Tuesday, 16 November 2010

Ranggalawe Gugur

Ranggalawe Gugur

Cerpen Gunawan Maryanto



Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta [1]


Di atas panggung, beberapa kotak yang disembunyikan begitu saja di balik kain hitam, Ranggalawe gugur. Tujuh bidadari tua mengelilingi tubuhnya yang tegak berdiri—bahkan kematian tak mampu merubuhkannya. Mereka melempari tubuh yang mematung itu dengan bunga. Hanya angin malam yang sanggup menyaksikannya. Angin yang sejak 10 tahun yang lalu menggerakkan rombongan itu dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya. Dan malam itu selesailah semuanya. Angin tak sanggup lagi menggerakkan mereka menuju pemberhentian berikutnya. Lalu angin pelan-pelan mati. Dan tak mampu menggerakkan dirinya sendiri.

“Malam ini adalah pertunjukan terakhir kami. Tak ada lagi yang menginginkan kehadiran kami. Tak ada lagi yang menyaksikan kami. Kami tak punya alasan lagi untuk berlama-lama di sini.” Seseorang gendut berkaos hitam membuka acara. Di belakangnya berjajar para aktor mengenakan kostumnya masing-masing. Wajah-wajah yang tak bahagia telah disembunyikan sejak sore tadi di balik bedak. Kakek-kakek di balik wajah Menak Jingga yang merah mencoba berdiri tegak. Ranggalawe yang berdiri di sampingnya demikian pula. Sebentar lagi mereka akan bertarung untuk terakhir kalinya.

Lalu pertunjukan pun dimulai setelah beberapa orang naik ke panggung untuk menyampaikan simpati—sejumla puisi. Mereka berduka atas kematian dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas kematian ini? Malam itu tak sebagaimana biasanya, mereka meninggalkan tobongnya—tobong yang sesungguhnya telah lama kosong. Kain-kain dekorasi mereka pasang di beberapa penjuru, layar-layar yang sudah tak sanggup menggambarkan apa-apa. Mereka telah lama kehilangan warna. Serupa bendera-bendera kematian. Gerbang tobong juga mereka pasang sebagai penanda merekalah satu-satunya rombongan ketoprak tobong yang tersisa.

Ratu Kencana Wungu duduk di atas singgasananya. Kursi kayu bercat merah yang terlambat dibawa masuk ke panggung. Kelihatan karena tak ada layar untuk menutup pergantian. Semuanya diputuskan untuk dibuka malam itu. Termasuk kegagalan mereka untuk bertahan sebagai seniman. Kencana Wungu lantas menembang menyapa yang datang. Patih Logender duduk di hadapannya, manggut-manggut menerima kenyataan bahwa suara Kencana Wungu terlalu lirih untuk sebuah pertunjukan di tengah lapang. Yang riuh rendah oleh suara kendaraan dan pasangan-pasangan muda yang pacaran di atas sepeda panjang. Rarasati si Patih Dalam tak kebagian kursi. Ia berdiri saja di samping Kencana Wungu. Sementara para ksatria duduk di bawah, bersesakan dan saling menutupi: Layang Seta, Layang Kumitir, Menak Koncar, dan beberapa prajurit tanpa nama alias bala depak yang senantiasa terdepak. Panggung sudah terlalu sempit untuk menampung tubuh-tubuh mereka. Negeri dalam keadaan baik-baik saja, demikianlah yang kutangkap samar-samar dari percakapan mereka. Rakyat hidup makmur kerta raharja. Tak kurang suatu apa. Mereka tampak gembira dengan sandiwara itu. Bercakap-cakap diselingi canda dan tawa. Patih Logender memamerkan kesaktian sepasang anaknya, Seta dan Kumitir. Hanya Adipati Tuban, Ranggalawe, yang tak kelihatan batang hidungnya. Adipati paling sakti itu konon sedang bertapa di rumahnya. Mungkin pula tak punya ongkos berangkat ke Majapahit. Bisa saja.

Kulihat ke belakang. Cukup banyak juga yang datang. Orang-orang yang sekadar lewat. Atau sejumlah orang yang melayat. Kabar kematian kelompok ini memang sudah disebar di koran-koran dan facebook. Seorang anak kecil yang duduk di belakangku bertanya pada bapaknya. Itu apa? Ketoprak, jawab bapaknya. Lalu Menak Jingga di samping panggung memukul kepraknya. Rupanya malam itu ia merangkap sebagai dalang sekaligus tukang keprak. Bunyi keprak itu membangunkan Angkat Buta yang sejak awal tiduran di belakang gamelan. Ia pun bergegas masuk ke dalam panggung untuk menyampaikan pesan junjungannya, Menak Jingga. Si Adipati buruk rupa itu menagih janji sang Ratu Ayu. Dulu semasa ia masih bernama Jaka Umbaran yang berwajah tampan ia pernah dijanjikan untuk mendapatkan Kencana Wungu jika berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, pemberontak yang sakti mandraguna. Sang pemberontak berhasil dikalahkan, tapi Jaka Umbaran terpaksa pulang dengan wajah dan tubuh babak belur. Jika tak ada Dayun yang menolong mungkin ia sudah lama mati.

Rarasati merobek-robek surat itu. Layang Seta dan Layang Kumitir tanpa perintah selain karena pongah menghajar utusan dari Blambangan itu. Angkat Buta berlari ke alun-alun. Angkat Buta selalu menantinya di sana selama bertahun-tahun. Perang tak terhindarkan. Gantian para bala dupak mendapatkan ruang. Dengan gagah berani mereka berperang. Melakukan adegan-adegan berbahaya. Beberapa kali mereka terlontar ke luar panggung. Terkapar di tanah lapang lalu dengan cepat bangun lagi mengejar sang lawan. Ada juga prajurit yang kedua tangannya buntung. Ialah yang paling kerap terlontar keluar panggung. Penonton terbahak dan bersorak meski adegan perkelahian ini sama sekali tak menawan. Ada pula yang malah jatuh kasihan.

Bisa ditebak, mereka telah mengulanginya beratus kali, Layang Seta dan Layang Kumitir kalah. Logender menolongnya dan membiarkan utusan-utusan Blambangan itu pulang.

Di Lumajang enam perempuan menari-nari. Menari sejadi-jadinya.

Mas mas mas aja diplerok

(Mas mas mas jangan dipelototin)

Mas mas mas aja dipoyoki

(Mas mas mas jangan digodain)

Karepku njaluk diesemi [2]

(Pinginnya minta disenyumin)


Ruang pecah berkeping-keping. Mereka menyebar ke segenap penjuru membawa piring. Mendatangi penonton satu per satu, menjual cendera mata: gantungan kunci bertuliskan Ketoprak is the place where we live and where we die… berlatar orang sendirian mendirikan atap tobong di langit yang biru cerah. Mereka terus beredar dalam kegelapan. Ada pula yang membawa bonang dan meminta uang. Lagu berlanjut. Apa saja yang penting berirama dangdut. Beberapa penonton naik ke panggung dan bergoyang. Lalu lampu tiba-tiba mati. Gamelan terus dibunyikan. Lagu terus dinyanyikan. Beberapa orang tampak sibuk mencari kesalahan. Menyusuri kabel demi kabel. Memeriksa bensin di dalam generator. Berkali-kali mereka pernah mengalaminya, mengulang kesalahan-kesalahan yang sama. Berkali-kali mereka ngebut di jalanan masih dengan pakaian wayang untuk membeli bensin agar pertunjukan tetap bisa dilanjutkan. Alhamdulillah, lampu mati tak lama. Lampu yang semenjana itu menyala kembali. Perempuan-perempuan itu sudah kembali ke panggung dan menjadi istri-istri dari Adipati Menak Koncar. Lalu adegan domestik di tengah lapangan, bocor-bocor tak karuan. Percakapan yang lamat-lamat itu terus berlangsung hingga Menak Jingga menabuh keprak untuk menandai kedatangannya sendiri. Ia masuk ditemani Dayun, abdinya yang setia.

Menak Koncar menyambutnya dengan hangat meski tahu tak berapa lama lagi mereka akan bertengkar dan ia akan kehilangan Mentarwati, istrinya yang pertama. Pertengkaran dimulai ketika Menak Jingga meminta bantuan Menak Koncar untuk mengawinkannya dengan Kencana Wungu. Menak Koncar meledak marah. Ia tak sanggup membayangkan ratunya yang jelita bersanding dengan manusia buruk rupa. Mentarwati bersedia mencarikan jodoh untuk Menak Jingga. Tapi Menak Jingga keras kepala. Sambil menyembah-nyembah kaki Mentarwati, Menak Jingga terus menyebut-nyebut nama Kencana Wungu. Mentarwati sebal dan memukul kepala Menak Jingga. Pertarungan kembali terjadi di atas panggung sempit itu. Kali ini yang tampil adalah prajurit-prajurit perempuan. Dengan gerak yang luar biasa kikuk—jangan dibayangkan pertarungan antara Lasmini versus Mantili dalam film Saur Sepuh—mereka saling pukul dan tusuk. Penonton yang jumlahnya sudah jauh berkurang kembali terbangun. Bertepuk tangan menyemangati pertempuran prajurit Lumajang dan Blambangan. Pertempuran itu berakhir dengan tewasnya Mentarwati. Menak Jingga menusuk tubuh perempuan itu berali-kali dengan kerisnya. Menak Koncar datang terlambat. Ia hanya mendapati tubuh istrinya yang dingin dan berlumuran darah. Ia menangis dan pelan-pelan mengangkat tubuh istrinya. Adegan yang direncanakan dramatis itu hancur berantakan. Menak Koncar ternyata tak kuat membopong tubuh perempuan itu. Makan nasi sehari sekali dengan selingan mie instan ternyata membuat Adipati Lumajang itu kekurangan tenaga. Tak ada yang datang membantunya. Penonton kembali bersorak. Mereka menyemangati Menak Koncar dengan tepuk tangan. Akhirnya dengan susah payah, juga didorong rasa malu, ia berhasil membawa istrinya keluar panggung. Dan buru-buru dijatuhkannya begitu sampai di tepian panggung.

Lalu lagu gembira mencoba membangkitkan suasana. Gending Badutan Sragen: Rewel. Omonga terus terang yen pancen kowe bosen. Ora perlu kakehan alasan…. (Bicaralah terus terang jika kamu bosan. Tidak perlu banyak alasan….)

Seorang pelawak masuk ke panggung dan me nari sekenanya. Ia pelawak karena kumisnya mirip Hitler. Entah sejak kapan pelawak-pelawak kita memakai kumis macam itu. Mungkin sejak mereka menonton Charlie Chaplin. Mungkin pula suatu kali seorang pelawak pendahulu secara tak sengaja mengusapkan jelaga di atas bibirnya. Lalu dua kawannya datang menyusul. Penonton menanti kelucuan apa yang akan mereka munculkan. Tapi tak ada. Mereka sudah terlalu lelah untuk mencari bahan lawakan. Mereka hanya bercanda tentang lapar. Mereka pura-pura makan sampai kenyang. Mereka memesan makanan-makanan terenak yang mereka impikan. Dua bungkus rokok dilemparkan kepada mereka. Seorang pelawak pun turun ke panggung, memungutnya. Ia melempar satu bungkus ke arah para penabuh gamelan. Di tengah mereka berkhayal makan sate kambing datang seorang penonton memberi amplop. Minta lagu Prau Layar, katanya. Am plop itu pun dibuka. Berisi duit yang langsung me reka hitung satu per satu. Lembaran-lembaran uang berwarna merah itu berjumlah tujuh lembar. Semua orang bertepuk tangan. Mungkin itu adalah saweran paling banyak yang pernah mereka dapatkan. Sayang mereka mendapatkannya di pertunjukan terakhirnya.

Malam ini mungkin mereka akan mendapat lebih dari 2.000 rupiah per orang, tidak seperti malam-malam biasanya. Mereka memanggil juragan mereka naik ke atas panggung. Sang juragan, lekaki berkaos hitam yang tadi membuka acara mengucapkan terima kasih atas bentuk simpati tersebut. Dan ia pun menyanyikan Caping Gunung karya maestro keroncong Gesang yang baru saja meninggal dunia. Para pelawak mengingatkan bahwa mereka seharusnya menyanyi Prau Layar. Tapi lelaki itu mungkin tak mendengarnya. Ia menyanyi Caping Gunung. Ia meminta para pelawak menari. Tapi tak ada yang menari. Setelah lagu selesai kembali ia mengulang kata pamitnya. Malam ini kami pamit mati. Seperti syair sebuah lagu, katanya.

Lilanana pamit mulih….

(Relakanlah aku pamit pulang….)

Lilanana pamit mulih

(Relakan aku pamit)

Pesti kula yen dudu jodhone

(Aku memang bukan jodohmu)

Muga enggal antuk sulih

(Semoga segera mendapat ganti)

Wong sing bisa ngladeni slirane

(Orang yang bisa mendampingimu)

Pancen abor jroning ati

(Memang berat rasanya)

Ninggal ndika wong sing ndak tresnani

(Meninggalkan orang yang kucintai)

Nanging badhe kados pundi

(Tapi mau bagaimana lagi)

Yen kawula saderma nglampahi [3]

(Aku cuma sekadar melakoni)


Lelaki itu kemudian memanggil seorang tamu yang datang dari Jakarta. Seorang aktivis perempuan yang cantik. Ia meminta perempuan itu menyampaikan orasinya. Sang perempuan dengan berapi-api mengutuk kematian-kematian seni tradisi. Ia menyalahkan masyarakat yang tak lagi menghargainya. Ia menyalahkan pemerintah yang tak pernah merawatnya. Ia menyalahkan organ dangdut yang mematikan sawah para seniman tradisi. Lalu ia turun dan pertunjukan kembali berlangsung.

Malam sudah larut. Sebagian besar penonton sudah pulang. Sudah larut malam pula di Kadipaten Tuban. Sang Adipati Ranggalawe tengah bercakap-cakap dengan istrinya. Ia merisaukan keadaan Majapahit yang tak lagi tentram. Percakapan tampak dipercepat. Mungkin karena penonton yang semakin sedikit. Ranggalawe buru-buru ke sanggar pamujan. Berdoa dan membakar kemenyan. Ia bersila membelakangi penonton. Sebuah tembang palaran mengalun keras dari mulutnya. Menak Koncar datang menemuinya. Melaporkan kebrutalan Menak Jingga yang makin menjadi-jadi. Menak Koncar menangisi kematian istrinya, menangisi Lumajang yang sudah berada di genggaman Menak Jingga. Bergetar dada Ranggalawe mendengar tangisan Menak Koncar, kemenakannya. Segera ia memanggil Wangsapati ajudannya. “Ambil Payung Tunggul Naga, malam ini aku akan berangkat ke Lumajang!”

