Cermin Maneka
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
DI depan cermin Maneka tertegun. Ia tidak melihat dirinya sendiri.
Kalaulah harus ada satu hari yang harus menjadi lain di antara hari-hari
lain, ia tidak mengharapkan kelainan itu berlangsung begini rupa. Setiap malam ia memang berdoa agar hidupnya berubah keesokan harinya. Ia berdoa agar hari-harinya tidak lagi begitu membosankan dan begitu menyebalkan justru karena tidak pernah ada persoalan. Segalanya
begitu mudah bagi Maneka, begitu lancar dan begitu beres sehingga tiada lagi perkara yang bisa menjadi masalah baginya. Ternyata, hidup tanpa persoalan juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Maka, begitulah, setiap hari ia berdoa agar hidupnya berubah. Dan pagi ini, bangun tidur, hidup tidak berlangsung seperti biasanya. Di depan cermin, ia tidak melihat dirinya sendiri.
Maneka bukan hanya tidak melihat dirinya sendiri. Ia juga tidak melihat kamarnya yang serba kelabu. Temboknya berwarna kelabu, lantai, seprei, langit-langit juga kelabu. Ada kelambu, yang tidak perlu, karena kamarnya ber-AC, warnanya putih lembut, hanya menjadi hiasan ranjangnya. Namun, sisanya serba kelabu. Ada sebuah lukisan besar di dinding, sebuah lukisan hujan gerimis dengan seorang perempuan berjalan menjauh membawa payung. Lukisan itu juga serba kelabu. Kalau ada warna kuning, itulah cahaya lampu di tepi ranjang dan kamar mandi. Bila Maneka menatap lukisan tersebut sebelum tidur, ia selalu ingin bangun sebagai perempuan dalam lukisan itu. “Aku ingin bangun pada suatu pagi di mana aku berjalan menempuh hujan gerimis sambil membawa payung melalui jalan berkelok-kelok di tepi jurang menuju entah ke mana,” ujarnya di dalam hati. Tetapi bukan saja hidupnya tidak berubah, bahkan bermimpi pun ia tidak pernah. Maneka adalah manusia yang tidak pernah mengalami mimpi. Maneka merasa sangat bosan. Hidupnya seperti sebuah garis lurus yang tidak menarik sama sekali. Ia inginkan gerimis, ia inginkan hujan, ia inginkan sebuah perjalanan. Maneka menginginkan perubahan.
Di dalam cermin itu ia melihat hutan. Tentu ini hutan bukan? Pikirnya. Dilihatnya cahaya matahari menembus celah dedaunan dan batang-batang pohon raksasa. Ia melihat sebuah hutan dalam dongeng dengan burung-burung berkicau, kericik air, dan jeritan monyet di kejauhan. Sesekali terdengar kibasan sayap burung-burung besar, menyibak di antara suara-suara serangga yang sebentar diam sebentar berbunyi. Ini sebuah hutan yang bagus, hijau, dan berbau basah. Maneka menghirup bau humus, ia mengulurkan tangannya. Wah, cerminnya tidak berkaca. Cermin tempatnya berhias yang bulat tinggal sebuah bingkai menuju ke dunia yang lain. Masih dengan baju tidurnya yang tipis dan lembut, Maneka melangkah memasuki cermin itu, dan berlari di atas rumput basah menuju ke aliran sungai.
Maneka melompat-lompat riang. Hidupnya sudah berubah. Ada persoalan besar yang harus dipecahkannya kini. Mengapa cerminnya bisa menjadi ajaib seperti itu? Tentu saja hal itu tidak bisa dijawabnya sekarang. Dan tidak harus sekarang. Ia tidak ingin hidupnya segera menjadi membosankan kembali. Ia ingin menikmati dahulu dunia di balik cermin itu, sebuah hutan lebat yang dahsyat dan menyenangkan, sebuah dunia tanpa manusia yang tersimpan dan tersembunyi untuk dirinya sendiri. Ia melihat bunga-bunga yang tidak pernah dilihatnya, bahkan di toko bunga yang paling mahal sekalipun. Bunga-bunga hutan yang tumbuh liar tanpa sentuhan tangan manusia selalu lebih memesona daripada bunga di taman kota manapun. Maneka merendam kakinya yang mungil itu di sungai yang jernih dengan bebatuan yang terlihat jelas di dasarnya. Cahaya matahari membuat segalanya terlihat demi Maneka. Mata Maneka yang takjub bagaikan ingin menelan dunia ke dalam dirinya. Ia tidak pernah mengira bahwa daun yang tertimpa cahaya di sebaliknya memperlihatkan pesona hijau yang berbeda. Kerangka daun menjadi garis-garis hitam, ia tidak seperti melihat daun, melainkan sesuatu yang lain. Mata Maneka berkejap-kejap memandang semesta dedaunan yang melingkupinya.
Ia menoleh ke arah dari mana ia datang. Bisakah ia kembali ke kamarnya melalui cermin itu? Maneka terkesiap, dan berlari sekencang-kencangnya. Disibaknya semak-semak setengah gugup dan melaju ke arah bingkai yang tadi dimasukinya. Ternyata ia sudah jauh berjalan. Dengan terengah-engah Maneka berlari mendaki. Burung-burung beterbangan dari semak karena terkejut. Kini Maneka tak peduli. Ia berlari dan berlari, sampai akhirnya melihat tempat di mana ia tadi masuk. Ia melompat kembali ke kamarnya. Angin bertiup, dan sejumlah daun kering ikut beterbangan masuk ke sana. Maneka menoleh, ia melihat dirinya di cermin, di dalam kamar yang serba kelabu, masih terengah-engah dan baju tidurnya robek di sana-sini.
Terdengar ketukan di pintu.
“Maneka! Maneka! Sudah jam segini kok belum bangun?”
Ibunya tidak menunggu. Ia membuka pintu. Dilihatnya Maneka sedang memandang cermin dengan terengah-engah.
“Maneka! Kami dari mana? Lihat kakimu! Kotor!”
Maneka melihat kakinya, penuh dengan tanah yang basah. Lantai kamarnya penuh jejaknya yang kotor. Daun-daun kering bertebaran di atas tempat tidur.
Jendela masih tertutup. Ibunya tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Namun, ia senang melihat mata Maneka yang cemerlang seperti bintang.
Setelah ibunya pergi, Maneka menyanyi:
cerminku, cerminku
kenapa kamu bisa begitu…
***
SEJAK peristiwa itu Maneka selalu berangkat tidur dengan perasaan pergi ke sebuah negeri yang jauh. Ia masih selalu tidur tanpa bermimpi. Tetapi ketika bangun, matanya segera melirik ke arah cermin, dan ia tahu betapa dunia sudah berubah di seberang sana. Ia akan mengalami mimpi-mimpi yang nyata. Masih dari tempat tidurnya ia tahu bagaimana segalanya menjadi lain, karena cermin itu tidak pernah lagi memantulkan kamarnya yang serba kelabu. Apabila ia terbangun, ia melihat tepi sebuah dunia yang lain di mana ia bisa mengembara sepuas-puasnya. Seluruh dunia terdapat di balik cermin itu.
Pernah suatu ketika ia bahkan terbangun karena mendengar suara panggilan.
“Maneka! Maneka!”
Ia menuju ke cermin itu, terlihat dermaga yang menuju ke sebuah kapal.
“Ayo! Jadi ikut tidak?”
Ia melihat sebuah kapal pesiar dengan orang-orang berpesta di atasnya. Maneka tidak beranjak. Ia tidak suka berada di tengah orang banyak. Ia lebih suka sendiri. Maka ia tidak melangkahkan kakinya. Ia menggeleng. Perempuan yang tadi memanggilnya pun pergi. Dilihatnya perempuan yang juga masih mengenakan baju tidur itu menaiki tangga kapal, dan kapal itu pun membunyikan peluitnya. Maneka terus melihat kapal yang putih itu, sampai menghilang ke balik cakrawala.
Dunia begitu luas di balik cermin itu. Dalam waktu singkat Maneka merasa dirinya begitu kaya karena mengetahui banyak hal yang tidak diketahui orang lain. Ibunya masih selalu merasa bingung dengan keajaiban di dalam kamar Maneka. Kamar yang serba kelabu itu semakin sering menyisakan jejak-jejak dari dunia di seberang cermin. Bukan sekadar tanah dan daun-daun kering, tapi juga bunga-bunga, kayu bakar, mutiara, baju zirah, kitab sihir, tikus putih, sup kacang merah, topi, tombak, prangko, ban mobil, komik, mahkota, kain batik, disket, kamera, cermin kecil, tas, sapu lidi, bros, liontin, kulit kerang, teropong bintang, kaus oblong I Love New York, batu-batu pantai, pistol, pil koplo, dan akhirnya juga kondom.
Tiga benda terakhir itu membuat ibunya panik, namun tetap berusaha bijak.
“Maneka, Ibu menganggap kamu sudah dewasa, jadi Ibu sepenuhnya percaya kamu tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Tolong hati-hatilah setiap kali engkau melangkah dalam hidupmu. Ibu tidak ingin kehilangan kamu.”
Maneka meyakinkan ibunya bahwa ia baik-baik saja, dan ibunya memilih untuk percaya. Tentu
saja. Apalah yang harus dikhawatirkan dari seorang dara yang tidak tergantung kepada apa pun dalam menentukan langkahnya?
Pagi ini Maneka kembali bangun dan kembali melirik, hidup sudah tidak membosankan lagi bagi Maneka karena setiap hari betul-betul dialaminya peristiwa baru. Ketika ia melirik, dilihatnya semburat cahaya senja yang kemerah-merahan dari langit di luar sana yang membias ke dalam kamarnya. Kamarnya tidak lagi kelabu pagi itu, melainkan kemerah-merahan karena cahaya senja dari matahari yang sedang turun perlahan-lahan ke balik cakrawala di seberang sana. Angin meniupkan bau laut. Cuping hidung Maneka bergerak. Ia melompat bangun dan menengok cermin itu, dan tertatap olehnya sebuah pemandangan yang penuh pesona. Tiada yang bisa lebih memesona selain senja merah keemas-emasan di tepi sebuah pantai yang membuat langit semburat jingga seperti seolah-olah terbakar sehingga air laut yang memantulkannya bagai genangan cat air yang kejingga-jinggaan dan keemas-emasan dan berkilau-kilauan.
Maneka beranjak dan melompat tanpa berpikir lagi. Baginya pemandangan senja adalah segala-galanya dalam hidup ini karena adalah senja yang memberi keyakinan kepadanya betapa hidup memang tidak akan pernah sama. Senja selalu menyadarkan Maneka, betapa perubahan adalah keberlangsungan setiap detik dan mesti betapa indah dan betapa penuh pesona senja itu, namun, akan selalu berakhir. Itulah sebabnya ia selalu memburu senja, seperti memburu cinta, betapapun tiada akan pernah abadinya cinta itu.
Ia berlari sepanjang pasir menuju ke pantai. Senja memang gemilang, tetapi dilihatnya mayat bergelimpangan. Mayat-mayat bergelimpangan sepanjang pantai yang berkilauan, sesekali terdorong karena hempasan ombak. Maneka terpana, ratusan, bahkan ribuan mayat terserak sepanjang pantai itu bagaikan akhir dari sebuah pertempuran yang mahadahsyat. Pantai begitu indah, namun melapetaka hanya menyampaikan duka. Maneka melangkah di antara ribuan mayat yang tergolek dan bertumpuk bagaikan susunan sebuah monumen. Sesekali dilihatnya darah mengalir di pasir yang basah. Ombak berdebur dan menghempas seperti biasanya ombak berdebur dan menghempas, tapi kali ini Maneka tidak sempat merenung. Ia memeriksa mayat itu satu persatu dengan harapan setidaknya masih bisa menemukan satu atau dua atau beberapa orang yang masih hidup, namun semuanya sudah mati.
Maneka berlari dari mayat yang satu ke mayat yang lain. Kali ini dunia di balik cermin itu bukan lagi sesuatu yang membuatnya meloncat-loncat bahagia. Air mata Maneka berderai melihat wajah-wajah yang menderita dalam kematiannya. Wajah-wajah yang penuh dengan cerita tak terbahasakan, namun menularkan langsung pengalaman duka mereka yang dalam. Mayat yang tertelungkup dengan panah di punggungnya, mayat yang terkapar dengan tombak di perutnya, dan mayat terduduk dengan belati di dadanya. Bagaimanakah pengalaman bisa begitu menyakitkan? Dunia Maneka yang indah, meriah, dan bahagia dalam kesendiriannya, rontok dan hancur lebur berkeping-keping tanpa sisa dalam dunia orang banyak. Cinta dan senja yang dirindukannya menjelma kepahitan tak tertahankan.
“Maneka! Maneka!” Ia mendengar suara, namun tak dipedulikannya.
Di tepi pantai itu, pohon-pohon nyiur berderet dalam siluet yang bagus, bagaikan pemandangan dari sebuah brosur pariwisata. Langit hanya merah dan Maneka menjadi sosok hitam yang berjalan di antara mayat-mayat bergelimpangan. Burung-burung camar mengakhiri jeritannya dan menghilang. Maneka termenung dalam kegelapan yang menjelang. Mayat-mayat itu adalah mayat orang-orang yang terbunuh. Mayat-mayat itu masih hangat, darah masih mengalir, beberapa di antaranya bahkan baru menghembuskan napas penghabisan ketika Maneka mendekatinya. Hanya beberapa saat sebelum Maneka melangkah dari cermin itu dan berlari menuju ke pantai. Apakah yang telah terjadi? Maneka berharap kejadian yang dialaminya kali ini benar-benar hanya sebuah mimpi buruk.
Maneka melangkah meninggalkan pantai. Debur ombak menjadi suara di kejauhan. Di atas bukit pasir ia tertegun, ke manakah ia harus kembali? Tidak ada kehidupan di tempat ini, hanya mayat-mayat, pasir, dan debur ombak. Ia tak bisa menemukan tempat dari mana ia tadi datang.
***
DI kamarnya yang serba kelabu, ibunya membuka pintu. Kamar itu kosong. Ibunya melangkah masuk. Dibukanya kamar mandi. Juga kosong. Dari cermin yang bulat dan besar, ibunya melihat lukisan yang selalu dipandang Maneka. Lukisan seorang perempuan yang melangkah dalam hujan gerimis, menempuh jalan berkelok-kelok di tepi jurang sambil membawa payung. Lukisan itu mengingatkannya kepada sesuatu.
“Aku ingin pergi jauh Ibu,” kata Maneka selalu di masa kecilnya, “pergi jauh ke sebuah dunia yang belum kukenal.”
Ibunya keluar kamar. Ia memanggil.
“Maneka!”
Cermin Maneka tetap seperti dulu, diam dan membisu, membayangkan kembali kamar yang kelabu.
Pondok Aren, Minggu Legi, 17 September 2000.
Sumber: Kompas, Minggu 8 Oktober 2000
Tuesday, 16 November 2010
Jawaban Alina
Jawaban Alina
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Sukab yang baik
Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. Ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. Manusia memburu senja kemana-mana, tapi dunia ini fana Sukab, seperti senja. Kehidupan mungkin saja memancara gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. Hitam, sunyi dan kelam.
Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.
Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah kemas-emasan yang memancara dari amplop itu Sukab. Cahaya itu telah mengganggunya semenjak ia menggenjot sepeda dari kantor pos, berkilau-kilau dan memancar di tas surat yang tergantung di boncengan sepeda, begitu rupa sehingga cuaca siang hari menjadi kacau, angin menderu dan ombak terdengar menghempas-hempas, meskipun ia bersepeda mendaki bukit kapur. Demikianlah, maka ia suatu ketika berhenti. Dari dalam tas itu terdengar suara-suara, ia buka tas itu, dan ia melihat amplop Federal Express yang sudah tidak putih lagi melainkan merah keemas-emasan Sukab, seperti senja dengan matahari terbenam di balik cakrawala. Tukang pos itu mengambil amplop tersebut, menimang-nimangnya, agak berat juga. Maklumlah bukankah amplop itu berisi senja Sukab? Senja dengan matahari merah membara yang turun perlahan-lahan di balik cakrawala, seperti semua senja yanga ada di balik kartu pos, tapi yang kamu kirim itu bukan kartu pos Sukab, yang kau kirim itu senja di tepi pantai dengan hempasan ombak, bau laut dan angina yang asin. Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! Masih lumayan tukang pos itu kuat menggenjot sepedanya mendaki bukit kapur. Busyet. Kalo anak-anak kecil tahu ada matahari terbenam di dalam amplop itu lantas bagaimana? Kau tahulah sukab, anak-anak di daerah bukit kapur begini tidak punya mainan yang aneh-aneh seperti di kota. Mereka hanya tahu kambing dan kerbau, ikan dan belut, sungai dan jagung. Nasi saja jarang meraka sentuh. Anak-anak yang tidak pernah tahu mainan robot berjalan dengan cahaya didadanya berkedip-kedip pasti akan penasaran sekali dengan cahaya senja yang memancar berkilauan., berkilauan merah dan keemas-emasan itu Sukab.
Mereka tidak pernah melihatnya Sukab, karena tukang pos itulah yang telah mendahului meraka. Ia menimang-nimang bungkusan berisi senja itu, mendengar-dengarkan, dan akhirnya mengintip. Tentu saja didalam amplop itu dilihatnya senja Sukab. Senja terindah yang paling mungkin berlangsung di muka bumi. Ia mengintip dan terpesona. Ia buka amplop itu. Sebetulnya menurut kode etik profesi itu tidak boleh. Tapi manusia manapun bisa melakukan kesalahan bukan? Ia buka terus amplop itu, dan melihat senja dengan langit merah kemas-emasan didalam sana, dan melihat mega-mega berpencar seperti perahu di danau, memebrikan perasaan nyaman dan tenang. Siapa yang tidak suka merasa nyaman dan tenang di dunia Sukab, di sebuah dunia yang miskin masih bersimbah darah pula? Maka jangan salahkan tukang pos itu Sukab, jika ia kemudian menjadi begitu penasaran dan memasuki senja yang terbentang. Tidak ada yang tahu apa nasib waktu(1). Ketika anak-anak akhirnya berkerumun di sekita sepeda yang tergeletak itu, mereka hanya melihat cahaya senja yang kemerah-merahan yang semburat membakar langit. Amplop itu hanya bocor sedikit, tapi akiatnya sudah begitu rupa. Ini semua gara-gara kamu Sukab.
Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,
Sepuluh tahun lamanya tukang pos itu mengembara didalam amplop, kita tidak pernah tahu apa yang diklakukanya disana. Apakah dia kawin, beranak pinak, dan berbahagia? Atau selama itu dia hanya duduk saja memandang matahari terbenam dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menggelap kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati senja di dalam amplop Sukab, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki senja di dalam amplop. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu. Tapi aku tidak mau khayalan, aku tidak mau kira-kira, meskipun usaha kira-kira itu begitu canggihnya sehingga disebut ilmiah, aku mau tahu yang sebenarnya. Apakah ada yang menyaksikan kita sambil tertawa-tawa? Kalau iya, apalah artinya hidup kita ini sukab? Tidakkkah nasib manusia memang seperti ikan, yang diternakkan hanya unutk mengisi akuarium diruang tamu seseorang yang barangkali juga tidak teralalu peduli kepada makna kehidupan ikan-ikan itu?
Aku tidak pernah tahu, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dialami tukang pos itu didalam amplop, sampai ia keluar sepuluh tahun kemudian dengan wajah bahagia. Ia sudah sepuluh tahun menghilang didalam amplop, tapi ia tidak tampak betambah tua. Apakah waktu di dalam amplop tidak bergerak? Tepatnya apakah senja didalam amplop tidak berhubungan dengan waktu? Apakah tidak ada waktu di dalam amplop Federal Express itu? Hmm. Apakah aku harus peduli dengan semua ini sukab, apakah aku harus peduli? Kamu betul betul merepotkan aku Sukab, dasar lelaki tidak tahu diri.
Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan,
Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin, beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus ku katakana sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu. Tapi bukan cinta taik kucing ini yang sebetulnya ingin ku ceritakan padamu Sukab. Soal cinta ini sama sekali tidak penting.
Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Tahu apa akibatnya? Begitu tukang pos itu pulang, setelah menceritakan kenapa kiriman Federal Express bisa terlambat sepuluh tahun, kubuka amplop berisi senja itu, dan terjadilah semua ini. Apa kamu tidak tahu Sukab, senja itu meski cuma sepotong, sebetulnya juga semesta yang utuh? Kamu kira matahari terbenam itu besarnya seperti apa? Seperti apem? Kalau sepotong senja itu di dalam amplop terus sih tidak apa-apa, tapi ini keluar dan lautnya membludag tak tertahankan lagi. Bagaimana aku tahu amplop itu berisi senja Sukab? Aku bukan pengkhayal seperti kamu. Hidupku penuh dengan perhitungan yang matang. Aku tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk diriku sendiri. Betapa pentingnya hidupku selamat, demi suamiku dan anak-anakku. Pura-puranya aku ini juga perempuan yang setia. Itu pula sebabnya, sebelum maupun sesudah kawin aku tidak sudi berhubungan dengan kamu Sukab. Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Mau apa? Tapi kamulah yang tidak tahu diri, mengirim senja tanpa kira-kira. Dunia ini jadi berantakan tahu? Berantakan dan hancur lebur tiada terkira.
Setelah amplop itu kubuka dan senja itu keluar, matahari yang terbenam dari senja dalam amplop itu berbenturan dengan matahari yang sudah ada(2). Langit yang biru bercampur aduk dengan langit yang kemerah-merahan yang terus menerus berkeredap menyilaukan karena cahaya keemas-emasan yang menjadi semburat tak beraturan. Senja yang seperti potongan kue menggelegak, pantai terhampar seperti permadani di atas bukit kapur, lautnya terhempas langsung membanjiri bumi dan menghancurkan segala-galanya. Bisalah kau bayangkan Sukab, bagaimana orang tidak panik dengan gelombang raksasa yang tidak datang dari pantai tapi dari atas bukit?
Air bah membanjiri bumi seperti jaman Nabi Nuh. Dunia menjadi gempar, tidak semua perahu yang ada cukup untuk seluruh umat manusia kan? Lagipula sampai kapan kapal dan perahu itu bisa bertahan? Tiada satu kota pun yang selamat, lautan dari senjamu yang membuat langit merah membara itu menghempas dan membanjiri bumi dengan cepat sekali. Gedung-gedung pencakar langit di setiap kota besar di seluruh dunia, gunung-gunung tertinggi di muka bumi, semuanya terendam air. Sukab, bumi ini sekarang sudah terendam air. Dimana-mana air dan langit senja tak kunjung berubah menjadi malam. Segalanya kacau Sukab, gara-gara cintamu yang tak tahu diri.
Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang,
Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak himalaya. Di depanku ada senuah sampan kecil dengan sepasang dayung dan sebungkus supermi. Itulah makanan terakhir di muka bumi. Sisa manusia yang menjadi pengembara lautan di atas kapal dan perahu telah mati semua, karena kehabisan bahan makanan maupun mayat teman-temannya sendiri. Manusia memang banyak akal, tapi menghadapi senja dari dalam amplop itu tidak ada jalan keluar. Banyak orang mempertanyakan diriku, kenapa aku membuat dirimu begitu cinta menggebu-gebu, padahal cinta secuil pun juga tidak, sehingga kamu mengirimkan sepotong senja itu kepadaku, dan tumpah ruah membanjiri bumi. Tapi coba katakan, tapi itu bukan salahku toh Sukab? Aku tidak mau disalahkan atas bencana yang menimpa umat manusia. Mengapa cinta harus menjadi begitu penting sehingga kehidupan terganggu? Ini bukan salahku.
Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati. Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. Kalu aku mati nanti, bumi ini akan tetap tinggal senja selama-lamanya. Dengan matahari terbenam separuh yang tidak pernah turun lagi. Langit merah selama-lamanya, lautan jingga selama-lamanya, tetapi tiada seorang manusia pun memandangnya. Segenap burung sudah punah karena kelelahan terbang tanpa henti. Tinggal ikan-ikan menjadi penguasa bumi. Di kejauhan, ku lihat Ikan Paus Merah yang menjerit dengan sedih.
Sukab,
Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas. Buakn tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu(3). kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapau semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seprti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.
Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.
Alina
Pondok Aren, Sabtu 10 Februari 2001
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Sukab yang baik
Senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. Ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. Aku pun tahu Sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. Kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. Manusia memburu senja kemana-mana, tapi dunia ini fana Sukab, seperti senja. Kehidupan mungkin saja memancara gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. Waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. Hitam, sunyi dan kelam.
Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.
Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah kemas-emasan yang memancara dari amplop itu Sukab. Cahaya itu telah mengganggunya semenjak ia menggenjot sepeda dari kantor pos, berkilau-kilau dan memancar di tas surat yang tergantung di boncengan sepeda, begitu rupa sehingga cuaca siang hari menjadi kacau, angin menderu dan ombak terdengar menghempas-hempas, meskipun ia bersepeda mendaki bukit kapur. Demikianlah, maka ia suatu ketika berhenti. Dari dalam tas itu terdengar suara-suara, ia buka tas itu, dan ia melihat amplop Federal Express yang sudah tidak putih lagi melainkan merah keemas-emasan Sukab, seperti senja dengan matahari terbenam di balik cakrawala. Tukang pos itu mengambil amplop tersebut, menimang-nimangnya, agak berat juga. Maklumlah bukankah amplop itu berisi senja Sukab? Senja dengan matahari merah membara yang turun perlahan-lahan di balik cakrawala, seperti semua senja yanga ada di balik kartu pos, tapi yang kamu kirim itu bukan kartu pos Sukab, yang kau kirim itu senja di tepi pantai dengan hempasan ombak, bau laut dan angina yang asin. Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! Masih lumayan tukang pos itu kuat menggenjot sepedanya mendaki bukit kapur. Busyet. Kalo anak-anak kecil tahu ada matahari terbenam di dalam amplop itu lantas bagaimana? Kau tahulah sukab, anak-anak di daerah bukit kapur begini tidak punya mainan yang aneh-aneh seperti di kota. Mereka hanya tahu kambing dan kerbau, ikan dan belut, sungai dan jagung. Nasi saja jarang meraka sentuh. Anak-anak yang tidak pernah tahu mainan robot berjalan dengan cahaya didadanya berkedip-kedip pasti akan penasaran sekali dengan cahaya senja yang memancar berkilauan., berkilauan merah dan keemas-emasan itu Sukab.
Mereka tidak pernah melihatnya Sukab, karena tukang pos itulah yang telah mendahului meraka. Ia menimang-nimang bungkusan berisi senja itu, mendengar-dengarkan, dan akhirnya mengintip. Tentu saja didalam amplop itu dilihatnya senja Sukab. Senja terindah yang paling mungkin berlangsung di muka bumi. Ia mengintip dan terpesona. Ia buka amplop itu. Sebetulnya menurut kode etik profesi itu tidak boleh. Tapi manusia manapun bisa melakukan kesalahan bukan? Ia buka terus amplop itu, dan melihat senja dengan langit merah kemas-emasan didalam sana, dan melihat mega-mega berpencar seperti perahu di danau, memebrikan perasaan nyaman dan tenang. Siapa yang tidak suka merasa nyaman dan tenang di dunia Sukab, di sebuah dunia yang miskin masih bersimbah darah pula? Maka jangan salahkan tukang pos itu Sukab, jika ia kemudian menjadi begitu penasaran dan memasuki senja yang terbentang. Tidak ada yang tahu apa nasib waktu(1). Ketika anak-anak akhirnya berkerumun di sekita sepeda yang tergeletak itu, mereka hanya melihat cahaya senja yang kemerah-merahan yang semburat membakar langit. Amplop itu hanya bocor sedikit, tapi akiatnya sudah begitu rupa. Ini semua gara-gara kamu Sukab.
Sukab yang malang, bodoh dan tidak pakai otak,
Sepuluh tahun lamanya tukang pos itu mengembara didalam amplop, kita tidak pernah tahu apa yang diklakukanya disana. Apakah dia kawin, beranak pinak, dan berbahagia? Atau selama itu dia hanya duduk saja memandang matahari terbenam dengan perasaan kehilangan, sementara langit yang tadinya merah keemas-emasan perlahan-lahan menggelap kebiru-biruan – aku juga tidak tahu bagaimana caranya menikmati senja di dalam amplop Sukab, sebuah ruang yang sungguh-sungguh terdiri dari waktu. Apakah waktu bisa diulang atau bagaimana, aku belum pernah memasuki senja di dalam amplop. Atau, apakah didunia ini sebetulnya seperti didalam amplop ya Sukab, dimana kita tidak tahu apa yang berada di luar diri kita, dimana kita merasa hidup penuh dengan makna padahal yang menonton kita tertawa-tawa sambil berkata, “Ah, kasihan betul manusia.” Apakah begitu Sukab, kamu yang suka berkhayal barangkali tahu. Tapi aku tidak mau khayalan, aku tidak mau kira-kira, meskipun usaha kira-kira itu begitu canggihnya sehingga disebut ilmiah, aku mau tahu yang sebenarnya. Apakah ada yang menyaksikan kita sambil tertawa-tawa? Kalau iya, apalah artinya hidup kita ini sukab? Tidakkkah nasib manusia memang seperti ikan, yang diternakkan hanya unutk mengisi akuarium diruang tamu seseorang yang barangkali juga tidak teralalu peduli kepada makna kehidupan ikan-ikan itu?
Aku tidak pernah tahu, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dialami tukang pos itu didalam amplop, sampai ia keluar sepuluh tahun kemudian dengan wajah bahagia. Ia sudah sepuluh tahun menghilang didalam amplop, tapi ia tidak tampak betambah tua. Apakah waktu di dalam amplop tidak bergerak? Tepatnya apakah senja didalam amplop tidak berhubungan dengan waktu? Apakah tidak ada waktu di dalam amplop Federal Express itu? Hmm. Apakah aku harus peduli dengan semua ini sukab, apakah aku harus peduli? Kamu betul betul merepotkan aku Sukab, dasar lelaki tidak tahu diri.
Sukab yang malang, goblok dan menyebalkan,
Kamu tahu apa yang terjadi sepuluh tahun kemudian? Tukang pos itu tiba di depan rumah kami. Ya, rumah kami. Setelah sepuluh tahun banyak yang terjadi dong Sukab, misalnya bahwa kemudian aku kawin, beranak pinak dan berbahagia. Jangan kaget. Dari dulu aku juga tidak mencintai kamu Sukab. Dasar bego dikasih isyarat tidak mau mendengarkan. Sekali lagi, aku tidak mencintai kamu. Kalau toh aku kelihatan baik selama ini padamu, terus terang harus ku katakana sekarang, sebetulnya aku cuma kasihan. Terus terang aku kasihan sama kamu Sukab, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang kamu cintai sebetulnya tidak mencintai kamu. Makanya jangan terlalu banyak berkhayal Sukab, pakai otak dong sedikit, hanya dengan begitu kamu akan selamat dari perasaan cintamu yang tolol itu. Tapi bukan cinta taik kucing ini yang sebetulnya ingin ku ceritakan padamu Sukab. Soal cinta ini sama sekali tidak penting.
Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu. Tahu apa akibatnya? Begitu tukang pos itu pulang, setelah menceritakan kenapa kiriman Federal Express bisa terlambat sepuluh tahun, kubuka amplop berisi senja itu, dan terjadilah semua ini. Apa kamu tidak tahu Sukab, senja itu meski cuma sepotong, sebetulnya juga semesta yang utuh? Kamu kira matahari terbenam itu besarnya seperti apa? Seperti apem? Kalau sepotong senja itu di dalam amplop terus sih tidak apa-apa, tapi ini keluar dan lautnya membludag tak tertahankan lagi. Bagaimana aku tahu amplop itu berisi senja Sukab? Aku bukan pengkhayal seperti kamu. Hidupku penuh dengan perhitungan yang matang. Aku tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk diriku sendiri. Betapa pentingnya hidupku selamat, demi suamiku dan anak-anakku. Pura-puranya aku ini juga perempuan yang setia. Itu pula sebabnya, sebelum maupun sesudah kawin aku tidak sudi berhubungan dengan kamu Sukab. Lagi pula aku tidak mencintai kamu. Mau apa? Tapi kamulah yang tidak tahu diri, mengirim senja tanpa kira-kira. Dunia ini jadi berantakan tahu? Berantakan dan hancur lebur tiada terkira.
Setelah amplop itu kubuka dan senja itu keluar, matahari yang terbenam dari senja dalam amplop itu berbenturan dengan matahari yang sudah ada(2). Langit yang biru bercampur aduk dengan langit yang kemerah-merahan yang terus menerus berkeredap menyilaukan karena cahaya keemas-emasan yang menjadi semburat tak beraturan. Senja yang seperti potongan kue menggelegak, pantai terhampar seperti permadani di atas bukit kapur, lautnya terhempas langsung membanjiri bumi dan menghancurkan segala-galanya. Bisalah kau bayangkan Sukab, bagaimana orang tidak panik dengan gelombang raksasa yang tidak datang dari pantai tapi dari atas bukit?
Air bah membanjiri bumi seperti jaman Nabi Nuh. Dunia menjadi gempar, tidak semua perahu yang ada cukup untuk seluruh umat manusia kan? Lagipula sampai kapan kapal dan perahu itu bisa bertahan? Tiada satu kota pun yang selamat, lautan dari senjamu yang membuat langit merah membara itu menghempas dan membanjiri bumi dengan cepat sekali. Gedung-gedung pencakar langit di setiap kota besar di seluruh dunia, gunung-gunung tertinggi di muka bumi, semuanya terendam air. Sukab, bumi ini sekarang sudah terendam air. Dimana-mana air dan langit senja tak kunjung berubah menjadi malam. Segalanya kacau Sukab, gara-gara cintamu yang tak tahu diri.
Sukab yang malang, paling malang, dan akan selalu malang,
Aku menulis surat ini dengan kertas dan pena terakhir di dunia, di atas puncak himalaya. Di depanku ada senuah sampan kecil dengan sepasang dayung dan sebungkus supermi. Itulah makanan terakhir di muka bumi. Sisa manusia yang menjadi pengembara lautan di atas kapal dan perahu telah mati semua, karena kehabisan bahan makanan maupun mayat teman-temannya sendiri. Manusia memang banyak akal, tapi menghadapi senja dari dalam amplop itu tidak ada jalan keluar. Banyak orang mempertanyakan diriku, kenapa aku membuat dirimu begitu cinta menggebu-gebu, padahal cinta secuil pun juga tidak, sehingga kamu mengirimkan sepotong senja itu kepadaku, dan tumpah ruah membanjiri bumi. Tapi coba katakan, tapi itu bukan salahku toh Sukab? Aku tidak mau disalahkan atas bencana yang menimpa umat manusia. Mengapa cinta harus menjadi begitu penting sehingga kehidupan terganggu? Ini bukan salahku.
Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati. Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. Kalu aku mati nanti, bumi ini akan tetap tinggal senja selama-lamanya. Dengan matahari terbenam separuh yang tidak pernah turun lagi. Langit merah selama-lamanya, lautan jingga selama-lamanya, tetapi tiada seorang manusia pun memandangnya. Segenap burung sudah punah karena kelelahan terbang tanpa henti. Tinggal ikan-ikan menjadi penguasa bumi. Di kejauhan, ku lihat Ikan Paus Merah yang menjerit dengan sedih.
Sukab,
Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas. Buakn tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu(3). kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapau semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seprti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.
Selamat berpisah semuanya. Selamat tinggal.
Alina
Pondok Aren, Sabtu 10 Februari 2001
Sepasang Sepatu Tua
Sepasang Sepatu Tua
Cerpen Sapardi Djoko Damono
Sejak membelinya beberapa puluh tahun yang lalu di sebuah toko yang terletak di China Town, San Francisco, aku telah jatuh cinta pada sepasang sepatu itu. Warnanya merah kecokelatan, solnya agak tebal dan kuat, pinggiran atasnya sampai ke mata kaki—mirip sepatu bot tetapi bukan sepatu bot. Siang itu, sehabis makan di restoran Cina, sepatu yang kupakai sejak aku berangkat dari Indonesia tiba-tiba jebol, solnya menganga. "Sepatu Cibaduyut, sih," komentar rekanku menggoda. Ia seorang PhD candidate yang sedang menyelesaikan disertasi di Berkeley. Ia rupanya lupa, atau tidak tahu, bahwa sepatu Cibaduyut bisa kuat puluhan tahun asal saja si pemakai tahan lecet kakinya. Sepatuku yang jebol, yang kemudian kubuang ke sebuah kotak sarnpah itu merknya Bata, buatan India—itu menurut penjualnya. Mana aku percaya. Di India sapi dianggap suci, mana mungkin kulitnya dijadikan sepatu, diinjak-injak pemiliknya sembarang waktu.
Di negerinya Martin Luther King harga sepatu baru kira-kira sama dengan ongkos menambalnya. Mula-mula aku tak mempercayai hal itu, tetapi ketika pada suatu hari jam tanganku rewel dan kubawa ke tukang jam, ia menasihatiku untuk membeli jam baru yang murah saja. Aku agak tersinggung, dalam benaknya mungkin saja muncul pikiran, "Jam murahan begitu kok masih mau diperbaiki." Pengalaman itu mengingatkanku untuk tidak macam-macam ketika sepatuku jebol. Langsung saja, dengan berjalan agak terseret-seret, aku masuki sebuah toko sepatu. Warna dan bentuknya sangat memikat, harganya lumayan tetapi aku punya uang cukup sebab seminggu lamanya tidak usah nginap di hotel karena numpang di apartemen calon PhD itu. Labelnya menyatakan bahwa sepatu itu buatan Jerman. Rasa legaku dobel. Pertama, aku tidak usah merasa salah karena mengmjak-injak binatang suci; kedua, sepulang di tanah air nanti bisa menyombongkan diri telah membeli sepatu Jerman di Amerika—di sebuah toko Cina pula.
Sepatuku yang jebol itu memang bisu, setidaknya aku tak pernah mendengar mereka bercakap-cakap. Ini menjengkelkan sebab aku, si pemakai, tidak pernah tahu apakah sepasang kakiku telah berbuat begini atau begitu terhadapnya. Di Jakarta, sepatuku diam saja kalau menyeberang banjir musim hujan, menapak di aspal panas musim kemarau. Malam-malam aku beberapa kali mencoba nguping, tetapi di rak, sepasang sepatu itu tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Rekan-rekan sekantorku sering berbincang-bincang mengenai sepatu mereka, dan suka cekikikan seolah memahami bahasa sepatu. Aku hanya bisa mendengarkan saja sebab sepatuku bisu. "Sepatu kok bisu," komentar mereka selalu. Mungkin karena terbuat dari kulit sapi suci.
Sepatuku yang baru itu sama sekali lain perangainya. Begitu talinya selesai kuikatkan dan aku melangkah keluar toko, mereka berdua bercakap-cakap. Lirih, tetapi aku mendengarnya. Calon PhD itu tak mendengarnya, tentu karena ia tidak sayang pada sepatu. Tentu karena ia beranggapan bahwa sudah menjadi kewajiban sepatu untuk berada di ujung kaki, diinjak-injak setiap hari. Mungkin juga karena ia tidak pernah membaca Rumi atau Gibran. Kasihan juga orang macam dia itu. Semakin lama suara sepatuku semakin jelas terdengar, tetapi aku tidak memahami apa yang mereka gunjingkan. Kuduga saja, ia tentu membicarakan aku, tuannya yang akan bersama mereka bertahun-tahun mendatang.
Aku menguasai bahasa-bahasa Jawa, Indonesia, dan sedikit Inggris, tetapi sepatuku yang baru itu jelas tidak bercakap dalam salah satu bahasa itu. Aneh, kalau sudah lama di Amerika tentunya bisa bahasa Inggris meskipun buatan Jerman. Atau mereka berbahasa Jerman. Tetapi jelas tidak. Bahasa Jermanku mendapat nilai sembilan di ujian akhir SMA dan meskipun sekarang praktis sudah kulupakan sama sekali masih juga kuketahui beberapa patah kata, dan tentu juga bunyinya yang kaku itu. Sambil terus jalan dan bergurau tentang apa saja dengan rekanku itu, aku mencoba menduga-duga bahasa sepatuku. Ah, bodoh sekali aku! Tentunya sepatu itu sudah belasan tahun di toko oleh sebab itu sudah melupakan bahasa ibunya lantaran setiap hari yang didengarnya adalah bahasa taoke-nya., bahasa Cina. Di Jurusan Cina sekolahku nanti aku akan bertanya kepada Mas Gondo, pakar sinologi, apa saja yang dikatakan sepatuku kalau sedang di kantor.
Aku merasa lega. Selama hampir sebulan dalam perjalanan selanjutnya di negeri itu aku selalu mendengarkan cakap kedua sepatu itu. Meskipun bukan aku yang diajak berbicara, meskipun tidak memahami sepatah kata pun yang mereka bicarakan, aku dengan gembira berpindah dari hotel ke hotel sebab merasa dalam perjalanan tidak sendirian saja. Bahkan beberapa kali dalam konferensi yang kuhadiri, sepasang sepatu itu suka berbicara juga. Dan kalau aku tersenyum meski tak paham, peserta dari Afrika atau Jepang atau Thailand menatapku heran lalu ikut tersenyum. Waktu itu musim panas, jadi kami tidak pernah menempuh salju. Syukurlah, karena aku takut dingin. Tetapi mungkin mereka kecewa karena merindukan musim salju di negeri asalnya. Ah, kalau saja aku paham bahasanya!
Sesampai di rumah, di Jakarta, kata sambutan pertama yang meluncur dari istriku bukanlah "Selamat Datang" atau pelukan atau apa, tetapi komentar ringkas, "Norak amat sepatumu. Di mana kau beli? Yang dulu mana?" Aku hentakkan kakiku ke lantai tiga kali dengan harapan agar sepatuku diam saja tidak usah tersinggung, tetapi kemudian aku sadar bahwa mereka pasti tidak memahami bahasa istriku. Aku tersenyum. Dan istriku akhirnya juga tersenyum, persis peserta konferensi di Amerika tempo hari. Perempuan biasanya mendewakan barang-barang "dari luar", tetapi kali ini istriku malah seperti mengejek. Iri hati? Tapi ia kan mendapat oleh-oleh juga, yang "dari luar".
Jurusan Cina agak ribut ketika aku datang untuk bertanya tentang bahasa sepatuku yang semakin lama semakin suka ngoceh. "Ini lain. Bahasanya tidak seperti yang di laboratorium bahasa. Di mana belinya? O, di China Town. Pantes. Macam di Glodok, begitu ya Pak?" komentar seorang pengajar muda. Aku diam, agak jengkel kepada sepatuku kenapa ngoceh terlalu keras sehingga orang lain mendengar juga. Mas Gondo, sinolog itu akhirnya nongol, dan tanda tanya yang ruwet di kepalaku mulai terurai.
"Begini," kata Mas Gondo setelah beberapa lamanya mendengarkan percakapan sepasang sepatu itu, "mereka itu ternyata telah jatuh cinta padamu. Mereka senang kau membelinya sebab sudah belasan tahun berada di toko itu tanpa ada yang menawarnya. Ada yang bilang warnanya norak, ada yang bilang bentuknya tidak trendi, ada yang ini ada yang itu." Rupanya sepatuku itu merasa senang karena ada juga di negeri ini yang bisa memahami bahasanya. Dan Mas Gondo juga ramah kepada sepatu. "Mereka heran ini kantor apa kok begitu banyak anak-anak muda lalu-lalang atau kleleran di bangku-bangku panjang." Aku menggigit bibir.
Terserah mau dibilang norak atau apa, sepasang sepatu itu telah merebut hatiku. Ke mana pun aku pergi, merekalah yang membawaku. Gedung-gedung tempat pesta kawin, kantor-kantor yang licin lantainya, mal-mal yang penuh sesak kalau Minggu, jalanan kampung yang becek kalau hujan, beberapa tempat pemakaman—semuanya menjadi bagian hidup mereka juga. Dan yang sangat membahagiakanku adalah bahwa diam-diam mereka mulai memahami bahasa yang kami pakai. Meskipun mula-mula terdengar aneh ucapannya, percakapan mereka lambat-laun kupahami juga. Mereka memang menyayangiku, seperti yang pernah dikatakan Mas Gondo. Aku pun semakin sering memakainya. Sampai belasan tahun lamanya.
Pada suatu malam, ketika keluargaku kebetulan pulang kampung, aku dikagetkan oleh suara keras mereka. Apa mereka bertengkar? Kudengarkan baik-baik. Yang kiri mengatakan dengan lantang bahwa mereka sebenarnya tidak berasal dari kulit sapi yang sama.
"Mana mungkin!" kata yang kanan menegaskan. "Kita berasal dari seekor sapi. Kulitnya yang lebar itu disamak, lalu dipotong-potong dengan mesin untuk membuat kita. Kulit seekor sapi cukup lebar untuk membuat beberapa sepatu, tahu!"
"Ya, tapi bisa saja potongan-potongan itu campur sehingga tidak jelas lagi berasal dari kulit sapi yang mana. Kita ini asalnya berbeda. Aku jelas sapi Jerman, kau entah sapi apa, mungkin sapi Prancis. Allans avant de lapatrie. Ie jour de gloire est arrive..."
"Kau jangan menyinggung perasaanku! Lagu kebangsaan tak usah diikut-ikutkan! Kalau aku sapi Prancis, kau juga sapi Prancis. Titik. Kalau kau sapi Jerman, aku pasti juga sapi Heil Hitler!Titik."
Sekarang yang kiri ganti tersinggung. Keduanya terus diam, mungkin sadar aku telah beberapa lama nguping. Kupikir, berasal dari seekor atau dua ekor sapi, dari mana pun asalnya, mereka kan sudah puluhan tahun lamanya hidup berdua. Di negeri-negeri asing pula. Kenapa tidak sejak di toko Cina Amerika itu mereka menyadari hal itu? Kuduga karena sekarang mereka sudah tua, sudah bosan satu sama lain, sudah nyinyir, mungkin bahkan sudah pikun. Dan yang jelas sudah capek membawaku ke mana-mana. Tetapi aku tetap menyayangi mereka, dan tampaknya mereka pun begitu terhadapku. Masalahnya ternyata ada di tangan keluargaku. Aku selalu menolak gagasan istri dan anakku untuk membuang sepasang sepatu itu meskipun terus-terang saja semakin jarang juga kupakai, terurama kalau ke perhelatan temanten.
"Pak, sepatunya buang saja, deh. Jangan setiap kali manggil tukang sepatu untuk memperbaikinya. Malu, kan. Dikira nggak mampu beli sepatu baru."
Aku bergeming. Sepatu, istriku, dan aku—kami sama-sama sudah tua. Aku tidak mau membuangnya. Biar saja di tempat sepatu, bertengkar hampir tiap malam tentang asal-usulnya. Bagiku tak masalah: yang kiri sapi Jerman yang kanan sapi Francis atau sebaliknya, atau keduanya berasal dari sapi yang sama. Pokoknya pas di kakiku dan tidak membikin lecet.
Tapi hari naas itu tiba juga akhirnya, seperti sudah semestinya demikian. Siang itu, sepulang dari ngajar, kulihat sepatuku tidak ada lagi di rak. Ketika aku mencarinya ke sana ke mari, anakku mendekat dan dengan sangat hati-hati—tentu karena takut akan menyinggung perasaanku—berkata bahwa ia sudah membelikanku sepatu baru.
"Bagus kok Pak, sungguh. Meskipun tidak dari luar."
"Ya, tadi sudah diambil tukang sampah, diangkut di gerobak," tambah istriku. "Sepatu baru ini warnanya tidak norak, Pak. Trendi. Sesuai untuk remaja tahun 50-an," guraunya sambil cekikikan.
Mereka tidak tahu bahwa aku diam saja karena sedang membayangkan sepasang sepatu tua itu tetap saja bertengkar ketika dibawa ke tempat pembakaran sampah. Dan rupanya aku tidak berhak merasa kehilangan apa pun, hanya berkewajiban menerima dan, kalau bisa, menyayangi sepasang sepatu baru. Kuperhatikan sepatu baru itu. Aku segera tahu bahwa mereka bisu, persis sepatu yang dulu jebol nun jauh di sana itu.***
Cerpen Sapardi Djoko Damono
Sejak membelinya beberapa puluh tahun yang lalu di sebuah toko yang terletak di China Town, San Francisco, aku telah jatuh cinta pada sepasang sepatu itu. Warnanya merah kecokelatan, solnya agak tebal dan kuat, pinggiran atasnya sampai ke mata kaki—mirip sepatu bot tetapi bukan sepatu bot. Siang itu, sehabis makan di restoran Cina, sepatu yang kupakai sejak aku berangkat dari Indonesia tiba-tiba jebol, solnya menganga. "Sepatu Cibaduyut, sih," komentar rekanku menggoda. Ia seorang PhD candidate yang sedang menyelesaikan disertasi di Berkeley. Ia rupanya lupa, atau tidak tahu, bahwa sepatu Cibaduyut bisa kuat puluhan tahun asal saja si pemakai tahan lecet kakinya. Sepatuku yang jebol, yang kemudian kubuang ke sebuah kotak sarnpah itu merknya Bata, buatan India—itu menurut penjualnya. Mana aku percaya. Di India sapi dianggap suci, mana mungkin kulitnya dijadikan sepatu, diinjak-injak pemiliknya sembarang waktu.
Di negerinya Martin Luther King harga sepatu baru kira-kira sama dengan ongkos menambalnya. Mula-mula aku tak mempercayai hal itu, tetapi ketika pada suatu hari jam tanganku rewel dan kubawa ke tukang jam, ia menasihatiku untuk membeli jam baru yang murah saja. Aku agak tersinggung, dalam benaknya mungkin saja muncul pikiran, "Jam murahan begitu kok masih mau diperbaiki." Pengalaman itu mengingatkanku untuk tidak macam-macam ketika sepatuku jebol. Langsung saja, dengan berjalan agak terseret-seret, aku masuki sebuah toko sepatu. Warna dan bentuknya sangat memikat, harganya lumayan tetapi aku punya uang cukup sebab seminggu lamanya tidak usah nginap di hotel karena numpang di apartemen calon PhD itu. Labelnya menyatakan bahwa sepatu itu buatan Jerman. Rasa legaku dobel. Pertama, aku tidak usah merasa salah karena mengmjak-injak binatang suci; kedua, sepulang di tanah air nanti bisa menyombongkan diri telah membeli sepatu Jerman di Amerika—di sebuah toko Cina pula.
Sepatuku yang jebol itu memang bisu, setidaknya aku tak pernah mendengar mereka bercakap-cakap. Ini menjengkelkan sebab aku, si pemakai, tidak pernah tahu apakah sepasang kakiku telah berbuat begini atau begitu terhadapnya. Di Jakarta, sepatuku diam saja kalau menyeberang banjir musim hujan, menapak di aspal panas musim kemarau. Malam-malam aku beberapa kali mencoba nguping, tetapi di rak, sepasang sepatu itu tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Rekan-rekan sekantorku sering berbincang-bincang mengenai sepatu mereka, dan suka cekikikan seolah memahami bahasa sepatu. Aku hanya bisa mendengarkan saja sebab sepatuku bisu. "Sepatu kok bisu," komentar mereka selalu. Mungkin karena terbuat dari kulit sapi suci.
Sepatuku yang baru itu sama sekali lain perangainya. Begitu talinya selesai kuikatkan dan aku melangkah keluar toko, mereka berdua bercakap-cakap. Lirih, tetapi aku mendengarnya. Calon PhD itu tak mendengarnya, tentu karena ia tidak sayang pada sepatu. Tentu karena ia beranggapan bahwa sudah menjadi kewajiban sepatu untuk berada di ujung kaki, diinjak-injak setiap hari. Mungkin juga karena ia tidak pernah membaca Rumi atau Gibran. Kasihan juga orang macam dia itu. Semakin lama suara sepatuku semakin jelas terdengar, tetapi aku tidak memahami apa yang mereka gunjingkan. Kuduga saja, ia tentu membicarakan aku, tuannya yang akan bersama mereka bertahun-tahun mendatang.
Aku menguasai bahasa-bahasa Jawa, Indonesia, dan sedikit Inggris, tetapi sepatuku yang baru itu jelas tidak bercakap dalam salah satu bahasa itu. Aneh, kalau sudah lama di Amerika tentunya bisa bahasa Inggris meskipun buatan Jerman. Atau mereka berbahasa Jerman. Tetapi jelas tidak. Bahasa Jermanku mendapat nilai sembilan di ujian akhir SMA dan meskipun sekarang praktis sudah kulupakan sama sekali masih juga kuketahui beberapa patah kata, dan tentu juga bunyinya yang kaku itu. Sambil terus jalan dan bergurau tentang apa saja dengan rekanku itu, aku mencoba menduga-duga bahasa sepatuku. Ah, bodoh sekali aku! Tentunya sepatu itu sudah belasan tahun di toko oleh sebab itu sudah melupakan bahasa ibunya lantaran setiap hari yang didengarnya adalah bahasa taoke-nya., bahasa Cina. Di Jurusan Cina sekolahku nanti aku akan bertanya kepada Mas Gondo, pakar sinologi, apa saja yang dikatakan sepatuku kalau sedang di kantor.
Aku merasa lega. Selama hampir sebulan dalam perjalanan selanjutnya di negeri itu aku selalu mendengarkan cakap kedua sepatu itu. Meskipun bukan aku yang diajak berbicara, meskipun tidak memahami sepatah kata pun yang mereka bicarakan, aku dengan gembira berpindah dari hotel ke hotel sebab merasa dalam perjalanan tidak sendirian saja. Bahkan beberapa kali dalam konferensi yang kuhadiri, sepasang sepatu itu suka berbicara juga. Dan kalau aku tersenyum meski tak paham, peserta dari Afrika atau Jepang atau Thailand menatapku heran lalu ikut tersenyum. Waktu itu musim panas, jadi kami tidak pernah menempuh salju. Syukurlah, karena aku takut dingin. Tetapi mungkin mereka kecewa karena merindukan musim salju di negeri asalnya. Ah, kalau saja aku paham bahasanya!
Sesampai di rumah, di Jakarta, kata sambutan pertama yang meluncur dari istriku bukanlah "Selamat Datang" atau pelukan atau apa, tetapi komentar ringkas, "Norak amat sepatumu. Di mana kau beli? Yang dulu mana?" Aku hentakkan kakiku ke lantai tiga kali dengan harapan agar sepatuku diam saja tidak usah tersinggung, tetapi kemudian aku sadar bahwa mereka pasti tidak memahami bahasa istriku. Aku tersenyum. Dan istriku akhirnya juga tersenyum, persis peserta konferensi di Amerika tempo hari. Perempuan biasanya mendewakan barang-barang "dari luar", tetapi kali ini istriku malah seperti mengejek. Iri hati? Tapi ia kan mendapat oleh-oleh juga, yang "dari luar".
Jurusan Cina agak ribut ketika aku datang untuk bertanya tentang bahasa sepatuku yang semakin lama semakin suka ngoceh. "Ini lain. Bahasanya tidak seperti yang di laboratorium bahasa. Di mana belinya? O, di China Town. Pantes. Macam di Glodok, begitu ya Pak?" komentar seorang pengajar muda. Aku diam, agak jengkel kepada sepatuku kenapa ngoceh terlalu keras sehingga orang lain mendengar juga. Mas Gondo, sinolog itu akhirnya nongol, dan tanda tanya yang ruwet di kepalaku mulai terurai.
"Begini," kata Mas Gondo setelah beberapa lamanya mendengarkan percakapan sepasang sepatu itu, "mereka itu ternyata telah jatuh cinta padamu. Mereka senang kau membelinya sebab sudah belasan tahun berada di toko itu tanpa ada yang menawarnya. Ada yang bilang warnanya norak, ada yang bilang bentuknya tidak trendi, ada yang ini ada yang itu." Rupanya sepatuku itu merasa senang karena ada juga di negeri ini yang bisa memahami bahasanya. Dan Mas Gondo juga ramah kepada sepatu. "Mereka heran ini kantor apa kok begitu banyak anak-anak muda lalu-lalang atau kleleran di bangku-bangku panjang." Aku menggigit bibir.
Terserah mau dibilang norak atau apa, sepasang sepatu itu telah merebut hatiku. Ke mana pun aku pergi, merekalah yang membawaku. Gedung-gedung tempat pesta kawin, kantor-kantor yang licin lantainya, mal-mal yang penuh sesak kalau Minggu, jalanan kampung yang becek kalau hujan, beberapa tempat pemakaman—semuanya menjadi bagian hidup mereka juga. Dan yang sangat membahagiakanku adalah bahwa diam-diam mereka mulai memahami bahasa yang kami pakai. Meskipun mula-mula terdengar aneh ucapannya, percakapan mereka lambat-laun kupahami juga. Mereka memang menyayangiku, seperti yang pernah dikatakan Mas Gondo. Aku pun semakin sering memakainya. Sampai belasan tahun lamanya.
Pada suatu malam, ketika keluargaku kebetulan pulang kampung, aku dikagetkan oleh suara keras mereka. Apa mereka bertengkar? Kudengarkan baik-baik. Yang kiri mengatakan dengan lantang bahwa mereka sebenarnya tidak berasal dari kulit sapi yang sama.
"Mana mungkin!" kata yang kanan menegaskan. "Kita berasal dari seekor sapi. Kulitnya yang lebar itu disamak, lalu dipotong-potong dengan mesin untuk membuat kita. Kulit seekor sapi cukup lebar untuk membuat beberapa sepatu, tahu!"
"Ya, tapi bisa saja potongan-potongan itu campur sehingga tidak jelas lagi berasal dari kulit sapi yang mana. Kita ini asalnya berbeda. Aku jelas sapi Jerman, kau entah sapi apa, mungkin sapi Prancis. Allans avant de lapatrie. Ie jour de gloire est arrive..."
"Kau jangan menyinggung perasaanku! Lagu kebangsaan tak usah diikut-ikutkan! Kalau aku sapi Prancis, kau juga sapi Prancis. Titik. Kalau kau sapi Jerman, aku pasti juga sapi Heil Hitler!Titik."
Sekarang yang kiri ganti tersinggung. Keduanya terus diam, mungkin sadar aku telah beberapa lama nguping. Kupikir, berasal dari seekor atau dua ekor sapi, dari mana pun asalnya, mereka kan sudah puluhan tahun lamanya hidup berdua. Di negeri-negeri asing pula. Kenapa tidak sejak di toko Cina Amerika itu mereka menyadari hal itu? Kuduga karena sekarang mereka sudah tua, sudah bosan satu sama lain, sudah nyinyir, mungkin bahkan sudah pikun. Dan yang jelas sudah capek membawaku ke mana-mana. Tetapi aku tetap menyayangi mereka, dan tampaknya mereka pun begitu terhadapku. Masalahnya ternyata ada di tangan keluargaku. Aku selalu menolak gagasan istri dan anakku untuk membuang sepasang sepatu itu meskipun terus-terang saja semakin jarang juga kupakai, terurama kalau ke perhelatan temanten.
"Pak, sepatunya buang saja, deh. Jangan setiap kali manggil tukang sepatu untuk memperbaikinya. Malu, kan. Dikira nggak mampu beli sepatu baru."
Aku bergeming. Sepatu, istriku, dan aku—kami sama-sama sudah tua. Aku tidak mau membuangnya. Biar saja di tempat sepatu, bertengkar hampir tiap malam tentang asal-usulnya. Bagiku tak masalah: yang kiri sapi Jerman yang kanan sapi Francis atau sebaliknya, atau keduanya berasal dari sapi yang sama. Pokoknya pas di kakiku dan tidak membikin lecet.
Tapi hari naas itu tiba juga akhirnya, seperti sudah semestinya demikian. Siang itu, sepulang dari ngajar, kulihat sepatuku tidak ada lagi di rak. Ketika aku mencarinya ke sana ke mari, anakku mendekat dan dengan sangat hati-hati—tentu karena takut akan menyinggung perasaanku—berkata bahwa ia sudah membelikanku sepatu baru.
"Bagus kok Pak, sungguh. Meskipun tidak dari luar."
"Ya, tadi sudah diambil tukang sampah, diangkut di gerobak," tambah istriku. "Sepatu baru ini warnanya tidak norak, Pak. Trendi. Sesuai untuk remaja tahun 50-an," guraunya sambil cekikikan.
Mereka tidak tahu bahwa aku diam saja karena sedang membayangkan sepasang sepatu tua itu tetap saja bertengkar ketika dibawa ke tempat pembakaran sampah. Dan rupanya aku tidak berhak merasa kehilangan apa pun, hanya berkewajiban menerima dan, kalau bisa, menyayangi sepasang sepatu baru. Kuperhatikan sepatu baru itu. Aku segera tahu bahwa mereka bisu, persis sepatu yang dulu jebol nun jauh di sana itu.***
Kursi Empuk di Dada Sumarti
Kursi Empuk di Dada Sumarti
Cerpen: Pamusuk Eneste
Ketika kaum kerabat, handai tolan, kenalan, dan tetangga satu per satu meninggalkan rumah duka, tahulah Sumarti bahwa ia akan sendirian. Sumarti akan menjalani sisa hidupnya seorang diri. Ditemani pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan penjaga malam. Itu pun sepanjang Sumarti mampu membayar mereka setiap bulan.
Sesekali putri, menantu, dan cucunya akan datang berkunjung.
"Nuwun sewu…," terdengar suara pembantu Sumarti.
Sumarti menoleh.
"Makan malam sudah siap, Nyonya."
"Ya, sebentar. Saya mandi dulu."
Sumarti menuju kamar mandi. Ingin mengguyur badannya yang sedari tadi terasa gerah dan berkeringat. Mumpung malam belum larut.
Sumarti mulai memereteli baju luarnya yang berwarna hitam. Tatkala sampai pada penutup dada, Sumarti terkesiap. Ternyata secarik kertas bertengger di dadanya. Bagusnya kursi empuk itu….
Lha, kursi empuk? Kursi empuk mana? Yang di kantor atau yang di rumah? Di rumah Sumarti banyak kursi empuk. Ada di ruang baca. Ada di ruang tamu. Ada di ruang makan. Belum lagi di teras depan dan teras belakang. Kalau kursi empuk di kantor, bagaimana pula prosedurnya? Bagaimana mungkin kursi parlemen dibeli? Oalah…!
Serampung mandi malam, Sumarti ingin sekali menelepon seseorang. Sekadar berbagi rasa. Sumarti ingin menceritakan keinginan almarhum yang tercantum dalam wasiat itu.
Sumarti bergegas ke tempat telepon di ruang keluarga. Di tempat telepon itu Sumarti bergeming. Hendak diraihnya gagang telepon, tetapi tangannya serasa diikat. Sumarti pikir, kalau ia menelepon orang itu, mungkin kabar itu akan menyebar ke mana-mana bak air bah dari gunung.
Sumarti pindah ke sofa. Ditimang-timangnya kertas kecil yang berasal dari dadanya itu. Ia kenal betul tulisan itu. Itu pasti goresan serta tanda tangan almarhum suaminya. Bagusnya kursi empuk itu dimasukkan ke dalam tanah….
Sumarti menyandarkan bahunya di sofa. Ditatapnya tulisan tangan almarhum dalam-dalam. Ia paham maksudnya, namun tak tahu cara mewujudkannya.
Ada satu hal yang mengherankan Sumarti. Kenapa secarik kertas itu baru diketahuinya ketika acara penguburan telah usai? Kenapa wasiat itu baru ditemukan Sumarti setelah kembali dari pemakaman, padahal almarhum ingin, surat ini dibaca begitu aku mengembuskan napas terakhir, jangan setelah aku di dalam tanah?
Sumarti menjadi serba salah. Ia merasa kesiangan membaca pesan almarhum. Ia baru memergoki wasiat almarhum setelah kaum kerabat, handai tolan, dan kedua putrinya serta kedua menantunya kembali ke rumah masing-masing.
Duh, Gusti!
Kepala Sumarti serasa mau pecah.
Sumarti ingin mengabari kaum kerabatnya. Ingin memberi tahu mereka perihal permintaan almarhum. Lantas ingin mendengar nasihat mereka.
Sumarti mendekati telepon yang ada di meja kecil. Dia raih gagang telepon, namun Sumarti terpana sejenak. Bukankah ia akan dibilang bodoh kalau mengungkapkan keteledorannya pada kaum kerabat? Bukankah kaum kerabat akan menertawakan kealpaannya?
Sumarti bimbang. Dijauhinya telepon dan kembali ke sofa.
Sumarti merasa pusing tujuh keliling. Mestinya dari tadi dia menemukan wasiat itu dan membicarakannya dengan kaum kerabat, ketika belum berlangsung upacara penguburan. Kini semua orang sudah berlalu. Memang Sumarti sering mengamini kata orang bijak, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Namun, Sumarti pun sadar, mengumpulkan kaum kerabat, handai tolan, dan keluarga dekat bukanlah sekadar membalik telapak tangan.
Sumarti melonjorkan kakinya. Sumarti mengatupkan matanya sembari menyesali diri. Ia coba melupakan wasiat itu, tetapi yang muncul adalah wajah almarhum. Kalau bisa, kursi empukku ditaruh di samping jasadku.
Setahu Sumarti, surat wasiat lazimnya berisi pembagian harta untuk orang yang masih hidup. Ini malah mengenai kursi empuk segala yang harus dibawa ke dalam kubur. Namun, Sumarti terpaksa mengurut dada karena yang menulis surat wasiat adalah almarhum suaminya.
Sumarti ingin menghubungi kedua putrinya. Siapa tahu mereka bisa berbagi rasa. Sumarti yakin, anak-anaknya pasti akan menolongnya. Paling tidak meringankan bebannya.
Meski Endang Setianingrum dan Esti Setianingsih sudah membelikan telepon genggam, Sumarti tak pernah mau menggunakannya. Kedua telgam itu hanya menjadi penghuni lemari Sumarti. "Ibu kuno," kata kedua putrinya.
Sumarti tak sakit hati dicap kuno. Bagi Sumarti lebih sreg menerima dan menelepon secara tradisional. Tidak perlu beli pulsa. "Boros," katanya, "mendingan uangnya aku tabung." Jadilah Sumarti tetap lebih asyik dengan telepon-rumah. Sumarti tetaplah "orang kuno", menurut istilah kedua putrinya. "Lagi pula, aku tak mau diganggu telepon genggam pada waktu tidur," kata Sumarti.
Sumarti kembali mendekati telepon-rumah. Sumarti ingin menelepon putri sulungnya, Endang Setianingrum. Ingin menceritakan permintaan terakhir almarhum, lantas apa yang harus diperbuat. Diraihnya gagang telepon, namun ditaruhnya kembali. Jangan-jangan putrinya malah mencecarnya dengan macam-macam pertanyaan. "Kok Ibu baru menemukannya sekarang? Kok tidak dari tadi menemukan wasiat Bapak itu? Kok Ibu tidak dari tadi-tadi menyadari adanya wasiat itu?" Sejumlah kok lainnya pun meluncur dari mulut putri sulungnya.
Sumarti tak mau disalahkan. Sebaliknya, Sumarti justru mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekat dia.
Sumarti mengurungkan niatnya dan kembali bersandar di sofa.
Kemudian terpikir oleh Sumarti mengontak putri bungsunya, Esti Setianingsih. Putri keduanya ini mungkin bisa memberi jalan keluar. Sumarti tahu watak putrinya ini. Tidak seketus kakaknya, Endang Setianingrum. Didekatinya kembali telepon. Diraihnya gagang telepon. Diputarnya nomor Esti Setianingsih. Ketika tinggal satu angka lagi, Sumarti serta-merta bergeming. Sayup-sayup, ia mendengar suara putri bungsunya di seberang sana. "Lha, kok Ibu baru tahu wasiat Bapak sekarang. Piye toh, Bu? Piye? Oalah, Ibu ….Ibu." Bla… bla… bla….
Sumarti pusing mendengarnya. Ditaruhnya gagang telepon.
Sumarti kembali ke sofa. Ia tak mau jadi bulan-bulanan putri bungsunya. Lebih baik tak mengabari dia daripada mendengar kata-kata tak senonoh.
Tebersit pula di benak Sumarti untuk mendiamkan wasiat almarhum itu. Tak perlu memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk kaum kerabat. Tak perlu menyampaikannya kepada kedua putri dan kedua menantunya. Toh yang tahu cuma aku dan… Tuhan!
Entah kenapa, Sumarti merasa tak enak. Sumarti khawatir terjadi apa-apa pada dirinya. Sumarti pernah mendengar kerabatnya berkata, "Kalau kita tak turuti permintaan orang meninggal, rohnya akan mengikuti kita terus ke mana pun kita pergi."
Sumarti tak mau diikuti roh suaminya. Sumarti ingin hidup normal. Tak ingin diganggu siapa pun. Sumarti ingin hidup dengan tenang, setenang kehidupan di desanya sebelum ia bertolak ke Jakarta. Tak mengherankan, kebiasaan-kebiasaan dari desa masih terbawa-bawa hingga ke kota metropolis. Salah satu kebiasaan itu adalah menyelitkan sesuatu di dadanya. "Biar tak lupa," kata Sumarti mengenai kebiasaan itu. "Biar tak diambil orang."
Sumarti lupa, kapan wasiat itu disisipkan ke dadanya. Ajaibnya, Sumarti pun tak ingat siapa yang menyelipkan ke dadanya: dia sendiri atau almarhum? Setelah usianya berkepala lima, Sumarti memang menjadi pelupa. Ia pernah mencari kacamatanya, padahal kacamata itu bertengger di kepalanya. Ia pun pernah mencari-cari kunci lemari, padahal kunci itu sedang dipegangnya. Tidak tertutup kemungkinan, almarhumlah yang menyelipkan wasiat itu ke dadanya dalam perjalanan ke rumah sakit—saat almarhum merasa sesak napas dan dadanya sakit? Atau siapa tahu, ketika sedang sekarat di rumah sakit, suaminya lantas buru-buru menyisipkan kertas itu ke dada Sumarti.
Tak ingat Sumarti sama sekali.
Sumarti hanya ingat, sejenak sebelum sekarat, almarhum merangkulnya sekelebatan. Sumarti lupa-lupa ingat, apakah almarhum menyelitkan sesuatu atau tidak ke dadanya. Setelah itu, suami tercintanya pun kaku dan rebah di pangkuannya.
Singgah juga pikiran buruk di kepala Sumarti. Sumarti ingin merobek-robek wasiat almarhum dan mencampakkannya ke tempat sampah. Atau membakarnya sekalian agar tak berbekas. Toh tak ada yang tahu. Namun, Sumarti ketir-ketir juga. Kenalannya pernah berkata, "Tak baik menolak permintaan orang yang sudah mati, nanti hidup kita tak tenang."
"Nuwun sewu…," suara pembantu Sumarti terdengar dari arah belakang.
"Makan malamnya tambah dingin, Nyonya."
Sumarti menoleh ke belakang.
"Ya, ya, saya akan makan…."
Malam pun kian merambat di ruang keluarga Sumarti.***
Sumber: Kompas Minggu, 24 Juni 2007
Cerpen: Pamusuk Eneste
Ketika kaum kerabat, handai tolan, kenalan, dan tetangga satu per satu meninggalkan rumah duka, tahulah Sumarti bahwa ia akan sendirian. Sumarti akan menjalani sisa hidupnya seorang diri. Ditemani pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan penjaga malam. Itu pun sepanjang Sumarti mampu membayar mereka setiap bulan.
Sesekali putri, menantu, dan cucunya akan datang berkunjung.
"Nuwun sewu…," terdengar suara pembantu Sumarti.
Sumarti menoleh.
"Makan malam sudah siap, Nyonya."
"Ya, sebentar. Saya mandi dulu."
Sumarti menuju kamar mandi. Ingin mengguyur badannya yang sedari tadi terasa gerah dan berkeringat. Mumpung malam belum larut.
Sumarti mulai memereteli baju luarnya yang berwarna hitam. Tatkala sampai pada penutup dada, Sumarti terkesiap. Ternyata secarik kertas bertengger di dadanya. Bagusnya kursi empuk itu….
Lha, kursi empuk? Kursi empuk mana? Yang di kantor atau yang di rumah? Di rumah Sumarti banyak kursi empuk. Ada di ruang baca. Ada di ruang tamu. Ada di ruang makan. Belum lagi di teras depan dan teras belakang. Kalau kursi empuk di kantor, bagaimana pula prosedurnya? Bagaimana mungkin kursi parlemen dibeli? Oalah…!
Serampung mandi malam, Sumarti ingin sekali menelepon seseorang. Sekadar berbagi rasa. Sumarti ingin menceritakan keinginan almarhum yang tercantum dalam wasiat itu.
Sumarti bergegas ke tempat telepon di ruang keluarga. Di tempat telepon itu Sumarti bergeming. Hendak diraihnya gagang telepon, tetapi tangannya serasa diikat. Sumarti pikir, kalau ia menelepon orang itu, mungkin kabar itu akan menyebar ke mana-mana bak air bah dari gunung.
Sumarti pindah ke sofa. Ditimang-timangnya kertas kecil yang berasal dari dadanya itu. Ia kenal betul tulisan itu. Itu pasti goresan serta tanda tangan almarhum suaminya. Bagusnya kursi empuk itu dimasukkan ke dalam tanah….
Sumarti menyandarkan bahunya di sofa. Ditatapnya tulisan tangan almarhum dalam-dalam. Ia paham maksudnya, namun tak tahu cara mewujudkannya.
Ada satu hal yang mengherankan Sumarti. Kenapa secarik kertas itu baru diketahuinya ketika acara penguburan telah usai? Kenapa wasiat itu baru ditemukan Sumarti setelah kembali dari pemakaman, padahal almarhum ingin, surat ini dibaca begitu aku mengembuskan napas terakhir, jangan setelah aku di dalam tanah?
Sumarti menjadi serba salah. Ia merasa kesiangan membaca pesan almarhum. Ia baru memergoki wasiat almarhum setelah kaum kerabat, handai tolan, dan kedua putrinya serta kedua menantunya kembali ke rumah masing-masing.
Duh, Gusti!
Kepala Sumarti serasa mau pecah.
Sumarti ingin mengabari kaum kerabatnya. Ingin memberi tahu mereka perihal permintaan almarhum. Lantas ingin mendengar nasihat mereka.
Sumarti mendekati telepon yang ada di meja kecil. Dia raih gagang telepon, namun Sumarti terpana sejenak. Bukankah ia akan dibilang bodoh kalau mengungkapkan keteledorannya pada kaum kerabat? Bukankah kaum kerabat akan menertawakan kealpaannya?
Sumarti bimbang. Dijauhinya telepon dan kembali ke sofa.
Sumarti merasa pusing tujuh keliling. Mestinya dari tadi dia menemukan wasiat itu dan membicarakannya dengan kaum kerabat, ketika belum berlangsung upacara penguburan. Kini semua orang sudah berlalu. Memang Sumarti sering mengamini kata orang bijak, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Namun, Sumarti pun sadar, mengumpulkan kaum kerabat, handai tolan, dan keluarga dekat bukanlah sekadar membalik telapak tangan.
Sumarti melonjorkan kakinya. Sumarti mengatupkan matanya sembari menyesali diri. Ia coba melupakan wasiat itu, tetapi yang muncul adalah wajah almarhum. Kalau bisa, kursi empukku ditaruh di samping jasadku.
Setahu Sumarti, surat wasiat lazimnya berisi pembagian harta untuk orang yang masih hidup. Ini malah mengenai kursi empuk segala yang harus dibawa ke dalam kubur. Namun, Sumarti terpaksa mengurut dada karena yang menulis surat wasiat adalah almarhum suaminya.
Sumarti ingin menghubungi kedua putrinya. Siapa tahu mereka bisa berbagi rasa. Sumarti yakin, anak-anaknya pasti akan menolongnya. Paling tidak meringankan bebannya.
Meski Endang Setianingrum dan Esti Setianingsih sudah membelikan telepon genggam, Sumarti tak pernah mau menggunakannya. Kedua telgam itu hanya menjadi penghuni lemari Sumarti. "Ibu kuno," kata kedua putrinya.
Sumarti tak sakit hati dicap kuno. Bagi Sumarti lebih sreg menerima dan menelepon secara tradisional. Tidak perlu beli pulsa. "Boros," katanya, "mendingan uangnya aku tabung." Jadilah Sumarti tetap lebih asyik dengan telepon-rumah. Sumarti tetaplah "orang kuno", menurut istilah kedua putrinya. "Lagi pula, aku tak mau diganggu telepon genggam pada waktu tidur," kata Sumarti.
Sumarti kembali mendekati telepon-rumah. Sumarti ingin menelepon putri sulungnya, Endang Setianingrum. Ingin menceritakan permintaan terakhir almarhum, lantas apa yang harus diperbuat. Diraihnya gagang telepon, namun ditaruhnya kembali. Jangan-jangan putrinya malah mencecarnya dengan macam-macam pertanyaan. "Kok Ibu baru menemukannya sekarang? Kok tidak dari tadi menemukan wasiat Bapak itu? Kok Ibu tidak dari tadi-tadi menyadari adanya wasiat itu?" Sejumlah kok lainnya pun meluncur dari mulut putri sulungnya.
Sumarti tak mau disalahkan. Sebaliknya, Sumarti justru mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekat dia.
Sumarti mengurungkan niatnya dan kembali bersandar di sofa.
Kemudian terpikir oleh Sumarti mengontak putri bungsunya, Esti Setianingsih. Putri keduanya ini mungkin bisa memberi jalan keluar. Sumarti tahu watak putrinya ini. Tidak seketus kakaknya, Endang Setianingrum. Didekatinya kembali telepon. Diraihnya gagang telepon. Diputarnya nomor Esti Setianingsih. Ketika tinggal satu angka lagi, Sumarti serta-merta bergeming. Sayup-sayup, ia mendengar suara putri bungsunya di seberang sana. "Lha, kok Ibu baru tahu wasiat Bapak sekarang. Piye toh, Bu? Piye? Oalah, Ibu ….Ibu." Bla… bla… bla….
Sumarti pusing mendengarnya. Ditaruhnya gagang telepon.
Sumarti kembali ke sofa. Ia tak mau jadi bulan-bulanan putri bungsunya. Lebih baik tak mengabari dia daripada mendengar kata-kata tak senonoh.
Tebersit pula di benak Sumarti untuk mendiamkan wasiat almarhum itu. Tak perlu memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk kaum kerabat. Tak perlu menyampaikannya kepada kedua putri dan kedua menantunya. Toh yang tahu cuma aku dan… Tuhan!
Entah kenapa, Sumarti merasa tak enak. Sumarti khawatir terjadi apa-apa pada dirinya. Sumarti pernah mendengar kerabatnya berkata, "Kalau kita tak turuti permintaan orang meninggal, rohnya akan mengikuti kita terus ke mana pun kita pergi."
Sumarti tak mau diikuti roh suaminya. Sumarti ingin hidup normal. Tak ingin diganggu siapa pun. Sumarti ingin hidup dengan tenang, setenang kehidupan di desanya sebelum ia bertolak ke Jakarta. Tak mengherankan, kebiasaan-kebiasaan dari desa masih terbawa-bawa hingga ke kota metropolis. Salah satu kebiasaan itu adalah menyelitkan sesuatu di dadanya. "Biar tak lupa," kata Sumarti mengenai kebiasaan itu. "Biar tak diambil orang."
Sumarti lupa, kapan wasiat itu disisipkan ke dadanya. Ajaibnya, Sumarti pun tak ingat siapa yang menyelipkan ke dadanya: dia sendiri atau almarhum? Setelah usianya berkepala lima, Sumarti memang menjadi pelupa. Ia pernah mencari kacamatanya, padahal kacamata itu bertengger di kepalanya. Ia pun pernah mencari-cari kunci lemari, padahal kunci itu sedang dipegangnya. Tidak tertutup kemungkinan, almarhumlah yang menyelipkan wasiat itu ke dadanya dalam perjalanan ke rumah sakit—saat almarhum merasa sesak napas dan dadanya sakit? Atau siapa tahu, ketika sedang sekarat di rumah sakit, suaminya lantas buru-buru menyisipkan kertas itu ke dada Sumarti.
Tak ingat Sumarti sama sekali.
Sumarti hanya ingat, sejenak sebelum sekarat, almarhum merangkulnya sekelebatan. Sumarti lupa-lupa ingat, apakah almarhum menyelitkan sesuatu atau tidak ke dadanya. Setelah itu, suami tercintanya pun kaku dan rebah di pangkuannya.
Singgah juga pikiran buruk di kepala Sumarti. Sumarti ingin merobek-robek wasiat almarhum dan mencampakkannya ke tempat sampah. Atau membakarnya sekalian agar tak berbekas. Toh tak ada yang tahu. Namun, Sumarti ketir-ketir juga. Kenalannya pernah berkata, "Tak baik menolak permintaan orang yang sudah mati, nanti hidup kita tak tenang."
"Nuwun sewu…," suara pembantu Sumarti terdengar dari arah belakang.
"Makan malamnya tambah dingin, Nyonya."
Sumarti menoleh ke belakang.
"Ya, ya, saya akan makan…."
Malam pun kian merambat di ruang keluarga Sumarti.***
Sumber: Kompas Minggu, 24 Juni 2007
Rokok Mbah Gimun
Rokok Mbah Gimun
Cerpen F. Rahardi
Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan, yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. Di sisi yang lain, tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Hingga bagian yang terbakar itu, selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan.
Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya, Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya, hingga tampak putih dan halus. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya, atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya, maka dia pun berhenti sejenak, membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja, lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa, sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu.
Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar, atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Kalau pedagang itu tidak datang, maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. Dalam sehari, Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam, maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya.
Bagi Mbah Gimun, pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Dengan uang itu dia bisa membeli beras, minyak tanah, gula, garam, dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam, anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak.
”Kalau aku ikut kalian, cucu-cucuku itu akan batuk semua. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu,” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya.
Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli, Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Mereka berpakaian bagus-bagus, bersepatu bagus, membawa tas bagus, dan naik mobil yang juga sangat bagus. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu, sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk, orang-orang itu menolak. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan, lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun.
”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu.
”Iya, saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?" tanya Mbah Gimun.
”Benar Mbah, ini gambar calon pak bupati itu, nanti ditempel di sana ya Mbah?”
”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?”
”Tidak apa-apa Mbah, sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. Bukan hanya itu Mbah, ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun.”
”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?”
”Kan ada daftarnya Mbah. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.”
”O, ya terima kasih sekali, saya diberi tembakau, diberi uang lagi.”
”Tapi begini Mbah, nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Jangan yang lain ya!”
”Pasti Mas, pasti, kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang.”
Setelah para tamu itu pergi, Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. Mbah Gimun kaget tetapi senang. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. Lumayan. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Mbah Gimun lalu membuka besek. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan, mencomot tembakaunya, melintingnya, menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.
Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya, salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. Cucu itu memberi tahu, bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. Katanya, permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut, cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya, sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya.
Beberapa hari kemudian, Pak RT dan Tukijan juga datang. Mereka mengantar beras, gula, teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. Kertas gambar itu tebal dan kaku, lebarnya seperti sajadah. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding, supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos.
”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran.
”Bukan dua tetapi satu Mbah. Yang ini yang kiri ini bupatinya. Yang kanan wakilnya.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan.
”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi.
”Salah satu saja Mbah. Mau dicoblos wakilnya boleh, bupatinya juga boleh. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT.
”Iya Pak RT, tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci.
”Terserah Embah, tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya.”
”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun.
”Lalu minggu depan ini Mbah, kita semua harus datang ke lapangan bola.”
”Ada apa lagi Jan?”
”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. Ada dang-dutnya lo Mbah!”
”Ya, ya, saya akan datang nanti. Jam berapa Pak RT?”
”Sore, sekitar jam empat. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir.”
Enam calon bupati dan wakilnya, semua membagi-bagikan uang dan barang. Mbah Gimun menerima semuanya. Ada yang limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman.” kata Mbah Gimun senang. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Sebab baunya seperti minyak wangi. Bau tembakaunya sudah tidak ada,” begitu alasan Mbah Gimun.
Menjelang hari pencoblosan, Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak, agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak.
”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua, akan layu. Kalau layu mengiratnya alot,” katanya pada anak-anak itu.
”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak.
”Ya siapa saja. Sebab saya tidak tahu nama-namanya, dan tidak hapal wajahnya. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun.
”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?”
”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.”
”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Dia kan pengusaha, jadi nanti kita semua makmur.”
”Yang pasti makmur ya bupatinya itu, bukan kita. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti.”
Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan, sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Enam calon semuanya memberi uang, memberi beras, memberi tembakau, memberi teh, memberi gula. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya, dengan anak-anaknya, dengan menantu-menantunya. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Karena masih pagi, udara terasa tidak terlalu panas. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni.
Mbah Gimun memakai kain sarung, baju surjan hitam, sandal jepit, dan kepalanya ditutup udeng. Dia mencari tempat duduk yang pas. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya, menawarinya tempat duduk. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Dari saku surjannya, Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. Dia lalu melolos satu lembar kertas, mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya, dia kebingungan. Di rumah, biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur.
Melihat Mbah Gimun kebingungan, banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Baunya sangit dan keras. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan, satu-per satu warga kampung dipanggil. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil, dilihat kartunya, dicatat, dan diberi kertas suara. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. Bukan pak bupati.
Di bilik pencoblosan, Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada pula yang tegang dan cemberut. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Bara api di ujung rokok itu memerah. Dengan mengucap Bismillah, Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Ada yang dicoblos di jidat, ada yang di pipi, ada yang di mulut, di mata, di hidung. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. ”Sayang, baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok.”
Cimanggis, 2005
Cerpen F. Rahardi
Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan, yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya. Di sisi yang lain, tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam. Hingga bagian yang terbakar itu, selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan.
Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya, Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya, hingga tampak putih dan halus. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya, atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya, maka dia pun berhenti sejenak, membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja, lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa, sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu.
Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar, atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Kalau pedagang itu tidak datang, maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. Dalam sehari, Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam, maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya.
Bagi Mbah Gimun, pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Dengan uang itu dia bisa membeli beras, minyak tanah, gula, garam, dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam, anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. Tetapi Mbah Gimun selalu menolak.
”Kalau aku ikut kalian, cucu-cucuku itu akan batuk semua. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu,” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya.
Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli, Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Mereka berpakaian bagus-bagus, bersepatu bagus, membawa tas bagus, dan naik mobil yang juga sangat bagus. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu, sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk, orang-orang itu menolak. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan, lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun.
”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu.
”Iya, saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?" tanya Mbah Gimun.
”Benar Mbah, ini gambar calon pak bupati itu, nanti ditempel di sana ya Mbah?”
”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?”
”Tidak apa-apa Mbah, sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. Bukan hanya itu Mbah, ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun.”
”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?”
”Kan ada daftarnya Mbah. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun.”
”O, ya terima kasih sekali, saya diberi tembakau, diberi uang lagi.”
”Tapi begini Mbah, nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Jangan yang lain ya!”
”Pasti Mas, pasti, kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang.”
Setelah para tamu itu pergi, Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. Mbah Gimun kaget tetapi senang. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. Lumayan. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Mbah Gimun lalu membuka besek. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan, mencomot tembakaunya, melintingnya, menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.
Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya, salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya. Cucu itu memberi tahu, bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. Katanya, permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut, cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya, sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya.
Beberapa hari kemudian, Pak RT dan Tukijan juga datang. Mereka mengantar beras, gula, teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi. Kertas gambar itu tebal dan kaku, lebarnya seperti sajadah. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding, supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos.
”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran.
”Bukan dua tetapi satu Mbah. Yang ini yang kiri ini bupatinya. Yang kanan wakilnya.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan.
”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi.
”Salah satu saja Mbah. Mau dicoblos wakilnya boleh, bupatinya juga boleh. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT.
”Iya Pak RT, tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci.
”Terserah Embah, tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya.”
”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun.
”Lalu minggu depan ini Mbah, kita semua harus datang ke lapangan bola.”
”Ada apa lagi Jan?”
”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya. Ada dang-dutnya lo Mbah!”
”Ya, ya, saya akan datang nanti. Jam berapa Pak RT?”
”Sore, sekitar jam empat. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir.”
Enam calon bupati dan wakilnya, semua membagi-bagikan uang dan barang. Mbah Gimun menerima semuanya. Ada yang limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman.” kata Mbah Gimun senang. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Sebab baunya seperti minyak wangi. Bau tembakaunya sudah tidak ada,” begitu alasan Mbah Gimun.
Menjelang hari pencoblosan, Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak, agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak.
”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua, akan layu. Kalau layu mengiratnya alot,” katanya pada anak-anak itu.
”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak.
”Ya siapa saja. Sebab saya tidak tahu nama-namanya, dan tidak hapal wajahnya. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun.
”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?”
”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.”
”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Dia kan pengusaha, jadi nanti kita semua makmur.”
”Yang pasti makmur ya bupatinya itu, bukan kita. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti.”
Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan, sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Enam calon semuanya memberi uang, memberi beras, memberi tembakau, memberi teh, memberi gula. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya, dengan anak-anaknya, dengan menantu-menantunya. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Di langit juga tidak kelihatan ada awan. Karena masih pagi, udara terasa tidak terlalu panas. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni.
Mbah Gimun memakai kain sarung, baju surjan hitam, sandal jepit, dan kepalanya ditutup udeng. Dia mencari tempat duduk yang pas. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya, menawarinya tempat duduk. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Dari saku surjannya, Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. Dia lalu melolos satu lembar kertas, mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya, dia kebingungan. Di rumah, biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur.
Melihat Mbah Gimun kebingungan, banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Baunya sangit dan keras. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan, satu-per satu warga kampung dipanggil. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil, dilihat kartunya, dicatat, dan diberi kertas suara. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. Bukan pak bupati.
Di bilik pencoblosan, Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, ada pula yang tegang dan cemberut. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. Bara api di ujung rokok itu memerah. Dengan mengucap Bismillah, Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Ada yang dicoblos di jidat, ada yang di pipi, ada yang di mulut, di mata, di hidung. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. ”Sayang, baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok.”
