Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu
Cerpen Agus Noor
1.
AKU terbang menikmati harum cahaya pagi yang bening keemasan bagai diluluri madu, dan terasa lembut di sayap-sayapku. Sungguh pagi penuh anugerah buat kupu-kupu macam aku. Kehangatan membuat bunga-bunga bermekaran dengan segala kejelitaannya, dan aku pun melayang-layang dengan tenang di atasnya.
Sesaat aku menyaksikan bocah-bocah manis yang berbaris memasuki taman, dengan topi dan pita cerah menghiasi kepala mereka. Aku terbang ke arah bocah-bocah itu. Begitu melihatku, mereka segera bernyanyi sembari meloncat-loncat melambai ke arahku, "Kupu-kupu yang lucuuu, kemana engkau pergiii, hilir mudik mencariii…"
Aku selalu gembira setiap kali bocah-bocah itu muncul. Biasanya seminggu sekali mereka datang ke taman ini, diantar ibu guru yang penuh senyuman mengawasi dan menemani bocah-bocah itu bermain dan belajar. Berada di alam terbuka membuat bocah-bocah itu menemukan kembali keriangan dan kegembiraannya. Taman penuh bunga memang terasa menyenangkan, melebihi ruang kelas yang dipenuhi bermacam mainan. Sebuah taman yang indah selalu membuat seorang bocah menemukan keluasan langit cerah. Ah, tahukah, betapa aku sering berkhayal bisa terbang mengarungi langit jernih dalam mata bocah-bocah itu? Siapa pun yang menyaksikan pastilah akan terpesona: seekor kupu-kupu bersayap jelita terbang melayang-layang dalam bening hening mata seorang bocah…
Aku pingin menjadi seperti bocah-bocah itu! Menjadi seorang bocah pastilah jauh lebih menyenangkan ketimbang terus-menerus menjadi seekor kupu-kupu. Alangkah bahagianya bila aku bisa menjadi seorang bocah lucu yang matanya penuh kupu-kupu. Terus kupandangi bocah-bocah itu. Alangkah riangnya. Alangkah gembiranya. Uupp, tapi kenapa dengan bocah yang satu itu?! Kulihat bocah itu bersandar menyembunyikan tubuhnya di sebalik pohon. Dia seperti tengah mengawasi bocah-bocah yang tengah bernyanyi bergandengan tangan membentuk lingkaran di tengah taman itu…
Seketika aku waswas dan curiga: jangan-jangan bocah itu bermaksud jahat --dia seperti anak-anak nakal yang suka datang ke taman ini merusak bunga dan memburu kupu-kupu sepertiku. Tapi tidak, mata bocah itu tak terlihat jahat. Sepasang matanya yang besar mengingatkanku pada mata belalang yang kesepian. Dia kucel dan kumuh, meringkuk di balik pohon seperti cacing yang menyembunyikan sebagian tubuhnya dalam tanah, tak ingin dipergoki. Mau apa bocah itu? Segera aku terbang mendekati…
Aku bisa lebih jelas melihat wajahnya yang muram kecoklatan, mirip kulit kayu yang kepanasan kena terik matahari. Dia melirik ke arahku yang terbang berkitaran di dekatnya. Memandangiku sebentar, kemudian kembali mengawasi bocah-bocah di tengah taman yang tengah main kejar-kejaran sebagai kucing dan tikus. Aku lihat matanya perlahan-lahan sebak airmata, seperti embun yang mengambang di ceruk kelopak bunga. Aku terbang merendah mendekati wajahnya, merasakan kesedihan yang coba disembunyikannya. Dia menatapku begitu lama, hingga aku bisa melihat bayanganku berkepakan pelan, memantul dalam bola matanya yang berkaca-kaca…
Terus-menerus dia diam memandangiku.
2.
HERAN nih. Dari tadi kupu-kupu itu terus terbang mengitariku. Kayaknya dia ngeliatin aku. Apa dia ngerti kalau aku lagi sedih? Mestinya aku nggak perlu nangis gini. Malu. Tapi nggak papalah. Nggak ada yang ngeliat. Cuman kupu-kupu itu. Ngapain pula mesti malu ama kupu-kupu?! Dia kan nggak ngerti kalau aku lagi sedih. Aku pingin sekolah. Pingin bermain kayak bocah-bocah itu. Gimana ya rasanya kalau aku bisa kayak mereka?
Pasti seneng. Nggak perlu ngamen. Nggak perlu kepanasan. Nggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Nggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu nggak mati, dan bapak nggak terus-terusan mabuk, pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Nggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan.
Aku senang tiduran di sini. Sembunyi-sembunyi. Nggak boleh keliatan, entar diusir petugas penjaga kebersihan taman. Orang kayak aku emang nggak boleh masuk taman ini. Bikin kotor --karena suka tiduran, kencing dan berak di bangku taman. Makanya, banyak tulisan dipasang di pagar taman: Pemulung dan Gelandangan Dilarang Masuk. Makanya aku ngumpet gini. Ngeliatin bocah-bocah itu, sekalian berteduh bentar.
Kalau ajah aku bebas main di sini. Wah, seneng banget dong! Aku bisa lari kenceng sepuasnya. Loncat-loncat ngejar kupu-kupu. Nggak, nggak! Aku nggak mau nangkepin kupu-kupu. Aku cuman mau main kejar-kejaran ama kupu-kupu. Soalnya aku paling seneng kupu-kupu. Aku sering mengkhayal aku jadi kupu-kupu. Pasti asyik banget. Punya sayap yang indah. Terbang ke sana ke mari. Sering aku bikin kupu-kupu mainan dari plastik sisa bungkus permen yang warna-warni. Aku gunting, terus aku pasang pakai lem. Kadang cuman aku ikat pakai benang aja bagian tengahnya. Persis sayap kupu beneran! Kalau pas ada angin kenceng, aku lemparin ke atas. Wuuss… Kupu-kupuan plastik itu terbang puter-puter kebawa angin. Kalau jumlahnya banyak, pasti tambah seru. Aku kayak ngeliat banyak banget kupu-kupu yang beterbangan…
Ih, aneh juga kupu-kupu ini! Dari tadi terus muterin aku. Apa dia ngerti ya, kalau aku suka kupu-kupu? Apa dia juga tau kalau aku sering ngebayangin jadi kupu-kupu? Apa kupu-kupu juga bisa nangis gini kayak aku? Bagus juga tuh kupu. Sayapnya hijau kekuning-kuningan. Ada garis item melengkung di tengahnya. Kalau saja aku punya sayap seindah kupu-kupu itu, pasti aku bisa terbang nyusul ibu di surga. Ibu pasti seneng ngelus-elus sayapku…
Aku terus ngeliatin kupu-kupu itu. Apa dia ngerti yang aku pikirin ya?
3.
BERKALI-KALI, kupu-kupu dan si bocah bertemu di taman itu.
Kupu-kupu itu pun akhirnya makin tahu kebiasaan si bocah, yang suka sembunyi di sebalik pohon. Sementara bocah itu pun jadi hapal dengan kupu-kupu yang suka mendekatinya dan terus-menerus terbang berkitaran di dekatnya. Kupu-kupu itu seperti menemukan serimbun bunga perdu liar di tengah bunga-bunga yang terawat dan ditata rapi, membuatnya tergoda untuk selalu mendekati. Kadang kupu-kupu itu hinggap di kaki atau lengan bocah itu. Bahkan sesekali pernah menclok di ujung hidungnya. Hingga bocah itu tertawa, seakan bisa merasa kalau kupu-kupu itu tengah mengajaknya bercanda.
Kupu-kupu dan bocah itu sering terlihat bermain bersama, dan kerap terlihat bercakap-cakap. Dan apabila tak ada penjaga taman (biasanya selepas tengah hari saat para penjaga taman itu selesai makan siang lalu dilanjutkan tiduran santai sembari menikmati rokok) maka kupu-kupu itu pun mengajak si bocah kejar-kejaran ke tengah taman.
"Ayolah, kejar aku! Jangan loyo begitu…," teriak kupu-kupu sembari terus terbang ke arah tengah taman.
Dan si bocah pun berlarian tertawa-tawa mengejar kupu-kupu itu.
"Kamu curang! Kamu curang! Bagaimana aku bisa mengejarmu kalau kamu terus terbang?! Kamu curang! Tungguuu kupu-kupuuu… Tungguuuu…"
Kupu-kupu itu terus terbang meliuk-liuk riang. Lalu kupu-kupu itu hinggap di setangkai pohon melati. Kupu-kupu itu menunggu si bocah yang berlarian mendekatinya dengan napas tersengal-sengal.
"Coba kalau aku juga punya sayap, pasti aku bisa mengejarmu…," bocah itu berkata sambil memandangi si kupu-kupu.
"Apakah kamu yakin, kalau kamu punya sayap kamu pasti bisa menangkapku?"
"Pasti! Pasti!"
Kupu-kupu itu tertawa --dan hanya bocah itu yang bisa mendengar tawanya.
"Benarkah kamu ingin punya sayap sepertiku?" tanya kupu-kupu.
"Iya dong! Pasti senang bisa terbang kayak kamu. Asal tau ajah, aku tuh sebenernya sering berkhayal bisa berubah jadi kupu-kupu…" Lalu bocah itu pun bercerita soal mimpi-mimpi dan keinginannya. Kupu-kupu itu mendengarkan dengan perasaan diluapi kesyahduan, karena tiba-tiba ia juga teringat pada impian yang selama ini diam-diam dipendamnya: betapa inginnya ia suatu hari menjelma menjadi manusia…
"Benarkah kamu sering membayangkan dirimu berubah jadi kupu-kupu? Apa kamu kira enak jadi kupu-kupu seperti aku?"
"Pasti enak jadi kupu-kupu seperti kamu…"
"Padahal aku sering membayangkan sebaliknya, betapa enaknya jadi bocah seperti kamu…"
"Enakan juga jadi kamu!" tegas bocah itu.
"Lebih enak jadi kamu!" jawab kupu-kupu.
"Lebih enak jadi kupu-kupu!"
"Lebih enak jadi bocah sepertimu!"
Setiap kali bertemu, setiap kali berbicara soal itu, kupu-kupu dan bocah itu semakin saling memahami apa yang selama ini mereka inginkan. Bocah itu ingin berubah jadi kupu-kupu. Dan kupu-kupu itu ingin menjelma jadi si bocah.
"Kenapa kita tak saling tukar saja kalau begitu?" kata kupu-kupu.
"Saling tukar gimana?"
"Aku jadi kamu, dan kamu jadi aku."
"Apa bisa? Gimana dong caranya?"
"Ya saling tukar saja gitu…"
"Kayak saling tukar baju?" Bocah itu ingat kalau ia sering saling tukar baju dengan temen-temen ngamennya, biar kelihatan punya banyak baju. "Iya, gitu?"
"Hmm, mungkin seperti itu..."
Keduanya saling pandang. Ah, pasti akan menyenangkan kalau semua itu terjadi. Aku akan berubah jadi kupu-kupu, batin bocah itu. Aku akan bahagia sekali kalau aku memang bisa menjelma manusia, desah kupu-kupu itu dengan berdebar hingga sayap-sayapnya bergetaran.
"Bagaimana?" kupu-kupu itu bertanya.
"Bagaimana apa?"
"Jadi nggak kita saling tukar? Sebentar juga nggak apa-apa. Yang penting kamu bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi kupu-kupu. Dan aku bisa merasakan bagaimana kalau jadi bocah seperti kamu. Setelah itu kita bisa kembali lagi jadi diri kita sendiri. Aku kembali jadi kupu-kupu lagi. Dan kamu kembali lagi jadi dirimu. Gimana?"
Si bocah merasa gembira dengan usul kupu-kupu itu. Gagasan yang menakjubkan, teriaknya girang. Lalu ia pun mencopot tubuhnya, agar kupu-kupu itu bisa merasuk ke dalam tubuhnya. Dan kupu-kupu itu pun segera melepaskan diri dari tubuhnya, kemudian menyuruh bocah itu masuk ke dalam tubuhnya. Begitulah, keduanya saling berganti tubuh. Bocah itu begitu senang mendapati dirinya telah berwujud kupu-kupu. Sedangkan kupu-kupu itu merasakan dirinya telah bermetamorfosa menjadi manusia.
4.
WAH enak juga ya jadi kupu-kupu! Bener-bener luar biasa. Lihat, sinar matahari jadi kelihatan berlapis-lapis warna-warni lembut tipis, persis kue lapis. Aku juga ngeliat cahaya itu jadi benang-benang keemasan, berjuntaian di sela-sela dedaunan. Aku jadi ingat benang gelasan yang direntangkan dari satu pohon ke pohon yang lain, setiap kali musim layangan. Aku lihat daun-daun jadi tambah menyala tertimpa cahaya. Semuanya jadi nampak lebih menyenangkan. Dengan riang aku melonjak-lonjak terbang. Terlalu girang sih aku. Jadi terbangku masih oleng dan nyaris nubruk ranting pohon.
"Hati-hati!"
Kudengar teriakan, dan kulihat kupu-kupu yang kini telah merasuk ke dalam tubuh bocahku. Dia kelihatan panik memandangi aku yang terbang jumpalitan. Aku bener-bener gembira. Tak pernah aku segembira ini. Emang nyenengin kok jadi kupu-kupu.
Aku terus terbang dengan riang…
5.
TUBUHKU perlahan-lahan berubah, dan mulai bergetaran keluar selongsong kepompong. Kemudian kudengar gema bermacam suara yang samar-samar, seakan-akan menghantarkan kepadaku cahaya pertama kehidupan yang berkilauan. Dan aku pun seketika terpesona melihat dunia untuk pertama kalinya, terpesona oleh keelokan tubuhku yang telah berubah. Itulah yang dulu aku rasakan, ketika aku berubah dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Dan kini aku merasakan keterpesonaan yang sama, ketika aku mendapati diriku sudah menjelma seorang bocah. Bahkan, saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang lebih meruah dan bergairah.
Aku pernah mengalami bagaimana rasanya bermetamorfosa, karena itu aku bisa menahan diri untuk lebih menghayati setiap denyut setiap degup yang menandai perubahan tubuhku. Aku merasakan ada suara yang begitu riang mengalir dalam aliran darahku, seperti berasal dari jiwaku yang penuh tawa kanak-kanak. Aku ingin melonjak terbang karena begitu gembira. Tapi tubuhku terasa berat, dan aku ingat: aku kini tak lagi punya sayap.
Lalu kulihat bocah itu, yang telah berubah menjadi kupu-kupu, terbang begitu riang hingga nyaris menabrak ranting pepohonan. Aku berteriak mengingatkan, tetapi bocah itu nampaknya terlalu girang dalam tubuh barunya. Dia pasti begitu bahagia, sebagaimana kini aku berbahagia.
Kusaksikan bocah itu terbang riang mengitari taman, kemudian hilang dari pandangan. Aku pun segera melenggang sembari bersiul-siul. Tapi aku langsung kaget ketika seorang penjaga taman menghardikku, "Hai!! Keluar kamu bangsat cilik!" Kulihat penjaga taman itu mengacungkan pemukul kayu ke arahku. Segera aku kabur keluar taman.
6.
KETIKA bocah yang telah berubah menjadi kupu-kupu itu terbang melintasi etalase pertokoan, ia bisa melihat bayangan tubuhnya bagai mengambang di kaca, dan ia memuji penampilannya yang penuh warna. Sayapnya hijau kekuning-kuningan dengan garis hitam melengkung di bagian tengahnya. Rasanya seperti pangeran kecil berjubah indah.
Tapi segera ia menjadi gugup di tengah lalu lalang orang-orang yang bergegas. Bising lalu lintas membuatnya cemas. Puluhan sepeda motor dan mobil-mobil mendengung-dengung mirip serangga-serangga raksasa yang siap melahapnya. Ia gemetar, tak berani menyeberang jalan. Dari kejauhan ia melihat truk yang menderu bagai burung pelatuk yang siap mematuk. Tiba-tiba ia menyadari, betapa mengerikannya kota ini buat seekor kupu-kupu sekecil dirinya. Sungguh, kota ini dibangun bukan untuk kupu-kupu sepertiku. Ia merasakan dirinya begitu rapuh di tengah kota yang semerawut dan bergemuruh. Gedung-gedung jadi terlihat lebih besar dan begitu menjulang dalam pandangannya. Tiang-tiang dan bentangan kawat-kawat tampak seperti perangkap yang siap menjerat dirinya. Semua itu benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya. Ketika ia sampai dekat stasiun kereta, ia menyaksikan trem-trem yang berkelonengan bagaikan sekawanan ular naga dengan mahkota berlonceng terpasang di atas kepala mereka. Sekawanan ular naga yang menjadi kian mengerikan ketika malam tiba. Ia menyaksikan orang-orang yang keluar masuk perut naga itu, seperti mangsa yang dihisap dan dikeluarkan dari dalam perutnya…
Ia begitu gemetar menyaksikan itu semua, dan buru-buru ingin pergi. Ia ingin kembali ke taman itu. Ia ingin segera kembali menjadi seorang bocah.
7.
SEMENTARA itu, kupu-kupu yang telah berubah jadi bocah seharian berjalan-jalan keliling kota. Lari-lari kecil keluar masuk gang. Main sepak bola. Bergelantungan naik angkot. Kejar-kejaran di atas atap kereta yang melaju membelah kota. Rame-rame makan bakso. Ia begitu senang karena bisa melakukan banyak hal yang tak pernah ia lakukan ketika dirinya masih berupa seekor kupu-kupu.
Tengah malam ia pulang dengan perasaan riang, sembari membayangkan rumah yang bersih dan tenang. Hmm, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana enaknya tidur dalam sebuah rumah. Selama ini ia hanya tidur di bawah naungan daun, kedinginan didera angin malam. Rasanya ia ingin segera menghirup semua ketenangan yang dibayangkannya.
Tapi begitu ia masuk rumah, langsung ada yang membentak, "Dari mana saja kamu!" Ia lihat seorang laki-laki yang menatap nanar ke arahnya. Ia langsung mengkerut. Ia tak pernah membayangkan akan menghadapi suasana seperti ini.
"Brengsek! Ditanya diam saja," laki-laki itu kembali membentak, mulutnya sengak bau tuak. Inikah ayah bocah itu? Ia ingat, bocah itu pernah bercerita tentang bapaknya yang seharian terus mabuk dan suka memukulinya. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika laki-laki itu mencekik lehernya. "Uang!" bentak laki-laki itu, "Mana uangnya?! Brengsek! Berapa kali aku bilang, kamu jangan pulang kalau nggak bawa uang!"
Ia meronta berusaha melepaskan diri, membuat laki-laki itu bertambah marah dan kalap. Ia rasakan tamparan keras berkali-kali. Ia rasakan perih di kulit kepalanya ketika rambutnya ditarik dan dijambak, lantas kepalanya dibentur-benturkan ke dinding. Ia merasakan cairan kental panas meleleh keluar dari liang telinganya. Kemudian perlahan-lahan ia merasakan ada kegelapan melilit tubuhnya, seakan-akan membungkus dirinya sebagai kepompong. Ia rasakan sakit yang bertubi-tubi menyodok ulu hati. Membuatnya muntah. Saat itulah bayangan bocah itu melintas, dan ia merasa begitu marah. Kenapa dia tak pernah cerita kalau bapaknya suka menghajar begini? Ia megap-megap gelagapan ketika kepalanya berulang-ulang dibenamkan ke bak mandi…
8.
UDAH hampir seharian aku nunggu. Kok dia belum muncul juga ya? Aku mulai bosen jadi kupu-kupu begini. Cuma terbang berputar-putar di taman. Habis, aku takut terbang jauh sampai ke jalan raya kayak kemarin sih! Takut ketubruk, dan sayap-sayapku remuk. Padahal sebelum jadi kupu-kupu, aku paling berani nerobos jalan. Aku juga bisa berenang, dan menyelam sampai dasar sungai ngerukin pasir. Sekarang, aku cuman terbang, terus-terusan terbang. Nyenengin sih bisa terbang, tapi lama-lama bosen juga. Apalagi kalau cuman berputar-putar di taman ini.
Cukup deh aku ngrasain jadi kupu-kupu gini. Banyak susahnya. Apa karna aku nggak terbiasa jadi kupu-kupu ya? Semaleman ajah aku kedinginan. Tidur di ranting yang terus goyang-goyang kena angin, kayak ada gempa bumi ajah. Aku ngeri ngeliat kelelawar nyambar-nyambar. Ngeri, karena aku ngerasa enggak bisa membela diri. Waktu jadi bocah aku berani berkelahi kalau ada yang ngancem atau ganggu aku. Sekarang, sebagai kupu-kupu, aku jadi ngerasa gampang kalahan. Nggak bisa jadi jagoan! Karna itu aku ingin cepet-cepet berhenti jadi kupu-kupu...
Nggak bisa deh kalau hanya nunggu-nunggu begini. Gelisah tau! Kan kemarin dia janji, hanya mau tukar sebentar. Apa dia keenakan jadi aku, ya? Jangan-jangan dia lagi rame-rame ngelem ama kawan-kawannku. Atau dia lagi didamprat ayah? Ah, moga-moga ajah tidak. Tapi ngapain sampai gini hari belum datang juga? Terus terang aku udah cemas. Aku mesti ketemu dia. Aku nggak mau terus-terusan jadi kupu-kupu gini.
Baiklah, daripada cemas gini, mendingan aku nyusul dia. Apa dia pulang ke rumahku ya? Aku mesti nyari dia, ah!
9.
IA mendapati kemurungan di sekitar rumahnya. Bocah yang telah menjadi kupu-kupu itu bisa merasakan indera kupu-kupunya menangkap kelebat firasat, sebagaimana indera serangga bila merasakan bahaya. Ia mencium bau kematian, bagaikan bau nektar yang menguar. Dan ia bergegas terbang masuk rumah. Ia tercekat mendapati tubuh bocah itu terbujur di ruang tamu. Memar lebam membiru, mengingatkannya pada rona bunga bakung layu. Apa yang terjadi? Alangkah menyedihkan melihat jazad sendiri. Segalanya terasa mengendap pelan, namun menenggelamkan. Ia terbang berkelebat mendekati para tetangganya yang duduk-duduk bercakap-cakap pelan. Kemudian ia mencoba mengajak para tetangga itu bercakap-cakap dengan isyarat kepakan sayapnya. Tapi tak ada yang memahami isyaratnya. Tentu saja mereka tak tahu bagaimana caranya berbicara pada seekor kupu-kupu sepertiku! Dan ia merasa kian ditangkup sunyi, terbang berputar-putar di atas jazadnya. Ia merasakan duka itu, melepuh dalam mata yang terkatup. Sepasang kelopak mata yang membiru itu terlihat seperti sepasang sayap kupu-kupu yang melepuh rapuh. Ia terbang merendah, dan mencium kening jazad itu. Saat itulah ia mendengar percakapan beberapa pelayat.
"Lihat kupu-kupu itu…"
"Aneh, baru kali ini aku melihat kupu-kupu hinggap di kening orang mati."
"Kupu-kupu itu seperti menciumnya…"
"Mungkin kupu-kupu itu tengah bercakap-cakap dengan roh yang barusan keluar dari tubuh bocah itu."
Bocah yang telah berubah menjadi kupu-kupu itu kemudian terbang keluar ruangan, dan orang-orang yang melihatnya seperti menyaksikan roh yang tengah terbang keluar rumah. Tapi ke mana roh kupu-kupu itu? Ia tak tahu ke mana roh kupu-kupu itu pergi. Apa sudah langsung terbang membumbung ke langit sana? Apakah kalau kupu-kupu mati juga masuk surga?
Di surga, aku harap roh kupu-kupu itu bertemu ibuku. Aku ingin dia bercerita pada ibuku, bagaimana kini aku telah menjadi seekor kupu-kupu yang terus-menerus dirundung rindu. Semua kejadian berlangsung bagaikan bayang-bayang yang dengan gampang memudar namun terus-menerus membuatku gemetar.
Bunga-bunga mekar dan layu, sementara aku masih saja selalu merasa perih setiap mengingat kematian kupu-kupu yang menjelma jadi diriku itu. Kuharap bapak membusuk di penjara. Aku terbang, terus terbang, berusaha meneduhkan kerisauanku. Aku ingin terbang menyelusup ke mimpi setiap orang, agar mereka bisa mengerti kerinduan seorang bocah yang berubah menjadi kupu-kupu. Dapatkah engkau merasakan kesepian seorang bocah yang berubah menjadi kupu-kupu seperti aku?
Aku terbang mencari taman yang dapat menentramkanku. Aku terbang mengitari taman-taman rumah yang menarik perhatianku. Aku suka bertandang ke rumah-rumah yang penuh keriangan kanak-kanak. Keriangan seperti itu selalu mengingatkan pada seluruh kisah dan mimpi-mimpiku. Aku suka melihat anak-anak itu tertawa. Aku suka terbang berkitaran di dekat jendela kamar tidur mereka.
Seperti pagi ini. Dari jendela yang hordennya separuh terbuka, aku menyaksikan bocah perempuan yang masih tertidur pulas. Kamar itu terang, dan cahaya pagi membuatnya terasa lebih tenang. Sudah sejak beberapa hari lalu aku memperhatikan bocah perempuan itu. Dari luar jendela, dia terlihat seperti peri cilik cantik yang terkurung dalam kotak kaca. Aku terbang menabrak-nabrak kaca jendelanya. Aku ingin masuk ke dalam kamar bocah perempuan itu. Betapa aku ingin menyelusup ke dalam mimpinya…
10.
HANGAT pagi mulai terasa menguap di horden jendela yang setengah terbuka, tetapi kamar berpendingin udara itu tetap terasa sejuk. Bocah perempuan itu masih meringkuk dalam selimut. Sebentar ia menggeliat, dan teringat kalau hari ini Mamanya akan mengajak jalan-jalan. Karena itu, meski masih malas, bocah perempuan itu segera bangun, dan ia terpesona menatap cahaya bening matahari di jendela. Seperti sepotong roti panggang yang masih panas diolesi mentega, cahaya matahari itu bagaikan meleleh di atas karpet kamarnya. Cuping hidung bocah itu kembang-kempis, seakan ingin menghirup aroma pagi yang harum dan hangat.
Di luar jendela, dilihatnya seekor kupu-kupu tengah terbang menabrak-nabrak kaca jendela, seperti ingin masuk ke dalam kamarnya. Segera ia mendekati jendela. Ia pandangi kupu-kupu itu. Sayapnya, hijau kekuning-kuningan, bergaris hitam melengkung di tengah-tengahnya. Seperti kupu-kupu dalam mimpiku semalam, gumam bocah perempuan itu. Lalu ia ingat mimpinya semalam: ia bertemu seorang bocah yang telah menjelma kupu-kupu. Terus ia pandangi kupu-kupu itu. Kayaknya kupu-kupu itu yang semalam muncul dalam mimpiku? Jangan-jangan itu memang kupu-kupu yang semalam meloncat keluar mimpiku? Bocah perempuan itu ingin membuka jendela. Tapi jendela itu penuh teralis besi. Lagi pula daun jendelanya dikunci mati, karena orang tuanya takut pencuri. Bocah perempuan itu hanya bisa memandangi kupu-kupu yang terus terbang menabrak-nabrak kaca jendela…
Pintu kamar terbuka, muncul Mamanya yang langsung terkejut mendapati anaknya tengah berdiri gelisah memandangi jendela. "Kenapa?" tanya Mama sambil memeluk putrinya dari belakang, berharap pelukannya akan membuat putrinya tenang.
"Kasihan kupu-kupu itu, Mama…"
"Kenapa kupu-kupu itu?"
"Aku ingin kenal kupu-kupu itu."
"Kamu ingin tahu kupu-kupu? Kamu suka kupu-kupu?"
Bocah perempuan itu mengangguk.
"Kalau gitu cepet mandi, ya. Biar kita bisa cepet jalan-jalan. Nanti habis Mama ke salon kita mampir ke toko buku, beli buku tentang kupu-kupu. Kamu boleh pilih sebanyak-banyaknya… Atau kamu pingin ke McDonald dulu?"
Bocah perempuan itu menatap ibunya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Ingin bercerita soal mimpinya semalam. Ingin mengatakan kenapa ia suka pada kupu-kupu di luar itu. Ia ingin menceritakan apa yang dirasakannya, tapi tak tahu bagaimana cara mengatakan pada Mamanya.
Setelah lama terdiam, baru bocah itu berkata, "Gimana ya, Ma… kalau suatu hari nanti aku menjadi kupu-kupu?"
