MENCARI NELANGSA
Arif Rohman
Semua muka yang ada di pendopo itu tertunduk lesu, pucat seperti mayat. Betapa tidak, saat itu Yudhistira sedang tiwikrama menjadi raksasa bermuka merah dan mengerikan. Jangankan para punakawan, raja-raja dan para ksatria yang bersimpati pada Pandawa saja menahan nafasnya dan tidak ada yang bergerak. Suara serak menggelegar pun memecah keheningan.
‘Sekali lagi Arjuna, kau tidak pernah memberikan kontribusi sedikitpun bagi perjuangan Pandawa. Kamu klelar kleler dan bisamu hanya merayu para gadis-gadis. Sekali pun kamu belum pernah berkelahi membela kita. Lihat akibat perbuatanmu, Kurawa telah menghina kita!’, Yudhistira berucap.
‘Aduh Kakang.. Aku memang tidak suka berkelahi Kakang. Aku bahkan tidak ingin Perang Bharatayudha terjadi Kakang. Aku terus bermimpi darah di Padang Kurusetra bak lautan. Mayat-mayat bergelimpangan. Untuk apa semua ini kalau hanya untuk sekedar kekuasaan belaka. Lebih baik hidup menjadi petani yang bahagia dan tenang. Karena itulah Kakang aku tidak mau berkelahi dengan kadangku sendiri para Kurawa dan aku tidak mau berlatih memanah seperti halnya para ksatria lain..’, rintih Arjuna sendu sambil mukanya masih tertunduk, tidak berani menatap raksasa itu.
‘Kamu memang tampan tidak hanya parasmu Arjuna, tetapi kelihaianmu dalam berkata tidak ada tandingannya. Kata-katamu tadi telah melemahkan hampir separo dari semangat prajurit dan sekutu kita. Demi tegaknya keadilan untuk Pandawa, mulai sekarang aku tidak mau melihat wajahmu lagi Arjuna. Pergilah dari hadapanku sekarang. mataku sepet melihat dirimu. Minggat sana!’, demikian berkata Yudhistira sambil mengepalkan tangannya.
‘Duh kakang.. Setelah orang tua kita meninggal, hanya ada Kakang pengganti orang tua. Sejak kecil aku selalu menuruti kata-kata Kakang. Sepatah pun aku tak berani membantah. Mengapa Kakang tega berucap demikian. Aku hanya ingin hidup tenteram, bebas, dan merdeka. Begitu pula rakyat Astina, siapapun yang menjadi raja tidak masalah asalkan mereka dapat hidup damai dan tenteram..’, berkata Arjuna sambil meneteskan air mata di pipinya.
‘Berani kamu saur manuk dihadapan Kakangmu ini. Ksatria cengeng. Tak bisa memanah. Pandawa tidak membutuhkanmu. Biarlah Pandawa berkurang satu asal Kurawa dapat dibasmi. Pergi kamu!’, sekali lagi Yudhistira meraung. Kecewa, marah karena harapannya agar Arjuna mau belajar memanah, menjadi ksatria digdaya dan membela hak-hak Pandawa tidak terpenuhi.
Setelah memberikan hormat pada Yudhistira, Arjuna yang hatinya tak kalah pedihnya pun pergi dengan gontai. Dalam hati Arjuna berpikir, apakah kekuasaan lebih lebih berharga dibandingkan dengan kehidupan rakyat miskin. Apakah dirinya salah ingin menjadi rakyat biasa? Apakah salah tidak mau belajar memanah yang hanya dijadikan senjata berkelahi? Apakah salah dirinya selalu bertutur dengan sopan dan lembut pada setiap gadis. Bukankah dirinya dibesarkan oleh seorang wanita yang tanpa daya yang hak-haknya sering terabaikan oleh para pria. Apakah benar ia salah terlalu menghargai dan menjunjung tinggi kaum wanita? Semua pikiran itu berkecamuk dalam diri Arjuna. Dan ketika sadar, ia telah jauh meninggalkan negerinya. Di depannya adalah daerah Mintaraga yang banyak terdapat goa. Di goa tersebutlah Arjuna memutuskan untuk bertapa mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengusik hatinya.
Setelah kepergian Arjuna, pendopo Amarta jadi sunyi dan sepi. Pada saat itulah Semar sebagai pengasuh Pandawa memecah keheningan.
’Sudahlah Ngger.. Jangan diteruskan lagi pertengkaranmu dengan Arjuna. Ini jelas akan merusak persatuan Pandawa, dan justru akan menguntungkan Kurawa. Eling Ngger.. Eling.. Arjuna itu sejak kecil sudah hidup sendiri ditinggal mati oleh Bapaknya. Ngger Yudhistira adalah anak tertua Pandawa harusnya lebih berlapang dadanya dan mau menerima pendapat orang lain..’, begitulah nasehat dari Semar yang dikenal sebagai penjelmaan dari Bathara Ismaya, yang disegani oleh semua Dewa di kahyangan.
Kata-kata Semar seperti air es yang mengguyur kepala Yudhistira yang panas menggelegak menyadarkan dia pada kemarahan yang sebenarnya tidak perlu. Ketika sadar, Yudhistira berubah menjadi sosok manusia lagi, bukti amarahnya telah mereda. Tangispun kembali memecah keheningan itu. Tangis, kecewa, menyesal, gegetun yang tak alang kepalang. Tapi nasi telah menjadi bubur. Bima, Nakula, dan Sadewa pun ikut menangis. ‘Itulah takdir’, demikian kata Semar. Takdir baik atau buruk manusia tak ada yang tahu. Hikmahnya hádala para Pandawa harus lebih sabar dan tidak menuruti hawa nafsunya dalam bertindak. Hal ini juga berlaku pada semua orang yang ada dalam pendopo tersebut. Setelah semua orang menyadari apa yang terjadi, akhirnya diambillah kesepakatan untuk mencari Arjuna yang hilang entah kemana.
ooooooooooooooooo
Berbulan-bulan sudah para kadang Pandawa mencari keberadaan Arjuna tapi hasilnya masih saja nihil. Pertemuan di Pendopo Agung Amarta tetap saja lengang semenjak peristiwa Arjuna pergi. Pertemuan itu semakin lengang ketika mereka membicarakan raksasa yang sedang mengamuk dan merusak persawahan, perumahan dan mengacau di negeri Amarta. Semua prajurit, ksatria dan preetapa pun tak bisa mengatasinya. Akhirnya mereka hanya bisa berdoa lepada para Dewa untuk dihindarkan dari angkara murka itu.
Setelah mereka berdoa secara khusyuk dan bersemadhi, muncullah Bathara Indra yang memberikan wangsit bahwa akan datang seorang ksatria muda yang bernama Mintaraga yang bisa mengalahkan raksasa yang sedang mengamuk di negeri Amartha. Kemudian Bathara Indra pun lenyak kembali ke kahyangan. Semua yang ada di pendopo itu pun lega sambil terus berharap siapakah gerangan Mintaraga, ksatria yang dapat mengalahkan raksasa itu?
ooooooooooooooooo
Kahyangan geger, para Dewa dan Dewi tidak bisa tenang. Hawa panas dan goncangan-goncangan seakan menandakan bahwa telah terjadi peristiwa yang Sangay Herat yang bakal terus menyerang kahyangan. Dan benar saja, kejadian itu sampai berbulan-bulan lamanya, yang memaksa Bathara Indra untuk Turín ke dunia.
Bathara Indra Turín tepat di Goa Mintaraga asal hawa panas yang mengguncang isi kahyangan. Terlihat sosok pemuda yang tampan tapi sedikit lebih kurus yang sedang bersamadi dengan khusyuk.
‘Cukup Ngger.. Cukup. Hentikan tapamu. Apa yang kau pinta kepada Dewa Ngger cah bagus..? Katakan saja..’, kata Bathara Indra.
Arjuna pun membuka matanya sambil tersenyum tenang dia memberikan sembah pada Bathara Indra. Kata-katanya yang lembut menawan seolah membuktikan bahwa dia adalah Arjuna yang terkenal dengan ketampanan dan kehalusan budi pekertinya.
‘Duh Sinuhun.. Saya Arjuna putera Pandu ingin hidup tenang dan tenteram bagaimanakah caranya? Saya hanya ingin menjadi rakyat biasa.. Apakah saya salah Sinuhun.. Saya tidak ingin bertapa untuk mencari kesaktian, tetapi bertapa untuk ketenangan hidup..’, kata Arjuna pelan.
‘Ngger cah bagus.. Hidup semua sudah ada yang mengatur. Manusia tidak bisa hidup sendiri karena sudah dari sananya mereka harus bersama dan saling tolong menolong. Kedamaian dan ketenteraman datangnya dari hati bukan dari apakah kita petani atau bukan. Hatimu yang mulia dan tutur katamu yang lembut adalah modal untuk mencapai ketenteraman. Ketenteraman lahir manakala kamu dapat membuat rakyat menjadi tenteram. Kedamaian hati tercipta saat kamu membasmi angkara murka dan membuat hidup masyarakat menjadi damai. Apa yang Ngger Arjuna inginkan sebenarnya adalah dari hati kita masing-masing.. Sudah jelas Ngger anakku?’, kata Bathara Indra sambil mengelus kepala Arjuna.
‘Sekarang ini Amartha telah diganggu oleh raksasa yang bernama Winantakala. Hanya kamulah yang sanggup mengalahkannya Ngger cah bagus..’, lanjut Bathara Indra.
‘Katur sembah nuhun Sinuhun.. Tapi saya tidak pandai memanah dan berkelahi, bagaimana saya dapat mengalahkannya..’, berkata Arjuna setengah berbisik.
‘Jangan khawatir Ngger cah bagus. Kuberikan kamu ilmu yang bernama Sepiangin. Pergunakan ilmu ini untuk membela rakyatmu Ngger cah bagus..’, kata Bathara Indra. Bersamaan dengan itu memancarlah cahaya dari tangan Bathara Indera dan memasuki tubuh Arjuna.
Setelah menerima ilmu Sepiangin, Arjuna meninggalkan Mintaraga dan berjalan menuju Amartha. Dalam perjalanan, Arjuna banyak menyelamatkan penduduk-penduduk desa yang menemui kesulitan. Karena ketampanannya para wanita, tua muda, gadis janda memuja-mujinya, bahkan para Dewa pun menjadi iri akan ketampanannya. Konon Dewa Kamajaya yang tertampan dari para Dewa pun gerah mendapat saingan. Tapi karena tindak-tanduk Arjuna yang lembut dan welas asih dalam bersikap maupun bertutur kata Kamajaya sendiri diam-diam memujanya.
Dalam perjalanan itu pula Arjuna sering bertapa. Bertapa tidak harus menyendiri, tapi dimanapun dalam situasi apapun harus berusaha menyingkirkan nafsu angkara murka yang ada dalam diri dan mengubah perbuatan-perbuatan yang tercela. Banyak Dewa yang menyayanginya. Bahkan Bathara Indra pun akhirnya mengangkat Arjuna sebagai anaknya dengan gelar Indra Tanaya. Arjuna pun mendapatkan panah Pasopati, panah Sarutama, panah Ardha Dhedali, Cundha Manik, Keris Pulanggeni dan cincin Sotyaningampal.
ooooooooooooooooo
Akhirnya saat yang dinanti pun tiba. Arjuna bertarung dengan Winatakala yang bisa mengeluarkan api dari mulutnya. Hampir sama seperti pertarungan-pertarungan sebelumnya, Arjuna pun mengeluarkan panah-panah saktinya. Dan akhirnya Arjuna berhasil mengalahkan raksasa tersebut.
Setelah mengalahkan raksasa tersebut Arjuna bertemu dengan kadang pandawa lainnya. Tangis haru dan rindu pun membahana di ruangan pendopo itu. Yah, tangis bahagia yang timbul dari kesalahpahaman yang sebenarnya tak perlu. Pemuda Mintaraga yang sakti mandraguna ternyata adalah Pamadya Pandawa yang nantinya membantu memenangkan perang di Kurusetra. Tapi semua orang tak tahu bahwa ketika Arjuna mengeluarkan panahnya, jutaan wanita berdoa untuk kemenangannya. Doa itu menjelma menjadi sinar yang memancar terang menyilaukan yang memaksa para Dewa mau tidak mau terpaksa memenangkan Arjuna. Oh lelananging jagad..
Demak, Agustus 2002
Arif Menulis Cerpen :
Cleopatra dan Cinta Si Gadis Desa 2
Hatiku selembar daun....
Thursday, 11 November 2010
DIGEROGOTI NASIB
‘Cinta itu seperti aliran sungai di Kali Kracaan. Kadang dia deras, kadang mengalir lembut, kadang tenang. Meskipun musim kemarau tiba, dia tetap berusaha mengalirkan air dari pori-porinya.. Tapi ketika engkau meremehkan dia, dia akan menelanmu dengan air matanya..’ (Suatu waktu di tepi Kali Kracaan Demak).
DIGEROGOTI NASIB
Arif Rohman
‘Aku ingin jadi manusiaaa…!!’, begitu teriak Pat Kay dengan keras. Suara itu menggema diperbukitan Kun Lun San di Nanking. Dari nada yang terdengar terlihat bahwa orang itu sedang marah, kesal, sedih, putus asa yang menyatu. Tapi tetap saja tak ada yang mendengar. Mungkin semua orang sudah terlelap dengan mimpinya. Hanya suara jangkrik saja yang terdengar bersahutan, seakan turut bersimpati dengan kesedihan yang dialami oleh pemuda itu.
Sejenak pemuda itu termenung memandang air telaga yang kehijauan dikelilingi dedaunan yang rimbun. Sayup-sayup terdengar gemersik dedaunan yang ditiup oleh angina malam yang melintas tanpa permisi lebih dahulu.
‘Salahkah aku mencintai seorang gadis? Salahkah aku menyukai seorang wanita? Apakah status sosial harus membedakan dan menghancurkan kisah cinta antara Dewa dan anak manusia? Apakah langit begitu kejamnya hingga memberikan peraturan yang saklek dan tak dapat ditawar lagi?’, Pat Kay membatin dengan perasaan tak menentu.
Sekali lagi benak pemuda itu melayang entah kemana. Di telaga itulah pertama kali dia turun ke bumi. Di telaga Kun Lun San itulah cinta Pat kay bersemi. Betapa tidak? Beberapa waktu yang lalu dia tanpa sengaja melihat seorang Dewi telah mandi di telaga yang segar tersebut. Namun anehnya, sang Dewi berpakaian sederhana tak seperti kebanyakan gadis yang lain. Gemercik air telaga dan keelokan paras sang Dewi telah membuat hatinya bergelora, darahnya menjadi panas tak tertahankan. Namun walau Dewi itu terlihat sangat sederhana sekali, kecantikan dan liuk tubuhnya yang lemah gemulai mungkin tak tersaingi oleh Dewi-Dewi yang ada di kahyangan.
‘Siapa itu? Beraninya mengintip aku yang sedang mandi? Dasar laki-laki kurang ajar!’, teriak sang gadis sambil mukanya merah dan bersemu dadu, melihat ada yang melihatnya tatkala sedang mandi di telaga itu. Memang sebenarnya ia lah yang salah karena teriknya panas matahari sehabis bepergian ke Lo Yang ke tempat pamannya, tanpa meneliti di sekitarnya terlebih dahulu, dia lantas mandi begitu saja.
‘Maaf nona, aku tak sengaja. Aku tak bermaksud mengintip. Aku.. Aku..’, mulut Pat Kay tak dapat mengeluarkan suara, tenggorokannya seperti tercekik, mungkin karena kaget dan malu. Pemuda itu lalu meminta maaf sambil menyoja kea rah nona itu.
Tapi hati wanita memang susah ditebak, melihat sikap pemuda itu yang sopan dan tidak cengengesan, dia pun langsung memaafkannya, walau demikian air mata yang bercucuran pun tak pelak jatuh ke pipinya.
