Tuesday, 16 November 2010

Tragedi Para Kepala

Tragedi Para Kepala

Cerpen Ahmadun Yossi Herfanda



Sejak grup dangdut keliling itu mangkal di lapangan ujung selatan Desa Bokongrejo, ha
mpir tiap malam ada warga desa yang kehilangan kepala. Pada malam pertama saja ada sepuluh warga, semua lelaki, yang keluar dari lapangan itu tanpa kepala. Kepala mereka baru ditemukan oleh para Hansip setelah pertunjukan selesai. Tiga kepala ditemukan di atas panggung, tiga kepala di kamar ganti pakaian, dua di kolong panggung, dan dua lainnya terinjak-injak di tengah lapangan. Tubuh-tubuh pemilik kepala itu langsung digiring ke kantor LKMD dan dipaksa untuk memakai kepalanya kembali.

Pertunjukan dangdut itu memang sangat luar biasa dan mampu membuat tiap penonton mabuk kepayang dan lupa pada
kepalanya. Goyangan pinggul para penyanyinya benar-benar sangat dahsyat. Inilah tampaknya yang membuat penonton dangdut itu semakin padat saja dan semakin banyak yang kehilangan kepalanya. Bahkan, pada tiap puncak acara menjelang berakhirnya pertunjukan, dua penyanyi dangdut tanpa malu-malu melakukan gerakan-gerakan senggama di atas panggung. Penonton pun selalu bersorak gegap gempita menyambut adegan puncak itu.

Pada saat adegan puncak berlangsung itulah banyak penonton yang sudah lupa pada kepalanya dan tanpa sadar melepas kepala masing-masing. Ada yang kemudian melemparkannya tinggi-tinggi sambil menjerit histeris. Ada yang melemparkannya ke panggung. Ada yang meletakkannya di ujung kaki penyanyi yang sedang bergoyang. Ada yang menggelindingkannya ke kolong panggung. Ada pula yang menyusupkannya ke kamar ganti pakaian penyanyi.

Setelah melewati puncak gegap gempita itulah kemudian pertunjukan dangdut diakhiri tiap malamnya. Begitu pertunjukan berakhir, orang-orang yang melepas kepalanya pun segera berdesakan mencari kepala masing-masing. Banyak yang berhasil menemukan dan memasangnya kembali. Akan tetapi makin banyak pula yang tidak berhasil menemukannya, atau lupa bahwa mereka telah melepas kepalanya sendiri. Jumlah mereka terus meningkat dan membuat para Hansip semakin kewalahan menanganinya. Komandan Hansip itu sangat khawatir, jangan-jangan banyak di antara tubuh-tubuh yang kehilangan kepala itu lolos dari penjagaan dan keluyuran di kampung-kampung pada siang hari.

"Kita harus memperketat penjagaan!" kata komandan Hansip itu di depan para anak buahnya setelah berhasil menangkap dua puluh lima tubuh tanpa kepala dan mengumpulkan mereka di kantor LKMD. "Tiap pintu masuk lapangan harus dijaga lima Hansip. Jangan sampai ada satu pun tubuh tanpa kepala yang lepas pulang ke rumahnya, apalagi sampai keluyuran pada siang hari. Kita bisa celaka. Pak Lurah pasti marah. Pertunjukan dangdut itu pasti dibubarkan," tambahnya.

"Pak Komandan, apakah tidak sebaiknya kasus ini kita laporkan saja pada Pak Lurah?" tanya seorang Hansip.

"Apa kau ingin pertunjukan dangdut itu dibubarkan, dan kita kehilangan upeti yang kita terima tiap malam dari manajer dangdut itu?" Komandan hansip itu malah balik bertanya.

Dan, tiba-tiba pintu kantor terbuka dan sejumlah anggota Hansip memasuki ruangan itu dengan menenteng sejumlah kepala. Mereka langsung meletakkan kepala-kepala itu di atas meja. Melihat kepala-kepala tersebut, beberapa tubuh tanpa kepala di ruangan itu tampak bergetar hebat, seolah sangat ketakutan pada kepalanya sendiri.

"Nah, sekarang kepala-kepala kalian sudah kami temukan. Silakan ambil kepala masing-masing. Jangan sampai ada yang keliru. Kalian harus memasang kepala kalian di sini juga," kata komandan Hansip itu sembari mengisyaratkan tangannya ke arah tumpukan kepala di atas meja.

Serentak tubuh-tubuh tanpa kepala itu berdiri dan berebutan mengambil kepala masing-masing. Yang sudah menemukan kepalanya dan berhasil memasangnya langsung ngeloyor pergi. Akan tetapi ada sembilan orang yang tidak kebagian kepala.

"Kepalaku mana, Pak Hansip?"


"Kepalaku juga tidak ada!"

"Kepalaku juga!"

"Pasti ada yang ndobel kepala saya!"

"Pasti ada yang memakai dua kepala!"

"Ayo, cepat! Kejar mereka. Yang memakai dua kepala suruh kembali ke sini!" perintah sang komandan Hansip pada anak buahnya.

Para Hansip itu langsung memburu keluar. Mereka semua berhasil dikumpulkan kembali. Ada tiga orang yang memakai dua kepala secara sekaligus; satu kepala menghadap ke depan, satunya lagi menghadap ke belakang. Dua orang lagi ketahuan menenteng kepalanya sendiri, sementara yang dipakai justru kepala orang lain. Mereka diperintahkan untuk mengembalikan kepala-kepala itu kepada pemiliknya. Tinggal empat tubuh yang tidak kebagian kepala.

"Lho, kalian tadi menaruh kepala di mana. Kami tidak menemukannya," kata komandan.

"Kepala saya tadi saya taruh di kolong panggung, Pak, agar bisa mengintip goyangan penyanyi dangdut dari bawah."

"Kalau kepala saya tadi, terus terang, saya taruh di ujung kaki penyanyi dangdut itu ketika sedang bergoyang."

"Kepala saya tadi saya taruh di pojok kamar ganti pakaian. Ketika pulang saya lupa mengambilnya."

"Kepala saya juga!"

"Pantas! Otak kalian ternyata mesum semua. Sudah sepantasnya kalian tidak usah memakai kepala lagi. Sekarang kalian tidak boleh pergi. Kalian terpaksa kami tahan di sini sampai kepala kalian ditemukan. Kami akan mencari kepala kalian sampai ketemu."

Belum lagi berhasil menemukan empat kepala yang hilang itu, tiba-tiba para Hansip Desa Bokongrejo dikejutkan oleh suara wanita menjerit-jerit minta tolong. "Tolong! Tolooong! Ada hantu! Tolooong!" Tampaknya bukan hanya suara seorang wanita saja, tetapi dua atau tiga orang.

"Ada apa itu? Ayo kita ke sana!"

"Kalian di sini saja. Jangan ada yang berani keluar sebelum kepala kalian ditemukan!"

"Kunci pintunya, agar tubuh-tubuh tanpa kepala itu tidak keluyuran keluar!"

Komandan hansip itu diikuti semua anak buahnya segera berlari ke arah datangnya suara. Tampak tiga wanita berlari terbirit-birit di jalan kampung seperti diburu setan.


"Tenang, tenang, Bu. Ada apa? Mana hantunya?"

"Di rumah saya, Pak!"

"Kamar saya juga dimasuki hantu."

"Kamar saya juga!"

Rupanya tiga wanita yang rumahnya saling berdekatan dan terpencil di tengah persawahan itu sama-sama didatangi hantu. Hansip-hansip itu segera memburu ke dalam rumah ketiganya. Mereka sangat terkej ut, menemukan tubuh-tubuh tanpa kepala di dalam rumah mereka. Mereka segera menangkap tiga sosok tubuh tanpa kepala itu.

"Sekarang tenang saja, Bu. Hantu-hantu itu sudah kami tangkap. Akan kami bawa ke kantor kelurahan," kata komandan Hansip. "Sekarang tidurlah dengan tenang. Rumah ibu-ibu akan dijaga tiga orang Hansip. Tidak perlu takut lagi."

Tiga tubuh tanpa kepala itu langsung digiring ke kantor LKMD, dijadikan satu dengan tubuh-tubuh lain yang bernasib sama.

"Kalian juga kehilangan kepala ketika nonton dangdut, ya? Di mana kalian letakkan kepala kalian?" tanya komandan Hansip pada tiga tubuh yang dikira hantu itu.

"Tidak, Pak. Demi Tuhan, saya tidak pernah nonton pertunjukan dangdut itu."

"Saya juga tidak!"

"Saya juga."

"Lalu, di mana kepala kalian?"

"Kami buang ke sungai bersama-sama."

"Lho, kenapa dibuang?"

"Terus terang, kami merasa percuma punya kepala. Karena otak kami tidak dihargai lagi. Pendapat kami tidak pernah didengar lagi oleh bapak-bapak aparat kelurahan."

"Memangnya kalian ini kenapa? Pendapat yang mana?"

"Tentu Bapak masih ingat. Kami bertiga merupakan warga yang paling menentang diadakannya pertunjukan dangdut itu di lapangan desa. Karena saya pernah melihat, pertunjukan grup dangdut itu sangat jorok. Tidak pantas untuk dibawa ke kampung kita. Warga kita bisa sakit kepala kalau m enyaksikannya. Apalagi, pertunjukan dangdut itu untuk mengumpulkan dana pembangunan tempat-tempat ibadah. Sangat memalukan, Pak."


Salah satu tubuh tanpa kepala itu bersuara panjang lebar seperti ada tape recorder yang diputar di dalam dadanya. Suara itu keluar melalui lubang lehernya, sementara dua tubuh lainnya mengangguk-angguk seperti mengiyakan kata-kata temannya.

"Terus terang, Pak. Kami sangat prihatin dan tidak tahan lagi menyaksikan dampak tontonan jorok yang melanda hampir seluruh warga desa kita. Yang terjadi tidak hanya demam dangdut saja. Akan tetapi, para remaja kita, penonton terbesar pertunjukan itu, sudah benar-benar mempraktekkan apa yang dilihatnya di panggung dangdut itu. Kalau bapak mau tahu, tiap malam saya melihat anak-anak remaja desa kita dengan begitu bebasnya bermain asmara di balik tanggul sungai di ujung lapangan itu. Mereka benar-benar mempraktekkan apa yang dipertontonkan para penyanyi dangdut itu di atas panggung. Bukan hanya main-main. Bapak tentu juga sudah tahu, makin banyak wanita desa kita, bahkan diantaranya masih anak-anak, menjadi korban perkosaan. Kami tidak tahan melihat itu semua. Kami ingin mengeritik. Kami ingin usul, kami ingin protes. Akan tetapi, aparat desa pasti tidak akan mau mendengar suara kami, karena mereka sudah tidak bisa lagi menghargai kepala kami. Jawaban Bapak pasti akan sama: kita membutuhkan banyak dana pembangunan melalui pertunjukan itu. Kalau penampilan penyanyinya tidak begitu, tidak akan ditonton orang. Yah, daripada makin pusing dan stress, kami buang saja kepala kami ke sungai.

Tubuh-tubuh tanpa kepala itu sudah kembali memakai kapala. Agat tidak kebobolan lagi, kesiagaan anak buahnya pun ditingkatkan. Penjagaan di mana-mana diperketat. Tidak hanya personel Hansip penjaga pintu masuk lapangan yang ditambah. Komandan Hansip juga menyebar anak buahnya ke hotel-hotel, panti-panti pijat, kamar ganti pakaian penyanyi dangdut, dan sepanjang tanggul sungai dekat lapangan desa itu. Selain itu, mereka juga mengawasi semua tempat yang diduga bisa membuat orang melupakan kepalanya.

Rupanya ketenangan itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Karena keesokan harinya mereka digegerkan oleh munculnya siswa-siswa tanpa kepala di sebuah ruang kelas SMU yang terletak di sebelah selatan kantor LKMD. Tanpa diketahui asal usulnya, puluhan siswa tanpa kepala itu tiba-tiba saja sudah memenuhi satu ruang kelas yang terletak di sebelah kantor kepala sekolah. Seorang guru wanita yang akan mengajar di kelas itu hampir shock begitu membuka pintu kelas tersebut. Ia langsung lari terbirit-birit masuk ruang kepala sekolah. Kepala sekolah itu juga hampir pingsan ketika melongok ke dalam ruang kelas untuk mengecek kebenaran cerita guru tersebut. Aparat keamanan desa segera dipanggil. Kepala sekolah juga menugaskan seorang guru untuk melaporkan kasus tersebut kepada lurah desa.

Lurah Desa Bokongrejo beserta seluruh aparatnya segera tiba di kompleks sekolah menengah atas itu. Mereka bersama pimpinan SMU itu segera memasuki kelas yang aneh tersebut. Tubuh-tubuh tanpa kepala yang duduk rapi di kursi-kursi kelas itu mengangguk-angguk seolah menyambut kedatangan mereka.

"Kalian ini siapa?" tanya kepala sekolah pada tubuh-tubuh tanpa kepala itu.

"Lho, kami semua siswa Bapak. Kenapa Bapak pangling?" sesosok tubuh tanpa kepala yang duduk di deretan paling depan mengeluarkan suara.


"Akan tetapi, kenapa kalian hari ini datang ke sekolah tanpa kepala? Dimana kepala kalian?"

"Kepala kami sebagian ada yang hilang di arena dangdut, Pak."

"Kalau kepala saya cuma saya tinggal di rumah, Pak. Lagi bosan pakai kepala."

"Mau tahu di mana kepala saya, Pak? Saya simpan di gudang. Soalnya malu. Gigi saya prongos!"

"Saya juga."

"Kepala bapak-bapak dicopot sekalian saja. Enak, kok, tidak pakai kepala!"

"Diam!! Kalian ini bagaimana?! Kepala di buat main-main!" Kepala sekolah tiba-tiba membentak mereka sambil menggebrak meja. Tubuh-tubuh tanpa kepala itu pun serentak diam. "Apa kalian anggap, kalian bisa hidup terus tanpa kepala. Apa kalian bisa sukses tanpa kepala? Kalian ini calon-calon penerus perjuangan bangsa, tahu! Bagaimana nasib bangsa kita ini kalau diurus oleh orang-orang tanpa kepala seperti kalian!"

"Benar kata Bapak Kepala Sekolah. Kalian sangat dibutuhkan untuk meneruskan cita-cita perjuangan kami, cita-cita luhur generasi tua seperti saya ini," Lurah Desa itu ikut menimpali. "Untuk itu kalian harus tetap punya kepala. Kalian tidak bisa membuang kepala begitu saja, apalagi dengan alasan yang sepele atau tidak masuk akal."

"Kalian ini memang ada-ada saja. Ayo cepat, cari dan pasang kembali kepala kalian!"

Kepala sekolah membentak lagi. Tampaknya ia sangat marah. "Kalian menyusahkan saja!"

"Jangan cepat marah dulu, Pak. Dijamin, kami masih punya kepala yang sehat," sosok tubuh yang duduk di deretan paling depan kembali mengeluarkan suara. Tampaknya sosok inilah yang mengatur ulah teman-temannya. "Ayo, teman-teman, sekarang kita tunjukkan kepala kita masing-masing!"

Secara serentak mereka meletakkan telapak tangan di ujung leher mereka masing-masing, lalu menariknya ke atas," Plass!" kepala siswa itu pun menyembul bersama-sama. Tampaknya mereka hanya memakai kerudung yang di buat persis seperti bagian atas tubuh manusia yang terpenggal kepalanya. Para siswa itu lantas nyengir pada para tamunya.

"Diamput! Kalian ini macam-macam saja. Masak, orang-orang tua dipermainkan!" komandan Hansip yang sejak tadi diam saja tiba-tiba saja meledak setelah merasa dikerjai oleh anak-anak itu.

"Apa sebenarnya mau kalian?" tanya kepala sekolah kemudian.

"Kami memang bermaksud protes, Pak, protes kepada Bapak Kepala Sekolah, juga Pak Lurah," jawab ketua kelas yang rupanya memang telah mengatur ulah teman-temannya. "Kepada Bapak Kepala Sekolah kami memprotes cara mengajar yang diterapkan para guru di sekolah ini. Kami tidak mau kalau terus-terusan dipaksa untuk selalu menerima apa saja yang dikatakan oleh guru-guru kami, karena sebenarnya banyak yang tidak sesuai dengan pendapat kami. Kami tidak mau lagi kalau kepala kami hanya dianggap sebagai tong sampah bagi semua ilmu yang diberikan para guru. Kami ingin diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengemukakan pendapat kami sendiri. Kami ingin diberi kebebasan untuk berpikir kreatif sesuai dengan aspirasi kami sebagai anak muda. Sedangkan kepada Pak Lurah, kami protes agar pertunjukan dangdut di lapangan desa kita itu dibubarkan saja. Itu sama sekali tidak ada gunanya, bahkan cenderung merusak moral teman-teman kami, karena goyang penyanyinya terlalu jorok. Dua tetangga saya bahkan diketahui telah hamil sebelum nikah gara-gara sering nonton dangdut itu bersama pacarnya. Di samping itu, makin banyak pula warga desa kita yang kehilangan kepalanya gara-gara nonton pertunjukan dangdut itu."

"Cerita anak-anak memang benar, Pak Lurah. Bahkan, tetangga sebelah rumah saya sampai sekarang belum berhasil menemukan kepalanya," kata kepala sekolah mendukung usulan siswa-siswanya.

"Kalau begitu, baiklah anak-anakku. Soal cara mengajar guru-guru kalian, selesaikanlah secara baik-baik dengan Bapak Kepala Sekolah. Sedangkan kami bersama semua aparat desa akan segera menyelesaikan kasus pertunjukan dangdut itu," kata Pak Lurah setelah berpikir sesaat.

Lurah Desa Bokongrejo segera mengadakan sidang darurat. Semua aparat desa dipanggil, termasuk komandan Hansip, manajer dangdut, para penyanyi, dan pemainnya. Pertama kali yang menjadi sasaran kemarahan lurah desa adalah komandan Hansip. Lurah desa mempersalahkannya karena tidak pernah melaporkan kejadian-kejadian aneh yang menjadi dampak pertunjukan dangdut itu. Padahal, dialah yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengamankan pertunjukan dangdut yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dana pembangunan sejumlah tempat ibadah itu.

"Soalnya, kami pikir kasus kehilangan kepala itu hanya persoalan sepele, Pak. Kasus itu sudah muncul sejak malam pertama pertunjukan dangdut di lapangan itu. Kami pikir belum perlu melaporkan kasus itu pada Pak Lurah, karena kami masih bisa mengatasinya sendiri," jawab komandan Hansip dengan nada tidak berdosa.

"Apa? Kamu ini komandan Hansip macam apa? Banyak warga kehilangan kepala kok dianggap sepele!" Lurah itu tampaknya tetap marah, tidak mau menerima pembelaan komandan Hansip.

"Nyatanya memang begitu, Pak. Mereka yang kehilangan kepala tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes. Dengan enak mereka ngeloyor pergi atau pulang tanpa kepala. Bahkan, banyak yang kemudian tidur pulas di panti pijat dan hotel. Mereka yang tidak kehilangan kepala yang selama ini malah suka ribut."

"Apa kau tega kalau semua warga desa kita kehilangan kepala? Kalau itu benar-benar terjadi, apa kamu berani nanggung? Siapa yang bakal mengurus desa kita kelak kalau semua warga sudah kehilangan kepala?"

"Pak Lurah ini bagaimana? Desa kita selama ini kan sudah diurus oleh orang-orang yang tidak punya kepala lagi. Apa Bapak kira kita-kita ini yang mengurus desa ini masih punya kepala? Kepala yang kita pakai ini palsu. Wajah-wajah kita ini juga hanya topeng-topeng belaka. Kalau Pak Lurah tidak percaya, mari kita copot kepala kita masing-masing, kita buka topeng kita masing-masing."

Dan… komandan Hansip itu benar-benar melepas kepalanya sendiri, meletakkannya di atas meja dan membuka topengnya. Pak Lurah dan sejumlah perangkat desa sangat terkejut, ternyata kepala yang dipakai komandan Hansip itu kepala buaya. Mereka semakin terperangah ketika manajer dangdut dan empat penyanyinya ikut mencopot kepala masing-masing dan membuka topengnya. Ternyata kepala yang dipakai manajer dangdut itu adalah kepala badak, sementara dua penyanyinya memakai kepala kelinci dan dua lagi memakai kepala mainan dari plastik yang biasa dijual di toko-toko mainan anak-anak.

Giliran Pak Lurah yang kemudian mencopot kepalanya sendiri. Pelan-pelan dia menjepit kepalanya dengan kedua telapak tangannya, memuntir dan menariknya ke atas. "Plass!" Seperti seorang pemain debus dari Banten, kepala Pak Lurah pun lepas dan diletakkannya di atas meja. Kemudian, dengan perlahan-lahan dia mengelotok kulit wajahnya. Pak Lurah dan semua aparat desa sangat kaget, ternyata kepala yang selama ini dipakainya adalah kepala harimau. Kepala itu menyeringai padanya memperlihatkan taring-taringnya yang tajam.

Lurah itu tampak tidak tahan melihat kepalanya sendiri. Tubuhnya bergetar keras seperti sangat ketakutan, lalu lemas dan menggelosor jatuh ke lantai. Pak Lurah mengalami shock berat dan pingsan seketika.



Yogyakarta, Juli 1991


Dimuat di kumpulan cerita pendek pilihan Sarinah, Burung Putih,
bonus majalah Sarinah No. 222 Th. 1991

Anak Ibu

Anak Ibu

Cerpen Reda Gaudiamo

1978




“Berapa?”

“Lima setengah.”

“Lima?”

“Lima setengah, Bu.”

“Lima setengah ya lima!”

“Tapi bisa jadi enam, Bu.”

“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi lima setengah, tetap lima! Lima!”

“…”

“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”

“…”

“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan, sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-kejar, dimarahi, tidak belajar!”

“…”

“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”

“…”

1983

“Aku mau masuk bahasa, Bu.”

“Bahasa? Bahasa apa?”

“Jurusan Bahasa.”

“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”

“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”

“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”

“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”

“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tidak mutlak benar hasilnya! Aku, ibumu, tahu sekali kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”

“Tapi, Bu…”

“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”

“Tapi …”

“Jurusan bahasa tidak jelek. Tapi tidak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus. Tersia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha sedikit saja kamu pasti bisa! Besok kita datang menghadap. Kamu masuk IPA.”

“Bu, tapi …”

“Tidak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas. Terlalu banyak main, mengobrol tak berguna di telepon!”

“…”

“Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Kamu. Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?”

“…”

1994

“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman!”


“Puji syukur!”

“Ibu jadi penasehatnya, ya?”

“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”

“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”

“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”

“Kami tidak mau di rumah, Bu.”

“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”

“Tidak juga.”

“Di mana? Di mana?”

“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”

“Tobat!”

“Kenapa, Bu?”

“Jadi bukan klinik spesialis?”

“Klinik spesialis juga.”

“Tapi di…”

“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”

“Tobat! Tobat!”

“Ibu tidak setuju?”

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya kamu?”

“Kaya?”

“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit, langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”

“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”

“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu. Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”

“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang…”


“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.”

“…”

“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka klinik di kampung nelayan!”

“…”

“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”

“…”

“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan. Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”

1999

“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”

“Anak yang mana lagi?”

“Yang paling kecil!”

“Si Sri?”

“Ya.”

“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”

“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani, anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah tiga anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”

“Nantilah, Bu.”

“Nanti kapan? Tiap kali ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu dengan tanah?”

“Ibu!”

“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa. Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”


“Bukan itu masalahnya, Bu.”

“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek. Tidak sempat bergaul. Kenalan!”

“Ya, ya…”

“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-kumpul sama keluarga besar kita. I bu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”

“Bu!”

“Sudah, mengaku saja kalau kamu tidak bisa dan tidak sempat cari pasangan sendiri. Biar Ibu yang cari.”

“Kalau nggak cocok bagaimana?”

“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri.

“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”

“Sreg tidak sreg, cocok tidak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”

“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”

“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? Ibu tidak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih?”

2002

“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”

“Aduh, ramainya!”

“Bukan ramai, senang! Meriah.”

“…”

“Ibu juga kepingin punya cucu.”

“…”

“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”

“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”

“Oh, tidak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang. Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang repot.”


“Nantilah…”

“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu! Ibu tidak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian. Tidak! Ibu cuma minta cucu. Cucu saja. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya, sih?”

“…”

2006

“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”

“…”

“Tahun depan?”

“…”

“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”

“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”

“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”

“Ya.”

“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”

“Tidak apa-apa, Bu.”

“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami, belum?”

“Sudah.”

“Dia setuju?”

“Tak perlu ditanyakan, Bu.”

“Kamu itu memang keterlaluan!”

“Dia, Bu. Bukan aku.”

“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”

“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”

“Tidak pulang? Tugas luar?”

“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”

“Aduh, Gusti!”

“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. “

“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu biasa. Biasa sekali!”

“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”

“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita. Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana, Ibu tetap di sini.…”

“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”

“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-adikmu.”

“Tapi aku bukan Ibu.”

“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”

“Aku tidak bisa, Bu. “

“Kuat sampai tua. Sampai mati.”

“Bu…”

“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik melepaskan diri dari suami. Aib itu.”

“…”

“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan? Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”

“…”




Pustaka Jaya, 2006

Cik Giok

Cik Giok

Cerpen: Reda Gaudiamo



Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta, lalu di pelabuhan. Jangan lupa baju buat Cik Giok.

Di rapat persiapan perkawinanku, mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting, mengalahkan aku, anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi, setiap kali Pa bersuara, Ma, yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa, diam. Emak, yang selalu mendukung semua kehendak Ma, bisu.

Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. Malah sejak aku belum lahir. Kalau mengikuti urutan keluarga, aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. Karena kata Pa, Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok, aku mengikut saja. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu.

Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung, di Pontianak. Pa bilang, orangtua Cik Giok kurang mampu. Hidup mereka susah, apalagi dengan jumlah anak yang banyak. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun, ibunya sakit-sakitan. Supaya anak dan ibu selamat, Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. Emak mau.

Di rumah kami, Cik Giok menempati kamar belakang, dekat dapur, di sebelah gudang. Kalau tak boleh dibilang paling jelek, kamar itu amat sangat sederhana. Sempit. Separuh dindingnya dari tembok. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk, diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi.

Aku pernah bertanya, mengapa Sabtu. Itu hari yang paling tepat, katanya. Supaya di hari Minggu, saat bisa sedikit bersantai di kamar, ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor, berdebu.

Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu, menemuinya. Terutama siang hari, ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin, memanggil, mengajakku merasakan kesejukan di sana. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak, mencuci, menggosok, membereskan rumah, dan mengurusi segala keperluan Emak), Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung, dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. Katanya, aku bayi yang cengeng, yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Sering di tengah cerita, aku mengantuk. Kalau sudah begitu, Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku, hingga aku terlelap. Sore hari, sebelum Emak bangun, Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya

Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. Aku kelas enam, waktu itu. Sudah dekat ujian. Sehari sebelumnya, Cik Giok menangis seharian. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya, dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Tidak apa-apa, katanya, berusaha mengeluarkan senyum. Esok harinya, ketika pulang sekolah, kudapati kamar itu sudah kosong. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Ma bilang, ibunya Cik Giok sakit keras. Malam itu aku tak bisa tidur. Juga beberapa malam setelah itu. Lewat seminggu, kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Pulang sekolah, aku masuk kamarnya. Memeluk bantalnya yang tipis. Tiba-tiba aku menangis. Emak, yang kebetulan tidak tidur siang, tahu. Aku ditariknya keluar.

Katanya, buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik!

Aku ingin berteriak, bilang pada Emak, bahwa ia bohong. Tetapi aku diam saja. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan.

Sebulan. Satu kuartal. Enam bulan. Lewat. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. Hingga seminggu lalu, ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. Cik Giok harus dipanggil, dibuatkan baju…. Jadi Cik Giok akan datang. Setelah empat belas tahun pergi, ia kembali ke rumah ini lagi. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu, atas perintah Ma.

Ia akan tinggal terus bersama kita, aku bertanya pada Ma.

Tidak. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi, kata Ma.

Dan Cik Giok benar-benar datang. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. Aku berlari menyambutnya. Kami berpelukan erat.

Mau kawin kamu, Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Aku menyeringai saja. Tenggorokanku kering. Wajahnya lebih tirus sekarang. Matanya, kelihatan sedih. Ubannya sudah banyak sekali. Kurebut tas kain dari tangannya. Ia kutarik masuk. Di ruang tamu, dengan dahi berkerut, Ma menanyakan kabar Cik Giok.

Baik. Semua baik, selamat, kata Cik Giok. Emak, yang tak beranjak dari meja makan, mendengus. Keras. Cik Giok menangkupkan tangannya, memberi hormat pada Emak, lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Aku mengikutinya dari belakang. Persis seperti dulu.

Pagi-pagi, Cik Giok sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan untuk Emak, Pa, Ma, dan aku. Bubur encer dengan tung cai, suwiran ikan asin bakar, acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. Semua dari kampung. Kami menyantapnya dengan lahap. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur.

Makan, Cik, kataku.

Sudah, katanya. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur, Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Aku sudah berdiri, siap menyusulnya. Tetapi melihat wajah Emak, aku putuskan kembali duduk. Menghabiskan bubur di mangkukku.

Siangnya, aku harus mengepas baju pengantin. Aku bilang, mau mengajak Cik Giok. Ma kelihatan kurang senang, tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok.

Ayo ikut, Cik, kata Ma. Cik Giok tampak bingung.

Antar Alin mengepas baju pengantinnya, Ma menjelaskan. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Ma mencubit lenganku. Sakit. Ma menggeret Cik Giok keluar. Kami berjalan beriring, menuju jalan besar. Mencari bajaj. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara.

Baju sudah hampir selesai. Meski masih agak longgar di pinggang, bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Aku berputar-putar di depan cermin. Cik Giok tetap diam. Tak berkomentar, tak tersenyum. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Menuju pulang, kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Sama persis dengan Ma, hanya beda warna. Sedikit lebih gelap. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah.

Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Ma bilang itu biasa. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Katanya lagi, setiap calon pengantin selalu begitu. Itu karena terlalu senang. Mungkin. Tubuhku lelah. Mataku berat. Aku keluar kamar, mencari makanan di dapur. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan, perutku terasa sangat penuh. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Dia belum tidur. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. Terkejut dia melihatku.

Ada apa? Ia bertanya.

Tidak bisa tidur, Cik, kataku. Ia membereskan kertas suratnya.

Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi.

Aku hanya mengangkat bahu. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku.

Tulis surat buat siapa, Cik?

Keluarga di kampung. Mereka khawatir. Aku sudah tua, sudah lama tidak jalan jauh. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Sehat dan selamat.

Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. Aku tertidur. Entah untuk berapa lama. Lalu aku terbangun oleh suara Cik.

Cepat bangun. Dicari Emak, katanya. Aku melompat, menuju kamar mandi. Terlambat, Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Ma ikut bersungut-sungut. Malamnya, Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku, dua belas hari lagi. Entah dari mana, tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Di tangannya ada kursi plastik. Wajahnya tegang. Kuku menyuruhnya masuk. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Dengan suara keras, Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Emak menangis. Pa tiba-tiba menghilang. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Aku berlari ke kamar tidurnya. Kosong. Ketika aku kembali ke ruang tamu, Cik Giok sudah pergi. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Aku bersiap menyusul Cik Giok, tetapi Kuku menahanku. Urus Emak, katanya.

Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Dia cuma bilang, nanti aku akan mengerti. Nanti semua akan jelas. Nanti. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Meninggalkanku. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar, aku masuk kamar. Menguncinya dari dalam.

Keesokan harinya aku bangun terlambat. Cik Giok sudah pergi. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Dia akan segera kembali menjelang pesta. Terserah apa kata Ma, aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Tidak juga untuk pesta perkawinanku.
Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu, Ma minta aku pulang. Penting, katanya. Ketika aku tiba, Emak, Pa, Ma, dan Kuku telah menunggu di ruang makan.

Kau harus berangkat ke Pontianak. Temani Pa, kata Ma. Cik Giok kena stroke.

Aku tak ingin pergi. Malas. Tetapi suami malah mendesak. Katanya, siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya.

Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. Perutku mulas.
Cik Giok tak menunggu aku tiba. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. Kakak perempuan Cik Giok, yang wajahnya amat mirip dengannya, menjemput kami. Ia memelukku. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. Pa, diam-diam, membuang muka, menyeka matanya.

Di rumah duka, barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan, genta-genta kecil bertalu-talu. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. Aku menangis. Pa menangis lebih keras lagi. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. Maafkan aku, katanya berulang-ulang. Semua yang ada di sana menangis, menjerit sambil berebut mendekati aku, memelukku. Erat, hingga aku sulit bernapas. Dengan muka basah, kakak Cik Giok mencium pipiku.

Beri hormat pada Mamamu, ia berbisik.

* * *
Rawamangun, Juli 2005

Sumber: Kompas, Edisi 09/18/2005

UMI KALSUM

UMI KALSUM

Cerpen Djamil Suherman



Seorang gadis yang namanya tak pernah kusebut-sebut dalam pergaulan dengan teman-teman ialah Umi Kalsum, anak Haji Basuni yang kaya itu. Tapi nama itu diam-diam mengembang di hatiku, ketika itu.

Seperti bunga kacapiring, muka dan kulitnya kemerah-merahan dan kalau ketawa cekung pipinya. O, dia pernah jadi saingan kuat dengan Zainab yang egoistis. Bedanya dengan Zainab, mata Umi teduh seperti laut dan kalau memandang terasa sekali merampas dada. Rambutnya hitam mengombak, sama hitam dengan rambut Fatimah anak Haji Ma'ruf itu.

Mula-mula aku begitu memimpikan dia. Sampai pun pada suaranya yang merdu tiap kali membenamkan daku ke satu fantasi yang indah dan ajaib, sebagaimana kalau aku membayangkan wajah seorang gadis putri nabi yang cantik itu.

Umi kukenal ketika ia mengantarkan bubur-safar ke rumahku. Kami bersalam-salam dan beramah-ramah.

Haji Basuni beranak tiga orang gadis. Yang tua namanya Masanah, sudah bersuami dan punya anak satu. Yang tengah Batifah dan kemudian Umi Kalsum. Kedua kakak-beradik itu masing-masing berumur 15 dan 14 tahun dan merekalah bunga Ketapang itu. Tapi teman-temanku lebih gandrung sama si Umi, sebab ia lebih manis dari pada kakaknya.

Umi bersahabat baik dengan Zainab dan gadis-gadis lainnya di Kedungpring. Mereka berangkat mengaji ke langgar bersama-sama. Beruntun dengan si Rodiyah, anak Pak Abubakar. Toyibah, anak Pak Mudin yang terkenal kenes itu. Afifah, Salamah, Maimunah, Saodah, Fatimah, dan masih banyak lagi.

Perkenalanku dengan Umi diketahui oleh Zainab yang sejak mulanya sudah cemburu. Pada suatu malam, ketika di langgar Nyai Safii diadakan malam qasidahan, aku dan teman-teman mengintip mereka dari lubang dinding langgar mereka. Tampak olehku Umi duduk jejer dengan Fatimah dan Salamah, di pojok. Ketika itu Umi sedang menyanyikan sebuah lagu. Tiba-tiba matanya melihat aku dan ia senyum malu-malu. Betapa pula maluku ketika itu. Tapi kemudian aku ingin mengintipnya lagi. Hatiku berdebar dan seolah ada sesuatu yang melonjak-lonjak di dadaku, seperti angin. Aku tercenung dan berpikir. Aku tak tahu adakah teman-temanku mengetahui keadaanku malam itu. Malam itu aku tak bisa tidur. Dan sengaja tidur di langgar dengan teman-teman banyak sekadar melupakan perasaan yang aneh-aneh. Aku cuma berharap, mudah-mudahan malam itu aku bisa mimpi yang baik dan panjang.

Dalam menelentang melihat langit-langit yang suram, tiba-tiba Ichwan yang kukira sudah tidur itu berkata seperti menyindir.
- Ya, memang begitu bagus matanya, katanya.
- Kau belum tidur, Wan? tanyaku kaget.
- O, mata itu seperti pohon beringin, sambungnya lagi tidak mengindahkan pertanyaanku.
- Kau tadi melihat aku?
- Ya, aku melihat senyuman itu, katanya mengejekku lagi.

Babi orang ini, pikirku. Ichwan menggeliat dan menguap.

- Kau cinta padanya, Wan? tanyaku mulai cemburu.
- Mungkin juga seperti kau.
- Dan kau melamar dia? cemburuku makin kuat; tapi Ichwan cuma ketawa sinis, lalu menjawab:
- Aku tahu perasaanmu, Kawan.
- Perasaanku? Lantas, apa pendapatmu?
-Sayang, aku tak punya pendapat. Aku tahu aku anak Mak Mirah. Lebih dari itu, ndak, katanya kesal.