Adegan pertemuan Ranggalawe dan Menak Jingga segera disusun. Menak Jingga menyambut kedatangan Ranggalawe dengan baik. Ia menghaturkan hormat pada orang yang paling disegani di Majapahit itu. Ranggalawe dengan tenang mendengarkan kisah Menak Jingga. Ia bisa mengerti perasaan Menak Jingga yang kecewa karena ditolak oleh Ratu Kencana Wungu. Dalam hal ini ia menyalahkan Kencana Wungu yang mengingkari janjinya. Tapi ia juga mengutuk Menak Jingga yang telah membuat huru-hara di Majapahit. Maka, dengan segala hormat ia minta Menak Jingga menghentikan pemberontakannya. Menak Jingga menggelengkan kepalanya. Ia meminta maaf tak bisa menghentikan semuanya. Maka keduanya pun berhadapan.

Tak ada yang bisa menandingi kesaktian Ranggalawe selama Payung Tunggul Naga tetap memayunginya. Menak Jingga yang terdesak segera menghujani Wangsapati si pembawa payung dengan panahnya. Pengawal nahas itu pun terjungkal dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya. Ranggalawe terus maju. Ia tak peduli dengan apa-apa lagi. Kematian Wangsapati begitu melukai hatinya. Dengan cepat ia berhasil menangkap Menak Jingga. Ia injak kepala adipati yang berwarna merah itu. Menak Jingga tak bisa bergerak sama sekali. Ia bahkan harus merelakan Gada Wesi Kuning andalannya direbut oleh Ranggalawe. Tetapi saat Ranggalawe mengangkat gada itu tiba-tiba tubuhnya kaku. Ia mati. Tubuhnya tanpa Payung Tunggul Naga adalah tubuh paling lemah yang pernah ada. Ia kehilangan nyawa karena mengangkat Gada Wesi Kuning. Bidadari-bidadari dengan rambut panjang terurai segera berlari mengelilinginya. Menak Jingga me me rintahkan agar tubuh pahlawan itu dibawa pulang ke Blambangan. “Makamkan ia dengan upacara kehormatan!”

Pertunjukan selesai. Pertunjukan terkahir mereka. Dengan cepat mereka mengemasi barang-barangnya dan pulang. Aku juga. Malam menunjuk pukul 12 tepat. Di jalan aku berpapasan lagi dengan mereka. Ranggalawe berjalan sendirian lengkap dengan pakaian kebesarannya. Beberapa pemain lain menyusul di belakangnya. Aku tak tahu ke mana mereka akan pulang malam ini. Tobong yang sudah 10 tahun mereka diami telah mengusir mereka. ***


2010

Catatan:

[1] Nisan, puisi karya Chairil Anwar, 1941
[2] Aja Dipleroki, lagu karya Ki Nartosabdho
[3] Pamitan, lagu karya Gesang, 1940




Sumber: Jawa Pos 18 Juli 2010

Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku

Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku

Cerpen Herman RN



SUATU malam dia datang ke rumahku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pengelana yang berasal dari jauh. Katanya, ia datang ke kampung kami untuk mengadu nasib sebab di kampungnya dia tidak memiliki apa-apa lagi.
Sebagai orang yang dituakan di kampung, aku menyambutnya dengan sangat baik. Kulayani dia selayaknya tamu yang benar-benar baru tiba dari perjalanan sangat jauh. Bincang-bincang kami pun mengalir seperti air. Lalu dia minta aku bercerita. Cerita tentang apa saja, katanya. Tentang kampung ini juga boleh, pintanya.

Aku pun mulai bercerita tentang sejarah kampungku apa adanya, seperti yang kudapat dari kakekku semasa hidupnya dulu. Kulihat dia sangat menyimak ceritaku.

Esok malam dia kembali datang ke rumahku dan meminta aku bercerita. Kali ini aku bercerita tentang yang lain pula. Aku bercerita tentang hikayat-hikayat yang kuperoleh dari kakek dan nenekku. Dia juga kulihat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ketika ada satu alur saja yang kurang dipahaminya, dia langsung menyela dan aku menjelaskannya.

Begitulah saban malam. Katanya, dia belum bisa tidur sebelum mendengar aku bercerita. Akhirnya, kuajak dia untuk tinggal bersamaku, di rumahku.

Saban malam aku bercerita padanya. Semua hikayat yang pernah kudengar dari kakek dan nenek kukisahkan kembali kepada lelaki itu, tetapi aku tak pernah mendengar cerita dari dia, siapa dia, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, dan mau apa dia sebenarnya, aku tak pernah diberi tahu. Ingin sekali aku mendengar cerita dari dia, tetapi dia tak pernah di rumah kala siang hari. Sedangkan malam, aku sudah berjanji kalau aku yang bercerita.

Suatu malam aku berhenti bercerita. Aku minta dia yang bercerita kepadaku. ”Aku tidak minta kamu membawa hikayat, aku hanya minta kamu menceritakan siapa dirimu dan dari mana sesungguhnya kamu,” ujarku malam itu. Lelaki itu hanya diam. Kulihat dia menundukkan kepalanya. Hatiku luruh dan akhirnya aku kembali menceritakan sebuah hikayat lagi kepadanya.

Suatu hari aku jatuh sakit. Aku tak sanggup lagi bercerita. Beberapa malam sudah lewat, aku belum sanggup juga bercerita. Lelaki itu pun tak lagi pulang ke rumah. Hingga beberapa malam berikutnya dia juga tak pulang, sedangkan sakitku terasa semakin parah.

Sudah lima hari aku tak keluar ke meunasah. Sebagai orang tua yang dipercayakan mengurus meunasah, seharusnya aku beritahukan kepada Pak Lurah atau pengurus lain. Suatu malam Pak Lurah datang ke rumahku. Semula Pak Lurah mengira aku tak mau lagi mengurus meunasah karena sudah ada yang mencari rezeki sehingga lupa terhadap meunasah. Tentu saja aku terkejut dan sangat malu mendengarnya.

”Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku.

”Maaf, saya lihat lelaki yang tinggal bersama Pak Imam sangat rajin menjual obat sambil bercerita di lapangan bola. Banyak orang yang datang mengunjungi dia meskipun hanya sekadar mendengarkan dia bercerita. Tapi obatnya banyak laku, Pak Imam.”

”Jadi dia penjual obat?!” Aku tersentak mendengar cerita Pak Lurah. Kuurut dadaku yang sesak.

Besoknya, Pak Lurah mengajak aku ke puskesmas yang terletak di ujung jalan kampung. Untuk sampai ke puskesmas, kami melewati lapangan bola kaki. Pak Lurah menunjuk lapangan bola itu saat kami melintasinya.

”Di sini biasanya dia menjual obatnya sambil berteriak-teriak menceritakan sesuatu. Ceritanya sangat menarik. Dia juga sangat hafal segala cerita seluk-beluk kampung kita, tentang gajah duduk yang menjadi kepercayaan orang-orang kampung kita, tentang rencong yang bentuknya seperti basmallah, tentang taman gunongan, dan lain-lainnya. Dia paham dan hafal benar semua itu sehingga orang-orang suka mendengar dia bercerita. Di penghujung ceritanya, dia selalu menawarkan obatnya. Banyak laku obat dagangannya,” ujar Pak Lurah panjang lebar.

Aku diam sambil memerhatikan lapangan bola itu. Sepulangnya dari puskesmas, aku melihat banyak orang berkumpul di lapangan bola tersebut seperti yang dikatakan Pak Lurah.

”Nah, itu pasti dia, lelaki yang tinggal bersama Pak Imam,” ujar Pak Lurah. ”Apa Pak Imam tak ingin mendengarkan dia bercerita? Pak Imam pasti suka mendegar ceritanya. Kalau Pak Imam tak keberatan, kita singgah dulu sebentar melihat-lihat,” lanjut Pak Lurah semangat.

Aku dan Pak Lurah mendekati kerumunan orang di lapangan bola. Sebelum sampai di tempat kerumunan itu, aku mendengar seseorang berteriak dengan alat pengeras suara. Suara itu sangat kukenal. Sangat kukenal lagi cerita itu. Itu hikayat Buloh Peurindu yang pernah kuceritakan kepada seorang lelaki, malam Minggu lalu.

Pak Lurah menarik tanganku agar dapat masuk dalam kerumunan orang yang berdesak-desakan. Semula aku tak mau, tetapi Pak Lurah memaksaku. Setelah melewati desakan orang, di tengah lapangan aku melihat seorang lelaki berbadan kurus menggunakan ikat kepala merah melantunkan syair-syair cerita sambil menggenggam pengeras suara. Bajunya berlengan panjang warna putih. Dia juga mengikat kain sarung di pinggangnya sebatas lutut.

Kuperhatikan lelaki itu, pakaiannya persis seperti pakaian Aneuk Meutuah dalam Hikayat Dangderia. Dari mana lelaki ini bisa berpenampilan seperti itu, apakah karena juga dia mendengar ceritaku?

Semua orang terdiam mengangguk-angguk mendengar lelaki itu bercerita, termasuk Pak Lurah. Kulihat Pak Lurah sesekali tersenyum ketika lelaki itu bercerita sambil memperagakan suatu gerakan seperti gerakan tokoh dalam ceritanya.

”Hari ini sampai di sini dulu saya ceritakan tentang Apa Bangai, besok saya sambung kembali. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian? Ini obat bukan sembarang obat. Kalau Apa Bangai sering lupa, lupa bertanya siapa tamunya, di mana tinggalnya, maka dengan saudara-saudara memakai ini obat, akan terjauh dari lupa punya sifat. Kalau kemarin saya jual sampai lima puluh ribu rupiah, ini hari saudara-saudara tak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu. Saudara-saudara tidak punya uang empat lima, tiga puluh, dua lima; ini hari cukup keluarkan dua puluh ribu saja. Silakan ini obat dibawa pulang. Ini hari saya mau bagi-bagi rezeki. Sepuluh pembeli pertama, saya kasih keringanan lima belas ribu saja.”

Lelaki itu berkeliling mendekati para pengunjung sambil membawa sepuluh bungkus obatnya. Akhirnya, dia sampai di tempat aku dan Pak Lurah berdiri. Lelaki itu menatapku. Lama dia memandangku, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Lalu dia berkata, ”Pak Imam sudah sembuh?”

Aku tak menjawab pertanyaannya, kecuali diam. Aku terus menatap matanya sampai akhirnya dia tak tahan kupandang. Lelaki itu kembali ke tempatnya semula, tempat barang-barang dagangannya.

”Hari ini saya cukupkan sampai di sini dulu,” ujar lelaki itu sambil mengemasi barang-barangnya. Satu per satu pengunjung pun meninggalkan tempat itu. Kuajak Pak Lurah segera pulang. Aku tak mau lagi melihat lelaki itu. Dia sudah mencuri hikayatku, pikirku.

Seminggu sudah berjalan sejak hari itu, tak kulihat lagi lelaki itu menjual obat di lapangan bola. Ke mana dia pergi, aku juga tak tahu. Aku pun tak mau lagi memikirkannya. Hatiku mulai tenang tak mendengar dan tak melihat dia. Tetapi, suatu hari di balai rapat kecamatan, ketika menghadiri musyawarah kecamatan, aku melihat seorang lelaki membawa Hikayat Bayan Budiman. Lelaki itu hadir untuk menghibur para peserta musyawarah.

Kepalaku langsung pening. Telingaku mendengar sangat jelas setiap kata dan sajak yang dibawakan orang itu. Mataku menatap tajam ke arah panggung kecil dalam balai rapat kecamatan. Di sana seorang lelaki kurus mengenakan pakaian mirip Aneuk Meutuah dalam Hikayat Dangderia sedang melantunkan Hikayat Bayan Budiman dengan syahdunya.

Beberapa minggu kemudian, lelaki kurus yang pernah tinggal bersamaku dua bulan yang lalu jadi terkenal di kotaku. Dalam setiap acara, baik di kampung maupun kecamatan, dia selalu hadir sebagai pembawa hikayat. Semua hikayat yang pernah kuceritakan padanya dijadikan sebagai pencari rezeki dan nama. Kini dia semakin terkenal, bahkan sampai ke ibu kota provinsi. Oh, lelaki itu telah mencuri hikayatku dan menjadi orang yang sangat terkenal. Sementara aku semakin tua.




Koeta Radja, 2007-2010


Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2010/08/08/04221379/tukang.obat.itu.mencuri.hikayatku

Cerita Pendek Ini Pendek Sekali

Cerita Pendek Ini Pendek Sekali

Cerpen: Sobirin Zaini



INILAH cerita pendek yang pendek sekali. Kau tak perlu berlama-lama mendongakkan kepala di depanku seperti yang kau lakukan pada malam-malam sebelumnya. Kau juga tak perlu banyak tanya setelah aku selesai membacakannya di depanmu karena ada jalan cerita dari cerita pendek itu yang tak kau mengerti. Tak perlu. Karena cerita pendek ini pendek sekali. Dan seperti malam-malam sebelumnya, kau pasti mau mendengarkannya juga, bukan? Baiklah.

Kali ini, cerita pendek yang ingin kusampaikan adalah tentang seorang penulis cerita pendek yang jadi seorang pembunuh dan pencuri. Dia bernama Oly. Lengkapnya, Oly Balla. Kau pernah mendengarnya? Mungkin belum pernah. Dia bukan penulis cerita pendek yang terkenal memang. Di kota kelahirannya dan dimana dia tinggal itu, dia hanya satu dari sekian puluh orang penulis cerita pendek lain yang karyanya muncul setiap beberapa bulan sekali di salah satu koran. Hanya beberapa bulan sekali. Karena itu dia kukatakan bukan penulis cerita pendek yang cukup dikenal orang. Buku-buku karyanya juga tidak ada. Kalau kau kebetulan mampir ke kota kelahiran dan tempat tinggalnya itu, lalu bertanya pada orang-orang yang kau temui di sana tentang nama dan cerita pendeknya, kuyakin dan bisa kujamin, takkan ada satu orang pun yang tahu. Takkan ada satu pun orang-orang di kota itu yang mengaku pernah mendengar namanya. Ya, pokoknya begitulah. Saking tak terkenalnya dia di kota kelahirannya itu, seorang penulis cerita pendek lain yang ada di kota itu pun bahkan mengaku tak mengenalnya. Kukatakan begitu karena ini kutahu dari pertanyaanku yang kuajukan sendiri pada penulis itu beberapa waktu lalu saat aku mengunjungi kota itu.

