Sunday, 14 November 2010

Hikayat Gajah Terakhir

Hikayat Gajah Terakhir

Cerpen: Gde Agung Lontar




Aku adalah seekor gajah. Gajah terakhir yang tersisa di muka bumi ini. Dengan begitu berarti aku juga seekor gajah tunggal, yang berkelana sendirian dalam ketuaan. Berkelana dari kota ke kota; hutan dan rimba telah tiada. Hanya belantara sawit dan akasia semata. Di sini, di kota, aku merasa mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman. Orang-orang di kota agaknya dapat bersikap lebih ramah kepadaku, dibanding para penjaga kebun-kebun sawit dan akasia itu. Orang-orang yang tinggal di rerumah gubuk kardus dan kayu lapuk ini, atau yang tinggal di pinggir sungai hitam pekat jelantah, atau juga yang berteduh di bawah jalan layang. Tidak, tidak ada yang tinggal di kompleks perumahan mewah. Bukan apa-apa, meskipun anak-anak mereka sesungguhnya merasa senang begitu melihatku melintas di pinggiran perumahan mereka, tetapi ibu-ibu mereka mencemaskan anak-anaknya. Bukan apa-apa. Tentu saja bukan mencemaskan aku akan memakan anak-anak mereka yang manis-manis dan lucu-lucu itu, karena aku tentulah tidak akan melakukannya. Aku masih sangat menyukai dedaunan sebagaimana nenek moyangku dahulu. Juga bukan karena mereka mencemaskan aku suatu ketika akan mengamuk membabi-buta sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudara-saudaraku lama berselang sebelumnya.

Bagaimana pun mereka tahu bahwa aku adalah seekor gajah yang renta, yang bahkan untuk menyeret tubuhku sendiri pun sudah membuat aku sulit bernapas. Justru karena itu, yang mereka cemaskan adalah kalau-kalau suatu ketika aku tak lagi mampu menyokong tubuhku yang besar dan berat ini, tetapi justru pada saat itu para kekanak itu sedang bermain di dekatku. Ya, kita semua dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Karena memahami hal itulah aku tak pernah merasa sakit hati akan ulah para ibu-ibu dari perumahan mewah itu. Ya, anak-anak memang harus kita jaga dengan sangat hati-hati; apalagi di zaman yang berlari seperti ini. Meski demikian, setiap aku melewati depan gerbang taman bermain anak-anak itu, aku tetap juga memberi salam kepada anak-anak itu sambil menggeleng-geleng dan mengibas-ngibaskan daun kupingku yang lebar. Belasan anak-anak yang sedang bermain itu pun lalu berhamburan ke pagar kawat taman perumahan itu, lalu dengan caranya masing-masing balik memberi salam kepadaku. Aku tahu; kanak-kanak yang lucu. Meskipun di belakang kulihat para ibu mencemaskan hal itu.
Tetapi tidak dengan anak-anak yang berada di pemukiman kumuh itu. Entah kenapa setiap aku datang dan anak-anak mereka bersorak merubungiku, tidak ada satu pun orang tua mereka yang mencemaskannya. Kadang-kadang aku jadi berpikir pula, apa bedanya antara anak-anak di pemukiman mewah itu dengan anak-anak di pemukiman kumuh ini? Kenapa para ibu di pemukiman mewah itu begitu mencemaskan anak-anaknya bahkan meski hanya sekadar merapat ke pagar kawat taman ketika menyambut salamku, sedangkan para ibu di pemukiman kumuh ini seperti tidak mempedulikan ketika anak-anak mereka ramai-ramai mendekatiku bahkan kadangkala bermain-main di bawah perutku? Apakah ibu-ibu di pemukiman kumuh itu tidak takut suatu saat anak-anak mereka tanpa sengaja terinjak olehku atau bahkan tertimpa oleh tubuhku yang limbung karena usia tua? Ketika yang satu begitu mencemaskan sementara yang lain tidak, apakah itu berarti ada perbedaan nilai di antara mereka? Terus terang sampai saat ini aku tidak begitu memahami hal itu. Yang aku lihat, kegembiraan mereka, kanak-kanak itu, ketika melihatku aku lihat sama saja; meskipun yang di taman lebih terasa seperti getar kerinduan yang tak terlepaskan. Aku memang lebih merasakan kegembiraan yang lepas pada anak-anak di pemukiman kumuh itu ketika mereka berhasil mempermainkan daun telingaku atau sekadar bergelantungan pada belalai atau gadingku. Aku sendiri tentu lebih menyukai bila aku dapat langsung bermain-main dengan anak-anak itu, meski tentu saja aku harus berhati-hati dengan tubuh besar dan tua ini agar tidak sampai menginjak mereka atau limbung dan tumbang. Bagi seekor gajah yang kesepian hal seperti itu sangat menyenangkan. Tidak, tidak; aku memang gajah tunggal, tapi bukanlah yang pemarah.

Ya, aku gajah tunggal karena aku adalah gajah yang terakhir hidup di muka bumi. Ini kuketahui pada hari terakhir aku berada di rombongan sirkus lebih setahun yang lalu. Aku mendengar pimpinan rombongan berbicara kepada pawangku, “Kita lepaskan saja dia. Sebagai gajah terakhir di muka bumi, dia patut mendapatkan kehidupan di alam liar di hari-hari terakhirnya. Kita sudah memeliharanya sejak bayi. Kasihan. Lagi pula, dia sudah terlalu tua. Dia tidak mampu lagi melakukan trik-trik yang kamu perintahkan.”

Maka, pada suatu malam buta, aku pun dilepaskan di sebuah pinggiran hutan. Apakah aku dilepaskan atau dibuang; aku tak begitu paham. Yang kemudian aku sadari, sejak itu aku harus mulai mencari makan sendiri. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak bayi. Jadi, meskipun kami kaum binatang hidup untuk makan ataupun makan untuk hidup, tidak juga serta-merta kami mampu melakukannya tanpa belajar dan pengalaman. Hari-hari pertama aku di alam bebas, aku lalui dengan kelaparan dan kehausan. Aku bingung, tak tahu apa yang harus aku lakukan. Benda gelap yang semula kukira hutan pada malam aku dibuang, ternyata hamparan kebun kelapa sawit semata. Aku sering mendengar saudara-saudaraku dulu sering diburu dan bahkan dibunuh orang bila berani bahkan sekadar mendekat-dekat ke perkebunan seperti itu. Karena itu, aku pun tak berani mencoba mendekati, meskipun pucuk-pucuk hijau muda itu begitu menggoda, meskipun buah-buahan yang bergerombol merah kehitaman itu begitu menggoda. Tapi, apa dayaku, sekelilingku saat itu seluas pemandangan adalah kebun sawit semata. Apa yang harus aku lakukan? Apakah kuseberangi saja parit ini untuk mendapatkan pucuk-pucuk hijau muda itu? Tetapi, dalam keputusasaan begitu tiba-tiba aku bertemu dengan segerombolan manusia. Kami sama-sama terkejut. Tetapi aku lebih terkejut lagi manakala mendengar mereka berteriak ramai-ramai, lalu mengejarku sambil mengacung-acungkan berbagai macam senjata yang ada.

Aku pun lari.

Sebenarnya bagiku manusia bukanlah makhluk yang aneh dan menakutkan. Di rombongan sirkusku aku setiap hari bertemu dan bergaul dengan mereka sejak aku masih bayi lagi. Aku juga sudah terlalu sering mendengar mereka berteriak-teriak dan bersorak-sorai atau bertepuk tangan, melihat wajah-wajah ceria mereka, yang seringkali membuatku tambah bersemangat dan berbahagia. Tetapi, yang aku alami ketika itu aku rasakan berbeda sekali. Mereka memang sama-sama manusia, mereka memang sama-sama berteriak dan bersorak; tapi di bawah sadarku aku merasakan adanya perbedaan. Aku merasakan adanya ancaman yang sangat berbahaya dari sikap mereka yang seperti itu. Karena itulah kemudian aku berlari.

Berlari. Berlari melarikan diri. Hingga tanpa sadar hari larut malam ketika aku sampai di suatu tempat dengan langit berpelangi gelap. Di situ aku tersungkur. Seribu letih menggelantung jiwaku. Selaksa perih menggerayang tubuhku. Sedaksa lapar menggelerus perutku. Sejuta dahaga menggelantang jantungku. Aku pun tak sadarkan diri.

Pagi, aku tersadar setengah mati. Orang-orang ramai di sekelilingku. Matahari setinggi penggalah. Dan yang semula kusangka pelangi gelap ternyata hanya sebentangan jalan layang. Orang-orang itu ramai berbicara.

“Akan kita apakan dia?”

“Kasihan.”

“Dia sudah tua sekali.”

“Kata orang-orang, sudah tidak ada lagi gajah di bumi.”

“Ini, nyatanya ada.”

“Mereka orang bebal semua.”

“Lihat, tubuhnya penuh luka.”

“Ada berbatang-batang anak panahnya lagi. Yang ini pasti bekas kena tombak. Itu, aku rasa kena tembak. Nah, yang memanjang ini pastilah bekas kena tebas parang.”

“Kasihan. Sebaiknya kita obati.”

“Tetapi, dengan apa? Mengobati borok kita sendiri pun kita tak punya.”

“Itu borokkau. Kau memang sayang ke borokkau itu. Dapat kaucium-cium.”

“Hei, lihat, aku punya obat merah!”

“Bawa sini! Tak sampai separuh lagi. Apa cukup untuk semua luka ini?”

“Jangan bercakap saja. Kerjakan apa yang bisa. Kau, kau, cabut anak panah itu. Tapi tunggu dulu, kita ikat dulu gajah ini. Supaya tak mengamuk dia nanti. Cari tali. Tali!”

“Manalah ada tali. Untuk menggantung leher sendiri pun kita tak punya.”

“Jangan menggerutu saja. Cari tali! Tali yang kuat!”

“Ini, tali!”

“Bagus betul talikau. Masih baru lagi. Dapat dari mana?”

“Aku ambil di kedai Babah Along.”

“Kau ambil atau kau ambil.”

“Sudahlah. Apa pedulikau. Yang penting kita butuh tali.”

“Lihat! Lihat! Matanya mulai bergerak-gerak!”

“Cepat! Cepat ikat! Nanti dia keburu bangun!”

“Sana. Ya, gadingnya juga. Ikat yang kuat. Ingat, dia gajah.”

“Gajah terluka lagi.”

“Gajah tunggal dan terluka.”

“Gajah tunggal terakhir di bumi yang terluka.”

Begitulah. Tentu saja tak sampai setengah botol obat merah itu tak cukup untuk membilas seluruh lukaku. Tetapi untungnya luka-luka itu kemudian berhasil sembuh, meskipun agak lama juga. Sisa-sisa makananku yang lumayan bergizi selama di rombongan sirkus sebelumnya agaknya masih cukup untuk menopang kembalinya metabloisme tubuh tua ini. Maka, sejak itu tanpa terasa aku pun perlahan-lahan seolah menjadi salah satu anggota masyarakat di lingkungan pemukiman kumuh bawah jalan layang itu. Tetapi, karena di situ tidak ada lagi rumput, aku pun setiap subuh pergi ke sebuah tepian sungai beberapa kilo dari situ, melewati pinggiran sebuah kompleks perumahan mewah. Di tepian sungai itulah masih tumbuh sebidang rumput gajah. Tapi tak banyak, aku harus menghematnya. Dalam perjalanan itulah aku sering bertemu dengan kanak-kanak di balik pagar kawat taman mewah itu. Mereka merapat ke tepian kawat ketika aku lewat, dan aku pun mengelepak-ngelepakkan daun kupingku.

Di pemukiman bawah jalan layang itu perlahan-lahan aku menyatu. Dan orang-orang yang telah menolongku itu pun ternyata tahu benar bagaimana membuatku berarti. Ketika membangun rumah gubuk mereka, mereka minta aku membawakan balok-balok kayu yang berat-berat. Kadang aku diminta membawa gerobak barang mereka yang besar-besar; di dalamnya aku lihat ada ban bekas besi bekas kaleng bekas ember bekas kertas bekas dan kadang-kadang bekas orang. Dan aku menyukai itu semua, karena dengan begitu aku jadi merasa berguna; bukan hanya sekadar seekor gajah tua yang sedang mencari kuburan gajah-gajah. Setelah semua kerja itu aku pun kadangkala diberikan bermacam buah-buahan atau sayur-sayuran yang mereka punya ketika itu, atau yang kebetulan terselip di antara tumpukan isi gerobak mereka. Lalu di waktu senggang mulailah pula anak-anak mereka bermain-main denganku. Bergelayut, berayun, memanjat, menggelantung di setiap bagian tubuhku yang dapat mereka raih. Mereka tertawa-tawa, kanak-kanak itu. Kadang-kadang juga menangis karena terjatuh atau kalah berebut.

Tetapi kita semua tahu tidak ada kebahagiaan yang abadi di dunia ini, seperti juga kesedihan. Dan aku pun tersadarkan ketika mengetahui kenyataan bahwa ternyata aku adalah satu-satunya gajah yang ada di permukaan bumi adalah sesuatu yang penting. Entah penting untuk apa; aku sepertinya sudah terlalu tua. Bahkan andai ada pun seekor gajah betina saat ini, aku mungkin tak mempedulikannya lagi. Aku lebih menyukai kanak-kanak itu, juga yang di balik kawat pembatas taman perumahan mewah itu, dan bermain-main dengan mereka. Kupikir semula aku hanyalah seekor gajah saja, semua orang juga tahu, dan gajah bukanlah binatang yang aneh. Kalau pada suatu masa mereka memperhatikanku karena aku pandai melakukan berbagai atraksi yang lucu dan menggemaskan mereka di bawah tenda rombongan sirkus; itu sekadar keahlian yang kupikir semua gajah biasa melakukannya. Aku kan sejak bayi sudah berada di dalam rombongan itu. Tak tahunya sekarang, ternyata begitu bilangan cacah dilekatkan di belakang namaku, aku ternyata menjadi sesuatu yang istimewa.

“Banyak orang ternyata yang mencari gajah ini.”

“Memangnya ada apa? Apakah dia sudah membunuh seseorang?”

“Dia benar-benar gajah terakhir di muka bumi.”

“Lalu?”

“Akan kita apakan dia?”

“Dia bukan gajah kita.”

“Tapi, dia sudah menjadi keluarga kita.”

“Ah, kau sentimentil sekali.”

Orang-orang ribut dalam redam di sekeliling perkampungan bawah pelangi gelap itu. Bulan tampak merucup di balik awan yang berlayar.

“Kita sembunyikan dia?”

“Kau gila? Pemburu mencari dia. Perampok mencari dia. Ilmuwan mencari dia. Tentara lebih-lebih mencari dia. Kita semua bisa mati.”

“Kita bisa mati!”

“Anak-anak kita juga bisa mati!”

“Tapi, kudengar ada hadiah untuk orang yang bisa menyerahkan gajah ini.”

“Ya, ya, hadiah. Sangat besar kabarnya. Cukup untuk kita semua.”

“Kalian gila, menyerahkan makhluk yang sudah kita anggap seperti saudara untuk semata hadiah? Sadis!”

“Ini bukan soal sadis. Ini untuk kebutuhan kita juga. Bayangkan, dengan hadiah sebesar itu, kita semua masing-masing bisa membeli sebuah rumah di perumahan mewah itu, menyekolahkan anak-anak kita di sekolah internasional, membelikan istri-istri kita baju dan perhiasan yang mahal-mahal, dan membeli untuk diri kita sendiri sebuah motor atau bahkan mobil! Kita tak perlu lagi mengumpulkan sampah-sampah itu!”

“Jadah! Aku tak suka itu! Jangan ada yang coba-coba menyentuh gajah itu. Ingat, dia sudah membantu kita semua. Kau, dibangunkannya gubuk untukkau. Kau, dibawakannya gerobak bututkau itu. Kau juga. Kau pun juga. Kau, anakkau diselamatkannya dari batang pohon tumbang itu. Kau ….”

“Pokoknya aku tak peduli, akan kuserahkan juga gajah itu, lalu duitnya akan kubagi-bagi ke kita semua. Kalau kau tak mau, tak usah ikut!”

“Ya, betul itu!”

“Ya, betul!”

“Jangan, aku pun tak setuju!”

“Aku setuju!”

“Ya, aku juga!”

“Tak boleh!”

“Bangsat!”

Aku pun kemudian hanya terheran-heran ketika melihat mereka semua tiba-tiba berkelahi. Berkelahi macam budak-budak kecik. Orang-orang yang tadi begitu tulus, saling membantu, dan menjadi sahabat-sahabatku. Aku kemudian hanya ingat, tak lama sesudah itu hujan turun dengan lebatnya, suara petir menggelegar bercampur desingan peluru, dan puluhan makhluk berseragam tiba-tiba datang menyerbu. Aku masih ingat, kenangan hari-hari terakhir itu, dari dalam selubung es beku, seperti nenek moyangku dulu, mammoth.***




PBR, 220507
Riau Pos, Minggu, 24 Juni 2007

Dodolitdodolitdodolibret

Dodolitdodolitdodolibret

Cerpen Seno Gumira Ajidarma




Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.
Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

***

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.
Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!
”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.
Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.
”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”







Ubud, Oktober 2009 /
Kampung Utan, Agustus 2010.

*) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

TIGA KISAH PENDEK

TIGA KISAH PENDEK

Cerpen Zen Hae




1. Tu(k)an(g) Kebun
: M.H. Székely Lulofs

TUANKU, yang tua dalam kebakaannya, mendatangiku yang tengah tertidur di sebuah bangku batu panjang. Ia memakai seragam kontrolir dengan topi yang miring ke kanan. Serba-putih. Dengan ujung tongkat rotannya ia cutik pipiku, aku geragapan dan meraih ujungnya. "Apa kau bermimpi?" ia bertanya. "Ya. Tapi aku buta. Segala yang kuimpikan merah-hitam semata. Sosok-sosok mengabur seperti kerumunan lebah," kataku. Lantas ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatap bulatan marmer putih di mataku. "Lantas bagaimana kau merawat taman ini?" ia bertanya lagi. "Aku merawatnya dengan cara membayangkannya," kataku.

Ia memandang taman segi delapan di depan kami. Lumayan luas, cukup banyak pohon peneduh dan rumpun bunga. Hamparan rumput yang dipotong serapi permadani Turki. Batu-batu raksasa setabah bijian purba yang ribuan tahun menanti hujan pertama. Sebuah sungai kecil yang memusuhi jalan lempang ke muara. "Bumi benar-benar impian seorang tukang kebun," katanya setelah matanya puas. "Semula aku mengira kau akan benar-benar menderita di bumi asing ini, tapi ternyata tidak. Kau cukup cakap membawa diri."

Tapi ia mengeluhkan tamannya, tak ada lagi yang mengurusnya. Taman itu kini menghutan dan merambak hingga tak terhingga. Adapun pohon itu--kunamai ia Pohon Merah--yang pernah kami datangi di hari istirah yang sejuk, menjulang kian kokoh dan tambah tinggi hingga menyentuh atap sorga. Bebuah dan dedaunnya berjatuhan dan membusuk di sungai hingga susu di sungai itu menjadi cepat basi. Hewan-hewan sering mabuk begitu meminumnya. Tak jarang mereka mengamuk dan berbunuhan--setelah panas berdebat tentang siapa yang pantas merawat taman itu.

"Sedang para centeng berpedang-api itu, apalah yang bisa kuharapkan dari mereka? Mereka bisa menjaga tapi tidak bisa mengurus taman dengan baik. Kadang mereka tertidur di bawah pohon, dengkur mereka menjelma guntur, pedang mereka tergeletak dan apinya menjalar ke mana-mana. Susu basi toh bukan piranti ampuh untuk memadamkan api."

"Tapi bisa membuat seluruh makhluk sakit perut berhari-hari. Dan belum ada dokter di tempatmu, Tuanku," jawabku.

Ia tertawa sehingga tubuh tambunnya terguncang-guncang dan beberapa potong nubuat meloncat dari mulutnya sebelum waktunya. Seingatku baru kali itu ia begitu.

"Aku butuh tukang kebun," katanya setelah bisa menguasai diri. "Perawat taman yang telaten. Yang paham bahasa pohon dan hewan, tahu perangai setiap jengkal tanah dan gerak air di dalamnya--bukan sekadar penjaga. Kembalilah. Ajak anak-istrimu. Usahakan dan pelihara kembali tamanku. Maafkan aku...."

Karena tak juga kujawab, ia pergi sembari bersungut-sungut. Tiba-tiba petir menyambar dan ia lenyap. Tiba-tiba taman di depanku berantakan. Pepohonan gerumpung dan hangus. Rerumputan kering dan terbakar. Delapan belas langkah di depanku tanah seperti baru dibongkar oleh ledakan bom. Sedang sungai kecil itu kini telah berubah menjadi ular sanca raksasa, menggeliat kesakitan. Seekor kelinci putih melompat dari pecahan batu, mencari sisa-sisa rumput hijau. Sedang diriku kembali tertidur di bangku itu, di bawah guguran debu dan abu. Sepotong suara cemas memanggilku, dekat sekaligus jauh. "Tuan!"

Aku terjaga dalam rasa mual yang aneh di kursi goyang di beranda rumahku. Segalanya memang tampak merah-hitam di ufuk barat tapi semuanya telah berjalan baik di sini. Harga teh sedang naik. Upah kuli-kuli sudah dibayar. Aku menyayangi tukang kebun dan kuli-kuliku. Mereka rajin dan tidak gila judi. Dan yang terpenting: mereka tidak banyak ulah. Nyaiku terutama, melayaniku dengan rajin dan bergairah. Ia menyambutku untuk mandi. Sebuah pesta kecil akan menebus keletihan kerja kami selama seminggu. Tapi di kamar mandi, entah kenapa, aku masih saja memikirkan Tuan Kebun itu.

"Tuanku, Tuanku, kenapa dulu kauusir aku?"


2. Selawat Aliman

SOSOK itu jatuh dari pohon durian. Lantas bangkit, membetulkan dirinya yang ringsek, dan menabuh rebana.

"Assalamu alaik Zainal Anbiya...."

Aliman keluar dengan susah-payah dari sebuah lorong sempit antara sebuah rumah tua dan tumpukan peti mati seraya menuntun kuda putih. Ia bersiap-siap untuk sebuah tamasya Minggu pagi dengan kepala berhiaskan kabang-kabang. Merasa disambut oleh penabuh rebana dan alunan selawat, ia pun tersenyum dan membusungkan dadanya. Adapun kuda putih itu mengangguk-angguk seperti kuda renggong. Tapi kemudian seekor lalat hinggap di moncongnya sehingga kuda itu meringkik sambil mengangkat dua kaki depannya. Merasa akan ditumbrag kuda penabuh rebana menghindar tanpa menghentikan tabuhannya. Tapi kuda itu terus saja begitu, meski berkali-kali Aliman menarik kekangnya. Dan, dung, dalam satu tabuhan keras sosok itu berubah menjadi kerumunan lebah dan rebana di tangannya menjadi pedang-api. Kini yang ketakutan bukan hanya si kuda, tetapi juga Aliman. Kuda itu lantas berlari ke arah pagar halaman. Aliman mencoba mengejarnya, tapi tanah di depannya tiba-tiba saja melumpur dan mengisap kedua kakinya. Ia masih mendengar ringkik terakhir kuda itu sebelum lenyap di jalan raya. Perlahan-lahan sosok-kerumunan-lebah itu menghampirinya hingga tinggal sedepa saja jaraknya. Dalam sekali ayun, pedang-api itu memutuskan lehernya
dan kepalanya menggelinding berbalut lumpur.

Aliman terjaga dengan napas tersengal-sengal.

Mimpi buruk dari masa remajanya itu muncul bekali-kali. Dengan sejumlah variasi, tentu saja. Misalnya, sosok itu pernah memakai baju karung goni dengan beberapa ekor lebah yang terus beterbangan dari baju karung yang bolong-bolong. Pernah pula ia mengendarai odong-odong komidi putar tanpa penumpang diiringi alunan lagu "Bintang Kecil". Kuda putih itu ternyata kuda-kudaan kayu miliknya yang hilang saat pindah rumah. Pernah pula ibunya muncul dan menyuruhnya melakukan sebuah keajaiban. "Siram dengan ini, pasti mati. Ini obat dari sorga," kata ibunya sambil menyorongkan sebaskom rendaman akar-akaran. Tapi ia selalu kalah cepat daripada sosok-kerumunan-lebah itu. Dan di akhir mimpi ia selalu melihat kepalanya menggelinding. Yang sedikit menghibur: kepalanya ternyata bukan dibalut lumpur tetapi lelehan coklat. Manis-pahitnya masih terasa di lidah begitu ia bangun.

Saking seringnya mimpi itu datang, Aliman seperti menemukan obat mujarab. Ia berhasil keluar dari labirin mimpi menyesakkan itu. Kapan saja ia bermimpi dan kakinya mulai terasa kesemutan, selalu ada sepotong kalimat: "Ini pasti mimpi. Ini hanya mimpi. Bangunlah. Grrroeeeenngg...." Ia pun bangun sebelum sosok-kerumunan-lebah itu mencegatnya. Yang paling ia syukuri setelah itu adalah mendapati kepalanya masih bertengger di atas lehernya. Kecuali bahwa tenggorokannya terasa kering, berbau lumpur, dan baru beres setelah diminumi bergelas-gelas air bening.

Ia tumbuh dewasa dengan mimpi-mimpi yang lain lagi. Salah satu yang paling menyenangkan hatinya, dan itu baru muncul beberapa hari lalu, adalah perjalanan ke hutan buah. Itulah hutan yang ditumbuhi pohon durian yang tak tepermanai jumlah dan rasanya. Hutan durian itu hanya bisa ditempuh lewat perjalanan melingkar seperti menyusuri lingkaran obat nyamuk bakar. Di pusatnya ada sebatang pohon durian tua yang dipercaya sebagai asal-muasal seluruh pohon durian di hutan itu. Bebuahnya bergelantungan, dan beberapa jatuh tanpa ada yang memungutnya. Semua pohon durian itu ternyata dirawat oleh ibunya. "Ibumu sejatinya seorang pemulia tanaman," kata pemandu wisata dalam mimpinya itu. "Sekaligus tabib tanpa tanding."

Mimpi itu sedikit membingungkan. Yang ia tahu, ibunya meninggalkan dirinya di depan pintu panti asuhan pada pagi buta dengan alasan ingin membeli nasi uduk dan tak pernah kembali hingga hari ini. Saat itu, ia baru berusia tujuh tahun dan hanya bisa menangis sampai seseorang dari panti asuhan itu membukakan pintu pagar. Tapi ia girang karena bisa melupakan sepenuhnya sosok-kerumunan-lebah itu.

Tapi Minggu sore itu, sepulang mengunjungi temannya di Cicangkal--seorang pemulia durian Rumpin--entah kenapa, sesuatu jatuh dari menara masjid di gang menuju rumahnya. Karena masih terkenang-kenang pada durian mahalezat di kebun temannya itu, ia menyangka yang jatuh itu adalah durian. Ternyata itu adalah sosok-kerumunan-lebah yang dulu pernah mencegatnya dalam mimpi. Lengkap dengan pedang-apinya. Ia yakin tidak bisa maju, mundur apalagi. Sebab tembok tinggi di sisi kirinya sudah membelok ke kanan dan menghadang langkahnya jika ia berbalik dan berlari ke mulut gang. Antena televisi yang bertengger di atap-atap rumah mengembang menjadi para-para, sehingga ia seperti ada di sebuah sangkar burung raksasa. Sedang kedua kakinya seperti berakar dan menghunjam jalan aspal yang sudah gompal-gompal. Ia dengar pula alunan tabuhan rebana dan salawat dari pengeras suara masjid itu: "Assalamu alaik Zainal Anbiya...."

Tiba-tiba ia teringat ibunya yang entah di mana dan rendaman akar-akaran itu. Ia ingin sekali mendapatkan mereka ketika sosok itu pelan-pelan mendekatinya. Ketika seekor lebah terbang dan hinggap di ujung hidungnya.

3. Si Pelompat Got

IA telah melompati got berair hitam dan bau itu sebanyak tigapuluh kali. Setelah got selebar dua meter adalah tembok batako setinggi dua meter pula, dengan bentangan kawat berduri di atasnya. Di baliknya semak-belukar, padang ilalang, kerumunan rumah berdinding triplek beratap plastik, yang hampir seluruh penghuninya adalah penggancu sampah, dengan pekerjaan sampingan di seputar "pemindahan dompet dalam tempo sesingkat-singkatnya"--lantas perbukitan sampah. Tapi ini keberhasilannya yang keduapuluh lima dalam seni berbasis kejelian penglihatan dan kecepatan tangan itu. Perempuan berseragam pegawai bank di halte itu keburu berteriak "copet, copet" begitu ia baru menjepit dompet di dalam tasnya.

Dulu ia mengamalkan seni itu untuk sekadar bersenang-senang di gubuk-gubuk di seberang sungai dan makan enak beberapa hari. Ketika ibunya jatuh sakit ia punya tujuan yang lebih mulia: membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi ibunya tidak pernah bisa sembuh dari penyakit menjengkelkan yang menyerangnya lebih dari lima tahun lalu. Seluruh tubuhnya penuh koreng dan melelehkan cairan bening-kuning. Baunya busuk dan menyengat. Penyakit itu membuat baju tubuh ibunya senantiasa basah dan menempel di tikar rombeng di gubuknya, dirubungi lalat hijau.

Ia ingat bagaimana ibunya terakhir kali menangis sebelum ia pergi menunaikan tugas mulia itu lagi. "Carikan aku getah Pohon Merah. Katanya itu obat mujarab buat penyakitku," kata ibunya.

"Ibu harus dibawa ke rumah sakit dan aku tidak punya uang," ia menjawab.

"Bawa saja aku ke bawah pohon itu."

"Pohon itu lagi, pohon itu lagi. Itu tanaman sorga."

"Kalau begitu, bawa aku ke sorga"

"Aku tidak tahu jalannya."

"Kau anak tak berguna."

"Kau ibu sialan!"

Kegagalan itu membuat dirinya berpikir keras usaha apa lagi yang harus ia lakukan untuk menolong ibunya. Bermalam-malam ia berjaga di bangku panjang di bawah pohon ketapang tak jauh dari gubuknya. Sebab, di dalam gubuk ia sungguh tidak tahan mendengar ibunya mengerang dan terus-menerus harus menutup hidung. Setelah azan subuh, ketika mulai mengantuk, tiba-tiba, ia dirongrong oleh gairah yang menakjubkan. Ia tersenyum memandangi sampah yang sedang terbakar--entah oleh siapa. Ia segera berbalik dan menuju gubuknya. Ia gulung tubuh ibunya yang sedang tidur lelap dengan tikar rombeng itu dan ia masukkan ke gerobak. Ibunya terbangun dan bertanya, "Kau mau bawa aku ke mana?"

"Ke sorga."

"Apa kau sudah tahu jalannya?"

"Ya. Tidak jauh dari sini."

"Ohh. Kau anak soleh."

Perlahan-lahan ia tarik gerobaknya mendekati kobaran api itu. Di hamparan sampah yang cukup padat ia berhenti dan menghadap ke ufuk timur. "Itu sorga," katanya sambil menunjuk matahari pepaya matang yang mulai bangkit. Ibunya hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah cukup puas, ia tinggalkan ibunya. Ia biarkan api yang merambat mendekati gerobaknya. Ia tidak pedulikan jeritan ibunya. Ia lihat sejumlah tetangganya berlari ke arahnya dan segera mendorong gerobak yang mulai dimakan api. Ia tidak melawan ketika mereka membekuk dirinya, memukuli dan menendangnya hingga terjengkang.

"Sarap luh!" maki seseorang sambil meludahi mukanya.

Dua jam kemudian ibunya mati dengan sendirinya dan dikuburkan di tempat orang-orang seperti dirinya biasa dikuburkan. Esok harinya, sebelum terang tanah, ia tinggalkan perkampungan jahanam itu, ketika tetangganya sedang bersemangat menggancu apa saja yang masih berharga di perbukitan sampah. Setelah melewati pintu gerbang, ia berbelok ke kanan, melintasi warung bubur kacang hijau, pedagang ikan hias, pangkalan ojek dan kios rokok. Di depan kios itu ia berhenti, ingin membeli sebatang rokok, seperti biasa, tapi ia urungkan. Saat itu ia hanya ingin menghidu semesta pagi yang basah oleh bau tubuh ibunya. ***





Sumber: Koran Tempo, 22 Agustus 2010

Macan Lapar

Macan Lapar

Cerpen Danarto

Ketika saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan Lapar, saya terbahak. Ketika ia melanjutkan SMS-nya bahwa jika ia tidak menemukan seorang Putri Solo yang Macan Lapar itu, dalam bahasa Jawa: Macan Luwe, berarti saya menyembunyikannya. Lagi-lagi saya terbahak.

Sebaliknya saya mengancam, jika ia main-main saja dengan Putri Solo, misalnya mengajaknya kumpul kebo, saya akan melaporkannya ke Presiden Obama. Ternyata John berani bersumpah bahwa ia serius akan menikahi Putri Solo yang Macan Lapar itu dan memboyongnya ke Amerika. Anak keturunannya kelak, janji John, merupakan masyarakat baru Amerika yang akan mendatangkan berkah. Saya menyambutnya dengan mengucap amin, amin, amin. Okey, jawab saya. Insya Allah, John, saya akan membantumu untuk menemukan Putri Solo si Macan Lapar itu.

John adalah seorang arkeolog. Perkenalannya dengan dunia Timur ketika ia melancong ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memelototi candi-candi. Waktu itu ia masih berusia 23 tahun, sedang giat-giatnya menjaring ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Candi Borobudur sudah tentu, Prambanan, Mendut, Sukuh, Panataran, semuanya, sudah pindah ke benaknya. Tentu banyak lagi. Setelah John menjadi profesor di usia 25, ia sadar bahwa tak ada gunanya seorang profesor yang jomblo. Ia merasa sangat kesepian. John sebenarnya sudah menjalin hubungan dengan sejumlah mahasiswinya. Tapi semuanya menolak untuk dinikahi, yang membuat John uring-uringan.

Menurut John, masa bahagia adalah ketika kuliah di Solo, ia menginap di rumah saya di bilangan Notosuman, bertetangga dengan kedai Srabi Notosuman yang termasyhur itu. Bagaimana ia tidak berbahagia, segalanya tersedia dengan gampang. Tidak seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri, di Solo jika lapar bisa langsung makan, bila pengin ngopi tinggal pesan, bila pakaian kotor tinggal dilemparkan. Jika nonton pertunjukan, pergi kuliah, maupun piknik, cukup dengan naik sepeda.

Di universitasnya, UCLA, John berkenalan dengan Eko, seorang penari dari Solo yang sedang melakukan tur ke 30 universitas Amerika untuk menari. Eko menyarankan supaya John menikah dengan gadis Solo saja. Di samping gemi, nastiti, ngati-ati (irit, terperinci, berhati-hati), putri Solo gaya berjalannya persis macan lapar yang bisa membekukan waktu.

Tetapi, menurut Fafa Dyah Kusumaning Ayu, seorang DJ yang menjelma sejarawan yang mbaurekso (mengayomi) kota Solo, putri Solo yang gaya berjalannya persis macan lapar itu sudah tidak ada lagi. Menurut dia, dari satu artikel yang dibacanya, putri Solo yang demikian, yang terakhir terlihat di zaman penjajahan Jepang, yaitu di tahun 40-an. Mendengar ini, Eko dari Boston kirim SMS: Fafa, lo jangan bikin John pesimistis. Fafa pun menjawab: Eko, lo jangan mengada-ada.

Di bandara Adi Sumarmo, Solo, saya dan anak-anak, Ning, Nong, dan Nug, menjemput John yang datang lewat Bali. Di rumah, ibunya anak-anak menyiapkan nasi goreng ikan asin kesukaan John. Ia tinggal di rumah penginapan penduduk yang banyak bertebaran di kampung-kampung. Serta-merta ia diminta mengajar di ISI (Institut Seni Indonesia) untuk mata pelajaran arkeologi budaya.

Menurut Fafa, gaya berjalan Macan Lapar adalah gaya berjalan yang bertumpu pada pinggul dan pundak. Jika melangkah, sebagaimana orang berjalan, pinggul kanan berkelok muncul keluar dari garis tubuh, maka pundak kiri lunglai ke depan. Begitu bergantian, pinggul kiri mencuat, pundak kanan lunglai ke depan. Irama ini dalam paduan langkah yang pelan. Gaya berjalan begini akhirnya diadopsi oleh para art director fashion show menjadi gaya berjalan yang kita kenal sekarang oleh para peragawati di seluruh dunia di atas cat-walk. Megal-megol-nya para peragawati Eropa, Amerika, maupun Asia, menurut Fafa sangat teknis. Hal itu tampak ketika para peragawati sudah tidak di atas cat-walk lagi, mereka ternyata berjalan biasa saja, sebagaimana orang-orang biasa berjalan. Artinya, megal-megol mereka di atas cat-walk belum merupakan kekayaan budaya fashion show. Padahal macan laparnya putri Solo itu tulen, alamiah, menyatu dengan tubuh yang hidup dalam budaya tradisinya. Meski cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.

Pada suatu hari di siang yang panas, ketika saya dan Nug selesai jumatan di Masjid Gede, lalu bergabung dengan Ning, Nong, dan ibunya anak-anak untuk menikmati tengkleng, semacam sop tetelan daging sapi atau kambing khas Solo di gerbang Pasar Klewer, tiba-tiba menghambur John di sela kerumunan orang yang antre tengkleng, sambil berkata mantap:

”Saya sudah dapat si Macan Lapar.”

”Alhamdulillah,” sahut saya.

Lepas ashar di gerbang Keraton Susuhunan, sejumlah orang berkumpul: John, Fafa, mas Rahayu Supanggah (komponis), mas Modrik Sangidu (aktivis), Sadra (komponis), Slamet Gundono (dalang), Suprapto Suryodarmo (guru spiritual), dan pak Jokowi (wali kota Solo) sedang berharap-harap cemas sambil mencereng menatap jalanan. Kami semua diundang John untuk menerima kejutan.

Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan. Langkah yang pelan, yang pasti, yang terkonsentrasi penuh. Namun gaya ini—sekali lagi–tulen. Gadis itu melenggang ke pintu masuk keraton ketika tiba-tiba John meloncat mengejarnya. Fafa mencoba menahan John. Saya dan Modrik serta pak Jokowi ikut berlari mengejar. Prapto, Sadra, dan Panggah terbahak. Gundono berteriak dan tertawa, ”Kejar! Kejar!” sambil mencakar cukelelenya keras-keras membangun ketegangan.

Ketika John mencapai teras keraton, kami melihat pemandangan yang mengerikan: John jadi Cleret Gombel! Menyaksikan John yang bermetamorfosis jadi sebangsa bunglon yang bisa terbang itu, gadis yang dikejar itu berteriak-teriak ketakutan lalu meloncat ke dalam ke halaman dalam keraton. Kami berloncatan meringkus John si Cleret Gombel. Saya dan pak Jokowi terlempar. Fafa menjerit karena si Cleret Gombel menggeram sambil memperlihatkan taringnya. Mas Modrik yang persis Samson itu dengan kuat meringkus John hingga roboh. John terus meronta menggeram-geram sambil unjuk taringnya yang putih berkilat. Kemudian dengan mobil hardtop mas Modrik, ramai-ramai John kami serahkan kepada pak Oei Hong Djien, guru spiritual yang khusus menangani keseimbangan pikiran dan perasaan, dari komunitas kebatinan Sumarah. Kami sepakat membantu John untuk melamar penari Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan namanya Intan Paramaditha.

Belakangan pak Jokowi melakukan rapat maraton dengan para budayawan Solo untuk membahas tentang rencananya melakukan revitalisasi gaya melenggok ala Macan Lapar ini. Kota Solo diyakini menjadi satu-satunya kota di dunia yang punya gaya berjalan putri-putrinya yang elegan itu. ***




Kota Tangerang Selatan, 10 Juni 2010

LUKISAN PERKAWINAN

LUKISAN PERKAWINAN

Cerpen Hamsad Rangkuti



Kecurigaan sudah lama mengganggu ketentraman hidup Jody Sutisna. Ia membayangkan yang tidak-tidak tentang apa yang terjadi di rumah ketika ia berada di kantor. Ia mula-mula membantah kecurigaan yang menghinggapi pikirannya itu. Bukankah cinta itu sendiri telah membuahkan tiga anak yang mereka kasihi? Apakah mungkin penyelewengan itu dimulai oleh campur tangannya dokter untuk tidak terjadinya pembuahan di rahim para wanita? Mereka memberikan obat-obat kepada kaum ibu untuk menghentikan kelahiran. Mereka menjadi cantik kembali. Mereka lebih banyak punya waktu untuk menghias diri. Mereka tidak diganggu oleh kesibukkan untuk mengurus anak-anak. Mereka lalu menghabiskan waktu untuk mempersolek diri. Pada mulanya mereka melakukan itu untuk mengikat suami agar betah tinggal di rumah. Tetapi lama-kelamaan mereka melakukan itu untuk memikat kekasih-kekasih gelap mereka. Mereka mempersolek diri untuk dua sasaran sekaligus. Untuk sang suami dan untuk para kekasih gelap mereka. Begitulah pada mulanya terjadi seperti hal yang tidak sengaja. Tetapi lama-kelamaan cinta telah terbagi. Hati telah terpecah. Mula-mula terpecah menjadi dua. Dan sehari ke sehari hati terpecah sudah tidak seimbang.
Kepingan-kepingan baru telah bertambah lebih banyak berpindah dan kepingan sang suami ke kepingan kekasih gelap. Sampai akhirnya mereka telah berani berpihak kepada yang baru. Menemukan kekurangan-kekurangan yang lama. Kelemahan-kelemahan maupun kejelekkan sang suami sudah tampak jelas terpapar di hadapan sang istri. Kalau sudah sampai ke taraf demikian, seorang dan keduanya harus mengalah. Seseorang harus melepaskan sesuatu yang telah menjadi miliknya, atau memusnahkan keduanya sama sekali. Pikiran itulah yang telah mengganggu Jody Sutisna pada akhir-akhir ini. Mana yang harus dilakukan. Mengusir si istri bersama pelukis itu, atau membunuh keduanya sekaligus.
Kecelakaan yang datang menimpa keluarga Jody Sutisna diawali oleh keterampilannya menembak seekor macan di tengah rimba. Macan itu persis tertembak di antara kedua matanya. Ia bergambar dengan hasil buruannya di tengah rimba. Teman-teman seperburuannya mengambil foto itu untuk mengabadikan Jody Sutisna dengan bangkai binatang hasil buruannya. Jody Sutisna di dalam foto itu mengangkat sebelah kakinya menginjak tubuh macan yang telah mati tergeletak di antara semak belukar. Beberapa bulan kemudian, timbul pikirannya untuk membesarkan potret itu. Dia adalah orang yang mampu. Dia bisa membayar seorang pelukis untuk membesarkan potret itu dalam ukuran yang besar. Dia merencanakan memajang lukisan itu kelak di atas bangkai macan yang telah diawetkan itu di ruang tamu. Pasti para tamunya sesama pemburu menjadi kagum melihat lukisan dirinya bersama macan hasil buruannya diabadikan dalam bentuk lukisan. Mereka bisa melihat binatang itu dalam wujud yang utuh, diawetkan, berdiri siap menerkam, dan di belakangnya, di dinding ruang tamu itu, para sahabatnya itu juga dapat melihat dirinya bersama binatang buruannya diabadikan di atas kanvas dalam karya lukis.

Itulah awal dan mala petaka itu. Ia mendatangkan seorang pelukis ke rumahnya. Pada mulanya si pelukis membawa pulang potret itu untuk dilukis. Sebulan kemudian lukisan itu telah selesai. Lukisan itu cukup sempurna. Di pajang di ruang tamu.
Tibalah, gilirannya si istri minta dilukis berdiri di samping bangkai macan yang telah diawetkan itu. Si suami tidak keberatan. Malah ia merasa senang mendengar permintaan istrinya agar dilukis bersama macan hasil buruannya. Dia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya telah mengundang bencana ke dalam rumahnya. Pada mulanya bencana itu tidak akan tampak dengan segera. Tetapi awal dan itu semua dimulai oleh pandangan yang saling beradu. Si pelukis memandang tepat ke dalam mata si istri, memindahkan garis-garis bentuk tubuh wanita itu ke atas kain kanvas. Bagi si pelukis, melukis seorang wanita adalah hal yang biasa. Dia telah banyak melukis wanita-wanita genit dijadikan model. Pelukis-pelukis itu juga pada akhirnya meniduri model-model mereka. Meniduri model adalah hal yang biasa bagi seorang pelukis. Bila tubuh sudah menyatu, maka kekuatan goresan kuas akan lebih sempurna memindahkan wujud wanita yang dilukis. Menyatulah segala-galanya.
Tetapi kali ini si pelukis bukanlah melukis seorang model dan wanita-wanita yang semacam itu. Ia melukis seorang istri orang yang terhormat. Istri dan orang yang punya kedudukan yang baik di masyarakat. Tidak mungkin ia harus menyamakannya dengan model-model lukisannya yang lain.
Tiap hari si pelukis datang ke rumah Jody untuk meneruskan lukisan yang belum selesai. Dan hari ke hari ia memandang tepat ke dalam mata si istri. Rumah yang luas, kesenyapan ruangan yang terjaga terus-menerus sepanjang siang, adalah faktor penunjang kesuksesan liciknya iblis menganggu kedua mereka. Anak-anak pergi ke sekolah. Pembantu rumah sibuk di dapur. Tukang kebun tidak akan berani masuk ke ruang tamu. Si iblis pun mulai memasuki naluri rendah manusia. Ia menggerakkan keberanian si pelukis untuk menyentuh si istri guna mengatur posisi lebih sempurna.
“Coba Nyonya memandang tepat kepada saya. Ingat posisi yang kemarin. Sedikit Nyonya berubah, akan mengganggu keserasian lukisan yang sedang kita selesaikan ini. Apakah Nyonya telah lelah?”
Si nyonya rumah senyum. Ia bergerak ke arah yang diminta si pelukis. Tetapi bagi si pelukis, gerakan itu belum sempurna seperti yang ia kehendaki. Si pelukis meninggalkan kanvasnya dan mendekati si nyonya rumah yang tampak agak gugup. Si pelukis menyentuh dagu si wanita.
“Nyonya harus bersikap seperti ini.” Sentuhan telah terjadi. Degup jantung keduanya tambah keras. Tetapi keduanya masih saling menjaga nafsu rendah mereka. Tetapi sentuhan yang sedikit itu telah membuka jalan untuk belaian-belaian yang lebih jauh.
Ada semacam petualangan baru dalam diri Sri Suharti Jody Sutisna. Dia merasakan kokok ayam menyambut fajar semacam genta yang merdu ditelinganya. Hari sebentar lagi akan siang. Ayam itu membangunkan Sri untuk bersiap-siap menyambut si pelukis di ruang depan. Sri pagi-pagi telah mandi dan mulai membenahi diri. Bila Jody telah berangkat ke kantor, Sri duduk berlama-lama di depan kaca. Ia memakai baju yang tipis Untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya dan balik kain yang tembus pandang. Mata pelukis itu memancarkan suatu kenikmatan yang lain pada saat memandang dirinya dari balik kerlingan yang mencuri-curi. Rok yang tersingkap menunjukkan betis yang bersih. Mengapa ia selalu duduk dengan sembrono dan membiarkan ujung rok yang dipakainya tersingkap jauh di atas lutut? Mengapa ia tidak buru-buru menutupnya dan melindungi kedua betisnya yang telanjang dan sudut mata yang mencuri-curi itu? Tetapi itu adalah suatu kenikmatan yang baru. Mengundang keberahian yang terlarang.
Mengapakah aku ini, pikir Sri, menanggapi sikapnya yang membiarkan bagian-bagian tubuhnya yang telanjang itu dinikmati oleh kerlingan nakal si pelukis. Apakah cintaku pada Jody telah luntur? Bukankah cinta semacam pelita yang menerangi terus-menerus perjalanan hidup sebuah perkawinan? Perkawinan sejati adalah tidak ubahnya seperti dua orang kekasih berjalan di dalam gelap, cintalah yang akan bertindak sebagai pelita menerangi perjalanan hidup perkawinan itu. Apakah pelita itu telah padam di dalam diriku. Cinta adalah suatu pengutamaan yang luar biasa yang dituntut baik bagi seorang pria ataupun wanita. Perkawinan menuntut saling rasa terikat yang wajar, cintalah yang bertindak sebagai benang pengikat itu, sehingga seseorang tidak terlepas dan kewajiban moral. Tetapi itu untuk berapa lama bisa bertahan pada seseorang, baik lelaki maupun pria. Pengutamaan yang luar biasa itu bisa berapa lama bertahan pada seseorang. Sebulan, setahun, ataukah sampai mempunyai beberapa makhluk sebagai basil dan buah perkawinan itu? Dasar agamakukah yang tidak kukuh, Sehingga aku tidak takut dengan bayangan dosa? Ataukah aku mencintai pelukis ini? Bukankah cinta bisa mendobrak kekuatan dasar rasa terikat seseorang dengan hidup perkawinan ataupun dasar keagamaan seseorang? Apakah aku telah menaruh cinta pada pelukis ini? Bukankah nafsu dan cinta saling berdekatan satu dengan yang lain? Keduanya tidak dapat dipisahkan bagi seorang pria dan wanita yang normal. Cinta dan nafsu datangnya berbarengan pada diri seseorang. Apakah aku sudah tidak kuat untuk mengelakkannya? Keheningan ini, ketenangan dalam rumah yang luas ini telah menggiring keduanya ke dalam suasana yang baru bagi mereka.
Pernah suatu hari Jody menelepon ke rumahnya dan kantor. Lama ia menanti orang untuk mengangkat telepon itu. Baru kemudian pembantu rumah mengangkat dan menyambut teleponnya. Pembantu rumah berkata pada Jody bahwa nyonya pergi bersama pelukis itu dengan mobil sejak pagi. Ke mana mereka pergi, pikir Jody. Ia mulai tidak tentram duduk di belakang meja dalam ruangan yang ber-ac. Pikirannya mulai menerawang tentang sesuatu yang menyakitkan yang dilakukan oleh istrinya. Mengapa ia mengundang kesempatan kepada istrinya. Mengapa ia memberi kesempatan itu datang ke rumahnya. Mengapa ia memberi kebebasan pada istrinya untuk menerima pelukis itu di ruang tamu mereka. Apakah ia tidak dapat melihat perubahan-perubahan yang begitu menyolok yang diperlihatkan istrinya? Mereka sering bertengkar akhir-akhir ini. Hal-hal kecil telah menimbulkan buah pertengkaran di antara mereka. Apakah ini bukan suatu pelampiasan dari rasa cernburunya? Tetapi mengapa ia tidak berani berterus terang untuk mengatakan rasa cemburunya pada si istri? Dan mengapa ia menunjukkan sikap yang sedikit pun tidak merasa kegoncangan dengan hadirnya pelukis itu tiap hari di rumahnya. Ia memandang hal itu suatu yang wajar. Bahwa pelukis itu harus menyelesaikan lukisannya dan si istri harus menyediakan dirinya untuk terus-menerus dipandang oleh si pelukis. Tetapi apakah aku tidak menyadari bahwa perkembangan dan lukisan itu sangat lambat? Apakah aku tidak melihat bahwa ada semacam taktik yang dilancarkan oleh si pelukis untuk melama-lamakan rampungnya lukisan itu. Keangkuhannya sebagai seorang yang berkedudukan tinggilah yang membuat ia tampak tidak goyah sedikit pun. Ia merasa kuat dan penuh keyakinan diri untuk tidak semudah itu milik yang dicintainya lepas begitu saja jatuh ke tangan seorang seniman seperti pelukis itu. Apa yang lebih pada diri pelukis itu untuk membikin cinta istrinya mulai beralih? Itu tidak masuk akal. Iblis yang mengganggu pikiranku. Tidak ada alasan yang kuat untuk membikin aku cemburu padanya. Tetapi mengingat masa mudanya yang liar, telah mendatangkan rasa curiganya pada pelukis itu. Bukankah seniman-seniman itu menganggap wanita semacam alat untuk memperoleh kenikmatan? Sejak umur remajaku, aku telah merusak diri sendiri dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Menghabiskan masa remajaku dengan wanita-wanita yang menjual dirinya. Aku tahu pelukis itu menganggap hubungan seks antara pria dan wanita di luar nikah suatu hal yang wajar. Kalau mereka mau meniduri wanita-wanita yang penuh dengan kuman-kuman penyakit di tempat-tempat pelacuran, mengapa ia tidak mungkin mempergunakan untuk menikmati tubuh istriku yang bersih? Aku harus mencegahnya sebelum penyelewengan itu terjadi. Skandal adalah peristiwa yang memalukan keluarga. Aku harus mencegahnya. Kalau di meja makan, kita jangan terlalu percaya pada kucing, di tempat tidur, kita jangan terlampau percaya pada istri. Perempuan seperti kuda. Harus dikekang dan diikat di tengah padang. Kalau kau membiarkannya lepas, bisa celaka. Tutup matanya bila kau membawanya menarik kereta. Bila tidak, dia akan melihat ke segala jurusan, sehingga kereta kudamu akan tergelincir masuk jurang dibuatnya. Pikiran itulah yang menguasai Jody pada saat-saat kritis ini. Jangan dibiarkan mereka terus-menerus di ruang tamu, lama-kelamaan mereka akan masuk ke ruang dalam. Dan kalau aku membiarkannya, mereka akan masuk ke kamar tidur. Itu tidak boleh terjadi.
“Ke mana kau pergi dengan pelukis itu siang tadi?”
“Kami membeli cat. Cat merahnya habis.”
“Mengapa tidak kau biarkan ia pergi sendiri dengan kendaraan umum.”
“Ia ingin cepat-cepat. Lagi pula aku telah capek duduk terus-menerus di depannya. Apa salahnya aku antar ia ke toko cat.”
“Mobil itu kubeli bukan untuk menyuruhmu mengantar pelukis ke toko cat. Aku tidak senang kau berbuat sejauh itu.”
“Aku tidak melihat perbuatan tercela untuk itu.”
“Suruh pelukis itu selesaikan lebih cepat lukisanmu. Aku tidak suka ia datang terus-menerus tiap hari kemari. Aku curiga membiarkan kamu berdua dalam rumah ini.”
“Kau menuduhku sekotor itu? Jiwamu sudah sekotor yang kautuduhkan padaku.”
Begitulah istri-istri itu membela dirinya. Ia berlindung di balik air matanya. Ia menangis menutupi perbuatannya. Ia mengelak dengan kata-katanya. Ia sedikit pun tidak merasa berdosa. Begitukah wanita-wanita itu bila telah melangkah terlampau jauh? Jody berkesimpulan seperti itu.
Retak sudah hampir tidak bisa dipertahankan lagi dalam perjalanan hidup rumah tangga Jody Sutisna. Keadaan sudah makin kritis. Keduanya saling tegang. Percekcokan sering terjadi. Hal-hal yang tidak perlu di persoalkan telah menjurus ke sebab pertengkaran mulut. Sementara itu pun lukisan telah rampung. Bagi Jody, kerampungan lukisan itu adalah penyelesaian yang baik terhadap kecurigaannya. Lukisan telah dipajang di ruang tamu. Kecurigaannya sudah berangsur lenyap. Untuk lenyap sama sekali tidaklah semudah itu. Dia harus diyakinkan sedemikian rupa sampai bekas itu hilang sama sekali. Apakah bekas itu akan dilenyapkan? Apakah kedua lukisan itu harus dilenyapkan? Tidak. Itu adalah hal yang kekanak-kanakan. Aku harus mempercayai pengakuan istriku. Apalagi yang harus kupercayai, kalau bukan pengakuan istriku sendiri? Apa salahnya aku mempercayai pengakuan orang yang kucintai? Mengapa aku menuduhnya sekotor itu? Bukankah itu semacam tuduhan yang belum pasti? Jiwaku yang telah kotor. Kotor semenjak usia remajaku. Semenjak kawin aku tidak pernah melakukan itu. Aku sekarang suci dan perbuatan-perbuatan seperti itu. Bukankah kekotoran masa lalu itu suatu kemungkinan mengotori jalan pikiranku? Aku menuduh orang sama berbuat seperti yang kulakukan pada masa remajaku. Jangan. Jangan sama ratakan orang Seperti masa remajaku. Itu tidak adil.
Jody mengikis kecurigaannya seperti itu. Dengan demikian ia menjadi tenang dalam hidupnya. Keadaan rumah tangga sudah mulai menjadi normal. Kemesraan hidup berkeluarga sudah mulai tumbuh kembali antar dia, istrinya dan anak-anaknya. Kerukunan itu tiba-tiba buyar kembali ketika pada suatu siang ia mendapat kabar melalui laporan teman baiknya. Jody kaget mendengar temannya bercanda dalam telepon.
“Mengapa kau biarkan nasi di piringmu di makan orang lain?”
“Mengapa kau bergurau seperti itu?”
“Aku melihat istrimu dengan pelukis yang melukis bangkai macan di rumahmu. Mereka berdua dalam mobil. Istrimu menyetir mobilmu sendiri. Pelukis itu duduk di sampingnya. Aku tidak tahu mereka habis pergi dan mana.”
“Bajingan!” Jody menghentakkan gagang telepon. Ia mengeluarkan mobil dari taman parkir dan melejit menuju ke rumahnya.
Di rumah dia temui pelukis itu duduk di ruang tamu. Pelukis itu berdiri memberi salam. Ia tidak acuh dan langsung ke ruang dalam. Istrinya terperanjat. Ia berdiri lemas memegang dinding.
“Aku meminta pelukis itu melukis protret perkawinan kita, Mas. Aku memang sengaja tidak mengatakannya padamu. Lukisan itu telah rampung. Aku ingin menghadiahkannya pada kita berdua sebagai kado ulang tahun perkawinan kita yang kesepuluh. Lukisan itu telah selesal. Ada kau lihat di ruang tamu?”
“Apa pun alasanmu, aku sudah tidak percaya pada omonganmu. Suruh pelukis itu pergi. Aku tidak kuat melihatnya. Apa kau mau ia tewas seperti macan dalam lukisannya seni ini?”
Sri bergegas membawa sejumlah uang ke ruang depan. Ia menyerahkan uang pada pelukis itu sebagai penyelesaian sisa pembayaran. Setelah itu si pelukis pergi penuh tanda tanya di hatinya.
Jody menarik tangan istrinya dengan kasar, dan menghempaskannya di atas sofa.

“Perempuan jalang. Sudah kularang kau bergaul dengan pelukis itu, malah sekarang kau bawa ia ke rumah mi. Apa yang kau lihat pada dirinya sehingga kau berpaling dan diriku?”

“Aku hanya ingin membuat kejutan pada hari ulang tahun perkawrnan kita. Kau lihat lukisan yang dibuatnya itu. Malam penganten kita, Mas. Aku hanya memesan itu untuk dia lukis. Kau lihat foto yang lama itu. Kertasnya telah rusak. Gambar perkawinan kita dalam foto itu telah rusak dimakan ngengat. Aku ingin menjadikannya baru sama sekali.”

“Omong kosong. Dasar wanita pandai menyembunyikan kebusukan yang pernah di lakukan. Aku tidak bisa berlama-lama melihatmu. Aku sudah lama tidak berburu. Aku khawatir kau bisa menjadi mangsa senapan berburu itu!” Jody menunjuk bedil berburunya yang tersangkut rapi di dinding ruang tamu. Bedil itu tersangkut di sana berfungsi sebagai perabotan dan sekaligus hiasan dinding.

Jody pergi dengan kasar meninggalkan istrinya duduk menangis di ruang tamu di atas sofa. Dia dengar mobil suaminya dilarikan dengan kecepatan luar biasa waktu masuk ke jalan besar. Sri menangis. Ia menyesali ketidakterusterangannya waktu memesan lukisan itu. Apa artinya membuat kejutan bila ketidakpercayaan sang suami pada kesuciannya telah timbul akibatnya. Aku harus menjelaskannya pada Jody. Dia harus tahu siapa sebenarnya pelukis itu. Apakah ia tidak tergugah melihat kemiskinannya? Apakah aku salah memesan lukisan hanya untuk menyelamatkan hidup istri dan anak-anaknya? Mengapa ia menuduh hidup seorang seniman, moral seorang seniman, sekotor yang dia tuduhkan? Aku harus bawa dia kemari bersama keluarga dan anak-anaknya. Besok pada hari ulang tahun perkawinan kami ia akan kubawa kemari. Itu harus dijelaskan. Istrinya dan anak-anaknya. Apa salahnya membawa mereka ke dalam rumah yang mereka sendiri belum pernah memasukinya? Istri pelukis itu, anak-anak pelukis itu.

Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Jody dan Sri yang kesepuluh. Jody telah reda marahnya kepada istrinya. Ia telah memaafkan kelancangan istrinya yang telah terlanjur memesan lukisan hari pernikahan mereka kepada pelukis yang dicemburuinya. Ia duduk tenang di belakang meja dalam ruangan yang ber-ac. Tetapi tiba-tiba telepon berdering. Seorang teman menelepon, dan nada telepon itu tidak jauh berbeda ketika ia menerima laporan tentang istrinya.
“Aku melihat dan balik kaca mobilku. Istrimu dan pelukis itu bepergian dalam mobil yang disetir istrimu.”

“Kau jangan main-main. Istriku telah berjanji untuk tidak bergaul dengan pelukis itu. Lagi pula hari ini ia mesti di rumah untuk menanti tamu-tamu kami.”

“Aku tidak mungkin keliru dengan penglihatanku. Kau adalah sahabatku Jody. Apakah kau cukup percaya dengan seniman-seniman itu? Kau tentu telah banyak membaca tentang skandal-skandal yang mereka lakukan di antara istri-istri teman mereka. Semoga mataku salah melihat apa yang sebenarnya tidak benar itu. Semoga aku keliru.”

Jody meletakkan gagang telepon, karena orang yang meneleponnya meletakkan lebih dahulu gagang telepon di seberang sana. Jody menyandarkan diri di sandaran kursi duduknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Bulu-bulu tangannya merinding membayangkan seandainya apa yang dikatakan temannya itu benar. Apakah aku akan menjadi seorang pembunuh. Ia keluar dan kamar kerjanya. Suara mobilnya melenyap meninggalkan taman parkir Wisma Nusantara. Kantornya tampak mengecil di tingkat ke sepuluh gedung itu,

Didapatinya keadaan rumah masih sepi oleh para tetamu. Pesta dimulai pada sore hari sampai dekat senja. Para tetamu adalah teman-teman dekat mereka. Paling banyak dua puluh pasang suami istri. Sekarang baru pukul tiga siang. Ke mana mereka semua? Pikir Jody. Dan pembantu rumah, dia tahu bahwa ketiga anaknya bermain di pekarangan belakang. Para pembantu rumah tangga sibuk menyiapkan makanan untuk pesta di dapur. Dan si istri memang tidak ada di rumah. Sri kira-kira lima belas menit yang lalu pergi dengan menyetir sendiri mobilnya. Tidak meninggalkan pesan.

Sudah pasti sundal itu mendatangi kekasih gelapnya, si pelukis keparat. Apa yang dilihat Muharso adalah benar. Ia bepergian dengan kekasih gelapnya, sementara orang di rumah sibuk menyiapkan makanan untuk pesta peningatan perkawinannya sendiri. Bukankah itu seorang perempuan terkutuk? Aku harus membunuhnya. Setelah itu, baru aku membunuh pelukis itu.
Jody memanggil ketiga anaknya dan menyuruh mereka diam di dalam kamar. Pembantu rumah tidak diperkenankannya masuk ruang tamu bila tidak diperlukan. Tukang kebun harus tetap berdiam diri dalam kebun di belakang rumah. Setelah semua perintahnya dilaksanakan, Jody menurunkan senapan berburunya dan dinding. Dia memasukkan peluru-peluru ke dalam senjata api itu. Debu berterbangan dan gagang senjata berburu itu tertiup oleh napas Jody yang mulai sesak karena amarah. Ia mencoba membidikkannya ke arah bangkai macan yang diawetkan. Aku mesti menembak tepat di antara kedua mata Sri, si khianat itu.
Jody menunggu dengan amarahnya. Pada saat-saat begitulah ia mengenang masa-masa bahagia mereka. Mata Jody berlinangan. Ia mengingat pertemuan mereka di bangku kuliah. Sri duduk di bawah satu tingkat dengan Jody. Mereka bertemu, saling jatuh cinta dan disudahi memasuki jenjang pernikahan. Mereka kawin atas dasar cinta-mencintai. Tetapi pengkhianatan itu harus dimusnahkan. Aku luka dibuatnya. Tidak ada artinya aku memacu diri dalam dunia bisnis untuk menyenangkan hidupnya. Menyenangkan hidup anak-anak kami. Aku telah dilangkahi sedemikian jauh. Pengkhianatan itu. Biarlah aku membunuh demi harga diri. Memulihkan kembali nama baik keluarga.

Dia perhatikan lukisan-lukisan yang dipajang di dinding. Lukisan dirinya sendiri menginjak bangkai seekor macan yang ia tembak dalam rimba Sumatra. Lukisan istrinya duduk di belakang tubuh bangkai macan yang diawetkan. Kemudian dia perhatikan lukisan perkawinan mereka yang diabadikan sepuluh tahun yang lalu. Sri memakai pakaian putih-putih dan dia sendiri memakai pakaian jas warna kelabu, di latar belakang ada hiasan pelaminan berbentuk sungkup dalam warna kuning keemasan.

Betapa cepat itu semua tertinggal oleh waktu. Anak-anak telah menjadi besar. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Dia sibuk sendiri mengurus dirinya sendiri. Apakah aku juga tidak bersalah dalam hal ini? Aku kurang memperhatikannya. Aku sibuk dengan teman-teman bisnisku. Aku sibuk dengan cerita-cerita berburu di antara teman-teman berburuku. Mengapa aku tidak pernah sekalipun dalam hidupnya pada masa akhir-akhir ini untuk membicarakan kesenangan-kesenangannya? Membicarakan masa lalu perkawinan kami. Mengapa aku tidak pernah memperhatikannya? Membawanya kembali. mengunjungi tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan cinta kami. Mengapa aku tidak pernah memuji hanya sekali saja tentang masakan-masakan yang ia buat khusus untuk aku. Aku telah terlampau jauh meninggalkannya. Aku harus memperhatikan Sri. Ia membutuhkan itu. Tetapi pengkhianatan itu sudah keterlaluan. Mengapa ia sampai hati mengkhianati kesetiaannya. Mengkhianati janji setia yang kami ucapkan bersama begitu masing-masing meninggalkan bangku kuliah. Apakah waktu yang sekian lama itu cukup kuat mengalahkan kekuatan cinta seseorang? Cinta menuntut pengutamaan sesuatu untuk kelangsungan cinta itu sendiri dan menyampingkan segala sesuatu untuk menyelamatkan cinta itu. Tetapi Sri telah meninggalkan pengutamaan sesuatu itu, dan dia telah membiarkan penyimpangan yang merusak cmta itu. Aku tidak kuat hidup terus-menerus berdampingan dengan orang yang kucintai, yang sekarang telah menjadi orang yang khianat. Aku juga tidak rela melepaskannya untuk dinikmati atau dimiliki oleh orang lain, sementara aku masih bisa melihat kebahagiannya dengan orang lain. Itulah egoisme dalam cinta. Cinta bagiku adalah sesuatu yang harus dimiliki untuk selamanya. Sekali ia ternoda, ia harus dimusnahkan.

Suara mobil terdengar masuk ke pekarangan. Jody memandang dengan pandangan yang tajam seperti berpuluh-puluh anak panah dilepaskan ke tubuh Sri dan pelukis yang duduk di sampingnya di balik kaca depan mobil. Jody memandang dengan gemas. Mobil itu diparkir jauh dar rumah. Sri turun dan dalam mobil. Si pelukis juga turun dan dalam mobil. Jody tidak kuat menahan amarahnya. Sundal dan kekasihnya harus dibunuh. Kata Jody membidik tepat ke kepala istrinya. Dia melihat Sri seperti dia melihat pertama sekali Sri waktu melaksanakan masa-masa perpeloncoan.

Sri kembali mendekati mobil yang diparkir. Ia seperti mengingat sesuatu yang terlupakan. Ia melihat ke dalam mobil. Di tempat duduk belakang, istri pelukis dan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil duduk diam-diam di pangkuan ibunya. Anak yang terkecil, melekat erat di buah dada ibunya. Anak itu menyusu dengan lahap.
“Kakak dan anak-anak di sini saja dulu. Kalau aku telah ceritakan maksud kedatangan kakak dan anak-anak beserta suami kakak kepada suamiku, barulah kakak aku jemput kemari. Aku lihat mobilnya sudah ada. Berarti Jody ada di rumah.”

Sri kembali berjalan berdampingan bersama si pelukis. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan si pelukis, istrinya dan anak-anaknya kepada Jody. Dengan demikian, Jody bisa mengerti duduk persoalannya, dan dia bisa memaafkan aku, menghapus segala kecurigaannya selama in Tetapi Sri tidak tahu, bahwa kepalanya sedang dalam sasaran peluru suaminya sendiri. Dia berjalan seperti dia tidak menghadapi suatu bahaya apa pun. Manusia memang tidak tahu, bahwa sedetik lagi maut akan menjemputnya. Siapa yang bias menduga tentang kematiannya sendiri. Begitulah Sri berjalan seperti ia menyongsong kematian itu sendiri. Selangkah. Dua langkah. Tiba-tiba saja dia telah menjadi lebih dekat dengan tempat di mana suaminya berdiri kukuh dengan senapan berburu yang siap diledakkan ke atas pelipis si istri. Sedetik lagi, atau mungkin beberapa detik lagi, kepala Sri akan pecah berhamburan di atas kerikil ditembus peluru yang diledakkan oleh suaminya sendiri.
Dari balik kaca mobil, istri pelukis memandang suaminya melangkah berdampingan dengan Sri mendekati ambang pintu. Anaknya yang terkecil masih terus mendekap dan menyusu. Anak kecil itu terpekik mendengar ledakan. Ibunya mencoba membuka pintu mobil. Ledakan kedua menyusul. Ledakan ketmga memekakkan bayi itu. Beberapa ekor burung merpati menggelepar kaget dan terbang dan ujung-ujung genteng. Seisi rumah menjadi panik. Anak-anak yang terkunung di kaman belakang menangis menggedor-gedor daun pintu yang terkunci.

Tidak terdengar letusan lagi. Suasana menjadi Senyap. Keadaan menjadi hening, karena suana yang menggelegar barn saja lenyap. Angin menampan daun-daun. Tidak terdengan bunyi kerikil diinjak tapak-tapak sepatu. Sri berdini di tempat ia melangkah. Si pelukis terpaku di atas sepatu-patunya. Semua bertanya-tanya ten- tang apa yang telah terjadi di ruang tamu.
Sri tiba-tiba memekik dan berlani ke dalam rumah. Ia telah mengira yang tidak-tidak. Apakah Jody membunuh dininya. Menembak pelipisnya sendiri. Tetapi dia tidak meithat hal yang mencurigakan untuk menguatkan dugaan itu. Jody duduk tenang-tenang di atas sofa. Senapan di tangannya masih mengeluarkan asap bekas mesiu. Lukisan perkawinan mereka jatuh dan atas dinding.
“Apa yang terjadi, Mas? Mengapa kau? Aku membawa pelukis itu dan keluarganya. Mereka aku jemput untuk ikut merayakan pesta peringatan perkawinan kita. Aku ingin kau menyambut mereka seperti kau menyambut tamu-tamu terhormat kita yang lain. Kau lihatlah mereka, Mas. Mereka hidup sengsara. Pelukis-pelukis itu sengsara. Lukisan-lukisan mereka tidak laku. Aku memesan lukisan perkawinan kita, hanya untuk memberi pekerjaan padanya. Kau tidak tahu, Mas. Dia bercerita ketika dia melukis aku sepanjang hari. Mereka menderita. Orang tidak membeli lukisan-lukisan mereka. Istri dan ketiga anaknya ada di dalam mobil. Mereka aku paksa untuk berani datang kemari. Mereka aku minta untuk menjelaskan kepadamu. Untuk menghapus kecurigaanmu. Apa yang telah terjadi dengan kau Mas? Di mana anak-anak kita?”

Jody duduk diam tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan istrinya. Dia tunduk memandangi slongsong peluru yang tenlempar di atas permadani dekat kaki meja.

“Aku sebenarnya mau membunuh lalat-lalat itu. Mereka terbang dan hinggap mengotori lukisan perkawinan kita. Tetapi lalat-lalat itu terlalu kecil untuk sasaran peluruku. Aku tidak mengenal lalat-lalat itu. Tetapi lukisan itu telah menjadi rusak. Dinding di belakangnya menjadi berlobang-lobang bekas peluru.”
“Maafkan aku kalau telah mengganggu ketentraman keluarga Tuan. Aku hanya mengerjakan profesiku.”

“Di mana anak-anak?”

“Aku mengurung mereka dalam kamar. Aku tidak tega membiarkan anak-anak itu melihat apa yang akan terjadi pada ibu mereka.”

“Apa maksudmu Mas?”

“Aku sebenarnya telah membidik tepat senapan berburu ini ke atas pelipis di antara kedua matamu. Aku hanya tinggal menarik pelatuknya. Tetapi aku tidak kuat untuk melakukannya. Aku benar-benar tidak kuat. Tetapi aku terus memaksanya. Dan. . . begitu aku menarik pelatuk, secepat itu pula aku mengalihkan laras senjata api ini ke pelipismu di dalam lukisan perkawinan kita. Aku menembakmu dan menambak diriku sendiri di dalam lukisan itu. Aku hampir saja membunuhmu.”
“Alangkah mengerikan kedengarannya.”
Sri berlari ke kamar belakang. Ia buka pintu kamar, dan ketiga anaknya berhamburan lari menerkam ibu mereka.
“Di mana istrii dan ketiga anakmu Bung?”
“Di dalam mobil.”
“Ambil mereka. Bawa masuk.”
Jody menyangkutkan kembali senapan berburunya ke atas dinding. Si pelukis membawa masuk istri dan ketiga anaknya. Mereka kelihatan takut-takut memasuki ruang tamu yang mewah itu. Sri juga datang ke ruang tamu. Ia membawa serta ketiga orang anaknya.

“Mari silakan duduk,” kata Jody.
“Terima kasih. Kami telah mengganggu ketentraman hidup keluarga Tuan.”
“Apakah Saudara bisa memperbaiki lukisan perkawinan ini?”
“Saya yakin, saya bisa. Saya akan memperbaikinya, Tuan Jody. Lukisan itu akan saya perbaiki sesempurna mungkin. Saya yakin, Tuan kelak tidak akan dapat menandai lagi, bahwa lukisan perkawinan itu pernah dirobek tiga butir peluru yang Tuan tembakkan sendiri dan senapan berburu Tuan.”



Depok, 1979

Lauk dari Langit

Lauk dari Langit

Cerpen Danarto


Hari masih pagi ketika gadis kecil itu berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari sambil berteriak-teriak, "Hujan ikan! Hujan Ikan!" Kepalanya menengadah menatap angkasa mencari tahu apakah ada lubang menganga nun di atas sana dari mana ikan-ikan melayang beramai-ramai terjun ke bumi. Gadis kecil itu juga berlari mengitari gubuk tempat tinggalnya dengan teriakan tak berkeputusan, "Hujan ikan! Hujan ikan!"

Ayah dan ibunya, juga dua kakaknya muncul dari dalam gubuk sambil menatap ke udara. Sesaat ratusan ekor ikan menghujani keluarga itu. Dengan mulut menganga, beruntun ucapan "masya Allah", tak disadari keajaiban sedang berlangsung di kediaman mereka.

"Hujan ikan! Hujan ikan!" teriakan gadis kecil itu terus-menerus penuh kegembiraan.

Keluarga itu lalu memunguti dengan cekatan ratusan ekor ikan yang berserakan di rerumputan pelataran, kebun, dan atap gubuk mereka. "Subhanallah," berulang-ulang terlantun dari mulut mereka. Apa yang sedang terjadi dengan langit? Mengapa hujan ikan seolah-olah disajikan kepada mereka? Hujan ikan sesaat yang meluncurkan ratusan ekor ikan dari langit, apakah ini berkah? Apakah ini bencana? Mereka mencoba memahami kehendak Tuhan yang tak terduga,
seperti halnya memahami hidup mereka sendiri yang serba jauh dari pengandaian.


Kelihatan keluarga ini tak biasa berandai-andai. Hidup sehari-hari keluarga yang berkebun sayuran ini penuh kepastian. Kerja keras dan bersyukur kepada Tuhan. Sebuah keluarga dengan tiga anak, dua lelaki, satu perempuan, tahu apa yang harus dilakukan. Hidup terpencil di sebuah bukit, mereka tampak bebas menggarap lahan yang ada hampir-tak berbatas. Bayam, kangkung, kul, singkong, kacang panjang, cabai, sudah bertahun-tahun menghidupi keluarga ini sejak pengantin baru.

Merasa tak bisa hidup di kota, suami istri itu memilih menetap di sebuah bukit. Dengan tetangga yang berjauhan, keduanya merasakan kebebasan. Bukit yang tanpa tuan, keduanya serta-merta -- sebagaimana para tetangganya -- menjadi pemilik sepenggal lahan kebun yang dipilihnya secara bebas. Tangan-tangan Pemda boleh jadi tidak memadai jumlahnya untuk bisa mengurusi lahan perkebunan atau pertanian di daerah perbukitan itu, mengingat luasnya tanah dan sedikitnya minat penduduk untuk tinggal di situ sehingga terkesan siapa pun boleh mengolah tanah itu seberapa pun maunya. Mau menanam apa saja, tak ada yang melarang, tak ada juga yang mengizinkan. Sampai akhirnya keduanya beranak-pinak. Mereka berbahagia.

Sebagaimana para tetangganya, setiap saat keluarga itu dapat memperluas lahannya dengan leluasa. Disamping sayur-mayur, keluarga itu mencoba menanam kembang. Di antaranya anggrek. Namun sejauh ini belum dapat diukur keberhasilan usaha kebun anggrek itu. Sedang sayur-mayur yang menjadi kebutuhan sehari-hari, keluarga itu menjualnya kepada pedagang yang mengambilnya dan memasarkannya di kota. Dari sini keluarga itu hidup cukup memadai.

Jarak yang cukup jauh dari kota menyebabkan para penghuni perbukitan itu cukup sulit menyekolahkan anak-anaknya. Si bungsu, gadis kecil itu, sekitar enam tahun usianya, yang suka berjingkrak-jingkrak, hidup menyatu dengan kangkung, bayam, kacang panjang, burung, tikus, dan kijang. Gadis kecil itu sering ngobrol dengan burung maupun tikus yang berseliweran di sekitar kebun itu. Pada suatu hari, dia melihat kijang di kejauhan dan memanggilnya. Kijang itu nampak bengong, heran, ada seorang gadis kecil yang barangkali terlalu berani memanggil binatang yang punya tanduk itu. Kenapa tidak?

Satu saat, keluarga itu kedatangan tamu. Dari kota, tamu itu mencatat jumlah orang di keluarga itu. Hanya begitu saja. Petugas itu tak menanyakan soal lain, misalnya soal surat izin tinggal dan
menggarap lahan. Barangkali saja, petugas itu tidak mau repot untuk menanyai ini dan itu, sementara pekerjaan di kantor sudah cukup melelahkan. Kemurnian hati para petugas kota dan keluarga itu agaknya terjalin baik sehingga urusan kartu keluarga dan tetek-bengek lainnya tidak perlu harus menguras keringat dan lain sebagainya.

Dari atas bukit itu, pemandangan kota tampak tergelar dengan jelas. Kesibukan kota dengan lalu-lalang lalu-lintasnya merupakan pemandangan yang menarik untuk mendorong siapa pun bekerja keras. Di malam hari, pemandangan kota lain lagi daya pikatnya. Lampu-lampu rumah, toko, jalan raya, dan lampu-lampu kendaraan yang susul-menyusul di malam gelap memberi suasana kehidupan yang lain dari kehidupan senyatanya. Di malam hari, kota tak perlu nama. Di malam hari, kota mencipta dunia yang tak dikenal manusia. Mengaduk rasa ramai di hati dan rasa tentaram di perasaan.

Sarapan kali ini mencatat hujan ikan disajikan di meja makan. Setelah sujud syukur berjamaah, keluarga itu mengitari meja makan. Meja makan dari anyaman bambu yang dibuat sendiri, merekam suara reyot, kri-et... kri-et... setiap meja makan itu disentuh atau pun ditindih. Makan pagi keluarga itu menikmati lauk-pauk ikan yang berlimpah. Belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, lauk hanya terdiri dari ikan asin dan sambal terasi di antara sayuran yang direbus dengan garam.

Sebelum makan, mereka berdoa. Mereka makan ikan yang dibakar sebanyak yang mereka suka. Anak-anak sangat menikmati. Mereka bertiga terus menambah ikannya. Di antara bunyi kecap bibirnya dan pergulatan lidahnya dengan ikannya, ketiga anak itu juga asyik ngobrol, hal yang sebelumnya tidak dibolehkan ayah dan ibunya. Ngobrol waktu makan hanya akan menjauhkan berkah Allah, kata ayah dan ibunya. Doanya tidak dikabulkan Allah. Makan sebagai berkah dari Allah harus dinikmati dengan benar. Pagi itu mereka lupa semuanya tentang hal itu. Si bungsu gadis kecil itu terus bercerita bagaimana dia tertimpa ikan-ikan yang terjun dari angkasa. Seekor di antaranya berhasil dia tangkap dengan jari-jemarinya yang kecil. Ikan itu menggelepar ingin lepas. Puluhan ekor menggelepar di rerumputan. Sejumlah lainnya meloncat dari atap gubuk.

Namun, tidak demikian dengan ayah dan ibunya. Kedua orangtua itu menikmati makannya dengan tercenung. Diam. Berkelindan dengan tanda tanya. Peristiwa pagi itu seperti memburu keduanya. Mau lari kemana pun akan terus diuber. Berondongan tanda tanya menyergap ke benaknya. Kedua orangtua itu terbenam di antara bunyi kunyahan ikannya.

"Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini?" kata sang suami di dalam hati.

"Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini, tidak perlu kita ketahui," kata istrinya di dalam hati juga.

"Mengapa tidak boleh kita ketahui?" kata suami di dalam hati.
"Berkahnya akan berkurang," kata si istri di dalam ahti.
"Mengapa berkahnya berkurang?"
"Karena kita ingin mengetahui suatu rahasia, padahal bersyukur lebih baik."
"Saya tidak mengerti."
"Makanya lebih baik diam."

Percakapan di dalam hati itu kebetulan bisa bersambung. Suami itu tetap diam sambil mengunyah. Istrinya tetap diam juga sambil mengunyah. Terdengar bunyi kunyahan. Gigi-gigi yang menggerus makanan. Leher turun naik seperti mengirim barang dari atas ke bawah. Berapa ekor ikan yang habis dilahap, keduanya tentu tidak menghitungnya. Suami istri itu mencoba untuk berbicara tetapi ragu-ragu. Barangkali apa yang mau dikatakannya penting tapi desakan untuk tidak melakukannya juga keras. Sampai selesai makan keduanya diam untuk sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

Banyak tanda-tanda Allah yang tidak perlu diketahui maknanya. Banyak pertimbangan untuk diam dari banyak gejala bagaimana pun musykilnya. Barangkali Tuhan lebih suka begitu. Atau kita sedang mengatasnamakan Tuhan? Bagaimana mungkin kita berani? Kita hanya pura-pura berani, Tuhan tahu itu. Atau kita menyikapi setiap gejala sebagai pahala dan bencana? Sebagai pahala karena kita suka. Sebagai bencana karena kesukaan kita menimbulkan kesedihan bagi yang lain.

Ikan-ikan yang dikumpulkan pagi itu menggunung di dalam gubuk mereka. Berkah itu memusingkan mereka karena ikan-ikan itu tidak boleh busuk. Harus secepatnya digarami. Dari mana bisa didapat garam secepatnya? Keluarga itu tidak punya uang untuk memborong garam. Yang ada hanya sekadar garam persediaan untuk memasak. Ketika kelelahan mengumpulkan ratusan ekor ikan itu memporot tenaga mereka, keluarga itu hanya terduduk diam. Ayah, ibu, dan ketiga anaknya bagai patung yang dipajang di depan buat menyambut tamu yang datang. Tetapi ternyata tidak ada tamu yang datang. Yang bertamu hanya rasa bingung.

Tiba-tiba muncul suatu pikiran di benak sang suami. Ia menyat dari kursi bambunya seperti tersentak oleh berkah yang lain. Dengan cekatan ia merangkai ikan-ikan itu satu-persatu ditusuk dengan tali bambu. Dengan tongkat bambu yang dipanggul cukup banyak ikan yang bisa dibawa. Ia dapat menjual ikan-ikan itu di pasar atau menukarnya dengan garam. Ia berangkat dengan bocah sulungnya. Dengan penuh kegembiraan ayah dan anak itu meninggalkan gubuknya kali ini sebagai penjual ikan. Istri dan kedua anaknya yang tinggal, berdebar melihat kecekatan kerja sang suami dan ayah mereka. Si gadis kecil mau ikut tapi dilarang ibunya. Si kecil tentu tidak bisa berjalan cepat yang hanya akan memperlambat langkah.

Kaki yang kokoh, dada yang bidang, badan yang tegap, tangan yang cekatan, semuanya ini modal yang menjadikan sang suami sebagai kepala rumahtangga yang sigap bekerja. Kini ia dan anak sulungnya menuruni bukit pada jalan setapak yang diapit pohon dan rimbunan tanaman. Jalan setapak itu sehari-harinya licin. Namun kali ini lebih licin lagi, bahkan berlumpur.

Begitu sampai di bibir bukit dan menatap kota di depannya, sang ayah dan anaknya jatuh terduduk, kekuatannya dilolosi. Ikan yang dipanggulnya terserak di tanah. Keduanya meraung sejadi-jadinya: kota telah musnah, ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana.***

Tangerang, 14 Februari 2006

Republika Minggu 5 Maret 2006

Juru Kunci Grojogan Sewu

Juru Kunci Grojogan Sewu

Pengabdian yang tulus ialah total menjalankan semua yang menjadi tanggung jawabnya tanpa pamrih, meskipun maut menjemputnya.

ERUPSI Gunung Merapi masih berlangsung.Namun, kisah dan pilihan Mbah Maridjan, yang menjadi abdi dalem penguasa Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai juru kunci Gunung Merapi dikenang sebagai cermin pengabdian, kesetiaan, loyalitas, dan bentuk tanggung jawab. Sebagai abdi, Mbah Maridjan memegang teguh tugasnya itu hingga akhir hayat. Ada yang belum terungkap, yakni Mbah Maridjan pernah mengatakan ada lima golongan yang wajib dipundi atau dijunjung tinggi dalam manembah sebagai representasi manunggaling kawula-Gusti. Inti dari prinsip yang dikemukakan almarhum itu, pertama, ialah manembah kepada Allah SWT sebagai zat yang menciptakan dunia ini; kedua, berbakti kepada orang tua yang melahirkan; ketiga, mengabdi kepada saudara tua sebagai wakil dari orang tua; keempat, mengabdi kepada raja atau pemimpin; dan kelima mengabdi kepada pemerintah atau negara yang telah memberikan hak dan kewajiban dalam bermasyarakat. Mirip dengan kisah kearifan cerita pewayangan yang mencerminkan kearifan manusia Jawa sejati. Kesetiaan Mbah Maridjan itu serupa dengan kesetiaan satria muda Raden Setyaka dalam menjaga kelangsungan hidup di padepokan Grojogan Sewu. Raden Setyaka rela mengorbankan jiwa dan raganya akibat kemarahan pakdenya sendiri, Prabu Baladewa, raja Mandura. Jitabsara Kocap kacarita, terjadilah Perang Baratayuda, yakni perang sesama darah Barata, antara Pandawa dan Kurawa, untuk memperebutkan kekuasaan Kerajaan Hastina.Berdasarkan cerita, seharusnya yang berhak atas kekuasaan Kerajaan Hastina adalah Pandawa. Tetapi dengan tipu daya Sengkuni, Hastina berada dalam kekuasaan Kurawa. Jauh sebelum terjadi Perang Baratayuda, para sesepuh Pandawa dan Kurawa, seperti Resi Bisma, telah memberikan solusi untuk menghindari terjadinya perang saudara itu. Salah satu usulannya ialah agar Kerajaan Hastina dibagi menjadi dua. Tapi niat baik pepunden tersebut tidak didengar dan akhirnya terjadilah Perang Baratayuda yang menelan banyak korban, baik dari pihak Kurawa maupun Pandawa. Menurut kitab Jitabsara, ada berbagai aturan dalam Perang Baratayuda. Misalnya, siapa melawan siapa, dan itu tidak boleh dilanggar. Pemegang kitab Jitabsara itu adalah Raja Dwarawati Prabu Kresna yang juga sebagai pujangga Perang Baratayuda. Masih menurut kitab Jitabsara, ada dua kesatria atau raja yang tidak boleh berperang karena kesaktian mereka tidak ada tandingannya. Jika kedua tokoh itu ikut berperang, akan mengacaukan Perang Baratayuda yang juga dikenal sebagai perang suci. Kedua tokoh itu adalah Prabu Baladewa dan Raden Antareja dari Saptapretala. Prabu Baladewa dengan senjata nenggala tidak ada tandingannya. Sementara Raden Antareja memiliki senjata berupa upas atau bisa yang mematikan.Bahkan, dengan senjatanya itu Antareja bisa membunuh siapa pun hanya dengan melepaskan bisanya ke bayangannya. Jadi, bisa dibayangkan berapa kesatria atau wadyabala dalam sekejap bisa dimusnahkan Antareja tanpa harus berhadap-hadapan. Untuk itu, Prabu Kresna mencari jalan guna `menyingkirkan' keduanya agar tidak terlibat dalam Perang Baratayuda. Prabu Baladewa diminta bertapa di Grojogan Sewu, sedangkan Raden Antareja terpaksa terbunuh karena ke saktiannya sendiri. Konon, Prabu Kresna meminta Antareja mencoba kesaktian bisanya dengan menjilat bayangannya sendiri. Karena itulah Antareja akhirnya mati akibat bisanya sendiri. Bawaleksana Ketika bertapa di Grojogan Sewu, Prabu Baladewa dijaga juru kunci bernama Raden Setyaka. Prabu Kresna memerintahkan Raden Setyaka, anaknya sendiri, untuk menjaga kelangsungan pertapaan Grojogan Sewu dan membantu Prabu Baladewa selama bertapa. Sebelum bertugas, Kresna mewanti-wanti kepada Setyaka untuk berupaya dengan berbagai cara agar pakdenya, Baladewa, tidak tahu kapan Perang Baratayuda mulai. Intinya, jangan sampai Baladewa tahu sehingga tidak terlibat dalam Perang Baratayuda.Karena itulah Setyaka terpaksa berkorban untuk tidak jujur kepada Baladewa kapan pun pakdenya itu bertanya kapan Perang Baratayuda dimulai. Ini merupakan tugas berat karena risikonya sangat besar. Sadar akan tugas negara, apalagi yang menitahkan adalah ayahanda sendiri yang menjadi pujangga perang, maka tidak ada pilihan Setyaka harus bawaleksana menjaga amanah itu. Suatu ketika aliran Sungai Bagiratri yang merupakan aliran sungai dari Grojogan Sewu airnya berwarna merah karena bercampur darah para kesatria yang sedang berperang. Baladewa bertanya kepada Setyaka, “Kenapa air sungainya bercampur darah? Apakah ini darah dari kesatria Pandawa dan Kurawa yang sedang berperang?” Setyaka menjawab, “Itu bukan darah manusia, tetapi darah binatang buruan.” Baladewa bisa menerima jawaban tersebut dan kembali bertapa. Berikutnya, sewaktu ada beberapa mayat manusia yang hanyut di Sungai Bagiratri, Baladewa meminta Setyaka untuk memeriksa apakah mayat-mayat itu para kesatria yang kalah perang dalam Baratayuda? Setyaka bilang, itu semua mayat akibat korban bencana alam. Baladewa masih percaya dengan ucapan Setyaka tersebut. Akan tetapi, begitu melihat bangkai kereta Prabu Duryudana yang hancur-lebur, Baladewa yakin dan memastikan bahwa Perang Baratayuda sudah berlangsung dan bahkan hampir selesai. Merasa ditipu daya oleh Raden Setyaka, Baladewa pun marah besar. Ia menghunus senjata nenggala. Sejatinya, maksud Baladewa itu hanya untuk menakut-nakuti Setyaka yang adalah keponakannya sendiri. Tetapi apa yang terjadi? Kodrat mengatakan lain. Saat Setyaka sujud sembah kepada Baladewa untuk meminta ampun, nenggala menancap di dadanya. Akhirnya, gugurlah kesatria muda Setyaka dalam mengemban tugas suci tersebut. Kearifan lokal yang bisa diambil dari cerita di atas adalah bagaimana Raden Setyaka dan Mbah Maridjan membuka mata kita tentang arti dan bagaimana abdi harus menjalankan kesetiaan dan tanggung jawab hingga akhir hayatnya tanpa pamrih. (X-5)







Source:

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/11/13/ArticleHtmls/13_11_2010_011_017.shtml?Mode=0

Friday, 12 November 2010

Kemenangan dan Kegagalan

Kemenangan dan Kegagalan

Dewa 19



kemenangan hari ini bukanlah berarti
kemenangan esok hari
kegagalan hari ini bukanlah berarti
kegagalan esok hari

hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti
usah kau menangisi hari kemarin
ahha ...

tak ada yang jatuh dari langit
dengan cuma-cuma
semua usaha dan doa
kebenaran saat ini
bukanlah berarti kebenaran saat nanti
kebenaran bukanlah kenyataan


hidup adalah perjuangan
bukanlah arah dan tujuan
hidup adalah perjalanan

Meja-Meja

Meja-Meja


Meja-meja hanya meja yang berupa meja
Kaki meja menyangga meja menjadi meja
Meja-meja hanyalah meja yang dibikin meja oleh pembuat meja
Alas meja menghampar di atas meja menjadi meja
Uhh.. Meja-meja hanyalah meja yang meja
Uhh.. Meja-meja sekedar meja yang meja
Uhh.. meja-meja cuma meja yang meja
Uhh.. Meja-meja adalah meja yang meja

Meja-meja tertunduk lesu, berdiri di sudut kamar yang gelap penuh debu yang bikin batuk, mencoba bernyanyi dengan kesunyian bertemankan diam dan kegelapan, mencoba mencari tahu apa yang ada di luar sana. Meja-meja lemah kuyu, dengan kaki-kaki meja kurusnya, dengan seonggok besi yang merantai kakinya yang sudah lecet berdarah dan setengah membusuk.

Meja-meja aku bertanya padamu meja
Kaki meja apakah hanyalah kaki mejanya meja?
Meja-meja tolong beritahu padaku meja
Alas meja apakah sekedar alas mejanya meja?
Meja-meja tolong tunjukkan padaku meja
Kaki meja apakah cuma kaki mejanya meja?
Meja-meja tolong bisikkan padaku meja
Alas meja apakah benar-benar alas mejanya meja?
Aihh.. Meja-meja yang merangkak bermeja-meja..
Aihh.. Meja-meja yang berjalan bermeja-meja..
Aihh.. Meja-meja yang berlari bermeja-meja..
Aihh.. meja-meja yang terbang bermeja-meja..

Sayang.. Meja-meja yang bermeja-meja itu hilang.. Entah kemana.. Kucoba mencarinya.. Hanya kutemukan bayang-bayang meja-meja yang mengejar meja-meja diantara sekian banyak meja-meja.. Apakah engkau yang menari elok itu meja-meja.. Diringi tabuh meja-meja yang mengalun riang bermeja-meja.. Indah sekali tarianmu meja-meja.. Sayang itu hanya ada di dunia meja-meja.. Kupicingkan mataku, kutatap lekat-lekat, meja itu masih disitu, dipojokan sudut ruangan gelap dan berdebu, dengan rantainya yang mengikat kuat dan sudah berkarat. Gubrakkkk...!! Sebotol bir berisi 1/4 pecah jatuh ke lantai disamping tempat tidurku.. Airnya tumpah, pecah dan muncrat ke wajah meja-meja.. Aku sedih.. Tapi meja-meja justru tertawa riang.. Terima kasih katanya.. Terima kasih?? O, aku tahu jawabnya. Ternyata meja-meja itu tidak pernah mandi dan gosok gigi..

Armidale
Di musim gugur ketika bunga berubah warna menjadi merah, kuning, biru dan ungu...
Terinspirasi puisi-puisi cicak-cicak Bang Saut.. Hihi..

HATI - HATI TERHADAP DOKTER (DOKTER VS PONARI)

HATI - HATI TERHADAP DOKTER (DOKTER VS PONARI)



From: <.....@transtv. co.id>
Subject: HATI - HATI TERHADAP DOKTER...
Date: Tuesday, March 24, 2009, 1:14 PM

Kasus nich, pantes aja Ponari laris manis..

ketika dokter indonesia sudah "menjual" hati nuraninya, kemanakah
kita bila sakit?

halo rekan-rekan.

Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru
meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak
Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat
venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam
berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS
swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai
masuk ke
kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau
perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak
mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam,
nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah
'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada
petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an &
pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' .
Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil
trombositnya tetap sama, 82 ribu.

Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember
lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu
saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang
harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal
dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali.
Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal
besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti
ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep
nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang
praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus
& pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore
selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya
minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite
& nggak
komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya
diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya
langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron  suntik, obat
mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal
Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali.
Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit
lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah
ngomong kalau dia sudah punya banyak.

Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya
lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak.
Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya
mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu.
Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya

beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak
obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station
& diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh
kepala perawat.

Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani,
itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung.
Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia
berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit
DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal
& sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia
ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang
lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya
ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan
saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan.
Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya
jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata
pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh
obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli
obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah
'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien
sementara kadang kala keluarga
sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visit.


Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya
yang dokter
supaya nggak dapat pengobatan sembarangan?
Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak
dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.

Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang
dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota
kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak
obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan
masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.
Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar
berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

rgds

Billy

Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi

Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi




Dari milis tetangga:

[Selasa,17 Februari 2009 - 04:24 AM] Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?"

Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."

Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.

Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, "Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),"
ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.

Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.

Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !" katanya.

Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Anda terperanjat?

Itulah kenyataannya.

Benarkah merokok dapat melahirkan generasi "Goblok!" kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.
"Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu.

Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!

"Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?
Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?"

Anda terperanjat?

Itulah kenyataannya.