MONOLOG
TOPENG
TOPENG
(RACHMAN SABUR)
DARI BAGIAN ATAS PANGGUNG ADA DUA BENTANGAN KAIN HITAM DAN KAIN PUTIH. MASING-MASING BERJARAK. DARI DUA BENTANGAN KAIN PUTIH DAN HITAM YANG VERTIKAL INI BISA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS AREA PERMAINAN BAGI SANG PEMAIN. ATAU BISA JUGA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS ALAM NYATA YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN HITAM. DAN BATAS ALAM KHAYALI YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN PUTIH. YANG SEWAKTU-WAKTU BISA DIPAKAI JUGA UNTUK ADEGAN BAYANG-BAYANG. DI DEPANNYA ADA SEBUAH PETI PANJANG BERWARNA HITAM. DI ATASNYA ADA DUA BUAH TOPENG YANG BERWARNA HITAM DAN PUTIH.
PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.
Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?
Kalau saja, saya bisa percaya…, kalau saja kita mau bijaksana sedikit. Tentunya kita dapat membicarakan segala kebohongan yang ada. Segala yang terjadi dan akan terjadi…
Baik. Kalau begitu akan saya mulai saja.
SANG PEMAIN MENGENAKAN TOPENG HITAM. IA BERADA DI LATAR BELAKANG KAIN PUTIH. PADA DIALOG BERIKUT INI, SANG PEMIAN SEOLAH-OLAH SEDANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG. MEREKA SALING BERTATAPAN.
Wajah kita adalah topeng-topeng. Segala wajah semua bertopeng. Ayo! Siapa diantara kita yang bersedia menanggalkan topeng dirinya? Aku tahu wajahmu. Kaupun tahu wajahku yang sebenarnya. Topengku dan topengmu saling menatap penuh kejatahan! Wajah-wajah kita bersembunyi di balik topeng. Topeng-topeng kita bercengkrama di panggung hidup. Lalu kita saling bunuh membunuh! Topengmu dan topengku terus bergerak menarikan kehidupan dan kematian. Bersama para gagak hitam. Yang bersemayam di bukit-bukit kubur.
TERDENGAR KEMBALI BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN DIAM BEBERAPA SAAT. HANYA EKSPRESI TOPENGNYA MASIH MENATAP NANAR. PADA DIALOG SELANJUTNYA, SANG PEMAIN SEOLAH-OLAH SEANG BERHADAPAN DENGAN SESEORANG YANG LAIN. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGHILANG. YANG TERDENGAR HANYA BUNYI PETI YANG DIPUKUL SECARA KONSTAN. SANG PEMAIN DUDUK DI PETI ITU.
Waska! Aku dengar kemiskinanmu di mana-mana. Lapar badan dan lapar jiwa telah membuatmu angkuh! Dan engkau tidak pernah takut mati. Kau dengar Waska? Nasibmu bagai acuan kereta waktu. Berjalan terus berjalan, menyelusuri rel-rel kehidupan yang kumal. Yang telah begitu lama kau kenal.
Waska! Aku lihat borok-borok di seluruh tubuhmu pagi hari. Dan kau sungguh tak peduli matahari! Sementara kau diam membisu di situ, kereta waktumu lewat begitu saja. Tanpa pesan. Perjalan hendak kemana Waska? Dan kau tidak menjawab. Tetap tak peduli.
Waska! Aku lihat sinar di matamu merah menyala-nyala! Waska! Kau dengar? Berjuta-juta orang meneriakkan lapar di belakangmu. Dan aku dengar, siang malam Waska-Waskamu meraung-raung! Mereka menggeram dengan lapar! Mereka menatap nanar! Mereka berkeliaran di mana-mana!
Waska! Mereka gelisah di mana-mana! Mereka kini mengembara keseluruh penjuru kota, mencari-cari kuburnya sendiri, membuat kuburnya sendiri. Lalu tentang mimpi bersarmu, tentang perampokan semesta. Mengendap dalam kekosongan…
Waska! Kini aku melihat kau telah bunuh diri. Kekosongan dan nasibmu, sungguh sempurna.
SANG PEMAIN TIBA-TIBA JATUH DARI ATAS PETI. KEMUDIAN SUNYI. SANG PEMAIN BANGKIT KEMBALI SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA.
Begitulah. Kegelisahan dramatik yang sedang terjadi pada tokoh yang satu ini. Ia telah bertemu dengan tokoh Waska. Seorang tokoh legendaris yang ada dalam lakon sandiwara Umang-Umang. Dimana dalam lakon itu pengembaraan hidup seorang Waska yang jahat, sekaligus sebagai seorang yang baik dapat kita rasakan penderitaannya. Tapi apakah benar Waska itu telah mati? Apakah benar, Waska sebelumnya pernah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa? Dan apakah benar Waska itu gila? Sedangkan menurut kabar burung, katanya sekarang ia lagi memimpin proyek raksasa yang dananya beratus-ratus juta milyar dollar. Untuk lebih jelasnya, baik. Saya akan mencoba menghubungi dia. Mudah-mudahan dia mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang prinsipil dan sangat hakiki itu. Saya percaya, Waska mau memenuhi permintaan sahabatnya. Saya permisi dulu. Waska! Waska! Waska! Waska……!
SANG PEMAIN SEKARANG MENGENAKAN TOPENG PUTIH. BUNYI-BUNYI TETABUHAN MENGIRINGI KEMUNCULAN HADIRNYA SEORANG WASKA.
Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, yang profesinya sebagai anak panggung. Kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa nama saya bukan lagi Waska. Nama saya saya sekarang adalah Semar. Siapa bilang saya ini sudah mati? He… he… he… Itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Itu kan sebetulnya hanya trik saja untuk memancing rasa emosi penonton. Untuk merebut simpati pengikut-pengikut saya, dan masyarakat lingkungan saya. Dan itupun saya tidak mati-mati. Saya menjadi sakit di situ. Dan yang paling jelas, itu rekaan pengarangnya. Karena pengarangnya menghendaki demikian, ya sudah.
Sungguh! Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup, kok. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa. Makanya saya masih tetap muda, dan tetap perkasa. Saya betul-betul menikmati kehidupan ini. Setiap detik saya menghirup dan menghembuskan nafas, bagi saya itu adalah kenikmatan, suatu anugerah. Jangan percaya! Itu hanya isu. Orang masih hidup, kok, … dikatakan sudah mati. Bagaimana ini…? Lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan Malaikat Jibril. Bohong itu! Lha, saya hanya pernah bermimpi bertemu dengan Mbah saya. Masa Mbah saya dikatakan malaikat? Itu mengada-ngada, dan itu berlebihan. Jangan-jangan Malaikat Jibril nantinya tersinggung. Mbah saya juga pasti bakal tersinggung dengan fitnah ini.
Baik. Sekarang pertanyaan yang mana, yang belum saya jawab? Oh, ya! Tentang proyek raksasa saya. Memang benar. Proyek ini adalah salah satu dari sekian banyak proyek yang saya kerjakan. Sebetulnya proyek ini adalah proyek kemanusiaan. Dan saya beruntung sekali dapat mengkompensasikannya kedalam bentuk proyek kerohanian, yang semata-mata pengabdian saya terhadap manusia sesama, dan juga pengabdian saya terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Beruntung sekali saya mendapat kepercayaan untuk mengerjakan proyek raksasa ini. Terus terang saja, saya tidak melihat ini sebagai proyek bisnis semata. Tapi ada yang lebih berharga, lebih bernilai dari itu. Yaitu: pengabdian saya terhadap manusia sesama. Juga pengabdian saya terhadap Tuhan saya. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mudah-mudahan proyek ini dapat berjalan dengan lancar, sebagaimana yang diharapkan. Proyek ini juga dapat dikatakan sebagai tanda rasa syukur saya kepada Tuhan, yang telah memberikan rejeki yang berlimpah kepada saya. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Oh… kalau saya teringat kembali kebelakang, kemasa-masa hidup saya yang serba sulit, serba berantakan, serba gelap…, saya jadi teringat kembali kemasa itu.
Tentunya semua orangpun tahu, dulu saya pernah menjadi anak wayang. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kenapa saya berhenti menjadi seorang pemain sandiwara? Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Terlalu sulit untuk dibicarakan. Kalaupun saya harus menjawabnya, mmmhh… alasannya sangat pribadi sekali. Betul-betul sangat pribadi. Jadi lebih tidak usah saya katakan. Maaf. Sekali lagi… maaf. Dan maaf lagi, saya harus segera pergi. Saya ada pertemuan. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya harus menggarap proyek baru. Masih dalam fokus proyek kemanusiaan. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Saya harap semuanya bisa menjadi puas dengan penjelasan yang telah saya sampaikan tadi. Terutama untuk sahabat saya yang paling setia. Saya harap anda puas. Kalau anda merasa belum puas, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi nanti. Atau lebih baik saya undang anda, atau siapa sajalah. Datanglah ke Jakarta, ke hotel saya. Di sana kita bisa ngobrol-ngobrol lebih santai tentang kemanusiaan, secara ilmiah dan hakiki. Saya tunggu. Dan maaf, saya harus segera pergi.
SANG PEMAIN BERGERAK KEBELAKANG KAIN PUTIH. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI TANPA TOPENG.
Bagaimana? Meskipun kita tidak puas, untuk sementara ini kita puas-puaskan saja. Tapi sekarang sudah jelas, bukan? Bahwa Waska itu ternyata masih hidup sehat wal afiat, segar bugar dan masih tetap muda. Kalaupun sekarang ia berganti nama menjadi Semar. Saya yakin itu hanya untuk kebutuhan administrasi dan formalitas saja. Bagaimana tidak, ia seorang Waska. Sekali Waska tetap Waska! Hidup Waska!
Saya heran, kenapa dia harus berhenti menjadi pemain sandiwara. Padahal kita semua menyaksikan sendiri, dia begitu berbakat, potensial. Kemampuannya sangat luar biasa. Refleksinya begitu kuat san sangat sensitif. Padahal dia sebenarnya bisa menjadi seorang pemain yang sempurna. Saya belum pernah melihat orang lain setangguh dia. Betul-betul luar biasa! Saya sampai-sampai pangling melihat perubahan yang begitu besar pada dirinya.
Tapi rasanya saya tidak adil kalau saya harus terus membicarakan tentang kesuksesan Waska. Waska sendiri sudah diberikan kesempatan secara panjang untuk menjawab semua pertanyaan dan isu-isu yang tersiar selama ini. Rasanya kita juga harus sedikit bijaksana untuk memberikan kesempatan bicara kepada Semar. Barangkali ia juga juga ingin menyampaikan sesuatu. Barangkali keanehan atau keajaiban jaman telah terjadi dan harus segera diwartakan kepada semua orang. Segera akan saya panggil Semar.
Semar! Semar! Semar! Semar……!
SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR. KEMUDIAN IA MASUK KEBELAKANG KAIN HITAM. SEBENTAR KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI MENGENAKAN TOPENG HITAM.
Sebelum saya berbicara lebih jauh, terlebih dahulu saya akan meluruskan sebuah kekeliruan. Saya bukanlah Semar. Saya adalah Waska. Saya betul-betul Waska. Memang banyak sekali orang bernama Waska. Tapi saya adalah Waska yang paling Waska. Dunia saya adalah dunia Waska. Penderitaan saya adalah penderitaan Waska. Borok saya adalah borok Waska. Kesunyian saya adalah kesunyian Waska. Mimpi saya adalah mimpi Waska. Sakit saya adalah sakit Waska. Hati saya adalah hati Waska. Keinginan saya adalah keinginan Waska. Dendam saya adalah dendam Waska. Kemiskinan saya adalah kemiskinan Waska. Lapar saya adalah lapar Waska. Sembahyang saya adalah sembahyang Waska. Tuhan saya adalah Tuhan Waska.
Waskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaskawaska…!
IA MENANGIS. SUARANYA MERINTIH MEMILUKAN. KEMUDIAN MEMUKUL-MUKUL PETI. TIBA-TIBA TANGISANNYA BERHENTI. IA GELISAH BERGERAK KESANA-KEMARI. IA SEMAKIN GELISAH. LALU IA BERSEMBUNYI DI BALIK KAIN HITAM. KEMUDIAN IA MUNCUL KEMBALI DALAM GELISAH YANG SAMA.
Bagaimana lagi aku harus menjelaskan? Bagaimana lagi Waska? Percuma saja aku berteriak-teriak, karena orang-orang sudah tidak punya telinga. Berpikir Waska! Berpikir! Percuma saja aku berpikir, karena orang-orang sudah tidak mau lagi menerima pikiran orang lain. Berdoa Waska! Berdoa! Percuma saja aku berdoa, karena Tuhan sudah tidak mau mendengar lagi keluhanku. Lebih baik aku melanjutkan mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang dapat memberikan kesunyian yang indah. Ya, lebih baik aku diam dalam mimpi-mimpi itu. Diam bagai batu. Aku memang batu! Batu hitam yang angkuh! Aku harus menjadi angkuh, karena semua orang telah menjadi musuh! Tiba saatnya aku harus mengatakan: tidak kepada semua! Terlebih-lebih kepada orang-orang yang menganggapku sebagai orang tanpa daya upaya, tua dan penyakitan. Akan kubuktikan kepada mereka, bahwa aku adalah seorang Waska. Seorang manusia berantakan, tapi masih punya pikiran. Akan kujelaskan kepada mereka, bahwa aku adalah manusia yang terseret oleh jaman dan peradaban yang edan, namun aku masih tetap punya perasaan. Punya hati nurani. Punya perasaan sakit yang sama seperti orang-orang lainnya. Punya dendam yang sama. Oh! Dendam yang tiada akhirnya. Mengepul panas di ubun-ubunku. Membakar sekujur tubuhku yang hitam berkarat.
Istirahatlah Waska! Kau begitu lelah. Tidurlah…
Siapa bilang aku lelah? Aku tidak lelah! Dan aku tidak butuh tidur! Yang kubutuhkan hanya mimpi! Aku butuh mimpi-mimpi itu. Mimpi sunyi yang indah. Yang membangkitkan gairah hidupku. Dan bintang-bintang berada di tanganku. Kugenggam ia… Ya! Aku harus mendapatkannya. Belum terlambat. Ya! Belum terlambat. Hari masih malam. Masih banyak yang harus kuraih. Bangsat! (BERGERAK LIAR) Mereka mengunyah-ngunyah dagingku! Mereka menghisap darahku! Lintah! Mereka masih tetap saja lapar. Oh…, kebiadaban mana lagi yang harus kusaksikan. Begitu banyak binatang-binatang di sekitarku. Binatang mahal, terpelihara, tapi buasnya minta ampun!
Kau harus lebih buas dari mereka Waska…! Tunjukkan kebuasanmu! Tunjukkan taringmu! Tunjukkan matamu yang merah menyala-nyala! Ayo! Tunjukkan Waska…! Ya… Tuhan! Pandanganku begitu gelap. Sekujur tubuhku demam…. pori-poriku seakan tersumbat. Darah menggelegak naik keatas kepala. Pandangan mataku meremang, kepalaku seakan mau copot… tubuhku… tubuhku terasa kaku dan berat. Lidahku… kenapa lidahku menjadi kelu? (TUMBANG) Bertahanlah Waska! Kau harus bertahan! Dukamu adalah duka semesta! Bangkitlah Waska! Ayo bangkit! (BANGKIT) Ya, aku harus bangkit… aku harus berdiri, aku harus berjalan, aku harus tetap bertahan. Akan kubuktikan, bahwa aku adalah seorang Waska… (TUMBANG LAGI) Berdirilah Waska! Ayo berdiri! Kau harus berdiri di atas kakimu sendiri! Ya, aku harus berdiri… (BANGKIT LAGI) Ayo… kakiku berjalanlah, aku harus menebus kekalahanku… aku harus membayar hutang-hutangku kepada kehidupan ini. Akan aku selesaikan semua persoalan-persoalan ku dengan hidup ini… (TUMBANG LAGI) Waska! Seluruh alam akan berkabung, apabila kau menyerah! Maka bangkitlah Waska! Ayo bangkitlah! Buktikan bahwa kau adalah seorang manusia baja! Buktikan bahwa kau adalah batu hitam yang angkuh! Ayo buktikan Waska! (BANGKIT LAGI) Bnagsat… aku masih tetap seorang Waska, aku masih mampu bangkit, aku masih bisa tegak berdiri, aku masih mampu berjalan. Ayo…! Kakiku berjalanlah…, berjalanlah kemana kau suka. Ayo, kakiku, kau harus berjalan. Pergilah kemana kau mau. Mengembaralah kegunung-gunung, kebukit-bukit, kelembah-lembah. Dan carilah mata air yang sejuk untuk membasuh kakimu yang lusuh. Untuk mengobati luka di sekujur tubuhku. Oh, betapa sejuknya mata air itu menyentuh kepalaku yang lelah. Ayo kaki… berjalanlah. Tempuhlah segala rintangan… (TUMBANG LAGI) Oh…! Rupanya aku ini betul-betul sudah tua… aku lelah… Ya, Tuhan! Sungguh! Aku sudah terlalu lelah… aku berat… oh! Tiba-tiba seluruh pandanganku menjadi gelap (IA MERANGKAK) Begitu gelap… aku seperti masuk kedalam sebuah lorong yang gelap pekat.
Waska! Bertahanlah Waska! Semua itu hanya ilusi Waska! Bukalah matamu! Bukalah pikiranmu! Bukalah pintu hatimu! Buktikan bahwa kau adalah seorang Waska! (IA MASIH TETAP MERANGKAK) Aku sudah tidak tahan lagi Waska! Aku sudah sangat lelah… dan kini aku sedang sekarat…, sudahlah Waska… kau… kau memang kalah…, tapi kau tetap seorang Waska… Ya, Tuhan… aku sangat lelah.
IA MENANGIS. KEMUDIAN SUNYI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SANG PEMAIN BANGKIT SAMBIL MEMBUKA TOPENGNYA. IA BERJALAN SEPERTI SEDIAKALA.
Begitu besar penderitaan Waska. Begitu besar keinginan Waska untuk hidup, untuk tetap bertahan menjadi seorang manusia. Sampai-sampai ia harus menitikkan air matanya. Begitu indah dan menyakitkan. Sulit untuk dibayangkan, nasibnya begitu mengenaskan. Ucapan-ucapannya, kata-katanya…, begitu simbolis, penuh kemarahan dan ketahanan. Tapi sampai pada akhirnya, ia masih tetap punya pikiran. Ia masih tetap punya perasaan.
Sekarang akan saya panggil: Semar…! Waska…! Semar…! Waska…! Semar…! (SANG PEMAIN BERGERAK MENCARI-CARI SEMAR DAN WASKA) Waska…! Semar….? Waska…? Semar…? Waska…? Tidak seorangpun yang muncul. Seorang Waska tidak mau dikatakan sebagai seorang Waska lagi. Ia sudah menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak mau juga dikatakan sebagai seorang Semar, karena ia adalah seorang Waska. Semar adalah Semar. Seorang Waska adalah seorang Waska. Seorang Waska menginginkan menjadi seorang Semar. Seorang Waska tidak menginginkan menjadi seorang Semar. Kedua-duanya bisa ada. Dan kedua-duanya bisa tidak ada. Sedangkan saya, saya adalah seorang sahabat Waska. Saya hanyalah seorang anak panggung, yang telah lama ditinggalkan……
SELESAI
Tuesday, 15 February 2011
Para Penjilat
Para Penjilat
Naskah Monolog Toga Nainggolan
Aku : perkenalkan saya, hmmm…siapa ya???(dengan wajah pura-pura tahu). Sebut saja saya Robert, atau Michael. Ya hanya nama itu yang bisa mencerminkan betapa kayanya saya.
( berjalan-jalan mengelilingi stage, sambil berpikir lagi )
Aku : aku memang kaya, tapi maaf saya bukan maksud hati untuk sombong atau congkak, tapi buat apa minta maaf, iya khan?(dengan wajah sinis)
( duduk dikursi sambil mengangkat kaki satu keatasnya )
Aku :kalian tahu, sebenarnya saya ini ramah, sudah kaya pula. Tapi kenapa kalian-kalian memaksa ku menjadi begini?(dengan nada marah)
( berdiri dan naik keatas kursi )
Aku : apa? Apa kau lihat-lihat? mau nantangin? Apa? Menyuruhku minta maaf? Gara-gara aku tak sopan? Pintar sekali kau. Enyah (semakin marah)
( kembali duduk di kursi )
Aku : baiklah, baik saya akan beri tahu kenapa saya seperti ini dan kenapa saya sangat enggan meminta maaf. (dengan ekspresi jengkel).
( membuka jas dan memutari kursi )
Aku : mama, aku sudah pulang kerja Mama? Ma? Masih di salon ya? (sambil melihat jam tangan)
Aku : papa? Oh iya, papa masih di amrik ya? Ck, bisa-bisanya aku lupa. Sudah lah.
Aku : rumah segede ini yang tinggal Cuma aku? Payah. Benar-benar payah jadi orang kaya, sangat kesepian, dengan tetangga saja tak kenal, bukannya aku tak mau tapi pasti mereka juga tak mau. Maklum, pasti sibuk alasannya. Alasan klasik yang manjur juga untuk menolak sesuatu.
( kembali berdiri dan mengelilingi stage )
Aku : mana bisa tahan kalau hidup ditengah-tengah orang yang hidupnya hanya memikirkan harta dan kekayaan saja.
Aku : pengen rasanya aku hidup sederhana, atau miskin sekalian. Yang penting dapat merasakan suasana kekeluargaan yang bahagia, yang dimana tak ada yang bersifat individualis dan hanya mencari uang tanpa peduli dengan keluarga dan anaknya sendiri.
( ke backstage mengganti pakaian )
Aku : pagi ibu, saya Michael. Boleh tidak saya tinggal beberapa waktu?(dengan wajah tersenyum).
Aku : boleh? Bener nich? Terima kasih ya bu.
( duduk di lantai )
Aku : kalo ibu kerjanya apa? Adik-adik, masih pada sekolah khan? Bapak kerjanya apa?
Aku : oh begitu(dengan wajah sedih). Jadi bapak tak kerja lagi ya? Jadi adik-adik ini sudah tak sekolah lagi ya? Oh, adik-adik masih sekolah tapi sudah tak punya uang lagi ya untuk melanjutkan sekolah?
Aku : adik kalau sekolah di jemput ya bu? Enggak? Tapi khan adik masih terlalu kecil kalau jalan sendiri. (merasa kasihan dan cemas)
Aku : ibu punya HP? Saya ingin menelfon ke rumah agar mereka tahu bahwa saya baik-baik saja. Tidak punya ya? Maaf ya bu(dengan tampang menyesal )
Aku : ya bu? Ibu butuh uang? Untuk beli dan bayar uang sekolah adik-adik? Oh ya, ini bu. Adik-adik juga?ini buat jajan ya(dengan perasaan senang)
(keesokan harinya )
Aku : pagi pak, duduk-duduk saja nich? Ah, bapak jangan seperti itu, saya tidak kaya hanya saja memiliki harta yang cukup.
Aku : apa? Bapak ingin motor? Iya, iya ntar saya usahakan.( dengan rasa sedikit jengkel)
Aku : bapak, saya izin keluar dulu ya? Sebentar saja kok.
( kemudian si Michael memutuskan untuk pergi dari rumah miskin itu selamanya )
Aku : semuanya sama saja. Keparat. Tak ada yang bermoral baik, yang kaya egois. Yang miskin pemeras. Semua sama, enyah saja( dengan nada marah dan berteriak)
( kembali ke belakang stage dan mengganti baju )
Aku : sekarang sudah tahu kenapa saya enggan minta maaf? Dasar para penjilat.
Naskah Monolog Toga Nainggolan
Aku : perkenalkan saya, hmmm…siapa ya???(dengan wajah pura-pura tahu). Sebut saja saya Robert, atau Michael. Ya hanya nama itu yang bisa mencerminkan betapa kayanya saya.
( berjalan-jalan mengelilingi stage, sambil berpikir lagi )
Aku : aku memang kaya, tapi maaf saya bukan maksud hati untuk sombong atau congkak, tapi buat apa minta maaf, iya khan?(dengan wajah sinis)
( duduk dikursi sambil mengangkat kaki satu keatasnya )
Aku :kalian tahu, sebenarnya saya ini ramah, sudah kaya pula. Tapi kenapa kalian-kalian memaksa ku menjadi begini?(dengan nada marah)
( berdiri dan naik keatas kursi )
Aku : apa? Apa kau lihat-lihat? mau nantangin? Apa? Menyuruhku minta maaf? Gara-gara aku tak sopan? Pintar sekali kau. Enyah (semakin marah)
( kembali duduk di kursi )
Aku : baiklah, baik saya akan beri tahu kenapa saya seperti ini dan kenapa saya sangat enggan meminta maaf. (dengan ekspresi jengkel).
( membuka jas dan memutari kursi )
Aku : mama, aku sudah pulang kerja Mama? Ma? Masih di salon ya? (sambil melihat jam tangan)
Aku : papa? Oh iya, papa masih di amrik ya? Ck, bisa-bisanya aku lupa. Sudah lah.
Aku : rumah segede ini yang tinggal Cuma aku? Payah. Benar-benar payah jadi orang kaya, sangat kesepian, dengan tetangga saja tak kenal, bukannya aku tak mau tapi pasti mereka juga tak mau. Maklum, pasti sibuk alasannya. Alasan klasik yang manjur juga untuk menolak sesuatu.
( kembali berdiri dan mengelilingi stage )
Aku : mana bisa tahan kalau hidup ditengah-tengah orang yang hidupnya hanya memikirkan harta dan kekayaan saja.
Aku : pengen rasanya aku hidup sederhana, atau miskin sekalian. Yang penting dapat merasakan suasana kekeluargaan yang bahagia, yang dimana tak ada yang bersifat individualis dan hanya mencari uang tanpa peduli dengan keluarga dan anaknya sendiri.
( ke backstage mengganti pakaian )
Aku : pagi ibu, saya Michael. Boleh tidak saya tinggal beberapa waktu?(dengan wajah tersenyum).
Aku : boleh? Bener nich? Terima kasih ya bu.
( duduk di lantai )
Aku : kalo ibu kerjanya apa? Adik-adik, masih pada sekolah khan? Bapak kerjanya apa?
Aku : oh begitu(dengan wajah sedih). Jadi bapak tak kerja lagi ya? Jadi adik-adik ini sudah tak sekolah lagi ya? Oh, adik-adik masih sekolah tapi sudah tak punya uang lagi ya untuk melanjutkan sekolah?
Aku : adik kalau sekolah di jemput ya bu? Enggak? Tapi khan adik masih terlalu kecil kalau jalan sendiri. (merasa kasihan dan cemas)
Aku : ibu punya HP? Saya ingin menelfon ke rumah agar mereka tahu bahwa saya baik-baik saja. Tidak punya ya? Maaf ya bu(dengan tampang menyesal )
Aku : ya bu? Ibu butuh uang? Untuk beli dan bayar uang sekolah adik-adik? Oh ya, ini bu. Adik-adik juga?ini buat jajan ya(dengan perasaan senang)
(keesokan harinya )
Aku : pagi pak, duduk-duduk saja nich? Ah, bapak jangan seperti itu, saya tidak kaya hanya saja memiliki harta yang cukup.
Aku : apa? Bapak ingin motor? Iya, iya ntar saya usahakan.( dengan rasa sedikit jengkel)
Aku : bapak, saya izin keluar dulu ya? Sebentar saja kok.
( kemudian si Michael memutuskan untuk pergi dari rumah miskin itu selamanya )
Aku : semuanya sama saja. Keparat. Tak ada yang bermoral baik, yang kaya egois. Yang miskin pemeras. Semua sama, enyah saja( dengan nada marah dan berteriak)
( kembali ke belakang stage dan mengganti baju )
Aku : sekarang sudah tahu kenapa saya enggan minta maaf? Dasar para penjilat.
MANGIR - PRAMOEDYA ANANTA TOER
PARA PELAKU DRAMA
1. Wanabaya, Ki Ageng Mangir, pemuda, + 23 tahun, prajurit, pendekar, panglima Mangir, tua Perdikan Mangir, tampan, tinggi, perkasa dan gagah.
2. Baru Klinting, tetua Perdikan Mangir, pemuda, + 26 tahun, prajurit, ahli siasat, pemikir, organisator.
3. Pambayun, Putri, putri pertama Panembahan Senapati dengan permaisuri, + 16 tahun, telik Mataram, berpikiran masak.
4. Suriwang, pandai tombak, + 50 tahun, pengikut fanatik Baru Klinting.
5. Kimong, telik Mataram, + 30 tahun.
6. Tumenggung Mandaraka, pujangga dan penasihat kerajaan Mataram, + 92 tahun, kepala rombongan telik Mataram.
7. Ki Ageng Pamanahan, ayah Panembahan Senapati, + 90 tahun.
8. Pangeran Purbaya, anak pertama Panembahan Senapati, + 20 tahun.
9. Tumenggung Jagaraga, anggota rombongan telik Mataram, kepala pasukan dari 1000 orang, + 35 tahun.
10. Tumenggung Pringgalaya, anggota rombongan telik Mataram, kepala pasukan dari 1000 orang, + 45 tahun.
11. Panembahan Senapati. Raja Pertama Mataram, + 45 tahun.
12. Demang Pajang, + 42 tahun.
13. Demang Patalan, + 35 tahun.
14. Demang Pandak, + 46 tahun.
15. Demang Jodog, + 55 tahun
16. Pencerita (troubadour).
BABAK PERTAMA
PENCERITA (Troubadour) bercerita dengan iringan gendang kecil sebelum layar diangkat: Siapa belum pernah dengar Cerita lama tentang Perdikan Mangir Sebelah barat daya Mataram?
Dengar, dengar, dengar: aku punya cerita.
Tersebut Ki Ageng Mangir Tua, Tua Perdikan Wibawa ada dalam dadanya Bijaksana ada pada lidahnya Rakyat Mangir hanya tahu bersuka dan bekerja
NASKAH DRAMA
BABAK PERTAMA Drama Mangir.
Tinggal sejengkal lidah
Dijadikannya tombak pusaka
Itulah konon tombak pusaka
Si Baru Klinting….
Layar – terbuka pelan-pelan dalam tingkahan gendang pencerita, mengangakan panggung yang gelap gulita.
Pencerita – berjalan mundur memasuki panggung gelap dengan pukulan gendang semakin lemah, kemudian hilang dari panggung.
Setting – Sebuah ruang pendopo di bawah sokosoko guru terukir berwarna (polichromed), dilengkapi dengan sebuah meja kayu dan beberapa bangku kayu.
Di atas meja berdiri sebuah gendi bercucuk berwarna kehitaman. Dekat pada sebuah soko guru berdiri sebuah jagang tombak dengan tujuh bilah tombak berdiri padanya. Latar – belakang adalah dinding rumah- dalam, sebagian tertutup dengan rana kayu berukir dan sebuah ambin kayu bertilam tikar mendong.
BARU KLINTING : (duduk di sebuah bangku pada ujung meja, menoleh pada penonton). Hmm!
(Dengan perbukuan jari-jari tangan memukul pojokan meja, dalam keadaan masih menoleh pada penonton). Sini, kau Suriwang!
SURIWANG: (memasuki panggung membawa seikat mata tombak tak bertangkai, berhenti; dengan satu tangan berpegang pada sebuah sokoguru).
Inilah Suriwang, pandai tombak terpercaya Baru Klinting. (menghampiri Baru Klinting, meletakkan ikatan tombak di atas meja). Pilih mana saja, Klinting, tak bakal kau dapat mencela.
BARU KLINTING : (mencabut sebilah, melempar-tancapkan pada daun meja, mengangkat dagu): Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain. Segala apa yang baik untuk Suriwang, lebih baik lagi untuk Klinting, laksana kebajikan menghias wanita jelita, laksana bintang menghias langit-lebih, lebih baik lagi untuk Wanabaya, Ki Ageng Mangir.
BARU KLINTING : (memberi isyarat dengan kepala). Tinggalkan yang tertancap ini. Singkirkan selebihnya di ambin sana.
SURIWANG : (mengambil ikatan mata tombak, mendekatkan mulut pada Baru Klinting).
Semua usaha kembang, bumi ditanami jadi.
Datanglah hari setelah setahun menanti
Pesta awal Sura
Ronggeng, wayang, persabungan, gelut, lomba tombak,
Dekat-jauh, tua-muda, bujang-perawan, semua datang
Di dapur Ki Ageng Mangir Tua
Habis pisau perajang terpakai.
Datang perawan Mendes mohon pada Ki Ageng:
- Pinjami si Mendes ini pisau sebilah
- Hanya tinggal belati pusaka boleh kau menggunakan, tapi jangan kau lupa
Dipangku dia jadi bahala.
Perawan Mendes terlupa belati pusaka dipangkunya
Ah, ah, bayi mendadak terkandung dalam rahimnya
Lahir ke atas bumi berwujud ular sanca
- Inilah aku, ampuni, Bunda, jasadku begini rupa
Malu pada perdikannya
Malu pada sanak tetangga
Ki Ageng lari seorang diri
Jauh ke gunung Merapi
Mohon ampun pada Yang Maha Kuasa
Ki Ageng Mangir Tua bertapa. Dia bertapa!
Datang seekor ular padanya
Melingkar mengangkat sembah – Inilah Baru Klinting sendiri.
Datang untuk berbakti
Biar menjijikkan begini
Adalah putramu sendiri.
Ki Ageng mengangkat muka
Kecewa melihat sang putra - Tiada aku berputra seekor ular
Kecuali bila berbukti
Dengan kepala sampai ekor
Dapat lingkari Gunung Merapi.
Tepat di hadapan Ki Ageng Mangir Tua
Baru Klinting lingkari Gunung Merapi
Tinggal hanya sejengkal
Lidah dijelirkan untuk penyambung
Ki Ageng memenggalnya dengan keris pusaka.
Ular lari menghilang
Mengapa tak kau perintahkan balatentara
Mangir menusuk masuk ke benteng Matarammelindas raja dan semua calonnya?
BARU KLINTING : (pergi menghindar).
SURIWANG: (membawa ikatan mata tombak, bicara pada diri sendiri). Baru Klinting! Seperti dewa turun ke bumi dari ketiadaan. (menganggukangguk).
Anak desa ahli siasat – dengan Ronggeng
Jaya Manggilingan digilingnya balatentara
Mataram, pulang ke desa membawa kemenangan.
(pada Baru Klinting). Masih kau biarkan
Panembahan Senapati berpongah dengan tahta dan mahkota?
BARU KLINTING : (bersilang tangan). Mataram takkan lagi mampu melangkah ke selatan. Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya. Pada akhirnya bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.
SURIWANG : (meletakkan ikatan tombak di atas Iantai, menghampiri Baru Klinting). Bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.
BARU KLINTING : Belum mampu pandangmu menembus hari dekat mendatang? Dia akan datang – hari penghinaan itu. Kan meruap hilang impian Panembahan, jadi raja tunggal menggagahi Pulau Jawa. Bakal telanjang diri dia dalam kekalahan dan kehinaan.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain, Klinting. Perdikan Mangir sudah lima turunan berdiri. Lapanglah jalan bagi Sri Maharatu Dewi Suhita Majapahit.
Demak tak berani raba, Pajang tak pernah jamah. Ai-ai-ai, Panembahan Senapati, anak ingusan kemarin, kini mau coba-coba kuasai Mangir.
BARU KLINTING : Apa pula hendak kau katakan, Suriwang?
SURIWANG: Mataram bernafsu mengangkang di atas Mangir! Ai-ai-ai. Mengangkat diri jadi raja, kirimkan patihnya Singaranu – ke Mangir, Klinting, – menuntut takluk dan upeti, barang gubal dan barang jadi. Perdikan Mangir hendak
dicoba! Pulang tangan hampa, balik kembali dengan balatentara. Kau telah bikin panglima Mataram, Takih Susetya, berantakan dengan supit-urangnya. Ai-ai-ai tak bisa lain, tak bisa lain. Klinting, kau benar-benar dewa turun ke bumi – tumpas mereka dengan Ronggeng Jaya Manggilinganmu. Ke mana panglima Mataram itu kini menghilang larikan malunya?
BARU KLINTING : Bikin kau tombak tambahan – delapan ratus mata senilai ini (menuding pada mata tombak tertancap di atas meja).
SURIWANG : Delapan ratus lagi – bukan cuma Mataram, Ki Ageng Mangir Muda.
BARU KLINTING : (memperingatkan). Mangir akan tetap jadi Perdikan, tak bakal jadi kerajaan.
Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain, yang lain sama dengan semua.
SURIWANG: (mencari muka Baru Klinting). Dan tom- (a) (b) (c)
(a) Karakter tokoh Baru Klinting; (b) Karakter tokoh Putri Pambayun; (c) Karakter tokoh Wanabaya atau Ki Ageng Mangir.
bak yang delapan ratus lagi?
BARU KLINTING : Masih belum kenal kau apa itu raja? Raja jaman sekarang? Masih belum kenal kau siapa Panembahan Senapati? Mula-mula membangkang pada Sultan Pajang, ayahangkat yang mendidik-membesarkannya, kemudian membunuhnya untuk bisa marak jadi raja Mataram? Adakah kau lupa bagaimana Trenggono naik takhta, hanya melalui bangkai abangnya? Apakah kau sudah pikun tak ingat bagaimana Patah memahkotai diri dengan dusta, mengaku putra Sri Baginda Bhre Wijaya?
SURIWANG : Ai-ai-ai memang tak bisa lain, dengan modal dusta berlaku durjana… hanya untuk bisa jadi raja.
BARU KLINTING : Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, tak bakal jadi raja.
SURIWANG : Tak bakal jadi raja! Buat apa pula tombak tambahan?
BARU KLINTING : Bukan buat naikkan Wanabaya ke takhta, buat tumpas semua raja dengan nafsu besar dalam hatinya, ingin berkangkang jadi yang dipertuan. Mangir tak boleh dijamah.
SURIWANG : Mangir tak boleh dijamah! Ai-ai-ai, tak bisa lain.
BARU KLINTING : Semakin banyak tombak kau tempa, semakin banyak kau bicara. Panggil sini orang baru pembikin tangkai tombak itu.
SURIWANG : (berpaling dan melambat). Sini kau, orang baru!
KIMONG : (masuk ke panggung, membungkuk-bungkuk, kemudian mengangkat sembah). Kimong, inilah sahaya.
BARU KLINTING dan SURIWANG : (mengangkat dagu dan mata membelalak).
SURIWANG: Dia bersahaya dan bersembah, Klinting.
BARU KLINTING : (meninggalkan Suriwang, pergi ke meja, mecabut mata tombak tertancap dan mengamat-amati).
SURIWANG : (menggertak). Kudengar suaramu seperti keluar dari kerongkongan orang Perdikan, bungkuk dan sembahmu benar-benar Mataram.
KIMONG : (menunduk mengapurancang). Ya, inilah Kimong, datang untuk mengabdi pada Wanabaya Ki Ageng Mangir Muda, juru tangkai tombak pekerjaan sahaya.
SURIWANG: Bicaramu panjang-panjang, lambat dan malas. Bukan tempatmu kau di Perdikan, dari kedemangan tetangga pun kau bukan!
KIMONG : Juru tangkai tombak (menyembah), ahli kayu sono keling jarang bandingan, perawat senjata pusaka lima bupati, demang dan semua nakaya….
SURIWANG : Dari mana kau?
KIMONG : Parangtritis desa sahaya.
BARU KLINTING : (memperdengarkan ketukan perbukuan jari-jari pada meja).
SURIWANG : Kau anggap gampang menipu Perdikan? (mendengus menghinakan). Berapa lama kau membudak di istana Mataram.
KIMONG : Sahaya hanya orang desa.
SURIWANG : Mengaku hanya orang desa! Kalau benar kau dari Parangtritis, berapakah jarak dari Mangir ke Laut-Kidul?
KIMONG : Tujuh ribu lima ratus langkah (menyembah).
SURIWANG : Dari Mangir ke Mataram?
KIMONG : Lima belas ribu langkah.
SURIWANG : Kau takkan balik ke Mataram, karena Laut Kidul lebih dekat untukmu.
KIMONG: Ampuni sahaya, dengar Ki Ageng butuhkan juru tangkai, bergesa sahaya datang untuk mengabdi. Inilah sahaya, tinggal si juru tangkai tombak.
SURIWANG:(mendengus).
BARU KLINTING :(setelah memeriksa tombak-tombak di jagang menghampiri Kimong dengan bersilang tangan, menggeleng-geleng, mengangkat dagu membuang pandang, tersenyum menggigit).
SURIWANG: Datang menghadap arena dengar warta. Dari mana kau dengar Ki Ageng Muda ada di Mangir?
KIMONG : Warta tertiup lalu dari desa ke desa.
SURIWANG: Tak ada mulut Mataram bisa dipercaya.
KIMONG : Orang Parangtritis sahaya, bukan mulut Mataram.
SURIWANG : Bicara kau, Minting. Bukankah tepat kata-kataku?
BARU KLINTING : Apakah kau sudah lupa pada dusta orang yang berbagi kasih pengecer cinta? Sama dustanya dengan pengabdi pada dua majikan.
SURIWANG : Pengabdi pada dua majikan. Ini dia orangnya! (menuding pada Kimong).
BARU KLINTING : Dengan mulutnya yang berdusta, hatinya setia mengabdi hanya pada diri sendiri.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain.
KIMONG: (bingung menatap mereka berganti-ganti).
Ah-ah.
SURIWANG : Kau mulut yang berdusta, hati hanya mengabdi pada diri sendiri, arah semua gerakan hanya harta.
BARU KLINTING : Hati dalam dadanya compangcamping, Suriwang, seperti sayap elang tua.
SURIWANG : Sedang dadanya bolong seperti tahang kosong. Di mana tempat orang berdada bolong berhati compang-camping, Klinting?
BARU KLINTING : Setidak-setidak bukan di tempat di mana tombak diberi bertangkai.
KIMONG : Sahaya ada ipar di sini, setiap waktu bisa jadi saksi.
SURIWANG : Ipar? Di antara kau dan istrimu ada ipar. Di antara kau dengan Mangir hanya ada Ma-taram. Terkutuk kau, budak raja. (pada Baru Klinting) Bukankah aku benar Klinting?
BARU KLINTING : (bersilang tangan, menganggukangguk).
SURIWANG : Antara Mangir dan Laut Kidul hanya tujuh ribu lima ratus langkah. Antara Mangir Mataram lima belas. Kau tak kembali ke Mataram, tidak berhenti di Mangir.
KIMONG : Ampuni sahaya, jangan beri sahaya Laut Kidul. Beri sahaya kayu sono keling. Empat puluh batang tangkai dalam sehari inilah tangan sahaya, sanggup kerjakan tanpa dusta.
BARU KLINTING : Hmm.
SURIWANG : (menuding pada Kimong) Keluar!
KIMONG: (keluar meninggalkan panggung disambut oleh tangan-tangan yang menangkap. Di atas tangan-tangan itu nampak beberapa tombak telanjang). Ampun! Ampuni sahaya.
BARU KLINTING : (menghampiri Suriwang, dengan isyarat mengajak kembali ke meja): Berapa saja telik dalam seminggu!
SURIWANG: Berapa kiranya yang telah kena tangkap?
BARU KLINTING : Takkan habis-habis, sebelum Mataram batal jadi kerajaan.
SURIWANG : Takkan aku lupakan, Klinting, raja dan telik laksana celeng dengan penciumannya.
BARU KLINTING :(mengambil mata tombak dari atas meja dan mempermain-mainkannya). Mataram telah mengubah diri jadi kerajaan, Suriwang, setiap kerajaan adalah negeri telik.
Panembahan Senapati bunuh ayah-angkatnya, Sultan Pajang, bukankah juga dengan telikteliknya?
Luka parah, dibawa pulang dan mati di bilik sendiri.
SURIWANG : Mangir bukan Pajang, Klinting.
Wanabaya bukan Hadiwijaya. Tua Perdikan bukan Sultan bukan raja. Telik Mataram takkan bisa kiprah di Mangir. Lolos dua empat kena!
Semua akan masuk perangkap. Huh-huh, budak raja bukan orang mardika. Seribu telik
Mataram, tak bakal bikin Mangir merangkak, seperti keong memi-kul upeti persembahan.
Klinting, bukankah tak ada orang Perdikan butuhkan raja?
BARU KLINTING : Bahkan kambing-kambingnya tak butuhkan.
SURIWANG : Baru Klinting yang jenaka.
BARU KLINTING : Di mana pun jua, Suriwang, raja jadi beban semua.
SURIWANG: Ai-ai-ai tak bisa lain, jadi beban semua.
BARU KLINTING : Seorang di atas kepala sekian laksa! Tombakmu jua yang menjungkirkannya.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain.
Kepala seseorang – (menongol pada tepian seben).
Baru Klinting! Para demang pemimpin rata, Demang
Patalan, Demang Jodog, Demang Pajangan dan
Demang Pandak! (Kepala seseorang itu meninggalkan panggung).
SURIWANG : Kalau para gegeduk rata berdatangan begini, Klinting, tiba saatnya buat Suriwang ini untuk minta diri. (meletakkan ikatan tombak di atas ambin. Mengusapkan telapak tangan pada dada Baru Klinting. Keluar panggung).
DEMANG PATALAN dan DEMANG JODOG :(masuk ke panggung).
DEMANG PATALAN : Kau telah lebih dulu di sini Klinting!
DEMANG JODOG : Aku lihat mata tombak di atas meja.
BARU KLINTING :(memungut mata tombak itu dan melempar-tancapkan pada daun meja): Delapan ratus lagi, harus jadi dalam sepuluh hari.
DEMANG JODOG : Kita menang, pulang, buat mengasoh dari perang. Masih juga tanganmu gerayangan bikin pekerjaan.
BARU KLINTING : Kau masih seperti di medan-perang, masih merah seperti kepiting panggang.
DEMANG JODOG : Ah, kau, Klinting, yang pandai berolok.
BARU KLINTING : Tak mengkerut kehijauan seperti sebelum bertarung lawan Mataram.
DEMANG PATALAN : (tertawa). Pada gelagat pertama, siapa tidak takut pada Mataram. Semua mengkerut kehijauan. Kalau bukan karena kau, kau goncang bangunkan untuk melawan, dan Wanabaya gemilang memimpin serang, semua kami telah ditelan Senapati.
BARU KLINTING : (tertawa terkulum).
DEMANG JODOG : Sekarang bocah angon pun bangkit melawan.
BARU KLINTING : Mana Demang Pajang dan Demang Pandak?
DEMANG JODOG : Masih di luar sana selesaikan pertengkaran.
BARU KLINTING : Kalian berdua, apakah sudah selesai?
DEMANG PATALAN : Kaulah yang selesaikan, Baru Klinting. Aku tarik pergi Demang Jodog, tinggalkan
Ki Ageng Mangir Muda di sana sendiri.
BARU KLINTING : Masih kudengar gamelan berlagu.
DEMANG JODOG : Dan masih menari dia di sana seperti gila, laksana merak jantan, kembangkan bulu kejantanan dan ketampanan; mengigal menggereki si Adisaroh penari. Patalan tidak setuju.
DEMANG PATALAN : Istilah perang bukan mestinya berganti dengan gila menari, biar pun Adisaroh secantik dewi.
DEMANG JODOG : Beri dia kesempatan – seorang perjaka tampan, berani-tangkas di medanperang, lincah di medan tari, baru lepas dari brahmacarya karena kemenangan. Beri dia kesempatan.
BARU KLINTING : Inikah pertengkaran kalian? Juga Demang Pajangan dan Pandak?
DEMANG JODOG : Demang Pajangan berpihak pada Jodog. Demang Pandak berpihak pada Patalan.
DEMANG PATALAN : Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda tidak semestinya terlambat datang.
Hanya karena Adisaroh penari, juga Pajangan dan Pandak terlambat datang.
DEMANG PAJANGAN dan DEMANG PANDAK : (memasuki panggung).
DEMANG PAJANGAN : Apa guna jadi pria kalau bukan untuk mendapatkan wanita?
DEMANG PANDAK : Tidak bisa. Untuk sekarang ini, tidak bisa.
DEMANG PAJANGAN : Apa guna ketampanan pada Wanabaya? Apa guna kecantikan pada Adisaroh?
DEMANG PANDAK : Tidak bisa! Tidak bisa!
DEMANG PAJANGAN : Seperti kau sendiri tak pernah jadi pria.
DEMANG PANDAK : Tak bisa! Tidak bisa!
DEMANG PATALAN : Kau lihat sendiri, Klinting, Pandak sama dengan Patalan – tak bisa terima Ki Wanabaya.
DEMANG PAJANGAN : Baru Klinting, apa warta?
BARU KLINTING : Inilah aku. Bangku-bangku telah menunggu.
DEMANG PANDAK : (pergi ke meja, mengambil gendi dan minum). Panas badan melihat Ki Wanabaya lupa daratan.
DEMANG PAJANGAN : (pergi ke meja, mengambil gendi dari tangan Pandak). Panas kepala ini, melihat Adisaroh hanya mau layani Ki Wanabaya.
DEMANG PATALAN : (mengambil alih gendi dari tangan Pajangan). Panas juga perut ini mesti menung-gu kalian begini lama.
DEMANG JODOG : (tertawa meringis mendudukkan diri di atas bangku). Semua demam panas, yang kepala, yang badan, yang perut. Hanya Jodog ini tinggal tenang, setuju Ki Wanabaya tegak habis istirah-perang, menari gila kitari si Adisaroh. Bagi yang bijaksana hanya ada tawa dan anggukan kepala. (tertawa, kemudian mengambil gendi dan minum juga).
DEMANG PATALAN : Heran aku, Klinting, belum setengah hari kau tinggalkan garis depan, pesta panen telah selesai kau persiapkan.
BARU KLINTING : Mereka yang telah teteskan keringat pada bumi ini, berhak berpesta syukur untuk Sri Dewi. Tak pernah ada tahun lewat sejak leluhur pertama buka Perdikan ini.
DEMANG JODOG : Diawali pesta ini dengan tandak di Balai Perdikan. Luar biasa, tak pernah terjadi sebelumnya.
DEMANG PATALAN : (menghampiri Demang Jodog, menariknya berdiri dari duduknya). Kau beranikan dia datangkan rombongan tandak entah dari mana asalnya, kau biarkan dia mabok kepayang, lupa darat lupa laut, lupa mula lupa wasana.
DEMANG JODOG : (menghindari menghampiri Baru Klinting).
DEMANG PATALAN : (mengikuti Demang Jodog dan menyalahkan). Lupa perang belum selesai, kemenangan mutlak belum lagi di tangan!
DEMANG JODOG : Klinting! – Seorang perjaka tampan dan bergaya, menang perang berlepas
brah-macarya, lelah perang baru pulang dari medan – apakah dia tidak berhak bersuka?
DEMANG PATALAN : Adakah kau hendak lupakan Klinting?
DEMANG PANDAK : Betul. Dia belum lagi melepas brahmacarya. Dia juga perjaka, hanya sayang tak tampan rupa. Tidak bisa, tak ada yang berhak untuk bergila, juga Wanabaya Ki Ageng Mangir Muda tidak. Tidak bisa! Tidak bisa!
DEMANG JODOG : Semua berhak bersuka, tepat pada giliran dan waktunya, juga semua prajurit di garis-depan sana.
DEMANG PATALAN : Jodog dalam hatimu ada pamrih pribadi. Kau sendiri hendak melompat pada kesempatan pertama.
DEMANG PATALAN : Semua kita telah perang. Semua punya hak untuk bersuka. Juga kau, Klinting.
DEMANG PATALAN : Kau, Klinting sang bijaksana, kaulah sekarang yang bicara.
DEMANG JODOG : Sudah lelah kami bertengkar, bicara kau, Klinting.
BARU KLINTING : Boleh saja bertengkar, hanya jangan berkelahi.
DEMANG PAJANGAN : Ada juga harganya bertengkar bertarik urat, membela Wanabaya tampan dan Adisaroh rupawan.
DEMANG PATALAN : Klinting, bukankah dalam lelah perang kita berjumpa, guna rundingkan, langsung masuk Mataram atau tidak? Mestikah acara berkisah jadi Wanabaya dengan si tandak?
BARU KLINTING : Kau Patalan, yang tinggal berbatasan langsung dengan garis depan Mataram, semua prihatin dengan kedemanganmu…
DEMANG PATALAN : Langsung masuk Mataram atau tidak?
BARU KLINTING : Akan datang masanya masuki Mataram dengan tangan berlenggang. Tidak sekarang. Senapati masih terjaga oleh berlapis- lapis balatentara, benteng batu-bata, dusun-dusun bersenjata sekitar benteng, seberangi Code, Gajah Wong sebelum sampai ke istana. Biar dulu Mataram terpagari dari selatannya…
DEMANG PATALAN : Siapa tidak percaya? Di medan perang Klinting perwira, di Perdikan Klinting bijaksana, Ronggeng Jaya Manggilingan dengan dua puluh gegeduk bikin porak-poranda Mataram. Tapi hari Mataram belum dapat dihitung dengan jari. Bukan waktunya untuk bersuka. Kerahkan balatentara Mangir, biar bersuka dalam benteng Mataram, berjoged ronggeng dalam asrama.
DEMANG PANDAK : Jangan bicara lagi tentang si tandak. Wanabaya juga hidup dari semua, tak berhak bersuka sendiri.
DEMANG JODOG : Biar betapa pun Mataram akan jatuh. Jangan biarkan Patalan dan Pandak tidak mengerti, Klinting. Biar Mataram tak bisa dihitung dengan jari, bisa dibilang dengan beberapa kali tenggelamnya matari. Bodoh nian bila tidak sembari berpesta bersukaria.
DEMANG PAJANGAN : Kau kehilangan lidahmu, Klinting.
DEMANG JODOG : Bukan kehilangan lidahnya, Klinting benar kan Wanabaya.
DEMANG PANDAK : Benarkan Wanabaya? Tidak bisa! Tidak bisa!
DEMANG JODOG : Klinting tak benarkan berhati panas serbu Mataram.
DEMANG PATALAN : Diam!
BARU KLINTING : Adakah kalian timbang, dengan menggereki si tandak, Wanabaya belah dua hatinya?
DEMANG PATALAN : Pasti belah dua, untuk perang dan untuk Adisaroh si tandak.
DEMANG PANDAK : Tidak bisa, tidak bisa, Wanabaya tetap panglima terbaik satu-satunya, hanya…
DEMANG PAJANGAN : Kau akui hak Wanabaya, Klinting? Dengan bersuka, dia akan lekang di medan-perang
DEMANG PANDAK : Tidak bi…
BARU KLINTING : Belum selesai kalian bertengkar?
DEMANG PATALAN : Baik, memang tepat pada waktunya kau bicara.
BARU KLINTING : Dengarkan sekarang. Memang Patalan di tempat terdekat dengan Mataram. Dia berhak dapatkan perhatian lebih banyak.
Mangir dan Pajangan berbentengkan sungai Bedog. Itu bukan berarti untuk Patalan semua harus pukul Mataram tanpa perhitungan.
DEMANG PATALAN : Aku mengerti, kau tak setuju itu. Tapi Ki Wanabaya bermain berahi, dalam keadaan belum selesai.
BARU KLINTING : Untuk bersuka sekedarnya tak ada celanya. Dia berhak sebagai panglima, telah selamatkan kalian semua, kedemangan dan semua rakyatnya.
DEMANG PAJANGAN : Jodog, Klinting benarkan kita.
BARU KLINTING : Aku tidak benarkan Wanabaya, selama dia hanya bersuka sekedarnya.
DEMANG PATALAN : Dia bukan sekedar bersuka. Katakan itu, Pandak.
DEMANG PANDAK : Betul dia bukan sekedar bersuka.
Nafasnya terdengar berat, matanya berpandangan jalang.
BARU KLINTING : Benarkah itu, Jodog dan Pajangan?
DEMANG JODOG : Siapa tidak terengah-engah di dekat si jelita semacam itu? Tapi sungguh mati, hati Wanabaya takkan terbelah dua.
DEMANG PANDAK : Siapa tahu hati orang? Nyatanya
nafasnya berat pandangnya jalang.
BARU KLINTING : Kalian semua sudah dengar katakataku. Kenyataan tinggal pada Wanabaya sendiri. Panggil dia kemari.
DEMANG PATALAN : Takkan beranjak dari tempat dia sebelum gong terakhir berhenti.
BARU KLINTING : Panggil dia kemari!
DEMANG JODOG : (pergi ke seben memberi perintah kemudian kembali menghampiri Baru Klinting).
Orang sudah lari memanggilnya.
DEMANG PATALAN : Mari kita periksa hatinya.
DEMANG PANDAK : Aku dengar gamelan telah berhenti.
DEMANG PATALAN : Dengarkan sebelum Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, tiba. Patalan belum akan diam. Dengarkan. Dalam setiapkarya pen ting dan bahaya, Klinting, kau selalu ada di muka. Dalam setiap suka kau menghilangentah ke mana. Sekarang Wanabaya dipuncak suka, kau ragu termangu-mangu. Kaujuga perjaka, sayang tak setampan Wanabaya.
Lihat ini buktinya… (menuding ke arah jalanan).
Semua – (terdiam mengikuti arah tudingan).
BARU KLINTING danDEMANG PANDAK :(terbelalak).
DEMANG PANDAK : Nah kau lihat sendiri, Pajangan.
DEMANG JODOG : Benar ini keliru. Yang begitu tak dapat ditenggang.
DEMANG PAJANGAN : (menepuk Demang Jodog).
Bagaimana bisa jadi begitu?
Kepala seorang – (menongol dari seben): Baru
Klinting, Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, datang.
(meninggalkan.panggung).
DEMANG PATALAN : Apa kau bilang sekarang, Klinting?
BARU KLINTING : (bersilang tangan memperhatikan jalanan) . Jangan sambut dia.
DEMANG PANDAK : Adakah dia dibawa kemari diajak berunding tentang perang?
DEMANG JODOG : Memang tidak patut untuk seorang panglima…
BARU KLINTING : Memang tidak patut, yang pandai berperang tapi tak pandai pimpin diri sendiri.
Diam semua sekarang, Wanabaya sudah mulai naiki tangga.
WANABAYA dan PUTRI PAMBAYUN : (memasuki panggung, bergenggaman tangan, teracukan secara demonstratif ke depan untuk dilihat semua orang).
WANABAYA : Inilah Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, datang menggandeng tandak tanpa tandingan. (menatap mereka seorang demi seorang). Tak ada yang menyambut Ki Wanabaya? Baik Adisaroh yang jaya, berilah hormat pada para tetua Perdikan.
PUTRl PAMBAYUN : (tetap dalam gandengan Wanabaya). Inilah Adisaroh Waranggana bayaran, mengembara dari desa ke desa mencari penghidupan.
(memberi hormat dengan gerak badan).
Di belakang menyusul rombongan wiyaga.
TUMENGGUNG MANDARAKA, PANGERAN
PURBAYA, TUMENGGUNG JAGARAGA, dan
TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (masuk ke panggung dalam pakaian samaran orang desa, berdiri di belakang Putri Pambayun, memberi hormat secara Perdikan pada tetua Perdikan).
BARU KLINTING : Dirgahayu kalian semua, Mangir selalu sambut tamu-tamunya, dengan gembira dan tulus hati. Dirgahayu Adisaroh, waranggana tanpa tara dan rombongan. (mengangkat dagu menatap Wanabaya). Dan kau, wajahmu merah seperti masih di medan-perang, menggandeng putri cantik di hadapan kami. Katakan kandungan hati, sebelum salah terka kami menebak isi dadamu.
DEMANG PATALAN, DEMANG JODOG, DEMANG PAJANGAN, dan DEMANG PANDAK : (bergerak mengelilingi Wanabaya dan Putri Pambayun, menaksir dan menimbang-nimbang).
WANABAYA : (masih tetap menggandeng Putri Pam-bayun). Kalian terlongok-longok seperti melihat naga. Mata kalian pancarkan curiga dan hati tak suka. Katakan, siapa tak suka Wanabaya datang menggandeng perawan jelita.
Katakan, ayoh katakan siapa tidak suka.
DEMANG PATALAN : (menghampiri Wanabaya).
Sungguh tidak patut, seakan Perdikan tak bisa berikan untukmu lagi.
WANABAYA : Siapa lagi akan katakan tidak patut?
DEMANG PANDAK : Tidak patut untuk seorang panglima.
DEMANG JODOG : Semula kukira sekedar bersuka.
DEMANG PAJANGAN : Benar Patalan, kalau berkembang begini rupa.
WANABAYA : Juga akan kau katakan tidak patut?
DEMANG PANDAK : Juga tidak patut untuk seorang Tua Perdikan.
DEMANG PAJANGAN : Waranggana masyhur, lenggangnya membelah bumi, lenggoknya menyesak dada, senyumnya menawan hati, tariannya menggemaskan, sekarang tingkahnya bikin susah semua orang.
WANABAYA : Siapa yang jadi susah karena dia?
DEMANG JODOG : Jantannya tampan, gagah-berani di medan-perang. Klinting, bukankah sayang kalau dia tak bisa pimpin diri sendiri.
BARU KLINTING : Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, bukan hanya perkara suka atau tidak, patut atau tidak, bisa pimpin diri sendiri atau tidak, kau sendiri yang lebih tahu! Perdikan ini milik semua orang, bukan hanya Wanabaya Muda si Tua Perdikan Mangir.
WANABAYA : Kalau bukan aku yang pimpin perang, sudah kemarin dulu kalian terkapar di bawah rumput hijau.
BARU KLINTING : (tertawa, membalik badan punggungi Wanabaya).
DEMANG PATALAN : Dia lupa, semua membikin dia jadi Tua Perdikan dan panglima perang. Sendiri, Wanabaya tak ada arti, sebutir pasir berkelap- kelip sepi di bawah matari.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Adisaroh, mari kita pergi. Mereka bertengkar karena kita.
WANABAYA : (menoleh pada Tumenggung Mandaraka).
Tak ada yang bisa larang Wanabaya di rumah ini, menggandeng Adisaroh jaya.
Adisaroh, adakah takut kau hadapi para tetua desa ini?
PUTRI PAMBAYUN : Dalam gandengan tangan Ki Wanabaya Muda, bahkan di bawah bayangbayangnya, semut pun tiada kan gentar.
WANABAYA : Benar sekali, semut pun tiada kan kecut. (mengangkat gandengan tinggi-tinggi).
Inilah Adisaroh, perawan waranggana kubawa kemari akan kuambil untuk diriku sendiri.
BARU KLINTING :(melangkah maju menghampiri Putri Pambayun). Dari mana asalmu, kau, perawan?
TUMENGGUNG MANDARAKA : Anakku dia, penari tanpa tandingan dari berpuluh desa.
BARU KLINTING : Penari tanpa tandingan dari
berpuluh desa. Siapa tak percaya? Bicara dengan
mulut-mu sendiri, kau, perawan jelita!
PUTRI PAMBAYUN : Adapun diri ini, dari sebuah
dukuh sebelah timur, seberang tujuh sungai.
WANABAYA : (menggerutu). Dia periksa Adisaroh seperti pada anaknya sendiri.
BARU KLINTING : Mengapa ikut naik ke pendopo ini?
WANABAYA : Apa guna bertanya-tanya? Ki Wanabaya sudah suka.
PUTRI PAMBAYUN : Digandeng Ki Ageng Mangir Muda begini, siapa dapat lepaskan diri?
DEMANG JODOG : (mengejek). Datang dengan Ki Ageng Mangir Muda dengan semau sendiri.
DEMANG PANDAK : Siapa yang dulu suka? Wanabaya ataukah kau?
DEMANG PAJANGAN : (pada Baru Klinting). Nampaknya dua-duanya.
DEMANG PATALAN : Memang tak ada salahnya perjaka dan perawan saling kasmaran, (menghampiri Wanabaya), tetapi Perdikan bukan milikmu pribadi.
DEMANG PANDAK : Membawa wanita milik semua pria…
TUMENGGUNG MANDARAKA : Anakku bukan tandak sembarang waranggana, dididik baik tahu adab, terlatih tahu sopan setiap waktu, setiap saat.
DEMANG PATALAN : Seperti bukan prajurit perang, tak dapat kendalikan diri lihat kecantikan, jatuh kasmaran lupa daratan.
WANABAYA : (tersenyum). Ayoh, katakan semua. Juga kau, Klinting, apa guna sembunyi di belakang lidah yang lain?
BARU KLINTING : Bicaralah kau sepuas hati.
DEMANG PATALAN : Biar kami tahu apa di hatimu, bisa kami kaji dan uji-Oh, perang belum lagi selesai,
kemenangan belum lagi terakhir… Kasmaran tandak lupa daratan, Mataram masih jaya berdiri.
WANABAYA : Mataram? Apa daya Panembahan
Senapati di hadapan Wanabaya Muda? Supit
Urangnya telah buyar tertadahi Ronggeng Jaya
Manggilingan. Hendak mengepung ganti terkepung.
Dilepaskannya Dirada Keta, gajah yang mengamuk tumpas masuk dalam perut Ronggeng.
Bila dusun-dusun luar benteng kita pukul hari ini…
TUMENGGUNG MANDARAKA : (tertawa terkekeh).
Mataram? Apa arti Mataram? Dijentik dengan kelingking kiri, akan runtuh dia seperti seungguk nasi basi.
DEMANG PANDAK : Diam kau, Pak Tua tak tahu diri.
Padamu belum ada orang tanyakan perkara.
(pada Wanabaya) Wanabaya Muda, Ki Ageng Mangir Muda, bukankah kau datang untuk dapatkan anggukan dari Baru Klinting? Tak patut kau sekasar itu padanya. Pergi kau padanya, tahu diri kalau butuh anggukan.
DEMANG PATALAN : (menggerutu). Perang pun belum diselesaikannya…
WANABAYA : (menggandeng Putri Pambayun meng-hampiri Baru Klinting): Lihatlah ini, Klinting, Ki Ageng Mangir Muda datang padamu menggandeng dara waranggana, untuk dapatkan anggukan kepala darimu, dari Baru Klinting sang bijaksana.
BARU KLINTING : Seperti Mataram miskin putri rupawan. Bedah dulu kratonnya dan kau boleh pondong semua perawannya.
WANABAYA : Yang seorang dalam gandengan tangan ini, Klinting, berlaksa lebih berharga dari semua putri, dari semua jenis wanita, di seluruh Mataram, di seluruh bumi. Wanabaya Ki Ageng Mangir Muda hanya hendaki yang ini.
DEMANG PATALAN : (menghampiri Wanabaya, menyerang). Belum lagi kau injakkan kaki di kraton Mataram – putri-putrinya tak pernah menggarap bumi, dibesarkan hanya untuk kepuasan pria, halus tak pernah kerja, tak kena sinar surya.
BARU KLINTING : Dengarkan kata Demang Patalan.
WANABAYA : Ki Ageng Mangir Muda telah dengarkan semua. Hanya yang ini di atas segala-galanya. Tak pernah Wanabaya sukai wanita. Sekali diperolehnya, tak ada yang mampu kisarkan kemauannya.
BARU KLINTING :(meninggalkan Wanabaya dan Putri Pambayun). Hanya mata buta dan hati batu tak tergiur cair lihat Adisaroh waranggana.
DEMANG PATALAN : (mengikuti Baru Klinting, menegur) Klinting!
BARU KLINTING : Apa pula kau, Patalan. Lihat, menang atas Mataram masih dalam impian, kecantikan dan kemudaan telah tergandeng di tangan.
DEMANG PATALAN : Apa kau akan berikan anggukan?
DEMANG PANDAK : (menghampiri Baru Klinting dari samping). Siapa pun takkan rela wanita sejelita itu tergenggam pria selain Wanabaya. Apakah Mataram akan jadi petaruh?
WANABAYA : Klinting, kau belum lagi memberikan anggukan kepala.
BARU KLINTING : (mendekati Putri Pambayun). Di hadapan tetua dan gegeduk rata Mangir kau gandeng Ki Wanabaya Muda. Kau, perawan dari tujuh sungai seberang timur, berapa pria telah kau remas dalam tanganmu?
PUTRI PAMBAYUN : Ini yang pertama.
BARU KLINTING : Tak patut berbohong di hadapan para tetua. Bukankah semua lihat, bukan kau, hanya Wanabaya gemetar tanpa daya dalam gandengan?
TUMENGGUNG MANDARAKA : Ki Ageng Mangir Muda yang pertama dan satu-satunya. Orang setua aku berani sumpah sampai mati. (menoleh pada rombongannya). Katakan, temanteman wiyaga.
PANGERAN PURBAYA : Sejak bayi dalam penjagaanku, sampai besar tak pernah lepas dari mataku.
TUMENGGUNG JAGARAGA : Semua pengganggu tunggang-langgang oleh lidah, oleh tanganku.
TUMENGGUNG PRINGGALAYA : Pontang-panting, lintang-pukang oleh sepakan kakiku.
DEMANG PANDAK : Bersahut-sahut seperti burung di pagi-hari.
BARU KLINTING : (bersilang tangan menghampiri rombongan wiyaga, menatap mereka seorangdemi seorang. Pada Demang Jodog). Laku mereka seperti pedagang ikan, berjual bangkai berbunga puji.
DEMANG JODOG : (berisik dengan tangan tercorong pada mulut pada Baru Klinting). Aku pun jadi curiga.
WANABAYA : Anggukanmu belum kulihat, Klinting.
Juga kalian, Pantalan, Jodog, Pandak, dan Pajangan.
Keliru kalau kalian anggap, aku datang menggandeng perawan ini, untuk mengemis sepotong kemurahan. Dara Adisaroh hanya untukku seorang. Bumi dan langit tak kan bisa ingkari. (pada Putri Pambayun). Sejak detik ini
kau tinggal di sini, jadi rembulan bagi hidupku, jadi matari untuk rumahku.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, siapa tidak gembira jadi mertua, dapatkan menantu panglima perang masyhur gagah-berani, tua Perdikan Mangir?
Hanya saja belum tepat caranya. Adisaroh anakku bukan anak burung, bisa diambil dari sarang di atas pohon.
PANGERAN PURBAYA : (meninggalkan rombongan, menghampiri Wanabaya) Sungguh tidak tepat caranya. Adisaroh bukan selembar daun kering, tertiup angin jatuh di mana saja. (pada Tumenggung Jagaraga). Aku belum bisa terima, anak momongan direnggut seperti rumput.
TUMENGGUNG JAGARAGA : Tanpa Adisaroh waranggana, nasib rombongan akan berantakan, buyar, masing-masing akan terpaksa pergi terbungkuk membawa lapar.
WANABAYA: Takkan kubiarkan kalian lapar. Seluruh rombongan jadi tanggungan di tangan Ki Ageng. Harap jangan kalian anggap rendah Wanabaya Muda. Biar bukan raja, aku masih jaya berlumbung daya.
TUMENGGUNG MANDARAKA : (berunding dengan isyarat dengan rombongangannya; terbatukbatuk minta perhatian).
WANABAYA : (pada Tumenggung Mandaraka). Bapak tua, kau lihat sendiri, Adisaroh sambut tanganku dengan suka sendiri. (memperlihatkan gandengan tangan). Wanabaya tidak lepaskan, Adisaroh mengukuhi.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Kapan dimulai sebuah adat, orang tua disisihkan tanpa diajak damai?
DEMANG PATALAN : Lihat Klinting, mereka anggap para tetua ini angin belaka.
DEMANG PANDAK : Dan kau belum atau tidak berikan anggukan kepala.
WANABAYA : (sekali lagi mengangkat tinggi gandengan). Lihatlah ini, aku genggam tangannya, dia genggam tanganku. (memperlihatkan pada setiap orang). Siapa ingkari kenyataan ini?
BARU KLINTING : Biarkan Wanabaya curahkan isi hatinya.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Apapun terjadi, bumi dan langit memang tak bisa ingkari, tali hubungan telah terjadi. Hanya caranya belum terpuji. (pada Putri Pambayun) Bicaralah kau, perawan, biar terdengar oleh semua tetua Perdikan.
PUTRI PAMBAYUN : (tanpa ragu-ragu). Inilah diri, dalam gandengan Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Telah diulurkan tangannya kepadaku, dan aku menyambutnya. Apalagi masih harus dikatakan? Hendak diambilnya aku untuk dirinya sendiri semata.
DEMANG PANDAK : Bukan begitu cara bicara perempuan desa.
PUTRI PAMBAYUN : Inilah diri, dari dukuh seberang tujuh sungai sebelah timur.
PANGERAN PURBAYA : Tak cukup hanya diambil untuk dirinya sendiri semata.
DEMANG PATALAN : Hendak diambilnya untuk dirinya sendiri semata, seakan seorang tandak pernah hanya untuk seorang saja.
PANGERAN PURBAYA : Jangan menghina! Belum lagi kami setujui maksud Ki Wanabaya Muda.
WANABAYA : (pada Tumenggung Mandaraka) Begini cara di Perdikan Mangir: semua tergantung pada yang muda, orang tua hanya setuju mengiyakan. Katakan padanya, Klinting, di sini tak ada cara lebih terpuji daripada begini.
DEMANG PATALAN : Kita semua bicara tentang nasib Mangir, nasib Mataram, hanya Wanabaya dan rombongan waranggana sibuk tawar-menawar. (pada Baru Klinting) Kau hanya punya kata-putus, putuskan sekarang juga, sebelum berlarut menjadi bencana.
BARU KLINTING : Juga Wanabaya punya hak bicara, tak semestinya kita lindas hasrat dalam hatinya.
Apa jadinya sungai yang tak boleh mengalir?
Dia akan mengamuk melandakan banjir.
DEMANG PATALAN : Tak bisa aku tunggu begini lama.
BARU KLINTING : Patalan takkan dilanda Mataram dalam sebulan ini. Lakumu seperti tertimpa kebakaran.
WANABAYA : Klinting, patutkah seorang tua Perdikan dan panglima dibiarkan menunggu begini lama?
DEMANG PANDAK : Jangan berikan anggukan.
DEMANG PATALAN : Biar Mataram lebih dulu dibereskan.
DEMANG JODOG : Kau sendiri Wanabaya Muda, mulaikah perang kau lupakan?
WANABAYA : Tak patut panglima diuji seperti itu.
DEMANG PATALAN : Menjawab pun kau tidak sudi.
Berat mana Mataram atau Adisaroh waranggana?
WANABAYA : Pertanyaan-pertanyaan ini, apakah berarti Wanabaya bukan panglima lagi?
DEMANG PATALAN : Benar kata Pajangan, menjawab pun kau tidak sudi. Kau lihat itu sendiri, Klinting.
WANABAYA : (melepas gandengan, maju menantang para demang seorang demi seorang).
Dengarkan kalian, orang-orang nyinyir, tak mengerti perkara perang. Setajam-tajamnya senjata, bila digeletakkan takkan ada sesuatu terjadi. Sebagus-bagusnya panglima perang, bila ditinggalkan senjata dan balatentara sebesar- besar pasukan akan binasa. Apakah belum mengerti ini?
BARU KLINTING : Wanabaya Muda, kau mulai memeras untuk dibenarkan, untuk dapat anggukan.
Kau yang diasuh oleh Perdikan sejak pertama kali melihat matari, hatimu mulai terbelah hanya karena waranggana.
WANABAYA: Aku datang bukan untuk dituduh diselidiki.
Aku butuhkan anggukan, bukan gelengan.
Kalau gelengan aku dapatkan jangan sesali Ki Wanabaya Muda ini.
BARU KLINTING : Ingat kalian apa aku katakan tadi?
DEMANG PANDAK : Benar, seorang panglima yang tak dapat pimpin diri sendiri…
WANABAYA : Diam kau, Pandak, Wanabaya Muda tak butuhkan suaramu.
DEMANG PATALAN : Benar hatinya telah belah dua.
DEMANG JODOG : Menyesal aku telah biarkan dia bersuka…
BARU KLINTING : Lebih berat bagimu Adisaroh waranggana.
PANGERAN PURBAYA : Adisaroh adinda, mari tinggalkan rumah sengketa ini.
WANABAYA: Diam kalian rombongan wiyaga! Kalau tak mampu bantu Adisaroh dan aku, jangan melintang di tengah jalan Ki Wanabaya Muda.
BARU KLINTING : Melihat ini, bagimu Adisaroh waranggana sama bobot dalam timbangan dengan perang. Kalau bukan berhati belah, hatimu ti-dak satu lagi.
DEMANG PATALAN : Satu hati dengan satu kesenangan.
BARU KLINTING : (menuding Wanabaya) Bagi dia perang dan Adisaroh memang kesenangan.
WANABAYA : (melepaskan gandengan pada Putri Pambayun, menghadap Baru Klinting; tapi tak keluar suara dari mulutnya).
BARU KLINTING : Demang Pajangan, bawa Adisaroh dan rombongan ke belakang, biar kita selesaikan perkara Ki Wanabaya Muda ini.
DEMANG PAJANGAN : (mengiringkan).
PUTRI PAMBAYUN, TUMENGGUNG MANDARAKA, PANGERAN PURBAYA, TUMENGGUNG JAGARAGA, dan TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (meninggalkan panggung).
BARU KLINTING : Memalukan – seorang panglima, karena kecantikan perawan telah relakan perpecahan.
Berapa banyak perawan cantik di atas bumi ini? Setiap kali kau tergila-gila seperti seekor ayam jantan, tahu sarang tapi tak kenal kandang.
WANABAYA : Telah kalian cemarkan kewibawaan Wa-nabaya Muda di hadapan orang luar. Kalian sendiri yang relakan perpecahan.
BARU KLINTING : Jawab keangkuhannya itu Patalan!
DEMANG PATALAN : Kau kira kewibawaan datang padamu dari leluhur dan dewa-dewa? Dia datang padamu berupa pinjaman dari Perdikan Mangir, desamu.
BARU KLINTING : Tanpa Mangir desamu kau juga selembar daun yang akan luruh di mana saja.
Jatuh di Mataram kau akan ikut perangi kami.
Kebetulan di Mangir kau perangi Mataram.
DEMANG PATALAN : Dia belum mengerti, kepanglimaan bisa batal dari dirinya. Tidak percuma orang tua-tua tak boleh diabaikan pengalamannya.
DEMANG PANDAK : Kalau kita benarkan tingkahnya, semua perjaka Mangir dan desa-desa tetangga akan tiru contohnya. Semua perawan akan tinggalkan desa, mengamen cari lelaki siapa saja.
DEMANG PAJANGAN : (masuk ke panggung) Telah kutempatkan mereka di gandok sana. Adisaroh dalam bilik dalam, rawatan nenek tua.
BARU KLINTING : Perang belum lagi selesai, kau beri semua tambahan kerja. Apakah itu patut untuk seorang panglima?
WANABAYA : Sudah kudengar semua suara keluar dari mulut kalian. Juga dalam perkara ini aku seorang panglima. Jangan dikira kalian bisa belokkan Wanabaya. Sekali Wanabaya Muda hendaki sesuatu, dia akan dapatkan untuk sampai selesai.
DEMANG PATALAN : Kau tak lagi pikirkan perang.
WANABAYA : Sudah kalian lupa apa kata Wanabaya ini? Hanya setelah Wanabaya rebah di tanah dia takkan bela Perdikan lagi? Lihat, Wanabaya masih tegak berdiri.
DEMANG PANDAK : Biasanya kau rendah-hati, sehari dengan Adisaroh, kau berubah jadi pongah, tekebur bermulut nyaring, berjantung kembung.
WANABAYA : Diam, kau yang di bawah perintahku di medan perang, tidak percuma Wanabaya disebut Ki Ageng Mangir Muda, tidak sia-sia Mangir angkat dia jadi tua Perdikan dan panglima.
DEMANG JODOG : Benar, dia sudah berubah, Patalan.
WANABAYA : Suaranya yang berubah, hati dalam dadanya tetap utuh seperti Laut Kidul.
BARU KLINTING : Suaranya berubah sesuai dengan hatinya.
WANABAYA : (bergerak ke arah jagang tombak).
DEMANG PAJANGAN : (mengambill mata tombak dari atas meja dan diselitkan pada tentang perutnya).
BARU KLINTING : Apa guna kau coba dekati jagang tombak? Hanya karena wanita hendak robohkan teman sebarisan? Tidakkah kau tahu, dengan jatuhnya semua temanmu kau akan diburu-buru Mataram seperti babi hutan?
DEMANG JODOG : Tenang kau, Wanabaya. Buka hatimu, biar semua selesai sebagaimana dikehendaki.
Memang perjaka berhak dapatkan perawan, tapi bukan cara berandalan macam itu, apa pula bagi seorang panglima. Bukankah aku tidak keliru, Klinting sang bijaksana.
BARU KLINTING : (bersilang tangan, menganggukangguk).
DEMANG PANDAK : Aku masih belum bisa terima, Ki Ageng Mangir Muda mengajak bertengkar di depan orang luar hanya untuk tunjukkan wibawa, di depan Adisaroh dan rombongannya.
BARU KLINTING : Karena mudanya dia ingin berlagak kuasa, memalukan seluruh Perdikan. Tiadakah kau merasa bersalah pada teman-temanmu sendiri, kau, Ki Ageng Mangir Muda. Wanabaya?
Semua – (datang melingkari Wanabaya).
BARU KLINTING : Jawab: apakah artinya Wanabaya tanpa Perdikan tanpa balatentara? Tanpa teman- temanmu sendiri, tanpa kewibawaan yang dipinjamkan?
WANABAYA: Di atas kuda dengan tombak di tangan, bisa pimpin balatentara, menang atas Mataram, Perdikan harus berikan segala kepadaku.
BARU KLINTING : Tuntut semua untukmu di tempat lain! Ludah akan kau dapatinya pada mukamu.
Kau boleh pergi dan coba sekarang juga.
WANABAYA : (menatap para tetua seorang demi seorang). Kalian hinakan Wanabaya Muda.
BARU KLINTING : Tanpa semua yang ada, kau, jawab sendiri. Kau, Wanabaya, apa kemudian arti dirimu?
WANABAYA : (membuang muka, merenung, bicara pada diri sendiri). Sekarang mereka pun dapat usir aku. Apakah kemudian aku jadi anggota waranggana? Berjual suara dari desa ke desa?
Dari panglima jadi tertawaan setiap muka?
Adisaroh pun boleh jadi tolak diriku pula?
BARU KLINTING : Jawab, kau, kepala angin! Kau anggap semua ini bayang-bayang semata?
WANABAYA : (berendah hati). Apakah Wanabaya tak berhak punya istri?
BARU KLINTING : Hanya untuk bertanya seperti itu lagakmu seperti dunia sudah milikmu sendiri.
Jawab, kalian, pertanyaan bocah ingusan ini.
DEMANG JODOG : Tak ada yang sangkal hak setiap perjaka.
DEMANG PAJANGAN : Aku pun tak rela Adisaroh jatuh tidak di tangan kau.
DEMANG PATALAN : Juga menjadi hakmu leburkan Mataram.
WANABAYA : Dengar kalian semua: terhadap Mataram sikap Wanabaya tak berkisar barang sejari. Izinkan aku kini memperistri Adisaroh.
Tanpa mendapatkannya aku rela kalian tumpas di sini juga. Jangan usir aku, terlepas dari Perdikan ini. Beri aku anggukan, Klinting, dan kalian para tetua, gegeduk rata Mangir yang perwira. (berlutut dengan tangan terkembang ke atas pada orang-orang di hadapannya). Aku lihat tujuh tombak berdiri di jagang sana. Tembuskanlah dalam diriku, bila anggukan tiada kudapat. Dunia jadi tak berarti tanpa Adisaroh dampingi hidup ini.
BARU KLINTING : Terlalu banyak kau bicara tentang Adisaroh. Kurang tentang Mangir dan Mataram.
Siapkan tombak-tombak! Lepaskan dari sarungnya.
Para demang – mengambil tombak dari jagang, mengepung Wanabaya dengan mata tombak diacukan padanya.
BARU KLINTING : Tombak-tombak ini akan tumpas kau, bila nyata kau punggungi leluhur, berbelah hati pada Perdikan, khianati teman-teman dan semua. Bicara kau!
WANABAYA: (menatap ujung tombak satu per satu, dan mereka seorang demi seorang). Dengarkan leluhur suara darahmu di atas bumi ini, darahmu sendiri yang masih berdebar dalam tubuhku, Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Darah ini tetap murni, ya leluhur di alam abadi, seperti yang lain-lain, lebih dari yang lain-lain dia sedia mati untuk desa yang dahulu kau buka sendiri, untuk semua yang setia, karena dalam hati ini hanya ada satu kesetiaan. Tombak-tombak biar tumpas diri, kalau tubuh ini tak layak didiami darahmu lagi.
DEMANG PATALAN : (melemparkan tombak ke dekat rana, menolong Wanabaya berdiri).
Katakan, Adisaroh takkan bikin kau ingkar pada Perdikan.
WANABAYA : Adisaroh takkan bikin Wanabaya ingkar pada Perdikan.
BARU KLINTING : Kau akan tetap melawan Mataram.
WANABAYA : Leluhur dan siapa saja yang dengar, inilah Wanabaya, akan tetap melawan Mataram.
DEMANG PATALAN : Membela semua kedemangan sahabat Mangir.
WANABAYA: Membela semua kedemangan sahabat Mangir.
DEMANG JODOG : Dengan atau tanpa Adisaroh kau tetap setiawan.
WANABAYA : Dengan atau tanpa Adisaroh Wanabaya tetap setiawan.
DEMANG PAJANGAN : Setiawan sampai mati.
WANABAYA : Setiawan sampai mati.
DEMANG PANDAK : Baru Klinting, bukankah patut sudah dia dapat anggukan? Tunjukan matamu pada Klinting, kau, Wanabaya.
BARU KLINTING: Lihatlah betapa semua temanmu ikut pikirkan kepentinganmu.
WANABAYA : Aku telah bersalah, Baru Klinting yang bijaksana!
BARU KLINTING : Lihatlah aku. (mengangguk perlahan- lahan). Para demang – (merangkul Wanabaya)
BARU KLINTING : Pergi kau dapatkan pengantimu.
WANABAYA: (ragu meninggalkan panggung dalam iringan mata semua yang ditinggalkan).
BARU KLINTING : Kita semua masih curiga siapa waranggana dan rombongannya. Kalau ada Suriwang, dia akan bilang: Ai-ai-ai memang tak bisa lain. Tanpa Wanabaya cerita akan mengambil suara lain. Dilarang dia pun akan berkembang lain. Pukul tengara, pertanda pesta panen boleh dibuka.
Sumber: Drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer
1. Wanabaya, Ki Ageng Mangir, pemuda, + 23 tahun, prajurit, pendekar, panglima Mangir, tua Perdikan Mangir, tampan, tinggi, perkasa dan gagah.
2. Baru Klinting, tetua Perdikan Mangir, pemuda, + 26 tahun, prajurit, ahli siasat, pemikir, organisator.
3. Pambayun, Putri, putri pertama Panembahan Senapati dengan permaisuri, + 16 tahun, telik Mataram, berpikiran masak.
4. Suriwang, pandai tombak, + 50 tahun, pengikut fanatik Baru Klinting.
5. Kimong, telik Mataram, + 30 tahun.
6. Tumenggung Mandaraka, pujangga dan penasihat kerajaan Mataram, + 92 tahun, kepala rombongan telik Mataram.
7. Ki Ageng Pamanahan, ayah Panembahan Senapati, + 90 tahun.
8. Pangeran Purbaya, anak pertama Panembahan Senapati, + 20 tahun.
9. Tumenggung Jagaraga, anggota rombongan telik Mataram, kepala pasukan dari 1000 orang, + 35 tahun.
10. Tumenggung Pringgalaya, anggota rombongan telik Mataram, kepala pasukan dari 1000 orang, + 45 tahun.
11. Panembahan Senapati. Raja Pertama Mataram, + 45 tahun.
12. Demang Pajang, + 42 tahun.
13. Demang Patalan, + 35 tahun.
14. Demang Pandak, + 46 tahun.
15. Demang Jodog, + 55 tahun
16. Pencerita (troubadour).
BABAK PERTAMA
PENCERITA (Troubadour) bercerita dengan iringan gendang kecil sebelum layar diangkat: Siapa belum pernah dengar Cerita lama tentang Perdikan Mangir Sebelah barat daya Mataram?
Dengar, dengar, dengar: aku punya cerita.
Tersebut Ki Ageng Mangir Tua, Tua Perdikan Wibawa ada dalam dadanya Bijaksana ada pada lidahnya Rakyat Mangir hanya tahu bersuka dan bekerja
NASKAH DRAMA
BABAK PERTAMA Drama Mangir.
Tinggal sejengkal lidah
Dijadikannya tombak pusaka
Itulah konon tombak pusaka
Si Baru Klinting….
Layar – terbuka pelan-pelan dalam tingkahan gendang pencerita, mengangakan panggung yang gelap gulita.
Pencerita – berjalan mundur memasuki panggung gelap dengan pukulan gendang semakin lemah, kemudian hilang dari panggung.
Setting – Sebuah ruang pendopo di bawah sokosoko guru terukir berwarna (polichromed), dilengkapi dengan sebuah meja kayu dan beberapa bangku kayu.
Di atas meja berdiri sebuah gendi bercucuk berwarna kehitaman. Dekat pada sebuah soko guru berdiri sebuah jagang tombak dengan tujuh bilah tombak berdiri padanya. Latar – belakang adalah dinding rumah- dalam, sebagian tertutup dengan rana kayu berukir dan sebuah ambin kayu bertilam tikar mendong.
BARU KLINTING : (duduk di sebuah bangku pada ujung meja, menoleh pada penonton). Hmm!
(Dengan perbukuan jari-jari tangan memukul pojokan meja, dalam keadaan masih menoleh pada penonton). Sini, kau Suriwang!
SURIWANG: (memasuki panggung membawa seikat mata tombak tak bertangkai, berhenti; dengan satu tangan berpegang pada sebuah sokoguru).
Inilah Suriwang, pandai tombak terpercaya Baru Klinting. (menghampiri Baru Klinting, meletakkan ikatan tombak di atas meja). Pilih mana saja, Klinting, tak bakal kau dapat mencela.
BARU KLINTING : (mencabut sebilah, melempar-tancapkan pada daun meja, mengangkat dagu): Setiap mata bikinan Suriwang sebelas prajurit Mataram tebusan.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain. Segala apa yang baik untuk Suriwang, lebih baik lagi untuk Klinting, laksana kebajikan menghias wanita jelita, laksana bintang menghias langit-lebih, lebih baik lagi untuk Wanabaya, Ki Ageng Mangir.
BARU KLINTING : (memberi isyarat dengan kepala). Tinggalkan yang tertancap ini. Singkirkan selebihnya di ambin sana.
SURIWANG : (mengambil ikatan mata tombak, mendekatkan mulut pada Baru Klinting).
Semua usaha kembang, bumi ditanami jadi.
Datanglah hari setelah setahun menanti
Pesta awal Sura
Ronggeng, wayang, persabungan, gelut, lomba tombak,
Dekat-jauh, tua-muda, bujang-perawan, semua datang
Di dapur Ki Ageng Mangir Tua
Habis pisau perajang terpakai.
Datang perawan Mendes mohon pada Ki Ageng:
- Pinjami si Mendes ini pisau sebilah
- Hanya tinggal belati pusaka boleh kau menggunakan, tapi jangan kau lupa
Dipangku dia jadi bahala.
Perawan Mendes terlupa belati pusaka dipangkunya
Ah, ah, bayi mendadak terkandung dalam rahimnya
Lahir ke atas bumi berwujud ular sanca
- Inilah aku, ampuni, Bunda, jasadku begini rupa
Malu pada perdikannya
Malu pada sanak tetangga
Ki Ageng lari seorang diri
Jauh ke gunung Merapi
Mohon ampun pada Yang Maha Kuasa
Ki Ageng Mangir Tua bertapa. Dia bertapa!
Datang seekor ular padanya
Melingkar mengangkat sembah – Inilah Baru Klinting sendiri.
Datang untuk berbakti
Biar menjijikkan begini
Adalah putramu sendiri.
Ki Ageng mengangkat muka
Kecewa melihat sang putra - Tiada aku berputra seekor ular
Kecuali bila berbukti
Dengan kepala sampai ekor
Dapat lingkari Gunung Merapi.
Tepat di hadapan Ki Ageng Mangir Tua
Baru Klinting lingkari Gunung Merapi
Tinggal hanya sejengkal
Lidah dijelirkan untuk penyambung
Ki Ageng memenggalnya dengan keris pusaka.
Ular lari menghilang
Mengapa tak kau perintahkan balatentara
Mangir menusuk masuk ke benteng Matarammelindas raja dan semua calonnya?
BARU KLINTING : (pergi menghindar).
SURIWANG: (membawa ikatan mata tombak, bicara pada diri sendiri). Baru Klinting! Seperti dewa turun ke bumi dari ketiadaan. (menganggukangguk).
Anak desa ahli siasat – dengan Ronggeng
Jaya Manggilingan digilingnya balatentara
Mataram, pulang ke desa membawa kemenangan.
(pada Baru Klinting). Masih kau biarkan
Panembahan Senapati berpongah dengan tahta dan mahkota?
BARU KLINTING : (bersilang tangan). Mataram takkan lagi mampu melangkah ke selatan. Kepungan Mangir sama tajam dengan mata pedang pada lehernya. Pada akhirnya bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.
SURIWANG : (meletakkan ikatan tombak di atas Iantai, menghampiri Baru Klinting). Bakal datang dia merangkak pada kaki kita, minta hidup dan nasi.
BARU KLINTING : Belum mampu pandangmu menembus hari dekat mendatang? Dia akan datang – hari penghinaan itu. Kan meruap hilang impian Panembahan, jadi raja tunggal menggagahi Pulau Jawa. Bakal telanjang diri dia dalam kekalahan dan kehinaan.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain, Klinting. Perdikan Mangir sudah lima turunan berdiri. Lapanglah jalan bagi Sri Maharatu Dewi Suhita Majapahit.
Demak tak berani raba, Pajang tak pernah jamah. Ai-ai-ai, Panembahan Senapati, anak ingusan kemarin, kini mau coba-coba kuasai Mangir.
BARU KLINTING : Apa pula hendak kau katakan, Suriwang?
SURIWANG: Mataram bernafsu mengangkang di atas Mangir! Ai-ai-ai. Mengangkat diri jadi raja, kirimkan patihnya Singaranu – ke Mangir, Klinting, – menuntut takluk dan upeti, barang gubal dan barang jadi. Perdikan Mangir hendak
dicoba! Pulang tangan hampa, balik kembali dengan balatentara. Kau telah bikin panglima Mataram, Takih Susetya, berantakan dengan supit-urangnya. Ai-ai-ai tak bisa lain, tak bisa lain. Klinting, kau benar-benar dewa turun ke bumi – tumpas mereka dengan Ronggeng Jaya Manggilinganmu. Ke mana panglima Mataram itu kini menghilang larikan malunya?
BARU KLINTING : Bikin kau tombak tambahan – delapan ratus mata senilai ini (menuding pada mata tombak tertancap di atas meja).
SURIWANG : Delapan ratus lagi – bukan cuma Mataram, Ki Ageng Mangir Muda.
BARU KLINTING : (memperingatkan). Mangir akan tetap jadi Perdikan, tak bakal jadi kerajaan.
Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala, yang satu tak perlu menyembah yang lain, yang lain sama dengan semua.
SURIWANG: (mencari muka Baru Klinting). Dan tom- (a) (b) (c)
(a) Karakter tokoh Baru Klinting; (b) Karakter tokoh Putri Pambayun; (c) Karakter tokoh Wanabaya atau Ki Ageng Mangir.
bak yang delapan ratus lagi?
BARU KLINTING : Masih belum kenal kau apa itu raja? Raja jaman sekarang? Masih belum kenal kau siapa Panembahan Senapati? Mula-mula membangkang pada Sultan Pajang, ayahangkat yang mendidik-membesarkannya, kemudian membunuhnya untuk bisa marak jadi raja Mataram? Adakah kau lupa bagaimana Trenggono naik takhta, hanya melalui bangkai abangnya? Apakah kau sudah pikun tak ingat bagaimana Patah memahkotai diri dengan dusta, mengaku putra Sri Baginda Bhre Wijaya?
SURIWANG : Ai-ai-ai memang tak bisa lain, dengan modal dusta berlaku durjana… hanya untuk bisa jadi raja.
BARU KLINTING : Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, tak bakal jadi raja.
SURIWANG : Tak bakal jadi raja! Buat apa pula tombak tambahan?
BARU KLINTING : Bukan buat naikkan Wanabaya ke takhta, buat tumpas semua raja dengan nafsu besar dalam hatinya, ingin berkangkang jadi yang dipertuan. Mangir tak boleh dijamah.
SURIWANG : Mangir tak boleh dijamah! Ai-ai-ai, tak bisa lain.
BARU KLINTING : Semakin banyak tombak kau tempa, semakin banyak kau bicara. Panggil sini orang baru pembikin tangkai tombak itu.
SURIWANG : (berpaling dan melambat). Sini kau, orang baru!
KIMONG : (masuk ke panggung, membungkuk-bungkuk, kemudian mengangkat sembah). Kimong, inilah sahaya.
BARU KLINTING dan SURIWANG : (mengangkat dagu dan mata membelalak).
SURIWANG: Dia bersahaya dan bersembah, Klinting.
BARU KLINTING : (meninggalkan Suriwang, pergi ke meja, mecabut mata tombak tertancap dan mengamat-amati).
SURIWANG : (menggertak). Kudengar suaramu seperti keluar dari kerongkongan orang Perdikan, bungkuk dan sembahmu benar-benar Mataram.
KIMONG : (menunduk mengapurancang). Ya, inilah Kimong, datang untuk mengabdi pada Wanabaya Ki Ageng Mangir Muda, juru tangkai tombak pekerjaan sahaya.
SURIWANG: Bicaramu panjang-panjang, lambat dan malas. Bukan tempatmu kau di Perdikan, dari kedemangan tetangga pun kau bukan!
KIMONG : Juru tangkai tombak (menyembah), ahli kayu sono keling jarang bandingan, perawat senjata pusaka lima bupati, demang dan semua nakaya….
SURIWANG : Dari mana kau?
KIMONG : Parangtritis desa sahaya.
BARU KLINTING : (memperdengarkan ketukan perbukuan jari-jari pada meja).
SURIWANG : Kau anggap gampang menipu Perdikan? (mendengus menghinakan). Berapa lama kau membudak di istana Mataram.
KIMONG : Sahaya hanya orang desa.
SURIWANG : Mengaku hanya orang desa! Kalau benar kau dari Parangtritis, berapakah jarak dari Mangir ke Laut-Kidul?
KIMONG : Tujuh ribu lima ratus langkah (menyembah).
SURIWANG : Dari Mangir ke Mataram?
KIMONG : Lima belas ribu langkah.
SURIWANG : Kau takkan balik ke Mataram, karena Laut Kidul lebih dekat untukmu.
KIMONG: Ampuni sahaya, dengar Ki Ageng butuhkan juru tangkai, bergesa sahaya datang untuk mengabdi. Inilah sahaya, tinggal si juru tangkai tombak.
SURIWANG:(mendengus).
BARU KLINTING :(setelah memeriksa tombak-tombak di jagang menghampiri Kimong dengan bersilang tangan, menggeleng-geleng, mengangkat dagu membuang pandang, tersenyum menggigit).
SURIWANG: Datang menghadap arena dengar warta. Dari mana kau dengar Ki Ageng Muda ada di Mangir?
KIMONG : Warta tertiup lalu dari desa ke desa.
SURIWANG: Tak ada mulut Mataram bisa dipercaya.
KIMONG : Orang Parangtritis sahaya, bukan mulut Mataram.
SURIWANG : Bicara kau, Minting. Bukankah tepat kata-kataku?
BARU KLINTING : Apakah kau sudah lupa pada dusta orang yang berbagi kasih pengecer cinta? Sama dustanya dengan pengabdi pada dua majikan.
SURIWANG : Pengabdi pada dua majikan. Ini dia orangnya! (menuding pada Kimong).
BARU KLINTING : Dengan mulutnya yang berdusta, hatinya setia mengabdi hanya pada diri sendiri.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain.
KIMONG: (bingung menatap mereka berganti-ganti).
Ah-ah.
SURIWANG : Kau mulut yang berdusta, hati hanya mengabdi pada diri sendiri, arah semua gerakan hanya harta.
BARU KLINTING : Hati dalam dadanya compangcamping, Suriwang, seperti sayap elang tua.
SURIWANG : Sedang dadanya bolong seperti tahang kosong. Di mana tempat orang berdada bolong berhati compang-camping, Klinting?
BARU KLINTING : Setidak-setidak bukan di tempat di mana tombak diberi bertangkai.
KIMONG : Sahaya ada ipar di sini, setiap waktu bisa jadi saksi.
SURIWANG : Ipar? Di antara kau dan istrimu ada ipar. Di antara kau dengan Mangir hanya ada Ma-taram. Terkutuk kau, budak raja. (pada Baru Klinting) Bukankah aku benar Klinting?
BARU KLINTING : (bersilang tangan, menganggukangguk).
SURIWANG : Antara Mangir dan Laut Kidul hanya tujuh ribu lima ratus langkah. Antara Mangir Mataram lima belas. Kau tak kembali ke Mataram, tidak berhenti di Mangir.
KIMONG : Ampuni sahaya, jangan beri sahaya Laut Kidul. Beri sahaya kayu sono keling. Empat puluh batang tangkai dalam sehari inilah tangan sahaya, sanggup kerjakan tanpa dusta.
BARU KLINTING : Hmm.
SURIWANG : (menuding pada Kimong) Keluar!
KIMONG: (keluar meninggalkan panggung disambut oleh tangan-tangan yang menangkap. Di atas tangan-tangan itu nampak beberapa tombak telanjang). Ampun! Ampuni sahaya.
BARU KLINTING : (menghampiri Suriwang, dengan isyarat mengajak kembali ke meja): Berapa saja telik dalam seminggu!
SURIWANG: Berapa kiranya yang telah kena tangkap?
BARU KLINTING : Takkan habis-habis, sebelum Mataram batal jadi kerajaan.
SURIWANG : Takkan aku lupakan, Klinting, raja dan telik laksana celeng dengan penciumannya.
BARU KLINTING :(mengambil mata tombak dari atas meja dan mempermain-mainkannya). Mataram telah mengubah diri jadi kerajaan, Suriwang, setiap kerajaan adalah negeri telik.
Panembahan Senapati bunuh ayah-angkatnya, Sultan Pajang, bukankah juga dengan telikteliknya?
Luka parah, dibawa pulang dan mati di bilik sendiri.
SURIWANG : Mangir bukan Pajang, Klinting.
Wanabaya bukan Hadiwijaya. Tua Perdikan bukan Sultan bukan raja. Telik Mataram takkan bisa kiprah di Mangir. Lolos dua empat kena!
Semua akan masuk perangkap. Huh-huh, budak raja bukan orang mardika. Seribu telik
Mataram, tak bakal bikin Mangir merangkak, seperti keong memi-kul upeti persembahan.
Klinting, bukankah tak ada orang Perdikan butuhkan raja?
BARU KLINTING : Bahkan kambing-kambingnya tak butuhkan.
SURIWANG : Baru Klinting yang jenaka.
BARU KLINTING : Di mana pun jua, Suriwang, raja jadi beban semua.
SURIWANG: Ai-ai-ai tak bisa lain, jadi beban semua.
BARU KLINTING : Seorang di atas kepala sekian laksa! Tombakmu jua yang menjungkirkannya.
SURIWANG : Ai-ai-ai tak bisa lain.
Kepala seseorang – (menongol pada tepian seben).
Baru Klinting! Para demang pemimpin rata, Demang
Patalan, Demang Jodog, Demang Pajangan dan
Demang Pandak! (Kepala seseorang itu meninggalkan panggung).
SURIWANG : Kalau para gegeduk rata berdatangan begini, Klinting, tiba saatnya buat Suriwang ini untuk minta diri. (meletakkan ikatan tombak di atas ambin. Mengusapkan telapak tangan pada dada Baru Klinting. Keluar panggung).
DEMANG PATALAN dan DEMANG JODOG :(masuk ke panggung).
DEMANG PATALAN : Kau telah lebih dulu di sini Klinting!
DEMANG JODOG : Aku lihat mata tombak di atas meja.
BARU KLINTING :(memungut mata tombak itu dan melempar-tancapkan pada daun meja): Delapan ratus lagi, harus jadi dalam sepuluh hari.
DEMANG JODOG : Kita menang, pulang, buat mengasoh dari perang. Masih juga tanganmu gerayangan bikin pekerjaan.
BARU KLINTING : Kau masih seperti di medan-perang, masih merah seperti kepiting panggang.
