Thursday, 11 November 2010

Never under-estimate others, guys...

Never under-estimate others, guys..



Kabayan dan profesor duduk berhadapan di kereta api yang membawa mereka
dari Bandung ke Jakarta. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, itulah
sebabnya sepanjang perjalanan mereka tidak saling bercakap-cakap.

Untuk mengusir kebosanan, profesor menawarkan sesuatu pada Kabayan,
“Hai Kabayan, bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?”

Kabayan diam saja sambil menatap pemandangan di luar jendela kereta.
Hal ini membuat Profesor menjadi gusar. Katanya, “Kabayan, ayo kita main
tebak-tebakan!

Aku akan mengajukan pertanyaan untuk kau tebak. Kalau kau tak bisa
menjawabnya, kau harus membayarku Rp.5.000, Tetapi kalau kau bisa
menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000.

Kabayan mulai tertarik dengan tawaran itu.

Profesor melanjutkan, “Kemudian, kau ajukan pertanyaan padaku. Kalau
aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar aku Rp. 5.000. Tapi kalau aku tak
bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000, Bagaimana?”

Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya, “Baik kalau begitu. Sekarang
ajukan pertanyaanmu.”

“Ok,”sahut profesor dengan cepat. “Pertanyaanku, berapa jarak yang
tepat antara bumi dan bulan?”

Kabayan tersenyum karena tak tahu apa jawabannya. Ia langsung merogoh
sakunya dan menyerahkan Rp. 5.000,pada profesor. Dengan gembira Profesor
menerima uang itu, “Nah, sekarang giliranmu.”

Kabayan berpikir sejenak, lalu bertanya, “Binatang apa yang sewaktu
mendaki gunung berkaki dua. Tapi sewaktu turun gunung berkaki empat?”

Profesor lalu berpikir keras mencari jawabannya. Ia melakukan
coret-coretan perhitungan dengan kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop,
menghubungkannya dengan internet dan melakukan pencarian di berbagai
situs ensiklopedi. Beberapa lama, profesor itu mencoba. Akhirnya ia
menyerah.

Sambil bersungut-sungut ia memberi uang Rp. 50.000 pada Kabayan yang
menerimanya dengan hati senang.

“Hai, tunggu dulu!” profesor itu berteriak. “Aku tidak terima. Apa
jawaban atas pertanyaanmu tadi?”

Si Kabayan tersenyum pada profesor. Dengan santai ia merogoh saku
celananya dan menyerahkan Rp.5.000,- pada profesor.




Hatiku selembar daun...

PILIH GADIS MATEMATIS ATAU GADIS LOGIS?

PILIH GADIS MATEMATIS ATAU GADIS LOGIS?



Ada dua orang gadis, salah satu dari mereka cara
berpikirnya MATEMATIS (M) dan yang lainnya cara
berpikirnya mengandalkan LOGIKA ( L) . Mereka berdua
berjalan pulang melewati jalan yang gelap, dan
jarak rumah mereka masih agak jauh. Setelah beberapa
lama mereka berjalan....

M : Apakah kamu juga memperhatikan, ada seorang pria
yang sedang berjalan mengikuti kita kira2 sejak
tigapuluh delapan setengah menit yang lalu? Saya
khawatir dia bermaksud jelek.

L : Itu hal yang Logis. Dia ingin memperkosa kita.

M : Oh tidak, dengan kecepatan berjalan kita seperti
ini, dalam waktu 15 menit dia akan berhasil menangkap
kita. Apa yang harus kita lakukan.

L : Hanya ada 1 cara logis yg harus kita lakukan,
yaitu berjalan lebih cepat.

M : Itu tidak banyak membantu, gimana nich.....

L : Tentu saja itu tidak membantu, Logikanya kalau
kita berjalan lebih cepat dia juga akan mempercepat
jalannya.

M : Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dengan
kecepatan kita seperti ini dia akan berhasil menangkap
kita dalam waktu dua setengah menit...

L : Hanya ada satu langkah Logis yang harus kita
lakukan.. Kamu lewat jalan yang ke kiri dan aku lewat
jalan yang kekanan. sehingga dia tidak bisa mengikuti
kita berdua dan hanya salah satu yang diikuti
olehnya.

Setelah kedua gadis itu berpisah, ternyata Pria tadi
mengikuti langkah si gadis yang menggunakan logika
(L ). Gadis matematis ( M) tiba di rumah lebih dulu dan
dia khawatir akan keselamatan sahabatnya. Tapi, tidak
berapa lama kemudian, Ga dis Logika (L ) datang.

M : Oh terima kasih Tuhan.. Kamu tiba dengan selamat.
Eh, gimana pengalamanmu diikuti oleh Pria tadi?

L : Setelah kita berpisah dia mengikuti aku terus.

M : Ya.. ya.. Tetapi apa yang terjadi kemudian dengan
kamu?

L : Sesuai dengan logika saya langsung lari sekuat
tenaga dan Pria itupun juga lari sekuat tenaga
mengejar saya.

M : Dan... dan..

L : Sesuai dengan logika dia berhasil mendekati saya
di tempat yang gelap...

M : Lalu.. Apa yang kamu lakukan?

L : Hanya ada satu hal logis yang dapat saya lakukan,
yaitu saya mengangkat rok saya..

M : Oh... Lalu apa yang dilakukan pria tadi?

L : Sesuai dengan logika... Dia menurunkan
celananya...

M : Oh tidak... Lalu apa yang terjadi kemudian?

L : Hal yang logis bukan, kalau gadis yang mengangkat
roknya larinya lebih cepat dari pada lelaki yang
berlari sambil memelorotkan celananya... So akhirnya
aku bisa lolos dari pria itu...





Hatiku selembar daun...

Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan

Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan

Martin Aleida



Genealogis, siapa sebenarnya Sitor Situmorang itu? ”Saya adalah keturunan Si Marsaitan generasi ke-12,” kata sang penyair dengan lantang. Si Marsaitan? Kalau begitu kakek-moyang Sitor adalah anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, yang lahir dari cinta palsu, karena perempuan yang hebat itu berpura-pura cinta dan menjadi istri karena ingin membalas dendam atas kematian suami yang sungguh dia cintai. Dalam biografi yang ditulisnya, ”Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba,” dia mengisahkan serentetan kejadian dramatis, begini rupa: Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk. Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta.

Namanya hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh. Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur lawan sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh panglima dari suku pemenang, sebagai penghinaan tiada tara, kepalanya ditanam, dijadikan alas tangga batu menuju rumahnya.

Dan, martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terinjak-injak lagi ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membuat geger marga membikin malu negeri. Bayankanlah, dia main mata, bercumbu-rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memenggal kepala suami pujaannya. Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula. Disuruhnyalah suami barunya itu membuatkan bahan pewarna yang lebih bermutu, yang dibuat dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang telah dia taklukkan dengan darah. Apabila malam sudah melingkup seluruh gunung, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi.

Suatu malam, malam penghabisan, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami, yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuan si istri, maka sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun di leher suaminya. Namun, sekali ini, bukan asmaranya yang menggelora, tapi keinginannya menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya diam-diam menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu. Dia menatap leher suaminya, dengan dendam yang ingin dituntaskan tentu, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala laki-laki itu terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah di peraduan di mana cinta kepura-puraan baru saja berlalu.
Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Bergegas dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu. Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar bernoda, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama.

Sampai di huta itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang huta yang tegak bagaikan benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan meninggi suaranya, mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!”

Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah karena ucapan yang menyakitkan itu. Niatnya tak tergoyahkan. Lalu, kepada penjaga di mengatakan dia harus bertemu dengan kepala marga dan percayalah bahwa dia tidak akan pergi sebelum diizinkan masuk. Wali adat pun dibangunkan, perundingan digelar di antara mereka. Hasilnya: Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk menghadap.

”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan dengan takzim menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.” Dengan syahdu katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.” Pemimpin rapat adat diam bagai paku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos.

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk membersihkan nama perempuan yang gagah berani menerjang langit itu. Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.” Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan, kakek-moyang Sitor Situmorang.

Unik, kuat berakar pada tradisi Batak nan purba, heroik, namun tak bebas dari godaan zaman, itulah Sitor. Ayahnya berumur 74 tahun ketika dia dilahirklan oleh istri kedua ayahnya. Sang ayah meninggal dalam usia 103 tahun. Tanggal 2 Oktober 2009 Sitor merayakan ulangtahunnya yang ke-85. Tapi, siapa tahu, mungkin dia sebenarnya sudah berusia 86. Dia memang yakin lahir 2 Oktober, tapi tahunnya meragukan, apakah 1923 atau 1924. Karena catatan yang kurang jelas di dalam buku gereja, katanya.

Sitor adalah penyair Indonesia paling produktif dibandingkan dengan sastrawan seangkatannya atau para pendahulunya. Dia telah menulis 103 puisi yang terkumpul dalam tiga antologi yang mengekalkan namanya dalam perpuisian modern Indonesia: Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama. Dia melampaui ”si binatang jalang” yang dia kagumi, Chairil Anwar, yang hanya membukukan 69 puisi, Sanusi Pane 48, dan Amir Hamzah 52. Tak ada penyair yang mengembara sejauh yang telah diseret kakinya. Dari Harianboho, di lembah Pusuk Buhit, di mana manusia Batak yang pertama, menurut mitologi, diturunkan oleh Dewata, dia menginjakkan kaki di Batavia, lantas bertualang di Belanda, Perancis, Italia, Spanyol, dan bertahun-tahun kemudian menjadi ”warga dunia,” bolak-balik Jakarta-Paris- Amsterdam. Tak ada yang cukup berani membawa sikap bohemian ke dalam kehidupan keluarga sebagaimana yang telah dia tunjukkan dalam hidupnya. Berpisah dengan istri pertamanya,
Tiominar Gultom, untuk kemudian merebahkan kepalanya yang sarat puisi nan romantis ke pangkuan seorang perempuan Belanda yang telah membawa aura baru ke dalam gaya hidupnya yang berbunga-bunga: Barbara Brouwer. Hubungan asmara yang sempat dilukiskan V.S. Naipaul, pemenang Nobel Sastra 2001, di dalam salah satu bukunya, hasil kunjungannya ke Indonesia, ”Among the Believers.” Keterlibatan Sitor dalam politik menyebabkannya harus mengenakan baju tahanan Orde Baru bernomor 5051. Sebagai sahabat dan pengikut Sukarno, dia mendekam dalam penjara kekuasaan Suharto yang fasistis selama delapan tahun tanpa proses pengadilan. Masih mujur, dia tak sempat dibuang ke Buru, sebagaimana temam-teman seperjuangannya yang dituduh komunis dan dicap jadi dalang pembunuhan jenderal-jenderal, hidup melata selama sepuluh tahun di pulau buangan itu. Bagaimanapun, dia sudah merasakan tepi neraka, ketika selama tiga bulan dikurung di Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo,
Jakarta Pusat. Selama seratus hari dia tak pernah melihat matahari. ”Tiga bulan terasa seperti tiga abad,” katanya lirih kepada penulis risalah ini yang bersama Dolorosa Sinaga, Chris Poerba, dan Hotman J. Lumban Gaol dari majalah TAPIAN datang bertandang ke lantai 10 Bellagio, apartemen di bilangan Kuningan, Jakarta Pusat, di mana dia dan Barbara menghabiskan waktu selama mereka berada di Indonesia.
.....

Tiba juga
saatnya aku melangkahkan
langkah pertama
(sesudah 8 tahun menunggu)
saat gerbang ke-7
dibuka
ke dunia luar
yang baru dan menyilaukan

......

Begitu dia mendendangkan perasaannya saat melangkah keluar dari bendul penjara Salemba, di mana ratusan tahanan telah menemukan ajal karena kekurangan makanan dan diserang penyakit -- untuk menerima pembebasan atas kesalahannya yang tak pernah dijelaskan, pada tahun 1976.

”Saya bukan orang mistik, namun dibesarkan dalam alam yang dirasuki mistik pada masa kanak-kanak, di mana mitos dan silsilah, silsilah dan mitos adalah anak kembar impian manusia, yang sekaligus jadi pegangannya. Dunia ini adalah kata kias untuk penjara, secara kebatinan tentunya, untuk orang yang percaya akan yang gaib seperti Ayah, seperti Kakekku,” katanya.

Namun, Sitor dipenjarakan bukan karena yang gaib, tapi oleh yang nyata, tersebab pilihannya untuk bersahabat dan memperjuangkan pandangan politik seorang nasionalis besar yang bernama Sukarno. Karena gagasan Soekarno mengenai keniscayaan bersatunya kaum nasionalis, agama, dan sosialis-komunis untuk kejayaan Indonesia, Sitor, sebagai ketua Lembaga Kebudayaan Nasional awal tahun 1960-an bekerjasama erat dengan para tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sebagai penyair, dia bersama Rivai Apin berkunjung ke Tiongkok pada masa itu, pulang-pulang dia menulis sejumlah puisi perjalanan yang kemudian diterbitkan dengan judul ”Zaman Baru” -- mengambil nama majalah terbitan Lekra yang dipimpin oleh Rivai Apin. Antologi itu berukuran sebesar buku tulis dengan kulit berwarna kuning cemerlang. Kalau dikaitkan dengan tema yang tampil dalam puisi-puisi di dalamnya, judul itu bisa pula dibaca sebagai sebuah metafora untuk melukiskan pembangunan dunia baru di
Tiongkok di bawah kepemimpinan Ketua Mao. Dalam perjalanan ke Tiongkok itu Sitor tidak hanya ditemani oleh Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani, tetapi juga para pengarang dari Asia-Afrika. Dalam sebuah pembicaraan di Teater Utan Kayu, Sitor menceritakan, dalam perjalanan tersebut, dia tak banyak berbicara dengan Rivai Apin, orang dianggap telah ”membinanya.”

Rivai, salah seorang pelopor Angkatan 45, adalah seorang pembaca yang tekun, dengan rokok yang sambung-menyambung di jarinya, namun dia bukanlah seorang yang gemar berbicara apalagi berdiskusi mengerenyitkan jidat. Dia murah senyum, dengan lirikan matanya yang khas, sambil membuat komentar-komentar kecil yang menggelitik. Ketika penulis duduk sebagai salah seorang anggota redaksi bulanan Zaman Baru itu bersama S. Anantaguna pada tahun 1964, Pai (dia acap disapa dengan Bung Pai) mengingatkan saya, ”Kalau kurang naskah, pegang saja leher baju Sabar,” maksudnya S. Anataguna, salah seorang anggota pimpinan pusat Lekra. ”Kalau kehabisan stok vignette untuk mengisi halaman, tutup botol kecap boleh kau pakai...,” dan dia terkekeh-kekeh dengan giginya yang kuning kecoklatan disamak candu rokok.

Tentang antologi puisi perjalanan ”Zaman Baru” itu, para pengamat sastra ketika itu memberikan tinjauan dan komentar, baik yang memuji maupun mencerca serta menuduh Sitor telah terlalu jauh mencemari sastra dengan politik. Tetapi, tak sedikit yang mengenang puisinya yang berjudul ”Makan Roti Komune” sebagai puisi perjalanan berbobot politik yang hangat mempesona. Puisi itu dianggap sebagai perpaduan yang serasi antara sikap politiknya sebagai seorang nasionalis berpadu dengan pencapaian artistik dalam dua puisi paling awalnya yang monumental, ”Lagu Gadis Itali” dan ”Jalan Batu ke Danau.”

Delapan tahun dikerangkeng Orde Baru, sikap Sitor tidak berubah sebagai seorang pengikut dan pengagum Sukarno. Dalam sebuah pertemuan belum lama ini, di rumah salah seorang anaknya, dari istri pertama, di wilayah Sawangan, Jawa Barat, sedang hangat-hangatnya Sitor berbicara, salah seorang tamu yang masih muda menimpali, ”Bukankah Sukarno tidak bebas dari kesalahan?” Gesit bagaikan seorang pesilat, Sitor cepat bangkit dari tepat duduk dan meninju meja: ”Bah, kau pikir Sukarno itu malaikat?!” Bibirnya bergetar dan menatap dengan tajam anak muda yang berada di depannya seperti mau menelannya.

Sitor berdiri begitu kokoh, dan tampak lebih sehat dari lima tamu yang sedang mengeruminya. Layaknya dia belum pernah menjalani operasi jantung bypass (di Paris), di mana lima pembuluh darah jantungnya dipotong disambung-sambungka n. Hanya garis-garis yang menoreh di pojok matanya yang menunjukkan dia sudah berusia mendekati 85 tahun. Juga mata kirinya yang menjadi agak sipit dibandingkan dengan yang kanan.

”Kalau ada bukti bahwa Sukarno itu menangkap Syahrir, barulah akan saya katakan, ’Sekarang di tahun 2009 ini, Sitor Situmorang, pengikut Sukarno, akan menyerukan hapus jasa-jasa Sukarno,’” dia meletup kembali. Dengan tetap tegak, tantangnya pula: ”Apa salah Sukarno? Katakan...! Syahrir berlindung di belakang Sukarno sehingga bebas dapat berkumpul dan bertemu dengan kelompok radikal. Jepang takut menjamah Syahrir karena ada Sukarno yang melindunginya.” Sitor mentah-mentah menolak sang pemimpin pujaannya, Putra Sang Fajar, sebagai seorang kolaborator Jepang.

Ketika salah seorang tamunya berusaha untuk menenangkan suasana percakapan yang memanas ketika itu, dan bertanya apakah dia, dalam usia selanjut seperti sekarang, masih menenggak bir kesukaannya, dengan ligat sambil senyum malu-malu dia menjawab: ”Ah, itu harus...” dan dia tertawa terkekeh. ”Ai berapa botol kau punya?” tantangnya pula. Giginya masih kuat menyantap makanan yang dinikmati anak-anak muda yang menjadi tamunya. Bedanya, dia harus menelan pil penjaga kestabilan kadar gula di dalam darahnya sebelum duduk di kursi meja makan.

Ketika ditanya, apa rahasianya bisa bertahan hidup dengan usia yang panjang dan relatif sehat, dia menjawab: ”DNA menentukan.” Sitor bersaudara sembilan orang. Ayahnya, yang berjuang melawan Belanda bersama Raja Sisingamangaraja XII, adalah manusia fenomenal. Seperti manusia yang tidak bisa-bisa mati-mati. Setiap kali merasa ajal sudah mendekat, sang ayah memanggil putra-putranya. Sitor dan saudara-saudaranya secara bersama-sama datang menyampaikan persembahan dan sungkem di hadapan sang ayah. Upacara seperti itu sudah lima kali dilakukan sebelumnya, sejak 1950-1962, ”... Ayah setiap kali merasa sudah dekat ajalnya. Tapi ternyata ia hidup terus.”

Menurut Sitor dalam biografinya, tahun 1963, ketika ayahnya sudah bertahun-tahun sakit, sang ayah menyimpulkan ”Tak akan mati sebelum putra kelimanya, yaitu saya (Sitor) ikut hadir. Saya disuruh jemput dari Jakarta oleh utusan dan dengan titipan ongkos untuk pesawat terbang. Beberapa bulan kemudian, setelah upacara itu, ia pun meninggal, tanpa saya hadir.”

Sitor Situmorang juga menulis cerita pendek, walau tak sampai sepuluh. Dia tak pernah memberi isyarat bahwa dia pernah bercerita secara khusus tentang ayahnya itu. Kecuali ketika dia berkisah dengan syahdu tentang kematian ibunya dalam cerita pendek ”Ibu Pergi ke Sorga.” Di situ, sang ayah muncul sebagai pemeran pembantu. Setelah sang ibu dimakamkan dalam sebuah upacara, begitulah Sitor becerita, ”Ia (ayah) berdiri di pekarangan luas dan memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya ke sudut pekarangan. Tak tahu aku maksudnya. Setelah aku dekat ia berkata: ’Kau ada uang?’