Mamanya hanya tersenyum. Sementara kupu-kupu di luar jendela itu terus-menerus terbang menabrak-nabrak jendela, seperti bersikeras hendak masuk dan ingin menjawab pertanyaan bocah perempuan itu.
11.
PERNAHKAH suatu pagi engkau menyaksikan seekor kupu-kupu bertandang ke rumahmu? Saat itu engkau barangkali tengah sarapan pagi. Engkau tersenyum ke arah anakmu yang berwajah cerah, seakan-akan masih ada sisa mimpi indah yang membuat pipi anakmu merona merah. Engkau segera bangkit ketika mendengar anakmu berteriak renyah, "Papa, lihat ada kupu-kupu!"
Dan engkau melihat kupu-kupu bersayap hijau kekuning-kuningan dengan garis hitam melengkung di bagian tengahnya sedang terbang berputar-putar gelisah di depan pintu rumahmu. Kupu-kupu itu terlihat ragu-ragu ingin masuk ke rumahmu. Apakah yang melintas dalam benakmu, ketika engkau melihat kupu-kupu itu?
Kuharap, pada saat-saat seperti itu, engkau terkenang akan aku: seorang bocah yang telah berubah menjadi seekor kupu-kupu…
Surabaya-Yogyakarta, 2004
Wednesday, 17 November 2010
Seorang Sopir, Seorang Penumpang, dan Bis yang Berangkat
Seorang Sopir, Seorang Penumpang, dan Bis yang Berangkat
SOPIR itu masih bangun, tentu saja, karena bis yang dibawanya masih meluncur di jalan raya. Semua orang telah tertidur, dan sopir itu masih terus terjaga. Ketika kemudian aku terbangun oleh rem mendadak yang cukup menyentak dan mengejutkan, tiba-tiba aku merasa telah kehilangan sesuatu. Entah apa.
Sungguh aneh perasaanku saat terjaga. Sudah sampai di mana? Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir, dan pemandangan ke depan terlihat terang-benderang. Tapi tak satupun ada penanda yang dapat kubaca atau dengan segera kukenali, kecuali satu-dua lentera di rumah-rumah yang sunyi. Selebihnya hanya kampung yang tidur tenteram, mungkin pula tidak tenteram, di tepi jalan yang legam. Kampung yang tak bernama, susah-payah kukenali. Berarti benar, aku telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin lagi kudapatkan, sebaik sang sopir mendapatkannya. Aku bahkan asing dengan tempatku berada.
Benar, banyak yang bilang padaku selama perjalanan. Sebagai misal, aku tidak tahu posisiku di mana. Tak tahu, apa gerangan tadi di tengah jalan hingga sopir mendadak ngerem; pasti hanya dia yang tahu, dia seorang. Apakah ada kendaraan lain yang terlalu menyorong ke tengah? Apakah sebuah lobang, atau jembatan rusak yang lantainya menganga, atau sesuatu yang melintas tiba-tiba? Mungkin makhluk halus yang suka menggoda-sebagaimana jamak kudengar di kampung-atau setidaknya seekor babi menyeruduk mendadak? Mungkin harimau kumbang yang ke luar dari hutan di kiri-kanan jalan. Entah. Bukankah aku telah kehilangan banyak hal gara-gara kantuk dan lelah, sehingga membiarkan semua berlalu begitu saja?
Tapi, tidak sopir itu. Lihatlah, ia masih bangun! Ya, matanya terbuka, tangannya bergerak dan bekerja. Tanpa banyak merokok (gampang disimpulkan ia bukan perokok berat) yang biasanya jadi alasan buat begadang. Tak ada kopi, apalagi alkohol yang kulihat, hanya air putih dalam botol mineral dan sesekali saja diteguknya. Tak ada musik, kuduga bahkan tipe-nya sudah tak ada; bis ini sudah tua, tapi irama putaran rodanya masih terjaga-berkat sang sopir yang bersetia. Situasi ini benar-benar membuatnya sendirian. Tak ada kawan berbagi, jarang berselisih dengan kendaraan lain, untuk sekadar membunyikan klakson sebagai bentuk tegur-sapa.
Aku teringat bis-bis di Pulau Jawa. Jika aku naik bis dari Yogya ke Surabaya atau Yogya-Jakarta, boleh dikatakan sopirnya tidak sendirian. Sebab sepanjang jalan yang dilalui tiada lain kota demi kota, tempatnya singgah di banyak terminal, dan selalu saja ada penumpang yang naik-turun. Akibatnya, kondektur tak mungkin ikut tertidur, bahkan penumpang pun tak bisa benar-benar tertidur karena selalu ada teriakkan kondektur yang membahana. Begitu pula sepanjang jalan, sopir selalu memiliki hiburan sendiri dengan saling berkejaran sesama bis malam, berselisih dengan macam-macam kendaraan, dan menyalip dengan liar. Dengan suasana semacam ini, kuduga sang sopir tidaklah sendirian karena ia punya hiburan.
Tapi, di jalanan Sumatera, entah mengapa, aku merasakan mereka sungguh sendiri. Apalagi dimalam hari. Hanya jalanan lengang yang mereka hadang, sesekali saja bersirobok dengan kendaraan lain. Namun, dengan kesunyian seperti itu, aku merasakan ia terlihat lebih tenang mendapatkan apapun sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba aku merasa cemburu kepadanya. Aku pandang wajahnya dari samping, begitu lurus menatap ke depan, begitu sabar untuk bertahan. Karena memandang dari samping, maka yang paling tampak menonjol adalah hidungnya yang mancung tapi agak bengkok sedikit seperti paruh burung gagak atau kakak tua. Rahangnya tidak terlalu tegas, tak jauh beda dengan bahu atau bagian tubuhnya yang lain, bahkan dengan kemeja coklat tanah yang agak kebesaran, ia terkesan lebih kurus. Tapi tak ada tanda-tanda tubuh itu akan menyerah oleh jarak dan waktu, oleh kantuk dan bosan. Atau, tidakkah kantuk dan bosan itu telah terlipat di raut wajah?
Sayang, ia jarang berpaling, katakanlah untuk mengetahui keadaan penumpangnya, sehingga aku tak bisa tahu sepenuhnya raut wajah itu. Ada memang beberapa kali ia menoleh ke samping kiri-ke arahku!-tapi entah mengapa aku selalu memilih pura-pura tidak peduli. Dan tampaknya ia pun benar-benar tak peduli, sebagaimana ia tidak peduli pada penumpangnya yang lain, di mana juga tak seorang pun yang peduli kepadanya.
Akulah penumpang satu-satunya yang kini bangun bersama dia. Sedang kondekturnya pun tak mungkin bangun, lihatlah, ia terlelap dalam posisi yang sangat menyedihkan: tubuhnya tergayut di dinding pintu, kepala terkulai, mengingatkan aku pada gambar nabi yang disalibkan. Ya, tidur adalah dunia yang damai dan tenteram-kubaca dari raut wajahnya yang kelelahan. Dan sebagai orang satu-satunya yang bangun, mestinya aku bersikap tenang karena apa bedanya aku dengan sang sopir? Aku toh menyaksikan juga pemandangan yang sama, jalan yang membelah kampung dan kawasan hutan, tanpa harus merasa kehilangan.
Tapi tidak. Entah mengapa, hatiku sukar diajak berdamai, malah cemburu dan iri yang terus kurasakan. Sudah berapa jarak ditempuh sang sopir, berapa kampung dan kota yang ia lewati-dengan mata terbuka? Semua panorama miliknya. Semua kejadian ia saksikan, dan disimpannya sendiri dalam kepala. Sedang aku? Aneh, aku merasa tolol dan dungu. Juga orang-orang itu, penumpang lain yang mendengkur dan bermimpi. Paling mereka hanya akan terjaga, nanti, saat bis telah berhenti, mungkin di sebuah warung nasi atau di sebuah kota kecil sehabis jalanan menurun dan mendaki.
Bis terus berjalan, dan sopir itu masih bangun, tentu saja. Tapi sebenarnya ia tak lagi sendiri. Bukankah ada aku yang berjaga, menemaninya? Adakah ia tahu dan peduli? Aku sengaja membuat gerakan menggeliat dengan mengangkat tangan untuk memancing perhatiannya, tapi ia tak hirau sama sekali. Lalu aku menguap dengan menekankan pada efek yang sebaliknya: menguap bukan pertanda ngantuk, tapi mengisyaratkan keterjagaan. Ia pun tidak peduli dan dengan segera aku menyesali diri: jangan-jangan aku hanya mengganggu konsentrasinya. Bukankah menguap, bagaimanapun identik dengan tidur? Ingin aku mengajaknya bercakap, mungkin dengan bertanya sesuatu entah apa. O, ya, mungkin menanyakan sudah sampai di mana! Tapi sialan, tak satu kalimat pun dapat kuucapkan.
Padahal benar, aku masih belum mengenali daerah yang dilalui dan dengan susah-payah harus kuusahakan sendiri. Maklumlah, sudah bertahun-tahun aku tidak pulang. Dulu, semasa bersekolah di kota kabupaten atau sesekali ke ibukota provinsi, aku selalu melewati jalan ini. Berangkat dan pulang adalah perjalanan yang menyenangkan karena pemandangannya sangatlah mengasyikkan. Selepas hutan rimba, kita akan bersua kampung-kampung yang tiba-tiba membuka pepat hutan, kemudian pasar yang hanya ramai sekali sepekan, kemudian tanjakan dengan jalan berkelok-kelok, jurang dan ngarai yang berbatasan langsung dengan lautan. Daerahku memang unik. Diapit Samudera Indonesia dan diapit Bukit Barisan, membuat hamparan daratannya tidak terlalu luas, hanya memanjang di tepi pantai ratusan kilometer dari Tapan hingga Tarusan. Kadang aku berpikir, jangan-jangan hutan rimba di kiri-kananku sudah tidak lagi dapat dipercaya. Maksudku, di bagian sisi jalan saja yang terkesan lebat dan dibiarkan apa adanya, tapi radius sekian meter di kedalaman sudah berlobang dan bolong-bolong.
BIS terus berjalan. Sebenarnya dengan jarang pulang, aku ingin ke kota Padang dengan naik bis agak siang, tapi kapal laut dari Teluk Bayur baru akan berangkat pagi hari. Kupikir tidak efektif. Maka tidak apalah agak sedikit malam, sehingga aku bisa menjaga kantukku melihat kampung-kampung yang masih bangun. Tapi, aku lupa, transportasi agak jelek, pada hari-hari tertentu seperti Senin dan Minggu akan penuh. Maka benar, aku yang berangkat petang Minggu malam Senin-yang dipercayai sebagai hari baik buat perjalanan jauh tidak kunjung mendapat tumpangan. Satu-satunya bis yang kami tunggu, dan itu sudah larut sekali hanyalah bis dari Selatan, tepatnya dari Bengkulu atau Sungaipenuh. Dan malam itu, aku akhirnya menaiki bis dari Bengkulu.
Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir. Sebab hanya ada satu bangku kosong yang sudah ditempati Ida, istriku-yang tertidur sambil memeluk Tsabit, anak semata wayangku yang sebenarnya sedang sakit. Tapi karena kami percaya pada hari baik, kami tak perlu menunda perjalanan. Ah, kasihan sesungguhnya mereka-Tsabit dan Ida-jauh-jauh kuajak pulang dari Jawa dengan keadaan cukup menderita.
Bis jalan menanjak. Laut bergemuruh di sisiku. Dalam kelam. Hanya di kejauhan dapat kusaksikan cahaya lampu bagan (kapal kayu penangkap ikan) bagai ribuan kunang-kunang nun ke ketengahan-laut yang tak berwatas. Selepas itu, kami memasuki sebuah kampung yang penuh dengan orang-orang. Rupanya ada helat khitanan atau kawinan yang menanggap organ-tunggal. Biasanya kesenian tradisional rabab semalam suntuk dengan kaba atau lagu-lagu daerah yang hiruk-pikuk. Tapi kini orang telah meninggalkan tradisi itu dan memilih organ tunggal yang membuat siapapun bisa berjoget di jalan-jalan. Seperti malam ini, sudah larut sekali. Tapi mereka tak hendak minggir ketika bis nyaris berhenti.
Pelan sekali bis yang kunaiki ini membelah kerumunan orang kampung yang sedang dihibur irama Melayu alunan orgen tunggal. Kebetulan yang bernyanyi seorang perempuan bahenol yang bergoyang kiri-kanan tak ketulungan.
Sementara orang-orang yang berjoget, sebagian berhenti. Mereka menyadari sebuah bis terkepung di antara mereka-yang selama ini selalu ngebut-dan mereka seperti berebut menempelkan telapak tangannya ke dinding dan kaca bis. Beberapa dari telapak tangan itu tercetak agak kurus di kaca jendela, meninggalkan bekas berembun cukup lama. Dingin. Sebagian bersorak-sorai tak jelas. Beberapa penumpang terbangun, mengintip di jendela dan segera saja disergap irama Melayu yang membahana. Beberapa di antara mereka tercengang sebentar, tapi segera sadar dan terus memandang ke luar. Sementara orang-orang di luar memandang ke dalam, bagai menembus labirin kaca jendela. Kusaksikan tatapan mereka yang di luar berpadu dengan tatapan mereka yang di dalam bis. Ada bahasa yang tak terucapkan, antara mereka yang tinggal dan mereka yang pergi.
Akupun menatap nanap di kaca, beradu pandang dengan mereka yang bergerombol di tepi jalan. Seorang lelaki berpulun kain sarung jelas menatap ke arahku; aku pun menatap matanya. Kami bertatapan. Hei, kita bertatapan, bukan? Tapi apa yang kita katakan? Tak satupun yang kami katakan. Tapi, sebenarnya banyak yang kita katakan, bukan? Kami pasti setuju. Kita bersetuju, bukan? Ya, kami bersetuju, dalam diam.
Wajah itu masih ngungun di balik pulunan sarung. Seketika mengingatkanku pada karya seorang perupa di Yogya, Mella Jarsama namanya. Ia pernah berpameran dengan menampilkan sepasang orang terkungkung pakaian pelepah pisang, lokan dan manik-manik sehingga wajah mereka seperti tersimpan di balik cadar, penuh tatapan aneh; perpaduan rasa dingin, benci dan misteri. Kini wajah itu bagai hadir menatapku dalam pulunan kain sarung, di balik kaca yang mulai mengabur oleh embun. Membuatku kian dipusing rasa asing. Bahkan ketika bis tiba-tiba lepas dari jebakan, aku merasakan keasingan yang lain; terbebas dari tatapan aneh di luar jendela, aku merasakan tatapan itu kemudian berpindah ke dalam bis, kepada semua penumpang yang tertidur terbungkus stelan malam-jacket, sweeter, atau selimut tebal. Aku melihat wajah semua penumpang seperti menyimpan penderitaan dan ketakutan; menyeringai, ngorok bagai digorok, lemah pasrah dan teronggok dingin di kursi-kursi yang kusam. Kondektur itu bahkan sudah serupa orang tergantung di dinding pintu. Juga Ida istriku, juga Tsabit anakku, kulihat wajah mereka berubah aneh dan dingin dalam temaram cahaya yang jatuh redup dari plafon bis tua ini.
Barulah ketika jalan sedikit menurun, bis berhenti di sebuah rumah makan, aku tersadar telah sampai di Siguntur, sebuah daerah yang banyak rumah makannya dan biasanya bis-bis berhenti di sini untuk berbagai-bagai keperluan. Dan sebagaimana kuduga, orang-orang pun bangun dengan cara yang lazim: seperti orang bego, turun dan melongo, menggeliat sebentar melepas penat badan, lalu mencari kamar mandi sekadar untuk kencing-tanpa cuci muka-karena bukankah di bis yang melaju akan melanjutkan tidur lagi? Yang lapar dan punya duit makan, yang lain merokok di kedai, membeli minuman ringan sambil menonton kondektur mencongkel ban. Atau mencuri pandang pada perempuan penumpang yang entah mengapa di tengah suasana malam semacam ini terasa cantik belaka dan meruapkan semacam aroma seksual.
Dua orang bercakap-cakap di sampingku. Yang kurus ceking bertanya dari mana dan hendak ke mana bis yang ia naiki ini. Aneh juga, pikirku, bagaimana ia bisa menumpang bis yang tidak ia kenali? Tapi, ah, wajar saja karena mungkin ia naik di lain kota dan tentu tak sepenuhnya bisa membaca nama dan tujuan. Yang gemuk pendek bercerita bahwa bis berangkat jam dua dari Bengkulu, dan akan terus ke Medan.
Entah mengapa aku kembali teringat sang sopir. Berapa lama lagi ia harus bertahan? Ataukah ada yang akan menggantikan? Kondektur menurunkan ban serap, menambah angin, tapi kudengar ada yang mendesis, dan si kondektur menggerutu, “Sial, bocor!” Ketika bangun suaranya keras dan menggelegar, saat tidur semua yang ada padanya sempurna ditelan beban dan lelah malam. Aku masih asing sendiri. Apalagi rumah makan itu di tengah hutan, diapit bukit-bukit yang tak sepenuhnya terlihat dalam kelam. Rasanya aku baru saja mendarat di ranah asing, lantas menemukan rumah makan itu, menemukan menu-menu yang sulit kucecap. Aku hanya memandangi Ida, istriku makan dengan lahap. Tentu saja ia sudah sangat lapar, dan aku melihat dirinya bagai seseorang yang tersesat.
BIS kemudian melanjutkan perjalanan. Aku tahu, tak lama lagi aku akan memasuki kota Padang-jalan-jalan sudah kukenal berkat penanda rumah makan di Siguntur. Aku merasa ada yang bakal hilang. Fajar sebentar lagi menyingsing. Dan aku akan turun di simpang Teluk Bayur, arah jalan ke pelabuhan. Bis itu lalu akan meninggalkan kami, penuh debu, derak dan deru.
Begitulah, bis akhirnya sampai di persimpangan yang kutuju. Aku minta berhenti. Bis menepi dan kondektur dengan gerak lamban menurunkan barang-barang kami. Sampai detik terakhir ketika bis akan melaju, aku tetap tak mampu bercakap dengan sang sopir barang sepatah pun, bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih! Ah, lidah yang kelu!
Lalu, dengan perasaan asing, sekaligus haru, aku menatap bis itu melanjutkan perjalanan; tentu, ia akan singgah sebentar di terminal kota Padang, untuk akhirnya terus ke Medan. Betapa panjang perjalanan. Di tangga ke kapal, nanti, pasti aku tak bakal melupakan sang sopir yang entah mengapa tiba-tiba mengundang seluruh rasa dalam diriku. Aku kasihan padanya yang bertahan dengan pemandangan itu-itu juga, dengan jarak waktu yang sama. Sebagai sopir, musafir abadi. Sedang aku, sebentar lagi akan menyaksikan lautan luas terbentang, alam tiada berbatas, cakrawala yang gaib dan ajaib di kejauhan. Tapi, aku juga cemburu kepadanya yang menyaksikan semua kejadian di sepanjang perjalanannya yang hening.
Ah, bis itu telah berangkat, sopir itu telah membawanya laju, berderak-derak, dalam jarak dan waktu. Panjang dan jauh. Tapi seorang penumpang masih mengenangnya, sampai sekarang. Sebab, sebagaimana kau baca di koran-koran (aku juga membacanya sesampai di Tanjung Priok), sebuah bis Jurusan Bengkulu-Medan terguling di jalan. Badannya remuk masuk ke dalam sungai. Kernetnya luka pada lambung, mengucur darah. Sopirnya yang berhidung bengkok seperti paruh burung gagak atau paruh kakak tua dinyatakan hilang, dan tentu saja para polisi, seperti biasa, dengan enteng menyebutnya melarikan diri. Sebagian percaya ia hanyut ke laut.
Tapi aku lebih percaya bahwa sang sopir yang sempat kukagumi sekaligus kucemburui sepanjang perjalanan itu, punya nasibnya sendiri. Tak mungkin ia melarikan diri, tentu saja, karena dalam bayanganku ia telah menjelma burung gagak ajaib yang tatapannya sedingin laki-laki berpulun kain sarung di tepi jalan, atau orang berkerudung serat batang pisang di sebuah pameran seni. Paruh bengkoknya terasa gemerincing dalam ingatan, bagai lokan kering dimainkan jari-jari Maut yang panjang.
* Rumahlebah Yogyakarta, 2004-2005
Raudal Tanjung Banua (Dimuat di Suara Karya, 17 April 2005)
SOPIR itu masih bangun, tentu saja, karena bis yang dibawanya masih meluncur di jalan raya. Semua orang telah tertidur, dan sopir itu masih terus terjaga. Ketika kemudian aku terbangun oleh rem mendadak yang cukup menyentak dan mengejutkan, tiba-tiba aku merasa telah kehilangan sesuatu. Entah apa.
Sungguh aneh perasaanku saat terjaga. Sudah sampai di mana? Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir, dan pemandangan ke depan terlihat terang-benderang. Tapi tak satupun ada penanda yang dapat kubaca atau dengan segera kukenali, kecuali satu-dua lentera di rumah-rumah yang sunyi. Selebihnya hanya kampung yang tidur tenteram, mungkin pula tidak tenteram, di tepi jalan yang legam. Kampung yang tak bernama, susah-payah kukenali. Berarti benar, aku telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin lagi kudapatkan, sebaik sang sopir mendapatkannya. Aku bahkan asing dengan tempatku berada.
Benar, banyak yang bilang padaku selama perjalanan. Sebagai misal, aku tidak tahu posisiku di mana. Tak tahu, apa gerangan tadi di tengah jalan hingga sopir mendadak ngerem; pasti hanya dia yang tahu, dia seorang. Apakah ada kendaraan lain yang terlalu menyorong ke tengah? Apakah sebuah lobang, atau jembatan rusak yang lantainya menganga, atau sesuatu yang melintas tiba-tiba? Mungkin makhluk halus yang suka menggoda-sebagaimana jamak kudengar di kampung-atau setidaknya seekor babi menyeruduk mendadak? Mungkin harimau kumbang yang ke luar dari hutan di kiri-kanan jalan. Entah. Bukankah aku telah kehilangan banyak hal gara-gara kantuk dan lelah, sehingga membiarkan semua berlalu begitu saja?
Tapi, tidak sopir itu. Lihatlah, ia masih bangun! Ya, matanya terbuka, tangannya bergerak dan bekerja. Tanpa banyak merokok (gampang disimpulkan ia bukan perokok berat) yang biasanya jadi alasan buat begadang. Tak ada kopi, apalagi alkohol yang kulihat, hanya air putih dalam botol mineral dan sesekali saja diteguknya. Tak ada musik, kuduga bahkan tipe-nya sudah tak ada; bis ini sudah tua, tapi irama putaran rodanya masih terjaga-berkat sang sopir yang bersetia. Situasi ini benar-benar membuatnya sendirian. Tak ada kawan berbagi, jarang berselisih dengan kendaraan lain, untuk sekadar membunyikan klakson sebagai bentuk tegur-sapa.
Aku teringat bis-bis di Pulau Jawa. Jika aku naik bis dari Yogya ke Surabaya atau Yogya-Jakarta, boleh dikatakan sopirnya tidak sendirian. Sebab sepanjang jalan yang dilalui tiada lain kota demi kota, tempatnya singgah di banyak terminal, dan selalu saja ada penumpang yang naik-turun. Akibatnya, kondektur tak mungkin ikut tertidur, bahkan penumpang pun tak bisa benar-benar tertidur karena selalu ada teriakkan kondektur yang membahana. Begitu pula sepanjang jalan, sopir selalu memiliki hiburan sendiri dengan saling berkejaran sesama bis malam, berselisih dengan macam-macam kendaraan, dan menyalip dengan liar. Dengan suasana semacam ini, kuduga sang sopir tidaklah sendirian karena ia punya hiburan.
Tapi, di jalanan Sumatera, entah mengapa, aku merasakan mereka sungguh sendiri. Apalagi dimalam hari. Hanya jalanan lengang yang mereka hadang, sesekali saja bersirobok dengan kendaraan lain. Namun, dengan kesunyian seperti itu, aku merasakan ia terlihat lebih tenang mendapatkan apapun sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba aku merasa cemburu kepadanya. Aku pandang wajahnya dari samping, begitu lurus menatap ke depan, begitu sabar untuk bertahan. Karena memandang dari samping, maka yang paling tampak menonjol adalah hidungnya yang mancung tapi agak bengkok sedikit seperti paruh burung gagak atau kakak tua. Rahangnya tidak terlalu tegas, tak jauh beda dengan bahu atau bagian tubuhnya yang lain, bahkan dengan kemeja coklat tanah yang agak kebesaran, ia terkesan lebih kurus. Tapi tak ada tanda-tanda tubuh itu akan menyerah oleh jarak dan waktu, oleh kantuk dan bosan. Atau, tidakkah kantuk dan bosan itu telah terlipat di raut wajah?
Sayang, ia jarang berpaling, katakanlah untuk mengetahui keadaan penumpangnya, sehingga aku tak bisa tahu sepenuhnya raut wajah itu. Ada memang beberapa kali ia menoleh ke samping kiri-ke arahku!-tapi entah mengapa aku selalu memilih pura-pura tidak peduli. Dan tampaknya ia pun benar-benar tak peduli, sebagaimana ia tidak peduli pada penumpangnya yang lain, di mana juga tak seorang pun yang peduli kepadanya.
Akulah penumpang satu-satunya yang kini bangun bersama dia. Sedang kondekturnya pun tak mungkin bangun, lihatlah, ia terlelap dalam posisi yang sangat menyedihkan: tubuhnya tergayut di dinding pintu, kepala terkulai, mengingatkan aku pada gambar nabi yang disalibkan. Ya, tidur adalah dunia yang damai dan tenteram-kubaca dari raut wajahnya yang kelelahan. Dan sebagai orang satu-satunya yang bangun, mestinya aku bersikap tenang karena apa bedanya aku dengan sang sopir? Aku toh menyaksikan juga pemandangan yang sama, jalan yang membelah kampung dan kawasan hutan, tanpa harus merasa kehilangan.
Tapi tidak. Entah mengapa, hatiku sukar diajak berdamai, malah cemburu dan iri yang terus kurasakan. Sudah berapa jarak ditempuh sang sopir, berapa kampung dan kota yang ia lewati-dengan mata terbuka? Semua panorama miliknya. Semua kejadian ia saksikan, dan disimpannya sendiri dalam kepala. Sedang aku? Aneh, aku merasa tolol dan dungu. Juga orang-orang itu, penumpang lain yang mendengkur dan bermimpi. Paling mereka hanya akan terjaga, nanti, saat bis telah berhenti, mungkin di sebuah warung nasi atau di sebuah kota kecil sehabis jalanan menurun dan mendaki.
Bis terus berjalan, dan sopir itu masih bangun, tentu saja. Tapi sebenarnya ia tak lagi sendiri. Bukankah ada aku yang berjaga, menemaninya? Adakah ia tahu dan peduli? Aku sengaja membuat gerakan menggeliat dengan mengangkat tangan untuk memancing perhatiannya, tapi ia tak hirau sama sekali. Lalu aku menguap dengan menekankan pada efek yang sebaliknya: menguap bukan pertanda ngantuk, tapi mengisyaratkan keterjagaan. Ia pun tidak peduli dan dengan segera aku menyesali diri: jangan-jangan aku hanya mengganggu konsentrasinya. Bukankah menguap, bagaimanapun identik dengan tidur? Ingin aku mengajaknya bercakap, mungkin dengan bertanya sesuatu entah apa. O, ya, mungkin menanyakan sudah sampai di mana! Tapi sialan, tak satu kalimat pun dapat kuucapkan.
Padahal benar, aku masih belum mengenali daerah yang dilalui dan dengan susah-payah harus kuusahakan sendiri. Maklumlah, sudah bertahun-tahun aku tidak pulang. Dulu, semasa bersekolah di kota kabupaten atau sesekali ke ibukota provinsi, aku selalu melewati jalan ini. Berangkat dan pulang adalah perjalanan yang menyenangkan karena pemandangannya sangatlah mengasyikkan. Selepas hutan rimba, kita akan bersua kampung-kampung yang tiba-tiba membuka pepat hutan, kemudian pasar yang hanya ramai sekali sepekan, kemudian tanjakan dengan jalan berkelok-kelok, jurang dan ngarai yang berbatasan langsung dengan lautan. Daerahku memang unik. Diapit Samudera Indonesia dan diapit Bukit Barisan, membuat hamparan daratannya tidak terlalu luas, hanya memanjang di tepi pantai ratusan kilometer dari Tapan hingga Tarusan. Kadang aku berpikir, jangan-jangan hutan rimba di kiri-kananku sudah tidak lagi dapat dipercaya. Maksudku, di bagian sisi jalan saja yang terkesan lebat dan dibiarkan apa adanya, tapi radius sekian meter di kedalaman sudah berlobang dan bolong-bolong.
BIS terus berjalan. Sebenarnya dengan jarang pulang, aku ingin ke kota Padang dengan naik bis agak siang, tapi kapal laut dari Teluk Bayur baru akan berangkat pagi hari. Kupikir tidak efektif. Maka tidak apalah agak sedikit malam, sehingga aku bisa menjaga kantukku melihat kampung-kampung yang masih bangun. Tapi, aku lupa, transportasi agak jelek, pada hari-hari tertentu seperti Senin dan Minggu akan penuh. Maka benar, aku yang berangkat petang Minggu malam Senin-yang dipercayai sebagai hari baik buat perjalanan jauh tidak kunjung mendapat tumpangan. Satu-satunya bis yang kami tunggu, dan itu sudah larut sekali hanyalah bis dari Selatan, tepatnya dari Bengkulu atau Sungaipenuh. Dan malam itu, aku akhirnya menaiki bis dari Bengkulu.
Aku duduk di muka, di bangku serap di samping sopir. Sebab hanya ada satu bangku kosong yang sudah ditempati Ida, istriku-yang tertidur sambil memeluk Tsabit, anak semata wayangku yang sebenarnya sedang sakit. Tapi karena kami percaya pada hari baik, kami tak perlu menunda perjalanan. Ah, kasihan sesungguhnya mereka-Tsabit dan Ida-jauh-jauh kuajak pulang dari Jawa dengan keadaan cukup menderita.
Bis jalan menanjak. Laut bergemuruh di sisiku. Dalam kelam. Hanya di kejauhan dapat kusaksikan cahaya lampu bagan (kapal kayu penangkap ikan) bagai ribuan kunang-kunang nun ke ketengahan-laut yang tak berwatas. Selepas itu, kami memasuki sebuah kampung yang penuh dengan orang-orang. Rupanya ada helat khitanan atau kawinan yang menanggap organ-tunggal. Biasanya kesenian tradisional rabab semalam suntuk dengan kaba atau lagu-lagu daerah yang hiruk-pikuk. Tapi kini orang telah meninggalkan tradisi itu dan memilih organ tunggal yang membuat siapapun bisa berjoget di jalan-jalan. Seperti malam ini, sudah larut sekali. Tapi mereka tak hendak minggir ketika bis nyaris berhenti.
Pelan sekali bis yang kunaiki ini membelah kerumunan orang kampung yang sedang dihibur irama Melayu alunan orgen tunggal. Kebetulan yang bernyanyi seorang perempuan bahenol yang bergoyang kiri-kanan tak ketulungan.
Sementara orang-orang yang berjoget, sebagian berhenti. Mereka menyadari sebuah bis terkepung di antara mereka-yang selama ini selalu ngebut-dan mereka seperti berebut menempelkan telapak tangannya ke dinding dan kaca bis. Beberapa dari telapak tangan itu tercetak agak kurus di kaca jendela, meninggalkan bekas berembun cukup lama. Dingin. Sebagian bersorak-sorai tak jelas. Beberapa penumpang terbangun, mengintip di jendela dan segera saja disergap irama Melayu yang membahana. Beberapa di antara mereka tercengang sebentar, tapi segera sadar dan terus memandang ke luar. Sementara orang-orang di luar memandang ke dalam, bagai menembus labirin kaca jendela. Kusaksikan tatapan mereka yang di luar berpadu dengan tatapan mereka yang di dalam bis. Ada bahasa yang tak terucapkan, antara mereka yang tinggal dan mereka yang pergi.
Akupun menatap nanap di kaca, beradu pandang dengan mereka yang bergerombol di tepi jalan. Seorang lelaki berpulun kain sarung jelas menatap ke arahku; aku pun menatap matanya. Kami bertatapan. Hei, kita bertatapan, bukan? Tapi apa yang kita katakan? Tak satupun yang kami katakan. Tapi, sebenarnya banyak yang kita katakan, bukan? Kami pasti setuju. Kita bersetuju, bukan? Ya, kami bersetuju, dalam diam.
Wajah itu masih ngungun di balik pulunan sarung. Seketika mengingatkanku pada karya seorang perupa di Yogya, Mella Jarsama namanya. Ia pernah berpameran dengan menampilkan sepasang orang terkungkung pakaian pelepah pisang, lokan dan manik-manik sehingga wajah mereka seperti tersimpan di balik cadar, penuh tatapan aneh; perpaduan rasa dingin, benci dan misteri. Kini wajah itu bagai hadir menatapku dalam pulunan kain sarung, di balik kaca yang mulai mengabur oleh embun. Membuatku kian dipusing rasa asing. Bahkan ketika bis tiba-tiba lepas dari jebakan, aku merasakan keasingan yang lain; terbebas dari tatapan aneh di luar jendela, aku merasakan tatapan itu kemudian berpindah ke dalam bis, kepada semua penumpang yang tertidur terbungkus stelan malam-jacket, sweeter, atau selimut tebal. Aku melihat wajah semua penumpang seperti menyimpan penderitaan dan ketakutan; menyeringai, ngorok bagai digorok, lemah pasrah dan teronggok dingin di kursi-kursi yang kusam. Kondektur itu bahkan sudah serupa orang tergantung di dinding pintu. Juga Ida istriku, juga Tsabit anakku, kulihat wajah mereka berubah aneh dan dingin dalam temaram cahaya yang jatuh redup dari plafon bis tua ini.
Barulah ketika jalan sedikit menurun, bis berhenti di sebuah rumah makan, aku tersadar telah sampai di Siguntur, sebuah daerah yang banyak rumah makannya dan biasanya bis-bis berhenti di sini untuk berbagai-bagai keperluan. Dan sebagaimana kuduga, orang-orang pun bangun dengan cara yang lazim: seperti orang bego, turun dan melongo, menggeliat sebentar melepas penat badan, lalu mencari kamar mandi sekadar untuk kencing-tanpa cuci muka-karena bukankah di bis yang melaju akan melanjutkan tidur lagi? Yang lapar dan punya duit makan, yang lain merokok di kedai, membeli minuman ringan sambil menonton kondektur mencongkel ban. Atau mencuri pandang pada perempuan penumpang yang entah mengapa di tengah suasana malam semacam ini terasa cantik belaka dan meruapkan semacam aroma seksual.
Dua orang bercakap-cakap di sampingku. Yang kurus ceking bertanya dari mana dan hendak ke mana bis yang ia naiki ini. Aneh juga, pikirku, bagaimana ia bisa menumpang bis yang tidak ia kenali? Tapi, ah, wajar saja karena mungkin ia naik di lain kota dan tentu tak sepenuhnya bisa membaca nama dan tujuan. Yang gemuk pendek bercerita bahwa bis berangkat jam dua dari Bengkulu, dan akan terus ke Medan.
Entah mengapa aku kembali teringat sang sopir. Berapa lama lagi ia harus bertahan? Ataukah ada yang akan menggantikan? Kondektur menurunkan ban serap, menambah angin, tapi kudengar ada yang mendesis, dan si kondektur menggerutu, “Sial, bocor!” Ketika bangun suaranya keras dan menggelegar, saat tidur semua yang ada padanya sempurna ditelan beban dan lelah malam. Aku masih asing sendiri. Apalagi rumah makan itu di tengah hutan, diapit bukit-bukit yang tak sepenuhnya terlihat dalam kelam. Rasanya aku baru saja mendarat di ranah asing, lantas menemukan rumah makan itu, menemukan menu-menu yang sulit kucecap. Aku hanya memandangi Ida, istriku makan dengan lahap. Tentu saja ia sudah sangat lapar, dan aku melihat dirinya bagai seseorang yang tersesat.
BIS kemudian melanjutkan perjalanan. Aku tahu, tak lama lagi aku akan memasuki kota Padang-jalan-jalan sudah kukenal berkat penanda rumah makan di Siguntur. Aku merasa ada yang bakal hilang. Fajar sebentar lagi menyingsing. Dan aku akan turun di simpang Teluk Bayur, arah jalan ke pelabuhan. Bis itu lalu akan meninggalkan kami, penuh debu, derak dan deru.
Begitulah, bis akhirnya sampai di persimpangan yang kutuju. Aku minta berhenti. Bis menepi dan kondektur dengan gerak lamban menurunkan barang-barang kami. Sampai detik terakhir ketika bis akan melaju, aku tetap tak mampu bercakap dengan sang sopir barang sepatah pun, bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih! Ah, lidah yang kelu!
Lalu, dengan perasaan asing, sekaligus haru, aku menatap bis itu melanjutkan perjalanan; tentu, ia akan singgah sebentar di terminal kota Padang, untuk akhirnya terus ke Medan. Betapa panjang perjalanan. Di tangga ke kapal, nanti, pasti aku tak bakal melupakan sang sopir yang entah mengapa tiba-tiba mengundang seluruh rasa dalam diriku. Aku kasihan padanya yang bertahan dengan pemandangan itu-itu juga, dengan jarak waktu yang sama. Sebagai sopir, musafir abadi. Sedang aku, sebentar lagi akan menyaksikan lautan luas terbentang, alam tiada berbatas, cakrawala yang gaib dan ajaib di kejauhan. Tapi, aku juga cemburu kepadanya yang menyaksikan semua kejadian di sepanjang perjalanannya yang hening.
Ah, bis itu telah berangkat, sopir itu telah membawanya laju, berderak-derak, dalam jarak dan waktu. Panjang dan jauh. Tapi seorang penumpang masih mengenangnya, sampai sekarang. Sebab, sebagaimana kau baca di koran-koran (aku juga membacanya sesampai di Tanjung Priok), sebuah bis Jurusan Bengkulu-Medan terguling di jalan. Badannya remuk masuk ke dalam sungai. Kernetnya luka pada lambung, mengucur darah. Sopirnya yang berhidung bengkok seperti paruh burung gagak atau paruh kakak tua dinyatakan hilang, dan tentu saja para polisi, seperti biasa, dengan enteng menyebutnya melarikan diri. Sebagian percaya ia hanyut ke laut.
Tapi aku lebih percaya bahwa sang sopir yang sempat kukagumi sekaligus kucemburui sepanjang perjalanan itu, punya nasibnya sendiri. Tak mungkin ia melarikan diri, tentu saja, karena dalam bayanganku ia telah menjelma burung gagak ajaib yang tatapannya sedingin laki-laki berpulun kain sarung di tepi jalan, atau orang berkerudung serat batang pisang di sebuah pameran seni. Paruh bengkoknya terasa gemerincing dalam ingatan, bagai lokan kering dimainkan jari-jari Maut yang panjang.
* Rumahlebah Yogyakarta, 2004-2005
Raudal Tanjung Banua (Dimuat di Suara Karya, 17 April 2005)
Kotabaru
Kotabaru
Alangkah beruntung sebuah kota yang disebut dalam sebuah lagu. Kota itu menjadi dikenal, bahkan terkenal, selain selalu dikenang oleh orang yang menyenangi lagu itu. Ingat larik “Tanjung Perak tepi laut,” atau larik “Selamat tinggal Teluk Bayur permai,” yang membuat kedua tempat itu bukan hanya berada di ujung lidah, tetapi juga berada pada salah satu sudut jantung. Sebuah kota atau tempat yang disebut dalam nyanyian seperti menjadi sangat layak untuk dikunjungi, bahkan mengundang rasa ingin untuk datang ke sana.
Pada penghujung Mei 2006 yang lalu, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri diundang mengisi acara sastra di Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Sebelum berangkat saya menyempatkan menelepon Sutardji, saya bilang, “Dji, kita akan ke Kotabaru.” Sutardji yang sering dipanggil “Presiden Penyair” itu menjawab dengan selarik lagu, “Kotabaru gunungnya bamega.” Seakan-akan ia menyatakan gembira karena akan berkunjung ke sebuah kota yang diabadikan dalam lagu Paris Berantai yang digubah seniman Banjar, Anang Adriansyah.
Pada hari yang ditentukan, saya terbang ke Banjarmasin. Besok paginya saya terbang ke Kotabaru. Banjarmasin kalau ditempuh dengan bus memakan waktu sampai sepuluh jam. Tapi jarak tempuh yang hampir satu hari itu bisa dipersingkat menjadi setengah jam dengan pesawat kecil berkapasitas 40 orang. Ternyata di Kalimantan, dari ibukota provinsi ke beberapa kota kabupaten, sudah ada pesawat penumpang setiap hari. Seperti ada upaya nyata, ada kemauan, ada uang, ada landasan, lalu ada pesawat. Catatan yang tak kurang pentingnya, penumpang konon selalu penuh, sehingga perusahaan transportasi udara itu tidak rugi.
Kemajuan seperti itu kiranya tak cukup dicatat sebagai narasi ekonomi dan narasi transportasi saja. Lebih dari itu, bisa dicatat sebagai narasi budaya. Yaitu, sebuah jawaban manusia terhadap tantangan hidup dengan cara baru yang konkret dan ilmiah. Sebahagian masyarakat Kotabaru pun menyambut dengan tindakan nyata juga. Dibukanya jalur penerbangan ke daerahnya, mereka tidak hanya menonton, tetapi mau beli tiket, lalu naik pesawat, dan terbang menuju kota tujuan, sehingga waktu yang sebenarnya tidak bisa disingkat itu, seolah-olah bisa disingkat jika dibandingkan dengan naik transportasi darat.
Setelah saya tiba di bandara Kotabaru, dijemput penyair Eko Suryadi W.S. Dari bandara ke Kotabaru, saya melihat deretan bukit-bukit yang hijau kebiru-biruan. Tetapi anehnya, bukit-bukit yang tidak tinggi itu banyak yang berselendang awan dengan latar belakang langit nilakandi. Melihat itu, hati saya bersenandung: “Kotabaru gunungnya bamega.” Sebuah lukisan Tuhan yang memesona terbentang di depan mata. Sebuah puisi konkret yang dalam menikmatinya tidak perlu mengernyitkan dahi.
Saya pun menyempatkan berkeliling menyisir pantai utara Pulau Laut, menyaksikan “Ombak menapak di sela karang.” Dan, saya memandang kedalaman di balik dedaunan hutan yang masih menyimpan nyanyian ribuan burung murai batu yang berhabitat di situ.
Menurut seorang tokoh di Kotabaru, Pulau Laut itu bagaikan Indonesia mini. Maksudnya, hampir semua ragam etnik berada di situ, meskipun mayoritas penduduknya adalah suku Banjar. Selain itu ada suku Jawa, Melayu, Sunda, Bali, Bugis, Makassar, Minangkabau, Ambon, Tionghoa, Arab, Madura, Bajau dan lain-lain. Semua itu bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau ada konflik kecil, masih mudah untuk diredam.
Masuknya pesawat terbang dan modernisasi tidak membuat hati menjadi garang.
Kerukunan dalam masyarakat multietnik seperti itu, saya anggap nilai yang sangat berharga. Pikiran yang jernih dan hati yang sejuk seperti dikaruniakan oleh Tuhan. Saudara-saudara kita yang hidup sederhana, ketika yang dibudayakan adalah hidup penuh persaudaraan dan kedamaian, kesederhanannya akan melahirkan kerendahhatian sekaligus penghormatan yang wajar kepada manusia dan kemanusiaan. Kewajaran yang tidak lebih dan tidak kurang. Kepantasan yang mengalir tanpa dibuat-buat, sebagaimana kepantasan awan putih yang hampir setiap waktu memahkotai bukit-bukit itu.
Sebuah wilayah yang aman tentu saja didukung oleh para penduduknya yang berhati teduh. Teduh dan aman yang tumbuh dari kecerdasan emosional dan kesadaran budaya. Bukan aman karena dipaksa atau takut pada kelamnya kamar penjara.
Pulang dari Kotabaru saya sadar bahwa waktu empat hari di sana, ternyata jauh dari cukup untuk memuaskan dahaga pengembaraan. Jiwa saya bagaikan minum hanya seteguk. Tapi tak apalah, daripada tak pernah berkunjung ke sana. Namun yang sangat berharga, lagu Paris Barantai yang memperkenalkan Kotabaru telah membuktikan kepada saya bahwa karya seni, dalam hal ini lagu, telah membuat sebuah kota punya nilai tersendiri, punya daya panggil yang merasuk ke dalam hati.
***
Cerpen: D. Zawawi Imron
Sumber: Jawa Pos, Edisi 07/16/2006
Alangkah beruntung sebuah kota yang disebut dalam sebuah lagu. Kota itu menjadi dikenal, bahkan terkenal, selain selalu dikenang oleh orang yang menyenangi lagu itu. Ingat larik “Tanjung Perak tepi laut,” atau larik “Selamat tinggal Teluk Bayur permai,” yang membuat kedua tempat itu bukan hanya berada di ujung lidah, tetapi juga berada pada salah satu sudut jantung. Sebuah kota atau tempat yang disebut dalam nyanyian seperti menjadi sangat layak untuk dikunjungi, bahkan mengundang rasa ingin untuk datang ke sana.
Pada penghujung Mei 2006 yang lalu, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri diundang mengisi acara sastra di Kotabaru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Sebelum berangkat saya menyempatkan menelepon Sutardji, saya bilang, “Dji, kita akan ke Kotabaru.” Sutardji yang sering dipanggil “Presiden Penyair” itu menjawab dengan selarik lagu, “Kotabaru gunungnya bamega.” Seakan-akan ia menyatakan gembira karena akan berkunjung ke sebuah kota yang diabadikan dalam lagu Paris Berantai yang digubah seniman Banjar, Anang Adriansyah.
Pada hari yang ditentukan, saya terbang ke Banjarmasin. Besok paginya saya terbang ke Kotabaru. Banjarmasin kalau ditempuh dengan bus memakan waktu sampai sepuluh jam. Tapi jarak tempuh yang hampir satu hari itu bisa dipersingkat menjadi setengah jam dengan pesawat kecil berkapasitas 40 orang. Ternyata di Kalimantan, dari ibukota provinsi ke beberapa kota kabupaten, sudah ada pesawat penumpang setiap hari. Seperti ada upaya nyata, ada kemauan, ada uang, ada landasan, lalu ada pesawat. Catatan yang tak kurang pentingnya, penumpang konon selalu penuh, sehingga perusahaan transportasi udara itu tidak rugi.
Kemajuan seperti itu kiranya tak cukup dicatat sebagai narasi ekonomi dan narasi transportasi saja. Lebih dari itu, bisa dicatat sebagai narasi budaya. Yaitu, sebuah jawaban manusia terhadap tantangan hidup dengan cara baru yang konkret dan ilmiah. Sebahagian masyarakat Kotabaru pun menyambut dengan tindakan nyata juga. Dibukanya jalur penerbangan ke daerahnya, mereka tidak hanya menonton, tetapi mau beli tiket, lalu naik pesawat, dan terbang menuju kota tujuan, sehingga waktu yang sebenarnya tidak bisa disingkat itu, seolah-olah bisa disingkat jika dibandingkan dengan naik transportasi darat.
Setelah saya tiba di bandara Kotabaru, dijemput penyair Eko Suryadi W.S. Dari bandara ke Kotabaru, saya melihat deretan bukit-bukit yang hijau kebiru-biruan. Tetapi anehnya, bukit-bukit yang tidak tinggi itu banyak yang berselendang awan dengan latar belakang langit nilakandi. Melihat itu, hati saya bersenandung: “Kotabaru gunungnya bamega.” Sebuah lukisan Tuhan yang memesona terbentang di depan mata. Sebuah puisi konkret yang dalam menikmatinya tidak perlu mengernyitkan dahi.
Saya pun menyempatkan berkeliling menyisir pantai utara Pulau Laut, menyaksikan “Ombak menapak di sela karang.” Dan, saya memandang kedalaman di balik dedaunan hutan yang masih menyimpan nyanyian ribuan burung murai batu yang berhabitat di situ.
Menurut seorang tokoh di Kotabaru, Pulau Laut itu bagaikan Indonesia mini. Maksudnya, hampir semua ragam etnik berada di situ, meskipun mayoritas penduduknya adalah suku Banjar. Selain itu ada suku Jawa, Melayu, Sunda, Bali, Bugis, Makassar, Minangkabau, Ambon, Tionghoa, Arab, Madura, Bajau dan lain-lain. Semua itu bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau ada konflik kecil, masih mudah untuk diredam.
Masuknya pesawat terbang dan modernisasi tidak membuat hati menjadi garang.
Kerukunan dalam masyarakat multietnik seperti itu, saya anggap nilai yang sangat berharga. Pikiran yang jernih dan hati yang sejuk seperti dikaruniakan oleh Tuhan. Saudara-saudara kita yang hidup sederhana, ketika yang dibudayakan adalah hidup penuh persaudaraan dan kedamaian, kesederhanannya akan melahirkan kerendahhatian sekaligus penghormatan yang wajar kepada manusia dan kemanusiaan. Kewajaran yang tidak lebih dan tidak kurang. Kepantasan yang mengalir tanpa dibuat-buat, sebagaimana kepantasan awan putih yang hampir setiap waktu memahkotai bukit-bukit itu.
Sebuah wilayah yang aman tentu saja didukung oleh para penduduknya yang berhati teduh. Teduh dan aman yang tumbuh dari kecerdasan emosional dan kesadaran budaya. Bukan aman karena dipaksa atau takut pada kelamnya kamar penjara.
Pulang dari Kotabaru saya sadar bahwa waktu empat hari di sana, ternyata jauh dari cukup untuk memuaskan dahaga pengembaraan. Jiwa saya bagaikan minum hanya seteguk. Tapi tak apalah, daripada tak pernah berkunjung ke sana. Namun yang sangat berharga, lagu Paris Barantai yang memperkenalkan Kotabaru telah membuktikan kepada saya bahwa karya seni, dalam hal ini lagu, telah membuat sebuah kota punya nilai tersendiri, punya daya panggil yang merasuk ke dalam hati.
***
Cerpen: D. Zawawi Imron
Sumber: Jawa Pos, Edisi 07/16/2006
Gerhana Mata
Gerhana Mata
Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.
Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin?
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Mungkin?
Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.***
Jakarta, 2 Oktober 2006
Cerpen Djenar Maesa Ayu (dimuat di Kompas, 05/20/2007)
Malam selalu memberi ketenangan. Banyak kenangan yang begitu mudah dikais dalam ruang-ruang kegelapan. Kenangan yang memang hanya layak mendekam dalam gelap itu seolah mengacung-ngacungkan telunjuknya meminta waktu untuk diingat setiap kali malam bergulir, di atas pembaringan tanpa kekasih yang tak akan hadir.
Banyak orang yang begitu takut pada malam. Pada gelap. Pada sesuatu yang membuat mata kita seolah buta dan mau tak mau harus meraba-raba. Membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Membuat mereka tak tenang. Membuat mereka rela menukar ketidak-tenangan itu dengan harga listrik walaupun harganya semakin tinggi menjulang.
Tapi saya selalu merasa malam memberi ketenangan. Semakin gelap semakin ramai. Hampir menyerupai pasar malam yang ingar bingar namun tanpa penerangan. Sehingga saya tak pernah merasa ketakutan. Tak pernah merasa tak tenang. Sepanjang mata memandang, hanyalah kegelapan. Tubuh kelihatan amat samar. Namun, suara-suara begitu jelas terdengar. Begitu dekat. Sedemikian dekat sehingga aroma napas si empunya suara itu di hidung terasa melekat. Mata saya mulai merapat, semakin gelap, semakin semuanya akhirnya begitu terang terlihat.
Mungkin karena itulah saya begitu membutuhkan cinta. Seperti malam. Seperti gelap. Cinta pun membutakan. Saya tidak butuh kacamata matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala. Saya tidak perlu menutup semua tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna. Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika butalah mata saya.
Saya menamakan kebutaan itu gerhana mata. Orang-orang menamakannya cinta buta. Apa pun namanya saya tidak peduli. Saya hanya ingin mendengar apa yang ingin saya dengar. Saya hanya ingin melihat apa yang ingin saya lihat. Dan hanya ialah yang saya ingin lihat, sang kekasih bak lentera benderang dalam kegulitaan pandangan mata saya. Dari sinarnyalah saya mendapatkan siang yang kami habiskan di ranjang-ranjang pondok penginapan. Saling menatap seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bertatapan. Saling menyentuh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling bersentuhan. Dan melenguh seakan hanya siang itu hari terakhir kami bisa saling mengeluarkan lenguhan.
Di saat-saat seperti itu, di kebutaan seperti itu, saya tak perlu meraba-raba. Tak pernah ada waktu untuk berpikir apa yang akan terjadi di hari esok. Apakah benar masih ada hari esok. Atau apakah masih perlu akan hari esok. Walaupun tidak jarang kebutaan yang memabukkan itu terganggu oleh suara-suara dari luar dunia, seperti suara-suara ponsel yang berdering tak henti-hentinya, namun dengan seketika gerhana mata bekerja. Suara-suara ponsel yang mengganggu itu berubah menjadi suara lagu. Lembut mendayu-dayu. Tak saya sadari lagi ketika tubuhnya pelan-pelan memisah dan menjauh. Tak terdengar suaranya yang sengaja dibuat lirih ketika menjawab panggilan telepon dan mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu dengan alasan penyakit lambungnya tengah kambuh. Saya tetap merasakan tubuhnya melekat. Saya tetap mendengar suaranya melantunkan senandung yang membuat saya merasa itulah saat terindah untuk sekarat. Saya masih melihat matanya sedang menatap. Mata yang seperti mengatakan bahwa tidak ada siapa pun di dunia ini yang berarti kecuali saya. Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih penting dari saya. Mata saya pun semakin buta. Dicengkeram gerhana. Semakin kabur. Semakin dalam ke muara cinta tubuh ini tercebur.
Kami hanya bertemu kala siang. Kala api rindu sudah semalaman memanggang. Kala segala garis maupun lekukan amat nyata terlihat dengan mata telanjang. Segala garis maupun lekukan itu selalu diikuti bayang-bayang. Dan dalam bayang-bayang itulah kami betemu dan bersatu. Di sanalah kami saling menjamu keinginan antara satu dengan yang satu.
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu hanya kala siang? Kenapa tidak pagi atau malam? Karena buta, saya bilang. Dalam kebutaan saya bisa mengadakan apa pun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan. Kenapa harus buta? Kenapa tidak menggunakan mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli. Kenapa harus menciptakan buta yang tak asli? Karena cinta, saya bilang. Dalam cinta saya bisa merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu asli. Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu tidak datang dari orang-orang, melainkan datang dari diri saya sendiri. Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah jawaban saya asli. Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini terasa asli. Walaupun kami hanya bertemu kala siang, atau kala pagi dan malam yang tak asli. Kalimat di bungkus kondom “ASLI, SERATUS PERSEN ANTI BOCOR” yang kami robek sebelum bercinta pun asli. Hangat kulitnya yang tak berjarak. Gerakan tubuhnya yang sebentar menarik sebentar menghentak. Bunyi ranjang berderak. Jantung keras berdetak. Suara yang semakin lama semakin serak, adalah asli. Membuat saya selalu merasa tak pernah cukup dan ingin mengulanginya kembali.
Saya tahu, saya akan bisa mengulanginya lagi. Tapi dengan satu konsekuensi. Harus mengerti statusnya sebagai laki-laki beristri. Bertemu kala siang, bukan kala pagi atau malam hari. Kala siang dengan durasi waktu yang amat sempit. Bukan kala pagi atau malam hari yang terasa amat panjang dalam penantian dan rindu yang mengimpit. Membuat saya kerap merasa terjepit. Antara lelah dan lelah. Antara pasrah dan pasrah. Saya terjebak dan berputar-putar pada dua pilihan yang sama. Saya jatuh cinta.
Andai saja saya bisa mendepak cinta dan menghadirkan logika, mungkin tak akan seperti ini saya tak berdaya. Mungkin suara-suara yang kerap menghantui dengan pertanyaan dan jawaban akan lain bunyinya. Mungkin malam akan membuat saya takut. Dan dengan tubuh lain ke dalam selimut saya akan beringsut. Juga tak akan ada siang di mana saya meradang dan menggelepar atas tubuh yang menyentuh di atas seprai kusut lantas terhenti oleh dering panggilan ponsel yang membuat satu-satunya fungsi pada tubuhnya yang mempersatukan tubuh kami jadi menciut.
Mungkin?
Mungkin satu saat nanti ia akan mengalami gerhana mata seperti saya. Dan kami bisa tinggal dalam satu dunia yang sama. Tak bertemu hanya kala siang. Tak menunggu kala pagi dan malam. Tak ada pertanyaan mengapa hanya bertemu kala siang. Bukan kala pagi atau malam. Tak ada jawaban karena cinta membutakan saya. Diganti dengan jawaban, karena cinta telah membutakan kami berdua.
Mungkin?
Enam tahun sudah waktu bergulir. Sejak kemarin, di jari manis kanan saya telah melingkar cincin dengan namanya terukir. Dalam kegelapan malam kedua mata ini menumpahkan air. Di atas pembaringan tanpa suami yang tetap tak akan hadir.***
Jakarta, 2 Oktober 2006
Cerpen Djenar Maesa Ayu (dimuat di Kompas, 05/20/2007)
Orang Kampung
Orang Kampung
Joni Ariadinata
WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap.
“Apakah kamu dengar juga, Juminah?” setengah mengigau, berteriak. Membangunkan istrinya, “Jangan tidur. Aku khawatir…”
“Kita bisa melihatnya besok,” pelan. Gerimit bibirnya mengguratkan garis letih. Menjawab. “Sudahlah,” ia menghibur. Tapi tak tenang. Wak Mangli hafal itu bukan isyarat baik, lalu:
“Hasnah! Bunga-bunga manggis itu pasti berjatuhan. Gagal. Ah, hujan sial. Lalu bagaimana dengan nasib Hasnah, Juminah?”
“Aku tak tahu.”
“Dengar: tahun ini tak akan ada buah. Apakah itu artinya? Besok kita akan tahu. Duh Gusti,” Wak Mangli berdoa. Telentang. Pedas matanya dan tak sanggup lagi berfikir, “Bahkan ingin rasanya mati. Kau dengar Juminah?” diam. Badai dari langit itu…
TOLOL. Memang pantas. Musim petai memanggul delapan belas bonggol petai: tersaruk-saruk dan mengetuk pintu terbunggkuk-bungkuk. Juminah, berbedak-gincu murah –dipakai sewaktu-waktu–; selendang kuning dan kebaya brukat, berjalan sepuluh kilo turun gunung. Tentu. Bau keringat dari ketiak, juga Wak Mangli –bersarung kampret dengan wajah basah; nyaris mencium dengkul Juragan Faruk ketika datang: “Kulo bawakan, Bapak Juragan Faruk! Duh, surat dari Bapak sudah kulo tahu. Kulo tak bisa baca, tapi Bapak Kadus berkata itu; bahwa, ehm, anu… Bapak Juragan Faruk katanya memintai petai. Petai asli. Betulkah? Ah, bingah amarwatasuta, gembira berkah kagiri-giri. Semoga Hasnah di sini betah. Anak saya itu, Bapak Juragan. Sare’atna-nya cuman begitu. Bodoh dan mohon petunjuk.”
Biasa mendelik tapi Juragan faham: terbahak. Mungkin lucu. Juga suka. Metingklak di atas kursi. Teriak memanggil babu, pekak. Ludah menyemprot gigi tongos, sungguh patut: “Hasnaaah!!”
Senang. Wak Mangli memandang tak bosan-bosan. Gadis, ya, sudah perawan. Sebesar itu. Anaknya, buah hati. Kesayangan. Diambil empat tahun lalu untuk jadi _batur_. Jadi babu. Bayangkan, melayani Faruk! Sungguh besar anugrah Gusti Allah. Tapi nyaris. Tiga tahun lalu, dasar Hasnah memang bodoh, anak itu kabur. Marah. Pertama kali seumur-umur Wak Mangli memukul: “Kamu yang tolol Hasnah! Ya Gusti…”
“Tapi Hasnah dijotos. Digerus. Endas Hasnah dibentur-bentur. Lihat, endas Hasnah masih metingul sebesar jengkol. Bengkak. Warnanya hijau. Oh…”
“Kamu. Kamu yang salah pasti. Dasar! Kamu itu, tak ngerti berkah. Dungu. Tak sembarang orang, tahu, bisa melayani Faruk! Pergi, ayo, kembali dan minta ampun,” mengumpat. Dulu. Katanya dicakar Bu Juragan juga. Digencet palu. Amit-amit. Anak jaman sekarang tak faham, bahwa begitulah cara priyagung memberi ajar. Mewangsitkan petuah. Sopan santun. Agar patuh. Berbakti dan mengabdi. Sungguh. Tapi tak apa. Hasnah masih kencur. Makanya harus dipaksa: “Ayo. Kemasi lagi pakaianmu, nduk. Bapak yang akan ngantar. Bapak akan ngglesot, nyembah. Mencium kaki. Meminta ampun…”
Gemeragap bayangan kembali memercik. Hasnah bisa pergi. Dipaksa. Tapi begitulah, memang takdir Gusti Allah: empat bulan barusan, Hasnah kembali. Datang. Berdiri diambang pintu: ketawa nyekakak. Rambut trondol, cepak, seperti –ah, ya, demit mur; katanya… binatang pilem. Astaga. Bedak merah. Tebal. Gincu abang dan, celana komprang pendek mirip petani, “Kamu…”
“Hasnah bunting. Ditiduri Pak Faruk. Semalam dua kali. Enak. Ini surat. Suruh datang. Bapak disuruh ke sana. Nyembah. Dan minta ampun.”
LANGIT. Tumpah _menjelegurkan_ bunyi pekak. Bledek. Barangkali runtuh. Tujuh turunan amit-amit, Juminah nangis segruk-segruk: alangkah. Jika masanya anugrah datang. Tapi hujan! Angin sial puting-beliung siapa tahu. Merontokkan harapan itu. Tentang gugurnya bunga-bunga manggis, duh! Impian Wak Mangli, bahwa empat bulan lagi Hasnah bakal kawin. Tak perlu bawa-bawa ubo rampe segala; duit, biaya seabrek-abrek seperti orangtua perawan kampung dipinang perjaka. Nanggap wayang. Duih, amat astaga mahalnya. Darimana? Duit sejuta melihatpun tak bakal. “Tak perlu,” begitu Bapak Juragan Faruk, malaikat itu, membenarkan sambil pethakilan dan ludah muncrat-muncrat: “Hasnah akan kawin dengan Udin. Ibu Faruk setuju. Nyembelih kambing, empat kambing dan… wayang! Hok-hok-hok, ueddan. Udin itu. Anakmu bakal jadi orang kota. Bisa nulis, Udin itu, juga bisa baca. Bisa nyopir. Dia, Udin itu, calon suami Hasnah, juga kerja di sini. Jadi sopir. Pintar dia. Turunan bagus.”
Katanya. Wak Mangli hanya nangis. Iba. Juga Juminah, –berkali-kali. Terimakasih. Ingin sujud dan mengucap, “Gusti Allah! Gusti Allah!!”
Udud. Sebul-sebul asap rokok dari mulut tongos. Bapak Juragan Faruk _ngendiko_, berkata lagi begini: “Jadi tak perlu bawa duit. Hok-hok-hok. Hanya ucapan terimakasih itu. Nah, Mangli, jika kupingmu tidak budek. Kudengar kau punya pohon manggis raja yang bagus. Kata orang rasanya paling enak di Dusun Jablus Melebus. Kalau panen besok, bawalah manggis ajaib. Itu sudah cukup. Seratus kilo sudah cukup. Manggis raja! Hok-hok-hok.”
“Ser… seratus, Juragan?”
Senyap. Lentik pucuk api sentir menggeriap. Wak Mangli tersadar mencangkung melamun. Jelatang hitam menabur, menuju atap. Klap!! Kilat, petir. Wak Mangli terjengat: “Cilaka, Hasnah….!!”
HARI ujug-ujug subuh. Lenyap sebentar, Wak Mangli kaget. Tertidur. Jam berapa? Tak ada jam disini. Bunyi jago kluruk meneluwung jauh, pasti. Itu suara Si Bangkok, ayam tetangga. Bumi sepi, suara angin sepoi sunyi. Aha. Wak Mangli menggerudug menggebrak jendela: gelap. Tak sabar.
“Juminah! Bangun. Siapkan obor!!”
Embun kinclong di ujung daun. Padang rumput, teranyas dingin jalan setapak diterabas telapak. Telanjang. Ada bias warna putih, di ufuk timur berkibar-kibar. Ditirai kabut: remang. Moncong tongperet menungging-nungging dengan denging irama, binatang pengisap air yang suka nyanyi serentak. Ratusan. Berdenyar-denyar menemplek pada batang-batang basah. Jalan menanjak, berkelok. Dari lembah bawah sudah terlihat _juntrung_ mentiung pohon kesayangan: manggis raja. Ohoooi! Raja manggis yang banyak dicicip para priyayi di kota, dipesan jauh hari. Pohon mukjizat itu, satu-satunya pohon penopang hidup setelah petai dan jambu klutuk. Dan kini, kembali dipinang justru dari rajanya priyayi, duh! “Hasnah! Hasnah! Semoga hujan tidak merontokkan bunga!! Dan kawinlah kau. Kawin!” melonjak. Doanya perih. Pada Gusti, pada malaikat, dan harapan dari berkah Juragan Faruk.
Melompat jadi bergas. Gemerudug ia-nya, cemas. Buru-buru. Wak Mangli itu, serasa jantung mendegup, –berlari. Juminah terengah menghempas nafas. Sesak. Tertinggal jauh langkah Wak Mangli. Cepat. Kelebat sosok Wak Mangli lenyap ditelan gerombol semak. Lentik obor tak perlu, dibuang Juminah, lantaran langit berubah. Ia berhenti, mendadak:
“Juminaaaah!! Juminaaaah!!” dari jauh. Suara teriak tertatih-tatih. Empat orang menyusul. Memanggul gergaji, kapak, tengah menanjak; dan segulung tambang besar. Untuk apakah? Tertegun. Ada firasat buruk, naluri perempuan petani berbisik. Aneh.
“Kaukah itu, Juminah?” berteriak. Semakin dekat.
“Ya.”
“Tadi malam hujan sangat deras,” jelas. Wajah Pak Kadus Jablus Melebus mulai bicara. Tersengal-sengal. Semakin tegas. Tiga penebang lain: Emen, Karto, dan Sali, berotot kekar: hanya terdiam. Kikuk. Pandang matanya berkilat. Juminah melongo.
“Ada kabar kiriman surat untukmu. Maksudku, tadi sore. Tapi hujan sangat deras. Aku tak bisa mengantar. Ah, maksudku, surat itu sangat penting. Makanya aku susul kemari. Tadi pagi-pagi, aku ke rumah. Ya Tuhan,” gugup. Pak Kadus menunjuk selembar kertas. Tengadah ke langit: “Dari Bapak Camat Umar…”
“He?!” Juminah. Melotot lutut bergetar. Gusti Allah!
“Betul. Kamu dapat anugrah. Maksudku, ya Tuhan, begini,” berbisik. “Sebagai warga yang paling baik, begitu kata Bapak Camat Umar. Kamu harus rela. Dimana Wak Mangli?” menunjuk. Juminah tak paham.
“Begini: kamu kan tahu, Juminah, sekarang musim hujan? Jembatan Cihampelas sudah dua kali hanyut. Kamu suka lewat ke sana bukan? Juga Wak Mangli. Nah, begini, katanya… ehm. Menurut anu, eh, warga kebanyakan,” clingak-clinguk. Sejenak sunyi. Emen dan Karto membuang muka. Entah. Sedang Juminah beku.
“Baiklah,” katanya. Tegar dan malu-malu: “Jembatan itu harus dipatok dengan kayu yang besar. Tak ada kayu yang lebih besar selain manggis raja milikmu. Bukankah begitu, Juminah? Semua orang tahu. Betul. Bapak Camat bilang begitu. Pagi ini harus ditebang. Kamu beruntung, Juminah. Kamu telah disebut Bapak Camat Umar itu, sebagai… ah, apa katanya itu?” Kadus melongok Sali. Meminta bantuan. Emen dan Karto melengos. Nyinyir mereka, berwajah keras, lantas meludah: “Pahlawan pembangunan!”
Tak ada cakap. Bayang Wak Mangli mengabur di sana. Sebentar. Juminah beku. Juga bayangan Hasnah, anak perempuan yang bakal kawin. Dan manggis raja kesayangan? Kini tak ada hujan. Jadi teramat sunyi. Bukit ini paling biru. Paling sedih. Sedang matahari mengambang. Meleleh. Mungkin. Sebab air mata Juminah tengah menitik. Seperti telaga. Juga di sini. Sampai kapan?
Joni Ariadinata
WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap.
“Apakah kamu dengar juga, Juminah?” setengah mengigau, berteriak. Membangunkan istrinya, “Jangan tidur. Aku khawatir…”
“Kita bisa melihatnya besok,” pelan. Gerimit bibirnya mengguratkan garis letih. Menjawab. “Sudahlah,” ia menghibur. Tapi tak tenang. Wak Mangli hafal itu bukan isyarat baik, lalu:
“Hasnah! Bunga-bunga manggis itu pasti berjatuhan. Gagal. Ah, hujan sial. Lalu bagaimana dengan nasib Hasnah, Juminah?”
“Aku tak tahu.”
“Dengar: tahun ini tak akan ada buah. Apakah itu artinya? Besok kita akan tahu. Duh Gusti,” Wak Mangli berdoa. Telentang. Pedas matanya dan tak sanggup lagi berfikir, “Bahkan ingin rasanya mati. Kau dengar Juminah?” diam. Badai dari langit itu…
TOLOL. Memang pantas. Musim petai memanggul delapan belas bonggol petai: tersaruk-saruk dan mengetuk pintu terbunggkuk-bungkuk. Juminah, berbedak-gincu murah –dipakai sewaktu-waktu–; selendang kuning dan kebaya brukat, berjalan sepuluh kilo turun gunung. Tentu. Bau keringat dari ketiak, juga Wak Mangli –bersarung kampret dengan wajah basah; nyaris mencium dengkul Juragan Faruk ketika datang: “Kulo bawakan, Bapak Juragan Faruk! Duh, surat dari Bapak sudah kulo tahu. Kulo tak bisa baca, tapi Bapak Kadus berkata itu; bahwa, ehm, anu… Bapak Juragan Faruk katanya memintai petai. Petai asli. Betulkah? Ah, bingah amarwatasuta, gembira berkah kagiri-giri. Semoga Hasnah di sini betah. Anak saya itu, Bapak Juragan. Sare’atna-nya cuman begitu. Bodoh dan mohon petunjuk.”
Biasa mendelik tapi Juragan faham: terbahak. Mungkin lucu. Juga suka. Metingklak di atas kursi. Teriak memanggil babu, pekak. Ludah menyemprot gigi tongos, sungguh patut: “Hasnaaah!!”
Senang. Wak Mangli memandang tak bosan-bosan. Gadis, ya, sudah perawan. Sebesar itu. Anaknya, buah hati. Kesayangan. Diambil empat tahun lalu untuk jadi _batur_. Jadi babu. Bayangkan, melayani Faruk! Sungguh besar anugrah Gusti Allah. Tapi nyaris. Tiga tahun lalu, dasar Hasnah memang bodoh, anak itu kabur. Marah. Pertama kali seumur-umur Wak Mangli memukul: “Kamu yang tolol Hasnah! Ya Gusti…”
“Tapi Hasnah dijotos. Digerus. Endas Hasnah dibentur-bentur. Lihat, endas Hasnah masih metingul sebesar jengkol. Bengkak. Warnanya hijau. Oh…”
“Kamu. Kamu yang salah pasti. Dasar! Kamu itu, tak ngerti berkah. Dungu. Tak sembarang orang, tahu, bisa melayani Faruk! Pergi, ayo, kembali dan minta ampun,” mengumpat. Dulu. Katanya dicakar Bu Juragan juga. Digencet palu. Amit-amit. Anak jaman sekarang tak faham, bahwa begitulah cara priyagung memberi ajar. Mewangsitkan petuah. Sopan santun. Agar patuh. Berbakti dan mengabdi. Sungguh. Tapi tak apa. Hasnah masih kencur. Makanya harus dipaksa: “Ayo. Kemasi lagi pakaianmu, nduk. Bapak yang akan ngantar. Bapak akan ngglesot, nyembah. Mencium kaki. Meminta ampun…”
Gemeragap bayangan kembali memercik. Hasnah bisa pergi. Dipaksa. Tapi begitulah, memang takdir Gusti Allah: empat bulan barusan, Hasnah kembali. Datang. Berdiri diambang pintu: ketawa nyekakak. Rambut trondol, cepak, seperti –ah, ya, demit mur; katanya… binatang pilem. Astaga. Bedak merah. Tebal. Gincu abang dan, celana komprang pendek mirip petani, “Kamu…”
“Hasnah bunting. Ditiduri Pak Faruk. Semalam dua kali. Enak. Ini surat. Suruh datang. Bapak disuruh ke sana. Nyembah. Dan minta ampun.”
LANGIT. Tumpah _menjelegurkan_ bunyi pekak. Bledek. Barangkali runtuh. Tujuh turunan amit-amit, Juminah nangis segruk-segruk: alangkah. Jika masanya anugrah datang. Tapi hujan! Angin sial puting-beliung siapa tahu. Merontokkan harapan itu. Tentang gugurnya bunga-bunga manggis, duh! Impian Wak Mangli, bahwa empat bulan lagi Hasnah bakal kawin. Tak perlu bawa-bawa ubo rampe segala; duit, biaya seabrek-abrek seperti orangtua perawan kampung dipinang perjaka. Nanggap wayang. Duih, amat astaga mahalnya. Darimana? Duit sejuta melihatpun tak bakal. “Tak perlu,” begitu Bapak Juragan Faruk, malaikat itu, membenarkan sambil pethakilan dan ludah muncrat-muncrat: “Hasnah akan kawin dengan Udin. Ibu Faruk setuju. Nyembelih kambing, empat kambing dan… wayang! Hok-hok-hok, ueddan. Udin itu. Anakmu bakal jadi orang kota. Bisa nulis, Udin itu, juga bisa baca. Bisa nyopir. Dia, Udin itu, calon suami Hasnah, juga kerja di sini. Jadi sopir. Pintar dia. Turunan bagus.”
Katanya. Wak Mangli hanya nangis. Iba. Juga Juminah, –berkali-kali. Terimakasih. Ingin sujud dan mengucap, “Gusti Allah! Gusti Allah!!”
Udud. Sebul-sebul asap rokok dari mulut tongos. Bapak Juragan Faruk _ngendiko_, berkata lagi begini: “Jadi tak perlu bawa duit. Hok-hok-hok. Hanya ucapan terimakasih itu. Nah, Mangli, jika kupingmu tidak budek. Kudengar kau punya pohon manggis raja yang bagus. Kata orang rasanya paling enak di Dusun Jablus Melebus. Kalau panen besok, bawalah manggis ajaib. Itu sudah cukup. Seratus kilo sudah cukup. Manggis raja! Hok-hok-hok.”
“Ser… seratus, Juragan?”
Senyap. Lentik pucuk api sentir menggeriap. Wak Mangli tersadar mencangkung melamun. Jelatang hitam menabur, menuju atap. Klap!! Kilat, petir. Wak Mangli terjengat: “Cilaka, Hasnah….!!”
HARI ujug-ujug subuh. Lenyap sebentar, Wak Mangli kaget. Tertidur. Jam berapa? Tak ada jam disini. Bunyi jago kluruk meneluwung jauh, pasti. Itu suara Si Bangkok, ayam tetangga. Bumi sepi, suara angin sepoi sunyi. Aha. Wak Mangli menggerudug menggebrak jendela: gelap. Tak sabar.
“Juminah! Bangun. Siapkan obor!!”
Embun kinclong di ujung daun. Padang rumput, teranyas dingin jalan setapak diterabas telapak. Telanjang. Ada bias warna putih, di ufuk timur berkibar-kibar. Ditirai kabut: remang. Moncong tongperet menungging-nungging dengan denging irama, binatang pengisap air yang suka nyanyi serentak. Ratusan. Berdenyar-denyar menemplek pada batang-batang basah. Jalan menanjak, berkelok. Dari lembah bawah sudah terlihat _juntrung_ mentiung pohon kesayangan: manggis raja. Ohoooi! Raja manggis yang banyak dicicip para priyayi di kota, dipesan jauh hari. Pohon mukjizat itu, satu-satunya pohon penopang hidup setelah petai dan jambu klutuk. Dan kini, kembali dipinang justru dari rajanya priyayi, duh! “Hasnah! Hasnah! Semoga hujan tidak merontokkan bunga!! Dan kawinlah kau. Kawin!” melonjak. Doanya perih. Pada Gusti, pada malaikat, dan harapan dari berkah Juragan Faruk.
Melompat jadi bergas. Gemerudug ia-nya, cemas. Buru-buru. Wak Mangli itu, serasa jantung mendegup, –berlari. Juminah terengah menghempas nafas. Sesak. Tertinggal jauh langkah Wak Mangli. Cepat. Kelebat sosok Wak Mangli lenyap ditelan gerombol semak. Lentik obor tak perlu, dibuang Juminah, lantaran langit berubah. Ia berhenti, mendadak:
“Juminaaaah!! Juminaaaah!!” dari jauh. Suara teriak tertatih-tatih. Empat orang menyusul. Memanggul gergaji, kapak, tengah menanjak; dan segulung tambang besar. Untuk apakah? Tertegun. Ada firasat buruk, naluri perempuan petani berbisik. Aneh.
“Kaukah itu, Juminah?” berteriak. Semakin dekat.
“Ya.”
“Tadi malam hujan sangat deras,” jelas. Wajah Pak Kadus Jablus Melebus mulai bicara. Tersengal-sengal. Semakin tegas. Tiga penebang lain: Emen, Karto, dan Sali, berotot kekar: hanya terdiam. Kikuk. Pandang matanya berkilat. Juminah melongo.
“Ada kabar kiriman surat untukmu. Maksudku, tadi sore. Tapi hujan sangat deras. Aku tak bisa mengantar. Ah, maksudku, surat itu sangat penting. Makanya aku susul kemari. Tadi pagi-pagi, aku ke rumah. Ya Tuhan,” gugup. Pak Kadus menunjuk selembar kertas. Tengadah ke langit: “Dari Bapak Camat Umar…”
“He?!” Juminah. Melotot lutut bergetar. Gusti Allah!
“Betul. Kamu dapat anugrah. Maksudku, ya Tuhan, begini,” berbisik. “Sebagai warga yang paling baik, begitu kata Bapak Camat Umar. Kamu harus rela. Dimana Wak Mangli?” menunjuk. Juminah tak paham.
“Begini: kamu kan tahu, Juminah, sekarang musim hujan? Jembatan Cihampelas sudah dua kali hanyut. Kamu suka lewat ke sana bukan? Juga Wak Mangli. Nah, begini, katanya… ehm. Menurut anu, eh, warga kebanyakan,” clingak-clinguk. Sejenak sunyi. Emen dan Karto membuang muka. Entah. Sedang Juminah beku.
“Baiklah,” katanya. Tegar dan malu-malu: “Jembatan itu harus dipatok dengan kayu yang besar. Tak ada kayu yang lebih besar selain manggis raja milikmu. Bukankah begitu, Juminah? Semua orang tahu. Betul. Bapak Camat bilang begitu. Pagi ini harus ditebang. Kamu beruntung, Juminah. Kamu telah disebut Bapak Camat Umar itu, sebagai… ah, apa katanya itu?” Kadus melongok Sali. Meminta bantuan. Emen dan Karto melengos. Nyinyir mereka, berwajah keras, lantas meludah: “Pahlawan pembangunan!”
Tak ada cakap. Bayang Wak Mangli mengabur di sana. Sebentar. Juminah beku. Juga bayangan Hasnah, anak perempuan yang bakal kawin. Dan manggis raja kesayangan? Kini tak ada hujan. Jadi teramat sunyi. Bukit ini paling biru. Paling sedih. Sedang matahari mengambang. Meleleh. Mungkin. Sebab air mata Juminah tengah menitik. Seperti telaga. Juga di sini. Sampai kapan?
Musibah
Musibah
Cerpen: Jujur Prananto
Menjelang tengah malam. Ponsel dekat "bedlamp" bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Di perbatasan antara terjaga dan bermimpi, Budiman berdecak kesal sekaligus meraih ponselnya. Telepon dari Mbak Lita? Di malam selarut ini?
"Halo...." "Budiman? Cepat setel televisi! Laporan khusus!"
Lalu, terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon seberang ditutup.
Budiman malas-malasan meraih remote control dan menghidupkan televisi. Pas di channel yang menayangkan sisa laporan khusus. Tampak seorang pria berumur sekitar enam puluh tahun dalam posisi membelakangi kamera digiring dan dikawal belasan petugas kejaksaan dan kepolisian memasuki sebuah mobil tahanan yang parkir di depan pintu pagar yang terbuka lebar. Puluhan wartawan berbagai media merangsek berusaha mendekati pria tua ini, melontarkan berbagai pertanyaan yang tak begitu jelas terdengar.
"Siapa yang menelepon?"
Budiman tak menjawab pertanyaan istrinya yang ikut terjaga sebab seluruh konsentrasinya sedang terpusat untuk mengingat- ingat, siapa gerangan sosok pria tua yang serasa begitu dikenalnya itu. Sayang, kamera terus mengikutinya dari belakang hingga wajahnya tak kunjung tampak. Barulah ketika pria tua ini memasuki mobil tahanan, kamera bergerak sedemikian rupa hingga berhasil mengambil closeup-nya.
"Pakde Muhargo...!"
Budiman cepat-cepat mengambil ponselnya lagi. Menelepon balik ke ponsel Mbak Lita. Tidak aktif. Dicobanya langsung ke rumahnya di Batam. Tak ada yang mengangkat.
"Coba saja tanya Mbak Rina."
"Sudah sebulan ini dia tinggal di Amerika. Aku nggak tahu nomor teleponnya."
"Kenapa nggak langsung nelpon ke rumah pakde aja?"
Budiman terdiam. Saat ini suasana rumah pakde pastilah sangat tidak kondusif untuk menerima telepon dari luar. Dan sebelum ia memutuskan untuk menelepon atau tidak, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi, berturut-turut atas masuknya belasan pesan pendek. Dari saudara-saudara dan teman-teman dekat, yang semuanya bicara tentang penahanan atas diri Pakde Muhargo. Ada yang sekadar mengabarkan yang baru saja tertayang di televisi, ada yang mengajak semua berdoa untuk keselamatan beliau, ada yang mengutuk tindakan kejaksaan yang "biadab", dan sebagian terbesar mengimbau agar para sanak saudara berkepala dingin dan tetap tenang karena "sekarang ini penahanan memang lagi ngetren dan lebih besar muatan politisnya daripada benar-benar untuk menjunjung supremasi hukum". Namun, Budiman paling tertarik dengan pesan pendek dari sebuah nomor yang tak dikenalnya, yang menyebutkan bahwa Bude Muhargo dirawat di paviliun VVIP sebuah rumah sakit internasional di Cikarang.
"Eh, Budiman.... Sini, sini."
Budiman menghampiri budenya yang segera bangkit dari tempat tidur.
"Tidak usah duduk, bude. Tiduran saja."
"Kamu pikir aku sakit?" tanya budenya sambil tersenyum. "Aku menginap di sini atas saran Nak Ustadz Ramadan ini. Supaya terbebas dari kejaran wartawan."
Seorang lelaki muda bersurban putih berwajah bersih yang berdiri tak jauh dari tempat tidur bude tersenyum hormat pada Budiman dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman. "Ramadan."
"Budiman."
"Pengasuh pondok pesantren Janturan, yang didirikan pakdemu setahun lalu di Yogya," kata bude menjelaskan. "Pakde melihat tata susila di kota pelajar itu makin lama makin memprihatinkan, dan terdorong untuk menyumbang karya nyata yang diharapkan minimal bisa menghambat laju kemerosotan moral di kalangan generasi muda. Eh, kok kebetulan ketemu dengan Nak Ramadan yang punya perhatian sama terhadap pembinaan anak-anak di sana. Ya, jadilah pesantren itu."
"Oh...." Budiman mengangguk- angguk, sementara dalam hati ia merasa telah keliru menilai situasi. Semula ia membayangkan bude berbaring dengan jarum infus, pipa oksigen berikut segala macam kabel peralatan kedokteran menempel di bagian tubuhnya. Semula ia mengira akan melihat bude dengan tatapan mata menerawang ke arah langit-langit ruangan, dengan air mata yang diam-diam membasahi pipi, dan bicara dengan suara terbata- bata. Nyatanya, beliau bicara sangat lancar. Kualitas suaranya tetap jernih. Ketenangannya tetap terjaga. Bahkan terlalu tenang untuk situasi yang mestinya sangat depresif ini.