DEMANG JODOG : Ah, kau, Klinting, yang pandai berolok.
BARU KLINTING : Tak mengkerut kehijauan seperti sebelum bertarung lawan Mataram.
DEMANG PATALAN : (tertawa). Pada gelagat pertama, siapa tidak takut pada Mataram. Semua mengkerut kehijauan. Kalau bukan karena kau, kau goncang bangunkan untuk melawan, dan Wanabaya gemilang memimpin serang, semua kami telah ditelan Senapati.
BARU KLINTING : (tertawa terkulum).
DEMANG JODOG : Sekarang bocah angon pun bangkit melawan.
BARU KLINTING : Mana Demang Pajang dan Demang Pandak?
DEMANG JODOG : Masih di luar sana selesaikan pertengkaran.
BARU KLINTING : Kalian berdua, apakah sudah selesai?
DEMANG PATALAN : Kaulah yang selesaikan, Baru Klinting. Aku tarik pergi Demang Jodog, tinggalkan
Ki Ageng Mangir Muda di sana sendiri.
BARU KLINTING : Masih kudengar gamelan berlagu.
DEMANG JODOG : Dan masih menari dia di sana seperti gila, laksana merak jantan, kembangkan bulu kejantanan dan ketampanan; mengigal menggereki si Adisaroh penari. Patalan tidak setuju.
DEMANG PATALAN : Istilah perang bukan mestinya berganti dengan gila menari, biar pun Adisaroh secantik dewi.
DEMANG JODOG : Beri dia kesempatan – seorang perjaka tampan, berani-tangkas di medanperang, lincah di medan tari, baru lepas dari brahmacarya karena kemenangan. Beri dia kesempatan.
BARU KLINTING : Inikah pertengkaran kalian? Juga Demang Pajangan dan Pandak?
DEMANG JODOG : Demang Pajangan berpihak pada Jodog. Demang Pandak berpihak pada Patalan.
DEMANG PATALAN : Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda tidak semestinya terlambat datang.
Hanya karena Adisaroh penari, juga Pajangan dan Pandak terlambat datang.
DEMANG PAJANGAN dan DEMANG PANDAK : (memasuki panggung).
DEMANG PAJANGAN : Apa guna jadi pria kalau bukan untuk mendapatkan wanita?
DEMANG PANDAK : Tidak bisa. Untuk sekarang ini, tidak bisa.
DEMANG PAJANGAN : Apa guna ketampanan pada Wanabaya? Apa guna kecantikan pada Adisaroh?
DEMANG PANDAK : Tidak bisa! Tidak bisa!
DEMANG PAJANGAN : Seperti kau sendiri tak pernah jadi pria.
DEMANG PANDAK : Tak bisa! Tidak bisa!
DEMANG PATALAN : Kau lihat sendiri, Klinting, Pandak sama dengan Patalan – tak bisa terima Ki Wanabaya.
DEMANG PAJANGAN : Baru Klinting, apa warta?
BARU KLINTING : Inilah aku. Bangku-bangku telah menunggu.
DEMANG PANDAK : (pergi ke meja, mengambil gendi dan minum). Panas badan melihat Ki Wanabaya lupa daratan.
DEMANG PAJANGAN : (pergi ke meja, mengambil gendi dari tangan Pandak). Panas kepala ini, melihat Adisaroh hanya mau layani Ki Wanabaya.
DEMANG PATALAN : (mengambil alih gendi dari tangan Pajangan). Panas juga perut ini mesti menung-gu kalian begini lama.
DEMANG JODOG : (tertawa meringis mendudukkan diri di atas bangku). Semua demam panas, yang kepala, yang badan, yang perut. Hanya Jodog ini tinggal tenang, setuju Ki Wanabaya tegak habis istirah-perang, menari gila kitari si Adisaroh. Bagi yang bijaksana hanya ada tawa dan anggukan kepala. (tertawa, kemudian mengambil gendi dan minum juga).
DEMANG PATALAN : Heran aku, Klinting, belum setengah hari kau tinggalkan garis depan, pesta panen telah selesai kau persiapkan.
BARU KLINTING : Mereka yang telah teteskan keringat pada bumi ini, berhak berpesta syukur untuk Sri Dewi. Tak pernah ada tahun lewat sejak leluhur pertama buka Perdikan ini.
DEMANG JODOG : Diawali pesta ini dengan tandak di Balai Perdikan. Luar biasa, tak pernah terjadi sebelumnya.
DEMANG PATALAN : (menghampiri Demang Jodog, menariknya berdiri dari duduknya). Kau beranikan dia datangkan rombongan tandak entah dari mana asalnya, kau biarkan dia mabok kepayang, lupa darat lupa laut, lupa mula lupa wasana.
DEMANG JODOG : (menghindari menghampiri Baru Klinting).
DEMANG PATALAN : (mengikuti Demang Jodog dan menyalahkan). Lupa perang belum selesai, kemenangan mutlak belum lagi di tangan!
DEMANG JODOG : Klinting! – Seorang perjaka tampan dan bergaya, menang perang berlepas
brah-macarya, lelah perang baru pulang dari medan – apakah dia tidak berhak bersuka?
DEMANG PATALAN : Adakah kau hendak lupakan Klinting?
DEMANG PANDAK : Betul. Dia belum lagi melepas brahmacarya. Dia juga perjaka, hanya sayang tak tampan rupa. Tidak bisa, tak ada yang berhak untuk bergila, juga Wanabaya Ki Ageng Mangir Muda tidak. Tidak bisa! Tidak bisa!
DEMANG JODOG : Semua berhak bersuka, tepat pada giliran dan waktunya, juga semua prajurit di garis-depan sana.
DEMANG PATALAN : Jodog dalam hatimu ada pamrih pribadi. Kau sendiri hendak melompat pada kesempatan pertama.
DEMANG PATALAN : Semua kita telah perang. Semua punya hak untuk bersuka. Juga kau, Klinting.
DEMANG PATALAN : Kau, Klinting sang bijaksana, kaulah sekarang yang bicara.
DEMANG JODOG : Sudah lelah kami bertengkar, bicara kau, Klinting.
BARU KLINTING : Boleh saja bertengkar, hanya jangan berkelahi.
DEMANG PAJANGAN : Ada juga harganya bertengkar bertarik urat, membela Wanabaya tampan dan Adisaroh rupawan.
DEMANG PATALAN : Klinting, bukankah dalam lelah perang kita berjumpa, guna rundingkan, langsung masuk Mataram atau tidak? Mestikah acara berkisah jadi Wanabaya dengan si tandak?
BARU KLINTING : Kau Patalan, yang tinggal berbatasan langsung dengan garis depan Mataram, semua prihatin dengan kedemanganmu…
DEMANG PATALAN : Langsung masuk Mataram atau tidak?
BARU KLINTING : Akan datang masanya masuki Mataram dengan tangan berlenggang. Tidak sekarang. Senapati masih terjaga oleh berlapis- lapis balatentara, benteng batu-bata, dusun-dusun bersenjata sekitar benteng, seberangi Code, Gajah Wong sebelum sampai ke istana. Biar dulu Mataram terpagari dari selatannya…
DEMANG PATALAN : Siapa tidak percaya? Di medan perang Klinting perwira, di Perdikan Klinting bijaksana, Ronggeng Jaya Manggilingan dengan dua puluh gegeduk bikin porak-poranda Mataram. Tapi hari Mataram belum dapat dihitung dengan jari. Bukan waktunya untuk bersuka. Kerahkan balatentara Mangir, biar bersuka dalam benteng Mataram, berjoged ronggeng dalam asrama.
DEMANG PANDAK : Jangan bicara lagi tentang si tandak. Wanabaya juga hidup dari semua, tak berhak bersuka sendiri.
DEMANG JODOG : Biar betapa pun Mataram akan jatuh. Jangan biarkan Patalan dan Pandak tidak mengerti, Klinting. Biar Mataram tak bisa dihitung dengan jari, bisa dibilang dengan beberapa kali tenggelamnya matari. Bodoh nian bila tidak sembari berpesta bersukaria.
DEMANG PAJANGAN : Kau kehilangan lidahmu, Klinting.
DEMANG JODOG : Bukan kehilangan lidahnya, Klinting benar kan Wanabaya.
DEMANG PANDAK : Benarkan Wanabaya? Tidak bisa! Tidak bisa!
DEMANG JODOG : Klinting tak benarkan berhati panas serbu Mataram.
DEMANG PATALAN : Diam!
BARU KLINTING : Adakah kalian timbang, dengan menggereki si tandak, Wanabaya belah dua hatinya?
DEMANG PATALAN : Pasti belah dua, untuk perang dan untuk Adisaroh si tandak.
DEMANG PANDAK : Tidak bisa, tidak bisa, Wanabaya tetap panglima terbaik satu-satunya, hanya…
DEMANG PAJANGAN : Kau akui hak Wanabaya, Klinting? Dengan bersuka, dia akan lekang di medan-perang
DEMANG PANDAK : Tidak bi…
BARU KLINTING : Belum selesai kalian bertengkar?
DEMANG PATALAN : Baik, memang tepat pada waktunya kau bicara.
BARU KLINTING : Dengarkan sekarang. Memang Patalan di tempat terdekat dengan Mataram. Dia berhak dapatkan perhatian lebih banyak.
Mangir dan Pajangan berbentengkan sungai Bedog. Itu bukan berarti untuk Patalan semua harus pukul Mataram tanpa perhitungan.
DEMANG PATALAN : Aku mengerti, kau tak setuju itu. Tapi Ki Wanabaya bermain berahi, dalam keadaan belum selesai.
BARU KLINTING : Untuk bersuka sekedarnya tak ada celanya. Dia berhak sebagai panglima, telah selamatkan kalian semua, kedemangan dan semua rakyatnya.
DEMANG PAJANGAN : Jodog, Klinting benarkan kita.
BARU KLINTING : Aku tidak benarkan Wanabaya, selama dia hanya bersuka sekedarnya.
DEMANG PATALAN : Dia bukan sekedar bersuka. Katakan itu, Pandak.
DEMANG PANDAK : Betul dia bukan sekedar bersuka.
Nafasnya terdengar berat, matanya berpandangan jalang.
BARU KLINTING : Benarkah itu, Jodog dan Pajangan?
DEMANG JODOG : Siapa tidak terengah-engah di dekat si jelita semacam itu? Tapi sungguh mati, hati Wanabaya takkan terbelah dua.
DEMANG PANDAK : Siapa tahu hati orang? Nyatanya
nafasnya berat pandangnya jalang.
BARU KLINTING : Kalian semua sudah dengar katakataku. Kenyataan tinggal pada Wanabaya sendiri. Panggil dia kemari.
DEMANG PATALAN : Takkan beranjak dari tempat dia sebelum gong terakhir berhenti.
BARU KLINTING : Panggil dia kemari!
DEMANG JODOG : (pergi ke seben memberi perintah kemudian kembali menghampiri Baru Klinting).
Orang sudah lari memanggilnya.
DEMANG PATALAN : Mari kita periksa hatinya.
DEMANG PANDAK : Aku dengar gamelan telah berhenti.
DEMANG PATALAN : Dengarkan sebelum Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, tiba. Patalan belum akan diam. Dengarkan. Dalam setiapkarya pen ting dan bahaya, Klinting, kau selalu ada di muka. Dalam setiap suka kau menghilangentah ke mana. Sekarang Wanabaya dipuncak suka, kau ragu termangu-mangu. Kaujuga perjaka, sayang tak setampan Wanabaya.
Lihat ini buktinya… (menuding ke arah jalanan).
Semua – (terdiam mengikuti arah tudingan).
BARU KLINTING danDEMANG PANDAK :(terbelalak).
DEMANG PANDAK : Nah kau lihat sendiri, Pajangan.
DEMANG JODOG : Benar ini keliru. Yang begitu tak dapat ditenggang.
DEMANG PAJANGAN : (menepuk Demang Jodog).
Bagaimana bisa jadi begitu?
Kepala seorang – (menongol dari seben): Baru
Klinting, Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, datang.
(meninggalkan.panggung).
DEMANG PATALAN : Apa kau bilang sekarang, Klinting?
BARU KLINTING : (bersilang tangan memperhatikan jalanan) . Jangan sambut dia.
DEMANG PANDAK : Adakah dia dibawa kemari diajak berunding tentang perang?
DEMANG JODOG : Memang tidak patut untuk seorang panglima…
BARU KLINTING : Memang tidak patut, yang pandai berperang tapi tak pandai pimpin diri sendiri.
Diam semua sekarang, Wanabaya sudah mulai naiki tangga.
WANABAYA dan PUTRI PAMBAYUN : (memasuki panggung, bergenggaman tangan, teracukan secara demonstratif ke depan untuk dilihat semua orang).
WANABAYA : Inilah Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, datang menggandeng tandak tanpa tandingan. (menatap mereka seorang demi seorang). Tak ada yang menyambut Ki Wanabaya? Baik Adisaroh yang jaya, berilah hormat pada para tetua Perdikan.
PUTRl PAMBAYUN : (tetap dalam gandengan Wanabaya). Inilah Adisaroh Waranggana bayaran, mengembara dari desa ke desa mencari penghidupan.
(memberi hormat dengan gerak badan).
Di belakang menyusul rombongan wiyaga.
TUMENGGUNG MANDARAKA, PANGERAN
PURBAYA, TUMENGGUNG JAGARAGA, dan
TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (masuk ke panggung dalam pakaian samaran orang desa, berdiri di belakang Putri Pambayun, memberi hormat secara Perdikan pada tetua Perdikan).
BARU KLINTING : Dirgahayu kalian semua, Mangir selalu sambut tamu-tamunya, dengan gembira dan tulus hati. Dirgahayu Adisaroh, waranggana tanpa tara dan rombongan. (mengangkat dagu menatap Wanabaya). Dan kau, wajahmu merah seperti masih di medan-perang, menggandeng putri cantik di hadapan kami. Katakan kandungan hati, sebelum salah terka kami menebak isi dadamu.
DEMANG PATALAN, DEMANG JODOG, DEMANG PAJANGAN, dan DEMANG PANDAK : (bergerak mengelilingi Wanabaya dan Putri Pambayun, menaksir dan menimbang-nimbang).
WANABAYA : (masih tetap menggandeng Putri Pam-bayun). Kalian terlongok-longok seperti melihat naga. Mata kalian pancarkan curiga dan hati tak suka. Katakan, siapa tak suka Wanabaya datang menggandeng perawan jelita.
Katakan, ayoh katakan siapa tidak suka.
DEMANG PATALAN : (menghampiri Wanabaya).
Sungguh tidak patut, seakan Perdikan tak bisa berikan untukmu lagi.
WANABAYA : Siapa lagi akan katakan tidak patut?
DEMANG PANDAK : Tidak patut untuk seorang panglima.
DEMANG JODOG : Semula kukira sekedar bersuka.
DEMANG PAJANGAN : Benar Patalan, kalau berkembang begini rupa.
WANABAYA : Juga akan kau katakan tidak patut?
DEMANG PANDAK : Juga tidak patut untuk seorang Tua Perdikan.
DEMANG PAJANGAN : Waranggana masyhur, lenggangnya membelah bumi, lenggoknya menyesak dada, senyumnya menawan hati, tariannya menggemaskan, sekarang tingkahnya bikin susah semua orang.
WANABAYA : Siapa yang jadi susah karena dia?
DEMANG JODOG : Jantannya tampan, gagah-berani di medan-perang. Klinting, bukankah sayang kalau dia tak bisa pimpin diri sendiri.
BARU KLINTING : Wanabaya, Ki Ageng Mangir Muda, bukan hanya perkara suka atau tidak, patut atau tidak, bisa pimpin diri sendiri atau tidak, kau sendiri yang lebih tahu! Perdikan ini milik semua orang, bukan hanya Wanabaya Muda si Tua Perdikan Mangir.
WANABAYA : Kalau bukan aku yang pimpin perang, sudah kemarin dulu kalian terkapar di bawah rumput hijau.
BARU KLINTING : (tertawa, membalik badan punggungi Wanabaya).
DEMANG PATALAN : Dia lupa, semua membikin dia jadi Tua Perdikan dan panglima perang. Sendiri, Wanabaya tak ada arti, sebutir pasir berkelap- kelip sepi di bawah matari.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Adisaroh, mari kita pergi. Mereka bertengkar karena kita.
WANABAYA : (menoleh pada Tumenggung Mandaraka).
Tak ada yang bisa larang Wanabaya di rumah ini, menggandeng Adisaroh jaya.
Adisaroh, adakah takut kau hadapi para tetua desa ini?
PUTRI PAMBAYUN : Dalam gandengan tangan Ki Wanabaya Muda, bahkan di bawah bayangbayangnya, semut pun tiada kan gentar.
WANABAYA : Benar sekali, semut pun tiada kan kecut. (mengangkat gandengan tinggi-tinggi).
Inilah Adisaroh, perawan waranggana kubawa kemari akan kuambil untuk diriku sendiri.
BARU KLINTING :(melangkah maju menghampiri Putri Pambayun). Dari mana asalmu, kau, perawan?
TUMENGGUNG MANDARAKA : Anakku dia, penari tanpa tandingan dari berpuluh desa.
BARU KLINTING : Penari tanpa tandingan dari
berpuluh desa. Siapa tak percaya? Bicara dengan
mulut-mu sendiri, kau, perawan jelita!
PUTRI PAMBAYUN : Adapun diri ini, dari sebuah
dukuh sebelah timur, seberang tujuh sungai.
WANABAYA : (menggerutu). Dia periksa Adisaroh seperti pada anaknya sendiri.
BARU KLINTING : Mengapa ikut naik ke pendopo ini?
WANABAYA : Apa guna bertanya-tanya? Ki Wanabaya sudah suka.
PUTRI PAMBAYUN : Digandeng Ki Ageng Mangir Muda begini, siapa dapat lepaskan diri?
DEMANG JODOG : (mengejek). Datang dengan Ki Ageng Mangir Muda dengan semau sendiri.
DEMANG PANDAK : Siapa yang dulu suka? Wanabaya ataukah kau?
DEMANG PAJANGAN : (pada Baru Klinting). Nampaknya dua-duanya.
DEMANG PATALAN : Memang tak ada salahnya perjaka dan perawan saling kasmaran, (menghampiri Wanabaya), tetapi Perdikan bukan milikmu pribadi.
DEMANG PANDAK : Membawa wanita milik semua pria…
TUMENGGUNG MANDARAKA : Anakku bukan tandak sembarang waranggana, dididik baik tahu adab, terlatih tahu sopan setiap waktu, setiap saat.
DEMANG PATALAN : Seperti bukan prajurit perang, tak dapat kendalikan diri lihat kecantikan, jatuh kasmaran lupa daratan.
WANABAYA : (tersenyum). Ayoh, katakan semua. Juga kau, Klinting, apa guna sembunyi di belakang lidah yang lain?
BARU KLINTING : Bicaralah kau sepuas hati.
DEMANG PATALAN : Biar kami tahu apa di hatimu, bisa kami kaji dan uji-Oh, perang belum lagi selesai,
kemenangan belum lagi terakhir… Kasmaran tandak lupa daratan, Mataram masih jaya berdiri.
WANABAYA : Mataram? Apa daya Panembahan
Senapati di hadapan Wanabaya Muda? Supit
Urangnya telah buyar tertadahi Ronggeng Jaya
Manggilingan. Hendak mengepung ganti terkepung.
Dilepaskannya Dirada Keta, gajah yang mengamuk tumpas masuk dalam perut Ronggeng.
Bila dusun-dusun luar benteng kita pukul hari ini…
TUMENGGUNG MANDARAKA : (tertawa terkekeh).
Mataram? Apa arti Mataram? Dijentik dengan kelingking kiri, akan runtuh dia seperti seungguk nasi basi.
DEMANG PANDAK : Diam kau, Pak Tua tak tahu diri.
Padamu belum ada orang tanyakan perkara.
(pada Wanabaya) Wanabaya Muda, Ki Ageng Mangir Muda, bukankah kau datang untuk dapatkan anggukan dari Baru Klinting? Tak patut kau sekasar itu padanya. Pergi kau padanya, tahu diri kalau butuh anggukan.
DEMANG PATALAN : (menggerutu). Perang pun belum diselesaikannya…
WANABAYA : (menggandeng Putri Pambayun meng-hampiri Baru Klinting): Lihatlah ini, Klinting, Ki Ageng Mangir Muda datang padamu menggandeng dara waranggana, untuk dapatkan anggukan kepala darimu, dari Baru Klinting sang bijaksana.
BARU KLINTING : Seperti Mataram miskin putri rupawan. Bedah dulu kratonnya dan kau boleh pondong semua perawannya.
WANABAYA : Yang seorang dalam gandengan tangan ini, Klinting, berlaksa lebih berharga dari semua putri, dari semua jenis wanita, di seluruh Mataram, di seluruh bumi. Wanabaya Ki Ageng Mangir Muda hanya hendaki yang ini.
DEMANG PATALAN : (menghampiri Wanabaya, menyerang). Belum lagi kau injakkan kaki di kraton Mataram – putri-putrinya tak pernah menggarap bumi, dibesarkan hanya untuk kepuasan pria, halus tak pernah kerja, tak kena sinar surya.
BARU KLINTING : Dengarkan kata Demang Patalan.
WANABAYA : Ki Ageng Mangir Muda telah dengarkan semua. Hanya yang ini di atas segala-galanya. Tak pernah Wanabaya sukai wanita. Sekali diperolehnya, tak ada yang mampu kisarkan kemauannya.
BARU KLINTING :(meninggalkan Wanabaya dan Putri Pambayun). Hanya mata buta dan hati batu tak tergiur cair lihat Adisaroh waranggana.
DEMANG PATALAN : (mengikuti Baru Klinting, menegur) Klinting!
BARU KLINTING : Apa pula kau, Patalan. Lihat, menang atas Mataram masih dalam impian, kecantikan dan kemudaan telah tergandeng di tangan.
DEMANG PATALAN : Apa kau akan berikan anggukan?
DEMANG PANDAK : (menghampiri Baru Klinting dari samping). Siapa pun takkan rela wanita sejelita itu tergenggam pria selain Wanabaya. Apakah Mataram akan jadi petaruh?
WANABAYA : Klinting, kau belum lagi memberikan anggukan kepala.
BARU KLINTING : (mendekati Putri Pambayun). Di hadapan tetua dan gegeduk rata Mangir kau gandeng Ki Wanabaya Muda. Kau, perawan dari tujuh sungai seberang timur, berapa pria telah kau remas dalam tanganmu?
PUTRI PAMBAYUN : Ini yang pertama.
BARU KLINTING : Tak patut berbohong di hadapan para tetua. Bukankah semua lihat, bukan kau, hanya Wanabaya gemetar tanpa daya dalam gandengan?
TUMENGGUNG MANDARAKA : Ki Ageng Mangir Muda yang pertama dan satu-satunya. Orang setua aku berani sumpah sampai mati. (menoleh pada rombongannya). Katakan, temanteman wiyaga.
PANGERAN PURBAYA : Sejak bayi dalam penjagaanku, sampai besar tak pernah lepas dari mataku.
TUMENGGUNG JAGARAGA : Semua pengganggu tunggang-langgang oleh lidah, oleh tanganku.
TUMENGGUNG PRINGGALAYA : Pontang-panting, lintang-pukang oleh sepakan kakiku.
DEMANG PANDAK : Bersahut-sahut seperti burung di pagi-hari.
BARU KLINTING : (bersilang tangan menghampiri rombongan wiyaga, menatap mereka seorangdemi seorang. Pada Demang Jodog). Laku mereka seperti pedagang ikan, berjual bangkai berbunga puji.
DEMANG JODOG : (berisik dengan tangan tercorong pada mulut pada Baru Klinting). Aku pun jadi curiga.
WANABAYA : Anggukanmu belum kulihat, Klinting.
Juga kalian, Pantalan, Jodog, Pandak, dan Pajangan.
Keliru kalau kalian anggap, aku datang menggandeng perawan ini, untuk mengemis sepotong kemurahan. Dara Adisaroh hanya untukku seorang. Bumi dan langit tak kan bisa ingkari. (pada Putri Pambayun). Sejak detik ini
kau tinggal di sini, jadi rembulan bagi hidupku, jadi matari untuk rumahku.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, siapa tidak gembira jadi mertua, dapatkan menantu panglima perang masyhur gagah-berani, tua Perdikan Mangir?
Hanya saja belum tepat caranya. Adisaroh anakku bukan anak burung, bisa diambil dari sarang di atas pohon.
PANGERAN PURBAYA : (meninggalkan rombongan, menghampiri Wanabaya) Sungguh tidak tepat caranya. Adisaroh bukan selembar daun kering, tertiup angin jatuh di mana saja. (pada Tumenggung Jagaraga). Aku belum bisa terima, anak momongan direnggut seperti rumput.
TUMENGGUNG JAGARAGA : Tanpa Adisaroh waranggana, nasib rombongan akan berantakan, buyar, masing-masing akan terpaksa pergi terbungkuk membawa lapar.
WANABAYA: Takkan kubiarkan kalian lapar. Seluruh rombongan jadi tanggungan di tangan Ki Ageng. Harap jangan kalian anggap rendah Wanabaya Muda. Biar bukan raja, aku masih jaya berlumbung daya.
TUMENGGUNG MANDARAKA : (berunding dengan isyarat dengan rombongangannya; terbatukbatuk minta perhatian).
WANABAYA : (pada Tumenggung Mandaraka). Bapak tua, kau lihat sendiri, Adisaroh sambut tanganku dengan suka sendiri. (memperlihatkan gandengan tangan). Wanabaya tidak lepaskan, Adisaroh mengukuhi.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Kapan dimulai sebuah adat, orang tua disisihkan tanpa diajak damai?
DEMANG PATALAN : Lihat Klinting, mereka anggap para tetua ini angin belaka.
DEMANG PANDAK : Dan kau belum atau tidak berikan anggukan kepala.
WANABAYA : (sekali lagi mengangkat tinggi gandengan). Lihatlah ini, aku genggam tangannya, dia genggam tanganku. (memperlihatkan pada setiap orang). Siapa ingkari kenyataan ini?
BARU KLINTING : Biarkan Wanabaya curahkan isi hatinya.
TUMENGGUNG MANDARAKA : Apapun terjadi, bumi dan langit memang tak bisa ingkari, tali hubungan telah terjadi. Hanya caranya belum terpuji. (pada Putri Pambayun) Bicaralah kau, perawan, biar terdengar oleh semua tetua Perdikan.
