Sunday 5 December 2010

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DJENDERAL SOEHARTO DIDEPAN SIDANG DEWAN PERWAKILAN RAKJAT 16 AGUSTUS 1972

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DJENDERAL SOEHARTO DIDEPAN SIDANG DEWAN PERWAKILAN RAKJAT 16 AGUSTUS 1972



Presiden Soeharto :
,,....................pembangunan jang kita kerdjakan adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnja dan pemba- ngunan seluruh masjarakat Indonesia!
Pembangunan manusia seutuhnja, berarti pemba- ngunan jang tidak hanja mengedjar kemadjuan lahir sadja atau hanja kepuasan batin sadja; melainkan, ke-selarasan dan keseimbangan antara keduanja. Pemba-ngunan seluruh masjarakat Indonesia, berarti pemba-ngunan jang tidak hanja berlangsung dimasjarakat disuatu pulau atau daerah sadja; melainkan pemba- ngunan jang merata diseluruh Tanah Air ini. Kita djuga menghendaki keselarasan hubungan antara bang- sa-bangsa. Malahan kita menghendaki keselarasan antara manusia dan lingkungan alam sekitarnja; djuga keselarasan antara tjita-tjita hidup didunia dan menge- djar kebahagiaan diachirat nanti
Presiden Republik Indonesia Djenderal Soeharto

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Saudara Ketua, para Wakil Ketua dan para Anggota Dewan Perwakilan Rakjat jang saja hormati;
Hadirin jang berbahagia ;
Dengan memandjatkan pudji sjukur kehadapan Tuhan jang Maha Esa, maka hari ini saja berdiri dihadapan Sidang De- wan Perwakilan Rakjat untuk jang ketudjuh kali dalam dja- man Orde-Baru ini, untuk menjampaikan pidato kenegaraan pada setiap tanggal 16 Agustus, mendjelang Hari Ulang Ta- hun Kemerdekaan kita. Kali ini pidato itu disampaikan dihadapan Sidang Dewan Perwakilan Rakjat Hasil Pemilihan-Umum, jang sekarang telah berumur lebih kurang 10 bulan.
Saat seperti ini tentu mempunjai arti jang chusus dalam pertumbuhan kehidupan konstitusionil dan demokrasi kita. Oleh karena itu, pertama-tama saja gunakan kesempatan ini untuk menjampaikan terima kasih kepada Dewan jang terhor-mat atas kerdjasama jang selama lebih kurang 10 bulan ini dapat diwudjudkan oleh Dewan sebagai pemegang kekuasaan legislatif dan saja selaku Presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif. Kerdjasama dalam arti jang positif — bukan jang satu hanja meng-"amien"-i jang lain, djuga bukan jang satu serta merta meng-,,tidak"an jang lain — sungguh mutlak,
5
agar kita dapat melaksanakan tugas dan tanggung djawab konstitusionil sesuai dengan semangat Undang-undang Dasar 1945.
Dan lebih dari itu kita bersama-sama harus berusaha untuk melaksanakan sebaik-baiknja — setidak-tidaknja menurut ke-jakinan dan iktikad kita — apa jang ditetapkan sebagai Haluan Negara oleh MPR(S), oleh Rakjat Indonesia. Pada pelaksanaan Haluan Negara, sebagai amanat Rakjat inilah, seluruh kekuatan dan kemampuan Bangsa Indonesia mengalir dalam satu arus pokok jang besar. Suatu pengerahan kekuatan dan kemampu- an Bangsa Indonesia jang tidak hanja menjangkut kekuatan lahiriah dan ekonomi; melainkan djuga dari fikirannja, rang-sangan dan perasaannja, harapan dan tjita-tjitanja, ialah pe-laksanaan pembangunan Bangsa, pengisian kemerdekaan jang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sesungguhnja, pembangunan jang kita kerdjakan adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnja dan pembangunan seluruh masjarakat Indonesia!
Pembangunan manusia seutuhnja, berarti pembangunan jang tidak hanja mengedjar kemadjuan lahir sadja atau hanja ke-puasan batin sadja; melainkan keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keduanja. Pembangunan seluruh masja-rakat Indonesia, berarti pembangunan jang tidak hanja ber-langsung dimasjarakat disuatu pulau atau daerah sadja; me-lainkan pembangunan jang merata diseluruh Tanah Air ini. Kita djuga menghendaki keselarasan hubungan antara bangsa-bangsa. Malahan kita menghendaki keselarasan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnja; djuga keselarasan antara tjita-tjita hidup didunia dan mengedjar kebahagiaan diachirat nanti.
Kehidupan manusia dan masjarakat jang serba selaras itulah tudjuan achir kita, jang setjara ringkas kita sebut masjarakat madju, berkeadilan sosial berdasarkan Pantja Sila.
6
Untuk tudjuan itulah kita merebut Kemerdekaan 27 tahun jang lalu.
Dan untuk tudjuan itu pula kita merintis djalan sekarang ini. dengan melaksanakan REPELITA jang pertama.
Apabila kita besok pagi memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan itu, maka maksud kita jang utama ialah untuk meresapi dan menghajati lebih dalam tudjuan dan tjita-tjita Kemerdekaan tadi. Tanpa menghajatinja, kita tidak akan me-ngerti arti jang dalam daripada Kemerdekaan ini; dan mungkin kita akan kehilangan arah dalam menggerakkan pemba- ngunan.
Sebab itu, Saudara Ketua, mendjelang peringatan Ulang Ta-hun Kemerdekaan besok, saja mengadjak seluruh Bangsa ini bersama-sama menakar keadaan sekarang, menilai kemadjuan-kemadjuan jang kita tjapai, meneliti kekurangan-kekurangan jang kita alami, melihat apakah arah tudjuan dari gerak dan gelora kita hingga sekarang ini tetap tidak berobah. Seperti ke-biasaan fang telah kita rintis, saja gunakan kesempatan ini sekaligus untuk melaporkan pelaksanaan program-program Pemerintah selama tahun jang lewat, ialah pelaksanaan tahun ke-3 REPELITA, tidak sadja tertudju kepada Dewan jang ter-hormat ini, tetapi djuga dimaksudkan untuk didengar dan dike-tahui oleh seluruh Rakjat dipelosok-pelosok Tanah Air kita ini, dan bahkan djuga agar dapat mendjangkau mereka jang berada diluar negeri.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Saat ini, kita telah melampaui pelaksanaan tahun ke-3 RE-PELITA jang pertama. Ini berarti kita telah melewati lebih dari separoh djalan dalam perdjalanan kita mentjapai sasaran-sasaran REPELITA jang pertama. Tetapi kita masih harus berdjalan lebih djauh, bukan sadja harus menjelesaikan REPE-LITA I ini, tetapi menudju REPELITA ke-2, REPELITA ke-3, dan seterusnja. Sehingga achirnja nanti — sesudah melampaui kesekian banjak REPELITA — kita tiba pada tudjuan achir jang kita tjita-tjitakan: masjarakat madju, adil dan makmur berdasarkan Pantja Sila.
7
Masjarakat jang demikian itulah jang kita tjita-tjitakan. Memang, suatu bangsa harus mempunjai idealisme, harus mem-punjai gambaran mengenai wadjah masjarakat jang diinginkan. Tanpa memiliki idealisme itu, ia akan berdjalan tanpa arah; mungkin tersesat dan djatuh ditengah djalan. Tetapi dalam mentjapai tjita-tjita itu, kita djuga harus tetap berpidjak pada kenjataan; sebab, tanpa berpidjak pada kenjataan, tjita-tjita sebenarnja tidak pernah akan terwudjud, ia hanja berupa la-munan. Kenjataan itu umumnja pahit dan keras; seringkali sangat pahit dan sangat keras. Sebab itu, dalam mewudjudkan tjita-tjita, kita harus berdjoang, harus mengerahkan semua kemampuan jang ada, harus ulet dan harus tabah. Dengan perkataan lain, bangsa jang membangun harus memiliki keper-tjajaan pada diri sendiri dan harus mampu berdiri diatas ke-kuatannja sendiri. Mempertebal kepertjajaan pada diri sendiri dan memperbesar kekuatan sendiri inilah jang mendjadi pra-sjarat bagi berhasilnja pembangunan; dan kedua-duanja harus kentara dalam setiap gerak pembangunan.
Kita djuga harus memperhitungkan perkembangan-perkem-bangan dunia jang sedang berdjalan ini, terutama jang ada di,-sekitar kita, jang erat hubungannja dengan pelaksanaan per-djoangan kita, jang akan dapat mempengaruhi keadaan dan pelaksanaan rentjana-rentjana kita.
Kita perlu memperhatikan perkembangan-perkembangan itu sebab, kita memang tidak hidup sendiri didunia ini. Kemadjuan teknologi dan komunikasi mengakibatkan dunia kita sekarang seolah-olah bertambah sempit, hubungan antar bangsa-bangsa demikian erat dan pengaruh-mempengaruhi malahan dalam banjak hal bangsa-bangsa itu saling membutuhkan; sebab itu, orang djuga mengatakan, bahwa hidup setiap bangsa sekarang saling bergantungan jang satu terhadap jang lain. Tidak satu bangsapun jang dapat sepenuh-penuhnja membebaskan diri dari sifat ketergantungannja terhadap bangsa-bangsa jang lain.
Sudah tiba saatnja bangsa-bangsa harus saling mengulurkan tangan untuk bekerdjasama memetjahkan masalah-masalah
8
jang dihadapi oleh semua ummat manusia, bukan lagi berdiri berhadap-hadapan, saling menodongkan sendjatanja kehadapan jang lain. Harapan atau seruan ini bukan satu impian, melain- kan keharusan jang dilahirkan oleh perkembangan dunia sen-diri.
Betapapun perbedaan sistim sosial dan politiknja, semua bangsa-bangsa sesungguhnja ingin mengusahakan satu tudjuan jang sama; ialah ketenteraman hidup dan perbaikan tingkat kehidupan manusia.
Dalam hal ini masalah-masalah jang dihadapi hakekatnja sama, walaupun mungkin dengan bentuk jang berlain-lainan. Ummat manusia menghadapi bahaja ledakan djumlah pendu- duk jang tidak seiring dengan kemampuan untuk menjediakan kebutuhan-kebutuhan hidup jang makin beraneka ragam. Ke-madjuan teknologi dan industri dapat mempertjepat terkuras- nja habis kekajaan alam, sedangkan kekajaan alam itu sendiri tidak dapat diganti dengan jang baru.
Baik negara-negara jang madju maupun negara-negara jang miskin digelisahkan oleh keadaan lingkungan jang buruk. Ne-gara-negara madju mulai menderita oleh rusaknja lingkungan hidup karena akibat pengotoran udara dan pentjemaran alam oleh industri; sedangkan negara-negara miskin telah lama merasakan antjaman dan buruknja lingkungan hidup, karena kemiskinan dan kemunduran ekonominja. Sebab itu, bangsa-bangsa didunia hares membangun suatu tata hubungan baru dengan semangat baru, saling membantu, bersama-sama men-tjari djalan untuk menjelamatkan ummat manusia dan kema-nusiaan
Hubungan itu tidak seharusnja semata-mata didasarkan pada perhitungan untung rugi ekonomi djangka pendek, jang satu mendjadi bangsa semata-mata sebagai pasaran pendjualan pro-duksi dan sumber pengambilan bahan mentah bagi bangsa jang lain. Hubungan itu djuga tidak seharusnja berbentuk antara „negara pelindung” dengan „negara jang dilindungi” atau „ne-gara-negara besar” dengan „negara-negara satelit”.
9
Sikap pokok kita mengenai tata hubungan bangsa ini tjukup djelas, karena kita memiliki prinsip politik luar negeri jang bebas-aktif, jang merupakan pengetrapan dari landasan falsa- fah Pantja Sila. Kita ingin semua bangsa hidup dalam masjara-kat bangsa-bangsa setjara selaras dan damai, saling bantu-membantu, tanpa membeda-bedakan kejakinan politik atau sis-tim sosial atau kejakinan agama.
Dengan sikap pokok jang demikian itulah kita menghadapi masalah-masalah internasional.
Saudara Ketua;
Dalam tahun terachir ini telah terdjadi peristiwa-peristiwa panting jang menjebabkan adanja perobahan-perobahan pola hubungan antara Bangsa-bangsa didunia ini, jang tampaknja akan terus berlangsung dalam dasawarsa 70-an jang sekarang ini. Perobahan-perobahan itu begitu mendasar dan bergerak dengan sangat tjepatnja, sehingga saja rasa, merupakan per-obahan jang sangat panting dalam seperempat abad terachir ini, semendjak berachirnja Perang Dunia ke-Il.
Terhadap peristiwa-peristiwa dan perobahan-perobahan ini kita harus menentukan sikap dan mengambil langkah-langkah untuk melaksanakan sikap tadi. Sikap kita tjukup djelas, seperti jang saja singgung setjara singkat tadi, ialah berlandaskan pada Pantja Sila clan memegang teguh garis politik luar negeri jang bebas-aktif, dan jang pelaksanaannja setjara pragmatis untuk mempertahankan atau memperdjoangkan kepentingan perdjo-angan Nasional.
Dalam hubungan ini perlu dikemukakan beberapa peristiwa dan masalah jang saja maksudkan tadi.
RRT telah diterima mendjadi anggota PBB, dalam Sidang Umum PBB jang lalu jang dipimpin oleh putera Indonesia, Sau-dara Adam Malik, dan dalam suasana dunia menghadapi berba-gai-bagai perkembangan jang tjukup rumit. Sikap kita mengenai masalah keanggotaan RRT dalam PBB ini tjukup djelas. Kita
10
memegang prinsip, bahwa semua bangsa hares dapat diterima dalam organisasi dunia itu; djustru agar semua bangsa dapat bersama-sama memetjahkan dan memikul tanggung-djawab terhadap nasib ummat manusia. Sedjak semula, kita djuga me-nganut politik „satu Tjina”. Sebagai prinsip hal itu tidak pernah berobah, oleh karena itu, kita tidak menentang masuknja RRT kedalam PBB dan kita djuga tidak mempunjai hubungan di-plomatik dengan negara „Republik Tiongkok Nasionalis”.
Hubungan diplomatik antara Djakarta-Peking berada dalam keadaan beku sedjak pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965. Apakah hubungan itu akan mendjadi tjair ataukah tetap seperti sekarang, akan tergantung pada sikap fihak sana terhadap kita. Kita ingin membuka hubungan persahabatan dan kerdja-sama dengan semua negara, tanpa membeda-bedakan sis-tim politik dan sosial jang dianut, tetapi sudah pasti tidak dengan negara jang memusuhi atau menundjukkan sikap jang tidak ber-sahabat kepada kita. Kita tidak dapat bertepuk sebelah tangan.
Dalam membangun hubungan persahabatan itu, kita tetap mendjundjung tinggi hak-hak penuh bangsa kita untuk memper-tahankan kedaulatannja, melindungi kepentingan-kepentingan nasionainja dan menempuh djalan jang dianggapnja tepat untuk itu. Kita tidak ingin mengorbankan hal-hal itu untuk kepenting- an apapun dan kepada siapapun.
Sebelum tahun 1965 dunia mengenal „poros Djakarta-Peking”; jang mentjerminkan keakraban persahabatan antara kedua ne-gara tersebut. Akan tetapi meskipun dalam keadaan jang demi-kian itu, mereka toch tidak segan-segan membantu PKI untuk melakukan pemberontakan di Indonesia jang djelas merupakan pengchianatan terhadap landasan falsafah dan hukum Indonesia.
Pengalaman pahit ini djelas akan mendjadi bahan peladjaran bagi kita, mengharuskan kita mempertinggi kewaspadaan dalam membina persahabatan dan kerdja-sama dengan negara mana-pun. Difihak lain, menumpas pemberontakan G-30-S/PKI dan melarang adanja PKI dinegeri ini adalah urusan rumah tangga kita sendiri; lebih-lebih karena PKI telah dua kali melakukan
11
pemberontakan, jang tudjuan achirnja adalah akan merobah Pantja Sila dengan komunisme.
Sikap dan tindakan Indonesia jang demikian ini tidak berarti, bahwa kita memusuhi dan tidak mau membentuk hubungan ber-sahabat dengan negara-negara jang mempunjai faham politik dan ideologi sama dengan PKI, jaitu faham komunisme. Tentu sadja, hubungan bersahabat hanja dapat terbina dengan baik, apabila negara jang bersangkutan tidak menundjukkan sikap jang bermusuhan dengan kita dan tidak mentjampuri urusan dalam negeri kita dengan berbagai tjara dan usaha, termasuk usaha untuk membantu menghidupkan kembali PKI di Indonesia.
Peristiwa penting berikutnja, jang akan mempunjai pengaruh kepada arah hubungan dan imbangan kekuatan serta hari depan dunia adalah langkah-langkah pendekatan jang dilakukan oleh AS pada RRT dan Uni Soviet.
Pendekatan-pendekatan itu telah memberikan harapan akan berkurangnja ketegangan-ketegangan dunia jang sedang ber-langsung dewasa ini chususnja diwilajah-wilajah Asia ini.
Rita menjambut balk langkah-langkah pendekatan itu dalam pengertian, bahwa pendekatan-pendekatan itu merupakan per-mulaan dari-pada usaha kearah terwudjudnja perdamaian jang menjeluruh diseluruh dunia termasuk diwilajah sekitar kita, Asia Tenggara; bukan pendekatan-pendekatan jang hanja meng-hasilkan perdamaian semu diantara negara-negara besar itu sendiri, dengan membiarkan dan mendorong terus berkobarnja sumbu-sumbu pertentangan dan ketegangan diwilajah tertentu, mendjadikan wilajah-wilajah itu sebagai adjang konflik dan perebutan pengaruh jang menimbulkan kesengsaraan dan pen-deritaan kepada rakjat-rakjat diwilajah jang bersangkutan.
t alam hubungan ini, chusus jang menjangkut masalah Indo-china jang achir-achir ini ada peningkatan kegiatan perang, kita djuga menjambut baik setiap isjarat untuk penarikan diri ke-kuatan militer dari wilajah jang bukan wilajahnja, tidak untuk digantikan oleh hadirnja kekuatan asing lainnja. Penarikan diri kekuatan asing tersebut haruslah berarti memberikan kesem-patan dan kemampuan kepada negara jang ditinggalkan itu,
12
jang selama ini penuh penderitaan dan kesengsaraan, akibat perang jang tak kundjung achir itu, untuk merehabilitasi dan membangun wilajah dan rakjatnja, agar mereka dapat berdiri diatas kakinja sendiri.
Sungguh, bangsa-bangsa jang sedang membangun — terma-suk negara kita — memerlukan adanja stabilitas diwilajahnja dan perdamaian dunia; sebaliknja dengan, makin berhasilnja pembangunan bangsa-bangsa, maka perdamaian akan bertam- bah kuat dan stabilitas akan makin mantap.
Dilain fihak kita tetap sadar, bahwa lebih dari sekedar harap- an jang kita tudjukan kepada kekuatan-kekuatan besar didu- nia itu, maka jang paling menentukan adalah usaha dari bang- sa-bangsa diwilajah itu sendiri. Kita berkejakinan bahwa bang- sa-bangsa diwilajah Asia Tenggara ini mempunjai kemampuan untuk mengurus stabilitas dan masa depannja sendiri. Untuk ini, maka sjarat utama adalah adanja kekuatan moril dan kekuatan riil bangsa-bangsa diwilajah ini untuk tidak terseret kedalam adjang konflik atau perebutan pengaruh dari negara-negara lain, terutama dari negara-negara besar. Dalam hal ini, Bangsa Indonesia telah menemukan djawabannja jang tepat, ialah dengan mewudjudkan ketahanan nasional masing-masing Bangsa; jang apabila dapat ditingkatkan mendjadi ketahanan regional, maka pasti nanti, stabilitas dan keamanan wilajah ini dapat diurus oleh bangsa-bangsa diwilajah ini sendiri. Pelaksa-naan atas djawaban tadi djelas masih memakan waktu. Akan tetapi kita bergembira, bahwa konsep ketahanan nasional ini telah mendapat penilaian jang baik dari negara-negara tetangga disekitar kita.
Dengan ketahanan nasional masing-masing negara diwilajah Asia Tenggara itulah gagasan netralisasi Asia Tenggara akan dapat benar-benar terwudjud, bukan sekedar netralisasi jang semata-mata digantungkan kepada kekuatan besar.
Dalam rangka mewudjudkan dan meningkatkan ketahanan masing-masing itu pulalah kits mengadakan kerdja-sama dengan negara-negara tetangga baik dilingkungan organisasi ASEAN,
13
maupun dengan negara diluarnja, diwilajah Asia Pasifik. Se-mangat kerdja-sama antara negara-negara diwilajah ini dalam tahun-tahun terachir ini sungguh menondjol, baik dalam bidang ekonomi, social maupun dibidang-bidang lain.
Dalam rangka memantapkan saling pengertian dan mening-katkan kerdjasama itu pulalah saja pada beberapa bulan jang lalu mengadakan kundjungan kenegaraan dan kundjungan kerdja kenegara-negara Australia, New Zealand, Philipina dan Djepang, jang mendapatkan hasil-hasil jang konkrit jang me-nguntungkan kedua belah fihak.
Saudara Ketua;
Perkembangan panting lainnja jang mentjemaskan kita adalah peperangan jang telah berkobar dianak Benua Asia Selatan beberapa bulan jang lalu, antara negara sahabat Pakistan dan India jang didahului oleh pertentangan tadjam antara Pakistan Barat dan Timur jang dewasa telah mendjadi negara tersendiri Bangla Desh.
Sungguh beralasan apabila kita merasa tjemas terhadap seti- ap sengketa diantara bangsa-bangsa diwilajah ini; bukan sadja karena pertentangan dan bentrokan fisik itu hanja menjengsa-rakan rakjat, tetapi djuga karena pertentangan jang demikian itu, djika tidak segera terselesaikan akan dapat mengundang tjampur tangan kekuatan-kekuatan lain dari luar, jang bahkan akan meruwetkan masalah dan keadaannja.
Sebab itu kita bersjukur,bahwa sekarang peperangan dianak benua itu telah selesai. Kita mengharapkan, bahkan kita menje-diakan diri untuk membantu mengusahakan agar semua pihak jang bersengketa dapat segera menjelesaikan masalah-masalah diantara mereka dimedja perundingan dengan tjara-tjara jang terhormat; ,sehingga segala usaha dapat segera dikerahkan un-tuk menangani akibat-akibat peperangan jang telah sangat mem-beratkan djutaan rakjat-rakjat diwilajah itu. Masalah-masalah jang mereka hadapi memang pelik; jang penjelesaiannja me-
14
merlukan sikap keichlasan dan kebesaran djiwa masing-masing, bahkan djuga meminta sikap memaafkan masa lampau.
Kita djuga selalu mengikuti pasang-surutnja perkembangan di Timur Tengah. Dalam hal ini sikap kita tidak pernah berobah. Kita mendukung resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai masalah ini dan kita selalu berdiri bersama-sama bangsa-bangsa Arab dalam perdjoangan mereka jang adil dan hak untuk mem-peroleh kembali wilajah dan kedaulatannja.
Sidang jang terhormat;
Masih ada perkembangan lain jang lebih langsung kita rasa-kan akibatnja, ialah krisis moneter internasional jang berketja-muk sepandjang tahun 1971 jang lalu.
Saja tidak akan mendjelaskan sebab-sebab dan djalannja krisis jang hebat ini. Jang perlu kita perhatikan ialah, apa akibat krisis itu terhadap kita dan langkah-langkah apa jang kita ambit untuk mengatasinja.
Singkatnja, kegontjangan moneter jang terdjadi itu djelas membawa pengaruh jang ticlak menguntungkan bagi suasana pembangunan, kegiatan produksi dan perdagangan negara-negara jang ekonominja lemah, seperti Indonesia ini, terlebih--lebih karena ekonomi kita dewasa ini tergantung pada ekspor bahan-bahan mentah dan impor bahan-bahan djadi dan barang modal.
Oleh karena itu, setelah mengadakan penilaian keadaan se-perlunja, dengan tjepat kita telah mengambil langkah-Langkah jang dapat mendorong dan mempertahankan tingkat ekspor kita antara lain dengan mengadakan penjesuaian kurs devisa jang berlaku sedjak bulan Agustus tahun jang lalu. Dengan langkah-langkah itu, ternjata kita telah berhasil membatasi pengaruh kegontjangan moneter dunia sampai pada batas-batas jang mi-nimal: keadaan ekonomi kita tetap stabil dan kegiatan produksi kita berdjalan seperti biasa. Kemampuan kita untuk me-njelamatkan diri dari pukulan krisis moneter internasional itu,
15
djuga merupakan bukti bahwa ketahanan ekonomi kita telah mulai bertambah kuat.
Kiranja bukanlah suatu kebetulan, apabila ditengah-tengah bergolaknja krisis moneter internasional tadi, Saudara Menteri Keuangan Republik Indonesia dan Saudara Gubernur Bank Indonesia terpilih mendjadi Ketua Dewan Gubernur-gubernur Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia. Pilihan itu tidak dapat dilepaskan dari penilaian jang positif dari negara-ne- gara lain terhadap kemadjuan-kemadjuan ekonomi jang di- tjapai oleh Indonesia dalam tahun-tahun jang terachir ini. Dengan djabatan-djabatan jang panting itu, Indonesia diha-rapkan dapat memberikan sumbangan fikiran jang lebih besar untuk mentjari djalan keluar dari krisis moneter internasional tadi.
Perkembangan lainnja jang menimbulkan kechawatiran kita dan negara-negara jang sedang membangun lainnja — chusus- nja diwilajah Asia Tenggara —, ialah akan masuknja Inggris kedalam Masjarakat Ekonomi Eropa awal tahun depan. Dalam hal ini Indonesia selalu mengambil langkah-langkah bersama-sama dengan sesama negara-negara anggota ASEAN. Untuk itu telah terbentuk sebuah Komisi bersama ASEAN untuk Masjarakat Ekonomi Eropa, jang berkedudukan di Bangkok dan jang pimpinannja diserahkan kepada Saudara Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Dengan Komisi itulah diada- kan pendekatan dengan Masjarakat Ekonomi Eropa dengan tu-djuan agar barang-barang ekspor negara-negara ASEAN dja- ngan sampai mendapat perlakuan jang tidak wadjar oleh Ma-sjarakat Ekonomi tersebut.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Setelah kita menengok kembali keadaan dunia disekeliling kita, dan membahas pokok-pokok sikap dan langkah dalam menghadapi masalah-masalah tersebut marilah sekarang kita meneliti kedalam tubuh kita sendiri, terutama usaha-usaha dan hasil-hasil kita dalam melaksanakan pembangunan.
16
Untuk itu kita perlu terlebih dulu mendjernihkan fikiran me-ngenai beberapa segi daripada pembangunan jang kita inginkan dan jang sedang kita kerdjakan ini.
Seperti telah saja djelaskan tadi, pembangunan jang kita kerdjakan dewasa ini adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnja dan pembangunan masjarakat seluruh Indonesia. Ia adalah pembangunan lahir dan pembangunan rochani sekaligus. Bukan hanja pertumbuhan ekonomi sadja jang kita kedjar, tetapi djuga harus mengarah pada terwudjudnja keadilan sosial. Bukan pula pembangunan jang dirasakan oleh masjarakat di- satu-dua daerah, atau segolongan tertentu sadja melainkan pem-bangunan jang merata diseluruh daerah dan kepulauan Indo-nesia,
Singkatnja, pembangunan jang kita kerdjakan itu menjangkut segi-segi jang luas untuk meningkatkan mutu hidup kita. Tetapi kita djuga perlu selalu ingat, bahwa pembangunan jang demi- kian luas tadi tidak mungkin tertjapai sekaligus sadja. Ia akan memakan waktu jang tjukup pandjang, ia meminta kita beker- dja keras, ia meminta kita tabah. Djuga perlu diperhatikan, bahwa untuk berhasilnja pembangunan itu diperlukan bebe- rapa prasjarat dan penentuan prioritas jang tepat.
Prioritas kita dewasa ini adalah pembangunan dibidang eko-nomi, tanpa mengabaikan bidang-bidang jang lain. Selama Orde-Baru ini kita telah memusatkan usaha-usaha dalam bidang ekonomi itu, dimulai dengan usaha rehabilitasi dan selandjutnja pelaksanaan REPELITA jang pertama jang dewasa ini telah mengindjak tahun jang keempat. Setjara singkat dapat dikata- kan bahwa usaha-usaha kita itu mentjapai hasil.
Keadaan ekonomi kita dewasa ini djelas djauh lebih baik daripada keadaan jang kita warisi enam-tudjuh tahun jang lalu. Apabila kita mau mengingat-ingat keadaan ekonomi waktu itu, maka gambarannja adalah serba kekurangan: pangan tidak tjukup, sandang tidak terbeli, djalan-djalan dan djembatan rusak, keuangan negara kalut, harga-harga barang tidak ter-kendalikan, uang panas meradja-lela, perusahaan-perusahaan
17
negara hampir-hampir bangkrut, pengusaha-pengusaha mela-kukan usaha berdasarkan spekulasi dan lisensi, produksi matjet dan seterusnja; pokoknja keadaan ekonomi jang katjau dan terus merosot.
Dewasa ini - setelah kita sampai pada tahun ketiga REPE-LITA I — keadaan sungguh berbeda. Dalam bidang keuangan, moneter dan perdagangan kita dapati kenjataan-kenjataan positif sebagai berikut:
pertama : menurunnja ladju inflasi (650% dalam tahun 1966 mendjadi2,47% dalam tahun 1971) ;
kedua : adanja kenaikan dalam pengeluaran pembangun-
an Pemerintah melalui APBN (tidak termasuk
bantuan projek) dengan rata-rata sekitar 15%
setiap tahun;
ketiga : adanja kenaikan dalam penerimaan ekspor, de- ngan rata-rata 15% setiap tahun;
keempat : adanja kenaikan dalam mobilisasi dana-dana dalam negeri melalui deposito, Tabanas dan Taska. (Pada achir tahun 1968 mentjapai Rp. 4,5 miljar; pada achir tahun 1969: Rp. 33,5 miljar; pada achir tahun 1970: Rp. 50,5 miljar; pada achir tahun 1971: Rp. 110,— miljar. Sedangkan sampai bulan Djuli tahun ini men- tjapai lebih dari Rp. 150, miljar).
Perkembangan itu menundjukkan ekonomi kita menandjak, djauh berlainan dengan kelumpuhan dan kemunduran pereko-nomian jang terdjadi dalam tahun-tahun jang sangat suram tahun 1966 dan sebelumnja.
Barga-harga barang-barang kebutuhan pokok stabil tidak melondjak-londjak serta mudah mendapatkannja tanpa berebut dan antri; kegiatan usaha dapat dilakukan dengan lebih tenang berdasarkan perhitungan-perhitungan ekonomi perusahaan; po-koknja. iklim ekonomi dewasa ini memang djauh lebih bank dari lima-enam tahun jang 1alu. Untuk tahun-tahun jang akan da-
18
tang kiranja tjukup alasan untuk gerak kemadjuan jang lebih ladju lagi.
Saudara Ketua jang terhormat;
Adanja kemadjuan dan perbaikan ekonomi, serta hasil-hasil pembangunan kita itu, dapat kita lihat djuga dari makin baik-nja keadaan prasarana perhubungan dan prasarana produksi serta terns meningkatnja produksi diberbagai bidang: pertani- an, perindustrian dan pertambangan, dalam banjak hal bahkan melampaui target jang ditetapkan dalam REPELITA. Dalam hubungan ini saja hanja ingin menundjukkan hal-hal jang me-nondjol sadja sebagai tjontoh, karena data-data produksi dari keseluruhan bidang dan matjam-matjam barang dapat diikuti dari lampiran Pidato saja ini.
Ambillah bidang pertanian jang mendjadi focus perhatian dan diprioritaskan dalam REPELITA ,sekarang ini.
Produksi beras; bukan sadja produksinja naik setiap tahun, malahan dalam setiap tahun itu sasaran-sasaran. REPELITA selalu dapat kita lampaui. Sasaran dalam tahun pertama sebesar 10,5 djuta ton, jang kita tjapai adalah lebih dari 10,6 djuta ton; sasaran dalam tahun kedua 11,4 ,djuta ton, kita lampaui dengan mentjapai lebih dari 12 djuta ton. Dan dalam tahun ketiga — '71/72 — sasaran jang ditetapkan adalah 12,5 djuta ton, se-dangkan produksi jang kita hasilkan 12,7 djuta ton lebih. Untuk tahun keempat jang sedang berdjalan ini, sasarannja sebesar 13,8 .djuta ton diusahakan untuk ditjapai; sedangkan untuk ta-hun jang kelima, sasaran jang ditetapkan sedjumlah 15,4 djuta ton ternjata memerlukan penjesuaian berdasarkam perhitungan dan penilaian seperti jang akan saja djelaskan ini.
Saudara-saudara sekalian;
Usaha menaikkan produksi padi itu harus tetap kita letakkan dalam kerangka tudjuan pokok REPELITA jang sekarang. Saja ingatkan lagi tudjuan-tudjuan jang akan kita tjapai itu; ialah pertama, menaikkan taraf hidup Rakjat banjak; dan kedua, me-letakkan landasan jang kuat bagi REPELITA Ire-II. Menaikkan taraf hidup Rakjat banjak berarti petani-lah jang pertama-tama
19
harus merasakan hasil pembangunan ini, karma petani meru- pakan bahagian terbesar dari masjarakat kita.
Pembangunan dari bawah, dari akar-akar masjarakat, inilah jang kita kerdjakan sekarang. Dan dengan itu kita akan me-rangsang dan menggairahkan para petani untuk meningkatkan produksinja.
Tanpa petani jang bergairah, tidak mungkin produksi beras naik dan tidak mungkin djuga tertjapai swasembada pangan jang mendjadi salah satu ,sasaran pula dari REPELITA ke-I ini.
Swasembada pangan ini merupakan prasjarat bagi pemba-ngunan dimasa depan; malahan sektor pertanian jang kuat ini tetap harus mendjadi landasan masjarakat industri nanti.
Disamping itu tudjuan swasembada pangan adalah djuga un-tuk mentjukupi kebutuhan dan memperbaiki mutu makan- an masjarakat. Dalam hal ini, kita perlu memperhitungkan pula, bahwa dalam tahun-tahun terachir ini tampak perobahan dalam pola makanan masjarakat kita; ialah penggunaan bahan makan- an pokok bukan beras dengan nilai gizi jang tjukup baik, antara lain, berupa tepung terigu. Konsumsi tepung terigu terus naik dalam tiga tahun jang terachir hingga dalam tahun '71/'72 telah mentjapai ,rata-rata 40.000 ton setiap bulan. Perobahan pola makanan ini tentu akan mempengaruhi kebutuhan masja-rakat terhadap beras.
Apabila produksi beras berada diatas kebutuhan masjarakat, maka dapat diperkirakan harga beras dipasaran akan turun di-bawah harga jang selajaknja diterima oleh petani. Hal ini ber-akibat menurunnja pendapatan sebagian besar Rakjat Indone- sia. Apabila ini terdjadi, maka tudjuan REPELITA berarti tidak tertjapai, disamping akan menurunkan kembali gairah produksi dari masjarakat petani pada umumnja.
Berdasarkan pertimbangan tadi, setelah berbulan-bulan di-adakan penelitian dan perhitungan jang teliti, maka saja meng-anggap tepat untuk merobah sasaran produksi beras dalam ta- hun, terachir REPELITA.
Sasaran baru untuk produksi beras tahun '73 nanti, ialah tahun terachir REPELITA adalah 14,8 djuta ton.
20
Dengan djumlah jail swasembada pangan tetap .dapat kita tja-pai; dan bersamaan dengan itu pendapatan petani diharapkan tetap naik.
Dalam hubungan ini saja ingin menekankan, bahwa meskipun sasaran produksi kita turunkan dari 15,4 djuta ton mendjadi 14,8 djuta ton, ini tidak berarti bahwa kita dapat mengendorkan usaha produksi kita.
Djumlah 14,8 djuta ton itu harus kita tjapai dan untuk itu di-perlukan usaha-usaha jang sungguh-sungguh dari semua fihak, balk pedjabat-pedjabat Pemerintah, pengusaha-pengusaha mau-pun Para petani sendiri.
Disamping itu, kita tidak boleh mengambil resiko atas tidak tertjapainja sasaran tersebut dan ,gagalnja usaha untuk swa-sembada pangan fang sangat panting Sahaja bandjir, „salah muslin”, bahaja hama dan lain-lain penjebab jang berada diluar djangkauan perentjanaan manusia tetap harus kita perhitungkan.
Masalah beras dalam hubungannja dengan ekonomi di 1ndo- nesia bukan sadja soal produksi tetapi djuga soal distribusi; membawa dan menjebarkan beras dari daerah-daerah produksi kedaerah-daerah konsumsi. Untuk itu kita harus tetap memiliki tjadangan dan persediaan beras jang tjukup. Tjadangan perse-diaan ini akan kita usahakan dart bantuan pangan dari negara-negara;sahabat seperti jang selama ini kita terima, sehingga kita tidak perlu menjediakan devisa untuk itu.
Tjontoh jang lain adalah produksi kaju.
Kenaikan-kenaikan jang sangat berarti kita tjapai dalam pro-duksi dan ekspor kaju. Dalam tahun 1971 ekspor kaju men- tjapai 10 djuta m3, jang berarti lebih dari 4 kali sasaran jang ditetapkan dan 3 kali lebih besar dari volume ekspor tahun 1969. Nilai ekspornja mentjapai hampir 170 djuta dollar: kira- kira 7 kali lebih besar dari nilai ekspor tahun 1969 dan merupa-kan produksi ekspor nomor tiga setelah minjak tanah dan karet.
Produksi kaju pertukangan djuga naik mentjapai 12 djuta m3 : hampir 3 kali lebih besar dari sasaran jang ditetapkan; dan
21
2 kali lebih besar dari produksi pada awal REPELITA ini. Mes-kipun dibidang kehutanan ini kita telah mentjapai hasil-hasil jang melebihi REPELITA tetapi penertiban, pengawasan dan peningkatan usaha perkajuan terus kita lakukan, agar supaja memperoleh hasil-hasil jang lebih besar.
Dalam rangka meningkatkan produksi dan ekspor kaju, kita sedang mengusahakan pengerukan sungai Mahakam di Kali-mantan Timur dan sungai Kahajan di Kalimantan Tengah. Kea-daan sungai-sungai besar jang tidak tjukup ,dalam dewasa ini rnerupakan "bottle neck" untuk dapat meningkatkan produksi dan ekspor kaju ini. Apabila pengerukan tersebut dapat disele-saikan dalam beberapa tahun ini, maka basil dan ekspor kaju itu djelas akan lebih meningkat lagi.
Disamping usaha peningkatan produksi dan ekspor kaju, de-wasa ini djuga dilakukan langkah-langkah untuk pengolahan hasil kaju itu, sehingga kita nanti tidak sadja menghasilkan dan mengekspor kaju gelondongan dan kaju gergadji, tetapi djuga bahan plywood, pulp, kertas dan sebagainja. Sesuai dengan sja-rat-sjarat persetudjuan jang diberikan, para pemegang HPH dalam djangka waktu tertentu wadjib mendirikan industri peng-olahan kaju itu.
Apabila usaha-usaha kita ini berhasil, maka kehutanan akan memberikan manfaat jang lebih besar dan lestari kepada Bangsa Indonesia, bukan sadja sebagai penghasil devisa jang penting, tetapi djuga membuka banjak lapangan kerdja, mengembangkan kemadjuan ekonomi daerah dan lain-lain.
Sidang jang terhormat;
Produksi bidang pertanian jang lain seperti perkebunan, peternakan, perikanan djuga mentjapai kemadjuan dan kenaik- an, meskipun tidak keseluruhannja dapat mentjapai target jang tertjantum dalam REPELITA.
