Wednesday, 20 April 2011

OLO PANGGABEAN SANG MISTERIUS

Tokoh Olo Panggabean adalah legenda, khususnya di Sumatra Utara. Hampir semua warga Sumut pernah mendengar namanya walau tak pernah bersua dengannya. Tahun 90-an ketika saya masih SMP, kawan sebaya saya menyebut nama Olo Panggabean dengan bangga dan kagum.

Jika saat itu ditanya, Olo itu seperti apa, dalam benak saya adalah sosok yang misterius, kaya raya, tak berumahtangga, mafia judi. Kira-kira itulah gambaran warga Sumut terhadap Olo. Ketika membaca feed detik.com di blog saya bahwa sang God Father sudah berpulang, saya kaget. Sebab meski saya asli Sumut saya kurang mengikuti perkembangan Olo.

Uniknya ketika saya mencoba mencari gambar pria kelahiran Tarutung 24 Mei 1941 ini, nyaris tak ada dalam indeks google. Hanya satu gambar yang terindeks oleh Google itupun foto ukuran kecil ketika Olo menyambut si kembar Anggi dan Anjeli paska operasi. Olo Panggabean memang benar-benar misterius. Berikut tulisan seputar berpulangnya Pak Katua yang saya ambil dari blog Media Surat Tongosan
Olo Panggabean Sang Dermawan Itu Telah Berpulang.

(Medan)Telepon selular SP pada Kamis (30/4) sejak pukul 10.30, berdering tidak seperti biasanya. Pasalnya berbagai kalangan dari berbagai profesi di kota Medan, Jakarta hingga Surabaya, menelepon atau meng-sms, mengajukan satu pertanyaan yang sama; “Benarkah Olo Panggabean telah meninggal?.” Sebuah reaksi merespon kabar yang tampaknya telah tersiar cepat hingga ke pelosok negeri. Padahal tokoh pemuda Sumatera Utara (Sumut) kharismatik yang dijuluki ”Ketua” tersebut, masih dirawat intensif di RS Mount Elizabeth Hospital, Singapura, namun keadaan kritis.

Selama tiga hari terakhir, Olo sempat beberapa kali mengalami koma karena komplikasi penyakit antara lain gula dan ginjal. Atas permintaan keluarga, karena kondisi tidak lagi memungkinkan, Olo Panggabean dibawa kembali ke kampung halamannya.

Olo dibawa mengunakan pesawat khusus medivac (medical evacuation flight) dan tiba di Polonia Medan sekitar pukul 13.30.

Ia kemudian di bawa menuju Rumah Sakit Gleneagles Medan Jalan Listrik Medan. Namun sekitar pukul 14.15, Olo menghembuskan nafas terakhirnya. ”Pihak keluarga meminta karena kondisinya sudah tidak lagi memungkinkan, sehingga beliau (Olo-red) di bawa kembali ke kampung halaman. Namun pukul 14.15, beliau meninggal,”kata Panugari Panggabean, salah seorang sanak keluarga Olo Panggabean kepada SP, Kamis (20/4) siang.

Ibarat virus, khabar meninggalnya Olo Panggabean langsung menggema di seantro kota Medan dan sekitarnya. Ribuan orang, mulai dari tukang becak, pegawai, aparat kepolisian maupun militer, terlihat memadati sekitar rumah duka yang dikenal dengan sebutan ”Gedung Putih.”

Mereka berkerumun hendak menunggu kedatangan jenasah tokoh fenomal yang dikenal dermawan dan kontroversial tersebut. Ratusan bunga papan turut berduka cita memenuhi sepanjang Jalan Sekip Medan hingga ke Gatot Subroto Medan. Sebenarkah siapakah Olo Panggabean?

Sosok Misterius

Olo Panggabean, lahir di Tarutung pada tanggal 24 Mei 1941. Pria bernama lengkap Sahara Oloan Panggabean, merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Namanya begitu terkenal, meski bagi banyak kalangan sosoknya teramat misterius.

Pada masa hidupnya, untuk menemui atau hanya melihat sosok ”Ketua” itu bukanlah perkara gampang. Hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaannya di suatu tempat, itupun dengan pengawalan berlapis-lapis yang selalu mengitari kemanapun dia pergi. Sang ”Ketua” itu pun selalu menghindari wartawan. Dia bahkan pernah memberikan uang kepada wartawan untuk tidak mewawancarai ataupun mengabadikan dirinya melalui foto. Sehingga jangan heran jika banyak kalangan masyarakat yang terkejut dengan kepergiannya jika masih diliputi penasaran dengan sosok Olo Panggabean tersebut.

Memang dalam pertemuan SP dengan Olo Panggabean di salah satu kota Medan, beberapa tahun lalu, sosoknya sangat bertolak belakang dari sebutannya yang dikenal sebagai ”Kepala Preman.” Perawakannya seperti orang biasa dengan penampilan yang cukup sederhana. Ia hanya mengunakan sebuah jam tangan emas tanpa satupun cincin yang menempel di jarinya. Sorot matanya terlihat berair seperti mengeluarkan air mata, tetapi memiliki lirikan yang sangat tajam. ”Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Bang, soalnya saya kan sampai sekarang masih lajang,”ujar Olo sambil tertawa, menunjukkan gigi kanan atas yang sudah mulai ompong. Meski begitu, pengawal rata-rata bertubuh besar berkumis tebal dengan kepalan rata-rata sebesar buah kelapa.

Olo Panggabean merupakan tokoh pemuda Sumut berpengaruh yang kharisma sekaligus kontroversi. Keterlibatan Olo dalam kepemudaan, telah dirintisnya semenjak ia menjadi anggota Pemuda Pancasila (PP) di bawah kepemimpinan HMY Effendi Nasution alias Pendi Keling, pada tahun 60-an. Pada saat itu Olo memulai karier sebagai debt collector. Perlahan namanya dikenal banyak orang dan mulai dijadikan sandaran bagi kalangan pengusaha sebagai backup terhadap gangguan kekerasan.

Pada 28 Agustus 1969, bersama beberapa temannya, Olo Panggabean membentuk organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) yang diberi nama Ikatan Pemuda Karya (IPK).

Melalui IPK Olo kemudian membangun ”kerajaannya” yang sempat malang melintang di berbagai aspek kehidupan di Sumut dan menghantarkannya dengan julukan ”Ketua.” Selain kerap disebut ”Kepala Preman”, yang dikaitkan dari nomor seri plat kendaraannya yang seluruhnya berujung ”KP”, Olo juga dikenal orang sebagai ”Raja Judi” yang mengelola perjudian di Sumut. Namun segala hal tersebut, belum pernah tersentuh atau dibuktikan oleh pihak yang berwajib. Terasa, tapi tidak teraba.

Olo Panggabean pernah beberapa kali terlibat masalah dengan kepolisian. Pada tahun 1999, rumah Olo di Medan Barat pernah diberondong anggota Brigade Mobil (Brimob). Pada pertengahan 2000, Olo juga dikabarkan menerima perintah panggilan dari Jenderal Sutanto, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut terkait masalah perjudian. Namun panggilan tersebut dikabarkan ditolak Olo Panggabean, dengan hanya mengirimkan seorang wakil sebagai penyampai pesan. Ketika Sutanto menjabat sebagai Kepala Kepolisian RI (Kapolri) tahun 2005 dengan program pemberantasan judi, berbagai ”bisnis” Olo Panggabean dikabarkan mengalami banyak penurunan. Meski demikian bukan berarti kekuatan finansial-nya, hilang begitu saja. Olo juga dikabarkan sempat mengelola bisnis properti dan real estate di kota Medan. Seiring perjalanan waktu, perlahan-lahan ”kerajaan” yang dibangun Olo Panggabean mulai memudar disamping kondisi kesehatannya yang memburuk.

Pada akhir 2008, Olo Panggabean yang kembali harus berurusan pihak polisi. Namun kali ini, kasusnya berbeda yakni untuk melaporkan kasus penipuan terhadap dirinya oleh sejumlah rekannya dalam kasus jual beli tanah sebesar Rp 20 miliar di kawasan Titi Kuning, Medan Johor.

Sang Dermawan

Terlepas dari berbagai persoalan tersebut, sosok Olo Panggabean dikenal banyak masyarakat sebagai tokoh yang sangat dermawan. Ia kerap ”menabur” uang di berbagai kegiatan yang dihadirinya. Sehingga jangan heran jika masyarakat berbondong-bondong hadir untuk dekat dengannya. Tidak sedikit pula yang kagum termasuk bercita-cita sepertinya. Tidak itu saja, Sang ”Ketua” juga tidak sungkan-sungan memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Salah satu contoh, operasi kembar siam Anggi-Anjeli, bayi kembar siam asal Desa Serbelawan Kec Dolok Batu Nanggar Kab Simalungun, yang dibiayainya untuk operasi ke Singapura. ”Saya sangat merasa kehilangan dengan Pak Olo karena berkat kepedulian beliaulah kami sekeluarga bisa melihat anak saya lebih lama,”kata Sobari, ayah Anggi-Anjeli ketika dihubungi SP, Kamis (30/4).

Hal itu pula yang diakui oleh Gubernur Sumut Syamsul Arifin yang merasa kehilangan dengan meninggalnya tokoh pemuda tersebut. “Selama ini, Bang Olo merupakan tokoh pemuda yang dermawan dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sosial masyarakat. Olo juga sering memberikan bantuan kepada mereka yang putus sekolah. Jadi kita tentu sangat kehilangan beliau,”kata Syamsul.

Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) Sumut Anuar Shah alias Aweng mengaku bahwa Olo Panggabean merupakan tokoh pemuda senior yang sangat menghargai para juniornya. “Kesan saya kepada beliau seperti itu. Beliau sangat menghormati juniornya meski terkadang kita berseberangan,”ujar Aweng.

Menurutnya, kalaupun selama ini antara organisasi yang dipimpinnya dan organisasi yang dibesarkan Olo Panggabean kerap terjadi bentrok, merupakan hal yang lumrah dalam persaingan organisasi yang bergerak di bidang dan di wilayah yang sama.

“Tetapi kami tetap menganggap beliau sebagai senior. Karena sampai detik kepergiannya, beliau belum pernah menyatakan keluar dari keanggotaan PP,”kata

Aweng berharap, pengganti Olo Panggabean nantinya dapat bersama-sama meneruskan yang dicita-citakan Olo Panggabean. “Cita-cita beliau seingat saya adalah bagaimana memperjuangkan masalah “perut” anggota. Untuk itu mari duduk bersama dalam mengkaryakan anggota,”kata Aweng. Selamat Jalan Ketua…[SP/Henry Sitinjak] (Jumat, 1 Mei 2009)

Selamat Jalan Sang "Jenderal Lapangan"....

Pelayat datang silih berganti sampai lewat larut tengah malam. Mulai dari pejabat pemerintahan, kepolisian, militer sampai dengan wartawan. Tidak hanya itu, rakyat miskin pun tidak mau ketinggalan. Sama seperti pejabat tadi, mereka turut memberikan penghormatan terakhir kepada sang legendaris, Olo Panggabean.

Tokoh kharismatik yang dikenal sangat dermawan ini disemayamkan di kediaman Jl Sekip No. 36, Kecamatan Medan Barat, Sumatera Utara (Sumut). Rumah yang dikenal dengan istilah “Gedung Putih” itu, salah satu dari kediaman anak ketujuh dari delapan bersaudara ini, buah hati pasangan suami istri almarhum Friedolin Panggabean dan Esther Hutabarat.

Gedung ini memiliki cat berwarna putih, sama sekali tidak pernah luput dari perhatian masyarakat setiap melintas, yang sekitar tahun 2000 – an lalu, pernah diberondong peluru oknum aparat kepolisian. Saat ini, di kawasan itu dianggap sebagai salah satu daerah paling aman, yang tidak pernah ada gangguan, pengutipan uang di kalangan masyarakat.

