Showing posts with label Pengemis. Show all posts
Showing posts with label Pengemis. Show all posts

Wednesday, 3 December 2014

JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA? ----- SEKELUMIT KISAH DI BALIK PROGRAM DESAKU MENANTI

Jika Tuhan Bersama Kita - Siapa Lagi yang Mampu Menghalangi Kita?
Sekelumit Kisah di Balik Program Desaku Menanti




Jalan Tongkang Kramat Senen



Hari ini saya gembira bukan main. Iseng-iseng buka internet tentang gelandangan di perkotaan, saya menemukan banyak berita dan artikel tentang Program Desaku Menanti. Angan saya langsung terbang ke tahun 2009, ketika Bapak Salim Segaff Al Jufrie dilantik menjadi Menteri Sosial Republik Indonesia oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang waktu itu menjabat sebagai Presiden RI. Waktu itu memang banyak orang yang terkaget-kaget karena dalam 100 hari pertama kinerjanya Pak Menteri Sosial mentargetkan Indonesia bebas gelandangan, pengemis dan anak jalanan dalam tempo 3 bulan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan adalah masalah sosial yang notabene inti kemiskinan di perkotaan dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jika memberdayakan orang miskin aja susahnya setengah mati, lalu bagaimana dengan gelandangan yang disebut kelompok termiskin dari orang miskin yang hidup di kota.

Saya mulai menekuni masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan sejak sekolah di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung. Waktu itu, saya diajak teman saya untuk ikut seleksi jadi relawan di Yayasan Ar Rufi’ yang menangani anak jalanan di bandung. Nama teman saya itu kalau gak salah Natsir Sinambela dan Adi Apriyan. Saya waktu itu ogah-ogahan karena sebenarnya gak punya ongkos buat naik angkot ke Riung Bandung yang jaraknya lumayan jauh dari Dago. Tapi karena saya dibayarin, ya akhirnya ikutan. Uniknya, dua teman saya ini justru gak diterima, yang diterima justru saya.

Pada waktu itu yang nge-test saya adalah Kang Cahyo. Senior saya ini orangnya keren, tampan dan elegan. Tapi saya gak tahu sekarang orangnya ada dimana. Sudah putus kontak/hubungan sejak saya merantau ke Senen, Jakarta. Pas di-test saya ditanya kalau diterima saya akan melakukan apa untuk Ar Rufi’ dan anak jalanan di Bandung? Saya jawab, ya namanya mahasiswa ya belum berpengalaman, tapi secara konseptual masih seger. Jadi ya saya akan coba praktik ilmu pekerjaan sosial dari mulai engagement, intake, contract, needs assesment, intervention dan monitoring and evaluation (sampai apal banget saya waktu itu). Kang Cahyo ini langsung senyum-senyum misterius dan bikin deg-degan. Ehhh tahu-tahu saya diterima. Pas itulah saya kenal dan mulai akrab dengan Teh Herti Fendiana. Teh Herti inilah yang nanti mengajarkan saya bagaimana mengetik pakai komputer. Katanya saya harus bisa ngetik pakai computer karena penting untuk bikin skripsi atau karya ilmiah (padahal waktu itu masih banyak yang pakai mesin ketik). Teh Herti ini orangnya memang luar biasa, karena isi pembicaraannya tak jauh dari Al Qur’an, Hadits, dan bagaimana menjadi muslim yang baik (ilmunya sudah tinggi banget memang), plus bagaimana menjadi wanita yang mandiri. Oh ya, eman saya si Natsir Sinambela itu akhirnya sekarang jadi Boss di DKT dan si Adi Apriyan jadi pegawai di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Balik Papan.

Yayasan Ar Rufi’ menurut saya organisasi sosial yang keren abis, karena idealismenya yang luar biasa. Hampir semua pengurusnya adalah alumni Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ihsan STKS Bandung di Dago. Di sanalah saya ketemu sohib alias teman sejati namanya Wiluk. Mbak Wiluk ini asli Malang, penampilannya apa adanya, dan kelebihannya yaitu dia suka main gitar. Petikan gitarnya mendayu-dayu dan bisa bikin perut langsung lapar. Kehebatan yang kedua yaitu dia itu seorang pendengar yang baik. Orangnya sabar banget dan gila banget mau mendengarkan keluh kesah saya yang tidak jauh dari kiriman uang dari kampung yang minim dan itu pun sering telat. Kelebihan Wiluk yang terakhir yaitu suka ngasih saya makan. Ya maklum lah namanya juga membantu sesama mahasiswa. Tapi kalau saya makan di tempat dia memang keseringan sih. Sebenarnya malu juga, tapi bagaimana? Daripada mati kelaparan di dago udah jauh-jauh datang dari demak kan ironis banget. Belum lagi pasti bakalan dimuat harian pikiran rakyat yang legend di bandung itu. Waduhhhh… Amit-amit dehhh…

Kerja di Ar Rufi’ itu memang total, sering kita lembur karena bantu-bantu bikin laporan dan persiapan kegiatan kalau ada orang-orang atau tamu yang datang meninjau. Belum lagi kalau harus pendampingan di Pasir Kaliki, hujan badai pun dilalui. Masak anak kecil aja pada hujan-hujanan nyari uang buat bantu emaknya, kita asyik berteduh kan gak lucu. Pokoknya sering basah kuyup dan nyampai kost-kostan langsung teler. Istilahnya baju basah kering di jalan (akibatnya ya masuk angin). Lucunya (mungkin ini kritik buat pemerintah waktu itu), pas ada program makanan tambahan, anak-anak yang kita dampingi makannya enak banget seperti ayam, daging, minimal telor, sedangkan relawan pekerja sosial makan sama tempe dan sayur tahu. Ironis memang. Tapi bukankah kerja jadi pekerja sosial/social worker memang utamanya adalah keterpanggilan jiwa? Jadi ya gak masalah. Belum lagi kalau piket malam anak jalanan pada kelahi, bawa pisau, bawa apaan itu garpu yang ditekuk untuk digenggam buat nonjok pas kelahi. Belum lagi yang ngelem pakai aibon. Waduhhh… Pokoknya horror banget lah. Belum lagi mereka yang berusia diatas 21 tahun ngaku anak jalanan dan nantang kelahi karena gak dapat bantuan ini itu. Saya sampai dikerubutin mereka. Tapi akhirnya setelah saya kasih penjelasan, kita semua malah jadi teman akrab dan saya sering diajak main ke rumahnya. Gila, sekampung pada turun ke jalanan saking miskinnya. Oh ya, bantuan untuk anak jalanannya memang keren-keren; seperti kursus nyetir (saya aja gak bisa), kursus bahasa inggris - saya aja sampek ngiler lihatnya - padahal gara-gara pingin bisa bahasa inggris dibela-belain setiap sabtu minggu ke BIP (Bandung Indah Plaza) di Gramedianya buat baca-baca buku bahasa Inggrisnya, dari itu toko buku buka, sampai tutup friend…. Kaki pada pegal-pegal semua (berdiri soalnya). Untung lah kuda-kuda saya lumayan kuat jadi ya dinikmati aja (ya sekali-sekali jongkok sih ngilangin pegel).

Itu adalah sedikit cerita kenapa saya mengenal dunia anak jalanan dan gelandangan serta pengemis di Bandung. Yayasan Ar Rufi’ sendiri entah kenapa, entah pecah atau bubar saya kurang tahu. Tapi yang pasti, ini lembaga tempat diri saya dibentuk dan ditempa di lapangan. Pas saya sudah lulus kuliah tahun 2000, saya diajak dosen saya Pak Bambang Rustanto dan Ibu Tuti Kartika ke Jakarta untuk ikut Program Ford Foundation dalam penanganan masyarakat miskin di perkotaan di 5 wilayah DKI Jakarta. Saya kebetulan dikenalkan dengan koordinator wilayah Bapak Nurjaman. Pak Nurjaman ini orangnya keren banget. Dia itu masih muda sudah jadi wakil RW di Tongkang - Kembang Sepatu dan sekitarnya. Sejak berkenalan dengan pak Nurjaman ini wawasan saya jadi terbuka. Ilmu yang saya peroleh di STKS - bangku kuliah kayaknya gak ada apa-apanya. Pak Nurjaman ini bisa berhubungan baik – merakyat, dari masyarakat dengan status sosial atas sampai status social paling bawah; dari orang tua sampai anak-anak; dari laki-laki sampai perempuan. Orangnya cool dan luwes. Selama kerja disitu saya tinggal di gudang rumahnya di gang Tongkang. Karena yah memang daerah padat ya lumrah. Gak ada bantal gak ada kasur, prihatin banget tidur pun berbantalkan buku-buku saya. Pintu kamar gak pernah saya kunci biar angin masuk (karena panas banget dan gak punya kipas angin). Di Tongkaang inilah saya sering teriak-teriak baca puisi, cuman ya pernah dimarahin Ibu Mertuanya Pak Nurjaman. Rip, eling… Eling… Nyebut… Istighfar… Waduh, beliau ini gak tahu kalau seniman terkenal jaman sekarang dulu itu lulusan planet Senen yang kleleran dan menggelandang di situ. Contohnya yaitu Oma Irama, sang satria bergitar. Tapi saya baru menyadari ternyata yang ngefans dengan puisi saya lumaayan baanyak. Mereka adalah mbak-mbak yang kost depan rumah yang kerjanya di Ramayana Senen. Mereka pada baik banget suka ngasih makanan gorengan. Puncak prihatinnya tinggal di Tongkang Senen itu pas malam-malam kaki saya digigit tikus sampai berdarah di kamar saya. Tikusnya gedhe banget. Cuman saya gak marah aja, soalnya kehidupan kami gak jauh beda. Tikus-tikus itu teman pelipur lara. Mereka juga harus survive Bukan? Ya saya maafkan aja. Hehehe… Ampun dah, pokoknya jangan pernah ngalamin apa yang saya alamin deh. Semoga keluarga, dan anak keturunan saya dan seluruh rakyat Indonesia jangan sampai mengalami yang kayak saya alamin. Meskipun saya yakin masih banyak banget yang hidupnya sejuta lebih menderita dari saya. Contohnya Pak karim teman saya di Aceh. Demi kuliah di IAIN beliau ini ngajar ngaji. Makan pun setiap hari dengan ikan asin. Ikan asinnya gak dimakan tapi dibaui aja, untuk pelengkap nasi. Ikan asin dicium pakai hidung baru nasi dimakan. Dan ikan asin itu bisa bertahan seminggu.

Yang bikin saya ingat sampai sekarang adalah bayar kost Rp 200.000,- kadang saya gak punya uang. Lha waktu itu kalau Ibu Mertua Pak Nurjaman minta uang kost-an, biasanya Pak Nurjaman langsung ke gudang atas dan nanya saya. Udah bayar kost belum Rip? Belum Pak… Gak punya duit. Nah Pak Nurjaman itu langsung ngasih duit Rp 200.000,- dari dompetnya ke saya sambil bilang, Resek lu ahh… Ini bayarin ke emak. Jangan bilang uangnya dari gw’. Ini kejadian berkali-kali. Pak Nurjaman ini lah malaikat penolong saya pas merantau ke Jakarta. Kalau saya seharian gak nongol, biasanya Pak Nurjaman langsung ke atas dan nanya ke saya, ‘Udah makan belon lu?’ Belom Pak, gak punya duit. Langsung deh Bapak kita satu ini ngasih saya uang Rp 20.000,- buat makan. Tapi kalau Pak Nurjaman juga lagi gak punya uang, biasanya saya disuruh ngutang di warteg deket pos RW dan disuruh bilang, ‘Nanti pak wakil RW yang bayar’. Begitu lah story-nya. Saya merasa Pak Nurjaman itu seperti Bapak saya sendiri. Walaupun Pak Nurjaman santai dan lembut, tapi jangan salah, kalau lagi gak mood terus ada tukang petik/jambret habis ‘operasi’ dari jalan raya stasiun Senen, terus masuk gang tongkang dan biasanya merembes di gang-gang sempit di gubuk-gubuk di rel kereta api, terus biasanya ilang hingga bikin nama gang tongkang jelek, Pak Nurjaman pernah ambil celengkreng /garu/trisula panjang langsung dilempar ke penjambret itu, tembus sampek betis kakinya. Itulah cerita heroik bapak penolong kita satu ini. Tinggal disitu dari tahun 2000 sampai tahun 2004 membuat saya banyak tahu tentang kehidupan gelandangan, apalagi sejak saya kenal sesepuh gelandangan senen Bapak Indardjo. Orang yang tinggal digubuk-gubuk itu terkadang lucu, kalau bertengkar suami isteri; sang isteri kadang ada yang lari sambil bugil dan nyobek-nyobek akte nikah (surat kawin). Dah gitu nyesel, tapi dapet lagi surat kawin dari nikah massal, begitulah seterusnya, kadang program nikah massal bisa jadi orang-orangnya dari tahun ke tahun ya itu itu juga — orang-orang pemerintah mana tahu detail kayak gini? Hehehe…

Sebagai pendamping masyarakat istilah kerennya community worker atau facilitator atau community development worker kita punya relasi yang bagus dengan tokoh masyarakat seperti RW 03 Kramat Senen ada Pak Bambang, Ibu Tanjung dan 1 lagi saya lupa beliau adalah mantan petinju dan keamanan di pasar RW 03. Demikian juga para tokoh masyarakat di RW 08. Selama tinggal disitu, saya juga banyak mendapatkan teman dari Gang 21 seperti Novi Syaidah, Fiqih Ananta Toer Syadat, dan Si Julung serta Neneng dari RW 03. Pokoknya berkesan banget deh punya temen kayak mereka. Mereka ini bener-bener teman sejati banget. Cuma ya sayangnya, aqua gallon di koperasi sering cepet habis karena saya minum soalnya kalau laper cukup minum biasanya lapernya ilang lho. Ini pengalam pribadi. Hehehe…

Di Tongkang juga saya ketemu dengan DR Lea Jellinek dari Melbourne dan dia ngajarin saya penelitian kualitatif dengan teknik wawancara air mengalir. Si Julung waktu itu jadi uji cobanya. Gila banget interviewnya. Padahal mulanya cuman iseng. Lea nanya kamu sudah pernah lihat wawancara air mengalir. Belum, kata saya. Pingin lihat? Iya. Terus dipanggil lah si Julung diwawancarai. Si Julung ngaku sebagai musician padahal dia pengangguran. Makanya saya tahu, sehebatnya teknik wawancara kalau kita tidak tahu betul seluk beluk kehidupan mereka sehari-hari aslinya, mungkin kita banyak dikibulin juga gak tahu. Apalagi Lea orang bule. Hahaha…. Saya sih diam aja lihat si julung ngarang-ngarang gak jelas gitu.

Suatu ketika, gak ada ujan gak ada angin saya pingin sekolah S2 di Universitas Indonesia (UI) waktu itu Kajian Pengembangan Perkotaan (KPP) membuka pendaftaran untuk angkatan 3. Waktu itu saya pikir, keren juga kuliah disitu bermanfaat untuk karier ke depan. Alhamdulillah ikut test diterima. Ehhh pusing disuruh bayar uang masuk Rp 7.500.000, - plus uang administrasi jadi totalnya Rp 9.000.000,- uang dari mana coba? Waktu itu jurusan kesejahteraan sosial dan kajian wanita masih 3 jutaan dan kajian amerika kalau gak salah 5 jutaan. Akhirnya pinjem sana pinjem sini. Sedihnya, sampai ada tokoh masyarakat, Ibu-ibu yang memberikan akte tanahnya untuk dipinjamkan ke Bank sambil air matanya menetes karena pingin lihat saya melanjutkan S2 di UI. Tentu saja saya tolak secara halus. Jadi dari sini saya baru tahu, keberhasilan seorang fasilitator atau pendamping masyarakat itu gak harus muluk-muluk. Bisa berhubungan baik dan diterima masyarakat itu saja sudah bagus. Selanjutnya baru mengalir…

Lha pas deadline Alhamdulillah Pak Nurjaman bantu pinjam sana-sini dan akhirnya waktu itu hari Jum’at akhir tahun 2002, batas waktu - terakhir pembayaran, akhirnya saya bisa ke gedung pasca sarjana UI Salemba buat nyetor uang di bank BNI, sekaligus daftar ulang. Pas jam 3 sore tepat bank mau tutup saya leganya bukan main. Duduk di bawah pohon beringin saya lemes banget dan sudah gak kuat ngisi form. Soalnya mental saya kena, down saya, nyaris, rasanya seperti antara hidup-mati nyari uang segitu buat sekolah S2. Terus, saya bilang ke Pak Nurjaman, pak tolong diisiin pak, saya gak mampu lagi ngisi, tangan sama badan saya gemetaran semua gak kuat nulis. Dan saya pun menangis. Saya tidak malu, karena kadang seorang super hero pun bisa menangis, dan itu bukanlah sebuah dosa. Pak Nurjaman akhirnya ngisi, padahal beliau hanya tamatan SMA. Jadi form saya kuliah pertama S2 di KPP UI yang ngisi adalah Pak Nurjaman. Pak Nurjaman benar-benar orang yang baik hatinya minta ampun. Kata Pak Nurjaman, hidup di Jakarta itu yang penting nyali. Pak Nurjaman juga selalu mengingatkan kalau besok-besok sudah kerja dan stabil secara ekonomi diusahakan beli baju yang baru. katanya penampilan itu perlu. Masyarakat kita suka melihat dan menghargai seseorang seringkali hanya dari penampilan. Kalau baju kumal ya gak bakalan dihargai orang. Whatzzzz….??? Maksudnya saya kumal begitu? Keterlaluan banget Pak Nurjaman ini. Hya dhezagggggg….!!!!

Selama kuliah, saya tinggal di Majelis Taklim di Gang 21 RW 08. Saya boleh tinggal disitu - sambil ngajar bahasa inggris untuk anak-anak SD. Saya digaji semangkok Indomie dan es teh sama Fiqih - itupun kayaknya dia dapat uang dari kakaknya (Ria Kamei). Sekarang Ria menikah dengan orang Jepang dan tinggal di negeri Sakura. Selama kuliah prihatin banget. Pernah tidur di pinggir jalan depan gang Tanah Tinggi depan warung Mas Cirebon seberang stasiun Senen. Pernah makan sama-sama gelandangan walaupun sisa mereka. Gak peduli saya, yang penting saya hidup dan bisa survive. Dan ironisnya orang disana gak ada yang tahu kalau saya kuliah di S2 UI. Mereka tahunya saya kuli konveksi di pasar senen dan luntang lantung cari kerjaan di pasar poncol. Waktu kuliah bersyukur banget ada teman dari Batak, kerja di Dinas Tata Kota DKI namanya Bang Andor Siregar. Bang Andor ini hatinya seputih salju. Kalau iuran foto copy buku pelajaran bisa sampai ratusan ribu semua Bang Andor yang bayarin semuanya buat saya. Pernah hari Minggu, pernah saya gak punya uang, dia bela-belain dari rumahnya Meuruya ke kampus Salemba cuman buat ngasih saya uang buat makan. Gila betul nih hidup. Bener kata orang, Ibu kota lebih kejam daripada Ibu Tiri.

Karena hidup sudah terlanjur susah dan sudah kepalang tanggung. makanya untuk thesis saya ngambil penelitian tentang gelandangan di Senen. Gak tanggung-tanggung saya langsung minta pembimbing Professor Parsudi Suparlan, PhD dan Ibu Siti Oemijati Djajanegara, PhD. Komplit sudah pembimbingnya, yang pertama lulusan S2-S3 dari Amerika yang kedua lulusan S2-S3 dari Perancis. Kata orang sih dua-duanya ini manusia-manusia aneh yang susah ngelulusin mahasiswanya - bahkan ada yang gak sampek lulus, tapi saya gak peduli. Tanggung amat nyari dosen pembimbing. Sempat frustasi dibimbing Professor gelandangan ini saya menghadap dan bilang tidak jadi meneliti homeless people soalnya dimarahin mulu sama professornya sampe kenyang banget, di bilang sontoloyo lah, preman demak lah, mahasiswa goblok lah, etc. Tapi Prof Parsudi ini ternyata ada sisi-sisi lembutnya. Beliau bilang, sebagai seorang ilmuwan sosial itu ada dua hal yang harus dipegang. Pertam,a harus jujur. Yang kedua, pantang menyerah. Terus beliau bilang, apakah masih lanjut dengan penelitian gelandangan? Saya bilang, lanjut Prof! Ngomong-ngomong, waktu itu, saya adalah mahasiswa generasi 3 yang meneliti permasalahan orang gelandangan. Yang pertama adalah Prof parsudi Suparlan sendiri pada tahun 1960 an - generasi pertama. Yang kedua adalah Pak Haswinar Arifin, penelitian gelandangan tahun 1980 an - generasi kedua. Dan yang terakhir adalah saya, penelitian gelandangan tahun 2004 - generasi ketiga. Menariknya pas dibimbing Ibu Oemijati, siang saya dikoreksi-bimbingan, malam jam 9 saya sudah menyerahkan revisi saya. Begitu terus sampai pembantunya apal  dan bosen lihat muka saya. Ibu oemi bilang, anda ini lucu, kok begitu bersemangatnya, apakah tidak ada hari esok? Saya hanya diam tersenyum pahit, andaikan beliau tahu kondisi saya yang prihatin banget. Saksinya itu Mbak Rani Toersilaningsih dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI. Itu saksi hidupnya. Hehehe…

Kalau yang bimbingan dengan Prof Parsudi justru tidak ada masalah. Beliau selalu bilang ilmu ditemukan nanti di lapangan. Begitulah… Susahnya kuliah di UI. Tapi dikala kita lagi down, Bang Andor selalu bilang dan menyemangati saya, JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?Kata-kata Bang Andor inilah yang bikin saya semangat. Dan akhirnya, story ditutup dengan manis, saya bisa mendapatkan gelar Magister Sains Perkotaan (MSiP) dalam waktu 3 semester. Yang lucunya, pas sudah beberapa tahun, Bang Andor ketemu dan tanya ke saya, Arif kok dulu kau bisa lulus cepat begitu sedangkan Abang susah kali? Terus saya sambil nyengir kuda bilang, lho bukannya Abang yang ngasih mantera ke saya. Mantera apa? Katanya. Itu lho JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA? Yah apalagi niat kita juga baik kok, gak neko-neko untuk menuntut ilmu, bukankah Tuhan pasti bakalan kasih jalan? Bang Andor tertawa dan tak lama kemudian dia lulus dari Kajian pengembangan Perkotaan. Selamat dan sukses buat Bang Andor. Semoga Ahok mengangkat dia sebagai Kepala Dinas Sosial di Tata Kota DKI Jakarta. I highly recommend him for sureeeeeee…..

Singkat cerita akhirnya saya lulus. Sempet ngajar sebagai dosen tamu di S2 Arsitektur UI, S2 kajian Pengembangan Perkotaan UI, ngajar metode kualitatif di Prodip IV STKS Bandung dan Kemiskinan Perkotaan di program spesialis 1 nya STKS, terus ke Aceh ikut program Unicef dengan Departemen Sosial RI (waktu itu namanya belum Kementerian Sosial). Kaget karena diceritain gajinya sewaktu mendampingi anak korban tsunami gajinya Rp 900.000,- ternyata pas disana gajinya Rp 9.000.000,-. Yah berkah buat ngirim Ibu di Kampung, kakak-kakak dan menikah. Tuhan memang maha besar…. Jadi pingin nangis nih pas ngetik ini.

Seperti buku karangan Lea SEPERTI RODA BERPUTAR (the wheel of fortune),saya juga diterima di Departemen Sosial RI. Kemudian karena Tuhan kasihan sama saya dan dan Tuhan sudah bosan melihat kemalangan hidup saya, gak tahu gimana ceritanya tiba-tiba saya saya mendapat beasiswa ADS dan melanjutkan ke University of New England – Armidale – Australia di bidang Women’s and Gender Studies. Kemudian melanjutkan lagi ke Charles Sturt University untuk mendalami tentang Social Work. Itulah cerita singkat saya. Lucunya, pas pamitan ke Ibu-Ibu di Kramat Senen - kata-kata dari para Ibu-Ibu selalu tetap sama. Sudah deh jangan sekolah lagi. Nanti ente kelaparan lagi lho, disana jauh, gak ada kita-kita. Nanti kalau kelaparan lagi gimane? Saya hanya senyum-senyum saja pas pamitan. Satu yang saya pelajari di sini adalah  masalah seberat apapun akan terselesaikan kalau kita ngomong. Kedua, kalau niat kita tulus gak macem-macem, pasti Tuhan akan mengabulkan permintaan kita. Ketiga, seperti kata Bang Andor, JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?

Pengalam saya ketika tinggal menggelandang di Senen inilah yang menginspirasi saya menulis gagasan tentang Program Desaku Menanti. Awalnya Mas Doso dan Mbak Siti dari Sekretariat Dirjen Pelayanan dan rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI, setengah bercanda mendorong saya untuk menulis program untuk Pak Menteri sebagai wujud kontribusi. Bisa gak kamu nulis program buat ngamanin Pak Menteri? OK saya bikin. Tapi program penanganan gelandangan itu gak cukup 3 bulan, bisa bertahun-tahun karena harus komprehensif dan berkelanjutan, kalau tidak mereka bakalan kembali turun ke jalan. Akhirnya saya bikin. Dalam suatu meeting waktu itu saya diketawain orang banyak karena filosofi dan pendekatannya yang agak beda dan waktunya yang relatif panjang. Saya bilang pendekatannya haarus multi years karena menanganai orang gelandangan tidak mudah dan membutuhkan koordinasi dan kerjasama yang luar biasa dari pemerintah pusat dan daerah. Tentu saja hal ini beda dengan program-program sebelumnya yang memaksakan semua tahapan harus selesai dalam setahun – program instan - mana kadang anggaran seringkali telat turunnya dan turun di pertengahan tahun.

Walaupun banyak diketawain waktu itu, well actually I don’t care….. Program itu saya tulis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya, jadi tentu saja akan beda. Mereka yang mentertawakan itu kan sebenarnya anak-anak orang kaya yang hidupnya tidak pernah menderita. Mana tahu dia kehidupan orang susah. Seperti kata Bapak Makmur Sunusi, PhD salah satu orang terdekat saya dan saya kagumi. Banyak program yang dibuat copy paste dan pakai ilmu kira-kira. Baru bangun tidur langsung dapat ilham…. Hahaha…. +&^$£”£$£$$£_)*saya langsung ngakak pas denger Pak Makmur ngomong seperti itu. Sayang beliau sekarang sudah pensiun dari Kementerian Sosial. Beliau adalah orang hebat di bidang kesejahteraan sosial. Beliau selalu mengatakan program yang baik harus research-based. Dan inilah kelemahan di Kementeriann Sosial selama ini, antara research dan program sering gak nyambung. Itulah sejarah asal usul Program Desaku Menanti. Untuk rinci mengenai Program Desaku Menanti dapat di download di sini….. Download Here

Berikut adalah beberapa link berita dari Program Desaku Menanti :

Update tentang Pak Nurjaman, sekali waktu beliau ternyata sudah jadi Ketua RW 01 di Kramat Senen selama 2-3 periode. Keren bukan? Pas malam-malam saya datang buat nongkrong di pos RW ternyata lagi rame orang kelahi. Yah masalah muda-mudi. Mereka sama-sama dari Tegal. Di Tegal sana kampung mereka beda dan memang suka berantem. Lha suatu ketika adik ceweknya diajak malam mingguan sampai pulang pagi, kakaknya gak diterima langsung dipukulin tuh cowok, keluarganya gak terima dan ribut – sentimen kampung ikut akhirnya jadi bentrokan antar kampung Tegal di Jakarta. Mumet kan. Terus saya bilang, ada apa pak? Ini, pusing saya. Dari tadi Maghrib gak kelar-kelar urusannya soalnya pada bawa aparat. Terus Pak Nurjaman berdiri dan bilang, Saya kasih waktu ½ jam persoalan harus selesai. saya gak maau tahu. Sudah gitu dia tendang itu meja sampai mumbul – mencelat beberapa tombak. Persis kayak dalam adegan filmnya Tian Long Babu pas Xiao Feng marah dan mengeluarkan ilmu 18 Jurus Penakluk Naga. Semua orang langsung diam dan tidak berapa lama masalah selesai dan mereka berdamai. FYI Pak Nurjaman bahkan sempet kuliah kesejahteraan social di STISIP WIDURI tapi tinggal Skripsi tidak dilanjutin karena anak-anaknya sudah menginjak SMA dan masuk perguruan tinggi juga. Ya Tuhan…. Andai saya punya uang mungkin sudah saya bayari itu SPP Pak Nurjaman di STISIP WIDURI Jakarta. Menariknya hubungan baik kami terus berlanjut bahkan pas saya research di Kampung Kusta Sitanala beliau ini sempet-sempetnya nemanin saya naik busway dari Senen ke Tangerang untuk nyari kost2an buat saya. O, Lord… Lucunya Pak Nurjaman cerita kalau ada orang dari LSM atau proyek P2KP yang datang ke Gang Tongkang atau RW 01 Kramat Senen, Pak Nurjaman selalu bilang, ‘Kenal Arip gak?’ Dia dulu disini lama. Terus saya bilang, ‘Ya gak kenal lah Pak, emangnya saya siapa….’. Sekarang selalu terngiang-ngiang gaya khas omongan Pak Nurjaman. La khau la aja lah Rip… Resek lu Ahhhh…. Tuhan, berikanlah keberkahan bagi Bapak satu ini. Amien……. 

Link berita tentang pak Nurjaman dapat dilihat di sini:

Semoga cerita saya ini bermanfaat bagi kita semua. Tulisan ini hanya refleksi iseng jangan diambil serius. Tetapi jujur, sumpah saya seneng banget program ini akhirnya berani dilaunching tanpa malu-malu kucing lagi. Dulu saya masih ingat, katanya dananya gak ada, tapi akhirnya setelah menunggu 4-5 tahun Program Desaku Menanti bisa terlaksana. Yah better late than never lah… Itu kan harusnya untuk tahun 2009, yahh cuman gak laku aja waktu itu. Gak direspon maksudnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga program ini berjalan dengan lancar, dan tugas semua masyarakat lah mengawasi pelaksanaan dan keberlanjutannya. Sebagai penutup saya kutip motto kampus saya dulu di armidale. EX SAPIENTA MODUS (OUT OF WISDOM COMES MODERATION). Salam dari mahasiswa gelandangan….. JIKA TUHAN BERSAMA KITA - SIAPA LAGI YANG MAMPU MENGHALANGI KITA?






Wagga Wagga, 3 December 2014


Sunday, 20 February 2011

PEDOMAN PELAYANAN DAN REHABILITASI SOSIAL PEMULUNG

PEDOMAN PELAYANAN DAN REHABILITASI SOSIAL PEMULUNG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Seiring terjadinya resesi global yang ditandai dengan adanya pemutusan hubungan kerja, menurunnya daya beli masyarakat, dan semakin sempitnya ketersediaan lapangan pekerjaan, mendorong peningkatan jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial. Dengan situasi dan kondisi di atas maka dapat diprediksikan salah satu jenis permasalahan sosial yaitu Pemulung akan mengalami peningkatan populasi pada masa mendatang.
Peningkatan populasi Pemulung tersebut dapat terlihat dari pemandangan yang lazim di daerah perkotaan, baik di Tempat Pembuangan Sementara (TPS), Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), jalan raya, rumah-rumah makan, super market, pasar tradisional, pabrik-pabrik, bantaran kali, maupun di sisi rel dan stasiun kereta api banyak dijumpai orang mengais dan memungut sampah yang memiliki nilai ekonomis serta dijual kepada agen yang disebut lapak/pengepul.
Dilihat dari aspek kesejahteraan sosial, kondisi kehidupan sehari-hari Pemulung sangat memprihatinkan. Pola kehidupan mereka di wilayah perkotaan cenderung kumuh dan mengelompok di kantong-kantong kemiskinan. Mereka banyak tinggal di tempat-tempat yang beresiko tinggi, seperti: di kolong jembatan, pinggir kali, lokasi pembuangan sampah, atau bahkan ada yang tidur di gerobak sampah bersama anak dan istrinya. Hidupnya menggelandang ke berbagai tempat dengan penghasilan yang tidak menentu, mereka memiliki tingkat pendidikan rendah dan keterampilan (skills) yang kurang memadai, serta minimnya pengalaman bekerja.
Dari aspek kesehatan, pekerjaan ini memiliki resiko besar karena rentan terkena penyakit, ditambah lagi kadar gizi yang rendah serta akses pelayanan kesehatan yang minim. Banyak keluhan bahkan cemoohan dari warga atas keberadaan Pemulung karena kehadirannya sudah menimbulkan “keresahan” dan ketidaktenteraman masyarakat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari sebagian Pemulung yang sering melakukan tindakan kurang terpuji, seperti: mengambil perkakas rumah tangga atau barang-barang yang masih dipakai pemiliknya. Selain itu tempat-tempat penampungan barang milik Pemulung menambah kekumuhan wajah kota karena para Pemulung cenderung tidak memperhatikan aspek kebersihan, ketertiban dan keindahan lingkungan.
Walaupun demikian, mereka adalah warga negara yang patut mendapat perhatian dan perlindungan dari pemerintah sebagaimana warga masyarakat lainnya, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam pembangunan secara efektif. Dalam hal ini Departemen Sosial RI sebagai salah satu institusi yang bertanggung-jawab dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial perlu memiliki kebijakan dan program pelayanan dan rehabilitasi sosial yang jelas dalam menangani masalah Pemulung.
Untuk menjabarkan kebijakan dan program tersebut perlu disusun suatu pedoman dalam memberikan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bagi Pemulung.
B. Maksud dan Tujuan.
1. Maksud Penulisan Buku Pedoman:
a. Pedoman ini disusun sebagai acuan dalam memberikan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bagi Pemulung;
b. Penyusunan pedoman ini adalah untuk mengarahkan petugas pelaksana lapangan dalam menangani langsung Pemulung secara baik di masyarakat;
c. Menjelaskan kepada masyarakat tentang pelayanan sosial yang menjadi tanggung-jawab bersama Pemerintah dan masyarakat;
d. Menjelaskan kepada Pemulung tentang bentuk-bentuk pelayanan sosial yang menjadi hak mereka.
2. Tujuan Penulisan Buku Pedoman:
a. Terwujudnya kesamaan persepsi dari berbagai pihak terkait dalam upaya Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung;
b. Terlaksananya manajemen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung yang efektif;
c. Terkoordinasikannya kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing pihak yang terkait;
d. Menyediakan pedoman tentang bentuk, proses Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung yang dapat dijadikan acuan umum dalam rangka penanganan pelaksanaan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial melalui pengembangan potensi pemerintah dan masyarakat;
e. Membantu memfasilitasi semua pihak yang peduli terhadap penanganan permasalahan Pemulung.
C. Sasaran.
1. Sasaran Pedoman.
a. Departemen Sosial RI, Dinas/Instansi Sosial Provinsi, Dinas/Instansi Sosial Kabupaten/Kota dan Instansi terkait;
b. Orsos/LSM/Yayasan dan Masyarakat yang peduli terhadap permasalahan Pemulung.
2. Sasaran Pelayanan.
a. Pemulung;
b. Keluarga Pemulung;
c. Lingkungan Sosial Pemulung;
d. Masyarakat Lingkungan.
D. Tahapan Rehabilitasi Sosial:
1. Tahapan pendekatan awal :
a. Orientasi dan konsultasi;
b. Identifikasi;
c. Motivasi;
d. Seleksi.
2. Tahapan penerimaan :
a. Registrasi;
b. Pengungkapan dan penelaahan masalah;
c. Penempatan dalam program pelayanan dan rehabilitasi sosial;
d. Tahapan bimbingan mental, sosial dan keterampilan;
e. Bimbingan fisik dan mental;
f. Bimbingan usaha/kerja;
g. Bimbingan keterampilan praktis.
E. Tahapan Resosialisasi:
1. Bimbingan kesiapan dan peranserta masyarakat;
2. Bimbingan sosial bermasyarakat;
3. Bimbingan bantuan stimulasi usaha produktif;
4. Bimbingan usaha/kerja;
5. Penyaluran.
F. Tahapan Bimbingan Lanjut:
1. Bimbingan peningkatan kehidupan bermasyarakat dan peranserta dalam pembangunan;
2. Bantuan pengembangan usaha/kerja;
3. Bimbingan pemantapan usaha/kerja.
G. Tolok Ukur Keberhasilan.

Tolok ukur keberhasilan pencapaian tujuan pelaksanaan kegiatan dapat dilihat dari berbagai yaitu :
1. Penerima pelayanan ;
Aspek ini lebih menitikberatkan kepada kondisi para ekspenerima pelayanan itu sendiri, yaitu bahwa mereka telah memiliki ciri-ciri atau karateristik sebagai berikut :
a. Ekspenerima pelayanan tidak melakukan pekerjaan yang tidak normatif sesuai dengan kaidah kehidupan bermasyarakat (telah digolongkan sebagai suatu keberhasilan dalam upaya rehabilitasi yang telah diselenggarakan);
b. Telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memotivasi dirinya dan meningkatkan kemampuan kerja serta melakukan kegiatan (perwujudan pulihnya harga diri, kepercayaan diri serta kesadaran akan norma-norma kehidupan di masyarakat);
c. Memahami, memiliki dan menguasai suatu keterampilan kerja tertentu yang dapat dipergunakan sebagai bekal untuk mendapatkan mata pencaharian bagi dirinya dan atau bersama keluarganya;
d. Telah memiliki pekerjaan yang tetap dalam bentuk usaha wiraswasta, menjadi karyawan pabrik atau perusahaan maupun bentuk lainnya yang sesuai dengan norma masyarakat;
e. Dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya secara wajar, baik di lingkungan pekerjaan, lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan;
f. Telah memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menentukan, mendayagunakan dan meningkatkan sumber-sumber pelayanan sosial, sebagai salah satu bentuk partisipasi mereka untuk dapat membantu dirinya sendiri, keluarga maupun kelompok yang membutuhkannya.
2. Masyarakat:
Aspek ini lebih menitikberatkan kepada kondisi masyarakat ekspenerima pelayanan berada, yaitu bahwa mereka telah memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut:
a. Dapat memahami dan menghayati bahwa permasalahan sosial Pemulung bukan hanya tanggung-jawab Pemerintah akan tetapi juga merupakan tanggung-jawab masyarakat, sebagai mitra Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan sosial;
b. Dapat menerima kembali, memberikan kesempatan kerja/usaha, mengusahakan lapangan kerja secara layak kepada para ekspenerima pelayanan yang telah mendapat pelayanan dan rehabilitasi;
c. Telah memiliki daya tangkal terhadap kemungkinan timbulnya permasalahan sosial Pemulung, terutama di daerah asal ekspenerima pelayanan (fungsi pencegahan);
d. Memberikan kesempatan secara terbuka kepada ekspenerima pelayanan untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan di masyarakat.
H. Landasan Operasional.
1. Undang-Undang RI Dasar 1945 Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34;
2. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495);
3. Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4419);
4. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301);
5. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 109 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4235);
6. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437);
7. Undang-Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);
8. Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 12 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4967);
9. Peraturan Pemerintah RI Nomor 31 Tahun 1980 tentang Koordinasi Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis;
10. Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 82/HUK/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Sosial RI.
I. Definisi Operasional.
1. Pelayanan Sosial adalah suatu upaya yang diberikan kepada Pemulung yang mengalami permasalahan sebagai akibat ketidakmampuannya dalam melaksanakan fungsi sosialnya;
2. Rehabilitasi Sosial adalah Proses refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan seseorang mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat;
3. Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial adalah semua bentuk kegiatan yang dilaksanakan secara profesional, meliputi usaha-usaha pembinaan fisik, pembinaan mental, sosial, pemberian keterampilan kerja, dan penyaluran ketengah-tengah masyarakat;
4. Pemulung adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan cara mengais langsung, mengais barang yang bergerak (mobile), pengepul dan pendaur ulang barang-barang bekas;
5. Sistem Patron Klien, adalah pertukaran hubungan antara kedua peran yang dapat dinyatakan sebagai kasus khusus dari ikatan yang melibatkan persahabatan instrumental di mana seorang individu dengan status sosial ekonominya yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber dayanya untuk menyediakan perlindungan, serta keuntungan-keuntungan bagi seseorang dengan status yang dianggapnya lebih rendah (klien);
6. Perlindungan Sosial adalah semua upaya yang diarahkan untuk mencegah dan menangani resiko dari guncangan dan kerentanan sosial;
7. Pendamping adalah petugas yang ditunjuk dengan latar belakang sebagai pekerja sosial masyarakat atau pekerja sosial yang mempunyai kompentensi profesional dalam bidangnya;
8. Bimbingan Sosial adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran Pemulung dan keluarganya untuk melaksanakan tugas, fungsi dan peranannya dalam kehidupan sosial;
9. Bimbingan keterampilan kerja dan kewirausahaan adalah serangkaian kegiatan untuk meningkatkan keahlian praktis dan kewirausahaan Pemulung dan keluarganya sehingga mampu mengembangkan potensi dirinya;
10. Bantuan sosial adalah Bantuan sosial dimaksudkan agar seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat mengalami guncangan dan kerentaan sosial dapat tetap hidup secara wajar.












BAB II
KEADAAN DAN PERMASALAHAN

A. Keadaan.


Gambar: Para Pemulung tengah beristirahat di gubuk penampungan sampah di kawasan TPA Jatibarang.

Secara umum hidup Pemulung berpindah-pindah dari satu TPA ke TPA lain karena lokasinya berada di berbagai tempat. Dimanapun lokasi TPA berada Pemulung senantiasa mengikutinya dengan cara mereka sendiri. Gambaran tersebut juga terjadi pada Pemulung yang berada di pemukiman, stasiun dan pasar.
Bagi Pemulung, TPA adalah "ladang" tempat menggantungkan hidup, di mana sehari-hari mereka menjalankan kehidupannya sebagai Pemulung. Alasan mereka melakukan itu sasarannya sudah jelas dan tidak ada peluang untuk mendapatkan pekerjaan lain. Para Pemulung mengakui bahwa mereka betah mencari nafkah di lokasi seperti itu karena mendatangkan rejeki tersendiri. Hal ini juga menjadi alasan untuk mengajak saudara, teman dan orang lain mengikuti jejak mereka. Pemulung berani tinggal di sebuah gubuk reot, berdinding kardus dan beratap plastik. Walaupun tempat tinggalnya tidak layak namun kenyataannya mereka mampu bertahan menghadapi berbagai masalah dalam kondisi apapun.
Salah satu contoh kasus yang dialami Suhatemi di Jatibarang membuktikan bahwa dirinya sebagai Pemulung di TPA karena tidak mempunyai keterampilan khusus. "Saya ini nggak pernah sekolah jadi nggak ngerti apa-apa, baca-tulis juga nggak bisa, makanya saya jadi Pemulung, kan nggak perlu keterampilan," tuturnya polos.
Bagi Pemulung yang mencari nafkah di pemukiman, stasiun dan pasar seringkali melakukan hal-hal yang tidak terpuji, seperti: mengambil barang orang, menggelandang dengan pakaian compang camping, melanggar etika masyarakat, mengorek-ngorek/mengacak–acak sampah bahkan menimbulkan konflik dengan warga.
TPA adalah dunia kecil yang mampu menghidupi keluarga, tempat mencari nafkah untuk menyambung hidup, berkelompok dan bermasyarakat. Bahkan disanalah dipertemukan orang dengan berbagai asal dan latar belakang kehidupan.
Sebagai Pemulung merupakan dunia yang melingkupi hidup mereka tak lepas dari onggokan sampah. Setiap hari, mereka memilih dan memilah sampah-sampah dari seantero kota. Beberapa jenis sampah yang laku dijual, seperti kertas, botol, kaleng, besi tua, kardus, obat-obat dan makanan bekas, serta plastik dikumpulkan di lapak masing-masing.
Saat mencari nafkah, mereka hanya bermodalkan gancu dan keranjang/karung. Alat-alat sederhana itu digunakan untuk memungut sampah yang akan "disulap" menjadi uang. Mereka memulung tidak mengenal waktu untuk mengumpulkan hasil sebanyak-banyaknya karena prinsip yang berlaku dikalangan Pemulung: ”Kalau mau dapat uang haruslah rajin”.
Jika mempunyai sedikit uang lebih, mereka bisa membeli sampah dengan sistem borongan dari sopir truk. Dengan demikian, satu truk sampah yang telah dibeli menjadi hak miliknya. Namun jika tidak punya uang, mereka memulung di tempat pemulungan umum.
Dua kali seminggu, barang-barang rongsokan yang dikumpulkan diambil oleh agen Pemulung yang membuka kios di kawasan PKL. Harga barang dibedakan berdasarkan jenisnya. Hasil penelitian Rukardi di Jatibarang tahun 2007: kertas koran dihargai Rp 150/kg, beling Rp 100/kg, botol air mineral Rp 500/kg, plastik kresek Rp 150/kg, kardus Rp 200/kg, kaleng Rp 200/kg, dan ember plastik Rp 500/kg. Setelah dihitung, selisih antara modal dan hasil penjualan, dalam sehari rata-rata Pemulung memperoleh pendapatan Rp 10.000-Rp 20.000. "Uang yang dikeluarkan berapa, rongsokan yang laku berapa, itu semua dicatat di dalam bukunya.
Pemulung yang beroperasi di TPA mengaku, dalam jangka waktu tiga jam sudah mendapatkan satu gerobak barang bekas yang di buang warga selama satu hari. Namun kalau sabar menunggu, satu hari penuh bisa mendapatkan tiga gerobak sampah plastik bekas minuman. Menurut Pemulung, sampah rumah-tangga banyak menumpuk kalau petugas kebersihan kota tidak bekerja, sehingga pemulung kebanjiran sampah. "Ya, mudah-mudahan saja petugas kebersihan lama libur sehingga mereka bisa lebih banyak mendapatkan sampah yang bisa dijadikan uang". Selama hari libur persaingan antar Pemulung juga tinggi, seiring banyak Pemulung lainnya yang datang meraup keuntungan.
Kehidupan Pemulung tidak jauh dari sampah karena “komoditas limbah” yang banyak dijauhi orang itu adalah sumber penghidupannya. Menemukan sampah plastik bagaikan menemukan emas. Namun kini para sopir truk yang mengangkut sampah juga menjadi pesaing mereka (AHYA ALIMUDDIN, Nganjuk).
Sampah yang bercampuraduk itu menggunung. selain lalat, beberapa Pemulung tampak mengerubuti gunungan tersebut, berharap dapat sampah kertas dan plastik. Jika beruntung memperoleh besi yang dapat diloakkan. Peluh yang mengucur deras dari dahi dan panasnya sengatan matahari tanpa kompromi, namun kerja tetap jalan. Pakaian mereka yang cukup "tertutup" bisa menghindari bau, meski gagal menipu gerah.



Memulung sepertinya bukan pekerjaan sepele. Kehidupan sehari-hari Pemulung selalu berkaitan dengan tempat-tempat kotor karena berhubungan dengan sampah. Namun siapa yang mengira, di balik pekerjaan memungut sampah, Pemulung itu sebenarnya berjasa, setidaknya dalam pengelolaan sampah plastik yang sulit diurai dalam tanah sehingga menimbulkan masalah lingkungan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, jenis-jenis Pemulung sangat variatif sesuai dengan pekerjaan mereka di lapangan. Diantara mereka ada yang disebut pengais langsung di lokasi tertentu dan pengais yang bergerak (mobile), pengepul (kolektor barang bekas yang di dapat dari Pemulung), dan pendaur ulang barang-barang bekas.
B. Permasalahan.
Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Pemulung antara lain:
1. Motivasi Menjadi Pemulung.
Pada awalnya, pekerjaan memulung itu sendiri dijalani sebagai pilihan terakhir sehubungan dengan kecilnya peluang dan daya serap lapangan pekerjaan yang ada di masyarakat. Pilihan terhadap pekerjaan ini dikaitkan dengan strategi bertahan hidup untuk menghadapi ketatnya persaingan hidup dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup primer, seperti sandang, pangan dan papan.
Sebagian besar Pemulung, mengakui bahwa menjadi Pemulung karena inisiatif sendiri, ajakan dari keluarga dan atau teman, dan ajakan dari bos lapak. Dengan demikian Pemulung cenderung tidak memiliki motivasi yang kuat bahwa pekerjaan tersebut akan menjadi jalan hidupnya kelak, akan tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Jika ada pekerjaan yang lebih baik dan menjanjikan, Pemulung memiliki motivasi yang kuat juga untuk meninggalkan pekerjaan tersebut.
2. Pendidikan dan Keterampilan Kurang Memadai.
Umumnya Pemulung berlatar belakang pendidikan yang kurang memadai, sehingga menyebabkan sulitnya mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya tingkat keterampilan yang mereka miliki, sehingga kurang memahami cara atau teknis untuk meningkatkan nilai tambah barang bekas yang dikumpulkan. Mereka hanya pesuruh bagi orang yang mempunyai modal (pengepul).
3. Penghasilan Yang Tidak Memadai.
Sepanjang pengamatan lapangan di beberapa kota tempat Pemulung bekerja, uang yang didapat dengan susah payah hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi mereka menyisihkan penghasilan (menabung) merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, karena adanya tuntutan hidup dan penghidupan yang serba beragam. Disamping itu sistem permodalan dalam bidang usaha, dan fasilitas lainnya juga sulit dijangkau.
4. Penerapan Sistem Patron Klien Yang Merugikan.
Dalam prakteknya sistem ini mengkondisikan ketergantungan Pemulung terhadap juragan-juragan/bos besar yang mengaku memberikan modal kepada mereka, ternyata diberikan bunga dan barang yang harus di jual kepada mereka. Pemulung menjual barang bekas tersebut dengan harga yang sangat rendah, sedangkan pengepul meraup untung yang sangat besar. Pengepul (kolektor barang bekas yang di dapat dari Pemulung) hanya melihat Pemulung dengan sebelah mata tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan masalah yang dihadapi Pemulung.
5. Kondisi Tempat Tinggal.
Pada umumnya Pemulung bertempat tinggal di rumah yang tidak layak huni dan terkesan kumuh. Penempatan barang-barang bekas yang mereka miliki tidak tertata rapih dan terkesan semrawut serta tidak sehat. Bahkan tidak jarang mereka tinggal di rumah yang terbuat dari kardus, triplek dan kayu bekas yang dibangun seadanya sambil menempati tanah kosong. Selain pertimbangan kepraktisan itu, mereka berpikir bahwa suatu saat dapat berpindah-pindah tempat dengan mudah sesuai lokasi memulung yang dinilai menguntungkannya.
6. Kondisi Kehidupan Keluarga.
Anggota keluarga Pemulung umumnya terjun juga dalam aktivitas memulung sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Istri dan anak-anak mereka juga sibuk membersihkan dan menyortir barang bekas sebelum dijual ke pengepul.
Pembagian peran dan tanggung-jawab dalam keluarga tidak jelas karena antara orangtua dan anak sama-sama mencari nafkah. Seharusnya tugas orangtua adalah untuk mencari nafkah bagi keluarga, namun kenyataannya anak ikut terjun dalam pekerjaan orangtua, sehingga terjadi hambatan dalam tumbuh kembang, pendidikan dan kesehatan anak.




7. Komunitas Pemulung.
Walaupun sudah ada berbagai organisasi yang peduli terhadap Pemulung, namun secara kelembagaan organisasi ini belum memiliki kekuatan, sehingga fungsi advokasi sosial belum berjalan maksimal, bahkan tidak jarang terjadi konflik sesama Pemulung maupun dengan warga masyarakat.





























BAB III
PELAYANAN DAN REHABILITASI SOSIAL PEMULUNG
A. Gambaran Umum Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung merupakan satu rangkaian kegiatan yang sistematik dan terencana serta berkesinambungan dalam rangka membantu Pemulung dan keluarganya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Bimbingan fisik, mental, sosial dan keterampilan kerja diharapkan agar Pemulung dapat meningkatkan kualitas hidup, disiplin, percaya diri serta mampu mengembangkan alternatif pekerjaan baru untuk mendapatkan nilai tambah secara ekonomi guna memenuhi kebutuhan dirinya sendiri serta keluarganya. Sedangkan tahapan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial terhadap Pemulung terdiri dari pendekatan awal/persiapan, penerimaan, asesmen, pemberian bimbingan mental sosial, keterampilan, resosialisasi, bimbingan lanjut dan terminasi.
B. Persiapan.
Persiapan yang dilaksanakan dalam kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung adalah :
1. Koordinasi.
Merupakan aktivitas untuk menghubungkan berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung. Tujuannya adalah untuk membangun kesamaan persepsi tentang pelayanan dan rehabilitasi, menciptakan sinergi dan kerjasama dengan pihak terkait. Tahapan yang dilakukan meliputi : penjajagan ke lokasi kegiatan, rapat koordinasi dan penyebaran informasi.
2. Pemetaan.
Pemetaan adalah kegiatan awal untuk menemukenali sekaligus menghimpun data dari suatu wilayah tertentu. Tujuannya untuk menentukan lokasi kegiatan, gambaran tentang situasi, kondisi dan populasi Pemulung, masalah serta sumber daya di daerah setempat. Pemetaan dilakukan untuk memperoleh gambaran umum tentang situasi, kondisi, populasi/kelompok Pemulung di lapangan.

3. Pendekatan Awal.
Tujuannya adalah untuk memperoleh dukungan dari berbagai instansi, lembaga kesejahteraan sosial dan masyarakat dalam bentuk kerjasama/peranserta, kemudahan-kemudahan/fasililas sumber-sumber pelayanan yang dapat menunjang keberhasilan pelaksanaan penanganan masalah sosial Pemulung. Sebagai produk kegiatan tersebut adalah suatu metrik yang mempertegas nama instansi/badan organisasi/pengusaha/perorangan yang terlibat secara operasional dengan rincian bentuk keterlibatan, jadual realisasi dengan lampiran Surat Referensi.
Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut :
a. Menyusun, memperbanyak dan manyampaikan hasil rangkuman/rekapitulasi tersebut di atas kepada petugas orientasi dan konsultasi yang akan bertugas ke lapangan;
b. Mempersiapkan dan menyelesaikan surat-menyurat, surat jalan, pembuatan kesepakatan/janji untuk mengadakan pertemuan atau rapat sehubungan dengan kegiatan orientasi dan konsultasi;
c. Mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang lainnya yang sangat diperlukan dalam kegiatan orientasi dan konsultasi di lapangan (misalnya : akomodasi, bahan kontak dsb);
d. Menetapkan lokasi orientasi, dan konsultasi;
e. Menetapkan tujuan yang ingin dicapai;
f. Menetapkan cara pelaksanaan orientasi dan konsultasi;
g. Melaksanakan kegiatan orientasi dan konsultasi;
h. Menginventarisasi seluruh hasil kegiatan orientasi dan konsultasi;
i. Menetapkan kesimpulan-kesimpulan/rangkuman sebagai bahan perumusan penyusunan kebijaksanaan dan strategi pembuatan program pelayanan sosial.
4. Identifikasi.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang sumber-sumber bantuan yang dapat mendukung program penanganan dan lokasi permasalahan Pemulung.
Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut :
a. Mempelajari informasi dan menghimpun laporan hasil kegiatan orientasi dan konsultasi;
b. Menyusun, menggandakan dan menyampaikan daftar isian (formulir) identifikasi kepada petugas identifikasi yang akan melaksanakan tugasnya;
c. Menyusun dan menyelesaikan surat-menyurat dan catatan yang berkaitan dengan kegiatan identifikasi;
d. Menyusun, mengatur dan menentukan jadual pelaksanaan kegiatan identifikasi;
e. Mengadakan pendekatan kepada instansi pemerintah, swasta, organisasi sosial yang memungkinkan dapat dijadikan sumber-sumber bantuan dan dukungan, terhadap kelancaran program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial;
f. Menyusun, menganalisa dan mengelompokkan data identifikasi masalah melalui isian pada daftar isian yang telah dipersiapkan sebelumnya;
g. Mendiskusikan hasil pengumpulan data identifikasi guna menentukan langkah selanjutnya.
C. Pelaksanaan.
1. Motivasi.
Motivasi dilakukan untuk menumbuhkan dan mendorong kemauan serta kemampuan calon penerima pelayanan sehingga memiliki minat untuk mengikuti Program Rehabilitasi sosial.
Tujuannya adalah untuk mendorong dan menumbuhkan minat dan kemampuan para calon penerima pelayanan, agar dapat mengenali, menghayati dan mengikuti program pelayanan sosial yang diselenggarakan, sehingga dapat membangkitkan minat/kemauan dan kesadaran, para penerima pelayanan untuk mengikuti dan memanfaatkan program-program pelayanan. Menumbuhkan peranserta keluarga dan lingkungan sosialnya dalam menunjang keberhasilan pelayanan dan rehabilitasi sosial Pemulung, serta tumbuhnya hubungan antara Instansi Pemerintah dan Organisasi Sosial Masyarakat yang baik guna menun¬jang keberhasilan Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.
Langkah-langkah kegiatannya adalah meliputi :
a. Menyusun dan menggandakan daftar isian yang berkaitan dengan kegiatan motivasi;
b. Mempersiapkan surat-menyurat, bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan motivasi;
c. Menyusun resume tentang hasil kegiatan motivasi;
d. Menghubungi instansi yang terkait dengan kegiatan motivasi bagi calon klien baik yang berada di tempat-tempat liar, lokasi, maupun di lokalisasi;
e. Mengumpulkan para calon klien yang akan dimotivasi, sesuai dengan jadual yang telah ditentukan atau disepakati bersama dengan instansi terkait;
f. Menyampaikan informasi dan atau pengerahan kepada para calon klien tentang maksud dan tujuan Pemerintah (Departemen Sosial) dalam usaha mewujudkan kesejahteraan sosial khususnya bagi para penyandang masalah sosial Pemulung;
g. Menyampaikan informasi tentang Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bagi para Pemulung serta manfaat dan keuntungannya mengikuti program tersebut.
h. Memberikan dorongan kepada para calon klien untuk mengikuti Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, guna memperbaiki tata kehidupan dan penghidupannya sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku;
i. Menyampaikan hasil motivasi kepada atasan langsung.
2. Seleksi.
Seleksi dilakukan dengan memilih dan menetapkan calon klien definitif sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya meliputi :
a. Menyusun dan menggandakan daftar isian untuk kegiatan seleksi;
b. Mengolah dan mengelompokkan data calon klien yang memenuhi persyaratan;
c. Membuat dan menyampaikan surat pengantar tentang pengembalian calon klien yang tidak memenuhi persyaratan kepada Instansi/Dinas Sosial Pengirim;
d. Menyusun daftar nama klien definitif untuk disampaikan kepada petugas teknis operasional;
e. Menyusun dan menggandakan daftar isian untuk kegiatan seleksi;
f. Mengolah dan mengelompokkan data calon klien yang memenuhi persyaratan;
g. Membuat dan menyampaikan surat pengantar tentang pengembalian calon klien yang tidak memenuhi persyaratan kepada Instansi/Dinas Sosial Pengirim;
h. Menyusun daftar nama klien definitif untuk disampaikan kepada petugas teknis operasional.
3. Penerimaan.
Penerimaan adalah serangkaian kegiatan untuk mendata klien dan Orsos/LSM/Yayasan sebagai pemberi Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Di dalam kegiatan penerimaan dilakukan beberapa kegiatan, yaitu : registrasi, penelaahan dan pengungkapan masalah serta penempatan dengan rincian sebagai berikut :
a. Registrasi.
Tujuannya untuk mendapatkan klien yang definitif. Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya meliputi :
1) Pendataan tentang kelengkapan administrasi calon klien;
2) Catatan/rekomendasi dari petugas sebelumnya;
3) Buku induk klien;
4) Pemahaman dan penyusunan berkas-berkas data calon klien;
5) Mempersiapkan buku induk klien dan pencatatan, penomoran setiap klien definitif ke dalam daftar isian (formulir) dan buku indeks menurut sistem urutan yang dianggap paling mudah dan cepat dimengerti;
6) Penyampaian berkas dan informasi tentang klien yang telah diregistrasikan kepada petugas teknis operasional yang menanganinya.
b. Penelaahan dan Pengungkapan Masalah.
Tujuannya untuk mendapatkan data dan informasi tentang latar belakang permasalahan klien, yang meliputi: bakat dan minat, potensi-potensi yang dimilikinya, kemampuan, kelemahan-kelemahan, harapan serta rencananya untuk masa depan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya pemecahan masalah serta upaya-upaya lain untuk mengembangkan kemampuan klien.

Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya meliputi :
1) Mempersiapkan daftar isian dan kelengkapan lainnya vang diperlukan untuk kegiatan wawancara dalam upaya penggalian data klien;
2) Penyusunan jadual/program kegiatan penelaahan dan pengungkapan masalah;
3) Penyusunan dan penggandaan hasil pengumpulan data permasalahan dan hasil diskusi penelaahan dan pengungkapan masalah klien;
4) Mempersiapkan data dan berkas-berkas klien berdasarkan pada urutan daftar registrasi menurut daftar induk klien;
5) Mempersiapkan pedoman dan daftar isian (formulir) yang berisi data tentang latar belakang permasalahan sosial setiap penerima pelayanan;
6) Mengadakan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi secara perorangan;
7) Pengelompokan, penganalisaan/pembahasan hasil data yang telah dikumpulkan bersama dengan pejabat teknis lainnya, (misalnya: pekerja sosial, psikolog, dokter/paramedis dan lain-lain). Selanjutnya menyimpulkan data setiap klien berdasarkan keputusan sidang pembahasan kasus (Case Conference).
c. Penempatan Dalam Program Rehabilitasi.
Tujuannya sebagai pemberi arah sesuai dengan hasil pengumpulan data penelaahan dan pengungkapan masalah serta hasil keputusan sidang pembahasan kasus.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya meliputi :
1) Mengadakan inventarisasi data dan informasi tentang hasil penelaahan dan pengungkapan masalah setiap klien;
2) Mengadakan inventarisasi data dan informasi tentang lapangan kerja/usaha dan bantuan paket usaha produktif yang tersedia;
3) Menentukan jenis keterampilan kerja yang diikuti oleh setiap klien, dan instruktur/pembimbing/tenaga fungsional yang diperlukan untuk setiap jenis keterampilan kerja selama satu periode.

d. Asesmen.
Asesmen adalah proses untuk mengungkap, menelaah, memahami dan menganalisa dan menilai masalah atau rencana pelayanan dan lingkungan klien serta kebutuhannya untuk langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai hasil-hasil yang diharapkan Orsos/LSM/Yayasan.
D. Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.
1. Bimbingan Sosial.
Adalah berbagai bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh pekerja sosial untuk membantu klien baik individu, kelompok maupun masyarakat dalam meningkatkan kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan, menghadapi dan mengatasi masalah, menjalin dan mengendalikan hubungan-hubungan sosial mereka dalam lingkungan sosialnya.
a. Bimbingan penyuluhan sosial dan bimbingan sosial.
Tujuannya untuk memiliki kesadaran dan tanggung-jawab so¬sial di dalam masyarakat serta dapat menjalankan fungsi dan peranan sosialnya secara baik dan benar. Memiliki kesanggupan untuk mengatasi masalah yang dihadapinya, dan mampu menjalankan hubungan sosial yang normatif.
b. Bimbingan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga mau dan mampu untuk mengamalkannya dan memiliki tanggung-jawab, cinta bangsa dan negara, mengetahui kewajiban dan hak sebagai warga negara dan mentaati peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
c. Bimbingan kesejahteraan keluar¬ga.
Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan kerumahtanggaan para Pemulung, agar dapat hidup berumahtangga (berkeluarga) yang sejahtera dan normatif.
d. Bimbingan Pengetahuan Gizi/Kesehatan.
Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan gizi/kesehatan para Pemulung sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan berkeluarga sehari-hari.

e. Bimbingan Kelompok Belajar dan Pengetahuan Dasar (KBPD).
Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dasar para Pemulung agar mereka dapat membaca, menulis, menghitung dan peningkatan pengeta¬huan dasar lainnya.
f. Bimbingan Budi Pekerti.
Tujuannya untuk menanamkan dan meningkatkan pengetahuan untuk bertingkah-laku dan bersikap yang baik sesuai tuntunan nilai sosial dan norma masyarakat serta memiliki sikap tenggang-rasa dan jiwa kesetiakawanan sosial yang tinggi.
g. Bimbingan Kedisiplinan.
Tujuannya untuk meningkatkan kedisiplinan penerima pelayanan dalam kehidupan sehari-hari, agar para Pemulung tersebut senantiasa mentaati aturan, baik yang secara tertulis maupun tidak tertulis.
2. Bimbingan Fisik.
Adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk membentuk karakter yang berdisiplin, serta penyegaran fisik dan menghilangkan rasa jenuh, sehingga klien memiliki kondisi fisik yang segar-bugar dan sehat dengan kegiatan latihan olah raga.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat, agar para Pemulung lebih meningkatkan kesehatannya dengan cara berolah-raga yang teratur, dan melatih kekompakan/kerjasama antar Pemulung.
3. Bimbingan Mental dan Keagamaan.
Adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan dan membangkitkan kemampuan para klien agar berpengetahuan tentang kesehatan mental, sehingga memiliki rasa tanggung-jawab terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan taqwa dan keimanan sehingga mereka mempunyai kesadaran beragama secara lebih mendalam, dapat melaksanakan ajaran-ajaran agama/beribadah secara aktif dan membentuk sikap mental yang baik.

4. Bimbingan Keterampilan Kerja.
Adalah serangkaian kegiatan yang diarahkan pada penerima pelayanan untuk mengetahui, mendalami dan menguasai suatu bidang keterampilan tertentu. Tujuannya adalah agar para Pemulung dapat memiliki keterampilan untuk kepentingan dirinya, keluarga dan atau sumber mata pencahariannya, misalnya : keterampilan jahit-menjahit, cruisteek, masak-memasak, keterampilan tata rias, keterampilan industri rumah tangga, pertanian, kesenian dan sebagainya.
5. Bimbingan Fisik, Mental, Sosial dan Keterampilan Sosial.
Tujuannya adalah untuk menumbuhkan, membangkitkan, mengajarkan dan mengembangkan kemampuan para klien agar menjadi tenaga kerja yang produktif dalam arti berpengetahuan, sehat, terampil dan berdedikasi terhadap tanggung-jawabnya. Dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang cara bekerja Pemulung, agar dapat memecahkan masalah dirinya sendiri, keluarga maupun lingkungannya, meningkatkan pengetahuan keamanan dan ketertiban masyarakat agar Pemulung dapat memahami dan mematuhi peraturan-peraturan yang ada, menanamkan dan meningkatkan pola tingkah-laku dan sikap pribadi yang baik agar memiliki sikap dan minat untuk berbuat sesuai dengan tuntunan nilai sosial dan norma masyarakat dan memiliki kesanggupan untuk tenggang-rasa dan saling membantu sesamanya serta memiliki tanggung-jawab, dan meningkatkan rasa kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, agar Pemulung dapat mematuhi aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan adalah sebagai berikut :
a. Pertama, pada kegiatan bimbingan fisik dan mental, yaitu:
1) Mempersiapkan formulir, bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk pemeriksaan dan perawatan kesehatan;
2) Mempersiapkan daftar nama klien yang akan diperiksa kesehatannya;
3) Mempersiapkan perlengkapan olah raga;
4) Mempersiapkan buku-buku dan bahan-bahan kelengkapan pelajaran agama.
b. Kedua, pada kegiatan bimbingan sosial kemasyarakatan yaitu :
1) Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan untuk terapi kelompok;
2) Mempersiapkan alat peraga yang dapat dipergunakan sebagai contoh tentang bentuk kegiatan kemasyarakatan yang baik dan benar, misal¬nya : gambar peragaan pergaulan dalam keluarga, masyarakat serta bentuk kesetiakawanan sosial kelompok wanita yang telah berhasil.
c. Ketiga, pada kegiatan bimbingan/latihan keterampilan kerja praktis, yaitu :
1) Mempersiapkan dan memperbanyak jadual latihan yang telah disusun;
2) Mempersiapkan dan memperbanyak, daftar hadir klien;
3) Mempersiapkan alat-alat tulis bagi pe¬ngajar dan klien;
4) Menyediakan buku catatan untuk pendamping pengajar/instruktur;
5) Mempersiapkan daftar nilai bagi para pengajar yang berisikan perkembangan kemampuan klien;
6) Menyediakan buku penghubung antara klien dengan pengajar/instruktur;
7) Mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan praktek keterampilan praktis;
8) Mempersiapkan Surat Tanda Tamat Latihan Keteram¬pilan (STTLK).
6. Evaluasi Akhir.
Tujuannya untuk mengetahui penguasaan seluruh materi yang sudah diberikan para pengajar/instruktur terhadap para Pemulung dan untuk mengetahui kemampuan masing-masing Pemulung, selanjutnya dijadikan bahan pertimbangan untuk penyaluran bekas klien Pemulung.
E. Bimbingan Lanjut dan Pengembangan Masyarakat.
Bimbingan lanjut adalah serangkaian kegiatan proses rehabilitasi sosial sebagai upaya untuk lebih memantapkan kemandirian klien baik berupa konsultasi, bantuan ulang, bimbingan peningkatan/ pengembangan/pemasaran maupun petunjuk lain untuk memperkuat kondisi kehidupan bermasyarakat.
Resosialisasi adalah salah satu tahapan pelayanan rehabilitasi sosial yang bertujuan agar bekas klien dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan sosialnya. Tujuan Resosialisasi adalah agar bekas klien Pemulung mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, mampu menerapkan kemampuan-kemampuan yang telah mereka peroleh, serta menciptakan dan menentukan sumber-sumber pelayanan sosial baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat lingkungannya.
Dengan demikian maka bekas penerima pelayanan diintegrasikan kembali kedalam suatu kehidupan sosial budaya maupun sosial ekonomi masya¬rakat.Salah satu upaya resosialisasi ini adalah penyaluran bekas penerima pelayanan kepada lapangan kerja, dimana ia dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya sebagai hasil bimbingan keterampilan kerja yang telah mereka peroleh di dalam rehabilitasi.
Resosialisasi meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut :
1. Bimbingan Kesiapan dan Peran Serta Masyarakat.
Tujuannya adalah untuk menciptakan peningkatan kemauan dan kemampuan keluarga dan masyarakat untuk dapat menerima kembali bekas klien, sehingga bekas klien tersebut dapat berperan aktif dan dapat berintegrasi dalam kegiatan masyarakat.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya sebagai berikut :
a. Mempelajari dan memahami program kegiatan;
b. Membuat analisa kebutuhan serta sarana dan prasarana yang di perlukan;
c. Mengadakan surat-menyurat dan mengatur jadual ke¬giatan;
d. Membuat rangkuman program bimbingan kesiapan dan peran-serta masyarakat;
e. Pengadaan sarana dan prasarana bimbingan kesiapan dan peran-serta masyarakat;
f. Penyerahan sarana dan prasarana dengan petugas fungsional yang bersangkutan disertai berita acara serah-terima;
g. Penyiapan lokasi pelaksanaan kegiatan dan pengaturan/penjadualan hari "H" pelaksanaan kegiatan;
h. Pengecekan materi serta sarana dan prasarana bimbingan kesiapan dan peran-serta masyarakat;
i. Pengecekan lokasi/tempat pelaksanaan kegiatan;
j. Pengecekan surat-menyurat/undangan serta pencetakan materi yang diperlukan;
k. Penyampaian materi bimbingan kesiapan dan peran-serta masyarakat melalui ceramah, simulasi, role playing dan sebagainya;
l. Penyampaian materi tertulis/bergambar untuk lebih dipahami/dimengerti.
2. Bimbingan Sosial Hidup Bermasyarakat.
Tujuannya untuk menciptakan peningkatan kemauan dan kemampuan para klien untuk dapat melaksanakan tata kehidupan dan penghidupan masyarakat secara normatif.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya sebagai berikut :
a. Mempelajari dan memahami program bimbingan sosial hidup bermasyarakat;
b. Membuat analisa kebutuhan dan atau sarana dan prasarana pelaksanaan kegiatan;
c. Mengadakan surat-menyurat kepada berbagai unit kerja, Instansi dan lembaga yang terkait untuk pelaksanaan kegiatan;
d. Membuat rangkuman program bimbingan sosial masyarakat dan menuangkannya dalam transparan atau sejenisnya apabila dianggap perlu;
e. Pengadaan sarana dan prasarana pelaksanaan kegiatan;
f. Pengecekan materi serta sarana dan prasarana bimbingan sosial hidup bermasyarakat yang sudah dipersiapkan;
g. Pengecekan tempat pelaksanaan kegiatan;
h. Pengecekan undangan dan jadual pelaksanaan kegiatan;
i. Penyampaian materi bimbingan sosial hidup bermasya¬rakat;
j. Penyampaian materi cetakan untuk lebih dipahami/dimengerti.
3. Pemberian Bantuan Stimulan Usaha Produktif.
Tujuannya untuk pemberian bantuan stimulan usaha produktif agar klien dapat berusaha/bekerja secara normatif untuk meningkatkan penghasilannya sehingga mereka mampu membiayai diri dan keluarganya (dilaksanakan oleh petugas struktural yang membidanginya).
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya sebagai berikut :
a. Mempelajari program bimbingan keterampilan kerja dan peserta yang mengikutinya;
b. Menganalisa kebutuhan/jenis bantuan usaha produktif sesuai jenis masing-masing keterampilan dan jumlah peserta/penerima pelayanan yang mengikutinya;
c. Pembelian/pengadaan bantuan;
d. Penyiapan tempat dan undangan penyerahan bantuan;
e. Penyerahan paket bantuan kepada klien dengan penandatanganan berita-acara disaksikan oelh Pimpinan Petugas yang terkait dengan harapan agar mereka ikut memantau pemanfaatannya selama menjalankan usahanya.
4. Bimbingan Usaha/Kerja Produktif.
Tujuannya untuk merangsang/mendorong kemauan dan kemampuan klien agar dapat melaksanakan praktek usaha/kerja produktif sebagai mata pencahariannya dan sebagai sumber penghasilan yang layak serta normatif untuk membiayai diri dan keluarganya melalui pemantauan keterampilan kerja dan bantuan sti¬mulan usaha produktif yang telah diterimanya.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya sebagai berikut :
a. Memantau situasi lapangan usaha/kerja yang telah diinventarisir;
b. Memantau dan menganalisa berbagai jenis keterampilan, ratio pesertanya dan bantuan stimulan usaha produktif, menganalisa ratio klien pada setiap jenis lapangan usaha/kerja;
c. Perencanaan penempatan klien pada suatu jenis lapangan usaha/kerja;
d. Merencanakan pendayagunaan sumber dalam praktek usaha/kerja;
e. Pengecekan klien yang telah mengikuti bimbingan keterampilan sosial/bimbingan keterampilan kerja dan bantuan stimulan usaha produktif yang telah diterimanya;
f. Pengecekan lokasi/tempat usaha serta pengelolaannya sehingga tidak terjadi kondisi lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan (merugi);
g. Praktek berusaha/bekerja dengan memanfaatkan bantuan stimulan usaha produktif berdasarkan potensi lingkungan yang dapat didayagunakan untuk mendukung keberhasilan program secara berdaya-guna dan berhasil-guna.

