Tuesday, 25 January 2011

Sepenggal Kisah tentang Masyarakat Samin

Kompas, Rabu, 25 Januari 2006, 16:51 WIB

Sepenggal Kisah tentang Masyarakat Samin

Jakarta, KCM




Pada suatu malam di bulan Januari, penyanyi Franky Sahilatua mengirim SMS ke HP saya. Isinya, ia
diundang oleh tokoh muda masyarakat Samin untuk menyanyi bersama Emha Ainun Nadjib di alun-alun Pati
dalam acara "Temu Tani" yang diselenggarakan oleh Serikat Petani Pati (SPP). Jika saya tertarik, bolehlah
saya ikut bersamanya.
Tentu saja saya tertarik dengan ajakan tersebut. Terlebih, karena dalam ajakannya itu Franky menyebut nama
Samin, sebuah nama yang tak asing bagi saya sejak masih kuliah. Samin, meski sudah kerap mendengar
"gosip" tentang masyarakat Samin, tapi hingga kini saya belum pernah bertemu dengan mereka.
Terus terang, saya penasaran. Apakah benar, orang Samin itu adalah sekelompok masyarakat yang menganut
faham "asal beda", suka menentang pemerintah sejak zaman kolonial Belanda hingga kini? Sehingga istilah
Samin akhirnya menjadi olok-olok untuk mereka yang berlaku "norak", tak kooperatif, uneducated, bebal, dan
lain-lain.
Atau dalam istilah Jaspers, seorang asisten Residen Tuban kala itu, melukiskan ajaran Samin sebagai
"kelainan jiwa" (mental afwijking) yang disebabkan oleh kelewat beratnya beban pajak yang harus mereka
tanggung.
"Tapi ongkosnya kita tanggung bersama ya," ujar Franky kemudian setelah saya hubungi lewat HP-nya.
"Maklum, yang mengundang petani... he he he..." lanjut Franky.
Maka jadilah, pada Selasa malam, 17 Januari lalu, saya, Franky, dan dua pekerja sosial bernama Beni dan
Agus serta seorang sopir bernama Acan, meluncur menuju Pati dengan berkendara mobil.
Di sepanjang jalan pantai utara Jawa yang jalannya tak pernah beres itu, kami berdiskusi perihal kelompok
masyarakat yang hendak kami datangi.
Itulah soalnya kami langsung menyusun rencana, sebelum menuju alun-alun Pati pada Kamis, 19 Januari, saya
dan Franky sepakat untuk mengenal Sedulur Sikep lebih dalam.
Untunglah, Beni dan Agus, sudah cukup lama mengenal masyarakat Samin. Terlebih Beni, ia mengaku sudah
10 tahun berkawan akrab dengan warga Samin. Karena itu, sepanjang perjalanan kami mendapatkan
gambaran yang cukup jelas tentang siapakah warga Samin itu.
"Tapi mereka lebih suka disebut Sedulur Sikep," kata Beni.
Beni melanjutkan, Sedulur Sikep itu merupakan faham atau pemahaman mereka mengenai hidup yang harus
selalu berpegang pada kejujuran dan kebenaran. Sedangkan Samin, adalah seorang tokoh yang amat
dihormati oleh warga Sedulur Sikep dan sekaligus perintis ajaran Sikep.
Maka mulailah, sambil menikmati suara gamelan dari tape mobil di sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek, Beni
menerangkan perihal Samin dan Sedulur Sikep.
Tentang Samin Surosentiko
Katanya, Samin itu adalah nama yang dipakai oleh Raden Kohar agar lebih merakyat. Samin. Kompletnya
Samin Surosentiko. Lahir di desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Kabupaten Blora, pada 1859. Samin mulai
menyebarkan ajarannya pada 1890 di Klopoduwur, Blora. Dalam waktu singkat, penduduk sekitar banyak yang
tertarik mengikuti jejaknya.
Page 2 of 6
Tahun 1903, Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut Samin tersebar di 34
desa di Blora bagian Selatan dan Bojonegoro.
Pada 1907, populasi orang Samin sudah mencapai angka 5.000 orang. Nah, saat itulah, pemerintah Belanda
mulai was-was, sehingga pengikut Samin pun mulai ditangkapi satu demi satu.
Pada 8 November 1907, orang Sikep mengangkat Samin Surosentiko sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu
Panembahan Suryangalam. Namun sayang, baru 40 hari sejak pengangkatan itu, Samin ditangkap oleh Raden
Pranolo, asisten Wedana Randublatung.
Selanjutnya Samin dan delapan pengikutnya dibuang ke wilayah Sumatra, tepatnya di Sawahlunto. Samin
Surosentiko meninggal di pengasingan pada tahun 1914.
Samin Surosentiko memang telah ditangkap, tapi ajaran Samin tetap hidup. Benarlah apa kata pepatah: Mati
satu tumbuh seribu. Sepeninggal Samin, muncullah Wongsorejo, salah satu pengikut Samin yang gigih
menyebarkan ajaran gurunya hingga Madiun. Nasib Wongsorejo tak ubahnya sang guru, ia pun ditangkap dan
dibuang ke luar Jawa.
Wongsorejo silam, muncul menantu Samin Surosentiko yang bernama Surohidin pada 1911. Surohidin
bersama pengikutnya, Engkrak, bahu membahu menyebarkan ajaran Samin ke daerah Grobogan, sementara
pengikut Samin lainnya yang bernama Karsiyah menyebarkan ajaran Samin hingga daerah Kajen, Pati.
Berbarengan dengan tahun mangkatnya Samin Surosentiko (1914), pecah pemberontakan warga Samin atau
yang terkenal dengan sebutan Geger Samin. Peristiwa ini sesungguhnya merupakan titik kulminasi dari
kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Belanda yang menaikkan pajak bagi pribumi.
Perlawanan dari masyarakat Samin berupa penolakan membayar pajak pun timbul di mana-mana. Mulai dari
Purwodadi, Madiun, Pati, Bojonegoro.
Perdebatan antara orang Sikep dan polisi kolonial berikut ini mungkin bisa menjadi gambaran logika penolakan
membayar pajak masyarakat Samin terhadap pemerintah kolonial kala itu, seperti dimuat Majalah Desantara
(edisi 06/2002) yang mengutip tulisan Takashi Shiraishi berjudul Dangir’s Testimony.
"Kamu masih hutang 90 persen kepada negara"
"Saya tidak hutang kepada negara"
"Tapi kamu mesti membayar pajak"
"Wong Sikep (orang Samin) tak mengenal pajak"
"Apa kamu gila atau pura-pura Gila?"
"Saya tidak gila, dan tidak pura-pura gila"
"Kamu biasanya bayar pajak, mengapa sekarang tidak?"
"Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Mengapa negara tidak habis-habisnya minta uang?"
"Negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak punya cukup uang, tak mungkin
merawat jalan dengan baik."
"Kalau menurut kami, jika keadaan jalan itu tidak baik, kami bisa membetulkannya sendiri."
"Jadi kamu tidak membayar pajak?"
"Wong sikep tak mengenal pajak."
Tentang Sedulur Sikep
Sedulur Sikep adalah turunan dan pengikut ajaran Samin Surosentiko yang memiliki keyakinan betapa
pentingnya menjaga tingkah laku yang baik, berbuat jujur dan tidak menyakiti orang lain.
Dalam perilakunya, Sedulur Sikep harus menghindari sikap drengki, srei, dahwen, kemeren, panasten (yang
benar disalahkan atau sebaliknya, membesar-besarkan persoalan, iri hati, dan tidak menginginkan orang lain
berbuat baik).
Page 3 of 6
Selain ajaran tersebut, Sedulur Sikep juga harus menghindari perilaku bathil lainnya seperti bedok, colong,
petil, jumput dan nemu (merampok, mencuri, nguti, mengambil milik orang lain, bahkan sampai menemukan
barang orang lain pun tak boleh dilakukan).
"Dan mereka mempraktikkan ajaran itu tiap waktu, tiap saat," ujar Beni saat kami usai mengisi perut di daerah
Indramayu.
Makanya, ujar Beni, minimal sekali dalam setahun, ia selalu berkunjung ke Sedulur Sikep yang berada di
wilayah Pati dan Kudus. Katanya, kunjungannya ke Sedulur Sikep untuk charge pikiran dan hati.
"Aku yakin ini bukan melulu karya manusia. Ini pasti ada campur tangan Sang Pemilik Hidup," Franky
menanggapi pertanyaan saya, kenapakah hingga kini ajaran Samin masih terus hidup.
Ya, padahal, dari waktu ke waktu mereka senantiasa menghadapi persoalan administratif negara. Sebutlah,
soal Kartu Tanda Penduduk (KTP). Banyak di antara warga Sikep hingga kini tak memiliki KTP lantaran agama
mereka yang menurut istilah mereka disebut agama Adam tak pernah diakui oleh pemerintah RI.
Belum lagi masalah pernikahan. Sedulur Sikep yang memiliki tata cara pernikahan sendiri, tentu saja kerap
menimbulkan masalah lantaran tak pernah melibatkan pejabat negara.
Apapun masalahnya, toh Sedulur Sikep senantiasa mampu mengatasi persoalannya sendiri. Buktinya, hingga
detik ini mereka masih eksis dan telah mendapatkan pengakuan dari negara.
Siang telah membentang ketika kami sampai di Semarang. Seorang kawan lain yang juga hendak menuju Pati
kami jemput di restoran Soto Bangkong di Banyumanik. Mas Hermanu, begitulah kami memanggilnya. Dialah
doktor lulusan Amerika yang hingga kini juga masih setia menemani Sedulur Sikep.
Usai sarapan, mobil kami hela menuju Pati. "Lewat Purwodadi saja, lebih enak pemandangannya," kata
Hermanu.
Mranggen, Tegowanu, Gubuk, Purwodadi, kami lewati. Sebentar lagi, Sukolilo ada di hadapan kami. Di sanalah
nanti kami akan bertemu dengan guru-guru kami, para Sedulur Sikep.
Jabat Erat Sedulur Sikep
Matahari berada di atas kepala saat kami memasuki Kecamatan Sukolilo. Setelah beberapa kali tikungan dan
jalan menurun, sampailah kami di mulut gang menuju Dukuh Bombong.
Atas saran Hermanu, tujuan pertama kami adalah rumah Mbah Sampir. Lelaki tua berusia di atas 70 tahun
yang ditokohkan oleh Sedulur Sikep di Dukuh Bombong.
Sayang disayang, Mbah Sampir ternyata tak sedang di rumah. Sebagai gantinya, istri, anak, cucu, menantu
dan saudara Mbah Sampir lainnya yang membentuk puak di sekitar rumah Mbah Sampir menyambut kami
dengan hangat.
"Nepangaken, pangaran njenengan sinten?"
"Saking pundi?"
"Ra’ sami seger kawarasan toh?"
Begitulah selalu kalimat yang keluar dari mulut keturunan Mbah Sampir, tak kecil tak besar, tak tua tak muda.
Sambil memegang erat tangan tamunya, mereka berucap dengan tegas dan lugas perihal nama dan asal
tamunya, serta tak lupa harapan agar sang tamu dalam keadaan sehat wal afiat.
Page 4 of 6
Selanjutnya, setelah saling berkenalan, sebagian anggota keluarga Mabah Sampir menyingkir, sebagian
lainnya ada bersama kami. Salah satunya, adalah perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Gunarti,
adiknya Mas Gunritno.
Gunarti perlu menyebut nama Gunritno, sebab itulah nama yang menurutnya sudah dikenal, setidaknya oleh
teman-teman seperjalanan saya: Beni, Agus, dan Hermanu.
Padahal, ayah Gunarti yang bernama Wargono sebetulnya juga cukup terkenal sebagai salah satu tokoh
Sedulur Sikep. Sebagai orang yang baru kenal, saya tentu saja tak berani lancang bertanya mengapakah ia
justru memperkenalkan nama kakak dan bukan nama ayahnya.
Umur cuma satu, buat selamanya
Setelah bertukar kabar,mulailah kami bertanya-tanya.
"Gimana kemarin, apakah Sedulur Sikep menerima dana kompensasi BBM?" tanya Mas Hermanu. "Untuk soal
itu, kami kalis," jawab Gunarti. Mas Hermanu langsung menerjemahkan istilah kalis. Katanya, kalis itu adalah
seperti daun keladi yang tak basah oleh air yang ada bersamanya. Menurut Gunarti, lebih baik dana
kompensasi itu diberikan kepada warga lainnya yang lebih membutuhkan.
Gunarti mengatakan, kendati warga Sedulur Sikep cukup berat menanggung beban hidup lantaran semua
harga kebutuhan naik, tapi ia dan Sedulur Sikep lainnya masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal,
ujar Gunarti, sawah yang ia harapkan bakal memberinya berkarung-karung gabah bulan depan, ternyata
terendam banjir.
Obrolan pun.. ah ya, saya hampir lupa, "obrolan" adalah kosa kata yang paling dihindari Sedulur Sikep untuk
sebuah perbincangan. Sedulur Sikep lebih suka menyebut perbincangan dengan istilah rembugan. Sebab
katanya, rembugan itu adalah perbincangan yang akan menghasilkan sesuatu. Sedangkan ngobrol, lebih
banyak menghasilkan kesia-siaan.
Dari pengertian ini, karenanya Sedukur Sikep senantiasa serius jika diajak berbincang-bincang. Seperti di siang
itu. Gunarti pun dengan seksama menyimak pertanyaan-pertanyaan saya dan teman lainnya.
"Maaf, umur Mbak berapa sekarang?"
"Umur saya satu, buat selamanya," jawab Gunarti.
Mendengar jawaban Gunarti, saya pun jadi salah tingkah. Saya mulai bertanya kepada Mas Hermanu,
bagaimana caranya menanyakan soal umur kepada Sedulur Sikep.
"Waktu anda lahir, kira-kira pas zaman apa ya Mbak?" tanya saya setelah mendapat bisikan dari Mas
Hermanu.
"Menurut kedua orang tua, saat menikah saya berusia 16 tahun. Sekarang usia anak saya yang pertama sudah
16 tahun, jadi kurang lebih 29 tahun," jawab Gunarti.
Anda yang belum mengenal Sedulur Sikep, boleh jadi akan berprasangka yang macam-macam mendengar
penuturan Gunarti. Padahal, ujar Gunarti, mengapa para Sedulur Sikep selalu menjawab begitu tiap kali ditanya
berapa umurnya, adalah karena semata mereka takut berbohong.
"Bagaimana saya bisa menjawab dengan tepat kalau saya tidak tahu apa-apa saat saya lahir?" tambah
Gunarti.
Hmm... sebuah logika yang tak terbantahkan bukan?
"Sekarang kegiatan Mbak Gunarti apa?" saya melanjutkan pertanyaan.
"Tiap hari saya pergi ke sawah. Hari Minggu saya ke pasinaon..."
Page 5 of 6
"O, jadi guru juga toh?"
"Ah tidak. Saya nggak mau disebut guru. Guru itu kan digugu lan ditiru. Sementara saya, belum tentu
perbuatan saya bisa digugu (dipercaya) dan ditiru," ucap Gunarti merendah.
Pendeknya, lanjut Gunarti, yang penting dirinya bisa bermanfaat buat orang lain. Itulah sebab, tiap hari Minggu,
sekitar 15 anak-anak Sedulur Sikep mendapat pengajaran dari Gunarti tentang baca dan tulis serta budi
pekerti.
Kegiatan belajar mengajar ini, menurut Gunarti, dimulai sejak anak-anak mulai berpikir dan bertindak.
"Bukankah anak bisa jalan, bisa bicara, itu orang tua yang mengajari. Karenanya, apabila kita ingin anak-anak
kita berperilaku baik, ya harus diajari sejak dini," tutur Gunarti.
"Yang utama dari pembelajaran itu adalah mebcike kelakuan (meluruskan perbuatan). Sebab kita kerap
keblasak-keblusuk (tersesat)," tandas Gunarti.
O ya, perlu Anda ketahui, wahai pembaca yang budiman, anak-anak Sedulur Sikep itu memang tidak
bersekolah secara formal. Nah, orang semacam Gunarti ini, karena dipandang pintar, maka dia berkewajiban
membagi ilmunya kepada anak-anak dari keluarga Sedulur Sikep.
Buat Sedulur Sikep, ada dua hal yang mereka hindari dalam hidup. Yakni, bersekolah (formal) dan berdagang
(mencari margin). Sekolah, kata mereka, membuat orang jadi pintar. Setelah pintar, manusia bisanya
cenderung membohongi sesamanya. Begitu juga dengan berdagang. Biasanya, dalam mencari untung para
pedagang itu suka mengabaikan nilai-nilai kejujuran.
Karena itu, profesi yang dipilih oleh Sedulur Sikep adalah bertani. Jika pun harus menjual hasil pertaniannya,
Sedulur Sikep biasanya akan berpatokan pada harga yang berlaku di masyarakat.
Makan siang dengan nasi jagung
Meski sudah diganjal soto bangkong di Semarang pagi tadi, toh perut langsung keroncongan manakala mata
melihat sajian yang digelar di atas meja di rumah Mbah Sampir.
Di meja kini ada nasi jagung, botok, lodeh terong, tempe goreng, goreng ikan kutuk, dan telor goreng. Setelah
tuan rumah mempersilakan kami menyantap hidangan, kami pun secara bergantian mengambil hidangan yang
tersaji.
Saya dan Franky mengambil nasi jagung plus botok yang di dalamnya terdapat anakan ikan kutuk.
Rasanya...hmmm... yummy betul. Lain benar rasanya dengan masakan orang Jakarta yang sudah
terkontaminasi dengan unsur kimia sejak masih ditanam hingga ketika dimasak.
Inilah kiranya rasa makanan yang dihasilkan dengan cara yang berbeda dengan masakan kebanyakan. Bahkan
sejak sebelum padi ditanam hingga setelah padi dipanen, mereka selalu mengupayakannya dengan doa atau
biasa disebut dengan istilah brokohan. Tujuannya, ujar ayah Gunarti (Wargono) untuk kebaikan manusianya
dan juga kebaikan yang ditanam.
Perihal sajian di rumah Mbah Sampir itu, perlu Anda ketahui juga, adalah salah satu cara Sedulur Sikep
menghormati tamu-tamunya. Oleh karena itu jangan heran, jika sekali waktu Anda berkunjung ke keluarga
Sedulur Sikep, selain disuguhiminum dan nyamikan, Anda juga akan disuguhi makan.
Makanya saat lepas dari Semarang Mas Beni wanti-wanti, siapkan perut Anda sebelum datang ke rumah para
Sedulur Sikep. Sebab, bila dalam satu hari kita datang ke lima rumah, boleh jadi kita akan diberi sajian makan
berat sebanyak lima kali pula.
Page 6 of 6
Tentu, mereka pun tak akan memaksa Anda untuk makan hingga kenyang. Tapi, alangkah baiknya jika Anda
merasakan juga apa yang mereka hidangkan sebagai simbol penghormatan terhadap tuan rumah.
"Memangnya Mbah Sampir punya kolam ikan ya Mbak," tanya saya kepada Mbak Gun.
"Ah, nggak," jawab Gunarti.
"Trus ikan ini dari mana?" sambung saya.
"Dari sawah."
"Maksudnya, piara ikan di sawah?"
"Bukankah dimana pun ada air, di situ selalu ada ikannya," ujar Mbak Gun sambil tersenyum.
Ah, kembali saya tertohok oleh logika yang tak terbantahkan dari Mbak Gun. Coba bayangkanlah..., ikan dan
air..., bukankah mereka bagian dari semesta yang mestinya memang berpasang-pasangan?
Sedang saya merasai bolak-balik ketohok oleh ucapan Gunarti, mendadak Mbah Pasmi (istri Mbah Sampir)
berucap, "Tambah lo, Mas..."
Sebelum saya mengiyakan atau menolak, tiba-tiba saya ingat pesan Mas Beni supaya jangan kelewat kenyang
makan di satu tempat. Sebab setelah ini, bisa jadi tiga atau empat rumah bakal kami kunjungi lagi.
He he he..., demi menghormati tuan-tuan rumah yang bakal saya kunjungi, saya pun mengekang tawaran
Mbah Pasmi dengan ucapan "maturnuwun". Padahal..., botok dan nasi jagungnya itu...hhmmm, enaaak tenan.
Sungguh.
Penulis: Jodhi Yudono

Kisah Seputar Hutan JAWA

Kisah Seputar Hutan JAWA


Hutan Jawa seringkali luput dari pembicaraan ketika orangorang
ramai membicarakan hutan Indonesia



Setidaknya ada tiga p e n y e b a b n y a .
P e r t a m a ,
mungkin karena hutan Jawa,
dibandingkan hutan di pulau besar lain,
tidaklah luas. Sebab kedua, barangkali,
karena sebagian besar hutan Jawa tidak
bisa dianggap hutan karena wujudnya
yang lebih mirip kebun kayu homogen.
Bisa disamakan dengan hutan tanaman,
dan ada sementara orang yang
berpendapat bahwa hutan tanaman—
apalagi yang homogen—bukanlah hutan.
Sebab ketiga, ada anggapan bahwa hutan
di Jawa tidak banyak melindungi spesies
langka dan unik.
Ketiga ‘prasangka’ tersebut ada benarnya.
Dua dugaan pertama memang bisa
dibenarkan oleh fakta, dan justru itu yang
menjadi alasan mengapa hutan Jawa
sangat krusial untuk dibicarakan, terutama
dalam kon.teks demografi pulau Jawa
sebagai pulau berpenduduk sangat padat.
Lebih dari separo penduduk Indonesia
tinggal di pulau sekecil Jawa1.
Hutan Jawa itu Tidak Luas
Betul bahwa hutan Jawa sangatlah sempit.
Luas hutan Jawa keseluruhan, menurut
perkiraan GFW, pada tahun 1997 seluas
1,9 juta hektare. Luasan ini berada di
bawah angka luasan hutan di Maluku (5,8
juta ha), Sulawesi (hampir 8 juta ha), dan
jauh di bawah Papua dengan luasan 33 juta
hektare lebih. Tabel 1 menjelaskan tipe
hutan yang terdapat di Pulau Jawa2.
Lebih jauh lagi, persentase hutan di Pulau
Jawa sangat rendah, yaitu hanya 14% dari
total luas daratannya. Sementara di pulau
besar lainnya masih terdapat 35-81%
hutan. Dari angka ini terlihat bahwa jika
hutan di pulau lain masuk dalam kategori
‘rusak parah’, maka hutan Jawa masuk
dalam kategori ‘telanjur dibiarkan rusak
parah terlalu lama’.
Justru karena hutan Jawa sangat sempit
dan langka itulah pelestariannya menjadi
sangat relevan untuk dibicarakan. Kembali
mengingat penduduk Jawa yang sangat
padat, maka ada dua hal yang perlu
dikaitkan dengan persoalan hutan ini.
Pertama, hutan Jawa mengalami tekanan
yang besar dan terus menerus didesak oleh
kebutuhan akan lahan pertanian. Yang
kedua, kerusakan hutan yang kemudian
menyebabkan banjir dan longsor selalu
menimbulkan penderitaan bagi banyak
orang karena—dimanapun bencana itu
terjadi—selalu terjadi di daerah padat
penduduk. Banjir rutin di Jakarta,
misalnya, adalah contoh yang paling
klasik.
1 Tepatnya, penduduk Jawa pada tahun
1999 adalah 116.324.536 jiwa. Luas
pulau Jawa adalah 131.412 km2.
Kepadatan penduduk Jawa adalah 887
jiwa/km2. Ada 6.381 desa di Jawa yang
bertampalan dengan hutan atau berada
di tengah hutan sepenuhnya. Jumlah
desa hutan ini adalah seperempat
jumlah desa di Jawa.
Ada beberapa peringatan yang harus
saya sampaikan dalam membaca tabeltabel
dalam tulisan ini. Angka ini adalah
hasil rata-rata beberapa peta yang
memiliki cara perhitungan yang
berbeda. Angka ini kemudian di
proyeksikan dengan luas hutan pada
tahun 2000.
Tabel 1. Luas Hutan Berdasarkan Tipe Hutan
Tipe Hutan Luas
(hektare)
Hutan Lahan Kering Primer
Hutan Lahan Kering Sekunder
Hutan Mangrove Primer
Hutan Mangrove Sekunder
Hutan Tanaman Industri
TOTAL
394.750
556.662
8.863
11.866
903.359
1.875.500
Sumber: Peta penutupan hutan, Pemerintah RI/Bank Dunia, 1997; Peta
penutupan lahan, NFI/World Bank 2000; Data penutupan hutan, UNEP/
WCMC, 2000 (berdasarkan data REPPPROT)
Foto: Bob/FWI
2 intip hutan | maret 2003
Jadi inilah inti persoalannya. Sudah
hutannya sedikit, digerogoti oleh
kebutuhan lahan, sekali hutan itu rusak
membawa banyak korban pula. Sesudah
kerusakan hutan sepanjang sejarah
kolonial, hutan Jawa kini sedang
mengalami perusakannya yang paling
parah dan cepat, baik di hutan produksi
maupun di kawasan lindung dan areal
konservasi. Penyebabnya, tak lain adalah
penjarahan besar-besaran sejak 1998.
Kekritisan Jawa semakin gawat saja ketika
dalam waktu hanya 3 tahun Pulau Jawa
telah kehilangan lebih dari seperempat
hutannya (lihat tabel 2 berikut3).
Ada sebuah energi yang sangat kuat dalam
menggerakkan mesin-mesin perusak
hutan itu di seluruh Jawa. Energi uang,
itu satu. Tetapi energi uang ini tidaklah
akan bisa bergerak leluasa jika tidak
dibarengi dengan energi yang jauh lebih
besar. Energi dari masyarakat yang
kecewa dan marah. Seorang antropolog
menyebut penjarahan hutan ini sebagai
perlawanan sosial atas ketidakadilan
sistem produksi hutan4. Ya, sebagian besar
hutan di Pulau Jawa adalah hutan
tanaman.
Sebagian Besar Hutan Jawa
adalah HTI
Lagi-lagi, prasangka ke dua benar adanya.
Dan sekali lagi, justru inilah persoalannya.
Sebagian besar kawasan hutan di Jawa
adalah hutan produksi, terutama jati, yang
dikelola oleh Perhutani, satu-satunya
HPH(TI) yang beroperasi di Jawa.
Apa yang salah dengan pengelolaan HTI
di Jawa. Pertama, ada pendapat yang
mengatakan bahwa hutan tanaman,
apalagi yang homogen, tidaklah dapat
disebut sebagai hutan. Tetapi ada masalah
yang lain yang lebih mendesak untuk
diselesaikan, yaitu sistem produksi
hutannya. Hutan produksi di Jawa tidak
pernah membawa kemanfaatan bagi
masyarakat luas. Lebih dari itu sistem
pengelolaan ini justru meciptakan
kemiskinan struktural warga sekitarnya
karena akses mereka terhadap sumber
daya alam ini sangat terbatas.
Sistem pengupahan petani yang
dikembangkan dari periode ‘pengelolaan
hutan ilmiah’ abad 19 sangat tidak adil dan
merugikan para petani. Hanya
keterpaksaan dan kebutuhan akan lahan
sajalah yang membuat mereka tetap ‘setia’
membantu pengelolaan hutan jati. Tabel
3 adalah hasil penelitian beberapa desa di
sekitar KPH Randublatung yang
menjelaskan ketidakadilan sistem tarif
upah Perhutani.
Tabel ini menunjukkan bahwa petani
mensubsidi Perhutani sekitar 590 ribu
rupiah dari setiap hektar proyek
penanamannya. Tidak kurang, petani pun
selalu disuluhkan untuk ikut bertanggung
jawab atas kemanan jati, sementara pada
setiap tebangan tidak secuil pun kayu
dibagi-hasilkan kepadanya. Pembiaran
Tabel 3. Subsidi Petani kepada Perhutani melalui
pekerjaan tanam
Pengeluaran Petani per hektare
Babat/Resik
Gebrus I
Gebrus II
Bahan Baku
Buat Acir
pasang Acir
Langsir bibit
Tanam Bibit
Alat Pertanian
JUMLAH
Sumber: Laporan Bulanan ARuPA: Studi Kasus Sembilan Desa di BH
Randublatung, 2001
46
133.71
38
2
4
14.81
31.15
414.000
1.203.390
342.000
9.000
18.000
36.000
133.290
280.350
33.333
2.463.363
Pekerjaan HOK/ha Rupiah
Pemasukan dari Perhutani
Rupiah Tarif Upah
24.000
100.000
11.110
11.110
11.110
1.722.800
1.880.130
Uang Kontrak
Uang Pengolahan
Buat & Pasang Acir
Langsir Bibit
Tanam Bibit
Hasil Tumpangsari
sebagai upah
Tabel 2. Kehilangan Hutan Jawa antara Tahun 1997-2000
Propinsi
BANTEN
JAWA BARAT + DKI
JAWA TENGAH + DIY
JAWA TIMUR
TOTAL
109.321
373.902
193.537
656.053
1.332.803
Sumber: Peta penutupan hutan, Pemerintah RI/Bank Dunia, 1997; Peta penutupan lahan, NFI/World
Bank 2000; Data penutupan hutan, UNEP/WCMC, 2000 (berdasarkan data REPPPROT)
Tutupan Hutan Tutupan Hutan Kehilangan
1997 (Ha) 2000 (Ha) Hutan (Ha)
98.957
256.153
123.789
564.903
1.043.702
30.983
224.450
93.051
136.469
484.953
22.08
37.51
32.47
17.22
26.68
Persentase
Kehilangan
intip hutan | maret 2003 3
Tabel 4. Kerugian Akibat Gangguan Keamanan hutan Perhutani (1995-1999)
Pencurian pohon
Pencurian Kayu PTK
Pencurian Kayu BKR
Pencurian lain
Bibrikan hutan
Babad liar tanaman
Kebakaran hutan
Penggembalaan liar
JUMLAH
Bencana alam
TOTAL
phn
x Rp. 1000
m3
x Rp. 1000
sm
x Rp. 1000
x Rp. 1000
ha
x Rp. 1000
ha
x Rp. 1000
ha
x Rp. 1000
ha
x Rp. 1000
x Rp. 1000
ha
phn
x Rp. 1000
x Rp. 1000
200.273
3.525.140
5
--
--
629
39.044
10.172
9.530
8.663
111.886
148
2.931
3.688.531
119
116.481
550.921
4.239.452
202.192
3.369.919
36
4.042
--
--
715
10.126
109.263
66.110
5.686
49.070
137
4.200
3.503.467
33
68.040
320.016
3.823.483
202.947
2.960.537
11
854
--
--
1.849
24.531
16.662
12.993
373.782
452.886
91
3.080
3.454.881
240
145.677
480.908
3.935.789
1.097.716
49.243.567
155.246
71.550
--
18.002
15.104
236.958
110.827
2.040.242
7.063
54.841
53
4.030
51.651.188
1.207
96.984
962.500
52.613.688
3.179.973
55.851.084
285
16.222
46
103
35.467
15.378
223.700
336.168
1.847.798
374.944
194.345
843
13.587
58.182.306
1.239
108.089
212.708
58.395.014
1
2
3
4
5
6
7
8
9
No Uraian Satuan 1995 1996 1997 1998 1999
Sumber: DKP/Biro Kamagra dan Humas Perhutani, 2000
petani atas setiap kejadian penjarahan
hutan sebetulnya dapat menjadi indikasi
adanya sebuah konflik terpendam antara
petani dengan Perhutani.
Konflik, Produk Hutan Jawa
yang Lestari
Masyarakat Jawa—kecuali pada masa
pra-kerajaan—praktis tak pernah
mengalami kebebasan dalam mengelola
sumber daya alamnya sendiri, termasuk
dalam mengelola hutan. Pada zaman
kerajaan, kekuasaan sudah mengatur tatacara
eksploitasi hutan, dan sedikitnya
membatasi keleluasan warga untuk
menikmati sumber daya alam di
kampungnya sendiri. Kemudian bertubitubi
datang sistem produksi hutan kolonial
mulai Belanda sampai Jepang. Lalu sistem
pengelolaan ala Indonesia merdeka sampai
dibentuknya BPU Perhutani tahun 1966,
diubah menjadi Perum Perhutani pada
1972, menjadi PT pada tahun 2001, dan
kembali lagi menjadi perum menurut
keputusan MA tahun 2002.
Pengelolaan hutan di Jawa selalu dipenuhi
dengan konflik. Ada pula yang
berpendapat bahwa satu-satunya produk
yang berhasil dilestarikan dalam
pengelolaan hutan Jawa adalah
konfliknya. Ada berbagai macam konflik,
yang paling sering terjadi adalah akibat
pencurian kayu, masalah agraria, dan
tindakan represif dari pengelola hutan.
Konflik paling mendasar adalah persoalan
tenurial. Tepatnya pada pertanyaan
pokok, “Atas hak apa dan mandat siapa
orang-orang ini menguasai hutan yang
sebetulnya bisa kami kelola demi
kesejahteraan kami? Mengapa kami tak
pernah diajak bicara soal pengelolaan
hutan ini?”
Pengelolaan hutan yang memisahkan