Menjelang saat sarapan tiba, Ustadz Ramadan berpamitan dan secara amat hati-hati bicara. "Kalau sekiranya subsidi dari Bapak buat pesantren untuk sementara dikurangi atau bahkan dihentikan, Insya Allah kami siap berswadaya."
"Oh, tidak, tidak. Sejak mulai berurusan dengan kejaksaan, Bapak selalu berpesan bahwa subsidi buat pesantren sudah merupakan komitmen yang tidak bisa ditawar-tawar, dan dengan cara apa pun Bapak akan tetap menjalankan komitmennya. Jadi Nak Ramadan tidak perlu risau oleh kondisi yang sedang dihadapi Bapak saat ini."
Sepeninggal Ustadz Ramadan, barulah bude menghela napas panjang.
"Zaman sekarang lebih dari zaman edan, Bud. Semua orang lagi pada mabuk kepingin jadi pahlawan. Tapi karena sudah terlalu lama jadi orang miskin, yang paling gampang dijadikan musuh ya orang-orang yang punya rezeki lebih, seperti pakdemu."
"Boleh tahu, bude, apa yang dituduhkan kejaksaan pada pakde?"
"Cerita lama, Bud. Penyalahgunaan yayasan Mangayu Bagyo, pembangunan hotel di Bogor dan Kintamani, yang katanya izin bangunannya tidak sesuai peruntukan, mark-up dana pembelian kapal-kapal patroli buat angkatan laut, dan... apa lagi, gitu, aku malah tidak ingat semuanya. Terlalu banyak, Bud. Terlalu banyak orang yang ingin kebagian rezeki dengan cara-cara yang tak kenal malu hingga segala sesuatu yang sudah semestinya malah diutak- atik, diobok-obok, supaya seolah-olah ada masalah. Lalu, ahli-ahli hukum yang katanya pinter-pinter itu berebut menyumbang kepintarannya dengan cara menafsir-nafsir pasal-pasal hukum hingga yang selama ini dianggap benar bisa jadi salah, yang selama ini tidak melanggar hukum bisa dianggap melanggar hukum. Memalukan, Bud, memalukan sekali orang-orang seperti itu. Sampai hati menistakan diri sendiri demi uang yang tak seberapa nilainya."
Tidak seperti biasanya, selewat tengah malam Budiman terjaga untuk melakukan salat tahajud. Tak kurang dari sejam ia berdoa dan terus berdoa, memohon pada Tuhan agar Pakde Muhargo diberi kekuatan lahir dan batin menghadapi situasi yang absurd ini. Budiman sungguh tak rela kalau pakdenya yang sangat dihormatinya itu sampai benar-benar dimejahijaukan dan dipenjara.
Bagi Budiman, Pakde Muhargo memang segala-galanya. Lebih dari sekadar kakak almarhum ayahnya, beliau adalah seorang panutan, sesepuh sekaligus "juru selamat" bagi kehidupan pribadi dan rumah tangganya. Budiman tak akan pernah melupakan masa remajanya, yaitu setelah lulus SMP pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah pakdenya ini. Setiap pagi ia bangun jam setengah lima untuk mengepel lantai, mencuci mobil, dan menyapu taman sebelum ia mandi dan bergegas berangkat sekolah dengan mengejar bus kota untuk mencari celah di antara belasan orang yang bergelantungan di pintu belakang.
"Jer basuki mawa bea, Bud," begitu Pakde Muhargo saat itu selalu berucap pada Budiman. Bahwa untuk mencapai kebahagiaan pastilah diperlukan pengorbanan.
Budiman sangat mempercayai ucapan itu karena Pakde Muhargo telah membuktikannya sendiri. Bagaimana beliau dengan gagah berani menjalani masa- masa penuh kemiskinan sebagai prajurit di berbagai pertempuran dan tugas-tugas ketentaraan lainnya, terus merangkak naik menjadi perwira tinggi, menjabat sebagai komandan di berbagai kesatuan, sampai dipercaya memegang jabatan-jabatan penting di pemerintahan berikut jabatan komisaris di berbagai perusahaan.
"Nasib orang memang sulit diduga, Bud. Kadang bisa di puncak, kadang bisa di bawah. Untuk itu kita harus selalu ingat pada falsafah pohon. Puncak pohon bisa berkibar anggun karena dukungan batang dan kekuatan akar. Jadi selagi kita di puncak, kita tidak boleh melupakan yang di bawah. Tidak boleh melupakan akar yang diam-diam mendukung kita tanpa pernah mau menonjolkan diri."
Dan falsafah tersebut secara konsisten diterapkan Pakde Muhargo dalam kehidupan sehari- hari. Setiap memperoleh pendapatan lebih dari gaji yang diperolehnya tiap bulan, entah itu dari proyek-proyek yang dipercayakan padanya atau dari sumber mana pun, beliau senantiasa membagi rata ke setiap bawahan. Dari tingkat staf sampai karyawan paling rendah. Tak terkecuali. Itulah maka semua bawahannya, atau bahkan yang sudah jadi mantan bawahan, senantiasa loyal dan sangat menghormati pakde. Mereka senantiasa mengenang beliau sebagai atasan yang "sangat penuh pengertian" dan mengenang periode menjadi bawahan beliau sebagai "masa penuh kesejahteraan".
Namun, orang yang sangat dihormati itu kini terkurung di sebuah ruang tahanan yang menghinakan dirinya, yang menistakan martabatnya, yang menafikan segala kebajikan yang pernah diperbuatnya. Maka, Budiman pun merasa harus segera bertindak untuk menghentikan penzaliman terhadap pakdenya ini.
Seminggu kemudian....
"Insya Allah semuanya akan terkendali, bude. Saya sudah menghubungi Mas Prawoto. Dia yang akan mengatur susunan hakim di pengadilan tingkat pertama."
"Tetap harus ke pengadilan juga?"
"Demi menghormati prosedur hukum saja, bude. Nggak enak juga kalau sudah terlanjur kelihatan digelandang masuk tahanan, tahu-tahu keluar begitu saja. Kasihan Oom Karsono."
"Ah! Karsono itu cari muka. Demi ambisinya untuk bisa naik jadi jaksa agung dia tega mengkhianati pakdemu."
"Sebenarnya tidak seburuk itu, bude. Sebelum malam penjemputan itu, pakde ternyata sudah berkomunikasi dengan Oom Karsono dan bisa memahami posisi Oom Kar yang sangat sulit dalam menghadapi tekanan publik untuk menyeret pakde ke meja hijau. Jadi, ini soal tarik ulur saja. Cuma... itulah, dari dulu pakde tidak punya channel di kalangan media, jadi pemberitaan atas kasus-kasus pakde sama sekali tidak terkontrol."
"Kebebasan...," Bude bergumam lirih sambil menghela napas panjang. "Semuanya jadi kebablasan."
"Memang, bude. Sehubungan dengan itu pula saya ingin menyarankan bude agar segera pindah dari rumah sakit ini."
"Lho kenapa...??"
"Sudah ada wartawan yang tahu bude menginap di rumah sakit ini."
"Oalah, Gusti.... Terus aku harus pindah ke mana?"
"Terserah bude memilih mana. Rumah di Pondok Indah saya rasa cukup aman."
"Jangan! Nanti bisa bikin pekewuh Mas Abdul. Masa istri tahanan bertetangga sama Kapolda. Kalau sampai ketahuan, beritanya bisa dipelintir jadi macam- macam."
"Atau di Kota Wisata?"
"Memang kita ada rumah di sana?"
"Ada, bude. Yang tahun lalu dikasih sama si Tantra. Ideal sebagai tempat nyepi. Tapi kalau bude menghendaki yang di masih di Jakarta, paling sepi ya rumah Kemang."
"Lho, bukannya sudah dijual?"
"Nggak jadi, bude. Sama broker dikasih harga sembilan milyar, jadinya malah nggak laku. Cuma kondisinya memang sekarang kurang terawat. Kalau bude mau pindah ke situ harus dibersihkan dulu."
"Padahal harus segera."
"Benar, bude. Yang paling siap huni dan paling aman sebetulnya di apartemen. Terserah bude, mau memilih yang di Paku Buwono atau yang di Menteng. Sampai sekarang dua-duanya belum pernah ada yang menempati."
"Nggak ah. Kalau gempa bumi bisa mati berdiri."
Sebuah Mercy seri 600 meluncur lembut dan berhenti di pelataran parkir VIP bandara. Budiman membantu Bude Muhargo keluar mobil, membawanya ke arah pintu khusus, untuk menunggu penerbangan ke New York. Bude akhirnya memutuskan untuk sekalian menemani Rina, putrinya, yang sedang mengambil S-3 di sana. Di ruang tunggu bude menyerahkan sebuah tas kecil ke Budiman.
"Ini kunci-kunci safe deposit box, Bud. Semua aku titipkan ke kamu. Kalau kamu perlu cash US dollar ambil saja dari yang di Citibank. Kalau tidak salah masih ada sisa sekitar satu atau satu setengah juta di situ. Buat bayar uang muka pengacara-pengacara aku rasa lebih dari cukup. Kalau mau rupiah, tadi siang aku sudah transfer lima M ke rekening kamu. Prawoto sama Karsono pasti perlu buat ngasih teman- temannya."
"Eyaaang!"
Budiman menoleh mendengar suara Tito, anaknya, yang menyusul datang dengan mobil lain sepulang dari les matematika. Bude Muhargo langsung tersenyum lebar dan menyambut si kecil dengan pelukan hangat.
"Eyang! Aku tadi lihat eyang kakung di televisi."
Budiman seketika berpandangan dengan istrinya.
"Eyang kakung itu ternyata koruptor, ya?"
"Tito!!!"
"Bukan, sayang," buru-buru bude mendahului bicara. "Eyang kakung bukan koruptor. Koruptor itu orang jahat. Eyang bukan orang jahat. Eyang cuma dituduh melakukan kejahatan. Orang-orang yang menuduh itu justru yang jahat."
"Kalau memang nggak salah kenapa eyang mau ditahan?"
Bude Muhargo terdiam sesaat. Lalu berbisik dekat telinga Tito. "Kalau sudah besar nanti Tito akan tahu, tidak semua yang tidak kita inginkan itu bisa kita hindari. Seperti halnya musibah. Nah eyang kakung saat ini sedang ditimpa musibah." ***
Jakarta, 10 November 2006
Kompas Minggu, 14 Januari 2007
Cerpen: Jujur Prananto
Menjelang tengah malam. Ponsel dekat "bedlamp" bergetar. Terlalu lama untuk sebuah pesan pendek. Di perbatasan antara terjaga dan bermimpi, Budiman berdecak kesal sekaligus meraih ponselnya. Telepon dari Mbak Lita? Di malam selarut ini?
"Halo...." "Budiman? Cepat setel televisi! Laporan khusus!"
Lalu, terdengar suara tut pendek-pendek, pertanda telepon seberang ditutup.
Budiman malas-malasan meraih remote control dan menghidupkan televisi. Pas di channel yang menayangkan sisa laporan khusus. Tampak seorang pria berumur sekitar enam puluh tahun dalam posisi membelakangi kamera digiring dan dikawal belasan petugas kejaksaan dan kepolisian memasuki sebuah mobil tahanan yang parkir di depan pintu pagar yang terbuka lebar. Puluhan wartawan berbagai media merangsek berusaha mendekati pria tua ini, melontarkan berbagai pertanyaan yang tak begitu jelas terdengar.
"Siapa yang menelepon?"
Budiman tak menjawab pertanyaan istrinya yang ikut terjaga sebab seluruh konsentrasinya sedang terpusat untuk mengingat- ingat, siapa gerangan sosok pria tua yang serasa begitu dikenalnya itu. Sayang, kamera terus mengikutinya dari belakang hingga wajahnya tak kunjung tampak. Barulah ketika pria tua ini memasuki mobil tahanan, kamera bergerak sedemikian rupa hingga berhasil mengambil closeup-nya.
"Pakde Muhargo...!"
Budiman cepat-cepat mengambil ponselnya lagi. Menelepon balik ke ponsel Mbak Lita. Tidak aktif. Dicobanya langsung ke rumahnya di Batam. Tak ada yang mengangkat.
"Coba saja tanya Mbak Rina."
"Sudah sebulan ini dia tinggal di Amerika. Aku nggak tahu nomor teleponnya."
"Kenapa nggak langsung nelpon ke rumah pakde aja?"
Budiman terdiam. Saat ini suasana rumah pakde pastilah sangat tidak kondusif untuk menerima telepon dari luar. Dan sebelum ia memutuskan untuk menelepon atau tidak, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi, berturut-turut atas masuknya belasan pesan pendek. Dari saudara-saudara dan teman-teman dekat, yang semuanya bicara tentang penahanan atas diri Pakde Muhargo. Ada yang sekadar mengabarkan yang baru saja tertayang di televisi, ada yang mengajak semua berdoa untuk keselamatan beliau, ada yang mengutuk tindakan kejaksaan yang "biadab", dan sebagian terbesar mengimbau agar para sanak saudara berkepala dingin dan tetap tenang karena "sekarang ini penahanan memang lagi ngetren dan lebih besar muatan politisnya daripada benar-benar untuk menjunjung supremasi hukum". Namun, Budiman paling tertarik dengan pesan pendek dari sebuah nomor yang tak dikenalnya, yang menyebutkan bahwa Bude Muhargo dirawat di paviliun VVIP sebuah rumah sakit internasional di Cikarang.
"Eh, Budiman.... Sini, sini."
Budiman menghampiri budenya yang segera bangkit dari tempat tidur.
"Tidak usah duduk, bude. Tiduran saja."
"Kamu pikir aku sakit?" tanya budenya sambil tersenyum. "Aku menginap di sini atas saran Nak Ustadz Ramadan ini. Supaya terbebas dari kejaran wartawan."
Seorang lelaki muda bersurban putih berwajah bersih yang berdiri tak jauh dari tempat tidur bude tersenyum hormat pada Budiman dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman. "Ramadan."
"Budiman."
"Pengasuh pondok pesantren Janturan, yang didirikan pakdemu setahun lalu di Yogya," kata bude menjelaskan. "Pakde melihat tata susila di kota pelajar itu makin lama makin memprihatinkan, dan terdorong untuk menyumbang karya nyata yang diharapkan minimal bisa menghambat laju kemerosotan moral di kalangan generasi muda. Eh, kok kebetulan ketemu dengan Nak Ramadan yang punya perhatian sama terhadap pembinaan anak-anak di sana. Ya, jadilah pesantren itu."
"Oh...." Budiman mengangguk- angguk, sementara dalam hati ia merasa telah keliru menilai situasi. Semula ia membayangkan bude berbaring dengan jarum infus, pipa oksigen berikut segala macam kabel peralatan kedokteran menempel di bagian tubuhnya. Semula ia mengira akan melihat bude dengan tatapan mata menerawang ke arah langit-langit ruangan, dengan air mata yang diam-diam membasahi pipi, dan bicara dengan suara terbata- bata. Nyatanya, beliau bicara sangat lancar. Kualitas suaranya tetap jernih. Ketenangannya tetap terjaga. Bahkan terlalu tenang untuk situasi yang mestinya sangat depresif ini.
Menjelang saat sarapan tiba, Ustadz Ramadan berpamitan dan secara amat hati-hati bicara. "Kalau sekiranya subsidi dari Bapak buat pesantren untuk sementara dikurangi atau bahkan dihentikan, Insya Allah kami siap berswadaya."
"Oh, tidak, tidak. Sejak mulai berurusan dengan kejaksaan, Bapak selalu berpesan bahwa subsidi buat pesantren sudah merupakan komitmen yang tidak bisa ditawar-tawar, dan dengan cara apa pun Bapak akan tetap menjalankan komitmennya. Jadi Nak Ramadan tidak perlu risau oleh kondisi yang sedang dihadapi Bapak saat ini."
Sepeninggal Ustadz Ramadan, barulah bude menghela napas panjang.
"Zaman sekarang lebih dari zaman edan, Bud. Semua orang lagi pada mabuk kepingin jadi pahlawan. Tapi karena sudah terlalu lama jadi orang miskin, yang paling gampang dijadikan musuh ya orang-orang yang punya rezeki lebih, seperti pakdemu."
"Boleh tahu, bude, apa yang dituduhkan kejaksaan pada pakde?"
"Cerita lama, Bud. Penyalahgunaan yayasan Mangayu Bagyo, pembangunan hotel di Bogor dan Kintamani, yang katanya izin bangunannya tidak sesuai peruntukan, mark-up dana pembelian kapal-kapal patroli buat angkatan laut, dan... apa lagi, gitu, aku malah tidak ingat semuanya. Terlalu banyak, Bud. Terlalu banyak orang yang ingin kebagian rezeki dengan cara-cara yang tak kenal malu hingga segala sesuatu yang sudah semestinya malah diutak- atik, diobok-obok, supaya seolah-olah ada masalah. Lalu, ahli-ahli hukum yang katanya pinter-pinter itu berebut menyumbang kepintarannya dengan cara menafsir-nafsir pasal-pasal hukum hingga yang selama ini dianggap benar bisa jadi salah, yang selama ini tidak melanggar hukum bisa dianggap melanggar hukum. Memalukan, Bud, memalukan sekali orang-orang seperti itu. Sampai hati menistakan diri sendiri demi uang yang tak seberapa nilainya."
Tidak seperti biasanya, selewat tengah malam Budiman terjaga untuk melakukan salat tahajud. Tak kurang dari sejam ia berdoa dan terus berdoa, memohon pada Tuhan agar Pakde Muhargo diberi kekuatan lahir dan batin menghadapi situasi yang absurd ini. Budiman sungguh tak rela kalau pakdenya yang sangat dihormatinya itu sampai benar-benar dimejahijaukan dan dipenjara.
Bagi Budiman, Pakde Muhargo memang segala-galanya. Lebih dari sekadar kakak almarhum ayahnya, beliau adalah seorang panutan, sesepuh sekaligus "juru selamat" bagi kehidupan pribadi dan rumah tangganya. Budiman tak akan pernah melupakan masa remajanya, yaitu setelah lulus SMP pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah pakdenya ini. Setiap pagi ia bangun jam setengah lima untuk mengepel lantai, mencuci mobil, dan menyapu taman sebelum ia mandi dan bergegas berangkat sekolah dengan mengejar bus kota untuk mencari celah di antara belasan orang yang bergelantungan di pintu belakang.
"Jer basuki mawa bea, Bud," begitu Pakde Muhargo saat itu selalu berucap pada Budiman. Bahwa untuk mencapai kebahagiaan pastilah diperlukan pengorbanan.
Budiman sangat mempercayai ucapan itu karena Pakde Muhargo telah membuktikannya sendiri. Bagaimana beliau dengan gagah berani menjalani masa- masa penuh kemiskinan sebagai prajurit di berbagai pertempuran dan tugas-tugas ketentaraan lainnya, terus merangkak naik menjadi perwira tinggi, menjabat sebagai komandan di berbagai kesatuan, sampai dipercaya memegang jabatan-jabatan penting di pemerintahan berikut jabatan komisaris di berbagai perusahaan.
"Nasib orang memang sulit diduga, Bud. Kadang bisa di puncak, kadang bisa di bawah. Untuk itu kita harus selalu ingat pada falsafah pohon. Puncak pohon bisa berkibar anggun karena dukungan batang dan kekuatan akar. Jadi selagi kita di puncak, kita tidak boleh melupakan yang di bawah. Tidak boleh melupakan akar yang diam-diam mendukung kita tanpa pernah mau menonjolkan diri."
Dan falsafah tersebut secara konsisten diterapkan Pakde Muhargo dalam kehidupan sehari- hari. Setiap memperoleh pendapatan lebih dari gaji yang diperolehnya tiap bulan, entah itu dari proyek-proyek yang dipercayakan padanya atau dari sumber mana pun, beliau senantiasa membagi rata ke setiap bawahan. Dari tingkat staf sampai karyawan paling rendah. Tak terkecuali. Itulah maka semua bawahannya, atau bahkan yang sudah jadi mantan bawahan, senantiasa loyal dan sangat menghormati pakde. Mereka senantiasa mengenang beliau sebagai atasan yang "sangat penuh pengertian" dan mengenang periode menjadi bawahan beliau sebagai "masa penuh kesejahteraan".
Namun, orang yang sangat dihormati itu kini terkurung di sebuah ruang tahanan yang menghinakan dirinya, yang menistakan martabatnya, yang menafikan segala kebajikan yang pernah diperbuatnya. Maka, Budiman pun merasa harus segera bertindak untuk menghentikan penzaliman terhadap pakdenya ini.
Seminggu kemudian....
"Insya Allah semuanya akan terkendali, bude. Saya sudah menghubungi Mas Prawoto. Dia yang akan mengatur susunan hakim di pengadilan tingkat pertama."
"Tetap harus ke pengadilan juga?"
"Demi menghormati prosedur hukum saja, bude. Nggak enak juga kalau sudah terlanjur kelihatan digelandang masuk tahanan, tahu-tahu keluar begitu saja. Kasihan Oom Karsono."
"Ah! Karsono itu cari muka. Demi ambisinya untuk bisa naik jadi jaksa agung dia tega mengkhianati pakdemu."
"Sebenarnya tidak seburuk itu, bude. Sebelum malam penjemputan itu, pakde ternyata sudah berkomunikasi dengan Oom Karsono dan bisa memahami posisi Oom Kar yang sangat sulit dalam menghadapi tekanan publik untuk menyeret pakde ke meja hijau. Jadi, ini soal tarik ulur saja. Cuma... itulah, dari dulu pakde tidak punya channel di kalangan media, jadi pemberitaan atas kasus-kasus pakde sama sekali tidak terkontrol."
"Kebebasan...," Bude bergumam lirih sambil menghela napas panjang. "Semuanya jadi kebablasan."
"Memang, bude. Sehubungan dengan itu pula saya ingin menyarankan bude agar segera pindah dari rumah sakit ini."
"Lho kenapa...??"
"Sudah ada wartawan yang tahu bude menginap di rumah sakit ini."
"Oalah, Gusti.... Terus aku harus pindah ke mana?"
"Terserah bude memilih mana. Rumah di Pondok Indah saya rasa cukup aman."
"Jangan! Nanti bisa bikin pekewuh Mas Abdul. Masa istri tahanan bertetangga sama Kapolda. Kalau sampai ketahuan, beritanya bisa dipelintir jadi macam- macam."
"Atau di Kota Wisata?"
"Memang kita ada rumah di sana?"
"Ada, bude. Yang tahun lalu dikasih sama si Tantra. Ideal sebagai tempat nyepi. Tapi kalau bude menghendaki yang di masih di Jakarta, paling sepi ya rumah Kemang."
"Lho, bukannya sudah dijual?"
"Nggak jadi, bude. Sama broker dikasih harga sembilan milyar, jadinya malah nggak laku. Cuma kondisinya memang sekarang kurang terawat. Kalau bude mau pindah ke situ harus dibersihkan dulu."
"Padahal harus segera."
"Benar, bude. Yang paling siap huni dan paling aman sebetulnya di apartemen. Terserah bude, mau memilih yang di Paku Buwono atau yang di Menteng. Sampai sekarang dua-duanya belum pernah ada yang menempati."
"Nggak ah. Kalau gempa bumi bisa mati berdiri."
Sebuah Mercy seri 600 meluncur lembut dan berhenti di pelataran parkir VIP bandara. Budiman membantu Bude Muhargo keluar mobil, membawanya ke arah pintu khusus, untuk menunggu penerbangan ke New York. Bude akhirnya memutuskan untuk sekalian menemani Rina, putrinya, yang sedang mengambil S-3 di sana. Di ruang tunggu bude menyerahkan sebuah tas kecil ke Budiman.
"Ini kunci-kunci safe deposit box, Bud. Semua aku titipkan ke kamu. Kalau kamu perlu cash US dollar ambil saja dari yang di Citibank. Kalau tidak salah masih ada sisa sekitar satu atau satu setengah juta di situ. Buat bayar uang muka pengacara-pengacara aku rasa lebih dari cukup. Kalau mau rupiah, tadi siang aku sudah transfer lima M ke rekening kamu. Prawoto sama Karsono pasti perlu buat ngasih teman- temannya."
"Eyaaang!"
Budiman menoleh mendengar suara Tito, anaknya, yang menyusul datang dengan mobil lain sepulang dari les matematika. Bude Muhargo langsung tersenyum lebar dan menyambut si kecil dengan pelukan hangat.
"Eyang! Aku tadi lihat eyang kakung di televisi."
Budiman seketika berpandangan dengan istrinya.
"Eyang kakung itu ternyata koruptor, ya?"
"Tito!!!"
"Bukan, sayang," buru-buru bude mendahului bicara. "Eyang kakung bukan koruptor. Koruptor itu orang jahat. Eyang bukan orang jahat. Eyang cuma dituduh melakukan kejahatan. Orang-orang yang menuduh itu justru yang jahat."
"Kalau memang nggak salah kenapa eyang mau ditahan?"
Bude Muhargo terdiam sesaat. Lalu berbisik dekat telinga Tito. "Kalau sudah besar nanti Tito akan tahu, tidak semua yang tidak kita inginkan itu bisa kita hindari. Seperti halnya musibah. Nah eyang kakung saat ini sedang ditimpa musibah." ***
Jakarta, 10 November 2006
Kompas Minggu, 14 Januari 2007
PERIHAL AIR KEHIDUPAN
PERIHAL AIR KEHIDUPAN
Sapardi Djoko Damono
"Bima, Cucuku, apa yang kaucari?"
"Air kehidupan, Eyang."
"Sadarkah kau bahwa sekarang ini berada di dasar samudra yang paling dalam, dikepung air?"
"Ya, Eyang. Tetapi bukan air kehidupan."
"Apa yang kau maksud dengan air kehidupan?"
"Tidak tahu, Eyang?"
"Jadi kau mencari sesuatu yang kau sendiri tidak mengetahuinya. Tetapi tahukah kau di mana tempat air kehidupan itu?"
"Tidak, Eyang."
"Sadarkah kau bahwa sudah tersesat sekarang?"
"Saya tidak tersesat, Eyang."
'Tidak tersesat?"
"Tidak, Eyang."
"Siapa gerangan yang telah memberi tahu kamu perihal air kehidupan itu?"
"Tidak ada, Eyang."
"Jadi, kenapa kau mencarinya?"
"Tidak tahu, Eyang."
"Ke mana saja kau telah mencari air kehidupan itu, Cucuku?"
"Ke delapan penjuru angin, Eyang."
"Ke mana itu?"
"Ke ladang, ke sawah, ke ngarai, ke bukit, ke gunung."
"Dan engkau tidak juga menemuinya?"
"Tidak, Eyang."
"Ke mana lagi, Cucuku?"
"Ke sabana, ke tundra, ke padang pasir, ke padang es."
"Dan engkau tidak juga menemukannya?"
"Tidak, Eyang."
"Ke mana lagi?"
"Ke istana, ke rumah pemujaan, ke gua — "
"Dan tidak juga menemukannya?"
"Tidak, Eyang."
"Apa gerangan yang kautemukan di semua tempat itu, Cucuku?"
"Air kematian, Eyang."
"Dan kau mengira bahwa di dasar samudra ini akan kautemukan air kehidupan itu, Cucuku?"
"Saya yakin, Eyang."
"Dan kau belum merasa letih mencarinya, Cucuku?"
"Saya letih sekali, Eyang. Itulah sebabnya saya ke mari untuk mencari tahu di mana air kehidupan itu."
"Nah, beristirahatlah kau sekarang, Cucuku. Di sini air kehidupan dan air kematian itu telah menjadi satu. Kau tidak akan bisa membedakannya."***
(Dari Pengarang Telah Mati: Segenggam Cerita)
Sapardi Djoko Damono
"Bima, Cucuku, apa yang kaucari?"
"Air kehidupan, Eyang."
"Sadarkah kau bahwa sekarang ini berada di dasar samudra yang paling dalam, dikepung air?"
"Ya, Eyang. Tetapi bukan air kehidupan."
"Apa yang kau maksud dengan air kehidupan?"
"Tidak tahu, Eyang?"
"Jadi kau mencari sesuatu yang kau sendiri tidak mengetahuinya. Tetapi tahukah kau di mana tempat air kehidupan itu?"
"Tidak, Eyang."
"Sadarkah kau bahwa sudah tersesat sekarang?"
"Saya tidak tersesat, Eyang."
'Tidak tersesat?"
"Tidak, Eyang."
"Siapa gerangan yang telah memberi tahu kamu perihal air kehidupan itu?"
"Tidak ada, Eyang."
"Jadi, kenapa kau mencarinya?"
"Tidak tahu, Eyang."
"Ke mana saja kau telah mencari air kehidupan itu, Cucuku?"
"Ke delapan penjuru angin, Eyang."
"Ke mana itu?"
"Ke ladang, ke sawah, ke ngarai, ke bukit, ke gunung."
"Dan engkau tidak juga menemuinya?"
"Tidak, Eyang."
"Ke mana lagi, Cucuku?"
"Ke sabana, ke tundra, ke padang pasir, ke padang es."
"Dan engkau tidak juga menemukannya?"
"Tidak, Eyang."
"Ke mana lagi?"
"Ke istana, ke rumah pemujaan, ke gua — "
"Dan tidak juga menemukannya?"
"Tidak, Eyang."
"Apa gerangan yang kautemukan di semua tempat itu, Cucuku?"
"Air kematian, Eyang."
"Dan kau mengira bahwa di dasar samudra ini akan kautemukan air kehidupan itu, Cucuku?"
"Saya yakin, Eyang."
"Dan kau belum merasa letih mencarinya, Cucuku?"
"Saya letih sekali, Eyang. Itulah sebabnya saya ke mari untuk mencari tahu di mana air kehidupan itu."
"Nah, beristirahatlah kau sekarang, Cucuku. Di sini air kehidupan dan air kematian itu telah menjadi satu. Kau tidak akan bisa membedakannya."***
(Dari Pengarang Telah Mati: Segenggam Cerita)
Kisah Sebuah Celana Pendek
Kisah Sebuah Celana Pendek
oleh Idrus
Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia.
Pak Kusno buta politk. Tak tahu ia, betapa besarnya arti penyerangan itu. Yang diketahuinya hanya, bahwa anaknya sudah tidak mempunya celana lagi yang pantas dipakai. Setiap orang yang sedikit banyak kenal politik di seluruh dunia mengernyitkan keningnya, karena dendam, karena khawatir, karena marah. Tapi Pak Kusno tersenyum senang pada hari itu. Ia telah berhasil, apa yang disangkanya 'semua sesuatu yang tidak bisa, membelikan Kusno sebuah celana pendek.
Pada waktu itu Kusno berusia 14 tahun. Baru tamat sekolah rakyat. Sekarang hendak melamar pekerjaan. Dan dengan celana baru, rasanya baginya segala pekerjaan terbuka. Ia akan membuktikan kepada ayahnya, bahwa ia adalah anak yang tahu membalas guna. Pendek kata, keluarga Kusno pada hari itu bergirang hati seperti belum pernah sebelum itu. Dan kabar-kabar tentang Pearl Harbour tidak bergema sedikit pun juga dalam hati orang-orang sederhana ini.
Demikian benarlah ucapan, hanya orang besar-besar yang mau perang, rakyat sederhana mau damai cuma!
Tapi Kusno tak selekas seperti sangkaannya mendapat pekerjaan. Kantor-kantor tahu, apa arti penyerangan Pulau Mutiara itu. Mereka tidak menerima seorang pekerja baru pun juga lagi. Di atas kantor itu bergumpal awan hitam dan dari sela-sela awan itu menjulur muka malaikatmaut.
Kusno terpaksa menurunkan harga dagangannya, dari juru tulis menjadi portir dan dari portir menjadi opas. Dan setelah sepuluh kantor dinaikinya, akhirnya berhasil juga ia mendapatkan sebuah pekerjaan ... sebagai opas. Dengan gaji sepuluh rupiah sebulan.
Pak Kusno bersusah hati. Ia sendiri seorang opas. Mestikah anaknya menjadi opas lagi? Dan anak Kusno kelak opas pula? Turun temurun menjadi opas? Tidak pernah tercita-cita olehnya, keluarganya akan menjadi keluarga opas. Tapi, seperti juga orang-orang kampung lain dalam kesusahan, Pak Kusno ingat kepada Tuhan, manusia berusaha, Tuhan menentukan!
Kusno bekerja dengan rajin, tapi celana kepar 1001-nya bertambah lama bertambah pudar, karena sering kena cuci. Setiap bulan ia berharap akan dapat membeli sebuah celana baru, tapi uang yang sepuluh rupiah itu untuk makan saja pun tak mencukupi. Dengan sendirinya kepar 1001 bertambah sering harus dicuci, dan setiap kena cuci, rupanya bertambah mengkhawatirkan.
Seluruh pikiran Kusno tertuju pada celana itu. Apakah yang terjadi dengan dirinya, jika celana itu sudah tidak bisa dipakai lagi? Setiap hari ia mendoa, agar Tuhan jangan menurunkan hujan. Dan jika hujan turun juga, Kusno dengan hati kembang kempis melihat kepada celananya, seperti seorang ibu melihat kepada anaknya yang hendak dilepas ke medan peperangan.
Kepar 1001. 1 x 1 = 1. Dan berapakah 1 - 1?
Kalau pikiran Kusno mengenangkan celana 1001 ini. Apalagi kalau tidak ada uang pembeli sabun, sedang celana lagi kotor.
Tidak, rakyat sederhana tidak mau perang, ia hanya mau hidup sederhaana dan hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana.
Tapi orang tinggi-tinggi dan besar-besar mau perang, yang satu untuk demokrasi yang lain untuk kemakmuran bersama di Asia Timur Raya.
Kusno tidak tahu arti demokrasi dan perkataan kemakmuran sangat menarik hatinya. Ia sebenarnya ingat kepada celananya. Kemakmuran berarti baginya celana. Dan sebab itu disambutnya tentara Jepang dengan peluk cium dan salaman tangan.
Dan seperti kebanyakan bangsa Indonesia hidup dengan pengharapan akan kemerdekaan, Kusno hidup dengan pengharapan akan celana baru, terus-menerus berharap selama tiga setengah tahun.
Tapi seperti juga kemerdakaan itu, celana itu pun tak terbayang. Dan waktu Kusno melepaskan harapannya itu, celana 1001 itu sudah tidak seperti celana lagi. Di sana-sini benangnya sudah keluar dan apa yang dulunya putih, sekarang sudah kuning kehitam-hitaman. Dan karena itu tidak pantas lagi dipakai oleh seorang opas. Waktu Kusno memberanikan hatinya meminta kepada sepnya, ia dibentak demikian hebatnya sehingga pada waktu itu hilang semangatnya.
Dia datang juga beberapa hari lagi ke kantor, tapi akhirnya malunya berkuasa atas gaji yang sepuluh rupiah itu dan ia pun minta berhenti.
Hari kemudian gelap bagi Kusno. Tapi sekarang ia lepas bebas dari malu yang mencoret mukanya. Ia tahu, bahwa hari gelap dan maha menakutkan akan menimpa dia. Tapi Tuhan maha pengasih dan pemurah. Demikian keyakinan Kusno.
Pada suatu hari Kusno sakit kepala. Ia tahu, bahwa sakit kepala itu segera akan hilang, jika ia dapat mengisi perutnya. Dua hari dua malam tak ada lain yang dimakannya selain daun-daun kayu. Ada terlayang di pikirannya untuk menjual celana 1001 itu, guna membeli sekedar makanan yang pantas dimakan manusia. Tapi lekas dibuangnya pikiran itu. Jika celana itu dijualnya, perutnya kenyang buat beberapa detik, tapi sesudah itu dengan apa akan ditutupnya auratnya? Sekali pula ada niatnya untuk mencuri barang orang lain, tapi Tuhan berkata, jahui dirimu dari curi mencuri. Dan keluarga Kusno turun temurun takut kepada Tuhan itu, sungguhpun belum pernah dilihatnya.
Begitulah Kusno tidak menjual celana, tidak mencuri, sering sakit kepala dan hidup dengan daun-daun kayu. Tapi ia hidup terus, sengsara memang, tapi hidup dengan bangga.
Tentang celana kepar 1001 itu, tak ada yang akan diceritakan lagi. Pada suatu kali ia pasti hilang di muka bumi, seperti juga Kusno akan hilang dari muka bumi. Dan mungkinkah ia bersama-sama dengan Kusno hilang dari muka bumi ini?
Tapi bagaimana pun juga, Kusno tak akan putus asa. Ia dilahirkan dalam kesengsaraan, hidup bersama kesengsaraan. Dan meskipun celana 1001-nya lenyap menjadi topo, Kusno akan bersuang terus melawan kesengsaraan, biarpun hanya guna mendapatkan sebuah celana kepar 1001 yang lain.
Hanya yang belum juga dapat dipahmakan Kusno ialah, mengapa selalu saja masih ada peperangan. Kusno merasa seorang yang dikorbankan.
oleh Idrus
Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia.
Pak Kusno buta politk. Tak tahu ia, betapa besarnya arti penyerangan itu. Yang diketahuinya hanya, bahwa anaknya sudah tidak mempunya celana lagi yang pantas dipakai. Setiap orang yang sedikit banyak kenal politik di seluruh dunia mengernyitkan keningnya, karena dendam, karena khawatir, karena marah. Tapi Pak Kusno tersenyum senang pada hari itu. Ia telah berhasil, apa yang disangkanya 'semua sesuatu yang tidak bisa, membelikan Kusno sebuah celana pendek.
Pada waktu itu Kusno berusia 14 tahun. Baru tamat sekolah rakyat. Sekarang hendak melamar pekerjaan. Dan dengan celana baru, rasanya baginya segala pekerjaan terbuka. Ia akan membuktikan kepada ayahnya, bahwa ia adalah anak yang tahu membalas guna. Pendek kata, keluarga Kusno pada hari itu bergirang hati seperti belum pernah sebelum itu. Dan kabar-kabar tentang Pearl Harbour tidak bergema sedikit pun juga dalam hati orang-orang sederhana ini.
Demikian benarlah ucapan, hanya orang besar-besar yang mau perang, rakyat sederhana mau damai cuma!
Tapi Kusno tak selekas seperti sangkaannya mendapat pekerjaan. Kantor-kantor tahu, apa arti penyerangan Pulau Mutiara itu. Mereka tidak menerima seorang pekerja baru pun juga lagi. Di atas kantor itu bergumpal awan hitam dan dari sela-sela awan itu menjulur muka malaikatmaut.
Kusno terpaksa menurunkan harga dagangannya, dari juru tulis menjadi portir dan dari portir menjadi opas. Dan setelah sepuluh kantor dinaikinya, akhirnya berhasil juga ia mendapatkan sebuah pekerjaan ... sebagai opas. Dengan gaji sepuluh rupiah sebulan.
Pak Kusno bersusah hati. Ia sendiri seorang opas. Mestikah anaknya menjadi opas lagi? Dan anak Kusno kelak opas pula? Turun temurun menjadi opas? Tidak pernah tercita-cita olehnya, keluarganya akan menjadi keluarga opas. Tapi, seperti juga orang-orang kampung lain dalam kesusahan, Pak Kusno ingat kepada Tuhan, manusia berusaha, Tuhan menentukan!
Kusno bekerja dengan rajin, tapi celana kepar 1001-nya bertambah lama bertambah pudar, karena sering kena cuci. Setiap bulan ia berharap akan dapat membeli sebuah celana baru, tapi uang yang sepuluh rupiah itu untuk makan saja pun tak mencukupi. Dengan sendirinya kepar 1001 bertambah sering harus dicuci, dan setiap kena cuci, rupanya bertambah mengkhawatirkan.
Seluruh pikiran Kusno tertuju pada celana itu. Apakah yang terjadi dengan dirinya, jika celana itu sudah tidak bisa dipakai lagi? Setiap hari ia mendoa, agar Tuhan jangan menurunkan hujan. Dan jika hujan turun juga, Kusno dengan hati kembang kempis melihat kepada celananya, seperti seorang ibu melihat kepada anaknya yang hendak dilepas ke medan peperangan.
Kepar 1001. 1 x 1 = 1. Dan berapakah 1 - 1?
Kalau pikiran Kusno mengenangkan celana 1001 ini. Apalagi kalau tidak ada uang pembeli sabun, sedang celana lagi kotor.
Tidak, rakyat sederhana tidak mau perang, ia hanya mau hidup sederhaana dan hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana.
Tapi orang tinggi-tinggi dan besar-besar mau perang, yang satu untuk demokrasi yang lain untuk kemakmuran bersama di Asia Timur Raya.
Kusno tidak tahu arti demokrasi dan perkataan kemakmuran sangat menarik hatinya. Ia sebenarnya ingat kepada celananya. Kemakmuran berarti baginya celana. Dan sebab itu disambutnya tentara Jepang dengan peluk cium dan salaman tangan.
Dan seperti kebanyakan bangsa Indonesia hidup dengan pengharapan akan kemerdekaan, Kusno hidup dengan pengharapan akan celana baru, terus-menerus berharap selama tiga setengah tahun.
Tapi seperti juga kemerdakaan itu, celana itu pun tak terbayang. Dan waktu Kusno melepaskan harapannya itu, celana 1001 itu sudah tidak seperti celana lagi. Di sana-sini benangnya sudah keluar dan apa yang dulunya putih, sekarang sudah kuning kehitam-hitaman. Dan karena itu tidak pantas lagi dipakai oleh seorang opas. Waktu Kusno memberanikan hatinya meminta kepada sepnya, ia dibentak demikian hebatnya sehingga pada waktu itu hilang semangatnya.
Dia datang juga beberapa hari lagi ke kantor, tapi akhirnya malunya berkuasa atas gaji yang sepuluh rupiah itu dan ia pun minta berhenti.
Hari kemudian gelap bagi Kusno. Tapi sekarang ia lepas bebas dari malu yang mencoret mukanya. Ia tahu, bahwa hari gelap dan maha menakutkan akan menimpa dia. Tapi Tuhan maha pengasih dan pemurah. Demikian keyakinan Kusno.
Pada suatu hari Kusno sakit kepala. Ia tahu, bahwa sakit kepala itu segera akan hilang, jika ia dapat mengisi perutnya. Dua hari dua malam tak ada lain yang dimakannya selain daun-daun kayu. Ada terlayang di pikirannya untuk menjual celana 1001 itu, guna membeli sekedar makanan yang pantas dimakan manusia. Tapi lekas dibuangnya pikiran itu. Jika celana itu dijualnya, perutnya kenyang buat beberapa detik, tapi sesudah itu dengan apa akan ditutupnya auratnya? Sekali pula ada niatnya untuk mencuri barang orang lain, tapi Tuhan berkata, jahui dirimu dari curi mencuri. Dan keluarga Kusno turun temurun takut kepada Tuhan itu, sungguhpun belum pernah dilihatnya.
Begitulah Kusno tidak menjual celana, tidak mencuri, sering sakit kepala dan hidup dengan daun-daun kayu. Tapi ia hidup terus, sengsara memang, tapi hidup dengan bangga.
Tentang celana kepar 1001 itu, tak ada yang akan diceritakan lagi. Pada suatu kali ia pasti hilang di muka bumi, seperti juga Kusno akan hilang dari muka bumi. Dan mungkinkah ia bersama-sama dengan Kusno hilang dari muka bumi ini?
Tapi bagaimana pun juga, Kusno tak akan putus asa. Ia dilahirkan dalam kesengsaraan, hidup bersama kesengsaraan. Dan meskipun celana 1001-nya lenyap menjadi topo, Kusno akan bersuang terus melawan kesengsaraan, biarpun hanya guna mendapatkan sebuah celana kepar 1001 yang lain.
Hanya yang belum juga dapat dipahmakan Kusno ialah, mengapa selalu saja masih ada peperangan. Kusno merasa seorang yang dikorbankan.
Ave Maria
Ave Maria
Cerpen Idrus
Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebentar. Tapi percakapan itu sudah lancarnya rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami kepada suatu kejadian. Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata, “Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri.”
Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri.
Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi ibu.
Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda. Mendengar tertawa adik Usup, ia tertegun, berhenti dan melihat kepada kami. Ia ikut tertawa. Sudah itu ia seperti orang berpikir dan tak lama kemudian, ia masuk ke dalam pekarangan kami. Ia member hormat kepada ayah dan ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu. Ibu sudah ketakutan saja. Tanya ayah, “Tuan mencari saya?”
Banyak lagi pertanyaan ayah, tapi semua dijawab dengan suara yang halus sekali, sehingga tak jelas kedengaran kepada kami. Segala perkakas rumah kami yang ada di beranda depan itu, diperhatikannya satu persatu. Sudah itu matanya tertambat kepada majalah-majalah yang disimpan ayah di bawah meja bundar itu.
Diusai-usainya majalah itu. Diambilnya sebuah, dimasukkannya ke dalam sakunya. Buku yang dibawanya ditinggalkannya di atas meja, lalu ia pergi pula.
“Gila”, kata ibu.
Perlahan-lahan ayah pergi ke meja bundar, diambilnya buku orang laki-laki itu, dan sesudah beberapa lama diperhatikannya, katanya, “Hm, buku filsafat. Orang pintar juga barangkali.”
Keesokan harinya ia datang pula kembali. Diambilnya pula majalah yang lain, yang lama diletakkannya kembali ke tempatnya. Setiap hari ia datang. Dan setiap kali ia datang, ada saja perubahan yang membaikkan tampak pada dirinya. Bajunya tak lagi sekotor yang dulu. Sudah keluar beberapa perkataan dari mulutnya. Begitulah kami mengetahui berturut-turut, bahwa ia dulu seorang pengarang. Sungguh pun belum kenal umum, tapi bukunya banyak juga yang diterbitkan. Keinginan kami hendak mengetahui lebih banyak lagi, tak dipenuhinya.
Pada suatu hari kata ibu, “Sudah lama Zulbahri tidak datang-datang. Sudah lebih seminggu canggung pula aku.”
Dan tak berapa lama disambungnya, sambil menunjuk ke jalan, “Ha, itu dia.”
Kami menoleh kea rah jalan. Memang Zulbahri itu. Seperti biasa ia tertawa masuk, lalu duduk. Segala perbuatan Zulbahri bagi orang yang baru mengenal dia, aneh. Tapi bagi kami sudah biasa pula.
Zulbahri menarik nafas panjang-panjang.
Tanya ibu, “Mengapa sudah lama tak datang-datang, Bahri?”
Sangat terkejut kami, waktu Zulbahri berkata terus menerus, tak berhenti-henti. Belum pernah kejadian yang demikian. Seakan-akan ceritanya itulah jawaban atas pertanyaan ibu.
Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu. Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh-penuh perhatian.
Kami bahagia. Aku dengan istriku. Sudah delapan bulan kami kawin. Wartini belum juga mempunyai tanda-tanda, ia akan segera mendapat anak.
Sungguhpun begitu cinta kami sedikit pun tak berkurang. Karanganku bertambah lama bertambah mendapat perhatian umum dan ahli-ahli. Tapi aku selalu dalam ketakutan saja. Terasa kepadaku, bahwa kebahagiaan yang demikian takkan selama-lamanya. Nanti tentu akan datang masanya, bahagia itu bertukar dengan kesusahan dan sengsara. Tapi dari mana datangnya kesusahan itu, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagiku.
Sungguhpun begitu aku yakin, bahwa kebahagiaan itu takkan lekas betul meninggalkan kami. Kami baru delapan bulan saja kawin. Setiap hari kucoba menghilangkan perasaan takut itu. Hampir-hampir berhasil, hamper-hampir aku berpendapat, bahwa bahagia itu takkan meninggalkan kami buat selama-lamanya. Hampir-hampir tak masuk ke dalam akalku, aku, aku nanti akan menderita kesengsaraan. Tapi pada waktu itu pulalah mulai pertukaran bahagia kami dengan sengsara yang akan datang. Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku terbengkelai.
Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-daun jarak di pekarangan, menerangi pekarangan itu. Zulbahri terus juga bercerita, kadang-kadang lambat-lambat, kadang-kadang cepat-cepat.
Dua hari dua malam surat itu kubawa ke mana-mana. Pada malam ketiganya kami sedang duduk di ruang dalam rumah. Maksudku tetap sudah hendak membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Tapi lidahku kaku. Kalimat-kalimat yang sudah kuapal-apalkan untuk dikatakan kepada Wartini, hilang dari ingatanku. Aku berjalan ke jendela. Mataku memandang ke langit bertaburan bintang. Hatiku mulai terbuka kembali, waktu melihat keindahan alam itu.
Wartini, indah betul mala mini. Seperti pada malam pertemuan kita benar. Lihatlah ke bintang yang berleret tiga buah itu.
Entah karena apa, perkataanku itu menimbulkan syak wasangka dalam hati Wartini.
Adakah yang hendak kubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.
Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segala-galanya kepadanya. Begitulah kami termenung keduanya, setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shananto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula, bahwa aku tak dapat meno9lak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Dengan tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.
Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang.
Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan Wartini, sekali-sekali adi timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini. Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.
Syamsu datang dari Shonanto. Katanya ia kurang senang sekolah di sana. Pernah ia berkelahi dengan seorang guru besar. Sebab itu ia akan mencoba untungnya di Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta.
Mintakan saja aku dapat lulus di sini. Nah, sudah itu orang akan memanggil aku “dokter Syamsu”.
Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dengan Wartini. Keduanya hormat menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata, bahwa aku adalah seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.
Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku menjadi sangat curiga. Segala percakapan Wartini dengan Syamsu kupikir-pikirkan, kalau-kalau ada mempunyai arti yang lain. Dengan sering pula kudengarkan percakapan orang itu dari balik dinding. Tapi sekalipun belum pernah aku mendengar perkataan Syamsu yang melewati batas. Syamsu tetap menjaga kesopanan.
Bulan semakin terang juga. Dari jauh kedengaran bunyi seruling, sayup-sayup sampai. Daun-daun jarak berdesir-desir ditiup angin malam.
Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain music bersama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang Syamsulah, Wartini mulai bermain pianokembali. Sekali, malam-malam, Wartini dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. Aku waktu itu sedang sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam kamar.
Asyik betul mereka bermain, bunyi biola Syamsu sangat mengharukan hati. Pertengahan lagu itu mengenangkan kepasa seseorang yang hamper putus asa, memekik kea rah langit, meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. Mereka bermain penuh perasaan… Dan sesudah habis lagu itu, kedengaran olehku sedu orang menangis. Terdengar pula Syamsu lekas-lekas meletakkan biolanya di atas piano.
“Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?”
“Aku terkenang kepada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama.”
Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat tinggi.”
“Dan semua cita-cita itu kandas, bukan Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu.”
“Ya… dan gadis yang kucintai hilang darin pelupuk mataku. Hatiku berdebar-debar.” Kedengaran sedu Wartini bertambah-tambah.
“Tapi, mengapa engkau, menangis, Wartini.”
Pertanyaan Syamsu itu kuulangi pula sendiri perlahan-lahan dan telingaku kupasang baik-baik. Halus sekali kedengaran suara Wartini.
“Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?”
“Tidak, Tini. Hanya seorang ibu kepada anak-anaknya dapat. Engkau sehat, Wartini. Hanya aku…”
Perkataan Syamsu tak diteruskan. Tapi aku mengerti sudah. Mataku berkunang-kunang. Pikiranku kacau.
Zulbahri melihat ke bulan purnama yang bertambah lama bertambah terang juga. Kami menahan nafas kami sejurus. Cerita Zulbahri sangat mengharukan hati kami. Di jalan tak ada orang lagi hilir mudik. Di sekeliling rumah sepi hening. Bunyi seruling masih kedengaran dari jauh, lagu bersedih. Tinggi sekali bunyi seruling itu, seakan-akan pemainnya hendak mencari penghibur sedih jauh dari dunia ini.
Kukenakan pyamaku. Kuberanikan hati. Perlahan-lahan aku ke luar mendapatkan syamsu dan Wartini. Melihat aku, Wartini terkejut, gugup katanya, “Kukira engkau sudah tidur, Zul.”
“Masakan aku dapat tidur, mendengarkan music yang semerdu itu.”
“Tapi mengapa engkau menangis, Tini? Karena music barangkali? Dalam roman sering kubaca, orang menangis karena music. Baru sekarang aku tahu, hal itu mungkin juga kejadian dalam kehidupan sehari-hari.”
Sejurus lamanya kami berpandang-pandangan. Sekali lagi kuberanikan diriku dan tegas kataku, “Semua kuketahui, Tini…”
“Tidak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan, kelakuanmu kurang senonoh. Tapi aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanya Wartini adalah hakmu.”
Sudah itu aku meninggalkan kota Jakarta. Tiba aku di malang. Di sana kucoba menghilangkan ingatan kepada Wartini. Tapi tak dapat. Badanku bertambah lama bertambah kurus juga. Bajuku tak kuhiraukan lagi. Bercakap pun sedapat-dapatnya kuhindari. Tetangga-tetangga menyangka pikiranku sudah bertukar. Aku masuk ke dalam rumah sakit. Tiga bulan aku di rumah sakit. Aku keluar kembali. Kata dokter aku tak boleh pergi ke Jakarta. Sedapat-dapatnya harus meninggalkan pulau jawa. Tapi perkataan dokter tak kudengar. Seminggu sudah itu aku sudah ada di Jakarta. Maksudku hendak meminta Wartini kembali kepada Syamsu. Di tengah jalan sering betul pikiranku bolak-balik. Sekali-sekali ada pula timbul putusan hendak membunuh Wartini dan Syamsu dan aku sendiri sekali.
Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak seorang juga dari pada kami, yang berani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu tangannya, dihapusnya air matanya yang mengenai pipinya. Kedengarannya susah ia hendak meneruskan perkataannya.
Tiba di Jakarta aku terus menuju rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh sudah kudengar bunyi piano dan biola,… lagu Ave Maria. Aku tahu mereka sedang mengenang zaman silam, kebahagiaan mereka. Piano berbunyi cepat sekali, sedang biola mendengarkan Andante yang sesempurna-sempurnanya. Seperti pencuri kudekati rumah itu. Dari jendela kaca kumenengok ke dalam rumah. Pandanganku tertambat kepada Wartini semata. Kelihatannya mukanya berseri, badannya agak gemuk sedikit… Wartini sedang hamil. Sungguh berbahagia engkau Wartini. Tidak, tidak, aku takkan mengganggumu. Teruskanlah lagu Ave Maria itu, lagu bahagiamu berdua.
Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang.
Aku lari kembali dari rumah yang sedang diliputi bahagia itu. Tiba di hotel aku menangis, ya, menangis aku… keadaan keuangan tak mengizinkan lagi untuk tinggal di hotel lama-lama. Aku pergi tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku dapat bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula. Kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kdang tidak. Surat-surat kabar tak pernah kubaca lagi. Karangan-karangan tentang berkurban untuk tanah air kuejekkan saja. Kurbanku lebih besar lagi dari mereka yang berjibaku.
Angin malam mulai meresapkan pengaruhnya. Badan berasa dingin. Bulu-bulu tangan berdiri tegak karena dingin.
Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan buat pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu itu aku melihat majalah-majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca cerita pendek yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya cerita-cerita pendek itu kepada jiwaku. Baru aku insaf, bahwa kehidupanku yang dulu-dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal.
Angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti bicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikan kepada ayah. Air the yang disediakan ibu dia tak disinggung-singgungnya. Ia berdiri, lalu meninggalkan kami
Lipatan kertas dibuka oleh ayah. Dibacanya. Dan perlahan-lahan katanya, “Ia telah masuk barisan jibaku.”
Kami ketiga-tiganya termenung sebentar. Tanya ibu. “Karena affair percintaan itu?”
Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas katanya, “Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa. Bacalah pada penghabisan suratnya: ini adalah sebagai pembayar utanku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri.”
Pada malam seperti ini pula Zulbahri berpisah dengan kami buat selama-lamanya. Siapa yang takkan terkenang kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenang-kenangan kepada Zulbahri yang telah dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umumkedengaran lagu Menuetto in G dari Beethoven.***
Cerpen Idrus
Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebentar. Tapi percakapan itu sudah lancarnya rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami kepada suatu kejadian. Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata, “Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri.”
Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri.
Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi ibu.
Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda. Mendengar tertawa adik Usup, ia tertegun, berhenti dan melihat kepada kami. Ia ikut tertawa. Sudah itu ia seperti orang berpikir dan tak lama kemudian, ia masuk ke dalam pekarangan kami. Ia member hormat kepada ayah dan ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu. Ibu sudah ketakutan saja. Tanya ayah, “Tuan mencari saya?”