Aku terkejut, karena tak tahu maksud apa yang terkandung dalam pertanyaannya, tapi akhirnya kubilang: ’Berapa Pak perlu?’

”Seribu, dua ribu sudah cukup,” katanya.

”Buat apa?” tanyaku sambil mengikuti dia, dan pada ketika itu kami sampai di sudut pekarangan. Ia memegang bahuku dan sambil memandang ke danau di bawah ia berkata: ’Di sini aku ingin dikubur. Kau harus membuat kuburan semen yang indah buat aku, kalau aku sudah mati, ibumu kau pindahkan ke mari.’

Aku hanya bertanya: ’Mengapa mesti di sini?’

Bapak melepas tangan kirinya dari bahuku. Ia berpaling memandang ke puncak gunung dan berkata: ’Dari tempat ini aku dapat memandang lepas ke daratan tinggi dan ke danau.’

Aku diam...”

Sitor diam terpesona dibuai ayahnya, sementara imajinasi pembaca dibuatnya sesak dengan seribu fantasi tentang kematian yang tak pernah datang ketika memandang indahnya Danau Toba di bawah sana.

Ketika ditanya apakah pernah menyesal dalam hidup, mungkin karena ada yang belum bisa diselesaikan, atau ada yang tak pantas dikerjakan, Sitor menjawab: ”Soal apa yang saya kerjakan tidak ada, baik sebagai pengarang, baik sebagai manusia biasa, baik sebagai kepala keluarga. Tak ada yang perlu saya sesalkan. Pilihan politik saya pun tidak ada yang saya sesalkan.”

Bagaimana Bung ingin dikenang dalam sejarah?

”Saya tidak melihat seperti itu. Kalau saya bekerja, bukan ingin dikenang. Apa yang saya kerjakan itu yang harus dikenang orang. Bukan Sitor. Saya bisa dijelaskan dari karya-karaya saya, bukan dari dongeng-dongeng atas nama Sitor Situmorang. Pandanglah saya dari karya, apa yang telah saya sumbangkan.”

Apakah puncak yang telah Bung capai?

“Tak ada. Belum ada. Mudah-mudahan masih ada. Tapi, kalau pun tidak ada, tidak apa-apa.”

Di antara sekian banyak puisi yang telah ditulis, yang mana yang Bung anggap paling berhasil?
”Tidak ada. Sebab tema puisi saya berbagai macam. Yang satu dengan yang lainnya berbeda.”

Pertengahan Agustus 2009, menjelang tengah hari, saya datang menjemputnya di apartemennya untuk kemudian menemaninya ke Buddhabar, di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, di mana akan berlangsung bedah buku ”Pesta Obama di Bali,” novel Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dan Sitor jadi pembicara di samping Profesor Jakob Sumardjo, sementara saya sebagai moderator. Mantan Presiden Megawati Sukarnoputri yang akan membuka diskusi tersebut. Seraya menunggunya mandi, saya melihat-lihat lukisan dan ornamen-ornamen yang dipajang di dinding. Sekelebat, tak sempat mengeluarkan kamera dari tas, Sitor menyeberang dalam keadaan telanjang bulat dari kamarmandi ke kamartidurnya. Telanjang bulat!! Cepat bagai kilat, saya teringat gosip yang beredar, termasuk dari Pramoedya, bahwa ketika di dalam penjara, kalau mandi, Sitor duduk menjongkok dalam keadaan telanjang bersama tahanan lain, dan yang jijak di lantai tidak hanya kedua kakinya, tetapi juga sejemput daging yang teramat
peka juga ikut membelai lantai. Keluar dari kamar, dia menemui saya dengan dada terbuka, cuma pakai celana pendek: ”Tunggu, aku mau bersolek dulu.”

Saya mencari taxi, dia saya suruh menunggu di depan lobby apartemen. Sementara mencari-cari taxi, saya menoleh ke belakang. Sitor berdiri dengan gayanya, seperti bertumpu pada tongkatnya. Dia mengenakan batik yang redup, tas kecil tergantung di sisinya. Sepatunya Lacoste. Di atas kepalanya membentang gagah nama apartemen: Bellagio. Pemandangan yang unik. Aku seperti melihat Sitor turun dari bukit yang sepi menuju lembah dan tiba-tiba berdiri di depan bangunan yang tak seribu tahun lagi akan dibangun di Pusuk Buhit. Jauh lebih unik dari selembar foto yang pernah ditunjukkannya kepada saya, di mana Sitor muda, dengan janggut tipis, sedang berdiri di persimpangan jalan menuju Granada, Spanyol.

Dalam pidato menandai dibukanya diskusi buku tersebut, Mega memuja Sitor Situmorang sebagai sastrawan besar, dan bahwa dia adalah teman Bapaknya. Dan dia menyatakan keinginan agar suatu ketika, kalau sudah terkumpul, agar karya Sitor juga dibicarakan di gelanggang yang cukup mewah itu. Lantas Mega meninggalkan ruangan. Selepas Jakob Sumardjo, saya persilahkan Sitor untuk memberikan pemaparaannya. Mikropon saya dekatkan ke dagunya. Ketika baru mau memulai, sekitar dua meter di depan, di antara hadirin, pengarang K. Usman berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Sitor rupanya merasa tidak dihormati dengan tingkah-laku seperti itu. ”Saya tidak suka begini, yang bicara tidak didengar. Kalau tidak mau dengar keluar saja. Atau saya saja yang keluar,” katanya sambil berdiri dan menyambar tongkatnya hendak pergi. Hadirin tegang. Cepat saya memeluk pinggangnya, memohon, ”Husomba, Amang [Kusembah Bapak], jangan pergi, malu kita...” Dia menghentak:
”Tidak, tidak...” tapi pelukan saya tetap di pinggangnya sampai dia duduk kembali. K. Usman yang rupanya merasa bersalah, maju ke depan, meminta maaf, tapi ditolak Sitor. ”Apa? Tidak!” sergahnya.

Kulirik dengan pojok mata, amuk hati Sitor sudah reda kembali, walau amarah masih membayang di pelupuk matanya. Dia menyampaikan pandangannya yang agak kritis terhadap novel tersebut, dan bahwa ”Apa yang saya harapkan, tidak muncul di sini.” Kemudian, saya mempersilakan hadirin memberikan tanggapan. Satu-dua orang maju. Mengutarakan pendapat. Diskusi lumayan hidup. Tiba-tiba seseorang meletakkan secarik kertas di depan saya, isinya agar acara dihentikan sejenak, ”Ada yang ingin disampaikan.” Salah seorang dari panitia membacakan surat masuk yang isinya Megawati ingin menyampaikan sumbangan untuk dana pengumpulan karya Sitor Situmorang. Sang penyair diminta maju ke depan untuk menerima amplop dari panitia. Kulihat dengan cukup bergairah amplop itu. Cukup tebal, saya kira lembaran seratus ribu rupiah sebanyak 200 lembar. Di bawah derai tepuktangan hadirin, sang penyair menerima amplop Mega yang diserahkan salah seorang sponsor pertemuan.

Ketika Sitor sudah duduk kembali di sampingku, cepat saya renggut mike dan saya katakan: ”Untung Bung tak jadi pergi. Kalau tadi Bung pergi, ke mana uang sebanyak itu kita cari...” Hadirin gerrr... Sitor terkekeh dan memukul-mukulkan amplop tebal itu ke bahu saya, menahan geli.

Tak sekali dua-kali dia memukul bahu saya kalau sedang hangat-hangatnya pembicaraan. Terkadang dia melompat dari kursi memegangi bahu, dan membacakan sebaris-dua- baris dari sajaknya. Suatu hari, Dolo, Chris, Hotman, dan saya datang mewawancarainya. Karena sofanya tak memadai, kami pun duduk di lantai. Sitor duduk di sofa bagaikan baginda raja. Pantas dia duduk di situ, karena dia memang raja klan Situmorang yang terakhir dan penyair dunia pula. Saya tanyakan, apakah dia tak punya dendam terhadap Suharto yang telah menistakan hidupnya selama delapan tahun?

Dia diam, berdiri dengan mulut terkatup rapat, gigi digigit-gigit, tulang pelipis menjentang, dipungutnya tumpukan buku di atas meja tamu persis di depannya, dan ... dibantingkannya kembali tepat di depan hidungku. Karena sudah mengenalnya, dan sudah terbiasa dengan temperamen Batak, saya membalas dengan sesungging senyum. ”Saya tak punya dendam. Dia itu kecil.” Maksudnya, Suharto tiada bandingannya dengan penghormatan yang telah dia terima dari masyarakat semarganya di Tanah Batak. Dan berderailah cerita dari bibirnya bagaimana dia telah menjadi orang paling terhormat di kampungnya, tak lama setelah dia keluar dari penjara, dihormati dalam sebuah acara yang disebut mangongkal holi [memindahkan tulang-belulang nenek-moyang] . Yang terakhir mendapat penghormatan seperti itu adalah keturunan kedelapan sebelum Sitor.

Mitologi Batak merasuk ke dalam hati Sitor sebagai peristiwa sastra, acara-acara adat yang sarat dengan arti dan penuh irama memperkaya bakat alamnya. Suatu ketika, dia pernah bilang, kalau berada jauh di daratan Eropa, supaya jiwa tetap berada dalam pelukan tanah kelahiran maupun dalam kata-kata dan irama bahasa, dia tak lupa membawa kumpulan sajak Hamzah Fansyuri ”untuk dibaca-baca.”