warga desa dari hutan selalu mendapatkan
perlawanannya dari petani yang tinggal di
sekitarnya. Perlawanan ini biasanya
berupa—apa yang disebut oleh James C.
Scott sebagai—perlawanan hari demi hari
(day to day resistance). Perlawanan ini
adalah strategi yang dipilih petani untuk
melawan struktur kekuasaan yang masif
dan bersenjata. Bentuk pilihan strateginya,
misalnya, penebangan dan pencurian
kayu, sabotase tanaman, perusakan
tanaman muda, pembibrikan (penggerogotan)
hutan untuk lahan pertanian,
pembakaran hutan, perusakan kantor dan
rumah dinas, atau penggembalaan sapi di
dalam hutan.
Perlawanan gerilya ini cukup merepotkan
perhutani. Dari sembilan kriteria penyebab
kerugian, delapan di antaranya disebabkan
oleh ulah manusia. ‘Gangguan’ ini tidak
pernah surut dan menahun, seolah-olah
menjadi takdir. Ketika ‘gangguan’ ini
melonjak naik 15 kali lipat pada tahun
1998, Perhutani menargetkan untuk
menurunkan tingkat pencurian sampai
mendekati angka tahun-tahun
sebelumnya. Sama sekali tidak pernah
berpikir untuk menanggulangi persoalan
konflik ini dari akarnya dan bercita-cita
untuk membuat gangguan ini turun ke titik
nol. Angka 200 ribu-an pohon yang hilang
dicuri dianggap bukan masalah—atau
semacam takdir yang tak bisa diingkari.
Sama sekali bukan indikasi terhadap
ketidakberesan apapun.
4 intip hutan | maret 2003
Bentuk-bentuk perlawanan seperti tabel
4 di atas sudah ada sejak zaman kolonial
Belanda sebagai bentuk protes kepada
‘penguasa’ hutan. Bahkan sekelompok
blandong (penebang kayu) pernah
menyerbu benteng Belanda di Juwana
(Jawa Tengah) akibat ketidakpuasan
terhadap upah5.
Perlawanan dari masyarakat bukannya
tanpa balas. Perhutani sering bertindak
tidak manusiawi dalam menangani kasus
pencurian kayu. Penembakan warga desa
tak bersenjata6, misalnya, tidak jarang
menimbulkan korban tewas. Kasus paling
hangat adalah penganiayaan atas Wiji
karena kedapatan membawa kayu tanpa
surat yang baru dibelinya dari desa lain.
Wiji yang hanya membawa satu balok
kayu jati dengan sepedanya itu tewas di
rumah sakit setelah mengalami koma
selama empat hari. Pada akhirnya
masyarakat dan Perhutani masuk ke dalam
siklus balas dendam yang tak
berkesudahan. Dan konflik semakin
mengeras.
Namun bentuk perlawanan tanpa
kekerasan juga dikembangkan dalam
bentuk aksi non-kooperatif, misalnya,
dengan menolak semua perintah penguasa
hutan—waktu itu Boschwezen7—
termasuk menolak untuk membayar pajak
kepala dan pajak tanah. Perlawanan pada
awal abad 20 ini dipimpin oleh Samin
Surosentiko yang menjadi pelopor ajaran
saminisme. Ajaran sosialisme tradisional
ini kemudian dikenal secara luas sebagai
ajaran ndableg8. Samin juga
memproklamasikan statutanya, “Tanah,
air, dan kayu adalah milik semua orang.
Tanah, air, dan kayu untuk semua orang.”
Segala bentuk perlawanan ini tidak serta
merta berhenti karena punahnya
kolonialisme dari bumi nusantara,
melainkan semakin mengeras dan
terstruktur dalam lembaga sosial pada
masa pemerintah Orde Baru. Perlawanan
sosial ini kemudian mendapatkan
dorongan besar dari pedagang besar kayu
sehingga lambat laun pencurian kayu
kehilangan gaung keadilannya dan
tereduksi menjadi persoalan ekonomi
biasa. Perlawanan sosial ini kemudian
berubah menjadi perbanditan kapital yang
tergorganisasi dengan baik. Pada mulanya
adalah protes kini menjadi bagian dari
mesin besar kapitalisme yang serakah9.
Mesin Serakah Bernama Illegal
Logging
Kejadiannya bisa sama. Orang desa, tanpa
izin resmi, masuk ke hutan lalu menebang
pohon dan membawanya pulang. Tapi
ketika niatnya berbeda, maka namanya
pun seharusnya berbeda. Kalau
motivasinya memenuhi kebutuhan kayu
untuk rumahnya yang reot, dan yang
ditebang adalah pohon yang ditanam
kakek buyutnya, perbuatan ini disebut
nyamin atau berlaku mengikuti statuta
Samin. Jika yang ditebang adalah pohonpohon
muda dan bekas tebangannya
ditinggalkan begitu saja, ini disebut
kemarahan sosial. Kalau memang sekadar
mencari sejumlah uang, dan biasanya
dihabiskan untuk kebiasaan konsumtif
seperti minuman keras dan berjudi, nah,
ini yang namanya njarah10.
Begitulah kira-kira ‘filsafat’ ngemek
kayu11 yang begitu polos dan lugu. Definisi
yang ambigu—khas Jawa—barangkali
cukup menyulitkan melihat dengan jelas
peristiwa illegal logging itu. Siapa
penjahat, siapa pahlawan. Siapa penjahat
tapi kelihatan seperti pahlawan. Kesulitan
definisi ini yang terutama adalah: siapa
yang bisa mengadili niat?
Terlepas dari itu, kita ketahui bahwa jauh
sebelum meledaknya penjarahan hutan tak
lama sesudah kejatuhan Soeharto pada
Mei 1998, Perhutani secara terus-menerus
dihantui oleh pencurian kayu dan sejumlah
gangguan lainnya. Pada tahun 1999
Perhutani kehilangan 3,1 juta pohon.
Gangguan ini tentunya memukul basis
perekonomian Perhutani. Bagaimana
tidak, pada tahun itu Perhutani kehilangan
1,2 juta meter kubik kayu, lebih dari dua
kali lipat dari panen resmi yang berhasil
dikumpulkan Perhutani (lihat tabel 5
berikut12).
Merugikah Perhutani akibat penjarahan
hutan jati ini? Ternyata tidak. Perusahan
ini selalu mampu membukukan
keuntungan hampir 200 milyard rupiah
pada tahun 1999.
3 Baca catatan kaki nomor 1.
4 Santoso, Herry. 2001. “Sengketa
Pengelolaan Sumber Daya Hutan Jati
Perum Perhutani”. Tesis S-2. Fakultas
Kehutanan UGM. Yogyakarta.
5 Menurut buku Sejarah Kehutanan Indonesia upah
tersebut ternyata dipotong oleh pembesar Jawa,
bukan oleh pihak VOC.
6 Juga oleh kesatuan polisi Brigade Mobil yang
sering ‘disewa’ Perhutani untuk mengamankan
hutan.
7 Boschwezen adalah Jawatan Kehutanan bentukan
pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
8 Ndableg sukar ditemukan padanannya dalam
bahasa Indonesia. Kurang lebih artinya: keras
kepala. Dalam bahasa Inggris padanannya adalah
persistent.
9 Secara umum dapat disebut begitu karena para
pencuri kayu tidak lagi menghormati petani di
sekitarnya. Tidak jarang kayu gelondongan itu
diangkut dengan merusak tanaman pertanian. Di
beberapa tempat bahkan para pencuri kayu itu
juga mencuri buah-buahan dan hasil pertanian
sepanjang perjalanan.
10 Njarah = menjarah.
Tabel 5. Mempertahankan Panen dengan Overcutting
Neraca Sumber Daya Hutan (NSDH) Tegakan Jati tahun 1999
No Uraian
NSDH (m3)
1998 1999
Standing stock awal
Riap (y)
Riap tanaman
Riap tegakan
Jumlah
Tebangan/kerusakan (x)
Tebangan
Pencurian
Kerusakan
Jumlah
Overcutting (x-y)
Standing stock akhir
12
3
45
37.260.806
36.244
1.019.288
1.055.532
402.999
1.119.318
17.345
1.539.662
484.130
35.468.493
35.468.493
45.498
1.002.596
1.048.094
406.040
1.172.758
39.441
1.618.239
570.145
34.263.885
Sumber: Perum Perhutani, 2000
intip hutan | maret 2003 5
Bagaimana mungkin ada sebuah
perusahaan yang kerugiannya meningkat
tajam tetapi pada saat yang sama
keuntungannya juga terus bertambah?
Perusahaan apa yang bisa mengambil
keuntungan dari sebuah kerugian?
Jawabannya dapat dilihat pada tabel
“Mempertahankan Panen dengan
Overcutting”. Keuntungan yang diraih
tidak lain dilakukan dengan memaksakan
target tebangan. Target tebangan
Perhutani yang dihitung berdasarkan tabel
buatan tahun 1912 itu sudah ditetapkan
dan harus dipenuhi, sekalipun itu berarti
harus menebang lebih dari kemampuan
hutan untuk meregenerasi diri.
Keuntungan yang dibukukan oleh
Perhutani hanyalah merupakan
pendapatan dari penjualan produk kayu
jati dikurangi pengeluaran dan kerugian.
Kerugian akibat pencurian tidaklah besar,
hanya 55 milyard rupiah akibat 3,1 juta
batang pohon yang dicuri. Ada tipu
muslihat lagi di sini. Kalau kita perhatikan
lagi, tarif kerugian Perhutani14 hanya
menghargai satu batang pohon rata-rata
sebesar 17.600 rupiah. Dengan
menggunakan tabel tarif, yang bisa
dipastikan kuno ini, angka nominal
kerugian Perhutani bisa diredam.
Tipu muslihat yang paling gawat adalah
bahwa neraca tegakan Perhutani—yaitu
neraca yang menggambarkan penambahan
dan pengurangan volume pohon di
hutan—tidak pernah diikutsertakan dalam
perhitungan rugi-laba perusahaan.
Padahal justru perhitungan ini menjadi
pokok pengelolaan hutan. Tegakan jati di
hutan harus dihitung sebagai asset yang
tidak boleh berkurang, baik dari segi
jumlah, maupun umur rata-ratanya.
Jika pengusahaan hutan dilakukan dengan
fokus keuntungan nominal belaka dan itu
dicapai dengan mengorbankan hutan yang
ada, maka tidak mengherankan jika
struktur hutan jati di Jawa semakin lama
semakin berstruktur muda, ditandai
dengan luasnya hutan berumur belia (KU
I dan II15), sebagaimana bisa dilihat dalam
tabel berikut:
Kesimpulan cepatnya: Perhutani bisa
tetap meraup keuntungan selama
keuntungan itu masih bisa dibiayai oleh
sumber daya hutan dan sumber daya
sosial di sekitarnya.
Rasanya cukup sudah pembicaraan
tentang Perhutani. Hutan Jawa bukan
semata-mata HTI Perhutani. Ada
banyak hutan lainnya di kawasan
lindung dan konservasi yang menyimpan
berbagai spesies dan ekositem khas
Jawa. Sayangnya, hutan non-HTI ini
juga tidak selamat dari penjarahan dan
kerusakan.
Hanya Ada di Jawa16, Kini Tak
Ada Lagi di Jawa
Prasangka ketiga mengenai hutan Jawa
lagi-lagi betul. Tidak banyak spesies khas
yang hidup di hutan Jawa. Kebanyakan
hutan alam tempat satwa hidup dan
berkembang biak kini sudah musnah,
entah akibat pembukaan hutan sejak
zaman purbakala, atau terkena traktor
pembangunan. Sekalipun tidak banyak
jumlahnya, ada beberapa spesies khas
yang hanya dapat ditemukan di Pulau
Jawa, dan tidak di tempat lain di penjuru
dunia manapun. Spesies tersebut,
misalnya saja, Harimau Jawa, Badak
Jawa, Elang Jawa dan pelalar.
Sumber: Buku Statistik Perhutani, 1998
I II III IV V VI VII VIII
Sumber: Perhutani, 1998
1995 1996 1997 1998 1999
Laba Usaha Perhutani (1995-1999)
Milyard rupiah
200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
Distribusi Kelas Umur Tegakan Jati
140
120
100
80
60
40
20
0
ribu hektare

