Sunday, 28 November 2010

PASAR BUDAK MANGGARAI JAKARTA

Mevrouw van Mook boleh jadi menyimpan kenangan buruk tentang Manggarai hingga akhir hayatnya. Istri bekas Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook (1931 - 1948) itu pernah dikurung di Kamp Adek?bekas pesanggrahan para kuli Jawa sebelum dikirim rodi ke Sumatra?di Manggarai pada 1944, semasa Jepang menduduki Indonesia. "Hidup kita sudah tak ubahnya penduduk asli. Kurang makan, panas, digigit nyamuk malaria, cacingan," keluhnya ketika itu. Meester dan Mevrouw van Mook kini tinggal kenangan sejarah. Tapi realitas hidup di Manggarai yang dikeluhkan sang nyonya besar sebetulnya belum banyak bergeser sejak masa 1944: nyamuk masih tetap banyak, penyakit cacingan belum hilang, hawa justru makin panas oleh polusi dan padatnya penduduk. Perkara kurang makan? Itu hal rutin bagi sebagian penduduk. Belum lagi keresahan hidup karena pertikaian pagi dan petang sesama tetangga kampung. Apa yang membuat Manggarai sarat oleh beban sosial? Apakah karena sejak dua abad lalu daerah ini telah dihuni oleh kaum susah yang notabene para budak? Sejarah wilayah ini, mau tak mau, harus ditarik dari Jakarta Selatan ke Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur. Tersebutlah, pada awal abad ke-17, daerah Manggarai menjadi pusat perdagangan budak yang didatangkan dari Manggarai, Flores Barat. Bursa budak di kawasan ini erat hubungannya dengan Menteng Buurt (lingkungan Menteng), tempat banyak orang Belanda mencari jongos dan bedinde. Ketika perbudakan mulai sepi, pasar di sana tetap ramai. Tapi yang diperjualbelikan rumput makanan ternak, sehingga mewariskan nama Pasar Rumput sampai sekarang?tempat Anda mencari barang kelontong, barang bekas, nonton bioskop murah, dan berjoget disco dangdut. Tahun 1870, Belanda membangun jalan kereta api di daerah itu. Pada 1960, tanah-tanah PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) di daerah ini disulap menjadi wilayah pemukiman. Akibatnya, populasi meningkat pesat. Namun persoalan belum banyak. Outlet-outlet ekonomi di wilayah itu masih memungkinkan orang berbagi rezeki. Migrasi penduduk dari wilayah lain kemudian membentuk semacam melting pot: Cina, Jawa, Ambon, Betawi, Sumatra, Sunda, Bugis, Manado. Kini, para migran yang telah menginjak generasi kedua ini sudah bicara dalam logat "Jakarte" yang kental, dan dipersatukan oleh kesulitan hidup sehari-hari. Waktu berjalan. Pembangunan meningkat, begitu pula jumlah populasi. Peluang memperoleh rezeki, selain makin sulit, kian mudah menimbulkan pertikaian antarkampung. Ridwan Saidi, pengamat kebudayaan Betawi, mengatakan, konflik antarkampung bukanlah hal baru di Jakarta. Namun di Manggarai perseteruan ini menjadi khas karena topografi wilayah membuat intensitas pertemuan mereka makin tinggi dengan akses jalan yang itu-itu saja. Padahal, dari ideologi politik, sebagian dari mereka sama-sama pendukung PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Penduduk di sini kental masalah keagamaannya. Banyak orang Menteng Atas belajar mengaji di daerah Kawikawi. Dari segi etnis, menurut Ridwan, praktis tak ada persoalan. Mereka tumbuh seiring pembangunan jalan kereta api. Pertikaian di Manggarai makin serius tatkala nyawa menjadi mudah melayang. Orang lalu bicara tentang adanya persoalan sosial yang laten. Lalu, apa istimewanya pertikaian di wilayah ini dibandingkan dengan, misalnya, kerusuhan sosial serupa di wilayah DKI lainnya? Di sini, bahkan cuma di sinilah, "Unsur konflik masyarakat urban terpenuhi," kata Ridwan Saidi. Dari soal kepadatan penduduk, tingginya persaingan hidup, hingga topografi wilayah. Uniknya, warga kampung cenderung punya tendensi politik yang sama. Mereka kompak dalam kerusuhan 27 Juli maupun ketika menghajar anggota Pam Swakarsa. Melihat Manggarai masa kini, sulit membayangkan wajah daerah ini di masa 1950-an: hijau oleh petak-petak kebun sayur dan hutan belukar tempat penduduk Betawi setempat menggantungkan hidup. Kawasan ini kemudian terkena program perbaikan kampung Ali Sadikin pada 1960-an dan renovasi pasar pada 1970. Manggarai mulai "terpeta" oleh gang-gang sejak 1960-an dan kian tajam pada 1980. Era 1990-an, kehidupan pergengan kian "jaya". Bahkan, sepanjang 1998, tiada bulan yang lewat tanpa ada darah mengalir. Rupanya, setelah setengah abad, kehidupan di Manggarai menjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar kurang makan, digigit nyamuk, atau cacingan, seperti yang diderita Mevrouw van Mook.




http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1998/12/08/INT/mbm.19981208.INT98126.id.html

Mengenang Meester Cornelis di Jatinegara

Di gapura itu tercetak tulisan “Pasar Mester”. Dari seberang Jalan Jatinegara Timur, Jakarta Timur, hiruk pikuk manusia di sekitar gapura menyita pemandangan. Angkutan perkotaan (angkot) yang melintas pun selalu tergoda memperlambat lajunya. Memasuki gapura setinggi empat meter itu, hiruk pikuk semakin terasa. Orang-orang terkonsentrasi di dalam bangunan pasar dan lapak-lapak yang mengelilinginya. Pasar Mester memang dikenal sebagai pusat grosir terbesar di Jakarta Timur. Pasar ini menjadi salah satu rekomendasi bagi pemburu souvenir murah untuk pernikahan. “Pasar Mester awalnya hanya menjual bahan pokok, ayam, kambing, dan jahitan pakaian saja,” kata Muhammad Yunus, sesepuh Jatinegara. Perubahan pesat selama 60 tahun terakhir di Pasar Mester begitu lekat dalam ingatan pria kelahiran 10 Oktober 1945. Tahun 1948, kata dia, Pasar Mester hanya lapak-lapak kumuh yang dijaga para centeng. Centeng adalah sebutan preman yang menarik uang kemanan dari pedagang. “Centeng yang terkenal yaitu Kong Jaih. Ada sekitar tahun 1950,” ujar pria yang sejak usia 3 tahun menghabiskan waktu bermain di Pasar Mester. Bangunan permanen di Pasar Mester baru muncul sekitar tahun 1970. Bangunan itu kemudian direnovasi tahun 1989 setelah terbakar. Renovasi memakan waktu 1 tahun. ”Tahun 1991 pasarnya diresmikan sampai sekarang,” kata pria yang akrab disapa Babe Yunus. Pada masa Hindia Belanda, Mester tidak hanya merujuk pada bangunan pasar. Catatan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Mester digunakan untuk menyebut seluruh kawasan Jatinegara. Letaknya sekira 20 kilometer dari pusat Kota Batavia di Pasar Ikan. Sejarah dimulai sejak 1661, saat guru agama Kristen asal Pulau Banda, Cornelis Senen, membuka kawasan hutan jati di daerah itu. Jabatannya sebagai guru agama membuat Cornelis Senen mendapat tambahan gelar Meester di depan namanya, yang artinya “tuan guru”. Sejak akhir abad 17, Meester Cornelis mulai menguasai tanah di kawasan hutan jati itu. Masyarakat pun menyebutnya dengan kawasan Meester Cornelis. “Orang awam sih dulu bilangnya mester tapi sebenarnya master. Ya sesuai dengan lidah orang Betawi biar gampang nyebutnya,” ujarnya. Kawasan hutan jati yang dibuka Meester Cornelis perlahan berkembang menjadi kota satelit Batavia. Pada 1924, Mester dijadikan nama kabupaten, yang terbagi dalam empat kawedanan. Kawedanan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang. Sedangkan, nama Jatinegara baru mulai digunakan pada awal pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942. Kala itu Jepang berupaya keras menghilangkan nama-nama yang berbau Belanda. Lantaran kawasan itu bekas hutan jati yang lebat, dipilihlah nama Jatinegara menggantikan Meester Cornelis. Tapi, penobatan Jatinegara tidak serta merta menghilangkan nama Mester. Nama sang “tuan guru” tetap terukir indah di pasar Jatinegara.



• VIVAnews

Kampung Jatinegara Kaum

Penamaan kampung Jatinegara Kaum mempunyai unsur historis yang dihubungkan dengan peristiwa penaklukan Jayakarta oleh VOC (Kompeni Belanda). Konon pada waktu kota Jayakarta direbut oleh Kompeni Belanda, Pengeran Jayakarta Wijayakrama (Bupati Jayakarta) menyelamatkan diri ke arah tenggara kota. Tempat pengasingan ini merupakan daerah hutan yang dipenuhi oleh pohon-pohon jati. Di tempat inilah beliau membuka hutan bersama pengikut-pengikutnya untuk dijadikan sebagai tempat pemerintahan dalam pengasingan. Selanjutnya Pangeran menyebut daerah ini dengan nama “Jati Negara”. Nama ini dapat diartikan sebagai “negara yang sejati” atau “pemerintahan yang sejati”. Lama kelamaan sebutan Jatinegara meluas dibarengi dengan meluasnya daerah tersebut. Untuk membedakan Jatinegara lama dengan Jatinegara hasil pengembangan kota, maka Jatinegara lama disebut Jatinegara Kaum. Kata “Kaum” ini dapat diartikan sebagai tempat pemukiman para santri sekitar masjid (pemeluk Islam yang taat). Tetapi sampai sejauh ini belum dapat dipastikan sejak kapan nama “Kaum” tersebut digunakan. Menurut informasi dari penduduk Cina yang telah lama tinggal disana mengatakan bahwa nama Jatinegara Kaum tidak dikenal, yang dikenalnya hanyalah sebutan “Kampung Dalem”. Tentunya sebutan ini mempuyai latar belakang sejarah. Sebutan Dalem menunjukkan kepada bangunan keraton atau tempat bermukimnya para pembesar kerajaan. Dalam hal ini dapat dihubungkan dengan peristiwa pengasingan Pangeran Jayakarta beserta para pengikutnya. Pada tahun 1618, Jan Pieterszoon Coen meninggalkan Jayakarta menuju Maluku untuk menghimpun dan menata kekuatan armadanya. Benteng J.P. Coen di Jayakarta diserahkan kepada Pieter van den Broocke. Semua ini terjadi akibat permusuhan orang Jayakarta yang dipimpin oleh Pengeran Jayakarta Wijayakrama dan dibantu oleh Inggris terhadap orang-orang Belanda. Satu bulan setelah Jayakarta ditinggalkan J.P. Coen banteng diambil alih oleh Pangeran Jayakarta dan Inggris. Pada bulan Mei 1619, J.P. Coen datang lagi ke Jakarta bersama armadanya yang sudah siap tempur. Terjadilah pertempuran sengit antara Belanda dan Jayakarta. Armada Belanda sempat membakar masjid dan keraton serta membumihanguskan kota Jayakarta. Pada saat itu pulalah Jayakarta jatuh ke tangan Kompeni Belanda. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Mei 1619. Kemenangan Belanda sekaligus mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia. Sebelum Jayakarta dikuasai sepenuhnya oleh Belanda, sebenarnya Pangeran Jayakarta Wijayakrama telah ditarik terlebih dahulu oleh Sultan Banten. Pangeran dibawa oleh Tumenggung Banten ke daerah Tanara, Banten. Berita ini diperkuat dengan adanya surat-surat Pieter van den Broocke dan Jan Pieterzoon Coen yang menyebutkan bahwa Pangeran Jayakarta telah ditarik oleh Sultan Banten sebelum Jayakarta jatuh ke tangan Belanda. Lain lagi dengan keterangan lisan yang disampaikan oleh Rd. Junaedi yang menerangkan bahwa kekalahan Jayakarta mengakibatkan menyingkirnya Pangeran Jayakarta Wijayakrama ke daerah yang disebut Jatinegara Kaum sekarang. Di daerah ini Pangeran menyusun kekuatan untuk merebut kembali Jayakarta. Dalam sejarah pemerintahan kota, Jatinegara baru masuk sebagai wilayah administratif kota pada tahun 1926, yaitu sejak masa Stadgemeente Batavia. Pada waktu itu Meester Cornelis (Jatinegara) merupakan Stadgemeente tersendiri. Kemudian pada tanggal 1 Januari 1936 daeeah ini digabung dalam Stadgemeente Batavia. Sebelum tahun 1926, Jatinegara merupakan daerah di luar kota Jayakarta. Bahkan pada saat Jayakarta menjadi Stad Batavia (tahun 1619 - 1799) daerah ini masih jauh di luar kota. Begitupula pada masa Gemeente Batavia (1905 - 1926), Kampung Jatinegara belum masuk kota. Masa Gemeente Batavia membagi kota kedalam dua distrik, yaitu Distrik Batavia dan Waltevreden. Dalam hal ini Jatinegara tidak termasuk Onderdistrik manapun. Pada masa pendudukan Jepang (1942 - 1945), pemerintahan kota berubah lagi menjadi Djakarta Tokubetsu Shi. Pada masa ini Jakarta dibagi kedalam tujuh daerah bagian yang disebut “Siku”, termasuk diantaranya adalah Jatinegara yang merupakan siku ke-7. Keadaan ini mungkin tidak berubah pada masa Pemerintahan Nasional Kota Djakarta (1945 - 1947), sebab keadaan kota masih belum stabil. Pada masa Pemerintahan Nasional Kota Djakarta, Belanda datang lagi. Jakarta kembali dijadikan Stadgemeente dalam masa Pemerintahan Pra Federal (1947 - 1949). Pada masa ini Jatinegara (Kaum) masuk dalam onderdistrik Pulo Gadung yang dibawahi lagi oleh Distrik Bekasi. Distrik inipun dimasukkan ke dalam daerah yang berbatasan dengan kota Jakarta. Onderdistrik disamakan dengan kecamatan sekarang, sedangkan distrik adalah daerah kekuasaan di atas kecamatan. Dengan demikian sejak tahun 1947 hingga sekarang Jatinegara Kaum masuk ke dalam Kecamatan Pulo Gadung. Daerah ini baru menjadi kelurahan tersendiri pada tanggal 1 Oktober 1966 yang merupakan penggabungan dari pecahan Kelurahan Klender, Jatinegara dan Rawaterate. Dengan demikian kini secara administratif Jatinegara Kaum merupakan kelurahan di bawah Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Adapun luas wilayah Kelurahan Jatinegara Kaum ±100,5 Ha dengan batas-batas sebagai berikut :

- sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Pulo Gadung dan Jalan PT Dana paint,

- sebelah timur berbatasan dengan Jalan Raya Bekasi dan Kelurahan Jatinegara,

- sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Klender dan rel kereta api,

- sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan cipinang, Jatirawamangun,

dan Kali Sunter.

