatan tersebut. Bagaimana bisa terjadi suatu negara yang
berideologi Pancasila, dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai
silanya yang pertama menerima kehadiran seorang dewi laut,
kekasih para raja Mataram. Para pujangga tidak pernah teringat
bahwa dengan kekuasaan tanpa batas Dewi Laut Selatan, Mataram
tidak pernah menang dalam konfrontasinya dengan kekuasaan Barat
yang datang dari ujung dunia.
Sejak kegagalan Sultan Agung, Jawa tetap terkungkung dalam
peradaban dan budaya 'kampung', ditelan mentah-mentah oleh
Belanda selama 3 1/2 abad. Sungguh tragi-komedi yang mengibakan.
Sedang Belanda datang hanya dengan kekuatan sebiji sawi, bangsa
berjumlah kecil, negeri kecil, di ujung utara dunia, setelah
melintasi Samudera Atlantik, Hindia, Pasifik. Juga dalam perut
kekuasaan Belanda, Jawa tetap memuliakan peradaban dan budaya
'kampung'nya dengan klimaks 'kampung'nya: "mandi darah
saudara-saudara sendiri", sampai 1965-66. .... Dan karena sudah
tidak dalam perut kekuasaan Eropa lagi, jelas pembantaian
mencapai skala tanpa batas.
Penjajahan Belanda, ataui Eropa, atas negeriku telah banyak
meredam klimaks-klimaks ini. Tanpa penjajahan, negeriku akan
tiada hentinya mencucukan darah putera-puterinya. Perebutan
tempat kedua setelah Belanda dalam kekuasaan administrasi di
Jawa dalam pertengahan abad 18, yang konon mengucurkan
seperempat dari jumlah penduduk wilayah kerajaan Jawa. Sedang
seorang pangeran yang mendapat tempat ketiga setelah Belanda,
Mangkunegara I, baru-baru ini malahan diangkat menjadi pahlawan
nasional. Maka itu seorang wisatawan mancanegara yang mempunyai
pengetahuan tentang Jawa dan Indonesia akan mengangguk mengerti
mengapa dalam tahun 80-an menjelang akhir abad 20 ini patung
para Satria Pandawa berangkat perang naik kereta perang di Jalan
Thamrin, Jakarta. Itulah patung dalam babak klimaksnya
Mahabharata, "mandi darah saudara-saudara sendiri".
Dalam penjajahan selama 3 1/2 abad kekuatan etnikku tidak pernah
menang menghadapi kekuatan Eropa, di semua bidang, terutama
bidang militer. Para pujangga dan pengarang Jawa, sebagai bagian
dari pemikir dan pencipta dalam rangka peradaban dan budaya
'kampung' menampilkan keunggulan Jawa, bahkan dalam menghadapi
Belanda, Eropa, Jawa tidak pernah kalah. Cerita-cerita
masturbasik yang dipanggungkan, juga yang tertulis, juga cerita
lisan dari mulut ke mulut, menjadi salah satu penyebab aku
selalu bertanya: mengapa etnikku tidak mau menghadapi kenyataan?
Sedikit pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dasar dan
sedikit bacaan dari literatuir Barat, mula-mula tanpa kusadari,
makin lama makin kuat, membuat aku melepaskan diri dari
peradaban dan budaya 'kampung' asal etnikku sendiri. Sekali lagi
maaf. Di luar Jawa pernah suatu kekuatan etnik menang mutlak
atas Eropa. Itu terjadi di Ternate pada 1575. Portugis diusir
dari bentengnya dan menyerah. Karena ini tidak terjadi di Jawa,
tentara yang menyerah itu tidak dibikin mandi darahnya sendiri,
tetapi digiring ke pantai, diperintahkan menunggu sampai
dijemput armada Portugis. Dan karena terjadi jauh di luar Jawa,
di Maluku, tidak pernah disinggung dalam mata pelajaran sejarah
resmi sampai 1990 ini. Mungkin perlu waktu sampai seorang
peneliti asing menerbitkan karyanya. Atau mungkin sudah pernah
terbit hanya aku saja yang tidak tahu.
Sekiranya dahulu aku terdidik suatu disiplin ilmu, misalnya ilmu
sejarah, aku akan lakukan penelitian yang akan menjawab: mengapa
semua ini terjadi dan terus terjadi. Tetapi aku seorang
pengarang dan pendidikan minim, jadi bukan materi-materi
historis yang kukaji, tetapi semangat-semangatnya, yang kumulai
dengan tetralogi Bumi Manusia, khusus menggarap arus-arus yang
datang dan pergi dalam periode Kebangkitan Nasional Indonesia.
Dan jadilah kenyataan baru, kenyataan sastra, kenyataan hilir,
yang asalnya adalah hulu yang itu juga, kenyataan historis.
Kenyataan sastra yang mengandung di dalamnya reorientasi dan
evaluasi perdaban dan budaya, yang justru tidak dikandung oleh
kenyataan historik. Jadinya karya sastra adalah sebuah thesis,
bayi yang memulai perkembangannya sendiri dalam bangunan-atas
kehidupan masyarakat pembacanya. Dia sama dengan
penemuan-penemuan baru di segala bidang, yang membawa masyarakat
selangkah lebih maju.
Sengaja kuawali dengan thema Kebangkitan Nasional
Indonesia--yang walau terbatas di bidang regional dan nasional
namun tetap bagian dari dunia dan umat manusia--setapak demi
setapak juga kutulis pada akar historinya, yang untuk sementara
ini belum siap terbit, atau mungkin tidak akan bisa terbit.
Dengan demikian telah kucoba untuk dapat menjawab: mengapa
bangsaku jadi begini, jadi begitu. Maka juga aku tidak menulis
sastra hiburan, tidak mengabdi pada status quo, bahkan berada di
luar dan meninggalkan sistem yang berlaku. Akibatnya memang
jelas: dianggap menganggu status quo dalam sistem yang berlaku.
Dan karena menulis adalah kegiatan pribadi--sekalipun pribadi
adalah juga produk seluruh masyarakat, masa sekarang dan masa
lalunya--konsekwensinya pun harus dipikul sendirian. Dan kalau
ada simpati datang padanya, darimana pun datanganya, bagiku itu
suatu nilai lebih, yang sebenarnya tak pernah masuk dalam
hitunganku. Untuk itu tentu saja kuucapkan terimakasih.
Sebelum sampai pada tetralogi, telah kutulis sejumlah karya yang
semua bakalnya bermuara padanya. Dalam kurun ini pun sudah mulai
permusuhan dari kalangan yang pada masa itu sedang giat memburu
status quo. Dan mengherankan, bahwa pada mulanya karya-karya itu
disambut dengan cukup baik, bahkan beberapa kali malah
mendapatkan hadiah penghargaan. Terutama semasa demokrasi
terpimpin dalam tahun-tahun akhir 50-an dan paroh pertama 60-an
periode doktrin Trisakti--berdaulat di bidang politik, berdikari
di bidang ekonomi, berpribadi di bidang kebudayaan--suatu
doktrin universal bagi negara nasionalis di manan pun berada,
namun menjadi momok bagi negara-negara padat modal yang haus
ladang usaha di seluruh muka bumi. Sejarah mengajarkan banyak
tentang kekuasaan modal. Bangsa-bangsa merdeka diubah menjadi
bangsa kuli, orang-orang lugu dibentuk menjadi komprador,
pengangguran diubah menjadi pembunuh bayaran dengan sergam dan
tanda pangkat, rimba-belantara diretas-retas dengan
infrastrktur, kota-kota, pelabuhan, muncul dari tiada atas
perintahnya, tenaga kerja disedotnya dari mana saja,
sampai-sampai dari dusun yang tak pernah terdengar jelas
namanya. Pemerintah dari sekian banyak negara dibuatnya hanya
jadi pelaksana kemauannya, dan bila sudah tak dihekendakinya,
dijatuhkannya. Itu cerita yang membosankan, yang menjadi bagian
pengalaman banyak bangsa di dunia, dan pengalaman setiap orang
yang memikul akibatnya bersama-sama, baik yang mendapatkan
keuntungan darinya mau pun yang dirugikan olehnya. Dan setiap
pengalaman bagi seorang pengarang menjadi fondasi bagi proses
kreativitasnya, tak perduli pengalaman itu indrawi atau pun
batiniah.
Apakah Indonesia dengan kemerdekaannya akan menyesuaikan diri
dengan kekuasaan modal yang tidak berkebangsaan itu atau akan
menentangnya seperti selama itu dibuktikan dengan revolusi 1945?
Sudah sejak tahun-tahun revolusi, Soekarno menolak tawaran
monopoli dari Ford dengan imbalan pembangunan jalan raya
trans-Sumatra-Jawa. Dalam perkembangan semasa kemerdekaan
nasional, dia juga yang mengenyampingkan alternatif penyesuaian:
blok kapitalis dan blok komunis. Bukan suatu kebetulan bila dia
jugalah yang melahirkan istilah Dunia Ketiga. Apa pun keberatan
orang tentang sejumlah kelemahannya, jelas ia mempunyai faktor
intern keindonesiaan prima. Ia tak menghendaki negaranya menjadi
hemesphere blok mana pun. Dan Indonesia semakin terperosok dalam
kesulitan ekonomi. Dalam kesulitan ekonomi luar biasa ini aku
memberikan dukunganku, dan dengan sendirinya ikut mendapatkan
bagian dari kesulitan tersebut. Dukungan juga datang dari hampir
semua organisasi dan gerakan, termasuk gerakan yang mendukung
untuk menjatuhkan Soekarno. Dalam masa ini LEKRA mengangkat aku
jadi anggota plenonya. Orang bilang organisasi ini adalah
organisasi mantel PKI. Sampai sekarang pun aku masih heran,
mengapa apa saja yang bersangkutan dengan PKI dicap sebagai
sesuatu yang jahat. Yang jelas partai ini kontestan pemilihan
umum yang tampil sebagai salah satu pemenang, bukan partai
bandit tanpa idealisme. Artinya partai itu bukan kekuatan yang
sudah berkuasa dan menerapkan sistim kekuasaannya. Perlu
kukedepankan soal kekuasaan, karena yang ini cenderung membuat
orang jadi bandit, apalagi kalau puluhan tahun dipegangnya, dan
tanpa pernah berkenalan dengan semangat Verlichting, Aufklarung,
masih terkungkung dalam peradaban dan budaya 'kampung'.
Puluhan tahun sebagai warganegara Indonesia dengan tanah airnya
yang berupa jajaran gunungapi dan penduduknya yang berupa
sebaran gungapi lainnya, setiap waktu bisa meletus tanpa
pemberitahuan, membuat bawahsadar penuh sesak dengan pengalaman
indrawi dan batini.
Dalam penahanan selama 14 tahun 2 bulan, terampas dari semua dan
segala, semua pengalaman yang telah lalu aku renungkan dari
bawah larsa militer yang menginjakku. Semua menjadi lebih jelas,
bahwa semua itu hanya pengalaman alamiah belaka, suatu lingkaran
setan histori dari peradaban dan budaya 'kampung' tanpa
reorientasi ke dalam atau pun ke luar. Sedang kelahiran apa pun
yang dinamakan Orde Baru ini tidak lain dari ulangan kejadian
sejarah pada dasawarsa kedua abad 13, dimythoskan oleh pujangga
Jawa beberapa abad kemudian sebagai legenda Gandring.
Seorang pemuda, digambarkan sebagai berandalan, memesan keris
pada seorang empu keris bernama Gandring. Pemesan itu, Ken Arok,
membunuhnya sebelum keris itu usai. Tentu saja semua dilakukan
dengan rahasia. Senjata tajam itu secara rahasia pula
dipinjamkan pada Kebo Ijo, yang ke mana-mana pamer dengan keris
pinjaman, dan bertingkah seakan miliknya sendiri. Pada suatu
kesempatan Ken Arok mencurinya dan dengannya ia membunuh
penguasa Singasari. Kebo Ijo dihukum mati dan Ken Arok
menggantikan Tunggul Ametung sebagai penguasa. Empu Gandring,
sebelum menghembuskan nafas penghabisan, sempat menyatakan
kutukan: "Arok, anak dan cucunya, 7 raja, akan terbunuh oleh
keris itu!" Memang sejarah membuktikan beberapa raja terbunuh,
tidak sampai 7, namun pola dari kedua dasawarsa abad 13 tersebut
terjadi dan terjadi tanpa tercatat, dalam berbagai varian. Dan
dalam abad 20 ini, masih tetap di Jawa, Empu Gandring tersebut
menitis dalam di;-Soekarno, sang pandai Pancasila.
Anak desa Pangkur ini (sampai abad 20 di Jawa hanya ada satu
desa dengan nama ini, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi) tidak
pernah diberitakan mendapatkan pendidikan standard semasanya.
Yang diberitakan adalah ia putera Brahma, Ciwa, dan Wisnu
sekaligus. Yang jelas ia anak cerdik, pemberani, dan pandai.
Mungkin karena pendidikan standardnya minim, boleh jadi malah
nihil, dengan lindungan para dewa utama, dengan kekuasaan di
tangan, telah menutup babak Hindu Jawa dan mengawali babak Jawa
Hindu. Candi makam terbesar di Jawa Timur, Kagenengan, adalah
candi makamnya, sekalipun sekarang sudah tak ada sosok bentuknya
lagi.
Ken Arok abad ke 13 datang padaku waktu aku dalam pengasingan di
Buru. Tanpa Buru barang tentu ia takkan temukan aku, dan dia
akan tinggal terkerangkeng dalam legenda. Para dewa utama abad
13 itu masih tetap dewa utama abad 20, penguasa modal,
teknologi, informasi. Hanya, waktu kutulis kisah Arok dan Dedes
dalam pengasingan di Buru, penampilannya aku persolek dengan
tafsiran baru agar dapat keluar dari kerangkeng legenda.
Tentu saja akan ada yang tidak setuju dengan pikiran ini. Dan
memang aku tak mengharapkan persetujuan siapa pun. Sebaliknya
siapa pun dapat pikirannya masing-masing, apalagi kalau yang
bersangkutan tidak pernah diperlakukan seperti diriku, khususnya
10 tahun dibuang dan kerjapaksa di Buru. Seorang sesama
tapol--sudah tak teringat olehku siapa namanya--mengajukan
pertanyaan: apakah siklus Arok tidak bisa digantikan dengan
gambaran lain? Bisa, dan setiap orang bisa membuatnya untuk
dirinya sendiri bila punya perhatian, kepentingan dan kemauan,
asal tidak melupakan pola peradaban dan budaya 'kampung' yang
itu-itu juga, lingkaran setan, yang hanya bisa diputuskan oleh
reevaluasi atasnya, Verlichting, Aufklarung, yang menghasilkan
kreativitas yang menjebol plafonnya sendiri.
Tentu saja Orde Baru akan menanggapi dengan klisenya: itu
pembelaan untuk PKI. Itu hak Orde Baru untuk membela diri. Yang
jelas, pada masanya partai ini sah, legal, salah satu kontestan
pemenang dalam pemilu, dan karenanya juga mempunyai beberapa
orang menteri dalam kabinet. Dia takkan mengkup kemenangannya
sendiri. Kup cenderung dilakukan oleh partai yang kalah dalam
pemilu, bahkan tidak ikut pemilu.
Dr. J. Krom pernah menyatakan, bahwa petualangan Arok sebelum
berkuasa merupakan "schelman roman". Betul. Juga betul, bahwa
dalam konsep kekuasaan a la Jawa, dan mungkin juga pada bangsa
dari etnis-etnis lain di dunia dengan peradaban dan budaya
'kampung'nya, hanya kekuasaan adikodrati saja yang memungkinkan
sesuatu bisa terjadi, maka maraknya seseorang di singgasana
kekuasaan hanya terjadi dengan ridlanya. Ini satu lagi acuan
ideal-ideal dan peradaban Jawa tentang kekuasaan. Kekuasaan
adalah ridla Tuhan dan kalau sudah dicapai, jadilah ia orang
kedua sesudah Tuhan. Dengan kekuasaan, semua kejahatan akan
terbasuh, bahkan dibenarkan, halal. Selanjutnya menyusul
tulisan dan ucapan dari mereka yang ikut mendapatkan keuntungan
darinya.
Pernah didongengkan padaku semasa kecil, juga dari bacaan, bahwa
yang jahat akan dikalahkan oleh yang baik. Yang tidak pernah
didongengkan: yang baik dengan sendirinya juga akan dikalahkan
oleh yang jahat. Suatu mata rantai yang sambung-menyambung.
Kalau rangkaian itu tidak ada, tak tahu lagi orang mana yang
baik dan mana yang jahat. Suatu lingkaran setan yang tak
habis-habisnya.
Sebagai pengarang tentu saja dilontarkan padaku pertanyaan yang
tidak kalah klisenya: apakah akan menulis tentang masa sekarang?
Kan sudah banyak menulis tentang masa lewat yang sudah jadi
sejarah? Lagi pula yang sekarang toh juga sejarah, sejarah
kontemporer?
Memang banyak dan akan semakin banyak sarjana menerbitkan
penelitiannya tentang berbagai aspek Orde Baru. Mereka banyak
membantu kita dalam memahami banyak hal. tetapi sebagai pribadi
dan pengarang yang ikut memikul beban perubahan, aku
memandangnya dengan timbangan nasional. Era Soekarno dengan
Trisaktinya tak lain sebuah thesis. Orde Baru antithesis. maka
itu bagiku memang belum bisa ditulis, suatu proses yang belum
bisa ditulis secara sastra, belum merupakan suatu keutuhan
proses nasional, karena memang masih menuju pada sinthesisnya.
Masih di Buru, seorang wartawan Indonesia yang bertingkah-laku
sebagai jaksa, mengajukan pertanyaan, apakah aku tidak menaruh
dendam terhadap Orde Baru? Ini adalah proses nasional, bukan
urusan dendam pribadi. Apa yang kami ceritakan cuma pencerminan
tingkat peradaban dan budaya kita sendiri. Kemajuan dan
keanekaragaman teknologi, statistik pembangunan ataupun hutang
luar negeri, peningkatan infrastrukutr perhubungan dari warisan
kolonial, perusakan hutan dan paket banjir tahunan, semua
menduduki tempat sebagai rias antithesis dalam proses nasional.
Semasa kolonial, Belanda mengekspor pembunuh bayaran berbedil,
berseragam dan dengan pangkat-pangkat militer, untuk menaklukkan
dan mengendalikan luar Jawa dan Madura. Baru pada 1904, dan
sporadis sebelum itu, Belanda mengirimkan orang Jawa tanpa bedil
ke luar Jawa-Madura, tapi dengan pacul. Nampaknya kenal betul
peta demografis dan geografis Indonesia sehingga dapat menarik
kesimpulan klasik yang bisa diambil keuntungannya. Dan Belanda
nampaknya juga tahu, para penggantinya tidak akan dapat berbuat
lain kecuali meneruskannya; bukan lagi menduduki tempat sebagai
ria thesis atau pun antithesis, nampaknya sebagai kodrat yang
terbawa oleh kelahiran Indonesia.
Satu ironi lagi: Indonesia, yang secara politis dan
administratif dipersatukan oleh Soekarno tanpa pertumpahan
darah--sebuah fenomena khusus dalam sejarah umat manusia--harus
dipertahankan persatuan dan kesatuannya dengan tradisi kolonial,
yaitu dua macam export dari Jawa: pembunuh bayaran berbedil dan
orang Jawa berpacul. Dengan tradisi seperti itu, Indonesia
mempunyai cacat genetik yang parah. Semaoen--penasihat pribadi
Presiden Soekarno--pernah memberikan terapi untuk cacat genetik
itu: pindahkan ibukota keluar dari Jawa, ke Palangkaraya, di
Kalimantan Tengah. Tetapi Semaoen almarhum sudah tidak sempat
mengalami apa yang terjadi dengan hutan-hutan di Kalimantan
sekarang. Mengunyah masalah ini dalam sastra sudah pasti
membutuhkan waktu lama dan belum tentu memuaskan pengarang mau
pun pembacanya. Dan kondisi peradaban dan budaya 'kampung' akan
menempatkan pengarangnya jadi sasaran kekuasaan yang merasa
terancam kemapanannya. Tentu saja yang dimaksud adalah para
pengarang yang coba-coba membuat penilaian dan penilaian kembali
peradaban dan budaya 'kampung' yang telah memapankan selapisan
golongan atas dalam masyarakatnya. Juga para cendikiawan, juga
kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang telah cerah,
tetapi terutama adalah para pengarangnya, karena profesinya
tidak terikat pada sesuatu disiplin ilmu. Kepeduliannya pada
pengekspresian kesedaran dan bawahsadarnya pribadi, para
penguasa--artinya pembesar, bukan pemimpin--sibuk membuat kordon
penyelamat kemapanannya. Pengarang dengan demikian, sebagai
pribadi yang hanya punya dirinya sendiri, mendapatkan tekanan
terberat. Namun apa pun perlakuan yang ditimpakan padanya,
pengalaman pribadinya adalah juga pengalaman bangsanya, dan
pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.
Sebagian, kecil atau besar atau seluruhnya, akan membuncah dalam
tulisan-tulisannya dan akan kembali pada bangsanya dalam bentuk
kenyataan baru, kenyataan sastra. Hakikat fiksi karenanya adalah
juga hakikat sejarah.
Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak
ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin,
perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan
dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri
melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk
mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri,
kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa
pun.
Kekuatiran akan terganggunya kemapanan, yang sejak masa kolonial
dikenal sebagai "rust en orde" dan diindonesiamerdekakan menjadi
"keamanan dan ketertiban" tidak jarang melahirkan
tuduhan-tuduhan menggelikan.
Baik sebelum mau pun selama di Buru dakwaan yang terus-menerus
disemburkan Orde Baru adalah: hendak mengubah Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 45, tanpa pernah mengajukan pembuktian.
Biasanya diucapkan di depan appel atau sewaktu santiaji alias
indoktrinasi. Salah satu sila dari Pancasila adalah Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab. Untuk ukuran kemanusiaan, tanpa tambahan
adil dan beradab pun, perlakuan mereka terhadap kami cukup
memuakkan, bahkan menjijikkan. Dakwaan merubah UUD? Pernah
sekali waktu seorang perwira aku dengar bersumbar: Timor Timur?
Uh, dalam dua hari bisa kami atasi. Dan benar, Timor Timur
kemudian dicaplok, bagian timur P. Timor yang tak pernah diklaim
oleh para pendiri Republik yang menyusun UUD 45 itu. Dari dua
dakwaan itu tanpa ragu membuat aku membikin kesimpulan: apa yang
dituduhkan itu justru apa yang mereka lakukan atau ingin
lakukan. Karena sejumlah kejadian cocok dengan kesimpulan,
kadang aku cenderung untuk menilainya sebagai rumus. Tapi
kemudian kuperlunak menjadi: apa yang terucapkan sebagai X
adalah minus X.
Dalam percakapan pribadi beberapa pejabat menyayangkan
keanggotaanku pada LEKRA. Jadi menurut gambaran orde Baru, LEKRA
adalah organisasi kejahatan. Sampai sekarang pun aku tak pernah
menyesal menerima pengangkatan sebagai anggota pleno LEKRA,
kemudian diangkat jadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan salah
seorang pendiri Akedemi Multatuli, semua disponsori LEKRA.
Malahan aku bangga mendapat kehormatan sebesar itu, yang takkan
diperoleh oleh setiap orang, dan tidak mengurangi kebanggaanku
sekiranya benar ia organisasi mantel PKI. Semua itu sudah lewat,
tetapi belum menjadi sejarah, karena sebagai proses belum
menjadi kebulatan sinthetik. Pada waktu aku masih di Buru
ternyata orang pertama LEKRA dan orang pertama Lembaga Sastra
sudah lama bebas. Sekiranya aku bukan pengarang, boleh jadi
semua perlakuan yang menjijikkan itu tidak akan aku alami.
Tetapi pada segi lain, semua yang aku alami merupakan bagian
dari fondasi kepengaranganku untuk masa-masa mendatang,
sekiranya umur masih memungkinkan dan kesehatan fisik mau pun
mental masih bisa diandalkan.
X minus X memang membantu aku dalam memahami Orde Baru, yang
mereka anggap akan abadi dalam kebaruannya. Sebagai tapol
angkatan terakhir yang akan meninggalkan P. Buru, kami masih
harus melakukan korve membuat dua macam surat pernyataan sekian
salinan, menyatakan tidak akan menyebarkan Marxisme, Leninisme,
Komunisme, momok yang mereka bikin-bikin sendiri untuk menjadi
ketakutannya sendiri. Surat lain adalah pernyataan, bahwa
sebagai tapol kami telah diperlakukan secara wajar di P. Buru.
Secara hukum, surat-surat korve tersebut memang surat dagelan,
tetapi dengannya kami bisa membeli nomor untuk embarkasi ke
kapal yang berangkat ke Jawa. Betapa indahnya sekiranya
surat-surat korve itu tersimpan baik dalam arsif negara.
Kertas-kertas itu akan jadi bagian sejarah betapa sekian manusia
Indonesia telah membuat topeng dan jubah malaikat kesucian untuk
para penguasa dan kekuasaannya. Seorang pemimpin tidak
membutuhkan jubah dan topeng.
Di dermaga pelabuhan Namlea, di mana kapal "Tanjungpandan" sudah
siap mengangkut, 500 orang angkatan terakhir yang akan
diberangkatkan pulang ke Jawa sudah meninggalkan daratan.
Tinggal beberapa belas di antara kami, termasuk aku. Letkol
Lewirisa komandan kamp terakhir datang padaku dan bilang tanpa
ditanya tanpa diharapkan: "Pram, pelayaran akan langsung ke
Jakarta." Itu berarti X minus X, kami, rombongan beberapa belas
orang tidak menuju ke Jakarta. Baru kami boleh naik ke kapal dan
dikucilkan dari yang lain-lain.
Kamp kerja paksa yang kami tinggalkan semula dinamai Tefaat,
tempat pemanfaatan tenaga kerja kami, sisa hidup kami, dengan
harus membiayai hidup, perumahan, jaringan jalanan ekonomi dan
lingkungan, membuat sawah dan ladang dari padang ilalang dan
hutan, dan masih harus memberi makan para serdadu yang menjaga
kami, masih ditambah dengan pembunuhan terhadap sejumlah dari
kami. Menurut korve tulis, itu harus dinyatakan wajar. Juga
mereka yang tewas dalam kerjapaksa untuk mendapatkan uang. Juga
pembayaran pajak oleh tapol yang melakukan pertukangan dan
kerajinan tangan. Untuk siapa dan kepada siapa tidak jelas.
Menurut korve tulis ini juga harus dinyatakan wajar. Dan
bangunan-bangunan, puluhan banyaknya, besar dan kecil, dengan
peralatan rumahtangga, semua dibangun dan dibiayai oleh tapol,
juga harus dianggap wajar bila dijual pada instansi lain tanpa
ganti rugi pada tapol. Juga perampasan begitu saja sapi-sapinya.
Dan semua ini memang sedang menuju pada sejarah, tapi belum
sejarah. Masih panjang lagi daftarnya. Semua kebanditan, besar
dan kecil akan terpulang pada bangsa ini, bangsaku, yang
melahirkan suatu kekuasaan macam ini. Bukan maksudku mendirikan
dunia utopi dengan bangsa ini, menduduki bagian dunia dengan
tanpa cacat--bangsa-bangsa lain pun punya segi gelapnya--yang
aku maksudkan adalah bangsa ini belum melahirkan cercah
kecerahan, Verlichting, Aufklarung. Para brahmin tetap masih
menduduki tempat sebagai asesori kekuasaan kasta satria, yang
hidup dari dan untuk kekuasaan semata, karena memang tidak
produktif apalagi kreatif, seperti sebelum datangnya
kolonialisme. Tidak mengherankan bila ribuan naskah isinya
berputar sekitar ke"hebat"an para satria dalam membunuh yang
dianggap lawannya, dan ribuan lagi naskah yang isinya resep
tentang hidup bahagia (dalam alam kehidupan sumpek) dan
nasihat-nasihat berkelakuan indah dan baik (dalam alam kehidupan
banditisme), tentang alam gaib dan teknik berhubungan dengannya
(dalam suasana belum lagi mengenal lingkungan sendiri).
Apa yang dikatakan letkol Lewerisa tepat minus X. Kami beberapa
belas orang sebelum kapal sampai ke Jakarta, diturunkan di
Tanjungperak, Surabaya, untuk disimpan di pulau penjara Nusa
Kambangan, di selatan Jawa. Hanya karena jasa pers
internasional, yang meributkannya, akhirnya kami sampai ke
Jakarta, memasuki penjara baru yang lebih longgar. Dalam tahanan
kota sejak akhir 1979 sampai 1991, tanpa suatu keputusan
pengadilan mana pun. Banyak terjadi korban tuduhan baru, yang,
sebagai pengarang tentu saja memperkaya materi yang harus
diendapkan. Setidak-tidaknya, membuat sejarah hidup pengarang
menjadi semakin panjang.
Dalam tahanan kota dengan kebebasan nisbiah dapat kuikuti koran
dalam dan luar negeri. Tuduhan ternyata datang berantai dari
Indonesia sendiri sampai dari bagian-bagian Asia Timur dan
Eropa: semasa Soekarno aku melarang terbit sejumlah buku sesama
pengarang. Aku menteror para pengarang Indonesia yang tidak
sepikiran dengan artikelku "Yang Harus Dibabat dan Harus
Dibangun". Bahkan seorang tokoh sastra terkemuka, memberikan
kuliah pada suatu universitas negeri, menyatakan telah dipecat
karena ulahku. Kebetulan tokoh tersebut, seperti halnya sejumlah
yang lain, semasa revolusi justru menjadi pejabat pada dinas
balatentara pendudukan Belanda, sebagian lain, karena umurnya,
barangtentu tidak menyertai revolusi.
Pecat-memecat dari sesuatu jabatan bukan urusanku, dan memang
tidak pernah. Tuduhan-tuduhan itu hanya tabir asap terhadap apa
yang mereka sendiri telah dan ingin lakukan. Pada hari-hari awal
peristiwa 1965 merekalah yang menteror dan menghancurkan seluruh
kertasku, termasuk naskah Panggil Aku Kartini Saja jilid III dan
IV, Kumpulan Karya Kartini, Wanita Sebelum Kartini, Kumpulan
Cerpen Bung Karno, 2 jilid terakhir trilogi Gadis Pantai, Sebuah
Studi tentang Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Studi Percobaan
tentang Sejarah Bahasa Indonesia. Sedang direktur Balai Pustaka
menjawab atas permintaaanku untuk menarik kembali 2 jilid sastra
Pra-Indonesia, mendapat jawaban: telah dibakar atas permintaan
atasan.
Seorang tokoh sastra penting yang semasa Orla menempatkan diriku
sebagai lawan, pernah menyampaikan nama-nama tokoh sastra
penting dewasa ini yang ikut menyerbu ke rumahku pada 1965
tersebut. Malahan sebelum menyerbu telah mendapat pesan dari
tokoh sastra generasi lebih tua agar mengambilkan naskah
Ensiklopedi Sastra Indonesia yang sedang aku susun.
Pada awal tahun 80-an Beb Vuyk di Belanda melancarkan tuduhan,
LEKRA mengirimkan 'knokploeg' untuk menghajar lawan-lawannya. Di
antara kurbannya adalah musikolog Bernard Ijzerdraat. Di Belanda
isyu tentang pengiriman knokploeg nampaknya tetap hidup sampai
menjelang akhir 1991. Waktu terakhir kali Beb Vuyk datang ke
Indonesia dan menemui musikolog tersebut, ia mendapat sangkalan
darinya. Namun ia tak pernah merevisi tuduhannya. Sebaliknya
beberapa anggota LEKRA telah mereka bunuh, di antaranya adalah
pematung nasional Trubus dalam perjalanan ke Jakarta memenuhi
panggilan Presiden Soekarno. Sampai sekarang tidak ada yang
pernah mengaku bertanggungjawab, juga atas pembunuhan ratusan
ribu saudaranya sendiri. Memang beda dari apa yang dinamai kaum
teroris di Utara, begitu beraksi begitu menyatakan dirinya yang
bertanggungjawab, mereka tidak memerlukan topeng atau pun jubah
malaikat. Jangankan pembunuhan massal, pencurian
sekecil-kecilnya adalah kejahatan, dan semua itu bisa terjadi
hanya karena peradaban dan budaya 'kampung', peradaban dan
budaya masyarakat bangsa-bangsa yang terasing, merasa tidak aman
dan terancam karena ulah sendiri, dan topeng dan jubah kesucian
menjadi seragam parade yang mengasyikkan untuk dipanggungkan
dalam drama-komik.
Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tugas mengelola semua materi
yang belum selesai itu dalam suatu karya sastra. Bukan
mencerminkan atau memantulkan kejadian-kejadian, karena sastra
tidak bertugas memotret, tetapi mengubah kenyataan-kenyataan
hulu menjadi kenyataan sastrawi, yang membawa pembacanya lebih
maju daripada yang mapan.
Apakah sikap demikian sikap subversif, atau kriminal? Itu pun
terserah pada tuan-tuan yang berkuasa, yang mempunyai serdadu,
polisi, dan perangkat administratif. Tindakannya tak lain dari
apa yang tingkat peradaban budayanya bisa berikan. Sekiranya
lebih maju dari takaran peradaban dan budayanya, semoga
demikian, boleh jadi itu suatu isyarat positif, kutukan 7
turunan Gandring tidak akan berlaku sampai 2 generasi, karena
babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang
telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat
manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para
pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya.
Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya
daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan
berserakan.
Sekali lagi, maaf.
Jakarta, November 1991.


Source:
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1992/05/26/0008.html




Hatiku selembar daun...

SASTRA, SENSOR, DAN NEGARA: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?

SASTRA, SENSOR, DAN NEGARA: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan?

Pramoedya Ananta Toer *)



Saya warganegara Indonesia dari ethnik Jawa. Kodrat ini
menjelaskan, bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang
didominasi oleh sastra wayang, lisan mau pun tulisan, yang
berkisah tentang Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, serta
kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih tetap bertumpu pada
kewibaan Hindu. Sastra yang dominan ini tanpa disadari
mengagungkan klas atau kasta satria, sedang klas-klas atau kasta-
kasta dibawahnya tidak punya peran sama sekali. Pekerjaan pokok
kasta satria adalah membunuh lawannya. Selain sastra wayang yang
agak dominan adalah sastra babad, juga mengagungkan kasta satria,
yang ditangan para pujangganya menyulap kejahatan atau kekalahan
para raja menjadi mitos yang fantastik.
Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan
Sultan Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer
terhadap Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah
mengalami kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan
kekuasaannya atas Laut Jawa sebagai jalan laut internasional.
Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi
Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih
menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mytos ini
melahirkan anak-anak mytos yang lain: bahwa setiap raja Mataram
beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mytos lain: ditabukan
berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan
asosiasi orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa
disengaja oleh pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan
kekuasaan para raja Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi
batin rakyat Mataram.
Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan
negara, dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan
kastanya sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya
adalah menafikan kemajuan zaman, memberikan beban histori yang
tidak perlu, membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik
daripada yang sekarang. Pendapat ini yang membuat saya
meninggalkan sama sekali sastra demikian.
Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan
berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya,
langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan
pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Sejalan dengan
Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak langsung
keekuasaan agar masyarakat tak punya peerhatian pada kekuasaan
negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak
mengindahkan politik. Sastra dari kelompok kedua ini membawa
pembacanya berhenti di tempat.
Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang
kemerdekaan maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai
sastra golongan kedua ini. Seiring dengan pengalaman pribadi
tersebut, walau pada awalnya tidak saya sadari, langsung saya
tertarik pada sastra yang bisa memberikan keberanian, nilai-nilai
baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia, dan peran individu
dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa
dan penggunaannya dianggarkan pada orientasi baru peranan
individu dalam masyarakat yang dicitakan. Sastra dari golongan
ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di bidang kreasi.
Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap
dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat
individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari
sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan
kekuasaan, standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai
individu terpancarkan baik dengan sadar atau tidak. Sampai di
sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi
kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena
pengarang bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan,
bahkan tertindas oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah
melawan, bahkan memberontak. Bukan suatu kebetulan bila pernah
dikatakan pengarang - dengan sendirinya dari golongan ketiga ini
- dinamai opposan, pemberontak, bahkan biang revolusi seorang
diri dalam kebisuan.
Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun kalah-
menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan
berarti bahwa demokrasi tidak punya cacad. Eropa yang demokratis
di Eropa justru tidak demokratis di negeri-negeri yang
dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri jajahannya yang tak
mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan idea bisa
dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional
tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial.
Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade
kedua abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak
ditujukan pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum
tindakan terhadap delik pers diputuskan melalui pengadilan.
Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco
Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum,
dan dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat-
setempat. Larangan dan penyitaan, juga oleh pejabat kolonial
Pribumi pernah dilakukan terhadap karya ayah saya, tetapi karya
itu bukan karya sastra tetapi teks pelajaran sekolah-sekolah
dasar yang tidak mengikuti kurikulum kolonial.
Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan.
Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak
kekuatan Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa
yang agraris kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi
petani mengakibatkan lahirnya mentalitas baru yang juga merosot.
Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya "teposliro" (tahu diri),
kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai
dengan hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai
pada puncak kekuasaan. Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo)
sampai 7 tingkat yang berlaku sesuai hierarki kekuasaan
menterjemahkan semakin kerdilnya budaya tradisional. Maka dalam
sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya belum pernah terjadi.
Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang
kalau perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra
Indonesialah sensor kekuasaan bisa terjadi.
Idea-idea dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat
modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin
dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa.
Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat
tidur dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor
memang perlu diadakan.
Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang
menguntungkan. Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah
penduduknya berkembang sebagai faktor-faktor klimatologis yang
mendukung pertanian. Bukan suatu kebetulan bila kolonialis
Belanda membuat Jawa jadi pusat imperium dunianya di luar Eropa.
Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan
penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah
budaya tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat
dihindarkan. Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa
menekan ini adalah "tepo-sliro", kehidupan kekuasaan sekarang
dinamai dengan bahasa Inggris "self-cencorship". Nampaknya elit
kekuasaan malu menggunakan nama aslinya. Dengan demikian menjadi
salah satu faset dalam kehidupan modern Indoensia bagaimana orang
menyembunyikan atavitas/atavisme.
Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam
sastra avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian
mengevaluasi dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan.
Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus
menanggung seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang
merasa terancam kemapanannya.
Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi
negara? Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini
cerita, sebenarnya tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia
ditulis dengan nama jelas, diketahui dari mana asalnya, dan juga
jelas bersumber dari hanya seorang individu yang tak memiliki
barisan polisi, militer, mau pun barisan pembunuh bayaran. Ia
hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan
pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan
kekenyalannya.
Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar
sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan
demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari
demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian
demokrasi pancasila, yaitu era kemerdekaan nasional setelah
tumbangnya negara kolonial yang bernama Hindia Belanda dan
peralihan pendudukan militeristis Jepang. Dalam masa demokrasi
liberal di mana negara tetap berdasarkan pancasila yang tak
banyak acuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin, sewaktu Presiden
Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri dan
mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para
adikuasa, pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. Soekarno
sebagai penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa
pancasila di antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen,
Declaration of Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis
dalam hal keadilan sosial. Semasa demokrasi pancasila yang
ditandai dengan gerakan de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan
Pancasila bukan saja tidak pernah disebut lagi bahkan pernah ada
upaya dari seorang sejarawan orde baru yang mebuat teori bahwa
pancasila bukan berasal dari Soekarno. Dalam sejumlah peralihan
ini tidak pernah terbukti ada karya sastra yang memberikan
pengaruhnya. Dan memang sastra avant garde praktis belum pernah
lahir. Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat
deskriptif. Bila toh ada avant garde yang lahir itu terjadi
semasa penindasan militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang
terjadi sama kerasnya dengan penindasannya. Individu tersebut,
Chairil Anwar, dengan sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang
jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai
binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah
Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang
harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan
menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya
masyarakat pembaca yang banyak membaca dan menyukai sajak
tersebut dan umumnya tak dikaitkan dengan masa pendudukan
militeris Jepang waktu ia menciptakannya.
Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya
percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau
tak langsung- tentang sastra regional dan internasional
sekaligus, karena setiap karya sastra adalah otobiografi seorang
individu, seorang dari ummat manusia selebihnya, yang
mempersembahkan pengalaman batinnya pada kolektivitas pengalaman
ummat manusia.
Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar
pengarang dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah
membiayakan feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme mereka
kemudian juga harus membiayai hidupnya kolonialisme. Walau
feodalime sebagai suatu sistem sudah dihapuskan oleh proklamasi
kemerdekaan namun watak budayanya masih tetap hidup, bahkan elit
kekuasaan mencoba melestarikannya. Sstra avant gardelah yang
menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan, dan dengan sendirinya
keberanian untuk menanggung resikonya sendirian.
Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali
tidak berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti
dasar dan sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya
mengganggu tidur pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan,
yang kuatir suatu kali cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa
terlepas.
Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan
sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan
nasional ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya
selama 35,5 tahun. 2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun
dirampas kekuasaan militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa
orde baru, diantaranya 10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16
tahun sebagai ternak juga hanya dengan kode ET, artinya tahanan
di luar penjara. Sebagai pengarang barang tentu saya berontak
terhadap kenyataan ini. Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba
berkisah tentang tahap-tahap tertentu perjalanan bangsa ini dan
mencoba menjawab: mengapa bangsa ini jadi begini?
Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas
permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya
tidak jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai
lebih pada karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan.
Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat
dengan politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut
pandangan saya setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat,
apalagi berbangsa, selalu bertautan dengan politik. Bahwa
seseorang menerima, menolak, bahkan mengukuhi suatu
kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa seseorang
mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan politik.
Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada
kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak
bisa lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan ummat
manusia. Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang
mengatur atau pun merusaknya, di situ setiap individu bertautan
dengan politik.
Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra
harus terpisahkan dari politik. Memang bisa saja politik kotor di
tangan dan dari hati politisi yang kolot. Kalau ada yang kotor
barang tentu juga ada yang tidak kotor. Dan bahwa sastra
sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya keluar dari
pikiran para pengarang yang politiknya adalah tidak berpolitik.
Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian,
ia adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan
selama masyarakat ada kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana
eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang
"menolak" politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang
yang telah mapan dapam pangkuan kekuasaan yang berlaku.


* Pidato tertulis Pramoedya, yang disampaikan ketika menerima ia
penghargaan Magsaysay, di Manila,


Source:
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/10/11/0024.html



Hatiku selembar daun...

SIKAP DAN PERAN KAUM INTELEKTUAL DI DUNIA KETIGA*

SIKAP DAN PERAN KAUM INTELEKTUAL DI DUNIA KETIGA*

Pramoedya Ananta Toer

Dunia Ketiga

Dunia Ketiga adalah belahan umat manusia yang setelah Perang Dunia II bersama dengan negerinya terbebas dari penjajahan Barat. Dengan Barat dimaksudkan juga Jepun. Penjajahan Barat diawali oleh pemburuan akan rempah-rempah Nusantara, terutama Maluku, dikembangkan melalui pengacak-acakan (kacau-bilau) seluruh dunia non-Barat, untuk dapat membawa segala yang berharga ke dunia Barat. Yang teracak-acak bukan saja mengalami perkosaan pelembagaan budaya, Iebih dari itu adalah pemiskinan yang sistematis. Pada pihak Iain Barat semakin membengkak dengan kemajuan, kekuasaan, keilmuan dan teknologi dengan bangsa-bangsa jajahan sebagai Iandasan percobaan. Doktrin-doktrin yang membenarkan penjajahan dilahirkan di Barat yang semua merugikan pihak bangsa-bangsa yang dijajah.
Kita menyaksikan Iahir dan berkembangnya imperium (empayar) dunia: Portugis dan Spanyol yang dibangun di atas perampasan emas dan perak, Inggeris yang dibangun di atas monopoli tekstil dan candu serta perbudakan (perhambaan), dan Belanda yang dibangun di atas monopoli rempah-rempah.
Sebahagian terbesar umat manusia telah dijajah oleh Barat, yang dalam jumlah nisbah jauh lebih kecil, namun bagaimanapun pokok utama yang menyebabkan nasib buruk bangsa-bangsa jajahan itu adalah ketidakmampuan budaya menghadapi ekspansi kegiatan dagang Barat. Dalam hal ini, dikecualikan Portugis dan Spanyol. Tapi pada keseluruhannya, terjadi sebagaimana dikatakan oleh Chiang Kai-shek, bahwa: tidak ada sesuatu bangsa bisa dijajah oleh bangsa Iain tanpa bantuan bangsa itu sendiri.
Produk (Kesan) penjajahan atas Dunia Keti secara budaya adalah: mentalitas bangsa jajahan yang belum tentu dapat hilang setelah tiga generasi bangsa itu hidup dalam alam kemerdekaan politik, kerana mentalitas bangsa yang dikalahkan berabad akan melahirkan kebudayaan bangsa kalah demi survivalnya sebagai bangsa kalah.
Tragedi pada Dunia Ketiga dengan kemerdekaan nasionalnya masing-masing terletak pada tidak atau kurang disedarinya kenyataan bahwa mereka masih hidup dan bernafas dengan kebudayaan bangsa kalah, dan mentalitasnya.
Produk jajahan atas Dunia Ketiga secara budaya pada pihak penjajah adalah: Demokrasi Parlementer, Hak-hak Asasi, yang dua-duanya memberi jaminan pada setiap individu untuk tumbuh menjadi kuat untuk dan atas namanya sendiri. Sedang pengalaman penjajahan berabad membentuk mentalitas sebagai bangsa unggul dan penakluk, yang juga tidak mudah hapus dalam tiga generasi, setelah bangsa-bangsa itu kehilangan jajahannya.
Apabila Dunia Ketiga dalam upayanya mengembalikan harga diri banyak berlindung pada apa yang mereka namai kebudayaan asli dan banyak kala tidak mengindahkan sumber sosial historisnya, malah tidak jarang menjualnya untuk pariwisata (pelancungan),dan bukan tanpa kebanggaan nasional kebudayaan asli yang terbukti secara sistem dan organisasi telah dikalahkan berabad.
Pada Dunia Barat dengan mentalitasnya sebagai bangsa unggul dan penakluk sampai dengan tahun delapan puluhan abad ini masih juga memproduksikan pandangannya yang menganggap Dunia Ketiga sebagai keanehan hanya kerana tidak sama dengan dirinya, hanya kerana perbedaan standar (taraf) yang sulit mereka sedari, dan kerana standar satu-satunya yang mereka kenal adalah miliknya. Contoh terakhir misalnya buku C.J .Koch The Year of Living Dangerously (terbitan Sphere Books United, London, 1981). Malah suatu gejala biasa bila Barzat tidak mau mengerti bahwa semua keterbelakangan (kemunduran) di Dunia Ketiga tidak Iain daripada ulah (tindakan) dunia Barat itu sendiri.
Penjajahan atas dunia non-Barat diawali oleh perlumbaan mendapatkan rempah-rempah Nusantara, terutama Maluku. Entah kerana kebetulan, entah kerana rancangan sejarah, secara teori, Nusantara pula yang mengawali putusnya penjajahan internasional sebagai tempat di mana mata rantai imperialisme dunia paling Iemah dengan Iahirnya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Beberapa hari setelah itu menyusul Vietnam. Sekali mata rantai putus, kejatuhan mata rantai-mata rantai yang lain. Dari Indonesia ke daratan Asia merambat ke Africa, kemudian ke benua Amerika Latin.
Semua itu terjadi kerana faktor keberhasilan dari Indonesia dan Vietnam sebagai percubaan sejarah. Imperium Inggeris, yang kepayahan keluar dari Perang Dunia II dan mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan di Indonesia, melepaskan dadanya dengan jalan damai untuk tidak menjadi payah Iagi. Sebaliknya Indonesia, yang kerana rempah-rempahnya membikin sebahagian terbesar umat manusia dijajah Barat, menyedari tugas sejarahnya dengan mengadakan Afro-Asian Conference di Bandung pada April 1955. Soekarno, seorang yang bukan saja menguasal, bahkan memahami sejarah bangsanya, bukan sekadar tahu tentang materi (isi) dan metode keilmuan sejarah, malah memahami filsafat sejarah dengan pidato anti-imperialismenya Let A New Asia and Africa Be Born telah mengangkatnya menjadi Bapak Dunia Ketiga. Orang suka atau tidak suka, mengakui atau tidak. Dengan Afro-Asian Conference, kekuasaan dan imbangan dunia berubah, bergerak kerana Iahirnya Dunia Ketiga. Menyebut Dunia Ketiga bererti juga menghadapi dunia Barat dengan sejarah penjajahannya sebagai guru musuh atau sahabat. Menyebut Dunia Ketiga tanpa konteks tersebut, adalah menempatkan sebahagian terbesar umat manusia dengan negerinya sebagai persoalan fiktif. Dunia Ketiga tak lain dari anak tak sah imperialisme Barat.
Bapak tidak sah dan anak tidak sah, yang dalam pergaulan internasional tidak bisa berpisahan satu sama Iain mempunyai posisi internasional yang berbeza, pertempuhan dan paran (destinasi) yang berbeza pula dalam jangka waktu tertentu yang dibutuhkan (diperlukan) oleh Dunia Ketiga dalam mendapatkan bentuknya masing-masing. Dan dalam jangka waktu tertentu itu, sekarang kita hidup, maka kerana itu juga dapat menyaksikan sendiri sikap Dunia Ketiga terhadap Barat dan sikap Barat terhadap Dunia Ketiga.
Sikap dunia Barat dapat kita ikuti dari penerbitan-penerbitannya tentang Dunia Ketiga, dengan catatan, bahwa sikap itu belum sikap umum Barat, baru sikap satu golongan yang merasa maju, dan mencuba membébérkan kekurangan-kekurangan Dunia Ketiga kerana belum sampai pada standar yang dimiliki Barat, dan nota bene (perhatikan) tidak Iain dari warisan penjajahan Barat sendiri, di samping memperkenalkan produk Dunia Ketiga yang patut diperkenalkan kepada Barat sebagai bukti produktifnya pengaruh Barat. Belakangan ini muncul rumusan baru tentang Utara-Selatan untuk tidak menyebutkan kata-kata menyakitkan: kaya-miskin. Sebelum yang terakhir ini, Dunia Ketiga diberi nama manis: negeri/negara yang sedang berkembang (membangun). Semua itu untuk menghindari persoalan nurani antara bekas jajahan dan bekas penjajah. Nama-nama yang Ientur (Iunak) dan dilenturkan ini tak Iain dari suatu persetujuan tak terucapkan bahwa Dunia Ketiga berterima kasih pada bantuan yang menguntungkan dari Barat, sebaliknya Barat dengan bantuannya pada Dunia Ketiga mendapat keuntungan Iebih besar Iagi. Di sini kita sekarang berada.

Kaum Intelektual
Apa yang dimaksudkan dengan kaum intelektual bagi saya kurang jelas apakah menurut pengertian kamus ataukah menurut pendapat bebas dari setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan kata tersebut. Apakah sarjana termasuk intelektual? Apakah setiap orang di antara kita intelektual atau tidak? Apakah kata intelektual itu satu atribut (sifat) dari sebahagian kecil nasion yang merasa diri berpikir Iebih daripada bagian selebihnya?
Kata Sahibul Hikayat yang dimaksudkan dengan kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya. Stop, Sampai di situ. Pada akhir Perang Dunia II, ada yang menggugat: bila sampai di situ saja faal (perbuatan) kaum intelektual ertinya penalarannya belum sampai pada suatu tanggungjawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya, terutama pada umat manusia. Kemudian orang menamai kaum intelektual hanya sebagai sport, tanpa keterlibatan diri dengan penalarannya sendiri sebagai: intelektual blanko (kosong). Sehubungan dengan topik yang dikemukakan oleh Senat Mahasiswa FISUI jelas bukan intelektual blanko yang dimaksudkannya, tetapi yang merupakan bagian integral dengan nasionnya sendiri, bagian bernalar nasionnya yang bukan hanya mendapatkan input dari nasionnya juga memberikan output padanya.
Tetapi dalam kehidupan Dunia Ketiga pada umumnya dan di Indonesia khususnya, di mana semua mulai diawali, dibangun dan dikembangkan seirama dengan keperluan nasional faal kaum intelektual bukan sekedar mesin yang menari antara in- dan out-put. Pada mereka dituntut kejelian (keelokan) kepiawaiannya untuk dapat melihat peran dari perkembangan nasional, yang bererti juga kemampuan untuk melihat hari depan. Dan hari depan hanya dapat digalang dengan perhitungan dan amal hari ini. Penalarannya menggunakan reflektor yang tertuju ke depan, bukan tertuju ke belakang sebagai mana dalam kebudayaan purba, kebudayaan animis, dinamis dan pemujaan leluhur, kebudayaan kuburan.
Sebaliknya, kaum intelektual bukan sekedar bagian dari nasionnya. Iapun nurani nasionnya, kerana bukan saja dalam dirinya terdapat gudang ilmu dan pengetahuan, terutama pengalaman nasionnya, juga ia dengan isi gudangnya dapat memilih yang baik dan yang terbaik untuk dikembangkan, memiliki dasar dan alasan paling kuat untuk menjadi resolut (tegas) dalam memutuskannya atau tidak.
Hinduisme telah membagi masyarakat dalam kasta-kasta, yang relevansinya masih terasa. Kaum intelektual berada dalam kasta Brahmin. Hanya bezanya kaum Brahmin moden menempati kedudukan sebagai jambatan pada hari depan. Saya cenderung menempatkan kaum intelektual Indonesia dan Dunia Ketiga dalam pengertian ini.

Sikap dan Peran
Bicara tentang sikap adalah bicara tentang tempat berdiri, bicara tentang tempat berdiri adalah juga bicara tentang jarak yang telah ditempuh. Tempat berdiri pada giliranya hanyalahbagian dan medan yang tak terbatas. Dari tempat berdiri orang menghadapi jarak yang masih harus ditempuh. Sikap adalah faktor dalam yang akan menentukan bagaimana jarak di depan akan ditempuh. Akan dalam kamus politik diucapkan : bagaimana sebaiknya, kerana itu soal operasional.
Berdasarkan materi (bahan) yang telah dikedepankan, sikap yang sepatutnya diambil :
a) meninggalkan sama sekali budaya kuburan dan mengambil penalaran sebagai satu-satunya jalan membina hari depan, dan dengan demikian secara aktif membangun budaya nasional yang moden.

b) tetap kritis terhadap potensi pengaruh buday suku yang kalah dan mengajak kalah.

c) berlatih berani untuk mendapatkan keberanian intelektual kerana tanpa keberanian intelektual, kaum sudah lumpuh sebelum memutuskaben. Sejalan dengan lahirnya bangsa Indonesia hanya kerana keberanian revolusioner, maka tradisi keberanian revolusioner juga merupakan unsur menentukan dalam kehidupan kaum intelektual Indonesia.

d) sebagai intelektual Indonesia, tempatnya adalah pertama-tama sebagai manusia Indonesia, sebagaimana budaya Indonesia. Manusia budaya Indonesia berada dalam jajaran Dunia Ketiga, sedang Dunia Ketiga ada kerana diperhadapkan dengan Barat. Kaum intelektual Indonesia yang terIepas dari hubungan dengan Dunia Ketiga dan terlepas dari perhadapannya dengan Barat sebagai produk sejarah akan kehilangan sebagian dari kemampuan penalarannya yang objektif, kerana mereka tanpa sedarnya akan terlepas dari ikatan sejarah, ikatan pengalamannya sendiri.

e) Barat menjadi bongkak kuasa, bongkak kemajuan dan bongkak kemakmuran sehingga menjadi seperti sekarang ini dengan produk terbaiknya dalam bentuk demokrasi parlimenter dan hak asasi adalah atas biaya seluruh Dunia Ketiga, termasuk Indonesia.
Maka dari pengalaman sejarah ini, kita punya hak menuntut dari Barat pertanggung jawaban moral dengan konsekuensinya yang wajar dan manusiawi. Kaum intelektual Indonesia kerananya diajak pertanggungan jawaban historis.

Atas dasar ini, Barat sudah sepatutnya melepaskan pandangan menara-gadingnya yang menganggap haknya bahwa Dunia Ketiga harus menjadi pengikutnya. Sebaiknya Barat merobohkan menara-gadingnya dan menggantinya dengan pengertian yang lebih manusiawi dalam membantu Dunia Ketiga untuk menjadi dirinya sendiri. Dengan robohnya menara gading itu pula, bisa diharapkan Barat melepaskan pandangan. Baratnya dan standar Baratnya dalam menilai Dunia Ketiga dengan perkembangannya.

f) Kaum intelektual Indonesia dalam berlatih memperkuat keberanian intelektual dan keberanian moral juga dituntut untuk selalu membikin perhitungan dengan masa lalunya sebagai bangsa, belajar untuk menghadapi Barat bukan sebagai superior, tetapi sebagai lembaga yang dalam beberapa abad belakangan ini menerima piutang paksa dari Dunia Ketiga. Kaum intelektual Indonesia, sebagai manusia budaya Indonesia sudah sepatutnya mempunyai keberanian intelektual dan keberanian moral terhadap Barat untuk menuntut dari Barat segala yang terbaik dan berguna, teknologi dan sains, bukan sebagai hadiah kemanusiaan seperti halnya dengan Van Deventer dengan politik etiknya, tetapi semata-mata kerana dengan kebudayaan purbanya, dengan budaya sukunya yang kalah dan dikalahkan, dengan budaya Indonesia yang baru seumur jagung, terutama juga dengan budaya Barat.

Praktiknya, terus-menerus yang menjamin Iahirnya kedibyaan (genialitas) sehingga keintelektualan bukan tinggal jadi atribut sosial, tapi faaliah, fungsional, dan membikínnya patut jadi penalaran dan nurani nasion.

g) Akibat dari sikap yang diambil terhadap Barat membikin kaum intelektual Indonesia tidak bisa lain pada menata kembali dan mengorganisasi secara sedar perasaan pikirannya dalam membangun lebih lanjut budaya Indonesia dalam segala aspeknya justru di sini peran yang menentukan kaum intelektual Indonesia.

h) Kekuatan peradaban barat yang mampu berkembang dan bertahan berabad dalam sejarah umat manusia sudah sepatutnya dipelajari secara kritis. Pemberiannya pada umat manusia tak terhingga banyaknya. Sebaliknya kerasakan yang diakibatkannya pada Dunia Ketiga juga tak terhingga banyaknya. Kita tahu bahwa kekuatannya terletak pada kekuatannya individu Barat, sedang pada gilirannya individu Barat diasuh oleh demekrasinya dan diayomi (dibantu) oleh hak-hak asasinya, yaitu individu yang oleh Chairil Anwar dinyanyikannya sebagai aku... yang dari kumpulannya terbuang, kerana menolak pembebekan (sifat mengekor). Dari pelajaran Barat, Indonesia juga bisa kuat dengan individu manusia Indonesia yang kuat, sehingga dalam konteks pembicaraan kita menjadilah aku... yang dengan kumpulannya berpadu, yang untuk itu telah disediakan pegangan dan medan oleh Pancasila.

i) Terhadap Dunia Ketiga sebagai jajaran sendiri, sebagai seperasaian (mempunyai nasib sama) dalam sejarah, sebagai rakan seiring dalam memecahkan masalah-masalah yang diwariskan oleh kesamaan historis, menanggalkan sikap tak acuhan yang terkunci, sedang pandangan bahwa diri lebih maju dari yang lain adalah suatu kemewahan. Kesepakatan antara Dunia Ketiga akan mempercepatkan lahirnya kesatuan bahasa. Pengalaman berabad dalam praktik devide et impera (pecah dan perintah) Barat bukan tidak menjadi watak peradaban dalam menghadapi dunia non-Barat. Kerana itu semangat Dunia Ketiga, atau yang pernah juga disebut semangat Asia-Afrika, kemudian menjadi semangat Asia-Afrika-Amerika Latin, bukan semestinya menjadi semakin pudar untuk kerugian Dunia Ketiga. Sukarno telah melampaui masanya waktu ia - bukan sekedar gagasan mencuba mewujudkan Ganefo dan Conefo, tetapi dalam situasi dunia sekarang ini dengan masalah Timur-Barat, Utara-Selatan, Dunia Ketiga-dunia selebihnya yang semakin akut dengan semakin mengecilnya dunia kita, keseiaan Dunia Ketiga jelas merupakan kebutuhan. Sekalipun, ya, sekalipun, perkembangan Dunia Ketiga dalam dasawarsa terakhir memerlukan batasan dan rumusan baru.

j) Peran kaum intelektual Indonesia sudah jelas. Gagasan perjuangan untuk melahirkan bangsa Indonesia diawali oleh mereka dengan kesadaran akan komitmennya dengan bangsanya, dengan kejelian dan kopiawaiannya tentang perang bangsanya. Gagasan dan praktik terus-menerus melahirkan Indonesia merdeka. Dengan praktik intelektual keintelektualan menjadi kuat, dengan praktik otot (tenaga), otot menjadi kuat. Seindah-indah gagasan yang tidak dicuba-wujudkan oleh otot dan dengan otot akan berubah menjadi roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) - roh jahat yang menjadikan orang jadi munafik.

k) Kaum intelektual, sebagai nalar dan nurani nasion, adalah berkasta Brahmin dalam pengertian moden. Dan moden selalu senyawa dengan demokratis, dengan, demikian kehilangan kedudukannya dari hierarki Hindu. Faal bernolar, berpikir dengan inteleknya secara alami, tidak beza dari fungsi-fungsi kasta Iain dalam masyarakatnya, yakni melakukan proses bio-kimia. Tetapi proses biokimia yang tahu paran. Untuk bisa tahu tentang paran sebelumnya, orang dituntut tahu tersangkarnya, tentang asalnya, tentang historisnya.

______
* Ini adalah petikan dari teks ceramah Bapak Pram di Universitas Indonesia (Jakarta) atas undangan Senat Mahasiswa UI. Setelah ceramah ini disampaikan, beberapa pemimpin mahasiswa telah ditahan selama beberapa hari.



Source:
http://www.radix.net/~bardsley/sikap.htm








Hatiku selembar daun...

PRAMOEDYA ANANTA TOER: TAHUN 1965 TAHUN PEMBABATAN TOTAL

PRAMOEDYA ANANTA TOER: TAHUN 1965 TAHUN PEMBABATAN TOTAL

Artikel Pramoedya Ananta Toer, dimuat dalam Lembaran Kebudayaan "LENTERA,"

Bintang Timoer, 9 Mei 1965



Dengan dipersenjatai oleh amanat "Banting Stir" Bung Karno di depan MPRS, termasuk di dalamnya asas "Berdikari", amanat Dasawarsa KAA-I, dan amanat Harpenas, Rakyat Indonesia dan para pekerja kebudayaan makin diperlengkapi persenjataannya untuk mengganyang kebudayaan Manikebu, Komprador, Imperialis dan Kontra Revolusi secara total.

Segala macam kebudayaan kosmopolit yang mendukung dan mengembangkan nihilisme-nasional tersebut benar-benar sudah tidak dapat ditenggang lagi, tak peduli dari mana pun datangnya dan siapa pun pendukungnya. Revolusi Indonesia tidak membutuhkan penadahan dan tukang-tukang tadah kebudayaan setan dunia.

Untuk waktu yang lama tukang-tukang tadah ini menadahi segala macam penyakit dunia kapitalis-imperialis pada satu segi, dan secara aktif ikut melakukan pembentukan ideologi-setan pada lain segi."

17 Agustus 1965 yang akan datang, dalam merayakan 20 tahun kemerdekaan Indonesia, kebudayaan-setan ini seyogianya sudah harus tidak lagi mengotori bumi dan manusia Indonesia.

Sebagaimana diketahui potensi pengembangan kebudayaan-setan ini masih kuat dalam masyarakat kita, baik yang dilakukan oleh sementara instansi resmi, swasta maupun perseorangan.

Dapat disinyalemenkan, bahwa mempertahankan kebudayaan-setan tersebut, sengaja dilakukan untuk merongrong menanjaknya situasi revolusioner dewasa ini, dan karenanya semakin menanjak situasi revolusioner itu, semakin meningkat cara-cara perongrongan atasnya. Jelas, bahwa mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan-setan ini tidak lagi soal selera sebagaimana mereka selalu mencoba meyakinkany tetapi telah merupakan sistem perongrongan yang terorganisasi. Dan karena itu pengganyangan terhadapnya mau tak mau harus pula secara terorganisasi.

Kepada instansi-instansi resmi yang setelah 8 Mei 1964, yaitu setelah pelarangan Manikebu oleh Bung Karno, masih meneruskan operasinya, tahun ini juga akan dimintai pertanggungjawabannya.

Kepada instansi-instansi tidak resmi atau swasta juga akan dimintai tanggung jawabnya dan keterangan-keterangan ke mana saja produksi kebudayaan-setannya itu dikirimkan.

Penerbit sebaagai alat pembantu pembentukan ideolozi dalam tahun "Banting Stir" in akan dihadapkan pada ujian, sedang penerbit-penerbit gelap yang tidak tercatat, dalam hubungan dengan kedudukannya sebagai alat pembantu pembentukan ideolozi tersebut, adalah sebagai kontra revolusioner.

Sebagaimana diketahui, untuk waktu yang lama penerbit 'Endang' (Jakarta) menjadi produsen buku-buku antikom, demikian juga halnya dengan "Inmajority'. Kemana sajakah buku-buku terbitan mereka ini dikirimkan? Dan bagaimanakah rencana konkret mereka, dan proyek politik itu berafiliasi pada kekuatan apa?

Sebagaimana diketahui penerbit-penerbit yang menerbitkan karya-karya Manikebu adalah seperti penerbit-penerbit pemerintah, penerbit-penerbit swasta untuk tidak menyebut beberapa nama. Apakah sebabnya penerbit-penerbit tersebut menerbitkannya dan apa sebabnya tidak pernah menarik kembali penerbitan-penerbitan tersebut dari peredaran' Apakah sebabnya ada penerbit yang justru menerbitkan buku-buku plagiat Hamka, sedang sudah diketahuinya karya tersebut adalah plagiat? Bukankah Presiden Soekarno telah menggariskan agar berkepribadian sendlri pada sekitar Konsepsi Presiden tahun 1957? Apakah perbuatannya tersebut mendukung tugas perongrongan, ataukah hanya karena ketamakan belaka?

Juga pada tahun ini perusahaan-perusahaan penerbitan yang secara demonstratif mempampangkan gigi, bahwa mereka berani menerima dan memobilisasi tenaga-tenaga Manikebu/BPS takkan luput dari keharusan memberikan pertanggungjawaban.

Gerakan Manikebu secara dialektik telah menyebabkan organisasi-organisasi massa belajar beraksi dalam satu front persatuan yang bulat. Dan aksi front kini telah menjadi tradisi di Indonesia. Maka gerakan mengembangkan kebudayaan-setan sebagai sistem perongrongan ini secara dialektik pun akan memutuskan aksi-aksi front yang akan datang Perkembangan yang demikian takkan dapat dielakkan, sedang kemenangan-kemenangan baru sama pastinya dengan hancurnya lawan-lawan revolusi.

Dalam tahun 'Banting Stir', tahun 'Berdikari', ketukangtadahan kebudayaan asing sama artinya dengan mempertahankan ideologi lama untuk menyerimpung revolusi, karena ia mempertahankan kondisi lama kondisi di bawah tindakan imperialisme-kolonialis.

Kita masih bisa bertanya sekarang ini, apakah sebabnya buku Z.A. Ahmad, Membentuk Negara Islam masih pada meringis di pinggir-pinggir jalan Jakarta, sekalipun di trotoar, dan apakah sebabnya buku Doktor Zhivago terjemahan Trisno Sumardjo diterbitkan?"

Kita masih bisa bertanya bagaimanakah sikap penerbit-penerbit yang selama ini berafiliasi pada "Franklin Foundation" Amerika Serikat, dan karenanya selama ini ikut melakukan agresi kebudayaan di Indonesia? Apakah tanpa bantuan "Franklin Foundation" AS penerbit-penerbit semacam ini masih hidup terus, dan adakah kelangsungan hidupnya dalam alam berdikari justru, karena mendapatkan bantuan gelap, ataukah karena memang telah berdikari sebagai kolone kelima di bidang kebudayaan?

Kita tahu bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari kristalisasi kreatif yang telah dicapai oleh suatu taraf perkembangan ideologi. Setiap tindak penadahan atas kebudayaan-setan secara langsung melakukan tindak sabotase terhadap kristalisasi kreatif tersebut pada satu segi, dan terhadap manifestasinya pada segi yang lain. Sedang secara politik penerbit-penerbit demikian membentuk satu golongan tertentu dalam masyarakat dengan ideologi tukang tadah, golongan yang menjadi tawanan jinak imperialisme-imperialisme, dan dengan sendirinya melucuti dari militansi patriotik dan militansi internasionalisnya.

Dengan bersenjatakan 'Berdikari', 'Berkepribadian dalam Kebudayaan, dan 'Banting Stir', pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideologi gelandangan telah merupakan suatu tantangan bagi semua organisasi kebudayaan yang progresif revolusioner.

Pembersihan ini bukan saja akan mengakibatkan terjadinya perkembangan yang sehat dalam pembinaan kepribadian nasional, juga menghabisi perbentengan terakhir musuh-musuh revolusi. Sedang di bidang sosial-ekonomi secara edukatif akan membantu penerbit-penerblt Manipolis memasuki form-nya sebagai alat revolusi sesuai dengan tuntutan situasi revolusioner dewasa ini.

Juga di bidang penerbitan, setiap kekalahan pada pihak lawan mengakibatkan terjadinya kemajuan ganda pada kekuatan revolusioner.



Source:
http://www.geocities.com/Athens/Aegean/6450/Pram2.htm

I Just Don't Believe in Her

I Just Don't Believe in Her

By PRAMOEDYA ANANTA TOER



I don't blame President Sukarno for my arrest in the early 1960s. I blame the army. But being a political prisoner in the early 1960s was very different from being a captive of later regimes. Sukarno's political opponents were free to visit their families, to go out walking within a limited area if they wanted to. We were at least treated with respect.
Under Suharto there were no rules, nothing. You could be thrown into prison without first going to court. If you were found with anything to read, even a piece of torn newspaper, you could be killed. If you were a prisoner in Jakarta you could receive visitors?but for that you had to pay.

In 1979, when I left prison on Buru Island, all my papers were taken from me. I was in a group of 40 who were separated from the others. When our ship was north of Madura, my group was taken off the boat. It looked like the authorities were planning to hide us away somewhere. But by chance, someone from the Catholic church in Buru heard we were going to be exiled and he spread the news. So when we were put ashore in the Madura Straits and found a vehicle there ready to take us to Nusakambangan, the notorious prison, the world was already watching. And as a result, with numerous foreign ambassadors as witnesses, the government was forced to give us our release papers.

During Suharto's New Order regime, Megawati, Sukarno's daughter, served in parliament. After her father was overthrown, the New Order government gave her a house and salary as a member of parliament. But did she ever say anything about the way her father was treated? Did she ever protest when her fellow countrymen were imprisoned? Never. Did she ever call Suharto to task? Never! But then she's not alone. Even after Suharto resigned, no one would take him to task, no one dared to bring him to trial. Silently, through his New Order protEgE, he still holds power in this country.

Megawati came to power on the crest of a wave of youth rebellion. Those kids didn't really think about it; they didn't have any other figurehead, so they adopted her because she was Sukarno's daughter. That's all she is.

Maybe Megawati hasn't read her father's books. I don't see that she has inherited any of his better characteristics. She has no experience. There is no evidence that she can resolve the country's problems. Yes, she might visit places where conflict has occurred, but for no other reason than to show her tears. Her heart goes out to the people, she says, but that's the most they get. The villagers praise her, but that's because of ignorance. They don't know her.

No one seems to realize that Indonesia is entering a period of social revolution. The signs are there. It can be seen in the farmers who, having had their land stolen from them during the New Order, are now taking it back by force. It can be seen in the protests by farmers outside regional parliament buildings. It can be seen in the attacks on hundreds of police and military posts. In the past, these very same people would have let themselves be robbed of their voices, but now they are fighting back. Whether they realize it or not, they are the vanguard of a social revolution. Now the nation needs a leader. We've fallen behind; Indonesia is exhausted.

People like to say that Indonesians are so friendly and polite, but that kind of view seems to be nothing more than a leftover tourism slogan. There is a struggle going on, and it is being controlled by people in Jakarta?by the very same people who have done such things in the past. As I see it, there is no real leadership at present; there are just people with power. That students are now part of the democratic process is a sign of progress; indeed, the change we have seen can be credited to the younger generation. This is not what Megawati fought for. She didn't do anything. The kids, the students, did the fighting and she is here now to enjoy the results of their sacrifice.



Pramoedya Ananta Toer, author of The Buru Quartet and The Mute's Soliloquy, is a former political prisoner


Source:
http://www.time.com/time/world/article/0,8599,169337,00.html





Hatiku selembar daun...

KENAPA KEBUDAYAAN IMPERIALIS AMERIKA SERIKAT YANG HARUS DIJEBOL?

KENAPA KEBUDAYAAN IMPERIALIS AMERIKA SERIKAT YANG HARUS DIJEBOL?


Pidato Pramoedya Ananta Toer dalam acara resepsi penutupan sidang Pleno Lekra di Palembang.

dimuat di Harian Rakjat, Minggu, 15 Maret 1964.



Para pembesar setempat dan kawan-kawan sekalian, ormas-ormas sekawan, dan simpatisan-simpatisan.

Apabila perhatian kita tujukan pada hiasan di samping kiri saya,dapat dibaca semboyan baru 'Jebol Kebudayaan Imperialis AS, Bangun Kebudayaan Nasional dengan Kobarkan Kebangkitan Tani.' Semboyan

ini tidak lain dari garis baru yang merupakan sari keputusan Pleno PP Lekra di kota ini.

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya penjebolan kebudayaan imperialis Amerika Serikat dengan pembangunan kebudayaan nasional, dengan Kebangkitan Tani? Katak-katak yang begitu aktif di musim hujan ini pun, bila bisa membaca, segera akan mengerti, bahwa tanpa menjebol kebudayaan imperialisme Amerika Serikat, tidak mungkin kita membangun kebudayaan nasional, tidak mungkin kita mengobarkan kebangkitan tani. Jadi, di dalam masalah pembangunan kebudayaan nasional, doktrin dua kaki yang revolusioner itu juga berlaku, menjebol dan membangun, menjebol yang usang dan membangun yang baru,

menjebol kebudayaan imperialis Amerika Serikat dan membangun kebudayaan nasional.

Pada umumnya kita hanya bicara melawan kebudayaan imperialis,tetapi Pleno kita tanpa tedeng aling-aling kini telah melakukan tudingan pada hidung Amerika Serikat. Di Jakarta sana akan ada konferensi Manikebu/KK-PSI, yang belum-belum sudah ngemis kebudayaan imperialis Amerika Serikat, dan dengan keberanian moral dan tekad penuh: ganyang dia! Ya, tetapi mengapa mesti kebudayaan imperialis Amerika

Serikat?"

Kawan-kawan, dari pelajaran selama ini kita menjadi lebih tahu dan lebih cerdik, bahwa Amerika Serikatlah biang-keladi segala kejahatan internasional, bahkan dalam kehidupan nasional kita dewasa ini. Tariklah kuping proyek neokolonialis 'Malaysia' itu. Paksa dia duduk di bangku terdakwa. Bukalah kedoknya, dan akan muncul tampang imperialis Inggris dalam segala kerakusannya yang utuh. Jangan sampai di situ, tariklah kedok satunya lagi itu, dan akan muncul iblis yang sesungguhnya, yaitu imperialisme Amerika Serikat. Begitu juga di Vietnam Selatan, di Korea Selatan, di Jepang, Isawai, Kongo, Afrika Selatan, Kuba, Panama, dan di seluruh dunia. Setiap penjahat itu masing-masing mengenakan kedok, dan bila kedok itu berhasil disentakkan, tidak lain dari iblis imperialisme Amerika Serikat jua yang mewakili dirinya sendiri.

Di negeri-negeri baru merdeka-jangan dikata yang belum merdeka-iblis-iblis Amerika Serikat ini mengenakan kedok yang dinamai kedok komprador. Sedang orang-orang sebangsa yang mendukung fungsi sebagai komprador ini, di negerinya sendiri menciptakan apa yang dinamai: kebudayaan komprador. Kebudayaan komprador jelas bukan kebudayaan nasional. Bukan saja istilahnya berbeda, terutama isinya bertentangan. Sedang di Indonesia, kebudayaan komprador yang dibangun oleh tangan dan otak Indonesia yang mewakili iblis Amerika Serikat ini, bahkan juga uang, dan kemungkinan dilambangkan dalam modal raksasa yang tertanam dalam film dan segala seluk-beluknya yang bernama AMPAI, alias American Motion Picture Association in Indonesia.

Tidak percaya? Datanglah ke pengadilan. Bukalah tiap koboi-tanpa-kuda tepat pada kedoknya, yang muncul dalam keadaannya yang utuh adalah Amerika Serikat, imperialisme Amerika Serikat, kebudayaan imperialis Amerika Serikat yang diwakili oleh AMPAI. Copotlah kedok-kedok penjahat-penjahat, bandit-bandit dan petualang-petualang 'nasional' itu, yang muncul adalah iblis imperialisme Amerika Serikat yang diwakili oleh AMPAI. Kulitilah kedok cross boy, cross girl, cross papa dan mama, bahkan cross kakek & nenek, yang muncul iblis yang itu-itu juga: kebudayaan imperialis Amerika Serikat yang diwakili oleh AMPAI. Itulah sebagian kecil kebudayaan-atau lebih tepat kebudayaan komprador Amerika Serikat-yang paling ekstrem.

Ada sementara golongan yang menuduh kita 'subyektif apabila kita menuding Amerika Serikat. Tetapi kalau Indonesia mempunyai lembaga yang secara obyektif dan terampil dapat mencatat pengaruh kebudayaan Amerika Serikat, kebudayaan komprador, atas peristiwa-peristiwa kriminal, maka berdasarkan indeks akan didapatkan angka tertinggi untuk Amerika Serikat. Berdasarkan ini saya percaya, bahwa di neraka, Amerika Serikatlah yang paling banyak akan mendapatkan bintang jasa. (Sekiranya di sana ada pandai-mas yang bisa bikin bintang!).

Nah, sekarang kita akan mencoba dengan takzim mendengar lagu-lagu yang setiap hari dipancarkan di udara Indonesia melalui TVRI, RRI,lagu-lagu yang merambat dari pesta-pesta borjuis sampai petikan-petikan gitar di malam sunyi oleh pemuda yang tertikam rindu-atau secara realistis dapat dikatakan sudah kebelet kawin-maka lagu-lagu yang dikatakan lagu-lagu 'Indonesia' ini, bila diganti kata-katanya dengan kata-kata Inggris, dia akan berubah jadi lagu Amerika Serikat. Inilah lagu-lagu komprador, yang menganggap semua dapat diselesaikan, apabila pahlawan dan pahlawin dapat kecup-mengecup bibir-bibir masing-masing. Seluruh persoalan akan menjadi beres bila pahlawan dan pahlawin dibenarkan naik ranjang bersama-sama.

Itulah penyelesaian yang menyalahi segala kodrat, alias kontra revolusi. Itulah penyelesaian yang antiobyektivitas, antihistori, antirealitas, antiperkembangan. Lagu-lagu yang membawa ranjang asmara sebagai penyelesaian segala beserta badan-badan yang menyiarkannya merupakan unit dari suatu 'lembaga pendidikan seksual.' Lagu sebagai 'lembaga pendidikan seksual?' Ya, itulah anehnya. Dalam pada itu lagu-lagu patriotik-revolusioner dibatasi geraknya pada kesempatan-kesempatan upacara doang!

Kalau kawan-kawan punya waktu, masukilah kamar-kamar pemuda-pemudi borjuis kita. Dinding-dinding kamarnya penuhlah dengan dewa-dewi cinta dari Amerika Serikat. Dan pemuda atau pemudi ini setiap kali memetik gitar sambil memandangi gambar-gambar itu. Tampak tidak sesuatu pun yang terjadi. Tetapi sesuatu telah terjadi, yaitu: jiwa pemuda atau pemudi itu sambil memetik gitar melakukan percabulan dengan gambar-gambar bintang-bintang film itu. Sekali lagi kedok terbuka dan muncullah iblis kebudayaan imperialis Amerika Serikat. Dan sekali lagi membuktikan, bahwa AMPAI dengan segala film dan pengaruhnya yang mungkin, tidak lain dari raksasa 'lembaga pendidikan seksual' ala Amerika Serikat tentu.

Bandit-bandit yang lihai itu, kawan-kawan, dari mana mereka menimba fantasinya? Dari AMPAI. Itu belum mata rantai lain yang kurang pokok. Tetapi yang pokok adalah, bahwa tugas kebudayaan imperialis Amerika Serikat dengan kerja sama dengan kebudayaan komprador ialah memelempemkan jiwa revolusioner Rakyat kita, pemuda kita."

Kalau Armada VII hendak gentayangan ke Samudera Indonesia, apakah kawan-kawan kira dia datang hendak membantu kita mengganyang tikus, tengku dan manikebu?Justru sebaliknya. Deretkanlah tikus-tikus jenis baru yang sekarang mencoba menggagahi panen kita di atas kursi terdakwa. Seretlah penyakit tetumbuhan baru di sampingnya. Bertindaklah kawan-kawan sebagai jaksa, tanyailah mereka: Dari mana asal kalian? Kalian si keparat' Kalau mereka sudah dapat dicabarkan dari Manikebunya alias kemunafikannya, mereka akan menjawab malu: kami berasal dari A.... Tentu kawan-kawan percaya, karena buktinya dapat disodorkan di atas meja hakim, bukti-bukti dari Vietnam Selatan dan juga pada awal tahun 50-an dulu dalam perang Korea. Nah, kebangkitan tani langsung berhubungan dengan penjebolan kita terhadap kebudayaan komprador Amerika Serikat dan kebudayaan imperialis Amerika Serikat. Nah, siapa bisa bilang kebangunan kebudayaan nasional kita, pengobaran kebangkitan tani kita tak punya hubungan dengan jebolnya kebudayaan imperialis Amerika Serikat? Belum-belum itu gerormbolan Manikebuis sudah bekerjasama dengan AMPAI. Itulah gerombolan kebudayaan komprador. Mereka pura-pura tidak tahu, bahwa Amerika Serikat adalah cumi-cumi besar, dan di mana tangan-tangannya terletak, di situlah dia menghisap bumi dan manusia setandas-tandasnya.

