Komidi Putar
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
DA-DA, kuda*, engkau berlari dengan mulut berdarah, da-da, kuda, melintasi padang rumput, melompati jurang, menyeberangi sungai, menyusuri pantai, menembus hutan, melewati kota, mengarungi benua, memburu cakrawala, da-da, kuda, berderap di bawah langit dengan surai gemulai yang berkilat keemas-emasan di bawah cahaya senja tiada pernah bertanya akan berakhir sampai di mana. Da-da, kuda, mereka semua berderap seperti sepakat tiada saling membalap, berderap seperti menari, berderap seperti melayang, berlari, dan mencongklang seperti terbang, da-da, kuda, dan hanya kuda-kuda mengerti apa artinya menderap di padang terbuka, hamparan permadani, sajadah dunia, dalam derap secepat angin, namun suaranya seperti bisikan dari kejauhan, sejauh-jauh mata memandang, da-da, kuda, yang masih berlari ke arah matahari jingga yang separuh tenggelam.
Tiada pernah kukira kuda bisa berlari di atas air. Kulihat kuda-kuda berderap di lautan membentang, tanpa sayap dan tanpa tanduk, berderap melaju dengan bunyi percik memercik-mercik, di kejauhan, melintasi kapalku. Da-da, kuda, ke manakah kamu, begitu cepat kamu, begitu lambat kamu, berlari atau menari, wahai kuda, segala kuda berlari di antara cahaya, berkelebatan, seperti mimpi tapi bukan mimpi, seperti kuda tapi memang kuda, cahayakah atau nyata, gambar bergerakkah atau kuda, tapi memang kuda, dan hanya kuda. Da-da, kuda, seluruh kuda dari seluruh dunia bergerak dan berlari, terbang dan memimpi ke seluruh penjuru bumi ketika semua orang tertidur lelap nyenyak dalam labirin mimpinya sendiri-sendiri sehingga tiada seorang pun memang akan mengerti betapa ada begitu banyak kuda, beratus-ratus kuda, beribu-ribu kuda, berjuta-juta kuda menderap tanpa suara dan tanpa kepulan debu melaju sepanjang padang dengan gerak yang begitu lambat seperti gerak lambat seekor ulat tapi yang berpindah tempat begitu cepat secepat cahaya yang melesat.
Da-da, kuda, tak seorang pun melihatnya, ada tapi tiada, melintasi cahaya gemilang, sekian banyak kuda, begitu banyak kuda, akan seberapa banyak lagikah kuda? Begitu banyak rahasia terbentang selama manusia tertidur, begitu banyak cerita di balik tabir kegelapan malam, tapi bagaimanakah cara mengetahuinya? Manusia yang telah begitu lelah dengan begitu banyak pikiran di kepalanya sendiri tak akan pernah mengerti rahasia di balik matanya sendiri yang terpejam diam-diam tak terbuka selama ratusan tahun. Begitulah manusia selalu merasa telah tidur nyenyak dan lelap dalam satu malam tanpa pernah terbangun satu detik pun seperti kena sihir pencuri yang menyebarkan tanah pekuburan, padahal dalam semalam waktu telah lewat berabad-abad….
Namun, seribu kuda tak pernah menjadi tua meski telah berlari selama beratus-ratus tahun. Seribu kuda, beribu-ribu kuda, berjuta-juta kuda, menderap dan melaju menembus segala macam cuaca. Bagaimana mungkin manusia mengarungi seribu mimpi sementara sesuatu yang lebih indah dari mimpi lewat menderap di depan hidung mereka sendiri? Itulah masalahnya. Apalah yang bisa diketahui manusia? Tidak tentang berjuta-juta kuda yang berlari seperti penari, melaju seperti puisi, dengan kertap cahaya yang berkeredapan dari balik surainya, tidak juga tentang apa saja yang berada di luar jangkauannya. Da-da, kuda, tidak ada yang meringkik, tapi tidak berarti mereka tidak tertawa, karena mereka bisa mengikuti mimpi-mimpi manusia yang tertidur. Mereka terus berlari dengan pikiran yang bisa membaca dunia. Berlari dan berlari, dengan mata yang sayu.
Tidak ada makhluk lain tampak di mana pun berjuta-juta kuda itu berlari. Tiada gemuruh dan kepulan debu, tiada ringkik dan getaran bumi, namun makhluk-makhluk tiada pernah tampak — tiada burung elang yang melayang-layang, tiada monyet yang menjerit-jerit, tiada semut di lubang mana pun di padang rumput. Hanya kuda-kuda, tanpa sayap dan tanpa tanduk, kuda-kuda biasa, berjuta-juta, muncul dari balik cakrawala dengan matahari di belakang mereka, menghitam seperti bayang-bayang, berjuta-juta bayang-bayang kuda berkelebat, begitu cepat dan begitu lambat, seperti gerakan para dewa di layar dunia. Lewatlah kuda-kuda tanpa suara, tiada seorang pun tahu dari mana mereka dan menuju ke mana. Da-da, kuda, dari balik matahari mereka seperti muncul begitu saja, menimbulkan pertanyaan tentang dunia seperti apa, yang membiarkan manusia tidur begitu lama, seperti hanya
semalam tapi sudah kehilangan segalanya.
Alangkah mahalnya mimpi-mimpi dalam semalam, yang begitu membuai tapi sama sekali tidak nyata. Kuda-kuda ini nyata, berderap tanpa suara, tapi mengapa mulutmu berdarah, da-da, kuda? Kuda-kuda berderap bersama di padang alang-alang sampai bertemu sebuah sungai, di sungai itu mereka berenang dalam kelompok-kelompok sampai ke seberang, dan mereka berbaris satu per satu dan berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan setapak di tepi jurang. Tentu saja itu jalan setapak manusia, tetapi untunglah tidak pernah ada seorang manusia pun yang barangkali sedang berburu kebetulan berpapasan dengan kuda-kuda itu, karena berapa lamakah seseorang harus menunggu sampai berjuta-juta kuda itu lewat begitu pelan karena begitu hati-hati berjalan di jalan setapak di tepi kemiringan jurang?
Berjuta-juta kuda berjalan menembus hutan yang berembun melewati jalan setapak di tepi jurang tanpa suara. Kuda-kuda berjalan di tepi jurang dengan kepala menunduk, melangkah satu per satu dalam kecuraman jurang yang menggiriskan. Jalan setapak itu begitu panjang dan jurang itu begitu dalam dan entah berapa lama akhirnya suatu malam kuda-kuda itu keluar dari hutan dan melangkah di tepi sungai yang dangkal dan gemericik airnya begitu jernih dan begitu menyegarkan. Hanya, setelah berminggu-minggu jutaan kuda itu akhirnya melewati hutan berjurang dengan hanya jalan setapak untuk berjalan. Di tepi sungai mereka minum sebentar lantas melanjutkan perjalanan.
Da-da, kuda, begitu banyak kuda dan tiada satu manusia pun menungganginya, tapi siapa bilang kuda diciptakan hanya untuk menjadi tunggangan? Kuda-kuda tanpa pelana, berkilat dalam usapan cahaya, melangkah dengan anggun di tepi yang gemercik keperakan, sesekali berhenti minum, berjalan dengan mata sayu, beriringan sepanjang sungai yang kadang lurus kadang berkelok dan suatu ketika menyeberang berdua-dua, bertiga-tiga, berlima-lima, berombongan, membuat gemercik aliran sungai tiba-tiba berbeda karena kaki-kaki kuda yang berjuta-juta menyeberangi sungai yang tentu saja berlangsung lama….
Seorang anak terbangun di malam hari.
“Ibu, ke mana kuda kita?”
Kali ini tidak ada manusia yang mempunyai kuda, berjuta-juta kuda melepaskan diri dari kepemilikan dan kekuasaan manusia. Kuda telah melepaskan diri dari kebudayaan, bahkan tidak seorang pun bisa bermimpi tentang kuda-kuda lagi. Kuda-kuda itu sudah tidak terjangkau. Mereka menyusuri sungai sampai ke tepi pantai. Menggoyangkan ekor dan mendengus seperti tidak peduli dengan ombak. Mereka mencari rerumputan di tepi sungai, dan saling berbicara dengan cara saling memandang dan saling menyentuh.
Da-da, kuda, mereka bisa berlari di atas permukaan laut, tapi mereka tetap tinggal di tepi pantai dan saling mendengus serta bersentuhan di bawah rembulan. Berjuta-juta kuda memenuhi pantai, dengan hempasan ombak yang bernyanyi, tiupan angin yang merintih, serta permukaan laut yang berkilat keperak-perakan. Tiada satu kuda menengok rembulan, kepala mereka tertunduk dan mata mereka masih sayu. Hanya ekornya terkadang bergoyang pelan.
Di antara kuda-kuda itu terdapat kuda anak yang terbangun di malam hari itu. Ia berjalan, mendengus, dan mendongak di antara banyak kuda yang menunduk.
“Hanya kuda, dan tiada lain selain kuda,” pikirnya.
Ia teringat anak kecil itu, yang setiap pagi mengelus-elus kepalanya. Berbisik-bisik dan bercerita, menyampaikan segala rahasia. Meski tidak bisa berbicara dalam bahasa manusia, ia bisa mengerti setiap kata yang diucapkan anak itu. Jika ia bisa berbicara, banyak juga yang akan diceritakannya, seperti juga ia ingin bicara tentang betapa suatu hari ia akan meninggalkannya. Setiap kuda yang ditemuinya dan pernah dipelihara manusia mengalami hal yang sama, mereka tidak mengetahui cara yang terbaik untuk memberitahukan perpisahan dengan dunia manusia untuk selama-lamanya.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain pergi keluar dari kandangnya suatu malam. Pergi begitu saja mengikuti bisikan yang menuntunnya, bisikan yang tidak terdengar di telinga melainkan menancap langsung ke dalam otaknya dan menggerakkan seluruh tubuhnya. Ia bertemu dengan begitu banyak kuda yang keluar dari kandang dan istalnya, melangkah begitu saja seperti sudah saling mengerti, menuju ke suatu keadaan yang belum tentu akan bisa dimengerti. Ia hanya tahu bahwa setiap kuda harus bergabung dengan semua kuda, untuk melakukan pencarian bersama yang belum lagi diketahui akan ketemu di mana.
Maka ia ikut mencongklang bersama kuda-kuda itu, berlari dan berlari, dan merasakan betapa bumi bagai tiada diinjaknya. Kuda-kuda itu seperti terbang bersama tapi bukan terbang, berlari tapi bukan berlari, melesat dan melaju tapi bukan melesat, dan melaju karena meskipun sungguh cepat tetapi juga sangat lambat. Bagaimanakah semua
ini bisa ia jelaskan?
“Aku hanya seekor kuda,” pikirnya.
Da-da, kuda, di tepi pantai, bersama berjuta-juta kuda lainnya, mereka berdiri berjajar-jajar menghadap ke laut. Rembulan bagaikan piring keperakan raksasa yang membuat laut juga serba keperak-perakan nyaris seperti cairan logam. Seluruh kuda yang berjuta-juta itu melangkah ke laut. Mereka tidak berlari, tapi berjalan saja pelan-pelan. Lautan tidak bergelombang dan ombak tidak menghempas, seluruh kuda itu berjalan perlahan menuju cakrawala. Namun, kuda yang dimiliki anak kecil itu tidak menggerakkan kakinya. Ia mendengus, menggerakkan ekor, tapi tidak melangkah. Ditatapnya kuda-kuda bergerak pelan menuju cakrawala, makin lama makin jauh dan akhirnya menghilang….
“Aku seekor kuda yang hanya sendiri saja di dunia,” pikirnya,
“Kalau aku mati nanti tak akan ada kuda lagi di muka bumi.”
Untuk beberapa saat ia masih memandang lautan yang kosong. Tiada lagi pemandangan berjuta-juta kuda.
Ia belum juga tahu betapa mulutnya berdarah.
Ketika anak itu bangun, waktu sudah lewat berabad-abad. Ia langsung mendekati kuda itu di kandangnya, memeluk dan mengusap-usap kepalanya.
“Da-da, kuda, engkau pergi ke mana? Waktu aku bangun semalam engkau tak ada.”
Dari jendela dapur, ibunya memandang anak di kandang kuda yang kosong itu dengan sedih.
“Lagi-lagi anak itu bicara dengan dirinya sendiri,” gumamnya.
Di dinding dapur itu tergantung potret seekor kuda. Entah siapa mencoret-coret bagian mulutnya dengan spidol merah, sehingga mulut itu seperti meneteskan darah….
Pondok Aren, Kamis 2 Januari 2003. 07:36.
Catatan:
* Dari sajak Wing Karjo, “A/Z”, bagian 7 : Da-da, kuda, diamlah /benda ajaib …/ mainanmu, nak, Putih / terlalu jinak. Lembut / dari dunia mimpi., dalam Perumahan (1975), h. 44.
Sumber: Media Indonesia, Minggu 16 Februari 2003.
Tuesday, 16 November 2010
Bayang Malaikat
Bayang Malaikat
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
AKU terjaga oleh dering pendek ponselku. Segera aku raih ponsel yang selalu aku taruh di meja tulis yang ada tepat di samping kanan tempat tidur. Saat membuka sms yang masuk, aku terhenyak.
"Bila kumati, aku ingin menghantuimu." Buru-buru aku tekan delete. Ponselku kembali berdering pendek.
"Semestinya kau ikut mati terpanggang dalam ledakan itu." Aku kian terhenyak. Detak nadiku entah berdenyut entah tidak.
* * *
Peristiwa setahun lalu itu kembali hadir dalam ingatanku. Peristiwa saat aku bersama Sofia, menuju sebuah kota di pinggiran pulau. Kota yang terletak berhadapan langsung dengan laut. Di kota itulah berkumpul orang-orang untuk merayakan cinta di pergantian tahun. Usai itu, mereka akan meninggalkan kota dengan berjuta kenangan.
Seperti yang lain, aku dan Sofia berencana singgah di kota itu untuk merayakan cinta dan menciptakan semesta sendiri berdua. Tetapi bunyi ledakan di dalam kereta yang kami tumpangi memporak-porandakan semua.
Aku tak bisa menceritakan sekuat apa ledakan itu. Aku hanya bisa mengatakannya sangat, sangat kuat.
* * *
Aku tercekat di tempat dudukku. Rangkaian gerbong kereta hancur berantakan. Aku lihat serpihan besi, tubuh manusia terjepit diantara pecahan badan kereta api, darah muncrat seperti ditumpahkan begitu saja dari langit, berbaur dengan anyir yang menyeruap ke udara.
Tulang-tulangku seperti lepas dari tubuh. Mengapa harus aku, menyaksikan mayat-mayat tak berdosa. Kematian yang tiba-tiba, dan tak manusiawi. Kematian yang merepotkan malaikat, karena harus menghentikan ratusan detak nadi manusia dalam waktu bersamaan. Dan akhirnya, Tuhan menjadi satu-satunya pelipur lara.
"Blaar."
Belum usai rasa terkejutku, terdengar kembali ledakan kuat dari gerbong lain diiringi jerit dan lolongan. Aku terpaku. Tak kuasa melihat ke arah ledakan. Pasti serpihan tubuh tertindih serpihan gerbong, darah yang muncrat serta tulang-tulang manusia berserakan juga tubuh gosong.
Aku tak percaya. Adakah aku berada di alam nyata? Ataukah aku tengah menyaksikan sebuah film triller yang panjang? Film perang yang membutuhkan adegan brutal. Film yang seolah-olah ingin mengatakan bila nyawa manusia tak ada lagi artinya. Adakah aku tengah bermimpi buruk, karena lupa menyebut nama Tuhan sebelum terlelap? Adakah aku tengah berangan-angan dengan fantasi yang mengerikan.
Fantasi yang gila. Seorang manusia yang berubah monster. Yang haus darah dan rindu jerit tangis manusia. Ataukah aku tengah berada di kerak bumi paling bawah? Di tempat neraka paling jahanam? Hingga tragedi kemanusiaan adalah soal biasa.
Aku mematung. Diantara sadar dan tidak. Diantara percaya dan tidak. Aku masih duduk di salah satu kursi dalam kereta api, tanpa satupun luka. Tanpa satupun goresan di kulitku. Padahal di sekelilingku orang-orang terpanggang dan gosong.
Semua terjadi sangat tiba-tiba. Diluar jangakauanku, juga diluar jangkauan ribuan orang. Meski sesungguhnya rangkaian ledakan itu memakan waktu lama dalam merancangnya.
"Ini biadab!," umpatku tak berdaya.
"Tidak!" aku berteriak hebat. Dunia hancur berantakan seketika dalam darahku. Sofia, perempuanku. Terjepit ditumpukan besi-besi dengan darahnya yang masih segar membasahi lantai kereta yang menghitam.
Aku tak bisa menangisinya karena kehilangan yang sangat tiba-tiba.
* * *
"Aktifkan ponselmu. Sewaktu-waktu aku menghubungimu." Aku menggigil. Ini pesan pendek dari Sofia.
Mengapa ia mengirim pesan pendek, lama setelah rangkaian bom meluluh lantakkan gerbong kereta yang kami tumpangi. Setelah ledakan keras membunuhnya. Mengapa Sofia? Meskipun dulu aku sangat berat melepas kepergiannya, sekarang aku telah rela.
Ponselku berdering pendek.
"Selamat ulang tahun, sayangku."
Aku tak kuasa menahan tangisku. Ini sms yang pernah ia kirim saat usiaku genap duapuluh tujuh tahun. Sudahlah Sofia, aku sayang padamu. Istirahatlah dengan damai. Aku sematkan doa di depan potretnya, di ketinggian malam yang jauh.
* * *
Cukup lama aku tidak menerima pesan pendek. Aku kembali tenang, meski trauma ledakan sering mengusik malamku. Betapa aku ingin lari dan membunuh bayangan peristiwa ledakan kereta api itu, tetapi semakin aku bersikeras menghapusnya, peristiwa ledakan itu semakin menggila menghantuiku.
Aku lelah. Bila kematian dapat ditawar, akan aku ajukan penawaranku pada Tuhan. Ambil saja nyawaku sekarang, daripada hidup mengenang ledakan, serpihan gerbong kereta, potongan-potongan tubuh manusia tak berdosa, anyir darah yang menyeruap ke udara, tangis kehilangan, lolongan kesakitan. Aku bisa gila.
Peristiwa itu bukan saja merenggut Sofia, peristiwa itu telah membunuh hidupku. Malamku teramat panjang. Aku kehilangan rasa kantuk dan lelah. Aku sulit tidur karena peristiwa tragis itu.
Bila Sofia dan ratusan orang lain mati dengan mengenaskan, aku hidup dengan mengenaskan. Usai peristiwa itu semua media berlomba-lomba mewawancaraiku tanpa tahu betapa aku tidak mau mengenang peristiwa itu. Sebab aku salah seorang yang selamat, dari sedikit yang selamat dalam peristiwa itu.
* * *
Malam ini ponselku kembali berdering pendek. Aku baca pesan singkat itu: "Aku ingin kau rasakan saat cinta tak berbalas."
Duh Sofia. Kau tidak tahu, aku mencintaimu, meski belum pernah aku ucapkan. Hingga akulah manusia yang terakhir engkau jumpa di saat-saat ajal menjemputmu. Aku seperti terbang ke langit. Mungkinkah orang yang telah meninggal, bisa memberi sms pada kekasihnya? Entahlah. Yang aku tahu sejak itu aku jadi senang membaca sms dari Sofia yang tersimpan dalam memori ponselku.
Anehnya, aku tak merasakan takut. Ketika malam datang, aku selalu ingin membaca sms-sms Sofia. Hingga pelan-pelan aku rindu padanya. Aku mulai ingin menerima smsnya. Kala terjagapun, pertama yang ingin aku dengar adalah dering pendek dari ponselku.
"Aku cinta. Kamu tidak. Ini tragedi."
Ini sms yang bernada canda. Aku terima tiga hari sebelum ledakan kereta api itu.
* * *
"Seperti apa wajah malaikat ketika menjemputmu kelak?" Degup jantungku tak beraturan. Lama aku menunggu saat seperti ini. Dapat membaca smsnya, tetapi mengapa kalimat menyeramkan yang ia kirim.
Aku putuskan untuk tak membalas sms itu. Tak lama kemudian datang smsnya lagi.
"Bagaimana di saat engkau berada di pintu kubur?"
Aku jelas tidak tahu. Ah, mengapa pesan pendeknya beraroma kematian. Usiaku masih belia untuk bicara soal kematian.
"Bagaimana ketika kau ditanya siapa engkau?"
Siapa aku? Apa maksudnya.
"Apa jawabmu ketika ditanya apa dosa pertamamu?"
Aku tidak tahu harus jawab apa.
"Apa kau pernah menangis karena sebuah dosa?"
Aku? Dosa? Selama ini aku tak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Bukankah hidup adalah kesempatan untuk menikmati segala yang indah-indah. Termasuk keindahan dosa. Apakah aku harus peduli karenanya?
"Bila hari ini aku menjemputmu, siapkah kau?"
Tuhan. Sesungguhnya siapakah pengirim pesan pendek ini. Adakah sofia telah berubah menjadi malaikat? Atau mungkin.
Ada apa dengan tubuhku? Pelan-pelan tubuhku mendingin. Aku mengigil di siang yang terik. Tubuhku beku ketika matahari berada di puncak kegarangannya. Sekelebat bayang melintas, menghampiriku dengan warnanya yang ungu. Mengepakkan sayapnya yang lebat. Memancarkan warna kelabu.
Pelan dan pasti sekelebat bayang itu menarik-narik pori-poriku. Melepasnya, menariknya, melepasnya, menariknya terus berulang-ulang seolah tak peduli betapa aku merasakan sakit yang hebat.
Aku sempat dengar ponselku berdering pendek. Aroma kematian mengental di tubuhku, ketika aku ingin membacanya.
Terimakasih ***
Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=222382
Cerpen Dianing Widya Yudhistira
AKU terjaga oleh dering pendek ponselku. Segera aku raih ponsel yang selalu aku taruh di meja tulis yang ada tepat di samping kanan tempat tidur. Saat membuka sms yang masuk, aku terhenyak.
"Bila kumati, aku ingin menghantuimu." Buru-buru aku tekan delete. Ponselku kembali berdering pendek.
"Semestinya kau ikut mati terpanggang dalam ledakan itu." Aku kian terhenyak. Detak nadiku entah berdenyut entah tidak.
* * *
Peristiwa setahun lalu itu kembali hadir dalam ingatanku. Peristiwa saat aku bersama Sofia, menuju sebuah kota di pinggiran pulau. Kota yang terletak berhadapan langsung dengan laut. Di kota itulah berkumpul orang-orang untuk merayakan cinta di pergantian tahun. Usai itu, mereka akan meninggalkan kota dengan berjuta kenangan.
Seperti yang lain, aku dan Sofia berencana singgah di kota itu untuk merayakan cinta dan menciptakan semesta sendiri berdua. Tetapi bunyi ledakan di dalam kereta yang kami tumpangi memporak-porandakan semua.
Aku tak bisa menceritakan sekuat apa ledakan itu. Aku hanya bisa mengatakannya sangat, sangat kuat.
* * *
Aku tercekat di tempat dudukku. Rangkaian gerbong kereta hancur berantakan. Aku lihat serpihan besi, tubuh manusia terjepit diantara pecahan badan kereta api, darah muncrat seperti ditumpahkan begitu saja dari langit, berbaur dengan anyir yang menyeruap ke udara.
Tulang-tulangku seperti lepas dari tubuh. Mengapa harus aku, menyaksikan mayat-mayat tak berdosa. Kematian yang tiba-tiba, dan tak manusiawi. Kematian yang merepotkan malaikat, karena harus menghentikan ratusan detak nadi manusia dalam waktu bersamaan. Dan akhirnya, Tuhan menjadi satu-satunya pelipur lara.
"Blaar."
Belum usai rasa terkejutku, terdengar kembali ledakan kuat dari gerbong lain diiringi jerit dan lolongan. Aku terpaku. Tak kuasa melihat ke arah ledakan. Pasti serpihan tubuh tertindih serpihan gerbong, darah yang muncrat serta tulang-tulang manusia berserakan juga tubuh gosong.
Aku tak percaya. Adakah aku berada di alam nyata? Ataukah aku tengah menyaksikan sebuah film triller yang panjang? Film perang yang membutuhkan adegan brutal. Film yang seolah-olah ingin mengatakan bila nyawa manusia tak ada lagi artinya. Adakah aku tengah bermimpi buruk, karena lupa menyebut nama Tuhan sebelum terlelap? Adakah aku tengah berangan-angan dengan fantasi yang mengerikan.
Fantasi yang gila. Seorang manusia yang berubah monster. Yang haus darah dan rindu jerit tangis manusia. Ataukah aku tengah berada di kerak bumi paling bawah? Di tempat neraka paling jahanam? Hingga tragedi kemanusiaan adalah soal biasa.
Aku mematung. Diantara sadar dan tidak. Diantara percaya dan tidak. Aku masih duduk di salah satu kursi dalam kereta api, tanpa satupun luka. Tanpa satupun goresan di kulitku. Padahal di sekelilingku orang-orang terpanggang dan gosong.
Semua terjadi sangat tiba-tiba. Diluar jangakauanku, juga diluar jangkauan ribuan orang. Meski sesungguhnya rangkaian ledakan itu memakan waktu lama dalam merancangnya.
"Ini biadab!," umpatku tak berdaya.
"Tidak!" aku berteriak hebat. Dunia hancur berantakan seketika dalam darahku. Sofia, perempuanku. Terjepit ditumpukan besi-besi dengan darahnya yang masih segar membasahi lantai kereta yang menghitam.
Aku tak bisa menangisinya karena kehilangan yang sangat tiba-tiba.
* * *
"Aktifkan ponselmu. Sewaktu-waktu aku menghubungimu." Aku menggigil. Ini pesan pendek dari Sofia.
Mengapa ia mengirim pesan pendek, lama setelah rangkaian bom meluluh lantakkan gerbong kereta yang kami tumpangi. Setelah ledakan keras membunuhnya. Mengapa Sofia? Meskipun dulu aku sangat berat melepas kepergiannya, sekarang aku telah rela.
Ponselku berdering pendek.
"Selamat ulang tahun, sayangku."
Aku tak kuasa menahan tangisku. Ini sms yang pernah ia kirim saat usiaku genap duapuluh tujuh tahun. Sudahlah Sofia, aku sayang padamu. Istirahatlah dengan damai. Aku sematkan doa di depan potretnya, di ketinggian malam yang jauh.
* * *
Cukup lama aku tidak menerima pesan pendek. Aku kembali tenang, meski trauma ledakan sering mengusik malamku. Betapa aku ingin lari dan membunuh bayangan peristiwa ledakan kereta api itu, tetapi semakin aku bersikeras menghapusnya, peristiwa ledakan itu semakin menggila menghantuiku.
Aku lelah. Bila kematian dapat ditawar, akan aku ajukan penawaranku pada Tuhan. Ambil saja nyawaku sekarang, daripada hidup mengenang ledakan, serpihan gerbong kereta, potongan-potongan tubuh manusia tak berdosa, anyir darah yang menyeruap ke udara, tangis kehilangan, lolongan kesakitan. Aku bisa gila.
Peristiwa itu bukan saja merenggut Sofia, peristiwa itu telah membunuh hidupku. Malamku teramat panjang. Aku kehilangan rasa kantuk dan lelah. Aku sulit tidur karena peristiwa tragis itu.
Bila Sofia dan ratusan orang lain mati dengan mengenaskan, aku hidup dengan mengenaskan. Usai peristiwa itu semua media berlomba-lomba mewawancaraiku tanpa tahu betapa aku tidak mau mengenang peristiwa itu. Sebab aku salah seorang yang selamat, dari sedikit yang selamat dalam peristiwa itu.
* * *
Malam ini ponselku kembali berdering pendek. Aku baca pesan singkat itu: "Aku ingin kau rasakan saat cinta tak berbalas."
Duh Sofia. Kau tidak tahu, aku mencintaimu, meski belum pernah aku ucapkan. Hingga akulah manusia yang terakhir engkau jumpa di saat-saat ajal menjemputmu. Aku seperti terbang ke langit. Mungkinkah orang yang telah meninggal, bisa memberi sms pada kekasihnya? Entahlah. Yang aku tahu sejak itu aku jadi senang membaca sms dari Sofia yang tersimpan dalam memori ponselku.
Anehnya, aku tak merasakan takut. Ketika malam datang, aku selalu ingin membaca sms-sms Sofia. Hingga pelan-pelan aku rindu padanya. Aku mulai ingin menerima smsnya. Kala terjagapun, pertama yang ingin aku dengar adalah dering pendek dari ponselku.
"Aku cinta. Kamu tidak. Ini tragedi."
Ini sms yang bernada canda. Aku terima tiga hari sebelum ledakan kereta api itu.
* * *
"Seperti apa wajah malaikat ketika menjemputmu kelak?" Degup jantungku tak beraturan. Lama aku menunggu saat seperti ini. Dapat membaca smsnya, tetapi mengapa kalimat menyeramkan yang ia kirim.
Aku putuskan untuk tak membalas sms itu. Tak lama kemudian datang smsnya lagi.
"Bagaimana di saat engkau berada di pintu kubur?"
Aku jelas tidak tahu. Ah, mengapa pesan pendeknya beraroma kematian. Usiaku masih belia untuk bicara soal kematian.
"Bagaimana ketika kau ditanya siapa engkau?"
Siapa aku? Apa maksudnya.
"Apa jawabmu ketika ditanya apa dosa pertamamu?"
Aku tidak tahu harus jawab apa.
"Apa kau pernah menangis karena sebuah dosa?"
Aku? Dosa? Selama ini aku tak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Bukankah hidup adalah kesempatan untuk menikmati segala yang indah-indah. Termasuk keindahan dosa. Apakah aku harus peduli karenanya?
"Bila hari ini aku menjemputmu, siapkah kau?"
Tuhan. Sesungguhnya siapakah pengirim pesan pendek ini. Adakah sofia telah berubah menjadi malaikat? Atau mungkin.
Ada apa dengan tubuhku? Pelan-pelan tubuhku mendingin. Aku mengigil di siang yang terik. Tubuhku beku ketika matahari berada di puncak kegarangannya. Sekelebat bayang melintas, menghampiriku dengan warnanya yang ungu. Mengepakkan sayapnya yang lebat. Memancarkan warna kelabu.
Pelan dan pasti sekelebat bayang itu menarik-narik pori-poriku. Melepasnya, menariknya, melepasnya, menariknya terus berulang-ulang seolah tak peduli betapa aku merasakan sakit yang hebat.
Aku sempat dengar ponselku berdering pendek. Aroma kematian mengental di tubuhku, ketika aku ingin membacanya.
Terimakasih ***
Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=222382
Selamat Malam, Duhai Kekasih
Selamat Malam, Duhai Kekasih
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
DARI jauh Sukab sudah mendengar lagu dangdut itu.
selamat malam
duhai kekasih
sebutlah namaku
menjelang tidurmu
Langkah menjadi ringan, seringan hatinya sejak sore sudah melayang-layang. Tumirah, ya Tumirah, wanita itu sudah berjanji akan menunggunya di malam Tahun Baru. Sudah berjanji akan berjoget di lapangan terbuka, lapangan sepak bola di kampungnya yang kini menjadi arena pesta. Tumirah, Tumirah, telah dibayangkannya wanita bertubuh sintal itu, dengan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai sampai ke bahu, dengan sendal jepit merek Swallow, bergoyang dan bergoyang di arena jojing yang becek tapi membakar.
“Tumirah, apakah kamu akan datang ke lapangan pada malam Tahun Baru?”
“Aku tak tahu Sukab, aku tak bisa pastikan sekarang.”
“Datanglah Tumirah, aku ingin bersamamu, apakah kamu tidak ingin melewatkan Tahun Baru bersamaku?”
“Tentu saja aku ingin bersamamu Sukab, aku selalu ingin bersamamu. Akan kuusahakan untuk berjoget denganmu.”
“Bagaimana aku tahu kamu akan datang atau tidak?”
“Tunggulah aku, aku akan pager kamu.”
“Jangan lupa Tumirah, aku menunggu.”
“Aku tahu Sukab, aku tahu.”
Rembulan pucat tertutup awan. Namun lampu dari segala macam tukang jualan telah membuat lapangan jadi semarak. Sukab melangkah setengah berlari sambil membawa bunga. Setangkai bunga merah yang terlindungi plastik. Sebagai pesuruh di toko bunga, Sukab tahu jenis bunga apa yang biasanya dibeli orang sebagai pernyataan cinta. Bahkan ia sering mengantarkan bunga semacam itu ke mana-mana dengan sepeda motornya. Pemilik toko bunga itu melengkapi Sukab dengan sebuah pager, supaya Sukab bisa menerima tugas dalam perjalanan.
Kini Sukab membawa sekuntum bunga berwarna merah yang diambilnya dari toko. Akan kupersembahkan bunga ini sebagai kejutan, pikirnya, Tumirah tentu akan senang menerimanya. Membahagiakan Tumirah adalah segala-galanya bagi Sukab. Ia pernah menulis surat kepada Tumirah: Aku tidak peduli Tumirah, apakah engkau punya suami, apakah engkau punya pacar, aku akan mencintaimu selalu, meskipun sesudah aku mati. Begitulah bunga itu dibawanya setengah berlari. Ia sebenarnya tak berharap Tumirah sudah berada di sana pada jam seperti ini. Namun, pikirnya, siapa tahu Tumirah sudah ada di sana, siapa tahu – seperti segala hal tak terduga yang pernah dialaminya bersama Tumirah.
bawalah aku
dalam mimpi yang indah
di malam yang dingin
sesunyi ini
Sebetulnya lapangan itu memang masih jauh, tapi dalam acara orkes dangdut, pengeras suara selalu di-geber sampai ke langit. Sukab sangat menyukai lagu dangdut. Ia suka mencatat syairnya, dan menghafalkannya, semua itu membuat ia merasa hidup. Itulah yang disukai Tumirah dalam diri Sukab, karena Tumirah juga menyukai lagu dangdut. Tapi Tumirah menyukai dangdut bukan hanya karena syairnya, Tumirah menyukai hentakan-hentakan dangdut karena semua itu mampu membuat dirinya bergoyang.
Tumirah adalah seorang primadona di arena dangdut. Kalau ia bergoyang, ia tidak hanya ber-jojing, ia menari untuk ditonton. Karena itu sebenarnya ia tidak memerlukan pasangan. Setiap gerakannya penuh dengan pesona. Bahwa kemudian di arena jojing terbentuk lingkaran yang memberi ruang Tumirah bergaya, itu adalah soal biasa. Bahkan sang penyanyi dangdut suka kheki karena Tumirah kelewat mencuri perhatian.
“Lihat Tumirah itu, ia mulai lagi.”
“Heran, ia senang sekali menari.”
“Baguslah orang senang menari.”
“Ketimbang senang korupsi.”
“Hahahaha!”
“Tumirah itu, ke mana suaminya?”
“Entahlah, mereka tidak pernah bersama.”
***
SUKAB melihat Tumirah untuk pertama kalinya ketika sedang menari. Tumirah selalu mengenakan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai dan sandal jepit yang juga merah. Bayangan Tumirah telah membuatnya gelisah sepanjang malam, sehingga ketika sampai di rumah pun istrinya tahu pikiran Sukab melayang entah ke mana.
“Siapakah Tumirah?”
“Entahlah. Siapa dia?”
“Semua orang melihatnya menari di lapangan, masak kamu tidak tahu?”
“Jadi yang menari itu namanya Tumirah?”
“Iya, wanita yang sudah bersuami tapi selalu pergi sendiri.”
“Kenapa memang kalau pergi sendiri?”
“Sukab, semua orang bilang kamu berjoget dengan dia!”
“Hah?”
“Hah-huh-hah-huh! Dasar gombal kamu! Hati-hatilah, semua orang bilang dia wanita yang meninggalkan suaminya, dan kini jadi simpanan centeng pasar.”
“Oh, begitu?”
“Ya, begitu.”
“Tapi aku tidak peduli.”
“Memang kamu tidak harus peduli. Kamu harus peduli kepadaku, istrimu yang setia.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu.”
“Sudah! Diamlah! Aku sudah tahu isi perutmu.”
Waktu berlalu seperti mimpi. Lagu itu seperti terdengar sepanjang tahun.
selamat malam
duhai kekasih
kan kusebut namamu
menjelang tidurku
***
SUKAB beredar di antara martabak, tukang sekoteng, tukang balon, tukang bakso, dan tukang es. Bau minyak wangi murahan menusuk hidung, perempuan berpupur putih bertebaran di mana-mana, dengan busana yang dalam pandangan Sukab seperti tidak pernah pas. Habis semuanya baju obral sih, pikir Sukab, benangnya saja ngelewer kian ke mari. Tapi ia tidak bisa berpikir panjang soal baju, pikirannya hanya terpatok pada Tumirah. Di mana dia sekarang? Berkali-kali ia menengok pager-nya meski tidak berbunyi. Namun tiada pesan apa-apa dari Tumirah.
Ia masih membawa-bawa bunga itu di tangannya. Tubuhnya terus melindungi bunga itu dari desakan orang-orang yang memenuhi lapangan, seolah-olah ia sedang melindungi Tumirah sendiri, sampai ia tiba di tepi panggung. Malam masih muda, namun orang-orang sudah bergoyang dengan penuh perasaan. Betapa dasyatnya dangdut itu merasuki jiwa mereka. Dangdut itu bagaikan telah menjelma suatu aliran di mana mereka bisa membebaskan jiwa mereka berenang-renang di sana. Lihatlah wajahnya. Lihatlah matanya. Orang-orang yang larut dalam buaian, bergoyang dan bergoyang. Bagaikan tiada lagi yang lebih indah selain dangdut. Bagaikan tiada lagi yang lebih membahagiakan selain dang-dut-dutdutdut.
“Sukab, ayo turun!”
“Nanti!”
Rembulan yang pucat bagai ikut bergoyang. Penyanyi dangdut itu, dengan baju panggung terbuka dan belahan di dada maupun di paha yang mendebarkan, seperti menari di atas awan. Ia seperti menyanyi di atas sebuah perahu, dan perahu itu mengembara di langit yang kelam. Sesekali panggung itu penuh dengan asap, lampu berpijar-pijar, dan penyanyi itu berputar-putar. Orkes menghentak menggugah kebinalan. Sukab sudah kebelet bergoyang, tapi malam itu ia hanya akan mempersembahkan dirinya untuk Tumirah.
Ditatapnya bunga yang dibawanya. Ia tahu dirinya sudah terlanjur mencintai Tumirah. Sesuatu yang telah diketahuinya hanya akan membawa malapetaka.
“Jangan terlalu sering bermimpi Sukab, belajarlah berbahagia dengan apa yang kamu miliki saja. Cinta adalah soal yang bisa menjadi pelik, tapi ia juga bisa menjadi begitu sederhana, kalau kamu bisa belajar hidup dengan apa adanya.”
Siapakah yang mengatakan itu kepadanya? Sukab sudah lupa. Dalam kehidupannya sebagai pengantar bunga, sudah begitu banyak pembantu rumah tangga ditemuinya di pintu pagar.
“Ini bunga untuk siapa?”
“Itu ada tulisannya.”
“Maaf, saya tidak bisa membaca.”
“Jadi, kamu juga tidak bisa membaca tulisan ini : dengan cinta?”
“Maaf, saya tidak bisa membaca, tapi saya tahu bahasa bunga.”
“Kalau begitu, ini ada bunga lain untuk kamu.”
“Dari siapa?”
“Dari hati saya.”
“Oh, di situnya punya hati toh?”
“Lha iya, masak cuma punya pager doang?”
“Baik betul kamu.”
“Ah, itu biasa, dengan semua orang saya begitu.”
“O ya? Kalau begitu saya tidak istimewa dong?”
“Semuanya istimewa, semuanya luar biasa.”
Begitulah kehidupan Sukab, dari pagar ke pagar. Kadang ia cuma berdiri di luarnya. Kadang melompatinya. Sukab memang tidak pernah berterus terang, bahwa Tumirah baginya adalah segala-galanya. Sampai pada suatu malam, malam Tahun Baru, di mana segala-galanya telah menjadi lain.
Seperti masih terngiang lagu yang satu itu.
gelisah hatiku
karena kau jauh dariku
tak lelap tidurku
karena terbalut rindu
Sudah puluhan kali pager diperiksanya meski tidak berbunyi sama sekali. Tiada pesan secuil pun dari Tumirah.
adakah rindu
di dalam hatimu
seperti diriku
merindukanmu
Malam Tahun Baru akhirnya lewat. Terompet kertas telah lama ditiup dan kini berserakan di tanah yang becek. Malam masih sama seperti beribu-ribu malam yang lain. Sunyi dan kelam, bulan yang pucat menggantung di awan.
Lapangan sudah kosong sekarang. Malam merayap menuju hari pertama di tahun yang baru. Tapi apalah yang sebenarnya baru? Apalagi yang masih bisa baru di bumi yang tua ini? Memang begitu banyak perubahan, namun semua itu tidak mengubah apa-apa bukan? Masih juga kekecewaan dan kepahitan yang lama. Sukab masih memegang bunga itu, duduk sendirian di panggung yang kosong. Kakinya bergelantungan bergoyang-goyang. Matanya hampa menatap jejak-jejak di tanah becek bekas orang berjoget.
Jari tangannya sudah pegal memegang bunga itu, yang tampaknya kini sudah tidak bisa menyampaikan apa-apa lagi. Tidak bahasa bunga, tidak juga bahasa cinta. Untuk beberapa lama ia masih berharap Tumirah akan muncul dari balik kegelapan, dengan kain dan kebayanya yang memang selalu merah, dengan rambutnya yang terurai liat melambai-lambai ditiup angin malam. Ia masih berharap Tumirah akan muncul dan berkata, “Maaf, aku terlambat.” Namun tiada seorang pun muncul dari kegelapan yang mana pun.
***
HARI menjelang fajar. Sukab melangkah pulang sambil berdendang sendiri.
selamat malam
duhai kekasih *)
Di depan rumah, ia melihat istrinya, yang sudah menyiapkan warungnya seperti setiap dini hari yang lain. Istrinya merokok, seperti biasa selalu mengenakan kain dan kebaya hijau, dengan rambut digelung, dengan kaki tidak bersandal. Istrinya selalu bercakar ayam. Dalam cahaya lampu petromaks, Sukab melihat istrinya seperti seorang wanita lain.
“Kamu ketemu Tumirah kan?”
“Tidak, aku mengantar bunga.”
“Untuk siapa?”
“Untuk kamu.”
Ia memberikan setangkai bunga merah terlindungi plastik yang sejak tadi dibawanya. Istrinya meletakkan bunga itu di sebuah botol kosong.
“Sudah lama kamu bekerja sebagai pengantar bunga,” kata istrinya, “tapi baru sekarang kamu memberi bunga untuk istrimu.”
Sukab hanya tersenyum masam. Ia mengganti pakaian dengan sarung, dan langsung tertidur di atas amben. Sampai detik itu ia belum sadar sama sekali, betapa beruntungnya seorang lelaki ketika mendapatkan istri yang setia.
Taman Manggu, Minggu 12 Januari 1997
Catatan:
*) Syair lagu dalam cerpen ini diambil dari lagu Selamat Malam, ciptaan Evie Tamala, yang juga menyanyikannya sendiri.
Sumber : Kompas, Minggu, 30 Maret 1997
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
DARI jauh Sukab sudah mendengar lagu dangdut itu.
selamat malam
duhai kekasih
sebutlah namaku
menjelang tidurmu
Langkah menjadi ringan, seringan hatinya sejak sore sudah melayang-layang. Tumirah, ya Tumirah, wanita itu sudah berjanji akan menunggunya di malam Tahun Baru. Sudah berjanji akan berjoget di lapangan terbuka, lapangan sepak bola di kampungnya yang kini menjadi arena pesta. Tumirah, Tumirah, telah dibayangkannya wanita bertubuh sintal itu, dengan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai sampai ke bahu, dengan sendal jepit merek Swallow, bergoyang dan bergoyang di arena jojing yang becek tapi membakar.
“Tumirah, apakah kamu akan datang ke lapangan pada malam Tahun Baru?”
“Aku tak tahu Sukab, aku tak bisa pastikan sekarang.”
“Datanglah Tumirah, aku ingin bersamamu, apakah kamu tidak ingin melewatkan Tahun Baru bersamaku?”
“Tentu saja aku ingin bersamamu Sukab, aku selalu ingin bersamamu. Akan kuusahakan untuk berjoget denganmu.”
“Bagaimana aku tahu kamu akan datang atau tidak?”
“Tunggulah aku, aku akan pager kamu.”
“Jangan lupa Tumirah, aku menunggu.”
“Aku tahu Sukab, aku tahu.”
Rembulan pucat tertutup awan. Namun lampu dari segala macam tukang jualan telah membuat lapangan jadi semarak. Sukab melangkah setengah berlari sambil membawa bunga. Setangkai bunga merah yang terlindungi plastik. Sebagai pesuruh di toko bunga, Sukab tahu jenis bunga apa yang biasanya dibeli orang sebagai pernyataan cinta. Bahkan ia sering mengantarkan bunga semacam itu ke mana-mana dengan sepeda motornya. Pemilik toko bunga itu melengkapi Sukab dengan sebuah pager, supaya Sukab bisa menerima tugas dalam perjalanan.
Kini Sukab membawa sekuntum bunga berwarna merah yang diambilnya dari toko. Akan kupersembahkan bunga ini sebagai kejutan, pikirnya, Tumirah tentu akan senang menerimanya. Membahagiakan Tumirah adalah segala-galanya bagi Sukab. Ia pernah menulis surat kepada Tumirah: Aku tidak peduli Tumirah, apakah engkau punya suami, apakah engkau punya pacar, aku akan mencintaimu selalu, meskipun sesudah aku mati. Begitulah bunga itu dibawanya setengah berlari. Ia sebenarnya tak berharap Tumirah sudah berada di sana pada jam seperti ini. Namun, pikirnya, siapa tahu Tumirah sudah ada di sana, siapa tahu – seperti segala hal tak terduga yang pernah dialaminya bersama Tumirah.
bawalah aku
dalam mimpi yang indah
di malam yang dingin
sesunyi ini
Sebetulnya lapangan itu memang masih jauh, tapi dalam acara orkes dangdut, pengeras suara selalu di-geber sampai ke langit. Sukab sangat menyukai lagu dangdut. Ia suka mencatat syairnya, dan menghafalkannya, semua itu membuat ia merasa hidup. Itulah yang disukai Tumirah dalam diri Sukab, karena Tumirah juga menyukai lagu dangdut. Tapi Tumirah menyukai dangdut bukan hanya karena syairnya, Tumirah menyukai hentakan-hentakan dangdut karena semua itu mampu membuat dirinya bergoyang.
Tumirah adalah seorang primadona di arena dangdut. Kalau ia bergoyang, ia tidak hanya ber-jojing, ia menari untuk ditonton. Karena itu sebenarnya ia tidak memerlukan pasangan. Setiap gerakannya penuh dengan pesona. Bahwa kemudian di arena jojing terbentuk lingkaran yang memberi ruang Tumirah bergaya, itu adalah soal biasa. Bahkan sang penyanyi dangdut suka kheki karena Tumirah kelewat mencuri perhatian.
“Lihat Tumirah itu, ia mulai lagi.”
“Heran, ia senang sekali menari.”
“Baguslah orang senang menari.”
“Ketimbang senang korupsi.”
“Hahahaha!”
“Tumirah itu, ke mana suaminya?”
“Entahlah, mereka tidak pernah bersama.”
***
SUKAB melihat Tumirah untuk pertama kalinya ketika sedang menari. Tumirah selalu mengenakan kain dan kebaya merah, dengan rambut terurai dan sandal jepit yang juga merah. Bayangan Tumirah telah membuatnya gelisah sepanjang malam, sehingga ketika sampai di rumah pun istrinya tahu pikiran Sukab melayang entah ke mana.
“Siapakah Tumirah?”
“Entahlah. Siapa dia?”
“Semua orang melihatnya menari di lapangan, masak kamu tidak tahu?”
“Jadi yang menari itu namanya Tumirah?”
“Iya, wanita yang sudah bersuami tapi selalu pergi sendiri.”
“Kenapa memang kalau pergi sendiri?”
“Sukab, semua orang bilang kamu berjoget dengan dia!”
“Hah?”
“Hah-huh-hah-huh! Dasar gombal kamu! Hati-hatilah, semua orang bilang dia wanita yang meninggalkan suaminya, dan kini jadi simpanan centeng pasar.”
“Oh, begitu?”
“Ya, begitu.”
“Tapi aku tidak peduli.”
“Memang kamu tidak harus peduli. Kamu harus peduli kepadaku, istrimu yang setia.”
“Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu.”
“Sudah! Diamlah! Aku sudah tahu isi perutmu.”
Waktu berlalu seperti mimpi. Lagu itu seperti terdengar sepanjang tahun.
selamat malam
duhai kekasih
kan kusebut namamu
menjelang tidurku
***
SUKAB beredar di antara martabak, tukang sekoteng, tukang balon, tukang bakso, dan tukang es. Bau minyak wangi murahan menusuk hidung, perempuan berpupur putih bertebaran di mana-mana, dengan busana yang dalam pandangan Sukab seperti tidak pernah pas. Habis semuanya baju obral sih, pikir Sukab, benangnya saja ngelewer kian ke mari. Tapi ia tidak bisa berpikir panjang soal baju, pikirannya hanya terpatok pada Tumirah. Di mana dia sekarang? Berkali-kali ia menengok pager-nya meski tidak berbunyi. Namun tiada pesan apa-apa dari Tumirah.
Ia masih membawa-bawa bunga itu di tangannya. Tubuhnya terus melindungi bunga itu dari desakan orang-orang yang memenuhi lapangan, seolah-olah ia sedang melindungi Tumirah sendiri, sampai ia tiba di tepi panggung. Malam masih muda, namun orang-orang sudah bergoyang dengan penuh perasaan. Betapa dasyatnya dangdut itu merasuki jiwa mereka. Dangdut itu bagaikan telah menjelma suatu aliran di mana mereka bisa membebaskan jiwa mereka berenang-renang di sana. Lihatlah wajahnya. Lihatlah matanya. Orang-orang yang larut dalam buaian, bergoyang dan bergoyang. Bagaikan tiada lagi yang lebih indah selain dangdut. Bagaikan tiada lagi yang lebih membahagiakan selain dang-dut-dutdutdut.
“Sukab, ayo turun!”
“Nanti!”
Rembulan yang pucat bagai ikut bergoyang. Penyanyi dangdut itu, dengan baju panggung terbuka dan belahan di dada maupun di paha yang mendebarkan, seperti menari di atas awan. Ia seperti menyanyi di atas sebuah perahu, dan perahu itu mengembara di langit yang kelam. Sesekali panggung itu penuh dengan asap, lampu berpijar-pijar, dan penyanyi itu berputar-putar. Orkes menghentak menggugah kebinalan. Sukab sudah kebelet bergoyang, tapi malam itu ia hanya akan mempersembahkan dirinya untuk Tumirah.
Ditatapnya bunga yang dibawanya. Ia tahu dirinya sudah terlanjur mencintai Tumirah. Sesuatu yang telah diketahuinya hanya akan membawa malapetaka.
“Jangan terlalu sering bermimpi Sukab, belajarlah berbahagia dengan apa yang kamu miliki saja. Cinta adalah soal yang bisa menjadi pelik, tapi ia juga bisa menjadi begitu sederhana, kalau kamu bisa belajar hidup dengan apa adanya.”
Siapakah yang mengatakan itu kepadanya? Sukab sudah lupa. Dalam kehidupannya sebagai pengantar bunga, sudah begitu banyak pembantu rumah tangga ditemuinya di pintu pagar.
“Ini bunga untuk siapa?”
“Itu ada tulisannya.”
“Maaf, saya tidak bisa membaca.”
“Jadi, kamu juga tidak bisa membaca tulisan ini : dengan cinta?”
“Maaf, saya tidak bisa membaca, tapi saya tahu bahasa bunga.”
“Kalau begitu, ini ada bunga lain untuk kamu.”
“Dari siapa?”
“Dari hati saya.”
“Oh, di situnya punya hati toh?”
“Lha iya, masak cuma punya pager doang?”
“Baik betul kamu.”
“Ah, itu biasa, dengan semua orang saya begitu.”
“O ya? Kalau begitu saya tidak istimewa dong?”
“Semuanya istimewa, semuanya luar biasa.”
Begitulah kehidupan Sukab, dari pagar ke pagar. Kadang ia cuma berdiri di luarnya. Kadang melompatinya. Sukab memang tidak pernah berterus terang, bahwa Tumirah baginya adalah segala-galanya. Sampai pada suatu malam, malam Tahun Baru, di mana segala-galanya telah menjadi lain.
Seperti masih terngiang lagu yang satu itu.
gelisah hatiku
karena kau jauh dariku
tak lelap tidurku
karena terbalut rindu
Sudah puluhan kali pager diperiksanya meski tidak berbunyi sama sekali. Tiada pesan secuil pun dari Tumirah.
adakah rindu
di dalam hatimu
seperti diriku
merindukanmu
Malam Tahun Baru akhirnya lewat. Terompet kertas telah lama ditiup dan kini berserakan di tanah yang becek. Malam masih sama seperti beribu-ribu malam yang lain. Sunyi dan kelam, bulan yang pucat menggantung di awan.
Lapangan sudah kosong sekarang. Malam merayap menuju hari pertama di tahun yang baru. Tapi apalah yang sebenarnya baru? Apalagi yang masih bisa baru di bumi yang tua ini? Memang begitu banyak perubahan, namun semua itu tidak mengubah apa-apa bukan? Masih juga kekecewaan dan kepahitan yang lama. Sukab masih memegang bunga itu, duduk sendirian di panggung yang kosong. Kakinya bergelantungan bergoyang-goyang. Matanya hampa menatap jejak-jejak di tanah becek bekas orang berjoget.
Jari tangannya sudah pegal memegang bunga itu, yang tampaknya kini sudah tidak bisa menyampaikan apa-apa lagi. Tidak bahasa bunga, tidak juga bahasa cinta. Untuk beberapa lama ia masih berharap Tumirah akan muncul dari balik kegelapan, dengan kain dan kebayanya yang memang selalu merah, dengan rambutnya yang terurai liat melambai-lambai ditiup angin malam. Ia masih berharap Tumirah akan muncul dan berkata, “Maaf, aku terlambat.” Namun tiada seorang pun muncul dari kegelapan yang mana pun.
***
HARI menjelang fajar. Sukab melangkah pulang sambil berdendang sendiri.
selamat malam
duhai kekasih *)
Di depan rumah, ia melihat istrinya, yang sudah menyiapkan warungnya seperti setiap dini hari yang lain. Istrinya merokok, seperti biasa selalu mengenakan kain dan kebaya hijau, dengan rambut digelung, dengan kaki tidak bersandal. Istrinya selalu bercakar ayam. Dalam cahaya lampu petromaks, Sukab melihat istrinya seperti seorang wanita lain.
“Kamu ketemu Tumirah kan?”
“Tidak, aku mengantar bunga.”
“Untuk siapa?”
“Untuk kamu.”
Ia memberikan setangkai bunga merah terlindungi plastik yang sejak tadi dibawanya. Istrinya meletakkan bunga itu di sebuah botol kosong.
“Sudah lama kamu bekerja sebagai pengantar bunga,” kata istrinya, “tapi baru sekarang kamu memberi bunga untuk istrimu.”
Sukab hanya tersenyum masam. Ia mengganti pakaian dengan sarung, dan langsung tertidur di atas amben. Sampai detik itu ia belum sadar sama sekali, betapa beruntungnya seorang lelaki ketika mendapatkan istri yang setia.
Taman Manggu, Minggu 12 Januari 1997
Catatan:
*) Syair lagu dalam cerpen ini diambil dari lagu Selamat Malam, ciptaan Evie Tamala, yang juga menyanyikannya sendiri.
Sumber : Kompas, Minggu, 30 Maret 1997
Rembulan dalam Cappuccino
Rembulan dalam Cappuccino
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah cafe dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.
Cappuccino1)¹ dalam lautan berwarna coklat, datang langsung dari tercemplung cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas pingpong-tapi bukan bola pingpong, ini rembulan. Semua orang berada dalam kafe diam-diam melangkah keluar, menengok ke langit, ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan sebenarnya, seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar, yakni yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya, dan rembulan itu memang sudah tidak ada.
Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk, berbincang dengan bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini. Para pelayan yang berbaju putih lengan panjang, mengenakan rompi, berdasi kupu-kupu, dan rambutnya tersisir rapi diam-diam juga memperhatikan. Semenjak kafe itu berdiri sepuluh tahun lalu, baru kali ini ada yang memesan Rembulan dalam Cappuccino. Kafe itu memang menyediakannya, dan minuman itu memang hanya bisa dipesan satu kali, karena rembulan memang hanya satu.
“Rembulan dalam Cappuccino, satu!” Teriak pelayan ke dapur, dan kepala bagian dapur memijit-mijit nomor hp, seolah-olah ada persiapan khusus.
“Akhirnya tiba juga pesanan ini,” katanya, “aku sudah bosan melihatnya di daftar menu tanpa pernah ada yang pesan.”
Kepala dapur itu bicara dengan entah siapa melalui hp.
“Iyalah, turunin aja, sudah tidak ada lagi yang membutuhkan rembulan.”
Perempuan itu bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya. Apakah perempuan itu akan memakan rembulan itu, menyendoknya sedikit demi sedikit seperti menyendok es krim, ataukah akan menelannya begitu saja seperti Dewa Waktu menelan matahari?
Ia memperhatikan rembulan yang terapung-apung di cangkirnya, permukaan cappuccino masih dipenuhi busa putih, seperti pemandangan Kutub Utara-tapi cappuccino itu panas, bagaikan masih mendidih. Ia senang dengan penampakan itu, dingin tapi panas, panas tapi dingin, segala sesuatu tidak selalu seperti tampaknya.
Seminggu kemudian, seorang lelaki memasuki kafe itu, dan memesan minuman yang sama.
“Rembulan dalam Cappuccino,” katanya.
Para pelayan saling berpandangan.
“Oh, minuman itu sudah tidak lagi ada Tuan, seorang perempuan telah memesannya minggu lalu.”
Lelaki itu terpana.
“Apakah Tuan tidak memperhatikan, sudah tidak ada rembulan lagi dalam seminggu ini?”
Lelaki itu tersentak.
“Seorang perempuan? Istri saya? Eh, maaf, bekas istri saya?”
Para pelayan saling berpandangan. Salah seorang pelayan menjelaskan ciri-ciri perempuan yang telah memesan Rembulan dalam Cappuccino itu.
“Ah, pasti dia! Dasar! Apa sih yang tidak ingin ditelannya dari dunia ini? Apakah dia makan rembulan itu?”
Para pelayan saling berpandangan lagi.
“Tidak Tuan…”
“Jadi?”
“Kalau memang perempuan itu istri Tuan…”
“Bekas….”
“Maaf, bekas istri Tuan, mungkin Tuan masih bisa mendapatkan rembulan itu.”
“Maksudmu?”
“Dia tidak memakannya Tuan, dia minta rembulan itu dibungkus.”
“Dibungkus?”
“Ya Tuan, ia tidak menyentuhnya sama sekali, hanya memandanginya saja berjam-jam.”
Para pelayan di kafe itu teringat, betapa perempuan itu mengaduk-aduk Rembulan dalam Cappuccino, bahkan menyeruput cappuccino itu sedikit-sedikit, tapi tidak menyentuh rembulan itu sama sekali. Perempuan itu hanya memandanginya saja berlama-lama, sambil sesekali mengusap air mata.
Mereka ingat, perempuan itu masih di sana dengan air mata bercucuran, dan masih tetap di sana, kebetulan di tempat sekarang lelaki itu duduk, sampai tamu-tamu di kafe itu habis menjelang dini hari.
Kemudian dia meminta rembulan itu dibungkus. Ketika dibungkus, rembulan sebesar bola pingpong yang semula terapung-apung di dalam cangkir itu berubah menjadi sebesar bola basket.
Itulah sebabnya kepala dapur meminta agar pencoretan Rembulan dalam Cappuccino dari daftar menu ditunda.
“Rembulan itu belum hilang,” katanya, “siapa tahu perempuan itu mengembalikannya.”
Lelaki itu memandang pelayan yang berkisah dengan seru. Ia baru sadar semua orang memandang ke arahnya. Ketika ia menoleh, tamu-tamu lain itu segera berpura-pura tidak peduli, padahal penasaran sekali.
“Kalau dia muncul lagi, tolong katakan saya juga mau rembulan itu.”
“Ya Tuan.”
Lelaki itu melangkah pergi, tapi sempat berbalik sebentar.
“Dan tolong jangan panggil saya Tuan,” katanya, “seperti main drama saja.”
Padahal ia sangat menikmati perlakuan itu-seperti yang dilakukan bekas istrinya sebelum mereka berpisah.
Tiada rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya, siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?
“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan itu kepada dirinya sendiri.
“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi.
Dia berada di suatu tempat tanpa cahaya, kelam, begitu kelam, seperti ditenggelamkan malam, sehingga bintang-bintang yang bertaburan tampak jelas, terlalu jelas, seperti peta dengan nama-nama kota. Perempuan itu belum lupa, apalah artinya nasib satu manusia di tengah semesta, nasib yang sebetulnya jamak pula dialami siapa pun jua di muka bumi yang sebesar merica.
Namun, ia merasa bagaikan kiamat sudah tiba. Agak malu juga sebetulnya.
Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana ayahnya diambil dari rumahnya di tengah malam buta. Digelandang dan diarak sepanjang kota sebelum akhirnya disabet lehernya dengan celurit sehingga kepalanya menggelinding di jalanan dan darahnya menyembur ke atas seperti air mancur deras sekali sampai menciprati orang-orang yang mengaraknya itu. Tidak sedikit orang yang hidup dengan kutukan betapa ibunya telah menjadi setan jalang yang memotong-motong alat kelamin lelaki sambil menyanyi dan menari, dan karena itu berhak disiksa dan diperkosa, padahal semua itu merupakan kebohongan terbesar di muka bumi. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-baik meskipuntidak mempunyaikesalahan samasekali. Tanpa pembelaan sama sekali.² Tanpa pembelaan. Tanpa…
Langit malam tanpa rembulan. Ada yang terasa hilang memang. Tapi selebihnya baik-baik saja. Tentu kini hanya bisa dibayangkannya bagaimana rembulan itu seperti perahu yang membawa kelinci pada malam hari dan mendarat di Pulau Jawa. Namun, tidakkah manusia lebih banyak hidup dalam kepalanya daripada dalam dunia di luar batok kepalanya itu? Apabila dunia kiamat, dan tidak ada sesuatu lagi kecuali dirinya sendiri entah di mana, ia bahkan masih memiliki sebuah dunia di dalam kepalanya. Tanpa rembulan di langit ia bisa melihat rembulan seperti perahu membawa kelinci yang mendarat di Pulau Jawa.³
Rembulan itu berada di punggungnya sekarang, terbungkus dan tersimpan dalam ransel-apakah ia berikan saja kepada bekas suaminya, yang diketahuinya selalu bercita-cita memesan Rembulan dalam Cappuccino? Kalau mau kan banyak cappuccino instant di lemari dapur (ia lebih tahu tempat itu daripada suaminya) dan meski rembulan di punggungnya sekarang sebesar bola basket, nanti kalau mau dimasukkan cangkir akan menyesuaikan diri menjadi sebesar bola pingpong. Dia dan bekas suaminya sebetulnya sama-sama tahu betul hukum rembulan itu, tapi itu cerita masa lalu- sekarang ia berada di sebuah jembatan dan sedang berpikir, apakah akan dibuangnya saja rembulan itu ke sungai, seperti membuang suatu masalah agar pergi menjauh selamanya dan tidak pernah kembali? Setiap orang mempunyai peluang bernasib malang, kenapa dirinya harus menjadi perkecualian? Ia seperti sedang mencurigai dirinya sendiri, jangan-jangan ia hanya mewajibkan dirinya berduka, karena selayaknyalah seorang istri yang diceraikan dengan semena-mena merasa terbuang, padahal perpisahan itu membuat peluangnya untuk bahagia terbuka seluas semesta…
Dalam kegelapan tanpa rembulan, perempuan itu tidak bisa melihat senyuman maupun air matanya sendiri di permukaan sungai yang mengalir perlahan- dan ia tak tahu apakah masih harus mengutip Pablo Neruda.
Tonight I can write the saddest lines….
Tiga minggu kemudian, pada hari hujan yang pertama musim ini, perempuan itu muncul lagi di kafe tersebut.
“Saya kembalikan rembulan ini, bisa diganti soto Betawi?”
Itulah masalahnya.
“Tidak bisa Puan, kami tidak punya soto Betawi, ini kan restoran Itali?4
Nah!
Pondok Aren, Minggu 31 Agustus 2003. 07:40.
Sumber: Kompas 30 November 2003
Catatan:
1. Kopi tradisional Italia, biasanya untuk sarapan-kopi espresso yang dibubuhi susu panas dan buih, sering juga ditaburi cokelat, dalam seduhan air panas 80 derajat celsius, dihidangkan dengan cangkir. (Sumber: dari bungkus gula non- kalori Equal).
2. Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia, bisa dilacak dalam sejumlah dokumen, antara lain, Pipit Rochijat, “Am I PKI or Non PKI?” dalam Indonesia edisi 40 (Oktober 1985); A Latief, Pleidoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G 30 S (2000); Sulami, Perempuan-Kebenaran dan Penjara (1999); Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang (2003), dan tentu saja Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995).
3. Dari Sumanasantaka (sekitar 1204) karya Mpu Monaguna: “sang hyang candra bangun bahitra dateng ing kulem amawa sasa mareng jawa.” Tentang segi astronomi bait ini, apakah itu bulan sabit di cakrawala sehingga bentuknya seperti perahu, ataukah bulan purnama, yang memungkinkan gambaran seekor kelinci, baca PJ Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983), terjemahan Dick Hartoko, h238.
4. Puedo escribir los versos mas triste esta noches-dari “Puedo Escribir” (“Tonight I Can Write”) dalam Pablo Neruda (1904-1973), 20 Puemas de amor y una Cancion desesperada (Twenty Love Poems and a Song of Despair), 1924, terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh WS Merwin, terbit pertama kali tahun 1969.
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah cafe dan memesan Rembulan dalam Cappuccino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.
Cappuccino1)¹ dalam lautan berwarna coklat, datang langsung dari tercemplung cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas pingpong-tapi bukan bola pingpong, ini rembulan. Semua orang berada dalam kafe diam-diam melangkah keluar, menengok ke langit, ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa terapung-apung cangkir perempuan sebenarnya, seperti telah pelajari semenjak di sekolah dasar, yakni yang tiada pernah mereka saksikan sisi gelapnya, dan rembulan itu memang sudah tidak ada.
Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk, berbincang dengan bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini. Para pelayan yang berbaju putih lengan panjang, mengenakan rompi, berdasi kupu-kupu, dan rambutnya tersisir rapi diam-diam juga memperhatikan. Semenjak kafe itu berdiri sepuluh tahun lalu, baru kali ini ada yang memesan Rembulan dalam Cappuccino. Kafe itu memang menyediakannya, dan minuman itu memang hanya bisa dipesan satu kali, karena rembulan memang hanya satu.
“Rembulan dalam Cappuccino, satu!” Teriak pelayan ke dapur, dan kepala bagian dapur memijit-mijit nomor hp, seolah-olah ada persiapan khusus.
“Akhirnya tiba juga pesanan ini,” katanya, “aku sudah bosan melihatnya di daftar menu tanpa pernah ada yang pesan.”
Kepala dapur itu bicara dengan entah siapa melalui hp.
“Iyalah, turunin aja, sudah tidak ada lagi yang membutuhkan rembulan.”
Perempuan itu bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya. Apakah perempuan itu akan memakan rembulan itu, menyendoknya sedikit demi sedikit seperti menyendok es krim, ataukah akan menelannya begitu saja seperti Dewa Waktu menelan matahari?
Ia memperhatikan rembulan yang terapung-apung di cangkirnya, permukaan cappuccino masih dipenuhi busa putih, seperti pemandangan Kutub Utara-tapi cappuccino itu panas, bagaikan masih mendidih. Ia senang dengan penampakan itu, dingin tapi panas, panas tapi dingin, segala sesuatu tidak selalu seperti tampaknya.
Seminggu kemudian, seorang lelaki memasuki kafe itu, dan memesan minuman yang sama.
“Rembulan dalam Cappuccino,” katanya.
Para pelayan saling berpandangan.
“Oh, minuman itu sudah tidak lagi ada Tuan, seorang perempuan telah memesannya minggu lalu.”
Lelaki itu terpana.
“Apakah Tuan tidak memperhatikan, sudah tidak ada rembulan lagi dalam seminggu ini?”
Lelaki itu tersentak.
“Seorang perempuan? Istri saya? Eh, maaf, bekas istri saya?”
Para pelayan saling berpandangan. Salah seorang pelayan menjelaskan ciri-ciri perempuan yang telah memesan Rembulan dalam Cappuccino itu.
“Ah, pasti dia! Dasar! Apa sih yang tidak ingin ditelannya dari dunia ini? Apakah dia makan rembulan itu?”
Para pelayan saling berpandangan lagi.
“Tidak Tuan…”
“Jadi?”
“Kalau memang perempuan itu istri Tuan…”
“Bekas….”
“Maaf, bekas istri Tuan, mungkin Tuan masih bisa mendapatkan rembulan itu.”
“Maksudmu?”
“Dia tidak memakannya Tuan, dia minta rembulan itu dibungkus.”
“Dibungkus?”
“Ya Tuan, ia tidak menyentuhnya sama sekali, hanya memandanginya saja berjam-jam.”
Para pelayan di kafe itu teringat, betapa perempuan itu mengaduk-aduk Rembulan dalam Cappuccino, bahkan menyeruput cappuccino itu sedikit-sedikit, tapi tidak menyentuh rembulan itu sama sekali. Perempuan itu hanya memandanginya saja berlama-lama, sambil sesekali mengusap air mata.
Mereka ingat, perempuan itu masih di sana dengan air mata bercucuran, dan masih tetap di sana, kebetulan di tempat sekarang lelaki itu duduk, sampai tamu-tamu di kafe itu habis menjelang dini hari.
Kemudian dia meminta rembulan itu dibungkus. Ketika dibungkus, rembulan sebesar bola pingpong yang semula terapung-apung di dalam cangkir itu berubah menjadi sebesar bola basket.
Itulah sebabnya kepala dapur meminta agar pencoretan Rembulan dalam Cappuccino dari daftar menu ditunda.
“Rembulan itu belum hilang,” katanya, “siapa tahu perempuan itu mengembalikannya.”
Lelaki itu memandang pelayan yang berkisah dengan seru. Ia baru sadar semua orang memandang ke arahnya. Ketika ia menoleh, tamu-tamu lain itu segera berpura-pura tidak peduli, padahal penasaran sekali.
“Kalau dia muncul lagi, tolong katakan saya juga mau rembulan itu.”
“Ya Tuan.”
Lelaki itu melangkah pergi, tapi sempat berbalik sebentar.
“Dan tolong jangan panggil saya Tuan,” katanya, “seperti main drama saja.”
Padahal ia sangat menikmati perlakuan itu-seperti yang dilakukan bekas istrinya sebelum mereka berpisah.
Tiada rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya, siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?
“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan itu kepada dirinya sendiri.
“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi.
Dia berada di suatu tempat tanpa cahaya, kelam, begitu kelam, seperti ditenggelamkan malam, sehingga bintang-bintang yang bertaburan tampak jelas, terlalu jelas, seperti peta dengan nama-nama kota. Perempuan itu belum lupa, apalah artinya nasib satu manusia di tengah semesta, nasib yang sebetulnya jamak pula dialami siapa pun jua di muka bumi yang sebesar merica.
Namun, ia merasa bagaikan kiamat sudah tiba. Agak malu juga sebetulnya.
Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana ayahnya diambil dari rumahnya di tengah malam buta. Digelandang dan diarak sepanjang kota sebelum akhirnya disabet lehernya dengan celurit sehingga kepalanya menggelinding di jalanan dan darahnya menyembur ke atas seperti air mancur deras sekali sampai menciprati orang-orang yang mengaraknya itu. Tidak sedikit orang yang hidup dengan kutukan betapa ibunya telah menjadi setan jalang yang memotong-motong alat kelamin lelaki sambil menyanyi dan menari, dan karena itu berhak disiksa dan diperkosa, padahal semua itu merupakan kebohongan terbesar di muka bumi. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-baik meskipuntidak mempunyaikesalahan samasekali. Tanpa pembelaan sama sekali.² Tanpa pembelaan. Tanpa…
Langit malam tanpa rembulan. Ada yang terasa hilang memang. Tapi selebihnya baik-baik saja. Tentu kini hanya bisa dibayangkannya bagaimana rembulan itu seperti perahu yang membawa kelinci pada malam hari dan mendarat di Pulau Jawa. Namun, tidakkah manusia lebih banyak hidup dalam kepalanya daripada dalam dunia di luar batok kepalanya itu? Apabila dunia kiamat, dan tidak ada sesuatu lagi kecuali dirinya sendiri entah di mana, ia bahkan masih memiliki sebuah dunia di dalam kepalanya. Tanpa rembulan di langit ia bisa melihat rembulan seperti perahu membawa kelinci yang mendarat di Pulau Jawa.³
Rembulan itu berada di punggungnya sekarang, terbungkus dan tersimpan dalam ransel-apakah ia berikan saja kepada bekas suaminya, yang diketahuinya selalu bercita-cita memesan Rembulan dalam Cappuccino? Kalau mau kan banyak cappuccino instant di lemari dapur (ia lebih tahu tempat itu daripada suaminya) dan meski rembulan di punggungnya sekarang sebesar bola basket, nanti kalau mau dimasukkan cangkir akan menyesuaikan diri menjadi sebesar bola pingpong. Dia dan bekas suaminya sebetulnya sama-sama tahu betul hukum rembulan itu, tapi itu cerita masa lalu- sekarang ia berada di sebuah jembatan dan sedang berpikir, apakah akan dibuangnya saja rembulan itu ke sungai, seperti membuang suatu masalah agar pergi menjauh selamanya dan tidak pernah kembali? Setiap orang mempunyai peluang bernasib malang, kenapa dirinya harus menjadi perkecualian? Ia seperti sedang mencurigai dirinya sendiri, jangan-jangan ia hanya mewajibkan dirinya berduka, karena selayaknyalah seorang istri yang diceraikan dengan semena-mena merasa terbuang, padahal perpisahan itu membuat peluangnya untuk bahagia terbuka seluas semesta…
Dalam kegelapan tanpa rembulan, perempuan itu tidak bisa melihat senyuman maupun air matanya sendiri di permukaan sungai yang mengalir perlahan- dan ia tak tahu apakah masih harus mengutip Pablo Neruda.
Tonight I can write the saddest lines….
Tiga minggu kemudian, pada hari hujan yang pertama musim ini, perempuan itu muncul lagi di kafe tersebut.
“Saya kembalikan rembulan ini, bisa diganti soto Betawi?”
Itulah masalahnya.
“Tidak bisa Puan, kami tidak punya soto Betawi, ini kan restoran Itali?4
Nah!
Pondok Aren, Minggu 31 Agustus 2003. 07:40.
Sumber: Kompas 30 November 2003
Catatan:
1. Kopi tradisional Italia, biasanya untuk sarapan-kopi espresso yang dibubuhi susu panas dan buih, sering juga ditaburi cokelat, dalam seduhan air panas 80 derajat celsius, dihidangkan dengan cangkir. (Sumber: dari bungkus gula non- kalori Equal).
2. Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia, bisa dilacak dalam sejumlah dokumen, antara lain, Pipit Rochijat, “Am I PKI or Non PKI?” dalam Indonesia edisi 40 (Oktober 1985); A Latief, Pleidoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G 30 S (2000); Sulami, Perempuan-Kebenaran dan Penjara (1999); Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang (2003), dan tentu saja Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995).
3. Dari Sumanasantaka (sekitar 1204) karya Mpu Monaguna: “sang hyang candra bangun bahitra dateng ing kulem amawa sasa mareng jawa.” Tentang segi astronomi bait ini, apakah itu bulan sabit di cakrawala sehingga bentuknya seperti perahu, ataukah bulan purnama, yang memungkinkan gambaran seekor kelinci, baca PJ Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983), terjemahan Dick Hartoko, h238.
4. Puedo escribir los versos mas triste esta noches-dari “Puedo Escribir” (“Tonight I Can Write”) dalam Pablo Neruda (1904-1973), 20 Puemas de amor y una Cancion desesperada (Twenty Love Poems and a Song of Despair), 1924, terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh WS Merwin, terbit pertama kali tahun 1969.
Kematian Paman Gober
Kematian Paman Gober
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.
Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, “oh, aku lua, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.
Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.
Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.
Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.
“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.
“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.
“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.
Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.
“Belum mati juga!”
Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.
Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.
“Mestinya, bebek seumur sya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”
Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.
“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”
Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.
“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”
“Apakah saya tidak punya hak bicara?”
“Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”
“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”
“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”
“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”
“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”
“Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”
Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.
“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?”
Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”
“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”
Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.
Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.
“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.
“ Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.
“Apakah itu hakikat hidup bebek?”
“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”
Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.
Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.
Jakarta,16 Agustus 1994
Sumber: Republika, 30 Oktober 1994
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.
Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, “oh, aku lua, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.
Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.
Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Pman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.
Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober menjadi legenda yang disukai. Pman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.
“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.
“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.
“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.
Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.
“Belum mati juga!”
Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Bnyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.
Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.
“Mestinya, bebek seumur sya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”
Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.
“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”
Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.
“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”
“Apakah saya tidak punya hak bicara?”
“Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”
“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”
“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”
“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”
“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”
“Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”
Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.
“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya Kota Bebek?”
Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”
“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”
Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.
Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.
“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.
“ Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.
“Apakah itu hakikat hidup bebek?”
“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”
Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.
Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.
Jakarta,16 Agustus 1994
Sumber: Republika, 30 Oktober 1994
Daun-daun Waru di Samirono
Daun-daun Waru di Samirono
Cerpen Nh. Dini
MATAHARI bersinar lembut.
Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah.... Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.
Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.
Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.
Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.
"Mana galahnya, Mak?" seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.
Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.
Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.
Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.
Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.
Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.
"Berangkat cari daun waru, Lik Jum?"
"Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?"
"Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!"
Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?
Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.
Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.
Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.
Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.
Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.
Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.
"Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah," katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.
"Nuwun, Mas, nuwun,"14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.
Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.
Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.
"Sebentar lagi panas terik, Mbah," kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, "ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering."
"Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah," kata kuli yang lain.
Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.
Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.
Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.
"Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?" kuli bangunan bersuara lagi.
Kali itu Mbah Jum menyahut,
"Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas."
"Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!"
"Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu," kuli lain membantah temannya.
"Ya jauh kalau dari Ndemangan," kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.
Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.
"Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?"
Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.
"Di, lepaskan paculmu. Kemari!"
"Ini adukan kedua! Nanti mengering!"
"Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!"
"Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!"
Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.
Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.
Sendowo September 2004
Catatan:
1. 1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
2. 2. kekacauan
3. 3. bangsawan, petinggi
4. 4. Yang Dipertuan
5. 5. pulang
6. 6. jungkir balik
7. 7. rakyat biasa
8. 8. orang-orang bangsawan
9. 9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
10. 10. Lurah, kepala kawasan
11. 11. sekretaris kelurahan
12. 12. menimba dan mengusung air
13. 13. SD
14. 14. terima kasih
15. 15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
16. 16. musim kemarau
Sumber: Kompas Minggu, 24 Oktober 2004
Cerpen Nh. Dini
MATAHARI bersinar lembut.
Tadi malam hujan yang mendadak menyiram bumi Mataram membikin orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak walaupun mungkin akan diteruskan selama dua atau tiga bulan mendatang. Seingat Mbah Jum, para tetangganya sering menyebut September karena berarti sumberé kasèp¹. Perempuan tua itu hanya mengenal nama-nama bulan Jawa melalui hitungan cahaya malam di langit: Jumadil Akhir, Ruwah.... Dia baru menyadari bahwa poso atau puasa sudah tampak di ambang waktu. Keluarga Bu Guru yang tinggal di rumah depan mengatakan bahwa hujan itu sebagai tanda bumi Mataram berduka dengan terjadinya ontran-ontran² di Surakarta. Karena menurut dia, meskipun Kartosuro dan Mataram sudah terpisah menjadi dua kerajaan, sesungguhnya masih terjalin kental.
Bagaimanapun juga, setelah meninggalkan keramaian Pasar Ndemangan, ketika Mbah Jum tiba di tanjakan yang membelok, tubuhnya masih terasa segar karena matahari yang redup. Padahal kemarin sore, untuk ke sekian kalinya dia menerima hantaman keras di dada kirinya. Dia tidak terlalu mempersoalkan dari mana asalnya rasa ngilu tersebut. Hingga saat keluarga Bu Guru menyuruh pembantu memanggil dia supaya makan di dapur, Mbah Jum masih tergeletak di ambèn-nya. Selesai makan, dia mengerok sendiri leher, dada, dan bahunya. Merah nyaris ungu warna bilur-bilurnya. Rupanya dia memang menderita masuk angin.
Langit mendung. Tampaknya kemurungan masih akan berlanjut hari itu. Pengaruh kelakuan dan suasana batin para priyagung³ sangat besar, kata seorang dari cucu Bu Guru. Mbah Jum percaya itu. Ketika Ngerso Dalem4 yang sepuh dulu kondur5 ke alam langgeng, bersama warga kota raja, wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana selama tiga malam, bulan berwajah cemberut di langit kelam, seluas dua depa pandangan mata dilingkari sapuan benang kabut.
Untunglah alam tidak terlalu mengubah kondisinya jika orang kecil seperti dirinya bersedih hati. Karena jika hal sebaliknya yang terjadi, betapa akan mawut6-nya suasana dunia. Sebab jumlah kawulo7 di kota raja saja jauh lebih banyak daripada kaum njeron bètèng8. Belum terhitung yang berada di tempat-tempat lain.
"Mana galahnya, Mak?" seseorang menegur, berteriak dari seberang ketika dia tiba di puncak tanjakan.
Jalan yang dulu hanya dilalui kereta kuda, becak dan sepeda itu kini bisa dimuati empat bahkan mungkin enam berjejeran dari masing-masing jenis kendaraan tersebut. Ujung selendang dia angkat ke tentangan dahi guna melindungi mata dari cahaya yang telah berubah, bersinar menyilaukan.
Sambil mengawasi dari jauh siapa yang berseru, otak perempuan itu sempat berpikir. Panggilan kepadanya dimulai dari Lik, Mak, kemudian berubah menjadi Mbah9 dari waktu ke waktu menuruti perubahan penampilan tubuh dan lebih-lebih warna rambutnya. Kali itu, sebutan Mak tentu diucapkan oleh seseorang yang sudah cukup lama mengenal dia.
Laki-laki yang duduk di bangku warung seberang jalan menggerakkan tangan kanan di tentangan kepala sebagai pemberitahuan bahwa dialah yang menegur.
Mak Jum berhenti, berdiri tepat di pinggir trotoar menghadap ke seberang. Dia berseru menjawab. Tetapi, suaranya ditelan kegaduhan mesin kendaraan roda empat maupun dua, dikacaukan oleh putaran angin yang membawa debu siluman yang terangkat dari gerakan setiap benda di sana. Setelah dua kali kerongkongannya menggembung oleh teriakan, akhirnya wanita itu terdiam. Tangannya menunjuk ke arah belokan terdekat di hadapannya.
Lelaki di seberang jalan mengangguk sambil sekali lagi mengangkat lengan kanan memberi isyarat bahwa dia sudah paham. Lalu pandangannya tertuju ke kelokan. Di pojok sedang dibangun sesuatu, tampak luas dan besar. Bagian tepi dikelilingi pagar dari seng, namun tepat di belokan muncul dahan-dahan pohon waru, berkilau dalam kehijauannya yang pekat. Setiap daun tampak segar. Nyata masing-masing merupa dalam bentuk jantung. Barangkali mereka gembira setelah mandi-mandi air hujan malam kemarin.
"Berangkat cari daun waru, Lik Jum?"
"Sudah mendapat banyak daunnya, Mbah Jum?"
"Mari saya bantu menghitung daun warunya ya Mak Jum!"
Semua orang mengenal dia. Hanya pendatang baru, misalnya anak-anak yang mondok di kos-kosan, pengontrak rumah pengganti penghuni lama yang akan bertanya: siapa Mak atau Mbah Jum itu?
Dia tidak tahu usianya yang pasti. Pak Dukuh10 memberinya tahun kelahiran yang dikira-kira saja. Waktu itu penduduk harus didata karena negara sudah teratur dan merdeka, kata Pak Bayan11.
Mbah Jum sendiri tidak begitu yakin dari mana asalnya. Seingatnya, dia selalu tinggal di bilik belakang rumah Bu Guru. Hingga saat kecelakaan bus yang menimpa hampir setengah warga kampung, dia selalu menyapu dan membersihkan pekarangan. Bila ledeng tidak mengalir, dia mengangsu12 dari sumur di tengah kampung. Di belakang kepalanya bercampur aduk selaksa kenangan yang tidak pernah jelas gambarannya. Paling menonjol adalah kata-kata mengungsi, diiringi penguburan bersama setelah Merapi meluluhkan desa-desa di lerengnya. Lalu dia dibawa Bu Guru ke kota raja. Dia hanya mampu mengikuti pelajaran hingga kelas 3 Sekolah Rakyat13. Untuk seterusnya dia turut mengasuh anak-anak Bu Guru hingga besar, hingga Bu Guru meninggal dan anak-anak bergiliran berumah-tangga. Sekarang, seorang dari cucu Bu Guru juga menjadi pengajar di salah satu sekolah tinggi. Mbah Jum sulit mengingat sebutan tepat untuk guru di sana.
Di usia KTP 78 tahun, dia menjadi nenek bagi seisi kampung. Apa pun yang dipanggilkan warga kepadanya, Mbah Jum selalu menoleh dan menanggapi.
Sejak tabrakan bus, sebelum Bu Guru meninggal, Mbah Jum tidak dapat mengerjakan apa pun yang membutuhkan kekuatan pundak, punggung, dan pinggulnya. Dia tetap menjadi bagian keluarga Bu Guru. Makanan tidak sulit, karena di mana-mana orang mengulurkan sepincuk nasi bersama lauk, segelas teh atau air. Sedangkan di dapur keluarga Bu Guru, dia mendapat sajian di atas papan rak. Nasi lengkap dengan masakan hari itu. Di dalam kardus di tentangan kepala ambèn, dia selalu mempunyai dua pakaian bersih dan cukup bagus untuk dikenakan buat réwang. Di saat-saat ada hajatan, penduduk kampung tidak melupakan bantuan Mak Jum. Karena dia masih bertenaga untuk mengupas, membersihkan atau mengiris sayur. Namun, pekerjaan tetapnya adalah mencari daun waru.
Pembuat tempe dan tahu berderet nyaris sepanjang kampung. Tetapi, yang mengerjakan tempe gembus hanya satu. Sejak dia disebut Lik sampai kini, Mbah Jum merupakan satu-satunya pemasok daun waru sebagai pembungkus tempe gembus spesial dari kampung tersebut. Daun pisang sudah lumrah digunakan. Tetapi harganya lebih mahal, karena tempe lebih bergengsi daripada ampas tahu. Apalagi jika dikemas di dalam daun pisang. Untuk mengurangi pengeluaran, seorang pedagang membungkus limbah tersebut dengan daun waru.
Beberapa tukang becak yang mangkal di kelokan jalan bergantian mengucapkan kalimat-kalimat ramah. Seorang dari mereka menarik sebatang bambu yang diselipkan di antara dahan pohon waru.
"Daunnya hari ini bersih-bersih, Mbah," katanya sambil menyerahkan galah kepada perempuan berambut abu-abu itu.
"Nuwun, Mas, nuwun,"14 kata Mbah Jum sambil melepas selendang pengikat gendongan, lalu meletakkannya di dalam tenggok15 di tanah.
Tanpa menunggu, dia langsung menengadah, mengaitkan pisau di ujung galah ke ranting-ranting yang bisa dia gapai. Maka berjatuhanlah puluhan tangkai sarat dengan daun-daun waru. Benar, semuanya bersih. Bahkan yang terlindung dari pancaran matahari pagi masih mengandung titik-titik air bekas hujan semalam.
Dari sisi jalan belokan, Mbah Jum pindah ke sisi Jalan Colombo. Beberapa ranting tersangkut di pagar seng.
"Sebentar lagi panas terik, Mbah," kata seorang kuli bangunan yang mengaduk pasir dan semen, "ini sedang ketigo16. Kalau yang nyangkut tidak diambil, sebentar lagi kering."
"Biar nanti saya bantu mengambilnya, Mbah," kata kuli yang lain.
Mbah Jum mendengar komentar itu, tetapi tidak peduli. Dia terus menengadah. Terus mengait dan ranting berdaun waru terus berjatuhan. Di sana, di dekat, tersangkut di pagar seng, lalu ada yang menimpa dirinya. Masih terus saja Mbah Jum menengadah. Untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp 3.000, timbunan ranting harus menggunung setinggi lututnya. Selembar daun dihargai tiga puluh rupiah. Meskipun di bawah lipatan pakaian di kardus dia masih menyimpan beberapa ribu rupiah sisa upah membantu dapur kondangan lalu, tetapi dia harus menambah lagi. Lebaran mendatang dia ingin membeli kain bercorak parang yang sudah lama dia idamkan.
Dia harus memanfaatkan waktu. Pedagang tempe sekarang sudah hampir semua tidak menggunakan daun pisang lagi. Juragan tempe gembus bahkan berkata akan meniru orang-orang di lain kampung, menggunakan kantongan plastik ukuran kecil. Jika saat itu tiba, Mbah Jum akan kehilangan satu-satunya andalan pemasukan nafkahnya yang pasti.
Kadang kala semut-semut ngangrang merah menggandul dan merambat turut jatuh. Sekali-sekali Mbah Jum menebaskan tangannya ke tubuh untuk mengusir binatang-binatang itu dari pakaiannya. Kepalanya terasa basah oleh keringat. Udara panas menekan. Pelipis dan dahi dialiri peluh, menitik dan menetes masuk ke mata.
"Hari ini tidak bawa capingnya to Mbah?" kuli bangunan bersuara lagi.
Kali itu Mbah Jum menyahut,
"Sudah bolong-bolong dan jepitan pinggirannya lepas."
"Harus beli lagi. Di Pasar Ndemangan ’kan ada!"
"Tidak, harus di Beringarjo kalau mau beli itu," kuli lain membantah temannya.
"Ya jauh kalau dari Ndemangan," kuli lain menggumam, seolah-olah kalimat itu ditujukan kepada dirinya sendiri.
Percakapan itu lamat-lamat sampai di telinga Mbah Jum. Mendadak terasa tusukan ribuan jarum di dada kirinya.
"Lho Mbah! Lho Mbah! Ada apa?"
Dua kuli mendekat, menggotong lalu membaringkan wanita itu di tempat yang datar.
"Di, lepaskan paculmu. Kemari!"
"Ini adukan kedua! Nanti mengering!"
"Gebyur air yang banyak. Cepat panggil tukang-tukang becak situ!"
"Ya, benar. Di antara mereka ada yang tahu rumah simbah ini, cepat, Di!"
Sayup-sayup Mbah Jum merasakan kain yang basah disentuhkan, digosokkan di leher, kemudian dikompreskan di dahinya. Dia sempat berpikir bahwa pasti itu adalah ujung selendangnya yang telah dicelup ke ember buat mengaduk semen.
Sesudah itu, dia tidak merasa apa pun. Tidak mendengar apa pun.
Sendowo September 2004
Catatan:
1. 1. sumbernya terlambat, tidak ada hujan/air
2. 2. kekacauan
3. 3. bangsawan, petinggi
4. 4. Yang Dipertuan
5. 5. pulang
6. 6. jungkir balik
7. 7. rakyat biasa
8. 8. orang-orang bangsawan
9. 9. Lik, dari kata bulik = tante. Mbah dari kata simbah = nenek
10. 10. Lurah, kepala kawasan
11. 11. sekretaris kelurahan
12. 12. menimba dan mengusung air
13. 13. SD
14. 14. terima kasih
15. 15. wadah seperti keranjang bulat, terbuat dari anyaman bambu padat
16. 16. musim kemarau
Sumber: Kompas Minggu, 24 Oktober 2004
Magi dari Timur
Magi dari Timur
Cerpen Sutardji Calzoum Bachri
Jika para wali di langit tinggi
Jika para wali berarak di awan
Jika para wali menapak langit tinggi
Mari ikut bersama-sama
(disarankan dinyanyikan seperti When the Saints Go Marching In)
BEGITULAH dia Pak Tua itu menyanyi dengan harmonika berjalan menapak-napak pantai. Sementara burung poididi, si raja udang, elang, gagakagaknya, makadawaktu, murai dan lainnya meloncat-loncat girang dan bising dengan kicau lagu masing-masing, seakan tak perduli dengan irama nyanyi dan langkah loncat Pak Tua di pantai antara pasir dan bebatuan.
Angin pantai senja itu jinak. Tapi sejinak-jinaknya angin pantai, tetaplah dapat menyibak-nyibak perdu, ranting dan dedaunan berangan dan pelepah pepohonan kelapa kembar, mendesah dan menderu dalam gumam yang dalam. Maka engkau takkan dapat mendengar penuh nyanyi dan harmonika Pak Tua kalau kalian tak dapat masuk ke dalam dirinya.
Dalam diri Pak Tua ada ruang yang luas dan lapang yang dibuat dan dimuat oleh kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, pencapaian dan pelepasan yang ikhlas dan tenang.
Memang tak gampang masuk ke dalam ruang jiwa Pak Tua, namun jika engkau sanggup bersabar, jika kalian punya waktu dan memiliki hal-hal dan kejadian yang dapat kalian resapkan, engkau bakal bisa masuk ke dalam diri Pak Tua itu dan dapat jelas mendengar nyanyi dan harmonikanya.
Lihatlah, ia terus menyanyi, menapak-napak di pasir pantai meloncat-loncatkan kaki tua yang masih tegap itu pada punggung kokoh bebatuan:
Bila para wali di langit suci
Jika para wali berarak di awan
Bila para wali di langit suci
Mari ikut bersama-sama
Burung poididi, raja udang, makadawaktu, gagakgulana, kakaktua, dan burung sukadukatuaku, berkicau-kicau bising dan indah memberikan warna suara pada langit senja jingga merah keperak-perakan. Pelepah-pelepah kelapa kembar, dedaunan berangan dan perdu pantai disibak rebak angin mensiar-suirkan nyanyi sendiri-sendiri tanpa perduli.
Namun di antara sibuk bising nyanyi angin, pepohonan, dan para burung itu, nada dan nyanyi burung makadawaktu-lah yang mengatas segala.
Suaranya yang aneh , acuh tak acuh, dan terdengar netral, berderam keluar dengan tenang dan penuh wibawa dari paruh yang panjang melengkung bagaikan pedang:
Waketu waktu waktu waktu waketuku waktu, mengatas segala suara kicau dan nyanyi yang ada di sekitarnya.
Tapi seperti sudah kukatakan tadi, jika engkau dapat masuk ke dalam diri Pak Tua, hirau kicau deram desah burung, pepohonan dan alam yang di luar kelihatan bising tak perduli, saling sendiri menyanyi, semuanya jadi terasa selaras sepadan dan menyatu dalam nyanyi Pak tua itu.
Lelah dan puas menyanyi, Pak Tua menggeletakkan tubuh girangnya di pasir pantai, melelap dalam kesejenakan tidur. Ia kelihatan sebagai batu bernafas di sela banyak bebatuan yang terhampar di pantai.
Dalam tidurnya ia sering mengeluarkan dengkur yang aneh, bagaikan kord-kord harmonika yang tak dapat dilacak nadanya.
Memang dulu ketika muda bekerja sebagai pelaut di kapal tanker Yunani “Philosophia’, menyanyi dan mabuk-mabukan dengan teman-teman pelaut sekapal dari berbagai bangsa, ia tak pernah mau menyelaraskan suaranya yang aneh itu dalam nyanyi bersama.
Dalam mabuknya ia berkicau tak ada do bersama. Bahkan tak ada do sebenar do. Begitu juga re dan seterusnya. Paling yang do mirip do yang tak sebenar do yang hampir do yang walau do bukan do yang meski do bukannya do tapi do, namun do tak juga do, tak sampai do namun do mirip do apalah do kalau tak do.
Biasanya kalau ia sudah berkicau begitu, teman-temannya setanker Philosophia akan bilang: “Engkau benar, engkau ini Magi dari Timur”. Dan ia dalam mabuknya tertawa sementara pikirannya bilang pada dirinya sendiri: “Bukan hanya dari Timur, juga dari Barat, Utara, Selatan.
Tapi tentulah itu tak dilafazkan pada teman-temannya sekapal. Karena ia tahu, sebagaimana teman-temannya tahu: Bagi para bijak cukuplah satu arah, untuk menunjukkan banyak arah yang ada.
Kini batu bernafas itu yang punggungnya mengarah tenggelamnya senja, terus tenggelam dalam lelap diiringi dengkur harmonikanya.
Dengkur yang bersuara harmonika itu sudah lama lama sekali tak terpisahkan pada tidurnya. Dulu puluhan tahun yang lalu, ketika SD kelas tiga ia pertama kali mengenal harmonika. Ibunya membelikannya sebuah harmonika 3 dollar Straits Settlement, mata uang yang berlaku waktu itu di semenanjung Malaya, Singapura, Brunei dan Riau.
Sejak itu setiap bulan ia menghabiskan 3 sampai 4 harmonika. Tetapi ibunya tak pernah menolak kalau ia minta uang untuk harmonika.
“Engkau menghabiskan harmonika seperti orang makan jagung rebus,” bilang abangnya yang iri.
Tapi ibunya bilang: Biarlah. Di antara kalian dialah yang akan pergi jauh dan lama. Dia akan berpisah jauh dari kita. Mungkin untuk selama-lamanya. Memang sengaja aku biarkan bising dan sibuk dengan harmonikanya. Aku biarkan dia, sambil bergantungan di akar hawa pepohonan Riau seperti Tarzan, menyanyi-nyanyi dan menghisap harmonika. Aku biarkan dia berenang di lautan, timbul tenggelam bagaikan lumba-lumba, sambil menghisap harmonika. Aku biarkan dirinya, parunya, dan harmonikanya kuyup dengan laut, selat, sungai, akar, dan pepohonan Riau. Nanti, biarpun ia pergi jauh, dia takkan terpisahkan dari kita. Setiap ia menampilkan dirinya dan harmonikanya, selalu ada kita di sana.
Sejak berusia 50 tahun ia mulai mendengkurkan harmonikanya. Tapi sejak usia itu pulalah ia tak pernah bermimpi. Tidurnya selalu kosong mimpi tapi sarat pada makna hayat kediriannya.
Mimpi hanya untuk luka yang ingin disembuhkan, angan-angan dan harapan, untuk kejadian-kejadian yang diharapkan dan dicemaskan akan datang, juga untuk hiburan. Tetapi aku, aku sudah lama tak membutuhkan mimpi. Aku telah melepas-atasi luka, aku telah lama mencapai atasi sampai. Aku tak membutuhkan hiburan karena aku adalah kegirangan. Aku tidak menanti dan tak mengharap. Karena aku adalah yang dinanti dan diharapkan, katanya dalam omong-omong dengan Paul Wisdom, teman akrabnya sesama mantan pelaut Philosophia ketika suatu hari kebetulan bertemu di Batam.
‘Engkau memang benar-benar Magi dari Timur, seperti dulu sudah kubilang waktu di kapal,” kata Paul Wisdom.
Dan seperti biasa, kembali kilatan dalam pikirannya bilang: “Bukan hanya dari Timur, tetapi juga dari Selatan, Utara dan Barat”. Tetapi seperti biasa pula tak diucapkan lantang pada temannya. Karena ia tahu, bagi para bijak seperti Paul Wisdom cukuplah satu arah untuk menunjukkan banyak arah yang ada.
Ketika tidur Pak Tua selalu tersenyum. Bukan hanya di wajahnya yang kerut merut dihiasi alur usia, tetapi sekujur tubuhnya, kaki, bahu, perut dan tangan dan lengannya tersenyum. Semakin lelap semakin mengembang senyum di sekujur tubuhnya. Bahkan tattoo perempuan telanjang di tangan kirinya-kenang-kenangan di masa pelautnya-yang tadi ikut berkeringat ketika Pak Tua meloncat-loncat menyanyi, ikut pula tersenyum.
Kedua buah dadanya yang ikut keriput bersama usia Pak Tua, kini serupa dengan kembang senyum, mengundang hasrat keakraban bagi yang menatapnya.
Maka tak heran kalau Alina, gadis kecil 5 tahun, yang sengaja melepaskan diri dari pengasuhnya, sedikitpun tak gentar ketika menemukan batu bernafas itu.
Ia berjongkok di depan Pak Tua, mendengarkan dengan cermat dan asyik pada dengkur harmonika dari batu keras bernafas namun penuh dilimpahi senyum akrab di sekujurnya. Ia terpukau pada buah dada tattoo yang mengembangkan senyum. Alina mengusap-usap lengan yang tersenyum seakan menjawab suatu jabat tangan. Sebesar-besarnya buah dada dari tattoo di lengan tentulah takkan besar benar. Tapi bagi Alina, buah dada tua yang mengembangkan senyum itu menjadi besar penuh susu segar. Ia menundukkan muka ke buah dada kiri tattoo dan mulai menghisapnya. Pak Tua terbangun.
-Itu hanya gambar-kata Pak Tua sambil tersenyum.
Tanpa malu-malu dan tidak terkejut Alina bilang: “Aku ingin menyusu, Kek”.
-Kau sudah lama tak perlu menyusu-kata kakek.
-Memang sudah lama aku tak menyusu. Tapi sekarang aku ingin.
Pak tua mengalihkan hasrat Alina, memainkan harmonika dengan lembut dan membisikkan lagu di sela-sela riff-nya. Alina senang kegirangan.
-Siapa namamu?
-Alina.
-Usiamu?
-5 tahun.
-Kakek namanya siapa?
-Nama.
-Nama Kakek?!
-Ya Nama.
-Aku bilang nama Kakek siapa?-gusar Alina.
-Ya Nama.
Alina tambah gusar dan kesal.
-Orang harus punya nama, Kek. Namaku Alina. Kakek namanya apa?
-Nama-jawab kakek sambil memungut ranting dan menuliskan : N-a-m-a, di atas pasir pantai.
-Ah masak nama Kakek Nama. Biasanya nama orang itu Abdul, Alek, Wina, Hadi, Hamid, Rahman. Tapi Kakek namanya Nama. Tak lazim, Kek.
Kakek tersenyum dan tertawa. Ia tahu sedang menghadapi anak yang cerdas. Kata ‘tak lazim’ yang diucapkan seorang anak 5 tahun, menambah kesan kecerdasannya.
-Ya. Baiklah. Biar lebih jelas dan lazim namaku ini-kata kakek, sambil menggoreskan ranting di pasir dan menulis bin Tafsir setelah N-a-m-a.
-Nama bin Tafsir, itulah nama jelasku. Kalau pakai Tafsir pasti akan lebih jelas memanggil atau mengenalku. Jika kau sebut Tafsirnya kau akan lebih kenal aku.
Alina terbengong-bengong dan bilang “aku tak mengerti, Kek”.
-Ya aku tahu kau belum paham. Tapi nantilah jika semakin tambah usiamu, semakin banyaklah kejadian yang kau alami dan saksikan, kau akan bisa akrab dan paham dengan namaku dan dengan nama-nama lainnya. Buat sekarang, kau panggil aku Kakek, itu sudah bagus-kata Pak Tua.
Senja semakin kelam. Burung-burung sudah menutup kicaunya. Semak-semak dan perdu mulai menyatu dalam bayangan kelam. Pepohonan kelapa kembar mulai tak kelihatan kembarnya. Dermaga yang jauh sayup, mulai menyalakan lampunya.
-Sudah waktunya pulang-kata Pak Tua.-Kau bisa pulang sendiri?-tanyanya.
-Itu rumahku-jawab Alina menunjukkan sebuah vila mungil 200 meter dari situ, yang menjadi terang karena lelampunya sudah dihidupkan.
-Kakek rumahnya di mana?-tanya Alina. Kakek menunjuk pada gundukan tanah yang luas di ketinggian pantai, ditutupi rumput yang tebal dan rapi dan di pinggir gundukan penuh merambat bunga-bunga.
Bagi Alina rumah kakek kelihatan aneh sebagai gundukan tanah yang luas dan lapang.
-Boleh aku ikut Kakek?
-Buat apa-jawab Pak Tua.
-Ya ingin tau aja-jawab Alina.
Aku cuma ingin tahu jalannya. Sampai rumah Kakek aku langsung pulang. Nanti kan aku bisa jalan sendiri ke rumah Kakek, tentu bila Kakek mengizinkan.
Ya, nanti-nanti kau bisa sendirian ke sana, kata kakek sambil membimbing Alina menuju ke rumah.
Sampai rumah Pak Tua, Alina jadi tahu bahwa rumah kakek dalam tanah. Gundukan besar dan rapi dengan rumputan dan bunga-bunga itu adalah atapnya. Percis sebuah kuburan besar tetapi lelampu luar dan dalam rumah yang segera dinyalakan kakek, serta warna-warni bunga-bunga rerumputan sejuk dan tebal membuat Alina senang dan jauh dari ketakutan.
Di bagian depan bukit rumah Pak Tua itu, terpancang papan lebar kokoh dan besar bagaikan sebuah nisan yang besar dan jelas tercantum nama Pak Tua: Nama bin Tafsir. Kakek tersenyum melihat Alina dengan bantuan cahaya lelampu taman mencoba mengeja namanya.
Sudah waktunya kau pulang sekarang. Nanti ayah dan ibumu bisa cemas. Lantas digaetnya tangan Alina dan diantarnya bocah kecil itu separuh jalan menuju rumah orangtuanya. ***
Sumber: Riau Pos, 9 Agustus 2003
Cerpen Sutardji Calzoum Bachri
Jika para wali di langit tinggi
Jika para wali berarak di awan
Jika para wali menapak langit tinggi
Mari ikut bersama-sama
(disarankan dinyanyikan seperti When the Saints Go Marching In)
BEGITULAH dia Pak Tua itu menyanyi dengan harmonika berjalan menapak-napak pantai. Sementara burung poididi, si raja udang, elang, gagakagaknya, makadawaktu, murai dan lainnya meloncat-loncat girang dan bising dengan kicau lagu masing-masing, seakan tak perduli dengan irama nyanyi dan langkah loncat Pak Tua di pantai antara pasir dan bebatuan.
Angin pantai senja itu jinak. Tapi sejinak-jinaknya angin pantai, tetaplah dapat menyibak-nyibak perdu, ranting dan dedaunan berangan dan pelepah pepohonan kelapa kembar, mendesah dan menderu dalam gumam yang dalam. Maka engkau takkan dapat mendengar penuh nyanyi dan harmonika Pak Tua kalau kalian tak dapat masuk ke dalam dirinya.
Dalam diri Pak Tua ada ruang yang luas dan lapang yang dibuat dan dimuat oleh kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, pencapaian dan pelepasan yang ikhlas dan tenang.
Memang tak gampang masuk ke dalam ruang jiwa Pak Tua, namun jika engkau sanggup bersabar, jika kalian punya waktu dan memiliki hal-hal dan kejadian yang dapat kalian resapkan, engkau bakal bisa masuk ke dalam diri Pak Tua itu dan dapat jelas mendengar nyanyi dan harmonikanya.
Lihatlah, ia terus menyanyi, menapak-napak di pasir pantai meloncat-loncatkan kaki tua yang masih tegap itu pada punggung kokoh bebatuan:
Bila para wali di langit suci
Jika para wali berarak di awan
Bila para wali di langit suci
Mari ikut bersama-sama
Burung poididi, raja udang, makadawaktu, gagakgulana, kakaktua, dan burung sukadukatuaku, berkicau-kicau bising dan indah memberikan warna suara pada langit senja jingga merah keperak-perakan. Pelepah-pelepah kelapa kembar, dedaunan berangan dan perdu pantai disibak rebak angin mensiar-suirkan nyanyi sendiri-sendiri tanpa perduli.
Namun di antara sibuk bising nyanyi angin, pepohonan, dan para burung itu, nada dan nyanyi burung makadawaktu-lah yang mengatas segala.
Suaranya yang aneh , acuh tak acuh, dan terdengar netral, berderam keluar dengan tenang dan penuh wibawa dari paruh yang panjang melengkung bagaikan pedang:
Waketu waktu waktu waktu waketuku waktu, mengatas segala suara kicau dan nyanyi yang ada di sekitarnya.
Tapi seperti sudah kukatakan tadi, jika engkau dapat masuk ke dalam diri Pak Tua, hirau kicau deram desah burung, pepohonan dan alam yang di luar kelihatan bising tak perduli, saling sendiri menyanyi, semuanya jadi terasa selaras sepadan dan menyatu dalam nyanyi Pak tua itu.
Lelah dan puas menyanyi, Pak Tua menggeletakkan tubuh girangnya di pasir pantai, melelap dalam kesejenakan tidur. Ia kelihatan sebagai batu bernafas di sela banyak bebatuan yang terhampar di pantai.
Dalam tidurnya ia sering mengeluarkan dengkur yang aneh, bagaikan kord-kord harmonika yang tak dapat dilacak nadanya.
Memang dulu ketika muda bekerja sebagai pelaut di kapal tanker Yunani “Philosophia’, menyanyi dan mabuk-mabukan dengan teman-teman pelaut sekapal dari berbagai bangsa, ia tak pernah mau menyelaraskan suaranya yang aneh itu dalam nyanyi bersama.
Dalam mabuknya ia berkicau tak ada do bersama. Bahkan tak ada do sebenar do. Begitu juga re dan seterusnya. Paling yang do mirip do yang tak sebenar do yang hampir do yang walau do bukan do yang meski do bukannya do tapi do, namun do tak juga do, tak sampai do namun do mirip do apalah do kalau tak do.
Biasanya kalau ia sudah berkicau begitu, teman-temannya setanker Philosophia akan bilang: “Engkau benar, engkau ini Magi dari Timur”. Dan ia dalam mabuknya tertawa sementara pikirannya bilang pada dirinya sendiri: “Bukan hanya dari Timur, juga dari Barat, Utara, Selatan.
Tapi tentulah itu tak dilafazkan pada teman-temannya sekapal. Karena ia tahu, sebagaimana teman-temannya tahu: Bagi para bijak cukuplah satu arah, untuk menunjukkan banyak arah yang ada.
Kini batu bernafas itu yang punggungnya mengarah tenggelamnya senja, terus tenggelam dalam lelap diiringi dengkur harmonikanya.
Dengkur yang bersuara harmonika itu sudah lama lama sekali tak terpisahkan pada tidurnya. Dulu puluhan tahun yang lalu, ketika SD kelas tiga ia pertama kali mengenal harmonika. Ibunya membelikannya sebuah harmonika 3 dollar Straits Settlement, mata uang yang berlaku waktu itu di semenanjung Malaya, Singapura, Brunei dan Riau.
Sejak itu setiap bulan ia menghabiskan 3 sampai 4 harmonika. Tetapi ibunya tak pernah menolak kalau ia minta uang untuk harmonika.
“Engkau menghabiskan harmonika seperti orang makan jagung rebus,” bilang abangnya yang iri.
Tapi ibunya bilang: Biarlah. Di antara kalian dialah yang akan pergi jauh dan lama. Dia akan berpisah jauh dari kita. Mungkin untuk selama-lamanya. Memang sengaja aku biarkan bising dan sibuk dengan harmonikanya. Aku biarkan dia, sambil bergantungan di akar hawa pepohonan Riau seperti Tarzan, menyanyi-nyanyi dan menghisap harmonika. Aku biarkan dia berenang di lautan, timbul tenggelam bagaikan lumba-lumba, sambil menghisap harmonika. Aku biarkan dirinya, parunya, dan harmonikanya kuyup dengan laut, selat, sungai, akar, dan pepohonan Riau. Nanti, biarpun ia pergi jauh, dia takkan terpisahkan dari kita. Setiap ia menampilkan dirinya dan harmonikanya, selalu ada kita di sana.
Sejak berusia 50 tahun ia mulai mendengkurkan harmonikanya. Tapi sejak usia itu pulalah ia tak pernah bermimpi. Tidurnya selalu kosong mimpi tapi sarat pada makna hayat kediriannya.
Mimpi hanya untuk luka yang ingin disembuhkan, angan-angan dan harapan, untuk kejadian-kejadian yang diharapkan dan dicemaskan akan datang, juga untuk hiburan. Tetapi aku, aku sudah lama tak membutuhkan mimpi. Aku telah melepas-atasi luka, aku telah lama mencapai atasi sampai. Aku tak membutuhkan hiburan karena aku adalah kegirangan. Aku tidak menanti dan tak mengharap. Karena aku adalah yang dinanti dan diharapkan, katanya dalam omong-omong dengan Paul Wisdom, teman akrabnya sesama mantan pelaut Philosophia ketika suatu hari kebetulan bertemu di Batam.
‘Engkau memang benar-benar Magi dari Timur, seperti dulu sudah kubilang waktu di kapal,” kata Paul Wisdom.
Dan seperti biasa, kembali kilatan dalam pikirannya bilang: “Bukan hanya dari Timur, tetapi juga dari Selatan, Utara dan Barat”. Tetapi seperti biasa pula tak diucapkan lantang pada temannya. Karena ia tahu, bagi para bijak seperti Paul Wisdom cukuplah satu arah untuk menunjukkan banyak arah yang ada.
Ketika tidur Pak Tua selalu tersenyum. Bukan hanya di wajahnya yang kerut merut dihiasi alur usia, tetapi sekujur tubuhnya, kaki, bahu, perut dan tangan dan lengannya tersenyum. Semakin lelap semakin mengembang senyum di sekujur tubuhnya. Bahkan tattoo perempuan telanjang di tangan kirinya-kenang-kenangan di masa pelautnya-yang tadi ikut berkeringat ketika Pak Tua meloncat-loncat menyanyi, ikut pula tersenyum.
Kedua buah dadanya yang ikut keriput bersama usia Pak Tua, kini serupa dengan kembang senyum, mengundang hasrat keakraban bagi yang menatapnya.
Maka tak heran kalau Alina, gadis kecil 5 tahun, yang sengaja melepaskan diri dari pengasuhnya, sedikitpun tak gentar ketika menemukan batu bernafas itu.
Ia berjongkok di depan Pak Tua, mendengarkan dengan cermat dan asyik pada dengkur harmonika dari batu keras bernafas namun penuh dilimpahi senyum akrab di sekujurnya. Ia terpukau pada buah dada tattoo yang mengembangkan senyum. Alina mengusap-usap lengan yang tersenyum seakan menjawab suatu jabat tangan. Sebesar-besarnya buah dada dari tattoo di lengan tentulah takkan besar benar. Tapi bagi Alina, buah dada tua yang mengembangkan senyum itu menjadi besar penuh susu segar. Ia menundukkan muka ke buah dada kiri tattoo dan mulai menghisapnya. Pak Tua terbangun.
-Itu hanya gambar-kata Pak Tua sambil tersenyum.
Tanpa malu-malu dan tidak terkejut Alina bilang: “Aku ingin menyusu, Kek”.
-Kau sudah lama tak perlu menyusu-kata kakek.
-Memang sudah lama aku tak menyusu. Tapi sekarang aku ingin.
Pak tua mengalihkan hasrat Alina, memainkan harmonika dengan lembut dan membisikkan lagu di sela-sela riff-nya. Alina senang kegirangan.
-Siapa namamu?
-Alina.
-Usiamu?
-5 tahun.
-Kakek namanya siapa?
-Nama.
-Nama Kakek?!
-Ya Nama.
-Aku bilang nama Kakek siapa?-gusar Alina.
-Ya Nama.
Alina tambah gusar dan kesal.
-Orang harus punya nama, Kek. Namaku Alina. Kakek namanya apa?
-Nama-jawab kakek sambil memungut ranting dan menuliskan : N-a-m-a, di atas pasir pantai.
-Ah masak nama Kakek Nama. Biasanya nama orang itu Abdul, Alek, Wina, Hadi, Hamid, Rahman. Tapi Kakek namanya Nama. Tak lazim, Kek.
Kakek tersenyum dan tertawa. Ia tahu sedang menghadapi anak yang cerdas. Kata ‘tak lazim’ yang diucapkan seorang anak 5 tahun, menambah kesan kecerdasannya.
-Ya. Baiklah. Biar lebih jelas dan lazim namaku ini-kata kakek, sambil menggoreskan ranting di pasir dan menulis bin Tafsir setelah N-a-m-a.
-Nama bin Tafsir, itulah nama jelasku. Kalau pakai Tafsir pasti akan lebih jelas memanggil atau mengenalku. Jika kau sebut Tafsirnya kau akan lebih kenal aku.
Alina terbengong-bengong dan bilang “aku tak mengerti, Kek”.
-Ya aku tahu kau belum paham. Tapi nantilah jika semakin tambah usiamu, semakin banyaklah kejadian yang kau alami dan saksikan, kau akan bisa akrab dan paham dengan namaku dan dengan nama-nama lainnya. Buat sekarang, kau panggil aku Kakek, itu sudah bagus-kata Pak Tua.
Senja semakin kelam. Burung-burung sudah menutup kicaunya. Semak-semak dan perdu mulai menyatu dalam bayangan kelam. Pepohonan kelapa kembar mulai tak kelihatan kembarnya. Dermaga yang jauh sayup, mulai menyalakan lampunya.
-Sudah waktunya pulang-kata Pak Tua.-Kau bisa pulang sendiri?-tanyanya.
-Itu rumahku-jawab Alina menunjukkan sebuah vila mungil 200 meter dari situ, yang menjadi terang karena lelampunya sudah dihidupkan.
-Kakek rumahnya di mana?-tanya Alina. Kakek menunjuk pada gundukan tanah yang luas di ketinggian pantai, ditutupi rumput yang tebal dan rapi dan di pinggir gundukan penuh merambat bunga-bunga.
Bagi Alina rumah kakek kelihatan aneh sebagai gundukan tanah yang luas dan lapang.
-Boleh aku ikut Kakek?
-Buat apa-jawab Pak Tua.
-Ya ingin tau aja-jawab Alina.
Aku cuma ingin tahu jalannya. Sampai rumah Kakek aku langsung pulang. Nanti kan aku bisa jalan sendiri ke rumah Kakek, tentu bila Kakek mengizinkan.
Ya, nanti-nanti kau bisa sendirian ke sana, kata kakek sambil membimbing Alina menuju ke rumah.
Sampai rumah Pak Tua, Alina jadi tahu bahwa rumah kakek dalam tanah. Gundukan besar dan rapi dengan rumputan dan bunga-bunga itu adalah atapnya. Percis sebuah kuburan besar tetapi lelampu luar dan dalam rumah yang segera dinyalakan kakek, serta warna-warni bunga-bunga rerumputan sejuk dan tebal membuat Alina senang dan jauh dari ketakutan.
Di bagian depan bukit rumah Pak Tua itu, terpancang papan lebar kokoh dan besar bagaikan sebuah nisan yang besar dan jelas tercantum nama Pak Tua: Nama bin Tafsir. Kakek tersenyum melihat Alina dengan bantuan cahaya lelampu taman mencoba mengeja namanya.
Sudah waktunya kau pulang sekarang. Nanti ayah dan ibumu bisa cemas. Lantas digaetnya tangan Alina dan diantarnya bocah kecil itu separuh jalan menuju rumah orangtuanya. ***
Sumber: Riau Pos, 9 Agustus 2003
TAKSI BLUES
TAKSI BLUES
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Malam berhujan. Kudengar lagu blues.
By a route obscure and lonely,
Haunted by ill angels only, *)
”Kusaksikan pemandangan,” terdengar radio taksi itu. Kusambar mikrofon.
”Sembilan-sembilan.”
”Posisi di mana?”
”Menteng.”
”Ada tamu lapor bukunya ketinggalan.”
”Seperti apa tamunya?”
”Cewek cakep begitu.”
”Cakep?”
”Cakep sekali begitu.”
”Bukunya kayak apa?”
”Judulnya susah, tapi begini ejaannya:November-India-Echo-Tango-Zero-Siera-Charlie-Hotel-Echo.”
Kubuka laci mobil. Kubaca judulnya. Busyet. Pernah kudengar sebuah kalimat di dalamnya: Tuhan sudah mati.
”Bukunya ada.”
"Serahkan ke pool. Supaya bisa diambil besok pagi.”
”Copy.”
Hujan menggerojok, membuat jalanan sepintas lalu seperti sungai. Kulirik penumpangku dari kaca spion. Ia masih tidur. Kepalanya tersandar ke jendela.
Kubangunkan dia.
”Mbak, Mbak, bangun, Mbak.”
Wanita itu menggeliat, mengucek-ucek mata.
”Sudah sampai di mana nih?”
”Lho, dari tadi kita putar-putar terus. Memangnya mau turun di mana?”
Memang dari tadi aku tidak tahu dia mau turun di mana. Begitu masuk sudah marah-marah terus. Gelisah sekali menelepon ke sana kemarin lewat hand phone. Setelah itu sibuk mencari cincin kawinnya yang hilang entah di mana. Sampai-sampai aku harus berhenti. Menyalakan lampu, mengambil senter untuk melihat kolong, tapi cincin itu tetap tidak ketemu. Lantas dia menangis.
”Tujuan kita ke mana, Mbak?”
”Tanya-tanya lagi! Bukannya tahu orang baru nangis!”
”Soalnya saya kasihan Mbak, nanti bayarnya mahal.”
”Sok tau banget sih Abang ni? Jalan saja terus, pasang argonya, yang penting saya bayar, ‘kan?”
Lama sekali dia memandang keluaar jendela. Air matanya meleleh di pipi. Sudah berapa kali ada penumpang menangis di taksiku? Wanita memang suka menangis sambil memandang keluar jendela. Apakah mereka mencari dirinya sendiri di luar jendela?
”Bang,” katanya tiba-tiba. ”Abang sudah kawin?”
”Sudah.”
”Berapa lama?”
”Belum lama. Baru dua tahun.”
”Sudah punya anak?”
”Belum.”
”Ka-be?”
”Yah, ka-be. Istri saya masih ingin kerja, dan kami memang belum punya duit.”
”Abang nggak apa-apa?”
”Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?”
”Saya kawin juga baru dua tahun. Belum punya anak. Tapi suami saya udah ribut terus.”
”Kenapa?”
”Katanya malu kalau nggak punya anak. Dikira mandul.”
”Kalau mandul bener kenapa?”
”Dia malu.”
”Bodoh sekali dia.”
Aku melirik, wanita itu sedang memandang dirinya sendiri lewat cermin kecil, lantas berias. Ia menggerutu.
”Memang. Dasar laki-laki bodoh.”
”Waktu kawin, belum tahu dia bodoh?”
”Huuuuhhh. Pasti saya yang bodoh mau kawin sama dia. Pasti saya yang bodoh. Sudah tahu dia bego, masih mau juga. Pasti saya dong yang bego. Iya, ‘kan?”
”Tapi, cinta?”
Kulirik lagi. Sambil menatap jendela, wanita itu tersenyum pahit.
”Cinta. Cinta. Apa itu cinta?”
Lantas percakapan terhenti, dan ia tertidur. Aku yang tak tahu mau ke mana, berputar-putar seenak perutku.
”Sudah, turun sini saja,” katanya sekarang.
Kulihat neon sign bar-bar di Jalan B. Rok mininya terangkat ketika melangkah keluar. Ia menghabiskan Rp 50.000 untuk tidur di dalam taksi. Kulihat ia melangkah menerobos hujan, lenyap di balik pintu sebuah bar. Masih tersisa harum parfumnya. Hmmm.
Misteri. Misteri. Para penumpang adalah misteri. Aku tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas di jalanan. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali. Yeah. Aku hanya sopir taksi yang selalu keluar pada malam hari. Bertemu begitu banyak orang dalam semalam, tapi pada hakikatnya selalu sendiri. Kota ini juga sebuah misteri. Begitu banyak manusia kita temui di jalanan setiap hari, namun betapa sulitnya mengenal satu saja dari mereka. Betapa sulit memahami manusia meskipun mereka semua ada di sekeliling kita. Ah, untuk apa aku memikirkan semua ini? Aku cuma seorang sopir taksi. Selalu keluar malam karena tak suka macet dan kepanasan. Selalu mengembara dalam kekelaman.
***
”Sembilan-sembilan.”
”Sembilan-sembilan.”
”Posisi di mana?”
”Masih sekitar Menteng.”
”Jalan Gereja Theresia?”
”Ambil-ambil.”
”Jalan Gereja Theresia 47. Bapak Hamsad.”
”Meluncur.”
Hujan sudah berhenti, tapi uap air masih membiaskan cahaya kekuningan lampu merkuri. Aku segera tiba di tempat pemesan. Tiga pria bertampang serem berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Mereka masuk.
”Bapak Hamsad?”
Pria Serem 1 yang duduk di sebelahku menjawab.
”Mau Hamsad kek, mau bangsat kek, apa urusan lu? Jalan!”
”Lho, ini ordernya untuk Bapak Hamsad.”
”Sialan lu! Gua yang panggil taksi tau? Gua namanya Hamsad, gua namanya belegug, apa peduli lu? Pokoknya gua bayar! Udah, jalan!”
Ngefreto! Tombol argo kupencet. Yeah. Apalah artinya sebuah nama. Aku toh tak pernah hafal nama-nama penumpang.
”Kemana kita, Pak?”
Sambil menjawab, Pria Serem 1 melirik kedua temannya.
”Bukunya gua udah bilang tadi?”
”Sungguh mati, belum, Pak.”
Pria Serem 1 berkata kepada kedua temannya.
”He, kalian denger nggak tadi gua udah bilang ke mana?”
”Denger, Bang. Dia aja yang budeg,” kata Pria Serem 2 di belakangnya.
Pria Serem 3 di belakangku menambahi pula.
”Emang, Budeg.”
Mampus!
”Iyalah, barangkali saya budeg. Tapi, ke mana tujuan kita, Bang?”
”Eh, elu udah budeg masih ngelunjak! Kalau gua kagak salah denger, elu tadi manggil Pak, ‘kan. Bukan Bang?” Pria Serem I menukas lagi.
”Iya Bang, eh Pak.”
”He, denger, jadi orang itu jangan plin-plan kayak para pejabat. Kalau sudah Pak ya Pak, nggak
usah sok akrab! Ngerti?”
”Iya, sok akrab~!” Pria Setem 2 menimpali.
”Ngerti nggak?” Pria Serem 3 tak mau ketinggalan.
”Ngerti, ngerti Bank, eh Pak.”
”Awas! Sekali lagi keliru gua pelintir lu punya kepala.”
Busyet.
”Sembilan-sembilan,” radio taksi berbunyi lagi.
”Sembilan-sembilan.”
”Jalan Gereja Theresia?”
”Sudah bersama.”
”Selamat jalan dan kepada tamunya selamat malam.”
”Copy”
Kukebut taksiku, tapi ke mana tujuan mereka?
”Jadi ke mana kita, Pak?”
”Sialan lu! Dari tadi nanya melulu!”
”Emang! Berisik lu!”
”Dasar budeg!”
Bener-bener sialan mereka ini.
”Lu ngerti Sawangan nggak?”
”Sawangan? Tahu Bang, eh Pak.”
”Nah, kita ke sono.”
”Jauh amat, Pak?” Aku mencoba ramah.
Pria-pria Serem itu saling berpandangan. Tiba-tiba Pria Serem 3 bergerak, menempelkan pisau di leherku.
”Eh, elu cerewet amat sih? Denger, bawa kita ke Sawangan. Titik. Nggak usah nanya-nanya, gua iris kuping lu entar! Ngerti?”
”Mengerti, Pak.”
Minta ampun dah! Orang-orang ini bener-bener sialan. Mudah-mudahan mereka bayar. Kutancap taksiku. Sepanjang jalan mereka berdiam diri. Sampai Pria Serem 3 memecah kesunyian.
”Jadi bagaimana urusan kita itu, Bang?”
”Yang sekarang ini?” Pria Serem 1 balik bertanya.
”Yang mana lagi, Bang?” Pria Serem 2 menegaskan.
Pria Serem 1 menoleh ke belakang. Aku tahu ia memberi tanda dengan matanya bahwa di situ ada aku.
”Gua udah tahu jawabnya, tapi gua nggak bisa bilang sekarang.”
”Kenapa begitu?”
Aku merasa Pria Serem 3 menatapku dari belakang.
”Omongin sekarang aja, Bang. Dia nggak ngerti apa-apa ini. Kalau ngerti pun rasanya nggak akan dia berani ikut campur. Ya nggak, Bung?”
Aku pura-pura tidak mendengar. Eh, Pria Serem 3 menyodok kursiku dengan kakinya.
”Lu denger, ‘kan? Lu nggak akan ikut campur?”
”Ya, ya, ya.”
Bener-bener buju busyet. Siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Tapi hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tidak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi. Pemandangan kota mengalir di kaca depanku.
”Waktu itu Abang bilang kita cuma menuruti perintah atasan.”
”Memang perintah atasan yang kita turuti waktu itu.”
”Tapi, kenapa jadi kita yang salah? Kenapa kita yang dipecat? Bukan atasan kita?”
”Memang kenyataannya begitu, Din, kita diperintahkan menculik Joni. Kita diperintahkan menghabisi Joni. Kita diperintahkan membuangnya di tepi jalan.”
”Jadi, kita tidak salah, ‘kan?” Pria Serem 2 bertanya.
”Tapi kita yang dipecat. Jadi kambing hitam. Jadi tumbal.” Pria Serem 3 menegaskan.
”Menurut peraturan, memang tidak semua perintah atasan boleh kita turuti.”
”Namanya juga komando, Bang.”
”Ya. Komando. Perintah atasan.”
”Kita harus memakai otak kita. Menculik orang yang belum jelas kesalahannya. Membunuhnya tanpa pengadilan. Menghajarnya dulu sebelum menembaknya. Mau dibolak-balik, itu tetap suatu kesalahan.”
”Itu perintah atasan toh, Bang?”
”Yak!”
”Atasan kita ikut salah dong!”
”Yak!”
”Tapi dia sampai sekarang tidak diapa-apakan. Enak-enakan di rumahnya yang mewah.”
”Dengan tujuh mobil.”
”Dengan istri muda.”
”Yah. Dengan istri muda. Bangsat!”
”Yah. Orang-orang di atas itu memang bangsat!”
Aku tertegun, melirik dari kaca spion. Tapi bertumbukan dengan mata Pria Serem 3.
”Ngapain lu lirik-lirik!”
”Lihat belakang, Bang, eh Pak.”
”Diem aje lu! Bulegug!”
Aduh Mak!
”Jadi sekarang kita mau melakukan pembalasan, Bang?”
”Yak!”
”Jadi kita akan menghukumnya sendiri, Bang? Tanpa pengadilan, sama seperti dia lakukan kepada orang-orang yang kita culik, Bang?”
”Yak!”
Tanpa sengaja aku menengok dari kaca spion lagi. Eh, bertemu pandang lagi dengan Pria Serem 3. Mendadak dia memitingku, ada pisau di tangannya.
”Sialan! Gua udah bilang jangan lirik-lirik, ‘kan?”
”Maaf Bang, eh Pak, nggak sengaja.”
”Gua iris kuping lu mau?”
”Jangan, Pak, kuping cuma satu.”
”Salah. Kuping lu dua. Jadi boleh kan gua ambil satu?”
Nafasku sesak. Untung Pria Serem 1 melepas pitingan itu.
”Heh, sudah, dia lagi nyetir tuh! Nanti kita semua yang mampus.”
Busyet. Repot juga jadi sopir taksi.
”Terimakasih, Pak.”
”Nggak usah pake terimakasih lu, brengsek.”
Busyet.
”Apakah kali ini kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”
”Yah, apakah kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”
”Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Sedangkan bangsat itu mempunyai segalanya. Tujuh mobil, tujuh rumah, dan tujuh pacar.”
”Dan satu istri muda.”
”Dan satu istri muda.”
Pria Serem 1 menudingkan jari seperti menembakkan pistol, dan menirukan bunyi tembakan.
”Tiegghhh!”
***
Aku disuruh berhenti di sebuah tempat yang sepi. Mereka keluar semua dari mobil. Pria Serem 1 mengambil segepok uang dari balik jaketnya, melemparkannya ke dalam, dan jatuh di pangkuanku. Kupegang uang itu.
”Ini kebanyakan, Pak.”
Pria Serem 1 membungkuk, menyandarkan tangan kanannya ke jendela, menunjuk dengan tangan kirinya.
”Lu liat rumah besar itu, ‘kan?”
Kulihat rumah yang nampak terang lampunya.
”Besok atau lusa lu buka koran, akan tahu yang punya rumah itu mampus. Lu tutup mulut. Ngerti?”
”Iya, Pak.”
”Sudah, pergi sana! Sok!’
Ketika kuputar taksiku, kulihat mereka bertiga memandangi rumah mewah itu, sebelum akhirnya melangkah ke sana.
Malam begitu sepi, begitu kelam. Aku tidak terlalu salah. Kota ini isinya orang-orang misterius. Siapakah yang betul-betul bisa kita kenal di kota ini? Apakah yang betul-betul bisa kita pahami di sini? Malam hanyalah bayang-bayang. Tapi aku suka bayang-bayang. Aku suka masuk ke balik kelam.
Radio taksi berbunyi.
”Sembilan-sembilan.”
”Sembilan-sembilan.”
”Posisi di mana?”
”Di bawah rembulan.”
Kudengar lagu blues — aku masih sendirian menembus malam.
Jakarta – Yogya, Lebaran 1998
*) Lirik lagu dari puisi
Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Malam berhujan. Kudengar lagu blues.
By a route obscure and lonely,
Haunted by ill angels only, *)
”Kusaksikan pemandangan,” terdengar radio taksi itu. Kusambar mikrofon.
”Sembilan-sembilan.”
”Posisi di mana?”
”Menteng.”
”Ada tamu lapor bukunya ketinggalan.”
”Seperti apa tamunya?”
”Cewek cakep begitu.”
”Cakep?”
”Cakep sekali begitu.”
”Bukunya kayak apa?”
”Judulnya susah, tapi begini ejaannya:November-India-Echo-Tango-Zero-Siera-Charlie-Hotel-Echo.”
Kubuka laci mobil. Kubaca judulnya. Busyet. Pernah kudengar sebuah kalimat di dalamnya: Tuhan sudah mati.
”Bukunya ada.”
"Serahkan ke pool. Supaya bisa diambil besok pagi.”
”Copy.”
Hujan menggerojok, membuat jalanan sepintas lalu seperti sungai. Kulirik penumpangku dari kaca spion. Ia masih tidur. Kepalanya tersandar ke jendela.
Kubangunkan dia.
”Mbak, Mbak, bangun, Mbak.”
Wanita itu menggeliat, mengucek-ucek mata.
”Sudah sampai di mana nih?”
”Lho, dari tadi kita putar-putar terus. Memangnya mau turun di mana?”
Memang dari tadi aku tidak tahu dia mau turun di mana. Begitu masuk sudah marah-marah terus. Gelisah sekali menelepon ke sana kemarin lewat hand phone. Setelah itu sibuk mencari cincin kawinnya yang hilang entah di mana. Sampai-sampai aku harus berhenti. Menyalakan lampu, mengambil senter untuk melihat kolong, tapi cincin itu tetap tidak ketemu. Lantas dia menangis.
”Tujuan kita ke mana, Mbak?”
”Tanya-tanya lagi! Bukannya tahu orang baru nangis!”
”Soalnya saya kasihan Mbak, nanti bayarnya mahal.”
”Sok tau banget sih Abang ni? Jalan saja terus, pasang argonya, yang penting saya bayar, ‘kan?”
Lama sekali dia memandang keluaar jendela. Air matanya meleleh di pipi. Sudah berapa kali ada penumpang menangis di taksiku? Wanita memang suka menangis sambil memandang keluar jendela. Apakah mereka mencari dirinya sendiri di luar jendela?
”Bang,” katanya tiba-tiba. ”Abang sudah kawin?”
”Sudah.”
”Berapa lama?”
”Belum lama. Baru dua tahun.”
”Sudah punya anak?”
”Belum.”
”Ka-be?”
”Yah, ka-be. Istri saya masih ingin kerja, dan kami memang belum punya duit.”
”Abang nggak apa-apa?”
”Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?”
”Saya kawin juga baru dua tahun. Belum punya anak. Tapi suami saya udah ribut terus.”
”Kenapa?”
”Katanya malu kalau nggak punya anak. Dikira mandul.”
”Kalau mandul bener kenapa?”
”Dia malu.”
”Bodoh sekali dia.”
Aku melirik, wanita itu sedang memandang dirinya sendiri lewat cermin kecil, lantas berias. Ia menggerutu.
”Memang. Dasar laki-laki bodoh.”
”Waktu kawin, belum tahu dia bodoh?”
”Huuuuhhh. Pasti saya yang bodoh mau kawin sama dia. Pasti saya yang bodoh. Sudah tahu dia bego, masih mau juga. Pasti saya dong yang bego. Iya, ‘kan?”
”Tapi, cinta?”
Kulirik lagi. Sambil menatap jendela, wanita itu tersenyum pahit.
”Cinta. Cinta. Apa itu cinta?”
Lantas percakapan terhenti, dan ia tertidur. Aku yang tak tahu mau ke mana, berputar-putar seenak perutku.
”Sudah, turun sini saja,” katanya sekarang.
Kulihat neon sign bar-bar di Jalan B. Rok mininya terangkat ketika melangkah keluar. Ia menghabiskan Rp 50.000 untuk tidur di dalam taksi. Kulihat ia melangkah menerobos hujan, lenyap di balik pintu sebuah bar. Masih tersisa harum parfumnya. Hmmm.
Misteri. Misteri. Para penumpang adalah misteri. Aku tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas di jalanan. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali. Yeah. Aku hanya sopir taksi yang selalu keluar pada malam hari. Bertemu begitu banyak orang dalam semalam, tapi pada hakikatnya selalu sendiri. Kota ini juga sebuah misteri. Begitu banyak manusia kita temui di jalanan setiap hari, namun betapa sulitnya mengenal satu saja dari mereka. Betapa sulit memahami manusia meskipun mereka semua ada di sekeliling kita. Ah, untuk apa aku memikirkan semua ini? Aku cuma seorang sopir taksi. Selalu keluar malam karena tak suka macet dan kepanasan. Selalu mengembara dalam kekelaman.
***
”Sembilan-sembilan.”
”Sembilan-sembilan.”
”Posisi di mana?”
”Masih sekitar Menteng.”
”Jalan Gereja Theresia?”
”Ambil-ambil.”
”Jalan Gereja Theresia 47. Bapak Hamsad.”
”Meluncur.”
Hujan sudah berhenti, tapi uap air masih membiaskan cahaya kekuningan lampu merkuri. Aku segera tiba di tempat pemesan. Tiga pria bertampang serem berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Mereka masuk.
”Bapak Hamsad?”
Pria Serem 1 yang duduk di sebelahku menjawab.
”Mau Hamsad kek, mau bangsat kek, apa urusan lu? Jalan!”
”Lho, ini ordernya untuk Bapak Hamsad.”
”Sialan lu! Gua yang panggil taksi tau? Gua namanya Hamsad, gua namanya belegug, apa peduli lu? Pokoknya gua bayar! Udah, jalan!”
Ngefreto! Tombol argo kupencet. Yeah. Apalah artinya sebuah nama. Aku toh tak pernah hafal nama-nama penumpang.
”Kemana kita, Pak?”
Sambil menjawab, Pria Serem 1 melirik kedua temannya.
”Bukunya gua udah bilang tadi?”
”Sungguh mati, belum, Pak.”
Pria Serem 1 berkata kepada kedua temannya.
”He, kalian denger nggak tadi gua udah bilang ke mana?”
”Denger, Bang. Dia aja yang budeg,” kata Pria Serem 2 di belakangnya.
Pria Serem 3 di belakangku menambahi pula.
”Emang, Budeg.”
Mampus!
”Iyalah, barangkali saya budeg. Tapi, ke mana tujuan kita, Bang?”
”Eh, elu udah budeg masih ngelunjak! Kalau gua kagak salah denger, elu tadi manggil Pak, ‘kan. Bukan Bang?” Pria Serem I menukas lagi.
”Iya Bang, eh Pak.”
”He, denger, jadi orang itu jangan plin-plan kayak para pejabat. Kalau sudah Pak ya Pak, nggak
usah sok akrab! Ngerti?”
”Iya, sok akrab~!” Pria Setem 2 menimpali.
”Ngerti nggak?” Pria Serem 3 tak mau ketinggalan.
”Ngerti, ngerti Bank, eh Pak.”
”Awas! Sekali lagi keliru gua pelintir lu punya kepala.”
Busyet.
”Sembilan-sembilan,” radio taksi berbunyi lagi.
”Sembilan-sembilan.”
”Jalan Gereja Theresia?”
”Sudah bersama.”
”Selamat jalan dan kepada tamunya selamat malam.”
”Copy”
Kukebut taksiku, tapi ke mana tujuan mereka?
”Jadi ke mana kita, Pak?”
”Sialan lu! Dari tadi nanya melulu!”
”Emang! Berisik lu!”
”Dasar budeg!”
Bener-bener sialan mereka ini.
”Lu ngerti Sawangan nggak?”
”Sawangan? Tahu Bang, eh Pak.”
”Nah, kita ke sono.”
”Jauh amat, Pak?” Aku mencoba ramah.
Pria-pria Serem itu saling berpandangan. Tiba-tiba Pria Serem 3 bergerak, menempelkan pisau di leherku.
”Eh, elu cerewet amat sih? Denger, bawa kita ke Sawangan. Titik. Nggak usah nanya-nanya, gua iris kuping lu entar! Ngerti?”
”Mengerti, Pak.”
Minta ampun dah! Orang-orang ini bener-bener sialan. Mudah-mudahan mereka bayar. Kutancap taksiku. Sepanjang jalan mereka berdiam diri. Sampai Pria Serem 3 memecah kesunyian.
”Jadi bagaimana urusan kita itu, Bang?”
”Yang sekarang ini?” Pria Serem 1 balik bertanya.
”Yang mana lagi, Bang?” Pria Serem 2 menegaskan.
Pria Serem 1 menoleh ke belakang. Aku tahu ia memberi tanda dengan matanya bahwa di situ ada aku.
”Gua udah tahu jawabnya, tapi gua nggak bisa bilang sekarang.”
”Kenapa begitu?”
Aku merasa Pria Serem 3 menatapku dari belakang.
”Omongin sekarang aja, Bang. Dia nggak ngerti apa-apa ini. Kalau ngerti pun rasanya nggak akan dia berani ikut campur. Ya nggak, Bung?”
Aku pura-pura tidak mendengar. Eh, Pria Serem 3 menyodok kursiku dengan kakinya.
”Lu denger, ‘kan? Lu nggak akan ikut campur?”
”Ya, ya, ya.”
Bener-bener buju busyet. Siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Tapi hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tidak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi. Pemandangan kota mengalir di kaca depanku.
”Waktu itu Abang bilang kita cuma menuruti perintah atasan.”
”Memang perintah atasan yang kita turuti waktu itu.”
”Tapi, kenapa jadi kita yang salah? Kenapa kita yang dipecat? Bukan atasan kita?”
”Memang kenyataannya begitu, Din, kita diperintahkan menculik Joni. Kita diperintahkan menghabisi Joni. Kita diperintahkan membuangnya di tepi jalan.”
”Jadi, kita tidak salah, ‘kan?” Pria Serem 2 bertanya.
”Tapi kita yang dipecat. Jadi kambing hitam. Jadi tumbal.” Pria Serem 3 menegaskan.
”Menurut peraturan, memang tidak semua perintah atasan boleh kita turuti.”
”Namanya juga komando, Bang.”
”Ya. Komando. Perintah atasan.”
”Kita harus memakai otak kita. Menculik orang yang belum jelas kesalahannya. Membunuhnya tanpa pengadilan. Menghajarnya dulu sebelum menembaknya. Mau dibolak-balik, itu tetap suatu kesalahan.”
”Itu perintah atasan toh, Bang?”
”Yak!”
”Atasan kita ikut salah dong!”
”Yak!”
”Tapi dia sampai sekarang tidak diapa-apakan. Enak-enakan di rumahnya yang mewah.”
”Dengan tujuh mobil.”
”Dengan istri muda.”
”Yah. Dengan istri muda. Bangsat!”
”Yah. Orang-orang di atas itu memang bangsat!”
Aku tertegun, melirik dari kaca spion. Tapi bertumbukan dengan mata Pria Serem 3.
”Ngapain lu lirik-lirik!”
”Lihat belakang, Bang, eh Pak.”
”Diem aje lu! Bulegug!”
Aduh Mak!
”Jadi sekarang kita mau melakukan pembalasan, Bang?”
”Yak!”
”Jadi kita akan menghukumnya sendiri, Bang? Tanpa pengadilan, sama seperti dia lakukan kepada orang-orang yang kita culik, Bang?”
”Yak!”
Tanpa sengaja aku menengok dari kaca spion lagi. Eh, bertemu pandang lagi dengan Pria Serem 3. Mendadak dia memitingku, ada pisau di tangannya.
”Sialan! Gua udah bilang jangan lirik-lirik, ‘kan?”
”Maaf Bang, eh Pak, nggak sengaja.”
”Gua iris kuping lu mau?”
”Jangan, Pak, kuping cuma satu.”
”Salah. Kuping lu dua. Jadi boleh kan gua ambil satu?”
Nafasku sesak. Untung Pria Serem 1 melepas pitingan itu.
”Heh, sudah, dia lagi nyetir tuh! Nanti kita semua yang mampus.”
Busyet. Repot juga jadi sopir taksi.
”Terimakasih, Pak.”
”Nggak usah pake terimakasih lu, brengsek.”
Busyet.
”Apakah kali ini kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”
”Yah, apakah kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”
”Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Sedangkan bangsat itu mempunyai segalanya. Tujuh mobil, tujuh rumah, dan tujuh pacar.”
”Dan satu istri muda.”
”Dan satu istri muda.”
Pria Serem 1 menudingkan jari seperti menembakkan pistol, dan menirukan bunyi tembakan.
”Tiegghhh!”
***
Aku disuruh berhenti di sebuah tempat yang sepi. Mereka keluar semua dari mobil. Pria Serem 1 mengambil segepok uang dari balik jaketnya, melemparkannya ke dalam, dan jatuh di pangkuanku. Kupegang uang itu.
”Ini kebanyakan, Pak.”
Pria Serem 1 membungkuk, menyandarkan tangan kanannya ke jendela, menunjuk dengan tangan kirinya.
”Lu liat rumah besar itu, ‘kan?”
Kulihat rumah yang nampak terang lampunya.
”Besok atau lusa lu buka koran, akan tahu yang punya rumah itu mampus. Lu tutup mulut. Ngerti?”
”Iya, Pak.”
”Sudah, pergi sana! Sok!’
Ketika kuputar taksiku, kulihat mereka bertiga memandangi rumah mewah itu, sebelum akhirnya melangkah ke sana.
Malam begitu sepi, begitu kelam. Aku tidak terlalu salah. Kota ini isinya orang-orang misterius. Siapakah yang betul-betul bisa kita kenal di kota ini? Apakah yang betul-betul bisa kita pahami di sini? Malam hanyalah bayang-bayang. Tapi aku suka bayang-bayang. Aku suka masuk ke balik kelam.
Radio taksi berbunyi.
”Sembilan-sembilan.”
”Sembilan-sembilan.”
”Posisi di mana?”
”Di bawah rembulan.”
Kudengar lagu blues — aku masih sendirian menembus malam.
Jakarta – Yogya, Lebaran 1998
*) Lirik lagu dari puisi
BOLA LAMPU
BOLA LAMPU
Oleh: Asrul Sani
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat menceritakan cerita sebagai berikut kepada saya:
Pernah sekali saya memperoleh penyakit cinta lampu dan cinta matahari. Cinta matahari ini tidak berapa lama, hanya seminggu, yaitu sewaktu saya masih bekerja antara pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Kalau pukul 1 memperoleh waktu beristirahat seperti untuk makan tengah hari, terlebih dahulu saya memandang mengap-mengap ke langit seperti ikan di daratan, baru saya pergi makan. Penyakit cinta ini demikian mendalamnya, sehingga sesudah seminggu saya tidak tahan lagi, lalu minta berhenti. Sekarang saya mengeluh kepanasan kalau berjalan dalam cahaya matahari. Lagi pula ia tidak memberi akibat apa-apa kepada saya.
Penyakit cinta lampu saya lebih berat: Dan saya tidak menyangka-nyangka bahwa ia akan berkesudahan dengan kecewa, geram, malu. Begini jalannya.
Saya tinggal pada suatu keluarga orang baik-baik yang bercita-cita masuk surga dan yang suka menolong orang supaya mendapat balasan jasa. Karena baiknya mereka ini, maka saya telah dianggap anggota keluarga — moga-moga Tuhan merahmati mereka dengan jalan memberi mereka rumah yang lebih besar, lebih banyak kursi dan meja, tempat tidur, dan sebagainya. Nah, karena saya telah masuk anggota keluarga, sudah tentu saja harus ikut sakit senang.
Sekali datang seorang anak muda hendak membayar makan. Ini adalah suatu celaka buat saya. Karena anak muda ini — ia perlente — memerlukan lampu untuk melancung dan untuk tidur (ia tidak memerlukan lampu antara pukul 6 dan pukul 12 malam). Akibatnya ialah lampu yang ada dalam kamar saya harus diperkecil, diperkecil lagi, hingga jadinya terlalu amat kecil. Sudah itu timbul pula semacam kemauan yang tidak tertahan-tahan: hendak membaca, hendak menulis, hendak mengarang, pendeknya hendak segala-galanya, asal saja untuk itu diperlukan lampu yang terang. Nah, sejak itulah saya mendapat penyakit cinta lampu. Ada-ada saja.
Waktu itu, kalau saya melihat lampu terang, terus timbul rasa sentimentil, agak-agak rindu dendam dalam hati saya. Kepada orang saya tanyakan, kalau-kalau mereka ada yang mempunyai lampu yang terang di rumah. Kalau dijawab ada, saya terus iri hati. Inilah orang yang paling berbahagia. Saya maklum apa sebabnya orang-orang yang tinggal di Jalan Madura misalnya berbahagia besar kelihatannya. Semata-mata karena mempunyai lampu yang terang, paling kurang 60 lilin. Filsafat hidup saya berputar sekeliling lampu. Lampu mengenakkan makan, menyehatkan otak, dan barangkali juga memperenak tidur.
Dalam pada itu saya berkenalan dengan seorang gadis yang baik, yang cantik, dan yang menurut sahabat saya tidak begitu "dingin". Perkenalan ini baik jalannya, sehingga saya berjanji akan datang sekali-sekali ke rumahnya.
Rumahnya baik, lampunya besar hingga saya katakana kepadanya bahwa saya iri hati benar melihat kebahagiaannya. Lalu ia bertanya mengapa begitu benar. Saya katakan bahwa saya tidak mempunyai lampu sebesar punya mereka. Ayahnya berkata: "Datang-datanglah kemari kalau begitu. Di sini lampu terang."
Sesudah itu saya datang sekali seminggu. Gadis itu makin lama makin cantik kelihatannya, makin banyak aksi, makin "panas".Saya makin kerap kali datang, sampai tiap malam. Setiap datang saya membawa buku untuk dibaca — sampai sekarang belum juga tamat. Akhimya saya rasa bahwa saya datang ke rumah itu bukan karena melihat lampu terang. Saya datang karena dia ada di situ. Tetapi meskipun begitu, setiap, saya datang saya berkata: "Ah, alangkah senangnya hati jika mempunyai lampu seterang itu."
Ia tersenyum mendengar perkataan saya. Apa maksudnya, entahlah. Penyakit saya tidak hilang. Dahulu saya berpenyakit "cinta lampu". Sekarang nama penyakit saya cinta "bola lampu".
Suatu kali saya mendapat kiriman dari gadis sahabat saya itu. Bungkusannya besar dan bagus dan di sampingnya ada lagi sepucuk surat bersampul biru. Waktu bungkusan itu saya buka, saya temui di dalamnya bola lampu 60 lilin. Hilang akal saya melihat bola lampu itu, Apa maksudnya?
Dalam suratnya tertulis, "Sahabat senang benar hati saya, dapat mengirim engkau bola lampu ini".
Sekarang saya tahu maksudnya. Mereka di sana telah bosan melihat tampang saya yang datang setiap malam. Sekarang dikirimkannya bola lampu, supaya saya jangan lagi "rindu lampu". Sebetulnya kalimat itu harus berbunyi,
"Sahabat ..senang benar hati saya dapat mengirim engkau bola lampu ini, sehingga engkau. tidak punya alasan lagi untuk menyatakan senang hati melihat lampu dan mulai saat ini tidak usah lagi engkau datang-datang". Nah, ini dia. Celaka tiga belas telah datang.
Semenjak itu tidak pemah lagi saya datang ke rumah gadis itu. Kamarsaya tetap gelap. Bola yang 60 lilin itu juga tidak saya pasang, karena jumlah watt untuk menghidupkannya tidak cukup.
Demikianlah, karena tak ada lampu, saya beroleh penyakit cinta lampu. Lalu saya beroleh kiriman bola lampu. Karena kiriman ini saya kehilangan "bola lampu" yang lain, yang menurut pikiran saya tidak akan kurang dari 200 lilin cahayanya. Dalam cahaya yang besar ini rasanya akan dapat saya mengarang sebuah cerita yang 300 halaman tebalnya.***
Oleh: Asrul Sani
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat menceritakan cerita sebagai berikut kepada saya:
Pernah sekali saya memperoleh penyakit cinta lampu dan cinta matahari. Cinta matahari ini tidak berapa lama, hanya seminggu, yaitu sewaktu saya masih bekerja antara pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Kalau pukul 1 memperoleh waktu beristirahat seperti untuk makan tengah hari, terlebih dahulu saya memandang mengap-mengap ke langit seperti ikan di daratan, baru saya pergi makan. Penyakit cinta ini demikian mendalamnya, sehingga sesudah seminggu saya tidak tahan lagi, lalu minta berhenti. Sekarang saya mengeluh kepanasan kalau berjalan dalam cahaya matahari. Lagi pula ia tidak memberi akibat apa-apa kepada saya.
Penyakit cinta lampu saya lebih berat: Dan saya tidak menyangka-nyangka bahwa ia akan berkesudahan dengan kecewa, geram, malu. Begini jalannya.
Saya tinggal pada suatu keluarga orang baik-baik yang bercita-cita masuk surga dan yang suka menolong orang supaya mendapat balasan jasa. Karena baiknya mereka ini, maka saya telah dianggap anggota keluarga — moga-moga Tuhan merahmati mereka dengan jalan memberi mereka rumah yang lebih besar, lebih banyak kursi dan meja, tempat tidur, dan sebagainya. Nah, karena saya telah masuk anggota keluarga, sudah tentu saja harus ikut sakit senang.
Sekali datang seorang anak muda hendak membayar makan. Ini adalah suatu celaka buat saya. Karena anak muda ini — ia perlente — memerlukan lampu untuk melancung dan untuk tidur (ia tidak memerlukan lampu antara pukul 6 dan pukul 12 malam). Akibatnya ialah lampu yang ada dalam kamar saya harus diperkecil, diperkecil lagi, hingga jadinya terlalu amat kecil. Sudah itu timbul pula semacam kemauan yang tidak tertahan-tahan: hendak membaca, hendak menulis, hendak mengarang, pendeknya hendak segala-galanya, asal saja untuk itu diperlukan lampu yang terang. Nah, sejak itulah saya mendapat penyakit cinta lampu. Ada-ada saja.
Waktu itu, kalau saya melihat lampu terang, terus timbul rasa sentimentil, agak-agak rindu dendam dalam hati saya. Kepada orang saya tanyakan, kalau-kalau mereka ada yang mempunyai lampu yang terang di rumah. Kalau dijawab ada, saya terus iri hati. Inilah orang yang paling berbahagia. Saya maklum apa sebabnya orang-orang yang tinggal di Jalan Madura misalnya berbahagia besar kelihatannya. Semata-mata karena mempunyai lampu yang terang, paling kurang 60 lilin. Filsafat hidup saya berputar sekeliling lampu. Lampu mengenakkan makan, menyehatkan otak, dan barangkali juga memperenak tidur.
Dalam pada itu saya berkenalan dengan seorang gadis yang baik, yang cantik, dan yang menurut sahabat saya tidak begitu "dingin". Perkenalan ini baik jalannya, sehingga saya berjanji akan datang sekali-sekali ke rumahnya.
Rumahnya baik, lampunya besar hingga saya katakana kepadanya bahwa saya iri hati benar melihat kebahagiaannya. Lalu ia bertanya mengapa begitu benar. Saya katakan bahwa saya tidak mempunyai lampu sebesar punya mereka. Ayahnya berkata: "Datang-datanglah kemari kalau begitu. Di sini lampu terang."
Sesudah itu saya datang sekali seminggu. Gadis itu makin lama makin cantik kelihatannya, makin banyak aksi, makin "panas".Saya makin kerap kali datang, sampai tiap malam. Setiap datang saya membawa buku untuk dibaca — sampai sekarang belum juga tamat. Akhimya saya rasa bahwa saya datang ke rumah itu bukan karena melihat lampu terang. Saya datang karena dia ada di situ. Tetapi meskipun begitu, setiap, saya datang saya berkata: "Ah, alangkah senangnya hati jika mempunyai lampu seterang itu."
Ia tersenyum mendengar perkataan saya. Apa maksudnya, entahlah. Penyakit saya tidak hilang. Dahulu saya berpenyakit "cinta lampu". Sekarang nama penyakit saya cinta "bola lampu".
Suatu kali saya mendapat kiriman dari gadis sahabat saya itu. Bungkusannya besar dan bagus dan di sampingnya ada lagi sepucuk surat bersampul biru. Waktu bungkusan itu saya buka, saya temui di dalamnya bola lampu 60 lilin. Hilang akal saya melihat bola lampu itu, Apa maksudnya?
Dalam suratnya tertulis, "Sahabat senang benar hati saya, dapat mengirim engkau bola lampu ini".
Sekarang saya tahu maksudnya. Mereka di sana telah bosan melihat tampang saya yang datang setiap malam. Sekarang dikirimkannya bola lampu, supaya saya jangan lagi "rindu lampu". Sebetulnya kalimat itu harus berbunyi,
"Sahabat ..senang benar hati saya dapat mengirim engkau bola lampu ini, sehingga engkau. tidak punya alasan lagi untuk menyatakan senang hati melihat lampu dan mulai saat ini tidak usah lagi engkau datang-datang". Nah, ini dia. Celaka tiga belas telah datang.
Semenjak itu tidak pemah lagi saya datang ke rumah gadis itu. Kamarsaya tetap gelap. Bola yang 60 lilin itu juga tidak saya pasang, karena jumlah watt untuk menghidupkannya tidak cukup.
Demikianlah, karena tak ada lampu, saya beroleh penyakit cinta lampu. Lalu saya beroleh kiriman bola lampu. Karena kiriman ini saya kehilangan "bola lampu" yang lain, yang menurut pikiran saya tidak akan kurang dari 200 lilin cahayanya. Dalam cahaya yang besar ini rasanya akan dapat saya mengarang sebuah cerita yang 300 halaman tebalnya.***
Pohon Rambutan
Pohon Rambutan
Cerpen Danarto
Musim panas yang menyengat. Kalajengking terperanjat. Melengkung ekor tajam ke depan merambat. Siap menusuk siapa saja dengan kesumat. Jalanan berdebu. Anak-anak madrasah dengan kerudung menahan panas.
Mengayuh sepeda pelan sambil bercanda tentang pak guru yang terkantuk-kantuk waktu mengajar. Sebuah truk lewat, aduh, mak, debunya menjadi bedak para santriwati yang lantas menutup hidungnya dengan setangan maupun lima jari tangan kirinya. Sesampai di pohon rambutan, anak-anak berhenti. Mereka, anak-anak perempuan dan laki-laki, mengambil istirahat. Memarkir sepedanya berderet-deret sepanjang kali. Mereka berdesak berteduh di bawah pohon rambutan.
Ini pohon, pohon rambutan. Pohon tak bertuan. Hidup sendirian. Tiada teman, tiada sejawat. Tumbuh di tepi jalan, di tepi sawah. Pohon yang menawan. Menawan karena lebat buahnya kelewat-lewat. Menyebarkan ribuan buah "ciplat" yang menerbitkan air liur, harta karun yang siapa saja boleh memperebutkan. Siapa saja yang sempat lewat, menggaet buahnya biar sebiji cuma, ia tahu pasti, rasanya kepati-pati. Siapa saja yang pernah merasakannya, bakal ketagihan. Selalu kaki-kakinya mengajak melangkah ke sana, walau jauhnya puluhan kilometer. Delima Mekah buah sorga. Korma nabi korma sejati, anggur Bordeaux, duren Bangkok, klengkeng Malang, ya ya ya, katanya, katanya.
Penuh keheranan, anak-anak menatap pohon rambutan. Satu dua anak meraba batangnya. Sedap hari mereka melewatinya, setiap kali mereka keheranan. Kenapa sekarang pohon ini tak berbuah padahal musin rambutan sudah datang. Ada yang salah? Begitu pikir mereka.
"He, rambutan," kata anak perempuan. "Apa kamu sedang ngambek? Kenapa kali ini kamu tidak berbuah?"
"He, rambutan," kata anak lelaki, temannya. "Kamu ngambek karena anak-anak perempuan paling banyak makan buahmu, ya!"
"Wow!" seru anak-anak perempuan itu sambil mengeroyok anak lelaki itu yang lari melompat parit.
Anak-anak sekolah itu biasa berebut buah rambutan itu dengan para petani yang sedang menggarap sawah. Penuh canda dan semangat, melompat dari cabang yang satu ke cabang lainnya yang penuh bergayutan buah rambutan yang memancing lidah hingga basah oleh selera. Selera yang bermacam itu akhirnya menyatu pada rambutan ini. Anak-anak madrasah itu juga berebut dengan para pedagang, perempuan maupun laki-laki, yang mengambil istirahat di bawah pohon itu. Anak-anak perempuan tidak perlu naik pohon. Mereka cukup menggaetnya karena buahnya banyak yang hamper menyentuh tanah. Mereka juga punya peraturan, rambutan tidak boleh dijual. Hanya direbut untuk dimakan, tidak boleh dibawa pulang.
Para pedagang itu mengayuh sepedanya yang penuh barang dagangannya, hasil kulakan dari kota ke desa masing-masing. Buah rambutan itu satu-satunya hiburan mereka yang didapat tanpa mengeluarkan biaya.
Siapa pun yang berebut harta karun itu- termasuk anak-anak madrasah itu –sama sekali tidak tahu, ada satu rahasia: dahulu, puluhan tahun sebelumnya, datanglah seorang laki-laki tua yang berteduh di bawah pohon rambutan itu. Laki-laki tua itu, seorang pengembara yang menjelajah dari kota ke desa, dari gunung ke lembah, dari daratan ke lautan, dari pasar ke mat dan laza pusat perbelanjaan kota. Mengunjungi para pegawal negeri, pemulung, pengemis, dan para pengamen, tentara, polisi, serta para petani dan perambah hutan. Laki-laki tua itu tidak dikenal, kecuali oleh pohon rambutan itu. Persahabatan yang dalam antara kedua makhluk yang berbeda jasadnya itu menyebabkan pohon rambutan subur berbuah. Rasanya, tak habis-habisnya buahnya diperebulkan begitu banyak orang.
Dahulunya, pohon rambutan itu meranggas. Hampir mati. Lalu berdoalah pohon itu dengan kencang. Dalam doanya, jika sudah tidak berguna, pohon rarnbutan itu ingin dimatikan secepatnya. Sedang jika Tuhan masih memberinya hidup, karuniai kesuburan batangnya dan rimbun buahnya. Lalu Tuhan rnenghadirkan adegan ini: meletuslah pertempuran antara para prajurit yang dipimpin Jenderal Sudirman melawan militer Bclanda yang terus menindas. Tembak-menembak terjadi di sekitar pohon rambutan itu. Para prajurit. Republik berlindung di balik pohon rambutan itu, di pematang sawah, selokan, dan di semak-semak bantaran sungai.
Sementara para prajurit Republik menembak satu dua letusan, pasukan militer Belanda dengan mobil bajanya terus mernuntahkan pelurunya tak habis-habisnya di samping gelegar kanon dari daerah pertahanan di kota.
Jenderal Sudirman yang memimpin pertempuran di atas tandu, alhamdulillah, selamat. Bagai dewa langit yang melayang, enggan menginjak bumi, Jenderal yang sangat dihormati oleh para pemimpin Republik itu, selalu muncul dengan diam, persis angin atau kabut. Dalam pertempuran itu, sekitar sembilan orang prajurit gugur, sedang di pihak militer Belanda tiga orang. Apa yang terjadi dengan pohon rambutan itu? Pohon rambutan itu terpangkas seluruh daunnya oleh peluru yang berdesingan, mirip pohon yang mati. Pagi harinya, kuncup-kuncup baru bertumbuhan di setiap ranting dan cabang pohon itu. Dalam sebulan, pohon itu telah rimbun daunnya, bagai perempuan yang bersolek. Namun beberapa tahun, pohon rambutan itu tidak juga berbuah.
Lalu berdoalah kembali pohon itu, memohon buah rambutan yang "ciplat" yang “nglotok" ribuan buah merimbun menggayuti batangnya. Dan Allah mcngabulkan doanya. Didatangkannya seorang lelaki muda yang singgah dan berleduh di bawah pohon rambutan itu. Serta-merta, entah oleh ilham dari mana, boleh jadi dibisiki malaikat lelaki muda itu mengeluarkan kitab suci Al-Quran dari dalam tasnya. Lalu pohon itu diusap-usapnya dengan kitab suci Al-Quran itu, seketika pohon itu berbuah, boleh dikata ribuan jumlahnya. Saking rimbunnya, buah rambutan itu berayun-ayun ditiup angin hampir mencium tanah. Terdengar dendang entah lagu atau tembang apa, menyelimuti kawasan itu, menyambut datangnya buah ciptaan penulis kitab suci itu.
"Wahai, anak muda," kata pohon rambutan itu."Terimakasih atas bantuanmu memunculkan ribuan buah dari tubuhku."
"Begitulah kehendak dari langit," jawab anak muda itu.
"Siapakah engkau, wahai, anak muda?" tanya rambutan.
"Saya adalah prajurit Jenderal Sudirman yang pernah bertempur dan
berlindung di balik batangmu."
"Alhamdulillah," tukas rambutan.
"Amien, ya, rabbal alamien," sahut anak muda itu.
"Apa kabar Jenderal Sudirman?"
"Alhamdulillah. Beliau sehat-walafiat dan bertugas di kota."
"Engkau tampak berbeda dari anak-anak muda yang lewat di sini."
"Memang. Saya telah mengambil jalan pintas supaya lebih cepat sampai. Sedang seluruh teman-teman prajurit lainnya, ada yang menjadi pengusaha, guru, dokter, insinyur, dan melanjutkan sebagai tentara di kota."
"Engkau kelihatan lelah. Apakah engkau habis melakukan perjalanan jauh?"
"Ya, saya terus-menerus melakukan perjalanan jauh."
"Apa pekerjaanmu?"
"Melakukan perjalanan jauh."
"Ha ha ha. Melakukan perjalanan jauh? Apa yang engkau dapat?"
"Apa saja."
"Apa saja, apa itu?"
"Ini, itu, ia, dia, kami, kita, mereka."
"Ha ha ha. Menyenangkan, ya?"
"Sangat menyenangkan."
"Apakah ini, itu, ia, kami, kita, mereka, ada yang engkau bawa?"
"Ada."
"Boleh lihat?"
"Boleh."
Lalu pemuda itu memperlihatkan "ini" di telapak tangannya kepada pohon rambutan itu.
"Ini 'ini'."
"Saya tidak melihat apa-apa."
"Tidak soal."
"Tidak soal bagaimana?"
"Tidak apa-apa engkau tidak melihatnya."
"Ya, itu jadi persoalan bagi saya."
"Engkau akan menderita jika memaksa untuk bias melihatnya."
"Mengapa hanya untuk bisa melihatnya, harus menderita?"
"Karena engkau harus berlatih bertahun-tahun untuk bisa melihatnya."
Begitulah persabatan antara manusia dengan pohon rambutan itu bertahun-tahun sampai anak muda itu menginjak usia tua.
Kekuatan yang merosot, rambut yang memutih, stamina yang terkuras, ketrampilan yang rapuh, daya ingat yang mengering. Namun, kekayaan yang tersembunyi di dalam dadanya bertambah banyak, dalam, dan bening. Selalu ada waktu bertemu bagi keduanya. Paling tidak setahun sekali, orang tua itu menjenguk sahabatnya yang tetap berdiri sendirian di tepi jalan, di tepi sawah.
Ketika anak-anak madrasah meninggalkan pohon rambutan itu, tibalah orang tua itu dan memeluk pohon itu. Keduanya berangkulan lama, seperti menuntaskan rindu. Lalu orang tua itu mengeluarkan kitab suci Al-Quran dan mengusap-usapkannya ke batang pohon itu. Seketika pohon rambutan itu berbuah lebat, ratusan, ribuan, sampai buahnya mengendus-endus rumput. Dan pohon itu bersuka-cita yang tak berhingga. Anak-anak sekolah yang sebenarnya sudah cukup jauh meninggalkan pohon itu, seorang di antaranya menengok kembali dan melihat rimbunan buah itu lalu berbalik dan menggenjot sepedanya kencang-kencang ke arah pohon itu. Yang lain tentu tak mau ketinggalan, buru-buru mengikutinya sambil bersorak-sorai.
Ketika tahun baru Imiek 2007, pada Ahad, 18 Februari 2558, setiap orang Tionghoa dan pribumi mengucapkan gong xi fa Cai, orang tua itu berumur 81 tahun dan terus mengembara. Waktu bertemu pohon rambutan kembali, pohon itu bercerita bahwa pemilik PT Djarum berniat membelinya. Salah satu pemilik dan pembangun Hotel Indonesia menjadi Mega HI di bundaran HI Jakarta Pusat itu berniat membeli pohon rambutan itu sebesar US$ 1 juta, senilai 10 miliar rupiah lebih. Pohon rambutan itu menolaknya.
Tangerang, 18 Februari 2007
Diambil dari Majalah Horison Edisi IV, 2007, hal. 28-31
Cerpen Danarto
Musim panas yang menyengat. Kalajengking terperanjat. Melengkung ekor tajam ke depan merambat. Siap menusuk siapa saja dengan kesumat. Jalanan berdebu. Anak-anak madrasah dengan kerudung menahan panas.
Mengayuh sepeda pelan sambil bercanda tentang pak guru yang terkantuk-kantuk waktu mengajar. Sebuah truk lewat, aduh, mak, debunya menjadi bedak para santriwati yang lantas menutup hidungnya dengan setangan maupun lima jari tangan kirinya. Sesampai di pohon rambutan, anak-anak berhenti. Mereka, anak-anak perempuan dan laki-laki, mengambil istirahat. Memarkir sepedanya berderet-deret sepanjang kali. Mereka berdesak berteduh di bawah pohon rambutan.
Ini pohon, pohon rambutan. Pohon tak bertuan. Hidup sendirian. Tiada teman, tiada sejawat. Tumbuh di tepi jalan, di tepi sawah. Pohon yang menawan. Menawan karena lebat buahnya kelewat-lewat. Menyebarkan ribuan buah "ciplat" yang menerbitkan air liur, harta karun yang siapa saja boleh memperebutkan. Siapa saja yang sempat lewat, menggaet buahnya biar sebiji cuma, ia tahu pasti, rasanya kepati-pati. Siapa saja yang pernah merasakannya, bakal ketagihan. Selalu kaki-kakinya mengajak melangkah ke sana, walau jauhnya puluhan kilometer. Delima Mekah buah sorga. Korma nabi korma sejati, anggur Bordeaux, duren Bangkok, klengkeng Malang, ya ya ya, katanya, katanya.
Penuh keheranan, anak-anak menatap pohon rambutan. Satu dua anak meraba batangnya. Sedap hari mereka melewatinya, setiap kali mereka keheranan. Kenapa sekarang pohon ini tak berbuah padahal musin rambutan sudah datang. Ada yang salah? Begitu pikir mereka.
"He, rambutan," kata anak perempuan. "Apa kamu sedang ngambek? Kenapa kali ini kamu tidak berbuah?"
"He, rambutan," kata anak lelaki, temannya. "Kamu ngambek karena anak-anak perempuan paling banyak makan buahmu, ya!"
"Wow!" seru anak-anak perempuan itu sambil mengeroyok anak lelaki itu yang lari melompat parit.
Anak-anak sekolah itu biasa berebut buah rambutan itu dengan para petani yang sedang menggarap sawah. Penuh canda dan semangat, melompat dari cabang yang satu ke cabang lainnya yang penuh bergayutan buah rambutan yang memancing lidah hingga basah oleh selera. Selera yang bermacam itu akhirnya menyatu pada rambutan ini. Anak-anak madrasah itu juga berebut dengan para pedagang, perempuan maupun laki-laki, yang mengambil istirahat di bawah pohon itu. Anak-anak perempuan tidak perlu naik pohon. Mereka cukup menggaetnya karena buahnya banyak yang hamper menyentuh tanah. Mereka juga punya peraturan, rambutan tidak boleh dijual. Hanya direbut untuk dimakan, tidak boleh dibawa pulang.
Para pedagang itu mengayuh sepedanya yang penuh barang dagangannya, hasil kulakan dari kota ke desa masing-masing. Buah rambutan itu satu-satunya hiburan mereka yang didapat tanpa mengeluarkan biaya.
Siapa pun yang berebut harta karun itu- termasuk anak-anak madrasah itu –sama sekali tidak tahu, ada satu rahasia: dahulu, puluhan tahun sebelumnya, datanglah seorang laki-laki tua yang berteduh di bawah pohon rambutan itu. Laki-laki tua itu, seorang pengembara yang menjelajah dari kota ke desa, dari gunung ke lembah, dari daratan ke lautan, dari pasar ke mat dan laza pusat perbelanjaan kota. Mengunjungi para pegawal negeri, pemulung, pengemis, dan para pengamen, tentara, polisi, serta para petani dan perambah hutan. Laki-laki tua itu tidak dikenal, kecuali oleh pohon rambutan itu. Persahabatan yang dalam antara kedua makhluk yang berbeda jasadnya itu menyebabkan pohon rambutan subur berbuah. Rasanya, tak habis-habisnya buahnya diperebulkan begitu banyak orang.
Dahulunya, pohon rambutan itu meranggas. Hampir mati. Lalu berdoalah pohon itu dengan kencang. Dalam doanya, jika sudah tidak berguna, pohon rarnbutan itu ingin dimatikan secepatnya. Sedang jika Tuhan masih memberinya hidup, karuniai kesuburan batangnya dan rimbun buahnya. Lalu Tuhan rnenghadirkan adegan ini: meletuslah pertempuran antara para prajurit yang dipimpin Jenderal Sudirman melawan militer Bclanda yang terus menindas. Tembak-menembak terjadi di sekitar pohon rambutan itu. Para prajurit. Republik berlindung di balik pohon rambutan itu, di pematang sawah, selokan, dan di semak-semak bantaran sungai.
Sementara para prajurit Republik menembak satu dua letusan, pasukan militer Belanda dengan mobil bajanya terus mernuntahkan pelurunya tak habis-habisnya di samping gelegar kanon dari daerah pertahanan di kota.
Jenderal Sudirman yang memimpin pertempuran di atas tandu, alhamdulillah, selamat. Bagai dewa langit yang melayang, enggan menginjak bumi, Jenderal yang sangat dihormati oleh para pemimpin Republik itu, selalu muncul dengan diam, persis angin atau kabut. Dalam pertempuran itu, sekitar sembilan orang prajurit gugur, sedang di pihak militer Belanda tiga orang. Apa yang terjadi dengan pohon rambutan itu? Pohon rambutan itu terpangkas seluruh daunnya oleh peluru yang berdesingan, mirip pohon yang mati. Pagi harinya, kuncup-kuncup baru bertumbuhan di setiap ranting dan cabang pohon itu. Dalam sebulan, pohon itu telah rimbun daunnya, bagai perempuan yang bersolek. Namun beberapa tahun, pohon rambutan itu tidak juga berbuah.
Lalu berdoalah kembali pohon itu, memohon buah rambutan yang "ciplat" yang “nglotok" ribuan buah merimbun menggayuti batangnya. Dan Allah mcngabulkan doanya. Didatangkannya seorang lelaki muda yang singgah dan berleduh di bawah pohon rambutan itu. Serta-merta, entah oleh ilham dari mana, boleh jadi dibisiki malaikat lelaki muda itu mengeluarkan kitab suci Al-Quran dari dalam tasnya. Lalu pohon itu diusap-usapnya dengan kitab suci Al-Quran itu, seketika pohon itu berbuah, boleh dikata ribuan jumlahnya. Saking rimbunnya, buah rambutan itu berayun-ayun ditiup angin hampir mencium tanah. Terdengar dendang entah lagu atau tembang apa, menyelimuti kawasan itu, menyambut datangnya buah ciptaan penulis kitab suci itu.
"Wahai, anak muda," kata pohon rambutan itu."Terimakasih atas bantuanmu memunculkan ribuan buah dari tubuhku."
"Begitulah kehendak dari langit," jawab anak muda itu.
"Siapakah engkau, wahai, anak muda?" tanya rambutan.
"Saya adalah prajurit Jenderal Sudirman yang pernah bertempur dan
berlindung di balik batangmu."
"Alhamdulillah," tukas rambutan.
"Amien, ya, rabbal alamien," sahut anak muda itu.
"Apa kabar Jenderal Sudirman?"
"Alhamdulillah. Beliau sehat-walafiat dan bertugas di kota."
"Engkau tampak berbeda dari anak-anak muda yang lewat di sini."
"Memang. Saya telah mengambil jalan pintas supaya lebih cepat sampai. Sedang seluruh teman-teman prajurit lainnya, ada yang menjadi pengusaha, guru, dokter, insinyur, dan melanjutkan sebagai tentara di kota."
"Engkau kelihatan lelah. Apakah engkau habis melakukan perjalanan jauh?"
"Ya, saya terus-menerus melakukan perjalanan jauh."
"Apa pekerjaanmu?"
"Melakukan perjalanan jauh."
"Ha ha ha. Melakukan perjalanan jauh? Apa yang engkau dapat?"
"Apa saja."
"Apa saja, apa itu?"
"Ini, itu, ia, dia, kami, kita, mereka."
"Ha ha ha. Menyenangkan, ya?"
"Sangat menyenangkan."
"Apakah ini, itu, ia, kami, kita, mereka, ada yang engkau bawa?"
"Ada."
"Boleh lihat?"
"Boleh."
Lalu pemuda itu memperlihatkan "ini" di telapak tangannya kepada pohon rambutan itu.
"Ini 'ini'."
"Saya tidak melihat apa-apa."
"Tidak soal."
"Tidak soal bagaimana?"
"Tidak apa-apa engkau tidak melihatnya."
"Ya, itu jadi persoalan bagi saya."
"Engkau akan menderita jika memaksa untuk bias melihatnya."
"Mengapa hanya untuk bisa melihatnya, harus menderita?"
"Karena engkau harus berlatih bertahun-tahun untuk bisa melihatnya."
Begitulah persabatan antara manusia dengan pohon rambutan itu bertahun-tahun sampai anak muda itu menginjak usia tua.
Kekuatan yang merosot, rambut yang memutih, stamina yang terkuras, ketrampilan yang rapuh, daya ingat yang mengering. Namun, kekayaan yang tersembunyi di dalam dadanya bertambah banyak, dalam, dan bening. Selalu ada waktu bertemu bagi keduanya. Paling tidak setahun sekali, orang tua itu menjenguk sahabatnya yang tetap berdiri sendirian di tepi jalan, di tepi sawah.
Ketika anak-anak madrasah meninggalkan pohon rambutan itu, tibalah orang tua itu dan memeluk pohon itu. Keduanya berangkulan lama, seperti menuntaskan rindu. Lalu orang tua itu mengeluarkan kitab suci Al-Quran dan mengusap-usapkannya ke batang pohon itu. Seketika pohon rambutan itu berbuah lebat, ratusan, ribuan, sampai buahnya mengendus-endus rumput. Dan pohon itu bersuka-cita yang tak berhingga. Anak-anak sekolah yang sebenarnya sudah cukup jauh meninggalkan pohon itu, seorang di antaranya menengok kembali dan melihat rimbunan buah itu lalu berbalik dan menggenjot sepedanya kencang-kencang ke arah pohon itu. Yang lain tentu tak mau ketinggalan, buru-buru mengikutinya sambil bersorak-sorai.
Ketika tahun baru Imiek 2007, pada Ahad, 18 Februari 2558, setiap orang Tionghoa dan pribumi mengucapkan gong xi fa Cai, orang tua itu berumur 81 tahun dan terus mengembara. Waktu bertemu pohon rambutan kembali, pohon itu bercerita bahwa pemilik PT Djarum berniat membelinya. Salah satu pemilik dan pembangun Hotel Indonesia menjadi Mega HI di bundaran HI Jakarta Pusat itu berniat membeli pohon rambutan itu sebesar US$ 1 juta, senilai 10 miliar rupiah lebih. Pohon rambutan itu menolaknya.
Tangerang, 18 Februari 2007
Diambil dari Majalah Horison Edisi IV, 2007, hal. 28-31
Subscribe to:
Comments (Atom)