Banyak lagi pertanyaan ayah, tapi semua dijawab dengan suara yang halus sekali, sehingga tak jelas kedengaran kepada kami. Segala perkakas rumah kami yang ada di beranda depan itu, diperhatikannya satu persatu. Sudah itu matanya tertambat kepada majalah-majalah yang disimpan ayah di bawah meja bundar itu.
Diusai-usainya majalah itu. Diambilnya sebuah, dimasukkannya ke dalam sakunya. Buku yang dibawanya ditinggalkannya di atas meja, lalu ia pergi pula.
“Gila”, kata ibu.
Perlahan-lahan ayah pergi ke meja bundar, diambilnya buku orang laki-laki itu, dan sesudah beberapa lama diperhatikannya, katanya, “Hm, buku filsafat. Orang pintar juga barangkali.”
Keesokan harinya ia datang pula kembali. Diambilnya pula majalah yang lain, yang lama diletakkannya kembali ke tempatnya. Setiap hari ia datang. Dan setiap kali ia datang, ada saja perubahan yang membaikkan tampak pada dirinya. Bajunya tak lagi sekotor yang dulu. Sudah keluar beberapa perkataan dari mulutnya. Begitulah kami mengetahui berturut-turut, bahwa ia dulu seorang pengarang. Sungguh pun belum kenal umum, tapi bukunya banyak juga yang diterbitkan. Keinginan kami hendak mengetahui lebih banyak lagi, tak dipenuhinya.
Pada suatu hari kata ibu, “Sudah lama Zulbahri tidak datang-datang. Sudah lebih seminggu canggung pula aku.”
Dan tak berapa lama disambungnya, sambil menunjuk ke jalan, “Ha, itu dia.”
Kami menoleh kea rah jalan. Memang Zulbahri itu. Seperti biasa ia tertawa masuk, lalu duduk. Segala perbuatan Zulbahri bagi orang yang baru mengenal dia, aneh. Tapi bagi kami sudah biasa pula.
Zulbahri menarik nafas panjang-panjang.
Tanya ibu, “Mengapa sudah lama tak datang-datang, Bahri?”
Sangat terkejut kami, waktu Zulbahri berkata terus menerus, tak berhenti-henti. Belum pernah kejadian yang demikian. Seakan-akan ceritanya itulah jawaban atas pertanyaan ibu.
Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu. Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh-penuh perhatian.
Kami bahagia. Aku dengan istriku. Sudah delapan bulan kami kawin. Wartini belum juga mempunyai tanda-tanda, ia akan segera mendapat anak.
Sungguhpun begitu cinta kami sedikit pun tak berkurang. Karanganku bertambah lama bertambah mendapat perhatian umum dan ahli-ahli. Tapi aku selalu dalam ketakutan saja. Terasa kepadaku, bahwa kebahagiaan yang demikian takkan selama-lamanya. Nanti tentu akan datang masanya, bahagia itu bertukar dengan kesusahan dan sengsara. Tapi dari mana datangnya kesusahan itu, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagiku.
Sungguhpun begitu aku yakin, bahwa kebahagiaan itu takkan lekas betul meninggalkan kami. Kami baru delapan bulan saja kawin. Setiap hari kucoba menghilangkan perasaan takut itu. Hampir-hampir berhasil, hamper-hampir aku berpendapat, bahwa bahagia itu takkan meninggalkan kami buat selama-lamanya. Hampir-hampir tak masuk ke dalam akalku, aku, aku nanti akan menderita kesengsaraan. Tapi pada waktu itu pulalah mulai pertukaran bahagia kami dengan sengsara yang akan datang. Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku terbengkelai.
Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-daun jarak di pekarangan, menerangi pekarangan itu. Zulbahri terus juga bercerita, kadang-kadang lambat-lambat, kadang-kadang cepat-cepat.
Dua hari dua malam surat itu kubawa ke mana-mana. Pada malam ketiganya kami sedang duduk di ruang dalam rumah. Maksudku tetap sudah hendak membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Tapi lidahku kaku. Kalimat-kalimat yang sudah kuapal-apalkan untuk dikatakan kepada Wartini, hilang dari ingatanku. Aku berjalan ke jendela. Mataku memandang ke langit bertaburan bintang. Hatiku mulai terbuka kembali, waktu melihat keindahan alam itu.
Wartini, indah betul mala mini. Seperti pada malam pertemuan kita benar. Lihatlah ke bintang yang berleret tiga buah itu.
Entah karena apa, perkataanku itu menimbulkan syak wasangka dalam hati Wartini.
Adakah yang hendak kubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.
Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segala-galanya kepadanya. Begitulah kami termenung keduanya, setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shananto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula, bahwa aku tak dapat meno9lak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Dengan tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.
Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang.
Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan Wartini, sekali-sekali adi timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini. Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.
Syamsu datang dari Shonanto. Katanya ia kurang senang sekolah di sana. Pernah ia berkelahi dengan seorang guru besar. Sebab itu ia akan mencoba untungnya di Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta.
Mintakan saja aku dapat lulus di sini. Nah, sudah itu orang akan memanggil aku “dokter Syamsu”.
Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dengan Wartini. Keduanya hormat menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata, bahwa aku adalah seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.
Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku menjadi sangat curiga. Segala percakapan Wartini dengan Syamsu kupikir-pikirkan, kalau-kalau ada mempunyai arti yang lain. Dengan sering pula kudengarkan percakapan orang itu dari balik dinding. Tapi sekalipun belum pernah aku mendengar perkataan Syamsu yang melewati batas. Syamsu tetap menjaga kesopanan.
Bulan semakin terang juga. Dari jauh kedengaran bunyi seruling, sayup-sayup sampai. Daun-daun jarak berdesir-desir ditiup angin malam.
Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain music bersama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang Syamsulah, Wartini mulai bermain pianokembali. Sekali, malam-malam, Wartini dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. Aku waktu itu sedang sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam kamar.
Asyik betul mereka bermain, bunyi biola Syamsu sangat mengharukan hati. Pertengahan lagu itu mengenangkan kepasa seseorang yang hamper putus asa, memekik kea rah langit, meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. Mereka bermain penuh perasaan… Dan sesudah habis lagu itu, kedengaran olehku sedu orang menangis. Terdengar pula Syamsu lekas-lekas meletakkan biolanya di atas piano.
“Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?”
“Aku terkenang kepada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama.”
Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat tinggi.”
“Dan semua cita-cita itu kandas, bukan Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu.”
“Ya… dan gadis yang kucintai hilang darin pelupuk mataku. Hatiku berdebar-debar.” Kedengaran sedu Wartini bertambah-tambah.
“Tapi, mengapa engkau, menangis, Wartini.”
Pertanyaan Syamsu itu kuulangi pula sendiri perlahan-lahan dan telingaku kupasang baik-baik. Halus sekali kedengaran suara Wartini.
“Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?”
“Tidak, Tini. Hanya seorang ibu kepada anak-anaknya dapat. Engkau sehat, Wartini. Hanya aku…”
Perkataan Syamsu tak diteruskan. Tapi aku mengerti sudah. Mataku berkunang-kunang. Pikiranku kacau.
Zulbahri melihat ke bulan purnama yang bertambah lama bertambah terang juga. Kami menahan nafas kami sejurus. Cerita Zulbahri sangat mengharukan hati kami. Di jalan tak ada orang lagi hilir mudik. Di sekeliling rumah sepi hening. Bunyi seruling masih kedengaran dari jauh, lagu bersedih. Tinggi sekali bunyi seruling itu, seakan-akan pemainnya hendak mencari penghibur sedih jauh dari dunia ini.
Kukenakan pyamaku. Kuberanikan hati. Perlahan-lahan aku ke luar mendapatkan syamsu dan Wartini. Melihat aku, Wartini terkejut, gugup katanya, “Kukira engkau sudah tidur, Zul.”
“Masakan aku dapat tidur, mendengarkan music yang semerdu itu.”
“Tapi mengapa engkau menangis, Tini? Karena music barangkali? Dalam roman sering kubaca, orang menangis karena music. Baru sekarang aku tahu, hal itu mungkin juga kejadian dalam kehidupan sehari-hari.”
Sejurus lamanya kami berpandang-pandangan. Sekali lagi kuberanikan diriku dan tegas kataku, “Semua kuketahui, Tini…”
“Tidak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan, kelakuanmu kurang senonoh. Tapi aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanya Wartini adalah hakmu.”
Sudah itu aku meninggalkan kota Jakarta. Tiba aku di malang. Di sana kucoba menghilangkan ingatan kepada Wartini. Tapi tak dapat. Badanku bertambah lama bertambah kurus juga. Bajuku tak kuhiraukan lagi. Bercakap pun sedapat-dapatnya kuhindari. Tetangga-tetangga menyangka pikiranku sudah bertukar. Aku masuk ke dalam rumah sakit. Tiga bulan aku di rumah sakit. Aku keluar kembali. Kata dokter aku tak boleh pergi ke Jakarta. Sedapat-dapatnya harus meninggalkan pulau jawa. Tapi perkataan dokter tak kudengar. Seminggu sudah itu aku sudah ada di Jakarta. Maksudku hendak meminta Wartini kembali kepada Syamsu. Di tengah jalan sering betul pikiranku bolak-balik. Sekali-sekali ada pula timbul putusan hendak membunuh Wartini dan Syamsu dan aku sendiri sekali.
Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak seorang juga dari pada kami, yang berani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu tangannya, dihapusnya air matanya yang mengenai pipinya. Kedengarannya susah ia hendak meneruskan perkataannya.
Tiba di Jakarta aku terus menuju rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh sudah kudengar bunyi piano dan biola,… lagu Ave Maria. Aku tahu mereka sedang mengenang zaman silam, kebahagiaan mereka. Piano berbunyi cepat sekali, sedang biola mendengarkan Andante yang sesempurna-sempurnanya. Seperti pencuri kudekati rumah itu. Dari jendela kaca kumenengok ke dalam rumah. Pandanganku tertambat kepada Wartini semata. Kelihatannya mukanya berseri, badannya agak gemuk sedikit… Wartini sedang hamil. Sungguh berbahagia engkau Wartini. Tidak, tidak, aku takkan mengganggumu. Teruskanlah lagu Ave Maria itu, lagu bahagiamu berdua.
Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang.
Aku lari kembali dari rumah yang sedang diliputi bahagia itu. Tiba di hotel aku menangis, ya, menangis aku… keadaan keuangan tak mengizinkan lagi untuk tinggal di hotel lama-lama. Aku pergi tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku dapat bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula. Kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kdang tidak. Surat-surat kabar tak pernah kubaca lagi. Karangan-karangan tentang berkurban untuk tanah air kuejekkan saja. Kurbanku lebih besar lagi dari mereka yang berjibaku.
Angin malam mulai meresapkan pengaruhnya. Badan berasa dingin. Bulu-bulu tangan berdiri tegak karena dingin.
Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan buat pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu itu aku melihat majalah-majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca cerita pendek yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya cerita-cerita pendek itu kepada jiwaku. Baru aku insaf, bahwa kehidupanku yang dulu-dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal.
Angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti bicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikan kepada ayah. Air the yang disediakan ibu dia tak disinggung-singgungnya. Ia berdiri, lalu meninggalkan kami
Lipatan kertas dibuka oleh ayah. Dibacanya. Dan perlahan-lahan katanya, “Ia telah masuk barisan jibaku.”
Kami ketiga-tiganya termenung sebentar. Tanya ibu. “Karena affair percintaan itu?”
Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas katanya, “Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa. Bacalah pada penghabisan suratnya: ini adalah sebagai pembayar utanku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri.”
Pada malam seperti ini pula Zulbahri berpisah dengan kami buat selama-lamanya. Siapa yang takkan terkenang kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenang-kenangan kepada Zulbahri yang telah dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umumkedengaran lagu Menuetto in G dari Beethoven.***
MBAH DANU
MBAH DANU
Cerpen Nugroho Notosusanto
Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu "didiami" oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu.
Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan.
Menurut kabar-kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita radio, Mbah Danu sedang turne. Routenya adalah Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, dan kembali ke Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir pulang. Dan benar, ketika Nah tengah mengeong-ngeong seperti kucing kasmaran, Mbah Danu dating membawa koper besi yang sama antiknya dengan yang punya.
Dia tembusi badan Nah dengan pandang membara sambil mengelilingkan susur besar di dalam mulutnya. Nah mengigau dengan mata tertutup, buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua. Wajahnya pucat seperti kain mori.
"Ambilkan sapu lidi!" perintah Mbah Danu dengan sikap Srikandi wayang orang. Kemudian ia mencengkeram lengan Nah dan menyeretnya dari tikarnya ke lantai. Sapu lidi datang. Ukurannya istimewa besar, karena Pak Jaksa mempunyai 60 pohon kelapa di pekarangannya. Mbah Danu memegang sapu lidi itu pada ujungnya yang lunak, kemudian bongkotnya yang garis tengahnya kira-kira 10 cm itu dia ayunkan ke atas dan dia pukulkan sekuat tenaga ke pantat Nah yang terbaring miring. Segenap hadirin melotot matanya dan megar kupingnya melihat dan mendengar pukulan dahsyat itu.
"Ngeoooong!" keluar dari mulut Nah mendirikan bulu-bulu di kulit penonton.
"Mampus engkau sekarang!" seru Mbah Danu bengis dan sapu lidi terus-menerus menghantam pantat Nah dengan irama rhumba. Nah tidak mengeong lagi sekarang, melainkan mengaum seperti singa sirkus yang marah. Sebagian hadirin mau lari.
"Minggat! Ayo minggat!" teriak Mbah Danu dengan amat murka dan dengan tendangan jitu Nah ditengkurapkannya. Kemudian deraannya menghujam pula pada pantat Nah yang kini sadar, bahwa ia manusia Nah, bukan kucing, anjing, kuda atau singa.
"Aduh biyuuuuuung! Aduh biyuuuuuuung!!" tangisnya menggaung.
"Minggat! Minggat! Minggat!!" suara Mbah Danu menggelora sampai tetangga-tetangga dan pelintas-penntas mengalir masuk ke rumah itu untuk menyelidiki sebab-sebab suara ngeri yang mereka dengar.
"Aduuuuuh! Aduh, aduh, aduuuuuh!" pekik Nah seperti manusia biasa.
"Minggat! Minggat! Ayo minggat!!" jerit Mbah Danu senyaring-nyaringnya sambil memukul dengan tangan kanan dan menggenggam susur di tangan kiri. Air ludahnya memercik merah ke lantai dan badan Nah dalam setengah lingkaran yang radiusnya 1 /2 meter.
"Salah hamba apa kok disuruh minggat dan dihajar?" Tanya Nah sambil menangis dan ia mencoba merangkak.
Sikap Mbah Danu sekaligus berubah.
"Aku bukannya berbicara kepadamu, Nah," katanya dengan suara mmeur yang lembut. "Aku mengusir setan-setan di dalam badanmu."
Sebagai pengeras perkataan yang terakhir, ia tegak sekali lagi serta memukulkan sapu lidi itu sedemikian kerasnya ke badan Nah, sehingga si sakit rebah ke lantai dan mengerang. Peluhnya bercucuran dan menguyupkan pakaiannya.
"Ha! Hampir modar engkau sekarang!" seru Mbah Danu dengan ganas sambil melangkah maju dan menginjak tubuh Nah dengan kedua kakinya. Selama 5 menit ia mondar-mandir di atas badan Nah sampai napas si sakit seperti ububan pandai besi bunyinya. Kedua lengannya diacung-acungkan untuk mempertahankan keseimbangan. Gerak-geriknya persis seperti Batari Durga yang menan di atas mayat manusia. Setelah sudah, ia menelentangkan badan Nah yang keringatnya membuat lantai mengkilat basah dan mukanya kini merah padam.
Mbah Danu berdiri dan member; isyarat supaya para penonton yang tak berkepentingan mengundurkan diri. Pintu ditutup dan ia kembali kepada pasiennya. Dengan gerakan-gerakan tangkas pakaian si sakit dibukanya dan kemudian seperti orang kegila-gilaan ia meremas-remas seluruh badan Nah, sambil menggelitik si sakit pada tempat-tempat yang penuh rasa geli. Dan mula-mula Nah menggelepar-gelepar. akhirnya kegelian seperti perawan yang sehat. Seperempatjam Mbah Danu meraba-raba tubuh pasiennya kemudian ia melepaskannya dan tegak pada lututnya
"Setan-setan sudah lari dari badanmu. Nah." katanya tenang. ‘Engkau telah sembuh." Dan di hadapan mata hadirin, Nah yang tadi sudah seperti setengah mati duduk bersandar pada dinding dan tersenyum seperti orang bangun tidur
"Tidurlah saja dulu sampai besok," kata Mbah Danu lebih jauh sambil membaringkan dan menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit kepala Nah, kemudian memercikkan ludah sedikit dari mulutnya pada dahi si sakit. Setelah itu ia berdiri dan ke luar untuk meminum kopinya.
Prabawa Mbah Danu di rumah Pak Jaksa yang jadi sebagian prabawanya di daerah yang terentang dari Kudus sampai Tuban, dari Bonang sampai ke Randublatung, mengalami tantangan, ketika Mr. Salyo Kunto, salah seorang menantu Pak Jaksa, bersama istrinya mengunjungi mertuanya. Beberapa hari sesudah kedatangannya, Nyonya Salyo sakit kepala dan pegal-pegal tubuhnya. Bu Jaksa, sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu.
"O, ada sedikit angin jahat bersarang di dalam, Raden Ayu," kata Mbah Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya Salyo sendiri. "Coba buka baju saja; akan saya usir." Dan Mbah Danu mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekankannya ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sekali dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangannya sehingga angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup. Setelah itu, punggung dan tengkuk mendapat giliran, dan dengan lega Nyonya Salyo bersendawa. Kemudian Mbah Danu melakukan kombinasi kedua pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari bawah dengan berletusan. Justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan ke tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu diperintahkannya keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya.
"Engkau tahu bukan, bahwa pijetan itu bisa merusakkan rahimmu?!"
Sebagai akibat insiden itu, Mbah Danu tak diizinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kekalahan bagi Mbah Danu. Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada waktu-waktu lainnya kedaulatan Mbah Danu tetap utuh.
Clash ke-2 antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung berhadap-hadapan, terjadi, ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang setengah umur, sakit keras, justru ketika menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rembang, Pak Jaksa dan Bu Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika Mbok Rah sudah mulai mengigau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab. Sangat kebetulan Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danu yang tidak punya mobil. Sehingga yang beraksi tangan di stetoskop. Dokter Umar, bukan tangan dan air ludah Mbah Danu.
"Malaria," diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang gelap. Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petunjuk-petunjuk lain tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang.
Penyakit Mbok Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetangga-tetangga yang dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan mereka mendesak, agar supaya Mbah Danu dipanggil. Tetapi sebagai jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dengan menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap tinggal netral, tetapi, sebagaimana juga di dalam politik ia dipandang dengan marah oleh kedua pihak yang bertentangan. Namun ia tetap mempertahankan politik bebas yang pasif itu.
Dokter Umar Chattab heran.
"Kininenya sudah Tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?" tanyanya.
"Ya," jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. "Saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah."
Dokter Umar Chattab pulang dengan tidak mengubah ketetapannya. Hanya saja ia berpesan, agar supaya waktu menelan pil si sakit diawasi sungguh-sungguh.
Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi ia mati.
Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas meskipun tak ditujukan secara langsung. Dengan tak dipanggil, Mbah Danu datang sendiri. Mr. Salyo mengundurkan diri ke dalam kamar tamu. Asbaknya penuh dengan puntung sigaret.
"Kita telah berbuat sebaik mungkin," kata Nyonya Salyo menghibur suaminya.
"Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal?!" seru Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab.
"Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan!" katanya lagi.
"Inna li'llahi wa inna illahi raji'un," kata Nyonya Salyo.
Ketika fajar menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya ke luar. Mr. Salyo dan nyonya ikut menyaksikan pengambilan jenazah dari dalam kamar tempat ia dan Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan Mbah Danu. Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu di dalam hati kecilnya cenderung kepada ayah-bundanya, tetapi merasa harus solider dengan kekecewaan suaminya. Hawa di dalam kamar itu pengap, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo membuka jendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari pagi masuk dengan gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul di ambang pintu, Mbah Danu. Matanya membara. Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin. la menghela napas panjang dan melemparkan pandang terakhir kepada bale-bale tempat semalam jenazah terbaring. Dengan sangat tiba-tiba ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale Mbok Rah.
7-7-1954
Cerpen Nugroho Notosusanto
Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu "didiami" oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu.
Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan gadungan.
Menurut kabar-kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita radio, Mbah Danu sedang turne. Routenya adalah Lasem, Pamotan, Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padangan, Cepu, Blora, dan kembali ke Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir pulang. Dan benar, ketika Nah tengah mengeong-ngeong seperti kucing kasmaran, Mbah Danu dating membawa koper besi yang sama antiknya dengan yang punya.
Dia tembusi badan Nah dengan pandang membara sambil mengelilingkan susur besar di dalam mulutnya. Nah mengigau dengan mata tertutup, buih di mulutnya meleleh ke bawah membasahi bantalnya yang kumal seperti tempat duduk Jeep militer yang sudah tua. Wajahnya pucat seperti kain mori.
"Ambilkan sapu lidi!" perintah Mbah Danu dengan sikap Srikandi wayang orang. Kemudian ia mencengkeram lengan Nah dan menyeretnya dari tikarnya ke lantai. Sapu lidi datang. Ukurannya istimewa besar, karena Pak Jaksa mempunyai 60 pohon kelapa di pekarangannya. Mbah Danu memegang sapu lidi itu pada ujungnya yang lunak, kemudian bongkotnya yang garis tengahnya kira-kira 10 cm itu dia ayunkan ke atas dan dia pukulkan sekuat tenaga ke pantat Nah yang terbaring miring. Segenap hadirin melotot matanya dan megar kupingnya melihat dan mendengar pukulan dahsyat itu.
"Ngeoooong!" keluar dari mulut Nah mendirikan bulu-bulu di kulit penonton.
"Mampus engkau sekarang!" seru Mbah Danu bengis dan sapu lidi terus-menerus menghantam pantat Nah dengan irama rhumba. Nah tidak mengeong lagi sekarang, melainkan mengaum seperti singa sirkus yang marah. Sebagian hadirin mau lari.
"Minggat! Ayo minggat!" teriak Mbah Danu dengan amat murka dan dengan tendangan jitu Nah ditengkurapkannya. Kemudian deraannya menghujam pula pada pantat Nah yang kini sadar, bahwa ia manusia Nah, bukan kucing, anjing, kuda atau singa.
"Aduh biyuuuuuung! Aduh biyuuuuuuung!!" tangisnya menggaung.
"Minggat! Minggat! Minggat!!" suara Mbah Danu menggelora sampai tetangga-tetangga dan pelintas-penntas mengalir masuk ke rumah itu untuk menyelidiki sebab-sebab suara ngeri yang mereka dengar.
"Aduuuuuh! Aduh, aduh, aduuuuuh!" pekik Nah seperti manusia biasa.
"Minggat! Minggat! Ayo minggat!!" jerit Mbah Danu senyaring-nyaringnya sambil memukul dengan tangan kanan dan menggenggam susur di tangan kiri. Air ludahnya memercik merah ke lantai dan badan Nah dalam setengah lingkaran yang radiusnya 1 /2 meter.
"Salah hamba apa kok disuruh minggat dan dihajar?" Tanya Nah sambil menangis dan ia mencoba merangkak.
Sikap Mbah Danu sekaligus berubah.
"Aku bukannya berbicara kepadamu, Nah," katanya dengan suara mmeur yang lembut. "Aku mengusir setan-setan di dalam badanmu."
Sebagai pengeras perkataan yang terakhir, ia tegak sekali lagi serta memukulkan sapu lidi itu sedemikian kerasnya ke badan Nah, sehingga si sakit rebah ke lantai dan mengerang. Peluhnya bercucuran dan menguyupkan pakaiannya.
"Ha! Hampir modar engkau sekarang!" seru Mbah Danu dengan ganas sambil melangkah maju dan menginjak tubuh Nah dengan kedua kakinya. Selama 5 menit ia mondar-mandir di atas badan Nah sampai napas si sakit seperti ububan pandai besi bunyinya. Kedua lengannya diacung-acungkan untuk mempertahankan keseimbangan. Gerak-geriknya persis seperti Batari Durga yang menan di atas mayat manusia. Setelah sudah, ia menelentangkan badan Nah yang keringatnya membuat lantai mengkilat basah dan mukanya kini merah padam.
Mbah Danu berdiri dan member; isyarat supaya para penonton yang tak berkepentingan mengundurkan diri. Pintu ditutup dan ia kembali kepada pasiennya. Dengan gerakan-gerakan tangkas pakaian si sakit dibukanya dan kemudian seperti orang kegila-gilaan ia meremas-remas seluruh badan Nah, sambil menggelitik si sakit pada tempat-tempat yang penuh rasa geli. Dan mula-mula Nah menggelepar-gelepar. akhirnya kegelian seperti perawan yang sehat. Seperempatjam Mbah Danu meraba-raba tubuh pasiennya kemudian ia melepaskannya dan tegak pada lututnya
"Setan-setan sudah lari dari badanmu. Nah." katanya tenang. ‘Engkau telah sembuh." Dan di hadapan mata hadirin, Nah yang tadi sudah seperti setengah mati duduk bersandar pada dinding dan tersenyum seperti orang bangun tidur
"Tidurlah saja dulu sampai besok," kata Mbah Danu lebih jauh sambil membaringkan dan menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit kepala Nah, kemudian memercikkan ludah sedikit dari mulutnya pada dahi si sakit. Setelah itu ia berdiri dan ke luar untuk meminum kopinya.
Prabawa Mbah Danu di rumah Pak Jaksa yang jadi sebagian prabawanya di daerah yang terentang dari Kudus sampai Tuban, dari Bonang sampai ke Randublatung, mengalami tantangan, ketika Mr. Salyo Kunto, salah seorang menantu Pak Jaksa, bersama istrinya mengunjungi mertuanya. Beberapa hari sesudah kedatangannya, Nyonya Salyo sakit kepala dan pegal-pegal tubuhnya. Bu Jaksa, sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu.
"O, ada sedikit angin jahat bersarang di dalam, Raden Ayu," kata Mbah Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya Salyo sendiri. "Coba buka baju saja; akan saya usir." Dan Mbah Danu mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekankannya ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sekali dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangannya sehingga angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup. Setelah itu, punggung dan tengkuk mendapat giliran, dan dengan lega Nyonya Salyo bersendawa. Kemudian Mbah Danu melakukan kombinasi kedua pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari bawah dengan berletusan. Justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan ke tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu diperintahkannya keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya.
"Engkau tahu bukan, bahwa pijetan itu bisa merusakkan rahimmu?!"
Sebagai akibat insiden itu, Mbah Danu tak diizinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kekalahan bagi Mbah Danu. Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada waktu-waktu lainnya kedaulatan Mbah Danu tetap utuh.
Clash ke-2 antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung berhadap-hadapan, terjadi, ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang setengah umur, sakit keras, justru ketika menantu Pak Jaksa yang berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rembang, Pak Jaksa dan Bu Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika Mbok Rah sudah mulai mengigau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab. Sangat kebetulan Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danu yang tidak punya mobil. Sehingga yang beraksi tangan di stetoskop. Dokter Umar, bukan tangan dan air ludah Mbah Danu.
"Malaria," diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang gelap. Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petunjuk-petunjuk lain tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang.
Penyakit Mbok Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetangga-tetangga yang dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan mereka mendesak, agar supaya Mbah Danu dipanggil. Tetapi sebagai jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dengan menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap tinggal netral, tetapi, sebagaimana juga di dalam politik ia dipandang dengan marah oleh kedua pihak yang bertentangan. Namun ia tetap mempertahankan politik bebas yang pasif itu.
Dokter Umar Chattab heran.
"Kininenya sudah Tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?" tanyanya.
"Ya," jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. "Saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah."
Dokter Umar Chattab pulang dengan tidak mengubah ketetapannya. Hanya saja ia berpesan, agar supaya waktu menelan pil si sakit diawasi sungguh-sungguh.
Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi ia mati.
Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas meskipun tak ditujukan secara langsung. Dengan tak dipanggil, Mbah Danu datang sendiri. Mr. Salyo mengundurkan diri ke dalam kamar tamu. Asbaknya penuh dengan puntung sigaret.
