Friday, 12 November 2010

Kisah Tentang Sang Buddha

Kisah Tentang Sang Buddha


Kisah ini disampaikan oleh Sang Guru, ketika Beliau berdiam di Jetavana. Pada suatu ketika Sang Guru baru kembali dari berpindapata yang diiringi dengan lima ratus muridNya, masuk ke Vihara Jetavana. Pada waktu itu pula Raja mengunjungi vihara dan mengundang Sang Guru untuk menjadi tamunya di istana. Keesokan harinya, Raja menyiapkan persembahan dana yang luar biasa besarnya untuk Sang Guru dan murid-muridNya, beliau juga mengundang penduduk dengan berkata :

"Undanglah mereka datang ke sini dan lihatlah persembahan dana yang telah saya persiapkan untuk Sang Guru."

Penduduk lalu berdatangan dan melihat persembahan yang dipersiapkan oleh Raja.

Keesokan harinya, penduduk mengundang Sang Guru untuk menjadi tamu mereka, dan mereka menyiapkan persembahan-persembahan, lalu mengundang Raja dengan berkata :

"Undanglah Raja datang ke sini dan lihatlah persembahan dana yang telah kami persiapkan untuk Sang Guru."

Ketika Raja melihat persembahan yang dipersiapkan oleh penduduk, ia berpikir ;

"Rakyatku ini mempersembahkan dana lebih besar dari yang aku persembahkan kepada Sang Guru; saya akan memberi persembahan dana kembali untuk yang ke dua kalinya."

Kemudian Raja mempersiapkan persembahan dana pada keesokan harinya; ketika penduduk melihat persembahan yang dipersiapkan Raja, mereka juga menyiapkan persembahan untuk hari berikutnya.

Demikianlah, Raja berkeinginan untuk mengalahkan rakyatnya, dan rakyatnya juga tidak mau kalah dalam mempersembahkan dana kepada Sang Guru dan murid-muridNya. Enam kali berturut-turut penduduk meningkatkan persembahannya menjadi seratus kali dan seribu kali banyaknya, mereka mempersembahkan dana dalam jumlah yang amat besar. Ketika Raja menyadari apa yang mereka lakukan, ia berpikir :

"Kalau saya tidak dapat mempersembahkan dana lebih besar dari apa yang mereka persembahkan, bagaimana saya dapat mempertahankan kehidupan saya ?"

Kemudian ia berbaring, memikirkan jalan keluarnya. Ketika ia sedang berbaring sambil termenung dan berpikir, Ratu Mallika menghampirinya dan bertanya dengan penuh keheranan:

"Yang Mulia, mengapa Baginda berbaring di sini? Apa yang membuatmu kelihatan sangat risau dan susah hati ?"

Raja menjawab:

"Isteriku, tidakkah kamu tahu?"

"Yang Mulia, saya tidak tahu."

Kemudian Raja menceritakan masalah ini. Ratu Mallika lalu berkata :

"Yang Mulia, jangan menjadi resah; pernahkah Baginda mendengar atau melihat bahwa seorang Raja, penguasa seluruh negara, seharusnya dapat memenangkan masalah ini ? Saya akan mengatur persembahan itu ?"

Demikianlah ucapan Ratu Mallika, dia berbicara demikian karena dia ingin mempersembahkan dana yang jumlahnya tiada tara. Kemudian dia berkata kepada Raja :

"Yang Mulia, inilah rencanaku. Perintahkanlah untuk membangun sebuah pavilion yang indah di tengah-tengah lapangan. Bangunlah pula pavilion yang melingkarinya dari kayu Sala yang terbaik, dan tempat duduk untuk lima ratus bhikkhu. Buatlah lima ratus payung putih yang indah, dan latihlah lima ratus gajah untuk sambil berdiri dengan diam di belakang ke lima ratus bhikkhu, sambil memegang payung dengan belalainya. Buatlah delapan atau sepuluh perahu yang terbuat dari emas, dan tempatkanlah di tengah-tengah pavilion. Di antara ke dua bhikkhu, tempatkanlah seorang prajurit wanita yang duduk dan menebarkan wewangian. Tempatkanlah pula sejumlah prajurit wanita memegang kipas di tangannya, yang berdiri dan mengipasi dua bhikkhu. Tempatkanlah para prajurit wanita lainnya dengan membawa wewangian di tangannya, berdiri di dalam perahu emas. Tempatkanlah prajurit wanita yang lain, membawa rangkaian bunga lili biru yang disemprot dengan wewangian, di dalam perahu emas, dan persembahkanlah dupa kepada para bhikkhu. Sekarang penduduk yang tidak mempunyai anak yang menjadi prajurit wanita ataupun payung putih ataupun gajah, itu berarti mereka tidak dapat mengalahkanmu. Inilah yang harus Baginda lakukan sebagai seorang Raja yang Besar."

Raja berkata dengan gembira :

"Bagus, bagus, isteriku! Rencanamu sungguh luar biasa."

Raja lalu memerintahkan kepada pegawainya, segala sesuatu yang diusulkan oleh Ratu Mallika. Setelah semua dilaksanakan, ternyata kekurangan seekor gajah untuk memayungi seorang bhikkhu. Ketika Raja memeriksa semuanya, ia berkata kepada Ratu Mallika :

"Isteriku, kita kekurangan seekor gajah untuk memayungi seorang bhikkhu. Apa yang harus saya lakukan ?"

"Apa yang Baginda katakan ? Tidak ada lima ratus ekor gajah ?"

"Ya, isteriku. Yang tersisa adalah gajah-gajah yang liar, dan kalau gajah itu melihat para bhikkhu, mereka akan mengamuk seperti angin ribut."

"Yang Mulia, saya tahu dimana gajah liar itu ditempatkan yang dapat membuatnya berdiri dengan diam dan memegang payung di belalainya."

"Dimana kita akan tempatkan gajah itu ?"

"Di sebelah Yang Mulia Angulimala."

Raja melakukan apa yang dikatakan isterinya. Seekor gajah muda melipat ekornya di antara ke dua kakinya, menurunkan kedua telinganya, menutup matanya dan berdiri dengan diam. Orang-orang memandang gajah itu dengan keheranan dan berpikir :

"Bagaimana mungkin gajah liar itu dapat berdiri dengan diam ?"

Raja menanti Sang Buddha dengan para muridNya dengan penuh rasa bahagia. Setelah Beliau beserta murid-muridnya tiba, Raja memberikan penghormatan dan berkata:

"Yang Mulia, semua barang-barang ini, baik yang berharga maupun tidak berharga, saya persembahkan semuanya untuk Bhikkhu Sangha."

Dengan persembahan dana yang dilaksanakan pada hari ini, harta sebanyak empat belas laksa diserahkan dalam satu hari. Empat macam harta yang amat berharga dipersembahkan kepada Sang Guru, sebuah payung putih, sebuah dipan untuk beristirahat, sebuah panggung dan sebuah penunjang kaki. Tidak seorangpun yang mempersembahkan dana kepada Sang Buddha dapat menyamai apa yang dipersembahkan oleh Raja, karena itu persembahan ini terkenal dengan 'Persembahan Dana Yang Tiada Tara'. Persembahan dana yang tiada tara ini terjadi pada semua Buddha, dan seorang wanita yang mengatur semua persembahan ini.

Raja mempunyai dua orang menteri bernama Kala dan Junha. Menteri Kala berpikir:

"Lihat, bagaimana harta Raja berkurang! Dalam satu hari, harta sebanyak empat belas laksa digunakan! Dan para bhikkhu ini, setelah berpesta dengan dana sebanyak itu, akan langsung pulang, berbaring, dan tidur! Bagaimana mungkin harta Raja dibuang seperti ini !"

Tetapi, Menteri Junha berpikir:

"Oh, luar biasa dana yang dipersembahkan oleh Raja! Tidak seorangpun yang dapat menempati posisi Raja dalam mempersembahkan dana ini ! Lebih jauh lagi, tidak seorangpun yang dapat melampaui persembahan dana ini untuk kebahagiaan semua mahluk. Untuk saya, saya amat berterima kasih dan berbahagia atas semua persembahan yang disampaikan oleh Raja kepada Sang Buddha."

Ketika Sang Guru menyelesaikan makannya, Raja mengambil mangkukNya, dengan harapan Beliau akan menyampaikan anumodana. Sang Buddha berpikir::

'Raja telah mempersembahkan dananya yang luar biasa ini, seperti sebuah gelombang yang amat besar. Apakah yang dipikirkan orang-orang yang ada di sini, apakah dipenuhi oleh keyakinan atau tidak ?'

Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkan oleh kedua menteri itu, Beliau segera menyadari :

"Apabila Saya mengucapkan anumodana atas dana yang dipersembahkan ini, maka kepala Kala akan terbelah menjadi tujuh bagian, dan Junha akan memperoleh Pengertian Dhamma Yang Mulia.

Karena kebodohan dari Kala, maka Sang Buddha hanya mengucapkan sebuah syair yang terdiri dari empat baris untuk menghormati Raja, yang berdiri di hadapannya setelah mempersembahkan dananya itu. Setelah itu Beliau bangkit dari duduknya dan kembali ke vihara.

Para bhikkhu bertanya kepada Yang Mulia Angulimala:

"Saudara, tidakkah kamu takut ketika kamu melihat gajah liar berdiri di sampingmu, memegang payung putih ?"

"Tidak saudara, saya tidak takut."

Para bhikkhu berkata kepada Sang Guru:

"Yang Mulia, Angulimala berbohong."

Sang Guru lalu berkata:

"Para bhikkhu, Angulimala tidak takut. Untuk bhikkhu seperti anakKu ini yang telah mencapai Tingkat Kesucian, telah menghapuskan segala kekotoran dan tidak lagi mempunyai ketakutan."

Setelah berkata demikian, Beliau mengucapkan syair di dalam Brahmana Vagga :

"Ia yang Mulia, Agung, Pahlawan,
Pertapa Agung, Penakluk.
Orang Tanpa Nafsu, Murni, Telah Mencapai Penerangan,
Maka ia Kusebut seorang Brahmana.

Raja sangat kecewa. Ia berpikir :

"Setelah saya mempersembahkan dana yang begitu besar, dan saya berdiri di hadapan Sang Guru, Sang Guru melalaikan ucapan anumodana atas dana yang saya persembahkan, tetapi hanya mengucapkan satu syair saja, bangkit dari duduk dan pergi. Anumodana itu diucapkan untuk dana yang dipersembahkan dengan tepat, mungkin saya mempersembahkan dana yang tidak tepat; dan untuk barang-barang yang sesuai untuk dipersembahkan, mungkin saya mempersembahkan barang-barang yang tidak sesuai. Karena itu Sang Guru marah kepada saya, biasanya Beliau selalu mengucapkan anumodana kepada setiap orang yang mempersembahkan dana kepadaNya."

Dengan pemikiran seperti ini, Raja pergi menuju vihara, menghormat kepada Sang Guru dan berkata :

"Yang Mulia, apakah saya gagal mempersembahkan dana yang telah saya serahkan, atau kesalahan dalam mempersembahkan, atau dana itu tidak tepat, ataukah barang-barang yang saya persembahkan tidak sesuai ?"

"Raja Mulia, mengapa anda bertanya demikian ?"

"Yang Mulia, tidak mengucapkan anumodana atas segala persembahan yang saya berikan."

"Raja Mulia, hadiah yang kamu persembahkan tentu saja sesuai; Pemberian Dana Yang Tiada Tara, seperti yang kamu persembahkan, hanya dapat dipersembahkan kepada Seorang Buddha; persembahan seperti itu akan sulit untuk dilakukan untuk kedua kalinya."

"Tetapi, Yang Mulia, mengapa tidak mengucapkan anumodana atas dana yang saya persembahkan ?"

"Karena ada pemikiran orang-orang yang tidak murni, Raja Mulia."

"Yang Mulia, kesalahan apa yang dilakukan orang-orang itu?"

Sang Guru lalu menceritakan kepada Raja, pemikiran dari kedua menterinya dan memberitahukan kepadanya akibat yang akan diterima Kala apabila Beliau mengucapkan anumodana.

Raja lalu bertanya kepada Kala:

"Apakah benar, Kala, engkau berpikir seperti itu ?"

"Benar, Yang Mulia," jawab Kala.

Kemudian Raja berkata :

"Saya tidak pernah mengambil milikmu untuk saya. Di mana kesalahan saya?
Pergilah ! Apa yang saya berikan, saya berikan. Sekarang, pergilah dari kerajaanku !"

Setelah Kala diusir dari kerajaannya, Raja memanggil Junha, dan bertanya :

"Apakah benar, Junha, pemikiranmu seperti itu ?"

"Benar, Yang Mulia," jawab Junha.

"Kamu berbuat baik, paman," jawab Raja.

"Saya puas. Terimalah hadiah dariku dan persembahkanlah dana seperti yang saya lakukan selama tujuh hari."

Setelah berdana selama tujuh hari, Raja berkata kepada Sang Guru:

"Yang Mulia, lihatlah apa yang telah dilakukan oleh orang bodoh itu, sesudah saya mempersembahkan dana itu, ia memukul saya."

Sang Buddha menjawab:

"Ya Raja Mulia; orang bodoh tidak bergembira dengan dana yang dipersembahkan orang lain, dan di masa yang akan datang akan memperoleh hukumannya. Tetapi orang bijaksana, ikut bergembira atas dana yang dipersembahkan orang lain dan akan menuju surga."

Setelah berkata demikian sang Buddha mengucapkan syair:

"Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke Alam Surga. Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati. Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, Dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya."


Source:
http://www.indocina.net/viewtopic.php?f=22&t=21472&start=45





Hatiku selembar daun...

Kerinduan

Kerinduan


Dan semoga kerinduan ini
Bukan jadi mimpi di atas mimpi (Ebiet G. Ade)
Fariduddin Attar, guru Jalalluddin Rumi, penyair dan sufi terbesar dari Persia, menuturkan kerinduan sekelompok burung terhadap raja mereka. Maka, mereka pun sepakat menunjuk Hud-hud, burung yang bijak, sebagai pemimpin.

Hud-hud memberi tahu, yang mereka cari itu burung Simurgh, dalam bahasa Persi, artinya tiga puluh burung, yang hidup tersembunyi di gunung Kaf, tempat yang jauh, dan berbahaya. Untuk mencapai tempat itu mereka harus menempuh lima lembah dan dua gurun sahara.

Mendengar cerita itu, mereka yang berjiwa lemah, yaitu Nuri, Merak, Angsa, Bangau, Bul-bul, dan burung Hantu, mengemukakan berbagai alasan untuk tidak ikut.

Si Nuri yang egois, memilih mencari ”cawan suci”, Merak, si burung surga, lebih baik menanti panggilan kembali ke surga, Bul-bul, yang merasa memahami rahasia cinta, menumpahkan cintanya pada bunga mawar, dan Bangau, pencinta air, membual:

”Cintaku pada air membuatku selalu termenung di tepi pantai, namun aku toh tak setitik pun meminum airnya, karena khawatir begitu aku minum, samodra raya itu langsung kering kerontang.”

Hud-hud memberi rangsangan dengan cerita mengenai petualangan menarik dalam perjalanan ke Gunung Kaf, di istana raja mereka.

Karena itu, perjalanan pun dimulai. Tapi baru saja menempuh dua lembah, mereka mengeluh, dan merasa gentar membayangkan perjalanan selanjutnya.

Satu-satunya jalan agar mereka mengerti dan sadar, Hud-hud, harus terus terang bahwa mereka harus menempuh tujuh lembah dan gurun, yang semuanya memikat, simbolik, dan bermakna secara rohaniah. Burung-burung itu pun merasa gembira dan bersemangat lagi.

Kali ini korban berjatuhan. Ada yang mati karena udara sangat panas, ada yang tenggelam di laut, ada yang kelelahan, ada yang kehausan tak berdaya. Dan ada pula yang tersesat.

Sisanya tetap meneruskan perjalanan hingga tiba di Gunung Kaf yang mereka impikan. Di pintu gerbang mereka diperlakukan kasar oleh para penjaga. Tapi mereka sudah terbiasa dengan kesukaran. Maka, pelayan pun menjemput, dan menunjukkan mereka jalan ke ruang Baginda.

Di dalam, burung-burung itu keheranan karena mereka memasuki ruang hampa, luas tak terbatas. Dalam termangu mereka saling memandang. Di mana Baginda raja yang mereka rindukan? Di sana mereka temukan Simurgh, tiga puluh burung, yang ternyata diri mereka sendiri.

Dalam kerinduan mencari sang raja, ternyata mereka hanya menemukan diri mereka sendiri.

”Sang raja tersingkap di dalam cermin kalbu-kalbu mereka sendiri,” kata Attar.

Fariduddin Attar memesona kita. Dengan fabel itu, ia sebenarnya bicara perkara yang sangat dalam dan rumit, mengenai gejolak kalbu, yang diharu-biru rasa rindu. Ini potret kerinduan khas kaum sufi untuk bisa berkhidmat, dan memperoleh momen puitik, dan istimewa: berduaan dengan sang pencipta, untuk mempersembahkan ketulusannya sebagai seorang hamba sahaya.

”Di pintumu aku mengetuk / aku tak bisa berpaling” kata Chairil Anwar.

”Di mana kau / rupa tiada, hanya kata merangkai hati” kata Amir Hamzah.

”Betapa gurun merindukan cinta sejumput rerumputan / Rumput menggeleng, tertawa, dan berlalu” kata Tagore.

”Keberadaan lahir / Ketika kita jatuh cinta pada ketiadaan” kata Rumi.

Ketiadaan di sini bukan kehampaan, bukan ”emptiness”, bukan ”nothingness”. Ketiadaan ini justru wujud eksistensi. Dalam logika dan kosmologi Jawa ini makna ungkapan ”suwung ning isi”, kosong tapi isi yang terkenal itu.

Mencari galih kangkung, dan tapak Kuntul (burung Blekok) melayang, dalam kosmologi Jawa dianggap simbolisasi pencarian akan makna paling hakiki dalam hidup manusia: momen puitik untuk menyatu, manunggal rasa, manunggal karsa dengan ”Baginda”. Mencari tapak Kuntul melayang bukan sebuah kemustahilan.

Para empu dalam bidang ”seni kehidupan”, yaitu para wali, para nabi, dan orang-orang suci, masing-masing pernah disergap kerinduan yang sangat pekat, dan menemukan diri menjadi hati Tuhan, tangan Tuhan, dan sarana Tuhan untuk menciptakan keadilan di bumi. Mereka ibarat hanya bayangan yang tak ada tapi nyata gunanya.

”Lilin dibuat untuk menjadi nyala / Dalam suatu saat penghancuran / Yang tak menyisakan bayangan” kata Rumi.

Kerinduan, bagi yang pernah, dan masih rindu, tak akan sekadar menjadi mimpi di atas mimpi, yang dikhawatirkan Ebiet. Kerinduan terobati, bukan hanya saat kita bisa bertemu, melainkan juga saat kita merasa pasrah untuk ”menjadi”, termasuk sekadar menjadi sebatang lilin kecil, yang nyala kecilnya, menembus gelap di lorong-lorong jiwa kita.


(Mohammad Sobary)




Hatiku selembar daun...

ULAR DAN MERAK

ULAR DAN MERAK


Pada suatu hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung
-karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan
Bhokara guna mencari ilmu yang lebih tinggi. Gurunya
menasehatkan agar ia berjalan ke arah selatan, dan katanya,
"Carilah makna Merak dan Ular." tentu saja anjuran itu
membuat Adi berpikir keras.

Ia mengembarai Khorasan dan akhirnya sampai di Irak. Di
negeri Irak, ia benar-benar menemukan tempat yang terdapat
seekor merak dan seekor ular. Adipun mengajak bicara mereka.
Kedua binatang itu berkata, "Kami sedang memperbincangkan
keunggulan kami masing-masing."

"Nah, justru itu yang ingin kuketahui," kata Adi. "Teruskan
berbincang-bincang."

"Rasanya, akulah yang lebih berguna," kata Merak. "Aku
melambangkan cita-cita, perjalanan ke langit keindahan
sorgawi, dan karenanya juga pengetahuan adiluhung. Adalah
tugasku untuk mengingatkan manusia, dengan cara menirukan,
tentang segi-segi dirinya yang tak dilihatnya."

"Sebaliknya, aku," kata Ular, sambil mendesis pelahan,
"melambangkan hal itu juga. Seperti manusia, aku terikat
pada bumi Kenyataan itu menyebabkan manusia menyadari
dirinya. Juga seperti manusia, aku lentur, bisa
berkelok-kelok menyusur tanah. Manusia sering melupakan
kenyataan itu. Menurut kisah , akulah penjaga harta yang
tersembunyi di bumi."

"Tetapi kau menjijikkan," teriak Merak. "Kau licik, licin,
dan berbahaya."

"Kau menyebut sifat-sifat kemanusiaanku," kata Ular,
"sedangkan aku lebih suka menunjukkan sifat-sifatku yang
lain, yang sudah kusebut-sebut tadi. Sekarang, lihat dirimu
sendiri: kau sombong, kegemukan, dan suaramu serak. Kakimu
terlalu besar, bulu-bulumu berlebihan panjangnya."

Sampai disini Adi menyela, "Hanya ketidak-cocokanmulah yang
telah menyebabkan aku mengetahui bahwa tak ada di antara
kalian yang benar. Namun kita jelas-jelas melihat, apabila
kalian sama-sama meninggalkan keasyikan diri sendiri, secara
bersama-sama kalian bisa memberi pesan bagi kemanusiaan."

Dan, sementara dua pihak yang bertengkar itu
mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka bagi
kemanusiaan: "Manusia melata di tanah bagai Si Ular. Ia bisa
melayang tinggi bagai Burung. Namun, karena tamak seperti
Ular, ia tetap mempertahankan kepentingan diri sendiri
ketika berusaha terbang, dan mereka menjadi seperti Merak;
terlampau sombong. Dalam diri Merak, kita melihat
kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan
semestinya. Pada kilauan Ular, kita menyaksikan kemungkinan
keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu
menjadi terlalu berbunga-bunga."

Dan kemudian terdengar Suara dari dalam berbicara kepada
Adi, "Itu belum lengkap. Kedua makhluk itu diberkahi
kehidupan, yang merupakan faktor penentu. Mereka bertengkar
karena masing-masing telah merasa aman dalam jenis
kehidupannya sendiri, beranggapan bahwa hal itu merupakan
perwujudan suatu kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang
seekor menjaga harta dan tidak bisa mempergunakannya. Yang
lain mencerminkan keindahan, harta juga, namun tidak bisa
mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Di Samping
ketidakmampuan keduanya untuk mengambil keuntungan dari
kesempatan yang terbuka bagi mereka keduanya pun
melambangkan kesempatan itu --tentu bagi mereka yang bisa
melihat dan mendengarnya."

Catatan

Pemujaan Ular dan Merak di Irak didasarkan pada ajaran
seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua
belas. Pemujaan itu dianggap suatu misteri oleh kebanyakan
orientalis.

Kisah ini, yang tercatat dalam legenda, menunjukkan
bagaimana guru-guru darwis membentuk "mazhab-mazhab"-nya
berdasarkan pelbagai lambang, yang dipilih untuk memberi
contoh ajaran-ajarannya.

Dalam bahasa Arab, "Merak" melambangkan juga "perhiasan;"
sedangkan "Ular," memiliki bentuk huruf yang sama dengan
"organisme" dan "kehidupan." Oleh karena itu perlambangan
Pemujaan Malaikat Merak yang tersembunyi -Kaum Yezidis-
adalah suatu cara untuk menunjukkan "Bagian Dalam dan Luar,"
rumus rumus Sufi tradisional.

Pemujaan itu masih ada di Timur Tengah, dan memiliki
penganut (tak ada di antara mereka itu yang orang Irak) di
Inggris dan Amerika Serikat.

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984




Hatiku selembar daun...

KISAH API

KISAH API


Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara
bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan-
percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.

Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari
satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak
tentang penemuannya.

Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai
kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang
memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira
bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu
cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi
mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya
memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan
sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin
bahwa ia setan.

Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang
api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang
tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat
kedinginan.

Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat
untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang
menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu.
Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan
dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang
kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa
menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan
mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi
mereka.

Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan
beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui
negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu
tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan
bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya,
"Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan
pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka
itu!"

Sang Guru menjawab, "Baiklah. Kita akan memulai lagi
perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang
masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan
bagaimana mendekatinya."

Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu
diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka
menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika
upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang
mereka saksikan, guru itu berkata, "Apa ada yang ingin
mengatakan sesuatu?"

Pengikut pertama berkata, "Demi Kebenaran, saya merasa harus
menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini."

"Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri,
silahkan saja," kata gurunya.

Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan
pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, "Aku
bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai
perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu,
maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahun
lamanya kalian telah tersesat?"

Tetapi para pendeta itu berteriak, "Tangkap dia!" dan orang
itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali.

Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di
negeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api.
Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba
menyehatkan akal bangsa itu.

Dengan izin gurunya ia berkata, "Saya mohon izin untuk
berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal.
Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukan
hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda
kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara
ini."

Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal.
Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, "Saudara
diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara
kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah
dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan.
Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha
membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak
mau mendengarkan Saudara."

Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan.

Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka
menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur,
orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata
kepada pemimpin besar itu.

"Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan,
yang bisa dipergunakan."

"Mungkin begitu," jawab para pemuja Nur, "tetapi yang bisa
menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja."

"Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi
mereka yang menolak menghadapi kenyataan," kata pengikut
ketiga itu.

"Itu bid'ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan
tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan
pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami," kata
pendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa
melanjutkan usahanya.

Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri
bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan
kerumunan orang.

"Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana
melaksanakannya," katanya.

Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi
beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, "Itu mungkin
benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui
bagaimana cara membuat api." Ketika orang-orang ini diuji
oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar
ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan
tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan
kemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itu
merasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga mereka
yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan
orang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api
bahkan setelah diberi tahu caranya.

Ada kelompok lain yang berkata, "jelas dongeng itu tidak
benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia
mendapat kedudukan di sini."

Dan kelompok lain lagi berkata, "Kita lebih suka dongeng itu
tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa
kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian
ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya
dengan bangsa kita ini?"

Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka.

Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa
yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari,
dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain.

Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya,

"Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak
ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka
bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka
membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin
mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari,
bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalau
kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa
mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa
untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan
kemampuan."

Catatan

Untuk menjawab pertanyaan "Apakah orang barbar itu?" Ahmad
al-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata,

"Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu
tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan
atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat
pengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usaha
mencapai Tuhan.

Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka
sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri
mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka
berbicara dan bertindak."

Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan
orang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karena
menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah.

Ia pendiri kaum Badawi Mesir.

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984



Hatiku selembar daun...

SEMUT DAN CAPUNG

SEMUT DAN CAPUNG


Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur,
sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap
menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi
untuk kemudian datang kembali.

Kali ini Si Semut berkata,

"Kau ini hidup tanpa usaha, dan kau tak punya rencana.
Karena kau tak punya tujuan nyata ataupun kira-kira, apa
pula ciri utama hidupmu dan kapan pula berakhir?"

Kata Si Capung,

"Aku bahagia, dan aku mencari kesenangan, ini jelas ada dan
nyata. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh merencanakan
sekehendakmu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada yang lebih
berharga daripada yang kulakukan ini. Kaulaksanakan saja
rencanamu, dan aku rencanaku."

Semut berpikir,

"Yang tampak padaku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa
yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada
capung. Ia laksanakan rencananya, aku laksanakan rencanaku."

Dan semutpun berlalu, sebab ia telah memberikan teguran
sebaik-baiknya dalam masalah itu.

Beberapa waktu sesudah itu, mereka pun bertemu lagi.

Si Semut menemukan kedai tukang daging, dan ia berdiri di
bawah meja tumpuan daging dengan bijaksana, menunggu saja
apa yang mungkin datang padanya.

Si Capung, yang melihat daging merah dari atas, menukik dan
hinggap diatasnya. Pada saat itu pula, parang tukang daging
berayun dan membelah capung itu menjadi dua.

Separoh tubuhnya jatuh di lantai dekat kaki semut itu.
Sambil menangkap bangkai itu dan mulai menyeretnya ke
sarang, semut itu berkata kepada dirinya sendiri.

"Rencananya tamat sudah, dan rencanaku terus berjalan. Ia
laksanakan rencananya -sudah berakhir, Aku laksanakan
rencanaku -mulai berputar. Kebanggaan tampaknya penting,
nyatanya hanya sementara. Hidup memakan, berakhir dengan
dimakan. Ketika aku katakan hal ini, yang mungkin
dipikirkannya adalah bahwa aku suka merusak kesenangan orang
lain."

Catatan

Kisah yang hampir serupa ditemukan juga dalam karya Attar,
Kitab Ketuhanan, meskipun penerapannya agak berbeda. Versi
ini dikisahkan oleh seorang darwis Bokhara dekat makam
Al-Syah, yakni Bahaudin Naqsibandi, enam puluh tahun yang
lalu. Sumbernya adalah buku catatan seorang Sufi yang
disimpan dalam Masjid Agung di Jalalabad.

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984





Hatiku selembar daun...

Yang Fana Adalah Waktu

Yang Fana Adalah Waktu

-Sapardi Djoko Damono-


Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.





Hatiku selembar daun...

Aku Ingin

Aku Ingin

-Sapardi Djoko Damono-


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada










Hatiku selembar daun...

Rubaiyat of Omar Khayyam

Rubaiyat of Omar Khayyam



I.
WAKE! For the Sun, who scatter'd into flight
The Stars before him from the Field of Night,
Drives Night along with them from Heav'n, and strikes
The Sultan's Turret with a Shaft of Light.
II.
Before the phantom of False morning died,
Methought a Voice within the Tavern cried,
"When all the Temple is prepared within,
"Why nods the drowsy Worshiper outside?"
III.
And, as the Cock crew, those who stood before
The Tavern shouted—"Open then the Door!
"You know how little while we have to stay,
And, once departed, may return no more."
IV.
Now the New Year reviving old Desires,
The thoughtful Soul to Solitude retires,
Where the WHITE HAND OF MOSES on the Bough
Puts out, and Jesus from the Ground suspires.
V.
Iram indeed is gone with all his Rose,
And Jamshyd's Sev'n-ring'd Cup where no one knows;
But still a Ruby kindles in the Vine,
And many a Garden by the Water blows.
VI.
And David's lips are lockt; but in divine
High-piping Pehlevi, with "Wine! Wine! Wine!
"Red Wine!"—the Nightingale cries to the Rose
That sallow cheek of hers to' incarnadine.
VII.
Come, fill the Cup, and in the fire of Spring
Your Winter garment of Repentance fling:
The Bird of Time has but a little way
To flutter—and the Bird is on the Wing.
VIII.
Whether at Naishapur or Babylon,
Whether the Cup with sweet or bitter run,
The Wine of Life keeps oozing drop by drop,
The Leaves of Life keep falling one by one.
IX.
Each Morn a thousand Roses brings, you say:
Yes, but where leaves the Rose of Yesterday?
And this first Summer month that brings the Rose
Shall take Jamshyd and Kaikobad away.
X.
Well, let it take them! What have we to do
With Kaikobad the Great, or Kaikhosru?
Let Zal and Rustum bluster as they will,
Or Hatim call to Supper—heed not you.
XI.
With me along the strip of Herbage strown
That just divides the desert from the sown,
Where name of Slave and Sultan is forgot—
And Peace to Mahmud on his golden Throne!
XII.
A Book of Verses underneath the Bough,
A Jug of Wine, a Loaf of Bread—and Thou
Beside me singing in the Wilderness—
Oh, Wilderness were Paradise enow!
XIII.
Some for the Glories of This World; and some
Sigh for the Prophet's Paradise to come;
Ah, take the Cash, and let the Credit go,
Nor heed the rumble of a distant Drum!
XIV.
Look to the blowing Rose about us—"Lo,
Laughing," she says, "into the world I blow,
At once the silken tassel of my Purse
Tear, and its Treasure on the Garden throw."
XV.
And those who husbanded the Golden grain,
And those who flung it to the winds like Rain,
Alike to no such aureate Earth are turn'd
As, buried once, Men want dug up again.
XVI.
The Worldly Hope men set their Hearts upon
Turns Ashes—or it prospers; and anon,
Like Snow upon the Desert's dusty Face,
Lighting a little hour or two—is gone.
XVII.
Think, in this batter'd Caravanserai
Whose Portals are alternate Night and Day,
How Sultan after Sultan with his Pomp
Abode his destined Hour, and went his way.
XVIII.
They say the Lion and the Lizard keep
The courts where Jamshyd gloried and drank deep:
And Bahram, that great Hunter—the Wild Ass
Stamps o'er his Head, but cannot break his Sleep.
XIX.
I sometimes think that never blows so red
The Rose as where some buried Caesar bled;
That every Hyacinth the Garden wears
Dropt in her Lap from some once lovely Head.
XX.
And this reviving Herb whose tender Green
Fledges the River-Lip on which we lean—
Ah, lean upon it lightly! for who knows
From what once lovely Lip it springs unseen!
XXI.
Ah, my Beloved, fill the Cup that clears
TO-DAY of past Regrets and future Fears:
To-morrow—Why, To-morrow I may be
Myself with Yesterday's Sev'n thousand Years.
XXII.
For some we loved, the loveliest and the best
That from his Vintage rolling Time hath prest,
Have drunk their Cup a Round or two before,
And one by one crept silently to rest.
XXIII.
And we, that now make merry in the Room
They left, and Summer dresses in new bloom,
Ourselves must we beneath the Couch of Earth
Descend—ourselves to make a Couch—for whom?
XXIV.
Ah, make the most of what we yet may spend,
Before we too into the Dust descend;
Dust into Dust, and under Dust to lie,
Sans Wine, sans Song, sans Singer, and—sans End!
XXV.
Alike for those who for TO-DAY prepare,
And those that after some TO-MORROW stare,
A Muezzin from the Tower of Darkness cries,
"Fools! your Reward is neither Here nor There."
XXVI.
Why, all the Saints and Sages who discuss'd
Of the Two Worlds so wisely—they are thrust
Like foolish Prophets forth; their Words to Scorn
Are scatter'd, and their Mouths are stopt with Dust.
XXVII.
Myself when young did eagerly frequent
Doctor and Saint, and heard great argument
About it and about: but evermore
Came out by the same door where in I went.
XXVIII.
With them the seed of Wisdom did I sow,
And with mine own hand wrought to make it grow;
And this was all the Harvest that I reap'd—
"I came like Water, and like Wind I go."
XXIX.
Into this Universe, and Why not knowing
Nor Whence, like Water willy-nilly flowing;
And out of it, as Wind along the Waste,
I know not Whither, willy-nilly blowing.
XXX.
What, without asking, hither hurried Whence?
And, without asking, Whither hurried hence!
Oh, many a Cup of this forbidden Wine
Must drown the memory of that insolence!
XXXI.
Up from Earth's Center through the Seventh Gate
I rose, and on the Throne of Saturn sate,
And many a Knot unravel'd by the Road;
But not the Master-knot of Human Fate.
XXXII.
There was the Door to which I found no Key;
There was the Veil through which I might not see:
Some little talk awhile of ME and THEE
There was—and then no more of THEE and ME.
XXXIII.
Earth could not answer; nor the Seas that mourn
In flowing Purple, of their Lord Forlorn;
Nor rolling Heaven, with all his Signs reveal'd
And hidden by the sleeve of Night and Morn.
XXXIV.
Then of the THEE IN ME who works behind
The Veil, I lifted up my hands to find
A lamp amid the Darkness; and I heard,
As from Without—"THE ME WITHIN THEE BLIND!"
XXXV.
Then to the Lip of this poor earthen Urn
I lean'd, the Secret of my Life to learn:
And Lip to Lip it murmur'd—"While you live,
"Drink!—for, once dead, you never shall return."
XXXVI.
I think the Vessel, that with fugitive
Articulation answer'd, once did live,
And drink; and Ah! the passive Lip I kiss'd,
How many Kisses might it take—and give!
XXXVII.
For I remember stopping by the way
To watch a Potter thumping his wet Clay:
And with its all-obliterated Tongue
It murmur'd—"Gently, Brother, gently, pray!"
XXXVIII.
And has not such a Story from of Old
Down Man's successive generations roll'd
Of such a clod of saturated Earth
Cast by the Maker into Human mold?
XXXIX.
And not a drop that from our Cups we throw
For Earth to drink of, but may steal below
To quench the fire of Anguish in some Eye
There hidden—far beneath, and long ago.
XL.
As then the Tulip for her morning sup
Of Heav'nly Vintage from the soil looks up,
Do you devoutly do the like, till Heav'n
To Earth invert you—like an empty Cup.
XLI.
Perplext no more with Human or Divine,
To-morrow's tangle to the winds resign,
And lose your fingers in the tresses of
The Cypress-slender Minister of Wine.
XLII.
And if the Wine you drink, the Lip you press,
End in what All begins and ends in—Yes;
Think then you are TO-DAY what YESTERDAY
You were—TO-MORROW you shall not be less.
XLIII.
So when that Angel of the darker Drink
At last shall find you by the river-brink,
And, offering his Cup, invite your Soul
Forth to your Lips to quaff—you shall not shrink.
XLIV.
Why, if the Soul can fling the Dust aside,
And naked on the Air of Heaven ride,
Were't not a Shame—were't not a Shame for him
In this clay carcass crippled to abide?
XLV.
'Tis but a Tent where takes his one day's rest
A Sultan to the realm of Death addrest;
The Sultan rises, and the dark Ferrash
Strikes, and prepares it for another Guest.
XLVI.
And fear not lest Existence closing your
Account, and mine, should know the like no more;
The Eternal Saki from that Bowl has pour'd
Millions of Bubbles like us, and will pour.
XLVII.
When You and I behind the Veil are past,
Oh, but the long, long while the World shall last,
Which of our Coming and Departure heeds
As the Sea's self should heed a pebble-cast.
XLVIII.
A Moment's Halt—a momentary taste
Of BEING from the Well amid the Waste—
And Lo!—the phantom Caravan has reach'd
The NOTHING it set out from—Oh, make haste!
XLIX.
Would you that spangle of Existence spend
About THE SECRET—quick about it, Friend!
A Hair perhaps divides the False from True—
And upon what, prithee, may life depend?
L.
A Hair perhaps divides the False and True;
Yes; and a single Alif were the clue—
Could you but find it—to the Treasure-house,
And peradventure to THE MASTER too;
LI.
Whose secret Presence through Creation's veins
Running Quicksilver-like eludes your pains;
Taking all shapes from Mah to Mahi and
They change and perish all—but He remains;
LII.
A moment guessed—then back behind the Fold
Immerst of Darkness round the Drama roll'd
Which, for the Pastime of Eternity,
He doth Himself contrive, enact, behold.
LIII.
But if in vain, down on the stubborn floor
Of Earth, and up to Heav'n's unopening Door,
You gaze TO-DAY, while You are You—how then
TO-MORROW, when You shall be You no more?
LIV.
Waste not your Hour, nor in the vain pursuit
Of This and That endeavor and dispute;
Better be jocund with the fruitful Grape
Than sadden after none, or bitter, Fruit.
LV.
You know, my Friends, with what a brave Carouse
I made a Second Marriage in my house;
Divorced old barren Reason from my Bed,
And took the Daughter of the Vine to Spouse.
LVI.
For "Is" and "Is-not" though with Rule and Line
And "UP-AND-DOWN" by Logic I define,
Of all that one should care to fathom, I
was never deep in anything but—Wine.
LVII.
Ah, by my Computations, People say,
Reduce the Year to better reckoning?—Nay,
'Twas only striking from the Calendar
Unborn To-morrow and dead Yesterday.
LVIII.
And lately, by the Tavern Door agape,
Came shining through the Dusk an Angel Shape
Bearing a Vessel on his Shoulder; and
He bid me taste of it; and 'twas—the Grape!
LIX.
The Grape that can with Logic absolute
The Two-and-Seventy jarring Sects confute:
The sovereign Alchemist that in a trice
Life's leaden metal into Gold transmute;
LX.
The mighty Mahmud, Allah-breathing Lord,
That all the misbelieving and black Horde
Of Fears and Sorrows that infest the Soul
Scatters before him with his whirlwind Sword.
LXI.
Why, be this Juice the growth of God, who dare
Blaspheme the twisted tendril as a Snare?
A Blessing, we should use it, should we not?
And if a Curse—why, then, Who set it there?
LXII.
I must abjure the Balm of Life, I must,
Scared by some After-reckoning ta'en on trust,
Or lured with Hope of some Diviner Drink,
To fill the Cup—when crumbled into Dust!
LXIII.
Of threats of Hell and Hopes of Paradise!
One thing at least is certain—This Life flies;
One thing is certain and the rest is Lies;
The Flower that once has blown for ever dies.
LXIV.
Strange, is it not? that of the myriads who
Before us pass'd the door of Darkness through,
Not one returns to tell us of the Road,
Which to discover we must travel too.
LXV.
The Revelations of Devout and Learn'd
Who rose before us, and as Prophets burn'd,
Are all but Stories, which, awoke from Sleep
They told their comrades, and to Sleep return'd.
LXVI.
I sent my Soul through the Invisible,
Some letter of that After-life to spell:
And by and by my Soul return'd to me,
And answer'd "I Myself am Heav'n and Hell:"
LXVII.
Heav'n but the Vision of fulfill'd Desire,
And Hell the Shadow from a Soul on fire,
Cast on the Darkness into which Ourselves,
So late emerged from, shall so soon expire.
LXVIII.
We are no other than a moving row
Of Magic Shadow-shapes that come and go
Round with the Sun-illumined Lantern held
In Midnight by the Master of the Show;
LXIX.
But helpless Pieces of the Game He plays
Upon this Chequer-board of Nights and Days;
Hither and thither moves, and checks, and slays,
And one by one back in the Closet lays.
LXX.
The Ball no question makes of Ayes and Noes,
But Here or There as strikes the Player goes;
And He that toss'd you down into the Field,
He knows about it all—HE knows—HE knows!
LXXI.
The Moving Finger writes; and, having writ,
Moves on: nor all your Piety nor Wit
Shall lure it back to cancel half a Line,
Nor all your Tears wash out a Word of it.
LXXII.
And that inverted Bowl they call the Sky,
Whereunder crawling coop'd we live and die,
Lift not your hands to It for help—for It
As impotently moves as you or I.
LXXIII.
With Earth's first Clay They did the Last Man knead,
And there of the Last Harvest sow'd the Seed:
And the first Morning of Creation wrote
What the Last Dawn of Reckoning shall read.
LXXIV.
YESTERDAY This Day's Madness did prepare;
TO-MORROW's Silence, Triumph, or Despair:
Drink! for you not know whence you came, nor why:
Drink! for you know not why you go, nor where.
LXXV.
I tell you this—When, started from the Goal,
Over the flaming shoulders of the Foal
Of Heav'n Parwin and Mushtari they flung,
In my predestined Plot of Dust and Soul.
LXXVI.
The Vine had struck a fiber: which about
It clings my Being—let the Dervish flout;
Of my Base metal may be filed a Key
That shall unlock the Door he howls without.
LXXVII.
And this I know: whether the one True Light
Kindle to Love, or Wrath consume me quite,
One Flash of It within the Tavern caught
Better than in the Temple lost outright.
LXXVIII.
What! out of senseless Nothing to provoke
A conscious Something to resent the yoke
Of unpermitted Pleasure, under pain
Of Everlasting Penalties, if broke!
LXXIX.
What! from his helpless Creature be repaid
Pure Gold for what he lent him dross-allay'd—
Sue for a Debt he never did contract,
And cannot answer—Oh the sorry trade!
LXXX.
Oh Thou, who didst with pitfall and with gin
Beset the Road I was to wander in,
Thou wilt not with Predestined Evil round
Enmesh, and then impute my Fall to Sin!
LXXXI.
Oh Thou, who Man of baser Earth didst make,
And ev'n with Paradise devise the Snake:
For all the Sin wherewith the Face of Man
Is blacken'd—Man's forgiveness give—and take!
________________________________________
LXXXII.
As under cover of departing Day
Slunk hunger-stricken Ramazan away,
Once more within the Potter's house alone
I stood, surrounded by the Shapes of Clay.
LXXXIII.
Shapes of all Sorts and Sizes, great and small,
That stood along the floor and by the wall;
And some loquacious Vessels were; and some
Listen'd perhaps, but never talk'd at all.
LXXXIV.
Said one among them—"Surely not in vain
My substance of the common Earth was ta'en
And to this Figure molded, to be broke,
Or trampled back to shapeless Earth again."
LXXXV.
Then said a Second—"Ne'er a peevish Boy
Would break the Bowl from which he drank in joy;
And He that with his hand the Vessel made
Will surely not in after Wrath destroy."
LXXXVI.
After a momentary silence spake
Some Vessel of a more ungainly Make;
"They sneer at me for leaning all awry:
What! did the Hand then of the Potter shake?"
LXXXVII.
Whereat some one of the loquacious Lot—
I think a Sufi pipkin—waxing hot—
"All this of Pot and Potter—Tell me then,
Who is the Potter, pray, and who the Pot?"
LXXXVIII.
"Why," said another, "Some there are who tell
Of one who threatens he will toss to Hell
The luckless Pots he marr'd in making—Pish!
He's a Good Fellow, and 'twill all be well."
LXXXIX.
"Well," murmured one, "Let whoso make or buy,
My Clay with long Oblivion is gone dry:
But fill me with the old familiar Juice,
Methinks I might recover by and by."
XC.
So while the Vessels one by one were speaking,
The little Moon look'd in that all were seeking:
And then they jogg'd each other, "Brother! Brother!
Now for the Porter's shoulders' knot a-creaking!"
________________________________________
XCI.
Ah, with the Grape my fading life provide,
And wash the Body whence the Life has died,
And lay me, shrouded in the living Leaf,
By some not unfrequented Garden-side.
XCII.
That ev'n buried Ashes such a snare
Of Vintage shall fling up into the Air
As not a True-believer passing by
But shall be overtaken unaware.
XCIII.
Indeed the Idols I have loved so long
Have done my credit in this World much wrong:
Have drown'd my Glory in a shallow Cup,
And sold my reputation for a Song.
XCIV.
Indeed, indeed, Repentance oft before
I swore—but was I sober when I swore?
And then and then came Spring, and Rose-in-hand
My thread-bare Penitence apieces tore.
XCV.
And much as Wine has play'd the Infidel,
And robb'd me of my Robe of Honor—Well,
I wonder often what the Vintners buy
One half so precious as the stuff they sell.
XCVI.
Yet Ah, that Spring should vanish with the Rose!
That Youth's sweet-scented manuscript should close!
The Nightingale that in the branches sang,
Ah whence, and whither flown again, who knows!
XCVII.
Would but the Desert of the Fountain yield
One glimpse—if dimly, yet indeed, reveal'd,
To which the fainting Traveler might spring,
As springs the trampled herbage of the field!
XCVIII.
Would but some winged Angel ere too late
Arrest the yet unfolded Roll of Fate,
And make the stern Recorder otherwise
Enregister, or quite obliterate!
XCIX.
Ah Love! could you and I with Him conspire
To grasp this sorry Scheme of Things entire,
Would not we shatter it to bits—and then
Re-mold it nearer to the Heart's Desire!
C.
Yon rising Moon that looks for us again—
How oft hereafter will she wax and wane;
How oft hereafter rising look for us
Through this same Garden—and for one in vain!
CI.
And when like her, oh Saki, you shall pass
Among the Guests Star-scatter'd on the Grass,
And in your joyous errand reach the spot
Where I made One—turn down an empty Glass!



Hatiku selembar daun...

Djakarta

Cerpen Pramoedya Ananta Toer
September 18, 2008, 1:53 pm
Diarsipkan di bawah: Gang Rumah Para Cerpenis





Djakarta

Cerpen Pramoedya Ananta Toer




Almanak Seni 1957

Sekarang tiba gilirannja: dia djuga mau pergi ke Djakarta.

Aku takkan salahkan kau, mengapa kau ingin djadi wargakota Djakarta pula. Besok atau lusa keinginan dan tjita itu akan timbul djuga. Engkau di pedalaman terlampau banjak memandang ke Djakarta. Engkau bangunkan Djakarta dalam anganmu dengan segala kemegahan jang tak terdapat di tempatmu sendiri. Kau gandrung padanja. Kau kumpulkan tekat segumpil demi segumpil.

Ah, kawan, biarlah aku tjeritakan kau tentang Djakarta kita.

Tahun 1942 waktu untuk pertama kalinja aku indjak tanah ibukota ini, stasiun Gambir dikepung oleh del­man. Kini delman ini telah hilang dari pemandangan kota —hanja tudjubelas tahun kemudian! Betjak jang menggantikannja. Kuda-kuda diungsikan ke pinggiran kota. Dan kemudian: manusia-manusia mendjadi kuda dan sopirnja sekali: begini tidak ada ongkos pem­beli rumput! Inilah Djakarta. Demi uang manusia se­dia djadi kuda. Tentu sadja kotamu punja betjak djuga tetapi sudah djadi adat daerah meniru kebobrokan ibu­kota.

Bukan salah manusia ini, kawan. Seperti engkau djuga, orang-orang ini mengumpulkan tekat segumpil demi segumpil­ perawan-perawan sawah, ladang dan pegunungan, buruh-buruh tani, petani-petani sendiri jang bidang tanahnja telah didih di dalam perasaannja, warga-warga dusun jang dibuat porak poranda oleh gerombolan, peladjar-peladjar jang hendak meneruskan peladjaran, djuga engkau sendiri —dan dengan penuh kepertjajaan akan keindahan nasib baik di ibukota.

Kemudian bila mereka sampai di Djakarta kita ini, perawan-perawan pedalaman jang datang kemari sekedar tjari makan, dia dapat makan, lupa tjari makan, dia kepingin kesenangan, dan tiap malam berderet di­ depan gedung tempat kerdjanja masing-masing. Pria tidak semudah itu mendapat pekerdjaan, dan achirnja mendjadi kuda. Beberapa bulan kemudian paha para pria ini mendjadi begitu penuh sesak dengan otot jang ter­lampau banjak dipaksa kerdja. Tiap minggu mereka menelan telur ajam mentah. Dan djalan raja memberinja kemerdekaan penuh. Bila datang bahaja ia lepas betja berdjalan sendirian, dan ia melompat ke kaki lima. Djuga tanggung djawab delman hilang di tangan kuda-kuda ini. Beberapa tahun kemudian ia ‘ngedjengkang’ di balenja karena djantungnja mendjadi besar, desakan darahnja meninggi: ia invalid —puluhan! ratusan ribu! kembali ke kampung sebagai sampah. Bila ada kekajaan, adalah kekajaan membual tentang kepele­siran. Tetapi untuk selama-lamanja ia telah mati, su­dah lama mati. Djumlah kurban ini banjak daripada kurban revolusi bakalnja.

Djadi engkaupun ingin djadi warga Djakarta!

Djadi engkaupun ingin djadi sebagian kegalauan ini.

Dari rumah masing-masing orang bertekat mentjari uang di Djakarta. Djuga orang-orang daerah jang kaja mengandung maksud: ke Djakarta —hamburkan uang­nja. Dan djuga badjingan-badjingan daerah: ke Dja­karta —menangguk duit. Demi duit ini pula Djakarta bangun. Sebenarnja sedjak masuknja kompeni ke Dja­karta, Djakarta hingga kini belum djuga merupakan kota, hanja kelompokan besar dusun. Hingga sekarang. Tidak ada tumbuh kebudajaan kota jang spesifik, semua dari daerah atau didatangkan dan diimport dari luar negeri: dansa, bioskop, pelesiran, minuman keras dan agama, berbagai matjam agama.

Aku lupa, bahwa kau datang hendak kemari untuk beladjar. Tetapi barangkali patut pula kau djadikan ke­nangan, pusat beladjar daerah kita adalah Djakarta. Tetapi sungguh aku sesalkan, bahwa Djakarta kita bu­kanlah pusat beladjar jang mampu menjebabkan para mahasiswa ini mendjadi perspektif kesardjanaan Indonesia di kemudian hari. Sisa-sisa intelektualisme karena gebukan balatentara Dai Nippon kini telah bangkit kembali dengan hebatnja. Titel akademi jang diperoleh tiap tahun beku dikantor-kantor, dan daerah­mu tetap gersang menginginkan bimbingan. Dan bimbingan itu masih tergantung-gantung djauh di ang­kasa biru. Semua orang asing, dengan warna politiknja masing-masing, jang memberi kauremah-remah dari­pada kekajaan kita terbaik jang diisapnja.

Aku tahu, engkau orang daerah, orang pedalaman memdewakan pemimpin-pemimpinmu, tetapi aku lebih dekat pada kenjataan ini. Aku tahu engkau berteriak­-teriak tentang perekonomian nasional, tetapi basis ke­hidupan jang didasarkan atas perdagangan eksport, bukan sadja typis negara agraria, djuga negara kolonial. Sepandjang sedjarah negara-negara petani mendjadi negeri djadjahan, dan tetap mendjadi negeri djadjahan.

Dan bukankah petani-petani daerahmu masih tetap hamba-hamba di djaman Madjapahit, Sriwidjaja atau Mataram? Siang kepunjaan radja, malam kepunjaan durdjana! Dan radja di djaman merdeka kita ini ada­lah naik-turunnja harga hasil pertaniannja sendiri. Se­dang durdjananja tetap djuga durdjana Madjapahit, Sriwidjaja dan Mataram jang dahulu: perampok, pen­tjuri, gerombolan, pembunuh, pembegal.

Djadi beginilah, kawan. Djakarta merupakan impian orang daerah. Semua ingin ke Djakarta. Tapi Djakarta sendiri hanja kelompokan besar dusun, bahkan bahasa perhubungan jang masak tidak punja. Anak-anak men­djadi terlampau tjepat masak, karena baji-baji, kanak­-kanak dan orangtuanja digiring ke dalam ruangan­-ruangan jang teramat sempit sehingga tiap waktu me­reka bergaul begitu rapat. Masalah orangtua tak ada jang tabu lagi bagi kanak-kanak. Kewibawaan orangtua men­djadi hilang, dan segi-segi jang baik daripada perhubungan antara orangtua dan anak dahulu, kini mendjadi tum­pul. Agama telah mendjadi gaja kehidupan, bukan perbentengan rohani jang terachir. Aku tjeritai kau, kemarin anakku jang paling amat besar enam umurnja, bertjerita: Orang-orang ini dibuat Tuhan. Tapi apakah randjang ini dibuat olehNja djuga? Ia pandangi aku. Waktu kutanjakan kepadanja bagajmana warna Tuhan: hitam ataukah merah? Ia mendjawab Putih! Ia pilih warna jang tidak mengandung interpretasi, tidak di­warnai oleh pretensi. Sebaliknja kehidupan Djakarta ini—dan barangkali patut benar ini kau ketahui: penuh-sesak dengan interpretasi dan pretensi ini. Di­ segala lapangan! Lebih mendjengkelkan daripada itu: tiap-tiap orang mau mendesakkan kepunjaannja masing-­masing kepada orang lain, kepada lingkungannja. Sungguh-sungguh tiada tertanggungkan. Barangkali kau pernah peladjari sedjarah kemerdekaan berpikir. Bila demikian halnja kau akan dikutuki tjelaka.

Tetapi djangan kaukira, bahwa kegalauan ini ber­arti mutlak. Barangkali adanja kegalauan ini hanjalah suatu salahharap daripadaku sebagai perseorangan. Aku seorang pengarang, dan pengarang di masa kita ini, terutama di ibukota kita, adalah sematjam kerbau jang salah mendarat di tanah tandus. Setidak-tidaknja kega­lauan ini memberi rahmat djuga bagi golongan-golongan terten­tu, terutama bagi para pedagang nasional, jakni jang berdjualbelikan kenasionalan tanah-airnja dan dirinja. Mungkin engkau tidak setudju. Tetapi barangkali lebih baik demikian. Sungguh lebih menjenangkan bagimu bila masih punja pegangan pada kepertjajaan akan kebaikan segala jang dimiliki oleh tanah-airmu dalam segala segi dan variasinja. Kami golongan pengarang, biasanja tiada lain daripada tenaga penentang, golongan opposisi jang tidak resmi. Resmi: pengarang. Tidak resmi: opposisi periuk terbaik! Dengan sendi­dirinja sadja begitu, karena kami bitjara dengan selu­ruh ada kami, kami hanja punja satu moral. Itu pula sebabnja, bila kami tewas, tewas setjara keseluruhan. Bukannja tewas di moral jang pertama, tetapi mendjadi tambun di moral jang keempat! mendjadi melengkung di moral jang ketiga!

Aku kira terlampau djauh lantaranku ini. Padamu aku mau bitjara tentang Djakarta kita.

Sekali waktu di suatu peristiwa, Omar pernah bitjara dengan sombongnja: Bakar semua chazanah, karena segalanja telah termaktub di dalam Qur’an! Permun­tjulan jang grandiues tapi tak punja kontour-kontour kenjataan ini adalah gambaran kedjiwaan Djakarta: rentjana-rentjana besar, galangan-galangan terbesar di Asia Tenggara, tugu terbesar di Asia, kemerosotan mo­ral terbesar! segala terbesar. Tapi tak ada sekrup, tak mur, tak ada ada drat, tak ada nipple, tak ada naaf, tak ada inden dan ring pada permesinan semua ini.

Sekali waktu disuatu peritiwa, Pascal mentjatat di­ dalam bukunja: Manusia hanja sebatang rumput, teta­pi rumput jang berakal budi. Dan rumput ini adalah golongan jang mempunjai kesadaran tanpa kekuasaan, terindjak dan termakan. Jang lahir, kering dan mati dengan diam-diam. Namun mendjadi permulaan dari pada kehidupan, seperti jang disaksikan oleh Schweit­zer, serta risalah Kan Ying Pien.

Berbagai matjam angkatan tjampur-baur mendjadi satu, seperti sambal jang menerbitkan satu rasa, tetapi dengan teropong masih djelas nampak perpisahan an­tara bagian satu dengan jang lain. Namun pentypean sematjam jang tegakkan oleh Remarque tidak memper­lihatkan diri.

Barangkali engkau keberatan dengan kata-kataku itu. Tetapi memang demikian. Tjobalah ikuti tulisan-tulisan angkatan demi angkatan. Angkatan jang muda mentja­tji jang tua, jang muda ditjatji oleh jang lebih muda. Tetapi, kata Ramadhan KH jang pernah aku dengar, angkatan muda ini bila diberi kesempatan, dia kehilangan segala proporsi dan lemih mendjadi badut lagi. Artinja badut di lingkungan badut. Tokoh-tokoh pemi­kiran mengetengahkan Wulan Purnomosidhi dan Ada­ tidaknja Tuhan, di dalam kekatjauan sosiologis, ekono­mis dan politis, kultural dan intertual! Apakah kita mesti ikut pukul kaleng untuk membuat segala ini men­djadi bertambah ramai? Sedang anak-anak murid ini telah demikian goiat dengan membanggakan pengeta­huannja tentang para tjabul dan ‘rakjat ketjil’ plus sa­duran Toto Sudarto Bahtiar Tjabul Terhormat karang­an Sartre? Plus Margaretta Gouthier saduran Hamka dari Alexander Dumas Jr. Hamka? ja Hamka.

Achirnja, seperti kata A.S. Dharta, orang-orang da­tang dan berkumpul ke Djakarta, mendjadi warga Dja­karta, untuk mempertjepatkan keruntuhan kelompokan besar dusun ini. Tambah banjak jang datang tambah tjepat lagi.

Selagi aku belum djadi penduduk Djakarta, dambaanku mungkin seperti kau punja. Impian jang indah, bajangan pada pembangunan hari depan. Diri masih pe­nuh diperlengkapi kekuatan, kemampuan dan kepertja­jaan diri. Barangkali bagimu segala itu lebih keras lagi. Karena di daerah bertiup angin: orang takkan djadi warganegara jang 100% sebelum melihat Djakarta de­ngan mata kepala sendiri.

Barangkali engkau akan bertanja kepadaku, mengapa tak djuga menjingkirkan diri dari Djakarta! Ah, kau. Golongan kami adalah sematjam kerbau jang mendarat di tanah tandus. Golongan kami reaksioner di lapangan penghidupan. Sekalipun tandusnja penghidupan golong­an kami, djustru Djakartalah jang bisa memberi, seka­lipun hanja remah-remah para pedagang nasional, atau petani pasar minggu. Tambah lama nasi jang sepiring harus dibagi dengan empat-lima anak-anaknja. Dan anak-anak ini akan mengalami masa kehilangan masa kanak-kanak, masa kanak-kanaknja sendiri. Kanak-kanak Djakarta jang tak punja lapangan bergerak, tak punja lapangan bermain, tak punja daerah perkem­bangan kedjiwaan, menjurus dari gang dan got, membunuh tiap marga-satwa jang tertangkap oleh matanja. Katak dan ketam dan belut dan burung mengalami lik­widasi, di Djakarta! Tetapi njamuk meradjalela, dan tjitjak dan sampah. Djuga mereka ini hidup di alam ketaksenangan. Taman-taman hanja di daerah Menteng dan perkampungan baru. Engkau tahu, djadi orang apa ka­nak-kanak sematjam ini djadinja di kemudian hari.

Engku tahu, ada pernah dibisikkan kepadaku: da­erah jang punja taman adalah lahir dan berkembang karena telah menghisap darah daerah jang tak punja taman. Tentu sadja bisikan ini konsekwensi daripada prinsip perdjuangan kelas. Barangkali engkau tak setu­dju, karena ini membawa-bawa politik atau pergeseran kemasjarakatan jang berwarna politik atau politik ekonomi. Mungkin djuga hanja suatu kedengkian jang tak sehat. Tapi apakah jang dapat kauharapkan dari suatu masjarakat dimana sebahagian besar warganja hidup dalam suasana tak senang, tak ada pegangan, tak ada kepertjajaan pada haridepan! Sedang para pedagang nasional djuga tak punja haridepan, karena kemanisan jang diperolehnja harikini diisapnja habis harikini pula, untuk dirinja sendiri tentu, atas nama kenaikan harga tentu, sehingga mereka mendjadi para turis di daerah kehidupannja sendiri.

Segala jang buruk berkembang-biak dengan mantiknja di Djakarta ini. Segi-segi kehidupan amatlah runtjing­nja dan melukai orang jang tersinggung olehnja. Tetapi wargakota jang sebelum proklamasi bersikap apatis ­— apatisnja seorang hamba — kini kulihat apatisnja orang merdeka dengan djiwa hambanja. Bukan penghinaan, sekalipun suatu peringatan itu kadang-kadang terasa

sebagai penghinaan. Di dalam kehidupan jang tidak menjenangkan apakah jang tak terasa sebagai penghi­naan! Dan tiap titik jang menjenangkan dianggap pudjian, atau setidak-tidaknja setjara subjektif: penga­kuan dari pihak luaran akan kesamaan martabat dengan orang atau bangsa jang memang telah merdeka dan tahu mempergunakan kemerdekaannja. Barangkali engkau menghendaki ketegasan utjapan ini. Baiklah aku tegaskan kepadamu: memang wargakota belum lagi 25% bertindak sebagai bangsa merdeka. Anarki ketjil­-ketjilan, sebagaimana mereka dahulu dilahirkan dalam lingkungan jang serba ketjil-ketjil pula: buang sam­pah digot! bandjir tiap hudjan akibatnja; pendudukan tanah orang lain jang disadari benar bukan tanahnja sendiri menurut segala hukum jang ada, sekalipun sah menurut hukum jang dikarang-karangnja sendiri: ketimpangan hak tanah adalah ketimpangan penghidupan, kehidupan dan kesedjahteraan sosial. Mengapa? Kare­na besok atau lusa tiap orang dapat didorong keluar dari rumah dan pekarangannja sendiri-sendiri. Kedjo­rokan dan kelalaian jang dengan langsung menudju ke pelanggaran ketertiban bersama. Dan djalan-djalan raja serta segala matjam djalanan umum mendjadi me­dan permainan Djibril mentjari mangsa. Djuga ini akibat hati orang tidak senang. Bawah sadarnja bilang: dia tak dilindungi hukum — dia, baik jang melanggar maupun jang dilanggar.

Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.

Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem­populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup­an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna­sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji­-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke­gagalan revolusi Perantjis.

Barangkali kau menjesalkan pandanganku jang pessimistis.

Akupun mengerti keberatanmu. Asal sadja kau tidak lupa: sekian tahun merdeka ini belum lagi bitjara apa-apa bagi mereka jang tewas dalam babak pertama revolusi kita. Kalau Anatole France bitjara tentang iblis-iblis jang haus akan darah di masa pemerintahan pergulingan itu, aku bisa djuga bitjara tentang iblis-­iblis jang haus akan kurban, akan kaum invalid peng­hidupan dan kehidupan. Dan bila kurban-kurban dan kaum invalid penghidupan dan kehidupan ini merasa tak pernah dirugikan, itulah tanda jang tepat, bahwa iblis itu telah lakukan apa jang dinamai zakelijkheid dengan pintarnja. Dan bila iblis-iblis ini tetap apa jang biasa dinamai badjingan.

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan zakelijkheid!

Ini bukanlah jang kita kehendaki dengan kehidupan kesardjanaan! kepriajian dan perdagangan!

Sardjana adalah kompas kita, ke mana kita harus pergi mentjari pegangan dalam lalulintas kebendaan di kekinian dan dimasa-masa mendatang. Sardjanamu, sardjanaku, wartawanmu, wartawanku, politisimu, politisiku, melihat adanja kesumbangan, dan: titik, stop. Djuga seperti turis di dalam gelanggang kehidup­annja sendiri.

Barangkali, engkaupun akan menuduh mengapa aku tak berbuat lain daripada mereka. Tetapi akupun tahu, bahwa engkau tidak melupakan sjarat ini: ke­kuasaan. Kekuasaan ini akan ditelan lahap-lahap oleh tiap orang, tetapi tidak tiap orang tahu tjaranja men­dapatkan dan menelannja. Sematjam kutjingmu sen­diri. Sekalipun sedjak lahir kauberi nasi tok, sekali waktu bila ditemukannja daging akan dilahapnja djuga. Djadi kau sekarang tahu segi-segi gelap dari ibukota kita ini. Segi-segi jang terang aku tak tahu samasekali, karena memang hal itu belum lagi diwahjukan kepada­ku, baik melalui inderaku jang lima-limanja ataupun jang keenam. Tetapi aku nasihatkan kepadamu, dalam masa kita ini, djanganlah tiap hal kauanggap mengan­dung kebenaran 100%, dengan menaksir duapuluh prosen pun kau kadang-kadang dihembalang keketje­waan. Djuga demikian halnja dengan uraianku ini.

Aku tahu, engkau seorang patriot dalam maksud dan djiwamu, karena engkau orang daerah jang djauh dari kegalauan kota besar, kumpulan besar dusun ini. Eng­kau akan berdjasa bila bisa membendung tiap orang jang hendak melahirkan diri dari daerahnja hendak memadatkan Djakarta. Tinggallah di daerahmu. Buat­lah usaha agar tempatmu mempunjai sekolah mene­ngah atas sebanjak mungkin. Dan buatlah tiap sekolah menengah atas itu mendjadi bunga bangsamu dike­mudianhari: djadi sumber kegiatan sosial, sumber ke­sedaran politik setjara ilmu, sumber kegiatan pentjip­taan dan latihan kerdja. Pernah aku beri tjeramah di kota kelahiranku dua tahun jang lalu: mobilisasilkan tiap murid ini untuk berbakti pada masjarakatnja, untuk beladjar berbakti, untuk membelokkannja daripada intelektualisme jang hanja mengetahui tanpa ketjakapan mempergunakan pengetahuannja. Apa ilmu pasti jang mereka terima itu bagi kehidupannja di kemudianhari bila tidak berguna ?

Djangan kausangka, aku hendak mendiktekan kema­uanku sendiri. Aku kira aku telah tjukup tua untuk menjatakan semua ini kepadamu—engkau jang ku­harapkan djadi pahlawan pembangun daerahmu. Djuga engkau ada merendahkan petani, karena engkau lahir dari golongan prijaji—pendjadjah petani sepandjang sedjarah pendjadjahan: Djepang, Belanda, Inggris, Mataram, Madjapahit, Sriwidjaja, Mataram dan kera­djaan-keradjaan perompak ketjil jang tidak mempunjai tempat chusus di dalam sedjarah.

Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit­nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah­airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !

Kita mesti kerdja.

Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba­gaimana mesti ia terima ?

Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer­dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se­bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men­tjontoh kefatalan di sini.

Kawan, sekianlah.

Djakarta, 17-XII-1955.


Source:
http://kandangpadati.wordpress.com/2008/09/18/cerpen-pramoedya-ananta-toer/



Hatiku selembar daun...

Tai Lalat

Tai Lalat

(Cerita ulang tahun untuk sahabat Bob Hering)

Pramoedya Ananta Toer

Ada sidikjari, tapi jarang disebut tentang sidikwajah. Dan tailalat tak lain dari bagian sidikmuka. Yang akan kuceritakan padamu bukan tailalat tunggal, tapi kembar, simetrik mengapit batang hidung. Dan itulah satu-satunya yang pernah kulihat dalam hidupku. Awal tahun 1946.

Sebagai pembantu-letnan aku mendapat perintah mengerahkan seksiku menyambut kedatangan serombongan tamu. Di stasiun Cikampek. Hari, tanggal, dan bulan, sudah tak dapat kuingat, setidak-tidaknya sekitar jam 10 pagi.

Keretapi dari Jakarta masuk. Tak ada rombongan tamu yang turun berbondong dari kereta api. Penumpang-penumpang lain turun dan segera meninggalkan perron. Seorang-dua turun, berdiri tenang-tenang di samping gerbong. Salah seorang kudekati. Nah, itulah, tailalat kembar mengapit batang hidungnya, hidung pribumi asli.

“Dari Jakarta, Pak?”, ia hanya tersenyum manis. “Mau ke mana?”

“Yogya.”

“Dalam rombongan?”

“Tidak salah.”

“Tujuan?” ia awasi senjatapi pada pinggangku, mengangguk-angguk, kemudian menepuk-nepuk punggungku.

“Indah ya, sangat indah, usia muda, semua bisa menangani,” ia mengangguk-angguk ria, “bagus, teruskan apa yang telah kami gagal melakukan. Dulu.”

“Apa yang telah gagal Bapak lakukan?”

“Berontak untuk merdeka. Dan kalian, anak-anak muda, sudah bikin tanahair ini merdeka. Tinggal mempertahankan dan mengisinya.”

Mendadak ia menyerang aku dengan pelukan dan ciuman. Keramahannya lenyap. Kurasai airmata menetesi wajahku. Peluit kepala setasiun mengatasi suara hiruk-pikuk setasiun.

“Kami dari rombongan Digulis, dari Australia. Selamat, nak, selamat, kita akan bertemu di tempat lain.”

Ia ciumi lagi aku. Menepuk bahuku, dan melompat naik ke dalam gerbong. Kereta berangkat. Belum lagi sempat kuketahui namanya....

Kembali ke markas resimen kulaporkan, tugas telah selesai kulakukan. Mayorku bangkit dari kursi, melotot, hanya tidak membentak:

“Goblok. Tugas segampang itu tidak mampu kau lakukan. Belajar kau menghargai para pejuang. Selesai!”

Setelah memberi hormat dan balik-kanan-jalan terdengar bentakan dalam diriku sendiri: Goblok! Sebelumnya tak kau katakan, kan, siapa mereka? Tempat tujuan juga bukan Cikampek, kan? Yogya! Ai, bapak tailalat kembar.

Dua puluh tahun telah lewat. Sekarang bukan di medan bebas, apalagi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Sekarang di rutan, rumah tahanan. Salemba di Jakarta.

Sekali di bulan November 1966 datang rombongan tahanan baru, pindahan dari penjara Cipinang, Jakarta juga. Barang tujuh orang. Ha? Salah seorang bertailalat kembar, mengapit batang hidung. Dia? Tak semudah itu menjawab tekateki itu. Pribadi dan rombongan baru harus menjalani kucilan. Sampai berapa hari atau minggu, itu tergantung para penguasa penjara. Nyatanya ia dan rombongannya mendekam di blok E, blok hukuman untuk tapol. Dari blok K, tempatku dikurung, setiap hari kulihat ia dan rombongannya digiring keluar blok E ke ruang pemeriksaan. Bila balik ke bloknya ada saja di antara mereka yang terpincang-pincang, atau dipapah, atau dengan muka lebam, atau mencekam bagian-bagian tubuh yang habis jadi landasan benda tumpul. Dan si tailalat kembar? Sekali waktu terlihat ia kembali ke blok dengan menyeret kaki kanannya. Pemandangan biasa.

Berapa umurnya? Dalam duapuluh tahun belakangan ini memang ada sejumlah tulisan tentang Digul yang kubaca. Jadi kuperkirakan ia dibuang ke Digul dan Australia selama 13 tahun, jadi 43 usianya. Ditambah dengan 20 tahun masa kemerdekaan nasional dan ketiadaan kemerdekaan pribadi sekarang jadi 63 tahun. Patut kalau kekuatannya tidak seutuh tahun 1946 dulu.

Tetap tidak semudah itu menemuinya. Memang semua tapol berhimpun sewaktu appel. Barisan-barisan yang disusun menurut blok masing-masing membuat orang sulit dapat bertemu dengan orang dari blok lain. Setelah appel selesai barisan kembali ke blok masing-masing.

Sebulan kemudian ia dipindahkan dari blok E ke blok L, bersebelahan dengan blokku. Tiga hari kemudian masih juga tak dapat aku bicara dengannya. Pada hari keempat ia meninggalkan blok L menuju ke ruang pemeriksaan.

Sengaja aku tunggu ia pulang. Umur 63 tahun. Dan penganiayaan apa lagi harus ia deritakan?

Ha? Ia pulang ke blok tanpa cedera. Wajahnya ceria, dan, tersenyum panjang, mata nyapu tanah. Sebelum memasuki blok ia tebarkan pandang ke seluruh dan semua blok yang mengelilingi tanah lapang penjara.

Ha? Seorang petugas datang ke bloknya dan membawanya ke kantor pimpinan penjara. Dan sejak itu ia tak pernah kelihatan lagi. Pindah ke penjara lain? Mungkin dibebaskan karena usianya yang sudah lanjut. Mungkin.... Nyatanya tidak. Seorang tapol blok L yang dipindahkan ke blok K jadi saksi karena ia termasuk rombongan yang dipindahkan kemari dari penjara Cipinang.