5. Penyaluran.
Tujuannya untuk menciptakan lahan bermata-pencaharian yang Iayak sebagai sumber penghasilan keluarga untuk memperbaiki kualitas hidupnya.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya sebagai berikut :
a. Penentuan ratio penyaluran antara lapangan usaha dan ienisnya dengan jumlah klien dan bidang keterampilan yang dikuasainya;
b. Pertemuan dengan masyarakat setempat untuk sosialisasi program dan menumbuhkan peran aktif masyarakat dalam membantu bekas klien memperbaiki kualitas kehidupannya;
c. Penempatan bekas klien pada lapangan usaha/kerja produktif yang sudah direncanakan/dipersiapkan agar dapat melakukan praktek usaha/kerja hidup layak secara normatif dan dapat hidup layak.
F. Bimbingan Lanjut.
Sasaran kegiatan bimbingan Ianjut dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial adalah para klien yang telah selesai mendapatkan pelayanan rehabilitasi sosial dan resosialisasi pada tahun anggaran yang telah berjalan.
Bimbingan lanjut merupakan upaya untuk lebih memantapkan kemandirian bekas klien, khususnya mereka yang karena berbagai sebab masih tetap memerlukan bimbingan, baik berupa konsultasi bantuan lanjutan maupun petunjuk lain untuk pengenalan di masyarakat.

Bimbingan lanjut meliputi :
1. Bimbingan Peningkatan Kehidupan Bermasyarakat dan Peran Serta Dalam Pembangunan.
Tujuannya untuk memantapkan pengintegrasian diri bekas klien dalam kehidupan bermasyarakat agar mereka mampu berperan-serta dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di lingkungannya.
Langkah-langkah kegiatannya meliputi :
a. Mengadakan bimbingan dan motivasi sosial kepada para bekas klien yang telah disalurkan di masya¬rakat agar dapat berintegrasi dalam masyarakat dan berperanserta dalam pembangunan;
b. Mengadakan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk memfasilitasi dan memberikan akses kemudahan kepada para bekas klien agar dapat mengembangkan kemampuannya dan berperan serta di masyarakat;
c. Menyusun jadual pelaksanaan kegiatan bimbingan;
d. Mempersiapkan daftar isian, surat-menyurat dan perlengkapan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan bimbingan peningkatan hidup bermasyarakat dan peran-serta dalam pembangunan;
e. Menyusun laporan singkat tentang hasil bimbingan.
2. Bantuan Pengembangan Usaha/Bimbingan Peningkatan Keterampilan.
Tujuannya untuk memantapkan dan mengembangkan usaha/kerja secara berkelompok, serta meningkatkan kemampuan bekas klien dalam hal pengelompokan usahanya.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya meliputi :
a. Menyusun jadual pelaksanaan kegiatan bantuan;
b. Menyusun daftar nama dan daftar isian yang akan dipergunakan untuk kegiatan pemberian bantuan pengem¬bangan usaha/bimbingan peningkatan keterampilan;
c. Menyusun laporan singkat tentang hasil kegiatan yang dilakukan oleh petugas teknis operasional;
d. Mempelajari data para bekas klien yang telah disalurkan;
e. Mengadakan pengamatan secara langsung terhadap pelaksanaan usaha/kerja para bekas klien di lapangan sesuai dengan data yang telah disusun oleh petugas teknis administrasi;
f. Mengadakan pendekatan dengan instansi setempat untuk mendapatkan bantuan terhadap pemberian bimbingan/latihan keterampilan ulang guna pemantapan dan pengembangan peningkatan kete¬rampilan;
g. Mengusahakan adanya pemberian stimulan ulang apabila kondisinya memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut;
h. Mengadakan mobilisasi sumber-sumber bantuan yang me¬mungkinkan dapat memberikan akses kemudahan terhadap pengembangan usaha/kerja;
i. Mengadakan bimbingan Kelompok Usaha Produktif (KUP).
3. Bimbingan Pemantapan/Peningkatan Usaha.
Tujuannya untuk memantapkan dan mengembangkan usaha/kerja secara lebih berdaya-guna dan berhasil-guna, sehingga para bekas klien dapat lebih menekuni lapangan usaha/kerja.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatannya meliputi :
a. Menyusun jadual pelaksanaan kegiatan;
b. Mempersiapkan surat-menyurat, daftar isian dan perlengkapan lainnya yang diperlukan oleh petugas teknis operasional di lapangan;
c. Menyusun laporan singkat tentang hasil kegiatan yang dilakukan;
d. Menyusun jadual kegiatan;
e. Menginventarisasi kelunakan dan kekuatan usaha KBS;
f. Mencarikan/memberikan pemikiran alternatif pemecahan masalah KBS;
g. Memberikan rekomendasi kepada instansi lain yang terkait.
4. Terminasi.
Tahap terminasi adalah tahap mengakhiri kegiatan secara formal terhadap klien yang bertujuan memastikan tercapainya tujuan program. Sebelum melakukan terminasi diambil langkah sebagai berikut : persiapan administrasi, evaluasi dan pengakhiran proses pelayanan dan rehabilitasi sosial.
G. Keterpaduan.
Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial diselenggarakan oleh para petugas teknis administrasi dan operasional serta petugas fungsional berdasarkan struktur dan bekerja-sama dengan berbagai pihak atas dasar saling menguntungkan. Sesuai dengan tingkat pelaksanaan kegiatan, maka kerjasama tersebut dijalin dengan berbagai instansi terkait pada:


1. Kegiatan Pendekatan Awal :
a. Pemerintah Daerah Provinsi;
b. Dinas Sosial/Instansi Sosial Provinsi;
c. Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota);
d. Dinas Sosial/Instansi Sosial Kabupaten/Kota;
e. Kepolisian;
f. Tokoh-tokoh masyarakat/agama;
g. Instansi-instansi Pemerintah terkait lainnya sesuai dengan kebutuhan.
2. Kegiatan Bimbingan Mental, Sosial dan Keterampilan :
a. Dinas Tenaga Kerja atau Transmigrasi Kabupaten/Kota;
b. Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota;
c. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
d. Dinas Perindustrian Kabupaten/Kota;
e. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota;
f. Kepolisian Daerah;
g. Ketua Penggerak PKK Cabang Kabupaten/Kota;
h. Ketua Dharma Wanita Kabupaten/Kota;
i. Instansi atau organisasi sosial yang relevan;
j. Tokoh agama;
k. Organisasi pengusaha/Dunia Usaha.
3. Kegiatan Penyaluran :
a. Dinas Sosial Kabupaten/Kota, pengirim maupun daerah asal klien;
b. Perusahaan/Pabrik-pabrik/Organisasi pengusaha;
c. Organisasi sosial masyarakat dan atau usaha perorangan yang memungkinkan dapat memberikan kemudahan lapangan usaha wiraswasta;
d. Keluarga dan atau orang tua penerima pelayanan;
e. Kandep Agama, dalam proses pernikahan;

4. Kegiatan Bimbingan Lanjut :
a. Dinas Sosial Kabupaten/Kota di daerah asal klien (apabila lokasinya jauh dari jangkauan dapat dilakukan dengan surat-menyurat);
b. Dinas Tenaga Kerja atau Transmigrasi Kabupaten/Kota;
c. Perusahaan/pabrik-pabrik yang telah mempekerjakan klien;
d. Organisasi sosial dan atau usaha perorangan yang telah/masih mempekerjakan klien;
e. Keluarga dan atau orang tua klien;
f. Para informan lain yang memungkinkan diperolehnya data secara tepat dan akurat.
H. Ketenagaan.
Tenaga pelatih hendaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai di bidangnya masing-masing dan melalui bimbingan sosial tersebut diharapkan agar terdapat suatu perubahan sosial dalam tata kehidupan dan penghidupan klien. Ketenagaan dimaksud berasal dari berbagai profesi sebagai berikut :
1. Petugas di lingkungan Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota/Panti Sosial;
2. Pekerja Sosial;
3. PSM/Relawan Sosial;
4. Tenaga Medis;
5. Tokoh Agama;
6. Psikolog;
7. Pendidik;
8. Ahli Gizi;
9. Ahli Tenaga Kerja;
10. Ahli Pemasaran;
11. Instruktur Keterampilan;
12. dan sebagainya.





BAB IV
MEKANISME DAN JARINGAN KERJA
A. Mekanisme Kerja.
1. Departemen Sosial RI.
a. Merumuskan kebijakan tentang Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung;
b. Merumuskan panduan, petunjuk teknis Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung;
c. Membuat kesepakatan dengan instansi terkait dalam rangka Kebijakan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung;
d. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung.
2. Dinas Sosial Provinsi.
a. Memberikan informasi tentang Program Rehabilitasi yang akan dilaksanakan, memfasilitasi pelaksanaan kegiatan koordinasi, menyusun agenda rapat koordinasi, menyusun laporan hasil koordinasi;
b. Melakukan pengolahan data Pemulung yang termasuk kategori PMKS;
c. Melaksanakan sosialisasi, koordinasi tentang pelaksanaan Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung dengan instansi terkait pada tingkat provinsi;
d. Menyusun perencanaan program kegiatan dalam Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung;
e. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung.
3. Dinas Sosial Kabupaten dan Kota.
a. Melakukan pendataan tentang Pemulung yang termasuk kategori PMKS;
b. Menyeleksi tenaga pendamping dari LSM dan Orsos serta menetapkan pekerja sosial yang bertanggung-jawab terhadap pelaksanaan program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung;
c. Mempersiapkan dan melatih para pendamping dari masyarakat atau Orsos yang peduli terhadap Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung;
d. Melakukan sosialisasi program tentang Pelayanan dan Rehabilitasi sosial Pemulung;
e. Melaksanakan kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial kepada Pemulung;
f. Membuat laporan pelaksanaan kegiatan Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung;
g. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung.
4. Instansi/Sektor Terkait.
a. Dinas Tenaga Kerja.
Memberi dukungan dalam pelaksanaan program bimbingan dan pelatihan vokasional termasuk kesempatan magang kerja.
b. Dinas Kebersihan.
Berperan-serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dengan komunitas Pemulung, khususnya dalam pengelolaan sampah mandiri.
c. Dinas Kesehatan.
Berperan-serta dalam penyuluhan kesehatan dan rujukan kesehatan bagi Pemulung dan keluarganya.
d. Dinas Pendidikan .
Berperan-serta dalam pendidikan anak-anak Pemulung dan bagi Pemulung serta keluarganya.
e. Kantor Departemen Agama.
Berperan dalam memberikan pembinaan mental spiritual bagi Pemulung.
f. Orsos/LSM/Yayasan, Tokoh agama dan Tokoh masyarakat.
Berperan sebagai mitra pendamping dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial Pemulung melalui penyiapan relawan pendamping.
g. Dunia Usaha.
Berperan sebagai mitra bisnis (mitra usaha) dalam rangka pengembangan usaha Pemulung.

Gambar 1
Mekanisme Kerja
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung






























B. Jaringan Kerja.
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial merupakan salah satu sistem dalam penanganan masalah sosial di perkotaan/pedesaan, sehingga setiap unsur didalamnya saling berkaitan. Karena itu setiap petugas Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan semua pihak atau unsur terkait di dalam masyarakat. Dalam hal ini diharapkan adanya jaringan kerjasama yang dapat berfungsi mendukung Pelayanan dan Rehabiliasi Sosial Pemulung secara efektif sebagaimana digambarkan dalam skema berikut :
Gambar. 2
Skema Jaringan Pelayanan Pemulung




















Catatan :
1. Garis putus lingkar warna merah;
2. Garis koordinasi (lurus ke Pemulung warna hitam).

C. Pelaksana dan Peran:
1. Dinas Sosial Provinsi, memberikan informasi tentang Program rehabilitasi sosial yang akan dilaksanakan, memfasilitasi pelaksanaan kegiatan koordinasi, menyusun agenda rapat koordinasi, menyusun laporan hasil koordinasi;
2. Dinas Sosial Kabupaten/Kota, memberikan informasi tentang situasi dan permasalahan penyalahgunaan Pemulung di daerah masing-masing, memberikan masukan tentang alternatif pemecahan masalah yang timbul dalam pelaksanaan rehabilitasi sosial;
3. Tim Rehabilitasi Sosial (Pekerja Sosial, Dokter Umum, Konselor, Psikolog, Psikiater, Tokoh Agama, PSM, Dunia Usaha)
a. Pekerja Sosial, memberikan informasi tentang tugas, fungsi dan peranan pekerja sosial, memberikan gambaran tentang metode, teknik dan pendekatan dalam penanganan korban penyalahguna Pemulung serta bentuk pelayanan yang diberikan;
b. Dokter Umum, memberikan informasi tentang tugas, fungsi dan peranannya dalam rehabilitasi sosial bagi KPN. Memberikan gambaran tentang penanganan secara medis;
c. Konselor, memberikan informasi tentang tugas, fungsi dan peranan dalam rehabilitasi Pemulung;
d. Psikolog, memberikan informasi tentang gambaran kondisi psikologis Pemulung serta berbagai pendekatan yang dapat dilakukan;
e. Psikiater, memberikan informasi tentang gambaran biopsikologis Pemulung;
f. Tokoh Agama, memberikan informasi tentang nilai-nilai normatif Pemulung;
g. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM/Relawan), memberikan informasi tentang kondisi lapangan termasuk daya jangkau kepada para Pemulung;
h. Dunia Usaha, memberikan informasi tentang kontribusi yang dapat diberikan dalam kegiatan rehabilitasi sosial Pemulung.



D. Indikator Keberhasilan.
Keberhasilan pelaksanaan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Pemulung diukur dengan melihat :
1. Pemulung memiliki satu atau lebih keterampilan untuk kemandirian.
a. Tidak melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma di dalam masyarakat;
b. Telah memiliki penghasilan tetap dan layak memenuhi kehidupan sehari-hari;
c. Memahami, memiliki dan menguasai suatu keterampilan kerja tertentu yang dapat dipergunakan sebagai bekal untuk mendapatkan mata pencaharian bagi dirinya dan atau bersama keluarganya;
d. Sudah mempunyai pekerjaan yang tetap dalam bentuk usaha wiraswasta, menjadi karyawan pabrik atau perusahaan maupun bentuk lainnya yang sesuai dengan norma masyarakat;
e. Sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya secara wajar, baik di lingkungan pekerjaan, lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan;
f. Telah memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menentukan, mendayagunakan dan meningkatkan sumber-sumber pelayanan sosial, sebagai salah satu bentuk partisipasi mereka untuk dapat membantu dirinya sendiri, keluarga maupun kelompok yang membutuhkannya;
g. Mempunyai rumah sebagai tempat tinggal yang layak huni;
h. Sudah beradaptasi dengan lingkungan sosialnya secara wajar;
i. Sudah mampu untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi;
j. Sudah dapat ikut berperan dalam pembangunan.
2. Masyarakat.
a. Dapat memahami dan menghayati bahwa permasalahan sosial Pemulung bukan hanya tanggung-jawab Pemerintah, akan tetapi juga merupakan tanggung-jawab masyarakat, sebagai pasangan kerja (partner) Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan sosial;
b. Dapat menerima kembali, memberikan kesempatan kerja/usaha, mengusahakan lapangan kerja secara layak kepada para bekas Pemulung;
c. Telah memiliki daya tangkal terhadap kemungkinan timbulnya permasalahan sosial lainnya, terutama di daerah asal bekas penyandang masalah sosial melalui fungsi pencegahan;
d. Memberikan kesempatan secara terbuka kepada bekas Pemulung untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan di masyarakat.
3. Orsos/LSM/Yayasan dapat melaksanakan pembinaan terhadap Pemulung;
4. Terlaksananya koordinasi dalam pelaksanaan Pelayanan dan Rehabilitasi di semua sektor terkait;
5. Terbangunnya persepsi yang sama tentang program rehabilitasi sosial;
6. Terwujudnya Tim Unit Pelayanan Sosial Keliling bagi Pemulung termasuk perangkat dukungannya;
7. Terwujudnya rencana operasional kegiatan rehabilitasi sosial;
8. Terwujudnya pembagian tugas, fungsi dan peran dalam pelaksanaan rehabilitasi sosial;
9. Didapatkannya model pelayanan yang efektif dalam melaksanakan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bagi Pemulung.












BAB V
PENGENDALIAN
SUPERVISI, MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Dalam rangka menerapkan pedoman penanganan masalah sosial Pemulung diperlukan adanya pengendalian terhadap pelaksana serta pada setiap tahap kegiatan baik yang akan dilaksanakan maupun yang sedang berjalan, serta kegiatan yang telah selesai direhabilitasi dalam bentuk-bentuk supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan.
A. Supervisi.
1. T u j u a n.
Agar setiap petugas mengerti, menghayati dan memahami bidang tugas masing-masing, serta lebih mampu melaksanakan kegiatan-kegaitan di lapangan, sehingga semua proses kegiatan dapat dilaksanakan secara benar sesuai dengan program yang telah ditetapkan.
2. S a s a r a n.
a. Segenap pelaksana dalam kegiatan program penanganan masalah sosial Pemulung;
b. Setiap kegiatan dimulai dari tahap pendekatan awal sampai dengan tahap bimbingan lanjut;
c. Dokumen laporan, hasil kegiatan sejak dari pendekatan awal, penerimaan, bimbingan keterampilan sosial, resosialisasi dan bimbingan lanjut.
3. W a k t u.
a. Insidentil, disesuaikan dengan kebutuhan;
b. Program sedang berjalan;
c. Setelah selesai program dilaksanakan (evaluasi).
4. Langkah-langkah.
Langkah-langkah supervisi yang perlu dipersiapkan dalam rangka realisasi pedoman pelaksanaan penanganan masalah sosial Pemulung adalah sebagai berikut:
a. Mempelajari semua ketentuan dalam pedoman yang telah ditetapkan dengan seksama dan teliti, agar dengan demikian pelaksanaan supervisi dapat mencapai sasaran, disamping itu juga untuk menghindarkan dari kesalahan-kesalahan prinsip;
b. Mempelajari laporan semua komponen kegiatan dari tahap rehabilitasi, tahap bimbingan keterampilan sosial dan tahap bimbingan lanjut;
c. Mempersiapkan formulir-formulir untuk bahan supervisi. Formulir tersebut meliputi formulir tahap rehabilitasi, tahap bimbingan keterampilan sosial dan tahap bimbingan lanjut;
d. Menganalisa keberhasilan kegiatan.
B. Monitoring.
1. T u j u a n.
Untuk mengikuti perkembangan setiap penyelenggaraan kegiatan dari tahap rehabilitasi sosial, resosialisasi dan bimbingan lanjut agar dapat secara langsung dan sedini mungkin melakukan perbaikan, sesuai dengan rencana.
2. S a s a r a n.
a. Setiap pelaksanaan kegiatan, yaitu tahap rehabilitasi, resosialisasi dan bimbingan lanjut;
b. Laporan hasil pelaksanaan kegiatan dari sejak kegiatan rehabililasi, resosialisasi dan kegiatan bimbingan lanjut.
3. Pelaksanaan.
a. Petugas langsung turun ke lapangan;
b. Melalui surat-menyurat dan laporan-laporan;
c. Melalui pertemuan langsung antara petugas monitoring dengan petugas pelaksana kegiatan.
4. W a k t u.
Waktu monitoring dilakukan pada saat :
a. Pelaksanaan kegiatan sedang berjalan;
b. Pelaksanaan kegiatan selesai dilaksanakan;
c. Insidentil sesuai kebutuhan.
5. Langkah-langkah.
Mengadakan pemantuan terhadap pelaksanaan kegiatan teknis administrasi dan operasional, meliputi:
a. Perkembangan seluruh kegiatan pelaksanaan penanganan masalah Pemulung, yang meliputi : tahap rehabilitasi, resosialisasi dan tahap bimbingan lanjut;
b. Faktor-faktor penghambat dan pendukung.
C. Evaluasi.
Evaluasi adalah proses kegiatan yang dilaksanakan untuk menilai hasil-hasil kegiatan yang telah dicapai. Evaluasi dilaksanakan oleh Departemen Sosial RI dan Dinas Sosial Provinsi.
Evaluasi merupakan penilaian terhadap tahap-tahap dari suatu proses kegiatan usaha yang telah dilaksanakan dan penilaian dari suatu kegiatan sehingga dapat diketahui dengan jelas tentang sejauhmana sasaran-sasaran dan tujuan telah tercapai, hambatan-hambatan apa vang dihadapi, faktor apa saja yang mampu mendorong lajunya peiaksanaan program, mekanismenya bagaimana dan hal-hal lain yang dipandang penting.
Tujuan :
1. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan dari pelaksanaan kegiatan, hambatan-hambatan, kemudahan-kemudahan yang ditemukan dalam mendukung kelancaran pelaksanaan pro¬gram;
2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan yang sedang dan telah berlangsung, hambatan-hambatan dan kemudahan.
D. Pelaporan.
Pelaporan adalah kegiatan akhir dalam bentuk penyusunan dan penyampaian keterangan tentang keseluruhan proses pelaksanaan kegiatan pe¬la¬poran digunakan sebagai bahan dokumentasi, pertanggung-¬jawa¬ban sekaligus menjadi bahan masukan bagi pengembangan program lebih lan¬jut.
1. T u j u a n .
Tersedianya data dan informasi yang lengkap tentang pelaksanaan kegiatan rehabilitasi sosial, resosialisasi dan bimbingan lanjut, yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk meningkatkan, mengembangkan program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial sehingga berdaya-guna maksimal bagi bekas klien.
2. M a t e r i.
a. Hasil kegiatan rehabilitasi sosial meliputi :
1). Pendekatan awal;
2). Penerimaan;
3). Bimbingan keterampilan sosial.
b. Kegiatan resosialisasi meliputi :
1). Jumlah bekas klien yang mengikuti kegiatan resosialisasi;
2). Jenis penyaluran;
3). Tempat penyaluran;
4). Faktor pendorong/penghambat.
c. Kegiatan bimbingan lanjut, meliputi :
1). Jumlah bekas klien yang akan diberi bimbingan lanjut;
2). Alamat bekas klien yang akan diberi bimbingan lanjut;
3). Hasil pelaksanaan kegiatan bimbingan lanjut;
4). Faktor pendukung/penghambat;
5). Upaya mengatasinya yang dapat mendukung terhadap kelancaran pelaksanaannya.
3. S a s a r a n.
a. Tenaga Pelaksana;
b. Hasil pelaksanaan program yang mencakup rehabilitasi sosial;
c. Resosialisasi dan bimbingan lanjut secara keseluruhan bagi bekas klien;
d. Keluarga/masyarakat tempat tinggal bekas klien;
e. Orsosmas;
f. Pabrik-pabrik tempat bekerja bekas klien.


4. W a k t u.
Evaluasi dilaksanakan pada saat:
a. Program sedang berjalan;
b. Secara insidentil sesuai dengan kebutuhan;
c. Setelah program selesai dilaksanakan.
5. Pelaksanaan.
a. Laporan dibuat secara tertulis disampaikan secara berkala atau insidentil sesuai dengan kebutuhan;
b. Laporan dibuat secara lisan, yang sifatnya untuk memperjelas isi laporan, agar materi laporan segera dapat diketahui atasan;
c. Laporan dibuat pada setiap melakukan kegiatan dari tahap rehabilitasi, tahap resosialisasi dan tahap bimbingan lanjut;
d. Laporan insidentil apabila ada kasus-kasus tertentu;
e. Laporan berdasarkan hasil evaluasi.
6. Langkah-langkah.
a. Mengumpulkan laporan hasil pelaksanaan kegiatan pada setiap tahapan kegiatan;
b. Menyusun laporan mengenai penyelenggaraan penanganan masalah sosial Pemulung, yang meliputi : aspek teknis administrasi dan teknis operasional keseluruhan pelaksana program rehabilitasi sosial dan resosialisasi;
c. Memasukkan ke dalam file sebagai kelengkapan data bekas klien.
7. Mekanisme.
Pelaporan meliputi realisasi penyaluran dan penyerahan dana, manfaat bantuan serta hasil penyelesaian masalah yang mungkin terjadi di lapangan, dengan mekanisme:
a. Petugas pendamping menyampaikan laporan bulanan kepada Dinas Sosial Provinsi untuk pemantauan kegiatan bulanan, tentang hasil kegiatan tersebut kepada panti-panti sebagai kelengkapan bahan laporan kegiatan penyantunan dan pengentasan masalah secara keseluruhan;
b. Provinsi menyampaikan laporan bulanan kepada Departemen Sosial RI sebagai bahan masukan untuk perbaikan kebijakan program selanjutnya.
BAB VI
PENUTUP
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial terhadap Pemulung dapat diselenggarakan oleh Pemerintah maupun non Pemerintah dan atau dapat pula dengan peran aktif masyarakat, baik perorangan, kelompok maupun keterlibatan dunia usaha. Sedangkan peran Pemerintah Pusat dan Daerah adalah menfasilitasi dan memotivasi masyarakat dalam penyelenggaraan berbagai pelayanan bagi para Pemulung.
Keberhasilan dari program ini adalah apabila acuan ini dapat dipahami dan dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sebagai pola pelayanan yang dapat diterapkan dan benar-benar dibutuhkan oleh para pengguna/penyelenggara. Sehingga program pelayanan yang diberikan kepada Pemulung betul-betul dapat merubah kehidupan dan penghidupannya.
Demikian pedoman ini dibuat sebagai acuan operasional, bagi petugas di lapangan dan diharapkan dapat dipahami dan dilaksanakan sesuai kebutuhan wilayah setempat.



For Full Text Pdf Program Desaku Menanti Download Here