Itulah sebabnya, kalau salah seorang di antara kawan-kawan di sini dalam waktu dekat ini mempunyai kekuasaan dan kata putus di bidang kebudayaan-misalnya jadi Menteri Kebudayaan-langkah pertama yang harus diambil adalah: buang semua film Amerika Serikat itu ke laut, tutup itu AMPAI dari bumi Indonesia tersayang. Kemudian cocokkanlah grafik kejahatan di kota-kota besar. Tiga bulan setelah itu akan merosot dengan cepat, dan barulah kawan akan semakin yakin, bahwa sumber banditisme dan segala kriminalitas adalah kebudayaan imperialis Amerika Serikat, kebudayaan komprador, dengan AMPAI sebagai pusat logistiknya.

Biarlah sekarang saya akan jawabkan untuk kawan-kawan, apa itu kebudayaan imperialis Amerika Serikat. Dia tidak lain dari lembaga integral dari perdagangan luar negeri Amerika Serikat. Melalui kebudayaan imperialis Amerika Serikat ini selera orang dibentuk menjadi selera Amerika Serikat, selera perdagangan internasional Amerika Serikat. Kebudayaan komprador Amerika Serikat adalah kebudayaan kolportir dari kebudayaan imperialis Amerika Serikat ini. Dan kolportir selalu melebih-lebihkan, karena itu efeknya selalu lebih jahat dari efek yang ditimbulkan oleh majikannya sendiri. Maka juga kebudayaan komprador Amerika Serikat adalah 'kebudayaan' yang di samping mengembangkan ngakngikngok, twist dan sebangsanya, juga jadi propagandis-propagandis gelap dari Impala, dan sebangsanya. Dan kawan-kawan pun tahu, bahwa bertambah luks mobil itu, bertambah panjang radius daya gempurnya terhadap lebaga-lembaga revolusi kita. Tidak percaya? Tanyalah pada pihak polisi, apa-apa saja mobil para penjahat besar itu? Makin jahat dia, makin luks mobilnya.

Betul, hidup-matinya imperialis Amerika Serikat terletak pada hidup-matinya perdagangan internasional. Dan kalau kita bilang tentang pasaran Amerika Serikat setelah Perang Dunia II ini terjadi kemerosotan besar. Tiongkok sebagai pasaran terbesar Amerika Serikat sekarang lenyap dari kekuasaan perdagangan luar negeri Amerika Serikat, demikian pula halnya dengan Vietnam Selatan, Korea Selatan. Tetapi Amerika Serikat harus terus mengekspor, biar pun yang diekspornya menjadi berkurang karena merosotnya pasar. Tetapi dia harus melakukan ekspor. Maka dilakukanlah ekspor dan negara-negara lain harus menerimanya. Ekspor ini adalah ekspor serdadu, ekspor amunisi, dalam peti-peti atau dalam keadaan meledak, sebagai kompensasi dari ekspor barang-barang perdagangan pada waktu sebelum Perang Dunia II. Dari sini kita mengerti apa sebabnya Armada VII harus gentayangan ke Samudera Indonesia. Itu juga semacam ekspor di samping tikus dan racun tanaman. Karena itu waspadalah selalu pada imperialisme Amerika Serikat, pada kebudayaannya sebagai bagian integral dari politik perdagangan luar negeri, dan waspadalah pada komprador dan kebudayaannya. Bukan hanya waspada, tetapi kita semua harus secara frontal, serentak, aktif dan ofensif menjebol imperialisme Amerika Serikat dan kebudayaan imperialismenya. Kalau kita tidak berhasil menjebolnya di atas tanah air sendiri, itu musuh nomor satu kita, bagaimana bisa kita membangun kebudayaan nasional plus mengobarkan kebangkitan tani?

Kalau Armada VII betul-betul gentayangan di Samudera Indonesia, itu tepat menurut logika imperialis. Itulah ekspor serdadu plus amunisi sebagai bagian dari politik perdagangan luar negeri Amerika Serikat. Tetapi kita semua tidak akan gentar, apalagi Amerika Serikat dan bonekanya sudah pada keok di mana dia mulai mengacau. Juga dia akan mengalami kekeokannya di tanah air kita tersayang. Kita semua akan bangkit melawan, bahkan juga bayi-bayi kita yang sudah terbiasa menghisap udara yang mengandung listrik revolusi.

Sebagai akhir kata, ingin saya menyampaikan sekali lagi pada kawan-kawan sekalian, bahwa tak mungkin kita membangun kebudayaan nasional pada satu pihak tanpa menjebol kebudayaan imperialis Amerika Serikat pada lain pihak. Mungkin ada yang bertanya, mengapa imperialis Amerika Serikat, mengapa bukan hanya Inggris dengan proyek neokolonialisnya yang bernama 'Malaysia?' Karena kita tahu betul, kawan-kawan, bahwa tanpa imperialisme Amerika Serikat, imperialisme-imperialisme lain itu akan rontok tanpa daya, juga imperialisme Inggris plus proyek neokolonialismenya baik di 'Malaysia' maupun Rhodesia.

Maka yang paling tepat kita serukan sekarang ini ialah:

Ganyang imperialisme Amerika Serikat!

Ganyang kebudayaan imperialisme Amerika Serikat!

Ganyang kebudayaan komprador Amerika Serikat di Indonesia!

Ganyang AMPAI!



Source:
http://www.geocities.com/Athens/Aegean/6450/Pram.htm




Hatiku selembar daun...

Jang Harus Dibabat Dan Harus Dibangun (1)

Jang Harus Dibabat Dan Harus Dibangun (1)

Pramoedya Ananta Toer

Bintang Timur, 10 Aug, 1 Sept, 7 Sept, 12 Okt 1962
Bagian I: 10 Aug, 1 Sept

Tahun 1953, atau 10 th. jl, merupakan perkisaran jang penting terutama dalam dunia sastra Indonesia. Pada th. itu nampak benar berapa galangan jang dengan penuh kesabaran dibangunkan oleh Sticusa, bagian demi bagian mulai berhasil. Pemerintah Belanda jang mulai ragu2 tentu manfaat kerdja Sticusa bagi keuntungan keuangan diwaktu dekat mendatang dengan gopahgapah hendak menarik djatah dana dari Dana Bernhard ke pada Sticusa. Sebaliknja, Sticusa, jang dipimpin oleh para bekas residen atau asisten residen serta orang2 dari bekas kabinet van Mook, mengerti benar, bahwa ikatan- batin dengan golongan intelektual Indonesia harus dipelihara dan diselamatkan, buat menjelamatkan hubungan ekonomi dan djuga politik dengan negeri bekas djadjahan, jang dalam keadaan bagaimanapun harus tetap bisa memberikan keuntungan moril dan materiil bagi Belanda.

Begitulah untuk menundjukkan manfaat Sticusa, untuk membuktikan, bahwa hubungan kultural merupakan bagian penting dalam mempertahankan dominasi ekonomi dan politik atas negeri bekas djadjahannja, pada bulan Djuli 1953 Sticusa dengan gerak tjepat telah menjelenggarakan Simposion Sastra Modern Indonesia. Kesengadjaan dari Simposion ini benar2 mengagumkan. Undangan bukan sadja terbatas pada para sardjana dan seniman Belanda, djuga sardjana2 Inggris, Djerman, Australia, Amerika dan Indonesia tentu.

Dengan demikian, Simposion Sastra Modern Indonesia jang pertama-tama, bukan hanja tidak berlangsung di Indonesia, djuga mempunjai forum jang sedikit-banjaknja bersifat internasional. Daja penarik Simposion jang mendapat sukses gilang gemilang ialah "rijst-tafel" atau "makanan Indonesia," dan Simposion berlaku dari pagi2 sampai matari Belanda hilang samasekali dari langit Eropa.

Besoknja seluruh pers Belanda, dan beberapa pers Eropa diluar Nederland, memberitakan laporan2 dari Simposion ini, dan Sticusa "terpaksa" tidak dirubuhkan oleh pemerintah Belanda.

Pers Indonesia djuga banjak memberitakan peristiwa ini. Bahkan setahun kemudian Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI mau tak mau harus djuga bergerak menjeleggarakan Simposion Sastra pula.

Simposion Sastra pertama jang berlangsung di Nederland ini mengandung unsur2 bagi perkembangan sastrawan dan sastra Indonesia sesudah itu. Disinilah sardjana hukum Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan, bahwa "Revolusi telah menjebabkan manusia modern Indonesia menginsafi, bahwa kemerdekaan jang telah diperdjuangkannja dengan bersemangat itu pada hakikatnja membuatnja lebih melarat, karena ia telah kehilangan se- gala2nja..." (dan dalam situasi kehilangan semua2nja ini pembitjara itu sendiri, telah berhasil mengeduk keuntungan berlimpah sampai dapat meningkatkan djumlah miljuner nasional dengan dirinja sendiri). Andil Takdir kepada Revolusi memang meragukan, sekalipun ia anggota KNIP dari sajap PSI, seorang kapitalis jang bitjara atas nama sosialis. Pada waktu itu Takdir masih sangat berpengaruh karena djasa2nja sebelum pendudukan Djepang, baik dilapangan kebudajaan pada umumnja maupun dilapangan sastra pada chususnja terutama dibidang pengadjaran-sastra jang selamanja ketinggalan dari perkembangan sastra itu sendiri. Benar waktu itu telah timbul djuga Angkatan 45 jang menolak Takdir, tapi masarakat sastra sendiri masih kurang kritik. Dan benar sekali, bahwa dalam simposion ini Asrul Sani sebagai wakil Angkatan 45 djuga angkat bitjara, tapi Angkatan Pudjangga Baru jang disini diwakili oleh Takdir sudah sampai pada taraf perkembangannja jang masak, dilandasi oleh pengalaman jang luas, sehingga tidak semudah itu dapat didorong ke belakang. Maka dalam Simposion ini Takdir berhasil dalam pengutaraannja bahwa suatu impasse sedang mentjekam Indonesia dibidang sastra dan kebudajaan pada umumnja. Ia berhasil membuktikan, bahwa Revolusi merupakan bantahan terhadap kebudajaan Pudjangga Baru. Dan 10 th kemudian, 1962, tidak lain dari Iwan Simatupang dengan tjerpennja Tegak Lurus Dengan Langit jang telah berdjasa dalam memberi bentuk pada pikiran Takdir ini sehingga mendjadi semakin djelas, bahwa Revolusi 45 tjumalah sadisme!

Sama sekali bukan sesuatu jg mengherankan, bila Iwan ini djuga jang pada th 1953, beberapa bulan setelah selesai Simposion melajangkan surat kepada Sticusa; sedia tandatangani sjarat apa pun djuga bila Sticusa mau undang gua ke Nederland. Sjarat2 apa jang telah ditandatangani oleh Iwan ini, tak ada jang tahu, ketjuali dia sendiri dan Sticusa, setidak2nja dia dapat undangan ke Nederland (1955). Dan sama sekali bukan sesuatu jang mengherankan, bila Iwan jang ini djuga, jang telah gondol beberapa puluhribu uang modal Pekan Teater, sesuai dengan pandangannja, bahwa Revolusi 45 hanjalah sadisme, karena itu harus dirubuhkan sambil mendapat keuntungan dari pekerdjaan ini.

(bersambung)

Apakah sebabnja Takdir bisa punja sikap dan pandangan sedemikian negatif terhadap Revolusi 45 jang agung itu? Tidaklah sulit untuk menemukan sumbernja. Sudah sejak aktivita-budaja-nja jang pertama-tama, ia mengimpi dan berangan, berillusi tnt kemadjuan Indonesia jang tjepat, jang deras. Hanja peradaban dan kebudajaan Barat sadja mampu mempolai kemadjuan ini. Tak ada jang bisa mengatakan, bahwa impian, angan2 dan illusinja djahat, sebaliknja--sesuatu kewadjaran sadja bagi seorang mendeburkan darah patriotisme dlm dirinja. Apabila ia melakukan kekeliruan, maka ini ialah tidak atau kurang adanja kesungguhan pdnja untuk melakukan kekeliruan, maka ini ialah tidak atau kurang adanja kesungguhan pdnja untuk mengenal realita dari bangsanja sendiri plus kehidupannja. Ia seorang idealis jang menutup mata terhadap realita jang hidup, karena impiannja terlalu keras, terlalu indah, sedangkan kenjataan terlalu pahit, dangkal, lamban, dan serba mendjengkelkan. Langkah pemikiran selandjutnja bukan lagi suatu kekeliruan, tapi suatu kesalahan, karena ia hendak membangunkan impian dgn djalan meniadakan dan memunggungi realita itu sendiri dan karena kekagumannja pd Barat ia terimalah Barat itu sebagai ukur segala jang hidup pd bangsanja. Rekonstruksi membangunkan kuburan, sedangkan tjandi Prambanan diketjamnja sbg urgensi adalah membangunkan jang djustru hidup sekarang ini. Nampaknja ketjamannja ini revolusioner, kalau orang melupakan kenjataan lain, bahwa Takdir pulalah jang menjatakan bahwa penamaan "terjerambut" (atau ontworteld) baginja merupakan pujian! Takdir pulalah jang dg gagah2an mempelopori gerakan "guntungputus" dg masalampana [- lampaunja?].

Waktu revolusi mentjapai tarafnja jang panas, ia djustru pergi ke Nederland untuk menghadiri Kongres Filsafat (1945) sehingga djabatannja sebagai mahaguru di UI dibekukan. Dan tindakannja ini disamakan dengan tindakan Dr. Sumitro, sewaktu ikut menghadiri Kongres Havana sebagai pena sihat delegasi Belanda, djuga ini terdjadi pada tahun panas2nja Revolusi.

Gugatan jang tertudju padanja mejebabkan Takdir dlm madjalah "Pembangunan," 1947, berusaha membersihkan dirinja dengan bergajutan pada R.A. Kartini jang terus menerus dihormati, baik didjaman pendjajahan Belanda, Djepang, maupun semasa Revolusi itu, pdhal, bukankah Kartini mengandjurkan kerdja sama antara Pribumi dengan Belanda?

Dan djustru gajutan ini mendjelaskan pada kita, bahwa Takdir tak banjak mengerti tentang perdjuangan kemerdekaan jang sedjak permulaan abad ini melulu kreteria dan taraf2nja.

Madjalah "Pembangunan" tidak pernah mempunjai otorita, sehingga suaranja pun padam tanpa meninggalkan gaung. Dan sedjak Kongres Filsafat tsb praktis ia semakin lama semakin dekat pada golongan ko, golongan penchianat semasa Revolusi itu, malah dimasa pemerintahan federal di Djakarta, perusahaannja mendapat kemadjuan tjepat dan melompat.

Revolusi jang digerakkan oleh Rakjat, oleh kenjataan jg hidup, mengakibatkan terdjadinja desilusi pdnja, karena Revolusi merupakan guru jang lebih baik bagi kehidupan ini daripada mahaguru jang manapun djuga. Takdir jang mempunjai gaja-penulisan jang polemis, tetap dapat mempertahan gajanja ini, hanja nadanja dimasa Revolusi 45 dan sesudahnja terdengar mineur. Setelah pemulihan kedaulatan, ia njatakan desillusinja ini dlm artikel "Buku dan Ketjerdasan Rakjat dalam Bahaja" jang dimuat dlm madjalah "Siasat" IV/171/18 Djuni 1950. Diantaranja ia menulis:

...Pemerintah sekarang tidak akan dapat sebenar2nja memenuhi kebutuhan rakjat 70 juta ini akan makanan, pakaian dan perumahan.
Sebab kemakmuran dalam arti jang sebenarnja pada hakekatnja ialah akibat sesuatu pertumbuhan sikap hidup, kegiatan dan kepandaian berusaha dari dalam rakjat sendiri, baik sebagai suatu satuan, maupun sebagai individu.
Kutipan ini, jang merupakan pentjetakan atas pidatonja dalam malam pertemuan jang diselenggarakan oleh penerbit kebangsaan "Pustaka Rakjat" di Hotel des Indes memperlihatkan dengan djelas segi pemikiran Takdir jang tidak menguasai persoalan politik, (waktu itu RI baru 1/2 tahun berdaulat!) dan mentjoba menutupi kelemahannja dengan ekonomi sebagai seorang pengusaha jang sedang merasa terantjam perusahaannja karena kebidjaksanaan pembagian kertas jang pada waktu itu sedang dilaksanakan oleh pemerintah.

Kesalahan politik nampak dari pandangannja jang tidak djelas terhadap Rakjat jang sepandjang abad merupakan unit ekonomi jang terus-menerus menghasilkan kemakmuran. Rakjatlah penghasil kemakmuran. Kemakmuran tidak datang dari sikap hidup jang manapun. Tapi apakah kemakmuran itu kembali lagi kepada Rakjat jang menghasilkannja, ini adalah politik bukan lagi ekonomi apa pula sikap hidup! Sedang sudah setjara apriori Takdir mengetok palu-hakimnja, bahwa Pemerintah sekarang tidak akan dapat sebenar2nja memenuhi kebutuhan Rakjat.

