Sunday 20 February 2011

Duka Abadi Me Made

Duka Abadi Me Made



Mendung memperkelam segala. Juga perkabungan di sudut desa. Pepohonan, juga angin dan kematian, menjadi sekutu paling pilu di tengah puluhan kerumun wajah-wajah duka, hampa, berair mata; menatap sesosok tubuh terbujur kaku di atas rangka bambu di halaman rumah. Harum air bunga berwarna kematian bertabur rata pada sekujur tubuh kaku. Pada kain putih yang sempat tersingkap tampak sejumlah bekas bacokan yang menganga, memerah, mematikan; seperti sebuah kesempurnaan tentang arti meregang yang sangat panjang, perih, menyakitkan….

“Bli Wayan mati, Me.”

“Bli Wayan-mu mati.”

“Meme sedih?”

“Meme sedih?”

“Tapi mengapa Meme tak menangis?”

“Meme capai menangis.”

“Tapi mengapa wajah Meme tak memperlihatkan kesedihan?”

“Meme tak tahu, Ning.”

Rintik hujan memperkelam kematian. Segala tampak kuyup. Beku. Juga wajah-wajah yang merubungi sosok yang terbaring kaku itu. Sejumlah orang memindahkan mayat itu ke bale delod. Suasana sedikit riuh. Tapi wajah mereka menyemburatkan kemurungan, kecuali seorang perempuan kurus berkebaya hitam. Di tengah rintik hujan, wajah itu sungguh-sungguh kelihatan lebih teduh, tenang, tabah. Ketika semua usai, ia menghaturkan suksma ketenangan.

“Me Made jangan terlalu bersedih.”

“Tetaplah tabah.”

“Nasib memang tak bisa dielakkan.”

“Hyang Widhi bersama Me Made.”

“I Wayan tak sepantasnya menerima kematian seperti itu.”

Me Made tersenyum. Hujan mengguyur tubuhnya. Sejauh itu ia tak mengelak dari rintik-rintik air. Kebaya hitamnya melekat pada tubuhnya karena begitu kuyup. Bahkan ketika akhirnya rumah itu kembali seperti semula; senyap, sendu, dingin, perempuan paruh baya itu tetap hilir mudik menyelesaikan runtutan pekerjaan yang bersisa. Nun di bale delod, maut berbaring tak ambil pusing.

Tabuh angklung kematian menyeruak ke segenap setra di tanah ketinggian, melilit pohon-pohon kepuh yang menjulang menaungi kuburan yang teduh oleh rumput hijau, menyusup pilu ke telinga Me Made. Dalam dekapan hujan, tabuh angklung itu terasa indah, namun begitu kuat menggenggam irama kematian. Me Made tetap duduk dekat sekaa angklung itu sambil memandang gemeretak suara api yang membakar perlahan-lahan jenazah putranya. Hujan yang tak jua berhenti membuat pembakaran mayat itu sangat lambat. Kompor gas yang tiada henti mendesis keras agak mengganggu tabuh irama angklung.

Tapi Me Made tak peduli, tetap saja termangu, tetap saja membiarkan dirinya hanyut oleh lamunan daripada terusik oleh deru kencang kompor gas yang menjaga nyala besar api yang membakar jenazah putranya. Matanya yang tenang dan membagi keteduhan kepada siapa saja itu tampak redup, muram dan luka.

Irama angklung itu terus merasuk ke dalam dirinya, melemparkannya kepada suatu masa yang merobek batin dan ketenangannya… suatu masa di tahun ’65 yang mengharuskan ia dibiarkan dengan mata nyalang memandang leher suaminya ditebas dengan dingin. Kilatan kelewang yang bercahaya oleh kilau darah mematri ingatannya hingga kini. Atas nama kekuasaan dan ideologi yang berseberangan… nyawa suaminya tak pantas ada.

Sebuah sentuhan di lengan mengembalikan ingatan Me Made. Perempuan itu agak terperanjat, namun wajahnya refleks tersenyum ketika memandang wajah putrinya. Wajah cantik gadis itu sembab, murung dan tak bercahaya. Me Made meraih lengan putrinya dan mengajaknya duduk di sebelahnya. Ibu dan anak itu bersibungkam.

Hujan terus merintik. Tak banyak orang berlalu lalang di pekuburan. Mereka lebih memilih berteduh di bawah pohon-pohon kepuh yang rindang. Sore seharusnya masih terang. Namun, hujan membuat sore terasa tua. Tambah pula dingin mendekap segala. Kecuali terang api kompor gas yang terus saja mendesis dan membakar jenazah, selebihnya ialah senyap mendera-dera.

Isak kecil membuat Me Made berpaling kepada putrinya. Ia merangkul gadis itu, memeluknya lembut, dan berbisik lirih membesarkan hati anaknya. Tapi gadis itu malah tersedu. Badannya yang langsing itu kelihatan berguncang. Me Made mempererat pelukannya.

“Sudah… sudah, Ning! Ikhlaskan kepergian Bli Wayan-mu,” bisik Me Made .

“Tapi Bli Wayan, Me. Mengapa ia harus mati seperti itu?”

Me Made tak sanggup menjawab.

“Mengapa, Me?”

Me Made malah termangu.

Gadis itu tak lagi mendesak. Ia suntuk dengan tangisnya.

Tabuh angklung tiba-tiba menyeruak kesunyian mereka. Iramanya sungguh menyayat-nyayat. Dan, itu sudah cukup mengembalikan ingatan Me Made pada putranya I Wayan. Dalam lamunan irama angklung, ia membayangkan putranya di kedituan begitu agung, harum, suci. Senyumnya indah dengan cahaya mata yang menatap begitu teduh; menari dengan lembut dan suci dalam balutan busana serba putih, saput putih, udeng putih….

Tapi pada kelebatan lamunan yang lain, Me Made terlempar pada kejadian beberapa hari lalu; sejumlah besar orang-orang menyerbu rumahnya sambil berteriak dengan umpatan, makian, dan kata-kata kotor, menistakan keluarganya ke titik masa lalu sambil meminta putranya I Wayan keluar dari rumah. Beberapa orang menyeruak ke dalam rumah dan menyeret paksa I Wayan ke halaman. Me Made mencoba menahan putranya sambil berteriak histeris, mencegah dan mengusir mereka.

“Kau mencabut bendera parpol kami!” teriak seseorang berbadan besar bertato.

“Memang dia!”

“Ya, memang dia!”

“Aku melihatnya, dia duduk dekat bendera parpol kita yang berjatuhan!”

“Habis dia!”

“Dasar dia!”

“Dasar anak PKI!”

“Sudah, jangan banyak omong. Sikat saja!”

Seseorang mulai memukul I Wayan. Lalu disusul yang lain. Dan puluhan orang itu, dengan membawa berbagai senjata, membantai I Wayan di depan Me Made. Perempuan itu berteriak-teriak histeris. Setelah suaminya, kini ia kembali dengan mata nyalang menyaksikan kekejian berlangsung di depan matanya. Putranya dianiaya melebihi batas-batas ukuran hati manusia. Me Made meraih I Wayan setelah tubuhnya tak lagi berbentuk, penuh darah dan darah….

Jeda tabuh angklung mengembalikan kesadaran Me Made. Ia mendapatkan sekitarnya tetap lengang, kecuali dengus berkepanjangan suara kompor gas. Hujan masih merintik. Juga putrinya masih menyisakan isak. Ketika prosesi ngaben itu akan mulai berakhir, Me Made bangkit dari duduknya sambil membantu putrinya bangun. Mereka melangkah lambat mendekati pembakaran mayat dan mendapatkan I Wayan telah berubah menjadi abu….

Di kamar yang sunyi, Me Made sepi sendiri. Sejak kepergian I Wayan, kesepian itu kian terasa perih. Ada suara lamat-lamat suara televisi, namun itu tak mengganggu deru sepi yang mendera Me Made. Pada satu dinding kamarnya, ia memandang dua wajah yang disayangi dalam bingkai foto 11R. Ia beranjak dari bibir pembaringan dan mendekat dua foto itu. Dua wajah lelaki yang disayanginya, dan keduanya pergi dengan cara keji.

Me Made meraba dua foto itu; dan pada penghayatan cinta luar biasa kepada dua wajah dalam foto itu, terasa tangannya bergetar. Me Made tak kuasa menahan diri. Ia menangis dengan tubuh terguncang. Ia seperti merasa sungguh-sungguh tak kuasa lagi menahan dera derita yang dibawanya. Ia ingin sekali Tuhan mencabut nyawanya supaya tak selalu ingat kepada orang-orang yang dikasihinya yang lebih dulu meninggalkannya. Karena jika mengingat mereka, hatinya seperti berkali-kali dibuat remuk.

Putrinya menyongsong ke kamar ketika mendengar Me Made menangis.

“Meme… Meme….”

Me Made mencoba bergegas mengusap air matanya. Ia tak ingin kelihatan tak tabah di depan putrinya. “Meme tak apa-apa, Ning,” seru Me Made, mencoba tersenyum. Ia melangkah ke tempat tidur. “Meme hanya selalu teringat dengan Bapakmu dan I Wayan.”

“Ayo kita nonton TV, supaya Meme tak sedih lagi,” ajak putrinya.

Me Made menggeleng, “Meme lebih baik tidur.”

“Tapi masih terlalu sore, Me.”

Me Made tetap menggeleng.

“Kalau begitu, Meme tidurlah. Jangan memikirkan apa-apa.”

Me Made mengangguk dan masih mencoba tersenyum. Hanya kali itu, ia merasa senyumnya amat perih.

Me Made mencoba menuruti saran anaknya. Ia tak mau memikirkan apa pun. Ia berusaha mengosongkan pikirannya sambil mengidungkan Tri Sandya. Bait-bait suci itu diucapkannya terus dalam hati… sampai kemudian terasa matanya memberat dan perlahan-lahan ia merasa damai dalam lelap.

Namun, hampir menjelang tengah malam, Me Made terjaga dari tidur. Putrinya kembali memburunya ke kamar. “Ada apa, Me? Ada apa? Meme menjerit-jerit sambil menyebut nama saya,” seru putrinya.

Wajah Me Made tampak basah oleh keringat. Sambil memeluk putrinya, ia kembali menangis. Kini perempuan setengah baya itu tak lagi dapat berpura-pura tabah. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa mau menuturkan mengapa ia kembali menangis.

“Ada apa, Me?”

Me Made tetap saja menangis.

Gadis itu tak lagi mendesak ibunya. Dibiarkannya ibunya tetap dalam pelukan. “Meme kembali tidur saja,” saran gadis itu sambil perlahan-lahan melepaskan pelukan dan dengan hati-hati membaringkan kembali Me Made. “Tidur saja ya, Me!”

Me Made mengangguk. Saat kembali sendiri, potongan impian itu muncul kembali. Ia seperti dipaksa oleh keadaan melihat kekejian demi kekejian, tidak hanya dalam kenyataan, melainkan juga dalam impian. Dan sepotong impiannya tadi memaksanya dengan mata nyalang melihat putrinya-dalam suatu kerusuhan oleh entah apa-dikerubuti begitu banyak lelaki; ditarik, ditindih, didekap beramai-ramai….

Denpasar, Oktober 2003


I Wayan Suardika

No comments: