Thursday, 11 November 2010

ANAK KECIL YANG SERING DIPUKULI

ANAK KECIL YANG SERING DIPUKULI



Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan seorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, saya harus segera berangkat ke kantor, anak masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badanke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut! Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat: "Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya ... Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya... Saya minta maaf Dad ... ". Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya. Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal.... Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad". Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu..... Beberapa hari setelah penghukuman, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelesaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya? Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy.....". Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?" Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus". Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan .... Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya,
jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......


'Mommy sayang',

Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.

Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat mommy? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?





Hatiku selembar daun...

ALEXANDER THE GREAT DAN PRAJURITNYA

ALEXANDER THE GREAT DAN PRAJURITNYA



Alexander The Great, atau yang lebih dikenal juga dengan nama Iskandar Zulkarnain, adalah raja Romawi yang sangat terkenal dengan kepemimpinannya. Suatu waktu Alexander The Great, memimpin pasukannya melintasi gurun pasir yang panas dan kering. Setelah hampir dua minggu berjalan, ia dan pasukannya kelelahan dan hampir mati karena kehausan. Tetapi Alexander tetap memimpin pasukannya untuk terus berjalan penuh semangat.

Pada siang yang terik, dua orang pasukannya datang menemui Alexander dengan membawa semangkuk air yang mereka ambil dari sebuah kolam air yang telah kerontang. Kolam air itu kering dan hanya ada sedikit air yang tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh pasukan. Melihat hal ini, Alexander membuang air itu ke gurun pasir. Sang Raja berkata, “ Tidak ada gunanya bagi seseorang untuk minum di saat banyak orang sedang kehausan!”. Masihkah ada pemimpin seperti itu??




Hatiku selembar daun..

SI BOCAH YANG SELALU GAGAL

SI BOCAH YANG SELALU GAGAL



Banyak orang tidak tahu bahwa kisah hidup sang pendiri “kerajaan” Honda – Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever. Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia terus bermimpi dan bermimpi… Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang. Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih? Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel. Kuliah karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. “Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal. Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia. Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Saat ini Honda menetap di Demak! Hehehe...






Hatiku selembar daun...

NEGERI BELIMBING YANG PUNAH

NEGERI BELIMBING YANG PUNAH


Wajah Asih terlihat gembira begitu tiba di kios milik Arifah, di Pasar Bintoro, Demak, Jawa Tengah. Buah yang diburu selama tiga bulan itu bisa didapatkan di kios ini. Bukan buah impor yang dicarinya, tapi belimbing kunir berwarna kuning dan berukuran besar. "Alhamdulillah, hari ini ada," ujar perempuan berusia 26 tahun yang tengah ngidam anak pertamanya ini. Tak perlu menunggu pulang ke rumah, Asih dengan lahap langsung menyantap buah yang telah diidam-idamkannya itu. Untuk mendapatkan buah yang dibeli dengan harga Rp 12.500 per kilogram ini, Asih dan suaminya perlu menempuh perjalanan cukup jauh dari rumahnya di Desa Gondang, Kecamatan Ngadsirejo, Kabupaten Temanggung. Belimbing yang dicari Asih memang khas Demak. Rasanya manis, hampir tak ada rasa sepat. Bentuknya montok, berwarna cerah, dan mudah dikenali. Lima tahun lalu belimbing Demak semacam itu banyak dijual di depan Masjid Agung Demak, kompleks makam Kadilangu, dan pasar-pasar. Tapi sekarang untuk mendapatkan belimbing ini sangatlah sulit. Demak kini lebih banyak dibanjiri belimbing Welahan, Jepara, Grobogan, atau daerah lainnya. Kondisi itu terjadi karena petani belimbing Demak tak bisa memenuhi permintaan pasar. Menurut Arifah, para pedagang terpaksa mendatangkan belimbing Welahan karena memiliki kemiripan dengan belimbing Demak, terutama besar dan tebal dagingnya. Selain rasa dan ukurannya, belimbing Demak banyak dicari karena kaitannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Konon, dari belimbing Demak inilah Sunan Kalijaga, yang dimakamkan di Demak, menciptakan syair Ilir-ilir, sebuah lagu yang hingga kini banyak dinyanyikan di masjid-masjid dan musala-musala. Salah satu penggalan lagu itu adalah: Cah angon....cang angon....penekno belimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dadatira... (Hai anak gembala...tolong panjat dan ambilkan buah belimbing itu. Selicin-licinnya pohon itu, tolong tetap panjat dan ambilkan untuk membasuh kainku). Buah belimbing yang memiliki lima sudut atau linggir menjadi simbol ajaran Islam. Lima sudut itu diasosiasikan sebagai Rukun Islam, pokok ajaran bagi umat Islam yang juga berjumlah lima. Wilayah yang menjadi sentra belimbing Demak ada di empat kelurahan: Betokan, Tempuran, Singorejo, dan Bintoro. Ada tiga jenis belimbing yang dihasilkan dari Demak, yakni belimbing kunir (warna kuning), belimbing kapur (warna putih), dan belimbing jingga (warna merah). Bibit belimbing ini tidak jelas asal-usulnya. Namun, dapat berkembang dengan baik di Demak. Kartono, salah satu petani asal Batokan yang berhasil membudidayakan buah belimbing ini, mengatakan bahwa memelihara belimbing Demak tidak semudah yang dia bayangkan. Sekitar 15 tahun Kartono bergelut di kebun belimbing. Ia memiliki 146 pohon terhampar di atas tanah seluas sekitar 2.000 meter persegi. "Buah ini sudah dikenal luas, maka sangat sayang jika tidak dipelihara," ucapnya. Kartono mengaku, sejumlah instansi pemerintah dari luar Demak, antara lain Dinas Pertanian DKI Jakarta dan Makassar, Sulawesi Selatan, pernah melakukan studi banding ke kebunnya. "Banyak yang membeli bibit belimbing," ujar petani yang biasa menjual bibit seharga Rp 10 ribu per batang itu. Kendati buah dan bibitnya laku, Kartono prihatin dengan merosotnya produksi belimbing di Demak. Sudah hampir empat tahun terakhir ini produksi belimbing menurun tajam. Persoalan yang dihadapi adalah banjir yang sering merendam pohon belimbing akibat belum adanya gorong-gorong untuk menyalurkan air hujan. Genangan air menyebabkan tanaman belimbing tidak produktif, lalu sebagian besar petani beralih ke tanaman jambu air. "Kalau jambu tergenang air masih bisa berbuah meski sedikit. Tapi untuk belimbing pasti mati," ujar Ramisah, petani asal Batokan yang memiliki 100 lebih pohon belimbing. Merosotnya produksi juga dipengaruhi sulitnya perawatan. Setiap 2-3 bulan petani harus menyemprot obat antihama. Pohon belimbing juga butuh pengairan yang cukup dan peremajaan ranting. Kartono dan Ramisah berharap belimbing Demak dapat berjaya kembali. Kedua petani ini masih ingat, pada 1990-an pohon belimbing mampu membuat mereka naik haji dan menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Namun, kini belimbing Demak terancam punah karena kian sedikitnya petani yang mau menanamnya. Buah belimbing asli Demak, yang selama ini menjadi ikon Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terancam punah karena petani cenderung beralih ke budi daya jambu. "Sekarang sudah merosot jauh, karena bahan-bahan untuk memelihara seperti pupuk semakin mahal, sehingga hasilnya tidak bagus," katanya seorang petani belimbing Demak, Kastolani, di Demak, Sabtu. Ia mengakui budi daya belimbing asli daerah itu butuh ketelitian dan perhatian yang lebih besar ketimbang buah lainnya. Ia menyebut pada era 1990-an budi daya belimbing Demak mencapai puncak kejayaan. Hingga saat ini, katanya, dirinya memiliki kebun seluas dua ribu meter persegi yang ditanami 146 pohon belimbing. Pada masa lalu, katanya, kebunnya menjadi tempat studi banding berbagai instansi seperti Dinas Pertanian Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Sulawesi Selatan. Seorang pedagang belimbing di Pasar Bintoro, Demak, Arafah, mengatakan, belimbing asli daerah itu semakin sulit diperoleh sehingga dirinya mendatangkan dari daerah lain seperti Welahan, Jepara, dan Grobogan. "Di Kabupaten Demak sendiri sudah jarang yang menanam, pohonnya kebanyakan ditebangi dan beralih ke pohon jambu, kami harus mendatangkan dari daerah lain yang hampir mirip besarnya dan rasanya," katanya. Sekitar lima tahun lalu, katanya, belimbing Demak relatif masih banyak dijual para pedagang di depan Masjid Agung Demak, Kompleks Makam Kadilangu, dan pasar-pasar setempat. Kini, katanya, petani setempat tak mampu lagi memenuhi permintaan pasar sehingga para pedagang mendatangkan dari daerah lain. Ia menyebutkan beberapa ciri khas belimbing Demak antara lain rasanya lebih enak dan bentuknya lebih besar ketimbang belimbing dari daerah lain. Selain itu, katanya, masyarakat memiliki anggapan khusus tentang belimbing Demak. Buah itu terkait dengan sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. "Yang banyak mencari dan membeli belimbing Demak justru pengunjung dari daerah lain," katanya. Seorang tokoh agama Islam di Desa Bintoro, Kecamatan Demak, Musyafak (50), menyatakan membenarkan bahwa belimbing Demak terkait dengan sejarah penyebaran agama Islam. Ia menjelaskan, Sunan Kalijaga, salah satu di antara sejumlah tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa, menciptakan lagu berjudul "Ilir-Ilir" sebagai salah satu sarana penyebaran agama Islam. Hingga saat ini, lagu tersebut masih sering dilantunkan umat Islam dalam berbagai kesempatan di masjid dan musala. Syair lagu itu menyebut kata "belimbing". "Syair ini adalah salah satu hal yang menjadikan belimbing Demak menjadi terkenal dan dijadikan ikon Kabupaten Demak," katanya. Ia mengatakan, belimbing memiliki lima "lingir" dan hal itu sesuai dengan ajaran tentang Rukun Islam. Ia menyebutkan beberapa tempat yang menjadi pusat budi daya belimbing asli Demak antara lain Kelurahan Batokan, Tempuran, Singorejo, dan Bintoro. Belimbing Demak terdiri atas tiga jenis yakni belimbing kuning (warna kuning), kapur (putih), dan jingga (merah). Pemerintah Kabupaten Demak saat ini berupaya keras membangkitkan kembali ikon buah segar belimbing. Buah belimbing saat ini pamornya anjlok, dan diperkirakan tinggal 20 persen saja pohon belimbing yang masih dipelihara petani dari total jumlahnya pernah mencapai 71.500 pohon. Sejak 2005, komoditas belimbing ditinggalkan oleh petani. Mereka beramai-ramai beralih ke pohon jambu delima merah, setelah diketahui pohon jambu itu bisa menghasilkan panen minimal 120 kg per tahun untuk satu pohon. "Produksi yang menggiurkan dengan harga jual rata-rata Rp 6.000 per kg," kata Kepala Seksi Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Demak, Djoko Budhiono, Rabu (9/12) di Demak. Djoko Budhiono mengatakan, bila belimbing Demak pernah jaya era 1990-an dan sempat menjadi buah kesayangan yang pernah selalu tersaji di Istana Presiden, kini belimbing ditinggalkan petani maka petani. Saat petani beralih ke jambu delima, puluhan ribu pohon belimbing ditebang dan lahannya ditanami pohon jambu. Untuk itu, pihaknya kini berupaya keras untuk mengembalikan pola budidaya belimbing supaya buah bersegi lima yang warnanya cerah kuning dengan daging empuk dan rasa manis itu tidak punah. Caranya, akan segera dilakukan penyebaran benih pohon belimbing untuk petani di sentra-sentra belimbing yang dulu pernah jaya. Petani di Demak, Atmin mengaku, dulu pernah memiliki pohon belimbing sampai 25 pohon. Namun kini pohon belimbing sudah ditebang dan diganti pohon jambu. Dengan menanam pohon jambu, pihaknya bisa panen jambu per pohon minimal 70 kg per tahun. "Kalau harga jual minimal Rp 6.000 per kg saja, pendapatan dari panen jambu itu mencapai Rp 420.000 per pohon. Sekarang saya memiliki 25 pohon jambu dengan usia rata-rata empat tahun dan bisa panen terus selama enam bulan," kata Atmin.

BELIMBING DEMAK KUNIR
Family: Oxalidaceae
Deskripsi:
Berasal dari daerah yang sama dengan belimbing demak kapur. Jenis belimbing ini juga sudah dilepas sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian. Buahnya berwarna kuning keemasan merata. Rasanya sangat manis dengan kandungan air banyak dan tekstur daging buahnya agak halus. Aromanya cukup harum dan tajam. Keadaan biji buahnya tak jauh berbeda dengan belimbing demak kapur. Beratnya rata-rata 200-350 g per buah. Produktivitas buahnya cukup tinggi, antara 15.0-350 buah/tahun. Pada umur 2-3 tahun belimbing ini mulai berbuah dan mampu berbuah terus menerus.

BELIMBING DEMAK KAPUR
Family: Oxalidaceae
Deskripsi:
Belimbing manis ini berasal dari Demak, Jawa tengah, dan telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul. warna buah putih merata dan rasanya manis menyegarkan karena mengandung banyak air. Tekstur daging buahnya agak halus dengan aroma yang cukup harum, tetapi kurang tajam. Bijinya sedikit, antara 5-10 biji per buah dengan bentuk lonjong, pipih kecil, dan ujungnya meruncing. Ukuran buah cukup besar, berat rata-rata per buah antara 200-400 g. Produksi buah per pohon antara 150-300 buah/ pohon/tahun. Mulai berbuah pada umur 2-3 tahun dan dapat berbuah terus menerus sepanjang tahun.

BELIMBING DEMAK JINGGA
Family: Oxalidaceae
Deskripsi:
Belimbing jenis ini juga berasal dari daerah- Demak, Jawa Tengah. Bentuk buah lonjong dengan lima buah rusuk. Belinabingan lebar memipih dengan daging buah tipis. Warna buah kuning kemerahan. Rasa buah manis agak sepet dan mengandung sedikit air. Namun demikian, aromanya merangsang selera. Berat rata-rata 200-400 g/buah. Produktivitas kira-kira 150-350 buah/pohon. Meskipun ada sedikit rasa sepet, namun belimbing ini cukup digemari. Hal ini antara lain disebabkan oleh warnany a yang menarik dan aromanya yang merangsang. Sehingga tidak mengherankan jika kekurangan pada rasanya tertutupi dengan penampilannya yang menarik.

Manfaat:
Buah-buahan

Syarat Tumbuh:
Tanaman belimbing akan tumbuh baik di tempat dengan ketinggian 0-500 m di atas permukaan laut dengan curah hujan tinggi dan mendapat cukup cahaya matahari. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah yang gembur, berdrainase baik, dan dapat menahan air.

Pedoman Budidaya:
Memperbanyak tanaman dengan: biji cangkokan okulasi. - Dengan biji. Ada bahayanya, sebab kemungkinan akan diperoleh pohon yang mempunyai sifat lain daripada induknya. Kalau ingin memperbanyak dengan biji, maka biji-biji blimbing dideder dulu, 6 minggu kemudian dipindahkan ke pesemaian dengan jarak 30x 30 cm. Pesemaian mendapatkan perlindungan ringan. Pada umur 1 tahun bibit dipindahkan ke kebun: - Dengan cangkokan. Untuk cabang cangkokan dipilih cabang yang tumbuhnya tegak ke atas. Kalau tidak ada cabang yang demikian, maka salah satu cabang yang mendatar dipotong. Nanti akan tumbuh cabangcabang yang tegak tumbuhnya. Dari salah satu cabang tersebut dibuat cangkokan. - Dengan okulasi. Blimbing manis hanya diokulasi dengan jenisnya sendiri. Waktu bertanam yang baik ialah pada permulaan musim hujan dengan jarak 6 x 6 m. Pohon-pohon perlu disemprot dengan obatobatan.

Pemeliharaan:
Untuk menjaga jangan sampai buah blimbing mendapat gangguan hama, seperti lalat buah, burung, kalong dsb., maka sebaiknya buah-buah tersebut dibungkus secara rapi dengan kertas, daun, kain dll. Bersamaan pembungkusan itu dilakukan penjarangan buah. Dengan penjarangan akan diperoleh buah yang besar. Penjarangan dan pembungkusan dilakukan pada waktu buah sebesar telur ayam.

Hama dan Penyakit:
Penyakit becak daun (Cercospora averrhoa) dan penyakit lembayung (Corticium) menyerang tanaman belimbing di Asia Tenggara, tetapi penyakit busuk pasca panen lebih gawat lagi, setidak-tidaknya pada buah belimbing manis; cacat kulit sedikit saja akan mengundang serangan jamur-jamur Ceratocystis, Colletotrichum, Dothoriella, dan Phomopsis. Ulat-ulat (Pingasa, Pseudoterpna, Diacotrichia) menyerang bunga dan daun muda. Buah belimbing manis sangat parah terserang lalat buah dewasa, terutama Dacus dorsalis (di Asia Tenggara), dan oleh ngengat penghancur buah (Othreis spp. di Australia); pembungkusan buah dapat mencegah serangan.

Panen dan Pasca Panen:
Pohon blimbing manis dapat berbunga sepanjang tahun, hingga dapat dipungut 3x setahun, yakni: pada akhir musim kemarau, musim labuh dan permulaan inusim hujan: Waktu berbuah paling lebat ialah pada permulaan musim hujan.


HIDUP DEMAAAKKK!!!






Hatiku selembar daun...

JENDERAL YANG BERNASIB BAIK

JENDERAL YANG BERNASIB BAIK



Pada jaman dahulu ada seorang Jendral dari negeri Tiongkok kuno yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan melawan musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat lebih banyak. Mendengar kondisi musuh yang tak seimbang, seluruh prajuritnya gentar kalau-kalau akan menderita kekalahan dan mati sia-sia. Di tengah perjalanan menuju medan perang, Jendral itu singgah di sebuah kuil kecil. Ia sembahyang dan berdoa meminta petunjuk para dewa. Sedangkan prajuritnya menanti di luar kuil itu dengan harap-harap cemas. Tak lama kemudian, sang Jendral keluar dari kuil tersebut. Ia berteriak pada seluruh pasukannya, “Kita telah mendapat petunjuk dari langit.” Lalu ia mengeluarkan koin emas simbol kerajaan dari sakunya. Sambil mengacungkan koin itu ke udara ia berkata, “Sekarang, kita lihat apa kata nasib. Mari kita adakan toss. Bila kepala yang muncul, maka kita akan menang. Tapi bila ekor yang muncul, kita akan kalah. Hidup kita tergantung pada nasib.” Jendral lalu melempar koin emas itu ke udara. Koin emas pun berputar-putar di udara. Lalu jatuh berguling-guling di tanah. Seluruh pasukan mengamati apa yang muncul. Setelah agak lama menggelinding ke sana-kemari, koin itu terhenti. Dan yang muncul adalah KEPALA !!! Kontan seluruh pasukan berteriak kesenangan. “Horeeee..!!! Kita akan menang. Nasib berpihak pada kita, Ayo serbu dan hancurkan musuh. Kemenangan telah pasti.” Dengan penuh semangat Jendral dan pasukan itu bergerak menuju medan perang. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Ternyata dengan keyakinan dan tekad yang membaja akhirnya musuh yang tak terhingga banyaknya dapat dikalahkan. Jendral dan seluruh pasukannya betul-betul senang. Seorang prajurit berkata, “Sudah kehendak langit, maka tak ada yang bisa mengubah nasib.” Sesampai di ibu kota mereka disambut meriah oleh seluruh penduduk. Raja pun terkagum-kagum mendengar kisah peperangan yang dashyat itu. Beliau bertanya pada sang Jendral bagaimana ia mampu mengobarkan semangat pasukannya hingga begitu gagah berani. Sang Jendral kemudian menyerahkan koin emasnya pada Raja sambil berkata, “Paduka, inilah yang memberikan mereka nasib baik.” Raja menerima dan mengamati koin emas itu yang ternyata kedua sisinya bergambarkepala.



Hatiku selembar daun...

Tuan Goen Yang Tidak Lagi Mencatat Di Pinggiran

Tuan Goen Yang Tidak Lagi Mencatat Di Pinggiran

oleh: esito


Tuan Goen, masih hidup dia rupanya. Walaupun uban tidak lagi sanggup
diperam perawan, dia masih kuasa berjalan. Tuan Goen hidup dari kata dan
mantera. Dia menyisipkan pesan mingguan, bagai khutbah manusia
prasejarah pada zaman yang tidak lagi menghendakinya. Lihatlah Tuan Goen
menapaki jalan, dari belukar Utan Kayu hingga rindangnya Salihara. Dia
renta, tertatih dengan langkah terseok tetapi Tuan Goen percaya dia lah
pengemban wahyu untuk menyelamatkan peradaban. Tetapi pada zaman ini,
siapakah lagi yang mengerti dengan mantera Tuan Goen. Generasi kami,
Tuan Goen, bukanlah pemamah biak mantera berbalut estetika. Dan kami
tidak punya waktu melayani orang tua cengeng yang sepanjang hidupnya
bermimpi menjadi Albert Camus. Kami bukanlah pelayan mimpi-mimpimu Tuan
Goen. Tiap minggu kau bisa menggoda kami dengan rayuan gombal catatan
pinggirmu, tetapi kau tahu Tuan Goen, karena kami terlahir durhaka maka
mudah bagi kami memisahkan dusta dari kata. Lagipula, bukankah tulisanmu
lebih banyak kutipan mantra asingnya daripada mantra mu sendiri. Tuan
Goen tidak mendapat tempat di generasi kita, lalu dia beralih pada
penguasa. Tertatih mendaki tangga istana, Tuan Goen mendapati dirinya
dilarikan kereta. Di Bandung sana, Tuan Goen berikrar akan melanggengkan
kekuasaaan dengan warna-warni Amerika. Ohh Tuan Goen, sudah pikun dia
rupanya, ini Indonesia bukan negara bagian Amerika. Mari ucapkan mantera
generasi kita; sudahlah Bro, secara lo udah tuwir gitu loch…

Di Bandung sana, Tuan Goen gagah menyampaikan orasi budaya. Dia
memulai orasi dengan pekik merdeka tetapi panggungnya dihiasi triwarna
merah putih biru. Dia mengungkit Soekarno untuk menyanjung Boediono.
Tuan Goen memberi garansi kepada kita, bahwa Boediono dan tentu saja SBY
layak untuk dipilih sebab dia bukan politisi juga bukan pemain
sinetron. Dan yang lebih penting sepanjang hidupnya, Boediono dihidupi
oleh negara bukan lewat bisnis yang menjadi haram dalam panggung itu.
Bagi Tuan Goen yang katanya sering berjuang untuk menghilangkan
Islamophobia bangsa barat, mengumpulkan kekayaan dari pajak atas jasa
pada negara jauh lebih mulia daripada berniaga. Tuan Goen dan anak-anak
salah asuhannya tentu, sebagaimana Boediono, sangat percaya pada tangan
tidak terlihat yang bisa melakukan intervensi terhadap pasar. Masyarakat
sipil perlu diperkuat dengan melemahkan fungsi negara. Wajar bila
pengidap sipilis semakin meningkat. Tetapi pernahkah Tuan Goen berpikir,
dalam konsep kami masyarakat awam, di pasar-pasar rakyat tangan tidak
terlihat itu wujudnya sangat jelas yaitu copet. Itulah jenis manusia
yang selalu menerima curiga, sebab senantiasa mengambil sesuatu yang
bukan hak nya. Tuan Goen, apakah tangan tidak terlihat yang Tuan suka
itu tiada beda dengan tangan tidak terlihat yang kami mengerti?
Bukankah, tangan tidak terlihat itu yang membuat jurang antara yang
miskin dan kaya semakin besar. Bukankah, tangan tidak terlihat itu yang
membuat generasi kami mulai bosan dengan ketidakadilan. Bah, lupa aku,
Tuan Goen tentu tidak akan sanggup menjawabnya, sebab dalam referensi
Albert Camus, pertanyaan ini belum pernah muncul. Begitulah di Bandung
sana, Pak Tua Goen tidak ingin menerima takdir usia senja.

Politik adalah sebuah tugas. Tanpa diminta, Tuan Goen menuliskan
pembelaannya, kenapa dia memihak. Sang Albert Camus wanna be
ini seperti biasa merangkai kata dari beragam kutipan yang panjangnya
melebihi gagasannya sendiri. Sederhana bukan, sama sederhananya dengan
merangkai meja belajar olympic, bahan dan sekrup sudah tersedia
kau tinggal menyatukannya. Lantas kau memuji kerja kau yang tidak
seberapa itu sebagai sebuah prakarya pribadi. Tuan Goen tidak usah
berkecil hati, kau punya tulisan masih ciamik punya. Bagai rokok,
nikmatnya masih melebihi kadar Tar dan Nikotin. Tetapi inilah hukum
rokok Tuan Goen, kita menikmatinya tetapi kemudian kita lupa gunanya
untuk apa. Kau menulis, Politik adalah tugas merambah jalan di
belukar membuka celah agar keadilan itu datang. Terkadang tangan jadi
kotor, hati jadi keras – dan itu menyebabkan rasa sedih tersendiri.
Aku menghisap mantera mu dalam-dalam Tuan Goen, tetapi nafasku sesak.
Paru-paru ku memberontak sementara jantung menginginkan revolusi. Di
usia senjamu, kau masih jumawa berkehendak membuka jalan yang tidak kami
butuhkan. Kau tahu politik itu kotor Tuan Goen, kau memasukinya lewat
rusuk penguasa, ah betapa tambah kotornya kau ini. Kau menyebut nama
Munir, berharap keadilan pada penguasa yang tidak kunjung mampu
menyelesaikannya. Kau, yang menganggap dirimu intelektual publik,
menolak untuk ongkang-ongkang kaki bermatabatkan mahligai. Tetapi Pak
Tua, kenapa baru sekarang kau berani berkata, justru pada saat kau
menyokong penguasa. Kenapa dulunya mahligai mu itu susah sekali digapai
pada saat banyak sekali hal yang tidak sesuai. Tuan Goen yang
bercita-cita menjadi martir kebebasan di Indonesia justru di usia senja
terpenjara oleh kepikunannya sendiri.

Tuan Goen, sudahlah, aku lihat kau sudah lelah. Tiada guna lagi kau
berulah. Mantera-mantera mu tidak lagi bisa mengobati sakitnya generasi
kami. Tidak usah pula tubuh rentamu itu kau paksakan untuk memikirkan
masa depan kami. Masa-masa dimana kau sudah tidak ada lagi dan kami
tidak tahu, akankah kami mengenangmu sebagai seseorang, atau hanya
sebuah bidak biasa dalam panggung kampanye presiden Amerika di Bandung
sana. Pak Tua Goen, saatnya undur diri, bagi kami kau tiada guna lagi.
Perawan-perawan generasi kami tidak lagi tersihir oleh mantera mu.
Mereka suka yang praktis Pak Tua, bukan yang rethoris. Kau sudah
berbuat, kami tidak akan menghapus jejakmu. Masalah penilaian serahkan
kepada masa depan.

Pak Tua Goen sudahlah, kau tidak akan pernah lagi bisa mencatat dari
pinggiran.

http://esito/. web.id/2009/ 06/tuan-goen- yang-tidak- lagi-mencatat- di-pinggiran/

SEORANG SUAMI DAN ISTERINYA YANG SAKIT

SEORANG SUAMI DAN ISTERINYA YANG SAKIT


Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, pak Eddy 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak Eddy memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Eddy tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak Eddy sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak Eddy lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anaknya berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak Eddy memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya. kapan bapak menikmati masa tua bapak* dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Pak Eddy menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka…” “Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak2 pak Eddy merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..* Sampailah akhirnya pak Eddy diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Eddy kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak
Eddy bercerita. “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya… sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit..”

"When life gives you a hundred reasons to cry, show life that you have a THOUSAND reasons to smile.."







Hatiku selembar daun..

KISAH SEMANGKOK MIE

KISAH SEMANGKOK MIE



Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.
Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.
Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.
Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
“Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,…
ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata
“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Ana, terhenyak mendengar hal tsb.
“Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.
Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”
Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.
Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.





Hatiku selembar daun...

1000 Burung Kertas

1000 Burung Kertas



Sewaktu boy dan girl baru pacaran, boy melipat 1000 burung kertas buat girl, menggantungkannya di dalam kamar girl. Boy mengatakan, 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.

Waktu itu, girl dan boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua.

Tetapi pada suatu saat, girl mulai menjauhi boy. Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis, ke Paris tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali-kali itu!!

Sewaktu girl mau mutusin boy, girl bilang sama boy, "Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya!! Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah.!!"

Setelah Girl pergi ke Perancis, Boy bekerja keras, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun.

Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya , akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl, dia masih tidak dapat melupakannya.

Pada suatu hari, waktu itu hujan, Boy dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Girl.

Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Bos. Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut.

Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua org tua itu memakai payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.

Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Boy tercengang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman. Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis terhadapnya.

Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung-burung kertas yang dibuatkan Boy, dalam hujan burung-burung kertas itu terlihat begitu hidup.

Orang tua Girl memberitahu Boy, Girl tidak pergi ke paris, Girl terserang kanker, Girl pergi ke surga. Girl ingin Boy menjadi orang, mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu. Girl bilang dia sangat mengerti Boy, dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.

Girl mengatakan, kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. Boy langsung berlutut, berlutut di depan makam Girl, menangis dengan begitu sedihnya.

Hujan pada hari Ching Ming itu terasa tidak akan berhenti, membasahi sekujur tubuh Boy. Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos, mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah.

Sewaktu Orang tua ini keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Boy sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku.
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.

(Lirik langsung ditranslate dari bahasa Mandarin)






Hatiku selembar daun...

SUAMI YANG INGIN BERCERAI

SUAMI YANG INGIN BERCERAI


Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya. Dew berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses,a kan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.? Aku ada sedikit urusan dikantor” Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku. Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? ” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Roy, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,”Ada sesuatu yang harus kukatakan” Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku serius.” Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi. Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Roy, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?” Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, “Wah, papa membopong mama, mesra sekali” Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana.”Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang” Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar” Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”. Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”. Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam”. Kutepiskan tangannya dari dahiku “Maaf, Dew, Aku cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu” Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”



Hatiku selembar daun...

PENGUSAHA MUDA DAN JAGUARNYA

PENGUSAHA MUDA DAN JAGUARNYA


Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. "Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!" Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. "Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai
tergores." Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu. Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa." Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. "Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti…." Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. "Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia
terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku." Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatanmu." Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih
nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat.





Hatiku selembar daun...

Seorang Ibu dan Anaknya yang Tampan

Seorang Ibu dan Anaknya yang Tampan


Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.


Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).


Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun
ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.
Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan
dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria... Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.


Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan
menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.


Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,
tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat
sulit?.


Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk
surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang
pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. 'Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua', kata sang ibu.


Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi
menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.


Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak
antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,
sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.


==========0000000000==============


Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk
membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah
industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam
sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan
ini sambil menggendong anak di punggungnya.

Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi
sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...


Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya
sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus
menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.


Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi
sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar.


Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya,
untuk bayar di akhir bulan saat gajian.


Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada
di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur
dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari
pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat
mulutnya dengan sepotong kain... Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang
mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..


Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang
ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang
sedang dilakukan oleh sang ibu ............ .


==========0000000000==============


Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya... Di hari minggu,
mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau'
(terjemahannya 'Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik').


Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.


Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
yang perlu dibiayai.


Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia
akan membelinya bulan depan. 'Apakah kamu punya uang?'
tanya sang pemilik toko. 'Tidak sekarang, nanti saya akan punya', kata sang
anak dengan serius..


Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.
Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.



Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya 'Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan ?'. 'Saya tidak mencuri, kakek...

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari
sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam
ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku.. O ya, jangan beritahu ibuku
tentang hal ini. Ia akan marah' kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
kagum pada anak tsb.


Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang
ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan ini memang adalah impiannya.. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari
mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.



'Apakah kamu mencuri, Nak?' Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin
ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
telah mencuri. 'Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?' kata sang ibu.


Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya.


Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah
tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. 'Ia
sebenarnya anak yang baik', kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya.


Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika
mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan.
Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

'Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya'. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.


Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu.'Maafkan saya, Nak.'

'Tidak Bu, saya yang bersalah'.............. ..



===========000=================


Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.


Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,
mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari
bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung
semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan
baik tanpa bantuanmu.


Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.


===========000==================


Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.


Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya
medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.


Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,
karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.


Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling
kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau', lagu kesayangan
mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut
dalam kegembiraan bersama sang anak.


Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak
menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
'Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak' kata
ibu.. 'Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu', kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.


Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2
ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan
mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama
ibunya, sang anak menolak. 'Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu',
teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,
sang ibu berkata 'Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.' 'Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya?
Ibu sekarang tidak mau saya lagi', sang anak mulai menangis.


Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 'Kalau ibu sayang
padaku, bawalah saya pergi, Bu'. Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan 'Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini', ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya
meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.


Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.


Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
itu dibatalkan, demi anaknya juga.......... ..


============000=========


Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan.


Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.

Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,
yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai
bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia
akan memberikan semuanya untuk ibu.


Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.
Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
depan rumah tsb, menangis 'Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.'


Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.


Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah.. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang
ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu.


Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.


Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila
kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih..
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.


Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke
rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling2 jatuh ke bawah.......... ..


============000==============


Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah.
Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh
dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
hasilnya nihil.


Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.


Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
'Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?'


Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu 'Shi Sang Ci You Mama Hau' dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru 'Ibu? Ini saya ibu'.


Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
'Apakah kamu ??..(nama anak itu)?' 'Benar bu, saya adalah anak ibu?'.

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi ............... .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.



====================000===========================


Untuk kita renungkan bersama-sama:


Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya..
Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :


1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.


Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,
diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
apapun ...........


Tidak diragukan lagi 'Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini'. Sayangilah ia...







Hatiku selembar daun...

ANAK KECIL TAMPAN PENJUAL KUE

ANAK KECIL TAMPAN PENJUAL KUE



Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan
ia pun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".

Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan
lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak
dik saya sudah kenyang".

Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki
lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah
hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir
"Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini
dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah". Ini adalah sebuah usaha yang gigih
membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue
menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.

"Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik". Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada
pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang
kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut,
kenapa tidak kamu ambil?".

Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama
ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya
akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis.
Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya
tidak suka saya jadi pengemis".

Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja
kue. Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil itu..




Hatiku selembar daun....

Belimbing Demak II

Belimbing Demak II


Jika melintasi Kota Demak, jangan lupa mampir di Pasar Bintoro. Carilah buah belimbing yang berwarna kuning cerah berukuran besar. Minta saja pada penjual buah: belimbing bethokan. Jangan tanya rasanya! Alias, rasakan sendiri. Wow, dijamin manis rasanya. Eh, kok jadi promosi. Bukan begitu maksudnya. Belimbing bethokan merupakan salah satu ikon pertanian sekaligus ikon budaya Demak. Belimbing jenis ini manis rasanya. Ingat kata Bondan kan? Mak nyus!!! Jika tidak sempat membeli buah belimbing aslinya, bisa kok cukup melihat replikanya. Lihat saja di depan pertigaan Joglo sebelah pasar Bintoro, dua buah belimbing besar berwarna kuning memikat terpampang di persimpangan jalan. Replika belimbing serupa juga dapat ditemukan di kompleks pertokoan Jogo Indah di Tembiring. Bagi orang-orang luar yang sering singgah di Demak, belimbing bethokan tentunya sudah tidak asing lagi. Jadi, secara sekilas orang bisa melihat Demak dari sebuah belimbing. Belimbing bethokan cepat dikenal masyarakat luas karena kebetulan Demak sebagai salah satu tujuan wisata. Kota Wali ini diberkati dengan peninggalan Kerajaan Demak. Sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Sungguh bernilai sejarah tinggi. Jangan mudah ditipu jika mau membeli belimbing bethokan. Karena beberapa tahun terakhir, ada belimbing dari luar daerah yang juga dipasarkan berdampingan dengan belimbing bethokan. Celakanya, penjual kadang mengatakan itu sama saja dengan belimbing asli yang terkenal dari Demak Kota Wali. Untuk mengantisipasi produk bajakan, usahakan teliti sebelum membeli. Belimbing bethokan berwarna kuning cerah dan mengkilat, tidak seperti belimbing lainnya. Juga, di tepi sisi-sisinya warnanya hijau pekat.


Hatiku selembar daun...

Belimbing Demak I

Belimbing Demak I

Belimbing adalah tumbuhan penghasil buah berbentuk khas yang berasal dari Indonesia, India, dan Sri Langka. Saat ini, belimbing telah tersebar ke penjuru Asia Tenggara, Republik Dominika, Brasil, Peru, Ghana, Guyana, Tonga, dan Polinesia. Usaha penanaman secara komersial dilakukan di Amerika Serikat, yaitu di Florida Selatan dan Hawaii.

Deskripsi pohon dan penyebarannya
Pohon ini memiliki daun majemuk yang panjangnya dapat mencapai 50 cm, bunga berwarna merah muda yang umumnya muncul di ujung dahan. Pohon ini bercabang banyak dan dapat tumbuh hingga mencapai 5 m. Tidak seperi tanaman tropis lainnya, pohon belimbing tidak memerlukan banyak sinar matahari. Penyebaran pohon belimbing sangat luas, karena benihnya disebarkan oleh lebah.

Deskripsi buah
Buah belimbing berwarna kuning kehijauan. Saat baru tumbuh, buahnya berwarna hijau. Jika dipotong, buah ini mempunyai penampang yang berbentuk bintang. Berbiji kecil dan berwarna coklat. Buah ini renyah saat dimakan, rasanya manis dan sedikit asam. Buah ini mengandung banyak vitamin C. Salah satu jenis dari belimbing, yang disebut belimbing wuluh, sering digunakan untuk bumbu masakan, terutama untuk memberi rasa asam pada masakan. Salah satu wilayah yang terkenal akan produksi belimbing adalah Demak, Jawa Tengah. Belimbing Demak terkenal berukuran besar, warnaya kuning cerah dan rasanya manis.

Kegunaan Belimbing
Buah ini memiliki banyak sari (air), sehingga memungkinkan untuk dibuat wine buah. Di Myanmar, belimbing digunakan untuk membuat acar teh.

Gangguan terhadap kesehatan
Orang yang bermasalah pada ginjalnya harus menghindari konsumsi buah ini karena mengandung asam oxalat. Jus yang terbuat dari belimbing lebih berbahaya karena konsentrasi asamnya yang lebih tinggi. Orang yang memiliki kolesterol tinggi atau penderita diabetes juga harus menghindari buah ini, karena kandungan gulanya yang tinggi.




Hatiku selembar daun...

Saut Kecil Bicara dengan Tuhan

Saut Kecil Bicara dengan Tuhan

Saut Situmorang


bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata Ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan
tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti Ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!



Hatiku selembar daun...

ANAK MUDA DAN TUHANNYA

ANAK MUDA DAN TUHANNYA



Ada seorang anak muda yang bersahabat akrab dengan seorang pengkhotbah tua. Suatu hari, anak muda ini kehilangan pekerjaannya dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari si pengkhotbah tua itu. Ketika berada di ruang belajar si pengkhotbah, si pemuda ini berteriak-teriak tentang problem hidupnya. Akhirnya dengan kalap dia mengepal-ngepalkan tinjunya, sambil berteriak, "Saya memohon Tuhan agar menolong saya. Tapi hai pengkhotbah, mengapa Dia tidak menjawab saya?". Si pengkhotbah tua itu pergi ke ruang lain dan duduk di sana. Lalu dia berbicara sesuatu dan menanti jawaban si pemuda. Tentu saja si pemuda itu tidak mendengarkan dengan jelas, sehingga dia ikut-ikutan pindah ruangan. "Apa sih katamu?" tanya si pemuda penasaran. Si pengkhotbah itu mengulangi kata-katanya dengan perlahan sekali, seperti sedang bergumam sendiri. Tetapi si pemuda belum menangkap bisikan si pengkhotbah. Dia terus mendekati si pengkhotbah tua ini dan duduk di bangku sebelahnya. Si pemuda itu lagi-lagi bertanya, "Apa katamu? maaf, saya tadi belum mendengarnya." Dengan lembut, si pengkhotbah memegang pundak si pemuda, "Saudaraku, Tuhan kadang-kadang berbisik, jadi kita perlu lebih dekat menghampiriNya, agar dapat mendengar Dia dengan lebih jelas lagi." Si pemuda itu tertegun dan akhirnya dia mengerti.



Hatiku selembar daun...

KISAH SEBUAH KERANJANG

KISAH SEBUAH KERANJANG



Suatu saat ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami.
Orang tua ini sangat rewel, cepat tersinggung, dan tak pernah berhenti mengeluh.
Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk mengenyahkannya.

Sang suami memasukkan ayahnya ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya.
Ketika ia akan meninggalkan rumah, anak lelakinya yang baru berusia sepuluh
tahun muncul dan bertanya, “Ayah, kakek hendak dibawa kemana?”

Sang ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek ke gunung agar ia bisa
belajar hidup sendiri. Anak itu terdiam. Tapi pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, “Ayah, jangan lupa membawa pulang keranjangnya.”

Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa. Anak itu menjawab,
“Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua.”

Sang ayah segera membawa kembali sang kakek. Sejak saat itu mereka memperhatikan kakek itu dengan penuh perhatian dan memenuhi semua kebutuhannya.

Smiley: “Hukuman” yang kita berikan pada orang lain, mungkin akan berbalik pada diri kita sendiri.

(Anthony de Mello)




Hatiku selembar daun...

KISAH PEREMPUAN YANG MEMELUK KEKASIHNYA

KISAH PEREMPUAN YANG MEMELUK KEKASIHNYA



Sepasang kekasih sedang melaju lebih dari 100 km/jam di jalan dengan sebuah motor.

Perempuan : Pelan-pelan, aku takut .

Laki-laki : tidak,ini menyenangkan .

Perempuan : Tidak,ini sama sekali tidak menyenangkan . Please aku takut !

Laki-laki : Baik, tapi katakan dulu bahwa kau mencintaiku .

Perempuan : Aku mencintaimu! sekarang pelankan motornya !

Laki-laki : Sekarang beri aku pelukan yang erat .

( Lalu perempuan itu memeluknya )

Laki-laki : Bisakah kamu melepaskan helmku & kamu pakai ? Helm ini sangat mengganggu saya .

( Perempuan itupun menurutinya )

Keesokan harinya,ada berita di koran sebuah sepeda motor menabrak gedung,karena remnya blong .

Ada 2 orang di atas sepeda motor itu,tetapi hanya 1 orang yang selamat .

Yang terjadi sebenarnya adalah bahwa di tengah jalan, Laki-laki itu menyadari bahwa rem motor mereka rusak, tapi dia tidak ingin membiarkan kekasihnya tahu .

Dia meminta kekasihnya berkata dia mencintainya & merasakan pelukannya, karena dia tahu itu saat terakhir bertemu dengan kekasihnya .

Dia menyuruhnya memakai helm supaya kekasihnya akan tetap hidup, walaupun itu berarti ia yang akan mati .

Pernahkah anda mencintai seseorang sampai sebesar ini ???





Hatiku selembar daun...

“Pengen Jadi Artis”

“Pengen Jadi Artis”



Ku Jauh-jauh Dari Kampung
Mengadu Nasib Ke Jakarta
Untuk Mengejar Cita-cita
Cita-cita Menjadi Artis

Wahai Bapak Ibu Producer
Aku Mohon Orbitin Aku
Bapak dan Ibu Jangan Ragu
Yakin Aja Bakalan Laku

Tuhan aku Pengen Jadi Artis
Tuhan aku Pengen Jadi Artis
Tolonglah Bantu aku Jadi Artis

Ingin Punya Wanita Cantik
Tapi Cinta Selalu Ditolak
Lantaran ku Ngga Punya Duit
Wajar Aja Kan Belum Artis

Kalo Ku Sudah Jadi Artis
Aku Akan Macarin Artis
Walau Tampangku Hancur Abis
Bodoh Amat Yang Penting Artis

Tuhan aku Pengen Jadi Artis
Tuhan aku Pengen Jadi Artis
Tolonglah Jangan Sampai MenJadi Gila Artis



Artis : “Hancur Band”



Hatiku selembar daun...

dengan tiga tanda seru!!!

dengan tiga tanda seru!!!

Saut Situmorang



aku melamarMu jadi istriKu
dan Kau terima dengan tiga tanda seru!!!

lihatlah!!! Tiga tanda seru menari nari
terhuyung tak mampu tahan pecahnya kata kata

dalam puisi puisi cinta
hanya untukMU!!!


Denpasar, 30 September 2001
6:45pm


Buku Puisi ‘Otobiografi’ Saut Situmorang

KISAH SEORANG PETANI DARI DEMAK

KISAH SEORANG PETANI DARI DEMAK


Seorang petani tua selama bertahun - tahun terpaksa membajak di sekeliling sebuah batu besar di salah satu petak sawahnya. Batu itu terletak tepat di tengah sawah pak Tani dan telah mematahkan beberapa mata bajak dan sebuah cangkul sang petani. Hari itu mata bajak pak tani kembali patah karena batu besar itu, karena kesal dengan kejadian yang selalu berulang - ulang, maka pak tani memutuskan untuk melakukan sesuatu. "Aku harus menyingkirkan batu ini !", lalu pak tani mengambil linggis dan ketika ia menacapkan linggis itu ke dasar batu, ia terkejut karena ternyata batu itu dengan mudah dapat dia angkat dan dia singkirkan. Setelah selesai, pak tani duduk di tepi sawah miliknya sambil tersenyum, dia teringat dengan semua kesulitan yang dia alami karena batu itu, dan ternyata betapa mudahnya dia menyingkirkan batu itu . Sambil menghela nafas pak tani bergumam sendiri " mengapa hal itu tidak aku lakukan sejak dulu". Saat manusia mengalami masalah dalam hidupnya, kadang yang kita pikirkan adalah hal - hal yang jauh, sulit dan berbelit - belit. Dan keengganan untuk langsung menghadapi masalah yang membuat masalah tidak pernah selesai dan malah akan memancing masalah yang lain. Padahal belum tentu masalah yang kita hadapin serumit yang kita bayangkan.. Hal yang paling bijak kita lakukan adalah " hadapi " sambil kita " berserah " dan " memohon " pada Tuhan untuk diberi kekuatan dan keberanian dalam menjalaninya.



Hatiku selembar daun...

Cerita Menyedihkan Tentang 2 Bola

Cerita Menyedihkan Tentang 2 Bola




Ceritanya nih ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati nyokapnya pas ngelahirin dia. Sejak itu bokapnya jadi amat sangat workaholic sekali dan nggak married2 lagi. Ini anak tapi baek hati dan lemah lembut walopun cuma bareng pengasuh aja.

Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki. Pengasuhnya ngadu ke bokapnya, “Tuan, nggak kasian sama den Bagus? Masa sepeda nggak punya… apa tuan juga nggak malu?” Iya..nih..bokapnya tuh tajir banget deh. Punya sekian perusahaan.. maka dipanggillah si anak, ditawarin mau sepeda yang kayak gimana merek apa..dan si anak cuma bilang,

“Nggak usah repot2 pi, aku dibeliin bola item bola putih aja..” Lho kok gitu? Bingung dong bokapnya.

“Kenapa bola item dan putih?”

“Nggak usah diterangin deh pi. Kalo papi punya uang yaa.. beliin itu aja.”

Yah, mengingat mereka nggak pernah ngobrol, jadi papinya nerima-nerima aja. Nggak berminat lanjutin, maka dibeliin lah tu anak sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, plus bola item dan bola putih.

Trus ni anak masuk SD lah. Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh pratiin, ni anak nggak minta-minta dibeliin sepatu roda sama papinya.

Sore-sore cuma duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim. Pengasuhnya laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi. “Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen-temen kamu? kok nggak bilang-bilang papi. Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja…”.

Si anak bilang,”nggak pi, bola item dan bola putih saya udah rusak… dibeliin lagi aja… nggak usah beli sepatu roda. Lagian lebih murah bola kan pi?” Yee.. si papi geram dong. Ni anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah? So, tetep si papi beliin sepatu roda, plus bola item dan bola putih.

Selang beberapa taun, ni anak masuk SMP. Cerita sama terulang. Sekarang temen-temennya musim rollerblade. Tren baru. Sementara sore hari, dia masih setia sama sepatu rodanya. Pas bokapnya pulang dari luar negri dan ngeliat anaknya doang yang pake sepatu roda, si papi malu banget. Gila, rumah gedong, perusahaan banyak, keluar negri terus…eeh anaknya ketinggalan jaman. Besoknya, di kamar anaknya udah ada sepasang roller blade baru dengan note: “Biar kamu nggak malu”. Malemnya di ruang kerja papinya ada note balesan: “Pi, kok nggak beliin bola item dan bola putih? Aku lebih suka itu.” Weleh, si papi pas liat note itu dongkol tambah bingung. Apaan sih istimewanya bola item dan bola putih?

Emang bisa bikin die beken atau nge-tren? Besoknya dan besoknya lagi si papi berkali-kali nemuin note itu…hingga dia nggak tahan dan membelikan anaknya bola item dan bola putih untuk kesekian kalinya. Bener, setelah dapet tu bola, si anak nggak ngerongrong bokapnya
lagi.

Pas SMA, yang jaraknya rada jauh, si anak masih berbis ria, temen-temennya udah ada yang bawa motor en mobil ke sekolahan. Suatu hari, tumben papinya di rumah, si anak pulang dianterin temennya yang mau ditebengin. Papi malu banget. Masa cuma untuk anak satu nggak bisa beliin mobil? Maka ditawarin anaknya. Si anak nolak dengan alasan mobil kurang praktis, lagian pengen bola item bola putih aja. Si bapak nggak terima penolakan. Karna anaknya udah gede, bisa berunding. Hingga tercetus keputusan si anak dibeliin motor plus bola item dan bola putih tentunya. Dan si bapak kesel juga dunk. Udah berapa taun dia beberapa kali beliin dua macem bola itu tanpa tau kenapa. Tapi si anak nggak ada keinginan dan kemauan ngasih tau sih.

Sampai tibalah masa kuliah. Karna seneng dan bangga masuk PTN, si anak dikadoin mobil. Sampe beberapa bulan si anak masih naek motor aja. Kuliah, pacaran, naek motor aja. Pacarnya juga bingung, kan dia punya mobil? Ditanya sama pacaranya, dijawab, abis papi nggak beliin bola item bola putih. Nggak ngertiin anak sendiri sih!

So, pas makan malem bersama, si pacar bilang sama papi, kenapa si om nggak beliin bola item bola putih. Si papi sebenernya sensitif sama para bola itu.. huh.. sampe pacar anak gue nyuruh-nyuruh.. ditanya dong kenapa. Si pacar bilang kalo mobilnya nggak akan dipake selama nggak dikasih bola itu juga.

Papi bingung dong, di kamar anaknya udah segitu banyak bola item bola putih. Buat apa sih, pikir papi. Tapi demi gengsi, anak orang lho yang nanya, maka besoknya udah ada bola item bola putih buat anaknya.

Suatu hari anaknya gaul ke puncak bawa mobil, sama pacarnya. Yah, namanya anak muda, pas lagi di jalan, sipacar nyium dia en dia jadi grogi dan kecelakaan!!! Segera di bawa ke rumah sakit si papi juga ditelpon sama rumah sakitnya. Tabrakannya parah. Mereka berdua nggak ada yang pake seatbelt, yang cewek mati seketika dan ni cowok udah sekarat.

Si papi dateng ke RS..”gimana dok, anak saya?”

Dokter (dengan tampang empati penuh duka cita): ”Maaf pak, kami tidak dapat berbuat banyak.. sepertinya memang sudah waktunya… sebaiknya bapak manfaatkan waktu terakhir..”

Perlahan si bapak masuk, nyamperin anaknya. “Pap, maafin saya.. nggak hati-hati bawa mobilnya..” si anak juga nangis karna pacarnya nggak tertolong. Si papi nenangin dia… akrablah dua manusia itu beberapa saat. Hingga si papi beranggapan ini saat terakhir. Dia inget penasaran dia tentang kenapa si anak selama ini selalu minta bola item bola putih.

“Nak, maafin papi selama ini yang selalu sibuk.. kamu jadi kesepian..maafin papi, nak. Nggak sempet jadi orang tua yang baik.”

Anaknya jawab,”nggak apa-apa pi, saya ngerti kok..Cuma sempet kesel kalo papi punya uang lebih malah beliin yang macem-macem…. saya cuma minta bola item dan bola putih aja kan?” Si papi rasa timing-nya tepat nih, “KENAPA SIH KAMU SELALU MINTA BOLA ITEM BOLA PUTIH…ADA APA DENGAN BOLA-BOLA ITU?”

(pembaca juga penasaran ya..?)

Si anak jawab dengan terpatah-patah dan susah banget, abis udah sekarat dan masanya udah hampir sampe…”sebab pi…saya…” *hep* Kepalanya rebah dan nafasnya ilang. Si anak udah meninggal sebelum kasih tau papinya.

Nah, si papi aja yang udah hidup bareng anaknya nggak tau… apalagi gw yang cuma diceritain? GIMANA? Kesel ngak sih? Tabokin aja yang pertama kali bikin cerita, tapi maapin gw karena gw juga korban pren, nggak enak jadi korban sendirian khan??! Hahaaa.. Thanks yaa udah mau baca :D



Hatiku selembar daun..