Monday, 13 December 2010

Arief Budiman : Nasionalis Sentimentil Rindu Salatiga

Arief Budiman : Nasionalis Sentimentil Rindu Salatiga


Doktor sosiologi yang terlahir dengan nama Soe Hok Djin ini meninggalkan status sebagai dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, pasca kerusuhan Mei 1998. Kemudian bersama istri Leila Ch. Budiman bermukim dan mengajar di Universitas Melbourne, Australia. Dia agaknya belum mau menghentikan sedikitpun suara kritisnya. Sejak masih muda lelaki keturunan Tionghoa ini sudah berani mengkritisi kebijakan Presiden Soekarno bahkan turut turun ke jalanan berdemosntrasi bersama mahasiswa menumbangkan Orde Lama.

Dia adalah kakak kandung Soe Hok Gie yang meninggal dunia sebagai tokoh pergerakan mahasiswa. Kendati turut menumbangkan Orde Lama namun justru di masa Soeharto sepak terjang dan sikap kritisnya semakin menjadi-jadi terlebih setelah berstatus dosen Program Studi Pembangunan di UKSW, Salatiga. Pemerintahan yang diwariskan kepada B.J. Habibie pun tak luput dari kekritisannya yang dia sebut tak lebih sebagai perpanjangan Orde Baru.

Bahkan hingga pemerintahan sudah jatuh ke tangan koleganya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, suara kritisnya tetap nyaring terdengar. Media massa pada suatu masa pernah ramai memuat kritiknya kepada Gus Dur ketika menjelang di ujung tanduk kekuasaan. Arief ketika itu menyarankan sebagai upaya untuk bisa bertahan Gus Dur jangan lebih banyak membuat musuh melainkan harus berkoalisi.

Akhirnya dia merelakan diri dihujani kritik bahkan makian tatkala kritik pedas terbarunya disampaikan tentang kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri dan PDI Perjuangan yang dianggapnya sebagai partai yang rusak dan kacau. Banyak simpatisan partai berlambang kepala banteng bulat dalam lingkaran putih itu menyebutkan pakar sosiologi lulusan Harvard University itu sebagai tidak nasionalis karena banyak bicara di luar dan mengkritik namun memilih bermukim di luar negeri.

Dia lalu menjelaskan makna dan pengertian nasionalisme sesungguhnya yang menurutnya dalam praktek sangat rentan terhadap manipulasi. Jadi tentang nasionalisme harus dilihat siapa yang menggunakan dan untuk kepentingan apa. Dia mencontohkan cerita tentang perang Vietnam yang saat berkecamuk pemerintah Amerika Serkat meminta seluruh pemuda baik kulit putih maupun kulit hitam untuk turut berjuang atas nama nasionalisme dengan cara menjadi tentara dan bertempur.

Lalu ketika perang telah usai dan tiba giliran harus berbagi rezeki kepada para pemuda kulit hitam itu diminta untuk tetap bersaing. Jelas mereka marah dan bertanya dimana letak nasionalismenya. Jadi, kesimpulan Arief, nasionalisme adalah sesuatu yang fleksibel kadang-kadang dipakai untuk diri sendiri tetapi bisa juga dipakai untuk kepentingan bangsa seluruhnya. Menganalisa nasionalisme harus dilihat pada situasi, tempat, waktu, serta siapa yang menggunakan.

Namun secara teoritis kata Arief nasionalisme adalah persatuan secara kelompok dari suatu bangsa yang mempunyai sejarah yang sama, bahasa yang sama, dan pengalaman bersama. Tetapi definisi seperti itu jarang terjadi. Yang biasa terjadi adalah pemakaian pengertian nasionalisme secara spesifik sehingga rentan terhadap manipulasi. Karena nasionalisme terkadang dipakai untuk bermacam-macam hal maka pengertiannya harus pula dilihat kasus per kasus.

Mengatasnamakan nasionalisme untuk dikaitkan dengan amandemen dan penolakannya oleh sejumlah kalangan, misalnya, menurut Arief bisa relevan tetapi bisa juga tidak. Disebutkan, diartikan seakan-akan nasionalisme adalah negara kesatuan tetapi dalam negara kesatuan itu terdapat eksploitasi. Terhadap Jakarta yang mengambil terlalu banyak oleh daerah yang tidak kebagian meminta jatah dan tetap pula tidak dipedulikan yang berarti tidak ada nasionalisme di situ. Oleh mereka yang memperjuangkan nasionalisme kemudian berpendapat, “justru mungkin Republik Indonesia akan lebih dipersatukan bila menjadi negara serikat atau federal state.”

Dicontohkan, negara Australia tempatnya bermukim sekarang kuat sekali nasionalismenya sebab tiap negara bagian mempunyai pemerintahan masing-masing seperti juga di Amerika Serikat. Jadi, menurutnya, sama sekali tidak benar jika Republik Indonesia dipertahankan hanya kalau berbentuk negara kesatuan. Karena masalah sebenarnya adalah kepentingan, apakah kepentingan dari banyak orang terpelihara atau tidak. Dalam banyak kasus ternyata kepentingan lebih banyak orang akan semakin terpelihara jika negara berbentuk federal di mana kesatuan yang berpusat di Jakarta tidak diperlukan lagi.

Terlebih mengingat Indonesia sebagai negara besar yang berpenduduk banyak akan bisa jauh lebih bertahan bila menjadi negara serikat. Negara bagian Sumatera yang lebih kaya bisa menyumbang ke Jawa yang miskin melalui pajak bisa saja terjadi pada suatu saat dalam konteks negara federasi dan justru itulah sebuah nasionalisme yang benar. Subsidi diatur melalui koordinasi yang disebut pemerintah federal menujukkan nasionalisme yang lebih murni.

Penyederhanaan nasionalisme menjadi sebentuk negara kesatuan adalah bermotif keinginan Jakarta mempertahankan hegemoni terhadap daerah. Lalu, mereka yang seakan-akan mau bebas dan tidak mau tunduk kepada Jakarta dianggap melawan nasionalisme. Padahal itu hanyalah pengatasnamaan seakan-akan Jakarta adalah seluruh Republik Indonesia dan dimaksudkan untuk mendapatkan untung bagi sebagian elit di Jakarta.

Amandemen Undang-undang Dasar 1945 dalam kacamata Arief Budiman umumnya adalah memperbaiki yang lama. Seperti pemilihan presiden langsung suatu hal yang baik masalahnya presiden hanya bisa dicalonkan oleh partai sehingga beresiko menimbulkan oligarki. Harusnya ada juga peluang untuk pencalonan presiden, gubernur, dan bupati secara independen. Adalah kemajuan bahwa presiden dipilih oleh rakyat secara langsung tetapi buntutnya masih dipegang oleh orang-orang yang punya vested interest dalam partai.

Kemajuan lain amandemen adalah dihapuskannya wakil militer di parlemen sejak tahun 2004. Militer yang seharusnya profesional itu jika ingin berpolitik maka berpolitiklah secara pribadi. Piagam Jakarta terutama Pasal 29 UUD 1945 tentang agama dalam pengertian yang sesungguhnya adalah tidak terjadi kemunduran karena yang dipertahankan adalah yang lama. Arief menyimpilkan secara keseluruhan terjadi progresi dalam amandemen sehingga bisa memberikan tambahan optimisme.

Dia menyebutkan pada dasarnya konstitusi harus selalu diperbaharui dan yang berhak menentukan perubahan itu harus rakyat sendiri misalnya melalui semacam referendum khusus untuk hal-hal yang kontroversial. Konstitusi merupakan sesuatu yang dinamis dan mencerminkan kepentingan rakyat pada kurun waktu tertentu. Kepentingan bisa berubah karena waktu dan tempat juga berubah demikian pula lingkungan ikut berubah.

UUD 45 yang dibuat oleh para pendiri bangsa belum tentu cocok untuk keadaan selanjutnya. UUD 45 dibuat masih dalam keadaan kacau dan darurat sehingga sangat dibutuhkan pemerintahan yang kuat. Demikian pula soal hal asasi manusia belum dimasukkan karena sesungguhnya deklarasi HAM baru keluar tahun 1948 sehingga baru masuk dalam Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang sudah tidak digunakan.

Menanggapi pendapat arus kuat anti amandemen yang berasal dari PDI Perjuangan terutama para senior dari es-PNI, Arief Budiman mencontohkan kelompok Taufik Kiemas termasuk yang menolak amandemen. Demikian pula Megawati Soekarnoputri awalnya menolak pemilihan presiden langsung namun belakangan bisa menerima. Sehingga pada Pemilu 2004 jika Megawati dicalonkan lagi di tengah-tengah kemunculan calon independen Arief memastikan kalaupun Mega menang lagi suara yang diperoleh pasti akan berkurang.

Sebabnya kata Arief karena kinerja Mega sama sekali tidak meyaknkan apalagi setelah menggusur orang-orang miskin pendukung fanatik PDI-P di Jakarta dan Surabaya. PDI-P hanya melayani kepentingan sektarian dan sangat partisan. Sebagian dari para senior PDI-P adalah orang-orang intelek yang matang dan sudah tidak akan terpengaruh pada kepentingan sektarian dan partisan. Yang para seniorr pikirkan sudah lebih banyak tentang bagaimana mengharumkan nama dalam sejarah dengan lebih mempunyai komitmen pada bangsa melebihi kepentingan pribadi dan kelompok.

Sikap Megawati yang anti-otonomi daerah dimotori oleh Hari Sabarno dilihat oleh Arief sebagai penunjuk kapasitas entelektual yang terbatas. Dasarnya adalah dianggapnya otonomi daerah memperkecil volume dan kualitas negara kesatuan. Mega hanya mewariskan bahwa negara Indonesia itu Bung Karno dan negara kesatuan tanpa bisa diterjemahkan secara sophiticated. Bagi Mega hanya ada negara kesatuan tidak boleh ada otonomi daerah apalagi negara federal sehingga jika mendengar federal dianggap sudah berkhianat. Sikap Mega ini dilihat Arief sesuai dengan kepentingan TNI yang sudah banyak berkorban berupa prajurit yang tewas untuk mempertahankan negara kesatuan.

Arief menilai penolakan terhadap negara federal dahulu terjadi pada zaman Republik Indonesia Serikat (RIS) sebab ide federal dipakai oleh Belanda hanya sebagai alat pemecah-belah berbeda dengan jika sekarang yang dibuat oleh bangsa sendiri Belanda-nya saja sudah tidak ada lagi. Tentang federal, menurut Arief antara Megawati dengan militer setara punya mitos-mitos yang tidak bisa ditawar tanpa penjelasan yang baik.

Arief Budiman berpendapat bahwa rumusan umum nasionalisme adalah tatkala semua pihak mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya. Dalam definisi demikian apapun bisa masuk, semisal, jika negara kesatuan adalah sesuatu yang penting untuk mengembangkan bangsa maka itu adalah nasionalisme.

Demikian pula jika ada orang yang mengatakan bahwa negara federal akan lebih baik bagi kepentingan meningkatkan kesejahteraan semua sebagai bangsa maka itu juga nasionalisme. Seandainya harus berperang pun dengan Australia jika itu berguna untuk memperbaiki bangsa adalah nasionalisme juga. Tetapi jika semuanya tidak berguna maka menjadi tidak nasionalis. Nasionalisme adalah tujuan yang bisa dicapai dengan bermacam cara termasuk dalam hal amandemen konstitusi apakah perubahan itu baik bagi bangsa ini atau tidak.

Posisi nasionalisme dalam kasus pengusiran TKI dari negeri Malaysia, misalnya, menurut Arief Budiman kasusnya lebih banyak disebabkan karena kesalahan diplomasi serta kesemrawutan Departemen Luar Negeri dan pemerintah Indonesia mengurus warganya di luar negeri. Tanpa kata nasionalisme pun adalah kewajiban membela warga negara yang pergi sebagai orang miskin sebab tidak bisa hidup di negeri sendiri. Mestinya yang dipersoalkan kenapa orang-orang TKI itu cari makan di luar negeri yang lalu secara menyakitkan diusir oleh negara yang juga sama-sama mengalami kesulitan oleh karena kedatangan TKI itu. Kepada TKI itu kenapa tidak bisa diberikan pekerjaan.

TKI memang menjengkelkan sebab mereka datang berbondong-bondong lalu diusir tapi masih balik lagi begitu seterusnya berulang-ulang yang membuat Malaysia akhirnya marah juga. Jika Indonesia lebih kaya dari Malaysia dan menghadapi hal serupa, Arief berpendapat pasti sama saja reaksinya yakni menimbulkan kemarahan terhadap Malaysia dan ingin menghajar mereka. Masalahnya adalah berilah pekerjaan kepada para TKI itu sebab mereka sesungguhnya tidak ingin ke sana kalau di Indonesia ada pekerjaan. Bahkan ketika di sana mereka masih bercita-cita untuk mudik lagi ke Indonesia jika sudah berhasil mengumpulkan uang, mereka akan mau menolong saudaranya misalnya dengan mengirim uang lalu mereka balik lagi ke sana. Terutama orang Jawa yang menganggap tempat kelahiran adalah tetap sebagai kampungnya. Perasaan-perasaan sentimentil seperti itu sesungguhnya adalah nasionalisme juga, jadi nasionalisme justru ada pada para TKI itu.

Seiring dengan itu sebagai orang Salatiga Arief Budiman ikut pula merasakan sentimentil sejenis milik para TKI yang ingin pulang ke kampung halaman sebab merasa sudah capek berbicara bahasa Inggris terus-menerus bahkan hingga bermimpi pun memakai bahasa Inggris. Bagi dia Salatiga adalah tetap sebagai tanah air. Meskipun dia merasa bukan patriot bahkan jika harus merasa bukan Indonesia sekalipun bagi dia pun bukan masalah yang penting Salatiga adalah tetap sebagai tanah air.

Dia tetap ingin pulang ke Indonesia. Selain karena teman-temannya ada di Indonesia dia kalau ngomong berbahasa Indonesia dia rasakan lebih puas termasuk kalau ngomong lelucon atau ngomong jorok lebih plong rasanya sebab emosi keluar semua. Semua itu telah membuat dia rindu selalu terhadap Indonesia walau dia anggap itu bukanlah sebagai patriotisme atau nasionalisme. Tetapi karena dilahirkan di Indonesia, kecil diIndonesia, teman-temannya di Indonesia termasuk bahasa yang dia pakai ketika pertama kali menyatakan emosi adalah bahasa Indonesia memberi dia alasan untuk rindu Indonesia. Karenanya pada hari tua Arief Budiman akan lebih senang berada di Indonesia. Dia mempersilakan kalau sikapnya itu bisa disebut sebagai nasionalisme.

Dalam pandangan berbeda jika saja Arief adalah warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia namun besar di Australia atau Arab kemudian akhirnya lebih fasih ngomong bahasa Arab, maka kemungkinan besar nasionalisme dia akan lebih ke Arab. Kenyataan demikian bagi dia bukanlah mitos tetapi merupakan sebuah pengalaman yang kongkrit dari sejarah kehidupan tiap orang.

Perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia dilihat oleh Arief Budiman sebagai sebuah pergerakan sejarah yang tetap memberi harapan. Arief pernah mengalami hidup di zaman Soekarno demikian pula Soeharto termasuk masa reformasi. Jika pada zaman Soeharto saja dia masih punya harapan maka harapan itu menjadi lebih setelah sekarang Soeharto jatuh. Progresi yang terjadi dia lihat banyak sekali sehingga memberi harapan yang lebih besar daripada di masa Soeharto. Progresi yang terjadi itu misalnya pers yang bebas serta demokrasi yang mulai ada meskipun masih kacau. Sekarang segala sesuatunya menjadi lebih mungkin untuk terjadi hanya saja bangsa ini masih berada di tengah-tengah masalah yang masih segudang.

Pramoedya Ananta Toer : Sang Pujangga Telah Berpulang

Pramoedya Ananta Toer : Sang Pujangga Telah Berpulang



Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia Minggu 30 April 2006 sekitar pukul 08.30 WIB di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sang Pujangga kelahiran Blora 6 Februari 1925 yang dipanggil Pram dan terkenal dengan karya Tetralogi Bumi Manusia, itu dimakamkan di TPU Karet Bivak pukul 15.00, Minggu 30/4. Lagu Darah Juang mengiringi prosesi pemakamannya yang dinyanyikan oleh para pengagum dan pelayat.

Sebelumnya, dia dirawat di ICU RS St Carolus Jakarta. Kemudian sejak Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB dia meminta pulang dan dokter mengizinkan. Sastrawan yang oleh dunia internasional, sebagaimana ditulis Los Angeles Time, sering dijuluki Albert Camus Indonesia itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht.

Profil Pram juga pernah ditulis di New Yorker, The New York Time dan banyak publikasi dunia lainnya. Karya-karyanya juga sudah diterjemahkan dalam lebih dari 36 bahasa asing termasuk bahasa Yunani, Tagalok dan Mahalayam.

****

Dihargai Dunia Dipenjara Negeri Sendiri

Ia bagaikan potret seorang nabi, yang dihargai oleh bangsa lain tetapi dibenci di negerinya sendiri. Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang yang pantas menjadi calon pemenang Nobel. Ia telah menghasilkan belasan buku baik kumpulan cerpen maupun novel. Kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto.

Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa.

Setelah pecah G30S-PKI, Pramoedya yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat - onderbouw Partai Komunis Indonesia - ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan dan terpaksa kehilangan sebagian pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil.

Setelah bebas pun, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Meskipun ia sudah ‘bebas’, hak-hak sipilnya terus dibrangus, dan buku-bukunya banyak yang dilarang beredar terutama di era Soeharto. Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.

Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu. Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun’. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.

Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.

Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945 ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949).

Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama revolusi melawan pemerintahan Belanda.

Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan gambar-gambar dari budaya Jawa Klasik.

Di awal tahun 50-an, ia bekerja sebagai editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka. Di akhir tahun 1950, Pramoedya bersimpati kepada PKI, dan setelah tahun 1958 ia ditentang karena tulisan-tulisan dan kritik kulturalnya yang berpandangan kiri. Tahun 1962, ia dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang disponsori oleh PKI yang kemudian dicap sebagai organisasi “onderbow” atau “mantel” PKI.

Di Lekra ia menjadi anggota pleno lalu diangkat menjadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan menjadi salah seorang pendiri Akademi Multatuli, semua disponsori oleh LEKRA. Pramoedya mengaku bangga mendapat kehormatan seperti itu, meskipun sekiranya Lekra memang benar merupakan organisasi mantel PKI.

Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10 -1960. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, merupakan reaksi atas PP 10 tersebut. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Karena buku ini pula ia dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno.

Setelah keluar dari penjara karena soal Hoakiau itu, Profesor Tjan Tjun Sin memintanya “mengajar” di Fakultas Sastra Universitas Res Publica milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi yang kini bukan lagi milik Baperki. Ajakan ini sempat membuatnya merasa tidak enak karena SMP saja ia tidak lulus dan belum punya pengalaman dalam mengajar. Meskipun begitu, Pramoedya mengaku menggunakan caranya sendiri. Setiap mahasiswa ia wajibkan mempelajari satu tahun koran, sejak awal abad ini. Setiap tahun ada sekitar 28 mahasiswa yang ia beri tugas itu, sehingga Perpustakaan Nasional menjadi penuh dengan mahasiswanya.

Dari para mahasiswa-mahasiswi yang sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, ia menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit OrBa untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRC, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Di tahun 1965-an, Suharto memimpin setelah mengambil alih pemerintahan yang didukung oleh Amerika yang tidak suka Sukarno bersekutu dengan Cina. Mengikuti cara Amerika, Suharto mulai membersihkan komunis dan semua orang yang berafiliasi dengan komunis. Suharto memerintahkan hukuman massal, tekanan masal dan memulai Rezim Orde Baru yang dikuasai oleh militer. Akibatnya, ia ikut dipenjara setelah kudeta yang dilakukan komunis tahun 1965.

Meskipun Pramoedya tidak pernah menjadi anggota PKI, ia dipenjara selama 15 tahun karena beberapa alasan: pertama, karena dukungannya kepada Sukarno, kedua, karena kritikannya terhadap pemerintahan Soekarno, khususnya ketika tahun 1959 dikeluarkan dekrit yang menyatakan tidak diperbolehkannya pedagang Cina untuk melakukan bisnis di beberapa daerah. Ketiga, karena artikelnya yang dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul HoaKiau di Indonesia. Dalam buku ini, ia mengkritik cara tentara dalam menangani masalah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa. Pemerintah membuat skenario ‘asimilasi budaya’ dengan menghapus budaya Cina. Sekolah-sekolah Cina ditutup, buku-buku Cina dibredel, dan perayaan tahun Baru Cina dilarang.

Pada masa awal di penjara, ia diijinkan untuk mengunjungi keluarga dan diberikan hak-hak tertentu sebagai tahanan. Di masa ini, ia dan teman penjaranya diberikan berbagai pekerjaan yang berat. Hasil tulisan-tulisannya diambil darinya, dimusnahkan atau hilang. Tanpa pena dan kertas, ia mengarang berbagai cerita kepada teman penjaranya di malam hari untuk mendorong semangat juang mereka.

Pada tahun 1972, saat di penjara, Pramoedya ”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Setelah akhirnya memperoleh pena dan kertas, Pramoedya bisa menulis kembali apalagi ada tahanan lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian semakin mengukuhkan reputasinya.

Dua di antaranya adalah Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1980), mendapat perhatian dan kritikan setelah diterbitkan, dan pemerintah membredelnya, dua volume lainnya dari tetralogi ini, Jejak Langkah dan Rumah Kaca terpaksa dipublikasikan di luar negeri.

Karya ini menggambarkan secara komprehensif tentang masyarakat Jawa ketika Belanda masih memerintah di awal abad 20. Sebagai perbandingan dengan karya awalnya, karya terakhirnya ini ditulis dengan gaya bahasa naratif yang sederhana. Sementara itu, enam buku lainnya disita oleh pemerintah dan hilang untuk selamanya.

Beberapa tahun setelah dibebaskan tahun 1969, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan harus melapor setiap minggu kepada militer. Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.

Sebenarnya semenjak tahun 1960-an, minatnya yang besar pada sejarah membuatnya suka mengumpulkan berbagai artikel atau tulisan dari berbagai koran yang kemudian diklipping-nya.

Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award (dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia).

Novel-novel sejarah yang dibuat oleh Pramoedya mengungkap sejarah yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, yang kebanyakan jauh dari kenyataan. Seperti Nelson Mandela, ia menolak untuk memaafkan pemerintah yang telah mengambil banyak hal dalam kehidupannya. Ia khawatir bila ia mudah memaafkan, sejarah akan segera dilupakan. Ia menekankan pentingnya mengetahui sejarah seseorang sehingga orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun-tahun yang akan datang.

Pramoedya juga menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy, Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun, Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya tidak manusiawi.

Selain membuat novel, ternyata Pramoedya, pengagum peraih Nobel, Gunter Grass ini, pernah juga menyusun syair-syair puisi. ”Tapi saya sudah mulai bosan dengan perasaan,” kata anak Kepala Sekolah Instituut Boedi Oetomo, Blora. Karena itu, dia hanya membuat novel yang rasional, dan sama sekali tak menyukai sastra yang bergaya irasional.

Kini, Pram di usianya yang ke 78 tahun mengaku sudah makin kepayahan. Mencangkul yang dulu bisa dia lakukan enam hingga delapan jam hanya bisa dua jam saja. Bahkan pernah, selama dua tahun, Pram sama sekali tidak bisa mengangkat benda apa pun. Itu mulai dia sadari saat hujan datang, ketika dia masih mencangkul di kebun. Dia hanya ingin bersunyi-sunyi di kediamannya, beternak dan berkebun sembari mengenang masa lalunya di Blora, di daerah bagian kelompok masyarakat Samin yang dikenal antiperaturan kolonialis.

Dia bahkan sudah tidak menulis novel lagi dan hanya sekali-sekali menulis essai. Dalam hidupnya di tengah-tengah sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan kelas, Pramoedya masih meneruskan perjuangannya menuntut tidak hanya kebebasan menulis tetapi juga kebebasan membaca. Sekarang buku-bukunya tidak lagi dibredel, dan dapat dilihat di rak-rak buku setiap toko buku dan perpustakaan di seluruh Indonesia.

Tahun 2002, bersama musisi Iwan Fals dan Pramoedia Ananta Toer juga dinobatkan majalah Time Asia sebagai "Asian Heroes".
Nama:
Pramoedya Ananta Toer
Lahir:
Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925
Meninggal:
Jakarta, 30 April 2006
Isteri:
Maemunah Thamrin

Pendidikan:
SD Institut Boedi Oetomo (IBO), Blora
Radio Vakschool 3 selama 6 bulan, Surabaya
Kelas Stenografi, Chuo Sangi-In, satu tahun, Jakarta
Kelas dan Seminar Perekonomian dan Sosiologi oleh Drs. Mohammad Hatta, Maruto Nitimihardjo
Taman Dewasa: Sekolah ini ditutup oleh Jepang, 1942-1943
Sekolah Tinggi Islam: Kelas Filosofi dan Sosiologi, Jakarta

Pekerjaan:
Juru ketik di Kantor Berita Domei, Jakarta, 1942-1944
Instruktur kelas stenografi di Domei
Editor Japanese-Chinese War Chronicle di Domei
Reporter dan Editor untuk Majalah Sadar, Jakarta, 1947
Editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka, Jakarta, 1951-1952
Editor rubrik budaya di Surat Kabar Lentera, Bintang Timur, Jakarta, 1962-1965
Fakultas Sastra Universitas Res Publica (sekarang Trisakti), Jakarta, 1962-1965
Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai, 1964-1965

Prestasi dan Penghargaan
1951: First prize from Balai Pustaka for Perburuan (The Fugitive)
1953: Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional for Cerita dari Blora (Tales from Blora)
1964: Yamin Foundation Award for Cerita dari Jakarta (Tales form Jakarta) - declined by writer
1978: Adopted member of the Netherland Center - During Buru exile
1982: Honorary Life Member of the International P.E.N. Australia Center, Australia
1982: Honorary member of the P.E.N. Center, Sweden
1987: Honorary member of the P.E.N. American Center, USA
1988: Freedom to Write Award from P.E.N. America
1989: Deutschsweizeriches P.E.N member, Zentrum, Switzerland
1989: The Fund for Free Expression Award, New York, USA
1992: International P.E.N English Center Award, Great Britain
1995: Stichting Wertheim Award, Netherland
1995: Ramon Magsaysay Award, Philliphine
1995: Nobel Prize for Literature nomination (Pramoedya has been nominated constantly since 1981.)
1999: Honorary Doctoral Degree from University of Michigan, Ann Arbor
2000: Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France.
2000: Fukuoka Asian Culture Grand Prize, Fukuoka, Japan.

Buku:
Fiksi:
Krandji-Bekasi Djatuh, 1947
Perburuan, 1950
Keluarga Gerilya, 1950
Subuh, 1950
Pertjikan Revolusi, 1950
Mereka Jang Dilumpuhkan (Bag 1 dan 2), 1951
Bukan Pasar Malam, 1951
Di Tepi Kali Bekasi, 1951
Dia Yang Menyerah, 1951
Tjerita Dari Blora, 1952
Gulat di Djakarta, 1953
Midah Si Manis Bergigi Emas, 1954
Korupsi, 1954
Tjerita Tjalon Arang, 1957
Suatu Peristiwa di Banten Selatan, 1958
Tjerita Dari Djakarta, 1957
Bumi Manusia - HM, 1980
Anak Semua Bangsa - HM,1980
Tempo Doeloe, (ed.) - HM, 1982
Jejak Langkah - HM, 1985
Gadis Pantai - HM,1987
Hikayat Siti Mariah, (ed.) - HM,1987
Rumah Kaca - HM, 1988
Arus Balik - HM, 1995
Arok Dedes - HM, 1999
Mangir - KPG, 1999
Larasati: Sebuah Roman Revolusi - HM, 2000
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer - KPG, 2001
Cerita Dari Digul - KPG, 2001

Non-Fiksi:
Hoakiau di Indonesia, 1960
Panggil Aku Kartini Saja I & II, 1962
Sang Pemula – HM, 1985, biografi Tirto Adhi Soerjo
Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) - HM, 1995
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, Lentera, 1995
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, Lentera, 1997
Kronik Revolusi Indonesia, Bag 1,2,3. 1 & 2: KPG, 1999 - 3: KPG, 2001

Karya Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Lode Zielens, Bunda, Mengapa Kami Hidup? (Moeder, waarom leven wij?), 1947
Frits van Raalte, 1946
J.Veth, 1943
John Steinbeck, Tikus dan Manusia (Of Mice and Men), 1950
Leo Tolstoi, Kembali pada Tjinta dan Kasihmu (Return to Your Love and Affection), 1951
Leo Tolstoi, Perdjalanan Ziarah jang Aneh (Strange Pilgrimage), 1954
Mikhail Sholokhov, Kisah Seorang Pradjurit Sovjet (The Fate of a Man), 1956
Maxim Gorki, Ibunda (Mother), 1958
Ho Ching-chih & Ting Yi, Dewi Uban (The White-haired Girl), 1958
Alexander Kuprin, Asmara dari Russia (Love from Russia), 1959
Boris Polewoi, Kisah Manusia Sejati (A Story about a Real Man)
Blaise Pascal, Buah Renungan (Pensees)
Kristoferus
Albert Schweitzer

Cerita Pendek
Karena korek api. Minggoe Merdeka, 6.1, (1947): 6.
Kemana?? Pantja Raja, 5.2, (47): 141-2.
Si Pandir. Pantja Raja, 11-12.2, (47): 405-7.
Kawanku sesel. Mimbar Indonesia, 40.3, (49): 17-19.
Kemelut. Mimbar Indonesia, 14.3, (49): 17-8, 22.
Lemari antik. Mimbar Indonesia, 43-44.3, (49): 18-9.
Masa. Mimbar Indonesia, 39.3, (49): 17-20.
Anak haram. Daya, 5-6.2, (50): 98-101.
Antara laut dan keringat. Siasat, 164, 165.4, (50): 8; 6.
Blora. Indonesia, 1.2, (50): 53-64.
Bukan pasar malam. Indonesia, 6.1, (50): 23-55.
Cahaya telah padam. Siasat, 179-180.4, (50): 18-9.
Demam. Mimbar Indonesia, 32.4, (50): 26-29.
Dia yang menyerah. Poedjangga Baroe, 11-12.11, (50): 245-286.
Fajar merah. Gema Suasana, 1.3, (50): 81-96.
Hadiah kawin. Spektra, 42.1; 1.2, 3.2, (50): 27-31; 27-30; 27-30.
Hidup yang tak diharapkan. Siasat, 188 sd 193.4, (50): passim.
Inem. Mimbar Indonesia, 15.4, (50): 19-20.
Jongos + babu. Mimbar Indonesia, 2, 3.4, (50): 17-8; 17-8.
Keluarga yang ajaib. Gema Suasana, 5.3, (50): 440-8.
Kenang-kenangan pada kawan. Mimbar Indonesia, 9.4, (50): 20-1.
Lemari buku. Mimbar Indonesia, 48.4, (50): 20-1.
Mencari anak hilang. Daya, 2.2, (50): 42-4, 48.
Pelarian yang tak dicari. Mutiara, 16.2, (50): 10-1, 14-9.
Sebuah surat. Spektra, 14.2, (50): 25-30.
Berita dari Kebayoran. Mimbar Indonesia, 11.5, (51): 20-1, 26.
Idulfitri mendapat ilham. Indonesia, 6.2, (51): 17-29.
Kemudian lahirlah dia. Mimbar Indonesia, 8, 9.5, (51): 20-2; 20-2.
Yang sudah hilang. Zenith, 2.1, (51): 112-128.
Kampungku. Mimbar Indonesia, 30.6, (52): 20-1, 24, 26.
Sepku. Waktu, 5.6, (52): 7-8.
Kapal gersang. Zenith, 9.3, (53): 550-6.
Keguguran calon dramawan. Zenith, 11.3, (53): 659-71.
Tentang emansipasi buaya. Zenith, 12.3, (53): 722-30.
Kalil, si opas kantor. Kisah, 3.2, (54): 85-90.
Korupsi. Indonesia, 4.5, (54): 165-245.
Perjalanan. Mimbar Indonesia, 13.8, (54): 20-3.
Suatu pojok di suatu dunia. Prosa, 1.1, (55): 5-7.
Arya Damar. Star Weekly, 551.11, (56): 18-9.
Biangkeladi. Roman, 6.3, (56): 16-8.
Darah Pajajaran. Star Weekly, 546.11, (56): 26-7.
Djaka Tarub. Star Weekly, 562.11, (56): 15-6.
Gambir. Aneka, 3,4,5.7, (56): 12-3; 12-3, 20; 12-3, 19.
Jalan yang amat panjang. Kisah, 7-8.4, (56): 13-5.
Kecapi. Kisah, 2.4, (56): 4-5.
Kesempatan yang kesekian. Zaman baru, 5, (56): 13-8.
Ki Ageng Pengging. Star Weekly, 570.11, (56): 26-7.
Lembaga. Roman, 5.3, (56): 7-8.
Makhluk di belakang rumah. Kontjo, 5.2, (56): 20-1, 33.
Mbah Ronggo dan setan-setannya. Star Weekly, 541.11, (56): 26-8.
Nyonya dokter hewan Suharko. Roman, 9.3, (56): 4-6.
Pelukis Purbangkara. Star Weekly, 549.11, (56): 26-7.
Raden Patah dan Raden Husen. Star Weekly, 555, 556.11, (56): 38-41; 25-7.
Sekali di bulan purnama. Roman, 7.3, (56): 12-4.
Suatu kerajaan yang runtuh karena rajukan permaisuri. Star Weekly, 544.11, (56): 26-7, 35.
Sunyi-senyap di siang hidup. Indonesia, 6.7, (56): 255-268.
Tanpa kemudian. Roman, 3.3, (56): 6-7, 11.
"Djakarta," Almanak Seni 1957, Djakarta: Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional, 1956.
Kasimun yang seorang. Roman, 8.4, (57): 8-10.
Keluarga Mbah Lono Jangkung. Roman, 12.4, (57): 22-6, 42.
Shamrock Hotel 315. Roman, 10.4, (57): 5-6.
Yang cantik dan yang sakit. Pantjawarna, 120.9, (57): 16-7.
Dia yang tidak muncul. Star Weekly, 659.13, (58): 7-9.
Yang pesta dan yang tewas. Zaman Baru, 21-22, (58): 6.
Paman Martil. Jang Tak Terpadamkan (kumpulan tjerita pendek) menjambut ulang tahun ke-45 PKI. Pg. 5-27

Puisi
Antara kita. Siasat, 103.2, (49): 9.
Anak tumpah darah. Indonesia, 12.2, (51): 20.
Kutukan diri. Indonesia, 12.2, (51): 19-20.

Alamat Rumah Keluarga:
= Jalan Multi Karya II Nomor 26, Utan Kayu, Jakarta Timur

= Bojonggede, Bogor


http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/pramoedya-ananta-toer/index.shtml

Ong Hok Ham (1933-2007) : Sejarawan Besar Tanpa Gelar Profesor

Ong Hok Ham (1933-2007) : Sejarawan Besar Tanpa Gelar Profesor

Sejarawan besar Indonesia tanpa gelar profesor, Ong Hok Ham, meninggal dunia dalam usia 74 tahun, Kamis 30 Agustus 2007, di kediamannya Jalan Cakrawijaya IX Blok D No 11, Kompleks Diskum TNI Angkatan Darat, Cipinang Muara, Jakarta Timur. Sebelum meninggal Ong Hok Ham sempat memberi wasiat agar rumahnya dijadikan museum.

Ong Hok Ham pria kelahiran 1 Mei 1933 itu sudah harus berada di atas kursi roda akibat serangan stroke sejak pertengahan tahun 2001. Kendati demikian dia selalu mengikuti perkembangan dunia dan menuangkan hasil renungan dalam tulisan. Di kediamannya, Onghokham pria lajang sampai akhir hayatnya, itu didampingi dua asisten (sekretaris). Sehingga dia masih bisa menulis dengan cara mendiktekan kepada asistennya.

Direktur Institut Ong Hok Ham, Andi Achdian, sempat membawa jenazah Ong Hok Ham ke Rumah Sakit (RS) Mitra Internasional, Jatinegara sebelum kemudian disemayamkan di Rumah Duka RS Dharmais. Menurut Andi, Ong Hok Ham sempat memberi wasiat agar rumahnya dijadikan museum dengan koleksi sekitar 3.000 buku sejarah.

Onghokham atau Ong Hok Ham sering menulis sejarah di berbagai media antara lain Tempo, Starweekly dan Prisma. Kumpulan artikelnya di Tempo dari tahun 1976 - 2001 telah dibukukan tahun 2002 dengan judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang.

Sejak sekolah di HBS (sekolah menengah zaman Belanda), dia sudah berminat pada sejarah, rapor bernila 9. Kala itu gurunya bernama Broeder Rosarius. Namun, setamat SMA, Onghokham sempat menjadi agen asuransi mengikuti keinginan orang tuanya. Juga sempat kuliah selama dua tahun di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kemudian dia pindah ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah, dan tamat 1968.

Kemudian dia mengajar sejarah di almamaternya. Pria yang melajang sampai akhir hayatnya itu, meraih gelar doktor dari Universitas Yale, Amerika Serikat dengan disertasi The Residency of Madiun ; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century (Keresidenan Madiun, Priyayi dan Wong Cilik Selama Abad 19), 1975. Dia pensiun dari Universitas Indonesia pada tahun 1989 dalam usia 56 tahun.

Onghokham bukan pohon pisang, yang hanya berbuah satu kali. Di usia senja yang sudah semakin larut, dengan beragam kendala yang harus dia atasi, ternyata dia masih tetap bisa membuktikan jati dirinya sebagai seorang penulis yang tetap dan akan terus berkarya. Sakit dan penyakit ternyata tidak selamanya membatasi kegiatan seseorang.

Ini pula yang terjadi dengan Dr Onghokham. Meskipun dia kini harus berada di atas kursi roda akibat serangan stroke sejak pertengahan tahun 2001, tidak berarti kegiatannya menyusut. Tidak hanya dalam mengikuti perkembangan dunia dan menuangkan hasil renungan dalam tulisan.

Bahkan, ketekunannya melakukan penelitian berikut gaya bicaranya yang selalu meledak-ledak sebagai ciri khas orang Surabaya, tetap melekat pada dirinya. Sehingga Ong, begitu para sahabatnya memanggilnya, setiap hari masih hadir serta beredar di tengah kehidupan masyarakat.

"� masak hanya karena sakit macam ini lantas tidur melulu. Harus tidur dengan siapa?" katanya pada Rabu (30/4) sore, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-70. Ong mengatakan ini sambil bersiap-siap berangkat ke resepsi perayaan Hari Nasional Belanda. Maka, itulah yang terjadi.

Dia tidak pernah membatasi kegiatan dan aktivitasnya. Bedanya, kalau dulu orang akan selalu melihat lelaki botak bertubuh tambun dengan kacamata tebal tersebut hadir sendirian dengan baju yang lengannya dilinting sampai ke siku tangan, bersepatu sandal, serta sebuah traveling bag kumuh tersandang di bahu. Sekarang, Ong tidak lagi seperti itu.

Penampilannya sama, namun ada dua atau tiga orang mengikutinya. Mendorong kursi roda, menaikturunkan ke kendaraan, dan membantu keperluan ini-itu. "... maunya saya, ya, masih macem dulu, bisa keluyuran ke mana-mana sendirian. Tetapi, kan, tidak semua tempat umum di Jakarta ini yang bisa diakses dengan bebas oleh orang seperti saya?" katanya.

Tahun 2001, ketika sedang bertamu ke Yogyakarta, tinggal di rumah sahabatnya, seniman batik Ardianto Prananta, tiba-tiba saja Ong mengalami serangan stroke. Suasana menjadi lebih dramatis karena rumah itu relatif kosong sebab saat itu pemiliknya sedang berada di Australia.

Ardianto melukiskan suasananya, "Untung saja pembantu saya tidak panik, untung sudah ada telepon seluler, dan untung juga Yogya tidak punya traffic jam sehingga dengan cepat mereka bisa menghubungi saya, dan segera saya perintahkan untuk melarikannya ke Rumah Sakit Panti Rapih. Kalau misalnya terlambat, ya, Pak Ong mesti wis bablas tenan�."

Perjalanan hidup memang sering meluncur tanpa bisa diduga lebih dulu. Ibunya, Tan Siang Tjia, menikah dua kali, dan Ong merupakan anak pertama dari pernikahan kedua, sekaligus menjadi anak ketiga dari semua putra ibunya. Sebagai seorang penulis produktif dan selama beberapa tahun ini telah menghasilkan banyak sekali naskah di beragam media, ingatan Ong sangat tajam. Dia tetap ingat pada tulisan pertamanya yang dipublikasikan, "� judulnya Perkawinan Indonesia-Tionghoa Sebelum Abad ke XIX di Jawa, dimuat dalam Mingguan Star Weekly edisi 15 Februari 1958."

Kalau tulisan pertamanya mengenai perkawinan, mengapa justru sampai hari ini Ong tetap memilih jadi bujangan? Sambil terbahak dia menukas, "Tetapi, kan, bukan jadi bujang lapuk? To be honest, saya enggak pernah mau dikritik. Dan salah satu cara terbaik untuk tidak dikritik adalah tidak usah punya istri."

Melihat saya masih tertegun, Ong langsung menambahkan, "Saya sendiri juga tidak tahu alasan sebenarnya. It�s so happened. Mungkin saja karena tidak ada waktu. Saya sudah telanjur menghabiskan seluruh waktu untuk hal-hal lain, atau karena saya terlalu banyak terlibat ini-itu. Tetapi, percayalah, jangan salah sangka, saya tetap mempunyai kehidupan yang baik, cara hidup yang katakanlah istilahnya, bersih...."

Bersih dan kotor, baik dan buruk adalah relatif, tergantung pada sudut pandang masing-masing. Pada diri Ong, dia mampu berbaur dan selalu beredar pada semua lapisan masyarakat tanpa pernah membangun sekat-sekat yang jadi penghalang kekerabatan.

Sebagai penganut Buddhis yang juga warga keturunan Tionghoa, dia adalah minoritas yang berada di tengah lautan mayoritas. Dalam kesendiriannya, Ong terbukti diterima di semua tempat. "Paling-paling kritik paling keras yang saya dengar, saya dianggap genit. Namun, genit kan bukan bahaya karena tidak menular dan tidak harus dibenci�," katanya.

Sikap hidup membuka diri tersebut juga tercermin dalam rumah tinggalnya di kompleks Diskum, di tengah Kampung Cipinang Muara, Jakarta Timur. Sebuah rumah tropis yang akrab dengan lingkungan serta murah harganya. "Makanya tak punya jendela dan tak perlu pintu, orang bisa bebas lalu lalang keluar masuk�."

Selama ini rumah itu, meskipun letaknyalebih rendah, selalu bebas dari ancaman banjir. "� kecuali tahun lalu, ketika banjir besar menyergap seluruh Jakarta, air sempat mampir ke dalam rumah. Untung tak terlalu dalam sehingga semua buku saya masih bisa diselamatkan."

Buku merupakan harta utama yang menjadi milik Ong. Maka, tidak mengherankan kalau untuk menandai ulang tahunnya yang ke 70 hari Kamis (1/5) sore ini di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Ong sekaligus meluncurkan dua buku. Satu berupa kumpulan tulisannya di Mingguan Tempo antara tahun 1976-2001 yang dia beri judul Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang. Satu lagi buku bertajuk The Thugs, The Curtain Thief and The Sugar Lord: Power, Politics and Culture in Colonial Java.

Panjang jalan yang sudah dengan tertatih-tatih dilalui Onghokham, sebelum akhirnya bisa tumbuh menjadi sejarawan, dengan spesialisasi sejarah Jawa sekitar abad XIX.

Menyelesaikan pendidikan di HBS Surabaya, Ong lalu melanjutkan ke SMA di Bandung. Singgah sebentar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), akhirnya pindah ke Fakultas Sastra, masuk jurusan Sejarah dan selesai tahun 1968.

Dia melanjutkan studi di Universitas Yale, Amerika Serikat, "� oleh karena banyak ahli tentang Indonesia yang kebetulan sudah saya kenal, datang dari sana. Saya berbelok ke Universitas Yale berkat dorongan Harry J Benda, penulis buku The Crescent and the Rising Sun: Indonesia Islam Under The Japannese Ocupation 1942-1945." Gelar doktor diraih oleh Ong tahun 1975 dengan disertasi The Residency of Madiun ; Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century.

Mungkin orang akan heran, bagaimana mungkin sejarawan yang banyak menulis buku, rajin melakukan penelitian, dan sering tampil dalam beragam forum ilmiah baik di dalam maupun di luar negeri ini tidak pernah bisa diangkat menjadi mahaguru dan bergelar profesor.

Nasib Ong memang malang. Nomor induk pegawainya sebagai dosen di UI pernah hilang. Sehingga setelah mengajar selama 25 tahun, status kepegawaiannya tetap saja mandek di golongan III A. Maka, pada tahun 1989, ketika usianya 56 tahun, dia harus menjalani masa pensiun.

Prof Dr Sartono Kartodirdjo selalu berpesan kepada para muridnya, "Jangan seperti pohon pisang yang hanya sanggup berbuah sekali."

Oleh Toeti Kakiailatu: Penelitiannya tentang sejarah masyarakat Jawa, sejarah revolusi Perancis, dan sejarah Eropa secara umum sangat reflektif. Sejarawan yang membujang ini terkena stroke sejak 2001. Namun, nafsu makan enaknya tetap digemarinya. Kegemarannya akan makan telah mendorongnya untuk meneliti kajian makanan Indonesia.

Petang itu, sekitar jam 17.00, adalah jam makan malam Onghokham. Kamis, 31 Agustus, Rochmat, salah seorang yang mengurus Ong semenjak sakit, yang melayani makan malam. Menunya, kentang goreng dan bistik kakap merah. Semuanya dimakan habis. Setelah itu kursi roda Ong pun disorong ke kamar tidurnya, menghadap ke televisi. Sekitar jam 18.00, kepala Ong miring ke kiri dan menunduk. Ternyata Ong telah meninggal. Tanpa pesan dan rasa sakit.

Ong lahir pada 1 Mei 1922 di Surabaya. Almarhum adalah cucu dari seorang kapitan China di Pasuruan. Han, begitu nama keluarga ibunya, terkenal dari golongan elite yang mungkin jadi konglomerat pertama waktu itu. Ayahnya, setamat dari Hogere Burger School (HBS), berjalan-jalan ke Eropa dan setelah itu bekerja pada kantor asuransi. Dari pasangan ini, lahir empat bersaudara, tiga laki-laki dan seorang perempuan, masing-masing diasuh oleh pengasuhnya. Ong sendiri mengaku diasuh oleh seorang embok yang mengajarinya sedikit tentang budaya Jawa. Adapun orangtuanya yang berkelimpahan uang, sepanjang hari asyik main mahyong.

Baru pada malam hari orangtua dan anak-anak berkumpul untuk makan malam. Makan bersama ini menjadi peristiwa istimewa karena ruang makan yang mewah dan makanan yang melimpah. Para pelayan sibuk melayani makan malam gaya Belanda dengan konversasi antara mereka juga dalam bahasa Belanda. Keluarga Ong hidup bergaya Belanda. Bicara, makanan, dan cara berpakaian, semua bergaya Belanda. Ong sendiri sewaktu kecil dipanggil Sinyo Hansje. Gaya hidup yang serba Blandis ini kurang begitu disenanginya. Keluarga kaya yang kebelanda-belandaan dan hanya hidup bergaul untuk keluarga saja. Oleh karena itu, Ong kurang akrab.

Hanya kegemaran makan enak dan berpesta yang diturunkan dari kebiasaan keluarganya kepada Ong. Jadi semasa masih sehat, tidak ada undangan pesta dari orang-orang kaya di Jakarta yang Ong lewatkan begitu saja. Ong sendiri gemar mengundang beberapa temannya untuk makan malam. Dia sendiri yang belanja dan memasak makanan yang akan dihidangkan. Dengan naik kendaraan umum, karena tidak punya mobil, dia pergi belanja. Ong tahu daging babi yang baik ada di Pasar Senen, daging sapi berkualitas di Blok M, dan ikan bandeng segar di Pasar Pagi. Dengan berpanas-panas, tak segan dia menyeberang jalan dengan menenteng belanjaan.

Baru pada malam hari Ong berpakaian bersih, melayani tamu yang diundangnya. Sitting dinner dengan menggelar tatanan meja bertaplak indah, penuh dengan garpu pisau perak, porselen antik, serta bunga dan tebaran bunga melati. Di rumahnya yang bergaya Bali, di samping ruang makan yang terbuka tumbuh sebatang pohon melati gambir yang kalau malam hari mengeluarkan bau harum. Masakan yang digemarinya adalah sambal gandaria, bandeng bakar, dan babi hong. Yang terakhir, tentu saja tidak disuguhkan bagi pemakan nonbabi.

Lebih-lebih kalau pada HUT-nya, setiap 1 Mei. Undangannya selalu dimulai dengan sebutan Mayday, mayday� dan itu pasti undangan dari Sinyo Hansje. Pesta ulang tahun Sinyo Hansje ini selalu ramai. Rumahnya penuh sesak oleh berbagai tamu yang datang, mulai orang-orang kedutaan, tokoh nasional, sampai ke artis-artis, berjejalan. Makanan dan berbagai minuman memeriahkan pesta ulang tahun Onghokham.

Namun, mulai kapan Ong menjadi ahli masak? Dia menjadi kuliner terkenal ketika kuliah untuk mengambil gelar doktornya di Universitas Yale (1968-1974). Disertasinya cukup terkenal, yang berjudul The Residency of Madiun, Priyayi and Peasant during the Nineteenth Century. Kemudian ketika berkunjung ke Eropa, dia mencoba bereksperimen dengan makanan Italia, Perancis, dan China. Di Italia, Ong berteman baik dengan Ruth McVey, sejarawati yang mempunyai kastil di dekat Roma. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1975, Ong berkata kepada David Reeve, sejarawan Australia, yang tengah menulis biografi Onghokham, "Saya kembali dengan dua keahlian. Gelar PhD dan memasak. Namun, memasak rasanya lebih penting."

Dosen "killer"

Kegemarannya akan Ilmu Sejarah mulai saat dia di HBS. Entah mengapa untuk pertama kali dia memilih Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), baru kemudian pindah ke Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UI. Setamatnya dari Jurusan Sejarah, Ong sempat mengajar di fakultas. Sebagai dosen, Ong terkenal killer. Tidak senang dengan mahasiswa belajar asalan saja. Kalau jengkel, dia melempar apa saja yang ada di genggamannya ke mahasiswa. Para mahasiswi yang berdandan menor terpaksa harus menghapus make-up-nya karena kalau si mahasiswi dianggap bodoh, Ong mengomel dengan ucapan, "Huuh, waktumu dihabiskan dengan berpupur dan bergincu saja."

Tahun 1989 Ong pensiun. Usianya baru 56 tahun. Sekitar setahun Onghokham jadi Direktur Sekolah Tinggi dan Akademi BUDDI di Tangerang. Namun, Ong bukan tipe orang yang senang jabatan atau duduk di belakang meja jadi budak manajemen. Sekitar satu tahun saja dia minta berhenti. Ong kemudian bebas menulis di berbagai media antara lain di Kompas, Tempo, atau Prisma.

Unik dan orisinal

Pada 14 Februari 2001 Ong mendapat serangan stroke di Yogyakarta ketika hadir dalam perayaan ulang tahun ke-80 Prof Sartono Kartodidjo. Sebulan kemudian sekelompok teman dekat Ong berniat mendirikan Yayasan Lembaga Studi Sejarah Indonesia (LSSI), yang didukung oleh Freedom Institute, majalah Tempo, dan QB World Books. Pada HUTnya yang ke-68 diresmikanlah yayasan itu dalam sebuah pesta di Gedung Arsip, Jalan Gajah Mada 111, Jakarta. Dua tahun kemudian, pada usia yang ke-70, ia meluncurkan dua bukunya di Auditorium Perpustakaan Nasional (Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang dan The Thugs, the Curtain Thief and the Sugar Lord).

Namun, penyakitnya semakin payah. Bicaranya sulit dimengerti, Ong tidak disiplin dalam hal makan dan minum. Wines masih diminumnya, tetapi perutnya tak kuat lagi meneguk whiskey. Ong tak mungkin lagi pergi ke pesta, sedangkan teman-temannya semakin berkurang. Pesta ulang tahunnya yang terakhir, 1 Mei 2007, kurang meriah. Dan Ong sendiri juga tampak sedih.

Adalah Hardi Halim (teman Yoop Ave), Andi Achdian, dan Ardi Apian, Agustus 2006 mendirikan OngHokHam Institute (OHHI). Berkat nama Onghokham, institut berhasil mendapat sumbangan sebesar 100.000 dollar AS dari Ford Foundation. Tiga atau empat orang kini setiap harinya bekerja di ruang studi Ong. Karena dalam pengelolaan oleh OHHI ruang studi Ong harus memakai AC, pintu harus ditutup. Ong merasa tidak bebas lagi di rumahnya. Dia tidak bisa melewati ruang studinya untuk duduk di teras depan. Tentu agak sulit untuk memutar dengan kursi rodanya menuju teras. Si pemilik rumah cuma bisa berada di kamarnya yang di depannya ada taman seluas sekitar 2 x 3 meter. Ong menjadi seorang jaba tengah di rumah Bali-nya sendiri. Tempat favoritnya ialah teras depan dan yang biasa dilakukan Ong sambil tiduran, dekat kolam ikan dan beberapa pohon bunga, tak bisa dijamahnya. Hanya kalau akhir minggu, saat staf OHHI libur, barulah Ong boleh berada di teras depan.

Konon Yayasan LSSI nasibnya ada di ujung tanduk. Yayasan yang nonprofit dan nonpartisan ini konon akan dibubarkan oleh OHHI. Dapatkah?

Dalam suasana berkecamuk seperti itulah, sejarawan yang mempertahankan ketionghoannya, tokoh yang unik dan orisinal, pergi untuk selamanya.

Sebelum dikremasi, Ong dibaringkan dalam peti dengan memakai baju China berwarna merah maroon hadiah dari perancang pakaian Peter Sie di ulang tahun terakhirnya. Pada bibirnya diselipi sebutir mutiara. Menurut kepercayaan Buddha, itu agar Ong "nun di sana" tidak akan mengeluarkan kata-kata kotor. Upacara pemakaman di Rumah Duka Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, dilakukan dengan upacara Buddha, Katolik, dan Khonghucu pada Minggu malam. Senin, 3 September, jenazahnya dikremasikan di Tangerang.









http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/o/onghokham/biografi/03.shtml

Prof. Parsudi Suparlan Ph.D: Ilmuwan Humanis yang Pergi dalam Kesendirian

Prof. Parsudi Suparlan Ph.D: Ilmuwan Humanis yang Pergi dalam Kesendirian

parsudisuparlanDEPOK, NETSAINS – “Sejak dulu dia tidak punya pembantu. Dia biasa bekerja keras dua tiga hari, lalu sudah itu tidur istirahat total seminggu penuh,” sayup suara para sahabat meningkahi acara pelepasan jelazah Prof. Parsudi Suparlan PhD, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia (UI) di FISIP UI, Depok.

Yang paling menyentuh hati adalah penurutan Herman Lantang, sahabat terdekat lelaki kelahiran 3 April, 69 tahun silam tersebut. Kepada hadirin, Herman yang pendiri Mapala UI bertutur bagaimana Parsudi mengajarkan hidup menggembel di ibukota kendati berasal dari keluarga berrada.

Menggembel

“Ia mengajak saya bergaul dengan gelandangan dan pelacur, walaupun saya tinggal di Menteng yang elit. Ia mengajarkan saya nilai-nilai kesederhanaan dan kejujuran,” ujar Herman Lantang yang berssahabat dengan almarhum sejak 1960-an.

Parsudi Suparlan telah mengabdikan diri lebih dari 30 tahun untuk bidang antropologi. Selama itu ayah dari dua anak ini menulis lebih dari 30 judul paper di jurnal ilmiah dalam dan luar negeri. Bukunya bertajuk Orang Sakai di Riau dinobatkan menjadi buku terbaik ilmu sosial oleh Depdiknas tahun 1976. Parsudi yang juga menjadi Tim Ahli POLRI ini banyak dipercaya melakukan studi daerah konflik seperti konflik berdarah di Ambon tahun 1999, konflik antar sukubangsa di Sambas, Kalimantan Barat, Maret 1999. Parsudi juga terlibat dalam penanganan terorisme internasional dan perubahan corak politik luar negeri Amerika Serikat bersama Departemen Luar Negeri.

Tak heran jika kepeduliannya terhadap sekitar cukup tinggi, sebab Parsudi memang banyak memotret kondisi sosial Indonesia. Karya terkenalnya antara lain Hubungan Antar Suku Bangsa, Kemiskinan di Perkotaan, The Javanese in Surinam, Masyarakat dan Kebudayaan Perkotaan. Lelaki yang diketahui mengidap diabetes ini kabarnya ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di rumahnya kompleks dosen UI Ciputat, Banten, sekitar pukul 9.00 pagi, Kamis (22/11). Penyebab kematiannya belum diketahui. Dari para sahabat terbetik berita bahwa almarhum memang tinggal seorang diri tanpa pembantu dan ditemani keluarga.

Mengkritik Megalopolis
Walau sudah berusia senja, Parsudi masih cukup aktif dan bersemangat mentransfer ilmunya kepada siapa saja. Ia juga cukup peduli dengan pembangunan kota Jakarta.

Dalam tulisannya bertajuk “Megalopolis, Sebuah Peluang vs Ancaman Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat”, Parsudi mengktritik rencana Sutiyoso yang saat itu menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta untuk menyulap Jakarta menjadi kota megalopolis.

“Saya tidak sepenuhnya percaya kepada kata-kata saya yang visioner tersebut diatas mengenai megapolitan yang memberi peluang untuk kesejahteraan masyarakatnya dan bagi masyarakat di daerah Bodetabejur melalui prinsip trickle down effects. Karena penyakit KKN masih diderita oleh para pejabat dan birokrat, yang dapat menghambat proses-proses pembiayaan dan pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan untuk megapolitan dan administrasi pengelolaanya. Perbedaan ekonomi dan kesempatan-kesempatan memperoleh keuntungan ekonomi antara kota megapolitan Jakarta dengan daerah penyengga akan sangat besar, sehingga arus dan tingkat urbanisasi ke Jakarta akan menjadi semakin meningkat,” ungkap Parsudi dalam tulisannya yang dibawakan dalam seminar Why Megalopolis”, yang berlangsung pada April 2006 silam.

Pekerja keras, tekun dan konsisten dalam profesi keilmuannya, itulah yangn tersirat dari pribadi seorang Parsudi. Selamat jalan, ilmuwan yang humanis. Kau boleh pergi dalam kesendirian, tapi kepergianmu takkan pernah tergantikan oleh siapapun.



http://netsains.com/2007/11/prof-parsudi-suparlan-phd-ilmuwan-humanis-yang-pergi-dalam-kesendirian/

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer


Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
• 13 Oktober 1965 - Juli 1969
• Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan
• Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru
• November - 21 Desember 1979 di Magelang
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'.
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Sint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.
Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.
Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.
Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.
Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
• Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
• Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
• Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
• Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
• UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996
• Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
• Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
• Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
• New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
• Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
• The Norwegian Authors Union, 2004
• Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004
• Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978
• Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982
• Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982
• Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987
• Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988
• International PEN English Center Award, Inggris, 1992
• International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
• Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947
• Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
• Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949 (dicekal oleh pemerintah karena muatan komunisme)
• Keluarga Gerilya (1950)
• Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen
• Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen
• Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
• Bukan Pasarmalam (1951)
• Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947
• Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen
• Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953
• Gulat di Jakarta (1953)
• Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
• Korupsi (1954)
• Mari Mengarang (1954), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
• Cerita Dari Jakarta (1957)
• Cerita Calon Arang (1957)
• Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
• Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Kumpulan Karya Kartini, yang pernah diumumkan di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Gadis Pantai (1962-65) dalam bentuk cerita bersambung, bagian pertama triologi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung; jilid kedua dan ketiga dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
• Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
• Lentera (1965), tak jelas nasibnya di tangan penerbit
• Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
• Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981
• Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
• Tempo Doeloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia
• Jejak Langkah (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
• Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985
• Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987
• Rumah Kaca (1988); dilarang Jaksa Agung, 1988
• Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
• Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
• Arus Balik (1995)
• Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
• Arok Dedes (1999)
• Mangir (2000)
• Larasati (2000)
• Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)

Buku tentang Pramoedya dan karyanya
• Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Penerbit Gunung Agung)
• Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw (Pustaka Jaya)
• Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama)
• Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Tera Indonesia)
• Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, Daniel Mahendra, dkk (Penerbit Malka)

Prof Dr A Sartono Kartodirdjo (1921-2007) : Mahaguru Sejarah Indonesia

Prof Dr A Sartono Kartodirdjo (1921-2007) : Mahaguru Sejarah Indonesia

Prof Dr A Sartono Kartodirdjo, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, meninggal dunia di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, Jumat 7 Desember 2007 pukul 00.45 WIB. Penulis buku Pengantar Sejarah Indonesia Baru, kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Februari 1921, itu memperkenalkan pendekatan multidimensi dalam penulisan sejarah. Dia pionir generasi baru sejarawan Indonesia yang menerapkan metode penelitian modern dalam lingkup studi sejarah.

Sejak setahun terakhir sudah telah dua kali dirawat di rumah sakit. Menurut putranya, Nimpuno, Sartono masuk RS Panti Rapih, Kamis (6/12/2007) malam, karena kondisi kesehatannya memburuk. Sebelumnya dia dirawat di rumah. Dia memang sudah lama sakit dan sudah sulit makan sendiri. Jenazah disemayamkan di rumah duka kompleks rumah dinas dosen UGM Bulak Sumur, Yogyakarta. Upacara penghormatan terakhir dilakukan di Balairung UGM. Dimakamkan di makam keluarga Astana Kadarismanan, Lemah Abang, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (8/11/2007) siang.

Alamarhum Sartono meninggalkan seorang isteri, Sri Kadarjati, sama-sama berprofesi guru, yang dinikahinya pada 1948, dan dikaruniai dua anak.

Sartono dilahirkan sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara kandung buah hati pasangan Tjitrosarojo (ayah) dan Sutiya (ibu) pada tengah malam di Wonogiri, 15 Februari 1921. Dia dibesarkan dalam ruang sosial budaya abangan, sebagai lingkungan paling awal pembentukan jati dirinya.

Kemudian melalui dunia pendidikan formalnya di HIS, MULO, dan HIK, dia menyerap nilai budaya Barat. Terutama di HIK Muntilan, selain menyerap budaya Barat, Sartono juga menyerap nilai-nilai dan ajaran Kristiani secara lebih intensif. Sebab di HIK, dia mendapat pendidikan khusus sebagai (calon) bruder. Kendati dia tidak jadi bruder, karena akhirnya memilih karier sebagai guru, nilai-nilai yang diajarkan selama di HIK tetap menjadi pemandu dalam perjalanan hidupnya.

Sebelum menjadi dosen di UGM, Sartono mengajar di SMA di Jakarta, sambil kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), dan menyelesaikannya tahun 1956. Kemudian tahun 1959, Sartono menjadi dosen di UGM, dan di FKIP Bandung. Kemudian dia meraih gelar master dari Universitas Yale, AS (1964).

Gelar doktor diraih dari Universitas Amsterdam, Belanda (1966) dengan disertasi: "The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia" (Pemberontakan Petani Banten 1888). Disertasi ini dinilai sebagai batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia. Sebuah karya sarjana sejarah Indonesia pertama yang mengangkat peran wong cilik ke atas panggung sejarah, yang sebelumnya selalu diisi kaum elite, konvensional dan Neerlandosentris.

Penulisan disertasi ini, diakuinya didorong oleh hasrat melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosentris. Menurut M Nursam Alumnus Ilmu Sejarah UGM, yang tengah menulis Buku Biografi Sartono Kartodirdjo (masih dalam Proses Penerbitan), Sartono dengan menggunakan social scientific approach, memberikan cahaya terang dalam perkembangan dan arah historiografi Indonesiasentris. "Petani atau orang-orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi nonfaktor, dalam karya Sartono menjadi aktor sejarah," tutur M Nursam.


Kemudian dia dikenal sebagai seorang sejarawan yang berperan bagi pengembangan ilmu sejarah di Indonesia dengan memperkenalkan pendekatan multidimensi dalam penulisan sejarah.

Tahun 1968, dia dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Sastra UGM.Dia seorang mahaguru sejarah Indonesia yang telah menghasilkan banyak ahli sejarah yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Murid-muridnya itu pula yang menjadi benang penyambung ide dan gagasan Sartono. Menurutnya, sejarawan harus tetap berpegang pada etos yang disebut mesu budi. Istilah itu dia sadur dari Serat Wedatama, yang bermakna mengandalkan kekuatan batin dan tidak bertumpu pada kemegahan dunia.

Puluhan buku dan ratusan artikel telah lahir dari tangannya. Pada tahun 2001, pada usia ke-80, Sartono masih menerbitkan buku berjudul Indonesian Historiography. Baginya, usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Menurutnya, kerja seorang ilmuwan adalah kerja tanda henti.

Dalam berbagai kesempatan, Sartono sering kali mengingatkan bahwa ilmuwan "jangan seperti pohon pisang, yang hanya berbuah sekali kemudian mati." Dia juga sering mengingatkan bahwa sikap asketis menjadi esensi dari keahlian seorang profesional. Menurutnya, apa yang dihasilkan adalah buah dari asketisme yang dihayatinya secara terus-menerus melalui ketekunan, ketelitian, ketuntasan serta kesempurnaan teknis.

Prof Dr Sartono Kartodirdjo ikut berperan dalam penulisan buku sejarah pada 1987 dan 1990 itu. Tapi dalam nama tim penulis nama Sartono hanya muncul hingga jilid II. Pada jilid III sampai VI namanya tiba-tiba hilang.

Lalu Sartono melepas kekecaawannya dengan menulis sendiri buku Pengantar Sejarah Indonesia Baru (Jilid I berisi Zaman Kerajaan, dan Jilid II berisi Pergerakan Sejarah Nasional).

Sebelumnya Sartono sudah menulis The Peasants Revolt of Banten in 1888 (1966); Protest Movements in Rural Java, diterbitkan Oxford University Press (1973); Ratu Adil (1984); dan Modern Indonesia, Tradition and Transformation (1984).

Kepakarannya di bidang sejarah tidak hanya diakui di dalam negeri tetapi juga di mancanegara. Dia pernah berperan sebagai Koordinator Nasional UNESCO, dan ahli peneliti pada Institute of South East Asian Studies, Singapura. Berbagai penghargaan dari lembaga internasional dan universitas mancanegara telah dianugerahkan padanya.


Sebagaimana dikutip M Nursam, salah seorang kolega Sartono, Joseph Fischer, dari University of California, mengatakan, "Bagi saya, Pak Sartono merupakan kombinasi dari tokoh Arjuna, Gatotkaca, dan Semar. Arjuna karena kehalusan sikapnya. Gatotkaca karena kejujurannya, dan Semar karena kearifannya. Pak Sartono benar-benar seorang cendekiawan profesional dan seorang guru yang baik."



Nama:
Prof Dr A Sartono Kartodirdjo
Lahir:
Wonogiri, Jawa Tengah, pada 15 Februari 1921
Meninggal:
Yogyakarta, 7 Desember 2007 pukul 00.45 wib
Profesi:
Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Isteri:
Sri Kadarjati (nikah 1948)
Anak:
Dua orang
Ayah:
Tjitrosarojo
Ibu:
Sutiya

Pendidikan:
- Sarjana, Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI (1956)
- Master dari Universitas Yale, AS (1964)
- Doktor dari Universitas Amsterdam, Belanda (1966)

Karir:
- Guru SMA di Jakarta
- Dosen dan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta
- Koordinator Nasional UNESCO
- Ahli peneliti pada Institute of South East Asian Studies, Singapura.

Karya, al:
- Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I Zaman Kerajaan, dan Jilid II Pergerakan Sejarah Nasional.
- The Peasants Revolt of Banten in 1888 (1966)
- Protest Movements in Rural Java diterbitkan Oxford University Press (1973)
- Ratu Adil (1984)
- Modern Indonesia, Tradition and Transformation (1984)
- Indonesian Historiography (2001)

Sunday, 5 December 2010

Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer



"Bumi Manusia" adalah bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru karya masterpiece Pramoedya Ananta Toer. Berkat diskon 30% dari toko buku Gramedia Mal Cijantung akhirnya aku sanggup membeli seluruh tetralogi ini tanpa rasa bersalah. Harga buku Pak Pram yang diatas rata-rata harga buku nasional lainnya memang sangat pantas mengingat karya-karyanya yang sangat bermutu. Apabila anda buka situs amazon.com , jangan heran kalau review yang diberikan pembaca atas karya-karya Pak Pram mendapatkan lebih dari 4 bintang.

"Bumi Manusia" sebagai bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru menguak latar belakang dari keseluruhan cerita dalam tetralogi tersebut. Minke sebagai tokoh utama diceritakan masih menjadi siswa HBS di Surabaya. Sebuah prestasi hebat bagi seorang pribumi asli dapat bersekolah di HBS yang notabene biasanya hanya diperuntukan bagi anak-anak totok (Belanda tulen), Indo atau keturunan asing lainnya. Minke (sebetulnya bukan nama asli tokoh kita ini) adalah seorang keturunan priyayi Jawa yang berusaha menanggalkan kejawaannya dan ingin berpikir serta bertindak ala Eropa, namun walaupun begitu sesungguhnya Minke sangat menentang kolonialisme. Di Surabaya Minke tinggal di rumah kontrakan milik seorang Mevrouw yang baik hati yang bersuamikan seorang mantan komandan tentara kolonial. Untuk mendapatkan uang saku, Minke juga melakukan bisnis kecil-kecilan dengan memasarkan karya-karya hasil seniman invalid yang berdarah Perancis bernama Jean Marais. Jean Marais bukan hanya sekedar rekan bisnis tapi juga seorang sahabat sejati Minke. Selain itu Minke yang cerdas juga sering membuat tulisan di koran lokal berbahasa Belanda dengan menggunakan nama samaran.


Kehidupan Minke yang semula berjalan lancar-lancar saja tiba-tiba menjadi luar biasa setelah seorang teman sekolah mengajaknya bertandang ke Boerderij Buitenzorg. Disana ia bertemu dengan 2 orang wanita luar biasa yang akan mengubah jalan hidup Minke untuk selamanya. Kedatangan Minke langsung disambut dengan hangat oleh seorang gadis Indo bernama Annelies Mellema yang langsung membuatnya jatuh hati. Tidak cuma itu, sang penguasa Boerderij Buitenzorg, nyai Ontosoroh juga langsung membuat Minke seperti terhipnotis untuk mau-mau saja mengikuti kehendak sang nyai. Nyai Ontosoroh ini sebetulnya hanyalah seorang gundik dari Heman Mellema seorang belanda pejabat di perkebunan tebu. Selain Annelies masih ada juga seorang lagi anak nyai Ontosoroh yaitu Robert Melemma yang nampak begitu membenci ibunya dan juga segala sesuatu yang berhubungan dengan pribumi. Selanjutnya Minke menjalin kasih dengan Annelies si anak Indo yang justru ingin menjadi seorang Jawa. Nyai Ontosoroh ternyata sangat cerdas dan berwibawa tinggi sehingga sering kali membuat Minke terkagum-kagum. Semakin sering Minke bergaul dengan Nyai Ontosoroh, semalin kental pula jiwa nasionalisme Minke. Minke dan Annelies akhirnya menikah juga tak lama setelah Minke dinyatakan lulus dari HBS.


Kehidupan di Boerderij Buitenzorg menjadi terusik tak lama setelah kematian tak wajar tuan Herman Melemma. Boerderij Buitenzorgpun terancam terampas dari genggaman Nyai Ontosoroh sebab sesungguhnya tuan Herman Melemma telah mempunyai seorang putra dari perkawinan sahnya dengan seorang wanita Belanda yang tentunya akan menjadi pewaris sah dari kekayaan Herman Melemma. Yang terancam terenggut bukan cuma Boerderij Buitenzorg tapi juga Annelies. Perkawinan Annelies dan Minke yang sebetulnya sudah sah secara agama tidak diakui oleh pengadilan putih kolonial sehingga Annelies yang dibawah umur harus dibawa ke Nederland untuk selanjutnya berada di pengawasan Maurits Melemma, putra sah tuan Herman Melemma. Dengan sekuat tenaga Nyai Ontosoroh dan Minke melawan kekuasaan kolonial tersebut. Bukan cuma mereka, semua kaum pribumi di Surabaya serta beberapa totok dan Indo yang anti kolonialisme berusaha membantu melawan ketidakadilan tersebut namun usaha keras mereka masih belum sanggup mengalahkan kekuasan kolonial yang memang tak adil bagi kaum pribumi. Pada bagian akhir buku dikisahkan Annelies yang dalam keadaan sakit terpaksa harus diberangkatkan ke Nederland seolah menjadi simbol keterbedayaan kaum pribumi atas kaum kolonial.


"Bumi Manusia" ini juga membuka mataku tentang sosok nyai-nyai yang selama ini aku pikir seorang wanita desa gatal yang demi harta rela jadi simpanan bule-bule penjajah. Berkat kisah masa lalu Nyai Ontosoroh aku baru menyadari kalau para nyai ini sesungguhnya adalah wanita-wanita tak berdaya korban kekejaman sistem kolonialisme. Nyai Ontosoroh yang bernama asli Sanikem adalah seorang putri pegawai rendahan di pabrik gula. Pada masa itu gadis yang telah mendapatkan menstruasi harus segera dinikahkan bahkan gadis berusia 15 tahun sudah dianggap sebagai pearawan tua (Betapa beruntungnya kita para wanita yang hidup di jaman modern). Ayah Sanikem sangat berambisi untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi rela melakukan apa saja termasuk menjual putrinya kepada sang bos. Ibu Sanikem berusaha keras mencegahnya namun tak berdaya juga pada akhirnya. Saat Sanikem keluar dari rumah untuk diserahkan kepada tuan Herman Melemma, bos ayahnya, ia berjanji dalam hati untuk tidak akan kembali kepada orang tuanya. Sanikem cukup beruntung ternyata tuan Mellema cukup baik hati dan mau mengajarkan berbagai pengetauan kepada Sanikem sehingga selanjutnya Sanikem menjadi penguasa Boerderij Buitenzorg dan mendapat julukan Nyai Ontosoroh. Walaupun begitu tetap aja status Nyai Ontosoroh lemah di depan hukum karena ia tidak pernah dinikahkan secara sah oleh tuan Herman Melemma.


Secara keseluruhan buku ini sangat bagus sekali. Meskipun kita dijejalkan oleh beberapa fakta sejarah namun rasanya sama sekali tidak mengganggu malah membuat cerita menjadi semakin indah. Memang wajar kalau Pak Pram pernah masuk nominee penerima nobel sastra sebab beliau sanggup mengemas sebuah cerita denga topik berat dikemas apik menjadi enak dibaca sehingga membuat pembaca penasaran ingin membuka lembar-demi lembar berikutnya.


http://inarciss.blogspot.com/2008/03/bumi-manusia-pramoedya-ananta-toer.html

Rumah Kaca - Pramoedya Ananta Toer

Rumah Kaca - Pramoedya Ananta Toer




"Rumah Kaca" merupakan buku seri terakhir dari tetralogi Pulau Buru karya masterpiece dari penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Di buku inilah Pak Pram menunjukan kejeniusannya dalam menciptakan plot cerita yang sangat tidak konvensional. Jika di 3 buku terdahulu fokus cerita ada pada tokoh Raden Mas Minke yang juga sekaligus menjadi pencerita utama maka di buku ke-4 ini Pak Pram membalikan situasi sehingga tokoh Minke tidak menjadi tokoh utama dan pencerita jatuh pada tokoh Pagemanann yang muncul selintas sebagai tokoh misterius dalam buku ke-3 Jejak Langkah. Kepiawaian meramu cerita Pak Pram sehingga walaupun tidak lagi menjadi tokoh utama namun tokoh Minke tetap menjadi nyawa dari cerita.

Di bagian akhir buku Ke-3 dikisahkan kalau Minke ditangkap oleh pihak kepolisian pimpinan inspektur Pagemanann yang memang sudah mengincarnya sejak lama. Pagemanann adalah seorang pribumi tapi berpendidikan Eropa pekerja keras dan memiliki jaringan yang luas sehingga karirnya cepat naik. Walaupun menjadikan Minke sebagai target operasi tapi diam-diam Pagemanann mengagumi Minke dan dalam batinnya menjadikan Minke sebagai guru besarnya. Pagemanann juga seorang yang cerdas namun sayangnya dia mempunyai kebiasaan buruk yaitu senang minum-minuman keras, hal ini pula yang menyebabkan rumah tangganya hancur berantakan.

Karena kekagumannya pada maka Pagemanann sendiri yang mengawal Minke ke tempat pembuangannya di daerah maluku sana. Sejak awal buku kita langsung disuguhi perspektif cerita dari kacamata Pagemanann sehingga rasanya buku ke-4 ini adalah sebuah bagian yang terpisah namun sesungguhnya kalau tidak mengikuti bagian-bagian sebelumnya maka kita akan susah mengikuti jalan ceritanya. Setelah Minke dibuang, Pagemanann tetap saja rajin menyelidiki kehidupan sang tokoh panutan. Pagemanann juga menyelidiki tokoh-tokoh yang diceritakan Minke dalam buku-buku karyanya yaitu "Bumi Manusia", "Anak Segala Bangsa" dan "Jejak Langkah", disinilah Pak Pram menunjukan kejeniusannya sehingga pembaca berhasil digiringnya untuk ikut berpikir kalau ketiga tetralogi sebelumnya adalah karya Minke bukan karya Pak Pram. Ide yang rasa-rasanya sulit untuk diikuti pengarang manapun untuk membuat sebuah cerita baru dalam sebuah sebuah cerita.

"Rumah Kaca" pun digambarkan oleh Pak Pram sebagai buku yang tengah disusun oleh Pagemanann yang menceritakan tentang kebangkitan organisasi-organisasi modern serta kesadaran kaum terpelajar untuk mengusir kaum kolonial. Pagemanann tak cuma diam-diam mengagumi Minke tapi juga diam-diam mendukung aksi pemberontakan kaum terpelajar pribumi tersebut tapi sebagai abdi pemerintah kolonial yang baik, Pagemanann tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya sekedar jadi penonton. Tugas Pagemanann sebagai anggota elit kepolisian adalah membasmi kegiatan pergerakan yang dapat mengancam pemerintah kolonial sebetulnya bertentangan dengan nuraninya namun ia lebih menuruti ambisi untuk menjadi yang pribumi yang memiliki jabatan di kepolisian yang tertinggi.Berbeda dengan Minke yang memang menjadi hero, Pagemanann ini adalah tokoh abu-abu kadang ia adalah seorang yang baik misalnya saja dengan Menutupi keterlibatan Prinses (istri Minke) dalam usaha pembunuhan terhadap Robert Suurhoff) tapi di sisi lain demi karir ia mau memberikan berbagai rahasia pergerakan terhadap kepolisian kolonial.

"Rumah Kaca" memang lebih berat daripada ketiga buku sebelumnya karena selain kita dipaksa untuk mengubah perspektif, pada buku ini kita juga akan kehilangan kisah romansa yang manis. Mungkin karena Pagemanann tokoh utama kita kali ini adalah seorang yang sangat ambisius mengejar karir sehingga pembawaanya lebih serius daripada tokoh Minke yang memang gampang jatuh hati pada wanita. Namun rasa bosan itu terobati dengan munculnya fakta-fakta dibalik kisah di tiga buku sebelumnya. Secara keseluruhan tetralogi Pulau Buru ini memang luar biasa. Pantas saja kalau Pak Pram sang pengarang dipuji-puji oleh pecinta sastra sedunia.




http://inarciss.blogspot.com/2008/04/rumah-kaca-pramoedya-ananta-toer.html

Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer

Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer



Anak Semua Bangsa adalah bagian kedua dari tetralogi Pulau Buru. Sekali lagi aku dibuat terpesona oleh karya Pak Pram yang luar biasa sehingga enggan rasanya untuk menghentikan membaca bukunya.

Episode kedua cerita tentang kehidupan Minke diawali oleh kedukaan yang dalam akibat berita meninggalnya Annelies Melemma, sang biadadari dalam kehidupan Minke yang direnggut secara paksa oleh hukum kolonial. Annelies yang sudah dalam keadaan sakit ketika hendak dibawa ke Nederland tak kuasa melawan kedukaan hatinya yang mendalam. Bukan tanpa usaha, Nyai Ontosoroh dan Minke telah mengutus Panji Darman sahabat sejatinya untuk membantu mengawasi dan menjaga Anneliesnya namun takdir berkata lain. Kematian Annelies bukanlah satu-satunya kepahitan yang harus dihadapi oleh nyai Ontosoroh dan Minke, masih ada setumpuk masalah yang tak kunjung selesai.



Selain dari Nyai Ontosoroh seperti biasa dengan khotbah-khotbahnya, jiwa nasionalis Minke kembali mendapat pencerahan dari Kommer, sang jurnalis Indo yang sangat anti kolonialisme. Pada mulanya Minke tersinggung berat ketika Kommer dan Jean Marais sahabatnya, mengatakan bahwa sesungguhnya Minke tidak mengenal negeri dan bangsanya. Minke dianggap lebih dekat dengan bangsa Eropa yang menjajah negerinya. Ia pandai menulis dalam bahasa Belanda dan Inggris namun menolak ketika diminta menulis dalam Melayu atau Jawa karena menganggap bahasa ibunya tersebut tidak indah. Sindiran Kommer yang menyakitkan membuat Minke ingin membuktikan diri kalau ia mengenal bangsanya dengan menerima tawaran Kommer untuk mengunjungi kehidupan kaum petani. Kebetulan juga Nyai Ontosoroh ingin pergi berlibur sejenak untuk melepas stres.



Mereka akhirnya pergi ke daerah Tulangan yang Merupakan sentra perkebunan tebu terbesar. Disana Minke dan Nyai Ontosoroh menginap di rumah Paiman alias Sastro Kassier, saudara Nyai Ontosoroh yang sukses jadi kasir di pabrik gula. Perjalanan ke Tulangan ini berhasil membuka mata Minke dan menyadarinya kalau sindiran Kommer dan jean Marais itu betul adanya. Kehidupan kaum petani sungguh di luar dugaannya semula. Minke juga jadi tahu bagaimana kejamnya kaum kolonial memeras setiap tetes kekayaan bangsa jajahannya tanpa memberikan kesejahteraan bagi rakyat jajahannya. Perjalanan ini justru memukul Nyai Ontosoroh begitu mengetahui kalau Paiman ternyata juga tega melakukan hal yang pernah dilakukan oleh ayah mereka terhadap putrinya sendiri.



Demi lebih mengetahui kehidupan kaum petani yang tertindas, Minke rela bermalam di rumah keluaraga petani yang sedang berjuang untuk mempertahankan haknya yang akan dirampas kaum kolonial. Pengalaman Minke tersebut, ia tulis dalam bentuk sebuah tulisan yang menurutnya adalah karya terbaiknya. Namun justru Kommer mengkritik keras tulisannya tersebut sedangkan Nyai Ontosoroh jadi makin terpukul mengetahui kemungkinan asal muasal modal suaminya untuk mendiirikan perkebunan yang dibanggakannya tersebut. Minke yang tidak mengindahkan kritik Kommer nekat mendatangi kantor koran tempat ia biasa memasukan tulisannya. Bukan pujian yang didapat malah caci maki dan masalah lain yang akan timbul kemudian.



Ditengah segala masalah yang datang makin mendera, kedukaan kembali menyelimuti kehidupan Nyai Ontosoroh begitu mengetahui Robert Melemma, putranya yang dulu minggat dari rumah ternyata sudah meninggal di Los Angeles akibat terkena penyakit kotor. Kedukaan ini disusul oleh kenyataan lain kalau ternyata Robert sebelum minggat sempat menanamkan benihnya pada rahim Minem, salah seorang pegawai Nyai Ontosoroh yang kesohor karena kegenitannya. Kehadiran bayi yang diberi nama Rono Melemma tersebut seolah menjadi sebuah harapan baru bagi Nyai Ontosoroh yang kesepian karena telah ditinggal mati oleh anak-anaknya.



Pak Pram menutup buku keduanya dengan sangat indah. Ketika Maurits Melemma telah datang untuk merampas Buitenzorg, Nyai mengumpulkan para sahabat yang setia dengan perjuangnnya, Jean Marais dan May, anak semata wayangnya, Kommer, Darsam, Mingke dan Rono untuk menyambut kedatangan Maurits Mellema. Dan Nyai menegaskan kepada mereka kalau perjuangan kali ini yang mereka miliki hanya mulut, dan hanya boleh menggunakan mulut saja. Mereka berhasil membuat cap kepada Maurist Mellema sebagai pembunuh Annelies. Dengan kata-kata mereka telah membuat insinyur yang disebut sebagai pahlawan Nederland di Afrika itu menjadi mengkerut dan tidak berdaya. Maurits Melemma yang datang dengan gagah itu terpaksa harus pergi meninggalkan rumah Nyai Ontosoroh dengan kepala tertunduk dalam cercaan orang-orang desa.


Sungguh luar biasa indah penutup yang dibuat oleh Pak Pram ini. Nyai Ontosoroh boleh kalah di pengadilan tapi dia sanggup membuat Naurits Melemma terpukul dan tak akan melupakan hari itu sepanjang sisa usianya. "Anak Semua Bangsa" diawali oleh kegetiran namun diakhiri oleh kegetiran yang diubah menjadi sebuah kemenangan kecil yang sangat manis.


http://inarciss.blogspot.com/2008/03/anak-semua-bangsa-pramoedya-ananta-toer.html

Jejak Langkah - Pramoedya Ananta Toer

Jejak Langkah - Pramoedya Ananta Toer

Buku ketiga dari tetralogi Pulau Buru karya sang maestro “Pramoedya Ananta Toer” diberi judul “Jejak Langkah. Minke kali ini benar-benar berangkat ke Batavia untuk melanjutkan sekolah ke STOVIA atau sekolah dokter pribumi. Di bagian ini kita akan mendapatkan gambaran tentang keadaan Jakarta tempo doeloe ketika masih bernama Batavia.

Berkat kekuatan karakternya, Minke berhasil melewati ujian perpeloncoan dari seniornya malah ia menjadi salah satu siswa yang disegani. Minke juga bertemu dengan seorang gadis Tionghoa yang nampa rapuh dari luar tapi sebetulnya adalah seorang pejuang tangguh yang nantinya akan mempengaruhi sikap nasionalisme Minke. Gadis yang biasa disapa Mei itu akhirnya resmi diperistri Minke.

Dunia jurnalistik tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam hidup Minke, sambil kuliah ia juga aktif menulis untuk sebuah surat kabar. Menulis bagi Minke selain untuk motif ekonomi juga menjadi cara untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial. Kedatangan seorang pensiunan dokter jawa yang menyerukan pembentukan organisasi modern kian membuat pikiran Minke kian terbuka. Tekadnya untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme tanpa menggunakan kekerasan mnejadi makin bulat.

Duka kembali memayungi hidup Minke ketika Mei sang kekasih harus menyerah terhadap panggilan Sang Kuasa karena sakit akibat terlalu aktif dalam kegiatan pergerakan kaumnya. Pukulan bagi Minke makin terasa keras ketika iapun dinyatakan dipecat dari sekolah dokternya. Sempat terpuruk, Minke kembali bangkit dan mendirikan sebuah penerbitan yang diberi nama “Medan Prijaji”. Koran ini menjadi alat perjuangan Minke yang paling efektif untuk menyerukan misi-misinya seperti penghapusan feodalisme, memperkenalkan cara baru untuk melakukan perlawanan terhadap kaum kolonial melalui sistem boikot serta tentu saja aspirasinya seputar pembentukan organisasi modern.

Selain bergiat dalam bidang jurnalistik, Minke juga sempat bergabung sebuah organisasi yang dikenal sebagai Boedi Oetomo. Namun akibat perbedaan persepsi dengan para penggerak BO lainnya, Minke memutuskan untuk keluar dan membentuk organisasi sendiri yang memiliki cakupan yang lebih luas. Organisasi tersebut disebut Syarikat Dagang Islam atau disingkat SDI. Dalam urusan asmara, Minke juga telah memutuskan untuk menyunting seorang putri dari seorang Raja yang disingkirkan dari kampung halamannya di Kasiruta, sebuah daerah di Maluku. Prinses demikian istri ketiga Minke ini disapa adalah seorang wanita yang sangat tahu memposisikan dirinya sebagai seorang istri.

Cara perjuangan Minke melalui surat kabar dan organisasi yang kian berkembang pesat membuat pemerintah kolonial makin gerah terhadap sepak terjangnya. Segala cara dilakukan untuk menghentikan langkah Minke dan para pendukungnya, mulai dari cara halus melalui berbagai jebakan secara politis hingga cara kasar yang melukai Minke secara fisik. Namun dengan licinnya, Minke selalu berhasil melewati cobaan tersebut sehingga ia tetap bisa melanjutkan langkah pejuangannya.

Minke adalah seorang pria beruntung yang selalu mendapatkan wanita pendamping yang luar biasa. Prinses adalah termasuk wanita luar biasa yang nampak halus namun sebetulnya adalah seorang yang terlatih untuk selalu siaga menghadapi perang. Prinses juga tak segan-segan angkat senjata demi melindungi nyawa sang suami tercinta. Keberuntungan Minke soal wanita pendamping ternyata bertolak belakang dengan kemampuannya soal meneruskan garis keturunan alias mandul.

Dengan semakin besarnya SDI dan juga makin pesatnya Medan Prijaji membuat Minke terpaksa harus memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk mengurus semuanya. Rupanya titik inilah yang diincar kaum kolonial dengan menyusupkan seorang pengkhianat hingga mendapatkan kepercayaan penuh dari Minke lalu ia akan menusuk dari belakang. Akibatnya Minke mendapat tuduhan tindakan kriminal yang membuatnya ditangkap oleh penguasa. Pada bagian buku dikisahkan kalau Minke akan menjalani hukuman di luar pulau Jawa. Maka Minkepun harus berpisah dengan istri dan rekan serta para pendukungnya yang selama ini telah setia mendampimginya.



http://inarciss.blogspot.com/2008/04/jejak-langkah-pramoedya-ananta-toer.html

Tan Boen Kim dan Tragedi Sang Pelacur

Tan Boen Kim dan Tragedi Sang Pelacur


Jumat, 17 Mei 1912. Batavia gempar. Sesosok mayat wanita muda ditemukan membusuk.

Tubuh si mayat berada di dalam karung beras yang mengambang. Kedua tangannya terikat. Melihat keadaannya, tidak diragukan lagi bahwa wanita muda yang telah menjadi mayat itu adalah korban pembunuhan.

Pada bulan-bulan berikutnya, diketahui bahwa mayat itu bernama Fientje de Feniks. Seorang wanita Indo berumur sekitar dua puluh tahun yang berprofesi sebagai "nona goela-goela" alias pelacur. Ia tercatat sebagai anggota dari "roemah plesiran" yang dikelola oleh mantan pelacur kelas atas bernama Jeanne Oort.

Setelah dilakukan penyelidikan oleh polisi, pembunuhnya diketahui adalah seorang pria Belanda. Namanya Willem Frederik Gemser Brinkman. Pria ini dikenal sebagai seorang hartawan yang berstatus sebagai pegawai Gouvernement Bedrijven. Ia adalah pelanggan sang pelacur.

Brinkman membunuh Fientje karena cemburu. Asal mula permasalahannya muncul, ketika ia menggundik wanita itu dan menyuruhnya untuk tidak melacurkan diri lagi. Namun, Fientje tetap melakukan profesinya. Brinkman lalu memergoki nyai-nya bersama pria lain. Ia menjadi panas hati dan pembunuhan yang terencana pun terjadi.

Kasus ini kemudian dibawa ke Raad van Justitie. Proses peradilannya memakan waktu dua tahun. Brinkman dan puluhan saksi dihadirkan dalam persidangan. Sang tersangka dibela oleh pengacara terkenal Mr. Hoorweg. Dengan didampingi pembela yang piawai, Brinkman dinyatakan tidak bersalah.

Kasus yang menggemparkan ini terus menjadi pembicaraan masyarakat Batavia. Koran-koran terus memuatnya sebagai berita utama. Raad van Justitie pun mencatat proses persidangannya secara cermat dan teliti. Dengan data yang berlimpah, tak heran apabila kematian Fientje de Feniks ini menjadi satu di antara banyak kejadian nyata yang dibukukan sebagai novel pada dekade awal abad ke-20.

Memang, sastra Melayu-Rendah mulai membangun tradisi sejak munculnya Hikayat Nyai Dasima pada 1896. Kejadian nyata yang sensasional sering diangkat menjadi tema cerita dalam novel.

Umumnya, kejadian nyata itu berupa kasus-kasus pembunuhan. Hal ini berlangsung setidaknya hingga 1930-an. Tak aneh apabila novel-novel pada masa itu lazim mengidentifikasikan diri sebagai "satoe tjerita jang betoel soeda terdjadi".

Pembunuhan Fienjte de Feniks yang sensasional itu dibukukan menjadi novel berjudul Nona Fientje de Feniks, atawa djadi korban dari tjemboeroean. Edisi pertama novel ini diterbitkan tahun 1915. Penulisnya adalah seorang Tionghoa peranakan bernama Tan Boen Kim (TBK).

Di dalam buku Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: a Provisional Annotated Bibliography (1981), Claudine Salmon mengatakan bahwa TBK dilahirkan pada 1887. Tidak diketahui apakah TBK mendapat pendidikan formal atau tidak. Namun yang pasti, ia adalah seorang jurnalis yang berpengalaman.

Pria ini pernah menjadi direktur harian Tionghoa peranakan Thjioen Thjioe di Surabaya 1916. Setahun kemudian, ia bekerja sebagai editor mingguan Ien Po di Batavia. Tahun 1926, TBK hijrah ke Palembang selama beberapa bulan dan bekerja untuk mingguan Kiao Po.

Tulisan-tulisan TBK terkenal sangat tajam dan kritis. Ia sering keluar masuk penjara karena buah penanya. Tak jarang, ia dianiaya oleh orang-orang yang tidak meyukai tulisan-tulisannya. Oleh karena itu, TBK menjadi terkenal sebagai orang yang kenjang dibatjok dan keloear masoek pendjara.

Nona Fientje de Feniks adalah novel TBK yang paling sukses. Karyanya ini adalah perpaduan antara keakuratan data dan kelincahan bercerita. Kesuksesan novel tersebut telah membuat TBK menulis kelanjutan ceritanya: Njai Aisah atawa djadi korban dari rasia dan G. Brinkman atawa djadi korban perboeatannja. Kedua novel ini juga diterbitkan pada 1915.

Seperti halnya novel pertama, kedua sekuel ini pun diangkat dari kisah nyata yang merupakan kelanjutan kasus Fientje de Feniks. Ceritanya seputar kisah hidup Brinkman yang menjadi buronan polisi setelah dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan Fientje.

Setelah sekian lama menjadi pelarian karena melakukan perampokan-perampokan dan pembunuhan terhadap Aisah, istri dari salah satu anggota komplotannya, Brinkman akhirnya tertangkap dan diadili. Ia divonis hukuman mati. Di ujung cerita, ia dikisahkan melakukan bunuh diri di penjara. Kematian Brinkman mengakhiri cerita berantai Fientje de Feniks.

Kedua novel lanjutan ini juga terbilang sukses. Dengan latar belakang kesuksesan itu, pada 1916 TBK menggabungkan trilogi Fientje de Feniks-nya ke dalam satu buku. Akan tetapi, ceritanya tidaklah lagi berbentuk prosa melainkan dalam bentuk syair. Buku itu berjudul Sair Nona Fientje de Feniks dan sekalian ia poenja korban jang bener terdjadi di Betawi antara taon 1912-1915.

Cerita Fientje de Feniks yang ditulis oleh TBK memang fenomenal dan menginspirasi banyak penulis. Salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer. Ia mengadaptasi kisah nyata kematian pelacur Indo kelas atas yang legendaris ini ke dalam alur cerita Rumah Kaca (1988).

Dalam novel terakhir dari tetralogi Pulau Buru itu, nama Fientje de Feniks diubah menjadi Rientje de Roo. Wanita ini juga dikisahkan menjadi seorang pelacur yang dibunuh. Bedanya, Pram mengisahkan Rientje de Roo memiliki seorang pelanggan bernama Jacques Pangemanann yang menjadi tokoh utama cerita.

Ketika Rientje dipanggil untuk "dipakai", Pangemanann mendengar kabar bahwa bahwa sang pelacur telah mati. Tidak diceritakan siapa pembunuhnya dan bagaimana kelanjutan kasusnya. Cerita Rientje hanya dipaparkan sebatas hubungannya dengan tokoh utama. Akan tetapi, kisah kematian yang diselipkan ini turut membangun cerita utama Rumah Kaca secara keseluruhan.

Selain Pram, penulis lain yang tampaknya terinspirasi oleh karya TBK ini adalah seorang pria berkebangsaan Belanda bernama Peter van Zonneveld. Ia menulis buku De Moord op Fientje de Feniks (Pembunuhan Fientje de Feniks) yang diterbitkan pada 1992.

Kesuksesan trilogi Fientje de Feniks dan buku syairnya ternyata tidak berbanding lurus dengan kehidupan sang penulis. TBK menjalani tahun-tahun terakhir kehidupannya dalam kemelaratan. Ia diketahui tinggal menumpang dalam sepetak ruangan Jinde Yuan, salah satu kelenteng tertua di Jakarta hingga akhir hayatnya. Sungguh sangat ironis.

Untungnya, satu perhargaan tak terhingga diberikan kepada TBK oleh Leo Suryadinata. Sinolog terkemuka ini mengabadikan riwayat hidup TBK di dalam bukunya Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (1995).

Lewat buku yang berisi biografi orang-orang Tionghoa peranakan terkemuka ini, Leo menyatakan bahwa TBK adalah seorang Tionghoa peranakan yang unggul di bidangnya. Penilaian ini bukan tanpa alasan.

Kesuksesan menulis trilogi Fientje de Feniks menjadi salah satu pertimbangannya. Selain itu, produktivitas TBK dalam menulis juga menjadi nilai tambah. Ia tercatat telah menghasilkan lebih dari 20 karya selama periode 1912-1933. Umumnya, karyanya berupa novel yang diangkat dari kisah nyata.

TBK memang telah meninggal pada 1959. Namun, kisah tentang tragedi sang pelacurnya tetap hidup dan menginspirasi banyak orang.

IRAWAN SANTOSO S.B.

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik ”Khazanah” Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 9 Juni 2007