‘Jangan menangis nona, wajahmu jadi jelek sekali. Aku Ciu Pat Kay, jadi bingung melihat kamu menangis. Katakana pa yang harus kulakukan untuk menebus dosaku..’, demikian Pat Kay bertanya pada nona yang cantik tersebut. Dia berpikir bahwa gadis itu adalah seorang Dewi yang sedang menyamar menjadi manusia. Sebetulnya dia dapat saja lari terbang ke angkasa, namun hatinya yang paling dalam menolak dan ingin tetap berada di tempat tersebut.
‘Dengarlah.. Aku adalah seorang gadis. Segala kehormatanku telah kau lihat semuanya. Hanya kematian yang bisa menghapuskan aib yang kualami..’, kata gadis tersebut sambil menangis terisak-isak.
‘Jangan begitu nona. Kehidupan adalah suci, kau tak dapat melakukan itu. Biarlah kita cari jalan keluarnya..’, ucap Pat Kay membujuk.
‘Cara satu-satunya adalah.. Cara satu-satunya adalah kita harus menghadap ke orang tuaku bersama-sama’, kata gadis itu meragu.
‘Baiklah kalau itu satu-satunya cara, aku akan menurut. Tapi siapakah namamu? Dari tadi kita berbicara tapi kau tak pernah menyebutkan nama..’, Pat Kay pun berkata sambil tersenyum. Mungkin senyum bahagia.
‘Namaku Sui Lian, aku she Tio. Tapi aku adalah anak orang miskin Pat Kay Koko. Ayahku hanya penjual tahu dan ibuku telah lama meninggal dunia. Kita tidak sederajat Pat Kay Koko, apakah kamu tidak menyesal punya isteri miskin seperti aku..’, kata Sui Lian dengan wajah yang sangat murung.
‘Aa.. Apa.. Ti.. Tidak mengapa. Bagiku status kaya dan miskin tidak menjadi persoalan. A.. Aku.. Aku…’, jawab Pat Kay terbata-bata. Betapa tidak? Gadis yang dia kira adalah seorang Dewi kahyangan seperti halnya dirinya ternyata adalah seorang manusia! Bagaimana ini? Ini jelas menyalahi kehendak langit.
‘Ada apa Pat Kay Koko? Apakah kau menyesal? Katakan padaku Koko..’, Sui Lian pun berusaha mendesak apa yang sedang dipikirkan kekasihnya.
‘Bukan begitu Lian Moy.. Pernikahan adalah urusan besar . Katanya lahir sekali, menikah sekali dan matipun sekali. Karena itulah aku harus mengabarkan berita baik ini kepada orang tuaku. Apakah kau tak keberatan..?’, bisik Pat Kay kepada kekasihnya, walaupun ia sebenarnya bingung sekali terhadap permasalahan yang dihadapinya.
‘Kenapa aku harus marah Koko? Itu adalah justru yang harus kau lakukan. Jangan sampai nanti kamu kamu dicap putauw (durhaka) oleh orang tuamu sendiri’, kata Sui Lian dengan lembut penuh pengertian.
‘Bagaimana aku harus menyakiti perasaan gadis ini? Walaupun dia ternyata bukan seorang Dewi seperti yang aku perkirakan, namun kecantikannya, kelembutan hatinya, dan perangainya yang mempesona telah membuatku jatuh cinta. Jadi bagaimana aku bisa menyakitinya? Aduh bagaimana ini.. Sudah menjadi nasib bahwa Dewa tak bisa bersatu dengan manusia. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku ini..?’, Pat Kay membatin.
Kalau begitu, begini saja Moymoy. Tunggulah aku di telaga Kun Lun san ini pada tanggal 15 bulan purnama mendatang. Aku pasti datang. Aku pasti datang Moymoy. Tunggulah aku..’. Dan ciuman lembut nan mesra pun mendarat di pipi Sui Lian.
Sui Lian pun memejamkan matanya seakan tak ingin ciuman itu berakhir, karena ciuman itu adalah kebahagiaan. Ketika matanya terbuka, Pat Kay kekasihnya sudah menghilang lenyap bagaikan angin yang menuruni lereng Kun Lun San.
ooooooooooooooooo
Pemuda itu tersadar dari lamunannya. Di telaga nan jernih itu matanya menatap nanar. Kisah cintanya yang indah selalu terbayang di matanya. Dia masih ingat besok adalah tempo dimana dia akan bertemu dengan Sui Lian kekasihnya. Walaupun para Dewa geger, marah dan kahyangan telah gempar akibat perbuatannya, dia tetap tak peduli. Hidup bersama Sui Lian sang kekasih tercintanya adalah impian hidupnya. Dia tak ingin ada yang mengekang, membelenggu dan menjajah kemerdekaan jiwanya. Dia ingin seperti kuda putih yang lari bebas kemana dia suka. Maharaja Langit, Dewa Kwan Im, Dewa Erlang dan Dewa-Dewa kahyangan lainnya pun menggelar konferensi darurat membahas perihal Pat kay yang dianggap tidak lazim di kalangan Dewa. Namun Pat kay tetaplah Pat Kay. Sehebat apapun rintangan dan tantangan yang akan dihadapinya, ia tetap bersikukuh dengan keinginannya.
Sebentar lagi sang kekasihnya datang! Itulah yang dia harapkan saat ini. Senyum bahagia pun segera menghiasi wajahnya. Hatinya dag dig dug tak keruan. Tapi entah kenapa cuaca hari itu tak seperti biasanya. Angin bertiup kencang aneh. Langit menjadi gelap dan hawa dingin pun menyeruak. Tapi tetap saja Pat kay tersenyum, senum kasmaran. Ia jatuh cinta!
Iseng Pat Kay melangkah menuju tepian telaga, dipandanginya air telaga yang bening itu.
‘A.. Apa.. Wajahku.. Wajahku.. Kenapa jadi begini.. Kenapa ini.. Apa.. Apa… Yang terjadi..’, Pat Kay pun kaget setengah mati memandang wajahnya yang berubah. Parasnya yang tampan berubah menjadi jelek bukan main. Hidungnya yang mancung menjadi besar dan menjorok ke depan. Telinganya telah berubah menjadi besar dan panjang dan terakhir dia tak bisa berkata sepatahpun kata.
‘Grhoook.. Grhok.. Grhk..’, suara dan wajahnya telah berubah seperti seekor babi. Terakhir ketika dia melihat perutnya, hampir saja dia pingsan, Perutnya telah berubah gendut besar bukan main!
Air mata pun menetes dari pipi Pat Kay ke bumi. Ketakutan-ketakutan pun muncul. Takut akan kehilangan kekasihnya.
‘Aaaaaaaaaaaaa... Aaaaaaaaaaa.. Langit tidak adil! Kenapa Dewa tidak bisa jatuh cinta dengan anak manusiaaaaaaaaaaaaaa!!’, diapun berteriak dengan keras sekali. Dia mengamuk habis-habisan.Pohon-pohon tumbang dibuatnya. Setelah lelah diapun mendeprok ke tanah. Rasa kecewa, sedih, marah pun menjadi satu. Yang dapat dilakukannya sekarang ini adalah menangis. Ya, menangis. Air mata, oh air mata..
Karena gundah dan bingung, Pat Kay pun berlari menuruni lereng bukit itu sambil meraung sedih. Sedih karena dia yakin bahwa Sui Lian tidak akan dapat menerima keadaannya sekarang ini. Dia lari sangat kencang sekali yang dalam beberapa waktu saja sudah tidak kelihatan.
Tapi Pat Kay tak tahu bahwa sedari awal sudah ada sosok dengan mata indah yang mengawasinya. Dari bibir yang indah itu terucap kata-kata :
‘Pat Kay Koko.. Walau apapun yang terjadi denganmu, aku tetap mencintaimu Koko.. Mencintaimu.. Selalu.. Kenapa kau pergi Koko.. Kenapa kau meragukan cintaku? Kenapa kau membatasi dan menghina cintaku dengan ukuran fisikmu Koko.. Kenapa kau pergi Koko.. Koko.. Tahukah kau.. Cintaku abadi..’, demikian gadis itu berbisik dengan air mata bercucuran. Tapi Pat kay tak pernah kembali.
Demak, Agustus 2002
Arif Menulis Cerpen : Cleopatra dan Cinta Si Gadis Desa 3.
Hatiku selembar daun...
DIGEROGOTI NASIB
Arif Rohman
‘Aku ingin jadi manusiaaa…!!’, begitu teriak Pat Kay dengan keras. Suara itu menggema diperbukitan Kun Lun San di Nanking. Dari nada yang terdengar terlihat bahwa orang itu sedang marah, kesal, sedih, putus asa yang menyatu. Tapi tetap saja tak ada yang mendengar. Mungkin semua orang sudah terlelap dengan mimpinya. Hanya suara jangkrik saja yang terdengar bersahutan, seakan turut bersimpati dengan kesedihan yang dialami oleh pemuda itu.
Sejenak pemuda itu termenung memandang air telaga yang kehijauan dikelilingi dedaunan yang rimbun. Sayup-sayup terdengar gemersik dedaunan yang ditiup oleh angina malam yang melintas tanpa permisi lebih dahulu.
‘Salahkah aku mencintai seorang gadis? Salahkah aku menyukai seorang wanita? Apakah status sosial harus membedakan dan menghancurkan kisah cinta antara Dewa dan anak manusia? Apakah langit begitu kejamnya hingga memberikan peraturan yang saklek dan tak dapat ditawar lagi?’, Pat Kay membatin dengan perasaan tak menentu.
Sekali lagi benak pemuda itu melayang entah kemana. Di telaga itulah pertama kali dia turun ke bumi. Di telaga Kun Lun San itulah cinta Pat kay bersemi. Betapa tidak? Beberapa waktu yang lalu dia tanpa sengaja melihat seorang Dewi telah mandi di telaga yang segar tersebut. Namun anehnya, sang Dewi berpakaian sederhana tak seperti kebanyakan gadis yang lain. Gemercik air telaga dan keelokan paras sang Dewi telah membuat hatinya bergelora, darahnya menjadi panas tak tertahankan. Namun walau Dewi itu terlihat sangat sederhana sekali, kecantikan dan liuk tubuhnya yang lemah gemulai mungkin tak tersaingi oleh Dewi-Dewi yang ada di kahyangan.
‘Siapa itu? Beraninya mengintip aku yang sedang mandi? Dasar laki-laki kurang ajar!’, teriak sang gadis sambil mukanya merah dan bersemu dadu, melihat ada yang melihatnya tatkala sedang mandi di telaga itu. Memang sebenarnya ia lah yang salah karena teriknya panas matahari sehabis bepergian ke Lo Yang ke tempat pamannya, tanpa meneliti di sekitarnya terlebih dahulu, dia lantas mandi begitu saja.
‘Maaf nona, aku tak sengaja. Aku tak bermaksud mengintip. Aku.. Aku..’, mulut Pat Kay tak dapat mengeluarkan suara, tenggorokannya seperti tercekik, mungkin karena kaget dan malu. Pemuda itu lalu meminta maaf sambil menyoja kea rah nona itu.
Tapi hati wanita memang susah ditebak, melihat sikap pemuda itu yang sopan dan tidak cengengesan, dia pun langsung memaafkannya, walau demikian air mata yang bercucuran pun tak pelak jatuh ke pipinya.
‘Jangan menangis nona, wajahmu jadi jelek sekali. Aku Ciu Pat Kay, jadi bingung melihat kamu menangis. Katakana pa yang harus kulakukan untuk menebus dosaku..’, demikian Pat Kay bertanya pada nona yang cantik tersebut. Dia berpikir bahwa gadis itu adalah seorang Dewi yang sedang menyamar menjadi manusia. Sebetulnya dia dapat saja lari terbang ke angkasa, namun hatinya yang paling dalam menolak dan ingin tetap berada di tempat tersebut.
‘Dengarlah.. Aku adalah seorang gadis. Segala kehormatanku telah kau lihat semuanya. Hanya kematian yang bisa menghapuskan aib yang kualami..’, kata gadis tersebut sambil menangis terisak-isak.
‘Jangan begitu nona. Kehidupan adalah suci, kau tak dapat melakukan itu. Biarlah kita cari jalan keluarnya..’, ucap Pat Kay membujuk.
‘Cara satu-satunya adalah.. Cara satu-satunya adalah kita harus menghadap ke orang tuaku bersama-sama’, kata gadis itu meragu.
‘Baiklah kalau itu satu-satunya cara, aku akan menurut. Tapi siapakah namamu? Dari tadi kita berbicara tapi kau tak pernah menyebutkan nama..’, Pat Kay pun berkata sambil tersenyum. Mungkin senyum bahagia.
‘Namaku Sui Lian, aku she Tio. Tapi aku adalah anak orang miskin Pat Kay Koko. Ayahku hanya penjual tahu dan ibuku telah lama meninggal dunia. Kita tidak sederajat Pat Kay Koko, apakah kamu tidak menyesal punya isteri miskin seperti aku..’, kata Sui Lian dengan wajah yang sangat murung.
‘Aa.. Apa.. Ti.. Tidak mengapa. Bagiku status kaya dan miskin tidak menjadi persoalan. A.. Aku.. Aku…’, jawab Pat Kay terbata-bata. Betapa tidak? Gadis yang dia kira adalah seorang Dewi kahyangan seperti halnya dirinya ternyata adalah seorang manusia! Bagaimana ini? Ini jelas menyalahi kehendak langit.
‘Ada apa Pat Kay Koko? Apakah kau menyesal? Katakan padaku Koko..’, Sui Lian pun berusaha mendesak apa yang sedang dipikirkan kekasihnya.
‘Bukan begitu Lian Moy.. Pernikahan adalah urusan besar . Katanya lahir sekali, menikah sekali dan matipun sekali. Karena itulah aku harus mengabarkan berita baik ini kepada orang tuaku. Apakah kau tak keberatan..?’, bisik Pat Kay kepada kekasihnya, walaupun ia sebenarnya bingung sekali terhadap permasalahan yang dihadapinya.
‘Kenapa aku harus marah Koko? Itu adalah justru yang harus kau lakukan. Jangan sampai nanti kamu kamu dicap putauw (durhaka) oleh orang tuamu sendiri’, kata Sui Lian dengan lembut penuh pengertian.
‘Bagaimana aku harus menyakiti perasaan gadis ini? Walaupun dia ternyata bukan seorang Dewi seperti yang aku perkirakan, namun kecantikannya, kelembutan hatinya, dan perangainya yang mempesona telah membuatku jatuh cinta. Jadi bagaimana aku bisa menyakitinya? Aduh bagaimana ini.. Sudah menjadi nasib bahwa Dewa tak bisa bersatu dengan manusia. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku ini..?’, Pat Kay membatin.
Kalau begitu, begini saja Moymoy. Tunggulah aku di telaga Kun Lun san ini pada tanggal 15 bulan purnama mendatang. Aku pasti datang. Aku pasti datang Moymoy. Tunggulah aku..’. Dan ciuman lembut nan mesra pun mendarat di pipi Sui Lian.
Sui Lian pun memejamkan matanya seakan tak ingin ciuman itu berakhir, karena ciuman itu adalah kebahagiaan. Ketika matanya terbuka, Pat Kay kekasihnya sudah menghilang lenyap bagaikan angin yang menuruni lereng Kun Lun San.
ooooooooooooooooo
Pemuda itu tersadar dari lamunannya. Di telaga nan jernih itu matanya menatap nanar. Kisah cintanya yang indah selalu terbayang di matanya. Dia masih ingat besok adalah tempo dimana dia akan bertemu dengan Sui Lian kekasihnya. Walaupun para Dewa geger, marah dan kahyangan telah gempar akibat perbuatannya, dia tetap tak peduli. Hidup bersama Sui Lian sang kekasih tercintanya adalah impian hidupnya. Dia tak ingin ada yang mengekang, membelenggu dan menjajah kemerdekaan jiwanya. Dia ingin seperti kuda putih yang lari bebas kemana dia suka. Maharaja Langit, Dewa Kwan Im, Dewa Erlang dan Dewa-Dewa kahyangan lainnya pun menggelar konferensi darurat membahas perihal Pat kay yang dianggap tidak lazim di kalangan Dewa. Namun Pat kay tetaplah Pat Kay. Sehebat apapun rintangan dan tantangan yang akan dihadapinya, ia tetap bersikukuh dengan keinginannya.
Sebentar lagi sang kekasihnya datang! Itulah yang dia harapkan saat ini. Senyum bahagia pun segera menghiasi wajahnya. Hatinya dag dig dug tak keruan. Tapi entah kenapa cuaca hari itu tak seperti biasanya. Angin bertiup kencang aneh. Langit menjadi gelap dan hawa dingin pun menyeruak. Tapi tetap saja Pat kay tersenyum, senum kasmaran. Ia jatuh cinta!
Iseng Pat Kay melangkah menuju tepian telaga, dipandanginya air telaga yang bening itu.
‘A.. Apa.. Wajahku.. Wajahku.. Kenapa jadi begini.. Kenapa ini.. Apa.. Apa… Yang terjadi..’, Pat Kay pun kaget setengah mati memandang wajahnya yang berubah. Parasnya yang tampan berubah menjadi jelek bukan main. Hidungnya yang mancung menjadi besar dan menjorok ke depan. Telinganya telah berubah menjadi besar dan panjang dan terakhir dia tak bisa berkata sepatahpun kata.
‘Grhoook.. Grhok.. Grhk..’, suara dan wajahnya telah berubah seperti seekor babi. Terakhir ketika dia melihat perutnya, hampir saja dia pingsan, Perutnya telah berubah gendut besar bukan main!
Air mata pun menetes dari pipi Pat Kay ke bumi. Ketakutan-ketakutan pun muncul. Takut akan kehilangan kekasihnya.
‘Aaaaaaaaaaaaa... Aaaaaaaaaaa.. Langit tidak adil! Kenapa Dewa tidak bisa jatuh cinta dengan anak manusiaaaaaaaaaaaaaa!!’, diapun berteriak dengan keras sekali. Dia mengamuk habis-habisan.Pohon-pohon tumbang dibuatnya. Setelah lelah diapun mendeprok ke tanah. Rasa kecewa, sedih, marah pun menjadi satu. Yang dapat dilakukannya sekarang ini adalah menangis. Ya, menangis. Air mata, oh air mata..
Karena gundah dan bingung, Pat Kay pun berlari menuruni lereng bukit itu sambil meraung sedih. Sedih karena dia yakin bahwa Sui Lian tidak akan dapat menerima keadaannya sekarang ini. Dia lari sangat kencang sekali yang dalam beberapa waktu saja sudah tidak kelihatan.
Tapi Pat Kay tak tahu bahwa sedari awal sudah ada sosok dengan mata indah yang mengawasinya. Dari bibir yang indah itu terucap kata-kata :
‘Pat Kay Koko.. Walau apapun yang terjadi denganmu, aku tetap mencintaimu Koko.. Mencintaimu.. Selalu.. Kenapa kau pergi Koko.. Kenapa kau meragukan cintaku? Kenapa kau membatasi dan menghina cintaku dengan ukuran fisikmu Koko.. Kenapa kau pergi Koko.. Koko.. Tahukah kau.. Cintaku abadi..’, demikian gadis itu berbisik dengan air mata bercucuran. Tapi Pat kay tak pernah kembali.
Demak, Agustus 2002
Arif Menulis Cerpen : Cleopatra dan Cinta Si Gadis Desa 3.
Hatiku selembar daun...
CINTAKU DI MOSKOW
CINTAKU DI MOSKOW
Arif Rohman
Hari ini aku senang bukan main. Permohonan cutiku dikabulkan oleh perusahaan. Itu berarti keinginanku untuk berlibur ke Rusia akan terlaksana. Sudah beberapa tahun ini aku bekerja dan bekerja tanpa mengenal lelah. Sampai-sampai aku tak berlibur selama tiga tahun. Karena itulah aku memutuskan cuti selama sepuluh hari. Dan tidak main-main, aku berencana pergi ke Rusia. Apa karena tempatnya yang cocok untuk main sky atau memang aku sangat tertarik dengan Marxism, Lenin maupun Stalin, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku akan segera meninggalkan Jakarta yang penuh polusi, macet dan pekerjaan yang menumpuk. Kalau diteruskan lagi bisa stress aku! Aku berencana seminggu di sana. Santai dan menikmati liburan. Maklum masih bujang, jadi yang dicari hanya pengalaman dan hiburan.
Moskow, Hari Pertama
Dari bandara, aku langsung diantar ke sebuah hotel berbintang lima yang terlihat mewah sekali. Tapi bagiku hal itu sudah bukan hal yang luar biasa. Sebagai ahli dalam bidang arsitektur jebolan institut di Jerman, gajiku lebih dari cukup untuk tidur setiap hari di hotel seperti ini.
Sesampai di kamar, kurebahkan tubuhku yang lumayan penat. Tapi ternyata mata tak bisa terpejam. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan-jalan di taman Gorky Park yang terletak di pusat kota. Moskow memang kota yang tertib dan rapi, mungkin karena penegakan hukum yang benar-benar menuntut kedisiplinan dari aparat penegak hukumnya sendiri.
Udara di Moskow memang dingin. Maklum saat itu musim salju. Ketika angin menerpa, kurapatkan syal yang ada di leherku dan mantel tebalku. Agak sepi memang, tapi bagiku itulah yang kuharapkan. Di sini aku bisa melakukan perenungan-perenungan terhadap apa yang telah kulakukan selama ini, terutama sejak aku lulus dari Jerman.
‘Hmm.. Cuacanya sepertinya cocok untuk main sky’, kataku kepada seorang receptionist yang rada sedikit cantik.
‘Iya sir.. Tapi tempat yang cocok untuk main sky adalah di daerah Gorky. Sekitar satu jam dari sini. Di pinggiran kota Moskow..’, jawab receptionist itu dengan senyum manis yang terlalu dipaksakan. Formalitas! Tapi kuakui pelayanan untuk turis di Moskow memang memuaskan. Ramah dan profesional kupikir.
‘Oh ya nona.. Terima kasih. Mungkin besok pagi saja aku berangkat’, kataku sambil melangkah menuju kamarku.
‘Maaf sir.. Tadi ada telepon dari Jakarta menanyakan anda’, katanya kemudian.
‘Terima kasih nona, tapi aku tak mau diganggu oleh siapapun selama liburanku OK?!’, kataku kepada wanita itu dengan sedikit agak kesal.
Wanita itu hanya manggut-manggut saja, tapi sepertinya dia tahu maksudku yang seperti kebanyakan turis-turis lainnya yang tak mau diganggu dengan urusan pekerjaan.
Di kamar aku segera mandi air hangat dan segera tidur . Besok aku akan main sky di Gorkiy. Semoga akan menyenangkan karena cuacanya sedang baik.
Gorkiy, Hari Kedua
Setelah satu jam naik bus, aku telah sampai di Gorkiy. Di situ ada sebuah tempat yang menyewakan peralatan sky.
‘Cuaca bagus ha?!’, kataku kepada lelaki brewokan yang punya tempat sewa.
‘Benar, bahkan sangat bagus. Sayang dalam beberapa waktu ini jarang yang datang untuk main ke sini..’, katanya sambil mengambilkan beberapa alat yang sudah dipajang sebelumnya.
‘Terima kasih..’, kataku kepada lelaki itu.
Banyak orang yang menanyakan kepadaku, kenapa aku suka sky. Mereka tak tahu bahwa ketika kita meluncur ke bawah, perasaan kita seperti terbang. Lepas bagai seekor burung. Merdeka tanpa kekangan dan belenggu.
Semua sudah siap. Aku akan segera meluncur. Tapi tiba-tiba mataku melihat seorang gadis dengan mantel merah sudah meluncur dengan asyiknya. Wajahnya memang tak kelihatan. Tapi rambutnya yang panjang riap-riapan terlihat sangat anggun sekali.
Seakan ada kekuatan yang menggerakkan, aku segera meluncur mengikutinya. Dan aku pun berhasil mengikutinya. Di bawah, dia berhenti dan memperlihatkan wajahnya.
‘Wow cantik sekali..’, desisku. Sesaat aku tertegun memandangi wajah yang cantik itu. Wajah khas Eropa. Hatiku langsung dag dig dug tak keruan.
‘Hi.. Main sky?’, katanya padaku. Senyum manis pun merekah dari bibirnya yang aduhai.
‘I.. Iya. Perkenalkan namaku Andre. Bolehkah saya tahu namamu?’, kataku membuka salam perkenalan.
‘Namaku Stephanie. Kamu boleh memanggilku Tiffanie..’, jawabnya.
‘Ups.. Nama yang indah. Kenapa main sendirian?’, tanyaku asal, mengingat tak ada topik yang terlintas di benakku.
‘Aku lagi pusing.. Biasanya kalau ada masalah, aku main sky sendirian. Ya sendirian..’, katanya sambil menampakkan mimik yang kurang bahagia.
‘Maaf membuatmu bersedih. Jika tak keberatan, aku akan menemanimu main sky’, kataku menawarkan diri walau sebenarnya aku tak yakin akan diluluskan.
‘OK. Teman kadang datang disaat yang dib utuhkan’, katanya dengan nada yang penuh keceriaan.
Sebuah awal yang baik. Taffanie orangnya ramah, cantik dan seksi. Baju merah yang dipakainya, demikian serasi dengan potongan tubuhnya yang indah. Sehabis main sky, kamu pun ngobrol berdua dengan asyiknya. Tiffanie berasal dari Krasnoyarks. Dia kemudia ikut orang tuanya ke Moskow. Sekarang dia sedih karena habis putus cinta dengan pacarnya. Tragis memang, gadis secantik dia diduakan oleh pemuda yang goblok menurutku. Tak tahu bahwa Tiffanie orangnya cantik. Bahkan dalam hidupku baru kali ini kutemukan. Face-nya yang ala Eropa dengan rambut keemasan dan hidung mancung serta bola mata yang biru indah membuat kecantikannya nyaris sempurna.
Waktu memang sulit ditebak, pertemuan yang secara kebetulan itu membuat kami cepat akrab. Karena waktu yang sudah mulai senja, kami memutuskan untuk kembali ke Moskow. Dan hatiku pun semakin berbunga-bunga manakala dia menawarkan diri menjadi guide berkeliling Moskow. Amboi, senang nian hati ambo!
Di hotel aku tak bisa memejamkan mata barang sedikitpun. Bayang-bayang Taffanie selalu menghantuiku. Kadang aku senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Tapi tak masalah, yang penting aku bahagia, titik.
Belomorsk, Hari Ketiga
Belomorsk adalah kota yang indah di utara Rusia. Di situ ada sebuah danau yang bernama Danau Oneya. Danau yang jernih dan masih alami itu memang agak sedikit tertutup salju. Namun ada juga angsa-angsa yang berenang dengan senangnya. Hatikupun merasa bahagia. Apa lagi ketika Tiffanie menggandeng tanganku mengelilingi pinggir danau. Hatiku berdetak keras. Baru kali ini aku digandeng seorang gadis cantik, sarjana soiologi lagi. Ahh.. Semoga jangan cepat berakhir..
Karena terlalu terburu-buru, Tiffanie pun terpeleset jatuh. Namun aku dengan sigap menangkap dan memeluk tubuhnya. Bau wangi menyeruak menusuk hidungku. Wangi yang tak akan terlupa dalam hidupku.
Entah setan apa, yang merasuki kami berdua. Bibir kami segera bertemu dan kecupan lembut Tiffanie pun mendarat di bibirku. Aku seperti terpagut ular. Aku segera menarik tubuhku.
‘Maaf.. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Kita baru saja berkenalan. Jadi.. Jadi..’, kataku terbata-bata.
‘It’s OK. Harusnya aku yang meminta maaf. Aku suka kamu. Kamu elegan..’, katanya dengan raut muka serius.
Aku tak menjawab, hanya sedikit mengangguk. Takut merusak suasana. Dan ketika sambil berjalan dia menggelitik pinggangku, aku pun jadi tertawa. Suasana pun kembali mencair. Kami pun makan di sebuah restoran di pinggir Danau Oneya. Suasana sungguh romantis sekali. Lagu-lagu lembut dari Queen seakan mengilhami kami untuk berpegangan tangan. Merangkul dan ciuman. Pelajaran bercinta yang sedang kujalani cepat kutangkap. Aku pun sudah terbiasa dengan pelukan dan ciuman dari Tiffanie. Pengalaman yang aneh dan baru pertama kali dalam hidupku..
Swerdlowsk, Hari Keempat
Di sebelah timur Rusia, ada sungai yang indah, yang terkenal dengan sebutan sungai Irtisyi. Sungainya sangat indah dan kadang terlihat pecah menjadi anak-anak sungai. Kedekatanku dengan Tiffanie bagaikan batang sungai dengan anak sungai tak terlepaskan, mungkin oleh kekuatan apapun juga.
‘Andre.. Aku suka kamu. Do you have a girl friend?’, katanya terus terang padaku. Orang bule memang kalau berbicara suka blak-blakan.
‘No, I don’t..’, kataku sambil mengawasi mimik dari Tiffanie. Dan kulihat dia senang sekali. Kami pun berpelukan kembali. Sepertinya pelukan bukan hal yang tabu lagi bagiku. Aku kadang tak mengerti, apakah adat ketimuranku sudah terkikis atau tidak, aku tak peduli. Yang penting hidup matiku hanya untuk Tiffanie seorang.
‘Cuaca semakin dingin. Ini ambillah topi kelinciku sebagai hadiah..’, katanya lirih.
Aku diam tak bergerak. Di Jawa, ada mitos bahwa pemberian yang berupa kain atau sejenisnya dari seorang kekasih, maka umur percintaan itu tak kan lama. Tapi peduli setan! Tiffanie sudah menjadi milikku. Dan ini Eropa bung!
‘Terima kasih, my dearr..’, kataku sambil memeluk tubuhnya. Ahh.. Belahan hidupku, kekasih jiwaku, Tiffanie..
Izywsk, Hari Kelima
Pada hari kelima aku bersama Tiffanie ke pegunungan Ural di daerah Izywsk. Banyak pepohonan yang dilapisi salju sangat indah sekali seperti lukisan. Seakan-akan memberikan petunjuk bahwa aku tak akan terpisahkan dengan Tiffanie.
Malam itu di Hotel Izywsk, udara sangat dingin. Kami pun ngobrol di kamar Tiffanie. Saking asyiknya ngobrol tak terasa waktu sudah semakin larut malam. Ketika dingin menyeruak, suasana sepi, hanya iringan musik klasik Pavarotti mengalun pelan. Kulihat Tiffanie duduk di tempat tidur dengan santai. Terlihat pahanya mulus indah. Lekuk tubuhnya membuatku bergelora. Seperti ada kekuatan misterius aku pun diam terpaku. Dia lalu menghampiriku sambil berbisik :
‘Aku mencintaimu Andre. Aku tak bisa hidup tanpamu..’, katanya mendesah. Aku pun berusaha mengikuti geraknya. Dan musik Pavarotti pun terus mengalun sampai pagi.
Moskow, Hari Keenam
Cuaca di Moskow masih saja dingin. Tapi hatiku tidak. Hatiku hangat menggelora. Dengan Tiffanie di sampingku, aku tak takut pada apa pun. Di hotel aku rebah di kasur membayangkan hari-hari yang kulewati selama liburan. Nyaris sempurna tak ada cacatnya. Liburan ini telah menumbuhkan semangat hidup yang baru.
Tiba-tiba telepon berdering. Si gadis receptionist pun menyampaikan pesan.
‘Mr. Andre, teman anda Miss Tiffanie memberi pesan bahwa anda ditunggu malam ini di hotel Kazani, sebelah timur Taman Gorky. Cuma itu saja..’, katanya dan kemudian menutup gagang telepon dengan pelan.
Aku pun segera bersiap-siap. Kupakai bajuku yang terindah dan termahal. Cuma seperempat jam saja denga taxi aku sudah sampai ke sana. Dalam perjalanan aku senyum-senyum sendiri kayak orang gila.
Kulangkahkan kakiku ke lobby dan bertanya pada receptionist.
‘Miss Tiffanie.. Mm.. Maksudku Stephanie..’, kataku pelan.
‘Lantai 3 di ruang pertemuan..’, katanya singkat.
‘Thanks..’, kataku sambil menuju lift yang ada di sebelah kiri.
Aku agak sedikit heran. Kenapa dia menunggu di ruang pertemuan? Tapi tak tahulah, yang terpenting sekarang aku ketemu Tiffanie.
Ketika aku masuk ruangan, aku sedikit heran. Banyak makanan dan orang-orang yang berdansa. Ketika seseorang yang membawakan acara mengatkan bahwa ini perkawinan Tiffanie, aku tak percaya. Sungguh aku tak percaya. Kukira mungkin ini sebuah lelucon. Tapi kemudian aku diam. Faktanya memang ini adalah pesta perkawinan. Dan Tiffanie memakai gaun putih dan bersanding dengan seorang pria Rusia.
Ketika Tiffanie menghampiriku, seribu pertanyaan siap kuluncurkan. Tapi melihat wajahnya aku tak tega. Mulutku kelu.
‘Andre kau datang. Ini adalah upacara perkawinanku dengan Menhem kekasihku..’, katanya dengan ceria.
‘Tapi Tiffanie kemarin malam.. Kemarin malam, kita.. Kita..’, kataku setengah berbisik.
‘Ahh.. Lupakanlah. Itu hal yang biasa di Rusia’, katanya santai.
‘Tapi kemarin kau bilang kau mencintaiku..’, kataku merasa dibohongi.
‘Kemarin aku hanya suntuk saja. Sekarang tidak. Dan mengenai hotel Izywsk, tak masalah. Aku melakukannya karena suka. Itu saja. Jangan diingat lagi.. Carilah pasangan untuk berdansa’, katanya padaku.
Kata-kata itu seperti sebuah sembilu yang menusuk hatiku. Aku frustasi. Kuambil beberapa gelas minuman. Dan aku tak ingat apa pun. Ketika aku sadar, aku sudah ada di kamarku. Ingin mati rasanya.
Moskow, Hari Terakhir
Dengan lesu kukepaki barang-barangku. Aku kaget ketika melihat sebuah surat tergeletak di atas meja. Huhh.. Dari Tiffanie! Aku tak membaca surat itu. Surat itu langsung kumasukkan dalam jaketku. Bagiku Taffanie adalah mimpi buruk. Nightmare yang meremukkan hatiku.
Dalam pesawat menuju Jakarta, kucoba pahami arti dari semua ini. Maklum aku berasal dari teknik arsitektur. Yang selalu kuhadapi hanya kertas, gambar, disain, material dan rumus-rumus. Hidupku selalu berhubungan dengan benda mati, bukan dengan manusia. Itu salahnya. Bahkan celakanya di kala berhubungan dengan manusia, aku gagal. Ya, gagal. Kami orang teknik terus terang jarang tersenyum. tampang kami selalu serius. Prestisius selalu diukur dengan daya cipta mati-matian, yang kadang mengesampingkan hubungan dengan manusia yang lain.
Setelah aku sadar akan semua ini, tanpa kusadari aku melayangkan senyum untuk pertama kali kepada seorang anak kecil di samping kiriku. Senyumanku tulus. Dan dia membalas senyuman itu! Entah kenapa hatiku menjadi bahagia.
Pada waktu akan mendarat, rasa ingin tahuku akan surat dari Tiffanie memaksa aku untuk mengambil surat itu dan membacanya,
Dear Andre,
Setelah menerima surat ini pergilah ke Zlatousi. Kutunggu kau di sana. Aku telah lari dari perkawinan paksaan orang tua ku. Jika kau tak datang, aku akan pergi. Aku takut kembali ke Moskow. Kutunggu sampai jam 10.00. Aku mencintaimu. Semoga kau datang.
Kekasihmu,
Tiffanie.
Aku tak percaya ini semua. Kupelototi jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 21.00. Kemana harus kucari Tiffanie? Rusia begitu luas! Ahh.. Kenapa ini? Satu pelajaran lagi yang kuperoleh dari Tiffanie, jangan pernah takut menghadapi kenyataan! Aku sadar akan hal itu. Jika saja kubuka surat itu pada waktu aku akan berangkat.. Dan ketika pesawat tiba di Jakarta, aku hanya bisa tertawa. Getir.
Demak, Agustus 2002
Arif Menulis Cerpen : Cleopatra dan Cinta Si Gadis Desa 4.
Hatiku selembar daun...
Arif Rohman
Hari ini aku senang bukan main. Permohonan cutiku dikabulkan oleh perusahaan. Itu berarti keinginanku untuk berlibur ke Rusia akan terlaksana. Sudah beberapa tahun ini aku bekerja dan bekerja tanpa mengenal lelah. Sampai-sampai aku tak berlibur selama tiga tahun. Karena itulah aku memutuskan cuti selama sepuluh hari. Dan tidak main-main, aku berencana pergi ke Rusia. Apa karena tempatnya yang cocok untuk main sky atau memang aku sangat tertarik dengan Marxism, Lenin maupun Stalin, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku akan segera meninggalkan Jakarta yang penuh polusi, macet dan pekerjaan yang menumpuk. Kalau diteruskan lagi bisa stress aku! Aku berencana seminggu di sana. Santai dan menikmati liburan. Maklum masih bujang, jadi yang dicari hanya pengalaman dan hiburan.
Moskow, Hari Pertama
Dari bandara, aku langsung diantar ke sebuah hotel berbintang lima yang terlihat mewah sekali. Tapi bagiku hal itu sudah bukan hal yang luar biasa. Sebagai ahli dalam bidang arsitektur jebolan institut di Jerman, gajiku lebih dari cukup untuk tidur setiap hari di hotel seperti ini.
Sesampai di kamar, kurebahkan tubuhku yang lumayan penat. Tapi ternyata mata tak bisa terpejam. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan-jalan di taman Gorky Park yang terletak di pusat kota. Moskow memang kota yang tertib dan rapi, mungkin karena penegakan hukum yang benar-benar menuntut kedisiplinan dari aparat penegak hukumnya sendiri.
Udara di Moskow memang dingin. Maklum saat itu musim salju. Ketika angin menerpa, kurapatkan syal yang ada di leherku dan mantel tebalku. Agak sepi memang, tapi bagiku itulah yang kuharapkan. Di sini aku bisa melakukan perenungan-perenungan terhadap apa yang telah kulakukan selama ini, terutama sejak aku lulus dari Jerman.
‘Hmm.. Cuacanya sepertinya cocok untuk main sky’, kataku kepada seorang receptionist yang rada sedikit cantik.
‘Iya sir.. Tapi tempat yang cocok untuk main sky adalah di daerah Gorky. Sekitar satu jam dari sini. Di pinggiran kota Moskow..’, jawab receptionist itu dengan senyum manis yang terlalu dipaksakan. Formalitas! Tapi kuakui pelayanan untuk turis di Moskow memang memuaskan. Ramah dan profesional kupikir.
‘Oh ya nona.. Terima kasih. Mungkin besok pagi saja aku berangkat’, kataku sambil melangkah menuju kamarku.
‘Maaf sir.. Tadi ada telepon dari Jakarta menanyakan anda’, katanya kemudian.
‘Terima kasih nona, tapi aku tak mau diganggu oleh siapapun selama liburanku OK?!’, kataku kepada wanita itu dengan sedikit agak kesal.
Wanita itu hanya manggut-manggut saja, tapi sepertinya dia tahu maksudku yang seperti kebanyakan turis-turis lainnya yang tak mau diganggu dengan urusan pekerjaan.
Di kamar aku segera mandi air hangat dan segera tidur . Besok aku akan main sky di Gorkiy. Semoga akan menyenangkan karena cuacanya sedang baik.
Gorkiy, Hari Kedua
Setelah satu jam naik bus, aku telah sampai di Gorkiy. Di situ ada sebuah tempat yang menyewakan peralatan sky.
‘Cuaca bagus ha?!’, kataku kepada lelaki brewokan yang punya tempat sewa.
‘Benar, bahkan sangat bagus. Sayang dalam beberapa waktu ini jarang yang datang untuk main ke sini..’, katanya sambil mengambilkan beberapa alat yang sudah dipajang sebelumnya.
‘Terima kasih..’, kataku kepada lelaki itu.
Banyak orang yang menanyakan kepadaku, kenapa aku suka sky. Mereka tak tahu bahwa ketika kita meluncur ke bawah, perasaan kita seperti terbang. Lepas bagai seekor burung. Merdeka tanpa kekangan dan belenggu.
Semua sudah siap. Aku akan segera meluncur. Tapi tiba-tiba mataku melihat seorang gadis dengan mantel merah sudah meluncur dengan asyiknya. Wajahnya memang tak kelihatan. Tapi rambutnya yang panjang riap-riapan terlihat sangat anggun sekali.
Seakan ada kekuatan yang menggerakkan, aku segera meluncur mengikutinya. Dan aku pun berhasil mengikutinya. Di bawah, dia berhenti dan memperlihatkan wajahnya.
‘Wow cantik sekali..’, desisku. Sesaat aku tertegun memandangi wajah yang cantik itu. Wajah khas Eropa. Hatiku langsung dag dig dug tak keruan.
‘Hi.. Main sky?’, katanya padaku. Senyum manis pun merekah dari bibirnya yang aduhai.
‘I.. Iya. Perkenalkan namaku Andre. Bolehkah saya tahu namamu?’, kataku membuka salam perkenalan.
‘Namaku Stephanie. Kamu boleh memanggilku Tiffanie..’, jawabnya.
‘Ups.. Nama yang indah. Kenapa main sendirian?’, tanyaku asal, mengingat tak ada topik yang terlintas di benakku.
‘Aku lagi pusing.. Biasanya kalau ada masalah, aku main sky sendirian. Ya sendirian..’, katanya sambil menampakkan mimik yang kurang bahagia.
‘Maaf membuatmu bersedih. Jika tak keberatan, aku akan menemanimu main sky’, kataku menawarkan diri walau sebenarnya aku tak yakin akan diluluskan.
‘OK. Teman kadang datang disaat yang dib utuhkan’, katanya dengan nada yang penuh keceriaan.
Sebuah awal yang baik. Taffanie orangnya ramah, cantik dan seksi. Baju merah yang dipakainya, demikian serasi dengan potongan tubuhnya yang indah. Sehabis main sky, kamu pun ngobrol berdua dengan asyiknya. Tiffanie berasal dari Krasnoyarks. Dia kemudia ikut orang tuanya ke Moskow. Sekarang dia sedih karena habis putus cinta dengan pacarnya. Tragis memang, gadis secantik dia diduakan oleh pemuda yang goblok menurutku. Tak tahu bahwa Tiffanie orangnya cantik. Bahkan dalam hidupku baru kali ini kutemukan. Face-nya yang ala Eropa dengan rambut keemasan dan hidung mancung serta bola mata yang biru indah membuat kecantikannya nyaris sempurna.
Waktu memang sulit ditebak, pertemuan yang secara kebetulan itu membuat kami cepat akrab. Karena waktu yang sudah mulai senja, kami memutuskan untuk kembali ke Moskow. Dan hatiku pun semakin berbunga-bunga manakala dia menawarkan diri menjadi guide berkeliling Moskow. Amboi, senang nian hati ambo!
Di hotel aku tak bisa memejamkan mata barang sedikitpun. Bayang-bayang Taffanie selalu menghantuiku. Kadang aku senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Tapi tak masalah, yang penting aku bahagia, titik.
Belomorsk, Hari Ketiga
Belomorsk adalah kota yang indah di utara Rusia. Di situ ada sebuah danau yang bernama Danau Oneya. Danau yang jernih dan masih alami itu memang agak sedikit tertutup salju. Namun ada juga angsa-angsa yang berenang dengan senangnya. Hatikupun merasa bahagia. Apa lagi ketika Tiffanie menggandeng tanganku mengelilingi pinggir danau. Hatiku berdetak keras. Baru kali ini aku digandeng seorang gadis cantik, sarjana soiologi lagi. Ahh.. Semoga jangan cepat berakhir..
Karena terlalu terburu-buru, Tiffanie pun terpeleset jatuh. Namun aku dengan sigap menangkap dan memeluk tubuhnya. Bau wangi menyeruak menusuk hidungku. Wangi yang tak akan terlupa dalam hidupku.
Entah setan apa, yang merasuki kami berdua. Bibir kami segera bertemu dan kecupan lembut Tiffanie pun mendarat di bibirku. Aku seperti terpagut ular. Aku segera menarik tubuhku.
‘Maaf.. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Kita baru saja berkenalan. Jadi.. Jadi..’, kataku terbata-bata.
‘It’s OK. Harusnya aku yang meminta maaf. Aku suka kamu. Kamu elegan..’, katanya dengan raut muka serius.
Aku tak menjawab, hanya sedikit mengangguk. Takut merusak suasana. Dan ketika sambil berjalan dia menggelitik pinggangku, aku pun jadi tertawa. Suasana pun kembali mencair. Kami pun makan di sebuah restoran di pinggir Danau Oneya. Suasana sungguh romantis sekali. Lagu-lagu lembut dari Queen seakan mengilhami kami untuk berpegangan tangan. Merangkul dan ciuman. Pelajaran bercinta yang sedang kujalani cepat kutangkap. Aku pun sudah terbiasa dengan pelukan dan ciuman dari Tiffanie. Pengalaman yang aneh dan baru pertama kali dalam hidupku..
Swerdlowsk, Hari Keempat
Di sebelah timur Rusia, ada sungai yang indah, yang terkenal dengan sebutan sungai Irtisyi. Sungainya sangat indah dan kadang terlihat pecah menjadi anak-anak sungai. Kedekatanku dengan Tiffanie bagaikan batang sungai dengan anak sungai tak terlepaskan, mungkin oleh kekuatan apapun juga.
‘Andre.. Aku suka kamu. Do you have a girl friend?’, katanya terus terang padaku. Orang bule memang kalau berbicara suka blak-blakan.
‘No, I don’t..’, kataku sambil mengawasi mimik dari Tiffanie. Dan kulihat dia senang sekali. Kami pun berpelukan kembali. Sepertinya pelukan bukan hal yang tabu lagi bagiku. Aku kadang tak mengerti, apakah adat ketimuranku sudah terkikis atau tidak, aku tak peduli. Yang penting hidup matiku hanya untuk Tiffanie seorang.
‘Cuaca semakin dingin. Ini ambillah topi kelinciku sebagai hadiah..’, katanya lirih.
Aku diam tak bergerak. Di Jawa, ada mitos bahwa pemberian yang berupa kain atau sejenisnya dari seorang kekasih, maka umur percintaan itu tak kan lama. Tapi peduli setan! Tiffanie sudah menjadi milikku. Dan ini Eropa bung!
‘Terima kasih, my dearr..’, kataku sambil memeluk tubuhnya. Ahh.. Belahan hidupku, kekasih jiwaku, Tiffanie..
Izywsk, Hari Kelima
Pada hari kelima aku bersama Tiffanie ke pegunungan Ural di daerah Izywsk. Banyak pepohonan yang dilapisi salju sangat indah sekali seperti lukisan. Seakan-akan memberikan petunjuk bahwa aku tak akan terpisahkan dengan Tiffanie.
Malam itu di Hotel Izywsk, udara sangat dingin. Kami pun ngobrol di kamar Tiffanie. Saking asyiknya ngobrol tak terasa waktu sudah semakin larut malam. Ketika dingin menyeruak, suasana sepi, hanya iringan musik klasik Pavarotti mengalun pelan. Kulihat Tiffanie duduk di tempat tidur dengan santai. Terlihat pahanya mulus indah. Lekuk tubuhnya membuatku bergelora. Seperti ada kekuatan misterius aku pun diam terpaku. Dia lalu menghampiriku sambil berbisik :
‘Aku mencintaimu Andre. Aku tak bisa hidup tanpamu..’, katanya mendesah. Aku pun berusaha mengikuti geraknya. Dan musik Pavarotti pun terus mengalun sampai pagi.
Moskow, Hari Keenam
Cuaca di Moskow masih saja dingin. Tapi hatiku tidak. Hatiku hangat menggelora. Dengan Tiffanie di sampingku, aku tak takut pada apa pun. Di hotel aku rebah di kasur membayangkan hari-hari yang kulewati selama liburan. Nyaris sempurna tak ada cacatnya. Liburan ini telah menumbuhkan semangat hidup yang baru.
Tiba-tiba telepon berdering. Si gadis receptionist pun menyampaikan pesan.
‘Mr. Andre, teman anda Miss Tiffanie memberi pesan bahwa anda ditunggu malam ini di hotel Kazani, sebelah timur Taman Gorky. Cuma itu saja..’, katanya dan kemudian menutup gagang telepon dengan pelan.
Aku pun segera bersiap-siap. Kupakai bajuku yang terindah dan termahal. Cuma seperempat jam saja denga taxi aku sudah sampai ke sana. Dalam perjalanan aku senyum-senyum sendiri kayak orang gila.
Kulangkahkan kakiku ke lobby dan bertanya pada receptionist.
‘Miss Tiffanie.. Mm.. Maksudku Stephanie..’, kataku pelan.
‘Lantai 3 di ruang pertemuan..’, katanya singkat.
‘Thanks..’, kataku sambil menuju lift yang ada di sebelah kiri.
Aku agak sedikit heran. Kenapa dia menunggu di ruang pertemuan? Tapi tak tahulah, yang terpenting sekarang aku ketemu Tiffanie.
Ketika aku masuk ruangan, aku sedikit heran. Banyak makanan dan orang-orang yang berdansa. Ketika seseorang yang membawakan acara mengatkan bahwa ini perkawinan Tiffanie, aku tak percaya. Sungguh aku tak percaya. Kukira mungkin ini sebuah lelucon. Tapi kemudian aku diam. Faktanya memang ini adalah pesta perkawinan. Dan Tiffanie memakai gaun putih dan bersanding dengan seorang pria Rusia.
Ketika Tiffanie menghampiriku, seribu pertanyaan siap kuluncurkan. Tapi melihat wajahnya aku tak tega. Mulutku kelu.
‘Andre kau datang. Ini adalah upacara perkawinanku dengan Menhem kekasihku..’, katanya dengan ceria.
‘Tapi Tiffanie kemarin malam.. Kemarin malam, kita.. Kita..’, kataku setengah berbisik.
‘Ahh.. Lupakanlah. Itu hal yang biasa di Rusia’, katanya santai.
‘Tapi kemarin kau bilang kau mencintaiku..’, kataku merasa dibohongi.
‘Kemarin aku hanya suntuk saja. Sekarang tidak. Dan mengenai hotel Izywsk, tak masalah. Aku melakukannya karena suka. Itu saja. Jangan diingat lagi.. Carilah pasangan untuk berdansa’, katanya padaku.
Kata-kata itu seperti sebuah sembilu yang menusuk hatiku. Aku frustasi. Kuambil beberapa gelas minuman. Dan aku tak ingat apa pun. Ketika aku sadar, aku sudah ada di kamarku. Ingin mati rasanya.
Moskow, Hari Terakhir
Dengan lesu kukepaki barang-barangku. Aku kaget ketika melihat sebuah surat tergeletak di atas meja. Huhh.. Dari Tiffanie! Aku tak membaca surat itu. Surat itu langsung kumasukkan dalam jaketku. Bagiku Taffanie adalah mimpi buruk. Nightmare yang meremukkan hatiku.
Dalam pesawat menuju Jakarta, kucoba pahami arti dari semua ini. Maklum aku berasal dari teknik arsitektur. Yang selalu kuhadapi hanya kertas, gambar, disain, material dan rumus-rumus. Hidupku selalu berhubungan dengan benda mati, bukan dengan manusia. Itu salahnya. Bahkan celakanya di kala berhubungan dengan manusia, aku gagal. Ya, gagal. Kami orang teknik terus terang jarang tersenyum. tampang kami selalu serius. Prestisius selalu diukur dengan daya cipta mati-matian, yang kadang mengesampingkan hubungan dengan manusia yang lain.
Setelah aku sadar akan semua ini, tanpa kusadari aku melayangkan senyum untuk pertama kali kepada seorang anak kecil di samping kiriku. Senyumanku tulus. Dan dia membalas senyuman itu! Entah kenapa hatiku menjadi bahagia.
Pada waktu akan mendarat, rasa ingin tahuku akan surat dari Tiffanie memaksa aku untuk mengambil surat itu dan membacanya,
Dear Andre,
Setelah menerima surat ini pergilah ke Zlatousi. Kutunggu kau di sana. Aku telah lari dari perkawinan paksaan orang tua ku. Jika kau tak datang, aku akan pergi. Aku takut kembali ke Moskow. Kutunggu sampai jam 10.00. Aku mencintaimu. Semoga kau datang.
Kekasihmu,
Tiffanie.
Aku tak percaya ini semua. Kupelototi jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 21.00. Kemana harus kucari Tiffanie? Rusia begitu luas! Ahh.. Kenapa ini? Satu pelajaran lagi yang kuperoleh dari Tiffanie, jangan pernah takut menghadapi kenyataan! Aku sadar akan hal itu. Jika saja kubuka surat itu pada waktu aku akan berangkat.. Dan ketika pesawat tiba di Jakarta, aku hanya bisa tertawa. Getir.
Demak, Agustus 2002
Arif Menulis Cerpen : Cleopatra dan Cinta Si Gadis Desa 4.
Hatiku selembar daun...
KISAH ANAK KECIL DAN POHON APEL
KISAH ANAK KECIL DAN POHON APEL
Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Hatiku selembar daun...
Si Pohon Apel Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali.. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua… Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Hatiku selembar daun...
PENDAKI GUNUNG DAN HARTA KARUN
PENDAKI GUNUNG DAN HARTA KARUN
Pada suatu hari, seorang climber (pendaki gunung) mengajak beberapa temannya untuk mendaki sebuah gunung yang tinggi sekali. Gunung itu menjulang megah, namun penuh dengan jurang-jurang yang terjal. Konon katanya, di puncak gunung itu ada harta karun yang tersembunyi selama berabad-abad lamanya. Jarang sekali orang dapat sampai ke sana. Kalau pun sampai, harta karun itu tetap tak pernah diketemukan. Gunung itu memang penuh dengan misteri.
Sebelum memulai perjalanan, sang pendaki gunung dan teman-temannya mempersiapkan segala perlengkapan pendakian. Mereka membawa air minum, makanan secukupnya, kompas, peta, parang, dan lain-lain. Pokoknya segala perlengkapan yang diperlukan dalam perjalanan yang jauh. Setelah berbagi tugas, mereka pun memulai perjalanan. Suasana dingin dan berkabut, ditambah pemandangan kiri-kanan yang mengerikan. Tampaklah jurang-jurang bebatuan yang terjal dan pemandangan ke bawah yang menciutkan hati. Untuk mendaki, mereka harus bekerjasama, saling mengulurkan tangan dan membantu, bergantian membawa tas teman yang kelelahan, dan sebagainya.
Namun ada seorang teman yang kecewa dengan jalan yang telah mereka tempuh. Dia menunjuk ke satu arah yang tampaknya lebih nyaman untuk dijalani. Semua temannya yang lain tidak setuju. Namun karena dia bersikeras, akhirnya dia memilih jalan lain tersebut. Teman-temannya tidak bisa berbuat lain kecuali merelakan dirinya. Untuk itu, dia harus menuruni jurang terjal dengan susah payah untuk mencapai perbukitan kecil yang berada di seberang. Sementara dia menuju ke lembah, sang pendaki gunung bersama teman-temannya yang lain sudah meninggalkannya jauh di depan.
Sang climber dan teman-temannya terus berjalan. Kendati sulit, mereka saling membantu satu sama lain. Temannya yang berada di depan bertugas sebagai perintis jalan, yang berada di tengah sebagai pembuang sampah, dan yang berada di belakang mulai menandai pepohonan sebagai penunjuk jalan bila mereka sesat. Yang lain lagi bertugas sebagai penghibur lewat ceritanya yang lucu mau pun nyanyiannya yang menyenangkan hati.
Akhirnya, mereka pun sampai di puncak yang menjadi tujuan perjalanan mereka. Kendati lelah, mereka berbahagia karena telah dapat menaklukkan gunung misteri itu. Bagi mereka, harta karun misterius itu tidak berarti apa-apa lagi. Mereka telah menemukan bahwa harta karun yang mereka cari selama ini sesungguhnya ada di antara mereka sendiri. Harta karun itu adalah: semangat persaudaraan yang kokoh di antara mereka.
Hatiku selembar daun...
Pada suatu hari, seorang climber (pendaki gunung) mengajak beberapa temannya untuk mendaki sebuah gunung yang tinggi sekali. Gunung itu menjulang megah, namun penuh dengan jurang-jurang yang terjal. Konon katanya, di puncak gunung itu ada harta karun yang tersembunyi selama berabad-abad lamanya. Jarang sekali orang dapat sampai ke sana. Kalau pun sampai, harta karun itu tetap tak pernah diketemukan. Gunung itu memang penuh dengan misteri.
Sebelum memulai perjalanan, sang pendaki gunung dan teman-temannya mempersiapkan segala perlengkapan pendakian. Mereka membawa air minum, makanan secukupnya, kompas, peta, parang, dan lain-lain. Pokoknya segala perlengkapan yang diperlukan dalam perjalanan yang jauh. Setelah berbagi tugas, mereka pun memulai perjalanan. Suasana dingin dan berkabut, ditambah pemandangan kiri-kanan yang mengerikan. Tampaklah jurang-jurang bebatuan yang terjal dan pemandangan ke bawah yang menciutkan hati. Untuk mendaki, mereka harus bekerjasama, saling mengulurkan tangan dan membantu, bergantian membawa tas teman yang kelelahan, dan sebagainya.
Namun ada seorang teman yang kecewa dengan jalan yang telah mereka tempuh. Dia menunjuk ke satu arah yang tampaknya lebih nyaman untuk dijalani. Semua temannya yang lain tidak setuju. Namun karena dia bersikeras, akhirnya dia memilih jalan lain tersebut. Teman-temannya tidak bisa berbuat lain kecuali merelakan dirinya. Untuk itu, dia harus menuruni jurang terjal dengan susah payah untuk mencapai perbukitan kecil yang berada di seberang. Sementara dia menuju ke lembah, sang pendaki gunung bersama teman-temannya yang lain sudah meninggalkannya jauh di depan.
Sang climber dan teman-temannya terus berjalan. Kendati sulit, mereka saling membantu satu sama lain. Temannya yang berada di depan bertugas sebagai perintis jalan, yang berada di tengah sebagai pembuang sampah, dan yang berada di belakang mulai menandai pepohonan sebagai penunjuk jalan bila mereka sesat. Yang lain lagi bertugas sebagai penghibur lewat ceritanya yang lucu mau pun nyanyiannya yang menyenangkan hati.
Akhirnya, mereka pun sampai di puncak yang menjadi tujuan perjalanan mereka. Kendati lelah, mereka berbahagia karena telah dapat menaklukkan gunung misteri itu. Bagi mereka, harta karun misterius itu tidak berarti apa-apa lagi. Mereka telah menemukan bahwa harta karun yang mereka cari selama ini sesungguhnya ada di antara mereka sendiri. Harta karun itu adalah: semangat persaudaraan yang kokoh di antara mereka.
Hatiku selembar daun...
RAJA DAN SAIS KERETA
RAJA DAN SAIS KERETA
Pada suatu hari Raja Benares dan Raja Kosala bertemu di sebuah jalan sempit. Masing-masing duduk di dalam kereta perang. Keduanya menolak memberikan jalan bagi yang lain.
Sais kereta Raja Benares berusaha menyelesaikan masalah itu dengan mempersilahkan raja yang lebih tua untuk berjalan lebih dulu. Namun, setelah bertanya kepada sais kereta Raja Kosala, ternyata kedua raja memiliki usia yang sama.
Kemudian, ia bertanya tentang luas kerajaan masing-masing. Ternyata, keduanya sama-sama memerintah kerajaan yang mempunyai tiga ratus suku. Dalam hal kekayaan dan keluarga, keduanya juga sebanding.
Akhirnya sais Raja Benares berpikir, "Aku akan memberikan Jalan bagi raja yang paling adil," Maka, ia pun bertanya, "Keadilan macam apa yang telah dilakukan rajamu?"
Sais kereta Raja Kosala menyatakan rajanya demikian :
“Yang kuat diruntuhkannya dengan kekuatan.
Yang lembut juga dengan kelembutan.
Yang baik ditaklukkan dengannya dengan kebaikan,
dan yang jahat dengan kejahatan pula.
Begitulah sifat raja ini!
Minggirlah. Sais!”
Namun sais kereta Raja Benares sama sekali tidak terkesan.
“Yang kau katakan tadi adalah kebaikan rajamu, lalu apa saja kejelekannya?” Dan sais itu pun mulai menceritakan kebaikan Raja Benares.
“Kemarahan ditaklukkanya dengan ketenangan,
dan kebaikan terhadap yang jahat.
Yang kikir ditaklukkannya dengan pemberian,
dan kebenaran terhadap pembohong.
Begitulah sifat raja ini!
Minggirlah, Sais!”
Ketika Raja Kosala mendengar hal itu, ia dan saisnya segera turun dari kereta dan memberi jalan kepada Raja Benares.
MAKNA CERITA:
Lemah liat kayu. Akar, di-lentok boleh, di-patah ta’dapat.
Seorang dipomat seharusnya luwes dan lentur seperti sulur, yang dapat dibengkokkan, tapi tidak dapat dipatahkan.
Hatiku selembar daun....
Pada suatu hari Raja Benares dan Raja Kosala bertemu di sebuah jalan sempit. Masing-masing duduk di dalam kereta perang. Keduanya menolak memberikan jalan bagi yang lain.
Sais kereta Raja Benares berusaha menyelesaikan masalah itu dengan mempersilahkan raja yang lebih tua untuk berjalan lebih dulu. Namun, setelah bertanya kepada sais kereta Raja Kosala, ternyata kedua raja memiliki usia yang sama.
Kemudian, ia bertanya tentang luas kerajaan masing-masing. Ternyata, keduanya sama-sama memerintah kerajaan yang mempunyai tiga ratus suku. Dalam hal kekayaan dan keluarga, keduanya juga sebanding.
Akhirnya sais Raja Benares berpikir, "Aku akan memberikan Jalan bagi raja yang paling adil," Maka, ia pun bertanya, "Keadilan macam apa yang telah dilakukan rajamu?"
Sais kereta Raja Kosala menyatakan rajanya demikian :
“Yang kuat diruntuhkannya dengan kekuatan.
Yang lembut juga dengan kelembutan.
Yang baik ditaklukkan dengannya dengan kebaikan,
dan yang jahat dengan kejahatan pula.
Begitulah sifat raja ini!
Minggirlah. Sais!”
Namun sais kereta Raja Benares sama sekali tidak terkesan.
“Yang kau katakan tadi adalah kebaikan rajamu, lalu apa saja kejelekannya?” Dan sais itu pun mulai menceritakan kebaikan Raja Benares.
“Kemarahan ditaklukkanya dengan ketenangan,
dan kebaikan terhadap yang jahat.
Yang kikir ditaklukkannya dengan pemberian,
dan kebenaran terhadap pembohong.
Begitulah sifat raja ini!
Minggirlah, Sais!”
Ketika Raja Kosala mendengar hal itu, ia dan saisnya segera turun dari kereta dan memberi jalan kepada Raja Benares.
MAKNA CERITA:
Lemah liat kayu. Akar, di-lentok boleh, di-patah ta’dapat.
Seorang dipomat seharusnya luwes dan lentur seperti sulur, yang dapat dibengkokkan, tapi tidak dapat dipatahkan.
Hatiku selembar daun....
WASHINGTON DAN NYONYA KAYA
WASHINGTON DAN NYONYA KAYA
Sesaat setelah Booker T. Washington menjadi kepala Tuskee Institute di Alabama, ia berjalan melewati rumah sebuah keluarga kaya. Nyonya rumah itu, mengira Washington adalah salah satu pekerja kebun yang dipekerjakan suaminya, dia bertanya apakah Washington mau membelah kayu untuknya. Profesor Washington tersenyum, mengangguk, melepaskan jasnya dan membelah kayu.
Ternyata gadis pelayan mengenalinya dan berlari menemui majikannya untuk memberitahukan identitas Washington. Pagi berikutnya wanita itu muncul di kantor Washington untuk meminta maaf. Washington menjawab dengan murah hati, “Sama sekali tidak apa-apa, nyonya. Saya suka bekerja dan saya senang memberi pertolongan kepada teman-teman saya.”
Terkesan dengan kerendahan hati Washington, wanita ini memberi sumbangan yang besar kepada institut itu. Dia pun kemudian menggerakkan teman-temannya yang kaya untuk melakukan hal yang sama.
Orang besar selalu bersedia menjadi kecil. Kesediaan untuk melayani orang lain merupakan inti dari kepemimpinan sejati. Kerendahan hati itu nampak bukan melalui kalimat-kalimat indah yang diucapkan tetapi melalui kesediaan melakukan tindakan yang melayani dengan tulus.
Hatiku selembar daun...
Sesaat setelah Booker T. Washington menjadi kepala Tuskee Institute di Alabama, ia berjalan melewati rumah sebuah keluarga kaya. Nyonya rumah itu, mengira Washington adalah salah satu pekerja kebun yang dipekerjakan suaminya, dia bertanya apakah Washington mau membelah kayu untuknya. Profesor Washington tersenyum, mengangguk, melepaskan jasnya dan membelah kayu.
Ternyata gadis pelayan mengenalinya dan berlari menemui majikannya untuk memberitahukan identitas Washington. Pagi berikutnya wanita itu muncul di kantor Washington untuk meminta maaf. Washington menjawab dengan murah hati, “Sama sekali tidak apa-apa, nyonya. Saya suka bekerja dan saya senang memberi pertolongan kepada teman-teman saya.”
Terkesan dengan kerendahan hati Washington, wanita ini memberi sumbangan yang besar kepada institut itu. Dia pun kemudian menggerakkan teman-temannya yang kaya untuk melakukan hal yang sama.
Orang besar selalu bersedia menjadi kecil. Kesediaan untuk melayani orang lain merupakan inti dari kepemimpinan sejati. Kerendahan hati itu nampak bukan melalui kalimat-kalimat indah yang diucapkan tetapi melalui kesediaan melakukan tindakan yang melayani dengan tulus.
Hatiku selembar daun...
MURID SHAOLIN YANG DIPERLAKUKAN SEMENA-MENA
MURID SHAOLIN YANG DIPERLAKUKAN SEMENA-MENA
Thio Sam Hong adalah murid dari Kuil Shaolin. Karena diberlakukan semena-mena oleh para senior, Beliau keluar dari Kuil Shaolin dan belajar mengembangkan Kungfu dengan memperhatikan berbagai fenomena alam seperti terpaan angin keras terhadap pohon bambu, pertarungan bangau dan ular, kokohnya pertahanan belalang sembah dari terpaan angin dan lain-lain. Setelah mengerti & memahami Intisari Alam Semesta, Thio Sam Hong muda menyepi di gunung Hua San untuk menyempurnakan ilmu-ilmunya. Pada saat Beliau turun gunung, Beliau menjelajahi seluruh Tiongkok dan mengadu ilmunya dengan para Ahli Bela Diri dan/atau Pendekar semua aliran. Berdasarkan literatur kuno, tercatat 2 pertarungan yang sangat terkenal, yakni pertama adalah pertarungan antara Thio Sam Hong dengan Pegulat Nomor Satu Mongol yang sangat besar, kuat dan agresif. Belakangan diketahui pula bahwa Pegulat tersebut juga sangat ahli dalam berbagai aliran Kungfu Tiongkok. Pegulat Mongol tersebut konon mengalahkan banyak petarung Kuil Shaolin dan sejumlah Pendekar aliran keras lainnya. Pertarungan antara Thio Sam Hong dengan Pegulat Mongol tersebut dimenangkan oleh Thio Sam Hong dengan ilmu barunya, Tai Chi! Pertarungan kedua adalah seorang diri Thio Sam Hong mengalahkan lebih dari 100 orang gangster di sarang penyamun hanya dengan tangan kosong! Semenjak itu, Thio Sam Hong diakui oleh seluruh kalangan persilatan menjadi Pendekar Tanpa Tanding pada saat itu. Setelah merasa cukup dalam perantauanya, Beliau naik ke gunung Wudang (Butong) dan mendirikan Perguruan Wudang dengan basis utama pengajaran : Taoisme. Thio Sam Hong sendiri merupakan Pencipta Ilmu Tai Chi pertama dan sangat Ahli dalam Ilmu Tao Yin (Nei Kung). Konon Thio Sam Hong hidup di 3 jaman (Immortal Taoist)dinasti,yakni Dinasti Sung, Dinasti Yuan (Monggol) dan Dinasti Ming (Han).
Hatiku selembar daun...
Thio Sam Hong adalah murid dari Kuil Shaolin. Karena diberlakukan semena-mena oleh para senior, Beliau keluar dari Kuil Shaolin dan belajar mengembangkan Kungfu dengan memperhatikan berbagai fenomena alam seperti terpaan angin keras terhadap pohon bambu, pertarungan bangau dan ular, kokohnya pertahanan belalang sembah dari terpaan angin dan lain-lain. Setelah mengerti & memahami Intisari Alam Semesta, Thio Sam Hong muda menyepi di gunung Hua San untuk menyempurnakan ilmu-ilmunya. Pada saat Beliau turun gunung, Beliau menjelajahi seluruh Tiongkok dan mengadu ilmunya dengan para Ahli Bela Diri dan/atau Pendekar semua aliran. Berdasarkan literatur kuno, tercatat 2 pertarungan yang sangat terkenal, yakni pertama adalah pertarungan antara Thio Sam Hong dengan Pegulat Nomor Satu Mongol yang sangat besar, kuat dan agresif. Belakangan diketahui pula bahwa Pegulat tersebut juga sangat ahli dalam berbagai aliran Kungfu Tiongkok. Pegulat Mongol tersebut konon mengalahkan banyak petarung Kuil Shaolin dan sejumlah Pendekar aliran keras lainnya. Pertarungan antara Thio Sam Hong dengan Pegulat Mongol tersebut dimenangkan oleh Thio Sam Hong dengan ilmu barunya, Tai Chi! Pertarungan kedua adalah seorang diri Thio Sam Hong mengalahkan lebih dari 100 orang gangster di sarang penyamun hanya dengan tangan kosong! Semenjak itu, Thio Sam Hong diakui oleh seluruh kalangan persilatan menjadi Pendekar Tanpa Tanding pada saat itu. Setelah merasa cukup dalam perantauanya, Beliau naik ke gunung Wudang (Butong) dan mendirikan Perguruan Wudang dengan basis utama pengajaran : Taoisme. Thio Sam Hong sendiri merupakan Pencipta Ilmu Tai Chi pertama dan sangat Ahli dalam Ilmu Tao Yin (Nei Kung). Konon Thio Sam Hong hidup di 3 jaman (Immortal Taoist)dinasti,yakni Dinasti Sung, Dinasti Yuan (Monggol) dan Dinasti Ming (Han).
Hatiku selembar daun...
CERITA ISENG
CERITA ISENG
Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Sebelum meninggal, ayah mereka berpesan dua hal :
1. Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu
2. Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.
Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu :
Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak. Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang ibupun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama.
Hatiku selembar daun...
Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Sebelum meninggal, ayah mereka berpesan dua hal :
1. Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu
2. Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.
Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu :
Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak. Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang ibupun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama.
Hatiku selembar daun...
PERBINCANGAN DUA ORANG PESAKITAN
PERBINCANGAN DUA ORANG PESAKITAN
Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya.
Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu.
Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah. Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah tembok kosong..
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata perawat itu.
Hatiku selembar daun...
Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya.
Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu.
Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah. Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah tembok kosong..
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.
"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata perawat itu.
Hatiku selembar daun...
OBROLAN IBU DAN ANAKNYA
OBROLAN IBU DAN ANAKNYA
Ada sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak laki-laki dan perempuan. Sang ayah seorang ilmuwan yang telah memiliki berbagai macam piagam penghargaan dan ditempelkan di dinding ruang keluarga. Berderet-deret tersusun rapi dan teratur.
Anak pertama keluarga tersebut seorang laki-laki yang pandai dan juga memilik banyak piagam penghargaan dan aneka tropi yang diperolehnya serta di pajang di ruang keluarga berderet rapi dan teratur berdampingan dengan piagam penghargaan milik sang ayah.
Tak ketinggalan pula prestasi yang telah diperoleh oleh si bungsu yang masih SD. Aneka piagam penghargaan yang diperolah setelah memenangkan aneka perlombaan, dari melukis, mengarang, dan lomba masak.
Suatu ketika si sulung sedang asik menikmati berbagai piagam yang diperolah keluarga tersebut. Lalu dia berkomentar, "Semua telah menyumbangkan berbagai macam piagam penghargaan, kecuali Mama."
"Ma, mana piagam yang pernah mama perolah, agar dinding kita ini semakin lengkap dengan adanya piagam penghargaan yang mama perolah."
Sang mama hanya termenung sebentar kemudian tertawa pelan. Dan keluarga tersebut tetap hangat dan akrab meski tanpa piagam dari mama.
Namun suatu pagi saat sang mama membersihkan ruang tengah, kata-kata si sulung telah membuka ingatan sang mama. Dia memang pernah sekolah dan seingat dia pernah memperolah beberapa sertifikat. Maka sang mama membongkar arsip-arsipnya, dan dia menemukan dua sertifikat yang didapatnya dengan penuh kebanggan. Dipandangnya sertifikat itu dengan penuh keharuan, lalu di laminating dan diberi pigura yang indah serta kemudian di pasang dipojok paling bawah dari dinding itu.
Sertifikat itu adalah akte kelahiran anak sulung dan anak bungsunya. Itulah piagam penghargaan yang terindah yang didapat sang mama, pemberian yang tak ada bandingnya di dunia ini dari Tuhan. Serta akan dijaganya dengan taruhan nyawanya sendiri.
Hatiku selembar daun...
Ada sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak laki-laki dan perempuan. Sang ayah seorang ilmuwan yang telah memiliki berbagai macam piagam penghargaan dan ditempelkan di dinding ruang keluarga. Berderet-deret tersusun rapi dan teratur.
Anak pertama keluarga tersebut seorang laki-laki yang pandai dan juga memilik banyak piagam penghargaan dan aneka tropi yang diperolehnya serta di pajang di ruang keluarga berderet rapi dan teratur berdampingan dengan piagam penghargaan milik sang ayah.
Tak ketinggalan pula prestasi yang telah diperoleh oleh si bungsu yang masih SD. Aneka piagam penghargaan yang diperolah setelah memenangkan aneka perlombaan, dari melukis, mengarang, dan lomba masak.
Suatu ketika si sulung sedang asik menikmati berbagai piagam yang diperolah keluarga tersebut. Lalu dia berkomentar, "Semua telah menyumbangkan berbagai macam piagam penghargaan, kecuali Mama."
"Ma, mana piagam yang pernah mama perolah, agar dinding kita ini semakin lengkap dengan adanya piagam penghargaan yang mama perolah."
Sang mama hanya termenung sebentar kemudian tertawa pelan. Dan keluarga tersebut tetap hangat dan akrab meski tanpa piagam dari mama.
Namun suatu pagi saat sang mama membersihkan ruang tengah, kata-kata si sulung telah membuka ingatan sang mama. Dia memang pernah sekolah dan seingat dia pernah memperolah beberapa sertifikat. Maka sang mama membongkar arsip-arsipnya, dan dia menemukan dua sertifikat yang didapatnya dengan penuh kebanggan. Dipandangnya sertifikat itu dengan penuh keharuan, lalu di laminating dan diberi pigura yang indah serta kemudian di pasang dipojok paling bawah dari dinding itu.
Sertifikat itu adalah akte kelahiran anak sulung dan anak bungsunya. Itulah piagam penghargaan yang terindah yang didapat sang mama, pemberian yang tak ada bandingnya di dunia ini dari Tuhan. Serta akan dijaganya dengan taruhan nyawanya sendiri.
Hatiku selembar daun...
KI AGENG SELA : PENANGKAP PETIR DARI DEMAK
KI AGENG SELA : PENANGKAP PETIR DARI DEMAK
Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya.
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .
Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .
Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .
Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .
Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.
Hatiku selembar daun...
Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya.
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .
Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .
Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .
Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .
Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.
Hatiku selembar daun...
Dua Pemburu Yang Akrab
Dua Pemburu Yang Akrab
Dua orang pemburu sedang berburu bersama. Tiba-tiba muncul seekor beruang besar menghadang. Mereka tak sempat mempersiapkan diri. Salah seorang pemburu segera lari memanjat pohon dan berdiam mendekam di dahan erat-erat melihat dirinya akan diserang beruang itu. Pemburu yang lain segera menjatuhkan ke tanah ketika beruang mendatangi mengendus-endus seluruh tubuhnya. Pemburu itu menahan napas selama mungkin. Ia pura-pura mati. Tak lama beruang itu meninggalkannya. Pikirnya, "Aku tak mau memamgsa orang yang sudah mati". Ketika situasi sudah tenang, pemburu pertama turun dari pohon dan mengolok-olok pemburu yang berpura-pura mati, "Kawan, apa yang dikatakan oleh tuan beruang tadi kepadamu?". "Oh tuan beruang itu memberikan nasehat kepadaku", jawab pemburu yang kedua, "Jangan pernah berburu dengan orang yang membiarkan kau terancam dan tak menolongmu dari bahaya".
Hatiku selembar daun...
Dua orang pemburu sedang berburu bersama. Tiba-tiba muncul seekor beruang besar menghadang. Mereka tak sempat mempersiapkan diri. Salah seorang pemburu segera lari memanjat pohon dan berdiam mendekam di dahan erat-erat melihat dirinya akan diserang beruang itu. Pemburu yang lain segera menjatuhkan ke tanah ketika beruang mendatangi mengendus-endus seluruh tubuhnya. Pemburu itu menahan napas selama mungkin. Ia pura-pura mati. Tak lama beruang itu meninggalkannya. Pikirnya, "Aku tak mau memamgsa orang yang sudah mati". Ketika situasi sudah tenang, pemburu pertama turun dari pohon dan mengolok-olok pemburu yang berpura-pura mati, "Kawan, apa yang dikatakan oleh tuan beruang tadi kepadamu?". "Oh tuan beruang itu memberikan nasehat kepadaku", jawab pemburu yang kedua, "Jangan pernah berburu dengan orang yang membiarkan kau terancam dan tak menolongmu dari bahaya".
Hatiku selembar daun...
MAHASISWA MISKIN YANG KELAPARAN
MAHASISWA MISKIN YANG KELAPARAN
Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.”
Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya. Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”
Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum: “Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!” Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : “kuah sayur gratis.” Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
“Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”
Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini. “Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya!”
Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti. Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.
Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi ?
Suaminya kemudian membisik kepadanya: “Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ket empat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”
“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”
“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain. “Terima kasih, saya sudah selesai makan.” Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka. “Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat!” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi. Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.
Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi. Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.
Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid. “Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.” “Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!” sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.
“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.” Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya.
Hatiku selembar daun...
Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.”
Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya. Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”
Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum: “Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!” Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : “kuah sayur gratis.” Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
“Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”
Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini. “Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya!”
Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti. Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.
Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi ?
Suaminya kemudian membisik kepadanya: “Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ket empat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”
“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”
“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain. “Terima kasih, saya sudah selesai makan.” Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka. “Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat!” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi. Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.
Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi. Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.
Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid. “Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.” “Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!” sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.
“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.” Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya.
Hatiku selembar daun...
Kisah Seekor Anak Anjing (Sad Story)
Kisah Seekor Anak Anjing (Sad Story)
Pada suatu hari di Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), anak-anak di Tk tersebut memberi hadiah kepada guru tersebut karena guru itu sedang ulang tahun. Yang pertama dari anak yg orang tuanya bekerja sebagai Penjual bunga memberinya hadiah. Kemudian si guru tsb menerimanya dan berkata, "Pasti saya tahu apa isinya... Bunga khan". "Ya betul" kata si anak
tsb,"tapi darimana ibu tau?""Oh cuma nebak aja ."kata si guru.
murid yg kedua orang tuanya bekerja pada Toko Permen. si guru tsb memegangnya hadiah tsb, dan berkata,"Hmmm..Saya bisa menebaknya... Sebungkus permen khan ?".
"Kok ibu tau ?" tanya si murid,
" ya cuma nebak" kata si guru.
Murid yang ketiga orang tuanya bekerja sebagai pemilik toko minuman. si guru tsb memegangnya tapi ternyata bungkusan tsb bocor. Dengan menggunakan tangannya kemidian si guru menjilatnya, " Apakah ini Anggur
(wine)"tanyanya. "Tidak" jawab si murid. kemudian guru tsb menjilatnya lagi "Apakah ini minuman Sampanye (champagne)?".
"Tidak" kata si murid.
"Saya nyerah deh, Kalo begitu apa isinya ?".
murid tersebut menjawab dengan entengnya " Anak Anjing"
Huahaha.. Hatiku selmbar daun...
Pada suatu hari di Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), anak-anak di Tk tersebut memberi hadiah kepada guru tersebut karena guru itu sedang ulang tahun. Yang pertama dari anak yg orang tuanya bekerja sebagai Penjual bunga memberinya hadiah. Kemudian si guru tsb menerimanya dan berkata, "Pasti saya tahu apa isinya... Bunga khan". "Ya betul" kata si anak
tsb,"tapi darimana ibu tau?""Oh cuma nebak aja ."kata si guru.
murid yg kedua orang tuanya bekerja pada Toko Permen. si guru tsb memegangnya hadiah tsb, dan berkata,"Hmmm..Saya bisa menebaknya... Sebungkus permen khan ?".
"Kok ibu tau ?" tanya si murid,
" ya cuma nebak" kata si guru.
Murid yang ketiga orang tuanya bekerja sebagai pemilik toko minuman. si guru tsb memegangnya tapi ternyata bungkusan tsb bocor. Dengan menggunakan tangannya kemidian si guru menjilatnya, " Apakah ini Anggur
(wine)"tanyanya. "Tidak" jawab si murid. kemudian guru tsb menjilatnya lagi "Apakah ini minuman Sampanye (champagne)?".
"Tidak" kata si murid.
"Saya nyerah deh, Kalo begitu apa isinya ?".
murid tersebut menjawab dengan entengnya " Anak Anjing"
Huahaha.. Hatiku selmbar daun...
IBU YANG MENYAYANGI ANAKNYA
IBU YANG MENYAYANGI ANAKNYA
"Huuu....uuura!"
Teriakan gembira dari seorang Ibu yang menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut. Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.
Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota.
Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport.
Si Anak: "Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?"
Ibu: "Oh sudah tentu, rumah kita cuma besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!"
Si Anak: "Tetapi kawan saya adalah seorang cacad, karena korban perang di Vietnam?"
Ibu: "......oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacad?" - nada suaranya sudah agak menurun
Si Anak: "Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!"
Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: "Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah?"
Si Anak: "...tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga turut rusak begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!"
Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: "Na...ak lain kali saja kawanmu itu diundang kerumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel, kalau perlu biar saya yang bayar nanti biaya penginapannya!"
Si Anak: "...tetap ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!"
Si Ibu: "Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung kerumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat tubuh yang cacad dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti."
Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup.
Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung kerumah mereka.
Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang kesana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anaknya sendiri! Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya...
Hatiku selembar daun...
"Huuu....uuura!"
Teriakan gembira dari seorang Ibu yang menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut. Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.
Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota.
Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport.
Si Anak: "Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?"
Ibu: "Oh sudah tentu, rumah kita cuma besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!"
Si Anak: "Tetapi kawan saya adalah seorang cacad, karena korban perang di Vietnam?"
Ibu: "......oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacad?" - nada suaranya sudah agak menurun
Si Anak: "Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!"
Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: "Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah?"
Si Anak: "...tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga turut rusak begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!"
Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: "Na...ak lain kali saja kawanmu itu diundang kerumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel, kalau perlu biar saya yang bayar nanti biaya penginapannya!"
Si Anak: "...tetap ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!"
Si Ibu: "Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung kerumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat tubuh yang cacad dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti."
Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup.
Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung kerumah mereka.
Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang kesana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anaknya sendiri! Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya...
Hatiku selembar daun...
IBU PENJUAL KUE DAN ANAKNYA
IBU PENJUAL KUE DAN ANAKNYA
“Sreeng..., sreng...” bunyi potongan tahu tenggelam dalam minyak goreng yang telah mendidih. Pukul 03.10 WIB, seorang Ibu yang memiliki 4 orang anak sedang sibuk membuat barang dagangannya (pisang goreng, tahu isi, tempe goreng, dsb) yang akan dijual setelah matahari terbit nanti. Di belakangnya, terdengar bunyi “sreg, sreg, sreg....” berulang-ulang gesekan parut dan singkong mentah, salah seorang anaknya membantu menyiapkan bahan jajanan.
“Cepat sedikit, Nang! Tahu isinya sudah hampir selesai”, sang Ibu memerintahkan anaknya.
“iya, Bu” sahut anaknya dan sembari mengusulkan, “apa mas dan adik perlu dibangunkan untuk membantu kita?”.
“Tidak usah, asal kamu bekerja capat saja bisa selesai. Mereka mungkin masih capek menyiapkan bahan yang semalam.” Jawab sang Ibu.
Beberapa saat hanya berisik suara dapur yang terdengar. Tiba-tiba sang anak bertanya kepada sang Ibu, “Bu, uang kuliah Mas belum dibayar yah? Padahal paling lambat hari Senin depan”.
“Nanti pasti dapat rejeki, semoga jajanan kita laris dan tidak ada yang kembali”, jawab sang Ibu dengan santai walaupun dengan kerut wajah serius melihat ke arah penggorengannya.
“Bu, bagaimana kalo tahun ini saya tidak usah kuliah? Saya kuliah tahun depan saja, ngurus kuliahnya Mas saja dulu.”
Tanpa rasa cemas sang Ibu memberikan jawaban yang meyakinkan sang anak, “Kamu kuliah tahun ini memang Ibu tidak punya uang. Kamu kuliah tahun depan, Ibu juga tidak punya uang. Mendingan... kamu kuliah secepatnya tahun ini!”.
Sang Ibu kemudian bercerita, “ Hmm...kemarin tetangga sebelah bikin telinga Ibu panas, Nang. Dia mengoceh, “memangnya kalau waktu orang asik tidur, kita sibuk-sibuk bekerja...bisa naik haji apa?!”. Itu maksudnya menyindir Ibu. Tapi biarkan saja. Tidak usah didengar. Investasi Ibu hanya pada kalian, pada anak-anak Ibu. Makanya, Ibu selalu berdoa..”cepatlah malam dan cepatlah siang”. Ibu pengin cepat melihat keluarga siapa di daerah ini yang paling berhasil nanti. Tidak terasa ‘kan... sudah 3 tahun kita berjualan sejak Bapak kamu bikin bangkrut perusahaan kita sehingga Ibu lepas perusahaan ke Oom kamu dan kamu sudah mau lulus SMA sekarang”.
Sang anak dengan perasaan bergejolak berujar, “ Jangan kuatir, Bu. Kita pasti “juara” dan akan kita “kuasai” daerah ini seperti dulu! Saya pasti bisa membiayai Ibu naik haji! ”
Hampir 12 tahun telah berlalu.....
ketiga anak Ibu tersebut telah menjadi sarjana dan si bungsu masih kuliah;
sang anak telah menjadi manager yang cukup disegani di suatu lembaga;
sang kakak bekerja sembari menjaga sang Ibu;
sang adik menjadi karyawan di instansi pemerintahan di ibukota, bahkan telah mendapatkan gelar double “Master” dari dalam dan luar negeri.
Ibu penjual kue itu sendiri telah menunaikan Ibadah Haji dengan sang kakak tahun lalu.
Diceritakan oleh: Mokhammad Khoiri
Hatiku selembar daun...
“Sreeng..., sreng...” bunyi potongan tahu tenggelam dalam minyak goreng yang telah mendidih. Pukul 03.10 WIB, seorang Ibu yang memiliki 4 orang anak sedang sibuk membuat barang dagangannya (pisang goreng, tahu isi, tempe goreng, dsb) yang akan dijual setelah matahari terbit nanti. Di belakangnya, terdengar bunyi “sreg, sreg, sreg....” berulang-ulang gesekan parut dan singkong mentah, salah seorang anaknya membantu menyiapkan bahan jajanan.
“Cepat sedikit, Nang! Tahu isinya sudah hampir selesai”, sang Ibu memerintahkan anaknya.
“iya, Bu” sahut anaknya dan sembari mengusulkan, “apa mas dan adik perlu dibangunkan untuk membantu kita?”.
“Tidak usah, asal kamu bekerja capat saja bisa selesai. Mereka mungkin masih capek menyiapkan bahan yang semalam.” Jawab sang Ibu.
Beberapa saat hanya berisik suara dapur yang terdengar. Tiba-tiba sang anak bertanya kepada sang Ibu, “Bu, uang kuliah Mas belum dibayar yah? Padahal paling lambat hari Senin depan”.
“Nanti pasti dapat rejeki, semoga jajanan kita laris dan tidak ada yang kembali”, jawab sang Ibu dengan santai walaupun dengan kerut wajah serius melihat ke arah penggorengannya.
“Bu, bagaimana kalo tahun ini saya tidak usah kuliah? Saya kuliah tahun depan saja, ngurus kuliahnya Mas saja dulu.”
Tanpa rasa cemas sang Ibu memberikan jawaban yang meyakinkan sang anak, “Kamu kuliah tahun ini memang Ibu tidak punya uang. Kamu kuliah tahun depan, Ibu juga tidak punya uang. Mendingan... kamu kuliah secepatnya tahun ini!”.
Sang Ibu kemudian bercerita, “ Hmm...kemarin tetangga sebelah bikin telinga Ibu panas, Nang. Dia mengoceh, “memangnya kalau waktu orang asik tidur, kita sibuk-sibuk bekerja...bisa naik haji apa?!”. Itu maksudnya menyindir Ibu. Tapi biarkan saja. Tidak usah didengar. Investasi Ibu hanya pada kalian, pada anak-anak Ibu. Makanya, Ibu selalu berdoa..”cepatlah malam dan cepatlah siang”. Ibu pengin cepat melihat keluarga siapa di daerah ini yang paling berhasil nanti. Tidak terasa ‘kan... sudah 3 tahun kita berjualan sejak Bapak kamu bikin bangkrut perusahaan kita sehingga Ibu lepas perusahaan ke Oom kamu dan kamu sudah mau lulus SMA sekarang”.
Sang anak dengan perasaan bergejolak berujar, “ Jangan kuatir, Bu. Kita pasti “juara” dan akan kita “kuasai” daerah ini seperti dulu! Saya pasti bisa membiayai Ibu naik haji! ”
Hampir 12 tahun telah berlalu.....
ketiga anak Ibu tersebut telah menjadi sarjana dan si bungsu masih kuliah;
sang anak telah menjadi manager yang cukup disegani di suatu lembaga;
sang kakak bekerja sembari menjaga sang Ibu;
sang adik menjadi karyawan di instansi pemerintahan di ibukota, bahkan telah mendapatkan gelar double “Master” dari dalam dan luar negeri.
Ibu penjual kue itu sendiri telah menunaikan Ibadah Haji dengan sang kakak tahun lalu.
Diceritakan oleh: Mokhammad Khoiri
Hatiku selembar daun...
Aku, Suami dan Ibu Mertuaku
Aku, Suami dan Ibu Mertuaku
Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah
tangga. Membawa nenek utk tinggal bersama
menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar
cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan
suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .
Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya
harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga
tamat kuliah.
Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar
yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga
dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar
matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat
saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata
:"Mari,kita jemput nenek di kampung".
Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke
dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.. Aku
seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan
kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka
tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar
sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati
saat-saat seperti itu.
Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah
dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata
kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga
tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek:"Ibu, rumah dengan
bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih
gembira."Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa:
"Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."
Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil
membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga
bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil
menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia
selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab, dia
selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil
berkata:"Putriku, kan kamu bisa berbohong... Jangan katakan harga yang
sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.
Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan
sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki
masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah
nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek
selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan
sendok, itulah cara dia protes.
Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku
sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun
pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di
dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia
suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa
untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong
plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua
kumpulan kantong plastik.
Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan
pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali
lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari, nenek mendapati aku sedang
mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar sambil membanting
pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur
seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak
perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil
berkata:"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu
bisa membuatmu mati?"
Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana
mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak
pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap
pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu
kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan
lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,
seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?
Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli
makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Lu
di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga
kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata
tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku..Dan dia
akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama
kami setiap pagi.."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba
canggung itu.
Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu
perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar
semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku
segera mengeluarkan semua isi perut... Setelah agak reda, aku melihat
suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar
mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan
berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa
bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.
Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku,
nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh..suamiku
segera mengejarnya keluar rumah.
Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.
Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku.
Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah
banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual
dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang
kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu
Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku
sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah
berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek
sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia
berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu
tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke
arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya
penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku
sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku
ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan
berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku
minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi
air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat
sangat buruk?
Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,
memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan
sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku
menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang
mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa
berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu.
Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg
sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta
dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.
Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan
masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi
mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg
melihatku dengan wajah bingung..."Ibunya pak direktur baru saja mengalami
kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit.. Mulutku terbuka
lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah
meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang
jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam
hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa
denganku,
jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.
Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek
berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku
mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak
melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru
mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku
tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,
jika........ ......dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan
penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga
merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua
ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera
mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah
menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya
walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami
hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang
makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu
dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita
didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku
tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan
berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak
menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus
berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak
berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku
dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku
terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.
Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak..
mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.
Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang
telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga
sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang
sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.
Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak
ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk
menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu
begitu saja.
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap
kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati
ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi
ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan
miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak
bersalah.
"Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.
Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja,
tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku
sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata
kepadanya:"" Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"" .Dia
melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata
pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa
sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.
Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia
memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku
menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."" Lu Di, kamu
hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara
kepadaku.. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar
dengan derasnya. Aku menjawab:""Iya, tetapi tidak apa-apa.. Kamu sudah
boleh pergi"".Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling
berpandangan. . Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air
matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku, semua
sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.
"Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan
aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak
bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta
diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah
akibat kesengajaan darinya.
Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak
akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan
untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah
menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah
pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani
surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap
tidak berbekas.
Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera
berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari,
terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak
perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli
padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan
bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa
terbahak-bahak. Dia lupa........ . , itu adalah dulu, saat cintaku masih
membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang
sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang
perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk
anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan
barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak
bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari
kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia
lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku
itu bukan lagi suatu masalah.
Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku
berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar,
sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu
olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit.
Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat
dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera
digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku
terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi
yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh
kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit
aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia
memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil
tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku
dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku
berteriak histeris memanggil namanya.
Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya...aku
pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya,
tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit
saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium
mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah
mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata
dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi
perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar
nenek lalu menyalakan komputer.
Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku
masih berpikir dia sedang bersandiwara. ....Sebuah surat yg sangat panjang
ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu
aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku
tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan
kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi
ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah
mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup
yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.
"""Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup
selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia
sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah
orang yg paling ayah cintai"".
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA
sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga
menulis sebuah surat untukku.""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg
paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku
tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan
bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis
sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih
atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya
kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah
tertulis semua tahun pemberian padanya""."
Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong
anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang,
bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan
kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia
membuka matanya, tersenyum... ......... ...anak itu tetap dalam dekapannya,
dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.
Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di
tangan sambil berurai air mata........ . ......... ...
sahabat terkasih, aku sharing cerita ini kepada sahabat, agar kita semua
bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian
sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah
pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara
kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam
hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika
kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal
yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya
menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum
kita menyesalinya seumur hidup...!!
Cerita oleh: Lu Di
Diedit oleh: Lian Shu Xiang
Sumber: Erny Susanti
Sumber: Nadia Saleh Alatas
Hatiku selembar daun...
Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah
tangga. Membawa nenek utk tinggal bersama
menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar
cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan
suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama .
Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya
harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga
tamat kuliah.
Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar
yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga
dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar
matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat
saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata
:"Mari,kita jemput nenek di kampung".
Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke
dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana.. Aku
seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan
kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka
tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar
sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati
saat-saat seperti itu.
Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah
dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata
kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga
tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek:"Ibu, rumah dengan
bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih
gembira."Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa:
"Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."
Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil
membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga
bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil
menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia
selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab, dia
selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil
berkata:"Putriku, kan kamu bisa berbohong... Jangan katakan harga yang
sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.
Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan
sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki
masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah
nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek
selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan
sendok, itulah cara dia protes.
Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku
sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun
pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di
dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia
suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa
untuk dijual katanya.Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong
plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua
kumpulan kantong plastik.
Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan
pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali
lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari, nenek mendapati aku sedang
mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar sambil membanting
pintu dan menangis.Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur
seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak
perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil
berkata:"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu
bisa membuatmu mati?"
Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana
mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak
pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap
pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu
kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan
lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,
seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?
Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli
makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Lu
di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga
kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata
tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku..Dan dia
akhirnya berkata:"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama
kami setiap pagi.."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba
canggung itu.
Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu
perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar
semua.Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku
segera mengeluarkan semua isi perut... Setelah agak reda, aku melihat
suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar
mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan
berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa
bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.
Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku,
nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh..suamiku
segera mengejarnya keluar rumah.
Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.
Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku.
Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah
banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual
dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang
kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Lu
Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku
sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah
berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek
sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia
berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu
tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke
arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya
penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku
sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku
ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan
berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku
minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi
air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat
sangat buruk?
Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi,
memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan
sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku
menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang
mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa
berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu.
Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg
sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta
dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.
Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan
masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi
mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg
melihatku dengan wajah bingung..."Ibunya pak direktur baru saja mengalami
kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit.. Mulutku terbuka
lebar.Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah
meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang
jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam
hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa
denganku,
jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.
Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek
berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku
mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak
melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru
mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku
tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,
jika........ ......dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan
penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga
merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua
ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera
mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah
menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya
walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami
hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang
makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu
dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita
didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku
tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan
berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak
menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus
berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak
berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku
dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku
terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.
Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak..
mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.
Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang
telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga
sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang
sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.
Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak
ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk
menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu
begitu saja.
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap
kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati
ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi
ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan
miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak
bersalah.
"Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.
Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja,
tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku
sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata
kepadanya:"" Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"" .Dia
melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata
pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa
sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.
Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia
memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku
menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."" Lu Di, kamu
hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara
kepadaku.. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar
dengan derasnya. Aku menjawab:""Iya, tetapi tidak apa-apa.. Kamu sudah
boleh pergi"".Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling
berpandangan. . Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air
matanya terasa menembus lengan bajuku.Tetapi di lubuk hatiku, semua
sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.
"Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata:"Maafkan
aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak
bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta
diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah
akibat kesengajaan darinya.
Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak
akan pernah kembali.Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan
untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah
menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah
pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani
surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap
tidak berbekas.
Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera
berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari,
terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak
perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli
padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan
bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa
terbahak-bahak. Dia lupa........ . , itu adalah dulu, saat cintaku masih
membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang
sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang
perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk
anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan
barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak
bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari
kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia
lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku
itu bukan lagi suatu masalah.
Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku
berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar,
sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu
olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit.
Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat
dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera
digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku
terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi
yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh
kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit
aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia
memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil
tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku
dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku
berteriak histeris memanggil namanya.
Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya...aku
pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya,
tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit
saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium
mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah
mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata
dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi
perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar
nenek lalu menyalakan komputer.
Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku
masih berpikir dia sedang bersandiwara. ....Sebuah surat yg sangat panjang
ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu
aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku
tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan
kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi
ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah
mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup
yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.
"""Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup
selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia
sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah
orang yg paling ayah cintai"".
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA
sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga
menulis sebuah surat untukku.""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg
paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku
tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan
bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis
sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih
atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya
kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah
tertulis semua tahun pemberian padanya""."
Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong
anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang,
bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan
kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya".Dengan susah payah dia
membuka matanya, tersenyum... ......... ...anak itu tetap dalam dekapannya,
dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.
Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di
tangan sambil berurai air mata........ . ......... ...
sahabat terkasih, aku sharing cerita ini kepada sahabat, agar kita semua
bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian
sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah
pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara
kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam
hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika
kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal
yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya
menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum
kita menyesalinya seumur hidup...!!
Cerita oleh: Lu Di
Diedit oleh: Lian Shu Xiang
Sumber: Erny Susanti
Sumber: Nadia Saleh Alatas
Hatiku selembar daun...
Kekasih Yang Setia
Kekasih Yang Setia
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”
Hatiku selembar daun...
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”
Hatiku selembar daun...
ANAK YANG SAYANG PADA IBUNYA
ANAK YANG SAYANG PADA IBUNYA
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Hatiku selembar daun...
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Hatiku selembar daun...
PEMUDA YANG BERBUAT KESALAHAN
PEMUDA YANG BERBUAT KESALAHAN
Arif Rohman
Tom Watson, pendiri IBM, tahu persis nilai sebuah kesalahan. Suatu saat, seorang pegawai membuat kesalahan besar yang merugikan IBM senilai jutaan dollar. Sang pegawai yang dipanggil ke kantor Watson, berkata “Anda pasti menghendaki saya mengundurkan diri” Jawab Watson, “Anda pasti bercanda. Saya baru saja menghabiskan 10 juta dollar untuk mendidik anda…”
Di Depsos (sekarang Kementerian Sosial) beberapa tahun yang lalu ada cerita yang hampir sama. Seorang karyawan yang masih lugu disuruh membuat surat balasan dalam bahasa Inggris ke Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat tentang Penanganan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak di Indonesia. Dan surat yang dibikin pemuda itu ternyata salah. Ketika dia dipanggil ke ruangan pimpinannya, pemuda itu takutnya setengah mati. Ternyata, di ruangan pimpinannya tersebut, si pemuda bukannya dimarahi, tetapi justru diberitahu kesalahan-kesalahannya. Setahun kemudian, dia disekolahkan oleh pimpinannya tersebut ke Australia untuk memperdalam bahasa Inggrisnya.
Hatiku selembar daun...
Arif Rohman
Tom Watson, pendiri IBM, tahu persis nilai sebuah kesalahan. Suatu saat, seorang pegawai membuat kesalahan besar yang merugikan IBM senilai jutaan dollar. Sang pegawai yang dipanggil ke kantor Watson, berkata “Anda pasti menghendaki saya mengundurkan diri” Jawab Watson, “Anda pasti bercanda. Saya baru saja menghabiskan 10 juta dollar untuk mendidik anda…”
Di Depsos (sekarang Kementerian Sosial) beberapa tahun yang lalu ada cerita yang hampir sama. Seorang karyawan yang masih lugu disuruh membuat surat balasan dalam bahasa Inggris ke Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat tentang Penanganan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak di Indonesia. Dan surat yang dibikin pemuda itu ternyata salah. Ketika dia dipanggil ke ruangan pimpinannya, pemuda itu takutnya setengah mati. Ternyata, di ruangan pimpinannya tersebut, si pemuda bukannya dimarahi, tetapi justru diberitahu kesalahan-kesalahannya. Setahun kemudian, dia disekolahkan oleh pimpinannya tersebut ke Australia untuk memperdalam bahasa Inggrisnya.
Hatiku selembar daun...
PEMUDA DESA YANG LUGU
PEMUDA DESA YANG LUGU
Arif Rohman
Seribu tahun yang lalu ada seorang pemuda desa dari Trowulan bernama Pembangun. Pembangun adalah anak yang lugu, pemberani dan patuh pada orang tuanya. Meskipun hatinya baik bak intan, namun parasnya tidak begitu tampan. Tapi dunia memang sungguh adil. Ada seorang kembang desa yang bernama Saraswati yang elok nan rupawan mencintai dia. Mereka sangat bahagia dan saling mencintai. Namun kemudian datanglah prahara, raja Majapahit Jayanegara bermodal seribu pasukan mengepung desa itu dan membawa Saraswati untuk diperistri. Pada waktu itu Pembangun sedang nyangkul di sawah. Begitu tahu Saraswati mau dijadikan selir Jayanegara, Pembangun seorang diri datang ke kota raja Majapahit dan menantang seluruh pasukan yang diketuai Panglima Nala. Sungguh aneh, dikepung seribu pasukan dia tetap tenang, mungkin karena doa dari ibunya, dia mati tertombak lembing, tertusuk anak panah dan tergores keris, tapi dia hidup lagi, begitu berkali-kali, sampai bajunya penuh darah. Ketika Panglima Nala turun tangan sendiri pun, dia baru tahu kalau Pembangun anak desa yang kerjanya nyangkul itu begitu sakti mandraguna. Setiap keris mengena tubuhnya, tubuh pembangun langsung mburup (keluar apinya). Panglima Nala dan seribu pasukannya pun menyerah. Prabu Jayanegara pun kemudian mengembalikan Saraswati ke pemuda itu. Pembangun kemudian justru dijadikan bekel di trowulan dan dikasih banyak intan permata sebagai bentuk penyesalan dan penghargaan Jayanegara terhadap keberanian, kesaktian, dan rasa cinta Pembangun yang begitu besar pada Saraswati. Jayanegara juga memberikan gelar GADJAH MADA kepada pemuda itu. Pemuda itupun berkata kepada kekasihnya, "Eh, Dik Saras... Banyak banget ya intan yang dikasih raja Majapahit itu.. Lihat aku juga dijadikan bekel di Trowulan.. Lihat aku diberikan gelar Gadjah Mada.. Tidak tahukah kamu kalau semua prajurit Majapahit semua tunduk ketika menatap wajahku...". Perempuan muda cantik itu pun berkata lirih, "Mas.. Aku tidak memperhatikan itu semua.. Yang aku perhatikan hanyalah ada seorang pemuda lugu dari desa yang ngluruk tanpa bala (melawan seorang diri tanpa pasukan) hanya untuk kekasihnya...".
Salemba, 30 Maret 2010.
*Cerita ini ngarang abis dan dibuat dalam tempo 5 minutes.
Hatiku selembar daun...
Arif Rohman
Seribu tahun yang lalu ada seorang pemuda desa dari Trowulan bernama Pembangun. Pembangun adalah anak yang lugu, pemberani dan patuh pada orang tuanya. Meskipun hatinya baik bak intan, namun parasnya tidak begitu tampan. Tapi dunia memang sungguh adil. Ada seorang kembang desa yang bernama Saraswati yang elok nan rupawan mencintai dia. Mereka sangat bahagia dan saling mencintai. Namun kemudian datanglah prahara, raja Majapahit Jayanegara bermodal seribu pasukan mengepung desa itu dan membawa Saraswati untuk diperistri. Pada waktu itu Pembangun sedang nyangkul di sawah. Begitu tahu Saraswati mau dijadikan selir Jayanegara, Pembangun seorang diri datang ke kota raja Majapahit dan menantang seluruh pasukan yang diketuai Panglima Nala. Sungguh aneh, dikepung seribu pasukan dia tetap tenang, mungkin karena doa dari ibunya, dia mati tertombak lembing, tertusuk anak panah dan tergores keris, tapi dia hidup lagi, begitu berkali-kali, sampai bajunya penuh darah. Ketika Panglima Nala turun tangan sendiri pun, dia baru tahu kalau Pembangun anak desa yang kerjanya nyangkul itu begitu sakti mandraguna. Setiap keris mengena tubuhnya, tubuh pembangun langsung mburup (keluar apinya). Panglima Nala dan seribu pasukannya pun menyerah. Prabu Jayanegara pun kemudian mengembalikan Saraswati ke pemuda itu. Pembangun kemudian justru dijadikan bekel di trowulan dan dikasih banyak intan permata sebagai bentuk penyesalan dan penghargaan Jayanegara terhadap keberanian, kesaktian, dan rasa cinta Pembangun yang begitu besar pada Saraswati. Jayanegara juga memberikan gelar GADJAH MADA kepada pemuda itu. Pemuda itupun berkata kepada kekasihnya, "Eh, Dik Saras... Banyak banget ya intan yang dikasih raja Majapahit itu.. Lihat aku juga dijadikan bekel di Trowulan.. Lihat aku diberikan gelar Gadjah Mada.. Tidak tahukah kamu kalau semua prajurit Majapahit semua tunduk ketika menatap wajahku...". Perempuan muda cantik itu pun berkata lirih, "Mas.. Aku tidak memperhatikan itu semua.. Yang aku perhatikan hanyalah ada seorang pemuda lugu dari desa yang ngluruk tanpa bala (melawan seorang diri tanpa pasukan) hanya untuk kekasihnya...".
Salemba, 30 Maret 2010.
*Cerita ini ngarang abis dan dibuat dalam tempo 5 minutes.
Hatiku selembar daun...
Subscribe to:
Posts (Atom)