Lalu, kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakan cerita pendek ini padamu? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benakmu. Ya, seperti yang kusebut sebelumnya, dia memang seorang penulis cerita pendek yang tak dikenal orang. Tapi karena dia menjadi seorang pembunuh juga pencuri, dan yang dicurinya itu adalah sejumlah hati perempuan yang ada di kota kelahirannya itu, maka dia pun kini jadi terkenal, bahkan dia kini dicari-cari polisi karena perbuatannya itu. Persoalannya, polisi sendiri sampai saat ini belum juga berhasil menangkapnya, hingga sejumlah korban satu persatu telah berjatuhan juga. Polisi pun kemudian menggelar sebuah sayembara kepada masyarakat kota itu, bahwa siapa yang berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaannya secara pasti atau bisa menyerahkannya hidup atau mati, orang itu akan mendapatkan hadiah sebesar Rp500 juta. Ya, sampai begitulah. Percaya atau tidak tentang cerita ini, terserahlah. Tapi kau tetap ingin mendengarkannya juga, bukan? Baiklah.

Sudah hampir sebulan, polisi dan masyarakat kota itu tak juga berhasil mencari tahu di mana keberadaan lelaki penulis cerita pendek tak terkenal itu. Hadiah yang ditawarkan sebagai bentuk upaya lain dari polisi untuk melibatkan masyarakat pun terasa percuma. Sejumlah perempuan di kota itu yang tewas dan dinyatakan tidak punya hati lagi di tubuhnya semakin bertambah. Lelaki pembunuh dan pencuri itu memang masih berkeliaran di kota itu. Tak pelak, suasana menjadi mencekam. Perempuan-perempuan yang tahu peristiwa pembunuhan dan pencurian itu tak lagi berani keluar rumah. Mereka lebih memilih diam dan melakukan apa saja yang ada di rumah. Perempuan-perempuan yang kebetulan masih gadis, baik yang bekerja, sekolah maupun kuliah, mereka lebih memilih tidak kemana-kemana dan harus meliburkan diri dari semua kegiatan itu. Sementara yang bersuami, mereka memilih untuk benar-benar jadi istri yang setiap hari di rumah mengurusi anak dan suaminya.

Ya, lagi pula siapa yang berani kehilangan hati hanya gara-gara keluar rumah? Kehilangan hati karena diambil lelaki yang mungkin mengidap kelainan jiwa itu? Lelaki penulis cerita pendek yang tak terkenal pula? Ah, siapa pun orangnya akan mengatakan tidak. Dan yang jadi persoalannya, sampai sudah sebulan pula, polisi belum juga berhasil menangkap lelaki pembunuh dan pencuri hati itu. Entah mengapa, padahal seperti yang kutahu, kota itu bukanlah sebesar kota kita. Kota itu kecil sekali. Rasanya jalan-jalan di sana jumlahnya bisa dihitung jari. Karena itu, orang-orang di sana memang tidak banyak memiliki kendaraan seperti di sini. Karena memang dengan berjalan kaki pun mereka sudah bisa sampai ke tujuan. Dan itulah herannya, kenapa polisi tak kunjung berhasil menangkapnya? Mungkin, lelaki pembunuh dan pencuri hati itu sudah melarikan diri ke luar kota itu. Karena di sana memang banyak sekali jalur yang dapat dilewatinya. Tidak hanya lewat jembatan, jalur laut pun lelaki itu dapat keluar dari kota itu. Karena memang kota itu adalah sebuah pulau.

Dan sepertinya memang begitu. Kabar terakhir yang didengar oran g-orang, lelaki itu memang tidak ada lagi di sana . Hal itu dibuktikan dengan gagalnya polisi melacak keberadaaan lelaki itu di setiap sudut kota sampai saat ini. Bahkan, mereka seperti sudah putus asa. Mereka kini memutuskan untuk pasrah saja dengan peristiwa itu. Orang-orang di kota itu memilih berdiam diri di rumah sembari menjaga perempuan-perempuan mereka. Dan tak pelak, kota itu pun jadi sunyi. Jadi seperti kota mati. Jangankan malam, siang hari saja jarang sekali tampak orang-orang di jalan-jalan. Kalau pun ada oran g yang keluar rumah, mereka adalah lelaki yang terpaksa keluar mencari keperluan yang tak bisa tidak harus dipenuhi. Sementara polisi sendiri? Mereka seperti tak berkutik. Sampai kini polisi hanya bisa melakukan patroli setiap jam di semua sudut kota . Mereka hanya bisa mengimbau warganya untuk tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Ya, kota itu seperti mati. Keadaannya seperti perang.

Begitulah. Hingga masuk bulan kedua, kota itu masih seperti sebelumya. Hanya saja, peristiwa mengerikan dan menakutkan itu dengan sendirinya tidak terjadi lagi. Namun oran g-orang di kota itu masih takut untuk keluar rumah. Terutama perempuan. Hingga bulan kedua itu pun habis. Peristiwa pembunuhan dan pencurian hati perempuan-perempuan di kota itu tidak terjadi lagi. Dan cerita tentang lelaki penulis cerita pendek yang pembunuh dan tak terkenal itu secara berangsur tak terdengar lagi. Hingga seiring waktu, kota itu kini kembali damai seperti biasa. Meski trauma dan ingatan-ingatan tentang peristiwa itu masih lengket di benak mereka.
Kau sudah mengantuk? Aku tahu itu, tidurlah. Seperti yang kukatakan sejak awal-awal tadi, bahwa cerita pendek ini pendek sekali. Dan cerita ini memang selesai sampai di sini. Demikianlah.

***

HARI masih dingin. Jam di atas kepala suaminya menunjukkan pukul 05.00 WIB dinihari. Dia bangkit dari ranjang dan segera menuju kama r mandi. Sekilas dilihat suaminya masih tergeletak di ranjang itu dan dia ingin membangunkannya, namun dia urungkan. Dia tahu, suaminya tentu lelah sekali. Seperti malam-malam sebelumnya, semalaman lelaki itu telah kembali membacakan cerita pendeknya untuk dia hingga dia bisa tidur nyenyak. Meski cerita pendek yang diceritakan suaminya itu pendek sekali, tapi itu tak mengurangi keampuhannya untuk membuatnya bisa tidur cepat. Ya, suaminya memang penulis cerita pendek berbakat, pikirnya. Beruntung sekali dia punya suami seperti itu. Entahlah, kadang dia merasa bersalah juga, mungkin kebiasaan menulis cerita pendek dan membacakan karya itu padanya karena ulah dia juga. Sejak penyakit aneh semacam insomnia itu menyerangya beberapa tahun lalu. Dan dia takkan tahu, apa jadinya jika sempat suaminya itu tak bisa menulis cerita pendek dan membacakan untuknya. Sementara pertanyaan yang selama ini ada di benaknya tak juga kunjung terjawab, kenapa pula dengan mendengarkan cerita pendek yang ditulis suaminya bisa jadi obat penyakit yang memang aneh itu?

Dia baru saja menyentuhkan ujung kakinya di lantai kamar mandi. Disentuhnya benin g air yang ada di bak mandi dengan ujung jarinya, baru kemudian dia mengambilnya dengan gayung yang ada di situ dan menyapukannya ke wajah. Tiba-tiba terlintas pula pertanyaan lain ketika butiran air itu terasa menyentuh wajahnya. Dia merasa heran dan merasa aneh sekali, kenapa tema cerita pendek seperti itu yang ditulis suaminya tadi malam? Memang, dia masih ingat dengan ucapan suaminya, bahwa dia menulis cerita itu karena tokohnya seorang pembunuh dan pencuri. Tapi bukankah sebelum ini dia tidak pernah mendengar cerita pendek yang cenderung menyeramkan seperti itu? Cerita pendek yang ditulis dan dibacakan kepadanya sebelum tidur selama ini pasti yang romantis-romantis saja. Tentang kisah lelaki-perempuan yang bertemu lalu jatuh cinta, misalnya. Tentang seseorang yang mencari kekasihnya di sebuah kota . Atau tentang perempuan yang setia menunggu kekasihnya di sebuah pelabuhan padahal kekasihnya itu tak pernah kembali menemuinya. Dan banyak lagi cerita lain yang menurutnya lebih enak dibayangkan dibanding dengan yang ia dengar tadi malam. Tapi? Ah, sudahlah. Mungkin itu hanya kebetulan saja, pikirnya. Dan bukankah itu hanya fiktif belaka? Ya, karena itu adalah produk seni, dan dia kemudian mafhum.

Dia langsung menuju dapur setelah selesai mencuci wajahnya di kamar mandi. Ada sesuatu yang perlu disiapkan untuk suaminya. Seperti biasa, secangkir teh panas dan sepiring mi rebus. Tapi tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar ketukan dan beberapa kali suara oran g memberi salam. Dia kembali heran, siapa pula yang ingin bertamu subuh-subuh begini?

"Selamat pagi, Bu!" sapa satu dari dua lelaki bertubuh tegap dan berambut gondrong yang kini sudah di depan pintu itu. Sejenak dia diam. Ada sedikit rasa aneh di jantungnya.

"Pagi. Cari siapa ya?" jawabnya kemudian.

"Sebelumnya maaf, kami mengganggu. Kami petugas kepolisian kota . Kami diperintahkan untuk menahan suami Ibu. Dia ada di dalam, kan?" ujar lelaki berambut gondrong itu kemudian. Kini dia benar-benar terdiam. Jantungnya mulai berdegup kencang. Seribu pertanyaan dan keheranan kini tiba-tiba menyerbu benaknya. Sementara dua lelaki yang barusan bertanya itu tanpa basa-basi langsung meringsek masuk ke dalam rumah. Selang beberapa menit kemudian mereka keluar dengan memegang suaminya. Serasa dia ingin berteriak, tapi suaranya seperti tertahan. Sementara suaminya dengan wajah pucat kelihatan pasrah mengikuti langkah dua lelaki itu.

"Maaf, Bu. Suami Ibu selama ini orang yang kami cari. Kami harus menahannya. Dan ini perintah. Menurut bukti-bukti yang ada, dia terlibat kasus pembunuhan sejumlah perempuan yang terjadi selama ini di kota seberang. Ibu pernah dengar kan ? Sekali lagi maaf. Ibu bisa menemuinya besok di kan tor kami. Makasih," jelas lelaki itu panjang lebar kepadanya sambil terus membawa suaminya ke dalam mobil yang memang sudah terparkir di depan rumah. Dia benar-benar tak bisa apa-apa. Dia hanya diam saja menyaksikan suaminya dibawa dua lelaki yang mengaku polisi itu. Dan jantungnya semakin terasa berdegup kencang. Sampai kemudian tiba-tiba kedua lututnya terasa lemas.***




Riau Pos, Minggu, 08 April 2007

Gincu Ini Merah, Sayang

Gincu Ini Merah, Sayang


Cerpen: Eka Kurniawan




Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkah menuju pintu bar Beranda. Di saat yang sama lima buah pick-up berhenti tepat di depan gerbang. Di masa lalu, hal seperti ini biasanya lebih dulu diketahui sehingga gadis-gadis yang bekerja di bar memiliki waktu lebih luang untuk bersembunyi atau pulang. Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. Yang tak diduga Marni, nama perempuan bergincu itu, lima petugas tiba-tiba menghampiri dirinya, sebelum menangkap dan membawanya ke pick-up.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga," katanya, setelah keterkejutannya reda.

"Katakan itu nanti kepada suamimu," seorang petugas menjawab.

Ini pasti malam yang buruk, pikirnya. Para petugas itu bicara mengenai peraturan daerah tentang pelacuran dan memperlakukannya seolah-olah ia pelacur. Dalam hatinya, ia mengakui pernah menjadi pelacur, tapi malam ini ia berani bersumpah bahwa dirinya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia belum punya anak memang, Tuhan belum memberinya, tapi ia punya suami. Para petugas tak menggubris soal itu. Menurut mereka, semua pelacur selalu merasa punya suami dan mengaku hanya seorang ibu rumah tangga.

Bersama gadis-gadis dari bar, mereka membawanya ke kantor polisi dan memperoleh interogasi sepanjang malam. Ia meminta gadis-gadis itu membantunya meyakinkan para petugas bahwa dirinya bukan bagian dari mereka. Tapi tiga tahun berlalu dan ia tak lagi mengenali gadis-gadis itu, demikian pula mereka tak mengenalinya. Semuanya gadis baru dan ia tak menemukan teman-teman lamanya di antara mereka. Gadis-gadis itu tak punya gagasan tentang siapa perempuan itu dan apa yang dilakukannya di pintu Beranda pada pukul setengah dua malam.

Menjelang subuh, tanpa tertahankan Marni akhirnya menangis. Ia kembali memohon minta dibebaskan, berkata bahwa suaminya pasti akan merasa kehilangan dan barangkali kini tengah mencari-carinya. Seorang petugas, dengan mulut yang sinis, berkata, "Jika benar kamu punya suami, besok pagi ia akan menjemputmu."

"Tetapi, suamiku tak tahu aku ada di sini," katanya.

"Jadi, kamu jual dirimu tanpa suamimu tahu, heh?"

Sejujurnya ia sungguh tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia kembali berpikir, barangkali ini memang malam buruknya. Beruntunglah menjelang pagi seorang perempuan dari dinas sosial berbaik hati menghubungi suaminya. Setelah bicara dengan Rohmat Nurjaman, suami Marni, perempuan dari dinas sosial itu kemudian berbaik hati mengantarkan Marni pulang. Penuh rasa syukur Marni mencuci muka, menaburkan bedak yang dipinjam dari seorang gadis bar ke mukanya, dan memoleskan gincu ke bibirnya. Ia akan pulang dan bertemu kembali dengan suaminya.