Pemuda Ichwan yang terkenal kemurung-murungan itu anak keenam Mak Mirah, penjual jamu di kampungku. Ia dua tahun lebih tua dariku, dan dulu pernah melamar si Romlah tapi ditolak oleh gadis itu. Ia jadi linglung, lalu seperti menyadari untungnya ia pun melanjutkan:
— Mudah-mudahan kau berhasil, Kawan, katanya.

Aku diam. Kami diam dengan pikiran masing-masing. Dan ketika kulihat temanku itu tak bergerak-gerak lagi aku teruskan pembicaraanku,
— Aku tak pasti, Kawan. Ichwan tergolek lagi menghadap aku.
— Apanya yang tak pasti?
— Kau sudah tidur?
— Belum
— Si Umi.
— Jadi kau sudah tahu?
— Maksudmu?
— Tentang dia?
— Kenapa?
Ichwan diam lagi. Betapa inginku mengetahui rahasia percakapan itu. Karena tiba-tiba saja hatiku jadi sekecil jangkrik. Aku bertanya, nafsu:
— Dia sudah dilamar orang?
— Beberapa kali.
— Dan tak ada yang diterimanya?

Ichwan batuk sebentar lalu menjengekkan kepalanya seperti mau membuka rahasia itu. Dan katanya.

— Kau tahu, siapa Haji Basuni itu? Dan bagaimana ia mesti mengambil menantu?
— Tidak ...
— Jangan main-main, Kawan; kecuali kalau kau anak hartawan, dan kalau haji itu bisa mengeruk hartamu.
— Juga Amin, Suami Hasanah itu?
— Dia masih misan sama Hasanah. Sekalipun Amin tak sekaya mertuanya, tapi dengan bersuamikan dia kekayaan haji itu takkan jatuh ke tangan orang lain. Lalu terbayang di mataku si Amran yang jadi gila ketika lamarannya ditolak oleh si Fatimah. O, ngeri sekali, kedengarannya. Tapi si Ichwan seperti mengetahui perasaanku ketika tiba-tiba ia berkata lagi:

- Kau tahu, Haji Basuni itu doyan makan riba?
- Maksudmu dia lintah darat?
- Lebih dari itu, ia seorang bakhil seperti Qarun dan kejam seperti Fir’aun.

Tanpa kami ketahui kami diam-diam hanyut dalam mimpi.

Pada suatu hari aku pernah menerima surat dari Umi Kalsum, diantar oleh kemenakannya. Surat itu ditulis dalam bahasa Arab pego, begini bunyinya:

Assalamu alaikum w.w.
Aku senang sekali semalam melihat kau dan mendengar suaramu ketika kaunyanyikan "Tabasam" dalam qasidahan lagu kesayanganku.. Dengan lagu itu aku selalu ingat kau, meski kutahu kau sombong kata teman-temanku.

Tapi aku . . . ah, aku hanya seorang gadis dan tak bisa berbuat selain berangan-angan saja. Aku takut Zainab. Lebih takut lagi pada bapakku. Kau tahu bapakku? O, lebih baik aku melihat dia lekas mati, biar aku bisa melihat kau tiap hari. Kini aku tak bedanya seperti anak monyet yang dirantai dalam kandang. Aku tak boleh melihat laki-laki. O, aku tersiksa siang malam. Aku cuma berharapkan kesempatan yang akan datang. Aku tak betah begini terus. Aku menderita atau lekas mati saja?

Senyumku hanya bentuk pemberontakan terhadap nasibku. Berlagulah kau tiap hari untukku. O, aku sangat menderita. Kepada siapakah aku mesti berharap? O, aku melihat Tuhan ....
Align Right

Wassalam bilmaaf,
(Umi Kalsum)

Seperti lilin rasa hatiku ajur dibakamya. O, begitu malang nasibnya. Tapi dengan tak kuketahui, dari belakang Zainab muncul dan datang hendak merebut surat itu. Untung ia sudah kuremas-remas. Betapa merah mukanya ketika melihat surat itu. Ia tunduk.

- Zainab, kenapa kau berbuat begitu? tanyaku memelas.
- Seharusnya pertanyaan itu aku yang punya, jawabnya lirih.
- Tapi aku tak bersalah bukan?
- Kau menyakiti hatiku.
- Tidak. Aku tak menyakiti hatimu.
- Dan surat itu?
- Itu urusanku sendiri, Nab.
- Dari Umi, bukan?
- Bagaimana kau tahu?
- Aku tahu, kau cinta padanya.
- Tapi sampai hari ini aku tak berbuat apa-apa, bukan?
- Kau akan berbuat.
- Maafkan aku. Nab.

Ia diam. Dan aku merasa tak bisa membuka diri lagi. Melihat aku gugup, Zainab jadi reda. Lalu katanya mendamba:
- Aku cinta padamu. Kenapa kau berbuat itu? Aku tahu, kau tak suka aku. Baiklah, cintailah dia tapi kau takkan berhasil, katanya.

Zainab seperti adik sendiri sejak lama dan begitu dekat dengan keluargaku karena Haji Tayib, ayahnya, adalah sahabat karib bapakku. Kerap kali Zainab disuruh mengantar surat atau barang dagangan ke rumahku. Dan selama itu Zainab seperti saudaraku sekandung. Di waktu senggang ia datang ke rumahku, meski aku tak ada.

- Maafkan aku, Zainab; kataku lagi, numpangi.
- Apa yang mesti kumaafkan?
- Aku telah membuatmu marah.
- Tidak. Aku cuma mau memperingatkan kau. Kau takkan bisa. Aku kuatir kau akan membenciku selama-lamanya; katanya kecewa.
- Sudah sejauh itu dugaanmu, Nab ? Itu tak benar. Aku selalu suka padamu.
Tapi tiba-tiba aku kehilangan pegangan. Dan terbayang di mataku nasib Amran anak petualang itu. Lalu aku ingat kembali percakapanku dengan Ichwan di langgar dulu.
- Zainab, kita masih kanak-kanak, sambungku menghilangkan yang mustahil.
- Lantas?
- Kita tak boleh meneruskan ini.
- Mengapa? Ayahku sudah mengatakan itu pada kakekmu, bukan?
- Aku tahu.
- Kau tak mau?
- Aku baru enam belas tahun jalan ...
- Aku sudah empat belas tahun, kini; tukasnya.
- Jadi kita masih kanak-kanak, bukan?
- Tapi kau betul mencintai aku, ya?
- Aku tak tahu. Tak tahu ... Ya, Zainab, aku mau.

Kami yang kebingungan itu tiba-tiba merasa ada sesuatu yang meliputi pikiran kami masing-masing. Jalan di muka rumahku ramai orang-orang yang mau pergi sembahyang ke langgar, sore itu. Waktu menjelang asar. Santri-santri hilir-mudik dengan bawaan masing-masing.
- Kau tak pulang mandi, Nab?
Ia berpaling dan melihat aku tajam-tajam.
- Baiklah kita sampai di sini dulu, Nab. Tak baik dilihat orang, kita berdua. He, kau dengar, kau dipanggil ibu?
Zainab berpaling lalu masuk ke rumah. Aku berpikir, kenapa aku mesti mencintai gadis yang tak mungkin kudapatkan? Tapi tiba-tiba pikiran itu lenyap manakala kudengar suara azan memanggil-manggil dari langgar.

Oleh pengaruh agama dan adat kami yang kuat, jarang terjadi perhubungan antara laki-laki dan perempuan, di kampungku, kalau di antaranya bukan famili sendiri atau yang sudah dekat dan diketahui oleh orang tua masing-masing, seperti halku dengan Zainab. Sekalipun yang demikian itu tak pemah dilarang, mereka dengan sendirinya takut karena hal itu perbuatan dosa. Jangan pun berhubungan, melihat dengan menimbulkan rasa dan nafsu pun dilarang oleh agama. Perhubungan kami terbatas sapa-menyapa saja. Lebih dari itu, tidak. Kalau seorang laki-laki senang pada seorang gadis maka orang tua laki-laki itu harus mengajukan lamaran kepada orang tua gadis itu, dan perkawinan dilakukan kalau sudah sama-sama setujunya. Tapi karena masyarakat Kedungpring merupakan keluarga besar, maka kejanggalan itu tak terasa benar. Antara kami selalu hormat menghormati.

Pada suatu malam sesudah lepas pengajian di langgar, kami para santri yang akan pulang ada kalanya berbarengan dengan santri-santri perempuan. Kami bercampur. Tapi malam itu Zainab tak tampak olehku.

Di antara beberapa gadis yang menuju tikungan jalan Kedungpring kulihat Umi dan kakaknya berjalan. Tinggal ia berdua lagi, karena rumahnya jauh sedikit ke Ketapang. Diam-diam aku mengikut mereka dan belakang. O, aku ingin benar bercakap-cakap sebentar dengan dia, malam ini. Begitu ayunya sebab bulan mengembang di atas kepalanya.

Sesudah beberapa lama kami berjalan dan ketika akan membelok tikungan lain, Umi menoleh ke belakang. Keduanya menoleh, lalu kami bersenyuman. Keduanya berhenti dan aku menghampiri mereka.
— Assalamu alaikum, kutegur sopan.
— Waalaikumussalam, jawab keduanya.

Kemudian sunyi lagi dan kami diam-diam tegak di tengah jalan itu dengan risaunya. Kurasa kerongkonganku seperti ada kelerengnya, buntu! Kedua gadis itu tunduk malu-malu. Tapi sebelum aku memulai, berkatalah Umi. Katanya lembut:
— Kau dulu sudah terima suratku, bukan?
— Sudah, Umi. Tapi mari kita bicara sambil jalan.
Kami berjalan dan kulihat Latifah yang menepikan jalannya itu lalu kuhampiri.
— Latifah, malam ini kita berkenalan, kataku mesra. Dia ketawa kecil tapi tak terdengar suaranya. Kemudian Umi berkata lagi seperti mengolok:
— Sayang, Zainab tak datang mengaji malam ini, katanya.
— Dia sakit? tanyaku menutupi.
— Kau kan lebih tahu, bukan?
— Umi, kau jangan mengejek.
— Tapi ia kekasihmu, toh?
— Bukan, ia seperti juga kau. Teman. Hanya ia lebih akrab, ia kerap kali datang ke rumahku.
— Sayang, bukan aku yang jadi kau. Umi mengerling lagi dengan manisnya.
— Dan kalau kau?
— Aku lamar dia.
— Kau cemburu, Umi?
Ia diam. Bulan di langit mengawang di kepala kami. Malam berangkat larut.
— Kenapa malam ini kau tak dijemput?
— Kaulah, sekarang, yang menjemput kami.
Bayang-bayang panjang mengikuti kami sepanjang jalan itu. Latifah masih juga diam. Kepalanya tunduk seperti ikut merasakan perasaan kami. Memang ia gadis pemalu. Tidak seperti adiknya.
— Maafkan aku; tiba-tiba kudengar suara Umi lagi, seperti musik merdunya.
Di luar dugaan, dari arah yang kami tuju, kulihat sesosok tubuh manusia berdiri tegak di tepi jalan itu, yang tak jauh lagi dan rumah Umi. Ia mengawasi dengan tajam ke arah kami. Ketika Latifah dan Umi melihat orang itu tiba-tiba muka keduanya jadi pucat dan hampir menjerit.

Kami berhenti beberapa langkah dari orang itu dan orang itu tiba-tiba menghampiri kedua gadis itu. Dan tanpa bicara lebih dulu selayang tangan kulihat menimpa kepala Umi, selayang lagi pada Latifah. Keduanya menjerit lalu berlarian masuk ke rumahnya.

- Bangsat! Siapa kau? bentak orang itu, ketika berpaling ke arahku. Setengah takut aku pun menjawab:
- Saya teman Umi dan Latifah. Tiba-tiba benciku timbul pada haji yang murah tangan itu.
- Cucu Ishak itu?
- Aku mengangguk.
- Kenapa kau berani omong-omong sama anak-anakku?
- Tapi saya tak mengganggu mereka. Kami berteman dan kebetulan berjalan berbareng.
-Tapi aku bilang, tak boleh kaudekati mereka. Kau ngerti, Anak lapar?
Betapa tersinggungku ketika haji itu mengucapkan katanya yang akhir itu. Tapi aku tak berani dan tak bisa berbuat apa-apa selain merengut.
- Sekali lagi, awas! kata haji itu, mengancam. Umi sudah ada tunangan. Pergi! Pergi, kau! Haji itu membentak aku begitu rupa hingga mukanya yang mesum menimbulkan rasa jijikku.

Sedikit pun aku tak bergerak dari tempatku. Aku berpikir: Inikah kata orang haji keluaran Singapura itu? Orang-orang Pesantren Kedungpring menamakan dia haji keluaran Singapura, karena berangkat hajinya dulu tak sampai ke tanah Mekah. Ia berkeliaran di kota itu dengan dagangannya. Dan rahasia yang didiamkan itu diam-diam jadi populer di pesantren kami.

Sesudah haji itu meninggalkan aku dan baru saja aku melangkah, dari rumah Umi terdengar suara gaduh diiringi tangis perempuan. Aku kenal suara itu suara Umi. Ia melolong-lolong dalam sela bentakan dan lecutan pecut.
- Kapok, Pak! Kapook! Aduuh! Kapook!
Kembali hatiku luluh seperti semen. O, dia yang kukasihi itu menjadi korban kenakalanku. Seketika itu tubuhku secara ditempel dosa-dosa. O, air mataku jatuh. Aku menangis. Dan tiba-tiba saja hatiku mendongkol dan benci manakala kubayangkan muka haji yang murah tangan itu. Mau rasanya aku datang ke rumah itu dan berkata kepadanya:
- Kau haji mesum. Mudah-mudahan kau lekas mampus! Atau, mudah-mudahan uangmu habis dimakan rayap. Tapi tiba-tiba saja aku menggigil ketika angin mengembusi kepalaku. Beberapa saat kemudian suara lolong itu tak kedengaran lagi.
Tentang Haji Basuni orang-orang Kedungpring sudah kenal semuanya. Selain takabur dan suka menghina terhadap orang yang tak punya ia juga terkenal kikir. Dan sebab itu lalu timbul istilah yang lucu-lucu dari teman-temanku. Misalnya kalau seorang minta sesuatu pada temannya yang lain dan tak diberi, dia lalu berolok: Bakhilmu seperti Haji Singapura saja. Dan mereka akan ketawa. Tapi yang diolok-olok jadi marah dan membalas ejek: Memangnya, kau tak diambilnya jadi menantu, si! Lalu kawan-kawan itu akan tertawalah lagi.

Berbeda dengan Haji Tayib atau Haji Ma'ruf, Haji Basuni tak pemah mengeluarkan zakat, meski hartanya beribu-ribu. Teman-temanku lalu memberi julukan lagi pada haji yang tak sosial itu. Setrika. Tentang adanya istilah setrika itu diambil dari sebuah cerita dalam kitab: Orang-orang kaya yang tak suka memberikan zakat dan sedekahnya kepada orang-orang miskin, kelak di akhirat uangnya akan dilebur, dijadikan setrika. Dengan setrika itulah punggung orang yang bakhil itu akan dilicinkan.

Aku kurang percaya tentang kabar yang mengatakan bahwa Haji Basuni jarang sembahyang di rumah, apalagi ke langgar. Di bulan puasa ia pernah kedapatan temanku sedang menggelap-gelap dan nongkrong di warung orang Madura di kota. Tapi di muka santri-santri dan sahabat-sahabat kiai ia selalu bermanis-manis untuk menyembunyikan kopiah putihnya itu. Anak-anak perempuannya diwajibkannnya kerja keras di dapur. Mereka membatik, menenun, dan memasak. Mereka tak boleh keluar rumah kalau tak perlu, pergi mengaji ke langgar, umpamanya. Kerap kali anak-anak gadisnya itu disawabi tangannya yang kasar itu. Dan mereka yang kena tangan itu akan menggelepar-gelepar seperti ayam dan meraung-raung.

Haji Basuni bercita-cita agar anak gadisnya itu dilamar oleh orang-orang yang berharta saja. Dan anak-anaknya itu harus menurut apa katanya. Tak boleh membantah dan membela diri.

O, Umi Kalsumku yang manis itu, begitu benar nasibnya; keluhku. Kalau saja haji itu tak murah tangan, takkan begini sentimen aku padanya. Sejak kejadian yang menyedihkan malam itu, lama sekali aku tak berani berjumpa dengan Umi. Melihat dia pun, tidak. Dan memang tak pernah lagi aku melihatnya. Zainab tahu hal ini. Dan betapa gairahnya ketika pada suatu hari ia datang ke rumahku dan buru-buru berkata kepadaku:
— Kau sudah dengar kabar itu? tanyanya.
— Kabar apa?
— Umi.
— Kenapa kau tanyakan itu?
— Maksudku ... dia hamil.
— Ha? Bicara yang benar, kau! teriakku kaget.
— Ssst, jangan keras-keras. Ini masih dirahasiakan, kata si Zainab. Memangnya aku bicara ngawur? Dia sudah tiga bulan!
Aku terenyak. O, ngeri sekali kedengarannya. Zainab masih saja memandangi mukaku. Hingga aku jadi marah:
— Kenapa aku kaulihat seperti itu? Dan Zainab tertunduk.
Aku berpikir, kalau begitu benarlah apa yang dipercakapkan bapak dan ibuku kemarin.
- Kasihan si Umi, kata Bapak.
- Kenapa dia! tanya ibu.
- Ayahnya terlalu keras, sih. Kasihan dia. Sampai di situ percakapan itu tak kudengar lagi. Kepada Zainab yang masih menunggu di hadapanku aku bertanya dengan gugup:
- Dengan siapa kau tahu dia bunting?
- Umi berkali-kali ditanyai bapaknya, tapi ia cuma nangis dan bungkam terus.
- Lalu dia dipukuli?
- Lantaran dia, lalu seisi rumah dipukuli semuanya.
- Masyaallah! Lantas bagaimana?
- Ibunya sudah ikhtiarkan pada dukun, supaya buntingnya bisa kempes. Tapi percuma. Perut itu makin besar-besar juga.
- Lalu, apa kata dukun itu lagi?
- Katanya, yang berbuat itu laki-laki gemuk dan kudisan, yang dulu pernah melamar tapi ditolak oleh bapaknya.
- Apa? Si Mursid yang bugil itu, pikirmu?
- Itu kita tak pasti.
- Dan Umi sekarang di rumahnya?
- Kau tahu, Haji Basuni kemarin menemui ayahmu? Zainab balik bertanya.
- Menemui ayahku?
- Dia berjanji mau memberi sebuah rumah dan uang yang diminta, pada siapa yang mau ngawini anaknya. Sampai hari ini Bu Haji masih menangis terus!
- O, haji laknat. Kalau mati ia pasti digilas neraka! kataku masygul. Zainab mengejek:
- Kau mau?
- Diam, kau! bentakku, tapi Zainab dengan latahnya terus menertawai diriku.
Sejak hari itu pikiranku terpengaruh oleh kabar yang menyedihkan itu. Siapakah yang menduga bahwa kejadian semacam itu menimpa keluarga Haji Basuni? Menimpa Umi Kalsum yang begitu lembut? O, mustika-hidupku yang lama kuimpikan dan yang hendak kurebutkan dengan sepenuh perasaanku itu, kini telah noda. Tapi bagiku Umi tetap suci. Sebab betapapun ia telah berusaha mempertahankan kemerdekaan dirinya dari kekerasan orang tuanya. Bagiku, Umi tetap zamrud dalam harapan dan kenang-kenangan. Tapi kurasakan, betapa kini aku tak tenteram lagi tinggal di rumah. Dan tak kutahu, mengapa begitu besar kesan Umi dalam hatiku. Dan aku tak sanggup berbuat apa-apa.

Kejadian yang menimpa keluarga Haji Basuni itu mula-mula dirahasiakan orang. Tak banyak orang yang mendengar atau mengetahui, sebab memang tidak banyak orang melihat keadaan Umi dari dekat. Tapi akhirnya rahasia itu bocor juga, seperti bau bangkai meski betapapun pandai orang menutup-nutupi. Keluarga haji yang malang itu tak sanggup lagi mempertahankan rasa malunya yang besar. Menurut kabar orang-orang sekampung, pada akhir-akhir ini di rumahnya selalu terdengar orang gaduh dan ribut. Suara perempuan-perempuan yang menangis tak henti-henti hingga para tetangga merasa terganggu. Dan oleh gangguan-gangguan itu para tetangga mulai ikut campur. Mereka sama kuatir akan timbulnya sesuatu kemungkinan yang tak diharapkan.

Dan beberapa hari kemudian kekuatiran itu pun benar-benar menjadilah suatu kenyataan ....

Pada suatu malam sebelum fajar, ketika sedang enak-enaknya orang tidur, tiba-tiba terdengar dari rumah Haji Basuni jeritan orang perempuan. Keadaan jadi ribut. Tetangga-tetangga yang dekat sama datang menyaksikan apa yang kiranya telah terjadi. Juga orang-orang Kedungpring yang letaknya sedikit jauh dari desa itu ikut berkerumun dan dari mulut ke mulut akhirnya peristiwa itu pun tersebarlah merata dengan cepatnya.

Kami serombongan kanak-kanak ikut juga ke sana dengan hati yang cemas. Terlebih aku, yang merasa punya sangkutan batin dengan salah seorang anggota keluarga itu.

Betapa terkejutku manakala seseorang berteriak: Bunuh diri! Bunuh diri!

Dalam ketakutanku kubayangkan sebuah tubuh ramping sedang tergantung pada seutas tali dan sebuah wajah cantik mengeluarkan lidah dan busa. Di situ mataku kupejamkan. Aku tak sanggup melihat kemurungan langit malam itu. Sebuah cahaya menganga di arah timur. Mungkin malam itu sudah menjelang fajar.

Oleh kerusuhan-kerusuhan pikiranku itu aku tak ikut orang-orang itu memasuki rumah Haji Basuni. Tapi sebentar ada kudengar kebenaran pikiranku tadi. Orang-orang itu menyaksikan suatu kejadian yang mengerikan: di kamar mandi Umi didapati mati tergantung!

O, waktu itu aku tak bisa menguasai diriku. Kepalaku terasa pusing dan mataku berkunang dalam peluh dingin yang mengaliri seluruh tubuhku. Aku lari pulang. Sementara itu aku masih mendengar bisik seorang-seorang:
- Dia senyum. Lalu sambung yang lain: - Umi melihat Tuhan.

Tapi aku hanya melihat seutas tambang keras telah menjerat leher halus itu dan menyeretnya ke kubur. Aku melihat seorang laki-laki setengah tua, berkopiah putih dengan bengisnya kemudian melemparkannya ke dalam jurang.

Beberapa hari sesudah kejadian yang mengerikan itu, orang-orang kampung ramai mempercakapkan nama Haji Basuni. Dalam isi percakapan itu terasa benar nada kebencian mereka terhadap haji yang malang itu. Tapi kini aku berpendapat lain, Haji Basuni semestinya dikasihani. Karena setidaknya ia akan dihadapkan pada bayangan ketakutan, selama hidupnya.

Demikianlah akhirnya, Umi Kalsum yang kami kagumi kecantikan dan kelembutannya itu, mengakhiri hidupnya dalam keadaan yang amat menyedihkan.

Bukan saja keluarganya yang merasa kehilangan. Tapi kami, teman-temannya yang ketika hidupnya saling merebutkannya, ikut pula kehilangan
***




Kisah, No. 7-8, Th. IV, Juli/Agustus 1956

Empat Buku 40 Hari

Empat Buku 40 Hari

Cerpen Hamsad Rangkuti



Pelayat melingkari rosbang kosong itu. Si suami masih belum juga pulang dari menjemput jenazah istrinya. Tadi sore kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa si istri.

Lima hari yang lalu aku duduk di bawah tenda di depan rumah yang sama. Aku ditugaskan membalas pantun bila dari pihak wanita ada yang melempar pantun. Begitu upacara penyambutan selesai aku duduk di bawah tenda. ''Pantun-pantun Anda hebat. Anda cekatan membalas pantun pihak pengantin wanita.''

''Terimakasih.''

''Kulihat, pengantin pria itu tua. Apakah dia kaya jemaah?''

Kupandang wajah lelaki itu. Wajahnya bersih. Dia muda. Mungkin dia dari jenis orang yang suka bermain kata.

''Aku tak mengerti maksudmu, kaya jemaah?''

''Sekarang semua telah berubah. Waktu aku di kampung, di masa aku mengaji, tak pernah ustad kami mengarahkan kami berzikir dalam sedu-sedan air mata. Maksudku, sekarang ini, bagi para penganjur akhlak untuk terbuka pintu surga, makin kaya jemaah, makin kaya materinya, makin terbuka kesempatan baginya menambah istri muda.''

Aku semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan orang ini. Apakah sebelum ke sini dia menenggak miras? Aku pun jadi terpancing ikut ngomong seperti baru menenggak minuman keras.

''Memang, semua sudah berubah. Surga tidak lagi di bawah telapak kaki Ibu, tapi sudah di bawah telapak kaki Mama.''

''Mama dipakai anak orang-orang kaya. Golongan menengah ke atas. Jadi, supaya negeri kita ini makmur, kaya seperti pemakai kata Mama, Ibu Pertiwi sebaiknya dirobah menjadi Mama Pertiwi.''

''Kembali kepertanyaan saya tadi, apakah pengantin pria ini dari jenis semacam itu? Kaya jemaah?''

''Oh tidak. Dia tidak dari jenis semacam itu, penganjur akhlak untuk terbuka pintu surga. Dia orang biasa. Dia miskin jemaah.''

''Kulihat dia sudah berumur.''

''Tua maksudmu? Apa ada yang salah bila dia tua? Ini adalah pernikahan setelah istrinya meninggal tiga bulan yang lalu. Cukup lama dia menduda. Apa ada yang salah dengan umur seorang pengantin pria?''

''Oh tidak. Tidak ada yang salah. Cuma saya bertanya-tanya, apakah dia masih bisa? Oh maaf, maksudku, umpama petani, apakah dia masih bisa membenam bajak? Pengantin perempuan itu perawan.''

Pertanyaan yang tak berakhlak. Kupandang lagi wajahnya. Dia memang muda. Tidak ada salahnya kalau dia meragukan kemampuan orang tua. Dia senyum menanggapi reaksiku yang tak suka. Dia seperti hendak menarik pertanyaannya. Dia mungkin sadar, sebaiknya dia tidak mengajukan pertanyaan seperti itu.

''Mengapa? Anda ragu akan kemampuan orang tua? Aku tau, dia akan masuk ke dalam malam pertama seorang perawan.''

''Aku tetangga pengantin wanita. Apakah si tua itu kaya?''

''Tidak sekaya yang mungkin Anda duga. Aku tetangganya. Aku tahu betul siapa dia. Seorang pensiunan pegawai negeri. Uang pensiunnya cukup untuk mereka berdua. Semua anaknya sudah menikah. Tinggal di rumah mereka sendiri-sendiri. Impiannya akan istri selalu datang dalam tidurnya. Sepuluh tahun dia rawat istrinya di tempat tidur dan kursi roda. Tiga bulan yang lalu istri itu meninggal. Coba Anda bayangkan. Sepuluh tahun tiga bulan dia menduda! Tentu Anda paham apa yang saya maksud. Dan dia adalah lelaki yang taat pada agamanya. Dia punya pensiun. Dia tidak ingin kalau dia sakit, atau renta, bukan muhrim yang merawatnya.''

''O begitu. Sepuluh tahun istrinya sakit. Selama itu pula dia menduda? Lalu ditambah tiga bulan. Aku faham, aku bisa menangkap maksud Anda.''

''Apa yang engkau ketahui mengenai pengantin wanita? Engkau katakan, engkau tetangganya.''

''Dia gadis tua di kampung ini. Dia tidak laku-laku. Ayahnya sangat memilih. Dia tidak ingin nasib kakak-kakaknya terulang pada anak bungsunya itu. Dia ingin menantu terakhirnya seorang pegawai, sukur-sukur kalau yang melamar itu pegawai negeri. Tetapi harapan itu tak pernah datang. Gadis itu pun menjadi tua. Tadi Anda bilang lelaki itu pensiunan pegawai negeri. Mungkin itu pula yang menjadi pertimbangan si Ayah. Menantunya pensiunan pegawai negeri.''

Pada malam ke-40 aku datang menghadiri malam tahlilan di rumah duda tua itu. Kepada kami diberikan buku Yasin, yang diterbitkan untuk mengenang 40 hari wafat sang istri. Malam tahlilan itu terasa seperti malam peluncuran buku duka. Kubuka buku Yasin itu. ''Ya Allah ampunilah dosanya, limpahkanlah rakhmat kepadanya, hapuskanlah segala kesalahannya, muliakanlah tempatnya dan lapangkan pintu baginya, maafkan segala kekeliruannya.''

Di halaman berikut, ''Mengenang 40 hari wafatnya Istri, Ibu, Nenek Kami yang tercinta. Siti Rohimah Binti HM Djailani. Lahir di Condet Balekambang, Jakarta Selatan, 20 Agustus 1975. Wafat di Poltangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 29 November 2006.''

Di halaman berikutnya tercetak foto almarhumah dalam warna sempurna dan dalam bulatan yang dilingkari ornamen kaligrafi Arab.

Di halaman yang lain ada kata pengantar dari keluarga mengenai almarhumah yang disampaikan oleh sang suami, RM Sarman Bin Toyib. Di halaman lain ada Hadits riwayat Imam Bukhari & Muslim. Rasulullah SAW bersabda: Bila seseorang telah meninggal, terputus untuknya pahala segala amal, kecuali dari tiga hal yang tetap kekal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakannya.

Di halaman-halaman lain memuat Surat Al-fatihah, Surat Al-Ikhlaash, Surat Al-Falaq, Surat An-naas, Ayat Kursi, Surat Yaasiin, Tahlil, Doa Tahlil, dan berbagai tuntunan shalat. Juga berbagai macam doa yang bisa dipilih pemakainya sesuai kebutuhan.

Aku tak tahu awal mulanya buku duka semacam itu diterbitkan kelurga untuk mengenang kematian seseorang setelah 40 hari kematiannya. Aku juga tak tahu apakah buku semacam itu dianjurkan agama untuk diterbitkan?

Waktu pamit kujabat tangan duda tua itu. Aku mengulang apa yang pernah kuucapkan 40 hari yang lalu sebagai ungkapan belasungkawa.

''Tabahlah. Bukan main berat cobaan yang Allah beri kepada Bapak. Hanya lima hari Allah beri waktu bulan madu untuk Bapak.''

''Tunggu. Jangan pulang lebih awal. Ada yang ingin kutunjukkan.''

Aku tertahan di ruang tamu. Setelah tinggal sendiri, dia menarik tanganku ke ruang dalam.

''Saya telah menerbitkan empat buku untuk empat istri. Untuk meyakinkan, mari ikut aku.''

Aku jadi terpaku. Dia masuk ke ruang dalam. Terdengar bunyi engsel berkarat. Dia muncul membawa tiga buku kecil yang tipis. Dia buka buku-buku itu menurut urutan tanggal dan menunjukkannya kepadaku. Buku pertama memuat foto seorang perempuan dalam lingkaran bulat telur dan namanya sebagai suami yang berduka.

Buku kedua demikian pula. Dia perlihatkan foto istri keduanya dan namanya di halaman yang lain. Kemudian dia buka halaman buku ketiga, foto istri ketiga yang wajahnya cukup kukenal, meninggal tiga bulan yang lalu. Dengan buku yang ada di tanganku, duda tua itu telah menerbitkan empat buku 40 hari mengenang istri-istri tercintanya.

''Cukuplah empat buku. Jangan terbitkan buku kelima.''

''Pikiran ke arah itu selalu menggoda. Aku pensiunan pegawai negeri. Semasa dinasku aku tak pernah menyelewengkan uang negara. Kesempatan untuk itu cukup terbuka. Tetapi tidak aku gunakan. Aku sekarang ingin mendapat lebih dari pengabdian yang bersih itu. Aku tidak ingin tinggal di rumah jompo. Aku tidak ingin yang bukan muhrim mengurus hari-hari tuaku. Mengurus hari-hari pikunku. Aku tak ingin merepotkan anak dan cucu-cucuku. Kalau aku meninggal, aku ingin ada janda yang meneruskan uang pensiunku.''

''Kalau begitu, tidak menutup kemungkinan akan terbit buku duka yang kelima.''

''Kalau dia yang lebih dahulu. Kalau aku? Mungkin itu merupakan buku duka pertama baginya, kalau dia belum pernah ditinggal mati suami. Adik perempuanku memutuskan tidak ingin ada buku kedua, walau dia masih muda. Dia manfaatkan setatus jandanya. Janda seorang Jendral. Dia tidak menikah lagi. Tiap bulan dia hidup dengan uang pensiun almarhum suaminya. Pensiun seorang jendral.''




Sumber: Republika 01 Juli 2007

MBAH DANU

MBAH DANU

Cerpen Nugroho Notosusanto



Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib.

Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu "didiami" oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu.

Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan.

Menurut kabar-kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita radio, Mbah Danu sedang turne. Routenya adalah Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, dan kembali ke Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir pulang. Dan benar, ketika Nah tengah mengeong-ngeong seperti kucing kasmaran, Mbah Danu datang membawa koper besi yang sama antiknya dengan yang punya.

Dia tembusi badan Nah dengan pandang membara sambil mengelilingkan susur besar di dalam mulutnya. Nah mengigau dengan mata tertutup, buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua. Wajahnya pucat seperti kain mori.

"Ambilkan sapu lidi!" perintah Mbah Danu dengan sikap Srikandi wayang orang. Kemudian ia mencengkeram lengan Nah dan menyeretnya dari tikarnya ke lantai. Sapu lidi datang. Ukurannya istimewa besar, karena Pak Jaksa mempunyai 60 pohon kelapa di pekarangannya. Mbah Danu memegang sapu lidi itu pada ujungnya yang lunak, kemudian bongkotnya yang garis tengahnya kira-kira 10 cm itu dia ayunkan ke atas dan dia pukulkan sekuat tenaga ke pantat Nah yang terbaring miring. Segenap hadirin melotot matanya dan megar kupingnya melihat dan mendengar pukulan dahsyat itu.

"Ngeoooong!" keluar dari mulut Nah mendirikan bulu-bulu di kulit penonton.

"Mampus engkau sekarang!" seru Mbah Danu bengis dan sapu lidi terus-menerus menghantam pantat Nah dengan irama rhumba. Nah tidak mengeong lagi sekarang, melainkan mengaum seperti singa sirkus yang marah. Sebagian hadirin mau lari.

"Minggat! Ayo minggat!" teriak Mbah Danu dengan amat murka dan dengan tendangan jitu Nah ditengkurapkannya. Kemudian deraannya menghujam pula pada pantat Nah yang kini sadar, bahwa ia manusia Nah, bukan kucing, anjing, kuda atau singa.

"Aduh biyuuuuuung! Aduh biyuuuuuuung!!" tangisnya menggaung.

"Minggat! Minggat! Minggat!!" suara Mbah Danu menggelora sampai tetangga-tetangga dan pelintas-pelintas mengalir masuk ke rumah itu untuk menyelidiki sebab-sebab suara ngeri yang mereka dengar.

"Aduuuuuh! Aduh, aduh, aduuuuuh!" pekik Nah seperti manusia biasa.

"Minggat! Minggat! Ayo minggat!!" jerit Mbah Danu senyaring-nyaringnya sambil memukul dengan tangan kanan dan menggenggam susur di tangan kiri. Air ludahnya memercik merah ke lantai dan badan Nah dalam setengah lingkaran yang radiusnya 11/2 meter.

"Salah hamba apa kok disuruh minggat dan dihajar?" Tanya Nah sambil menangis dan ia mencoba merangkak.

Sikap Mbah Danu sekaligus berubah.

"Aku bukannya berbicara kepadamu, Nah," katanya dengan suara mineur yang lembut. "Aku mengusir setan-setan di dalam badanmu."

Sebagai pengeras perkataan yang terakhir, ia tegak sekali lagi serta memukulkan sapu lidi itu sedemikian kerasnya ke badan Nah, sehingga si sakit rebah ke lantai dan mengerang. Peluhnya bercucuran dan menguyupkan pakaiannya.

"Ha! Hampir modar engkau sekarang!" seru Mbah Danu dengan ganas sambil melangkah maju dan menginjak tubuh Nah dengan kedua kakinya. Selama 5 menit ia mondar-mandir di atas badan Nah sampai napas si sakit seperti ububan pandai besi bunyinya. Kedua lengannya diacung-acungkan untuk mempertahankan keseimbangan. Gerak-geriknya persis seperti Batari Durga yang menari di atas mayat manusia. Setelah sudah, ia menelentangkan badan Nah yang keringatnya membuat lantai mengkilat basah dan mukanya kini merah padam.

Mbah Danu berdiri dan memberi isyarat supaya para penonton yang tak berkepentingan mengundurkan diri. Pintu ditutup dan ia kembali kepada pasiennya. Dengan gerakan-gerakan tangkas pakaian si sakit dibukanya dan kemudian seperti orang kegila-gilaan ia meremas-remas seluruh badan Nah, sambil menggelitik si sakit pada tempat-tempat yang penuh rasa geli. Dan mula-mula Nah menggelepar-gelepar, akhirnya kegelian seperti perawan yang sehat. Seperempat jam Mbah Danu meraba-raba tubuh pasiennya, kemudian ia melepaskannya dan tegak pada lututnya.

"Setan-setan sudah lari dari badanmu, Nah," katanya tenang. "Engkau telah sembuh." Dan di hadapan mata hadirin, Nah yang tadi sudah seperti setengah mati duduk bersandar pada dinding dan tersenyum seperti orang bangun tidur.

"Tidurlah saja dulu sampai besok," kata Mbah Danu lebih jauh sambil membaringkan dan menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit kepala Nah, kemudian memercikkan ludah sedikit dari mulntnya pada dahi si sakit. Setelah itu ia berdiri dan ke luar untuk rneminuni kopinya.

Prabawa Mbah Danu di rumah Pak Jaksa yang jadi sebagian prabawanya di daerah yang terentang dari Kudus sampai Tuban, dari Bonang sampai ke Randublatung, mengalami tantangan, ketika Mr. Salyo Kunto, salah seorang menantu Pak Jaksa, bersama istrinya mengunjungi mertuanya. Beberapa hari sesudah kedatangannya, Nyonya Salyo sakit kepala dan pegal-pegal tubuhnya. Bu Jaksa, sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu.

"O, ada sedikit angin jahat bersarang di dalam, Raden Ayu," kata Mbah Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya Salyo sendiri. "Coba buka baju saja; akan saya usir." Dan Mbah Danu mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekankannya ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sekali dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangannya sehingga angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup. Setelah itu, punggung dan tengkuk mendapat giliran, dan dengan lega Nyonya Salyo bersendawa. Kemudian Mbah Danu melakukan kombinasi kedua pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari bawah dengan berletusan. Justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan ke tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu diperintahkannya keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya.

"Engkau tahu bukan, bahwa pijetan itu bisa merusakkan rahimmu?!"

Sebagai akibat insiden itu, Mbah Danu tak diizinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kekalahan bagi Mbah Danu. Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada waktu-waktu lainnya kedaulatanMbahDanu tetap utuh.

Clash ke-2 antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung berhadap-hadapan, terjadi, ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang setengah umur, sakit keras, justru ketika menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rembang, Pak Jaksa dan Bu Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika Mbok Rah sudah mulai mengigau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab. Sangat kebetulan Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danu yang tidak punya mobil. Sehingga yang beraksi tangan di stetoskop. Dokter Umar, bukan tangan dan air ludah Mbah Danu.

"Malaria," diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang gelap. Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petunjuk-petunjuk lain tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang.

Penyakit Mbok Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetangga-tetangga yang dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan mereka mendesak, agar supaya Mbah Danu dipanggil. Tetapi sebagai jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dengan menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap tinggal netral, tetapi, sebagaimana juga di dalam politik ia dipandang dengan marah oleh kedua pihak yang bertentangan. Namun ia tetap mempertahankan politik bebas yang pasif itu.

Dokter Umar Chattab heran.

"Kininenya sudah Tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?" tanyanya.

"Ya," jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. "Saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah."

Dokter Umar Chattab pulang dengan tidak mengubah ketetapannya. Hanya saja ia berpesan, agar supaya waktu menelan pil si sakit diawasi sungguh-sungguh.

Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi ia mati.

Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas meskipun tak ditujukan secara langsung. Dengan tak dipanggil, Mbah Danu datang sendiri. Mr. Salyo mengundurkan diri ke dalam kamar tamu. Asbaknya penuh dengan puntung sigaret.

"Kita telah berbuat sebaik mungkin," kata Nyonya Salyo menghibur suaminya.

"Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal?!" seru Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab.

"Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan!" katanya lagi.

"Inna li'llahi wa inna illahi raji'un," kata Nyonya Salyo.

Ketika fajar menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya ke luar. Mr. Salyo dan nyonya ikut menyaksikan pengambilan jenazah dari dalam kamar tempat ia dan Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan Mbah Danu. Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu di dalam hati kecilnya cenderung kepada ayah-bundanya, tetapi merasa harus solider dengan kekecewaan suaminya.

Hawa di dalam kamar itu pengap, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo membukajendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari pagi masuk dengan gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul di ambang pintu, Mbah Danu. Matanya membara. Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin. Ia menghela napas panjang dan melemparkan pandang terakhir kepada bale-bale tempat semalam jenazah terbaring. Dengan sangat tiba-tiba ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale Mbok Rah.



7-7-1954


Sumber: Kumpulan Cerpen Tiga Kota

Penjaga Malam dan Tiang Listrik

Penjaga Malam dan Tiang Listrik

Cerpen Seno Gumira Ajidarma


Ia selalu menjaga malam, agar malam tetap menjadi malam seperti yang paling dimungkinkan oleh malam. Ia menjaga malam, agar bulan tetap menjadi rembulan seperti yang dipandang manusia dari bumi setiap malam. Ia menjaga malam, agar tikus tetap menjadi tikus yang keluar dari got, merayap di tengah pasar, mencari makanan dalam kegelapan. Itulah tugas sang penjaga malam, betul-betul menjaga malam yang kelam agar tetap menghitam, sehingga bayang-bayang bisa berkeliaran tanpa pernah kelihatan, mengendap-endap tanpa suara dalam penyamaran.

Malam memang selalau samar dan ia harus tetap menjaganya agar tetap samar-samar. Segala seuatu serba samar-samar di malam hari, seperti kita melihat pencuri, tapi tidak pernah tahu bahwa bagaimana ia mencuri. Adalah menjadi tugasnya agar sepanjang malam yang kelam para pencuri tetap bisa bergerak bebas dalam kegelapan, berkelebat menghindari cahaya bulan, menyelinap ke balik pohon-pohon hitam, merayap di tembok seperti cecak, membongkar jendela, dan memasuki ruangan. Malam tanpa pencurian bukanlah malam. Malam tanpa pengkhianatan bukanlah malam. Tugasnya adalah menjaga agar malam tetap menjadi kegelapan yang menguji kesetiaan.

Beberapa Saat menjelang tengah malam, dalam kegelapan dan embun malam, ia akan keluar dari gardu, melangkah dari rumah ke rumah untuk mengetahui apakah semuanya berjalan seperti malam. Dari sebuah jendela ia akan mendengar blues, dari jendela lain ia akan mendengar tangisan, dan dari jendela lain lagi akan didengarnya lenguhan tertahan-tahan dalam permainan cinta yang menggetarkan. Ia akan berjalan perlahan-lahan sepanjang kompleks perumahan yang sepi, memperhatikan bagaimana cahaya bulan menyepuh aspal jalanan, mendekati tiang listrik.

Akan diusapnya tiang listrik itu, dan mipukulnya tiang listrik itu dengan batu, sampai dua belas kali.

Tentu saja ini menimbulkan sejumlah pertanyaan: apakah yang membuatnya begitu perlu untuk memukul tiang listrik itu sampai dua belas kali? Apakah memang para penghuni kompleks itu meras begitu perlunya untuk mengetahui waktu pada tengah malam? Jika mereka ingin mengetahui waktu, apakah mereka sendiri tidak punya arloji di dekat tempat tidur, wekerm atau jam dinding dengan burung di dalamnya yang akan keluar dan berkukuk dua belas kali saat tengah malam? Apakah memang menjadi tugas seoarng penjaga malam untuk memukul tiang listrik dari jam ke jam? Tidakkah semestinya ia menjaga ketenangan agar tidak seorang penghuni pun terbangun selewat tengah malam hanya karena mendengar tiang listrik dipukul orang? Itulah pertanyaannya: mengapa seorang penjaga malam harus memukul tiang listrik setiap jam? Penjaga malam itu selalu memukul tiang listrik dengan batu dari jam ke jam. Setiap kali ia memukul rtiang listrik dengan batu, selalu ada saja penghuni kompleks perumahan itu terbangun, meski tidak bertanya-tanya lagi apa memang ada orang yang begitu perlunya mendengar tiang listrik dipukul seorang penjaga malam untuk mengetahui jam.

Sejam telah berlalu. Tiba saatnya penjaga malam itu harus memukul tiang listrik sebanyak satu kali saja. Ia keluar dari gardunya, melangkah ke tiang listrik terdekat. Namun seorang lelaki yang tidak dikenalnya berdiri di dekat tiang listrik itu.

“Maaf, saya mau memukul tiang listrik itu,” katanya.

Lelaki itu tidak beranjak.

“Aku ada di sini memang untuk menghalangimu, wahai penjaga malam.”

Lelaki itu tersenyum-senyum mendekapkan tangan. Ia bersandar di tiang listrik sambil memperhatikan sikp penjaga malam.

Adapun penjaga malam itu hanya memikirkan waktu. Ia harus memukul tiang listrik satu kali tepat pada pukul 01:00. Jika terlambat, ia tidak tahu caranya memukul tiang listrik untuk mengabarkan waktu telah tiba pada pukul 01:01. Ia juga tidak pernah dan tidak akan pernah bisa melompatinya sampai pukul 02:00 saja. Tidak mungkin. Tidak akan pernah mungkin. Kecuali dunia kiamat – tapi sekarang kan belum?

Waktunya tidak banyak. Ia berlari ke tiang listrik yang lain, tapi tiba-tiba saja lelaki itu sudah berada di tiang listrik juga, memang dengan sengaja menghalanginya.

Penjaga malam itu merasa sangat gelisah. Ia berlari lagi ke tiang listrik lain. Ternyata lelaki itu pun sudah ada di sana. Wajahnya tersembunyi di balik topi lebar, mendekapkan tangan tenang-tenang, tersenyum-senyum melihat kegelisahan penjaga malam itu masih bisa melihat senyum dikulum pada mulutnya yang mengejek.

Waktunya tinggal sedikit.

“Minggirlah,” katanya, “aku harus memukul tiang listrik itu satu kali.”

Lelaki itu tidak minggir, dari mulutnya masih terlihat senyuman, yang bukan hanya mengejek, tapi juga menghina.


Penjaga malam itu mengambil pisau belati yang selalu tergantung di pinggangnya. Senjata tajam itu sudah berkarat, maka tidak ada yang berkilat di bawah cahaya bulan.

“Minggirlah, aku tidak punya waktu lagi,” katanya.

Lelaki itu tidak beranjak.

“Aku di sini untuk menghalangimu,” katanya. “Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan.”

Penjaga malam itu menggerakkan pisaunya.

Kemudian, seorang perempuan yang tidak bisa tidur karena patah hati, mendengar tiang listrik dipukul batu sebanyak satu kali. Suaranya bergema di tengah malam yang sunyi. Tepat pada waktunya.***



Pondok Aren, Jumat 15 November 2002



Sumber: Koran Tempo, Minggu 16 Februari 2003.

VICKERS JEPANG

VICKERS JEPANG

Cerpen Nogroho Notosusanto



Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah pertemuan. Sepedaku merk "Philips" bikinan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas I.

Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begirii, menimbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman tahun
1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 1.00.

Di dekat empasemen Stasiun Senen, gelapnya seperti di dalam terowongan kereta api. Suara orang berlacur tidak ada di dalam gerbong-gerbong yang berserakan di atas ril. Penjual sate Madura dan kue putu juga semua lenyap. Jalanan sepi seperti kuburan.

Tiba-tiba aku kaget seperti di dalam mimpi. Karena gerak reflex, setang setir goyang, roda-roda yang kendor tambah oleng dan rem depan tanpa aku rem, mengerem sendiri. Dengan kutukan jahanam aku berdiri ke dalam comberan yang dingin. Segala keributan itu hanya karena ada kucing menyeberangi jalan. Seketika itu juga aku insaf, bahwa hujan agak reda. Lain daripada itu di kejauhan ada sebuah tiang lampu kelip-kelip melegakan hati yang gelap dingin seperti suasana. Karena hal-hal yang menyenangkan itu, hatiku jadi besar. Dengan gemas sepeda kukayuh cepat-cepat, meskipun ratapnya tambah tak karuan.