Sitor sempat beberapa tahun mengajar Bahasa Indonesia di Belanda. Agaknya, Sitor bukanlah Batak komplit, yang haus akan hamoraon, kekayaan benda sebagai salah satu tujuan hidup. Dia cuma kaya dalam kata-kata, makmur dengan puisi-puisinya. Kekayaan yang tak mati-mati, tentu. Dia mengaku “tak bisa mencari uang” di luar menulis, mengajar, dan berbicara mengenai kebudayaan dalam berbagai pertemuan. Di Belanda, Perancis, dan Jerman dia kerap diundang sebagai “duta besar Tanah Batak,” dan diminta ceramah mengenai tanah tumpah darahnya sebagai orang dalam. Sebagaimana yang tercermin dalam bukunya, “Toba Na Sae,” sikapnya selalu beranjak dari pandangan dan pengamatannya sendiri. Dia tidak terpengaruh, malah mengkritik para peneliti Barat. Contohnya, kesimpulan Barat yang mengatakan orang Batak suka berperang hanya setelah mengamati huta di Tanah Batak yang selalu dikelilingi batu-bartu besar serupa benteng penghadang musuh. “Kalau berperang dan
berkelahi setiap hari bagaimana orang Batak bisa hidup sampai sekarang!” sanggahnya enteng.

Dia menjelaskan batu yang mengelilingi setiap huta, yang kelihatan mirip benteng itu, muncul karena upaya untuk memperluas areal tanah persawahan. Batu-batu itu disingkirkan dan ditumpuk agar bisa dikerjakan lahannya. Proses penyingkiran bebatuan itu berjalan sejak peradaban Batak berkembang.

Sitor berniat untuk berada di Indonesia sampai Oktober tahun ini, untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-85 di sini. Niat itu kesampaian juga. Karena istrinya, boru Belanda, Barbara Brouwer, yang telah menyandang boru Purba, bekerja selama setengah tahun mengelola Erasmus Huis, sayap kebudayaan dari Kedutaan Besar Kerajaan Belana untuk Indonesia. Barbara menjadi koordinator kegiatan seni dan budaya di situ.

Dalam usia tuanya, dia selalu membawa tongkat. Tetapi, tongkat itu kelihatan lebih banyak berperan sebagai ornamen belaka, karena kalau akan menaiki atau menuruni tangga, dia dengan tangkas menepis tangan siapa pun yang ingin memapahnya. Dia selalu ingin berdiri tegak di atas kakinya. Melihat dia berdiri, dengan mata menatap ke depan, maka saya seperti membaca sebuah buku besar yang ditulis dengan kata-kata sederhana tapi dengan simpul yang terang. Bahwa yang menulis sejarah bangsa saya adalah para korban kebengisan rezim bangsanya sendiri. Seperti si tua yang berdiri depan saya ini. Beratus ribu mereka, mungkin berbilang juta, dan saya lihat mereka di mata Sitor, juga di lututnya ketika dia kelur dari kamarnya menyambut saya. Dia, sebagaimana kata temannya, Pramoedya, toh ”tidak gepeng” dihantam palu godam dan popor Orde Baru. Merekalah yang menulis sejarah sejati bukan para penindasnya. .. ***





Source :

Saut Situmorang

http://www.facebook/ .com/profile. php?id=554828232 &ref=name
http://sautsitumora/ ng.multiply. com/
http://sautsitumora/ ng.wordpress. com/

-During times of universal deceit,
telling the truth becomes a revolutionary act
(George Orwell)

Kejutan di hari ulang tahunku

Kejutan di hari ulang tahunku



Dua minggu yang lalu merupakan ulang tahunku yang ke-35 dan moodku tidak terlalu baik pada pagi itu. Aku turun untuk sarapan dengan harapan istriku akan mengucapkan dengan penuh sukacita "Selamat ulang tahun suamiku tersayang" dan mungkin saja dengan sebuah kado ulang tahun untukku. Waktu berlalu dan bahkan dia tidak mengucapkan selamat pagi. Aku berpikir, ya... itulah istri, tapi mungkin anak-anakku akan mengingat kalau hari ini aku berulang tahun. Anak-anak datang ke meja makan untuk sarapan namun mereka juga tidak mengatakan satu patah katapun. Akhirnya aku berangkat ke kantor dengan perasaan penuh kecewa dan sedih.

Ketika aku masuk ke ruangan, sekretarisku Janet menyapaku "Selamat pagi Boss, selamat ulang tahun". Dan akhirnya aku merasa sedikit terobati mengetahui ada seseorang yang mengingat hari ulang tahunku. Aku bekerja sampai tengah hari dan kemudian Janet mengetuk pintu ruanganku dan berkata "Apakah Anda tidak menyadari bahwa hari ini begitu cerah di luar dan hari ini adalah hari ulang tahun Anda, mari kita pergi makan siang, hanya kita berdua". Aku berkata "Wow, itu adalah perkataan yang luar biasa yang saya dengar hari ini, mari kita pergi".

Kami berdua pergi makan siang. Kami tidak pergi ke tempat dimana kami biasanya makan siang, tetapi kami pergi ke tempat yang sepi. Kami memesan 2 botol martini dan sangat menikmati makan siang kami. Dalam perjalanan pulang ke kantor, dia berkata "Anda tahu ini adalah hari yang begitu indah, Kita tidak perlu kembali ke kantor kan ?". Tidak perlu, saya pikir tidak perlu, jawabku. Lalu dia mengajak saya untuk mampir ke apartemennya.

Setelah tiba di apartemennya, dia berkata "Boss, jika Anda tidak keberatan, saya akan pergi ke ruang tidur dan melepaskan sesuatu agar lebih nyaman". Tentu saja sahutku dengan gembira. Dia pergi kekamar tidur dan kira-kira enam menit kemudian dia keluar membawa kue ulang tahun yang besar diiringi oleh istri, anak-anakku dan sejumlah rekan kerja kami sambil menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.

Aku hanya duduk terpaku disana. Di sebuah sofa panjang....... telanjang tanpa sehelai benang.




Hatiku selembar daun...

KAPAN TUHAN MENDENGARKAN KELUH KESAHKU?

KAPAN TUHAN MENDENGARKAN KELUH KESAHKU?



Ada seorang anak muda yang bersahabat akrab dengan seorang pengkhotbah tua. Suatu hari, anak muda ini kehilangan pekerjaannya dan tidak tahu lagi harus
berbuat apa. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari si pengkhotbah tua itu



Ketika berada di ruang belajar si pengkhotbah, si pemuda ini berteriak-teriak tentang problem hidupnya. Akhirnya dengan kalap dia mengepal-ngepalkan tinjunya, sambil berteriak, "Saya memohon Tuhan agar menolong saya. Tapi hai pengkhotbah, mengapa Dia tidak menjawab saya?"

Si pengkhotbah tua itu pergi ke ruang lain dan duduk di sana. Lalu dia berbicara sesuatu dan menanti jawaban si pemuda. Tentu saja si pemuda itu tidak mendengarkan dengan jelas, sehingga dia ikut-ikutan pindah ruangan.

"Apa sih katamu?" tanya si pemuda penasaran. Si pengkhotbah itu mengulangi kata-katanya dengan perlahan sekali, seperti sedang bergumam sendiri. Tetapi si pemuda belum menangkap bisikan si pengkhotbah. Dia terus mendekati si pengkhotbah tua ini dan duduk di bangku sebelahnya.

Si pemuda itu lagi-lagi bertanya, "Apa katamu? maaf, saya tadi belum mendengarnya."

Dengan lembut, si pengkhotbah memegang pundak si pemuda, "Saudaraku, Allah kadang-kadang berbisik, jadi kita perlu lebih dekat menghampiriNya, agar dapat mendengar Dia dengan lebih jelas lagi." Si pemuda itu tertegun dan akhirnya dia mengerti.




Hatiku selembar daun...

Ahh... Kalung Mutiara!!

Ahh... Kalung Mutiara!!



Alkisah ada seorang gadis cantik, kecil berusia 5 tahun, bermata indah. Suatu hari, ketika ia dan ibunya sedang berbelanja bulanan, gadis cilik itu melihat sebuah kalung mutiara tiruan. Indah, meskipun harganya cuma 2.5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut, dan mulai merengek kepada ibunya

Akhirnya sang Ibu setuju, katanya: "Baiklah, anakku. Tetapi ingatlah bahwa meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti, sesampai di rumah, kita buat daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Dan, biasanya kan Nenek selalu memberimu uang pada hari ulang tahunmu. Itu juga harus kamu berikan kepada ibu." "Okay," kata si gadis setuju.

Merekapun lalu membeli kalung tersebut. Setiap hari, sang gadis dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang ditulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh neneknya pada hari ulangtahunnya juga diberikannya kepada ibunya. Tidak berapa lama, perjanjiannya dengan ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia pakai kalung itu kemanapun ia pergi. Ke sekolah taman kanak-kanaknya, ke gereja, ke supermarket, bermain, dan tidur, kecuali mandi. "Nanti lehermu jadi hijau," kata ibunya. Dia juga memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya.

Setiap menjelang tidur, sang ayah akan membacakan sebuah buku cerita untuknya. Suatu hari, seusai membacakan cerita, sang ayah bertanya kepadanya: "Anakku, apakah kamu sayang ayah?" "Pasti, yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi ayah." "Kalau kau memang mencintai ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada ayah." "Ya, ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain. Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus. Ayah juga ambil pakaian-pakaiannya yang terbaru. Tapi, jangan ayah ambil kalungku." "Ya, anakku, tidak apa-apa. Tidurlah." Sang Ayah lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata: "Selamat malam, anakku. Semoga mimpi indah."

Seminggu kemudian, setelah membacakan cerita, ayahnya bertanya lagi: "Anakku, apakah kamu sayang ayah?" "Pasti, Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu." "Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?" "Ya, jangan kalungku, dong. Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. Ayah masih ingat, kan? Itu mainan favoritku. Rambutku panjang, lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya, dan sebagainya. Ambillah, Yah. Asal ayah jangan minta kalungku. Ya?" "Sudahlah, nak. Lupakanlah," kata sang ayah.

Beberapa hari setelah itu, Si gadis cilik terus berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya, dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak. Beberapa hari kemudian, ketika ayahnya membacakan cerita, dia duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya, sambil berkata: "Ayah, terimalah ini".

Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya, dan ia melihat dengan penuh kesedihan, kalung tersebut berpidah ke tangan sang ayah. Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu Kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya. Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah, dan sangat mahal.

Ia telah menyimpannya begitu lama, untuk anak yang dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli.



Hatiku selembar daun...

Pengusaha dan Anaknya

Pengusaha dan Anaknya


Ada seorang pengusaha Cina kaya raya. Ia sudah tua dan ingin pensiun.Dia memanggil ketiga puteranya dan berkata Saya tidak akan membagi perusahaan saya dan memberikannya pada kalian bertiga. Hal yang ingin ku ketahui adalah : diantara kalian bertiga siapakah usahawan yang paling baik? Karena itu saya akan menguji kalian bertiga. Siapa yang memenangkan ujian ini akan memperoleh seluruh perusahaan saya.

Maka pengusaha tua tersebut memberikan ketiga puteranya uang Rp. 22.500,- Ketiganya harus menggunakan uang tersebut untuk membeli sesuatu yang dapat memenuhi sebuah ruangan kosong. Anak yang berhasil memenuhi ruangan itu yang akan menang.
Anak pertama segera pergi dan membeli sebatang pohon rindang, dan memotong-motongpohon itu dan diseretnya kedalam ruangan. Potongan-potongan pohon itu hanya memenuhi setengah ruangan.

Anak kedua juga pergi dan membeli rumput alang-alang yang dipotong oleh para petani dari sawah mereka. Para petani membawa rumput alang-alang itu kedalam ruangan dan ternyata hanya memenuhi sebagian besar ruangan.

Anak ketiga rupanya yang paling cerdik. Dia pergi ke sebuah kios dan membeli sebuah lilin seharga Rp. 500. Di malam hari, dia memanggil ayahnya untuk masuk ke dalam ruangan dan menyalakan lilin kecil itu di lantai bagian tengah ruangan itu. Setelah semenit ia pun menoleh kepada ayahnya dan berkata, Ayah,apakah ada satu bagian yang tidak terisi oleh cahaya lilin kecil ini?.

Anak laki-laki itulah yang kemudian mendapatkan perusahaan ayahnya.



Hatiku selembar daun...

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB


Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki,
seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental
Children's Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri
untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah
lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,
dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah
pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa
pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga
bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai
ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan
tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk
bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda
sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di
sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan
masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia
yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena
saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa
anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak
tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah
ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi
- dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih
dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi
udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan
tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita
semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu
untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami
membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang.
Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi
dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda,
komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku
kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan
makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih
sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua
uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat
kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa
indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang
kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk
berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang
anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari
segalanya."

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut
kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda
semua? Ayah saya selalu berkata, "Kamu akan selalu dikenang karena
perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu" .

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya
menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi
PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya
dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang
yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan
yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

" Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri
karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan
isinya disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju
berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato.
Sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh
asisten saya kemarin. Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak
yang berusia 12 tahun "



Source: alumni-bounces@adsindonesia.or.id



Hatiku selembar daun...

Kisah Cincin Zen-sei

Kisah Cincin Zen-sei


Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti
mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana.
Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya
untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain."

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya,
lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu
lakukan satu hal untukku.Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang
sana.
Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?" Melihat cincin Zen-sei yang
kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini
bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang
kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya.
Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka
menawarnya hanya satu keping perak.
Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak.
Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani
menawar lebih dari satu keping perak."

Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata,"Sekarang pergilah kamu ke toko
emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang
emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan
penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud.Ia kembali kepada Zen-sei
dengan raut wajah yang lain.Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang
di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas
menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu
kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih,"Itulah jawaban atas pertanyaanmu
tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya.
Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian.
Namun tidak bagi "pedagang emas".




Hatiku selembar daun...

Pertapa Muda dan Kepiting

*Pertapa Muda dan Kepiting*

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa muda
sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian
pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak
beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya.
Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi
berasal.
Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga>
tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan.
Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk
membantunya.
Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa
muda.
Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati
pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya.
Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara
yang sama dari arah tepi sungai.
Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama.
Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan
jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi.

Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin
membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri
dan menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu menolong adalah
cerminan hatimu yang baik.
Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit
kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?"

"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda.
Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih.
Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa
menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting," jawab
si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas
kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah
ranting.
Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali
melawan arus sungai.
Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.
"Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik,
tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan.
Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak
harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita
manfaatkan, betul kan ?"

Seketika itu, si pemuda tersadar.
"Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu.
*Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. **
*Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang Paman
ajarkan."




Hatiku selembar daun...

JANGAN PERNAH MERAGUKAN KASIH IBUMU

JANGAN PERNAH MERAGUKAN KASIH IBUMU


Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering meratapi nasibnya memikirkan anaknya yang mempunyai tabiat sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mabuk, dan melakukan tindakan-tindakan negatif lainnya. Ia selalu berdoa memohon, "Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi ini, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." Tetapi, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya.

Suatu hari, dia dibawa kehadapan raja untuk diadili setelah tertangkap lagi saat mencuri dan melakukan kekerasan di rumah penduduk desa. Perbuatan jahat yang telah dilakukan berkali-kali, membawanya dijatuhi hukuman pancung. Diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan di depan rakyat desa keesokan harinya, tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu membuat si ibu menangis sedih. Doa pengampunan terus dikumandangkannya sambil dengan langkah tertatih dia mendatangi raja untuk memohon anaknya jangan dihukum mati. Tapi keputusan tidak bisa dirubah! Dengan hati hancur, ibu tua kembali ke rumah.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat telah berkumpul di lapangan pancung. Sang algojo tampak bersiap dan si anak pun pasrah menyesali nasib dan menangis saat terbayang wajah ibunya yang sudah tua.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun setelah lewat lima menit dari pukul 06.00, lonceng belum berdentang. Suasana pun mulai berisik. Petugas lonceng pun kebingungan karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tibatiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Seluruh hadirin berdebar-debar menanti, apa gerangan yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul dan menggantikannya dengan kepalanya membentur di dinding lonceng.

Si ibu mengorbankan diri untuk anaknya. Malam harinya dia bersusah payah memanjat dan mengikatkan dirinya ke bandul di dalam lonceng, agar lonceng tidak pernah berdentang demi menghindari hukuman pancung anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung menyaksikan tubuh ibunya terbujur bersimbah darah. Penyesalan selalu datang terlambat!



Hatiku selembar daun....

Harapan??

Harapan??



Dahulu kala, di sebuah kota, hiduplah sepasang suami istri yang bahagia. Mereka terkenal sebagai pengusaha yang cukup sukses. Ketika sang suami jatuh sakit, satu per satu pabrik miliknya dijual. Harta mereka terkuras untuk membiayai berbagai pengobatan hingga harus berpindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun akhimya tiada.

Beberapa tahun kemudian, rumah makan itu harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil di sebelah pasar.
Setelah lama tak terdengar kabamya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar dan berjualan di alun-alun kota. Cucunya pun sudah bertambah. Orang-orang masih mengenal masa laiunya yang berkelimpahan. Namun, ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.

"Wahai ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?" tanya mereka suatu kali. "Harapan nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pemah berujar, karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon meski kita tahu kita takkan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia. "




Hatiku selembar daun...

Pendekar Hina Kelana : A LAUGH AT THE WORLD

Pendekar Hina Kelana

A LAUGH AT THE WORLD



The seas laugh, lashing on both coasts.
Carried in the waves, we have only now.
The heavens laugh, at the troubled world.
Only they know who is to win and lose.
The mountains laugh, the rain is afar.
When the waves grow old, the world still goes on.
Sniggering at the wind, lost in quite solitude.
Bygone camaraderie bequeaths a tinge of melancholy.
Sniggering at my wasted life, afloat in the sea of loneliness.
I only have my cynicism to redeem my sanity.

Jangan berpikir dirimu lebih saleh..

Jangan berpikir dirimu lebih saleh..


Dua orang laki-laki bersaudara . Mereka sudah yatim piatu sejak remaja.Keduanya bekerja pada sebuah pabrik kecap .
Mereka hidup rukun , dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin.
Untuk datang ke tempat pengajian, Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.
Suatu ketika sang kakak berdo'a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, dia jabatannya naim dia menjadi kepercayaan sang direktur.Dan tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki.Dia mendapatkan bonus karena omzet perusahaannya naik.
Lalu sang kakak berdo'a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.
Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo'a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do'anya itu.
Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.
Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo'a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo'a.
Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo'a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, " Dik, sesungguh ketidak mampuan kita menghapal quran, hadits dan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.. "
Sang adik Mengangguk, hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

----
Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do'anya tak pernah terkabul.
Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do'a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do'a untuk guru mereka, do'a selamat dan ada kalimah di akhir do'anya:
"Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,
Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do'a kakak ku,
Jadikan Kakakku selalu dalam lindungan dan cinta-Mu,
Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku
didunia dan akhirat.,"
Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya.Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo'a untuk memenuhi nafsu duniawinya..
Kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang. Janganlah bangga karena kekayaan dan jangalah putus asa karena kemiskinan..
”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS, al-Hujurat [49]: 13).




Hatiku selembar daun...

TOKO YANG MENJUAL SUAMI BARU

TOKO YANG MENJUAL SUAMI BARU


Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di kota HONGKONG dimana wanita dapat memilih suami. Diantara instruksi2 yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.
"Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI"
Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan
syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari
toko..Lalu, Serombongan wanita dari INDONESIA yang lagi berlibur pun
pergi ke toko "suami" tersebut untuk mencari suami walaupun mereka
semua sudah punya suami..
Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan
rombongan wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,dan senang
anak kecil Kembali rombongan wanita itu naik ke lantai selanjutnya.
Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,senang anak
kecil dan cakep banget. '' Wow'', tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.
Lalu sampailah rombongan wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan
Lantai 4 :
Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang
anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.
''Ya ampun !'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya''
Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,
senang anak kecil,cakep banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa
romantis.
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia Melangkah kembali ke lantai 6 dan
terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012.
Tidak ada lelaki di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita
yang tidak pernah puas.
Terima kasih telah berbelanja di toko "Suami".




Hatiku selembar daun...

BUKAN CINTA MANUSIA BIASA

BUKAN CINTA MANUSIA BIASA



ku tetap mencintaimu masih
meski kau tak cinta aku
ku tetap merindukan
meski kau tak pernah merasa
sedikit pun untuk merindukan aku


Reff :
cintaku ini bukan cinta milik manusia biasa
cintaku ini cinta sejati yang paling sejati

ku tetap memaafkan salahmu
meski kau terus sakiti
ku tetap menerima
seribu kata maaf
yang selalu kau ucapkan
dari bibirmu yang manis




Hatiku selembar daun...

KENAPA HARUS MENYAYANGI IBUMU??

KENAPA HARUS MENYAYANGI IBUMU??



Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup....



Hatiku selembar daun...

3 x 8 = 23

3 x 8 = 23




Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?
"Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".
Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu". Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan
Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya..

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan
membunuh." Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.

Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut
malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan
seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?" Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".
Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."

Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu." Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah
kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya.
Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat. Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (suami tidak betah di rumah)
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).




Hatiku selembar daun...

Cleopatra; Mampu Bicara Tujuh Bahasa

Cleopatra; Mampu Bicara Tujuh Bahasa


Mendengar nama Cleopatra, bayangan yang ada di kepala banyak orang agaknya masih sama. Wanita cantik mempesona yang menyukai kehidupan glamor sarat pesta. Meski yang tersisa hanya legenda, sosok ini nyatanya terus mendunia lewat beragam inkarnasinya yang lahir dari tangan-tangan terampil Hollywood. Sejak zaman film bisu sampai generasi sekarang, Cleopatra seakan ‘muncul’ silih berganti dalam sosok Dewi Amor dengan berbagai nuansa.


Yang paling sering tercermin, baik di panggung opera maupun di layar perak, adalah sosok Cleo yang kehidupannya penuh kemewahan dan pesta pora beraroma birahi seperti dimainkan oleh Theda Bara (Cleopatra–1917), kemudian Claudette Colbert (Cleopatra–Cecil B. DeMille, 1934) atau Vivien Leigh (Caesar and Cleopatra, 1946) karya George Bernard Shaw. Bahkan Cleopatra yang sensual bak boneka seks nyaris tergambar sempurna dalam diri Elizabeth Taylor (Anthony and Cleopatra, 1963).


Memang, tampilan sosok Cleopatra tidak bisa dilepaskan dari kepentingan sekaligus kejujuran para pembuatnya. Kalau diperhatikan dengan seksama, citra wanita cantik ini nampak sengaja dipermainkan, atau lebih tepatnya, dicabik bagian demi bagian untuk kepentingan sesaat. Semisal dalam film All for Love, John Dryden hanya menggambarkan sepintas saja peran Cleopatra sebagai ratu Mesir secara tradisional, sementara peran tambahannya justru lebih banyak. Begitu pula penggambaran George Bernard Shaw tentang Cleopatra sebagai penyuka takhayul, yang kemudian berkembang menjadi bengis, justru menimbulkan rasa tidak simpati kalangan tertentu.


Cleopatra gosong

Yang menarik, belakangan muncul versi lain yang sempat memicu pro-kontra. Sampai sekarang di Museum Inggris masih tersimpan sebuah koin logam dengan relief wajah Cleopatra yang kata orang sono malah mirip Abraham Lincoln. Tak jelas, apakah olok-olok ini berhubungan dengan kontroversi tersebut atau tidak. Namun berdasar asumsi besarnya pengaruh Afrika dalam budaya Yunani dan Romawi, ada pendapat yang mengatakan bahwa Cleopatra adalah seorang wanita berkulit hitam.


Sinyalemen ini wajar, karena memang banyak sisi gelap sejarah keluarga Cleo yang tidak berhasil terkuak secara jelas. Terlebih nihilnya data sejarah yang bisa menggambarkan garis keluarga nenek dari pihak sang ayah, kecuali sedikit informasi bahwa wanita yang mengandung ayah Cleopatra ini memang bukan istri sah dari Kaisar Ptolemy IX.


Versi Cleopatra gosong alias hitam ini tak pelak melahirkan silang pendapat. Mereka yang mengiyakan versi ini menyandarkan argumennya pada temuan bahwa moyang Ptolemy IX, yakni Ptolemy II yang hidup seabad sebelumnya, pernah memiliki selir wanita Mesir. Toh, kesahihan argumen ini diragukan. Apalagi kaum Ptolemy biasanya amat bangga pada darah biru dan keturunannya. Mereka cenderung menikah dengan sanak famili sendiri untuk menjaga kemurnian darah ningratnya. Kalaupun harus mengambil selir, biasanya mereka lebih memilih wanita Yunani kelas atas.


Kebanggaan kaum Ptolemy yang merasa derajatnya lebih tinggi dari bangsa Mesir, tercermin pada kepongahan mereka tak mau bertutur kata dalam bahasa setempat. Buktinya, meski sudah berdiam di Alexandria selama 300 tahun, sebagian besar tidak becus berbicara dalam bahasa setempat. Kebangetan, memang! Dalam kasus ini, Cleopatra bisa disebut orang pertama yang belajar bahasa Mesir.


Beragamnya versi tentang Cleopatra yang beredar jelas membingungkan. Siapa sesungguhnya sosok wanita ini? Bagaimana cerita Cleopatra yang sebenarnya?


Alamat yang dianggap tepat untuk mencari jawaban itu tak lain adalah Plutarch, penulis biografi asal Yunani yang hidup di abad pertama. Meski jauh berbeda dengan berbagai versi hasil ‘rekayasa’ orang, Plutarch memang mengiyakan adanya dua sisi wajah Cleopatra yang dia temukan baik lewat peninggalan sejarah maupun kesaksian mereka yang hidup sezaman. Sebagian mengatakan bahwa Cleo adalah ilmuwan yang diakui kalangan tradisional setempat. Selain dikenal sebagai seorang dewi yang keibuan, dia juga dianggap Sang Penyelamat yang diutus untuk membebaskan bangsa Timur dari penindasan Romawi.


Di lain pihak, Plutarch juga memiliki informasi dari sumber Romawi yang isinya bertolak belakang. Di mata orang Romawi, nyaris tidak ada bagian hidup Cleopatra yang dianggap baik. Perilaku seksualnya dianggap begitu menggebu, sehingga wanita ini dicap sebagai wanita tuna susila paling kejam di dunia sekaligus pengkhianat Romawi.


Politisi cerdik

Dilahirkan tahun 69 sebelum Masehi, Cleopatra adalah anak ketiga dari raja Mesir Auletes yang bergelar Ptolemy XII. Raja ini terkenal dengan sebutan The Flute Player. Untuk mendapatkan dukungan dalam memegang tampuk pemerintahannya, Ptolemy harus sering mondar-mandir ke Roma, bahkan mungkin pernah ditemani Cleopatra kala ia berusia 12 tahun. Dasar lintah darat, pihak Romawi minta bayaran 10.000 talen sebagai imbalan jasa. Jumlah itu dua kali lipat ‘APBN’ Mesir. Ptolemy memang tak punya banyak pilihan. Apalagi negeri yang ditinggalkan sedang menghadapi banyak masalah.


Si sulung Tryphaena, merebut kekuasaan dan tampil jadi ratu. Merasa memiliki hak yang sama, Berenice sang adik, tega membunuh kakaknya agar bisa naik tahta. Beberapa waktu kemudian, Ptolemy pulang dan dengan bantuan Roma membunuh anaknya sendiri untuk dapat merebut kembali tampuk kekuasaan.


Mestinya, sepeninggal Ptolemy XII tahun 51 SM, kerajaan diwariskan kepada Cleopatra (18) yang saat itu sudah dijodohkan dengan Ptolemy XIII yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Masa itu negeri Mesir gagal panen dan dilanda paceklik panjang. Namun Pothinus, orang kasim istana, muncul mengambil alih kekuasaan. Mengaku sebagai wali dari Ptolemy XIII yang kala itu baru 12 tahun, ia mengusir Cleopatra ke luar benteng keraton.


Pada waktu yang sama di Roma sedang terjadi perebutan pengaruh di antara anggota triumvirat—Caesar, Pompeii, dan Crassus—yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam pergolakan itu, Caesar berhasil memukul mundur prajurit Pompeii yang kemudian mengungsi ke Mesir. Karena tak mau negerinya dipakai sebagai tempat persembunyian, akhirnya warga Mesir justru menangkap Pompeii dan menyerahkan kepalanya kepada Caesar yang kebetulan datang ke Alexandria untuk menagih utang Ptolemy XII.


Situasi ini dengan cerdik dimanfaatkan oleh Cleopatra. Terbukti, tak sulit baginya untuk menaklukkan hati Caesar. Bermodal raganya yang molek dan kepiawaiannya merayu, dalam waktu singkat Caesar terpikat dan bertekuk lutut. Plutarch melukiskan betapa kreatif dan uniknya Cleo yang sengaja membungkus tubuhnya dengan selimut, untuk disajikan ke depan Caesar seperti barang dagangan saja. Cerita selanjutnya gampang ditebak. Setelah merasakan kehangatan tubuh dan layanan Cleo di tempat tidur, akhirnya semua permintaan wanita ini terkabul. Tak peduli kala itu Caesar sudah gaek dan botak. Yang penting, Cleopatra memperoleh kembali tahta kerajaan dan Mesir tidak perlu bayar utang kepada Roma.


Betapa gampangnya Cleo memikat dan ‘menundukkan’ kaisar Romawi merupakan bukti, sebagai wanita ia amat piawai menghadapi lawan jenis. Terlebih mereka yang akan dimanfaatkannya. Kelebihan ini diperkuat dengan pendapat sejarawan Yunani abad ke-2, Dio Cassius yang menulis bahwa Cleo “... adalah wanita yang amat indah dipandang dan punya kekuatan untuk menaklukkan siapapun.”


Dengan pengaruhnya itu pula ia ‘memakai’ Caesar untuk menumpas pemberontakan sekelompok prajurit Mesir yang tidak puas dengan pemerintahannya. Sejarah mencatat, insiden pemberontakan ini sempat membumihanguskan perpustakaan negera di Alexandria dan melahirkan misteri tewasnya Ptolemy XIII di Sungai Nil.


Caesar kemudian mengawinkan Cleopatra dengan Ptolemy XIV yang kala itu masih berusia 12 tahun. Langkah ini tak pelak memperkuat dugaan orang. Ternyata memang benar. Kehadiran bocah ingusan ini di sisi Cleopatra hanya dipakai sebagai tabir untuk ‘mengamankan’ perselingkuhan mereka. Ini cara cerdik yang dilakukan Cleo sebelum akhirnya ia mau berterus terang. Apalagi tak lama setelah Caesar meninggalkan Mesir, Cleopatra hamil. Dengan perhitungan matang, mengingat Caesar tidak memiliki anak dari istri sahnya di Roma, Cleopatra menamai anaknya Ptolemy Caesar, yang dipanggilnya Caesarion.


Ia membawa anak itu ke Roma tahun 46 SM. Kedatangannya di Roma disambut meriah dan hangat, bahkan secara khusus Caesar membuat patung emas Cleopatra yang ditempatkan di kuil Venus Genetrix. Kali ini Cleopatra harus memendam kekecewaan besar, ketika pada akhirnya Caesar tidak memilih Caesarion sebagai pewaris tahta, melainkan justru memutuskan Octavian, cucu laki-laki saudaranya. Putus sudah harapan Cleo menancapkan pengaruhnya di Romawi. Dalam keputusasaan ia pulang ke Mesir.


Sakit hati Cleopatra kepada Caesar terbalaskan ketika Romawi diperintah oleh triumvirat generasi berikutnya; yakni Octavian, Lepidus dan Markus Antonius. Nama yang tersebut terakhir inilah yang kemudian berhasil ‘dijerat’ dalam pelukannya.


Saat itu Mesir sudah berhasil memakmurkan diri, bahkan terkaya di kawasan Laut Tengah bagian timur. Kemakmuran itulah yang menarik minat Markus Antonius datang pada tahun 41 SM. Misinya mencari dana untuk membiayai peperangan melawan bangsa Parthia, sebuah kerajaan di tenggara Laut Kaspia.


Kedatangan Antonius ke Mesir disambut hangat oleh Cleopatra. Berbagai jamuan pesta makan dan minum dirayakan. Kedua pihak meneken memorandum of understanding (MoU) bilateral. Cleopatra berjanji memberi dukungan material kepada Antonius dalam peperangannya melawan bangsa Parthia. Sebaliknya Antonius melindungi kepentingan dan keamanan Cleopatra, terutama dalam menyingkirkan Arsinoe, saudaranya yang terlalu ambisius. Tentu saja karena MoU tadi tak mengatur hal-hal di luar urusan kenegaraan, maka kalau hubungan pribadi kedua pelakunya berkembang lebih jauh, tidak ada pihak yang berhak melarangnya. Terbukti, antara Cleopatra dengan Antonius segera terlibat hubungan asmara. Jalinan cinta keduanya berhasil membuahkan tiga orang anak, sepasang kembar, yakni Alexander Helios, Cleopatra Selene serta Ptolemy Philadelphus.


Yang jelas, hadiah terbesar yang diterima Cleopatra adalah penobatan dirinya sebagai Ratu Segala Raja dan Caesarion sebagai Raja Di Raja. Bahkan dengan pengaruhnya, Cleopatra berhasil mendesak Antonius menitahkan Caesarion sebagai pewaris tunggal tahta Roma, dalam sebuah upacara kenegaraan meriah di Alexandria. Sesuatu yang melampaui wewenangnya sebagai anggota triumvirat.


Maka pantas bila kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Triumvirat Romawi kembali pecah, karena Octavian (yang kelak menjadi Kaisar Agustus) menuduh Markus Antonius melakukan desersi dan berniat memindahkan ibukota kerajaan ke Alexandria. Menyusul perpecahan itu, tahun 31 SM terjadilah perang besar antara kubu Octavian melawan kubu Antonius. Pertempuran yang memuncak di Actium harus usai dengan kekalahan Cleopatra dan Antonius. Kisah-kasih kedua insan inipun berakhir tragis. Masing-masing bunuh diri dengan caranya sendiri.


Meski demikian kematian Cleopatra sempat menimbulkan kontroversi. Pendapat yang satu mengatakan akibat gigitan ular berbisa. Tapi disanggah yang lain karena luka di lengannya ternyata hanya gigitan serangga. Sementara yang lain mengatakan ia minum racun yang disembunyikan di dalam tangkai sisirnya yang berongga. Lantas siapa yang benar? Tak ada yang bisa menjawab.


Wanita tegar serba bisa

Biasanya sejarah menampilkan wajah dalam berbagai sisi. Itu terjadi lantaran ia sering merupakan percampuran antara fakta diri yang diimbuhi gincu dan bumbu untuk kepentingan politis. Salah satu contohnya adalah wajah sejarah Cleopatra.


Terlepas dari sisi kehidupannya yang negatif, sosok Cleo adalah wanita tegar yang amat pintar. Pujangga Romawi Cicero mengakui, Cleopatra adalah wanita terpelajar yang masih langka pada zamannya. Pengamatan Cicero membuktikan, wanita ini tidak pernah mau melakukan sesuatu tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Bahkan al-Masudi, sejarawan Arab, mengatakan Cleopatra yang punya minat besar pada ilmu filsafat adalah pengarang buku-buku pengetahuan. Ini tidak mustahil, mengingat catatan sejarah di tangan Plutarch menyebutkan wanita ini menguasai tujuh bahasa.


Di mata kaumnya yang hidup berabad-abad kemudian, kecantikan dan kemolekan Cleopatra yang nyaris tak tercela itu telanjur menjadi legenda. Apalagi, menurut Dio Cassius, Dewi Asmara ini tahu cara berdandan. Cleo bahkan menulis sebuah buku perawatan tubuh berisi resep kecantikan dari ramuan-ramuan aneh, yang pasti sangat asing bagi para ahli kecantikan abad ini, semisal tikus bakar.


Sebagai wanita yang memegang tampuk kekuasaan dan ibu tiga orang anak, Cleopatra menjalani hidup dengan penuh ketegaran. Bayangkan, seorang perempuan sendirian memerintah sebuah kawasan besar yang cukup lama menjadi ancaman bagi Roma. Disamping urusan negara, tentu ia tak bisa meninggalkan Caesarion dan sepasang bayi kembar yang selalu meminta perhatian.


Setiap hari ia sibuk bekerja. Mulai dengan ‘sidang kabinet’, bertemu para penasihat, memberi persetujuan atas proyek pembangunan saluran air, atau memeriksa pemasukan pajak negara. Belum lagi menemui tamu-tamu dan para duta besar yang datang.


Namun, betapapun data sejarah menyediakan segudang jawaban atas berbagai pertanyaan tentang dirinya yang sejati, akankah khalayak tertarik mengubah citra Cleopatra dari yang sudah dikenal selama ini?


[Barbara Holland, Juli 1999, Majalah Intisari].




Hatiku selembar daun...

You're Beautiful

You're Beautiful


My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I'm sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won't lose no sleep on that,
'Cause I've got a plan.

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw your face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.

Yeah, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Fucking high,
Flying high,
And I don't think that I'll see her again,
But we shared a moment that will last till the end.

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw your face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it's time to face the truth,
I will never be with you.



Hatiku selembar daun...

In The Middle Of A Heartbeat

In The Middle Of A Heartbeat



Tell me, pretty girl, do you know who I am?
Have you ever seen me as your friend?
Anything we have is those hungry nights
But there's so much left unsatisfied
All those little things you told me
Ain't good enough to show me
That we're gonna make it through the time

I found out
In the middle of a heartbeat
And I know that I'm doin' right
Together we are still so far apart
I found out
In the middle of a heartbeat
And the more I try to be your light
I can't get any closer to your heart

Now that I'm afraid just to ask for more
I'm still waiting as I did before
If you only said that it's not too late
We could then rely upon our fate
All those little things you'd tell me
Could bear enough to show me
That we're gonna make it through the time

I found out
In the middle of a heartbeat
And I know that I'm tellin' right
Together we are still so far apart
I found out
In the middle of a heartbeat
And the more I try to be your light
I can't get any closer to your heart



HELLOWEEN
Master Of The Rings (1994).





Hatiku selembar daun...

ATAS NAMA CINTA

ATAS NAMA CINTA


Si Pencinta yang Kehilangan Kekasihnya
Seorang laki-laki yang bercita-cita luhur jatuh cinta dengan seorang wanita muda jelita. Tetapi sementara itu wanita pujaan hatinya menjadi kurus dan sepucat ranting yang berwama kuning kunyit. Hari yang cerah lenyap dari hatinya; dan maut, yang menunggu dari jauh, datang mendekat. Ketika laki-laki yang mencintainya mengetahui ini, ia pun mengambil parang dan berkata, “Aku akan pergi membunuh kekasihku di tempat ia terbaring agar si jelita yang bagai lukisan yang mengagumkan ini tidak mati karena kodrat.” Orang-orang pun mengatakan padanya, “Apa kau gila! Kenapa pula kau mau membunuh wanita itu di saat ia sudah mendekati ajalnya?” Si pencinta itu berkata, “Jika dia mati karena tanganku, maka orang-orang pun akan membunuhku, sebab aku dilarang membunuh diriku sendiri. Kemudian di hari kiamat kelak, kami akan bersama lagi sebagaimana kami sekarang ini. Jika aku dibunuh, karena gairah hasratku padanya, maka kami akan menjadi satu, seperti nyala terang pada sebatang lilin yang dinyalakan.”

Seorang Darwis Mencintai Puteri Pemelihara Anjing
Adalah pada suatu ketika seorang syaikh terpuji yang mengenakan khirka kemiskinan, tetapi ia jatuh cinta pada puteri seorang yang banyak memelihara anjing, dan dengan harapan akan dapat melihat puteri itu, ia pun hidup dan tidur di jalanan. Ibu si gadis mengetahui hal ini, lalu berkata pada syaikh itu, “Kau tentu saja tahu bahwa kami ini pemelihara anjing, tetapi karena kau jatuh hati pada puteri kami, maka kau boleh mengawininya setahun lagi, dan tinggal bersama kami; dan kau harus bersedia menjadi pemelihara anjing dan menerima cara hidup kami.” Karena syaikh itu tak tanggung-tanggung cintanya, maka ia pun menanggalkan jubah Sufinya dan mulai bekerja. Setiap hari dibawanya seekor anjing ke pasar, dan yang demikian itu terus dilakukannya selama hampir setahun. Suatu hari, seorang Sufi lain, yang juga sahabatnya, berkata padanya, “O orang hina, selama tiga puluh tahun kau telah menekuni dan merenungi perkara-perkara ruhani, dan kini kau melakukan apa yang tak pernah dilakukan oleh orang-orang yang sejajar denganmu!”
Syaikh itu menjawab, “Kau tak melihat hal yang sebenarnya, maka janganlah menyanggah. Bila kau ingin mengerti, ketahuilah bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui kerahasiaan itu dan hanya Dialah yang dapat menyingkapkannya. Lebih baik tampak menggelikan ketimbang seperti kau, tak pernah memasuki kerahasiaan cinta.”





Hatiku selembar daun...

CLEOPATRA DAN CINTA

CLEOPATRA DAN CINTA

Arif Rohman


Siapa bilang Mesir adalah Negara yang tandus, kering dan tak sedap dipandang? Pandangan yang negatif mengenai Mesir itu telah sirna. Semua itu adalah berkat ratunya yang cantik. Ratu itu bernama Cleopatra. Cleopatra dipuja oleh setiap rakyatnya terutama kaum lelaki karena kecantikannya yang takkan mungkin tertandingi oleh siapapun.

Pada senja yang temaram di Pulau Cyprus di sebuah kapal perang yang mewah, sang ratu tersenyum penuh kemenangan walau dia sudah tahu bahwa tentara Antonius sudah bercerai berai kalah oleh armada angkatan laut Octavianus yang kuat dan berdisiplin tinggi. Dia masih saja tersenyum sambil memandangi Laut Tengah yang memisahkan Pulau Cyprus dan Pulau Kreta. Kilauan kebiruan laut itu membawa angan sang ratu itu pada kenangan yang indah.

Dulu berkat kecantikannya saja, Julius Caesar Sang Kaisar Romawi yang punya semboyan Vini, Vidi, Vici justru bertekuk lutut di bawah kakinya dan tidak meneruskan penyerangan ke negeri Mesir. Berkat kecantikannya pula Antonius memerangi Lepidus sahabat sejatinya. Dan berkat kecantikan itu, Antonius sekarang berada di ketiaknya seperti seorang bayi yang tak mau ditinggal oleh induk semangnya. Apalagi sekarang yang datang hanya Octavianus. Ya Octavianus, kemenakan dari Julius Caesar yang dulu pernah menjadi kekasihnya.

‘Lapor Sang Ratu, pasukan Octavianus sudah masuk ke Kota Raja Actium’, lapor sang prajuritnya.
Sang Ratu hanya diam saja sambil mengibaskan tangan yang menunjukkan bahwa dia tidak takut dan tak gentar. Ketenangannya inilah yang membuat para pengikutnya heran bukan main. Betapa tidak, Actium sudah hampir ditaklukkan oleh Octavianus.

‘Lapor Sang Ratu, pasukan Octavianus telah menghancurkan kita dan Paduka Antonius telah bunuh diri’, lapor seorang prajurit kemudian.

Sekali lagi Sang Ratu hanya diam, tak memberikan reaksi gentar ataupun takut. Dia tetap tenang bagai tenangnya Laut Tengah, bahkan tersenyum misterius yang susah dimengerti. Dia yakin dengan kekuatan cintanya, dia bisa mempermainkan siapa saja.

’Demi Yupiter Dewa langit, aku akan menaklukkan Octavianus. Bagiku laki-laki sama saja akan terkecoh dengan bujuk rayuku yang lebih mematikan daripada pasukan perang Aries Sang Dewa Perang. Aku Cleopatra wanita tercantik di Mesir yakin akan kemampuanku’, demikian bisik Cleopatra.

ooooooooooooooooo

Setelah mengalahkan Antonius, Octavianus segera menduduki Kota Raja. Mendengar bahwa Cleopatra berada di Pulau Cyprus, dengan menggunakan baju perang kebesarannya dan ribuan pasukan mereka pergi ke Pulau Cyprus.

Malam yang indah, bulan terang bundar, tersenyum manis, senyum yang misterius. Octavianus menaiki kapal perang mewah itu. Semua prajurit musuh takluk dan berlutut dan menjadi tawanan perang. Suasana yang indah itu bercampur dengan rasa hormat akan kebesaran Kaisar Agustus Octavianus.

’Masuklah ke dalam kamar hamba, Paduka Yang Mulia. Hamba Cleopatra memberikan hormat pada Paduka yang agung’, demikian Cleopatra dengan suaranya yang lembut merangsang memecah kesunyian.

’Demi Zeus Raja Para Dewa, tak seharusnya penguasa yang takluk tidak menyambut rajanya, malah bersembunyi di kamar. Sungguh Ratu yang tak punya etika. Keluarlah!’, kata Octavianus dengan tegas.

Maaf Yang Mulia. Sekali lagi maaf. Bukan maksud hamba merendahkan Yang Mulia. Hamba akan segera keluar’. Berbareng dengan itu, pintu kamar Sang Ratu yang temaram pun terbuka. Keluarlah wanita dengan paras yang cantik, diselingi dengan harum bunga mawar yang menusuk setiap orang.

Semua pasukan Octavianus memandang takjub pada Sang Ratu Cleopatra yang cantik bagaikan bidadari dan mungkin tak kalah cantik dengan Aprodite Dewi Kecantikan. Sejenak Octavianus terdiam.

’Oh inilah Cleopatra yang kecantikannya terkenal sampai ke negeriku, yang membuat Julius Caesar pamanku lupa daratan, dan sahabatku Antonius membunuh Lepidus’, membatin Octavianus.

Namun di sisi lain Cleopatra tak kalah terkejutnya. Octavianus yang dalam benaknya adalah lelaki biasanya, ternyata sangat tampan sekali. Jauh lebih tampan dari Julius Caesar maupun Antonius sebelumnya. Lama sekali dia takjub memandang trepana diam tak bergerak. Paras yang tampan, gagah, tegap dan tegar adalah sosok yang baru kali ini ditemuinya.

‘Demi Yupiter yang menguasai langit, lelaki ini sangat tampan dan gagah. Aku.. Aku.. terpesona dibuatnya. Aku bersumpah untuk dapat menaklukkannya. Aku ingin memilikinya. Ya, aku harus memiliki dia. Mungkinkah aku jatuh cinta?’, hati Cleopatra dag dig dug tak menentu.

‘Kamukah Cleopatra yang membujuk Antonius untuk membunuh Lepidus dan ingin mendirikan Kerajaan Yunani Baru di Alexandria?’, begitulah Octavianus berkata dengan suara yang sangat berwibawa.
Lagi-lagi Cleopatra hampir tak dapat menahan perasaannya. Hatinya telah jatuh oleh ketampanan Octavianus. Senyum licikpun menghias wajahnya.

’Hamba Yang Mulia. Karena itu hamba akan meminum racun ini Paduka. Untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa hamba yang telah lalu.’

Demikian Cleopatra kemudian hendak meminum racun di cawan yang telah disiapkannya, sambil mengerling indah kepada Octavianus. ’Hmm.. Dia pasti akan menghentikan aku meminum racun ini..’, bisiknya dalam hati sambil menyingkap sedikit kain yang menutupi pahanya.

Peristiwa itu berlangsung cepat, cepat sekali dan Octavianus hanya diam dengan sorotan yang berwibawa sekali, tenang dan tak bereaksi. Prajurit Romawi yang melihatpun terpana dan dalam hati tak tega melihat kejadian itu.

‘Demi Aprodite yang maha cantik, kenapa kau tak mencegahku Octavianus? Apakah kau tak tertarik padaku? Kecantikanku? Indahnya tubuhku? Kau.. Kau.. Sungguh kejam..’. Dan Cleopatra pun tersungkur. Nyawanya terbang. Mati. Tanpa mendapatkan jawaban yang dinantinya dari Kaisar Agustus. Semua orang yang di situ pun heran dan bertanya-tanya. Tapi pertanyaan itu selalu tersimpan dalam hati.

’Itulah hukuman yang setimpal untuk Ratu yang terlalu mendewakan kecantikannya dan mengesampingkan etika kesusilaan’, demikian Octavianus pergi dan meninggalkan kapal perang mewah itu.

Tak seorang pun yang tahu apa yang ada dalam benak Sang Kaisar yang agung. Malam itu bulan purnama tersenyum indah berbeda dengan senyum Cleopatra yang kecut. Bulan itu tahu karena Octavianus sedang menunggu kelahiran putranya dari isteri yang dicintainya, yang semuanya itu cukup untuk mengalahkan rayuan Sang Ratu Cinta.



Demak, Agustus 2002

Arif Menulis Cerpen :
Cleopatra dan Cinta Si Gadis Desa 1.




Hatiku selembar daun...