Tidak diketahui dengan pasti apakah telah ada penduduk sebelum Pangeran Jayakarta dan pengikutnya datang ke tempat ini (Jatinegara Kaum). Namun keterangan lisan menyebutkan tidak ada penduduk di tempat ini sebelum kehadiran pangeran Jayakarta. Keterangan ini dihubungkan dengan sejarah lisan yang menyebutkan bahwa daerah Jatinegara Kaum merupakan hutan lebat yang ditumbuhi oleh pohon-pohon jati. Kemudian hutan-hutan ini dibuka oreh pangeran dan pe- ngikutnya untuk dijadikan sebagai tempat pemerintahan pangeran Jayakarta dalam pengasingan. pangeran Jayakarta inilah yang menjadi cikal bakal penduduk Jatinegara Kaum sekarang. Keterangan diatas dibenarkan oleh Rachmad Sugandi yang mengatakan bahwa penduduk asli Kampung Jatinegara Kaum memamg berasal dari Banten bukan dari Betawi. Hal ini dibuktikan dengan bahasa yang digunakan ditempat ini sekarang, yaitu bahasa Sunda bukan bahasa Betawi atau lainnya. Bukti lain adalah adanya nama-nama orang seperti Tubagus (Bagus), Raden dan Ateng. Nama-nama ini berasal dari Banten. Ternyata sampai sekarang nama ini masih ada yang menggunakannya. Jika kita perhatikan sumber-sumber tertulis, terutama dari Babad Purwaka Caruban Nagari, maka memang benar penduduk Jatinegara Kaum berasal dari Banten. Namun bukan berarti orang Banten asli. Dalam babad tersebut disebutkan bahwa Sunan Gunung Jati memerintahkan Fatahillah, seorang panglima tentara muslim Demak untuk merebut Banten dan Sunda Kelapa yang masih dikuasai Pajajaran. Balatentara yang hendak menyerbu Banten dan Sunda Kelapa adalah tentara gabungan dari Demak dan Cirebon. Pasukan berjumlah 1967 orang. Daerah yang pertama kali diserbu oleh pasukan ini adalah Banten, baru setahun kemudian Sunda Kelapa. Karena penyerbuan Sunda Kelapa berangkat dari Banten, maka penduduk sekarang mengira atau menafsirkan bahwa yang menyerbu Sunda Kelapa adalah Banten. Jatuhnya Sunda Kelapa ke tangan tentara muslim sekaligus mengubah nama menjadi Jayakarta. Banyak tentara muslim yang menetap di Jayakarta. Kemudian ini berkembang sejalan dengan perkembangan penduduknya. Pada tahun 1619 penduduk Jayakarta ini tersingkir akibat jatuhnya Jayakarta ketangan Kompeni Belanda. Tentara Islam berikut Pangerannya tersingkir dan lari ke Jatinegara kaum. Demikian dugaan penduduk setempat yang sekarang tentang orang-orang Banten sebgai cikal bakal penduduk Jatinegara Kaum. Bila dikatakan bahwa Pangeran Jayakarta adalah cikal bakalnya penduduk Jatinegara Kaum sekarang, maka terlebih dahulu harus diketahui siapa Pangeran Jayakarta dan siapa pengikutnya. Ada beberapa sebutan untuk Pangeran Jayakarta yaitu : Pangeran Jakarta, Jayakarta Wijayakrama, Jayawikarta, Kawis Adimarta, Sungasara Jayawikarta. Berita Belanda atau Inggris menyebutnya Conick atau Regen van Jacetra atau King of Jacatra. Pangeran Jayakarta Wijayakrama mempunyai seorang ayah yang bernama Tubagus Angke yang menjadi Bupati Jakayakarta yang kedua setelah Fatahillah. Pangeran Jayakarta Wijayakrama adalah seorang anak hasil perkawinan antara Tubagus Angke dengan putrid Maulana Hasanuddin yang bernama Ratu Pembayun. Kalau saja Tubagus Angke asli Banten, maka Pangeran Jayakarta Wijayakrama marupakan hasil perkawinan campur antara Banten dan Cirebon. Setelah dewasa Pangeran Jayakarta menikah dengan seorang putri pengeran Pajajaran (Sunda) yang juga dijuluki Ratu Pembayun. Para pengikut Pangeran Jayakarta adalah tentara-tentara muslim yang setia kepada Pangeran. Tentara ini berasal dari Demak dan Cirebon. Pada saat Jayakarta jatuh, mereka mengungsi ke Jatinegara Kaum dengan membawa serta istri dan anak-anaknya. Dari keterangan diatas mengenai asal Pangeran Jayakarta dan para pengikutnya, terlihat keterlibatan suku Banten, Cirebon, Sunda (Pajajaran) dan Demak. Bila memang benar Pangeran Jayakarta dan pengikutnya merupakan cikal bakal penduduk Jatinegara Kaum sekarang, tentunya penduduk asli bukan saja dari Banten, melainkan juga dari Cirebon, Sunda dan Demak. Jatinegara yang merupakan “Desa Historis” didukung pula oleh adanya peninggalan sejarah. Peninggalan sejarah tersebut adalah masjid kuno, makam Pangeran Jayakarta Wijayakrama dan 4 buah rumah lama arsitektur khas Betawi. Peninggalan-peninggalan sejarah ini tidak sejaman. Secara kronologis bangunan masjid kuno lebih tua, kemudian makam (nisan) dan yang termuda adalah rumah berarsitektur Betawi. Masjid Jatinegara kaum terletak di wilayah RT 006/RW 03 tepatnya di Jalan Raya Jatinegara Kaum, di tepi timur sungai Sunter. Bengunan ini sudah mengalami perbaikan, penambahan dan pemugaran, sehingga bentuknya yang sekarang tidak sesuai lagi dengan bangunannya yang lama. Bagian yang asli dari bangunan masjid ini adalah atap yang terdapat di sebelah barat. Atap ini berbentuk limas/kerucut, semakin keatas semakin meruncing dengan bagian dasarnya berbentuk bujur sangkar. Atapnya genteng, sedangkan kaso, reng dan tiang penopang terbuat dari kayu. Menurut informasi Rachmad Sugandi dulunya atap ini bertumpang dua seperti lazimnya atap-atap mesjid kuno lainnya di Pulau Jawa. Berdenah bujur sangkar dengan ukuran 10x10 meter. Pintu masuk berukuran lebar yang terdiri dari dua daun pintu. Jendela berukuran besar dengan terali yang terbuat dari kayu batang pohon aren. Melihat dari gaya atapnya, maka masjid ini dapat ditentukan masanya yaitu pada masa abad 18. Akan tetapi menurut keterangan Rachmad Sugandi, masjid ini dibangun pada tahun 1620. Sebab beliau pernah melihat prasasti kayu yang bertuliskan huruf Arab yang menunjukkan angka tahun pendirian 1620. Angka tahun ini bukan berupa candrasengkala ataupun memed. Pada jaman Jepang prasasti ini masih terpampang di atas pintu masuk masjid, tetapi kini sudah tidak ada lagi. Entah hilang kemana, tegas beliau. Komplek makam yang terdiri dari makam Pangeran Jayakarta, keluarga pangeran dan masyarakat biasa terletak di sebelah barat daya dan utara masjid. Khusus makam Pangeran Jayakarta dan keluarganya berlokasi di sebelah barat daya masjid. Makam-makam ini diletakkan pada tempat yang agak tinggi. Bentuk dan hiasan nisan hampir seluruhnya serupa, yakni berbentuk pipih dengan hiasan kerawal, bentuk kijing berundak, sekarang berhiasan marmer. Rumah lama di daerah Jatinegara kaum terdapat 4 buah dengan lokasi yang berlainan. Dua buah rumah lama terdapat di Jalan Raya Jatinegara Kaum dan dua buah lagi terdapat di Jalan Raya Bekasi. Keadaan rumah ini masih baik, hanya sebuah yang sudah rusak dan tidak dihuni, yaitu yang terletak di Jalan Raya Bekasi. Rumah-rumah lama ini berarsitektur Betawi dengan serambi yang besar di bagian depan yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu dan tempat istirahat. Di belakang serambi ini terdapat ruang tidur, ruang makan dan dapur dan pada bagian belakang sekali terdapat kamar dan WC. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu bata tegel untuk pondasi dan lantai, kayu dan bambu untuk kerangka atap, genteng untuk penutup atap. Adapun mata pencaharian penduduk Kelurahan Jatinegara Kaum sekarang pada umumnya beraneka ragam. Ada yang menjadi pegawai negri, ABRI, buruh, pengrajin, pedagang, wiraswasta dan petani. Sarana pendidikan yang tersedia di Kampung Jatinegara Kaum masih belum memenuhi syarat dan tidak seimbang bila dilihat dari segi kebutuhan pendidikan khususnya bagi mereka yang ingin melanjutkan ke tingkat SMP, SMA, serta perguruan tinggi masih sangat kurang. Mayoritas penduduk Kampung Jatinegara Kaum adalah beragama Islam. Agama Islam sebuah cirri identitas dari masyarakat kampung daerah tersebut tidak dapat dipisahkan dari selulruh kegiatan kehidupan sehari-hari dalam masyarakatnya, yaitu rukun Iman dan rukun Islam dapat mereka jalankan dengan taat. Bahkan semua peristiwa yang menyangkut tentang bulan-bulan suci agama Islam tidak pernah luput untuk disemarakkan dan dihormati dengan patuh dan penuh keyakinan, seperti bulan Maulid, Nuzulul Qur’an, Idul Adha/Qurban, Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, tahun baru Hijriyah/Muharram, Idul Fitri dan sebagainya. Pendidikan tentang agama Islam terhadap anak-anak oleh para orang tua mereka mendapat perhatian yang sangat khusus. Kegiatan keagamaan seperti pengajian dan ceramah-ceramah tentang hukum-hukum akhirat dan keduniaan selalu digalakkan, baik dikalangan orang tua, pemuda, maupun anak-anak. Penduduk Kampung Jatinegara Kaum pada mulanya adalah keturunan dari Pangeran Jayakarta yang berasal dari Banten dan Cirebon, ditambah suku lainnya yaitu orang-orang Sunda dan orang-orang Jawa Tengah (Demak). Generasi selanjutnya adalah keturunan penduduk lokal dan kelompok-kelompok suku bangsa lainnya yang datang dari penjuru daerah di Indonesia. Namun demikian dalam pergaulan sehari-hari, terutama antara anggota keluarga atau kerabat mereka menggunakan bahasa Sunda dengan campuran dialek Banten dan Cirebon. Beberapa istilah kekerabatan yang masih dipergunakan dalam bahasa Sunda, misalnya :

- Ama : panggilan anak kepada ayah

- Emang : saudara laki-laki dari ayah atau ibu

- Bibi : saudara perempuan dari ayah atau ibu

- Uwa : kakak laki-laki atau perempuan dari ayah atau ibu

- Aca : saudara laki-laki yang lebih tua

- Alo : saudara sepupu dari pihak ayah atau ibu

- Ateng : gelar penghormatan bagi orang yang sudah lanjut usia

- Raden : gelar dari warisan leluhur keraton

Tradisi-tradisi yang berlaku dalam masyarakat Kampung Jatinegara Kaum mempunyai perbedaan dengan tradisi-tradisi yang ada di lingkungan kampung-kampung yang bercorak Betawi. Walaupun demikian sudah terlihat pula adanya saling mempengaruhi anatara tradisi yang ada dengan tradisi di sekitarnya yang bercorak Betawi. Bentuk campuran tradisi-tradisi dalam siklus kehidupan warga kempung tersebut masing-masing meliputi :

- Upacara kehamilan 7 bulan (nujuh bulan) bagi seorang calon ibu, yaitu dimandikan oleh seorang dukun dengan air kembang sambil dibacakan Surat Yusuf;

- Mengadzankan dan mengqomatkan seorang bayi yang baru lahir setelahnya dibersihkan;

- Mengubur ari-ari bayi yang telah dibersihkan dan diberi bumbu-bumbu ramuan di depan halaman rumah dengan mempergunakan tempayan kecil, selama satu minggu diterangi oleh sebuah pelita;

- Menyelenggarakan akikah bagi mereka yang mampu, yaitu memotong seekor kambing bagi kelahiran bayi perempuan dan dua ekor kambing bagi kelahiran bayi laki-laki;

- Upacara khitanan bagi anak laki-laki yang sudah berusia 7 – 8 tahun yang sebelumnya terlebih dahulu diarak keliling kampung;

- Upacara pernikahan yang sebelum pelaksanaannya melewati tahap-tahap berikut:

Saat pinangan diutus 4 – 5 orang dari pihak laki-laki kepada gadis yang akan dipinang untuk menanyakan status dari gadis tersebut.

2 atau 3 bulan sebelum pelaksanaan pernikahan kedua belah pihak mengadakan persiapan-persiapan begi pelaksanaan pernikahan mereka.

