Lakon Lima Babak
Kapai-Kapai
Arifin C. Noer (1970)
DRAMATIC PERSONAE
Abu
Iyem
Emak
Yang Kelam
Bulan
Majikan
Kakek
Jin
Putri
Pangeran
Bel
Pasukan Yang Kelam
Kelompok Kakek
Seribu Bulan Yang Goyang-Goyang
Gelandangan
Tanjidor dll
BAGIAN PERTAMA
DONGENG EMAK
Satu
EMAK
Ketika prajurit-prajurit dengan tombak-tombaknya mengepung istana cahaya itu, sang Pangeran Rupawan menyelinap diantara pokok-pokok puspa, sementara air dalam kolam berkilau mengandung cahaya purnama. Adapun sang Putri Jelita, dengan debaran jantung dalam dadanya yang baru tumbuh, melambaikan setangan sutranya dibalik tirai merjan, dijendela yang sedang mulai ditutup oleh dayang-dayangnya. Melentik air dari matanya bagai butir-butir mutiara.
ABU
Dan sang Pangeran, Mak ?
EMAK
Dan Sang Pangeran, Nak ? Duhai, seratus ujung tombak yang tajam berkilat membidik pada satu arah ; purnama di angkasa berkerut wajahnya lantaran cemas, air kolam pun seketika membeku, segala bunga pucat lesu mengatupkan kelopaknya, dan...
ABU
Dan Sang Pangeran selamat, Mak ?
EMAK
Selalu selamat. Selalu selamat.
ABU
Dan bahagia dia, Mak ?
EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.
ABU
Dan sang Putri, Mak ?
EMAK
Dan sang Putri, Nak ? Malam itu merasa lega hatinya dari tindihan kecemasan. Ia pun berguling-guling bersama Sang Pangeran dalam mimpi yang sangat panjang, diaman seribu bulan menyelimuti kedua tubuh yang indah itu penuh cahaya.
ABU
Dan bahagia, Mak ?
EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.
MAJIKAN
Abu !
EMAK
Sekarang kau harus tidur. Anak yang ganteng mesti tidur sore-sore.
ABU
Sang Pangeran juga tidur sore-sore, Mak ?
EMAK
Tentu. Sang Pangeran juga tidur sore-sore karena dia anak yang ganteng. Kau seperti Sang Pangeran Rupawan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Mak ?
MAJIKAN
Abu !
ABU
Bagaimana keduanya bisa senantiasa selamat ?
MAJIKAN
Abu !
EMAK
Berkat cermin tipu daya.
ABU
Berkat Cermin Tipu Daya, Mak ?
MAJIKAN
Abu !
EMAK
Semuanya berkat Cermin Tipu Daya.
ABU
Cuma berkat itu ?
MAJIKAN
Abu !
EMAK
Cuma berkat itu.
ABU
Cuma.
MAJIKAN
Abu ! Abu !
ABU
.... di mana cermin itu dapat diperoleh, Mak ?
EMAK
Jauh nun di sana kala semuanya belum ada (KELUAR)
MAJIKAN
Bangsat ! Tuli kamu ?
ABU
Mak ?
Dua
YANG KELAM
Ini adalah tahun 1930 dan bukan tahun 1919. Kau harus segera mengenakan pakaian pesuruhmu (Keluar)
Tiga
SETELAH IA MENGENAKAN PAKAIANNYA SEBAGAI PESURUH KANTOR TERDENGAR GEMURUH SUARA PABRIK
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Hamba, Tuan.
MAJIKAN
Bangsat kamu ! Kerja sudah hampir tiga tahun masih saja kamu melakukan kesalahan yang sama. Lebih bodoh kamu dari pada kerbau.
Empat
EMAK
Anak yang ganteng tidak boleh menangis. Apakah kau tidak malu kepada Sang Putri Rupawan ? Setelah mencuci kaki, kau harus mengenakan pakaianmu yang kotor, nanti emak akan mendongeng lagi. Sudah bersih kakimu ? Ketika Sang Pangeran turun dari kudanya yang putih bersinar, ia melihat gua itu dikejauhan. Namanya gua cahaya tapi lebih sering disebut gua hantu.
ABU (Ketakutan)
EMAK
Tidak usah takut. Ada Emak. Telah beratus-ratus ksatria dan raja-raja dan pangeran-pangeran yang mencoba menerobos gua itu, semuanya musnah dibunuh oleh hantu-hantu penjaga harta karun itu. Di angkasa serombongan mendung yang maha hebat membendung sang surya, sehingga alam yang siang menjadi gelap gulita. Sayup-sayup kelihatan pintu gua itu bagaikan mulut raksasa dengan sinar yang memancar dari dalam. Sang Pangeran menggeleng-gelengkan kepala kagum karena tahu sinar itu adalah sinar permata-permata yang tertimbun disana. Tatkala angin pun sirna, Sang Pangeran telah memacu kudanya ke arah mulut gua. Tak ada suara kecuali derap kuda dengan ringkiknya. Ketika kuda itu berada didepan pintu gua, sekonyong-konyong serombongan mendung yang tebal tadi menyerang mengepung Sang Pangeran. Tahulah kini Sang Pangeran bahwa mendung itu adalah hantu-hantu.
ABU
Dan Sang Pangeran, Mak ?
EMAK
Dan Sang Pangeran, Nak ?Amboi, berjuta kuku dan taring lancip bagai ujung-ujung belati rapat mengancam Sang Pangeran ; dari atas dari bawah, dari kiri dari kanan, dari muka dari belakang. Rupanya hantu- hantu itu berdengus sehingga seketika erjadi topan dasyat yang amat bacin baunya.
ABU
Dan Sang Pangeran, Mak ?
EMAK
Dan Sang Pangeran, Nak ? Dengan Cermin Tipu Daya, kuku-kuku dan taring-taring yang berjuta-juta itu seketika mencair sehingga hujan deraslah yang kini ada. Maka dalam kehujanan itu pun, Sang Pangeran mengacungkan cerminnya dan terbukalah pintu gua dengan sendirinya. Langit telah kembali sebagai wajarnya, yang penuh cahaya surya ketika Sang Pangeran memboyong harta permata itu ke Istana Cahaya dimana Sang Putri menanti dipelaminan.
ABU
Dan bahagia, Mak ?
EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.
ABU
Dan Sang Putri, Mak ?
EMAK
Sang Putri berdebar menanti dipelaminan, sementara rakyat seluruh kerajaan berpesta. Dan ketika Sang Pangeran muncul di gerbang Istana Cahaya dengan di iringi kuda-kuda yang mengangkut peti-peti harta, seketika bergetarlah dada Sang Putri yang baru tumbuh itu dan sekalian rakyat bersorak-sorak mengelu-elukan. Kedua mempelai itu telah berpadu dalam lautan permata yang sangat menyilaukan. Lautan harta seharga berjuta-juta nyawa manusia.
ABU
Keduanya bahagia, Mak ?
EMAK
Selalu bahagia. Selalu bahagia.
ABU
Berkat Cermin Tipu Daya, Mak ?
EMAK
Berkat Cermin Tipu Daya.
ABU
Dimana Cermin itu dapat dibeli, Mak ?
EMAK
Jauh nun di ujung dunia... disebuah toko milik Nabi Sulaiman...
ABU
Dan harganya, Mak ?
EMAK
Nanti kau sendiri pasti tahu. Nanti. Pasti.
ABU
Bahagia, Mak ?
EMAK
Pasti bahagia. Selalu bahagia. Sekarang bayangkan bagaimana kalau kau menjadi Sang Pangeran Rupawan. Kau niscaya dapat merasakan dengan lebih nyata apabila kau lelap tidur. Nah, sekarang pejamkan kedua matamu. Tidur. Burung-burung pun sudah tidur. Tidur. Matahari pun sudah tidur. Tidur. Pohon-pohon pun sudah tidur. Tidur seantero alam telah mendengkur. Tidur.
Lima
EMAK
Bulan !
BULAN
Ya, Mak.
EMAK
Selimuti keduanya.
BULAN
Kalau dia terbangun.
EMAK
Tidurkan lagi.
BULAN
Kalau dia terjaga lagi ?
EMAK
Mabukkan dia.
BULAN
Kalau sadar lagi ?
EMAK
Pingsankan dia.
BULAN
Kalau dia siuman lagi ?
EMAK
Itu urusan Yang Kelam. Sekarang Emak akan menyelesaikan karangan Emak yang terakhir. Aneh sekali dalam roman Emak kali ini Abu telah mulai menemukan kunci teka-teki kita. Ia semakin menginsyafi bagaimana selama ini ia kita perdayakan. Namun bagaimana pun, Emak tetap berharap ia akan tetap patuh kepada kita. Sudah menjadi kodratnya bagaimana pun ia memerlukan hiburan dan hanya kitalah yang mampu memenuhi kebutuhan itu. Tetapi juga ini tidak berarti bahwa kita bisa bekerja secara improvisasi seperti yang sudah-sudah. Di manakah Yang kelam ?
YANG KELAM
Saya di sini, Mak.
EMAK
Kau dengar apa yang baru Emak katakan ?
YANG KELAM
Tak satu kata pun lewat dari telingaku, Mak.
EMAK
Satu hal lagi; kita harus sistematik. Selama kita masing-masing tetap pada pos kita, Emak yakin tak satu pun pekerjaan kita yang meleset.
YANG KELAM
Dia tidur ?
EMAK
Tidur, tidak. Tidak tidur, tidak. Seperti yang sudah-sudah, seperti yang lain-lain juga, ia sudah mati tapi ia tidak tahu.
YANG KELAM
Saya beritahu dia ?
EMAK
Belum waktunya. Berapa umur kau ?
YANG KELAM
Dua puluh satu.
EMAK
Kita perpanjang amat panjang. Pada usiamu yang ke 70 beritahulah dia. Ingat jangan ulang cara yang usang.
BULAN
Beritahu sekarang saja dia.
EMAK
Kau selalu punya belas, Bulan.
BULAN
Dia orang miskin.
EMAK
Justru akan kita perkaya. Ah, sudahlah. Kau dapat menolongnya dengan cara yang menghiburnya. Waktu Emak habis. Emak harus mengarang.
Enam
BULAN (Menyanyi)
Andai kau tergoda jangan salahkan daku. Cahayaku memancar pun bukan milikku. Kecantikkanku pun bukan milikku.
YANG KELAM
Jangan nyanyikan nyanyian itu lagi nanti Emak marah lagi.
BULAN
Kau yang salah.
YANG KELAM
Tak ada yang salah.
BULAN
Kau yang salah. Kalau kau tak ada.
YANG KELAM
Adaku bukan minatku. Tapi kalau aku tak ada kau pun dan segala pun tak ada.
BULAN
Kenapa kau tidak memilih tidak ada ?
YANG KELAM
Karena kita ada. Dan begitu saja ada.
BULAN
Karena ada mula, karena ada mula.
YANG KELAM
Maka ada akhir dan akulah itu. Dia dan aku.
BULAN
Karena ada, itulah kesalahannya.
YANG KELAM
Kita hanya menjalani kodrat. Jalanilah kodrat maka kita akan selamat.
BULAN (Menyanyi)
Andai kau tergoda jangan salahkan daku. Cahayaku memancar pun bukan milikku.
YANG KELAM
Jangan menyanyi. Mengeramlah kalau bisa atau diam.
BULAN
Aku hanya bisa menyanyi. Pun begitu nyanyian buakn pula milikku.
YANG KELAM
Perempuan cengeng.
BULAN
Lelaki kejam. Kembalikan Cermin Tipu Daya itu.
YANG KELAM
Kau tak akan memilikinya lagi.
BULAN
Sudah satu abad kau pinjam.
YANG KELAM
Dan aku tak akan pernah mengembalikan kepadamu. Ya, sejak satu abad yang lalu Abu sudah mulai menginsyafi bahwa puncak bahagia ada pada diriku, tatkala ia melihat pada cerminku.
BULAN
Cerminku ! Cerminku !
YANG KELAM
Dulu. Sekarang milikku.
BULAN
Kau kejam. Kau tak punya kasihan. Kalau dia bercermin pada kau hanya malam yang kau tampilkan.
YANG KELAM
Memang dia hanya punya malam. Akulah dia. Ini pun kodrat. Ia tak dapat melepaskan diri dari kodrat ini.
BULAN
Konyolnya.
YANG KELAM
Itulah jawaban dari segalanya. Konyol.
ABU BANGUN, MENGIGAU. BULAN DAN YANG KELAM KELUAR.
BULAN (Menyanyi)
Kalau kau tergoda jangan salahkan daku. Cahayaku memancar pun bukan milikku. Andai kau mabuk jangan salahkan daku. Kecantikkanku pun bukan milikku.
Tujuh
IYEM
Monyong lu ! Lelaki macam lu ? Kerbau ? Babi ?
ABU (Bingung)
Jam berapa, Yem ?
IYEM
Jam berapa ? Beduk sampai coblos dipalu orang juga kau masih enak- enak ngorok. Apa kamu tidak mau kerja ?
ABU
Bukan begitu.
IYEM
Baik kalau kamu mau enak-enak ngorok biar saya yang kerja. Apa dikira tidak bisa ? Saya kira saya masih cukup montok untuk melipat seribu lelaki hidung belang di ketiak saya.
ABU
Kau jangan bicara sekasar itu.
IYEM
Kamu lebih kasar lagi. Tidur sama istri kamu masih mimpi yang tidak-tidak. Tuh lihat tikar basah begitu. Kalau kau sudah bosan dengan saya bilang saja terus terang. Jangan sembunyi-sembunyi. Ayo, kau mimpi dengan siapa ? Dengan si Ijah yang pantat gede itu ? Bangsat !
ABU
Mimpi ?
IYEM
Jangan main lenong (Menangis) Memang saya sudah peot. Habis manis sepah dibuang.
ABU
Jangan bicara begitu.
IYEM
Memang begitu.
ABU
Tidak seperti yang kau bayangkan.
IYEM
Memang begitu.
ABU
Diamlah, Yem.
IYEM
Memang begitu.
ABU
Iyem.
IYEM
Saya bunting kau tidak tahu.
ABU
Bunting ? Kau bunting ?
IYEM
Kata Emak.
ABU
Kau bunting ?
IYEM
Kalau tidak apa namanya ?
ABU
Iyemku. Iyemku (Keduanya Menari)
IYEM
Pepaya bunting isinya setan.
Dimakan dukun dari Sumedang.
Perut aye bunting isinya intan.
Ditimang sayang anak disayang.
ABU
Pohon pisang tidak berduri.
Pagar disusun oleh rembulan.
Mohon abang lahir si putri.
Biar disayang setiap kenalan.
Iyemku. Iyemku.
IYEM
Abuku. Abuku (Keduanya Berpelukan) Kau masih cinta pada Iyem ?
ABU
Selalu cinta. Selalu cinta.
IYEM
Kau masih sayang pada Iyem ?
ABU
Selalu sayang. Selalu sayang.
IYEM
Iyem minta anu.
ABU
Minta apa, Yem ?
IYEM
Minta anu.
ABU
Anu apa ?
IYEM
Iyem ngidam.
ABU
Minta rujak asam, Yem ?
IYEM
Bukan.
ABU
Apa Iyem ?
IYEM
Kerupuk.
ABU
Kerupuk udang, Yem ?
IYEM
Bukan.
ABU
Kerupuk terigu, Yem ?
IYEM
Bukan.
ABU
Kerupuk plastik, Iyem ?
IYEM
Bukan. Iyem, bilang !
ABU
Iyem.
IYEM
Kepingin.
ABU
Kepingin.
IYEM
Kerupuk.
ABU
Kerupuk.
IYEM
Apa yo ?
ABU
Apa yo ?
IYEM
Apa ?
ABU
Apa ?
IYEM
Kerupuk.
ABU
Kerupuk.
IYEM
Kerbau !
ABU
Kerbau !
IYEM
Horee !
ABU
Berapa kilo, Iyem ?
IYEM
Satu biji.
ABU
Lainnya, Yem ?
IYEM
Anu.
ABU
Anu apa, Iyem ?
IYEM
Cium.
ABU
Berapa kali, Iyem ?
IYEM
Seribu kali (Mereka Berciuman)
ABU
Bau pete. Kau makan pete ?
IYEM
tadi di rumah si Ipoh. (Mereka Pun Berciuman)
Delapan
YANG KELAM BERSAMA PASUKANNYA MEMUKUL LONCENG EMAS KERAS SEKALI. ARUS WAKTU DERAS MELANDA KEDUANYA. IYEM MELAHIRKAN DAN SETERUSNYA. ABU TERPUTAR DALAM RODA KERJA RUTINNYA.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Ya, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Ya, Tuan.
MAJIKAN
Abu !
ABU
Ya, Tuan.
SERIBU MAJIKAN MEMRINTAH ABU. MENJERAT LEHER ABU MENJERIT. SERIBU TANGAN MAJIKAN DI KEPALA ABU.
Sembilan
YANG KELAM
Ini adalah tahun 1941. Ini bukan tahun 1919. Dia dilahirkan di Salam, 6 km dari kota Solo. Dia dibesarkan di Semarang. Kemudian ia pindah ke Tegal. Kemudian ia pindah ke Cirebon. Kemudian ia pindah ke Jakarta. Kemudian ia akan mati pada tahun 1980.
IYEM
Tidak. Abu jangan hiraukan. Hidup saja hidup. Habis perkara. Terlalu banyak pertanyaan untuk terlalu sedikit waktu.
LAYAR
BAGIAN KEDUA
(BURUNG, DI MANAKAH UJUNG DUNIA ?)
Satu
ABU
Burung, di manakah ujung dunia ?
BURUNG
Di sana.
ABU
Katak, di manakah ujung dunia ?
KATAK
Di sana.
ABU
Rumput, dia manakah ujung dunia ?
RUMPUT
Di sana.
ABU
Embun, di manakah ujung dunia ?
EMBUN
Di sana.
ABU
Air, di manakah ujung dunia ?
AIR
Di sana. (Semua Menertawakan Abu)
ABU
Batu, di manakah ujung dunia ?
BATU
Di sana. (Semua Menertawakan Abu)
ABU
Jangkerik, di manakah ujung dunia ?
JANGKERIK
Di sana. (Semua Menertawakan Abu)
ABU
Kambing, di manakah ujung dunia ?
KAMBING
Di sana.
ABU
Kambing, di manakah di sana ?
KAMBING
Di sana.
ABU
Pohon, di manakah di sana ?
POHON
Di sana.
ABU
Kakek, di manakah di sana ?
KAKEK
Di sini.
ABU
Di mana ?
KAKEK
Di sini.
ABU
Di sini ?
Dua
KAKEK
Di sana di sini sama saja. Semuanya tak berarti. Yang kau cari adalah agama. Tak ada obat yang paling mujarab selain agama.
ABU
Saya tidak sakit.
KAKEK
Tak ada tempat yang paling teduh dan tak ada obat pelelah selain agama.
ABU
Saya tidak cape.
KAKEK
Segala teka-teki silang pasti tertebak oleh agama.
ABU
Saya tak butuh semua itu. Saya butuh Cermin Tipu Daya.
KAKEK
Apa itu Cermin Tipu Daya ?
ABU
Cermin Tipu Daya adalah penangkis segala bala. Penyelamat segala Pangeran dalam dongeng purbakala.
KAKEK
Inilah dia. Cermin sejati. Bukan plastik. Terbuat dari air danau purbani. Lihatlah semua tampak jelas di sini. Lihatlah.
ABU
Wajah siapa itu ?
KAKEK
Wajahmu.
ABU
Wajah saya ?
KAKEK
Siapa lagi ?
ABU
begini tua ?
KAKEK
Kau begitu jernih cahayanya.
ABU
Begini tua. Lebih sengsara dari nyatanya. Begini miskin.
KAKEK
Di sini, kau miskin dan kaya sekaligus.
ABU
Saya tidak mengerti.
KAKEK
Tak lama lagi kau akan mengerti, kalau mau dengar apa yang saya baca.
ABU
Kalau saya tetap tidak mengerti ?
KAKEK
Kau adalah insan yang malang.
ABU
Kalau begitu cobalah bacakan satu baris.
KAKEK
Dia Tuhan.
ABU
Tuhan.
KAKEK
Tuhan.
ABU
Tuhan.
KAKEK
Yang menciptakan kita.
ABU
Tuhan.
KAKEK
Yakinlah.
ABU
Kalau begitu Dia yang memulai segala ini ?
KAKEK
Juga yang akan mengakhiri segalanya.
ABU
Mulai dan mengakhiri ?
KAKEK
Membangun dan meruntuhkan sekaligus.
ABU
Saya jadi bodoh.
KAKEK
Kau memang bodoh. Dan ketika kau dihidupkan ajal disisipkan dalam salah satu tulang igamu. Dialah-Tuhan.
ABU
Tuhan.
KAKEK
Dialah-Tuhan. Yang telah menciptakan jagad raya dan seisinya. Maka bersyukurlah kau kepadaNya. Maka bersembahlah kau kepadaNya. Maka patuhlah kau kepada firman-firmanNya. Maka perbuatlah segala perintah-perintahNya. Maka jauhilah segala larangan-laranganNya. Barang siapa melanggra neraka hukumannya. Barang siapa petuh sorga upahnya.
ABU
Neraka ?
KAKEK
Api sengsara yang menjilat-jilat.
ABU
Sorga ?
KAKEK
Bahagia di atas bahagia.
ABU
Barangkali itu ujung dunia ?
KAKEK
Memang salah satu ujungnya. Di sana Sorga. Di situ Neraka.
ABU
Di sana juga tinggal Nabi Sulaiman ?
KAKEK
Oya.
ABU
Kalau begitu ada juga Cermin Tipu Daya ?
KAKEK
Barangkali. Saya tidak begitu pasti.
ABU
Di jual ?
KAKEK
Kalau ada dengan cuma-cuma kua dapat memilikinya.
ABU
Kau pasti ?
KAKEK
Kalau ada.
ABU
Kau belum pernah kesana ?
KAKEK
Ke sana ke mana ?
ABU
Ke sorga.
KAKEK
Siapa pun belum.
ABU
Bagaimana kau tahu Nabi Sulaiman ada di sana ?
KAKEK
Kau memang buta huruf. Dalam kitab agama lengkap segala tanda-tanda.
ABU
Kalau begitu tunjukilah saya cara menuju sorga.
KAKEK
Bersembahlah kau KepadaNya.
ABU
Baik. Berapa lama saya mesti menyembah ?
KAKEK
Sampai kau mati.
ABU
Ha ?
KAKEK
Sampai kau mati. Atau dengan kalimat yang lebih baik ; sampai saat kau dilepaskan dari beban jasmani.
ABU
Lalu kapan saya sempat mengecap sorga ?
KAKEK
Ketika kau mati.
ABU
Ha ?
KAKEK
Begitulah. Ketika kau mati kau akan sampai ke sana.
ABU
Harus sampai ke batas mati untuk sampai ke sana ?
KAKEK
Harus sampai ke batas mati untuk samapai ke sana.
ABU
Harus tidak ada untuk ada ?
Tiga
LENGKING SULING TAJAM PANJANG.
IYEM
Abu, di mana kau ? Abu ? Abu ? Abu ?
KEKAK
Sudah waktu sembahyang. Sampai cahaya menimpa dirimu. ( Kelompok Kakek Dalam Koor)
KOOR
Inggih
KAKEK
Hai manusia.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Hai manusia.
KOOR
Inggih
KAKEK
Tuhan Pencipta.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Tuhan pengasih.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Tuhan Penuntut.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Turut perintahNya.
KOOR
Inggih
KAKEK
Ketawalah
KOOR
Inggih.
KAKEK
Menagislah
KOOR
Inggih.
KAKEK
Ketawalah dala menangis.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Menangislah dalam ketawa
KOOR
Inggih.
KAKEK
Apa yang kau cari dalam hidup ini.
KOOR
Bahagia.
KAKEK
Apa yang kau cari dalam hidup ini.
KOOR
Bahagia.
KAKEK
Apa yang kau cari dalam hidup ini.
KOOR
Bahagia.
KAKEK
Apa yang kau cari dalam hatimu sendiri.
KOOR
Bahagia.
KAKEK
Apa yang di rindu. Apa yang di mau. Apa yang dituju. Bahagia.
KOOR
Laras dan padu. Laras dan padu. Diri yang alit dan Diri yang maha. Laras dan padu, pasrah, sembah, pasrah sembah Bergayut diri padaNya.
KAKEK
Mengandung diri dalam keagunganNya. Bahagia kita dalam kebahagianNya. Hai manusia.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Hai manusia.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Menyatulah dalam diriNya.
KOOR
Inggih.
KAKEK
Padulah dirimu dalam diriNya.
KOOR
Inggih. (Kelompok Kakek Berlalu Dalam Koor)
Empat
ABU TEPEKUR. HUTAN SUNYI DALAM BADAI
IYEM
Kau jangan diam saja kayak sandal dobol.
ABU
Ada apa ?
IYEM
Kau betul-betul sandal dobol. Hujan begini deras. Air sudah sampai ke lutut. Rumah ini seperti tak beratap. Ini bukan lagi bocor. Ya Tuhan. Dengan apa mesti kita hentikan hujan jahanam ini ? Terlalu banyak musuh kita. Di darat. Di udara. Tuhan. Tuhan.
ABU : ...
Iyem. Ya, Tuhan. Ya, Tuhan. Kau memang sandal dobol. Banjir. Banjir. Banjiiiir (Keluar)
Lima
ABU TEPEKUR
YANG KELAM
Ini adalah tahun 1960. ini bukan tahun 1919. Dia akan mati pada tahun 1980. Sudah waktunya kerut ditambah pada dahinya.
ABU
Tobat, apa yang telah kau lakukan ?
YANG KELAM
Menyobek kalender.
ABU
Hilang lagi.
Enam
ABU TEPEKUR, EMAK MUNCUL
EMAK
Kau tidak boleh duduk tepekur dengan wajah kusut seperti itu. Nanti kau lekas tua. Coba lihat. Apa yang terjadi pada wajahmu ?
ABU
Tiba-tiba matahari menyergap tadi dan memberi coreng pada wajah saya.
EMAK
Coba kau tengadah. Nah, ia telah memberikan luka terlalu banyak pada dahimu. Ia telah melipatkan jumlah yang sebenarnya. Kau menangis. Anakku, kau tak boleh seperti itu.
ABU
Aku telah mencarinya tapi aku tak menemukannya.
EMAK
Apa yang telah kau lakukan ?
ABU
Aku telah berusaha mencari ujung dunia.
EMAK
Buat apa ?
ABU
Aku perlu ke toko Nabi Sulaiman. Aku mau beli Cermin Tipu Daya.
EMAK
Kua pasti belum mendapatkannya.
ABU
Aku tidak mendapatkannya.
EMAK
Belum.
ABU
Aku tidak mendapatkan apa-apa.
EMAK
Belum. Ah, jangan suka beraduh kesah. Yang sangat kau perlukan sekarang adalah rekreasi banyak-banyak. Emak bawa oleh-oleh. (Tepuk)
Tujuh
ROMBONGAN LENONG
RAJA JIN
Hahaha. Akulah raja jin. Jin Bagdad namaku. Aku telah curi Putri Cina paling ayu. Aku mau persunting dia jadi permaisuriku.
PUTRI CINA
Akulah Putri Cina yang malang. Yang baru saja tidur bermimpi di atas ranjang. Mimpi bercumbu dengan seorang Pangeran dari Jepang. Begitu sedang meluap nafsuku dadanya yang lapang. Dan tangan Pangeran membelai rambutku yang panjang. Tiba-tiba si bandot Raja Jin dari Bagdad datang. Tak dinyana ia sekonyong bertengger di jendela, di atas permadani terbang. Aduh Tuhanku Yang Maha Kuasa, tolonglah hambamu yang maha malang. Dari cengkeraman dan ciuman Raja Jin yang berkumis panjang.
RAJA JIN
He Putri Cina Ayu.
PUTRI CINA
Tolong.
RAJA JIN
He Putri Cina Ayu.
PUTRI CINA
Tolong.
RAJA JIN
Lihatlah bulan di atas sahara dan bintang bertebar bagai pijar bara. Lihatlah daunan kurma melambai tanpa suara. Dan wahai jernih airnya tenang tak bertara. Itulah semua lambang aku punya gairah asmara. Kuadukan kini dendam nafsuku tanpa pura-pura. Dihadapanmu he Putri Cina bak Si Gahara.
PUTRI CINA
Tolong. Maling.
RAJA JIN
Akulah Gatotokoco gandrung.
PUTRI CINA
Maling.
RAJA JIN
Akulah Romeo.
PUTRI CINA
Maling.
RAJA JIN
Akulah Pronocitro.
PUTRI CINA
Maling.
RAJA JIN
Akulah Qais yang dahaga di atas sahara.
PUTRI CINA
Tolong.
PANGERAN
Tenang, tuan-tuan. Tenang ! Jangan tajut. Jangan cemas. Tuan-tuan Pangeran Rupawan telah berada dihadapan tuan-tuan. Inilah lakon secara bahagia akan diselesaikan dengan pertarungan seru dan penuh ketegangan. Antara Raja Jin Bagdad dan aku Sang Pangeran Tampan. Tenang tuan-tuan. Putri Cina Ayu akan kuselamatkan. He hidung belang. Jangan ganggu wanita itu.
RAJA JIN
Ha, ini pula ikut campur nafsu orang. Minggir.
PANGERAN
Minggir.
RAJA JIN
Minggir atau kulempar ke laut Hindia. Atau kau ingin lumat karena kuludahi ? Haha.
PANGERAN
Ha ha ha.
RAJA JIN
Apa ketawa ? Moncong sekecil itu. Minggir.
PANGERAN
Tidak kau lihat apa yang terselip pada pinggangku ? Sudah rabun matamu ?
RAJA JIN
Bah ! Kupanggang kau ! Kusate kau ! Kurebus kau ! Kutumbuk kau !
PANGERAN
Tidak kau lihat apa yang terselip pada pinggangku ? Sudah rabun matamu ?
RAJA JIN
Bah ! Gua gampar lu ! Gua palu lu !
PANGERAN
Tidak kau lihat apa yang terselip pada pinggangku ? Sudah rabun matamu ?
RAJA JIN
Oh, oh, oh Cermin Tipu Daya. Cair aku. Cair aku oleh sinarnya. Tolong. Tolooong.
PUTRI CINA
Terima kasih, Tuan, terima kasih. Pertolongan tuan menyelamatkan diriku sebagai perawan. Terima kasih tua, oh saya masih tetap bersih. Tuan, maukah tuan, e e, saya ingin jadi istri tuan.
PANGERAN
Tentu. Tentu. Memang begitulah akhir lakon harus berlaku.
DUET
Senantiasa bahagia berkat Cermin Tipu Daya. Sekali lagi jangan lupa berkat Cermin Tipu daya.
ABU BERSUIT KEMUDIAN BERTEPUK TANGAN DENGAN GEMBIRA
Delapan
EMAK
Semangatmu kembali pulih.
ABU
Aku telah lahir kembali.
EMAK
Kau bahkan montok.
ABU
Aku kembali jadi bayi.
EMAK
Segar.
ABU
serasa pagi hari. Matahari. Angin pagi. Sisa embun. Udara yang bersih.
EMAK
Wajahmu merah karena darah yang padat gairah.
ABU
Aku sedikit pun tak goyah oleh pukulan-pukulan waktu.
EMAK
Kau tahu berkat apa ?
ABU
Berkat Emak.
EMAK
Tidak begitu. Kau harus menyebutnya berkat harapan.
DUET
Ya berkat harapan. Sekali lagi berkat harapan. Hanya harapan. Peganglah selalu harapan. Obat mujarab bagi seluruh anggota keluarga. Sekali lagi jangan lupa : Harapan.
Sembilan
MAJIKAN
Abu ! Abu !
ABU (Diam)
MAJIKAN
Anjing !
ABU (Merangkak)
Ya, Tuan.
MAJIKAN
Anjing !
ABU
Ya, Tuan.
MAJIKAN
Anjing !
ABU
Ya, Tuan.
MAJIKAN
Anjing !
ABU
Ya, Tuan. (Merangkak)
MAJIKAN
Ini pesangonmu ! Keluar ! Hancur perusahaan !
Sepuluh
IYEM MENANGIS MENUBRUK ABU
IYEM
Beras kita habis. Mamat dikeluarkan dari sekolahnya. Si Siti ternyata bunting. Lotre kita tidak kena lagi.
Sebelas
YANG KELAM
Satu-satunya kesalahannya adalah kelahirannya dan ia bernama manusia. Sekiranya Adam yang satu ini tidak memiliki apa yang di sebut impian, niscaya ia dapat merasa aman. Ia tak akan tahu apa-apa, tak akan pernah mengalami apa-apa, bahkan apa yang disebut mati. Tetapi semuanya seperti tinta yang terlanjur tumpah, dan lagi buah Kuldi itu pun Ia sajikan di hadapannya.
LAYAR
BAGIAN KETIGA
MATAHARI MELESAT, BULAN BERPUSING-PUSING
Satu
GEMURUH MESIN. SEBUAH KANTOR. PEKERJA-PEKERJA
MAJIKAN II
Jadi kau adalah ..-
ABU
Ya, Tuan.
MAJIKAN II
Kau jangan lupa. Kau adalah ..-
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II
Apa pun yang terjadi kau adalah ..-
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II
Siapa namamu ?
ABU
Abu, Tuan.
MAJIKAN II
Bukan. Kau adalah ..-
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II
Hafalkan itu.
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II
Bagaimana ?
ABU
..-
MAJIKAN
Bagus. Berapa jumlahnya ?
ABU
Dua pendek satu panjang.
MAJIKAN II
Bagus. Berapa ?
ABU
Dua pendek satu panjang.
MAJIKAN II
Bagus. Siapa namamu sebenarnya ?
ABU
..-
MAJIKAN II
Siapa ?
ABU
Dua pendek satu panjang.
MAJIKAN
Bagus (Menekan Bel ) Nama siapa ini ?
ABU
Bukan nama saya.
MAJIKAN II (Menekan Bel)
Ini siapa ?
ABU
Orang lain.
MAJIKAN II (Menekan Bel)
Ini ?
ABU (Ketawa)
MAJIKAN II
Siapa ?
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II
Kenapa ketawa ?
ABU
Gampang.
MAJIKAN II (Menekan Bel)
ABU
Saya, Tuan
MAJIKAN II (Menekan Bel)
ABU
Bukan saya, Tuan.
MAJIKAN II
Siapa ?
ABU
Tak peduli saya.
MAJIKAN II
Kau memang sekrup yang baik. (Ngebel)
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II (Menekan Bel)
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II (Menekan Bel)
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN II
Cukup. Besok kau mulai bekerja.
ABU
Saya, Tuan.
Dua
ABU KETAWA. KELOMPOK KAKEK LEWAT. YANG KELAM LEWAT. ABU MEMANGGIL BEL.
BEL
Bagaimana ? Senang ?
ABU
Luar biasa. Banyak kau bantu saya.
BEL
Titik titik setrip
ABU
Ada apa ?
BEL
Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memanggil namamu.
ABU
Senang saya.
BEL
Tet tet teeeeet.
ABU
Sangat merdu suaramu.
BEL
Tet tet teeeeet.
ABU
Saya yakin saya akan tetap gesit bekerja sampai umur saya 60 tahun. Selama kau tetap ada maksud saya.
BEL
Tentu. Saya akan tetap setia membantumu.
ABU
Sejak sekarang saya akan bergantung kepadamu.
BEL
Tentu.
ABU
Suaramu jelas lebih lantang daripada jerit Pak Direktur.
BEL
O ya.
ABU
Dulu waktu saya masih bekerja di percetakan betul-betul sial saya. Hampir setiap jam saya kena marah.
BEL
Kenapa begitu ?
ABU
Tuan saya dulu mempunyai mulut yang lebar tapi suaranya seperti cicit tikus. Setiap dia memanggil saya selalu seperti tersumbat lehernya. Tentunya saja saya sangat kerap tidak mendengar panggilannya dan akibatnya dia marah-marah. Padahal kalau dia tahu diri, satu-satunya yang patut dimarahi adalah lehernya.
BEL
Lucu juga.
ABU
Tapi menyakitkan. Bel.
BEL
Hm ?
ABU
Saya senang sama kamu.
BEL
Saya harap begitu.
ABU
Kehadiranmu sungguh-sungguh membantu pekerjaan saya. Kau telah membuat saya menjadi seorang yang gesit. Bel.
BEL
Hm ?
ABU
Saya senang sama kamu.
BEL
Tet tet teeeeet.
ABU
Ada apa ?
BEL
Saya senang sama kamu.
Tiga
KELOMPOK KAKEK LEWAT. YANG KELAM LEWAT. GEMURUH MESIN ROBOT ABU. BUNYI BEL.
ABU
Saya, Tuan.
BUNYI BEL
ABU
Saya, Tuan.
BUNYI BEL
ABU
Saya, Tuan.
BUNYI BEL DAN ABU MENARI
Empat
IYEM
Kita bunuh saja (Abu Meludah) Kita bunuh saja (Abu Meludah) Kita bunuh saja.
ABU
Siapa ?
IYEM
Entah (Iyem Meludah)
ABU
Saya ? (Iyem Meludah) Kau. Kita bunuh saja.
IYEM
Orok kita saja.
ABU
Kita harus tahan. Setidaknya satu hari lagi anggap saja puasa.
IYEM
Ini hari kelima. Lapar. Lapar. Lapar. Lapar.
ABU
Jangan hitung.
IYEM
Kita bunuh saja.
ABU
Kelinci yang malang.
IYEM
Kita bunuh saja.
ABU
Matanya.
IYEM
Jangan tatap. Kita bunuh saja. Kita bunuh saja.
ABU
Orok itu akan mati juga.
IYEM
Tapi secara perlahan.
ABU
Anakku yang malang, semoga kau yang terakhir.
IYEM
Tapi dia lahir juga.
ABU
Benih kita menetas.
IYEM
Tapi susuku kering.
ABU
Sekarang perlahan.
IYEM
Jangan bantal itu.
ABU
Kapuknya berceceran.
IYEM
Dengan telapak tangan kita.
ABU
Jangan tekan.
IYEM
Aku usap.
ABU
Aku saja.
IYEM
Aku akan mencium mulutnya.
ABU
Kita hisap nafasnya.
IYEM
Hangatnya.
ABU
Tutup matanya.
IYEM
Perlahan.
ABU
Capung itu menggelepar.
IYEM
Patah sayap-sayapnya.
ABU
Perlahan.
IYEM
Tak henti-henti.
ABU
Kita hisap nafasnya.
IYEM
Hangatnya.
DUET
Kita rampok nafasnya. Kira rampok udaranya. Kita rampok waktunya. Kita rampok hari-harinya. Kita rampok harapannya.
ABU
Kau jangan menangis.
IYEM
Hangatnya.
ABU
Orok itu pun tidak menangis.
IYEM
Kita harus berterimakasih kepadanya.
ABU
Maka anak itu tidak akan pernah kecapean.
IYEM
Kau jangan menangis. (Menangis Sangat)
ABU
Kau jangan menangis. (Menangis Sangat)
DUET
Beratus-ratus orok kita rampok nafasnya. Yang tinggal sesal dan kesunyian.
Lima
GEMURUH MESIN. ROBOT-ROBOT (ABU-ABU), BEL-BEL BUNYI BEL
KOOR ( Robot-Robot ).
Saya, Tuan. (Bunyi Bel) .
Saya, Tuan. (Bunyi Bel) .
Saya, Tuan. (Bunyi Bel) .
Saya, Tuan. (Bunyi Bel) .
Saya, Tuan. (Bunyi Bel) .
Saya, Tuan.
BUNYI KENTUT
KOOR
Saya, Tuan.
BUNYI BEL
KOOR
Inggih . (Bunyi Bel)
Inggih. (Bunyi Bel)
Inggih. (Bunyi Kentut)
Inggih. (Kentut)
Inggih. (Bel)
KOOR
(Capek) Inggih. (Bel)
(Sangat Capek) Inggih.
(Bunyi Bel) (Sakit) Inggih (Bel)
(Sangat Sakit) Inggih (Bel)
(Sangat Sakit) Inggih ( Bel)
(Sangat Sakit) Inggih (Bel)
(Tak Bertenaga) Inggih.
TEROR BERJUTA BEL. ROBOT-ROBOT DITEROR. BEL. RPBPT. REBAH. BEL. ROBOT DUDUK. BEL. ROBOT BERDIRI DST..
Enam
BULAN
Ya Abu, hanya sahwatlah hiburan sejati.
KEDUANYA BERPANDANGAN. KEDUANYA NAIK SAHWAT.
ABU
Iyem.
IYEM
Abu.
ABU
Iyem.
IYEM
Abu.
SUARA NAFAS BERDESA. SUARA DUA EKOR ANJING. SERIBU MENGELILINGI MEREKA.
SERIBU BULAN
Menyatu dalam nafas rembulan. Mengisap nafas harum rembulan. Goyang-goyangkan buah rembulan. (Keduanya Merangkak Mundur) Goyang-goyangkan buah rembulan. Pejam-pejamkan mata rembulan. Cecer-cecerkan peluh rembulan.
BULAN
Awan sepotong dalam kelabu. Membalut tubuh Adam dan Hawa. Tandas-tandaskan sampai pun tua. Sebelum musnah dirampok waktu.
SERIBU BULAN
Goyang-goyangkan buah rembulan. Pejam-pejamkan mata rembulan. Cecer-cecerkan peluh rembulan.
SUARA NAFAS BERDESA. SUARA DUA EKOR ANJING.
Tujuh
YANG KELAM DENGAN PASUKANNYA DATANG. KAMAR BEDAH.
YANG KELAM
Salibkan ! (abu disalib) Salibkan (iyem pun )
ABU
Akan di apakan saya ?
IYEM
Akan di apakan saya ?
YANG KELAM
Kalian selalu terlambat mengetahui. Ini adalah tahun 1974 dan bukan tahun 1919. Ini adalah saat kalian mengalami keajaiban dunia. Kalian akan menyaksikan karya besar dari Seniman besar (pada pasukannya) Yang perempuan dulu. Kurangi rambutnya. (iyem dicabuti rambutnya. Iyem berontak)
ABU
Kau apakan istri saya ? Kau gila !
IYEM
Luar biasa sakitnya. Kau jangan diam saja. Sakitnya.
YANG KELAM
Berhenti dulu. ( Pada iyem) Apa yang kau rasakan ?
IYEM
Saya merasa sedang dijerumuskan ke dalam sebuah jurang. Sangat gelap. Sangat dalam. Sedemikian mengawang tubuh saya meluncur. Serasa tubuh saya terbuat dari bulu jambu
YANG KELAM
Apalagi ?
IYEM
Matahari melesat. Bulan berpusing-pusing.
YANG KELAM
Kerjakan keduanya. Mulai mulai dari tulang-tulang sendinya (abu dan iyem dipukuli. Mereka berontak) garap rambutnya. Kurang. Sekarang dahinya. Lengkap wajahnya. Gorok sedikit lehernya. Jangan lupa giginya ! Sekarang matanya
Delapan
IYEM
Kita terlalu amat lelah.
ABU
Bukan main. Langit seolah menekan pundak.
IYEM
Tiga orang mayat anak kita.
ABU
Seorang lagi mayat cucu kita.
IYEM
Kita terlalu amat lelah.
ABU
Bukan main, siapa pula menusuk-nusuk ini lutut, pinggang seperti digerogoti semut. Jam berapa sekarang ? (serentak lonceng, bel berbunyi. Mereka berpacu dengan sang waktu). Kalau begitu kita harus bergegas. Segera.
IYEM
Ke mana ?
ABU
Ikut saja. Pasti gembira.
IYEM
Jauhnya. Kemana ?
ABU
Ikut saja.
IYEM
Saya ingin tahu kemana ?
ABU
Ke ujung dunia.
IYEM
Buat apa ?
ABU
Menjumpai Nabi Sulaiman.
IYEM
Apa perlunya ?
ABU
Membeli sesuatu.
IYEM
Apa ?
ABU
Cermin Tipu Daya.
IYEM
Apa itu ?
ABU
Penangkis segala bala. Pembalas dendam.
IYEM
Kepada siapa ?
ABU
Entah. Setidak-tidaknya pada Sang Waktu.
Sembilan
YANG KELAM
Tangkap. Bawa ke kantor.
MAJIKAN
..-
ABU
Saya, Tuan.
MAJIKAN
Bersama ini kami semua menyatakan penghargaan atas jasa anda yang telah dengan setia bekerja disisni. Bersama ini kami menyatakan rasa terima kasih kami atas bantuan anda selama bekerja disini. Bersama ini kami menyatakan bahwa anda telah mendapat hak pensiun.
Sepuluh
EMAK
Bulan.
BULAN
Iya Mak.
EMAK
Yang Kelam.
YANG KELAM
Saya, Mak.
EMAK
Pekerjaan kita hampir selesai.
YANG KELAM
Sepuluh putaran lagi, Mak.
LAYAR
BAGIAN KEEMPAT
ABU DAN IYEM KEHUJANAN
Satu
ABU
Derasnya air hujan.
IYEM
Anginnya, anginnya.
ABU
Derasnya hujan.
IYEM
Anginnya, anginnya.
ABU
Sebagian bernama rahmat.
IYEM
Sebagian lagi sudah laknat.
ABU
Semua pintu tertutup.
IYEM
Mata itu melotot memenuhi jendela.
ABU
Tapi kita harus terus melangkah.
IYEM
Kemana ?
ABU
Ke ujung dunia.
IYEM
Masih jauh ?
ABU
Masih ada waktu.
IYEM
Sampai dimana kita ?
ABU
Sampai di sini.
IYEM
Letihnya. Letihnya.
ABU
Tapi kita tak bisa pulang.
IYEM
Kamu yang salah
ABU
Yang punya rumah yang salah.
IYEM
Tidak. Surat perjanjian sewa rumah yang salah.
ABU
Kita tak akan pernah pulang.
IYEM
Anak-anak pun sudah lenyap entah kemana.
ABU
Sebagian di kubur, sebagian kabur.
IYEM
Kita berteduh.
ABU
Di mana ?
IYEM
Tak penting di mana.
ABU
Seluruh teras toko sudah penuh dengan gelandangan, bekas tetangga kita juga.
IYEM
Itu ada teras restoran cina.
ABU
Lumayan.
IYEM
Babi haram.
ABU
Dulu.
IYEM
Sekarang ?
ABU
Halal. Pohon kita makan.
IYEM
Tanah kita makan.
ABU
Besi kita makan.
IYEM
Kehormatan kita makan.
ABU
Kata kita makan.
IYEM
Kalau babi pun musnah kita makan lengan sendiri, ya ?
ABU
Setuju.
IYEM
Jari-jari sendiri kita sate.
ABU
Kuping sendiri kita goreng.
IYEM
Jempol kita rebus.
ABU
Setuju.
IYEM
Setuju.
ABU
Kenapa senyum ?
IYEM
Nggak. Kenapa ketawa ?
ABU
Lucu.
IYEM
Kenapa ?
ABU
Dulu kamu tidak percaya Cermin Tipu Daya.
IYEM
Dulu tidak ada waktu. Anak-anak selalu bengal. Sekarang aku sudah tua. Sudah waktunya mencoba percaya.
ABU
Tu dia.
IYEM
Apa ?
ABU
Pelabuhan. Aku tidak mau ke sana. Aku tidak mau ke sana. Aku cape, aku cape. Lalu bagaimana.
IYEM
Mari kita bunuh diri saja.
ABU
Aku tidak berani.
IYEM
Kalau begitu kita disini saja menadahkan tangan, mengemis meminta-minta.
ABU
Tidak. Kita harus melangkah terus. Harus semakin yakin kita. Kita akan mendapatkannya, tak peduli apa. Kita lebih dulu harus sampai di ujung dunia.
IYEM
Aku cape, aku cape.
ABU
Surya di atas kepala.
IYEM
Sengatnya, sengatnya.
ABU
Pelu langit betapa asemnya.
IYEM
Ke mana kita ?
ABU
Tanya lagi. Ke toko Nabi Sulaiman.
IYEM
Lebih baik kita hentikan saja permainan ini. Ini permainan anak-anak muda. Tubuh kita terlalu lembek dan tak akan bisa tahan terhadap sengatan sang surya. Kita berhenti di sini saja. Kita mengemis saja. Kita akan dapat makan juga.
YANG KELAM MUNCUL LALU MENEMPELENG IYEM. BEBERAPA GELANDANGAN MENGELILINGI MEREKA. ABU DAN IYEM DIGARI MEREKA DISERET. SUNYI. YANG KELAM MEMBACA PIAGAM TANPA SUARA. ORKES TANPA SUARA. TEPUK TANGAN TANPA SUARA.
LAYAR
BAGIAN KELIMA
(Pintu)
Satu
GELANDANGAN UMUMNYA CACAT BADAN. SEMUA MENYUARAKAN NAFAS MEREKA. MEREKA LAPAR. SANGAT LAPAR. MEREKA HAUS. SANGAT HAUS. SANGAT CAPE.
A
Mari kita mengheningkan cipta bagi arwah-arwah pahlawan kita yang telah gugur di medan juang. Mengheningkan cipta mulai. (Musik) Mengheningkan cipta selesai. Terima kasih.
MEREKA MENYUARAKAN NAFAS. LAPAR. HAUS. CAPE SEKALI.
B
Mari kita bertempur.
SEMUA
Mari.
B
Kita bertempur mati-matian.
SEMUA
Setuju.
B
Kita musnahkan musush kita.
SEMUA
Setuju.
B
Kita gigit tengkuknya.
SEMUA
Setuju.
B
Majuuuuu !
SEMUA
Majuuuuu !
B
Gempuuuuur !
SEMUA
Gempuuuuur !
B
Serbuuuuu !
SEMUA
Sipa musuh kita ?
B
Siapa, ya ? (semua ketawa) Mana kambingnya ?
SEMUA
Yang hitam warnanya ?
B
Siapa ?
SEMUA
Malam turun.
B
Kita pun berlindung.
SEMUA
Siang tiba.
B
Terserak kita.
Dua
YANG KELAM KONTROL. GELANDANGAN MENJERIT. YANG KELAM HILANG. SEMUA MENYANYI BERULANG-ULANG
SEMUA
Tawur ji tawur. Selamat dawa umur.
Tiga
G
Horee ! Horee ! (Nyanyi Henti) Saya pura-pura nemu dompet.
SEMUA
Pura-pura nemu dompet.
G
Tebal sekali.
SEMUA
Apa isinya ?
..
Kartu penduduk.
SEMUA
Siapa punya ?
..
Tidak bernama. E, ada tulisannya. Alias Subroto.
SEMUA
Apa lagi isinya ?
..
Banyak. Surat-surat. Surat-surat.
SEMUA( Marah)
Apa lagi isinya ?
..
O iya. Uang.
SEMUA
Begitu dong. Berapa ?
..
Seperak.
SEMUA(Marah)
Berapa ?
..
O iya, sejuta.
SEMUA
Begitu, dong.
..
Tapi saya punya.
SEMUA (marah)
Apa ?
..
Saya punya.
SEMUA (marah)
Bilang lagi !
..
Bukan kalian punya.
SEMUA
Apa ? Perampok !
Empat
ABU
Iyem. Iyem (kelompok kakek lewat dengan koor. iyem ikut dibelakangnya) Sendiri. Persetan ! Itu pasti pintu gua itu.
Lima
GELANDANGAN MUNCUL. MEREKA BARU SAJA MAKAN DAGING ENTAH. MEREKA MEROKOK PENUH ASAP.
..
Serang !
SEMUA
Maju !
..
Gempur !
..
Jangan beri ampun !
..
Siapa musush kita ?
SEMUA
Brengsek ! (tertawa)
Enam
ABU
Siapa kamu ? (H Menggelengkan Kepala) Bisu ? (H Menggelengkan Kepala) Lalu siapa kamu ? (H Menggelengkan Kepala) Siapa kamu ?
SEMUA
Abu.
ABU
Sedang apa kalian ?
SEMUA
Mencari kambing hitam.
ABU
Persetan buat apa ? Setelah kalian temukan pangkal kemelaratan kalian, lalu kalian cincang-cincang, setelah puas kalian muntahkan, dendam purba itu, apa yang kalian dapatkan ? Bahkan kalian habiskan tenaga sia-sia. Persoalannya sangat menyakitkan sekali ; kenapa kalian terlempar kesini ? Barangkali sunyi yang mendorong Ia menciptakan kita.
SEMUA
Kenapa ?
ABU
Kita dikutuk !
SEMUA
Kenapa ?
ABU
Sunyi biang keladinya.
SEMUA
Kenapa ?
ABU
Tak ada waktu untuk Kenapa. Lebih baik kalian ikut saja. Kita pergi menuju kaki langit.
SEMUA
Kemana ?
ABU
Ke ujung dunia.
SEMUA
Ke mana ?
ABU
Ke toko Nabi Sulaiman.
SEMUA
Buat apa ?
ABU
Untuk membebaskan kita dari kutuk ini.
SEMUA
Bahagia.
ABU
Ya itu nama khasiatnya.
SEMUA
Setuju.
ABU
Kita berangkat sekarang. Kita seberangi samudera itu. Sudah kulihat pintu gua itu.
SEMUA
Kami setuju.
ABU
Kita masuki gua itu. Kita pungut pusaka itu.
SEMUA
Ya.
ABU
Kita berangkat.
SEMUA
Kita berangkat.
ABU
Pintu gua.
SEMUA
Ya.
ABU
Ada pintu yang lain.
SEMUA
Ya.
ABU
Kita masuki.
SEMUA
Ya.
ABU
Ada pintu yang lain.
SEMUA
Ya.
ABU
Kita masuki.
SEMUA
Ya.
ABU
Ada pintu yang lain.
SEMUA
Ya.
ABU
Kita masuki.
SEMUA
Ya.
ABU
Ada pintu yang lain.
SEMUA
Ya.
ABU
Kita masuki.
SEMUA
Ya. (SUNYI)
ABU
Itu dia.
SEMUA
Pintu.
ABU
Itu dia.
SEMUA
Pintu.
ABU
Itu dia.
SEMUA
Pintu.
ABU
Itu dia.
SEMUA
Pintu.
ABU
Itu dia.
SEMUA
Pintu.
ABU
Itu dia.
SEMUA
Semuanya pintu.
ABU
Semuanya cahaya.
SEMUA
Semuanya pintu.
ABU
Cermin Tipu Daya.
SEMUA
Pintu. Pintu. Pintu.
ABU
Cahaya.
SEMUA
Pintu.
ABU
Mak !
SEMUA
Mak !
ABU
Mak !
SEMUA
Mak !
ABU
Emak datang ! Emak datang !
SEMUA
Emak datang ! Emak datang !
Tujuh
BERSAMA ABU MEREKA GEMBIRA.SEMUANYA BERPESTA. EMAK, YANG KELAM, DAN BULAN MUNCUL. ABU MENGUCAPKAN PIDATO. SEBELUMNYA IA MENDAPATKAN MAHKOTA DARI EMAK.
Yang Kelam (setelah menyerahkan cermin tipu daya)
Ini adalah tahun 1980, dan bukan tahun 1919 sudah waktunya kau mati.
SEMUA BERTEPUK TANGAN. MUNCUL BEL DENGAN GOLOKNYA. EMAK MENMBAKKAN PISTOLNYA KE ARAH ABU DAN MENYERETNYA. HIRUK RIUH SEMUANYA BERTEPUK TANGAN MENGIKUTI ABU YANG DISERET.
Delapan
HAMPIR BERSAMAAN KELOMPOK KAKEK DAN JENAZAH ABU LEWAT. IYEM DI BELAKANG. SEMUANYA LARUT DALAM KOOR. CAHAYA MENYUSUT. SANDIWARA BERAKHIR DENGAN AWAL ADEGAN PERTAMA.
TAMAT
Tuesday, 15 February 2011
KASIR KITA
KASIR KITA
Monolog Arifin C Noer
Setting :
Ruang tengah dari sebuah ruang yang cukup menyenangkan, buat suatu keluarga yang
tidak begitu rakus. Lumayan keadaannya, sebab lumayan pula penghasilan si
pemiliknya. Sebagai seorang kasir di sebuah kantor dagang yang lumayan pula
besarnya. Kasir kita itu bernama :
Misbach Jazuli
Sandiwara ini ditulis khusus untuk latihan bermain. Sebab itu sangat sederhana
sekali. Dan sangat kecil sekali. Dan sandiwara ini kita mulai pada suatu pagi.
Mestinya pada suatu pagi itu ia sudah duduk dekat kasregisternya di kantornya,
tapi pagi itu ia masih berada di ruang tengahnya, kelihatan lesu seperti
wajahnya.
Tas sudah dijinjingnya dan ia sudah melangkah hendak pergi. Tapi urung lagi
untuk yang kesekian kalinya. Dia bersiul sumbang untuk mengatasi kegelisahannya.
Tapi tak berhasil.
Saudara-saudara yang terhormat. Sungguh sayang sekali, sandiwara yang saya
mainkan ini sangat lemah sekali. Pengarangnya menerangkan bahwa kelemahannya,
maksud saya kelemahan cerita ini disebabkan ia sendiri belum pernah mengalaminya;
ini. Ya, betapa tidak saudara? Sangat susah.
Diletakkannya tasnya
Saya sangat susah sekali sebab istri saya sangat cantik sekali. Kecantikannya
itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara.
Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik.
Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar
biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri
tidak percaya bahwa dia itu istri saya.
Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu
pandang pertama kalinya disuatu pesta berkata saya dalam hati : maulah saya
meyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu
saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan
selamanya sulit diterka. Sedikit banyak rupanya suka akan surpraise.
Buktinya? Meskipun telinga saya masih utuh, toh saya telah berumah tangga dengan
Supraba selama lima tahun lebih.
Aduh cantiknya.
Saya berani mempertaruhkan kepala saya bahwa bidadari itu akan tetap bidadari
walaupun ia telah melahirkan anak saya yang nomer dua, saya hampir tidak percaya
pada apa yang saya lihat. Tubuh yang terbaring itu masih sedemikian utuhnya.
Caaaaannnnttiiik.
Ah kata cantikpun tak dapat pula untuk menyebutkan keajaibannya. Cobalah.
Seandainya suatu ketika gadis-gadis sekolah berkumpul dan istri saya berada
diantara mereka, saya yakin, saudara-saudara pasti memilih istri saya, biarpun
saudara tahu bahwa dia seorang janda.
Lesu.
Ya, saudara. Kami telah bercerai dua bulan lalu. Inilah kebodohan sejati dari
seorang lelaki. Kalau saja amarah itu tak datang dalam kepala, tak mungkin saya
akan sebodoh itu menceraikan perempuan ajaib itu.
Semua orang yang waras akan menyesali perbuatan saya, kecuali para koruptor,
sebab mereka tak mampu lagi menyaksikan harmoni dalam hidup ini. Padahal harmoni
adalah keindahan itu sendiri. Dan istri saya, harmonis dalam segala hal.
Sempurna.
Menarik napas.
Bau parfumnya! Baunya! Seribu bunga sedap malam di kala malam, seribu melati di
suatu pagi. Segar, segar!
Telepon berdering.
Itu dia! Sebentar (ragu-ragu)
Selama seminggu ini setiap pagi ia selalu menelpon. Selalu ditanyakannya :”Sarapan
apa kau, mas” Kemarin saya menjawab :”Nasi putih dengan goreng otak sapi”
Pagi ini saya akan menjawab .....
Mengangkat gagang telepon
Misbach Jazuli disini. Hallo? Hallo! Halloooo!
Meletakkan pesawat telepon
Salah sambung. Gilaa! Saya marah sekali. Penelpon itu tak tahu perasaan sama
sekali.
Tiba-tiba
Oh ya! Jam berapa sekarang?
Gugup melihat arloji
Tepat! Delapan seperempat. Saya telah terlambat tiga perempat jam. Maaf saya
harus ke kantor. Lain kali kita sambung cerita ini atau datanglah ke kantor saya,
PT Dwi Warna di jalan Merdeka. Tanyakan saja disana nama saya, kasir Jazuli.
Maaf. Sampai ketemu.
Melangkah cepat. Sampai di pintu sebentar ia ragu. Tapi kemudian ia terus juga.
Agak lama, kasir kita masuk lagi dengan lesu.
Mudah mudahan perdagangan internasional dan perdagangan nasional tidak terganggu
meskipun hari ini saya telah memutuskan tidak masuk kantor.
Tidak, saudara! Saudara tidak bisa seenaknya mencap saya punya bakat pemalas.
Saudara bisa bertanya kepada pak Sukandar kepala saya, tentang diri Misbah
Jazuli.
Tentu pak Sukandar segera mencari kata-kata yang terbaik untuk menghormati
kerajinan dan kecermatan saya. Kalau saudara mau percaya, hari inilah hari
pertama saya membolos sejak enam tahun lebih saya bekerja di PT Dwi Warna.
Seperti saudara saksikan sendiri badan saya sedemikian lesunya, bukan? Tuhanku!
Ya, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Saya rindu pada
istri saya dan sedang ditimpa rasa penyesalan dan saya takut masuk kantor
berhubung pertanggung jawaban keuangan....
Telepon berdering.
Sekarang pasti dia! (Menuju pesawat telepon)
Saya sendiri tidak tahu kenapa selama seminggu ini ia selalu menelpon saya.
Apa mungkin ia mengajak rukun dan rujuk kembali...tak tahulah saya. Saya sendiri
pun terus mengharap ia kembali dan, tapi tidak! Saya tak boleh menghina diri
sendiri begitu bodoh! Bukan saya yang salah. Dia yang salah. Yang menyebabkan
peristiwa perceraian ini bukan saya tapi dia. Dia yang salah. Sebab itu dia yang
selayaknya minta maaf pada saya. Ya, dia harus minta maaf.
Toch saya laki-laki berharga : saya punya penghasilan yang cukup.
Laki-laki gampang saja menarik perempuan sekalipun sudah sepuluh kali beristri.
Pandang perempuan dengan pasti, air muka disegarkan dengan sedikit senyum, dan
suatu saat berpura-pura berpikir menimbang kecantikannya dan kemudian pandang
lagi, dan pandang lagi, dan jangan sekali kali kasar, wajah lembut seperti waktu
kita berdoa dan kalau perempuan itu menundukkan kepalanya berarti laso kita
telah menjerat lehernya. Beres!
Nah, saya cukup punya martabat, bukan? Dan lagi dia yang salah! Ingat, dia yang
salah. Nah, saudara tentu sudah tahu tentang sifat saya. Saya sombong seperti
umumnya laki-laki dan kesombongan saya mungkin juga karena sedikit rasa rendah
diri, tidak! Bukankah saya punya tampang tidak begitu jelek?
Telepon berdering lagi.
Pasti isteri saya (Menarik napas panjang)
Saya telah mencium bau bedaknya. Demikian wanginya sehingga saya yakin kulitnya
yang menyebabkan bedak itu wangi. Oh, apa yang sebaiknya saya katakan?
Tidak! Saya harus tahu harga diri. Kalau dia ku maafkan niscaya akan semakin
kurang ajar. Saudara tahu? Mengapa semua ini bisa terjadi? Oh, kecantikan itu!
Ah! Bangsat! Selama ini saya diusiknya dengan perasaan-perasaan yang gila.
Bangsat!
Saudara tahu? Dia telah berhubungan lagi dengan pacarnya ketika di SMA! Ya,
memang saya tidak tahu benar, betul tidaknya prasangka itu. Tapi cobalah
bayangkan betapa besar perasaan saya. Suatu hari secara kebetulan saya pulang
dari kantor lebih cepat dari biasanya dan apa yang saya dapati? Laki-laki itu
ada di sini dan sedang tertawa-tawa. Dengar! Tertawa-tawa. Ya, Tuhan. Cemburuku
mulai menyerang lagi. Perasaan cemburu yang luar biasa.
Telepon berdering lagi.
Pasti dia.
Mengangkat gagang telepon.
Misbach Jazuli di sini, hallo?
Segera menjauhkan pesawat telepon dari telinganya.
Inilah ular yang menggoda Adam dahulu. Perempuan itu menelepon dalam keadaan aku
begini. Jahanam! (kasar) Ya, saya Jazuli, ada apa? Nanti dulu. Jangan dulu kau
memakai kata-kata cinta yang membuat kaki gemetar itu! Dengar dulu! Apa
perempuan biadap! Kau telah menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah
menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah menyebabkan semuanya semakin
berantakan dan membuat aku gelisah dan takut seperti buronan!
Meletakkan pesawat dengan marah.
Betapa saya marah. Sesudah beberapa puluh juta uang kantor saya pakai berpoya-poya,
apakah ia mengharap saya mengangkat lemari besi itu ke rumahnya. Gila!
Ya, saudara. Saya telah berhubungan dengan seorang perempuan, beberapa hari
setelah saya bertengkar di pengadilan agama itu. Saya tertipu. Uang saya ludes,
uang kantor ludes. Tapi saya masih bisa bersyukur sebab lumpur itu baru mengenai
betis saya. Setengah bulan yang lalu saya terjaga dari mimpi edan itu. Betapa
saya terkejut, waktu menghitung beberapa juta uang kantor katut. Dan sejak
itulah saya ingat isteri saya. Dan saya mendengar tangis anak-anak saya.
Tambahan lagi isteri saya selalu menelepon sejak seminggu belakangan ini.
Tuhanku! Bulan ini bulan Desember, beberapa hari lagi kantor saya mengadakan
stock opname. Inilah penderitaan itu.
Memandang potret di atas rak buku.
Sejak seminggu yang lalu saya pegang lagi potret itu. Tuhan, apakah saya mesti
menjadi penyair untuk mengutarakan sengsara badan dan sengsara jiwa ini?
Apabila anak-anak telah tidur semua, dia duduk di sini di samping saya. Dia
membuka-buka majalah dan saya membaca surat kabar. Pabila suatu saat mata kami
bertemu maka kami pun sama-sama tersenyum. Lalu saya berkata lembut : “Manis,
kau belum mengantuk?” Wajahnya yang mentakjubkan itu menggeleng-geleng indah dan
manis sekali. Dia berkata, juga dengan lembut : “Aku hanya menunggu kau, mas”
Saya tersenyum dan saya berkata lagi : “Aku hanya membaca koran, manis” Dan lalu
ia berkata : “ Aku akan menunggui kau membaca koran, mas” Kemudian kami pun sama-sama
tersenyum bagai merpati jantan dan betina.
Kubelai rambutnya yang halus mulus itu. Duuh wanginya. Nyamannya. Lautan minyak
wangi yang memingsankan dan membius sukma. Apabila dia berkata seraya menengadah
“Mas”. Maka segera kupadamkan lampu di sini dan lewat jendela kaca kami
menyaksikan pekarangan dengan bunga-bunga yang kabur, dan langit biru bening
dimana purnama yang kuning telor ayam itu merangkak-rangkak dari ranting
keranting.
Tiba-tiba ganti nada.
Hah, saya baru saja telah menjadi penyair cengeng untuk mengenang semua itu.
Tidak-tidak! Laki-laku itu ............, sebentar. Saya belum menelepon ke
kantor bukan ? Sebentar.
Diangkatnya pesawat telepon itu ! memutar nomornya.
Hallo, minta 1237 utara. Hallo ! ....... Saudara Anief ... ? Kebetulan .... Ya,
ya, mungkin pula influenza. (batuk-batuk-dan menyedot hidungnya) Yang pasti
batuk dan pilek. Saudara....ya?....Ya, ya saudara Anief, saya akan merasa senang
sekali kalau saudara sudi memintakan pamit saya kepada pak Sukandar....Terima
kasih...Ya? Apa? Saudara bertemu dengan isteri saya disebuah restoran?
Nada suaranya naik.
Apa? Dengan laki-laki? (menahan amarahnya) Tentu saja saya tidak boleh marah,
saudara. Dia bukan istri saya. Ya, ya...Hallo! Ya, jangan lupa pesan saya pada
pak Sukandar.
(batuk dan menyedot hidungnya lagi) Saya sakit. Ya, pilek. Terima kasih.
Meletakan pesawat telepon.
Seharusnya saya tak boleh marah. Bukankah dia bukan isteri saya lagi? Ah,
persetan : pokoknya saya marah! Persetan : cemburuan kumat lagi? Ah, persetan!
Saudara bisa mengira apa yang terdapat dalam hati saya. Saudara tahu apa yang
ingin saya katakan pada saudara? Saya hanya butuh satu barang, saudara. Ya,
benar-benar saya butuh pistol, saudara. Pistol. Saya akan bunuh mereka sekaligus.
Kepala mereka cukup besar untuk menjaga agar peluru saya tidak meleset dari
pelipisnya.
Nafasnya sudah kacau.
Kalau mayat-mayat itu sudah tergeletak di lantai, apakah saudara pikir saya akan
membidikkan pistol itu ke kening saya? Oh, tidak! Dunia dan hidup tidak selebar
daun kelor, saudara! Sebagai orang yang jujur dan jangan lupa saya adalah
seorang ksatria dan sportif, maka tentu saja secara jantan saya akan menghadap
dan menyerahkan diri pada pos polisi yang terdekat dan berkata dengan bangga dan
herooik : “Pak saya telah menembak Pronocitra dan Roro Mendut.”
Tentu polisi itu akan tersenyum. Dan kagum campur haru. Dan bukan tidak mungkin
ia akan memberi saya segelas teh. Dan baru setelah itu membawa saya ke dalam
sebuah sel yang pengap.
Hari selanjutnya saya akan diperiksa. Ya, diperiksa. Lalu diadili. Ya, diadili.
Saudara tahu apa yang hendak saya katakan pada hakim? Kepada hakim, kepada jaksa,
kepada panitera dan kepada seluruh hadirin akan saya katakan bahwa mereka
pengganggu masyarakat maka sudah sepatutnya dikirim ke neraka jahanam. Bukankah
bumi ini bumi Indonesia yang ketentramannya harus dijaga oleh setiap warganya?
Saudara pasti tahu seperti saya pun tahu hakim yang botak itu akan berkata
seraya menjatuhkan palunya : “Seumur hidup di Nusa Kambangan!”
Pikir saudara saya akan pingsan mendengar vonis semacam itu? Ooo, tidak saudara.
Saya akan tetap percaya pada Tuhan. Tuhan lebih tahu daripada Hakim yang botak
dan berkaca mata itu.
Lagi pula saya sudah siap untuk dibawa ke Nusa Kambangan. Di pulau itu saya
hanya akan membutuhkan beberapa rim kertas dan pulpen. Ya, saudara. Saya akan
menjadi pengarang. Saya akan menulis riwayat hidup saya dan proses pembunuhan
itu yang sebenarnya, sehingga dunia akan sama membacanya. Saya yakin dunia akan
mengerti letak soal yang sejati. Dunia akan menangis. Perempuan-perempuan akan
meratap.
Dan seluruh warga bumi ini akan berkabung sebab telah berbuat salah menghukum
seseorang yang tak bersalah. Juga saya yakin hakim itu akan mengelus-elus
botaknya dan akan mengucurkan air matanya sebab menyesal dan niscaya dia akan
membuang palunya ke luar. Itulah rancangan saya.
Saya sudah berketetapan hati. Saya sudah siap betul-betul sekarang. Siap dan
nekad. Ooo, nanti dulu. Saya ingat sekarang. Saya belum punya pistol. Dimana
saya bisa mendapatkannya? Inilah perasaan seorang pembunuh. Dendam dendam yang
cukup padat seperti padatnya kertas petasan. Dahsyat letusannya. Saya ingat
Sherlocks Holmes sekarang. Agatha Christi, Edgar Allan Poe. Sekarang saya insaf.
Siapapun tidak boleh mencibirkan segenap pembunuh. Sebab saya kini percaya ada
berbagai pembunuh di atas dunia ini. Dan yang ada di hadapan saudara, ini bukan
pembunuh sembarang pembunuh. Jenis pembunuh ini adalah jenis pembunuh asmara.
Nah, saya telah mendapatkan judul karangan itu.
“Pembunuh Asmara” Lihatlah dunia telah berubah hanya dalam tempo beberapa
anggukan kepala. Persetan! Dimana pistol itu dapat saya beli? Apakah saya harus
terbang dulu ke Amerika, ke Dallas? Tentu saja tidak mungkin. Sebab itu berarti
memberikan mereka waktu untuk melarikan diri sebelum kubekuk lehernya.
Oh, betapa marah saya. Darah seperti akan meledakan kepala saya. Betapa! Sampai-sampai
saya ingin menyobek dada ini. Oh,...saya sekarang merasa bersahabat dengan
Othello. Saudara tentu kenal dia, bukan? Dia adalah tokoh pencemburu dalam
sebuah drama Shakespeare yang terkenal.
Othello. Dia bangsa Moor sedang saya bangsa Indonesia, namun sengsara dan
senasib akibat kejahilan cantiknya anak cucu Hawa.
Telepon berdering! Seperti seekor harimau ia!
Itu dia.
Mengangkat pesawat telepon dengan kasar.
Hallo!!! Ya, disini Jazuli !! Kasir !! Ada apa?
Tiba-tiba berubah.
Oh,...maaf pak. Pak Sukandar, kepala saya. Maaf, pak. Saya kira isteri saya.
Saya baru saja marah-marah...Ya, ya memang saya...Ya, ya.
Tertawa.
Ya, pak...
Batuk-batuk. Menyedot hidungnya.
Influenza... Ya, mudah-mudahan..Ya, pak....Ya.
Saudara, dengarlah. Dia mengharap saya besok masuk kantor untuk pemberesan
keuangan....Ya?..Insya Allah, pak..Ada pegawai baru?..Siapa, pak? Istri saya,
pak?
Tertawa.
Ya, pak...
Batuk-batuk dan menyedot hidungnya.
Ya, pak. Terima kasih. Terima kasih, pak. Besok.
Meletakan pesawat telepon.
Persetan! Saya yakin istri saya pasti kehabisan uang sekarang. Apakah saya mesti
mengasihani dia? Tidak! Saya mesti membunuhnya.
Seakan menusukkan pisau.
Singa betina! Ya, sebaiknya dengan pisau saja, pisau.
Telepon berdering.
Persetan! Sekarang pasti dia.
Mengangkat telepon.
Kasir disini! Kasir PT Dwi Warna! Apa lagi! Jahanam! Ular betina yang telah
menjadikan aku koruptor itu! Jangan bicara apa-apa! Tutup mulutmu! Mulutmu bau
busuk! Aku bisa mati mendengar kata-katamu lewat telepon! Cari saja laki-laki
lain yang hidungnya besar. Penggoda bah! Cari yang lain! Toch kau seorang
petualang!
Meletakan pesawat telepon.
Jahanam! Apakah saya mesti membunuh tiga orang sekaligus dalam seketika? O, ya.
Tadi saya sudah memikirkan pisau. Ya, pisaupun cukup untuk menghentikan jantung
mereka berdenyut. (geram). Sayang sekali. Pengarang sandiwara ini bukan seorang
pembunuh sehingga hambarlah cerita ini.
Tapi tak apa. Toch saya sudah cukup marah untuk membunuh mereka. Namun sebaiknya
saya maki-maki dulu alisnya yang nista itu. Saya harus meneleponnya!
Mengangkat telepon.
Kemana saya harus menelepon? Tidak! (meletakan telepon)
Lebih baik saya rancangkan dulu secara masak-masak semuanya sekarang. Demi Allah,
saudara mesti mengerti perasaan saya. Bilanglah pada isteri saudara-saudara : “Manis,
jagalah perasaan suamimu, supaya jangan bernasib seperti Jazuli.”
Ya, memang saya adalah laki-laki yang malang. Tapi semuanya sudah terlanjur.
Sayapun telah siap. Dengan menyesal sekali saya akan menjadi seorang pembunuh
dalam sandiwara ini.
Seperti mendengar telepon berdering.
Hallo? Jazuli disini. Jazuli (sadar)
Saya kira berdering telepon tadi. Nah, saudara bisa melihat keadaan saya
sekarang. Mata saya betul-betul gelap. Telinga saya betul-betul pekak. Saya
tidak bisa lagi membedakan telepon itu berdering atau tidak. Artinya sudah cukup
masak mental saya sebagai seorang pembunuh.
Tapi seorang pembunuh yang baik senantiasa merancangkan pekerjaan dengan baik
pula seperti halnya seorang kasir yang baik. Mula-mula, nanti malam tentu, saya
masuki halaman rumahnya. Saya berani mempertaruhkan separuh nyawa saya, pasti
laki-laki itu ada disana. Dalam cahaya bulan yang diterangi kabut : ..Saya
bayangkan begitulah suasananya.
Bulan berkabut, udara beku oleh dendam, sementara belati telah siap tersembunyi
di pinggang dalam kemeja, saya ketok pintu serambinya.
Mereka pasti terkejut. Lebih-lebih mereka terkejut melihat pandangan mata saya
yang dingin, pandangan mata seorang pembunuh.
Untuk beberapa saat akan saya pandangi saja mereka sehingga badan mereka
bergetaran dan seketika menjadi tua karena ketakutan. Dan sebelum laki-laki itu
sempat mengucapkan kalimatnya yang pertama, pisau telah tertancap di usarnya.
Dan pasti isteri saya menjerit, tapi sebelum jerit itu cukup dapat memanggil
tetangga-tetangga maka belati ini telah bersarang dalam perutnya. Tentu. Saya
akan menarik nafas lega. Kalau mayat-mayat itu telah kaku terkapar di lantai,
saya akan berkata : “Terpaksa. Jangan salahkan saya. Keadilan menuntut balas.”
Tiba-tiba pening di kepala.
Tapi kalau sekonyong-konyong muncul kedua anak saya? Ita dan Imam? Kalau mereka
bertanya : “Pak, ibu kenapa pak? Pak, ibu pak?
Memukul-mukul kepalanya.
Tuhanku!
Duduk.
Dia melamun sekarang. Dua orang anaknya, Ita dan Imam, 5 dan 4 tahun menari-nari
disekelilingnya. Di ruang tengah itu dengan sebuah nyanyian kanak-kanak :
Bungaku.
Saudara-saudara bisa merasakan hal ini? Mereka sangat manisnya. Lihatlah. Saya
tidak bisa lagi marah. Saya pun tak bisa lagi peduli pada apa saja selain kepada
anak-anak yang manis itu. Saya tidak tahu lagi apakah isteri saya cantik apakah
tidak. Saya tidak tahu lagi apakah laki-laki itu jahanam apakah tidak.
Saya hanya tahu anak-anak itu sangat manisnya. Betapa saya ingin melihat lagi
bagaimana mereka tertawa. Tak ada yang lain mutlak harus dipertahankan kecuali
anak-anak itu. Saudara-saudara mengerti maksud saya? Apakah hanya karena cemburu
saya mesti merusak kembang-kembang yang telah bermekaran itu?
Balerina-balerina kecil itu menari bagai malaikat-malaikat kecil.
Semangat hidup yang sejati dan keberanian yang sejati timbul dalam diri begitu
saya ingat Ita dan Imam anak-anak saya. Seakan mereka berkata : “Pak susulah ibu,
pak. Pak, ke kantorlah, pak.”
Ya, Ita. Ya, Imam.
Malaikat-malaikat kecil itu gaib menjelma udara.
Saya harus pergi ke kantor. Akan saya katakan semuanya pada pak Sukandar. Saya
akan mengganti uang itu setelah besok saya jual beberapa barang dalam rumah ini.
Setelah semua beres saya akan mulai lagi hidup dengan tenang dan tawakal kepada
Tuhan. Hari ini hari Jumat, di masjid setelah sembahyang saya akan minta ampun
kepada Allah.
Saya tak mau tahu lagi apakah laki-laki Rahwana atau bukan. Saya tak mau tahu
lagi apakah Sinta itu serong atau tidak. Saya tidak peduli. Tuhan ada dan laki-laki
yang macam itu dan perempuan itu ada dalam hidup saya. Semuanya harus saya
hadapi dengan arif, sebab kalau tidak Indonesia akan hancur berhubung saya
menelantarkan anak-anak saya, Ita dan Imam.
Telepon berdering.
Jahanam! Kalau saudara mau percaya, inilah sundal itu. Setiap kali saya tengah
berpikir begini, jahanam itu menelpon saya.
Telepon berdering lagi.
Jahanam! Inilah sundal itu sesudah uang kantor ludes, apakah ia mengharap rumah
ini dijual.
Mengangkat pesawat telepon.
Ya, Misbach Jazuli
Tersirap darahnya.
Saudara, jantung saya berdebar seperti kala duduk di kursi pengantin. Demi Tuhan,
tak salah ini adalah suara istri saya. Oh saya telah mencium bau bedaknya. Hutan
mawar dan hutan anggrek. Ya, manis. Saya sendiri. Saya yakin dia pun sepikiran
dengan saya. Saya akan mencoba menyingkap kenangan lama.
Hallo?..Tentu...Tentu. kenapa kau tidak menelepon tadi? Ya...ke kantor, bukan?
Memang saya agak flu dan batuk-batuk.
(akan batuk tapi urung) ...Ya, manis. Kau ingat laut, pantai, pasir, tikar,
kulit-kulit kacang..ah, indah sekali bukan?...Tentu...Tentu...He...?...Bagaimana?....Kawin?
Kau?...Segera?
Lihatlah, niat baik selamanya tidak mudah segera terwujud. Apa?...Apa? Ha???
Saudara, gila perempuan itu. Apakah ini bukan suatu penghinaan? Dia mengharap
agar nanti sore saya datang ke rumahnya untuk melihat apakah laki-laki calon
suaminya itu cocok atau tidak baginya. Gila. Hmm, rupanya laki-laki yang dulu
itu cuma iseng saja. Ya, tentu..bisa!
Meletakan pesawat dengan kasar.
Jahanam. Saudara tentu mampu merasakan apa yang saya rasakan. Beginilah, kalau
pengarang sandiwara ini belum pernah mengalami peristiwa ini. Beginilah jadinya.
Saya sendiri pun jadi bingung untuk mengakhiri cerita ini.
(tiba-tiba) Persetan pengarang itu! Jam berapa sekarang? Persetan semuanya! Yang
penting saya akan ke kantor meski sudah siang. Dari kantor saya akan langsung ke
masjid. Dari masjid langsung ke rumah mertua saya. Langsung saya boyong semuanya.
Anak-anak itu menanti saya. Persetan! Sampai ketemu. Selamat siang.
Melangkah seraya menyambar tasnya. Tiba-tiba berhenti. Setelah mengeluarkan sapu
tangan, batuk-batuk dan menyedot hidungnya.
Saya influenza, bukan ?
SELESAI
Monolog Arifin C Noer
Setting :
Ruang tengah dari sebuah ruang yang cukup menyenangkan, buat suatu keluarga yang
tidak begitu rakus. Lumayan keadaannya, sebab lumayan pula penghasilan si
pemiliknya. Sebagai seorang kasir di sebuah kantor dagang yang lumayan pula
besarnya. Kasir kita itu bernama :
Misbach Jazuli
Sandiwara ini ditulis khusus untuk latihan bermain. Sebab itu sangat sederhana
sekali. Dan sangat kecil sekali. Dan sandiwara ini kita mulai pada suatu pagi.
Mestinya pada suatu pagi itu ia sudah duduk dekat kasregisternya di kantornya,
tapi pagi itu ia masih berada di ruang tengahnya, kelihatan lesu seperti
wajahnya.
Tas sudah dijinjingnya dan ia sudah melangkah hendak pergi. Tapi urung lagi
untuk yang kesekian kalinya. Dia bersiul sumbang untuk mengatasi kegelisahannya.
Tapi tak berhasil.
Saudara-saudara yang terhormat. Sungguh sayang sekali, sandiwara yang saya
mainkan ini sangat lemah sekali. Pengarangnya menerangkan bahwa kelemahannya,
maksud saya kelemahan cerita ini disebabkan ia sendiri belum pernah mengalaminya;
ini. Ya, betapa tidak saudara? Sangat susah.
Diletakkannya tasnya
Saya sangat susah sekali sebab istri saya sangat cantik sekali. Kecantikannya
itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara.
Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik.
Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar
biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri
tidak percaya bahwa dia itu istri saya.
Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu
pandang pertama kalinya disuatu pesta berkata saya dalam hati : maulah saya
meyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu
saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan
selamanya sulit diterka. Sedikit banyak rupanya suka akan surpraise.
Buktinya? Meskipun telinga saya masih utuh, toh saya telah berumah tangga dengan
Supraba selama lima tahun lebih.
Aduh cantiknya.
Saya berani mempertaruhkan kepala saya bahwa bidadari itu akan tetap bidadari
walaupun ia telah melahirkan anak saya yang nomer dua, saya hampir tidak percaya
pada apa yang saya lihat. Tubuh yang terbaring itu masih sedemikian utuhnya.
Caaaaannnnttiiik.
Ah kata cantikpun tak dapat pula untuk menyebutkan keajaibannya. Cobalah.
Seandainya suatu ketika gadis-gadis sekolah berkumpul dan istri saya berada
diantara mereka, saya yakin, saudara-saudara pasti memilih istri saya, biarpun
saudara tahu bahwa dia seorang janda.
Lesu.
Ya, saudara. Kami telah bercerai dua bulan lalu. Inilah kebodohan sejati dari
seorang lelaki. Kalau saja amarah itu tak datang dalam kepala, tak mungkin saya
akan sebodoh itu menceraikan perempuan ajaib itu.
Semua orang yang waras akan menyesali perbuatan saya, kecuali para koruptor,
sebab mereka tak mampu lagi menyaksikan harmoni dalam hidup ini. Padahal harmoni
adalah keindahan itu sendiri. Dan istri saya, harmonis dalam segala hal.
Sempurna.
Menarik napas.
Bau parfumnya! Baunya! Seribu bunga sedap malam di kala malam, seribu melati di
suatu pagi. Segar, segar!
Telepon berdering.
Itu dia! Sebentar (ragu-ragu)
Selama seminggu ini setiap pagi ia selalu menelpon. Selalu ditanyakannya :”Sarapan
apa kau, mas” Kemarin saya menjawab :”Nasi putih dengan goreng otak sapi”
Pagi ini saya akan menjawab .....
Mengangkat gagang telepon
Misbach Jazuli disini. Hallo? Hallo! Halloooo!
Meletakkan pesawat telepon
Salah sambung. Gilaa! Saya marah sekali. Penelpon itu tak tahu perasaan sama
sekali.
Tiba-tiba
Oh ya! Jam berapa sekarang?
Gugup melihat arloji
Tepat! Delapan seperempat. Saya telah terlambat tiga perempat jam. Maaf saya
harus ke kantor. Lain kali kita sambung cerita ini atau datanglah ke kantor saya,
PT Dwi Warna di jalan Merdeka. Tanyakan saja disana nama saya, kasir Jazuli.
Maaf. Sampai ketemu.
Melangkah cepat. Sampai di pintu sebentar ia ragu. Tapi kemudian ia terus juga.
Agak lama, kasir kita masuk lagi dengan lesu.
Mudah mudahan perdagangan internasional dan perdagangan nasional tidak terganggu
meskipun hari ini saya telah memutuskan tidak masuk kantor.
Tidak, saudara! Saudara tidak bisa seenaknya mencap saya punya bakat pemalas.
Saudara bisa bertanya kepada pak Sukandar kepala saya, tentang diri Misbah
Jazuli.
Tentu pak Sukandar segera mencari kata-kata yang terbaik untuk menghormati
kerajinan dan kecermatan saya. Kalau saudara mau percaya, hari inilah hari
pertama saya membolos sejak enam tahun lebih saya bekerja di PT Dwi Warna.
Seperti saudara saksikan sendiri badan saya sedemikian lesunya, bukan? Tuhanku!
Ya, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Saya rindu pada
istri saya dan sedang ditimpa rasa penyesalan dan saya takut masuk kantor
berhubung pertanggung jawaban keuangan....
Telepon berdering.
Sekarang pasti dia! (Menuju pesawat telepon)
Saya sendiri tidak tahu kenapa selama seminggu ini ia selalu menelpon saya.
Apa mungkin ia mengajak rukun dan rujuk kembali...tak tahulah saya. Saya sendiri
pun terus mengharap ia kembali dan, tapi tidak! Saya tak boleh menghina diri
sendiri begitu bodoh! Bukan saya yang salah. Dia yang salah. Yang menyebabkan
peristiwa perceraian ini bukan saya tapi dia. Dia yang salah. Sebab itu dia yang
selayaknya minta maaf pada saya. Ya, dia harus minta maaf.
Toch saya laki-laki berharga : saya punya penghasilan yang cukup.
Laki-laki gampang saja menarik perempuan sekalipun sudah sepuluh kali beristri.
Pandang perempuan dengan pasti, air muka disegarkan dengan sedikit senyum, dan
suatu saat berpura-pura berpikir menimbang kecantikannya dan kemudian pandang
lagi, dan pandang lagi, dan jangan sekali kali kasar, wajah lembut seperti waktu
kita berdoa dan kalau perempuan itu menundukkan kepalanya berarti laso kita
telah menjerat lehernya. Beres!
Nah, saya cukup punya martabat, bukan? Dan lagi dia yang salah! Ingat, dia yang
salah. Nah, saudara tentu sudah tahu tentang sifat saya. Saya sombong seperti
umumnya laki-laki dan kesombongan saya mungkin juga karena sedikit rasa rendah
diri, tidak! Bukankah saya punya tampang tidak begitu jelek?
Telepon berdering lagi.
Pasti isteri saya (Menarik napas panjang)
Saya telah mencium bau bedaknya. Demikian wanginya sehingga saya yakin kulitnya
yang menyebabkan bedak itu wangi. Oh, apa yang sebaiknya saya katakan?
Tidak! Saya harus tahu harga diri. Kalau dia ku maafkan niscaya akan semakin
kurang ajar. Saudara tahu? Mengapa semua ini bisa terjadi? Oh, kecantikan itu!
Ah! Bangsat! Selama ini saya diusiknya dengan perasaan-perasaan yang gila.
Bangsat!
Saudara tahu? Dia telah berhubungan lagi dengan pacarnya ketika di SMA! Ya,
memang saya tidak tahu benar, betul tidaknya prasangka itu. Tapi cobalah
bayangkan betapa besar perasaan saya. Suatu hari secara kebetulan saya pulang
dari kantor lebih cepat dari biasanya dan apa yang saya dapati? Laki-laki itu
ada di sini dan sedang tertawa-tawa. Dengar! Tertawa-tawa. Ya, Tuhan. Cemburuku
mulai menyerang lagi. Perasaan cemburu yang luar biasa.
Telepon berdering lagi.
Pasti dia.
Mengangkat gagang telepon.
Misbach Jazuli di sini, hallo?
Segera menjauhkan pesawat telepon dari telinganya.
Inilah ular yang menggoda Adam dahulu. Perempuan itu menelepon dalam keadaan aku
begini. Jahanam! (kasar) Ya, saya Jazuli, ada apa? Nanti dulu. Jangan dulu kau
memakai kata-kata cinta yang membuat kaki gemetar itu! Dengar dulu! Apa
perempuan biadap! Kau telah menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah
menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah menyebabkan semuanya semakin
berantakan dan membuat aku gelisah dan takut seperti buronan!
Meletakkan pesawat dengan marah.
Betapa saya marah. Sesudah beberapa puluh juta uang kantor saya pakai berpoya-poya,
apakah ia mengharap saya mengangkat lemari besi itu ke rumahnya. Gila!
Ya, saudara. Saya telah berhubungan dengan seorang perempuan, beberapa hari
setelah saya bertengkar di pengadilan agama itu. Saya tertipu. Uang saya ludes,
uang kantor ludes. Tapi saya masih bisa bersyukur sebab lumpur itu baru mengenai
betis saya. Setengah bulan yang lalu saya terjaga dari mimpi edan itu. Betapa
saya terkejut, waktu menghitung beberapa juta uang kantor katut. Dan sejak
itulah saya ingat isteri saya. Dan saya mendengar tangis anak-anak saya.
Tambahan lagi isteri saya selalu menelepon sejak seminggu belakangan ini.
Tuhanku! Bulan ini bulan Desember, beberapa hari lagi kantor saya mengadakan
stock opname. Inilah penderitaan itu.
Memandang potret di atas rak buku.
Sejak seminggu yang lalu saya pegang lagi potret itu. Tuhan, apakah saya mesti
menjadi penyair untuk mengutarakan sengsara badan dan sengsara jiwa ini?
Apabila anak-anak telah tidur semua, dia duduk di sini di samping saya. Dia
membuka-buka majalah dan saya membaca surat kabar. Pabila suatu saat mata kami
bertemu maka kami pun sama-sama tersenyum. Lalu saya berkata lembut : “Manis,
kau belum mengantuk?” Wajahnya yang mentakjubkan itu menggeleng-geleng indah dan
manis sekali. Dia berkata, juga dengan lembut : “Aku hanya menunggu kau, mas”
Saya tersenyum dan saya berkata lagi : “Aku hanya membaca koran, manis” Dan lalu
ia berkata : “ Aku akan menunggui kau membaca koran, mas” Kemudian kami pun sama-sama
tersenyum bagai merpati jantan dan betina.
Kubelai rambutnya yang halus mulus itu. Duuh wanginya. Nyamannya. Lautan minyak
wangi yang memingsankan dan membius sukma. Apabila dia berkata seraya menengadah
“Mas”. Maka segera kupadamkan lampu di sini dan lewat jendela kaca kami
menyaksikan pekarangan dengan bunga-bunga yang kabur, dan langit biru bening
dimana purnama yang kuning telor ayam itu merangkak-rangkak dari ranting
keranting.
Tiba-tiba ganti nada.
Hah, saya baru saja telah menjadi penyair cengeng untuk mengenang semua itu.
Tidak-tidak! Laki-laku itu ............, sebentar. Saya belum menelepon ke
kantor bukan ? Sebentar.
Diangkatnya pesawat telepon itu ! memutar nomornya.
Hallo, minta 1237 utara. Hallo ! ....... Saudara Anief ... ? Kebetulan .... Ya,
ya, mungkin pula influenza. (batuk-batuk-dan menyedot hidungnya) Yang pasti
batuk dan pilek. Saudara....ya?....Ya, ya saudara Anief, saya akan merasa senang
sekali kalau saudara sudi memintakan pamit saya kepada pak Sukandar....Terima
kasih...Ya? Apa? Saudara bertemu dengan isteri saya disebuah restoran?
Nada suaranya naik.
Apa? Dengan laki-laki? (menahan amarahnya) Tentu saja saya tidak boleh marah,
saudara. Dia bukan istri saya. Ya, ya...Hallo! Ya, jangan lupa pesan saya pada
pak Sukandar.
(batuk dan menyedot hidungnya lagi) Saya sakit. Ya, pilek. Terima kasih.
Meletakan pesawat telepon.
Seharusnya saya tak boleh marah. Bukankah dia bukan isteri saya lagi? Ah,
persetan : pokoknya saya marah! Persetan : cemburuan kumat lagi? Ah, persetan!
Saudara bisa mengira apa yang terdapat dalam hati saya. Saudara tahu apa yang
ingin saya katakan pada saudara? Saya hanya butuh satu barang, saudara. Ya,
benar-benar saya butuh pistol, saudara. Pistol. Saya akan bunuh mereka sekaligus.
Kepala mereka cukup besar untuk menjaga agar peluru saya tidak meleset dari
pelipisnya.
Nafasnya sudah kacau.
Kalau mayat-mayat itu sudah tergeletak di lantai, apakah saudara pikir saya akan
membidikkan pistol itu ke kening saya? Oh, tidak! Dunia dan hidup tidak selebar
daun kelor, saudara! Sebagai orang yang jujur dan jangan lupa saya adalah
seorang ksatria dan sportif, maka tentu saja secara jantan saya akan menghadap
dan menyerahkan diri pada pos polisi yang terdekat dan berkata dengan bangga dan
herooik : “Pak saya telah menembak Pronocitra dan Roro Mendut.”
Tentu polisi itu akan tersenyum. Dan kagum campur haru. Dan bukan tidak mungkin
ia akan memberi saya segelas teh. Dan baru setelah itu membawa saya ke dalam
sebuah sel yang pengap.
Hari selanjutnya saya akan diperiksa. Ya, diperiksa. Lalu diadili. Ya, diadili.
Saudara tahu apa yang hendak saya katakan pada hakim? Kepada hakim, kepada jaksa,
kepada panitera dan kepada seluruh hadirin akan saya katakan bahwa mereka
pengganggu masyarakat maka sudah sepatutnya dikirim ke neraka jahanam. Bukankah
bumi ini bumi Indonesia yang ketentramannya harus dijaga oleh setiap warganya?
Saudara pasti tahu seperti saya pun tahu hakim yang botak itu akan berkata
seraya menjatuhkan palunya : “Seumur hidup di Nusa Kambangan!”
Pikir saudara saya akan pingsan mendengar vonis semacam itu? Ooo, tidak saudara.
Saya akan tetap percaya pada Tuhan. Tuhan lebih tahu daripada Hakim yang botak
dan berkaca mata itu.
Lagi pula saya sudah siap untuk dibawa ke Nusa Kambangan. Di pulau itu saya
hanya akan membutuhkan beberapa rim kertas dan pulpen. Ya, saudara. Saya akan
menjadi pengarang. Saya akan menulis riwayat hidup saya dan proses pembunuhan
itu yang sebenarnya, sehingga dunia akan sama membacanya. Saya yakin dunia akan
mengerti letak soal yang sejati. Dunia akan menangis. Perempuan-perempuan akan
meratap.
Dan seluruh warga bumi ini akan berkabung sebab telah berbuat salah menghukum
seseorang yang tak bersalah. Juga saya yakin hakim itu akan mengelus-elus
botaknya dan akan mengucurkan air matanya sebab menyesal dan niscaya dia akan
membuang palunya ke luar. Itulah rancangan saya.
Saya sudah berketetapan hati. Saya sudah siap betul-betul sekarang. Siap dan
nekad. Ooo, nanti dulu. Saya ingat sekarang. Saya belum punya pistol. Dimana
saya bisa mendapatkannya? Inilah perasaan seorang pembunuh. Dendam dendam yang
cukup padat seperti padatnya kertas petasan. Dahsyat letusannya. Saya ingat
Sherlocks Holmes sekarang. Agatha Christi, Edgar Allan Poe. Sekarang saya insaf.
Siapapun tidak boleh mencibirkan segenap pembunuh. Sebab saya kini percaya ada
berbagai pembunuh di atas dunia ini. Dan yang ada di hadapan saudara, ini bukan
pembunuh sembarang pembunuh. Jenis pembunuh ini adalah jenis pembunuh asmara.
Nah, saya telah mendapatkan judul karangan itu.
“Pembunuh Asmara” Lihatlah dunia telah berubah hanya dalam tempo beberapa
anggukan kepala. Persetan! Dimana pistol itu dapat saya beli? Apakah saya harus
terbang dulu ke Amerika, ke Dallas? Tentu saja tidak mungkin. Sebab itu berarti
memberikan mereka waktu untuk melarikan diri sebelum kubekuk lehernya.
Oh, betapa marah saya. Darah seperti akan meledakan kepala saya. Betapa! Sampai-sampai
saya ingin menyobek dada ini. Oh,...saya sekarang merasa bersahabat dengan
Othello. Saudara tentu kenal dia, bukan? Dia adalah tokoh pencemburu dalam
sebuah drama Shakespeare yang terkenal.
Othello. Dia bangsa Moor sedang saya bangsa Indonesia, namun sengsara dan
senasib akibat kejahilan cantiknya anak cucu Hawa.
Telepon berdering! Seperti seekor harimau ia!
Itu dia.
Mengangkat pesawat telepon dengan kasar.
Hallo!!! Ya, disini Jazuli !! Kasir !! Ada apa?
Tiba-tiba berubah.
Oh,...maaf pak. Pak Sukandar, kepala saya. Maaf, pak. Saya kira isteri saya.
Saya baru saja marah-marah...Ya, ya memang saya...Ya, ya.
Tertawa.
Ya, pak...
Batuk-batuk. Menyedot hidungnya.
Influenza... Ya, mudah-mudahan..Ya, pak....Ya.
Saudara, dengarlah. Dia mengharap saya besok masuk kantor untuk pemberesan
keuangan....Ya?..Insya Allah, pak..Ada pegawai baru?..Siapa, pak? Istri saya,
pak?
Tertawa.
Ya, pak...
Batuk-batuk dan menyedot hidungnya.
Ya, pak. Terima kasih. Terima kasih, pak. Besok.
Meletakan pesawat telepon.
Persetan! Saya yakin istri saya pasti kehabisan uang sekarang. Apakah saya mesti
mengasihani dia? Tidak! Saya mesti membunuhnya.
Seakan menusukkan pisau.
Singa betina! Ya, sebaiknya dengan pisau saja, pisau.
Telepon berdering.
Persetan! Sekarang pasti dia.
Mengangkat telepon.
Kasir disini! Kasir PT Dwi Warna! Apa lagi! Jahanam! Ular betina yang telah
menjadikan aku koruptor itu! Jangan bicara apa-apa! Tutup mulutmu! Mulutmu bau
busuk! Aku bisa mati mendengar kata-katamu lewat telepon! Cari saja laki-laki
lain yang hidungnya besar. Penggoda bah! Cari yang lain! Toch kau seorang
petualang!
Meletakan pesawat telepon.
Jahanam! Apakah saya mesti membunuh tiga orang sekaligus dalam seketika? O, ya.
Tadi saya sudah memikirkan pisau. Ya, pisaupun cukup untuk menghentikan jantung
mereka berdenyut. (geram). Sayang sekali. Pengarang sandiwara ini bukan seorang
pembunuh sehingga hambarlah cerita ini.
Tapi tak apa. Toch saya sudah cukup marah untuk membunuh mereka. Namun sebaiknya
saya maki-maki dulu alisnya yang nista itu. Saya harus meneleponnya!
Mengangkat telepon.
Kemana saya harus menelepon? Tidak! (meletakan telepon)
Lebih baik saya rancangkan dulu secara masak-masak semuanya sekarang. Demi Allah,
saudara mesti mengerti perasaan saya. Bilanglah pada isteri saudara-saudara : “Manis,
jagalah perasaan suamimu, supaya jangan bernasib seperti Jazuli.”
Ya, memang saya adalah laki-laki yang malang. Tapi semuanya sudah terlanjur.
Sayapun telah siap. Dengan menyesal sekali saya akan menjadi seorang pembunuh
dalam sandiwara ini.
Seperti mendengar telepon berdering.
Hallo? Jazuli disini. Jazuli (sadar)
Saya kira berdering telepon tadi. Nah, saudara bisa melihat keadaan saya
sekarang. Mata saya betul-betul gelap. Telinga saya betul-betul pekak. Saya
tidak bisa lagi membedakan telepon itu berdering atau tidak. Artinya sudah cukup
masak mental saya sebagai seorang pembunuh.
Tapi seorang pembunuh yang baik senantiasa merancangkan pekerjaan dengan baik
pula seperti halnya seorang kasir yang baik. Mula-mula, nanti malam tentu, saya
masuki halaman rumahnya. Saya berani mempertaruhkan separuh nyawa saya, pasti
laki-laki itu ada disana. Dalam cahaya bulan yang diterangi kabut : ..Saya
bayangkan begitulah suasananya.
Bulan berkabut, udara beku oleh dendam, sementara belati telah siap tersembunyi
di pinggang dalam kemeja, saya ketok pintu serambinya.
Mereka pasti terkejut. Lebih-lebih mereka terkejut melihat pandangan mata saya
yang dingin, pandangan mata seorang pembunuh.
Untuk beberapa saat akan saya pandangi saja mereka sehingga badan mereka
bergetaran dan seketika menjadi tua karena ketakutan. Dan sebelum laki-laki itu
sempat mengucapkan kalimatnya yang pertama, pisau telah tertancap di usarnya.
Dan pasti isteri saya menjerit, tapi sebelum jerit itu cukup dapat memanggil
tetangga-tetangga maka belati ini telah bersarang dalam perutnya. Tentu. Saya
akan menarik nafas lega. Kalau mayat-mayat itu telah kaku terkapar di lantai,
saya akan berkata : “Terpaksa. Jangan salahkan saya. Keadilan menuntut balas.”
Tiba-tiba pening di kepala.
Tapi kalau sekonyong-konyong muncul kedua anak saya? Ita dan Imam? Kalau mereka
bertanya : “Pak, ibu kenapa pak? Pak, ibu pak?
Memukul-mukul kepalanya.
Tuhanku!
Duduk.
Dia melamun sekarang. Dua orang anaknya, Ita dan Imam, 5 dan 4 tahun menari-nari
disekelilingnya. Di ruang tengah itu dengan sebuah nyanyian kanak-kanak :
Bungaku.
Saudara-saudara bisa merasakan hal ini? Mereka sangat manisnya. Lihatlah. Saya
tidak bisa lagi marah. Saya pun tak bisa lagi peduli pada apa saja selain kepada
anak-anak yang manis itu. Saya tidak tahu lagi apakah isteri saya cantik apakah
tidak. Saya tidak tahu lagi apakah laki-laki itu jahanam apakah tidak.
Saya hanya tahu anak-anak itu sangat manisnya. Betapa saya ingin melihat lagi
bagaimana mereka tertawa. Tak ada yang lain mutlak harus dipertahankan kecuali
anak-anak itu. Saudara-saudara mengerti maksud saya? Apakah hanya karena cemburu
saya mesti merusak kembang-kembang yang telah bermekaran itu?
Balerina-balerina kecil itu menari bagai malaikat-malaikat kecil.
Semangat hidup yang sejati dan keberanian yang sejati timbul dalam diri begitu
saya ingat Ita dan Imam anak-anak saya. Seakan mereka berkata : “Pak susulah ibu,
pak. Pak, ke kantorlah, pak.”
Ya, Ita. Ya, Imam.
Malaikat-malaikat kecil itu gaib menjelma udara.
Saya harus pergi ke kantor. Akan saya katakan semuanya pada pak Sukandar. Saya
akan mengganti uang itu setelah besok saya jual beberapa barang dalam rumah ini.
Setelah semua beres saya akan mulai lagi hidup dengan tenang dan tawakal kepada
Tuhan. Hari ini hari Jumat, di masjid setelah sembahyang saya akan minta ampun
kepada Allah.
Saya tak mau tahu lagi apakah laki-laki Rahwana atau bukan. Saya tak mau tahu
lagi apakah Sinta itu serong atau tidak. Saya tidak peduli. Tuhan ada dan laki-laki
yang macam itu dan perempuan itu ada dalam hidup saya. Semuanya harus saya
hadapi dengan arif, sebab kalau tidak Indonesia akan hancur berhubung saya
menelantarkan anak-anak saya, Ita dan Imam.
Telepon berdering.
Jahanam! Kalau saudara mau percaya, inilah sundal itu. Setiap kali saya tengah
berpikir begini, jahanam itu menelpon saya.
Telepon berdering lagi.
Jahanam! Inilah sundal itu sesudah uang kantor ludes, apakah ia mengharap rumah
ini dijual.
Mengangkat pesawat telepon.
Ya, Misbach Jazuli
Tersirap darahnya.
Saudara, jantung saya berdebar seperti kala duduk di kursi pengantin. Demi Tuhan,
tak salah ini adalah suara istri saya. Oh saya telah mencium bau bedaknya. Hutan
mawar dan hutan anggrek. Ya, manis. Saya sendiri. Saya yakin dia pun sepikiran
dengan saya. Saya akan mencoba menyingkap kenangan lama.
Hallo?..Tentu...Tentu. kenapa kau tidak menelepon tadi? Ya...ke kantor, bukan?
Memang saya agak flu dan batuk-batuk.
(akan batuk tapi urung) ...Ya, manis. Kau ingat laut, pantai, pasir, tikar,
kulit-kulit kacang..ah, indah sekali bukan?...Tentu...Tentu...He...?...Bagaimana?....Kawin?
Kau?...Segera?
Lihatlah, niat baik selamanya tidak mudah segera terwujud. Apa?...Apa? Ha???
Saudara, gila perempuan itu. Apakah ini bukan suatu penghinaan? Dia mengharap
agar nanti sore saya datang ke rumahnya untuk melihat apakah laki-laki calon
suaminya itu cocok atau tidak baginya. Gila. Hmm, rupanya laki-laki yang dulu
itu cuma iseng saja. Ya, tentu..bisa!
Meletakan pesawat dengan kasar.
Jahanam. Saudara tentu mampu merasakan apa yang saya rasakan. Beginilah, kalau
pengarang sandiwara ini belum pernah mengalami peristiwa ini. Beginilah jadinya.
Saya sendiri pun jadi bingung untuk mengakhiri cerita ini.
(tiba-tiba) Persetan pengarang itu! Jam berapa sekarang? Persetan semuanya! Yang
penting saya akan ke kantor meski sudah siang. Dari kantor saya akan langsung ke
masjid. Dari masjid langsung ke rumah mertua saya. Langsung saya boyong semuanya.
Anak-anak itu menanti saya. Persetan! Sampai ketemu. Selamat siang.
Melangkah seraya menyambar tasnya. Tiba-tiba berhenti. Setelah mengeluarkan sapu
tangan, batuk-batuk dan menyedot hidungnya.
Saya influenza, bukan ?
SELESAI
Manequin
Manequin
Monolog karya Jonathan H.
Kelas XII Bhs, No. Absen: 6
(Sory Jo, naskah monolog-mu saya posting di sini untuk contoh dalam pengajaran teater)
Suasana sebuah etalase sebuah toko pakaian. Ada sebuah manequin separuh badan (MSB) dan manequin laki-laki (ML).
(semua lampu menyala)
Ting… ting… ting… ting… (suara bel masuk)
“Perhatian kepada semua pengunjung Rembulan Department Store, Rembulan Department Store akan tutup kurang lebih dua menit lagi. Harap para pengunjung yang terhormat segera menyelesaikan aktivitas pembayaran. Kami mengucapkan terimakasih karena sudah berbelanja di Rembulan Department Store. Kami beritahukan bahwa besok, Minggu, 24 Juni 2015 akan ada diskon sampai dengan 70 % di Rembulan Department Store. Terima kasih dan selamat malam.”
Ting… ting… ting… ting… (suara bel masuk)
(Lampu dipadamkan, hanya di atas pemain yang menyala)
ML :
Ah… akhirnya semua orang udah gak ada. Jadi bisa bersantai. Mematung dan membeku selama 12 jam sangat membosankan. Hanya bisa memperhatikan dari etalase ini. Hah… di luar sana ada dunia yang katanya begitu luas, tapi aku hanya terjebak di sebuah balok kaca berukuran 3 x 2 m. Terdiam, terpaku, termanequin. Hah… Kenapa kalau ada manusia aku gak bisa bergerak. Coba kalau gak ada manusia, aku bisa bersenda gurau, aku bisa berlari dan gak berhenti, dan bahkan aku bisa seperti manusia. Tapi tentu saja lebih dari manusia. Aku abadi, sedangkan manusia… ha… ha… ha… kemarin lahir, besok mati!
(Mendekati MSB)
Ups… I’m sorry. Bukannya nglupain kamu. Sejak pertama kali aku sadar aku bisa bergerak kala gak ada orang, kamu sudah ada di sampingku. Aku tahu kamu gak bisa bergerak apalagi berbicara. Kepala, gak ada; tangan, invisible; kaki, ada sih, tapi bentuknya stick. Ha… ha… ha… Tapi entah kenapa aku merasa kamu bisa berbicara padaku. Am I already crazy? Harus segera diperiksa nih!
Menjadi manequin sangat enak, ya kan? Tiap dua bulan sekali bisa ganti gaya. Tiap ada acara khusus, bisa dipajang di etalase. Semua mata memandang, semua merek terpasang. Dari merk terbaru: Glue, Lava, dan Vella, sampai merk lama kayak Polo, Versace, Planet Surf, Nevada, udah pernah tak pakai. Disainer terkenal dari Luis Vitton sampai Ivan Gunawan sudah pernah melekat di aku dengan gagahnya. Look at me! Aku punya banyak gaya. (berpose seperti model) I’m very fashionable, you know!
Tapi aku merasa muak dan bosan juga. Aku dipakai untuk menyombong. Baju biasa aja, dilekatkan padaku agar semua pengunjung bisa melihat. Dasar sombong! Aku benci kesombongan, berbeda dengan aku, sudah tampan, rendah hati pula.
(jeda, mendengarkan MSB)
Nah, mulai lagi kan. Aku merasa kamu bisa ngobrol dengan aku. Tapi please deh, kalau mau ngobrol mikir dulu. Kamu bilang aku sombong? Heh… yang punya sifat sombong itu di mana-mana juga manusia. Tiap hari hilir mudik ke sini cuma buat nyombong. Entah cuma punya anting berlian baru atau punya nama yang terkenal, datang ke sini untuk mengangkat derajat mereka atau sekedar bikin heboh. Mending kita, tubuh berisi kehampaan tapi tetap merasa sederajat antar manequin. Sedangkan mereka, hah… katanya punya hati tapi kok menimbulkan kesenjangan.
(jeda, mendengarkan MSB)
OK! Nih buktinya. Inget ga cerita ibu-ibu di café depan etalase kita. Tiap hari bolak balik ke café, cuman pesen es capucino, tapi bisa ngobrol berjam-jam. Kalau diperhatikan, tiap kali datang selalu aja ada yang baru. Dua hari yang lalu, si ibu A punya gelang baru. Kemarin, dianya punya tas kulit beruang baru, hari ini punya bulu mata palsu baru. Eh, inget gak, tiap ada cowok muda keren, mereka langsung berbincang mengenai kekayaan mereka dengan suara yang bisa didenger satu lantai. And the conclusion is mereka sombong, manusia sombong.
Trap… trap… trap… (suara langkah sepatu).
Aduh satpam datang lagi. Berarti sebentar lagi kit… (tiba-tiba mematung)
(Pemain berganti peran menjadi seorang satpam dengan gaya 70-an, lampu di atas etalase mati dan semua lampu menyala)
(Satpam datang lalu sambil memandang etalase, menyisiri rambutnya)
Satpam:
Roger… Roger… kamu kok ganteng banget sih? Rambut rapi, postur tubuh tegap bersahaja, paras… wah sudah tidak usah diragukan lagi. Untuk mengomentari parasmu, Roger, semua kata di dunia tidak bisa menggambarkannya. Serba terlalu, terlalu tampan, terlalu keren, terlalu top, terlalu…
Heh… manequin! Ngapain liat-liat? Tar naksir lo! Kamu tuh aneh, tiap siang posenya sama. Tapi kalau malam posemu selalu berubah, seperti sedang berbicara. Hi… serem! Aduh Roger, walau mukamu menunjukkan ekspresi takut, tapi mukamu tetap ganteng. (Pergi ke samping panggung)
(Pemain kembali menjadi manequini, semua lampu mati, kecuali di atas etalase)
ML:
Bener kan. Capek deh… kalau lagi asyik chit-chat lalu muncul manusia. Lihat satpam tadi, jaga mall apa asik nyombong. Muka abstrak gitu, dibilang ganteng. Karena terlalu asyik nyombong, pasti dia gak tahu kalau-kalau ada pencuri. Telalu percaya pada keheningan. Manusia, manusia, gak orang hebat, gak satpam, manusia selalu sombong.
(jeda, mendengarkan MSB)
Munafik? Bagaimana bisa?
(jeda, mendengarkan MSB)
Apa? I was a human? Heh… buntung, jangan samakan aku dengan manusia! Aku jelas-jelas manequin yang keren dan abadi! Bagaimana mungkin aku manusia! Dasar buntung!
(jeda, mendengarkan MSB)
Sifat manusiaku keluar? Aku ini manequin, dari dulu juga maneguin. Tapi baiklah, sekedar untuk hiburan dan tambah-tambah pengetahuan, coba jelaskan teori anehmu itu, buntung!
(jeda, mendengarkan MSB)
Gak masuk akal! It’s impossible! Kamu bilang aku fenomena di dunia manusia dan manequin? Aku adalah manequin yang masa lalunya manusia? How come?
(jeda, mendengarkan MSB)
Di tahun 2005 aku adalah model? Pantas aku tampan, lalu saat itu aku menjadi terlalu sombong? So what?
(jeda, mendengarkan MSB)
Lalu suatu hari saat aku di mall ini… Apa? Saat aku menyombongkan diriku di depan semua orang, kulitku mengeras, mataku membeku, mulutku terdiam, dan aku tiba- tiba jadi manequin? Ih… gak masuk akal banget!
(jeda, mendengarkan MSB)
Bagaimana tanggapan manusia?
(jeda, mendengarkan MSB)
Seorang tetua berkata bahwa kejadian seperti ini pernah terjadi di seluruh dunia. Ada kala di mana kesombongan sudah merajai manusia maka manusia tersebut akan berubah. Lalu para manusia manequin dijadikan legenda bagi anak-anak agar jangan terlalu sombong. Sama seperti cerita Malin Kundang yang menjadi patung karena durhaka. Bila manusia terlalu sombong, maka mereka akan terkena ganjarannya, menjadi manequin.
(jeda, mendengarkan MSB)
Berarti ada manequin lain yang kayak aku?
(jeda, mendengarkan MSB)
Hah? Manequin di lantai 5 dan lantai 6 dan kamu ? Heh, kalau kamu manusia manequin, kenapa kamu buntung? Selain itu, manequin di lantai 5 dan 6 semuanya buntung kan?
(jeda, mendengarkan MSB)
Kamu dan manusai manequin yang lain terlalu sombong dan kelihatan dari ekspersi wajahmu. Para manusia membencinya dan memutuskan untuk memotong kepala kalin bertahun-tahun yang lalu. Ha… ha… ha… so pathetic. Makanya, jangan sombong. Kayak aku ini lho, rendah hati.
(jeda, mendengarkan MSB)
Apa? Se… sebentar lagi aku pasti akan… akan dipotong dan jadi kayak kalian? Kenapa?
(jeda, mendengarkan MSB)
Mukaku… mukaku sudah menunjukkan keangkuhan? Dan itu berarti, mukaku sudah gak layak untuk dipajang?
(jeda, mendengarkan MSB)
Gak mungkin! Aku hanya berhalusinasi! Kamu gak nyata! Kamu berdusta! Kamu kan hanya imajinasiku! Kamu khayalan! Kamu kepalsuan. Kamu…
(jeda, mendengarkan MSB)
Aku akan dipotong? Kepalaku hilang? Aku buntung? Aku…
(jeda, mendengarkan MSB)
Aku seorang manusia yang sombong? Bukan… Bukan… Aku lebih parah! Aku manequin yang terlalu sombong! Dan kini aku akan dipotong karena aku manequin sombong. Shut up! Jangan berteriak-teriak! Jangan mengejek aku! Aku manequin, titik!
(berpura-pura memukul kaca etalase)
Keluarkan… Keluarkan aku dari etalase ini! Aku mau menyelamatkan wajah tampanku!
(berpura-pura memukul kaca etalase)
Diam buntung! Jangan menghina aku! Cukup… Cukup…
(menjatuhkan manequin separuh badan lalu memukul-mukul kaca etalase)
Let me go! Biarkan aku lari! Keluarkan aku dari sini!
(berpura-pura memukul kaca etalase)
Aku… Aku manusia sombong… Aku manequin sombong… Aku sombong… Aku sombong… Aku sombong… (menjadi manequin kembali dengan ekspresi menangis dan takut)
(Lampu di atas etalase dimatikan dan semua lampu menyala)
(Pemain menjadi sylist dengan gaya kebencong-bencongan, semua lampu dinyalakan)
(Stylist datang dan langsung memperhatikan etalase)
Stylist:
Semuanya kumpul! Catet! Segera ganti manequin ini. Atau paling gak, potong kepalanya. Tampangnya udah out of date dan ekspresinya aneh.
(semua lampu dimatikan, lampu di atas etalase dikedip-kedipkan)
ML:
Aku… Aku manusia sombong… Aku manequin sombong… Aku sombong… Aku sombong… Aku sombong…
Catatan:
Naskah ini digunakan untuk Ujian Praktik Mata pelajaran Seni teater
Monolog karya Jonathan H.
Kelas XII Bhs, No. Absen: 6
(Sory Jo, naskah monolog-mu saya posting di sini untuk contoh dalam pengajaran teater)
Suasana sebuah etalase sebuah toko pakaian. Ada sebuah manequin separuh badan (MSB) dan manequin laki-laki (ML).
(semua lampu menyala)
Ting… ting… ting… ting… (suara bel masuk)
“Perhatian kepada semua pengunjung Rembulan Department Store, Rembulan Department Store akan tutup kurang lebih dua menit lagi. Harap para pengunjung yang terhormat segera menyelesaikan aktivitas pembayaran. Kami mengucapkan terimakasih karena sudah berbelanja di Rembulan Department Store. Kami beritahukan bahwa besok, Minggu, 24 Juni 2015 akan ada diskon sampai dengan 70 % di Rembulan Department Store. Terima kasih dan selamat malam.”
Ting… ting… ting… ting… (suara bel masuk)
(Lampu dipadamkan, hanya di atas pemain yang menyala)
ML :
Ah… akhirnya semua orang udah gak ada. Jadi bisa bersantai. Mematung dan membeku selama 12 jam sangat membosankan. Hanya bisa memperhatikan dari etalase ini. Hah… di luar sana ada dunia yang katanya begitu luas, tapi aku hanya terjebak di sebuah balok kaca berukuran 3 x 2 m. Terdiam, terpaku, termanequin. Hah… Kenapa kalau ada manusia aku gak bisa bergerak. Coba kalau gak ada manusia, aku bisa bersenda gurau, aku bisa berlari dan gak berhenti, dan bahkan aku bisa seperti manusia. Tapi tentu saja lebih dari manusia. Aku abadi, sedangkan manusia… ha… ha… ha… kemarin lahir, besok mati!
(Mendekati MSB)
Ups… I’m sorry. Bukannya nglupain kamu. Sejak pertama kali aku sadar aku bisa bergerak kala gak ada orang, kamu sudah ada di sampingku. Aku tahu kamu gak bisa bergerak apalagi berbicara. Kepala, gak ada; tangan, invisible; kaki, ada sih, tapi bentuknya stick. Ha… ha… ha… Tapi entah kenapa aku merasa kamu bisa berbicara padaku. Am I already crazy? Harus segera diperiksa nih!
Menjadi manequin sangat enak, ya kan? Tiap dua bulan sekali bisa ganti gaya. Tiap ada acara khusus, bisa dipajang di etalase. Semua mata memandang, semua merek terpasang. Dari merk terbaru: Glue, Lava, dan Vella, sampai merk lama kayak Polo, Versace, Planet Surf, Nevada, udah pernah tak pakai. Disainer terkenal dari Luis Vitton sampai Ivan Gunawan sudah pernah melekat di aku dengan gagahnya. Look at me! Aku punya banyak gaya. (berpose seperti model) I’m very fashionable, you know!
Tapi aku merasa muak dan bosan juga. Aku dipakai untuk menyombong. Baju biasa aja, dilekatkan padaku agar semua pengunjung bisa melihat. Dasar sombong! Aku benci kesombongan, berbeda dengan aku, sudah tampan, rendah hati pula.
(jeda, mendengarkan MSB)
Nah, mulai lagi kan. Aku merasa kamu bisa ngobrol dengan aku. Tapi please deh, kalau mau ngobrol mikir dulu. Kamu bilang aku sombong? Heh… yang punya sifat sombong itu di mana-mana juga manusia. Tiap hari hilir mudik ke sini cuma buat nyombong. Entah cuma punya anting berlian baru atau punya nama yang terkenal, datang ke sini untuk mengangkat derajat mereka atau sekedar bikin heboh. Mending kita, tubuh berisi kehampaan tapi tetap merasa sederajat antar manequin. Sedangkan mereka, hah… katanya punya hati tapi kok menimbulkan kesenjangan.
(jeda, mendengarkan MSB)
OK! Nih buktinya. Inget ga cerita ibu-ibu di café depan etalase kita. Tiap hari bolak balik ke café, cuman pesen es capucino, tapi bisa ngobrol berjam-jam. Kalau diperhatikan, tiap kali datang selalu aja ada yang baru. Dua hari yang lalu, si ibu A punya gelang baru. Kemarin, dianya punya tas kulit beruang baru, hari ini punya bulu mata palsu baru. Eh, inget gak, tiap ada cowok muda keren, mereka langsung berbincang mengenai kekayaan mereka dengan suara yang bisa didenger satu lantai. And the conclusion is mereka sombong, manusia sombong.
Trap… trap… trap… (suara langkah sepatu).
Aduh satpam datang lagi. Berarti sebentar lagi kit… (tiba-tiba mematung)
(Pemain berganti peran menjadi seorang satpam dengan gaya 70-an, lampu di atas etalase mati dan semua lampu menyala)
(Satpam datang lalu sambil memandang etalase, menyisiri rambutnya)
Satpam:
Roger… Roger… kamu kok ganteng banget sih? Rambut rapi, postur tubuh tegap bersahaja, paras… wah sudah tidak usah diragukan lagi. Untuk mengomentari parasmu, Roger, semua kata di dunia tidak bisa menggambarkannya. Serba terlalu, terlalu tampan, terlalu keren, terlalu top, terlalu…
Heh… manequin! Ngapain liat-liat? Tar naksir lo! Kamu tuh aneh, tiap siang posenya sama. Tapi kalau malam posemu selalu berubah, seperti sedang berbicara. Hi… serem! Aduh Roger, walau mukamu menunjukkan ekspresi takut, tapi mukamu tetap ganteng. (Pergi ke samping panggung)
(Pemain kembali menjadi manequini, semua lampu mati, kecuali di atas etalase)
ML:
Bener kan. Capek deh… kalau lagi asyik chit-chat lalu muncul manusia. Lihat satpam tadi, jaga mall apa asik nyombong. Muka abstrak gitu, dibilang ganteng. Karena terlalu asyik nyombong, pasti dia gak tahu kalau-kalau ada pencuri. Telalu percaya pada keheningan. Manusia, manusia, gak orang hebat, gak satpam, manusia selalu sombong.
(jeda, mendengarkan MSB)
Munafik? Bagaimana bisa?
(jeda, mendengarkan MSB)
Apa? I was a human? Heh… buntung, jangan samakan aku dengan manusia! Aku jelas-jelas manequin yang keren dan abadi! Bagaimana mungkin aku manusia! Dasar buntung!
(jeda, mendengarkan MSB)
Sifat manusiaku keluar? Aku ini manequin, dari dulu juga maneguin. Tapi baiklah, sekedar untuk hiburan dan tambah-tambah pengetahuan, coba jelaskan teori anehmu itu, buntung!
(jeda, mendengarkan MSB)
Gak masuk akal! It’s impossible! Kamu bilang aku fenomena di dunia manusia dan manequin? Aku adalah manequin yang masa lalunya manusia? How come?
(jeda, mendengarkan MSB)
Di tahun 2005 aku adalah model? Pantas aku tampan, lalu saat itu aku menjadi terlalu sombong? So what?
(jeda, mendengarkan MSB)
Lalu suatu hari saat aku di mall ini… Apa? Saat aku menyombongkan diriku di depan semua orang, kulitku mengeras, mataku membeku, mulutku terdiam, dan aku tiba- tiba jadi manequin? Ih… gak masuk akal banget!
(jeda, mendengarkan MSB)
Bagaimana tanggapan manusia?
(jeda, mendengarkan MSB)
Seorang tetua berkata bahwa kejadian seperti ini pernah terjadi di seluruh dunia. Ada kala di mana kesombongan sudah merajai manusia maka manusia tersebut akan berubah. Lalu para manusia manequin dijadikan legenda bagi anak-anak agar jangan terlalu sombong. Sama seperti cerita Malin Kundang yang menjadi patung karena durhaka. Bila manusia terlalu sombong, maka mereka akan terkena ganjarannya, menjadi manequin.
(jeda, mendengarkan MSB)
Berarti ada manequin lain yang kayak aku?
(jeda, mendengarkan MSB)
Hah? Manequin di lantai 5 dan lantai 6 dan kamu ? Heh, kalau kamu manusia manequin, kenapa kamu buntung? Selain itu, manequin di lantai 5 dan 6 semuanya buntung kan?
(jeda, mendengarkan MSB)
Kamu dan manusai manequin yang lain terlalu sombong dan kelihatan dari ekspersi wajahmu. Para manusia membencinya dan memutuskan untuk memotong kepala kalin bertahun-tahun yang lalu. Ha… ha… ha… so pathetic. Makanya, jangan sombong. Kayak aku ini lho, rendah hati.
(jeda, mendengarkan MSB)
Apa? Se… sebentar lagi aku pasti akan… akan dipotong dan jadi kayak kalian? Kenapa?
(jeda, mendengarkan MSB)
Mukaku… mukaku sudah menunjukkan keangkuhan? Dan itu berarti, mukaku sudah gak layak untuk dipajang?
(jeda, mendengarkan MSB)
Gak mungkin! Aku hanya berhalusinasi! Kamu gak nyata! Kamu berdusta! Kamu kan hanya imajinasiku! Kamu khayalan! Kamu kepalsuan. Kamu…
(jeda, mendengarkan MSB)
Aku akan dipotong? Kepalaku hilang? Aku buntung? Aku…
(jeda, mendengarkan MSB)
Aku seorang manusia yang sombong? Bukan… Bukan… Aku lebih parah! Aku manequin yang terlalu sombong! Dan kini aku akan dipotong karena aku manequin sombong. Shut up! Jangan berteriak-teriak! Jangan mengejek aku! Aku manequin, titik!
(berpura-pura memukul kaca etalase)
Keluarkan… Keluarkan aku dari etalase ini! Aku mau menyelamatkan wajah tampanku!
(berpura-pura memukul kaca etalase)
Diam buntung! Jangan menghina aku! Cukup… Cukup…
(menjatuhkan manequin separuh badan lalu memukul-mukul kaca etalase)
Let me go! Biarkan aku lari! Keluarkan aku dari sini!
(berpura-pura memukul kaca etalase)
Aku… Aku manusia sombong… Aku manequin sombong… Aku sombong… Aku sombong… Aku sombong… (menjadi manequin kembali dengan ekspresi menangis dan takut)
(Lampu di atas etalase dimatikan dan semua lampu menyala)
(Pemain menjadi sylist dengan gaya kebencong-bencongan, semua lampu dinyalakan)
(Stylist datang dan langsung memperhatikan etalase)
Stylist:
Semuanya kumpul! Catet! Segera ganti manequin ini. Atau paling gak, potong kepalanya. Tampangnya udah out of date dan ekspresinya aneh.
(semua lampu dimatikan, lampu di atas etalase dikedip-kedipkan)
ML:
Aku… Aku manusia sombong… Aku manequin sombong… Aku sombong… Aku sombong… Aku sombong…
Catatan:
Naskah ini digunakan untuk Ujian Praktik Mata pelajaran Seni teater
SAMPAH
SAMPAH
Naskah Monolog karya Felix Hendi
Kelas XII Bahasa
(Lampu hidup, fokus pada seorang lelaki, murung, duduk di kursi sisi belakang panggung, tertunduk.)
► : Aku manusia, sama seperti manusia-manusia lainnya. Manusia yang punya hak untuk hidup layak, punya istri, anak, uang, rumah dan kebebasan (kesal). Aku dulu anak desa, hidup dari mencangkul. (kaki disilangkan di atas kaki lainnya, masih bersandar pada kursi).
(Lampu meredup & mati)
(Lampu menyala, seorang lelaki terlihat).
► : Pak, apa warung ini butuh pekerja? Saya sedang cari kerja, Pak (memohon, lalu pindak ke warung lain), Pak, saya boleh membantu? Saya mau digaji berapa saja asal ada kerjaan buat saya (terlihat bergairah, lalu muram dan pindah lagi ke warung lain), Bu, saya butuh kerja, saya bisa bantu cuci piring atau apa saja, asal saya bisa makan (muram, lalu pergi karena tak ada yang menanggapi).
(kembali duduk di sisi belakang panggung).
► : Begitulah. Aku hidup tak jelas di Jakarta, uang tak punya, baju apalagi, bisa makan saja sudah untung. Aku menyesal meninggalkan orangtuaku di desa. Di desa, aku malah bisa makan kenyang meskipun seadanya, tapi setidaknya bisa makan, tak seperti di sini, makan aja susah.
(Berusaha mengingat sesuatu, berjalan di sekitar panggung)
► : Satu hari, aku melewati sebuah TPA. Banyak orang mengais sampah di sana. Aku merasa jijik melihatnya. Tapi demi perut, aku mulai ikut bekerja.
(duduk di lantai, kesal)
► : Tapi menurutku yang kulakukan itu bukanlah yang disebut kerja, entah kenapa banyak orang di Jakarta ini yang mau menyebutnya kerja, bahkan profesi (sinis). Yang kulakukan hanyalah mengais sampah, sampah yang bisa kujual lagi untuk memberi makan perutku (menepuk nepuk perutnya sendiri, masih duduk di lantai). Mungkin karena aku bekerja dengan sampah, (berdiri, berjalan menuju kursi) maka pemerintah dan orang-orang menyebut aku dan teman-temanku lainnya sebagai sampah masyarakat. Seperti sampah-sampah sebenarnya, kami yang jelas-jelas bukan sampah ,melainkan manusia yang bekerja dengan sampah, harus dibuang agar tidak membusuk dan mengotori kota. (sangat kesal).
(kembali mengingat sesuatu).
► : Saat kami para sampah sedang istirahat di emper kota satu hari, rantib keparat suruhan pemerintah itu menyeretku ke penampungan dan rehabilitasi. Memang pemerintah, dari dulu cuma bisa korupsi, tak memikirkan orang sepertiku. Tapi di barak itulah, aku menemuinya, sampai…
(Lampu mati & kembali hidup, sekarang seorang lelaki mengenakan peci, duduk di lantai, bersimpuh)
► : Saya terima nikahnya, Sholehah binti Maemunah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai (mengucapkan ijap kabul).
(kembali berjalan menuju kursi, melepas peci).
► : Aku menikahinya. Aku punya istri dan anak. Senang sekali mengenang masa itu (terlihat bahagia), anakku satu laki-laki. Kami hidup di rumah kontrakan, yang kusebut gubug di pinggiran kali. Meskipun dengan susah payah, aku berhasil menghidupi keluargaku dari hasil memulung. Saat anakku berumur 1,5 tahun, musibah datang lagi…
(bersimpuh, menunduk, menaburkan bunga)
► : Maaf aku tak bisa menjagamu baik-baik, kau tenang sekarang di atas sana, tak usah mikir makan, utang & uang. Jaga anak kita baik-baik. Aku akan rajin-rajin datang kemari.
(kembali duduk di kursi).
► : Istriku mati. Terbakar bersama anakku satu-satunya. Sekarang aku duduk disini,mengingatnya. Dan pemerintah tak pernah peduli. Mereka tetap menganggapku sampah yang harus disingkirkan. Aku tetaplah sampah, yang bau, busuk, menjijikkan & kotor. Sampah, sampah, sampah….
Naskah Monolog karya Felix Hendi
Kelas XII Bahasa
(Lampu hidup, fokus pada seorang lelaki, murung, duduk di kursi sisi belakang panggung, tertunduk.)
► : Aku manusia, sama seperti manusia-manusia lainnya. Manusia yang punya hak untuk hidup layak, punya istri, anak, uang, rumah dan kebebasan (kesal). Aku dulu anak desa, hidup dari mencangkul. (kaki disilangkan di atas kaki lainnya, masih bersandar pada kursi).
(Lampu meredup & mati)
(Lampu menyala, seorang lelaki terlihat).
► : Pak, apa warung ini butuh pekerja? Saya sedang cari kerja, Pak (memohon, lalu pindak ke warung lain), Pak, saya boleh membantu? Saya mau digaji berapa saja asal ada kerjaan buat saya (terlihat bergairah, lalu muram dan pindah lagi ke warung lain), Bu, saya butuh kerja, saya bisa bantu cuci piring atau apa saja, asal saya bisa makan (muram, lalu pergi karena tak ada yang menanggapi).
(kembali duduk di sisi belakang panggung).
► : Begitulah. Aku hidup tak jelas di Jakarta, uang tak punya, baju apalagi, bisa makan saja sudah untung. Aku menyesal meninggalkan orangtuaku di desa. Di desa, aku malah bisa makan kenyang meskipun seadanya, tapi setidaknya bisa makan, tak seperti di sini, makan aja susah.
(Berusaha mengingat sesuatu, berjalan di sekitar panggung)
► : Satu hari, aku melewati sebuah TPA. Banyak orang mengais sampah di sana. Aku merasa jijik melihatnya. Tapi demi perut, aku mulai ikut bekerja.
(duduk di lantai, kesal)
► : Tapi menurutku yang kulakukan itu bukanlah yang disebut kerja, entah kenapa banyak orang di Jakarta ini yang mau menyebutnya kerja, bahkan profesi (sinis). Yang kulakukan hanyalah mengais sampah, sampah yang bisa kujual lagi untuk memberi makan perutku (menepuk nepuk perutnya sendiri, masih duduk di lantai). Mungkin karena aku bekerja dengan sampah, (berdiri, berjalan menuju kursi) maka pemerintah dan orang-orang menyebut aku dan teman-temanku lainnya sebagai sampah masyarakat. Seperti sampah-sampah sebenarnya, kami yang jelas-jelas bukan sampah ,melainkan manusia yang bekerja dengan sampah, harus dibuang agar tidak membusuk dan mengotori kota. (sangat kesal).
(kembali mengingat sesuatu).
► : Saat kami para sampah sedang istirahat di emper kota satu hari, rantib keparat suruhan pemerintah itu menyeretku ke penampungan dan rehabilitasi. Memang pemerintah, dari dulu cuma bisa korupsi, tak memikirkan orang sepertiku. Tapi di barak itulah, aku menemuinya, sampai…
(Lampu mati & kembali hidup, sekarang seorang lelaki mengenakan peci, duduk di lantai, bersimpuh)
► : Saya terima nikahnya, Sholehah binti Maemunah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai (mengucapkan ijap kabul).
(kembali berjalan menuju kursi, melepas peci).
► : Aku menikahinya. Aku punya istri dan anak. Senang sekali mengenang masa itu (terlihat bahagia), anakku satu laki-laki. Kami hidup di rumah kontrakan, yang kusebut gubug di pinggiran kali. Meskipun dengan susah payah, aku berhasil menghidupi keluargaku dari hasil memulung. Saat anakku berumur 1,5 tahun, musibah datang lagi…
(bersimpuh, menunduk, menaburkan bunga)
► : Maaf aku tak bisa menjagamu baik-baik, kau tenang sekarang di atas sana, tak usah mikir makan, utang & uang. Jaga anak kita baik-baik. Aku akan rajin-rajin datang kemari.
(kembali duduk di kursi).
► : Istriku mati. Terbakar bersama anakku satu-satunya. Sekarang aku duduk disini,mengingatnya. Dan pemerintah tak pernah peduli. Mereka tetap menganggapku sampah yang harus disingkirkan. Aku tetaplah sampah, yang bau, busuk, menjijikkan & kotor. Sampah, sampah, sampah….
Patung Penjaga
Patung Penjaga
Naskah Monolog karya Theo Adimas
Kelas XII Bahasa
Patung penjaga yang merupakan simbol dari keadilan dan keamanan berdiri tegak di tengah dengan tulisan “INI ADALAH PERLAMBANGAN DARI NIAT KAMI UNTUK MENJALANKAN TUGAS SEJUJUR – JUJURNYA DALAM MENJAGA HUKUM DAN KEAMANAN”.
(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)
Patung penjaga perlahan-lahan bergerak dan turun dari tempatnya. Mulai berjalan. Melihat sekelilingnya kemudian duduk ditempatnya tadi berdiri.
Patung penjaga : Huaah, akhirnya sudah malam lagi! (melihat keatas sambil menggerak-gerakkan tubuh dan tangannya)
Patung penjaga : hari ini benar-benar hari yang aneh. Yah, sesungguhnya sudah tidak aneh lagi sih untukku. Sudah cukup sering terjadi di sini (terlihat tidak suka)
Patung penjaga : orang minta keringanan hukuman, minta dibebaskan, minta jaminan keamanan, dan bahkan memaksa bebas dengan caranya pun ada (mulai berdiri dan berjalan-jalan)
Patung penjaga : Padahal jelas mereka menempatkan aku disini sebagai simbol. “Inilah perlambangan dari niat kami untuk menjalankan tugas sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan.” Itu yang mereka katakan saat meletakkanku disini (terlihat mengenang dan kemudian tampak kecewa)
Patung penjaga : huh, niat!? Niat apa? Niat yang mana? (tampak kesal dan duduk kembali)
Patung penjaga : Keadilan dan keamanan, memang aku ada untuk melambangkan hal itu. Yah, terkadang memang aku bisa dibuat bangga. Seperti yang terjadi di pagi hari tadi.
(musik berbunyi)
Berganti pakaian dengan jas. Berjalan dengan tegap dan tampak meyakinkan sebagai pengusaha dan pejabat yang baik.
Berhenti di depan tempat patung berdiri dan berbicara dengan pejabat pelaksana kantor tersebut .
Pejabat Luar : Selamat pagi, Pak! (mengulurkan tangan)
Pejabat Luar : Bagaimana kabar kau?
Pejabat Luar : Ya, ya! Aku dan keluargaku cukup baik. Kecuali anakku yang satu itu. Tentu kau tau kan masalah ini.
Pejabat Luar : untuk itulah aku menyempatkan diri untuk bertemu denganmu dan aku yakin kau pun pasti mengerti.
Pejabat Luar : Ya aku tahu memang ada anakku di pengeroyokan itu tapi belum tentukan dia dalangnya.
Pejabat Luar : Ayolah kita kan sudah lama kenal dan kau cukup mengenal anakku juga kan.
(tampak bingung dan melihat kearah patung)
Pejabat Luar : ah, kenapa kau ini?
(melihat kearah patung lagi)
Pejabat Luar : Ayolah! Tak perlu kau kawatir seperti itu, itu hanya patung.
Pejabat Luar : benar, memang itu symbol kantormu tapi dia tak bisa gebuk kepalamu! Tenanglah!
Pejabat Luar : aku tau tindakannya memang mengganggu keamanan tapi kau bantulah aku.
(bingung dan melihat ke patung lagi)
Pejabat Luar : Ah! Jadi kau memang tak mau bantu aku!
(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)
Patung Penjaga : ya! Kadang-kadang aku dibuat bangga dengan petugas yang seperti itu.
Patung Penjaga : Memang keadilan itu mutlak dan karena itulah ada hukum di negara ini.(berdiri)
Patung Penjaga : dengan begitu maka keamanan pun akan terjamin.
(kembali duduk)
Patung Penjaga : Tapi… benarkah aku bisa bangga berdiri di sini?
Patung Penjaga : hari ini saja… baru pagi hari aku dibuat bangga lalu sore ini….
(Musik berbunyi)
Berganti pakaian dan membawa tas kerja berjalan ke dalam panggung kemudian berhenti di depan patung.
Pejabat Pelaksana : Huahh, akhirnya pulang juga!
Pejabat Pelaksana : benar-benar hari yang melelahkan!
Pejabat Pelaksana : Waduh, kok bapak balik lagi? (terkejut)
Pejabat Pelaksana : kan sudah saya bilangin tadi pagi, pak! saya tidak bisa membantu anak anda karena urusanya rumit.
Pejabat Luar : tapi aku percaya kau pasti bisa bantu aku.
Pejabat Pelaksana : Bantu gimana? Kan sudah saya terangkan kalau untuk mengurus itu prosedurnya rumit.
Pejabat Luar : dan prosedur itu kau yang menjalankan kan? Jadi pasti bisa kau atur!
Pejabat Pelaksana : administrasi yang harus diurus sangatlah rumit pak! anda harus mengerti itu.
Pejabat Pelaksana : berbagai macam administrasi harus diselesaikan. Lagi pula…. (melihat ke arah patung)
Pejabat Luar : Kalau begitu kau uruslah! Kenapa kau tampak takut pada patung itu? Itu cuma patung.
Pejabat Pelaksana : dan itu sebuah lambang!
Pejabat Luar : kesini kau (meminta pejabat pelaksana mendekat)
Pejabat luar : kau bilang tadi masalah administrasi kan? Bagaimana dengan ini? (menyerahkan bungkusan pada pejabat pelaksana)
Pejabat Pelaksana : ini…ini….ini untuk saya? (setelah melihat isi bungkusan sambil terus melirik ke patung)
Pejabat Pelaksana : Tidak.
Pejabat Pelaksana : eh…maksud saya tidak kurang. Ya, ini cukup untuk administrasi. (kembali melirik ke patung)
Pejabat Pelaksana : ya, memang hanya sebuah patung.
Pejabat Pelaksana : mitos patung itu mengawasi paling cuma untuk menakut-nakuti saja.
(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)
Patung penjaga : Cuh! Niat apa? Niat yang mana? (marah)
Patung penjaga : Sampah semua! Untuk apa aku diletakkan disini kalau begitu.
Patung penjaga : Benar-benar memalukan!
Patung penjaga : sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan?
Patung penjaga : Omong kosong!
(suara ayam berkokok)
Patung penjaga tampak kaget dan bingung. Naik kembali ke tempat patung dan tampak ragu untuk tetap berdiri tegap seperti biasanya. Memunggut spidol yang tergeletak di depanya dan menambahkan tulisan “dahulu” di tempatnya berdiri menjadi “DAHULU INI ADALAH PERLAMBANGAN DARI NIAT KAMI UNTUK MENJALANKAN TUGAS SEJUJUR – JUJURNYA DALAM MENJAGA HUKUM DAN KEAMANAN”. Kemudian patung terdiam dalam posisi tampak malu.
Naskah Monolog karya Theo Adimas
Kelas XII Bahasa
Patung penjaga yang merupakan simbol dari keadilan dan keamanan berdiri tegak di tengah dengan tulisan “INI ADALAH PERLAMBANGAN DARI NIAT KAMI UNTUK MENJALANKAN TUGAS SEJUJUR – JUJURNYA DALAM MENJAGA HUKUM DAN KEAMANAN”.
(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)
Patung penjaga perlahan-lahan bergerak dan turun dari tempatnya. Mulai berjalan. Melihat sekelilingnya kemudian duduk ditempatnya tadi berdiri.
Patung penjaga : Huaah, akhirnya sudah malam lagi! (melihat keatas sambil menggerak-gerakkan tubuh dan tangannya)
Patung penjaga : hari ini benar-benar hari yang aneh. Yah, sesungguhnya sudah tidak aneh lagi sih untukku. Sudah cukup sering terjadi di sini (terlihat tidak suka)
Patung penjaga : orang minta keringanan hukuman, minta dibebaskan, minta jaminan keamanan, dan bahkan memaksa bebas dengan caranya pun ada (mulai berdiri dan berjalan-jalan)
Patung penjaga : Padahal jelas mereka menempatkan aku disini sebagai simbol. “Inilah perlambangan dari niat kami untuk menjalankan tugas sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan.” Itu yang mereka katakan saat meletakkanku disini (terlihat mengenang dan kemudian tampak kecewa)
Patung penjaga : huh, niat!? Niat apa? Niat yang mana? (tampak kesal dan duduk kembali)
Patung penjaga : Keadilan dan keamanan, memang aku ada untuk melambangkan hal itu. Yah, terkadang memang aku bisa dibuat bangga. Seperti yang terjadi di pagi hari tadi.
(musik berbunyi)
Berganti pakaian dengan jas. Berjalan dengan tegap dan tampak meyakinkan sebagai pengusaha dan pejabat yang baik.
Berhenti di depan tempat patung berdiri dan berbicara dengan pejabat pelaksana kantor tersebut .
Pejabat Luar : Selamat pagi, Pak! (mengulurkan tangan)
Pejabat Luar : Bagaimana kabar kau?
Pejabat Luar : Ya, ya! Aku dan keluargaku cukup baik. Kecuali anakku yang satu itu. Tentu kau tau kan masalah ini.
Pejabat Luar : untuk itulah aku menyempatkan diri untuk bertemu denganmu dan aku yakin kau pun pasti mengerti.
Pejabat Luar : Ya aku tahu memang ada anakku di pengeroyokan itu tapi belum tentukan dia dalangnya.
Pejabat Luar : Ayolah kita kan sudah lama kenal dan kau cukup mengenal anakku juga kan.
(tampak bingung dan melihat kearah patung)
Pejabat Luar : ah, kenapa kau ini?
(melihat kearah patung lagi)
Pejabat Luar : Ayolah! Tak perlu kau kawatir seperti itu, itu hanya patung.
Pejabat Luar : benar, memang itu symbol kantormu tapi dia tak bisa gebuk kepalamu! Tenanglah!
Pejabat Luar : aku tau tindakannya memang mengganggu keamanan tapi kau bantulah aku.
(bingung dan melihat ke patung lagi)
Pejabat Luar : Ah! Jadi kau memang tak mau bantu aku!
(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)
Patung Penjaga : ya! Kadang-kadang aku dibuat bangga dengan petugas yang seperti itu.
Patung Penjaga : Memang keadilan itu mutlak dan karena itulah ada hukum di negara ini.(berdiri)
Patung Penjaga : dengan begitu maka keamanan pun akan terjamin.
(kembali duduk)
Patung Penjaga : Tapi… benarkah aku bisa bangga berdiri di sini?
Patung Penjaga : hari ini saja… baru pagi hari aku dibuat bangga lalu sore ini….
(Musik berbunyi)
Berganti pakaian dan membawa tas kerja berjalan ke dalam panggung kemudian berhenti di depan patung.
Pejabat Pelaksana : Huahh, akhirnya pulang juga!
Pejabat Pelaksana : benar-benar hari yang melelahkan!
Pejabat Pelaksana : Waduh, kok bapak balik lagi? (terkejut)
Pejabat Pelaksana : kan sudah saya bilangin tadi pagi, pak! saya tidak bisa membantu anak anda karena urusanya rumit.
Pejabat Luar : tapi aku percaya kau pasti bisa bantu aku.
Pejabat Pelaksana : Bantu gimana? Kan sudah saya terangkan kalau untuk mengurus itu prosedurnya rumit.
Pejabat Luar : dan prosedur itu kau yang menjalankan kan? Jadi pasti bisa kau atur!
Pejabat Pelaksana : administrasi yang harus diurus sangatlah rumit pak! anda harus mengerti itu.
Pejabat Pelaksana : berbagai macam administrasi harus diselesaikan. Lagi pula…. (melihat ke arah patung)
Pejabat Luar : Kalau begitu kau uruslah! Kenapa kau tampak takut pada patung itu? Itu cuma patung.
Pejabat Pelaksana : dan itu sebuah lambang!
Pejabat Luar : kesini kau (meminta pejabat pelaksana mendekat)
Pejabat luar : kau bilang tadi masalah administrasi kan? Bagaimana dengan ini? (menyerahkan bungkusan pada pejabat pelaksana)
Pejabat Pelaksana : ini…ini….ini untuk saya? (setelah melihat isi bungkusan sambil terus melirik ke patung)
Pejabat Pelaksana : Tidak.
Pejabat Pelaksana : eh…maksud saya tidak kurang. Ya, ini cukup untuk administrasi. (kembali melirik ke patung)
Pejabat Pelaksana : ya, memang hanya sebuah patung.
Pejabat Pelaksana : mitos patung itu mengawasi paling cuma untuk menakut-nakuti saja.
(suara angin dan hewan-hewan yang menunjukkan suasana malam hari)
Patung penjaga : Cuh! Niat apa? Niat yang mana? (marah)
Patung penjaga : Sampah semua! Untuk apa aku diletakkan disini kalau begitu.
Patung penjaga : Benar-benar memalukan!
Patung penjaga : sejujur-jujurnya dalam menjaga hukum dan keamanan?
Patung penjaga : Omong kosong!
(suara ayam berkokok)
Patung penjaga tampak kaget dan bingung. Naik kembali ke tempat patung dan tampak ragu untuk tetap berdiri tegap seperti biasanya. Memunggut spidol yang tergeletak di depanya dan menambahkan tulisan “dahulu” di tempatnya berdiri menjadi “DAHULU INI ADALAH PERLAMBANGAN DARI NIAT KAMI UNTUK MENJALANKAN TUGAS SEJUJUR – JUJURNYA DALAM MENJAGA HUKUM DAN KEAMANAN”. Kemudian patung terdiam dalam posisi tampak malu.
Sahud Sabeni atawa “The Hood”
Sahud Sabeni atawa “The Hood”
Naskah Monolog Rembrant
Adegan 1
Hood berada ditempat yang terang benderang dengan posisi duduk di kursi,berpakaian putih dan baru tersadar dari tidur. (lampu terang menyorot ke arah wajah Hood)
Hood : Ah, dimana aku? Cahaya ini? Apa maksudnya? Pakaian putih ini? Luka tembakku? Dimana? Mengapa? Kenapa? (diam) coba aku ingat-ingat dulu..terakhir yang aku ingat..
KLAP!(Lampu yang menyorot wajah tiba-tiba mati)
Adegan 2
Di sebuah bank terkenal milik negara, seorang komandan polisi berteriak-teriak menggunakan TOA dengan tampang garang.
*Suara; banyak mobil polisi*
Kom.Pol : AYOLAH HOOD! KELUARLAH DARI SANA! KELUARLAH DARI TEMPAT PERSEMBUNYIANMU ITU! BANK INI TELAH KAMI KEPUNG KAU TIDAK BISA LARI KEMANA-MANA LAGI! KAMI AKAN MEMBERIMU PILIHAN ; PERTAMA, KAU SERAHKAN DIRIMU SENDIRI BESERTA UANG-UANG YANG TELAH KAU RAMPOK DARI BANK-BANK TERDAHULU DAN KAMI AKAN MEMBERIMU KESEMPATAN UNTUK HIDUP ATAU KEDUA, KAMI MASUK DAN MENEMBAK KEPALAMU! JADI KELUARLAH!!
Adegan 3
Reporter televisi (meja dan kursi di panggung) menyiarkan berita terkini ke seluruh Indonesia.
*Diawali dengan musik pembuka berita televisi*
Repoter : Selamat pagi Indonesia! Hari ini pukul dua pagi Bank Indonesia dinyatakan telah dirampok! Pihak kepolisian menduga perampokan ini dilakukan oleh SAHUD SABENI alias Bang Hood atau The Hood, Robin Hoodnya Indonesia perampok legendaris yang konon selalu mendonasikan hasil rampokannya kepada para korban bencana alam. Perampok dermawan ini telah melakukan perampokan di hampir 20 bank terbesar Indonesia sebelumnya dan belum pernah tertangkap, penjahat bersama komplotannya ini selalu lolos sebelum polisi datang ke tempat kejadian. Tapi hari ini kita akan melihat keberhasilan para polisi dalam penangkapan The Hood! Kami akan terus menyiarkan perkembangan ini kedalam layar kaca anda!
Adegan 4
Hood mengangkat kedua tangan keluar dari arah bank.
Hood : Baiklah! Baiklah! Aku menyerah! Memang sepertinya ini adalah akhir dari perjumpan kita komandan! Obsesiku hanyalah mengkoreksi setiap kesalahan para pemimpin, dan mengambil kembali apa seharusnya dimiliki oleh orang kecil! Orang kaya bukan seharusnya bertambah kaya dan orang miskin juga bukan seharusnya bertambah miskin! DIMANA JANTUNG HATI KALIAN?
*Suara; instrumen yang menyayat hati/lirih*
Anak-anak miskin yang kelaparan di pinggir jalan kalian tertawakan, sedangkan kalian makan enak dengan tenangnya tanpa ada perasaan kecewa! Para bapak yang tak mampu menyekolahkan anaknya dan bahkan tak bisa memberi makan keluarganya tiga kali sehari, sedangkan kalian memboroskan uang dengan rapat-rapat yang tiada hasil dan meminta kenaikan gaji tanpa memikirkan perasaan rakyat miskin! Para ibu yang merasa bersalah karena melahirkan anaknya tapi tak bisa menghidupinya! Para gelandangan yang tak punya rumah! Para pelacur yang haus akan cinta! APA KALIAN PEDULI? AKU PEDULI! (mengeluarkan pistol tangan dan mengacung-acungkannya ke arah polisi) Tidak,tidak..aku tidak akan menurunkan pistol ini..jadi ‘selamat tinggal’!
…DOR!...(menembak kepalanya sendiri)
*suara pistol, musik instrumen berhenti*
Adegan 5
Lanjutan adegan pertama, hood masih duduk diata kursi berbicara sendiri dengan lampu yang menyorot wajahnya.
Hood : (Diam beberapa lama, merenung, dan tersenyum sendiri) Inilah hasil dari semuanya, inilah akhir dari petulanganku.. bagaimana menurutmu? (bertanya kearah penonton, lampu mati) *musik penutup meriah*
Naskah Monolog Rembrant
Adegan 1
Hood berada ditempat yang terang benderang dengan posisi duduk di kursi,berpakaian putih dan baru tersadar dari tidur. (lampu terang menyorot ke arah wajah Hood)
Hood : Ah, dimana aku? Cahaya ini? Apa maksudnya? Pakaian putih ini? Luka tembakku? Dimana? Mengapa? Kenapa? (diam) coba aku ingat-ingat dulu..terakhir yang aku ingat..
KLAP!(Lampu yang menyorot wajah tiba-tiba mati)
Adegan 2
Di sebuah bank terkenal milik negara, seorang komandan polisi berteriak-teriak menggunakan TOA dengan tampang garang.
*Suara; banyak mobil polisi*
Kom.Pol : AYOLAH HOOD! KELUARLAH DARI SANA! KELUARLAH DARI TEMPAT PERSEMBUNYIANMU ITU! BANK INI TELAH KAMI KEPUNG KAU TIDAK BISA LARI KEMANA-MANA LAGI! KAMI AKAN MEMBERIMU PILIHAN ; PERTAMA, KAU SERAHKAN DIRIMU SENDIRI BESERTA UANG-UANG YANG TELAH KAU RAMPOK DARI BANK-BANK TERDAHULU DAN KAMI AKAN MEMBERIMU KESEMPATAN UNTUK HIDUP ATAU KEDUA, KAMI MASUK DAN MENEMBAK KEPALAMU! JADI KELUARLAH!!
Adegan 3
Reporter televisi (meja dan kursi di panggung) menyiarkan berita terkini ke seluruh Indonesia.
*Diawali dengan musik pembuka berita televisi*
Repoter : Selamat pagi Indonesia! Hari ini pukul dua pagi Bank Indonesia dinyatakan telah dirampok! Pihak kepolisian menduga perampokan ini dilakukan oleh SAHUD SABENI alias Bang Hood atau The Hood, Robin Hoodnya Indonesia perampok legendaris yang konon selalu mendonasikan hasil rampokannya kepada para korban bencana alam. Perampok dermawan ini telah melakukan perampokan di hampir 20 bank terbesar Indonesia sebelumnya dan belum pernah tertangkap, penjahat bersama komplotannya ini selalu lolos sebelum polisi datang ke tempat kejadian. Tapi hari ini kita akan melihat keberhasilan para polisi dalam penangkapan The Hood! Kami akan terus menyiarkan perkembangan ini kedalam layar kaca anda!
Adegan 4
Hood mengangkat kedua tangan keluar dari arah bank.
Hood : Baiklah! Baiklah! Aku menyerah! Memang sepertinya ini adalah akhir dari perjumpan kita komandan! Obsesiku hanyalah mengkoreksi setiap kesalahan para pemimpin, dan mengambil kembali apa seharusnya dimiliki oleh orang kecil! Orang kaya bukan seharusnya bertambah kaya dan orang miskin juga bukan seharusnya bertambah miskin! DIMANA JANTUNG HATI KALIAN?
*Suara; instrumen yang menyayat hati/lirih*
Anak-anak miskin yang kelaparan di pinggir jalan kalian tertawakan, sedangkan kalian makan enak dengan tenangnya tanpa ada perasaan kecewa! Para bapak yang tak mampu menyekolahkan anaknya dan bahkan tak bisa memberi makan keluarganya tiga kali sehari, sedangkan kalian memboroskan uang dengan rapat-rapat yang tiada hasil dan meminta kenaikan gaji tanpa memikirkan perasaan rakyat miskin! Para ibu yang merasa bersalah karena melahirkan anaknya tapi tak bisa menghidupinya! Para gelandangan yang tak punya rumah! Para pelacur yang haus akan cinta! APA KALIAN PEDULI? AKU PEDULI! (mengeluarkan pistol tangan dan mengacung-acungkannya ke arah polisi) Tidak,tidak..aku tidak akan menurunkan pistol ini..jadi ‘selamat tinggal’!
…DOR!...(menembak kepalanya sendiri)
*suara pistol, musik instrumen berhenti*
Adegan 5
Lanjutan adegan pertama, hood masih duduk diata kursi berbicara sendiri dengan lampu yang menyorot wajahnya.
Hood : (Diam beberapa lama, merenung, dan tersenyum sendiri) Inilah hasil dari semuanya, inilah akhir dari petulanganku.. bagaimana menurutmu? (bertanya kearah penonton, lampu mati) *musik penutup meriah*
KEBOHONGAN ATAU?
KEBOHONGAN ATAU?
Naskah Monolog Aji Moundry
Adegan 1
(lampu agak redup, Aku duduk di sebuah kursi kayu yang sudah sangat tua dan merenung dan bergumam sendirian meratapi dan mengingat kejadian-kejadian dulu)
Aku : “hm…hm…memang kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Rencana-Nya pasti aneh-aneh, tidak ada yang tahu”
(diam beberapa saat, sambil sesekali melihat jam dinding)
Aku :”sudah jam segini, apa yang harus kulakukan ?berdiam diri atau melawan? Tetapi apa gunanya melawan misalnya tetap kalah. Hah..”
(diam sebentar)
Aku :”nama saya Odoy, umur saya belum terlalu tua sekitar 25-an lah… saya cuma lulusan sma…penganguran… pasti banyak yang berpikir bahwa saya menggerutu dari tadi karena saya tidak bekerja. Salah. Saya menggerutu karena saya akan mati. Ya…mati. Bertemu dengan yang
menciptakan saya. Saya akan mati beberapa menit lagi. Pasti banyak yang tidak percaya kalau saya sebentar lagi dan bertanya-tanya. Saya akan ditembak mati. Benar di tembak di kepala tepat di depan jidat saya karena saya…”
Adegan 2
(langsung gelap dan ganti adegan)
Aku : (terbirit-birit) “ bukan…bukan…bukan saya. Saya bukan pembunuhnya, Tolong jangan di buru saya ini. Tolong,,tolong,, bukan saya,,” (kecapekan dan bersembunyi di belakang batu)
Aku :”hah..hah…ha…capek, sumpah capek. Kok bisa saya diburu dan dituduh maling seperti itu ya…padahal saya kan cuma mau menolong orang yang tabrak lari, dan ketika saya pegang, orang itu sudah mati lalu banyak orang datang mengejar saya dan menuduh saya pembunuh. Kok pada tidak mau mendengarkan penjelasan saya ya…”
(lampu gelap dan pindah lagi ke adegan 1)
Aku :”nah…seperti itu lah awalnya kenapa sekarang saya menunggu maut menjemput saya. Saya dituduh sebagai pembunuh dan tidak ada yang percaya kata-kata saya”
Adegan 3
(lampu gelap dan langsung pindah adegan)
Aku :”hm…apa yang sebaiknya saya lakukan ya ?”
Aku :”saya akan melaporkan peristiwa ini kepada polisi pasti para polisi mempercayai saya”
(lampu gelap lalu adegan di kantor polisi)
Aku :”na…na…nama saya odoy” (dengan ketakutan) (diam)
Aku :”u…u…umur saya 25 tahun (dengan ketakutan) (diam)
Aku :”gini pak, faktanya, saya mau ban…bantuin seorang cowok yang di ta…tabrak lari tapi saat saya mau menolong, dia nya sudah tidak bernapas, orang2 yang melihat, menyangka saya yang membunuhnya, begitu pak cerita yang benar…tidak seperti cerita orang-orang kampung itu…mereka memfitnah saya”
(diam)
Aku :”itu bukan alibi atau apalah itu, saya tidak menutup-nutupi tetapi itulah fakta sebenarnya…saya bukanlah pembunuh” (dengan agak kasar) (diam)
Aku :” ya…memang sih, tak ada saksi yang melihat orang itu di tabrak lari, tetapi saya tidak berbohong.” (diam)
Aku :”bagaimana lagi saya bisa membuat bapak polisi ini percaya?, saya bukan pembunuh” (diam)
Aku :”kok bapak bisa tidak percaya dan mau menangkap saya yang dituduh pembunuh ini oleh para orang2 kampung?, tapi bapak bisa percaya kepada para pejabat yang sudah jelas memakan duit rakyat dan sudah dituduh sedemikian rupa tetapi tetap saja mereka tidak pernah merasakan “kelam”nya penjara” (nada meninggi) (diam)
Aku :”bukannya saya ingin melecehkan kerja bapak, tapi memang itu faktanyakan…yang jelas saya bukan pembunuh” (nada makin tinggi) (diam)
Aku :”saya akan melawan bapak pokoknya agar saya bebas” (diam)
Aku :”ya…saya akan melaksanakan apa saja…” (diam)
Aku :”contohnya…” (diam)
Aku :”tidak…tidak…saya tidak akan memakai pengacara…itu mahal… (diam)
Aku :”hm…hm…(dengan lemas) saya tidak tahu harus berbuat apa…hah…” (diam)
(lampu gelap, pindah adegan 1)
Aku :” ya…akhirnya saya dipenjara, memang tidak terlalu buruk di penjara, dapat makan dan tidur yang terjamin…tetapi masalah datang setelah kurang lebih 3 minggu saya dipenjara…saya dipanggil ke pengadilan…”
Adegan 4
Aku :”pak hakim, saya tidak bersalah…saya hanya di tuduh…percayalah” (diam)
Aku :”kenapa semua orang menanyakan seperti itu ?, saya tak punya bukti” (diam)
Aku :”kalau tak punya bukti berarti bersalah ? siapa yang membuat peraturan seperti itu ? apakah sudah tidak ada kepercayaan antar setiap orang ?” (diam)
Aku :”ya…aku tahu…ini bukan masalah kepercayaan…tapi benar, saya tidak bersalah” (diam)
Aku :”tidak…tidak…saya tidak punya pengacara. Mahal biaya sewanya.” (diam)
Aku :”lalu apa yang mau bapak perbuat kepada saya…terserah bapak saja” (diam)
Aku :”apa ? menghukum ? saya kan tidak bersalah…” (diam)
Aku :”ya…tadi saya memang bilang terserah bapak, tapi saya tidak mau di hukum atas kesalahan yang bukan saya yang melakukan” (diam)
Aku :”tapi…ya sudah, apa hukumannya, jangan berat-berat, ya…”(diam)
Aku :”apa ?(tidak percaya) hukuman tembak ?...tidak bisa…tidak… itu tidak mungkin terjadi padaku…itu namanya pelanggaran HAM… apa pak hakim tega ?... walaupun saya terbukti bersalah pun, saya tidak pantas dihukum tembak. Saya tidak terima” (diam)
Aku :”yang mau saya perbuat adalah…” (diam)
Aku :”adalah…” (diam)
Aku :”ya…memang tidak ada, tapi saya mau mengajukan pertanyaan ?” (diam)
Aku :”kenapa saya apabila terbukti bersalah telah membunuh 1 orang maka dihukum tembak, apa yang terjadi apabila ada seseorang yang membunuh hampir seperempat negara tetapi tidak langsung di bunuh melainkan di siksa perlahan sampai mati, apa hukumannya ?” (diam)
Aku :”dia juga akan disiksa dan dihukum mati…itu jawaban pak hakim…tetapi saya masih belum mengerti kenapa para koruptor masih banyak saja di negeri ini, padahal mereka sudah mati harusnya kalau menurut jawaban bapak hakim tadi” (diam)
Aku :”saya berbicara seperti ini karena saya sudah mau mati dan saya ingin mengeluarkan fakta-fakta di negeri ini, saya tidak takut lagi untuk berkata yang sebenarnya tentang negeri ini. Yasudah pak hakim, waktu saya kan 30 hari sebelum penembakan, jadi boleh g saya tinggal di rumah sebelum penembakan” (diam)
Aku :”terimahkasih pak, dan doakan saya semoga dapat melihat kejujuran yang sejujur-jujurnya di atas sana”
(kembali ke adegan 1)
Aku :”itulah alasan kenapa aku merenung terus dan menunggu waktu yang sepertinya berjalan cepat sekali. Aku mau mati” (setelah beberapa lama, melihat jam)
Aku :”sebentar lagi…” (diam)
(ekspresi senang)
Aku :”nah…itu jemputan ku datang…selamat tinggal semuanya, akhirnya aku tidak melihat kebohongan dan fakta-fakta tidak jelas lagi. Selamat tinggal” (meninggalkan panggung)
Naskah Monolog Aji Moundry
Adegan 1
(lampu agak redup, Aku duduk di sebuah kursi kayu yang sudah sangat tua dan merenung dan bergumam sendirian meratapi dan mengingat kejadian-kejadian dulu)
Aku : “hm…hm…memang kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Rencana-Nya pasti aneh-aneh, tidak ada yang tahu”
(diam beberapa saat, sambil sesekali melihat jam dinding)
Aku :”sudah jam segini, apa yang harus kulakukan ?berdiam diri atau melawan? Tetapi apa gunanya melawan misalnya tetap kalah. Hah..”
(diam sebentar)
Aku :”nama saya Odoy, umur saya belum terlalu tua sekitar 25-an lah… saya cuma lulusan sma…penganguran… pasti banyak yang berpikir bahwa saya menggerutu dari tadi karena saya tidak bekerja. Salah. Saya menggerutu karena saya akan mati. Ya…mati. Bertemu dengan yang
menciptakan saya. Saya akan mati beberapa menit lagi. Pasti banyak yang tidak percaya kalau saya sebentar lagi dan bertanya-tanya. Saya akan ditembak mati. Benar di tembak di kepala tepat di depan jidat saya karena saya…”
Adegan 2
(langsung gelap dan ganti adegan)
Aku : (terbirit-birit) “ bukan…bukan…bukan saya. Saya bukan pembunuhnya, Tolong jangan di buru saya ini. Tolong,,tolong,, bukan saya,,” (kecapekan dan bersembunyi di belakang batu)
Aku :”hah..hah…ha…capek, sumpah capek. Kok bisa saya diburu dan dituduh maling seperti itu ya…padahal saya kan cuma mau menolong orang yang tabrak lari, dan ketika saya pegang, orang itu sudah mati lalu banyak orang datang mengejar saya dan menuduh saya pembunuh. Kok pada tidak mau mendengarkan penjelasan saya ya…”
(lampu gelap dan pindah lagi ke adegan 1)
Aku :”nah…seperti itu lah awalnya kenapa sekarang saya menunggu maut menjemput saya. Saya dituduh sebagai pembunuh dan tidak ada yang percaya kata-kata saya”
Adegan 3
(lampu gelap dan langsung pindah adegan)
Aku :”hm…apa yang sebaiknya saya lakukan ya ?”
Aku :”saya akan melaporkan peristiwa ini kepada polisi pasti para polisi mempercayai saya”
(lampu gelap lalu adegan di kantor polisi)
Aku :”na…na…nama saya odoy” (dengan ketakutan) (diam)
Aku :”u…u…umur saya 25 tahun (dengan ketakutan) (diam)
Aku :”gini pak, faktanya, saya mau ban…bantuin seorang cowok yang di ta…tabrak lari tapi saat saya mau menolong, dia nya sudah tidak bernapas, orang2 yang melihat, menyangka saya yang membunuhnya, begitu pak cerita yang benar…tidak seperti cerita orang-orang kampung itu…mereka memfitnah saya”
(diam)
Aku :”itu bukan alibi atau apalah itu, saya tidak menutup-nutupi tetapi itulah fakta sebenarnya…saya bukanlah pembunuh” (dengan agak kasar) (diam)
Aku :” ya…memang sih, tak ada saksi yang melihat orang itu di tabrak lari, tetapi saya tidak berbohong.” (diam)
Aku :”bagaimana lagi saya bisa membuat bapak polisi ini percaya?, saya bukan pembunuh” (diam)
Aku :”kok bapak bisa tidak percaya dan mau menangkap saya yang dituduh pembunuh ini oleh para orang2 kampung?, tapi bapak bisa percaya kepada para pejabat yang sudah jelas memakan duit rakyat dan sudah dituduh sedemikian rupa tetapi tetap saja mereka tidak pernah merasakan “kelam”nya penjara” (nada meninggi) (diam)
Aku :”bukannya saya ingin melecehkan kerja bapak, tapi memang itu faktanyakan…yang jelas saya bukan pembunuh” (nada makin tinggi) (diam)
Aku :”saya akan melawan bapak pokoknya agar saya bebas” (diam)
Aku :”ya…saya akan melaksanakan apa saja…” (diam)
Aku :”contohnya…” (diam)
Aku :”tidak…tidak…saya tidak akan memakai pengacara…itu mahal… (diam)
Aku :”hm…hm…(dengan lemas) saya tidak tahu harus berbuat apa…hah…” (diam)
(lampu gelap, pindah adegan 1)
Aku :” ya…akhirnya saya dipenjara, memang tidak terlalu buruk di penjara, dapat makan dan tidur yang terjamin…tetapi masalah datang setelah kurang lebih 3 minggu saya dipenjara…saya dipanggil ke pengadilan…”
Adegan 4
Aku :”pak hakim, saya tidak bersalah…saya hanya di tuduh…percayalah” (diam)
Aku :”kenapa semua orang menanyakan seperti itu ?, saya tak punya bukti” (diam)
Aku :”kalau tak punya bukti berarti bersalah ? siapa yang membuat peraturan seperti itu ? apakah sudah tidak ada kepercayaan antar setiap orang ?” (diam)
Aku :”ya…aku tahu…ini bukan masalah kepercayaan…tapi benar, saya tidak bersalah” (diam)
Aku :”tidak…tidak…saya tidak punya pengacara. Mahal biaya sewanya.” (diam)
Aku :”lalu apa yang mau bapak perbuat kepada saya…terserah bapak saja” (diam)
Aku :”apa ? menghukum ? saya kan tidak bersalah…” (diam)
Aku :”ya…tadi saya memang bilang terserah bapak, tapi saya tidak mau di hukum atas kesalahan yang bukan saya yang melakukan” (diam)
Aku :”tapi…ya sudah, apa hukumannya, jangan berat-berat, ya…”(diam)
Aku :”apa ?(tidak percaya) hukuman tembak ?...tidak bisa…tidak… itu tidak mungkin terjadi padaku…itu namanya pelanggaran HAM… apa pak hakim tega ?... walaupun saya terbukti bersalah pun, saya tidak pantas dihukum tembak. Saya tidak terima” (diam)
Aku :”yang mau saya perbuat adalah…” (diam)
Aku :”adalah…” (diam)
Aku :”ya…memang tidak ada, tapi saya mau mengajukan pertanyaan ?” (diam)
Aku :”kenapa saya apabila terbukti bersalah telah membunuh 1 orang maka dihukum tembak, apa yang terjadi apabila ada seseorang yang membunuh hampir seperempat negara tetapi tidak langsung di bunuh melainkan di siksa perlahan sampai mati, apa hukumannya ?” (diam)
Aku :”dia juga akan disiksa dan dihukum mati…itu jawaban pak hakim…tetapi saya masih belum mengerti kenapa para koruptor masih banyak saja di negeri ini, padahal mereka sudah mati harusnya kalau menurut jawaban bapak hakim tadi” (diam)
Aku :”saya berbicara seperti ini karena saya sudah mau mati dan saya ingin mengeluarkan fakta-fakta di negeri ini, saya tidak takut lagi untuk berkata yang sebenarnya tentang negeri ini. Yasudah pak hakim, waktu saya kan 30 hari sebelum penembakan, jadi boleh g saya tinggal di rumah sebelum penembakan” (diam)
Aku :”terimahkasih pak, dan doakan saya semoga dapat melihat kejujuran yang sejujur-jujurnya di atas sana”
(kembali ke adegan 1)
Aku :”itulah alasan kenapa aku merenung terus dan menunggu waktu yang sepertinya berjalan cepat sekali. Aku mau mati” (setelah beberapa lama, melihat jam)
Aku :”sebentar lagi…” (diam)
(ekspresi senang)
Aku :”nah…itu jemputan ku datang…selamat tinggal semuanya, akhirnya aku tidak melihat kebohongan dan fakta-fakta tidak jelas lagi. Selamat tinggal” (meninggalkan panggung)
Ibu Kita Raminten
Monolog
Ibu Kita Raminten
Diangkat dari novel karya Muhamad Ali
Teks Pra- lakon: Ikun Sri Kuncoro
1. Yang aku bayangkan adalah ruang pengadilan. Tapi ruang ini sekaligus juga harus hadir secara simbolik sebagai sebuah kungkungan, yang dengan itu berarti ia juga menindas, entah sebagai sebuah sistem (termasuk tata nilai, di sini) atau sesuatu hal yang lain yang muaranya pada konstruksi sosial.
2. Maka, bayangannya adalah pilar-pilar tiang dengan berbagai ukuran yang secara kompositif memberi efek visual menekan karena stage dalam pembayangannya hanya berisi sebuah tempat duduk terdakwa (Raminten), maka tiang-tiang ini harus dipermainkan dengan cahaya yang memberi aksentuasi atas suasana monolog Raminten. Jika ditemdukan ikon lain yang lebih menggugah tentu itu yang diharapkan.
3. Andai potensi teaternya mampu, yang aku bayangkan dari teater ini hanyalah teater auditif: sebuah rangkaian irama bunyi yang memukau (membuat penonton betah) yang muncul dari wilayah tekanik ucapan dan ilustrasi musik. Sehingga, Raminten tidak perlu beranjak dari kursi terdakwanya untuk sebuah spektakel yang lain.
4. Tetapi sejujurnya saya juga tak mengelak, andai prosesi latihan, proses penciptaan teater yang sesungguhnya memberikan penawaran lain yang sering tak terduga dan tak dibayangkan pada awalnya. Karena, sebenarnya, di situlah letak keajaiban teater.
Marilah dimulai saja:
Panggung itu gelap, ketika lamat-lamat detak sepatu membentur ubin hadir semakin nyata dan berselah-selih dengan suara “ngremo” antara bunyi gamelan dan tembang, juga dentam besi dari gembok dan kerangkeng penjara. Sampai suasana menjadi.
Lalu dalam kelam itu sidang dibuka oleh suara hakim:
Hakim (Off Stage): Sidang perkara pembunuhan Prihartono warga negara Indonesia kelahiran Hongkong, dengan agenda utama pembelaan terdakwa II Saudari Raminten yang akan disampaikan oleh terdakwa sendiri, dengan ini dinyatakan dibuka.
Lalu lampu merayap pelan pada Raminten yang duduk di kursi terdakwa.
RAMINTEN
Trima-kasih. Sebagaimana dinyatakan kepada saya dan telah saya jawab, saya tidak akan menambahkan atau mengurangi. Saya... hanya akan melihatnya dan mengatakannya dari sisi diri saya tentang peristiwa apa yang telah saya jalani dan tentang apa yang telah bapak dan ibu simpulkan atas diri saya.
Saya, malam itu, tanggal 22 Desember 2004 memang berada di kamar bapak Prihartono di jalan Ahmad Yani no. 1. Tetapi seperti yang telah saya katakan, kenapa saya di rumah itu? ... Saya, ... dipaksa Stambul ... Anak saya.
Malam itu, Stambul pulang. Dan seperti beberapa malam sebelumnya, Stambul membujuk saya.
Setelah berbulan-bulan tidak pulang—juga, ketika bapaknya meninggal—beberapa malam sebelum peristiwa itu Stambul membujuk saya untuk menjadi gundik bapak Prihartono.
Menurut Stambul, hidup saya akan lebih baik kalau saya bersedia bekerja pada Pak Prihartono. Katanya, Pak Prihartono sedang membutuhkan seorang tukang pijat. Yang diinginkan adalah seorang tukang pijat yang muda. Tapi Stambul yakin bahwa tak akan ada perempuan muda yang bersedia menjadi tukang pijat Pak Pri.
Stambul, anak saya itu, dari pada saya hidup seperti ini: nganggur, kelaparan dan kesepian. Hidup bukan mati pun tidak. Lebih baik ikut Pak Prihartono. Meskipun tua, Pak Pri duitnya banyak. Pak Pri akan memberi uang berlimpahan, cukup makan, cukup pakaian, dan saya hanya disuruh memijat-mijat. Hanya itu saja. Memijat.
Memang, sejak Markeso meninggal, saya hidup dari belas-kasih tetangga. Setiap hari tetangga-tetangga memang saya dtang mengantar makanan untuk saya. Itu berjalan lebih dari tiga bulan lamanya. Dan, mungkin akan lebih lama lagi seandainya peristiwa ini tidak terjadi.
Sepeninggal Markeso, saya memang malas melakukan apa saja. Saya tidak keluar rumah. Saya memang tidak pernah bekerja sejak saya menjadi istri Markeso. Saya, Stambul, dan Markeso, hidup hanya dari hasil Markeso mbarang, mengamen sebagai ludruk garingan. Atau ludruk ontang-anting: sendirian mengamen dengan menembang, menari dan ngremo. Dan kami hidup.
Dulu Markeso bekerja sebagai kernet angkot. Sebelum bertemu saya. Sebelum kami menikah. Saya masih ingat benar ketika kami bertemu. Waktu itu usia saya baru 15 tahuanan. Seperti biasa, saya membantu bapak yang berjualan obat keliling, menggelar perlak untuk alas menata dagangan bapak. Ketika itu sebuah angkot berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. Entah kenapa, ketika mendengar dari mesinnya saya tiba-tiba berhenti dan entah kenapa saya jadi memandangnya. Saya melihat Markeso, meloncat turun dan melayani para penumpang turun. Waktu itu, mungkin Markeso masih berusia 20-an. Ia sibuk mempersilakan penumpang turu, membantu menurunkan barang lalu sibuk menawarkan pada orang-orang yang barangkali akan ikut dalam angkotnya. Lalu tiba-tiba ia berpaling. Sejenak kami berpandangan. Lalu ia teruskan menawarkan angkotnya, dan saya meneruskan menata obat-obatan dagangan bapak. Tapi entah kenapa, setiap kali saya mendongak melihatnya, ia selalu juga sedang melihat saya.. Seterusnya, wajh Markeso selalu saya ingat dan setiap kali bapak berjualan di pasar itu, saya selalu berharap melihatnya lagi.
Tak sampai setahun saya pun menikah dengan Markeso. Kami keluar dari rumah bapak dan menyewa rumah bedeng yang murah di pemukiman padat. Markeso berhenti sebagai kernet angkot dan memilih menjadi pengamen. Dari hasil mengamen itulah kami hidup. Dan setahun kemudian lahirlah Ruba’i.
Kami pun cemas. Bagaimanakah kami harus hidup dari hasil mbarang Markeso dengan tambahan seorang bayi? Untuk hidup berdua kami, kadang makan hanya 2 kali/ entah dari mana pikiran itu datang, tiba-tiba kami memutuskan untuk menyerahkan Ruba’i pada orang yang bersedia memungutnya. Dan kebahagiaan kami pun pulih kembali begitu ada orang datang dan sangat berterimakasih kepada kami ketika mereka menerima Ruba’i.
Tapi sungguh kami tidak menjualnya. Memang, Pak Rus, yang memungut Ruba’i memberikan uang ungkapan kebahagiaannya pada kami. Tetapi, Pak Rus sendiri yang menyatakan itu hanya sebagian ungkapan kebahagiaan karena ia mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk bisa membesarkan seorang bocah. Dan kami pun berpesan agar nama Ruba’i tak diganti dengan nama lainnya.
Begitulah. Nasib Lastri pun sama ketika setahun kemudian adik Ruba’i itu lahir. Kami yang membayangkan nasibnya tidak bersekolah, makan dan pakaian yang tidak akan tercukupi, menyerahkan Lastri pada Bu Broto begitu usianya telah lebh dari tiga bulan. Orang-orang pun mengira terutama tetangga-tetangga kami, bahwa kami telah menjual anak-anak kami. Apalagi pada tahun berukutnya Gani lahir dan Pak Irham memintanya untuk membesarkannya.
Juga, ketika Fitri lahir, Alamsyah, dan Samsi pada tahun-tahun berikutnya. Ketiganya diminta oleh Pak Subandi seorang pengusaha oli yang anak-anaknya sudah besar semua.
Tetapi sungguh kami tidak menjual anak-anak kami. Kami selalu meminta agar mereka tidak mengganti nama anak-anak kami dan kami selalu tahu pada siapa anak-anak kami serahkan.
Anak ketujuh kami, Joko, kami serahkan pada pedagang koran, Pak Hasan namanya. Falhi, anak kedelapan kami serahkan pada Pak Badawi, seorang guru agama di SD kampung sebelah. Dewi diminta Ibu Kartika yang telah menjanda. Ningsih dan Ningrum anak kembar kami dibesarkan Pak Widodo dan Pak Alam. Sedangkan Anwar diminta oleh Pak Effendi, seorang pelaut.
Memang, terkadang ada saja dari mereka yang mengambil anak kami, tidak saja memberikan uang begitu mereka bawa anak-anak kami. Sering, ada saja yang telah memberikan kepada kami uang sejak bayi-bayi itu masih ada dalam kandungan. Mereka bilang, agar bayi yang saya kandung tidak kekurangan gizi sehingga saya harus menjaga makanan yang saya makan. Itu pengakuan mereka. Bapak-bapak dan ibu-ibu boleh tidak percaya. Tapi begitulah mereka mengatakannya kepada kami, setiap kali pada setiap bulan mereka memberikan uang itu ketika saya mengandung anak yang hendak mereka minta.
Begitulah kami mengandung anak-anak kami. Kami memberikan bayi-bayi kami kepada orang lain lantaran kami tahu, kami tak akan bisa menghidupinya. Kami tak akan pernah sanggup menyekolahkan, dan kami tak akan bisa mendidiknya sendiri. Kami bahkan tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi seandainya anak-anak kami besarkan pada lingkungan kami yang pepat oleh rumah-rumah bedeng kemiskinan kami. Kami sudah melihat apa yang terjadi dengan anak-anak tetangga kami; yang dekil, yang kurus, yang tak bersekolah, dan kami sudah tahu apa yang terjadi pada saat besarnya nanti.
Tetapi kenapa kami bisa beranak sampai 12, sampai 13, hanya kemiskinak kami yang tahu. Saya dan Markeso tak punya pekerjaan lain begitu maghrib tiba. Setiap kali pulang ngamen, Markeso tak akan pergi lagi. Dan kami hanya akan bersembunyi dalam bedeng gubuk kami. Kami jarang, atau malah tidak pernah bermain ke gubuk tetangga kami. Mengunjungi mereka lebih sering hanyalah mengunjungi sumpah serapah yang mengutuk nasib dan kehidupan. Berjalan-jalan ke pertokoan hanya akan tersiksa sebagaiamana, mungkin, tiba di neraka. Neraka bagi kami adalah menyaksikan melimpahnya barang-barang yang ditawarkan tanpa pernah bisa membelinya. Neraka bagi kami adalah kelaparan yang tak pernah lekang.
Dan Markeso, suami saya, adalah laki-laki yang tahu bagaimana membangun surga di dalam gubuk kami. (JIKA ADA TRANSISI TEATER BISA DIAWALI DI SINI). Tangan yang kasar, bau keringatnya yang sengak, mulutnya yang bertembakau, selalau saja bisa mendatangkan surga di bedeng kami yang pengap bila sudah berbaring di dekat saya.
Saya ingat benar, apa yang dikatakannya di suatu malam:
“Ram, sungguh buruk nasib kita. Bayangkan kepada siapa kita akan menitipkan hidup kita kalau kita sudah tua dan ak mampu lagi buat bekerja? Kita akan jadi tua bangka, nantinya.
Apakah akan ada yang ingat kepada kita, Ram? Satu saja dari 12 anak yang kita buang itu?
Kamu jangan marah, Ram. Tapi apalagi kalau bukan membuangnya? Memberikannya kepoada orang lain sama artinya dengan membuang. Meskipun, kita tetap meminta agar nama-nam anak-anak itu tidak diganti. Meskipun kita tahu dan hapal, siapa-siapa saja yang telah memungut anak kita. Tetapi, kita tetaplah melepaskan tanggungjawab itu. Atau, ka mu lebih suka aku menyebutnya menjual, Ram? Kamu lebih keberatan, kan? Meskipun kenyataannya kita tidak hanya menerima ucapan terimakasihnya dalam sejumlah uang, tetapi juga menerima uang belanja selama kamu hamil dan selama tiga bulan awal menyusui hanya agar bayimu tidak kekurangan gizi. Tapi apa kenyataannya, Ram? Kita juga menumpang makan dari uang membeli bubur dan susu itu.
Kita memang telah menjual bayi-bayi itu. Atau mungkin kita telah menjualnya. Tetapi sungguh, sekarang aku justru sangat ketakutan kepada siapa kita akan menitipkan hidup kita kalau kita sudah tua. Kita akan menjadi tua, Ram. Kita akan, menjadi tua bangka dan tidak punya siapa-siapa.
Tidak, Ram. Tidak.
Kita harus punya anak lagi, harus. Dan kita juga harus memeliharanya sendiri. Kita harus membesarkannya. Karena, karena aku tidak yakin 12 anak kita akan ada yang bersedia menerima kita pada waktu kita telah menjadi bangka. Ayo, Ram. Kau harus hamil. Harus hamil lagi. Dan kita harus berani memelihara anak sendiri. Kita harus membesarkannya. Kita akan menyekolahkannya, akan mengajarinya bermain, akan mengajaknya berjalan-jalan. Apapun yang kita punya.”
(WAKTU LEWAT DALAM HITUNGAN BANYAK BULAN. INI ZAMAN KETIKA RAMINTEN TENGAH MENGANDUNG ANAK KE-13. USIA PERUTNYA MUNGKIN 7 ATAU 8 BULAN. ANDAI TEATER DIPERMAINKAN SET BISA BERUBAH: AKU MEMBAYANGKAN PERISTIWANYA DI DALAM GUBUK BEDENG RAMINTEN. ADAPUN TOKOHNYA ADALAH MARKESO. WAKTUNYA SORE SEPULANG DARI MENGAMEN. JADI, MINIMALNYA, AKTOR MEMBAWA SATU ALAT YANG DIGUNAKAN MENGAMEN. SEMISAL, KEDANG KECIL. LALU MENGAMEN SEBENTAR DI WILAYAH PENONTON. JIKA SANGGUP, AKTOR BERIMPROVISASI SEBENTAR DENGAN PENONTON. TETAPI ANDAI TETAP DIPERTAHANKAN KONSEP AWAL SEBAGAI TEATER AUDITIF. MAKA YANG TERJADI DALAM SESAAT HANYALAH SEMACAM LAMPU PADAM. DAN KETIKA CAHAYA TUMBUH PENGADILAN ITU BERLANJUT.)
RAMINTEN:
Sore itu Markeso datang dengan wajah yang bungah. Aku sudah mendengar teriaknya sejak dari luar:
“Ram.., Ram..., Raminten..
Ini yang namanya rezeki nomplok. Aku bertemu dengan Mas-mas seniman. Jangan salah ucap lagi dengan “si Niman.” Aku ditraktirnya. Dibayari makan sepuasku, dan masih diberi duit. Sekarang kamu percaya, kan? Anak memang selalu membawa rezekinya sendiri. Aku juga menemukan nama untuk anak kita: Stambul. Kamu pengen ngerti apa itu Stambul? Itu artinya, sandiwara. Drama. Orang-orang pinter, mas-mas seniman itu, menyebutnya titer. Mas seniman tadi yang bilang. Jangan takut kalau nama itu membebani anak kita. Nanti kita selamati dengan tiga ekor ayam yang masih kita punya. Dengan selamat tiga ekor ayam pasti tidak akan ada aral yang melintangai Stambul. Kamu tahu, kan? Nabi Ibrahim? Nama Ibrahim memberikan sesaji satu ekor kambing untuk mengganti nyawa anaknya, Nabi Ismail. Nah, karena kita bukan nabi maka cukup ayam saja: tiga ekor.
Nama itu tentu akan membawa berkah. Kalau sudah besar, Stambul, Stambul akan menjadi seniman sandiwara. Titer. Tapi kalau nanti dia ternyata perempuan, aku lebih suka kalau dia menjadi penyanyi ndangdhut. Kita harus dibelikan teve agar bisa menonton dia.
Aku jadi tidak sabar menunggu 2 atau 3 bulan lagi. Tabungan kita rasanya cukup untuk membayar Bu Bidan. Kamu ingin anak kita, laki-laki apa perempuan? Kalau aku, aku ingin anak kita laki-laki. Kamu ingin anak kita, laki-laki apa perempuan? Kalau aku, aku ingin anak kita laki-laki. Aku akan mengajarinya main kendang, menembang. Aku akan mengajarinya menari. Maka, kalau sudah besar dia akan menjadi...
(KALIMAT ITU TIDAK SELESAI. DAN RAMINTEN TERISAK. DI SINI TRANSISI UNTUK MASUK KE TOKOH STAMBUL.)
RAMINTEN:
Apa yang terjadi dengan Stambul setelah besar adalah apa yang tidak pernah kami harapkan. Bahkan, membayangkan pun, kami; tidak. Sore, apabila Markeso telah pulang dari mengamen, Stambul pastilah akan datang.
“Ram..., Raminten... Di mana Markeso? Aku sudah melihatnya pulang, tadi. Mar..., Markeso... Atu, uang itu sudah diberikan padamu? Mana? Mana? Berikan padaku! Kalau tidak kamu berikan padaku, kepada anakmu, akan kamu berikan kepada siapa hasil kerja bapakku? Atau kalian belum makan? Baik, kita bagi tiga uang itu. Aku minta bagianku, dan kalian ambil bagian kalian. Atau begini saja. Berikan uang itu semua padaku, nanti aku akan membelikan kalian makan malam ini. Daripada kalian harus keluar, naik-turun, tebing sungai ini, tentu hanya akan membuat kalian lapar lagi. Iya, kan? Nah, biarkan aku sekalian membelikan kalian makan untuk malam ini. Setuju, kan?
Ram, aku dengar dari para tetangga, kamu dulu menjual 12 kakakku selagi masih bayi. Kenapa itu tidak dilakukan lagi? Biar aku nanti yang mencari pembeli. Aku punya banyak kenalan. Dan aku dengar harga bayi sangat mahal sekarang. Malah, Ram, ada yang bisa menjualkan dengan harga yang lebih tinggi lagi bila kamu bersediah dioperasi selagi bayi itu berusia 3 bulan dalam kandunganmu. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya operasi itu, Ram. Kita hanya tinggal menerima harga bayi itu. Katanya untuk dibikin sop, atau diawetkan untuk diminum sebagai jamu. Kamu tidak tertarik, Ram? Hanya mengandung tiga bulan, Ram. Dan kit abisa pindah dari bedeng ini. Kamu tidak bosan tinggal di gubuk yang berdempet-dempet ini? Kamu tidak bosan terus melarat seperti ini? (Kere kok ra jeleh.) ah, aku yakin, Markeso pasti setuju. Di mana? Di mana Markeso sekarang?
Mar... Markeso... Mar. Kamu sembunyikan di mana Markeso? Tapi uang itu sudah diberikan padamu, kan? Mana, berikan padaku. Nanti aku belikan kalian makan, malam ini. Atau..., baik..., aku belikan juga makan sampai besok pagi. Bagaimana? Mana sekarang uangnya? Ayo, berikan. Berikanlah \ram. Aku kan anakmu.
Ram, aku memang pernah mencuri. Sering, malah. Aku juga kadang memeras. Atau, memaksa. Tapi, aku tidak mau melakukan itu pada kalian. Ayolah, Ram. Berikan uang itu padaku. Jangan paksa aku menjadi pemeras, atau penjahat pada kalian. Ram, meskipun orang-orang selalu mengatakan aku sama jahatnya denan kalian yang telah menjual kakak-kakakku, tapi aku tetap tidak ingin jahat pada kalian dengan memaksa kalian menyerahkan uang itu padaku. Kalian itu Ram, berikan uang itu padaku. Ayolah, nanti aku belikan nasi untuk malam ini, besok pagi, dan juga siangnya. Bagaimana? Ayolah, Ram. Jangan suruh aku untuk kasar padamu.
Ram, kalian tahu apa yang dikatakan orang-orang di luar? Mereka bilang, kalian; kamu dan Markeso, lebih jahat daripada aku. Mereka juga bilang bahwa kalian bodoh. Kata mereka, kalau dulu kalian membesarkan sendiri anak-anak kalian, kalian akan beruntung. Kalian bisa menjualnya ke luar negeri, sekarang. Dan kalian bisa terus menerima kiriman uangnya. Kata mereka, kalian bisa menjualnya sebagai babu, sebagai buruh pabrik, bahkan kalau perlu kalian bisa menjualnya sebagai pelacur.
Aku tidak bisa membayangkannya, Ram. Andai 12 kakakku kamu jual ke luar negeri. Apa yang akan terjadi pada kita saat ini, Ram? Aku pasti, sudah tentu, tidak perlu menunggu saban sore hanya untuk meminta uang Markeso yang hanya receh itu. Bayangkan, Ram, 12 anak dalam satu tahun. Kalau mereka mengirim satu juta saja satu orang sekali dalam satu tahun, kita sudah harus menghabiskan uang segepok itu setiap bulan. Itu hanya sekali mereka mengirimkan. Kalau setiap anakmu itu mengirimkan dua kali saja dalam satu tahun, apa kita tidak repot untuk menghabiskannya? Ah.., Markeso pasti tidak perlu bekerja seperti topeng monyet itu. Keliling kota, mengumpulkan recehan.
Markeso, pasti akan duduk-duduk setiap hari dengan rokok kreteknya yang berbau menyan itu. Atau, ah.., jangan-jangan dia akan kawin lagi. Beranak-pinak banyak, dan pasti dikualnya lagi.
Kita akan hidup enak, Ram, hanya dengan 12 kakakku yang mengirimkan uang bergiliran. Dasar, kamu memang bodoh, Ram. Dan karena kamu bodoh, maka kamu pun tidak mau memberikan uangmu padaku sekarang untuk kubelikan nasi. Mana? Di mana sebenarnya uang itu? Atau, aku harus mengambilnya sendiri? Kamu sembunyikan di mana? Di bawah tikar? Dalam besek pakaianmu? Atau kau simpan dalam kutangmu? Mana biar aku ambil sekalipun kau sembunyikan dalam celana dalammu.”
(ADA SESUATU YANG BERUBAH DI DALAM PANGGUNG).
Begitulah Stambul memaksa saya. Syukurlah, semenjak itu dia tidak kembali lagi. Dia tidak pernah pulang lagi. Tapi suaranya yang terus menuduh saya menjual kakak-kakaknya tak bisa saya lupakan. Dan malam itu, saya dan Markeso tak lagi bisa makan. Uang seharian Markeso mengamen telah dirampasnya. Semua.
Kepergian Stambul memang membuat kami lega, meskipun terkadang kami merasa kehilangan juga. Bagaimanapun Stambul adalah anak kami. Anak yang kami niatkan untuk kami asuh sendiri. Kami besarkan, dan kami harap untuk bisa merawat hari tua kami. Lambat-laun kami memang bisa melupakan dan mengikhlaskannya. Kami terkadang bersyukur tidak membesarkan sendiri ketiga belas anak-anak kami. Kalau yang terjadi adalah apa yang sudah dinasibkan pada Stambul pastilah rumah bedeng kami hanya akan menjadi sarang, perampas, pemabuk dan pelacur. Anak-anak kami.
Lalu datanglah peristiwa itu. Beberapa bulan setelah Markeso meninggal. Stambul datang. Dia meminta saya untuk menjadi tukan pijat Pak Prihartono. Saya tidak hanya menolaknya. Tetapi juga, dengan sangat terpaksa, mengumpatinya. Dan dia pergi.
Tetapi beberapa malam kemudian, dia tidak hanya meminta saya. Dia, bahkan, telah memaksa dan menyeret saya. Saya digelandang sampai rumah Pak Prihartono. Dan saya diseretnya sampai ke dalam kamar. Diseretnya.. Diseretnya saya...
Di dalam kamar itu saya tidak tahu berapa saya telah dijualnya. Tapi saya dengar apa yang dikatakan Prihartono pada Stambul:
“Brengsek. Aku bilang akan memberikanmu 250 ribu kalau yang kamu bawa perempuan muda. Tapi apa yang kamu bawa sekarang? Mayat tua. Apa matamu sudah tidak bisa membedakan perempuan muda dengan orang yang sudah bau tanah? Sekarang bawa uang itu kalau mau. Kalau tidak, bawa juga pergi nenek-nenek itu. Aku bisa minta orang lain mencari apa yang aku inginkan. Dasar goblok.”
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan di kamar mandi itu. Saya seperti tidak bisa berpikir. Tidak bisa menalar. Ketika, saya lepas baju saya dan menuruti perintahnya untuk membersihkan diri.
Lalu terdengar suaranya lagi:
“Kenapa lama? Cepatlah keluar.”
Dan ketika saya keluar dari kamar mandi, saya tidak berani melihat matanya. Saya hanya bisa mendengar perintah-perintahnya:
“Stop. Berhenti di situ. Buka bajumu. Rokmu. Kutangmu. Celana dalammu. Berbaliklah. Aku ingin melihatmu dari belakang.
Nah, mendekatlah. Sekarang pijitlah aku. Kamu bisa memijat juga ternyata. Atau kamu sudah menyiapkannya? Karena menjadi pelacur tentu tak bisa selamanya? Pintar juga kamu punya otak. Kalau kamu mau, kamu bisa juga bekerja di sini. Kamu pasti bisa memasak, kan? Kerjamu hanya memasak, membersihkan rumah, menyeterika, dan memijit. Kamu tidak usah mencuci karena di sini sudah ada mesin cucinya. Berapa kamu minta dibayar setiap bulan? 150 ribu, mau? Aku juga akan mengijinkan kamu menerima panggilan memijat dari orang lain apabila aku tidak sedang ingin dipijat.
Ya, terus ke bawah. Jangan sungkan-sungkan. Aku juga ingin dipijat di bagian itu. Ayo! Kenapa berhenti? Pijatlah di mana saja aku ingin kau memijatnya. Aku telah membayarmu. Aku berhak menyuruh apa saja padamu. Aku bahkan berhak tidak hanya memintamu memijat. Aku bahkan berhak memintamu untuk melayaniku.”
(ADA PERKOSAAN PERSETUBUHAN YANG KASAR, DI SINI)
Lalu tiba-tiba Stambul datang. Saya sudah tidak bisa mendengar apa yang mereka percakapkan. Saya takut. Saya bingung. Saya sedih, marah tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang terjadi di situ tak bisa semuanya saya ingat.
Sesekali saya memang mendengar dan melihat Stambul menggertak dan meminta uang. Sesekali saya mendengar Prihartono yang membentak-bentak Stambul. Saya ingat Markeso. Andai dia masih hidup, aakah dia juga akan membiarkan saya digelandang Stambul?
Lalu saya mendengar kaca pecah. Ketika saya berpaling saya melihat Stambul bergulat dengan Prihartono. Saya tidak tahu bagaimana perkelahian itu terus terjadi. Pikiran saya kacau. Saya bingung. Saya sedih. Saya takut. Tapi juga marah. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya ingin menangis tapi sudah tidak bisa. Saya ingin berteriak. Tapi saya telah kehilangan suara saya.
(RAMINTEN TERUS BICARA. TANGANNYA BERGERAK-GERAK. TAPI SUARA ITU TAK ADA. LAMPU MENYUSUT. HINGGA MENEMUKAN KELAM.)
Ibu Kita Raminten
Diangkat dari novel karya Muhamad Ali
Teks Pra- lakon: Ikun Sri Kuncoro
1. Yang aku bayangkan adalah ruang pengadilan. Tapi ruang ini sekaligus juga harus hadir secara simbolik sebagai sebuah kungkungan, yang dengan itu berarti ia juga menindas, entah sebagai sebuah sistem (termasuk tata nilai, di sini) atau sesuatu hal yang lain yang muaranya pada konstruksi sosial.
2. Maka, bayangannya adalah pilar-pilar tiang dengan berbagai ukuran yang secara kompositif memberi efek visual menekan karena stage dalam pembayangannya hanya berisi sebuah tempat duduk terdakwa (Raminten), maka tiang-tiang ini harus dipermainkan dengan cahaya yang memberi aksentuasi atas suasana monolog Raminten. Jika ditemdukan ikon lain yang lebih menggugah tentu itu yang diharapkan.
3. Andai potensi teaternya mampu, yang aku bayangkan dari teater ini hanyalah teater auditif: sebuah rangkaian irama bunyi yang memukau (membuat penonton betah) yang muncul dari wilayah tekanik ucapan dan ilustrasi musik. Sehingga, Raminten tidak perlu beranjak dari kursi terdakwanya untuk sebuah spektakel yang lain.
4. Tetapi sejujurnya saya juga tak mengelak, andai prosesi latihan, proses penciptaan teater yang sesungguhnya memberikan penawaran lain yang sering tak terduga dan tak dibayangkan pada awalnya. Karena, sebenarnya, di situlah letak keajaiban teater.
Marilah dimulai saja:
Panggung itu gelap, ketika lamat-lamat detak sepatu membentur ubin hadir semakin nyata dan berselah-selih dengan suara “ngremo” antara bunyi gamelan dan tembang, juga dentam besi dari gembok dan kerangkeng penjara. Sampai suasana menjadi.
Lalu dalam kelam itu sidang dibuka oleh suara hakim:
Hakim (Off Stage): Sidang perkara pembunuhan Prihartono warga negara Indonesia kelahiran Hongkong, dengan agenda utama pembelaan terdakwa II Saudari Raminten yang akan disampaikan oleh terdakwa sendiri, dengan ini dinyatakan dibuka.
Lalu lampu merayap pelan pada Raminten yang duduk di kursi terdakwa.
RAMINTEN
Trima-kasih. Sebagaimana dinyatakan kepada saya dan telah saya jawab, saya tidak akan menambahkan atau mengurangi. Saya... hanya akan melihatnya dan mengatakannya dari sisi diri saya tentang peristiwa apa yang telah saya jalani dan tentang apa yang telah bapak dan ibu simpulkan atas diri saya.
Saya, malam itu, tanggal 22 Desember 2004 memang berada di kamar bapak Prihartono di jalan Ahmad Yani no. 1. Tetapi seperti yang telah saya katakan, kenapa saya di rumah itu? ... Saya, ... dipaksa Stambul ... Anak saya.
Malam itu, Stambul pulang. Dan seperti beberapa malam sebelumnya, Stambul membujuk saya.
Setelah berbulan-bulan tidak pulang—juga, ketika bapaknya meninggal—beberapa malam sebelum peristiwa itu Stambul membujuk saya untuk menjadi gundik bapak Prihartono.
Menurut Stambul, hidup saya akan lebih baik kalau saya bersedia bekerja pada Pak Prihartono. Katanya, Pak Prihartono sedang membutuhkan seorang tukang pijat. Yang diinginkan adalah seorang tukang pijat yang muda. Tapi Stambul yakin bahwa tak akan ada perempuan muda yang bersedia menjadi tukang pijat Pak Pri.
Stambul, anak saya itu, dari pada saya hidup seperti ini: nganggur, kelaparan dan kesepian. Hidup bukan mati pun tidak. Lebih baik ikut Pak Prihartono. Meskipun tua, Pak Pri duitnya banyak. Pak Pri akan memberi uang berlimpahan, cukup makan, cukup pakaian, dan saya hanya disuruh memijat-mijat. Hanya itu saja. Memijat.
Memang, sejak Markeso meninggal, saya hidup dari belas-kasih tetangga. Setiap hari tetangga-tetangga memang saya dtang mengantar makanan untuk saya. Itu berjalan lebih dari tiga bulan lamanya. Dan, mungkin akan lebih lama lagi seandainya peristiwa ini tidak terjadi.
Sepeninggal Markeso, saya memang malas melakukan apa saja. Saya tidak keluar rumah. Saya memang tidak pernah bekerja sejak saya menjadi istri Markeso. Saya, Stambul, dan Markeso, hidup hanya dari hasil Markeso mbarang, mengamen sebagai ludruk garingan. Atau ludruk ontang-anting: sendirian mengamen dengan menembang, menari dan ngremo. Dan kami hidup.
Dulu Markeso bekerja sebagai kernet angkot. Sebelum bertemu saya. Sebelum kami menikah. Saya masih ingat benar ketika kami bertemu. Waktu itu usia saya baru 15 tahuanan. Seperti biasa, saya membantu bapak yang berjualan obat keliling, menggelar perlak untuk alas menata dagangan bapak. Ketika itu sebuah angkot berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. Entah kenapa, ketika mendengar dari mesinnya saya tiba-tiba berhenti dan entah kenapa saya jadi memandangnya. Saya melihat Markeso, meloncat turun dan melayani para penumpang turun. Waktu itu, mungkin Markeso masih berusia 20-an. Ia sibuk mempersilakan penumpang turu, membantu menurunkan barang lalu sibuk menawarkan pada orang-orang yang barangkali akan ikut dalam angkotnya. Lalu tiba-tiba ia berpaling. Sejenak kami berpandangan. Lalu ia teruskan menawarkan angkotnya, dan saya meneruskan menata obat-obatan dagangan bapak. Tapi entah kenapa, setiap kali saya mendongak melihatnya, ia selalu juga sedang melihat saya.. Seterusnya, wajh Markeso selalu saya ingat dan setiap kali bapak berjualan di pasar itu, saya selalu berharap melihatnya lagi.
Tak sampai setahun saya pun menikah dengan Markeso. Kami keluar dari rumah bapak dan menyewa rumah bedeng yang murah di pemukiman padat. Markeso berhenti sebagai kernet angkot dan memilih menjadi pengamen. Dari hasil mengamen itulah kami hidup. Dan setahun kemudian lahirlah Ruba’i.
Kami pun cemas. Bagaimanakah kami harus hidup dari hasil mbarang Markeso dengan tambahan seorang bayi? Untuk hidup berdua kami, kadang makan hanya 2 kali/ entah dari mana pikiran itu datang, tiba-tiba kami memutuskan untuk menyerahkan Ruba’i pada orang yang bersedia memungutnya. Dan kebahagiaan kami pun pulih kembali begitu ada orang datang dan sangat berterimakasih kepada kami ketika mereka menerima Ruba’i.
Tapi sungguh kami tidak menjualnya. Memang, Pak Rus, yang memungut Ruba’i memberikan uang ungkapan kebahagiaannya pada kami. Tetapi, Pak Rus sendiri yang menyatakan itu hanya sebagian ungkapan kebahagiaan karena ia mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk bisa membesarkan seorang bocah. Dan kami pun berpesan agar nama Ruba’i tak diganti dengan nama lainnya.
Begitulah. Nasib Lastri pun sama ketika setahun kemudian adik Ruba’i itu lahir. Kami yang membayangkan nasibnya tidak bersekolah, makan dan pakaian yang tidak akan tercukupi, menyerahkan Lastri pada Bu Broto begitu usianya telah lebh dari tiga bulan. Orang-orang pun mengira terutama tetangga-tetangga kami, bahwa kami telah menjual anak-anak kami. Apalagi pada tahun berukutnya Gani lahir dan Pak Irham memintanya untuk membesarkannya.
Juga, ketika Fitri lahir, Alamsyah, dan Samsi pada tahun-tahun berikutnya. Ketiganya diminta oleh Pak Subandi seorang pengusaha oli yang anak-anaknya sudah besar semua.
Tetapi sungguh kami tidak menjual anak-anak kami. Kami selalu meminta agar mereka tidak mengganti nama anak-anak kami dan kami selalu tahu pada siapa anak-anak kami serahkan.
Anak ketujuh kami, Joko, kami serahkan pada pedagang koran, Pak Hasan namanya. Falhi, anak kedelapan kami serahkan pada Pak Badawi, seorang guru agama di SD kampung sebelah. Dewi diminta Ibu Kartika yang telah menjanda. Ningsih dan Ningrum anak kembar kami dibesarkan Pak Widodo dan Pak Alam. Sedangkan Anwar diminta oleh Pak Effendi, seorang pelaut.
Memang, terkadang ada saja dari mereka yang mengambil anak kami, tidak saja memberikan uang begitu mereka bawa anak-anak kami. Sering, ada saja yang telah memberikan kepada kami uang sejak bayi-bayi itu masih ada dalam kandungan. Mereka bilang, agar bayi yang saya kandung tidak kekurangan gizi sehingga saya harus menjaga makanan yang saya makan. Itu pengakuan mereka. Bapak-bapak dan ibu-ibu boleh tidak percaya. Tapi begitulah mereka mengatakannya kepada kami, setiap kali pada setiap bulan mereka memberikan uang itu ketika saya mengandung anak yang hendak mereka minta.
Begitulah kami mengandung anak-anak kami. Kami memberikan bayi-bayi kami kepada orang lain lantaran kami tahu, kami tak akan bisa menghidupinya. Kami tak akan pernah sanggup menyekolahkan, dan kami tak akan bisa mendidiknya sendiri. Kami bahkan tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi seandainya anak-anak kami besarkan pada lingkungan kami yang pepat oleh rumah-rumah bedeng kemiskinan kami. Kami sudah melihat apa yang terjadi dengan anak-anak tetangga kami; yang dekil, yang kurus, yang tak bersekolah, dan kami sudah tahu apa yang terjadi pada saat besarnya nanti.
Tetapi kenapa kami bisa beranak sampai 12, sampai 13, hanya kemiskinak kami yang tahu. Saya dan Markeso tak punya pekerjaan lain begitu maghrib tiba. Setiap kali pulang ngamen, Markeso tak akan pergi lagi. Dan kami hanya akan bersembunyi dalam bedeng gubuk kami. Kami jarang, atau malah tidak pernah bermain ke gubuk tetangga kami. Mengunjungi mereka lebih sering hanyalah mengunjungi sumpah serapah yang mengutuk nasib dan kehidupan. Berjalan-jalan ke pertokoan hanya akan tersiksa sebagaiamana, mungkin, tiba di neraka. Neraka bagi kami adalah menyaksikan melimpahnya barang-barang yang ditawarkan tanpa pernah bisa membelinya. Neraka bagi kami adalah kelaparan yang tak pernah lekang.
Dan Markeso, suami saya, adalah laki-laki yang tahu bagaimana membangun surga di dalam gubuk kami. (JIKA ADA TRANSISI TEATER BISA DIAWALI DI SINI). Tangan yang kasar, bau keringatnya yang sengak, mulutnya yang bertembakau, selalau saja bisa mendatangkan surga di bedeng kami yang pengap bila sudah berbaring di dekat saya.
Saya ingat benar, apa yang dikatakannya di suatu malam:
“Ram, sungguh buruk nasib kita. Bayangkan kepada siapa kita akan menitipkan hidup kita kalau kita sudah tua dan ak mampu lagi buat bekerja? Kita akan jadi tua bangka, nantinya.
Apakah akan ada yang ingat kepada kita, Ram? Satu saja dari 12 anak yang kita buang itu?
Kamu jangan marah, Ram. Tapi apalagi kalau bukan membuangnya? Memberikannya kepoada orang lain sama artinya dengan membuang. Meskipun, kita tetap meminta agar nama-nam anak-anak itu tidak diganti. Meskipun kita tahu dan hapal, siapa-siapa saja yang telah memungut anak kita. Tetapi, kita tetaplah melepaskan tanggungjawab itu. Atau, ka mu lebih suka aku menyebutnya menjual, Ram? Kamu lebih keberatan, kan? Meskipun kenyataannya kita tidak hanya menerima ucapan terimakasihnya dalam sejumlah uang, tetapi juga menerima uang belanja selama kamu hamil dan selama tiga bulan awal menyusui hanya agar bayimu tidak kekurangan gizi. Tapi apa kenyataannya, Ram? Kita juga menumpang makan dari uang membeli bubur dan susu itu.
Kita memang telah menjual bayi-bayi itu. Atau mungkin kita telah menjualnya. Tetapi sungguh, sekarang aku justru sangat ketakutan kepada siapa kita akan menitipkan hidup kita kalau kita sudah tua. Kita akan menjadi tua, Ram. Kita akan, menjadi tua bangka dan tidak punya siapa-siapa.
Tidak, Ram. Tidak.
Kita harus punya anak lagi, harus. Dan kita juga harus memeliharanya sendiri. Kita harus membesarkannya. Karena, karena aku tidak yakin 12 anak kita akan ada yang bersedia menerima kita pada waktu kita telah menjadi bangka. Ayo, Ram. Kau harus hamil. Harus hamil lagi. Dan kita harus berani memelihara anak sendiri. Kita harus membesarkannya. Kita akan menyekolahkannya, akan mengajarinya bermain, akan mengajaknya berjalan-jalan. Apapun yang kita punya.”
(WAKTU LEWAT DALAM HITUNGAN BANYAK BULAN. INI ZAMAN KETIKA RAMINTEN TENGAH MENGANDUNG ANAK KE-13. USIA PERUTNYA MUNGKIN 7 ATAU 8 BULAN. ANDAI TEATER DIPERMAINKAN SET BISA BERUBAH: AKU MEMBAYANGKAN PERISTIWANYA DI DALAM GUBUK BEDENG RAMINTEN. ADAPUN TOKOHNYA ADALAH MARKESO. WAKTUNYA SORE SEPULANG DARI MENGAMEN. JADI, MINIMALNYA, AKTOR MEMBAWA SATU ALAT YANG DIGUNAKAN MENGAMEN. SEMISAL, KEDANG KECIL. LALU MENGAMEN SEBENTAR DI WILAYAH PENONTON. JIKA SANGGUP, AKTOR BERIMPROVISASI SEBENTAR DENGAN PENONTON. TETAPI ANDAI TETAP DIPERTAHANKAN KONSEP AWAL SEBAGAI TEATER AUDITIF. MAKA YANG TERJADI DALAM SESAAT HANYALAH SEMACAM LAMPU PADAM. DAN KETIKA CAHAYA TUMBUH PENGADILAN ITU BERLANJUT.)
RAMINTEN:
Sore itu Markeso datang dengan wajah yang bungah. Aku sudah mendengar teriaknya sejak dari luar:
“Ram.., Ram..., Raminten..
Ini yang namanya rezeki nomplok. Aku bertemu dengan Mas-mas seniman. Jangan salah ucap lagi dengan “si Niman.” Aku ditraktirnya. Dibayari makan sepuasku, dan masih diberi duit. Sekarang kamu percaya, kan? Anak memang selalu membawa rezekinya sendiri. Aku juga menemukan nama untuk anak kita: Stambul. Kamu pengen ngerti apa itu Stambul? Itu artinya, sandiwara. Drama. Orang-orang pinter, mas-mas seniman itu, menyebutnya titer. Mas seniman tadi yang bilang. Jangan takut kalau nama itu membebani anak kita. Nanti kita selamati dengan tiga ekor ayam yang masih kita punya. Dengan selamat tiga ekor ayam pasti tidak akan ada aral yang melintangai Stambul. Kamu tahu, kan? Nabi Ibrahim? Nama Ibrahim memberikan sesaji satu ekor kambing untuk mengganti nyawa anaknya, Nabi Ismail. Nah, karena kita bukan nabi maka cukup ayam saja: tiga ekor.
Nama itu tentu akan membawa berkah. Kalau sudah besar, Stambul, Stambul akan menjadi seniman sandiwara. Titer. Tapi kalau nanti dia ternyata perempuan, aku lebih suka kalau dia menjadi penyanyi ndangdhut. Kita harus dibelikan teve agar bisa menonton dia.
Aku jadi tidak sabar menunggu 2 atau 3 bulan lagi. Tabungan kita rasanya cukup untuk membayar Bu Bidan. Kamu ingin anak kita, laki-laki apa perempuan? Kalau aku, aku ingin anak kita laki-laki. Kamu ingin anak kita, laki-laki apa perempuan? Kalau aku, aku ingin anak kita laki-laki. Aku akan mengajarinya main kendang, menembang. Aku akan mengajarinya menari. Maka, kalau sudah besar dia akan menjadi...
(KALIMAT ITU TIDAK SELESAI. DAN RAMINTEN TERISAK. DI SINI TRANSISI UNTUK MASUK KE TOKOH STAMBUL.)
RAMINTEN:
Apa yang terjadi dengan Stambul setelah besar adalah apa yang tidak pernah kami harapkan. Bahkan, membayangkan pun, kami; tidak. Sore, apabila Markeso telah pulang dari mengamen, Stambul pastilah akan datang.
“Ram..., Raminten... Di mana Markeso? Aku sudah melihatnya pulang, tadi. Mar..., Markeso... Atu, uang itu sudah diberikan padamu? Mana? Mana? Berikan padaku! Kalau tidak kamu berikan padaku, kepada anakmu, akan kamu berikan kepada siapa hasil kerja bapakku? Atau kalian belum makan? Baik, kita bagi tiga uang itu. Aku minta bagianku, dan kalian ambil bagian kalian. Atau begini saja. Berikan uang itu semua padaku, nanti aku akan membelikan kalian makan malam ini. Daripada kalian harus keluar, naik-turun, tebing sungai ini, tentu hanya akan membuat kalian lapar lagi. Iya, kan? Nah, biarkan aku sekalian membelikan kalian makan untuk malam ini. Setuju, kan?
Ram, aku dengar dari para tetangga, kamu dulu menjual 12 kakakku selagi masih bayi. Kenapa itu tidak dilakukan lagi? Biar aku nanti yang mencari pembeli. Aku punya banyak kenalan. Dan aku dengar harga bayi sangat mahal sekarang. Malah, Ram, ada yang bisa menjualkan dengan harga yang lebih tinggi lagi bila kamu bersediah dioperasi selagi bayi itu berusia 3 bulan dalam kandunganmu. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya operasi itu, Ram. Kita hanya tinggal menerima harga bayi itu. Katanya untuk dibikin sop, atau diawetkan untuk diminum sebagai jamu. Kamu tidak tertarik, Ram? Hanya mengandung tiga bulan, Ram. Dan kit abisa pindah dari bedeng ini. Kamu tidak bosan tinggal di gubuk yang berdempet-dempet ini? Kamu tidak bosan terus melarat seperti ini? (Kere kok ra jeleh.) ah, aku yakin, Markeso pasti setuju. Di mana? Di mana Markeso sekarang?
Mar... Markeso... Mar. Kamu sembunyikan di mana Markeso? Tapi uang itu sudah diberikan padamu, kan? Mana, berikan padaku. Nanti aku belikan kalian makan, malam ini. Atau..., baik..., aku belikan juga makan sampai besok pagi. Bagaimana? Mana sekarang uangnya? Ayo, berikan. Berikanlah \ram. Aku kan anakmu.
Ram, aku memang pernah mencuri. Sering, malah. Aku juga kadang memeras. Atau, memaksa. Tapi, aku tidak mau melakukan itu pada kalian. Ayolah, Ram. Berikan uang itu padaku. Jangan paksa aku menjadi pemeras, atau penjahat pada kalian. Ram, meskipun orang-orang selalu mengatakan aku sama jahatnya denan kalian yang telah menjual kakak-kakakku, tapi aku tetap tidak ingin jahat pada kalian dengan memaksa kalian menyerahkan uang itu padaku. Kalian itu Ram, berikan uang itu padaku. Ayolah, nanti aku belikan nasi untuk malam ini, besok pagi, dan juga siangnya. Bagaimana? Ayolah, Ram. Jangan suruh aku untuk kasar padamu.
Ram, kalian tahu apa yang dikatakan orang-orang di luar? Mereka bilang, kalian; kamu dan Markeso, lebih jahat daripada aku. Mereka juga bilang bahwa kalian bodoh. Kata mereka, kalau dulu kalian membesarkan sendiri anak-anak kalian, kalian akan beruntung. Kalian bisa menjualnya ke luar negeri, sekarang. Dan kalian bisa terus menerima kiriman uangnya. Kata mereka, kalian bisa menjualnya sebagai babu, sebagai buruh pabrik, bahkan kalau perlu kalian bisa menjualnya sebagai pelacur.
Aku tidak bisa membayangkannya, Ram. Andai 12 kakakku kamu jual ke luar negeri. Apa yang akan terjadi pada kita saat ini, Ram? Aku pasti, sudah tentu, tidak perlu menunggu saban sore hanya untuk meminta uang Markeso yang hanya receh itu. Bayangkan, Ram, 12 anak dalam satu tahun. Kalau mereka mengirim satu juta saja satu orang sekali dalam satu tahun, kita sudah harus menghabiskan uang segepok itu setiap bulan. Itu hanya sekali mereka mengirimkan. Kalau setiap anakmu itu mengirimkan dua kali saja dalam satu tahun, apa kita tidak repot untuk menghabiskannya? Ah.., Markeso pasti tidak perlu bekerja seperti topeng monyet itu. Keliling kota, mengumpulkan recehan.
Markeso, pasti akan duduk-duduk setiap hari dengan rokok kreteknya yang berbau menyan itu. Atau, ah.., jangan-jangan dia akan kawin lagi. Beranak-pinak banyak, dan pasti dikualnya lagi.
Kita akan hidup enak, Ram, hanya dengan 12 kakakku yang mengirimkan uang bergiliran. Dasar, kamu memang bodoh, Ram. Dan karena kamu bodoh, maka kamu pun tidak mau memberikan uangmu padaku sekarang untuk kubelikan nasi. Mana? Di mana sebenarnya uang itu? Atau, aku harus mengambilnya sendiri? Kamu sembunyikan di mana? Di bawah tikar? Dalam besek pakaianmu? Atau kau simpan dalam kutangmu? Mana biar aku ambil sekalipun kau sembunyikan dalam celana dalammu.”
(ADA SESUATU YANG BERUBAH DI DALAM PANGGUNG).
Begitulah Stambul memaksa saya. Syukurlah, semenjak itu dia tidak kembali lagi. Dia tidak pernah pulang lagi. Tapi suaranya yang terus menuduh saya menjual kakak-kakaknya tak bisa saya lupakan. Dan malam itu, saya dan Markeso tak lagi bisa makan. Uang seharian Markeso mengamen telah dirampasnya. Semua.
Kepergian Stambul memang membuat kami lega, meskipun terkadang kami merasa kehilangan juga. Bagaimanapun Stambul adalah anak kami. Anak yang kami niatkan untuk kami asuh sendiri. Kami besarkan, dan kami harap untuk bisa merawat hari tua kami. Lambat-laun kami memang bisa melupakan dan mengikhlaskannya. Kami terkadang bersyukur tidak membesarkan sendiri ketiga belas anak-anak kami. Kalau yang terjadi adalah apa yang sudah dinasibkan pada Stambul pastilah rumah bedeng kami hanya akan menjadi sarang, perampas, pemabuk dan pelacur. Anak-anak kami.
Lalu datanglah peristiwa itu. Beberapa bulan setelah Markeso meninggal. Stambul datang. Dia meminta saya untuk menjadi tukan pijat Pak Prihartono. Saya tidak hanya menolaknya. Tetapi juga, dengan sangat terpaksa, mengumpatinya. Dan dia pergi.
Tetapi beberapa malam kemudian, dia tidak hanya meminta saya. Dia, bahkan, telah memaksa dan menyeret saya. Saya digelandang sampai rumah Pak Prihartono. Dan saya diseretnya sampai ke dalam kamar. Diseretnya.. Diseretnya saya...
Di dalam kamar itu saya tidak tahu berapa saya telah dijualnya. Tapi saya dengar apa yang dikatakan Prihartono pada Stambul:
“Brengsek. Aku bilang akan memberikanmu 250 ribu kalau yang kamu bawa perempuan muda. Tapi apa yang kamu bawa sekarang? Mayat tua. Apa matamu sudah tidak bisa membedakan perempuan muda dengan orang yang sudah bau tanah? Sekarang bawa uang itu kalau mau. Kalau tidak, bawa juga pergi nenek-nenek itu. Aku bisa minta orang lain mencari apa yang aku inginkan. Dasar goblok.”
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan di kamar mandi itu. Saya seperti tidak bisa berpikir. Tidak bisa menalar. Ketika, saya lepas baju saya dan menuruti perintahnya untuk membersihkan diri.
Lalu terdengar suaranya lagi:
“Kenapa lama? Cepatlah keluar.”
Dan ketika saya keluar dari kamar mandi, saya tidak berani melihat matanya. Saya hanya bisa mendengar perintah-perintahnya:
“Stop. Berhenti di situ. Buka bajumu. Rokmu. Kutangmu. Celana dalammu. Berbaliklah. Aku ingin melihatmu dari belakang.
Nah, mendekatlah. Sekarang pijitlah aku. Kamu bisa memijat juga ternyata. Atau kamu sudah menyiapkannya? Karena menjadi pelacur tentu tak bisa selamanya? Pintar juga kamu punya otak. Kalau kamu mau, kamu bisa juga bekerja di sini. Kamu pasti bisa memasak, kan? Kerjamu hanya memasak, membersihkan rumah, menyeterika, dan memijit. Kamu tidak usah mencuci karena di sini sudah ada mesin cucinya. Berapa kamu minta dibayar setiap bulan? 150 ribu, mau? Aku juga akan mengijinkan kamu menerima panggilan memijat dari orang lain apabila aku tidak sedang ingin dipijat.
Ya, terus ke bawah. Jangan sungkan-sungkan. Aku juga ingin dipijat di bagian itu. Ayo! Kenapa berhenti? Pijatlah di mana saja aku ingin kau memijatnya. Aku telah membayarmu. Aku berhak menyuruh apa saja padamu. Aku bahkan berhak tidak hanya memintamu memijat. Aku bahkan berhak memintamu untuk melayaniku.”
(ADA PERKOSAAN PERSETUBUHAN YANG KASAR, DI SINI)
Lalu tiba-tiba Stambul datang. Saya sudah tidak bisa mendengar apa yang mereka percakapkan. Saya takut. Saya bingung. Saya sedih, marah tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang terjadi di situ tak bisa semuanya saya ingat.
Sesekali saya memang mendengar dan melihat Stambul menggertak dan meminta uang. Sesekali saya mendengar Prihartono yang membentak-bentak Stambul. Saya ingat Markeso. Andai dia masih hidup, aakah dia juga akan membiarkan saya digelandang Stambul?
Lalu saya mendengar kaca pecah. Ketika saya berpaling saya melihat Stambul bergulat dengan Prihartono. Saya tidak tahu bagaimana perkelahian itu terus terjadi. Pikiran saya kacau. Saya bingung. Saya sedih. Saya takut. Tapi juga marah. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya ingin menangis tapi sudah tidak bisa. Saya ingin berteriak. Tapi saya telah kehilangan suara saya.
(RAMINTEN TERUS BICARA. TANGANNYA BERGERAK-GERAK. TAPI SUARA ITU TAK ADA. LAMPU MENYUSUT. HINGGA MENEMUKAN KELAM.)
Anak Kabut
Anak Kabut
Oleh: Soni Farid Maulana
(cahaya biru berlapis kehijauan jatuh di atas permukaan kayu, semacam meja tulis, atau meja apapun. Di balik cahaya tersebut, tampak seorang perempuan tengah duduk termenung. Sesekali tarikan nafasnya yang berait itu terdengar. Wajah perempuan yang berada di balik cahaya itu seperti bayang-bayang. Saat itu malam begitu larut. Cahaya tersebut masih seperti itu ketika perempuan tersebut tengah berkata-kata).
Tatolah aku, kekasihku, dengan segenap cintamu. Janganlah ragu, gambarlah seekor naga mungil pada kedua belah payudaraku. Sungguh aku tidak suka gambar kupu-kupu atau bunga. Keduanya tidak melambangkan jiwa kita yang liar—keluar masuk nilai-nilai dari malam ke malam, dari pintu ke pintu diskotik. Disergap asap rokok. Irisan cahaya melambungkan jiwa kita pada impian Amerika atau impian apa saja.
Tatolah aku, kasihku, jangan ragu walau ayah dan ibuku tidak setuju. Dulu, ya, dulu. Tato memang simbol napi tapi sekarang lain maknanya. Ia sumber keindahan, semacam aksesoris, semacam tanda, postmodern di akhir abad 20. ya, memang, sejak 12000 tahun sebelum masehi orang sudah mengenal tato. Tapi adakah mereka seberani aku? Kasihku, jangan ragu, tatolah aku, aku tak mau kalah dengan ratu Alexandra yang hidup di abad 19 di Rusia.
Apa? Pencemaran darah, hepatitis B? Jangan takuti aku dengan hal demikian. Kasihku jangan ragu, tatolah tubuhku dengan segenap cintamu. Buatlah aku bahagia karenanya jangan pedulikan apa kata orang. Sungguh jiwa kita yang lapar dan liar ini perlu semacam perlambang, semacam pegangan nilai-nilai; setelah keasingan demi keasingan melontarkan kita pada sehampar dunia tak dikenal. Ya, betapa banyak tanda dan ayat dihadapanku, tapi aku salah menangkap makna*. Selalu kegelapan bersambung kegelapan yang kujelang; setelah kehidupan malam setelah nilai demi nilai berubah makna lebih cepat dari putaran jarum jam.
Tatolah tubuhku, jangan ragu dengan gambar yang permanent dengan model yang mutakhir. Aku tidak suka dengan tato temporer yang akan lenyap dalam waktu dekat, di masa tua nanti tidak punya kenangan yang bisa aku banggakan pada anak-cucuku. Sekali lagi aku minta padamu tatolah kedua belah payudaraku dengan gambar naga, naga cintamu yang jantan itu, yang menggairahkan itu dari malam ke malam membunuh kesepian yang menghadang di depan. Jangan ragu tatolah jiwaku yang lapar dan liar ini dengan jarum cintamu yang tajam dan runcing bertinta putih.
Hahahaha (perempuan itu tertawa. Cahaya sedikit demi sedikit benderang dengan warna netral). Ini pasti bukan sajak Saini KM. Saya berani bertaruhbahwa Saini KM tak akan berani menulis larik-larik puisi yang liar seperti ini:
‘tatolah jiwaku yang lapar dan liar ini dengan jarum cintamu yang tajam dan runcing bertinta putih’.
Sialan, semakin dihayati, puisi ini semakin menggelorakan gairah terpendam. Gairah yang bertahun-tahun sudah lenyap dari dadaku. Ya, bertahun-tahun sudah aku jadi tawanan kehidupan yang tidak jelas bentuk dan rupanya. Sungguh, bertahun-tahun sudah yang aku hadapi adalah anyir darah. Ya, amis darah yang melayah di gigir hari, yang menetes dari tubuh-tubuh tak dikenal.
Masih jelas dalam ingatanku, akan jerit tangis yang tertahan itu, aku dan kaumku saat itu tak lebih dari hewan qurban, yang dengan liar dan ganas dimangsa orang-orang berhati serigala. Ya, masih segar dalam ingatanku bagaimana aku dimangsa orang-orang berhati Nero di tengah-tengah kobaran api yang melahap bangunan demi bangunan bertingkat, sementara di jauhnya orang-orang lapar berteriak dengan suara-suara yang aneh sambil menggasak berbagai benda apa saja yang ada di hadapan dirinya.
Dan kini apa artinya reformasi? Apa artinya menangisi nasib hitam yang telah meruntuhkan jiwaku ke dalam kelam?
Apakah hukum telah berpihak pada orang-orang seperti diriku atau malah dibuang ke dalam tong sampah untuk kemudian dilenyapkan dengan guyuran bensin dan kobaran api, apa jadinya?
Mengapa penderitaan yang demikian hitam menimpa diriku dan teman-temanku hanya dianggap isapan jempol belaka? Orang bilang komnas HAM akan memperjuangkan nasibku hingga mendapat keadilan yang setimpal dengan apa yang aku derita. Tetapi kenyataannya semua itu hanya ramai diperbincangkan di koran-koran, sementara barisan pemerkosa yang bermuka garang itu tak pernah bisa ditemukan batang hidungnya. Demikian pula dengan para penembak gelap yang membunuh mahasiswa juga kekasihku tak pernah pula bisa ditangkap dan bahkan diseret ke muka pengadilan.
Adakah yang terjadi di bula Mei itu akan juga dianggap sebagai fiksi semacam lakon drama yang dibikin haru dan sedih?
Tidak. Semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa kuhapus begitu juga dalam ingatanku dan juga ingatanmu yang memperkosa diriku dengan muka yang menyebalkan. Sekali lagi pembunuhan yang terjadi di bulan Mei tidak bisa pula kau hapus dari ingatanmu meski saat ini kau tenang-tenang saja duduk sambil menghisap rokok kesukaanmu di tempat yang jauh. Yang jauh.
Aku yakin kau dan aku sama menderitanya kecuali dirimu telah menjelma iblis yang merajai kegelapan. Dengar, dengan segenap penderitaanku aku kutuk kau hingga hari perhitungan kelak yang tiada seorang pun bisa mengelak dari kepastian hukumNya.
Ya Tuhan yang maha pengasih aku serahkan padaMu. Semata padaMu.
Hening. Sesekali terdengar tiang listrik dipukul orang.
Sayup-sayup terdengar suara hujan yang demikian keras. Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya, seperti menuju sebuah jendela terbuka. Lalu balik lagi ke arah semacam meja tulis bagian depannya. Suara nafasnya yang berat terdengar.
Kini setiap malam tiba selalu aku rindukan kekasihku hadir disisiku tidak sekedar membelai rambutku, tetapi juga memelukku. Tapi dimana kekasihku berada? Orang-orang bilang tubuhnya hangus dibakar api. Entah apa kesalahannya, sebagian mengatakan ia mirip dengan intel, sebagian lagi mengatakan mirip dengan provokator dari pihak lawan?
Sungguh, semua tuduhan itu tidak benar. Mana mungkin ia berani melakukan hal yang tidak diketahui dan dikuasainya. Ia hanya seorang buruh bangunan yang kerjanya serabutan. Ia memang punya gelar lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sayangnya, ia tidak punya koneksi hingga tidak bisa jadi pegawai negeri. Karena tidak punya uang jutaan rupiah sebagai uang pelicin. Mereka yang berkuasa di negeri ini dihadapan dirinya benar-benar telah menjelma seekor naga yang lapar dan liar memangsa apa saja.
O kau yang mati di tengah-tengah kerusuhan. Sejumlah orang tak dikenal mengejar dan menyuruhnya masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat, yang setelah itu kemudian dibakarnya gedung tersebut sehabis sejumlah barang-barang yang ada didalamnya dijarah mereka.
O dari dunia mana mereka datang? Apa agama mereka? Mengapa api dan batu harus bicara? Mengapa mereka yang jelas-jelas telah menghancurkan bangsa dan negeri ini kedalam jurang peradaban yang hitam pekat ini masih ongkang-ongkang kaki, bebas dari segala tuntutan hukum? Negeri apakah ini, kok berani-beraninya seorang terpidana tindak korupsi mengajukan diri jadi calon Walikota, Bupati, Gubernur, malah Presiden?
Ya Allah, apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan diriku saat ini? Betapa dari tahun ke tahun aku tidak bisa menghanguskan rasa rinduku pada kekasihku yang kini entah dimana.
Aku masih ingat bagaimana ia pada sebuah malam hari dan tanggalnya kulupa, menulis sebuah puisi untukku, yang kemudian dibacakannya dengan tekanan suara yang malu-malu karena gelora cinta meluap-luap di dadanya.
Saat itu ia duduk di sebelahku sambil membaca sebuah puisi yang baru selesai ditulisnya. Demikian puisi itu dibacanya: duduk di bangku kayu, menghayati sorot matamu yang kelam oleh kabut dukacita aku temukan bintang mati bintang yang dulu berpijar dalam langit jiwaku. Aku temuka kembali-begitu hitam dan gosong dan kau menjerit terpisah dari cintaku.
Dengarkan aku bicara, suaraku bagai ketenangan air sungai, bagai keheningan batu-batu dasar kali melepas bau segar tumbuhan. Bila hari kembang, suaraku membangun kehidupan yang porak poranda oleh gempa peradaban. Ya, kutahu kota yang gemerlap menyesatkan rohanimu dari jalanku. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu: rasa gula yang terperas dari tebu jiwaku. Reguklah, biar jiwamu berkilau kembali. O, bintang yang dulu benderang dalam langit jiwaku.
(terdengar batuk tiga kali dengan tarikan nafas yang terasa berat. Di liar hujan mungki sudah berhenti. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dengan amat kerasnya. Perempuan itu segera mendekat ke arah jendela kaca, yang dibiarkan terbuka sejak awal pertunjukan. Dalam pandangan matanya ia seperti melihat kobaran api yang menjulang ke langit jauh.)
Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan bangunan bertingkat itu? Adakah suara ledakan yang aku dengar itu adalah suara bom? Jika ya, mengapa bom sering benar meledak di negeri ini? Tangki air mata nyata saat ini tidak hanya bedah di Aceh, Ambon, Bali, Jakarta dan kota-kota tak terduga dalam peta. Tetapi juga bedah dalam diriku. Aku masih ingat bagaimana kata-kata yang diucap oleh lelaki yang menghinakan diriku itu disuarakan dengan nada yang keras dan penuh kebencian.
Perempuan, katanya. Kau Cuma daging yang tidak hanya enak dipandang tetapi juga ditunggangi. Kau tidak lebih dari akar malapetaka di bumi ini. Kaulah yang menyebabkan kejatuhan Adam dari tanah sorga. Dan kini aku menderita harus menanggung segala siksa. Demi segala rasa haus dan lapar sirna dari tubuhku, ayo buka bajumu. Saat itu aku benar-benar takut melihat pandang matanya yang merah padam seperti orang mabuk yang kerasukan setan. Dengan kasar, pakaianku dibukanya secara paksa. Tubuhku diseretnya ke pojok bangunan yang gelap. Dan dengan buas dilahapnya diriku tanpa ampun.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
O, rasa sakit itu tidak hanya bersumber di pangkal paha. Tetapi bersumber di seluruh tubuhku, jiwaku, dan bahkan nyawaku tak kuat menanggungnya. Dan kini aku terus dikejar bayang-bayang yang menakutkan.
Engkau benar cintaku, kita lahir sebagai dongengan. Peran yang kita mainkan adalah kehidupan yang kelam, lebih hitam dari aspal jalanan.
(sunyi. sesekali terdengar suara sirine meraung-raung. Dengan amat kerasnya. Perempuan itu sejurus menarik napasnya kuat-kuat, lalu kembali duduk di tubir meja semacam meja tulis tadi. Cahaya lampu kembali biru berlapis kehijauan. Sunyi.)
Saat seperti ini, aku ingat bagaimana kau berkata untuk terakhir kalinya, sebelum engkau benar-benar pergi meninggalkan diriku selama-lamanya. Ya, malam itu kau tidur di rumahku. Aku begitu kangen, begitu rindu padamu. Kita tidak berbuat apa-apa saat itu. Selain berpandangan dan berpelukan, setelah kau ucap kalimat-kalimat itu, kata-kata cinta yang sangat memabukkan itu.
Telah kau tiup pintu dan jendela kamarmu. Malam yang turun berudara buruk dengarlah ringkik kuda itu, seperti hendak membekukan jantungmu! Larut malam ini aku disisimu. Aku dan kau tersenyum seakan tahu apa yang bergelora di dada. Ya, pelan dan lembut kau dengar guguran daun diluar jendela.
Kita terlahir sebagai dongengan, bisikmu. Malam larut dan sunyi.
Kita semakin koyak oleh harapan purba, Abu kelahiran kita hanya pantas jadi dongengan santapan nasib yang bengis.
(sayup tiang listrik dipukul orang)
Kekayaan kita adalah kemiskinan kita, adalah rumah kita yang lembab oleh air mata, kita hanya pantas menjadi dongengan.
Salak anjing mengusap pendengaran deru kereta memecah kesunyian kata-kata menggumpal dalam dada. Beku tak bersuara menyumpah matahari hitam digilas ruang dan waktu negeri kelam.
Kita hanya pantas jadi dongengan. Ya.
Sungguh aku tak bisa melupakan kalimat-kalimat yang kau ucap malam itu, ketika angin dingin bersiutan diluar jendela menggugurkan ribuan dedaunan. Aku tidak bisa melupakan pancaran matamu yang hangat dan lembut.
Ya, aku tidak bisa melupakan semua itu, termasuk tidak bisa melupakan kata-kata dan pancaran mata lelaki jahanam itu yang telah mereguk kegadisanku secara paksa.
O, api yang berkobar diluar dan didalam dadaku. Seberapa jarak lagikah kebahagiaan itu bisa kujelang. O, maut yang diam-diam mengintai dan mengendap dalam dadaku seberapa detik lagikah nyawa ini kau paut dari tubuh yang penuh luka ini.
Dan kini: aku mendengar langkahmu menyusuri lorong gelap jiwaku begitu teratur, bagai detik jam. Anngin dan daun-daun jatuh mempertegas sunyi yang kelak mekar pada sisa-sisa ranting patah percakapan kita.
Bulan yang memulas langit dengan warna darah: mengundang ribuan kelelawar yang terbang dari goa dadaku dengan suara aneh.
Sungguh setiap jiwaku merindu cahaya matahari. Malam terasa beku sepadat es di kulkas waktu.
Sedang doa-doa para pelayat, genangan air sisa hujan, wangi kembang setaman dan bau kemenyan beraduk jadi satu. Urat-urat syarafku terasa kaku.
O, maut, kebengisan apalagikah yang kelak kau mainkan dalam konser kematianku ini? Sedang Tuhan sulit dijangkau dari keluh-kesah kegelapanku.
(hening, terdengar tiang listrik dipukul orang berkali-kali. Cahaya panggung sedikit demi sedikit kembali netral. Perempuan itu menjatuhkan kepalanya diatas meja. Kemudian menegakkan kepalanya secara perlahan-lahan seiring dengan suara orang yang melantunkan tahrim dari sebuah masjid yang jauh.)
Jam berapa ini? Ya Tuhan betapa cepat waktu berlalu. Hidupku tidak berubah pula. Jika ini semacam ujian yang harus kutempuh dengan tangan dan kaki berdarah-darah, maka aku jalani semua ini dengan kesabaran tanpa batas.
Ya Allah yang maha pemurah. Jika semua ini adalah siksa dariMu. Semoga apa yang kualami di bumi ini menjadi tebusan bagi kehidupan di akherat kelak yang lebih baik dari apa yang aku alami hari ini.
SELESAI
Oleh: Soni Farid Maulana
(cahaya biru berlapis kehijauan jatuh di atas permukaan kayu, semacam meja tulis, atau meja apapun. Di balik cahaya tersebut, tampak seorang perempuan tengah duduk termenung. Sesekali tarikan nafasnya yang berait itu terdengar. Wajah perempuan yang berada di balik cahaya itu seperti bayang-bayang. Saat itu malam begitu larut. Cahaya tersebut masih seperti itu ketika perempuan tersebut tengah berkata-kata).
Tatolah aku, kekasihku, dengan segenap cintamu. Janganlah ragu, gambarlah seekor naga mungil pada kedua belah payudaraku. Sungguh aku tidak suka gambar kupu-kupu atau bunga. Keduanya tidak melambangkan jiwa kita yang liar—keluar masuk nilai-nilai dari malam ke malam, dari pintu ke pintu diskotik. Disergap asap rokok. Irisan cahaya melambungkan jiwa kita pada impian Amerika atau impian apa saja.
Tatolah aku, kasihku, jangan ragu walau ayah dan ibuku tidak setuju. Dulu, ya, dulu. Tato memang simbol napi tapi sekarang lain maknanya. Ia sumber keindahan, semacam aksesoris, semacam tanda, postmodern di akhir abad 20. ya, memang, sejak 12000 tahun sebelum masehi orang sudah mengenal tato. Tapi adakah mereka seberani aku? Kasihku, jangan ragu, tatolah aku, aku tak mau kalah dengan ratu Alexandra yang hidup di abad 19 di Rusia.
Apa? Pencemaran darah, hepatitis B? Jangan takuti aku dengan hal demikian. Kasihku jangan ragu, tatolah tubuhku dengan segenap cintamu. Buatlah aku bahagia karenanya jangan pedulikan apa kata orang. Sungguh jiwa kita yang lapar dan liar ini perlu semacam perlambang, semacam pegangan nilai-nilai; setelah keasingan demi keasingan melontarkan kita pada sehampar dunia tak dikenal. Ya, betapa banyak tanda dan ayat dihadapanku, tapi aku salah menangkap makna*. Selalu kegelapan bersambung kegelapan yang kujelang; setelah kehidupan malam setelah nilai demi nilai berubah makna lebih cepat dari putaran jarum jam.
Tatolah tubuhku, jangan ragu dengan gambar yang permanent dengan model yang mutakhir. Aku tidak suka dengan tato temporer yang akan lenyap dalam waktu dekat, di masa tua nanti tidak punya kenangan yang bisa aku banggakan pada anak-cucuku. Sekali lagi aku minta padamu tatolah kedua belah payudaraku dengan gambar naga, naga cintamu yang jantan itu, yang menggairahkan itu dari malam ke malam membunuh kesepian yang menghadang di depan. Jangan ragu tatolah jiwaku yang lapar dan liar ini dengan jarum cintamu yang tajam dan runcing bertinta putih.
Hahahaha (perempuan itu tertawa. Cahaya sedikit demi sedikit benderang dengan warna netral). Ini pasti bukan sajak Saini KM. Saya berani bertaruhbahwa Saini KM tak akan berani menulis larik-larik puisi yang liar seperti ini:
‘tatolah jiwaku yang lapar dan liar ini dengan jarum cintamu yang tajam dan runcing bertinta putih’.
Sialan, semakin dihayati, puisi ini semakin menggelorakan gairah terpendam. Gairah yang bertahun-tahun sudah lenyap dari dadaku. Ya, bertahun-tahun sudah aku jadi tawanan kehidupan yang tidak jelas bentuk dan rupanya. Sungguh, bertahun-tahun sudah yang aku hadapi adalah anyir darah. Ya, amis darah yang melayah di gigir hari, yang menetes dari tubuh-tubuh tak dikenal.
Masih jelas dalam ingatanku, akan jerit tangis yang tertahan itu, aku dan kaumku saat itu tak lebih dari hewan qurban, yang dengan liar dan ganas dimangsa orang-orang berhati serigala. Ya, masih segar dalam ingatanku bagaimana aku dimangsa orang-orang berhati Nero di tengah-tengah kobaran api yang melahap bangunan demi bangunan bertingkat, sementara di jauhnya orang-orang lapar berteriak dengan suara-suara yang aneh sambil menggasak berbagai benda apa saja yang ada di hadapan dirinya.
Dan kini apa artinya reformasi? Apa artinya menangisi nasib hitam yang telah meruntuhkan jiwaku ke dalam kelam?
Apakah hukum telah berpihak pada orang-orang seperti diriku atau malah dibuang ke dalam tong sampah untuk kemudian dilenyapkan dengan guyuran bensin dan kobaran api, apa jadinya?
Mengapa penderitaan yang demikian hitam menimpa diriku dan teman-temanku hanya dianggap isapan jempol belaka? Orang bilang komnas HAM akan memperjuangkan nasibku hingga mendapat keadilan yang setimpal dengan apa yang aku derita. Tetapi kenyataannya semua itu hanya ramai diperbincangkan di koran-koran, sementara barisan pemerkosa yang bermuka garang itu tak pernah bisa ditemukan batang hidungnya. Demikian pula dengan para penembak gelap yang membunuh mahasiswa juga kekasihku tak pernah pula bisa ditangkap dan bahkan diseret ke muka pengadilan.
Adakah yang terjadi di bula Mei itu akan juga dianggap sebagai fiksi semacam lakon drama yang dibikin haru dan sedih?
Tidak. Semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa kuhapus begitu juga dalam ingatanku dan juga ingatanmu yang memperkosa diriku dengan muka yang menyebalkan. Sekali lagi pembunuhan yang terjadi di bulan Mei tidak bisa pula kau hapus dari ingatanmu meski saat ini kau tenang-tenang saja duduk sambil menghisap rokok kesukaanmu di tempat yang jauh. Yang jauh.
Aku yakin kau dan aku sama menderitanya kecuali dirimu telah menjelma iblis yang merajai kegelapan. Dengar, dengan segenap penderitaanku aku kutuk kau hingga hari perhitungan kelak yang tiada seorang pun bisa mengelak dari kepastian hukumNya.
Ya Tuhan yang maha pengasih aku serahkan padaMu. Semata padaMu.
Hening. Sesekali terdengar tiang listrik dipukul orang.
Sayup-sayup terdengar suara hujan yang demikian keras. Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya, seperti menuju sebuah jendela terbuka. Lalu balik lagi ke arah semacam meja tulis bagian depannya. Suara nafasnya yang berat terdengar.
Kini setiap malam tiba selalu aku rindukan kekasihku hadir disisiku tidak sekedar membelai rambutku, tetapi juga memelukku. Tapi dimana kekasihku berada? Orang-orang bilang tubuhnya hangus dibakar api. Entah apa kesalahannya, sebagian mengatakan ia mirip dengan intel, sebagian lagi mengatakan mirip dengan provokator dari pihak lawan?
Sungguh, semua tuduhan itu tidak benar. Mana mungkin ia berani melakukan hal yang tidak diketahui dan dikuasainya. Ia hanya seorang buruh bangunan yang kerjanya serabutan. Ia memang punya gelar lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sayangnya, ia tidak punya koneksi hingga tidak bisa jadi pegawai negeri. Karena tidak punya uang jutaan rupiah sebagai uang pelicin. Mereka yang berkuasa di negeri ini dihadapan dirinya benar-benar telah menjelma seekor naga yang lapar dan liar memangsa apa saja.
O kau yang mati di tengah-tengah kerusuhan. Sejumlah orang tak dikenal mengejar dan menyuruhnya masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat, yang setelah itu kemudian dibakarnya gedung tersebut sehabis sejumlah barang-barang yang ada didalamnya dijarah mereka.
O dari dunia mana mereka datang? Apa agama mereka? Mengapa api dan batu harus bicara? Mengapa mereka yang jelas-jelas telah menghancurkan bangsa dan negeri ini kedalam jurang peradaban yang hitam pekat ini masih ongkang-ongkang kaki, bebas dari segala tuntutan hukum? Negeri apakah ini, kok berani-beraninya seorang terpidana tindak korupsi mengajukan diri jadi calon Walikota, Bupati, Gubernur, malah Presiden?
Ya Allah, apa yang sesungguhnya tengah terjadi dengan diriku saat ini? Betapa dari tahun ke tahun aku tidak bisa menghanguskan rasa rinduku pada kekasihku yang kini entah dimana.
Aku masih ingat bagaimana ia pada sebuah malam hari dan tanggalnya kulupa, menulis sebuah puisi untukku, yang kemudian dibacakannya dengan tekanan suara yang malu-malu karena gelora cinta meluap-luap di dadanya.
Saat itu ia duduk di sebelahku sambil membaca sebuah puisi yang baru selesai ditulisnya. Demikian puisi itu dibacanya: duduk di bangku kayu, menghayati sorot matamu yang kelam oleh kabut dukacita aku temukan bintang mati bintang yang dulu berpijar dalam langit jiwaku. Aku temuka kembali-begitu hitam dan gosong dan kau menjerit terpisah dari cintaku.
Dengarkan aku bicara, suaraku bagai ketenangan air sungai, bagai keheningan batu-batu dasar kali melepas bau segar tumbuhan. Bila hari kembang, suaraku membangun kehidupan yang porak poranda oleh gempa peradaban. Ya, kutahu kota yang gemerlap menyesatkan rohanimu dari jalanku. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu: rasa gula yang terperas dari tebu jiwaku. Reguklah, biar jiwamu berkilau kembali. O, bintang yang dulu benderang dalam langit jiwaku.
(terdengar batuk tiga kali dengan tarikan nafas yang terasa berat. Di liar hujan mungki sudah berhenti. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dengan amat kerasnya. Perempuan itu segera mendekat ke arah jendela kaca, yang dibiarkan terbuka sejak awal pertunjukan. Dalam pandangan matanya ia seperti melihat kobaran api yang menjulang ke langit jauh.)
Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan bangunan bertingkat itu? Adakah suara ledakan yang aku dengar itu adalah suara bom? Jika ya, mengapa bom sering benar meledak di negeri ini? Tangki air mata nyata saat ini tidak hanya bedah di Aceh, Ambon, Bali, Jakarta dan kota-kota tak terduga dalam peta. Tetapi juga bedah dalam diriku. Aku masih ingat bagaimana kata-kata yang diucap oleh lelaki yang menghinakan diriku itu disuarakan dengan nada yang keras dan penuh kebencian.
Perempuan, katanya. Kau Cuma daging yang tidak hanya enak dipandang tetapi juga ditunggangi. Kau tidak lebih dari akar malapetaka di bumi ini. Kaulah yang menyebabkan kejatuhan Adam dari tanah sorga. Dan kini aku menderita harus menanggung segala siksa. Demi segala rasa haus dan lapar sirna dari tubuhku, ayo buka bajumu. Saat itu aku benar-benar takut melihat pandang matanya yang merah padam seperti orang mabuk yang kerasukan setan. Dengan kasar, pakaianku dibukanya secara paksa. Tubuhku diseretnya ke pojok bangunan yang gelap. Dan dengan buas dilahapnya diriku tanpa ampun.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
O, rasa sakit itu tidak hanya bersumber di pangkal paha. Tetapi bersumber di seluruh tubuhku, jiwaku, dan bahkan nyawaku tak kuat menanggungnya. Dan kini aku terus dikejar bayang-bayang yang menakutkan.
Engkau benar cintaku, kita lahir sebagai dongengan. Peran yang kita mainkan adalah kehidupan yang kelam, lebih hitam dari aspal jalanan.
(sunyi. sesekali terdengar suara sirine meraung-raung. Dengan amat kerasnya. Perempuan itu sejurus menarik napasnya kuat-kuat, lalu kembali duduk di tubir meja semacam meja tulis tadi. Cahaya lampu kembali biru berlapis kehijauan. Sunyi.)
Saat seperti ini, aku ingat bagaimana kau berkata untuk terakhir kalinya, sebelum engkau benar-benar pergi meninggalkan diriku selama-lamanya. Ya, malam itu kau tidur di rumahku. Aku begitu kangen, begitu rindu padamu. Kita tidak berbuat apa-apa saat itu. Selain berpandangan dan berpelukan, setelah kau ucap kalimat-kalimat itu, kata-kata cinta yang sangat memabukkan itu.
Telah kau tiup pintu dan jendela kamarmu. Malam yang turun berudara buruk dengarlah ringkik kuda itu, seperti hendak membekukan jantungmu! Larut malam ini aku disisimu. Aku dan kau tersenyum seakan tahu apa yang bergelora di dada. Ya, pelan dan lembut kau dengar guguran daun diluar jendela.
Kita terlahir sebagai dongengan, bisikmu. Malam larut dan sunyi.
Kita semakin koyak oleh harapan purba, Abu kelahiran kita hanya pantas jadi dongengan santapan nasib yang bengis.
(sayup tiang listrik dipukul orang)
Kekayaan kita adalah kemiskinan kita, adalah rumah kita yang lembab oleh air mata, kita hanya pantas menjadi dongengan.
Salak anjing mengusap pendengaran deru kereta memecah kesunyian kata-kata menggumpal dalam dada. Beku tak bersuara menyumpah matahari hitam digilas ruang dan waktu negeri kelam.
Kita hanya pantas jadi dongengan. Ya.
Sungguh aku tak bisa melupakan kalimat-kalimat yang kau ucap malam itu, ketika angin dingin bersiutan diluar jendela menggugurkan ribuan dedaunan. Aku tidak bisa melupakan pancaran matamu yang hangat dan lembut.
Ya, aku tidak bisa melupakan semua itu, termasuk tidak bisa melupakan kata-kata dan pancaran mata lelaki jahanam itu yang telah mereguk kegadisanku secara paksa.
O, api yang berkobar diluar dan didalam dadaku. Seberapa jarak lagikah kebahagiaan itu bisa kujelang. O, maut yang diam-diam mengintai dan mengendap dalam dadaku seberapa detik lagikah nyawa ini kau paut dari tubuh yang penuh luka ini.
Dan kini: aku mendengar langkahmu menyusuri lorong gelap jiwaku begitu teratur, bagai detik jam. Anngin dan daun-daun jatuh mempertegas sunyi yang kelak mekar pada sisa-sisa ranting patah percakapan kita.
Bulan yang memulas langit dengan warna darah: mengundang ribuan kelelawar yang terbang dari goa dadaku dengan suara aneh.
Sungguh setiap jiwaku merindu cahaya matahari. Malam terasa beku sepadat es di kulkas waktu.
Sedang doa-doa para pelayat, genangan air sisa hujan, wangi kembang setaman dan bau kemenyan beraduk jadi satu. Urat-urat syarafku terasa kaku.
O, maut, kebengisan apalagikah yang kelak kau mainkan dalam konser kematianku ini? Sedang Tuhan sulit dijangkau dari keluh-kesah kegelapanku.
(hening, terdengar tiang listrik dipukul orang berkali-kali. Cahaya panggung sedikit demi sedikit kembali netral. Perempuan itu menjatuhkan kepalanya diatas meja. Kemudian menegakkan kepalanya secara perlahan-lahan seiring dengan suara orang yang melantunkan tahrim dari sebuah masjid yang jauh.)
Jam berapa ini? Ya Tuhan betapa cepat waktu berlalu. Hidupku tidak berubah pula. Jika ini semacam ujian yang harus kutempuh dengan tangan dan kaki berdarah-darah, maka aku jalani semua ini dengan kesabaran tanpa batas.
Ya Allah yang maha pemurah. Jika semua ini adalah siksa dariMu. Semoga apa yang kualami di bumi ini menjadi tebusan bagi kehidupan di akherat kelak yang lebih baik dari apa yang aku alami hari ini.
SELESAI
Subscribe to:
Posts (Atom)