Sudah dari nadanja orang dapat dengarkan suatu sinisme jang lahir dari desilusi. Tapi desilusi ini tidak mampu mengadjari Takdir untuk mulai beladjar melihat dan memahami realita.

Bagi mereka jang menganggap sastra hanjalah sastra, tidak lebih dan tidak kurang, tentu akan bertanja: apakah hubungannja semua ini dengan sastra? Djawabnja atas pertanjaan ini adalah djawaban atas faktor2 kedjiwaan apakah jg menguasai seorang pengarang, serta bagaimana kondisi kedjiwaannja, karena sebuah pabrik jang didirikan dengan sjarat2 tertentu untuk menghasilkan tahu, tentulah ia djadi pabrik tahu, terketjuali bila sjarat2 itu diubah, berubah, sehingga djadi pabrik bom. Itu pula pentingnja dimulai tradisi untuk menempatkan karjasastra sebagai bahan gubal, dan bukan mantra karena tindjauan dan penilaian teknik semata, untuk sampai pada wudjut sebagai manusia pengarang dan dengan demikian untuk mendapatkan faham jang lebih tepat tentang manusia Indonesia sebenarnja. Sedang saran ini sama sekali tidak menjalahi Takdir jang sendiri menghendaki dan mempraktekkan seni bertendens, artinja seni jang memikul tugas, paling sedikit tugas sosial.

Pada alinea lain kita dapatkan kutipan jang sebenarnja suatu kekatjauan jg telah mentjampuradukkan masalah kebudajaan dan perdagangan:

"Apabila kami mengemukakan ini, hal itu bukan sekali2 untuk mengeluarkan kritik, bukan djuga oleh karena kami takut Pustaka Rakjat tidak akan dapat mendjalankan usahanja lagi. Kami hanja bermaksud sepintas lalu menundjukkan, bahwa buku dan bersama dengan itu ketjerdasan rakjat dalam bahasa."
Pendeknja, pandangan kultural Takdir setelah 1950, atau setelah kedaulatan tidak lagi ditangan Belanda setelah perusahaannja tidak mendapatkan pesanan2 langsung dari Departemen van Onderwijs [dan] Eredienst pemerintah Federal, merupakan kekatjauan jang tjampurbaur antara soal2 perdagangan dan ilusi2 kultural ini berkembang semakin menjata sampai pada th 1953 dalam simposion sastra Indonesia di Amsterdam.

Takdir sebagai budajawan, sudah sedjak mudanja menjindir, mengemplang dan mentjoba menggiling apa sadja jang serba tradisional terutama adat nenek mojangnja sendiri, tanpa keinginan ataupun kemauan baik untuk memahami latarbelakang dan fungsi historiknja.

Demikianlah, maka kondisi kedjiwaan setiap pengarang, dalam usaha mendapatkan pengertian jang sehat tentang sastra dari bangsa jang sedang membangun dan membentuk diri sebagai bangsa Indonesia dewasa ini sangat penting untuk ditelaah setjara terbuka.

Segi2 positif Takdir dalam perdjuangan kebudajaan dimasa sebelum Perang Dunia II ternjata disusul dengan tjepatnja oleh perkembangan dari segi2nja jang negatif, hanja karena ia seorang idealis jang memunggungi kenjataan hidup sudah sedjak mulanja. Perkembangan ini semakin tragic sewaktu terdjadi apa jang lazim dinamai dengan "pergolakan daerah," suatu istilah jang sebenarnja berisikan motif2 politik jang sakitan. Dalam persiapan2 untuk meletuskan "pergolakan daerah," golongan2 anti-revolusionar jang djuga mendapat dukungan dari parasardjana idealis jang memunggungi kenjataan (misalnja pernjataan2 dukungan "dengan pertimbangan ilmiah" dari paramahaguru Universita Andalas pada PRRI) mentjoba menarik kekuatan dari dukungan golongan adat, seperti jang telah dilangsungkan Palembang pada bulan Djanuari 1957. Kongres Adat ini didalangi oleh Dewan Garuda jang menelorkan putusan2 jang oleh sementara pers jang masih dapat menghormati Revolusi, persatuan dan kesatuan nasional, diketjam sebagai bersifat feodal dan kontra-revolusionar. Bahkan persiapan mentjetuskan "pergolakan daerah" ini dirasa sebagai bahaja bagi negara Indonesia. Angkatan muda jang tergabung dalam puluhan organisasi setjara terburu2 menjiarkan siaran kilat berisikan 5 pasal jang berseru agar seluruh pemuda dan Rakjat tetap waspada dan tetap memelihara persatuan Bangsa dan Keutuhan Negara. Seruan itu ditudjukan pada semua kekuatan anti-separatisme dikalangan masarakat. Selandjutnja diharapkan kepada barisan pemuda agar tjukup bidjaksana, tjakep untuk mengatasi tiap2 politik adudomba jang bermaksud mentjegah persatuan. Dan ini adalah tindaklaku parapemuda. Sebaliknja golongan tua, termasuk Takdir dan Hazairin, sebagai tokoh2 penting dalam Kongres Adat Sumsel itu, telah menundjukkan bahwa kesardjanaan mereka ternjata tjuma keahlian teknis semata. Para pemuda itu membuktikan pula, bahwa jg mula harus benar dan tepat adalah politik. Bila politiknja tidak benar, maka kesardjanaan hanja ketukangan jang tidak bertudjuan. Sebagai bukti ketukangan tanpa politik jang benar ini Takdir kemudian menerbitkan pidatonja dalam Kongres Adat Sumsel berdjudul Perdjuangan Untuk Otonomi dan Kedudukan Adat Didalamnja, (Pustaka Rakjat 1957). Dan risalah ini merupakan titik penghabisan bagi kegiatan kebudajaan Takdir jang masih mempunjai sumbangan bagi kebudajaan Indonesia. Memang setelah itu ia masih ikut buka mulut dalam diskusi "Batjaan Tjabul" OPI, tapi hal itu tidak mampu memperbaiki posisinja didalam pembiaran [?] kebudajaan apalagi sastra Indonesia.

Tokoh seangkatan Takdir jang djuga berkembang setjara tragik adalah Tatengkeng dari Indonesia Timur jang pada tarafnja jang terachir menggabungkan diri dengan Permesta. Kedua2nja dapat disamakan dengan tokoh Gregori Melechov dalam roman Sjolokov And Quiet Flows the Don, seorang tokoh perang jang hebat dalam revolusi bolsjewik, jang karena tidak punja ketegasan dilapangan politik achirnja mondar mandir tidak karuan ke berbagai pihak, dan achirnja lenjap sebagai sampah.

Sampai disini orang terpaksa mengingat doktrin jang dipegang oleh seniman2 dan budajawan2 jang tergabung dalam organisasi kebudajaan Lekra, jang mengadjarkan bahwa "politik adalah panglima." Pengalaman dari orang2 pintar tapi tragik itu membuktikan kebenaran dari doktrin Lekra tsb. Sampai disini pula dapat ditentukan bahwa untuk menghindari terdjadinja ulangan2 tragedi jg sia2 didengar para budajawan2 dan seniman jang toh diharapkan sumbangannja pada nasion-building, maka ketidaktugasan politik, jang menjebabkan timbulnja seni dan pemikiran gelandangan, harus disapu, harus dibabat. Tidak perlu diberikan luang seketjil2nja pun untuk membiarkan berkembang dan berlarut unsur2 penjakit ini, jang ternjata masih dapat mengembangkan sajapnja sampai dewasa ini, sebagaimana telah disinggung dalam Gedjala Sikisma dalam Perkembangan Tjerpen Dewasa Ini, jang telah dimuat dalam "Lentera" beberapa waktu jl.


Source:
http://www.radix.net/~bardsley/jang1.html





Hatiku selembar daun...

Jang Harus Dibabat dan harus Dibangun (II)

Jang Harus Dibabat dan harus Dibangun (II)

Pramoedya Ananta Toer

Bintang Timur (Lentera), 7 September 1962

Ada segolongan pengarang muda jang berpendapat bahwa dalam mengeritik sastra, orang tak boleh mengeritik pengarangnja. Sebenarnja, orang dapat menerima saran ini, sekiranja masjarakat dan manusia Indonesia adalah masjarakat dan manusia jang telah mendapatkan bentuknja, djadi bukan dalam periode transisi jang sedang membentuk dan membangun diri. Dalam periode ini sastra bukan hanja meneruskan jang sudah ada, djuga sebagaimana halnja dengan masjarakat dan manusianja, sedang membentuk dan membangun diri. Tugas sastra sangat penting peranannja dalam masa ini. Karena itu djuga setiap pengarang jang tugasnja adalah mempengaruhi djalannja pembentukan dan pembangunan diri itu harus djelas, karena bila pengarang itu seorang gelandangan tanpa tujuan, seorang nabi dari adjaran jang terkenal dengan nama "filsafat iseng" mau tak mau karjanja akan meninggalkan kotoran2 hitam dalam proses pembentukan dan pembangunan diri jang dalam djaman modern ini harus berdjalan serba tjepat, efisien dan selamat untuk dapat segera setaraf bahkan melampaui negara2 jang sudah lama menikmati kemerdekaan nasional.

Ada seorang pengarang remadja jang pernah melontarkan tanja: "Mengapa pengarang jang satu mesti gulingkan pengarang lain? Bukankah dua2nja djuga tjari duit?" Dengan mudah orang dapat menangkap bangun dan wudjud tanggapan pengarang remadja ini atau fungsi sastra sebagai sumber penghasilan doang, ia belum tahu, mungkin djuga tidak mau tahu tentang fungsi sosialnja dan lebih tidak tahu lagi tentang sedjarah sastra Indonesia itu sendiri, jang setjara tradisional berdjuang melawan penindasan, kezaliman, baik diluar maupun dalam rangka imperialisme kolonialisme. Pertanjaan itu kemudiannja: "kalau hendak menandingi madjalah X terbitkanlah madjalah jang lebih baik dari X. Kalau hendak menandingi pengarang Z terbitkanlah karja2 jang lebih baik dari karja pengarang Z." Nasihat ini tidak baik bila dikatakan pada siswa, mahasiswa, guru atau mahaguru jang tjuma tahu sastra itu dari djurusan bentuk, teknik gajabasa, idea2 dan tjara pengungkapan, pendeknja dari segi ketukangannja. Tapi, baik guru maupun murid sastra dengan predikat atau tidak, paling mula harus mengetahui, bahwa setiap sobek kertas jang digunakan dalam penerbitan, adalah dibeli dengan devisen jang dihasilkan oleh keringat buruh dan tani jang notabene sudah kekurangan kemakmuran! Adalah munafik bilan hasil keringat jang terlalu mahal diperas dari massa besar pekerdja itu tjuma dipergunakan buat mentjetak keisengan perseorangan jang diberi prepetensi dan predikat "sastra." Sastra adalah bertugas. H. B. Jassin sendiri pernah merasa perlu menterdjemahkan tugas sastra ini pada tahun2 Revolusi Agustus dari karja Sartre, dalam "Mimbar Indonesia" sedang karja Sartre ini kemudian pun ditjetak pula didalam madjalah "Indonesia" (1949). Bahwa sastra memikul tugas, kini tak banjak lagi disangsikan orang. Pada awal tahun 1950-an sastra banjak kala dianggap sebagai tudjuan, sebagai mantra, suatu anggapan jang menjalahi realita.

Ada djuga seorang pengarang muda jang baru marak namanja pada hari2 belakangan ini berpendapat, bahwa kritik sastra harus dibatasi pada masalah sastra, tidak boleh keluar dari batas sastra. Pendapat sematjam ini sesungguhnja jang beberapa tahun jang lalu ikut membisingkan persoalan tentang PASTERNAK dalam pers Indonesia. Mereka pada ramai2 mengutuk US jang "menindas kebebasan sastra," tapi sama sekali tidak bitjara tentang fitnah DOKTER ZHIVAGO terhadap Revolusi Oktober. Mereka tidak pernah bitjara, bahwa Nobel buat PASTERNAK adalah hadiah buat fitnah jang terindah oleh politik, oleh tatatertib, sastra boleh berchianat asalkan dia bernilai sastra. Sastra hidup didalam segala matjam kejakinan. Tapi jang mana jang sastra, kalau sastra itu harus punja tugas? Dan tugas jang mana? Jang menentang atau jang membantu Rakjat, ataukah jang tak perduli pada Rakjat, tapi dalam pada itu hidup dari keringat Rakjat. Maka, kalau dalam alam Manipol, tidak lain dari BUNG KARNO sendiri jang mengatakan bahwa apabila "Rakjat marah kepada saja, marahilah saja, saja akan tundukkan kepala," maka benar2 suatu keanehan bila sastra dialam Indonesia jang sedang membangun diri ini bisa benarkan hidupnja sastra didalam segala matjam kejakinan, baik kejakinan jang merusak maupun jang membangun. Tragedi sastra sematjam ini ada di Indonesia dan sedang bermain dengan meriahnja. Malah dengan mudah orang dapat menjediakan timbangan buat mengkilonja mungkin djuga dengan sebuah baskule bila penerbitan pada umumnja jang harus ditimbang. Bila dibidang ini pada tahun 1953 GAJUS SIAGIAN pernah menulis PENERBITAN MEDAN dalam sebuah madjalah Belanda terbitan Amsterdam, jakni Medan sebagai sumber-penerbitan-tanpa-tugas kini kita dapat kemukakan 2 matjam pernerbit di Djawa ini jang luarbiasa aktifnja. Analisa dan Inmajorita. Dengan tjatatan, bahwa Inmajorita jang dibangun untuk membendung Manipol tidak ketahuan dimana alamatnja.

Mengapa ada pengarang-muda berpendapat bahwa kritik sastra harus bisa dibatasi pada masalah sastra? Tidak susah untuk dapat memahaminja. Pertama karena aktivita reaksioner jang bersumberkan djiwa reaksioner dengan demikian tidak mudah dikontrol dan didjeladjah dan dengan demikian pula boleh memperpandjang keamanan dirinja. Kedua karena pengadjaran sastra masih menderita kebolongan, terutama dibidang filsafah-sosialnja. Memang berat untuk menjadari bahwa pengadjaran sastra ternjata tidak punja batas, karena hidup itu sendiri jang djadi landasan sastra memang tidak berbatas, lebih luas dari laut dan langit, dan lebih dalam daripada samudra atau djurang.

Apabila falsafah-sosial telah umum dalam sistem pengadjaran kita, pastilah sudah, bahwa setiap peladjar apalagi pengarang, akan mengerti dengan sendirinja, bahwa sastra hanjalah bangunan atas jang tergantung pada basisnja, jakni kehidupan sosial, kamunal ataupun individual. Sastra sebagai bangunan atas akan bergerak bila basis bergerak, dia akan mendjulang bila basis mendjulang, dan demikian seterusnja. Lihatlah bangunan atasnja sadja! Djangan lihat basisnja! Mengapa orang dapat mengatakan demikian? Karena basisnja, basis individual patut mendapat perlindungan dari koreksi dan penghakiman mungkin djuga penghukuman.

Demikianlah, meremehkan kehidupan satra adalah djuga meremehkan adanja kekuatan jang harus dihidupkan dalam alam pembentukan dan pembangunan diri ini. Meremehkan ini bukan sadja berarti menghambat perkembangan kearah tertjiptanja masjarakat adil dan makmur dibidang spiritual , djuga melakukan penghamburan devisen jang dihasilkan oleh djerihpajah Rakjat. Meremehkan ini adalah djuga laku tidak mendidik masarakat dan Rakjat itu sendiri.

Didalam alam Manipol sastra Indonesia harus berani bebaskan matjam kritik jang menilai sastra tjuma dari perfeksi ketukangannja. Kritik sastra Indonesia dalam alam Manipol, harus bisa memaafkan kekurangan2 jang terdapat didalam ketukangan, bahkan harus mengisi kelemahannja, tapi basis politik, basis ideologi sama sekali tidak boleh meleset. Basis sastra Indonesia adalah masjarakat dan manusia Indonesia jang sedang berkelahi dan berdjuang memenangkan keadilan dan kemakmuran. Itulah basis jang benar. Jang diluar itu adalah kuriosita atau keanehan belaka. Memang ada segolongan orang jang menilai sastra dari keanehannja, dari ketidak-samaannja dengan jang umum. Tapi bila jang demikian djadi ukuran, atau salah satu ukuran, objek2 penulisan sangat mudah didapatkan dirumahsakit2 gila.

Jang harus dibabat & harus dibangun
Oleh : Pramoedya Ananta Toer
Bintang Timur (Lentera), 12 Oktober 1962
PERDJALANAN JANG LAMBAT DARI SASTRA INDONESIA
Tidak bisa dikatakan, bahwa Indonesia tak punja tradisi sastra jang pandjang dan sangat tua. Sastra daerah jang begitu berkembang, terutama di Djawa, Sunda, Bali dan Sulawesi Selatan-Tengah, Atjeh, Minang, Lampung dts. sebenarnja telah dapat dikatakan djaminan dari adanja basis jg baik bagi kehidupan sastra modern. Dari tradisional kearah modern memang terdapat berier histori jang tebal jang melingkupi pandangandunia, sikap, volume aindex pengetahuan, resonansi hubungan internasional, penggarapan atas pengaruh2 pada generasi2 sesudahnja. Karena itu adalah tdk benar, bila tradisi hanja bersifat mengulang dan memamahbiak jg sudah ada serta membajangkan perkembangan jg modern. Perdjalanan sastra modern Indonesia semestinja tidak lambat. Tapi mengapa lambat?

MENENGOK KELUAR BARANG SEDJENAK
Negeri2 Asia lainnja djauh lebih madju daripada Indonesia pada masa2 sebelum perang dunia ke-II. India telah dimahkotai hadiah Nobel karena tjerpen2 Tagore. Singapura dan Malaja serta Vietnam (ingat sdja pd Pierre Do-Dinh), tapi dimasa sebelum Perang Dunia II itu, Indonesia baru menjumbangkan HIKAJAT KANTJIL, surat2 Kartini, dan karja Multatuli jang notabene adalah pengarang Belanda.

MENGAPA?

Apakah sebab semua ini?

Mula2 sekali dapat dinjatakan disini, karena perkembangan ilmu pengetahuan sebelum perang dunia-II tidak menggembirakan di Indonesia. Penemuan2 keilmuan dapat dihitung dengan djari2 tangan dan kaki, sedang penemuan2 jang dilakukan oleh bangsa Indonesia malah bisa dihitung dengan djari2 sebelah tangan. Dalam pada itu kosmopolitisme meradjarela dikalangan kamu intelektual, sehingga ketjintaan dan watak kebudajaan sendiri serta raut2nya menjadi mendatar. Pendalaman2 jang bersungguh2 atas man[s]alah2 nasional tidak berkembang, achirnja pun ketjinta[a]n dan pengetahuan tentang ma[n]usia Indonesia (djadi termasuk kondisi, posisi, situasinja) djadi mendatar pula. Gerakan kebudajaan "Budi Utomo" pada permulaan abad ini tidak bisa dikatakan telah diselesaikan dengan baik, terutama setelah "budi Utomo" melakukan lompatan kearah kepartaian dan mentjoba mendampingi "Sarekat Islam" serta "Indische Partij" tanpa mengurangi djasa2nja bagi sedjarah.

Terutama kos[mo]politisme jang tak terlawankan pada waktu itu, dan tidak begitu disadarinja akan bahajanja pada masa2 djauh kemudian hari, telah banjak mendjerumuskan kaum intelektual Indonesia dalam tjara pengurangan-barat. Sedang kebangunan negeri2 Asia lainnja jang sangat sedikit diperkenalkan di Indonesia sebagai akibat dari politik pemberitaan Hindia Belanda, menjebabkan kaum intelektual Indonesia kehilangan sesuatu jang sangat dibutuhkannja, jakni: bahan perbandingan. Tidaklah mengherankan apabila Kartini pernah menjatakan keheranannja, bahwa wanita berwanapun (maksudnja Pandita Ramabai) boleh dan dapat madju.

Politik pengadjaran Hindia jang terang2an mengsabat kemadjuan bangsa Indonesia dapat dikatakan biangkeladi timbulnja dari semut faktor tsb. sedang kaum feodal sebagai penguasa kedua di Hindia, dan berkompromi tanpa malu dengan Belanda. Telah berhasil dalam kurun jang sangat pandjang menikmati kemadjuan sebagai haknja, lebih dari golongan dan manapun dalam masjarakat. Maka watak penguasa, dan watak komprominja dengan pendjadjah pun membikin kaum intelektualnja sedemikian rupa, tidak mempeladjari wudjut dari masjarakatnja sendiri.

Maka djuga sastra Indonesia jg lahir dimasa itu praktis tidak dibatja oleh kaum intelektual jg karena kosmopolitismenja lebih suka membatja lektur asing. (Nasib sastra Indonesia pada waktu itu hampir dapat disamakan dengan nasib film Indonesia dewasa ini). Dengan demikian sastra Indonesia merupakan konsumsi bagi pembatja jang nisbiah kurang mempunjai persiapan dan aspresiasi. Sebuah polemik tnt karja MARCO berdjudul MATA GELAP jang menggelumbang hampir keseluruh pers di Djawa pada tahun 1914 membukakan pada kita satu pintu buat menindjau pedalaman sastra pada waktu itu, jang tak dapat dikatakan menjenangkan, dibandingkan dengan jang telah ditjapai oleh India ataupun Tiongkok. Satu kalimat diantara sekian banjak polemik jang menuduh MARCO merasa berkepala besar seakan sudah sebesar MULTATULI merupakan satu titik pula jg memberikan kemungkinan pada kita untuk menilai kader kosmopolitisme pd masa itu.

TANPA SEDJARAH SULIT
Dalam keadaan dimana fakta2 tidak menarik perhatian, amatlah muskil utk bisa mengharapkan lahirnja penjusunan fakta itu sendiri, mempeladjari perkembangannja, menjusun sedjarahnja, dan merumuskan filsafat-sedajrahnja. Sedang tanpa adanja sedjarah ini, perkembangan sastra untuk selandjutnja merupakan perdjalanan didalam kegelapan. Orang tak melihat titik tudjuan. Sekalipun sedjarah sastra Indonesia sampai dewasa ini baru berumur lk. 62 tahun, suatu perdjalanan jang tak dapat dikatakan pandjang, namun, terlalu sedikit jang telah diketahui umum tnt sedjarah sastra itu sendiri. Dan sedikitnja pengetahuan sedjarah ini djuga jang menjebabkan untuk sekian lama Balai Pustaka, badan penerbitan pemerintah djadjahan jg bertugas untuk mengimbangi satra perlawanan, bisa dianggap sebagai titiktolak sedjarah sastra modern Indonesia. Dari sini pula kita dapat memahami mengapa dalam masa gentingnja nasib revolusi bisa terdjadi seorang tjerpena mengumumkan tjerpennja tnt sang tikus jang menggerogoti bukunja, dan seorang kritikus menelaah serta memudji tjerpen tsb. (1949). Pun kita bisa mengerti mengapa banjak peminat sastra, sastrawan dan kritikus menolak unsur politik memasuki gelanggang sastra. Tidak mengherankan karena titiktolak sastra Indonesia jang sedjak tahun 1901 begitu militan menentang dan melaan pendjadjahan itu, tidak dilihatnja dalam kegelapan itu.

KETIDAKDJELASAN SEDJARAH DAN NILAI KRITIK:
Ketidakdjelasan sedjarah menjebabkan nilai kritik sastra pun mendjadi tidak djelas, karena tidak mempunjai pegangan, dan dengan sendirinja djuga ukuran tentang apa sebenarnja jang sudah terdjadi djauh sebelum itu. Sedang pada pihak lain pun meragukan kemampuannja untuk melihat perspektif dan haridepan sastra Indonesia.

Dalam situasi demikian, mau tak mau kita terpaksa terima setiap kritik sastra dengan reserve, karena kritik sastra jg mungkin telah diambil umum sebagai ukuran untuk masa kini, bila dimasukkan dalam vorm sedjarah sastra itu sendiri bisa tjuma sementara sadja maknanja.



Source:
http://www.radix.net/~bardsley/jang2.html




Hatiku selembar daun...

DENGAN DATANGNYA LENIN BUMI MANUSIA LEBIH KAYA

DENGAN DATANGNYA LENIN BUMI MANUSIA LEBIH KAYA

Pramudya Ananta Toer


Dimuat di harian Bintang Timur, 22 April 1960,
Peringatan 90 tahun Nikolai Lenin



Bertrand Russel dalam memberikan karakterisasi abad sekarang ini berkata, 'Abad kita dalam sejarah manusia sekarang adalah abad dari dua manusia, Lenin dan Einstein.' Tetapi lebih tepat jika dikatakan, abad kita sekarang adalah abad Rakyat dan Ilmu Pengetahuan.

Tanpa dua-duanya, kita hanya bebodoran.

Lenin tak sesaat pun pernah merasa khawatir tinggal seorang diri dalam perjuangan. Salah satu tugas perjuangannya justru menciptakan sahabat sebanyak-banyaknya, Rakyat, dan menghancurkan musuh musuhnya, musuh Rakyat, golongan kecil dalam masyarakat yang berkuasa, dan mempergunakan kekuasaannya untuk menggerogoti harga manusia dan kemakmurannya.

Lenin telah mengembalikan Rakyat pada harga dirinya. Bumi Manusia menjadi lebih indah dan lebih kaya daripada sebelumnya. 'Ia adalah ruh pencipta yang harmonis, seorang filosof, seorang sistematikus praktik,' kata Bertrand Russel, 'baginya yang perlu ialah cita-cita sosial semata, bukan buat kepentingan diri sendiri.' Sebaliknya bagi kaum musuh Rakyat jelas: dia adalah roh perusak, iblis.

Tetapi dia pulalah yang telah berhasil memimpin perjuangan pembebasan Rakyat Uni Sovyet dari kelas lintah darat yang berabad-abad sejak Adam 'nangkring' dan 'nempel' di atas tengkuk Rakyat. Dia telah memimpin perjuangan buat kepentingan kaum produktor dan kreator kehidupan Uni Sovyet.

Sekarang, tiga puluh enam tahun setelah wafatnya, Negara Uni Sovyet meneruskan perjuangan Lenin ini: politik luar negerinya diarahkan untuk menciptakan persahabatan dengan seluruh Rakyat di mana saja di atas dunia ini. Tidak pernah dalam sejarah ada suatu negara seperti Uni Sovyet dan negara-negara sosialis lainnya memberikan bantuan tanpa mengharapkan riba kepada negara-negara lain yang sangat membutuhkan. Tidak pernah pula dalam sejarah ada suatu negara yang dengan giatnya mengirimkan begitu banyak dan menerima begitu banyak duta duta persahabatan selain Uni Sovyet di samping negara-negara sosialis lainnya.

Juga Indonesia tidak luput dari rahmat yang disebabkan karena perjuangan Lenin dan barisannya. Akademi Oceanografi di Ambon, bukan tidak bicara apa-apa bagi Indonesia. Dia merupakan lembaga yang akan mengembalikan semangat samudera Rakyat Indonesia purbakala. Stadion Asian Games merupakan lembaga yang akan mengembalikan keperwiraan Rakyat Indonesia. Proyek-proyek pelabuhan besi baja adalah lembaga yang akan mengembalikan keperkasaan, dan eksplorasi kekayaan purbakala Rakyat Indonesia.

Negara Lenin telah membantu timbulnya lembaga-lembaga bagi hari depan yang gilang-gemilang. Soalnya tinggal: bagaimana kemampuan dan mentalitas yang harus menggarap bantuan itu. Adalah amoral menyambut bantuan yang tulus dengan penggunaan secara serampangan. Ini perlu diperingatkan karena contoh-contoh bisa terjadinya yang demikian sudah banyak diberikan, seperti sikap berbagai golongan terhadap usaha Jagus dan Martosuwondo yang tak kenal lelah hendak berbakti kepada bangsanya, tetapi golongan-golongan tertentu dalam masyarakat bangsanya sendiri justru bersorak-sorak bila usaha Jagus-Martosuwondo memperlihatkan gejala-gejala kegagalan. Mereka semestinya membantunya. Dan bukan tidak mungkin mereka justru menyabotnya dengan tindakan-tindakan yang sesungguhnya kasar. Dan sangat me malukan juga, bahwa Bangsa Indonesia bisa melahirkan golongan-go longan masyarakat semacam itu.

Kita baru menyoroti satu segi saja dari tangan persahabatan yang diulurkan oleh negaranya Lenin kepada Rakyat Indonesia.

Apakah yang mengherankan lagi kalau dalam masyarakat Indonesia ada gerombolan-gerombolan masyarakat yang mencurigai dan menentang bantuan negeri Lenin? Tidak. Gerombolan-gerombolan ini tidak suka melihat Rakyatnya lebih kaya, lebih makmur. Mereka harus tetap tergantung pada impor! Karena impor menjadi kepentingan gerombolan-gerombolan ini-bukan saja hidup gerombolan ini dari komisi tuan-tuannya di seberang samudera yang empat tidak terganggu, tetapi juga bisa merajai harga di dalam negeri!

Ini pun jelas seperti matahari!

Dan ini pun--juga orang tidak perlu menjadi komunis untuk memahaminya.

Kita telah mengulurkan tangan kita menerima bantuan dari sahabat yang besar itu. Tetapi mengingat adanya gerombolan-gerombolan masya rakat yang aneh ini, pasti pula ada usaha untuk menggagalkan makna dan penggunaan bantuan itu. Bersiap-siaplah, karena pada setiap ketika bisa saja terjadi bakul-bakul tempat kita menampung bantuan itu didadal pencoleng. Bersiap-siaplah juga karena bukan saja pencoleng itu mendapat nafkahnya, tetapi juga merasa mempunyai hak sesumbar dirinya sendiri yang benar: 'Lihat tuh, bantuan Uni Sovyet hanya jadi beban Rakyat!' Kita pun tahu, tidak seluruh Rakyat Indonesia sudah jadi hipokrit. Kita tidak perlu jadi orang ahli untuk dapat melihat kemungkinan ini.

***

Mungkin akan ada seorang atau beberapa orang wakil gerombolan masyarakat, menuduh, tulisan ini berusaha melakukan perpecahan dan pertentangan.

Untuk ini pun jawabannya sudah tersedia: Memecahkan persatuan diri dari gerombolan anti-Rakyat adalah wajib bahkan kita harus menentang aktivitas dan meluasnya gerombolan ini. Ini pun sudah jelas seperti matahari. Dan tak perlu orang menjadi komunis untuk bersikap demikian. Bukan' Kalau orang tak mau menjadi lebih cerdik dari pengalaman Revolusi dulu, kita memang mesti membenarkan saja ditaruh dalam satu kandang dengan lintah-lintah borjuasi. Rakyat sudah belajar banyak dari pengalaman Revolusi. Kita menolak adanya komprorni antara Rakyat dengan lintahnya. Rakyat harus tinggal jadi Rakyat, dan lintahnya harus dipunahkan, agar Rakyat itu menjadi lebih kaya, agar Manusia menjadi lebih sejahtera.

Untuk memahami ini tak perlu orang menjadi sariana. Orang yang sebodoh-bodohnya pun akan membunuh setiap kutu busuk yang nam pak olehnya.

Lenin telah memberi kita pelajaran yang sangat berharga bagaimana mengabdi kepada Rakyat. Bagaimana berjuang dan dalam pada itu 'paling tidak ingat kepada diri sendiri,' kata Romain Rolland. Lenin adalah seorang pengimpi, tetapi pun pejuang untuk mewujudkan impiannya. Di waktu lingkungan kekuasaan Sovyet tidak lebih dari sekitar Moskwa, ia telah melihat hari depan Rakyat Sovyet yang mempergunakan tenaga listrik sampai ke desa-desa, karena tenaga listrik di desa-desa kaum tani adalah salah satu syarat terpenting bagi tiap kemajuan peradaban dan kebudayaan. 'Pemimpin elektrifikasi,' kata penyair Wells tentang Lenin. Sebelas tahun setelah berdirinya Uni Sovyet, penggunaan listrik hampir hampir mencapai dua kali lipat dari sebelumnya, dan pada tahun ini hampir-hampir dua puluh empat kali. Lenin telah memimpikan elektrifi kasi bagi setiap Rakyat Uni Sovyet, tetapi ia pun telah berjuang meletak kan dasar-dasar terwujudnya impian itu.

Dengan listrik itu tenaga manusia mendapat bantuan yang tak terkirakan besarnya dalam usaha produksi. Dan dengan dihancurkannya sistem distribusi kapitalistis dan monopolistis, produksi secara langsung dapat dikecap oleh setiap orang tanpa membayar cukai dan bunga kepada kaum borjuasi. Segala berasal dari Rakyat maka pun segala harus kembali kepada Rakyat. Lenin telah membuat Rakyat Uni Sovyet memiliki segala yang dibutuhkannya. Dia telah menciptakan surga di dunia bagi 210 juta jiwa atau 7,5% dari seluruh umat manusia di atas wilayah bumi yang 22,4 juta kilometer persegi, atau 16,6% dari permukaan bumi ini.

****



Source:
http://www.geocities.com/Athens/Aegean/6450/Pram1.htm