Saat pernikahan pihak laki-laki membawakan pihak perempuan dengan berbagai bawaan dan pengiringnya. Sebelum pihak laki-laki memasuki rumah pihak perempuan, akan dibacakan sebuah syair. Bagi para tamu undangan, makanan nasi dalam piring telah disiapkan, hanya tinggal mengambil lauk pauknya saja. Saat ada kematian salah seorang warganya, penduduk yang lain akan segera memberikan bantuan baik dalam segi materi maupun moril. Saat setelah jenazah dikuburkan, maka pada malam harinya di rumah duka diadakan pembacaan Al-Qur’an dan doa serta sedekahan pada setiap hari ke 3, 7, 40, 100 dan 1000 harinya. Untuk hal itu tergantung pada keadaan ekonomi dari keluarga yang terkena musibah tersebut. Kesenian yang digemari oleh penduduk Kampung Jatinegara Kaum ini adalah berupa kesenian gambus, rebana dan ketimpring yang memiliki unsur-unsur religius. Sedangkan kesenian Betawi yang berupa lenong, macam-macam tarian dan cokek kurang diminati karena tidak cocok dengan keyakinan agama mereka.




Referensi: Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993.
Sumber: Diskominfomas

Jatinegara dan Sejarah yang Hilang

SUATU siang di tahun 1770-an. Pasar di depan gerbang Benteng Belanda Meester Cornelis, sekitar 15 kilometer dari Batavia, tengah menggeliat. Seorang kusir Jawa memarkir pedati, lalu melepas kerbau di dekat pedatinya itu. Di sisi lain, di bawah gubug, beberapa wanita sedang menggelar barang dagangannya di atas kain, sementara pelanggan berlalu-lalang. Benteng berbentuk bintang tujuh dengan gardu berpenjaga yang dipersenjatai meriam berada di sisi Sungai Ciliwung. Benteng itu berfungsi untuk menjaga akses ke arah Buitenzorg (Bogor). Dalam benteng ada menara, tampak pula atap genteng rumah perwira komandan barak prajurit Eropa. Ada bangunan beratap daun kelapa yang merupakan tempat penyimpanan (gudang) dan tempat tinggal pekerja. Di atas tembok benteng terdapat kandang burung dara yang sengaja dipelihara untuk dikonsumsi. Demikian deskripsi untuk lukisan Johannes Rach tentang pasar di depan Benteng Mester Cornelis. Lukisan itu kini menjadi salah satu koleksi digital Perpustakaan Nasional dan bisa diakses melalui situs digital.pnri.go.id/collection. Teks keterangan lukisan dibuat Max de Bruijn dan Bas Kist. Johannes Rach sendiri seorang pelukis topografi VOC berkembangsaan Denmark yang tinggal di Batavia tahun 1763 hingga ia meninggal tahun 1783. BENTENG Meester Cornelis kini tak berbekas. Sementara pasar dalam lukisan itu boleh jadi merupakan cikal bakal Pasar Jatinegara di Jakarta Timur saat ini. Pasar Jatinegara merupakan salah satu aset penting PD Pasar Jaya, perusahan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wilayah Jatinegara dulunya memang bernama Mester Cornelis. Sampai sekarang Pasar Jatingara pun disebut Pasar Mester. Pada pintu masuk pasar dari Jalan Jatinegara Timur terpampang tulisan "Pasar Mester'. Para kondektur bus pun masih berteriak 'mester... mester...' ketika melintas di daerah Jatinegara. Mereka hendak memberi tahu penumpang bahwa bus sudah sampai di wilayah Mester Cornelis. Nama Mester Cornelis mengacu kepada seorang bernama Cornelis Senen, seorang pria kaya asal Pulau Lontor, Banda, Maluku yang bermukim di Batavia sejak tahun 1621. Di Batavia, Cornelis menjadi guru agama kristen, membuka sekolah, dan memimpin ibadat agama kristen serta menyampaikan kotbah dalam Bahasa Melayu dan Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuat ia mendapat 'gelar' Meester, atau 'tuan guru'. Cornelis berniat jadi pendeta tetapi ia ditolak. Belanda memberi dia hak istimewa untuk menebang pohon di tepi Kali Ciliwung. Dia juga memunyai sebidang tanah luas penuh pepohonan di pinggir Ciliwung. Tanah luas penuh pepohonan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Meester Cornelis. Menjelang berakhrinya masa penjajahan Belanda, kawasan itu menjadi suatu kotapraja tersendiri, wilayahnya mencakup Bekasi sekarang ini. WILAYAH Mester Cornelis berubah nama jadi Jatinegara pada zaman Jepang. Ada yang berpendapat perubahan tersebut karena di daerah itu ditemukan banyak pohon jati. Namun ada pula yang berpendapat, nama Jatinegara mengacu kepada 'negara sejati' yang sudah dipopulerkan Pangeran Jayakarta jauh sebelumnya. Pangeran Jayakarta mendirikan perkampungan Jatingera Kaum di wilayah Pulogadung, Jakarta Timur setelah Belanda menghancurkan keratonnya di Sunda Kelapa. Entah mana yang benar. Yang pasti sampai kini di Jatinegara banyak terdapat bangunan-bangunan tua bersejarah, di antaranya Stasiun Kereta Api Jatinegara, Gereja GPIB Koinonia, bagunan bekas markas Kodim 0505, Pasar Lama Jatinegara, rumah langgam Cina, kelenteng, dan gedung SMP 14 Jatinegara (di samping Jatinegara Plasa). Sayangnya, tidak banyak yang diketahui tentang masa lalu bangunan-bangunan itu. Gedung SMP 14 misalnya, tidak diketahui sejarahnya, demikian juga bangunan stasiun Jatinegara dan Kantor Pos Jatinegara. Wilayah Jatinegera mulai berkembang cepat awal abad ke 20, tepatnya sekitar tahun 1905, seiring dengan perluasan wilayah Batavia. Banyak bangunan di Jatinegara dibangun pada periode itu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini berupaya menelusuri sejarah sejumlah bangunan-bangunan itu, antara lain dengan melakukan riset sejarah, menerima masukan dari masyarakat dan berkordinasi dengan lembaga-lembaga terkait. Sejauh ini bangunan yang masuk dalam daftar usulan bangunan cagar budaya baru bekas gedung Kodim 0505 di Jalan Raya Bekasi Timur. Bangunan bekas rumah bupati Mester itu sempat jadi 'markas' pedagang kaki lima. Ada kecemasan, banguna-bangun tua bersejarah di kawasan itu akan hilang tak berbekas. Pasalnya, Pemerintah Kota Jakarta Timur tengah merancang penataaan kawasan tersebut jadi kawasan perdagangan. Penataan dijadwalkan kelar tahun 2010. Meski ada penegasan dari Pemerintah Kota Jakarta Tiimur bahwa Jatinegara merupakan kawasan perdagangan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti halnya kawasan Glodok, tetapi itu saja tidak cukup. Sampai saat ini, keberadaan bangunan-bangunan itu sebagai bangunan bersejarah tidak punya dasar hukum. Motif-motif ekonomi kiranya tidak mengurangi niat untuk menggali kisah masa lalu bangunan-bangun tua yang ada. Bagaimanapun, bangunan tua bersejarah sesungguhnya bisa mendatangkan uang bila dikemas menjadi sebuah dagangan, yaitu 'dagang sejarah'. Tetapi kalau sejarah gedung-gedung itu saja tidak diketahui, lantas apa yang bisa dijual?




http://nasional.kompas.com/read/2008/09/19/16442388/jatinegara.dan.sejarah.yang.hilang

Stasiun Beos Menjelang Peresmian

Stasiun Kereta Api Beos di Jakarta Kota diabadikan tahun 1929 menjelang peresmian. Belanda sendiri menyebutnya BOS kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatchapij (Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Kata BOS oleh lidah Betawi mereka sebut Beos, hingga nama itu terkenal hingga kini. Letaknya di Jalan Pintu Besar Utara/Jalan Jembatan Batu, Jakarta Kota. Stasiun yang merupakan jalur kereta api (KA) dari Batavia-Buitenzorg (Bogor) diresmikan pada 8 Oktober 1929 dengan desain putra Tulung Agung, Jawa Timur, Ir FJL Gijsels. Sebelum stasiun yang terletak di depan gedung Javasche Bank (kini Museum Bank Mandiri), yang dibangun pada 1909 stasiun KA terletak di depan Balai Kota Batavia (kini Museum Sejarah Jakarta). Letaknya sekitar 200 meter dari Beos. Ketika diresmikan diadakan upacara besar-besaran, termasuk selamatan dan untuk mengusir roh jahat, juga di keempat sudut bagian muka dan belakang masing-masing diletakkan kepala kerbau. Ada kepercayaan kala itu, yang di-’amini’ pemerintah Hindia Belanda: ‘Tiap membangun gedung, pasar, atau jembatan harus ada ‘tumbal’ berupa kepala kerbau yang dikubur dan kemudian diberi bacaan-bacaan sambil ‘selamatan”. Banyak yang percaya kalau ini tidak dilakukan akan korban jiwa, terutama anak kecil, diculik roh jahat. Konon, kepercayaan berbau takhayul ini masih terjadi hingga kini. Stasiun KA Beos merupakan jalur KA menuju Bekasi dan Karawang. Beos–nama perusahaan KA BOS–merupakan jalur KA pertama dari Batavia-Bogor (Buitenzorg) yang telah beroperasi sejak 1873. Kemudian, jalur KA menuju Bandung, Yogyakarta, lewat Cirebon, Semarang, dan berakhir di Surabaya. Angkutan penumpang dari Beos kemudian meluas ke stasiun Tanjung Priok dan Merak di Banten. Ketika Beos dibangun, jalur kereta api yang telah ada sejak 1870 dipindahkan ke depan Museum Sejarah Jakarta. Stasiun Beos karya putra Belanda kelahiran Tulung Agung merupakan karya besarnya yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen, yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern Barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Kini, Beos ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No 475 tahun 1993. Saat mendatangi stasiun bersejarah ini, sangat disayangkan keadaannya kurang terawat dan tampak sampah berserakan di sana-sini. Dengan berfungsinya kereta api Jabodetabek, tiap hari dari subuh hingga malam Beos didatangi puluhan bahkan ratusan ribu penumpamg yang datang dan pergi ke berbagai penjuru tempat.



Sumber: Alwi Shahab, wartawan Republika

Sejarah Stasiun Kota (Beos)

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota (kode: JAKK), dikenal pula sebagai Stasiun Beos adalah stasiun kereta api yang berusia cukup tua di Jakarta dan ditetapkan oleh Pemerintah Kota sebagai cagar budaya. Stasiun ini adalah satu dari sedikit stasiun di Indonesia yang bertipe terminus (perjalanan akhir), yang tidak memiliki kelanjutan jalur. Keberadaannya pada saat ini diributkan karena hendak direnovasi dengan penambahan ruang komersial. Padahal, stasiun ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, selain bangunannya kuno, stasiun ini merupakan stasiun tujuan terakhir perjalanan. Seperti halnya Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut di Surabaya yang merupakan cagar budaya, namun terjadi renovasi yang dinilai kontroversial. Pada masa lalu, karena terkenalnya stasiun ini, nama itu dijadikan sebuah acara oleh stasiun televisi swasta. Hanya saja mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi. Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain. Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia.
Stasiun Kota (1929). Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam. Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931. Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta. Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan. Stasun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Walau masih berfungsi, di sana-sini terlihat sudut-sudut yang kurang terawat. Keberadaannya pun mulai terusik dengan adanya kabar mau dibangun mal di atas bangunan stasiun. Demikian pula kebersihannya yang kurang terawat, sampah beresrakan di rel-rel kereta. Selain itu, banyak orang yang tinggal di samping kiri kanan rel di dekat stasiun mengurangi nilai estetika stasiun kebanggaan ini. Pihak KA sendiri seolah-olah tidak memperhatikan hal ini.

Sejarah Prostitusi Batavia

KISAH pelacuran di Batavia tak bisa lepas dari perjalanan keroncong. Kenapa demikian, karena menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, kedua hal itu memang saling kait. Keroncong diperkirakan muncul pada akhir abad 17 di Jassenburg (kini bernama Jembatan Batu, tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota). Di lokasi ini, pemuda-pemudi tempo dulu bersantai di malam hari. Para pemuda jualan suara sambil memetik gitar, merayu gadis-gadis yang “mejeng” di loteng rumah. Hal itu merupakan tradisi Eropa yang dibawa orang-orang Mestizo (peranakan Portugis-India). Lama-kelamaan perumahan Mestizo di Jassenburg berpindah kepemilikan ke orang Tionghoa. Menurut Ridwan Saidi, musik keroncong tetap mengalun namun gadis yang berdiri di loteng bukan lagi gadis Mestizo yang hitam manis melainkan Macao Po, gadis-gadis Macao peranakan Tionghoa-Portugis. Sebutan mereka moler (Portugis) yang artinya perempuan, yang kemudian mengalami perubahan makna menjadi perempuan jalang. Pasalnya, perempuan Macao Po jadi konsumsi kapiten dan letnan Tionghoa serta kumpeni berpangkat. Sementara buaya keroncong yang tak henti memetik gitar dan menyanyikan Terang Boelan, tak masuk hitungan. Dalam Rode Lamp van Batavia tot Jakarta, Ridwan mencatat, Jassenburg menjadi rode lamp alias red light atawa kawasan pelacuran kelas menengah-bawah pertama di Batavia. Tepatnya di Gang Mangga, yaitu di sebelah timur Jassenburg. Dari kawasan inilah kemudian penyakit mangga berkembang, disebut juga pehong (sial) yang biasa menjangkiti pria yang doyan mampir ke rode lamp. Kejayaan Gang Mangga berakhir di pertengahan abad 19, kawasan itu berubah jadi permukiman penduduk dan nama Gang Mangga pelan-pelan lenyap. Kemudian, seluruh jalan yang membentang dari Jassenburg sampai ke pintu air Goenoeng Sari dinamakan Mangga Doea Weg. Sebagai ganti tempat hiburan untuk mendengarkan musik, maka muncul rumah plesir milik pribadi-pribadi kaya semacam Oei Tamba Sia yang lantas berkembang menjadi soehian. Soehian pun berubah, tak beda dengan rumah bordil. Sebelum rontok, di abad 20, soehian banyak membawa korban. Yang jadi korban tak lain adalah perempuan-perempuan penjaja. Sebut saja Fientje de Fenicks dari soehian di Paal Merah, Nona Bong dari soehian di Kampung Bebek, dan Aisah dari Kampung Kramat yang tewas di rel kereta tak jauh dari Senen. Soehian kemudian berganti menjadi kompleks WTS yang tersebar di Gang Kaligot, Sawah Besar dan Gang Hauber, Petojo. Perempuan penjaja berkeliaran di sekitar Bioskop Alhambra sampai Jembatan Ciliwung (di depan Gajah Mada Plaza sekarang). Di masa itu, penduduk menyebut kawasan itu sebagai Jembatan Busuk lantaran bau parfum WTS yang menyengat bercampur bau keringat selalu menyebar di malam hari. Kedua gang tersebut terus berjaya bahkan hingga Jepang masuk ke Indonesia. Pasalnya tentara Dai Nippon juga ikut menjadi konsumen aktif ke tempat itu. Di zaman Jepang inilah, tempat WTS makin marak bahkan hingga ke gerbong kereta api Senen. Di masa milenium ini, lokalisasi pun diobrak-abrik hingga penjaja seks yang masih terus dicari calon pembeli, harus ngetem di tempat-tempat yang tak berbeda dari zaman Jepang. Maka, jangan heran jika kasus AIDS sulit dilacak sebab tak ada lokasi yang dilokalisir bagi penjaja dan pembeli seks.

GELANDANGAN

GELANDANGAN



Tunawisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai pembatas wilayah dan milik pribadi, tunawisma sering menggunakan lembaran kardus, lembaran seng atau aluminium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar swalayan, atau tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma berada.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seringkali hidup dari belas kasihan orang lain atau bekerja sebagai pemulung.

Orang yang mempunyai tradisi tinggal di dalam tenda seperti di Mongolia tidak bisa dikatakan tunawisma. Di negara-negara maju, ada orang yang memutuskan menjadi tunawisma bukan karena kemiskinan atau tidak memiliki uang, tapi ingin bebas dari keluarga atau tanggung jawab. Di Amerika Serikat, industrialis Howard Hughes pernah untuk sementara memutuskan untuk menjadi tuna wisma. Sewaktu Perang Vietnam anak muda Amerika Serikat dengan sengaja berkeinginan jadi tunawisma, karena orang tanpa alamat yang jelas tidak menerima surat undangan wajib militer.

Gelandangan adalah istilah dengan konotasi negatif yang ditujukan kepada orang-orang yang mengalami keadaan tunawisma.

Gelandangan Pertama Kali

Apakah gelandangan itu? Secara etimologi, gelandangan dapat didefenisikan sebagai orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap maupun tempat tinggal tetap. Dalam sejarah perkembangan masyarakat, mereka adalah orang-orang yang tersingkir dari lapangan produksi, dan terbuang dari kelasnya.

Di eropa misalnya, ketika memasuki revolusi Industri, gelandangan atau vagrants berawal dari pengusiran para petani dari ladang-ladangnya, kemudian memilih berbondong-bondong ke kota untuk mencari pekerjaan (urbanisasi).

Di Indonesia, untuk pertama kalinya, sebuah laporan kolonial yang menjelaskan mengenai keberadaan para gelandangan, sudah terdokumentasi pada abad 18. Dalam laporan itu disebutkan, antara Semarang dan Jogjakarta terdapat sekitar 35 ribu orang pekerja kasar, yang disebut sebagai batur. Mereka ini, menurut laporan itu, tidak memakai baju, bercelana cawet, tidak punya tempat tinggal tetap, dan juga keluarga tetap.
Setiap hari, para batur ini bekerja secara serabutan, terutama menjadi pengangkut barang di pasar-pasar. Dari pekerjaannya itu, mereka hanya mendapat hasil yang kecil, sehingga seringkali dihabiskan di tempat perjudian. Mereka hidup secara liar, sering terlibat dalam kerusuhan, sehingga dipandang sebagai pengganggu oleh pemerintah kolonial.

Menurut penelusuran sejarah, para batur sudah hadir semenjak perang diponegoro berlangsung, dan menjadi unsur penting dalam perlawanan tersebut. Mereka menjadi penghubung antara kesatuan atau sel pasukan diponegoro di wilayah Jawa Tengah. Pada masa pelaksaan tanam paksa, jumlah batur meningkat dengan pesat di Indonesia, sebab banyak petani yang terusir dari tanahnya, mengalami kegagalan panen, atau terjadi kekeringan panjang. Kelaparan menimpa rakyat dimana-mana, sehingga banyak diantara mereka meninggalkan desanya menuju ke kota, dengan harapan mendapatkan bahan makanan.

Bagi pemerintah kolonial, kehadiran gelandangan ini bukan hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi dan social, tapi juga dipandang sebagai persoalan politik yang serius. Pasalnya, dalam gerakan melawan pemerintah kolonial ketika itu, para gelandangan selalu menjadi partisan paling aktif dan berani mati.

Akhirnya, untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah kolonial berupaya menampung mereka dalam pekerjaan-pekerjaan pembangunan infrastuktur, seperti pembuatan jalan raya, pembangunan kantor atau gudang, awak kapal, galangan kapal, dsb.

Ketika krisis ekonomi 1930-an, misalnya, pemerintah kolonial begitu aktif mengintervensi sektor industri agar tidak bangkrut dan melahirkan pengangguran. Selain itu, pemerintah juga berupaya mengatasi persoalan kelaparan. Di Indramayu, misalnya, pemerintah terpaksa mendistribusikan beras dari gudang, guna mencega kelaparan dan pemberontakan.

Problem Gelandangan Sekarang Ini

Sekarang ini, persoalan gelandangan masih menghiasi daftar kegagalan pembangunan ekonomi dan social di Indonesia. Di berbagai kota besar di seantero negeri ini, para gelandangan memadati lampu merah, emperan toko, dan kawasan-kawasan tertentu, sehingga menjadi fenomena tersendiri di dalam kehidupan social perkotaan di Indonesia.

Menurut saya, persoalan gelandangan sekarang ini agak sedikit berbeda dengan fenomena para batur di abad 12, ataupun para vagrants di eropa pada saat revolusi Industri.

Menurut Mike Davis, seorang komentator sosial berkebangsaan merika, persoalan pengangguran bersifat inheren di dalam masyarakat kapitalis. Karena motivasi seorang kapitalis adalah mencari keuntungan, maka dia akan terus menerus berupaya memperluas industri. menurutnya, peningkatan pengangguran dihasilkan oleh perkembangan industri manufaktur, terutama penggunaan teknologi atau teknik produksi yang lebih modern dan menghemat tenaga kerja.

Di sisi lain, menurut Davis, terjadi peningkatan besar dari produksi pertanian akibat penggunaan teknologi modern dalam pertanian. Situasi ini mendorong semakin banyak orang kehilangan pekerjaan, sehingga memilih pindah ke kota dan berusaha mencari pekerjaan.

Hanya saja, menurut davis, ada perbedaan antara pemicu pengangguran di Negara industri maju dengan Negara berkembang. Di Negara kapitalis maju, pengangguran dipicu oleh pengurangan jam kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, akibat penerapan mekanisasi dan teknologi modern di sektor industri. Sementara di negera berkembang, pemicu utama pengangguran adalah gejala de-industrialisasi akibat proyek neoliberal.

Menurut dia, campur tangan IMF dan Bank Dunia dalam merestrukturisasi perekonomian dunia ketiga, termasuk Indonesia, telah mendorong kehancuran sektor pertanian, menghancurkan pasar domestik, penutupan pabrik, PHK besar-besaran, dan tekanan terhadap upah.

Dampak kebijakan penyesuaan structural juga nampak dalam pertumbuhan jumlah penganggur di Indonesia. Menurut catatan, jumlah orang yang termasuk setengah pengangguran, yaitu orang yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu, terus meningkat, dari 29 juta (2006) menjadi 31 juta (2007). Sementara itu, orang yang bekerja pada kegiatan informal terus naik dari kisaran 60% menuju 70%. (sumber, organisasi Pekerja Seluruh Indonesia). Nah, angka 70% ini merupakan potensial gelandangan.

Dengan komposisi pengangguran seperti itu, maka tidak heran bila gelandangan juga terus menjamur di berbagai sudut kota di Indonesia. Ini bukan fenomena orang-orang malas, seperti yang difitnahkan sejumlah orang pintar dan beragama di republik ini, melainkan persoalan kegagalan sebuah sistim ekonomi. Siapa yang patut dipersalahkan? Jawabnya: 100% pemerintah.

Jadi, misalnya, bila pemda DKI tetap memaksakan pemberlakukan Perda Tibun, maka dampak sosialnya akan sangat luas. sebab, sasaran utama dari kebijakan ini adalah sektor informal, yang jumlahnya sangat besar.

Terkait mentalitas pejabat di Indonesia, seorang sopir bajaj pernah mengatakan kepada saya; “jangan pernah jadi pejabat di Indonesia, mas,” kata dia, “nanti kehilangan hati dan otak,” ujarnya. Menurut dia, ketika menjadi pejabat di Indonesia hati nurani akan dibuang, sehingga tidak memiliki sensifitas kemanusiaan, sementara ketidaan otak membuat para pejabat itu kehilangan fikiran.

Apa yang dikatakan oleh supir bajaj tadi, mungkin saja ada benarnya. Hanya saja, kita berharap agar MUI, Pemda DKI, dan pejabat di negeri ini lebih manusiawi dalam mengurusi rakyatnya, bukan bersandar pada logika keuntungan semata.





Rudi Hartono, peneliti di Lembaga pembebasan Media dan Ilmus Sosial (LPMIS), redaksi media alternatif, Berdikari Online, dan pengelola jurnal Arah Kiri.






For Full Text Pdf Program Desaku Menanti Download Here

Nasib Jadi Relawan dan Cerita Suka Dukanya di ACEH

Pagi ini saya terbangun dari tidur saya. Setelah capek mencuci baju dan mengepel lantai dan sedikit bersenandung supaya kualitas vokal saya tetap terjaga baik kayak Justin Bieber, saya coba menuliskan cerita-cerita yang saya anggap lucu tapi nyata dan terjadi.. :)



Menjadi relawan di Aceh pasca tsunami adalah pengalaman yang menakjubkan dalam kehidupan saya. Hari itu kami naik pesawat berombongan dari Jakarta menuju Aceh. Kebetulan saya kedapatan kursi dengan 2 orang laki-laki dari Aceh yang wajahnya terlihat murung. Pada waktu memasuki Aceh, semua orang melihat ke bawah dan berseru, "Lihat...!! Hancur semua. Rumah-rumah hilang dan berubah seperti sawah saja..!!". Tetapi ada yang menyeletuk kalau yang kami lihat pada waktu itu memang sawah. Semua orang pun tertawa ngakak. Kedua orang yang duduk di sebelah saya pun bertanya. Kalian dari mana? Kenapa ngetawain Aceh? KAMI TERKENA MUSIBAH DAN KALIAN MENTERTAWAINYA???!! Saya pun atas nama teman-teman langsung spontan meminta maaf kepada kedua orang itu dan menjelaskan bahwa kami rombongan relawan dari Depsos yang akan membantu para pengungsi terutama anak yatim piatu korban tsunami. Saya juga menjelaskan sekenanya bahwa ada beberapa teman yang baru sekali ini naik pesawat jadi agak sedikit terbawa suasana. Mereka pun mengerti dan menanyakan saya akan tidur dimana. Saya pun langsung mengatakan tidak tahu. Tapi kemungkinan besar saya akan tidur di tenda bareng pengungsi atau tidur di halaman Masjid Indrapuri dengan para penduduk yang mengungsi. Merekapun mengangguk dan kami berpisah di bandara. Dua hari kemudian saya benar ditempatkan di pengungsian Masjid Inderapuri dan kamipun mendirikan tenda di situ. Setelah hari siang kami pun duduk-duduk di halaman masjid karena panasnya yang luar biasa. Tiba-tiba datang seorang teman saya dan bilang kalau ada 2 laki-laki Aceh paruh baya yang mencari saya. Kemungkinan GAM katanya. Saya pun agak dag dig dug juga mengingat bahwa saya dari Jawa dan rumor mengatakan bahwa orang Aceh terutama GAM, orangnya kasar-kasar dan tidak suka dengan orang Jawa. Tetapi terus saya berpikir. Bukankah saya ke Aceh sudah pamit dan minta doa restu dengan Ibu saya. Bukankah kalau kita mati sebagai relawan dan sementara hati kita masih lurus dan putih dikarena kecelakaan atau sejenisnya kita bakalan mati khusnul khotimah? Saya pun tidak takut dan menemui kedua orang tersebut. Saya selalu yakin dengan kekuatan diplomasi. Saya yakin dengan kekuatan tulisan saya, omongan saya, dan kesopan santunan apa adanya. Di luar dugaan saya, kedua orang itu adalah orang yang duduk bersebelahan dengan saya di pesawat pada waktu berangkat ke Aceh! Mereka memeluk saya, mengucapkan terima kasih bersedia membantu rakyat Aceh dan membawakan saya dua karung yang isinya buah rambutan Aceh dan langsap (sejenis buah duku tetapi agak sedikit asam dan segar). Pertemuan ini langsung mengingatkan pada kisah seorang Amerika yang mau pindah dari Florida ke Illinois. Dia bertanya kepada seseorang di tempat pengisian bensin. Apakah orang di sini ramah-ramah? Orang tua itu pun menjawab kalau menurut anda? Mungkin tidak ramah, katanya. Si orang tua itu pun menjawab kalau menurut anda tidak ramah, maka penduduk di sini jauh tidak ramah. Kalau menurut saya ramah? Si kakek itu pun menjawab, kalau menurut kamu ramah, maka penduduk di sini jauh lebih ramah... :)


Saya adalah tipikal orang yang suka humor dan jarang serius kecuali pada situasi formal yang memang kita dituntut keseriusan. Pada waktu jadi relawan keisengan saya kadang muncul. Pada suatu hari kami disuruh merapat ke Brawe markas induk relawan Depsos di Aceh. Karena perintah itu sifatnya dadakan maka kami segera berangkat buru-buru. Sewaktu dalam perjalanan sore menjelang maghrib tiba-tiba di pinggir sawah ban sepeda motor kami meletus dan terpaksa kami turun. Karena rapat kelihatan sangat penting dan harus ada perwakilannya terus kami mendiskusikan siapa yang menuntun sepeda motor mencari tambal ban dan siap yang naik labi-labi (panggilan untuk angkot di Aceh). Saya pun mengatakan dengan cengengesan, kayaknya saya yang harus naik labi-labi karena walaupun badan saya lebih besar dari dia tetapi tenaga saya jauh lebih lemah, biarpun saya kelihatan gagah tapi nyali saya kecil, dan saya pun mengucapkan sambil ngakak, bahwa kalau ada bencana kesempatan hidup harus diberikan kepada mereka yang masih muda. Hehehe... Teman saya pun misuh-misuh dan saya diijinkan pergi duluan. Setelah sampai Brawe dan selesai rapat 2 jam kemudian datang teman saya dengan sepeda motornya dengan wajah pucat pasi. Ada apa kok sampai pucat begitu? Katanya pada waktu itu hari menjelang maghrib, situasi mencekam, semua depan, belakang samping kanan kiri adalah sawah yang thowang (sepi). Dia sungguh khawatir kalau tiba-tiba ada GAM menyergap dan membunuh dirinya. Setelah 5 menit berlalu tiba-tiba ada 2 mobil brimob kencang dan berhenti tepat di depannya. Keruan dia kaget setengah mati. Dia takut dikira sama orang Brimob itu GAM dan dibunuh begitu saja karena situasi pada waktu itu masih konflik. Dengan mengatakan kamu GAM terus dibunuh pun tidak ada yang ngusut kasarannya begitu. Ternyata Brimob-brimob di dua truk itu pada turun cepat sekali di depan mukanya terus MUNTAH-MUNTAH di depannya. Ternyata perjalanan Medan - Aceh dalam truk yang pengap membuat mereka mabok perjalanan dan kemudian tidak kuat dan akhirnya pada muntah-muntah semua. Cuma kawan saya kagetnya setengah mati untung tidak jantungan. Saya pun ngakak mendengar ceritanya. saya bilang jangankan pak pulisi itu saya sebagai teman akrab tapi kalau setiap mandang wajahmu sebenarnya mau muntah juga cuman kutahan-tahan demi pertemanan kita. Hehehe... Dan dia pun bilang, Asu...!! Bukannya simpati malah ngetawain kayak gitu... Nama teman saya itu adalah KAHONO, dia orang Jogja tapi sekarang sudah pensiun.. :)


Cerita berikutnya adalah tentang teman saya namanya Heryanto orang Makassar. Sebenarnya ada dua orang Makassar nama aslinya Arifudin tapi biasa dipanggil Daeng. Sedang Heryanto dipanggil Acho. Daeng selalu suka pada waktu saya mengajarkan baca puisi pada anak-anak. Pendekatannya beda, katanya. Dia selalu terpesona setiap kali saya membaca puisi, mungkin karena ketampanan wajah saya yang menghipnotis anak-anak dan ibu-ibu karena mungkin mirip sama si Justin Bieber. Hehehe... Kalau ini narcis sedikit! Hehehe... Suatu malam kami tiduran di posko Lambaro di bawah pohon kelapa. Ketika saya mau terlelap saya mendengar suara orang mengeluh dan merintih lirih-lirih... Saya pun segera memeriksa asal muasal suara itu dan menemuka Acho sedang merintih menahan kesakitan yang luar biasa. Saya pikir dia kesambet (kerasukan setan) atau mungkin kena angin malam. saya segera pijit lehernya supaya dia lebih enakan, tapi tak mempan. Saya pun memanggil beberapa rekan relawan untuk menolong. Akhirnya dia agak baikan dan kamipun bernafas lega. Tapi otak saya terus berpikir, sebenarnya kena apa sih dia? Tak lama 20 menit kemudian dia mendatangi saya dan mengaku kalau di kejatuhan pohon kelapa! Tepat di dadanya. Pantes sampai mau klenger gitu! Kataku sambil ngakak... Aihhh... Berat3x....Hatiku selembar daun... :)



Depok, 28 Nopember 2010.

Saturday, 27 November 2010

KISAH SEDIH SEORANG PEMBANGUN

Kisah seorang Pembangun yang sampai pada akhir hayatnya tidak melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya, maka biodata Pembangun dapat dilihat seperti ini :







TO WHOM IT MAY CONCERN:



Pembangun si orang biasa telah dikuburkan hari ini

Lahir

Tahun 1902, dari keluarga biasa

Pendidikan

Mengikuti kuliah dan sekolah tinggi serta lulus ujian tanpa penghargaan, selalu terpilih menjadi yang terakhir dan tidak banyak dikenal oleh kawan-kawan di sekolah maupun dikampusnya.

Pernikahan

Tahun 1935 dengan Dedes tak kurang tak lebih.

Pekerjaan

35 tahun mengabdi di perusahaan produk biasa-biasa saja, Pembangun menduduki posisi di perusahaan yang sangat tidak berarti dan mengurus keluar masuknya produk biasa-biasa yang membawanya ke kehidupan yang biasa-biasa saja.

Prestasi

Hidup 72 tahun tanpa tujuan, tanpa rencana, hasrat kepastian dan keyakinan.

Pekuburan

Pembangun beristirahat dengan tenang, bebas dari gangguan teman-teman dan di pekuburan orang-orang biasa…

Dan di nisan Pembangun tertulis :

Di sini beristirahat dengan tenang

Tn. Pembangun Si Orang Biasa

Lahir 1902

Menikah 1935

Meninggal 1974

” Ia berusaha untuk tidak pernah mencoba “

” Ia hanya memikirkan hal-hal yang kecil dan itulah yang didapat dari hidupnya selama ini “









Aihh.. Berat3x..

Hatiku selembar daun...

CERITA SEDIH TENTANG KASIH SEORANG IBU

Dari milis teman :



Sahabat… artikel ini saya persembahkan untuk orang tua saya terutama almarhum Ibu saya, dan semua Ibu-ibu yang diciptakan oleh Tuhan di muka bumi ini…Beberapa hari yang lalu, saya dan Bapak Iskandar pulang dari Pasaman, salah satu kabupaten yang ada di Sumatera Barat. Dalam perjalanan pulang tersebut seperti biasa kami selalu membahas hal-hal apa saja yang dapat kami diskusikan agar perjalanan terasa menyenangkan. Sebab jarak tempuh kota Pasaman dan Padang sekitar 5 – 6 jam. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 19.30 wib. Lalulintas yang tidak begitu padat ditengah hutan rimba dengan tiupan angina yang menyejukkan membuat suasana diskusi kami terasa begitu menyenangkan. Kami membahas mulai dari kehidupan, politik, Negara sampai masa lalu dan keluarga. Dari kejauhan kami melihat seorang ibu dengan usia sekitar 60 tahun dengan wajah yang sudah lesu karena mungkin kelelahan, mencoba mencari tumpangan ( kayaknya ingin pulang ). Sebuah mobil pick up yang biasa pembawa sapi pun berhenti, setelah nego ibu tersebutpun naik dibelakang mobil tersebut. Kami melewati mobil tersebut, namun hati dan perasaan saya terus tertuju kepada sang ibu tersebut. Mobil yang kami pakaipun saya perlambat dan memberikan kesempatan mobil sapi tersebut untuk melewati mobil kami. Akhirnya mobil tersebut tepat didepan mobil yang kami bawa. Kamipun melihat wajah sang ibu yang begitu lelah, dengan kerutan diwajah serta pandangan yang kosong kearah bukit, mmmmm… ntah apa yang dia pikirkan saat itu… Kami terus memperhatikan sang ibu yang berada di mobil pick up pembawa sapi didepan mobil kami, dan tidak berapa lama, sang ibupun terlihat tertidur. Sang ibu tidur begitu pulas, karena tikungan demi tikungan dan lubang dari jalanan perbukitan yang kami lalui tidak membuat sang ibu terjaga. Hempasan mobil karena lubang dijalan dan goyangan mobil kekiri dan kekanan juga tidak mampu membuat sang ibu tersebut terjaga. Begitu lelahnya sang ibu setengah baya itu. Begitu luar biasanya Sang ibu tersebut, dengan usia yang sudah ujur, kulit yang sudah keriput serta tenaga yang sudah sangat terbatas, beliau masih saja bekerja untuk memberikan kehidupan bagi keluarganya, beliau tidak lagi mempedulikan kehidupannya, bahkan mungkin kesehatannya, dia tidak takut hujan, tidak takut hinaan, cacian bahkan gagal! Dengan tujuan bahwa sang ibu tersebut ingin anaknya dapat makan, bisa bayar uang sekolah, dan kebutuhan keluarganya. Dapatkah kita bayangkan bagaimana perasaansang ibu tersebut ketika melihat kita tidak selesai sekolah, hanya karena kita tidak mau belajar, atau mengikuti lingkungan kita, kita tidak semangat hanya karena kita pernah kecewa atau tidak mau lagi berusaha hanya karena kita pernah gagal! Terlalu egois sahabat… karena kita hanya memikirkan diri kita sendiri… cintailah orang-orang yang selama ini telah berjuang untuk hidup kita, berikan kasih saying yang tulus buat kedua orang tua kita, khususnya ibu kita. Jangan pernah kita sakiti hatinya, karena mereka ( orang tua kita ) tidak akan pernah menyakiti hati anaknya. Bagi para sahabat yang saat ini masih memiliki kedua orang tua, peliharalah mereka, cintai mereka dan senangi mereka, karena apa yang mereka lakukan selama ini buat para sahabat tidak pernah mereka tuntut. Dan satu hal bahwa sukses sahabat ada di do’a mereka!!! Selamat berjuang sahabatku yang baik….









Aihh... Berat3x...

Hatiku selembar daun...

Tentang Orang Miskin, Beasiswa, Suku Terasing dan Bencana

Hari ini saya ngobrol dengan seorang teman lama. Kami ngobrol panjang lebar sampai pagi. Ditemani beberapa gelas kopi hitam manis dan beberapa gorengan yang sudah tidak hangat lagi. Topik yang menarik adalah apakah anak miskin harus berprestasi atau peroleh ranking 1 dulu baru dapat beasiswa?? Sepertinya tidak adil karena bagaimanapun anak miskin dengan gizi yang tidak cukup, waktu belajar yang kurang karena harus membantu orang tuanya, akses kepemilikan buku yang terbatas, serta banyak pikiran seperti minder karena seragamnya lusuh, sobek dan sepatu yang bolong-bolong, dan segudang masalah lainnya harus menjadi ranking 1 dan mengalahkan anak yang berduit baru dapat beasiswa?? Gila..!! Jika kebijakan seperti ini terus dibiarkan, negeri ini akan tetap menjadi negerinya orang bodoh..!! Memang tidak dipungkiri ada juga dari mereka yang punya talent alias genius luar biasa atau kalau tidak semangat besi yang tidak sanggup digoyahkan oleh angin topan dan badai hingga akhirnya dapat menjadi yang terbaik di kelas maupun di sekolahannya. Tapi berapa orang? Berapa prosentase dari total populasi anak miskin itu sendiri. Memang saya akui ini sinis. Bukankah negeri ini kalau tidak dikritik keras baru mau memperbaiki diri? Saya jadi ingat kata-kata seorang teman, apakah yang berhak mendapatkan layanan sosial anak hanyalah orang miskin? Ternyata tidak orang kaya pun ada, cuma spesifikasi masalahnya yang berbeda, seperti mereka butuh bersosialisasi, belajar dan bekerja sama dalam suatu kelompok, anak cacat, anak yang berhadapan dengan hukum (children in conflict with the law) yang masuk dalam kategori children in need of special protectian, dan hal ini sama dengan mereka yang anak-anak dari keluarga miskin. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa pemerintah seyogyanya memberikan beasiswa tanpa menerapkan standard nilai atau prestasi yang tinggi. Jika model ini tetap diteruskan, pada hakekatnya kita memperpanjang cara kolonialisme untuk memperbodoh anak-anak bangsa di negeri ini. Kalau mau kasih, kasih saja atas dasar equality dan kebutuhan akan investasi sumber daya manusia untuk membangun negeri ini.


Kapan ratu adil muncul? Negeri ini telah lama dininabobokan oleh para kolonial yang menjajah terlalu lama supaya kita lupa diri. Jika diperhatikan secara cermat, negara-negara kaya saat ini dikuasai oleh negara dengan sumber daya alam uang sedikit tetapi sumber daya manusianya high qualified? Bagaimana dengan Indonesia? Terlalu beromantika dengan dongeng-dongeng dan nyanyian sebelum tidur. Gemah ripah loh jinawi. Menunggu datangnya sang ratu adil. Menurut saya ratu adil itu tidak akan datang kalau kita masih bodoh dan ga mau sekolah. Belajarlah yang rajin, tekun dan pergi ke sekolah maka kebijakan akan lahir di dirimu, dan keadilan itu akan datang. Kita semua anak-anak bangsa lah yang menjadi ratu-ratu adil paling tidak untuk diri kita sendiri. Jika tidak, kita akan menjadi bangsa-bangsa yang tertinggal oleh bangsa lain. Jangan heran dan marah kalau kita disebut bangsa kera atau ape nations. Tersenyumlah, belajar yang rajin dan kejarlah, lampauilah ilmu pengetahuan mereka. Jadi jangan mau dihegemoni oleh cerita romantisme masa lalu lagi.


Apakah kita bisa melampaui mereka? Saya ingat teori parabola. Mungkin kita ini di bawah dan orang-orang di negara maju sudah berada jauh di atas kita. Tapi bukankah pada satu titik mereka akan ada di posisi maksimum sehingga tidak bisa naik lagi dan mengalami kejenuhan? Di titik itulah kita mengejar kawan. Di titik itulah kita mengejar dan menyalip mereka sobat, sebagaimana Valentino Rossi menyalip para kompetitornya di tikungan. Seseorang teman asla Batak, namanya Andor Siregar sekarang jadi pejabat di Pemda DKI menyebut ini dengan menang di tikungan. Selanjutnya, yang perlu kita cermati adalah pengetahuan dan kesadaran akan jati diri kita. Negara kita ini adalah negara bahari, begitu banyak hasil alam di laut yang belum kita eksplor. Kita malah mengaca ke Barat habis-habisan sehingga melupakan potensi kita sendiri. Kita terlalu ingin meniru mereka! Menjadi negara industri! Itu bodoh kawan. Ini buktinya. Kita banyak ikan di laut, tapi mengambil ikan untuk kita makan saja kita kesulitan! Akibatnya banyak ikan kita dicuri orang asing dan negara-negara tetangga kita sendiri! Perkuat negeri bahari kita dengan perikanan di dalamnya. Atau tentang pertanian kita yang sudah dikenal sejak jaman nenek moyang. Kenapa tidak kita kuati saja? Kenapa kita harus pakai varietas unggul yang sejenis beserta paket pupuknya yang harus bayar mahal? Kenapa tidak kita memakai varietas lokal yang beragam. Jika terjadi hama pada varietas yang satu, varietas yang lain akan survive. Kenapa kita tidak berpikir ke arah sana? Saya masih ingat dulu kita punya lumbung padi di gudang atau paling tidak di dapur. Sekarang? Semua nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal dalam bertani telah hilang. Ironisnya justru itu dilakukan oleh pemerintah. Beginilah kiranya kalau negeri ini dipimpin oleh mereka-mereka yang tidak punya visi dan sebegitu takutnya pada negara-negara maju macam Amerika. Harusnya kita sadar bahwa sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan kita dicapai oleh keberanian yang luar biasa dari para pejuang kemerdekaan kita. Kalau kita ini bersatu, pintar, dan tidak menjajah dan menindas satu sama lain, maka negeri ini tidak hanya disebut negeri yang gagal menjadi macan asia, malah bisa saja menjadi negeri yang sukses menjadi naga asia bahkan dunia. Jadi kita tidak perlu takut dan khawatir tidak bisa menyalip negara-negara maju.


Study saya tentang masyarakat Samin di Blora menunjukkan bahwa Belanda sejak tahun pertengahan tahun 1800-an tidak bisa menaklukkan suku Samin di Jawa.Orang samin menentang penjajahan dengan caranya yang unik yaitu anti kekerasan yaitu tidak mau bayar pajak dan boikot menggunakan produk uang belanda. Akibatnya, belanda mengakui kesulitan dalam hal ekonomi karena uangnya tidak terpakai dan kesulitan menarik uang dari Samin karena mereka menentang bayar pajak. Apa yang dilakukan Samin melalui Samin Surontiko jauh lebih dulu dari yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi dengan konsep Swadhesi dan Setyagrahanya. Bedanya Gandhi menggunakan produk sendiri dan memboikot menggunakan garam Inggris serta konsep tersebut didapatnya pada waktu dia study di England dan setelah dia pergi ke Afrika dan mengamati model pergerakan di kawasan Afrika Selatan. Jadi konsep tersebut sebetulnya sudah ada di Indonesia, cuma bedanya adalah Samin tidak bisa baca tulis dan bukan seorang scholar layaknya Gandhi. Dia menemukan swadhesi dan setyagraha ala Saminnya melalui kontemplasi atau perenungan. Tapi anehnya sekali lagi bukannya dia diganjar jadi pahlawan, malah anak cucunya diganjar dengan hukuman. Hukuman yang pertama, mereka dipukuli dan dihajar pada jaman orde baru untuk meninggalkan ajaran dan kearifan lokalnya karena persatuannya yang kuat dan dianggap mirip PKI, padahal tidak. Mereka diintimidasi dan dirusak secara psikis oleh intel-intel yang kerap datang ke rumah-rumah mereka. Hal ini karena Rezim orde baru anti demonstrasi dan pembangkangan. Maka dari itu dipindahkannya Universitas Indonesia dari Salemba ke Depok, Universitas Padjadjaran dari Bandung ke Jatinangor, dan seterusnya. Mereka juga dianggap contoh kegagalan dalam pembangunan modernisasi di Indonesia, padahal kenyataannya mereka walaupun masih tradisional dan dianggap primitif namun setiap orang rata-rata memiliki sapi 25 ekor di jamannya! Kedua, mereka dihukum secara sosial dengan berbagai ungkapan seperti masyarakat primitif, masyarakat tidak kenal norma dan sopan santun, dan masyarakat tidak punya agama. Inilah gobloknya pemerintah orde baru! Semoga pemerintah pasca orde baru mengerti kesalahan mereka dan menganugerahi Samin Surontiko sebagai pahlawan nasional. I really wish for it!


Ini adalah masalah-masalah pada kondisi normal. Tapi bagaimana dengan kondisi darurat semisal bencana? Koordinasi bak ujian matematika yang paling susah dikerjakan. Banyak institusi menonjolkan bendera masing-masing, termasuk di dalamnya partai-partai politik! Buat apa? Kalau mau tolong-tolong saja. Mereka wakil rakyat atau wakil parpol? Bukankah agama mengajarkan memberi dengan ikhlas tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu, tapi kenapa sekarang seluruh dunia harus tahu?? Masalah bencana memang identik dengan penderitaan. Kesedihan. Makanya kalau ada wakil rakyat tanpa empathy dan mengatakan salah sendiri tinggal di pulau luar ya kena tsunami, itu adalah perkataan seorang yang tidak terpelajar dan sangat jauh dari hati nurani rakyatnya. Atau ada pimpinan di penanggulangan bencana yang mengatakan wajarlah kalau ada yang belum dapat logistik namanya juga bencana, apalagi yang jauh ya harus nunggu dulu, itu namanya hukum alam. Huhhh...!! Sebal, gemas, kesal banget pingin nonjok tuh orang.


Berdasarkan hasil wawancara yang saya lakukan di beberapa pengungsian di Yogyakarta pasca letusan Merapi, pengungsi merasa cukup dengan makanan, pakaian, air, sanitasi, dan tempat pengungsian. Tapi kenapa raut muka mereka terlihat sedih sekali? Mereka mengatakan bahwa mereka sedih manakala nanti harus balik ke rumah masing-masing. Mereka mau makan apa? Pohon salak rusak dan paling tidak harus menunggu 3 bulan untuk kembali berbuah lagi. Bagaimana dengan biaya anak mereka sekolah? Uang jajan mereka? Akte kelahiran anak-anak mereka yang hilang? Atau ijasah mereka yang sudah hilang entah kemana? Mereka butuh penjelasan. Mereka butuh informasi untuk menenangkan mereka. Mereka butuh kejelasan. Bukan janji-janji muluk. Kenapa kita tidak mengatakan pada mereka misalnya bahwa surat-surat, akte dan ijasah kita pegang pada dasarnya adalah copyan, yang aslinya ada di kantor pemerintah seperti catatan sipil atau diknas? Kenapa kita tidak mengatakan pada mereka bahwa mereka akan dapat jadup dari pemerintah? Toh itu ada anggarannya? Kenapa hal yang mendasar seperti malah tidak terinformasikan? Kenapa? Kenapa pada situasi bencana kita tidak melakukan hal-hal yang sederhana terkait dengan perlindungan anak, semisal pemberitahuan pada para orang tua untuk tidak melibatkan anak-anak dalam membersihkan rumah mereka karena sistem pernafasan anak masih rawan terganggu dengan debu-debu di rumah yang mereka bersihkan? Atau kehati-hatian orang tua dalam kembali beraktivitas sehingga tetap memperhatikan anak-anak mereka yang beberapa diantaranya justru tidak mendapatkan perhatian dan akhirnya malah kabel-kabel listrik di dusunnya ditarik-tarik, ditumpangi dan dipakai untuk main-main? Satu lagi, setiap ada bencana selalu banyak lembaga yng mengajak anak-anak bermain dan ironisnya dari pagi sampai malam sehingga anak merasa capek, atas dasar psychosocial activities dan trauma healing, tapi isinya cuma satu yaitu main. Baik. Main itu bagus. Tapi sebelum melakukannya kita harus ada ilmunya. Kalau tidak itu cuma entertaining. Sekedar huburan dan bukan trauma healing. Dalam suatu bencana tingkat trauma secara umum terbagi menjadi 3 yaitu ringan, sedang, berat. Untuk trauma ringan biasanya sembuhnya cepat bisa dalam beberap hari. Untuk trauma sedang biasanya dibutuhkan waktu berbulan-bulan semisal 1 atau 3 bulan tergantung coping capacities (kemampuan menghadapi masalah di setiap anak yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya). Entertaining atau hiburan dengan anak-anak hanya bisa mereduce stress dan trauma ringan dan sedang. Tapi yang untuk berat itu susah! Mereka biasanya sakit, tidak mau makan, rewel, menangis, tidur sering mimpi buruk, dan pendiam, pemurung serta menarik diri dari lingkungan bermainnya. Ini dibutuhkan therapy khusus. Artinya di sini saya ingin menegaskan bahwa entertaining saja tidak cukup. Psychosocial activities untuk trauma healing itu lebih specific. Sebagai contohnya belajar dari tsunami Aceh, anak-anak diajak bermain tapi bertujuan. Seperti main air untuk mengenalkan kembali pada air, bahwa air itu ya air. Tidak semua air jahat seperti tsunami. Setelah itu mereka diajak ke parit melihat air. Bermain di sana. Terus diajak ke sungai kecil, dan seterusnya. Kalau tentang musibah letusan gunung Merapi, harusnya mereka diperkenalkan tentang permainan letusan gunung, api dan sinar, debu, pasir, keramaian panik, menggambar gunung, keindahan gunung, dan lain sebagainya.


Sementara kopi telah habis. Saya hanya bisa tertawa hambar. Begitu banyak masalah sosial di negeri ini yang tak pernah kunjung selesai. Dan saya yakin omongan yang sinis ini pun akan menjadi polemik dan mengundang cibiran dan sinisan juga. Tapi bukankah diskusi akan membawa kita pada situasi agung : tercerahkan atau mencerahkan. Tapi saya yakin pribadi yang assertive adalah mereka yang bersedia merubah, berubah dan diubah. Masalah pendidikan diselesaikan oleh guru, masalah hukum oleh lawyer, masalah kesehatan oleh dokter dan paramedis, masalah sosial oleh pekerja sosial. sayangnya profesi social work di negeri ini belum menjadi prioritas dan kebutuhan. Aihhh... Berat3x... Hatiku selembar daun....



Depok, 27 Nopember 2010.

Pergi ke Toko Wayang

Pergi ke Toko Wayang



Akhirnya aku mengajakmu ke toko wayang. Itu janjiku sejak tahun lalu. Barulah sekarang aku bisa melunasinya. Betapa sulit menjelaskan kepadamu bahwa wayang kulit itu harganya mahal. Bahwa aku harus mengumpulkan uang berbulan-bulan atau terpaksa menghutang untuk bisa membelinya. Kamu hanya tahu bahwa aku sayang kamu dan aku akan memberikan segalanya untukmu. Kamu benar. Aku akan memberikan seluruh yang kupunya untukmu. Anakku satu-satunya.

Dan sekarang masuklah ke sana. Toko wayang yang sepi itu. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya tumpukan wayang, topeng kayu, wayang golek dan beberapa kelir ukuran kecil. Seperti yang kuduga kamu lantas berlari ke kelir itu. Kamu ingin memilikinya bersama sejumlah wayang yang terpajang di kelir putih ini. Ini mirip punya teman bapak, katamu. Ya, kamu masih ingat sebulan yang lalu aku membawamu ikut latihan wayang bersamaku. Di sana kau memainkan beberapa wayang di depan kelir. Kamu begitu kagum dengan bayang-bayang yang tercipta di sana. Dan meski kamu tak memintanya, aku tahu kamu begitu menginginkannya. Aku menggelengkan kepala. Tidak, Nak, itu mahal sekali.

Kamu menatapku. Lalu kembali menatap kelir itu. Pilih wayang saja. Bapak akan membelikan sepasang buat kamu. Kelirnya nanti kita buat sendiri. Kamu menatapku lagi. Memang bisa? Bisa, jawabku. Kita nanti beli kain dan kayu. Ya, ya, kamu setuju. Kini matamu beralih ke tumpukan wayang-wayang. Biarkan saja, Mas. Biarkan dia milih-milih sendiri. Seorang kakek-kakek muncul. Tampaknya ia pemilik toko itu. Iya, Pak. Lalu kubiarkan saja kamu berlarian ke sana ke mari, membongkar-bongkar tumpukan wayang yang terserak di seluruh ruangan. Diam-diam aku mulai memilih-milih sendiri wayang buat kamu, yang menurut perkiraanku harganya bisa terjangkau oleh uang yang hari ini kupunya. Apa pun yang kamu pilih nanti, akan kuganti dengan wayang pilihanku. Maaf.

Aku pun mulai membongkar-bongkar tumpukan wayang. Mencari yang bergagang kayu. Itu jauh lebih murah dari pada yang bergagang tanduk atau kulit penyu. Kucari yang berukuran kecil, yang tentu saja bukan wayang beneran untuk dimainkan Ki Dalang. Kucari yang pahatannya kasar dan catnya yang tak terlalu rumit. Aku tahu kamu akan memilih wayang-wayang yang bagus. Keindahan selalu menarik siapa saja. Tapi kenyataan sekarang jauh lebih menarik buatku. Benar, akhirnya kau membawa sepasang wayang: Arjuna dan Karna. Sementara aku sudah menyembunyikan Gareng dan Petruk ukuran kecil di salah satu tempat. Pilih ini, ya? Tanyaku pura-pura.

Kamu mengangguk sambil tersenyum lebar. Bagus, sih. Katamu dengan lucu. Iya, bagus. Pinter kamu milihnya. Kataku kemudian. Kamu tahu siapa itu? Kamu menggeleng-gelengkan kepala. Ini Arjuna, itu Karna. Mereka musuhan meski sesungguhnya masih bersaudara. O, ya? Lalu kenapa mereka musuhan? Tanyamu ingin tahu. Nanti bapak ceritakan di rumah. Panjang ceritanya. Sekarang balikin dulu wayang itu ke tempatnya. Bapak sudah milih wayang yang bagus dan pas buat kamu. Kamu dengan agak heran mengembalikan kedua wayang pilihannya itu. Sini. Kamu berlari mengikutiku. Sesampainya di tempat yang kutuju segera kutunjukkan wayang pilihanku. Siapa ini? Gareng dan Petruk! Jawabmu dengan cepat. Bagus, nggak? Bagus, jawabmu. Tapi lebih bagus tadi. Iya. Tapi kamu kan belum tahu ceritanya, jadi kamu belum bisa memainkannya. Kalau Gareng dan Petruk kamu kan sudah tahu. Kamu bisa mainkan mereka sesukamu. Dan wajahnya lucu-lucu.

Kamu diam. Tampak berpikir. Kenapa tidak yang tadi, sih? Kan nanti bapak mau cerita. Jadi aku akan tahu ceritanya. Kamu tetap tak gampang menyerah seperti biasanya. Akhirnya aku buka yang sebenarnya. Yang kamu pilih tadi mahal banget. Uang bapak tidak cukup. Kalau wayang yang ini bapak bisa beli dua. Kalau yang tadi kamu harus milih salah satu. Bagaimana? Terserah kamu. Dapat satu wayang. Atau dua wayang. Kamu berpikir lagi. Matamu melirik ke sana ke mari dengan lucu. Pilih dua wayang biar bisa dimainin. Sip! Sahutku. Ini sekarang kamu pegang. Lalu kamu bawa ke simbah yang duduk di sana. Kamu tanya harganya berapa. Kamu bergerak dengan cepat membawa Gareng dan Petruk di tanganmu. Aku mengikuti di belakang. Kakek-kakek itu tampak senang menerima kedatanganmu. Mbah, mau beli Gareng dan Petruk. Berapa harganya, ya? Tanyamu dengan gagah berani.

Kakek-kakek itu tertawa. Pinter kamu. Lalu ia memeriksa kedua wayang yang kamu sodorkan. Lalu matanya menuju ke arahku yang perlahan mendekat. Petruk. Gagangnya dari tanduk, Mas. Waduh, dari tanduk ya, Pak. Kataku spontan. Sebentar saya cari gantinya. Petruk yang bergagang kayu. Lalu dengan cepat aku memeriksa tumpukan-tumpukan wayang kembali. Kulihat kamu tengah bercakap-cakap dengan kakek-kakek itu. Tapi tak ada. Petruk bergagang kayu tak kutemukan. Mungkin aku tak teliti. Mungkin pula tak ada. Tapi aku terus berusaha mencari. Kalau tidak ada tidak apa-apa, Mas. Kata kakek-kakek itu dari kejauhan. Ya, memang tak ada, kataku kemudian dalam hati. Jadi berapa, Pak? Berapa, ya.

Kini gantian kakek-kakek itu yang bingung. Bisanya aku jual sangat mahal, Mas. Tapi untuk anak ini aku tidak akan memberi harga yang biasanya. Ia suka sekali dengan wayang. Terima kasih, Pak. Kataku. Kamu tersenyum-senyum. Muraaah, bisikmu keras-keras ke telingaku. Kakek-kakek itu tertawa mendengarnya. Besok kalau sudah agak besar bawa saja ke sini, Mas. Aku mau mengajarinya membuat wayang. Mau tidak? Tanya kakek itu kepadamu. Enggak, jawabmu. Buatnya kan tinggal ngeblat saja. Jawabmu. Kakek-kakek itu tertawa. Iya, diblat. Tapi tetap nanti kamu harus menatahnya dan memberi warna supaya benar-benar jadi wayang. Kamu manggut-manggut.

Setelah aku membayar sejumlah uang yang disebutkan kakek-kakek itu kita pun pulang. Kita langsung ke rumah bapak ya? Nanti kita main wayang. Iya, nanti kita langsung mainkan kedua wayang itu. Di atas motor kamu menagih kelir yang kujanjikan. Mungkin kamu baru saja ingat. Hari ini kita tidak pakai kelir. Sudah malam. Toko yang jual kain dan kayu sudah tutup. Kita nanti main di dinding saja. Lampunya pakai lampu senter dulu tidak apa-apa. Kamu mengangguk setuju. Motor kita terus melaju. Melintasi sore dan candik ayu.


Jogja, 2010




Judul: Pergi ke Toko Wayang
Cerpen oleh: Gunawan Maryanto, tinggal di Yogyakarta. Kumpulan cerita pendeknya adalah Bon Suwung (Insist Press, 2005) dan Galigi (Koekoesan, 2007).
Sumber: Korantempo.com

Tuesday, 23 November 2010

Menggagas Model Layanan Rehabilitasi Sosial di Daerah Bencana di Indonesia

Menggagas Model Layanan Rehabilitasi Sosial di Daerah Bencana di Indonesia

Pusat Rehabilitasi Sosial (PRS)



Arif Rohman


Rohman, Arif. (2010). 'Menggagas Model Layanan Rehabilitasi Sosial di Daerah Bencana di Indonesia'. Disampaikan Pada Acara Workshop Koordinasi Penanganan Bencana di Masa Kedaruratan, Jakarta, 16 Juni 2010. Jakarta: Departemen Sosial RI.



ABSTRAK
Tulisan singkat ini mencoba membuka persoalan mengenai pentingnya konsep dan model layanan rehabilitasi sosial yang dapat dikerjakan oleh Departemen Sosial, dengan mengedepankan dan memfungsikan pekerja sosial secara optimal serta memperhatikan keunikan dan karakteristik bencana di Indonesia. Model layanan rehabilitasi sosial yang diusulkan ini, dipandang dapat langsung menyentuh kebutuhan para korban, sekaligus murah dari sisi pendanaan, mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Departemen Sosial, khususnya Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman lapangan pada waktu terjadi tsunami Aceh, gempa dan gunung meletus di Yogyakarta, gempa Sumatera Barat 2007, serta gempa Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009.




A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara yang rawan bencana, baik itu bencana alam maupun bencana sosial. Bencana alam banyak terjadi mengingat posisi geografis di Indonesia yang kurang menguntungkan dan banyaknya gunung berapi yang masih aktif, sehingga mudah sekali terjadi gempa, tanah longsor maupun letusan gunung berapi. Bencana sosial mudah terjadi, mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas dan banyaknya suku bangsa dengan adat, tradisi, serta kebudayaan yang berbeda, sehingga potensial menimbulkan terjadinya konflik sosial.

Gempa dan Tsunami di Aceh merupakan bencana terbesar yang dialami Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir, dan telah menjadi laboratorium sosial penanganan bencana yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial sebenarnya sudah menangkap isu ini dengan membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC). Namun demikian masih disayangkan, sampai saat ini belum ditemukan model layanan baku dan standar yang dapat diterapkan di daerah bencana dengan cepat, sekaligus tepat sasaran. Hal ini dapat dimaklumi mengingat situasi krisis pada waktu bencana, disamping anggaran minim yang selalu menjadi persoalan mendasar yang klasik. Pertanyaan tentang model yang tepat dalam mitigasi (penanggulangan) bencana dan apa-apa saja yang bisa dilakukan pekerja sosial yang kita punyai, juga mendapatkan perhatian khusus, dan akan didiskusikan pula dalam tulisan ini.

B. Tim Reaksi Cepat (TRC) Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial: Tantangan dan Peluang
Saya ingin mengatakan bahwa hampir setiap lembaga baik itu lembaga pemerintah, LSM lokal (NGO), LSM internasional (INGOs), lembaga PBB (UN), bahkan media pun mempunyai Tim Reaksi Cepat (TRC), yang segera bergerak begitu terjadi bencana, baik untuk keperluan reportase, pengumpulan data, asesmen cepat/asesmen kebutuhan (rapid/needs assessment). Namun demikian hampir semua tim tersebut terfokus pada pemberian bantuan langsung seperti bantuan makanan, obat-obatan dan tenda (shelter). Mereka membawa bendera masing-masing dan umumnya bergerak sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang baik. Sebagai konsekuensinya, bantuan banyak menumpuk dan terkonsentrasi di lokasi-lokasi tertentu dan kurang merata dalam pendistribusiannya. Memang saat ini sudah ada BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang baru dibentuk dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian, pengalaman penanganan bencana di Padang saat ini membuktikan bahwa masyarakat sudah terlanjur menganggap Departemen Sosial yang mengurusi persoalan ini. Apa yang saya ungkapkan di atas bisa diartikan sebagai peluang sekaligus tantangan. Peluang yang dimaksudkan di sini adalah masih adanya ruang yang tersedia bagi Departemen Sosial untuk memberikan layanan dan rehabilitasi sosial dalam masa tanggap darurat yang belum tergarap dengan baik oleh lembaga-lembaga penanggulangan bencana yang lain. Sedangkan tantangan di sini lebih mengacu pada perlunya model penanganan bencana yang baku dan standar yang dapat diterapkan di lapangan dengan membawa bendera Rehabilitasi Sosial dan Departemen Sosial RI.

C. Rehabilitasi Sosial Daerah Bencana: Negara Maju Vs Negara Berkembang
Pada waktu di Padang Pariaman, pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2009, saya bertemu dengan 2 orang perempuan cantik (Moon dan Nussica), yang memperkenalkan diri sebagai social worker dari Hongkong. Mereka dengan begitu percaya dirinya mengatakan bahwa mereka akan melaksanakan konseling untuk korban gempa di Sumatera Barat. Mereka bertanya kepada saya, berapa jumlah pekerja sosial dari Departemen Sosial yang sudah turun ke lapangan dan memberikan layanan konseling. Saya menjawab bahwa ada sekitar 28 pekerja sosial dari Departemen Sosial yang datang dan memberikan layanan konseling. Saya berbohong untuk menjaga nama baik Departemen Sosial. Pembicaraan singkat ini saya akui membuat saya gelisah, tapi di sisi lain memberikan insight kepada saya bahwa layanan Rehabilitasi Sosial akan menjadi primadona di dalam penanganan bencana di Indonesia. Meskipun Rehabilitasi Sosial akan menjadi primadona, namun ada baiknya kita melihat mitigasi bencana di Negara maju seperti Australia dan Negara berkembang seperti Indonesia.

Di negara maju, jika terjadi bencana, maka bantuan pangan segera didistribusikan dengan cepat baik melalui jalur darat, laut, sungai maupun udara. Asumsinya untuk mencegah terjadinya kelaparan dan mengupayakan agar para korban bencana tetap bertahan (survive) pada masa darurat. Tim evakuasi juga dipersiapkan dengan baik dan langsung dioperasikan untuk menyelamatkan para korban yang masih terjebak di reruntuhan, hanyut dalam sungai, dan kondisi-kondisi lain yang serupa. Menariknya, setelah 1-2 hari pasca bencana, dan dengan banyaknya pertokoan yang sudah mulai dibuka secara normal, para korban dengan otomatis dapat segera hidup dengan normal kembali. Hal ini dikarenakan sistem di negara maju yang sudah terbentuk dengan baik. Hampir setiap orang memiliki rekening di bank, yang tidak hanya bisa diambil di bank maupun ATM saja, namun juga dapat diambil cash di mal-mal yang ada, pada waktu mereka berbelanja. Sistem pendataan yang terkomputerisasi dengan baik dan lengkap, memudahkan mereka dalam memberikan jaminan sosial melalui center link (sistem dimana orang yang tidak bekerja (pengangguran), anak maupun mahasiswa mendapatkan bantuan subsidi dalam bentuk uang yang ditransfer rutin setiap bulannya ke rekening mereka). Jadi bisa dibayangkan, manakala harta benda mereka habis dan rumah rusak/hancur, mereka masih memiliki uang di rekening masing-masing. Pemerintah negara maju juga dapat dengan mudah memberikan bantuan pada para korban melalui rekening tersebut secara otomatis. Di sini, sistem pendataan dan jaminan sosial yang sudah berjalan dengan baik, mengakibatkan penanganan-penanganan bencana menjadi tidak begitu kompleks ataupun rumit. Artinya, secara fisik korban sudah dipastikan aman, dan hanya membutuhkan layanan-layanan rehabilitasi sosial yang berhubungan dengan trauma yang dialaminya. Dengan kata lain, layanan rehabilitasi sosial menjadi primadona penanganan bencana di negara maju, seiring kekhawatiran akan meningkatnya angka bunuh diri (suicide) pasca bencana di negara maju.

Berbeda dengan negara maju, tidak semua orang di Indonesia mempunyai rekening di bank (tradisi menabung di bank masih relatif kurang). Sistem pendataan/registrasi penduduk belum terpusat atau terkomputerisasi. Parahnya sistem jaminan sosial juga dapat dikatakan belum menyentuh dan memberikan perlindungan kepada semua warga negara. Sebagai konsekuensinya, ketika terjadi bencana, mereka yang menjadi korban tidak memegang uang cash dan hanya mengharapkan bantuan pangan dan kesehatan dari pemerintah dan lembaga-lembaga kemanusian untuk waktu yang relatif lama. Di sini urusan perut dan fisik lebih mengedepan dibanding negara-negara maju. Demikian juga dengan kasus-kasus trauma yang ada di negara berkembang. Kasus tersebut tidak sebanyak di negara-negara maju. Hal ini besar kemungkinan dikarenakan adanya benteng agama dan kepercayaan yang kuat yang dianut hampir seluruh orang Indonesia. Hal ini beda dengan negara maju yang memang kebanyakan atheism (tidak memiliki agama) yang berdampak pada tinggi angka bunuh diri akibat coping capacities (ketahanan mengatasi masalah) dan kontrol sosial-kultural yang rendah. Maaf jika pernyataan ini agak judgemental sifatnya. Pada konteks ini, rehabilitasi sosial di daerah bencana dianggap bukan skala prioritas (kurang begitu penting).

Pertanyaan selanjutnya berkembang, apakah benar rehabilitasi sosial tidak begitu penting pada penanganan korban pasca bencana? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan menjawabnya dengan mengetengahkan fakta-fakta yang terdapat di lapangan. Kenyataan membuktikan bahwa jika terjadi bencana baik bencana alam maupun bencana sosial, anak-anak yatim piatu (orphan) yang ditinggal mati orang tuanya dan kemudian ikut keluarga dekatnya (relative) yang juga tertimpa musibah, menjadi rawan (vulnerable) akan keterlantaran, tindak kekerasan (fisik, ekonomi dan seksual), eksploitasi ekonomi, dan rawan diperdagangkan (trafficking). Ibu-ibu yang menjadi janda akibat ditinggal mati suaminya dan mempunyai banyak anak, sangat rentan mengalami trauma, stress, ataupun depresi. Mereka yang masuk dalam kategori rawan sosial ekonomi ini, cenderung mengambil jalan pintas agar tetap survive, termasuk dengan mengambil jalan pintas (masuk ke dunia prostitusi ataupun perdagangan obat-obat terlarang). Hal ini belum terhitung para korban yang mengalami kecacatan akibat bencana dan membutuhkan layanan rehabilitasi sosial karena kecacatannya tersebut (kasus korban yang menggergaji kakinya sendiri agar selamat dari reruntuhan akibat gempa di Padang, saat ini masih depresi akibat kehilangan kakinya). Fakta lain juga menunjukkan bagaimana para lanjut usia sangat rawan mengalami keterlantaran, terutama bagi mereka yang hidup seorang diri dan tidak memiliki keluarga lagi.

Uraian yang saya kemukakan secara singkat mengenai fakta-fakta bencana menunjukkan bahwa kegiatan rehabilitasi sosial masih tetap menjadi isu yang sangat penting dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengemas layanan rehabilitasi sosial dengan lebih professional, dan dapat berjalan secara simultan dengan layanan-layanan lainnya. Bagi saya, persoalan inilah yang sering menjadi tantangan sekaligus pertanyaan bagi Tim TRC dalam melakukan tugasnya di daerah bencana. Jika kerja tim ini tidak diperoleh kejelasan, dipastikan kontribusinya juga minim, dan pada akhirnya akan mengecewakan masyarakat dan membawa dampak yang kurang baik terhadap citra Departemen Sosial dalam penanganan bencana.

D. Model Layanan Yang Diusulkan
Model layanan yang saya usulkan adalah PUSAT REHABILITASI SOSIAL (SOCIAL REHABILITATION CENTER) DEPARTEMEN SOSIAL RI. Saya tidak memakai istilah Pusat Anak (Children Center) karena konsep ini terlalu spesifik dan mengkotakkan diri. Saya juga tidak menggunakan nama TRC karena istilah ini lebih tepat untuk Tim yang akan mengerjakan layanan, bukan nama layanan itu sendiri. Artinya, yang nanti kita jual adalah program dan layanan kita di masyarakat, bukan Tim TRC, mengingat banyak lembaga juga yang menggunakan pengistilahan yang sama yaitu Tim Reaksi Cepat (TRC).

Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) ini memberikan layanan berupa :
1. Layanan Kesehatan
Layanan kesehatan ini berupa pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis untuk para korban bencana yang umumnya rawan terkena penyakit.
2. Layanan Dapur Umum
Layanan dapur umum ini khusus untuk makanan tambahan, bisa berupa bubur kacang hijau, telor rebus, susu, roti, dan makanan tambahan lainnya yang disesuaikan dengan anggaran Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.
3. Layanan Konseling
Layanan konseling diperuntukkan untuk korban yang mengalami trauma ataupun yang menunjukkan gejala-gejala ke arah trauma.
4. Layanan Perpustakaan Gratis
Layanan perpustakaan ini penting bagi korban dalam rangka refreshing yang memberikan suasana lain, sekaligus mendukung pendidikan khususnya anak-anak. Perpustakaan ini dapat berupa buku-buku cerita, novel ataupun majalah bekas yang sudah diseleksi isinya terlebih dulu oleh Tim TRC, seperti majalah bobo, cerita Donald bebek, dan lain sebagainya.
5. Layanan Psikososial
Layanan psikososial dilakukan tidak lagi langsung oleh pekerja sosial, namun dilakukan dengan merekrut anak-anak yang cukup dewasa dengan sukungan pekerja sosialnya. Konsep yang dikedepankan adalah dari anak-anak untuk anak-anak. Layanan ini dapat berupa bermain bersama dan dinamika kelompok. Layanan ini bisa diintegrasikan dengan mengundang para artis, putri Indonesia, maupun Kak Seto untuk menghibur anak-anak dengan permainan atau mendongeng untuk anak-anak.
6. Layanan Keagamaan
Layanan keagamaan ini dapat berupa ceramah dan mengaji pada malam hari dengan menggunakan tenaga rohaniwan setempat.
7. Layanan Data
Layanan ini berupa penyediaan data-data tentang jumlah korban dan penyandang masalah khusus, seperti anak yatim piatu, janda/wanita rawan sosial ekonomi, penyandang cacat, dan lanjut usia yang membutuhkan perlindungan khusus, by name by address. Dengan adanya layanan data ini, lembaga lain yang lewat dan tertarik bisa berkoordinasi dan bekerjasama dalam membantu korban sesuai spesifikasi layanan yang dipadukan.
8. Layanan Lain
Layanan lain dapat berupa pemberian bantuan khusus, malam penggalangan dana, air bersih dan sanitasi, dan layanan koordinasi yang berupa penguatan pada Dinas Sosial baik di tingkat kabupaten atau propinsi untuk menyelenggarakan pertemuan koordinasi perlindungan sosial untuk terciptanya keterpaduan.

E. Langkah-langkah
• Pra Bencana
Pra bencana adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan di pusat sebagai antisipasi dan persiapan jika terjadi bencana. Artinya, Tim TRC Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial sendiri adalah Tim yang solid dan memang siap bencana. Jika tidak dilakukan, berarti kita sendiri belum siap bencana. Kegiatan ini dapat berupa :
1. Penyiapan tenda untuk Posko Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI. Tim TRC sudah punya tenda sendiri yang bertuliskan Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI, dan tidak mengharapkan atau meminta-minta tenda dari pihak lain. Langkah ini sudah diterapkan oleh LSM-LSM seperti PKPU, Dompet Dhuafa, dll.

2. Penyiapan tenaga medis dan obat-obatan. Departemen Sosial sudah punya directory khusus nama-nama dokter (baik yang tua maupun dokter muda) yang bersedia jadi relawan Departemen Sosial di daerah bencana. Jalinan relasi dan kesepakatan harus dirintis mulai dari sekarang, termasuk dengan lembaga penyuplai obat-obatan.

3. Penyiapan buku-buku dan majalah bekas. Buku-buku dan majalah bekas harus sudah dipersiapkan dari sekarang. Artinya ketika ada bencana kita tidak perlu lagi kebingungan dan sibuk membeli majalah. Meskipun kita bisa beli buku bekas di Kwitang, Pasar Senen ataupun di Jatinegara, kita juga perlu punya directory lembaga-lembaga yang menyediakan majalah dan buku bekas.

4. Penyiapan bahan makanan tambahan. Kita harus sudah berpikir untuk menjalin kegiatan dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam susu dan permakanan mulai dari sekarang. Jadi begitu terjadi bencana kita tinggal memobilisir bantuannya. Kita juga memperhitungkan peralatan masak yang sederhana ketika terjadi bencana. Mungkin satu mobil untuk masak di lapangan sangat diperlukan.

5. Penyiapan kelengkapan administrasi dan Tim TRC, yang meliputi :
a. Form-form isian untuk assessment, pendataan, dan konseling.
b. Surat tugas dan kartu identitas Tim TRC, spanduk dan stiker Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI. Semua surat tugas harus satu pintu supaya tidak memusingkan dalam koordinasi lapangan (misal : pertanyaan itu siapa, TRC mana, dll).
c. ATK dan alat komunikasi yang dibutuhkan (direkomendasikan tech bag yang didalamnya terdapat laptop anti goncangan yang melekat di tas dan alat komunikasi lainnya, sehingga sulit untuk dicuri orang).
d. Mobil TRC dan sepeda motor untuk kegiatan penjangkauan.

• Pasca Bencana
1. Tim pertama TRC dilepas di Bandara Halim oleh Pejabat Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial RI dengan doa bersama untuk meningkatkan semangat Tim TRC dan meluruskan tujuan bahwa ini bukan untuk diri sendiri, kelompok, atau Depsos, tapi ini adalah misi kemanusiaan untuk menyelamatkan orang demi bangsa dan Negara.

2. Tim TRC datang ke lokasi bencana dengan membawa peralatan yang dipandang urgent. Tim ini harus bisa akses ke halim (Hercules) pada penerbangan pertama.

3. Tim berkoordinasi dengan BNPB propinsi untuk memperoleh data dan isu awal. Tim juga mencatat lembaga-lembaga yang sudah turun, khususnya INGOs dan UN untuk koordinasi ke depan.

4. Tim berkoordinasi dengan Dinas Sosial Propinsi, Dinas Sosial Kabupaten, PSM dan tokoh masyarakat.

5. Tim turun ke lapangan dan menentukan titik lokasi yang dipandang terparah dan strategis untuk diberikan pelayanan.

6. Tim mengkoordinasikan laporan awal ke Koordinator TRC/Depsos Pusat.

7. Tim mulai mendirikan tenda dengan dukungan dari semua pihak dan memberikan bantuan darurat untuk Posko Utama Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI.

8. Tim kedua, ketiga dan seterusnya, segera bergabung dan melengkapi layanan yang diberikan oleh Posko Utama Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI.

9. Tim melakukan monitoring dan evaluasi, dan mulai menginisiasi rapat-rapat koordinasi perlindungan sosial baik di dinas sosial kabupaten/kota maupun propinsi.

10. Tim melakukan penjangkauan sambil menentukan titik lokasi lain untuk Posko Tambahan/Cabang Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI yang jumlahnya disesuaikan dengan dana yang tersedia.

11. Tim mendirikan posko cabang Posko Tambahan/Cabang Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI dan segera mengoperasikannya.

12. Tim melakukan monitoring dan evaluasi termasuk menentukan jangka waktu layanan yang diberikan (biasanya 14 hari sejak bencana dan bisa diperpanjang).

13. Tim telah menyelesaikan tugasnya dan kembali ke pusat, posko-posko baik posko utama atau cabang dapat dialihkan ke Dinas Sosial Propinsi atau Kabupaten jika memungkinkan, tergantung kesepakatan.


F. Pengorganisasian
Untuk melaksanakan model layanan Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI di daerah bencana perlu dilakukan pengorganisasian dengan mengedepankan asas satu komando sebagai berikut :
1. Ditunjuk Koordinator Tim TRC Pusat dimana semua informasi dan keputusan ada di tangan koordinator dan bukan setiap orang di Depsos Pusat. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kebingungan petugas lapangan tentang siapa yang dihubungi di tingkat Pusat.
2. Ditunjuk Koordinator Utama Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI yang bertanggung jawab terhadap semua kegiatan di lapangan dan koordinasi dengan Koordinator Tim TRC Pusat, termasuk lobbying dengan lembaga-lembaga lain.
3. Ditunjuk Koordinator untuk urusan media.
4. Ditunjuk Koordinator untuk urusan data.
5. Ditunjuk Koordinator untuk urusan kesehatan.
6. Ditunjuk Koordinator untuk urusan dapur umum.
7. Ditunjuk Koordinator untuk urusan perpustakaan gratis
8. Ditunjuk Koordinator untuk urusan layanan konseling, psikososial dan keagamaan.

G. Keuntungan
Adapun keuntungan model layanan Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI di daerah bencana adalah sebagai berikut.
1. Kegiatannya baku dan bisa diterapkan di semua daerah bencana.
2. Flexibel dalam pelaksanaannya.
3. Murah karena dapat disesuaikan dengan jumlah anggaran.
4. Alur kerja dan garis komando sederhana.
5. Secara politis dapat meraih simpati publik.
6. Belum ada lembaga yang memberikan layanan rehabilitasi sosial secara integratif dan utuh.
7. Dipastikan lembaga lain baik internal maupun eksternal akan merapat pada Pusat Rehabilitasi Sosial (Social Rehabilitation Center) Departemen Sosial RI, baik untuk program jangka pendek maupun jangka panjang.
8. Jika ada pejabat baik dari internal maupun eksternal yang akan meninjau, kita tidak akan kelabakan ataupun serabutan mengada-adakan kegiatan, karena kegiatan di Pusat Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial RI sudah pasti terlaksana 24 jam.

H. Penutup
Demikianlah sekelumit pemikiran mengenai model layanan rehabilitasi sosial sederhana di daerah bencana. Dana boleh terbatas, tapi yang paling penting adalah kita akan melakukan apa dan memposisikan sebagai apa, karena kita membawa nama besar Departemen Sosial RI. Besar harapan saya tulisan ini akan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Departemen Sosial RI khususnya Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Model ini hanya usulan dan dapat diubah dan disesuaikan dengan kebijakan Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial.