Laporan Komnas HAM Tentang Kasus Tanjung Priok
I. PENGANTAR
Laporan ini disusun untuk memenuhi permintaan Kejaksaan Agung Republik Indonesia kepada Komnas HAM melalui surat Nomor : R-29/E/7/2000 tanggal 11 Juli 2000 untuk melengkapi hasil penyelidikan KP3T mengenai hal-hal sebagai berikut:
-Pemastian jumlah korban (24 orang) dengan melakukan kegiatan penggalian kuburan dan pemeriksaan dokumen di RSPAD Gatot Subroto
-Kelengkapan kesaksian dan bukti tentang jatuhnya korban sebanyak 9 orang (keluarga Tan Keu Lim ) oleh massa.
-Nama-nama yang diduga pelaku dan nama penanggung jawab garis komando ketika peristiwa itu terjadi.
-Perumusan ulang rekomendasi.
Untuk itu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam rapat paripurna tanggal 12 Juli 2000 telah memutuskan untuk membentuk Tim Tindak Lanjut Hasil KP3T yang dilaksanakan dengan Surat Keputusan Ketua Komnas HAM Nomor : 012/KOMNAS HAM/VII/2000 tanggal 12 Juli 2000 dengan masa tugas selama 3 (tiga) bulan dari tanggal 12 Juli 2000 sampai dengan 12 Oktober 2000.
II. LATAR BELAKANG dan PERISTIWA
Kejadian berawal dari ditahannya empat orang, masing-masing bernama Achmad Sahi, Syafwan Sulaeman, Syarifuddin Rambe dan M. Nur, yang diduga terlibat pembakaran sepeda motor Babinsa. Mereka ditangkap oleh Polres Jakarta Utara, dan kemudian di bon dan ditahan di Kodim Jakarta Utara.
Pada tanggal 12 September 1984, diadakan tabligh akbar di Jalan Sindang oleh, Amir Biki, salah seorang tokoh masyarakat setempat, di dalam ceramahnya menuntut pada aparat keamanan untuk membebaskan empat orang jemaah Mushola As Sa’adah yang ditahan.
Setelah mengetahui keempat orang tersebut belum dibebaskan pada pukul 23.00, 12 september 1984, Amir Biki mengerahkan massa ke kantor Kodim Jakarta Utara dan Polsek Koja.
Massa yang bergerak ke arah Kodim, di depan Polres Metro Jakarta Utara, dihadang oleh satu regu Arhanud yang dipimpin Sersan Dua Sutrisno Mascung di bawah komando Kapten Sriyanto, Pasi II Ops. Kodim Jakarta Utara. Situasi berkembang sampai terjadi penembakan yang menimbulkan korban sebanyak 79 orang yang terdiri dari korban luka sebanyak 55 orang dan meninggal 24 orang.
1. KORBAN KE RUMAH SAKIT
Dari tempat kejadian, korban diangkut ke RSPAD Gatot Subroto dengan menggunakan truk yang sebelumnya digunakan untuk membawa pasukan. Beberapa korban yang sementara dirawat di Rumah Sakit Koja dan Rumah Sakit Suka Mulia kemudian dievakuasi ke RSPAD Gatot Subroto, sesuai dengan perintah dari Mayjen Try Soetrisno, Pangdam V Jaya yang datang ke tempat kejadian bersama Jenderal LB. Moerdani, Pangab/Pangkopkamtib.
Dari BAP petugas RSPAD Gatot Subroto didapatkan keterangan sebagai berikut:
-Jumlah korban luka yang dirawat adalah 36 orang semuanya dapat disembuhkan. Jumlah korban luka yang diberi pengobatan tetapi tidak dirawat adalah 19 orang.
-Jumlah korban meninggal adalah 23 orang terdiri dari 9 orang dapat dikenali identitasnya dan 14 orang tidak diketahui identitasnya yang dapat dikategorikan sebagai orang hilang.
-Identitas dari 9 jenasah tersebut adalah Amir Biki, Zainal Amran, Kasmoro bin Ji’an, M. Romli, Andi Samsu, Tukimin, Kastori, M. Sidik, Kembar Abdul Kohar.
- Pada tanggal 13 September 1984 dini hari Jenderal LB. Moerdani, Pangab/Pangkopkamtib dan Mayjen Try Soetrisno, Pangdam V Jaya mengunjungi RSPAD Gatot Subroto untuk melihat keadaan korban. Try Soetrisno memerintahkan untuk menguburkan para korban.
2. DARI RSPAD GATOT SOEBROTO KE PEMAKAMAN DAN PENAHANAN
Seluruh korban luka yang dirawat di RSPAD Gatot Subroto setelah sembuh langsung ditahan di Kodim Jakarta Pusat, Laksusda V Jaya, Pomdam V Jaya dan Rumah Tahanan Militer Cimanggis. Selama dalam penahanan, para korban mengalami penyiksaan.
Salah satu korban tewas yakni Amir Biki diambil oleh keluarga pada dini hari tanggal 13 September 1984 yang selanjutnya dimakamkan di halaman Masjid Al A’raaf, Sukapura, Jakarta Utara. Sementara itu, ke-22 korban lainnya dimakamkan pada malam hari, tanggal 13 September 1984 di Mengkok, Pondok Ranggon dan Condet. Satu korban lainnya bernama Mardani diketemukan oleh massa kemudian diserahkan kepada keluarganya dan dikuburkan di pemakaman Dobo, Jakarta Utara.
III. BUKTI BARU BERKAITAN DENGAN KORBAN MENINGGAL DALAM PERISTIWA TANJUNG PRIOK
1. PROSES DAN HASIL PENGGALIAN
Penggalian pada TPU Mengkok Sukapura langsung dilakukan pada makam-makam yang sudah teridentifikasi melalui nama yang tertera di batu nisan dan keterangan keluarga korban. Makam Kembar Abdul Kohar akhirnya ditemukan, namun makam Kastori dan M. Sidik tidak ditemukan.
Di Pemakaman Wakaf Kramat Ganceng, Pondok Ranggon, Jakarta Timur, terdapat 8 makam yang masing-masing berisi satu kerangka, berbeda dengan keterangan awal dari Rohisdam dan Try Soetrisno bahwa yang dikuburkan adalah tujuh orang korban.
Penggalian di TPU Gedong, Condet, Jakarta Timur tidak dapat dilaksanakan, karena tidak ada bukti dan saksi pendukung yang dapat menunjukkan titik letak kuburan dengan pasti.
2. TEMUAN FORENSIK MENGENAI TANDA KEKERASAN DAN SEBAB KEMATIAN
Penilaian keadaan tulang belulang, termasuk penilaian garis-patah lama dan baru, serta pengujian laboratorium atas bercak pewarnaan kehitaman pada tulang-tulang tersebut telah dapat mengidentifikasi cedera tulang yang diakibatkan oleh kekerasan yang terjadi perimortal. Pada jenis patah tulang yang spesifik dan didukung oleh hasil pemeriksaan kandungan elemen-elemen yang berasal dari senjata api pada garis patah tulang atau kerokan tulang pada daerah cedera tersebut, telah dapat mengindikasikan adanya cedera tulang yang diakibatkan oleh senjata api.
Setidaknya 6 korban (4 dari Mengkok dan 2 dari Kramat Ganceng) dapat dipastikan telah memperoleh kekerasan dalam bentuk tembakan senjata api, dengan ciri yang sesuai dengan tembakan senjata api berkecepatan tinggi. Selain itu, terdapat 3 kasus yang mengalami kekerasan, namun jenis kekerasannya tidak dapat dipastikan apakah akibat kekerasan tumpul yang hebat ataukah tembakan senjata api dengan kecepatan tinggi. Terdapat pula 5 kerangka yang memiliki jejas bukan patah tulang yang diduga akibat kekerasan, sehingga tidak ada satu kerangka pun yang tidak menunjukkan kemungkinan adanya kekerasan.
Pemeriksaan dan analisis yang teliti dapat disimpulkan bahwa empat kerangka dipastikan mati akibat tembakan senjata api, tiga kerangka mati akibat kekerasan tumpul atau tembakan senjata api, satu kerangka mati akibat kekerasan tumpul, dan enam lainnya tidak dapat dipastikan penyebab kematiannya.
c. KESAKSIAN KELUARGA KORBAN TAN KEU LIM
Delapan orang keluarga Tan Keu Lim beserta satu orang pembantunya tewas terbakar di rumah. Mengenai hal tersebut telah diperoleh kesaksian dan bukti-bukti baru berupa satu buah Kartu Keluarga milik keluarga Tan Keu Lim (terlampir) serta kesaksian ketua RT 001/007 Kelurahan Koja Selatan Jakarta Utara dan kesaksian dari keluarga Tan Keu Lim yang masih hidup.
d. PEMERIKSAAN DOKUMEN RSPAD GATOT SUBROTO
Rekaman medik korban Tanjung Priok dinyatakan telah dimusnahkan oleh pihak RSPAD Gatot Subroto karena telah memenuhi batas waktu lima tahun. Namun berita acara pemusnahan dokumen dimaksud tidak dapat diberikan oleh pihak RSPAD Gatot Subroto dengan alasan tidak dapat ditemukan lagi.
IV. PELAKU DAN PENANGGUNG JAWAB
Regu yang melakukan penembakan dipimpin oleh Serda Sutrisno Mascung. Regu ini adalah bagian dari peleton yang dipimpin oleh Kapten Sriyanto dan berada di bawah perintah Dandim Jakarta Utara. Sedangkan Dandim tersebut berada dibawah perintah Pangdam V Jaya, yang selanjutnya berada dibawah perintah Panglima ABRI.
Mengacu kepada prinsip-prinsip command responbility, maka ada dua aspek tindakan yang diabaikan aparat militer sebagai pelaku dan penanggung jawab peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia di Tanjung Priok, yakni aspek secara langsung melakukan tindakan yang tidak mematuhi prosedur baku sebagaimana peristiwa yang terjadi di lapangan dan tidak diambilnya tindakan-tindakan yang dapat mencegah terjadinya peristiwa tersebut, sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya berdasarkan jabatan yang diembannya sebagai komandan sesuai dengan jenjang komando.
Aspek yang pertama itu menyangkut antara lain sikap dan tindakan dengan menghilangkan barang bukti, melakukan penyiksaan-penyiksaan, serta sejumlah tindakan teror serta intimidasi terhadap para korbannya. Sedangkan aspek yang kedua antara lain menyangkut kelalaian aparat yang tidak dapat mengendalikan pasukannya.
V. KATEGORI PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA YANG TERJADI
1. Pembunuhan secara kilat (summary killing)
Tindakan pembunuhan secara kilat (summary killing) terjadi di depan Mapolres Metro Jakarta Utara tanggal 12 September 1984 pkl 23.00 akibat penggunaan kekerasan yang berlebihan dari yang sepatutnya terhadap kelompok massa oleh satu regu pasukan dari Kodim Jakarta Utara dibawah pimpinan Serda Sutrisno Mascung dengan senjata semi otomatis. Para anggota pasukan masing-masing membawa peluru yang diambil dari gudang masing-masing sekitar 5-10 peluru tajam. Atas tindakan ini jatuh korban 24 orang tewas, 54 luka berat dan ringan. Atas perintah Mayjen Try Soetrisno Pangdam V Jaya korban kemudian dibawa dengan tiga truk ke RSPAD Gatot Subroto.
2. Penangkapan dan penahanan sewenang-wenang (unlawful arrest and detention)
Setelah peristiwa, aparat TNI melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai mempunyai hubungan dengan peristiwa Tanjung Priok. Korban diambil di rumah atau ditangkap disekitar lokasi penembakan. Semua korban sekitar 160 orang ditangkap tanpa prosedur dan surat perintah penangkapan dari yang berwenang. Keluarga korban juga tidak diberitahu atau diberi tembusan surat perintah penahanan. Para korban ditahan di Laksusda Jaya Kramat V, Mapomdam Guntur dan RTM Cimanggis.
3. Penyiksaan (Torture)
Semua korban yang ditahan di Laksusda Jaya, Kodim, Guntur dan RTM Cimanggis mengalami penyiksaan, intimidasi dan teror dari aparat. Bentuk penyiksaan antara lain dipukul dengan popor senjata, ditendang, dipukul dan lain-lain.
4. Penghilangan orang secara paksa (Enforced or involuntary disappearance)
Penghilangan orang ini terjadi dalam tiga tahap, pertama; menyembunyikan identitas dan jumlah korban yang tewas dari publik dan keluarganya. Hal itu terlihat dari cara penguburan yang dilakukan secara diam-diam ditempat terpencil, terpisah-pisah dan dilakukan di malam hari. Lokasi penguburan juga tidak dibuat tanda-tanda, sehingga sulit untuk diketahui. Kedua; menyembunyikan korban dengan cara melarang keluarga korban untuk melihat kondisi dan keberadaan korban selama dalam perawatan dan penahanan aparat. Ketiga adalah merusak dan memusnahkan barang bukti dan keterangan serta identitas korban. Akibat tindakan penggelapan identitas dan barang bukti tersebut sulit untuk mengetahui keberadaan dan jumlah korban yang sebenarnya secara pasti.
VI. KESIMPULAN
Dari uraian tersebut diatas maka dapat ditarik kesimpulan :
1. Tentang jumlah korban
Pemastian jumlah korban pembunuhan secara kilat sebanyak 24 orang dilakukan dengan penggalian kuburan, pemeriksaan dokumen RSPAD Gatot Subroto dan usaha mencari saksi-saksi tambahan.
Dari hasil penggalian di TPU Mengkok, Sukapura dan Pemakaman Kramat Ganceng, Pondok Ranggon dapat ditarik kesimpulan bahwa keterangan jumlah korban yang telah dikuburkan di halaman Masjid Al A’raaf, bekas makam Dobo, TPU Mengkok, Kramat Ganceng, Pondok Ranggon dan TPU Gedong, Condet sebanyak 24 orang kemungkinan besar benar adanya, walaupun ada selisih jumlah korban yang dimakamkan di Pondok Ranggon.
Jumlah yang pasti dari korban tak dapat diberikan kualifikasi final, karena RSPAD Gatot Subroto akhirnya mengakui bahwa dokumen Berita Acara Pemusnahan Dokumen korban peristiwa Tanjung Priok tidak ditemukan. Sedangkan informasi lain tentang adanya korban jiwa selain 24 orang tidak dapat diklarifikasi karena tidak ditemukan bukti dan saksi tambahan.
Korban terbakar
Keluarga Tan Keu Lim (9 orang) di Apotik Tanjung yang sekaligus merupakan tempat tinggal korban meninggal karena tidak dapat menyelamatkan diri dari kebakaran Apotik Tanjung. Kebakaran ini diduga keras dilakukan oleh rombongan massa yang bergerak ke arah Polsek Koja.
2. Tentang nama para pelaku dan penanggungjawab yang diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
Pelaku atas seluruh pelanggaran tersebut diatas bisa dilihat dalam tiga kategori.
Pertama adalah pelaku di lapangan yang menggunakan kekerasan yang berlebihan sehingga jatuh korban meninggal dan luka-luka. Mereka yang melakukan penyiksaan kepada korban yang masih hidup.
Kedua adalah penanggung jawab komando operasional yaitu komandan yang membawahi teritorial di tingkat Kodim dan Polres tidak mampu mengantisipasi keadaan dan mengendalikan pasukan sehingga terjadi tindakan summary killing, tindakan penyiksaan dan terlibat aktif dalam penghilangan barang bukti dan identitas korban serta membiarkan terjadinya penyiksaan-penyiksaan dalam tahanan, dan memerintahkan penguburan tanpa prosedur resmi.
Ketiga adalah para pemegang komando yang tidak mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya pelanggaran berat hak asasi manusia dan atau memerintahkan secara langsung satu tindakan yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut
Dengan tiga kategori pelaku dan atau penanggungjawab di atas maka dalam pelanggaran hak asasi manusia di Tanjung Priok ini diduga terlibat terutama tapi tidak terbatas pada nama-nama dibawah ini:
Dari Satuan Arhanud Tanjung Priok :
Serda Sutrisno Mascung
Pratu Yajit
Prada Siswoyo
Prada Asrori
Prada Kartijo
Prada Zulfata
Prada Muhson
Prada Abdul Halim
Prada Sofyan Hadi
Prada Parnu
Prada Winarko
Prada Idrus
Prada Sumitro
Prada Prayogi
Dari Jajaran Kodim Jakarta Utara :
Letkol. RA. Butar-Butar, Dandim Jakarta Utara
Kapten Sriyanto, Pasi II Ops. Kodim Jakarta Utara
Dari Jajaran Kodam V Jaya :
Mayjen TNI Try Soetrisno, Pangdam V Jaya
Kol. CPM Pranowo, Kapomdam V Jaya
Kapten Auha Kusin, BA, Rohisdam V Jaya
Kapten Mattaoni, BA, Rohisdam V Jaya
Dari Jajaran Mabes TNI AD :
Brigjen TNI Dr. Soemardi, Kepala RSPAD Gatot Soebroto
Mayor TNI Darminto, Bagpam RSPAD GATOT SOEBROTO
Dari Mabes ABRI :
Jenderal TNI L. Benny Moerdani, Panglima ABRI / Pangkopkamtib
Telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia atas keluarga Tan Keu
Lim walaupun belum didapatkan bukti pendukung untuk menyebut siapa nama mereka.
Tentang rekomendasi
a. Para Pelaku dan penanggung jawab yang diduga telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia berat harus dimintakan pertanggungjawaban sesuai dengan hukum yang berlaku.
b. Untuk mewujudkan tanggungjawab negara khususnya pemerintah terhadap korban pelanggaran hak asasi manusia, maka :
Pemerintah meminta maaf terhadap korban/keluarga korban dan masyarakat luas atas terjadinya Peristiwa Tanjung Priok.
Merehabilitasi nama baik para korban
Memberikan kompensasi yang layak kepada korban/keluarga korban
Korban yang sampai sekarang belum berhasil ditemukan harus tetap dinyatakan sebagai orang hilang. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab negara untuk menemukan korban dan mengembalikannya kepada keluarga yang bersangkutan.
Untuk mencegah keterulangan (non-recurence) pelanggaran hak asasi manusia seperti dalam Peristiwa Tanjung Priok di masa depan maka berbagai kebijakan dan tindakan harus diambil untuk :
Meningkatkan profesionalisme anggota TNI dari jajaran pimpinan sampai anggota dengan pangkat terendah, melalui pendidikan dan latihan termasuk bidang hak asasi manusia.
Meningkatkan pengawasan yang intensip terhadap pelaksanaan instruksi dan prosedur tetap pelaksanaan tugas TNI yang menjunjung tinggi penghormatan hak asasi manusia.
Dengan sungguh-sungguh melakukan penertiban atas kewajiban-kewajiban pejabat publik atas dokumen dan arsip yang menyangkut kepentingan publik.
Mengajak masyarakat meninggalkan praktek-praktek penggunaan kekerasan dalam memperjuangkan aspirasi politik.
Menata kembali wacana kehidupan keagamaan, sehingga ajaran agama benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam, dan terjaminnya rasa aman dan bebas bagi seluruh umat beragama melaksanakan ibadahnya.
Jakarta, 11 Oktober 2000
TIM TINDAK LANJUT HASIL KOMISI PENYELIDIK DAN PEMERIKSAAN
PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA DI TANJUNG PRIOK
DRS. KOESPARMONO IRSAN, SH, MM, MBA
Ketua
S A M S U D I N
Anggota
DR. SAAFROEDIN BAHAR
Anggota
Sumber: Komnas HAM
Source:
http://74.125.155.132/search?q=cache%3AKjsqOhNSO4cJ%3Awww.kontras.org%2Ftpriok%2Fdata%2FKomnas%2520HAM%2520tentang%2520Kasus%2520Tanjung%2520Priok.doc+tanjung+priok+ham&cd=2&hl=en&ct=clnk&gl=au
Friday, 12 November 2010
Saatnya Komnas HAM selidiki ’petrus’
Saatnya Komnas HAM selidiki ’petrus’
SEBAGAI seseorang yang pernah menjadi target kebijakan penembakan misterius (’’petrus”) pada 1980-an, Bathi Mulyono (60) mengaku masih sangat terluka bila mengingat masamasa kelam tersebut.
’’Bayangkan, bahkan ada orang yang ditembak pada Hari Raya Idul Fitri. Padahal, Lebaran seharusnya adalah saat-saat seseorang berkumpul dengan anggota keluarganya yang lain,” kata Bathi.
Lelaki asal Jawa Tengah itu mengaku mengetahui dirinya menjadi target setelah rumahnya dan rumah orang tuanya pernah digerebek oleh sejumlah petugas pada 1983. Saat itu ia menjabat sebagai ketua perhimpunan eks narapidana Fajar Menyingsing wilayah Jawa Tengah dan DIY.
Setelah sadar dijadikan target, ia mengaku sempat melarikan diri hingga ke sejumlah negara luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan, Bathi juga tidak sempat melihat perkembangan anaknya yang dilahirkan bersamaan dengan saat lelaki yang akrab dipanggil BM itu melarikan diri dari kejaran para pelaku ’’petrus”.
Namun, Bathi dan anaknya yang kini berusia 25 tahun, Lita, telah bertemu kembali. Lita kini menjadi seorang biduan yang telah merilis album berjudul ’’Tirai Kelahiran 1983”, yang lagu-lagunya banyak mengupas kekelaman masa lalunya terutama yang terkait dengan ’’petrus”.
Peluncuran album itu dilakukan di Kantor Komnas HAM pada 15 Juli 2008, yang dihadiri oleh sejumlah aktivis seperti Ketua Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid dan istri dari pejuang HAM Munir, Suciwati.
Peluncuran album tersebut memiliki momen yang pas karena pada saat ini, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memulai penyelidikan terhadap kasus ’’petrus”, yang dimulai sejak Juli 2008.
Ketua Tim Adhoc Peristiwa ’’Petrus” 1981-1983, Yosep Adi Prasetyo mengatakan, pada zaman Orba, ’’petrus” merupakan sebuah jalan pintas yang digunakan pemerintah untuk mengurangi angka kejahatan.
Caranya, lanjut Yosep, dengan mengeksekusi mati sejumlah orang dengan cara menembak mereka yang dituduh sebagai preman dan membiarkan mayatnya tergeletak di jalanan. Kebanyakan dari mereka umumnya dijumpai masyarakat dalam keadaan mengenaskan.
Selain ’’petrus”, ujar Yosep, terdapat pula istilah lainnya yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut antara lain ’’matius’ (mayat misterius) dan ’’hilarius” (orang hilang misterius).
Ia juga memaparkan, sebagian korban sebelum ditembak mengalami penyiksaan yang sangat berat, seperti ada korban yang ditemukan dengan dua tembakan di kepala dan kepalanya patah menghadap belakang serta di lehernya terdapat bekas jeratan tali.
Kasus penembakan misterius ini mendapat perhatian dari sejumlah organisasi internasional, termasuk dari Menteri Luar Negeri Belanda Hans van Broek yang pada 4 Januari 1984 melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Diperkirakan jumlah korban ’’petrus” memperkirakan mencapai angka ribuan.
Sementara itu, Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan, penyelidikan terhadap kasus ’’petrus” yang terjadi di Tanah Air pada 1980-an juga bermanfaat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia yang skeptis terhadap hukum dan sistem peradilan. Guna mengembalikan kepercayaan kepada hukum, perlu menyelidiki kembali apa yang terjadi dengan operasi ’petrus’ tersebut.
Menurut dia, penyelidikan kasus tersebut oleh Komnas HAM bukanlah dalam rangka membalas dendam, tetapi untuk mengungkapkan akar kesalahannya agar tidak terulang kembali di masa mendatang. Ifdhal menuturkan, kini sudah saatnya bagi seluruh anggota masyarakat untuk tidak menyetujui operasi-operasi pembersihan preman semacam ’’petrus”.
Ia menyesalkan masih terdapat sejumlah anggota masyarakat yang masih main hakim sendiri dan melontarkan kata-kata seperti ’’bunuh saja, tidak usah ke pengadilan” bila mereka menemui penjahat yang tertangkap basah.
Untuk itu, ujar Ifdhal, langkah serius yang harus dilakukan agar operasi semacam ’’petrus” tidak muncul lagi di tengah masyarakat adalah dengan menguatkan sistem hukum pidana di Indonesia.
Masih rahasia
Mengenai tindakan penyelidikan yang akan dilakukan, Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM Hesti Armiwulan mengatakan, pihaknya masih merahasiakan berbagai rincian prioritas menyangkut hal tersebut.
Namun, ujar dia, secara garis besar penyelidikan akan dilakukan antara lain dengan meminta keterangan para saksi atau memanggil sejumlah orang yang berkaitan dengan kasus ’’petrus”.
Ia menuturkan, Komnas HAM kemungkinan besar juga akan memanggil sejumlah pejabat yang terindikasi memiliki kaitan dengan kasus ’’petrus” yang telah menyebabkan banyak orang tewas ditembak pada paruh awal dari dekade 1980-an itu. Bisa juga pihaknya mencari bukti dengan mengotopsi kembali jenazah para korban.
Selain itu, Komnas HAM juga akan melakukan dialog intensif dengan Kejaksaan Agung agar kedua instansi tersebut dapat menemukan kebenaran dalam peristiwa ’’petrus” pada zaman Orba.
Hesti menuturkan, dialog intensif ini harus dilaksanakan agar dua institusi tersebut dapat lebih mengungkapkan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu. Selain dengan Kejagung, ujar dia, pihak lainnya yang kemungkinan akan diajak berdialog terkait dengan kasus ’’petrus”, antara lain DPR .
Mengenai masih banyaknya hasil penyelidikan kasus pelanggaran HAM yang belum memuaskan bagi sebagian anggota masyarakat, menurut dia, Komnas HAM tidak akan mundur karena telah berkomitmen untuk mengungkapkan berbagai tindak pelanggaran HAM. ’’Komnas HAM telah mendapatkan mandat dari undang-undang dan komitmen dari negara yang harus dihormati,” kata Hesti.
Menanggapi langkah dari Komnas HAM untuk menyelidiki kasus ’’petrus”, Bathi mendesak Komnas HAM agar benar-benar menunjukkan kegigihannya dalam mengusut tuntas kasus tersebut. ’’Sekarang saya ingin melihat seberapa jauh Komnas HAM punya kesungguhan dan kegigihan dalam mengungkap kasus ’petrus’,” kata Bathi.
Hesti mengatakan, pihaknya tidak berniat sedikitpun untuk menjadikan hasil penyelidikan dari Tim Adhoc Peristiwa ’’Petrus” 1981-1983 hanya semata-mata menjadi semacam kajian. ’’Kami bertekad untuk mengungkapkan kebenaran dari peristiwa tersebut,” katanya. ant-hf
Source:
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=24610&Itemid=62
SEBAGAI seseorang yang pernah menjadi target kebijakan penembakan misterius (’’petrus”) pada 1980-an, Bathi Mulyono (60) mengaku masih sangat terluka bila mengingat masamasa kelam tersebut.
’’Bayangkan, bahkan ada orang yang ditembak pada Hari Raya Idul Fitri. Padahal, Lebaran seharusnya adalah saat-saat seseorang berkumpul dengan anggota keluarganya yang lain,” kata Bathi.
Lelaki asal Jawa Tengah itu mengaku mengetahui dirinya menjadi target setelah rumahnya dan rumah orang tuanya pernah digerebek oleh sejumlah petugas pada 1983. Saat itu ia menjabat sebagai ketua perhimpunan eks narapidana Fajar Menyingsing wilayah Jawa Tengah dan DIY.
Setelah sadar dijadikan target, ia mengaku sempat melarikan diri hingga ke sejumlah negara luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan, Bathi juga tidak sempat melihat perkembangan anaknya yang dilahirkan bersamaan dengan saat lelaki yang akrab dipanggil BM itu melarikan diri dari kejaran para pelaku ’’petrus”.
Namun, Bathi dan anaknya yang kini berusia 25 tahun, Lita, telah bertemu kembali. Lita kini menjadi seorang biduan yang telah merilis album berjudul ’’Tirai Kelahiran 1983”, yang lagu-lagunya banyak mengupas kekelaman masa lalunya terutama yang terkait dengan ’’petrus”.
Peluncuran album itu dilakukan di Kantor Komnas HAM pada 15 Juli 2008, yang dihadiri oleh sejumlah aktivis seperti Ketua Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid dan istri dari pejuang HAM Munir, Suciwati.
Peluncuran album tersebut memiliki momen yang pas karena pada saat ini, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memulai penyelidikan terhadap kasus ’’petrus”, yang dimulai sejak Juli 2008.
Ketua Tim Adhoc Peristiwa ’’Petrus” 1981-1983, Yosep Adi Prasetyo mengatakan, pada zaman Orba, ’’petrus” merupakan sebuah jalan pintas yang digunakan pemerintah untuk mengurangi angka kejahatan.
Caranya, lanjut Yosep, dengan mengeksekusi mati sejumlah orang dengan cara menembak mereka yang dituduh sebagai preman dan membiarkan mayatnya tergeletak di jalanan. Kebanyakan dari mereka umumnya dijumpai masyarakat dalam keadaan mengenaskan.
Selain ’’petrus”, ujar Yosep, terdapat pula istilah lainnya yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut antara lain ’’matius’ (mayat misterius) dan ’’hilarius” (orang hilang misterius).
Ia juga memaparkan, sebagian korban sebelum ditembak mengalami penyiksaan yang sangat berat, seperti ada korban yang ditemukan dengan dua tembakan di kepala dan kepalanya patah menghadap belakang serta di lehernya terdapat bekas jeratan tali.
Kasus penembakan misterius ini mendapat perhatian dari sejumlah organisasi internasional, termasuk dari Menteri Luar Negeri Belanda Hans van Broek yang pada 4 Januari 1984 melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Diperkirakan jumlah korban ’’petrus” memperkirakan mencapai angka ribuan.
Sementara itu, Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan, penyelidikan terhadap kasus ’’petrus” yang terjadi di Tanah Air pada 1980-an juga bermanfaat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia yang skeptis terhadap hukum dan sistem peradilan. Guna mengembalikan kepercayaan kepada hukum, perlu menyelidiki kembali apa yang terjadi dengan operasi ’petrus’ tersebut.
Menurut dia, penyelidikan kasus tersebut oleh Komnas HAM bukanlah dalam rangka membalas dendam, tetapi untuk mengungkapkan akar kesalahannya agar tidak terulang kembali di masa mendatang. Ifdhal menuturkan, kini sudah saatnya bagi seluruh anggota masyarakat untuk tidak menyetujui operasi-operasi pembersihan preman semacam ’’petrus”.
Ia menyesalkan masih terdapat sejumlah anggota masyarakat yang masih main hakim sendiri dan melontarkan kata-kata seperti ’’bunuh saja, tidak usah ke pengadilan” bila mereka menemui penjahat yang tertangkap basah.
Untuk itu, ujar Ifdhal, langkah serius yang harus dilakukan agar operasi semacam ’’petrus” tidak muncul lagi di tengah masyarakat adalah dengan menguatkan sistem hukum pidana di Indonesia.
Masih rahasia
Mengenai tindakan penyelidikan yang akan dilakukan, Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM Hesti Armiwulan mengatakan, pihaknya masih merahasiakan berbagai rincian prioritas menyangkut hal tersebut.
Namun, ujar dia, secara garis besar penyelidikan akan dilakukan antara lain dengan meminta keterangan para saksi atau memanggil sejumlah orang yang berkaitan dengan kasus ’’petrus”.
Ia menuturkan, Komnas HAM kemungkinan besar juga akan memanggil sejumlah pejabat yang terindikasi memiliki kaitan dengan kasus ’’petrus” yang telah menyebabkan banyak orang tewas ditembak pada paruh awal dari dekade 1980-an itu. Bisa juga pihaknya mencari bukti dengan mengotopsi kembali jenazah para korban.
Selain itu, Komnas HAM juga akan melakukan dialog intensif dengan Kejaksaan Agung agar kedua instansi tersebut dapat menemukan kebenaran dalam peristiwa ’’petrus” pada zaman Orba.
Hesti menuturkan, dialog intensif ini harus dilaksanakan agar dua institusi tersebut dapat lebih mengungkapkan berbagai pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu. Selain dengan Kejagung, ujar dia, pihak lainnya yang kemungkinan akan diajak berdialog terkait dengan kasus ’’petrus”, antara lain DPR .
Mengenai masih banyaknya hasil penyelidikan kasus pelanggaran HAM yang belum memuaskan bagi sebagian anggota masyarakat, menurut dia, Komnas HAM tidak akan mundur karena telah berkomitmen untuk mengungkapkan berbagai tindak pelanggaran HAM. ’’Komnas HAM telah mendapatkan mandat dari undang-undang dan komitmen dari negara yang harus dihormati,” kata Hesti.
Menanggapi langkah dari Komnas HAM untuk menyelidiki kasus ’’petrus”, Bathi mendesak Komnas HAM agar benar-benar menunjukkan kegigihannya dalam mengusut tuntas kasus tersebut. ’’Sekarang saya ingin melihat seberapa jauh Komnas HAM punya kesungguhan dan kegigihan dalam mengungkap kasus ’petrus’,” kata Bathi.
Hesti mengatakan, pihaknya tidak berniat sedikitpun untuk menjadikan hasil penyelidikan dari Tim Adhoc Peristiwa ’’Petrus” 1981-1983 hanya semata-mata menjadi semacam kajian. ’’Kami bertekad untuk mengungkapkan kebenaran dari peristiwa tersebut,” katanya. ant-hf
Source:
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=24610&Itemid=62
Petrus, sisi kelam pemerintahan Soeharto (1)
Petrus, sisi kelam pemerintahan Soeharto (1)
Mayat sengaja dibuang di tempat
PAGI itu, di pinggir Jalan Jenderal Sudirman Semarang seputar kawasan perumahan Cakrawala Semarang, tak jauh dari pompa bensin (kini sudah gulung tikar, red), ramai orang berkerumun. Mereka mengelilingi sebuah karung goni tergeletak di antara lalat-lalat hijau. Bagian atas karung tidak terikat, dan menyembul wajah pucat menyeringai. Sesosok mayat pria muda telanjang dada dan penuh tato terlihat. Orang-orang bergunjing. Ini adalah mayat kali kesekian yang ditemukan tergeletak di tepi jalan.
Beberapa hari kemudian, di kawasan Jalan Hasanudin juga didapati mayat dengan kondisi serupa. Tetapi tidak terbungkus. Tergeletak begitu saja, di bawah tiang listrik. Wajahnya juga menyeringai seperti menahan takut dan sakit yang amat sangat. Mereka menamakan pria-pria malang itu sebagai korban petrus (penembak misterius).
Hampir tiap pagi orang menjumpai mayat seperti itu. Hampir seluruh korban adalah pria bertato, dan belakangan diketahui mereka adalah yang dikenal sebagai bromocorah, gali, preman, dan segolongan mereka. Para korban sebagian besar tewas karena ditembak, tetapi sebagian yang lain mati tercekik, atau terjerat lehernya. Bahkan cerita dari mulut ke mulut lebih sadis dari itu. Para korban ada yang disergap di tengah jalan. Tapi tak jarang mereka dieksekusi di depan anak-istri mereka. Jika ditangkap di depan khalayak, mereka dibawa ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian ia disuruh berlari, dan ... dorr!
’Pesan’
Banyak mayat para korban seakan-akan sengaja diletakkan di tempat ramai, seolah menjadi ”pesan” kepada para preman dan penjahat untuk tidak macam-macam lagi.
Tak ayal kondisi ini membuat kelompok hitam, atau bahkan siapa saja yang di tubuhnya terdapat tato amat cemas, menunggu ”Kapan giliran saya?”. Beberapa di antara mereka berusaha menghilang sejauh mungkin, atau melenyapkan tato di tubuhnya.
”Pada suatu tengah malam, ketika kami sedang ngobrol, datang sebuah mobil. Lalu dari dalam mobil itu berhamburan 4-5 orang. Kami kalang kabut menyelamatkan diri berlarian ke sawah. Besoknya saya dapat kabar Mas Ripto ditemukan tewas. Di lehernya seperti ada bekas jeratan.” Begitulah tutur seorang warga Tawangsari.
Ripto pada masanya dikenal sebagai pimpinan sebuah geng. Dia amat disegani, bahkan ditakuti bersama (waktu itu) kelompok Kisromi dari kawasan Krobokan. Reputasi di dunia hitam menempatkannya pada target Petrus. Kabar tewas
nya Ripto membuat rekan-rekannya terpencarpencar menyelamatkan diri. Begitu juga dengan mereka yang merasa memiliki catatan di dunia hitam. Misalnya Wagiman seorang tukang copet terminal.
"Wah, saya betul-betul takut. Waktu Petrus mulai dulu, saya baru saja berumur 18 tahun. Saya sudah dua tahun "kerja" waktu itu. Karena kata orang yang dicari-cari itu yang bertato, tato di tangan dan di punggung saya, saya setrika. Karena masih khawatir juga, saya lari ke Riau dan sembunyi di kampung- kampung di sana selama empat tahun. Baru sesudah agak aman saya kembali lagi ke sini, dan mulai lagi ‘kerja". Habis bagaimana lagi! Saya perlu makan. Jadi, terpaksa yaa kerja copet ini saja. Saya biasa beroperasi di terminal dan dalam bus rute Semarang - Yogyakarta. Masak orang kayak saya ini yang ditembak. Kalau mau ditembak, ya ..., koruptor-koruptor itulah!" Trauma Berapa sebenarnya angka korban petrus? Sulit mencari data resmi karena ini operasi tertutup.
Beberapa orang menyebut, Petrus yang berlangsung tahun 1983-1985 memakan korban 5.000 orang. Namun ada pula yang menyebut angka 10.000 orang.
Petrus tak hanya menjadi horor bagi mereka yang masuk daftar golongan hitam. Keluarga mereka pun tak urung dilanda ketakutan dan trauma sepanjang hidup mereka. Ini juga yang diakui oleh Lita BM. Wanita asal Semarang putri dari Bathi Mulyono.
Bathi adalah pimpinan para mantan narapidana yang tergabung dalam organisasi Fajar Menyingsing. Dia lolos dari incaran Petrus, dan sempat menghilang beberapa tahun. Hilangnya Bathi ini menyisakan pengalaman traumatik bagi Lita.
"Aku salah satu korban operasi Petrus itu. Ayahku hilang dalam tragedi berdarah yang sampai sekarang tak pernah terungkap itu," kata Lita.
Untuk mengungkapkan perasaan gundahnya, Lita yang juga penyanyi ini kemudian merilis sebuah album berjudul Tirai Kelahiran "83.
Lita mengaku tidak ingin mencari keadilan dengan meluncurkan album ini, namun ia berharap sebagai aktualisasi diri saja. Kalaulah ada nilainya, sekadar sebagai pengingat agar tidak terjadi lagi peristiwa pembunuhan massal seperti itu lagi.
"Harapanku, apa yang terjadi padaku tidak terjadi pada orang lain. Jujur saja, sangat menyakitkan. Aku hanya bisa sampaikan lewat lagu apa yang aku rasakan sejak kecil," tutur Lita yang sempat ditempa olah vokal oleh Uci dari Elfa"s, kepribadian dengan aktor Didi Petet, dan Shahnaz Haque.
Jika biasanya launching dan promo dilakukan di sebuah kafe atau restauran, Lita melantunkan lagu-lagunya dengan karaoke di sebuah demonstrasi massa. Di depan Istana Merdeka lagi. Hal itu berlangsung Kamis (24/1) siang lalu, di tengah-tengah demonstrasi para korban kemanusiaan kejahatan rezim Orde Baru, yang dikoordinasi Kontras. Demo itu antara lain menyuarakan kasus Semanggi, pembunuhan Munir, Penembakan Misterius (Petrus), peristiwa Tanjung Priok dll, bersamasama mahasiswa dan LSM. Ema/Abs-Ct
Source:
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17516&Itemid=28
Mayat sengaja dibuang di tempat
PAGI itu, di pinggir Jalan Jenderal Sudirman Semarang seputar kawasan perumahan Cakrawala Semarang, tak jauh dari pompa bensin (kini sudah gulung tikar, red), ramai orang berkerumun. Mereka mengelilingi sebuah karung goni tergeletak di antara lalat-lalat hijau. Bagian atas karung tidak terikat, dan menyembul wajah pucat menyeringai. Sesosok mayat pria muda telanjang dada dan penuh tato terlihat. Orang-orang bergunjing. Ini adalah mayat kali kesekian yang ditemukan tergeletak di tepi jalan.
Beberapa hari kemudian, di kawasan Jalan Hasanudin juga didapati mayat dengan kondisi serupa. Tetapi tidak terbungkus. Tergeletak begitu saja, di bawah tiang listrik. Wajahnya juga menyeringai seperti menahan takut dan sakit yang amat sangat. Mereka menamakan pria-pria malang itu sebagai korban petrus (penembak misterius).
Hampir tiap pagi orang menjumpai mayat seperti itu. Hampir seluruh korban adalah pria bertato, dan belakangan diketahui mereka adalah yang dikenal sebagai bromocorah, gali, preman, dan segolongan mereka. Para korban sebagian besar tewas karena ditembak, tetapi sebagian yang lain mati tercekik, atau terjerat lehernya. Bahkan cerita dari mulut ke mulut lebih sadis dari itu. Para korban ada yang disergap di tengah jalan. Tapi tak jarang mereka dieksekusi di depan anak-istri mereka. Jika ditangkap di depan khalayak, mereka dibawa ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian ia disuruh berlari, dan ... dorr!
’Pesan’
Banyak mayat para korban seakan-akan sengaja diletakkan di tempat ramai, seolah menjadi ”pesan” kepada para preman dan penjahat untuk tidak macam-macam lagi.
Tak ayal kondisi ini membuat kelompok hitam, atau bahkan siapa saja yang di tubuhnya terdapat tato amat cemas, menunggu ”Kapan giliran saya?”. Beberapa di antara mereka berusaha menghilang sejauh mungkin, atau melenyapkan tato di tubuhnya.
”Pada suatu tengah malam, ketika kami sedang ngobrol, datang sebuah mobil. Lalu dari dalam mobil itu berhamburan 4-5 orang. Kami kalang kabut menyelamatkan diri berlarian ke sawah. Besoknya saya dapat kabar Mas Ripto ditemukan tewas. Di lehernya seperti ada bekas jeratan.” Begitulah tutur seorang warga Tawangsari.
Ripto pada masanya dikenal sebagai pimpinan sebuah geng. Dia amat disegani, bahkan ditakuti bersama (waktu itu) kelompok Kisromi dari kawasan Krobokan. Reputasi di dunia hitam menempatkannya pada target Petrus. Kabar tewas
nya Ripto membuat rekan-rekannya terpencarpencar menyelamatkan diri. Begitu juga dengan mereka yang merasa memiliki catatan di dunia hitam. Misalnya Wagiman seorang tukang copet terminal.
"Wah, saya betul-betul takut. Waktu Petrus mulai dulu, saya baru saja berumur 18 tahun. Saya sudah dua tahun "kerja" waktu itu. Karena kata orang yang dicari-cari itu yang bertato, tato di tangan dan di punggung saya, saya setrika. Karena masih khawatir juga, saya lari ke Riau dan sembunyi di kampung- kampung di sana selama empat tahun. Baru sesudah agak aman saya kembali lagi ke sini, dan mulai lagi ‘kerja". Habis bagaimana lagi! Saya perlu makan. Jadi, terpaksa yaa kerja copet ini saja. Saya biasa beroperasi di terminal dan dalam bus rute Semarang - Yogyakarta. Masak orang kayak saya ini yang ditembak. Kalau mau ditembak, ya ..., koruptor-koruptor itulah!" Trauma Berapa sebenarnya angka korban petrus? Sulit mencari data resmi karena ini operasi tertutup.
Beberapa orang menyebut, Petrus yang berlangsung tahun 1983-1985 memakan korban 5.000 orang. Namun ada pula yang menyebut angka 10.000 orang.
Petrus tak hanya menjadi horor bagi mereka yang masuk daftar golongan hitam. Keluarga mereka pun tak urung dilanda ketakutan dan trauma sepanjang hidup mereka. Ini juga yang diakui oleh Lita BM. Wanita asal Semarang putri dari Bathi Mulyono.
Bathi adalah pimpinan para mantan narapidana yang tergabung dalam organisasi Fajar Menyingsing. Dia lolos dari incaran Petrus, dan sempat menghilang beberapa tahun. Hilangnya Bathi ini menyisakan pengalaman traumatik bagi Lita.
"Aku salah satu korban operasi Petrus itu. Ayahku hilang dalam tragedi berdarah yang sampai sekarang tak pernah terungkap itu," kata Lita.
Untuk mengungkapkan perasaan gundahnya, Lita yang juga penyanyi ini kemudian merilis sebuah album berjudul Tirai Kelahiran "83.
Lita mengaku tidak ingin mencari keadilan dengan meluncurkan album ini, namun ia berharap sebagai aktualisasi diri saja. Kalaulah ada nilainya, sekadar sebagai pengingat agar tidak terjadi lagi peristiwa pembunuhan massal seperti itu lagi.
"Harapanku, apa yang terjadi padaku tidak terjadi pada orang lain. Jujur saja, sangat menyakitkan. Aku hanya bisa sampaikan lewat lagu apa yang aku rasakan sejak kecil," tutur Lita yang sempat ditempa olah vokal oleh Uci dari Elfa"s, kepribadian dengan aktor Didi Petet, dan Shahnaz Haque.
Jika biasanya launching dan promo dilakukan di sebuah kafe atau restauran, Lita melantunkan lagu-lagunya dengan karaoke di sebuah demonstrasi massa. Di depan Istana Merdeka lagi. Hal itu berlangsung Kamis (24/1) siang lalu, di tengah-tengah demonstrasi para korban kemanusiaan kejahatan rezim Orde Baru, yang dikoordinasi Kontras. Demo itu antara lain menyuarakan kasus Semanggi, pembunuhan Munir, Penembakan Misterius (Petrus), peristiwa Tanjung Priok dll, bersamasama mahasiswa dan LSM. Ema/Abs-Ct
Source:
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17516&Itemid=28
Petrus, sisi kelam pemerintah Soeharto (2-Habis)
Petrus, sisi kelam pemerintah Soeharto (2-Habis)
Habisi penjahat dekil hingga mesin politik
BENARKAH Soeharto dalang di balik Petrus? Dalam dokumen yang dimiliki Kon¬¬tras, Petrus berawal dari operasi pe¬nang¬gulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng¬har¬gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keber¬ha¬silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat.
Pada Maret tahun yang sama, di hadap¬an Rapim ABRI (sekarang TNI), Soehar¬to meminta polisi dan ABRI mengambil lang¬kah pemberantasan yang efektif me¬ne¬kan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982.
Permintaannya ini disambut oleh Pang¬¬¬kopkamtib Laksamana Soedomo da¬lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja¬ya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja¬ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma¬sing-masing kota dan provinsi lainnya.
Operasi Clurit yang notabene sama de¬ngan Petrus ini memang signifikan, untuk tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan.
Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di an¬¬taranya 15 orang tewas ditembak. Ta¬hun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di an¬taranya tewas ditembak. Para korban Pe¬trus sendiri saat ditemukan masyarakat da¬lam kondisi tangan dan lehernya te¬ri¬kat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la¬ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa¬ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke¬amanan.
Mesin politik
Menarik menyimak ucapan yang di¬lon¬tarkan Bathi Mulyono yang akrab di¬sapa BM. Mantan pimpinan Fajar Me¬nying¬sing, organisasi eks bromocorah yang eksis di Jawa Tengah sebelum tragedi penembakan misterius (Petrus) 1983. Me¬nurut BM yang pernah terlibat dalam ber¬bagai operasi politik, Petrus bukan ha¬nya ditujukan bagi penjahat kerah dekil se¬mata, tapi juga menghabisi mesin politik partai yang berkuasa waktu itu setelah se¬lesai dimanfaatkan. Istilahnya habis ma¬nis sepah dibuang!
Soal penanganan terhadap penjahat, BM yang selama 1,5 tahun sembunyi di hu¬tan Gunung Lawu sepakat dengan per¬nyataan mantan Wapres Adam Malik, ja¬ngan mentang-mentang penjahat kerah dekil langsung ditembak, bila perlu diadili hari ini langsung besoknya dieksekusi ma¬ti. Jadi syarat sebagai negara hukum su¬dah terpenuhi. Adam Malik mengingat¬kan, setiap usaha yang bertentangan de¬ngan hukum akan membawa negara ini pa¬da kehancuran. (Sinar Harapan, 25 Juli 1983)
Masalah Petrus waktu itu memang jadi berita hangat, ada yang pro dan kontra, baik dari kalangan hukum, politisi sampai pe¬megang kekuasaan. Petrus pertama kali
dilancarkan di Yogyakarta dan diakui terus terang Dandim 0734 Letkol CZI M Hasbi (kini Wakil Ketua DPRD Jateng, red) sebagai operasi pembersihan para gali (Kompas, 6 April 1983). Hasbi menyebutkan, landasan hukum operasi yang ditanganinya adalah Operasi Clurit. Sedang landasan pelaksanaannya adalah tingkat keresahan masyarakat. (Kompas, 15 April 1983). Pengakuan operasi ini juga dikemukakan Panglima Kowilhan II Jawa-Madura Letjen TNI Yogie S Memet yang punya rencana mengembangkannya. (Kompas, 30 April 1983). Akhirnya gebrakan itu dilanjutkan di berbagai kota lain, hanya saja dilaksanakan secara tertutup.
Kadapol IX/Jateng Mayjen (Pol) Montolalu di Semarang menegaskan, aparat keamanan bertekad menurunkan angka kejahatan, walaupun harus ditempuh dengan berbagai cara yang lunak sampai tindakan keras. Selama tiga bulan operasi penumpasan kejahatan di Semarang dan Solo, polisi berhasil menangkap 1.091 penjahat. Di antaranya 29 orang tewas tertembak dan empat lainnya tewas dikeroyok massa yang menangkap. (Kompas, 23 Juni 1983).
Jika di Yogyakarta dan Jateng ada "pengakuan " operasi pemberantasan kejahatan, tapi di daerah lain tidak diakui. Contohnya, Pangdam V Jaya/Pangkopkamtibda Mayjen TNI Try Sutrisno bersama Deputy Kapolri Letjen Pol Drs Pamudji dan Kadapol Metro Jaya, Mayjen Pol Drs R Soedjoko selesai pertemuan mengatakan di wilayah hukum Laksusda Jaya tidak ada penembakan misterius. "Yang menyebut ada penembakan misterius hanyalah media massa sendiri," ujarnya. (Sinar Harapan dan Berita Harian Gala, 24 Juni 1983).
Sementara itu Amir Machmud, Ketua MPR/DPR selesai konsultasi dengan Presiden Soeharto di Binagraha, secara pribadi menyatakan setuju mengenai adanya penembak-penembak misterius dalam menumpas pelaku kejahatan. Demi untuk memberikan rasa aman kepada 150 juta rakyat Indonesia, tidak keberatan apabila ratusan orang pelaku kejahatan harus dikorbankan. (Sinar Harapan, 21 Juli 1983).
"Penjahat mati misterius tidak perlu dipersoalkan, " kata Kepala BAKIN Yoga Sugama selesai melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha. Diungkapkan adanya surat Amnesti Internasional, yang katanya mempersoalkan iniitu, termasuk penjahat terbunuh di Indonesia. "Ini merupakan kepentingan yang lebih besar daripada mempersoalkan penjahat yang mati misterius, dan persoalan-persoalan asas yang dipermasalahkan," tambahnya. (Berita Harian Gala, 25 Juli 1983).
Lain lagi pendapat Wakil Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) Ali Murtopo, yang mengatakan penembakan misterius yang terjadi selama ini "dapat" dipertanggungjawabkan dan itu justru menurut ketentuanketentuan yang berlaku di dalam pelaksanaan tugas Hankam. "Saya melihat sistem konvensional ini sudah tidak bisa mengatasi masalah kriminal yang terjadi di Indonesia, maka ini harus diambil satu pertimbangan, kriminalitas dibasmi atau tidak. Jadi keputusannya dibasmi demi kepentingan rakyat," kata Ali Murtopo bersama pimpinan DPA M Panggabean, Wakil Ketua HJ Naro dan Sapardjo setelah konsultasi dengan Presiden Soeharto di Bina Graha (Sinar Harapan, 28 Juli 1983).
Tentu saja ada pandangan yang tidak setuju operasi semacam Petrus. Wakil Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan (FKP: fraksinya Golkar, red) Oka Mahendra SH menanggapi soal masalah "gali" mengatakan, sedikitnya ada empat aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek keamanan, sosial, ekonomi dan politik. "Memang aspek keamanan lebih menonjol, tapi tidak berarti aspek lainnya dapat ditinggalkan! Untuk itu para petugas keamanan agar tidak hanya terpukau pada aspek yang menonjol itu saja, tapi harus mendalami keseluruhan permasalahannya, " kata anggota dewan yang membawahi masalah Depdagri (Kompas, 16 April 1983).
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Adnan Buyung Nasution SH menyatakan, jika usaha pemberantasan kejahatan dilakukan hanya dengan main tembak tanpa melalui proses pengadilan maka hal itu tidak menjamin adanya kepastian hukum dan keadilan. Padahal kedua masalah tersebut merupakan tuntutan hakiki yang diperjuangkan orang sejak zaman Romawi Kuno. Jika cara-cara seperti itu terus dilakukan maka lebih baik lembaga pengadilan dibubarkan saja. "Jika ada pejabat apapun pangkatnya dan kedudukannya, mengatakan tindakan main dor-doran itu benar, saya tetap mengatakan hal itu adalah salah," tegas Buyung. (Sinar Harapan, 6 Mei 1983).
"Sekalipun mereka penjahat, namun sebagai manusia berhak mendapat keadilan melalui lembaga peradilan. Dan menembak ditempat, walaupun oleh petugas Negara, jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan," kata Ketua Yayasan LBH (Sinar Harapan, 14 Mei 1983).
Jika sekarang muncul tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi Petrus, siapa yang harus bertanggung jawab? "Jadi menurut saya, tidak ada prajurit yang salah. Semua tanggung jawab di pundak pimpinan. Siapa? Soeharto! Itu sesuai pengakuannya dalam buku biografi berjudul Soeharto, Pikiran dan Tindakan Saya hasil wawancara Ramadhan KH dan G Dwipayana, tegas Bathi Mulyono yang tak ada tato satu pun di tubuhnya. Ema/Abs-sn
Source:
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17594&Itemid=28
Habisi penjahat dekil hingga mesin politik
BENARKAH Soeharto dalang di balik Petrus? Dalam dokumen yang dimiliki Kon¬¬tras, Petrus berawal dari operasi pe¬nang¬gulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng¬har¬gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keber¬ha¬silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat.
Pada Maret tahun yang sama, di hadap¬an Rapim ABRI (sekarang TNI), Soehar¬to meminta polisi dan ABRI mengambil lang¬kah pemberantasan yang efektif me¬ne¬kan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982.
Permintaannya ini disambut oleh Pang¬¬¬kopkamtib Laksamana Soedomo da¬lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja¬ya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja¬ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma¬sing-masing kota dan provinsi lainnya.
Operasi Clurit yang notabene sama de¬ngan Petrus ini memang signifikan, untuk tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan.
Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di an¬¬taranya 15 orang tewas ditembak. Ta¬hun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di an¬taranya tewas ditembak. Para korban Pe¬trus sendiri saat ditemukan masyarakat da¬lam kondisi tangan dan lehernya te¬ri¬kat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, la¬ut, hutan dan kebun. Pola pengambilan pa¬ra korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat ke¬amanan.
Mesin politik
Menarik menyimak ucapan yang di¬lon¬tarkan Bathi Mulyono yang akrab di¬sapa BM. Mantan pimpinan Fajar Me¬nying¬sing, organisasi eks bromocorah yang eksis di Jawa Tengah sebelum tragedi penembakan misterius (Petrus) 1983. Me¬nurut BM yang pernah terlibat dalam ber¬bagai operasi politik, Petrus bukan ha¬nya ditujukan bagi penjahat kerah dekil se¬mata, tapi juga menghabisi mesin politik partai yang berkuasa waktu itu setelah se¬lesai dimanfaatkan. Istilahnya habis ma¬nis sepah dibuang!
Soal penanganan terhadap penjahat, BM yang selama 1,5 tahun sembunyi di hu¬tan Gunung Lawu sepakat dengan per¬nyataan mantan Wapres Adam Malik, ja¬ngan mentang-mentang penjahat kerah dekil langsung ditembak, bila perlu diadili hari ini langsung besoknya dieksekusi ma¬ti. Jadi syarat sebagai negara hukum su¬dah terpenuhi. Adam Malik mengingat¬kan, setiap usaha yang bertentangan de¬ngan hukum akan membawa negara ini pa¬da kehancuran. (Sinar Harapan, 25 Juli 1983)
Masalah Petrus waktu itu memang jadi berita hangat, ada yang pro dan kontra, baik dari kalangan hukum, politisi sampai pe¬megang kekuasaan. Petrus pertama kali
dilancarkan di Yogyakarta dan diakui terus terang Dandim 0734 Letkol CZI M Hasbi (kini Wakil Ketua DPRD Jateng, red) sebagai operasi pembersihan para gali (Kompas, 6 April 1983). Hasbi menyebutkan, landasan hukum operasi yang ditanganinya adalah Operasi Clurit. Sedang landasan pelaksanaannya adalah tingkat keresahan masyarakat. (Kompas, 15 April 1983). Pengakuan operasi ini juga dikemukakan Panglima Kowilhan II Jawa-Madura Letjen TNI Yogie S Memet yang punya rencana mengembangkannya. (Kompas, 30 April 1983). Akhirnya gebrakan itu dilanjutkan di berbagai kota lain, hanya saja dilaksanakan secara tertutup.
Kadapol IX/Jateng Mayjen (Pol) Montolalu di Semarang menegaskan, aparat keamanan bertekad menurunkan angka kejahatan, walaupun harus ditempuh dengan berbagai cara yang lunak sampai tindakan keras. Selama tiga bulan operasi penumpasan kejahatan di Semarang dan Solo, polisi berhasil menangkap 1.091 penjahat. Di antaranya 29 orang tewas tertembak dan empat lainnya tewas dikeroyok massa yang menangkap. (Kompas, 23 Juni 1983).
Jika di Yogyakarta dan Jateng ada "pengakuan " operasi pemberantasan kejahatan, tapi di daerah lain tidak diakui. Contohnya, Pangdam V Jaya/Pangkopkamtibda Mayjen TNI Try Sutrisno bersama Deputy Kapolri Letjen Pol Drs Pamudji dan Kadapol Metro Jaya, Mayjen Pol Drs R Soedjoko selesai pertemuan mengatakan di wilayah hukum Laksusda Jaya tidak ada penembakan misterius. "Yang menyebut ada penembakan misterius hanyalah media massa sendiri," ujarnya. (Sinar Harapan dan Berita Harian Gala, 24 Juni 1983).
Sementara itu Amir Machmud, Ketua MPR/DPR selesai konsultasi dengan Presiden Soeharto di Binagraha, secara pribadi menyatakan setuju mengenai adanya penembak-penembak misterius dalam menumpas pelaku kejahatan. Demi untuk memberikan rasa aman kepada 150 juta rakyat Indonesia, tidak keberatan apabila ratusan orang pelaku kejahatan harus dikorbankan. (Sinar Harapan, 21 Juli 1983).
"Penjahat mati misterius tidak perlu dipersoalkan, " kata Kepala BAKIN Yoga Sugama selesai melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha. Diungkapkan adanya surat Amnesti Internasional, yang katanya mempersoalkan iniitu, termasuk penjahat terbunuh di Indonesia. "Ini merupakan kepentingan yang lebih besar daripada mempersoalkan penjahat yang mati misterius, dan persoalan-persoalan asas yang dipermasalahkan," tambahnya. (Berita Harian Gala, 25 Juli 1983).
Lain lagi pendapat Wakil Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) Ali Murtopo, yang mengatakan penembakan misterius yang terjadi selama ini "dapat" dipertanggungjawabkan dan itu justru menurut ketentuanketentuan yang berlaku di dalam pelaksanaan tugas Hankam. "Saya melihat sistem konvensional ini sudah tidak bisa mengatasi masalah kriminal yang terjadi di Indonesia, maka ini harus diambil satu pertimbangan, kriminalitas dibasmi atau tidak. Jadi keputusannya dibasmi demi kepentingan rakyat," kata Ali Murtopo bersama pimpinan DPA M Panggabean, Wakil Ketua HJ Naro dan Sapardjo setelah konsultasi dengan Presiden Soeharto di Bina Graha (Sinar Harapan, 28 Juli 1983).
Tentu saja ada pandangan yang tidak setuju operasi semacam Petrus. Wakil Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan (FKP: fraksinya Golkar, red) Oka Mahendra SH menanggapi soal masalah "gali" mengatakan, sedikitnya ada empat aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek keamanan, sosial, ekonomi dan politik. "Memang aspek keamanan lebih menonjol, tapi tidak berarti aspek lainnya dapat ditinggalkan! Untuk itu para petugas keamanan agar tidak hanya terpukau pada aspek yang menonjol itu saja, tapi harus mendalami keseluruhan permasalahannya, " kata anggota dewan yang membawahi masalah Depdagri (Kompas, 16 April 1983).
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Adnan Buyung Nasution SH menyatakan, jika usaha pemberantasan kejahatan dilakukan hanya dengan main tembak tanpa melalui proses pengadilan maka hal itu tidak menjamin adanya kepastian hukum dan keadilan. Padahal kedua masalah tersebut merupakan tuntutan hakiki yang diperjuangkan orang sejak zaman Romawi Kuno. Jika cara-cara seperti itu terus dilakukan maka lebih baik lembaga pengadilan dibubarkan saja. "Jika ada pejabat apapun pangkatnya dan kedudukannya, mengatakan tindakan main dor-doran itu benar, saya tetap mengatakan hal itu adalah salah," tegas Buyung. (Sinar Harapan, 6 Mei 1983).
"Sekalipun mereka penjahat, namun sebagai manusia berhak mendapat keadilan melalui lembaga peradilan. Dan menembak ditempat, walaupun oleh petugas Negara, jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan," kata Ketua Yayasan LBH (Sinar Harapan, 14 Mei 1983).
Jika sekarang muncul tuntutan pertanggungjawaban atas tragedi Petrus, siapa yang harus bertanggung jawab? "Jadi menurut saya, tidak ada prajurit yang salah. Semua tanggung jawab di pundak pimpinan. Siapa? Soeharto! Itu sesuai pengakuannya dalam buku biografi berjudul Soeharto, Pikiran dan Tindakan Saya hasil wawancara Ramadhan KH dan G Dwipayana, tegas Bathi Mulyono yang tak ada tato satu pun di tubuhnya. Ema/Abs-sn
Source:
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17594&Itemid=28
Kisah Merak yang Sombong
Kisah Merak yang Sombong
ALKISAH di sebuah hutan, tinggallah seekor merak. Merak itu sangat indah sayapnya, sehingga binatang lain terkalahkan. Namun, merak sangat sombong. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang terindah di dunia.
Pada suatu hari, saat merak sedang berjalan-jalan, ia melihat seekor burung beo. Merak pun mulai memperlihatkan kesombongannya.
"Hai, beo! Lihatlah aku, sayapku sangat indah bukan? Rasanya akulah yang paling terindah di antara binatang lainnya. Apakah kau punya sayap indah sepertiku?" tanya merak sambil membentangkan sayapnya.
"Hai merak! Kamu memang hebat! Tapi aku tidak punya sayap seperti kau," jawab beo sambil menundukkan kepalanya.
Ketika beo selesai berbicara, tiba-tiba merak tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai beo kaget.
"Hahahahahaha.... beo, kau tidak bisa sepertiku! Kau memiliki bulu berwarna cokelat yang kotor dan kusam, sedangkan aku memiliki warna biru dengan bulatan berwarna merah dan kuning! Hahahaha...," kata merak dengan sombongnya.
"Merak, kau sangat sombong! Kau memang tidak tahu diri! Sebenarnya masih ada burung yang berwarna-warni," kata beo dengan tegas.
"Siapa dia?" tanya merak dengan kasar.
"Nuri!" jawab beo dengan tenang.
Setelah berpikir, merak mendapat akal. "Baiklah, beo, besok aku akan ke sarang burung nuri. Awas, jika kau bohong, akan kutelan kau mentah-mentah!" kata merak mengancam pada beo.
"Ayo, siapa takut? Aku berani padamu!" kata beo. Keduanya pun kembali ke sarangnya.
Keesokan harinya, merak pergi ke rumah nuri. Ia ingin tahu apakah benar ucapan beo kemarin. Pada saat ia berjalan, ia melihat sebuah pengumuman:
"Diberitahukan kepada seluruh burung penghuni hutan jati, untuk mengikuti pameran burung yang diselenggarakan lusa. Kepada yang memiliki bulu terindah akan diberikan hadiah piala emas."
"Jadi, dua hari lagi akan ada pameran burung? Aku akan ikut serta! Pasti aku yang mendapat piala emasnya! Haha...," kata merak di dalam hati.
Merak pun segera melanjutkan perjalanan ke rumah nuri. Sesampainya di rumah nuri, merak masuk tanpa permisi dan tidak melepaskan alas kakinya. Hal itu sudah biasa dilakukan merak walaupun sudah diperingati oleh nuri.
"Nuri! Aku ingin masuk! Awas!" kata merak dengan kasar.
Nuri pun segera memberi jalan. Merak masuk dan duduk di tempat tidur nuri. Tentu saja nuri menjadi marah.
"Hai, merak! Kau memang tidak tahu sopan santun! Menepilah dari tempat tidurku. Kalau kau mau duduk, sana, di tempat duduk! Lagi pula, kenapa kau mengetuk pintu keras-keras? Bukankah kau tahu bahwa anakku sedang tidur? Dan mengapa kau memakai alas kaki sampai masuk ke rumahku?" tanya nuri marah sekali.
"Lupakan soal itu, nuri! Apa kau tidak tahu, bahwa besok akan ada pameran burung?" tanya merak.
"Tentu saja aku tahu. Dan aku akan ikut serta. Pasti aku yang terpilih menjadi juara pameran burung tahun ini" jawab nuri.
"Tidak, nuri! Pasti aku!" kata merak tidak mau kalah.
"Aku!" sahut nuri.
"Aku!" kata merak lagi.
Perkelahian itu pun pecah. Mereka masing-masing ngotot bahwa mereka yang menang.
Sementara itu, bu ayam mendengar ribut-ribut di rumah nuri. Ia pun segera ke rumah nuri.
"Hei, hei! Apa-apaan ini, mengapa kalian berkelahi, ada apa?" tanya bu ayam melerai perkelahian itu.
"Aku pasti yang menang dalam pameran burung esok hari!" kata merak kepada bu ayam.
"Salah!" ujar nuri kepada bu ayam.
"Sudahlah, kita lihat besok saat lomba. Dan kau, merak, kau juga salah! Aku percaya bahwa kau tidak akan menjadi juara pameran burung! Ingat, yang menilai adalah juri dan penonton!" sahut bu ayam memutuskan.
Akhirnya mereka kembali ke sarang masing-masing. Sekarang merak tahu, apa yang dikatakan beo benar sekali. Nuri memiliki warna merah, hijau, kuning, dan biru.
Merak sabar lagi ingin menghirup kemenangan. Namun, ia masih sombong. Ia tetap berkata bahwa ia yang menang. Setelah itu, merak pun tidur.
Keesokan harinya, merak pun bangun, lalu ia segera menuju ke tempat pameran. Namun, ia kaget, karena di arena lomba sudah ada nuri, gelatik, kenari, dan pipit.
"Hai, kalian, kenapa kalian sudah ada di sini, sedangkan aku baru datang?" tanya merak.
"Kau kesiangan, pada malam hari, peserta didatangi pak kijang, untuk memberitahu bahwa lomba dimulai pagi sekali. Tapi, kamu malah tidur," jawab keempat burung itu serempak.
"Sialan, ternyata aku terlambat! Mengapa pak kijang tidak membangunkanku saat itu?" kata merak di dalam hati.
Tiba-tiba, terdengar suara, "Perhatian, perhatian, kepada peserta pameran burung diharapkan masuk ke cabang arena, karena lomba sudah dimulai." Merak berlari cepat-cepat, karena ia ingin tahu ada apa di sana. Ternyata ia dan keempat burung itu disuruh bergaya di hadapan para juri. Merak gayanya sangat aneh, yaitu berlari, kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya, tetapi ia tidak terbang. Sedangkan nuri, gelatik, kenari, dan pipit bergaya dengan gayanya masing-masing.
Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Para juri mengumumkan juaranya. Merak, nuri, pipit, dan gelatik pun berdebar-debar. "Baiklah, hasil dari lomba ini adalah, juara pertama dimenangkan oleh nuri, juara kedua dimenangkan oleh merak, dan juara ketiga dimenangkan oleh kenari. Juara harapan satu direbut oleh gelatik, juara harapan dua diraih oleh pipit"
Semua penonton bertepuk tangan. Demikian pula merak, karena saat diumumkan, ia tahu kesalahannya. Ia memberi selamat kepada nuri dan berjanji bahwa ia tidak akan sombong lagi.***
(Damar Tanjung, kelas IV SDN Sudirman 4 Cimahi Jln. Cibogo No. 80 Cimahi Selatan)
Source:
PIKIRAN RAKYAT - Kisah Merak yang Sombong.mht
ALKISAH di sebuah hutan, tinggallah seekor merak. Merak itu sangat indah sayapnya, sehingga binatang lain terkalahkan. Namun, merak sangat sombong. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang terindah di dunia.
Pada suatu hari, saat merak sedang berjalan-jalan, ia melihat seekor burung beo. Merak pun mulai memperlihatkan kesombongannya.
"Hai, beo! Lihatlah aku, sayapku sangat indah bukan? Rasanya akulah yang paling terindah di antara binatang lainnya. Apakah kau punya sayap indah sepertiku?" tanya merak sambil membentangkan sayapnya.
"Hai merak! Kamu memang hebat! Tapi aku tidak punya sayap seperti kau," jawab beo sambil menundukkan kepalanya.
Ketika beo selesai berbicara, tiba-tiba merak tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai beo kaget.
"Hahahahahaha.... beo, kau tidak bisa sepertiku! Kau memiliki bulu berwarna cokelat yang kotor dan kusam, sedangkan aku memiliki warna biru dengan bulatan berwarna merah dan kuning! Hahahaha...," kata merak dengan sombongnya.
"Merak, kau sangat sombong! Kau memang tidak tahu diri! Sebenarnya masih ada burung yang berwarna-warni," kata beo dengan tegas.
"Siapa dia?" tanya merak dengan kasar.
"Nuri!" jawab beo dengan tenang.
Setelah berpikir, merak mendapat akal. "Baiklah, beo, besok aku akan ke sarang burung nuri. Awas, jika kau bohong, akan kutelan kau mentah-mentah!" kata merak mengancam pada beo.
"Ayo, siapa takut? Aku berani padamu!" kata beo. Keduanya pun kembali ke sarangnya.
Keesokan harinya, merak pergi ke rumah nuri. Ia ingin tahu apakah benar ucapan beo kemarin. Pada saat ia berjalan, ia melihat sebuah pengumuman:
"Diberitahukan kepada seluruh burung penghuni hutan jati, untuk mengikuti pameran burung yang diselenggarakan lusa. Kepada yang memiliki bulu terindah akan diberikan hadiah piala emas."
"Jadi, dua hari lagi akan ada pameran burung? Aku akan ikut serta! Pasti aku yang mendapat piala emasnya! Haha...," kata merak di dalam hati.
Merak pun segera melanjutkan perjalanan ke rumah nuri. Sesampainya di rumah nuri, merak masuk tanpa permisi dan tidak melepaskan alas kakinya. Hal itu sudah biasa dilakukan merak walaupun sudah diperingati oleh nuri.
"Nuri! Aku ingin masuk! Awas!" kata merak dengan kasar.
Nuri pun segera memberi jalan. Merak masuk dan duduk di tempat tidur nuri. Tentu saja nuri menjadi marah.
"Hai, merak! Kau memang tidak tahu sopan santun! Menepilah dari tempat tidurku. Kalau kau mau duduk, sana, di tempat duduk! Lagi pula, kenapa kau mengetuk pintu keras-keras? Bukankah kau tahu bahwa anakku sedang tidur? Dan mengapa kau memakai alas kaki sampai masuk ke rumahku?" tanya nuri marah sekali.
"Lupakan soal itu, nuri! Apa kau tidak tahu, bahwa besok akan ada pameran burung?" tanya merak.
"Tentu saja aku tahu. Dan aku akan ikut serta. Pasti aku yang terpilih menjadi juara pameran burung tahun ini" jawab nuri.
"Tidak, nuri! Pasti aku!" kata merak tidak mau kalah.
"Aku!" sahut nuri.
"Aku!" kata merak lagi.
Perkelahian itu pun pecah. Mereka masing-masing ngotot bahwa mereka yang menang.
Sementara itu, bu ayam mendengar ribut-ribut di rumah nuri. Ia pun segera ke rumah nuri.
"Hei, hei! Apa-apaan ini, mengapa kalian berkelahi, ada apa?" tanya bu ayam melerai perkelahian itu.
"Aku pasti yang menang dalam pameran burung esok hari!" kata merak kepada bu ayam.
"Salah!" ujar nuri kepada bu ayam.
"Sudahlah, kita lihat besok saat lomba. Dan kau, merak, kau juga salah! Aku percaya bahwa kau tidak akan menjadi juara pameran burung! Ingat, yang menilai adalah juri dan penonton!" sahut bu ayam memutuskan.
Akhirnya mereka kembali ke sarang masing-masing. Sekarang merak tahu, apa yang dikatakan beo benar sekali. Nuri memiliki warna merah, hijau, kuning, dan biru.
Merak sabar lagi ingin menghirup kemenangan. Namun, ia masih sombong. Ia tetap berkata bahwa ia yang menang. Setelah itu, merak pun tidur.
Keesokan harinya, merak pun bangun, lalu ia segera menuju ke tempat pameran. Namun, ia kaget, karena di arena lomba sudah ada nuri, gelatik, kenari, dan pipit.
"Hai, kalian, kenapa kalian sudah ada di sini, sedangkan aku baru datang?" tanya merak.
"Kau kesiangan, pada malam hari, peserta didatangi pak kijang, untuk memberitahu bahwa lomba dimulai pagi sekali. Tapi, kamu malah tidur," jawab keempat burung itu serempak.
"Sialan, ternyata aku terlambat! Mengapa pak kijang tidak membangunkanku saat itu?" kata merak di dalam hati.
Tiba-tiba, terdengar suara, "Perhatian, perhatian, kepada peserta pameran burung diharapkan masuk ke cabang arena, karena lomba sudah dimulai." Merak berlari cepat-cepat, karena ia ingin tahu ada apa di sana. Ternyata ia dan keempat burung itu disuruh bergaya di hadapan para juri. Merak gayanya sangat aneh, yaitu berlari, kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya, tetapi ia tidak terbang. Sedangkan nuri, gelatik, kenari, dan pipit bergaya dengan gayanya masing-masing.
Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Para juri mengumumkan juaranya. Merak, nuri, pipit, dan gelatik pun berdebar-debar. "Baiklah, hasil dari lomba ini adalah, juara pertama dimenangkan oleh nuri, juara kedua dimenangkan oleh merak, dan juara ketiga dimenangkan oleh kenari. Juara harapan satu direbut oleh gelatik, juara harapan dua diraih oleh pipit"
Semua penonton bertepuk tangan. Demikian pula merak, karena saat diumumkan, ia tahu kesalahannya. Ia memberi selamat kepada nuri dan berjanji bahwa ia tidak akan sombong lagi.***
(Damar Tanjung, kelas IV SDN Sudirman 4 Cimahi Jln. Cibogo No. 80 Cimahi Selatan)
Source:
PIKIRAN RAKYAT - Kisah Merak yang Sombong.mht
Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik. Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak, dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.
Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya. Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar dan kebodohan yang murni.
Sekalipun demikian, setiap kali angin segar berhembus, dan harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (= sejenis tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan tumbuhan rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu, tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin.
Pernah ia bergairah memikirkan sarangnya. Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku dan hampir mengucapkan kata-kata, ‘aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.’ Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang harum itu, dan darimanakah bunyi-bunyian yang indah itu datang. Wahai kilat yang menyambar, dari perlindungan siapa engkau muncul? Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa itu kesenangan tetap tinggal di hatinya. Ah, kalau saja Laila sekali saja mengirimkan salam karunianya, meskipun diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar. Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.
Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya. . . . janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19) Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian. Kedua baris ini adalah karya seorang penyair: Kilat Ma’arra bergerak di tengah malam, ia melewati malam di Rama yang melukiskan kebosanannya. Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana (catatan: baris-baris ini berasal dari Al-Ma’arri, Siqth al-Zand. hal. 51).
Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya. Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19) Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya. (QS 100:9-11)
Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik ’syath’ yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj. Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56) Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS 50:22) Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat orang yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85) Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS 102:3-4)
(Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik. Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak, dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.
Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya. Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar dan kebodohan yang murni.
Sekalipun demikian, setiap kali angin segar berhembus, dan harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (= sejenis tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan tumbuhan rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu, tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin.
Pernah ia bergairah memikirkan sarangnya. Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku dan hampir mengucapkan kata-kata, ‘aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.’ Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang harum itu, dan darimanakah bunyi-bunyian yang indah itu datang. Wahai kilat yang menyambar, dari perlindungan siapa engkau muncul? Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa itu kesenangan tetap tinggal di hatinya. Ah, kalau saja Laila sekali saja mengirimkan salam karunianya, meskipun diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar. Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.
Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya. . . . janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19) Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian. Kedua baris ini adalah karya seorang penyair: Kilat Ma’arra bergerak di tengah malam, ia melewati malam di Rama yang melukiskan kebosanannya. Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana (catatan: baris-baris ini berasal dari Al-Ma’arri, Siqth al-Zand. hal. 51).
Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya. Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19) Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya. (QS 100:9-11)
Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik ’syath’ yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj. Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56) Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS 50:22) Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat orang yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85) Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS 102:3-4)
(Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Burung Hoopoe dan Burung Hantu
Burung Hoopoe dan Burung Hantu
Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang segala macam hal.
Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu berkata, ‘Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?’ ‘Ini mengherankan,’ kata si hoopoe, ‘Semua pekerjaan berlangsung pada siang hari.’ ‘Apakah kamu gila?’ burung-burung hantu itu bertanya. ‘Pada siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?’ ‘Justru sebaliknya,’ kata si hoopoe, ‘Semua cahaya di dunia ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya. Sesungguhnya ia dinamakan “mata dari hari,” sebab ia merupakan sumber cahaya.’
Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun dapat melihat pada siang hari. ‘Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.’
Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama lainnya, mereka berkata, ‘Burung ini berbicara tentang kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang kebutaan.’ Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya dengan memanggilnya ’si melek-siang-hari;’ sebab kebutaan pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka. ‘Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,’ mereka berkata, ‘kamu akan dibunuh!’ ‘Jika aku tidak membuat diriku buta,’ pikir si hoopoe, ‘mereka akan membunuhku.
Karena mereka merasakan kesakitan terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan terjadi secara serentak.’ Dan kemudian, diilhami oleh pepatah, ‘Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka,’ dia menutup matanya dan berkata, ‘Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.’ Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan berkata: Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana ini. Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah mengunci] bibirku dengan seribu paku.
Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, ‘Dalam diriku ada banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan terbunuh.’ Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini diyakini berasal dari ‘Ali ibn Abi Thalib). Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan segala yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan dinyatakan. (QS 27:25) Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )
(Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang segala macam hal.
Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu berkata, ‘Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?’ ‘Ini mengherankan,’ kata si hoopoe, ‘Semua pekerjaan berlangsung pada siang hari.’ ‘Apakah kamu gila?’ burung-burung hantu itu bertanya. ‘Pada siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?’ ‘Justru sebaliknya,’ kata si hoopoe, ‘Semua cahaya di dunia ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya. Sesungguhnya ia dinamakan “mata dari hari,” sebab ia merupakan sumber cahaya.’
Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun dapat melihat pada siang hari. ‘Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.’
Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama lainnya, mereka berkata, ‘Burung ini berbicara tentang kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang kebutaan.’ Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya dengan memanggilnya ’si melek-siang-hari;’ sebab kebutaan pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka. ‘Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,’ mereka berkata, ‘kamu akan dibunuh!’ ‘Jika aku tidak membuat diriku buta,’ pikir si hoopoe, ‘mereka akan membunuhku.
Karena mereka merasakan kesakitan terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan terjadi secara serentak.’ Dan kemudian, diilhami oleh pepatah, ‘Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka,’ dia menutup matanya dan berkata, ‘Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.’ Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan berkata: Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana ini. Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah mengunci] bibirku dengan seribu paku.
Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, ‘Dalam diriku ada banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan terbunuh.’ Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini diyakini berasal dari ‘Ali ibn Abi Thalib). Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan segala yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan dinyatakan. (QS 27:25) Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )
(Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Bunglon dan Kelelawar
Bunglon dan Kelelawar
Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan melampiaskan dendam.
Ketika saat yang dinantikan tiba, mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya. Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu.
Akhirnya mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak mengharapkan yang lebih baik lagi. ‘Penghukuman’ semacam itu persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan oleh Husayn Manshur, Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada dalam kematianku, dan kematianku ada dalam hidupku.
Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan keselamatan baginya. Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak! Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan Tuhannya. (QS 3:169) Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani berkata, “Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka pasti akan mati karena kecewa.” (dikutip dalam bahasa Persia ‘Aththar, Tadzkirah, hal. 282)
(Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan melampiaskan dendam.
Ketika saat yang dinantikan tiba, mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya. Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu.
Akhirnya mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak mengharapkan yang lebih baik lagi. ‘Penghukuman’ semacam itu persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan oleh Husayn Manshur, Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada dalam kematianku, dan kematianku ada dalam hidupku.
Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan keselamatan baginya. Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak! Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan Tuhannya. (QS 3:169) Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani berkata, “Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka pasti akan mati karena kecewa.” (dikutip dalam bahasa Persia ‘Aththar, Tadzkirah, hal. 282)
(Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi)
Nasehat 'Si Burung Merak'
Nasehat 'Si Burung Merak'
Ketika Hisyam bin Abdul Malik menjadi khalifah di zamannya, tersebutlah seorang tabi'in yang sangat termasyhur. Namanya Dzakwan bin Kisan yang sering dijuluki Thawus alias si Burung Merak.
Suatu hari Hisyam bin Abdul Malik datang ke Makkah untuk menunaikan haji. Saat memasuki Tanah Haram, dia berkata kepada para pemuka Makkah, "Carikan saya seorang sahabat Rasulullah SAW." Lalu para pemuka itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, para sahabat telah wafat susul-menyusul hingga tak satu pun dari mereka yang tersisa." Mendengar perkataan para pemuka Tanah Haram itu Hisyam bin Abdul Malik berkata lagi, "Kalau begitu carikan saya tabi'in."
Maka para pemuka Makkah memanggil Dzakwan bin Kisan.
Ketika menemui sang khalifah, Dzakwan bin Kisan membuka sepatunya di tepi permadani, lalu memberi salam tanpa menyebut "Wahai Amirul Mukminin". Dzakwan bin Kisan hanya menyebut namanya saja tanpa sebutan kehormatan lainnya. Sesudah itu, ia langsung duduk sebelum khalifah memberi izin dan mempersilakannya.
Hisyam sangat geram diperlakukan seperti itu, hal tersebut terlihat dari kerutan marah di wajahnya. Dia menganggap kelakuan si Burung Merak itu sudah keterlaluan dan kurang sopan. Apalagi peristiwa itu disaksikan oleh pengawal dan para pembantunya. Tapi sang khalifah sadar, ia tidak marah, karena ia sedang berada di Tanah Haram, Baitullah.
Dengan sabar sang khalifah bertanya kepada Dzakwan bin Kisan, "Mengapa Anda berbuat seperti itu wahai Dzakwan?"
Kemudian Dzakwan dengan enteng menjawab, "Lho, apa yang saya lakukan?"
Kemudian khalifah menjawab, "Anda melepas sepatu di tepi permadani saya. Anda tidak memberi salam kebesaran, hanya memanggil nama, lalu duduk sebelum saya persilakan," Mendengar kegundahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Dzakwan malah memberi nasihat dengan arif.
"Kalau soal melepas sepatu, saya melepasnya lima kali sehari di hadapan Rabb yang Maha Esa. Maka hendaknya Anda tidak gusar karena itu. Kalau soal saya tidak memberi salam kehormatan, itu karena tidak seluruh kaum muslimin berbaiat kepada Anda. Oleh karena itu saya takut dikatakan pembohong apabila memanggil Anda sebagai Amirul Mukminin. Anda tidak rela saya menyebut nama Anda tanpa gelar kebesaran, padahal Allah SWT memanggil nabi-nabinya dengan nama mereka, "Wahai Daud..., Wahai Yahya..., Wahai Musa..., Wahai Isa..., Wahai Adam...". Sedangkan persoalan bahwa saya duduk sebelum dipersilakan, itu karena saya mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata," Apabila engkau hendak melihat seorang ahli neraka, maka lihatlah pada seseorang yang duduk sedangkan orang-orang di sekelilingnya berdiri." Nah, saya tidak suka melihat Anda masuk neraka," katanya dengan enteng.
Usai memberi nasihat Dzakwan bangkit dari duduknya, lalu pergi.
Sabili No.27 Th.IX
Ketika Hisyam bin Abdul Malik menjadi khalifah di zamannya, tersebutlah seorang tabi'in yang sangat termasyhur. Namanya Dzakwan bin Kisan yang sering dijuluki Thawus alias si Burung Merak.
Suatu hari Hisyam bin Abdul Malik datang ke Makkah untuk menunaikan haji. Saat memasuki Tanah Haram, dia berkata kepada para pemuka Makkah, "Carikan saya seorang sahabat Rasulullah SAW." Lalu para pemuka itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, para sahabat telah wafat susul-menyusul hingga tak satu pun dari mereka yang tersisa." Mendengar perkataan para pemuka Tanah Haram itu Hisyam bin Abdul Malik berkata lagi, "Kalau begitu carikan saya tabi'in."
Maka para pemuka Makkah memanggil Dzakwan bin Kisan.
Ketika menemui sang khalifah, Dzakwan bin Kisan membuka sepatunya di tepi permadani, lalu memberi salam tanpa menyebut "Wahai Amirul Mukminin". Dzakwan bin Kisan hanya menyebut namanya saja tanpa sebutan kehormatan lainnya. Sesudah itu, ia langsung duduk sebelum khalifah memberi izin dan mempersilakannya.
Hisyam sangat geram diperlakukan seperti itu, hal tersebut terlihat dari kerutan marah di wajahnya. Dia menganggap kelakuan si Burung Merak itu sudah keterlaluan dan kurang sopan. Apalagi peristiwa itu disaksikan oleh pengawal dan para pembantunya. Tapi sang khalifah sadar, ia tidak marah, karena ia sedang berada di Tanah Haram, Baitullah.
Dengan sabar sang khalifah bertanya kepada Dzakwan bin Kisan, "Mengapa Anda berbuat seperti itu wahai Dzakwan?"
Kemudian Dzakwan dengan enteng menjawab, "Lho, apa yang saya lakukan?"
Kemudian khalifah menjawab, "Anda melepas sepatu di tepi permadani saya. Anda tidak memberi salam kebesaran, hanya memanggil nama, lalu duduk sebelum saya persilakan," Mendengar kegundahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Dzakwan malah memberi nasihat dengan arif.
"Kalau soal melepas sepatu, saya melepasnya lima kali sehari di hadapan Rabb yang Maha Esa. Maka hendaknya Anda tidak gusar karena itu. Kalau soal saya tidak memberi salam kehormatan, itu karena tidak seluruh kaum muslimin berbaiat kepada Anda. Oleh karena itu saya takut dikatakan pembohong apabila memanggil Anda sebagai Amirul Mukminin. Anda tidak rela saya menyebut nama Anda tanpa gelar kebesaran, padahal Allah SWT memanggil nabi-nabinya dengan nama mereka, "Wahai Daud..., Wahai Yahya..., Wahai Musa..., Wahai Isa..., Wahai Adam...". Sedangkan persoalan bahwa saya duduk sebelum dipersilakan, itu karena saya mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata," Apabila engkau hendak melihat seorang ahli neraka, maka lihatlah pada seseorang yang duduk sedangkan orang-orang di sekelilingnya berdiri." Nah, saya tidak suka melihat Anda masuk neraka," katanya dengan enteng.
Usai memberi nasihat Dzakwan bangkit dari duduknya, lalu pergi.
Sabili No.27 Th.IX
Kenapa Burung Gagak Berbulu Hitam
Kenapa Burung Gagak Berbulu Hitam
Jaman dahulu, semua bangsa burung hanya memiliki bulu-bulu berwarna putih.
Lalu di suatu musim semi bermekaranlah bunga-bunga di seluruh padang rumput,
semak-semak dan hutan.
Dunia pun menjadi berwarna-warni. Bangsa burung terlihat
sangat kontras dengan warna-warni bunga-bungaan itu. Apalagi pada musim itu,
seluruh kupu-kupu dengan sayap yang berwarna pun ikut menghiasi alam.
Seekor ayam hutan yang gagah, pada suatu pagi, membuat keributan
dengan suaranya yang lantang. "Hai teman-teman bangsa burung,
berkumpullah! Aku punya rencana yang sangat baik bagi kita semua!"
Setelah seluruh burung berkumpul, ayam hutan itu mulai berkata kepada mereka,
"Teman-teman sekalian, sudah beberapa hari ini aku mengumpulkan berbagai jenis
bunga dan buah-buah yang memiliki warna yang indah. Barangkali kita semua sudah
tahu bahwa dari seluruh binatang yang hidup, hanya kita yang memiliki warna yang
seragam yaitu putih. Kalau aku sendiri, sudah merasa bosan dengan warna putih
yang cepat kusam dan kotor ketika aku bermain-main di tanah. Nah, silakan bagi
teman-teman yang ingin mewarnai bulu-bulunya aku bersedia membagi pewarna
yang aku punyai. Ada banyak warna ; merah, kuning, hijau, biru, coklat, jingga,
ungu, dan masih banyak lagi. Silakan mengambil seperlunya."
Bangsa bangau yang lamban tidak mau mengambil satu pun pewarna yang disediakan,
mereka lebih suka melihat-lihat saja. Burung-burung kakaktua pun hanya mengamati dari
kejauhan saja. Beberapa ekor dari mereka memainkan warna hitam untuk paruh dan kaki
mereka. Beberapa ekor mengguyur tubuhnya dengan warna hitam.
Burung-burung merak dan ayam saling mengulaskan pewarna dengan rajin dan hati-hati.
Maka bulu-bulu mereka tampak mempesona.
Sementara burung-burung kenari dan bayan saling mencoba beberapa warna hingga sebagian dari mereka ada yang hijau, biru, kuning, merah atau campuran dari warna-warna itu.
Setelah itu, mereka saling memuji tentang warna-warna bulu mereka masing-masing. Burung merak paling banyak mendapat pujian tentang keindahan warna bulu-bulunya.
"Aduh, bagus sekali bulu-bulumu Merak. Aku jadi pengin mewarnai bulu-buluku seperti itu," kata burung merpati.
"Kamu tadi pakai pewarna yang mana? Aku coba juga ya?" Ujar Cenderawasih.
Di lain pihak, ada beberapa burung yang kecewa. Bebek dan angsa misalnya. Mereka mengeluhkan pewarna yang dimiliki oleh Ayam Hutan tidak tahan air. Tadinya, bebek mewarnai tubuhnya dengan warna biru muda tetapi ketika dia masuk ke dalam air, warna biru itu hilang. Angsa juga tadi sempat mencoba warna ungu. Dan warna itu luntur ketika dia masuk ke dalam air.
Burung Tukan hanya mengambil warna hitam untuk bulu-bulunya, tetapi dia ingin punya warna yang menarik untuk paruhnya. Maka dia mewarnai paruhnya dengan aneka warna.
"Wah paruhmu bagus Tukan!" Puji seekor burung robin.
"Bulu-bulumu juga bagus, Robin!" Jawab Tukan yang merasa tersanjung.
Sementara burung-burung gagak merasa bahwa dengan warna-warna itu, banyak burung yang merasa dirinya lebih baik dari burung yang lain. Maka menyerbulah mereka ke tengah-tengah pesta mewarnai itu.
"Minggirrrr semuaaa!!!" Teriak kawanan gagak bersama-sama.
Lalu dengan cepat mereka merampasi seluruh pewarna yang sedang dipergunakan oleh burung-burung itu.
"Aku ingin membuat satu warna yang lebih bagus dari warna yang kalian pergunakan!"
Mereka mulai mencampur warna hijau yang digunakan merak dengan warna merah yang tadi dipergunakan ayam hutan. Lalu menambahkan warna biru yang dipilih oleh burung rajaudang. Dan beberapa warna lainnya.
"Lihatlah! Sebentar lagi warna bulu kami lah yang paling bagus di antara kalian, sebab semua warna yang paling baik sudah kucampurkan di sini."
Satu per satu rombongan gagak mencelupkan diri pada campuran pewarna tadi. Tapi apa yang terjadi?
Ketika satu per satu dari mereka keluar dari campuran pewarna, mereka mendapati tubuh mereka berwarna hitam kusam.
Seketika itu, semua bangsa burung menertawai burung-burung gagak itu. Sejak itu lah gagak jarang sekali terbang di langit, mereka malu dengan bulunya yang hitam kusam.
Source:
http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/cerita-anak-kenapa-burung-gagak-berbulu.html
Jaman dahulu, semua bangsa burung hanya memiliki bulu-bulu berwarna putih.
Lalu di suatu musim semi bermekaranlah bunga-bunga di seluruh padang rumput,
semak-semak dan hutan.
Dunia pun menjadi berwarna-warni. Bangsa burung terlihat
sangat kontras dengan warna-warni bunga-bungaan itu. Apalagi pada musim itu,
seluruh kupu-kupu dengan sayap yang berwarna pun ikut menghiasi alam.
Seekor ayam hutan yang gagah, pada suatu pagi, membuat keributan
dengan suaranya yang lantang. "Hai teman-teman bangsa burung,
berkumpullah! Aku punya rencana yang sangat baik bagi kita semua!"
Setelah seluruh burung berkumpul, ayam hutan itu mulai berkata kepada mereka,
"Teman-teman sekalian, sudah beberapa hari ini aku mengumpulkan berbagai jenis
bunga dan buah-buah yang memiliki warna yang indah. Barangkali kita semua sudah
tahu bahwa dari seluruh binatang yang hidup, hanya kita yang memiliki warna yang
seragam yaitu putih. Kalau aku sendiri, sudah merasa bosan dengan warna putih
yang cepat kusam dan kotor ketika aku bermain-main di tanah. Nah, silakan bagi
teman-teman yang ingin mewarnai bulu-bulunya aku bersedia membagi pewarna
yang aku punyai. Ada banyak warna ; merah, kuning, hijau, biru, coklat, jingga,
ungu, dan masih banyak lagi. Silakan mengambil seperlunya."
Bangsa bangau yang lamban tidak mau mengambil satu pun pewarna yang disediakan,
mereka lebih suka melihat-lihat saja. Burung-burung kakaktua pun hanya mengamati dari
kejauhan saja. Beberapa ekor dari mereka memainkan warna hitam untuk paruh dan kaki
mereka. Beberapa ekor mengguyur tubuhnya dengan warna hitam.
Burung-burung merak dan ayam saling mengulaskan pewarna dengan rajin dan hati-hati.
Maka bulu-bulu mereka tampak mempesona.
Sementara burung-burung kenari dan bayan saling mencoba beberapa warna hingga sebagian dari mereka ada yang hijau, biru, kuning, merah atau campuran dari warna-warna itu.
Setelah itu, mereka saling memuji tentang warna-warna bulu mereka masing-masing. Burung merak paling banyak mendapat pujian tentang keindahan warna bulu-bulunya.
"Aduh, bagus sekali bulu-bulumu Merak. Aku jadi pengin mewarnai bulu-buluku seperti itu," kata burung merpati.
"Kamu tadi pakai pewarna yang mana? Aku coba juga ya?" Ujar Cenderawasih.
Di lain pihak, ada beberapa burung yang kecewa. Bebek dan angsa misalnya. Mereka mengeluhkan pewarna yang dimiliki oleh Ayam Hutan tidak tahan air. Tadinya, bebek mewarnai tubuhnya dengan warna biru muda tetapi ketika dia masuk ke dalam air, warna biru itu hilang. Angsa juga tadi sempat mencoba warna ungu. Dan warna itu luntur ketika dia masuk ke dalam air.
Burung Tukan hanya mengambil warna hitam untuk bulu-bulunya, tetapi dia ingin punya warna yang menarik untuk paruhnya. Maka dia mewarnai paruhnya dengan aneka warna.
"Wah paruhmu bagus Tukan!" Puji seekor burung robin.
"Bulu-bulumu juga bagus, Robin!" Jawab Tukan yang merasa tersanjung.
Sementara burung-burung gagak merasa bahwa dengan warna-warna itu, banyak burung yang merasa dirinya lebih baik dari burung yang lain. Maka menyerbulah mereka ke tengah-tengah pesta mewarnai itu.
"Minggirrrr semuaaa!!!" Teriak kawanan gagak bersama-sama.
Lalu dengan cepat mereka merampasi seluruh pewarna yang sedang dipergunakan oleh burung-burung itu.
"Aku ingin membuat satu warna yang lebih bagus dari warna yang kalian pergunakan!"
Mereka mulai mencampur warna hijau yang digunakan merak dengan warna merah yang tadi dipergunakan ayam hutan. Lalu menambahkan warna biru yang dipilih oleh burung rajaudang. Dan beberapa warna lainnya.
"Lihatlah! Sebentar lagi warna bulu kami lah yang paling bagus di antara kalian, sebab semua warna yang paling baik sudah kucampurkan di sini."
Satu per satu rombongan gagak mencelupkan diri pada campuran pewarna tadi. Tapi apa yang terjadi?
Ketika satu per satu dari mereka keluar dari campuran pewarna, mereka mendapati tubuh mereka berwarna hitam kusam.
Seketika itu, semua bangsa burung menertawai burung-burung gagak itu. Sejak itu lah gagak jarang sekali terbang di langit, mereka malu dengan bulunya yang hitam kusam.
Source:
http://kumcer-dedy.blogspot.com/2008/02/cerita-anak-kenapa-burung-gagak-berbulu.html
Burung Merak dari Kapur
Burung Merak dari Kapur
Alkisah, ada sebuah desa yang kering kerontang. Tak ada yang bisa bercocok tanam disitu, akibatnya para penduduk desa itu hidup miskin, termasuk seorang pemuda bernama Wisnu. Wisnu hidup seadanya bersama kedua orangtuanya.
Kadang-kadang, Wisnu suka membantu seorang pemilik kedai teh, tempat para pelancong beristirahat. Walau tidak selalu mendapatkan imbalan, tapi setiap hari Wisnu selalu diberi segelas teh yang nikmat. Wisnu senang, tapi setelah beberapa lama ia merasa malu menerimanya.
Wisnu lalu memutuskan pergi ke kota untuk merubah nasibnya. Sebelum pergi, ia memutuskan untuk memberi sedikit kenang-kenangan untuk pemilik kedai teh. Karena pandai membuat kerajinan tangan, Wisnu membuat sebuah patung burung merak dari kapur. Wisnu lalu memberikannya kepada pemilik kedai teh,"Aku terlalu miskin untuk membalas semua kebaikanmu. Hanya patung ini yang bisa kuberikan. Saat aku sudah pergi, tepukkan tanganmu tiga kali di depan patung burung merak ini dan lihatlah perubahan yang terjadi. Perlakukan patung ini dengan baik dan kau akan mendapatkan keberuntungan." Begitu ucapnya.
Pemilik kedai menerimanya dengan senang hati, walau ia tidak begitu percaya pada apa yang dikatakan Wisnu. Ia lalu hanya meletakkan patung itu di rak dalam kedainya. Berhari-hari patung itu berada di situ. Sampai suatu ketika, si pemilik kedai teringat akan pesan Wisnu. Iseng-iseng, ia mengikuti pesan itu. Ia tepukkan tangannya tiga kali.
Tiba-tiba, patung burung merak itu bergerak dan berubah menjadi burung merak sungguhan. Bulunya yang mekar indah sekali. Pemilik kedai begitu takjub, apalagi ketika ada pelancong yang singgah, burung merak itu menari dengan anggunnya. Cerita burung merak itu lalu tersebar ke penjuru desa. Dari hari kehari, makin banyak orang yang berkunjung ke kedai teh itu. Mereka semua ingin minum teh dan melihat tarian si burung merak.
Kini kedai teh itu selalu ramai dan pemasukan si pemilik kedaipun jadi semakin besar. Namun, sayangnya, demikian juga dengan sifat serakahnya. Setiap hari, si pemilik kedai selalu memaksa burung meraknya itu untuk terus menari, tanpa istirahat. Hingga, suatu hari si burung merak tidak kuat lagi dan kembali berubah menjadi patung. Si pemilik kedai mencoba mencoba menepuk tangan sampai sakit, tapi tidak terjadi apa-apa.
Beberapa hari kemudian, Wisnu kembali ke desanya dan mendengar kabar matinya burung merak yang pandai menari di kedai teh. "Ah, burung merak itu mati. Pasti karena pemilik kedai tidak merawatnya. Aku harus ke kedai itu dan mengambilnya kembali."
Wisnu lalu segera ke kedai teh lalu menemui pemiliknya,"Karena kau tidak merawat burung merak pemberianku, maka lebih baik aku saja yang merawatnya."
Wisnu mengambil patung burung merak itu. Lalu ia keluarkan seruling yang dibuatnya sendiri dan mulai memainkannya. Tiba-tiba, burung merak itu kembali hidup dan mulai menari. Namun, kali ini burung merak hanya mau menari untuk Wisnu. Wisnu dan burung merak itu lalu pergi meninggalkan desa itu dan mencari nasib yang lebih baik bersama-sama.
[Dongeng ini diambil dari 101 Folktales From India, yang ditulis oleh Eunice de Souza]
Source:
http://www.femaleradio.net/2006/index.php?pg=2&nid=1608&ct=6
Hatiku selembar daun...
Alkisah, ada sebuah desa yang kering kerontang. Tak ada yang bisa bercocok tanam disitu, akibatnya para penduduk desa itu hidup miskin, termasuk seorang pemuda bernama Wisnu. Wisnu hidup seadanya bersama kedua orangtuanya.
Kadang-kadang, Wisnu suka membantu seorang pemilik kedai teh, tempat para pelancong beristirahat. Walau tidak selalu mendapatkan imbalan, tapi setiap hari Wisnu selalu diberi segelas teh yang nikmat. Wisnu senang, tapi setelah beberapa lama ia merasa malu menerimanya.
Wisnu lalu memutuskan pergi ke kota untuk merubah nasibnya. Sebelum pergi, ia memutuskan untuk memberi sedikit kenang-kenangan untuk pemilik kedai teh. Karena pandai membuat kerajinan tangan, Wisnu membuat sebuah patung burung merak dari kapur. Wisnu lalu memberikannya kepada pemilik kedai teh,"Aku terlalu miskin untuk membalas semua kebaikanmu. Hanya patung ini yang bisa kuberikan. Saat aku sudah pergi, tepukkan tanganmu tiga kali di depan patung burung merak ini dan lihatlah perubahan yang terjadi. Perlakukan patung ini dengan baik dan kau akan mendapatkan keberuntungan." Begitu ucapnya.
Pemilik kedai menerimanya dengan senang hati, walau ia tidak begitu percaya pada apa yang dikatakan Wisnu. Ia lalu hanya meletakkan patung itu di rak dalam kedainya. Berhari-hari patung itu berada di situ. Sampai suatu ketika, si pemilik kedai teringat akan pesan Wisnu. Iseng-iseng, ia mengikuti pesan itu. Ia tepukkan tangannya tiga kali.
Tiba-tiba, patung burung merak itu bergerak dan berubah menjadi burung merak sungguhan. Bulunya yang mekar indah sekali. Pemilik kedai begitu takjub, apalagi ketika ada pelancong yang singgah, burung merak itu menari dengan anggunnya. Cerita burung merak itu lalu tersebar ke penjuru desa. Dari hari kehari, makin banyak orang yang berkunjung ke kedai teh itu. Mereka semua ingin minum teh dan melihat tarian si burung merak.
Kini kedai teh itu selalu ramai dan pemasukan si pemilik kedaipun jadi semakin besar. Namun, sayangnya, demikian juga dengan sifat serakahnya. Setiap hari, si pemilik kedai selalu memaksa burung meraknya itu untuk terus menari, tanpa istirahat. Hingga, suatu hari si burung merak tidak kuat lagi dan kembali berubah menjadi patung. Si pemilik kedai mencoba mencoba menepuk tangan sampai sakit, tapi tidak terjadi apa-apa.
Beberapa hari kemudian, Wisnu kembali ke desanya dan mendengar kabar matinya burung merak yang pandai menari di kedai teh. "Ah, burung merak itu mati. Pasti karena pemilik kedai tidak merawatnya. Aku harus ke kedai itu dan mengambilnya kembali."
Wisnu lalu segera ke kedai teh lalu menemui pemiliknya,"Karena kau tidak merawat burung merak pemberianku, maka lebih baik aku saja yang merawatnya."
Wisnu mengambil patung burung merak itu. Lalu ia keluarkan seruling yang dibuatnya sendiri dan mulai memainkannya. Tiba-tiba, burung merak itu kembali hidup dan mulai menari. Namun, kali ini burung merak hanya mau menari untuk Wisnu. Wisnu dan burung merak itu lalu pergi meninggalkan desa itu dan mencari nasib yang lebih baik bersama-sama.
[Dongeng ini diambil dari 101 Folktales From India, yang ditulis oleh Eunice de Souza]
Source:
http://www.femaleradio.net/2006/index.php?pg=2&nid=1608&ct=6
Hatiku selembar daun...
FARIDUDDIN ATHTHAR, SANG KIMIAWAN
FARIDUDDIN ATHTHAR, SANG KIMIAWAN
Seekor kera melihat sebuah cherry di dalam sebuah botol yang bening dan berniat mengambilnya. Kemudian ia memasukkan tangannya melalui leher botol dan memungut buah cherry itu. Namun sekarang ia tidak bisa mengeluarkan tangannya. Sang pemburu yang sengaja memasang perangkap tersebut kemudian mendekat. Kera yang terjerat botol itu, tidak dapat lari dan tertangkap. "Setidaknya aku dapat menggenggam buah cherry," pikir kera. Pada saat itu sang pemburu memukul siku kera dengan cepat, kemudian tangan kera terbuka, terlepas dari botol. Sekarang sang pemburu memiliki buah, botol dan kera.
(Kitab Amu-Daria)
"Meninggalkan sesuatu karena orang lain telah menyalahgunakannya mungkin suatu puncak kebodohan. Kesejatian Sufi tidak dapat dicakup dalam aturan dan peraturan, dalam doa dan ibadah -- akan tetapi secara terpisah."
Kata-kata ini, ditulis Fariduddin Sang Kimiawan, seorang pengarang dan tokoh madzhab pencerahan serta pendiri organisasi para Sufi. Ia meninggal dunia lebih seabad sebelum kelahiran Chaucer yang karya-karyanya mengacu pada Sufisme Aththar. Lebih dari seratus tahun setelah wafatnya, dasar Tarekat Garter menunjukkan kesamaan-kesamaan yang mencolok dengan Tarekat rintisannya yang hampir tidak mungkin dianggap sebagai kebetulan.
Fariduddin dilahirkan dekat Nisyapur, negeri tercinta Omar Khayyam. Ayahnya mewariskan sebuah rumah obat, karena itu nama keluarganya dan sesuai dengan gaya Sufi adalah Aththar -- Sang Kimiawan. Begitu banyak cerita tentang kehidupannya sebagian tentang mukjizatnya, sebagian lagi tentang ajarannya. Ia telah menulis seratus empat belas karya untuk para Sufi, yang terpenting tentu saja adalah Dewan Para Burung (Parliament of the Birds [Mantiquth-Thair]) dan seorang pelopor dari Pengembangan Haji (Pilgrim's Progress). Namun seperti sebuah karya Sufisme klasik dan kesusastraan Persia, Parliament ini memaparkan pengalaman-pengalaman Sufi dan kerangkanya sendiri berdasar pada tema-tema pencarian (kebenaran) dari para Sufi sebelumnya. Karya ini juga menjabarkan makna-makna yang dapat dipahami sebagai isi kesadaran Sufi.
Cerita tentang percakapan Aththar, yang digunakan para Sufi untuk menggambarkan keseimbangan antara materi dan metafislka ditulis Daulat-Shah dalam karya klasik Memoirs of the Poets (Riwayat Hidup Para Penyair). Karya ini sebenarnya bukan laporan tertulis, namun kisah alegoris. Suatu hari, ketika Aththar menjaga barang-barang dagangan di tokonya, seorang pengembara Sufi muncul di depan pintu, menatap dengan kedua matanya yang tergenang air mata. Fariduddin menyuruh laki-laki itu pergi. "Aku memang akan pergi," sambut musafir itu. "Namun aku dilarang membawa sesuatupun, bahkan jas panjang ini. Akan tetapi, apa artinya Anda dan obat-obatan Anda yang mahal itu? Anda sebaiknya memikirkan rencana Anda sendiri untuk melanjutkan perjalanan."
Peristiwa ini sangat berkesan di hati Aththar, sehingga ia meninggalkan toko dan kerjanya serta mengasingkan diri di sebuah padepokan Sufi selama periode persemedian di bawah bimbingan guru Syekh Ruknuddin. Meskipun ia banyak melakukan praktek-praktek asketik, tetap menekankan arti penting tubuh dalam sebuah pernyataannya. "Tubuh tidaklah berbeda dengan jiwa, karena tubuh adalah bagian dari jiwa. Keduanya merupakan bagian dari keseluruhan." Ajarannya tidak hanya dikandung dalam karya-karya puitisnya, namun juga dalam ritus-ritus tradisional yang dipercaya oleh para Sufi sebagai bagian ajaran-ajarannya. Pembahasan masalah ini, yaitu perpaduan antara puisi, ajaran dan "perbuatan" (amal) Sufi, akan dilakukan nanti.
Aththar adalah salah seorang Sufi yang mengetahui secara mendalam riwayat hidup para Sufi sebelumnya, dan karya prosa satu-satunya, Memoirs of the Friend (Riwayat Hidup Para Sahabat) atau Recital of the Saints (Hikayat Orang-orang Suci) dicurahkan untuk mencatat kehidupan mereka. Ia memutuskan untuk menulis kumpulan hikayat tersebut setelah meninggalkan lingkungan Sufi Ruknuddin dan pengembaraannya ke Mekkah serta tempat-tempat lainnya.
Di masa tuanya, Aththar dikunjungi jalaluddin Rumi muda dan memberikan salah satu bukunya kepada pemuda ini. Rumi kemudian semakin memperluas publikasi aspek-aspek dasar tradisi pengetahuan Sufi yang telah dilanjutkan Aththar ini. Selanjutnya Rumi membandingkan dirinya sendiri dengannya, "Aththar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kami hanya sampai di sebuah jalan tunggal."
Aththar meninggal dunia ketika sedang mengajar sebagaimana ia telah mencurahkan hidupnya untuk itu. Namun kejadian terakhir yang menimpa Aththar, menimbulkan keraguan orang tentang dirinya. Ketika pasukan Barbar menyerang Persia di bawah pimpinan jengis Khan pada tahun 1220, Aththar ditangkap, saat ia berusia seratus sepuluh tahun. Ada seorang Mongol berkata, "Jangan bunuh orang tua ini. Aku akan mengganti seribu keping uang perak sebagai tebusan untuknya." Aththar melarang penangkapnya untuk menerima penawaran itu, karena ia akan menerima harga yang lebih tinggi dari orang lain. Beberapa saat kemudian, ada orang lain yang hanya menawarnya seharga seikat jerami, "Terimalah tawaran itu!" kata Aththar. "Karena itulah hargaku yang sebenarnya."Akhirnya ia dibunuh oleh tentara Mongol yang sangat kesal dengan leluconnya itu.
Garcin de Tassy telah mengungkapkan kemiripan karya-karya roman dan petualangan Aththar dengan Roman de la Rose, yang merupakan bukti nyata pengaruh aliran romantis Sufi yang paling awal di Eropa. Sebuah karya roman berikutnya yang menunjukkan kemiripan dengan tema-tema roman Sufi adalah karya tulis Majriti dari Cordoba. Ada juga kemungkinan bahwa karya roman Sufi masuk ke Eropa Barat melalui Spanyol dan Perancis Selatan daripada anggapan melalui Syria, meskipun karangan-karangan Sufi dalam jenis sastra ini sangat kuat berpengaruh di sana. Sedang para sarjana Barat yang percaya bahwa legenda Grail masuk ke Eropa melalui tentara Perang Salib, sebenarnya hanya mendasarkan asumsinya pada sumber-sumber Syria. Bagaimanapun, Syria dan Andalusia mempunyai hubungan yang sangat kuat. Perubahan huruf "Q" menjadi "G" (Qarael Muqaddas [Hikayat Suci]) menjadi Garael Mugaddas) adalah bahasa Spanyol-Muslim, bukan bahasa Syria. De Tassy mencatat bahwa Roman de la Rose mempunyai kesamaan-kesamaan dengan dua aliran sastra Sufi, yaitu Birds and the Flowers, dan terutama dengan karya Aththar, Parliament of the Birds. Tak syak lagi, versi asli yang telah memicu munculnya versi Roman lainnya yang terkenal di Eropa itu, sudah tidak ada; dan sangat mungkin asalnya adalah versi verbal, yang disampaikan melalui pengajaran Sufi di pusat-pusat penyebaran Sufi Spanyol.
Roman Rose of Bakawali di India, lebih jelas lagi banyak mengandung perumpamaan Sufi yang paling dinamis tersebut. Parliament sendiri, selain tercantum secara terpisah-pisah dalam karya Chaucer dan lainnya, diterjemahkan dalam bahasa Perancis dan dipublikasikan di Liege pada tahun 1653, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin pada tahun 1678.
Bagian-bagian Mantiquth-Thair (Parliament of the Birds) karya Aththar, banyak disitir dalam Tarekat Khidr (yaitu St. George maupun Khidr sendiri, pelindung suci dari para Sufi, pemandu rahasia, kadangkala dianggap Elias [Ilyas]) yang masih hidup sampai saat ini. Berikut ini sebagian ucapan seremonial inisiasi (prabakti) Tarekat Khidr:
Ada yang bertanya mengapa laut berwarna biru, warna duka cita, dan mengapa laut bergelora seolah-olah ada api yang membuatnya mendidih. Kemudian dijawab, jubah biru itu menyatakan kesedihan karena berpisah dengan Sang Kekasih, "karena itu api Cinta membuatnya bergelora". Sedang warna kuning, dalam hikayat selanjutnya, adalah warna emas - unsur kimiawi Manusia Sempurna, yaitu manusia yang disepuh sampai seperti emas. Jubah permulaan Sufi terdiri dari jas biru, kerudung kepala dan pita kuning. Jika kedua warna ini dicampur akan berwarna hijau, warna permulaan dan alam, kebenaran dan keabadian. Mantiquth-Thair ditulis kira-kira seratus tujuh puluh tahun sebelum berdirinya Tarekat Garter, yang mulanya dikenal sebagai Tarekat Santo George.
Tarekat Sufi yang mana Aththar diakui sebagai pendirinya kemudian mengembangkannya, dan yang tentu saja mengandung tradisi pemusatan hati - menjalankan latihan-latihan yang bertujuan untuk menciptakan dan menjaga keselarasan para pengikutnya dengan seluruh makhluk. Ia hampir mirip dengan Tarekat-tarekat Sufisme lainnya. Tahap-tahap perkembangan Sufi itu, meskipun mungkin urutannya berbeda-beda dalam setiap individu, digambarkan dalam Mantiquth-Thair.
Burung-burung yang melambangkan manusia, semuanya dipanggil oleh burung hoopoe (burung merak), melambangkan Sufi, yang menganjurkan agar mereka segera mencari Raja mereka yang misterius, Raja ini bernama Simurgh, yang tinggal di pegunungan Kaf. Setiap burung, yang sebelumnya tertarik untuk bertemu Raja, mulai menyesalkannya karena ia sendiri (burung merak) tidak ikut serta dalam perjalanan menemui Raja tersembunyi. Setelah mendengar penyesalan itu, burung merak menjawab dengan sebuah kisah yang mengilustrasikan ketiadagunaan membeda-bedakan apa yang harus atau seharusnya dengan apa yang sebaiknya dilakukan. Syair-syair dalam ilustrasi itu banyak mengandung perumpamaan sosok Sufi dan harus dikaji secara cermat agar benar-benar dapat dipahami. Cincin Sulaiman, hakikat sosok Khidr sang Pembimbing rahasia, berbagai anekdot tentang hikmah-hikmah kuno juga ada di dalamnya.
Akhirnya si burung merak menyatakan kepada burung-burung itu bahwa mereka harus melalui tujuh lembah dalam pencarian itu. Pertama, Lembah Pencarian, tempat segala marabahaya akan mengancam dan perjalanan suci ini harus melepaskan keinginankeinginan. Kemudian Lembah Cinta, wilayah tak terbatas, tempat sang Pencari sepenuhnya dilanda rasa rindu kepada Sang Kekasih. Setelah Lembah Cinta adalah Lembah Pengetahuan Intuitif, di sini hati menerima secara langsung pencerahan dari Kebenaran dan suatu pengalaman "bertemu" Tuhan. Kemudian di Lembah Pemisahan, sang musafir akan terbebaskan dari segala hasrat dan ketergantungan.
Dalam percakapan burung merak terhadap burung bulbul, Aththar mengungkapkan ketiadagunaan puncak kegembiraan (ekstase), mistikus yang hanya menuruti percintaan itu sendiri, yang melarutkan diri mereka dalam kerinduan, yang memperturuti pengalaman ekstatik dan tidak menyentuh kehidupan manusia.
Burung bulbul yang penuh gairah itu dengan tidak tahan lagi maju ke depan. Dalam setiap siulannya yang sangat bervariasi, ia menyuarakan suatu misteri makna yang berbeda-beda. Ia mengungkapkan misteri-misteri dengan sangat mengesankan sehingga semua burung lainnya terpaku.
"Aku mengetahui rahasia-rahasia cinta," kata burung bulbul. "Sepanjang malam aku mengungkapkan rasa cintaku. Aku mengajarkan sendiri rahasia-rahasia itu. Lagu cintaku adalah ratapan seruling mistik dan kecapi. Akulah yang memekarkan bunga Mawar dan menggetarkan hati para pecinta. Dengan tiada henti aku mengajarkan misteri-misteri baru, setiap saat muncul nada-nada kesedihan baru, laksana gelombang di lautan. Siapa pun mendengarkanku lenyaplah kecerdasannya karena terpesona dan hilanglah kesadarannya. Bila aku sudah kehilangan rasa cintaku pada sang Mawar, aku meratap tiada henti ... Bila sang Mawar kembali ke dunia di musim panas, hatiku begitu suka-ria. Rahasia-rahasia cintaku tidak diketahui mereka -- namun sang Mawar mengenal mereka. Yang aku pikirkan hanya sang Mawar, yang aku rindukan hanya Mawar merah delima."
"Untuk menggapai Simurgh adalah di luar kemampuanku -- cinta pada sang Mawar sudah cukup bagi burung bulbul. Karenaku Mawar menjadi mekar ... Mungkinkah burung bulbul hidup satu malam pun tanpa Sang Kekasih?"
Burung merak berseru, "Hai ... orang yang tertinggal, yang hanya sibuk mengurusi hal-ihwal! Tinggalkanlah kesenangan yang menggiurkan itu! Mencintai Mawar hanya akan menyusahkan hatimu. Betapapun indahnya bunga Mawar, keindahannya akan lenyap dalam beberapa hari. Mencintai sesuatu yang mudah layu hanya akan menyebabkan perubahan hati Manusia Sempurna. Bila senyuman bunga Mawar telah membangkitkan gairahmu, itu hanya akan menawanmu dalam kesedihan tiada henti. Dialah yang menertawakanmu di setiap musim semi sementara ia tidak merasa sedih - tinggalkanlah bunga Mawar dan warna merahnya (yang menggairahkan) itu!"
Dalam mengulas bagian ini, seorang guru Sufi mencatat bahwa Aththar tidak hanya menyinggung orang yang berpuas diri pada pencapaian ekstase tanpa melanjutkan tahap mistis berikutnya. Namun ia juga memberi arti ekstatik yang paralel, orang yang merasakan frekuensi cinta yang tidak sempurna, dan yang, meskipun dipengaruhi oleh cinta, ia tidak punya gairah hidup dan tidak dipengaruhi olehnya sehingga kehidupan (pribadinya) benar-benar mengalami suatu perubahan: "Inilah api cinta yang mencerahkan, yang berbeda kapan pun ia timbul, yang menggairahkan, yang menghidupkan jiwa. Benih (cinta) ini terpisah dari rahimnya dan lahirlah Manusia Sempurna, yang berubah dengan suatu cara yang khas sehingga seluruh aspek kehidupannya terangkat (mulia). Ia bukan berubah dalam arti wujud yang berbeda, namun ia adalah pribadi yang utuh dan keberadaan ini bisa dianggap sebagai manusia yang penuh gairah. Setiap perilaku (hatinya) tersucikan, terangkat pada tingkat yang lebih tinggi, tergetar oleh melodi yang lebih merdu, melantunkan nada yang lebih langsung dan hidup, mempertalikan hati laki-laki dan perempuan, yang lebih mencintai dan lebih membenci. Setiap gerak hatinya menyatu dengan suatu nasib, suatu ruang yang tentram dan kokoh, menyatu dengan hal-ihwal, yang melingkupi meskipun ia hanya mengikuti bayangan substansi cinta ini, sedemikian agung sehingga dapat mencapai pengalaman yang lebih nyata."
Pengulas tersebut (Guru Adil Alimi) juga mencatat bahwa perasaan-perasaan ini tidak menarik perhatian manusia pada umumnya. Perasaan-perasaan ini "diingkari oleh kalangan materialis, ditentang para teolog, diabaikan para pecinta, ditolak para ekstatis, diterima namun disalahpahami oleh teorisi dan pengikut Sufi". "Namun," lanjutnya, "kita harus mengingat qadam ba qadam (tahap demi tahap): 'Sebelum engkau meminum cawan kelima, engkau harus meminum cawan keempat, setiap cawan sama-sama enak'."
Ia menyadari bahwa hal-ihwal, baik yang lama maupun baru, tidaklah penting. Hal-ihwal yang telah dipahami itu tidaklah bernilai, sebab sang musafir melihat dimensi-dimensi baru dalam hal-ihwal itu. Ia memahami, misalnya, perbedaan antara tradisionalisme dan realitas, yang itu adalah suatu refleksi.
Lembah kelima adalah Lembah Kemanunggalan. Di lembah ini sang Pencari memahami bahwa hal-ihwal dan gambaran-gambaran yang kelihatan berbeda baginya sebenarnya hanya satu.
Di Lembah Ketakjuban (lembah keenam); sang musafir merasakan kekaguman dan cinta. Ia tidak memahami pengetahuan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Suatu perasaan yang disebut cinta, sekarang menggantikannya.
Lembah ketujuh, yang terakhir, adalah Lembah Kematian. Di sini sang Pencari memahami misteri dan paradoks, individu yang memahami bagaimana "setetes kepribadiannya dapat bergabung dengan samudera, namun tetap mempunyai makna. Ia telah menemukan 'kedudukannya'."
Nama samaran Fariduddin adalah Aththar, Kimiawan atau Pembuat minyak wangi. Mayoritas sejarawan menduga bahwa ia mengambil kata deskriptif ini karena ayahnya mempunyai sebuah balai obat, namun menurut tradisi Sufi, "Aththar" mengandung suatu pengertian rahasia. Jika kita menggunakan metode baku pengungkapan bahasa sandi melalui sistem Abjad, yang sangat dikenal di kalangan terpelajar Arab dan Persia, Aththar dapat disulih sebagai berikut:
A (ain) = 70
Tha' = 9
Tha' = 9
Alif = 1
Ra' = 200
Huruf-huruf (dalam kata Aththar) harus disusun menurut ortografi konvensial bahasa Semit seperti di atas. Kitab Hisab al-Jamal (kitab tentang penyusunan ulang huruf dan angka) adalah bentuk paling sederhana pemakaian sistem Abjad yang banyak digunakan dalam ungkapan-ungkapan puitis. Setelah penyulihan, nilai huruf-huruf harus dijumlah (70+9+9+1+200), hasilnya 289. Untuk mengungkap suatu makna "tersembunyi" yang baru dari tiga huruf dasar itu, kita harus (sesuai prosedur baku) mengurai kembali jumlah itu dalam ratusan, puluhan dan satuan, sebagai berikut:
289 = 200, 80, 9
Ketiga angka ini dapat disesuaikan kembali:
200 = R ; 80 = F ; 9 = Th.
Kini kita tinggal mencari dalam kamus kata-kata yang berhubungan penyusunan-penyusunan tiga huruf tersebut. Di dalam kamus bahasa Arab, kata selalu ditulis menurut akar katanya (biasanya tiga huruf), sehingga hal ini mempermudah tugas kita.
Tiga huruf tersebut mungkin hanya terdiri dari kata, RFTh, RThF, FRTh, FThR dan ThFR.
Satu-satunya akar kata yang berkaitan dengan agama, makna batiniah dan rahasia adalah FThR.
Jadi "Aththar" adalah suatu kata sandi dari konsep FThR, suatu pesan tentang ajaran yang disampaikan Fariduddin.
Aththar adalah salah seorang guru Sufi terkemuka. Sebelum kita melihat implikasi akar kata FThR dalam bahasa Arab, kita dapat mengikhtisarkan gagasan-gagasannya. Sufisme adalah suatu bentuk pemikiran yang digunakan Aththar dan para penerusnya (termasuk muridnya, Rumi) menurut suatu format keagamaan, yaitu tentang pertumbuhan dan tema evolusi organis manusia. Penggarapan tema ini berhubungan dengan terbitnya fajar setelah kegelapan (malam), berbuka puasa dengan sepotong roti, dan perilaku mental serta fisik yang intensif, yang tak terencana oleh sebab suatu tanggapan terhadap dorongan-dorongan intuitif
Apakah akar kata FThR mengandung (pengertian): (1) perkumpulan-perkumpulan keagamaan; (2) hubungan antara Kristianitas dan Islam -- sebab para Sufi menandaskan bahwa mereka adalah Muslim sekaligus penganut ajaran esoteris Kristiani; (3) gagasan tentang tindakan yang cepat atau tak terencana; (4) kerendahan hati para darwis; (5) suatu dampak yang kuat (dari gagasan atau gerakan, sebagaimana diterapkan dalam madzhab-madzhab darwis untuk latihan-latihan Sufi); (6) "anggur" -- analogi puitis Sufi untuk pengalaman batin; (7) sesuatu yang mendesakkan jalan keluarnya dari kandungan alamiah?
Setiap gagasan-gagasan tersebut terkandung dalam kata-kata Arab yang diturunkan dari akar kata FThR, yang membentuk suatu gambaran eksistensi Sufi. Sekarang kita dapat memeriksa akar kata dengan ragam penggunaannya:
FaThaR = membelah, memotong sesuatu, menyelidiki, mulai, mencipta sesuatu (Tuhan).
FuThR = cendawan (yang cara pertumbuhannya melalui kekuatan membelah diri).
FaThaRa = sarapan, berbuka puasa.
ThaFaThThaR = terbelah atau pecah.
'IYD al-FiThR = Hari Raya Fitri.
FiThRah = watak dasar, rasa keagamaan, agama Islam (patuh pada kehendak Tuhan).
FaThIR = roti murni (yang tak diragi), tindakan yang tak terencana atau cepat, tergesa-gesa.
FaThIRA = suatu benda kecil, roti tersusun sebagaimana digunakan dalam suatu acara sakral.
FAThiR = Sang Pencipta.
FuThaiy Ri = manusia yang hina, kosong, tumpul.
FuThAR = sebuah benda yang karat, misalnya sebilah pedang tumpul.
Biasanya Aththar dianggap sebagai guru yang telah ikut serta menyampaikan (meneruskan) latihan Sufi yang khas, yaitu "Berhenti (sejenak)!" Latihan Menenggang Waktu. Latihan ini dilakukan ketika guru Sufi, pada waktu tertentu, memerintahkan muridnya untuk menghentikan setiap gerakan secara sempurna. Selama latihan "menenggang waktu" ini, murid akan memancarkan barakah-nya kepada orang lain. Menangguhkan semua kegiatan fisik dengan cepat adalah membiarkan kesadaran terbuka untuk menerima pengembangan mental yang khas, yang kekuatannya terpancar dari gerakan penuh tenaga.
Anehnya FThR dalam daftar kata Sufi dikembangkan menjadi QMM. Kata ini pun, jika diungkap melalui sistem notasi Abjad, menghasilkan kata QIFF - Penangguhan Ilahi. "Penangguhan" ini adalah nama yang diberikan pada latihan "Berhentilah (sejenak)!" yang hanya dilakukan seorang guru Sufi.
Makna akar kata FThR yang sekunder, yaitu cendawan, telah menimbulkan minat spekulasi. Minat ini muncul berkat prakarsa Mr. R. Gordon Wasson, yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu, ada (dan yang mengherankan hal ini masih hidup dalam beberapa wilayah) suatu kultus ekstatik yang tersebar luas dengan cara memakan cendawan-cendawan yang menimbulkan halusinasi.
Apakah akar kata FThR ini memang berhubungan dengan kultus cendawan? Ya di satu sisi, namun bukan dalam pengertian yang secara langsung diduga orang. FThR memang mengandung arti cendawan, namun bukan dalam pengertian cendawan yang menimbulkan halusinasi. Kita mempunyai dua sumber untuk menjelaskan masalah ini. Sumber pertama bahwa cendawan yang menimbulkan halusinasi dalam bahasa Arab berasal dari akar kata GHRB. Kata-kata yang diturunkan dari GHRB mengindikasikan suatu pengetahuan karena pengaruh aneh dari cendawan itu, sementara kata FThR tidak demikian:
GHaRaBa = pergi, berangkat, tumor mata.
GHaRaB = meninggalkan kampung halaman, hidup di negeri asing.
GHuRBan = kedudukan sebuah bintang, terlupakan atau terpencil.
GHaRuB = tak dikenal (kabur), sesuatu yang tak terpahami dengan jelas, asing.
GHaRaB = pergi ke Barat.
A-GHRaB = melakukan atau mengatakan hal-hal aneh atau tidak lazim, tertawa secara aneh, berlari secepat kilat, pergi ke negeri yang jauh.
ISTa-GHRaB = menemukan benda aneh, menakjubkan, tertawa berlebih-lebihan.
GHaRB = Ujung pedang, air mata dan sebagainya.
ESH al-GHuRAB = jamur payung (secara literal berarti "makanan burung gagak, kerumitan, kegelapan, keanehan").
Keterangan kedua yang menarik mengindikasikan bahwa Sufi menggunakan akar kata FThR untuk pengertian pengalaman batiniah dan bukan pengertian yang diangkat dari makna kimiawi. Keterangan ini terkandung dalam sebuah paragraf dari karya orang yang secara tepat dijuluki Mast Qalandar (secara literal berarti "darwis yang mabuk"), yang secara jelas mengomentari tentang suatu kepercayaan bahwa cendawan yang menimbulkan halusinasi itu dapat merangsang untuk mencapai suatu pengalaman mistik. Dalam hal ini ia menandaskan bahwa kepercayaan itu tidak benar.
Pertama, kita dapat membaca melalui penterjemahan literal naskah tersebut:
"Jadi Sang Pencipta, karena perkembangan semangat dan inti rasa keagamaan, menyediakan sari buah anggur untuk sarapan pagi para Pecinta (para Sufi), dan ia meninggalkan sebuah jejak (simbol) berupa kegiatan sakramental bagi orang-orang yang mempunyai pemahaman setengah-setengah. Perlu juga diketahui dan diingat bahwa Sufi yang tercerahkan jauh dari retakan atau belahan yang menipu, yaitu distorsi, dan ia mendekati perasaan ekstase (tersembunyi) yang berbeda. Ia sama sekali tidak memakan cendawan itu dan cendawan yang menimbulkan kegilaan ini tidak dikenalnya. Sarapan paginya adalah kebenaran di jalan yang tak terbelah. Akhirnya setelah menjalarnya tanaman (anggur) dan berbuah, setelah air anggur menghasilkan saripatinya dan makan sore (setelah pantangan makan), Manusia Sempurna secara aneh diperlengkapi dengan pedang yang tumpul. Akan tetapi, makanan ini bukan seperti yang mereka nyatakan ataupun apa yang tumbuh di bawah pohon. Sesungguhnya Kebenaran Ciptaan telah ditemukan, dan ekstase mungkin hanya ditemukan di dalam rahasia makanan (roti) orang yang kelaparan dan kehausan. Ia minum setelah makan. Di sini Sang Pencipta juga berperan sebagai Pengungkap."
Paragraf yang mengagumkan ini dianggap sebagai ocehan orang gila. Namun Syekh Mauji, Sufi dari Azamia, menafsirkannya dalam selembar halaman karyanya Durud (Kisah-kisah):
"Ada suatu sensasi yang merupakan gairah sejati dan bisa disebut cinta. Sensasi ini berasal dari sumber kuno dan penting bagi kemanusiaan. Tanda-tanda (simbol)nya masih ada di luar kelompok-kelompok Sufi, namun sekarang hanya dalam bentuk simbol, misalnya lambang Salib, sedang bagi kami tetap mengacu pada ajaran esoteris Yesus sendiri. Sang Pencari (kebenaran) harus ingat bahwa ada beberapa kemiripan perasaan yang menipu dan seperti kegilaan, namun bukan kegilaan yang dimaksud Sufi ketika ia membicarakannya, sebagaimana si pengarang menggunakannya dalam menggambarkan dirinya sendiri (Mast Qalandar). Dari sumber tersebut, asal-usul apa yang kita sebut saripati dari anggur yang merupakan buah dari tanamannya, hasil dari pembelahan dan pertumbuhan, akan muncul pencerahan yang sejati. Setelah suatu periode pematangan dari saripati anggur atau roti, pemisahan melalui cinta, maka muncullah kekuatan Pengungkap. Kekuatan ini adalah gizi, namun bukan gizi makanan dalam pengertian wujud apa pun seperti sebuah benda fisik biasa..."
Paragraf orisinal itu, yang kurang lebih merupakan bentuk sastra Persia, menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya berusaha dijelaskan oleh "darwis gila" itu. Paragraf itu selalu menggunakan akar kata tunggal yaitu FThR. Tidak ada terjemahan yang mungkin dapat diterapkan pada fakta puitis tersebut, karena makna akar kata ini tidak dapat dilingkupi dalam terjemahan. Oleh karena penterjemahan kata itu -- dalam kata "terbelah", "roti bersusun", "pengalaman religius" dan lainnya -- berasal dari akar kata yang berbeda, maka kita mudah sekali melalaikan makna dari sebuah kata tunggal.
Sebagai contoh: "Ya baradar; Fathir ast thafaththari fithrat wa dzati fithrat ..."
Di dalam paragraf terdiri dari seratus sebelas kata, kata-kata turunan FThR tidak lebih hanya dua puluh tiga kali! Pemakaian kata-kata turunan tersebut, meskipun bukannya tidak tepat, sangat tidak lazim (karena sebenarnya ada sebuah kata baku yang lebih tepat untuk digunakan menurut konteks itu) sehingga niscaya sebuah pesan yang disampaikan dengan mengibaratkan dampak dari reaksi kimiawi cendawan itu menunjukkan suatu pengalaman yang tak terbantah namun kabur.
--------------------------------------------------------------------------------
Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi oleh Idries Shah
Judul asli: The Sufis, Penterjemah M. Hidayatullah dan Roudlon, S.Ag.
Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Pertama Shafar 1421H, Juni 2000
Jln. Ikan Mungging XIII/1, Surabaya 60177
Telp.(031) 3539440 Fax.(031) 3529800
Seekor kera melihat sebuah cherry di dalam sebuah botol yang bening dan berniat mengambilnya. Kemudian ia memasukkan tangannya melalui leher botol dan memungut buah cherry itu. Namun sekarang ia tidak bisa mengeluarkan tangannya. Sang pemburu yang sengaja memasang perangkap tersebut kemudian mendekat. Kera yang terjerat botol itu, tidak dapat lari dan tertangkap. "Setidaknya aku dapat menggenggam buah cherry," pikir kera. Pada saat itu sang pemburu memukul siku kera dengan cepat, kemudian tangan kera terbuka, terlepas dari botol. Sekarang sang pemburu memiliki buah, botol dan kera.
(Kitab Amu-Daria)
"Meninggalkan sesuatu karena orang lain telah menyalahgunakannya mungkin suatu puncak kebodohan. Kesejatian Sufi tidak dapat dicakup dalam aturan dan peraturan, dalam doa dan ibadah -- akan tetapi secara terpisah."
Kata-kata ini, ditulis Fariduddin Sang Kimiawan, seorang pengarang dan tokoh madzhab pencerahan serta pendiri organisasi para Sufi. Ia meninggal dunia lebih seabad sebelum kelahiran Chaucer yang karya-karyanya mengacu pada Sufisme Aththar. Lebih dari seratus tahun setelah wafatnya, dasar Tarekat Garter menunjukkan kesamaan-kesamaan yang mencolok dengan Tarekat rintisannya yang hampir tidak mungkin dianggap sebagai kebetulan.
Fariduddin dilahirkan dekat Nisyapur, negeri tercinta Omar Khayyam. Ayahnya mewariskan sebuah rumah obat, karena itu nama keluarganya dan sesuai dengan gaya Sufi adalah Aththar -- Sang Kimiawan. Begitu banyak cerita tentang kehidupannya sebagian tentang mukjizatnya, sebagian lagi tentang ajarannya. Ia telah menulis seratus empat belas karya untuk para Sufi, yang terpenting tentu saja adalah Dewan Para Burung (Parliament of the Birds [Mantiquth-Thair]) dan seorang pelopor dari Pengembangan Haji (Pilgrim's Progress). Namun seperti sebuah karya Sufisme klasik dan kesusastraan Persia, Parliament ini memaparkan pengalaman-pengalaman Sufi dan kerangkanya sendiri berdasar pada tema-tema pencarian (kebenaran) dari para Sufi sebelumnya. Karya ini juga menjabarkan makna-makna yang dapat dipahami sebagai isi kesadaran Sufi.
Cerita tentang percakapan Aththar, yang digunakan para Sufi untuk menggambarkan keseimbangan antara materi dan metafislka ditulis Daulat-Shah dalam karya klasik Memoirs of the Poets (Riwayat Hidup Para Penyair). Karya ini sebenarnya bukan laporan tertulis, namun kisah alegoris. Suatu hari, ketika Aththar menjaga barang-barang dagangan di tokonya, seorang pengembara Sufi muncul di depan pintu, menatap dengan kedua matanya yang tergenang air mata. Fariduddin menyuruh laki-laki itu pergi. "Aku memang akan pergi," sambut musafir itu. "Namun aku dilarang membawa sesuatupun, bahkan jas panjang ini. Akan tetapi, apa artinya Anda dan obat-obatan Anda yang mahal itu? Anda sebaiknya memikirkan rencana Anda sendiri untuk melanjutkan perjalanan."
Peristiwa ini sangat berkesan di hati Aththar, sehingga ia meninggalkan toko dan kerjanya serta mengasingkan diri di sebuah padepokan Sufi selama periode persemedian di bawah bimbingan guru Syekh Ruknuddin. Meskipun ia banyak melakukan praktek-praktek asketik, tetap menekankan arti penting tubuh dalam sebuah pernyataannya. "Tubuh tidaklah berbeda dengan jiwa, karena tubuh adalah bagian dari jiwa. Keduanya merupakan bagian dari keseluruhan." Ajarannya tidak hanya dikandung dalam karya-karya puitisnya, namun juga dalam ritus-ritus tradisional yang dipercaya oleh para Sufi sebagai bagian ajaran-ajarannya. Pembahasan masalah ini, yaitu perpaduan antara puisi, ajaran dan "perbuatan" (amal) Sufi, akan dilakukan nanti.
Aththar adalah salah seorang Sufi yang mengetahui secara mendalam riwayat hidup para Sufi sebelumnya, dan karya prosa satu-satunya, Memoirs of the Friend (Riwayat Hidup Para Sahabat) atau Recital of the Saints (Hikayat Orang-orang Suci) dicurahkan untuk mencatat kehidupan mereka. Ia memutuskan untuk menulis kumpulan hikayat tersebut setelah meninggalkan lingkungan Sufi Ruknuddin dan pengembaraannya ke Mekkah serta tempat-tempat lainnya.
Di masa tuanya, Aththar dikunjungi jalaluddin Rumi muda dan memberikan salah satu bukunya kepada pemuda ini. Rumi kemudian semakin memperluas publikasi aspek-aspek dasar tradisi pengetahuan Sufi yang telah dilanjutkan Aththar ini. Selanjutnya Rumi membandingkan dirinya sendiri dengannya, "Aththar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kami hanya sampai di sebuah jalan tunggal."
Aththar meninggal dunia ketika sedang mengajar sebagaimana ia telah mencurahkan hidupnya untuk itu. Namun kejadian terakhir yang menimpa Aththar, menimbulkan keraguan orang tentang dirinya. Ketika pasukan Barbar menyerang Persia di bawah pimpinan jengis Khan pada tahun 1220, Aththar ditangkap, saat ia berusia seratus sepuluh tahun. Ada seorang Mongol berkata, "Jangan bunuh orang tua ini. Aku akan mengganti seribu keping uang perak sebagai tebusan untuknya." Aththar melarang penangkapnya untuk menerima penawaran itu, karena ia akan menerima harga yang lebih tinggi dari orang lain. Beberapa saat kemudian, ada orang lain yang hanya menawarnya seharga seikat jerami, "Terimalah tawaran itu!" kata Aththar. "Karena itulah hargaku yang sebenarnya."Akhirnya ia dibunuh oleh tentara Mongol yang sangat kesal dengan leluconnya itu.
Garcin de Tassy telah mengungkapkan kemiripan karya-karya roman dan petualangan Aththar dengan Roman de la Rose, yang merupakan bukti nyata pengaruh aliran romantis Sufi yang paling awal di Eropa. Sebuah karya roman berikutnya yang menunjukkan kemiripan dengan tema-tema roman Sufi adalah karya tulis Majriti dari Cordoba. Ada juga kemungkinan bahwa karya roman Sufi masuk ke Eropa Barat melalui Spanyol dan Perancis Selatan daripada anggapan melalui Syria, meskipun karangan-karangan Sufi dalam jenis sastra ini sangat kuat berpengaruh di sana. Sedang para sarjana Barat yang percaya bahwa legenda Grail masuk ke Eropa melalui tentara Perang Salib, sebenarnya hanya mendasarkan asumsinya pada sumber-sumber Syria. Bagaimanapun, Syria dan Andalusia mempunyai hubungan yang sangat kuat. Perubahan huruf "Q" menjadi "G" (Qarael Muqaddas [Hikayat Suci]) menjadi Garael Mugaddas) adalah bahasa Spanyol-Muslim, bukan bahasa Syria. De Tassy mencatat bahwa Roman de la Rose mempunyai kesamaan-kesamaan dengan dua aliran sastra Sufi, yaitu Birds and the Flowers, dan terutama dengan karya Aththar, Parliament of the Birds. Tak syak lagi, versi asli yang telah memicu munculnya versi Roman lainnya yang terkenal di Eropa itu, sudah tidak ada; dan sangat mungkin asalnya adalah versi verbal, yang disampaikan melalui pengajaran Sufi di pusat-pusat penyebaran Sufi Spanyol.
Roman Rose of Bakawali di India, lebih jelas lagi banyak mengandung perumpamaan Sufi yang paling dinamis tersebut. Parliament sendiri, selain tercantum secara terpisah-pisah dalam karya Chaucer dan lainnya, diterjemahkan dalam bahasa Perancis dan dipublikasikan di Liege pada tahun 1653, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin pada tahun 1678.
Bagian-bagian Mantiquth-Thair (Parliament of the Birds) karya Aththar, banyak disitir dalam Tarekat Khidr (yaitu St. George maupun Khidr sendiri, pelindung suci dari para Sufi, pemandu rahasia, kadangkala dianggap Elias [Ilyas]) yang masih hidup sampai saat ini. Berikut ini sebagian ucapan seremonial inisiasi (prabakti) Tarekat Khidr:
Ada yang bertanya mengapa laut berwarna biru, warna duka cita, dan mengapa laut bergelora seolah-olah ada api yang membuatnya mendidih. Kemudian dijawab, jubah biru itu menyatakan kesedihan karena berpisah dengan Sang Kekasih, "karena itu api Cinta membuatnya bergelora". Sedang warna kuning, dalam hikayat selanjutnya, adalah warna emas - unsur kimiawi Manusia Sempurna, yaitu manusia yang disepuh sampai seperti emas. Jubah permulaan Sufi terdiri dari jas biru, kerudung kepala dan pita kuning. Jika kedua warna ini dicampur akan berwarna hijau, warna permulaan dan alam, kebenaran dan keabadian. Mantiquth-Thair ditulis kira-kira seratus tujuh puluh tahun sebelum berdirinya Tarekat Garter, yang mulanya dikenal sebagai Tarekat Santo George.
Tarekat Sufi yang mana Aththar diakui sebagai pendirinya kemudian mengembangkannya, dan yang tentu saja mengandung tradisi pemusatan hati - menjalankan latihan-latihan yang bertujuan untuk menciptakan dan menjaga keselarasan para pengikutnya dengan seluruh makhluk. Ia hampir mirip dengan Tarekat-tarekat Sufisme lainnya. Tahap-tahap perkembangan Sufi itu, meskipun mungkin urutannya berbeda-beda dalam setiap individu, digambarkan dalam Mantiquth-Thair.
Burung-burung yang melambangkan manusia, semuanya dipanggil oleh burung hoopoe (burung merak), melambangkan Sufi, yang menganjurkan agar mereka segera mencari Raja mereka yang misterius, Raja ini bernama Simurgh, yang tinggal di pegunungan Kaf. Setiap burung, yang sebelumnya tertarik untuk bertemu Raja, mulai menyesalkannya karena ia sendiri (burung merak) tidak ikut serta dalam perjalanan menemui Raja tersembunyi. Setelah mendengar penyesalan itu, burung merak menjawab dengan sebuah kisah yang mengilustrasikan ketiadagunaan membeda-bedakan apa yang harus atau seharusnya dengan apa yang sebaiknya dilakukan. Syair-syair dalam ilustrasi itu banyak mengandung perumpamaan sosok Sufi dan harus dikaji secara cermat agar benar-benar dapat dipahami. Cincin Sulaiman, hakikat sosok Khidr sang Pembimbing rahasia, berbagai anekdot tentang hikmah-hikmah kuno juga ada di dalamnya.
Akhirnya si burung merak menyatakan kepada burung-burung itu bahwa mereka harus melalui tujuh lembah dalam pencarian itu. Pertama, Lembah Pencarian, tempat segala marabahaya akan mengancam dan perjalanan suci ini harus melepaskan keinginankeinginan. Kemudian Lembah Cinta, wilayah tak terbatas, tempat sang Pencari sepenuhnya dilanda rasa rindu kepada Sang Kekasih. Setelah Lembah Cinta adalah Lembah Pengetahuan Intuitif, di sini hati menerima secara langsung pencerahan dari Kebenaran dan suatu pengalaman "bertemu" Tuhan. Kemudian di Lembah Pemisahan, sang musafir akan terbebaskan dari segala hasrat dan ketergantungan.
Dalam percakapan burung merak terhadap burung bulbul, Aththar mengungkapkan ketiadagunaan puncak kegembiraan (ekstase), mistikus yang hanya menuruti percintaan itu sendiri, yang melarutkan diri mereka dalam kerinduan, yang memperturuti pengalaman ekstatik dan tidak menyentuh kehidupan manusia.
Burung bulbul yang penuh gairah itu dengan tidak tahan lagi maju ke depan. Dalam setiap siulannya yang sangat bervariasi, ia menyuarakan suatu misteri makna yang berbeda-beda. Ia mengungkapkan misteri-misteri dengan sangat mengesankan sehingga semua burung lainnya terpaku.
"Aku mengetahui rahasia-rahasia cinta," kata burung bulbul. "Sepanjang malam aku mengungkapkan rasa cintaku. Aku mengajarkan sendiri rahasia-rahasia itu. Lagu cintaku adalah ratapan seruling mistik dan kecapi. Akulah yang memekarkan bunga Mawar dan menggetarkan hati para pecinta. Dengan tiada henti aku mengajarkan misteri-misteri baru, setiap saat muncul nada-nada kesedihan baru, laksana gelombang di lautan. Siapa pun mendengarkanku lenyaplah kecerdasannya karena terpesona dan hilanglah kesadarannya. Bila aku sudah kehilangan rasa cintaku pada sang Mawar, aku meratap tiada henti ... Bila sang Mawar kembali ke dunia di musim panas, hatiku begitu suka-ria. Rahasia-rahasia cintaku tidak diketahui mereka -- namun sang Mawar mengenal mereka. Yang aku pikirkan hanya sang Mawar, yang aku rindukan hanya Mawar merah delima."
"Untuk menggapai Simurgh adalah di luar kemampuanku -- cinta pada sang Mawar sudah cukup bagi burung bulbul. Karenaku Mawar menjadi mekar ... Mungkinkah burung bulbul hidup satu malam pun tanpa Sang Kekasih?"
Burung merak berseru, "Hai ... orang yang tertinggal, yang hanya sibuk mengurusi hal-ihwal! Tinggalkanlah kesenangan yang menggiurkan itu! Mencintai Mawar hanya akan menyusahkan hatimu. Betapapun indahnya bunga Mawar, keindahannya akan lenyap dalam beberapa hari. Mencintai sesuatu yang mudah layu hanya akan menyebabkan perubahan hati Manusia Sempurna. Bila senyuman bunga Mawar telah membangkitkan gairahmu, itu hanya akan menawanmu dalam kesedihan tiada henti. Dialah yang menertawakanmu di setiap musim semi sementara ia tidak merasa sedih - tinggalkanlah bunga Mawar dan warna merahnya (yang menggairahkan) itu!"
Dalam mengulas bagian ini, seorang guru Sufi mencatat bahwa Aththar tidak hanya menyinggung orang yang berpuas diri pada pencapaian ekstase tanpa melanjutkan tahap mistis berikutnya. Namun ia juga memberi arti ekstatik yang paralel, orang yang merasakan frekuensi cinta yang tidak sempurna, dan yang, meskipun dipengaruhi oleh cinta, ia tidak punya gairah hidup dan tidak dipengaruhi olehnya sehingga kehidupan (pribadinya) benar-benar mengalami suatu perubahan: "Inilah api cinta yang mencerahkan, yang berbeda kapan pun ia timbul, yang menggairahkan, yang menghidupkan jiwa. Benih (cinta) ini terpisah dari rahimnya dan lahirlah Manusia Sempurna, yang berubah dengan suatu cara yang khas sehingga seluruh aspek kehidupannya terangkat (mulia). Ia bukan berubah dalam arti wujud yang berbeda, namun ia adalah pribadi yang utuh dan keberadaan ini bisa dianggap sebagai manusia yang penuh gairah. Setiap perilaku (hatinya) tersucikan, terangkat pada tingkat yang lebih tinggi, tergetar oleh melodi yang lebih merdu, melantunkan nada yang lebih langsung dan hidup, mempertalikan hati laki-laki dan perempuan, yang lebih mencintai dan lebih membenci. Setiap gerak hatinya menyatu dengan suatu nasib, suatu ruang yang tentram dan kokoh, menyatu dengan hal-ihwal, yang melingkupi meskipun ia hanya mengikuti bayangan substansi cinta ini, sedemikian agung sehingga dapat mencapai pengalaman yang lebih nyata."
Pengulas tersebut (Guru Adil Alimi) juga mencatat bahwa perasaan-perasaan ini tidak menarik perhatian manusia pada umumnya. Perasaan-perasaan ini "diingkari oleh kalangan materialis, ditentang para teolog, diabaikan para pecinta, ditolak para ekstatis, diterima namun disalahpahami oleh teorisi dan pengikut Sufi". "Namun," lanjutnya, "kita harus mengingat qadam ba qadam (tahap demi tahap): 'Sebelum engkau meminum cawan kelima, engkau harus meminum cawan keempat, setiap cawan sama-sama enak'."
Ia menyadari bahwa hal-ihwal, baik yang lama maupun baru, tidaklah penting. Hal-ihwal yang telah dipahami itu tidaklah bernilai, sebab sang musafir melihat dimensi-dimensi baru dalam hal-ihwal itu. Ia memahami, misalnya, perbedaan antara tradisionalisme dan realitas, yang itu adalah suatu refleksi.
Lembah kelima adalah Lembah Kemanunggalan. Di lembah ini sang Pencari memahami bahwa hal-ihwal dan gambaran-gambaran yang kelihatan berbeda baginya sebenarnya hanya satu.
Di Lembah Ketakjuban (lembah keenam); sang musafir merasakan kekaguman dan cinta. Ia tidak memahami pengetahuan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Suatu perasaan yang disebut cinta, sekarang menggantikannya.
Lembah ketujuh, yang terakhir, adalah Lembah Kematian. Di sini sang Pencari memahami misteri dan paradoks, individu yang memahami bagaimana "setetes kepribadiannya dapat bergabung dengan samudera, namun tetap mempunyai makna. Ia telah menemukan 'kedudukannya'."
Nama samaran Fariduddin adalah Aththar, Kimiawan atau Pembuat minyak wangi. Mayoritas sejarawan menduga bahwa ia mengambil kata deskriptif ini karena ayahnya mempunyai sebuah balai obat, namun menurut tradisi Sufi, "Aththar" mengandung suatu pengertian rahasia. Jika kita menggunakan metode baku pengungkapan bahasa sandi melalui sistem Abjad, yang sangat dikenal di kalangan terpelajar Arab dan Persia, Aththar dapat disulih sebagai berikut:
A (ain) = 70
Tha' = 9
Tha' = 9
Alif = 1
Ra' = 200
Huruf-huruf (dalam kata Aththar) harus disusun menurut ortografi konvensial bahasa Semit seperti di atas. Kitab Hisab al-Jamal (kitab tentang penyusunan ulang huruf dan angka) adalah bentuk paling sederhana pemakaian sistem Abjad yang banyak digunakan dalam ungkapan-ungkapan puitis. Setelah penyulihan, nilai huruf-huruf harus dijumlah (70+9+9+1+200), hasilnya 289. Untuk mengungkap suatu makna "tersembunyi" yang baru dari tiga huruf dasar itu, kita harus (sesuai prosedur baku) mengurai kembali jumlah itu dalam ratusan, puluhan dan satuan, sebagai berikut:
289 = 200, 80, 9
Ketiga angka ini dapat disesuaikan kembali:
200 = R ; 80 = F ; 9 = Th.
Kini kita tinggal mencari dalam kamus kata-kata yang berhubungan penyusunan-penyusunan tiga huruf tersebut. Di dalam kamus bahasa Arab, kata selalu ditulis menurut akar katanya (biasanya tiga huruf), sehingga hal ini mempermudah tugas kita.
Tiga huruf tersebut mungkin hanya terdiri dari kata, RFTh, RThF, FRTh, FThR dan ThFR.
Satu-satunya akar kata yang berkaitan dengan agama, makna batiniah dan rahasia adalah FThR.
Jadi "Aththar" adalah suatu kata sandi dari konsep FThR, suatu pesan tentang ajaran yang disampaikan Fariduddin.
Aththar adalah salah seorang guru Sufi terkemuka. Sebelum kita melihat implikasi akar kata FThR dalam bahasa Arab, kita dapat mengikhtisarkan gagasan-gagasannya. Sufisme adalah suatu bentuk pemikiran yang digunakan Aththar dan para penerusnya (termasuk muridnya, Rumi) menurut suatu format keagamaan, yaitu tentang pertumbuhan dan tema evolusi organis manusia. Penggarapan tema ini berhubungan dengan terbitnya fajar setelah kegelapan (malam), berbuka puasa dengan sepotong roti, dan perilaku mental serta fisik yang intensif, yang tak terencana oleh sebab suatu tanggapan terhadap dorongan-dorongan intuitif
Apakah akar kata FThR mengandung (pengertian): (1) perkumpulan-perkumpulan keagamaan; (2) hubungan antara Kristianitas dan Islam -- sebab para Sufi menandaskan bahwa mereka adalah Muslim sekaligus penganut ajaran esoteris Kristiani; (3) gagasan tentang tindakan yang cepat atau tak terencana; (4) kerendahan hati para darwis; (5) suatu dampak yang kuat (dari gagasan atau gerakan, sebagaimana diterapkan dalam madzhab-madzhab darwis untuk latihan-latihan Sufi); (6) "anggur" -- analogi puitis Sufi untuk pengalaman batin; (7) sesuatu yang mendesakkan jalan keluarnya dari kandungan alamiah?
Setiap gagasan-gagasan tersebut terkandung dalam kata-kata Arab yang diturunkan dari akar kata FThR, yang membentuk suatu gambaran eksistensi Sufi. Sekarang kita dapat memeriksa akar kata dengan ragam penggunaannya:
FaThaR = membelah, memotong sesuatu, menyelidiki, mulai, mencipta sesuatu (Tuhan).
FuThR = cendawan (yang cara pertumbuhannya melalui kekuatan membelah diri).
FaThaRa = sarapan, berbuka puasa.
ThaFaThThaR = terbelah atau pecah.
'IYD al-FiThR = Hari Raya Fitri.
FiThRah = watak dasar, rasa keagamaan, agama Islam (patuh pada kehendak Tuhan).
FaThIR = roti murni (yang tak diragi), tindakan yang tak terencana atau cepat, tergesa-gesa.
FaThIRA = suatu benda kecil, roti tersusun sebagaimana digunakan dalam suatu acara sakral.
FAThiR = Sang Pencipta.
FuThaiy Ri = manusia yang hina, kosong, tumpul.
FuThAR = sebuah benda yang karat, misalnya sebilah pedang tumpul.
Biasanya Aththar dianggap sebagai guru yang telah ikut serta menyampaikan (meneruskan) latihan Sufi yang khas, yaitu "Berhenti (sejenak)!" Latihan Menenggang Waktu. Latihan ini dilakukan ketika guru Sufi, pada waktu tertentu, memerintahkan muridnya untuk menghentikan setiap gerakan secara sempurna. Selama latihan "menenggang waktu" ini, murid akan memancarkan barakah-nya kepada orang lain. Menangguhkan semua kegiatan fisik dengan cepat adalah membiarkan kesadaran terbuka untuk menerima pengembangan mental yang khas, yang kekuatannya terpancar dari gerakan penuh tenaga.
Anehnya FThR dalam daftar kata Sufi dikembangkan menjadi QMM. Kata ini pun, jika diungkap melalui sistem notasi Abjad, menghasilkan kata QIFF - Penangguhan Ilahi. "Penangguhan" ini adalah nama yang diberikan pada latihan "Berhentilah (sejenak)!" yang hanya dilakukan seorang guru Sufi.
Makna akar kata FThR yang sekunder, yaitu cendawan, telah menimbulkan minat spekulasi. Minat ini muncul berkat prakarsa Mr. R. Gordon Wasson, yang menyatakan bahwa pada zaman dahulu, ada (dan yang mengherankan hal ini masih hidup dalam beberapa wilayah) suatu kultus ekstatik yang tersebar luas dengan cara memakan cendawan-cendawan yang menimbulkan halusinasi.
Apakah akar kata FThR ini memang berhubungan dengan kultus cendawan? Ya di satu sisi, namun bukan dalam pengertian yang secara langsung diduga orang. FThR memang mengandung arti cendawan, namun bukan dalam pengertian cendawan yang menimbulkan halusinasi. Kita mempunyai dua sumber untuk menjelaskan masalah ini. Sumber pertama bahwa cendawan yang menimbulkan halusinasi dalam bahasa Arab berasal dari akar kata GHRB. Kata-kata yang diturunkan dari GHRB mengindikasikan suatu pengetahuan karena pengaruh aneh dari cendawan itu, sementara kata FThR tidak demikian:
GHaRaBa = pergi, berangkat, tumor mata.
GHaRaB = meninggalkan kampung halaman, hidup di negeri asing.
GHuRBan = kedudukan sebuah bintang, terlupakan atau terpencil.
GHaRuB = tak dikenal (kabur), sesuatu yang tak terpahami dengan jelas, asing.
GHaRaB = pergi ke Barat.
A-GHRaB = melakukan atau mengatakan hal-hal aneh atau tidak lazim, tertawa secara aneh, berlari secepat kilat, pergi ke negeri yang jauh.
ISTa-GHRaB = menemukan benda aneh, menakjubkan, tertawa berlebih-lebihan.
GHaRB = Ujung pedang, air mata dan sebagainya.
ESH al-GHuRAB = jamur payung (secara literal berarti "makanan burung gagak, kerumitan, kegelapan, keanehan").
Keterangan kedua yang menarik mengindikasikan bahwa Sufi menggunakan akar kata FThR untuk pengertian pengalaman batiniah dan bukan pengertian yang diangkat dari makna kimiawi. Keterangan ini terkandung dalam sebuah paragraf dari karya orang yang secara tepat dijuluki Mast Qalandar (secara literal berarti "darwis yang mabuk"), yang secara jelas mengomentari tentang suatu kepercayaan bahwa cendawan yang menimbulkan halusinasi itu dapat merangsang untuk mencapai suatu pengalaman mistik. Dalam hal ini ia menandaskan bahwa kepercayaan itu tidak benar.
Pertama, kita dapat membaca melalui penterjemahan literal naskah tersebut:
"Jadi Sang Pencipta, karena perkembangan semangat dan inti rasa keagamaan, menyediakan sari buah anggur untuk sarapan pagi para Pecinta (para Sufi), dan ia meninggalkan sebuah jejak (simbol) berupa kegiatan sakramental bagi orang-orang yang mempunyai pemahaman setengah-setengah. Perlu juga diketahui dan diingat bahwa Sufi yang tercerahkan jauh dari retakan atau belahan yang menipu, yaitu distorsi, dan ia mendekati perasaan ekstase (tersembunyi) yang berbeda. Ia sama sekali tidak memakan cendawan itu dan cendawan yang menimbulkan kegilaan ini tidak dikenalnya. Sarapan paginya adalah kebenaran di jalan yang tak terbelah. Akhirnya setelah menjalarnya tanaman (anggur) dan berbuah, setelah air anggur menghasilkan saripatinya dan makan sore (setelah pantangan makan), Manusia Sempurna secara aneh diperlengkapi dengan pedang yang tumpul. Akan tetapi, makanan ini bukan seperti yang mereka nyatakan ataupun apa yang tumbuh di bawah pohon. Sesungguhnya Kebenaran Ciptaan telah ditemukan, dan ekstase mungkin hanya ditemukan di dalam rahasia makanan (roti) orang yang kelaparan dan kehausan. Ia minum setelah makan. Di sini Sang Pencipta juga berperan sebagai Pengungkap."
Paragraf yang mengagumkan ini dianggap sebagai ocehan orang gila. Namun Syekh Mauji, Sufi dari Azamia, menafsirkannya dalam selembar halaman karyanya Durud (Kisah-kisah):
"Ada suatu sensasi yang merupakan gairah sejati dan bisa disebut cinta. Sensasi ini berasal dari sumber kuno dan penting bagi kemanusiaan. Tanda-tanda (simbol)nya masih ada di luar kelompok-kelompok Sufi, namun sekarang hanya dalam bentuk simbol, misalnya lambang Salib, sedang bagi kami tetap mengacu pada ajaran esoteris Yesus sendiri. Sang Pencari (kebenaran) harus ingat bahwa ada beberapa kemiripan perasaan yang menipu dan seperti kegilaan, namun bukan kegilaan yang dimaksud Sufi ketika ia membicarakannya, sebagaimana si pengarang menggunakannya dalam menggambarkan dirinya sendiri (Mast Qalandar). Dari sumber tersebut, asal-usul apa yang kita sebut saripati dari anggur yang merupakan buah dari tanamannya, hasil dari pembelahan dan pertumbuhan, akan muncul pencerahan yang sejati. Setelah suatu periode pematangan dari saripati anggur atau roti, pemisahan melalui cinta, maka muncullah kekuatan Pengungkap. Kekuatan ini adalah gizi, namun bukan gizi makanan dalam pengertian wujud apa pun seperti sebuah benda fisik biasa..."
Paragraf orisinal itu, yang kurang lebih merupakan bentuk sastra Persia, menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya berusaha dijelaskan oleh "darwis gila" itu. Paragraf itu selalu menggunakan akar kata tunggal yaitu FThR. Tidak ada terjemahan yang mungkin dapat diterapkan pada fakta puitis tersebut, karena makna akar kata ini tidak dapat dilingkupi dalam terjemahan. Oleh karena penterjemahan kata itu -- dalam kata "terbelah", "roti bersusun", "pengalaman religius" dan lainnya -- berasal dari akar kata yang berbeda, maka kita mudah sekali melalaikan makna dari sebuah kata tunggal.
Sebagai contoh: "Ya baradar; Fathir ast thafaththari fithrat wa dzati fithrat ..."
Di dalam paragraf terdiri dari seratus sebelas kata, kata-kata turunan FThR tidak lebih hanya dua puluh tiga kali! Pemakaian kata-kata turunan tersebut, meskipun bukannya tidak tepat, sangat tidak lazim (karena sebenarnya ada sebuah kata baku yang lebih tepat untuk digunakan menurut konteks itu) sehingga niscaya sebuah pesan yang disampaikan dengan mengibaratkan dampak dari reaksi kimiawi cendawan itu menunjukkan suatu pengalaman yang tak terbantah namun kabur.
--------------------------------------------------------------------------------
Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi oleh Idries Shah
Judul asli: The Sufis, Penterjemah M. Hidayatullah dan Roudlon, S.Ag.
Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Pertama Shafar 1421H, Juni 2000
Jln. Ikan Mungging XIII/1, Surabaya 60177
Telp.(031) 3539440 Fax.(031) 3529800
Cerita Seputar Si Amplop Merah - Ang Pauw
Cerita Seputar Si Amplop Merah - Ang Pauw
Konon cerita dulu kala nenek moyang orang Tionghwa di desa Chang-Chieu pada jaman kekaesaran dinasti (the Sung Dynasty in China) terjadi musibah-pagebluk, malapetaka penebar maut dari barisan lelembut yang tak terbilang banyaknya (terrorized by a huge demon). Tak seorangpun dapat mengalahkannya termasuk para pendekar sakti dari kerajaan kaesar. No one was capable of defeating it, not even their greatest warriors or statesmen.
Tersebutlah di desa Chang Chieu itu ada seorang anak lelaki yatim-piatu dari panti asuhan, bernama Ang Pauw. Dengan warisan sebuah keris tua tumpul dari leluhurnya (a magical saber inherited from his ancestors). Sebilah keris tembaga tua tumpul berukiran tiga kepala hewan lengkap dari atas badan sampai ekornya. Tiga gambar ukiran di dalam benda tumpul itu adalah burung jetayu (garuda), burung merak dan seekor naga terbang (flying dragon).
Dengan pusaka wasiat itu si Ang Pauw berhasil mengalahkan pagebluk penebar maut, bahkan memusnahkannya segala roh dan pengaruh jahat. Dengan demikian keadaan desa kembali aman.
Desa dan penduduknya selamat. Yang sakit sembuh seketika. Hidup tentram dan aman berkecukupan sandang dan pangan serta papan. Karena semua malapetaka, pagebluk, sakit-penyakit telah lenyap.
Orang-orang dan tetuanya berbondong-bondong menyatakan terima kasih dan memberi kepingan uang logam yang dibungkus dengan secarik kain dengan torehan warna jingga (merah) kepada anak lelaki yatim-piatu Ang Pauw. Yang mana sampai sekarang dikenal orang dengan nama sebutan "Si Amplop Merah - Ang Pauw" sebuah ucapan syukur dan terima kasih atas keselamatan dan perlindungan Thian (Tuhan). Tradisi sampai kini setiap tahunnya orang-orang saling memberi dan menerima hadiah ‘Ang Pauw-Amplop Merah'. Di dalam memberi ada kedamaian, kebahagiaan dan suka-cita.
Sumber Cerita Rakyat Tionghwa - Unknown.
Source:
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Cerita+Seputar+Si+Amplop+Merah+-+Ang+Pauw&dn=20080207145845
Konon cerita dulu kala nenek moyang orang Tionghwa di desa Chang-Chieu pada jaman kekaesaran dinasti (the Sung Dynasty in China) terjadi musibah-pagebluk, malapetaka penebar maut dari barisan lelembut yang tak terbilang banyaknya (terrorized by a huge demon). Tak seorangpun dapat mengalahkannya termasuk para pendekar sakti dari kerajaan kaesar. No one was capable of defeating it, not even their greatest warriors or statesmen.
Tersebutlah di desa Chang Chieu itu ada seorang anak lelaki yatim-piatu dari panti asuhan, bernama Ang Pauw. Dengan warisan sebuah keris tua tumpul dari leluhurnya (a magical saber inherited from his ancestors). Sebilah keris tembaga tua tumpul berukiran tiga kepala hewan lengkap dari atas badan sampai ekornya. Tiga gambar ukiran di dalam benda tumpul itu adalah burung jetayu (garuda), burung merak dan seekor naga terbang (flying dragon).
Dengan pusaka wasiat itu si Ang Pauw berhasil mengalahkan pagebluk penebar maut, bahkan memusnahkannya segala roh dan pengaruh jahat. Dengan demikian keadaan desa kembali aman.
Desa dan penduduknya selamat. Yang sakit sembuh seketika. Hidup tentram dan aman berkecukupan sandang dan pangan serta papan. Karena semua malapetaka, pagebluk, sakit-penyakit telah lenyap.
Orang-orang dan tetuanya berbondong-bondong menyatakan terima kasih dan memberi kepingan uang logam yang dibungkus dengan secarik kain dengan torehan warna jingga (merah) kepada anak lelaki yatim-piatu Ang Pauw. Yang mana sampai sekarang dikenal orang dengan nama sebutan "Si Amplop Merah - Ang Pauw" sebuah ucapan syukur dan terima kasih atas keselamatan dan perlindungan Thian (Tuhan). Tradisi sampai kini setiap tahunnya orang-orang saling memberi dan menerima hadiah ‘Ang Pauw-Amplop Merah'. Di dalam memberi ada kedamaian, kebahagiaan dan suka-cita.
Sumber Cerita Rakyat Tionghwa - Unknown.
Source:
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Cerita+Seputar+Si+Amplop+Merah+-+Ang+Pauw&dn=20080207145845
Kisah Jentayu
Kisah Jentayu
Diriwayatkan di dalam Hikayat Merong Mahawangsa, di suatu masa, dunia ini didiami oleh ratusan jutaan burung-burung dari pelbagai jenis dan juga warna. Sering alam dan juga dada langit berubah-ubah warnanya apabila kumpulan burung-burung yang berjumlah berjuta-juta itu terbang ke sana dan ke mari. Sebentar berwarna kuning, sebentar lagi berwarna kemerahan dan juga kehitaman dan begitulah silih berganti, alam bertukar dalam kesukacitaan dunia ketika itu.
Adapun burung-burung ini berpenghulukan dua ekor burung yang teramat besar. Seekor Burung Jentayu dan seekor Burung Garuda. Dikatakan Burung Jentayu dan Burung Garuda ini sudah mengaku bersaudara. Beramat kasih akan satu sama lain.
Burung Jentayu ini seekor burung kesaktian yang cantik dan membawa unsur air. Bulunya berwarna Putih kebiruan dan ekornya laksana ekor burung merak. Di atas kepalanya terdapat jambul seperti sebuah mahkota yang bersinar-sinar seperti intan. Manakala Burung Garuda pula seekor burung kesaktian yang hebat. Membawa unsur api dengan bentuk seperti helang. Berbulu kuning keemasan dengan tanduk di kepala yang menyala seperti api.
Kedua-dua ekor burung ini tugasnya menerima amanah Allah mengatur kehidupan burung-burung lain. Mereka sering dilihat berputar-putar mengitari alam membawa dua hawa sejuk dan panas. Adapun di dalam erat persaudaraan itu terserlah perbezaan keperibadian kedua-dua ekor burung ini. Jentayu amat merendah diri. Manis tutur kata, perlakuan dan juga berdikari. Manakala Garuda pula panas baran dan amat cintakan kekayaan dunia.
Di dalam kerajaan manusia pula, dunia pada ketika itu terbahagi kepada 3 kerajaan yang besar. Kerajaan Rom di Barat yang meliputi Benua Eropah dan Asia Utara. Kerajaan Raja Sulaiman di tengah-tengah meliputi Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, India dan Nusantara. Kerajaan China di Timur yang meliputi Indo-China, China dan juga Timur Jauh.
Tersebut pada suatu hari, sedang Jentayu dan Garuda berbual-bual, timbullah satu hal musabab. Garuda amat berbangga dengan kehebatan dirinya dan ingin mengaut segala kekayaan dunia untuk dirinya. Jentayu kemudian mengingatkan Garuda bahawa tugas mereka adalah memenuhi amanah Allah sebagai Penguasa Mergastua di muka bumi ini dan setiap diri makhluk itu punya banyak kelemahan. Nasihat Jentayu itu rupa-rupanya menimbulkan kemarahan dalam hati Garuda. Lantas dengan ketika itu juga Garuda memerangi Jentayu dengan segala kesaktian. Jentayu tidak mahu mencetuskan huru-hara.
“Abang Garuda, maafkan hamba” kata Jentayu.
“Sudah. Mulai saat ini, Putus sudah persaudaraan kita. Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu. Nyah kamu dari pandangan mataku atau engkau akan kubunuh”
“Sampainya hati Abang Garuda berkata demikian. Sudah lupakah Abang Garuda pada sumpah persaudaraan kita. Sudah lupakah Abang?” Jentayu cuba menjernihkan suasana.
Namun Garuda sudah tidak lagi menerima sebarang kata kemaafan. Hancur sebuah persaudaraan. Jentayu berduka lara lantas terbang jauh ke kaki langit. Dalam perjalanan itu, Jentayu singgah di Kerajaan Rom dan bertemu dengan Raja Merong Mahawangsa, sepupu Maharaja Rom yang menyelamatkannya daripada Racun Buah Megabayu. Sebagai tanda terima kasih itu, Jentayu mengubah dirinya menjadi sebilah anak panah sakti dan mengingatkan Raja Merong Mahawangsa agar melepaskan anak panah itu di saat Raja itu dalam bahaya.
Setelah bertahun-tahun pemergian Jentayu, tidak sedetik pun di dalam hati Garuda terkenangkan saudaranya Jentayu itu. Tiba-tiba pecah berita, Maharaja Rom ingin mengahwinkan puteranya dengan puteri Maharaja China. Mendengar berita itu, Raja Sulaiman menjadi hairan bagaimana Allah mengatur jodoh manusia sekalipun kedua-dua mempelai berasal dari negara yang jauh jaraknya antara satu sama lain.
“Ketentuan Allah tiada siapa yang dapat menghalangnya”.
Garuda yang ketika itu berada di Balai Penghadapan itu terdengar madah Raja Sulaiman itu.
“Ampun, Tuanku. Patik percaya, dengan kesaktian patik ini, patik berupaya menghentikan majlis pernikahan tersebut. Putera Rom itu tidak akan sama sekali mengahwini Puteri China. Jika patik gagal, patik akan mengurung diri patik di dalam kawah gunung berapi” kata nekad Garuda.
“Jangan Garuda. Kita makhluk Allah terlalu banyak kelemahan. Jangan menyombong diri” nasihat Raja Sulaiman.
Garuda langsung tidak memperdulikan nasihat Raja Sulaiman. Dia bertekad menghalang perkahwinan itu kerana dia berkuasa berbuat demikian. Langkah pertamanya ialah menyerang istana Maharaja China. Terlalu ramai bala tentera China yang terkorban dalam usaha menghalang tindakan Garuda itu. Garuda mematahkan tingkat atas pagoda istana, memasukkan puteri Maharaja di dalamnya dan terus dibawa terbang ke Pulau Langkawi.
Rombongan mempelai putera Rom sudah memasuki Tanjong Pengharapan diketuai oleh Raja Merong Mahawangsa sebagai paman kepada putera Maharaja Rom. Burung Rajawali yang sedang berlegar di angkasa terbang ke Pulau Langkawi mengkhabarkan kepada Garuda bahawa rombongan mempelai Kerajaan Rom sudah sampai di Teluk Benggala.
Di Teluk Benggala itu, Garuda melancarkan segala kesaktian untuk memusnahkan Jong Bahtera Rom yang berjumlah 100 buah lengkap bersenjata. Anak panah umpama hujan menuju ke arah Garuda namun sedikit pun tidak berupaya melukakannya. Garuda memuntahkan api dari paruhnya menyebabkan habis sekelian bahtera hangus terbakar. Putera Maharaja Rom jatuh ke laut lalu terkapai-kapai hilang dari pandangan.
Di saat yang genting itu, Raja Merong Mahawangsa melepaskan anak panah kesaktiannya. Anak panah itu meluncur laju ke udara umpama kilat putih membelah langit, berputar-putar menjelma menjadi Jentayu berhadapan dengan sahabat lamanya, Garuda.
Jentayu……..!!!
Peperangan sengit sudah tidak dapat dielak lagi. Satu pertarungan hidup dan mati. Setitis airmata Jentayu jatuh ke bumi. Pertempuran bermula. Kedua-dua pihak mengerah segenap kesaktian yang ada. Halilintar sabung menyabung di langit tinggi. Ombak beralun tujuh hasta manakala Nusantara sudah gempa dengan api lahar naik membuak-buak akibat tekanan dari tenaga kesaktian yang dikeluarkan.
Pertarungan itu amat memeranjatkan Garuda. Kekuatan Jentayu rupanya seimbang dengan dirinya. Tidak pernah diketahuinya sebelum ini. Sedikit kemegahannya tercalar.
Di dalam azamat pertempuran itu, Jentayu dan Garuda masih sempat berhubung secara laduni.
“Bersungguh benar Abang Garuda ingin menghapuskan kita. Sampai hati Abang..”
“Aku akan hapuskan sesiapa sahaja yang menghalangi rancangan aku, termasuk dirimu, Jentayu!!” mata Garuda sudah menyorot ganas.
Mereka bertembung. Mereka bertembung di dalam kesaktian yang teramat hebat.
“Jadi benarlah Abang Garuda ini ingin melenyapkanku” fikir Jentayu. Jentayu sengaja membuka ruang. Tikaman susuh kiri Garuda terbenam ke ulu jantung Jentayu. Jentayu kehilangan nyawanya di tangan saudaranya sendiri. Sebelum menghembus nafasnya yang terakhir, setitis airmatanya jatuh ke laut disambut Sang Tiram dan disimpan menjadi mutiara sebagai tanda kenangan dari Jentayu. Begitulah asalnya mutiara, konon-kononnya. Jasad Jentayu jatuh ke dalam Laut Khalzum. Di dasarnyalah Jentayu bersemadi.
Garuda bersorak riang. Terbang mengitari alam mengkhabarkan berita kejayaannya. Raja Sulaiman mendapat ilham bahawa putera Maharaja Rom hanyut terdampar di Selat Melaka dan bertemu dengan Puteri Maharaja China di Pulau Langkawi. Raja Sulaiman menitahkan agar dibawa pagoda itu ke istana baginda.
Sebaik sahaja dibuka pintu pagoda itu, keluarlah Putera Maharaja Rom bersama Puteri Maharaja China mengadap Raja Sulaiman. Garuda merasa amat malu sekali lantas menghumbankan dirinya ke dalam sebuah kawah gunung berapi di Lautan Pasifik. Wallahua’lam.
Source:
http://info.jentayu.net/?page_id=2
Hatiku selembar daun...
Diriwayatkan di dalam Hikayat Merong Mahawangsa, di suatu masa, dunia ini didiami oleh ratusan jutaan burung-burung dari pelbagai jenis dan juga warna. Sering alam dan juga dada langit berubah-ubah warnanya apabila kumpulan burung-burung yang berjumlah berjuta-juta itu terbang ke sana dan ke mari. Sebentar berwarna kuning, sebentar lagi berwarna kemerahan dan juga kehitaman dan begitulah silih berganti, alam bertukar dalam kesukacitaan dunia ketika itu.
Adapun burung-burung ini berpenghulukan dua ekor burung yang teramat besar. Seekor Burung Jentayu dan seekor Burung Garuda. Dikatakan Burung Jentayu dan Burung Garuda ini sudah mengaku bersaudara. Beramat kasih akan satu sama lain.
Burung Jentayu ini seekor burung kesaktian yang cantik dan membawa unsur air. Bulunya berwarna Putih kebiruan dan ekornya laksana ekor burung merak. Di atas kepalanya terdapat jambul seperti sebuah mahkota yang bersinar-sinar seperti intan. Manakala Burung Garuda pula seekor burung kesaktian yang hebat. Membawa unsur api dengan bentuk seperti helang. Berbulu kuning keemasan dengan tanduk di kepala yang menyala seperti api.
Kedua-dua ekor burung ini tugasnya menerima amanah Allah mengatur kehidupan burung-burung lain. Mereka sering dilihat berputar-putar mengitari alam membawa dua hawa sejuk dan panas. Adapun di dalam erat persaudaraan itu terserlah perbezaan keperibadian kedua-dua ekor burung ini. Jentayu amat merendah diri. Manis tutur kata, perlakuan dan juga berdikari. Manakala Garuda pula panas baran dan amat cintakan kekayaan dunia.
Di dalam kerajaan manusia pula, dunia pada ketika itu terbahagi kepada 3 kerajaan yang besar. Kerajaan Rom di Barat yang meliputi Benua Eropah dan Asia Utara. Kerajaan Raja Sulaiman di tengah-tengah meliputi Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, India dan Nusantara. Kerajaan China di Timur yang meliputi Indo-China, China dan juga Timur Jauh.
Tersebut pada suatu hari, sedang Jentayu dan Garuda berbual-bual, timbullah satu hal musabab. Garuda amat berbangga dengan kehebatan dirinya dan ingin mengaut segala kekayaan dunia untuk dirinya. Jentayu kemudian mengingatkan Garuda bahawa tugas mereka adalah memenuhi amanah Allah sebagai Penguasa Mergastua di muka bumi ini dan setiap diri makhluk itu punya banyak kelemahan. Nasihat Jentayu itu rupa-rupanya menimbulkan kemarahan dalam hati Garuda. Lantas dengan ketika itu juga Garuda memerangi Jentayu dengan segala kesaktian. Jentayu tidak mahu mencetuskan huru-hara.
“Abang Garuda, maafkan hamba” kata Jentayu.
“Sudah. Mulai saat ini, Putus sudah persaudaraan kita. Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu. Nyah kamu dari pandangan mataku atau engkau akan kubunuh”
“Sampainya hati Abang Garuda berkata demikian. Sudah lupakah Abang Garuda pada sumpah persaudaraan kita. Sudah lupakah Abang?” Jentayu cuba menjernihkan suasana.
Namun Garuda sudah tidak lagi menerima sebarang kata kemaafan. Hancur sebuah persaudaraan. Jentayu berduka lara lantas terbang jauh ke kaki langit. Dalam perjalanan itu, Jentayu singgah di Kerajaan Rom dan bertemu dengan Raja Merong Mahawangsa, sepupu Maharaja Rom yang menyelamatkannya daripada Racun Buah Megabayu. Sebagai tanda terima kasih itu, Jentayu mengubah dirinya menjadi sebilah anak panah sakti dan mengingatkan Raja Merong Mahawangsa agar melepaskan anak panah itu di saat Raja itu dalam bahaya.
Setelah bertahun-tahun pemergian Jentayu, tidak sedetik pun di dalam hati Garuda terkenangkan saudaranya Jentayu itu. Tiba-tiba pecah berita, Maharaja Rom ingin mengahwinkan puteranya dengan puteri Maharaja China. Mendengar berita itu, Raja Sulaiman menjadi hairan bagaimana Allah mengatur jodoh manusia sekalipun kedua-dua mempelai berasal dari negara yang jauh jaraknya antara satu sama lain.
“Ketentuan Allah tiada siapa yang dapat menghalangnya”.
Garuda yang ketika itu berada di Balai Penghadapan itu terdengar madah Raja Sulaiman itu.
“Ampun, Tuanku. Patik percaya, dengan kesaktian patik ini, patik berupaya menghentikan majlis pernikahan tersebut. Putera Rom itu tidak akan sama sekali mengahwini Puteri China. Jika patik gagal, patik akan mengurung diri patik di dalam kawah gunung berapi” kata nekad Garuda.
“Jangan Garuda. Kita makhluk Allah terlalu banyak kelemahan. Jangan menyombong diri” nasihat Raja Sulaiman.
Garuda langsung tidak memperdulikan nasihat Raja Sulaiman. Dia bertekad menghalang perkahwinan itu kerana dia berkuasa berbuat demikian. Langkah pertamanya ialah menyerang istana Maharaja China. Terlalu ramai bala tentera China yang terkorban dalam usaha menghalang tindakan Garuda itu. Garuda mematahkan tingkat atas pagoda istana, memasukkan puteri Maharaja di dalamnya dan terus dibawa terbang ke Pulau Langkawi.
Rombongan mempelai putera Rom sudah memasuki Tanjong Pengharapan diketuai oleh Raja Merong Mahawangsa sebagai paman kepada putera Maharaja Rom. Burung Rajawali yang sedang berlegar di angkasa terbang ke Pulau Langkawi mengkhabarkan kepada Garuda bahawa rombongan mempelai Kerajaan Rom sudah sampai di Teluk Benggala.
Di Teluk Benggala itu, Garuda melancarkan segala kesaktian untuk memusnahkan Jong Bahtera Rom yang berjumlah 100 buah lengkap bersenjata. Anak panah umpama hujan menuju ke arah Garuda namun sedikit pun tidak berupaya melukakannya. Garuda memuntahkan api dari paruhnya menyebabkan habis sekelian bahtera hangus terbakar. Putera Maharaja Rom jatuh ke laut lalu terkapai-kapai hilang dari pandangan.
Di saat yang genting itu, Raja Merong Mahawangsa melepaskan anak panah kesaktiannya. Anak panah itu meluncur laju ke udara umpama kilat putih membelah langit, berputar-putar menjelma menjadi Jentayu berhadapan dengan sahabat lamanya, Garuda.
Jentayu……..!!!
Peperangan sengit sudah tidak dapat dielak lagi. Satu pertarungan hidup dan mati. Setitis airmata Jentayu jatuh ke bumi. Pertempuran bermula. Kedua-dua pihak mengerah segenap kesaktian yang ada. Halilintar sabung menyabung di langit tinggi. Ombak beralun tujuh hasta manakala Nusantara sudah gempa dengan api lahar naik membuak-buak akibat tekanan dari tenaga kesaktian yang dikeluarkan.
Pertarungan itu amat memeranjatkan Garuda. Kekuatan Jentayu rupanya seimbang dengan dirinya. Tidak pernah diketahuinya sebelum ini. Sedikit kemegahannya tercalar.
Di dalam azamat pertempuran itu, Jentayu dan Garuda masih sempat berhubung secara laduni.
“Bersungguh benar Abang Garuda ingin menghapuskan kita. Sampai hati Abang..”
“Aku akan hapuskan sesiapa sahaja yang menghalangi rancangan aku, termasuk dirimu, Jentayu!!” mata Garuda sudah menyorot ganas.
Mereka bertembung. Mereka bertembung di dalam kesaktian yang teramat hebat.
“Jadi benarlah Abang Garuda ini ingin melenyapkanku” fikir Jentayu. Jentayu sengaja membuka ruang. Tikaman susuh kiri Garuda terbenam ke ulu jantung Jentayu. Jentayu kehilangan nyawanya di tangan saudaranya sendiri. Sebelum menghembus nafasnya yang terakhir, setitis airmatanya jatuh ke laut disambut Sang Tiram dan disimpan menjadi mutiara sebagai tanda kenangan dari Jentayu. Begitulah asalnya mutiara, konon-kononnya. Jasad Jentayu jatuh ke dalam Laut Khalzum. Di dasarnyalah Jentayu bersemadi.
Garuda bersorak riang. Terbang mengitari alam mengkhabarkan berita kejayaannya. Raja Sulaiman mendapat ilham bahawa putera Maharaja Rom hanyut terdampar di Selat Melaka dan bertemu dengan Puteri Maharaja China di Pulau Langkawi. Raja Sulaiman menitahkan agar dibawa pagoda itu ke istana baginda.
Sebaik sahaja dibuka pintu pagoda itu, keluarlah Putera Maharaja Rom bersama Puteri Maharaja China mengadap Raja Sulaiman. Garuda merasa amat malu sekali lantas menghumbankan dirinya ke dalam sebuah kawah gunung berapi di Lautan Pasifik. Wallahua’lam.
Source:
http://info.jentayu.net/?page_id=2
Hatiku selembar daun...
Subscribe to:
Comments (Atom)