"Kita telah berbuat sebaik mungkin," kata Nyonya Salyo menghibur suaminya.
"Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal?!" seru Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab.
"Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan!" katanya lagi.
"Inna li'llahi wa inna illahi raji'un," kata Nyonya Salyo.
Ketika fajar menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya ke luar. Mr. Salyo dan nyonya ikut menyaksikan pengambilan jenazah dari dalam kamar tempat ia dan Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan Mbah Danu. Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu di dalam hati kecilnya cenderung kepada ayah-bundanya, tetapi merasa harus solider dengan kekecewaan suaminya. Hawa di dalam kamar itu pengap, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo membuka jendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari pagi masuk dengan gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul di ambang pintu, Mbah Danu. Matanya membara. Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin. la menghela napas panjang dan melemparkan pandang terakhir kepada bale-bale tempat semalam jenazah terbaring. Dengan sangat tiba-tiba ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale Mbok Rah.
7-7-1954
Monsoon
Monsoon
Cerpen Clara Ng
Suara menggedor kencang berasal dari arah atap. Dengungan angin menderu-deru seperti suara truk yang kehabisan tenaga bersama hantaman air jatuh bergelung-gelung di halaman rumah. Bumantara mengucurkan warna yang paling kelabu selama satu jam belakangan ini. Aku menekan jendela nako ke bawah, menutup sirip-sirip kacanya. Barusan suara klik menandakan jendela telah terkunci, petir berpacu turun dalam gelegarnya menyalangkan pintu langit.
Hujan monsoon baru memulai episodenya. Sudah tiga hari gerimis turun tak bersudahan menandakan pra-monsoon yang diperkiraan oleh ramalan cuaca India akan berakhir pada sore hari ini. Penilaian yang tepat sebab sejak siang tadi drama monsoon telah mulai menunjukkan gejala-gejala awal. Butir-butir hujan membengkak dan merapat, tikam menikam satu sama lain, menghantam tanah bersama puluhan kilat yang saling silang menyilang di langit.
Aku tidak ingin menyalakan televisi. Informasi menyebar dari telinga ke telinga untuk mematikan perlengkapan elektronik jika dewa monsoon sedang keram perut. Di Mumbai, sang dewa sering berada dalam cuaca perasaan yang tidak baik. Tidak heran dia sering ngambek tak alang kepalang kepada masyarakat India Mumbai yang hidup berdesak-desakan tanpa sela dan serba kelelahan.
Namun bagiku, Mumbai adalah kota apologia. Kota tempat aku menikmati hentakan joget Bollywood, memuaskan diri dengan kegilaan klakson mobil yang menjerit-jerit diperkosa keringat jalanan, menghilang di deretan rumah susun yang berfasadkan jemuran warna warni dan bedeng-bedeng tumpuk, menemukan tingkat adrenalin tinggi di pedestrian setengah matang yang masih juga diselipi oleh pengendara motor ugal-ugalan. Pulau Salsette yang terletak di mulut sungai Ulhas di pesisir barat India adalah tempat Mumbai duduk anggun di singgasana joroknya. Sementara aku bernapas, sakit gigi, telanjang, terengah-engah, mabuk setan, mengorok, sampai bermasturbasi di lelehan liur yang tercetak di singgasana itu.
Kudengar istriku, Hemangini, berteriak kepadaku dari arah yang tidak bisa kutebak asalnya. Aku balas berteriak kepadanya tentang telingaku yang ditulikan oleh badai monsoon. Prahara di kebun depan membuatku enggan mengangkat pantat dan mencari Hemangini. Padahal kutebak dia pasti tidak berada jauh dari bayangan kulkas dan kompor.
Sayup-sayup kudengar patahan kata-kata istriku. Dia bilang dia ingin menghidangkan tamatar ka sorbha untukku sekarang, apakah aku berkenan. Kepalaku langsung berkelabat bayangan sup tomat hangat yang kusesap sambil memandangi pisau-pisau air menghujam di luar. Luar biasa. Sebuah sore yang dramatis sebab aku akan menjadi saksi perkawinan monsoon dan tamatar ka sorbha. Tanpa berpikir ulang, kukatakan aku sangat berkenan kepadanya. Tidak lama, istriku tiba sambil menenteng cangkir mungil keramik berwarna biru langit dengan asap yang masih mengepul-ngepul.
Hemangini mengenakan saree tanpa motif garis di sepanjang jelujurnya, cocok untuk bentuk tubuhnya yang mungil. Aku memandangnya tanpa berkedip, menciptakan jalur bolak-balik antara saree dan cawan keramik itu. Sesore ini Hemangini baru balik dari rumah ibunya, di daerah bernama Colaba yang sebenarnya merupakan pusat seni di Mumbai. Dulu ketika masih berpacaran dengan Hemangini, sering kubawa dia ke musium, galeri seni, dan toko-toko trendi di sekitar itu. Hari-hari yang dipenuhi kebahagiaan, hari-hari aku bersamanya.
Aku meraih pinggangnya yang terbuka secelah di antara lipatan kain saree, menampilkan siluet kulitnya yang berwarna kuning terang. Hemangini mengelak dari pelukanku. Lenganku terpaku di udara. Dia menghindar sentuhanku dengan gemulai, mundur selangkah dari tempatku duduk di pinggir jendela nako. Aku ingin dia menyenderkan tubuhnya di bahuku seperti bertahun-tahun lalu ketika kami berdua baru saja menjadi mempelai yang berbahagia, tapi apa yang bisa kukatakan padanya sekarang? Tanganku memegang cawan perselain ringkih tamatar ka sorbha sementara Hemangini berada di luar jangkauan lenganku.
HEMANGINI berdiri tegak, kupikir matanya memandangku, ternyata tidak, dia hanya menatapi monsoon yang mengobrak-abrik kehidupan di luar. Berliter-liter air bertakung di sumur galian yang kami buat di pekarangan untuk menghindari banjir dan tanah yang berbecek. Gerumbulan semak pecah berhamburan disilet-silet hujan, pohon-pohon membungkuk sopan, dedaunan melayang bergasing-gasing dalam keterkejutannya dipatahkan begitu saja dari ranting. Aku tidak memandangnya langsung, ada bisikan yang kudengar di telingaku tentang tatapan mata Hemangini yang tidak berada di tengah monsoon, tapi jauh menembusinya berkilo-kilometer. Kami berdua terpaku membisu.
Aku tidak mencecap sup selama itu; kubiarkan asapnya menguap di daguku. Hemangini berbalik ke dapur; gerakannya halus seperti biasa. Aku merasakan bayangannya masih berada di sebelahku. Hidungku menangkap harum tomat dan wangi bawang bercampur naan panggang dari arah dapur, sementara semerbak aroma pahit rumput diaduk dengan bebauan monsoon berkacau menjadi satu. Aku menyelupkan sendok di tengah warna merah terang sup, mengangkatnya sesendok penuh, mendekatkan di bibirku, lalu mencucup.
Lidahku langsung menggigil. Apa ini? Tamatar ka sorbha yang berbeda! Kucucup lagi kedua kalinya. Tidak, lidahku tidak akan terkecoh oleh wangi dan warnanya yang mirip. Ini bukan tamatar ka sorbha milik Hemangini! Tamatar ka sorbha adalah makanan pembuka kebesarannya, diikuti oleh kheema naan, ayam tandoori, gobi aloo, rajma masala, kambing biryani, kesari chawal, murgh vindaloo, dan gulab jamun. Waktu mendengung di sekelilingku seperti lebah-lebah. Aku menarik napas dalam-dalam. Kucucup untuk ketiga kalinya.
Sup ini! Aku menjilat bibirku, tamatar ka sorbha yang anggun menjadi kenangan tidak terlupakan sewaktu aku menjadi mahasiswa bokek di University of Mumbai jurusan arsitektur. Kutemukan Hemangini di sebuah acara pameran fotografi; seketika jatuh cinta pada matanya yang hitam dan mengilat. Di lorong itu, di antara deretan foto-foto hitam putih berbingkai yang membeberkan kesedihan gedung-gedung dan manusia-manusia Mumbai, aku menemukan secuil keindahan yang tidak dapat diilhami oleh seni mana pun. Kuhampiri gadis India itu; mahasiswi seni rupa, seorang gadis yang mencintai seni dan bergumul di jantung seni. Kami seketika dekat dan tak terpisahkan. Seni menjadi perekat kami berdua, bagai lem super, bagai las besi. Otakku tak henti-hentinya merancang adegan untuk meyakinkan orangtuaku yang hidup di Jember, ribuan kilometer jauhnya dari Mumbai, tentang gadis India yang mencuri hatiku.
Hemangini memasak tamatar ka sorbha pada malam aku diperkenalkan kepada orangtuanya. Tamatar ka sorbha yang sama yang kucecap di Prithvi Teatre pada kafetaria kecilnya ketika kami menjalani kencan pertama, terkapar kemabukan oleh pertunjukan seni drama dan bara jatuh cinta. Tamatar ka sorbha-nya selalu luar biasa, tak pernah bercacat cela. Lidahku beruntung, selalu merasakan kesempurnaan cita rasa dan estetika makanan India dan gadisnya.
Aku menyelesaikan pendidikan arsitekku; menjadi seorang arsitek di Mumbai berkubang dengan gedung-gedung dan rumah-rumah bergaya Inggris. Kutinggalkan semua yang pernah kupunya. Mumbai menjadi perut yang menelanku bulat-bulat. Pekerjaanku sempurna. Rumahku sempurna. Lambung kekenyanganku sempurna. Sendawaku sempurna. Gatal-gatal di punggungku sempurna. Gadisku sempurna. Upacara pernikahanku sempurna. Dua budaya besar bermuara menjadi satu, bayangkan seperti apa samudra yang menampung kotoran sungai-sungai ini. Tapi tetap saja kuanggap semuanya sempurna.
JADI pada detik ini, ketika kucucup tamatar ka sorbha yang terasa tak sempurna, kecurigaanku mengintip. Kuhabiskan sup tomat dengan pelan-pelan sambil mengendapkan rasa yang semakin lama dapat kutebak ke mana filsafat kenikmatannya berkiblat. Lidahku dapat mengabaikan panas sup, memisahkan antara rasa capai dan bosan, meminggirkan jenuh, menghindari mual, dan akhirnya menampung ampas yang kukunyah baik-baik. Ampas ini, aku tahu rasanya. Ampas ini adalah ampas bercinta, gairah, pengkhianatan, dan kegelisahan.
Cawan biru langit di tangan telah kosong. Tamatar ka sorbha telah tandas di perut yang langsung terasa panas oleh kilatan-kilatan rasa. Lidahku menghardik pikiranku, meyakinkan bahwa pendapatnya harus dicermati baik-baik. Jangan pernah meragukan pendapat lidah! Dia ini pernah menjelajahi rupa-rupa nikmat dan perisa, berikut kelegitan dan kegurihannya. Dia pernah menapaki sudut-sudut terpencil di seribu gua rasa. Lidahku menghardik kejam, hei, Bugis, istrimu, Hemangini berselingkuh!
Sekujur tubuhku mendingin.
Napasku berhenti.
Udara memadat.
Aku menggenggam cawan erat-erat di tangan, sedetik sebelum cawan itu jatuh, pecah berderai di lantai. Darah segar muncrat mengalir dari kakiku, tersilet hantaman tajam porselain.
Hemangini membanting panci di dapur, lalu kulihat sosoknya tergopoh-gopoh ke depan. Dia terpaku tiga meter dari tempatku berdiri. Dekat kaca nako, aku tak bergerak, menunduk memandangi pecahan porselain. Darah menganak sungai di ujung jempol, merembes ke lantai. Sunyi tiba dengan lembut menjadi jeda yang tak dapat dijembatani oleh kata, oleh bahasa. Hemangini melempar tatap kepadaku yang tidak kubalas dengan tatap. Kubiarkan tatap itu hilang di udara, menari-nari bersama birai hujan, berjingkat dan berlompatan tinggi di antara angin monsoon.
Aku mengenal pasir yang menempel di saree tanpa motif yang dikenakan istriku. Pasir yang berasal pantai Juhu, pantai yang berada di pesisir Mumbai, pantai yang terkenal dengan matahari terbenamnya. Dulu kami senang menghabiskan senja di sana sambil menggigiti pani puri. Aku mencium wangi pani puri dari napasnya. Bagaimana mungkin dia berkata dia baru saja dari Colaba? Bibirku kelu mengucapkan mengapa dan apa.
Badai monsoon merepet dan merengek terus sampai malam tiba, ketika aku berbaring di samping istriku yang sudah pulas kelelahan. Dia menghadap dinding, sehingga hanya punggungnya saja yang bisa kulihat. Aku ingin membelai punggung itu, memeluknya dari belakang seperti dulu-dulu yang kami lakukan, tapi tanganku mendingin. Aku membatalkannya, meletakkan tubuhku yang memar oleh letih di sebelahnya. Lima tahun kami telah menikah. Seharusnya cinta semakin mematang dan legit seperti rasa dulu yang kami cicipi pada pandangan pertama di lorong itu.
Mataku menjadi sembab. Kurasakan jantung pecah berhamburan seperti porselain cawan tadi. Aku berbalik arah, memunggunginya, membiarkan pundak kami saling bertatap-tatapan. Udara mendingin. Aku mengerutkan tubuh, pelan-pelan takut dengan suara petir dan guntur yang sibuk melakukan tarian birahi satu sama lain. Kapan monsoon akan berakhir? Lima jam dari sekarang? Tujuh jam? Dua jam?
Monsoon biasanya terus bergerak seperti udara, tiba pada saat yang seharusnya, dan pergi pada saat yang juga seharusnya. Dia sanggup mendegam-degam sampai pagi bangkit dari kuburnya lalu berhenti bersama matahari. Aku berbaring miring sambil memilin-milin ratusan pertanyaan yang meninggalkan gema. Gaung yang menukik, menyambar, menghabisi diriku. Bisakah pengkhianatan istriku berlaku seperti topan monsoon? Seperti cuaca yang tiba begitu saja dan lenyap pergi tanpa terasa? Badai akan berlalu pada akhirnya?
Kamar tidurku menjadi basah. Petir mangguncang ranjang, membelah sisi kami berdua sampai terlepas. Angin melolong pada sepanjang tembok. Kulihat lantai penuh dengan air monsoon, semakin meninggi dan meninggi menjadi banjir yang tidak dapat dihentikan.
Aku menutup mata, membiarkan kegelapan menyelusuri kelopakku. Mendadak aku merasa lucu, aku mulai tertawa tak tertahankan; pelan-pelan mulanya; lama-lama semakin keras; terguncang-guncang sampai dadaku terasa nyeri. Aku terbahak-bahak sendirian; tidak menyangka tawaku seperti hujan monsoon yang berderai-derai membasahi sepraiku.***
Dari Koran Tempo 06/07/2009
Cerpen Clara Ng
Suara menggedor kencang berasal dari arah atap. Dengungan angin menderu-deru seperti suara truk yang kehabisan tenaga bersama hantaman air jatuh bergelung-gelung di halaman rumah. Bumantara mengucurkan warna yang paling kelabu selama satu jam belakangan ini. Aku menekan jendela nako ke bawah, menutup sirip-sirip kacanya. Barusan suara klik menandakan jendela telah terkunci, petir berpacu turun dalam gelegarnya menyalangkan pintu langit.
Hujan monsoon baru memulai episodenya. Sudah tiga hari gerimis turun tak bersudahan menandakan pra-monsoon yang diperkiraan oleh ramalan cuaca India akan berakhir pada sore hari ini. Penilaian yang tepat sebab sejak siang tadi drama monsoon telah mulai menunjukkan gejala-gejala awal. Butir-butir hujan membengkak dan merapat, tikam menikam satu sama lain, menghantam tanah bersama puluhan kilat yang saling silang menyilang di langit.
Aku tidak ingin menyalakan televisi. Informasi menyebar dari telinga ke telinga untuk mematikan perlengkapan elektronik jika dewa monsoon sedang keram perut. Di Mumbai, sang dewa sering berada dalam cuaca perasaan yang tidak baik. Tidak heran dia sering ngambek tak alang kepalang kepada masyarakat India Mumbai yang hidup berdesak-desakan tanpa sela dan serba kelelahan.
Namun bagiku, Mumbai adalah kota apologia. Kota tempat aku menikmati hentakan joget Bollywood, memuaskan diri dengan kegilaan klakson mobil yang menjerit-jerit diperkosa keringat jalanan, menghilang di deretan rumah susun yang berfasadkan jemuran warna warni dan bedeng-bedeng tumpuk, menemukan tingkat adrenalin tinggi di pedestrian setengah matang yang masih juga diselipi oleh pengendara motor ugal-ugalan. Pulau Salsette yang terletak di mulut sungai Ulhas di pesisir barat India adalah tempat Mumbai duduk anggun di singgasana joroknya. Sementara aku bernapas, sakit gigi, telanjang, terengah-engah, mabuk setan, mengorok, sampai bermasturbasi di lelehan liur yang tercetak di singgasana itu.
Kudengar istriku, Hemangini, berteriak kepadaku dari arah yang tidak bisa kutebak asalnya. Aku balas berteriak kepadanya tentang telingaku yang ditulikan oleh badai monsoon. Prahara di kebun depan membuatku enggan mengangkat pantat dan mencari Hemangini. Padahal kutebak dia pasti tidak berada jauh dari bayangan kulkas dan kompor.
Sayup-sayup kudengar patahan kata-kata istriku. Dia bilang dia ingin menghidangkan tamatar ka sorbha untukku sekarang, apakah aku berkenan. Kepalaku langsung berkelabat bayangan sup tomat hangat yang kusesap sambil memandangi pisau-pisau air menghujam di luar. Luar biasa. Sebuah sore yang dramatis sebab aku akan menjadi saksi perkawinan monsoon dan tamatar ka sorbha. Tanpa berpikir ulang, kukatakan aku sangat berkenan kepadanya. Tidak lama, istriku tiba sambil menenteng cangkir mungil keramik berwarna biru langit dengan asap yang masih mengepul-ngepul.
Hemangini mengenakan saree tanpa motif garis di sepanjang jelujurnya, cocok untuk bentuk tubuhnya yang mungil. Aku memandangnya tanpa berkedip, menciptakan jalur bolak-balik antara saree dan cawan keramik itu. Sesore ini Hemangini baru balik dari rumah ibunya, di daerah bernama Colaba yang sebenarnya merupakan pusat seni di Mumbai. Dulu ketika masih berpacaran dengan Hemangini, sering kubawa dia ke musium, galeri seni, dan toko-toko trendi di sekitar itu. Hari-hari yang dipenuhi kebahagiaan, hari-hari aku bersamanya.
Aku meraih pinggangnya yang terbuka secelah di antara lipatan kain saree, menampilkan siluet kulitnya yang berwarna kuning terang. Hemangini mengelak dari pelukanku. Lenganku terpaku di udara. Dia menghindar sentuhanku dengan gemulai, mundur selangkah dari tempatku duduk di pinggir jendela nako. Aku ingin dia menyenderkan tubuhnya di bahuku seperti bertahun-tahun lalu ketika kami berdua baru saja menjadi mempelai yang berbahagia, tapi apa yang bisa kukatakan padanya sekarang? Tanganku memegang cawan perselain ringkih tamatar ka sorbha sementara Hemangini berada di luar jangkauan lenganku.
HEMANGINI berdiri tegak, kupikir matanya memandangku, ternyata tidak, dia hanya menatapi monsoon yang mengobrak-abrik kehidupan di luar. Berliter-liter air bertakung di sumur galian yang kami buat di pekarangan untuk menghindari banjir dan tanah yang berbecek. Gerumbulan semak pecah berhamburan disilet-silet hujan, pohon-pohon membungkuk sopan, dedaunan melayang bergasing-gasing dalam keterkejutannya dipatahkan begitu saja dari ranting. Aku tidak memandangnya langsung, ada bisikan yang kudengar di telingaku tentang tatapan mata Hemangini yang tidak berada di tengah monsoon, tapi jauh menembusinya berkilo-kilometer. Kami berdua terpaku membisu.
Aku tidak mencecap sup selama itu; kubiarkan asapnya menguap di daguku. Hemangini berbalik ke dapur; gerakannya halus seperti biasa. Aku merasakan bayangannya masih berada di sebelahku. Hidungku menangkap harum tomat dan wangi bawang bercampur naan panggang dari arah dapur, sementara semerbak aroma pahit rumput diaduk dengan bebauan monsoon berkacau menjadi satu. Aku menyelupkan sendok di tengah warna merah terang sup, mengangkatnya sesendok penuh, mendekatkan di bibirku, lalu mencucup.
Lidahku langsung menggigil. Apa ini? Tamatar ka sorbha yang berbeda! Kucucup lagi kedua kalinya. Tidak, lidahku tidak akan terkecoh oleh wangi dan warnanya yang mirip. Ini bukan tamatar ka sorbha milik Hemangini! Tamatar ka sorbha adalah makanan pembuka kebesarannya, diikuti oleh kheema naan, ayam tandoori, gobi aloo, rajma masala, kambing biryani, kesari chawal, murgh vindaloo, dan gulab jamun. Waktu mendengung di sekelilingku seperti lebah-lebah. Aku menarik napas dalam-dalam. Kucucup untuk ketiga kalinya.
Sup ini! Aku menjilat bibirku, tamatar ka sorbha yang anggun menjadi kenangan tidak terlupakan sewaktu aku menjadi mahasiswa bokek di University of Mumbai jurusan arsitektur. Kutemukan Hemangini di sebuah acara pameran fotografi; seketika jatuh cinta pada matanya yang hitam dan mengilat. Di lorong itu, di antara deretan foto-foto hitam putih berbingkai yang membeberkan kesedihan gedung-gedung dan manusia-manusia Mumbai, aku menemukan secuil keindahan yang tidak dapat diilhami oleh seni mana pun. Kuhampiri gadis India itu; mahasiswi seni rupa, seorang gadis yang mencintai seni dan bergumul di jantung seni. Kami seketika dekat dan tak terpisahkan. Seni menjadi perekat kami berdua, bagai lem super, bagai las besi. Otakku tak henti-hentinya merancang adegan untuk meyakinkan orangtuaku yang hidup di Jember, ribuan kilometer jauhnya dari Mumbai, tentang gadis India yang mencuri hatiku.
Hemangini memasak tamatar ka sorbha pada malam aku diperkenalkan kepada orangtuanya. Tamatar ka sorbha yang sama yang kucecap di Prithvi Teatre pada kafetaria kecilnya ketika kami menjalani kencan pertama, terkapar kemabukan oleh pertunjukan seni drama dan bara jatuh cinta. Tamatar ka sorbha-nya selalu luar biasa, tak pernah bercacat cela. Lidahku beruntung, selalu merasakan kesempurnaan cita rasa dan estetika makanan India dan gadisnya.
Aku menyelesaikan pendidikan arsitekku; menjadi seorang arsitek di Mumbai berkubang dengan gedung-gedung dan rumah-rumah bergaya Inggris. Kutinggalkan semua yang pernah kupunya. Mumbai menjadi perut yang menelanku bulat-bulat. Pekerjaanku sempurna. Rumahku sempurna. Lambung kekenyanganku sempurna. Sendawaku sempurna. Gatal-gatal di punggungku sempurna. Gadisku sempurna. Upacara pernikahanku sempurna. Dua budaya besar bermuara menjadi satu, bayangkan seperti apa samudra yang menampung kotoran sungai-sungai ini. Tapi tetap saja kuanggap semuanya sempurna.
JADI pada detik ini, ketika kucucup tamatar ka sorbha yang terasa tak sempurna, kecurigaanku mengintip. Kuhabiskan sup tomat dengan pelan-pelan sambil mengendapkan rasa yang semakin lama dapat kutebak ke mana filsafat kenikmatannya berkiblat. Lidahku dapat mengabaikan panas sup, memisahkan antara rasa capai dan bosan, meminggirkan jenuh, menghindari mual, dan akhirnya menampung ampas yang kukunyah baik-baik. Ampas ini, aku tahu rasanya. Ampas ini adalah ampas bercinta, gairah, pengkhianatan, dan kegelisahan.
Cawan biru langit di tangan telah kosong. Tamatar ka sorbha telah tandas di perut yang langsung terasa panas oleh kilatan-kilatan rasa. Lidahku menghardik pikiranku, meyakinkan bahwa pendapatnya harus dicermati baik-baik. Jangan pernah meragukan pendapat lidah! Dia ini pernah menjelajahi rupa-rupa nikmat dan perisa, berikut kelegitan dan kegurihannya. Dia pernah menapaki sudut-sudut terpencil di seribu gua rasa. Lidahku menghardik kejam, hei, Bugis, istrimu, Hemangini berselingkuh!
Sekujur tubuhku mendingin.
Napasku berhenti.
Udara memadat.
Aku menggenggam cawan erat-erat di tangan, sedetik sebelum cawan itu jatuh, pecah berderai di lantai. Darah segar muncrat mengalir dari kakiku, tersilet hantaman tajam porselain.
Hemangini membanting panci di dapur, lalu kulihat sosoknya tergopoh-gopoh ke depan. Dia terpaku tiga meter dari tempatku berdiri. Dekat kaca nako, aku tak bergerak, menunduk memandangi pecahan porselain. Darah menganak sungai di ujung jempol, merembes ke lantai. Sunyi tiba dengan lembut menjadi jeda yang tak dapat dijembatani oleh kata, oleh bahasa. Hemangini melempar tatap kepadaku yang tidak kubalas dengan tatap. Kubiarkan tatap itu hilang di udara, menari-nari bersama birai hujan, berjingkat dan berlompatan tinggi di antara angin monsoon.
Aku mengenal pasir yang menempel di saree tanpa motif yang dikenakan istriku. Pasir yang berasal pantai Juhu, pantai yang berada di pesisir Mumbai, pantai yang terkenal dengan matahari terbenamnya. Dulu kami senang menghabiskan senja di sana sambil menggigiti pani puri. Aku mencium wangi pani puri dari napasnya. Bagaimana mungkin dia berkata dia baru saja dari Colaba? Bibirku kelu mengucapkan mengapa dan apa.
Badai monsoon merepet dan merengek terus sampai malam tiba, ketika aku berbaring di samping istriku yang sudah pulas kelelahan. Dia menghadap dinding, sehingga hanya punggungnya saja yang bisa kulihat. Aku ingin membelai punggung itu, memeluknya dari belakang seperti dulu-dulu yang kami lakukan, tapi tanganku mendingin. Aku membatalkannya, meletakkan tubuhku yang memar oleh letih di sebelahnya. Lima tahun kami telah menikah. Seharusnya cinta semakin mematang dan legit seperti rasa dulu yang kami cicipi pada pandangan pertama di lorong itu.
Mataku menjadi sembab. Kurasakan jantung pecah berhamburan seperti porselain cawan tadi. Aku berbalik arah, memunggunginya, membiarkan pundak kami saling bertatap-tatapan. Udara mendingin. Aku mengerutkan tubuh, pelan-pelan takut dengan suara petir dan guntur yang sibuk melakukan tarian birahi satu sama lain. Kapan monsoon akan berakhir? Lima jam dari sekarang? Tujuh jam? Dua jam?
Monsoon biasanya terus bergerak seperti udara, tiba pada saat yang seharusnya, dan pergi pada saat yang juga seharusnya. Dia sanggup mendegam-degam sampai pagi bangkit dari kuburnya lalu berhenti bersama matahari. Aku berbaring miring sambil memilin-milin ratusan pertanyaan yang meninggalkan gema. Gaung yang menukik, menyambar, menghabisi diriku. Bisakah pengkhianatan istriku berlaku seperti topan monsoon? Seperti cuaca yang tiba begitu saja dan lenyap pergi tanpa terasa? Badai akan berlalu pada akhirnya?
Kamar tidurku menjadi basah. Petir mangguncang ranjang, membelah sisi kami berdua sampai terlepas. Angin melolong pada sepanjang tembok. Kulihat lantai penuh dengan air monsoon, semakin meninggi dan meninggi menjadi banjir yang tidak dapat dihentikan.
Aku menutup mata, membiarkan kegelapan menyelusuri kelopakku. Mendadak aku merasa lucu, aku mulai tertawa tak tertahankan; pelan-pelan mulanya; lama-lama semakin keras; terguncang-guncang sampai dadaku terasa nyeri. Aku terbahak-bahak sendirian; tidak menyangka tawaku seperti hujan monsoon yang berderai-derai membasahi sepraiku.***
Dari Koran Tempo 06/07/2009
Subscribe to:
Comments (Atom)