Olo Panggabean meninggal dunia sebulan sebelum genap berusia 68 tahun. Pria kelahiran 24 Mei 1941, yang memiliki nama lengkap Sahara Oloan Panggabean ini, sangat banyak meninggalkan kenangan. Sehingga, tidak sedikit orang yang merasa kehilangan. Apalagi, namanya sudah cukup dikenal. Mulai dari anak kecil, dewasa sampai ke pejabat negara.

“Dia meninggal dunia karena penyakit yang sudah komplikasi. Salah satunya adalah penyakit gula (diabetes). Penyakit beliau ini sering kambuh. Senin kemarin dia dibawa berobat oleh keluarganya ke Singapura,” ujar Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Karya (DPP IPK), Darwin Syamsul Samah di rumah duka.

Pagi sebelum meninggal dunia, pendiri organisasi IPK tahun 1969 itu, kepada keluarganya minta dibawa pulang. Kemudian oleh keluarganya, Olo pun dibawa pulang dengan menumpang pesawat khusus medivac (medical evacuation flight) LR 35 A/HS-CFS milik maskapai Thai Flying. Pesawat ini mendarat sekitar pukul 13.34 WIB di Bandara Polonia Medan.

Pesan
Dalam kondisi kritis, dibantu alat pernafasan melalui selang oksigen, Olo Panggabean langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Gleni Jl Listrik Medan. Sebelum meninggal, almarhum banyak menitipkan pesan untuk dilaksanakan nantinya. Salah satunya, Olo minta dimakamkan satu kuburan dengan kedua orangtua berserta saudara – saudaranya.

Almarhum akan dikebumikan di Pekuburan Kristen Taman Eden kawasan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu nanti. Proses persemayaman di rumah duka, memakan waktu sampai tiga hari karena masih banyak keluarga, kerabat maupun sahabat terdekat, yang belum datang. Selain untuk masyarakat di daerah ini, pesan itu juga diamanahkan kepada seluruh organisasi kepemudaan.

“Beliau berpesan kepada kami mewakili IPK, bersama dengan seluruh organisasi kemasyarakatan dan pemuda, agar tetap menjaga situasi kondusivitas Sumatera Utara. Jangan sampai ada lagi organisasi yang terlibat dalam pertikaian, apalagi menjelang pemilihan presiden mendatang. Daerah ini harus maju, masyarakat hidup rukun dan damai,” katanya.

Menurut Darwin, amanah tersebut sudah menjadi kewajiban untuk mereka jalankan. Tidak hanya itu, Olo yang akrab dipanggil dengan sebutan “Pak Ketua” ini juga memberikan pesan lain, sama seperti ketika dia semasa hidupnya, tanpa pamrih memberikan bantuan kepada orang susah. Baik itu bantuan yang bersifat moril maupun materil.

“Insya Allah, segala apa yang disampaikan almarhum sesaat sebelum meninggal dunia, nantinya tetap kami jalankan. Kami juga akan berusaha untuk melaksanakan kegiatan sosial, melanjutkan misi kemanusiaan yang sudah lama ditanamkannya. Kami tetap berusaha untuk menjaga nama baiknya, berbuat untuk masyarakat,” imbuhnya.

Tanda Terakhir
Sebelum meninggal, lajang tua ini memang sudah banyak memberikan tanda – tanda. Bahkan, setahuan yang lalu, persisnya di bulan November 2008, almarhum sudah memberikan sinyal kepada mantan Ketua DPP IPK Moses Tambunan, teman bicaranya. Olo sudah menyatakan kesiapan dirinya untuk menghadap Sang Pencipta.

“Dia mengaku sudah membeli lahan untuk dikuburkan bersama kedua orangtua beserta saudara – saudaranya di Taman Eden. Bahkan, saat perayaan Hari Paskah bulan April kemarin, dia mengajak saya untuk berjumpa, sekadar bercerita saja. Tidak banyak yang disampaikannya, selain hanya memberikan ucapan Selamat Paskah,” kata Moses mengingat.

Moses menyampaikan, belum ada sosok yang dapat mengimbangi kebaikan Olo Panggabean. Kemuarahan hati dalam setiap menolong orang tanpa banyak melakukan pertimbangan. Jumlah orang yang sudah dibantunya diperkirakan mencapai jutaan orang. Tidak sedikit orang yang berhasil atas bantuan almarhum semasa hidupnya.

“Banyak sekali yang sudah berhasil. Ada yang sudah menjadi pejabat pemerintahan, perwira polisi. Dari kalangan militer pun, baik itu dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU) maupun Angkatan Laut (AL), juga banyak yang berhasil. Ini belum seberapa, bila dibandingkan dengan orang susah yang dibantunya. Bantuan itu uang dia sendiri,” jelasnya.

Menurut Moses, uang yang sudah diberikan Olo Panggabean dalam bentuk bantuan, bila ditotal sudah tidak terhitung lagi. Dulu, istri pelawak Doyok pernah dibantu, sebelum meninggal. Selain itu, bayi kembar siam Anggi dan Anjeli asal Simalungun, yang menjalani operasi pemisahan di rumah sakit di Singapura, dengan biaya tidak sedikit.

Selain itu, Olo Panggabean juga pernah membiayai seluruh biaya perobatan gadis malang korban ala sum kuning, untuk dirujuk ke Rumah Sakit Gleneagles. Begitu juga dengan anak miskin yang disekolahkan Olo Panggabean, diperkirakan mencapi ribuan orang. Moses juga mengaku sebagai salah seorang yang sering dibantu almarhum.

“Sungguh luar biasa baiknya. Tidak ada sama sekali mengharapkan pamrih saat menolong orang. Dia sangat disenangi banyak orang, sahabat dari semua suku, agama maupun antargolongan. Setiap ada kegiatan sosial, baik itu yang dilakukan mahasiswa maupun organisasi, lembaga swadaya maupun kegiatan keagamaan, pasti dibantunya,” ia memaparkan.

Tokoh
Olo Panggabean dikenal sebagai seorang sosok tokoh yang sangat peduli dengan masyarakat. Selain disenangi kawan, dia juga disegani banyak lawan. Namanya begitu terkenal. Tidak hanya dikenal di Indonesia, nama Olo Panggabean juga tidak asing di mancanegara. Olo Panggabean menjadi legenda, mempunyai banyak peranan dalam menyatukan kebersamaan.

“Dia ini merupakan satu – satunya tokoh yang berhasil merangkul seluruh agama, sehingga tidak pernah terjadi perpecahan. Saya rasa, belum ada orang Batak yang bisa berbuat, terkecuali dirinya. Saya sudah sering ke luar negeri, nama beliau sering ditanyakan. Banyak orang hanya mengetahui nama, tapi tidak kenal wajah,” ungkap Djonggi Simorangkir, famili Olo Panggabean.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Advokad Indonesia (DPP Ikadin) Bagian Hak Asasi Manusia (HAM) ini, Olo Panggabean semasa hidupnya mempunyai kerpribadian yang unik. Selain sering membantu rakyat kecil, Olo juga mempunyai kebiasaan memberikan uang kepada orang yang sedang bernyanyi di tempat keramaian.

“Tidak tanggung – tanggung, uang diberikan dia kepada orang yang berani bernyanyi itu, mencapi jutaan rupiah. Ini hanya sekali bernyanyi saja. Kalangan artis pun banyak yang kecipratan rejeki dibuatnya, langsung datang bila diundang untuk tampil dalam suatu acara besar. Dia juga sahabat seluruh partai politik, tidak ada memilih – milih,” sebutnya.

Rahmad Shah, salah seorang tokoh di daerah ini, mengaku sangat terkejut saat mendapat kabar duka tersebut. Usai melayat di rumah duka, Rahmad yang juga pengusaha terkemuka di daerah ini, meneteskan air mata. Menurut dia, sudah cukup banyak peranan almarhum semasa hidupnya, apalagi dalam memajukan daerah ini.

“Begitu cepat dia pergi. Kita hanya bisa mendoakan, semoga almarhum diterima di sisiNya. Dia sudah cukup banyak berjasa, membantu semua orang sudah maupun pemerintah. Saya sendiri terpaksa untuk merelakan kepergiannya. Dia banyak meninggalkan kenangan – kenangan indah, yang penuh dengan kedamaian,” ujarnya.

Kiprah
Olo Panggabean diperhitungkan setelah keluar dari organisasi Pemuda Pancasila, saat itu di bawah naungan Effendi Nasution alias Pendi Keling, salah seorang tokoh Eksponen ‘66’. Tanggal 28 Agustus 1969, Olo Panggabean bersama sahabat dekatnya, Syamsul Samah mendirikan IPK. Masa mudanya itu, dia dikenal sebagai preman besar.

Wilayah kekuasannya di kawasan bisnis di Petisah. Dia juga sering dipergunakan oleh pihak tertentu sebagai debt collector. Sementara organisasi yang didirikan terus berkembang, sebagai bagian dari lanjutan Sentral Organisasi Buruh Pancasila (SOB Pancasila), di bawah naungan dari Koordinasi Ikatan – ikatan Pancasil (KODI), dan pendukung Penegak Amanat Rakyat Indonesia (Gakari).

Tidak lama kemudian, namanya dijadikan pengusaha sebagai sandaran dari berbagai gangguan. Organisasi tersebut kemudian mempunyai komitmen, sebagai penyalur aspirasi Partai Golkar. Seiring dengan perkembangan aman, Olo Panggabean semakin tenar. Sayangnya, apa yang dilakukan kontraversial dengan adanya tudingan miring. Tidak sedikit orang mengujinya, termasuk ingin mengadu kekuatan massa.

Selain itu, Olo Panggabean pernah dituding sebagai pengelola sebuah perjudian besar di Medan. Semasa Brigjen Pol Sutiono menjabat sebagai Kapolda Sumut, IPK pernah diminta untuk menghentikan praktik kegiatan judi. Tudingan itu membuat Moses Tambunan marah besar. Sebagai anak buah Olo Panggabean, Moses menantang Sutiono untuk dapat membuktikan ucapannya tersebut.

Persoalan ini diduga sebagai penyulut insiden di kawasan Petisah. Anggota brigade mobile (Brimob) terluka akibat penganiayaan sekelompok orang. Tidak merasa senang, korban yang terluka itu melaporkan kepada rekan – rekannya. Insiden ini menjadi penyebab persoalan, sekelompok oknum itu memberondong “Gedung Putih” dengan senjata api.

Setelah pergantian Sutiono, Kapolda Sumut kemudian dijabat oleh Irjen Sutanto, mantan Kapolri. Melalui surat, Olo dipanggil untuk datang. Ini masih seputar judi “Kim”, sebut kupon berhadiah uang di arena Medan Fair. Merasa tidak mempunyai masalah, Olo Panggabean mengutus wakilnya. Setelah Sutanto menjadi Kapolri, banyak orang menyebarkan isu, masalah perjudian dikaitkan dengan nama Olo Panggabean.

Bagi Olo, isu itu dianggap angin lalu. Namun, tetap saja ada pihak yang ingin memancing kemarahannya, semakin berjaya apalagi dirinya menjadi saudara angkat mantan Panglima Kodam (Pangdam) I Bukit Barisan, Mayjen Tritamtomo Panggabean, abang dari Kapolri Bambang Hendarso Danuri. Kini, isu tersebut sudah berlalu. Seluruh masyarakat menyatakan belasungkawa. Dan, Selamat Jalan Pak Ketua … [SP/Arnold H Sianturi](Jumat, 1 Mei 2009)

No comments: