Tuesday, 15 February 2011

Wikana

Wikana (lahir di Sumedang, Jawa Barat, 18 Oktober 1914[1] - 1966?) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Bersama Chaerul Saleh, Sukarni dan pemuda-pemuda lainnya dari Menteng 31, mereka menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok dengan tujuan agar kedua tokoh ini segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada tahun 1945.

Keluarga

Wikana terlahir dari keluarga menak Sumedang. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman, pendatang dari Demak, Jawa Tengah. Kendati menak merupakan golongan yang mendapatkan previlese semasa penjajahan, tidak demikian halnya dengan keluarga Wikana. Bahkan salah seorang kakanya, Winanta adalah seorang Digulis.

Pendidikan

Boleh dibilang Wikana punya otak encer. Sebagai anak priayi, dia punya hak untuk mengenyam pendidikan. Tapi untuk masuk ELS (Europeesch Lagere School), sekolah dasar yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, tidak cukup bermodal anak raden saja. Kemampuan bahasa Belanda dan kepintaran si anak menjadi standar utama. Wikana kecil memenuhi syarat itu dan berhasil lulus dari ELS. Lepas dari ELS Wikana melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Semasa muda itulah Wikana sempat menjadi salah satu dari sekian pemuda satelit Bung Karno di Bandung.

Awal perjuangan

Pada masa mudanya ia aktif sebagai Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru. Semasa zaman kolonial, Wikana menjadi pemimpin PKI bawah tanah di Jawa Barat. Ia juga berkawan dekat dengan Widarta tokoh PKI bawah tanah yang bertanggungjawab di wilayah Jakarta.

Tak hanya sebagai anggota PKI bawah tanah, Wikana juga tercatat pernah aktif sebagai anggota Partai Indonesia (Partindo) yang didirkan oleh Mr Sartono pada 1931 pascapenangkapan Bung Karno. Pada 1938 ketika Barisan Pemuda Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan, dia terpilih sebagai ketuanya yang pertama. Keyakinannya yang anti-kolonialisme mendorong Wikana aktif mengikuti berbagai organisasi politik yang melawan Belanda secara frontal.

Masa Revolusi Fisik

Wikana pada peristiwa pencetusan Proklamasi 1945 melakukan peran paling penting karena berkat koneksinya di Angkatan Laut Jepang atau Kaigun, Proklamasi 1945 bisa dirumuskan di rumah dinas Laksamana Maeda di Menteng yang terjamin keamanannya. Selain itu Wikana juga mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah Bung Karno di Pegangsaan 56. Ia juga sangat tegang saat melihat Bung Karno sakit malaria pagi hari menjelang detik-detik pembacaan Proklamasi. Wikana yang membujuk kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi.

Karier Wikana jalan terus. Dia menjadi tokoh pemuda dari sekian banyak pemuda yang bergerak di pusaran arus revolusi. Ketokohan Wikana mendapatkan pengakuan dan karena itulah dia dipercaya oleh Perdana Menteri Sjahrir untuk duduk sebagai menteri negara urusan pemuda dalam kabinet Sjahrir kedua dan ketiga. Tak jelas capaian apa yang dia buat semasa memegang jabatan itu.

Tapi jalan terang hidup Wikana mulai meredup setelah peristiwa Madiun 1948. Posisinya sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta digantikan oleh Gatot Subroto.

Setelah Revolusi Fisik

Bersama dengan pejuang-pejuang dari Nasionalis sayap kiri ia menghilang dan baru kembali setelah DN Aidit melakukan pledoi terhadap kasus Madiun 1948 yang mulai digugat oleh Jaksa Dali Mutiara pada 2 Februari 1955.

Sampai tahun 1950-an dia masih tercatat sebagai anggota Comite Central (CC) PKI yang mulai menggeliat di bawah kepemimpinan triumvirat Aidit, Njoto dan Lukman. Namun praktis Wikana tak memainkan peran penting sebagaimana yang pernah dilakukannya pada era-era awal revolusi. Revitalisasi PKI ditangan DN Aidit membuat Wikana tersingkir dan dianggap bagian dari golongan tua yang tidak progresif. Hal ini sama dengan kasus penyingkiran kaum komunis ex-Digulis oleh anak-anak muda PKI, karena tidak sesuai dengan perkembangan perjuangan komunis yang lebih Nasionalis dan mendekat pada Bung Karno. Terakhir Wikana tinggal di daerah Simpangan Matraman Plantsoen dalam keadaan miskin dan sengsara karena tidak mendapat tempat di PKI dan diisolir oleh Aidit. Pada saat itu Waperdam Chaerul Saleh pada tahun 1965 menarik Wikana menjadi anggota MPRS.

Pemberontakan PKI

Beberapa pekan sebelum peristiwa G.30.S 1965 terjadi, Wikana berserta beberapa elemen PKI lainnya pergi ke Peking untuk menghadiri perayaan hari Nasional Cina 1 Oktober 1965. Tapi sontak terdengar kabar dari tanah air tentang insiden penculikan dan pembunuhan para jenderal. PKI disalahkan. Delegasi terceraiberai. Wikana meminta anggota delegasi lain untuk tetap berada di Peking selagi menunggu kepastian dari berita yang simpang siur. Dia sendiri memilih pulang ke tanah air.

Menghilang

Kurang dari setahun setelah peristiwa G.30.S 1965, dia ditangkap. Sempat bermalam di Kodam Jaya namun dipulangkan kembali. Tak berapa lama kemudian segerombolan tentara tak dikenal datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Mereka membawa Wikana dan sampai hari ini, pemuda garang yang sempat membuat Bung Karno naik pitam itu, tak pernah kembali pulang. Dia hilang tak tentu rimbanya.

Chaerul Saleh

Chaerul Saleh Datuk Paduko Rajo atau lebih dikenal dengan nama Chaerul Saleh (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 13 September 1916 – meninggal di Jakarta, 8 Februari 1967 pada umur 50 tahun[1][2]) adalah seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri, wakil perdana menteri, dan ketua MPRS antara tahun 1957 sampai 1966.
Daftar isi

Perjuangan

Ia bersama Wikana, Sukarni dan pemuda lainnya dari Menteng 31 yang menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok agar kedua tokoh ini segera menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah kekalaha Jepang dari Sekutu pada tahun 1945.

Jabatan politik

Jabatan yang pernah diduduki oleh Chaerul Saleh adalah:

Menteri Negara Urusan Veteran, Kabinet Djuanda (1957)
Menteri Muda Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja I (1959-1960)
Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan, Kabinet Kerja II dan Kabinet Kerja III (1960-1963)
Wakil Perdana Menteri III, Kabinet Kerja IV dan Kabinet Dwikora I (1963-1966)
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (1960-1965)


G30S/PKI

Setelah peristiwa G30S, Chaerul Saleh ditahan oleh pemerintah Indonesia dan meninggal pada tahun 1967 dengan status tahanan. Tidak pernah ada penjelasan resmi dari pemerintah mengenai alasan penahanannya.

Ir. Sakirman

Ir. Sakirman adalah salah satu petinggi PKI. Dia dilahirkan di tahun 1911, di Wonosobo, Jawa Tengah.

Sakirman tidak seperti kebanyakan pimpinan PKI yang berasal dari kalangan rakyat jelata saat itu. Ir Sakirman adalah seorang lulusan ITB (saat itu bernama "Technische Hooge School" (THS)) dan berasal dari keluarga Mangkunegaran. Di tahun 1965 Ir. Sakirman termasuk generasi tua dengan banyak pengalaman perjuangan. Sesudah proklamasi kemerdekaan 1945, Sakirman bergabung dengan AMRI , Slawi, Tegal. Ia pun terlibat dalam Peristiwa Tiga Daerah di karesidenan Pekalongan yang meliputi Pekalongan, Brebes dan Pembebasan Tegal.

Namanya semakin dikenal luas ketika menjadi pemimpin eksekutif Lasjkar Rakjat Jawa Tengah sekitar tahun 1945. Lasjkar Rakjat tersebut juga mencakup wilayah Jawa Barat. Hanya Lasjkar Rakyat Jawa Barat dipimpin oleh Chaerul Saleh dan Armunanto. Lasjkar Rakyat ini bertujuan antara lain: memerangi buta huruf; meningkatkan kewaspadaan militer dan menangkap mata-mata musuh; dan melakukan kerja sama dengan rakyat terutama organisasi-organisasi buruh dan tani. Lasjkar Rakyat dalam mengefektifkan kerja-kerjanya juga menerbitkan Soeara Lasjkar. Sejarah kehidupan Ir. Sakirman memang belum banyak ditulis, sehingga publik tak begitu mengenal siapa dan bagaimana perjalann hidup Sakirman sebagai pejuang. Walau begitu dari minimnya catatan yang ada, hidup Ir. Sakirman telah mewarnai sejarah beridirinya Republik Indonesia.

Pada bulan Mei 1946, Amir Sjarifuddin sebagai menteri pertahanan membentuk Biro Perjuangan yang merupakan biro khusus dalam lingkungan Kementerian Pertahanan. Tujuannya untuk menampung laskar-laskar rakyat yang didirikan oleh partai-partai dan atau golongan-golongan yang turut berpartisipasi aktif dalam perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Djokosuyono dan Ir. Sakirman diangkat sebagai pimpinan biro dengan pangkat Mayor Jenderal . Sebelumnya Ir Sakirman juga dipercaya Amir Sjarifuddin sebagai kepala biro pendidikan politik tentara (Pepolit) dengan pangkat Letnan Kolonel. Pengangkatan Ir. Sakirman ini tentu didasarkan pada aktivitasnya yang tinggi dikelaskaran rakyat.

Untung Syamsuri

Untung Syamsuri

Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1927, wafat di Cimahi, 1969) adalah Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang memimpin Gerakan 30 September pada tahun 1965. Untung adalah bekas anak buah Soeharto ketika ia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo. Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 444 dan pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI, Alimin.


Masa kecil

Letkol Untung Sutopo Bin Syamsuri lahir di Desa Jayengan, Solo, pada tahun 1927. Nama kecilnya adalah Kusman. Ayahnya bernama Abdullah dan bekerja di sebuah toko peralatan batik di Pasar Kliwon, Solo. Sejak kecil Kusman telah diangkat anak oleh pamannya yang bernama Syamsuri. Kusman masuk sekolah dasar di Ketelan dan di sanalah dia mengenal permaina bola dan menjadi hobinya kemudian hari. Karena senang bermain bola Kusman pernah menjadi anggota KVC (Kaparen Voetball Club) di desanya. Setelah lulus sekolah dasar, Kusman melanjutkan ke sekolah dagang namun tidak sampai selesai karena Jepang mulai masuk ke Indonesia dan Kusman bergabung ke dalam Heiho.

Karier

Semasa perang kemerdekaan untung bergabung dengan Batalyon Sudigdo yang berada di Wonogiri, Solo. Selanjutnya Gubernur Militer Kolonel Sobroto memerintahkan agar Batalyon Sudigdo dipindahkan ke Cepogo, di lereng gunung Merbabu. Kemudian Kusman pergi ke Madiun dan bergabung dengan teman-temannya. Setelah peristiwa Madiun, Kusman berganti nama menjadi Untung Sutopo dan masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang.

Letkol Untung Sutopo bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan 30 September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akademi Militer. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD. Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala. Untung dan Benny tidak lebih satu bulan berada di Irian Barat karena Soeharto telah memerintah gencatan senjata pada tahun 1962.

Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 454/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G30S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie Wibowo.

Setelah G30S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G30S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung.

Setelah melalui sidang Mahmillub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969, empat tahun setelah G30S meletus.

Hubungan dengan Soeharto

Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G30S meletus. Kedatangan komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.

Sobron Aidit

Sobron Aidit

Sobron Aidit (Tanjung Pandan, Belitung, 2 Juni 1934 - Paris, 10 Februari 2007) adalah penulis dan penyair yang besar pada zaman Orde Lama. Sebagai penulis, ia menulis cerita-cerita pendek. Ia bertahun-tahun hidup dalam pengasingan di Paris (Perancis) dan meninggal dalam usia 73 tahun. Ia adalah adik pemimpin Partai Komunis Indonesia D.N. Aidit. Pendidikannya ditempuhnya di HIS di Belitung, dan kemudian melanjutkan hingga ke Universitas Indonesia di Jakarta.

Menjadi pengarang

Sejak masa remajanya, Sobron telah aktif mengarang. Karangannya yang pertama dibuatnya pada usia 13 tahun berupa cerita pendek, "Kedaung" yang diterbitkan dalam Majalah Waktu di Medan. Pindah ke Jakarta, Sobron bertemu dengan Chairil Anwar yang kebetulan tinggal bersama kakaknya. Chairil banyak membimbingnya dalam penulisan dan kreativitas Sobron pun kian berkembang. Puisi dan cerpennya terbit di berbagai majalah, seperti Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, yang semuanya diasuh oleh H.B. Jassin. Penerbitan lain yang memuat karya-karyanya adalah Harian Sunday Courier, Republik, Bintang Timur (Bintang Minggu), Harian Rakjat, Zaman Baru, Kencana, Siasat, Mutiara, dll.

Sobron pernah memperoleh penghargaan Hadiah Sastra untuk karya-karyanya. Cerpennya, "Buaja dan dukunnja" mendapatkan penghargaan dari Majalah Kisah/Sastra pada 1955-1956, dan cerpennya "Basimah" mendapatkan penghargaan dari Harian Rakjat Kebudajaan pada 1961.


Pekerjaan dan aktivitas

Sobron Aidit bekerja sebagai guru di SMA Utama di Salemba, dan SMA Tiong Hoa Hwee Koan, keduanya di Jakarta (1954-1963). Ia juga menjadi dosen di Akademi Sastra Multatuli yang didirikannya bersama Prof. Bakri Siregar. Sobron juga pernah menjadi wartawan untuk Harian Rakjat dan Bintang Timur, keduanya terkenal sebagai harian kiri pada akhir 1950-an dan awal 1960-an. Selain itu, ia juga aktif sebagai pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok bersama Prof. Dr. Prijono, dan kemudian bersama Djawoto dan Henk Ngantung (1955-1958).

Pada 1960-1962, ia aktif sebagai pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Vietnam bersama K. Werdoyo dan Nyak Diwan, dan pengurus Baperki bersama Siauw Giok Tjhan dan Buyung Saleh (1960-1961). Sebagai seniman, Sobron mendirikan kelompok "Seniman Senen" bersama SM Ardan, Wim Umboh dll.

Pada tahun 1963 ia mendapat undangan untuk menjadi Guru Besar Sastra dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing (1964). Di samping itu ia tetap menjadi wartawan, antara lain untuk Peking Review. Sobron dan keluarganya bermukim di Beijing atau Tiongkok sebagai pengajar di Institut Bahasa Asing. Sejak itu, ia tak bisa pulang ke Indonesia. Karena, bila ia kembali, keselamatannya tidak terjamin.

Revolusi Kebudayaan

Pada tahun 1966 - 1976 Tiongkok dilanda Revolusi Kebudayaan yang antara lain besifat anti kaum intelektual. Sobron pun terpaksa berhenti bekerja dan diperintahkan pergi ke desa untuk hidup dan bekerja bersama dengan para petani. Setelah Revolusi ini berakhir, pada 1979 ia kembali ke Beijing dan bekerja di Radio Peking sebagai penyiar dan redaktur.

Pindah ke Perancis

Setelah kontraknya dengan Radio Peking berakhir, Sobron berniat meninggalkan Tiongkok, namun ia tidak tahu harus ke mana. Mulanya ia ingin ke Hong Kong, namun ia khawatir akan diekstradisi ke Indonesia. Pada 1981, ia memutuskan ke Paris, meskipun sama sekali tidak paham tentang negara itu dan tidak mengenal bahasanya. Setibanya di Perancis, ia diberikan pelajaran bahasa Perancis di pusat penampungan pengungsi. Bersama sejumlah temannya, ia mendirikan restoran "Indonesia" di Rue de Vaugirard (Paris). Beberapa cerita pendek berlatar belakang dari restorannya itu.

Membuka restoran

Setelah selesai mendapatkan pelajaran dasar bahasa Perancis, Sobron dan teman-temannya dilepas oleh pemerintah Perancis untuk hidup mandiri. Muncullah gagasan di antara mereka untuk membuka sebuah restoran Indonesia secara kolektif, meskipun tak seorangpun dari mereka yang punya pengalaman mengelola restoran. Selama enam bulan Sobron dan temannya Umar Said berkeliling Paris untuk mencari lokasi dan mempelajari menu restoran-restoran yang sudah ada.

Dana untuk membuka restoran mereka peroleh dari berbagai sumber, terutama dari sejumlah pendukung di Belanda, dari Gereja Katolik, dan dari uang tunjangan yang mereka terima selama dua tahun dari pemerintah Perancis. Ada juga bantuan dari sejumlah teman orang Perancis yang bersimpati dengan nasib mereka. Presiden Mitterand bahkan sangat bersimpati, dan istrinya pernah beberapa singgah dan makan di restoran mereka yang kecil itu, di kawasan Luxembourg, pusat kota Paris.

Oleh pemerintah Indonesia sendiri kelompok ini diboikot dan dimusuhi. Baru setelah Soeharto jatuh dari kursi kekuasaannya, ada keterbukaan dari pihak perwakilan Indonesia di Paris.

Kegiatan terakhir

Selama Orde Baru, karya-karya Sobron, termasuk karyanya bersama orang lain, dilarang beredar. Meskipun demikian, tulisan-tulisannya tetap muncul di berbagai media di Indonesia, semuanya dengan nama sambaran. "Saya punya 25 nama samaran selama 32 tahun," Sobron mengaku.

Sobron menjadi salah seorang pendukung dan penulis yang aktif bagi usaha terbitan pers alternatif, terutama sekali bagi majalah sastra dan seni Kreasi, majalah Mimbar, dan majalah opini dan budaya pluralis Arena.

Catatan kehidupan dan pengembaraannya muncul secara teratur di internet.

Sejumlah karya Sobron telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, Mandarin, Inggris, Bulgaria, Belanda, Jerman, dan Prancis.

Sobron telah menjadi warga negara Perancis, dan dengan paspor Perancis ia sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Ia juga menggunakan nama "Simon".

Sobron Aidit terkena serangan jantung dua hari sebelum ia meninggal di rumah sakit di Paris, Perancis pada tanggal 10 Februari 2007.

Keluarga

Simon Sobron Aidit terakhir tinggal di Perancis, sementara dua anaknya (Wita dan Nita) tinggal di Belanda. Istrinya telah lama meninggal ketika masih tinggal di Tiongkok.

Karya tulis

Sebagian dari karangan dan kumpulan puisi Sobron Aidit:

Surat kepada Tuhan: memoar (2003)
Gajah di Pelupuk Mata: memoar Sobron Aidit (2002)
Kisah Intel dan Sebuah Warung, Garba Budaya, (2000)
Cerita dari Tanah Pengasingan (1999)
Mencari Langit: sebuah kumpulan sajak (1999)
Razia Agustus: kumpulan cerpen penerbit Gramedia Pustaka (1992) dan diluncurkan dalam sebuah acara diskusi buku di Bentara Budaya Jakarta pada November 2006.
Derap Revolusi: kumpulan novelette and tjerpen (1962)
Ketemu di Djalan: tiga kumpulan sadjak (1956) (bersama Ajip Rosidi dan SM Ardan)

D. N. Aidit

D. N. Aidit


Dipa Nusantara Aidit yang lebih dikenal dengan DN Aidit (lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa Tengah, 22 November 1965 pada umur 42 tahun) adalah Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Belitung, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Terlibat dalam politik
DN Aidit berbicara dalam kampanye PKI pada Pemilu 1955

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.

Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool"). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia). Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Prof. Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit menunjukkan dukungan terhadap paham Marhaenisme Sukarno dan membiarkan partainya berkembang. Ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan RRC. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer. Berakhirnya sistem parlementer pada tahun 1957 semakin meningkatkan peranan PKI, karena kekuatan ekstra-parlementer mereka. Ditambah lagi karena koneksi Aidit dan pemimpin PKI lainnya yang dekat dengan Presiden Sukarno, maka PKI menjadi organisasi massa yang sangat penting di Indonesia.

Peristiwa G-30-S
DN Aidit saat memberikan sambutan pada ulang tahun ke-5 Partai Persatuan Sosialis Jerman (Sozialistische Einheitspartei Deutschlands) di Berlin (1958).

Pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan. Pada tanggal 30 September 1965 terjadilah tragedi nasional yang dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang perwira. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa G-30-S.

Pemerintah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto mengeluarkan versi resmi bahwa PKI-lah pelakunya, dan sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini. Tuduhan ini tidak sempat terbukti, karena Aidit meninggal dalam pengejaran oleh militer ketika ia melarikan diri ke Yogyakarta dan dibunuh di sana oleh militer.

Kematian dan Kontroversi

Ada beberapa versi tentang kematian DN Aidit ini. Menurut versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum "diberesi". Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati. versi yang lain mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Selain kematiannya, kelahiran Aidit pun bermacam-macam versi. Beberapa mengatakan Aidit kelahiran Medan, 30 Juli 1923 dengan nama lengkap Dja'far Nawi Aidit. Keluarga Aidit konon berasal dari Maninjau, Sumatera Barat yang pergi merantau ke Belitung.[1] Namun banyak masyarakat Maninjau tidak pernah mengetahui dan mengakui hal itu.


Tulisan DN Aidit

DN Aidit banyak menuliskan pikiran-pikirannya dalam sejumlah buku dan tulisan. Sebagian daripadanya adalah:

Sedjarah gerakan buruh Indonesia, dari tahun 1905 sampai tahun 1926 (1952)
Perdjuangan dan adjaran-adjaran Karl Marx (1952)
Menempuh djalan rakjat: pidato untuk memperingati ulangtahun PKI jang ke-32 - 23 Mei 1952 (1954)
Tentang Tan Ling Djie-isme: referat jang disampaikan pada kongres nasional ke-V PKI (1954)
Djalan ke Demokrasi Rakjat bagi Indonesia: (Pidato sebagai laporan Central Comite kepada Kongres Nasional ke-V PKI dalam bulan Maret 1954 (1955) / bahasa Inggris: The road to people's democracy for Indonesia (1955)
Untuk kemenangan front nasional dalam pemilihan umum, dan kewadjiban mengembangkan kritik serta meninggikan tingkat ideologi Partai: Pidato dimuka sidang pleno Central Comite ke-3 PKI pada tanggal 7 Agustus 1955 (1955)
Pertahankan Republik Proklamasi 1945!: Perdjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan nasional, perdamaian dan demokrasi sesudah pemilihan parlemen (1955)
Menudju Indonesia baru: Pidato untuk memperingati ulang-tahun PKI jang ke-33 (1955)
Perjuangan dan adjaran-adjaran Karl Marx (1955)
Revolusi Oktober dan rakjat2 Timur (1957)
37 tahun Partai Komunis Indonesia (1957)
Masjarakat Indonesia dan revolusi Indonesia: (soal² pokok revolusi Indonesia) (1958)
Sendjata ditangan rakjat (1958)
Kalahkan konsepsi politik Amerika Serikat (1958)
Visit to five socialist states: talk by D.N. Aidit at the Sports Hall in Djakarta on 19th September (1958)
Konfrontasi peristiwa Madiun (1948) - Peristiwa Sumatera (1956) (1958)
Ilmu pengetahuan untuk rakjat, tanahair & kemanusiaan (1959)
Pilihan tulisan (1959)
Introduksi tentang soal2 pokok revolusi Indonesia kuliah umum (1959)
Untuk demokrasi dan kabinet gotong rojong (laporan umum Comite Central Partai Komunis Indonesia kepada Kongres Nasional ke-VI) (1959)
Dari sembilan negeri sosialis: kumpulan laporan perlawatan kesembilan negeri sosialis (1959)
Peladjaran dari sedjarah PKI (1960)
Indonesian socialism and the conditions for its implementation (1960)
Memerangi liberalisme (1960)
41 tahun PKI (1961)
PKI dan MPRS (1961)
Perkuat persatuan nasional dan persatuan komunis!: laporan politik ketua CC PKI kepada Sidang Pleno ke-III CC PKI pada achir tahun 1961 (1961)
Anti-imperialisme dan Front Nasional (1962)
Setudju Manipol harus setudju Nasakomn (1962)
Pengantar etika dan moral komunis (1962)
Tentang Marxisme (1962)
Untuk demokrasi, persatuan dan mobilisasi laporan umum atas nama CC PKI kepada Kongres Nasional ke-VI (1962)
Indonesian communists oppose Malaysia (1962)
Berani, berani, sekali lagi berani: laporan politik ketua CC PKI kepada sidang pleno I CC PKI, disampaikan pada tanggal 10 Februari 1963 (1963)
Hajo, ringkus dan ganjang, kontra revolusi: pidato ulangtahun ke-43 PKI, diutjapkan di Istana Olah Raga "Gelora Bung Karno" pada tanggal 26 Mei 1963 (1963)
Langit takkan runtuh (1963)
Problems of the Indonesian revolution (1963)
Angkatan bersendjata dan penjesuaian kekuasaan negara dengan tugas² revolusi; PKI dan Angkatan Darat (1963)
PKI dan ALRI (SESKOAL) (1963)
PKI dan AURI (1963)
PKI dan polisi (1963)
Dekon dalam udjian (1963)
Peranan koperasi dewasa ini (1963)
Dengan sastra dan seni jang berkepribadian nasional mengabdi buruh, tani dan pradjurit (1964)
Aidit membela Pantjasila (1964)
PKI dan Angkatan Darat (Seskoad) (1964)
Aidit menggugat peristiwa Madiun: pembelaan D.N. Aidit dimuka pengadilan Negeri Djakarta, Tgl. 24 Februari 1955 (1964)
"The Indonesian revolution and the immediate tasks of the Communist Party of Indonesia" (1964)
Untuk bekerdja lebih baik dikalangan kaum tani (1964)
Dengan semangat banteng merah mengkonsolidasi organisasi Komunis jang besar: Djadilah Komunis jang baik dan lebih balk lagi! (1964)
Kobarkan semangat banteng! - Madju terus, pantang mundur! Laporan politik kepada sidang pleno ke-II CCPKI jang diperluas dengan Komisi Verifikasi dan Komisi Kontrol Central di Djakarta tanggal 23-26 Desember 1963 (1964) / bahasa Inggris: Set afire the banteng spirit! - ever forward, not retreat! - political report to the second plenum of the Seventh Central Committee Communist Party of Indonesia, enlarged with the members of the Central, 1963 (1964)
Kaum tani mengganjang setan-setan desa: laporan singkat tentang hasil riset mengenai keadaan kaum tani dan gerakan tani Djawa Barat (1964)
Perhebat ofensif revolusioner disegala bidang! Laporan politik kepada sidang pleno ke-IV CC PKI jang diperluas tanggal 11 Mei 1965 (1965)
Politik luarnegeri dan revolusi Indonesia (kuliah dihadapan pendidikan kader revolusi angkatan Dwikora jang diselenggarakan oleh pengurus besar Front Nasional di Djakarta) (1965)

Selain itu, sebagian dari tulisan-tulisannya juga diterbitkan di Amerika Serikat dengan judul The Selected Works of D.N. Aidit (2 vols.; Washington: US Joint Publications Research Service, 1961).

Amir Sjarifoeddin

Amir Sjarifoeddin

Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap (ejaan baru: Amir Syarifuddin Harahap) (lahir di Medan, Sumatera Utara, 27 April 1907 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Desember 1948 pada umur 41 tahun) adalah seorang tokoh Indonesia, mantan menteri dan perdana menteri pada awal berdirinya negara Indonesia.

Keluarga

Ayahnya, Djamin gelar Baginda Soripada (1885-1949), seorang jaksa di Medan. Ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu-Islam di Deli. Ayahnya keturunan keluarga kepala adat dari Pasar Matanggor di Padang Lawas Tapanuli.

Pendidikan

Amir menikmati pendidikan di ELS atau sekolah dasar Belanda di Medan pada tahun 1914 hingga selesai Agustus 1921. Atas undangan saudara sepupunya, T.S.G. Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad dan belajar di kota Leiden sejak 1911, Amir pun berangkat ke Leiden. Tak lama setelah kedatangannya dalam kurun waktu 1926-1927 dia menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem, selama masa itu pula Amir aktif terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok kristen misalnya dalam CSV-op Java yang menjadi cikal bakal GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Ia tinggal di rumah guru pemeluk Kristen Calvinis, Dirk Smink, dan di sini juga Mulia menumpang.

Namun pada September 1927, sesudah lulus ujian tingkat kedua, Amir kembali ke kampung halaman karena masalah keluarga, walaupun teman-teman dekatnya mendesak agar menyelesaikan pendidikannya di Leiden. Kemudian Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia, menumpang di rumah Mulia (sepupunya) yang telah menjabat sebagai direktur sekolah pendidikan guru di Jatinegara. Kemudian Amir pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, ia ditampung oleh senior satu sekolahnya, Mr. Muhammad Yamin.


Perjuangan

Menjelang invasi Jepang ke Hindia Belanda, Amir berusaha—menyetujui dan menjalankan garis Komunis Internasional agar kaum kiri menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk menghancurkan Fasisme. Barangkali ini mempunyai hubungan dengan pekerjaan politik Musso dengan kedatangannya ke Hindia Belanda dalam tahun 1936.

Ia kemudian dihubungi oleh anggota-anggota kabinet Gubernur Jenderal, menggalang semua kekuatan anti-fasis untuk bekerja bersama dinas rahasia Belanda dalam menghadapi serbuan Jepang. Rencana itu tidak banyak mendapat sambutan. Rekan-rekannya sesama aktivis masih belum pulih kepercayaan terhadapnya akibat polemik di awal tahun 1940-an, serta tidak paham akan strateginya melawan Jepang. Mereka ingin menempuh taktik lain yaitu, berkolaborasi dengan Jepang dengan harapan Jepang akan memberi kemerdekaan kepada Hindia Belanda setelah kolonialis Belanda dikalahkan. Dalam hal ini garis Amir yang terbukti benar.

Pada bulan Januari 1943 ia tertangkap oleh fasis Jepang, di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini dapat ditafsirkan sebagai terbongkarnya jaringan suatu organisasi anti fasisme Jepang yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan Amir. Terutama dari sisa-sisa kelompok inilah Amir, kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat. Namun demikian identifikasi penting kejadian Surabaya itu, dari sedikit yang kita ketahui melalui sidang-sidang pengadilan mereka tahun 1944, hukuman terberat dijatuhkan pada bekas para pemimpin Gerindo dan Partindo Surabaya.

Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut". Belanda mungkin tahu bahwa penghargaan berbau mitos terhadapnya di kalangan Pesindo berasal dari cerita para tahanan sesamanya. Bagaimana ia menghadapi siksaan fisik dan moral yang dijatuhkan Jepang. Diceritakan, misalnya, bagaimana ia tertawa ketika para penyiksa menggantungnya dengan kaki di atas.

Dalam Persetujuan Renville tanggungjawab yang berat ini terletak dipundak kaum Komunis, khususnya Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis.


Jabatan

Menteri pada Kabinet Presidensial, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II, Kabinet Sjahrir III
Perdana Menteri: 3 Juli 1947 – 29 Januari 1948, membentuk Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II



Peristiwa Madiun

Setelah Peristiwa Madiun 1948, pemerintahan Hatta menuduh PKI berupaya membentuk negara komunis di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka. Amir Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang pada saat peristiwa Madiun meletus sedang berada di Yogyakarta dalam rangka kongres Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) turut ditangkap beserta beberapa kawannya.

19 Desember 1948, sekitar tengah malam, di kompleks makam desa Ngalihan, kepala Amir Sjarifuddin ditembak dengan pistol oleh seorang letnan Polisi Militer, sebuah satuan khusus dalam Angkatan Bersenjata Indonesia. Sebelum itu beberapa orang penduduk desa setempat diperintahkan menggali sebuah lubang kubur besar. Dari rombongan sebelas orang yang diangkut dengan truk dari penjara di Solo, Amir orang pertama yang ditembak mati malam itu. Beberapa hari sebelumnya, ia dan beberapa orang lainnya, secara diam-diam telah dipindahkan ke rumah penjara ini dari tempat penahanan mereka di Benteng Yogyakarta

TULISAN MENGHARUKAN ANAK NJOTO, WAKIL KETUA CC PKI

TULISAN MENGHARUKAN ANAK NJOTO, WAKIL KETUA CC PKI

Pengantar A. Umar Said :

Dalam rangka Peringatan 40 Tahun Peristiwa 65 sejumlah tulisan sudah disajikan dalam website kita http://perso.club-internet.fr/kontak tentang berbagai pengalaman yang terjadi dalam tragedi besar kemanusiaan yang sudah dialami bangsa kita itu. Munculnya tulisan-tulisan yang mengangkat - dengan berbagai cara -- soal-soal yang berkaitan dengan pengalaman dalam peristiwa 65 adalah perlu sekali (!!!) untuk terus-menerus mengingatkan semua orang bahwa halaman hitam dalam sejarah bangsa itu sekali-kali tidak boleh terjadi lagi. Kapan pun, bagaimana pun, dalam bentuk apa pun, dengan cara apa pun dan oleh siapa pun!

Kali ini kita sajikan tulisan iramani-id, salah seorang putri dari 7 anak Njoto, Wakil Ketua II CC PKI, yang telah ditangkap dalam bulan-bulan terakhir 1965 dan “dihabisi” begitu saja (dan secara diam-diam) oleh unit militer, tanpa pemeriksaan pengadilan.

iramani-id adalah nama samaran yang dipakainya untuk tulisan ini, dengan meminjam nama samaran ayahnya (Njoto) yang sering menggunakan nama Iramani untuk tulisan-tulisan sastranya. Untuk membedakannya dengan nama samaran asli ayahnya, ia pakai huruf kecil.

Tulisan ini merupakan sepenggal ingatan masa kecilnya, ketika bersama ibunya (istri Njoto) dan kakak-adiknya yang jumlahnya banyak itu ditahan oleh militer, antara lain di salah satu Kodim di Jakarta. Waktu itu ia masih berusia 4 tahun, dan saat mereka ditangkap, ibunya sedang hamil besar dan melahirkan anak terkecilnya dalam masa tahanan.

Tulisannya yang bernada puitis ini cukup menggambarkan – dengan bagus sekali dan juga mengharukan -- alam fikir kanak-kanak dalam menghadapi berbagai persoalan waktu itu. Dari cara penulisannya, ia menunjukkan bakat menulis dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan isi yang dalam. Mudah-mudahan di kemudian hari kita bisa menikmati hasil karyanya yang lain. Tulisannya, yang bisa menggambarkan kehidupan yang penuh penderitaan dari keluarga dan anak-anak pimpinan CC PKI karena perlakuan militeristik Suharto, merupakan bukti yang lebih jelas lagi tentang ketidakmanusiawian yang telah banyak sekali dilakukan rejim Orde Baru.

Tentang keluarga Njoto, berikut ini disajikan sebagian dari tulisan Harsutedjo bertanggal 5 Agustus 2005, yang sudah disiarkan di berbagai mailing-list. Tulisan yang berjudul “Nyoto, Menteri Negara, Wakil Ketua CC PKI Dan Nasib Keluarganya” itu antara lain adalah sebagai berikut :

“Sejumlah anak masuk ke dalam penjara bertahun-tahun bersama ibu mereka yang menjadi tapol karena tiada tempat lain untuk berlindung, ya berlindung ke dalam penjara! Betapa absurdnya. Bahkan juga perempuan tapol yang sedang hamil melahirkan di penjara. Seperti pernah kita dengar, Nyoto yang Menteri Negara dan Wakil Ketua CC PKI sampai meninggalnya, istri dan 7 anaknya (yang tertua 9 tahun, si bungsu yang lahir 1966 sedang menyusu) dijebloskan ke dalam tahanan di Kodim Jl Setiabudi, Jakarta. Anak-anak ini pula selama dalam tahanan bersama ibu mereka melihat dan mendengarkan jerit tangis tahanan laki dan perempuan yang sedang disiksa! Dapat kita bayangkan dampak psikologis macam apa yang mungkin mencengkeram seluruh jiwa raga mereka untuk seumur hidupnya. Anak pertama Nyoto yang bernama indah Svetlana Dayani, bertahun-tahun lamanya tidak berani menyandang nama depannya hanya karena berbau Rusia.

Seperti kita ketahui isteri Nyoto, Sutarni, berasal dari keluarga ningrat Mangkunegaran, Sala. Dia tidak memiliki kegiatan politik apa pun, sudah terlalu sibuk dengan anak-anaknya sampai tragedi 1965 meletus. Beruntung anak pertama mereka, Svetlana, baru berumur 9 tahun bersama ibunya di tahanan. Saya ngeri membayangkan, andai saja dia sudah gadis remaja, entah apa yang terjadi terhadap dirinya. Bukan rahasia lagi bahwa telah terjadi pelecehan seksual dan perkosaan, sering beramai-ramai terhadap para perempuan korban. Untuk membungkam saksi tak jarang kemudian mereka dihabisi.

Bukti sejarah berdasarkan pengakuan si pelaku menunjukkan bahwa Nyoto yang Menteri Negara dibunuh atas perintah Jenderal Sumitro sebagai pembantu Jenderal Suharto dengan jabatan Aisten Operasi Menpangad pada 1965. Tipikal jenderal Orba yang dengan bangga mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap lawan politiknya ketika kekuasaannya sedang berkibar.

“Nyoto, gembong PKI, pernah saya lihat sewaktu ia ikut dalam Sidang Kabinet di Bogor. Dia kelihatan sangat sombong, kurang ajar terhadap Pak Hidayat, hingga saya memberi tanda dengan sikut kepada Jenderal Moersjid dan berkata: ‘Sjid, ik krijg hem wel.’ (Aku akan dapatkan dia). Benar, saya sakit hati melihatnya. Saya perintahkan khusus untuk mengejarnya supaya ia terpegang. Selang beberapa waktu ia dikabarkan mati sudah”.[i][i]

Itulah yang diakui dengan bangga oleh Jenderal Sumitro. Kalau saja Pak Jenderal ini masih hidup, ia dapat diseret ke depan pengadilan kriminal karena memerintahkan pembunuhan seorang warga negara sekaligus seorang menteri yang sedang menjabat.

Svetlana melukiskan ayahnya sebagai ayah yang baik kepada siapa saja, halus, sopan, pandai. Sesibuk apa pun dia masih memberikan waktunya untuk keluarga. Svetlana dan adiknya terkadang diajak ke kantor ayahnya di koran Harian Rakjat, juga ketika menerima undangan sarapan ke Istana Negara bersama Bung Karno, bahkan nonton pertandingan sepakbola. Selama hantaman badai, setelah terpisah dari ibunya, dia dan adik-adiknya terpencar-pencar mengikuti sanak keluarga yang berbeda-beda di Jawa dan Sumatra, sementara ibu mereka mendekam sebagai tapol selama 11 tahun. Rumahnya di Kebayoran Baru telah dijarah dan diobrak-abrik, buku-buku dan dokumen dibakar termasuk segala macam dokumen keluarga dan foto-foto. Belakangan rumah itu ditinggali oleh Jenderal Mattalata (ayah penyanyi Andie Meriem). Setelah mengalami segala macam pahit getir bersama semua adik-adiknya, mereka cenderung bersikap apatis terhadap politik karena trauma. Akhirnya Svetlana Dayani berseru, “Hentikan diskriminasi kepada kami”. Demikian tulis Harsutedjo.
KODIM, 1966

Oleh : iramani-id

Kompleks itu bernama Kodim.

Aku tak tahu, apakah memang begitu itu namanya. Tapi begitulah orang-orang besar di sekitarku dulu menyebutnya. Aku tak tahu di mana letak persis tempat itu. Tapi di dalamnya ada banyak ruang, dan, jika ingatanku tak salah merekam, halamannya cukup luas untuk bermain dan berlari-larian.

Tempat itu bernama Kodim.

Meskipun kadang ragu, aku merasa pasti bahwa begitulah tempat itu disebut. Ia tak cuma akrab di telingaku, tapi juga melekat rapat dalam ingatanku. Setiap siang kami melompat kegirangan, bila ransum makan diantarkan. Tanpa dikomando kami segera menggelosor ke lantai mengitari rantang berisi santap siang dengan air liur tak tertahankan. Tangan-tangan kecil kami tumpang-tindih berseliweran, menggapai rantang bersusun empat yang sudah terburai-cerai berserakan di atas lantai. Rantang-rantang itu nampak pasrah saja ketika manusia-manusia kecil di sekelilingnya berisik sahut-menyahut: tertawa, merengek, kecewa, saling ledek, dan entah apa lagi. Aku tak ingat siapa yang sering jadi juara dalam kompetisi seru itu, juga tak pernah ingat apakah aku cukup banyak makan dan merasa puas setelah upacara rutin perebutan dilakukan.

Kompleks itu bernama Kodim.

Malam hari kami berjejal di sebuah ruang, berceloteh bersama dan bernyanyi riang. Jika kami lelah, Mama mendendangkan beberapa lagu atau mendongeng beberapa cerita - yang itu-itu juga. Ia hafal banyak lagu, tapi seingatku paling sering mendendang ninabobo. Entahlah, apakah aku pernah merasa bosan mendengar dongengnya. Juga entah, pada lagu atau dongeng keberapa biasanya aku terlelap di sampingnya.

Tempat itu bernama Kodim, dan ruang tempat kami berjejal itu seukuran kamar tidur. Di salah satu sisi dindingnya menempel sebentuk meja terbuat dari batu, selaik meja kompor di rumah kami dulu. Tumpukan popok dan baju bayi selalu teronggok di situ. Di ruang itu berbagai kegiatan senantiasa kami lakukan: makan, tidur, berkumpul dan bercanda. Tak kuingat lagi apa warna dinding dan pintu ruang itu, dan barang apa saja yang tersedia di dalamnya. Adakah tempat tidur dan kasur yang melapisi tubuh kecil kami ketika berbaring? Adakah lemari tempat kami menyimpan pakaian atau piring? Adakah meja tulis dan bangku-bangku di mana kami bisa berpanjat-panjatan? Adakah rak di mana buku-buku Bapak biasa disimpan?

Tempat itu bernama Kodim.

Pagi-pagi sekali Mama membangunkan kami untuk mandi. Sekeluar kami dari kamar mandi, biasanya orang-orang besar sudah berkerumun di depan jamban sempit itu. Ada yang jongkok ada yang berdiri. Mereka antri mandi. Seusai mandi kami bermain atau berjalan-jalan berkeliling kompleks. Aku sering melihat dan mendengar orang-orang besar berbisik-bisik. Aku tak tahu kenapa orang-orang itu senang sekali bercakap sambil berbisik-bisik. Bisikan itu ada yang sampai di telingaku, terdengarnya begini: “Ada yang mati lagi! Ada yang mati lagi! Dia ditembak!”. Seraya berlari menghampiri kakak-kakakku, aku lalu mewartakan bisikan yang kudengar itu: “Ada yang mati!, ada yang mati! Dia ditembak!!” Suaraku lantang. Aku bangga bisa mengetahui berita itu lebih dulu ketimbang kakak-kakakku. Tapi Mama bergegas menghampiriku, dan setengah berbisik ia menghentikan seruanku: “Sssttt, anak kecil nggak baik ngomong begitu…” Aku lupa, apakah setelah itu aku masih mendengar bisik-bisik seperti itu. Aku juga lupa, apakah di hari-hari berikutnya mulut kecil-lantangku kembali mengulang berita begitu.

Tempat itu bernama Kodim.

Siang menjelang sore, di suatu hari pada tanggal yang tak pasti. Orang-orang besar sigap menggendong dan bergegas memasukkan kami ke dalam mobil. Mobil itu besar, entah sejenis apa. Rasa-rasanya seperti jip, karena suaranya gagah menderu, membuatku merasa bangga berada di dalamnya. Orang-orang besar bersas-sis-sus berbisik sambil bergegas memasukkan kakak-kakak dan adikku satu per satu ke dalamnya. Ketika itu aku kanak empat tahun, girang alang-kepalang. Mereka membisikkan satu kata yang membangkitkan keriangan: tamasya!!. Ya, tamasya!! Orang-orang besar itu terus berbisik satu sama lain. Tapi apa peduliku? “Hore” adalah kata yang paling tepat menggambarkan suasana hari itu, atau setidaknya begitulah yang kurasakan saat itu. Kami melambai-lambaikan tangan seraya berseru riang pada orang-orang besar berbaju loreng pun berbaju rombeng, yang berdiri di luar mengitari mobil kami. Kami akan segera meninggalkan mereka…

Ya, tempat yang baru saja kami tinggalkan itu bernama Kodim. Aku ingat sekali, di tempat itu kami sering bertanya tentang Bapak kepada Mama. Sepenuh sigap Mama menjawab: “Bapak sedang pergi jauh, jauuuh sekali! Ke luar negeri!!” Bagai bebek sahut-menyahut kami berlomba bertanya, beruntun berderap kejar-mengejar, ingin dijawab paling dulu: “Kapan Bapak pulang, Ma?, kapan Bapak pulang?” “Bawa oleh-oleh, kan, Ma?” “Oleh-oleh apa? Cokelat ya, Ma?”

Kompleks itu bernama Kodim.

Aku tak tahu sejak kapan, bagaimana, mengapa, dan untuk apa kami berada di sana. Aku cuma ingat, beberapa waktu sebelum kami berada di tempat itu, kami sempat sibuk menyambut kedatangan Mama dari rumah sakit. Ia membopong adik terkecil kami - yang baru saja dilahirkan. Kata Mama, adikku itu perempuan, Butet namanya. Aku tak tahu kenapa nama begitu itu diberikan kepada adik kecilku.Yang kutahu, kami semua gembira menyambut kelahiran dan kedatangannya, meskipun Bapak tak ada.

Tempat itu bernama Kodim.

Di sana kami pernah bermain, bernyanyi, menangis, bercanda, makan dan tidur bersama. Di sana ada Mama, aku, empat kakak dan dua adikku. Di sana ada orang-orang besar yang suka berbisik-bisik sambil menggendong dan menemani kami bermain. Di sana juga ada orang-orang besar berbaju loreng yang gemar mondar-mandir.

Tempat itu bernama Kodim.

Di sana tak ada Bapak. Ia pergi jauuuh sekali. Entah kapan kembali.

Jakarta, sepenggal masa kecil yang tak lepas dari ingatan.

iramani-id

S.W. Kuncahyo (1928-1999) sehelai surat tentang perginya seorang kawan

Hersri Setiawan:



S.W. Kuncahyo (1928-1999)
sehelai surat tentang perginya seorang kawan



KEMARIN menjelang senja seorang kawan menelponku: kabar
duka. Bung Kuncahyo meninggal tanggal 9 Juli pagi hari di
Malang Jawa Timur, oleh sakit hati parah (lever akut) yang
telah lama dideritanya. Aku tidak pernah mendengar berita ia
sakit. Apalagi sakit lever akut! Sejak aku kenal dekat
dengannya, penyakit Mas Kun - begitu aku dulu biasanya
menyapanya - yang menahun dideritanya ialah penyakit asma.

Nama Sri Wisnukuncahyo sudah aku kenal jauh sebelum
kukenali pribadinya dalam awal 60-an. Ia diperkenalkan sebagai
sastrawan oleh Ibu Nursyamsu, guru sastraku ketika di SMP,
sebagai kawan pengarang seangkatannya - angkatan sesudah
perang atau kemudian dinamai "Angkatan 45".

Supii Wishnukuntjahja penyair Madura, kata Bu Nur suatu
saat di depan klas, seakan-akan "kedaerahan" itu perlu
ditekankan. Entah mengapa, barangkali karena karena ketika
tahun 40-an itu proses pembangunan bangsa memang sedang mulai,
dan lagi Mas Kun juga masih banyak menulis dalam Jawa selain
Indonesia. Supii Wishnukuntjahja, selanjutnya menjadi Sri
Wisnukuntjahja, dan kemudian menjadi S.W. Kuntjahja (ejaan
sekarang "Kuncahya": c untuk tj; y untuk j).

Ketika aku mengenalnya dari dekat pada awal 60-an, ia
tidak lagi tampil sekedar sebagai "penyair sesudah perang".
Angkatan penyair yang kritis, skeptis dan sinis, serta
bertendens "humanisme" tanpa juntrung. Tapi ia tampil sebagai
Bung Kuncahyo, tokoh penyair progresif yang sangat subur pena
dan semangat. Kemudian ternyata, dia juga seorang tokoh
pimpinan gerakan buruh Indonesia (SOBSI), dan akhirnya juga
sebagai sesama tapol G30-PKI yang rajin belajar - belajar dari
dan pada apa saja -, berwatak berani, dan teguh pada
pendirian. Kerajinannya belajar aku kenal ketika kami sama-
sama dalam satu rombongan delegasi nyanyi dan tari (1962)
melawat ke berbagai negeri Asia, keberanian dan keteguhannya
kusaksikan ketika tahun-tahun "pesakitan" di RTC Salemba -
paroh kedua 60-an sampai akhir 70-an.

Pada tahun 67 untuk kedua kalinya ia ditangkap Operasi
"Kalong" di bawah pimpinan Kapten Suroso. Penangkapan pertama
awal 66 di salah satu sudut kota Jakarta, penangkapan kedua
terjadi sesudah ia mendekam di dalam sel Blok "N" RTC Salemba.

Entah atas petunjuk cecunguk siapa, konon Komandan
Operasi "Kalong" Kapten Suroso berikut anak-buah datang ke RTC
Salemba. Langsung mereka menuju ke sel Bung Kuncahyo,
menggeledah sel, dan ditemukannya bendera Merah serta berbagai
tulisan tentang teori dan organisasi revolusioner. Ia dituduh,
bersama satu dua kawan lain, membangun organisasi Partai di
penjara.

Pada tahun akhir 70-an, ketika aku sudah dan masih di
pulau purgatorio Buru, kudengar kabar Bung Kun melarikan diri
dari RTC Salemba. Melalui urung-urung wc di Blok E. Blok
tahanan militer kriminil yang sangat kukenal, karena pernah
berbulan-bulan juga aku menghuninya (1970). Peristiwa Kuncahyo
dkk melarikan diri terjadi pada suatu malam gelap pekat,
ketika ibukota Jakarta diguyur hujan lebat, dengan terlebih
dulu menggergaji jeruji-jeruji besi yang sebesar empu jari
itu.

SUPII Wishnukuntjahja lahir 1928 di Kesamben Blitar Jawa
Timur. Berpendidikan SGL di Blitar (Sekolah Guru Laki-Laki; di
samping itu ada SGP, Sekolah Guru Perempuan), lembaga
pendidikan guru 4 tahun sesudah SD untuk menyiapkan tenaga
pengajar di sekolah-sekolah dasar. Ia menulis sejak awal umur
Republik, terutama puisi, antara lain di majalah-majalah
"Berontak" (Magelang), "Bakti" (Mojokerto), "Sastrawan"
(Malang), juga "Pantja Raja" dan "Mimbar Indonesia".

Dalam "Gema Tanah Air", H.B. Jassin, cetakan ke-3 (1954),
Supii Wishnukuntjahja tampil dengan tiga sajak "Perbuatanku",
"Tjongkak", dan "Dalam Persimpangan" (233-235). Aku tidak
tahu, apakah H.B. Jassin tahu barang sedikit riwayat hidup
Bung Kuncahyo. Andaikata begitu, bisa dipastikan H.B. Jassin
tentu tidak akan menampilkannya lagi di dalam "Gema Tanah Air"
cetakan terakhir. Ia seorang "Paus Sastra Indonesia" yang
gagah memang, ketika membela Ki Panji Kusmin di depan
pengadilan. Tapi Jassin sama sekali tak berjubah putih, sekali
ia berhadapan dengan "kaum Manipolis".

Tiga hari sebelum kepergiannya, aneh sekali, aku merasa
didorong keinginan untuk menyanyi dan mencatat kembali lagu
dan syair "Pujaan Kepada Partai" - sebuah himne untuk PKI.
Seperti banyak kawan tentu tahu, lagu itu disusun oleh Bung
Subranta K. Atmadja (meninggal di Jakarta 12 November 1982;
tentang almarhum dan karyanya pernah aku tulis di "Kompas
Minggu", Desember 1982), dan syair oleh Slamet. Slamet itu
S.W. Kuncahyo inilah! Dengan dibantu ingatan dua orang kawan,
syair himne itu berhasil kucatat kembali.
Untuk mengenang S.W. Kuncahyo, di bawah ini kuturunkan
syair lagu "Pujaan Kepada Partai":

Kaucabut segala padaku
cemar dan noda
duka dan derita
Kauberi segala padaku
kasih dan cinta
bintang dan surya
Partaiku Partaiku
segenap hati bagimu
Partaiku Partaiku
kuwarisi api juangmu
PKI PKI
segenap hati bagimu
PKI PKI
kuteruskan jejak juangmu!

Bung Kun,
Orang boleh setuju atau tidak setuju pada sikap pendirianmu.
Juga orang boleh senang atau tidak senang pada cita-cita dan
organisasi yang engkau abdi. Tapi bagiku, Bung Kun, engkau
telah mencurahkan hidupmu untuk apa yang terbaik bagi hati
nuranimu. Untuk itu aku menundukkan hatiku bagimu.

Bung Kun,
Selamat Jalan!

Kockengen 11 juli 1999

Diluncurkan, Enam Buku Pengarang Lekra

Diluncurkan, Enam Buku Pengarang Lekra


BANDUNG –Dalam diskusi “Lekra dan Politik Sastra” di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Sabtu, 20 Maret 2010, Jakob Sumardjo mengatakan, “Berbeda dengan tahun 1950-1960-an, ketika Lekra selalu dikaitkan dengan partai politik, Lekra yang sekarang adalah Neo Lekra.”

Hal itu dikatakan Jakob Sumardjo menanggapi pernyataan penyair Lekra Sutikno W.S. yang hadir dalam diskusi tersebut. Pujangga Boemipoetra Saut Situmorang yang juga menjadi pembicara menambahkan, “Sudah waktunya membentuk Lekra Baru, karena sudah terlalu lama Lekra ditenggelamkan.”

Dalam diskusi yang dipadati seniman-seniman muda Bandung itu, Sutikno W.S. mengatakan perlunya sastrawan menghasilkan karya yang tinggi mutu ideologinya dan tinggi mutu artistiknya. “Yang dimaksud tinggi mutu ideologi adalah bagaimana sastra kita bersikap memuliakan kehidupan, menghormati kemanusiaan, mensyukuri kehidupan. Kuncinya: memuliakan kemanusiaan,” kata Sutikno.

Dia menambakan, orang-orang Lekra menulis karya sastra dengan menggambarkan kehidupan dan tercermin dalam karya sastra kita. “Kalau kita melihat kehidupan kita sehari-hari, manusia masih direndahkan. Karena itu kita menulis untuk memuliakan manusia dan mengangkat derajat manusia. Dalam karya, kita tampilkan segi-segi yang baik yang diperjuangkan. Yang dipahlawankan bukan para jenderal, melainkan para prajurit yang berada di medan pertempuran, karena merekalah yang berjuang. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, para petani dan buruhlah yang perlu diperhatikan, karena merekalah yang bekerja dan berkeringat untuk kehidupan orang banyak,” ujarnya.

Sutikno juga menjelaskan bahwa buku Nyanyian dalam Kelam itu ia tulis di dalam penjara sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk penistaan terhadap manusia. Jakob Sumardjo menaymbut baik pernyataan Sutikno itu. “Kalau tujuannya seperti itu, maka itu semacam Neo Lekra. Tinggal buktikan saja, berkarya dengan dasar-dasar seperti itu dan berlomba dengan yang lain.”

Putu Oka Sukanta yang juga hadir dalam diskusi tersebut mengingatkan bahwa sastra Lekra dihilangkan atau dieliminasi oleh penguasa secara terstruktur dan sistematis, sehingga menimbulkan refraksi dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia. “Kalau mau lihat Lekra jangan sepotong-sepotong. Jangan bicara Lekra tanpa orang Lekra. Di zaman Soeharto telah terjadi pemblejetan terhadap orang Lekra, namun orang Lekra tidak boleh masuk,” kata sastrawan Lekra ini.

Putu Oka menjelaskan, saat ini sudah ada lima buku yang berbicara mengenai Lekra. “Pertama, buku Asep Sambodja yang berbicara mengenai Historiografi Sastra Indonesia 1960-an. Kedua, buku Keith Foulcher mengenai Social Commitment in Literature and the Arts. Ketiga, tulisan Goenawan Mohamad dalam buku Sastra dan Kekuasaan. Keempat, buku Yahya Ismail yang berasal dari skripsi di UI. Kelima, Prahara Budaya Taufiq Ismail.”

Perlu saya tambahkan di sini bahwa ada satu buku penting mengenai Lekra yang justru dilarang rezim SBY-Boediono, yakni buku Lekra Tak Membakar Buku karya Muhidin M. Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri. Fakta-fakta dari perspektif orang-orang Lekra yang berkaitan dengan peristiwa 1960-an justru dilarang oleh penguasa.

Dalam diskusi di tempat Soekarno muda (24 tahun) dan kawan-kawan Partai Nasional Indonesia (PNI) pernah diadili ini memang sangat menarik. Jakob Sumardjo berangkat dari semboyan yang menjadi pendirian sastrawan Lekra: “tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik”. Menurut Jakob, sastrawan-sastrawan dunia juga menerapkan idealisme sastra seperti itu. “Semua karya sastra harusnya seperti itu,” tegas Jakob Sumardjo.

Ia mencontohkan sastrawan Jepang yang ideologinya terpengaruh oleh Budha bisa digemari oleh berbagai kalangan dari berbagai ideologi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita menciptakan karya sastra, apa pun ideologinya, yang bisa diterima oleh orang lain yang memiliki ideologi yang bermacam-macam. “Jadi tidak hanya dipuji di kalangannya sendiri saja, tapi dipuji juga di luar kalangan itu.”

Jakob mengangkat kearifan lokal dalam budaya Indonesia. Di Sunda dikenal adagium tekad-ucap-lampah, sementara di Jawa dikenal dengan niat-ilmu-laku. Ketiga hal itu merupakan satu kesatuan. Pikiran (ilmu/ucap) itu menghasilkan perbuatannya (tindakan/karya/lampah/laku/empirik).

“Jadi, tidak perlu dibuat oleh siapa, tapi perbuatannya bisa diterima oleh semua orang,” jelasnya.

Jakob menambahkan bahwa puncak ideologi adalah jika karya itu bisa diterima oleh orang-orang yang berada di luar kelompoknya. Karena, lanjutnya, keinginan manusia itu sama, yakni hidup yang lebih baik, menginginkan keadilan, tidak ingin ditindas, tidak ingin diperlakukan tidak adil. “Keinginan manusia sama semuanya: ingin masuk surga dan tidak ingin masuk neraka. Hanya, caranya untuk menempuh tujuan itu yang berbeda-beda.”

Jakob mencontohkan, puisi “Gadis di Hutan” karya S. Anantaguna dalam buku Puisi-puisi dari Penjara justru memperlihatkan seorang gadis yang meratapi kebebasan. “Bebas di sini bias berarti bebas-dari dan bebas-untuk. Puisi ini bisa ditafsirkan jika kita sudah bisa diterima di dalam sebuah kelompok, berarti kita sudah bebas. Makanya kalau Boemipoetra mengejek kan enak saja. Telanjang bersama sudah tidak malu lagi, sudah merasa bebas, kebebasan sebagai orang dalam.”

Jakob juga mengutip sebuah puisi Hr. Bandaharo yang memperlihatkan konsep niat-ilmu-laku tadi. Puisi tersebut berjudul “Aku Hadir di Hari Ini” yang ditulis di Pulau Buru pada 1975. Khususnya bagian 4.

manusia menurut fitrahnya mencintai keadilan
tapi senantiasa terdorong berbuat kezaliman
sejak adam, sejak kaen, sejak dulu-dulu
kezaliman pun dilawan dengan kezaliman
dan manusia berkata:
kamilah pembela keadilan!

wahai, manusia
mengapatah kamu katakan
sesuatu yang kamu tidak lakukan?

Menurut Jakob Sumardjo, yang penting adalah realitas karya. “Apapun di balik itu, entah dia dari mana, musuh kita, pikiran, dan ideologinya, buat karya yang bisa diterima banyak orang. Inilah yang dikatakan tinggi mutu ideologi dan artistik. Tindakan lebih penting dari pikirannya. Ilmu itu terjadinya lewat laku/perbuatan”.

Sementara Saut Situmorang lebih menyoroti persoalan politik sastra dari zaman Balai Pustaka hingga kini. Menurutnya, Balai Pustaka, Manikebu, dan Horison melakukan politik kanonisasi sastra; mana yang diselamatkan dan mana yang dibuang atau disingkirkan.

Balai Pustaka melakukan kanonisasi sastra dengan dua faktor, yakni faktor bahasa dan isi. Dari segi bahasa, karya sastra yang menggunakan bahasa melayu pasar, bahasa yang dipergunakan rakyat sehari-hari, bukan dianggap sebagai high culture, dianggap sebagai bacaan liar. Sementara dari segi isi, karya-karya fiksi yang mengangkat pernyaian dianggap melukai tuan besar Belanda, karena isinya memperlihatkan kelakuan tuan besar Belanda yang ngeseks karena kekuasaan. Jadi, kata Saut, karya-karya seperti itu dianggap sangat menghina kelaki-lakian laki-laki kulit putih.

Manikebu juga begitu. Paus sastra H.B. Jassin dalam esainya mengenai “Angkatan 66” menggunakan bahasa jurnalistik politik yang berkaitan dengan politik praktis, bukan dengan bahasa sastra. Semboyan “Politik sebagai panglima” yang dituduhkan ke Lekra justru dilakukan secara sistematis oleh orang-orang Manikebu dengan menghilangkan Lekra dari sejarah sastra Indonesia. Akibatnya tidak ada informasi tandingan mengenai Lekra.

“Ada informasi yang sengaja dihilangkan; Mukadimah Lekra tidak dibaca secara mendalam. Yang diagung-agungkan justru Kredo Sutardji Calzoum Bachri yang formalistik itu,” kata penyair Yogya asal Medan ini.

Apa yang dilakukan Teater Utan Kayu (TUK) dengan Tukulismenya makin canggih politik sastranya. “Kalau TUK bilang di luar teks tidak ada apa-apa, maka saya katakan, di luar politik sastra, tidak ada apa-apa,” tegas Saut Situmorang, penulis buku Politik Sastra ini.

Politik sastra yang dilakukan Goenawan Mohamad dan TUK-Salihara itu dijelaskan Saut seperti ini: kepada dunia luar, selalu dikatakan bahwa TUK adalah representasi sastra Indonesia. Sementara ke dalam dikatakan: kalau mau go international harus melalui TUK.

Lebih jauh Saut mengatakan bahwa ada sebuah ketakutan atau fobia terhadap realisme sejak Orba berkuasa. Realisme sangat direndahkan. Justru yang dikembangkan adalah formalisme Tardji yang bergulat pada abjad saja. “Sejak berkuasanya Orba dan Manikebu, di majalah Horison hampir tidak ada karya realisme. Kalaupun ada realisme, dikatakan sebagai realisme magis. Sutardji dan Danarto dikatakan sebagai formalisme sufi. Hanya orang TUK yang bisa menuliskan itu.”

Mungkinkan karya sastra menyebabkan perubahan sosial? Di Amerika ada Uncle’s Tom Cabin. Di Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer. “Bahwa pengarang menulis fiksi itu sama dengan menulis sejarah baru yang beda dengan sejarahnya Nugroho Notosusanto dan Taufiq Ismail.”

Dalam polemik kebudayaan yang dibukukan Achdiat Kartamihardja itu ada satu hal penting yang dilupakan Achdiat dan mereka yang berpolemik, bahwa pada saat itu mereka sedang dijajah Belanda. Ada realitas bahwa mereka sedang dijajah sama sekali tidak diucapkan. Orang-orang seperti inilah yang membayangkan nasionalisme Indonesia. Dan kita harus mempertanyakan hal itu. “Bisa nggak, kita menolak sesuatu yang sudah dibayangkan oleh founding fathers kita?” tanyanya. “Menulis sejarah, realisme, itu adalah persoalan besar.”

Jakob Sumardjo mengingatkan kita pada kearifan lokal orang Baduy. “Yang panjang, jangan dipotong, yang pendek jangan disambung.” Artinya, kalau yang penjang itu dipotong, maka ia akan sama dengan yang pendek. Kalau yang pendek itu disambung, maka ia akan sama dengan yang panjang. Jadi, orang Baduy itu mengakui adanya perbedaan, dan karenanya tidak perlu diseragamkan.

“Sayang saya terlambat membaca buku Mas Marco Kartodikromo, Semaoen, dan lain-lain. Kalau kita bandingkan dengan novel-novel sezamannya, maka novel Mas Marco itu lebih modern, karena to the point, bahasanya sederhana, natural.”

Jakob mengatakan, bahwa sebenarnya semua orang merupakan anak-anak yang hilang.

Bandung-Citayam, 20-21 Maret 2010
Asep Sambodja

Catatan: Hadir dalam diskusi yang diselenggarakan Utimus dan Majelis Sastra Bandung ini di antaranya Yopi Setia Umbara (moderator), Matdon (MC), Putu Oka Sukanta, S. Anantaguna, Sutikno W.S., Muhidin M. Dahlan, Astuti Ananta Toer, Irina Dayasih, Svetlana Dayani, Ilham Aidit, Imam Abda, Tuty Martoyo, Nuraini Hendra Gunawan, Salim, Rama Prabu, Wong Agung Utomo, Iman Budi Santoso, Dian Hartati, Bilven Sandalista, Dadan M. Ramdan, dan masih banyak lagi.

Sumber: Note Facebook Asep Sambodja

"NYANYIAN DALAM KELAM"

ASAHAN:

Komentar Sastra(singkat)


Kumpulan Puisi Sutikno WS :"NYANYIAN DALAM KELAM"



Penerbit: ULTIMUS Bandung; Januari 2010

Ketika bung Bilven meminta saya memberikan komentar untuk cover belakang buku
ini, saya langsung membaca beberapa sajak dalam att.ment secara sepintas lalu
namun perlahan-lahan perhatian saya jadi terpusat dan terus membacanya satu
persatu hingga habis. Pengalaman demikian belum pernah saya alami dalam membaca
buku puisi kecuali novel-novel dari para pengarang dunia yang sangat terkenal
yang biasa saya lalap terus menerus selama beberapa hari hingga tamat, bila
buku itu memang menarik dan enak dibaca.
Tapi buku-buku puisi sangat jarang saya baca hingga tamat kecuali jika saya
dimintai untuk memberikan kata pengantar atau komentar. Meskipun saya juga
penulis puisi tapi sekaligus saya juga pembenci puisi karena suka bikin
teka-teki sedangkan saya paling benci teka-teki dalam puisi meskipun juga puisi
yang terang benderang tapi tanpa estetika, juga tidak saya sukai.

Namun ketika membaca kumpulan Puisi Sutikno WS, kesan dan selera puisi saya
menjadi berubah seketika. Dengan spontan otak saya mengatakan: Ini barulah
keindahan sebuah puisi. Terkadang saya membacanya dengan dada terasa sesak,
kadang saya tidak bisa menahan keluarnya air mata kekaguman. Mengapa puisi bisa
memukau perasaan manusia begitu hebatnya, begitu menggetarkannya. Saya tidak
sanggup menjawab pertanyaan saya sendiri, mungkin orang lain yang akan
menjawabnya bila juga sempat membaca sajak-sajak Sutikno ini.

Sebagaiman kebiasaan saya, saya kurang suka memberikan contoh-contoh atau
petikan panjang dari prosa ataupuh puisi yang saya bicarakan. Saya bukan
seorang penulis resensi, bukan seorang essayist tapi mungkin sekedar seorang
pengagum dan pencela. Dari bangku sekolah saya mendapat sebutan sebagai
kritikus sastra atau filolog, tapi saya belum pernah menulis sebuah kritik
sastra yang memadai atau sebuah resensi yang bernilai dan saya tidak merasa
rerganggu dan menyibukkan diri untuk mendapat pengakuan demikan dari siapapun
dan saya tetap suka mengomentari karya-karya sastra yang saya rasa patut dan
menimbulkan hasrat untuk dikomentari karenanya saya mengabaikan semua sistim
penulisan dengan menggunakan metode analisa yang berbelit-belit, memamerkan
teori-teori sastra yang bertebaran di berbagai buku dan majalah, mengulangkaji
criteria sastra klassik maupun moderen, kebiasaan demikian tidak akan saya
lakukan. Saya lebih suka mengajak banyak orang yang awam maupun yang ahli untuk
memberikan komentar sastra tanpa dibebani oleh otoriter intelektuil atau
terhalang karena bukan pakar professional. Sastra itu sederhana: indah, kurang
indah, atau jelek atau sangat jelek. Sudah tentu sastra juga bisa didalami,
diselami dan diteliti dan itu kewajiban para pakar sastra yang orang awam
sebaiknya tidak terlalu banyak campur tangan agar tidak tergelincir ke dalam
awamisme dalam sastra. Jadi di seginya yang lain, sastra itu memang ada
ilmunya, yaitu ilmu sastra yang bisa dipelajari di Universitas maupun di luar
Universitas.

Kembali ke kumpulan puisi Sutikna WS. Membaca kumpulan puisi Sutikno, serasa
menikmati sebuah symphoni puisi: kaya irama, melodius tapi juga membawa arus
tragis, getir dalam aliran keindahan puisi dan ungkapan atau kalimat-kalimat
puitis yang menggetarkan, memabukkan dan sekaligus membikin waras kembali. Saya
menjumpai banyak sekali pelukisan alam beserta isinya seperti bunga-bunga
beraneka warna, di mana terdapat juga warna "ungu" yang begitu sedap terletak
pada tempatnya yang menambah selera puitis secara amat berkesan. Sutikno
menurut saya adalah juga seorang pelukis yang menggunakan kata dan terciptalah
sebuah lukisan alam dan hati manusia yang berirama yang terkadang gemuruh,
terkadang sayu, terkadang merayu, terkadang mengiris nurani yang menimbulkan
derita nikmat pada pembacanya. Sitikno tidak menawarkan sedu sedan pada
pembacanya meskipun nasib manusia yang terampas kebebasannya dan tidak berdaya
hampir beserakan di seluruh sajak-sajaknya. Tidak ada dendam yang ber-api-api
tapi juga tidak ada maksud untuk mengubur dendam yang tak terbalas itu bagi
membebaskan diri dari ketidak berdayaan. Tapi toh, kalau dendam yang
ber-api-api itu tidak ingin diluapkan, namun sesungguhnya ia terbungkus baik,
terbungkus rapi dan begitu etisnya cuma dalam beberpa kata: SETIA PADA
CITA-CITA dan tanpa penyesalan. Dan itulah sesungguhnya benang merah besar
pesan Sutikno dalam puisi-puisinya. Tanpa sebuah makian terhadap musuh tapi
juga tanpa secuil penyesalan terhadap penderitaan dan siksaan dalam penjara.
Puisi-puisi Sutikno tidak pernah menghapus hari depan yang pernah
dicita-citakan semula olehnya dan rakyatnya tanpa terdapat satu kata yang banal
atau teriakan histeris dan memang di sini juga terletak kekuatan puisi-puisi
Sutikno dan dia secara alamiah atau begitu saja membedakan dirinya dari
puisi-puisi sebagian dari penyair Lekra sebelumnya (jaman sebelum dibabat).
Saya ambil satu contoh sajak yang tidak saya kutip di sini tapi hanya
memberikan judulnya saja: KUBURAN DI ATAS BUKUT. Dalam sajak ini antara alam,
warna, drama dan kepiluan menjadi satu dan berpadu begitu indahnya, begitu
mempesona yang mungkin diciptakan seorang penyair genial seperti Sutikno. Saya
teringat akan sajak-sajak Lermontov yang sangat saya sukai.

Membicarkan atau mengomentari puisi-puisi Sutiknao bagi saya tidak akan
habis-habisnya. Tapi saya tidak akan lebih berpanjang-panjang dan mengahiri
komentar ini dengan kata penutup: Kumpulan pusi Sutikno WS "NYANIAN DALAM
KELAM" adalah sebuah kumpulan puisi yang sukses dan nikmat untuk dibaca, patut
dimiliki setiap orang terutama penggemar sastra teristimewanya puisi, tidak
pandang ideologi apa yang dimiliki seseorang, anti Lekra maupun penggemar
Lekra. Dan siapapun Sutikno, dia telah mempersembahkan hati dan kata dalam
bentuk puisi kepada setiap orang. Dan itu untuk saya, luar biasa indahnya.
Hoofddorp, 16 Desember 2009
asahan.
Penggemar sastra.


http://www.mail-archive.com/artculture-indonesia@yahoogroups.com/msg04618.html

Sudisman

Sudisman (lahir di Jember, 1920 - Wafat 1967) adalah pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani itu. Sudisman di hukum mati karena di tuduh terlibat dalam Gerakan 30 September.

Masa kecil

Sudisman adalah pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani itu dilahirkan di Jember, 1920. Sejak mudanya, ia telah berlaku berani menempuh hidup: sebagaimana Sayuti Melik menempelkan Ijazah AMS-nya (SMA) pada blek untuk jual dendeng, demikianlah pula Sudisman, begitu tamat HBS Surabaya tanpa ragu bersumpah di depan seorang gurunya bahwa ia tak akan menggunakan ijazah kolonial itu untuk mencari makan. Ia pun lantas terlibat dalam pengorganisiran buruh.


Karier politik

Sudisman juga dikenal sebagai organisator yang jitu dan cerdik. Seorang jurnalisSoeryono (1927-2000), yang pernah bekerja di Penghela Rakyat di Magelang dan juga anggota Pesindo menjuluki Sudisman sebagai “the King Maker” yaitu Amir Syarifuddin dan DN Aidit. Ia juga seorang intelektual yang tekun dan teliti begitulah minimal di mata Joesoef Ishak dan Joesoef pun mengenalnya sebagai orang yang rajin membawa catatan ke mana-mana, dan kebiasaannya tak lain dari mencatat apa-apa yang dikatakan lawan bicaranya. Ia tak ubahnya sebagai “kamus berjalan” yang bisa dimintai bantuannya bila seseorang lupa atau tak mampu mengingat-ingat suatu hal penting yang ingin dikemukakan.

Sejak sebelum pecah perang kemerdekaan 1945, dia aktif di Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama Amir Syarifuddin, Moh. Yamin, Wikana dan A.K. Gani. Pada masa pendudukan Jepang, pada Januari 1943, Sudisman bersama Amir Syarifuddin dan 53 kawannya pun ditangkap. Menurut A.M. Hanafi, Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO sejak masa di zaman Belanda dan masa pendudukan Jepang, Sudisman adalah Ketua Barisan Pemuda GERINDO Cabang Surabaya. Di penjara di Sragen akhirnya ia dibebaskan oleh pemuda Sidik Arselan, anggota Pemuda GERINDO, bekas PETA, dengan sepasukan Pemuda P.R.I. (yang ketuanya adalah Sumarsono) yang mendatangi penjara Sragen itu. Selain telah membebaskan Amir Sjarifudin dan Sudisman, mereka juga telah membebaskan semua tahanan lainnya yang ada di situ. Sudisman, menurut AM Hanafi juga, adalah anggota PKI, kadernya Pamudji yang dibunuh Jepang di penjara Sragen. Dari penilainan Hanafi, Sudisman adalah seorang yang tahu menghormati kaum Sukarnois. Karena itu sebagai pejuang Sudisman dikenal sebagai seorang nasionalis yang militan.

La Luta Continua!

Pada tanggal 21 Juli 1967, kw sudisman mulai di-mahmilub. Dalam kesempatan itu, dia membacakan beberapa puisi. Puisi nr. 06 dibacakan ketika dia akan di eksekusi.



La Luta Continua!



-----------------------------

01.

samodera berpantai krakatau



samodera berpantai krakatau

krakatau berpantai samodera

samodera pantang asat

walau prahara bergunjing

krakatau tak menekuk

walau taufan membadai.



samodera itulah rakyat

krakatau itulah partai

keduanya saling mempantai

samodera berpantai krakatau

krakatau berpantai samodera.



02.

disergap



seisi rumah lagi enak nyenyak,

mendadak terperanjat, bangun terbentak,

oleh gedoran pintu dibarengi derap sepatu,

todongan pistol bernikkel menuding-nuding,

mengabakan, ayo jongkok di pojok,

dengan baju celana dalam thok,

alangkah berkesan bagiku adegan ini,

disergap sesaat mentari merekah pagi.



03.

kata intan tanggung jawab



kuhadapi, razia demi razia,

kuhadapi, pemeriksa demi pemeriksa

kuhadapi selsiksa demi selsiksa.

kuhadapi, penjara demi penjara

dengan kepala dan hati,

rela mati bagi pki,

demikian makna kata intan tanggung jawab.



sungguh [kilau kemilau] cahaya,

kata intan tanggung jawab

tapi, kalau

diingkari sama dengan insan khianat

dan lari menanggalkan itulah laknat

sebab, terang

tanggungjawab mengamanatkan

tri eka tunggal dalam fikiran, hati dan tujuan

kalau petir menyambar dan mati menghadang,

kuhadapi

tanggungjawab silih berganti

ku tak ingkar, ku tak lari

apalagi menanggalkan



kuhadapi dengan teguh dan tenang

sederhana dan rendah hati

demi rakyat, pki dan revolusi

demi proletariat sejagad dan pki,

demikian makna

kata intan tanggung-jawab



04.

pujaan pada partai



kucabut segala darimu

noda dan dosa duka dan derita

kudapat segala darimu

kasih dan cinta bintang dan surya

partaiku, partaiku segenap hatiku bagimu

pki pki segenap hatiku bagimu

pki pki kuteruskan jejak juangmu



05.

jeritan



kalau kau tatap

jenazah diangkat dini hari

itulah mayat

yang selagi sakit

tak terawat lagi

karena,

obat tak terbeli

dan rumah sakit

klas kambingpun

tak terbayar

oleh kantong buruh

tak berisi –



06.

janjiku



setelah mengalami pengendapan,

perenungan dan perubahan sejak 12 februari 1968

– sudisman



janjiku tetap setia padamu kasih

di tengah puncak nyeri tersiksa

kini kuulangi janji setiaku padamu

untukmu kurelakan jiwa dan ragaku

masa damaimu kuturut menyenyam

di kala ditimpa bencana kini

dengan juang tetap kau kan kubela

tetes leleh darah di tubuhku

ini suatu tanda kemenangan pendirian

dengan baja hati sepuhan darah

sebulat tekadku

hidup dalam juang

juang dalam hidup......

SUDISMAN TIDAK SUKA MENANGIS

SUDISMAN TIDAK SUKA MENANGIS



Sudisman, anggota Polit biro CC PKI, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Mahmilub tahun 1967 dengan tuduhan terlibat peristiwa 1965. Di tahun itu juga ia dieksekusi. Hanya Sudisman yang menjalani proses pengadilan dari 5 pucuk pimpinan PKI. Yang lain lenyap tak tentu rimbanya. Bagaimana mati dan kuburnya pun tak terpastikan. Di samping itu ratusan ribu warganegara Indonesia yang tak pernah diadili dan dibuktikan bersalah: baik anggota, simpatisan maupun yang diduga ada hubungan dengan PKI, dibantai, dipenjarakan, atau dibuang ke Pulau Buru. Pada minggu pertama Oktober 1965, 5 dari pucuk pimpinan PKI, cuma Sudisman yang berada di Jakarta sementara 3 orang ada di Jawa Tengah : Aidit, Lukman dan Sakirman sedangkan Nyoto di Sumatra Utara.

Sudisman sendiri sempat melewati masa pelarian dan sembunyi. Pada masa pelarian inilah, ia berhasil membuat Pledoi atau KOK partai. Pledoi Sudisman yang mengatasnamakan Polit Biro CC PKI sendiri diselesaikan di Jawa Tengah, Bulan September 1966. Pledoi Sudisman ini juga dianggap telah mengakhiri pertentangan dalam faksi-faksi PKI akibat G 30 S yang gagal.
Dalam Pledoi itu Sudisman menyatakan:

Malapetaka yang telah menimbulkan kerugian berat kepada PKI dan gerakan revolusioner rakyat Indonesia sesudah terjadi dan gagalnya “Gerakan 30 September” telah menyingkapkan tabir yang dalam waktu cukup lama menutupi kelemahan-kelemahan berat PKI. Pimpinan PKI telah menjalankan avonturisme yaitu dengan mudah saja tanpa mengindahkan ketentuan-ketentuan organisasi melibatkan diri ke dalam “Gerakan 30 September” yang tidak berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi massa rakyat. Dan karena itu telah menyebabkan terpencilnya partai dari massa rakyat. Sebaliknya sesudah kalahnya “Gerakan 30 September” pimpinan partai menjalankan garis oportunisme kanan yaitu menyerahkan nasib partai dan gerakan revolusioner pada kebijaksanaan Presiden Sukarno. Ini adalah puncak kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan berat PKI baik di bidang ideologi, politik dan organisasi”

Sudisman, akhirnya tertangkap di daerah terpencil Tomang pada tanggal 6 Desember 1966. Katanya: “Dalam juang terkepung lawan, tepat setahun sesudah Kawan Njoto tertangkap”. Untuk penangkapannya ini ia mengungkapkannya secara puitik:

DISERGAP
Seisi rumah lagi enak nyenyak,
mendadak terperanjat,
bangun terbentak,
oleh gedoran pintu dibarengi derap sepatu,
todongan pistol bernikel menuding-nuding,
mengabakan, ayo jongkok dipojok,
dengan baju celana dalam thok,
alangkah berkesan bagiku adegan ini,
disergap sesaat mentari merekah pagi.

Selama dalam tahanan, anehnya Ia sendiri, tak mengalami siksaan fisik yang berarti seperti yang lain-lain walau seharusnya dialah yang paling bertanggung-jawab. Sudisman menyatakan:

Dari persoalan penangkapan saya menjurus ke pemeriksaan. Saya ingin mengemukakan bahwa saya pribadi tidak pernah mengalami pukulan selama pemeriksaan, malahan hubungan antara pemeriksa dan yang diperiksa berdasarkan saling menghormati dan saling mengerti akan keyakinan masing-masing titik tolaknya, saling menghormati walaupun menganut perbedaan politik. Tetapi tidak demikian halnya jang dialami oleh kawan-kawan saya, sampai-sampai kawan Anwar Sanusi, calon anggota Politbiro CC-PKI dan bekas wakil Sek.Jen. Front Nasional pusat masih dipukul juga, apalagi yang lain. Ragam pukulan hampir menyerupai siksaan sewaktu zaman fasis Jepang, hanya digantung sajalah yang tidak digunakan. Sungguh mengerikan kalau melihat derita akibat pukulan yang dialami kader-kader PKI dan mereka yang dituduh tersangkut dengan G.30.S., padahal ke salahan mereka belum terbukti, dan belum tentu mereka itu bersalah. Belum tentu bersalah tetapi badannya sudah rusak akibat pukulan dan diselomoti (dibakar) dengan nyala rokok, sandal karet yang dibakar, sampai distrom.

Ia pun menyadari ini. Karenanya dalam pembelaannya di mahmilub ia mengemukakannya sebagai Uraian Tanggung Jawab bukan pidato pembelaan karena menurutnya suatu pembelaan harus memiliki persenjataan yang lengkap baik di bidang teori Marxisme-Leninisme maupun di bidang-bidang lainnya. Persenjataan itulah yang justru tidak dia miliki karena persediaan perpustakaan tidak dia miliki dan tidak ada di tangannya.
Pada pengadilan mahmilub itu, sebagai seorang komunis yang bersandar pada pengetahuan Ilmiah, ia pun menolak di sumpah atas nama agama apapun. Dengan rendah hati, ia pun menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa 1965, karena kawan-kawannya lain sudah lebih dulu menempuh “jalan mati”. Untuk ini ia menyatakan:

Mereka berempat telah mati tertembak tanpa “jalan-justisi”. Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih “jalan mati”. Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951, dari kecil menjadi besar, dari berpolitik salah menjadi berpolitik benar, dari terisolasi menjadi berfront luas, dari kurang belajar teori menjadi mulai belajar teori Marxisme – Leninisme, dan karena tidak menguasai teori Marxisme – Leninisme secara kongkrit kemudian berakhir terpelanting dalam kegagalan’ G-30-S yang membawa kerusakan berat pada PKI. Saya pribadi terlibat dalam G-30-S yang gagal. Kegagalan ini berarti pula kegagalan saya dalam memimpin PKI, sehingga mendorong menjadi unggulnya pihak lawan politik PKI.

Di hadapan pengadilan Mahmilub ini juga ia mengungkapkan kondisi yang senasib antara Bung Karno dan PKI.
Ia menyatakan:

Saya dan PKI tidak pernah memberikan gelar ini atau itu kepada Bung Karno, tidak pernah memberikan agung ini, atau agung itu, sebab gelar satu-satunya jang tepat adalah “Bung Karno” sehingga nama Bung Karno berkembang dari Sukarno (ada kesukaran) ke Bung Karno (artinja bongkar kesukaran). Sebagai sesama orang revolusioner, justru dalam keadaan sulit seperti sekarang inilah saya terus membela dan mempertahankan Bung Karno, sebab sesuatu mengatakan bahwa “in de nood leert men zijn vrien den kennen” (dalam kesulitan kita mengenal kawan) dan “jo sanak, jo kadang, jen mati aku sing kelangan” kata Bung Karno untuk PKI. Sebagai arek Surabaya, saya sambut uluran tangan Bung Karno dengan: “ali-ali nggak ilang, nggak isa lali ambek kancane”. (artinya tidak bisa lupa sama kawannya).

Kenapa saya bela dan pertahankan Bung Karno? Sebabnya ialah sepanjang sejarahnya Bung Karno konsekwen anti Imperialis sampai berani menyemboyankan “go to hell with your aid” terhadap imperialis Amerika Serikat; Bung Karno setuju mengikis sisa-sisa feodal dengan mengadakan landreform terbatas; dan Bung Karno setia pada persatuan tenaga-tenaga revolusioner. Inilah dasar daripada instruksi saya pada anggota-anggota PKI, untuk masuk dan bentuk “Barisan Sukarno”.

Dalam kesulitan seperti sekarang ini berlakulah pepatah Pavlov bagi Bung Karno “a discovery begins where an unsuccessful experiment ends” (suatu penemuan mulai pada saat pengalaman yang tidak sukses berhenti).
Sebagai perpisahannya dan kesiapannya menatap pelaksanaan hukuman baginya, Disman mengutip perkataan penulis Andrew Carve: No tears for Disman – Tiada airmata bagi Disman. Sedangkan bagi para petugasnya, ia sampaikan: You had done the world a service – Kalian telah berbuat bakti bagi dunia. Sebagai orang Jawa, ia menyatakan dalam bahasa Jawa yang bernada miris:
Pertama: matur nuwun, terima kasih kepada semua pihak yang telah merasa membantu saya selama berjuang;
Kedua: nyuwun gunging pangaksomo, minta seribu maaf, terutama kepada massa progressif revolusioner jang merasa saya rugikan selama dalam perjuangan;
Ketiga: nyuwun pangestu, minta restu terutama pada semua keluarga istri dan anak-anak dalam saya melaksanakan putusan hukuman.
Ben Anderson yang hadir pada persidangan itu kemudian mengungkapkan:

Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu “Uraian Tanggung Jawab.” Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, “Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. Dia cuma bilang bahwa rupanya ada unsur-unsur PKI yang terseret. Dia tidak membicarakan soal Biro Khusus. Tidak membenarkan dan juga tidak membantah adanya. Waktu Syam memberi kesaksian, Sudisman tidak mau melihat mukanya dan tidak mau menjawabnya. Yang jelas, untuk sebagian besar dari saksi-saksi waktu itu informasi tentang adanya Biro Khusus itu sesuatu yang mengejutkan sekali. Jelas mereka sama sekali tidak tahu menahu.

***
Sudisman, pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani itu dilahirkan di Jember, 1920. Sejak mudanya, ia telah berlaku berani menempuh hidup: sebagaimana Sayuti Melok menempelkan Ijazah AMS-nya (SMA) pada blek untuk jual dendeng, demikianlah pula Sudisman, begitu tamat HBS Surabaya tanpa ragu bersumpah di depan seorang gurunya bahwa ia tak akan menggunakan ijazah kolonial itu untuk mencari makan. Ia pun lantas terlibat dalam pengorganisiran buruh.

Sudisman juga dikenal sebagai organisator yang jitu dan cerdik. Seorang jurnalis Soeryono (1927-2000), yang pernah bekerja di Penghela Rakyat di Magelang dan juga anggota Pesindo menjuluki Sudisman sebagai “the King Maker” yaitu Amir Syarifuddin dan DN Aidit. Ia juga seorang intelektual yang tekun dan teliti begitulah minimal di mata Joesoef Ishak dan Joesoef pun mengenalnya sebagai orang yang rajin membawa catatan ke mana-mana, dan kebiasaannya tak lain dari mencatat apa-apa yang dikatakan lawan bicaranya. Ia tak ubahnya sebagai “kamus berjalan” yang bisa dimintai bantuannya bila seseorang lupa atau tak mampu mengingat-ingat suatu hal penting yang ingin dikemukakan.

Sejak sebelum pecah perang kemerdekaan 1945, dia aktif di Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama Amir Syarifuddin, Moh. Yamin,Wikana, A.K.Gani Pada masa Jepang, pada Januari 1943, Sudisman bersama Amir Syarifuddin dan 53 kawannya pun ditangkap. Menurut AM Hanafi, Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO sejak masa di zaman Belanda dan masa pendudukan Jepang, Sudisman adalah Ketua Barisan Pemuda GERINDO Cabang Surabaya. Di penjara di Sragen. Kemudian bebas. Adalah pemuda Sidik Arselan, anggota Pemuda GERINDO, bekas PETA, dengan sepasukan Pemuda P.R.I. (yang ketuanya adalah Sumarsono) yang mendatangi penjara Sragen itu. Selain telah membebaskan Amir Sjarifudin dan Sudisman, mereka juga telah membebaskan semua tahanan lainnya yang ada di situ. Sudisman, menurut AM Hanafi juga, adalah anggota PKI, kadernya Pamudji yang dibunuh Jepang di penjara Sragen. Dari penilainan Hanafi, Sudisman adalah seorang yang tahu menghormati kaum Sukarnois. Karena itu sebagai pejuang Sudisman dikenal sebagai seorang nasionalis yang militan.

Bagaimana situasi revolusi yang bergolak itu? F.C. Fanggidaej, ketika Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 50 menulis:

Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad juang pemuda. Pekik dan salam MERDEKA memenuhi ruang udara kota. Jalan-jalan dikuasai pemuda: kebanyakan berambut gondrong, mereka bersenjatakan pestol, senapang, brengun sampai kelewang panjang Jepang, dan sudah tentu bambu-runcing. Kepala mereka mereka ikat dengan kain merah …. Yah, semangat juang, rasa romantisme dan kecenderungan kaum muda untuk berlagak dan bergaya bercampur dengan sikap serius dan tenang dengan tekad pantang mundur yang terpancar dari mata dan wajah mereka — itulah gambaran pemuda Indonesia Revolusi Agustus 1945. Di dalam gedung Kongres tampak pemuda-pemuda yang baru dibebaskan atau membebaskan diri dari penjara Kenpeitai Jepang Sukamiskin di Bandung, antara lain: Sudisman, Tjugito, Sukarno. Juga Sumarsono, Ruslan Wijayasastra, Soepeno dan Chaerul Saleh. Sambutan Amir Syarifuddin menggambarkan ciri khas suasana politik pada awal Revolusi. Kata Bung Amir: “Hai Pemuda, jika kamu memegang bedil di tangan kananmu, haruslah kamu memegang palu di tangan kirimu. Dan jika kamu memegang pedang di tangan kananmu, peganglah arit di tangan kirimu!”

Selama awal-awal revolusi fisik itu, Sudisman adalah figure pemimpin dalam organisasi para militer pemuda kiri: Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pada tahun 1947, ketika FC Fanggidaej, hendak berangkat ke pertemuan pemuda di Praha, Sudisman sebagai Ketua Pesindo berpesan kepadanya agar dirinya hanya banyak berbicara tentang tuntutan perjuangan. Hanya tentang perjuangan dan situasi perjuangan saja. Tidak ada soal soal lain. Tentang situasi sosial, ekonomi dan sebagainya, itu semua tugas tugas negara. Tugas Pemuda satu saja: yaitu memberitakan dan menjelaskan kepada dunia luar, apa itu Republik Indonesia, apa dan kapan itu Proklamasi Kemerdekaan RI, dan mengapa rakyat Indonesia mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutu. Fanggidaej juga harus menyerukan ajakan dan tuntutan Republik Indonesia pada Dunia : “Stop the War!”

26 Februari 1948, Sayap Kiri menyelenggarakan kongres di Solo. Front Demokrasi Rakyat (FDR) pun terbentuk. Sudisman, Aidit, Njoto dan Lukman lantas mengisi Sekretariat FDR. Sejak masa sekretariat FDR inilah mulai dikenal kesatuan empat serangkai: Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman. Di antara mereka, Sudismanlah yang paling senior. “Kekuatan baru” atau “generasi baru” begitulah keempat serangkai bersama sejumlah pemuda lain menyebut dirinya dan seterusnya akan memimpin PKI pasca peristiwa Madiun 1948 sampai dihancurkannya tahun 1965. Ditambah Ir. Sakirman, Sudisman di sidang Mahmilub tahun 1967 mengatakan: Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951. FDR sendiri mengandalkan kekuatannya pada kaum buruh yang tergabung dalam SOBSI. Sudisman sendiri berakar kuat di kaum buruh. Di samping itu FDR juga mengandalkan kekuatan bersenjata seperti Pesindo dan simpati dari sejumlah besar perwira kunci di dalam TNI (tentara resmi Pemerintah) dan TNI-Masyarakat.

1 September 1948 diumumkan susunan Politbiro CC PKI yang baru. Sudisman pun memimpin departemen Organisasi. Susunan lengkapnya sendiri sebagai berikut: Sekretariat Umum: Musso, Maruto Darusman, Tan Ling Djie, Ngadiman; Departemen Buruh: Harjono, Setiadjit, Djokosudjono, Abdul Madjib, Achmad Sumadi, Departemen Tani: A.Tjokronegoro, D.N.Aidit, Sutrisno; Departemen Pemuda: Wikana dan Suripno, Departemen Wanita: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Pertahanan: Amir Sjarifoeddin, Departemen Agitasi dan Propaganda: Alimin, Lukman dan Sardjono; Departemen Organisasi: Sudisman; Departemen Luarnegeri: Suripno; Departemen Perwakilan: Njoto; Departemen Daerah-Daerah Pendudukan: dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Kader-Kader Partai: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Keuangan: Ruskak. Ketika terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua tokoh-tokoh penting PKI akibat peristiwa Madiun 1948, 9 orang dari total 21 orang anggota CC PKI terbunuh. Sudisman, Aidit bersama Lukman dan Nyoto berhasil lolos dari pembunuhan.

Sudisman juga anggota Dewan Harian Angkatan 45. Tanggal 19 Desember 1953 bersama Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Harjoto Judoatmodjo, Bambang Suprapto, Pandu Kartawiguna, Moh. Imamsjafi’ie (Bang Piti) dan Amir Murtono, Sudisman pun terlibat dalam persiapan Musyawarah Besar Angkatan 45 (Mubes ke-II).
Karenanya tak dapat disangkal, Sudisman telah memberikan hidupnya dengan berani. Sudisman pun memberikan kepada rakyat gambaran bagaimana hidup yang bertanggung-jawab dan konsisten. No Tears for Disman.

Sumber:
http://www.scribd.com/doc/77619790/SUDISMAN-TIDAK-SUKA

Monday, 14 February 2011

Semaun

Semaun


Semaun (lahir di Curahmalang, kecamatan Sumobito, termasuk dalam kawedanan Mojoagung, kabupaten Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971) adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI).
Daftar isi
Masa kecil

Semaun adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, ia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil.

Politik

Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.

Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.

Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.

Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.

PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil.

Pengasingan

Pada tahun 1923, VSTP merencanakan demonstrasi besar-besaran dan langsung dihentikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan setelah itu Semaun diasingkan ke Belanda. Selama masa pengasingannya dia kembali ke Uni Sovyet, dimana dia tinggal disana lebih dari 30 tahun. Pada masa itu dia tetap menjadi aktivis tapi hanya dalam aksi-aksi terbatas, berbicara beberapa kali di Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa di Belanda pada masa itu. Dia juga sempat belajar di Universitas Tashkent untuk beberapa waktu.

Selama pembuangan ke Eropa, Semaoen aktif di Executive Committee of the Comintern, Komite Eksekutif Komunis Internasional (ECCI). Setelah beberapa tahun tinggal di Belanda, Semaoen lalu menetap di Uni Soviet dan menjadi warga negara di sana. Ia pernah bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia dan penyiar berbahasa Indonesia pada radio Moscow. Puncak "kariernya" adalah ketika diangkat oleh Stalin menjadi pimpinan Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan.

Setelah masa pengasingannya dia kembali ke Indonesia, dan pindah ke Jakarta. Kepulangan Semaoen ke Indonesia pada tahun 1953 merupakan inisiatif Iwa Kusumasumantri. Semaoen, Iwa, dan Sekjen Partai Komunis Iran mengawini tiga putri kakak-adik yang saat itu bekerja dalam Comintern. Saat kembali ke Indonesia dalam usia setengah abad lebih, Semaoen telah terputus dari PKI, partai yang ia dirikan. Dari tahun 1959 sampai dengan tahun 1961 dia bekerja sebagai pegawai pemerintah. Dia juga mengajar mata kuliah ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Karya Dan Pemikiran

Semaoen juga seorang yang padat dalam berkarya. Kebanyakan karyanya ditulis di dalam surat kabar beraliran kiri. Pemikiran Semaoen dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni oleh Sneevliet dan agama Islam walau sempat dalam karyanya ia memprotes pemikiran pribumi yang terlalu percaya akan kegaiban yang akan mengatur dan menyelamatkan mereka. Diantara karya-karya Semaoen adalah Penuntun Kaum Buruh yang dibuat untuk para anggota PKI, Hikayat Kadiroen yang menceritakan seorang priyayi Marxis yang sangat peduli kepada rakyatnya dan Berbareng Bergerak.

Dalam pergerakan, ia menerima paham Marx tentang protes sosial kepada pemerintahan Hindia Belanda. Ia menganggap bahwa Pemerintah telah membiarkan warga pribumi terjatuh dalam kemiskinan karena usaha kapitalisasi di Indonesia terutama di Jawa. Ia berharap bahwa suatu hari nanti akan ada suatu keadaan mirip dengan Jawa Kuno yang membiarkan warganya hidup dengan apa yang ia inginkan. Dan hal itu hanya akan terjadi jika pemerintahan Soviet hadir di antara mereka.

Guna menguatkan perjuanganya, ia bersama dengan kaum komunis internasional masuk dalam Komitern yang diadakan di Rusia. Namun sayang sekali jika dalam usahanya tersebut dengan tokoh-tokoh timur lain seperti Tan Malaka, Darsono atau Alimin tidak digubris dengan baik. Dewan Komitern lebih cenderung tertarik bagaimana memerahkan Eropa ketimbang membantu pergerakan di Asia, seperti di India atau Indonesia yang saat itu menjadi salah satu corong utama pergerakan di daerahnya.


Referensi

Jarvis, Helen (1991). Notes and appendices for Tan Malaka, From Jail to Jail. Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies.
Kahin, George McT. (1952) Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca, New York:Cornell University Press.
Ricklefs, M.C. (2001) A history of modern Indonesia since c.1200 3rd ed. Stanford, California:Stanford University Press