KAJIAN GEOGRAFI DIALEK: BAHASA JAWA DI KABUPATEN BLORA

KAJIAN GEOGRAFI DIALEK: BAHASA JAWA DI KABUPATEN BLORA

Wakit Abdullah dan Sri Lestari Handayani

Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret

Abstract
The research is aimedfor describing the variation of dialectal term of the Javanese in Blora, finding specific texical term of Javanese in Blora (JBlr), and transforming dialectal variation, inorder to know the condition objectivity.
Data suplying of research is reached by determining chosen sampleform the plasposive population. The data collecting is done by recording, indepth interviewing, hearing and writing, literature, and questinary technics. The data analysis use equal methode, distributional method, determination of dialect variation, isolect determination as dialect or subdialect. The result analysis is served by formal and informal technics.
The result of reasearc can be formated as follows: (JBlr) as apart of Javanese language dialect has 130 lexical term in this dialectal variation, 48 on data, (JBlr) and base the areas of JBlr use in north past (Jilan, Jepon, Blora City, Tunjungan, Banjarejo, Ngawen, Kunduran, Todanan District). Besides JBlr can be classified into shaces dialect characteristics base on phonologic, morpologis, and the lexical variation characteristics.


1 PENDAHULUAN
Penutur bahasa Jawa (BJ) tersebar hampir meliputi seluruh pulau Jawa (Nothofer, 1975: 8). Dewasa ini bahkan dijumpai pemakaian BJ di propinsi lain di Indonesia yang ada pemukiman orang Jawanya, misalnya di DKI Jakarta, di daerah transmigrasi Lampung, Sumatra Selatan, bahkan di luar Indonesia, misalnya di Suriname (c.f Sudaryanto (ed.), 1991: 3; Wolfowitz, 1984), dan di New Caledonia (Lockard, 1971). Hal ini menunjukkan bahwa BJ memiliki area pemakaian yang cukup luas dan penutur yang besar jumlahnya. Jumlah penutur BJ di Jawa menurut sensus penduduk tahun 2000 kurang lebih ada 110 juta jiwa. Adapun jumlah itu belum termasuk orang Jawa dan penutur BJ di tempat lain.
Setiap bahasa, termasuk BJ mempunyai keseluruhan sistem yang bersifat khas, mengatur, dan memperlihatkan variasi, baik variasi sosial maupun variasi geografis. Adapun variasi geografis terlihat dalam dialek-dialek. Maka dari itu, terdapat BJ Blora (BJBlr) (termasuk BJ Samin) perlu mendapatkan perhatian
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
dalam bentuk penelitian. Penelitian terhadap BJBlr berdasarkan beberapa pertimbangan seperti berikut ini.
Pertama, secara historis di Blora terdapat masyarakat Samin yang memiliki latar belakang sejarah yang menarik perhatian para ahli. Menurut Hutomo (1985: 4-5) masyarakat Samin terbentuk dari munculnya seorang tokoh bernama asli R. Kohar yang lahir di desa Plosokediren, Randublatung, Blora pada tahun 1859, anak dari R. Surowijoyo (atau Samin Sepuh). Agar lebih merakyat nama R. Kohar diganti menjadi Samin dan setelah menjadi guru kebatinan (dalam masyarakat Jawa pengaruh guru kebatinan atau paranormal amat kuat) nama itu dilengkapi dengan Surosentiko, sehingga menjadi Samin Surosentiko dan bergelar Panembahan Suryongalam. Oleh pengikut Saminisme sering disebut Ki (Kyai) Samin Surosentiko atau Ki (Kyai) Saminsurontiko. Sebagai guru kebatinan Ki Samin menciptakan istilah-istilah khusus yang dapat memperkaya variasi BJ di Blora dan menyebar yang dibawa oleh para pengikutnya.
Kedua, Blora sebagai daerah pemakaian BJBlr terdiri dari tanah kapur yang membentang panjang di pegunungan Kendeng, daerah hutan, pertanian yang tandus. Dengan adanya kondisi demikian itu, dapat mempengaruhi variasi dialektal BJBlr.
Ketiga, secara linguistik ditemukan data BJ Samin yang termasuk BJBlr, antara lain unsur leksikal agama 'ageman, alat kelamin, gaman/senjata', wong-sikep 'bersetubuh'. Data lain dalam BJ Blora (yang menunjukkan semantik kultural Samin) misalnya terdapat unsur leksikal khas urip-rukun 'senggama sebelum nikah', salin-sandhangan 'mati', rukun-kula 'istri atau suami', sumur 'anak perawan', dan mak-yung 'bapak-ibu' dianggap sebagai 'Tuhannya orang Samin'. Padahal dalam BJBlr juga ada bentuk urip rukun 'hidup rukun', mati 'mati', bojo, mbok wedok, bapake bocah 'istri-suami', sumur 'sumur', dan pangeran 'Tuhan', tetapi secara formal dan semantik unsur leksikal tersebut berbeda dengan BJSa. Secara morfologis dalam BJBlr (termasuk dialek Samin) ditemukan data empiris seperti sawahem 'sawahmu', turunem 'anakmu', sapiem 'lembumu' yang dalam BJB dilafalkan sawahmu 'sawahmu', turunmu 'anakmu', dan sapimu 'sapimu'. Ditemukan pula data putEh 'putih', malEh 'malih', winEh 'biji', isEh 'masih' dalam BJBlr (termasuk BJSa) yang dalam BJ lainnya ditemukan putIh 'putih', malIh 'malih', winIh 'biji', dan isIh 'masih'. Dominasi [E] pada posisi ultima unsur
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
leksikal tersebut mendukung dialek "lEh" seperti piye lEh 'bagaimana ta', sing gedhe lEh 'yang besar ta', panEn lEh 'panen ta', sebagai fenomena kebahasaan BJBlr (termasuk BJSa).
Keempat, secara ilmiah kajian tentang BJBlr dalam bidang linguistik, khususnya geografi dialek belum dilakukan. Adapun informasi yang dapat dijangkau terhadap kajian tentang BJBlr (khusus BJSa) antara lain ditemukan Puger Widodo (1992) dengan karyanya yang berjudul Beberapa Ciri Bahasa Jawa di Kabupaten Blora (Studi Awal Perbandingan dengan Bahasa Jawa Baku); Wakit (2000) dengan tulisannya berjudul Sekilas Perbandingan Dialek Samin di Kabupaten Blora dengan Dialek Surakarta, dan yang lain berkaitan dengan masalah sastra, sejarah, dan antropologi. Karya ilmiah yang dimaksud misalnya Sejarah dan Adat-istiadat Samin Daerah Kabupaten Blora (Prawoto, 1972), dan Gerakan Samin di Blora Akhir Abad 19 dan Awal Abad 20 (Sutriningsih, 1995). Hasil penelitian yang lain, terutama yang berkaitan dengan BJ di Blora belum ditemukan.
Berdasarkan alasan tersebut, BJBlr (termasuk BJSa) secara linguistik belum pernah dibahas tentang geografi dialeknya.
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas yaitu, (1) unsur kebahasaan apa yang menandai adanya variasi dialektal dalam BJBlr, (2) apabila terdapat variasi dialektal, unsur-unsur kebahasaan mana yang merupakan kekhasan dialek BJBlr, dan (3) variasi dialektal yang merupakan unsur kebahasaan khas maupun pengaruh dari daerah lain dalam BJBlr tersebut secara konkrit dan objektif dapat ditempuh dengan pemetaan konsep berian leksikal yang diperoleh. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dan memecahkan permasalahan tersebut. Manfaat penelitian ini dapat menjelaskan kondisi objektif BJBlr dalam peta BJ pada umumnya secara representatif dan komprehensif, terutama dari perspektif kajian sinkronis.
Pustaka yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu pustaka yang berhubungan dengan konsep teoritis. Secara teoritis karya-karya yang diacu dalam penelitian ini meliputi karya-karya berikut ini. Uhlenbeck (1972:75) dalam The Langue of Java and Madura menyatakan bahwa bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi empat dialek dan beberapa subdialek. Dialek yang
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
dimaksud meliputi dialek Surakarta, Banyumas, Pesisir, dan Jawa Timur. Subdialek yang dimaksud meliputi Purwakerta, Kebumen, Pemalang, Banten Utara, Tegal, Semarang, Rembang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Madiun, dan Banyuwangi. Dalam hal ini BJBlr (termasuk BJSa) belum teridentifikasi secara objektif.
Untuk memperjelas maksud kajian dialek atau subdialek itu, Grijns (1976:1) menyatakan bahwa dialek itu merupakan ilmu yang berusaha memerikan variasi pola linguistik baik secara ditopik (horizontal) yang mencakup variasi geografis, maupun variasi secara sintopik (vertikal) yang menyangkut variasi di suatu tempat. Lebih lanjut dinyatakan bahwa perubahan bahasa dapat disebabkan oleh faktor intralinguistik (faktor di dalam bahasa sendiri) dan faktor ekstralinguistik (faktor di luar bahasa yang meliputi faktor geografis, budaya, aktivitas ekonomi, politik, mobilitas sosial, kelas sosial, sifat masyarakat pendukung, persaingan prestise, migrasi, dan waktu kontak bahasa).
Untuk mengetahui bahasa tertentu berkarakteristik sebagai dialek atau subdialek dapat dicermati unsur fonetis, fonemis, morfologis, sintaksis, leksikon, dan semantiknya (c.f. Nothofer, 1993; Fernandez, 1993; Mahsun, 1995). Hal itu tercermin dalam peta dialek yang digunakan untuk pengelompokan isolek atas dialek atau subdialek dan penentuan batas-batas isolek. Dalam hal ini Guiter (1973:96) mengajukan metode dialektometri untuk mengatasi permasalahan itu. Berdasarkan uraian tersebut maka ada dua pendekatan dalam pengelompokan isolek yang diteliti, yaitu berkas isoglos sebagai pendekatan kualitatif dan metode dialektometri sebagai pendekatan kuantitatif.
Berkaitan dengan pemetaan bahasa, Lauder (1991:5) secara teknis menyebutkan bahwa pemetaan bahasa dimulai dari pembentukan peta bahasa dasar dengan kriteria sederhana, jelas, memasukkan ciri-ciri geografis yang dianggap mungkin menjadi batas bahasa, dan harus menyertakan skala dan mata angin, pemilahan data berdasarkan kelompok etimonnya, pemindahan data lapangan ke dalam peta dengan teknik tertentu (teknik langsung, teknik lambang, teknik petak langsung, petak garis, dan petak warna).
Berkaitan dengan BJBlr, Ayatrohaedi (1985:221-242) menyebutkan bahwa daerah pemakaian bahasa Cirebon (Cirebon dianggap sebagai pusat budaya dan bahasa) dipilahkan menjadi daerah pengaruh bahasa Jawa-Cirebon
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
dan bahasa Jawa, daerah pengaruh bahasa Sunda Lulugu, daerah pakai kosa kata bahasa Sunda-Cirebon, dan daerah pengaruh bahasa lain. Hal ini dapat medomani untuk mengidentifikasi BJSa.
2 METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan ini merupakan deskripsi geografi dialek. Langkah-langkah yang ditempuh dalam pelaksanaannya sebagai berikut.
Menentukan populasi dan sampel. Populasi penelitian ini adalah penutur BJBlr. Menurut Subroto (1992:32) sampel adalah sebagian dari populasi yang dijadikan obyek penelitian langsung. Oleh karena itu, sampel di sini adalah sebagian masyarakat Blora sebagai informan terpilih, daftar pertanyaan dengan tuturan yang dipilih sesuai dengan kebutuhan penelitian, titik pengamatan (TP) yang dituju.
Data penelitian ini berupa data kebahasaan bahasa Jawa dialek Blora (BJBlr) dengan segala konteks geografis kebahasaan yang berwujud segi-segi yang diteliti. Data diperoleh dari penutur asli BJBlr (data primer), di samping diperoleh dari sumber tertulis yang berupa majalah, surat kabar, buku bacaan, artikel, dan sebagainya (data sekunder).
Pengumpulan data penelitian ini menggunakan (1) teknik rekam, (2) teknik kerja sama dengan informan, dengan teknik wawancara mendalam (indepth interviewing); (3) teknik simak dan teknik catat, (4) teknik pustaka, yaitu menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data; dan (5) teknik kuesioner (Subroto, 1992:35-44).
Berbagai teknik digunakan untuk mendapatkan validitas data dengan teknik triangulasi (triangulation), baik triangulasi data (data triangulation) atau metode triangulasi (methodological triangulation) (c.f. Subroto, 1992:35; Sutopo, 1987:15). Alat pengambil data meliputi tape recorder untuk data lisan, kartu data untuk data tulis, dan daftar pertanyaan guna mengadakan wawancara mendalam (indepth interviewing).
Analisis data menggunakan metode padan, menurut Subroto disebut metode identitas (Subroto, 1992:35; Sudaryanto, 1985:2) adalah metode yang dipakai untuk mengkaji atau menentukan identitas satuan diagonal dengan memakai alat penentu yang berada di luar bahasa, terlepas dari bahasa yang
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
bersangkutan. Alat penentunya adalah segala sesuatu yang ditunjuk bahasa (referent), alat ucap pembentuk bunyi bahasa (tulisan), bahasa lain dan lawan bicara (Sudaryanto, 1985:2) untuk kebutuhan penelitian.
Metode distribusional pada dasarnya didasarkan atas perilaku atau tingkah laku satuan-satuan lingual tertentu yang teramati dalam hubungannya dengan satuan lingual lainnya (Subroto, 1992:64). Kemudian teknik lanjutannya dapat berupa (1) teknik urai unsur langsung, (2) teknik urai unsur terkecil, (3) teknik oposisi pasangan minimal dan teknik oposisi dua-dua (binary opposition), (4) teknik penggantian (substitusi), (5) teknik perluasan (ekspansi), baik ke kanan maupun ke kiri, (6) teknik pelesapan (delisi), (7) teknik penyisipan (interupsi), (8) teknik pembalikan urutan (permutasi), dan (9) teknik parafrase (bandingkan Sudaryanto, 1985).
Penentuan variasi dialek ini bersifat sinkronis, maka analisis datanya berupa analisis satuan lingual yang pada hakekatnya sama dengan penentuan aspek-aspek satuan lingual itu (Sudaryanto, 1991:2). Penentuan variasi dialektal ini menggunakan metode padan dan metode agih (Sudaryanto, 1991:13-14; Subroto, 1992:55). Metode padan untuk menganalisis persamaan dan perbedaan unsur dialektal. Tekniknya berupa hubung banding mempersamakan (HBS) dan hubung banding memperbedakan (HBB).
Untuk menentukan isolek sebagai dialek atau subdialek menggunakan metode dialektometri. Metode ini menggunakan rumus perhitungan segi tiga antar daerah pengamatan dan permutasi antardaerah pengamatan. Rumusnya sebagai berikut:
Sx100 = d %
n
S = jumlah beda dengan pengamatan daerah lain
n = jumlah peta yang diperbandingkan
d = jarak kosa kata dalam persentase
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
Persentase jarak unsur-unsur kebahasaan di antara daerah pengamatan itu, selanjutnya digunakan untuk menentukan hubungan antar daerah pengamatan yang ada dengan kriteria sebagai berikut.
80% ke atas = dianggap perbedaan bahasa
51% - 80% = dianggap perbedaan dialek
31% - 50% = dianggap perbedaan subdialek
21% - 30% = dianggap perbedaan wicara
di bawah 20% = dianggap tidak ada perbedaan
(Guiter, 1973 dalam Ayatrohaedi, 1983:32)
Hasil analisis data penelitian ini disajikan secara deskriptif, yang berupa kaidah-kaidah dapat disajikan meliputi dua cara, yaitu (1) perumusan dengan kata-kata biasa (metode informal), dan (2) perumusan dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang-lambang (metode formal). Penggunaan kata-kata atau lambang-lambang merupakan teknik dari penyajian hasil analisis tersebut (Sudaryanto, 1993:145).
3 HASIL TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Variasi fonemis dalam BJBlr meliputi hal-hal yang berkaitan dengan fonem vokal BJBlr, fonem konsonan BJBlr, fonotaktik BJBlr dan variasi fonemis dalam BJBlr.
Fonem vokal dalam BJBlr tercermin dalam rincian data yang dipasangminimalkan seperti di bawah ini.
/ a / [malEh] 'berubah' X [milEh] 'memilih',
/ i / [ida?] 'injak' X [oda?] 'tidak'
/ u / [tuku] 'membeli' X [teku] 'watak'
/ e / [kewan] 'hewan' X [kiwan] 'tempat air dari gentong'
/ O / [mbOh] 'tidak tahu' X [imbOh] 'tambah'
/ o / [uwOh] 'buah' X [uwUh] 'sampah
/ U / [ambyUr] 'mencebur' X [ambyar] 'mawut, berceceran'
/ I / [dhuwI?] 'uang' X [dhuwa?] 'luka menganga'
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
Berdasarkan pasangan minimal unsur kebahasaan tersebut dapat ditemukan fonem vokal BJBlr meliputi fonem vokal /a/ , /i/ , /u/ , /e/ , /E/ , /O/ , /U/ , dan /I/.
Berdasarkan unsur kebahasaan yang ditemukan di lapangan fonem konsonan dalam BJBlr dapat dideskripsikan seperti di bawah ini.
/ b / [OpO] 'apa' X [ObO] 'aba-aba'
/ c / [ape] 'akan' X [ace] 'rambutan'
/ dh / [aD|m] 'dingin' X [ap|m] 'nama makanan'
/ d / [adaG] 'menanak nasi' X [ajaG] 'piring, kesempatan'
/ g / [age] 'segera' X [ape] 'akan'
/ h / [hOwO] 'udara, emosi' X [mOwO] 'bara api'
/ j / [jOwO] 'mengetahui' X [gOwO] 'bawa'
/ k / [k|TIl] 'ambil, petik' X [c|TIl] 'pelit'
/ l / [larI?] 'larik' X [barI?] 'tampan'
/ m / [miyu?] 'mudah roboh' X [ciyu?] 'sempit'
/ n / [nE?] 'jika' X [ngE?] 'beri'
/ ng / [aGOp] 'sendawa' X [atOp] 'banyak daunnya'
/ p / [s|pi] 'sepi' X [s|thi] 'pasti'
/ r / [papIr] 'kertas rokok X [papIn] 'ingin, kangen'
/ s / [suru] 'sendok daun' X [luru] 'mencari'
/ t / [ritEh] 'masa bodoh' X [risEh] 'gelisah'
/ th / [baTaG] 'bangkai' X [bawaG] 'bawang putih'
/ w / [awu] 'abu' X [ayu] 'cantik'
/ y / [uy|k] 'koyak' X [ut|k] 'otak'
Fonem konsonan yang terdapat dalam BJBlr melipun /b/ , /c/ , /d/ , /dh/ , /g/ , /h/ , /j/ , /k/ , /l/ , /m/ , /n/ny/ng/ , /p/ , /r/ , /s/ , /t/ , /th/ , /w/ , dan /y/.
Fonotaktik dalam BJBlr tercermin dalam unsur lingual berikut ini yang meliputi unsur leksikal yang terdiri dari (1) satu suku, misalnya ngen [GEn] [KVK] 'biar', Yen [yEn] [KVK] 'jika', leh [lEh] [KVK] 'partikel penekan', (2) dua suku, misalnya aku [a-ku] [V-KV] 'saya', awu [a-wu] [V-KV] 'abu', siji [si-ji] [KV-KV] 'satu', (3) tiga suku, misalnya sedulur [s|dulUr] [KV-KV-KVK]
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
'saudara', supaya [supOyO] [KV-KV-KV] 'agar', semana [s|mOnO] [KV-KV-KV] 'segitu, sejumlah itu'.
Variasi morfologis yang ditemukan dalam BJBlr meliputi unsur lingual seperti (1) variasi pronomina kedua, misalnya bapakmu [bapa?mu] 'bapakmu' dengan bapakem [bapa?|m] 'bapakmu'; (2) variasi pronomina ketiga, misalnya dheke [DE?e] 'dia' dengan dheweke [DEwE?e] 'dia'; (3) variasi sufiks (imperatif), misalnya jupukna [jupU?nO] 'ambilkan' dengan jupuken [jupu?|n] 'ambilkan'.
Variasi leksikal yang terdapat dalam BJBlr tercermin dalam deskripsi unsur leksikal BJBlr berikut ini.
No.
UNSUR LEKSIKAL
TITIK PENGAMATAN
GLOS
1.
Ape [ape]
Arep [ar|p], Nyang [¥aG]
2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 6, 7
Akan
2.
Amrat [amrat]
Awrat [awrat]
Abot [abOt]
5, 6, 7
2, 3, 4, 5
Berat
3.
Antem [ant|m]
Sawat [sawat]
Balang [balaG]
Bandhem [banD|m]
1, 6, 7
5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Melempar
4.
Bapakem [bapa?|m]
Bapakmu [bapa?mu]
Makmu [ma?mu]
2, 3, 4, 5, 7
3, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Bapakmu
5.
Bento [bEnto]
Bento [b|nto]
Gendheng [g|nD|G]
Edan [edan]
2, 7
3
2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4, 6
Gila, bodoh
6.
Lombok [lOmbO?]
Cingeh [ciGEh]
Cengeh [cEGEh]
1, 2, 3, 4
1, 2, 6, 7
1, 2, 3, 6, 7
Lombok
7.
Erek [|r|k]
Edhek [|D|k]
Cerak [c|ra?]
Cedhak [c|Da?]
5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 5, 6
1, 5
Dekat
8.
Gothek [goTE?]
Gethek [gETE?]
Genter [gEntEr]
4, 7
2, 3, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Galah
9.
Ijik [ijI?]
Ijuk [ijU?]
Wisoh [wisOh]
2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3
1, 3, 4, 5, 6, 7
Cuci kaki / tangan
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
10.
Njongok [njOGO?]
Lunggoh [luGgOh]
Linggeh [liGgEh]
1, 3, 6, 7
1, 3, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Duduk
11.
Kethil [k|TIl]
Jupuk [jupU?]
Njupuk [njupU?]
2, 5, 6, 7
4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Memetik
12.
Engkir [|GkIr]
Angkat [aGkat]
4, 5, 6, 7
4, 5, 6, 7
Mengambil
13.
Pethik [p|tI?]
Pukul [pukUl]
Palu [palu]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Palu
14.
Wowo [wOwO]
Mowo [mOwO]
Tumper [tump|r]
1, 6, 7
4, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Bara api
15.
Teles [t|l|s]
Klepeh [kl|pEh]
Kembroh [k|mbrOh]
1, 6, 7
4, 5
2, 4, 5, 6, 7
Basah
16.
Mileh [milEh]
Milih [milIh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5, 6
Memilih
17.
Idak [ida?]
Idek [id|k]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 3, 4
Menginjak
18.
Tiru [tiru]
Melu-melu [mElu-mElu]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 3, 5, 7
Meniru
19.
Kiwan [kiwan]
Sumur [sumUr]
Genthong [g|nTOG]
2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tempat air/gentong
20.
Imbuh [imbUh]
Imboh [imbOh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tambah
21.
Rina [rinO]
Awan [awan]
2, 3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Siang
22.
Alus [alUs]
Alon [alOn]
3, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Halus / pelan
23.
Muleh [mulEh]
Balik [balI?]
1, 3, 4, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Pulang
24.
Curak [cura?]
Curek [cur|k]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Kotoran telinga
25.
Luru [luru]
Golek [golE?]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 4, 5, 6
Mencari
26.
Lunga [luGO]
Minggat [miGgat]
2, 4, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Pergi
27.
Kere [kere]
Gembel [gEmbEl]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Gelandangan
28.
Kewan [kewan]
Raja kaya [rOjOkOyO]
2, 3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Hewan/binatang
29.
Deleng [d|l|G]
Delok [d|lO?]
2, 4, 6, 7
2, 3, 4, 6, 7
Melihat
30.
Epe [|pe]
Pepe [pepe]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4, 5, 6
Jemur
31.
Emboh [|mbOh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tidak tahu
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
Embuh [|mbUh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
32.
Elah [|lah]
Lah [lah]
2, 3, 4, 5
1, 3, 4, 5, 7
Terserah
33.
Odhak [oDa?]
Orak [ora?]
Ora [ora]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tidak
34.
Malih [malIh]
Maleh [malEh]
3, 4, 5, 6
3, 5, 6, 7
Berubah
35.
Turu [turu]
Micek [mic|k]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5, 6, 7
Tidur
36.
Embuh [|mbUh]
Emboh [|mbOh]
1, 2, 3
4, 5, 6
Tidak tahu
37.
Rana [rOnO]
Mrana [mrOnO]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Ke sana
38.
Mileh [milEh]
Milih [milIh]
3, 4, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Memilih
39.
Cerak [c|ra?]
Cedhak [c|Da?]
Cedhek [c|D|k]
4, 5, 6, 7
3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Dekat
40.
Lenga [l|GO]
Patra [pOtrO]
Lisah [lisah]
3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4
Minyak
41.
Karo [karo]
Ambek [ambE?]
Ambi [ambi]
5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Dengan
42.
Sata [sOtO]
Kaya [kOyO]
4, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Seperti
43.
Madhang [maDaG]
Mangan [maGan]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Makan
44.
Olah [olah]
Adang [adaG]
2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Masak
45.
Amer [am|r]
Palu [palu]
4, 5, 6
3, 4, 5, 6
Palu
46.
Amor [amOr]
Wor-woran [wOr-wOran]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4, 5
Bergaul
47.
Ruh [rUh]
Roh [rOh]
Weruh [w|rUh]
Weroh [w|rOh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4, 5
4, 5, 6
Mengerti
48.
Rah [rah]
Erah [|rah]
Ngerah [G|rah]
Menek [mEnE?]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Mengambil
49.
Uwoh [uwOh]
Uwuh [uwUh]
Larahan [larahan]
3, 4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Berbuah
50.
Ambyur [ambyUr]
Njegur [nj|gUr]
Nglangi [GlaGi]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 6, 7
3
Mencebur
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
51.
Ambyar [ambyar]
Mawut [mawUt]
Mbececer [mb|cEcEr]
Semebar [s|m|bar]
4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3
4, 5
Berceceran
52.
Apan [apan]
Suk apan [sU?apan]
Suk kapan [sU?kapan]
3, 5, 7
1, 4, 7
3, 6
Kapan
53.
Sepi [s|pi]
Tintrim [tintrim]
Singup [siGup]
2, 4, 5
2, 4, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Sepi
54.
Papir [papIr]
Sek [sEk]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3
Kertas rokok
55.
Ipeng [ip|G]
Bruk [brUk]
Jembatan [j|mbatan]
2, 5
3, 4, 5, 6
1, 2, 7
Jembatan
56.
Lebu [l|bu]
Awu [awu]
1, 3, 5, 6
2, 4, 5, 6, 7
Abu
57.
Aboh [abOh]
Abuh [abUh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4
Bengkak
58.
Barik [barI?]
Bagus [bagUs]
Gantheng [ganT|G]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5, 6
Tampan
59.
Bajang [bajaG]
Pentil [p|ntIl]
1, 3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Buah mangga yang muda
60.
Ting [tIG]
Senthir [s|ntIr]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
3, 4, 6
Lentera
61.
Riteh [ritEh]
Ndlalo [ndlalo]
Ora rumangsa [ora rumOGsO]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 3, 5
Masa bodoh
62.
Atob [atOb]
iyub [iyUb]
idhum [iDum]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 4, 5
2, 4
Rimbun
63.
aba [ObO]
kandha [kOnDO]
1, 2, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Berpesan
64.
awan [awan]
bedhuk [b|DUk]
jam rolas [jamrolas]
4, 6
2, 3, 5, 7
1, 4, 6
Siang
65.
sethi [s|Ti]
mesthi [m|sTi]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4, 5, 6
Pasti
66.
adhem [aD|m]
atis [atIs]
1, 3, 4, 7
2, 3, 4, 5, 6
Dingin
67.
kapir [kapIr]
wong londo [wOGlOndO]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Kafir
68.
age [age]
ndang [ndaG]
cepet [c|p|t]
4, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3
Segera
69.
aran [aran]
jeneng [j|n|G]
3, 4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Nama
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
jengen [j|G|n]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
70.
awOh [awOh]
woh [wOh]
1, 2, 3, 4
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Buah
71.
lengu [l|Gu]
langu [laGu]
wengur [w|Gur]
2, 3, 4
2, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Langu
72.
lesu [l|su]
luwe [luwe]
ngeleh [G|lEh]
3, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3
Lapar
73.
riseh [risEh]
susah [susah]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Gelisah
74.
angop [aGOp]
antob [antOb]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Bersendawa
75.
tawa [tOwO]
wantah [wantah]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 5
Air tawar
76.
kadi [kadi]
kaya [kOyO]
persis [p|rsis]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 4
Seperti
77.
gocekan [gocE?an]
gandhulan [ganDulan]
2, 3
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Pegangan
78.
jinglong [jiGlOG]
jengklong [jIGklOG]
1, 4
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Nyamuk
79.
cong [cOG]
econg [|cOG]
curne [cUrne]
6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5
Tuang / menuang
80.
ciuk [ciU?]
ciut [ciUt]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 5
Sempit
81.
kethil [k|TIl]
pethil [p|TIl]
4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Memetik
82.
rikeh [rikEh]
ringkeh [riGkEh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 7
Lemah
83.
legu [l|gu]
lega [l|gO]
5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Puas
84
geh [gEh]
jeh [jEh]
ijeh [ijEh]
iseh [isEh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
3, 4, 7
1, 2, 5, 6, 7
Masih
85.
ogak [oga?]
igal-igul [igal-igul]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 4, 5, 7
Bergerak-gerak
86.
ongak [oGa?]
inguk [iGU?]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
4, 7
Menengok
87.
kari [kari]
keri [kEri]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tertinggal
88.
gosek [gosE?]
gosok [gOsO?]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Menggosok
89.
miyuk [miyU?]
miyur [miyur]
1, 2, 3, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Lemas, lemah
90.
rireh [rirEh]
2, 4, 7
Pelan
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
ririh [rirIh]
lireh [lirEh]
lirih [lirIh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 7
91.
neh [nEh]
meneh [m|nEh]
5, 6, 7
1, 2, 3, 4
Lagi
92.
sugoh [sugOh]
suguh [sugUh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Jamuan
93.
antem [ant|m]
bandhem [banD|m]
balang [balaG]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Lempar
94.
papin [papIn]
pengin [peGIn]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 6
Ingin, kangen
95.
unyik [u¥I?]
ragil [ragIl]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Ragil, buncit
96.
ngek [GE?]
weweh [wEwEh]
1, 2, 3, 5, 7
3, 5, 6
Beri
97.
ngawang [GawaG]
ngrambyang [GrambyaG]
ngalamun [GalamUn]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Melayang-layang
98.
uthik [uTI?]
cuthik [cuTI?]
6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Galah kecil
99.
dhenger [D|G|r]
krungu [kruGu]
ngerti [G|rti]
1, 2, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 5, 7
Mendengar
100.
ngenger [GEGEr]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
101.
ngabdi [Gabdi]
3, 7
Mengabdi
102.
lenger [l|G|r]
leyeh-leyeh [lEyEh-lEyEh]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
3, 6, 7
Santai, istirahat
103.
ewet [EwEt]
ebyek [EbyEk]
1, 3, 4, 6
2, 5, 7
Sibuk
104.
growok [grOwO?]
growong [grOwOG]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 4, 5, 6
Lorong kecil/besar
105.
dhedher [D|D|r]
tandur [tandUr]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Menanam bibit
106.
gothek [goTE?]
gethek [gETE?]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Galah
107.
enen [|nEn]
panen [panEn]
1, 2, 3, 4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Memetik padi /buah
108.
medhak [m|Da?]
alon [alOn]
2, 4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Pelan-pelan
109.
dhuwik [DuwI?]
dhuwit [DuwIt]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Uang
110.
ngen [GEn]
ben [bEn]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5
Biar
111.
angob [aGOb]
ngiub [GiyUb]
1, 2, 3, 7
4, 5, 6
Berteduh
112.
ijik [ijI?]
wijik [wijI?]
2, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Cuci kaki / tangan
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
113.
mantu [mantu]
adang akeh [adaG akEh]
3, 6, 7
1, 3, 5, 6, 7
Punya kerja
114.
mati [mati]
matek [matE?]
salin sandhangan [salIn sanDaGan]
wong tuwo [wOG tuwO]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Meninggal
Orang tua
115.
gusti Allah kang katon [gUsti Allah kaG katOn]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
116.
rabi/laki [rabi/laki]
urip-rukun [urIp-rukUn]
1, 2, 3, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
nikah/kawin
117.
jagung [jagUG]
gandum [gandUm] (krama)
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Jagung
118.
mongso rendheng [mOGsO r|nD|G]
laboh [labOh]
4, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Musim hujan
119.
mongso ketigo [mOGsO k|tigO]
tigo [tigO]
mongso terang [mOGsO t|raG]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Musim kemarau
120.
siji [siji]
sitok [sitO?]
3, 5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Satu
121.
sebau [s|bau]
sekulen [s|ekulEn]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tanah sebau
122.
selapan [s|lapan]
telung puluh lima dina [t|lUG pulUh limO dinO]
2, 4, 5, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Tiga puluh lima hari
123.
limang dina [limaG dinO]
sepasar [s|pasar]
3, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Lima hari
124.
wolung tahun [wOlUG tahUn]
sewindu [s|windu]
setaun [s|taUn]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Delapan tahun
125.
pendhak pisan [p|nDa? pisan]
geblage [g|blakge]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
2, 3, 5, 6
Satu tahun
126.
matine [matine]
jenate [j|nate]
5, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Meninggalnya
127.
selirang [s|liraG]
seliring [s|lirIG]
2, 3, 4, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Satu lirang
128.
wong-samin [wOG-samIn]
wong-sikep [wOG-sik|p]
wong-dam [wOG-dam]
4, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Orang samin
129.
samin-sangkak [samIn-saGka?]
samin-sangkal [samIn-saGkal]
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Orang samin yang ketat tradisinya
130.
samin-lugu [samIn-lugu]
samin-biyasa [samIn-biyasa]
3, 7
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Orang samin yang ketat tradisinya
Orang samin seperti orang biasa
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
131.
sadhukan [saDu?an]
bal-balan [bal-balan]
1, 4, 6
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Sepak bola
Secara riel variasi leksikal tersebut dapat dikonkritkan dengan peta titik pengamatan yang merupakan lokasi unsur leksikal tersebut ditemukan.
Unsur leksikal khas yang terdapat dalam BJBlr dapat dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri yang menunjukkan perbedaan dengan bahasa Jawa standar, bahasa Jawa daerah lainnya, dan maknanya secara kultural khusus dipahami oleh masyarakat setempat. Misalnya unsur leksikal salin-sandhangan 'mati', buku-teles 'ajaran lisan', buku-garing 'ajaran tertulis', dan lainnya hanya dipahami oleh masyarakat Samin di Blora.
No.
Unsur Leksikal Khas BJBlr
Bahasa Jawa Standar
Glos
1.
Anjar [anjOr]
Medhun [m|DUn]
Turun
2.
Antem [ant|m]
Balang [balaG]
Lempar
3.
Bento [bEnto]
Edan [edan]
Gila
4.
Ciyuk [ciyU?]
Ciyut [ciyUt]
Sempit
5.
Dhenger [D|G|r]
Mudheng [muD|G]
Mengerti
6.
Gandum [gandUm]
(krama)
Jagung [jagUG]
Jagung
7.
Ilun [ilun]
Alon [alOn]
Pelan
8.
Kampak [kampa?]
Begal [begal]
Perampok
9.
Njongok [njOGO?]
Lungguh [luGgUh]
Duduk
10.
Gothek [goTE?]
Genter [gEntEr]
Galah
11.
Luru [luru]
Golek [gOlE?]
Mencari
12.
Kethil [k|TIl]
Methil [m|TIl]
Memetik
13.
Klepeh [kl|pEh]
Teles [t|l|s]
Basah
14.
Barik [barI?]
Gantheng [ganT|G]
Tampan
15.
Ipeng [ip|G]
Bruk [brUk]
Jembatan
16.
Penter [p|ntEr]
Pepe [pepe]
Jemur
17.
Engkir [|GkIr]
Angkat [aGkat]
Angkat
18.
Cengeh [cEGEh]
Lombok [lOmbO?]
Lombok
19.
Sadhukan [saDu?an]
Bal-balan [bal-balan]
Sepak bola
20.
Ngopyok [GOpyO?]
Masuh [masUh]
Mencuci
21.
Wong-Samin [wOG-samIn]
Wong-Samin [wOG-samIn]
Penganut Samin
22.
Wong-Dam [wOG-Dam]
Wong-Samin [wOG-samIn]
Penganut Agama Adam / Agama orang Samin
23.
Wong-Sikep [wOG-sik|p]
(wong-isine wis jangkep
Wong-Samin [wOG-samIn]
Orang yang sempurna / penganut Samin
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
‘sempurna’)
Samin-sangkak [samIn-saGka?]
Orang Samin yang masih memegang tradisinya secara ketat
24.
Samin-sangkal [samIn-saGkal]
-
25.
Samin-lugu [samIn-lugu]
-
Orang Samin yang seperti orang Jawa umumnya
26.
Adang-akeh [adaG-akEh]
mantu [mantu]
Punya hajat menantu
27.
Urip-rukun [urIp-rukUn]
rabi [rabi]
Menikah
28.
Buku-teles [buku-t|l|s]
-
Ajaran lisan Samin
29.
Buku-garing [buku-garIG]
-
Ajaran tertulis Samin
30.
Aran [aran]
jeneng [j|n|G]
Nama
31.
Jengen [j|G|n]
jeneng [j|n|G]
Nama
32.
Medhak [m|Da?]
alon [alOn]
Pelan
33.
Ewet [EwEt]
repot [repOt]
Sibuk
34.
Lenger [l|G|r]
leren [lErEn]
Istirahat
35.
Dhenger [D|G|r]
ngerti [G|rti]
Mengerti
36.
Ngek [GE?]
menehi [mEnEhi]
Memberi
37.
Rikeh [rikEh]
ringkih [riGkIh]
Lemah
38.
Geh [gEh]
isih [isIh]
Masih
39.
Lesu [l|su]
luwe [luwe]
Lapar
40.
Amrat [amrat]
abot [abOt]
Berat
41.
Jengen [j|G|n]
jeneng [j|n|G]
Nama
42.
Atob [atOb]
iyub [iyUb]
Rindang/rimbun
43.
Riteh [ritEh]
ndableg [ndabl|g]
Masa bodoh
44.
Papir [papIr]
sek [sEk]
Kertas rokok
45.
Micek [mic|k]
turu [turu]
Tidur
46.
Kiwan [kiwan]
ember [EmbEr]
Tempat air
47.
Erek [Er|k]
cedhak [c|Da?]
Dekat
48.
Bapakem [bapa?|m] (sufiks)
bapakmu [bapa?mu]
Bapakmu
Berdasarkan perolehan data lapangan yang tercermin pada masing-masing titik pengamatan (TP), akhirnya dapat diperoleh peta dialektometri. Adapun berdasarkan perhitungan dialektometri dapat diketahui bahwa persentase beda antar titik pengamatan (TP) BJBlr dapat dijelaskan seperti berikut ini.
No.
TITIK PENGAMATAN (TP)
PERSENTASE
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1 -- 5
1 -- 5
1 -- 7
2 -- 3
2 -- 4
2 -- 5
3 -- 4
32 %
34 %
33 %
37 %
41 %
40 %
36 %
Wakit Abdullah & Sri Lestari Handayani
8.
9.
10.
11.
4 -- 5
4 -- 6
5 -- 6
5 -- 7
38 %
36 %
39 %
35 %
Peta geografi dialek secara konkrit tercermin dalam peta berikut ini.
1. Kec. Jati & Randublatung
2. Kec. Kradenan & Kedungtuban
3. Kec. Cepu & Sambong
4. Kec. Jiken & Jepon
5. Kec. Kota Blora & Tunjungan
6. Kec. Banjarejo & Ngawen
7. Kec. Kunduran & Todunan
4 SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap BJBlr akhirnya dapat disimpulkan sebagai berikut, yaitu (1) berdasarkan data yang diperoleh dapat ditemukan 130 buah variasi leksikal dalam BJBlr, (2) dari temuan unsur leksikal BJBlr tersebut ditemukan 48 buah unsur leksikal khas BJBlr dan (3) dalam BJBlr dapat dibedakan menjadi subdialek dan perbedaan wicara yang menunjuk pada BJBlr bagian utara dan selatan.
Penelitian ini telah menyelesaikan kajian BJBlr secara sinkronis, maka kajian secara diakronis terhadap BJBlr perlu dilakukan untuk mencermati BJBlr
Linguistika Jawa Tahun ke 2, No. 2, Agustus 2006
dari unsur reliknya (kuna) termasuk persoalan lainnya (sosiolinguistik, etnolinguistik dsb.).
DAFTAR PUSTAKA
Ayatrohaedi, 1983, Dialektologi Sebuah Pengantar, Jakarta: P3B Depdikbud.
Ayatrohaedi, 1985, Bahasa Sunda di Daerah Cirebon, Jakarta: PN. Balai Pustaka.
D. Edi Subroto, 1992, Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural, Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Fernandez, I.Y., 1993, "Bahan Kuliah Dialektologi", Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Grijns, 1976, Beberapa Segi Dialektologi Umum, Tugu Bogor: P3B Depdikbud.
Lockard, Craig A., 1971, "The Javanese as Emigrant: Observation of the Development of Javanese Settlement Overseas", Indonesia vol. 1, New York: Modern Indonesia Project Cornell University.
Longacre, R.E., 1973, Grammar Discovery Procedures, The Hague: Mouton.
Mahsun, 1995, Dialektologi Diakronis sebuah Pengantar, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Multamia, RMT. Lauder, 1991, "Pemetaan Bahasa: Seluk-beluk yang Dihadapi", Makalah, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret, 25 Februari 1991.
Nothofer, B., 1975, The Recontruction of Proto Malayo Javanic, S-Gravenhage-Martinus Nijhoff.
Nothofer, B., 1993, "Materi Kuliah Dialektologi", Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Poer Adi Prawoto, 1972, "Sejarah, Adat-istiadat Samin Daerah Kabupaten Blora", Panjebar Semangat, No. 14, th. 38, 10 April 1972, Surabaya.
Puger Widodo, 1992, "Beberapa Ciri Bahasa Jawa di Kabupaten Blora (Studi Awal Perbandingan dengan Bahasa Jawa Baku)", Skripsi, Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Sudaryanto, 1993, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Sutriningsih, 1995, "Gerakan Samin di Blora Akhir Abad 19 dan Awal Abad 20", Skripsi, Yogyakarta: IKIP Negeri.
Uhlenbeck, E.M., 1972, "The Langue of Java and Madura", dalam Thomas A (ed.), Current Trends in Linguistics, Paris: The Hague.
Wakit, 2000, "Perbandingan Dialek Samin dan Dialek Surakarta", Haluan Sastra Budaya, No. 42 Th.XIX, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret.
Wolfowitz, C.S, 1984, Styles of Speech in Suriname-Javanese, Ann Arbor : University Microfilms International.

Samin Surosentiko

Samin Surosentiko


Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora.
Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin
Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah
nama yang bernafas kerakyatan.
Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan
juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten
Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.
Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora.
Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah
banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik
dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak
membahayakan keberadaan pemerintah kolonial.
Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang
tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran
Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial
Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.
Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU
ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu,
Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap
Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada
tahun 1914.
Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin. Wongsorejo,
salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa
dihasut untuk tidak membayar Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan
baberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.
Tahun 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan
ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati.
Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban,
tetapi mengalami kegagalan.
Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial belanda
menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati
Pamong Desa dan Polisi, demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun.
Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat
untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa
dan Polisi
Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu
dengan tidak mau membayar pajak.
Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak
ada figur pimpinan yang tanggguh
Dalam naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul Serat Punjer Kawitan,
disebut-sebut juga kaitan Samin Surosentiko dengan Adipati Sumoroto
Dari data yang ditemukan dalam Serat Punjer Kawitan dapat disimpulkan bahwa Samin Surosentiko yang
waktu kecilnya bernama Raden Kohar , adalah seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar
dikalangan rakyat pedesaan. Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah Kolonial
Belanda dengan cara lain
Menurut warga Samin di Desa Tapelan, Samin Surosentiko dapat menulis dan membaca aksara Jawa,
hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku peninggalan Samin Surosentiko yang diketemukan di
Desa Tapelan dan beberapa desa samin lainnya.
Khusus di Desa Tapelan buku-bukun peninggalan Samin Surosentiko disebut SERAT
JAMUSKALIMOSODO, serat Jamuskalimosodo ini ada beberapa buku. Di antaranya adalah buku Serat
Uri-uri Pambudi, yaitu buku tentang pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi.
Ajaran kebatinan Samin surosentiko adalah perihal ? manunggaling kawulo Gusti atau sangkan paraning
dumadi ?. Menurut Samin Surosentiko , perihal manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai
? rangka umanjing curiga ?( tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya ). Dalam buku Serat
Uri-uri Pambudi diterangkan sebagai berikut :
?Tempat keris yang meresap masuk dalam kerisnya mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Hal ini
menunjukkan pamor (pencampuran) antara mahkluk dan Khaliknya yang benar-benar sejati. Bila
mahkluk musnah, yang ada hanyalah Tuhan (Khalik). Senjata tajam merupakan ibarat campuran yang
menunjukkan bahwa seperti itulah yang disebut campuran mahkluk dan Khaliknya. Sebenarnya yang
dinamakan hidup hanyalah terhalang oleh adanya badan atau tubuh kita sendiri yang terdiri dari darah,
daging dan tulang. Hidup kita ini, yang menghidupinya adalah yang sama-sama menjadi pancer (pokok)
kita. Hidup yang sejati itu adalah hidup yang menghidupi segala hal yang ada di semesta alam.?
Di tempat lain Samin Surosentiko menjelaskan lagi sebagai berikut :
? Yang dinamakan sifat Wisesa (penguasa utama/luhur) yang bertindak sebagai wakil Allah, yaitu ingsun
(aku, saya), yang membikin rumah besar, yang merupakan dinding (tirai) yaitu badan atau tubuh kita
(yaitu yang merupakan realisasi kehadirannya ingsun). Yang bersujud adalah mahkluk, sedang yang
disujudi adalah Khalik, (Allah, Tuhan). Hal ini sebenarnya hanya terdindingi oleh sifat. Maksudnya, hudip
mandiri itu sebenarnya telah berkumpul menjadi satu antara mahkluk dan Khaliknya.?
Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, yang bertindak mencari sandang pangan kita sehari-hari adalah
? Saderek gangsal kalima pancer? adapun jiwa kita diibaratkan oleh Samin sebagai mandor. Seorag
mandor harus mengawasi kuli-kulinya. Atau lebih jelasnya dikatakan sebagai berikut:
? Gajah Seno saudara Wrekodara yang berwujud gajah. Jelasnya saudara yang berjumlah lima itu
mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Hal ini perlu dicapai (yaitu tiga saudara, empat dan lima pokoknya).
Adapun yang bekerja mencari sandang pangan setiap hari itu adalah saudara kita berlima itu. Adapun
jiwa (sukma) kita bertindak sebagai mandor. Itulah sebabnya mandor harus berpegang teguh pada
kekuasaan yang berada ditangannya untuk mengatur anak buahnya, agar semuanya selamat.
Sebaliknya apabila anak buahnya tadi betindak salah dan tindakan tersebut dibiarkan saja, maka lama
kelamaan mereka kian berbuat seenaknya. Hal ini akan mengakibatkan penderitaan.
Pengandaian jiwa sebagai mandhor dan sedulur papat kalima pancer sebagai kuli-kuli tersebut diatas
adalah sangat menarik. Kata-kata ini erat hubungannya dengan kerja paksa/kerja rodi di hutan-hutan jati
di daerah Blora dan sekitarnya. Pekerja rodi terdiri dari mandor dan kuli. Mandhor berfungsi sebagai
pengawas, sedangkan kuli berfungsi sebagai pekerja. Pemakaian kata yang sederhana tersebut oleh
Samin Surosentiko dikandung maksud agar ajarannya dapat dimengerti oleh murid-muridnya yang
umumnya adalah orang desa yang terkena kerja paksa.
Menurut Samin Surosentiko, tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan. Jadi apa yang
dialami oleh manusia di dunia adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu sedih dan gembira, sehat dan
sakit, bahagia dan sedih, harus diterima sebagai hal yang wajar. Hal tersebut bisa dilihat pada ajarannya
yang berbunyi :
? ..Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan di dunia untuk menambah kendahan jagad raya.
Dalam hubungan ini masyarakat harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan
perintah. Oleh karena itu apabila manusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih dan gembira,
sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan, sebab manusia terikat dengan perjanjiannya.
Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan, yaitu memahami pada
asal-usulnya masing-masing?.?
Samin Surosentiko juga mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebajikan, kejujuran dan kesabaran.
Murid-muridnya dilarang mempunyai rasa dendam. Adapun ajaran selengkapnya sebagai berikut:
? ?Arah tujuannya agar dapat berbuat baik dengan niat yang sungguh-sungguh, sehingga tidak raguragu
lagi. Tekad jangan sampai goyah oleh sembarang godaan, serta harus menjalankan kesabaran lahir
dan batin, sehingga bagaikan mati dalam hidup. Segala tindak-tanduk yang terlahir haruslah dapat
menerima segala cobaan yang datang padanya, walaupun terserang sakit, hidupnya mengalami
kesulitan, tidak disenangi orang, dijelek-jelekkan orang, semuanya harus diterima tanpa gerutuan,
apalagi sampai membalas berbuat jahat, melainkan orang harus selalu ingat pada Tuhan?,?
Ajaran di atas dalam tradisi lisan di desa Tapelan dikenal sebagai ? angger-angger pratikel? (hukum
tindak tanduk), ? angger-angger pengucap ? (hukum berbicara), serta ? angger-angger lakonana?
(hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan).
Hukum yang pertama berbunyi ?Aja dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput,
mbedog colong.? Maksudnya, warga samin dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang
lain, dan dilarang mengambil milik orang.
Hukum ke dua berbunyi ? Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pengucap saka sanga
budhelane ana pitu.? Maksud hukum ini , orang berbicara harus meletakkan pembicaraannya diantara
angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus
memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang
lain. Kata-kata yang tidak senonoh dan dapat menyakitkan orang lain dapat mengakibatkan hidup
manusia ini tidak sempurna.
Adapun hukum yang ke tiga berbunyi ? Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokale
dilakoni.? Maksudnya, warga Samin senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat ? bagaikan
orang mati dalam hidup ?
Menurut Samin Surosentiko, semua ajaran diatas dapat berjalan denganbaik asalkan orang yang
menerima mau melatih diri dalam hal samadi. Ajaran ini tertuang dalam Serat Uri-uri Pambudi yang
berbunyi sebagai berikut : ??Adapun batinnya agar dapat mengetahui benar-benar akan perihal peristiwa
kematiannya, yaitu dengan cara samadi, berlatih ?mati? senyampang masih hidup (mencicipi mati)
sehingga dapat menanggulangi segala godaan yang menghalang-halangi perjalanannya bersatu dengan
Tuhan, agar upaya kukuh, dapat terwujud, dan terhindar dari bencana.?
Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, setelah manusia meninggal diharapkan roh manusia yang
meninggal tadi tidak menitis ke dunia, baik sebagai binatang( bagi manusia yang banyak dosa) atau
sebagai manusia (bagi manusia yang tidak banyak dosa), tapi bersatu kembali dengan Tuhannya. Hal ini
diterangkan Samin Surosentiko dengan contoh-contoh yang sulit dimengerti orang apabila yang
bersangkutan tak banyak membaca buku-buku kebatinan. Demikian kata Samin Surosentiko :
? ?Teka-teki ini menunjukkan bahwa jarak dari betal makmur ke betal mukaram sejengkal, dan dari betal
mukaram ke betal mukadas juga sejengkal. Jadi triloka itu jaraknya berjumlah tiga jengkal. Kelak apabila
manusia meninggal dunia supaya diusahakan tidak terkuasai oleh triloka. Hal ini seperti ajaran Pendeta
Jamadagni. Tekad pendeta Jamadagni yang ingin meninggalkan dunia tanpa terikat oleh triloka itu
diceritakan oleh Serat Rama. Pada awalnya ingin menitis pada bayi yang lahir (lahir kembali kedunia).
Oleh karena itulah pada waktu meninggal dunia dia berusaha tidak salah jalan, yaitu kembali ke rahim
wanita lagi. (jangan sampai menitis kembali pada bayi, lahir kembali ke dunia).?
Dari keterangan diatas dapatlah diketahiu bahwa Samin Surosentiko tidak menganut faham ?Penitisan?
tapi menganut faham ? manunggaling kawulo Gusti? atau ?sangkan paraning dumadi?.
Dari ajaran-ajaran tertulis di atas jelas kiranya bahwa Samin Surosentiko adalah seorang ?theis?.
Keparcayaan pada Tuhan, yang disebutnya dengan istilah-istilah Gusti, Pangeran, Allah, Gusti Allah,
sangatlah kuat, hal ini bisa dilihat pada ajarannya :
? Adapun Tuhan itu ada, jelasnya ada empat. Batas dunia disebelah utara, selatan, timur, dan barat.
Keempatnya menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada (adanya semesta alam dan isinya itu juga merupakan
bukti bahwa Tuhan itu ada?.?
Demikianlah cuplikan ajaran Samin Surosentiko yang berasal dari Serat Uri-uri Pambudi. Selanjutnya
akan dijelaskan ajaran Samin Surosentiko yang terdapat dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten. Buku ini
maknanya pengukuhan kehidupan yang sejati.
Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi
tradisional kesusasteraan Jawa. Disini yang akan dikutip adalah sebuah tembang Pangkur yang
mengandung ajaran perihal Perkawainan. Adapun tembang Pangkur yang dimaksud seperti dibawah ini
:
? Saha malih dadya garan,
anggegulang gelunganing pembudi,
palakrama nguwoh mangun,
memangun traping widya,
kasampar kasandhung dugi prayogantuk,
ambudya atmaja tama,
mugi-mugu dadi kanthi.?
Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk
meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan ?Atmaja Tama? (anak yang mulia). Dalam
ajaran Samin , dalam perkawinan seorang temanten laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang
berbunyi kurang lebih demikian : ? Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini
seorang perempuan bernama?? Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani
berdua.?
Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang
sampai sekarang masih dipatuhi warga samin.
Dalam ajaran politiknya Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan
Pemerintahan Koloniak Belanda. Hal ini terwujud dalam sikap :
1. Penolakan membayar pajak
2. penolakan memperbaiki jalan
3. penolakan jaga malam (ronda)
4. penolakan kerja paksa/rodi
Samin Surosentiko juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Serat Pikukuh
Kasajaten, yaitu sebuah Negara akan terkenal dan disegani orang serta dapat digunakan sebagai
tempat berlindung rakyatnya apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup
dalam perdamaian.
Dalam salah satu ceramahnya yang dilakukan tanah lapang Desa Bapangan Blora, pada malam Kamis
legi, 7 Pebruari 1889 yang menyatakan bahwa tanah Jawa adalah milik keturunan Pandawa. Keturunan
Pandawa adalah keluarga Majapahit. Sejarah ini termuat dalam Serat Punjer Kawitan. Atas dasar Serat
Punjer Kawitan itulah, Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintah
Belanda. Tanah Jawa bukan milik Belanda. Tanah Jawa adalah tanah milik ? wong Jawa ?. Oleh karena
itulah maka tarikan pajak tidak dibayarkan. Pohon-pohon jati di hutan ditebangi, sebab pohon jati
dianggap warisan dari leluhur Pandawa. Tentu saja ajaran itu menggegerkan Pemerintahan Belanda,
sehingga Pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin ajaran Samin.
Geger Samin atau Pergerakan Samin yang dipimpin oleh Samin Surosentiko sebenarnya bukan saja
desebabkanoleh faktor ekonomis saja, akantetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Yang jelas
pemberontakan melawan Pemerintahan Kolonial Belanda didasarkan pada kebudayaan Jawa yang
religius.. Dengan demikian ajaran Samin surosentiko bukanlah ajaran yang pesimitis, melainkan ajaran
yang penuh kreatifitas dan keberanian.
Samin Surosentiko yang hidup dari tahun 1859 sampai tahun 1914 ternyata telah memberi warna sejarah
perjuangan bangsa, walaupun orang-orang di daerahnya, Blora yang bukan warga Samin
mencemoohkannya, tapi sejarah telah mencatatnya, dia telah mampu menghimpun kekuatan yang luar
biasa besarnya. Ajaran-ajarannya tidak hanya tersebar didaerah Blora saja, tetapi tersebar di beberapa
daerah lainnya, seperti : Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Madiun, Jember, Banyuwangi, Purwodadi, Pati,
Rembang, Kudus, Brebes, dan lain-lain.
DENGAN DEMIKIAN SAMIN SUROSENTIKO ADALAH PAHLAWAN LOKAL YANG PERLU
DIPERHATIKAN JASA-JASANYA.