Dalam bidang ini, masih banjak jang dapat kita kerdjakan untuk lebih menaikkan produksinja, baik untuk mentjukupi ke-butuhan dalam negeri maupun untuk ekspor dan jang lebih
22
penting untuk meningkatkan pendapatan pars petaninja, pe ternaknja dan nelajannja.
Dalam hubungan ini, Pemerintah sedang berusaha untuk me-laksanakan sematjam BIMAS, jang dewasa ini dilakukan untuk padi, jang ternjata berhasil itu, untuk diterapkan djuga dalam bidang pertanian rakjat, peternakan, perikanan dan lain-lain. Dalam kegiatan-kegiatan ini nanti diharapkan ikut-sertanja koperasi-koperasi sebagai penjalur perkreditan dan penampung hasil dan mengurus pemasarannja.
Kenaikan produksi lainnja jang dapat kita tjapai adalah dalam bidang industri baik industri dasar, industri kimia, industri ri-, ngan dan keradjinan maupun industri tekstil. Kemadjuan-ke-madjuan jang ditjapai itu meliputi baik djumlah, mutu maupun matjamnja, berkat banjaknja projek-projek industri baru da- lam rangka penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri.
Kenaikan jang menondjol jang ingin saja kemukakan disini adalah bidang tekstil. Produksi tekstil tahun 1971/1972 mentja-pai 732 djuta meter, hampir 2 kali produksi dalam tahun perta-ma REPELITA dan berarti 100 djuta meter diatas sasaran jang ditentukan dalam REPELITA untuk tahun jang bersangkutan. Disamping kemadjuan dalam hal djumlah produksi, djuga mutu serta tjoraknja telah menjamai mutu tekstil luar negeri. Seka-rang djumlah tekstil impor, ketjuali untuk djenis-djenis terten- tu sangatlah berkurang, karena telah dapat dipenuhi oleh pro- duksi dalam negeri, dan memang itulah sasaran kita; mentjapai swasembada dibidang sandang.
Hal lain jang tjukup menggembirakan adalah perkembangan keradjinan rakjat, terutama barang ukiran, tikar-pandan, ba-rang-barang anjaman, kain batik, tenun-tangan dan sebagainja. Dalam tahun 1971 nilai ekspor barang-baring keradjinan rakjat mentjapai 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun sebe- lumnja, meskipun barn mentjapai 6 djuta dollar AS. Dalam bi- dang ini kits, harus terus berusaha untuk meningkatkannja karena pasarannja sebenarnja tjukup luas, baik untuk eksport
23
maupun untuk para wisatawan. Pemerintah akan meningkat- kan bimbingan, penjuluhan dan pemberian fasilitas lainnja jang wadjar .dalam meningkatkan produksi dan pemasaran barang-barang keradjinan rakjat ini.
Saudara-saudara;
Mengenai produksi pertambangan, maka perkembangannja dapat dilihat dari nilai ekspor. Untuk tahun '71/72 nilai ekspor dari pertambangan melebihi 760 djuta dollar, suatu kenaikan sebesar 50% dari tahun sebelumnja. Nilai ini merupakan titik tertinggi jang pernah ditjapai dalam sedjarah pertambangan di Indonesia. Hal ini sesuai dengan peranan jang kita harapkan dari pertambangan, ialah sebagai salah satu somber utama pe-nerimaan devisa untuk menggerakkan lebih tjepat djalannja pembangunan.
Dari djumlah tadi bahagian terbesar berasal dari minjak bumi, jang naik nilai ekspornja baik karena bertambahnja pro-duksi maupun karena naiknja harga dipasaran dunia.
Dalam bidang pertambangan ini, kita djuga memperoleh ha- sil-hasil tambang baru. Tembaga di Irian Barat, jang ditemukan pada djaman pendjadjahan dulu — jang waktu itu diperkirakan tidak mungkin untuk digali, karena letaknja jang sangat tinggi dan terpentjil, — telah mulai dilakukan persiapan-persiapan penambangannja sedjak tahun 1970.
Diharapkan dalam permulaan tahun depan Indonesia akan mulai mengekspor konsentrat bidjih tembaga. Demikian djuga dewasa ini sedang dilakukan persiapan-persiapan untuk peng-olahan tambang nikkeldipulau Gag, Irian Barat. Tambang pasir-besi di Tjilatjap jang diusahakan oleh PN Aneka Tam- bang telah mulai mengekspor hasilnja dalam tahun jang lalu. Dalam tahun ini djuga kita telah mulai mengekspor granit dari pulau Karimun. Hasil tambang lain jang tjukup penting adalah gas-bumi, jang dewasa ini telah mulai kita manfaatkan. Persiap-an-persiapan telah dilakukan sehingga dalam beberapa tahun lagi gas-bumi jang ada akan dapat kita gunakan untuk memper-luas produksi pupuk, bahan pokok plastik dan sebagainja.
24
Saudara Pimpinan jang terhormat;
Keadaan membaiknja ekonomi seperti jang saja gambarkan tadi tidak dapat dilepaskan dari kemadjuan-kemadjuan dan per-baikan-perbaikan keadaan prasarana kita, djika dibandingkan dengan keadaan beberapa tahun jang lalu.
Ketika kita memulai dengan pelaksanaan REPELITA tiga ta-hun jang lalu, keadaan prasarana masih sangat parah jang un- tuk memetjahkannja diperlukan waktu paling sedikit 10 tahun atau dua kali REPELITA. Sebab itu, kita pusatkan usaha kita pada pemeliharaan, rehabilitasi dan peningkatan prasarana jang telah ada disamping pembangunan dan penjelesaian projek-pro-jek prasarana tertentu, dengan maksud agar keadaan tidak ber-tambah merosot, agar prasarana jang telah ada dapat berfungsi setjara optimal.
Selama tiga tahun ini, kita telah berhasil melakukan perbaikan dan perluasan irigasi jang meliputi 600 ribu ha, sedangkan perbaikan/pengamanan sungai hampir 200 ribu ha. Berhasilnja perluasan dan rehabilitasi irigasi itu djelas membantu berhasilnja usaha BIMAS padi, karena BIMAS tanpa irigasi jang balk tidak mungkin berhasil.
Mengenai prasarana perhubungan darat, selama 3 tahun ter-achir ini telah lebih dari. 2.500 kilometer djalan jang direhabi-litir, 1.500 kilometer di-upgrade dan dibangun baru serta ham- pir 40.000 kilometer dapat dipelihara; sedangkan djembatan sepandjang 12.500 meter direhabilitir dan 6.500 meter di-up-grade dan dibangun baru.
Dengan meningkatnja volume angkutan barang sebagai aki- bat kenaikan produksi dan makin sibuknja kegiatan ekonomi, maka hasil-hasil tadi masih djauh dari memenuhi kebutuhan. Karma itu claim bidang djalan dan djembatan ini telah di- ambil langkah-langkah untuk meletakkan dasar-dasar jang di-butuhkan bagi pengembangan djalan dalam djangka pandjang. Sebagai salah satu sarana bagi pembangunan djalan, maka produksi aspal Buton kita naikkan. Dalam tahun ini direntja-nakan untuk mentjapai produksi 200 ribu ton, ialah kenaikan lebih dart 3 kali lipat dari wart kita mu Jai REPELITA.
25
Prasarana jang lain seperti perhubungan laut, perhubungan udara, telekomunikasi, listrik, djuga mengalami perbaikan dan peningkatan. Djumlah armada angkutan laut dan djumlah muatan naik. Rehabilitasi dan pembangunan kade dan fasilitas pelabuhan terus diusahakan. Penertiban-penertiban dan penjem purnaan prosedur lalu-lintas dan pengurusan muatan melalui pelabuhan-pelabuhan sedang giat dilakukan, jang hasil-hasilnja sudah mulai dirasakan.
Demikian djuga prasarana perhubungan udara; berbagai la-pangan udara di-upgrade dan diperlengkapi dengan peralatan jang memenuhi sjarat-sjarat keamanan dan kelantjaran pener-bangan, bahkan beberapa diantaranja telah dapat didarati di-malam hari, sehingga memungkinkan peningkatan frekwensi penerbangan. Armada penerbangan .Nasional kita djuga telah mengalami peningkatan, sehingga dapat melajani permintaan penumpang ataupun angkutan lainnja jang dewasa ini terus meningkat djumlahnja.
Peningkatan hubungan udara ini, erat hubungannja dengan meningkatnja lalu-lintas pariwisata di Indonesia. Dalam tahun 1971 diperkirakan 180 ribu wisatawan asing telah berkundjung ke Indonesia, 2 kali djumlah dalam tahun 1969. Djumlah ini akan dan pasti meningkat; oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri untuk menampung dan menjediakan pelajanan jang sebaik-baiknja, bukan sadja masalah pengangkutan dan penginapan jang harus dapat kita sediakan, tetapi soal pengorganisasian perdjalanan pariwisata, pengembangan projek-projek pariwisa- ta, peningkatan hasil-hasil keradjinan tangan dan lain-lain perlu mendapatkan perhatian jang memadai.
Peningkatan pariwisata hares benar-benar kita usahakan, karena bidang ini merupakan sumber penghasil devisa jang be-sar, dapat menambah lapangan kerdja Berta meningkatkan pen-dapatan Rakjat.
Peningkatan tenaga listrik djuga terus giat dilakukan baik dengan pembangunan pusat-pusat tenaga listrik baru maupun dengan pembangunan dan perluasan transmisi dan distribusinja;
26
hasil-hasilnja akan dapat lebih kita rasakan dengan njata pada tahun terachir PELITA I ini.
Saudara-saudara;
Segi lain jang perlu saja djelaskan lagi adalah mengenai ban-tuan luar negeri dan penanaman modal, karena kedua-duanja merupakan bagian jang penting dalam pelaksanaan pembangunan pada tahap sekarang ini.
Sedjak tahun 1967 kita telah menerima bantuan pinjaman dari negara-negara dan Badan-badan Internasional jang terga-bung dalam IGGI, jang setiap tahun terns meningkat djumlah- nja.
Kita tidak perlu chawatir dengan penerimaan bantuan ini. Bantuan luar negeri adalah gedjala umum jang telah muntjul sedjak berachirnja Perang Dunia ke-II. Banjak negara-negara jang madju ekonomi dan kesedjahteraan masjarakatnja seka- rang ini, telah dibangun kembali dari puing-puing reruntuhan perang dengan menerima bantuan tadi.
Jang perlu kita perhatikan ialah, untuk apa dan bagaimana bantuan itu kita gunakan serta sjarat-sjarat dari bantuan ter- sebut. Sedjak semula — sedjak tahun 1969/1970 -- .bantuan itu memang telah kita gunakan untuk kepentingan masjarakat; jang berarti, bahwa bantuan itu sepenuh-penuhnja kita gunakan untuk melaksanakan pembangunan. Kenjataannja memang demikian. Tidak satu sen-pun darn bantuan itu jang kita guna- kan untuk keperluan jang konsumtif. Bantuan pangan misalnja, kita djual untuk mendapatkan rupiah guna membiajai projek-projek pembangunan.
Kita hanja bersedia menerima bantuan luar negeri dengan beberapa sjarat : Pertama, bantuan itu tidak disertai ikatan da- lam bentuk apapun; kedua, bantuan itu hams sesuai dengan kebutuhan, pembangunan kita dewasa ini ketiga, sjarat-sjarat bantuan hares selunak mungkin.
Sjarat jang terachir ini sangat penting. Sebab, tudjuan kita membangun adalah untuk memperbaiki tingkat hidup masja- rakat kita sendiri. Bantuan luar negeri jang kita terima, jang kita
27
perlukan untuk tambahan modal pembangunan dalam tahap-tahap permulaan pembangunan ini, tidak boleh malahan menam-bah beban masjarakat, karena kewadjiban mengembalikan pin-djaman dan bunganja jang tinggi dalam waktu jang singkat. Bantuan jang kita terima harus dapat kita gunakan terlebih dahulu untuk membangun projek-projek pembangunan; dan apabila projek-projek ini telah membawa hasil, maka hasil itu harus dapat dinikmati oleh. Rakjat Indonesia terlebih dulu, sebe-1um kita langsung harus mengembalikan pindjaman itu. Itulah sebabnja, sjarat pindjaman harus lunak; jang sekarang ada- lah : djangka pengembalian minimum 25 tahun, dengan "grace period" 7 tahun dan bunga maksimum 3% per-tahun sadja. Itulah sebabnja pula, kita tidak suka menerima kredit komersiil; walaupun tawaran untuk itu sangat banjak.
Hal lain jang telah kita perhitungkan adalah kemampuan untuk mengangsur pindjaman tadi. Para ahli ekonomi telah me-njimpulkan, bahwa angsuran ,setiap tahun sebesar 20% dari pe-nerimaan devisa ,dianggap tidak memberatkan. Kewadjiban kita untuk mengangsur pindjaman luar negeri kita, untuk tahun ini misalnja, — sebagian merupakan angsuran pembajaran hu- tang-hutang lama jang telah diadakan "reschedulling" pem-bajarannja masih dibawah 10% dari seluruh penerimaan devisa kita. Ini berarti bahwa kita masih mungkin menerima bantuan lagi dengan sjarat-sjarat jang seringan mungkin.
Apabila bantuan luar negeri kita gunakan untuk membangun projek-projek jang vital dan paling mendesak dewasa ini, maka pada dasarnja, projek-projek jang lain kita bangun dengan memanfaatkan potensi-potensi swasta baik dari luar maupun dalam negeri.
Haruslah diingat kembali, bahwa pembangunan ekonomi ber-arti pengolahan kekuatan ekonomi potensiil mendjadi kekuatan ekonomi rill melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan kemampuan berorganisasi dan management. Pem-bangunan memang harus didasarkan atas kesanggupan bangsa sendiri. Tetapi kita perlu memanfaatkan potensi-potensi modal, teknologi dan skill jang tersedia dari luar, selama segala sesu-
28
atunja belum kita miliki sendiri dan tidak mengakibatkan kita terus menerus tergantung dari luar.
Sebab itu kita menganggap, bahwa penanaman modal asing adalah bermanfaat bagi pembangunan ekonomi kita. Untuk itulah kita tjiptakan Undang-undang Penanaman Modal Asing jang berisi: disatu fihak, ketentuan-ketentuan mengenai keleluasaan dan fasilitas bagi penanam modal; sedangkan dilain fihak, ketentuan-ketentuan jang mendjamin dan meng-amankan kepentingan Nasional baik dibidang ekonomi mau- pun social.
Berbeda dengan pindjaman, jang resikonja ditanggung oleh pemindjam, maka didalam penanaman modal asing resiko penggunaannja ditanggung sepenuhnja oleh penanam modal. Ini tidak berarti kita „mendjual diri”. Sebab, dalam setiap idjin penanaman modal asing selalu ditentukan djangka waktunja jang tidak lebih dari 30 tahun; dan djuga, tidak seluruh bidang usaha terbuka bagi penanaman modal) acing ini. Dengan ini djelas bahwa dominasi modal asing seperti jang dikenal dalam djaman pendjadjahan dahulu telah kita tjegah sedjak semula.
Dalam djangka waktu 30 tahun jang akan datang, diharapkan pertumbuhan ekonomi, teknologi, modal, kepengusahaan dan ketrampilan bangsa kita telah siap sepenuhnja untuk mena- ngani setiap bidang usaha, jang dewasa ini masih memerlukan modal dan kepengusahaan asing. Dalam hal ini, proses peng-Indonesia-an djuga terdjamin. Setjara bertahap, baik tenaga pimpinan dan tenaga kerdjanja maupun saham-sahamnja harus beralih ketangan Indonesia. 77% dari projek-projek penanaman modal asing jang telah disetudjui, sekarang telah merupakan "joint venture".
Adalah merupakan tantangan dan kewadjiban kita semua dan terutama pare pengusaha Indonesia untuk dengan tekun bekerdja dan beladjar, sehingga pada saatnja dapat mengoper memimpin dan mengerdjakan sendiri usaha-usaha itu. Hingga saat ini, Pemerintah telah menjetudjui sekitar 500 projek pe-nanaman modal asing jang meliputi modal sebesar 1,7 miljar
29
dollar. Dari djumlah itu kira-kira sepertiganja telah direalisir. Sementara itu permohonan baru masih terus mengalir.
Dalam hubungan ini Pemerintah dewasa ini sedang menga-dakan penindjauan kembali segala peraturan pelaksanaan pe-nanaman modal (asing dan dalam negeri) dengan maksud untuk
memperlantjar penjelesaian permohonan idjin dan realisasi idjin-idjin jang telah dikeluarkan, sesuai dengan Undang-undang serta kebidjaksanaan jang digariskan.
Dalam hubungan ini perlu saja tegaskan, bahwa kebidjaksana-an mengenai penanaman modal asing sendiri tidak berobah.
Dibidang penanaman modal dalam negeri djuga terdapat ke-giatan-kegiatan jang meluas. Selama ini telah disetudjui lebih dart 1.000 projek, dengan rentjana penanaman modal sebesar Rp. 500,- miljar.
Dalam hubungan dengan penanaman modal dalam negeri ini saja perlu untuk kesekian kalinja menjinggung masalah jang sebenarnja sangat peka, ialah masalah hubungan "pribumi" dan "nan-pribumi", agar kita semua mempunjai satu pandangan dan kesatuan fikiran. Menutup-nutupi masalah ini atau membiar-kannja mendjadi bahan pembitjaraan tersembunji, hanja akan menumbuhkan benih ketegangan; jang mungkin. dapat mendjadi unsur penghambat pembangunan dan solidaritas sosial. Pada- hal, didalamnja terdapat potensi-potensi, jang apabila dapat kita arahkan dengan tepat, pasti mendjadi kekuatan pembangunan.
Kita harus melihat masalah ini dalam duduk persoalan jang wad jar dengan membuang djauh-djauh prasangka buruk dari semua fihak, dengan menjingkirkan sikap rasialis.
Pertama-tama harus diakui bahwa masalah ini sebenarnja bersumber dari adanja kenjataan jang tidak selaras dalam ma-sjarakat kita. Ini sebenarnja bukanlah hal baru, akan tetapi merupakan warisan ketidak selarasan jang telah berakar pu- luhan-puluhan tahun jang lain. Disatu fihak, ada selapisan ketjil masjarakat dengan kedudukan ekonomi jang sangat kuat dan menguasai sebagian terbesar kehidupan ekonomi nasional kita; sedangkan dilain fihak, bahagian terbesar dart masjarakat berada dalam keadaan ekonomi jang lemah dan belum pernah
30
dapat mendjalankan peranannja jang besar dalam kegiatan perekonomian nasional.
Lebih dari sekedar persoalan ekonomi, is adalah djuga masa-lah sosial; djelasnja masalah keadilan sosial. Dari pangkal tolak penglihatan inilah Pemerintah berusaha memetjahkan keti- dak-selarasan ini. Kebidjaksanaan dan langkah-langkah jang sedang disiapkan Pemerintah adalah mengusahakan kemampu- an jang lebih besar kepada golongan ekonomi lemah untuk ber-partisipasi dalam proses pembangunan. Persoalannja disini adalah, mengembangkan suatu pola pembangunan Nasional jang makin meluaskan Keterlibatan semua kekuatan dalam masjara- kat dan pembagian kembali hasil pembangunan jang lebih adil kepada masjarakat.
Dengan sikap ini, maka tidaklah berarti bahwa kita akan meniadakan atau mematikan peranan golongan ekonomi kuat dalam proses pembangunan. Adalah keliru, bahkan sangat me-rugikan proses pembangunan, apabilla kita telah menganggap perlu ikut sertanja modal, ketrampilan dan pengetahuan asing dalam pembangunan Nasional kita sekarang ini, kemudian me-njia-njiakan kemampuan modal dan ketrampilan potensi eko- nomi jang ada didalam negeri sendiri, hanja karena potensi itu berasal dari golongan "non-pribumi".
Apabila golongan "non-pribumi" telah memilih dengan suka-rela Indonesia sebagai Tanah-Air dan Bangsanja, dan apabila golongan pribumi telah menerima mereka sebagai bagian dari bangsanja sendiri, maka kerdjasama antara kedua golongan ini merupakan satu keharusan.
Pemerintah sedang meneliti setjara mendalam sarana-sarana kebidjaksanaan, ekonomi dan hukum untuk melaksanakan ke-selarasan dalam hal
Dalam rangka penanaman modal dalam negeri ini, Pemerintah menjediakan berbagai fasilitas seperti perkreditan, keringanan padjak dan lain-lain. Karena pengusaha-pengusaha non-pribumi umumnja memiliki modal dan kemampuan usaha lebih kuat, maka mereka mempunjai kesempatan jang lebih besar untuk
31
menggunakan fasilitas-fasilitas tadi. Karena itu, djustru untuk mewudjudkan keselarasan, maka sudah sewadjarnja, apabila dalam melakukan penanaman modalnja, golongan non-pribumi mengikut sertakan pengusaha pribumi sebagai "co-partner"- nja. Atau, setelah djangka waktu tertentu memberikan kesem-patan kepada pengusaha pribumi, bahkan kepada setiap warga-negara, untuk turut serta memiliki perusahaan tersebut dengan membeli saham dari perusahaan melalui pasaran modal jang se-karang sedang dalam persiapan pembentukannja. Sementara itu, Pemerintah djuga sedang menjiapkan langkah-langkah un- tuk membantu, mendorong dan membimbing pertumbuhan jang kuat dari pengusaha-pengusaha pribumi dalam bidang permo-dalan, management dan sebagainja.
Dengan berbagai langkah jang saja sebutkan tadi, maka bidang ekonomi akan dapat didjadikan slat pula untuk memper-lantjar dan mempertjepat proses asimilasi —antara pribumi dan non-pribumi —, jang akan makin memperkuat dan meman-tapkan kesatuan dan persatuan Bangsa kita.
Tetapi saja ingatkan, bahwa tidak ada golongan jang perlu gelisah karena hal-hal fang saja kemukakan ini; dan djuga tidak perlu ada golongan lain jang mengharapkan jang bukan-bukan. Semuanja harus berdjalan dengan tertib dan tetap memperhatikan unsur-unsur keadilan dan kepastian hukum. Tentu, proses itu akan memakan waktu jang pandjang.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Itulah beberapa segi hasil serta masalah-masalah ekonomi dalam rangka pelaksanaan pembangunan, chususnja pelaksa-naan REPELITA pertama ini. Kita telah melihat kemadjuan-kemadjuan dan hasil-hasil ekonomi jang menggembirakan.
Tetapi hasil-hasil itu tidak boleh dilihat dari segi ekonomi sadja, melainkan harus dapat dilihat dalam rangka mening- katkan kesedjahteraan rakjat umumnja. Hasil-hasil itu djuga mempunjai arti dalam rangka mewudjudkan tjita-tjita perdjo. angan Bangsa, masjarakat adil dan makmur berdasarkan Pan-
32
tja Sib, harus djuga mempunjai fungsi dalam rangka pem- binaan stabilitas Nasional dan ketahanan Nasional.
Memang, pembangunan ekonomi tidak dengan sendirinja mendatangkan keadilan sosial. Tetapi djuga terang, bahwa tanpa pembangunan ekonomi, keadilan sosial hanjalah lamun- an chajal. Memaksakan keadilan sosial dalam suasana ke-terbelakangan ekonomi, sama dengan membagi rata kemela- ratan. Ini djelas bukan tudjuan perdjoangan kita. Jang harus dan dapat diusahakan ialah, bahwa dalam pembangunan eko- nomi tadi landasan-landasan keadilan sosial telah mulai kita usahakan sedjak semula, setidak-tidaknja kita berdjalan kearah itu, setidak-tidaknja mentjegah melebarnja djurang pemisah antara jang kaja dan jang miskin.
Pembangunan dan stabilitas Nasional tidak dapat dipisahkan.
Tahun 1969 kita dapat mulai melaksanakan REPELITA djustru karena kita telah mentjapai stabilitas ekonomi. Dan sekarang, setelah REPELITA berdjalan 3 tahun, stabilitas itu tambah mantap. Tetapi djangan sekali-kali kita kendorkan kendali stabilitas ini. Adanja kegontjangan-kegontjangan da- lam masjarakat maupun kegontjangan-kegontjangan harga, djelas akan menimbulkan kegelisahan dan ketidak-pastian jang akan menggagalkan pembangunan ini. Sebab itu, pedoman jang harus kita pegang teguh ialah : stabilitas memperlantjar pem-bangunan dan pembangunan untuk memperkuat stabilitas.
Dihubungkan dengan kemungkinan gontjangan ekonomi du- nia --- seperti jang kita alami achir-achir ini --- stabilitas ekonomi djelas kita perlukan. Apabila pelaksanaan REPELITA ini berhasil, maka salah satu tandanja adalah makin mantap- nja stabilitas ekonomi itu sendiri.
Pembangunanpun telah memperkuat stabilitas politik; ma1ahan pembangunan telah meratakan djalan kearah pemba- haruan dan penjederhanaan struktur politik.
Stabilitas ,politik itu sendiri, pada gilirannja, djuga telah memperlantjar pelaksanaan pembangunan. Apalagi sebelum
33
tahun 1966, masjarakat terkotak-kotak dalam ideologi golong- an dan kesetiaan jang sempit kepada partai atau politik sadja, apabila dahulu kehidupan masjarakat sehari-hari dipenuhi de- ngan rapat-rapat partai atau rapat-rapat umum jang meng- habiskan waktu, maka sekarang keadaan sudah djauh berobah.
Pemilihan Umum jang baru lalu telah menundjukkan tanda-tanda jang mengarah pada pembaharuan kehidupan politik di Tanah Air. Kampanje Pemilu sudah mengarah kepada pena-waran program-program pembangunan; bukannja dibakar oleh ideologi golongan. Usaha-usaha pembaharuan kehidupan politik dan penjederhanaan kepartaian memang tidak sesederhana itu. Akan tetapi, dengan mulai dirasakannja hasil-hasil pemba-ngunan, maka kepada pembangunan itulah kegiatan masja- rakat ditjurahkan.
Tentu bukan tudjuan kita untuk mematikan kegiatan politik dan membendung penjaluran aspirasi-aspirasi politik. Jang se-dang kita bina ialah penjaluran menurut tata-tjara dan wa- dah jang telah disediakan untuk itu, tanpa mengakibatkan kegaduhan jang terus-menerus didalam masjarakat. Pemilihan Umum 5 tahun sekali, Dewan Perwakilan Rakjat di Pusat maupun Daerah, kebebasan mimbar, mengemukakan pendapat melalui mass media dan sebagainja tjukup terbuka luas untuk itu. Dengan demikian, kehidupan masjarakat sehari-hari dan kegiatan pembangunan — lebih-lebih masjarakat desa -- tidak terlalu banjak terganggu.
Dalam djangka pandjang, hasil-hasil pembangunan tampak- nja djuga akan mempunjai pengaruh jang lebih besar terha- dap pembaharuan kehidupan politik. Masjarakat jang mem-bangun makin rasionil, makin terus mentjari djawaban dan mengusahakan pemetjahan masalah-masalah hidup jang njata. Dari sini akan mendorong diperlukannja dan dipilihnja pe-mimpin-pemimpin jang sanggup memberi djawaban terhadap persoalan-persoalan njata jang dihadapi oleh masjarakat. Barang tentu, tumbuhnja pemimpin-pemimpin jang de-
34
mikian akan makin memperlantjar djalannja pembangunan orang tidak lagi akan mempersoalkan ideologi golongan atau agama dari sang pemimpin, akan tetapi jang akan lebih dinilai ialah pemetjahan apa jang diberikan terhadap sesuatu persoalan.
Makin baiknja perhubungan dan lantjarnja lalu-lintas manusia akan lebih menjatukan seluruh masjarakat Indonesia, jang djuga akan melampaui batas-batas kesukuan atau kedaerahan,
Agama akan mempunjai makna jang dalam bagi manusia; dan, pembangunannja, seperti kemurnian agama itu sendiri. Semen- tara itu, kesukuan dan kedaerahan tetap mempunjai peranan dalam kehidupan kebudajaannja, jang akan memperkaja dan memberi warns kepada kebudajaan nasional kita.
Agak djelaslah kiranja, bahwa pembangunan ekonomi sesung-guhnja merupakan djuga alat pembaharuan kepada bidang-bi-dang sosial-politik jang lain. Dalam REPELITA jang sekarang, pengaruhnja terhadap pembaharuan itu telah mulai tampak.
Dalam rangkaian REPELITA selandjutnja; maka pelaksanaan pembangunan jang dibarengi dengan perentjanaan sosial jang lebih terarah akan menghasilkan masjarakat Indonesia jang lebih kokoh, lebih kuat dan makin madju.
Saudara-saudara;
Walaupun dana-dana jang tersedia masih sangat terbatas, namun dalam. REPELITA jang sekarang ini usaha-usaha ke- arah keadilan sosialpun telah kita kerdjakan; setidak-tidaknja, dalam arti meratakan gerak pembangunan jang menjangkut setiap daerah dan lapisan terbesar masjarakat. Bagian terbesar Rakjat telah turut berpartisipasi dalam pembangunan itu dan langsung menikmati hasilnja.
Disamping pembangunan jang diadakan oleh daerah sendiri, maka projek-projek pembangunan Pusat diusahakan tersebar disemua daerah, dengan tidak mengorbankan persjaratan eko- nomi dari setiap projek jang dibangun.
Namun demikian untuk lebih meratakan kegiatan pembangun-an di Daerah-daerah jang paling lemah kemampuan ekonominja,
35
maka sedjak tahun keempat REPELITA ini, Pemerintah telah mengambil kebidjaksanaan, bahwa pada prinsipnja Pemerintah menjediakan biaja pembangunan projek Pusat jang ada di Daerah paling sedikit berdjumlah Rp. 1 miljar.
Seperti tahun-tahun jang terdahulu, kepada setiap Kabupaten dan Kotamadya diberikan bantuan, jang untuk tahun ini index- nja adalah Rp. 100,- per penduduk.
Dengan bantuan itu, setiap Kabupaten dan Kotamadya di-seluruh Indonesia bertambah kemampuannja untuk mengge-rakkan pembangunan didaerahnja masing-masing. Bantuan tadi telah dirasakan manfaatnja setjara langsung oleh Rakjat karena digunakan untuk membangun projek-projek ekonomi jang meng-gunakan banjak tenaga rakjat didaerah sendiri.
Sementara itu, dalam beberapa tahun ini Desa mendapatkan bantuan masing-masing sebesar Rp. 100,- ribu. Bantuan tadi ternjata telah dapat menarik kegiatan ekonomi Desa dan me-nambah luasnja kesempatan kerdja. Dengan ikut sertanja dan dirasakannja gerak dan hasil pembangunan setjara langsung oleh masjarakat desa, maka landasan sosial dari pembangunan setjara relatif makin 1uas. Hal ini telah merupakan langkah njata untuk mewudjudkan solidaritas sosial, suatu unsur pen- ting bagi terwudjudnja ketahanan sosial dan politik. Pemben-tukan „Unit-unit Desa” telah menambah gerak pembangunan di Desa-desa. Dengan „Unit-unit Desa” fasilitas-fasilitas kredit, pembelian pupuk dan sebagainja -- dalam rangka BI- MAS pertanian — ditempatkan langsung ditengah-tengah ma-sjarakat dan kehidupan desa,
Usaha-usaha ini berarti pula mengadakan pembaharuan kehi-dupan desa, ialah penggunaan dasar-dasar tata-hubungan eko- nomi modern dalam kehidupan desa.
Makin besarnja kegiatan pembangunan di Kabupaten-kabu-paten dan Desa jang bersumber pada bantuan-bantuan tadi, dalam batas-batas tertentu telah mengurangi arus penjerbuan penduduk dari desa kekota-kota besar, jang berarti telah me-ngurangi kesulitan kota-kota besar tersebut dalam menghadapi masalah urbanisasi.
36
Disamping adanja bantuan jang diberikan kepada Daerah-da--erah dan Desa jang memang ditudjukan untuk kepentingan rakjat tadi, maka prioritas pembangunan dibidang pertanian itu sandhi telah merupakan kebidjaksanaan pokok jang meng-utamakan rakjat banjak, ialah petani. Kredit BIMAS diberikan langsung kepada petani; subsidi pupuk untuk kepentingan peta, pembuatan bendungan-bendungan irigasi, djalan-djalan dan djembatan jang menggunakan tenaga buruh jang sangat besar, djuga untuk kepentingan petani dan rakjat pada umumnja. Ter-dapat tjukup bukti, bahwa pembangunan ini hasil-hasilnja di-rasakan setjara langsung oleh rakjat dan meningkatkan pen-dapatan rakjat, meskipun masih dalam batas jang minimal.
Pemerintah menjadari bahwa beberapa aspek daripada pem-bangunan ekonomi jang telah sedjauh mungkin diarahkan kepa- da keadilan social tadi, masih djauh daripada memadai.
Memang, masih pandjang djalan jang harus kita tempuh untuk sampan pada masjarakat adil dan makmur. Untuk men- tjapai landasan masjarakat jang adil dan makmur itu sadja, baru dapat kita tjapai setelah melampaui 4 - 5 REPELITA; ia- lah apabila kita berhasil mentjiptakan struktur ekonomi jang seimbang, dimana terdapat kemadjuan industri jang didukung oleh pertanian jang kuat.
Sidang jang terhormat;
Sementara pemetjahan jang menjeluruh mengenai masalah-masalah sosial masih akan memakan waktu, maka hasil-hasil lain jang menggembirakan ialah pelaksanaan program Keluarga Berentjana. Hasilnja tampak djelas dari kenjataan berikut ini. Apabila untuk tahun '71/'72 ditetapkan sasaran sedjumlah ¼ djuta akseptor, maka jang ditjapai adalah ½ djuta, jang berarti 2 kali lipat dari sasaran jang ditetapkan. Sebagian terbesar dari mereka berpendidikan Sekolah Dasar dan setengah dari djumlah tadi adalah keluarga petani. Ini menundjukkan, bahwa, program Keluarga Berentjana telah tertanam dikalangan ma-sjarakat luas. Sungguh suatu permulaan jang sangat baik. Untuk tahun '72/'73 ini sasaran kita adalah 1 djuta akseptor.
37
Sasaran itu dan djuga sasaran-sasaran berikutnja harus kita tjapai. Tidak boleh gagal.
Saja serukan untuk kesekian kalinja agar program Keluarga Berentjana ini kita kerdjakan dengan sungguh-sungguh. Kita lakukan segala usaha, kita gunakan alat-alat peralatan jang ada, jang praktis dan mudah, asalkan memenuhi sjarat-sjarat kese-hatan, apakah itu berupa pil ataukah spiral atau alat lainnja.
Kith dapat mengatakan bahwa kita dihadapkan pada keadaan terpaksa atau keadaan darurat; bukan hanja pribadi, melainkan seluruh masjarakat kita. Karena, apabila pelaksanaan Keluarga Berentjana ini gagal, apabila tingkat kelahiran jang ada dewasa tidak dapat kita tekan sampai baths jang minimum, maka semua hasil usaha kita dalam pembangunan akan tidak ada artinja, bahkan dapat membahajakan generasi-generasi kita jang akan datang.
Sungguh, suksesnja program Keluarga Berentjana adalah sangat menentukan kebahagiaan kita semua.
Saudara-saudara;
Dalam memetjahkan masalah sosial, politik dan ketahanan nasional saja perlu mengemukakan beberapa hal. Mengenai penjelesaian tahanan G-30-S/PKI.
Seperti jang saja djandjikan dalam Pidato Kenegaraan tahun jang lalu, maka dewasa ini seluruh tahanan dari ,;golongan C" telah dibebaskan dan hidup kembali ditengah-tengah masjara- kat. Tindakan ini dapat kita lakukan berkat telah makin man-tapnja stabilitas politik maupun stabilitas keamanan. Ini me-rupakan kemadjuan panting dalam usaha kita menjelesai- kan akibat-akibat pemberontakan jang telah meletus 7 tahun jang lalu. Pembebasan tahanan „golongan C” ini merupakan pelaksanaan kebidjaksanaan umum dari pada penjelesaian ta-hanan G-30-S/PKI itu jang melandaskan pada 3 pertimbangan; jaitu (1) keselamatan Bangsa dan Negara, (2) penjelesaian berdasarkan hukum dan (3) perlakuan jang wadjar terhadap jang njata-njata tidak bersalah, sesuai dengan kebesaran djiwa Pantja Sila. Sekarang malahan keluarga tahanan dari „golongan
38
B" telah mulai menjusul suami atau ajah mereka kepulau Buru. Kita mengharapkan, dengan berkumpulnja kembali keluarga-keluarga itu mereka dapat membina kehidupan keluarga dan hidup bermasjarakat jang wadjar. Disana. mereka telah kita bimbing untuk memulai langkah barn menudju hidup baru, dengan membangun perkampungan, perumahan sendiri dan ber-produksi dilapangan pertanian. Saja mengharapkan kepada me-reka, agar uluran tangan ini disambut dengan baik dan disertai dengan keinsjafan atas kekeliruan-kekeliruan mereka dimasa. lampau.
Dilain fihak, saja perlu menegaskan lagi, bahwa Pemerintah tidak akan tinggal diam dan tidak bertindak setengah-setengah terhadap bahaja sisa-sisa G-30-S/PKI jang masih ada.
Setiap usaha untuk membangkitkan lagi kekuatan PKI, baik dari dalam negeri sendiri maupun dengan bantuan dari luar, akan kita ambil tindakan. Demikian djuga para bekas tahanan jang telah dibebaskan dan diberikan kesempatan untuk menje-suaikan diri dengan lingkungan dan. suasana masjarakat Pantja Sila, akan kita ambil tindakan jang lebih keras daripada tin- dakan penahanan jang terdahulu, apabila mereka mentjoba melakukan kegiatan-kegiatan jang destruktif dan melakukan usaha-usaha menghidupkan kembali PKI di Indonesia. Tentu, mereka jang benar-benar insjaf tetap akan mendapat perlakuan jang wadjar.
Sisa-sisa kekuatan G-30-S/PKI memang masih ada, walaupun slat-alat keamanan selalu dapat menemukan dan menghantjur- kan sel-sel mereka. Ada rentjana mereka untuk membangun kembali PKI atau sebangsanja pada tahun '75 nanti. Sebab itu, saja menjerukan kepada kita semua agar tidak lengah dan dja-ngan mengurangi kewaspadaan, terutama djangan sampai dian-tara kits sendiri dapat mereka adu-domba.
Masalah lain jang perlu kita perhatikan adalah bahaja-bahaja „gandja”, „narkotika”, „morfin” dan sedjenisnja. Lebih dari sekedar bahaja keamanan djangka pendek dan dalam lingkaran lingkungan jang terbatas, ia merupakan antjaman bagi kesela- matan bangsa kita dimasa depan. Saja serukan kepada para
39
orang tua supaja lebih memperhatikan masalah ini. Saja seru- kan kepada para remadja agar mendjauhkan diri dari bentjana ini. Pemerintah sedang menjiapkan langkah-langkah dan sara- na-sarana hukum jang diperlukan untuk memberantas setjara efektif bahaja jang mengepul dari gandja
Saudara-saudara;
Saja telah mendjelaskan persoalan-persoalan pokok jang kita hadapi dewasa ini, apa jang telah kita tjapai dan apa arti lang-kah-langkah itu bagi masa depan kita.
Dalam pada itu, kita perlu memelihara semua unsur-unsur jang menjatukan clan mendjadi kekuatan Bangsa kita, unsur-unsur jang mendjadi djiwa dan kebudajaan kita sendiri, jang menundjukkan Indonesia adalah Indonesia. Dalam hal ini, kita tidak mungkin berbitjara tentang Indonesia tanpa Bahasa Indo-nesia.
Sungguh, kita dan generasi-generasi jang akan datang ber-terima kasih kepada pemimpin-pemimpin dan generasi-generasi terdahulu jang telah melahirkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928:
─ mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia;
─ mengaku bertanah air satu, Tanah Air Indonesia;
─ mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda merupakan putusan sedjarah jang sangat panting, jang telah ikut melahirkan dan memperkuat Bangsa ini. Kita tidak dapat membajangkan kesulitan-kesulitan jang akan kita hadapi, apabila 120 djuta Rakjat Indonesia — jang mendiami wilajah sama pandjangnja dari London ke Istambul, jang terdiri dari bermatjam-matjam suku darn kebudajaan dae-rah, jang memiliki ratusan bahasa daerah — tidak memiliki bahasa national jang satu. Kita sungguh beruntung dibanding dengan Bangsa-bangsa lain jang belum djuga memiliki bahasa nasional atau jang menggunakan beberapa bahasa dibawah satu atap perumahan negara mereka.
40
Memiliki bahasa nasional mengharuskan adanja ketjintaan kepada bahasa nasional itu; dan ketjintaan kepada bahasa na-sional mengharuskan adanja pembinaan jang teratur. Bahasa itu hidup dan berkembang. Tanpa pembinaan, hidupnja tanpa arah. Melalaikan pembinaan sama buruknja dengan membiarkan bahasa jang kita tjintai ini rusak.
Tidak perlu disangsikan lagi, pembinaan bahasa nasional kita adalah mutlak; malahan, ia merupakan bahagian daripada pem-binaan bangsa kita. Pembinaan Bahasa Indonesia adalah tang-gung djawab nasional; bukan hanja mendjadi beban pemikiran ahli-ahli bahasa, bukan hanja urusan Departemen Pendidikan dan Kebudajaan.
Langkah-langkah jang panting adalah pembakuan bahasa kita; jang meliputi pembakuan tata bahasa, pembakuan: per-istilahan dan pembakuan edjaan. Pembakuan edjaan kita dahu-lukan, karena pembakuan edjaan ini merupakan landasan bagi pembakuan tata bahasa dan pembakuan peristilahan.
Usaha-usaha pembakuan edjaan ini sesungguhnja bukan hal barn. Telah lama difikirkan dan dibahas oleh ahli-ahli bahasa dan pentjinta-pentjinta bahasa Indonesia. Sedjak berlakunja edjaan Soewandi pada tahun 1947, telah berulang kali para ahli Bahasa Indonesia memikirkan dan membahasnja setjara men-again. Sedjumlah kongres, simposium dan seminar mengenai bahasa telah berulang kali diadakan, jang semuanja menjimpul-kan perlunja penjempurnaan edjaan Bahasa Indonesia jang bia- sa kita pakai sampai sekarang ini.
Sebab itu, sekarang, Pemerintah menganggap telah tjukup matang waktunja untuk mengambil keputusan.
Dan dengan mengutjap Bismillah, saja njatakan sedjak tang- gal 17 Agustus 1972 besok, mulai berlaku setjara resmi peng-gunaan „Ejaan Yang Disempurnakan”.
Karena penggunaan „Ejaan Yang Disempurnakan” itu me-merlukan penjesuaian dan sekedar latihan, dan djuga karena penggunaan jang sekaligus dapat memakan biaja jang besar bagi Pemerintah maupun mendjadi beban masjarakat, maka
41
pelaksanaannja dilakukan bertahap dengan melalui suatu masa peralihan.
Untuk hal-hal jang tidak memerlukan biaja sama sekali, pe-laksanaannja dapat dilakukan mulai besok pagi; seperti surat-menjurat resmi, penjiapan peraturan perundang-undangan, tulisan-tulisan disurat-surat kabar, penggunaan oleh masjara- kat leas dan sebagainja. Diharapkan, mulai 1 Djanuari 1973 nanti kita sudah dapat melaksanakannja dengan baik. Peng-gantian kepala-kepala surat, formulir-formulir, dan sebagainja diberi waktu jang lebih pandjang.
Selama formulir-formulir jang lama itu masih ada, dapat di gunakan terus sehingga tidak perlu orang terburu-buru meng- adjukan anggaran tambahan untuk kantor-kantor Pemerintah dengan dalih karena adanja „Ejaan Yang Disempurnakan” ini. Sudah barang tentu pentjetakan-pentjetakan barn harus sudah menggunakan „Ejaan Yang Disempurnakan”. Dalam Sidang Ka-binet Paripurna awal bulan ini saja telah menegaskan, bahwa untuk pelaksanaan „Ejaan Yang Disempurnakan” tidak disedia-kan biaja chusus, karena memang tidak perlu ada anggaran chusus.
Buku-buku peladjaran dan buku-buku lainnja tetap dapat di-gunakan; tetapi sementara itu, untuk buku-buku tjetakan baru atau tjetakan ulang sudah harus menggunakan „Ejaan Yang Disempurnakan”.
Tampak djelas, Saudara Ketua, bahwa pelaksanaan „Ejaan Yang Disempurnakan” dapat dikatakan tidak menambah beban Anggaran Negara maupun beban dari masjarakat. Me-mang, untuk membina Bahasa Indonesia kita tidak sepantasnja menghitung untung-rugi dilihat dari segi biaja. Tetapi kita djuga bersjukur, bahwa tanpa mengorbankan pertimbangan-per-timbangan ilmiah dan tanpa mengorbankan kepentingan jang hakiki daripada pembinaan Bahasa Indonesia itu, pelaksanaan „Ejaan Yang Disempurnakan” ini, ternjata tidak mengeluarkan biaja seperti jang dichawatirkan oleh sebagian masjarakat jang belum memahami duduk persoalannja.
42
Dalam hal ini djuga tidak perlu dipersoalkan, „siapa jang menang” dan „siapa jang kalah” diantara pendapat jang ber- beda-beda dalam masjarakat mengenai edjaan ini. Perbedaan-perbedaan pendapat itu adalah wudjud daripada ketjintaan ke-pada Bahasa Nasional kita. Tudjuan kita adalah satu, ialah memelihara dan mengembangkan Bahasa Indonesia dengan tidak meninggalkan kepribadian dan kodratnja.
Mari1ah kita wudjudkan ketjintaan itu dengan menggunakan Bahasa Indonesia jang benar dan baik. Saja mengadjak kepada Pedjabat-pedjabat Pemerintahan, kepada Pemimpin-pemimpin masjarakat, kepada surat-surat kabar dan madjalah-madjalah untuk mulai lagi menggunakan Bahasa Indonesia jang baik. ApabiIa hal itu terwudjud, maka masjarakatpun akan berbuat jang sama; ,dan akan makin kokohlah pembinaan Bahasa Indo-nesia jang telah mendjadi Sumpah Pemuda 44 tahun jang lalu itu.
Pembakuan bahasa mendidik pemakai bahasa berbahasa de-ngan tertib. Bahasa jang tertib menundjukkan tjara berfikir dan bertindak jang tertib djuga. Dan ketertiban itu merupakan da-sar pokok dari hidup bermasjarakat jang berkebudajaan dan se-djahtera.
Saudara-saudara;
Sekarang kita telah berada dalam tahun ke-4 pelaksanaan REPELITA pertama. Kiranja sudah tiba saatnja kita memikir- kan mengenai REPELITA kedua; membuat gambaran umum mengenai apa jang kita inginkan, kemampuan-kemampuan jang kita miliki untuk mentjapai keinginan-keinginan itu, masalah-masalah apa jang perk' kita perhatikan dan apa jang perlu kita kerdjakan.
REPELITA kedua harus merupakan peningkatan dan kelan-djutan REPELITA pertama; dan didalam REPELITA kedua itu kita garap lebih dalam masalah-masalah jang sedjak semula memang kita sadari belum akan terpetjahkan dalam REPELITA pertama.
43
Sasaran-sasaran REPELITA pertama antara lain ialah penje-diaan, pangan dan sandang jang diperlukan oleh rakjat. Hal ter-sebut berarti, bahwa peningkatan produksi pangan dan sandang tetap harus kita lakukan; demikian djuga usaha-usaha untuk memelihara kestabilan harga pangan dan sandang. Disamping itu dalam REPELITA pertama diusahakan. pula peningkatan pe-rumahan rakjat dalam batas-batas kemampuan jang ada; dan usaha-usaha itupun kita landjutkan dalam REPELITA kedua nanti.
Dalam REPELITA kedua itu, masalah lain jang segera tam- pil adalah kebutuhan kita jang sangat mendesak akan perluasan lapangan kerdja. Pemetjahan masalah ini djuga akan merupa- kan kuntji pokok terhadap terwudjudnja stabilitas Nasional dan ketahanan Nasional; dan didalamnja terletak pula kekuatan ge- rak pembangunan selandjutnja.
Memperluas lapangan kerdja berarti memperluas lapisan masjarakat jang setjara produktif terlibat dalam pemba- ngunan, dan ini mengandung arti makin meluasnja pula lapis- an masjarakat jang ikut mengambil tanggung djawab terhadap pembangunan. Kesempatan kerdja bukan sadja memiliki nilai ekonomi dalam arti kesempatan memperoleh penghasilan bagi jang bersangkutan, melainkan kesempatan kerdja itu djuga me-ngandung nilai kemanusiaan. Bekerdja membuat seorang ma-nusia mempunjai arti, dan dari sini tumbuh rasa harga diri dan kepertjajaan, kepada kemampuan sendiri. Dengan demikian, per luasan kesempatan bekerdja djuga memberi isi kepada Penger- tian martabat manusia dan azas perikemanusiaan.
Sasaran perluasan kesempatan kerdja tersebut harus meru pakan azas jang tertjermin dalam kebidjaksanaan-kebidjaksana-an pembangunan dari Semua sektor. Pemilihan teknologi, pem-bangunan industri, pembangunan prasarana, penetapan skala prioritas investasi, kebidjaksanaan-kebidjaksanaan perpadjak- an serta perkreditan dan Sebagainja, perlu mengarah pada per-luasan kesempatan kerdja.
44
Disamping itu perluasan kesempatan kerdja djuga dituang-
kan dalam program-program jang chusus; seperti misalnja pembangunan „projek-projek Inpres”, projek-projek padat kar- ya serta pelaksanaan transmigrasi jang dikaitkan setjara lang-sung dengan kegiatan pembangunan daerah. Pembangunan pe-desaan mendjadi penting, karena disatu fihak di pedesaan itu- lah bersumber tenaga kerdja jang banjak dan dilain fihak pem-bangunan pedesaan akan dapat mentjegah mengalirnja pendu-duk desa kekota-kota besar, dimana sesungguhnja lapangan ker-dja djuga hares diperluas untuk memenuhi kebutuhan pendu- duk kota sendiri sedangkan fasilitas-fasilitas untuk hidup lebih lajak belum tertjukupi sepenuhnja.
Dalam hubungan ini terbukanja daerah-daerah jang masih djarang penduduknja diluar pulau Djawa merupakan kebutuh- an : untuk membangkitkan potensi-potensi ekonomi jang masih sangat luas dan sekaligus menambah terbukanja ke-sempatan kerdja jang lebih leas. Untuk itu transmigrasi perlu lebih digerakkan. Disamping kegiatan-kegiatan transmigrasi jang telah dilakukan, maka dalam REPELITA. jang sekarang djuga te1ah diadakan persiapan-persiapan untuk melaksana- kan transmigrasi jang lebih berarti dalam tahun-tahun jang akan datang. Dalam pada itu, transmigrasi keluar Djawa perlu tetap dilaksanakan sesuai kemampuan pembiajaan oleh Peme-rintah. Dilain fihak, dengan makin meluasnja pembangunan dan kegiatan ekonomi diluar Djawa maka, akan lebih terdoronglah gerak transmigrasi ,spontan.
Saudara-saudara;
Djustru untuk memperluas kesempatan kerdja tadi, maka segala kegiatan pembangunan selama REPELITA pertama jang sekarang ini harus dilandjutkan dan bahkan ditingkatkan.
Peningkatan pembangunan berarti bertambahnja produksi barang dan produksi djasa dengan ,ladju jang lebih tjepat. Dibi- dang pertanian misalnja peningkatan produksi beras jang telah tertjapai harus diikuti dengan peningkatan produksi hasil-hasil
45
pertanian jang lain seperti palawidja dan lain-lain. Perluasan matjam tanaman bukan sadja akan meningkatkan penghasilan petani melainkan djuga akan membantu pertambahan persediaan protein jang sangat diperlukan bagi kesedjahteraan Rakjat. Perluasan matjam tanaman sekaligus kita arahkan untuk mem-perkuat ekspor kita, agar tidak terlalu tergantung hanja pada beberapa djenis barang sadja. Dibidang industri, hasil-hasil jang telah tertjapai hares dilandjutkan dengan lebih meningkatkan lagi pembangunan industri-industri jang mengolah berbagai ma-tjam bahan mentah mendjadi bahan baku. Dengan demikian maka ekspor Indonesia djuga akan bergeser dari ekspor bahan mentah kearah ekspor bahan-bahan jang telah diolah didalam negeri. Perkembangan jang sama perlu pula diusahakan dibi- dang pertambangan sehingga dengan demikian akan lebih me-ningkat lagi nilai jang diperoleh dari hasil produksi dan hasil ekspor sektor tersebut.
Peningkatan ladju pembangunan ketjuali meliputi pening-katan produksi barang-barang djuga mentjakup peningkatan produksi djasa-djasa diberbagai sektor; diantaranja ialah: per-hubungan, pendidikan, kesehatan, pariwisata dan sebagainja. Peningkatan produksi djasa disektor perhubungan bukan sadja akan memperlantjar arus barang dan manusia, melainkan mem-punjai peranan jang sangat menentukan dalam membina kesa-tuan Bangsa dan Negara kita, jang meliputi wilajah sedemikian Iuas dan terdiri atas ribuan pulau-pulau.
Peningkatan pembangunan dalam sektor pendidikan bukan sadja akan membuka kesempatan jang lebih luas untuk mem-peroleh pendidikan jang diperlukan bagi proses pembangunan, melainkan djuga akan mentjakup perobahan mental masjara- kat kearah pembaharuan nilai-nilai hidup. Demikian pula pe-ningkatan produksi djasa dalam sektor kesehatan akan mem-perluas kesempatan untuk meningkatkan kesehatan rakjat jang sekaligus berarti pemupukan kapasitas tenaga kerdja. Pemba-ngunan disektor-sektor pendidikan dan kesehatan akan mem-pertjepat terwudjudnja kesempatan jang sama bagi seluruh rakjat untuk memperoleh pendidikan dan untuk memperoleh
46
perlindungan dari berbagai penjakit. Tertjapainja kesempatan jang sama bagi seluruh rakjat tersebut merupakan salah satu perwujudan daripada azas keadilan sosial.
Peningkatan pertumbuhan produksi barang dan djasa hanja dapat mendjadi kenjataan dengan dukungan prasarana jang tangguh. Dengan terlaksananja rehabilitasi dari sebagian besar prasarana selama REPELITA pertama, maka terbukalah ke-sempatan untuk meningkatkan pembangunan prasarana baru dalam REPELITA kedua. Hal ini antara lain meliputi sektor-sektor listrik, irigasi, pelabuhan, djalan raya dan sebagainja.
Saudara-saudara ;
Faktor lain jang mendjadi tudjuan dan kekuatan pembangun- an adalah penjebaran jang makin merata dari hasil pembangun-an. Dalam REPELITA kedua nanti, kita mengharapkan dapat lebih meratakan penjebaran hasil pembangunan, karena kemampuan-kemampuan kita untuk itu telah makin besar. Se-bab itu, peningkatan pertumbuhan produksi, perluasan kesem-patan kerdja dan usaha meratakan penjebaran hasil pemba-ngunan harus sedjalan bersama-sama dan lebih selaras.
Sarana untuk meratakan penjebaran hasil pembangunan haruslah dituangkan dalam program-program jang konkrit. Salah satu bentuk daripada usaha tersebut adalah pemberian perhatian jang chusus bagi pembangunan daerah-daerah jang miskin sebagai akibat sedikitnja kekajaan alam jang ada di-daerah-daerah tersebut. Dalam hubungan ini, maka dalam RE-PELITA kedua nanti kebidjaksanaan jang dewasa ini telah di-ambil untuk meningkatkan bantuan Kabupaten bagi daerah-daerah jang minus dari Rp. 100,- perdjiwa mendjadi Rp. 125,-perdjiwa akan diteruskan dan mungkin ditingkatkan sesuai dengan kemampuan keuangan. Dengan demikian, maka Rakjat jang tinggal didaerah-daerah minus tersebut dan jang merupa-kan golongan penduduk jang termiskin akan memperoleh ke-sempatan untuk membangun daerahnja dan dengan demikian menikmati pula hasil pembangunan tersebut.
47
Bentuk lain daripada usaha untuk meratakan penjebaran ha- sil pembangunan adalah pemberian perhatian jang chusus, kepada Rakjat jang memperoleh mata pentjaharian dalam pe-kerdjaan-pekerdjaan jang sangat rendah tingkat penghasilan- nja, misalnja para nelajan, pekerdja-pekerdja dalam keradjinan rakjat, petani-petani penggarap jang tidak memiliki tanah sen-diri, dan sebagainja. Untuk rakjat jang termasuk dalam kelom-pok-kelompok ini perlulah disusun program-program tersendiri jang akan dapat meningkatkan penghasilan mereka.
Usaha meratakan basil pembangunan hares pula mentjakup program untuk memberikan kesempatan jang lebih banjak ke-pada pengusaha-pengusaha ketjil dan menengah untuk memper-luas dan meningkatkan usahanja. Ini berarti usaha untuk memperluas pengikut-sertaan golongan ekonomi lemah dalam ruang lingkup tanggung djawab jang lebih besar.
Kepada mereka itu haruslah diusahakan kesempatan untuk da- pat memperkuat permodalannja, meningkatkan keahliannja un-tuk mengurus pengusahaannja dan kesempatan untuk memasar-kan basil produksinja. Dewasa ini berbagai langkah untuk me-mungkinkan kesempatan-kesempatan tersebut sedang dipersiap-kan.
Dalam hubungan ini koperasi sebagai wadah penghimpun ke-kuatan ekonomi lemah perlu 1ebibh disiapkan. Selama REPELITA pertama ini telah diadakan kegiatan-kegiatan untuk menjehat- kan perkoperasian kita, dengan maksud agar koperasi — setjara bertahap — mampu memainkan peranan jang sesungguhnja ha-res didjalankan dalam tata ekonomi Indonesia.
Penjebaran jang merata, daripada, hasil pembangunan akan dapat pula ditjapai dengan mentjerminkan azas tersebut dalam berbagai kebidjaksanaan, diantaranja: kebidjaksanaan perpa-djakan , kebidjaksanaan perkreditan dan sebagainja. Dalam hu- bungan ini ,maka padjak langsung dalam bentuk padjak penda-patan dan Padjak kekajaan mempunjai peranan jang sangat penting. Demikian pula penggunaan dana kredit bank dalam djumlah-djumlah jang masing-masing tidak terlalu besar, akan
48
dapat menjebarkan dana tersebut sehingga dapat dipergunakan bagi peningkatan usaha-usaha menengah dan ketjil. Seperti jang telah saja uraikan tadi, sistim kredit BIMAS jang disertai dengan penjuluhan mengenai teknik produksi serta penjediaan sarana produksi ternjata telah berhasil meratakan penje- baran hasil pembangunan. Oleh karena itu dewasa ini sedang djuga dipersiapkan penggunaan sistim kredit BIMAS tersebut bagi bidang-bidang usaha lain; misalnja produksi palawidja, keradjinan rakjat, industri ketjil dan menengah, dan sebagainja.
Dalam melaksanakan pembangunan Nasional jang merupakan usaha bersama dalam mengerahkan seluruh kemampuan jang ada itu, maka perlulah dibina swadaja dan dirangsangnja prakarsa serta partisipasi aktif masjarakat.
Dengan demikian, dan dengan pengarahan serta bimbingan Pemerintah, maka akan makin lantjar dan meningkatlah ladju pembangunan.
Saudara-saudara;
Ada hal panting lainnja jang harus kita perhatikan.
Dalam pelaksanaan pembangunan seringkali perhatian hanja ditjurahkan semata-mata kepada pembagian dana jang tersedia bagi pembangunan diantara berbagai matjam keperluan. Sering-kali kita lupa, bahwa dana pembangunan tersebut djumlahnja terbatas. Djuga seringkali kita lupa, bahwa untuk melaksanakan pembangunan besar-besaran haruslah tersedia dana pemba-ngunan dalam djumlah jang besar pula. Dan dana pembangunan itu harus diusahakan dan digali oleh kita dan dari kita sendiri.
Untuk itu, keperluan berkorban bukanlah hanja sembojan !
Maka tidak ada djalan lain ketjuali setjara sungguh- sungguh meningkatkan pengerahan dana-dana bagi pemba-ngunan. Karenanja, maka salah satu sasaran panting darn RE-PELITA kedua adalah melandjutkan langkah-langkah jang telah diambil dalam REPELITA pertama; jakni meningkatkan mobilisasi dana pembangunan, baik melalui peningkatan pene-
49
rimaan negara maupun melalui peningkatan tabungan masjara-kat.
Disamping dana dalam bentuk rupiah, maka pembangunan sangat memerlukan dana dalam bentuk devisa. Hal ini berhu-bungan dengan besarnja djumlah alat-alat produksi untuk pem-bangunan jang perlu diimpor. Dalam hubungan ini djelas kira- nja bahwa usaha untuk meningkatkan penerimaan devisa de-ngan segala daja upaja dari ekspor dan pariwisata merupakan salah satu sasaran pula bagi REPELITA kedua, jang tadi djuga telah saja singgung.
Dengan meningkatkan kegiatan ekonomi, dapatlah penerima-an negara bertambah besar jang berarti pula makin banjaknja fasilitas sosial jang dapat disediakan. Hasil jang diperoleh ialah, naiknja tingkat kesedjahteraan jang lebih tinggi, jang merupakan harapan Rakjat jang harus dapat lebih terpenuhi dalam REPELITA kedua.
Dengan meningkatnja kesedjahteraan bertambah besarlah kepertjajaan Rakjat kepada arti pembangunan; dan disini lahir- lah kekuatan jang lebih besar guna melandjutkan pembangunan tahap berikutnja.
Dapatlah disimpulkan, bahwa tudjuan REPELITA kedua nanti ialah makin meningkatkan kesedjahteraan Rakjat dan perletakan landasan jang kuat bagi pembangunan tahap ber-ikutnja.
Sidang jang terhormat;
Kepada pembangunan untuk kesedjahteraan Rakjat itulah kita semua melibatkan diri dalam melaksanakan tugas-tugas Nasional jang sangat besar ini.
Arah dan tudjuan pembangunan dalam setiap tahap ditetap- kan oleh Rakjat sendiri. Dalam hubungan inilah, kita akan menghadapi saat-saat jang sangat menentukan, ialah pelantik- an Anggota-anggota MPR hasil Pemilihan Umum jang lalu dan sesudah itu Sidang Umum MPR dalam tahun 1973, jang akan menentukan Haluan Negara selandjutnja serta memilih Presi-
50
den dan Wakil Presiden. Kita semua, chususnja para anggota DPR tentu harus telah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk menghadapi peristiwa sedjarah jang panting itu.
Namun demikian, kita tidak dapat meninggalkan tugas-tugas legislatif kita.
Mendjelang Sidang Umum MPR nanti sedjumlah Rantjangan Undang-undang jang sangat panting, antara lain Rantjangan Undang-undang Pokok Perkawinan dan RAPBN untuk Tahun Anggaran jang akan datang, jang akan mendjadi landasan, pe-laksanaan tahun terachir REPELITA, kiranja dapat diselesai- kan.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air;
Saja segera akan mengachiri Pidato Kenegaraan ini, jang se-kaligus djuga merupakan laporan saja kepada seluruh Rakjat mengenai apa jang telah kita kerdjakan setahun jang Iewat, arah mana jang kita tudju, hasil-hasil apa jang kita tjapai dan apa jang akan kita kerdjakan nanti.
Arah dan tudjuan pokoknja tidak lain adalah suara hati kita semua, pembangunan jang akan membuat kehidupan ini lebih balk, lebih mempunjai makna jang dalam dan lebih indah.
Betapapun indah gambaran pembangunan nanti, perlulah tetap disadari, bahwa pembangunan akan berlangsung dalam waktu jang pandjang. Saja ingin menegaskan lagi bahwa lan-dasan masjarakat adil dan makmur itu baru akan kita tjapai 20-30-tahun nanti. Dan ingat: inipun baru landasannja; belum wudjud jang sebenar-benarnja dari masjarakat jang kita idam-idamkan. Meskipun demikian, mulai sekarang djuga, dalam me-laksanakan pembangunan kita harus dan memang sudah mele-takkan landasan-landasan untuk menudju pada terwudjudnja keadilan sosial tadi.
Untuk itupun kita harus bekerdja keras, dengan kita semua — tanpa ketjuali — melibatkan diri dalam pembangunan itu. Keterlibatan diri jang seutuh-utuhnja; baik dalam tanggung djawab, dalam pemikiran, dalam memikul beban dan dalam me-
51
nerima manfaat hasil pembangunan. Pendeknja, dalam segala suka dan duka pembangunan itu.
Sebab itu, djangan kita mengharapkan sesuatu jang terlam- pau tinggi atau terlampau enak; lebih-lebih jang berada diluar djangkauan kemampuan kita sendiri. Pembangunan kadang-kadang djuga berarti kepedihan!
Tetapi kita djuga tidak perlu berputus-asa. Dan memang tidak ada alasan untuk berputus-asa.
Dalam ukuran waktu pembangunan suatu bangsa, tiga tahun pelaksanaan REPELITA jang pertama ini, adalah waktu jang singkat. Melihat tantangan-tantangan, kesempatan dan harap- an-harapan dimasa depan, apa jang kita tjapai selama adalah bare sebahagian ketjil sadja.
Akan tetapi, apabila kita menengok sedjenak kepada timbunan masalah dan himpitan penderitaan jang kita hadapi ketika kita menegakkan Orde Baru enam tahun jang lampau, sungguh, hasil jang kita tjapai tjukup besar.
Dan hasil inilah jang membuat kita pertjaja kepada ketahanan dan kemampuan kita sendiri.
Marilah kita perkuat ketahanan itu, Marilah kita perbesar kemampuan itu.
Dan pasti, kita akan mentjapai apa jang kita idam-idamkan. Semoga Tuhan Jang Maim Esa memberkahi kita semua. Terima kasih.


Djakarta, 16 Agustus 1972. Presiden Republik Indonesia,
SOEHARTO
Djenderal TNI.

No comments: