Sunday, 5 December 2010

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO DI DEPAN SIDANG DEWAN PERWAKILAN RAKYAT 16 AGUSTUS 1988

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO DI DEPAN SIDANG DEWAN PERWAKILAN RAKYAT 16 AGUSTUS 1988


DEPARTEMEN PENERANGAN
REPUBLIK INDONESIA
1988

Presiden Republik Indonesia
Soeharto

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA



Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan para Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat yang saya muliakan;
Hadirin yang saya hormati;
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Besok pagi, Insya Allah, seluruh bangsa Indonesia kembali
akan memperingati hari yang paling besar dalam sejarahnya, ialah
hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Besok pagi, peringatan itu akan kita adakan untuk yang ke-43
kali. Tahun depan kita akan memperingatinya lagi. Kita akan
memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan itu setiap tahun
sepanjang zaman, karena kita bertekad mempertahankan Negara
Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus '45 itu buat selamalamanya.
Walaupun demikian peringatan Hari Proklamasi tidak akan
pernah kita lakukan secara rutin belaka.
Sebab, peringatan Hari Proklamasi yang berlangsung setiap
tahun itu, selalu akan berlangsung dalam kehidupan kita yang berkembang
dinamis. Kendatipun demikian, setiap kali kita mem-
5
peringati Hari Proklamasi, maka secara rohaniah jiwa dan semangat
kita terasa kembali kepada hari bersejarah 17 Agustus '45.
Dalam saat-saat seperti ini, jiwa dan semangat kita semuanya seolah-
olah menyaksikan dan ikut menghayati setiap detik peristiwa
yang terjadi di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, 43 tahun
yang lalu. Kita semua tanpa kecuali, dari generasi ke generasi, dari
zaman ke zaman, seolah-olah mengikuti kata demi kata Proklamasi
Kemerdekaan yang dikumandangkan ke seluruh dunia oleh Soekarno-
Hatta atas nama Bangsa Indonesia.
Kata-kata sederhana, tapi penuh kekuatan jiwa yang dahsyat,
yang mengubah jalannya sejarah bangsa Indonesia!
Setiap kali kita memperingati Hari Proklamasi, maka hati
sanubari kita semuanya menyatukan diri dengan cita-cita dan nilainilai
luhur yang berada di belakang Proklamasi Kemerdekaan kita,
seperti yang telah kita langgengkan dalam Pancasila dan Undang-
Undang Dasar'45.
Setiap kali kita memperingati Hari Proklamasi, maka untuk
beberapa saat, seolah-olah lenyaplah jarak waktu pemisah antara
kita yang hidup sekarang dengan para pendahulu yang telah melahirkan
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila ini. Untuk beberapa saat, jiwa dan semangat kita seolaholah
ikut memproklamasikan Kemerdekaan.
Itulah arti peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan kita
yang setiap tahun sepanjang zaman akan kita adakan. Setiap kali
kita memperingati Hari Proklamasi, maka kita semua tanpa
kecuali, akan menyegarkan kembali jiwa dan semangat kita dalam
menghayati dan tekad mewujudkan cita-cita dan nilai-nilai luhur
Proklamasi Kemerdekaan. Karena itulah tadi saya katakan, bahwa
peringatan Hari Proklamasi setiap tahun sepanjang zaman, oleh
semua generasi, tidak pernah akan menjadi peristiwa yang bersifat
biasa dan rutin saja.
Menyegarkan kembali dan menghayati cita-cita dan nilai-nilai
luhur Proklamasi berarti, bahwa kita memahami cita-cita dan
6
nilai-nilai luhur Proklamasi itu dalam memberi jawaban yang setepat-
tepatnya terhadap tantangan-tantangan baru yang sedang dan
akan kita hadapi sebagai bangsa.
Kita adalah laksana bangsa yang mengadakan perjalanan panjang.
Dalam perjalanan bangsa kita yang panjang dan berat tetapi
mulia itu, maka generasi akan mengganti generasi. Jika semua
generasi di masa datang ingin mencapai kemajuan yang lebih jauh
dari yang telah kita capai, maka generasi demi generasi di masa
datang itu perlu tetap menggabungkan diri dengan pendahulu-pendahulunya,
dengan cita-cita dan semangat Proklamasi Kemerdekaan.
Artinya, semua generasi sepanjang zaman harus sepenuhnya
menghayati, mengamalkan dan memperjuangkan nilai-nilai dan
cita-cita luhur yang melandasi Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus '45. Jika tidak, mereka terpaksa menghadapi tantangan
masa depan itu tanpa landasan, tanpa pegangan, tanpa arah.
Penghayatan, pengamalan dan perjuangan tadi akan selalu
kita hadapkan dengan tantangan-tantangan baru yang berada di
depan kita. Masalah dan tantangan yang kita hadapi itu terang berbeda
dengan masalah dan tantangan yang dihadapi bangsa kita
dalam kurun-kurun waktu sebelumnya. Karena itu jawaban yang
kita berikan juga jelas akan berlainan dari generasi ke generasi,
walaupun semangat dan nilai-nilai dasarnya tetap sama.
Bangsa kita perlu terus menerus mengembangkan wawasan
yang luas, mendasar dan mendalam, dengan melihat jauh ke depan.
Dalam arti itulah mengapa tadi saya katakan, bahwa jiwa dan
semangat Proklamasi Kemerdekaan harus kita segarkan terus
menerus.
Penyegaran yang terus menerus itulah yang telah dilakukan
oleh bangsa kita selama ini. Penyegaran inilah yang menjadi
kekuatan hidup bangsa kita. Penyegaran itulah yang akan tetap
menjadi kekuatan hidup bangsa kita.
7
Di tahun 1908 bangsa kita telah menyegarkan diri sehingga
mampu meningkatkan perjuangan lokal menjadi perjuangan nasional,
meninggalkan cara-cara perjuangan pramoderen menjadi perjuangan
moderen. Di tahun 1928 bangsa kita telah menyegarkan
diri sehingga dapat bergerak maju dari perjuangan yang menonjolkan
paham-paham kedaerahan menjadi perjuangan sebagai satu
bangsa yang bertanah air satu dan berbahasa nasional yang satu. Di
tahun 1945 bangsa kita menyegarkan diri sehingga siap untuk
menjadi bangsa yang merdeka, dan bersatu berdaulat dalam rangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
Di tahun 1966 bangsa kita menyegarkan diri sehingga kita mampu
memasuki tahap Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun pertama.
Sekarang dan di tahun-tahun yang akan datang, bangsa kita
juga harus menyegarkan diri untuk bersiap-siap memasuki tahap
tinggal landas dalam Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun
kedua.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Kali ini, ulang tahun Hari Proklamasi Kemerdekaan kita peringati
dalam suasana penuh kegembiraan, persaudaraan yang
akrab dan kesegaran, karena beberapa bulan yang lalu kita telah
menyelenggarakan Sidang Umum MPR.
Suasana gembira meliputi kalbu kita semua karena Sidang
Umum Majelis itu telah berjalan lancar, sukses dan selamat. Suasana
persaudaraan yang akrab menyelimuti hati kita semua karena
keputusan-keputusan Majelis yang mengejawantahkan kedaulatan
rakyat telah diambil dengan hati yang ikhlas, pikiran yang jernih
serta semangat persatuan dan kesatuan nasional yang kokoh.
Kita merasakan kesegaran baru, karena secara bersama kita
telah mengembangkan wawasan yang luas, mendasar dan mendalam
dalam upaya-upaya kita menjawab tantangan dan aspirasiaspirasi
baru. Semuanya itu telah kita tuangkan dalam dokumen
konstitusional yang sangat penting, ialah dalam GBHN 1988 dan
8
keputusan-keputusan MPR lainnya. Hal itu terwujud berkat semangat
persatuan dan kenyalnya cara-cara yang telah kita tempuh
dalam mempersiapkan dan melangsungkan.Sidang Umum MPR itu
sendiri. Penyegaran diri juga kita rasakan berkat kemampuan kita
bersama untuk menyalurkan secara kreatif semua aspirasi dan
kekuatan yang telah dan akan muncul dalam masyarakat kita
sebagai hasil dari pembangunan di segala bidang yang telah kita
lakukan selama dua dasawarsa terakhir.
Kemampuan penyegaran diri yang demikian tadi harus tetap
kita miliki dalam menghadapi perkembangan di dunia pada umumnya
menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 mendatang. Kita
perlu berpikir dalam kerangka dunia itu, karena kita adalah
bagian dari dunia. Kesadaran bahwa perjuangan kita adalah bagian
dari perjuangan yang meliputi seluruh dunia telah diungkapkan
dalam kalimat pertama Pembukaan Undang-Undang Dasar '45.
Di sana dinyatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah
hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan. Pembukaan Undang-Undang Dasar
juga menegaskan bahwa kita memikul tanggung jawab untuk
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Perjuangan bangsa kita memang dipengaruhi oleh perkembangan
dunia. Bersamaan dengan itu perjuangan bangsa kita juga
ikut mempengaruhi perkembangan dunia. Kita hidup saling
berhubungan dan saling membutuhkan dengan bagian-bagian
dunia yang lain, dengan bangsa-bangsa yang lain. Makin maju kita
dalam pembangunan bangsa, akan makin mampu pula kita
mengendalikan pengaruh perkembangan dunia terhadap perkembangan
kita. Dan makin mampu pula kita ikut mempengaruhi perkembangan
dunia dalam rangka panggilan tugas mulia untuk ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
9
Ada tanda-tanda yang kuat bahwa menjelang akhir abad ke20
dan awal abad ke-21 ini dunia akan mengalami perubahanperubahan
yang besar dan mendasar dii berbagai bidang dan
tingkatan. Tanggung jawab moral kita adalah ikut menghindarkan
dunia dari kehancuran karena perang nuklir, karena ketidakadilan
antara Utara dan Selatan, karena ketidakadilan dalam pembangunan
suatu negara dan karena kerusakan lingkungan hidup.
Di mana-mana kita juga menyaksikan gejala krisis di berbagai
bidang, antara lain di bidang moral dan spiritual.
Kita harus mengikuti dengan cermat perubahan-perubahan
yang sedang dan akan berlangsung di dunia tadi, agar pada satu
pihak, kita dapat memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari
peluang yang dibawa perubahan itu bagi kelanjutan pembangunan
kita dan dapat menghindarkan diri dari akibat-akibat negatif dari
perubahan-perubahan tadi. Di lain pihak, melalui pembangunan
yang kita lanjutkan, kita berusaha memberi sumbangan yang
sebesar-besarnya kepada upaya seluruh umat manusia untuk menikmati
kehidupan yang lebih tenteram, lebih maju dan lebih
sejahtera dari yang dirasakan sampai sekarang.
Menyadari semua kemungkinan, tantangan dan harapan akan
masa depan seperti yang saya gambarkan sekilas tadi, --baik
di dalam negeri maupun di luar negeri-- maka dalam melaksanakan
semua amanat MPR yang memberi tugas kepada saya selaku
Presiden Republik ini, saya telah merumuskan Panca Krida Kabinet
Pembangunan V. Panca Krida itu berupa lima tugas pokok
dan sekaligus sasaran untuk kurun waktu lima tahun mendatang,
yang meliputi
Pertama : Melanjutkan, meningkatkan, memperdalam dan
memperluas pelaksanaan pembangunan nasional
sebagai pengamalan Pancasila yang bertumpu
pada Trilogi Pembangunan dan ketahanan nasional.
10
Kedua : Meningkatkan disiplin nasional yang dipelopori
oleh aparatur negara menuju terwujudnya pemerintahan
yang bersih dan berwibawa.
Ketiga : Membudayakan ideologi Pancasila, Demokrasi
Pancasila dan P4 (Ekaprasetia Pancakarsa) dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Keempat : Melaksanakan politik luar negeri yang bebas
aktif untuk kepentingan nasional.
Kelima : Melaksanakan pemilihan umum yang langsung,
umum, bebas dan rahasia dalam tahun 1992.
Izinkan saya selanjutnya, Saudara Ketua yang terhormat,
menguraikan pokok-pokok Panca Krida itu, yang sekaligus merupakan
penegasan-penegasan sikap dan wawasan Pemerintah mengenai
masalah-masalah di berbagai bidang, yang sedang atau akan
kita hadapi di masa datang.
Krida yang pertama, mencerminkan tugas pokok kita yang
utama dan kebulatan tekad kita untuk melaksanakan pembangunan
nasional sebagai pengamalan Pancasila. Dalam melaksanakan
pembangunan sebagai pengamalan Pancasila kita telah maju selangkah
lagi, karena GBHN 1988 memberi arah yang makin jelas dari
pelaksanaan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila itu. Ini
menunjukkan bahwa kita mampu mengembangkan wawasan yang
makin luas, mendasar dan mendalam dalam mempersiapkan diri
menghadapi tantangan masa datang, seperti yang saya katakan
tadi. Hal ini juga membuktikan keberhasilan kita dalam memahami
Pancasila secara makin jernih, kritis, kreatif dan dinamis.
Dengan demikian Pancasila tidak kita kerdilkan menjadi dogma
nasional yang beku dan kaku, melainkan menjadi ideologi terbuka
yang pengembangannya kita lakukan melalui rangkaian konsensus-
konsensus nasional.
Upaya melanjutkan, meningkatkan, memperdalam dan memperluas
pelaksanaan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila
11
itu kita kaitkan dengan Trilogi Pembangunan dan dengan Ketahanan
Nasional.
Dengan Trilogi Pembangunan kita akan menyerasikan unsurunsur
stabilitas nasional dengan dinamika pembangunan untuk
mencapai pertumbuhan yang cukup tinggi, yang sekaligus kita
kaitkan dengan pemerataan pembangunan menuju keadilan sosial.
Dengan Ketahanan Nasional kita meningkatkan kemampuan
dan ketangguhan bangsa kita untuk menjamin kelangsungan hidup
berdasarkan kondisi yang dinamis dalam mengintegrasikan tiaptiap
segi dari kehidupan bangsa dan negara kita. Kita tidak dapat
menerima pembangunan yang tidak meningkatkan ketahanan
nasional. Kita menolak pembangunan yang mengakibatkan kemunduran
ketahanan nasional kita. Pembangunan sebagai pengamalan
Pancasila justru kita maksudkan untuk terus menerus meningkatkan
ketahanan nasional itu.
Ketika kita memproklamasikan Kemerdekaan pada tahun
1945 kita berketetapan hati untuk membangun Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila yang bersumber
kepada kepribadian kita sendiri dengan arah dan tujuan yang jelas.
Dalam perkembangan selanjutnya, dalam mempertahankan dan
menumbuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila itu, kita tidak mengambil alih begitu saja konsep-
konsep kenegaraan yang telah ada di dunia. Kita justru telah
mengembangkan konsep-konsep kenegaraan yang paling sesuai
dengan kepribadian dan perkembangan sejarah kita di masa lampau
serta harapan kita di masa datang.
Sama seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila, maka pembangunan nasional sebagai pengamalan
Pancasila menuju tinggal landas mempunyai dasar, kepribadian,
arah dan tujuan yang jelas; yang akan mampu menyalurkan semua
aspirasi dan kekuatan yang terdapat dalam masyarakat kita secara
serasi dan kreatif.
12
Dengan demikian kita dapat menangkal dan menanggulangi
beraneka ragam ancaman yang dapat menghadang proses pembangunan
menuju tinggal landas, seperti yang pernah dan sedang
dialami oleh bangsa-bangsa lain.
Ancaman itu antara lain berupa kekosongan dalam kehidupan
moral, etik dan spiritual. Dapat juga berupa ancaman terhadap
martabat serta hak-hak dan kewajiban asasi warga negara. Dapat
pula berupa ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa.
Juga ancaman otoriterisme, militerisme dan totaliterisme. Atau
ancaman makin melebarnya jurang antara yang kaya dan yang
miskin.
Dengan melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan
Pancasila menuju tinggal landas, maka kita berupaya untuk
meniadakan berbagai ancaman tadi. Pengalaman pembangunan
bangsa-bangsa menunjukkan bahwa tidak sedikit bangsa-bangsa
yang gagal untuk mencapai tinggal landas. Dengan melaksanakan
pembangunan sebagai pengamalan Pancasila kita mengupayakan
agar kita termasuk bangsa yang berhasil mencapai tinggal landas
dalam pembangunan.
Dalam memperkuat landasan pembangunan yang kokoh menuju
tinggal landas tadi kita berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan
kondisi kemantapan dan kemajuan di bidang-bidang
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, ilmu
pengetahuan dan teknologi, keagamaan serta kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa, pertahanan keamanan dan seterusnya.
Proses tinggal landas berarti bahwa secara berangsur-angsur
kita akan makin mengembangkan dan memantapkan ciri-ciri
suatu negara dan masyarakat yang maju, adil, makmur dan lestari
berdasarkan Pancasila.
Karena itu, pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila
menuju tinggal landas akan merupakan ujian yang berat
13
dan besar bagi ketangguhan kita sebagai bangsa pejuang menjelang
akhir abad ke-20 dan awal abad ke-2 1.
Semua golongan, kalangan, lapisan dan generasi bangsa kita
akan ikut menentukan keberhasilan atau kegagalan bangsa kita
dalam menempuh ujian yang berat dan besar tadi.
Di bidang pengamalan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka
bangsa kita dan khususnya golongan-golongan beragama dan berkepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa akan menghadapi
ujian yang berat dan besar untuk secara terus menerus dan bersama-
sama meletakkan landasan moral, etik dan spiritual yang
kokoh bagi pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.
Di bidang pengamalan Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
bangsa kita akan menghadapi ujian yang berat dan besar
untuk meningkatkan penghormatan terhadap martabat serta hak
dan kewajiban asasi warga negara serta penghapusan penjajahan,
kesengsaraan dan ketidakadilan di muka bumi.
Di bidang pengamalan Sila Persatuan Indonesia bangsa kita
akan menghadapi ujian yang berat dan besar untuk meningkatkan
pembinaan bangsa di semua bidang kehidupan manusia,
masyarakat, bangsa dan negara, sehingga makin kuat rasa kesetiakawanan
dan kebersamaan dalam rangka memperkokoh persatuan
dan kesatuan bangsa.
Di bidang pengamalan Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan kita
akan menghadapi ujian yang berat dan besar untuk makin menumbuhkan
dan mengembangkan sistem politik Demokrasi Pancasila
yang mampu memelihara stabilitas nasional yang dinamis, mengembangkan
kesadaran dan tanggung jawab politik warga negara
serta bergairahnya rakyat dalam proses politik.
Dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan Demokrasi
Pancasila ini, dwi fungsi ABRI tetap akan merupakan faktor
yang positif dan kreatif untuk menjawab ujian yang berat dan
besar yang akan dihadapi oleh bangsa kita.
14
Di bidang pengamalan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
Indonesia kita akan menghadapi ujian yang berat dan besar
untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
yang dikaitkan dengan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya
menuju kepada terciptanya kemakmuran yang berkeadilan
bagi seluruh rakyat Indonesia dalam sistem ekonomi yang disusun
sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Demikianlah tugas-tugas besar bangsa kita tahun-tahun yang
akan datang dalam melanjutkan, meningkatkan, memperdalam
dan memperluas pelaksanaan pembangunan nasional sebagai
pengamalan Pancasila menuju tinggal landas yang bertumpu pada
Trilogi Pembangunan dan Ketahanan Nasional.
Para Anggota Dewan yang terhormat;
Krida kedua adalah meningkatkan disiplin nasional yang
dipelopori oleh aparatur negara menuju terwujudnya pemerintahan
yang bersih dan berwibawa.
Disiplin nasional dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa
merupakan prasyarat mutlak bagi tahap tinggal landas
pembangunan kita nanti. Pengalaman menunjukkan bahwa di
antara bangsa-bangsa yang berhasil dalam pembangunannya
ada sejumlah bangsa yang tidak memiliki kekayaan alam yang
melimpah. Yang mereka miliki adalah sumber daya manusia yang
berkualitas tinggi dan berdisiplin nasional.
Meningkatkan kualitas manusia dan kualitas masyarakat
Indonesia itulah yang merupakan warna dasar dari GBHN 1988.
Hal ini sejalan dengan hakekat pembangunan yang sejak semula
menjadi tekad kita, ialah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam
rangka ini kita memandang sangat penting penggarapan Rancangan
Undang-undang mengenai pendidikan nasional yang dewasa
ini sedang dikaji bersama oleh Dewan yang terhormat dan Pemerintah.
Kita perlu membahas Rancangan Undang-undang itu secara
15
mendasar dan berorientasi kepada cita-cita, tujuan dan sasaran
nasional kita.
Dalam hubungan dengan peningkatan kualitas manusia itu
kita memberi perhatian yang besar kepada upaya untuk meningkatkan
disiplin nasional. Disiplin nasional yang kita perlukan jelas
bukan disiplin yang mati dan statis atau yang hanya berpegang
kepada perintah dan peraturan secara harfiah semata-mata.
Yang kita perlukan untuk menjamin keberhasilan pembangunan
menuju tinggal landas adalah disiplin nasional yang hidup, dinamis
dan kreatif; yang dijiwai oleh kesadaran akan nilai-nilai dan
tujuan luhur yang telah kita sepakati bersama, ialah pengamalan
Pancasila.
Disiplin nasional itu tidak hanya berlaku dalam kehidupan
bernegara saja, akan tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat
dan berbangsa. Ini berarti panggilan tugas bersama dari tokohtokoh
dan pemuka-pemuka masyarakat kita, pemimpin-pemimpin
politik kita, pemuka-pemuka keagamaan kita, dari semua kalangan
dan lapisan. Apabila dalam Panca Krida Kabinet Pembangunan V
dinyatakan bahwa aparatur negara harus merupakan pelopor
dalam menegakkan disiplin nasional, maka hal ini mencerminkan
adanya tanggung jawab moral dan tanggung jawab formal aparatur
negara yang tugasnya memang untuk melayani bangsa dan masyarakatnya.
Kepeloporan di sini berarti, bahwa aparatur negara harus
menjadi kekuatan pendorong yang memberi tauladan yang baik,
dengan menegakkan disiplin dalam dirinya sendiri dan dalam
pelayanan terhadap masyarakat. Dengan demikian aparatur negara
sekaligus memainkan peranan yang aktif dalam mewujudkan pemerintahan
yang bersih dan berwibawa. Dalam rangka semuanya
itu telah diambil langkah awal untuk membudayakan dan
melaksanakan pengawasan melekat yang kini sedang giat-giatnya
dilancarkan di kalangan; aparatur negara.
Pemerintah terus mengharapkan dukungan dan bantuan
yang aktif dari masyarakat dalam upaya mengefektifkan pengawas-
16
an di semua bidang. Peningkatan disiplin nasional menuju terwujudnya
pemerintahan yang bersih dan berwibawa, tidak hanya
terbatas pada pengawasan terhadap aparatur saja. Pengawasan
terhadap Pemerintah sendiri harus kita kembangkan secara efektif
sesuai dengan jiwa dan semangat Undang-Undang Dasar. Sesuai
dengan jiwa dan semangat Undang-Undang Dasar, sesuai dengan
prinsip kedaulatan yang berada di tangan rakyat, maka setiap
kekuasaan di negara ini diawasi oleh rakyat dan dipertanggungjawabkan
kepada rakyat melalui mekanisme dan tata cara yang ditetapkan
dalam Undang-Undang Dasar, penyelenggaraan negara yang
berkembang dalam praktek dan peraturan perundang-undangan.
Pengawasan seperti itu merupakan unsur yang penting dalam
menegakkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Demikian
pula, masyarakat umumnya, antara lain melalui peranan pers yang
bebas dan bertanggung jawab, mempunyai peranan penting dalam
rangka meningkatkan disiplin nasional tadi.
Krida yang ketiga --yaitu membudayakan ideologi Pancasila,
Demokrasi Pancasila dan P4 dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara--, merupakan salah satu tugas utama
kita untuk memantapkan kerangka landasan pembangunan yang
akan kita tuntaskan dalam Repelita V.
Pembangunan tidak hanya berupa pertumbuhan di segala
bidang; seperti di bidang ekonomi, penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta bidang bidang lainnya saja. Bagi kita, pembangunan
juga berarti perubahan yang menyeluruh menjadi
masyarakat yang maju, sejahtera, adil, makmur dan lestari berdasarkan
Pancasila, seperti yang saya kemukakan tadi. Ini berarti.
bahwa perubahan yang menyeluruh itu tidak lalu menyimpang
dari kepribadian, cita-cita dan tujuan-tujuan kita semula; akan
tetapi justru harus makin mengungkapkan secara nyata segenap
kepribadian bangsa kita yang telah kita langgengkan dalam Pancasila.
Ini berarti bahwa Pancasila, Demokrasi Pancasila dan P4
tidak cukup hanya kita pahami belaka; melainkan harus kita hayati
17
sehingga menyentuh semua segi-segi kemanusiaan kita, termasuk
kesadaran, perasaan, perilaku kita semua tanpa kecuali.
Upaya membudayakan ideologi Pancasila, Demokrasi Pancasila
dan P4 memerlukan keterlibatan pemuka-pemuka dan lembaga-
lembaga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Semuanya tadi melibatkan semua orang tua yang mendidik
anak-anak mereka; para guru dari Taman Kanak-kanak sampai perguruan
tinggi; para pemikir di bidang kehidupan manusia, masyarakat,
bangsa dan negara; tokoh-tokoh politik dan pemuka-pemuka
masyarakat; prajurit ABRI, pegawai negeri, para usahawan, petani
dan pekerja, kalangan pers dan seterusnya.
Selanjutnya Krida keempat adalah pelaksanaan politik luar
negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional. Hal ini sama
sekali tidak berarti bahwa kita menjalankan politik luar negeri
dengan sikap nasionalisme yang sempit. Politik luar negeri yang
demikian tadi justru menunjukkan perhitungan yang cermat dan
kesadaran yang realistis mengenai kedudukan dan peranan yang
dapat kita lakukan di tengah-tengah kekuatan kekuatan dan kecenderungan-
kecenderungan di dunia.
Politik luar negeri kita yang bebas aktif itu memang pertamatama
ditujukan untuk menyukseskan pembangunan nasional
sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas. Tetapi politik
luar negeri kita itu juga sekaligus kita tujukan kepada cita-cita
untuk ikut menyelenggarakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Keberhasilan
kita dalam pembangunan nasional akan memberi bobot yang
makin besar bagi pelaksanaan politik luar negeri kita yang memperjuangkan
tujuan-tujuan yang luhur tadi.
Dewasa ini umat manusia hidup dalam keadaan perekonomian
dunia yang lamban pertumbuhannya. Kebanyakan negaranegara
yang sedang membangun mengalami kesulitan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan yang disebabkan oleh mening-
18
katnya beban hutang, meningkatnya proteksionisme dan menurunnya
harga barang-barang ekspor pertanian. Singkatnya umat
manusia sekarang hidup dalam lingkungan ekonomi dunia yang
rawan, sedang bagian terbesar umat manusia belum dapat memenuhi
kebutuhan dasar untuk hidup yang layak. Itulah sebabnya,
kita tetap meletakkan bidang ekonomi sebagai prioritas. Karena
itu pula pelaksanaan politik luar negeri harus diabdikan kepada
tercapainya prioritas nasional itu.
Pembangunan memerlukan suasana dunia yang damai. Karena
itu politik luar negeri kita selalu mendorong terciptanya suasana
ke arah terwujudnya perdamaian yang didasarkan atas kemerdekaan
nasional, penghormatan kedaulatan, saling menghormati dan
saling bekerjasama. Sikap dan langkah-langkah kita sangat jelas
dalam rangka ini; baik dalam menghadapi perlombaan persenjataan
antara negara-negara besar dunia, menghadapi perkembangan
di Asia Tenggara, di Afganistan, di Timur Tengah, dan menghadapi
politik rasialis dan apartheid di Afrika Selatan.
Dalam rangka itu kita menyambut dengan penuh harapan
akan dimulainya gencatan senjata dalam perang Iran-Irak yang
telah membawa bencana dan penderitaan bagi kedua bangsa.
Dalam rangka itu pula prioritas utama politik luar negeri kita
tertuju pada pembinaan dan pengembangan ASEAN, yang makin
hari makin kuat dan terus akan kita perkuat di masa datang.
Mengembangkan suasana damai di kawasan ini, mendorong kita
bersedia menjadi tuan rumah Pertemuan Informal Jakarta. Dilihat
dari rumitnya masalah Kampuchea, maka kita merasa berbahagia
bahwa Pertemuan Informal Jakarta itu telah menghasilkan momen
yang historis, yang mudah-mudahan menjadi awal bagi penyelesaian
secara tuntas masalah Kampuchea selanjutnya.
Kita juga memandang KTT Non Blok sebagai forum yang
sangat penting untuk mendorong perdamaian dunia dan pembangunan
bangsa-bangsa, terutama bagi dunia ketiga.
19
Krida yang kelima adalah pelaksanaan Pemilihan Umum yang
langsung, umum, bebas dan rahasia dalam tahun '92. Pelaksanaan
pemilihan umum merupakan bagian yang penting dari usaha kita
untuk terus menerus menyegarkan kehidupan kita sebagai bangsa,
menyegarkan gagasan-gagasan kita dan menyalurkan aspirasiaspirasi
yang berkembang dinamis dalam masyarakat kita: Dengan
demikian kita dapat mengembangkan terus sistem Demokrasi
Pancasila ke tahapan-tahapan pertumbuhan yang makin maju
dalam menghadapi tantangan dan masalah-masalah baru yang akan
terus muncul dalam masyarakat yang dinamis. Karena itu, pemi
lihan umum yang kita lakukan lima tahun sekali juga harus memperlihatkan
kemajuan dalam pertumbuhan sistem politik Demokrasi
Pancasila dari satu pemilihan umum ke pemilihan umum
berikutnya. Dalam proses kemajuan itu, di satu pihak, harus
tetap terjamin kelangsungan hidup dan sistem politik Demokrasi
Pancasila itu sendiri; dan demikian juga harus terjamin persatuan,
kesatuan, stabilitas dan keamanan nasional. Di lain pihak, pelaksanaan
dan hasil-hasil pemilihan umum itu harus mampu menjadi
pendorong bagi pertumbuhan dan kegairahan pembangunan di
bidang yang lain.
Dalam mempersiapkan langkah maju tadi kita harus selalu
waspada terhadap gagasan-gagasan bagi perubahan-perubahan yang
dapat membawa kita kepada penyimpangan dari sistem politik
Demokrasi Pancasila. Dalam hubungan inilah kita perlu memahami
benar-benar Pancasila dan penjabarannya dalam sistem politik,
sistem ekonomi, sistem sosial budaya maupun sistem pertahanan
kearnanan kita.
Pemilihan Umum tahun '87 telah menunjukkan kemajuankemajuan
dibandingkan dengan pemilihan umum-pemilihan umum
sebelumnya. Sebabnya ialah karena dalam pemilihan umum tahun
'87 semua kekuatan sosial politik telah menegaskan Pancasila sebagai
satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Pemilihan Umum tahun '92 nanti akan mempunyai
20
arti yang sangat penting bagi perkembangan bangsa kita, sebab
dalam pemilihan umum nanti itu semua kekuatan sosial politik
akan menyampaikan gagasan-gagasan dan program-program
mereka kepada masyarakat mengenai Pembangunan Jangka Panjang
25 tahun kedua, yang akan kita tuangkan dalam GBHN '93.
Karena itu baik pemerintah maupun kekuatan-kekuatan sosial
politik dan juga semua golongan dan kekuatan dalam masyarakat
kita secara dini harus menyiapkan diri agar pelaksanaan
pemilihan umum tahun '92 nanti dapat berjalan sebaik-baiknya.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Demikianlah arah yang akan kita tempuh bersama dalam
persiapan kita memasuki proses tinggal landas pembangunan. Kita
perlu secara jernih melihat perspektif perjalanan panjang bangsa
kita itu, agar kita dapat mengarahkan secara mantap apa yang kita
lakukan dalam bidang masing-masing menuju cita-cita dan arah
bersama dalam jangka panjang tadi. Kita perlu menyadari, bahwa
apa yang kita lakukan dan apa yang tidak kita lakukan dewasa ini
akan mempengaruhi keadaan kita di masa datang.
Pandangan jauh ke depan itulah yang kita gunakan untuk
menyusun Repelita V sebagai penjabaran GBHN 1988.
GBHN 1988 menegaskan bahwa Repelita V harus dapat menjadi
landasan pembangunan yang kuat, sebagai tahap penutup dari
Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun pertama. Bersamaan dengan
itu, Repelita V sekaligus harus mampu menjadi ancang-ancang
bagi persiapan kita memasuki proses tinggal landas yang akan kita
mulai dalam Repelita VI, yang merupakan awal dari Pembangunan
Jangka Panjang 25 tahun kedua.
Sidang Dewan yang terhormat;
Sesuai dengan arah yang diberikan oleh GBHN, maka dalam
Repelita V prioritas pembangunan tetap kita letakkan pada pembangunan
bidang ekonomi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan
21
taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang
makin merata dan adil. Bersamaan dengan itu juga meletakkan
landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya. Titik
beratnya ditekankan pada sektor pertanian dan sektor industri.
Pembangunan pertanian diarahkan untuk memantapkan swasembada
pangan dan meningkatkan produksi hasil pertanian lainnya.
Sedangkan pembangunan sektor industri terutama ditujukan
pada industri yang menghasilkan barang-barang ekspor, industri
yang menyerap banyak tenaga kerja, industri pengolahan hasil
pertanian, dan industri yang menghasilkan mesin-mesin industri.
Sebagai upaya untuk mewujudkan kerangka landasan pembangunan
yang kuat, maka struktur ekonomi kita juga harus
makin seimbang pada tingkat yang lebih tinggi lagi. Ini berarti
kita harus berusaha sekuat tenaga agar pertumbuhan sektor industri
dan sektor-sektor lainnya maju lebih cepat dari pertumbuhan
sektor pertanian, sedangkan sektor pertanian sendiri harus terus
kita tingkatkan.
Berdasarkan perkiraan kemampuan kita untuk mendorong
pertumbuhan di berbagai sektor, dan juga dengan memperkirakan
pertumbuhan ekonomi dunia, maka laju pertumbuhan ekonomi
selama Repelita V diperkirakan sebesar rata-rata 5% setahun.
Perkiraan itu cukup realistis, mengingat sejak memasuki Repelita
IV kita menghadapi ujian dan tantangan berat di bidang ekonomi,
yang terutama disebabkan oleh perkembangan ekonomi dunia
yang tidak menguntungkan pembangunan kita.
Sebagai bagian dari ekonomi dunia, perkembangan ekonomi
kita juga akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dunia itu.
Dengan beberapa pengecualian, sampai sekarang negara industri
maju mengalami pertumbuhan ekonomi yang rendah dan tersendat-
sendat. Kalaupun ada perbaikan, maka tidak akan menjadi
kekuatan yang cukup kuat untuk mendorong perkembangan
ekonomi dunia. Unsur lain yang mempengaruhi kemampuan kita
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah perubahan-
22
perubahan besar dalam nilai tukar sejumlah mata uang asing dan
belum mantapnya harga minyak bumi di pasaran dunia.
Hal-hal tadi meminta kesadaran kita semua tanpa kecuali
untuk membulatkan tekad dan mengerahkan segala daya upaya
agar sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 5% setahun dalam
Repelita V nanti benar-benar dapat kita capai. Dalam pada itu laju
pertumbuhan penduduk harus kita usahakan dapat turun dari
2,1% dalam Repelita IV sekarang, menjadi 1,9% dalam Repelita V
nanti. Dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5% setahun dan
laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,9% setahun, maka produksi
nasional nyata per jiwa akan meningkat dengan rata-rata 3,1 % per
tahun selama Repelita V yang akan datang.
Saudara Ketua yang terhormat;
Izinkan saya melanjutkan secara ringkas gambaran umum
mengenai Repelita V.
Pembangunan pertanian akan meliputi pertanian tanaman
pangan dan tanaman perkebunan, perikanan, petemakan serta
kehutanan; yang kita arahkan pada berkembangnya pertanian
yang maju, efisien dan tangguh. Tujuannya adalah untuk meningkatkan
hasil dan mutu produksi, meningkatkan pendapatan dan
taraf hidup petani serta petemak dan nelayan, memperluas lapangan
kerja dan kesempatan berusaha, menunjang pembangunan
industri serta meningkatkan ekspor. Dalam melaksanakan pembangunan.
pertanian kita manfaatkan secara efisien segala sumber
daya yang ada dan yang dapat kita kembangkan. Semuanya ini
kita laksanakan sehingga menjadi upaya yang terpadu dan saling
menunjang dengan pembangunan di sektor lain terutama pembangunan
industri, pembangunan daerah dan pedesaan, transmigrasi,
serta upaya memelihara kemampuan sumber daya alam dan
lingkungan hidup. Pembangunan pertanian akan didukung oleh
pengaturan tata ruang dan tata guna tanah agar penggunaan,
23
penguasaan, pemilikan dan pengalihan hak atas tanah dapat menjamin
kemudahan dan kelancaran usaha-usaha pertanian serta
benar-benar sesuai dengan asas adil dan merata. Dalam pada itu
keikutsertaan petani akan makin didorong lagi melalui koperasi
unit desa dan kelompok tani, sedangkan usaha pertanian yang
besar dikembangkan agar dapat membantu berkembangnya usaha
pertanian rakyat.
Dengan arah tadi kita harapkan sektor pertanian secara keseluruhan
dapat mencapai pertumbuhan yang memadai, dan
sekaligus dapat memberi dukungan kepada perkembangan industri
dalam rangka memperkuat struktur ekonomi kita.
Dalam pada itu pembangunan industri ditujukan untuk memperluas
lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menyediakan
barang dan jasa yang bermutu dengan harga yang bersaing di pasar
dalam negeri dan di luar negeri, meningkatkan ekspor dan menghemat
devisa, menunjang pembangunan daerah dan sektor-sektor
pembangunan lainnya serta sekaligus pengembangan penguasaan
teknologi. Usaha-usaha tadi didukung oleh peningkatan efisiensi
serta pengembangan iklim usaha dan iklim investasi yang sehat.
Segala upaya tadi dilakukan dengan memperkuat keterkaitan yang
saling menguntungkan dan saling menunjang antara industri kecil,
industri menengah dan industri besar, serta antara industri hilir,
industri antara dan industri hulu.
Sampai sekarang industri kita telah mampu menghasilkan
mesin-mesin dan peralatan industri. Malahan juga berhasil membuat
pabrik-pabrik tertentu. Di waktu-waktu yang akan datang
kemampuan tadi terus- kita kembangkan dan kita arahkan agar
secara bertahap makin banyak macam serta jumlah mesin dan
peralatan industri yang dapat kita hasilkan. Demikian pula kita
kembangkan terus penguasaan teknologi, rancang bangun dan
perekayasaan yang dalam tahun-tahun terakhir ini mencapai
kemajuan pesat. Dengan tetap memperhatikan prioritas pembangunan
nasional, kita juga meningkatkan kemajuan-kemajuan
24
yang telah kita capai dalam industri maritim, industri penerbangan,
industri alat-alat berat, industri elektronika dan industri pertahanan
keamanan.
Dalam rangka memperluas pemerataan dan memantapkan
landasan pembangunan industri maka industri kecil, industri
kerajinan, industri rumah tangga, termasuk kegiatan yang informal
dan tradisional, juga terus kita dorong perkembangannya. Demikian
pula kita lanjutkan pengembangan wilayah-wilayah pusat
pertumbuhan industri di seluruh Tanah Air yang didasarkan atas
potensi-potensi yang dimiliki wilayah yang bersangkutan. Dalam
hubungan ini sangat diperhatikan keterpaduan pengembangan
industri antar daerah dalam rangka memperkokoh kesatuan ekonomi
nasional. Dalam keseluruhan pembangunan industri itu
kemampuan dan peranan usaha swasta dan koperasi terus kita
kembangkan.
Mengenai pembangunan pertambangan, maka arahnya adalah
pemanfaatan yang sebesar-besarnya dari kekayaan tambang bagi
pembangunan nasional. Tujuannya untuk menyediakan bahan
baku bagi industri dalam negeri, meningkatkan ekspor dan penerimaan
devisa, memperluas kesempatan berusaha dan lapangan
kerja. Pemanfaatan bahan dan hasil tambang kita tingkatkan, baik
untuk ekspor maupun untuk keperluan dalam negeri.
Dalam pada itu kita menyadari tetap pentingnya peranan
minyak dan gas bumi dalam pembangunan nasional, baik sebagai
sumber penerimaan negara maupun sumber penerimaan devisa.
Karena itu sejalan dengan upaya memperbesar dan menganekaragamkan
sumber penerimaan negara dan penerimaan devisa, akan
terus kita lanjutkan peningkatan produksi minyak dan gas bumi
serta penemuan cadangan baru.
Guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan,
serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, akan terus
kita lakukan pembangunan prasarana ekonomi pada umumnya :
25
seperti pembangunan perhubungan di darat dan di laut serta
melalui udara, pembangunan telekomunikasi, pembangunan kelistrikan
dan energi pada umumnya serta lain-lainnya lagi.
Peningkatan produksi di berbagai bidang di masa datang, jelas
memerlukan dukungan sistem tata niaga dan distribusi nasional
yang efisien dan efektif melalui kebijaksanaan perdagangan yang
terpadu dan saling mendukung dengan kebijaksanaan di bidangbidang
lainnya. Pengembangan perdagangan ditujukan untuk meningkatkan
pendapatan produsen dan sekaligus menjamin kepentingan
konsumen, meningkatkan penerimaan devisa, memperluas
lapangan kerja dan makin memeratakan kesempatan berusaha.
Guna terus mendorong ekspor non migas, kita tingkatkan daya
saing serta kita buat terobosan-terobosan baru dan perluasan
pasaran di luar negeri. Kebijakan impor terutama ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa; khususnya barang
modal, bahan baku dan bahan penolong serta teknologi yang
diperlukan untuk pembangunan di berbagai sektor dan berkembangnya
industri dalam negeri yang efisien. Sementara itu, kebijaksanaan
perdagangan yang mendorong berkembangnya koperasi dan
pengusaha golongan ekonomi lemah akan dilanjutkan dan disempurnakan.
Dalam rangka membangkitkan semua potensi ekonomi dalam
masyarakat agar dapat memberi sumbangan yang sebesar-besarnya
bagi kelanjutan pembangunan di masa datang, akan dilanjutkan
kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi yang selama ini telah
membawa hasil yang membesarkan hati.
Makin terwujudnya demokrasi ekonomi harus makin tampak
dalam Repelita V, agar kita benar-benar mampu meletakkan landasan
pembangunan yang kokoh kuat dalam ancang-ancang kita
memasuki proses tinggal landas.
Karena itu dalam lima tahun mendatang dan seterusnya,
koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat harus terus kita dorong
agar benar-benar menjadi kekuatan ekonomi nasional. Koperasi
26
harus menjadi lembaga ekonomi rakyat yang mandiri dan tumbuh
dengan akar-akar yang kuat di dalam masyarakat. Untuk itu perlu
ditingkatkan kesadaran, kegairahan dan kemampuan masyarakat
luas dalam berkoperasi. Untuk membudayakan koperasi di tengahtengah
masyarakat harus kita perluas pengertian tentang koperasi
serta pembinaan koperasi secara profesional. Dorongan bagi berkembangnya
koperasi terus kita lanjutkan; seperti bantuan tenaga
manajemen, penyelenggaraan latihan ketrampilan dan pendidikan
keahlian. Dengan jalan itu maka kita akan memperbesar kemampuan
koperasi untuk berperan dalam berbagai sektor dan kegiatan
ekonomi. Untuk itu perlu dorongan-dorongan bagi berkembangnya
kerjasama antara koperasi dengan usaha negara dan usaha
swasta.
Para Anggota Dewan yang saya hormati;
Dalam menyongsong peningkatan pembangunan yang makin
luas dan berat akan tetapi penuh harapan di masa datang, kita
harus memperluas kesempatan dan tanggung jawab bersama. Masalah
dan tantangan pembangunan di masa datang tidak memungkinkan
negara membiayai sendiri atau melaksanakan semua kegiatan
pembangunan. Di samping hal itu tidak mungkin, juga keliru karena
bertentangan dengan semangat kebersamaan dan demokrasi
ekonomi kita. Ini berarti di tahun-tahun mendatang kita harus
makin mengembangkan kemampuan dan peranan dunia usaha
nasional dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dunia usaha
nasional yang terdiri dari usaha negara, koperasi dan usaha swasta
itu harus kita kembangkan dengan semangat kekeluargaan, sehingga
saling menunjang dan saling menguntungkan. Di samping
koperasi, perhatian yang khusus akan kita berikan kepada pengusaha-
pengusaha kecil, informal dan tradisional serta golongan
ekonomi lemah umumnya. Potensi mereka sangat besar dan dapat
menjadi kekuatan penyangga terhadap pukulan-pukulan ekonomi
yang datang dari luar.
27
Dalam rangka mewujudkan Wawasan Nusantara, maka pembangunan
daerah dilaksanakan secara terpadu dan serasi agar pembangunan
setiap daerah sesuai dengan prioritas dan potensi daerah,
sedang secara keseluruhan pembangunan di daerah merupakan satu
kesatuan pembangunan nasional. Dengan jalan ini, di satu pihak,
daerah memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk
mengembangkan potensinya sendiri dalam membangun; dan di
lain pihak, integrasi nasional tetap dapat kita mantapkan. Dalam
rangka ini perhatian khusus diberikan kepada daerah-daerah yang
relatif masih tertinggal, daerah dan kepulauan terpencil serta
daerah-daerah perbatasan. Menyadari luasnya wilayah Tanah Air
kita, serta keadaan dan tingkat pembangunan daerah yang berbeda-
beda, akan didorong berkembangnya kerjasama antar daerah
dalam pembangunan, sehingga daerah-daerah dalam suatu wilayah
tumbuh secara serasi dan dapat memecahkan masalah-masalah
wilayah secara bersama-sama. Demikian pula perhatian yang besar
tetap tertuju pada pembangunan pedesaan, karena di desa-desa
inilah bertempat tinggal bahagian terbesar penduduk kita. Desadesa
akan kita bangkitkan lebih lanjut kemampuannya untuk
berproduksi, mengolah dan memasarkan hasil produksinya.
Dalam pada itu sekarang mulai terasa tekanan-tekanan berat
kepada daerah-daerah perkotaan. Karena itu pembangunan perkotaan
dilaksanakan secara terencana dan terpadu dengan memperhatikan
perkembangan penduduk, sehingga terwujud lingkungan
yang sehat untuk hidup, bekerja dan berusaha.
Sidang Dewan yang saya hormati;
Segala upaya kita untuk meningkatkan pertumbuhan di
segala bidang tadi, pada akhirnya harus terasa nanti dalam wujud
bertambah baiknya tingkat kesejahteraan rakyat.
Kesejahteraan rakyat akan terangkat, apabila makin banyak
orang yang melakukan pekerjaan produktif sehingga memperoleh
28
penghasilan yang lebih baik dan memiliki harga diri. Karena itu
semua kebijakan dan pelaksanaan pembangunan diarahkan untuk
memperluas kesempatan kerja, terutama bagi angkatan kerja usia
muda yang akan bertambah besar jumlahnya. Demikian pula
penting sekali kita lanjutkan pelaksanaan transmigrasi sebagai
salah satu upaya pendayagunaan tenaga kerja dan penyebaran
penduduk; yang serentak dikaitkan dengan perbaikan mutu
kehidupan, peningkatan pendayagunaan sumber daya alam dan
pembangunan daerah. Dengan mengembangkan pusat-pusat
pemukiman baru yang dikaitkan dengan pembukaan dan pengembangan
daerah produksi, akan makin terdorong bergeraknya
transmigrasi swakarsa.
Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, akan kita
lanjutkan pembangunan' perumahan dan perbaikan lingkungan,
terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Demikian
pula kita lanjutkan upaya-upaya perbaikan derajat kesehatan
masyarakat dan perbaikan kesejahteraan sosial pada umumnya.
Tingkat kesejahteraan rakyat akan tampak antara lain pada
tingkat kematian bayi dan ibu. Dalam Repelita V yang akan datang
kita usahakan agar tingkat kematian bayi menurun dari 62
per 1000 kelahiran hidup seperti yang sekarang menjadi 50;
sedangkan tingkat kematian ibu akan kita turunkan pula. Di
balik penurunan tingkat kematian bayi dan ibu tadi, sesungguhnya
terbentang pekerjaan luas, sebab hal itu berarti langkahlangkah
besar untuk meningkatkan kualitas hidup ditengah-tengah
masyarakat kita. Kita harus meningkatkan pendapatan masyarakat,
memperbaiki lingkungan hidup sehari-hari, meningkatkan
pendidikan dan pengetahuan ibu, memperbaiki mutu gizi makanan,
memperbanyak air yang bersih dan banyak perbaikanperbaikan
kehidupan nyata lainnya. Dan semuanya itulah yang
memang kita tuju dengan melaksanakan segala kegiatan pembangunan.
29
Pembangunan kita jelas tidak hanya mengejar kemajuankemajuan
serba benda, sebab kecukupan lahir saja tidak menjamin
kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena itu kita perlu terus memelihara,
membina dan mengembangkan kebudayaan kita yang mencerminkan
nilai-nilai luhur. Dengan ini pembangunan kita akan
terasa mempunyai makna rohaniah yang dalam.
Peningkatan derajat hidup dan tanggung jawab terhadap kelanjutan
pembangunan di masa datang, mengharuskan kita terus
menaruh perhatian besar terhadap pembangunan pendidikan.
GBHN 1988 menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses
budaya untuk meningkatkan derajat dan martabat manusia; dan
menjadi tanggung jawab Pemerintah, masyarakat dan keluarga.
Pembangunan pendidikan dalam kurun waktu lima tahun mendatang
akan kita pusatkan pada peningkatan mutu setiap jenjang
dan jenis pendidikan, serta perluasan pendidikan menengah dalam
rangka persiapan perluasan wajib belajar untuk pendidikan menengah
tingkat pertama.
Abad ke-21 yang akan kita masuki 12 tahun dari sekarang,
akan merupakan abad kehidupan dan peradaban manusia yang
sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang pesat. Bangsa yang tertinggal dalam kedua bidang ini
akan makin tertinggal oleh kemajuan bangsa-bangsa lain. Ini
berarti di tahun-tahun yang akan datang kita juga harus terus
mengembangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini.
Pengalaman pembangunan bangsa-bangsa lain menunjukkan
bahwa pembangunan dapat merusak sumber daya alam dan lingkungan
hidup. Sebab itu dalam memantapkan landasan pembangunan
menuju tinggal landas nanti, segala upaya pembangunan
sekaligus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kelestarian
kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup tadi. Dengan
ini kita menunjukkan tanggung jawab kepada generasi-generasi
yang akan datang, karena kita tetap akan meninggalkan bumi
yang subur.
30
Saudara Ketua yang terhormat;
Pembangunan memerlukan biaya besar. Makin banyak yang
kita bangun makin besar pula dana-dana yang kita kerahkan; baik
yang bersumber dari dalam negeri maupun yang bersumber dari
luar negeri.
Sesuai dengan tanggung jawab kita sebagai bangsa merdeka,
dan untuk memantapkan landasan pembangunan yang kuat, maka
dana-dana pembangunan harus kita utamakan dari sumber dalam
negeri. Untuk itu pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja
negara akan terus kita sempurnakan agar penerimaan negara
meningkat; sedangkan pengeluarannya makin terkendali, terarah
dan efisien.
Dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan perkembangan
harga minyak bumi di pasaran dunia, tidak ada jalan
lain kecuali memperbesar penerimaan negara yang berasal dari
non migas. Demikian pula pengerahan dana-dana tabungan masyarakat
harus makin digalakkan. Peningkatan penerimaan devisa
melalui ekspor non migas, jasa jasa dan kepariwisataan harus merupakan
perjuangan habis-habisan.
Karena besarnya masalah dan tantangan pembangunan yang kita
hadapi, maka pinjaman luar negeri tetap kita perlukan guna
mendukung pembangunan. Kebijakan pinjaman luar negeri yang
sekarang kita lanjutkan dalam arti tanpa ikatan politik, syaratsyaratnya
tidak memberatkan dan dalam batas-batas kemampuan
kita untuk membayarkan kembali.
Mengenai pinjaman luar negeri perlu saya jelaskan bahwa
yang menjadi masalah utama bukanlah besamya jumlah pinjaman;
akan tetapi kemampuan kita untuk membayar kembali tadi. Pinjaman
luar negeri yang berada dalam batas kemampuan membayar
kembali bukan merupakan warisan beban hutang kepada
generasi yang akan datang. Sebab, pinjaman luar negeri itu akan
terbayar oleh hasil-hasil pembangunan yang kita biayai dari
pinjaman tadi.
31
Kemampuan untuk membayar kembali dari hasil pembangunan
tercermin dalam besarnya "debt service ratid" (DSR).
Memang, karena berbagai perkembangan ekonomi dunia yang
datang bersamaan --yaitu terutama merosotnya harga minyak
bumi dan perubahan nilai tukar sejumlah mata uang asing--
dewasa ini tingkat "debt service ratio" kita cukup tinggi, ialah
sekitar 35%. Kita bertekad untuk menurunkan tingkat tadi, agar
pada akhir Repelita V nanti menjadi di bawah 25%.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Demikianlah gambaran umum mengenai apa yang ingin
kita kerjakan dan arah yang kita tuju dalam kurun waktu lima
tahun yang akan datang.
Masalah yang kita hadapi cukup besar dan tantangan yang
harus kita tundukkan cukup besar. Tetapi kita tetap mempunyai
kepercayaan yang teguh terhadap masa depan kita.
Sampai sekarang kerangka landasan pembangunan di berbagai
bidang telah dapat kita letakkan; yang selanjutnya akan kita
mantapkan dalam Repelita V yang akan datang.
GBHN menyatakan bahwa kerangka landasan ekonomi itu
berupa struktur ekonomi yang makin seimbang antara bidang
industri dan pertanian, sedangkan kebutuhan pokok masyarakat
sudah tersedia dan terjangkau oleh rakyat banyak.
Di bidang pertanian kita mencapai kemajuan-kemajuan besar,
terutama setelah kita berhasil mencapai swasembada beras sejak
tahun 1984. Ini merupakan sukses awal yang membesarkan hati.
Kemajuan lain di bidang pertanian, juga dapat kita capai; seperti
perikanan, peternakan, buah-buahan, sayur-sayuran dan sebagainya.
Diperkirakan selama Repelita IV yang akan berakhir nanti,
pertumbuhan pertanian kita akan mencapai sekitar 3,4% per
tahun. Kita menyadari bahwa kewaspadaan dan keraa keras masih
harus kita lakukan di bidang pertanian ini di masa datang.
32
Kemajuan-kemajuan penting dan terobosan-terobosan baru
juga berhasil kita lakukan di bidang industri. Tanda yang sangat
jelas adalah makin besarnya sumbangan industri terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional. Dalam Repelita IV ini pertumbuhan
industri diperkirakan dapat mencapai 10,2% per tahun, yang
berarti melampaui pertumbuhan ekonomi nasional kita.
Hasil industri kita mutunya bertambah baik dan harganya
makin memadai. Malahan hasil industri kita berhasil menerobos
pasaran dunia; seperti tekstil, pakaian jadi, semen, pupuk, kertas,
ban, besi baja dan banyak lagi jenis lainnya. Dalam jumlah yang
masih terbatas kita juga mengekspor peralatan alat-alat berat,
kendaraan bermotor, elektronika. Dewasa ini kita merupakan
pengekspor kayu lapis terbesar di dunia; dan dalam waktu dekat
ini mudah-mudahan disusul dengan ekspor barang-barang jadi
dari rotan yang merupakan kekayaan alam yang sedikit dimiliki
oleh negara-negara lain. Yang jauh lebih penting lagi adalah terobosan
ke pasaran dunia yang berhasil kita lakukan atas barangbarang
hasil industri kecil dan kerajinan rakyat, dengan nilai
yang besar. Dengan pembangunan industri kita bertekad untuk
mengolah sebanyak-banyaknya kekayaan alam di negeri sendiri,
agar nilainya bertambah tinggi sehingga dapat memperbesar lapangan
kerja dan menaikkan pendapatan masyarakat.
Seperti telah saya singgung tadi, kemajuan-kemajuan penting
juga kita capai dalam rancang bangun dan rekayasa industri,
sehingga sekarang kita mampu membuat komponen-komponen
mesin, peralatan dan membangun pabrik-pabrik tertentu, mulai
dari yang menggunakan teknologi sederhana sampai teknologi
maju. Industri hulu dan industri hilir pada bagian-bagian yang
penting telah berhasil kita bangun, sehingga di tahun-tahun yang
akan datang terbuka luas kesempatan untuk mengisi dengan
industri-industri antara dalam rangka pemantapan landasan pembangunan
di sektor industri. Kemampuan mengelola industri dan
kewiraswastaan juga tumbuh pada berbagai tingkatan dan kemam-
33
puan. Dengan kata lain secara keseluruhan kita telah mulai meletakkan
dasar-dasar perkembangan masyarakat industri.
Pertumbuhan di bidang pertanian dan industri tadi telah
membuat struktur ekonomi kita makin seimbang pada tingkat
yang lebih tinggi.
Kemajuan-kemajuan di bidang pertanian dan industri tadi
berhasil kita capai berkat pembangunan prasarana ekonomi;
seperti pengairan, perhubungan, telekomunikasi dan sebagainya.
Sementara itu pemerataan pembangunan berhasil makin kita
sebarkan ke semua daerah, sampai ke desa-desa. Kebutuhan dasar
manusia makin dapat kita penuhi dengan mutu yang makin baik;
seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan,
lapangan kerja dan seterusnya.
Secara umum dapat kita katakan bahwa tingkat kesejahteraan
masyarakat kita makin meningkat. Hal ini tampak jelas
karena makin sedikitnya anggota masyarakat kita yang hidup
di bawah garis kemiskinan.
Penerimaan negara meningkat dari tahun ke tahun dan bertambah
sehat. Sejak tahun '86 penerimaan negara dari sektor
non migas melampaui penerimaan negara dari sektor migas. Nilai
ekspor kita juga terus naik dari tahun ke tahun, dan sejak tahun
'87 penerimaan nilai ekspor non migas juga berhasil melampaui
nilai ekspor migas. Ini berarti bahwa kita mulai berhasil mengatasi
kerawanan dari ketergantungan yang besar terhadap penerimaan
dari sektor migas, baik dalam penerimaan negara maupun
dalam ekspor.
Kita memang merasakan tekanan-tekanan berat dalam pembayaran
kembali pinjaman luar negeri, terutama karena perubahan
nilai sejumlah mata uang asing yang kuat di dunia. Akan tetapi
kita menunjukkan kemampuan dalam mengelola secara bertanggung
jawab pinjaman-pinjaman luar negeri tadi. Ini membawa
pengaruh yang positif terhadap dunia luar, sehingga negara-negara
lain tetap menaruli kepercayaan kepada kita dengan tetap mem-
34
beri pinjaman dengan syarat-syarat yang memadai. Kepercayaan
dunia luar itu tercermin dengan tetap mengalirnya penanaman
modal asing ke negeri kita.
Kemampuan kita dalam mengelola pinjaman luar negeri,
langkah-langkah yang kita ambil secara tepat dalam pengendalian
moneter dan meningkatnya ekspor non migas telah membuat
cadangan devisa kita cukup memadai untuk mengamankan
kehidupan ekonomi nasional dan memelihara gerak pembangunan.
Karena semuanya tadi, dengan perasaan lega, kita dapat
mengatakan bahwa dalam Repelita IV kita dapat meletakkan
kerangka landasan pembangunan di bidang ekonomi seperti yang
digariskan oleh GBHN.
Demikian pula, dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, kita telah dapat meletakkan
kerangka landasan di bidang politik karena kita telah menegaskan
Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Dengan makin meluasnya penataran
P4 dan dialog-dialog nasional, makin terasa kesadaran mengenai
hak dan kewajiban warga negara dalam rangka pelaksanaan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45. Pelaksanaan mekanisme
kepemimpinan nasional dalam putaran lima tahunan makin
mantap dengan pelaksanaan pemilihan umum tahun '87 yang
berjalan lebih baik dan lebih berbobot dari pemilihan-pemilihan
umumyang terdahulu; yangkemudian disusul oleh Sidang Umum
MPR tahun '88 yang memberi arahan-arahan baru dalam perjalanan
bangsa kita untuk lima tahun berikutnya serta terpilihnya
Presiden dan Wakil Presiden. Penjabaran pembangunan sebagai
pengamalan Pancasila dalam GBHN '88 merupakan unsur yang
sangat penting dalam kerangka landasan di bidang politik. Sidang
Umum MPR tahun '88 telah memperkaya wawasan dan pengalaman
kita mengenai pelaksanaan dari musyawarah untuk mencapai
mufakat dalam rangka Demokrasi Pancasila, yang akan
35
merupakan sumbangan besar bagi perkembangan kehidupan
politik yang makin dinamis dan stabil di masa datang.
Di bidang sosial budaya kita dapat makin memantapkan
keserasian dalam masyarakat kita yang majemuk dan terus bergerak
dinamis.. Corak khas kedaerahan.dapat kita pertahankan,
kita perdalam dan kita perkaya dalam memberi warna yang
makin indah terhadap semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika.
Kehidupan keagamaan makin terasa dalam, sedangkan kerukunan
hidup antar umat beragama mulai melangkah maju kepada hasrat
menuju kerjasama yang saling menghormati dalam upaya besar
pembangunan masyarakat kita. Semuanya tadi menunjukkan
bahwa kerangka landasan sosial budaya juga dapat kita bangun.
Kerangka landasan di bidang pertahanan keamanan terasa
dalam suasana umum keamanan dan ketertiban tanpa adanya
pergolakan-pergolakan yang dapat membahayakan keamanan
nasional. Dalam hal ini ABRI telah memberi sumbangan yang
sebaik-baiknya dengan melaksanakan dwifungsi secara bertanggung
jawab.
Saudara Ketua dan para Anggota Dewan yang terhormat;
Demikianlah menjelang peringatan hari ulang tahun Proklamasi
Kemerdekaan besok pagi, hari ini kita telah membuat neraca
perjuangan kita.
Kita telah melihat kembali ke belakang, ke titik awal perjuangan
kita memproklamasikan Kemerdekaan Nasional pada
tanggal 17 Agustus '45. Kita telah meneliti kembali perjuangan
kita sejak melaksanakan pembangunan selama dua dasawarsa
sampai menjelang akhir Repelita IV sekarang. Kita bersiap-siap
melaksanakan Repelita V sebagai penutup babak Pembangunan
Jangka Panjang 25 tahun pertama, ialah menyusun landasan
pembangunan masyarakat adil makrnur berdasarkan Pancasila.
Kita merasa lega atas keberhasilan kita meletakkan kerangka
pembangunan nasional. Kita menyadari betapa masih banyak
36
yang harus kita tangani dan betapa besar tantangan-tantangan
yang masih harus kita atasi. Kita juga melihat peluang dan harapan
kita mengenai masa depan.
Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, bahwa betapapun beratnya tantangan dan ujian
yang kita hadapi, namun kita tetap diberiNya petunjuk untuk
mengatasi, menangkal dan bahkan menanggulanginya.
Pandangan kita ke tahun-tahun yang akan datang memperlihatkan
besarnya masalah dan beratnya tantangan yang kita
hadapi. Namun kita juga melihat di masa depan itu terbentang
harapan-harapan kita. Karena itu kita akan melanjutkan perjalanan
dengan keteguhan tekad dan kebulatan semangat, yang kita
ilhami dari Proklamasi Kemerdekaan yang kita peringati besok
pagi.
Kita semua digugah oleh kalimat-kalimat dari bagian penutup
GBHN 1988, bahwa berhasilnya pembangunan nasional sebagai
pengamalan Pancasila tergantung pada partisipasi seluruh rakyat
serta sikap mental, semangat, ketaatan dan disiplin penyelenggara
negara serta seluruh rakyat Indonesia. Kita juga disadarkan oleh
pesan, agar semua kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan
menyusun program menurut bidang dan kemampuan
masing-masing dalam rangka melaksanakan GBHN.
Hati kita dikuatkan oleh keyakinan yang kita percayai,
bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kalau
bukan bangsa itu sendiri yang mengubahnya. Dan kita memang
menyadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di masa
datang akan ditentukan oleh peranan sentral manusia Indonesia
yang berkualitas.
Semoga Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Pemurah tetap
melimpahkan rahmatNya kepada kita semua, kepada bangsa
pejuang yang memutuskan untuk mendirikan Negara Kesatuan
37
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila pada tahun '45,
sebagai wahana luhur untuk mengatur dan menentukan nasib
kita sendiri.
Terima kasih.



Jakarta, 16 Agustus 1988
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SOEHARTO
38

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA S O E H A R T O DI DEPAN SIDANG DEWAN PERWAKILAN RAKYAT 16 AGUSTUS 1980

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA S O E H A R T O DI DEPAN SIDANG
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT 16 AGUSTUS 1980


(PIDATO DAN LAMPIRAN)
DEPARTEMEN PENERANGAN RI
1 9 8 0

Presiden Republik Indonesia
Soeharto

PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA



Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan para Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat yang saya hormati;
Para hadirin yang berbahagia;
Besok pagi, Insya Allah, kita akan memperingati hari yang
paling bersejarah bagi Bangsa Indonesia, ialah Proklamasi Kemerdekaan
17 Agustus '45. Karena itu marilah kita panjatkan segala
puji dan rasa syukur kita yang sedalam-dalamnya ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa yang telah memberkati perjoangan dan segala pengorbanan
bangsa ini Sehingga Bangsa Indonesia memperoleh
kembali kemerdekaan dan kedaulatannya.
Peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan kita kali ini diliputi
oleh suasana khusus, yaitu masih dalam suasana Lebaran.
Karena itu dari mimbar ini saya menyampaikan ucapan Selamat
Idul Fitri kepada segenap kaum muslimin Indonesia, disertai
5
permintaan maaf lahir batin atas segala kekhilafan saya. Semoga
Tuhan Yang Maha Esa selalu menganugerahi kita dengan keberkatan
untuk masa depan kita masing-masing dan masa depan yang
indah bagi seluruh bangsa kita.
Jika 35 tahun yang lalu, kita menyatakan dan mengumandangkan
ke seluruh pelosok Tanah Air dan ke seluruh dunia bahwa
Indonesia telah merdeka, maka masa depan yang indah itu lah
yang kita angan-angankan. Dan kita sadar bahwa kita harus berjoang
dan bekerja keras untuk menyaksikan keindahan masa depan
itu. Sungguh tidak ada kebahagiaan tanpa perjoangan dan kerja
keras. Kita ingin hidup bahagia di masa datang karena itu kita harus
berjoang dan rela bekerja keras di masa sekarang.
Itulah tekad yang hams terus kita perbaharui setiap kali kita
merayakan ulang tahun Kemerdekaan.
Dalam suasana peringatan hari ulang tahun Kemerdekaan
seperti sekarang ini kita terkenang kepada perjoangan mereka yang
telah mendahului kita, kepada semua mereka yang telah mempersembahkan
pengorbanan kepada bangsanya, sehingga kita menjadi
bangsa yang merdeka dan tetap tegak sampai sekarang ini. Kita
berterima kasih kepada mereka, karena perjoangan dan pengorbanannya
telah membuat kita menjadi bangsa yang terhormat.
Kita juga berterima kasih kepada pendiri-pendiri Republik
ini, karena dengan kearifan dan kebijaksanaannya telah berhasil
meletakkan dasar negara yang kuat, ialah Pancasila dan menetapkan
landasan konstitusional Undang-Undang Dasar 1945.
Kita adalah bangsa yang tahu berterima kasih. Kita adalah
bangsa yang menghormati mereka yang telah memberikan jasa dan
pengorbanan kepada lahir dan tegaknya Kemerdekaan. Kita
adalah bangsa yang juga memiliki kesadaran dan kebanggaan akan
sejarah kita sendiri yang penuh dengan perjoangan. Kita ingin
memelihara kesinambungan sejarah kita masa lampau, masa
sekarang dan masa datang.
Karena rasa terima kasih dan kesadaran itulah kita mem-
6
bangun Monumen Soekarno-Hatta Proklamator Kemerdekaan
Indonesia yang Insya Allah akan saya resmikan malam nanti di
tempat Proklamasi Kemerdekaan itu diucapkan 35 tahun yang
lalu.
Tidak akan cukup kata-kata yang dapat kita kumpulkan, juga
tidak ada ungkapan yang paling kena, untuk menyatakan kesyukuran
kita yang sedalam-dalamnya atas nikmat kemerdekaan.
Karena itu, rasa syukur yang paling tepat adalah dengan
jalan mempertahankan kemurnian cita-cita kemerdekaan dan
dengan bekerja keras membangun bangsa ini sebagai pengisian
kemerdekaan.
Kita menyadari bahwa Proklamasi Kemerdekaan bukan sekedar
pernyataan bahwa bangsa kita telah melepaskan belenggu
penjajahan; kembali hidup tegak sebagai bangsa yang merdeka,
berdaulat dan terhormat. Proklamasi Kemerdekaan berarti juga
perjoangan yang penuh tantangan.
Proklamasi Kemerdekaan adalah perjoangan yang mengandung
harapan-harapan! Harapan untuk memiliki masa depan yang
baik, harapan untuk menikmati kehidupan sesuai dengan martabat
dan harkat bangsa yang merdeka, harapan untuk mengembangkan
kepribadian sesuai dengan nilai-nilai budayanya sendiri, harapan
untuk menjadi tuan di negeri sendiri, yang kesemuanya
hanya akan terwujud dengan perjoangan dan kerja keras.
Proklamasi Kemerdekaan adalah juga tanggungjawab! Tanggungjawab
untuk membangun Tanah Air oleh bangsa sendiri,
dengan kemampuan sendiri, dan untuk kepentingan bangsa sendiri.
Juga tanggungjawab untuk mengerahkan dan mengarahkan
segenap potensi dan sumber daya bangsa kita untuk kepentingan
dan kebaikan bersama. Juga tanggungjawab untuk mengatur dan
memajukan dirinya sendiri.
Selama Orde Baru ini kita telah mulai melaksanakan tanggungjawab
itu dengan melaksanakan pembangunan! Pembangunan
untuk melaksanakan cita-cita kemerdekaan dan tujuan nasional
7
seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar,
ialah melindungi segenap penduduk dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan Bangsa serta turut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Selama 35 tahun merdeka, sebenarnya baru 10 tahun terakhir
ini kita melaksanakan pembangunan yang sesungguhnya, khususnya
pembangunan untuk memajukan ekonomi dan kesejahteraan
umum. Dengan kata lain, 25 tahun sebelumnya kita memang
belum berkesempatan atau lalai menangani masalah pembangunan
ekonomi itu.
Karena itu, pada saat-saat kita memperingati ulang tahun
Kemerdekaan, marilah kita renungkan kembali semua pengalaman
kita: keberhasilan dan kegagalannya, kegembiraan dan kepedihannya.
Dan marilah kita sadari kekuatan kita. Sama pentingnya juga
kita akui kelemahan kita. Untuk kemudian : kekuatannya kita pupuk,
dan kelemahannya kita buang.
Dengan semangat ini kita akan memandang masa depan
dengan penuh kepercayaan. Kita percaya kepada masa depan itu
karena selama ini kita memang mencapai banyak hasil, dan kita
mempunyai kekuatan untuk mengatasi kesulitan.
Saudara-saudara se Bangsa dan se Tanah Air;
Dalam kurun waktu sejarah, peringatan Hari Ulang Tahun
Kemerdekaan kita kali ini mempunyai arti yang khusus.
Pertama, karena pada 17 Agustus tahun ini bangsa kita genap
berusia 35 tahun. Tiga setengah dasawarsa Indonesia Merdeka
membuat kita bertambah kaya dengan pengalaman dan membuat
bangsa kita makin dewasa. Kita banyak mengalami pasang naik,
tetapi kita juga kadang kala mengalami pasang surut. Kita banyak
menikmati keberhasilan-keberhasilan yang menggembirakan, tetapi
kita juga sering diuji oleh cobaan-cobaan yang memprihatinkan.
8
Kita banyak mencapai kemajuan-kemajuan namun kita juga masih
dikelilingi oleh kesulitan-kesulitan.
Tetapi juga jelas bahwa di masa lampau itu kita telah mengambil
berbagai keputusan sejarah yang tepat, kita mempunyai
kekuatan-kekuatan sehingga kita tetap berdiri tegak sampai sekarang
dan kita juga mencapai kemajuan-kemajuan hingga kita
sampai pada keadaan seperti sekarang.
Kedua, kita mulai memasuki dasawarsa 80-an. Dasawarsa ini
akan menguji bangsa Indonesia: apakah kita dapat berhasil
mengemban tugas-tugas besar pembangunannya. Dasawarsa ini
akan menguji dunia: apakah umat dapat selamat melampaui berbagai
krisis, kemelut dan tantangan besar yang menghadang.
Karena itu marilah kita renungi kembali sejarah 35 tahun di
belakang kita itu, untuk bekal menyongsong tugas-tugas nasional
dan internasional kita memasuki dasawarsa 80-an ini.
Saudara-saudara se Bangsa dan se Tanah Air;
Lima tahun pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan kita
bergulat dalam perjoangan bersenjata melawan penjajah untuk
mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan yang baru kita
rebut. Kita berada dalam kancah revolusi perombakan besarbesaran
dari alam penjajahan ke dalam alam merdeka. Dalam masa
yang sulit ini kita juga ditusuk dari belakang oleh pemberontakan
kaum komunis yang pertama, yang mereka mulai dari Madiun,
di tahun '48, yang untunglah dapat segera kita tumpas.
Dalam tingkat perjoangan yang demikian, tentu saja pembangunan
ekonomi tidak banyak diharapkan, walaupun waktu itu
telah ada rencana ekonomi perjoangan.
Dalam kurun waktu itu segala kekuatan dan kemampuan
bangsa yang ada kita kerahkan untuk menegakkan kemerdekaan
nasional bahkan kalau perlu juga dengan darah dan jiwa bangsa
kita sendiri. Perjoangan itu lah yang membuat kita menjadi bangsa
9
yang merdeka dengan kekuatan sendiri tanpa campur tangan luar,
yang membuat kita memiliki harga diri dan kepercayaan pada diri
sendiri.
Menjelang masuk ke dalam dasawarsa 50-an perjoangan kemerdekaan
kita memberi buah yang nyata, ialah pengakuan internasional
atas kedaulatan kita, berkat kekokohan persatuan dan kesatuan
seluruh bangsa kita Berta semangat perjoangan yang dilandasi
oleh semangat '45, meskipun dalam bentuk (sementara)
Republik Indonesia Serikat sebagai hasil Konperensi Meja Bunder.
Setelah Republik Indonesia Serikat dapat kita hapuskan dalam
waktu singkat untuk kembali ke dalam negara Kesatuan
Republik Indonesia, saat itu sesungguhnya merupakan saat yang
baik untuk memulai pembangunan demi terwujudnya kemajuan
dan kesejahteraan rakyat. Namun sejarah kita berjalan ke arah
yang lain, kita terjebak dalam kehidupan liberal di lapangan politik
maupun ekonomi. Walaupun Pancasila tetap tercantum dalam
Mukadimah Undang-Undang Dasar Sementara (1950), namun kita
berdiri di atas kerangka Undang-Undang Dasar yang berlainan
dengan semangat dan keinginan Undang-Undang Dasar '45. Zaman
merajalelanya liberalisme ini ditandai dengan bermunculannya
puluhan partai-partai politik. Zaman itu diperburuk oleh jatuh
bangunnya Kabinet. Keadaan ini membuat tidak satu Kabinet pun
yang mampu melaksanakan programnya, karena is telah jatuh
sebelum cukup waktu untuk melaksanakan programnya. Zaman
liberal menaburkan lagi benih-benih kedaerahan, kesukuan,
golongan dan lain-lain faham sempit yang sebenarnya telah ditempa
dalam persatuan dalam zaman perjoangan kemerdekaan. Waktu
itu mulai juga berkembang pikiran-pikiran baru untuk merombak
dasar negara Pancasila. Pemberontakan bersenjata bermunculan,
yang hampir semuanya merupakan kelanjutan dari pergolakan
politik yang tidak terselesaikan. Pergolakan politik mencapai puncak
kegawatannya pada macetnya Sidang Konstituante, karena ada
pihak-pihak yang menginginkan dasar negara yang lain dari Panca-
10
sila yang telah kita sepakati di tahun '45.
Menjelang dasawarsa 60-an, kegawatan ini diatasi dengan
Dekrit Presiden yang mengembalikan berlakunya Undang-Undang
Dasar '45. Harapan-harapan baru muncul kembali. Dalam kurun
waktu ini sejarah bangsa kita mencatat kembalinya Irian Jaya ke
pangkuan Ibu Pertiwi. Ini berarti utuhnya Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang kita cita-citakan. Namun zaman ini lambat
laun ditandai dengan penyimpangan-penyimpangan yang mendasar
dilapangan ideologi, politik dan ekonomi dari apa yang dicita-citakan
oleh Proklamasi Kemerdekaan. Pancasila diartikan sebagai
"nasakom", dengan segala akibatnya. Rakyat terpecah dalam
golongan-golongan dengan ideologinya sendiri yang sempit. Ditambah
lagi dengan "jor-joran manipolis" yang membuat golongan
yang satu berhadap-hadapan dengan golongan yang lain. Keadaan
seperti itu sulit dibayangkan adanya persatuan nasional yang
rukun dan tutus. Sementara itu keadaan ekonomi kita terus merosot,
laju inflasi terus membubung tinggi, produksi tidak dapat
berjalan lancar, cadangan devisa kosong dan seterusnya.
Proses kehidupan bangsa yang merosot itu sejalan dengan
usaha PKI untuk mematangkan situasi, sebagai persiapan pemberontakannya
yang kedua, yang meletus menjelang akhir tahun '65.
Tujuan akhir pemberontakan itu sangat jelas ialah untuk mendirikan
kekuasaan komunis di bumi Indonesia, dan meniadakan Pancasila.
Kembali bangsa kita mengalami ujian sejarah yang berat.
Dan kembali pula bangsa kita dapat tetap tegak dengan berpegang
teguh kepada Pancasila.
Kita selalu memanjatkan segala puji syukur ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa bahwa kita dapat mengatasi semua pergolakan
yang menjadi bagian dari pertumbuhan bangsa kita.
Kita bertekad agar pukulan demi pukulan tidak terus mendera
bangsa kita, agar kita tidak terus menerus menelan kepahitan
hidup. Pergolakan, perpecahan dan ketegangan di bidang politik
11
serta kemunduran ekonomi yang berlangsung terus selama dua
puluh tahun benar-benar tidak pernah memberi kesempatan
kepada bangsa Indonesia untuk memperbaiki kehidupan dan
kesejahteraan rakyat.
Dui 35 tahun sejarah Kemerdekaan telah memberi 3 pengalaman
penting bagi bangsa Indonesia.
pertama : setiap kali bangsa kita menghadapi ujian berat
maka keselamatan dan persatuan kita hanyalah
ditentukan oleh kesetiaan kita kepada Pancasila
dan Undang-Undang Dasar '45;
kedua : untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan
yang kita cita-citakan, maka satu-satunya
jalan yang harus kita tempuh adalah dengan
melaksanakan pembangunan;
ketiga : untuk melaksanakan pembangunan itu kita
semua harus dapat memelihara stabilitas nasional
yang dinamis.
Perlunya stabilitas nasional ini hendaknya benar-benar kita
sadari sedalam-dalamnya. Sekali lagi, pengalaman selama sejarah
Indonesia merdeka menunjukkan bahwa tanpa stabilitas maka
pembangunan tidak mungkin berjalan. Tanpa pembangunan, kesejahteraan
rakyat tidak akan menjadi kenyataan. Dan jika kesejahteraan
rakyat ini tidak terwujud, maka kemerdekaan yang kita
miliki ini tidak lebih dari kehormatan tanpa arti.
Sangat jelas bahwa stabilitas yang kita perlukan bukanlah
stabilitas yang membungkam suara rakyat. Ini akan membuat
kehidupan ini mencekam dan menakutkan. Sebaliknya kita juga
tidak menginginkan hanya suara hiruk pikuk tanpa tujuan. Ini
hanya akan mel e l a hkan dan mendatangkan kekacauan.
Yang kita inginkan adalah stabilitas yang dinamis, di mana
suara rakyat yang berdaulat dan jujur tersalur secara tertib menurut
cara-cara yang disediakan dan ditunjukkan oleh Undang-
12
Undang Dasar '45.
Belajar dari pengalaman masa lampau, dan bertanggung jawab
atas pengisian kemerdekaan, maka di tahun 1966 kita mencapai
kesepakatan nasional untuk membangun Orde Baru.
Orde Baru itu bertekad untuk membangun bangsa Indonesia
di segala bidang; dan sekaligus menegakkan kehidupan bangsa yang
tertib dan kokoh berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
'45.
Demikianlah setelah kita mengadakan koreksi total secara
konstitusional dan berhasil melaksanakan stabilisasi, maka menjelang
permulaan dasawarsa 70-an kita mulai melaksanakan pembangunan.
Strategi dan arah, tujuan dan sasaran pembangunan di segala
bidang itu ditetapkan sendiri secara konstitusional oleh rakyat
melalui Sidang-sidang Umum MPR, terutama yang tertuang dalam
GBHN. Strategi pembangunan itu pula yang menentukan. agar kita
memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi untuk memajukan
kesejahteraan rakyat, tanpa mengabaikan pembangunan
politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Saudara-saudara se Bangsa dan se Tanah Air ;
Banyak yang telah kita kerjakan dan banyak pula kemajuan
yang telah kita capai dalam melaksanakan pembangunan di segala
bidang itu selama ini. Dan jangan kita lupakan, bahwa segala kemajuan
tadi kita capai dengan susah payah, dengan segala kesungguhan
dan kesanggupan kita. Mungkin saja kita belum puas dengan
apa yang dapat kita capai hingga sekarang. Tetapi hal itu tidak berarti
bahwa selama ini kita tidak berbuat apa-apa.
Kita telah berusaha keras untuk membangun kehidupan politik
dan kenegaraan yang sehat dengan menunjukkan penghormatan
kita kepada demokrasi, kepatuhan kita kepada konstitusi
13
dan sikap tunduk kepada hukum.
Di bawah naungan Undang-Undang Dasar '45 kita telah dua
kali mengadakan Pemilihan Umum, yang kemudian menghasilkan
terbentuknya DPR dan MPR. Melalui Sidang Umum MPR itu pula
telah kita tetapkan GBHN dan juga telah terpilih Presiden dan
Wakil Presiden. Ini merupakan hasil kerja kita semua dalam usaha
menegakkan sistem konstitusional.
Kita telah memiliki lembaga-lembaga kenegaraan yang dibentuk
sesuai dengan ketentuan konstitusional. Kita tidak sangsi akan
peranan dan hasil-hasil karya lembaga-lembaga konstitusional kita:
baik MPR, Pemerintah, DPR, DPA, BPK maupun Mahkamah
Agung. Usaha-usaha kita ke arah ini akan terus kita tingkatkan
sehingga kita dapat menciptakan keseimbangan yang lebih mantap
dan serasi dalam pengambilan keputusan-keputusan di tingkat
nasional.
Untuk menegakkan sistem konstitusional itu kita tidak hanya
memerlukan Pemerintah yang kuat. Kita juga membutuhkan DPR
yang berbobot, DPA yang bijaksana, BPK yang cermat dan Mahkamah
Agung yang berwibawa.
Dengan tetap berpegang kepada tugas konstitusional masingmasing,
kita perlu terus mengembangkan saling hubungan yang
lebih mantap dan serasi antara lembaga-lembaga konstitusional
kita. Ini lebih sesuai dengan asas kekeluargaan yang menjiwai pikiran-
pikiran Undang-Undang Dasar '45. Hak-hak dan kewajiban
konstitusional, baik yang nyata-nyata diberikan oleh Undang-
Undang Dasar maupun kebiasaan yang kita kembangkan bersama
dalam praktek penyelenggaraan negara, harus kita gunakan dengan.
penuh tanggung jawab. Bobot dan wibawa lembaga-lembaga
konstitusional harus kita jaga agar kita jangan terpelanting dalam
kekacauan-kekacauan liberalisme atau terjerumus dalam kekejaman
totaliterisme.
Kita juga harus berhati-hati dan waspada dalam memberi isi
ke dalam praktek kehidupan politik dan ketatanegaraan kita.
14
Kita perlu waspada dan menyaring pikiran-pikiran dan cara-cara
demokrasi yang datang dari luar. Demokrasi kita hanya dapat
subur jika kita tumbuhkan di atas dasar Pancasila.
Memang, pembangunan politik, pembangunan demokrasi
dan pembangunan kehidupan konstitusional tidak dapat sekali
jadi. Pembangunan politik merupakan bagian yang sangat sulit
dari keseluruhan pembangunan bangsa! Karena itu ia meminta
ketabahan dan kesabaran kita semua.
Kita perlu menyadari bahwa kita belum memiliki tradisi yang
mantap dalam memberi isi dan menentukan bentuk dari semua
aspek penting daripada pelaksanaan kehidupan politik. Kita masih
terus mencoba mencari keseimbangan yang tepat antara kebebasan
dan tanggungjawab, antara kepentingan perorangan dan golongan
di satu pihak dan kepentingan umum, kepentingan nasional di
pihak lain. Kita juga sedang berusaha agar identitas kelompok
tidak merusak nilai-nilai dasar yang menjadi kekuatan utama
bangsa kita. Kita juga sedang terus mencari cara-cara melancarkan
perobahan yang tidak memutus-mutus kesinambungan. Dan kesemuanya
itu harus tetap dilandasi oleh dasar falsafah Pancasila,
yang penuh ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang tetap
menjaga keutuhan bangsa dan diliputi suasana kekeluargaan.
Itulah persoalan-persoalan dasar yang kita hadapi.
Tanggung jawab kita sedang diuji apakah kita akan dapat
memberi jawab yang paling tepat terhadap persoalan-persoalan
dasar tadi, sehingga kita selamat sampai pada tujuan bersama.
Untuk itulah kita secara berhati-hati dan bertahap berusaha
memberi isi yang makin berbobot dan bentuk yang makin mantap
terhadap berbagai aspek kehidupan politik. Dalam menyelenggarakan
Pemilihan Umum misalnya diperlukan waktu yang panjang
sebelum kita berhasil membuat Undang-undang Pemilihan Umum,
padahal Pemilihan Umum itu sendiri telah menjadi kesepakatan
nasional sejak tahun 1966. Demikian pula kita telah memperbaiki
Undang-undang Pemilihan Umum agar kita dapat melaksanakan
15
Pemilihan Umum tahun '77 lebih baik dari Pemilihan Umum
tahun '71. Demikian pula Pemilihan Umum- yang akan datang
kita usahakan agar lebih mantap lagi dari Pemilihan Umum yang
lalu. Dan untuk itu diperlukan waktu yang cukup panjang serta
pembahasan yang cukup seru di DPR, untuk dapat menyelesaikan
Undang-undang Pemilihan Umum yang disempurnakan lagi. Kita
semua mengharapkan agar dengan Undang-undang Pemilihan
Umum yang telah disempurnakan itu, pelaksanaan Pemilihan
Umum yang langsung, umum, bebas dan rahasia, yang akan kita
selenggarakan pada tahun 1982 akan dapat berjalan lebih baik lagi.
Hal ini saya kemukakan untuk menunjukkan bahwa untuk
melaksanakan pembinaan kehidupan politik yang benar-benar
mantap serta memuaskan sungguh diperlukan proses yang terus
menerus dan waktu yang cukup panjang.
Demikian pula susunan MPR, DPR dan DPRD juga kita
dasarkan atas kesepakatan-kesepakatan nasional yang berpangkal
pada tekad kita sejak mendirikan Orde Baru ini; ialah untuk menjamin
tetap dipertahankannya Pancasila dan Undang-Undang Dasar
'45 serta untuk menjamin kepastian jalannya pembangunan. Kesepakatan
nasional inilah yang menghasilkan susunan MPR, DPR
dan DPRD yang terdiri dari anggota-anggota yang sebagian besar
dipilih dan anggota-anggota yang diangkat, yang terdiri dari
karyawan ABRI dan Non ABRI. Kesepakatan nasional ini secara
konstitusional kita tuangkan dalam Undang-undang mengenai
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.
Kita juga telah berusaha agar kita semua memiliki disiplin
nasional yang tinggi dan berusaha melaksanakan apa yang telah
kita putuskan bersama sebaik-baiknya, karena secara konstitusional
kita memang terikat dan wajib melaksanakan setiap putusan
yang diambil oleh Rakyat sendiri.
Putusan Rakyat yang mempunyai kedudukan dan arti yang
sangat penting adalah yang dituangkan dalam GBHN, yang merupakan
pedoman dan arah bagi perjoangan negara dan rakyat
16
Indonesia dalam waktu lima tahun mendatang dan dalam jangka
panjang. Dan kita telah berusaha agar setiap Sidang Umum MPR
yang berlangsung sekali dalam lima tahun itu selalu dapat menghasilkan
GBHN yang sangat penting itu. Dalam hubungan ini kita
juga telah merintis kebiasaan dalam memberi isi dan bentuk kehidupan
konstitusional itu, ialah pengajuan rancangan GBHN
oleh Presiden/Mandataris untuk dibahas dan diputuskan oleh
MPR.
Pengalaman menunjukkan bahwa menyusun GBHN bukanlah
hal yang mudah, terutama agar dapat mencapai kesepakatan nasional.
Dalam Sidang Umum tahun 1968 misalnya MPRS gagal
menyusun GBHN. Padahal kegagalan menyusun GBHN berarti
hambatan yang besar terhadap kelanjutan pembangunan. Karena
itulah, sebagai persiapan untuk Sidang Umum MPR tahun 1973
dan Sidang Umum MPR tahun 1978, Presiden menyiapkan rancangan
GBHN sebagai bahan untuk dibahas dalam dan diputuskan
oleh Majelis, sebagai lembaga tertinggi pemegang kedaulatan
rakyat yang mempunyai wewenang untuk membuat GBHN.
Demikian juga dewasa ini Pemerintah sudah mulai mengumpulkan
bahan-bahan untuk penyiapan penyusunan rancangan GBHN
untuk disampaikan kepada MPR hasil Pemilihan Umum yang
akan datang.
Dalam pembangunan sosial politik kita juga telah mengadakan
pembaharuan kehidupan politik dan perombakan struktur
politik. Langkah ini juga merupakan pelaksanaan dari kesepakatan
nasional kita semua, yang tercermin dalam Ketetapan-ketetapan
MPRS dan Ketetapan-ketetapan MPR berikutnya. Kita harus
mengadakan pembaharuan dan perombakan karena kehidupan
politik cara yang lama dan struktur politik yang lama telah gagal
mengantarkan bangsa Indonesia kepada pembangunan yang akan
membawanya ke arah kemajuan dan kesejahteraan.
17
Pembaharuan kehidupan politik itu harus kita lakukan,
karena pengalaman sebelum tahun 1966 mengajarkan kepada kita,
bahwa membiarkan rakyat terus menerus terlibat dalam kegiatan
politik praktis seperti zaman "jor-joran manipolis" telah membuat
rakyat terkotak-kotak secara sempit dalam golongan masingmasing,
dengan segala fanatisme yang sengit kepada golongannya
sendiri. Malahan, membuat golongan-golongan saling berhadaphadapan
satu dengan yang lain. Suasana seperti ini, walaupun
tampaknya penuh dinamika, namun telah menghabiskan tenaga
dan mendorong timbulnya perpecahan dan keonaran. Di samping
itu kegiatan-kegiatan politik praktis yang berlebih-lebihan telah
membuat rakyat lengah dari tugas-tugas pembangunan, yang
justru mutlak bagi peningkatan kemajuan dan kesejahteraan
umum.
Pengalaman waktu itu menunjukkan bahwa masalah-masalah
politik tidak diusahakan dipecahkan secara masuk akal dengan
musyawarah-musyawarah dalam gedung-gedung perwakilan rakyat.
Ia berobah menjadi pertarungan kekuatan di mana-mana : di sawah-
sawah dan perkebunan antara kelompok-kelompok petani,
di pabrik-pabrik atau perusahaan di antara kelompok-kelompok
buruh, di kampus-kampus dan di sekolah-sekolah antara kelompok-
kelompok mahasiswa dan pelajar, di lapangan pendidikan di
antara kelompok-kelompok guru, di Departemen-departemen dan
kantor-kantor di antara kelompok-kelompok pegawai. Malahan
juga dicoba menyelinapkan di kalangan ABRI : Angkatan dengan
Angkatan, Kesatuan dengan Kesatuan.
Sekali lagi, pengalaman pahit masa lampau itu lah yang memberi
pelajaran kepada kita dan melahirkan konsensus nasional
untuk mengadakan pembaharuan kehidupan politik dan perombakan
struktur politik. Dan konsensus nasional itu kemudian
dapat kita jelmakan dalam bentuk Undang-undang tentang Partai
Politik dan Golongan Karya. Undang-undangnya itu pun baru
18
dapat diselesaikan setelah melampaui jangka waktu yang cukup
panjang dan yang merupakan hasil maksimal yang dapat dicapai
dalam tingkat keadaan sampai sekarang.
Pelaksanaan dari Undang-undang ini pun masih terus memerlukan
pemantapan agar dua partai politik dan golongan karya
yang diakui dan diatur dalam Undang-undang itu benar-benar
dapat menjadi modal dasar pembangunan bangsa seperti yang
ditetapkan dalam GBHN, dapat mengantarkan bangsa Indonesia
dan berpartisipasi positif dalam mencapai cita-cita kemerdekaan.
Dalam rangka pembaharuan kehidupan politik ini pula lah
harus kita lihat peranan ABRI sebagai kekuatan sosial, terutama
sebagai stabilisator dan dinamisator kehidupan politik dan pelaksanaan
pembangunan.
ABRI adalah milik bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai kekuatan sosial ABRI duduk sama rendah dan berdiri
sama tinggi dengan kekuatan-kekuatan sosial politik lainnya.
Namun juga jelas bahwa ABRI adalah kekuatan nasional yang
menjadi pendukung dan pembela ideologi negara Pancasila yang
tidak mengenal menyerah. Karena itu tidak mungkin ABRI akan
memojokkan –apalagi memusuhi– sesuatu golongan atau kekuatan
politik dalam masyarakat kita. Yang benar adalah bahwa ABRI
tidak mengenal menyerah dalam membela Pancasila. Dengan
dwifungsinya ABRI akan berusaha mempertahankan dan melestarikan
Pancasila, dengan jalan demokratis dan konstitusional.
Dalam rangka ini ABRI akan bergandengan tangan dengan semua
kekuatan bangsa kita yang tanpa ragu-ragu membela Pancasila
dan bersama-sama membangun masyarakat Pancasila. Dan adalah
juga menjadi panggilan pengabdian ABRI untuk mengajak, menyadarkan
mereka yang masih ragu-ragu untuk menjadi tanpa raguragu
sedikitpun terhadap kebenaran Pancasila dan pengamalannya.
19
Sidang Dewan yang terhormat ;
Dalam bersama-sama membangun kehidupan politik yang
sehat itu, kita juga berusaha memberi isi yang makin berbobot dan
wujud yang lebih nyata dari kehidupan demokrasi kita yang berdasarkan
Pancasila.
Dalam alam demokrasi, kita boleh saja berbeda pendapat
mengenai sesuatu masalah atau banyak masalah. Kita tidak
menganggap perbedaan pendapat sebagai suatu cela; juga bukan
malapetaka. Melalui perbedaan pendapat kita akan mendapatkan
jawaban yang terbaik mengenai masalah-masalah yang kita hadapi
bersama. Perbedaan pendapat untuk mencari kebaikan adalah
warna-warninya yang indah dari demokrasi, karenanya harus
diberi kesempatan untuk tumbuh dengan cara-cara yang dapat
dipertanggung jawabkan. Namun hendaknya selalu diingat bahwa
setiap perbedaan pendapat itu haruslah tetap dilandasi oleh nilainilai
kejujuran dan kesopanan, tidak malahan dibumbui dengan
hal-hal yang menjurus pada fitnah, penghinaan atau adu domba.
Perbedaan pendapat yang demikian itu jelas tidak membangun,
tidak akan menemukan kebaikan yang kita inginkan bersama.
Sebaliknya kecerobohan penggunaan hak-hak demokrasi
dengan melemparkan fitnah dan penghinaan terang merusak sopan
santun politik, dan malahan dapat berhadapan dengan hukum,
yang tanpa ragu-ragu harus kita tegakkan di negeri ini. Tanpa
penjagaan yang pantas oleh hukum orang dapat berlindung di bawah
payung demokrasi untuk menista orang lain atau kelompok
lain. Jika ini dibiarkan berlarut-larut maka kekacauan politik dan
kekasaran demokrasilah yang akan kita derita bersama.
Di negara kita yang demokratis ini perbedaan pendapat mempunyai
tempat yang terhormat. Karena itu kita menghormati
perbedaan pendapat. Pemerintah juga menghormatinya, malahan
perbedaan pendapat dengan Pemerintah sekalipun. Pemerintah
20
pun membuka diri terhadap kritik, baik terhadap kebijaksanaan
yang diambil maupun terhadap pelaksanaan yang memerlukan
koreksi dari masyarakat. Pemerintah sendiri selalu meneliti dirinya
sendiri untuk melaksanakan setiap perbaikan yang memang perlu.
Sikap ini sesungguhnya telah kita hayati, yang dalam budaya kita
terkenal sebagai "mawas diri".
Sebagai bangsa yang kaya dengan warisan sopan santun dan
keluhuran budi, marilah kesopanan dan keluhuran itu kita jadikan
nafasnya kehidupan politik kita. Dengan demikian kita dapat
mengembangkan kehidupan politik yang berkebudayaan.
Apabila ada perbedaan pendapat dan kritik politik terhadap
sesuatu, marilah kita suarakan dan kita salurkan melalui jalur dan
wadah yang cukup disediakan oleh Undang-Undang Dasar. Dan
tidak semena-mena melalui fitnahan dan hasutan untuk mengelabui
masyarakat didorong oleh dasar "tujuan menghalalkan cara".
Apabila hal ini yang dilakukan, pasti keonaran dan kekacauan
yang akan ditimbulkan, karenanya harus dihindarkan.
Karena itu kita harus mengambil sikap tegas dalam
menjaga agar setiap aturan permainan politik dan kenegaraan tetap
berjalan di atas semangat dan ketentuan Undang-Undang Dasar.
Dan marilah makin kita mantapkan pelaksanaan sistem dan kelembagaan
politik dan ketatanegaraan sesuai dengan semangat dan
ketentuan Undang-Undang Dasar.
Dalam pembangunan politik itu penting sekali pendidikan
politik untuk rakyat, agar rakyat tahu bagaimana menggunakan
hak-hak politiknya dengan penuh rasa tanggung jawab
dan bagaimana menjalankan hak-hak politiknya dengan penuh
kesadaran. Justru untuk mendewasakan kehidupan politik
inilah maka seluruh masyarakat diharapkan dapat mengikuti
penataran P4, Undang-Undang Dasar '45 dan GBHN. Dengan
bimbingan BP7 diharapkan berbagai lapisan dan organisasi
masyarakat dapat menyelenggarakan dan mengikuti penataran-
21
penataran tersebut, baik di Pusat maupun juga di Daerah-daerah.
Saya harapkan juga prakarsa daerah-daerah untuk menggelorakan
penataran-penataran P4, Undang-Undang Dasar '45 dan GBHN itu.
Demikian pula kita juga perlu meningkatkan peranan dan
partisipasi media massa untuk memasyarakatkan P4 itu sehingga
makin cepatlah masyarakat luas dan setiap warga negara
memahami dan menghayati hak dan kewajiban, tugas dan
tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik sesuai dengan
jiwa Pancasila dan ketentuan Undang-Undang Dasar '45.
Saudara-saudara se Bangsa dan se Tanah Air;
Sejalan dengan usaha kita untuk memantapkan stabilitas dan
pembangunan politik tadi, kita terus melanjutkan pembangunan
untuk memastikan terwujudnya kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
Pelaksanaan pembangunan itu seperti yang dikehendaki
oleh GBHN selalu diusahakan untuk berpijak pada Trilogi Pembangunan,
yaitu Pemerataan Pembangunan, Pertumbuhan
Ekonomi dan Stabilitas Nasional. Dalam rangka itulah maka
pertumbuhan ekonomi adalah jaminan untuk memungkinkan
pemerataan yang berisikan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan
rakyat.
Dalam hubungan ini maka dapat dinyatakan bahwa secara
nasional keadaan ekonomi kita sekarang ditandai oleh dua hal.
Pertama, ia makin memiliki ketahanan yang dapat kita andalkan;
dan kedua, ia telah memiliki kekuatan untuk pertumbuhan
selanjutnya.
Kedua hal itulah yang harus kita tingkatkan di masa
datang, agar kesejahteraan rakyat yang berkeadilan sosial dapat
makin terasa di mana-mana. Peningkatan itu sekaligus kita arahkan
untuk mencapai sasaran utama pembangunan jangka panjang
—yang ditunjukkan oleh GBHN— ialah terciptanya landasan yang
22
kuat bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang atas
kekuatannya sendiri menuju masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila.
Makin kuatnya ketahanan ekonomi nasional kita itu antara
lain ditandai oleh tetap terkendalinya stabilitas ekonomi nasional,
di tengah-tengah gejolak ekonomi dunia yang terjadi selama
tahun-tahun belakangan ini. Keadaan ekonomi dunia yang dewasa
ini diliputi oleh ketidak pastian, yang disamping disebabkan oleh
ketegangan-ketegangan dan pertikaian politik yang terjadi di
berbagai kawasan dan di antara negara-negara besar, juga disebabkan
oleh berbagai krisis ekonomi dunia yang menimbulkan inflasi
dan resesi di negara-negara maju. Hal ini mau tidak mau akan
mempunyai pengaruh kepada ekonomi negara berkembang,
termasuk ekonomi Indonesia.
Namun kita bersyukur, karena kita telah memiliki daya
tahan terhadap goncangan ekonomi dunia tadi. Kita dapat
memperkuat ketahanan ekonomi itu, di samping sebagai hasil dari
pelaksanaan pembangunan selama ini, juga karena kita berani
mengambil langkah langkah pengamanan di tahun-tahun yang
lalu. Dan terutama berkat kesediaan seluruh bangsa kita untuk
dengan penuh pengertian mengeratkan ikat pinggang dan terus bekerja
sejalan dengan kebijaksanaan yang diambil oleh Pemerintah.
Dalam rangka mengamankan ekonomi nasional kita dalam
jangka panjang, kita telah dengan penuh perhitungan berani
mengadakan devaluasi yang terkenal dengan "Kebijaksanaan 15
November". Beberapa bulan yang lalu kita dengan berat telah
mengadakan penyesuaian harga BBM, tarif angkutan dan listrik
serta penyesuaian-penyesuaian lainnya.
Memang terdapat berbagai pendapat di antara kita
mengenai langkah-langkah yang telah kita ambil di masa lampau,
antara lain adanya kekhawatiran bahwa langkah-langkah itu akan
menimbulkan kegoncangan-kegoncangan ekonomi yang dapat
23
mengganggu stabilitas nasional. Namun ternyata justru berkat
langkah itu pula kita sekarang selamat melampaui ujian dan
tantangan ekonomi, dan makin mampu berproduksi serta makin
dapat bertahan.
Barang-barang produksi dalam negeri kita ternyata
memiliki daya saing yang cukup mantap, sehingga mampu
bersaing dengan barang-barang produksi luar negeri, baik di
pasaran luar negeri, terlebih-lebih di pasaran dalam negeri. Dengan
demikian ini, kita mencapai dua sasaran penting sekaligus, yaitu
pertama : kegairahan produksi di berbagai bidang —pertanian,
perindustrian dan pertambangan— yang dengan demikian juga
membuka banyak lapangan kerja. Dan yang kedua memungkinkan
pemupukan devisa yang makin besar, karena ekspor kita terus
meningkat, sedangkan laju impor barang-barang jadi/konsumsi
menurun. Karena itu keadaan cadangan devisa kita dewasa ini
sangatlah membesarkan hati, apabila dibandingkan dengan
keadaan tahun-tahun sebelumnya dan terlebih jika dibandingkan
dengan sebelum kita melaksanakan pembangunan. Hal ini akan
merupakan modal penting untuk mempercepat peningkatan
produksi dan investasi maupun dalam memantapkan stabilitas
ekonomi.
Seperti telah saya singgung tadi, produksi kita di berbagai
bidang mengalami kenaikan-kenaikan.
Dalam hubungan ini yang paling membesarkan hati adalah
kenaikan produksi beras. Dalam tahun '80 ini diperkirakan kita
akan dapat menghasilkan sekitar 20 juta ton beras, suatu kenaikan
sekitar 2 juta ton apabila dibandingkan dengan panen tahun '79.
Dengan kenaikan produksi yang membesarkan hati tadi, dewasa ini
kita juga memiliki stok nasional yang cukup kuat, ialah sekitar 2,5
juta ton beras. Dari jumlah ini sekitar 1,5 juta ton beras merupakan
pembelian dalam negeri dalam beberapa bulan ini, suatu
jumlah yang belum pernah tercapai dalam sejarah pengadaan beras
24
dalam negeri. Dan angka ini diharapkan masih akan meningkat
terus.
Sebagaimana kita semua mengetahui kita mutlak perlu
memupuk stok pangan, khususnya beras, untuk mengatasi keadaan
kelangkaan pangan pada waktu-waktu paceklik dan sewaktu-waktu
diperlukan jika panenan di suatu tempat tidak memenuhi harapan,
jika timbul bencana alam dan lain-lain.
Dengan makin kuatnya stok beras, maka akan makin
menjamin stabilitas harga beras di waktu yang akan datang dan ini
juga akan memperkuat stabilitas dan ketahanan ekonomi kita.
Pembelian beras di dalam negeri yang demikian besar yang
dilakukan melalui BUUD/KUD langsung dari petani dengan harga
dasar yang pasti juga berarti bahwa penghasilan petani terjamin
dan bertambah baik. Pengadaan beras semacam ini akan terus dilakukan
oleh Pemerintah untuk menjamin penghasilan petani yang
pasti dan mendorong kegairahan produksi beras, meskipun kita
hams mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh masalah
pergudangan, penyimpanan dan sebagainya.
Produksi beras yang menggembirakan itu menunjukkan
bahwa segala jerih payah kita selama ini benar-benar membuahkan
hasil. Kita memang telah bekerja keras membangun bendungan
dan irigasi, membangun pabrik-pabrik pupuk agar terjamin
penyediaan pupuk yang diperlukan, menyediakan obat hama yang
cukup, terus mencari dan menemukan bibit-bibit unggul, dan terus
menerus memberi penyuluhan kepada petani. Namun yang paling
penting dan menentukan adalah kesadaran dan pengertian dari
para petani sendiri untuk melaksanakan gerakan intensifikasi
pertanian melalui Inmas dan Bimas sesuai dengan bimbingan dan
petunjuk-petunjuk tenaga-tenaga penyuluh yang trampil. Demikian
juga sangat penting peranan BUUD/ KUD, yang bertambah
kemampuannya dalam menjadi wadah pengembangan bersama dan
melayani kebutuhan kaum tani dalam usaha meningkatkan
25
produksi maupun dalam meningkatkan kesejahteraan petani pada
umumnya.
Usaha-usaha intensifikasi pertanian yang sekarang
menunjukkan hasilnya yang melonjak itu, sejak musim tanam
1979 kita tingkatkan lagi dengan melaksanakan Intensifikasi
Khusus, ialah intensifikasi yang dilakukan oleh para petani secara
berkelompok dalam satu hamparan. Hasil Intensifikasi Khusus ini
sangat memberi harapan, karena ternyata dengan Intensifikasi
Khusus ini, dengan bekerja secara berkelompok dengan pembagian
tugas yang teratur dan tertib di antara petani dalam kelompok,
telah dapat meningkatkan hasil produksi beras yang cukup besar
setiap hektar.
Oleh karenanya Pemerintah terus mendorong agar para
petani secara berkelompok makin banyak dapat mengikuti
Intensifikasi Khusus, yang memang terbukti sangat
menguntungkan itu.
Sungguh besar peluang kita untuk menaikkan produksi
beras dan sekaligus merupakan perbaikan kehidupan petani di
masa depan. Intensifikasi Khusus menunjukkan bahwa semangat
gotong royong memang dapat kita terapkan dalam kehidupan
pertanian yang makin bertambah maju. Demikianlah harapan kita
di masa datang dalam meningkatkan produksi beras sungguh
bertambah cerah. Melihat hasil-hasil panenan besar yang telah
dan yang masih akan berlangsung dalam tahun ini, maka dapat
diperkirakan —seperti saya katakan tadi— produksi beras dalam
tahun '80 ini akan dapat mencapai sekitar 20 juta ton. Dan jika ini
dapat pula kita tingkatkan di tahun depan, maka Insya Allah,
berarti kita telah mendekati sasaran produksi beras pada tahun
terakhir REPELITA III dan tercapainya swasembada pangan yang
kita idam-idamkan bersama bukannya suatu kemustahilan.
Walaupun harapan-harapan kita cukup cerah, namun kita
tidak boleh lengah, apalagi takabur. Kita harus tetap waspada dan
siaga terhadap kemungkinan cuaca yang kurang menguntungkan,
26
terhadap timbulnya hama jenis baru atau meledaknya hama tikus
yang masih sulit mengatasinya.
Sidang Dewan yang terhormat;
Usaha meningkatkan produksi pangan juga akan kita perluas
dengan pencetakan sawah baru di daerah-daerah yang telah
terjamin pengairannya, sekaligus untuk memanfaatkan sarana
pengairan yang telah kita bangun dengan pembiayaan yang cukup
besar dan untuk menimbulkan tambahan 1apangan kerja.
Karena pencetakan sawah baru itu ditujukan untuk
meningkatkan produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani
penggarap, maka hams diusahakan agar pelaksanaannya dapat
berjalan lancar dan tidak memberatkan petani. Jika pemilik tanah
yang akan dijadikan sawah itu enggan melakukannya atau
terhadap tanah yang tidak jelas pemiliknya, maka Pemerintah
akan menguasai tanah seperti itu dan akan menyerahkan kepada
petani penggarap dengan cara bagi hasil, tanpa merobah status
pemilikan tanah tersebut.
Usaha intensifikasi pertanian dalam rangka meningkatkan
produksi dan penghasilan petani tidak saja terbatas pada pertanian
tanaman pangan, tetapi juga diperluas pada perkebunan,
peternakan dan perikanan. Di bidang perkebunan dewasa ini
sedang disiapkan program-program rehabilitasi dan peremajaan
perkebunan rakyat yang dimiliki oleh para petani perkebunan,
seperti perkebunan karet, kopi, kelapa dan lain-lain. Demikian juga
di bidang peternakan dan perikanan akan ditingkatkan paket-paket
bimas ternak sapi potong, sapi perah dan unggas serta paket
bimas udang/ikan tambak dan air payau.
Di samping usaha meningkatkan intensifikasi pertanian, kita
juga berusaha meningkatkan produksi pertanian dengan melakukan
ekstensifikasi, terutama di luar Jawa. Langkah ini kita kaitkan
sekaligus dengan usaha memecahkan masalah kependudukan dan
27
masalah memperbaiki tingkat kehidupan golongan rakyat kecil
pada umumnya, ialah pelaksanaan transmigrasi. Pembukaan tanah
di daerah-daerah tujuan transmigrasi kita percepat pelaksanaannya
dan pelaksanaan keberangkatan transmigrasi dari daerahdaerah
padat penduduk ke daerah-daerah transmigrasi juga kita
tingkatkan, baik melalui darat, laut maupun udara. Hasil-hasilnya
sampai sekarang cukup tampak; jumlah yang ditransmigrasikan
setiap bulannya terus meningkat, sehingga untuk 7 bulan terakhir
ini saja --dalam tahun 1980– telah dipindahkan 34.000 KK, lebih
dari separoh jumlah yang dipindahkan dalam REPELITA II
selama lima tahun. Apabila hal ini dapat terns dilaksanakan,
maka program transmigrasi dalam REPELITA III ini Insya Allah
akan dapat diwujudkan. Dan ini bukan saja akan mengurangi
tekanan masalah kependudukan di daerah-daerah padat penduduk,
tetapi jelas akan dapat membuka dan menumbuhkan daerahdaerah
produksi baru di luar Jawa serta memperbaiki tingkat
kehidupan masyarakat, khususnya para transmigran.
Usaha peningkatan kemampuan dan penghasilan golongan
ekonomi lemah dalam rangka menciptakan pemerataan pembangunan
dan keadilan sosial, juga akan terus digalakkan dalam
bidang industri kecil/kerajinan rakyat dan pengusaha kecil. Di
samping kemudahan-kemudahan yang selama ini telah disediakan
oleh Pemerintah seperti bimbingan dan penyuluhan, perkreditan
dengan syarat-syarat ringan dan lain-lain, maka kerjasama antara
industri besar dan kuat dengan industri kecil/kerajinan rakyat
terus didorong dengan cara yang disebut "bapak angkat". Dewasa
ini makin banyak perusahaan swasta besar dan perusahaan negara
bekerjasama dengan perusahaan industri kecil/kerajinan. Perusahaan
besar memberikan bimbingan teknis, penyediaan bahan baku
dan lain-lain kepada industri kecil/kerajinan untuk dapat memproduksi
berbagai barang yang dibutuhkan oleh perusahaanperusahaan
besar itu dan selanjutnya menampung dan membantu
28
memasarkan hasil produksi industri kecil/kerajinan tadi. Hal ini
mungkin dan telah banyak dikerjakan dalam bidang suku cadang
kendaraan bermotor, industri tekstil, kerajinan kulit, kerajinan
kayu dan sebagainya.
Apabila cara semacam ini dapat dikembangkan terus, maka
akan diperoleh manfaat ganda. Produksi dalam negeri akan terus
berkembang dan merata, yang akan membuka banyak lapangan
kerja. Di samping itu baik perusahaan besar maupun perusahaan
kecil yang bekerjasama akan memperoleh keuntungan yang
mungkin meningkat. Dan yang lebih penting lagi adalah
terciptanya kerjasama dalam suasana dan semangat gotong royong,
saling bantu membantu antara yang kuat dengan yang lemah di
bidang sosial ekonomi. Ini sungguh merupakan pengamalan dasar
falsafah kita Pancasila.
Dalam rangka mendorong dan meningkatkan kemampuan
golongan pengusaha yang lemah, maka di samping kemudahankemudahan
di bidang perkreditan yang telah banyak disediakan,
perlindungan dan pengutamaan pengusaha-pengusaha golongan
ekonomi lemah dan koperasi makin dipertegas dengan keluarnya
Keputusan Presiden Nomor 14A yang telah banyak diketahui oleh
masyarakat. Saya mengharapkan kepada semua pihak, para pejabat
Pemerintah, Pusat dan Daerah, para pengusaha golongan ekonomi
lemah dan juga KADIN untuk benar-benar mengusahakan terlaksananya
ketentuan-ketentuan dan semangat Keputusan Presiden
Nomor 14A tersebut.
Sementara itu pertumbuhan ekonomi kita juga tampak dalam
bidang industri. Dalam tahapan pembangunan dewasa ini,
maka sesuai dengan GBHN, kita berusaha mengembangkan industri
yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi dan setengah
jadi. Dalam rangka inilah kita telah dan akan terus membangun
pabrik-pabrik besar seperti pabrik pupuk dan semen, yang bahan
29
bakunya banyak terdapat di Indonesia, baik untuk memenuhi kebutuhan
Indonesia sendiri yang terus meningkat, maupun untuk
ekspor. Demikian juga kita dorong dan bahkan kita wajibkan
kepada para pengusaha kehutanan pemegang HPH untuk mendiri
kan industri-industri pengolahan kayu, seperti pabrik plywood,
pulp dan mungkin kertas, sehingga kita dapat memanfaatkan
kekayaan alam kita yang berupa kayu itu secara lebih besar daripada
kalau kita hanya mengekspor kayu gelondongan. Karena
itulah kita juga membatasi ekspor kayu gelondongan dan memberikan
dorongan untuk ekspor kayu olahan.
Dalam bidang industri petrokimia kini sedang dipersiapkan
pembangunan industri aromatic, olifm dan methanol dengan
keijasama dengan pihak luar negeri. Sedangkan dalam bidang
pengolahan minyak bumi kita sedang giat-giatnya mempersiapkan
pembangunan hydrocracker di Dumai, perluasan kilang minyak
di Cilacap dan Balikpapan serta perluasan kilang gas alam cair di
Kalimantan Timur dan Aceh. Dalam rangka menambah kemam
puan kita akan kebutuhan energi maka pembangunan beberapa
pusat listrik tenaga air, tenaga panas bumi dan penambangan batu
bara sedang digarap dan dilaksanakan.
Sementara itu pelaksanaan pembangunan pembangkit listrik
dan peleburan aluminium Asahan serta perluasan pelengkapan
pabrik pengecoran besi baja di Cilegon terus dilakukan sebagai
langkah-langkah permulaan untuk mendukung pembangunan
industri berat dan industri dasar, seperti industri pesawat terbang,
industri perkapalan, industri alat-alat berat dan otomatif dan sebagainya
yang dalam tahapan-tahapan pembangunan yang akan
datang harus kita miliki sendiri dalam rangka mencapai sasaran
pembangunan jangka panjang, ialah keseimbangan struktur ekonomi,
yaitu industri yang kuat didukung oleh pertanian yang
tangguh.
30
Saudara Ketua dan Sidang yang mulia;
Pembangunan yang sangat luas dan gegap gempita itu hanya
dapat kita capai apabila kita dapat mengembangkan tiga landasan
Trilogi Pembangunan secara serempak : kita terns mendorong
pertumbuhan ekonomi yang memadai yapg memungkinkan
peningkatan kesejahteraan rakyat yang merata dan tetap dalam
suasana stabilitas nasional yang dinamis.
Dan memang, setaraf dengan kemajuan dan kemampuan
kita di bidang ekonomi, maka peningkatan kesejahteraan yang
merata juga terus kita laksanakan.
Kegiatan - kegiatan pembangunan di bidang pendidikan dan
kebudayaan, kesehatan dan keluarga berencana, agama, kependudukan
dan lingkungan hidup, perumahan dan prasarananya : listrik
dan air minum, kelancaran hubungan antara daerah yang satu
dengan yang lain dan lain-lain, telah dan sedang dilaksanakan sesuai
dengan rencana, dan di sana-sini bahkan diusahakan perce
patan pencapaian sasarannya.
Untuk hanya menyebut beberapa sektor saja dalam rangka
ini, kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar dalam REPELITA
III ini telah dapat dilaksanakan kewajiban belajar bagi anak-anak
umur sekolah antara 7 - 12 tahun. Dan selanjutnya mengusahakan
penampungannya di sekolah-sekolah lanjutan dan kejuruan yang
lebih tinggi, agar akhirnya mereka dapat terjun di masyarakat
dengan kemampuan dan ketrampilan yang memadai. Di lingkung
an pendidikan tinggi akan ditingkatkan kelengkapan peralatan
penelitian/laboratoria pada semua fakultas eksakta, dalam rangka
meningkatkan mutu dan memperbesar kapasitas fakultas yang
bersangkutan.
Kita juga berusaha agar dalam REPELITA III ini dapat dibangun
Puskesmas-puskesmas yang lebih banyak dan tersebar
melampaui Ibukota Kecamatan lengkap dengan tenaga dokternya.
Dan setiap Ibukota Kabupaten/Kotamadya diusahakan telah
31
memiliki Rumah Sakit Kabupaten yang lengkap dengan dokterdokter
spesialis yang diperlukan. Juga kegiatan program keluarga
berencana terus diperluas dan diintensifkan agar penurunan angka
kelahiran dapat dipercepat.
Untuk meningkatkan hubungan antara daerah-daerah atau
tempat-tempat yang terpencil maka di samping akan dilanjutkan
pembangunan jalan-jalan poros utama seperti jalan raya di Sumatera,
Jawa, Sulawesi dan lain-lain, akan dipercepat penyelesaian
pembangunan jalan-jalan yang menghubungkan berbagai kota di
Aceh Barat, Nusatenggara Barat, Nusatenggara Timur, Timor
Timur dan lain-lain yang selama ini keadaannya belum memadai.
Juga akan kita tingkatkan angkutan laut perintis dan angkutan
udara perintis dengan menambah sejumlah armadanya dan perbaikan
prasarananya, terutama untuk daerah-daerah Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, Nusatenggara Barat, Nusatenggara Timur,
Irian Jaya dan daerah-daerah lainnya.
Untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan rakyat di
desa-desa akan terus digalakkan usaha-usaha nyata seperti listrik
masuk desa, koran masuk desa, perpustakaan masuk desa dan
sebagainya, satu dan lain dalam rangka pembangunan ketahanan
masyarakat pedesaan. Sedangkan untuk meningkatkan kesejahteraan
dan kemudahan-kemudahan di kota-kota besar Pemerintah
akan memperbesar bantuan untuk memecahkan masalah
angkutan kota, kebersihan kota dan perbaikan kampung.
Meningkatnya kesejahteraan rakyat jelas tampak pada pertumbuhan
kehidupan beragama di Indonesia. Hal ini tidak dapat
dilepaskan dari hasil-hasil pembangunan pada umumnya, termasuk
pembangunan bidang agama. Dan pembangunan bidang agama ini
akan terus kita tingkatkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.
Dalam hubungan ini harus terus diusahakan agar keyakinan
kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat juga menjadi
pendorong pembangunan dan perekat persatuan.
32
Inilah saya kira yang menjadi tugas dan tantangan para
pemimpin, termasuk khususnya para pemimpin Agama dalam
mengembangkan dan membangun kehidupan keagamaan dalam
masyarakat yang sedang membangun.
Apabila kita dapat menghayati makna hakiki dari Agama
yang kita yakini masing-masing dengan sebaik-baiknya dan kita
juga telah menghayati dasar falsafah Pancasila, maka kita —khususnya
para pemimpin, termasuk pemimpin Agama— akan mampu
mengendalikan diri kita masing-masing pada waktu diperlukan
untuk diabdikan kepada kepentingan yang lebih besar. Kita
memang perlu mengendalikan sikap dan kepentingan golongan
atau pribadi kita masing-masing, termasuk kepentingan golongan
sesuatu agama, apabila diperlukan untuk memelihara persatuan
seluruh Bangsa kita atau untuk menghindarkan perpecahan di
antara kita dalam naungan semangat dan falsafah Pancasila. Karena
dalam wadah negara Indonesia yang bersatu dan berdasarkan
Pancasila dijamin pengamalan dan pertumbuhan kehidupan
keagamaan berdasarkan keyakinan masing-masing. Dan hanya
dengan inilah kita yakin setiap agama akan dapat hidup dan
berkembang dengan subur dipersada Indonesia ini.
Sungguh, masih banyak lagi usaha pembangunan yang terus
akan kita kerjakan dan akan kita tingkatkan.
Apabila ini semua dapat terlaksana dalam REPELITA III
ini, maka dalam memasuki REPELITA IV nanti akan tampak
makin nyata jalan menuju terciptanya landasan masyarakat adil
dan makmur berdasarkan Pancasila yang menjadi sasaran jangka
panjang kita setelah melaksanakan 5 — 6 kali REPELITA. Saya
yakin semua tadi mungkin kita laksanakan asal raja kita pandaipandai
memanfaatkan kemampuan . ekonomi yang kita miliki
sekarang, dan dapat memelihara stabilitas dan persatuan nasional
serta menggelorakan semangat pembangunan dari rakyat.
Karena itu kita harus membulatkan tekad untuk melanjut-
33
kan pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan
rakyat yang adil dan merata. Jalan dan arah pembangunan yang
kita tempuh sudah benar dan keadaan serta kemampuan kita
sekarang cukup memberikan bekal untuk berjalan terus mencapai
sasaran yang kita cita-citakan bersama.
Untuk makin mendorong maju pembangunan itu kita lanjutkan
pembangunan aparatur yang kuat, bersih dan berwibawa.
Selama ini kemampuan bekerja aparatur kita telah sangat meningkat,
tertib administrasi pemerintahanpun bertambah baik, meskipun
masih banyak yang harus kita perbaiki. Kita juga menyadari
bahwa yang banyak disorot oleh masyarakat adalah kebersihan
aparatur dari tindak-tindak tercela dan penyalahgunaan wewenang.
Dalam hal ini saya ingin menegaskan bahwa Pemerintah
tidak membiarkan korupsi, praktek-praktek tercela lainnya yang
melanggar hukum; menodai nama baik aparatur atau merugikan
rakyat. Pemerintah akan terus menindak setiap penyelewengan
dan korupsi. Namun hendaknya kita tetap obyektif, tetap jujur
dalam memberikan penilaian. Secara umum aparatur kita tetap
teguh dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugastugasnya,
baik tugas-tugas rutin maupun tugas-tugas pembangunan.
Sebagian terbesar pegawai dan pejabat masih melaksanakan
tugas pengabdiannya kepada negara dan bangsa dengan penuh
ketekunan dan kejujuran. Jangan sampai kita beranggapan bahwa
seluruh aparatur pemerintahan kita telah rusak sama sekali hanya
karena ada noda-noda di sana-sini. Jika aparatur kita benar-benar
bobrok, maka tidak mungkin kita mencapai kemajuan pembangunan
seperti sekarang ini. Kepada semua pejabat dan pegawai
saya ingatkan untuk tetap menyadari bahwa wenang yang ada
pada kita pada asasnya tidak lain adalah berasal dari kepercayaan
yang diberikan oleh rakyat dan karenanya harus kita abdikan
untuk kepentingan rakyat.
Marilah kita lanjutkan pembangunan aparatur sehingga ber-
34
tambah bersih, bertambah mampu melaksanakan tugas-tugasnya.
Dengan aparatur pemerintah yang bersih dan berwibawa
kita akan dapat melanjutkan pembangunan yang lebih lancar, meningkatkan
segala hasil kemajuan yang dapat kita capai sampai
saat ini.
Saudara-saudara se Bangsa dan se Tanah Air;
Sementara kita sibuk mengatur rumah tangga sendiri dan
memajukan pembangunan, perhatian kita tidak 'boleh terlepas
dari perkembangan dunia.
Memasuki dasawarsa '80-an ini kita menghadapi keadaan
dunia yang serba tidak menentu, penuh dengan tantangan dan
mengandung segala kemungkinan. Semuanya itu mengharuskan
kita bersikap waspada, memperkuat diri 'ke dalam dan mengkokohkan
ketahanan nasional.
Jika dalam dasawarsa yang lalu dunia diberi harapan dengan
peredaan ketegangan antara kekuatan besar, maka akhir-akhir ini
dunia kembali merasakan hangatnya perang dingin. Berbagai
ketegangan dan sengketa seolah-olah tiba-tiba serentak muncul di
berbagai kawasan, yang seringkali dibayangi oleh kemungkinan
letusan senjata perang. Dunia terasa tidak aman. Yang paling
membuat kita prihatin adalah bahwa ajang perebutan pengaruh
kekuatan-kekuatan besar dunia itu bergeser ke wilayah negaranegara
yang sedang membangun : di berbagai wilayah Afrika, di
Timur Tengah, di Asia Barat dan di Asia Tenggara.
Di Timur Tengah terwujudnya perdamaian masih akan melewati
jalan yang panjang dan rumit. Masa depan rakyat Palestina,
yang merupakan kunci pokok perdamaian di sana, belum juga
terselesaikan secara tuntas. Dalam masalah ini sikap kita sangat
jelas dan konsisten : kita dukung hak syah rakyat Palestina untuk
menentukan masa depannya sendiri. Kita dukung perjoangan
bangsa Arab untuk mendapatkan kembali wilayah Tanah Airnya
yang diduduki Israel, termasuk Al Quds. Kita menentang secara
35
tegas niat Israel untuk mencaplok seluruh Yerusalem yang akan
dijadikan ibu kotanya. Ini menusuk perasaan umat Islam di seluruh
dunia.
Kerawanan situasi di Timur Tengah makin meningkat akibat
pengaruh sengketa Iran dan Amerika Serikat sehubungan dengan
penyanderaan sejumlah warga negara Amerika Serikat, yang
belum juga terselesaikan sampai saat ini. Sementara itu kegawatan
baru muncul di Afganistan karena intervensi militer dari luar,
kendatipun pendapat umum dunia mengutuk campur tangan
seperti itu.
Sengketa barn yang lambat laun menjadi makin rumit dan
dapat menggawat timbul kembali di wilayah sekitar kita. Sementara
masalah Kampuchea belum juga terselesaikan, keadaan diperburuk
oleh gangguan nyata-nyata, terhadap integritas wilayah
Thailand. Dengan dalih apapun kita tidak dapat membenarkan
gangguan negara lain terhadap kedaulatan negara dan integritas
wilayahnya. Sebagai sesama negara ASEAN kita mendukung sepenuhnya
hak Thailand untuk mempertahankan keutuhan wilayah
negaranya. Sikap kita terhadap masalah Kampuchea sangatlah
jelas, ialah penarikan mundur semua pasukan asing dari sana
dan penghormatan yang sepenuh-penuhnya kepada hak rakyat
Kampuchea untuk memilih pemerintahannya sendiri dan menentukan
mass depan menurut kehendaknya sendiri.
Untuk kesekian kalinya Indonesia menyatakan keteguhan
tekadnya, bersama-sama anggota ASEAN lainnya, untuk menciptakan
wilayah Asia Tenggara sebagai daerah damai, bebas dan
netral. Kepada semua negara atau kelompok negara, yang besar
maupun yang kecil, kita berharap agar memahami maksud baik
ASEAN. Yang kita inginkan tidak lain adalah kedamaian, kemajuan
dan kesejahteraan menurut cita-cita yang kita anggap baik
bagi masyarakat-masyarakat kita. Perhimpunan kita tidak kita
tujukan kepada negara lain. Karena itu kita tidak menyusun
36
kekuatan militer untuk maksud-maksud agresi. Yang kita lakukan
adalah mengadakan kerjasama antara sesama negara ASEAN di
berbagai bidang dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional,
sehingga kita masing-masing akan mampu bertahan terhadap setiap
gangguan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar.
Sebagai salah satu negara non blok, maka kita juga sangat
prihatin bahwa sengketa-sengketa dan ketegangan-ketegangan yang
timbul akhir-akhir ini di berbagai kawasan dunia telah melibatkan
sejumlah negara-negara non blok. Namun ini tidak menghilangkan
kepercayaan kita akan tetap pentingnya gerakan non blok. Malahan
sebaliknya, ketegangan dunia yang makin terasa sekarang ini
mengharuskan tampilnya kekuatan non blok untuk turut mencari
jalan penyelesaiannya. Untuk itu non blok harus tetap setia kepada
kemurnian semangat dan tujuannya semula, ialah tidak
membiarkan dirinya disusupi oleh kepentingan kekuatan-kekuatan
besar dunia, tetapi terus menggalang persatuan dan kesetiakawanan
di antara negara-negara non blok, sehingga dapat mempunyai
peranan dan arti dalam usaha menciptakan perdamaian dunia
yang kokoh dan menghindarkan terjadinya peperangan yang
mencemaskan.
Seperti telah disinggung di muka, keadaan ekonomi dunia
dalam dasawarsa di hadapan kita kelihatan suram dan serba tidak
menentu. Ekonomi dunia sedang dihinggapi berbagai penyakit
sekaligus : laju pertumbuhan yang rendah, inflasi yang tinggi dan
pengangguran di mana-mana. Dunia mulai sadar bahwa berbagai
krisis yang menggoyahkan sendi-sendi ekonomi dan keuangan
dunia bukanlah hal yang bersifat sementara, seperti yang diduga
semula. Sendi-sendi itu goyah karena struktur tata ekonomi dunia
yang lama berdiri di atas dasar ketidakadilan. Hal ini hendaknya
menyadarkan semua negara di dunia untuk tidak menunda-nunda
lagi usaha-usaha untuk terwujudnya tata ekonomi dunia baru.
Berbagai usaha sebelum ini memang telah dilakukan. Namun
37
hasilnya sangat lambat dan tidak mendasar. Dialog Utara-Selatan
yang terkenal itu terbatas saja hasilnya. Karena itu kita terus
memperjoangkan terbentuknya tata ekonomi dunia barn melalui
segala forum yang dapat digunakan, baik dalam sistem Perserikatan
Bangsa-Bangsa maupun di luarnya seperti melalui Kelompok-
77, Gerakan Non Blok, Konperensi Islam, OPEC dan tentu
saja ASEAN.
Kita ber pendapat bahwa keadilan ekonomi dunia, dan juga
kemantapan ekonomi dunia, akan terwujud jika diadakan perobahan-
perobahan struktural dalam hubungan ekonomi internasional.
Dan langkah yang perlu dilakukan adalah pertama-tama menyusun
struktur yang baru dalam perdagangan internasional di
bidang komoditi, yang menyangkut barang-barang ekspor tradisional,
yang umumnya berasal dari negara-negara yang sedang membangun.
Harga barang-barang ekspor tradisional itu selama ini turun
naik, yang biasanya merugikan negara-negara penghasil. Padahal
bagi negara-negara yang sedang membangun seperti kita ini,
ekspor perlu terns dinaikkan terutama untuk mendatangkan
barang modal dan bahan baku untuk memajukan industri. Setiap
pukulan terhadap ekspor negara-negara yang sedang membangun
sangat buruk dan luas pengaruhnya.
Karena itu kita menganggap sangat mutlak perjoangan
untuk mencapai stabilitas harga di pasaran internasional dari
bahan-bahan mentah kita pada tingkat yang lebih adil dan layak
bagi negara-negara yang sedang membangun, yang merupakan
penghasil barang-barang tadi. Untuk itulah bersama-sama negaranegara
yang sedang membangun lainnya kita memperjoangkan
terwujudnya Program Komoditi Terpadu. Untuk melaksanakan
program tadi langkah pertama yang penting adalah pembentukan
lembaga keuangan internasional baru yang bernama Dana Bersama
Komoditi.
38
Demikianlah, setelah melalui perjoangan dalam perundingan-
perundingan selama bertahun-tahun yang sulit dan berbelitbelit,
maka pada akhir bulan Juni yang baru lalu tercapailah kesepakatan
internasional mengenai pembentukan Dana Bersama
Komoditi.
Melalui Dana Bersama inilah diharapkan akan dapat distabilkan
harga bahan-bahan mentah ekspor negara-negara yang sedang
membangun; dan juga dapat tersedia dana yang lebih memadai
untuk riset, peningkatan produktivitas, pemasaran, diversifikasi
dan sebagainya.
Pembentukan Dana Bersama Komoditi ini merupakan kemajuan
dan mempunyai arti penting terutama bagi negara-negara
berkembang, karena keputusan ini adalah keputusan internasional
di bidang ekonomi yang pertama, yang merupakan hasil gagasan
negara-negara berkembang untuk kepentingan semua negara,
khususnya negara-negara berkembang penghasil bahan-bahan mentah
ekspor, yang semula sulit dapat diterima oleh negara-negara
maju.
Perlu kita ingat, bahwa perjoangan menstabilkan harga komoditi
di pasaran internasional itu juga merupakan salah satu keputusan
Konperensi Asia Afrika di Bandung lebih dari seperempat
abad yang lalu. Hal ini menyadarkan kita bahwa perjoangan untuk
mewujudkan keadilan ekonomi dunia lebih-lebih memerlukan
ketabahan dan kegigihan perjoangan yang memakan waktu panjang.
Mudah-mudahan keputusan yang penting itu merupakan
sumbangan dan langkah permulaan yang penting bagi terciptanya
tata ekonomi dunia baru yang kita idam-idamkan bersama.
Satu hal yang membanggakan hati kita semua adalah bahwa
Indonesia dipercaya oleh barisan negara-negara yang sedang membangun
sebagai juru bicara mereka. Tidak berlebihan kiranya
apabila dikatakan bahwa delegasi Indonesia yang ditugasi sebagai
juru bicara dan perunding pihak negara-negara yang sedang
39
membangun, telah memberikan sumbangan yang penting bagi
berhasilnya dialog antara Utara-Selatan dalam bidang ini. Indonesia
sungguh menyambut baik hasil perundingan itu dan mengharapkan
agar pelaksanaan dari kesepakatan internasional itu
dapat secepatnya terwujud.
Tercapainya kata sepakat mengenai pembentukan Dana
Bersama merupakan langkah yang sangat penting bagi hari depan
ekonomi dunia. Namun masih banyak masalah-masalah ekonomi
dunia yang masih kita hadapi dan yang belum tampak adanya
tanda-tanda pemecahannya. Bahkan akhir-akhir ini justru ekonomi
dunia mengalami kemunduran dalam usaha menegakkan hubungan
yang wajar antara negara-negara berkembang dan negara-negara
industri. Hal ini menyangkut gejala proteksionisme yang semakin
meningkat di sementara negara-negara industri dengan akibat
yang mencekam kegiatan ekonomi dunia. Dengan berbagai macam
cara dan dalih sementara negara industri berusaha untuk menutup
atau mempersempit pasarannya terhadap anus barang-barang
industri yang dihasilkan dan diekspor oleh negara-negara berkembang.
Kiranya para negarawan di negara-negara industri perlu
menyadari bahwa tindakan-tindakan semacam itu bukan saja
merupakan pukulan terhadap usaha pembangunan negara-negara
yang sedang berkembang, melainkan justru merupakan salah satu
sumber utama daripada kegagalan untuk memperbaiki ekonomi
negara-negara industri yang kini dilanda oleh inflasi dan resesi.
Barang-barang yang dihasilkan oleh industri di negara-negara berkembang
jelas lebih rendah biayanya dan karena itu lebih rendah
pula harganya daripada barang-barang serupa yang dihasilkan
oleh negara-negara industri. Apabila barang-barang dari negaranegara
berkembang yang lebih murah harganya itu dapat masuk
pasaran negara-negara industri dengan bebas maka hal tersebut
bukan saja sangat membantu meringankan beban para
konsumen di negara-negara industri, melainkan juga akan mem-
40
bantu pengendalian laju inflasi yang melanda negara-negara industri.
Dalam pada itu kesempatan yang benar-benar terbuka bagi
negara-negara berkembang untuk mengekspor barang-barang
hasil industrinya ke pasaran negara-negara industri akan merupakan
dorongan yang kuat untuk lebih mempercepat lagi pembangunan
industri di negara-negara berkembang. Untuk melaksanakan
industrialisasi tersebut negara-negara berkembang memerlukan
alat-alat produksi berupa mesin-mesin dan berbagai macam alatalat.
Sebagian besar dari alat-alat produksi tersebut belum dapat
dihasilkan sendiri oleh negara-negara berkembang dan harus
diimpornya dari negara-negara industri. Dengan lebih cepatnya
proses industrialisasi tersebut maka lebih besar pula kemampuan
negara-negara berkembang untuk membeli alat-alat produksi dari
negara-negara industri. Pembelian alat-alat produksi yang lebih
banyak oleh negara-negara berkembang dari negara-negara industri
akan membantu mendorong kegiatan ekonomi di negara-negara
industri dan mengurangi gejala kelesuan ekonomi atau resesi yang
kini sedang mencekam negara-negara industri. Jadi, dengan membuka
pasarannya bagi barang-barang yang dihasilkan oleh negaranegara
berkembang maka negara-negara industri akan membantu
dirinya sendiri pula, karena hal tersebut akan membantu pengendalian
laju inflasi dan membantu mengurangi resesi di negaranegara
industri.
Dengan demikian jelaslah bahwa bilamana negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia, dengan gigih memperjoangkan
terbentuknya Dana Bersama untuk bahan mentah atau komoditi
dan dengan tiada hentinya terus menerus memperjoangkan terbukanya
pasaran di negara-negara industri untuk hasil produksi
negara-negara berkembang, maka hal itu bukanlah untuk kepentingan
pembangunan negara-negara berkembang saja melainkan
juga merupakan suatu bantuan terhadap usaha negara-negara
industri untuk mengatasi inflasi dan resesi yang sedang mereka
41
alami. Sungguh, hubungan Utara-Selatan bukanlah masalah amal,
bukanlah masalah yang satu adalah pemberi dan yang lain adalah
penerima. Hubungan Utara-Selatan, pembentukan Tata Ekonomi
Dunia Baru, adalah masalah interdependensi, masalah hubungan
yang kait mengkait antara kepentingan semua bangsa di dunia,
masalah hari depan umat manusia, masalah hari depan anak cucu
bangsa-bangsa yang sedang membangun dan masalah hari depan
anak cucu bangsa-bangsa yang kini sudah menikmati tingkat
hidup yang jauh lebih tinggi.
Kini dalam rangka Perserikatan Bangsa-Bangsa sedang dipersiapkan
serangkaian perundingan-perundingan yang meliputi
berbagai segi masalah Utara-Selatan dan yang lebih dikenal dengan
sebutan "Negosiasi Global". Rangkaian perundingan-perundingan
ini, yang dimulai pada waktu kita memasuki dasawarsa 80-an,
diliputi oleh suasana ekonomi dunia yang jauh daripada cerah.
Namun perlu kita ingat bahwa "Negosiasi Global" tersebut justru
merupakan rangkaian langkah-langkah untuk menata kembali
ekonomi dunia, untuk meletakkan landasan-landasan baru yang
lebih kokoh, yang lebih adil –dan karena itu juga lebih langgengbagi
hubungan ekonomi dunia untuk hari depan semua bangsa.
Karena itu pada kesempatan ini ingin saya mengajak para pemimpin
dari semua negara di dunia, para negarawan yang telah memperoleh
kepercayaan dari bangsa masing-masing untuk memimpin
negaranya, untuk berusaha dengan sepenuhnya agar rangkaian
"Negosiasi Global" dalam rangka PBB benar-benar dapat segera
dimulai, berlangsung dengan lancar dan menghasilkan langkahlangkah
yang sungguh-sungguh merupakan cakrawala baru dalam
hubungan ekonomi antara bangsa.
Saudara-saudara se Bangsa dan se Tanah Air;
Demikianlah saya telah mengajak kita semua untuk melihat
sejarah kita di belakang dan meneliti keadaan kita di masa seka-
42
rang. Saya juga mengajak kita melihat tantangan dan harapanharapan
kita di masa datang, baik di dalam negeri maupun di
dunia internasional.
Menilai keadaan suatu bangsa haruslah dalam kerangka perspektifnya
sejarah. Baik atau buruknya keadaan, maju atau mundurnya
pembangunan, selalu harus dilihat dalam kerangka perbandingan
masa lampau dan masa sekarang. Juga kemungkinankemungkinannya
di masa datang. Apakah keadaan kita sekarang
lebih baik dari kemarin, dan apakah kita mempunyai harapan
akan keadaan yang lebih baik lagi di han esok.
Dan kita dapat mengatakan bahwa keadaan kita sekarang
memang telah lebih baik dari kemarin. Dan kita mempunyai kepercayaan
dan kesempatan yang amat baik untuk mencapai keadaan
hari esok yang lebih baik lagi.
Jika dasawarsa 70-an merupakan dasawarsa permulaan pembangunan,
marilah kita jadikan dasawarsa 80-an ini sebagai dasawarsa
pemantapan pembangunan.
Kita telah bergulat untuk mengatasi berbagai tantangan dan
kita telah bekerja keras hingga ekonomi kita makin memiliki
daya tahan dan kekuatan untuk tumbuh lebih subur. Namun,
jika demokrasi ekonomi belum terwujud sekarang, tidaklah berarti
bahwa kita melalaikan pasal 33 Undang-Undang Dasar. Kita
memang belum sampai di sana, tetapi sekarang kita sedang bergerak
ke sana.
Kita telah berusaha untuk hidup tertib secara konstitusional
dan kita telah bersama-sama memelihara demokrasi.
Namun, jika kita merasa belum puas dengan demokrasi politik
kita sekarang, ini tidaklah berarti bahwa di Indonesia tidak ada
demokrasi. Sebaliknya demokrasi sedang tumbuh berlandaskan
falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dengan segala
kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang masih ada dalam
pelaksanaannya.
43
Dengan kesadaran dan kemauan demikian, dengan memperkuat
persatuan dan berpegang teguh pada semangat kekeluargaan
satu bangsa yang besar dengan sepenuh-penuh kesetiaan kita
kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45, pasti kita akan
makin dekat kepada cita-cita Kemerdekaan kita : ialah kemajuan
dan kesejahteraan yang berkeadilan sosial.
Marilah kita lanjutkan perjoangan melaksanakan pembangunan
yang selama ini telah kita lakukan dengan sebaikbaiknya.
Semoga Tuhan Yang Mafia Esa memberi kekuatan lahir
dan ketabahan batin kepada kita semua.
Terima kasih.



Jakarta, 16 Agustus 1980.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
S O E H A R T O
44
PIDATO PRESIDEN SUKARNO "NAWAKSARA"
Di depan Sidang Umum ke-IV MPRS pada tanggal 22 Juni 1966


Saudara-saudara sekalian,
I. RETROSPEKSI
Dengan mengucap Syukur Alhamdulillah, maka pagi ini saya berada di muka Sidang Umum MPRS yang ke-lV. Sesuai dengan Ketetapan MPRS No.I/1960 yang memberikan kepada diri saya, Bung Karno, gelar Pemimpin Besar Revolusi dan kekuasaan penuh untuk melaksanakan Ketetapan-ketetapan tersebut, maka dalam Amanat saya hari ini saya ingin mengulangi lebih dulu apa yang pernah saya kemukakan dalam Amanat saya di muka Sidang Umum ke-ll MPRS pada tanggal 15 Mei 1963, berjudul "Ambeg Parama-Arta" tentang hal ini:
1. Pengertian Pemimpin Besar Revolusi.
Dalam pidato saya "Ambeg Parama-Arta" itu, saya berkata: "MPRS telah memberikan KEKUASAAN PENUH kepada saya untuk melaksanakannya, dan dalam memberi kekuasaan penuh kepada saya itu, MPRS menamakan saya bukan saja Presiden, bukan saja Panglima Tertinggi Angkatan Perang, tetapi mengangkat saya juga menjadi: "PEMIMPIN BESAR REVOLUSI INDONESIA".
Saya menerima pengangkatan itu dengan sungguh rasa terharu, karena MPRS sebagai Perwakilan Rakyat yang tertinggi di dalam Republik Indonesia, menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa saya adalah "Pemimpin Besar Revolusi Indonesia", yaitu: "PEMIMPIN BESAR REPUBLIK RAKYAT INDONESIA"!
Dalam pada itu, saya sadar, bahwa hal ini bagi saya membawa konsekuensi yang amat besar! Oleh karena seperti Saudara-saudara juga mengetahui, PEMIMPIN membawa pertanggungan-jawab yang amat berat sekali!!
"Memimpin" adalah lebih berat daripada sekedar "Melaksanakan". "Memimpin" adalah lebih berat daripada sekedar menyuruh melaksanakan"!
Saya sadar, lebih daripada yang sudah-sudah, setelah MPRS mengangkat saya menjadi "Pemimpin Besar Revolusi", bahwa kewajiban saya adalah amat berat sekali, tetapi Insya Allah S.W.T. saya terima
pengangkatan sebagai "Pemimpin Besar Revolusi" itu dengan rasa tanggung jawab yang setinggi-tingginya!
Saya Insya Allah, akan beri pimpinan kepada Indonesia, kepada Rakyat Indonesia, kepada Saudara-saudara sekalian, secara maksimal di bidang pertanggungan-jawab dan kemampuan saya. Moga-moga Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Murah, dan Maha Asih, selalu memberikan bantuan kepada saya secukup-cukupnya!
Sebaliknya, kepada MPRS dan kepada Rakyat Indonesia sendiri, hal ini pun membawa konsekuensi! Tempohari saya berkata: "Jikalau benar dan jikalau demikianlah Keputusan MPRS, yang saya diangkat menjadi Pemimpin Revolusi Besar Indonesia, Revolusi Rakyat Indonesia, maka saya mengharap seluruh Rakyat, termasuk juga segenap Anggota MPRS, untuk selalu mengikuti, melaksanakan, menfi'ilkan segala apa yang saya berikan dalam pimpinan itu! Pertanggungan-jawab yang MPRS, sebagai Lembaga Tertinggi Republik Indonesia letakkan di atas pundak saya, adalah suatu pertanggungan-jawab yang berat sekali, tetapi denganridha Allah S.W.T. dan dengan bantuan seluruh Rak yat Indonesia, termasuk di dalanlnya juga Saudara-saudara para Anggota MPRS sendiri, saya percaya, bahwa Insya Allah, apa yang digariskan oleh Pola Pembangunan itu dalam 8 tahun akan terlaksana!
Demikianlah Saudara-saudara sekalian beberapa kutipan daripada Amanat "Ambeg Parama-Arta".
Saudara-saudara sekalian,
Dari Amanat "Ambeg Parama-Arta" tersebut, dapatlah Saudara ketahui, bagaimana visi serta interpretasi saya tentang predikat Pemimpin Besar Revolusi yang Saudara-saudara berikan kepada saya.
Saya menginsyafi, bahwa predikat itu adalah sekedar gelar, tetapi saya pun - dan dengan saya semua ketentuan-ketentuan progresif revolusioner di dalam masyarakat kita yang tak pernah absen dalam kancahnya Revolusi kita - saya pun yakin seyakin-yakinnya, bahwa tiap Revolusi mensyarat-mutlakkan adanya Pimpinan Nasional. Lebih-lebih lagi Revolusi Nasional kita yang multi-kompleks sekarang ini, dan yang berhari depan Sosialisme Panca-Sila. Revolusi demikian ta' mungkin tanpa adanya pimpinan. Dan pimpinan itu jelas tercermin dalam tri-kesatuannya Re-So-Pim, yaitu Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional.
2. Pengertian Mandataris MPRS.
Karena itulah, maka pimpinan yang saya berikan itu adalah pimpinan di segala bidang. Dan sesuai dengan pertanggungan-jawab saya terhadap MPRS, pimpinan itu terutarna menyangkut garis-garis besarnya. Ini pun adalah sesuai dan sejalan dengan kemurnian bunyi aksara dan jiwa Undang-Undang Dasar '45, yang menugaskan kepada MPRS untuk menetapkan garis-garis besar haluan Negara. Saya tekankan garis-garis besarnya saja dari haluan Negara. Adalah tidak sesuai dengan jiwa dan aksara kemurnian Undang-Undang Dasar '45, apabila MPRS jatuh terpelanting kembali ke dalam alam Liberale democratie, dengan beradu
debat dengan bertele-tele tentang garis-garis kecil, di mana masing-masing golongan beradu untuk memenangkan kepentingan-kepentingan golongan dan mengalahkan kepentingan nasional, kepentingan Rakyat banyak, kepentingan Revolusi kita!
Pimpinan itu pun saya dasarkan kepada jiwa Panca-Sila, yang telah kita pancarkan bersama dalam Manipol-Usdek sebagai garis-garis besar haluan Negara. Dan lebih-lebih mendalam lagi, maka saya telah mendasarkan pimpinan itu kepada Sabda Rasulullah S.A.W.: "Kamu sekalian adalah Pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungan-jawabnya tentang kepemimpinan itu di hari kemudian."
Saudara-saudara sekalian,
Itulah jiwa daripada pimpinan saya, seperti yang telah saya nyatakan dalam Amanat "Ambeg Parama-Arta" tersebut tadi. Dan Saudarasaudara telah membenarkan amanat itu, terbukti dengan Ketetapan MPRS No.IV/1963, yang menjadikan Resopim dan Ambeg Parama-Arta masing-masing sebagai pedoman pelaksanaan garis-garis besar haluan Negara, dan sebagai landasan kerja dalam melaksanakan Konsepsi Pembangunan seperti terkandung dalam Ketetapan MPRS No.l dan 11 tahun 1960.
3. Pengertian Presiden seumur hidup
Malahan dalam Sidang Umum MPRS ke-ll pada bulan Mei tahun 1963 itu Saudara-saudara sekalian telah menetapkan saya menjadi Presiden se-umur-hidup. Dan pada waktu itu pun saya telah menjawab keputusan Saudara-saudara itu dengan kata-kata: "Alangkah baiknya jikalau nanti MPR, yaitu MPR hasil pemilihan-umum, masih meninjau soal ini kembali." Dan sekarang ini pun saya masih tetap berpendapat demikian!
II. LANDASAN-KERJA MELANJUTKAN PEMBANGUNAN.
Kembali sekarang sebentar kepada Amanat "Ambeg Parama-Arta" tersebut tadi itu. Amanat itu kemudian disusul dengan amanat saya "Berdikari" pada pembukaan Sidang Umum MPRS ke-lll pada tanggal 11 April 1965, di mana dengan tegas saya tekankan tiga hal:
1. Trisakti.
Pertama :
bahwa Revolusi kita mengejar suatu Idee Besar, yakni melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat; Amanat Penderitaan Rakyat seluruhnya, seluruh rakyat sebulat-bulatnya.
Kedua :
bahwa Revolusi kita berjoang mengemban Amanat Penderitaan Rakyat itu dalam persatuan dan kesatuan yang bulat-menyeluruh dan
hendaknya jangan sampai watak Agung Revolusi kita, diselewengkan sehingga mengalami dekadensi yang hanya mementingkan golongann-ya sendiri saja, atau hanya sebagian dari Ampera saja!
Ketiga :
bahwa kita dalam melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat itu tetap dan tegap berpijak dengan kokoh-kuat atas landasan Trisakti, yaitu berdaulat dan bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan dan berdikari dalam ekonomi; sekali lagi berdikari dalam ekonomi!
Saya sangat gembira sekali, bahwa Amanat-amanat saya itu dulu, baik "Ambeg Parama-Arta", maupun "Berdikari" telaK Saudara-saudara tetapkan sebagai landasan-kerja dan pedoman pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana untukmasa 3 tahun yang akan datang, yaitu sisa jangka-waktu tahapan pertama mulai tahun 1966 s/d 1968 dengan landasan "Berdikari di atas Kaki Sendiri" dalam ekonomi. Ini berarti, bahwa Lembaga Tertinggi dalam Negara kita, Lembaga Tertinggi dari Revolusi kita, Lembaga Negara Tertinggi yang menurut kemurnian jiwa dan aksaranya UUD-Proklamasi kita adalah penjelmaan kedaulatan Rakyat, membenarkan Amanat-amanat saya itu. Dan tidak hanya membenarkan saja, melainkan juga menjadikannya sebagai landasan-kerja serta pedoman bagi kita-semua, ya bagi Presiden/Mandataris MPRS/Perdana Menteri ya, bagi MPRS sendiri, ya bagi DPA, ya bagi DPR, ya bagi Kabinet, ya bagi parpol-parpol dan ormas-ormas, ya bagi ABRI, dan bagi seluruh Rakyat kita dari Sabang sampai Merauke, dalam mengemban bersama Amanat Penderitaan Rakyat.
Memang, di dalam situasi nasional dan internasional dewasa ini, maka Trisakti kita, yaitu berdaulat dan bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan, berdikari di bidang ekonomi, adalah senjata yang paling ampuh di tangan seluruh rakyat kita, di tangan prajuritprajurit Revolusi kita, untuk menyelesaikan Revolusi Nasional kita yang maha dahsyat sekarang ini.
2. Rencana Ekonomi Perjoangan.
Terutama prinsip Berdikari di bidang ekonomi! Sebab dalam keadaan perekonomian bagaimanapun sulitnya, saya minta jangan dilepaskan jiwa "self-reliance" ini, jiwa percaya kepada kekuatan-diri-sendiri, jiwa self-help atau jiwa berdikari. Karenanya, maka dalam melaksanakan Ketetapan-ketetapan MPRS No.V dan Vl tahun 1965 yang lalu, saya telah meminta Bappenas dengan bantuan dan kerja sama dengan Muppenas, untuk menyusun garis-garis lebih lanjut daripada Pola Ekonomi Perjoar gan seperti yang telah saya canangkan dalam Amanat Berdikari tahun yang lalu.
Garis-garis Ekonomi Perjoangan tersebut telah selesai, dan saya lampirkan bersama ini Ikhtisar Tahunan tentang pelaksanaan Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960. Di dalamnya Saudara-saudara akan memperoleh gambaran tentang Strategi Umum Pembangunan 2 tahun 1966-1968, yaitu Pra-syarat Pembangunan, dan pola Pembiayaan tahun 1966 s/d 1968 melalui Rencana Anggaran 3 tahun.
3. Pengertian Berdikari.
Khusus mengenai Prinsip Berdikari ingin saya tekankan apa yang" telah saya nyatakan dalam pidato Proklamasi 17 Agustus 1965, yaitu pidato Takari, bahwa berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka.
Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling me nguntungkan.
Dan di dalam Rencana Ekonomi Perjoangan yang saya sampaikan bersama ini, maka Saudara-saudara dapat membaca bahwa: "Berdikari bukan saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan Pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling menguntungkan."
Dalam rangka pengertian politik Berdikari demikian inilah, kita harus menanggulangi kesulitan-kesulitan di bidang Ekubang kita dewasa ini, baik yang hubungan dengan inflasi maupun yang hubungan dengan pembayaran hutang-hutang luar negeri kita.
III. HUBUNGAN POLITIK DAN EKONOMI
Masalah Ekubang tidak dapat dilepaskan dari masalah politik, malahan harus didasarkan atas Manifesto Politik kita.
Dekon kita pun adalah Manipohdi bidang ekonomi, atau dengan lain perkataan "political-economy"-nya pembangunan kita. Dekon merupakan strategi-umum, dan strategi-umum di bidang pembangunan 3 tahun di depan kita, yaitu tahun 1966--1968, didasarkan atas pemeliharaan hubungan yang tepat antara keperluan untuk melaksanakan tugas politik dan tugas ekonomi. Demikianlah tugas politik-keamanan kita, politik-pertahanan kita, politik dalam-negeri kita, politik luar-negeri kita dan sebagainya.
IV. DETAIL KE-DPR
Detail dari tugas-tugas ini kiranya tidak perlu diperbincangkana dalam Sidang Umum MPRS, karena tugas MPRS ialah menyangkut garisgaris besarnya saja. Detailnya seyogyanya ditentukan oleh Pemerintah bersama-sama dengan DPR, dalam rangka pemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945.
V. TETAP DEMOKRASI TERPIMPIN
Sekalipun demikian perlu saya peringatkan di sini, bahwa UndangUndang Dasar 1945 memungkinkan Mandataris MPRS bertindak lekas dan tepat dalam keadaan darurat demi keselamatan Negara, Rakyat dan Revolusi kita.
Dan sejak Dekrit 5 Juli 1959 dulu itu, Revolusi kita terus meningkat dan bergerak cepat, yang mau-tidak-mau mengharuskan semua Lembaga-lembaga Demokrasi kita untuk bergerak cepat pula tanpa menyelewengkan Demokrasi Terpimpin kita ke arah Demokrasi Liberal.
VI. MERINTIS JALAN KE ARAH PEMURNIAN PELAKSANAAN UUD 1945
Dalam rangka merintis jalan ke arah kemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 itulah, saya dengan surat saya tertanggal 4 Mei 1966 kepada Pimpinan DPRGR memajukan:
a. RUU Penyusunan MPR, DPR dan DPRD.
b. RUU Pemilihan Umum.
c. Penetapan Presiden No.3 tahun 1959 jo. Penetapan Presiden No.3 tahun 1966 untuk diubah menjadi Undang-Undang supaya DPA dapat ditetapkan menurut pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
VII. WEWENANG MPR DAN MPRS
Tidak lain harapan saya ialah hendaknya MPRS dalam rangka pemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 itu menyadari apa tugas dan fungsinya, juga dalam hubungan-persamaan dan perbedaannya dengan MPR hasil pemilihan-umum nanti.
Wewenang MPR selaku pelaksanaan kedaulatan Rakyat adalah menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan Negara (pasal 3 UUD), serta memilih Presiden dan Wakil Presiden (pasal 6 UUD ayat 2).
Undang-Undang Dasar serta garis-garis besar haluan Negara telah kita tentukan bersama, yaitu Undang-Undang Dasar Proklamasi 1945 dan Manipol/Usdek.
VIII. KEDUDUKAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN
Undang-Undang Dasar 1945 itu menyebut pemilihan jabatan Presiden dan Wakil Presiden, masa jabatannya serta isi-sumpahnya dalam satu nafas, yang tegas bertujuan agar terjamin kesatuan-pandangan, kesatuan-pendapat, kesatuan-pikiran dan kesatuan-tindak antara Presiden dan Wakil Presiden, yang membantu Presiden (pasal 4 ayat 2 UUD).
Dalam pada itu, Presiden memegang dan menjalankan tugas, wewenang dan kekuasaan Negara serta Pemerintahan. (pasal 4, 5, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, ayat 2).
Jiwa kesatuan antara kedua pejabat Negara ini, serta pembagian tugas dan wewenang seperti yang ditentukan dalam Undang-Undang Dasar 1945 hendaknya kita sadari sepenuhnya.
IX. PENUTUP
Demikian pula hendaknya kita semua, di luar dan di dalam MPRS menyadari sepenuhnya perbedaan dan persamaannya antara MPRS sekarang, dengan MPR-hasil-pemilihan-umum yang akan datang, agar supaya benar-benar kemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 dapat kita rintis bersama, sambil membuka lembaran baru dalam sejarah kelanjutan Revolusi Panca-Sila kita.
Demikianlah Saudara-saudara, teks laporan progress saya kepadaMPRS. lzinkanlah saya sekarang mengucapkan beberapa patah kata pribadi kepada Saudara-saudara, terutama sekali mengenai pribadi saya.
Lebih dahulu tentang hal laporan progress ini.
Laporan progress itu saya simpulkan dalam sembilan pasal, sembilan golongan, sembilan punt. Maka oleh karena itu saya ingin memberi judul kepada amanat saya tadi itu. Sebagaimana biasa saya memberi judul kepada pidato-pidato saya, ada yang bernama Resopim, ada yang bernama Gesuri dan lain-lain sebagainya. Amanat saya ini, saya beri judul apa? Sembilan perkara, pokok, pokok, pokok, pokok, saya tuliskan di dalam Amanat ini. Karena itu saya ingin memberi nama kepada Amanat ini, kepada pidato ini "Pidato Sembilan Pokok". Sembilan, ya sembilan apa? Kita itu biasa memakai bahasa Sanskrit kalau memberi nama kepada amanat-amanat, bahkan kita sering memakai perkataan Dwi, Tri, Tri Sakti, dua-duanya perkataan Sanskrit. Catur Pra Setia, catur-empat setia, kesetiaan, Panca Azimat, Panca adalah lima. Ini sembilan pokok; ini saya namakan apa?
Sembilan di dalam bahasa Sanskrit adalah "Nawa". Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, enam-yam, tujuh-sapta, delapan-hasta, sembilan-nawa, sepuluh-dasa. Jadi saya mau beri nama dengan perkataan "Nawa". "Nawa" apa? Ya, karena saya tulis, saya mau beri nama "NAWA AKSARA", dus "NAWA iAKSARA" atau kalau mau disingkatkan "NAWAKSARA". Tadinya ada orang yang mengusulkan diberi nama "Sembilan Ucapan Presiden". "NAWA SABDA". Nanti kalau saya kasih nama Nawa Sabda, ada saja yang salah-salah berkata: "Uh, uh, Presiden bersabda". Sabda itu seperti raja bersabda. Tidak, saya tidak mau memakai perkataan "sabda" itu, saya mau memakai perkataan "Aksara"; bukan dalam arti tulisan, jadi ada aksara latin, ada aksara Belanda dan sebagainya. NAWA AKSARA atau NAWAKSARA, itu judul yang saya berikan kepada pidato ini. Saya minta wartawan-wartawan mengumumkan hal ini, bahwa pidato Presiden dinamakan oleh Presiden NAWAKSARA . ,
Kemudian saya mau menyampaikan beberapa patah kata mengenai diri saya sendiri. Saudara-saudara semua mengetahui, bahwa tatkala saya masih muda, masih amat muda sekali, bahwa saya miskin dan oleh karena saya miskin, maka demikianlah saya sering ucapkan: "Saya tinggalkan this material world. Dunia jasmani sekarang ini laksana saya tinggalkan, karena dunia jasmani ini tidak memberi hiburan dan kepuasan kepada saya, oleh karena saya miskin." Maka
saya meninggalkan dunia jasmani ini dan saya masuk katagori dalam pidato dan keterangan-keterangan yang sering masuk ke dalam world of the mind. Saya meninggalkan dunia yang material ini, saya masuk di dalam world of the mind. Dunianya alam cipta, dunia khayal, dunia pikiran. Dan telah sering saya katakan, bahwa di dalam wolrd of the mind itu, di situ saya berjumpa dengan orang-orang besar dari segala bangsa dan segala negara. Di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan nabi-nabi besar; di dalam world of the mind itusaya berjumpa dengan ahli falsafah, ahli falsafah besar. Di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang besar, dan di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan pejuang-pejuang kemerdekaan yang berkaliber besar.
Saya berjumpa denganorang-orang besar ini, tegasnya, jelasnya dari membaca buku-buku. Salah satu pemimpin besar daripada sesuatu bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan, ia mengucapkan kalimat sebagai berikut: "The cause of freedom is a deathless cause. The cause of freedom is a deathless cause. Perjuangan untuk kemerdekaan adalah satu perjuangan yang tidak mengenal mati. The cause of freedom is a deathless cause.
Sesudah saya baca kalimat itu dan renungkan kalimat itu, bukan saja saya tertarik kepada cause of freedom daripada bangsa saya sendiri dan bukan saja saya tertarik pada cause of freedom daripada seluruh umat manusia di dunia ini, tetapi saya, karena tertarik kepada cause of freedom ini saya menyumbangkan diriku kepada deathless cause ini, deathless cause of my own people, deathless cause of all people on this. Dan lantas saya mendapat keyakinan, bukan saja the cause of freedom is a deathless cause, tetapi juga the service of freedom is a deathless service. Pengabdian kepada perjuangan kemerdekaan, pengabdian kepada kemerdekaan itupun tidak mengenal maut, tidak mengenal habis. Pengabdian yang sungguh-sungguh pengabdian, bukan service yang hanya lip-service, tetapi service yang betul-betul masuk di dalam jiwa, service yang betul-betul pengabdian, service yang demikian itu adalah satu deathless service.
Dan saya tertarik oeh saya punya pendapat sendiri, pendapat pemimpin besar daripada bangsa yang saya sitir itu tadi, yang berkata "the cause of freedom is deathless cause". Saya berkata "not only the cause of freedom is deathless cause, but also the service of freedom is a deatheless service".
Dan saya, Saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri, dengan segala apa yang ada pada saya ini, kepada service of freedom, dan saya sadar sampai sekarang: the service of freedom is deathless service, yang tidak mengenal akhir, yang tidak mengenal mati. Itu adalah tulisan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.
Dan saya beritahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaanku sendiri, saya, Saudara-saudara, telah lebih daripada tiga puluh lima tahun, hampir empat tahun dedicate myself to this service of freedom. Yang saya menghendaki supaya seluruh, seluruh, seluruh rakyat Indonesia masing-masing juga dedicate jiwa raganya kepada service of freedom ini, oleh karena memang service of freedom ini is a deathless service. Tetapi akhirnya segala sesuatu adalah di tangannya
Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya dedicate myself, my all to this service of freedom, itu adalah Tuhan punya urusan.
Karena itu maka saya terus, terus, terus selalu memohon kepada Allah S.W.T., agar saya diberi kesempatan untuk ikut menjalankan aku punya service of freedom ini. Tuhan yang menentukan. De mens wikt, God beslist; manusia bisa berkehendak ,macam-macam Tuhan yang menentukan. Demikianpun saya selalu bersandarkan kepada keputusan Tuhan itu. Cuma saya juga di hadapan Tuhan berkata: Ya Allah, ya Rabbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat untuk dedicate my self to this great cause of freedom and to this great service.
Inilah Saudara-saudara yang saya hendak katakan kepadamu;dalam saya pada hari seka~ang ini memberi laporan kepadamu. Moga-moga Tuhan selalu memimpin saya, moga-moga Tuhan selalu memimpin Saudara-saudara sekalian. Sekianlah.