Tempat yang Terindah untuk Mati
Kami, 10.000 pasukan berkuda, akhirnya keluar dari hutan itu. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar, padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan, lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam.
“Pacu!”
Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya, bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka, melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang.
“Pacu! Pacu! Pacu!”
Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang, dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Kuda-kuda kami menggebu, melesat dan menggebu, seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat, gelap, dan penuh dengan rintangan. Kami menggebu begitu laju, seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan, mendesing menuju kebebasan. Namun sekarang, cuma inilah yang bisa kami lakukan, berpacu melawan angin, dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami.
“Huuuu! Huuuuu! Huuuu!”
Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. Kami, 10.000 pasukan berkuda, berderap melaju menuju cakrawala. Padang stepa diselimuti salju yang tipis, dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. Semuanya terbungkus, begitu juga tangan kami yang memegang kendali. Para pembawa panji, bendera, dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa, bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu.
Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah, berpacu dan berpacu, surai kuda-kuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Langit hanya biru. Cahaya matahari menyiram padang. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam, dan segera lenyap di balik kaki langit. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan, bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami tahu, perjalanan kami masih jauh lagi, kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan.
Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Tanpa kuda, apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan, dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Kami selalu bepergian, selalu berpindah, selalu bertualang. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim, perjalanan angin, dan peredaran bintang. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir, dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Kuda-kuda kami masih terus berderap, bagai berpacu dengan angin. Telinga kami semua penuh dengan desau, yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan, namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian.
Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir, namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kami menyeberangi sungai, kami mendaki celah-celah gunung, kami mengarungi gurun pasir, dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi, tapi kami tidak juga ingin berhenti. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu, dua, bahkan bisa lima tahun, namun kami selalu berangkat kembali. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri.
Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu.
Kami berpacu, berpacu, dan berpacu.
“Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!”
Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Matahari terasa betapa berat, menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap penjuru bumi. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Langit masih membara. Kami, 10.000 pasukan berkuda, menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala, kami harus memburunya ke balik cakrawala.
***
Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Namun, ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu, musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam, cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. Di setiap danau itu setiap 1.000 orang dari kami berkemah. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100.000 saudara-saudara kami.
Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing, seolah-olah berhadapan dengan rembulan - bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling.
Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Apakah rembulan bisa memahami, betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti, betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu, menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu.
Ia meniup seruling di atas tebing. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun, orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk, dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan, sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan.
Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh, dan mendengarkan seseorang bercerita.
"Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu...."
Kami selalu membutuhkan cerita, seruling, dan kuda. Kami memuja rembulan dan matahari. Kami menyembah langit, kami menyembah bumi. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri.
Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami, karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu, bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis, tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Apabila 100.000 saudara-saudara kami tiba, mereka yang sebagian terdiri dari wanita, anak-anak, dan orang tua, akan membutuhkan tenda-tenda itu. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat, sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami.
Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit, peniup seruling itu masih di sana, melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai, dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku, di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi, sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -- inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami pasrah. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat.
Kemudian, ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami, menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami, dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah.
Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi, bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas, menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan.
Kemudian, tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami, 10.000 pasukan berkuda, tertidur dengan pulas, tiada yang mendengkur sama sekali. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Gemeretak api unggun segera berakhir. Tinggal bara api menyala diam-diam, makin lama makin menghilang. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Bertengger di atas sana. Sesekali tertutup awan.
***
Setahun kemudian seorang pengawal di atas te¬bing berteriak.
“Hooooiiiii! Mereka sudah datang!”
Kami semua segera melompat ke atas kuda, dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah, dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu, pemandangan yang kami nantikan. Tak kurang dari 100.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit.
Hari sudah menjelang senja, langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Saudara-saudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu, kami berlari-lari turun dari bukit, langsung melompat ke atas kuda kami. Dengan segera, kami menggebu menyambut 100.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka, sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami.
Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100.000 orang lagi. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan, seperti yang sudah-sudah, kami baru akan mengetahuinya nanti.
Kemudian kami melihat panji, bendera, dan umbul-umbul yang sama. Berkibar dengan megah, bergetar-getar dalam tiupan angin. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Seperti apakah mereka kini?
“Huuu! Huuuu! Huuuu!”
Kaki-kaki kuda, berderap dan berpacu. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang, dengan gerobak, kereta, gajah dan unta. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki.
Kami semua turun dari kuda.
“Akbar!"
“Abdul!”
Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat, namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu, seluruh pakaian mereka usang dan kelabu, penuh dengan debu, namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas, siap menempuh perjalanan untuk mati. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Angin begitu dingin, namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami.
Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau, menari di atas perahu, memetik kecapi di puncak bukit, dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah rembulan dan matahari. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Betapa mereka begitu tabah, dan kini begitu kurus. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. Semua orang tampak tak terurus, tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang, menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali?
Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.
“Sarita!”
“Maneka!”
Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun, betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami semua menemukan masing-masing keluarga, kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Langit memberkati kami. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki.
Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1.000 orang dari pasukan berkuda kami. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar.
Kami begitu siap untuk bahagia, tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Kami tidak bermabuk-mabukan dan lupa daratan, kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit, kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Saudara-saudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali.
Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun, bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Saudara-saudara kami yang 100.000 orang itu datang pada musim dingin, jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal, begitu juga unta dan kuda-kuda kami. Mereka begitu jinak, begitu mengerti, dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami.
Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal, dan kami menguburkannya di tengah jalan, sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100.000 orang. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10.000 orang.
Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Pada musim semi danau masih membeku, namun rerumputan menjadi lebih hijau. Ketika tiba musim panas, kami semua, 110.000 orang, berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan.
Kami berangkat pada pagi subuh. Bulan masih menggantung di langit. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau, dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati.
***
Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Kami semua, 110.000 orang, melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Begitulah kami berjalan, berjalan, dan berjalan mengarungi gurun, menempuh ngarai, menembus badai, dan menyeberangi sungai. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Kami, 110.000 anak manusia terus-menerus melangkah, kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan, khusyuk dan meyakinkan.
Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis, bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah, mendaki gunung-gunung batu, dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Kami, 110.000 orang, dengan bayi di gendongan, orang sakit dalam tanduan, dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan, merayap di jurang yang curam, jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan.
Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan, maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya, sementara yang lain meneruskan perjalanan. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam, menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Mereka yang telah menjadi tua, lemah, dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Gajah-gajah ini berbadan besar, namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan, kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berhari-hari lamanya, tapi kami rombongan 110.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah.
Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Mata mereka mengatakannya. Mereka yang mati dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya, menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Itulah dunia yang kami rindukan, dunia yang kami impikan dari abad ke abad, dari dongeng ke dongeng, dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian.
Kami melangkah, menapak pelan, terus-menerus berjalan, dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua, kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan, sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempat-tempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Namun kami tahu, meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu, ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini.
Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami.
Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Dari hari ke hari, semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan.
Langit merah di kaki langit. Kami, 110.000 anak manusia, masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana.
***
Kemudian, tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi, kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung, memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal, memang, memang, memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi.
Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami.
Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Dari balik kabut itu, tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Kemudian kabut menjadi semakin tipis, mengambang, dan pergi. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata.
Langit ungu muda. Tiada mega di langit -- kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki, kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Gajah-gajah, unta-unta, dan kuda-kuda, mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan, namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya.
Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri, hanya tegak di atas lutut kami. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Tiada suara yang menggelegar, namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat, namun kami melihat segala-galanya memutih diserap cahaya. Padang rumput memutih, panji, bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih, segala-galanya memutih. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami, namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih, seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan, sepatu, kulit dan rambut kami, segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri.
Begitulah kami semua, kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. Tiada lagi angin bertiup, tiada lagi debu mengepul, kuda-kuda berpacu, bayi menangis, dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan, namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan, begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami.
Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Dari kelam ke kelam, dari cahaya ke cahaya, kelak-kelok labirin yang memusingkan, gua pelangi yang menyilaukan.
Kami berangkat melewati tujuh rembulan, tujuh matahari, dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah, dari barat sampai ke timur, dari selatan sampai ke utaa, secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Begitulah rombongan kami, 110.000 anak manusia, bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami.
Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan, dengan atau tanpa badan, sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian.
***
Kulihat di sepanjang langit, kemah-kemah awan. Apakah aku harus berhenti, atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Semakin jauh aku berjalan, semakin aku terikat kepada kenangan, semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. Sudah begitu jauh aku berjalan, dengan segala derita dan pengabdian, dalam penyucian cahaya berkilatan, betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan?
Kulihat satu per satu dari kami, 109.999 anak cahaya, ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Kulihat 109.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. Tinggal aku sendirian, menaiki kuda putih di atas awan, melihat-lihat pemandangan.***
Ulaanbaatar - Jakarta, Maret-Juni 1996
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
(Dimuat dalam Horison, Juli 1996)
Tuesday, 23 November 2010
Senja dan Sajak Cinta
Senja dan Sajak Cinta
Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.
Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?
Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.
Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.
Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.
Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.
Malam telah turun di Jakarta. Di meja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.
langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku
kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan
Seno Gumira Ajidarma
Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan. Cahaya emas berkilatan pada kaca jendela gedung-gedung bertingkat, bagai disapu kuas keindahan raksasa. Awan gemawan menyisih, seperti digerakkan tangan-tangan dewa.
Cahaya kuning matahari melesat-lesat. Membias pada gerak jalanan yang mendadak berubah bagai tarian. Membias pada papan-papan reklame. Membias pada percik gerimis dari air mancur. Membias diantara keunguan mega-mega. Maka langit bagaikan lukisan sang waktu, bagaikan gerak sang ruang, yang segera hilang. Cahaya kuning senja yang makin lama makin jingga menyiram jalanan, menyiran segenap perasaan yang merasa diri celaka. Mengapa tak berhenti sejenak dari upacara kehidupan?
Cahaya melesat-lesat, membias, dan membelai rambut seorang wanita yang melambai tertiup angin dan dari balik rambut itu mengertap cahaya anting-anting panjang yang tak terlalu gemerlapan dan tak terlalu menyilaukan sehingga bisa ditatap bagai menatap semacam keindahan yang segera hilang, seperti kebahagiaan.
Langit senja bermain di kaca-kaca mobil dan kaca-kaca etalase toko. Lampu-lampu jalanan menyala. Angin mengeras. Senja bermain diatas kampung-kampung. Diatas genting-genting. Diatas daun-daun. Mengendap ke jalanan. Mengendap ke comberan. Genangan air comberan yang tak pernah bergerak memperlihatkan langit senja yang sedang bermain.
Ada sisa layang-layang dilangit, bertarung dalam kekelaman. Ada yang sia-sia mencoba bercermin di kaca spion sepeda motornya. Ada musik dangdut yang mengentak dari warung. Babu-babu menggendong bayi di balik pagar. Langit makin jingga, makin ungu. Cahaya keemasan berubah jadi keremangan. Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu.
Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang membentuk untaian cahaya putih yang panjang dan cahaya merah yang juga panjang. Wajah anak-anak penjual Koran dan majalah di lampu merah pun menggelap. Mereka menawarkan Koran sore dan majalah ke tiap jendela mobil yang berhenti. Bintang-bintang mengintip dilangit yang bersih. Seorang wanita, entah dimana, menyapukan lipstik ke bibirnya.
Malam telah turun di Jakarta. Di meja sebuah bar, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta.
langit muram, kau pun tahu
angin menyapu musim, gerimis melintas
pada senja selintas, aku tak tahu
masihkah ketemu malamku
kamu adalah mimpi itu, siapa tahu
dalam jejak senyap semalam
menatap hujan,
tiada bertanya sedu atau sedan
Seno Gumira Ajidarma
Rumah Tuhan
Rumah Tuhan
Sampai saat ini, seperempat abad setelah ia meninggal dunia, masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang, nyaris berteriak, seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia, ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!"
Demikian dikatakannya setiap kali, berkali-kali, di mana pun kebetulan ia berada. Di trotoar-trotoar, di emperan-emperan toko, di perempatan jalan, di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi.
Seorang laki-laki tua, lebih separo abad usianya, ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya.
Meskipun tua, tapi pengawakannya tegap dan kekar. Sorot matanya memancar berbinar. Karenanya ia ditakuti orang, terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Masuk-keluar kampung. Sekali-sekali berhenti di depan kantor, tempat orang lagi sibuk bekerja. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar.
Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya, karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan, sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna, tidak ada artinya.
Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Sesuatu yang punya arti, begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya, selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh.
Sepintas lalu, bila direnungkan, seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri, jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" "Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu, jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut.
Oh ya, belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Siapa namanya. Dari mana asal-usulnya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin, Saridin, Sidin, Brodin atau Ilmudin, tak ada yang tahu.
Ada selentingan, konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya.
Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Mereka membumihanguskan seluruh desa, tak terkecuali gubuknya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anak-bininya. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu.
Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Diam-diam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit, lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya.
Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah, penuh bertabur onak dan duri. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau.
Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya, karena penampilannya yang tidak lazim. Kusir-kusir dokar, tukang-tukang becak, lebih-lebih anak-anak jalanan, mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya.
Tapi semua itu tak dihiraukannya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orang-orang gila. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran, meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu.
Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tempat peristirahatannya tidak tetap, selalu berpindah-pindah. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu.
Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di emperan super market. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Di halte-halte bus kota. Di emper stasiun kereta api. Di pemakaman-pemakaman umum. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga, karena walikota tidak pernah tidur di situ.
Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu menghalaunya, ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadang-kadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya, yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar.
Entah darimana, suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman, senantiasa dihalau, diusir dari satu tempat ke tempat lain. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu.
Mengapa ia tidak ke sana saja, pikirnya, untuk beristirahat di malam hari, sekadar numpang tidur sejenak, minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah, yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya?
Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Tapi sial, ia tak bisa masuk ke dalam masjid, karena ada pagar tinggi menghadangnya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat.
Dengan hati sendu dan putus asa, ia surut, lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil, jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak.
Surau itu lengang dan kosong. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Berlampu suram, lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Surau itu tampak kurang terpelihara. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing.
Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya, lalu naik ke serambi surau. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu.
Kebanyakan orang, lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi, yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Mereka sulit tidur, bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.
Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang, kebanyakan orang-orang tua, yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Cepat ia bangkit, lari ke kolam mengambil air wudu, lalu melangkah ke dalam surau, mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam.
Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya, sesaat ia tersedak, teringat akan nasibnya yang malang-melintang. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah, apalagi kejahatan.
Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Dan ketika salat rampung sudah, para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.
Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata, "Saya adalah penjaga surau ini. Jika Saudara kehendaki, Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam...."
Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya.
Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya, berkeliling kota tanpa tujuan.
Suatu ketika, tidak seperti biasanya, ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang, walau angin sejuk berhembus mengipasinya.
Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Agak lama matanya terpejam. Seakan-akan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Keluarganya punah. Hartanya musnah. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih.
Harapan-harapan, ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Ia tersingkir, terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan, kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Keyakinan dan kebesaran-Nya, limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya.
Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana, ia mengelana seorang diri. Tak seorang pun peduli. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya, selalu dipupuknya, melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup.
"Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya, "Cukup bagiku Tuhan melihatku." jawabnya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya, menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada.
Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang, terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati.
Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-- yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan.
Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu, hai pengelana. Ini merupakan masa paling buruk. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan, bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi, tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya, dalam hati nurani dan jiwanya, bahkan di urat-nadinya.
"Belum lama ini, dan akan selalu terjadi, ketika manusia sama ketakutan, hingga menggigil sekujur sendinya, ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan.
"Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka coba mendekati planet Mars. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti, tapi telah keburu sombong dan berlagak.
"Kini, mari kita tinggalkan dunia yang fana ini," kata sosok penjaga surau, "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di sana segala sesuatu kekal abadi, indah sempurna tiada tara...."
Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas.
Ketika saat salat Zuhur tiba, orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Kedua belah matanya rapat terpejam, seolah-olah ia tertidur lelap. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai.***
Cerpen Muhammad Ali
Sampai saat ini, seperempat abad setelah ia meninggal dunia, masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang, nyaris berteriak, seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia, ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!"
Demikian dikatakannya setiap kali, berkali-kali, di mana pun kebetulan ia berada. Di trotoar-trotoar, di emperan-emperan toko, di perempatan jalan, di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi.
Seorang laki-laki tua, lebih separo abad usianya, ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya.
Meskipun tua, tapi pengawakannya tegap dan kekar. Sorot matanya memancar berbinar. Karenanya ia ditakuti orang, terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Masuk-keluar kampung. Sekali-sekali berhenti di depan kantor, tempat orang lagi sibuk bekerja. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar.
Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya, karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan, sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna, tidak ada artinya.
Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Sesuatu yang punya arti, begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya, selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh.
Sepintas lalu, bila direnungkan, seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri, jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" "Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu, jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut.
Oh ya, belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Siapa namanya. Dari mana asal-usulnya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin, Saridin, Sidin, Brodin atau Ilmudin, tak ada yang tahu.
Ada selentingan, konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya.
Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Mereka membumihanguskan seluruh desa, tak terkecuali gubuknya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anak-bininya. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu.
Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Diam-diam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit, lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya.
Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah, penuh bertabur onak dan duri. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau.
Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya, karena penampilannya yang tidak lazim. Kusir-kusir dokar, tukang-tukang becak, lebih-lebih anak-anak jalanan, mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya.
Tapi semua itu tak dihiraukannya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orang-orang gila. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran, meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu.
Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tempat peristirahatannya tidak tetap, selalu berpindah-pindah. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu.
Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di emperan super market. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Di halte-halte bus kota. Di emper stasiun kereta api. Di pemakaman-pemakaman umum. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga, karena walikota tidak pernah tidur di situ.
Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu menghalaunya, ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadang-kadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya, yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar.
Entah darimana, suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman, senantiasa dihalau, diusir dari satu tempat ke tempat lain. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu.
Mengapa ia tidak ke sana saja, pikirnya, untuk beristirahat di malam hari, sekadar numpang tidur sejenak, minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah, yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya?
Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Tapi sial, ia tak bisa masuk ke dalam masjid, karena ada pagar tinggi menghadangnya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat.
Dengan hati sendu dan putus asa, ia surut, lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil, jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak.
Surau itu lengang dan kosong. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Berlampu suram, lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Surau itu tampak kurang terpelihara. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing.
Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya, lalu naik ke serambi surau. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu.
Kebanyakan orang, lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi, yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Mereka sulit tidur, bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.
Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang, kebanyakan orang-orang tua, yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Cepat ia bangkit, lari ke kolam mengambil air wudu, lalu melangkah ke dalam surau, mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam.
Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya, sesaat ia tersedak, teringat akan nasibnya yang malang-melintang. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah, apalagi kejahatan.
Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Dan ketika salat rampung sudah, para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.
Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata, "Saya adalah penjaga surau ini. Jika Saudara kehendaki, Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam...."
Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya.
Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya, berkeliling kota tanpa tujuan.
Suatu ketika, tidak seperti biasanya, ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang, walau angin sejuk berhembus mengipasinya.
Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Agak lama matanya terpejam. Seakan-akan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Keluarganya punah. Hartanya musnah. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih.
Harapan-harapan, ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Ia tersingkir, terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan, kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Keyakinan dan kebesaran-Nya, limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya.
Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana, ia mengelana seorang diri. Tak seorang pun peduli. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya, selalu dipupuknya, melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup.
"Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya, "Cukup bagiku Tuhan melihatku." jawabnya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya, menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada.
Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang, terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati.
Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-- yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan.
Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu, hai pengelana. Ini merupakan masa paling buruk. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan, bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi, tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya, dalam hati nurani dan jiwanya, bahkan di urat-nadinya.
"Belum lama ini, dan akan selalu terjadi, ketika manusia sama ketakutan, hingga menggigil sekujur sendinya, ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan.
"Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka coba mendekati planet Mars. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti, tapi telah keburu sombong dan berlagak.
"Kini, mari kita tinggalkan dunia yang fana ini," kata sosok penjaga surau, "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di sana segala sesuatu kekal abadi, indah sempurna tiada tara...."
Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas.
Ketika saat salat Zuhur tiba, orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Kedua belah matanya rapat terpejam, seolah-olah ia tertidur lelap. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai.***
Cerpen Muhammad Ali
Sembilan Semar
Sembilan Semar
SIAPAKAH yang percaya Semar itu benar-benar ada? Di dunia ini adakah satu orang saja yang percaya betapa manusia yang buruk rupa, membosankan, dan mulutnya berbusa dengan petuah itu sebenarnya memang ada - cuma saja dia bersembunyi entah di mana? Semar memang ada gambarnya. Ada wayang kulitnya. Ada pula pemain wayang orang yang memerankannya. Semar itu seolah-olah memang ada, jadi nama toko emas, cap batik, merek kecap, trade mark kaos oblong murahan, dan entah apa lagi - tapi apakah ada orang yang bisa percaya Semar itu sebenarnya memang berada di dekat-dekat kita saja? Tidak seorang pun di muka bumi ini bahkan pernah bermimpi, bahwa Semar benar-benar ada. Sampai dia muncul di tengah orang banyak di jalanan itu, mengacungkan telunjuknya yang bergetar ke langit, dan mengeluarkan suara.
“Oladalah, lae, lae…”
Suaranya menggelegar di angkasa, selayaknya dewa yang sedang murka. Orang-orang ternganga, tidak bisa mempercayai penglihatannya. Ada yang menggosok mata, ada yang bengong menyeringai saja, ada pula yang coba-coba memotretnya. Semua orang langsung percaya itu memang Semar, tapi sekaligus juga semua orang tidak bisa percaya bahwa Semar itu benar-benar ada. Sama sekali tidak seperti pemain wayang orang. Ia tidak memakai make up. Ia tidak mengenakan kostum. Ia tidak memang topi rambut palsu. Tidak memasang bantal di pantatnya. Ia memang Semar. Asli Semar. Semar tulen. Tapi, bagaimana mungkin Semar itu ada?
Ia berdiri di sana, di bundaran Hotel Indonesia dengan wajah penuh amarah. Ia bukan lagi Semar yang sabar. Orang-orang kaget. Semar yang marah adalah Semar yang berbahaya. Gawat. Jangan sampai ia keluarkan kentutnya. Hancur nanti dunia dibuatnya.
Memang ia Semar. Wibawa yang meyakinkan memancar dari tubuhnya. Jalanan langsung macet. Lampu merah mati tidak berfungsi. Semua orang mendekat. Antara percaya dan tidak percaya semua orang melangkah ke satu arah. Memang ia Semar. Bukan badut Ancol, bukan pemain wayang orang, atau orang gila yang mencoba menarik perhatian. Percaya atau tidak, ia memang Semar, tidak ada yang meragukannya, meski hampir semua orang masih tetap saja tidak habis pikir. Ternyata Semar itu memang ada. Busyet. Mau apa dia?
Tapi Semar belum mengucapkan apa-apa. Bibirnya bergetar menahan perasaan. Orang-orang menunggu. Jika Semar sempat muncul di dunia nyata, pasti ada peristiwa yang luar biasa. Sudah berabad-abad ia bersembunyi saja entah di sudut bumi yang mana. Entah di mana ia tidur, entah di mana ia makan, entah di mana ia menjalani hidupnya sebagai Semar. Apakah ia diam-diam menonton wayang kulit dari balik kegelapan? Apakah ia berada di deret paling belakang ketika Semar muncul hanya untuk diejek-ejek oleh anak-anaknya, Gareng, Petruk, Bagong, dalam babak goro-goro yang merupakan ajang para punakawan menggugat keadaan?
Semar, Semar, oladalah Semar. Memang ia Semar. Badannya gemuk bulat, rambutnya berkuncung putih, mata rembes selalu berair, hidung pesek, dan bibirnya cablik. Memang ia Semar. Katanya laki-laki, tapi dadanya montok dan jalannya megal-megol seperti perempuan. Katanya dewa, tapi penampilan rakyat jelata. Cuma jadi punakawan, tapi kesaktiannya bukan hanya melebihi ksatria, melainkan juga Batara Siwa. Semua orang tahu riwayat hidup Semar - Batara Ismaya yang terkutuk untuk mengabdi kebenaran sepanjang hidupnya. Bila kebenaran berada dalam bahaya, itulah saat Semar untuk muncul mengembalikan kedamaian dunia. Namun apabila ia muncul sekarang, apakah yang akan diluruskannya? Jangan-jangan ia tidak mengerti. Jangan-jangan ia tidak mengikuti perkembangan. Jangan-jangan selama ini ia tidur saja berpuluh-puluh tahun seperti Kumbakarna. Siapa tahu ia tidak tahu bagian bumi yang satu ini baik-baik saja. Sungguh-sungguh aman, gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharjo. Yeah, Well, well, well - apakah yang akan dilakukan Semar? Jangan-jangan ia hanya akan mengacau saja. Banyak orang sudah senang dengan keadaan sekarang. Sudah banyak keuntungan. Seorang Semar yang datang memberi peringatan hanya akan mengacaukan ketenangan.
***
LANGIT mengendap. Matahari sembunyi. Gamelan berbunyi. Seorang intel memberi laporan situasi lewat handphone.
“Ya, betul Komandan, ia memang Semar. Ciri-cirinya cocok. Kulitnya putih seperti kulit sapi. Ia pakai sarung. Telunjuknya menuding ke atas seperti dalam wayang orang, tapi kali ini ia kelihatan marah.”
“Tapi ia memang Semar bukan?”
“Memang Semar, Bos.”
“Huss, bas-bos-bas-bos, Komandan!”
“Siap! Memang Semar, Komandan!”
“Betul-betul Semar?”
“Asli!”
“Bukan Semar gadungan? Awas, hati-hati, dalam cerita wayang banyak tokoh gadungan lho!”
“Ini asli, Komandan! Asli Semar!”
“Kalau begitu saya juga mau lihat ah!”
Komandan itu sudah mau berangkat ketika handphone-nya bertulililit lagi. Seorang intel lain meneleponnya.
“Laporan Komandan! Ada Semar di Patung Pizza.”
“Lho Semar lagi? Maksud kamu di bundaran Hotel Indonesia?”
“Bukan Komandan, saya bertugas di Patung Pizza.”
“Semar di Patung Pizza? Kamu mabok? Kamu tripping ya?”
“Saya tidak tripping Komandan, saya tidak menenggak inex kalau sedang bertugas. Sungguh mati, saya melihat Semar di Patung Pizza.”
“Di atas pizza-nya?”
“Bukan! Di bawah! Sekarang jalanan macet total!”
“Tangkap dia! Pasti yang itu gadungan!”
“Ini asli, Komandan, asli Semar!”
“Busyet, busyet! Pagi-pagi sudah ada kejadian konyol seperti ini. Pasang matamu dengan benar, Semar itu asli atau bukan, soalnya di bundaran Ha-i juga ada Semar!”
“Sungguh mati! Ini Semar asli, Komandan! Kulitnya merah semua!”
Hampir saja handphone Komandan terlepas dari tangannya karena terkejut.
“Merah! Di Ha-i Semarnya putih!”
“Di sana yang gadungan Komandan! Ini betul-betul Semar Merah yang asli!”
“Semar Merah! Semar Putih! Mana yang asli?”
“Lho, Komandan, Semar itu bisa mengubah diri jadi apa saja, jadi ksatria cakap bisa, jadi wanita cantik pun bisa.”
“Tapi mestinya yang asli cuma satu toh?”
“Aduh, Bos…”
“Komandan!”
“Siap! Komandan! Apalah yang tidak mungkin bagi Semar? Saya kira dua-duanya asli, Komandan!”
“Dua-duanya asli! Busyet! Apa yang dilakukan Semar Merah itu di bawah Patung Pizza?”
“Ia menari-nari, Komandan!”
“Menari-nari?”
“Iya Komandan! Semar menarikan tari perang suku Indian!”
“Semar menarikan tari perang suku Indian? Kamu pasti tripping!”
“Sumpah mati Komandan, saya malah belum makan dari pagi.”
Semar yang seluruh tubuhnya berwarna merah memang sedang menari. Badannya yang gemuk berputar-putar dengan lincah membawakan tari perang suku Indian, seolah-olah sedang mengitari api unggun. Langit memperdengarkan bunyi perkusi. Jalanan macet. Orang-orang menonton. Mereka juga belum habis pikir bahwa Semar ternyata memang ada. Meskipun lazimnya Semar itu berwarna putih, tapi Semar yang merah ini sama meyakinkannya seperti Semar. Bukan pemain wayang orang, bukan pula badut Ancol. Memang asli Semar.
***
KOMANDAN itu tidak jadi pergi. Ia tetap berada di dalam kantornya dan berpikir. Ia seorang perwira cerdas lulusan Magelang dengan tambahan kursus-kursus di West Point. Ia tidak mau sembarangan bertindak. Ia bukan orang yang grasa-grusu dan selalu ingin kelihatan gagah. Setiap peristiwa ada maknanya. Setiap makna harus diuraikan tujuannya. Ia harus berpikir dari konteks ke konteks, dari penafsiran satu ke penafsiran lain. Apakah peristiwa ini bermuatan politis? Apakah ada unsur-unsur subversif? Apakah ini cuma cara untuk mengalihkan perhatian dari tujuan sebenarnya? Atau apakah ini cuma semacam teater eksperimental? Belakangan ini intel-intel sering melaporkan, bahwa para seniman sudah semakin nekad melakukan segala cara supaya dirinya terkenal, termasuk mengambil risiko ditangkap petugas keamanan.
Di antara banyak kemungkinan ia memusatkan pikirannya kepada satu hal: apakah ada bedanya jika ini Semar asli atau Semar pura-pura? Memang kedua intelnya melaporkan bahwa kedua Semar ini asli. Tapi, begitulah, apa ya mungkin Semar itu ada? Meskipun begitu, kalau orang-orang ini sudah percaya Semar yang dilihatnya memang asli, apakah masih penting Semar ini asli atau palsu? Ia tetap saja Semar. “Tidak penting benar Semar ini asli atau tiruan,” pikirnya, “yang penting apakah yang dilakukannya mengganggu keamanan.” Kalau Semar asli, ia tidak akan mengacau. Entahlah kalau Semar jadi-jadian. Namun kalau ada yang palsu, bukankah ada yang asli?
Handphone-nya bertulililit lagi.
“Laporan! Ada Semar Hijau di bawah Patung Diponegoro!”
“Busyet,” Komandan itu menggerutu, “memangnya ada berapa Semar di dunia ini?”
“Laporan! Semar Hijau di Patung Diponegoro dikerumuni orang banyak! Apakah yang harus saya lakukan?”
“Apa yang dilakukan Semar Hijau itu?”
“Ia bertapa!”
“Bertapa? Bertapa bagaimana?”
“Bertapa ya bertapa, seperti bersemadi begitu, kakinya bersila, tangannya sedakep, dan matanya terpejam.”
“Apakah ia memang Semar?”
“Asli Semar, Komandan! Jambulnya melambai-lambai tertiup angin!”
“Bagaimana orang-orang?”
“Orang-orang mengerumuninya, mereka menunggu Semar itu menyelesaikan tapanya dan mengucapkan sesuatu.”
“Banyak?”
“Banyak sekali! Situasi hiruk pikuk di sini! Mohon petunjuk!”
“Dasar mental petunjuk! Sudah, kamu di sana saja dan mengawasi terus!”
Sudah tiga Semar muncul hari ini. Semar Putih, Semar Merah, dan Semar Hijau. Apakah maknanya? Semar-Semar ini ketiga-tiganya lebih dari meyakinkan sebagai Semar. Bisa saja ketiga-tiganya Semar asli. Apalah yang tidak mungkin bagi Semar bukan?
Tulililililililit.
“Semar lagi?”
“Semar Hitam, Komandan! Semar Hitam muncul di patung Pemuda Menuding.”
“Sekarang Semar Hitam! Busyet! Apa juga menari-nari?”
“Tidak Komandan! Semar Hitam tidak menari, Semar ber-bungee jumping!”
“Bungee jumping bagaimana?”
“Ia meloncat dari atas Patung Pemuda Menuding, kakinya diikat tali, kepalanya cuma setengah meter dari bumi ketika sampai di bawah, setelah itu ia terbang ke atas patung lagi, dan terjun lagi.”
“Busyet. Bagaimana keadaan?”
“Macet total, Komandan! Jalan tol juga macet! Semar Hitam jadi tontonan! Mohon petunjuk!”
“Petunjuk dengkulmu! Tetap di sana dan awasi terus perkembangan.”
“Siap! Laksanakan!”
***
KOMANDAN minta dikirim helikopter. Dalam waktu singkat ia sudah mengudara. apakah Semar-Semar ini harus ditangkap dengan tuduhan bikin onar? Masalahnya, kalau Semar-Semar ini ditangkap, apakah orang-orang yang sudah percaya bahwa Semar-Semar ini memang Semar tidak akan protes? Komandan itu mengerti benar. Diam-diam orang banyak merindukan Semar. Orang banyak menginginkan Semar datang membawa perubahan. Orang-orang yang terlalu banyak berharap ini mungkin lebih berbahaya dari Semar. Sedangkan Semar itu sendiri, kalau ia memang Semar, kenapa harus takut? Semar itu orang baik. Penyelamat kehancuran dunia. Masalahnya, apakah Semar-Semar ini memang Semar? Memang Semar, Ki Lurah Badranaya dari Karang Tumaritis?
Dari udara, satu per satu, Semar-Semar itu dilihatnya. Semar Putih mengacungkan telunjuknya ke angkasa, dengan bibir bergetar menahan amarah di bundaran Hotel Indonesia. Semar Merah berputar-putar menarikan tari perang orang Indian di Patung Pizza. Semar Hijau bertapa dikerumuni orang banyak di Patung Diponegoro. Semar Hitam menggemparkan dengan atraksi bungee jumping di Patung Pemuda Menuding. Well, well, well, apakah yang akan ditulis koran-koran tentang ini semua? Ini sungguh suatu peristiwa langka, dalam sejarah pewayangan maupun sejarah dunia.
Helikopter yang ditumpangi Komandan mengelilingi Jakarta. Deretan kemacetan yang panjang tampak di mana-mana. Handphone terus menerus bertulilililit melaporkan kehadiran Semar-Semar yang lain. Semar Kuning main skateboard di atas kap mobil-mobil yang macet sepanjang jalan tol. Semar Ungu melakukan aksi duduk di tangga Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Semar Oranye tiba-tiba muncul di layar TV, ia berada di atara para pemain basket NBA, merebut bola dari Michael Jordan maupun Shaquille O’Neal, melakukan slam dunk sampai seratus kali di ring kedua tim.
“Semar sampai ke Amerika?”
“Lho, selain kelihatan dari siaran langsung TV, ini memang laporan intel kita dari Chicago!”
Komandan itu tiba-tiba merasa dirinya tripping, meskipun seumur hidup ia belum pernah menenggak inex. Ketika itu dari udara dilihatnya Semar Biru Metalik menari bedaya di atas simbol Planet Hollywood. Ia belum pernah melihat tari bedaya dibawakan sehalus itu. Yeah. Apalah yang tidak bisa dilakukan Semar?
***
“PULANG ke markas,” kata Komandan kepada pilot.
Ia sudah berpikir untuk menangkap delapan Semar itu dengan jala, karena kemacetan Jakarta sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Semar atau bukan Semar, ia harus patuh kepada hukum. Ia akan mengirimkan delapan helikopter serentak ke delapan penjuru untuk menangkap Semar-Semar itu dengan jala dari udara. “Biarlah ia keluarkan kentutnya yang lebih dahsyat dari senjata nuklir itu,” pikir Komandan, “kami toh selalu siap untuk mati.”
Namun ketika ia masuk kembali ke kantornya, Semar Putih yang tadi dilihatnya di bundaran Hotel Indonesia sudah duduk di kursinya sambil mengusap-usap kuncung.
“Duduk,” kata Semar itu, seolah-olah ia yang punya kantor. Komandan pun duduk, seperti tamu. Entah kenapa, ia tiba-tiba merasa hormat.
“Ananda Komandan tidak perlu menangkap kami dengan jala,” ujar Semar, yang ternyata betul-betul weruh sadurung winarah, “kami tidak akan selamanya show di Jakarta. Tugas kami banyak, bukan cuma di Indonesia saja. Kami datang hanya untuk memberi peringatan.”
“Peringatan apa?”
“Itulah yang harus kalian pikirkan sendiri, karena Semar tidak memberi ceramah. Semar tidak perlu berseminar untuk menjelaskan maksudnya. Semar hanya datang untuk memberi tanda-tanda.”
“Saya mengerti Bapak Semar.”
“Ah, jangan panggil saya Bapak, saya bukan bapak kamu.”
“Jadi bagaimana saya harus memanggil Andika?”
“Panggil Bung saja, Bung Semar.”
“Baik Bapak… eh Bung Semar.”
“Sekarang aku pergi. Jangan khawatir, ketenangan akan kembali. Goodbye. Adios. Ciao!”
“Ciao!”
Semar Putih itu menghilang. Handphone bertulilililit berkali-kali mengabarkan kepergian Semar-Semar yang lain. Hari ini delapan Semar datang ke Jakarta, tulis Komandan itu dalam catatan hariannya, aku sudah berlatih untuk menghadapi setiap kejutan, tapi tidak kejutan seperti ini. Sayang sekali, foto-foto yang dibuat para wartawan tidak ada yang jadi. Sampai sekarang aku tidak tahu, Semar itu sebenarnya betul-betul ada atau tidak.
Senja telah tiba. Hari yang sungguh melelahkan untuk Komandan. Ia ingin segera pulang, ketemu anak-istri, dan berkaraoke. Sebelum ke luar ruangan, ia melihat dirinya di cermin. Di atas cermin itu ada tulisan: Sudah Rapikah Anda Hari ini?
Komandan itu tidak bisa mempercayai matanya.
“Aku? Aku sudah berubah menjadi Semar Fiberglass? ***
(Taman Manggu, Sunday Wage, 6 Oktober 1996. 09:15)
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
SIAPAKAH yang percaya Semar itu benar-benar ada? Di dunia ini adakah satu orang saja yang percaya betapa manusia yang buruk rupa, membosankan, dan mulutnya berbusa dengan petuah itu sebenarnya memang ada - cuma saja dia bersembunyi entah di mana? Semar memang ada gambarnya. Ada wayang kulitnya. Ada pula pemain wayang orang yang memerankannya. Semar itu seolah-olah memang ada, jadi nama toko emas, cap batik, merek kecap, trade mark kaos oblong murahan, dan entah apa lagi - tapi apakah ada orang yang bisa percaya Semar itu sebenarnya memang berada di dekat-dekat kita saja? Tidak seorang pun di muka bumi ini bahkan pernah bermimpi, bahwa Semar benar-benar ada. Sampai dia muncul di tengah orang banyak di jalanan itu, mengacungkan telunjuknya yang bergetar ke langit, dan mengeluarkan suara.
“Oladalah, lae, lae…”
Suaranya menggelegar di angkasa, selayaknya dewa yang sedang murka. Orang-orang ternganga, tidak bisa mempercayai penglihatannya. Ada yang menggosok mata, ada yang bengong menyeringai saja, ada pula yang coba-coba memotretnya. Semua orang langsung percaya itu memang Semar, tapi sekaligus juga semua orang tidak bisa percaya bahwa Semar itu benar-benar ada. Sama sekali tidak seperti pemain wayang orang. Ia tidak memakai make up. Ia tidak mengenakan kostum. Ia tidak memang topi rambut palsu. Tidak memasang bantal di pantatnya. Ia memang Semar. Asli Semar. Semar tulen. Tapi, bagaimana mungkin Semar itu ada?
Ia berdiri di sana, di bundaran Hotel Indonesia dengan wajah penuh amarah. Ia bukan lagi Semar yang sabar. Orang-orang kaget. Semar yang marah adalah Semar yang berbahaya. Gawat. Jangan sampai ia keluarkan kentutnya. Hancur nanti dunia dibuatnya.
Memang ia Semar. Wibawa yang meyakinkan memancar dari tubuhnya. Jalanan langsung macet. Lampu merah mati tidak berfungsi. Semua orang mendekat. Antara percaya dan tidak percaya semua orang melangkah ke satu arah. Memang ia Semar. Bukan badut Ancol, bukan pemain wayang orang, atau orang gila yang mencoba menarik perhatian. Percaya atau tidak, ia memang Semar, tidak ada yang meragukannya, meski hampir semua orang masih tetap saja tidak habis pikir. Ternyata Semar itu memang ada. Busyet. Mau apa dia?
Tapi Semar belum mengucapkan apa-apa. Bibirnya bergetar menahan perasaan. Orang-orang menunggu. Jika Semar sempat muncul di dunia nyata, pasti ada peristiwa yang luar biasa. Sudah berabad-abad ia bersembunyi saja entah di sudut bumi yang mana. Entah di mana ia tidur, entah di mana ia makan, entah di mana ia menjalani hidupnya sebagai Semar. Apakah ia diam-diam menonton wayang kulit dari balik kegelapan? Apakah ia berada di deret paling belakang ketika Semar muncul hanya untuk diejek-ejek oleh anak-anaknya, Gareng, Petruk, Bagong, dalam babak goro-goro yang merupakan ajang para punakawan menggugat keadaan?
Semar, Semar, oladalah Semar. Memang ia Semar. Badannya gemuk bulat, rambutnya berkuncung putih, mata rembes selalu berair, hidung pesek, dan bibirnya cablik. Memang ia Semar. Katanya laki-laki, tapi dadanya montok dan jalannya megal-megol seperti perempuan. Katanya dewa, tapi penampilan rakyat jelata. Cuma jadi punakawan, tapi kesaktiannya bukan hanya melebihi ksatria, melainkan juga Batara Siwa. Semua orang tahu riwayat hidup Semar - Batara Ismaya yang terkutuk untuk mengabdi kebenaran sepanjang hidupnya. Bila kebenaran berada dalam bahaya, itulah saat Semar untuk muncul mengembalikan kedamaian dunia. Namun apabila ia muncul sekarang, apakah yang akan diluruskannya? Jangan-jangan ia tidak mengerti. Jangan-jangan ia tidak mengikuti perkembangan. Jangan-jangan selama ini ia tidur saja berpuluh-puluh tahun seperti Kumbakarna. Siapa tahu ia tidak tahu bagian bumi yang satu ini baik-baik saja. Sungguh-sungguh aman, gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharjo. Yeah, Well, well, well - apakah yang akan dilakukan Semar? Jangan-jangan ia hanya akan mengacau saja. Banyak orang sudah senang dengan keadaan sekarang. Sudah banyak keuntungan. Seorang Semar yang datang memberi peringatan hanya akan mengacaukan ketenangan.
***
LANGIT mengendap. Matahari sembunyi. Gamelan berbunyi. Seorang intel memberi laporan situasi lewat handphone.
“Ya, betul Komandan, ia memang Semar. Ciri-cirinya cocok. Kulitnya putih seperti kulit sapi. Ia pakai sarung. Telunjuknya menuding ke atas seperti dalam wayang orang, tapi kali ini ia kelihatan marah.”
“Tapi ia memang Semar bukan?”
“Memang Semar, Bos.”
“Huss, bas-bos-bas-bos, Komandan!”
“Siap! Memang Semar, Komandan!”
“Betul-betul Semar?”
“Asli!”
“Bukan Semar gadungan? Awas, hati-hati, dalam cerita wayang banyak tokoh gadungan lho!”
“Ini asli, Komandan! Asli Semar!”
“Kalau begitu saya juga mau lihat ah!”
Komandan itu sudah mau berangkat ketika handphone-nya bertulililit lagi. Seorang intel lain meneleponnya.
“Laporan Komandan! Ada Semar di Patung Pizza.”
“Lho Semar lagi? Maksud kamu di bundaran Hotel Indonesia?”
“Bukan Komandan, saya bertugas di Patung Pizza.”
“Semar di Patung Pizza? Kamu mabok? Kamu tripping ya?”
“Saya tidak tripping Komandan, saya tidak menenggak inex kalau sedang bertugas. Sungguh mati, saya melihat Semar di Patung Pizza.”
“Di atas pizza-nya?”
“Bukan! Di bawah! Sekarang jalanan macet total!”
“Tangkap dia! Pasti yang itu gadungan!”
“Ini asli, Komandan, asli Semar!”
“Busyet, busyet! Pagi-pagi sudah ada kejadian konyol seperti ini. Pasang matamu dengan benar, Semar itu asli atau bukan, soalnya di bundaran Ha-i juga ada Semar!”
“Sungguh mati! Ini Semar asli, Komandan! Kulitnya merah semua!”
Hampir saja handphone Komandan terlepas dari tangannya karena terkejut.
“Merah! Di Ha-i Semarnya putih!”
“Di sana yang gadungan Komandan! Ini betul-betul Semar Merah yang asli!”
“Semar Merah! Semar Putih! Mana yang asli?”
“Lho, Komandan, Semar itu bisa mengubah diri jadi apa saja, jadi ksatria cakap bisa, jadi wanita cantik pun bisa.”
“Tapi mestinya yang asli cuma satu toh?”
“Aduh, Bos…”
“Komandan!”
“Siap! Komandan! Apalah yang tidak mungkin bagi Semar? Saya kira dua-duanya asli, Komandan!”
“Dua-duanya asli! Busyet! Apa yang dilakukan Semar Merah itu di bawah Patung Pizza?”
“Ia menari-nari, Komandan!”
“Menari-nari?”
“Iya Komandan! Semar menarikan tari perang suku Indian!”
“Semar menarikan tari perang suku Indian? Kamu pasti tripping!”
“Sumpah mati Komandan, saya malah belum makan dari pagi.”
Semar yang seluruh tubuhnya berwarna merah memang sedang menari. Badannya yang gemuk berputar-putar dengan lincah membawakan tari perang suku Indian, seolah-olah sedang mengitari api unggun. Langit memperdengarkan bunyi perkusi. Jalanan macet. Orang-orang menonton. Mereka juga belum habis pikir bahwa Semar ternyata memang ada. Meskipun lazimnya Semar itu berwarna putih, tapi Semar yang merah ini sama meyakinkannya seperti Semar. Bukan pemain wayang orang, bukan pula badut Ancol. Memang asli Semar.
***
KOMANDAN itu tidak jadi pergi. Ia tetap berada di dalam kantornya dan berpikir. Ia seorang perwira cerdas lulusan Magelang dengan tambahan kursus-kursus di West Point. Ia tidak mau sembarangan bertindak. Ia bukan orang yang grasa-grusu dan selalu ingin kelihatan gagah. Setiap peristiwa ada maknanya. Setiap makna harus diuraikan tujuannya. Ia harus berpikir dari konteks ke konteks, dari penafsiran satu ke penafsiran lain. Apakah peristiwa ini bermuatan politis? Apakah ada unsur-unsur subversif? Apakah ini cuma cara untuk mengalihkan perhatian dari tujuan sebenarnya? Atau apakah ini cuma semacam teater eksperimental? Belakangan ini intel-intel sering melaporkan, bahwa para seniman sudah semakin nekad melakukan segala cara supaya dirinya terkenal, termasuk mengambil risiko ditangkap petugas keamanan.
Di antara banyak kemungkinan ia memusatkan pikirannya kepada satu hal: apakah ada bedanya jika ini Semar asli atau Semar pura-pura? Memang kedua intelnya melaporkan bahwa kedua Semar ini asli. Tapi, begitulah, apa ya mungkin Semar itu ada? Meskipun begitu, kalau orang-orang ini sudah percaya Semar yang dilihatnya memang asli, apakah masih penting Semar ini asli atau palsu? Ia tetap saja Semar. “Tidak penting benar Semar ini asli atau tiruan,” pikirnya, “yang penting apakah yang dilakukannya mengganggu keamanan.” Kalau Semar asli, ia tidak akan mengacau. Entahlah kalau Semar jadi-jadian. Namun kalau ada yang palsu, bukankah ada yang asli?
Handphone-nya bertulililit lagi.
“Laporan! Ada Semar Hijau di bawah Patung Diponegoro!”
“Busyet,” Komandan itu menggerutu, “memangnya ada berapa Semar di dunia ini?”
“Laporan! Semar Hijau di Patung Diponegoro dikerumuni orang banyak! Apakah yang harus saya lakukan?”
“Apa yang dilakukan Semar Hijau itu?”
“Ia bertapa!”
“Bertapa? Bertapa bagaimana?”
“Bertapa ya bertapa, seperti bersemadi begitu, kakinya bersila, tangannya sedakep, dan matanya terpejam.”
“Apakah ia memang Semar?”
“Asli Semar, Komandan! Jambulnya melambai-lambai tertiup angin!”
“Bagaimana orang-orang?”
“Orang-orang mengerumuninya, mereka menunggu Semar itu menyelesaikan tapanya dan mengucapkan sesuatu.”
“Banyak?”
“Banyak sekali! Situasi hiruk pikuk di sini! Mohon petunjuk!”
“Dasar mental petunjuk! Sudah, kamu di sana saja dan mengawasi terus!”
Sudah tiga Semar muncul hari ini. Semar Putih, Semar Merah, dan Semar Hijau. Apakah maknanya? Semar-Semar ini ketiga-tiganya lebih dari meyakinkan sebagai Semar. Bisa saja ketiga-tiganya Semar asli. Apalah yang tidak mungkin bagi Semar bukan?
Tulililililililit.
“Semar lagi?”
“Semar Hitam, Komandan! Semar Hitam muncul di patung Pemuda Menuding.”
“Sekarang Semar Hitam! Busyet! Apa juga menari-nari?”
“Tidak Komandan! Semar Hitam tidak menari, Semar ber-bungee jumping!”
“Bungee jumping bagaimana?”
“Ia meloncat dari atas Patung Pemuda Menuding, kakinya diikat tali, kepalanya cuma setengah meter dari bumi ketika sampai di bawah, setelah itu ia terbang ke atas patung lagi, dan terjun lagi.”
“Busyet. Bagaimana keadaan?”
“Macet total, Komandan! Jalan tol juga macet! Semar Hitam jadi tontonan! Mohon petunjuk!”
“Petunjuk dengkulmu! Tetap di sana dan awasi terus perkembangan.”
“Siap! Laksanakan!”
***
KOMANDAN minta dikirim helikopter. Dalam waktu singkat ia sudah mengudara. apakah Semar-Semar ini harus ditangkap dengan tuduhan bikin onar? Masalahnya, kalau Semar-Semar ini ditangkap, apakah orang-orang yang sudah percaya bahwa Semar-Semar ini memang Semar tidak akan protes? Komandan itu mengerti benar. Diam-diam orang banyak merindukan Semar. Orang banyak menginginkan Semar datang membawa perubahan. Orang-orang yang terlalu banyak berharap ini mungkin lebih berbahaya dari Semar. Sedangkan Semar itu sendiri, kalau ia memang Semar, kenapa harus takut? Semar itu orang baik. Penyelamat kehancuran dunia. Masalahnya, apakah Semar-Semar ini memang Semar? Memang Semar, Ki Lurah Badranaya dari Karang Tumaritis?
Dari udara, satu per satu, Semar-Semar itu dilihatnya. Semar Putih mengacungkan telunjuknya ke angkasa, dengan bibir bergetar menahan amarah di bundaran Hotel Indonesia. Semar Merah berputar-putar menarikan tari perang orang Indian di Patung Pizza. Semar Hijau bertapa dikerumuni orang banyak di Patung Diponegoro. Semar Hitam menggemparkan dengan atraksi bungee jumping di Patung Pemuda Menuding. Well, well, well, apakah yang akan ditulis koran-koran tentang ini semua? Ini sungguh suatu peristiwa langka, dalam sejarah pewayangan maupun sejarah dunia.
Helikopter yang ditumpangi Komandan mengelilingi Jakarta. Deretan kemacetan yang panjang tampak di mana-mana. Handphone terus menerus bertulilililit melaporkan kehadiran Semar-Semar yang lain. Semar Kuning main skateboard di atas kap mobil-mobil yang macet sepanjang jalan tol. Semar Ungu melakukan aksi duduk di tangga Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Semar Oranye tiba-tiba muncul di layar TV, ia berada di atara para pemain basket NBA, merebut bola dari Michael Jordan maupun Shaquille O’Neal, melakukan slam dunk sampai seratus kali di ring kedua tim.
“Semar sampai ke Amerika?”
“Lho, selain kelihatan dari siaran langsung TV, ini memang laporan intel kita dari Chicago!”
Komandan itu tiba-tiba merasa dirinya tripping, meskipun seumur hidup ia belum pernah menenggak inex. Ketika itu dari udara dilihatnya Semar Biru Metalik menari bedaya di atas simbol Planet Hollywood. Ia belum pernah melihat tari bedaya dibawakan sehalus itu. Yeah. Apalah yang tidak bisa dilakukan Semar?
***
“PULANG ke markas,” kata Komandan kepada pilot.
Ia sudah berpikir untuk menangkap delapan Semar itu dengan jala, karena kemacetan Jakarta sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Semar atau bukan Semar, ia harus patuh kepada hukum. Ia akan mengirimkan delapan helikopter serentak ke delapan penjuru untuk menangkap Semar-Semar itu dengan jala dari udara. “Biarlah ia keluarkan kentutnya yang lebih dahsyat dari senjata nuklir itu,” pikir Komandan, “kami toh selalu siap untuk mati.”
Namun ketika ia masuk kembali ke kantornya, Semar Putih yang tadi dilihatnya di bundaran Hotel Indonesia sudah duduk di kursinya sambil mengusap-usap kuncung.
“Duduk,” kata Semar itu, seolah-olah ia yang punya kantor. Komandan pun duduk, seperti tamu. Entah kenapa, ia tiba-tiba merasa hormat.
“Ananda Komandan tidak perlu menangkap kami dengan jala,” ujar Semar, yang ternyata betul-betul weruh sadurung winarah, “kami tidak akan selamanya show di Jakarta. Tugas kami banyak, bukan cuma di Indonesia saja. Kami datang hanya untuk memberi peringatan.”
“Peringatan apa?”
“Itulah yang harus kalian pikirkan sendiri, karena Semar tidak memberi ceramah. Semar tidak perlu berseminar untuk menjelaskan maksudnya. Semar hanya datang untuk memberi tanda-tanda.”
“Saya mengerti Bapak Semar.”
“Ah, jangan panggil saya Bapak, saya bukan bapak kamu.”
“Jadi bagaimana saya harus memanggil Andika?”
“Panggil Bung saja, Bung Semar.”
“Baik Bapak… eh Bung Semar.”
“Sekarang aku pergi. Jangan khawatir, ketenangan akan kembali. Goodbye. Adios. Ciao!”
“Ciao!”
Semar Putih itu menghilang. Handphone bertulilililit berkali-kali mengabarkan kepergian Semar-Semar yang lain. Hari ini delapan Semar datang ke Jakarta, tulis Komandan itu dalam catatan hariannya, aku sudah berlatih untuk menghadapi setiap kejutan, tapi tidak kejutan seperti ini. Sayang sekali, foto-foto yang dibuat para wartawan tidak ada yang jadi. Sampai sekarang aku tidak tahu, Semar itu sebenarnya betul-betul ada atau tidak.
Senja telah tiba. Hari yang sungguh melelahkan untuk Komandan. Ia ingin segera pulang, ketemu anak-istri, dan berkaraoke. Sebelum ke luar ruangan, ia melihat dirinya di cermin. Di atas cermin itu ada tulisan: Sudah Rapikah Anda Hari ini?
Komandan itu tidak bisa mempercayai matanya.
“Aku? Aku sudah berubah menjadi Semar Fiberglass? ***
(Taman Manggu, Sunday Wage, 6 Oktober 1996. 09:15)
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Kisah Sebuah Celana Pendek
Kisah Sebuah Celana Pendek
Idrus
Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia.
Pak Kusno buta politk. Tak tahu ia, betapa besarnya arti penyerangan itu. Yang diketahuinya hanya, bahwa anaknya sudah tidak mempunya celana lagi yang pantas dipakai. Setiap orang yang sedikit banyak kenal politik di seluruh dunia mengernyitkan keningnya, karena dendam, karena khawatir, karena marah. Tapi Pak Kusno tersenyum senang pada hari itu. Ia telah berhasil, apa yang disangkanya 'semua sesuatu yang tidak bisa, membelikan Kusno sebuah celana pendek.
Pada waktu itu Kusno berusia 14 tahun. Baru tamat sekolah rakyat. Sekarang hendak melamar pekerjaan. Dan dengan celana baru, rasanya baginya segala pekerjaan terbuka. Ia akan membuktikan kepada ayahnya, bahwa ia adalah anak yang tahu membalas guna. Pendek kata, keluarga Kusno pada hari itu bergirang hati seperti belum pernah sebelum itu. Dan kabar-kabar tentang Pearl Harbour tidak bergema sedikit pun juga dalam hati orang-orang sederhana ini.
Demikian benarlah ucapan, hanya orang besar-besar yang mau perang, rakyat sederhana mau damai cuma!
Tapi Kusno tak selekas seperti sangkaannya mendapat pekerjaan. Kantor-kantor tahu, apa arti penyerangan Pulau Mutiara itu. Mereka tidak menerima seorang pekerja baru pun juga lagi. Di atas kantor itu bergumpal awan hitam dan dari sela-sela awan itu menjulur muka malaikatmaut.
Kusno terpaksa menurunkan harga dagangannya, dari juru tulis menjadi portir dan dari portir menjadi opas. Dan setelah sepuluh kantor dinaikinya, akhirnya berhasil juga ia mendapatkan sebuah pekerjaan ... sebagai opas. Dengan gaji sepuluh rupiah sebulan.
Pak Kusno bersusah hati. Ia sendiri seorang opas. Mestikah anaknya menjadi opas lagi? Dan anak Kusno kelak opas pula? Turun temurun menjadi opas? Tidak pernah tercita-cita olehnya, keluarganya akan menjadi keluarga opas. Tapi, seperti juga orang-orang kampung lain dalam kesusahan, Pak Kusno ingat kepada Tuhan, manusia berusaha, Tuhan menentukan!
Kusno bekerja dengan rajin, tapi celana kepar 1001-nya bertambah lama bertambah pudar, karena sering kena cuci. Setiap bulan ia berharap akan dapat membeli sebuah celana baru, tapi uang yang sepuluh rupiah itu untuk makan saja pun tak mencukupi. Dengan sendirinya kepar 1001 bertambah sering harus dicuci, dan setiap kena cuci, rupanya bertambah mengkhawatirkan.
Seluruh pikiran Kusno tertuju pada celana itu. Apakah yang terjadi dengan dirinya, jika celana itu sudah tidak bisa dipakai lagi? Setiap hari ia mendoa, agar Tuhan jangan menurunkan hujan. Dan jika hujan turun juga, Kusno dengan hati kembang kempis melihat kepada celananya, seperti seorang ibu melihat kepada anaknya yang hendak dilepas ke medan peperangan.
Kepar 1001. 1 x 1 = 1. Dan berapakah 1 - 1?
Kalau pikiran Kusno mengenangkan celana 1001 ini. Apalagi kalau tidak ada uang pembeli sabun, sedang celana lagi kotor.
Tidak, rakyat sederhana tidak mau perang, ia hanya mau hidup sederhaana dan hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana.
Tapi orang tinggi-tinggi dan besar-besar mau perang, yang satu untuk demokrasi yang lain untuk kemakmuran bersama di Asia Timur Raya.
Kusno tidak tahu arti demokrasi dan perkataan kemakmuran sangat menarik hatinya. Ia sebenarnya ingat kepada celananya. Kemakmuran berarti baginya celana. Dan sebab itu disambutnya tentara Jepang dengan peluk cium dan salaman tangan.
Dan seperti kebanyakan bangsa Indonesia hidup dengan pengharapan akan kemerdekaan, Kusno hidup dengan pengharapan akan celana baru, terus-menerus berharap selama tiga setengah tahun.
Tapi seperti juga kemerdakaan itu, celana itu pun tak terbayang. Dan waktu Kusno melepaskan harapannya itu, celana 1001 itu sudah tidak seperti celana lagi. Di sana-sini benangnya sudah keluar dan apa yang dulunya putih, sekarang sudah kuning kehitam-hitaman. Dan karena itu tidak pantas lagi dipakai oleh seorang opas. Waktu Kusno memberanikan hatinya meminta kepada sepnya, ia dibentak demikian hebatnya sehingga pada waktu itu hilang semangatnya.
Dia datang juga beberapa hari lagi ke kantor, tapi akhirnya malunya berkuasa atas gaji yang sepuluh rupiah itu dan ia pun minta berhenti.
Hari kemudian gelap bagi Kusno. Tapi sekarang ia lepas bebas dari malu yang mencoret mukanya. Ia tahu, bahwa hari gelap dan maha menakutkan akan menimpa dia. Tapi Tuhan maha pengasih dan pemurah. Demikian keyakinan Kusno.
Pada suatu hari Kusno sakit kepala. Ia tahu, bahwa sakit kepala itu segera akan hilang, jika ia dapat mengisi perutnya. Dua hari dua malam tak ada lain yang dimakannya selain daun-daun kayu. Ada terlayang di pikirannya untuk menjual celana 1001 itu, guna membeli sekedar makanan yang pantas dimakan manusia. Tapi lekas dibuangnya pikiran itu. Jika celana itu dijualnya, perutnya kenyang buat beberapa detik, tapi sesudah itu dengan apa akan ditutupnya auratnya? Sekali pula ada niatnya untuk mencuri barang orang lain, tapi Tuhan berkata, jahui dirimu dari curi mencuri. Dan keluarga Kusno turun temurun takut kepada Tuhan itu, sungguhpun belum pernah dilihatnya.
Begitulah Kusno tidak menjual celana, tidak mencuri, sering sakit kepala dan hidup dengan daun-daun kayu. Tapi ia hidup terus, sengsara memang, tapi hidup dengan bangga.
Tentang celana kepar 1001 itu, tak ada yang akan diceritakan lagi. Pada suatu kali ia pasti hilang di muka bumi, seperti juga Kusno akan hilang dari muka bumi. Dan mungkinkah ia bersama-sama dengan Kusno hilang dari muka bumi ini?
Tapi bagaimana pun juga, Kusno tak akan putus asa. Ia dilahirkan dalam kesengsaraan, hidup bersama kesengsaraan. Dan meskipun celana 1001-nya lenyap menjadi topo, Kusno akan bersuang terus melawan kesengsaraan, biarpun hanya guna mendapatkan sebuah celana kepar 1001 yang lain.
Hanya yang belum juga dapat dipahmakan Kusno ialah, mengapa selalu saja masih ada peperangan. Kusno merasa seorang yang dikorbankan.***
Idrus
Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia.
Pak Kusno buta politk. Tak tahu ia, betapa besarnya arti penyerangan itu. Yang diketahuinya hanya, bahwa anaknya sudah tidak mempunya celana lagi yang pantas dipakai. Setiap orang yang sedikit banyak kenal politik di seluruh dunia mengernyitkan keningnya, karena dendam, karena khawatir, karena marah. Tapi Pak Kusno tersenyum senang pada hari itu. Ia telah berhasil, apa yang disangkanya 'semua sesuatu yang tidak bisa, membelikan Kusno sebuah celana pendek.
Pada waktu itu Kusno berusia 14 tahun. Baru tamat sekolah rakyat. Sekarang hendak melamar pekerjaan. Dan dengan celana baru, rasanya baginya segala pekerjaan terbuka. Ia akan membuktikan kepada ayahnya, bahwa ia adalah anak yang tahu membalas guna. Pendek kata, keluarga Kusno pada hari itu bergirang hati seperti belum pernah sebelum itu. Dan kabar-kabar tentang Pearl Harbour tidak bergema sedikit pun juga dalam hati orang-orang sederhana ini.
Demikian benarlah ucapan, hanya orang besar-besar yang mau perang, rakyat sederhana mau damai cuma!
Tapi Kusno tak selekas seperti sangkaannya mendapat pekerjaan. Kantor-kantor tahu, apa arti penyerangan Pulau Mutiara itu. Mereka tidak menerima seorang pekerja baru pun juga lagi. Di atas kantor itu bergumpal awan hitam dan dari sela-sela awan itu menjulur muka malaikatmaut.
Kusno terpaksa menurunkan harga dagangannya, dari juru tulis menjadi portir dan dari portir menjadi opas. Dan setelah sepuluh kantor dinaikinya, akhirnya berhasil juga ia mendapatkan sebuah pekerjaan ... sebagai opas. Dengan gaji sepuluh rupiah sebulan.
Pak Kusno bersusah hati. Ia sendiri seorang opas. Mestikah anaknya menjadi opas lagi? Dan anak Kusno kelak opas pula? Turun temurun menjadi opas? Tidak pernah tercita-cita olehnya, keluarganya akan menjadi keluarga opas. Tapi, seperti juga orang-orang kampung lain dalam kesusahan, Pak Kusno ingat kepada Tuhan, manusia berusaha, Tuhan menentukan!
Kusno bekerja dengan rajin, tapi celana kepar 1001-nya bertambah lama bertambah pudar, karena sering kena cuci. Setiap bulan ia berharap akan dapat membeli sebuah celana baru, tapi uang yang sepuluh rupiah itu untuk makan saja pun tak mencukupi. Dengan sendirinya kepar 1001 bertambah sering harus dicuci, dan setiap kena cuci, rupanya bertambah mengkhawatirkan.
Seluruh pikiran Kusno tertuju pada celana itu. Apakah yang terjadi dengan dirinya, jika celana itu sudah tidak bisa dipakai lagi? Setiap hari ia mendoa, agar Tuhan jangan menurunkan hujan. Dan jika hujan turun juga, Kusno dengan hati kembang kempis melihat kepada celananya, seperti seorang ibu melihat kepada anaknya yang hendak dilepas ke medan peperangan.
Kepar 1001. 1 x 1 = 1. Dan berapakah 1 - 1?
Kalau pikiran Kusno mengenangkan celana 1001 ini. Apalagi kalau tidak ada uang pembeli sabun, sedang celana lagi kotor.
Tidak, rakyat sederhana tidak mau perang, ia hanya mau hidup sederhaana dan hidup bebas dari ketakutan esok hari tidak mempunyai celana.
Tapi orang tinggi-tinggi dan besar-besar mau perang, yang satu untuk demokrasi yang lain untuk kemakmuran bersama di Asia Timur Raya.
Kusno tidak tahu arti demokrasi dan perkataan kemakmuran sangat menarik hatinya. Ia sebenarnya ingat kepada celananya. Kemakmuran berarti baginya celana. Dan sebab itu disambutnya tentara Jepang dengan peluk cium dan salaman tangan.
Dan seperti kebanyakan bangsa Indonesia hidup dengan pengharapan akan kemerdekaan, Kusno hidup dengan pengharapan akan celana baru, terus-menerus berharap selama tiga setengah tahun.
Tapi seperti juga kemerdakaan itu, celana itu pun tak terbayang. Dan waktu Kusno melepaskan harapannya itu, celana 1001 itu sudah tidak seperti celana lagi. Di sana-sini benangnya sudah keluar dan apa yang dulunya putih, sekarang sudah kuning kehitam-hitaman. Dan karena itu tidak pantas lagi dipakai oleh seorang opas. Waktu Kusno memberanikan hatinya meminta kepada sepnya, ia dibentak demikian hebatnya sehingga pada waktu itu hilang semangatnya.
Dia datang juga beberapa hari lagi ke kantor, tapi akhirnya malunya berkuasa atas gaji yang sepuluh rupiah itu dan ia pun minta berhenti.
Hari kemudian gelap bagi Kusno. Tapi sekarang ia lepas bebas dari malu yang mencoret mukanya. Ia tahu, bahwa hari gelap dan maha menakutkan akan menimpa dia. Tapi Tuhan maha pengasih dan pemurah. Demikian keyakinan Kusno.
Pada suatu hari Kusno sakit kepala. Ia tahu, bahwa sakit kepala itu segera akan hilang, jika ia dapat mengisi perutnya. Dua hari dua malam tak ada lain yang dimakannya selain daun-daun kayu. Ada terlayang di pikirannya untuk menjual celana 1001 itu, guna membeli sekedar makanan yang pantas dimakan manusia. Tapi lekas dibuangnya pikiran itu. Jika celana itu dijualnya, perutnya kenyang buat beberapa detik, tapi sesudah itu dengan apa akan ditutupnya auratnya? Sekali pula ada niatnya untuk mencuri barang orang lain, tapi Tuhan berkata, jahui dirimu dari curi mencuri. Dan keluarga Kusno turun temurun takut kepada Tuhan itu, sungguhpun belum pernah dilihatnya.
Begitulah Kusno tidak menjual celana, tidak mencuri, sering sakit kepala dan hidup dengan daun-daun kayu. Tapi ia hidup terus, sengsara memang, tapi hidup dengan bangga.
Tentang celana kepar 1001 itu, tak ada yang akan diceritakan lagi. Pada suatu kali ia pasti hilang di muka bumi, seperti juga Kusno akan hilang dari muka bumi. Dan mungkinkah ia bersama-sama dengan Kusno hilang dari muka bumi ini?
Tapi bagaimana pun juga, Kusno tak akan putus asa. Ia dilahirkan dalam kesengsaraan, hidup bersama kesengsaraan. Dan meskipun celana 1001-nya lenyap menjadi topo, Kusno akan bersuang terus melawan kesengsaraan, biarpun hanya guna mendapatkan sebuah celana kepar 1001 yang lain.
Hanya yang belum juga dapat dipahmakan Kusno ialah, mengapa selalu saja masih ada peperangan. Kusno merasa seorang yang dikorbankan.***
Saksi Mata
Saksi Mata
Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.
Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.
“Terlalu!”
“Edan!”
“Sadis!”
Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.
“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”
Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Di manakah mata saudara?”
“Diambil orang Pak.”
“Diambil?”
“Saya Pak.”
“Maksudnya dioperasi?”
“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”
“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”
“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)
“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”
“Yang mengambil mata saya Pak.”
“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”
“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”
“Saudara tidak tanya bego?”
“Tidak Pak.”
“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum amta saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”
“Saya Pak.”
“Jadi saudara melihat seperti apa orangnya kan?”
“Saya Pak.”
“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yangs ekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”
Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.
“Ada beberapa orang Pak.”
“Berapa?”
“Lima Pak.”
“Seperti apa mereka?”
“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”
“Masih ingat pakaiannya barangkali?”
“Yang jelas mereka berseragam Pak.”
Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.
***
Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.
“Seragam tentara maksudnya?”
“Bukan Pak.”
“Polisi?”
“Bukan juga Pak.”
“Hansip barangkali?”
“Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”
“Mukanya ditutupi?”
“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”
“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”
“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”
Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.
Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.
Tapi orang-orang tidak melihatnya.
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”
“Mereka berlima Pak.”
“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”
“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”
Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.
“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”
***
Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.
“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”
“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”
“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.” “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”
“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”
“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”
“Saudara kan bisa saja gila.”
“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”
“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”
“Saya Pak.”
“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”
“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”
Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.
“Absurd,” gumamnya.
Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.
***
Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Apakah saudara masih bisa bersaksi?”
“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”
“Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”
“Saya Pak.”
“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”
“Saya Pak.”
“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”
“Saya Pak.”
“Kenapa?”
“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”
Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.
Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.
“Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.
“Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”
Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.
***
Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”
Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.
Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya.
Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.
Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.
Jakarta, 4 Maret 1992
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.
Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas.
“Terlalu!”
“Edan!”
“Sadis!”
Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.
“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”
Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Di manakah mata saudara?”
“Diambil orang Pak.”
“Diambil?”
“Saya Pak.”
“Maksudnya dioperasi?”
“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”
“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”
“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (masakan khas Surakarta sop tulang belulang kambing-red)
“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?”
“Yang mengambil mata saya Pak.”
“Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara pakai sendok?”
“Dia tidak bilang siapa namanya Pak.”
“Saudara tidak tanya bego?”
“Tidak Pak.”
“Dengar baik-baik bego, maksud saya seperti apa rupa orang itu? Sebelum amta saudara diambil dengan sendok yang katanya untuk dibuat tengkleng atau campuran sop kambing barangkali, mata saudara masih ada di tempatnya kan?”
“Saya Pak.”
“Jadi saudara melihat seperti apa orangnya kan?”
“Saya Pak.”
“Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yangs ekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.”
Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas.
“Ada beberapa orang Pak.”
“Berapa?”
“Lima Pak.”
“Seperti apa mereka?”
“Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.”
“Masih ingat pakaiannya barangkali?”
“Yang jelas mereka berseragam Pak.”
Ruang pengadilan jadi riuh kembali seperti dengungan seribu lebah.
***
Hakim mengetuk-ngetukkan palunya. Suara lebah menghilang.
“Seragam tentara maksudnya?”
“Bukan Pak.”
“Polisi?”
“Bukan juga Pak.”
“Hansip barangkali?”
“Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”
“Mukanya ditutupi?”
“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”
“Aaaah, saya tahu! Ninja kan?”
“Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”
Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi. Lagi-lagi Bapak Hakim Yang Mulia mesti mengetuk-ngetukkan palu supaya orang banyak itu menjadi tenang.
Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman.
Tapi orang-orang tidak melihatnya.
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?”
“Mereka berlima Pak.”
“Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?”
“Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.”
Orang-orang tertawa. Hakim mengetuk lagi dengan marah.
“Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!”
***
Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya.
“Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?”
“Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.”
“Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.” “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.”
“Jadi, menurut saudara Saksi Mata segenap pengambilan mata itu hanya terjadi dalam mimpi?”
“Bukan hanya menurut saya Pak, memang terjadinya di dalam mimpi.”
“Saudara kan bisa saja gila.”
“Lho ini bisa dibuktikan Pak, banyak saksi mata yang tahu kalau sepanjang malam saya cuma tidur Pak, dan selama tidur tidak ada orang mengganggu saya Pak.”
“Jadi terjadinya pasti di dalam mimpi ya?”
“Saya Pak.”
“Tapi waktu terbangun mata saudara sudah tidak ada?”
“Betul Pak. Itu yang saya bingung. Kejadiannya di dalam mimpi tapi waktu bangun kok ternyata betul-betul ya?”
Hakim menggeleng-gelengkan kepala tidak bisa mengerti.
“Absurd,” gumamnya.
Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya.
***
Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya?
“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Apakah saudara masih bisa bersaksi?”
“Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.”
“Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”
“Saya Pak.”
“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?”
“Saya Pak.”
“Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.”
“Saya Pak.”
“Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?”
“Saya Pak.”
“Kenapa?”
“Demi keadilan dan kebenaran Pak.”
Ruang pengadilan jadi gemuruh. Semua orang bertepuk tangan, termasuk Jaksa dan Pembela. Banyak yang bersorak-sorak. Beberapa orang mulai meneriakkan yel.
Bapak Hakim Yang Mulia segera mengetukkan palu wasiatnya.
“Hussss! Jangan kampanye di sini!” Ia berkata dengan tegas.
“Sidang hari ini ditunda, dimulai lagi besok untuk mendengar kesaksian saudara Saksi mata yang sudah tidak punya mata lagi!”
Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klik-klik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah.
***
Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakin Yang Mulia berkata pada sopirnya,“Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?”
Sopir itu ingin menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalah, semacam kalimat, “Keadilan tidak buta.”* Namun Bapak Hakim Yang Mulia telah tertidur dalam kemacetan jalan yang menjengkelkan.
Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya samapi kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya.
Ketika hari sudah menjadi malam, saksi mata yang sudah tidak bermata itu berdoa sebelum tidur. Ia berdoa agar kehidupan yang fana ini baik-baik saja adanya, agar segala sesuatu berjalan dengan mulus dan semua orang berbahagia.
Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut.
Jakarta, 4 Maret 1992
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Kisah Seorang Penyadap Telepon
Kisah Seorang Penyadap Telepon
(Cerpen Seno Gumira Ajidarma)
Hari ini aku menyadap lagi. Aku memang berasal dari keluarga penyadap. Kakekku seorang penyadap karet. Ayahku seorang penyadap nira. Aku sendiri seorang penyadap telepon. Setiap hari aku berangkat dari rumah naik bis lewat jalan tol dan begitu tiba di kantor aku langsung melakukan penyadapan. Di mejaku sudah ada daftar orang-orang yang pembicaraannya lewat telepon harus disadap.
Waktu baru diterima dikantor ini aku pernah bertanya.
“Lho, Boss, menyadap pembicaraan orang ini kan melanggar privacy?”
“Taik kucing dengan privacy, ini semua demi keamanan Negara!”
“Jadi, kantor ini memang kantor keamanan Negara Boss?”
“Bego lu!”
Barangkali aku memang bego. Di Koran kulihat iklan menawarkan pekerjaan.
DICARI: PENYADAP BERPENGALAMAN.
Aku memang berpengalaman menyadap, tapi menyadap karet dan nira. Ternyata maksudnya menyadap telepon. Intinya, kantor ini memang sengaja mencari orang-orang bego, yang bisa disuruh menyadap pembicaraan telepon orang lain tanpa perasaan bersalah. Barangkali aku termasuk orang yang seperti itu. Buktinya aku diterima.
“Kenapa mereka harus disadap boss?”
“Kamu bego atau bego sih? Nggak usah tanya-tanya!”
Busyet. Begitu diterima aku langsung menyadap. Sampai hari ini sudah tak terhitung hasil sadapanku yang dianalisis atasanku. Mereka memisah-misahkan, mana yang harus diculik dan mana yang tidak, mana yang dibiarkan saja untuk menyelusuri komplotannya, dan mana yang bisa mengkhianati teman-temannya.
***
Dikau pernah bertanya padaku.
“Enakkah menyadap telepon?”
Pekerjaan menyadap telepon ini mula-mula mengasyikkan, karena seperti masuk kedalam rahasia orang lain. Namun setelah 32 tahun, aku mulai bosan, karena pembicraan mereka seringkali tidak penting sama sekali. Dalam arti tidak selalu berisi rencana demonstrasi dan semacamnya—yang begitu-begitu malah jarang sekali. Mungkin karena mereka tahu kalau telepon mereka disadap. Jadinya aku harus mendengar masalah sehari-sehari seperti ini:
“Muhi!”
“Apa?”
“Muhi!”
“Apa!”
“Muhi!”
“Apa! Emangnya gua budeg”
“Muhi!”
“O, dasar elu yang budeg”
“Muhi!”
“Muhi! Muhi! Ape?”
“Muhi!”
Klak!
Atau yang seperti ini:
“Dalam metafisika anda, itulah pengalaman yang menentukan, yang mengizinkan untuk keluar dari ontology Heidegger sebagai ontology tentang yang Netral, ontology tanpa moral. Apakah berdasar pengalaman etis ini Anda menyusun suatu ‘etika’? Karena, etika itu terdiri dari aturan-aturan; aturan-aturan ini harus ditentukan?”
“Tugas saya bukan menyusun suatu etika; saya hanya berusaha mencari maknany. Saya tidak berpendapat bahwa setiap filsafat harus mempunyai suatu program. Adalah terutama husserl yang telah mengemukakan gagasan mengenai program filsafat. Memang benar, dapat saja disusun suatu etika dalam konteks yang saya sebutkan tadi, tapi bukan itulah tema saya yang sebenarnya.”
“Dapatkah anda menjelaskan sejauh mana penemuan etika dalam wajah itu bertolak belakang dengan filsafat-filsafat yang mementingkan totalitas?”
“Pengetahuan absolut yang telah diselidiki, dijanjikan, dan dianjurkan oleh filsafat adalah pemikiran tentang yang Sama. Dalam kebenaran, Ada itu dirangkum. Bahkan jika kebenaran dianggap tidak pernah definitive, sekurang-kurangnya ada janji tentang kebenaran yang lebih lengkap dan tepat. Tentu saja, kita sebagai makhluk berhingga pada akhirnya tidak sanggup menyelesaikan tugas pengetahuan; tetapi sejauh dapat dilaksanakan, tugas itu adalah: membuat yang Lain menjadi yang Sama. Sebaliknya, dalam ide ‘tak berhingga’ terkandunglah pikiran tentang yang tidak Sama. Saya bertolak dari ide kartesian mengenai yang tak berhingga, dimana ideatum ide ini – artinya apa yang dimaksud ole hide ini – adalah tak berhingga lebih besar daripada aktus pemikiran. Terdapat disproporsi antara …”[1]
Wah, kalau yang begini aku tidak sanggup. Sebagai penyadap telepon aku tidak biasa berpikir, aku hanya menyadap. Jangankan aku, atasankupun belum tentu paham. Makanya dia punya analisis bila ngawur, tinggal menculik saja bias keliru-keliru orang. Sama-sama bego lah!
Lagipula kalau aku berpikir, itu hanya akan membawa resiko kepada pekerjaanku.
Sedangkan mencari pekerjaan itu susah. Mau membuat kafe-tenda tidak punya modal. Aku tidak punya kepandaian lain selain menyadap telepon. Aku pernah bisa menyadap karet, aku pernah bisa menyadap nira, tapi kini sudah dimanjakan dengan menyadap telepon. Alat penyadap bernama LUHIL-X [2] itu memang praktis sekali. Tidak kebanyakan kabel aku sudah akrab dengan LUHIL-X bikinan dagadu Corporation. Sekali temple di kuping langsung beres. Aku tinggal memencet nomor-nomor yang kuinginkan.
“Muhi! Muhi!”
Aduh! Muhi lagi! Nomor-nomor yang disodorkan para informan memang tidak selalu dipakai orang yang dicurigai. Dirumah mereka kan banyak orang? seringkali yang selalu menggunakan telepon itu adalah pembantu rumah tangganya.
Bermilyar-milyar kata, kalimat, dan pengertian telah kudengar, namun semua itu tidak menjadi apa-apa. Aku sellau mendengar, tapi sebenarnya aku tidak mendengar apa-apa. Orang-orang yang dicurigai berbicara tentang penderitaan rakyat, tentang penindasan, tentang orang-orang yang diculik, diperkosa, dibunuh, dan dibakar. Semua itu telah kudengar, karena aku adalah seorang penyadap telepon. Orang-orang bicara tentang hokum, keadilan, dan kebenaran. Ah, apa itu? Sebagai penyadap telepon, aku tahu betul sisi-sisi gelap para pahlawan. Tetapi tidak ada sesuatu pun yang ingin kulakukan.
***
Sampai tiba saatnya aku harus pergi ke dokter THT.
“
Tolonglah saya dok, semua kalimat yang masuk telinga saya tidak mau keluar lagi. Mereka berdengung terus menerus, kalimatnya terulang-ulang terus seperti rekaman rusak. Biasanya suara-suara lewat dan tidak terdengar lagi setelah kalimatnya habis, kali ini tidak, mereka masuk dan tak mau diam, terus menerus dan bertumpuk-tumpuk. Sudah sebulan saya tidak bisa tidur.”
Dokter itu menganggu-angguk. Lantas mengambil senter.
“Sini kupingnya.”
Kusodorkan salah satu. Ia melihat dengan senternya. Kemudian menempelkan stetoskopnya ke telingaku.
“Busyet,” katanya.
“kenapa Dok?”
“Aku mendengar suara-suara,” ujarnya seperti main drama.
Ia nampak mendengarkan dengan asyik.
“Aku mendengar semuanya.”
“Apa Dok”
“Semuanya, semua kalimat yang telah kau dengar.”
“Jadi sekarang tahu kan Dok?”
“yeah”
Ia cabut stetoskopnya, kembali duduk ke kursinya.
“Apa sih pekerjaanya?”
“Penyadap telepon Dok.”
Dokter manggut-manggut.
“Pantes.”
“Apanya yang pantes?”
“Penyakit begini memang menimpa para penyadap telepon. Suara-suara tak mau keluar dari kupingnya. Banyak yang kemudian jadi gila.”
“Aduh! Jangan dong Dok!”
“Aku hanya bisa memberi kamu pil Budheg. ”
“Lho apa itu?”
“Pil yang membuat kamu tuli.”
“Waduh pekerjaan saya menyadap pembicaraan telepon, kok malah dibikin tuli?”
“Ya begitu kan? Kalau kebanyakan mendengar percakapan yang bukan haknya, selama 32 tahun lagi ya kamu kena hokum Karma. Kalimat-kalimat yang terampas itu menghukummu.”
“Tapi saya cuma menurut perintah atasan Dok.”
“Nah, atasanmu akan menerima hukum karma juga.” [3]
“Kupingnya berdengung juga?”
“Entahlah. Barangkali turum berok.”
“Ah, jangan main-main Dok.”
“Aku serius. Ini resep untuk Pil Budheg. Pakai Kuitansi?”
Kalau aku jadi tuli nanti, Dokter menganjurkan aku pura-pura tetap bias mendengar, dengan begitu aku tidak akan kehilangan pekerjaan. Katanya semua penyadap telepon yang berobat menuruti anjuran yang sama.
Memang itulah yang kemudian kulakukan. Setelah menelan Pil Budheg aku ajdi tuli. Tenggelam dalam keheningan abadi. Semua orang cuma kulihat mangap-mangap mulutnya, tapi aku tidak bias mendengar kata-kata mereka. Aku ettap bergaya bias mendengar. Kutempelkan LUHIL-X ke telinga dengan gaya meyakinkan. Kalau ada orang berbicara padaku, barangkali bias repot, tapi hal ini tidak pernah ku alami. Sebagai penyadap telepon, aku termasuk manusia kecoak. Tidak pernah ditegur, tidak pernah disapa, hidup dalam kesepian. Sedang aku saja tidak pernah menyapa diriku sendiri.
Aku akan masih lama bekerja seperti ini. Sebenarnya tuli, tapi tetap menulis transkrip hasil penyadapan. Atasanku percaya saja dengan semua laporanku. Aku sudah 32 tahun menjadi penyadap telepon, dan aku masih terus dibutuhkan, dengan mudah aku membuat semuanya menjadi wajar – padahal semuanya kukarang-karang saja. Aku sering tertawa dalam hati, laporan penyadapan telepon dibuat orang tuli! Hahahaha!
Jakarta, Sabtu 19 September 1998.
-————————————-
Dialog dipinjam dari wawancara Emmanuel Levinas (1906-1995) oleh Philippe Nemo pda 1981 dalam K.Bertens(ed.) Fenomemologi Eksistensial(PT Gramedia: Jakarta, 1987, 94 halaman), hal 87.
LUHIL adalah kata sandi, yang hanya bisa dipecahkan dengan Bahasa Dagadu. Baca petunjuknya dalam dokumen saya “Jakarta Jakarta dan Insiden Dili” dalam buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (Bentang Budaya; Yogyakarta, 1997, 120 halaman).
Hukum Karma. Pengertian dari agama Hindu, bahwa masusia tidak bias menghindar dari hukuman atas dosa-dosa yang dibuatnya.
(Cerpen Seno Gumira Ajidarma)
Hari ini aku menyadap lagi. Aku memang berasal dari keluarga penyadap. Kakekku seorang penyadap karet. Ayahku seorang penyadap nira. Aku sendiri seorang penyadap telepon. Setiap hari aku berangkat dari rumah naik bis lewat jalan tol dan begitu tiba di kantor aku langsung melakukan penyadapan. Di mejaku sudah ada daftar orang-orang yang pembicaraannya lewat telepon harus disadap.
Waktu baru diterima dikantor ini aku pernah bertanya.
“Lho, Boss, menyadap pembicaraan orang ini kan melanggar privacy?”
“Taik kucing dengan privacy, ini semua demi keamanan Negara!”
“Jadi, kantor ini memang kantor keamanan Negara Boss?”
“Bego lu!”
Barangkali aku memang bego. Di Koran kulihat iklan menawarkan pekerjaan.
DICARI: PENYADAP BERPENGALAMAN.
Aku memang berpengalaman menyadap, tapi menyadap karet dan nira. Ternyata maksudnya menyadap telepon. Intinya, kantor ini memang sengaja mencari orang-orang bego, yang bisa disuruh menyadap pembicaraan telepon orang lain tanpa perasaan bersalah. Barangkali aku termasuk orang yang seperti itu. Buktinya aku diterima.
“Kenapa mereka harus disadap boss?”
“Kamu bego atau bego sih? Nggak usah tanya-tanya!”
Busyet. Begitu diterima aku langsung menyadap. Sampai hari ini sudah tak terhitung hasil sadapanku yang dianalisis atasanku. Mereka memisah-misahkan, mana yang harus diculik dan mana yang tidak, mana yang dibiarkan saja untuk menyelusuri komplotannya, dan mana yang bisa mengkhianati teman-temannya.
***
Dikau pernah bertanya padaku.
“Enakkah menyadap telepon?”
Pekerjaan menyadap telepon ini mula-mula mengasyikkan, karena seperti masuk kedalam rahasia orang lain. Namun setelah 32 tahun, aku mulai bosan, karena pembicraan mereka seringkali tidak penting sama sekali. Dalam arti tidak selalu berisi rencana demonstrasi dan semacamnya—yang begitu-begitu malah jarang sekali. Mungkin karena mereka tahu kalau telepon mereka disadap. Jadinya aku harus mendengar masalah sehari-sehari seperti ini:
“Muhi!”
“Apa?”
“Muhi!”
“Apa!”
“Muhi!”
“Apa! Emangnya gua budeg”
“Muhi!”
“O, dasar elu yang budeg”
“Muhi!”
“Muhi! Muhi! Ape?”
“Muhi!”
Klak!
Atau yang seperti ini:
“Dalam metafisika anda, itulah pengalaman yang menentukan, yang mengizinkan untuk keluar dari ontology Heidegger sebagai ontology tentang yang Netral, ontology tanpa moral. Apakah berdasar pengalaman etis ini Anda menyusun suatu ‘etika’? Karena, etika itu terdiri dari aturan-aturan; aturan-aturan ini harus ditentukan?”
“Tugas saya bukan menyusun suatu etika; saya hanya berusaha mencari maknany. Saya tidak berpendapat bahwa setiap filsafat harus mempunyai suatu program. Adalah terutama husserl yang telah mengemukakan gagasan mengenai program filsafat. Memang benar, dapat saja disusun suatu etika dalam konteks yang saya sebutkan tadi, tapi bukan itulah tema saya yang sebenarnya.”
“Dapatkah anda menjelaskan sejauh mana penemuan etika dalam wajah itu bertolak belakang dengan filsafat-filsafat yang mementingkan totalitas?”
“Pengetahuan absolut yang telah diselidiki, dijanjikan, dan dianjurkan oleh filsafat adalah pemikiran tentang yang Sama. Dalam kebenaran, Ada itu dirangkum. Bahkan jika kebenaran dianggap tidak pernah definitive, sekurang-kurangnya ada janji tentang kebenaran yang lebih lengkap dan tepat. Tentu saja, kita sebagai makhluk berhingga pada akhirnya tidak sanggup menyelesaikan tugas pengetahuan; tetapi sejauh dapat dilaksanakan, tugas itu adalah: membuat yang Lain menjadi yang Sama. Sebaliknya, dalam ide ‘tak berhingga’ terkandunglah pikiran tentang yang tidak Sama. Saya bertolak dari ide kartesian mengenai yang tak berhingga, dimana ideatum ide ini – artinya apa yang dimaksud ole hide ini – adalah tak berhingga lebih besar daripada aktus pemikiran. Terdapat disproporsi antara …”[1]
Wah, kalau yang begini aku tidak sanggup. Sebagai penyadap telepon aku tidak biasa berpikir, aku hanya menyadap. Jangankan aku, atasankupun belum tentu paham. Makanya dia punya analisis bila ngawur, tinggal menculik saja bias keliru-keliru orang. Sama-sama bego lah!
Lagipula kalau aku berpikir, itu hanya akan membawa resiko kepada pekerjaanku.
Sedangkan mencari pekerjaan itu susah. Mau membuat kafe-tenda tidak punya modal. Aku tidak punya kepandaian lain selain menyadap telepon. Aku pernah bisa menyadap karet, aku pernah bisa menyadap nira, tapi kini sudah dimanjakan dengan menyadap telepon. Alat penyadap bernama LUHIL-X [2] itu memang praktis sekali. Tidak kebanyakan kabel aku sudah akrab dengan LUHIL-X bikinan dagadu Corporation. Sekali temple di kuping langsung beres. Aku tinggal memencet nomor-nomor yang kuinginkan.
“Muhi! Muhi!”
Aduh! Muhi lagi! Nomor-nomor yang disodorkan para informan memang tidak selalu dipakai orang yang dicurigai. Dirumah mereka kan banyak orang? seringkali yang selalu menggunakan telepon itu adalah pembantu rumah tangganya.
Bermilyar-milyar kata, kalimat, dan pengertian telah kudengar, namun semua itu tidak menjadi apa-apa. Aku sellau mendengar, tapi sebenarnya aku tidak mendengar apa-apa. Orang-orang yang dicurigai berbicara tentang penderitaan rakyat, tentang penindasan, tentang orang-orang yang diculik, diperkosa, dibunuh, dan dibakar. Semua itu telah kudengar, karena aku adalah seorang penyadap telepon. Orang-orang bicara tentang hokum, keadilan, dan kebenaran. Ah, apa itu? Sebagai penyadap telepon, aku tahu betul sisi-sisi gelap para pahlawan. Tetapi tidak ada sesuatu pun yang ingin kulakukan.
***
Sampai tiba saatnya aku harus pergi ke dokter THT.
“
Tolonglah saya dok, semua kalimat yang masuk telinga saya tidak mau keluar lagi. Mereka berdengung terus menerus, kalimatnya terulang-ulang terus seperti rekaman rusak. Biasanya suara-suara lewat dan tidak terdengar lagi setelah kalimatnya habis, kali ini tidak, mereka masuk dan tak mau diam, terus menerus dan bertumpuk-tumpuk. Sudah sebulan saya tidak bisa tidur.”
Dokter itu menganggu-angguk. Lantas mengambil senter.
“Sini kupingnya.”
Kusodorkan salah satu. Ia melihat dengan senternya. Kemudian menempelkan stetoskopnya ke telingaku.
“Busyet,” katanya.
“kenapa Dok?”
“Aku mendengar suara-suara,” ujarnya seperti main drama.
Ia nampak mendengarkan dengan asyik.
“Aku mendengar semuanya.”
“Apa Dok”
“Semuanya, semua kalimat yang telah kau dengar.”
“Jadi sekarang tahu kan Dok?”
“yeah”
Ia cabut stetoskopnya, kembali duduk ke kursinya.
“Apa sih pekerjaanya?”
“Penyadap telepon Dok.”
Dokter manggut-manggut.
“Pantes.”
“Apanya yang pantes?”
“Penyakit begini memang menimpa para penyadap telepon. Suara-suara tak mau keluar dari kupingnya. Banyak yang kemudian jadi gila.”
“Aduh! Jangan dong Dok!”
“Aku hanya bisa memberi kamu pil Budheg. ”
“Lho apa itu?”
“Pil yang membuat kamu tuli.”
“Waduh pekerjaan saya menyadap pembicaraan telepon, kok malah dibikin tuli?”
“Ya begitu kan? Kalau kebanyakan mendengar percakapan yang bukan haknya, selama 32 tahun lagi ya kamu kena hokum Karma. Kalimat-kalimat yang terampas itu menghukummu.”
“Tapi saya cuma menurut perintah atasan Dok.”
“Nah, atasanmu akan menerima hukum karma juga.” [3]
“Kupingnya berdengung juga?”
“Entahlah. Barangkali turum berok.”
“Ah, jangan main-main Dok.”
“Aku serius. Ini resep untuk Pil Budheg. Pakai Kuitansi?”
Kalau aku jadi tuli nanti, Dokter menganjurkan aku pura-pura tetap bias mendengar, dengan begitu aku tidak akan kehilangan pekerjaan. Katanya semua penyadap telepon yang berobat menuruti anjuran yang sama.
Memang itulah yang kemudian kulakukan. Setelah menelan Pil Budheg aku ajdi tuli. Tenggelam dalam keheningan abadi. Semua orang cuma kulihat mangap-mangap mulutnya, tapi aku tidak bias mendengar kata-kata mereka. Aku ettap bergaya bias mendengar. Kutempelkan LUHIL-X ke telinga dengan gaya meyakinkan. Kalau ada orang berbicara padaku, barangkali bias repot, tapi hal ini tidak pernah ku alami. Sebagai penyadap telepon, aku termasuk manusia kecoak. Tidak pernah ditegur, tidak pernah disapa, hidup dalam kesepian. Sedang aku saja tidak pernah menyapa diriku sendiri.
Aku akan masih lama bekerja seperti ini. Sebenarnya tuli, tapi tetap menulis transkrip hasil penyadapan. Atasanku percaya saja dengan semua laporanku. Aku sudah 32 tahun menjadi penyadap telepon, dan aku masih terus dibutuhkan, dengan mudah aku membuat semuanya menjadi wajar – padahal semuanya kukarang-karang saja. Aku sering tertawa dalam hati, laporan penyadapan telepon dibuat orang tuli! Hahahaha!
Jakarta, Sabtu 19 September 1998.
-————————————-
Dialog dipinjam dari wawancara Emmanuel Levinas (1906-1995) oleh Philippe Nemo pda 1981 dalam K.Bertens(ed.) Fenomemologi Eksistensial(PT Gramedia: Jakarta, 1987, 94 halaman), hal 87.
LUHIL adalah kata sandi, yang hanya bisa dipecahkan dengan Bahasa Dagadu. Baca petunjuknya dalam dokumen saya “Jakarta Jakarta dan Insiden Dili” dalam buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (Bentang Budaya; Yogyakarta, 1997, 120 halaman).
Hukum Karma. Pengertian dari agama Hindu, bahwa masusia tidak bias menghindar dari hukuman atas dosa-dosa yang dibuatnya.
Si Lugu dan Si Malin Kundang
Si Lugu dan Si Malin Kundang
Sekuriti kompleks perumahan mewah menghambat masuk orang tua dengan beban sepikul hasil bumi. Pintu gerbang tidak dia buka. Orang tua itu mengatakan dia berjalan dari stasiun kereta api mencari kompleks perumahan itu. Setandan pisang, dua ikat jagung, satu buah nangka masak, dan seekor ayam. Polisi lalu lintas melihat peristiwa itu dan menghentikan kendaraan roda duanya. Dia ingin tahu walau sebenarnya hal semacam itu bukanlah tugasnya.
Ada apa ini?” katanya sambil mendekat. Dia lihat orang tua itu meletakkan barang bawaannya di sekitar dirinya yang sangat letih. Ayam jantan itu menjulurkan kepalanya dari dalam sangkar anyaman daun kelapa menghirup udara segar.
Orang tua ini mau masuk ke dalam. Dia berkeras kalau salah seorang penghuni rumah mewah yang kujaga ini adalah anaknya. Aku tak percaya. Apalagi dia hanya bisa menyebut nama anaknya. Sedang yang lain, yang dibutuhkan untuk mencari sebuah rumah tidak dapat dia sebutkan. Maka aku tidak mempercayainya.”
“Bapak tentu datang dari kampung. Barang bawaan ini menunjukkannya.”
Polisi itu memerhatikan kepala ayam yang terjulur dari dalam anyaman daun kelapa tidak jauh dari dia berdiri. Dia lihat mata ayam itu merah. Paruh ayam ternganga. Kerongkongan bergerak-gerak mengatur napas. Lidahnya terjulur meneteskan liur.
“Ayam ini tidak boleh dibiarkan hidup di sekitar kita. Kulihat tanda-tanda pembawa virus dimilikinya.” Dicabutnya pistol. “Mengorbankan sebutir peluru lebih baik daripada membiarkan virus yang dibawanya menyebar di kompleks perumahan ini.” Dia arahkan moncong pistol ke kepala ayam itu. Dia lihat ulang mata ayam itu. Paruhnya yang menganga, kerongkongan yang bergerak terus mengatur napas. Lidah menjulur mengeluarkan liur. “Maaf Pak. Ayam ini harus dimusnahkan. Satu butir peluru…,” dia mulai menimbang-nimbang, “sayang juga.” Dia balikkan arah pistol. Moncong pistol dia pegang. Dia sangat berbakat dalam hal tak berperasaan. Dia tetak kepala ayam itu dengan gagang pistol. Ayam menggelupur dalam anyaman daun kelapa. Dia menoleh ke sekuriti, “Bawa ke sana. Gali lubang. Bakar!” Sekuriti rumah mewah itu mengambil ayam yang masih menggelepar-gelepar di dalam anyaman daun kelapa. Dia pun menggali lubang, memasukkan ayam yang masih terus menggelepar ke dalam lubang, dan membakarnya dengan ranting-ranting kering dan daun-daun kering. Orang tua itu ternganga melihat semua itu.
“Maaf Bapak. Ini terpaksa saya lakukan.” Katanya sambil menggosokkan gagang pistol ke rumput. “Coba Bapak katakan apa yang ingin Bapak lakukan bila kami izinkan Bapak masuk ke dalam kompleks perumahan mewah ini?”
“Aku akan mendatangi rumah anakku di dalam kompleks perumahan yang Engkau katakan mewah ini.”
“O, begitu. Tapi itu tidak mungkin. Tidak masuk akal kami. Kami tidak yakin Bapak adalah ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini.”