PUTRI PAMBAYUN : (tanpa ragu-ragu). Inilah diri, dalam gandengan Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Telah diulurkan tangannya kepadaku, dan aku menyambutnya. Apalagi masih harus dikatakan? Hendak diambilnya aku untuk dirinya sendiri semata.
DEMANG PANDAK : Bukan begitu cara bicara perempuan desa.
PUTRI PAMBAYUN : Inilah diri, dari dukuh seberang tujuh sungai sebelah timur.
PANGERAN PURBAYA : Tak cukup hanya diambil untuk dirinya sendiri semata.
DEMANG PATALAN : Hendak diambilnya untuk dirinya sendiri semata, seakan seorang tandak pernah hanya untuk seorang saja.
PANGERAN PURBAYA : Jangan menghina! Belum lagi kami setujui maksud Ki Wanabaya Muda.
WANABAYA : (pada Tumenggung Mandaraka) Begini cara di Perdikan Mangir: semua tergantung pada yang muda, orang tua hanya setuju mengiyakan. Katakan padanya, Klinting, di sini tak ada cara lebih terpuji daripada begini.
DEMANG PATALAN : Kita semua bicara tentang nasib Mangir, nasib Mataram, hanya Wanabaya dan rombongan waranggana sibuk tawar-menawar. (pada Baru Klinting) Kau hanya punya kata-putus, putuskan sekarang juga, sebelum berlarut menjadi bencana.
BARU KLINTING : Juga Wanabaya punya hak bicara, tak semestinya kita lindas hasrat dalam hatinya.
Apa jadinya sungai yang tak boleh mengalir?
Dia akan mengamuk melandakan banjir.
DEMANG PATALAN : Tak bisa aku tunggu begini lama.
BARU KLINTING : Patalan takkan dilanda Mataram dalam sebulan ini. Lakumu seperti tertimpa kebakaran.
WANABAYA : Klinting, patutkah seorang tua Perdikan dan panglima dibiarkan menunggu begini lama?
DEMANG PANDAK : Jangan berikan anggukan.
DEMANG PATALAN : Biar Mataram lebih dulu dibereskan.
DEMANG JODOG : Kau sendiri Wanabaya Muda, mulaikah perang kau lupakan?
WANABAYA : Tak patut panglima diuji seperti itu.
DEMANG PATALAN : Menjawab pun kau tidak sudi.
Berat mana Mataram atau Adisaroh waranggana?
WANABAYA : Pertanyaan-pertanyaan ini, apakah berarti Wanabaya bukan panglima lagi?
DEMANG PATALAN : Benar kata Pajangan, menjawab pun kau tidak sudi. Kau lihat itu sendiri, Klinting.
WANABAYA : (melepas gandengan, maju menantang para demang seorang demi seorang).
Dengarkan kalian, orang-orang nyinyir, tak mengerti perkara perang. Setajam-tajamnya senjata, bila digeletakkan takkan ada sesuatu terjadi. Sebagus-bagusnya panglima perang, bila ditinggalkan senjata dan balatentara sebesar- besar pasukan akan binasa. Apakah belum mengerti ini?
BARU KLINTING : Wanabaya Muda, kau mulai memeras untuk dibenarkan, untuk dapat anggukan.
Kau yang diasuh oleh Perdikan sejak pertama kali melihat matari, hatimu mulai terbelah hanya karena waranggana.
WANABAYA: Aku datang bukan untuk dituduh diselidiki.
Aku butuhkan anggukan, bukan gelengan.
Kalau gelengan aku dapatkan jangan sesali Ki Wanabaya Muda ini.
BARU KLINTING : Ingat kalian apa aku katakan tadi?
DEMANG PANDAK : Benar, seorang panglima yang tak dapat pimpin diri sendiri…
WANABAYA : Diam kau, Pandak, Wanabaya Muda tak butuhkan suaramu.
DEMANG PATALAN : Benar hatinya telah belah dua.
DEMANG JODOG : Menyesal aku telah biarkan dia bersuka…
BARU KLINTING : Lebih berat bagimu Adisaroh waranggana.
PANGERAN PURBAYA : Adisaroh adinda, mari tinggalkan rumah sengketa ini.
WANABAYA: Diam kalian rombongan wiyaga! Kalau tak mampu bantu Adisaroh dan aku, jangan melintang di tengah jalan Ki Wanabaya Muda.
BARU KLINTING : Melihat ini, bagimu Adisaroh waranggana sama bobot dalam timbangan dengan perang. Kalau bukan berhati belah, hatimu ti-dak satu lagi.
DEMANG PATALAN : Satu hati dengan satu kesenangan.
BARU KLINTING : (menuding Wanabaya) Bagi dia perang dan Adisaroh memang kesenangan.
WANABAYA : (melepaskan gandengan pada Putri Pambayun, menghadap Baru Klinting; tapi tak keluar suara dari mulutnya).
BARU KLINTING : Demang Pajangan, bawa Adisaroh dan rombongan ke belakang, biar kita selesaikan perkara Ki Wanabaya Muda ini.
DEMANG PAJANGAN : (mengiringkan).
PUTRI PAMBAYUN, TUMENGGUNG MANDARAKA, PANGERAN PURBAYA, TUMENGGUNG JAGARAGA, dan TUMENGGUNG PRINGGALAYA : (meninggalkan panggung).
BARU KLINTING : Memalukan – seorang panglima, karena kecantikan perawan telah relakan perpecahan.
Berapa banyak perawan cantik di atas bumi ini? Setiap kali kau tergila-gila seperti seekor ayam jantan, tahu sarang tapi tak kenal kandang.
WANABAYA : Telah kalian cemarkan kewibawaan Wa-nabaya Muda di hadapan orang luar. Kalian sendiri yang relakan perpecahan.
BARU KLINTING : Jawab keangkuhannya itu Patalan!
DEMANG PATALAN : Kau kira kewibawaan datang padamu dari leluhur dan dewa-dewa? Dia datang padamu berupa pinjaman dari Perdikan Mangir, desamu.
BARU KLINTING : Tanpa Mangir desamu kau juga selembar daun yang akan luruh di mana saja.
Jatuh di Mataram kau akan ikut perangi kami.
Kebetulan di Mangir kau perangi Mataram.
DEMANG PATALAN : Dia belum mengerti, kepanglimaan bisa batal dari dirinya. Tidak percuma orang tua-tua tak boleh diabaikan pengalamannya.
DEMANG PANDAK : Kalau kita benarkan tingkahnya, semua perjaka Mangir dan desa-desa tetangga akan tiru contohnya. Semua perawan akan tinggalkan desa, mengamen cari lelaki siapa saja.
DEMANG PAJANGAN : (masuk ke panggung) Telah kutempatkan mereka di gandok sana. Adisaroh dalam bilik dalam, rawatan nenek tua.
BARU KLINTING : Perang belum lagi selesai, kau beri semua tambahan kerja. Apakah itu patut untuk seorang panglima?
WANABAYA : Sudah kudengar semua suara keluar dari mulut kalian. Juga dalam perkara ini aku seorang panglima. Jangan dikira kalian bisa belokkan Wanabaya. Sekali Wanabaya Muda hendaki sesuatu, dia akan dapatkan untuk sampai selesai.
DEMANG PATALAN : Kau tak lagi pikirkan perang.
WANABAYA : Sudah kalian lupa apa kata Wanabaya ini? Hanya setelah Wanabaya rebah di tanah dia takkan bela Perdikan lagi? Lihat, Wanabaya masih tegak berdiri.
DEMANG PANDAK : Biasanya kau rendah-hati, sehari dengan Adisaroh, kau berubah jadi pongah, tekebur bermulut nyaring, berjantung kembung.
WANABAYA : Diam, kau yang di bawah perintahku di medan perang, tidak percuma Wanabaya disebut Ki Ageng Mangir Muda, tidak sia-sia Mangir angkat dia jadi tua Perdikan dan panglima.
DEMANG JODOG : Benar, dia sudah berubah, Patalan.
WANABAYA : Suaranya yang berubah, hati dalam dadanya tetap utuh seperti Laut Kidul.
BARU KLINTING : Suaranya berubah sesuai dengan hatinya.
WANABAYA : (bergerak ke arah jagang tombak).
DEMANG PAJANGAN : (mengambill mata tombak dari atas meja dan diselitkan pada tentang perutnya).
BARU KLINTING : Apa guna kau coba dekati jagang tombak? Hanya karena wanita hendak robohkan teman sebarisan? Tidakkah kau tahu, dengan jatuhnya semua temanmu kau akan diburu-buru Mataram seperti babi hutan?
DEMANG JODOG : Tenang kau, Wanabaya. Buka hatimu, biar semua selesai sebagaimana dikehendaki.
Memang perjaka berhak dapatkan perawan, tapi bukan cara berandalan macam itu, apa pula bagi seorang panglima. Bukankah aku tidak keliru, Klinting sang bijaksana.
BARU KLINTING : (bersilang tangan, menganggukangguk).
DEMANG PANDAK : Aku masih belum bisa terima, Ki Ageng Mangir Muda mengajak bertengkar di depan orang luar hanya untuk tunjukkan wibawa, di depan Adisaroh dan rombongannya.
BARU KLINTING : Karena mudanya dia ingin berlagak kuasa, memalukan seluruh Perdikan. Tiadakah kau merasa bersalah pada teman-temanmu sendiri, kau, Ki Ageng Mangir Muda. Wanabaya?
Semua – (datang melingkari Wanabaya).
BARU KLINTING : Jawab: apakah artinya Wanabaya tanpa Perdikan tanpa balatentara? Tanpa teman- temanmu sendiri, tanpa kewibawaan yang dipinjamkan?
WANABAYA: Di atas kuda dengan tombak di tangan, bisa pimpin balatentara, menang atas Mataram, Perdikan harus berikan segala kepadaku.
BARU KLINTING : Tuntut semua untukmu di tempat lain! Ludah akan kau dapatinya pada mukamu.
Kau boleh pergi dan coba sekarang juga.
WANABAYA : (menatap para tetua seorang demi seorang). Kalian hinakan Wanabaya Muda.
BARU KLINTING : Tanpa semua yang ada, kau, jawab sendiri. Kau, Wanabaya, apa kemudian arti dirimu?
WANABAYA : (membuang muka, merenung, bicara pada diri sendiri). Sekarang mereka pun dapat usir aku. Apakah kemudian aku jadi anggota waranggana? Berjual suara dari desa ke desa?
Dari panglima jadi tertawaan setiap muka?
Adisaroh pun boleh jadi tolak diriku pula?
BARU KLINTING : Jawab, kau, kepala angin! Kau anggap semua ini bayang-bayang semata?
WANABAYA : (berendah hati). Apakah Wanabaya tak berhak punya istri?
BARU KLINTING : Hanya untuk bertanya seperti itu lagakmu seperti dunia sudah milikmu sendiri.
Jawab, kalian, pertanyaan bocah ingusan ini.
DEMANG JODOG : Tak ada yang sangkal hak setiap perjaka.
DEMANG PAJANGAN : Aku pun tak rela Adisaroh jatuh tidak di tangan kau.
DEMANG PATALAN : Juga menjadi hakmu leburkan Mataram.
WANABAYA : Dengar kalian semua: terhadap Mataram sikap Wanabaya tak berkisar barang sejari. Izinkan aku kini memperistri Adisaroh.
Tanpa mendapatkannya aku rela kalian tumpas di sini juga. Jangan usir aku, terlepas dari Perdikan ini. Beri aku anggukan, Klinting, dan kalian para tetua, gegeduk rata Mangir yang perwira. (berlutut dengan tangan terkembang ke atas pada orang-orang di hadapannya). Aku lihat tujuh tombak berdiri di jagang sana. Tembuskanlah dalam diriku, bila anggukan tiada kudapat. Dunia jadi tak berarti tanpa Adisaroh dampingi hidup ini.
BARU KLINTING : Terlalu banyak kau bicara tentang Adisaroh. Kurang tentang Mangir dan Mataram.
Siapkan tombak-tombak! Lepaskan dari sarungnya.
Para demang – mengambil tombak dari jagang, mengepung Wanabaya dengan mata tombak diacukan padanya.
BARU KLINTING : Tombak-tombak ini akan tumpas kau, bila nyata kau punggungi leluhur, berbelah hati pada Perdikan, khianati teman-teman dan semua. Bicara kau!
WANABAYA: (menatap ujung tombak satu per satu, dan mereka seorang demi seorang). Dengarkan leluhur suara darahmu di atas bumi ini, darahmu sendiri yang masih berdebar dalam tubuhku, Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Darah ini tetap murni, ya leluhur di alam abadi, seperti yang lain-lain, lebih dari yang lain-lain dia sedia mati untuk desa yang dahulu kau buka sendiri, untuk semua yang setia, karena dalam hati ini hanya ada satu kesetiaan. Tombak-tombak biar tumpas diri, kalau tubuh ini tak layak didiami darahmu lagi.
DEMANG PATALAN : (melemparkan tombak ke dekat rana, menolong Wanabaya berdiri).
Katakan, Adisaroh takkan bikin kau ingkar pada Perdikan.
WANABAYA : Adisaroh takkan bikin Wanabaya ingkar pada Perdikan.
BARU KLINTING : Kau akan tetap melawan Mataram.
WANABAYA : Leluhur dan siapa saja yang dengar, inilah Wanabaya, akan tetap melawan Mataram.
DEMANG PATALAN : Membela semua kedemangan sahabat Mangir.
WANABAYA: Membela semua kedemangan sahabat Mangir.
DEMANG JODOG : Dengan atau tanpa Adisaroh kau tetap setiawan.
WANABAYA : Dengan atau tanpa Adisaroh Wanabaya tetap setiawan.
DEMANG PAJANGAN : Setiawan sampai mati.
WANABAYA : Setiawan sampai mati.
DEMANG PANDAK : Baru Klinting, bukankah patut sudah dia dapat anggukan? Tunjukan matamu pada Klinting, kau, Wanabaya.
BARU KLINTING: Lihatlah betapa semua temanmu ikut pikirkan kepentinganmu.
WANABAYA : Aku telah bersalah, Baru Klinting yang bijaksana!
BARU KLINTING : Lihatlah aku. (mengangguk perlahan- lahan). Para demang – (merangkul Wanabaya)
BARU KLINTING : Pergi kau dapatkan pengantimu.
WANABAYA: (ragu meninggalkan panggung dalam iringan mata semua yang ditinggalkan).
BARU KLINTING : Kita semua masih curiga siapa waranggana dan rombongannya. Kalau ada Suriwang, dia akan bilang: Ai-ai-ai memang tak bisa lain. Tanpa Wanabaya cerita akan mengambil suara lain. Dilarang dia pun akan berkembang lain. Pukul tengara, pertanda pesta panen boleh dibuka.
Sumber: Drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer
Multatuli
Eduard Douwes Dekker
Artikel ini adalah tentang penulis Belanda yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli. Untuk tokoh pergerakan nasional Indonesia E.F.E. Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama Danudirja Setiabudi, lihat Ernest Douwes Dekker.
Untuk kegunaan lain dari Douwes Dekker, lihat Douwes Dekker.
Eduard Douwes Dekker
Eduard Douwes Dekker - 001.jpg
Eduard Douwes Dekker
Lahir 2 Maret 1820
Bendera Belanda Amsterdam, Belanda
Meninggal 19 Februari 1887 (umur 66)
Bendera Jerman Ingelheim am Rhein, Jerman
Pekerjaan penulis, dramawan
Kebangsaan Bendera Belanda Belanda
Eduard Douwes Dekker, atau yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli (lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820 – meninggal di Ingelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari 1887 pada umur 66 tahun), adalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar (1860), novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia-Belanda.
Eduard memiliki saudara bernama Jan yang adalah kakek dari tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama Danudirja Setiabudi.
Masa kecil
Eduard dilahirkan di Amsterdam. Ayahnya adalah seorang kapten kapal yang cukup besar dengan penghasilan cukup sehingga keluarganya termasuk keluarga mapan dan berpendidikan.
Eduard kemudian disekolahkan di sekolah Latin yang nantinya bisa meneruskan jenjang pendidikan ke universitas. Pada awalnya Eduard menempuh pendidikan dengan lancar karena Eduard merupakan murid yang berprestasi dan cukup pandai. Namun lama kelamaan Eduard merasa bosan sehingga prestasinya merosot. Hal ini membuat ayahnya langsung mengeluarkannya dari sekolah dan ia ditempatkan di sebuah kantor dagang.
Menjadi pegawai kecil
Bagi Eduard, penempatannya di sebuah kantor dagang membuatnya merasa dijauhkan dari pergaulan dengan kawan-kawannya sesama keluarga berkecukupan; ia bahkan ditempatkan di posisi yang dianggapnya hina sebagai pembantu di sebuah kantor kecil perusahaan tekstil. Di sanalah dirinya merasa bagaimana menjadi seorang miskin dan berada di kalangan bawah masyarakat. Pekerjaan ini dilakukannya selama empat tahun dan meninggalkan kesan yang tidak dilupakannya selama hidupnya. "Dari hidup di kalangan yang memiliki pengaruh kemudian hidup di kalangan bawah masyarakat membuatnya mengetahui bahwa banyak kalangan masyarakat yang tidak memiliki pengaruh dan perlindungan apa-apa", seperti yang diucapkan Paul van 't Veer dalam biografi Multatuli.
Ke Hindia Belanda
Ketika ayahnya pulang dari perjalanannya, dilihatnya perubahan kehidupan dan keadaan dalam diri Eduard. Hal ini melahirkan niat pada diri ayahnya untuk membawanya dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu, di Hindia Belanda terdapat kesempatan untuk mencari kekayaan dan jabatan, juga bagi kalangan orang-orang Belanda yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah. Karena itu, pada tahun 1838 Eduard pergi ke pulau Jawa dan pada 1839 tiba di Batavia sebagai seorang kelasi yang belum berpengalaman di kapal ayahnya. Dengan bantuan dari relasi-relasi ayahnya, tidak berapa lama Eduard memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri (ambtenaar) di kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian dia melamar pekerjaan sebagai ambtenaar pamong praja di Sumatera Barat dan oleh Gubernur Jendral Andreas Victor Michiels ia dikirim ke kota Natal yang saat itu terpencil sebagai seorang kontrolir.
Diberhentikan
Kehidupan di kota yang terpencil tersebut, bagi Eduard justru lebih menyenangkan. Sebagai ambtenaar pemerintahan sipil yang cukup tinggi di sana, ditambah usianya yang masih cukup muda, ia merasa memiliki kekuasaan yang tinggi. Dalam jabatannya ia mengemban tugas pemerintahan dan pengadilan, dan juga memiliki tugas keuangan dan administrasi. Namun ternyata ia tidak menyukai tugas-tugasnya sehingga kemudian ia meninggalkannya. Atasannya yang kemudian mengadakan pemeriksaan, menemukan kerugian yang besar dalam kas pemerintahannya.
Karena sikapnya yang mengabaikan peringatan-peringatan dari atasannya, serta adanya kerugian kas pemerintahan Eduard pun diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Gubernur Sumatera Barat Jendral Michiels. Setahun lamanya ia tinggal di Padang tanpa penghasilan apa-apa. Baru pada September 1844 ia mendapatkan izin untuk pulang ke Batavia. Di sana ia direhabilitasi oleh pemerintah dan mendapatkan "uang tunggu".
Menikah
Sambil menunggu penempatan tugas, Eduard menjalin asmara dengan Everdine van Wijnbergen, gadis turunan bangsawan yang jatuh miskin. Pada bulan April 1846, Eduard yang saat itu telah menjabat sebagai ambtenaar sementara di kantor asisten residen Purwakarta, menikah dengan Everdine.
Bekerja kembali
Belajar dari pengalamannya yang buruk saat bertugas sebelumnya di Natal, Eduard bekerja cukup baik sebagai ambtenaar pemerintah sehingga pada 1846 ia diangkat menjadi pegawai tetap. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi komis di kantor residen Purworejo. Prestasinya membuatnya diangkat oleh residen Johan George Otto Stuart von Schmidt auf Altenstadt menjadi sekretaris residen menggantikan pejabat sebelumnya. Namun karena Eduard tidak memiliki diploma sebagai syarat ditempatkannya sebagai pejabat tinggi pemerintahan, Eduard tidak mendapatkan kenaikan pangkat yang sesungguhnya. Namun Gubernur Jenderal dapat memberikan pengakuan diploma dalam hal-hal yang dianggap istimewa dengan syarat mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Eduard mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal dan akhirnya berhasil memperolehnya karena prestasi kerjanya. Keputusan ini diterima dari atasannya, Residen Purworejo. Kegagalan saat bertugas di Natal dianggap sebagai kesalahan pegawai muda yang dapat dimaafkan.
Dalam perjalanan karier selanjutnya, Eduard diangkat menjadi sekretaris residen di Manado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karier terbaiknya. Eduard merasa cocok dengan residen Scherius yang menjadi atasannya sehingga ia mendapat perhatian para pejabat di Bogor di antaranya karena pendapatnya yang progresif mengenai rancangan peraturan guna perubahan dalam sistem hukum kolonial. Karirnya meningkat menjadi asisten residen, yang merupakan karier nomor dua paling tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda. Eduard menerima jabatan ini dan ditugasi di Ambon pada Februari 1851.
Benturan dengan Gubernur
Namun, meskipun telah mendapatkan jabatan yang cukup tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda, Eduard merasa tidak cocok dengan Gubernur Maluku yang memiliki kekuasaan tersendiri sehingga membuat ambtenaar-ambtenaar bawahannya tidak dapat menunjukkan inisiatifnya. Eduard akhirnya mengajukan cuti dengan alasan kesehatan sehingga mendapatkan izin cuti ke negeri Belanda. Dan pada hari Natal 1852, dia bersama istrinya tiba di pelabuhan Hellevoetsluis dekat Rotterdam.
Pindah ke Lebak
Selama cuti di Belanda, Eduard ternyata tidak dapat mengatur keuangannya dengan baik; hutang menumpuk di sana-sini bahkan ia sering mengalami kekalahan di meja judi. Meskipun telah mengajukan perpanjangan cuti di Belanda, dia dan istrinya akhirnya kembali ke Batavia pada tanggal 10 September 1855. Tidak lama kemudian, Eduard diangkat menjadi asisten residen Lebak di sebelah selatan karesidenan Banten yang bertempat di Rangkasbitung pada Januari 1856. Eduard melaksanakan tugasnya dengan cukup baik dan bertanggung jawab. Namun ternyata, dia menjumpai keadaan di Lebak yang sesungguhnya sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita-berita yang didapatnya.
Pemerasan di Lebak
Bupati Lebak yang pada saat itu menurut sistem kolonial Hindia Belanda diangkat menjadi kepala pemerintahan bumiputra dengan sistem hak waris telah memegang kekuasaan selama 30 tahun, ternyata dalam keadaaan kesulitan keuangan yang cukup parah lantaran pengeluaran rumah tangganya lebih besar dari penghasilan yang diperoleh dari jabatannya. Dengan demikian, bupati Lebak hanya bisa mengandalkan pemasukan dari kerja rodi yang diwajibkan kepada penduduk distriknya berdasarkan kebiasaan.
Edwuard Douwes Dekker menemukan fakta bahwa kerja rodi yang dibebankan pada rakyat distrik telah melampaui batas bahkan menjumpai praktik-praktik pemerasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepada rakyatnya. Kalaupun membelinya, itupun dengan harga yang terlalu murah.
Belum saja satu bulan Eduard Douwes Dekker ditempatkan di Lebak, dia menulis surat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen dengan penuh emosi atas kejadian-kejadian di wilayahnya. Eduard meminta agar bupati dan putra-putranya ditahan serta situasi yang tidak beres tersebut diselidiki. Dengan adanya desakan dari Eduard tersebut, timbullah desas-desus bahwa pejabat sebelumnya yang digantikannya meninggal karena diracun. Hal ini membuat Eduard merasa dirinya dan keluarganya terancam. Sebab lainnya adalah adanya berita kunjungan bupati Cianjur ke Lebak, yang ternyata masih keponakan bupati Lebak, yang kemudian membuat Eduard mengambil kesimpulan akan menimbulkan banyak pemerasan kepada rakyat.
Atasannya, Brest van Kempen sangat terkejut dengan berita yang dikirimkan Eduard sehingga mengadakan pemeriksaan di tempat, namun menolak permintaan Eduard. Dengan demikian Eduard meminta agar perkara tersebut diteruskan kepada Gubernur Jendral A.J. Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Namun, meskipun maksudnya terlaksana, Eduard justru mendapatkan peringatan yang cukup keras. Karena kecewa, Eduard mengajukan permintaan pengunduran diri dan permohonannya dikabulkan oleh atasannya.
Kembali ke Eropa
Sekali lagi, Eduard kehilangan pekerjaan akibat bentrok dengan atasannya. Usahanya untuk mencari pekerjaan yang lain menemui kegagalan. Bahkan saudaranya yang sukses berbisnis tembakau malah meminjamkan uang untuk pulang ke Eropa untuk bekerja di sana. Istri dan anaknya sementara ditinggalkan di Batavia.
Di Eropa, Eduard bekerja sebagai redaktur sebuah surat kabar di Brusel, Belgia namun tidak lama kemudian dia keluar. Kemudian usahanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai juru bahasa di Konsulat Perancis di Nagasaki juga menemui kegagalan. Usahanya untuk menjadi kaya di meja judi justru membuatnya menjadi semakin melarat.
Mulai menulis
Sampul cetakan pertama Max Havelaar tahun 1860.
Namun cita-cita Eduard yang lain, yaitu menjadi pengarang, berhasil diwujudkannya. Ketika kembali dari Hindia Belanda, dia membawa berbagai manuskrip di antaranya sebuah tulisan naskah sandiwara dan salinan surat-surat ketika dia menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Pada bulan September 1859, ketika istrinya didesak untuk mengajukan cerai, Eduard mengurung diri di sebuah kamar hotel di Brussel dan menulis buku Max Havelaar yang kemudian menjadi terkenal.
Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1860 dalam versi yang diedit oleh penerbit tanpa sepengetahuannya namun tetap menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat khususnya di kawasan negerinya sendiri. Pada tahun 1875, terbit kembali dengan teks hasil revisinya. Namanya sebagai pengarang telah mendapatkan pengakuan, yang berarti lambat laun Eduard dapat mengharapkan penghasilan dari penerbitan karyanya.
Ketika menerbitkan novel Max Havelaar, ia menggunakan nama samaran 'Multatuli'. Nama ini berasal dari bahasa Latin dan berarti "'Aku sudah menderita cukup banyak'" atau "'Aku sudah banyak menderita'"; di sini, aku dapat berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau rakyat yang terjajah. Setelah buku ini terjual di seluruh Eropa, terbukalah semua kenyataan kelam di Hindia Belanda, walaupun beberapa kalangan menyebut penggambaran Dekker sebagai berlebih-lebihan.
Antara tahun 1862 dan 1877, Eduard menerbitkan Ideën (Gagasan-gagasan) yang isinya berupa kumpulan uraian pendapat-pendapatnya mengenai politik, etika dan filsafat, karangan-karangan satir dan impian-impiannya. Sandiwara yang ditulisnya, di antaranya Vorstenschool (Sekolah para Raja), dipentaskan dengan sukses.
Walaupun kualitas literatur Multatuli diperdebatkan, ia disukai oleh Carel Vosmaer, penyair terkenal Belanda. Ia terus menulis dan menerbitkan buku-buku berjudul Ideen yang terdiri dari tujuh bagian antara tahun 1862 dan 1877, dan juga mengandung novelnya Woutertje Pieterse serta Minnebrieven pada tahun 1861 yang walaupun judulnya tampak tidak berbahaya, isinya adalah satir keras.
Akhir hayat
Akhirnya Eduard Douwes Dekker merasa bosan tinggal di Belanda. Pada akhir hayatnya, dia tinggal di Jerman bersama seorang anak Jerman yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Eduard Douwes Dekker tinggal di Wiesbaden, Jerman, di mana ia mencoba untuk menulis naskah drama. Salah satu dramanya, Vorstenschool (diterbitkan di 1875 dalam volume Ideën keempat) menyatakan sikapnya yang tidak berpegang pada satu aliran politik, masyarakat atau agama. Selama dua belas tahun akhir hidupnya, Eduard tidaklah mengarang melainkan hanya menulis berbagai surat-surat.
Eduard Douwes Dekker kemudian pindah ke Ingelheim am Rhein dekat Sungai Rhein sampai akhirnya meninggal 19 Februari 1887.
Pengaruh dalam sastra Hindia Belanda dan Indonesia
Multatuli telah mengilhami bukan saja karya sastra di Indonesia, misalnya kelompok Angkatan Pujangga Baru, namun ia telah menggubah semangat kebangsaan di Indonesia. Semangat kebangsaan ini bukan saja pemberontakan terhadap sistem kolonialisme dan eksploitasi ekonomi Hindia Belanda (misal tanam paksa) melainkan juga kepada adat, kekuasaan dan feodalisme yang tak ada habisnya menghisap rakyat jelata. Bila Multatuli dalam Max Havelaar dapat dikatakan telah mempersonifikasikan dirinya sebagai Max yang idealis dan akhirnya frustrasi, Muhammad Yamin lebih berfokus pada si kaum terjajah, misalnya dalam puisinya yang berjudul Hikajat Saidjah dan Adinda Dalam sisi filosofis frustrasi yang dihadapi Max serta Saidjah dan Adinda adalah sama pada hakekatnya; keduanya putus asa dan terbelenggu dalam rantai sistem yang hanya bisa terputuskan melalui revolusi.
Dalam budaya populer
Max Havelaar ISBN 0-14-044516-1 – buku ini telah diangkat menjadi film tahun 1988 dengan judul yang sama, disutradarai oleh Alphonse Marie Rademaker dan melibatkan beberapa artis Indonesia, misalnya Rima Melati. Film ini tidak populer di Indonesia, bahkan sempat dilarang beredar oleh pemerintahan Orde Baru setelah beberapa saat diputar di gedung bioskop.
Karya-karyanya
1843 - De eerloze (naskah drama, kemudian diterbitkan sebagai De bruid daarboven (1864))
1859 - Geloofsbelydenis (diterbitkan dalam jurnal pemikir bebas De Dageraad)
1860 - Indrukken van den dag
1860 - Max Havelaar of de koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy
1860 - Brief aan Ds. W. Francken z.
1860 - Brief aan den Gouverneur-Generaal in ruste
1860 - Aan de stemgerechtigden in het kiesdistrikt Tiel
1860 - Max Havelaar aan Multatuli
1861 - Het gebed van den onwetende
1861 - Wys my de plaats waar ik gezaaid heb
1861 - Minnebrieven
1862 - Over vrijen arbeid in Nederlandsch Indië en de tegenwoordige koloniale agitatie (brochure)
1862 - Brief aan Quintillianus
1862 - Ideën I (terdapat pula yang berupa novel De geschiedenis van Woutertje Pieterse)
1862 - Japansche gesprekken
1863 - De school des levens
1864-1865 - Ideën II
1864 - De bruid daarboven. Tooneelspel in vijf bedrijven (naskah drama)
1865 - De zegen Gods door Waterloo
1865 - Franse rymen
1865 - Herdrukken
1865 - Verspreide stukken (diambil dari Herdrukken)
1866-1869 - Mainzer Beobachter
1867 - Een en ander naar aanleiding van Bosscha's Pruisen en Nederland
1869-1870 - Causerieën
1869 - De maatschappij tot Nut van den Javaan
1870-1871 - Ideën III
1870-1873 - Millioenen-studiën
1870 - Divagatiën over zeker soort van Liberalismus
1870 - Nog eens: Vrye arbeid in Nederlandsch Indië
1871 - Duizend en eenige hoofdstukken over specialiteiten (esai satir)
1872 - Brief aan den koning
1872 - Ideën IV (terdapat pula dalam naskah drama Vorstenschool)
1873 - Ideën V
1873 - Ideën VI
1874-1877 - Ideën VII
1887 - Onafgewerkte blaadjes
1891 - Aleid. Twee fragmenten uit een onafgewerkt blyspel (naskah drama)
1987 - Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappy (editor Willem Frederik Hermans)
Artikel ini adalah tentang penulis Belanda yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli. Untuk tokoh pergerakan nasional Indonesia E.F.E. Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama Danudirja Setiabudi, lihat Ernest Douwes Dekker.
Untuk kegunaan lain dari Douwes Dekker, lihat Douwes Dekker.
Eduard Douwes Dekker
Eduard Douwes Dekker - 001.jpg
Eduard Douwes Dekker
Lahir 2 Maret 1820
Bendera Belanda Amsterdam, Belanda
Meninggal 19 Februari 1887 (umur 66)
Bendera Jerman Ingelheim am Rhein, Jerman
Pekerjaan penulis, dramawan
Kebangsaan Bendera Belanda Belanda
Eduard Douwes Dekker, atau yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli (lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820 – meninggal di Ingelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari 1887 pada umur 66 tahun), adalah penulis Belanda yang terkenal dengan Max Havelaar (1860), novel satirisnya yang berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia-Belanda.
Eduard memiliki saudara bernama Jan yang adalah kakek dari tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Ernest Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama Danudirja Setiabudi.
Masa kecil
Eduard dilahirkan di Amsterdam. Ayahnya adalah seorang kapten kapal yang cukup besar dengan penghasilan cukup sehingga keluarganya termasuk keluarga mapan dan berpendidikan.
Eduard kemudian disekolahkan di sekolah Latin yang nantinya bisa meneruskan jenjang pendidikan ke universitas. Pada awalnya Eduard menempuh pendidikan dengan lancar karena Eduard merupakan murid yang berprestasi dan cukup pandai. Namun lama kelamaan Eduard merasa bosan sehingga prestasinya merosot. Hal ini membuat ayahnya langsung mengeluarkannya dari sekolah dan ia ditempatkan di sebuah kantor dagang.
Menjadi pegawai kecil
Bagi Eduard, penempatannya di sebuah kantor dagang membuatnya merasa dijauhkan dari pergaulan dengan kawan-kawannya sesama keluarga berkecukupan; ia bahkan ditempatkan di posisi yang dianggapnya hina sebagai pembantu di sebuah kantor kecil perusahaan tekstil. Di sanalah dirinya merasa bagaimana menjadi seorang miskin dan berada di kalangan bawah masyarakat. Pekerjaan ini dilakukannya selama empat tahun dan meninggalkan kesan yang tidak dilupakannya selama hidupnya. "Dari hidup di kalangan yang memiliki pengaruh kemudian hidup di kalangan bawah masyarakat membuatnya mengetahui bahwa banyak kalangan masyarakat yang tidak memiliki pengaruh dan perlindungan apa-apa", seperti yang diucapkan Paul van 't Veer dalam biografi Multatuli.
Ke Hindia Belanda
Ketika ayahnya pulang dari perjalanannya, dilihatnya perubahan kehidupan dan keadaan dalam diri Eduard. Hal ini melahirkan niat pada diri ayahnya untuk membawanya dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu, di Hindia Belanda terdapat kesempatan untuk mencari kekayaan dan jabatan, juga bagi kalangan orang-orang Belanda yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah. Karena itu, pada tahun 1838 Eduard pergi ke pulau Jawa dan pada 1839 tiba di Batavia sebagai seorang kelasi yang belum berpengalaman di kapal ayahnya. Dengan bantuan dari relasi-relasi ayahnya, tidak berapa lama Eduard memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri (ambtenaar) di kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian dia melamar pekerjaan sebagai ambtenaar pamong praja di Sumatera Barat dan oleh Gubernur Jendral Andreas Victor Michiels ia dikirim ke kota Natal yang saat itu terpencil sebagai seorang kontrolir.
Diberhentikan
Kehidupan di kota yang terpencil tersebut, bagi Eduard justru lebih menyenangkan. Sebagai ambtenaar pemerintahan sipil yang cukup tinggi di sana, ditambah usianya yang masih cukup muda, ia merasa memiliki kekuasaan yang tinggi. Dalam jabatannya ia mengemban tugas pemerintahan dan pengadilan, dan juga memiliki tugas keuangan dan administrasi. Namun ternyata ia tidak menyukai tugas-tugasnya sehingga kemudian ia meninggalkannya. Atasannya yang kemudian mengadakan pemeriksaan, menemukan kerugian yang besar dalam kas pemerintahannya.
Karena sikapnya yang mengabaikan peringatan-peringatan dari atasannya, serta adanya kerugian kas pemerintahan Eduard pun diberhentikan sementara dari jabatannya oleh Gubernur Sumatera Barat Jendral Michiels. Setahun lamanya ia tinggal di Padang tanpa penghasilan apa-apa. Baru pada September 1844 ia mendapatkan izin untuk pulang ke Batavia. Di sana ia direhabilitasi oleh pemerintah dan mendapatkan "uang tunggu".
Menikah
Sambil menunggu penempatan tugas, Eduard menjalin asmara dengan Everdine van Wijnbergen, gadis turunan bangsawan yang jatuh miskin. Pada bulan April 1846, Eduard yang saat itu telah menjabat sebagai ambtenaar sementara di kantor asisten residen Purwakarta, menikah dengan Everdine.
Bekerja kembali
Belajar dari pengalamannya yang buruk saat bertugas sebelumnya di Natal, Eduard bekerja cukup baik sebagai ambtenaar pemerintah sehingga pada 1846 ia diangkat menjadi pegawai tetap. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi komis di kantor residen Purworejo. Prestasinya membuatnya diangkat oleh residen Johan George Otto Stuart von Schmidt auf Altenstadt menjadi sekretaris residen menggantikan pejabat sebelumnya. Namun karena Eduard tidak memiliki diploma sebagai syarat ditempatkannya sebagai pejabat tinggi pemerintahan, Eduard tidak mendapatkan kenaikan pangkat yang sesungguhnya. Namun Gubernur Jenderal dapat memberikan pengakuan diploma dalam hal-hal yang dianggap istimewa dengan syarat mampu melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Eduard mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal dan akhirnya berhasil memperolehnya karena prestasi kerjanya. Keputusan ini diterima dari atasannya, Residen Purworejo. Kegagalan saat bertugas di Natal dianggap sebagai kesalahan pegawai muda yang dapat dimaafkan.
Dalam perjalanan karier selanjutnya, Eduard diangkat menjadi sekretaris residen di Manado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karier terbaiknya. Eduard merasa cocok dengan residen Scherius yang menjadi atasannya sehingga ia mendapat perhatian para pejabat di Bogor di antaranya karena pendapatnya yang progresif mengenai rancangan peraturan guna perubahan dalam sistem hukum kolonial. Karirnya meningkat menjadi asisten residen, yang merupakan karier nomor dua paling tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda. Eduard menerima jabatan ini dan ditugasi di Ambon pada Februari 1851.
Benturan dengan Gubernur
Namun, meskipun telah mendapatkan jabatan yang cukup tinggi di kalangan ambtenaar Hindia Belanda, Eduard merasa tidak cocok dengan Gubernur Maluku yang memiliki kekuasaan tersendiri sehingga membuat ambtenaar-ambtenaar bawahannya tidak dapat menunjukkan inisiatifnya. Eduard akhirnya mengajukan cuti dengan alasan kesehatan sehingga mendapatkan izin cuti ke negeri Belanda. Dan pada hari Natal 1852, dia bersama istrinya tiba di pelabuhan Hellevoetsluis dekat Rotterdam.
Pindah ke Lebak
Selama cuti di Belanda, Eduard ternyata tidak dapat mengatur keuangannya dengan baik; hutang menumpuk di sana-sini bahkan ia sering mengalami kekalahan di meja judi. Meskipun telah mengajukan perpanjangan cuti di Belanda, dia dan istrinya akhirnya kembali ke Batavia pada tanggal 10 September 1855. Tidak lama kemudian, Eduard diangkat menjadi asisten residen Lebak di sebelah selatan karesidenan Banten yang bertempat di Rangkasbitung pada Januari 1856. Eduard melaksanakan tugasnya dengan cukup baik dan bertanggung jawab. Namun ternyata, dia menjumpai keadaan di Lebak yang sesungguhnya sangat buruk bahkan lebih buruk daripada berita-berita yang didapatnya.
Pemerasan di Lebak
Bupati Lebak yang pada saat itu menurut sistem kolonial Hindia Belanda diangkat menjadi kepala pemerintahan bumiputra dengan sistem hak waris telah memegang kekuasaan selama 30 tahun, ternyata dalam keadaaan kesulitan keuangan yang cukup parah lantaran pengeluaran rumah tangganya lebih besar dari penghasilan yang diperoleh dari jabatannya. Dengan demikian, bupati Lebak hanya bisa mengandalkan pemasukan dari kerja rodi yang diwajibkan kepada penduduk distriknya berdasarkan kebiasaan.
Edwuard Douwes Dekker menemukan fakta bahwa kerja rodi yang dibebankan pada rakyat distrik telah melampaui batas bahkan menjumpai praktik-praktik pemerasan yang dilakukan oleh Bupati Lebak dan para pejabatnya dengan meminta hasil bumi dan ternak kepada rakyatnya. Kalaupun membelinya, itupun dengan harga yang terlalu murah.
Belum saja satu bulan Eduard Douwes Dekker ditempatkan di Lebak, dia menulis surat kepada atasannya, residen C.P. Brest van Kempen dengan penuh emosi atas kejadian-kejadian di wilayahnya. Eduard meminta agar bupati dan putra-putranya ditahan serta situasi yang tidak beres tersebut diselidiki. Dengan adanya desakan dari Eduard tersebut, timbullah desas-desus bahwa pejabat sebelumnya yang digantikannya meninggal karena diracun. Hal ini membuat Eduard merasa dirinya dan keluarganya terancam. Sebab lainnya adalah adanya berita kunjungan bupati Cianjur ke Lebak, yang ternyata masih keponakan bupati Lebak, yang kemudian membuat Eduard mengambil kesimpulan akan menimbulkan banyak pemerasan kepada rakyat.
Atasannya, Brest van Kempen sangat terkejut dengan berita yang dikirimkan Eduard sehingga mengadakan pemeriksaan di tempat, namun menolak permintaan Eduard. Dengan demikian Eduard meminta agar perkara tersebut diteruskan kepada Gubernur Jendral A.J. Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Namun, meskipun maksudnya terlaksana, Eduard justru mendapatkan peringatan yang cukup keras. Karena kecewa, Eduard mengajukan permintaan pengunduran diri dan permohonannya dikabulkan oleh atasannya.
Kembali ke Eropa
Sekali lagi, Eduard kehilangan pekerjaan akibat bentrok dengan atasannya. Usahanya untuk mencari pekerjaan yang lain menemui kegagalan. Bahkan saudaranya yang sukses berbisnis tembakau malah meminjamkan uang untuk pulang ke Eropa untuk bekerja di sana. Istri dan anaknya sementara ditinggalkan di Batavia.
Di Eropa, Eduard bekerja sebagai redaktur sebuah surat kabar di Brusel, Belgia namun tidak lama kemudian dia keluar. Kemudian usahanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai juru bahasa di Konsulat Perancis di Nagasaki juga menemui kegagalan. Usahanya untuk menjadi kaya di meja judi justru membuatnya menjadi semakin melarat.
Mulai menulis
Sampul cetakan pertama Max Havelaar tahun 1860.
Namun cita-cita Eduard yang lain, yaitu menjadi pengarang, berhasil diwujudkannya. Ketika kembali dari Hindia Belanda, dia membawa berbagai manuskrip di antaranya sebuah tulisan naskah sandiwara dan salinan surat-surat ketika dia menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Pada bulan September 1859, ketika istrinya didesak untuk mengajukan cerai, Eduard mengurung diri di sebuah kamar hotel di Brussel dan menulis buku Max Havelaar yang kemudian menjadi terkenal.
Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1860 dalam versi yang diedit oleh penerbit tanpa sepengetahuannya namun tetap menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat khususnya di kawasan negerinya sendiri. Pada tahun 1875, terbit kembali dengan teks hasil revisinya. Namanya sebagai pengarang telah mendapatkan pengakuan, yang berarti lambat laun Eduard dapat mengharapkan penghasilan dari penerbitan karyanya.
Ketika menerbitkan novel Max Havelaar, ia menggunakan nama samaran 'Multatuli'. Nama ini berasal dari bahasa Latin dan berarti "'Aku sudah menderita cukup banyak'" atau "'Aku sudah banyak menderita'"; di sini, aku dapat berarti Eduard Douwes Dekker sendiri atau rakyat yang terjajah. Setelah buku ini terjual di seluruh Eropa, terbukalah semua kenyataan kelam di Hindia Belanda, walaupun beberapa kalangan menyebut penggambaran Dekker sebagai berlebih-lebihan.
Antara tahun 1862 dan 1877, Eduard menerbitkan Ideën (Gagasan-gagasan) yang isinya berupa kumpulan uraian pendapat-pendapatnya mengenai politik, etika dan filsafat, karangan-karangan satir dan impian-impiannya. Sandiwara yang ditulisnya, di antaranya Vorstenschool (Sekolah para Raja), dipentaskan dengan sukses.
Walaupun kualitas literatur Multatuli diperdebatkan, ia disukai oleh Carel Vosmaer, penyair terkenal Belanda. Ia terus menulis dan menerbitkan buku-buku berjudul Ideen yang terdiri dari tujuh bagian antara tahun 1862 dan 1877, dan juga mengandung novelnya Woutertje Pieterse serta Minnebrieven pada tahun 1861 yang walaupun judulnya tampak tidak berbahaya, isinya adalah satir keras.
Akhir hayat
Akhirnya Eduard Douwes Dekker merasa bosan tinggal di Belanda. Pada akhir hayatnya, dia tinggal di Jerman bersama seorang anak Jerman yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Eduard Douwes Dekker tinggal di Wiesbaden, Jerman, di mana ia mencoba untuk menulis naskah drama. Salah satu dramanya, Vorstenschool (diterbitkan di 1875 dalam volume Ideën keempat) menyatakan sikapnya yang tidak berpegang pada satu aliran politik, masyarakat atau agama. Selama dua belas tahun akhir hidupnya, Eduard tidaklah mengarang melainkan hanya menulis berbagai surat-surat.
Eduard Douwes Dekker kemudian pindah ke Ingelheim am Rhein dekat Sungai Rhein sampai akhirnya meninggal 19 Februari 1887.
Pengaruh dalam sastra Hindia Belanda dan Indonesia
Multatuli telah mengilhami bukan saja karya sastra di Indonesia, misalnya kelompok Angkatan Pujangga Baru, namun ia telah menggubah semangat kebangsaan di Indonesia. Semangat kebangsaan ini bukan saja pemberontakan terhadap sistem kolonialisme dan eksploitasi ekonomi Hindia Belanda (misal tanam paksa) melainkan juga kepada adat, kekuasaan dan feodalisme yang tak ada habisnya menghisap rakyat jelata. Bila Multatuli dalam Max Havelaar dapat dikatakan telah mempersonifikasikan dirinya sebagai Max yang idealis dan akhirnya frustrasi, Muhammad Yamin lebih berfokus pada si kaum terjajah, misalnya dalam puisinya yang berjudul Hikajat Saidjah dan Adinda Dalam sisi filosofis frustrasi yang dihadapi Max serta Saidjah dan Adinda adalah sama pada hakekatnya; keduanya putus asa dan terbelenggu dalam rantai sistem yang hanya bisa terputuskan melalui revolusi.
Dalam budaya populer
Max Havelaar ISBN 0-14-044516-1 – buku ini telah diangkat menjadi film tahun 1988 dengan judul yang sama, disutradarai oleh Alphonse Marie Rademaker dan melibatkan beberapa artis Indonesia, misalnya Rima Melati. Film ini tidak populer di Indonesia, bahkan sempat dilarang beredar oleh pemerintahan Orde Baru setelah beberapa saat diputar di gedung bioskop.
Karya-karyanya
1843 - De eerloze (naskah drama, kemudian diterbitkan sebagai De bruid daarboven (1864))
1859 - Geloofsbelydenis (diterbitkan dalam jurnal pemikir bebas De Dageraad)
1860 - Indrukken van den dag
1860 - Max Havelaar of de koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy
1860 - Brief aan Ds. W. Francken z.
1860 - Brief aan den Gouverneur-Generaal in ruste
1860 - Aan de stemgerechtigden in het kiesdistrikt Tiel
1860 - Max Havelaar aan Multatuli
1861 - Het gebed van den onwetende
1861 - Wys my de plaats waar ik gezaaid heb
1861 - Minnebrieven
1862 - Over vrijen arbeid in Nederlandsch Indië en de tegenwoordige koloniale agitatie (brochure)
1862 - Brief aan Quintillianus
1862 - Ideën I (terdapat pula yang berupa novel De geschiedenis van Woutertje Pieterse)
1862 - Japansche gesprekken
1863 - De school des levens
1864-1865 - Ideën II
1864 - De bruid daarboven. Tooneelspel in vijf bedrijven (naskah drama)
1865 - De zegen Gods door Waterloo
1865 - Franse rymen
1865 - Herdrukken
1865 - Verspreide stukken (diambil dari Herdrukken)
1866-1869 - Mainzer Beobachter
1867 - Een en ander naar aanleiding van Bosscha's Pruisen en Nederland
1869-1870 - Causerieën
1869 - De maatschappij tot Nut van den Javaan
1870-1871 - Ideën III
1870-1873 - Millioenen-studiën
1870 - Divagatiën over zeker soort van Liberalismus
1870 - Nog eens: Vrye arbeid in Nederlandsch Indië
1871 - Duizend en eenige hoofdstukken over specialiteiten (esai satir)
1872 - Brief aan den koning
1872 - Ideën IV (terdapat pula dalam naskah drama Vorstenschool)
1873 - Ideën V
1873 - Ideën VI
1874-1877 - Ideën VII
1887 - Onafgewerkte blaadjes
1891 - Aleid. Twee fragmenten uit een onafgewerkt blyspel (naskah drama)
1987 - Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappy (editor Willem Frederik Hermans)
A.S. Dharta
A.S. Dharta
Adi Sidharta atau A.S. Dharta (lahir di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 7 Maret 1924 – meninggal di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 7 Februari 2007 pada umur 82 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia memiliki banyak nama pena, antara lain Klara Akustia, Kelana Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan masih banyak lagi.
Perjuangan
Jiwanya bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Dan makin dimatangkan di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Di masa revolusi, dia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain. Di Menteng 31 inilah dia mulai mengenal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan juga seniman-seniman.
Dia pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogyakarta. Dia memimpin serikat buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu dimatangkan lewat International Union of Students (IUS), World Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang membuatnya berkeliling ke sejumlah negara bekas-bekas kolonialisme.
Bersama M.S. Azhar dan Njoto, A.S. Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950 dan menjadi sekretaris jenderal (Sekjen) pertamanya.
A.S. Dharta masuk penjara di Kebonwaru, Bandung tahun 1965-1978.
Puisi, esai, kritik sastra, dan catatan perjalanannya tercecer di sejumlah media dalam dan luar negeri, serta masuk dalam antologi bersama.
Dia juga berkolaborasi dengan Amir Pasaribu, yang tahun 2006 menerima penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu "Irama Mei".
Karya
Saidjah dan Adinda (naskah drama, adaptasi novel karya Multatuli yang diterjemahkan oleh Bakri Siregar)
Rangsang Detik (kumpulan sajak, 1957)
Adi Sidharta atau A.S. Dharta (lahir di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 7 Maret 1924 – meninggal di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, 7 Februari 2007 pada umur 82 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia memiliki banyak nama pena, antara lain Klara Akustia, Kelana Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan masih banyak lagi.
Perjuangan
Jiwanya bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Dan makin dimatangkan di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Di masa revolusi, dia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain. Di Menteng 31 inilah dia mulai mengenal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan juga seniman-seniman.
Dia pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogyakarta. Dia memimpin serikat buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu dimatangkan lewat International Union of Students (IUS), World Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang membuatnya berkeliling ke sejumlah negara bekas-bekas kolonialisme.
Bersama M.S. Azhar dan Njoto, A.S. Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950 dan menjadi sekretaris jenderal (Sekjen) pertamanya.
A.S. Dharta masuk penjara di Kebonwaru, Bandung tahun 1965-1978.
Puisi, esai, kritik sastra, dan catatan perjalanannya tercecer di sejumlah media dalam dan luar negeri, serta masuk dalam antologi bersama.
Dia juga berkolaborasi dengan Amir Pasaribu, yang tahun 2006 menerima penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu "Irama Mei".
Karya
Saidjah dan Adinda (naskah drama, adaptasi novel karya Multatuli yang diterjemahkan oleh Bakri Siregar)
Rangsang Detik (kumpulan sajak, 1957)
Labels:
Orang Hebat
Mukaddimah Lekra
Mukaddimah Lekra
Apa bagaimana gerangan isi Mukaddimah Lekra yang dipandang demikian berbahaya
oleh lawan-lawannya dan menyebabkan para seniman anggota-anggotanya jadi
buruan, sasaran likwidasi fisik, dilempar ke penjara dan dikirim ke pulau
pembuangan tanpa proses hukum apapun oleh kekuasaan yang menyebut diri Republik
dan Indonesia? Sesudah keluar dari sarang siksa dan derita itu, mereka tetap
disingkirkan, diawasi dan dicurigai?
Untuk jelasnya agar kau bisa membaca sendiri maka di bawah ini Mukaddimah
tersebut kusalin ulang tanpa mengobah ejaannya. Setelah membacanya kuharap kau
bisa memberikan komentar di mana bahayanya isi Mukaddimah Lekra ini. Dengan
menyiarulang Mukaddimah ini [semestinya dokumen ini kumasukkan ke dalam
Annexes serie cerita ini], dan dengan membaca serta menelaahnya sendiri, kau
tidak jadi pengikut "ilmu kuping" atau "dengar-dengaran" yang sering bersifat
gunjing, latah dan jelas amat dangkal.Seniman yang adalah seorang pencari
serius, kukira tidak ingin menggunakan "ilmu kuping", latah, dan suka
bergunjing. Lekra "membakar buku", "Lekra pernah berkuasa", "Lekra organisasi
kebudayaan berdarah","Lekra memalsukan sejarah", kukira adalah contoh dari
ocehan latah dari para penggunjing sambil memasang di dahi merek seniman dan
cendekiawan atau pun wartawan budaya.
Pada saatnya, aku ingin menguraikan isi Mukaddimah ini alinea demi alinea.
Menyusul dokumen ini nanti aku juga akan memberimu dokumen pidato Andrei Zdanov
di depan Kongres Pengarang-pengarang Uni Soviet pada 17 Agustus 1934. Pidato
ini kukira perlu ditelaah jika kita ingin memahami realisme sosialis yang
dikatakan jadi slogan Lekra, padahal pada kenyataannya Lekra tidak
menggunakannya. Inipun ujud dari kelatahan di kalangan kita, kesukaan bicara
tanpa tahu apa yang diucapkan. Bangga dengan kengawuran dan ketidaktahuan.
Inilah Guk, Mukaddimah Lekra itu yang kukutip dari "Dokumen Kita", Lampiran
Khusus Majalah Kancah, Paris, No.10-X -1984.
Lembaga Kebudajaan Rakjat.
Mukaddimah
Menyadari, bahwa rakjat adalah satu-satunya pentjipta kebudajaan, dan bahwa
pembangunan kebudajaan, dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia baru hanja
dapat dilakukan oleh rakjat, maka pada hari 17 Agustus 1950 didirikan Lembaga
Kebudajaan Rakjat, disingkat Lekra. Pendirian ini terjadi ditengah-tengah
proses perkembangan kebudajaan jang sebagai hasil keseluruhan daja-upaja
manusia setjara sadar untuk memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir
dan batin, senantiasa madju dengan tiada putus-putusnja.
Revolusi Agustus 1945 membuktikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa
bersedjarah ini, seperti halnja di dalam seluruh sedjarah bangsa kita, tiada
lain adalah rakjat. Rakjat Indonesia dewasa ini adalah semua golongan di dalam
masjarakat jang menentang pendjadjahan. Revolusi Agustus adalah usaha
pembebasan diri rakjat Indonesia dari pendjadjahan dan peperangan, pendjadjahan
dan penindasan feodal. Hanja djika panggilan sedjarah ini Revolusi Agustus
terlaksana, djika tertjipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi,
kebudajaan rakjat bisa berkembang bebas. Kejakinan tentang kebenaran ini
menjebabkan Lekra bekerdja membantu pergulatan untuk kemerdekaan tanahair untuk
perdamaian diantara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan
kepribadian berdjuta-djuta rakjat.
Lekra bekerdja chusus dilapangan kebudayaan, dan untuk masa ini terutama
dilapangan kesenian dan ilmu. Lekra menghimpun tenaga dan kegiatan
seniman-seniman, sardjana-sardjana pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja. Lekra
membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masjarakat. Lekra
mengadjak pekerdja-pekerdja kebudajaan untuk dengan sadar mengabdikan
daja-tjipta, bakat serta keahlian mereka guna kemadjuan Indonesia, kemerdekaan
Indonesia, pembaruan Indonesia.
Zaman kita dilahirkan oleh sedjarah jang besar, dan sedjarah bangsa kita telah
melahirkan putera-putera jang baik dilapangan kesusastraan, senibentuk, musik,
maupun dilapangan-lapangan kesenian lain dan ilmu. Kita wadjib bangga bahwa
kita terdiri dari suku-suku jang masing-masingnja mempunjai kebudajaan jang
bernilai. Keragaman bangsa kita ini menjediakan kemungkinan jang tiada terbatas
untuk pentjiptaan jang sekaja-kajanja serta seindah-indahnja.
Lekra tidak hanja menjambut setiap sesuatu jang baru; Lekra memberikaan bantuan
jang aktif untuk memenangkan setiap jang baru madju. Lekra membantu aktif
perombakan sisa-sisa "kebudajaan" pendjadjahan jang mewariskan
kebodohan,rasarendah serta watak lemah pada bangsa kita. Lekra menerima dengan
kritis peninggalan-peninggalan nenek mojang kita, mempeladjari dengan saksama
segala-gala segi peninggalan-peninggalan itu, seperti halnja mempeladjari
dengan saksama pula hasil-hasil tjiptaan kelasik maupun baru dari bangsa lain
jang manapun, dan dengan ini berusaha meneruskan setjara kreatif tradisi jang
agung dari sedjarah dan bangsa kita, menudju kepentjiptaan kebudajaan nasional
jang ilmiah. Lekra menganjurkan kepada anggota-anggotanja, tetap djuga kepada
seniman-seniman sardjana-sardjana dan pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja
diluar Lekra, untuk setjara dalam mempeladjari kenjataan, dan untuk bersikap
setia kepada kenjataan dan kebenaran.
Lekra mengandjurkan untuk mempeladjari dan memahami pertentangan-pertentangan
jang berlaku didalam masjarakat maupun didalam hati manusia, mempeladjari dan
memahami gerak perkembangannja serta hari depannja. Lekra menganjurkan
pemahaman jang tepat atas kenjataan-kenjataan didalam perkembangnnja jang maju,
dan mengandjurkan hal itu, baik untuk tjara-kerdja dilapangan ilmu, maupun
untuk pentjiptaan dilapangan kesenian. Dilapangan kesenian Lekra mendorong
inisitatif, mendorong keberanian kreatif, dan Lekra menjetujui setiap bentuk,
gaja ,dsb., selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan
keindahan artistik jang setinggi-tingginja.
Singkatnya, dengan menolak sifat anti-kemanusiaan dan anti-sosial dari
kebudajaan bukan-rakjat, dengan menolak perkosaan terhadap kebenaran dan
terhadap nilai-nilai keindahan. Lekra bekerdja untuk membantu pembentukan
manusia baru jang memiliki segala kemampuan untuk memadjukan dirinja dalam
perkembangan kepribadian jang bersegi banjak dan harmonis.
Di dalam kegiatan Lekra menggunakan tjara salinjg-bantu,saling-kritik dan
diskusi-diskusi persaudaraan didalam masalah-masalah pentjiptaan. Lekra
berpendapat, bahwa setjara tegas berpihak pada rakjat dab lengabdi kepada
rakjat, adalah satu-satunja djalan bagi seniman-seniman, sardjana-sardjana
maupun pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja untuk mentjapai hasil jang
tahanudji dan tahanwaktu. Lekra mengulurkan tangan kepada
organisasi-organisasi kebudajaan jang lain dari aliran atau kejakinan apapun,
untuk bekerdjasama dalam pengabdian ini.
[Disalin ulang dari "Dokumen Kita", Majalah Kancah, Paris, Lampiran Khusus
NO.10, TH.X, 1984].
Kukira Guk, sari dari Mukaddimah di atas terletak pada bahwa "Lekra mengadjak
pekerdja-pekerdja kebudajaan . Sedangkan hal-hal boleh dikatakan cara
melaksanakan ajakan tersebut. Mukaddimah inilah yang dijadikan matapelajaran
pokok dalam setiap sekolah Lekra dan membimbing kegiatan-kegiatan para seniman
anggotanya. Ajakan "untuk dengan sadar mengabdikan daja-tjipta, bakat serta
keahlian mereka guna kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia, pembaruan
Indonesia" memang menjadi demikian berbahaya hanya bagi pihak-pihak yang anti
rakjat, tidak menginginkan "kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia,
pembaruan Indonesia". Ide dan kegiatan-kegiatan para seniman Lekra yang
beginilah yang membuat mereka dibunuh, dikejar, dibuang, dipenjara ,dikucilkan,
dicurigai dan dicerca sampai sekarang. Jika demikian maka pertanyaan yang
tetinggal: Quo vadis sastra seni kita dan Indonesia?
Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ.KUSNI
Apa bagaimana gerangan isi Mukaddimah Lekra yang dipandang demikian berbahaya
oleh lawan-lawannya dan menyebabkan para seniman anggota-anggotanya jadi
buruan, sasaran likwidasi fisik, dilempar ke penjara dan dikirim ke pulau
pembuangan tanpa proses hukum apapun oleh kekuasaan yang menyebut diri Republik
dan Indonesia? Sesudah keluar dari sarang siksa dan derita itu, mereka tetap
disingkirkan, diawasi dan dicurigai?
Untuk jelasnya agar kau bisa membaca sendiri maka di bawah ini Mukaddimah
tersebut kusalin ulang tanpa mengobah ejaannya. Setelah membacanya kuharap kau
bisa memberikan komentar di mana bahayanya isi Mukaddimah Lekra ini. Dengan
menyiarulang Mukaddimah ini [semestinya dokumen ini kumasukkan ke dalam
Annexes serie cerita ini], dan dengan membaca serta menelaahnya sendiri, kau
tidak jadi pengikut "ilmu kuping" atau "dengar-dengaran" yang sering bersifat
gunjing, latah dan jelas amat dangkal.Seniman yang adalah seorang pencari
serius, kukira tidak ingin menggunakan "ilmu kuping", latah, dan suka
bergunjing. Lekra "membakar buku", "Lekra pernah berkuasa", "Lekra organisasi
kebudayaan berdarah","Lekra memalsukan sejarah", kukira adalah contoh dari
ocehan latah dari para penggunjing sambil memasang di dahi merek seniman dan
cendekiawan atau pun wartawan budaya.
Pada saatnya, aku ingin menguraikan isi Mukaddimah ini alinea demi alinea.
Menyusul dokumen ini nanti aku juga akan memberimu dokumen pidato Andrei Zdanov
di depan Kongres Pengarang-pengarang Uni Soviet pada 17 Agustus 1934. Pidato
ini kukira perlu ditelaah jika kita ingin memahami realisme sosialis yang
dikatakan jadi slogan Lekra, padahal pada kenyataannya Lekra tidak
menggunakannya. Inipun ujud dari kelatahan di kalangan kita, kesukaan bicara
tanpa tahu apa yang diucapkan. Bangga dengan kengawuran dan ketidaktahuan.
Inilah Guk, Mukaddimah Lekra itu yang kukutip dari "Dokumen Kita", Lampiran
Khusus Majalah Kancah, Paris, No.10-X -1984.
Lembaga Kebudajaan Rakjat.
Mukaddimah
Menyadari, bahwa rakjat adalah satu-satunya pentjipta kebudajaan, dan bahwa
pembangunan kebudajaan, dan bahwa pembangunan kebudajaan Indonesia baru hanja
dapat dilakukan oleh rakjat, maka pada hari 17 Agustus 1950 didirikan Lembaga
Kebudajaan Rakjat, disingkat Lekra. Pendirian ini terjadi ditengah-tengah
proses perkembangan kebudajaan jang sebagai hasil keseluruhan daja-upaja
manusia setjara sadar untuk memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir
dan batin, senantiasa madju dengan tiada putus-putusnja.
Revolusi Agustus 1945 membuktikan, bahwa pahlawan di dalam peristiwa
bersedjarah ini, seperti halnja di dalam seluruh sedjarah bangsa kita, tiada
lain adalah rakjat. Rakjat Indonesia dewasa ini adalah semua golongan di dalam
masjarakat jang menentang pendjadjahan. Revolusi Agustus adalah usaha
pembebasan diri rakjat Indonesia dari pendjadjahan dan peperangan, pendjadjahan
dan penindasan feodal. Hanja djika panggilan sedjarah ini Revolusi Agustus
terlaksana, djika tertjipta kemerdekaan dan perdamaian serta demokrasi,
kebudajaan rakjat bisa berkembang bebas. Kejakinan tentang kebenaran ini
menjebabkan Lekra bekerdja membantu pergulatan untuk kemerdekaan tanahair untuk
perdamaian diantara bangsa-bangsa, di mana terdapat kebebasan bagi perkembangan
kepribadian berdjuta-djuta rakjat.
Lekra bekerdja chusus dilapangan kebudayaan, dan untuk masa ini terutama
dilapangan kesenian dan ilmu. Lekra menghimpun tenaga dan kegiatan
seniman-seniman, sardjana-sardjana pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja. Lekra
membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masjarakat. Lekra
mengadjak pekerdja-pekerdja kebudajaan untuk dengan sadar mengabdikan
daja-tjipta, bakat serta keahlian mereka guna kemadjuan Indonesia, kemerdekaan
Indonesia, pembaruan Indonesia.
Zaman kita dilahirkan oleh sedjarah jang besar, dan sedjarah bangsa kita telah
melahirkan putera-putera jang baik dilapangan kesusastraan, senibentuk, musik,
maupun dilapangan-lapangan kesenian lain dan ilmu. Kita wadjib bangga bahwa
kita terdiri dari suku-suku jang masing-masingnja mempunjai kebudajaan jang
bernilai. Keragaman bangsa kita ini menjediakan kemungkinan jang tiada terbatas
untuk pentjiptaan jang sekaja-kajanja serta seindah-indahnja.
Lekra tidak hanja menjambut setiap sesuatu jang baru; Lekra memberikaan bantuan
jang aktif untuk memenangkan setiap jang baru madju. Lekra membantu aktif
perombakan sisa-sisa "kebudajaan" pendjadjahan jang mewariskan
kebodohan,rasarendah serta watak lemah pada bangsa kita. Lekra menerima dengan
kritis peninggalan-peninggalan nenek mojang kita, mempeladjari dengan saksama
segala-gala segi peninggalan-peninggalan itu, seperti halnja mempeladjari
dengan saksama pula hasil-hasil tjiptaan kelasik maupun baru dari bangsa lain
jang manapun, dan dengan ini berusaha meneruskan setjara kreatif tradisi jang
agung dari sedjarah dan bangsa kita, menudju kepentjiptaan kebudajaan nasional
jang ilmiah. Lekra menganjurkan kepada anggota-anggotanja, tetap djuga kepada
seniman-seniman sardjana-sardjana dan pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja
diluar Lekra, untuk setjara dalam mempeladjari kenjataan, dan untuk bersikap
setia kepada kenjataan dan kebenaran.
Lekra mengandjurkan untuk mempeladjari dan memahami pertentangan-pertentangan
jang berlaku didalam masjarakat maupun didalam hati manusia, mempeladjari dan
memahami gerak perkembangannja serta hari depannja. Lekra menganjurkan
pemahaman jang tepat atas kenjataan-kenjataan didalam perkembangnnja jang maju,
dan mengandjurkan hal itu, baik untuk tjara-kerdja dilapangan ilmu, maupun
untuk pentjiptaan dilapangan kesenian. Dilapangan kesenian Lekra mendorong
inisitatif, mendorong keberanian kreatif, dan Lekra menjetujui setiap bentuk,
gaja ,dsb., selama ia setia kepada kebenaran dan selama ia mengusahakan
keindahan artistik jang setinggi-tingginja.
Singkatnya, dengan menolak sifat anti-kemanusiaan dan anti-sosial dari
kebudajaan bukan-rakjat, dengan menolak perkosaan terhadap kebenaran dan
terhadap nilai-nilai keindahan. Lekra bekerdja untuk membantu pembentukan
manusia baru jang memiliki segala kemampuan untuk memadjukan dirinja dalam
perkembangan kepribadian jang bersegi banjak dan harmonis.
Di dalam kegiatan Lekra menggunakan tjara salinjg-bantu,saling-kritik dan
diskusi-diskusi persaudaraan didalam masalah-masalah pentjiptaan. Lekra
berpendapat, bahwa setjara tegas berpihak pada rakjat dab lengabdi kepada
rakjat, adalah satu-satunja djalan bagi seniman-seniman, sardjana-sardjana
maupun pekerdja-pekerdja kebudajaan lainnja untuk mentjapai hasil jang
tahanudji dan tahanwaktu. Lekra mengulurkan tangan kepada
organisasi-organisasi kebudajaan jang lain dari aliran atau kejakinan apapun,
untuk bekerdjasama dalam pengabdian ini.
[Disalin ulang dari "Dokumen Kita", Majalah Kancah, Paris, Lampiran Khusus
NO.10, TH.X, 1984].
Kukira Guk, sari dari Mukaddimah di atas terletak pada bahwa "Lekra mengadjak
pekerdja-pekerdja kebudajaan . Sedangkan hal-hal boleh dikatakan cara
melaksanakan ajakan tersebut. Mukaddimah inilah yang dijadikan matapelajaran
pokok dalam setiap sekolah Lekra dan membimbing kegiatan-kegiatan para seniman
anggotanya. Ajakan "untuk dengan sadar mengabdikan daja-tjipta, bakat serta
keahlian mereka guna kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia, pembaruan
Indonesia" memang menjadi demikian berbahaya hanya bagi pihak-pihak yang anti
rakjat, tidak menginginkan "kemadjuan Indonesia, kemerdekaan Indonesia,
pembaruan Indonesia". Ide dan kegiatan-kegiatan para seniman Lekra yang
beginilah yang membuat mereka dibunuh, dikejar, dibuang, dipenjara ,dikucilkan,
dicurigai dan dicerca sampai sekarang. Jika demikian maka pertanyaan yang
tetinggal: Quo vadis sastra seni kita dan Indonesia?
Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ.KUSNI
Alimin
Alimin
Alimin bin Prawirodirdjo (Solo, 1889-Jakarta, 24 Juni 1964)[1] adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komunis Indonesia.
Sejak remaja Alimin telah aktif dalam pergerakan nasional. Ia pernah menjadi anggota Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, sebelum bergabung dengan PKI dan akhirnya menjadi pimpinan organisasi tersebut. Ia juga adalah salah seorang pendiri Sarekat Buruh Pelabuhan (dulu namanya Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan).
Pada awal 1926, sebagai pimpinan PKI Alimin pergi ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka dalam rangka menyiapkan pemberontakan. Tapi sebelum Alimin pulang, pemberontakan sudah meletus 12 November 1926. Alimin dan Musso ditangkap oleh polisi Inggris.
Setelah ia keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern. Alimin tidak lama di sana karena bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton (Guangzhou). Pada saat itu ia terlibat secara ilegal untuk mendidik kader-kader komunis di Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Perancis.
Ketika Jepang melakukan agresi terhadap Cina, Alimin pergi ke daerah basis perlawanan di Yenan dan bergabung bersama tentara merah di sana. Ia pulang ke Indonesia pada tahun 1946, yaitu setelah Republik Indonesia diproklamasikan.
Ketika DN Aidit mendirikan kembali PKI secara legal pada awal tahun 1950-an dan kemudian menjadi Ketua Komite Sentralnya, Alimin termasuk tokoh komunis yang tidak diindahkannya. Namun Alimin masih banyak didatangi oleh para pengikutnya sampai dengan saat meninggalnya di tahun 1964.
Alimin bin Prawirodirdjo (Solo, 1889-Jakarta, 24 Juni 1964)[1] adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komunis Indonesia.
Sejak remaja Alimin telah aktif dalam pergerakan nasional. Ia pernah menjadi anggota Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, sebelum bergabung dengan PKI dan akhirnya menjadi pimpinan organisasi tersebut. Ia juga adalah salah seorang pendiri Sarekat Buruh Pelabuhan (dulu namanya Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan).
Pada awal 1926, sebagai pimpinan PKI Alimin pergi ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka dalam rangka menyiapkan pemberontakan. Tapi sebelum Alimin pulang, pemberontakan sudah meletus 12 November 1926. Alimin dan Musso ditangkap oleh polisi Inggris.
Setelah ia keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern. Alimin tidak lama di sana karena bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton (Guangzhou). Pada saat itu ia terlibat secara ilegal untuk mendidik kader-kader komunis di Vietnam, Laos, dan Kamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Perancis.
Ketika Jepang melakukan agresi terhadap Cina, Alimin pergi ke daerah basis perlawanan di Yenan dan bergabung bersama tentara merah di sana. Ia pulang ke Indonesia pada tahun 1946, yaitu setelah Republik Indonesia diproklamasikan.
Ketika DN Aidit mendirikan kembali PKI secara legal pada awal tahun 1950-an dan kemudian menjadi Ketua Komite Sentralnya, Alimin termasuk tokoh komunis yang tidak diindahkannya. Namun Alimin masih banyak didatangi oleh para pengikutnya sampai dengan saat meninggalnya di tahun 1964.
Musso
Musso
Musso atau Paul Mussotte [1]bernama lengkap Muso Manowar [2] atau Munawar Muso (lahir: Kediri, Jawa Timur, 1897 - Madiun, Jawa Timur, 31 Oktober 1948) adalah seorang tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an dan dilanjutkan pada Pemberontakan Madiun 1948.
Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa. Pada tahun 1925 beberapa orang pemimpin PKI membuat rencana untuk menghidupkan kembali partai ini pada tahun 1926, meskipun ditentang oleh beberapa pemimpin PKI yang lain seperti Tan Malaka. Pada tahun 1926 Musso menuju Singapura dimana dia menerima perintah langsung dari Moskwa untuk melakukan pemberontakan kepada penjajah Belanda. Musso dan pemimpin PKI lainnya, Alimin, kemudian berkunjung ke Moskwa, bertemu dengan Stalin, dan menerima perintah untuk membatalkan pemberontakan dan membatasi kegiatan partai menjadi dalam bentuk agitasi dan propaganda dalam perlawananan nasional. Akan tetapi pikiran Musso berkata lain. Pada bulan November 1926 terjadi beberapa pemberontakan PKI di beberapa kota termasuk Batavia (sekarang Jakarta), tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh penjajah Belanda. Musso dan Alimin ditangkap. Setelah keluar dari penjara Musso pergi ke Moskwa, tetapi kembali ke Indonesia pada tahun 1935 untuk memaksakan "barisan populer" yang dipimpin oleh 7 anggota Kongres Komintern. Akan tetapi dia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke Uni Soviet pada tahun 1936.
Pada 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Indonesia lewat Yogyakarta. Pada tanggal 5 September 1948 dia memberikan pidato yang menganjurkan agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Pemberontakan terjadi di Madiun, Jawa Timur ketika beberapa militan PKI menolak untuk dilucuti. Pihak militer menyebutkan bahwa PKI memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" pada tanggal 18 September 1948 dan mengangkat Musso sebagai presiden dan Amir Sjarifuddin sebagai perdana menteri. Akan tetapi pemberontakan dapat dipadamkan oleh pihak militer. Pada tanggal 30 September 1948, Madiun direbut oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Ribuan kader partai terbunuh dan sejumlah 36.000 orang dipenjarakan. Di antara yang terbunuh adalah Musso pada tanggal 31 Oktober, ketika rombongannya bertemu dengan pasukan TNI yang mengubernya.
Musso atau Paul Mussotte [1]bernama lengkap Muso Manowar [2] atau Munawar Muso (lahir: Kediri, Jawa Timur, 1897 - Madiun, Jawa Timur, 31 Oktober 1948) adalah seorang tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an dan dilanjutkan pada Pemberontakan Madiun 1948.
Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa. Pada tahun 1925 beberapa orang pemimpin PKI membuat rencana untuk menghidupkan kembali partai ini pada tahun 1926, meskipun ditentang oleh beberapa pemimpin PKI yang lain seperti Tan Malaka. Pada tahun 1926 Musso menuju Singapura dimana dia menerima perintah langsung dari Moskwa untuk melakukan pemberontakan kepada penjajah Belanda. Musso dan pemimpin PKI lainnya, Alimin, kemudian berkunjung ke Moskwa, bertemu dengan Stalin, dan menerima perintah untuk membatalkan pemberontakan dan membatasi kegiatan partai menjadi dalam bentuk agitasi dan propaganda dalam perlawananan nasional. Akan tetapi pikiran Musso berkata lain. Pada bulan November 1926 terjadi beberapa pemberontakan PKI di beberapa kota termasuk Batavia (sekarang Jakarta), tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh penjajah Belanda. Musso dan Alimin ditangkap. Setelah keluar dari penjara Musso pergi ke Moskwa, tetapi kembali ke Indonesia pada tahun 1935 untuk memaksakan "barisan populer" yang dipimpin oleh 7 anggota Kongres Komintern. Akan tetapi dia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke Uni Soviet pada tahun 1936.
Pada 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Indonesia lewat Yogyakarta. Pada tanggal 5 September 1948 dia memberikan pidato yang menganjurkan agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Pemberontakan terjadi di Madiun, Jawa Timur ketika beberapa militan PKI menolak untuk dilucuti. Pihak militer menyebutkan bahwa PKI memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" pada tanggal 18 September 1948 dan mengangkat Musso sebagai presiden dan Amir Sjarifuddin sebagai perdana menteri. Akan tetapi pemberontakan dapat dipadamkan oleh pihak militer. Pada tanggal 30 September 1948, Madiun direbut oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Ribuan kader partai terbunuh dan sejumlah 36.000 orang dipenjarakan. Di antara yang terbunuh adalah Musso pada tanggal 31 Oktober, ketika rombongannya bertemu dengan pasukan TNI yang mengubernya.
Subscribe to:
Posts (Atom)