Monday, 20 December 2010

SEDULUR SIKEP BERHAK MENENTUKAN JALAN HIDUPNYA SENDIRI

SEDULUR SIKEP BERHAK MENENTUKAN JALAN HIDUPNYA SENDIRI





Gerakan Sedulur Sikep pada waktu itu bukanlah gerakan kekerasan, tetapi merupakan gerakan “pembangkangan pasif” terhadap kebijakan Pemerintah Belanda (negara); misalnya menolak membayar pajak dan kerja rodi. Gerakan ini mengajak pengikutnya untuk menarik diri dari kontrol Pemerintahan Kolonial Belanda dan melakukan pemurnian perilaku hidup. Gerakan Sedulur Sikep pada jaman Belanda merupakan salah satu bentuk resistensi petani.
Sejarah dan Sebaran

Keberadaan Sedulur Sikep saat ini tidak bisa dipisahkan dari gerakan yang dipelopori oleh Samin Surontiko pada awal 1890-an yang dimulai di bagian Selatan Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Samin Surontiko lahir pada tahun 1959 di Ploso Diren, Randublatung (Blora). Gerakan Sedulur Sikep yang dipelopori oleh Samin Surontiko ini pada awalnya tidak dipedulikan Belanda. Belanda baru mulai mewaspadai gerakan Sedulur Sikep ini setelah pada sekitar tahun 1904 gerakan ini bisa menghimpun pengikut sekitar 3000 orang. Samin Surontiko akhirnya dibuang ke Sawah Lunto (Sumatera Barat) pada tahun 1907.
Jadi asal muasal Sedulur Sikep bukanlah dari suatu keluarga tertentu yang memiliki hubungan kekerabatan, tetapi merupakan kumpulan petani yang berasal dari berbagai daerah di bagian timur Jawa Tengah yang menyatakan diri sebagai Wong Sikep dan mengikuri ajaran Ki Samin Surontiko.
Sedulur Sikep pada mulanya tersebar luas di Rembang, Pati, Kudus, Blora, Bojonegoro, Ngawi, Madiun, dengan konsentrasi terbesar di Kec. Kedungtuban dan Kec. Bapangan Kabupaten Blora. Sedulur Sikep, saat ini, diperkirakan hanya tersebar di Kudus, Pati, Bojonegoro, dan Blora. Permukiman Sedulur Sikep membaur dengan penduduk perdesaan di sekitarnya. Hanya di tempat-tempat tertentu permukiman Sedulur Sikep terpisah dari komunitas di sekitarnya; misalnya di Dusun Bombong Bacem, Desa Baturejo, Kec. Sukolilo. Rumah Sedulur Sikep pada umumnya masih mempertahankan model Jawa (sinom, joglo) dan berlantai tanah atau diplester semen biasa. Ruangan depan, selain ada ruang untuk tamu, biasanya dipergunakan untuk menyimpan hasil panen; padi atau palawija. Sebagian Sedulur Sikep telah mengubah rumahnya menjadi rumah modern.
Jumlah keseluruhan Sedulur Sikep tidaklah jelas, karena sistem pencacahan yang berlaku tidak memungkinkan pengidentifikasian Sedulur Sikep secara jelas. Agama Adam yang dianut Sedulur Sikep, sebagai peninggalan ajaran Samin Surostiko, bahkan tidak diakui sebagai salah satu agama atau kepercayaan dalam pencatatan administrasi negara atau proses sensus oleh aparat pemerintahan pada umumnya; sehingga semakin sulit menentukan jumlah Sedulur Sikep yang sebenarnya. Sebagai bagian dari strategi resistensi “warisan” pada jaman pemerintahan kolonial, Sedulur Sikep sangat peka terhadap upaya-upaya cacah jiwa. Seorang Sedulur Sikep akan menjawab “akeh” (banyak) bila ditanya tentang jumlah warga Sedulur Sikep di komunitasnya; karena pengalaman buruk akibat cacah jiwa pada masa kolonial dulu. Jumlah Sedulur Sikep di suatu tempat bisa terdiri dari beberapa keluarga saja, atau bisa sampai ratusan keluarga. Satu-satunya jumlah Sedulur Sikep yang tercatat adalah di Bombong-Bacem Desa Baturejo Kec. Sukolilo Kab. Pati. Pada Desember 2004, Sedulur Sikep di Bombong-Bacem memeriksa dan mencatat jumlah warganya sendiri; yakni 148 keluarga atau 706 jiwa[1].

Apa itu Sedulur Sikep ?

Banyak masyarakat yang salah dengan menyebut ”orang Samin” – dari nama Samin Surondiko -- untuk sebutan Sedulur Sikep. Sebutan yang tepat untuk paham yang mereka anut adalah “sikep”. Sikep adalah sikep laki-rabi atau perkawinan (bercinta). Jadi menurut Sedulur Sikep, inti kehidupan adalah perkawinan; yakni bertemunya antara vagina dan penis. Kesempurnaan hidup di dunia adalah kalau manusia sudah ketemu jodohnya, karena segala sesuatunya diciptakan sudah berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada laki-laki ada perempuan, dst. Kesempurnaan adalah bila keduanya sudah menjadi satu. Sedangkan pengertian ”samin” adalah sami amin (sama). Semua manusia adalah sama baik, derajat dan kehidupannya.
Menurut pandangan Sedulur Sikep, tugas dan tujuan utama manusia adalah sikep rabi (bercinta), dan menjalankan tatane wong (menciptakan keturunan), secara mligi (lugu, terus terang, jujur, apa adanya). Pada jaman kolonial, tuntutan agar bisa menjadi lugu dan murni inilah yang menyebabkan Sedulur Sikep menarik diri dari kontrol pemerintahan kolonial, menjauhi campur tangan dari pihak lain, serta mligi bertani. Selalu waspada terhadap campur tangan negara (kolonial) ini berlangsung sampai sekarang dalam bentuk ketidakpedulian dan kehati-hatian Sedulur Sikep dalam menerima berbagai program pemerintah.
Menurut ajaran sikep, menjadi lugu dan murni itu juga dipraktekkan dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan. Mereka meyakini bahwa hasil kerja pemenuhan sandang pangan harus bisa dijelaskan secara terbuka dan ”didunungke” (dijelaskan asal usulnya sampai pada wujudnya). Sikap terbuka dan didunungke ini menyebabkan semua hal harus dijelaskan dengan rinci dan logis. Apabila semua pekerjaan didunungke, maka hanya pekerjaan bertani lah yang tetap mligi (lugu) dan tidak menipu.
Tata cara ndunungake ini menyebabkan Sedulur Sikep, meskipun hampir semuanya buta huruf, memiliki analisis bahasa yang tajam terhadap semua hal. Kebiasaan ndunungake (membuktikan dan merinci semua hal sampai pada wujudnya) menyebabkan sebagian besar Sedulur Sikep sangat cakap menganalisis dan berbahasa jawa, sehingga rasa percaya diri Sedulur Sikep kebanyakan sangat besar; tidak sebagaimana orang-orang buta huruf dan tidak terpelajar di komunitas lain yang cenderung rendah diri dan tidak dihargai martabatnya.
Sebagai upaya untuk tetap murni dan mligi, terdapat berbagai ajaran moral yang selalu dituturkan oleh orang tua kepada anak Sedulur Sikep. Ajaran-ajaran itu antara lain melarang (adeg-adeg) dan agar warganya menjauhi: drengki, srei, panasten, dahwen, dan kemeren. Bedok, colong, pethil, jumput, nemu juga merupakan larangan. Seorang wong (manusia) sebaiknya tidak mengumbar : ucapan, tindakan, dan tatanan. Setiap wong (manusia) juga harus: rukun kepada suami, rukun kepada anak, rukun kepada orang tua, rukun kepada sesama manusia di mana saja. Sedulur Sikep dilarang keras bersuami dua dan berdagang[2].

Struktur Sedulur Sikep.

”Wong iku duwe negarane dhewe-dhewe” (setiap orang punya negaranya/keluarganya sendiri-sendiri); demikian kata salah seorang narasumber di Ngawen-Sukolilo. Jadi, menurut ajaran sikep, manusia telah menjadi wong sepenuhnya jika telah sikep laki rabi (bercinta); artinya telah memiliki keluarga. Jadi kuasa atau orientasi tertinggi wong sikep adalah ”negaranya sendiri” (keluarganya sendiri) dan tidak tertarik (kemeren) kepada kepunyaan orang lain.
Ajaran di atas merupakan dasar penghargaan atas individu yang luar biasa. Karena itu Sedulur Sikep memiliki semangat egalitarian yang sangat tinggi. Sedulur Sikep tidak mengenal struktur tertentu atau model keterwakilan tertentu. Setiap orang mewakili dirinya sendiri. Semua hal harus dibicarakan secara bersama-sama. Tidak ada ketua adat, pemimpin adat, atau tetua adat. ”Tuwa ki tuwa tuwane wicara” (tua itu tua isi pembicaraannya); jadi yang muda pun akan menjadi tua bila isi pembicaraannya ”tua” dan bisa menjadi panutan. Karena itu, seringkali Sedulur Sikep akan menjawab ”siji” (satu) bila ditanya umurnya; sebagai strategi untuk menghindari dominasi senioritas yang anti egalitarian.
Pada awal atau akhir pembicaraan, seringkali kalimat berikut ini digunakan: ”iku nek aku, ya embuh nek wong liyo” (itu kalau menurut saya, ya tidak tahu kalau menurut orang lain). Ini merupakan penghargaan yang tinggi terhadap ”kebenaran” pendapat orang lain dan menyadari akan hak-hak orang lain.
Menurut Sedulur Sikep, sebutan ”komunitas” tidak tepat kalau ditujukan kepada Sedulur Sikep. Karena pengertian ”komunitas” adalah suatu kumpulan orang yang memiliki sistem dan struktur tertentu; memiliki ketua dan berbagai perangkat lainnya. Sedulur Sikep adalah kumpulan orang-orang yang masing-masing berdiri sendiri, mempunyai miliknya sendiri-sendiri, dan bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Struktur yang dimilikinya adalah keluarganya sendiri.

Realitas-Realitas

Perubahan jaman, tekanan kelembagaan negara yang terus menerus, tekanan/dominasi masyarakat sekitarnya, menyebabkan timbulnya berbagai keseimbangan baru dalam kehidupan Sedulur Sikep di berbagai tempat. Meskipun berbagai ajaran (moral) Sedulur Sikep selalu diikhtiarkan untuk dikukuhi, tetapi interpretasi yang berbeda-beda – sebagai akibat “pengaruh luar” ini – ajaran sikep sering terjadi di antara Sedulur Sikep sendiri.
Meskipun bertani tetap dianggap pekerjaan yang paling mligi, tetapi variasi pekerjaan telah banyak dijalani oleh Sedulur Sikep. Tukang bangunan, sopir dan kerja upahan membantu pekerjaan sawah orang lain menjadi pekerjaan tambahan sebagai upaya menambah sandang pangan. Orang-orang Nggaliran (Sukolilo-Pati) banyak yang telah merasakan bekerja sebagai TKI di Malaysia. Profesi pedagang tetap menjadi pantangan bagi Sedulur Sikep. Televisi, radio, kulkas, magic jare adalah berbagai peralatan elektronik yang umum dijumpai di rumah-rumah Sedulur Sikep. Banyak keluarga Sedulur Sikep yang telah memiliki sepeda motor dan pompa air (sanyo); bahkan memiliki mobil.
Banyak keluarga Sedulur Sikep yang telah “kalah”; akibat-akibat tekanan yang terus-menerus ini. Banyak Sedulur Sikep yang telah meninggalkan cara berpakaiannya; tidak lagi mengenakan celana potong dan ikat kepala. Banyak Sedulur Sikep yang telah tidak menjalankan ajaran sikep lagi, dan telah memeluk agama resmi tertentu yang direstui pemerintah. Ada Sedulur Sikep yang telah pindah agama Islam dan naik haji. Beberapa keluarga Sedulur Sikep, selain menggunakan tata cara perkawinan sikep, juga menggunakan tata cara pernikahan berdasarkan agama tertentu. Akan tetapi, sebaliknya, ada juga Sedulur Sikep yang telah merevitalisasi dirinya sendiri; kembali meneguhi ajaran sikep setelah cukup lama meninggalkan ajaran sikep. Ada juga satu keluarga besar kiai, di Sukolilo-Pati, yang berikrar dan berubah menjadi Sedulur Sikep.
Ajaran-ajaran sikep, pada beberapa keluarga Sedulur Sikep, telah mulai luntur penerapannya. Ajaran (moral) untuk menjauhi: drengki, srei, panasten, dahwen, dan kemeren mulai ditinggalkan oleh beberapa keluarga. Rasa drengki dan kemeren mulai terjadi di antara beberapa keluarga Sedulur Sikep; pergunjingan soal diterima atau ditolaknya bantuan telah menjadi pergunjingan panas, serta tidak dilihat secara arif seperti dulu lagi sebagai hak setiap keluarga untuk menerima atau menolak bantuan.

Tekanan Negara dan Kehidupan Sekitar.

Para tokoh pendiri Negara Indonesia sangatlah luar biasa. Kesadaran akan pluralitas bangsa dan kuatnya hak asal-usul diakui dengan tegas dalam Pasal 18 UUD 1945. Pengakuan terhadap keragaman agama dan kepercayaan disuratkan dalam UUD 1945 Pasal 29, yang pada intinya mengakui hak setiap warga negara untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing.
Sayangnya kesadaran tinggi para tokoh pendiri negara ini, tidak dipahami benar oleh para pelaksana pemerintahan dari pusat sampai yang terendah (desa). Berbagai perundangan sebagai turunan dari UUD 1945 dan berbagai peraturan praktis di tingkat lapangan malahan mengijinkan dominasi agama-agama tertentu, dan mengabaikan keberadaan agama minoritas seperti agama Adam yang dianut oleh Sedulur Sikep.
Sampai saat ini tidak ada satu instansipun yang mengakui agama yang dianut Sedulur Sikep (agama Adam) sebagai salah satu agama resmi. Berbagai penganut agama yang dominan (Islam, Kristen, dll.) di sekitar permukiman Sedulur Sikep dibiarkan begitu saja secara agresif melakukan dakwah yang sistematis dengan sasaran Sedulur Sikep, yang sebenarnya telah memiliki agama Adam. Tata cara perkawinan Sedulur Sikep, sampai sekarang, masih tidak bisa dicatatkan ke Catatan Sipil; untungnya pada umumnya Sedulur Sikep tidak peduli terhadap adanya surat nikah. Pada tanggal 7 Agustus 1989, 117 pasangan Sedulur Sikep dinikahkan masal dengan tata cara agama Budha di Bombong-Bacem (Baturejo-Pati); sampai sekarang pun KTP Sedulur Sikep di Bombong-Bacem kebanyakan masih tersurat sebagai beragama Budha. Pemaksaan untuk masuk agama dominan tertentu masih terus berlangsung sampai sekarang.
Dulu, Sedulur Sikep tidak peduli dengan tanda pengenal; baik itu kartu tanda penduduk (KTP), surat ijin mengemudi (SIM), dan kartu tanda pengenal yang lain. Akan tetapi dengan semakin tingginya frekwensi perjalanan – karena tuntutan pekerjaan – dan perlunya tanda pengenal untuk mengatur hak kepemilikan (sertifikat, girik, akta jual beli, dll.), maka kartu tanda pengenal menjadi sangat penting artinya untuk Sedulur Sikep. Tanpa kartu tanda pengenal, Sedulur Sikep tidak akan bisa membeli sepeda motor dan mengurus surat-suratnya. Tanpa SIM, polisi akan menangkap Sedulur Sikep yang mengendarai kendaraan bermotor. Sayangnya kolom agama pada tanda pengenal harus diisi dengan salah satu agama resmi yang diakui pemerintah; agama Adam tidak boleh dicantumkan dalam kolom agama di tanda pengenal itu.
Laki-laki Sedulur Sikep memiliki ciri khas dalam bepergian; yakni menggunakan ikat kepala dan memakai celana potong di bawah lutut; karena salah satu pantangan Sedulur Sikep adalah memakai celana panjang. Sebagian besar kantor pemerintahan mengganggap bahwa cara berpakaian yang demikian adalah tidak pantas dan kurang sopan.
Salah satu komunitas Sedulur Sikep di Sukolilo pernah merasakan pengalaman pahit dalam berhubungan dengan penduduk sekitarnya. Karena di permukiman Sedulur Sikep itu masih baru satu generasi (baru ada beberapa keluarga yang menganut ajaran sikep), maka intensitas hubungan dan saling kesepahaman dengan penduduk sekitarnya belumlah terlalu baik. Pada saat salah satu warga Sedulur Sikep di permukiman itu meninggal, penduduk melarang mayat Sedulur Sikep itu dimakamkan di kuburan umum, karena – mungkin – dianggap memiliki agama atau kepercayaan yang tidak lumrah..
Tekanan-tekanan lembaga negara, khususnya di tingkat bawah (kabupaten, kecamatan, desa, instansi sipil), dan tekanan-tekanan masyarakat sekitar terhadap Sedulur Sikep masih akan terus berlangsung. Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) para Sedulur Sikep. Seharusnya Negara Indonesia tidak boleh membiarkan pelanggaran HAM ini terus terjadi kepada Sedulur Sikep.

Miskin dan kaya

Telah diperikan di atas bahwa struktur tertinggi Sedulur Sikep adalah keluarga. Tujuan hidup Sedulur Sikep adalah sikep rabi. Maknanya adalah bahwa keluarga (suami-istri-anak) adalah nilai kehidupan tertinggi bagi Sedulur Sikep; tidak ada lagi tujuan hidup atau ambisi yang lain. Setiap keluarga Wong Sikep akan mengurusi ”negaranya”/keluarganya sendiri-sendiri. Kalau setiap keluarga baik-baik dan tenteram maka semuanya akan baik-baik saja.
”Cukup ora cukup kuwi terserah wonge dhewe-dhewe” (kurang atau kecukupan harta itu terserah masing-masing orang). Kebutuhan kalau dituruti tidak akan pernah ada cukupnya. Salah seorang narasumber Sedulur Sikep berpendapat bahwa boleh-boleh saja pemerintah membuat standar tentang miskin atau kayanya seseorang; tetapi yang paling penting, soal miskin dan kaya, adalah pada orang itu sendiri.
Keluhuran dan kesederhanaan formulasi tujuan hidup, yakni keluarga, dan berbagai adeg-adeg (larangan moral) menyebabkan kontrol diri Sedulur Sikep pada umumnya sangat baik. Meskipun tidak punya sawah, menyewa sawah selalu diupayakan agar tetap bisa bertani; karena itu etos kerja Sedulur Sikep pada umumnya cukup baik. Karena itu kelakuan-kelakuan yang gegabah (menjual gabah sembarangan, menelantarkan anak istri, mempunyai ambisi yang berlebihan, dll.) sangat jarang dijumpai pada Sedulur Sikep. Ruang tamu biasanya menyediakan cadangan pangan untuk keluarga. Kesederhanaan cita-cita hidup menyebabkan kebanyakan Sedulur Sikep tidak terlalu ngoyo dalam mengejar kehidupan dunia.

Kenyataan Berbagai Program Pembangunan

Sebagaimana wilayah perdesaan yang lain, desa-desa di mana Sedulur Sikep tinggal merupakan sasaran berbagai macam program pembangunan perdesaan yang diselenggarakan oleh pemerintah, baik program-program yang bersifat fisik maupun berbagai program sosial kemasyarakatan. Berbagai program pembangunan perdesaan ini semakin banyak dan bervariasi penyelenggaraannya pada saat Orde Baru berkuasa. Pemerintah meluncurkan berbagai macam program pembangunan pertanianl, khususnya ke daerah-daerah perdesaan yang berpotensi persawahan. Berbagai program pemerintah bidang pertanian itu antara lain bimbingan massal (BIMAS) yang diselenggarakan pada tahun 1970-an sebagai bagian dari revolusi hijau (green revolution), intensifikasi massal (INMAS) yang juga diselenggarakan pada tahun 1970-an, intensifikasi khusus (INSUS) yang diselenggarakan pada akhir tahun 1980-an, penyuluhan pertanian reguler (pengenalan bibit unggul, percontohan pertanian, pengenalan berbagai jenis input pertanian) yang terus berlangsung sampai saat ini, kredit usaha tani (KUT) reguler. Pada umumnya Sedulur Sikep sangat hati-hati dalam menanggapi berbagai program pertanian pemerintah ini, sebagaimana kehati-hatian Sedulur Sikep dalam berhubungan dengan institusi negara. Meskipun secara umum cara bertani Sedulur Sikep telah menggunakan cara-cara baru yang diintroduksikan program revolusi hijau (penggunaan bibit unggul dan berlabel baik untuk padi dan palawija, penggunaan pupuk buatan berimbang, penggunaan pestisida, dll.), tetapi berbagai pengetahuan cara bertani yang baru ini diperoleh dari masyarakat sekitarnya, dan bukan secara langsung dari institusi negara.
Untuk memulihkan sektor pertanian, pemerintah meluncurkan program kredit usaha tani (KUT) besar-besaran setelah reformasi 1998. Program ini, secara nasional, dianggap gagal memulihkan sektor pertanian; bahkan menyisakan kredit pertanian yang gagal dibayar atau diselewengkan dalam jumlah sangat besar. Program KUT pasca reformasi ini juga “membanjiri” desa-desa tempat Sedulur Sikep tinggal. Respon Sedulur Sikep terhadap program ini sangat bervariasi. Sebagian besar menolak program ini, karena mereka merasa masih bisa menanam padi tanpa mengandalkan KUT sebagai modal tanam. Sebagian lagi menerima program ini. Pada umumnya penerapan program KUT di lapangan banyak yang melenceng dari yang seharusnya. Penyelewengan pelaksanaan program KUT ini bisa berupa jumlah kredit yang diterima petani menjadi lebih kecil dari seharusnya atau bisa berwujud penggelapan kredit/pengembalian kredit oleh pengurus koperasi atau LSM yang mengelola KUT. Sedulur Sikep yang menerima KUT banyak yang menerima kredit jauh lebih kecil dari yang seharusnya. Sedulur Sikep yang menerima program KUT, kebanyakan, telah mengembalikan KUT yang dipinjamnya. Tetapi tidaklah jelas apakah uang pengembalian KUT itu oleh pengelola KUT telah disetor ke kas negara atau tidak.
Sedulur Sikep sering menemui layanan program-program pertanian yang diselenggarakan aparat negara di lapangan melenceng dari rencana program yang sesungguhnya. Berbagai program pertanian ini dipersepsikan beragam oleh Sedulur Sikep. Meskipun secara umum Sedulur Sikep sangat menghargai pendapat setiap orang, apakah mau menerima atau menolak suatu program, tetapi harus diakui bahwa berbagai program pertanian yang diselenggarakan oleh negara ini – yang pelaksanaan lapangannya telah menyeleweng dari yang seharusnya direncanakan – telah menyebabkan friksi-friksi kecil di antara para Sedulur Sikep.
Meskipun pada umumnya Sedulur Sikep lebih senang bekerja sama dan percaya kepada sesama Sedulur Sikep, termasuk dalam mengerjakan tanah pertanian, tetapi upaya-upaya bekerja sama dengan ”orang lain” dalam bidang pertanian mulai dilakukan oleh Sedulur Sikep. Sedulur Sikep di Bombong Bacem mulai membentuk kelompok tani – yang anggotanya termasuk ”orang luar” – yang aktif mengerjakan berbagai kegiatan pertanian secara bersama-sama; misalnya dalam kerjasama mengelola pompa air sebagai alat bantu pengairan di musim kemarau. Kelompok-kelompok tani ini, bersama-sama dengan berbagai kelompok tani yang lain, telah membentuk suatu organisasi tani yang bernama Serikat Petani Pati (SPP). SPP sangat kritis terhadap berbagai program pertanian Dinas Pertanian Pati yang kurang tepat atau dianggap merugikan petani. Baru-baru ini SPP sangat keras mengkritisi program bantuan bibit padi yang digulirkan oleh Dinas Pertanian Pati.
Bantuan langsung tunia (BLT) dan beras untuk rakyat miskin (Raskin) merupakan dua buah program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan yang sangat populer setelah tahun 2000. BLT merupakan bentuk pengalihan subsidi minyak kepada orang miskin, karena ”keterpaksaan” pemerintah menaikkan harga minyak di pasaran. Telah kita ketahui bersama, efek kenaikan harga minyak, khususnya harga minyak tanah dan harga bahan bakar kendaraan (bensin dan solar) telah menyebabkan efek domino yang menyebabkan meningkatnya jumlah orang miskin dan terancam miskin di Indonesia. BLT memberikan bantuan tunai kepada setiap keluarga miskin sejumlah Rp. 300.000,00 per tiga bulan kepada setiap keluarga yang digolongkan miskin. Sedulur Sikep merespon BLT dengan tanggapan yang bervariasi. Sebagian besar menolak bantuan ini, karena sudah merasa cukup dan tidak perlu mendapat bantuan. Sebagian lagi bersedia menerima BLT.
Raskin diluncurkan oleh pemerintah sebagai bagian dari subsidi untuk pengentasan kemiskinan. Program ini memberikan sumbangan beras sejumlah 10 kg per bulan untuk setiap keluarga yang digolongkan miskin. Sedulur Sikep memberikan respon yang beragam terhadap program Raskin. Sebagian besar menolak, karena merasa bahwa gabah yang dimilikinya cukup, dan tidaklah pantas orang yang gabah untuk keluarganya cukup menerima bantuan beras lagi. Sebagian Sedulur Sikep ada yang bersedia menerima Raskin. Akan tetapi praktik program ini sangat berbeda ketika di lapangan. Bukannya 10 kg beras untuk keluarga miskin per bulan, tetapi bantuan Raskin ini malahan diratakan untuk hampir seluruh keluarga, baik yang kaya maupun yang miskin, dengan setiap keluarga hanya mendapatkan 2 kg per bulan. Di desa yang lain setiap keluarga hanya mendapatkan 5 kg setiap bulan. Ada dugaan kuat, aparat desa menyelewengkan sebagian bantuan Raskin untuk dirinya sendiri.
Salah satu program pembangunan yang sampai sekarang kuat teringat di kalangan Sedulur Sikep Bombong Bacem (Baturejo) adalah program komunitas adat tertinggal (KAT) yang digulirkan oleh Departemen Sosial (Depsos). Program ini diperuntukkan berbagai komunitas masyarakat yang dianggap terasing, terpencil dan ketinggalan dibandingkan dengan berbagai komunitas lain di Indonesia. Sebenarnya program ini sudah digulirkan Depsos sejak pertengahan 1970-an; yang pada awalnya sasaran program ini adalah ”suku terasing”. Pada tahun 1987 istilah ”suku terasing” diubah menjadi ”masyarakat terasing”. Setelah reformasi 1998, istilah ”masyarakat terasing” diubah menjadi ”komunitas adat terpencil”.
Sedulur Sikep memperoleh program KAT, karena Sedulur Sikep dianggap terpencil adat istiadatnya; dianggap memiliki budaya yang tidak umum. Program KAT ini, yang mulai dilaksanakan di Bombong Bacem pada tahun 2004, cukup kuat diingat oleh Sedulur Sikep di Bombong Bacem, karena kontroversi yang meliputi kelangsungan program ini Bombong Bacem. Dari beberapa permukiman Sedulur Sikep yang menyebar di bagian timur Jawa Tengah, hanya Sedulur Sikep di Bombong Bacem yang menjadi sasaran program KAT.
Program KAT meliputi beragam kegiatan: perbaikan sarana fisik, dukungan perbaikan tempat tinggal, pengadaan sarana produksi pertanian (saprotan), dan dukungan kesejahteraan (beras, dll.). Sebagaimana berbagai program pemerintah yang lain, Sedulur Sikep menanggapi KAT secara berbeda; terdapat 3 kelompok pandangan terhadap program KAT. Golongan pertama adalah keluarga-keluarga yang benar-benar menolak program KAT, karena mereka menolak Sedulur Sikep disebut sebagai masyarakat terpencil dan terasing. Golongan kedua adalah keluarga-keluarga yang menyetujui sebagian program KAT, terutama yang berkaitan dengan perbaikan fasilitas umum. Golongan ketiga adalah keluarga-keluarga yang menerima program KAT sepenuhnya.
Program KAT ditujukan untuk 123 keluarga Sedulur Sikep di Bombong Bacem. Akan tetapi 97 keluarga Sedulur Sikep menolak program ini; dan hanya 26 keluarga yang menerima sepenuhnya program KAT. Bantuan program KAT (pasir, semen, bantuan pangan, saprotan, dll.) akhirnya menumpuk pada ke-26 keluarga ini. Pengelolaan program ini – yang dilakukan aparat pemerintah – tidaklah terlalu transparan; tidaklah jelas benar jumlah dan jenis bantuan program KAT yang seharusnya diberikan kepada Sedulur Sikep.
Meskipun secara umum Sedulur Sikep sangat menghargai otoritas keluarga masing-masing, tetapi adanya program KAT di Bombong Bacem ini telah menimbulkan friksi di antara Sedulur Sikep. Meskipun tidak sampai menimbulkan konflik yang keras, program KAT membuat friksi-friksi di Sedulur Sikep yang sedikit merenggangkan hubungan persaudaraan di antara Sedulur Sikep.
Program-program reguler pemerintah untuk ibu-ibu dan anak-anak juga ”membanjiri” desa-desa di mana Sedulur Sikep tinggal; program pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK), keluarga berencana (KB) dan pemasangan kontrasepsi, pos pelayanan terpadu (Posyandu), tanaman obat keluarga (TOGA), imunisasi anak, pemberian vitamin tambahan pada anak, tawaran beragam arisan, dll. Para perempuan Sedulur Sikep pada umumnya menolak berbagai program ini. Bagi mereka, yang terpenting adalah mengurus dan membuat baik ”negaranya” (keluarganya) sendiri. Kalau keluarganya sendiri sudah baik (suami-istri-anak), maka berbagai program dari luar ini tidak perlu lagi. Daripada mengikuti berbagai program yang tidak jelas ”dununge” ini lebih baik mengurus keluarga sendiri atau membantu suami menggarap sawah. Berbagai program dari luar ini ditakutkan akan mempengaruhi keluguan Sedulur Sikep dan anak cucunya.
Bersekolah formal adalah salah satu pantangan untuk anak-anak Sedulur Sikep. Sedulur Sikep mengganggap bahwa ajaran-ajaran di sekolah akan mempengaruhi seorang anak sehingga nantinya tidak mungkin lagi dia akan mligi. Pemerintah sangat gencar mensosialisasikan kepada keluarga-keluarga Sedulur Sikep. Banyak juga anak-anak Sedulur Sikep yang telah ”kalah” dan terpaksa bersekolah agar dianggap lumrah.
Meskipun selalu hati-hati terhadap berbagai program pembangunan negara, pada umumnya Sedulur Sikep – saat ini – memahami pentingnya negara. Pajak bumi dan bangunan (PBB) pada umumnya telah diterima sebagai pungutan resmi yang ”dununge” jelas. Di Balong (Blora) pemerintah telah memberikan bantuan pompa air, sehingga pada musim kemarau sawah masih tetap bisa ditanami; Sedulur Sikep di Balong (Blora) dan masyarakat sekitar membentuk kelompok untuk mengelola pompa air ini.
Telah sangat banyak dan beragam jenis program pembangunan perdesaan yang telah dirasakan Sedulur Sikep. Berbagai program ini ada yang cukup baik, tetapi ada juga program-program tertentu yang memiliki filosofi yang salah. Sayangnya, tidak banyak program pembangunan yang pelaksanaannya di lapangan sesuai dengan yang direncanakan di tingkat pusat. Banyak contoh program pembangunan yang pelaksanaannya di lapangan penuh penyelewengan dan kolusi. Berbagai program pembangunan ini, apalagi yang pelaksanaannya banyak penyelewengan, sangat mempengaruhi perkembangan kekerabatan antar Sedulur Sikep. Program-program pembangunan ini, baik yang bermanfaat maupun yang tidak jelas manfaatnya, merupakan tekanan dari luar yang mempengaruhi keutuhan Sedulur Sikep; ini seharusnya dipahami oleh pemerintah.
Sikap mligi (lugu) dan kritis terhadap hal-hal dari luar, khususnya berbagai campur tangan negara, seharusnya dilihat sebagai potensi; dan bukannya dilihat sebagai hal yang tidak lumrah. Sedulur Sikep berhak memilih tanpa tekanan, apakah akan mengikuti berbagai program pembangunan pemerintah itu atau memilih cara hidup yang telah dikukuhinya selama ini. Cara hidup Sedulur Sikep yang mligi (lugu) dalam menghadapi hidup dan mandiri tidak menggantungkan pertolongan orang lain, termasuk pemerintah, merupakan contoh yang langka dalam era merosotnya perekonomian masyarakat yang selalu mengharapkan subsidi dari pemerintah. Sikap kritis Sedulur Sikep terhadap program-program pemerintah seharusnya dilihat sebagai koreksi terhadap tata cara dan birokrasi pelaksanaan program yang memang buruk; dan bukannya dilihat sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap program pemerintah.

Penutup.

Sedulur Sikep adalah contoh ”komunitas” adat yang tetap mampu mempertahankan eksistensinya – dengan formulasi tujuan hidup yang sederhana dan luhur – di tengah-tengah perkembangan peradaban dunia yang tidak menentu. Seharusnya tata cara kehidupan Sedulur Sikep yang luhur ini – tanpa kegelisahan dan kerakusan sumberdaya – menjadi contoh hidup untuk masyarakat yang lain.
Sayangnya negara tidak memahami makna ”mutiara” ini. Aparatus negara terus menggelontorkan program-program pembangunan yang tidak dumunung filosofi dan manfaatnya. Pelaksana-pelaksana lapangan, kebanyakan, gagal melaksanakan berbagai program pembangunan ini dengan sebenar-benarnya.
Penyelewengan-penyelewengan dan berbagai deviasi penerapan program pembangunan ini, mau tidak mau, berpengaruh (buruk) terhadap keutuhan persaudaraan Sedulur Sikep. Pengaruh buruk ini, kalau dibiarkan terjadi terus, akan semakin menyurutkan keutuhan Sedulur Sikep.
Penyusunan konsep pembangunan dan aplikasinya terhadap Sedulur Sikep seharusnya bisa menjadi bahan introspeksi aparat negara. Filosofi pembangunan harus diselidiki lebih dalam; pembangunan tentunya bukan hanya penggelontoran proyek-proyek yang tidak jelas maknanya. Penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM) harus ditempatkan pada prioritas tertinggi.

Oleh : Restu Achmaliadi dan George Sitania

Sedulur Sikep: Perlawanan Tanpa Huru Hara

Sedulur Sikep: Perlawanan Tanpa Huru Hara



Petang menjelang. Ufuk barat yang berbatas hutan jati benderang oleh warna merah ketika kami, saya dan Kahono, memasuki gerbang kampung Blimbing, Sambongrejo, Blora, Jawa Tengah. Kampung kecil ini tampak senyap menyambut sore. Satu dua keluarga tampak bercengkrama di beranda rumah. Oleh dua perempuan paruh baya yang tengah mencari kutu rambut, kami ditunjukkan rumah sesepuh kampung. “Belakang situ, lewat jembatan ada rumah besar berlantai keramik,” kata salah satunya dengan bahasa Jawa ngoko (kasar). Sejenak saya terdiam…inikah kampung kediaman masyarakat penganut saminisme? Orang-orang yang saling menyebut sedulur dan berbahasa jawa kasar pada sesamanya, tidak beragama dan enggan membayar pajak seperti digambarkan dalam banyak buku?
Ada tiga rumah besar di sana. Arsitekturnya serupa; lantai ditinggikan, berdinding kayu seluruhnya dan berderet memanjang ke belakang seolah beberapa rumah ukuran sedang disambung menjadi satu. Model “serotong” atau “bekuk lulang”, itu yang kami tahu kemudian. Ketika kami mengetuk rumah pertama, terdengar sapaan dari beranda rumah kedua. “Cari siapa, Mas?”. Sesosok lelaki tua bertubuh kecil tersenyum ramah. “Mbah Karmidi. Apa benar di sini rumah beliau” tanya saya dalam bahasa Jawa halus. “O, saya sendiri. Mari sini, rumah saya yang sebelah sini,” jawabnya dalam logat halus juga, sembari melangkah turun menyambut kami. Sosoknya berbalut celana tanggung hitam menutup kaki setinggi lutut, atasan kaus lengan pendek warna biru gelap dan kepala dibebat udeng (ikat kepala) warna hitam dengan stilir batik di bagian pinggirnya. “Mari masuk,” dengan ramah beliau membimbing kami memasuki rumahnya.
Karmidi Karsodihardjo (81), kami menyapanya Mbah Midi, adalah salah seorang sesepuh masyarakat Samin di kabupaten Blora, terutama di desa Sambongrejo, kecamatan Sambong. Saya mengetahui nama beliau dari sebuah artikel yang dituliskan tiga tahun lalu di sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta. Kampung Blimbing adalah salah satu kantung komunitas Samin yang cukup besar di kabupaten Blora. Menurut penuturan Mbah Midi kemudian, sekurangnya ada 200 kepala keluarga penganut Samin di kampung ini.
Merunut sejarahnya, Samin adalah ajaran yang menumbuhkan inspirasi perlawanan kultural pada penjajah Belanda pada paruh akhir tahun 1800-an, sebuah fragmen sejarah yang kerap disebut Geger Samin Di kampung Blimbing inilah kami bertemu dengan salah seorang pewarisnya.
********
Menurut Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya The Samin Movement (1960), ajaran Samin tumbuh tahun 1890-an dan berakar di Randublatung, sebuah kota kecamatan kecil yang dikelilingi lebat hutan jati 25 kilometer sebelah tenggara kota Blora. Mulanya ajaran ini disiarkan oleh Samin Surasentiko,—dari namanya pula ajaran dan gerakan tersebut kemudian mendapatkan sebutan Samin–seorang petani jelata dan buta aksara kelahiran Ploso Kedhiren, kecamatan Randublatung, Blora tahun 1859. Konon, sosok ini sebenarnya adalah seorang bangsawan bernama Raden Kohar yang kemudian menyamar menjadi rakyat jelata untuk menyebarkan ajaran yang disebutnya “agama Jawa” atau “agama Adam”. Mulai tahun 1890, Samin Surasentiko (saat itu usia 31 tahun) mulai menyebarkan ajarannya kepada orang-orang sedesanya.
Pengikut Samin meyakini bahwa jauh sebelum kedatangan orang-orang asing, dari Cina, India, Arab dan Eropa, dengan membawa ajaran agama masing-masing, di Jawa sudah terdapat agama tersendiri. “Ya agama Jawa itu. Agama Adam,” ujar Mbah Karmidi menerangkan. Keyakinan ini menekankan perlunya dua nilai utama dalam kehidupan, yakni kejujuran dan kebenaran. Inti ajaran Samin yang mengatur tata laku keseharian diabstraksikan dalam konsep Pandom Urip (Petunjuk Hidup) yang mencakup “angger-angger pratikel” (hukum tindak tanduk), “angger-angger pengucap“ (hukum berbicara), serta “angger-angger lakonana” (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Hukum yang pertama berbunyi “Aja dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput, mbedog colong.” Maksudnya, warga samin dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil milik orang.
Hukum ke dua berbunyi “Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pengucap saka sanga bundhelane ana pitu.” Maknanya, orang harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain yang mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Hukum yang paling akhir berbunyi “Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokale dilakoni.” Warga Samin senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat “ bagaikan orang mati dalam hidup”.
Adapun yang menarik ialah bagaimana filosofi agama Adam ini membentuk logika berpikir dalam benak orang Samin yang bisa terlihat dari pemaknaan bahasanya. Misalnya seorang Samin ditanya “umur kakek berapa?” Ia akan menjawab “Satu untuk selamanya”. Artinya umur manusia itu satu. Umur adalah hidup dan hidup adalah nyawa. Manusia hanya punya satu umur dan nyawa. Juga yang aneh dalam tradisi bertamu, mereka tidak mengenal kata monggo (kata yang mempersilahkan tamu untuk duduk atau masuk), karena menurutnya mereka jika seseorang ingin duduk, yah duduk saja. Juga bagi orang Samin tak perlu menyatakan terimakasih (matur nuwun dalam bahasa Jawanya) karena pihak pemberi memberikan sesuatu berdasarkan kemauannya sendiri, bukan berdasarkan permintaan dari seseorang lainnya.
Logika pemaknaan bahasa yang lugas inilah yang membawa gerakan spiritual ini menjadi sebentuk perlawanan pada kesewang-wenangan penjajahan. Beberapa tahun sebelum munculnya gerakan Samin, pemerintah kolonial Belanda melakukan pematokan paksa lahan-lahan pertanian milik rakyat Blora untuk perluasan lahan hutan jati. Rakyat tidak bisa berbuat banyak, juga ketika mereka dibebani pajak atas tanah, ternak dan air serta pembatasan pemanfaatan hasil hutan oleh Belanda pada awal tahun 1900-an. Tindakan ini menyudutkan rakyat pada kehidupan yang penuh tekanan dan ketidakberdayaan. Pada kondisi sosial seperti itulah ajaran Samin datang, seolah membawa penawar.
Sejalan dengan ajaran dasar Samin yang menyatakan “Jawa adalah hak orang Jawa”, dan pandangan bahwa manusia diciptakan setara, tidak ada hak untuk mengungguli satu di atas yang lain, maka pengikut Samin menolak adanya perbedaan status dalam masyarakat dan penjajahan. Mereka tidak mengakui jabatan struktural dan hirarki sosial, yang salah satunya diekspresikan dengan menolak berbahasa krama (Jawa halus) dan saling menyebut sesamanya “sedulur” (saudara). Dengan ajaran Samin para petani jelata seolah menemukan bahasa bersama untuk melawan tindakan sewenang-wenang pemerintah kolonial.
Alih-alih melakukan gerakan bersenjata, para pengikut Samin mewujudkan perlawanan mereka dengan penolakan membayar pajak, mangkir dari kewajiban meronda dan kerja bakti. Aksi ini dilengkapi dengan pembangkangan kultural berupa penolakan menggunakan bahasa krama (Jawa halus), baik pada sesama mereka maupun perangkat pemerintah kolonial Belanda, termasuk pamong desa dan mandor hutan. Geger samin pun dimulai.
Salah satu bentuk perlawanan mereka yang terkenal adalah melalui pemaknaan bahasa. Sebagai contoh seorang aparat desa di masa tahun 1900-an meminta agar orang Samin membayar pajak sewa tanah yang digarapnya. Lalu orang Samin menggali tanahnya serta memasukkan uang ke lubang serta menutup kembali. “mengapa kamu menguburkan uang di dalam tanah?” tanya aparat desa itu. Orang Samin itu menjawab “tanah itu milik bumi, jadi saya harus bayar sewa tanah pada bumi, bukan pada penjajah”. Seorang wartawan yang berkunjung ke Rembang pada Desember 1914 juga pernah mencatat peristiwa seorang patih yang sedang memeriksa seorang Samin di pengadilan karena dirinya tak mau membayar pajak.
+ “Kamu masih hutang 90 sen kepada negara”
- saya tak hutang kepada negara”
+ “Tapi kamu mesti bayar pajak.”
- “Wong Sikep (yaitu orang Samin) tak kenal pajak
+ “Apa kamu gila atau pura-pura gila? “
- “Saya tidak gila dan juga tidak pura-pura gila”
+ “Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak?”
- Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Kenapa negara tak habis-habis minta uang?”
+ Negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak cukup uang, tak mungkin merawat jalan-jalan dengan baik.”
- “Kalau menurut kami keadaan jalan-jalan itu menganggu kami, kami akan membetulkannya sendiri.”
+ Jadi kamu tak mau bayar pajak?”
- Wong Sikep tak kenal pajak.”
Selain itu masyarakat Samin seringkali didenda atau masuk penjara karena dianggap sebagai pencuri kayu di hutan jati. Menurut pemerintah mereka adalah pencuri, tapi bagi orang Samin hutan jati tumbuh di bumi, sedangkan bumi adalah milik orang banyak. Sangat wajar jika siapapun boleh mengambil dan menebangnya untuk kepentingan tertentu.
Dalam waktu singkat ajaran spiritual Samin dan bentuk perlawanan kulturalnya tersebar di kalangan petani di sepanjang pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan, saat ini mencakup wilayah Blora, Pati, Kudus, Grobogan, Rembang, Sragen di Jawa Tengah dan sebagian Bojonegoro dan Madiun di Jawa Timur. Pada tahun 1903, Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro dan berlipat menjadi lebih dari 5000 orang di tahun 1907.
Seiring makin meluas dan intensifnya gerakan Samin, pada tahun 1907 pemerintah Belanda melalui Asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo, menangkap Surosentiko dan beberapa tokoh gerakan ini. Mereka diasingkan ke Padang, dimana Samin Surosentiko meninggal pada tahun 1914. Secara sistematis mereka juga melakukan pencitraan buruk pada komunitas Samin sebagai kelompok yang suka membangkang dan bertabiat serta berbahasa kasar. Citra inilah yang kemudian melekat menjadi konotasi kata “samin” dan terwariskan ke beberapa generasi setelahnya. Sesudah tahun 1930 tidak terdapat pemberitaan tentang orang Samin. Baru pada tahun 1950 orang Samin kembali dibicarakan, terutama saat seorang bekas anggota Panitia Pemilihan Umum tahun 1955 untuk kabupaten Blora menginformasikan bahwa jumlah pemilih Samin mencapai 40.000 orang. Perhatian terhadap masyarakat Samin mulai marak dengan adanya upaya dari pemerintah RI untuk memasyarakatkan kaum Samin.
Persitiwa kudeta bersenjata 1965, yang lazim dibahasakan sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa rezim Orde Baru, seolah menjadi titik balik bagi orang-orang samin. Saminisme dituding oleh pemerintah sama seperti komunisme yang ateis, karena dalam ajarannya tidak dikenal adanya konsep Tuhan yang Maha Titah. Menurut ajaran samin, kekuasaan dan kehendak untuk menentukan segala sesuatu sepenuhnya terletak pada kehendak manusia. Tudingan “ateis” itu rupanya cukup efektif untuk merangkul warga samin untuk menjadi anggota masyarakat “normal”. Pada tahun 1968, tiga tahun setelah peristiwa 1965, tercatat 78 pasang pengantin warga samin di Klopodhuwur, salah satu pusat gerakan samin di Blora, menikah dengan tatacara agama Islam. Kejadian ini terkait dengan dilaksanakannya P3.A atau Pilot Project Pembinaan Mental dan Agama yang dijalankan oleh Djawatan Agama wilayah Jawa Tengah. Konon, sejak peristiwa 1965 itu pula masyarakat samin tidak lagi berbicara ngoko (jawa kasar).
****
Sebagai kumpulan yang memiliki praktek sosial yang tersendiri, apalagi menyempal dari tradisi besar yang dikukuhi umum, pandangan miring dari komunitas lain jamak didapatkan. Terlebih citra lama yang diwarisi masa penjajahan Belanda sebagai komunitas pembangkang, tidak bisa berbahasa (jawa) halus masih acap diterakan pada mereka.
“Sampai saat ini masih ada anggapan kalau orang Sikep pasti bicara ngoko, tidak mau kerja bakti dan tidak bayar pajak. Sekolah pun tidak mau. Pokoknya serba negatif,” kata Pramugi Prawirawijaya (43), anak tunggal Karmidi yang juga tokoh muda komunitas Samin di Blora. Praktek lain yang dipandang miring adalah adat “adang akeh” atau perhelatan perkawinan secara adat samin. Sebelum pernikahan diupacarakan, pasangan tersebut harus sudah saling mengenal dan saling mencintai. Calon pria harus melalui tahapan “nyuwita”, yakni mengabdikan waktu dan tenaganya pada keluarga calon wanita sampai keduanya siap berumah tangga. Tahapan ini juga memberikan kesempatan keluarga calon mertua untuk mengenal tabiat dan sikap hidup calon menantunya, sebab setelah menikah sang menantu akan tinggal bersama mereka jika belum memiliki rumah sendiri. Nyuwita bisa berlangsung hingga satu atau dua tahun dan diakhiri dengan hubungan seksual atau kawin pasangan yang akan menikah. “Setelah kawin baru lapor ke orang tua dan para tetua desa untuk dinikahkan secara adat,” terang Pramugi. “Saya dulu juga pakai nyuwita. Juga bapak saya sewaktu meminang ibu saya, Soemilah,”tambahnya.
Tudingan miring semacam itu tidak ditanggapi secara frontal, misalnya dengan balik menjelek-jelekan orang yang mengolok-olok mereka. Pramugi, dan sebagian besar penganut Samin di Blora, selalu membahasakan dirinya sebagai “orang Sikep” sebagai ganti “orang Samin”. Tapi dia menampik anggapan penggunaan sebutan “sikep” untuk menghindarkan diri dari pencitraan buruk yang terlanjur lekat pada sebutan “samin”. Dia menerangkan bahwa Sikep berarti kaum yang berpegang teguh dan satunya kata dengan perbuatan. Ini merujuk pada pernyataan kesanggupan mereka untuk “ngelakoni” (mengamalkan) ajaran-ajaran Saminisme dalam kehidupan sehari-hari.
“Mau menyebut diri Sikep, atau tetap Samin, kami tetap dituduh tidak beragama. Ateis,” ujar Pramugi mencontohkan. Karena cap tidak beragama ini, penganut Samin kerap mengalami kejadian yang mengesalkan ketika membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). Pada bagian isian agama, pamong desa yang menangani pembuatan KTP sering kebingungan karena orang Samin bersikeras mengisikan “Adam”. Bukan Islam, Katholik atau Protestan. Juga bukan Hindu, Budha atau Kong Hu Chu, agama-agama resmi yang diakui pemerintah. Jalan tengahnya, si pemohon diminta memilih salah satu nama agama yang diakui untuk dicantumkan dalam KTP-nya. “Agama itu kan seperti pakaian, kita bisa memakai yang mana saja asalkan hati kita tetap pada salah satunya,” pendapat Mbah Midi. ”Saya sendiri pakai Islam. Yang umum,” tambahnya sembari terkekeh. Mbah Midi menilai cap-cap buruk yang melekat pada komunitas Sikep saat ini karena masyarakat umum hanya memiliki pengetahuan sepotong-sepotong ajaran dan kehidupan sosialnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Setyo Agus Widodo, kepala desa Banjarejo yang membawahi dusun Klopodhuwur. “Selama ini pengetahuan orang tentang Samin lebih banyak pada sisi negatifnya saja, misalnya orang pukul rata mengatakan sedulur Samin tidak bisa berbahasa krama atau tidak mau menikah di catatan sipil,” kata Setyo mencontohkan. Kenyataannya, mereka fasih berbahasa Jawa cukup halus. Mereka juga menikah di KUA (Kantor Urusan Agama). Urusan politik pun mereka tidak ketinggalan. “Dulu orang sikep memang dituding alergi politik. Kalaupun ikut pemilihan umum, semua gambar dicoblos semua,” kisah Pramugi. “Sekarang tiap pemilu semua warga ikut. Tapi jarang ada yang bergabung aktif dengan partai politik.” Pramugi sendiri mengaku tidak akan mengikuti pemilu tahun ini. “Saya golput saja. Soalnya banyak pimpinan partai yang saya kenal, dan selalu bilang pilih saya, ya. Saya iyakan saja, meskipun nanti saya tidak mencoblos partainya,” akunya.
Pramugi mengisahkan dalam pemilu 1999, PDIP menang mutlak di kampungnya.”Padahal tidak ada kadernya, tidak ada aktifisnya. Tidak tahu kok jadi seia sekata memilih PDIP,” ujarnya. Padahal dalam pemilu-pemilu sebelumnya Golkar seolah menjadi pilihan tunggal warga Sikep.”Ya, ikut bapaknya saja. Bapaknya kuning ya kuning. Kalau enggak, nanti ditakut-takuti nasibnya akan seperti PKI,” lanjut Pramugi. Yang dimaksud sebagai “bapaknya” ternyata bukan Mbah Midi, melainkan sebutan warga Sikep untuk pemerintah. “Lha memang pemerintah tho yang mengurusi warga, seperti bapak pada anaknya,” tambahnya. Sikap kompromis ini umum di kalangan masyarakat desa, apalagi bagi masyarakat Sikep yang telah kenyang dengan pengalaman dipinggirkan.
Meski mengaku jengkel dengan peminggiran budaya terhadap masyarakatnya, Pramugi tetap memandangnya secara positif. “Stereotip buruk semacam itu bisa dikikis dengan praktek positif,” lontar Pramugi. Ini dibuktikan oleh putra satu-satunya mbah Karmidi itu dengan kerja-kerja sosial yang dilakukannya. Sejak tahun 1978 dirinya menjadi penyuluh pertanian yang gigih di kecamatan Sambong. Atas inisiatifnya memulai gerakan penghijauan dan pembangunan bendungan untuk mencukupi sumber air di desanya, Pramugi menerima penghargaan lingkungan tingkat nasional Kalpataru pada tahun 1997. Prestasi inilah yang membawanya menghadap presiden di Istana Negara. “Lha bupatinya saja belum pernah ke istana, ini anak Sikep dari pelosok dusun malah sudah beberapa kali diundang ke sana,” ujar Pramugi berseloroh.
Dia lantas menunjukkan foto dirinya tengah bersalaman dengan Megawati. Beberapa foto lainnya, yang dibingkai dan digantungkan di dinding ruang tamu, memperlihatkan Pramugi bersama beberapa petinggi negara dan peneliti asing. “Lewat cara ini, orang akan mengenal sisi positif orang Sikep. Kerja keras, jujur dan tidak ragu memperjuangkan kebenaran,” lanjutnya.
Lepas dari optimisme anaknya, Mbah Midi mengungkapkan kekuatiran dirinya pada tudingan kalangan pemerintah akhir-akhir ini yang mengatakan masyarakat samin terlibat dalam penjarahan hutan jati. Sejak tahun 1997, ketika Indonesia timpang dihantam krisis ekonomi yang masih belum membaik hingga sekarang, hampir 10% dari 89.000 ha lahan hutan jati di Blora gundul akibat penjarahan liar. Pemerintah daerah seringkali menuding masyarakat di sekitar hutan sebagai pelakunya, terutama masyarakat samin. “Memang kami masih mengambil kayu dari hutan, tapi hanya seperlunya. Itupun waktu-waktu tertentu, semisal saat memperbaiki rumah,” ujarnya. “Malah saya yang rugi. Pematang sawah saya ambrol terus diinjak-injak rombongan penjarah kayu jati. Itu terjadi hampir setiap hari,” lanjutnya. Herannya, saya tidak menemukan ada nada geram. Pematang yang ambrol itu diperbaikinya setiap hari, meski pagi harinya ditemukan telah ambrol lagi. “Kok tidak merasa ya. Sudah saya sindir dengan pematang baru setiap hari, kok masih tega juga merusak,” keluh Mbah Midi. Disusul kekehnya yang khas, beliau berucap seolah memberi permakluman,”Dasar orang waras!”
***
Salah satu permasalahan pokok yang dihadapi komunitas Sikep, menurut Mbah Midi, adalah pewarisan ajaran. “Selama ini cara pengajarannya ya lewat gunem (tuturan) dan contoh tindakan. Istilahnya ada tulisan tanpa papan, ada papan di dalam tulisan,” katanya. Sebagian besar generasi tua Sikep memang tidak mengenal baca tulis. “Tidak ada hubungannya dengan pertanian. Asal tahu hitung-menghitung sedikit, sudah cukup,” kata Mbah Midi.
Kini penganut mudanya memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.”Malah ada yang kuliah di perguruan tinggi. Kalau saya sendiri, sampai kelas empat SD memutuskan untuk berhenti,” kisah Pramugi. Dan dia memilih jadi petani. “Tapi saya tidak berhenti belajar,” akunya sembari menunjukkan satu lemari penuh koleksi buku. Warso, anak lelaki satu-satunya, merasa cukup sampai lulus SMP. “Aku ingin jadi petani, seperti bapak. Begitu katanya pada saya,” ujar Pramugi. Tapi, faktanya kian sedikit pemuda sikep yang punya pilihan seperti Pramugi dan Warso.
Kehadiran pendidikan formal dan non formal ataupun media massa menawarkan referensi baru mengenai tata cara kehidupan yang lain. Interaksi yang lebih sering dengan dunia luar membuka kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas. Alih-alih menjadi petani, kaum muda samin banyak yang menjatuhkan pilihan untuk bekerja di kota. Di sisi lain, saminisme sebagai sikap agamis memang tidak banyak memberikan peluang pertumbuhan kelembagaannya, yaitu ajaran, pengikut dan organisasi. Maka kemungkinan untuk mengembangkan sistem ajaran dan sistem organisasi yang terkait serta pemeliharaan kesetiaan umat tidak dapat dijalankan secara berkelanjutan.
Budaya saminisme terus meniti jaman. Nilai-nilai tradisinya perlahan ditinggalkan sebagai acuan bertindak komunitas pendukungnya yang gagap dalam serbuan budaya baru. Padahal kerja kultural untuk mengikis citra buruk yang terlanjur lekat belum lagi usai.
(Ditulis untuk Majalah Latitudes, Bali)

Sedulur Sikep : Dialog

Sedulur Sikep



“Mengapa pintu rumah si Mbah dibiarkan terbuka?”
“Kenapa mesti ditutup kalau tidak ada daun pintu?,” jawab si Mbah
“Mengapa tidak diberi daun pintu?”
“Kenapa mesti diberi daun pintu kalau tidak mau ditutup?”
“Bukankah jika diberi daun pintu, maka pintu bisa tertutup? “
“Kenapa harus ditutup kalau maunya dibiarkan terbuka,” jawab si Mbah lagi
Terkesan mbulet dan ngeyel kan?
Itulah stereotype orang-orang yang dikenal sebagai orang Samin.
Kalau anda melihat KTP, maka selain nama, jenis kelamin, disertakan pekerjaan dan pendidikan.
Namun bagi orang Samin, keterangan mengenai agama umumnya dikosongkan. Ini aneh sementara orang kita sudah memiliki standar bahwa orang yang mengosongkan kolom kepercayaan bakalan dituding jadi pengacau dunia dan apalagi akhirat. Dulu malahan masuk kotak “atheist“ - dan resikonyo rumahnya dibakar, dan anak cucunya dikucilkan masyarakat.
Orang Samin atau Sedulur Sikep ini, dikenal sebagai pemberontak tanpa kekerasan terhadap kebijaksanaan Belanda. Mereka yang hidup diantara perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini berani membantah semua yang diperintahkan Belanda.
Dinamakan Samin sebab pemimpinnya yang terkenal adalah Samin Surantiko.
Gun Retno seorang tokoh Samin yang hidup di Surabaya mengatakan abhwa kesehariannya mereka berbahasa Jawa sebab kalau berbahasa Indonesia mereka takut membuat kesalahan. Suku dengan ciri berpakaian hitam dan kepala bebat kepala ini kepada anak-anaknya hanya mengajarkan filsafat hidup. Lantas bagaimana mereka belajar membaca dan menulis. Kalau ingin ilmu tersebut mereka bisa bertanya kepada teman-temannya.Tapi jangan lupa, kami juga punya TV, bahkan dalam mengolah pertanian kami pakai traktor, akan tetapi tidak berlebihan. Tambah Gun Retno.

SAMINISME EKONOMI

SAMINISME EKONOMI

A. KONSEP GERAKAN SAMINISME
Inilah potret sebuah gerakan perlawanan melawan penjajah yang di pandang sinisme oleh pemerintah, padahal ajaran-ajaran yang terwariskan hingga kini mencuatkan nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, keadilan dan kerja keras. Setiap provinsi di Indonesia pasti memiliki Suku yang di anggap aneh atau terpinggirkan seperti Badui, Tengger dan juga suku suku pedalaman lainnya. Hal itu sama terjadi dengan suku SAMIN, ini lah potret suku Samin dan yang saya jadikan adopsi “Konsep Gerakan Saminisme “
Menyebut kata "Samin" di sekitaran Kabupaten Blora, Pati , Jawa Tengah, bisa dibilang sensitif. Sebagian kalangan, terutama pemerintah, masih alergi bila pembicaraan menyinggung perihal Samin. "Ah itu sebenarnya 'kan sudah tidak ada," tegas seorang Pamong di Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Blora. Ia lantas mengingatkan agar tak mengangkat soal Samin. Kalaupun masih berminat menulis masyarakat Samin, ia wanti-wanti agar mengurus izin langsung ke Bupati. Hah! Segenting itukah sehingga seorang Bupati harus repot-repot ikut campur?
Samin yang dalam makna sebenarnya adalah Sami – sami amin (apabila semua setuju maka akan di anggap sah ) Faktanya, Samin memang dipandang dengan kacamata buram. Ia identik dengan segolongan masyarakat yang tidak kooperatif, tak mau bayar pajak, enggan ikut ronda, suka membangkang, suka menentang. Bahkan tuduhan seram: atheis. Di masa Orde Baru misalnya, tanggalnya ajaran saminisme oleh sekelompok masyarakat dianggap sebagai tahapan yang patut diupacarakan. Pernikahan massal sembilan pasang warga Desa Karangrowo, Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada 3 Januari 1997, misalnya, diupacarakan sebagai tanda ditanggalkannya ajaran saminisme yang turun-temurun dianut oleh sembilan pasangan itu Tapi sebenarnya, ateiskah mereka?
Barangkali orang tidak memperoleh gambaran jernih tentang paham saminisme, yang acap dinamakan "Agama Nabi Adam". Menurut thesis yang dilakukan, Samin tidak seperti yang disangkakan orang, atheis. Mereka mengenal Sang Hyang Wenang, Tuhan. Dalam pemikiran , cap atheis muncul lantaran aparat kesulitan mengelompokkan masyarakat itu. Daripada susah-susah akhirnya digolongkan saja sebagai kelompok atheis. Sulit dipercaya bagaimana masyarakat kemudian cenderung lebih mempercayai gambaran negatif itu bila membicarakan soal Samin. Padahal , menurut saya saminisme adalah sebuah pergerakan melawan pemerintah Belanda yang berawal ketika Belanda melakukan pematokan tanah untuk kegiatan penanaman hutan jati tahun 1870.
1. Guru tanpa buku

Dalam buku Rich Forests, Poor People - Resource Control and Resistance in Java, Nancy Peluso , Pengamat Budaya dari Belanda menjelaskan, pergerakan Samin tumbuh tahun 1890 di dua desa hutan kawasan Randublatung, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Gerakan ini lantas dengan cepat menjalar ke desa-desa lainnya. Mulai dari pantai utara Jawa sampai ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan. Atau di sekitar perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang.
Para pemimpinnya adalah guru tanpa buku, pengikut-pengikutnya tidak dapat membaca ataupun menulis. Perintisnya, Samin Surosentiko/Surosentika atau disebut singkat Samin Surontiko/Surontika (kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang pariaman, 1914 di sebuah Oveersteed milik kolonial Belanda dan sampai saat ini masih ada kuburannya di Sawah lunto, seorang yang buta aksara. Dua tempat penting dalam pergerakan Samin: Desa Klopodhuwur di Blora sebelah selatan sebagai tempat bersemayam Samin Surosentiko, dan Desa Tapelan di Kecamatan Ngraho, Bojonegoro, yang memiliki jumlah terbanyak pengikut Samin.
Orang Samin di Tapelan memeluk saminisme sejak tahun 1890. Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch Indie (1919) diterangkan, orang Samin seluruhnya berjumlah 2.300 orang tahun 1917, tersebar di Blora, Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen, dan Grobogan dan yang terbanyak di Tapelan Sebagai gerakan yang cukup besar saminisme tumbuh sebagai perjuangan melawan kesewenangan Belanda yang merampas tanah-tanah dan digunakan untuk perluasan hutan jati. Di masa sekitar tahun 1900, mandor hutan yang menjadi antek Belanda mulai menerapkan pembatasan bagi masyarakat dalam soal pemanfaatan hutan. Para mandor itu berbicara soal hukum, peraturan, serta hukuman bagi yang melanggar. Tapi para saminis, atau pengikut Samin, menganggap remeh perkara itu. Sosialisasi hukum itu lantas ditindaklanjuti pemerintah Belanda dengan pemungutan pajak untuk air, tanah, dan usaha ternak mereka. Pengambilan kayu dari hutan harus seijin mandor polisi hutan. Pemerintah Belanda berdalih semua pajak itu kelak dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Akal bulus itu ditentang oleh masyarakat pinggir hutan di bawah komando Samin Surosentiko yang diangkat oleh pengikutnya sebagai pemimpin informal. Samin Surosentiko, tanpa persetujuan dirinya, oleh para pengikutnya dianggap sebagai Ratu Tanah Jawi atau Ratu Adil Heru Cakra dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Para pengikut Samin berpendapat, langkah swastanisasi kehutanan tahun 1875 yang mengambil alih tanah-tanah kerajaan menyengsarakan masyarakat dan membuat mereka terusir dari tanah leluhurnya.
Sebelumnya, pemahaman pengikut Samin adalah: tanah dan udara adalah hak milik komunal yang merupakan perwujudan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Mereka menolak berbicara dengan mandor-mandor hutan dan para pengelola dengan bahasa krama. Sebagai gantinya para saminis memperjuangkan hak-haknya dalam satu bingkai, menggunakan bahasa yang sama, Jawa ngoko yang kasar alias tidak taklim. Sasaran mereka sangat jelas, para mandor hutan dan pejabat pemerintah Belanda. Ketika mandor hutan menarik pajak tanah, secara demonstratif mereka berbaring di tengah tanah pekarangannya sambil berteriak keras, "Kanggo!" (punya saya). Ini membuat para penguasa dan orang-orang kota menjadi sinis dan mengkonotasikan pergerakan tersebut sebagai sekadar perkumpulan orang tidak santun. Penguasa bahkan mendramatisasikan dengan falsafah Jawa kuno yang menyatakan "Wong ora bisa basa" atau dianggap tak beradab.
Akibatnya, para pengikut Samin yang kemudian disebut orang Samin, dicemooh dan dikucilkan dari pergaulan. Ketika pergerakan itu memanas dan mulai menyebar di sekitar tahun 1905, pemerintah Belanda melakukan represi. Menangkap para pemimpin pergerakan Samin, juga mengasingkannya. Belanda juga mengambil alih tanah kepemilikan dari mereka yang tak mau membayar pajak. Namun tindakan pengasingan dan tuduhan gerakan subversif gagal menghentikan aktivitas para saminis. Sekarang pun sisa-sisa para pengikut Samin masih ditemukan di kawasan Blora yang merupakan jantung hutan jati di P. Jawa.
Citra yang tidak sebenarnya
Gerakan ini selesai dengan sendirinya saat Belanda hengkang dan kemerdekaan RI diproklamasikan. Gerakan sudah tak mempunyai musuh. Kalaupun kemudian masyarakat masih mengendapkan citra buruk tentang Samin ini lantaran kesalahan aparat dalam mensosialisasikan inti gerakan ini. Akibatnya, banyak hal yang dulu dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap Belanda masih dianggap melekat di kalangan orang Samin.
Misalnya kebiasaan membangkang, tak mau bayar pajak, atau enggan ikut ronda. Padahal menurut saya dan survey yang pernah saya lakukan, penolakan membayar pajak dipakai sebagai media melawan Belanda. Mereka waktu itu memang menentang, tetapi di jaman republik mereka lebih taat.
Tetap saja, olok-olok tak bisa dihindarkan. Begitulah Orang Samin itu. Ketika Ditanya berapa lembunya, jawabnya dua, jantan dan betina. Walau kenyataannya punya banyak lembu. Ditanya pekerjaannya apa, jawabnya laki (kawin/sanggama), karena kalau yang dimaksud pekerjaan semacam profesi, orang Samin menyebutnya penggautan atau nafkah. Misalnya, bertani Perbedaan penafsiran karena bahasa, belakangan melebar ke hal lain di luar komunikasi. Misalnya, perilaku yang dianggap tidak sejalan dengan orang lain. Sampai-sampai, kepada orang non-Samin yang menunjukkan perilaku buruk, orang tak segan menyebut "nyamin" alias berperilaku seperti orang Samin.
Istilah berkonotasi ledekan itu menyebabkan orang Samin asli enggan menyebut diri Samin, melainkan "orang Sikep", yakni orang yang memegang teguh ajaran yang diturunkan secara turun-temurun. Beberapa ajaran yang dicatat misalnya angger-angger pratikel (hukum tindak-tanduk), angger-angger pengucap (hokum berbicara), dan angger-angger lakonana (hukum perihal yang perlu dijalankan). Hukum pertama berbunyi "Aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Aja kutil jumput, mbedhog nyolong", yang artinya jangan berbuat jahat, berperang mulut, iri hati, dan dilarang mengambil milik orang lain. Hukum kedua berbunyi, "Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu". Makna ungkapan simbolis itu, kita harus memelihara mulut kita dari kata-kata yang tidak senonoh atau menyakitkan hati orang lain. Sedangkan hukum ketiga berbunyi "Lakonana sabar trokal, sabare dieling-eling, trokale dilakoni". Maksudnya, orang Samin harus ingat pada kesabaran, "Bagaikan orang mati dalam hidup".
Bisa dipahami, orang Sikep, tinggal di Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora, sudah merasa menjadi bagian dari warganegara Indonesia sejak kemerdekaan RI. Tidak ada perbedaan dengan warga negara lain. Mulai detik kemerdekaan itu, apa yang jadi kewajiban masyarakat dipenuhi. Bayar pajak nomor satu, kerja bakti berangkat duluan.
Tidak antisekolah
Di Desa Sambongrejo, sekitar 8 km dari Cepu, masyarakat keturunan Samin hidup selayaknya warga biasa. Mereka bercocok tanam cabai, jagung, kacang, dsb. Di desa ini terdapat sebuah bangunan SD yang didirikan tahun 1960-an. Keberadaan SD ini juga menandakan orang-orang Sikep tidak antisekolah. Memang, ketika Belanda masih bercokol mereka menolak institusi sekolah. Sekolah dianggap menciptakan bendoro (kaum elitis) dan bukan lagi rakyat ( kawulo). Soalnya, kalau sudah sekolah akan menjadi manusia Monopolitis, kolutis dan mengajarkan kepandaian untuk membodohi rakyatnya.
Ketika Belanda pergi, ajaran lisan mereka masih tetap diturunkan. "Ana tulis tanpa papan, ana papan sakjeroning tulis", (ada tulisan tanpa papan, ada papan tulis didalamnya tulisan) menggambarkan ajaran itu ditularkan lewat ucapan disertai contoh keseharian. Salah satu hal yang bisa dicontoh dari ajaran Sikep adalah kesederhanaan. Bahkan, dalam manajemen keluarga, orang-orang Samin lebih teliti dibandingkan dengan non-Samin. Mereka tidak membelanjakan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Sehingga secara rata-rata mereka kaya. Lembunya saja bisa sampai 10, cukup banyak untuk ukuran rakyat biasa. kejujuran dan kerja keras merupakan nilai positif yang masih dipegang teguh oleh keturunan Samin. Walaupun kalau dirunut ke belakang, sulit diketahui bagaimana wujud penentangan terhadap Belanda itu lantas mengalami metamorfosa menjadi nilai-nilai positif yang masih berlaku hingga kini. Kadang dipegang dan diterapkan secara kaku, terlalu idealistis, bagai tak berkompromi dengan pandangan masa kini. Faktor itu yang masih sering disalahartikan oleh orang-orang yang tidak senang.
Misalnya soal anggapan bahwa tamu tidak akan diberi hidangan lagi kalau pernah menolaknya. Padahal menurut saya pandangan itu lebih didasari rasa tidak senang kepada orang Samin ketimbang penilaian objektif. Bagi orang samin, tamu atau dalam bahasa mereka disebut sedulur (saudara), mempunyai arti penting. Dari mana pun datangnya dianggap saudara. Saya punya pengalaman mengesankan. Suatu hari mobil yang kami tumpangi bersama empat orang lainnya mogok di tepi hutan. Atas jasa baik orang Samin, mobil itu didorong dan mesinnya berhasil hidup. Kemudian orang samin mengajak mampir ke rumahnya. Di situ saya dan teman-teman dijamu makan lengkap dengan lauk ayam, sayur lodeh, dan air.
Ketika salah astu teman mau memberikan tips berupa uang, orang-orang samin itu menolak. Apa jawabannya, ” Duwit iku ora sebrayane, apa duwit sampean iso dadheni wareg” (Apakah uang itu segalanya, apa uang anda bisa untuk Kenyang? Yang juga mengagetkan saya dan team saya barangkali adalah kerelaan untuk memberikan apa yang mereka miliki pada sesama orang yang membutuhkan. Padahal, dilihat dari sisi orang samin pemberian itu bukan berarti menghilangkan segala-galanya. Sebab mereka menggunakan istilah meminjamkan, bukan memberikan. Bagi yang akan meminjam mengatakan tak nggone sik (saya pakai duluan).
Zaman telah berubah, penjajah telah pergi, tapi setumpuk nilai luhur masih dijalani oleh sebagian orang samin. Waktu yang akan menguji, apakah akan jadi pegangan selamanya, atau terkikis pelan-pelan hingga tinggal slogan yang tidak sesuai kenyataan. Persepsi bahwa orang Samin itu aneh, nyleneh, dan banyak predikat lain yang berujung pada simpulan bahwa mereka hidup dengan cara yang berbeda dari masyarakat kebanyakan sudah acap terdengar.
Filosof Orang Samin Sikap Skeptis
Acap kali sebuah pertanyaan seolah menggantung karena jawaban-jawaban yang meluncur hampir selalu singkat, cenderung menutup diri dan skeptis dalam memandang sesuatu. Misalnya ketika ditanya, mengapa mereka menyebut diri sebagai wong Sikep? Wong lanang iku sikep rabi. Sira wong lanang, ya rabi karo wong wedhok. Wong wedhok ya sikep laki. Apa kang bedha? (Laki laki itu kewajibannya menikah, anda laki laki yah menikahlah dengan perempuan). Bukan tanpa alasan, mengapa perkawinan yang disebutnya sikep rabi atau sikep laki sebagai sesuatu yang sangat prinsip bagi mereka. Dalam ajaran saminisme, perkawinan itu sangat penting. Itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan atmaja tama (anak yang mulia). Dalam perkawinan menurut adat mereka, pengantin laki-laki harus mengucapkan "syahadat" yang berbunyi (kalau ditejemahkan) lebih kurang, "Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama ... Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua".
Itu pula yang lalu memunculkan stigmatisasi tertentu. Orang Samin dianggap sebagai pemuja kumpul kebo. Tak sebagai pembenaran, bagi mereka menikah dengan seseorang adalah untuk selamanya. Jadi, tidak ada kamus perselingkuhan pada mereka. Kecuali, yen rukune wis salin, sebutan seorang lelaki yang istrinya telah meninggal, seorang Sikep baru boleh menikah lagi
Contoh lain, tanyakan jumlah anak, mereka serempak menjawab, "Loro, lanang lan wedok" (dua laki laki dan perempuan ). Jawaban yang bagi orang di luar penganut saminisme boleh jadi mengesalkan. Idiot atau apalah. Padahal, menurut saya, orang samin adalah orang-orang yang membaca kenyataan, membaca sesuatunya dari yang nyata. Dalam konteks itu, semua orang adalah sama. Semua orang itu bersaudara.
KEHIDUPAN

Sehari-hari orang Sikep di Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati dimulai pukul enam pagi. Saat langit masih cukup remang, apalagi bila sedang musim penghujan, mereka yang berusia remaja dan dewasa, sudah berduyun-duyun pergi ke ''sekolah''. Jangan berpikir itu sebuah bangunan berisi ruang-ruang kelas tempat seorang siswa belajar dan guru mengajar. Orang-orang Samin di situ tak memercayai pendidikan formal seperti yang dikenal umum. ''Sekolah'' yang dimaksud itu, hamparan sawah yang hampir setiap hari mereka datangi dan menjadi sumber utama penghidupan mereka. Apa yang disebut sekolah? Itu kan mengajarkan budi pekerti dan keterampilan.
Semua diajarkan di rumah orang Samin Keterampilan ya diajarkan di sawah-sawah Dan memang, betapa pentingnya sawah bagi kehidupan mereka. Bila musim penghujan, mereka menanam padi dan ketika kemarau mereka menanam jagung. '' Tetanen wis dadi uripe sedulur Sikep. Dagang ora kulina lan ora seneng. Wong dagang iku lak gelem nindakna goroh. Ingsun ora gelem goroh. Yen tetanen, sapa kang digorohi?" ( Bercocok tanam sudah menjadi hidupnya orang samin , berdagang tidak terbiasa dan tidak suka, orang dagang itu kalau yang mau melakukan kebohongan saya tidak mau berbohong). Begitulah semboyan orang samin.
Ya, pertanian telah menjadi sumber penghidupan, karena mereka tak suka berdagang yang disebutnya sebagai aktivitas yang tak luput dari kebohongan. Padahal, orang Sikep memiliki prinsip tak mau berbohong. Jadi boleh dibilang, kehidupan wong Sikep di situ, bergerak dari rumah ke sawah dalam siklus yang (barangkali) sangat monoton. Boleh dibilang pula, kehidupan orang Sikep di situ seolah-olah berada dalam bingkai rumah dan sawah. Tak ada warna lain selain itu. Kalau toh mereka bepergian dan itu sangat jarang dilakukan mereka hanya apabila mereka membutuhkan, misalnya untuk menjual sebagian panenan.
Dengan monotonitas seperti itu, dalam keyakinan wong Sikep, segalanya Serba bersahaja. Alam bagi mereka merupakan ajang yang demikian bermurah hati untuk penghidupan. Ya, mereka makan dari hasil panenan. Dan, ketika mereka membutuhkan lauk-pauk, alam pulalah yang menyediakannya buat mereka.
Banyaknya bonorawa (lahan yang menyerupai rawa-rawa kecil) yang terdapat di sekitar persawahan mereka adalah ekosistem yang baik untuk beberapa jenis ikan. Dan, pencarian ikan itu biasanya dilakukan pada malam hari oleh para lelaki muda, meskipun seharian tenaganya telah terperas oleh kerja di sawah
Kalau boleh diringkas, beginilah siklus hidup wong samin, Pagi hari mereka pergi ke sawah hingga siang atau bahkan sore hari. Dan, pada malam hari, hidup mereka diisi dengan mencari ikan untuk lauk-pauk Dengan kebersahajaan serupa itu, adakah mereka melakukan segalanya dengan cara yang serba tradisional dan menolak peranti teknologi yang tak bisa mereka buat sendiri? Tak selalu. Mereka bukan komunitas yang zakelijk dan mati-matian menolak peranti teknologi. Bahkan, peranti itu diterimanya sebagai pendukung cara hidup mereka.
Mau bukti? Selain rumah-rumah mereka telah berlistrik, untuk mencari ikan misalnya, banyak dari mereka yang menggunakan pancing setrum dengan tenaga aki. Bahkan, kini beberapa wong Samin telah memiliki motor untuk aktivitas sehari-hari. Kehidupan yang secara spesifik berbeda dari komunitas kebanyakan, tak terpungkiri lagi membuat komunitas orang samin sering didatangi orang dari luar. Tentu saja kedatangan mereka memiliki maksud berbeda-beda. Ada yang berupa tur studi, ada yang mempengaruhi dan belajar ilmu dan Ada yang datang untuk keperluan politis seperti yang sering terjadi menjelang pemilu.
Pernah suatu hari seorang Bupati terpilih ingin memberikan bantuan tetapi ditolak mentah mentah dengan alasan sudah memiliki, begitu merah padamnya muka sang Bupati, Dalam perkara administratif pemerintahan, bukan hal mudah bagi pemerintah untuk mengajak mereka patuh aturan. Lihat saja, seperti yang dilakukan penganjur saminisme yang menolak pajak pada Belanda, mereka pun tak mau mengeluarkan pajak. Akan tetapi, bukan berarti tak ada yang bisa ditarik dari mereka. Istilahnya saja yang harus diganti. Kalau disuruh bayar pajak mereka bilang harta yang mereka punyai itu atas usaha mereka yang diwarisi sejak zaman Adam. Namun katakan saja 'iuran hasil panen' sebagai alih-alih pajak, mereka akan bersedia.
KTP bagi warga Samin sebatas tata cara dalam berhubungan dengan orang di luar komunitas itu. Jika Kades dan Camat tidak mau menulis bahwa agama (Samin) adalah Adam ya bukan salah mereka. Karena aturan yang mereka pegang memang hanya mengenal lima agama.
Jangan dikira warga Samin itu bodoh dan kumpul kebo. Mereka memiliki teknologi tinggi dalam soal pertanian. Warga Samin sangat menjunjung tinggi tanah mereka sebagaimana menghormati ibunya. Tanah bagi mereka adalah ibu. Mana ada warga Samin yang menjual tanah atau sawahnya ? Sementara itu, bila ada yang berpandangan bahwa warga Samin penakut atau minder dalam bergaul, itu sama sekali tidak benar. Warga Samin itu egaliter. Mereka tidak takut dengan Jenderal sekalipun. Mereka akan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.
Sebagaimana paham lain yang dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga memiliki "kitab suci". "Kitab suci" itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, Serat Lampahing Urip, dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan oleh wong Samin.
Dengan memedomani kitab itulah, wong Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren (dengki, iri hati, bercekok pendapat, besar kepala ). Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah "Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokali dilakoni" (berlakulah sabar, sabarnya diingat- ingat bagai orang mati dalam hidup).
Sikap yang Apa adanya , sikap yang jujur , sederhana dan berkata sesuai dengan apa yang di lihat dan lakukan adalah sebuah realita orang samin. Realita yang telah hilang dalam masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jawa pada khususnya yang katanya menganggukkan sikap jujur dan sederhana ternyata masih tersekat dengan istilah PRIYAYI , DARAH BIRU , KAUM BANGSAWAN dan ELITE, bahkan dalam kontemporer sikap tersebut lebih Kontarproduktif di dunia POLITIK DAN BISNIS.
2. Samin , Melawan Hegemoni Kekuasaan Yang Absolute

Orang yang Samin akan bersikap seperti Bilung (tokoh pewayangan yang selalu mengiyakan kata kata kurawa dengan maksud merendahkan kemampuan kurawa dalam melawan pandawa), yang selalu mengiyakan dan bahkan menyangatkan semua pernyataan Kurawa dalam dunia pewayangan. Hegemoni dan arogansi Kurawa menyebabkan Bilung memilih sikap itu, karena merasa kekuasaan tidak lagi bisa diberi saran, diingatkan, dikritik, dan disadarkan. Kekuasaan sudah mencapai tingkat tidak dapat lagi mendengar dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Machiavelisme , Kapitalisme , begitulah...
Mbilung, dengan begitu sudah menjadi kata kerja. Mirip dengan nyamin yang berasal dari kata samin. Semua itu merupakan bentuk perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan, seperti perlawanan terhadap penjajah Belanda yang dilakukan orang-orang Suku Badui di Banten dan Suku Tengger di Jawa Timur.
Dalam konteks yang lebih serius, sikap itu tentu saja perwujudan dari ketidakberdayaan melawan hegemoni kekuasaan. Sikap yang lahir dari kebuntuan mencari jalan keluar, solusi untuk membenahi keadaan yang sudah amburadul. Sikap ini adalah wajah lain dari perlawanan diam yang dilakukan Mahatma Gandhi dengan gerakan Ahimsa, melawan penjajah Inggris.
PERTANYAANNYA sekarang, apakah mbilung bisa efektif memperbaiki keadaan? Saya agak pesimistis. Mengapa ? Karena, penguasa-penguasa biasanya mengidap oost-indisch doof, yang secara harfiah berarti "tuli gaya Hindia-Timur". Istilah itu ditudingkan pemerintahan Hindia-Belanda kepada orang-orang Jawa yang sering berpura-pura tidak mendengar karena malas diberi tugas. Jadi, "tuli gaya Hindia- Timur " merupakan penyakit tinggalan penjajah. Bagaimana keadaan bisa diperbaiki, kalau orang-orang yang sedang mengenyam kekuasaan selalu berpura-pura tidak mendengar? Bagaimana pembusukan bisa terjadi, kalau mereka justru menikmati hal-hal yang busuk? Absurd, memang Jangan-jangan, orang-orang yang berkuasa pun sedang melancarkan mbilung menurut versi mereka sendiri. Mereka bersikap “ luweh-luweh”, tidak mau mengerti aspirasi rakyat, tuntutan orang kebanyakan, dan asyik-masyuk dengan dunianya sendiri.
Pertanyaan berikutnya, masih mampukah orang-orang yang berkuasa memahami bahasa-bahasa simbol? Mbilung selalu sarat dengan bahasa simbol dan plesetan-plesetan, yang dilandasi oleh pendekatan substansial-kritis. Sementara itu, banyak orang yang berkuasa justru masih terkungkung oleh pendekatan formalisme positivistik. Mbilung menggunakan otak kanan yang lateral-simultan, sedangkan orang-orang yang berkuasa memakai otak kiri, yang linear.
Bangsa ini sudah kering simbol, sukar memahami pra lambang, sehingga sulit mengerti makna di balik kata. Kita hanya mengerti makna kata-kata secara huruf per huruf; a, i, u, e, o. Sangat verbalistik. Samin adalah sebuah simbol ikon perjuangan kaum Terpinggirkan yang merasa terusik dengan kehadiran kapitalisme ala Kolonial belanda dengan sikap Mbilung , Nyamin , Luweh luweh. Namun demikian Etos / sikap yang perlu diangkat adalah bagaimana seorang samin berkata jujur, sederhana, apadanya, tidak berbohong, tidak ada iri dan dengki namun tegas, eligater , berani melawan arus karena mempertahankan sebuah keyakinan yang selama bertahun tahun di yakini kebenarannya.
Di era sekarang ini yang lebih lebih transformasi data dan komunikasi serba instan mungkin akan terbawa arus pelan tapi pasti akan tetapi untuk nilai nilai luhurnya tidak akan pernah hilang begitu saja.
B. GERAKAN KAPITALISME

Kapitalisme sebagai sebuah faham telah jauh melampaui batas-batas awalnya. Ia bukan lagi salah satu konsep pemikiran tentang ekonomi. Di era modern, kapitalisme sebagai konsep diperkenalkan kembali di zaman kolonialisme, saat Inggris Raya menjadi empire kekuasaan dan kekayaan. Kapitalisme menjadi erat dengan Imperialisme karena kapitalisme adalah salah satu produk revolusi industri pasca renaissance, seiring dengan munculnya, individualisme, empirisme, positivisme, eksistensialisme, pragmatisme, liberalisme dalam filsafat, psiko-analisa dalam psikologi, dan banyak faham dan aliran di bidang lain seperti seni, logika dan moral.
Bedanya Kaum Samin dengan kaum kapitalis adalah antara bumi dan langit antara minyak dan Air yang menjadi “spaling partner” sejati. Kaum Kapitalisme asing dari segala macam bentuk transendensi (ta’aali). Kenapa? Karena rasionalitas menurut mereka adalah faham kekuasaan, di mana yang kuat harus (secara alami) mencaplok yang lemah. Jika ada yang menentang konsep semacam itu, maka ia tidak waras, (samin, Mbilung , Luweh, Menyun , Waleng dll ) terhalusinasi dan pembangkang karena “ingin merusak tatanan ko-eksistensi”. Lebih dari itu, itulah keadilan.
Tujuan utama menurut mereka adalah kenikmatan (material). Orang yang tidak mencari kenikmatan material itu tidak realistis. Dalam faham itu, sistem nilai ditentukan oleh keuntungan fisik. Mereka memberi teminologi tersendiri, lalu menggembar-gemborkannya dengan keuatan propaganda di segenap pelosok dunia.
Terminologi itu menjelaskan bahwa yang bukan liberal adalah totalitarian, anti plural, pembangkang, utopian, fanatik dan fascis. Dan tentunya teroris. Jelas dalam konsep semacam itu, Tuhan tidak diberi peran. Segala sesuatu yang menuju ke arahNya sia-sia. Membahas kapitalisme bisa dari segi sejarah kemunculannya, dari segi faham filosofisnya, kaitannya dengan konsep pemikiran lain dan seterusnya. Namun, bagi saya, kapitalisme tidak signifikan dari segi argumentasi, namun kuat dan besar dari sisi fenomena. Permunculannya sangat gemerlap. Oleh karena itu membahasnya sebagai fenomena dan ciri-cirinya lebih penting.
Masyarakat Amerika saat ini adalah bentuk terakhir peradaban umat manusia. masyarakat manapun yang hendak melanjutkan kemajuan akan berkahir pada bentuk masyarakat Amerika saat ini. Jika ada yang berharap manusia bisa mencapai sebuah peradaban yang lebih dari itu, ia seorang utopian. Perlu diingat bahwa masyarakat Amerika melihat satu manusia dibunuh dalam setiap delapan menit dan seorang wanita diperkosa dalam setiap enam menit. Tentu mereka berdua menjadi begitu tersohor dan ‘di-tersohor-kan’ tidak lepas dari rekayasa di balik layar.
Faham kapitalisme dan produk sejenis, tentu diadopsi oleh elit tertentu demi mempersiapkan umat manusia dijadikan batu bata bangunan imperial yang mereka bangun. Karena segala sesuatu dinilai dari uang dan uang adalah kekuasaan, mereka merambah dalam setiap bentuk kekuasaan, modal, pendidikan dan media massa.
Siapa itu kapitalis tulen?
Tanpa saya ingin berbicara panjang soal konsep kapilatisme, saya langsung hendak berbicara tentang kapitalisme sebagai sebuah kenyataan di alam luar. Sejak dahulu kala, kaum yahudi telah mengokohkan reputasi dalam bidang kapitalisme. Bentuk moderennya muncul di zaman kolonial, di Inggris terdapat beberapa keluarga yahudi yang salah satunya bernama Rotchild. Puncak keluarga itu adalah Baron Rotchild. Mereka begitu dekat dengan kerajaan. Inggris menjajah dua pertiga dunia dengan menggunakan serbuk mesiu dan modal dari Baron. Tentu, setelah mereka menguasai tanah-tanah itu, Baron mendapat bagian dari jutaan pound hasil rampasan mereka dari kekayaan India, Afrika dan kontinen Amerika.
Dengan itu mereka menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Semenjak runtuhnya komunisme di dekade 90-an, Amerika hendak memerankan 'hansip’ bagi pusat-pusat kekuasaan dan kaum kapitalis multinasional. Untuk itu mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat Amerika sekalipun. Walaupun Amerika dan Rusia masih merupakan dua adidaya militer, namun berbeda dengan sebelumnya mereka kali ini lebih banyak bekerjasama dalam rangka menjaga new world order, misalnya semasa perang teluk.
Menengok arti new world order (tatanan dunia baru), kita dapat menafsirkan arti yang mereka kehendaki adalah setelah runtuhnya komunisme, dunia harus kembali ke pangkuan adidaya tunggal yaitu AS. Teratur di bawah hegemoni tatanan kapitalisme. Oleh sebab itu muncul istilah global village atau globalisasi, yang menurut plesetan salah seorang kawan global-shitasi. Artinya dunia harus mengadopsi satu cara berpikir, budaya, sistem nilai. Kapitalisme. Sekali lagi kapitalisme tidak hanya memakan korban di luar Amerika.
Masyarakat Amerika sejak lama telah dibius untuk digunakan dalam rangka melestarikan logika “yang kaya makin kaya”. Sejumlah pemikir semacam Noam Chomsky telah lama membuka betapa ‘nilai-nilai’ yang digembar-gemborkan Amerika nyatanya sangat semu, bahkan di dalam negeri.
Dana perang dan senjata menjadi tak terkontrol lagi, sehingga bangsa Amerika tenggelam dalam hutang dan telah mengorbankan berbagai macam jasa sosial. Tidak mungkin sekaligus membayar perlombaan senjata dan memberi makan rakyat. Seperti di zaman Ronald Reagan dan kemudian George Bush.
Kini dana yang diambil dari jasa keamanan sosial (social security), gaji orang-orang pensiun dinganggap sebagai sebab defisit negara dan kemudian pemerintah melihatnya sebagai harta karun yang dapat menutup defisit tahunan yang mencakup 385 milyar, disebabkan oleh biaya produksi senjata dollar, sementara yang diakui secara resmi hanya 152 milyar dollar.
Dari sisi lain, praktis 25 persen dari rakyat Amerika buta huruf. Dari segi jumlah pelajar, Amerika berada di tingkatan keenam. Tentang harapan hidup (panjang umur) pada tingkatan ketujuh. Kualitas pendidikan di tingkatan kesepuluh. Kesejahteraan hidup di tingkatan kesepuluh, kematian anak di bawah umur di ukuran kedua puluh. Agar rakyat Amerika rela untuk berkorban, pemerintah selalu berpropaganda bahwa semua orang di dunia musuh mereka dan berbahaya. Jika di dekade 60an ada komunisme Castro, dekade 70an isu obat bius, kini amerika berpropagand mengenai terorisme. Rakyat Amerika diharap membayar ‘kebesaran’ mereka dengan nyawa putra-putra bangsa yang mati di medan perang tanpa mengetahui kebenaran sejatinya. Lihat bagaimana tentara Amerika sudah jenuh dengan perang di Afghanistan dan Irak , yang dikirim tanpa sebab musabab yang jelas.
1. Esensi Kapitalisme
Melihat kinerja kapitalisme dalam dua abad kiprahnya, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya kapitalisme adalah faham konservatif. Ia didesain untuk menjaga kondisi yang ada. Memproteksi status quo. Jangan peduli dengan jargon mereka tentang new world order. ‘New’ di sini berarti mengembalikan dunia pada bentuk kekuasaan tunggal, mengingatkan kita pada kekaisaran romawi pada puncak kejayaannya dan Inggris pada zaman kolonial.
Dalam rangka mencapai tujuan itu, pertama mereka harus melembagakan sebuah asumsi; akhir kesempurnaan adalah yang ada saat ini. Mereka sangat alergi dengan segala gerakan perbaikan hakiki.
Segala protes sosial, akarnya selalu dicari di keluhan-keluhan psikologis. Mereka yang revolusioner adalah manusia kalah. Mereka yang memegang prinsip agama, berpikiran dangkal dan anti pluralisme. Baik di luar Amerika maupun di dalam.
Keragaman kultural Amerika menunjukkan fakta adanya pembatasan terhadap segala usaha perbaikan hakiki. Lucu, pemerintahan di Amerika, dibagi antara hanya dua partai demokrat dan republikan. Jika satu memenangkan pemilihan presiden, maka yang lain otomatis memegang kongres. Walaupun kekuasaan di Amerika berada di tangan segelintir industrialis raksasa yang mengontrol kedua partai tersebut. Dalam pemilihan Presiden terakhir hanya yang kontroversial itu hanya 35% dari yang memiliki hak suara berpartisipasi. Itu menunjukkan bagaimana bangsa Amerika muak dan putus asa akan perbaikan kondisi politik Amerika. Lalu, di mana posisi kita berkaitan dengan fenomena kapitalisme? Ada beberapa kemungkinan:
Jika kita membekali diri dengan pandangan dunia yang dapat membendung pikiran kita dari hegemoni mereka, kita bisa berharap dalam prakteknya kita bertahan dalam perjuangan menyampaikan pandangan pandangan “Samininsme “ yaitu puncak kemanusian yang tiada lain adalah kehambaan terhadap Pangkal keberadaan dan bukan mendefinisikan manusia hanya pada sisi mortalnya. Tentu dengan bantuan Pemilik agama.
Jika tidak, artinya kita gagal mengadopsi sebuah pandangan dunia yang kokoh, dengan bekal pengetahuan agama, kita dapat mengisi bagian tertentu dari bangunan kapitalisme. Kita bisa mengambil posisi sebagai justifikator kekuasaan dan hegemoni kebatilan. Dengan demikian, kita membangun struktur hegemoni 'mini' dengan seorang raja 'kerdil' di atasnya, kita sendiri.
Atau dalam gambaran ketiga, kita menjadi manusia pasif yang pokoknya merasa ada yang dikerjakan. Untuk siapa? apa tujuannya? Tak usah dipersulit! Yang realistis saja!
Dari ke cenderungan di atas saya lebih memilih opini yang kedua Konservatif , kokoh dalam pendirian dan lebih suka “membilungkan diri “atau menyaminkan diri dalam tatanan ekonomi yang baru di bawah hati nurani. Hegemoni kekuasaan yang begitu absolutme itulah yang menyebabkan Amerika Serikat begitu dominan dalam percaturan Perekonomian dunia termasuk mempengaruhi percaturan ekonomi Indonesia ini. akhirnya Indonesia sangat rentan untuk praktek kapitalisme yang di bungkus Pancasila, Hak asasi manusia dan Neo demokrasi yang mengusung Liberalisme sehingga membuat para penguasa, politisi dan elite politik Indonesia begitu dominan dalam “Membilungkan diri” versi Pemerintah dan Wakil Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat.
Dengan kata Lain Mbilung Versus Mbilung , samin Versus samin , dimana Neo kapitalis kita lawan dengan sikap Samin.
C. Samin dan Uni Eropa
Menilik ke belakang orang orang Samin sudah sangat jenuh dengan penjajahan Neo kapitalisme dari Belanda sehingga mereka melakukan sebuah perlawanan yang konteporer pada jaman itu sehingga dianggap Orang aneh atau nyimpang. Namun ternyata sikap tersebut juga dimiliki oleh Kaum Eropa Tulen atau kaum Eropa yang tidak mau didikte Hegemoni Amerika Serikat yang begitu dominan sehingga menyebabkan dapat mengatur negara dengan Absolute of Power- nya.
Hal hal di atas lah yang menjadikan uni eropa adalah salah satu kekuatan baru yang benar benar akan “Menyamini” hegemoni Amerika serikat dengan Konsep kapilasime yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Karena melihat secara langsung sebuah realita yang dihadapi mengenai orang samin membuat darah/ide mengulirkan Konsep saminisme untuk menjadi “kekuatan penyeimbang” di dunia bisnis dan ekonomi yang saat ini tengah dikuasai oleh pihak konglomerat yang tidak mau berbagi suka dan duka dengan pengusaha “jelata” yang masih dengan enaknya menekan harga dan menentukan sebuah tarif berdasarkan keuntungan semata.
Dengan dimotori Perancis, Belanda, Jerman dan Uni Eropa menabihkan diri sebagai kekuatan baru symbol kekuatan dunia ke dua selain Amerika Serikat, dimana kekuatan itu lebih bersifat EKONOMI ketimbang kekuatan militer. Mereka sadar bahwa cara yang paling hebat untuk menjatuhkan Hegemoni Amerika Serikat hanya dengan sikap “SAMIN , MEMBILUNGKAN DIRI , LUWEH-LUWEH atau Cuek” ala mereka.
SAMINISME EKONOMI
1. Amerika Serikat Vs Uni Eropa
Amerika berasal dari Mars dan Eropa berasal dari Venus adalah gambaran tepat untuk menunjukkan bahwa Amerika dan Eropa itu adalah dua karakter yang berbeda karena mereka memang berasal dari dua planet yang berbeda.
Belakangan ini, baik Eropa dan Amerika diketahui memiliki perbedaan pandangan yang sulit untuk disatukan. Oleh karena itu, dalam percaturan politik global, mereka sering berseteru. Perbedaan pandangan tersebut pula yang kerap kali menyebabkan konflik muncul di antara keduanya. Hal ini bisa kita lihat dari sikap kedua aktor tersebut dalam menanggapi sejumlah masalah internasional.
Dalam menyelesaikan masalah Irak tersebut, Amerika dan Eropa memiliki pandangan yang berbeda. Eropa tidak setuju dengan tindakan Amerika yang unilateral dengan melakukan invasi ke Irak tanpa persetujuan dari Dewan Keamanan (DK) PBB. Lembaga PBB dianggap tidak ada oleh negara adi daya itu. Mereka mencela sikap AS yang mengesampingkan forum kerja sama multilateral.
Bagi Eropa, semua masalah harus diselesaikan dalam kerangka international cooperation. Sedangkan Amerika, sebaliknya, apa pun bisa dilakukan guna merealisasikan kepentingannya. Eropa meyakini bahwa kerja sama multilateral bisa mengeliminasi peperangan atau konflik. AS sebaliknya, apa pun meski itu perang halal dilakukan, selama itu ditujukan untuk melindungi kepentingan nasional negara adidaya tersebut.
Selain kasus Irak, kasus lainnya, yaitu masalah ratifikasi Protokol Kyoto ( Kyoto Protocol) yang merupakan perjanjian di antara sejumlah negara di dunia untuk mengurangi emisi gas buang. Kembali AS dan Eropa mempunyai pandangan yang berbeda mengenai emisi gas buang. Eropa menyadari bahwa tumbuhnya industri telah berkontribusi kuat terhadap terjadinya pemanasan global ( global warming) dan perubahan iklim udara. Sekarang saja, sebagian dari efek pemanasan global itu sudah kita rasakan, yaitu suhu yang semakin meningkat. Jika hal ini terus dibiarkan, peningkatan suhu akan memberikan pengaruh buruk terhadap sejumlah sektor kehidupan manusia, seperti pertanian, ketersediaan air, dan lain-lain.
Oleh karena itu, keberadaan Protokol Kyoto merupakan hal yang harus direspons secara positif. Sayangnya, Amerika yang semula ikut meluncurkan perjanjian itu, tiba-tiba di tengah jalan menolak untuk meratifikasinya. Akhirnya bisa ditebak, sejak ide awal itu diluncurkan di Brasil pada 1992 lalu, sampai kini Protokol Kyoto belum bisa diratifikasi. Penarikan mundur AS dari protokol tersebut pada 1997 membuat perjanjian mengurangi emisi gas buang itu terkatung-katung. Untungnya pada pertengahan 2004, Rusia sepakat untuk menandatangani protokol itu. Sehingga pada Februari 2005, Protokol Kyoto akan segera diimplementasikan. Tentunya ini adalah kemenangan bagi pihak-pihak yang mengutamakan kerangka multilateralisme. Kasus ratifikasi Protokol Kyoto menunjukkan kepada kita bahwa semangat multilateralisme harus ditempatkan di atas segalanya. Sayangnya hal ini tidak dimiliki AS yang lebih suka menggunakan tindakan sepihak (unilaterlisme) untuk menggolkan kepentingannya. Dari kasus tersebut, bisa dilihat bahwa Eropa lebih suka memilih kerja sama internasional sedangkan Amerika sebaliknya. Unilateralisme Kedua contoh kasus di atas cukup menjelaskan bahwa Amerika dan Eropa adalah dua dunia yang berbeda. Perbedaan pandangan antara Eropa yang lebih mengedepankan kerja sama multilateral dan Amerika yang lebih suka tindakan unilateral, telah menyebabkan mengapa Eropa dan Amerika belakangan ini sering kali berseberangan.
Tidak dapat disangkal, para pemimpin Eropa selama ini sering terganggu oleh implementasi kebijakan dan aksi AS di luar negeri. Akibatnya, ketegangan hubungan pun terjadi di antara keduanya. Sekali lagi dapat disimpulkan bahwa begitu lebarnya jurang perbedaan antara Eropa dan Amerika, mau tidak mau keduanya harus berjalan dengan cara masing-masing. Tentu saja dengan kebangkitan Uni Eropa, maka Uni Eropa pun harus siap berhadapan dengan AS yang dasar tabiatnya kerap kali memarginalkan perjanjian-perjanjian internasional yang sangat dihargai orang-orang Eropa.
Pengabaian Eropa terhadap militer ini juga berkontribusi terhadap semakin melebarnya gap antara Eropa dan Amerika. Eropa selalu mengatakan bahwa uang mereka tidak cukup untuk membeli belanja militer seperti yang diinginkan AS. Sebagai gantinya, uang Eropa lebih banyak dipakai untuk membiayai sejumlah program pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Amerika dan Eropa berasal dari dua planet berbeda. Amerika mengadopsi dunia hobbesian di mana power adalah segalanya untuk menghalalkan segala cara. Hal inilah yang membuat AS dalam menghadapi ancaman, kerap kali menggunakan kekuatan militer dimana Eropa lebih memilih jalan damai melalui diplomasi dan perangkat hukum yang ada. Akibat dari banyaknya perbedaan di antara Eropa dan Amerika maka hal ini pun mengurangi rasa solidaritas di antara mereka. Tidak heran apabila mereka bersikeras mempertahankan pendapatnya masing-masing. Perspektif Eropa dan Amerika, tidak dapat disangkal, kini memang sedang berubah dimana AS masih tetap meyakini bahwa penambahan kekuatan harus terus dilakukan karena bagaimanapun dalam pandangan AS, kelestarian keamanan dan kebebasan masih bergantung terhadap penggunaan kekuatan militer, sedangkan Eropa meyakini bahwa perdamaian dan kemakmuran hanya bisa dijamin kelestariannya melalui penguatan hukum dan diplomasi dan kerangka ekonomi.
2. Saminisme Ekonomi
Menyadari yang dihadapi adalah raksasa ekonomi dunia Uni Eropa berusahaa merangkul Dunia ketiga yaitu Asia untuk berkolaborasi menciptakan tatanan baru yang berdasarkan sendi dan norma yang lebih puitis dan epologi dalam sebuah bingkai kerjasama yang multilateral. Dalam satu sisi saya sependapat untuk melakukan sebuah revolusi perdagangan dengan metode yang baru, dimana sebuah KESEWENANG- WENANGAN hanya akan dilawan dengan sikap “mbilung” samin dan Luweh.
Jika sebuah Konsep saminime digulirkandan dikembangkan maka akan mematikan sebuah konsep perekonomian Global yang sudah ada di dunia ini termasuk kapitalisme, Machivalisme , Aneksasime, Liberalisme, Sosio Komuniksme, Marxisme dan lain-lain.
Hal hal yang sangat mendasar jika Saminisme digulirkan maka akan terjadi revolusi perekonomian makro secara menyeluruh. Perusahaan mana yang tidak akan setuju jika barang yang seharusnya baik di katakan baik dan yang kuaalitasnya jelek di katakan jelek. Hal itulah yang mendasari orang samin untuk tidak mau berdagang karena takut untuk berbohong karena akan bertentangan dengan hati nurani sendiri .
Dengan adanya SAMINISME EKONOMI maka tidak diperlukan lagi perusahaan jasa antara konsumen dan produsen, karena dengan demikian pihak produsen bisa menghitung berapa nilai jual barang dan berapa keuntungan yang akan di peroleh, terlebih juga konsumen akan merasa tidak dibohongi karena barang tersebut dan mendapatkan jaminan pasokan barang yang continue. Ada 4 yang menjadi pokok terpenting yang selalu saya garis bawahi :
a). Perusahaan yang besar sekalipun tidak akan mampu melawan Industri Hilir yang dikembangkan dengan metode SAMIN dikarekanan BISNIS BUKAN LANTARAN UANG, MELAINKAN SEBUAH TATA CARA bagaimana konsumen/pelanggan merasa save dalam keterjaminan mutu , dan kuantitas barang yang dihasilkan sehingga dengan sendirinya timbul Trusting yang akhirnya membuat aliran dana/regulasi perdagangan secara natural.
b.) Karena trusting tersebut maka timbul yang namanya kerja sama/cooperation antara satu institusi perusahaan dengan institusi perusaaan yang lain dalam bingkai Perdagangan, sehingga ketika perusahaan Produsen membutuhkan Pasokan dapat memperoleh dari pasokan Produsen lainnya di lingkup yang dikehendakinya.

c.) Karena sebab dan akibat di atas akan menimbulkan Short Distribution sehingga cost value production akan terpotong dengan sendirinya karena tidak memperlukan media/jasa, ibarat multi level marketing maka jasa/media penyampaian menggunakan kecanggihan teknologi yang lebih efisien dan signifikan sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi perusaahaan masing masing.

d.) Dan yang lebih penting dalam mengolah bisnis adalah SAMIN (JUJUR, APA ADANYA, TERBUKA, FAKTUALISTIK, dan KAREKTERISTIK) sehingga ketika peurusahaan dari belahan eropa menggambil sumber daya alam perusahaan konsumen maka harus mempertimbangan suplay garansi dengan mempelihara ekosistem alam dan juga pertumbuhan ekonomi perusahan produsen sebaik baiknya. Sehingga Tidak ada Keuntungan yang Absolute dan Kerugian yang abnormal. Semua berdasarkan Asas Adil dan Merata berdasarkan Fungsi dan Tugas masing masing perusahaan/institusi tersebut dengan upaya yang di atas akan tercipta kesinambungan antara Buyer/ Konsumen dan produsen/pemilik barang dalam bingkai perdagangan International yang Futuristik. Buyer puas dengan hasil product produsen, dan produsen mampu memberikan kepastian barang dan ketepataan barang/suplay garansi product.
Sebagai-mana orang orang Samin yang menganggap Guru tanpa Buku maka di sini pun saya adaptasi sistem itu lebih “tajam” dimana SDM yang akan mengawal konsep baru ini tidak perlu DOCTOR, PROFESOR atau Ahli sekalipun. Yang diperlukan dalam konsep ini adalah orang yang mau bersikap SAMIN, karena orang Samin itu berkata berdasarkan apa yang menjadi kenyataan, tidak akan berkata yang bukan jadi kenyataan/berbohong. Orang Samin menggangap guru meraka adalah alam melalui areal persawahaan itu bermasksud bahwa Guru/pelajaraan yang paling cepat dicerna adalah pelajaran realita bukan di PERGURUAN TINGGI, BUKAN MENJADI DOCTOR atau bagaimana Menjadi Profesor akan tetapi bagaimana memahami kodrat alam dalam sebuah realita. Hal ini pun saya adopsi lebih signifikan dalam SAMINISME EKONOMI dengan lebih mengedepankan realita Studies, dari pada teoritical Studies.
Bakat Alam lah yang menuntut Orang Samin untuk melawan Pergerakan kolonial belanda. Keadaanl ah yang memaksa mereka melawan penguasa, maka di sini pun sama realita lah yang mengajarkan perubahaan ekonomi bukan ditentukan oleh Doctor, bukan ditentukan banyaknya gelar, bukan ditentukan lulusan Universitas mana atau bukan, tetapi ditentukan SIAPA ANDA .
Ekonomi Samin dan implikasinya
Di kalangan Ekonomi Eropa/barat mulai terjadi kejenuhan dengan gaya perekonomian yang menampilkan power of corporate, atau masih adanya dominasi Liberalis, kapitalis dan Egocentris dari pengusahaan yahudi dan non yahudi yang membuat kehidupan hanya materialistik dan paternalistik dalam pluralisme dan manusia dipacu untuk mengatakan sesuatu yang tidak menjadi wewenangnya.
Istilah Ekonomi samin saya ambil dari Suku di daerah tempat tinggal saya ( karisidenan Pati – Jawa tengah ). Perbedaan yang pasti antara sikap pebisnis saminis dengan pebisnis ala kapitalis .
Samin Kapitalis
Berbicara apa adanya dan memilih bersikap Aneh/Nyeleneh dalam memerangi ketidak samaan Berbicara berdasarkan Logika dan lebih berdasar kepada kebendaan
Uang bukan segala galanya, melainkan sebuah kekeluargaan/persaudaraan Siapa yang menguasai Pasar uang dialah raja , Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin
Bersandarkan Filosofi kembali dari alam untuk alam dari manusia untuk manusia Dan dari Tuhan untuk Tuhan Materilistik dan lebih memandang Kebendaan segalanya
Egaliter dan bersikap Sama rata dan adil terhadap semua manusia Bersikap Ambivalen seperti mata pisau yang tajamnya ke bawah, ke atas / Penguasa lebih Tumpul kebawah lebih tajam
Memiliki Keyakinan Sesuatu yang dianggap betul oleh dirinya sampai mati akan dipertahankan selamanya Lebih Kontra produktif, Lebih Equvalence terhadap situasi dan kondisi yang di hadapi masyarakat Liberal dan Kapital
Yang di hadapi masyarakat Segelintir orang dan lebih terkesan sosio hegemonial semata tidak menyeluruh
Tidak memiliki pamrih apapun untuk mencapai tujuan bisnisnya , melakukan bersarkan hati dan nurani mereka Memiliki keinginan ambisi dan tujuan tertentu untuk mencapai tujuannya
Selalu berseberangan dengan penguasa yang Kontra produktif dengan masyarakat kecil dan terpinggirkan karena kesewenangan yang dilakukan penguasa Selalu menjadi Jargon penguasa untuk mencapai Tujuan Bisnis politik dan kekuasaan
Jujur, sederhana, polos, lugu dan memegang teguh keyakinan warisan orang tua/Nenek moyang Korup , Lebih jetset/bersikap Konglomerasi, glamour dan lebih mengedepankan penampilan fisik.
Lebih memanusiakan manusia Lebih mengedepankan Liberalisme demokrasi kemanusiaan sebagai symbol
Nyeleneh dan Dianggap tidak wajar oleh sebagian masyarakat Umum lainnya dan dianggap ANTI KEMAPANAN Dianggap pusat dunia keglamoran kebebasan dan liberal
Tentunya kita tidak perlu Menjadi orang samin namun kita perlu menanamkan jiwa saminisme untuk membangun Ekonomi kerakyataan yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah.
Pokok pokok garis besar Ekonomi Kerakyataan yang berbasis Saminisme:
1 Egaliter dalam memimpin
2 Tidak ada yang diistimewakan
3 Memegang Teguh Anggaran pendapatan belanja dan pengeluaraan
4 Meyakini apa yang perlu diyakini
5 Lugu dalam menyampaikan sikap
6 Polos dalam bertindak
7 Jujur dalam menyampaikan opini publik
8 Menanamkan sikap kaku namun lugas dan fleksibel berdasarkan factualisme yang terjadi
9 Memiliki jaringan yang handal dalam menguatkan bisnis, karena Ibarat Jaringan Partner adalah Saudara, anggaplah seperti itu, tidak ada kawan sejati yang ada kepentingan Sesaat ,namun dengan Flasback Nurani yang berjiwa Enterpreneur maka bisnis yang bercorak Liberal akan terkikis dengan sendirinya.
Kritikus terhadap kebijaksanaan publik menyangkut Hajat masyarakat, ibarat masyarakat Samin melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menyangga ekonomi keluarga dengan berocok tanam dan bertani sebagai landasan hidupnya, maka dalam Konteks Kontemporer ini sikap seperti itu lebih Fleksibel, majemuk dan berbasis perekonomian kerakyataan karena tidak ada dalam Acuan buku buku Top dunia lainnya .

Orang Samin di Sukolilo, Pati (2)

Orang Samin di Sukolilo, Pati (2)

Urunan Hasil Panen sebagai Ganti Pajak



WONG SINGKEP: Mbah Tarno ditemani putra bungsunya, Icuk Bamban, dan menantu perempuannya ketika mengungkapkan perihal wong Sikep di ruang tamu rumahnya. - SM/Saroni Asikin(55j)

KEHIDUPAN sehari-hari wong Sikep di Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati dimulai pukul enam pagi. Saat langit masih cukup remang, apalagi bila sedang musim penghujan, mereka yang berusia remaja dan dewasa, sudah berduyun-duyun pergi ke ''sekolah''. Jangan berpikir itu sebuah bangunan berisi ruang-ruang kelas tempat seorang siswa belajar dan guru mengajar.
Bukan. Orang-orang Samin di situ tak memercayai pendidikan formal seperti yang dikenal umum. ''Sekolah'' yang dimaksud itu, hamparan sawah yang hampir setiap hari mereka datangi dan menjadi sumber utama penghidupan mereka.
''Apa kang aran sekolah? Iku lak ngajarke budi pekerti lan ketrampilan. Kabeh diajarke ning pondhokane sedulur-sedulur Sikep. Ketrampilan ya diajarke ning sawah-sawah. (Apa yang disebut sekolah? Itu kan mengajarkan budi pekerti dan keterampilan. Semua diajarkan di rumah orang Sikep. Keterampilan ya diajarkan di sawah-sawah)," ungkap Mbah Tarno, pemuka masyarakat.
Menurut pengakuan dia, tak ada anak wong Sikep yang disekolahkan dalam pendidikan formal. Ajaran budi pekerti dan tentu saja saminisme diinisiasikan di rumah-rumah mereka. Setiap hari, anak-anak lebih banyak melewatkan waktu dengan bermain-main di sekitar lingkungan mereka atau bahkan ikut orang tua ke sawah.
Dan memang, betapa pentingnya sawah bagi kehidupan mereka. Bila musim penghujan, mereka menanam padi dan ketika kemarau mereka menanam jagung. ''Tetanen wis dadi uripe sedulur Sikep. Dagang ora kulina lan ora seneng. Wong dagang iku lak gelem nindakna goroh. Ingsun ora gelem goroh. Yen tetanen, sapa kang digorohi?"
Ya, pertanian telah menjadi sumber penghidupan, karena mereka tak suka berdagang yang disebutnya sebagai aktivitas yang tak luput dari kebohongan. Padahal, orang Sikep memiliki prinsip tak mau berbohong. Jadi boleh dibilang, kehidupan wong Sikep di situ, bergerak dari rumah ke sawah dalam siklus yang (barangkali) sangat monoton. Boleh dibilang pula, kehidupan orang Sikep di situ seolah-olah berada dalam bingkai rumah dan sawah. Tak ada warna lain selain itu. Kalau toh mereka bepergian -dan itu sangat jarang dilakukan mereka- hanya apabila mereka membutuhkan, misalnya untuk menjual sebagian panenan.
Dalam tataran itu, perantauan atau mencari penghidupan di luar wilayah mereka hampir-hampir tak pernah dilakukan. Walau begitu, seorang staf di Balai Desa Baturejo mengatakan, beberapa tahun ini telah ada perubahan cara hidup dalam diri mereka, khususnya dalam soal mencari penghidupan.
''Beberapa kalangan muda mereka mulai membuka diri ke dunia luar dan mencari pekerjaan dengan merantau ke tempat lain. Namun memang secara umum masih banyak yang bertahan dengan bertani saja,'' ujar sumber tersebut.
Mencari Ikan
Dengan monotonitas seperti itu, dalam keyakinan wong Sikep, segalanya serbabersahaja. Alam bagi mereka merupakan ajang yang demikian bermurah hati untuk penghidupan. Ya, mereka makan dari hasil panenan. Dan, ketika mereka membutuhkan lauk-pauk, alam pulalah yang menyediakannya buat mereka.
Banyaknya bonorawa (lahan yang menyerupai rawa-rawa kecil) yang terdapat di sekitar persawahan mereka adalah ekosistem yang baik untuk beberapa jenis ikan. Dan, pencarian ikan itu biasanya dilakukan pada malam hari oleh para lelaki muda, meskipun seharian tenaganya telah terperas oleh kerja di sawah.
Di sela-sela itu, tak pernahkah mereka saling berkumpul untuk sekadar membicarakan persoalan mereka pribadi? Ketika ditanya itu, dengan tegas Mbah Tarno menjawab, ''Kumpulan ya karo rabine dhewek-dhewek.'' Maksudnya, ''berkumpul'' dalam pandangan mereka itu adalah melakukan hubungan suami istri.
Kalau boleh diringkas, beginilah siklus hidup wong Sikep di Bombong. Pagi hari mereka pergi ke sawah hingga siang atau bahkan sore hari. Dan, pada malam hidup mereka diisi dengan mencari ikan untuk lauk-pauk.
Dengan kebersahajaan serupa itu, adakah mereka melakukan segalanya dengan cara yang serbatradisional dan menolak peranti teknologi yang tak bisa mereka buat sendiri? Tak selalu. Mereka bukan komunitas yang zakelijk dan mati-matian menolak peranti teknologi. Bahkan, peranti itu diterimanya sebagai pendukung cara hidup mereka.
Mau bukti? Selain rumah-rumah mereka telah berlistrik, untuk mencari ikan misalnya, banyak dari mereka yang menggunakan pancing setrum dengan tenaga aki. Bahkan beberapa sumber di dukuh sekitarnya mengungkapkan, kini beberapa wong Sikep telah memiliki motor untuk aktivitas sehari-hari.
Contoh lain, di rumah Mbah Tarno saja terdapat sebuah pesawat televisi hitam putih model lama yang berada di pojok ruang tamu, dekat tumpukan karung-karung padi. ''Iku diparingi rombongan mahasiswa, ning wis rusak,'' ujar Icuk Bamban, putra bungsu Mbah Tarno.
Sering Didatangi
Kehidupan yang secara spesifik berbeda dari komunitas kebanyakan, tak termungkiri lagi membuat komunitas wong Sikep sering didatangi orang dari luar. Tentu saja kedatangan mereka memiliki maksud berbeda-beda. Ada yang berupa tur studi, seperti yang dilakukan mahasiswa pemberi pesawat televisi itu. Ada yang datang untuk keperluan politis seperti yang sering terjadi menjelang pemilu.
''Pemilu lalu sebagian besar mereka pendukung partai yang berjaya pada masa Orba. Akan tetapi yang muda-muda telah banyak yang memilih partai pemenang pemilu lalu,'' ujar Kunarto SH, Sekretaris Kecamatan Sukolilo.
Dia juga mengungkapkan soal ketokohan Mbah Tarno. Maksudnya, dalam melakukan pilihan, sebagian besar wong Sikep mengikuti pilihan sang tokoh. ''Tak heran dia banyak didatangi orang partai. Namun ya tak mudah. Wong berhadapan dengan Bupati saja mereka bergeming dengan keyakinannya. Misalnya ketika mau diberi bantuan sesuatu, mereka menolak dan bilang telah memilikinya.''
Dalam perkara administratif pemerintahan, bukan hal mudah bagi pemerintah untuk mengajak mereka patuh aturan. Lihat saja, seperti yang dilakukan penganjur saminisme Samin Surosentiko yang menolak pajak pada Belanda, mereka pun tak mau mengeluarkan pajak. Akan tetapi, bukan berarti tak ada yang bisa ditarik dari mereka.
''Istilahnya saja yang harus diganti. Kalau disuruh bayar pajak mereka bilang harta yang mereka punyai itu atas usaha mereka yang diwarisi sejak zaman Adam. Namun katakan saja 'urunan hasil panen' sebagai alih-laih pajak, mereka akan bersedia,'' ujar Kunarto.
Belum lagi soal KTP. Khususnya dalam kaitan penerapan nama agama dalam KTP, selama ini masih ada ketidaksepakatan antara wong Sikep dan staf di balai desa. Mereka menginginkan agama yang dicantumkan adalah ''agama Adam'' seperti yang mereka yakini. Sudah pasti itu jadi persoalan dalam pembuatan KTP yang memang tak mengenal agama tersebut. Yang terjadi selanjutnya adalah pengosongan nama agama.
Apa kata Mbah Tarno soal agama? ''Agama iku ageman. Sing diagem iku gaman. Gamane wong lanang ya padha kabeh. Gaman sing kanggo sikep rabi. Adam iku pangucape.''
Tak mudah menerjemahkan kalimat-kalimat tokoh Sikep Bombong itu. Akan tetapi yang pasti, perkawinan seperti yang telah disebutkan pada tulisan pertama menjadi unsur terpenting dalam keyakinan saminisme mereka. Yang pasti lagi, sejauh ini mereka tetap berupaya agar ''agama Adam'' mereka diterakan dalam KTP.