Wednesday 17 November 2010

Orang Kampung

Orang Kampung

Joni Ariadinata



WAK MANGLI mulai berkeringat, –menggigil. Suara deru angin. Pohon-pohon berpatahan. Kelebat lentik pagar di depan ambruk; menembus mimpi teramat buruk. Dosa apakah? Tiba-tiba. Lentik lampu sentir menabur jelaga, menuju atap. Hitam. Ia terpaksa terbangun berkali-kali, menguping telinga. Jelas isyarat hujan. Betul. Tak ada jam. Juga suara kentong peronda yang mustinya sudah berbunyi sedari tadi. Badai dari langit itu. Lelap.

“Apakah kamu dengar juga, Juminah?” setengah mengigau, berteriak. Membangunkan istrinya, “Jangan tidur. Aku khawatir…”

“Kita bisa melihatnya besok,” pelan. Gerimit bibirnya mengguratkan garis letih. Menjawab. “Sudahlah,” ia menghibur. Tapi tak tenang. Wak Mangli hafal itu bukan isyarat baik, lalu:

“Hasnah! Bunga-bunga manggis itu pasti berjatuhan. Gagal. Ah, hujan sial. Lalu bagaimana dengan nasib Hasnah, Juminah?”

“Aku tak tahu.”

“Dengar: tahun ini tak akan ada buah. Apakah itu artinya? Besok kita akan tahu. Duh Gusti,” Wak Mangli berdoa. Telentang. Pedas matanya dan tak sanggup lagi berfikir, “Bahkan ingin rasanya mati. Kau dengar Juminah?” diam. Badai dari langit itu…

TOLOL. Memang pantas. Musim petai memanggul delapan belas bonggol petai: tersaruk-saruk dan mengetuk pintu terbunggkuk-bungkuk. Juminah, berbedak-gincu murah –dipakai sewaktu-waktu–; selendang kuning dan kebaya brukat, berjalan sepuluh kilo turun gunung. Tentu. Bau keringat dari ketiak, juga Wak Mangli –bersarung kampret dengan wajah basah; nyaris mencium dengkul Juragan Faruk ketika datang: “Kulo bawakan, Bapak Juragan Faruk! Duh, surat dari Bapak sudah kulo tahu. Kulo tak bisa baca, tapi Bapak Kadus berkata itu; bahwa, ehm, anu… Bapak Juragan Faruk katanya memintai petai. Petai asli. Betulkah? Ah, bingah amarwatasuta, gembira berkah kagiri-giri. Semoga Hasnah di sini betah. Anak saya itu, Bapak Juragan. Sare’atna-nya cuman begitu. Bodoh dan mohon petunjuk.”

Biasa mendelik tapi Juragan faham: terbahak. Mungkin lucu. Juga suka. Metingklak di atas kursi. Teriak memanggil babu, pekak. Ludah menyemprot gigi tongos, sungguh patut: “Hasnaaah!!”


Senang. Wak Mangli memandang tak bosan-bosan. Gadis, ya, sudah perawan. Sebesar itu. Anaknya, buah hati. Kesayangan. Diambil empat tahun lalu untuk jadi _batur_. Jadi babu. Bayangkan, melayani Faruk! Sungguh besar anugrah Gusti Allah. Tapi nyaris. Tiga tahun lalu, dasar Hasnah memang bodoh, anak itu kabur. Marah. Pertama kali seumur-umur Wak Mangli memukul: “Kamu yang tolol Hasnah! Ya Gusti…”

“Tapi Hasnah dijotos. Digerus. Endas Hasnah dibentur-bentur. Lihat, endas Hasnah masih metingul sebesar jengkol. Bengkak. Warnanya hijau. Oh…”

“Kamu. Kamu yang salah pasti. Dasar! Kamu itu, tak ngerti berkah. Dungu. Tak sembarang orang, tahu, bisa melayani Faruk! Pergi, ayo, kembali dan minta ampun,” mengumpat. Dulu. Katanya dicakar Bu Juragan juga. Digencet palu. Amit-amit. Anak jaman sekarang tak faham, bahwa begitulah cara priyagung memberi ajar. Mewangsitkan petuah. Sopan santun. Agar patuh. Berbakti dan mengabdi. Sungguh. Tapi tak apa. Hasnah masih kencur. Makanya harus dipaksa: “Ayo. Kemasi lagi pakaianmu, nduk. Bapak yang akan ngantar. Bapak akan ngglesot, nyembah. Mencium kaki. Meminta ampun…”

Gemeragap bayangan kembali memercik. Hasnah bisa pergi. Dipaksa. Tapi begitulah, memang takdir Gusti Allah: empat bulan barusan, Hasnah kembali. Datang. Berdiri diambang pintu: ketawa nyekakak. Rambut trondol, cepak, seperti –ah, ya, demit mur; katanya… binatang pilem. Astaga. Bedak merah. Tebal. Gincu abang dan, celana komprang pendek mirip petani, “Kamu…”

“Hasnah bunting. Ditiduri Pak Faruk. Semalam dua kali. Enak. Ini surat. Suruh datang. Bapak disuruh ke sana. Nyembah. Dan minta ampun.”

LANGIT. Tumpah _menjelegurkan_ bunyi pekak. Bledek. Barangkali runtuh. Tujuh turunan amit-amit, Juminah nangis segruk-segruk: alangkah. Jika masanya anugrah datang. Tapi hujan! Angin sial puting-beliung siapa tahu. Merontokkan harapan itu. Tentang gugurnya bunga-bunga manggis, duh! Impian Wak Mangli, bahwa empat bulan lagi Hasnah bakal kawin. Tak perlu bawa-bawa ubo rampe segala; duit, biaya seabrek-abrek seperti orangtua perawan kampung dipinang perjaka. Nanggap wayang. Duih, amat astaga mahalnya. Darimana? Duit sejuta melihatpun tak bakal. “Tak perlu,” begitu Bapak Juragan Faruk, malaikat itu, membenarkan sambil pethakilan dan ludah muncrat-muncrat: “Hasnah akan kawin dengan Udin. Ibu Faruk setuju. Nyembelih kambing, empat kambing dan… wayang! Hok-hok-hok, ueddan. Udin itu. Anakmu bakal jadi orang kota. Bisa nulis, Udin itu, juga bisa baca. Bisa nyopir. Dia, Udin itu, calon suami Hasnah, juga kerja di sini. Jadi sopir. Pintar dia. Turunan bagus.”

Katanya. Wak Mangli hanya nangis. Iba. Juga Juminah, –berkali-kali. Terimakasih. Ingin sujud dan mengucap, “Gusti Allah! Gusti Allah!!”

Udud. Sebul-sebul asap rokok dari mulut tongos. Bapak Juragan Faruk _ngendiko_, berkata lagi begini: “Jadi tak perlu bawa duit. Hok-hok-hok. Hanya ucapan terimakasih itu. Nah, Mangli, jika kupingmu tidak budek. Kudengar kau punya pohon manggis raja yang bagus. Kata orang rasanya paling enak di Dusun Jablus Melebus. Kalau panen besok, bawalah manggis ajaib. Itu sudah cukup. Seratus kilo sudah cukup. Manggis raja! Hok-hok-hok.”

“Ser… seratus, Juragan?”

Senyap. Lentik pucuk api sentir menggeriap. Wak Mangli tersadar mencangkung melamun. Jelatang hitam menabur, menuju atap. Klap!! Kilat, petir. Wak Mangli terjengat: “Cilaka, Hasnah….!!”

HARI ujug-ujug subuh. Lenyap sebentar, Wak Mangli kaget. Tertidur. Jam berapa? Tak ada jam disini. Bunyi jago kluruk meneluwung jauh, pasti. Itu suara Si Bangkok, ayam tetangga. Bumi sepi, suara angin sepoi sunyi. Aha. Wak Mangli menggerudug menggebrak jendela: gelap. Tak sabar.

“Juminah! Bangun. Siapkan obor!!”

Embun kinclong di ujung daun. Padang rumput, teranyas dingin jalan setapak diterabas telapak. Telanjang. Ada bias warna putih, di ufuk timur berkibar-kibar. Ditirai kabut: remang. Moncong tongperet menungging-nungging dengan denging irama, binatang pengisap air yang suka nyanyi serentak. Ratusan. Berdenyar-denyar menemplek pada batang-batang basah. Jalan menanjak, berkelok. Dari lembah bawah sudah terlihat _juntrung_ mentiung pohon kesayangan: manggis raja. Ohoooi! Raja manggis yang banyak dicicip para priyayi di kota, dipesan jauh hari. Pohon mukjizat itu, satu-satunya pohon penopang hidup setelah petai dan jambu klutuk. Dan kini, kembali dipinang justru dari rajanya priyayi, duh! “Hasnah! Hasnah! Semoga hujan tidak merontokkan bunga!! Dan kawinlah kau. Kawin!” melonjak. Doanya perih. Pada Gusti, pada malaikat, dan harapan dari berkah Juragan Faruk.

Melompat jadi bergas. Gemerudug ia-nya, cemas. Buru-buru. Wak Mangli itu, serasa jantung mendegup, –berlari. Juminah terengah menghempas nafas. Sesak. Tertinggal jauh langkah Wak Mangli. Cepat. Kelebat sosok Wak Mangli lenyap ditelan gerombol semak. Lentik obor tak perlu, dibuang Juminah, lantaran langit berubah. Ia berhenti, mendadak:

“Juminaaaah!! Juminaaaah!!” dari jauh. Suara teriak tertatih-tatih. Empat orang menyusul. Memanggul gergaji, kapak, tengah menanjak; dan segulung tambang besar. Untuk apakah? Tertegun. Ada firasat buruk, naluri perempuan petani berbisik. Aneh.

“Kaukah itu, Juminah?” berteriak. Semakin dekat.

“Ya.”

“Tadi malam hujan sangat deras,” jelas. Wajah Pak Kadus Jablus Melebus mulai bicara. Tersengal-sengal. Semakin tegas. Tiga penebang lain: Emen, Karto, dan Sali, berotot kekar: hanya terdiam. Kikuk. Pandang matanya berkilat. Juminah melongo.

“Ada kabar kiriman surat untukmu. Maksudku, tadi sore. Tapi hujan sangat deras. Aku tak bisa mengantar. Ah, maksudku, surat itu sangat penting. Makanya aku susul kemari. Tadi pagi-pagi, aku ke rumah. Ya Tuhan,” gugup. Pak Kadus menunjuk selembar kertas. Tengadah ke langit: “Dari Bapak Camat Umar…”

“He?!” Juminah. Melotot lutut bergetar. Gusti Allah!

“Betul. Kamu dapat anugrah. Maksudku, ya Tuhan, begini,” berbisik. “Sebagai warga yang paling baik, begitu kata Bapak Camat Umar. Kamu harus rela. Dimana Wak Mangli?” menunjuk. Juminah tak paham.

“Begini: kamu kan tahu, Juminah, sekarang musim hujan? Jembatan Cihampelas sudah dua kali hanyut. Kamu suka lewat ke sana bukan? Juga Wak Mangli. Nah, begini, katanya… ehm. Menurut anu, eh, warga kebanyakan,” clingak-clinguk. Sejenak sunyi. Emen dan Karto membuang muka. Entah. Sedang Juminah beku.

“Baiklah,” katanya. Tegar dan malu-malu: “Jembatan itu harus dipatok dengan kayu yang besar. Tak ada kayu yang lebih besar selain manggis raja milikmu. Bukankah begitu, Juminah? Semua orang tahu. Betul. Bapak Camat bilang begitu. Pagi ini harus ditebang. Kamu beruntung, Juminah. Kamu telah disebut Bapak Camat Umar itu, sebagai… ah, apa katanya itu?” Kadus melongok Sali. Meminta bantuan. Emen dan Karto melengos. Nyinyir mereka, berwajah keras, lantas meludah: “Pahlawan pembangunan!”

Tak ada cakap. Bayang Wak Mangli mengabur di sana. Sebentar. Juminah beku. Juga bayangan Hasnah, anak perempuan yang bakal kawin. Dan manggis raja kesayangan? Kini tak ada hujan. Jadi teramat sunyi. Bukit ini paling biru. Paling sedih. Sedang matahari mengambang. Meleleh. Mungkin. Sebab air mata Juminah tengah menitik. Seperti telaga. Juga di sini. Sampai kapan?

No comments: