Showing posts with label September 2003. Show all posts
Showing posts with label September 2003. Show all posts

Sunday 20 February 2011

Kota Tiga Kota

Kota Tiga Kota



Baiklah kita kembali ke kota itu, kota yang menurut pendapat Anda, menurut pendapat siapa pun yang pernah mengunjunginya, merupakan kota yang unik. Kota itu dipagari oleh tiga gunung, dialiri oleh tiga sungai, dan dapat dicapai dari tiga kota yang salah satunya ibu kota provinsi. Bila kita lihat di peta, tiga kota yang mengelilingi kota itu kalau dihubungkan dengan garis-garis, akan persis segitiga sama kaki dengan ibu kota provinsi titik terjauhnya. Dan tiga sungai itu, walau tak persis, juga berbentuk kerucut yang menyatu pada satu titik di pinggir kota, lalu menjelma jadi sungai lebar yang setelah meliuk jauh ke mana-mana akhirnya juga bermuara di ibu kota provinsi. Memang, ibu kota provinsi adalah kota pelabuhan.

Menurut dugaan Anda, atau menurut dugaan siapa pun, tentulah dari kota pelabuhan itu nenek moyang penduduk kota yang dikelilingi tiga kota itu (baiklah kini kita sebut kota Tiga Kota, karena memang demikianlah orang-orang kemudian menyebutnya), dulu, berasal. Tetapi dugaan itu keliru. Menurut penduduk kota Tiga Kota, nenek moyang mereka bukan datang dari laut lalu naik ke darat, melainkan sebaliknya: dari puncak salah satu gunung, turun, kemudian menetap dan membangun kota Tiga Kota. Turun dari puncak gunung? Aneh, pikir Anda, seraya menduga penduduk kota Tiga Kota mungkin beranggapan mereka keturunan dewa. Tetapi tidak, kata mereka. “Nenek moyang kami manusia biasa. Hanya saja, ketika pertama mencecahkan kaki di daratan ini, masa itu laut masih begitu luas dan daratan masih begitu sempit.”

Apakah maksud mereka? Anda, atau orang-orang, masih bingung ketika itu. Tetapi mereka, seraya tersenyum kemudian melanjutkan, “Daratan ini, atau tepatnya pulau ini, masa itu masih berupa tiga gundukan kecil. Puncak-puncak gunung itu.”

“Oh, Nuh,” kata Anda mulai mengerti. “Saat banjir besar itu heh?”

“Apa itu banjir besar?” Mereka masih tersenyum, tapi kini terkesan bagai meremehkan. “Setelah nenek moyang kami berlabuh di puncak gunung, barulah daratan mulai melebar, dan laut surut.”

“Oo, itu artinya datang dari laut juga.”

“Tidak. Beda. Maksud kami, setelah kota ini dibangun barulah orang-orang entah siapa itu, pelaut-pelaut yang entah datang dari mana dan mulanya menetap di kota pelabuhan, naik kemari. Mereka tinggal mendapati kota yang telah jadi. Sebuah kota dengan kebudayaan lebih tua. Lebih tinggi. Lihatlah,” dan penduduk kota Tiga Kota itu pun menyebut dan menunjukkan berbagai peninggalan, bekas-bekas gedung, bangunan, reruntuhan menara yang tak terkira umurnya. Dan satu yang istimewa, hampir di setiap tempat di penjuru kota, tertanam batu besar seukuran orang dewasa dengan bagian atas yang melengkung seperti sebentuk kepala yang menunduk. Batu-batu itu, kata mereka mengutip pendapat beberapa ahli, berasal dari masa yang lebih tua dari zaman Batu Tua….

Terasa agak berlebihan, memang, cara penduduk kota Tiga Kota memperkenalkan kota mereka. Tetapi, memang pula, hal-hal demikian itulah yang membuat kota Tiga Kota sebagaimana pendapat Anda menjadi unik, menarik, dan membuat orang selalu ingin kembali berkunjung dan berkunjung lagi. Tiga gunung, tiga sungai, pemandangan hijau sejuk ke ketinggian, hamparan hijau lembut ke kerendahan, betapa menyegarkan. Kabut yang perlahan merendah mencecah di kala pagi, cahaya merah keperakan yang menghunjam menyibak saat muncul matahari, ah, membuat kota Tiga Kota tak ubahnya bagai kota khayal yang tiba-tiba tersingkap ke luar dari ilusi. Dan monumen itu. Bekas-bekas bangunan. Reruntuhan gedung dan menara. Dan batu-batu itu.

Batu-batu itu, batu-batu seukuran orang dewasa dengan bagian atas yang melengkung seperti sebentuk kepala yang menunduk itu, sebenarnyalah, harus diakui merupakan daya tarik utama. Dalam kebekuannya, dalam sebentuk kepala yang menunduk, bagai terpendam rahasia. Menandai apakah batu-batu itu? Kenapa tersebar di mana-mana? Dan, hal yang juga aneh yang baru disadari orang-orang kemudian adalah bahwa keseluruhan batu, kepala-kepala yang menunduk itu, ternyata menghadap ke arah yang sama: ke salah satu gunung di mana nenek moyang penduduk kota Tiga Kota pertama berlabuh.

Tentu banyak dugaan tentang asal-muasal batu-batu itu. Tetapi yang paling bisa diterima adalah kemungkinan bahwa batu-batu itu pada masanya merupakan tanda bagi makam, semacam nisan. Pernah ada seorang ahli berniat ingin membongkar tanah di bawah salah satu batu untuk membuktikan, tetapi penduduk kota Tiga Kota keberatan. Maka, sampai kini, batu-batu itu tetaplah merupakan misteri. Maka, bila ada pengunjung berkeliling mengamati batu-batu, benak si pengunjung akan tetap dikecamuki berbagai pertanyaan. Tetapi, suatu hari, sejumlah pengunjung dikejutkan oleh suara seperti jeritan. Ataukah itu tangisan?

Mulanya jeritan (atau tangisan) itu, entah kenapa, mereka duga berasal dari dalam batu. Mungkin karena samarnya- terdengar antara ada dan tiada, atau mungkin pula karena pikiran mereka tengah dipenuhi dugaan yang macam-macam tentang batu-batu. Tetapi setelah mendengar lebih cermat, kelompok pengunjung itu menyadari suara itu berasal dari tempat lain. Warna suaranya juga lebih jelas: kanak-kanak. Jerit atau tangis kanak-kanak.

Memang, ada beberapa rumah di sekitar situ. Dan jerit atau tangisan itu tentulah berasal dari salah satu rumah. Mungkin seorang ayah tengah memarahi anaknya. Mungkin seorang anak tengah merajuk atau bertingkah kepada ibunya. Tetapi jeritan itu, “Aaaaaa,” terdengar panjang dan bertalu.

Walau ada yang merasa ganjil, mereka pun segera melupakan dan mengembalikan perhatian ke batu-batu. Adalah biasa seorang anak menjerit menangis dimarahi ayahnya. Adalah biasa seorang anak merajuk bertingkah kepada ibunya….

Memang biasa seorang anak menjerit menangis dimarahi ayahnya, memang biasa pula seorang anak merajuk bertingkah kepada ibunya. Tetapi apa yang mereka dengar saat itu, tidaklah tepat seperti yang mereka bayangkan. Tak ada ayah yang marah. Juga tak ada ibu yang berhadapan dengan anak yang merajuk dan bertingkah. Apa yang terjadi pada salah satu rumah di dekat mana sekelompok pengunjung tengah asyik mengamati batu-batu, tak lain, adalah hanya seorang anak lelaki lima tahunan yang tengah diajari ayahnya mengenal abjad; melafalkan huruf-huruf.

“Ce.”

“Ceee.”

“Ka.”

“Kaaa.”

“A.”

“Aaaaa.”

Memang begitulah penduduk kota Tiga Kota amat peduli pada pendidikan. Mereka sadar betul berasal dari zaman yang lebih maju, dan karenanya harus memperlihatkan tradisi itu. Anak-anak, di usia lebih dini, sedapatnya sudah harus bisa membaca. Dengan demikian mereka akan lebih cepat mengenal dunia.

“De.”

“Deee.”

“O.”

“Oooo.”

“A.”

“Aaaaaa.”

Tetapi belakangan, memang, ada yang sedikit ganjil. Setelah si orangtua mengenalkan dan menunjuk berbagai huruf lalu kembali ke huruf a, si anak akan serta-merta menyambut, “Aaaaaa.” Pelafalan yang panjang-berbeda dari huruf-huruf lain, sepintas kelihatan bergairah, tetapi terdengar jauh, dalam, dan bertalu. Suara itulah yang terdengar oleh sekelompok pengunjung yang tengah asyik mengamati batu-batu waktu itu.

Tak seorang pun orangtua serius memperhatikan, bahkan walau saat mereka tahu seluruh kanak-kanak yang belajar melafalkan huruf berlaku begitu. Bahkan ketika seorang anak dalam tidurnya tiba-tiba menjerit, “Aaaaaa!”, seorang ayah masih menganggap anaknya tak lebih cuma bermimpi, mimpi melafalkan huruf a yang entah kenapa oleh anaknya begitu digandrungi. Tetapi, ketika jeritan “Aaaaaa” itu benar-benar terdengar seperti tangis, tangis yang begitu sedih begitu pilu, si ayah pun mulai merasa ada sesuatu. Apalagi ketika si ayah kemudian tahu bahwa bukan hanya anaknya yang mengigau seperti itu. Tetapi seluruh kanak-kanak kota Tiga Kota, yang hampir setiap pagi, setiap sore, saat pergi atau pulang kerja menyempatkan ngobrol dengan rekan atau tetangga, dikeluhkan oleh orangtua masing-masing mereka….

“ADA apa dengan anak-anak kita?”

“Entah. Anakku bilang tak ada apa-apa. Aneh, mereka sama sekali tak menyadarinya.”

“Tetapi anakku sampai mengeluarkan air mata. Lirih sekali tangisnya.”

“Setelah menangis lirih, anakku malah lantas meraung. Istriku sampai panik, dan ikut menangis juga.”

“Ibu mana takkan panik?”

“Ya, ibu mana tak akan panik. Aku ayahnya bahkan juga. Kau tak panik?”

“Entah. Tapi aku tak tahan….”

“Ya, tak tahan….”

Begitulah kekhawatiran mulai menjalar ke kepala orang- orangtua. Mereka bingung, tak mengerti, bagaimana keanehan atau keganjilan itu bisa terjadi. Dan terlebih lagi, mereka juga tak menemukan cara bagaimana menghentikan atau mengatasi.

Pada saat semua nyaris kehilangan akal, seorang mengusulkan pelajaran mengenalkan abjad kepada anak-anak sementara coba dihentikan. Usulan itu mereka terima, dan, ajaib, jerit sedih itu, tangis pilu itu, tiba-tiba terhenti. Mereka pun gembira, lega, menyesali kenapa pikiran sederhana itu tak terlintas di kepala mereka lebih awal. Tetapi, sungguh tak terduga kalau kelegaan itu cuma sekejap, benar-benar hanya sebentar. Pada hari ketiga, tangis itu kembali muncul-bahkan kini bagai menyerbu. Serentak! Di waktu yang sama! Menjalar, mengapung, menguar menyatu lalu membubung: menjelma jadi koor tangis yang menggetarkan jiwa. Betapa! Di tengah malam.

Bahkan, berbeda dari hari-hari lalu, kanak-kanak itu kini tak bisa dibangunkan. Mereka baru tersentak dan berhenti ketika datang pagi, setelah muncul matahari. Wajah kanak-kanak itu letih. Pasi. Dan malamnya, mereka ulangi lagi. Malam besoknya, lagi. Entah sampai kapan, lagi….

Baiklah kita kembali ke kota itu, kota yang unik itu, dua ribu tahun lalu. Kecuali bahan dan bentuk-bentuk bangunan yang tentu berbeda dan sebagian-luar biasa!-masih bisa Anda lihat reruntuhannya, tiga gunung itu masih tetap sama, tiga sungai itu masih tetap sama, juga bentuk kerucut karena tiga sungai itu menyatu pada satu titik tapi agak sedikit jauh di luar kota. Rupanya, selama dua ribu tahun itu, kota Tiga Kota kian bergeser ke bawah. Ataukah sebenarnya, dan mungkin ini yang lebih tepat, kota Tiga Kota bertambah luas dan melebar.

Sepagi itu, hari itu, sebuah tempat yang menyerupai alun- alun telah dipenuhi manusia. Ada seorang terhukum, seorang tak termaafkan, seorang yang mereka sebut “si terkutuk”, telah mengacaukan kehidupan mereka. Tak ada hukuman yang lebih pantas bagi seorang jahat dan gila, yang menyebar hasutan, ajaran sesat, kecuali kematian dan siksa. Dan Si Terkutuk itu, telah diikat, ditelentangkan di atas meja batu, di atas semacam altar lebar yang juga dari batu, bersama sejumlah algojo dan seorang yang tampaknya akan menyampaikan sesuatu kepada mereka.

Orang itu, yang dari pakaiannya bisa dikenali sebagai aparat penguasa, setelah mengangkat- angkat tangan menenangkan galau suara massa, setengah berteriak lalu berkata: “Jadi inilah hukuman kita bagi Si Terkutuk ini, pendatang yang tak tahu diri ini. Pertama, kuku- kukunya akan dicopot, lalu jari- jarinya akan diremukkan. Berikutnya, lidahnya akan diiris dipotong-potong, matanya akan dicongkel. Dan sebelum dada dan kulit perutnya dikupas, kaki dan lengannya akan dicincang-cincang, ditumis….”

Masih beberapa rincian lagi sebelum akhirnya si algojo mulai melangkah ke meja batu. Mata di balik topeng itu bagai berkilau saat menjangkau jempol Si Terkutuk dan alat pertama, jepitan besi, segera bekerja. Tidak dengan satu sentakan cepat, melainkan dengan tarikan lambat, lambat, lambat… bagai memancing menunggu jerit dari mulut Si Terkutuk. Satu kuku, Si Terkutuk masih bertahan. Dua kuku, juga masih bertahan. Tetapi ketika kuku ketiga mulai akan tertarik keluar dari jari tengahnya, gigi Si Terkutuk pun akhirnya lepas dari bibir merah berdarah dan jerit itu menggema.

“Aaaaaa!”

Mata si algojo kian berbinar. Kuku keempat.

“Aaaaaaaaa!”

Kuku kelima.

“Aaaaaaaaaaaa!”

Jerit itulah yang terus menggema. Menembus ruang. Menembus waktu. Seribu tahun. Dua ribu tahun….***

Payakumbuh, 2 Juli 2003


Gus tf Sakai

Mimpi-mimpi

Mimpi-mimpi


Inilah pengakuan dosa paling aneh yang dialami Romo Wijoyo selama hidupnya.

Pada Suatu hari Sabtu sore, seperti biasa, Romo Wijoyo telah menunggu para pengaku dosa pengakuan. Di depan masih sepi. Baru ada sekitar sepuluh orang yang duduk atau berlutut di bangku-bangku gereja. Suasana gereja amat sunyi. Tidak lama kemudian pintu kamar pengakuan dibuka orang, dan seorang lelaki muda masuk ruangan < itu.

“Romo, telah lama saya tidak mengakukan dosa-dosa saya. Kurang lebih sudah sepuluh tahun ini. Pengakuan dosa saya yang terakhir sepuluh tahun yang lalu,” kata orang itu dari balik dinding kasa yang memisahkan kamar pengakuan dengan kamar Romo. Lama orang itu tidak menyambung kata-katanya. Romo Wijoyo melirik orang itu. Seorang lelaki muda yang tegap, ganteng, berkulit agak hitam. Ia menunduk sambil berlutut di bangku pengakuan.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Romo…. Romo, saya bermimpi.”

“Mimpi bukan dosa.”

“Mimpi ini terus-menerus, Romo. Mimpi-mimpi itu menghantui diri saya bulan-bulan ini. Maka saya datang kemari.”

“Ceritakan.”

“Mula-mula saya bermimpi menyetubuhi banyak perempuan.”

“Kamu sudah menikah?”

“Sudah Romo.”

“Lanjutkan.”

“Saya guru SMA. Mula-mula saya bermimpi menyetubuhi salah satu murid saya. Saya mengajar sekolah susteran. Lain hari saya bersetubuh dengan rekan guru. Bahkan terakhir saya bersetubuh dengan suster kepala. Mimpi-mimpi itu nyata sekali, Romo. Saya sangat bergairah. Meskipun masuk, tetapi tidak mau keluar juga Romo….”

“Sudah, sudah, saya mengerti. Tetapi itu kan hanya mimpi. Waktu kamu akil balig kan juga pernah mimpi semacam itu.”

“Betul Romo. Tetapi yang dulu sampai keluar.”

“Jadi sekarang ini kamu juga menginginkan yang begitu?”

“Ah, Romo. Kecewa saja. Mungkin inilah dosa saya. Berzina dengan pikiran. Bukankah doa kita mengajarkan bahwa kita dapat berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian?”

Romo Wijoyo diam saja.

“Saya merasa telah berdosa dengan pikiran.”

“Baiklah, kalau kamu merasa tidak tenang, saya akan memberikan absolus.”

“Romo. Ada mimpi-mimpi lain lagi.”

“Hah?”

“Saya mimpi membunuh berkali-kali. Banyak yang saya bunuh. Mula-mula saya membunuh salah satu murid saya yang diam-diam sinis terhadap materi pengajaran saya. Murid ini banyak membaca. Ayahnya profesor sejarah. Ia memang tidak pernah membantah ajaran saya, tetapi saya tahu ia tidak mau mendengarkan yang saya ajarkan. Acuh saja selama pelajaran berlangsung. Tetapi nilai ulangannya selalu bagus. Ia saya tusuk berkali-kali tepat di dadanya. Kemudian saya bunuh ibu mertua saya. Habis, Romo, tidak ada hari tanpa meremehkan diri saya. Saya dinilai sebagai lelaki yang tidak becus cari duit. Di mata ibu saya ini, nilai manusia ditentukan oleh tebalnya kantong. Saya sudah lama menjadi pasien tidak berharga dalam keluarga. Ia saya cincang habis-habisan di dapur atau entah di mana, rasanya di dapur, tetapi bukan dapur rumah saya. Namun, sepertinya saya menganggap itu dapur rumah saya. Saya merajangnya seperti mau bikin bistik,” suara di balik kawat kasa itu terengah-engah dengan nada emosi tinggi.

Romo Wijoyo diam saja, terus mendengarkan.

“Yang terakhir saya bunuh teman kencan istri saya. Saya belum pernah memergoki mereka berselingkuh. Tetapi teman-teman dan tetangga sering melihat mereka berdua bersama anak saya yang berumur dua tahun jalan-jalan di mal, taman kota, dan restoran. Lelaki ini sengaja disodorkan oleh ibu mertua saya dan membiarkan bertamu ke rumah, sementara saya pergi mengajar. Lelaki ini memang kaya. Selalu bermobil ke rumah. Ibu mertua saya dihujani banyak hadiah olehnya. Dialah lelaki idaman ibu mertua saya. Saya pukuli lelaki ini dengan pipa ledeng sehingga remuk kepalanya. Saya puas, tetapi saya menyesal telah membunuhnya.”

“Ya, itu kan hanya mimpi. Mereka kan masih hidup?”

“Masih Romo. Tetapi saya malu telah melakukannya dalam mimpi.”

“Apa kamu malu juga dengan perempuan-perempuan dalam mimpimu?”

“Malu sekali Romo. Mereka saya lihat telanjang bulat. Suster Marie juga telanjang bulat. Bahkan dalam keadaan sadar saya tak berani membayangkannya. Ini kan pikiran kotor saya Romo. Saya telah berdosa dengan pikiran.”

“Apa kamu memang pernah punya pikiran semacam itu kepada korban-korbanmu?”

“Tidak pernah Romo. Mimpi itu datang begitu saja tanpa saya minta. Saya menyetubuhi mereka dan membunuh mereka dengan amat nyata. Begitu bangun saya terengah-engah. Untung juga cuma mimpi. Tetapi itu berulang kali. Yang terakhir saya mimpi menguras uang sekolah di laci Suster Marie, lalu saya bagikan kepada istri dan ibu mertua saya.”

“Tetapi uangnya kan masih ada?”

“Tidak ada Romo. Paginya sekolah ribut karena Suster kehilangan uang dua puluh juta lebih di lacinya.”

“Hah? Kan itu hanya mimpi.”

“Benar saya yang mimpi. Tetapi uang sekolah itu benar- benar lenyap.”

“Ke mana?”

“Tidak tahu Romo. Saya tidak mencurinya. Anehnya peristiwa itu terjadi di malam mimpi saya. Tidak ada orang yang tahu saya mimpi mencuri uang sekolah. Dan saya tidak menceritakannya kepada siapa pun, termasuk istri saya. Uang itu nyatanya benar-benar dicuri.”

Romo Wijoyo memandangi lelaki di balik kawat kasa itu. Ia menunduk dan nampak agak menggigil.

“Baiklah. Mari kita berdoa kepada Allah memohon pengampunan-Nya. Kalau kamu merasa telah berdosa dengan pikiranmu, mohonlah ampunan. Mari berdoa agar hatimu tenang.”

Keluar dari kamar pengakuan dosa, lelaki itu melihat deretan panjang orang-orang yang mau mengaku. Satu per satu mereka melirik padanya. Itulah pengakuan dosa terpanjang di paroki itu.

Romo Wijoyo, sebagai pastor paroki, dengan sendirinya hanya menyimpan peristiwa itu dalam hatinya. Namun, pengakuan dosa yang aneh itu tetap menjadi pertanyaan baginya. Bagaimana uang dapat hilang dalam peristiwa mimpi.

Kira-kira satu bulan kemudian, di suatu sore, koster memberi tahu kepada Romo Wijoyo bahwa ada seorang ibu ingin menemui Romo. Di ruang tamu, Romo Wijoyo melihat seorang perempuan muda yang bertanda memar biru di bagian mata kirinya.

“Maaf mengganggu Romo. Saya Ibu Lukas. Istri Pak Lukas guru sejarah di susteran. Begini persoalannya Romo.”

Romo Wijoyo ingat kembali pengakuan dosa yang aneh itu.

“Tadi siang saya membereskan kamar kerja suami saya. Banyak tumpukan kertas ulangan dan tugas-tugas kliping dari murid-murid. Di tengah-tengah tumpukan kertas-kertas itu, tiba-tiba saya temukan bungkusan koran ini. Dan ternyata isinya uang ratusan ribu. Saya hitung jumlahnya ada dua puluh juta lima ratus ribu rupiah. Saya amat takut. Saya ke sini tanpa memberitahukan suami saya. Inilah uang-uang itu Romo.”

Romo Wijoyo amat kaget.

“Sekitar satu setengah bulan yang lalu, sekolah tempat suami mengajar kehilangan uang sekitar jumlah ini. Saya tidak menduga bahwa suami saya yang mencurinya. Saya takut Romo. Saya minta tolong agar Romo dapat mengembalikan uang ini ke suster. Dan saya mohon agar Romo dapat berunding dengan suster kepala agar tidak mempermasalahkan hal ini. Saya minta tolong sekali pada Romo.”

Romo Wijoyo masih tertegun. Belum sempat menata pikirannya.

“Saya tidak mau suami saya kehilangan pekerjaan. Mudah- mudahan jumlah uang ini belum berkurang. Nampaknya memang demikian karena bungkusan koran ini telah berdebu bersama kertas-kertas pekerjaan murid-murid. Tolong Romo.”

Romo Wijoyo menerima bungkusan uang itu dan berjanji akan menyampaikannya kepada suster kepala.

“Ibu jatuh atau bagaimana, kok…,” tanya Romo Wijoyo sambil memperhatikan memar di mata kiri Ibu Lukas.

Ibu Lukas tersipu malu.

“Bukan jatuh Romo.”

“O, ya?”

Ibu Lukas diam menunduk. Nampak ragu akan apa yang akan dilakukannya.

“Begini Romo. Sudah satu bulan ini suami saya, ketika kami tidur, tiba-tiba ia memukuli kepala saya sambil menggeram. Bahkan pernah ia mencekik leher saya Romo. Ia sering bermimpi dan memukuli kepala saya. Suami saya… selalu menuduh saya selingkuh. Tetapi saya tidak selingkuh Romo. Lelaki itu dulu memang senang pada saya. Ia jauh lebih tua dari saya. Dari dulu ia baik pada saya. Juga setelah saya menikah dengan suami saya ini. Memang tidak pantas. Tetapi ia sering memaksa saya dan anak saya untuk diajak belanja. Dan ibu saya membolehkannya.”

Dua hari kemudian Romo Wijoyo menemui Suster Marie dan menyerahkan bungkusan uang itu. Suster Marie tidak percaya bahwa uang itu dicuri oleh Pak Lukas.

“Tidak mungkin dia Romo. Tetapi mengherankan juga mengapa uang ini ada di kamarnya. Pak Lukas ini orangnya amat baik. Ia juga disayangi anak-anak. Maklum anak-anak remaja Romo. Banyak yang mengidolakan dia. Namun ia tetap menjaga jarak dengan anak-anak, dan amat sopan. Pak Lukas memang agak pendiam, namun ia amat ramah kepada siapa pun. Saya tidak percaya ia dapat melakukan hal ini.”

“Sebaiknya suster agak punya perhatian khusus padanya.”

Sesampainya di pastoran, Romo Wijoyo menelepon bagian perpustakaan fakultas filsafat, apakah di perpustakaan ada buku The Interpretation of Dream karangan Sigmund Freud.

Dari seberang sana ada jawaban, bahwa ada dua buku itu di perpustakaan, satu hardcover dan satu lagi paperback.


Jakob Sumardjo

Sebutir Kepala Menclok di Jendela

Sebutir Kepala Menclok di Jendela


Joko Parepare melotot. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya: sebutir kepala! Bukan kelapa, itu sungguh-sungguh kepala manusia. Kepala berambut gondrong tanpa tubuh. Ia melayang di udara, lalu menclok di jendela ruang kerjanya, di sebuah gedung perkantoran, lantai 5.

Kepala itu melekat di kaca jendela, dengan keningnya yang mengeluarkan cairan perekat. Kedua kelopak matanya berkedip-kedip. Ujung hidungnya melebar, tertekan pada kaca. Bibirnya, eh, gila, dia tersenyum! Joko Parepare bergidik.

Apalagi ketika ia melihat bagian lehernya yang bersulur-sulur seperti singkong yang baru dicabut dari tanah, dan meneteskan darah.

“Mau apa, kamu?!” Joko Parepare menghardik, dengan perasaan tak keruan. Ia buru-buru merekam pekerjaannya di komputer. “Kamu teroris? Kamu barusan meledakkan bom bunuh diri?”

Eh, gila, dia tersenyum lagi!

Joko Parepare senewen.

“Cepat bilang, siapa kamu? Mau apa menclok di situ? Memangnya enggak ada kerjaan lain?”

Gila, dia cuma tersenyum!

“Jangan cengengesan terus! Nggak lucu! Kalau kamu enggak mau bicara, aku juga enggak mau bicara lagi. Nggak ada waktu! Time is money!” Joko Parepare segera mematikan komputernya, memakai sepatu, mengunci laci meja, menekan kunci jendelanya dalam-dalam untuk memastikan agar kepala tak diundang itu tak bisa membuka jendela lalu melompat ke dalam kamar dan menduduki kursi kerjanya. Ia pun bersiap-siap untuk segera kabur dari situ.

“Bagi rokoknya, dong. Kecut nih, dari tadi belum ngisep…!” Gila, dia bisa bicara! Joko Parepare jadi belingsatan. “Nyalakan sekalian…,” kata si kepala lagi, “aku sudah enggak punya tangan, ketinggalan di mobil…”

“Kamu goblok, sih!” Joko Parepare mengumpat begitu saja, sambil dengan panik segera mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang tergeletak di atas meja kerja. Ia lalu menyalakannya. Setelah itu, ia baru tersadar, bagaimana caranya memberikan rokok itu kepadanya?

“Jangan bodoh. Buka jendelanya, dong!” kata si kepala, seakan tahu apa yang dipikirkan Joko Parepare.

Dengan bodoh, Joko Parepare lalu membuka jendelanya, dan mengulurkan tangannya yang memegang rokok ke luar jendela, pelan-pelan, gemetaran. Hap! Kepala itu langsung melompat dan mencaplok rokoknya. Jempol dan jari telunjuk Joko Parepare sempat masuk ke dalam mulutnya dan merasakan ketajaman gigi-giginya. Joko Parepare secepat kilat menarik kembali tangannya dan buru-buru mengunci jendelanya. Kedua jari tangannya yang tercaplok tadi berlumur darah.

“Sialan, kamu!” Joko Parepare mengutuk sambil segera mencabut segepok tisu dari tempatnya di meja, dan membersihkan jari-jarinya. “Sudah, enyah kamu dari sini! Jangan ganggu aku lagi!”

“Galak banget jadi orang….”

“Biarin! Daripada kamu, sudah jadi bekas orang, masih gentayangan!”

“Aku kan cuma mau minta rokok….”

“Ya, sudah. Rokok sudah dikasih. Pergi sana!”

“Numpang duduk di dalam, boleh enggak…?”

“Enggak! Seribu kali, tidak boleh! Enak aja, lu!”

“Sebentar saja, numpang ngadem AC. Gerah nih.…”

“Gerah pale lu!”

“Pale gue emang gerah, bos…! Di luar sini panas sekali.…”

Joko Parepare jadi pusing. Kalau permintaan si kepala itu dituruti, pasti dia akan minta yang lain-lain lagi. Dan, sekali dia diperbolehkan masuk ke dalam kamarnya, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tidak akan terjadi aneka huru-hara. Termasuk, kalau rekan-rekan sekantornya melihat di kamarnya ada sebutir kepala penuh darah. Bisa gawat. Bisa jadi urusan polisi, dan ujung-ujungnya ia bisa dituduh jadi pembunuh dan meringkuk belasan tahun dalam penjara. Gila! Tidak!

“Enggak! Enggak bisa! Kamu di situ saja, atau pergi ke tempat lain!” Joko Parepare menjawab dengan tegas. “Kalau kamu mengancam atau memaksa, aku lapor polisi!”

“Jangan, bos! Biar nanti aku sendiri yang melaporkan kamu ke polisi,” kata si kepala sambil mengembuskan asap rokok dan menyeringai, mempertontonkan giginya yang berselaput cairan kental berwarna merah.

“Apa?” Joko Parepare terkesiap. “Kamu akan melaporkan aku? Dalam perkara apa? Aku enggak ada urusan sama kamu!”

“Lho, barusan kamu kan ngasih rokok…?”

“So what? Itu kan karena kamu meminta?”

“Kamu bisa dianggap pelakunya. Sidik jari kamu ada di rokok ini, lho?” kata si kepala sambil mematikan rokok di kaca, dan menunjukkan puntungnya yang tinggal separuh.

“Aku? Pelakunya? Pelaku apa? Pelaku pengeboman? Nonsens!”

“Bukan, bukan pengeboman, bos, tapi pemenggalan kepalaku…He-he-he.”

“Sialan! Mana mungkin? Mana mungkin polisi percaya? Kenal kamu saja, tidak!”

“Kalau begitu, kita kenalan dulu.…”

“Tidak! Tidak! Kamu mau menjebak aku…?!”

“Namaku Al-Gizi, asal Kampung Senayan, pernah ikut konvensi pemilihan calon presiden partai…”

“Cukup! Seratus persen tidak lucu! Aku enggak mau dengar, dan dengan ini menyatakan sumpah bahwa aku tidak pernah mendengar apa pun yang kamu katakan barusan…!”

“Jangan main-main dengan sumpah. Dulu, aku juga banyak bersumpah, tapi tak ada satu sumpah pun yang aku…”

“Itu urusanmu, bukan urusanku! Sudah, aku mau pergi!”

“Aku ikut…!”

“Gila, kamu!”

“Aku bisa ikuti kamu. Mobil kamu kan Carens warna biru muda yang diparkir di samping gedung?”

“Kamu sok tahu!”

“Aku memang tahu tentang kamu. Aku kan sudah lama mengamat-amati kamu dari atas pohon kersen….”

Joko Parepare bergidik dan marah sekali.

“Monyet! Apa maksud kamu memata-matai aku?!”

“Biar aku tahu, orang macam apa yang akan jadi mediatorku dan menuliskan segala sesuatu mengenai aku…”

“Enak saja! Memangnya kamu siapa, bisa-bisanya menentukan aku jadi mediator kamu, dan harus menuliskan segala sesuatu mengenai kamu?! Jin botak saja tidak akan aku layani! Apalagi kamu, segelundung kepala gondrong tak tahu malu!” Joko Parepare merasa sangat terhina.

Si Kepala Gondrong tertawa terkekeh-kekeh.

“Makanya, kamu harus kenalan dulu sama aku…”

“Tidak! Tidak! Sekali aku bilang tidak, tidak!”

“Kalau kamu tetap keras kepala, nanti malam, sewaktu kamu tidur, aku akan menukar kepalamu dengan kepalaku. Ha-ha-ha! Sampai jumpa! Have a nice dream…!”

Si Kepala Gondrong terbang entah ke mana. Joko Parepare terenyak di kursi kerjanya sambil memegangi kepalanya erat-erat.

Eh, si kepala gila itu tiba-tiba menclok lagi di jendela. “Kalau kamu keberatan bertukar kepala denganku, bagaimana kalau aku bertukar kepala dengan presiden terpilih 2004?” katanya.

Joko Parepare tak mau mendengar. Ia buru-buru menutup mata dan telinganya. Soal presiden 2004, “Itu urusan lu!” katanya dalam hati. Tapi, ia bersumpah tidak akan tidur tanpa mengikat kepalanya dengan sabuk pengaman. Sekurang-kurangnya, selama 40 hari 40 malam.

Jakarta, 2003



Yudhistira ANM Massardi