Namun, sesampainya di rumah, selepas kepergian perempuan yang mengantarnya, Marni dihadapkan pada keadaan yang tidak lebih baik. Di atas sofa, tergeletak koper berisi barang-barangnya. Rohmat Nurjaman berdiri di pintu kamar, memandang wajah istrinya, terutama gincu di bibir Marni dengan sejenis tatapan kau-laksana-perempuan-binal, berkata pendek, "Sebaiknya kita bercerai saja."

Marni ingin menjelaskan, tetapi tak tahu apa yang harus dijelaskan. Dan, Rohmat Nurjaman tampaknya tak menginginkan penjelasan.

Sebenarnya Rohmat Nurjaman tak suka melihat istrinya mempergunakan gincu. Tapi jika ia melarangnya, dan kemudian mengemukakan alasannya, ia khawatir itu akan menyinggung perasaan istrinya. Marni pasti tak suka jika kepadanya ia berkata, "Dengan gincu itu kau tampak serupa pelacur."

Masalahnya, ia memang menemukan istrinya di satu tempat remang-remang beberapa tahun lalu. Tentu saja itu masa lampau dan mereka telah bersepakat melupakannya. Itu masa-masa ketika Rohmat Nurjaman bersama tiga temannya menghabiskan malam-malam di beberapa bar dangdut yang berserakan di sepanjang Jalan Daan Mogot. Di sanalah Rohmat Nurjaman berkenalan dengan Marni.

Awalnya hubungan mereka merupakan pertemuan ganjil antara pelanggan dan pelayan. Seperti semua orang tahu, gadis-gadis yang bekerja di tempat serupa itu selalu akan mempertahankan pelanggannya agar tidak diambil gadis lain. Ini menyangkut penghasilan tambahan mereka yang kenyataannya lebih besar daripada upah yang dibayarkan pemilik bar. Tak jarang timbul cekcok di antara gadis-gadis itu jika seorang dari mereka menyerobot pelanggan milik gadis lain. Biasanya ini terjadi dengan gadis baru atau pelanggan yang lama tak muncul.

Bagi pelanggan sendiri, paling tidak bagi Rohmat Nurjaman kala itu, kecenderungan gadis-gadis tersebut juga menguntungkannya. Ini memberinya jaminan setiap kali datang ke bar tersebut, ia akan memperoleh seorang gadis. Percayalah, tak menyenangkan berada di tempat serupa itu, dengan biduan bernyanyi di atas panggung kecil dan bir di atas meja, tanpa seorang gadis bergelayut di sampingmu.

Begitulah, setiap kali ia datang ke Beranda, salah satu bar dangdut di daerah tersebut, Rohmat Nurjaman akan ditemani Marni. Bisa dihitung dengan jari kunjungan Rohmat Nurjaman tak membuatnya bertemu dengan Marni. Biasanya itu terjadi saat jatuh hari libur si gadis, atau si gadis meriang, atau pulang kampung ke Banyumas.

Hubungan ini berkembang menjadi sejenis keseriusan yang menjadi candu. Di siang hari yang penat, dengan udara yang membosankan, sekonyong Rohmat Nurjaman menemukan dirinya mengirimkan pesan pendek kepada gadis itu, "Kamu sedang apa? Nanti malam jangan sama yang lain, aku akan datang."

Dan suatu pagi, Rohmat Nurjaman menemukan pesan dari si gadis di layar telepon genggamnya, "Mas, nanti malam datang tidak? Aku kangen."

Tentu saja bukan waktu yang singkat dalam hubungan mereka yang semacam itu, jika kemudian Rohmat Nurjaman memutuskan mengeluarkan gadis itu dari bar Beranda sekaligus meminangnya. Rohmat Nurjaman pergi ke pedalaman Banyumas ditemani ketiga temannya. Di sana ia menikahi Marni, sebelum membawanya kembali ke Jakarta dan tinggal di sebuah rumah mungil agak di luar kota.

Ternyata itu bukan perkawinan yang mudah. Pada hari-hari pertama perkawinan mereka, Rohmat Nurjaman sering didera mimpi melihat istrinya ditiduri para pelanggan lain di kamar-kamar Beranda. Karena Rohmat Nurjaman tahu di suatu masa mimpinya merupakan kebenaran, ia sering dilanda kecemburuan begitu terbangun dari tidur. Marni juga didera khayalan yang mengganggu, membayangkan suaminya pergi ke Beranda dan meniduri gadis lain. Ini pun pernah terjadi dan mereka berdua tahu.

Kecemburuan itu membawa mereka pada pertengkaran kecil, yang lalu diselamatkan oleh cinta. Suatu hari, di bulan ketujuh belas pernikahan mereka, keduanya berjanji untuk tak lagi mengenang masa lalu dan mengubur habis semua kecemburuan. Setelah itu segalanya berjalan lebih baik.

Kecuali gincu di bibir Marni.

Ia belajar mempergunakan gincu dari Maridah, perempuan yang saat itu paling tua di bar. Maridah pulalah yang membawanya dari Cibolang, sebuah nama yang tak ada di peta dan hanya akan disebut sebagai "di pedalaman Banyumas". Banyak gadis-gadis di awal belasan tahun telah dibawa Maridah ke Jakarta dari tempat itu. Sejak awal mereka tahu akan bekerja di bar-bar semacam Beranda, tetapi Maridah meyakinkan mereka dengan berkata, "Kamu tak perlu jadi pelacur di sana, cukup melayani pelanggan minum bir."

Awalnya memang begitu, tetapi tidak benar-benar begitu. Para pelanggan itu tak hanya ingin dilayani menuangkan bir ke gelas mereka, tetapi minta didampingi. "Temani saja," kata Maridah. Jadi, ia duduk di samping mereka, ikut minum dan makan cemilan, dan sesekali ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Itu tak seberapa jika tangan para lelaki pelanggan itu bisa diam. Jemari mereka cenderung bergerak, awalnya hanya menyentuh tangan, lama-lama merayap ke segala arah.

Belakangan ia mulai belajar dengan cara itulah ia bisa memperoleh uang lebih banyak. Dan, kemudian tahu, jika ingin memperoleh lebih banyak lagi, ia mesti tidur dengan mereka. Lima bulan selepas itu Marni kehilangan keperawanannya dan hidupnya terus berjalan dari malam ke malam hingga ia berjumpa dengan Rohmat Nurjaman.

Dalam hal-hal tertentu, Rohmat Nurjaman tak berbeda dengan pelanggan lain yang gemar menjamah. Bahkan, lebih buruk karena kadang membayar lebih sedikit. Tetapi, dalam perkara lain, ada hal-hal berbeda yang disukai Marni. Tidak seperti pelanggan lain yang buru-buru mengajak ke lantai atas menjelang pukul lima, di mana terdapat kamar-kamar untuk telanjang, Rohmat Nurjaman lebih suka membawanya keluar selepas bar tutup.

Mereka akan mencari motel dan itu berarti Marni tak perlu berbagi penghasilannya dengan pemilik bar. Itu bukan satu-satunya yang menyenangkan buat Marni. Di motel mereka tak merasa perlu buru-buru, mereka bisa bermalas-malasan hingga pukul dua belas siang. Mereka juga bisa berjalan-jalan di siang hari selepas itu, mencari sarapan yang terlambat. Apa boleh buat, itu membuat mereka lambat-laun mulai jatuh cinta satu sama lain.

Sejarah kecil itu diketahui sepenuhnya oleh Rohmat Nurjaman.

Tiga tahun usia perkawinan mereka, namun Rohmat Nurjaman masih merasa sesuatu mengganjal dalam kehidupannya. Itu adalah gincu di bibir istrinya. Gincu yang sama sebagaimana ia pernah melihatnya di keremangan bar Beranda. Memang ketika mereka mengikrarkan pernikahan, keduanya telah berjanji untuk menjalani hidup baru sebagai suami dan istri, bukan pelayan bersama pelanggannya.

Tetapi, Marni masih mempergunakan gincu yang sama dan dengan cara yang sama. Rohmat Nurjaman ingin melarangnya, tapi berpikir jika ia melakukannya, itu hanya akan mengingatkan kepada masa-masa mereka di bar. Dari pagi ke pagi, dari senja ke senja, gincu itu semakin mengganggunya. Hingga akhirnya Rohmat Nurjaman mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan istrinya sementara ia pergi bekerja.

Rohmat Nurjaman tak pernah berhasil membuktikan kecurigaan atas istrinya. Bahkan, meskipun beberapa kali ia sengaja mendadak pulang, ia selalu menemukan istrinya ada di rumah, menunggunya. Hingga suatu pagi seorang perempuan dari dinas sosial meneleponnya dan ia merasa memperoleh bukti untuk kemudian menghukumnya tanpa ampun dengan sebaris kalimat pendek:

"Sebaiknya kita bercerai saja."

Tak ada tempat untuk pergi kecuali ke Beranda. Pemilik bar masih mengenalinya dan memperbolehkan Marni untuk kembali bekerja di sana.

Di tempat itu ingatannya kepada Rohmat Nurjaman malah menjadi-jadi. Saat menemani seorang pelanggan, ia akan mengenang masa ketika mereka bicara tentang banyak hal. Kebanyakan tak dimengertinya, tapi dengan senang hati ia mendengarkan, dan Rohmat Nurjaman tak pernah menuntutnya untuk mengerti. Suatu ketika Rohmat Nurjaman berkata kepadanya, "Banyak perempuan di luar sana, beberapa pernah jadi pacarku, gemar bicara padahal mereka tak mengerti apa pun."

Ia merasa itu pujian untuknya. Tetapi, saat paling membahagiakan dalam hidupnya adalah malam ketika Rohmat Nurjaman berkata:

"Rasanya aku mencintaimu."

Sejak itu ia mulai sering berdandan setiap tahu akan bertemu Rohmat Nurjaman. Ia tak tahu banyak hal untuk diberikan kepada kekasihnya, kecuali memamerkan senyum yang tulus berhias gincu.

Hingga tiga tahun perkawinan mereka dan Marni mendapati suaminya berubah. Rohmat Nurjaman sering tak pulang dan tak lagi mencumbunya dengan kegairahan seorang lelaki cabul. Barangkali aku tak lagi cantik, pikirnya. Barangkali karena tak juga kami punya anak, katanya kepada diri sendiri. Atau barangkali suaminya pergi kembali ke Beranda dan menemukan gadis yang lebih manis di sana? Barangkali gadis itu masih empat belas tahun dan mengoleskan gincu lebih tebal di bibirnya? Marni merasa panas namun mencoba membuang kecurigaan tersebut. Meski begitu, suatu malam ketika suaminya tak juga muncul selewat pukul dua belas dan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tak pula menemukan jawaban, perempuan itu memutuskan keluar rumah.

Marni memoleskan gincu ke bibirnya, percaya itu akan membuat Rohmat Nurjaman kembali ke pelukannya. Ia menghentikan sebuah taksi dan minta diantar ke Beranda. Di sana, atas nama peraturan daerah tentang pelacuran, lima orang petugas menangkap Marni. Sejujurnya ia mulai menganggap semua itu hukuman untuknya, yang telah berburuk sangka suaminya pergi ke Beranda untuk meniduri perempuan lain. Menurut dia, itu malam buruk yang diawali pikiran buruk dan ia sungguh menyesal.

Kini, kembali bekerja di bar tersebut, Marni terus memelihara keyakinan bahwa suatu malam suaminya akan muncul, lalu mereka akan memulai semuanya dari awal. Dalam penantiannya, ia masih kukuh pada janji yang tak pernah diucapkannya. Ia tak mengenakan gincu. Seorang gadis dua belas tahun yang baru bekerja di sana pernah menanyakan mengapa ia tak bergincu, dan Marni menjawab:

"Gincu ini merah, Sayang, dan itu hanya untuk suamiku."

Memang sejak ia jatuh cinta kepada Rohmat Nurjaman, apalagi setelah mereka menikah, ia tak pernah membuat merah bibirnya untuk lelaki lain.





Kompas Minggu, 01 Juli 2007

Sunday, 14 November 2010

KOOR Kidung Orang-orang Rakus

Lakon

KOOR Kidung Orang-orang Rakus

Oleh Teater Lembaga




ADEGAN 1

Musik.Orang-orang berperut buncit bermunculan dalam aktivitas mereka, tenggelam dalam irama dan nyanyian gembira. hingga satu moment, gerakan mereka membeku. kurop, menyibak keramaian, bicara pada penonton.

KUROP
Koor? Kedengerannya aneh gak, sih? Tapi di sini, di negeri kami yang bernama Negri Durjanasia ini, anda boleh bilang kalo setiap kami semua adalah penganut koor yang taat. Karena koor adalah nilai luhur warisan para leluhur. Anda bisa buktikan semua itu dengan melihat bagaimana cara kami memelihara dan membuncitkan perut-perut kami. Karena perut buncit adalah lambang kegagahan kami, kewibawaan, kesuksesan, kesejahteraan dan kesempurnaan hidup kami. Jadi sudah sewajarnya kalo kami mengarahkan semua tindakan-tindakan kami- tanpa terkecuali, demi perut-perut buncit kami ini. Lantas, anda semua mungkin akan bertanya... bagaimana cara kami melestarikan koor yang luhur itu secara turun-temurun? Ahaa...inilah negeri kami, rumah kami...kami akan terus ada dan berkembang dalam...tradisi!

orang-orang yang tadi membeku dalam aktivitas mereka, tiba-tiba mencair kembali, menyanyi dan menari, riang.

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tradisi!...Koor!...Tradisi!...Koor!...Tradisi!... Koor! Lestarikanlah tradisi!...Koor!...

Purok masuk, sosoknya nampak paling kurus, penampilannya ganjil dibandingkan yang lain. purok celingukan, seperti orang linglung.

ORANG 1 (Nyanyi)
Dengan tradisi koor...kita tau kapan kita mesti tidur...

ORANG 2 (Nyanyi)
...kita tau kapan mesti bangun...

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tradisi!...Koor!...Tradisi!..Koor!...Makmur....!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Jangan jadi orang jujur...hidupnya nanti malah mundur!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Tau sama tau...itu jurus yang paling manjur!

PEREMPUAN 1 (Nyanyi)
Mau belanja di pasar, jangan cuma bawa uang...ajak saudara atau teman, biar bisa bersekongkolan...

PEJABAT 1 (Nyanyi)
Kedudukan tinggi, jadi mentri, atau polisi...cukup pake koneksi.

ANAK-ANAK KECIL (Nyanyi)
Umur tiga tahun kami mulai belajar curang...umur lima tahun belajar tipu-tipuan...