Cimanggis, 2005
Cerita tentang Orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur
Cerita tentang Orang Mati yang Tidak Mau Masuk Kubur
Cerpen GM. Sudarta
Hampir selama 30 tahun, sepasang mata yang seakan memancarkan api kebencian itu selalu mengikuti aku pergi. Selama itu pula membuatku nyaris menjadi gila. Dengan mengikuti bimbingan seorang kiai, akhirnya aku bisa menganggap tidak ada kehadiran sepasang mata itu, meskipun masih selalu mengikuti aku.
Adanya lintang kemukus yang muncul di langit dini hari adalah benar-benar pertanda alam akan adanya pageblug. Dan 40 hari kemudian, ternyata perang saudara meledak. Tidak hanya di daerah kami, malahan di seluruh negeri, sejak terdengar berita terbantainya para jenderal di sebuah lubang sumur di pinggiran kota Jakarta.
Setahun kemudian, suatu malam, aku dan Mulyono, sahabat karibku, bersama regu ronda dengan komandan Mas Parman, seorang pimpinan gerakan pemuda, mendapat tugas rutin dari aparat yang sungguh tidak kami harapkan. Yakni tugas sebagai tukang kubur. Berpuluh-puluh orang diturunkan dari truk di tengah kebun jati, dengan kedua ibu jarinya diikat kawat. Setelah ikatannya dilepas, di bawah ancaman tendangan dan pukulan pistol, setiap empat orang diharapkan menggali sebuah lubang selebar dua meter. Akhirnya mereka diharuskan berjongkok menghadap lubang, dan dentuman-dentuman pistol bergema. Kami memejamkan mata atau melengos ke samping. Hanya Mas Parman yang tampak tegar melihat eksekusi ini.
Tugas kami berikutnya adalah mengubur mereka, meratakan gundukan tanah dengan sekop dan cangkul yang sudah tersedia. Satu lubang untuk empat jenazah. Kami kerjakan dengan mulut rapat dan memang harus bungkam meskipun mayat-mayat itu kami ketahui adalah tetangga atau kerabat kami. Kalau tidak, mungkin kami bernasib seperti mereka.
“Kalian harus jadi orang tangguh dalam keadaan seperti ini. Bayangkan! Kalau mereka menang, akan jadi apa kita?! Kita pun akan disembelih seperti para jenderal itu,” nasihat Mas Parman kepada kami.
Malam-malam seterusnya adalah malam kematian. Kehidupan hanya sebatas jangkauan lampu minyak yang tergantung di gardu ronda. Selebihnya adalah gelap semata. Di gardu jaga, kami lebih banyak diam berselimut sarung, meringkuk dan merapat ke dinding. Binatang malam pun tak terdengar suaranya. Warga kampung juga lebih menyukai mematikan lampu dan bersembunyi dari ketakutan ke dalam kegelapan. Hanya Mas Parman yang selalu siaga mondar-mandir di depan gardu.
Suatu kali, kata sandi yang kami terima dari kelurahan adalah rokok-kelembak. Adalah tugas kami para pemuda yang memperoleh giliran jaga untuk mencegat siapa saja yang keluar malam hari dan menegurnya dengan kata sandi rokok. Bila tidak menyahut dengan kata kelembak, kami berhak memukulinya dan menyerahkan ke aparat setempat.
Menjelang tengah malam, terlihat seorang berjalan terbungkuk-bungkuk melintas di depan gardu kami sambil membawa upet sebagai penerang jalan.
“Stop! Rokok!” teriak Mas Parman.
Ternyata orang itu adalah Mbah Warso yang kami kenal sebagai penggali sumur di kampung kami. Dia kaget dan tergagap. Dia keluarkan sebungkus rokok keretek dari sakunya, sambil katanya: “Rokok Man? Nih!” Tapi uluran tangannya ditepis oleh Mas Parman hingga rokoknya terpental.
“Dari mana kamu!” tanya Mas Parman garang.
“Dari jagong bayen, Man…” jawab Mbah Warso terheran-heran.
Tiba-tiba, plak! Mas Parman menampar muka Mbah Warso dan perintahnya kepada kami: “Tangkap! Bawa ke markas!”
Kami tidak berani membantah, meskipun kami tahu bahwa mungkin Mbah Warso lupa atau tidak tahu sandi kampung kami. Kami yang tidak tega dengan nasib Mbah Warso, segera meninggalkannya di markas, sementara Mas Parman tampaknya senang menikmati raungan orang kesakitan dan rintihan menyayat orang minta ampun.
Beberapa hari kemudian, setengahnya aku protes terhadap penangkapan Mbah Warso terhadap Mas Parman, tapi ujarnya dengan keras, “Dia adalah salah satu saksi mata dan mungkin antek mereka! Berapa banyak dia menerima pesanan menggali sumur dari siapa-siapa yang menggunakan galiannya seperti di Lubang Buaya.”
Hatiku berdesir, saya mengetahui bahwa ternyata Pak Hardi, tetangga saya, aktivis partai, juga membuat galian sumur di belakang rumahnya, meskipun sudah memiliki sumur di samping rumah. Bukan tidak mungkin aku pun akan menghuni galian itu apabila mereka menang seperti kata Mas Parman.
Malaikat maut tampaknya semakin menebarkan sayapnya. Perlawanan dari pihak yang terburu bermunculan pula, mungkin lantaran terdesak. Suatu malam, rumah Pak Karto, warga desa sebelah, terbakar. Pak Karto adalah sebuah aktivis sebuah partai pula yang gencar memburu dan mendata siapa saja anggota partai terlarang yang harus ditangkap. Dia diketemukan, ya Allah, hangus di bawah reruntuhan rumahnya dengan dua paku besar menancap di kiri kanan pelipisnya seperti tanduk! Konon yang melakukan adalah anaknya sendiri. Hatiku ngilu!
“Kamu lihat!” kata Mas Parman kepada kami. “Mereka mau menantang. Darah harus dibayar darah! Utang nyawa dibayar nyawa.” Kemudian dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Dan ini mereka-mereka yang harus diciduk malam ini!”
Dari mana Mas Parman mendapatkan daftar itu, kami tidak pernah tahu. Bersama jagabaya, Mas Parman bagaikan panglima perang, bersenjatakan pedang, memimpin kami menggedor pintu rumah dan menyeret para lelakinya. Kalau orang yang dicari sudah terlanjur kabur, yang ada di rumah sebagai gantinya. Para istri atau para kakek pun diciduk pula tanpa ampun. Termasuk Mbak Sri yang sedang hamil tua.
“Mereka sangat diperlukan untuk interogasi, ke mana mereka yang masih jadi buronan?!” ujar Mas Parman, sebelum aku berniat protes.
Di markas, dalam ruang pemeriksaan yang sempit, tampak di dinding dan di beberapa tempat, ada bekas-bekas cipratan darah. Dengan lampu remang-remang, tempat ini lebih meniupkan aroma ruang siksa daripada ruang pemeriksaan. Mas Parman sibuk menyiapkan alat pembangkit listrik yang kabelnya semrawut dengan ujung telanjang. Bayangan menyeramkan membuat kepalaku berkunang-kunang.
Ketika kemudian para tawanan bergiliran dipanggil ke dalam, kemudian terdengar bentakan suara Mas Parman dan kemudian terdengar raungan menyayat orang kesakitan, perutku jadi terasa mual dan aku pun muntah-muntah. (Kudengar beberapa waktu kemudian, Mbak Sri meninggal di tahanan dengan benjolan-benjolan memar di sekujur tubuhnya).
Semakin lama tugas kami semakin berat. Kecuali siap siaga siang malam, hampir setiap tengah malam kami harus mengubur berpuluh-puluh mayat. Bahkan kamilah yang menggali kubur apabila yang datang sudah menjadi mayat. Bila sudah begini, kepalaku semakin berkunang-kunang, peluh dingin membuatku menggigil, perut mual, muntah-muntah, dan tidak jarang jatuh tak sadarkan diri. Juga Mulyono, kalau bertugas mengubur mayat, peluh dingin membasahi dahinya, tangannya gemetar, serta suka menggigit bibirnya sampai berdarah-darah. Oleh karena itu, Mas Parman menyuruh aku dan Mulyono istirahat cuti beberapa hari di rumah.
Tinggal seharian di rumah inilah, kusempatkan untuk menyadap berita bisik-bisik dari para tetangga bahwa banyak korban tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Betapa murahnya nyawa, ujar Mulyono. Hanya dengan dendam pribadi, kecemburuan, terlibat utang, atau ingin merebut istri orang, seorang bisa menjadi korban hanya dengan bisikan fitnah. (Jangan-jangan Mbak Sri juga termasuk korban, karena setahuku dia pernah menolak cinta Mas Parman).
Rupanya api dendam telah membakar seluruh rakyat. Penangkapan warga terhadap warga sendiri yang dicurigai mempunyai indikasi, mulai merebak. Yang kusaksikan kemudian adalah keadaan tak terkendali. Baku curiga, baku tuduh, baku fitnah, dan baku bantai antara warga sendiri. Rupanya Mulyono juga mempunyai perasaan seperti aku. Kerap kali kami menghindar dari tugas itu dengan berbagai alasan. Bahkan kami pernah sembunyi di dalam hutan beberapa lama karena mencoba berpikir waras untuk melawan kengerian yang juga bisa membuat kami sekarat. Karena itu, aku sempat digelandang Mas Parman ke balai desa.
Di depan warga ia berucap dengan berang, “Jangan jadi orang banci! Dasar anak yatim, kalau bukan sepupuku sendiri, sudah aku ciak kamu!” Kutahan perasaan untuk tidak menangis mendengar caciannya.
Kulihat Mas Parman semakin garang dengan seragam kesatuan pemuda loreng-loreng seperti tentara dengan sepucuk pistol terselip di pinggang. Rupanya selama kami absen, teman-teman lain mendapat latihan menembak. Sulit kubayangkan bahwa kami juga ditambahi tugas semakin berat sebagai eksekutor, mengingat semakin gawatnya perang saudara. Kemarin ditemukan banyak mayat ditenggelamkan di sebuah rawa sehingga beberapa waktu hasil pertanian kangkung di rawa tersebut tidak laku dijual. Peristiwa itu menyusul setelah adanya penangkapan besar-besaran oleh aparat terhadap ratusan pemuda yang ingin menjarah persenjataan di gudang senjata di pusat pendidikan prajurit di kota kami.
Dan malapetaka itu pun terjadi. Setiap malam, berpuluh tahanan dibawa ke sungai pasir di lereng gunung merapi. Mas Parman memaksaku untuk menghabisi Marjo, pemuda tetanggaku yang selalu berseragam hitam dengan sapu tangan merah di lehernya. Dengan tangan terikat, dia harus menghadap lubang galian pasir. Aku siap dengan pistol di belakangnya. Terdengar aba-aba siap. Peluh membasahi telapak tanganku. Badanku menggigil. Kepalaku berkunang-kunang. Perutku mual, mau muntah…
“Tembaaak!” teriak aba Mas Parman. Tiba-tiba Marjo berbalik menghadapku bersamaan dengan tekanan pelatuk pistolku. Matanya menatapku tajam. Tepat di dadanya muncrat darah mengenai mukaku. Jantungku seperti terhenti, kemudian hanya kegelapan menerpa pandanganku… Dan kemudian yang tersisa hingga sekian lama adalah tatapan mata Marjo yang selalu mengikutiku.
Kartu lebaran yang kuterima dari sahabatku, Mulyono, membuatku menghabiskan masa liburan ini di kota kelahiran bersama keluargaku, setelah hampir tiga puluh tahun ingin kulupakan. Mulyono yang sudah jadi dokter dan baru pulang haji menyambutku dengan pelukan dan tangis. Pengalaman masa lalunya juga tak jauh berbeda denganku. Jiwanya juga pernah terguncang sewaktu menghabisi seorang tawanan. Tidak dengan pistol melainkan dengan parang.
“Kamu tahu, Aryo,” ceritanya. “Setelah aku lulus dan mulai praktik, beberapa kali aku kedatangan pasien yang sama. Lelaki kurus, pucat, dan bermata cekung. Setiap kutanya sakit apa, dia buka bajunya dan tampak perutnya robek menganga dengan usus yang terburai. Sesudah itu aku tak tahu dia pergi karena aku pingsan. Hingga aku pun juga hampir jadi gila. Tapi sekarang aku tenang, setelah bisa aku atasi dengan tekun beribadah.”
“Sekarang Mas Parman di mana ya?” tanyaku. Cepat dia jawab dengan pandangan aneh seperti mengandung rahasia. “Oh ya, kau harus tengok dia. Dia sempat diangkat jadi camat. Sekarang dia sakit. Beberapa kali dia dibawa kemari. Dia sekarang tinggal di desa kelahirannya sana!”
Mas Parman masih segar ingatannya saat kutemui. Dia merangkulku sambil menepuk-nepuk punggungku. Kami mengobrol ke sana kemari tentang Jakarta dan tentang jabatan camat yang dia peroleh setelah kekacauan usai. Ketika aku berbasa-basi mengucapkan terima kasih bagaimana dia dulu telah menggemblengku jadi orang tegar, tiba-tiba dia meringkuk sambil merintih kesakitan. Seluruh tubuhnya mendadak penuh benjolan-benjolan memar seperti habis disengat listrik. Aku pun panik. Akan kugotong dan kubawa ke dokter, tetapi istrinya tampak tenang saja.
“Tidak apa-apa, biar saja Mas,” ujarnya, “sejak jadi camat, penyakit aneh ini selalu timbul ketika diingatkan tentang masa lalunya. Tapi saat hendak dibawa ke dokter, penyakitnya selalu hilang dengan sendirinya.”
Ah, masa, pikirku. Dengan setengah memaksa, kubawa dia dengan mobil ke tempat Mulyono. Begitu sampai di depan pintu ruang praktiknya, mendadak penyakit Mas Parman hilang dengan sendirinya. Rintihannya berhenti dan wajahnya penuh ketidakmengertian.
Mulyono keluar. Senyumannya aneh menyambut kami…
Klaten, 2003
Catatan:
Lintang kemukus: meteor berekor asap
Pageblug: musim kematian manusia
Upet: tali bambu kering yang dibakar ujungnya
Jagong bayen: menghadiri selamatan kelahiran bayi
Jagabaya: aparat keamanan kelurahan
Diciduk: ditangkap
Ciak: makan
Rokok kelembak: rokok berbumbu menyan
Cerpen GM. Sudarta
Hampir selama 30 tahun, sepasang mata yang seakan memancarkan api kebencian itu selalu mengikuti aku pergi. Selama itu pula membuatku nyaris menjadi gila. Dengan mengikuti bimbingan seorang kiai, akhirnya aku bisa menganggap tidak ada kehadiran sepasang mata itu, meskipun masih selalu mengikuti aku.
Adanya lintang kemukus yang muncul di langit dini hari adalah benar-benar pertanda alam akan adanya pageblug. Dan 40 hari kemudian, ternyata perang saudara meledak. Tidak hanya di daerah kami, malahan di seluruh negeri, sejak terdengar berita terbantainya para jenderal di sebuah lubang sumur di pinggiran kota Jakarta.
Setahun kemudian, suatu malam, aku dan Mulyono, sahabat karibku, bersama regu ronda dengan komandan Mas Parman, seorang pimpinan gerakan pemuda, mendapat tugas rutin dari aparat yang sungguh tidak kami harapkan. Yakni tugas sebagai tukang kubur. Berpuluh-puluh orang diturunkan dari truk di tengah kebun jati, dengan kedua ibu jarinya diikat kawat. Setelah ikatannya dilepas, di bawah ancaman tendangan dan pukulan pistol, setiap empat orang diharapkan menggali sebuah lubang selebar dua meter. Akhirnya mereka diharuskan berjongkok menghadap lubang, dan dentuman-dentuman pistol bergema. Kami memejamkan mata atau melengos ke samping. Hanya Mas Parman yang tampak tegar melihat eksekusi ini.
Tugas kami berikutnya adalah mengubur mereka, meratakan gundukan tanah dengan sekop dan cangkul yang sudah tersedia. Satu lubang untuk empat jenazah. Kami kerjakan dengan mulut rapat dan memang harus bungkam meskipun mayat-mayat itu kami ketahui adalah tetangga atau kerabat kami. Kalau tidak, mungkin kami bernasib seperti mereka.
“Kalian harus jadi orang tangguh dalam keadaan seperti ini. Bayangkan! Kalau mereka menang, akan jadi apa kita?! Kita pun akan disembelih seperti para jenderal itu,” nasihat Mas Parman kepada kami.
Malam-malam seterusnya adalah malam kematian. Kehidupan hanya sebatas jangkauan lampu minyak yang tergantung di gardu ronda. Selebihnya adalah gelap semata. Di gardu jaga, kami lebih banyak diam berselimut sarung, meringkuk dan merapat ke dinding. Binatang malam pun tak terdengar suaranya. Warga kampung juga lebih menyukai mematikan lampu dan bersembunyi dari ketakutan ke dalam kegelapan. Hanya Mas Parman yang selalu siaga mondar-mandir di depan gardu.
Suatu kali, kata sandi yang kami terima dari kelurahan adalah rokok-kelembak. Adalah tugas kami para pemuda yang memperoleh giliran jaga untuk mencegat siapa saja yang keluar malam hari dan menegurnya dengan kata sandi rokok. Bila tidak menyahut dengan kata kelembak, kami berhak memukulinya dan menyerahkan ke aparat setempat.
Menjelang tengah malam, terlihat seorang berjalan terbungkuk-bungkuk melintas di depan gardu kami sambil membawa upet sebagai penerang jalan.
“Stop! Rokok!” teriak Mas Parman.
Ternyata orang itu adalah Mbah Warso yang kami kenal sebagai penggali sumur di kampung kami. Dia kaget dan tergagap. Dia keluarkan sebungkus rokok keretek dari sakunya, sambil katanya: “Rokok Man? Nih!” Tapi uluran tangannya ditepis oleh Mas Parman hingga rokoknya terpental.
“Dari mana kamu!” tanya Mas Parman garang.
“Dari jagong bayen, Man…” jawab Mbah Warso terheran-heran.
Tiba-tiba, plak! Mas Parman menampar muka Mbah Warso dan perintahnya kepada kami: “Tangkap! Bawa ke markas!”
Kami tidak berani membantah, meskipun kami tahu bahwa mungkin Mbah Warso lupa atau tidak tahu sandi kampung kami. Kami yang tidak tega dengan nasib Mbah Warso, segera meninggalkannya di markas, sementara Mas Parman tampaknya senang menikmati raungan orang kesakitan dan rintihan menyayat orang minta ampun.
Beberapa hari kemudian, setengahnya aku protes terhadap penangkapan Mbah Warso terhadap Mas Parman, tapi ujarnya dengan keras, “Dia adalah salah satu saksi mata dan mungkin antek mereka! Berapa banyak dia menerima pesanan menggali sumur dari siapa-siapa yang menggunakan galiannya seperti di Lubang Buaya.”
Hatiku berdesir, saya mengetahui bahwa ternyata Pak Hardi, tetangga saya, aktivis partai, juga membuat galian sumur di belakang rumahnya, meskipun sudah memiliki sumur di samping rumah. Bukan tidak mungkin aku pun akan menghuni galian itu apabila mereka menang seperti kata Mas Parman.
Malaikat maut tampaknya semakin menebarkan sayapnya. Perlawanan dari pihak yang terburu bermunculan pula, mungkin lantaran terdesak. Suatu malam, rumah Pak Karto, warga desa sebelah, terbakar. Pak Karto adalah sebuah aktivis sebuah partai pula yang gencar memburu dan mendata siapa saja anggota partai terlarang yang harus ditangkap. Dia diketemukan, ya Allah, hangus di bawah reruntuhan rumahnya dengan dua paku besar menancap di kiri kanan pelipisnya seperti tanduk! Konon yang melakukan adalah anaknya sendiri. Hatiku ngilu!
“Kamu lihat!” kata Mas Parman kepada kami. “Mereka mau menantang. Darah harus dibayar darah! Utang nyawa dibayar nyawa.” Kemudian dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Dan ini mereka-mereka yang harus diciduk malam ini!”
Dari mana Mas Parman mendapatkan daftar itu, kami tidak pernah tahu. Bersama jagabaya, Mas Parman bagaikan panglima perang, bersenjatakan pedang, memimpin kami menggedor pintu rumah dan menyeret para lelakinya. Kalau orang yang dicari sudah terlanjur kabur, yang ada di rumah sebagai gantinya. Para istri atau para kakek pun diciduk pula tanpa ampun. Termasuk Mbak Sri yang sedang hamil tua.
“Mereka sangat diperlukan untuk interogasi, ke mana mereka yang masih jadi buronan?!” ujar Mas Parman, sebelum aku berniat protes.
Di markas, dalam ruang pemeriksaan yang sempit, tampak di dinding dan di beberapa tempat, ada bekas-bekas cipratan darah. Dengan lampu remang-remang, tempat ini lebih meniupkan aroma ruang siksa daripada ruang pemeriksaan. Mas Parman sibuk menyiapkan alat pembangkit listrik yang kabelnya semrawut dengan ujung telanjang. Bayangan menyeramkan membuat kepalaku berkunang-kunang.
Ketika kemudian para tawanan bergiliran dipanggil ke dalam, kemudian terdengar bentakan suara Mas Parman dan kemudian terdengar raungan menyayat orang kesakitan, perutku jadi terasa mual dan aku pun muntah-muntah. (Kudengar beberapa waktu kemudian, Mbak Sri meninggal di tahanan dengan benjolan-benjolan memar di sekujur tubuhnya).
Semakin lama tugas kami semakin berat. Kecuali siap siaga siang malam, hampir setiap tengah malam kami harus mengubur berpuluh-puluh mayat. Bahkan kamilah yang menggali kubur apabila yang datang sudah menjadi mayat. Bila sudah begini, kepalaku semakin berkunang-kunang, peluh dingin membuatku menggigil, perut mual, muntah-muntah, dan tidak jarang jatuh tak sadarkan diri. Juga Mulyono, kalau bertugas mengubur mayat, peluh dingin membasahi dahinya, tangannya gemetar, serta suka menggigit bibirnya sampai berdarah-darah. Oleh karena itu, Mas Parman menyuruh aku dan Mulyono istirahat cuti beberapa hari di rumah.
Tinggal seharian di rumah inilah, kusempatkan untuk menyadap berita bisik-bisik dari para tetangga bahwa banyak korban tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Betapa murahnya nyawa, ujar Mulyono. Hanya dengan dendam pribadi, kecemburuan, terlibat utang, atau ingin merebut istri orang, seorang bisa menjadi korban hanya dengan bisikan fitnah. (Jangan-jangan Mbak Sri juga termasuk korban, karena setahuku dia pernah menolak cinta Mas Parman).
Rupanya api dendam telah membakar seluruh rakyat. Penangkapan warga terhadap warga sendiri yang dicurigai mempunyai indikasi, mulai merebak. Yang kusaksikan kemudian adalah keadaan tak terkendali. Baku curiga, baku tuduh, baku fitnah, dan baku bantai antara warga sendiri. Rupanya Mulyono juga mempunyai perasaan seperti aku. Kerap kali kami menghindar dari tugas itu dengan berbagai alasan. Bahkan kami pernah sembunyi di dalam hutan beberapa lama karena mencoba berpikir waras untuk melawan kengerian yang juga bisa membuat kami sekarat. Karena itu, aku sempat digelandang Mas Parman ke balai desa.
Di depan warga ia berucap dengan berang, “Jangan jadi orang banci! Dasar anak yatim, kalau bukan sepupuku sendiri, sudah aku ciak kamu!” Kutahan perasaan untuk tidak menangis mendengar caciannya.
Kulihat Mas Parman semakin garang dengan seragam kesatuan pemuda loreng-loreng seperti tentara dengan sepucuk pistol terselip di pinggang. Rupanya selama kami absen, teman-teman lain mendapat latihan menembak. Sulit kubayangkan bahwa kami juga ditambahi tugas semakin berat sebagai eksekutor, mengingat semakin gawatnya perang saudara. Kemarin ditemukan banyak mayat ditenggelamkan di sebuah rawa sehingga beberapa waktu hasil pertanian kangkung di rawa tersebut tidak laku dijual. Peristiwa itu menyusul setelah adanya penangkapan besar-besaran oleh aparat terhadap ratusan pemuda yang ingin menjarah persenjataan di gudang senjata di pusat pendidikan prajurit di kota kami.
Dan malapetaka itu pun terjadi. Setiap malam, berpuluh tahanan dibawa ke sungai pasir di lereng gunung merapi. Mas Parman memaksaku untuk menghabisi Marjo, pemuda tetanggaku yang selalu berseragam hitam dengan sapu tangan merah di lehernya. Dengan tangan terikat, dia harus menghadap lubang galian pasir. Aku siap dengan pistol di belakangnya. Terdengar aba-aba siap. Peluh membasahi telapak tanganku. Badanku menggigil. Kepalaku berkunang-kunang. Perutku mual, mau muntah…
“Tembaaak!” teriak aba Mas Parman. Tiba-tiba Marjo berbalik menghadapku bersamaan dengan tekanan pelatuk pistolku. Matanya menatapku tajam. Tepat di dadanya muncrat darah mengenai mukaku. Jantungku seperti terhenti, kemudian hanya kegelapan menerpa pandanganku… Dan kemudian yang tersisa hingga sekian lama adalah tatapan mata Marjo yang selalu mengikutiku.
Kartu lebaran yang kuterima dari sahabatku, Mulyono, membuatku menghabiskan masa liburan ini di kota kelahiran bersama keluargaku, setelah hampir tiga puluh tahun ingin kulupakan. Mulyono yang sudah jadi dokter dan baru pulang haji menyambutku dengan pelukan dan tangis. Pengalaman masa lalunya juga tak jauh berbeda denganku. Jiwanya juga pernah terguncang sewaktu menghabisi seorang tawanan. Tidak dengan pistol melainkan dengan parang.
“Kamu tahu, Aryo,” ceritanya. “Setelah aku lulus dan mulai praktik, beberapa kali aku kedatangan pasien yang sama. Lelaki kurus, pucat, dan bermata cekung. Setiap kutanya sakit apa, dia buka bajunya dan tampak perutnya robek menganga dengan usus yang terburai. Sesudah itu aku tak tahu dia pergi karena aku pingsan. Hingga aku pun juga hampir jadi gila. Tapi sekarang aku tenang, setelah bisa aku atasi dengan tekun beribadah.”
“Sekarang Mas Parman di mana ya?” tanyaku. Cepat dia jawab dengan pandangan aneh seperti mengandung rahasia. “Oh ya, kau harus tengok dia. Dia sempat diangkat jadi camat. Sekarang dia sakit. Beberapa kali dia dibawa kemari. Dia sekarang tinggal di desa kelahirannya sana!”
Mas Parman masih segar ingatannya saat kutemui. Dia merangkulku sambil menepuk-nepuk punggungku. Kami mengobrol ke sana kemari tentang Jakarta dan tentang jabatan camat yang dia peroleh setelah kekacauan usai. Ketika aku berbasa-basi mengucapkan terima kasih bagaimana dia dulu telah menggemblengku jadi orang tegar, tiba-tiba dia meringkuk sambil merintih kesakitan. Seluruh tubuhnya mendadak penuh benjolan-benjolan memar seperti habis disengat listrik. Aku pun panik. Akan kugotong dan kubawa ke dokter, tetapi istrinya tampak tenang saja.
“Tidak apa-apa, biar saja Mas,” ujarnya, “sejak jadi camat, penyakit aneh ini selalu timbul ketika diingatkan tentang masa lalunya. Tapi saat hendak dibawa ke dokter, penyakitnya selalu hilang dengan sendirinya.”
Ah, masa, pikirku. Dengan setengah memaksa, kubawa dia dengan mobil ke tempat Mulyono. Begitu sampai di depan pintu ruang praktiknya, mendadak penyakit Mas Parman hilang dengan sendirinya. Rintihannya berhenti dan wajahnya penuh ketidakmengertian.
Mulyono keluar. Senyumannya aneh menyambut kami…
Klaten, 2003
Catatan:
Lintang kemukus: meteor berekor asap
Pageblug: musim kematian manusia
Upet: tali bambu kering yang dibakar ujungnya
Jagong bayen: menghadiri selamatan kelahiran bayi
Jagabaya: aparat keamanan kelurahan
Diciduk: ditangkap
Ciak: makan
Rokok kelembak: rokok berbumbu menyan
Wanita Berpedang Samurai
Wanita Berpedang Samurai
Cerpen GM Sudarta
Perempuan itu berjalan mendekatiku sambil tangan kirinya menggenggam pangkal sarung pedang, sedang tangan kanannya mencengkeram tangkai pedang, siap menghunusnya.
Pedang yang bersarung kulit itu paling tidak sudah selama 60 tahun tergantung di dinding ruang tamu persis di atas sofa. Seingatku semenjak usiaku lima tahun sudah kulihat terpampang di situ. Bentuknya yang ramping memanjang, dengan hiasan logam keemasan di tangkainya, membuatku terkagum-kagum membayangkan betapa gagahnya orang yang menyandangnya. Almarhum ayah pernah bercerita, pedang itu hadiah dari Seigo-san, seorang serdadu Jepang sahabat ayah di zaman pendudukan Dai Nippon. Mereka bersahabat mungkin karena mempunyai kegemaran sama, yakni minum-minum sampai mabuk dan wanita.
“Sewaktu Jepang kalah perang, dia ditarik kembali ke negerinya,” cerita ayah. “Sebelum pergi kami menyanyikan Kimigayo bersama-sama sambil menangis. Kemudian dia menyerahkan pedang sebagai kenangan dengan harapan bisa bertemu lagi. Paling tidak ketemu di akhirat nanti.”
“Rawatlah dan hargailah pedang itu dengan baik sebagaimana kau mencintai istrimu kelak. Pedang samurai adalah lambang dari kesetiaan dan harga diri. Jadikanlah hidupmu seperti seorang samurai. Sebagaimana keris, pedang samurai dengan mata pedang yang sangat tajam yang ditempa dari wesi aji, kemudian dilapisi baja di punggungnya sehingga lentur tak mudah patah, adalah lambang ketegaran hidup yang tidak gampang patah dan berwawasan tajam,” pesan ayah menjelang kepergian untuk selamanya.
Setiap kali kubersihkan pedang dan kubasuh dengan minyak cendana, seperti yang kulakukan untuk koleksi keris-kerisku. Kekagumanku tak pernah habis menikmati keindahan bilahnya setiap kuhunus. Di depan cermin aku suka berdiri bak samurai menggenggam tangkainya dengan kedua tangan dan membayangkan diriku seperti Musashi.
Itu semua rupanya memberikan getaran-getaran benang halus yang menghubungkan hatiku sehingga jatuh cinta kepada Jepang. Dari usia sekolah hingga sekarang aku sangat menyukai gambar-gambar alam Jepang juga lukisan-lukisan ukiyoe karya Utamaro atau Hirosige. Juga nyanyian tradisionil Jepang, Shina No Yoru, hingga lagu-lagu Kenji Sawada. Semua film karya Kurosawa saya lalap habis. Begitu juga film serial Zatoichi.
Rupanya pedang itu telah merasuk dalam jiwa ragaku. Mungkin bisa dibilang aku kesurupan pedang, sehingga bagaikan Musashi yang dalam perjalanan hidupnya selalu mencari tantangan. Dan kemudian sang penantang yang datang kepadaku adalah senyuman dari perempuan itu yang badannya semampai, matanya sedikit sipit dan sayu, rambutnya panjang tergerai, kutemukan dia di sebuah diskotek paling liar di Jakarta.
“Kita para lelaki itu biasanya, kalau sedang jatuh cinta, jarak antara otak dan ’senjata’-nya sangat berjauhan, sehingga apa pun akan dilakukannya tanpa pakai otak,” ujar sahabatku memberi peringatan ketika aku nampak tergila-gila pada si mata sayu.
“Dimulai dengan mengirim bunga, hadiah-hadiah, harta, sampai sedia menjadi budaknya, bahkan sampai nyawa pun diserahkan,” tambahnya. Ah, enggak percaya pikirku. Masa iya, sampai sebegitu jauhnya, kan aku seorang samurai.
Dan jadilah kemudian sebuah kisah cinta bagaikan opera sabun sinetron di televisi kita. Memang dimulai dengan sekuntum bunga mawar. Kemudian bukan hanya bunga saja, melainkan masa depan hidup aku serahkan kepadanya. Meskipun bibir tipisnya suka bicara setajam pedang samurai, dan dia datangnya lewat tajamnya sinar laser lampu-lampu diskotek, serta tajamnya perbedaan usia kami berdua, aku malah semakin mencintainya. Apalagi setelah anak lelaki tampan telah dia lahirkan, melengkapi kebanggaanku sebagai seorang samurai yang habis menang berlaga.
Musim gugur di Kyoto ditandai dengan mulainya daun momiji yang hijau berubah menguning yang nantinya akan berubah merah meronai kota indah itu. Kota yang pernah dihadiri Musashi ini, yang telah lama kuimpikan, akhirnya kenyataan telah datang dengan tugasku di negeri matahari terbit ini. Daun momiji yang berakhir dengan menghitam layu di akhir tahun, telah memberikan kerinduan gaib dalam jiwaku.
Bermula dari ketika kuhabiskan waktu sore sepulang dari jalan-jalan ke Ginkakuji, dengan menyusuri jalan setapak Tetsugaku no Michi yang dalam buku petunjuk wisata disebut philosophy pathway, jalan untuk merenung sambil menyusuri sungai di sampingnya. Sementara pohon momiji rindang menaungi sepanjang jalan dengan daunnya masih menghijau.
Di seberang kanan jalan sebuah restoran kecil meniupkan bahu semerbak, mengundang selera saya. Noren di atas pintu masuk bertuliskan yakitori.
“Irashaimase…,” suara halus dari seorang wanita beryukata muncul dari balik noren dengan sikap ojigi, ketika langkahku sampai di depan kedai. Budaya Jepang yang santun ini membuatku tak bisa menolak undangannya. Kuambil kursi dekat jendela yang menghadap rimbunnya daun momiji.
“Dozo…,” ucapnya sambil menyerahkan daftar menu dengan sedikit senyum tersungging.
“Yakitori to biru ni shimasu,” jawabku.
Kuperhatikan langkah-langkah halusnya setelah dia berbalik ke dapur. Yukata dengan obi di punggung serta leher baju bagian belakang agak turun ke bawah ditambah sanggul yang agak ke atas, telah membuatku terkesima. Di mataku terlihat tengkuknya putih bagai salju dengan bulu-bulu halus kebiruan. Benar juga kata sementara teman, bahwa keindahan wanita Solo adalah pada pinggang ramping dan pinggulnya, sedang wanita Jepang pada tengkuknya!
Sambil menunggu datangnya pesananku, kubuka buku Ai No Kawaki karya Mishima Yuko yang kupinjam dari koleksi buku Murai shensei.
“Omatashe-shimashita…,” ucapnya minta maaf karena telah menunggu agak lama sambil meletakkan sepiring yakitori, segelas bir dan secawan kecil oshiko yang di atasnya ditaruh sehelai daun momiji hijau.
“Its okey, domo,” jawabku sekenanya.
Kuambil sehelai daun momiji dari cawan acar itu dan kuselipkan ke buku Mishima dengan hati-hati sebagai pembatas buku. Dia perhatikan apa yang aku kerjakan sambil tersenyum. Senyumannya itu… ah!!
Dan senyuman itulah yang kemudian memberiku perasaan aneh mulai melilitku. Mungkin kecantikan asli wanita Jepang paruh baya ini sebagaimana digambarkan dalam lukisan Ukiyoe Utamaro dengan mata sipit, hidung mancung dan kulit putih, serta namanya yang indah dan enak didengar. Harumi memaksaku untuk kerap mengunjungi restoran itu, supaya bisa menemuinya setiap sore, menjelang dia pulang kerja. Sepertinya ada kegelisahan penuh rahasia di antara kami berdua. Apalagi bagiku, kalau teringat si mata sayu di rumah yang beberapa tahun terakhir ini suka uring-uringan tidak jelas juntrungannya.
Tanpa kami sadari setahun telah berjalan dengan sendirinya, dan aku kerap pula mengantarkannya, dengan kereta subway menuju stasiun terdekat dengan tempat tinggalnya, meskipun apartemenku berlawanan arah. Di kereta, kami lebih banyak berbicara dalam diam. Hanya saling memandang dengan tersenyum. Rupanya dia sadar benar akan keterbatasanku dengan bahasa negerinya. Di peron stasiun pemberhentiannya kami berpisah. Dia ucapkan sayonara sambil menyerahkan setangkai kecil daun momiji tiga helai yang masih hijau, yang dia ambil dari tas jinjingnya, dan kemudian menaiki tangga keluar. Aku pun melanjutkan langkah mencari peron sebaliknya.
Getaran-getaran aneh yang selalu menyelinap dalam jalan bersama ini, sepertinya sangat kami nikmati, hampir setiap hari. Sehingga daun momiji yang aku terima dan kemudian menjadi pembatas bukuku ini, telah menjadi catatan mesra selama musim gugur. Dari warna hijau, lalu kuning, merah, hingga coklat dan daun kering menghitam tanda musim gugur usai.
Dua musim gugur telah berlalu. Selama itu telah banyak aku dengarkan cerita tentang dirinya sendiri. Rupanya juga tak jauh berbeda denganku. Insan yang menjalani hidup ini dengan perasaan tak jelas arahnya. Perjalananku ke negeri sakura ini sebenarnyalah bagai terhempas ke dunia yang dihimpit sepi, tak bertujuan, karena hanya menyerah pada keadaan. Begitu juga dia. Kesehariannya adalah rutinitas yang baginya bukan lagi kodrat, melainkan nasib. Nasib seorang perempuan yang dijauhkan dari impiannya sebagai ibu dan istri. Anak sudah menikah, jauh dari rasa peduli kepada ibunya. Suami pulang kerja tengah malam dengan bau alkohol, seperti biasanya kaum pekerja di Jepang yang menghabiskan waktu pulangnya dengan minum-minum sesama koleganya. Bahkan harus rela berbesar hati apabila sang suami pulang mabuk, dipapah seorang wanita lain.
Pagi hingga malam terjerat kesendirian, setelah menyiapkan makan pagi sang suami, kemudian membereskan rumah, belanja, masak, dan akhirnya hanya ditemani acara televisi yang sangat membosankan. Dan akhirnya terhempas pula di restoran ini untuk bisa berjumpa dengan orang lain.
Tiga tahun lebih, aku telah merasa benar-benar bagai samurai sehebat Mushasi. Kami menikmati hari-hari indah ini dengan penuh kerahasiaan yang kami simpan berdua. Menjelang akhir tugasku, kujumpai dia dengan kabut di wajahnya. Matanya agak lebam dan pipi kirinya nampak memar meskipun disaput dengan bedak tebal. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa aku tak usah bertanya. Hampir dua bulan aku tak bisa menemuinya sesudah itu. Bahkan sehari sebelum kepulanganku, tak kujumpai dia di restoran itu. Mama-san, pemilik kedai yang biasa dipanggil, mengatakan bahwa Harumi sudah tidak bekerja di situ lagi.
Hampir tiap bulan aku terima suratnya, berhuruf kanji yang kurang aku mengerti. Hanya tempelan daun momiji dari warna hijau hingga merah yang aku ketahui maknanya. Lewat penantian yang panjang, setelah puluhan kali suratku tak terbalas, barulah setahun kemudian kuterima surat tanpa tulisan dengan tempelan daun momiji hitam yang sudah kering kerontang.
Perempuan itu semakin mendekat. Pedangnya mulai terhunus. Mata sayunya lenyap. Berubah menjadi tajam berkilat, mulutnya mengatup rapat. “Ada apa yang…?” tanyaku terkesima. Ujung pedangnya telah menyentuh dadaku. “Tidak usah tanya! Ceraikan aku sekarang atau kubunuh kau!” jawabnya sambil menekan ujung pedangnya semakin keras. “Ada apa yang?” tanyaku lagi.
“Kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi di Jepang? Tua bangka gak tahu diri!” Ujung pedangnya mulai menembus bajuku. Ah aku pikir bukan itu alasannya. Apa yang kurasakan belakangan ini adalah seperti yang telah diperingatkan teman-teman. Penyebabnya adalah setelah akal sehatku hilang, setelah apa yang kupunya kuserahkan atas nama dia, rumah, tanah, mobil, bahkan asuransi jiwaku, tak ada alasan lagi baginya untuk tidak membuka topengnya.
“Tidak mungkin aku menceraikan kau dong yang,” ujarku setenang mungkin. “Bagaimana dengan nasib anak kita nanti…?”
“Anak kita?! Bukan!! Yang pasti anak itu bukan anak kamu! Dia anak diskotek!” ujarnya sambil mengangkat pedangnya.
Sebelum pedangnya menebas leherku, aku sudah keburu hancur berkeping-keping!
Kyoto, 2008
Cerpen GM Sudarta
Perempuan itu berjalan mendekatiku sambil tangan kirinya menggenggam pangkal sarung pedang, sedang tangan kanannya mencengkeram tangkai pedang, siap menghunusnya.
Pedang yang bersarung kulit itu paling tidak sudah selama 60 tahun tergantung di dinding ruang tamu persis di atas sofa. Seingatku semenjak usiaku lima tahun sudah kulihat terpampang di situ. Bentuknya yang ramping memanjang, dengan hiasan logam keemasan di tangkainya, membuatku terkagum-kagum membayangkan betapa gagahnya orang yang menyandangnya. Almarhum ayah pernah bercerita, pedang itu hadiah dari Seigo-san, seorang serdadu Jepang sahabat ayah di zaman pendudukan Dai Nippon. Mereka bersahabat mungkin karena mempunyai kegemaran sama, yakni minum-minum sampai mabuk dan wanita.
“Sewaktu Jepang kalah perang, dia ditarik kembali ke negerinya,” cerita ayah. “Sebelum pergi kami menyanyikan Kimigayo bersama-sama sambil menangis. Kemudian dia menyerahkan pedang sebagai kenangan dengan harapan bisa bertemu lagi. Paling tidak ketemu di akhirat nanti.”
“Rawatlah dan hargailah pedang itu dengan baik sebagaimana kau mencintai istrimu kelak. Pedang samurai adalah lambang dari kesetiaan dan harga diri. Jadikanlah hidupmu seperti seorang samurai. Sebagaimana keris, pedang samurai dengan mata pedang yang sangat tajam yang ditempa dari wesi aji, kemudian dilapisi baja di punggungnya sehingga lentur tak mudah patah, adalah lambang ketegaran hidup yang tidak gampang patah dan berwawasan tajam,” pesan ayah menjelang kepergian untuk selamanya.
Setiap kali kubersihkan pedang dan kubasuh dengan minyak cendana, seperti yang kulakukan untuk koleksi keris-kerisku. Kekagumanku tak pernah habis menikmati keindahan bilahnya setiap kuhunus. Di depan cermin aku suka berdiri bak samurai menggenggam tangkainya dengan kedua tangan dan membayangkan diriku seperti Musashi.
Itu semua rupanya memberikan getaran-getaran benang halus yang menghubungkan hatiku sehingga jatuh cinta kepada Jepang. Dari usia sekolah hingga sekarang aku sangat menyukai gambar-gambar alam Jepang juga lukisan-lukisan ukiyoe karya Utamaro atau Hirosige. Juga nyanyian tradisionil Jepang, Shina No Yoru, hingga lagu-lagu Kenji Sawada. Semua film karya Kurosawa saya lalap habis. Begitu juga film serial Zatoichi.
Rupanya pedang itu telah merasuk dalam jiwa ragaku. Mungkin bisa dibilang aku kesurupan pedang, sehingga bagaikan Musashi yang dalam perjalanan hidupnya selalu mencari tantangan. Dan kemudian sang penantang yang datang kepadaku adalah senyuman dari perempuan itu yang badannya semampai, matanya sedikit sipit dan sayu, rambutnya panjang tergerai, kutemukan dia di sebuah diskotek paling liar di Jakarta.
“Kita para lelaki itu biasanya, kalau sedang jatuh cinta, jarak antara otak dan ’senjata’-nya sangat berjauhan, sehingga apa pun akan dilakukannya tanpa pakai otak,” ujar sahabatku memberi peringatan ketika aku nampak tergila-gila pada si mata sayu.
“Dimulai dengan mengirim bunga, hadiah-hadiah, harta, sampai sedia menjadi budaknya, bahkan sampai nyawa pun diserahkan,” tambahnya. Ah, enggak percaya pikirku. Masa iya, sampai sebegitu jauhnya, kan aku seorang samurai.
Dan jadilah kemudian sebuah kisah cinta bagaikan opera sabun sinetron di televisi kita. Memang dimulai dengan sekuntum bunga mawar. Kemudian bukan hanya bunga saja, melainkan masa depan hidup aku serahkan kepadanya. Meskipun bibir tipisnya suka bicara setajam pedang samurai, dan dia datangnya lewat tajamnya sinar laser lampu-lampu diskotek, serta tajamnya perbedaan usia kami berdua, aku malah semakin mencintainya. Apalagi setelah anak lelaki tampan telah dia lahirkan, melengkapi kebanggaanku sebagai seorang samurai yang habis menang berlaga.
Musim gugur di Kyoto ditandai dengan mulainya daun momiji yang hijau berubah menguning yang nantinya akan berubah merah meronai kota indah itu. Kota yang pernah dihadiri Musashi ini, yang telah lama kuimpikan, akhirnya kenyataan telah datang dengan tugasku di negeri matahari terbit ini. Daun momiji yang berakhir dengan menghitam layu di akhir tahun, telah memberikan kerinduan gaib dalam jiwaku.
Bermula dari ketika kuhabiskan waktu sore sepulang dari jalan-jalan ke Ginkakuji, dengan menyusuri jalan setapak Tetsugaku no Michi yang dalam buku petunjuk wisata disebut philosophy pathway, jalan untuk merenung sambil menyusuri sungai di sampingnya. Sementara pohon momiji rindang menaungi sepanjang jalan dengan daunnya masih menghijau.
Di seberang kanan jalan sebuah restoran kecil meniupkan bahu semerbak, mengundang selera saya. Noren di atas pintu masuk bertuliskan yakitori.
“Irashaimase…,” suara halus dari seorang wanita beryukata muncul dari balik noren dengan sikap ojigi, ketika langkahku sampai di depan kedai. Budaya Jepang yang santun ini membuatku tak bisa menolak undangannya. Kuambil kursi dekat jendela yang menghadap rimbunnya daun momiji.
“Dozo…,” ucapnya sambil menyerahkan daftar menu dengan sedikit senyum tersungging.
“Yakitori to biru ni shimasu,” jawabku.
Kuperhatikan langkah-langkah halusnya setelah dia berbalik ke dapur. Yukata dengan obi di punggung serta leher baju bagian belakang agak turun ke bawah ditambah sanggul yang agak ke atas, telah membuatku terkesima. Di mataku terlihat tengkuknya putih bagai salju dengan bulu-bulu halus kebiruan. Benar juga kata sementara teman, bahwa keindahan wanita Solo adalah pada pinggang ramping dan pinggulnya, sedang wanita Jepang pada tengkuknya!
Sambil menunggu datangnya pesananku, kubuka buku Ai No Kawaki karya Mishima Yuko yang kupinjam dari koleksi buku Murai shensei.
“Omatashe-shimashita…,” ucapnya minta maaf karena telah menunggu agak lama sambil meletakkan sepiring yakitori, segelas bir dan secawan kecil oshiko yang di atasnya ditaruh sehelai daun momiji hijau.
“Its okey, domo,” jawabku sekenanya.
Kuambil sehelai daun momiji dari cawan acar itu dan kuselipkan ke buku Mishima dengan hati-hati sebagai pembatas buku. Dia perhatikan apa yang aku kerjakan sambil tersenyum. Senyumannya itu… ah!!
Dan senyuman itulah yang kemudian memberiku perasaan aneh mulai melilitku. Mungkin kecantikan asli wanita Jepang paruh baya ini sebagaimana digambarkan dalam lukisan Ukiyoe Utamaro dengan mata sipit, hidung mancung dan kulit putih, serta namanya yang indah dan enak didengar. Harumi memaksaku untuk kerap mengunjungi restoran itu, supaya bisa menemuinya setiap sore, menjelang dia pulang kerja. Sepertinya ada kegelisahan penuh rahasia di antara kami berdua. Apalagi bagiku, kalau teringat si mata sayu di rumah yang beberapa tahun terakhir ini suka uring-uringan tidak jelas juntrungannya.
Tanpa kami sadari setahun telah berjalan dengan sendirinya, dan aku kerap pula mengantarkannya, dengan kereta subway menuju stasiun terdekat dengan tempat tinggalnya, meskipun apartemenku berlawanan arah. Di kereta, kami lebih banyak berbicara dalam diam. Hanya saling memandang dengan tersenyum. Rupanya dia sadar benar akan keterbatasanku dengan bahasa negerinya. Di peron stasiun pemberhentiannya kami berpisah. Dia ucapkan sayonara sambil menyerahkan setangkai kecil daun momiji tiga helai yang masih hijau, yang dia ambil dari tas jinjingnya, dan kemudian menaiki tangga keluar. Aku pun melanjutkan langkah mencari peron sebaliknya.
Getaran-getaran aneh yang selalu menyelinap dalam jalan bersama ini, sepertinya sangat kami nikmati, hampir setiap hari. Sehingga daun momiji yang aku terima dan kemudian menjadi pembatas bukuku ini, telah menjadi catatan mesra selama musim gugur. Dari warna hijau, lalu kuning, merah, hingga coklat dan daun kering menghitam tanda musim gugur usai.
Dua musim gugur telah berlalu. Selama itu telah banyak aku dengarkan cerita tentang dirinya sendiri. Rupanya juga tak jauh berbeda denganku. Insan yang menjalani hidup ini dengan perasaan tak jelas arahnya. Perjalananku ke negeri sakura ini sebenarnyalah bagai terhempas ke dunia yang dihimpit sepi, tak bertujuan, karena hanya menyerah pada keadaan. Begitu juga dia. Kesehariannya adalah rutinitas yang baginya bukan lagi kodrat, melainkan nasib. Nasib seorang perempuan yang dijauhkan dari impiannya sebagai ibu dan istri. Anak sudah menikah, jauh dari rasa peduli kepada ibunya. Suami pulang kerja tengah malam dengan bau alkohol, seperti biasanya kaum pekerja di Jepang yang menghabiskan waktu pulangnya dengan minum-minum sesama koleganya. Bahkan harus rela berbesar hati apabila sang suami pulang mabuk, dipapah seorang wanita lain.
Pagi hingga malam terjerat kesendirian, setelah menyiapkan makan pagi sang suami, kemudian membereskan rumah, belanja, masak, dan akhirnya hanya ditemani acara televisi yang sangat membosankan. Dan akhirnya terhempas pula di restoran ini untuk bisa berjumpa dengan orang lain.
Tiga tahun lebih, aku telah merasa benar-benar bagai samurai sehebat Mushasi. Kami menikmati hari-hari indah ini dengan penuh kerahasiaan yang kami simpan berdua. Menjelang akhir tugasku, kujumpai dia dengan kabut di wajahnya. Matanya agak lebam dan pipi kirinya nampak memar meskipun disaput dengan bedak tebal. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa aku tak usah bertanya. Hampir dua bulan aku tak bisa menemuinya sesudah itu. Bahkan sehari sebelum kepulanganku, tak kujumpai dia di restoran itu. Mama-san, pemilik kedai yang biasa dipanggil, mengatakan bahwa Harumi sudah tidak bekerja di situ lagi.
Hampir tiap bulan aku terima suratnya, berhuruf kanji yang kurang aku mengerti. Hanya tempelan daun momiji dari warna hijau hingga merah yang aku ketahui maknanya. Lewat penantian yang panjang, setelah puluhan kali suratku tak terbalas, barulah setahun kemudian kuterima surat tanpa tulisan dengan tempelan daun momiji hitam yang sudah kering kerontang.
Perempuan itu semakin mendekat. Pedangnya mulai terhunus. Mata sayunya lenyap. Berubah menjadi tajam berkilat, mulutnya mengatup rapat. “Ada apa yang…?” tanyaku terkesima. Ujung pedangnya telah menyentuh dadaku. “Tidak usah tanya! Ceraikan aku sekarang atau kubunuh kau!” jawabnya sambil menekan ujung pedangnya semakin keras. “Ada apa yang?” tanyaku lagi.
“Kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi di Jepang? Tua bangka gak tahu diri!” Ujung pedangnya mulai menembus bajuku. Ah aku pikir bukan itu alasannya. Apa yang kurasakan belakangan ini adalah seperti yang telah diperingatkan teman-teman. Penyebabnya adalah setelah akal sehatku hilang, setelah apa yang kupunya kuserahkan atas nama dia, rumah, tanah, mobil, bahkan asuransi jiwaku, tak ada alasan lagi baginya untuk tidak membuka topengnya.
“Tidak mungkin aku menceraikan kau dong yang,” ujarku setenang mungkin. “Bagaimana dengan nasib anak kita nanti…?”
“Anak kita?! Bukan!! Yang pasti anak itu bukan anak kamu! Dia anak diskotek!” ujarnya sambil mengangkat pedangnya.
Sebelum pedangnya menebas leherku, aku sudah keburu hancur berkeping-keping!
Kyoto, 2008
Balada Cinta Ferdi dan Firda
Balada Cinta Ferdi dan Firda
Cerpen Jujur Pranoto
Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima, Firda menyibak vitrage, memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai, berdebur-debur keras, tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar, hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut.
Nggak suka ya, menginap di sini?”
Firda menoleh sesaat, tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. ”Suka juga,” jawabnya datar.
”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta.”
”Ya.”
”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali….”
Firda terdiam sesaat. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur, mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. Memeluknya dari belakang. Di luar penglihatan Ferdi, Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dan Ferdi ternyata merasakannya. ”Ada apa, Firda?”
Firda tidak segera menjawab. ”… Kenapa kamu mengajak aku ke sini?”
”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.”
”Tapi kata orang hotel, kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu.”
”So what ?”
”… Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu, kan?”
Ferdi tersenyum lebar. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.”
”Aku serius.”
Senyum Ferdi memudar. Perasaannya lembut berdesir. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. ”Kamu bosan ya, kita begini-begini aja ?”
Firda menggeleng.
”Jadi kenapa…?”
”… Bulan depan aku mau nikah.”
Tangan Ferdi perlahan merenggang, melepaskan pelukan pada pinggang Firda. Dan Firda tak berusaha mencegahnya. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh, duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah, nyaris tak terdengar. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London, berikut bursa saham yang terguncang, berlalu begitu saja tanpa perhatian. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci, yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.
”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?”
”Nggak pernah pacaran. Tapi sudah lama kenal. Tetangga dekat.”
”Kerja apa dia?”
”Guru SMP.”
”Oh…. Guru yang beruntung.”
”Kenapa beruntung?”
”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.”
Firda terdiam. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku,” bisiknya dalam hati.
”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?”
Firda tak menjawab. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah.
Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya, sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang.
Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.600 cc berhenti di tempat gelap, beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu, tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya.
”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?”
”Jangan…!”
”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu.”
”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.”
”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita… akan lebih jarang bertemu?”
”Apalagi.”
Ferdi terdiam. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut. ”Maafin aku, ya….”
Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil, Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya, buru-buru membuka laci dashboard, mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. ”Tunggu!”
Firda menahan langkah dan menoleh.
Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. ”Tolong kamu terima. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu.”
”Nggak usah…. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan.”
”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Cetak undangan, sewa gedung, biaya katering…. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit.”
Firda terdiam. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya.
”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan.”
Firda menjawab dengan pelukan erat. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Sampai kemudian keduanya berpisah, saling melambaikan tangan, dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi, berbelok memasuki gang, dan akhirnya lenyap selepas tikungan. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh….
Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras, sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka, ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa.
”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya.
”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore, pulangnya antara jam dua belas jam satu,” jawab ibu Firda.
”Malam sekali, ya.”
”Namanya juga kerja di restoran. Restoran di hotel berbintang lagi, yang bukanya dua puluh empat jam.”
”Yang penting gajinya lumayan,” si bibi menimpali.
”Bukan lumayan lagi,” kata ibu Firda. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya.”
”Memang gajinya berapa?”
”Gajinya mah sekitar delapan ratus. Tapi uang lemburnya tinggi, katanya. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung.”
”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer.”
”Ah, belum. Karyawati biasa. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. Manajemen, bahasa Inggris, komputer, kepribadian…. Kadang di Jakarta, tapi lebih seringnya di Bandung.”
”Berat juga ya, sampai harus ke Bandung segala.”
”Berat sekali juga enggak. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. Jadi masih ada waktu buat rekreasi, belanja-belanja, beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. Bulan lalu malah di Bali sampai seminggu.”
”Semuanya dibiayai kantor?”
”Bukan cuma dibiayai, tapi juga dikasih uang saku!”
”Hebat sekali!!?”
”Makanya saya sendiri suka terharu, nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa, ’Ya, Alloh… terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami…’.”
Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. Jam dinding menunjuk setengah tujuh, yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan. Ia pun bangkit hendak keluar kamar, tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu. ”Halo?”
”Bisa bicala sama eyang Feldianto?”
Ferdi tersenyum. ”Ini siapa, sih, pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?”
”Aku Icha, cucunya eyang Feldi.”
Ferdi tertawa. ”Ada apa, sayang?”
”Ental siang jangan lupa, ya, dateng ke lumahku. Aku kan ulang tahun.”
”Oh, ya. Pasti. Eyang nggak mungkin lupa.”
”Dah, eyaaang.”
”Dadaah.” Ferdi menutup gagang telepon. Senyumnya seketika memudar. ”Hampir lupa…!” katanya dalam hati.
”Siapa yang nelpon?”
Ferdi kaget dan menoleh, melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar. ”Icha. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.”
”Icha sendiri yang nelpon???”
”Iya.”
”Ya, ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.”
”Anak sekarang….”
”Eh, Astrid sudah nemuin Papa?”
”Belum. Ada apa?”
Belum lagi ibunya menjawab, seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. ”Hai, Pa!”
Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini. ”Minta sendiri gih sama Papa.”
Ferdi bertanya-tanya. ”Mau minta apa, sih?”
”Mmm…. kado perkawinan.”
”Kado kok minta. Tergantung papa dong, mau ngasih apa.”
”Soalnya gini, Pa. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya. Maksudku, Papa jangan ngasih aku mobil juga.”
”Terus, kamu pengin dikasih kado apa?”
”Mmm… rumah.”
Ferdi tertegun. ”Rumah…?”
”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah.”
Setelah berpikir beberapa saat, berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa. ”Tenang aja. Sudah papa siapin.”
”Ah yang bener, Pa.”
”Kamu suka, kan, rumah di Bukit Kayangan?”
”Suka banget! Memang papa sudah beli???”
”Sudah.”
Astrid sesaat terkesima, lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali. ”Thanks, Pa! Makasih banget!!!”
”Buat kamu, apa sih yang nggak papa kasih.”
”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?”
”Sudah ada. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama.”
Astrid heran. ”Kok pakai balik nama segala…?”
Jakarta, 26 Juli 2005
Cerpen Jujur Pranoto
Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima, Firda menyibak vitrage, memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai, berdebur-debur keras, tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar, hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut.
Nggak suka ya, menginap di sini?”
Firda menoleh sesaat, tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. ”Suka juga,” jawabnya datar.
”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta.”
”Ya.”
”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali….”
Firda terdiam sesaat. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur, mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. Memeluknya dari belakang. Di luar penglihatan Ferdi, Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dan Ferdi ternyata merasakannya. ”Ada apa, Firda?”
Firda tidak segera menjawab. ”… Kenapa kamu mengajak aku ke sini?”
”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.”
”Tapi kata orang hotel, kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu.”
”So what ?”
”… Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu, kan?”
Ferdi tersenyum lebar. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.”
”Aku serius.”
Senyum Ferdi memudar. Perasaannya lembut berdesir. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. ”Kamu bosan ya, kita begini-begini aja ?”
Firda menggeleng.
”Jadi kenapa…?”
”… Bulan depan aku mau nikah.”
Tangan Ferdi perlahan merenggang, melepaskan pelukan pada pinggang Firda. Dan Firda tak berusaha mencegahnya. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh, duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah, nyaris tak terdengar. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London, berikut bursa saham yang terguncang, berlalu begitu saja tanpa perhatian. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci, yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.
”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?”
”Nggak pernah pacaran. Tapi sudah lama kenal. Tetangga dekat.”
”Kerja apa dia?”
”Guru SMP.”
”Oh…. Guru yang beruntung.”
”Kenapa beruntung?”
”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.”
Firda terdiam. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku,” bisiknya dalam hati.
”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?”
Firda tak menjawab. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah.
Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya, sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang.
Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.600 cc berhenti di tempat gelap, beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu, tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya.
”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?”
”Jangan…!”
”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu.”
”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.”
”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita… akan lebih jarang bertemu?”
”Apalagi.”
Ferdi terdiam. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut. ”Maafin aku, ya….”
Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil, Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya, buru-buru membuka laci dashboard, mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. ”Tunggu!”
Firda menahan langkah dan menoleh.
Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. ”Tolong kamu terima. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu.”
”Nggak usah…. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan.”
”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Cetak undangan, sewa gedung, biaya katering…. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit.”
Firda terdiam. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya.
”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan.”
Firda menjawab dengan pelukan erat. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Sampai kemudian keduanya berpisah, saling melambaikan tangan, dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi, berbelok memasuki gang, dan akhirnya lenyap selepas tikungan. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh….
Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras, sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka, ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa.
”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya.
”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore, pulangnya antara jam dua belas jam satu,” jawab ibu Firda.
”Malam sekali, ya.”
”Namanya juga kerja di restoran. Restoran di hotel berbintang lagi, yang bukanya dua puluh empat jam.”
”Yang penting gajinya lumayan,” si bibi menimpali.
”Bukan lumayan lagi,” kata ibu Firda. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya.”
”Memang gajinya berapa?”
”Gajinya mah sekitar delapan ratus. Tapi uang lemburnya tinggi, katanya. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung.”
”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer.”
”Ah, belum. Karyawati biasa. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. Manajemen, bahasa Inggris, komputer, kepribadian…. Kadang di Jakarta, tapi lebih seringnya di Bandung.”
”Berat juga ya, sampai harus ke Bandung segala.”
”Berat sekali juga enggak. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. Jadi masih ada waktu buat rekreasi, belanja-belanja, beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. Bulan lalu malah di Bali sampai seminggu.”
”Semuanya dibiayai kantor?”
”Bukan cuma dibiayai, tapi juga dikasih uang saku!”
”Hebat sekali!!?”
”Makanya saya sendiri suka terharu, nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa, ’Ya, Alloh… terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami…’.”
Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. Jam dinding menunjuk setengah tujuh, yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan. Ia pun bangkit hendak keluar kamar, tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu. ”Halo?”
”Bisa bicala sama eyang Feldianto?”
Ferdi tersenyum. ”Ini siapa, sih, pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?”
”Aku Icha, cucunya eyang Feldi.”
Ferdi tertawa. ”Ada apa, sayang?”
”Ental siang jangan lupa, ya, dateng ke lumahku. Aku kan ulang tahun.”
”Oh, ya. Pasti. Eyang nggak mungkin lupa.”
”Dah, eyaaang.”
”Dadaah.” Ferdi menutup gagang telepon. Senyumnya seketika memudar. ”Hampir lupa…!” katanya dalam hati.
”Siapa yang nelpon?”
Ferdi kaget dan menoleh, melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar. ”Icha. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.”
”Icha sendiri yang nelpon???”
”Iya.”
”Ya, ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.”
”Anak sekarang….”
”Eh, Astrid sudah nemuin Papa?”
”Belum. Ada apa?”
Belum lagi ibunya menjawab, seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. ”Hai, Pa!”
Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini. ”Minta sendiri gih sama Papa.”
Ferdi bertanya-tanya. ”Mau minta apa, sih?”
”Mmm…. kado perkawinan.”
”Kado kok minta. Tergantung papa dong, mau ngasih apa.”
”Soalnya gini, Pa. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya. Maksudku, Papa jangan ngasih aku mobil juga.”
”Terus, kamu pengin dikasih kado apa?”
”Mmm… rumah.”
Ferdi tertegun. ”Rumah…?”
”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah.”
Setelah berpikir beberapa saat, berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa. ”Tenang aja. Sudah papa siapin.”
”Ah yang bener, Pa.”
”Kamu suka, kan, rumah di Bukit Kayangan?”
”Suka banget! Memang papa sudah beli???”
”Sudah.”
Astrid sesaat terkesima, lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali. ”Thanks, Pa! Makasih banget!!!”
”Buat kamu, apa sih yang nggak papa kasih.”
”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?”
”Sudah ada. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama.”
Astrid heran. ”Kok pakai balik nama segala…?”
Jakarta, 26 Juli 2005
Dari Masa ke Masa
Dari Masa ke Masa
Cerpen AA. Navis
Waktu saya muda dulu, sekitar usia dua puluh tahun, saya sering dongkol pada orang tua-tua. Bayangkanlah, setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu kena tuntut agar minta nasihat dulu, minta restu dulu ada orang tua-tua. Memang tidak ada paksaan. Tapi selalu saja ada pesan-pesan agar sebelum kami mulai melaksanakan kegiatan kami, sebaiknya kami berbicara dengan Bapak Anu, Bapak Polan, Bapak Tahu, atau
pada bapak sekalian bapak. Saya memang selalu tukang dongkol, karena kepada kami-kami saja pesan itu
disampaikan. Tapi tidak pernah disampaikan pada teman-teman kami yang memanggul senjata, yang mau ke front pertempuran. Padahal pekerjaan itulah yang paling berat risikonya.
"Siapa tahu kalau yang kalian kerjakan keliru," kata yang selalu suka memberi saran.
"Itu risiko kami," kata saya menimpali.
"Saya tahu. Tapi kan lebih baik kalau risikonya tidak ada," katanya pula.
"Tapi kenapa teman-temannya yang mau pergi perang itu tidak disuruh minta nasihat dulu?" tanya saya karena masih dongkol.
"Proklamasi telah lebih dulu merestui mereka. Malah menganjurkannya," kilah orang yang selalu suka memberi saran itu.
Biasanya kami jadi bimbang. Lalu terpaksa jugalah kami boyong ke rumah semua orang-orang tua yang patut-patut itu.
Anak-anak muda waktu saya muda dulu punya kegiatan yang macam-macam jika tidak ikut memanggul senjata. Misalnya bikin sandiwara, ikut diskusi, mengadakan kursus, pameran. Bahkan juga pasar malam. Untuk setiap jenis kegiatan itu selalu saja ada orang tua-tua yang dikatakan ekspert untuk memberi nasihat dan restu sesuai dengan keahlian dan pengalamannya. Macam-macam cara masing-masing mereka menyambut kedatangan kami. Ada yang hangat sambutannya. Misalnya dengan salaman pakai guncangan tangan atau tepuk-tepuk di bahu kami. Ada yang lagi asyik menulis terus setelah tahu kami datang. Juga ada yang baru muncul setelah sejam kami menunggunya di ruang tamu.
Pada umumnya oleh orang tua-tua itu kami diberi wejangan yang tak pernah pendek-pendek, selalu panjang berjela-jela sampai pantat kami gelisah, bukan karena penat saja, tapi juga karena digigit kepinding, sejenis kutu busuk yang dikatakan bangsat oleh orang Jakarta. Bukan main dongkolnya kami. Lebih-lebih saya yang memang pendongkol nomor satu di antara teman-teman. Betapa tidak. Sudah menunggu begitu lama, lalu diberi wejangan panjang-panjang yang sering tidak ada sangkut-pautnya dengan umsan kami, lalu digigit kepinding pula. Sungguh jahanam bangsat itu. Kata saya dalam hati, kalau teman-teman kami yang prajurit itu harus menerima wejangan sepanj ang itu bila hendak pergi ke front, pastilah serdadu musuh sudah menanti di balik pintu.
Lama-lama, setelah berpengalaman cukup banyak, saya bisa menarik kesimpulan tentang sikap orang-orang tua itu. Kalau orangnya orang partai, sambutannya selalu hangat pada kami orang muda. Kalau orangnya orang pandai, yang pada umumnya bekas guru, kedatangan kami selalu disambut di kala mereka sedang sibuk. Entah sedang menulis, entah sedang membaca, dan tidak jarang pula sedang memangkas tanaman bunga di halaman rumahnya. Tapi kalau ia pejabat, apa ia orang partai atau orang pandai, mereka selalu suka membiarkan kami menunggu berlama-lama di ruang tamu. Hal yang sama dilakukannya bila datang ke kantor atau rumahnya. Betapa tidak enaknya diperlakukan demikian, namun prosedur memuliakan orang tua- tua itu tak dapat dihindarkan, kalau kami mau aman dalam kegiatan kami. Bertahun-tahun kemudian saya menarik kesimpulan, bahwa orang tua-tua itu bersikap demikian kepada kami orang muda-muda dulu itu, karena mereka tengah memelihara posisinya yang tinggal sekomeng lagi, karena kekuasaan revolusi tidak berada di tangan mereka. Lebih susah lagi, kalau kami berhasil dengan gemilang dalam melaksanakan kegiatan kami. Kami akan selalu direpotkan orang tua-tua itu. Malah tambah sering kami sukses, tambah repotlah kami. Mereka pada mendesak kami agar memintanya menjadi penasihat kamilah, pelindung kamilah. Bahkan ada di antara mereka yang bergembar-gembor ke mana-mana, bahwa kami adalah anak-asuhannyalah, kadernyalah. Claim mereka itu bukan menyenangkan, malahan sangat menyulitkan kami. Sebab pada waktu saya muda dulu, partai-partai sangat banyak. Dan mereka semua saling sengit dalam berjor-joran. Kalau satu orang telah kami minta jadi penasihat kami, atau biarkan mereka "meng-claim" kami, maka orang lain yang berlainan partai akan membilang kami sebagai "mantel" partai anu, sehingga orang partai lain bisa sakit hati. Tak jarang terjadi kami terkena intrik dari pihak yang tidak suka. Hal-hal yang memang membingungkan, menyusahkan, bahkan juga menimbulkan kecewa dan mematahkan semangat. Dan saya jadi tambah dongkol lagi.
Waktu saya muda dulu, suatu sukses bukanlah hal yang menyenangkan. Kalaupun ada kesenangan, saatnya sangatlah pendek sekali. Yaitu hanya ketika sukses itu terjadi. Habis itu, kesukaranlah yang datang bertalu. Kesukaran yang menyakitkan. Karena setiap sukses yang kami peroleh selalu mengundang perpecahan di kalangan kami sendiri. Mulanya saya tidak tahu, kenapa setiap sukses selalu membawa bencana. Tapi lama-lama saya mengerti juga. Dan itu mencengangkan saya benar. Menurut analisanya ialah begini. Setiap anak muda yang berhasil atau suatu organisasi yang sukses, selalu ada tangan orang-orang tua itu ingin mencaplok untuk memasukkan kami ke dalam mantelnya. Kalau organisasi kami tidak bisa mereka caplok secara utuh, maka anggota kamilah yang mereka preteli seorang demi seorang. Terutama anggota yang potensial, kalau tidak anggota pengurus. Ada banyak yang berhasil dicaplok atau dimanteli.
Setelah sukses demi sukses tercapai, organisasi yang waktu didirikan berdasar semangat kesatuan hati untuk mencapai cita-cita bersama, lalu menjadikan organisasi itu sebagai wadah tempat kami saling cakar-cakaran. Setiap rapat selalu menghasilkan kesepakatan untuk tidak sepakat lagi. Setiap pengurus, lebih-lebih ketua, selalu menjadi bulan-bulanan serangan anggota. Kesatuan hati semula, akhirnya membentuk hati yang satu-satu. Ada yang ngambek, lalu mundur tanpa teratur. Organisasi yang mulanya menimbulkan kebanggaan di dalam hati kami masing-masing, lalu berubah menjadi tempat melampiaskan segala kutukan. Beberapa orang yang gigih mencoba untuk bertahan, tapi praktisnya organisasi kami tidak berdarah lagi. Kegiatan lama-lama sirna. Yang tinggal hanya nama yang tertera pada papan yang tergantung dan terbuai-buai bila ditiup angin.
Saya termasuk orang yang menangisi keadaan itu. Dan, dalam hati saya, bila saya telah menjadi orang tua kelak, apa yang tidak saya sukai ketika saya muda, takkan saya lakukan seperti apa yang dilakukan orang tua-tua ketika saya masih muda dulu. Begitu menyentak datangnya, ketika orang-orang muda secara bergelombang menemui saya minta restu, minta nasihat, minta pendapat, dan juga minta bantuan uang dan tanda tangan. Saya menoleh ke sekeliling, terutama pada teman sebaya saya, yang dulu sama giatnya dengan saya. Saya boleh mengembangkan dada menjadi orang yang dikagumi, dihormati. Memang menyenangkan bila punya status demikian. Tapi lebih menyenangkan lagi apabila menjadi tempat hidup orang menggantung, menjadi setiap kata yang dikatakan menjadi hukum yang tak boleh disanggah. Namun lebih nikmat rasanya apabila secara diam-diam saya mendengar orang- orang muda itu berkata pada teman-temannya, "Sudah bicara pada Pak Navis? Belum? Jangan bikin apa-apa dulu sebelum bicara padanya?"
Akan tetapi orang-orang muda sekarang berbeda jauh dari orang-orang muda masa dulu. Pendidikan orang muda sekarang lebih tinggi, ayah-ayah mereka lebih kaya bahkan lebih berkuasa. Karenanya fasilitas mereka lebih punya. Omongan mereka lebih ceplas-ceplos. Bagaimana saya harus menghadapi mereka agar saya kelihatan tetap potensial? Lalu saya teringat pada orang tua-tua masa saya muda dulu. Gaya ramah-tamah Pak Tamin yang orang partai itu, sekarang tak laku lagi karena partai pun tidak laku. Gaya orang pandai seperti Guru Munap juga tak mungkin lagi, sebab sekarang sudah banyak sekali orang yang lebih pandai dari segala orang pandai-pandai dulu. Jika memakai gaya pejabat, tapi saya bukan pejabat dan karenanya saya tidak mungkin menggunakan peran sebagai orang yang berwibawa tinggi.
Saya juga mempertimbangkan betapa bedanya kondisi sekarang dengan masa dulu. Orang-orang muda yang giat menjadi rebutan masa dulu. Mereka didukung dengan perhatian yang penuh, didengar apa yang diingininya. Bahkan didorong semangatnya agar bisa berbuat banyak. Bahkan kalau perlu disuruh melabrak orang tuanya sendiri. Sedangkan kondisi sekarang sudah lain. Tidak ada pihakpihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi orang-orang muda sekarang. Kalaupun masih ada, permainan tidak lagi seimbang. Orang-orang muda sekarang lebih mudah digembalakan. Sebab tidak ada lagi pihak-pihak yang secara gampang memuja-mujanya. Bagi orang-orang muda sekarang, yang dipuji bukan lagi semangat dan keberaniannya, melainkan prestasi otak dan keahliannya. Dan itu tidak mudah diperolehnya karena bersifat sangat individual. Karena itulah barangkali umur orang-orang muda sekarang lebih panjang, sampai berusia empat puluh tahun. Ketika saya ketemu dengan sobat masa muda yang baru kembali dari posnya sebagai diplomat di luar negri, kami membanding-bandingkan apa yang telah kami lakukan dalam usia yang sama dengan orang-orang muda sekarang. Pada waktu orang-orang muda sekarang masih sekolah, orang-orang muda dulu telah jadi komandan batalyon.
Anak-anak sekolah SMA dulu, telah bisa menjadi guru bahkan direktur SMA swasta. Sedangkan anak-anak SMA sekarang, tidak bisa berbuat apa-apa. Dari sudut ini, Indonesia ternyata tidak maju.
"Mungkin karena dinamika orang-orang muda masa dulu yang menyebabkan saya dongkol melihat tingkah laku orang tua-tua yang sok-sokan. Sehingga saya berjanji dalam hati saya, jika saya telah tua, apa yang tidak saya sukai tentang tingkah laku orang tua-tua terhadap orang-orang muda, tidak akan saya lakukan," kata saya pada sobat itu setelah lama kami merenung-renung.
"Apa janji itu Bung lakukan?" tanya sobat saya yang bekas diplomat itu.
"Ya. Saya lakukan."
"Kenapa?"
"Karena saya percaya, apa pun yang dapat kita lakukan di waktu muda dulu, pastilah dapat dilakukan oleh orang-orang muda sekarang."
"Tapi nyatanya orang-orang muda sekarang begitu sulit melepaskan dirinya dari sifat kekanak-kanakannya."
"Kata kita. Tapi apa kata orang tua-tua kita dulu tentang kita?" tanya saya membalikkan alasannya.
"Coba Bung renungkan. Apabila orang-orang muda sekirang diberi peran yang sama seperti apa yang kita lakukan dulu, akan apa jadinya Republik ini?" .tanya sobat saya itu seraya membelalakkan matanya.
Tiba-tiba ketawa saya meledak, sehingga air mata saya pun berderai-derai. Lalu matanya yang membelalak jadi menyipit sebelum bertanya kenapa saya ketawa.
"Kinilah saya baru tahu, kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja kita masa lalu," kata saya yang masih belum dapat menghentikan ketawa. Dan sobat saya itu memang diplomat, karena ia tersenyum saja oleh kata-kata saya itu. Seperti senyum anak-anak saya bila melihat bintang favoritnya tampil dalam acara
"Dari Masa ke Masa" di televisi.
Cerpen AA. Navis
Waktu saya muda dulu, sekitar usia dua puluh tahun, saya sering dongkol pada orang tua-tua. Bayangkanlah, setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu kena tuntut agar minta nasihat dulu, minta restu dulu ada orang tua-tua. Memang tidak ada paksaan. Tapi selalu saja ada pesan-pesan agar sebelum kami mulai melaksanakan kegiatan kami, sebaiknya kami berbicara dengan Bapak Anu, Bapak Polan, Bapak Tahu, atau
pada bapak sekalian bapak. Saya memang selalu tukang dongkol, karena kepada kami-kami saja pesan itu
disampaikan. Tapi tidak pernah disampaikan pada teman-teman kami yang memanggul senjata, yang mau ke front pertempuran. Padahal pekerjaan itulah yang paling berat risikonya.
"Siapa tahu kalau yang kalian kerjakan keliru," kata yang selalu suka memberi saran.
"Itu risiko kami," kata saya menimpali.
"Saya tahu. Tapi kan lebih baik kalau risikonya tidak ada," katanya pula.
"Tapi kenapa teman-temannya yang mau pergi perang itu tidak disuruh minta nasihat dulu?" tanya saya karena masih dongkol.
"Proklamasi telah lebih dulu merestui mereka. Malah menganjurkannya," kilah orang yang selalu suka memberi saran itu.
Biasanya kami jadi bimbang. Lalu terpaksa jugalah kami boyong ke rumah semua orang-orang tua yang patut-patut itu.
Anak-anak muda waktu saya muda dulu punya kegiatan yang macam-macam jika tidak ikut memanggul senjata. Misalnya bikin sandiwara, ikut diskusi, mengadakan kursus, pameran. Bahkan juga pasar malam. Untuk setiap jenis kegiatan itu selalu saja ada orang tua-tua yang dikatakan ekspert untuk memberi nasihat dan restu sesuai dengan keahlian dan pengalamannya. Macam-macam cara masing-masing mereka menyambut kedatangan kami. Ada yang hangat sambutannya. Misalnya dengan salaman pakai guncangan tangan atau tepuk-tepuk di bahu kami. Ada yang lagi asyik menulis terus setelah tahu kami datang. Juga ada yang baru muncul setelah sejam kami menunggunya di ruang tamu.
Pada umumnya oleh orang tua-tua itu kami diberi wejangan yang tak pernah pendek-pendek, selalu panjang berjela-jela sampai pantat kami gelisah, bukan karena penat saja, tapi juga karena digigit kepinding, sejenis kutu busuk yang dikatakan bangsat oleh orang Jakarta. Bukan main dongkolnya kami. Lebih-lebih saya yang memang pendongkol nomor satu di antara teman-teman. Betapa tidak. Sudah menunggu begitu lama, lalu diberi wejangan panjang-panjang yang sering tidak ada sangkut-pautnya dengan umsan kami, lalu digigit kepinding pula. Sungguh jahanam bangsat itu. Kata saya dalam hati, kalau teman-teman kami yang prajurit itu harus menerima wejangan sepanj ang itu bila hendak pergi ke front, pastilah serdadu musuh sudah menanti di balik pintu.
Lama-lama, setelah berpengalaman cukup banyak, saya bisa menarik kesimpulan tentang sikap orang-orang tua itu. Kalau orangnya orang partai, sambutannya selalu hangat pada kami orang muda. Kalau orangnya orang pandai, yang pada umumnya bekas guru, kedatangan kami selalu disambut di kala mereka sedang sibuk. Entah sedang menulis, entah sedang membaca, dan tidak jarang pula sedang memangkas tanaman bunga di halaman rumahnya. Tapi kalau ia pejabat, apa ia orang partai atau orang pandai, mereka selalu suka membiarkan kami menunggu berlama-lama di ruang tamu. Hal yang sama dilakukannya bila datang ke kantor atau rumahnya. Betapa tidak enaknya diperlakukan demikian, namun prosedur memuliakan orang tua- tua itu tak dapat dihindarkan, kalau kami mau aman dalam kegiatan kami. Bertahun-tahun kemudian saya menarik kesimpulan, bahwa orang tua-tua itu bersikap demikian kepada kami orang muda-muda dulu itu, karena mereka tengah memelihara posisinya yang tinggal sekomeng lagi, karena kekuasaan revolusi tidak berada di tangan mereka. Lebih susah lagi, kalau kami berhasil dengan gemilang dalam melaksanakan kegiatan kami. Kami akan selalu direpotkan orang tua-tua itu. Malah tambah sering kami sukses, tambah repotlah kami. Mereka pada mendesak kami agar memintanya menjadi penasihat kamilah, pelindung kamilah. Bahkan ada di antara mereka yang bergembar-gembor ke mana-mana, bahwa kami adalah anak-asuhannyalah, kadernyalah. Claim mereka itu bukan menyenangkan, malahan sangat menyulitkan kami. Sebab pada waktu saya muda dulu, partai-partai sangat banyak. Dan mereka semua saling sengit dalam berjor-joran. Kalau satu orang telah kami minta jadi penasihat kami, atau biarkan mereka "meng-claim" kami, maka orang lain yang berlainan partai akan membilang kami sebagai "mantel" partai anu, sehingga orang partai lain bisa sakit hati. Tak jarang terjadi kami terkena intrik dari pihak yang tidak suka. Hal-hal yang memang membingungkan, menyusahkan, bahkan juga menimbulkan kecewa dan mematahkan semangat. Dan saya jadi tambah dongkol lagi.
Waktu saya muda dulu, suatu sukses bukanlah hal yang menyenangkan. Kalaupun ada kesenangan, saatnya sangatlah pendek sekali. Yaitu hanya ketika sukses itu terjadi. Habis itu, kesukaranlah yang datang bertalu. Kesukaran yang menyakitkan. Karena setiap sukses yang kami peroleh selalu mengundang perpecahan di kalangan kami sendiri. Mulanya saya tidak tahu, kenapa setiap sukses selalu membawa bencana. Tapi lama-lama saya mengerti juga. Dan itu mencengangkan saya benar. Menurut analisanya ialah begini. Setiap anak muda yang berhasil atau suatu organisasi yang sukses, selalu ada tangan orang-orang tua itu ingin mencaplok untuk memasukkan kami ke dalam mantelnya. Kalau organisasi kami tidak bisa mereka caplok secara utuh, maka anggota kamilah yang mereka preteli seorang demi seorang. Terutama anggota yang potensial, kalau tidak anggota pengurus. Ada banyak yang berhasil dicaplok atau dimanteli.
Setelah sukses demi sukses tercapai, organisasi yang waktu didirikan berdasar semangat kesatuan hati untuk mencapai cita-cita bersama, lalu menjadikan organisasi itu sebagai wadah tempat kami saling cakar-cakaran. Setiap rapat selalu menghasilkan kesepakatan untuk tidak sepakat lagi. Setiap pengurus, lebih-lebih ketua, selalu menjadi bulan-bulanan serangan anggota. Kesatuan hati semula, akhirnya membentuk hati yang satu-satu. Ada yang ngambek, lalu mundur tanpa teratur. Organisasi yang mulanya menimbulkan kebanggaan di dalam hati kami masing-masing, lalu berubah menjadi tempat melampiaskan segala kutukan. Beberapa orang yang gigih mencoba untuk bertahan, tapi praktisnya organisasi kami tidak berdarah lagi. Kegiatan lama-lama sirna. Yang tinggal hanya nama yang tertera pada papan yang tergantung dan terbuai-buai bila ditiup angin.
Saya termasuk orang yang menangisi keadaan itu. Dan, dalam hati saya, bila saya telah menjadi orang tua kelak, apa yang tidak saya sukai ketika saya muda, takkan saya lakukan seperti apa yang dilakukan orang tua-tua ketika saya masih muda dulu. Begitu menyentak datangnya, ketika orang-orang muda secara bergelombang menemui saya minta restu, minta nasihat, minta pendapat, dan juga minta bantuan uang dan tanda tangan. Saya menoleh ke sekeliling, terutama pada teman sebaya saya, yang dulu sama giatnya dengan saya. Saya boleh mengembangkan dada menjadi orang yang dikagumi, dihormati. Memang menyenangkan bila punya status demikian. Tapi lebih menyenangkan lagi apabila menjadi tempat hidup orang menggantung, menjadi setiap kata yang dikatakan menjadi hukum yang tak boleh disanggah. Namun lebih nikmat rasanya apabila secara diam-diam saya mendengar orang- orang muda itu berkata pada teman-temannya, "Sudah bicara pada Pak Navis? Belum? Jangan bikin apa-apa dulu sebelum bicara padanya?"
Akan tetapi orang-orang muda sekarang berbeda jauh dari orang-orang muda masa dulu. Pendidikan orang muda sekarang lebih tinggi, ayah-ayah mereka lebih kaya bahkan lebih berkuasa. Karenanya fasilitas mereka lebih punya. Omongan mereka lebih ceplas-ceplos. Bagaimana saya harus menghadapi mereka agar saya kelihatan tetap potensial? Lalu saya teringat pada orang tua-tua masa saya muda dulu. Gaya ramah-tamah Pak Tamin yang orang partai itu, sekarang tak laku lagi karena partai pun tidak laku. Gaya orang pandai seperti Guru Munap juga tak mungkin lagi, sebab sekarang sudah banyak sekali orang yang lebih pandai dari segala orang pandai-pandai dulu. Jika memakai gaya pejabat, tapi saya bukan pejabat dan karenanya saya tidak mungkin menggunakan peran sebagai orang yang berwibawa tinggi.
Saya juga mempertimbangkan betapa bedanya kondisi sekarang dengan masa dulu. Orang-orang muda yang giat menjadi rebutan masa dulu. Mereka didukung dengan perhatian yang penuh, didengar apa yang diingininya. Bahkan didorong semangatnya agar bisa berbuat banyak. Bahkan kalau perlu disuruh melabrak orang tuanya sendiri. Sedangkan kondisi sekarang sudah lain. Tidak ada pihakpihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi orang-orang muda sekarang. Kalaupun masih ada, permainan tidak lagi seimbang. Orang-orang muda sekarang lebih mudah digembalakan. Sebab tidak ada lagi pihak-pihak yang secara gampang memuja-mujanya. Bagi orang-orang muda sekarang, yang dipuji bukan lagi semangat dan keberaniannya, melainkan prestasi otak dan keahliannya. Dan itu tidak mudah diperolehnya karena bersifat sangat individual. Karena itulah barangkali umur orang-orang muda sekarang lebih panjang, sampai berusia empat puluh tahun. Ketika saya ketemu dengan sobat masa muda yang baru kembali dari posnya sebagai diplomat di luar negri, kami membanding-bandingkan apa yang telah kami lakukan dalam usia yang sama dengan orang-orang muda sekarang. Pada waktu orang-orang muda sekarang masih sekolah, orang-orang muda dulu telah jadi komandan batalyon.
Anak-anak sekolah SMA dulu, telah bisa menjadi guru bahkan direktur SMA swasta. Sedangkan anak-anak SMA sekarang, tidak bisa berbuat apa-apa. Dari sudut ini, Indonesia ternyata tidak maju.
"Mungkin karena dinamika orang-orang muda masa dulu yang menyebabkan saya dongkol melihat tingkah laku orang tua-tua yang sok-sokan. Sehingga saya berjanji dalam hati saya, jika saya telah tua, apa yang tidak saya sukai tentang tingkah laku orang tua-tua terhadap orang-orang muda, tidak akan saya lakukan," kata saya pada sobat itu setelah lama kami merenung-renung.
"Apa janji itu Bung lakukan?" tanya sobat saya yang bekas diplomat itu.
"Ya. Saya lakukan."
"Kenapa?"
"Karena saya percaya, apa pun yang dapat kita lakukan di waktu muda dulu, pastilah dapat dilakukan oleh orang-orang muda sekarang."
"Tapi nyatanya orang-orang muda sekarang begitu sulit melepaskan dirinya dari sifat kekanak-kanakannya."
"Kata kita. Tapi apa kata orang tua-tua kita dulu tentang kita?" tanya saya membalikkan alasannya.
"Coba Bung renungkan. Apabila orang-orang muda sekirang diberi peran yang sama seperti apa yang kita lakukan dulu, akan apa jadinya Republik ini?" .tanya sobat saya itu seraya membelalakkan matanya.
Tiba-tiba ketawa saya meledak, sehingga air mata saya pun berderai-derai. Lalu matanya yang membelalak jadi menyipit sebelum bertanya kenapa saya ketawa.
"Kinilah saya baru tahu, kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja kita masa lalu," kata saya yang masih belum dapat menghentikan ketawa. Dan sobat saya itu memang diplomat, karena ia tersenyum saja oleh kata-kata saya itu. Seperti senyum anak-anak saya bila melihat bintang favoritnya tampil dalam acara
"Dari Masa ke Masa" di televisi.
Subscribe to:
Comments (Atom)