Si tailalat kembar punya pendapat: ia tak punya kepercayaan pada daya administrasi tuan-tuan baru ini. Ia hendak menguji ketidakpercayaannya. Setelah dipindahkan ke blok L, waktu selesai appel, ia minta pada petugas supaya diinterogasi, karena, katanya, ia belum pernah diperiksa selama ini. Itu sebabnya ia keluar dari bloknya, sendirian, ke ruang permeriksaan. Di sana ia menggunakan nama lain, dan, mengaku pekerjaannya mencari beling di sampahan. (Waktu itu belum dipergunakan kata: pemulung). Ia lulus ujian: punya nama lain dan bebas.

Setelah itu tak ada kabar-beritanya. Seluruh dan semua tapol sibuk dengan kelaparan masing-masing. Tanpa diduga ulah si tailalat membangkitkan inspirasi pada tapol-tapol muda lain. Dengan diam-diam tentu. Dan, tiga tapol muda suatu hari lolos melarikan diri. Seorang di antaranya nampaknya anak Jakarta yang tak pernah keluar dari kotanya. Ia kedapatan sedang nongkrong di pinggir jalan raya menjajakan durian dalam dua keranjang bambu. Tertangkap, dan masuk lagi ke rutan Salemba. Tentu saja setelah melewati penganiayaan. Beberapa lainnya yang dipindahkan ke penjara di Tangerang, juga melarikan diri dan tak pernah tertangkap.

Kemudian seorang lagi melarikan diri melalui gorong-gorong. Waktu selnya diperiksa kedapatan beberapa lembar kertas bertuliskan tangan. Karena soalnya tulisan aku yang dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.

Tulis apa saja maunya, perintah petugas di kantor pimpinan rutan. Ia berikan beberapa lembar kertas dan ballpoint. Aku menulis apa saja. Tulisan tegak, perintahnya. Waktu ia datang lagi perintahnya berubah: tulisan miring. Setelah itu: tulisan bebas. Dan akhirnya: cukup! Aku boleh kembali ke blok. Tidak ada apa-apa lagi. Artinya: miring, tegak, atau pun bebas, tulisan yang tertinggal di sel pelarian itu tak ada kesamaannya dengan tulisan tanganku.

Juli 1969 tapol Salemba dipindahkan ke Nusa Kambangan. Sebulan kemudian dikapalkan ke Buru. Dalam kapal para tapol dari seluruh penjara di Jawa dapat bertemu dan berkenalan. Seorang dari Pacitan nampaknuya berminat untuk berkenalan. Sidikwajahnya bukan tailalat. Hanya garis lurus dari ujung atas telinga sampai dagu. Bekas sayatan senjata tajam. Yang seperti itu bukan sesuatu untuk dibicarakan manusia tapol-nya tuan-tuan baru. Setiap orang telah diberi ijasah bekas luka. Dalam masa kerjapaksa di Buru ia menempati Unit I, aku III. Jadi hanya sekali-dua kami dapat bertemu sampai 1978 atau 9 tahun kerjapaksa. Pada tahun itu ia dibebaskan. Dan karena sidikwajahnya ia tidak memilih Pacitan sebagai tempat tinggal, tapi Jakarta.

Tiga tahun setelah aku sendiri dibebaskan dari Buru pada 1979 akhir tanpa kuduga aku bertemu dengan teman dari Pacitan itu. Sekitar hampir jam 5 pagi. Jalan-jalan masih senyap. Yang lalu-lalang hanya sejumlah pelari pagi, termasuk tubuhku. Seorang pemulung sedang duduk di bangku beton menghadapi keranjang sampahnya. Ia tersenyum ramah waktu kudekati. Dan kata-katanya yang mengiris jantungku terdengar.

“Maaf, untuk orang seperti aku ini tidak memerlukan lari pagi.”

Ia harus kerja maka pembicaraan panjang membuatnya gelisah. Dan ternyata ia tinggal di ladang sampah Jalan Raya Pramuka. Sebuah kotak triplek dan seng adalah rumahnya, ditinggalinya bersama seorang kakek, juga pemulung. Hanya beberapa ratus meter dari halte bus tempat kami bercengkerama.

“Kakek lebih siang berangkatnya. Jera digonggong dan disalaki anjing dalam kesepian subuh. Tahu apa dia bilang tentang anjing Jakarta? Kesadaran klasnya cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari tuannya, semua para tuan.”

“Dia bekas tapol?”

“Ya, tapol Salemba, katanya. Lolos pada tahun kedua, katanya.”

“Hari libur sajalah,” kataku. Aku sodorkan uang penggantinya.

Ia nampak agak tenang. Memang tak kutunggu ucapan terima kasihnya yang memang tak pernah ia ucapkan.

“Ia juga dari Pacitan?”

“Bukan, Kebumen.”

“Siapa namanya?”

“Namanya tidak penting. Jangan dibikin dia jadi lebih sulit lagi. Lebih dari tiga perempat hidupnya dia jadi sasaran penindasan.”

“Kalau tertindas lebih dari tiga perempat hidupnya artinya dia bekas Digulis.”

Ia pura-pura tidak dengar.

“Mari sarapan di rumahku.”

“Terimakasih banyak. Lebih baik jangan.”

“Atau kita ke rumahmu? Kan dekat saja?”

“Perjanjian antar kami, aku dan kakek: tidak menerima tamu siapa pun.”

“Mengerti, mengerti. Kalian memang perlu mencurigai siapa pun.”

“Jangankan orang-orang seperti kami. Pemuda-pemuda yang menyorong kemungkinan Proklamasi saja, di mana mereka semua sekarang? Hanya satu saja yang lolos, pernah jadi wakil presiden pula. Dan proklamatornya sendiri, bagaimana pula nasibnya?”

Ia keluarkan uang pemberian dari saku, menghitungnya, dan separoh ia kembalikan.

“Silakan teruskan lari pagi.”

“Satu pertanyaan lagi: apa si kakek punya tailalat di kiri dan kanan batang hidungnya?”

Dalam keremangan subuh nampak ia melotot, suaranya parau: “Jadi bung kenal dia? Maaf saja, lupakan pertemuan ini. Anggap tak pernah terjadi.”

Ia bangkit dan pergi dengan keranjang sampah dari bambu tergantung di belakang punggung.

Tepat jam 10 pagi setelah membaca koran dan menyelesaikan kerja kliping, aku bergegas setengah lari ke ladang sampah jalan raya Pramuka. Ada beberapa kotak triplek dan seng. Satu di antaranya dalam keadaan terbalik. Sikap teman Pacitan itu memberi petunjuk, kotak terbalik itulah rumahnya bersama si kakek. Mereka memang tak mau ditemui dan dikenal.

Dia tak ingin dikenal oleh siapa pun. Baiklah. Maafkan aku. Dan tidak lebih dari sebulan kemudian lewat di depan rumahku seorang pemulung muda, dengan keranjang bambu pada punggung dan besi beton pembalik sampah pada tangan kanannya. Ia berjalan bimbang dengan pandangan menyisiri pinggiran jalan tempat parade tong dan kotak sampah pemukiman. Lain dari para pemulung lain ia berpakaian sobek-sobek dan dekil. Buru-buru aku masuk rumah, mengambil keranjang tempat pakaian bekas dan kuberikan padanya.

“Terimakasih,” ia membungkuk dan pergi membawa keranjang tsb. Sorehari waktu aku membersihkan belakang rumah... ya ampun, keranjang beserta pakaian bekas kami tergeletak di situ. Tak pernah dalam hidupku aku menderita malu seperti ini. Malu: tak mengerti si pemulung tak membutuhkan pakaian bekas. Pakaiannya yang dekil dan sobek-sobek mungkin semacam seragam harian sebagai pemulung. Bukan karena tak punya pakaian! Betapa aku tak tahu duduk perkara sekecil itu! Tak kuat menanggung malu maka kuberitakan pengalaman ini pada seorang sahabat, seorang professor emeritus di seberang lautan. Perasaan malu itu memang mereda, namun tetap mengganggu bila teringat. Jadi, tahu apa kau sebenarnya tentang rakyatmu? Dan semua ini hanya gara-gara teman pemulung dari Pacitan itu.

Nyatanya cerita ini belum habis sampai di sini.

Seorang teman bersama temannya mengajak ke lapangan setir mobil. Temannya adalah instruktur setir mobil. Seperti biasa bicaranya tak terkendali, riuh, dengan tangan, kepala, bahkan kaki memberi tekanan pada suaranya, dan semburan percikan ludahnya menggerimisi wajah lawan-bicaranya.

“Ayohlah,” katanya, “kalahkan traumamu. Dia cuma mobil, tak perlu ada trauma menyopir.”

Memang pernah kuceritakan padanya, dalam bulan pertama pulang dari Buru aku mendapat mobil Datsun. Kubawa seorang instruktur untuk membiasakan menyopir. Maklum sudah puluhan tahun tak pernah pegang kemudi. Waktu Jepang menyerah mobil bergeletakan sepanjang jalan. Siapa pun boleh ambil untuk dirinya asal punya bensin. Seorang pesakitan Cipinang dalam masa kosong kekuasaan membebaskan diri bersama yang lain-lain. Nampaknya ia bekas kriminal berat, pindahan dari penjara Kutaraja, Aceh. Sudah tak dapat kuingat namanya, juga tak kuingat bagaimana kami berkenalan. Dialah, entah bagaimana, bisa mendapatkan bensin. Sebuah Willys Cabriolet ia isi tangkinya. Mesinnya ternyata bagus. Mari, Bung, katanya, belajar nyetir. Kami keliling kota. Beberapa hari kemudian aku telah dapat mengendalikan kereta ajaib itu. Setelah ia yakin aku bisa mengendarainya, wut!, ia hilang tak jelas rimbanya. Dan tak pernah berjumpa lagi. Mobil itu sendiri kemudian juga hilang tak jelas rimbanya waktu kuparkir di pinggir jalan di samping rumah, salahnya bensin dalam tangkinya.

Ini hanya cerita bahwa memang ada pengalaman menyopir padaku. Nampaknya pengalaman secuwil itu membikin aku terlalu percaya diri. Instruktur di sampingku hampir-hampir tak kugubris. Datsun berputar entah berapa puluh kali mengelilingi lapangan.

“Sekarang mundur,” perintahnya.

Waktu itulah kaki tak tahu diri. Yang seharusnya rem diinjaknya, justru gas yang kena. Dalam keadaan mundur kencang pantat mobil menubruk warung dan mesin mati. Wanita penjaga warung yang duduk di bangku kayu, pucat, tak bisa bicara. Seorang polisi lalulintas, yang mengawasi lapangan, lari mendapatkan kami. Dalam keadaan terguncang aku keluar dari mobil. Juga sang instruktur.

Dengan wajah keras ia perintahkan aku memperlihatkan surat-surat kendaraan, dan tentu saja KTP. Matanya melompat-lompat dari kertas-kertas di tangannya pada wajahku. Kemudian, kemudian sekali, mata itu ditujukan pada kakiku.

O, bapak, katanya. Lama sudah kukenal, baru sekali bertemu orangnya. Ia angkat tangan kanannya memberi hormat. Dan sesuai engan tradisi militer Jepang aku membungkuk membalas. Begini saja, ya pak, ganti saja kerugiannya.

Pemilik (atau penjaga) warung itu masih duduk kaku. Maaf, bu, mari kami bawa ke rumahsakit. Ia menggeleng. Seorang lelaki datang dan menengahi. Biar aku sendiri antarkan dia ke dokter. Barangkali suaminya.

Aku berikan kartu namaku. Ganti rugi dan ongkos dokter harap diambil pada alamat ini, kataku. Cukup, pak polisi? Kataku.

Ia mengangguk. Aku salami lelaki itu dan minta maaf. Ia mengangguk. Juga kuularkan tangan pada wanita itu. Kurasai tangannya menggigil.

Trauma nyopir itu begitu mendalamnya sehingga dalam mobil teman dan temannya aku masih tetap waswas, kalah terhadap perasaan sendiri. Tak mampu melihat kembali wanita penjaga warung yang seperti patung batu karena kagetnya. Sebelum mobil memasuki gerbang lapangan latihan nyopir mobil melewati seorang pemulung. Benar, dia teman dari Pacitan dengan sidikwajahnya yang abadi. Keranjang bambu tidak lagi pada punggungnya. Ia berjalan santai menghela gerobak. Di atas tumpukan sampah, tua tanpa daya, kakek dengan tailalat kembarnya.

“Stop!” kupinta pada teman. “Turun sini. Nanti aku pulang sendiri.”

“Masih juga groggy? Trauma tak kunjung habis?”

Tanpa menjawab aku turun, berhenti di pinggir jalan menunggu sejoli ex tapol itu lewat. Dan matahari sudah mulai terasa terik.

“Ai-ai,” tegurku.

Ia berhenti. Tangan tetap memegangi boom gerobak. Dan ia tersenyum. Kakek di atas sampah dalam terobak asyik membaca koran. Bukan tekateki dari mana ia dapatkan kacamata. Sampah memberikan segala-galanya.

“Sudah makan?”

“Nanti sudah.” Nampaknya ia lebih ramah daripada dalam pertemuan di halte bus dulu. Lima kilometer dari tempat ini. Waktu hendak menegur si kakek ia melarang. “Sama sekali tak ada gunanya. Tuli sepenuh tuli.” Ia pinggirkan gerobaknya dan dengan sangat hati-hati menyandarkan boom gerobaknya di atas bibir jambang bung dari beton.

Kakek sama sekali tak memperhatikan kami.

“Lalu apa yang dibacanya?”

“Semua, kecuali iklan penawaran. Yang terpenting baginya iklan jenis lain. Bukan iklan penawaran. Iklan kematian.”

“Ha?”

“Jangan ganggu dia. Lihat saja. Ya, ia sedang membaca iklan kesukaannya. Perhatikan airmukanya.”

Memang kuperhatikan. Ternyata selain berkacamata ia juga menggunakan kaca pembesar di tangan kiri. Jelas pipinya yang sudah kempot itu sedang tersenyum.

“Tersenyum, kan? Itu tanda yang meninggal jauh lebih muda dari dirinya. Kalau dengan geleng-geleng kepala itu tanda yang mati berumur di bawah tiga puluh. Bila ia tercenung tanpa gerak wajah yang mati berumur sekitar seratus tahun.”

“Luar biasa. Betapa kau kenali dia.”

“Sehari-harian aku bersama dia. Berak pun aku yang mengurus.”

Sekarang aku yang tercenung. Mataku berkaca-kaca. Betapa tinggi setiakawan anak Pacitan ini. Suaraku tersekat di tenggorokan waktu aku mencoba bertanya berapa umurnya.

“Dua-tiga tahun lagi dia akan melewati seratus. Seperti itu, dan masih tetap jadi landasan penindasan. Hanya agar beberapa sang gelintir bisa hidup kaya, terlalu kaya, mewah dan berkuasa.”

“Stt!”

“Ya, begini kami. Bung memang bukan bagian dari kami.” Ia angkat boom gerobaknya dan meneruskan perjalanannya. Ia tak mengharapkan percakapan berlanjut. Dan ia berjalan terus tanpa menoleh. Kakek dari Kebumen masih tetap membaca koran bekas. Mereka hilang di tikungan. Tak ada guna mengikuti. Teman Pacitan itu tak ingin diketahui tempat tinggalnya.

Cerita ini mestinya selesai sampai di sini. Nyatanya cerita ini belum mampu mengakhiri dirinya sendiri.

Waktu menggelinding begitu cepatnya. Indonesia, katanya, telah setengah abad merdeka. Memang bukan kemerdekaan bagi orang-orang seperti kami, karena kami hanya batu-batu kerikil buat fondasi kemerdekaan. Tempat kami tetap dalam fondasi. Kemerdekaan itu sendiri tumbuh dan berkembang tanpa pernah mengidahkan fondasinya sendiri.

Limapuluh tahun merdeka pun telah lewat beberapa bulan. Waktu itulah pandangku nanar menggerayangi wajah teman Pacitan, menelusuri bekas sodetan senjata tajam dari telinga sampai dagunya. Memang dia. Seongggok tubuh yang duduk menggelesot di atas lantai stasiun Kota. Ia tak mengenakan seragam pemulung yang sobek-sobek dan dekil. Bahkan rambutnya pun kelimis bersisir. Di atas lantai stasiun memang ada tong-tong sampah, tapi keranjang bambu dan gerobak sampah tidak ada. Lantai kelihatan bersih. Juga tak ada di halaman stasiun. Jadi apa sekarang kerjanya?

Ia tak menyadari sedang aku perhatikan. Kuikuti pandangannya yang berpindah-pindah. Ternyata ia sedang memperhatikan beberapa bocah sedang bekerja menyikat sepatu para calon penumpang keretapi. Kemudian aku duduk di dekatnya di atas lantai. Ia menengok padaku dengan pandang curiga. Kaki dan tangannya disiapkannya untuk bertarung. Tiba-tiba:

“Oh, bung!”

“Mana gerobaknya?”

“Biasa. Dirampas.”

“Dirampas siapa?”

“Siapa lagi?” Dan aku mengangguk mengerti. “Hanya gerobak, kan? Barang sepuluh tahun lalu kusaksikan becak dirampasi. Jerih payah bertahun orang menyisakan rejekinya untuk dapat memilikinya. Jadi rumpon di teluk Jakarta. Tanpa ganti rugi. Eh, buat apa kuungkit? Semua orang tahu.” Aku mengangguk.

Kutebarkan pandang ke luar stasiun. Memang dia tidak menggerutut, namun nada suaranya begitu menyakitinya. Kalimat apa yang selanjutnya diucapkannya aku tak dengar. Pandangku membawaku ke masa empatpuluh delapan tahun yang lalu. Sebagai tapolnya Belanda kami membabati alang-alang sekitar stasiun ini sampai ke pelabuhan Tanjungpriok. Ke selatan sampai ke lapangan Gambir. Dan istana kolonial di Gambir itu sekarang dinamai Istana Merdeka. Waktu pandangku tertebar ke ruang dalam stasiun dengan sendirinya tergambar kembali secercah hidup tigapuluh lima tahun lalu. Dengan beberapa teman kami hendak menghadiri Konferensi Sastra Jawa di Solo. Sedang santai berdiri menunggu keretapi masuk mulutku, mulutku ini, memekik: copet! Seseorang lari sambil menarik belati, kemudian menghilang entah ke mana. Teman yang juga akan menghadiri konferensi itu menghentikan teriakanku sambil memberikan arjoliku.

“Jadi kau masih sempat memikirkan orang-orang seperti kami?” Ia menegur.

“Mana kakekmu?”

“Kakek? Ia sudah tak membaca koran lagi. Juga tak naik gerobak lagi. Tak akan lagi. Sejak dua bulan lalu. Mati, bung, waktu gubuk-gubuk kami diobrak-obrak buat diubah jadi gedung pencakar langit. Dalam suasana tergusur kami, rumpun pemulung mengantarkannya ke lahatnya. Tak perlu sentimen-sentimenanlah. Orang-orang seperti kita yang paling banyak membiayai pembangunannya para hartawan dan kuasawan.”

“Ya, biarpun nama tidak pernah masuk buku mereka.”

“Primitif. Semakin lama semakin primitif. Primitif! Itu umpatan kakek bila menilai keadaan. Pembangunan? Jalan-jalan hanya untuk yang bermobil. Pejalan kaki pun tak berhak menggunakannya. Di tanahair sendiri. Tanpa kaki lima. Primitif, itu umpatannya. Immoral, immoral. Dia tak butuhkan tanggapan orang lain. Usia telah merampas pendengarannya. Primitif! Immoral! Dan setiap matanya menangkap jambang-jambang beton di kakilima, apa dengusnya? Jambang di kakilima... tambahan isi kantong mereka, dari kantong semua, demi untuk menghadang kita... sepertinya dia sedang berpantun. Kalau cuma begitu saja, dengusnya sepanjang jalan, puih, gampang amat jadi immoral, semakin lama semakin primitif!”

Panjangnya omongannya kali ini membuat perhatianku pada kakek tailalat justru jadi padam.

“Jadi, apa kegiatan bung sekarang?”

“Lihat anak-anak penyikat dan penyemir sepatu itu?” kembali matanya gentayangan pada mereka. “Masih di jalur lama, bung, membina mereka. Mengajari mereka baca-tulis. Yang lebih penting: melindungi mereka dari ulah mafia, bocah-bocah berandalan, bocah-bocah jalanan juga, yang memeras mereka.”

“Mereka takut pada bung?”

“Tanda ini,” ia mengusap bekas senjata tajam pada wajahnya, “membuat mereka takut. Tanda ini mereka anggap sebagai ijasah keganasanku. Mudah bagi bung memahami dunia primitif begini, kan? Akhirnya aku ketularan kakek juga: primitif! Primitif!”

“Nampaknya sekarang bung lebih ramah padaku.”

“Setidak-tidaknya kakek tidak lebih terluka karena mulutku.”

“Dia tak pernah tanya tentang buangan di Buru?”

“Ya, waktu masih bisa dengar sedikit-sedikit. Juga kuceritakan di Buru juga ada bekas Digulis, tapol tertua, dengan hanya satu harapan: mati dan dikuburkan di Jawa. Dia termasuk rombongan pertama yang dibebaskan. Harapannya hanya separoh terpenuhi: dikuburkan di Jawa memang, tapi mati waktu kapal belum lagi merapat di Tanjungperak.”

Di antara lalulalang pasang-pasang kaki, lelaki dan perempuan, suling kereta dan hiruk-pikuk pekerja pengangkut barang, muncul seorang bocah. Tanpa bicara ia sodorkan dua teh botol dingin pada kami.

Teman dari Pacitan itu menghapus matanya. Dan:

“Tanpa didikan orangtua — memang dia tak punya — tanpa disuruh, sebagian rejeki pagi ia suguhkan pada kita.”

“Nampaknya bung memang dicintai mereka,” dan nampaknya ia terharu atas pujian itu. “Memang cuma teh botol, setidak-tidaknya bung telah mulai menuai yang bung tebarkan.” Ia masih terdiam. “Jangan membisu terlalu lama. Kata-katamu tentang kakek penting bagiku. Memang cuma kata-kata, kita hanya bisa ngomong, lebih tidak. Tapi kata-kata, dengan kekuatannya yang khusus, akan mengembara dari kuping ke kuping, dan akan hidup selama-lamanya, selama ummat manusia tidak menjadi tuli semuanya. Dan biar pun tuli mendadak semua, kan masih ada pemahat, pematung, pelukis, dan pengarang, yang tanpa berucap bisa mengatakan?”

“Kursus bung terlalu bertele.”

“Pembisuan bung terlalu bertele.”

Ia nikmati teh botolnya dengan pipa penyedot. Dan botolku sudah kosong.

“Waktu ia cukup mengerti, di Buru kita dikenakan kerjapaksa sambil cari makan sendiri, kalau sakit obat-obatan pun harus beli sendiri kontan menyembur sumpah-serapahnya: primitif! primitif. Hanya otak primitif mampu buat aturan seperti itu.”

Pustaka tentang Digul membuat kepalaku terangguk-angguk. Ya, para Digulis dijamin makannya setiap bulan. Yang sakit mendapat perawatan lebih baik daripada di Jawa. Dan asal mereka mau bekerja di ladang, mereka dapat sepuluh sen setiap jam, setara tiga kilogram beras. Yang bersedia kerja dalam mesin kolonial lebih banyak lagi dapatnya.

“Dan tanpa pengadilan,” ia teruskan semburan kata kakek tailalat, “belasan tahun tanpa pengadilan. Semasa kolonial, 3 hari ditahan tanpa perkara jelas sudah bisa menuntut ganti rugi. Dibunuhi pula, malah tanpa ada komisi penyelidikan. Otak primitif. Diharuskan hafal Pancasila lagi. Di Digul, aparat kolonial itu menghormati pendirian dan sikap politik dan pribadi para buangan. Primitif! Primitif!”

“Stop. Setidaknya aku sudah mulai banyak tahu tentang kakek yang tak pernah mengenalku.”

Ia habiskan teh botol di tangannya. Dan bocah penyikat sepatu itu datang lagi mengambil botol-botol kosong.

“Boleh aku menengok kuburan kakek?”

“Tak usahlah. Seratus tahun, satu abad jadi landasan penindasan. Jangan, jangan ganggu dia. Kau takkan tahu tempatnya.”

Tiba-tiba ia melompat bangun, berjalan cepat menuju ke suatu pilar stasiun. Dari gerak tangannya nampak ia sedang mengusir seorang pemuda berkuncir berseragam jean. Dan pemuda yang diusirnya tidak langsung pergi. Dari gerak tangannya nampak ia mengancam. Teman dari Pacitan itu mengangguk menerima tantangannya. Setelah lawan-bicaranya pergi baru ia kembali menghampiri.

“Bung sendirian. Bagaimana kalau dia membawa teman-temannya?”

“Mereka dibuat primitif oleh keadaan. Kalau toh kalah dan mati, setidak-tidaknya terhormat sebagai warganegara Indonesia.”

Ia ulurkan tangannya memberi salam dan pergi.




Jakarta, 10 Juli 1996




Source:
http://dpyoedha.multiply.com/journal/item/322




Hatiku selembar daun...