ANAK-ANAK REMAJA (Nyanyi)
Umur lima belas mulai praktek lapangan...curi-curi waktu...cari-cari kesempatan. Jilat sana-jilat sini...rebut kedudukan orang!

ORANG-ORANG (Nyanyi)
Itulah nilai luhur warisan para leluhur...

sekelompok orang-orang sedang melakukan transaksi di pasar dengan saling mencurangi. kurop hadir di antara mereka.

KUROP (Pada penonton)
Beginilah cara kami hidup dalam adab kesantunan yang terpelihara dengan baik. Dari generasi ke generasi. Saling menjegal satu sama lain, sikut sana-sikut sini, saling curang-mencurangi- dengan arif. Dan dengan begitu kebersamaan kami terus tumbuh, tercipta oleh satu kebutuhan yang sama...yaitu; kebutuhan membuncitkan perut pribadi!

Black Out


Gelap. Hanya sebulat cahaya menerangi wajah purok. purok tercekam sendirian. suara-suara berita tentang purok, sang koruptor terdengar dari berbagai siaran membuat suara dari berita itu menjadi saling bertumpuk. lampu follow masih menyorot wajah purok yang duduk di sebuah kursi dengan wajah yang pucat dan bibir yang bergetar. tiba-tiba terdengar suara ketukan palu menghentikan suara berita-berita tentang koruptor itu.

SUARA HAKIM
Terdakwa PUROK terbukti melakukan penggelapan uang sehingga negara mengalami kerugian sebesar 15 trilyun. Dan terdakwa Purok berhak atas hukuman 10 tahun penjara!

Lampu tiba-tiba terang semua. suasana pasar di negeri durjanasia, riuh oleh semua penduduk negeri yang semuanya berperut buncit.
purok masih duduk di kursinya memandangi sekeliling dengan rasa heran melihat berbagai kecurangan yang ada di pasar itu. seorang penjual mengusir purok dari bangkunya.

PENJUAL
Minggir! Kursi ini buat langganan saya. Enak aja maen dudukin!

PUROK
Maaf, maaf...

Seorang penjual beras sedang menempelkan besi pada timbangannya supaya jadi berat sebelah.

PENJUAL BERAS
Bagus. ( pada pembeli) Ayo, beras murah, beras murah....

seorang pemuda sudah selesai membeli sehelai kain selendang.

PENJUAL SELENDANG (Menamparkan uang ke selendang)
Laris manis, laris manis...

Si pemuda langsung mendekati pacarnya, memberikan kain itu dengan sikapnya yang romantis. si gadis tersenyum senang dan kaget melihat lipatan kain itu bolong. si gadis langsung menampar si pemuda dan langsung pergi. si pemuda memandang si penjual kain. si penjual kain nampak puas.

PENJUAL KAIN
Selendang sutra, selendang sutra...

Kecurangan terjadi di mana-mana. purok selalu merespon dan mencoba mencegah para pembeli untuk tidak belanja di situ. kurop, seorang petugas polisi, memperhatikan tingkahnya. Purok semakin kebingungan menghadapi keadaan negri yang menurutnya kacau balau. Kurop, terus mengamati tingkah purok yang semakin aneh.

KUROP
Hei, kamu! Sini!

Purok celingukan, bingung.

KUROP
Kamu! Iya! Kamu, sini!

PUROK
Saya pak?

KUROP
Iya, kamu! Kamu pikir saya ngomong sama malaikat?... Sini!

Purok tegang dan dengan terpaksa menghampiri Kurop.

KUROP
Kenapa badan kamu kurus?

PUROK
Hah? Ooo...(Menganehi keadaan sekeliling)

KUROP (Mengacungkan pentungan)
Kenapa badan kamu kurus?

PUROK (Takut)
Ii...iya, pak...Ee...eee…emang udah dari sononya, Pak…

KUROP
Kamu pasti bukan orang sini!

PUROK (Gugup)
Mmmm…ii...iya, pak.

KUROP
Darimana asal kamu?

PUROK
Endonesa.


KUROP
Oo…Endonesa. Tau, tau, tau. Pantes. Keliatan. Jelas!

PUROK
Apanya, pak?

KUROP
Gampang terhasut, bisanya cuma ngeluh, suka besar-besarin masalah, susah dimengerti!…Tapi saya kagum sama kamu dalam satu hal.

PUROK
Apa itu?

KUROP
Mimpinya selangit!

PUROK
Ah…bapak bercanda.

KUROP
Serius saya.

PUROK
Seberapa serius bapak menangani masalah?

KUROP
Tergantung. Masalah apa dulu?

PUROK
Kenapa kejahatan didiamkan? Pedagang curang itu juga. Itu kan masalah.

KUROP
Masalah? Curang? Kenapa memangnya? Bagus, kan?

PUROK
Hah! Aneh!

KUROP
Kamu yang aneh!

PUROK
Lho, kok saya?

KUROP
Ya, kamu. Kejahatan, kecurangan, ngakal-ngakalin orang, semua itu termasuk masalah yang baik. Justru kalau kamu tidak melakukan semua itu, kamu bisa ditangkap! Mau kamu ditangkap?

PUROK
Saya ditangkap justru karena saya gak ngelakuin kecurangan? Ah, bapak bercanda! Bapak mau mempermainkan saya, ya? Bapak pikir saya idiot?

KUROP
Kamu pikir kamu ada di mana? Endonesa? Ini negri Durjanasia.

PUROK
Durjanasia? (Pada diri sendiri) Durjanasia? Di mana ada Durjanasia, ya?

KUROP
Ah, payah!…Masak sama tetangga negara sendiri aja gak tau. Keterlaluan! Bisa mati konyol kamu di sini! Udah, sana pulang!…Pulang sana…pulang!...Pulang ke Endonesa!

PUROK
Tapi pak…

KUROP
Pulang! Daripada mati konyol?

PUROK
Mati konyol karena apa?

KUROP
Karena kamu kurus, Endonesa!

PUROK
Ah!...Memang saya kurus...saya akuin...tapi saya sehat walafiat, pak. Saya bisa jamin, saya bisa hidup di sini sampai 7 turunan- kalau saya mau!

KUROP
Kamu? 7 turunan? Gak mungkin!

PUROK
Saya punya uang di mana-mana.

KUROP
Di mana?

PUROK
Swises.

KUROP (Meremehkan)
Kamu yang bercanda sama saya. Mau mempermainkan saya? Saya ini penegak hukum di sini. Saya bisa penjarakan kamu kapan saja saya mau! Termasuk kebohongan kamu tadi.

PUROK
Kebohongan yang mana?

KUROP
Yang 7 turunan tadi! Dengan begitu kamu udah menghina Durjanasia! Kamu tidak tau kan Durjanasia? Tau gak sih Durjanasia itu apa? Wah, wah, wah...ayo, ikut!…Ikut!…Ikut!

PUROK
Kemana pak?

KUROP
Menjarain kamu!

PUROK (Shock)
Iii...iya, pak…kan itu…tadi kan yang...yang saya ucapkan tadi itu kan cuman pengandaian aja, pak…hanya perumpamaan. Seandainya, seumpama, misalkan- ya, maunya saya sih, gitu. Tapi…itu kan cuma istilah, pak. Tapi sumpah, pak…saya hanya gak ingin diusir dari negara bapak yang santun ini.

KUROP (Tersinggung)
Apa kamu bilang? Santun?

PUROK
Santun, pak.

KUROP
Sekali lagi kamu berani bilang begitu, saya pentung kepala kamu!

PUROK
Tapi santun kan pujian, pak. Bapak gak suka dipuji?

KUROP
Itu hinaan paling keji dan biadab!

PUROK
Lho, tapi itu...

KUROP
Udah, udah...cukup! Saya udah kehabisan akal buat ladenin kamu! Ayo, ikut! Orang kayak kamu emang pantesnya dikerangkeng supaya gak nyusahin orang!


PUROK
Waduh, pak…tapi...apa itu salah?

KUROP
Salah! Fatal! Kamu udah mencoreng dan mempermalukan wibawa bangsa saya! Dan hukumannya adalah penjara seumur hidup!

PUROK
Saya gak terima ini! Bapak sudah mempermainkan saya, mengintimidasi saya, memperlakukan saya seolah saya telah melakukan tindak kriminal! Saya juga bisa mengadukan bapak karena sudah berusaha mencemarkan nama baik saya!

KUROP (Terbahak)
Haha...dasar Endonesa! Endonesa…Endonesa… (Langsung paksa) Ayo, ayo!...Ayo, ikut saya! Daripada kamu ngoceh terus gak karuan kayak gitu! Karena semakin banyak yang kamu ocehin semakin banyak juga kesalahan yang bisa memberatkan hukuman kamu!

PUROK
Waduh, pak...tapi, pak…maap, maap...baik, oke. Saya akuin, saya salah. Maap, pak. Tapi saya mohon pengertian bapak...mm...maksud saya....tolong, urusan ini hanya sampai di sini aja. Mmm...maksud saya...kalo bapak gak keberatan....dan apabila bapak bersedia...apakah sudi kiranya bapak tunggu saya sebentar aja di sini...mmm...maksud saya...saya mau nyiapin dulu segala sesuatunya supaya urusan di antara kita bisa selese. Bentar ya, pak. (Bicara pada penonton) Pantas gak, ya...saya lakuin ini? Kalo di negri saya, sih...cara ini ampuh banget buat nyelesain masalah. Ah, coba dulu deh. (Mengambil segepok uang dari tasnya dan menaruh uangnya di pojokan, lalu kembali menghampiri KUROP) Pak... mmm...bapak liat pohon itu...batu! Di samping kiri batu…daun. Nah, yang di bawahnya itu untuk bapak!

KUROP (Menoyor kepala Purok dengan kesal)
Aduh! Pinter banget sih Kamu!

PUROK (Tersanjung)
Ah, bapak bisa aja…

KUROP
Duuuh...! Kamu bisa mikir gak, sih? Coba pikir! Pantesnya orang kayak kamu itu diapain, sih?

PUROK
Waduh...salah lagi saya ya, pak?

KUROP (Menggeram, habis kesabaran)
Gggrrr....

PUROK (Gemetar)
Maap, maap, pak...tapi bukan maksud saya begitu.

KUROP
Kalo bukan begitu apa lagi? Selain kamu mempermalukan saya, kamu udah menghina adab dan budaya bangsa ini!

PUROK
Ya, tapi...ini kan cuman sekedar cara...hanya cara. Nggak lebih buruk dari nipu kan, Pak? Kenapa saya harus dituduh sebagai penghina budaya bangsa?!

KUROP
Karena adab kesantunan di sini sudah terpelihara dengan baik sejak dari jaman nenek moyang! Kalo kamu melanggarnya berarti kamu telah memberaki nenek moyang saya! Dan saya gak akan diam saja melihat ada orang asing menodai nilai luhur warisan moyang saya! Saya akan hukum kamu seberat-beratnya atas perbuatan kamu ini! Kamu akan saya gantung sampe leher kamu putus! Ayo, ikut!

PUROK
Ampun, pak...tobaat! Tolong, jangan hukum saya karena kesalahpahaman ini. Jangan gantung saya, pak. Saya cuma orang asing bodoh yang gak tau apa-apa soal adab kesantunan negeri bapak yang...yang luhur ini. Moga-moga nenek moyang bapak juga mau memaafkan saya atas kelancangan saya ini. Tapi saya bener-bener gak tau mesti gimana lagi agar masalah di antara kita bisa selesai dengan baik. Dan soal yang di bawah daun itu...saya ikhlas, pak...itu memang untuk bapak. Walaupun cara saya itu bapak nilai telah mencoreng budaya bangsa...tapi sumpah, pak... cara itu cara yang terbaik dari yang saya tau.

KUROP (Sambil bergerak ke arah uang yang diletakan Purok) Ini...nih...walaupun kamu nyebelin...tapi kamu jago ngeles juga, ya. Itu salah satu lagi yang bikin saya suka sama kamu. Cukup licik! Dengan modal itu kamu bisa mulai hidup di negri ini. Ya, paling-paling cuma butuh waktu dan sedikit proses untuk jadi seperti saya. (Ngambil uang yang ditaruh Purok di bawah daun, menimang-nimang sebentar) Eh, sini!

PUROK
Saya?

KUROP
Iya, pinter! Sini!

Purok menghampiri kurop, mengeluarkan catatan.

KUROP
Nama kamu siapa?

PUROK
Purok, Pak.

KUROP
Lumayan. Keperluan?

PUROK (bingung)
Aaa..eee...tt...tamasya, Pak.

KUROP
Mmm...tamasya. Ada berapa ginian yang kamu bawa?

PUROK
Oh. Ya, cukuplah, Pak.

KUROP
Cukup buat apa aja? 7 turunan?

PUROK
O, enggak, Pak. Tadi itu kan cuman istilah aja. Ya, salah satunya...cukuplah buat nambahin bapak.

Purok memberikan uang segepok lagi, Kurop menerimanya, menghitung-hitung. tak lama kemudian muncul kadus.

KADUS
Ehem, Ehem..Ehemm....

KUROP
Wah, Pak Kadus. Abis belanja, Pak?

KADUS
Mmm. Gimana pendapatan hari ini?

KUROP
So Far So Goodlah, Pak.

KADUS
Good...good. (Melihat Purok) Siapa ini?

PUROK
Saya…saya…Purok, pak. (Mengulurkan tangan, ngajak salaman)

KADUS
Ngapain kamu di sini? Sana, sana! Gembel!

PUROK
Lho, tapi saya lagi ada urusan sama bapak ini, pak.

KUROP
Ah, urusan apa? Enggak. Yang mana?

PUROK
Batu, Pak. Yang di bawah daun...

KUROP
Daun yang mana?

PUROK
Yang saya tambahin barusan.

KADUS
Daun? Daun apaan, sih?

KUROP
Oh…enggak, pak. Cuma recehan. Gak penting.

KADUS
Oo...(Pada Purok) Bener, gak penting?

PUROK (Mau protes)
Mm...tapi dua gepok...(diplototin Kurop)...iya, iya. Bener, pak. Gak penting.

KADUS
Mencla-mencle kamu!! (Kepada Purok) Udah, sana kamu. Kami tidak terima orang-orang seperti kamu. Udah kurus, mencla-mencle lagi. Kamu bisa memperburuk wajah Durjanasia dan mengganggu stabilitas nasional. Sana! (Menarik Kurop ke sisi lain). Saya liat prestasi kamu tidak meningkat, Kurop. Perut kamu juga tidak bertambah besar. Ada apa sebenarnya?

KUROP
Begini, pak. Kemarin-kemarin saya agak kalah cepat dengan si Kurap dan teman-temannya. Tapi saya akan berusaha mengalahkan mereka di proyek berikutnya.

Purok bingung mendengar percakapan mereka.

KADUS
Ya, harus gitu. Apalagi si Kurap bakal dinobatkan jadi Warga Durjanasia paling berprestasi tahun ini.

KUROP
Wah, gawat! Emang proyek apaan aja yang dia dapat?

KADUS
Oo, banyak!… Aspal Jalan di selatan, Babat hutan, Iklan calon pejabat, export minyak mentah, terus...

KUROP
Wah, berapaan tuh pak?

KADUS
Buanyak!

KUROP
Pantas aja kalo dia bakal dinobatkan jadi tokoh paling berprestasi di negri ini.

KADUS
Ya, iyalah! Dia lebih licik dan berhati batu dibandingin kamu! Lha, kamu? Gampang kasihan! Gak tegaan! Masih doyan recehan! Padahal sebagai penegak hukum seharusnya kamu memberikan contoh yang baik dan bisa menjadi suri tauladan buat masyarakat. Payah kamu!

KUROP
Kan tadi saya bilang saya ingin menyaingi si Kurap.

KADUS
Dengan cara apa?

KUROP
Santunan Orang Miskin, Pak.

KADUS
Wah…oke, tuh. Berapaan?

KUROP
Walaupun cuma regional, pak…tapi, yaah...kalo diitung-itung bisa nyampe 17 triyunan kuriah lah, pak.

KADUS
Mmm...Good!…Kalo gitu, 50% jangan lupa kamu siapin buat saya.

KUROP
Bisa diatur, pak. Tapi 20% aja ya, pak. Ntar yang lain pasti minta bagian juga. Nanti saya dapet apa?

KADUS
Ya, diatur dong!…Katanya mau jadi tokoh masyarakat? (Pada Purok) Eh, Gembel! Liat ini! Kamu denger barusan, kan? Ini calon tokoh berprestasi berikutnya di negri ini. Kamu mesti banyak belajar dari orang-orang kayak dia!

PUROK
Oo, iya, iya, pak. Pasti, pasti.

KADUS
Pasti, pasti. Mencla-mencle kamu. (Kepada Kurop) Jangan Lupa yang 50%!…

kadus pergi.

KUROP
Waduh, nasib!…Proyek belom jalan, udah ilang 50%! (Lalu berjalan keluar)

Purok ternganga, lalu bicara pada penonton.

PUROK
Durjanasia? Walaupun saya baru pertama kali denger ada negri bernama Durjanasia, tapi dengernya saja udah bikin tentram hati saya. Yess! Sekarang saya udah gak perlu takut lagi sama kejaran aparat dari negeri saya. Karena dengan menjadi warga negara ini, saya akan terbebas dari dakwaan sebagai koruptor buronan. Ini, negri seperti ini yang saya cari. Saya bukan hanya dapat tempat sembunyi, tapi sekaligus saya mendapatkan kehidupan yang saya dambakan. Ah, kalo tau gini, gak perlu repot-repot nyamar jadi turis. Karena adab dan budaya curang sangat dijunjung tinggi di sini. Dan dengan ilmu dan pengalaman saya sebagai koruptor, saya yakin, saya bisa jadi warga Durjanasia yang baik. (melihat ke perutnya) Nah, tinggal ini yang perlu dipikirin. (Lalu tersenyum)

Transisi. Di belakang Purok sudah nampak orang-orang mengantri di departemen tenaga kerja. Purok melihat ke arah mereka.

PUROK
Nah! Dari sinilah saya akan mulai!

Adegan 2

Fade up
departemen tenaga kerja. Down right, meja petugas pengambilan nomer antrian. right centre, terdapat meja 1 surat rekomendasi. up center, kursi antrian yang tersusun dengan sangat rapi. left center, meja 2 petugas stempel. dan down left, pintu ke ruang lain.

Purok terus mengamati dan mempelajari situasi aktifitas yang sedang terjadi dan bergerak menepi, berdiri tidak jauh dari kerumunan orang–orang yang sedang mengantri.

Beberapa orang sedang bergerombol di dekat meja rekomendasi untuk mendapatkan surat rekomendasi.

Bebrapa yang lain sedang mengantri untuk mendapatkan stempel pengesahan dari petugas stempel.

PETUGAS ADMINISTRASI (mengabsen)
128..!

Kalbun maju ke depan meja, lalu duduk.

PETUGAS ADMINISTRASI
Nama?

KALBUN
Kalbun, Pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Lamaran kerja; Dinas Kesehatan. Posisi; Kepala Staf Bagian Keuangan. Sogokan?

KALBUN
5 Juta, Pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Good. Ini surat rekomendasinya. (Menunjuk ke meja 2) Stempel di sana.

KALBUN
Yes! Makasih, Pak.

Kalbun langsung bergegas mengantri di meja stempel, langsung nyelak ke antrian paling depan. di depannya, seorang wanita duduk di hadapan petugas.

PETUGAS ADMINISTRASI
129...!

SODID
Saya, Pak.

PETUGAS ADMINISTRASI (Berteriak)
Nyingkir! Saya gak terima sogokan ratusan ribu!

SODID
Tapi ini udah sesuai dengan lamarannya. Saya kan melamar kerjanya cuma jadi OB.

PETUGAS ADMINISTRASI
Mau OB, kek...biayanya sejuta dua ratus!

SODID
OB, pak...cuma OB. Masa sampe jutaan?

PETUGAS ADMINISTRASI
Kamu pikir gampang apa nyalurin kerja? (Memanggil) Satpam!...

dua orang satpam mendekat.

PETUGAS ADMINISTRASI
Setorin nih gembel ke polisi!

SODID
Bentar, Pak. Sogokan yang tadi...

SATPAM
Banyak cingcong! Ikut!

Kedua satpam itu menyeret sodid. Di meja stempel, judam yang ada di belakang kalbun tampak geram, ia lalu membalikan tubuh kalbun.

JUDAM
Heh, enak aja maen nyelak. Gua udah ngantri dari tadi, neh. Nomer antrian lo berapa?

KALBUN
Apa? Kenapa? Sogokan lo berapa?

JUDAM
2 juta.

KALBUN
Ya, udah. Lo di belakang gua. Sogokan gua 5 juta. Minggir, minggir, minggir. Sogokan seiprit aja mau di depan!

Purok yang dari tadi memperhatikan orang-orang di situ, tampak cerah seperti dapat ide melihat apa yang dilakukan kalbun.

PUROK
Ini yang paling asyik. Saya paling suka ambil jalur cepat.

Purok langsung bergegas menuju antrian stempel, langsung menyelak di tengah-tengah antrian itu.hursur yang berada di belakang purok tampak tersinggung karena diselak sama orang kurus.

HURSUR
Ehm...Ehm...

Purok hanya nengok, mengangguk dan tersenyum padanya kemudian mengantri kembali.

HURSUR
Ehm!...

PUROK (Mengangguk)
Pak...

HURSUR
Mau ambil posisi saya? 30 juta, mau?

PUROK (Terkejut)
Waduh!

HURSUR
Minggir!

Purok pun kemudian menyingkir ke belakangnya, tapi tetap tak ada celah untuknya. purok akhirnya berdiri paling belakang. purok berusaha kembali menyelak antrian, tapi semua orang yang antri menyingkirkan purok hingga ia terpelanting ke tempat asalnya.

PUROK
Gila! Gimana caranya saya bisa nembus?

Purok mengamati lagi situasi sekitar.

PETUGAS ADMINISTRASI
Nama dan alamat?

ABIDIN
Abidin. Kampung Pulo Tiud, no 313 Kelurahan Durjanasia Barat.

PETUGAS ADMINISTRASI
Berapa uang administrasi yang kamu siapkan?

ABIDIN
15 juta pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Baik. Kamu memberi diatas 10 juta, berarti masuk kategori 3. Ini kamu dapat nomer 51 dan tanda tangan disini.

ABIDIN
Terimakasih, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI (Teriak)
Next!…

Siti bagiyatun tampak sedang merayu petugas stempel.

PETUGAS STEMPEL
Siti Bagiyatun...ini gimana? Kok, gak ditulis sogokannya?

SITI BAGIYATUN
Ah, bapak...malulah, pak. Masa kayak gini aja harus ditulis.

PETUGAS STEMPEL
Oh, harus. Untuk bukti. Kalo kamu gak nepatin janji gimana?

SITI BAGIYATUN
Tapi kan ini sogokannya laen.

PETUGAS STEMPEL
Saya ngerti. Saya tahu. Saya paham. Tapi kamu mau ngasih berapa malem? Itu kan harus ditulis. Ayo, berapa malem kamu mau sama saya?

SITI BAGIYATUN
Ah, Bapak...gituan mah gak usah pake ditulis segala. Yang penting kan kita bisa...oho-oho.

Siti Bagiyatun melakukan gerakan yang erotis, kemudian membelai petugas dengan mesra.

PETUGAS STEMPEL
Nggak bisa. Kamu harus tulis. Ini untuk bukti.

SITI BAGIYATUN
Oke. Berapa malem Bapak mau sama saya?

PETUGAS STEMPEL
Ya, kamu mau ngasih saya berapa malem?

SITI BAGIYATUN
Satu.

PETUGAS STEMPEL
Wah! Cuma semalam? Tambahin lagi, dong! Biar semuanya bisa lancar!

SITI BAGIYATUN (Menunjukan dadanya)
Bapak mau nyicip gak, nih? Kalo mau...dipercepat dong!...Jangan dilama-lamain kayak gini.

PETUGAS STEMPEL
Aduh, pusing saya! Ya, udah. Tapi...malam ini, ya!

SITI BAGIYATUN
Beres, Pak. Dateng aja jam delapanan. Mumpung laki saya nggak ada.

Siti Bagiyatun mulai membelai dagu petugas. petugas gemetaran sambil memberikan stempel. setelah menerima stempel, Siti Bagiyatun langsung pergi, sementara petugas masih gemetaran dengan mukanya yang mesum. tanpa sepengetahuannya, kalbun sudah duduk di depannya.

KALBUN
Pak...Pak...Pak...sadar, Pak.

Petugas stempel masih saja menghayal. kalbun tak sabar, ia langsung mengambil stempelnya petugas. petugas stempel baru sadar setelah terdengar stempel itu digebrakan oleh kalbun di mejanya.

PETUGAS STEMPEL (Latah)
Eh, kuntul-kuntul-kuntul...berani-beraninya kamu! Emang berapa sogokan kamu? Maen stempel aja!

Kalbun langsung mengacungkan uang segepok di muka petugas stempel.

KALBUN
Nih! Untuk kencan nanti malam. Kalo saya lulus, 50% gaji pertama saya buat Bapak.

PETUGAS STEMPEL
Oh...bagus, bagus, bagus. Kamu pasti lulus.

Kalbun bangkit dari tempat duduknya, menoleh ke judam yang ada di belakangnya lalu meledekinya. judam down, langsung duduk di depan petugas stempel.

Saam dan sariq tampak lebih fokus dari yang lainnya, berusaha mencari sasaran.

SAAM
Oke. Kalo gitu, deal. Saya bantu kamu, kamu bantu saya. Tinggal nyari sasaran.

SARIQ
Tenang aja. Ayam itu bakal datang sendiri.

Di meja stempel, tiba-tiba dudat yang baru nyampe dari meja rekomendasi langsung menyelak purok.

DUDAT
Minggir lo, gembel!

Purok hendak protes.

DUDAT
Apa? Mau protes? Emang sogokan kamu berapa? Kurus dekil kayak kamu itu nggak layak ada di sini. Sana, sana, sana...gembel!

PUROK
Eh, jangan main-main ya! Saya emang kurus tapi saya bukan gembel.

Tiba-tiba baal sudah ada di belakang purok. dia langsung mendorong purok hingga mental.

BAAL
Minggir. Gembel aja protes lo!

PUROK
Apa-apaan ini?

BAAL
Lo gak bakal bisa ngantri kalo nggak punya ini!

PUROK
Apaan, tuh?

BAAL
Ini, ginian! (Menunjukan Surat Rekomendasi). Udah, sana. Capek gua ladenin gembel.

PUROK
Duuuh...apaan ya, tadi?

Baal dan dudat langsung berdiri di antrian. sementara itu, purok yang berada di tengah panggung, merasa sudah mulai mengerti aturan mainnya.

PUROK
Ooo...surat rekomendasi. Rekomendasi apaan? Rekomendasi dari siapa? Aha...ketebelece, nih! Oke. Kalo aturan mainnya gitu, saya ikutin aturan mainnya. Saya bakal ikutin semuanya. Gak tau apa mereka siapa saya!

Purok langsung bergegas menuju orang yang bergerombol di meja administrasi.

PETUGAS ADMINISTRASI
Enak aja! Belom punya nomer antrian udah minta rekomendasi! Sana, ambil dulu nomor antriannya!

PUROK
Tanpa nomor antrian juga bisa kan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Oo, bisa, bisa. 100 juta. Mau?

PUROK
Busyet!

PETUGAS ADMINISTRASI
Itu baru buat ganti rugi orang-orang yang udah pada ngantri. Belom buat saya, belom buat waktu saya yang udah kamu rugikan sekarang ini. Jadi total 250 juta!

PUROK
Busyet!

PETUGAS ADMINISTRASI
Kalo gak mau busyet, ambil jalur normal. Itupun udah kena denda 50 juta.

PUROK
Denda? Denda apaan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Ya, buat denda waktu saya yang udah kamu rugikan sekarang. Cepat! Ayo, bayar...bentar lagi naik dua kali lipat, nih! Cepet! Satu, dua...

PUROK
Iya...iya, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
...tiga! 55 juta!

PUROK
Busyet!

PETUGAS ADMINISTRASI
Mau tambah busyet?

PUROK
Cukup, pak. Cukup!

PETUGAS ADMINISTRASI
Kalo gitu cepet bayar!

PUROK
Bayar administrasi?

PETUGAS ADMINISTRASI
Bayar denda, pinter!

PUROK
Tapi, pak...

PETUGAS ADMINISTRASI
60 juta!

PUROK
Iya, iya....

Purok langsung buru-buru mengeluarkan uangnya dan terpaksa bayar.

PETUGAS ADMINISTRASI
Nah, gitu! Sana, sekarang ambil nomer antriannya.

PUROK
Maap, pak. Tapi di mana ya pak, ngambilnya?

PETUGAS ADMINISTRASI
Pake nanya, lagi! Mau busyet lagi kamu! Sana ambil di laut!

PUROK (Menggerutu)
Busyet! Belom apa-apa udah lewat 60 juta!

SAAM (Jijik)
Makanya jadi gembel jangan belagu! Saya aja yang kaya susah dapet kerja, apalagi gembel.

PUROK
Apa kamu bilang?

SAAM
Udah gembel, budek lagi.

PUROK
Oke. Liat aja nanti. Saya memang kurus, tapi jiwa saya gemuk.

Saam dan sariq tertawa dan bergegas ke antrian stempel, Purok tidak sabar untuk mendaftar, memberanikan untuk menyelak para pengantri. sedangkan reaksi yang diberikan para pengantri hanya melihat aneh.

PUROK
Permisi. Saya mau daftar. Saya mau minta nomer antrian.

Petugas nomer antrian cuek tidak meladeni purok dan memandang aneh.

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next…

PUROK
Pak, pak...pak, saya di sini. Saya mau daftar dan saya juga bawa uang untuk daftar, sama seperti yang lain.

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Pak. Saya memang bukan asli warga sini. Tapi saya sudah bertekad untuk bekerja di sini dan mengabdi pada negri ini!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Saya janji akan bekerja dengan giat dan banyak menghasilkan keuntungan yang akan bisa membanggakan negri ini. Ini pak uang administrasi saya… (memberikan 5 juta).

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Lima juta, pak!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Teriak)
Next!…

PUROK
Sepuluh...sepuluh juta, pak!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Melemah)
Next…

PUROK
Lima belas, pak...lima belas juta!

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Menoleh)
Hhhmmm?

PUROK
Lima belas juta!

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ya, cukuplah! Ini nomernya. Nama? Alamat?

PUROK (Kaget)
Sebentar, pak. Nomer 550? Kok, jauh sekali? Tadi perasaan, saya denger belom nyampe 130-an, deh. Kok, saya dapet nomer 550?

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ada daftar tarif untuk nomer! Uang administrasi yang kamu berikan masuk dalam rating 60-100, nomernya ratusan. Rating top ten, nomer antriannya puluhan, nah...kalo top five, nomer antriannya satuan. Paham? Ada minat?!

PUROK
Kalo top five, berapaan pak?

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ya, sesuai dengan sebutannyalah! Untuk dapet nomer satuan, harganya milyaran. Nomer puluhan, harganya ratusan jutaan. Nah, kalo nomer ratusan, yaaa... kayak kamu tadilah. Masih minat?

PUROK
Seperti tekad saya tadi, pak…saya...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Maunya yang berapaan?

PUROK
Waduh...berapa, ya? Mmmm...ada saran?

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Lha, tekad kamu berapa? Udalah gak usah pake tekad-tekatan segala. Kalo gak mampu gak usah punya tekad. Yang ratusan aja, ya?

PUROK
Tolong jangan hina tekad saya, pak! Selain tekad saya juga punya uang!

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Sudah jangan cerewet. Nama dan alamat ?

PUROK
Purok Bachir. Alamat...alamat...

PETUGAS NOMER ANTRIAN (Agak kesal)
Kamu tinggalnya di mana?

PUROK
Saya...saya...mmm...begini, pak. Kebetulan saya...saya belom punya tempat tinggal, pak.

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Waduh! Ya, udah. Alamat ditulis GEMBEL aja.

PUROK
Kok, gembel pak? Saya emang kebetulan belom punya tempat tinggal. Tapi abis ini saya berniat mau nyari rumah dan...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Udah, udah...cukup! Kamu ini…udah jelek, gembel, bawel, sok bertekad dapet nomer top five!

PUROK
Tapi, pak...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Kamu gak punya tempat tinggal, kan?

PUROK
Iya, pak. Tapi saya...

PETUGAS NOMER ANTRIAN
Ya, udah. Terima. Tanda tangan di sini. Sana antri!

Purok melangkah ke posisi berikutnya yang sudah tampak banyak orang yang sedang menunggu panggilan.

ALITA
Eh…mahluk aneh, nomernya berapa?

PUROK
550.

ALITA
Kalo gitu jangan duduk di sini! Tuh, di deretan paling belakang. Nomer urutan besar mau duduk di depan. Sana, pindah!

PUROK
Bukannya duduknya bebas?

ALITA
Ini bangku top five!

PUROK
Oh..maaf. permisi.

Purok pun langsung pindah kederetan bangku paling belakang dan tampak hanya dia sendiri.
administrasi sedang asyik melayani kliennya.

PETUGAS ADMINISTRASI (Teriak)
Nomer 135!...

ABBE
Saya, pak. Ini biodata saya, ini surat lamaran saya.

PETUGAS ADMINISTRASI
Abbe Sanusius. Mau melamar sebagai kepala sekolah dasar. Benar?

ABBE
Benar pak. Saya baru saja dipecat sebagai guru dan saya sangat berambisi untuk menjadi kepala sekolah.

PETUGAS ADMINISTRASI
Hmm, Good! Harganya 35 juta.

ABBE
Waduh, bisa kurang gak pak ?

PETUGAS ADMINISTRASI
Ah, payah kamu…punya ambisi tapi gak mau rugi. Kamu punya dana berapa?

ABBE
Cuma 35 juta pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Waduh…berat itu. Itu Cuma harga untuk jadi guru dan uang sukses saja. Udah jadi guru aja lagi!

ABBE
Saya udah bosan jadi guru pak. Ayolah pak, tolong dibantu.

PETUGAS ADMINISTRASI
Maaf, tidak bisa. Udah harga mati.

ABBE
Tapi saya boleh milih jadi guru apa aja kan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Emang kamu mau jadi guru apa?

ABBE
Tata boga, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Ok. Sebagai mantan guru, kamu dapat potongan harga 10%, jadi 28 juta. Tapi...karena kamu ada request khusus jadi biayanya ditambah 4 juta plus requestnya 3 juta, jadi totalnya 7 juta. Dan kamu tentu mau proses yang cepat, kan? Tinggal tambah 5 juta. Nah, pas kan 37 juta 200 rebu. Mau? Saya akan tanda tangan dan kamu tinggal ngurus stempel di sebelah dan menunggu panggilan. Next!

Musik. para petugas menyuarakan “next! next! next!” yang ritmik hingga menjadi musik yang bersahutan.
para pelamar bergerak secara mekanis mengikuti irama yang tercipta.

NYANYIAN
Kamu ingin kerja, kamu harus usaha...cari dana ini, kumpulkan dana itu...
lobby sana-sini...bayar semua koneksi.
Birokrasi...sungguh indah sekali!
Next! Next! Next!

PETUGAS ADMINISTRASI
Nomer 550!

PUROK
Ya, pak. Saya.

PETUGAS ADMINISTRASI (Kaget)
Kamu lagi. Mana nomernya?

PUROK
Ini, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Surat lamaran?

PUROK
Surat lamaran? Maksud bapak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Kamu mau kerja, kan?

PUROK
Iya, pak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Mana surat lamarannya? Mau kerja apa dan jabatan apa?

PUROK
Harus ya, pak? Pake omongan aja bisa kan, pak?

PETUGAS ADMINISTRASI
Kamu ini mahluk paling pinter, ya! Kalo gak ada surat lamaran, mana bisa kamu kerja! Logika tetap dipake, dong!

PUROK
Begini pak. Gimana kalo saya pake omongan aja...dan untuk surat lamaran, saya percayakan pada bapak.

PETUGAS ADMINISTRASI
Enak aja kamu! Emang kamu berani bayar berapa untuk kepercayaan saya!

PUROK
Saya...begini, pak...

PARA PENGANTRI (Gaduh)
Pak…duuh! Kok, lama banget sih! Panjang nih antriannya.

Suara-suara para pengantri kian gaduh, lama-kelamaan terdengar rampak membentuk musik dan nyanyian.

NYANYIAN
Panjang...panjang sekali antriannya...
Antri...antri...Yang bayar paling kecil
Antrinya paling pinggir...dst, dst...

Dalam nyanyian, purok terpental-pental sampe bangkrut dan terpuruk.

PUROK
Kenapa nasib saya jadi sial begini? Seluruh uang yang ada di tas saya langsung ludes begitu aja. Ternyata uang adalah segalanya di negri ini. Untung simpanan saya masih aman di bank Swises. Dengan uang, saya bisa jadi apa aja di sini. Tinggal atur langkah...susun strategi...lalu masuk menyelusup ke zona strategis negeri ini. Mmm...dari situ saya akan mulai menancapkan akar saya. Lalu saya akan tumbuh, menjalar ke mana-mana, lalu berkibar-kibar...tak tergoyahkan! Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! Hah...baru ngerti saya arti pepatah itu sekarang!

Black Out

NYANYIAN ANGSA

NYANYIAN ANGSA

Anton P.Chekov

Pelaku :
Vasili Svietlovidoff : Seorang komedian berumur 68 tahun
Nikita Ivanitch : Seorang promter (pembisik), orang tua


Skene ini terjadi di atas sebuah teater daerah. Malam hari setelah pementasan. Si sebelah kanan keadaannya tidak teratur dan ada pintu usang tak bercat ke kamar-kamar pakaian. Di sebelah kiri dan latar belakang pentas diseraki oleh bermacam-macam barang usang. Di bagian tengah ada sebuah kursi polos terjungkir.


1. SVIETLOVIDOFF:
(dengan sebuah lilin ditangan, keluar dari kamar pakaian dan tertawa)
ya, ya ini gila sekali! Sungguh ini lelucon yang sangat bagus. Aku jatuh dari kamar pakaian setelah pementasan habis, dan di situ aku dengan tenang ngorok setelah semua orang meninggalkan gedung teater ini. Ah! Aku memang orang tua yang tolol, si tua yang sialan! Kiranya aku telah minum lagi sehingga aku tertidur di dalam sana, tergeletak. Sungguh pintar! Selamatlah kau pemuda gaek! (memanggil) Yeghorka! Petruskha! Di mana engkau setan, Petruska? Kedua bajingan itu tentulah sudah tidur, dan meskipun gempa tak akan bisa membangunkan mereka sekarang!

Yekhorka (mengambil kursi polos, lalu duduk setelah meletakkan lilin di atas lantai) tak ada suara! Hanya gema yang menyahutku.

Aku beri Yegorkha dan Petruskha persen setiap hari dan mereka telah hembus dan mungkin sekali telah mengunci gedung teater ini. (menggoyang-goyangkan kepalanya). Aku mabuk.

Ugh, pementasan malam ini sungguh menggembirakan, dan alngkah gilanya jika dipikir. Berapa banyak bir dan anggur yang telah kutuang ke dalam tenggorokan untuk menghormati peristiwa ini. Luar biasa! Rasanya tubuhku ikut tenggelam seluruhnya dan kurasa ada dua puluh macam lidah didalam mulutku. Sungguh gila! Tolol sekali! Si jahanam yang malang dan gaek ini telah mabuk lagi dan tidak tahu apa sebenarnya yang dia Tuhankan! Ugh kepalaku remuk, seluruh tubuhku menggeletar dan aku m,erasa dingin serta gelap bagaikan dalam kolong bawah tanah. Bahkan jika aku tidk lupa hancurnya kesehatanku, seharusnyalah aku ingat umurku. Betul-betul si gaek yang tolol aku ini. Yah! Umurku yang telah tua, tak ada gunanya lagi. dan aku yang berlaku dengan tolol, pongah, dan pura-pura muda padahal hidupku sekarang telah usai. Kuciumi juga tanganku yang telah enampuluh depalan tahun berlalu dan tak mungkin kulihat kembali. Aku kosongkan botol itu. Hanya tinggal beberapa tetes lagi di dasar, itupun cuma kerak-kerak. Ya, ya demikianlah halnya, Vasili, pemuda gaek. Waktu telah tiba bagimu untuk meltih peranan sebagai orang mati, suka atau tidak. Kematian kini sedang diperjalanan menujumu (melotot ke atas).

Aneh sekali, meskipun aku telah berada di pentas 40 tahun selama ini, baru kali pertama inilah aku menyaksikan gedung teater ini malam hari, setelah lampu-lampu dipadamkan. Untuk kali pertama! (berjalan bangkit ke arah lampu kaki) alangkah gelapnya di sini. Aku tak dapat melihat apa-apa. Oh ya, aku dapat melihat lubang sipembisik dan mejanya, terbaring di dalam liang yang gelap, hitam tak berdasar, macam kuburan dimana maut mungkin sedang bersembunyi. Brrrrr …….. betapa dinginnya ini. Angin berhembus dari tetater kosong ini seperti keluar dari terowongan batu. Ini tempat hantu! Tengkukku jadi begidik (menggigil). Yegorkha! Petruskha! Dimana kalian berdua? Apa yang menyebabkan aku merasa benda-benda yang ada di sekitarku menyeramkan? Aku semestinya diberi minuman, aku seorang tua. Aku tidak akan hidup lebih lama lagi. pada usia 68 orang pergi ke tempat beribadah, dan bersiap-siap untuk kematian. Tetapi aku di sini. Ya tuhan! Anak yatim tua ini mabuk dalam pakaian tololnya. Aku tidak pantas lagi kelihatan begini. Aku mestinya pergi untuk menukarnya.
…………. Ini memang tempat maut dan aku tentu akan mampus ketakutan kalau di sini semalaman. (keluar menuju kamar pakaian). Ketika itu juga muncul nikita ivanitch, muncul dengan pakaian serba putih dari kamar pakaian di ujung pentas.

2. SVIETLOVIDOFF:
(melihat Ivanitch, kemudian menjerit kaget sambil mundur ke belakang) Siapa kau? Apa, apa perlumu? (menghentakkan kaki) siapa kau?

3. IVANITCH :
Ini aku, Tuan…!

4. SVIETLOVIDOFF :
Siapa kau? Ivanitch?

5. IVANITCH :
(Datang mendekat perlahan-lahan) Ini aku,Tuan, si pembisik!

6. SVIETLOVIDOFF :
(Terhuyung-huyung ke kursi, bernafas sesak lalu menggeletar hebat) Ya Tuhan! Siapakah kau? Itu kau… kaukah itu Nikituskha? Apa…apa yang kau kerjakan di sini?

7. IVANITCH :
Aku menginap malam ini di lemari pakaian. Mohon sekali tuan jangan beritahukan Alexi Komitch. Aku tak punya tempat tinggal lain untuk menginap malam ini. Aku sungguh-sungguh tak punya.

8. SVIETLOVIDOFF :
Ah! Nikituskha? Cobalah pikir, mereka menyeruku 16 kali. Mereka memberiku tiga bungkus bunga dan banyak lagi benda-benda yang lain. Antusias mereka sudah melonjak-lonjak.Namun tiada sebuah hatipun datang setelah pementasan selesai, untuk membangunkan orang tua yang malang ini dan membawanya pulang ke rumah. Dan aku, akulah… orang tua itu Nikituskha! Usiaku telah 68,sakit-sakitan lagi, dan aku tak punya harapan lagi untuk hidup. (Jatuh memeluk leher IVANITCH dan menangis). Jangan pergi jauh NIKITUSKHA! Aku sudah uzur, tak ada harapan lagi, dan kurasa inilah saatnya aku mati. Oh ini sangat mengerikan! Mengerikan sekali!

9. IVANITCH :
(Kasihan dan penuh hormat) Tuan, kini sebaiknya Tuan pulang saja.

10. SVIETLOVIDOFF :
Aku tak mau pulang. Aku tak punya rumah. Tidak! Tidak! Tidak!

11. IVANITCH :
Oh Masak Tuan lupa di mana Tuan tinggal?

12. SVIETLOVDOFF :
Aku tak mau kesana, aku tak mau! Aku cuma sendirian di sana. Aku tak punya keluarga. Nikituskha! Tak punya istri, tak punya anak. Aku seperti angin yang berhembus melintasi padang-padang yang sepi. Aku akan mati dan tak seorangpun akan mengikuti. "Sungguh mengerikan kesendirian ini.Tak ada yang membahagiakanku, tak ada yang mengasihiku. Tak ada yang mau menolong aku ketempat tidur kalau aku mabuk. Punya siapakah aku ini? Siapa yang membutuhkan aku? Dan siapakah yang mencintai aku? Tak sebuah hatipun, Nikituskha.

13. IVANITCH :
(Menangis) Penonton mencintai Tuan.

14. SVIETLOVIDOFF :
Penonton sudah pulang. Mereka semua sudah tidur dan melupakan si badut tuanya. Tidak seorangpun membutuhkan aku, tak ada yang mencintaiku. Aku tak punya istri dan tak punya anak.

15. IVANITCH :
Oh Tuan.oh Tuan! Jangan jadi begitu murung karenanya.

16. SVIETHLOVIDOFF :
Tetapi aku seorang laki-laki dan masih hidup segar. Darah masih terus mengalir dalam nadiku, darah warisan bangsawan. Aku seorang Aristokrat Nikithuskha! Aku telah mengabdi dalam ketentaraan dibagian artileri sebelum jatuh aku jatuh hina. Betapa gagahnya aku sewaktu muda. Tampan gagah dan berani! Kemanakah itu semua pergi? Apa jadinya itu semua dimasa tua? Tentulah ada liang yang telah menelan itu semua! Aku mengenang itu semua sekarang.
Telah 45 tahun hidupku tenggelam disitu. Hidup apa itu Nikituskha?Aku dapat melihatnya dengan jelas seperti melihat wajahmu : remaja yang riang , bersemangat, gairah pujaan wanita. Wanita Nikituskha!

17. IVANITCH :
Sebaiknya Tuan tidur saja sekarang!

18. SVIETLOVIDOFF :
Ketika baru-baru aku naik ke pentas, semasih gairah remaja bergejolak, aku ingat seorang wanita yang jatuh cinta karena aktingku. Dia sangat cantik, tinggi semampai, muda, suci, tak bercela, berseri-seri laksana fajar musim panas. Semuanya dapat tembus menyinari kegelapan malam.
Masih kuingat sekali ketika aku berdiri di depannya seperti sekarang aku berdiri didepanmu.Dia kelihatan begitu mencintaiku, tidak seperti kenyataan kemudian. Berkatalah ia kepadaku supaya memandang dengan pandangan demikian! Pandangan yang tidak dapat kulupakan, tidak bahkan sampai kekubur seklipun. Begitu kasih, begitu lembut, begitu dalam, begitu bersinar ceria!
Dengan sangat riang mabuk kepayang, aku berlutut di hadapannya. Lalu aku mohon demi kebahagiaan, dan berkatalah ia: " tinggalkan pentas".
Kau mengerti? Dia dapat mencintai akting. Tetapi, buat mengawininya tidak! Aku sedang berlakon pada suatu ketika. Ya, aku ingat, aku berperan sebagai badut yang tolol. Setelah berlakon aku merasa mataku jadi terbuka karena melihat apa yang pernah kuanggap pemujaan kepada seni begitu suci, sebenarnya adalah khayalan dan impian kosong belaka. Bahwa aku adalah badut yang tolol dan menjadi permainan yang asing dan sia-sia.
"Akhirnya aku mengerti tentang penonton. Sejak saat itu aku tak percaya lagi pada tepukan tepukan mereka, atau pada bungkusan bunga mereka atau pada ketertarikan mereka. Ya, Nikituskha!orang memuja aku, membeli gambarku, tetapi aku tetap asing bagi mereka. Mereka memburu-mburu supaya dapat bertemu dengan aku tetapi melarang adik perempuan atau putrinya untuk kawin denganku, seorang yang hina dina. Tidak! Aku tak yakin lagi kepada mereka. (terhenyak dalam kursi polos) Tak yakin lagi kepada mereka.

19. IVANITCH :
Oh Tuan!Kau kelihatan begitu pucat pasi. Kau dekati aku dengan kematian. Ayolah, kasihani aku!

20. SVIETLOVIDOFF :
Ketika aku telah mengetahui segalanya dan pengetahuan itu telah dibeli tunai, Nikituskha! Setelah itu…jika gadis itu…nah, kumulailah penggambaran tanpa tujuan hidup dari hari kehari, tanpa tujuan apa-apa.Akupun mengambil peranan pelawak murahan. Membiarkan diriku hancur.Oh, mestinya aku dulu adalah seorang artis yang besar namun perlahan-lahan aku buang jauh-jauh bakatku dan memainkan banyolan-banyolan tolol, kehilangan pegangan, kehilangan kekuatan ekspresi diri. Lalu, akhirnya hanya menjadi seorang banci Marry Andrew dari pada seorang laki-laki. Aku telah ditelan seluruhnya kedalam liang besar yang gelap. Namun, malam ini ketika aku terbangun kulihat kebelakang. Di sana , di sampingku terbentanglah waktu68 tahun.
Barulah aku menyadari betapa lamannya itu sudah. Dan, semua itu telah berlalu… (tersedu-sedu)…semuanya telah berlalu…..

21. IVANITCH :
Di sana, di sana, Tuan! Diamlah….mudah-mudahan! (Memanggil) Petrushka! Yegorhka!

22. SVIETLOVIDOFF :
"Tetapi, betapa jeniusnya aku. Aku tidak bisa membayangkan kemampuanku, betapa fasih, bagaimana menariknya aku, betapa peka, dan betapa hebat tali senar (menepuk-nepuk dada) menggetar di dalam dada ini. Sungguh berdebar perasaanku memikirkannya!
Dengarlah sekarang! Tunggu! Biar aku tarik napas dulu. Yah, sekarang dengarkanlah ini:
Berlindung darah ivan kini kembali
Terkipas dari bibirku pemberontakan berkobar
Akulah Dimitri yang buta! Di dalam kobaran apiu
Boris akan musnah diatas tahta yang kutuntut
Cukup! Pewaris tsar tak tampak lagi
Berlutut ke sana ke ratu Polanbdia yang congkak"
(dari : Boris Gonudof, karya Pushkin)

Jelekkah itu, ha? (cepat) Tunggu! Nah ini sesuatu dari Raja Lear. Langit gelap, kelihatan hujan turun deras, guruh mengguntur, kilat … zzz zzz zzz … menerangi seluruh permukaan langit, dan kemudian dengarkanlah :
Tiuplah angin, hancurkan pelipismu! Amuk! Tiupkan!
Sehingga kau basahi puncak menara kami, tenggelamkanlah ayam-ayam Kau berlekang pikiran yang pasti membakar
Patung disambar petir
Hanguskan kepalaku yang ubanan!
Dan kau segala guruh
Yang menggelegar pukul ratakan bentuk dunia yang gemuk!
Hancurkan kesuburan dunia, segala kecambah leburkan sekali
Itulah yang membuat orang tak bersyukur!
(Tak sabar) Sekarang, peran si tolol. (Menghentakkan kakinya) Lekas ambil peran si tolol! Cepat! Aku tidak bisa menunggu.

23. IVANITCH :
(Mengambil peran si tolol) Nunolo, air suci istana di dalam rumah gersang lebih baik daripada air hujan di rumah ini. Bagus, Nunolo, masuklah. Mintalah anugerah putrimu : ini adalah malam belas kasihan bagi orang-orang bijaksana maupun orang tolol.

24. SVIETLOVIDOFF :
Menggunturlah sesuka hatimu! Muntahkan kabar! Luncurkanlah hujan! Bukan cuma hujan. Angin, kilat, api adalah putri-putrimu. Aku bukan menuntutmu, kau anasir-anasir, dengan kejahatan aku tak pernah beri kau kerajaan, kunamakan kau anak-anak nada
Ah! Sungguh mampu dan berbakat kau! Dan, aku memang artis ulung! Selanjutnya kini, iniloah sesuatu lagi semacam tadi, untuk mengembalikan masa mudaku lagi. Umpamanya, ambillah ini, dari Hamlet aku akan mulai … biarkan aku … bagaimana mulainya? Oh ya, inilah dia. (Mengambil peran Hamlet) Oh! Para pencacat, biarkan aku sendirian! Kembalikan kalian! Mengapa kalian bermaksud mencari bauku? Sehingga kalian masuk dalam jebakan.

25. IVANITCH :
Oh Tuanku, jikalau tugasku begitu garang, maka kekasihku begitu curang

26. SVIETLOVIDOFF :
Aku sungguh-sungguh tak mengerti itu

27. IVANITCH :
Tuanku, aku tak pandai.

28. SVIETLOVIDOFF :
Kuharap kau.

29. IVANITCH :
Percayalah, aku tak pandai.

30. SVIETLOVIDOFF :
Aku mohon padamu!

31. IVANITCH :
Aku tak pandai memegangnya, Tuanku.

32. SVIETLOVIDOFF :
Ini mudah saja seperti berbaring-baring : tutuplah lubang-lubang itu dengan jari, keluarkan napas dari mulutmu, dan nanti akan terdengar musik yang amat merdu. Perhatikan, itu penutupnya.:

33. IVANITCH :
Tetapi, itulah yang aku tidak bisa memakainya agar cocok : aku tak ahli.

34. SVIETLOVIDOFF :
Mengapa? Ingatlah betapa tak bergunanya kau lakukan untukku, kau harus nampak paham akan istirahatku, kau harus menangkap hakekat dari kegaibanku, kau harus mendengar dari catatanku yang mula-mula hingga puncak pedomanku.
Dan di situlah terdapat berbagai musik, suara yang indah di dalam alat yang kecil ini, meskipun kau tak bisa meniupnya hingga berbunga. Astaga! Kau pikir aku hanya muda meniup suling itu saja? Sebetulnya, alat instrumen mana yang kau kehendaki? Meskipun kau tak yakin kepadaklu, kau memang tak bisa melakukannya untukku
(Tertawa dan bertepuk) Hebat! Hebat sekali! Di manakah setan yang bersarang di dalam usia tua ini? Aku bukan orang tua, semuanya itu omong kosong. Arus tenaga masih mengalir di dalam diriku. Inilah hidup, gairah, dan muda!
Usia tua dan jenius tentulah tidak berdampingan bersama-sama. Kau nampak membisu saja. Nikitushka. Tunggulah sejenak sampai kekuatanku pulih.
Oh! Rumah! Sekarang perhatikan! Pernahkah kau mendengar lembut seperti:
Bulan telah lenyap, tiada lagi cahaya
Mendampingi gugusan bintang kesepian yang meratap pucat
Di cakrawala ada yang tiba-tiba bercahaya
Bunga putih bersih di tengah-tengah lembah bunga mawar
Disusupi kunang-kunang,
Yang cahayanya suram berkedip-kedip,
Bagai harapan yang enggan menjelma
(Suara-suara pintu terdengar) Apakah itu?

35. IVANITCH :
Itu tentu Petrushka dan Yegorhka pulang. Ha, engkau memang jenius, Tuan.

36. SVIETLOVIDOFF :
(Memanggil, berpaling ke arah suara-suara tadi) Kasihanilah anak-anak. (Kepada IVANITCH) Ayolah kita pergi tukar pakaian. Aku bukan orang tua. Semua itu tolol, omong kosong! (Tertawa gembira)Apa yang kau tangisi? Ini bukan … kemauan! Ya, ya, segalanya ini bukan kemauan! Mari, mari orang tua, jangsan terbeliak bigitu! Apa sebab kau terbeliak begitu? Ya, ya, (memeluk sambil menangis) Jangan menangis! Di mana ada seni dan jenius di situ pasti tidak ada segala ketentuan, kesepian, atau penyakitan … hanya kematian itu yang semakin dekat. (Tersedu-sedu)Tidak! Tidak, Nikitushka!
"Segalanya itu telah berlalu dari kita sekarang! Betapa jeniusnya aku!
Aku seperti uap lemin, botol pecah. Dan, kau, kau adalah tikus tua gedung teater … pembisik, ayolah!
(Mereka pergi) Aku bukanlah jenius. Aku hanyalah cocok disamakan dengan promter. Bahkan, untuk itupun aku terlalu tua. Ya … kau ingatkan baris-baris ini dari Othelo, Nikitushka!
Selamat tinggal kenangan damai!
Maha perang
Yang mengalahkan angin unggul!
Oh, selamat tinggal!
Selamat tinggal ringkik kuda, dan sangkakala terompet
Pukulan genderang bersemangat
Suling yang menembus pendengaran




Diterjemahkan oleh : Djohan A. Nasution