Tapi kegelapan seolah-olah enggan melepaskan aku. Karena lampu itu masih jauh juga. Setiap ada jalan simpang menganga, dingin dalam hatiku bertambah sejuk. Rumah-rumah di tepi jalan tertutup rapat-rapat dan hitam oleh ketiadaan cahaya. Aku mengayuh terus cepat-cepat, damba akan lampu jalan.

Aku tahu, masih ada satu jalan simpang lagi sebelum tikungan yang ada lampunya. Jalan itu sudah dekat. Kira-kira di tempat ada tonggak hitam di tepi jalan itu. Ya, ada tonggak hitam. Sesungguhnya terlalu besar untuk sebuah tonggak. Apa tonggak betul? Tonggak betul? Tonggak bergerak?! Orang. Tangan kanannya ditentangkan ke samping." Dengan sendirinya aku melambatkan laju sepeda, pedal tak kukayuh lagi. Aku sudah dekat kepadanya. Ia bertolak pinggang besar.

"Stop!" katanya kemudian. "Turun!" Aku menurut dengan patuh. Tiba-tiba tangan kanannya menodong ke muka, suatu gerakan yang tak berguna bagiku, karena tanpa senjata itu pun aku tak sanggup melawan dia, karena tokohnya tokoh seorang Samson. Ia memakai jas hujan militer hijau tetapi pakai pet seperti pet yang kupakai, model sport Inggris. Sosok tubuhnya yang ditekankan menutup mata, persis bandit picisan.

Karena aku orang normal, jantungku mempercepat degupnya dan tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak pernah kena minyak. Bandit picisan itu tak banyak bicara. Ia mendekat perlahan-lahan, seperti kucing mendekati tikus. Tangan kirinya maju, membuka kancing jas hujanku. Tangan kanannya dengan senjata dekat ke perutku. la mulai meraba-raba saku celana. Aku bergerak sedikit kegelian, karena rabaannya sembarangan.

"Awas!" desisnya marah sambil menyodokkan laras senjatanya ke dalam perutku, yang menyebabkan aku mengeluarkan bunyi yang tak dapat ditirukan. Setelah aku diam kembali, ia meneruskan pekerjaannya yang melanggar undang-undang itu. Mau tak mau mataku tertarik kepada senjata yang dibenamkan ke dalam perutku. Bukan revolver, tidak ada silindernya; pistol jadi. Merk apa? Aku terus mempelajari pistol itu, tak peduli dompetku berisi Rp 12,25 pindah ke sakunya. Karena kami tidak jauh benar dari lampu jalan itu, aku dapat melihat, bahwa senjata itu sebuah "Vickers Jepang". Apa nama sesungguhnya, aku tak tahu, tetapi di Indonesia pistol itu terkenal dengan nama itu.

Setelah selesai menggeledah pakaian, ia menumpahkan perhatiannya kepada arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tak seberapa itu, ia tak peduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia menggenggam tangan kiriku untuk mencopot arlojinya; saying bannya agak sukar membukanya kalau dengan tangan "satu. Karena itu tangan kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada wadah pelurunya. Kosong melompong seperti teng bensin bocor.

Sertamerta mulutku sudah mengoceh lantang dengan cemooh yang tak tersembunyi, "Wah, nodong kok pakai Vickers Jepang kosong!"

Ia terkejut, sampai arlojiku yang sudah lepas, jatuh ke tanah. Sebentar ia memandangku dengan tak bergerak dan berkata. Kemudian ia undur selangkah.

"Apa? Kosong? Mau rasa, apa?" aksennya Jawa Tengah.

"Mau diisi satu-satu dari atas, apa? Angel dong ngokangnya!" jawabku, juga pakai aksen Jawa Tengah. Dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu, aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkan saja.

"Kok tahu ini Vickers Jepang?" tanyanya. Dan aku seperti sudah pernah kenal suara itu.

"Saya pernah pakai kok!"

"Di mana"

"Front MKS."

"Hlo! Front MKS!"

"Tahun 1947."

"Tahun 1947!"

“Agustus."

"Agustus?!"

"Pernah ke.Puring apa?" tanyaku.

"Puring?! Gombong Karanganyar?!" pistolnya sudah turun sama sekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.

"Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu ada serbuan?"

"Mas Mug!!"

"Ya, saya ini."

Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.

"Hia, kamu kok jadi bandit ini gimana, Dik?" tanyaku.

"Ini Mas!" dompetku dikembalikannya kepadaku. Aku masukkan kembali ke tempatnya dan kemudian arloji aku pakai. Ia diam saja tak menjawab apa-apa. Memandang gelisah kepadaku, memperhatikan aku meniitup jas hujan kembali. Kemudian sepeda aku dekatkan kepadanya.

"Tidak bawa sepeda, Dik?" Ia menggelengkan kepala.

"Goncengkan saya kalau begitu," kataku dengan lagak komandan.

Kami duduk berhadap-hadapan dalam salah satu warung di Medan Senen. Palguno waktu clash I kurus dan masih hijau. Ia anggota reguku. Waktu clash II kami berpisah. Baru sekali ini kami bertemu kembali. Apa yang baru terjadi sangat mengejutkan, karena Palguno adalah Raden Ngabehi Palguno, putra kedua seorang pensiunan bupati.

Lama ia kupandang. Ia menunduk saja. Kami makan sate kambing, enak panas pada malam yang dingin. Ia tergesa-gesa mau pulang saja. Duduknya resah seperti kursinya penuh kutu busuk.

"Nggak usah malu kepada saya, Dik. Man kita bercakap-cakap panjang lebar seperti di front MKS. Pantasnya kalau kawan seperjuangan bertemu bualnya keluar!"

"Tapi ...," ia memandang tak tetap kepadaku.

"Jangan main tetapi-tetapian, Dik Gun!"

Ia minum seteguk besar dari gelas birnya. Lalu memandang lagi dengan liar kepadaku.

"Saya ...," ia memandang penuh permintaan kepadaku. "Saya ditunggu. istri saya, Mas."

Aku tegak di kursi. Gelas yang sedang kupegang aku letakkan. Heranku tak kusembunyikan.

"Istri?!" Di cermin yang tergantung di dinding sana aku lihat wajahku penuh dengan tanda tanya dan mataku melotot seolah-olah melihat Palguno menelan kodok hidup-hidup.

"Saya sudah kawin Mas."

"Hlo-hlo-hlo-hio!"

"Sudah hampir dua tahun."

"Dua tahun?"

Ia mengangguk tersenyum sedikit malu.

"Siapa? Dari mana? Bagaimana?" tanyaku seperti tembakan semi otomatik.

"Namanya ..." ia tertegun sebentar, " ... Kayatun."

Ia berhenti sebentar. Memandang penuh penyelidikan kepadaku.

"Ia anak carik desa yang merawat saya waktu luka-luka."

"Hlo, Dik Gun pernah luka, toh?"

"Kesikat watermanteli (sejenis senapan mesin-red) Mas, di selatan Bantul."

"O."

"Ia waktu itu pelajar SMP hampir tamat."

"Jadi seorang 'war bride' to?"

Ia jadi kemalu-maluan lagi.

"Perkawinannya di mana? Besar-besaran?"

Ia tak segera menjawab. Aku menunggu dengan sabar sambil minum beberapa teguk lagi.

"Ayah-ibu tidak setuju, Mas."

"O, karena apa?"

"Karena ia anak desa."

"Hlo!"

"Biarpun pelajar SMP, tapi di mata mereka tetap anak desa.

Merendahkan martabat keluarga."

"Jadi bagaimana?"

"Saya paksakan," ia minum lagi, merenung. "Hubungan antara mereka dan saya terputus. Mereka masih bangga akan martabat mereka. Saya juga mengerti, tapi saya tak dapat mengingkari kasih dan terima kasih."

"Masakan mereka tak bisa memaafkan?"

Lama ia terdiam. Aku minum sambil terus melirik kepadanya.

"Mereka baru-baru ini berkirim surat, rupa-rupanya mau menerima saya kembali, tetapi saya belum dapat melupakan perkataan-perkataan keras yang telah terluncur."

"Allaa, jangan begitu keras kepala, Dik Gun! Sama Belanda bisa damai kok sama ayah-ibu mau ngotot! Kan tidak sewajarnya."

"Akan saya pikirkan, Mas. Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak.umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan."

"Lalu pindah ke Jakarta bagaimana?"

"Setelah kawin saya pergi sendirian ke Jakarta, meneruskan sekolah. Tapi setelah tamat SMA, berat Mas. Entah karena saya bukan potongan sarjana, atau karena asrama yang rame. Pendeknya hidup saya kacau, Mas. LJang KUDP (Kantor Urusan Demobilisan Pelajar) tidak cukup untuk di Jakarta. Mas tahu sendiri."

Aku mengangguk-angguk sangat setuju lalu minum lagi.

"Dalam pada itu sang istri minta dijemput."

"Sudah semestinya," aku mengangguk-angguk lagi seperti gajah.

"Ia lulus ngetik, lalu bekerja."

"Emansipasi wanita!" aku menyela.

"Saya sendiri berusaha belajar terus di Fakultet Hukum, meskipun sudah dua tahun belum propaedeuse. Di samping itu mencatut kain batik dari Yogya. Tetapi istri saya hamil, lalu tak dapat bekerja terus. Kesukaran keuangan timbul. Lalu ini keluar lagi," ia menepuk-nepuk pistol di dalam sakunya.

"Saya sudah putus asa, Mas." Ia memandang dengan liar kepada jam di dinding.

"Saya mau pulang Mas!"

"Kok kesusu benar, toh."

Ia tak menjawab. Berdiri. Melemparkan pandang liar lagi kepadajam, kemudian memandang penuh permintaan kepadaku.

"Tadi pamitnya ke mana?" tanyaku tenang.

"Mengambil bidan, Mas. Bidannya sudah saya kirim ke rumah. Saya bermaksud mencari tambah uang untuk membiayai kelahiran bayi," perkataan-perkataannya mengalir keluar.

Aku berdiri sekarang.

"Sudah tua hamilnya?"

"Setiap saat bisa keluar!"

"Mari!" kataku sambil mengeluarkan dompet.

Rumahnya terletak di gang yang sempit, becek dan bau. Di muka pintu bambu itu ia berdiri sejurus. Nyala lampu minyak menyorot ke luar. Kami berpandang-pandangan. Dari dalam jelas kedengaran tangis bayi. Sesaat kemudian kami sudah ada di dalam
rumah.

Jam 11.00 malam aku minta diri. Aku cuma sebentar menjenguk istrinya dari pintu karena dipaksa-paksanya. Dengan bangga ia mendukung putra sulungnya ke luar kamar tidur ke ruangan satunya, yang merangkap jadi kamar tamu, kamar makan dan dapur.

"Dik Gun," aku memulai pidatoku. "Saya ucapkan selamat kepada kamu berdua atas kelahiran putramu yang pertama. Mudah-mudahan ia tidak akan mengalami kesukaran-kesukaran angkatan kita sekarang ini."

Palguno, Raden Ngabehi Palguno, putra seorang bangsawan pensiunan bupati, berdiri di tengah-tengah ruangan bambu itu, besar, perkasa dan bahagia. Bayinya kecil, merah dan cengeng terbaring pada urat-urat lengan bapaknya yang kukuh.

"Sebentar Mas," ia masuk sebentar; kembali tanpa bayi. Ia berdiri di depanku. Batuk-batuk kecil.

"Mas, maukah Mas Nug membantu saya seperti waktu di front MKS?"

Dan aku teringat waktu seorang prajurit muda gemetar mengalami perploncoan tembakan di sampingku. Kini ia mengharapkan lagi bantuan pada saat-saat genting. Dan kesukarannya sekarang lebih besar. Sebagai orang normal aku merasa bangga, bahwa masih ada orang yang menaruh kepercayaan sebegitu besar kepadaku.

"Baik, Dik, baik!" aku mengangguk-angguk lagi dan mengulurkan tangan kananku.

Tangan kanannya cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku kanan celananya. Tangan kananku sudah mau kuturunkan lagi, ketika ia mengeluarkan tangannya itu dan mengacungkannya kepadaku. Di dalam tangan itu tergenggam Vickers Jepang yang sudah tua, karatan dan tak berwadah peluru. Tetapi sebaliknya dengan tadi, bukan larasnya yang bertujuan kepadaku, melainkan popornya.



14-3-1954