“Jadi Engkau juga tidak percaya kalau aku adalah ayah dari salah seorang penghuni kompleks perumahan ini? Aku tidak boleh masuk mencari rumah anakku. Aku tidak boleh mengetuk dari pintu ke pintu sampai aku menemukan pintu rumah anakku.”
“Tidak boleh.” Polisi lalu lintas itu sekarang telah mengambil alih menangani orang tua itu. Dia lupa pada tugasnya sebagi polisi lalu lintas. Dia telah mengambil alih tugas sekuriti rumah mewah itu. Sekarang dia merasa dialah yang harus menangani orang tua itu.
“Di sini tinggal orang-orang kaya. Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini adalah Bapak. Pakaian Bapak adalah pakaian orang yang tak berpunya. Hampir sama dengan pakaian fakir miskin. Apa lagi ini.”
“Jadi Engkau tidak percaya kalau aku adalah orangtua salah seorang penghuni rumah mewah yang kalian katakan itu? Kalian adalah masyarakat Malin Kundang. Engkau mewakili masyarakat itu! Engkau akan menjadi batu.” Orang tua itu menunjuk ke polisi lalu lintas itu. Polisi lalu lintas itu terkejut:
Apa maksud orang tua ini? Aku mewakili masyarakat Malin Kundang? Legenda itu menceritakan orang-orang tidak percaya kalau wanita tua yang mengenakan pakaian yang dia punya adalah ibu si Malin Kundang. Tidaklah mungkin wanita tua terlunta-lunta di tepi pantai menunggu kedatangan anaknya adalah ibu seorang kaya raya. Ibu orang yang bepergian dengan kapal miliknya dari pulau ke pulau, menjalankan usaha di jalur perdagangannya. Dia datang ke pulau itu rindu akan kampung halamannya. Ibunya mendengar kabar kedatangan anaknya. Dia datang menyambut, tetapi orang-orang menertawakannya dan mengejeknya. Malin Kundang tidak mengakuinya sebagai ibu. Jadi, orang tua ini merasa diperlakukan seperti yang dilakukan Malin Kundang terhadap ibunya.
“Ya, betul. Kami tidak percaya. Bapak tidak mungkin ayah dari salah seorang pemilik rumah mewah ini.”
“Apa Engkau mau menjadi batu?”
Polisi lalu lintas itu tersenyum. Dia merasa ucapan orang tua itu sebuah lelucon.
Sebuah mobil kelas termahal berbelok ke arah pintu gerbang perumahan mewah itu. Lelaki yang duduk di bangku belakang menyentuh pundak sopir dan meminta kendaraan itu dihentikan. Lelaki itu bersama istrinya sedang pulang dari bepergian.
“Tunggu sebentar,” katanya. Dia perhatikan orang tua yang duduk di bendul jalan. Dia menoleh kepada istrinya. “Orang tua itu seperti ayah. Coba kau lihat. Ya…, seperti ayah. Ya! Itu Ayah! Lihat, apa yang dia bawa? Setandan pisang. Dua ikat jagung, dan sebuah nangka.”
“Ya, betul. Itu ayahmu. Ayahku juga. Mertuaku!”
“Ya, itu adalah ayah!”
Lelaki itu membuka pintu mobil. Dia turun. Langkahnya diikuti istrinya.
“Ayah!” Kata lelaki itu. Orang tua itu melihat ke lelaki itu. Dia berdiri dan air matanya menetes. Lelaki itu menerkam tubuh orang tua itu dan memasukkannya ke dalam dekapannya. Si istri mencium tangan laki-laki tua itu.
“Ayah!” Katanya.
Si Polisi lalu lintas tercengang menyaksikan peristiwa itu. Penjaga kompleks perumahan mewah itu juga tercengang. Buru-buru dia membuka pintu gerbang.
“Ayo, Ayah!” Kata laki-laki itu membimbing ayahnya masuk ke dalam mobil. Si wanita memeluk ayah suaminya itu dan mendudukkannya di bangku depan. Sebelum pintu tertutup, orang tua itu masih sempat menoleh ke polisi lalu lintas itu.
“Malin Kundang,” katanya. Anak dan menantunya tidak mendengar jelas kata-kata itu. Pintu ditutup si anak. Dia masuk menyusul istrinya di kursi belakang. Si sopir membuka pintu dan turun mengambil satu per satu bawaan lelaki tua itu. Mula-mula dia angkat satu tandan pisang, lalu dua ikat jagung, dan kemudian satu buah nangka. Semua dia masukkan ke tempat barang di buntut mobil.
“Ayah juga membawa ayam, tapi ayam itu mereka bunuh dan mereka bakar di dalam lubang.”
“Maafkan mereka ayah. Ayam hidup tidak boleh dibawa masuk ke dalam kompleks.”
Penjaga kompleks perumahan mewah itu membuka pintu gerbang selebar-lebarnya dan tampak dia terbingung-bingung. Polisi lalu lintas itu terpaku memerhatikan semua kejadian itu. Dia setengah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Polisi lalu lintas itu masih juga terbingung-bingung. Keterpukauannya disentakkan bunyi gerbang yang ditutup. Dia jadi teringat apa yang diucapkan orang tua itu. Malin Kundang. Apa hubungannya dengan aku. Malin Kundang memang menjadi batu dalam lagenda itu. Dia sentakkan kepalanya dari keterpukauannya untuk mengembalikan kesadarannya. Dia naik ke atas kendaraan roda duanya, menghidupkan mesin, dan meneruskan perjalanannya menuju markas kepolisian tempat dia bekerja. Dia terus memacu kendaraannya, lalu membelok ke dalam halaman markas. Dia sampai ke ruang markas. Masuk ke salah satu ruang dan melepas helm. Dia duduk sebentar lalu seperti teringat sesuatu. Dia beranjak dan pergi ke kamar kecil, membasuh popor pistol dari darah ayam yang sudah mengering. Kemudian dia kembali ke ruang tempat dia tadi duduk. Waktu melintas di depan gudang penyimpanan barang-barang, dia lihat pintu gudang tidak tertutup rapat. Lewat pintu yang sedikit renggang dia lihat patung dari bahan semen tersimpan di dalam. Selama ini dia tidak tertarik untuk masuk ke dalam dan memerhatikan patung-patung itu dari dekat. Sekarang tiba-tiba dia tertarik. Apakah setelah mendengar ucapan orang tua itu dia lalu tertarik masuk ke dalam untuk melihat patung-patung itu lebih dekat. Dia tersenyum, lalu dia buka pintu gudang itu lebih lebar. Tampak patung-patung memberi hormat kepadanya. Dia senyum membalas hormat patung-patung itu.
“Mirip betul. Mirip betul dengan diriku kalau aku mengenakan pakaian dinas. Pematung yang terampil. Dia berhasil memindahkan profesi polisi lalu lintas ke dalam diri patung-patung ini.” Dia kembali senyum memandang satu per satu patung-patung itu.
Patung-patung polisi lalu lintas itu belum semua terpasang di tempat-tempat strategis di jalan-jalan kota.
Dia tersenyum. Mungkin dia teringat satu pengalaman waktu dia naik taksi bersama keluarga. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas di perempatan jalan dari arah taksi yang dia naiki sedang berwarna merah. Dia coba uji ketaatan si sopir. “Tidak ada kendaraan yang melintas. Aman. Kebut saja, Pak.” “Jangan. Saya patuh pada peraturan. Tidak Bapak lihat polisi di bawah hujan lebat itu. Dia memberi hormat kepada kita di bawah guyuran hujan. Lihat di sebelah kiri di depan kita.” “Aku lihat. Langgar saja! Itu kan sebuah patung.” “Jangan. Tunggu hijau. Hormati Polisi Patung itu. Dia diletakkan untuk mengingatkan para pengguna jalan agar disiplin di jalan raya.” Dia sebagai polisi yang sedang tidak mengenakan pakaian dinas puas mendengar apa yang dikatakan sopir taksi itu. “Ada satu lagi Polisi yang berisiko kalau kita tidak mengindahkannya walau sebenarnya dia tidak terjaga. “Polisi apa itu?” “Polisi Tidur.”
Lelaki yang didatangi ayahnya itu ingin membawa ayahnya berjalan-jalan melihat-lihat kota. Kali ini lelaki itu membawa langsung mobil mewahnya bersama istrinya yang duduk di sampingnya. Dia puas bisa menyenang-nyenangkan ayahnya. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas tiba-tiba berwarna merah waktu mobil itu sampai di perempatan. Mobil dia hentikan. Setelah menunggu agak lama, si istri berpaling ke kiri dan ke kanan, lalu berkata.
“Aman Pa. Jalan saja.”
“Jangan. Kita harus patuh pada peraturan lalu lintas. Coba lihat polisi itu. Dia hormat kepada kita di bawah guyuran hujan lebat.”
“Di sebelah mana? Aku tidak melihat ada polisi.”
“Sebelah kiri di depan kita.”
“O, itu. Itu kan patung.”
Orang tua itu mendengar apa yang dibicarakan anak dan menantunya. Dia melihat ke depan, ke arah yang dikatakan anak dan menantunya. Tampak olehnya Polisi Patung di bawah guyuran hujan lebat dalam posisi memberi hormat kepada mereka. Mobil pun berjalan karena lampu telah hijau. Dari jendela orang tua itu melihat ke luar. Dia perhatikan patung polisi itu dalam guyuran hujan. Dia iba melihat Polisi Patung itu. Dia tiba-tiba tersentak.
“Ya Allah. Polisi itu…, menjadi batu….” ***
Hamsad Rangkuti (28 Oktober 2007)
Sekuriti kompleks perumahan mewah menghambat masuk orang tua dengan beban sepikul hasil bumi. Pintu gerbang tidak dia buka. Orang tua itu mengatakan dia berjalan dari stasiun kereta api mencari kompleks perumahan itu. Setandan pisang, dua ikat jagung, satu buah nangka masak, dan seekor ayam. Polisi lalu lintas melihat peristiwa itu dan menghentikan kendaraan roda duanya. Dia ingin tahu walau sebenarnya hal semacam itu bukanlah tugasnya.
Ada apa ini?” katanya sambil mendekat. Dia lihat orang tua itu meletakkan barang bawaannya di sekitar dirinya yang sangat letih. Ayam jantan itu menjulurkan kepalanya dari dalam sangkar anyaman daun kelapa menghirup udara segar.
Orang tua ini mau masuk ke dalam. Dia berkeras kalau salah seorang penghuni rumah mewah yang kujaga ini adalah anaknya. Aku tak percaya. Apalagi dia hanya bisa menyebut nama anaknya. Sedang yang lain, yang dibutuhkan untuk mencari sebuah rumah tidak dapat dia sebutkan. Maka aku tidak mempercayainya.”
“Bapak tentu datang dari kampung. Barang bawaan ini menunjukkannya.”
Polisi itu memerhatikan kepala ayam yang terjulur dari dalam anyaman daun kelapa tidak jauh dari dia berdiri. Dia lihat mata ayam itu merah. Paruh ayam ternganga. Kerongkongan bergerak-gerak mengatur napas. Lidahnya terjulur meneteskan liur.
“Ayam ini tidak boleh dibiarkan hidup di sekitar kita. Kulihat tanda-tanda pembawa virus dimilikinya.” Dicabutnya pistol. “Mengorbankan sebutir peluru lebih baik daripada membiarkan virus yang dibawanya menyebar di kompleks perumahan ini.” Dia arahkan moncong pistol ke kepala ayam itu. Dia lihat ulang mata ayam itu. Paruhnya yang menganga, kerongkongan yang bergerak terus mengatur napas. Lidah menjulur mengeluarkan liur. “Maaf Pak. Ayam ini harus dimusnahkan. Satu butir peluru…,” dia mulai menimbang-nimbang, “sayang juga.” Dia balikkan arah pistol. Moncong pistol dia pegang. Dia sangat berbakat dalam hal tak berperasaan. Dia tetak kepala ayam itu dengan gagang pistol. Ayam menggelupur dalam anyaman daun kelapa. Dia menoleh ke sekuriti, “Bawa ke sana. Gali lubang. Bakar!” Sekuriti rumah mewah itu mengambil ayam yang masih menggelepar-gelepar di dalam anyaman daun kelapa. Dia pun menggali lubang, memasukkan ayam yang masih terus menggelepar ke dalam lubang, dan membakarnya dengan ranting-ranting kering dan daun-daun kering. Orang tua itu ternganga melihat semua itu.
“Maaf Bapak. Ini terpaksa saya lakukan.” Katanya sambil menggosokkan gagang pistol ke rumput. “Coba Bapak katakan apa yang ingin Bapak lakukan bila kami izinkan Bapak masuk ke dalam kompleks perumahan mewah ini?”
“Aku akan mendatangi rumah anakku di dalam kompleks perumahan yang Engkau katakan mewah ini.”
“O, begitu. Tapi itu tidak mungkin. Tidak masuk akal kami. Kami tidak yakin Bapak adalah ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini.”
“Jadi Engkau juga tidak percaya kalau aku adalah ayah dari salah seorang penghuni kompleks perumahan ini? Aku tidak boleh masuk mencari rumah anakku. Aku tidak boleh mengetuk dari pintu ke pintu sampai aku menemukan pintu rumah anakku.”
“Tidak boleh.” Polisi lalu lintas itu sekarang telah mengambil alih menangani orang tua itu. Dia lupa pada tugasnya sebagi polisi lalu lintas. Dia telah mengambil alih tugas sekuriti rumah mewah itu. Sekarang dia merasa dialah yang harus menangani orang tua itu.
“Di sini tinggal orang-orang kaya. Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini adalah Bapak. Pakaian Bapak adalah pakaian orang yang tak berpunya. Hampir sama dengan pakaian fakir miskin. Apa lagi ini.”
“Jadi Engkau tidak percaya kalau aku adalah orangtua salah seorang penghuni rumah mewah yang kalian katakan itu? Kalian adalah masyarakat Malin Kundang. Engkau mewakili masyarakat itu! Engkau akan menjadi batu.” Orang tua itu menunjuk ke polisi lalu lintas itu. Polisi lalu lintas itu terkejut:
Apa maksud orang tua ini? Aku mewakili masyarakat Malin Kundang? Legenda itu menceritakan orang-orang tidak percaya kalau wanita tua yang mengenakan pakaian yang dia punya adalah ibu si Malin Kundang. Tidaklah mungkin wanita tua terlunta-lunta di tepi pantai menunggu kedatangan anaknya adalah ibu seorang kaya raya. Ibu orang yang bepergian dengan kapal miliknya dari pulau ke pulau, menjalankan usaha di jalur perdagangannya. Dia datang ke pulau itu rindu akan kampung halamannya. Ibunya mendengar kabar kedatangan anaknya. Dia datang menyambut, tetapi orang-orang menertawakannya dan mengejeknya. Malin Kundang tidak mengakuinya sebagai ibu. Jadi, orang tua ini merasa diperlakukan seperti yang dilakukan Malin Kundang terhadap ibunya.
“Ya, betul. Kami tidak percaya. Bapak tidak mungkin ayah dari salah seorang pemilik rumah mewah ini.”
“Apa Engkau mau menjadi batu?”
Polisi lalu lintas itu tersenyum. Dia merasa ucapan orang tua itu sebuah lelucon.
Sebuah mobil kelas termahal berbelok ke arah pintu gerbang perumahan mewah itu. Lelaki yang duduk di bangku belakang menyentuh pundak sopir dan meminta kendaraan itu dihentikan. Lelaki itu bersama istrinya sedang pulang dari bepergian.
“Tunggu sebentar,” katanya. Dia perhatikan orang tua yang duduk di bendul jalan. Dia menoleh kepada istrinya. “Orang tua itu seperti ayah. Coba kau lihat. Ya…, seperti ayah. Ya! Itu Ayah! Lihat, apa yang dia bawa? Setandan pisang. Dua ikat jagung, dan sebuah nangka.”
“Ya, betul. Itu ayahmu. Ayahku juga. Mertuaku!”
“Ya, itu adalah ayah!”
Lelaki itu membuka pintu mobil. Dia turun. Langkahnya diikuti istrinya.
“Ayah!” Kata lelaki itu. Orang tua itu melihat ke lelaki itu. Dia berdiri dan air matanya menetes. Lelaki itu menerkam tubuh orang tua itu dan memasukkannya ke dalam dekapannya. Si istri mencium tangan laki-laki tua itu.
“Ayah!” Katanya.
Si Polisi lalu lintas tercengang menyaksikan peristiwa itu. Penjaga kompleks perumahan mewah itu juga tercengang. Buru-buru dia membuka pintu gerbang.
“Ayo, Ayah!” Kata laki-laki itu membimbing ayahnya masuk ke dalam mobil. Si wanita memeluk ayah suaminya itu dan mendudukkannya di bangku depan. Sebelum pintu tertutup, orang tua itu masih sempat menoleh ke polisi lalu lintas itu.
“Malin Kundang,” katanya. Anak dan menantunya tidak mendengar jelas kata-kata itu. Pintu ditutup si anak. Dia masuk menyusul istrinya di kursi belakang. Si sopir membuka pintu dan turun mengambil satu per satu bawaan lelaki tua itu. Mula-mula dia angkat satu tandan pisang, lalu dua ikat jagung, dan kemudian satu buah nangka. Semua dia masukkan ke tempat barang di buntut mobil.
“Ayah juga membawa ayam, tapi ayam itu mereka bunuh dan mereka bakar di dalam lubang.”
“Maafkan mereka ayah. Ayam hidup tidak boleh dibawa masuk ke dalam kompleks.”
Penjaga kompleks perumahan mewah itu membuka pintu gerbang selebar-lebarnya dan tampak dia terbingung-bingung. Polisi lalu lintas itu terpaku memerhatikan semua kejadian itu. Dia setengah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Polisi lalu lintas itu masih juga terbingung-bingung. Keterpukauannya disentakkan bunyi gerbang yang ditutup. Dia jadi teringat apa yang diucapkan orang tua itu. Malin Kundang. Apa hubungannya dengan aku. Malin Kundang memang menjadi batu dalam lagenda itu. Dia sentakkan kepalanya dari keterpukauannya untuk mengembalikan kesadarannya. Dia naik ke atas kendaraan roda duanya, menghidupkan mesin, dan meneruskan perjalanannya menuju markas kepolisian tempat dia bekerja. Dia terus memacu kendaraannya, lalu membelok ke dalam halaman markas. Dia sampai ke ruang markas. Masuk ke salah satu ruang dan melepas helm. Dia duduk sebentar lalu seperti teringat sesuatu. Dia beranjak dan pergi ke kamar kecil, membasuh popor pistol dari darah ayam yang sudah mengering. Kemudian dia kembali ke ruang tempat dia tadi duduk. Waktu melintas di depan gudang penyimpanan barang-barang, dia lihat pintu gudang tidak tertutup rapat. Lewat pintu yang sedikit renggang dia lihat patung dari bahan semen tersimpan di dalam. Selama ini dia tidak tertarik untuk masuk ke dalam dan memerhatikan patung-patung itu dari dekat. Sekarang tiba-tiba dia tertarik. Apakah setelah mendengar ucapan orang tua itu dia lalu tertarik masuk ke dalam untuk melihat patung-patung itu lebih dekat. Dia tersenyum, lalu dia buka pintu gudang itu lebih lebar. Tampak patung-patung memberi hormat kepadanya. Dia senyum membalas hormat patung-patung itu.
“Mirip betul. Mirip betul dengan diriku kalau aku mengenakan pakaian dinas. Pematung yang terampil. Dia berhasil memindahkan profesi polisi lalu lintas ke dalam diri patung-patung ini.” Dia kembali senyum memandang satu per satu patung-patung itu.
Patung-patung polisi lalu lintas itu belum semua terpasang di tempat-tempat strategis di jalan-jalan kota.
Dia tersenyum. Mungkin dia teringat satu pengalaman waktu dia naik taksi bersama keluarga. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas di perempatan jalan dari arah taksi yang dia naiki sedang berwarna merah. Dia coba uji ketaatan si sopir. “Tidak ada kendaraan yang melintas. Aman. Kebut saja, Pak.” “Jangan. Saya patuh pada peraturan. Tidak Bapak lihat polisi di bawah hujan lebat itu. Dia memberi hormat kepada kita di bawah guyuran hujan. Lihat di sebelah kiri di depan kita.” “Aku lihat. Langgar saja! Itu kan sebuah patung.” “Jangan. Tunggu hijau. Hormati Polisi Patung itu. Dia diletakkan untuk mengingatkan para pengguna jalan agar disiplin di jalan raya.” Dia sebagai polisi yang sedang tidak mengenakan pakaian dinas puas mendengar apa yang dikatakan sopir taksi itu. “Ada satu lagi Polisi yang berisiko kalau kita tidak mengindahkannya walau sebenarnya dia tidak terjaga. “Polisi apa itu?” “Polisi Tidur.”
Lelaki yang didatangi ayahnya itu ingin membawa ayahnya berjalan-jalan melihat-lihat kota. Kali ini lelaki itu membawa langsung mobil mewahnya bersama istrinya yang duduk di sampingnya. Dia puas bisa menyenang-nyenangkan ayahnya. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas tiba-tiba berwarna merah waktu mobil itu sampai di perempatan. Mobil dia hentikan. Setelah menunggu agak lama, si istri berpaling ke kiri dan ke kanan, lalu berkata.
“Aman Pa. Jalan saja.”
“Jangan. Kita harus patuh pada peraturan lalu lintas. Coba lihat polisi itu. Dia hormat kepada kita di bawah guyuran hujan lebat.”
“Di sebelah mana? Aku tidak melihat ada polisi.”
“Sebelah kiri di depan kita.”
“O, itu. Itu kan patung.”
Orang tua itu mendengar apa yang dibicarakan anak dan menantunya. Dia melihat ke depan, ke arah yang dikatakan anak dan menantunya. Tampak olehnya Polisi Patung di bawah guyuran hujan lebat dalam posisi memberi hormat kepada mereka. Mobil pun berjalan karena lampu telah hijau. Dari jendela orang tua itu melihat ke luar. Dia perhatikan patung polisi itu dalam guyuran hujan. Dia iba melihat Polisi Patung itu. Dia tiba-tiba tersentak.
“Ya Allah. Polisi itu…, menjadi batu….” ***
Hamsad Rangkuti (28 Oktober 2007)
Pada Sebuah Taman, Mei
Pada Sebuah Taman, Mei
Di taman kota, senja beringsut perlahan, lamban, bahkan nyaris lunglai. Senja yang kemarin juga, tapi. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana.
Pagi sekali, mereka yang hanya mengenal canda dan birahi, telah bergegas pergi dari situ. Terbang ke tempat-tempat yang jauh, mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. Asing. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Ning juga pernah bilang begitu, dulu, ketika kami tidur bersama pertama kali, pada sebuah flat sederhana di Brooklynn, NY.
Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam, turun amat perlahan, lesu, meninggalkan gerah ? juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Kota sedang terbakar. Revolusi, mungkin, sedang bermula.
Usai mengantar Ning, aku segera terbang ke sini. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin, berkeringat, beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Bukan hal mudah mencapai taman ini. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan, perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap, lenggang, menyisakan cungkup-cungkup api dari mobil-mobil terbakar.
Lalu di sini, senja mulai nyungsep, dan Yogo telah datang.
“Kita evaluasi perkembangan, di sana. Pergilah,” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. Kekuasaan, kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo, sepanjang malam, tadi. Dia hanya mengenakan T-shirt polos, sepatu karet dan celana jeans. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik, lenyap sama sekali. Sambil mengontrol radio, memberi komando, mematangkan dan memberi perintah ‘start’, dia bagai berada dalam situasi ekstase. Persis ketika suatu malam, nun beberapa tahun lampau, ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye, Paris, meneguk perlahan hangat tequilla.
“Perjumpaan dengan calon presiden,” aku menyebut pertemuan malam itu. Dia datang dari jauh, pedalaman Irian, usai membebaskan sandera.
Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan, juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. “Anda bantu saya. Tak perlu kontak, kukira. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan, persahabatan. Juga keagungan sebuah cita-cita. Kamu pasti setuju, persahabatan adalah ikatan kita.” Singkat, simpel, khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing.
Dan malam tadi, hingga subuh ketika kami pisah, Yogo tampak angker. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Persahabatan itu, segera akan terbukti, kelak, tapi rencana masih sedang berlangsung. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Presiden memang sudah terpojok, tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Juga kedatangan Yogo yang telat.
Malam kemudian tiba dengan diam. Malam yang sepi.
Ning menelepon.
“Bang, Presiden mundur besok. Yogo tak mungkin datang. Pulanglah,” katanya simpel. Tak ada basa-basi, seperti irama tubuhnya: simpel, langsung, tegas dan banal.
Aku kontan diserang frustasi. Lesu, habis, pupus. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh, bahkan sudah dua hari sebelumnya, bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen, mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu, menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci, sampai ke gelagat seksualnya di ranjang, telah aku rekam di luar kepala. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Para pemain valas telah terkuasai. Beberapa buah bank sudah ambruk. Markas keuangan sudah terbakar, diliputi misteri. Para aktivis telah diamankan. Sabotase, demonstrasi, dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Presiden yang ternyata sangat lemah, masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Demi Yogo, demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris, dan demi keagungan. Oh, betapa menggairahkan.
Di ufuk, bayang kegagalan mulai tampak. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Dia berada satu level di bawah, tapi aku punya keyakinan, juga kepercayaan atas nama keagungan, bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Akan menyetop aksi, akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Ini harus dicegah. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan, rupanya tak dapat dipercaya; dia memilih mengalah sebelum bertempur. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita, ?lampu teplok kehabisan minyak; faktor yang kami tak hitung selama ini.
“Ning, kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.
“Ia. Kamu kok diam saja?”
“Aku bingung. Ada kontak dengan Yogo?”
“Belum, tapi kuusahakan. Mungkin dia sedang di istana.”
“Pulanglah segera, pulang. Di sini kita bisa berpikir jernih.”
Suara Ning tetap empuk. Menggairahkan. Memanggil. Tak ada kegetiran, apalagi kegentaran. Dia memang lebih matang. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Sebaliknya, aku yang justru panik dan gamang. Bukan karena risiko yang mesti datang, balas dendam kalangan militer, bukan. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks, lantaran aktornya bermain tak terkendali. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi, seperti Che Guevara, Castro, dan mungkin Kaddafi ? hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Aku benar-benar frustasi, kini.
"Kamu masih di situ?" tanya Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir.
“Iya,” balasku memencet “off” pada hand-phone.
Malam sudah bertahta. Udara gerah berbau asap. Taman benar-benar muram. Durja. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Kota masih terbakar, menghanguskan sisa rencana.
Hand-phoneku bertulilit. Suara Yogo; “Tunggu sampai besok,” katanya singkat.
Tak ada besok, Yogo: gumamku membatin. Seperti yang sering kamu katakan, sekarang atau tidak sama sekali. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi, dan tak ada rencana ulang.
Di sini, di taman tempat burung-burung bersenggama, bertelur dan berkembang biak ‘dan kini telah mengungsi entah ke mana’ semuanya telah berakhir. Keagungan itu memang ilusi, kini. Bagi Yogo, utamanya. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Kami akan segera terbang ke negeri lain, di sana prarencana sudah tersusun. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional, alumni Oxford, almamaterku. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Tapi tidak malam ini.
“Ning, kamu masih di situ?”
“Ya, aku sudah mandi.”
“Sekarang pakai handuk?”
“Ya, cuma handuk. Duduk menunggumu.”
“Sebentar lagi aku datang. Aku ingin berendam.”
“Kalau begitu aku mandi lagi.”
“Berendam bersama-sama.”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus larut seperti biasa.”
“Aku meresapkan bau mulutmu, kini.”
“Aku juga.”
“Tunggu, ya!”
“Cepat.”
Malam, di taman ini, kurasakan gairah yang lain. Gairah bulan Mei. Seperti gairah sebuah musim panas, di Brooklynn, NY, nun bertahun lampau.***
Jakarta, Juni 1998
Cerpen Moch. Hasymi Ibrahim
Di taman kota, senja beringsut perlahan, lamban, bahkan nyaris lunglai. Senja yang kemarin juga, tapi. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana.
Pagi sekali, mereka yang hanya mengenal canda dan birahi, telah bergegas pergi dari situ. Terbang ke tempat-tempat yang jauh, mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. Asing. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Ning juga pernah bilang begitu, dulu, ketika kami tidur bersama pertama kali, pada sebuah flat sederhana di Brooklynn, NY.
Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam, turun amat perlahan, lesu, meninggalkan gerah ? juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Kota sedang terbakar. Revolusi, mungkin, sedang bermula.
Usai mengantar Ning, aku segera terbang ke sini. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin, berkeringat, beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Bukan hal mudah mencapai taman ini. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan, perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap, lenggang, menyisakan cungkup-cungkup api dari mobil-mobil terbakar.
Lalu di sini, senja mulai nyungsep, dan Yogo telah datang.
“Kita evaluasi perkembangan, di sana. Pergilah,” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. Kekuasaan, kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo, sepanjang malam, tadi. Dia hanya mengenakan T-shirt polos, sepatu karet dan celana jeans. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik, lenyap sama sekali. Sambil mengontrol radio, memberi komando, mematangkan dan memberi perintah ‘start’, dia bagai berada dalam situasi ekstase. Persis ketika suatu malam, nun beberapa tahun lampau, ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye, Paris, meneguk perlahan hangat tequilla.
“Perjumpaan dengan calon presiden,” aku menyebut pertemuan malam itu. Dia datang dari jauh, pedalaman Irian, usai membebaskan sandera.
Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan, juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. “Anda bantu saya. Tak perlu kontak, kukira. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan, persahabatan. Juga keagungan sebuah cita-cita. Kamu pasti setuju, persahabatan adalah ikatan kita.” Singkat, simpel, khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing.
Dan malam tadi, hingga subuh ketika kami pisah, Yogo tampak angker. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Persahabatan itu, segera akan terbukti, kelak, tapi rencana masih sedang berlangsung. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Presiden memang sudah terpojok, tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Juga kedatangan Yogo yang telat.
Malam kemudian tiba dengan diam. Malam yang sepi.
Ning menelepon.
“Bang, Presiden mundur besok. Yogo tak mungkin datang. Pulanglah,” katanya simpel. Tak ada basa-basi, seperti irama tubuhnya: simpel, langsung, tegas dan banal.
Aku kontan diserang frustasi. Lesu, habis, pupus. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh, bahkan sudah dua hari sebelumnya, bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen, mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu, menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci, sampai ke gelagat seksualnya di ranjang, telah aku rekam di luar kepala. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Para pemain valas telah terkuasai. Beberapa buah bank sudah ambruk. Markas keuangan sudah terbakar, diliputi misteri. Para aktivis telah diamankan. Sabotase, demonstrasi, dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Presiden yang ternyata sangat lemah, masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Demi Yogo, demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris, dan demi keagungan. Oh, betapa menggairahkan.
Di ufuk, bayang kegagalan mulai tampak. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Dia berada satu level di bawah, tapi aku punya keyakinan, juga kepercayaan atas nama keagungan, bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Akan menyetop aksi, akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Ini harus dicegah. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan, rupanya tak dapat dipercaya; dia memilih mengalah sebelum bertempur. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita, ?lampu teplok kehabisan minyak; faktor yang kami tak hitung selama ini.
“Ning, kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.
“Ia. Kamu kok diam saja?”
“Aku bingung. Ada kontak dengan Yogo?”
“Belum, tapi kuusahakan. Mungkin dia sedang di istana.”
“Pulanglah segera, pulang. Di sini kita bisa berpikir jernih.”
Suara Ning tetap empuk. Menggairahkan. Memanggil. Tak ada kegetiran, apalagi kegentaran. Dia memang lebih matang. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Sebaliknya, aku yang justru panik dan gamang. Bukan karena risiko yang mesti datang, balas dendam kalangan militer, bukan. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks, lantaran aktornya bermain tak terkendali. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi, seperti Che Guevara, Castro, dan mungkin Kaddafi ? hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Aku benar-benar frustasi, kini.
"Kamu masih di situ?" tanya Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir.
“Iya,” balasku memencet “off” pada hand-phone.
Malam sudah bertahta. Udara gerah berbau asap. Taman benar-benar muram. Durja. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Kota masih terbakar, menghanguskan sisa rencana.
Hand-phoneku bertulilit. Suara Yogo; “Tunggu sampai besok,” katanya singkat.
Tak ada besok, Yogo: gumamku membatin. Seperti yang sering kamu katakan, sekarang atau tidak sama sekali. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi, dan tak ada rencana ulang.
Di sini, di taman tempat burung-burung bersenggama, bertelur dan berkembang biak ‘dan kini telah mengungsi entah ke mana’ semuanya telah berakhir. Keagungan itu memang ilusi, kini. Bagi Yogo, utamanya. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Kami akan segera terbang ke negeri lain, di sana prarencana sudah tersusun. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional, alumni Oxford, almamaterku. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Tapi tidak malam ini.
“Ning, kamu masih di situ?”
“Ya, aku sudah mandi.”
“Sekarang pakai handuk?”
“Ya, cuma handuk. Duduk menunggumu.”
“Sebentar lagi aku datang. Aku ingin berendam.”
“Kalau begitu aku mandi lagi.”
“Berendam bersama-sama.”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus larut seperti biasa.”
“Aku meresapkan bau mulutmu, kini.”
“Aku juga.”
“Tunggu, ya!”
“Cepat.”
Malam, di taman ini, kurasakan gairah yang lain. Gairah bulan Mei. Seperti gairah sebuah musim panas, di Brooklynn, NY, nun bertahun lampau.***
Jakarta, Juni 1998
Cerpen Moch. Hasymi Ibrahim
Subscribe to:
Comments (Atom)